P. 1
contoh kti

contoh kti

|Views: 976|Likes:

More info:

Published by: xruezpotato_cuil8422 on Apr 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

.1 Latar belakang Imunisasi TT adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Indanati

, 2005). Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indicator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millennium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survey yang dilakukan AKI telah menunjukan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millennium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras terus menerus. Berdasrkan Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994-2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 1994 terdapat 309/100.000 kelahiran hidup, tahun 1997 terdapat 334/100.000 kelahiran hidup, tahun 2002 terdapat 307/100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 terdapat 228/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan target MDG’s (Millenium Development Goal) untuk penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah menurunkan ¾ pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990. Berdasarkan target MDG’s berarti tahun2015 ditargetkan Angka Kematian Ibu maksimal ≈ 100 kematian per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2010). Berdasrkan Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1991-2007 Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 1991 terdapat 68/1000 kelahiran hidup, tahun 1994 terdapat 57/1000 kelahiran hidup, tahun 1997 terdapat 46/1000 kelahiran hidup, tahun 2002 terdapat 35/1000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 terdapat 34/1000 kelahiran hidup (Depkes, 2010). Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi factor penentu angka kematian, meskipun masih banyak factor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Penyebab kematian ibu melahirkan yaitu perdarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang (hipertensi dalam kehamilan/preeklamsia/eklamsia), aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada factor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang pendidikan, social ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi untuk lebih bertanggung jawab. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosialkultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat terutama suami. Adapun tiga factor utama persentase penyebab kematian ibu melahirkan yaitu perdarahan menepati persentase tertinggi penyebeb kematian ibu (28 %), hipertensi saat hamil atau preeklamisia atau eklamsia menepati persentasi tertinggi kedua penyebab kematian ibu (24 %), sedangkan persentase tertinggi ketiga penyebab kematian ibu melahirkan adalah infeksi (11 %) dan salah satu terjadinya infeksi yaitu akibat dari tetanus toxoid (Depkes, 2008). Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2004 - 2008, persentase ibu hamil yang mendapat imunisasi TT 2+ (Tetanus Toxoid) yaitu pada tahun 2004 terdapat 60,9 %, pada tahun 2005 terdapat 62,5 %, pada tahun 2006 terdapat 62,3 %, pada tahun 2007 terdapat 82,6 %, dan pada tahun 2008 terdapat 79,5%. Selama 5 tahun terakhir, kenaikan cakupan TT 2+ ibu hamil pada tahun 2007 merupakan yang tertinggi, kemudian pada tahun berikutnya yaitu tahun 2008 terjadi penurunan. Imunisasi TT 2+ dan pemberian tablet Fe 3 merupakan syarat K4 berkualitas (Depkes,

2010). Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil akan dibekali dengan tablet besi (Fe), hal ini merupakan upaya penanggulangan anemia pada ibu hamil dan dalam pelayanan ANC ibu hamil akan diberikan imunisasi TT sebagai upaya perlindungan ibu dan bayinya dari kemungkinan terjadinya tetanus pada waktu persalinan. Oleh karena itu pemberian imunisasi TT merupakan suatu keharusan pada setiap ibu hamil (Depkes, 2009). Berdasarkan laporan Analisa Uji Coba (AUC) di Indonesia pada tahun 2005 - 2006 yang disusun oleh WHO yang bekerja sama dengan Departemen Kesehatan RI, tetanus masih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan maternal dan neonatal. Kematian akibat tetanus di negara berkembang 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Di Indonesia sekitar 9,8 % (18032 bayi) dari 184 ribu kelahiran bayi menghadapi kematian: imunisasi tetanus tetap rendah (Depkes RI-WHO, 2006). Dengan ditemukannya kasus tersebut membuktikan bahwa tetanus belum musnah dan masih mengancam siapa saja terutama bayi yang akan lahir. Untuk itu peran tenaga kesehatan dalam upaya untuk memberantas penyakit tetanus toksoid sangat diperlukan. Tidak hanya tenaga kesehatan saja yang bertanggung jawab untuk memusnahkan kasus tersebut namun peran dari seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan terutama bagi remaja putri yang akan menikah dan ibu hamil untuk berpartisipasi dalam pogram pemerintah untuk menghilangkan angka kematian bayi yang diakibatkan oleh infeksi tetanus toksoid. Dari hasil data yang didapatkan di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.kes pada bulan April 2011, jumlah keseluruhan ibu hamil sebanyak 107 orang dan ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT ada 48 orang. Berdasarkan uraian pada latar belakang maka penulis memilih judul penelitian Factor – Factor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Kelapa Gading Timur pada Bulan Mei 2011.

1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu penurunan persentase Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2002 dari 35/1000 kelahiran hidup menjadi 34/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007, dari pernyataan diatas tidak signifikan. Berdasarkan data Departemen Kesehatan 2008 penyebab kematian ibu melahirkan dan kematian bayi adalah infeksi (11%) dan berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) tahun 2007 terdapat 82,6% yang mengalami penurunan pada tahun 2008 menjadi 79,5%. Data yang didapatkan di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.kes pada bulan April 2011, jumlah keseluruhan ibu hamil sebanyak 107 orang dan ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT ada 48 orang. Saat ini belum ada penelitian tentang tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes kelapa gading timur, karena itu dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) selama kehamilan.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui orientasi proses berapa banyak ibu hamil trimester III yang paham tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes kelapa gading timur pada Bulan Mei 2011. 1.3.2 Tujuan khusus Memperoleh tingkat pengetahuan mengenai pendidikan, paritas, usia, pendapatan, sumber informasi dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Memperoleh informasi hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Memperoleh informasi hubungan antara paritas dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Memperoleh informasi hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Memperoleh informasi hubungan antara pendapatan suami (Tetanus Toxoid) dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Memperoleh informasi hubungan antara sumber informasi (Tetanus Toxoid) dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. 1.4 Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini, maka akan diketahui gambaran pengetahuan ibu mengenai Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) selama kehamilan, sehingga hasil diperoleh dapat bermanfaat, yaitu : 1.4.1 Secara Umum Dapat diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil mengenai pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) yang diberikan pada kehamilan. 1.4.2 Tempat Penelitian Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan terhadap ibu yang membutuhkan informasi mengenai Imunisasi TT (Tetanus Toxoid). 1.4.3 Bidan Bidan sebagai pendamping wanita sepanjang siklus reproduksi wanita, berperan penting dalam memberikan informasi mengenai Imunisasi TT (Tetanus Toxoid).

1.4.4 Peneliti Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian serta dapat berbagi informasi untuk penerapan ilmu yang sudah diperoleh selama perkuliahan. 1.4.5 Pendidikan Sebagai bahan referensi mahasiswa Program Studi Kebidanan Pelita Persada sehingga dapat menambah pengetahuan mengenai gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap imunisasi TT (Tetanus Toxoid).

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. Penelitian ini bersifat analitik dengan metode desain cross sectional; variabel dependent yaitu tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III dan variabel independent yaitu pendidikan, paritas, usia, pendapatan, sumber informasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan quesioner sebagai alat ukur dan respondennya adalah seluruh ibu hamil trimester III.

BAB II TINJAUAN TEORI

Pengertian Imunisasi ialah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit (Depkes RI, 2009). Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari beberapa penyakit tertentu (Redviking, 2007). Imunisasi tetanus toxoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai pencegahan terhasap infeksi tetanus (Idanati, 2005). Vaksin tetanus yaitu toksin tetanus yang dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan, 2006).

Manfaat Imunisasi TT Ibu Hamil Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKN, 2005, chin, 2000) tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang dari 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat (Saefuddin dkk, 2001). Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI. 2000). Keduanya manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004).

Jumlah Dan Dosis Pemberian Imunisasi TT Untuk Ibu Hamil Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (Saefuddin dkk, 2001) dengan dosis 0,5cc di injeksikan intramuskuler / subkutan dalam (Depkes RI, 2000).

Umur Kehamilan Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2003). TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil dimana biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000)

Jarak Pemberian Imunisasi TT1 san TT2 Jarak pemberian (interval) iminisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu (Saifuddin dkk, 2001)

Efek Samping Imunsasi TT Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT aadalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil, tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001), efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlu tindakan atau pengobatan (Depkes RI, 2000). Antigen Interval Lama Perlindungan % Perlindungan TT1 Pada kunjungan anternal pertama - TT2 4 Minggu setelah TT1 3 tahun 80

TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95 TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99 TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun / seumur hidup 99 Table 2.1 Interval Pemberian Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) (Yuni Kusmiyati dkk, 2009). Tempat Pelayanan Untuk Mendapatkan Imunisasi TT Puskesmas Puskesmas Pembantu Rumah sakit Rumah bersalin Polindes Posyandu Rumah sakit swasta Dokter Praktik Bidan Praktik (Depkes RI, 2004). Tetanus Tetanus Adalah penyakit yang disebabkan oleh clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke orang. Tetapi melalui kotoran yang masuk kedalam luka yang dalam. Gejala awal penyakit adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. Pada bayi terdapat juga gejala berhenti menetek (sucking) antara 3-28 hari setelah melahirkan. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang pneumonia dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian (Depkes, 2008). Clostridium tetani, kuman ini sensitif terhadap suhu panas dan tidak bisa hidup dalam lingkungan beroksigen. Sebaliknya, spora tetanus sangat tahan panas dan kebal terhadap beberapa antiseptic. Spora ini dapat tetap hidup dalam anotklaf bersuhu 121 derajat celcius selama 10-15 menit. Kuman ini banyak tersebar di dalam kotoran dan debu jalan, usus dan tinja kuda, domba, anjing, kucing, tikus, dan lainnya, kuman ini masuk kedalam tubuh manusia melalui luka dan dalam suasana anaerob. Kemudian terjadi produksi toksin (Tetanospasmin) terjadi dan disebabkan melalui darah dan limfe. Toksin ini kemudian akan menempel pada reseptor di system syaraf (I.G.N. Ranuh, 2005). Diagnosis Tetanus mungkin terlokalisasi atau menyeluruh, yang terakhir ini lebih lazim. Priode inkubasi pada 214 hari, pada tetanus menyeluruh Trismus, merupakan gejala yang ada pada sekitar 50% kasus.

Nyeri kepala, gelisah dan iritabilitas merupakan gejala awal, sering disertai oleh kekakuan. Disfagia atau spasme otot leher. Tetanus akibat dari spasme otot muka dan mulut yang tidak berhenti-henti. Bila paralysis ke otot-otot perit, punggung, pinggang, dan paha. Penderita dapat berpostur lengkung, opistotonus, dimana hanya punggung kepala dan tumit yang menyentuh dasar (tanah) (Asrining Surasmi, 2003). Pengobatan Diberikan cairan intravena (IVFD) dengan larutan mukosa 5% : NaCL fisiolog 4 : 1 selama 48-72 jam sesuai kebutuhan, sedangkan selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat. Bila sakit penderita sudah lebih dari 24 jam atau sering kejang atau apnea, diberikan larutan glukosa 10% : Natrium Bikarbonat 1,5% (sebaliknya cairan yang dipilih disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisis gas darah). Bila 72 jam belum dapat mungkin diberikan minum peroral, maka melalui cairan infuse perlu diberikan protein dan kalsium Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan- lahan 2-3 menit. Dosis rumah 5-10 mg/kg BB/ hari melalui IVFD (diazepam dimasukkan ke dalam cairan intravena dan diganti tiap 6 jam). Bila kejang sering timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara intravena perlahan- lahan dan dalam 24 jam boleh diberikan diazepam tambahan 5mg/kg BB/hari, sehingga dosis diazepam menjadi 15mg/hari. Setelah keadaan klinisnya membaik, diazepam diberikan peroral dan turunkan secara bertahap. Pada penderita dengan hiperbilirubinemia berat atau makin berat diberikan diazepam peroral dan setelah bilirubinya turun boleh diberikan diazepam intravena ATS 10.000 U/hari dan diberiak selama dua hari berturut- turut Ampisilin 100mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis secara intravena selama 10hari. Bila terdapat gejala sepsis hendaknya penderita diobati seperti penderita sepsis pada umumnya dan kalau fungsi lumbal tidak dapat dilakukan, maka penderita diobati sebagai penderita Menginitis Bakterial . Tali pusat dibersihkan dan selalu dalam keadaan kering. Perhatikan jalan nafas, diuresis dan keadaan vital lainnya. Bila banyak lendir jalan nafas harus dibersihkan dan apabila perlu diberikan oksigen. (Prof. Umar Fahmi Acmadi, 2006). 2.8.3 Pencegahan Tindakan pencegahan serta eliminasi tetanus neonatorum adalah bersandarkan pada tindakan menurunkan atau menghilangkan faktor-faktor risiko. Pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Pemotongan dan perawatan tali pusat wajib menggunakan alat yang steril (WHO, 2006). Pengendalian kebersihan pada tempat pertolongan persalinan perlu dilakukan dengan semaksimal mungkin agar tidak terjadi kontaminasi spora pada saat proses persalinan, pemotongan dan perawatan tali pusat dilakukan. Praktik 3 Bersih perlu diterapkan, yaitu bersih tangan, bersih alat pemotong tali pusat, dan bersih alas tempat tidur ibu, di samping perawatan tali pusat yang benar sangat penting dalam kurikulum pendidikan bidan. Selain persalinan yang bersih dan perawatan tali pusat yang tepat, pencegahan tetanus neonatorum dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi TT kepada ibu hamil (Mutaroh akmal dkk, 2010).

Pemberian imunisasi TT minimal dua kali kepada ibu hamil dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum (WHO, 2008). Komplikasi Bronkopnemonia, Asfiksia dan sianosis akibat obstruksi saluran pernafasan oleh sekret, serta sepsis neonatorium. (Mutaroh akmal dkk, 2010). Faktor- faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Pengetahuan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Trimester III 2.9.1 Pendidikan Pendidikan adalah “proses belajar bagi seseorang menuju kearah terbentuknya perubahan perilaku yang lebih baik dan lebih dewasa”. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan itu menuntun individu untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan, pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal- hal yang mendukung kesehatan sehingga dapat meningkatkan kwalitas hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang miliki. Sebaliknya pendidikan yang rendah akan menghambat perkembangan sikap perilaku seseorang terhadap nilai- nilai kesehatan. Semakin tinggi pendidikan ibu hami maka ia akan melakukan suatu perilaku yang menuju sehat diantaranya melakukan imunisasi TT untuk mencegah infeksi Tetanus Neonatorum pada bayi baru lahir (Soekidjo Notoatmodjo, 2003). 2.9.2 Paritas Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim. Paritas sangat berpengaruh sekali terhadap penerimaan seseorang terhadap pengetahuan dimana semakin banyak pengalaman seorang ibu maka penerimaan akan semakin mudah. Pengalaman merupakan pendekatan yang penting dalam memecahkan masalah (Nursalam, 2008). Paritas adalah jumlah bayi yang sering dilahirkan oleh pasien baik lahir hidup maupun lahir mati. Umunya dengan terlalu sering atau jarak antara kelahiran yang kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan resiko tinggi pada kehamilan (Ibu Sehat Bayi Sehat, 1999). Keadaan wanita dimana dengan jumlah anak yang dilahirkan baik lahir hidup maupun mati (Manuaba, 2007)

2.9.3 Usia Usia adalah variable yang selalu diperhatikan didalam penyelidikan - penyelidikan epidemologi (Soekidjo Notoatmodjo, 2003).Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan logis (Nursalam dan Pariani, 2001). Seperti yang dikatakan Hurlock (1997) yang dikutip oleh Nursalam (2003), bahwa semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang lebih dipercaya dari orang-orang yang belum cukup tinggi dewasanya. Menurut Long (1996), bahwa semakin tua umur seseorang, makin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi. Hurlock (1998) mengatakan bahwa pengalaman dan kematangan jiwa seseorang disebabkan semakin cukupnya umur dan kedewasaan dalam berfikir dan bekerja. Menurut Erikson pembagian usia dewasa berdasarkan tingkat pengetahuan adalah masa dewasa awal 17 – 20 tahun, dewasa menengah 21 - 34 tahun dan dewasa akhir 35 – 40 tahun.

2.9.4 Pendapatan Pendapatan keluarga yaitu suatu pendapatan keluarga yang bekerja perbulan. Pendapatan keluarga merupakan salah satu alat untuk menentukan ekonomi keluarga, dilihat dari UMR DKI Jakarta tahun 2011, yaitu : Rp. 1.290.000 (Disnakertrans, 2010), dimana pendapatan dikatakan rendah bila dibawah UMR dan dikatakan tinggi bila diatas UMR, tingkat pendapatan yang rendah cenderung melakukan imunisasi TT kurang lengkap dan tingkat pendapatan yang tinggi cenderung mampu melakukan imunisasi TT. Menurut Notoatmodjo, yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan, seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya. Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas – fasilitas sumber informasi (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Pendapatan keluarga adalah jumlah nominal dalam rupiah pendapatan keluarga dalam satu bulan (Wawan, 2007). 2.9.5 Sumber Informasi Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang benyak memperoleh informasi maka ia cendrung mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Fasilitas – fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku. Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas

pengetahuan seseorang (Soekidjo Notoatmodjo, 2003).

Sumber informasi adalah data yang merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian kejadian dan kesatuan nyata. Kejadian-kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat terentu, kesatuan nyata (fact and entity) berupa objek nyata seperti tempat, benda, dan orang yang betul-betul ada dan terjadi. Sumber informasi berperan penting bagi seseorang dalam menentukan sikap atau keputusan bertindak. Banyak media seperti media massa, baik media cetak seperti surat kabar dan majalah, ataupun elektronika seperti televisi dan radio; dan pemuka pendapat untuk wilayah pedesaan dianggap cukup efektif untuk menciptakan konsesus sosial. Secara umum media berfungsi sebagai sumber informasi, sumber pendidikan dan sumber hiburan. Tetapi sebetulnya, khalayak tidaklah dengan mudah mengikuti pesan media. Hal ini karena mereka memiliki kemampuan menyeleksi segala terpaan pesan informasi yang menerpainya (Rakhmat, 2004).

2.10 Kerangka Teori Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2007). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil adalah : Table 2.2 Kerangka Teori Tingkat Pengetahuan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil

Menurut Nursalam (2008), faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada ibu hamil adalah: Table 2.3 Kerangka Teori Tingkat Pengetahuan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPRASIANAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep Berdasarkan sistematika kerangka konsep penelitian ini meliputi variabel dependent (tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III) dan variabel independent (pendidikan, paritas, usia, pendapatan, sumber informasi). Dari uraian diatas dan sesuai dengan tujuan penelitian maka digunakan kerangka konsep seperti di bawah ini: Variabel Independent

Variabel dependent

3.2 Definisi Oprasional No Variabel Definisi Oprasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 1 Tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu Hamil Trimester III Tingkat pengetahuan responden tentang imunisasi TT Quesioner Wawancara Baik (nilai > 69,84) Cukup (nilai 46,16 -69,84) Kurang (nilai < 46,16) Ordinal 2 Pendidikan Izasah terakhir yang dimiliki oleh responden yang didapat melalui jenjang pendidikan yang telah disyahkan oleh pemerintah. Quesioner Wawancara Tingkat tinggi (akademi / PT, SMA) Tingkat rendah (SMP dan SD) Ordinal 3 Paritas Jumlah anak yang telah dilahirkan oleh responden baik mati maupun hidup Quesioner Wawancara Primigravida Multigravida Nominal 4 Usia Lama hidup reaponden dihitung dari tanggal lahir sampai saat melakukan penelitian/ survey Quesioner Wawancara < 20 tahun 20 – 35 tahun > 35 tahun Ordinal 5 Pendapatan suami Hasil yang dilakukan oleh responden untuk mendapatkan penghasilan sesuai dengan UMR DKI Jakarta tahun 2011 Rp. 1.290.000 Quesioner Wawancara < Rp 1.290.000 ≥ Rp 1.290.000 Ordinal 6 Sumber informasi Sumber/data informasi responden memperoleh pengetahuan tentang imunisasi TT selama kehamilan Quesioner Wawancara Media cetak / Media elektronik Tenaga kesehatan Nominal 3.3 Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan dengan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih, dituangkan dalam bentuk kalimat yang menyatakan dan menghubungkan variabel terhadap variabel baik secara umum maupun khusus (Maemunah, 2005). Ada hubungan antara variabel dependent dengan sejumlah variabel independent yaitu: Ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Ada hubungan bermakna antara paritas dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Ada hubungan bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Ada hubungan bermakna antara pendapatan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Ada hubungan bermakna antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rancangan atau desain analisa cross seksional yaitu antara variabel dependent dan variabel independent diukur secara bersama-sama dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011

dengan melakukan wawancara dan pengisian angket yang berisi questioner variabel dependent dan variabel independent. 4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011. 4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang ingin diketahui besaran karakteristiknya (Notoadmodjo, 2005). Populasi penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang berkunjung di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes pada bulan Mei 2011 yang berjumlah 98 orang. 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian obyek populasi yang mewakili karakteristik populasinya, dan kemudian diteliti (Notoadmodjo, 2005). Sampel adalah sebagai bagian dari populasi. Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi, penenlitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil penelitiannya dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang luas (Wikipedia, 2010). Sampel yang diambil adalah keseluruhan ibu hamil trimester III yang berkunjung di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes pada bulan Mei 2011. Rumus Besaran Minimal Sampel Populasi Tidak Terbatas ( InFinit) : Rumus ↔ n=(〖Z^2〗_(1-α/2) x P(1-P))/d^2 n=(〖[1,64]〗^2 x 0,205(1-0,205))/〖0,1〗^2 n=(2,6896 x 0,205 x 0,795)/0,01 n=0,43833756/0,01 n=43,833756 atau n=44 sampel Keterangan n : Besar minimal sampel 〖Z^2〗_(1-α/2) : Tk kepercayaan penelitian *99% (2,58); 95% (1, 96); 90% (1,64)] P : Proposri kasus (prevalensi) d : Presisi atau simpangan maksimal terhadap prevalensi (1% s/d 10%) 1 : Nilai maksimal probabilitas Sampel yang diambil adalah keseluruhan ibu hamil trimester III yang berkunjung di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes pada bulan Mei 2011 yang berjumlah 44 orang. 4.4 Alat Pengumpulan Data Data penelitian yang telah dikumpulkan berupa data primer yang berasal dari pemberian lembar questioner pada ibu hamil trimester III yang berkunjung di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes kelapa gading timur pada bulan Mei 2011 yang diperoleh untuk mendapatkan hasil penelitian. 4.5 Metode Pengumpulan Data 4.5.1 Data yang dikumpulkan Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh dari lembar questioner dengan melakukan wawancara. 4.5.2 Pelaksanaan Pengumpulan data Data didapat melalui data primer dari lembar questioner melalui wawancara yang dilaksanakan di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes pada bulan Mei 2011. 4.6 Cara Pengelolaan Data Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dengan system kompetensi mekanisme pengelolaan data. Menurut Hastono (2001) ada 5 tahap pengolahan data yaitu sebagai berikut: 4.6.1 Koding Proses pemberian kode untuk memudahkan dengan cara member nomor pada lembar halaman, pernyataan dan variabel yang bertujuan untuk menyingkat data yang didapat dengan jalan memberikan kode tertentu dalam bentuk angka. 4.6.2 Editing Melakukan pengeditan untuk memeriksa data meliputi kelengkapan, keseragaman, keseimbangan dan kebenaran data. 4.6.3 Tabulasi Data Setelah pengumpulan data terkumpul selanjutnya maka data tersebut diolah dengan tahapan editing dan tabulasi data dengan perhitungan persentasi. 4.6.4 Entery Data Memasukan data yang telah diedit ke computer. 4.6.5 Cleaning Mengoreksi kembali data yang sudah masuk untuk memastikan bahwa data tersebut baik dan benar. 4.7 Analisa Data 4.7.1 Analisa Univariat Analisa yang dilakukan adalah analisa univariat dan bivariat. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan besarnya proporsi dari masing-masing variabel, baik variabel bebas (independent babas) dan variabel terikat (dependent variabel) Pada analisa data ini untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, maka penulis menggunakan rumus: Keterangan F : Distribusi frekuensi X : Jumlah data yang diperoleh N : Jumlah total data Pada analisa univariat dilakukan analisa distribusi frekuensi variabel independent dan dependen. 4.7.2 Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan untuk melihat kemaknaan hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent. Uji yang digunakan adalah chi square dengan

menggunakan derajat kemaknaan 0,005.0,52 Rumus chi square yang bermakna adalah: Keterangan : X2 : Statistik chi schuare Ʃ : Jumlah O : Nilai Observed (frekuensi hasil observasi) E : Expected (frekuensi harapan dari baris dan kolom) Degree of Freedom Df = (K-1).(B-1) Keterangan : B : Jumlah baris K : jumlah kolom jika X2 hitung >X2 tabel maka Ho = dapat ditolak, yang artinya ada hubungan bermakna antara variabel independent dengan variabel dependent dan jika X2 hitung < X2 tabel maka Ho = gagal tolak Ho, yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara variabel independent dengan variabel dependent. BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Analisa Univariat Dari penelitian yang telah didapatkan di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes, penulis menyajikan dalam tabel narasi. 5.1.1 Tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Tingkat Pengetahuan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III N % Baik 11 25 Cukup 15 34 Kurang 18 41 Total 44 100 Berdasarkan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III didapatkan sebagian besar responden yang tingkat pengetahuannya baik 11 responden atau 25%, tingkat pengetahuan cukup 15 responden atau 34% , dan tingkat pengetahuan kurang 18 responden atau 41%. 5.1.2 Pendidikan Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Ibu Pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Pendidikan N % Tingkat tinggi 32 73 Tingkat rendah 12 27 Total 44 100 Berdasarkan pendidikan ibu dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang tingkat tinggi 32 responden atau 73% dan tingkat rendah 12 responden atau 27%. 5.1.3 Paritas Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Paritas Ibu Pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Paritas N % Primigravida 24 55 Multigravida 20 45 Total 44 100 Berdasarkan paritas ibu dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang paritas primigravida 24 responden atau 55% dan multigravida 20 responden atau 45%. 5.1.4 Usia Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Ibu Pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Usia N % < 20 tahun 15 34 20 – 35 tahun 26 59 > 35 tahun 3 7 Total 44 100

Berdasarkan Usia ibu dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang berusia < 20 tahun 15 responden atau 34%, berusia 20 – 35 tahun 26 responden atau 59%, dan berusia > 35 tahun 3 responden atau 7%.

5.1.5 Pendapatan suami Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendapatan Suami Ibu Pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Pendapatan Suami N % ≥ Rp 1.290.000 27 61 < Rp 1.290.000 17 39 Total 44 100 Berdasarkan pendapatan suami dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang memiliki pendapatan ≥ Rp 1.290.000 yaitu 27 responden atau 61%, dan memiliki < pendapatan Rp 1.290.000 yaitu 17 responden atau 39%. 5.1.6 Sumber informasi Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sumber Informasi Ibu Pada Ibu Hamil Trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Pengetahuan N % Media cetak / media elektronik 18 41 Tenaga kesehatan 26 59 Total 44 100 Berdasarkan sumber informasi ibu dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang pengetahuannya didapat dari media cetak 18 responden atau 41% dan didapatkan pengetahuan didapat dari tenaga kesehatan 26 responden atau 59%. 5.2 Analisis Bivariat Analisi Bivariat untuk melihat hubungan variabel independen dengan variable dependen. Uji statistik yang dipakai adalah Chi Square. Hasil analisis bivariat masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel berikut : 5.2.1 Hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. Tabel 5.7 Hubungan Antara Pendidikan Ibu Dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Trimester III Di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Pendidikan Tingkat Pengetahuan Jumlah Baik Cukup Kurang n % n % n % N % Tingkat tinggi 11 34 15 47 6 19 32 100 Tingkat rendah 0 0 0 0 12 100 12 100 Total 11 25 15 34 18 41 44 100 X2 = , df = (3-1)(2-1) = 2 Dari hasil analisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan tingkat pendidikan tinggi diperoleh 11 responden dengan tingkat pengetahuan baik dan pada tingkat pendidikan rendah diperoleh 12 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan hasil uji Chi Square di peroleh X2 hitung 23,85. Pada df (b -1) (k -1) = 2 dan derajat kemaknaan 5% diperoleh Chi Square tabel dengan nilai 5,991, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. 5.2.2 Hubungan antara paritas dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. Tabel 5.8 Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Trimester III Di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Paritas Tingkat Pengetahuan Jumlah Baik Cukup Kurang n % n % n % N % Primigravida 4 17 12 50 8 33 24 100 Multigravida 7 35 3 15 10 50 20 100 Total 11 25 15 34 18 41 44 100 X2 = , df = (2-1)(3-1) = 2 Dari hasil analisis hubungan antara paritas dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan paritas

primigravida diperoleh 8 responden dengan tingkat pengetahuan kurang dan pada paritas multigravida diperoleh 7 responden dengan tingkat pengetahuan baik. Berdasarkan hasil uji Chi Square di peroleh X2 hitung 5,96. Pada df (b-1) (k-1) = 2 dan derajat kemaknaan 5% diperoleh Chi Square tabel dengan nilai 5,991, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan tingkat pengetahuan ibu tentang tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. 5.2.3 Hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. Tabel 5.9 Hubungan Antara Usia Ibu Dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Trimester III Di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Pada Bulan Mei 2011 Usia Tingkat Pengetahuan Jumlah Baik Cukup Kurang n % n % n % N % < 20 tahun 0 0 12 80 3 20 15 100 20 – 35 tahun 11 42 3 12 12 46 26 100 > 35 tahun 0 0 0 0 3 100 3 100 Total 11 25 15 34 18 41 44 100

X2 = , df = (3-1)(3-1) = 4 Dari hasil analisis hubungan antara usia dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan usia < 20 tahun diperoleh 12 responden dengan tingkat pengetahuan cukup, pada usia 20 – 35 tahun diperoleh 11 responden dengan tingkat pengetahuan baik, dan pada usia > 35 tahun diperoleh 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan hasil uji Chi Square di peroleh X2 hitung 25,99. Pada df (b-1) (k-1) = 4 dan derajat kemaknaan 5% diperoleh Chi Square tabel dengan nilai 9,488, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III.

5.2.4 Hubungan antara pendapatan suami dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. Tabel 5.10 Hubungan Antara Pendapatan Suami Ibu Dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Trimester III Di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Bulan Mei 2011

Pendapatan Suami Tingkat Pengetahuan Jumlah Baik Cukup Kurang n%n%n%N% ≥ Rp 1.290.000 10 37 2 7 15 56 27 100 < Rp 1.290.000 1 6 13 76 3 18 17 100 Total 11 25 15 34 18 41 44 100 X2 = , df = (2-1)(3-1) = 2 Dari hasil analisis hubungan antara pendapatan dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan pendapatan suami berpenghasilan ≥ Rp 1.290.000 diperoleh 10 responden dengan tingkat pengetahuan baik, pada pendapatan suami berpenghasilan < Rp. 1.290.000 diperoleh 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan hasil uji Chi Square di peroleh X2 hitung 22. Pada df (b-1) (k-1) = 2 dan derajat kemaknaan 5% diperoleh Chi Square tabel dengan nilai 5,991, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendapatan suami dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III. 5.2.5 Hubungan antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil hrimester III. Tabel 5.11 Hubungan Antara Sumber Informasi Ibu Dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Imunisasi Pada TT Ibu Hamil Trimester III Di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes Bulan Mei 2011 Sumber Informasi Tingkat Pengetahuan Jumlah Baik Cukup Kurang n % n % n % N % Media cetak /elektronik 9 50 6 33 3 17 18 100 Tenaga kesehatan 2 8 9 34 15 58 26 100 Total 11 25 15 34 18 41 44 100 X2 = , df = (3-1)(3-1) = 4 Dari hasil analisis hubungan antara sumber informasi dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan sumber informasi dari media cetak 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang dan pada sumber informasi dari tenaga kesehatan diperoleh 2 responden dengan tingkat pengetahuan baik. Berdasarkan hasil uji Chi Square di peroleh X2 hitung 11,965. Pada df (b-1) (k-1) = 4 dan derajat kemaknaan 5% diperoleh Chi Square tabel dengan nilai 9,488, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III. BAB VI PEMBAHASAAN 6.1. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan yang mungkin akan berpengaruh terhadap hasil penelitian. Keterbatasan pada penelitian cross sectional ini adalah memiliki validitas inferensi yang lemah dan kurang mewakili sejumlah populasi yang akurat dan data

dikumpulkan dalam satu periode waktu singkat dari sampel atau “cross section” responden yang dipilih untuk mewakili populasi target sehingga tidak memperlihatkan pola dari perubahan di dalam diri individu. Keterbatasan penelitian yang dilakukan penulis juga dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis dalam mengumpulkan data, mengolah data, keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan waktu. 6.2. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan Variabel-Variabel yang Diteliti Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh penulis dari 44 responden di BPS Suharti Widodo, S.Si.T, M.Kes Kelapa Gading Timur bulan Mei 2011 yang memiliki tingkat pengetahuan baik ada 11 responden atau sebesar 25%, tingkat pengetahuan cukup sebanyak 15 responden atau sebesar 34% dan dengan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 18 responden atau sebesar 41%, selanjutnya untuk lebih jelas gambaran atau hubungan dari variable yang diteliti maka penulis menggunakan analisa univariat dan bivariat dan penulis akan membahasnya lebih lanjut pada bab ini. Pendidikan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh 32 responden dengan tingkat pendidikan tinggi atau sebesar 73% dan didapatkan 12 responden dengan tingkat pengetahuan rendah atau sebesar 27%. Dari hasil analisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan tingkat pendidikan tinggi diperoleh 11 responden dengan tingkat pengetahuan baik dan pada tingkat pendidikan rendah diperoleh 12 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Pendidikan adalah “proses belajar bagi seseorang menuju kearah terbentuknya perubahan perilaku yang lebih baik dan lebih dewasa”. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan antara teori diatas dan data hasil penelitian terdapat kesesuaian karena menurut penulis semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang rendah akan menghambat perkembangan sikap dan prilaku seseorang terhadap nilai – nilai kesehatan. Paritas Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh 24 responden dengan paritas primigravida atau sebesar 55% dan didapatkan paritas multigravida 20 responden atau sebesar 45%. Dari hasil analisis hubungan antara paritas dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan paritas primigravida diperoleh 8 responden dengan tingkat pengetahuan kurang dan pada paritas multigravida diperoleh 7 responden dengan tingkat pengetahuan baik. Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara paritas dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim. Paritas sangat berpengaruh sekali terhadap penerimaan seseorang terhadap pengetahuan dimana semakin banyak pengalaman seorang ibu maka penerimaan akan semakin mudah. Pengalaman merupakan pendekatan yang penting dalam memecahkan masalah (Nursalam, 2008). Berdasarkan antara teori diatas dan data hasil penelitian tidak terdapat kesesuaian karena menurut penulis tingkat pengetahuan seseorang didapat berdasarkan berbagai faktor – faktor dan tidak hanya berasal dari pengalaman seseorang. Usia Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh usia ibu dalam pengetahuan imunisasi TT pada Ibu hamil trimester III didapatkan sebagian besar responden yang berusia < 20 tahun 15 responden atau 34%, berusia 20 – 35 tahun 26 responden atau 59%, dan berusia > 35 tahun 3 responden atau 7%. Dari hasil analisis hubungan antara usia dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan usia < 20 tahun diperoleh 12 responden dengan tingkat pengetahuan cukup,

pada usia 20 – 35 tahun diperoleh 11 responden dengan tingkat pengetahuan baik, dan pada usia > 35 tahun diperoleh 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan logis (Nursalam dan Pariani, 2001). Seperti yang dikatakan Hurlock (1997) yang dikutip oleh Nursalam (2003), bahwa semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang lebih dipercaya dari orang-orang yang belum cukup tinggi dewasanya. Hurlock (1998) mengatakan bahwa pengalaman dan kematangan jiwa seseorang disebabkan semakin cukupnya umur dan kedewasaan dalam berfikir dan bekerja. Berdasarkan antara teori diatas dan data hasil penelitian terdapat kesesuaian karena menurut penulis semakin tua usia seseorang makin mudah menerima informasi dan mempengaruhi tingkat kesadaran seseorang karena dari pengalaman yang didapat sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya semikin muda usia seseorang maka tingkat pengetahuan sedikit dimiliki sebab kurang peduli terhadap informasi kesehatan dan belum memiliki pengalaman. Pendapatan Suami Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh pendapatan suami dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang memiliki pendapatan ≥ Rp 1.290.000 yaitu 27 responden atau 61%, dan memiliki < pendapatan Rp 1.290.000 yaitu 17 responden atau 39%. Dari hasil analisis hubungan antara pendapatan dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan pendapatan suami berpenghasilan ≥ Rp 1.290.000 diperoleh 10 responden dengan tingkat pengetahuan baik, pada pendapatan suami berpenghasilan < Rp. 1.290.000 diperoleh 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara pendapatan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Menurut Notoatmodjo, antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan, seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya. Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas – fasilitas sumber informasi (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan antara teori diatas dan data hasil penelitian terdapat kesesuaian karena menurut penulis tingkat pendapatan yang rendah cenderung kurang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sehingga ibu yang berpendidikan rendah tidak paham tentang imunisasi TT dan tingkat pendapatan yang tinggi paham tentang imunisasi TT. Sumber informasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh sumber informasi ibu dalam Pengetahuan imunisasi TT pada Ibu Hamil Trimester III didapatkan sebagian besar responden yang pengetahuannya didapat dari media cetak 18 responden atau 41%, tidak didapatkan responden dengan tingkat pengetahuan dari media elektronik, dan didapatkan pengetahuan didapat dari tenaga kesehatan 26 responden atau 59%. Dari hasil analisis hubungan antara sumber informasi dengan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III didapatkan sumber informasi dari media cetak 3 responden dengan tingkat pengetahuan kurang dan pada sumber informasi dari tenaga kesehatan diperoleh 2 responden dengan tingkat pengetahuan baik. Berdasarkan uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan

bermakna antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu Hamil Trimester III. Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang banyak memperoleh informasi maka ia cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Fasilitas – fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku. Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang (Soekidjo Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan antara teori diatas dan data hasil penelitian terdapat kesesuaian karena menurut penulis sumber informasi sangat berperan dalam tingkat pengetahuan dengan memperoleh dari narasumber yang tepat sehingga mendapatkan informasi / wawasan yang lebih jelas tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid). BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III di BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes pasa bulan Mei 2011 yang terdapat 44 responden ibu hamil trimester III yang telah diteliti secara umum yang sudah dikeslaskan pada bab hasil penelitian sesuai dengan tujuan yang telah dijelaskan pada bab pendahuluan. Serta distribusi frekuensi dari masing – masing variabel yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. Maka penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III didapatkan sebagian besar responden yang tingkat pengetahuannya baik 11 responden atau 25%, tingkat pengetahuan cukup 15 responden atau 34% , dan tingkat pengetahuan kurang 18 responden atau 41%. 7.1.2 Berdasarkan hasil uji Chi Square untuk variabel pendidikan ibu di peroleh hasil yang bermakna atau terhadap hubungan antara pendidikan ibu dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. 7.1.3 Berdasarkan hasil uji Chi Square untuk variabel paritas ibu di peroleh hasil yang bermakna atau terhadap hubungan antara paritas ibu dengan tingkat pengetahuan ibu tentang tingkat pengetahuan imunisasi TT ibu hamil trimester III. 7.1.4 Berdasarkan hasil uji Chi Square untuk variabel usia ibu di peroleh hasil yang bermakna atau terhadap hubungan antara usia ibu dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III. 7.1.5 Berdasarkan hasil uji Chi Square untuk variabel pendapatan suami ibu di peroleh hasil yang bermakna atau terhadap hubungan antara pendapatan suami ibu dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III. 7.1.6 Berdasarkan hasil uji Chi Square untuk variabel sumber informasi ibu di peroleh hasil yang bermakna atau terhadap hubungan antara sumber informasi ibu dengan tingkat pengetahuan imunisasi TT pada ibu hamil trimester III. 7.2 Saran 7.2.1 Responden 7.2.1.1 Pendidikan Latar belakang pendidikan sangat mempengaruhi wawasan / tingkat pengetahuan ibu hamil. Pendidikan rendah tidak seharusnya menjadi kendala bagi para ibu hamil untuk tidak mengerti tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) maka dari itu kepada ibu hamil yang memiliki pendidikan rendah ataupun kurang mengerti tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) untuk mencari informasi di media cetak atau media elektronik dan informasi pun dapat diperoleh dari petugas kesehatan. 7.2.1.2 Paritas Bagi ibu hamil yang berparitas primigravida dan multigravida diharapkan lebih mencari informasi tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) karena tingkat pengetahuan seseorang didapat berdasarkan berbagai faktor – faktor dan tidak hanya berasal dari pengalaman seseorang. 7.2.1.3 Usia Pengetahuan tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) tidaklah memandang berapapun usia / umur ibu. Diharapkan semua ibu dengan umur < 20 tahun, 20 – 30 tahun, atau > 30 tahun mampu memiliki pengetahuan yang baik tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) sehingga ibu hamil memahami pentingnya untuk melakukan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada masa kehamilannya maupun siklus kehidupannya. Informasi tidak hanya dapat diperoleh dari petugas kesehatan saja, namun ibu dapat mencari informasi lain baik di media cetak atau media elektronik.

7.2.1.4 Pendapatan Suami Pendapatan per-bulan dalam keluarga sering dijadikan kendala minimnya ibu untuk menyediakan atau membeli fasilitas – fasilitas sumber informasi dan pergi ke pelayanan untuk periksa hamil atau imunisasi TT (Tetanus Toxoid). Ibu hendaknya menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk biaya imunisasi TT (Tetanus Toxoid) agar mendapat imunisasi TT dan sekaligus dapat bertanya informasi imunisasi TT (Tetanus Toxoid) dari petugas kesehatan. 7.2.1.5 Sumber Informasi Untuk mendapatkan informasi yang lebih tepat sebaiknya didapat dari narasumber yang tepat, misal bidan atau dokter mengenai imunisasi. Namun tidak menutup kemungkinan pula, para ibu dapat mendapat informasi dari media cetak atau media elektronik lainnya guna menambah wawasan tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid). 7.2.2 Tenaga Kesehatan Sebagian besar ibu dalam penelitian ini mendapatkan informasi dari petugas kesehatan, oleh karena itu diharapkan pihak BPS Suharti Widodo S.Si.T M.Kes, untuk memberikan informasi tentang imunisasi TT (Tetanus Toxoid) lebih detil lagi saat sebelum tindakan imunisasi TT pada ibu hamil bila perlu setiap kunjungan ANC (Antenatal Care). 7.2.3 Institusi Pendidikan Bagi Institusi pendidikan diharapkan dapat menyediakan literatur sehingga penulis mendapat sumber yang cukup untuk materi penelitian ini. 7.2.4 Mahasiswi Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan media / alat pengumpulan data yang lebih simpel dan mudah dimengerti agar dalam pengisian data didapatkan hasilnya lebih cepat dan akurat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->