KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktunya. Solawat beriring salam tak lupa kamp hadiahkan untuk junjungan alam nabi besar Muhammad SAW, karena berkat perjuangan dan jasa-jasa beliaulah kita dapat merasakan alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Dalam penyusunan makalah ini penulis mengangkat tema tentang “Etika Administrasi Dalam Peaktek”. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada para pembaca serta dapat menambah wawasan bagi para pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak memiliki kekurangan dan kelemahan di sana sini baik dalam segi penulisan maupun dalam segi menyajian materi yang kami paparkan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, guna untuk memperbaiki kualitas makalah penulis selanjutnya.

Penulis

.............c................................................................................................................................................................ 2 II.................... 8 II................................................. 2 II..................................................................................a Asas-Asas Umum Birokrasi Pemerintahan yang Baik............... 9 II........................ 11 DAFTAR PUSTAKA.... Nilai-Nilai Yudisial Dan Norma Pengawasan.............. konsep dan teori filosofis ...............................................................................................................b Tujuan........................... Keanfaatan konsepsi etika tersebut hanya akan terasa apabila ia benar-benar dapat menjadi bagian dari dinamika administrasi modern..... 12 BAB I PENDAHULUAN I... 7 II................3 Mengusahakan Kesejahteraan Umum........ 1 I.....................f Etos Kerja......................... 3 II............................................................................. 1 I...2 Keadilan Sosia dan Pemerataan....................b Mewujudkan Negara Hukum..................................a Kesimpulan.................................................... 10 BAB III PENUTUP III.......DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR............................ 11 III.....................1 Prinsip Demokrasi................................................................................................ Dalam banyak hal........................................................................................................................................................................................................................... 4 II........................ 1 BAB II PEMBAHASAN II........d Metode Penulisan......d Administrasi........................................................................b Saran......................................a..........b..c Dinamika dan Efesiensi............................................ ii BAB I PENDAHULUAN I............c Rumusan Masalah........................................................................ i DAFTAR ISI.............. 1 I......................................a Latar Belakang Konsep-konsep tentang nilai moral dan etika dalam administrasi pemerintahan dirumuskan untuk diterapkan dalam kehidupan kenegaraan dan lingkup administrasi yang sesungguhnya....e Kearifan dan Kebijakan........ 5 II..................................a Latar Belakang..

I. Mengetahui penerapan konsep etika dalam administrasi b. karena setiap negara memiliki konteks budaya . dimana materimateri tersebut kami dapatkan dari berbagai media seperti. d. Memenuhi tugas mata kuliah Etika Administrasi I. buku-buku rujukan. Alasannya sederhana. dan upaya tersebut hampir mustahil apabila asas tersebut adalah asas untversal di setiap negara di bumi ini. Begitu banyak teori maupun konsep yang membahas tentang kaidah normative yang terdapat diantara penguasa negara. kedaulatan rakyat. dan melalui media jaringan internet.a Asas-Asas Umum Birokrasi Pemerintahan yang Baik. Merumuskan asas umum pemerintahan yang baik kedalam satu kata adalah upaya yang sangat sulit. artikel-artikel. Demikian pula konsep-konsep seperti keailan. Mengetahui asas-asas birokrasi yang baik c. BAB II PEMBAHASAN ETIKA ADMINISTRASI DALAM PRAKTEK II. ia harus selalu menyertakan pembahasan tentang aplikasinya.c Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang kami kaji adalm makalah ini adalah tentang Bagaimana Penerapan Etika Administrasi Dalam Prakteknya.mengenai moralitas dalam bidang administrasi negara itu juga berasal dari praktek adinistrasi sehari-hari. kepentingan umum. norma-norma dan sebagainya. I. Mengetahui implementasi etika dalam praktek.b Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : a. pembahasan mengenai etika administrasi negara tidak berada dalam ruang hampa. bagaimana para birokrat dan administrator bertindak atau harus bertindak menurut kaidah-kaidah etis yang ada. Namun terkadang uraian yang terdapat di dalamnya sangat abstrak sehingga sulit dipahami. Oelh sebab itu.d Metode Penulisan Adapun metode penulisan yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan mengumpulkan materi-materi yang berkaitan dengan pokok bahasan.

dan budaya serta dinamika masyarakat turut mempengaruhi opini masyarakat tentang system administrasi pemrintah yang ideal. Sebagai unsure eksekutif yang benar-benar merupakan kepala pemerintahan. dan lembaga yudikatif harus ada pemisahan penuh. yaitu merumuskan peraturan perundangan. II. Lembaga perwakilan mempunyai tugas di bidang legislative. Akan tetapi diatas semua itu sesungguhnya masuh dapat ditemuka dasar-dasar bagi system pemerintahan yang secara umum dianggap sebagai system pemerintahan yang secara umum di anggap sebagai system pemerintahan yang baik. System pemisahan kekuasaan 3. System parlementer 2. presiden di bantu oleh mentrimentri yang menjalankan secara langsung tugas-tugas pemerintahan itu. lembaga legislative.a. System referendum Ajaran trias polotica merupakan landasan pokok dalam system pemisahan kekuasaan. Pada tataran makro. Seperti yang telah dikemukakan. Gagasan utamanya adalah bahwa antara kekuasaan lembaga eksekutif. Apabila . Tampaklah bahwa perkembangan situasi politik. namun landasan pemikiran yang disepakati oleh sebagian besar masyarakat akan dapat di pakai sebagai pedoman.1 Prinsip Demokrasi Tujuan rakyat dalam membentuk negara ini adalah untuk dipergunakan sebagai sarana guna mencapai cita-cita yang lebih tinggi yang semua itu terkandung dalam tujuan negara. system pemerintahan dan ketatanegaraan suatu negara dengan negara yang lain jarang sekali yang sepenuhnya sama walaupun asasnya sama yaitu penyelenggaraan system demokrasi dengan jalan perwakilan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang menentukan kehendak negara. Maka dalam system pemerintahan yang memakai asas kedaulatan rakyat kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. system pemerintahan demokratis suatu negara dapat digolongkan kedalam tiga macam bentuk. dan rakyat yang akan menentukan pula bagaimana berbuatnya[1]. Pilar utama prinsip demokrasi adalah asas kedaulatan rakyat. Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh preseden yang dipilih oleh rakyat baik secara langsung maupun melalui perwakilan. kebutuhan rakyat pada sewatu-waktu yang selalu berubah. social. dan masalah yang dihadapi masing-masing negara tentunya berbeda-beda pula.yang berbeda-beda. Walaupun interprestasi dan pendapat individual mempengaruhi wujud pemerintahan yang didambakan oleh masyarakat. yakni : 1.

kepentingan di antara kelompokkelompok social yang berbeda dalam suatu negara. politik. masalah pemerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunann agaknya merupakan masalah yang masih belum terpecahkan. aupun ekonomis. Cita-cita keadilan distributive hanya akan tercapai apabila malalui program-program pembangunannya pemerintah mampu mewujudkan keadilan dan menghindari ketimpanganketimpangan social. Berbagai ukuran yang menunjukkan ketimpangan regional. kekuasaan eksekutif dipegang oleh presiden dengan para mentri yang tergabung dalam cabinet. Ketiga macam kekuasaan negara itu masing-masing harus dipisahkan dan tidak saling mempengaruhi karena di khawatirkan bahwa jika satu lembaga mempunyai dua atau lebih kekuasaan akan ada penyalahgunaan kekuasaan tersebut. II. lembaga yudikatif yang akan memutuskannya. setidak-tidaknya ada dua dimensi kepentingan yang harus diperhatikan. Kedua konsep ini juga merupakan landasan pokok bagi etika pembangunan dan merupakan ukuran moralitas bagi kebijakan public. Ketimpangan ini terjadi karena kesengajaan antara pendapatan kelompok kaya dan kelompok miskin.a. dan kekuasaan Yudikatif dipekang oleh Mahkamah Agung bersama segenap jajaran kehakiman. ketimpangan antara wilayah-wilayah geografis dalam suatu negara atau disebut juga ketimpangan regional.2 Keadilan social dan pemerataan Diantara ketiga sasaran yang termuat dalam trilogy pembangunan. Disamping Indonesia memiliki Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai lembaga tinggi negara. Kekuasaan legislative dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Maka yang diperlukan sekarang adalah kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh kelas masyarakat yang kurang beruntung atau kelompok yang tidak memiliki sumberdaya untuk mengembangkan dirinya. Kebijakan-kebijakan seperti ini disamping sangat . Tetapi seiring itu pula muncul persoalan keadilan social sebagai akibat distribusi hasil-hasil pembangunan yang kurang merata. sebagai perwujudan prinsip demokrasi. Oleh sebab itu salah satu asas umum pemerintahan dan administrasi pembangunan yang perlu dapat perhatian lebih besar sekarang ini adalah yang menyangkut keadilan dan pemerataan. Kedua. asas kedaulatan rakyat dijalankan melalui konsep permusyawaratan-perwakilan.terdapat perselisihan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislative maka. Indicator-indikator ekonomi dalam pembangunan yang membesarkan hati. Pertama. Dalam lingkup negara.

tingkat pengangguran dan setengah pengangguran masih tinggi. fasilitas jesehatan dan fasilistas pendidikan. tetapi harus menyelidiki juga bagaumana prakteknya . kendaraan umum. Masih banyak masalah-masalah yang mengenai kedua hal tersebut yang masih harus diselesaikan. sanitasi. Walaupun bidang-bidang pekerjaan baru telah diusahakan untuk dibuka dan diperluas.a. Persoalan lain yang harus dipecahkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan umum adalah menyangkut ketenagakerjaan dan kependudukan. Layanan-layanan esensial yang mendasar yang sebagian besar disediakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat seperti air minum yang bersih. seperti sandang. II. Ada dua elemen kebutuhan pokok yaitu[2]: 1. Kewenangan aparatur negara untuk membebankan kewajiban-kewajiban tertentu kepada rakyat yang absah hanya apabila rakyat dapat merasakan peningkatan kesejahteraan yang merata. Akan tetapi sesungguhnya gagasan utama dan aturan-aturan dasar yang melandasi terbentuknya republic ini adalah sesuai dengan cita-cita negara hukum. pangan dan papan. dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. 2.3 Mengusahakan Kesejahteraan Umum Salah satu prasyarat legimitasi kekuasaan negara adalah apabila negara.dibutuhkan untuk komunitas pembangunan di masa mendatang ternyata juga mengandung landasan etis dan moral yang kuat bagi para pembuat keputusan itu sendiri. Ini sejalan dengan pernyataan dalam penjelasan umum UUD 1945 sendiri bahwa untuk menyelidiki hukum dasar suatu negara tidak cukup hanya menyelidiki pasal-pasal undang-undang dasarnya saja. melalui aktivitasaktivitas pemerintahan dapat mengusahakan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu setiap pejabat pemerintah harus memiliki komitmen tersebut bukan semata-mata karena mereka diberi amanat atau dibayar oleh negara melainkan karena mempunyai perhatian yang tulus terhadap kesejahteraan warga negara pada uumnya. Meskipun masalah kependudukan dan ketenagakerjaan masih merupakan kendala besar bagi pemerintah. II. Persyaratan-persyaratan minimum keluarga untuk konsumsi sendiri.b Mewujudkan Negara Hukum Didalam pembukaan maupun pasal-pasal batang tubuh UUD 1945 memang tidak disebutkan secara eksplisit bahwa indonsesia adalah negara hukum.

Peraturan hukum yang paling relevan dengan kedudukan para pejabat pemerintah adalah undang-undang No. Dalil ini berlaku untuk orang biasa maupun pejabat. Kecuali itu. Jadi jelas bahwa konstitusi negara Indonesia amat menginginkan untuk mewujudkan negara hukum. kebebasan untuk berseikat. maka control social akan dapat berjalan dengan sendirinya. Penegasan ini mengandung arti bahwa segenap rakyat bersama-sama dengan aparatur pemerintahan hendak mewujudkan suatu system pemerintahan yang dijalankan menurut kaidah-kaidah hukum. berorganisasi dan beroposisi. Kedudukan yang sama dihadapan hukum. Aspek pokok bagi terciptanya negara hukum juga berarti ditaatinya Peraturan hukum dalam segenap aktivitas negara atau pemerintah. pada penjelasan mengenai system pemerintahan negara juga telah pula ditegaskan : 1. Unsru-unsur rule of law meliputi[3]: a. artinya negara berdasa atas hukum dasar tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). lisan atau tulisan sesuai dengan kaidah-kaidah hukum yang diatur dalam konstitusi dengan tujuan untuk mengadakan perbaikan atas tindakan-tindakan pemerintah dalam bidang politik. tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka. kebebasan menyatakan pendapat. rasa keadilan. Keutaaman aturan-aturan tidak hanya kekuasaan yang sewenang-wenang dalam arti bahwa seseorang hanya boleh dihukum kalau memang melanggar hukum. dan lain sebagainya.dan suasana kabinetnya dari undang-undang dasar tersebut. ekonomi. budaya. b. Undang-undang ini dimaksudkan untuk menghadapi . Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum. dan tujuan pembangunan. social. c. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang dasr serta keputusan-keputusan pengadilan. Selanjutnya unsure-unsur rule of law ini dapat dijabarkan kedalam gagasan-gagasan yang lebih elementer. Yang dimaksud dengan control social adalah penyataan sikap masyarakat baik secara perorangan maupun secara berkelompok yang diwujudkan dalam tingkah laku. System konstitusional. Apabila system pemerintahan dapat melaksanakan konsep-konsep yang terdapat dalam idealisme negara hukum. dan hamkam yang dianggap tidak sesuai dengan konstitusi. 2. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara atau yang disebut juga dengan Peradilan Administrasi Negara. pemilihan umum yang bebas. misalnya saja ketentuan mengenai adanya badan kehakiman yang bebas.

Denagn demikian diberlakukannya undang-undang ini. Tentu saja yang dimaksud dengan dinamika di sini bukanlah perubahan-perubahan prosedur dan aturan yang terlalu sering sehingga keampuan adaptasi organisasi yang lebih baik sehingga ia sanggup mengantisipasi perubahanperubahan yang terjadi dalam masyarakat dan dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang tepat. adalah untuk menciptakan aparatur pemerintah yang bersih (clean government) dan menjaga supaya administrasi administrasi negara dapat terlaksana dalam suasana yang tertib berdasarkan hukum selama mereka menjalankan tugas-tugas pemerintah dengan iktikad baik menurut pedoman aturan yang berlaku. Selain harus meelihara netralitas diatas kepentingan-kepentingan yang berlainan. II. Maka untuk menciptakan sosok birokrasi pemerintahan dan responsive terhadap kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi masyarakat.kemungkinan timbulnya perbenturan kepentingan. birokrasi pemerintah juga harus memecahkan disfungsi birokrasi dalam organisasi yang diakibatkan oleh struktur yang tidak mendukung.c Dinamika dan Efesiensi Apabila semua orang mengamati suasana kerja di dalam organisasi-organisasi swasta dan kemudian membandingkannya dengan suasana kerja dalam birokrasi pemerintahan. Knott dan Miller mengatakan ada empat macam persoalan yang sering terdapat dalam beirokrasi pemerintah yaitu:[5] 1. Daur kekakuan aturan . Birokrasi mungkin telah diperlengkapi dengan personalia yang professional dengan spesialisasi aturan yang bagus dan aturan yang cukup baik. dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat yang tidak boleh dilupakan. Inilah yang sering menyebabkan bahwa para pejabat atau pegawai dikantor-kantor pemerintah itu kurang bisa menafsirkan secara cepat tugas-tugas yang diberikan kepadanya. maka kesan umum yang dirasakan adalah kurangnya dinamika dalam lingkungan kerja birokrasi pemerintah. perselisihan atau sengketa antara badan atau pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat [4]. namun struktur yang mendasarinya terkadang justru tidak rasional. Kantor-kantor pemerintah memiliki kelompok sasaran yang lebih umum dan lebih luas dibandingkan dengan organisasi swasta. Masalah-masalah yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan untuk mewujudkan efesiensi masksimal memang begitu kompleks.

Karena struktur birokrasi yang kurang fleksibel. 2. Nilai-Nilai Yudisial Dan Norma Pengawasan Pembuatan keputusan merupakan penopang utama kegiatan administrasi. Kurangnya kapasitas personil yang terlatih Yang dimaksud dengan kapasitas disini adalah kemampuan personil untuk melihat tugastugasnya dalam rangka proses organisasi secara keseluruhan. birokrasi pemerintah cendrung membatasi kapasitas kognitif dari aparat-aparatnya. II. Sementara itu pertimbangan efesiensi terkadang tidak memungkinkan bagi para pejabat . Dalam birokrasi public terdapat kecendrungan bahwa masing-masing personil melihat masalah dari perspektifnya sendiri. dan menganggap bahwa tidak ada sumbangan personil lain untuk memecahkan masalah tersebut. Birokrat sering ragu-ragu dalam bertindak karena system senioritas dan aturan yang kaku. antara kewenangan structural dan kewenangan fungsional. yang terjadi seringkali bukan karena dia tidak sepaham dengan atasan tersebut dalam memecahkan masalah tertentu. melainkan karna ia ingin memperlihatkan otoritas professionalnya. 3. bukan untuk melaksanakan layanan umum secara efisien melainkan sekadar untuk melestarikan aturan-aturan yang ada. System kewenangan berganda Apabila seorang pakar menentang otoritas hirarkis dari seorang atasan yang awam. Sebaliknya. Pengalihan Sasaran Kelemahan menejerial seringkali tidak berhasil memotivasi individu untuk mencapai tujuantujuan organisasional. Sebelum bertindak kebanyakan birokarat menunggu orang lain untuk bertindak dan meyakinkan bahwa dulu apakah tindakan itu dibenarkan menurut prosedur. Waktu yang tersedia untuk mempertimbangkan keputusan-keputusan tersebut seringkali sangat sempit karena permasalahan yang ada mebutuhkan penaganan segera. Ketidak sepakatan seseorang bawahan terhadap atasannya acapkali sekedar untuk membuktikan kemampuan teknisnya apalagi kalai dia tahu bahwa dia memiliki pengetahuan teknisnya. system manajerial itu hanya merangsang individu untuk mengikuti aturan-aturan hirarkis dan prosedur-prosedur standard operasi. Itulah sebabnya sasaran atau tujuan organisasi sering bergeser. Sebaigan besar proses administrasi berupa serangkaian pemilihan alternative tindakan atau pengambilan keputuasn.d Administrasi. 4. apalagi kalau dia tahu bahwa dia memiliki pengetahuan teknis yang lebih unggul dibandingkan atasannya itu. Tampak disini adanya perbenturan dalam system kewenangan berganda.

kemauan membuat undang-undang. Logikanya ialah bahwa semakin tinggi jawatan seseorang semakin banyak orang lain yang akan dipengaruhi oleh kepurusan-keputusan pejabat tersebut sehingga makin besar resiko ketidak puasan diantara parabawahan atau masyarakat. yang pertama-tama dibicarakan adalah legitimasi kekuatan pemaksa untuk mengatur sebagian dari hak-hak warga negara. serta peraturanperaturan yang berlaku dalam lembaga tempat ia mengabdi. meluasnya kekuasaan birokrasi pada setiap jenjang administrasi pemerintah. Apabila orang mempertanyakan landasan etis bagi kebijakan-kebijakan yang diambil seorang pejabat pemerintah. II. meningkatnya kekuatan politis bagi para eksekutif berarti meningkat pula peranan birokrat dan administrator dalam penentuan kebijakan-kebijakan yang menyangkut masyarakat luas. Dia harus ampu menyeimbangkan antrara preferensi pribadi. Maka dalam menjalankan tugas-tugasnya para pejabat pemerintah selalu berada ditengahtengah kontradiksi antara pertimbangan pragmatis dan pertimbangan legalitas. II.[6] etos kerja adalah “sikap yang mendasar . Pertama. Menurut Geertz. Keharusan bagi setiap warga negara untuk mengatur sebagian dari hak-hak warga negara. Dan yang terakhir. Di sebagian besar negara industry terlihat pula bahwa para eksekutif pemerintah senantiasa menjadi sorotan public berkenaan dengan kebijakan-kebijakan penting yang diambilnya.e Kearifan dan Kebijakan Perkembangan konstelasi politik dan ekonomi di Indonesia selama dasawarsa terakhir menampakkan tiga kecendrungan utama. Makin tinggi kedudukan seorang pejabat.pemerintah untuk berlama-lama memikirkan akibat dari suatu keputusan atau mencari landasan legalitas dari kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. makin dituntut syarat kearifan itu karena ia akan semakin banyak terlibat dalam bidang manajerial ketimbang teknis. Karena itulah para pejabat pemerintah dituntut untuk mampu menjawab persoalan-persoalan secara pragmatis. meningkatnya kemakmuran dengan semakin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ekonomi masyarakat.f Etos Kerja Pembicaraan yang berdasar atas filosofis dan sosiologis akan banyak dilibatkan kalau orang membahas tentang etos kerja. Kedua.

atau pikiran yang akan menentukan system tindakan. apakah pekerjaan terikat pada identitas diri. Artinya etos kerja adalah aspek evaluative. Etos juga merupakan landasan ide. perlu adanya aturan-aturan yang dibuat untuk mengatur para birokrat untuk tetap konsisten menjalankan dan mengamalkan etikan yang baik dalam administrasi pemerintah. atau apakah yang menjadi sumber pendorong partisipasi dalam pembangunan. seperti menjalankan asas-asas birokrasi pemerintahan yang baik.a Kesimpulan Penerapan etika adminitrasi dalam prakteknya terutama dalam administrasi pemerintahan meiliki banyak aspek-aspek yang harus dijalankan dengan sebaik. Jika dilihat kondisi Indonesia pada saat ini.Saran . III. Semakin progresif etos kerja suatu masyarakat. Karena etos kerja menentukan penilaian manusia terhadap suatau pekerjaan maka ia akan menentukan pula hasil-hasilnya. BAB III PENUTUP III. sekali lagi hal ini tertumpu pada kemauan individu-individu yang berkerja dalam instansi tersebut untuk dapat merubah kebiasaan yang buruk dan mengantinya dengan penerapan etika administrasi yang baik. semakin baik hasil-hasil yang akan dicapai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Dengan demikian yang dipersoalkan dalam etos kerja adalah kemungkinan-kemungkinan sumber motivasi seseorang dalam berbuat apakah pekerjaan di anggap sebagi keharusan demi hidup. yang bersifat menilai. Berbicara masalah etika tentunya tidak terlepas dari factor sifat individu yang menjalankan kegiatan baik itu dalam berorganisasi maupun kegiatan kesehariannya. saat ini masih banyak instansi-instansi pemerintah yang belum mampu menerapkan prinsip etika administrasi yang baik.terhada diri dan dunia yang dipancarkan hidup”. Selain itu dalam upaya penerapan etika administrasi pemerintahan yang baik. cita. dengan mewujudkan peinsip demokratis. melalui fakta-fakta yang ada. Tentunya dalam praktek menerapkan etika administrasi dalam pemerintahan perlu adanya kesadaran dari masing-masing aparat birokrasi untuk benar-benar menjalankan tugas pokok dan fungsinya. keadilan social dan pemerataan serta mewujudkan kesejahteraan umum.baiknya.

S Wade. Preager. Yogyakarta. Robert C. 1987. Employment. Etika Administrasi Negara.Dikutip oleh E.. Wahyudi. Agama. and Basic Need. Dicey. 1984 [2] ILO. Growth. penyusunan maupun materi yang disajikan.J. Peradilan Tata Usaha Negara. De Vos. Solomon.C. Introduction to the law of the constitution. PT. Marbun. Raja Grafindo Persada.V. Kontt & G. Bina Aksara. 1988. Liberty. DAFTAR PUSTAKA Kumorotomo. Demokrasi dan Sistem Pemerintahan Negara. Hlm : 173-175 [6] Dikutip oleh Taufik Abdulah. Hlm 3 . Yogyakarta: Tiara Wacana. 2001. [1] Joeniarto. Jakarta: Erlangga. Jakarta. Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi. untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna menjadi bahan introveksi penulis dalam membuat makalah-makalah selanjutnya.Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak sekali kekurangan dan kelemahan baik dalam segi penulisan. 1977 [3] A. Newyork. William. [4] SF. 1987. Pengantar Etika. Frankena. H. Ethics. Miller. K. Reformasi birokrasi dan Peilihan institusi politik.1988 [5] Jeck H. New Delhi: Prentice-Hall. 1982. Etika: Suatu Pengantar.