BAB I PENDAHULUAN

Puji syukur peulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Nahdlatul Ulama‟”, yang merupakan sebuah organisasi islam yang terbesar nomor satu di Indonesia. Penulisaan makalah ini adalah merupakan salah satu bentuk apresiasi dari keseriusan DP HIKMAT khususnya bidang keilmuan dalam rangka menfasilitasi kegiatan diskusi dwi mingguan. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal „Alamiin.

BAB II SEJARAH NAHDLATUL ULAMA’

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis

untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana, setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan. Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Karena sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah. Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis. maka KH. Organisasi ini dipimpin oleh KH.1947 1947 . Rais Akbar (ketua) pertama NU Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini. akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial.H. Berikut ini adalah daftar Ketua Rais Aam (pimpinan tertinggi) Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: No 1 2 3 Nama KH Mohammad Hasyim Asy‟arie KH Abdul Wahab Chasbullah KH Bisri Syansuri Tahun Menjabat 1926 .1980 .Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU . keagamaan dan politik. K. untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar). Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai. Hasyim Asy'arie. kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah.1971 1972 .

DINAMIKA DAN POLITIK Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah.1992 1992 . Sunnah.1991 1991 . Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an. tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis).1984 1984 . seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi .4 5 KH Muhammad Ali Maksum KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq KH Ali Yafie 1980 .sekarang 6 7 KH Mohammad Ilyas Ruhiat KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz BAB III PAHAM KEAGAMAAN.1999 1999 . Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu.

5. Prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. 7. 6. Prestasi NU antara lain: 1. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara. Maliki. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab. . Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937. Berubah menjadi partai politik. baik dalam bidang fikih maupun sosial. Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam. Sementara dalam bidang tasawuf. serta merumuskan kembali metode berpikir. mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi. yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional. sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. 4.dalam bidang teologi. yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945. 3. Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an. sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing. dan Hanbali. Syafi'i. Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. 2. merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Hanafi.

muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Pada muktamar NU di Situbondo. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. BAB IV BAHTSUL MASA’IL DAN ISTINBATH HUKUM NU NU sebagai jam’iyah sekaligus gerakan diniyah Islamiyah dan ijtima’iyah. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Namun setelah reformasi 1998. NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi. Syafi‟I dan . PKB memperoleh 52 kursi DPR. NU cukup berhasil dengan merahil 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Setelah PKI memberontak. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Maliki.Bendera Nahdlatul Ulama Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. sejak berdirinya telah menjadikan faham ahlussunnah wal jama‟ah sebagai basis teologi (dasar beraqidah) dan menganut dari salah satu dari empat madzhab : Hanafi. terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor. NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI. Pada pemilu 2004.

Mereka juga sering mengambil keputusan sepakat dalam khilaf. Dengan menganut salah satu dari empat madzhab dalam fiqh. Dikatakan dinamis sebab persoalan (masail) yang digarap selalu mengikuti perkembangan hukum di masyarakat.Hambali sebagai pandangan dalam berfiqh. Bila kebetulan ditemukan pendapat yang telah ada nashnya. demoktratis dan berwawasan luas. Pendapat siapapun yang paling kuat itulah yang diambil. Dikatakan berwawasan luas sebab dalam bahstul masail tidak ada dominasi madzhab dan selalu sepakat dalam khilaf. kalau tidak ditemukan maka akan beralih ke pendapat hasil takhrij. NU sejak berdirinya memang selalu mengambil sikap dasar untuk bermadzhab. Demokratis karena forum tersebut tidak ada perbedaan antara kiyai. Hampir dapat dipastikan bahwa fatwa. munaqahah (mnhukum keluarga). bahstul masail NU merupakan forum yang sangat dinamis. menunjukkan elestisitas dan fleksibelitas sekaligus memungkinkan bagi NU untuk beralih madzhab secara total atau dalam beberapa hal yang dipandang sebagai kebutuhan (hajah) meskipun kenyataannya dalam keseharian para ulama NU menggunakan fiqh Indonesia yang bersumber dari madzhab Syafi‟i. akan tetapi mengambil sikap dalam menentukan pilihan sesuai dengan situasi kebutuhan hajiyah tahsiniyah (kebutuhan sekunder maupun dharuriyah (kebutuhan primer). Dari segi historis maupun operasionalitas. santri yang tua maupun yang muda. petunjuk dan keputusan hukum yang diberikan oleh ulama NU dan kalangan pesantren selalu bersumber dari madzhab Syafi‟i. maka qaul itulah yang dipegangi. jinayah/qadha’ (pidana/peradilan). mu’amalah. Sikap ini secara konsekuen ditindak lanjuti dengan upaya pengambilan hukum fiqh dari referensi dari kitab-kitab fiqh yang umumnya dikerangkakan secara sisetematik dari beberapa komponen: ibadah. Dalam hal ini para ulama NU dan forum bahstul masail mengarahkan orentitasnya pada pengambilan hukum kepada pendapat para mujtahid yang muthlaq maupun muntashib. Dengan mengikuti empat madzhab fiqh ini. BAB IV PENUTUP . Bila terjadi khilaf (perbedaan) maka diambil yang paling kuat sesuai pentarjihan ahli tarjih.

Syafi'i. serta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Dikatakan dinamis sebab persoalan (masail) yang digarap selalu mengikuti perkembangan hukum di masyarakat. Selain itu. 2. Pendapat siapapun yang paling kuat itulah yang diambil. yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Sunnah. Sementara dalam bidang tasawuf. mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi. sebab yang dibahas dalam bahstul masail NU bukan hanya permasalahan kontemporer tetapi juga permasalahanpermasalahan yang terjadi sekarang ini DAFTAR PUSTAKA http://www. demoktratis dan berwawasan luas.or.com/2011/02/18/makalah-tentang-nu-nahdlatul-ulama/ . Ijma‟ dan Qiyas.Dari uraian di atas penulis mencoba memaparkan tentang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama‟. NU juga golongan yang mengikuti perkembangan zaman. seluk beluk organisasi ini di dunia politik. Bahstul masail NU merupakan forum yang sangat dinamis. dan Hanbali. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab. Dikatakan berwawasan luas sebab dalam bahstul masail tidak ada dominasi madzhab dan selalu sepakat dalam khilaf.id/ http://id. Sumber pemikiran NU adalah Al-Qur'an.org/wiki/Nahdlatul_Ulama http://afud1428.wordpress. Maliki. santri yang tua maupun yang muda. Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah.nu.wikipedia. Hanafi. Demokratis karena forum tersebut tidak ada perbedaan antara kiyai.

untuk membentuk muslim yang bertakwa. Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan) 5.LAMPIRAN Tujuan Organisasi Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat. 4. Di bidang agama. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi) 3. Pengurus Besar (tingkat Pusat) 2. Pengurus Ranting (tingkat Desa/Kelurahan) . Di bidang sosial-budaya. 3. 5. di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Usaha Organisasi 1. mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan. 2. melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. berbudi luhur. dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) 4. Struktur 1. Di bidang pendidikan. berpengetahuan luas. mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan. Di bidang ekonomi. menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Lajnah Falakiyah (LF-NU) . setiap kepengurusan terdiri dari: 1.Untuk tingkat Pusat. Syuriaah (Pimpinan tertinggi) 2. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) 5. Lembaga ini meliputi: 1. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) 10. Lajnah ini meliputi: 1. Tanfidziyah (Pelaksana Harian) Untuk tingkat Ranting. Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) 7. dan Majelis Wakil Cabang. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) 2. Lembaga Takmir Masjid Indonesia ( LTMI ) 9. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama ( LPKNU ) 4. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) 8. Mustasyar (Penasehat) 2. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) 12. Tanfidziyah (Pelaksana harian) Lembaga Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) 6. setiap kepengurusan terdiri dari: 1. Syuriah (Pimpinan Tertinggi) 3. Cabang. Lajnah Bahtsul Masail (LBM-NU) Lajnah Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) 11. Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) 3. Wilayah.

9. 7. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah Muslimat NU Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Fatayat NU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (IPS Pagar Nusa) Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH) BAB V Kekurangan NU 1. Di beberapa daerah. 6. Sepinya kegiatan di berbagai ranting atau cabang atau wilayah. kegiatan yang dibawah structural NU kurang progresif dan cenderung sepi. Badan Otonom ini meliputi: 1. Hal inilah yang kemudian membuat beberapa kalangan menyebut NU sebagai The . Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN-NU) Lajnah Auqaf (LA-NU) Lajnah Zakat. 2. 3.2. Infaq. 3. 8. 4. 4. 5. dan Shadaqah (Lazis NU) Badan Otonom Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu.

2. tetapi mengadakan inovasi kegiatan akan lebih baik. Mempertahankan kegiatan yang sudah menjadi tradisi memang baik. jangan sampai NU hanya mempunyai kegiatan yang menguntungkan pihak NU sendiri. Kegiatan-kegiatan yang diadakan seperti ini sebenarnya tinggal mengadopsi konsep Fiqh Sosial yang dicetuskan oleh DR HC KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (Rais Am Syuriah PBNU) dan kemudian mengimplementasikannya dengan berbagai teknik dan metode yang disesuaikan dengan sasaran dan kebutuhan sehingga memiliki output yang maksimal. tepat guna. misalnya kegiatan seminar. koperasi. baik secara cultural maupun secara structural. Ketika jaman semakin membuat tingkat kesulitan mencapai kesejahteraan hidup semakin tinggi dan juga berefek kepada tergadainya iman dan aqidah. dan tepat tujuan. Di pihak lain.Silence Majority(mayoritas yang hanya diam). kursus. tetapi di sisi lain juga menimbulkan efek negative yang lain. dan sebagainya. semakin tidak kohesif (kompak. pelatihan. Beberapa kalangan juga menilai bahwa NU kurang serius di dalam mengelola keanggotaan warganya. Kemampuan berpikir inovatif dan peka terhadap kebutuhan ummat tentu saja tidak cukup dan harus diimbangi dengan skill pengelolaan organisasi yang tentunya sangat dibutuhkan dan harus ada di setiap jajaran structural NU. Tidak hanya kuantitas kegiatan yang menjadi sasaran di dalam menyusun program kerja. Hal ini jelas merugikan NU sebagai organisasi Islam yang dibangun dengan tujuan salah satunya menegakkan agama Islam khususnya amalan-amalan ahlussunnah wal jama‟ah dan juga menyejahterakan ummat. NU harus progresif mengadakan kegiatan yang outputnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas secara umum dan masyarakat sekitar secara khusus. sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Di dalam hukum kohesivitas psikologi social. Efek tersebut adalah sulitnya mengelola keanggotaan yang sangat banyak. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa sebanyak lima puluh satu juta jiwa muslim dan santri Indonesia berafiliasi dengan NU. training. Kegiatan yang diadakan harus bersifat tepat sasaran. banyak terdapat para anggota structural NU yang juga kurang memahami manajemen organisasi yang . semakin besar jumlah anggota suatu kelompok akan mengakibatkan kurangnya kohesivitas para anggota kelompok tersebut. tetapi kualitas kegiatan juga penting. kegiatan-kegiatan yang tidak hanya kegiatan keagamaan. Sebagai organisasi yang terbesar. lekat. Semakin besar jumlah anggota suatu kelompok. membuka klinik. Kegiatan seperti ini juga harus menyebar baik di setiap tingkatan maupun di setiap daerah. solid). Hal ini menjadi kelebihan yang dimiliki oleh NU yang menjadikan NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.

3. Selain itu. Kontekstualisasi hukum membuat banyak orang terpengaruh paham skripturalis atau tekstualis. namun membiarkan ummat di dalam keawaman juga bukan tindakan yang bijaksana. Memberikan dan menyerahkan permasalahan kepada yang bukan ahlinya merupakan perbuatan yang tidak terpuji. paling tidak disesuaikan dengan sasaran sehingga warga yang awam mampu memahami amaliyyahamaliyyah mereka meskipun tidak secara detail. 4. seorang tokoh dari PWNU Jawa Tengah memiliki konsep Gerakan Kiai Kampung untuk memberikan solusi agar ummat khususnya di daerah pedesaan tidak awam mengenai masalah keagamaan dan peribadatan serta dapat mencapai kesejahteraan. bagaimana menghadapi masalah ummat. tetapi ada juga yang tidak paham sama sekali atau taqlid buta. Barangkali tantangan dari kaum radikalis—puritan yang semakin tinggi menjadi hikmah bagi NU untuk semakin menyolidkan barisan dan tidak lengah sedikitpun di dalam memperjuangkan Islam Sunni dan Ahlussunnah wal Jama‟ah di Indonesia. Di sini saya tidak bermaksud mengharuskan setiap warga NU untuk berijtihad. Busyairi Harits. Begitu juga sebaliknya. dibutuhkan peran aktif dari para kyai terutama di tingkat pedesaan untuk istiqamah di dalam memberikan kajiankajian yang tidak hanya bersifat akhlaq dan aqidah. Banyak pertemuan di berbagai tingkatan dan daerah secara rutin dengan agenda membahas masalah terkini ummat untuk dicarikan solusinya mungkin akan dapat menjadi sebuah solusi untuk permasalahan kohesivitas ini. System taqlid mengharuskan para kyai NU menuntun para warga Nahdliyyin yang awam. Warga NU sangat bervariasi. di sisi lain para anggota structural NU juga harus belajar mengenai manajemen organisasi yang baik. Ada yang sangat pandai dan paham. Hal ini jika dibiarkan secara terus menerus. bisa saja akan merugikan. bagaimana menyolidkan warga NU. bagaimana ketika ada gesekan atau tantangan dari luar datang. namun akan lebih baik jika para warga mampu untuk memahami sampai detail. tetapi juga kajian fiqh. tetapi setidaknya ada usaha dari setiap warga NU terutama yang awam untuk belajar mengenai keilmuan dan kemadzhaban serta ahlussunah wal jama‟ah sehingga semakin mantap di dalam beramaliyyah. termasuk salah satunya mengenai tingkat pemahaman terhadap Islam secara umum dan ahlussunnah wal jama‟ah secara khusus.baik yang juga akan mengakibatkan kurang solidnya barisan NU secara structural. dan sebagainya. .

5. Arti moderat di sini adalah tetap menghargai adanya budaya tersebut dengan berupaya mengadakan akulturasi dan asimiliasi dengan budaya Islam. Kontekstualisasi hukum seperti ini membutuhkan kecerdasan. tetapi justru diganti dengan nilai-nilai keIslaman. di sisi lain ketika terdapat kesulitan di dalam kehidupan yang membutuhkan tingkat dinamis dan fleksibiltas pemikiran yang tinggi. misalkan menghilangkan unsure kesyirikan. lalu mengapa masih ada pihak-pihak yang mengeklaim sesat dan salah padahal NU dan Syafi‟iyyah belum tentu salah dan mereka belum tentu benar? Kontekstuaslisasi hukum ini juga kemudian berefek kepada sulitnya memahami hasil dari kontekstualisasi hukum tersebut. Budha. Arti moderat bukan berarti mengijinkan berkembangnya budaya begitu saja tanpa penyaringan atau filter. Banyak para kaum muda NU terlibat ke dalam pemikir yang bebas (neo Mu‟tazilah). budaya-budaya yang menjadi amalan-amalan warga Nahdliyyin atau Syafi‟iyyah di Indoensia dan diklaim bid‟ah dlalalah tersebut sudah tidak lagi memakai nilai Hindu. Perkembangan pemikiran seperti ini mampu memberikan efek positif di dalam kehidupan untuk tujuan kesejahteraan ummat.Corak pemikiran NU adalah mengkontekskan hukum Islam tanpa meninggalkan nilai-nilai atau hukum-hukum yang terdapat di dalam Al Quran dan Sunnah sebagai sumber utama di dalam penggalian hukum (istinbath al-ahkam) dan juga sebagai dalil utama. Pemikiran akan terus berkembang karena sifat pikiran dan ilmu pengetahuan yang dinamis. salah satunya terhadap budaya. dan kejawen. tetapi masalah keagamaan yang diperlukan ijtihad meskipun tidak berupa ijtihad muthlaq. mengisi acara dengan doa dan sesuatu yang bermanfaat. kepahaman. dan kehati-hatian yang sangat dalam pada kalangan kyai karena yang dihadapi tidak hanya masalah duniawi saja. Di dalam hadits Rasulullah SAW bersabda kesalahan ijtihad saja tetap diberi pahala satu. sehingga memberikan peluang ketidakpahaman kalangan awam yang kemudian banyak kalangan awam yang mudah terpengaruh oleh gerakan radikalis—puritan yang cenderung tekstual dan skripturalis di dalam memahami hukum-hukum di dalam Al Quran dan Sunnah. ketelitian. Namun. Hal ini yang kemudian membutuhkan upaya keras dari kalangan cendekiawan NU dan warga NU yang duduk di jajaran structural NU untuk senantiasa mengawal dan membentengi para warga yang masih awam agar tidak terseret dan tidak terpengaruh oleh gerakan-gerakan semacam itu yang justru mengancam keutuhan ummat dan ukhuwah islamiyyah. akan justru . Sehingga. Hal ini sebagai konsekuensi dari prinsip Ahlussunnah wal Jama‟ah yang peka terhadap kemashlahatan ummat dan moderat.

Mungkin saja sikap pluralisme tumbuh dari sikap toleransi ini. Ada salah satu fenomena yang menurut saya kurang tepat dari segi aqidah. Dari segi toleransi ummat beragama jelas ini adalah sikap . di sisi lain. misalkan ketika Yenny Wahid (putri Alloh Yarham KH Abdurrahman Wahid) menginstruksikan kepada Barisan Ansor Serba Guna (BANSER) untuk ikut menjaga keamanan dan ketertiban perayaan Paskah. Jelas efek semacam ini sangat merugikan bagi NU sendiri. dan beliau telah menancapkan paham Asy‟ariyyah menggantikan paham Mu‟tazilah. Selain itu. juga dapat mengancam ukhuwah di tubuh NU sendiri. Beberapa dari kalangan yang disebut sebagai neo-Mu„tazilah oleh beberapa pihak yang tidak setuju dengan mereka. namun bukan berarti universalitas dan fleksibilitas hukumnya meninggalkan nilai-nilai yang dibawanya sendiri. bahkan tidak jarang kalangan kyai berselisih pendapat dengan kaum muda NU yang liberal. Namun. Abu Hasan al-Asy‟ari yang telah taubat dari paham Mu‟tazilah yang dianutnya selama 40 tahun. Periode saat ini banyak muncul pemikiran liberal yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai pemikiran liar dan liberal yang menyalahi syara’. justru menganut paham NU meskipun secara structural tidak masuk di dalam kepengurusan NU. terdapat beberapa mahasiswa NU yang tergabung dalam PMII suatu universitas sering mengadakan diskusi membahas mengenai teologi dan doktrin-doktrin yang membuat mereka berfilsafat tanpa arah dan tujuan yang jelas dan kemudian menjadikan mereka mempermainkan Tuhan dengan setiap tindakannya.mengakibatkan liarnya pemikiran yang mungkin dapat keluar dari ketentuan syara’. mereka justru telah melampaui batas di dalam menggunakan akal dan pikiran mereka sehingga mereka diberangus oleh mantan pengikutnya sendiri. Salah satu prinsip dari Ahlussunnah wal Jama‟ah adalah prinsip tasamuh yang diartikan sebagai sikap toleransi dan menghargai perbedaan. Sikap toleransi yang kemudian disalahartikan menyebabkan sikap toleransi yang berlebihan. Hal ini selain dapat menghilangkan nilai-nilai hukum Islam. Seperti yang telah tercatat oleh sejarah bahwa Islam pernah berjaya di tangan kaum Mu‟tazilah yang pandai berdebat dengan teknik rasionalitas yang tinggi dan kemampuan filsafat yang hebat untuk menghadapi kaum zindiq yang menggerogoti Islam dari dalam. Terlepas apakah cara berpikir mereka benar atau bahkan salah. yang kemudian menimbulkan polemic dan kontroversi dari tingkat ulama sampai tingkat akademis. Sehingga kalangan kyai atau Syuriah atau Mustasyar harus dapat bertindak secara tegas dan tepat di dalam menghadapi kasus seperti ini. keberadaan pemikiran tersebut terbukti menodai kalangan NU sendiri. 6. Islam memang agama rahmat untuk seluruh alam.

harus mencontoh keteladanan beliau. Banyak media massa yang didominasi oleh kalangan radikalis—puritan yang menjadikannya sebagai alat untuk menyebarkan pahamnya. Motivasi menulis warga Nahdliyyin rendah. Betapa sibuknya mereka untuk mencapai kemuliaan akhirat dan untuk mencari bekal menyejahterakan ummat kelak ketika sudah keluar dari pondok. Selain itu. Menulis adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia juga selain mengaji. dari segi aqidah. santri juga dituntut menegakkan sembahyang-sembahyang sunnah sehingga bisa dikatakan waktu 24 jam dalam sehari kurang bagi santri dan kyai. yaitu sebagai sarana membentengi diri dari hantaman kalangan radikalis—puritan yang notabene rajin menulis namun ketika diadakan dialog terbuka secara ilmiah justru tidak pernah menyanggupi. Menulis ini juga akan menimbulkan dampak positif bagi NU sendiri. Hampir seluruh waktu di setiap harinya dipakai santri untuk mengaji kitab kuning kepada para kyainya. bisa-bisa sikap semacam ini melunturkan aqidah seseorang. Namun. tetapi juga bukan berarti membuat aqidah kita menjadi luntur. membiarkan mereka beribadah dan tidak bersikap anarkis serta provokatif pun sudah termasuk sikap toleransi. 7. Apalagi para santri dan warga NU. Toleransi memang membutuhkan pertimbangan kemashlahatan ummat.yang menguntungkan karena dapat menimbulkan good image dari kalangan non-Islam terhadap kalangan Islam. yaitu kurangnya (bukan tidak adanya) motivasi untuk menulis. Salah satu upaya untuk menumbuhkan minat menulis ini sebenarnya sudah dilaksanakan oleh NU sendiri yaitu melalui pelatihan yang diadakan oleh lembaga NU yang bernama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM). Hadlratusy Syaikh Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy‟ari (sebagai pendiri dan Rais Akbar NU) saja rajin menulis yang membuat beliau menghasilkan karya sebanyak 20 kitab. Kesibukan ini ternyata memiliki sedikit (jika tidak mau dikatakan banyak) efek yang kurang baik bagi santri. NU merupakan sebuah organisasi yang didominasi oleh kalangan santri dan kyai. Menjaga ketertiban dan keamanan peringatan keagamaan agama lain memang kewajiban setiap warga. namun bukankah POLRI yang seharusnya berada di garda terdepan karena itu memang tugas POLRI? Bukankah ketika ikut menjaga peribadatan mereka juga berarti mengakui kegiatan peribadatan mereka yang pada akhirnya berefek kepada kepercayaan secara tidak langsung terhadap Tuhan mereka? Toleransi bukan selalu harus terlibat secara langsung. upaya ini sepertinya kurang . Namun. Buku merupakan salah satu media yang paling ekonomis dan dapat menyebar luas sehingga untuk menghadapinya juga dibutuhkan usaha sebanding.

keNUan. Al Quran. seperti Pelatihan Kader Muda (Lakmud) untuk pengkaderan IPNU dan IPPNU. Misalkan. namun pandai di dalam keilmuan umum juga tidak bisa dianggap remeh. Sebagai jam’iyyah diniyyah. tafsir. Pendidikan merupakan permasalahan urgen dan sampai sekarang masih menjadi permasalahan yang terus diperbincangkan. Pengkaderan yang berkualitas akan melahirkan kader yang tidak hanya berkualitas. Tidak hanya mengembangkan kemampuan menulis. networking.progresif di berbagai daerah. misalkan keilmuan fiqh. Banyaknya anggota dan kader secara structural belum tentu menjamin kelangsungan NU sendiri. kualitas kader juga sangat penting. Dari situ. Karena itu. GP Ansor dan Banser-nya. tetapi juga mengembangkan keilmuan terkait konten atau materi mengenai apa yang ditulis. tidak mudah goyah dengan terpaan badai dan tantangan serta akan dapat memecahkan permasalahan ummat. aswaja. Upaya seperti training dan pelatihan menulis harus diupayakan secara kontinyu dan berkualitas di berbagai tingkatan dan daerah. Sebagai organisasi secara structural. teknik acara dan konten acara juga harus diperhatikan. Materi-materi yang diberikan harus berkualitas. IPPNU. dan sebagainya. peningkatan pendidikan juga harus menjadi perhatian khusus NU. 9. misalkan materi tentang manajemen organisasi. Selain kuantitas. pengkaderan IPNU. Fatayat NU. pendidikan karakter dan mental. Jangan hanya berNU secara cultural. Pandai di dalam keilmuan agama merupakan tingkatan yang mulia. Para kyai pun juga dituntut untuk memotivasi para santrinya agar memiliki gairah berkarya. Tetapi diperlukan upaya untuk paling tidak memahami amaliyyah-amaliyyah tersebut sesuai kadar kemampuan sehingga akan semakin mantap di dalam beramaliyyah. tentu saja dibutuhkan peran kalangan senior di dalam mengadakan kegiatan tersebut. harus ada upaya pengkaderan secara serius dan kontinyu. hadits. Kader yang militant dan loyal akan mengakibatkan kohesivitas yang tinggi di antara para kader NU. kohesivitas. Pengkaderan yang kurang progresif di beberapa daerah. Tidak hanya itu. Keilmuan agama dan . Hal ini berakibat pada pengkaderan yang kurang rapi dan kurang optimal. NU akan menjadi organisasi yang kuat dan kokoh. harus dilaksanakan sesuai dengan program kerja dan konsep yang telah dicanangkan oleh NU. 8. NU kurang dapat mengendalikan keanggotannya. tetapi juga militan dan loyal. dan sebagainya. tidak cukup ketika hanya mengaku dan melaksanakan amaliyyahamaliyyah NU saja. Tidak hanya itu. Pada akhirnya. tetapi juga secara akademisi.

umum sangat bermanfaat guna mencapai kesejahteraan dunia dan kahirat (sa’adatuddarain). khususnya yang bersifat duniawi. dan Mabadi’ Khairu Ummat. Berkorban juga sebaiknya dilaksanakan dengan maksimal tanpa menafikan kemampuan dan kadar diri masing-masing. Arah perjuangan di dalam mengentaskan dan memecahkan berbagai masalah tersebut harus sejalan dengan Qanun Asasy Nahdlatul Ulama (yang dipidatokan oleh Rais Akbar NU pada Muktamar I NU. diharapkan bersedia menuliskan setiap pemikirannya dan mempublikasikannya kepada masyarakat NU dan umum sehingga mampu mencerahkan tidak hanya NU saja tetapi juga masyarakat umum. harus mampu menjadi kalangan terpelajar sebelum akhirnya melakukan upaya pengentasan kemiskinan. keterbelakangan. diharapkan bersedia menyumbangkan pemikiran dalam hal apapun untuk kemajuan NU dan kemashlahatan ummat. Bagi para warga Nahdliyyin yang memiliki kemampuan menulis. sebaiknya melengkapi keterampilan diri dengan keterampilan manajemen organisasi di samping keterampilan keilmuan dan interpersonal. . pemikiran mengenai konsep kegiatan yang inovatif. dan kebodohan ummat demi mencapainya kesejahteraan ummat dan kejayaan Islam. misalkan membangun gedung NU tingkat Majelis Wakil Cabang atau Cabang atau Wilayah. Sebagai warga yang bersedia diafiliasikan dengan NU. 10. Berkorban banyak caranya. keterbelakangan. misalkan pemikiran mengenai hal-hal kekinian. Permasalahan kekinian tidak cukup diselesaikan dengan hanya beribadah dan berdoa saja. Para warga Nahdliyyin diharapkan aktif untuk menyumbangkan segala sesuatu kepada NU. dan kebodohan dapat diminalisir dan dihilangkan yang selanjutnya mengakibatkan kesejahteraan ummat. khususnya santri. Hadlratusy Syaikh Kyai Haji Muhammad Hasyim Asy‟ari yang sekaligus menjadi Anggaran Dasar NU). Sehingga sebagai warga NU. Selain itu bisa juga menyumbangkan hartanya untuk kegaiatan-kegaiatan NU sebagai donator. Bagi para warga Nahdliyyin yang memiliki kelebihan di bidang pemikiran. Efek selanjutnya. dan sebagainya. Bagi para warga Nahliyyin yang duduk di jajaran structural NU. seharusnya memiliki komitmen tinggi untuk berkorban kepada NU. agar di setiap kegiatannya NU mampu mengaktualisasikan dirinya dengan baik tanpa terkendala fasilitas. tetapi juga dengan upaya yang membutuhkan kecerdasan dan pengembangan pemikiran dan keilmuan guna memecahkan permasalahan ummat. kemiskinan. Bagi para warga Nahdliyyin yang memiliki kelebihan harta diharapkan bersedia menyisihkan sebagian hartanya untuk NU. Khiththah Nahdliyyah(yang dirumuskan oleh Kyai Haji Achmad Shiddiq yang menjadi Rais Am PBNU masa jabatan 1984—1991).

NU harus merapikan strukturalnya. maka PBNU tidak akan kesulitan untuk berinteraksi dengan para warganya dan juga tidak akan mengalami hambatan jika warganya membutuhkan pertolongan. Namun. sehingga program yang berkualitas ini kurang terpublikasi dan terealisasi dengan baik. 11.Bagi warga Nahdliyyin yang memiliki kelebihan di dalam hal kepandaian atau kefaqihan. sehingga akan jelas bahwa di daerah tersebut merupakan basis pendukung NU. Upaya yang lain untuk merapikan structural NU adalah dengan cara memasang nameboard NU dan badan otonom-badan otonom (banom) NU di setiap ranting (desa) atau majelis wakil cabang (kecamatan) atau cabang (kabupaten) atau wilayah (propinsi). keangotaan akan jelas dan kinerja akan semakin produktif. Tentunya sikapsikap seperti harus disertai dengan pengimplementasian prinsip-prinsip ahlussunnah wal jama‟ah dengan baik. tetapi harus berada di tempat yang strategis. maka diharapkan mampu mencerahkan dan mencerdaskan ummat dengan ilmunya. program dari PBNU yang membuat KARTANU (Kartu Tanda Anggota NU). Pemasangan nameboard NU dan banom-banomnya ini merupakan tanggung jawab dari jajaran structural NU misalkan PCNU. Dibutuhkan skill dan kemampuan mengenai keilmuan manajemen organisasi untuk mengelola organisasi besar dengan baik. Hal ini akan memudahkan akses . Pemasangan nameboard NU dan banom-banomnya ini juga tidak dapat dilakukan “asal dipasang”. baik untuk warga NU secara structural maupun secara cultural. NU yang juga bercorak structural jangan hanya mengandalkan basis strukturalnya. Anggota NU sudah banyak tanpa pengelolaan dengan baik karena sudah melekatnya tradisi ahlussunnah wal jama‟ah yang berkembang di Indonesia. sayangnya upaya PBNU ini tidak diimbangi dengan respon yang reaktif dari jajaran structural dibawahnya yang seharusnya membantu PBNU di dalam mengkoordinasi warga NU untuk membuat KARTANU tersebut. Sebagai salah satu contohnya. maka seluruh anggota dan warga NU akan tercatat di databaseNU. Hal ini akan sangat baik jika disertai pengelolaan organsasi dengan kualitas yang tinggi yang akan membuat organsasi menjadi sangat rapi. tetapi juga sebagai kartu asuransi dan kartu pra bayar. Efeknya. Kelebihan yang lain dari KARTANU ini tidak hanya berfungsi sebagai kartu tanda anggota saja. Jika keanggotaan jelas. Program ini tentunya sangat berkualitas karena dengan adanya KARTANU ini. atau jika dimungkinkan dipasang di kantor NU dan banom-banomnya. Sebuah tantangan yang berat untuk organisasi sebesar NU di dalam mengelola keanggotaan dan organisasinya. misalkan oleh PWNU dan PCNU.

Respon-respon untuk tindakan semacam ini tidak cukup dengan menulis buku-buku counter yang banyak tetapi juga dengan sikap dan tindakan seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa jajaran cultural dan sturktural NU misalnya dengan memberikan pengajian kefiqhan dan debat ilmiah secara terbuka. terdapat buku yang sangat kontroversi. Pada akhirnya. Tentu saja hal ini membutuhkan tidak hanya keilmuan semata. tetapi juga merpikan program kerja dan realisasinya sehingga program kerja dapat terlaksana dengan baik dan dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Ketika saya jalan-jalan di sebuah toko buku. etika bersikap dan bergaul akan semakin menipis dan pudar. Banyak para kaum muda dan pelajar NU di berbagai daerah yang kehilangan etika dan mencerminkan rendahnya akhlaq yang disebabkan oleh gaya hidup yang semakin modern. Fenomena seperti ini merupakan fenomena yang sangat ironis mengingat NU tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan saja tetapi juga bergerak di bidang akhlaq dan etika. Diperlukan ketegasan yang nyata dari jajaran structural NU yang lebih tinggi untuk menindaklanjuti para warganya yang mengancam ukhuwah terlebih lagi beberapa oknum warga NU yang bertindak provokatif dan meninggalkan prinsip-prinsip aswaja. Namun. Selain upaya tersebut. 12. tetapi juga motivasi dan keberanian yang tinggi tanpa mengancam ukhuwah dan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip aswaja. tidak hanya teknologi saja yang mengglobal. Perbaikan akhlaq dan pergaulan di kalangan pelajar dan kaum muda NU. tetapi juga karakteristik berpikir dan budaya dari tempat asal tekonologi tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya gerusan budaya local dan local wisdom Indonesia yang banyak sesuai dengan prinsip aswaja. upaya ini harus dilakukan secara merata dan menyeluruh di setiap tingkatan dan daerah NU. yaitu Mahrus Ali yang mengaku Mantan Kiai NU dan buku yang diterbitkan oleh penerbit yang sama yang berjudul “MWC NU Menggugat Aqidah Sesat NU”. . merapikan organisasi juga tidak hanya merapikan secara structural. Hal ini jelas dibutuhkan untuk menumbuhkan persepsi bahwa NU merupakan organisasi yang tidak hanya besar. NU harus bertindak tegas kepada para warganya yang melenceng dari prinsip dan ajaran aswaja. Ketika era semakin berkembang pesat. tetapi juga tanggap dan tegas secara cerdas. Hal ini sangat disayangkan karena mengancam ukhuwah NU secara khusus dan ukhuwah islamiyyah secara umum.para warga NU jika membutuhkan bantuan dari NU dan mengadakan kegiatan keNUan. 13.

Kegiatan yang merupakan realisasi program kerja harus dikelola oleh NU dengan baik agar kegaiatan tersebut terkendali dan terarah sehingga efek positif dapat dirasakan oleh semua kalangan yang membutuhkan. Sebagai sebuah organisasi yang besar. Kegaiatankegiatan yang diadakan juga harus dikoordinasikan dan dikomunikasikan tidak hanya dengan structural NU setempat. tetapi juga untuk mengelola kegiatan dan program kerja dengan baik. Peran kyai juga lebih ditonjolkan lagi mengingat karakter kyai yang tidak hanya pandai mengaji. Hal ini kurang bijak jika dilakukan oleh santri yang notabene merupakan kalangan yang tidak hanya tahu tetapi juga paham mengenai keagamaan dan ibadah (meskipun tidak bijak juga jika dilakukan oleh orang biasa non santri). Pondok yang tersebar luas dan merata di berbagai pedesaan perlu dimaksimalkan lagi untuk memberikan perannya di dalam memperbaiki akhlaq masyarakat. apalagi pada organisasi sebesar NU. Mengetahui dan memahami secara mendalam seharusnya lebih membuat diri seorang santri semakin rajin dan tidaknggampangke masalah keagamaan dan ibadah. Tidak hanya dibutuhkan di dalam merapikan dan menyolidkan jajaran structural NU. juga dibutuhkan tingkat koordinasi dan komunikasi yang tinggi. tetapi juga bijak dan berakhlaq mulia yang harus dijadikan tauladan di setiap daerah. sehingga jajaran structural NU yang lebih tinggi harus menegur dan mengetahui permasalahan yang terjadi yang menyebabkan program kerja dapat terlaksana . maka jajaran structural NU yang lebih tinggi akan tidak mengetahui structural NU yang lebih rendah mana saja yang program kerjanya terlaksana dengan baik dan structural NU yang lebih rendah mana saja yang program kerjanya tidak terlaksana. NU harus mengelola kegiatan-kegiatan dengan baik di setiap tingkatan. Pada setiap kegiatan dan organisasi. saya pernah menemui karakter santri yang “memudahkan” (jawa : nggampangke) ibadah dengan dalil Alloh Maha Tahu. Jika koordinasi kurang. diperlukan peran aktif dari para kyai dan santri untuk tetap mempertahankan etika dan akhlaq yang mulia di tengah arus globalisasi ini. 14. Oleh karena itu. Hal ini bukan hanya sekedar bentuk pertanggungjawaban kepada structural NU yang lebih tinggi. terutama kalangan structural NU. tetapi juga memungkinkan pengawasan dari structural NU yang lebih tinggi sehingga kegiatan yang diadakan akan semakin berkualitas. Apalagi santri menjadi role model kaum terpelajar dan harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat.Fenomena semacam ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari NU. NU membutuhkan orang-orang dengan skill manajemen organisasi yang tinggi. tetapi juga dengan structural NU yang lebih tinggi. Selain itu.

kesejahteraan. dan karya-karya warga NU. seperti misalnya melihat realitas bahwa aswaja dan NU semakin tergerus oleh kalangan radikalis—puritan yang gigih menyuarakan visi dan misinya memurnikan agama Islam serta mengkafirkan ummat Islam yang tidak sepandangan dengan mereka.dengan baik dan tidak terlaksana. sehingga kegiatan-kegaiatan NU akan berkualitas dan NU tidak akan diklaim sebagai The Silence Majority. Semangat ini bisa dibangun dengan berbagai macam cara. Relasi dengan penerbit terutama penerbit yang bonafide dan ternama merupakan sebuah langkah penting di dalam mempublikasikan dan mendistribusikan pemikiran-pemikiran. Di sinilah peran structural NU yang lebih tinggi tersebut untuk membantu jajaran structural NU yang lebih rendah di dalam kegiatan salah satunya. Semangat dan motivasi keNUan juga dapat ditumbuhkan ketika pelatihan kader dan reorganisasi yang disisipkan di setiap materi yang diberikan. melihat realitas bahwa ternyata masalah kebodohan. akhlaq. peka terhadap realitas juga akan menimbulkan semangat dan motivasi. jangan sampai organisasi sebesar NU kehilangan semangat terutama semangat memperkokoh NU dan semangat senantiasa berjuang untuk kemashlahatan ummat. dan sebagainya masih menjadi masalah serius yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan khusus. Jangan sampai juga terlena atas keberhasilan masa lalu yang akan membuat warga NU sekarang membanggakan nenek moyangnya dan tidak lagi berkarya. Selain itu. Yang jelas. pendidikan. Mengadakan relasi dengan penerbit ternama untuk menerbitkan buku-buku keNUan. ekonomi. Namun. Semangat dan motivasi diperlukan untuk setiap sesuatu yang membutuhkan perjuangan di dalam mencapai goal(tujuan). jangan sampai juga organisasi sebesar NU memiliki orsi kegiatan yang berefek pada diri sendiri lebih besar daripada kegiatan yang berefek pada masyarakat luas. 15. menimbulkan semangat dan motivasi tanpa menjaganya merupakan tindakan yang kurang berkualitas sehingga menjaga motivasi dan semangat juga merupakan suatu hal yang tidak kalah penting dari memunculkan semangat dan motivasi itu sendiri. 16. Misalnya dengan membaca buku-buku keNUan yang berisi profil para tokoh NU dan keberhasilan-keberhasilan NU sehingga memotivasi untuk selalu berkarya lewat NU. keterbelakangan. Selain itu. Terutama sekarang NU dihadapkan dengan . gagasan-gagasan. Semangat di dalam mempertahankan NU dapat dilakuakn dengan berbagai cara sesuai kadar kemampuan masing-masing warga NU. Membangkitkan semangat untuk senantiasa memperkokoh NU.

sedangkan amaliyyahamaliyyah tersebut tidak terikat organisasi. Sehingga. Perkuat aqidah Ahlussunnah wal Jama‟ah dan madzhab Syafi‟iyyah. ke-aswaja-an. . yang tidak tergabung ke dalam NU. tetapi terikat oleh madzhab. juga perlu memperkuat aqidah ahlussunnah wal jama‟ah dan pengetahuan tentang kemadzhaban sehingga tidak mudah terpengaruh dan memiliki benteng pertahanan yang kuat dari serangan kalangan radikalis—puritan. terutama buku dan penerbit. Tidak semua kalangan santri atau warga Indonesia yang memiliki amaliyyah-amaliyyah seperti NU bersedia diafiliasikan dengan NU karena NU merupakan organisasi. dan kemadzhaban Syafi‟i dapat diterbitkan secara luas dan merata serta dicetak berulang kali. buku-buku keNUan. tetapi juga mempertimbangkan pengorbanan terhadap NU sehingga personal approachdibutuhkan di dalam hal ini. Penerbit yang menjadi relasi juga jangan sampai hanya memikirkan untung—rugi. 17. Sehingga kalangan madzhab secara umum dan kalangan Syafi‟iyyah secara khusus.pertarungan media dengan kaum radikalis—puritan yang mendominasi media.