P. 1
Makalah Seminar Revisi

Makalah Seminar Revisi

|Views: 202|Likes:
Published by Uul MoeMoe

More info:

Published by: Uul MoeMoe on Apr 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2014

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Banyaknya fakta di masyarakat bahwa section caesarea banyak dilakukan pada persalinan dengan komplikasi maupun persalinan dimana ibu tidak menginginkan kesakitan saat proses persalinan. Paradigma seperti itu yang harus dihilangkan karena diketahui bahwa meskipun saat sectio ibu tidak merasakan sakit karena pembiusan namun dampak setelah ibu melakukan sectio adalah pemulihan luka bekas operasi yang lama. Oleh karena itu dibutuhan motivasi kepada ibu untuk melahirkan normal jika memang keadaan ibu dan janin baik tanpa komplikasi. Jika riwayat ibu saat persalinan pertama adalah sectio maka persalinan selanjutnya juga harus dilakukan dengan sectio. Sectio juga dilakukan jika usia ibu sudah rentan artinya lebih dari usia lebih dari 35 tahun. Pre eklamsi berat merupakan salah satu komplikasi dalam persalinan. Pre eklamsi terjadi karena tekanan darah ibu 160/110 atau lebih. Pre eklamsi membutuhkan suatu pemantauan agar tidak terjadi distress pada janin, misalnya janin mengalami pertumbuhan yang terhambat dalam uterus, asfiksia neonatorum. Oleh karena itu pemantauan pada ibu harus diperketat dan janin juga harus di pantau gerak janin dan denyut jantung jantungnya. 1.2 Rumusan masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah mengetahui asuhan keperawatan pada Ny.A dengan diagnosa medis G2P10001 uk 37/38 minggu+peb+bsc ’09

1.3 1.3.1

Tujuan Tujuan Umum Mahasiswa mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan pada klien

dengan diagnosa medis g2p10001 uk 37/38 minggu+peb+bsc ’09. 1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada kasus Ny.A 2. Mampu menetukan diagnosa keperawatan pada Ny.A 3. Mampu menetukan rencana keperawatan pada Ny.A 4. Mampu melakukan tindakan untuk menangani masalah keperawatan pada Ny.A 5. Mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan untuk

mengatasi masalah pada Ny.A 6. Mendokumentasikan segala tindakan yang dilakukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 2 Sectio Caesarea 2.2.1 Pengertian Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. (Rustam Mochtar, 1992). Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 1991) 2.2.2 Etiologi Pada persalinan normal bayi akan keluar melalui vagina, baik dengan alat maupun dengan kekuatan ibu sendiri. Dalam keadaan patologi kemungkinan dilakukan operasi sectio caesarea. Adapun penyebab dilakukan operasi sectio caesarea adalah : 1. a. Kelainan dalam bentuk janin Bayi terlalu besar Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. b. Ancaman gawat janin Keadaan gawat janin pada tahap persalinan, memungkinkan dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi. Apalagi jika ditunjang oleh kondisi ibu yang kurang menguntungkan. c. Janin abnormal Janin sakit atau abnormal, misalnya gangguan Rh, kerusakan genetic, dan hidrosephalus (kepala besar karena otak berisi cairan), dapat menyebabkan diputuskannya dilakukan operasi. d. Bayi kembar Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.

misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan. origo pada permukaan anterior kartilago kostalis 5-7. 2. Serabut menuju tuberkulum pubikum dan simpisis ossis pubis. prosesus xyphoideus dan ligamen xyphoideum. di depan otot rectus abdominis. Fungsi dari otot ini untuk flexi trunk. mengangkat pelvis. penyakit polio atau mengalami kecelakaan sehingga terjadi kerusakan atau patah panggul. 2003). mengalami penyakit tulang (terutama tulang belakang). 3. Insertio terletak pada linea alba.3 Anatomi Fungsional dan Fisiologi Anatomi fungsional yang dibahas pada kasus post operasi sectio caesarea terdiri dari anatomi dinding perut dan otot dasar panggul. tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas (Dini Kasdu.2. Kelainan panggul Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan. bagian lateral dan bagian belakang. Faktor hambatan jalan lahir Adanya gangguan pada jalan lahir. Terjadinya kelainan panggul ini dapat disebabkan oleh terjadinya gangguan pertumbuhan dalam rahim (sejak dalam kandungan). bagian depan tertutup vagina dan bagian belakang terletak di atas kartilago kostalis 6-8. Otot piramidalis Terletak di bagian tengah di atas simpisis ossis pubis. sulkus pubikus dan sulkus inguinalis. Origo pada bagian anterior ramus superior ossis pubis dan simpisis ossis pubis. . Insertio pada ramus inferior ossis pubis. Otot rectus abdominis Terletak pada permukaan abdomen menutupi linea alba. 1.2. a. adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir. Anatomi dinding perut Dinding perut dibentuk oleh otot-otot perut dimana disebelah atas dibatasi oleh angulus infrasternalis dan di sebelah bawah dibatasi oleh krista iliaka. b. Fungsinya untuk meregangkan linea alba. Otot-otot dinding perut tersebut terdiri dari otot-otot dinding perut bagian depan.

yang disebabkan oleh proses antitoksis dimana zat protein dinding pecah. 3. 2/3 lateral ligamen inguinale. Otot obligus internus abdominis Otot ini terletak pada anterior dan lateral abdomen. Diagfragma pelvis adalah otot dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator ani. Origonya yaitu pada permukaan luas kosta 5-12 dan insertionya pada vagina musculi recti abdominis. Otot obligus eksternus abdominis Letaknya yaitu pada bagian lateral abdomen tepatnya di sebelah inferior thoraks. Origo terletak pada permukaan posterior fascia lumbodorsalis. insertio pada fascia lumbo dorsalis. uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan reaksi otot-ototnya. Fundus uteri 3 jari di bawah pusat. Fungsi dari otot ini untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama. menegangkan dan menarik dinding perut. Fungsi dari otot ini adalah rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan. Otot dasar panggul Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis dan diagfragma urogenital. Berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina muskuli recti abdominis. labium internum Krista iliaka. setelah plasenta dilahirkan. Invulsi uterus terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil. Origo pada permukaan kartilago kostalis 7-12. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah levator ani untuk menahan rectum dan vagina turun ke bawah. 2. tidak rata kira-kira sebesar telapak tangan. e. linea intermedia krista iliaka. Otot transversus abdominis Otot ini berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina musculi recti abdominis. Fisiologi nifas Perubahan yang terjadi selama masa nifas post sectio caesarea antara lain: 1) Uterus. Sedangkan diafragma urogenetik dibentuk oleh aponeurosis otot transverses perinea profunda dan mabdor spincter ani eksternus. diabsorbsi dan dibuang melalui air seni.c. otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot mabdor ani untuk menutup anus dan otot pubokavernosus untuk mengecilkan introitus vagina. otot pubokoksigeus. dan ischiokoksigeus. 2/3 ligamen inguinale insertio pada kartilago kostalis 8-10 untuk serabut ke arah supero medial. Fungsi dari otot ini menekan perut. dan tertutup oleh otot obligus eksternus abdominis. Sedangkan pada endomentrium menjadi luka dengan permukaan kasar. Ukuran uterus mulai dua hari berikutnya. akan mengecil hingga hari kesepuluh tidak teraba dari luar. Luka ini akan mengecil hingga sembuh dengan pertumbuhan . d. iliokoksigeus.

2) SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim). c) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal. Kelebihan: a) Mengeluarkan janin dengan cepat. Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm.2. 1998). 3) dinding perut melonggar dan elastisitasnya berkurang akibat peregangan dalam waktu lama (Rustam M.4 1. Jenis – Jenis Operasi Sectio Caesarea Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Sectio caesarea transperitonealis: SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri). Kekurangan: . 2. e) Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil. b) Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik. b) Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan. mulai dari pinggir dan dasar luka. Kelebihan: a) Penjahitan luka lebih mudah. b) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik. Kekurangan: a) Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik. d) Perdarahan tidak begitu banyak. c) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum. 2) pembuluh darah uterus yang saat hamil dan membesar akan mengecil kembali karena tidak dipergunakan lagi.endometrium baru di bawah permukaan luka. 1) cm. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 a.

2. Sayatan huruf T (T insicion). c. b) Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi. SC ekstra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal. visi panoramik. a. parestesia. Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap – ngecapkan bibir. lokal ) Kejang parsial sederhana : Kesadaran tidak terganggu. walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks.a) Luka dapat melebar kekiri. rasa takut. muka merah. Gejala somato sensoris atau sensoris khusus : mendengar musik.2. 2. Sayatan memanjang (longitudinal). umumnya gerakan setipa kejang sama. sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut: a.mengunyah. atau salah satu sisi tubuh. Sayatan melintang (transversal). merasa seakan jatuh dari udara. b. b. a. dilatasi pupil. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim. 1) 2) 3) 2. gerakan menongkel yang berulang – ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya. berkeringat. 2) 3) 4) b. Tanda atau gejala otonomik: muntah. dapat mencakup satu atau lebih hal berikut Tanda – tanda motoris. ini: 1) Tanda dan Gejala Kejang parsial ( fokal. Kejang parsial kompleks Terdapat gangguan kesadaran. kedutan pada wajah. Gejala psikis : dejavu. kanan.5 1. dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak. 1) Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi ) Kejang absens Gangguan kewaspadaan dan responsivitas .

2) 3) Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik Awitan dan akhiran cepat. kepala menunduk. 4.atau jatuh ke tanah. kaku umum pada otot ekstremitas. 3. Disproporsi Cevalo-Pelvik (ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul). dan tidur dalam fase postictal Kejang atonik Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun.6 Indikasi b. Rupture uteri mengancam. Bayi besar (BBL > 4. 1) 2) 3) 4) c. 5. lengan atas dan kaki. His lemah/melemah. leher. 8. Plasenta previa. Kejang tonik klonik Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik. batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit. Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah. Fetal distress. Singkat dan terjadi tanpa peringatan.2 kg).2. 1) 2) 3) 4) d. Janin dalam posisi sungsang atau melintang. Kalainan letak. Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih. 7. konvulsi. Letargi. pertimbangan dilakukan SC misalnya karena proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal (Dystosia): 1. Kehilangan kesadaran hanya sesaat. 1) 2) Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin. 2. . Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatan sinkron dari bahu. Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok. setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh Kejang mioklonik Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak. 6. 2.

perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan pada dinding uterus. Ruang incisi akan diisi oleh gumpalan darah dalam 24 jam pertama akan mengalami reaksi radang mendadak.2. Dengan adanya supply darah yang baik akan berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan. dengan suhu meningkat dalam beberapa hari. Perjalanan proses penyembuhan sebagai berikut : 1) sewaktu incisi (kulit diiris). Ringan. 3) pada hari ke-3-4 gumpalan darah mengalami organisasi. Infeksi puerperal (Nifas): a. berjalan dari tepi luka ke arah tengah atau terjadi dari sisa-sisa epitel dalam dermis. Sedang.5 mm per hari. infeksi dan iritasi. tensile strength hanya 1/5 maksimum.2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan dari luka operasi antara lain adalah suplay darah. 4) pada hari ke 5 tensile strength (kekuatan untuk mencegah terbuka kembali luka) mulai timbul.9. epitelisasi terjadi dan luka akan sembuh. Panggul sempit. sel dermis dan jaringan kulit akan mati. . Hydrocephalus. 2. 7) tensile strength mencapai maksimum dalam 6 minggu. 6) Pada hari ke 14-15. sepsis dan usus paralitik. Berat. Kecepatan epitelisasi adalah 0. 2. Untuk itu pada seseorang dengan riwayat SC dianjurkan untuk tidak hamil pada satu tahun pertama setelah operasi (Hudaya.7 Patologi Pada operasi sectio caesarea transperitonial ini terjadi. Problema plasenta. 13. suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung. maka beberapa sel epitel. yang dapat mencegah terjadi dehiscence (merekah) luka. 10. 2) dalam 2-3 hari kemudian. peritonealis. 12. 1996).8 Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain: 1. Partus dengan komplikasi. c. exudat akan mengalami resolusif proliferasi (pelipatgandaan) fibroblast mulai terjadi. Primi muda atau tua. 11. b. 5) pada hari ke-7-8.

Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi. bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga secara intravena. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka. emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi. 2. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena. Urinalisis 8. Memberantas kejang Secepat mungkin. 4. diharapkan kejang akan berhenti. 10. 1. Perdarahan: a. Pengobatan penunjang Sebelum memberantas kejang tidak boleh dilupakan perlunya pengobatan penunjang . Pemantauan EKG 3. Perdarahan pada plasenta bed. 3.2.2. ditunggu selama 15 menit.2. Golongan dan pencocokan silang darah 7.10 Penatalaksanaan 1. Pemantauan janin terhadap kesehatan janin 2. JDL dengan diferensial 4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya.9 Pemeriksaan Diagnostik 1. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler. b. Elektrolit 5. Luka kandung kemih. Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi 9. Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang. Ultrasound sesuai pesanan 2. Hemoglobin/Hematokrit 6.

bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.2 Etiologi Penyebab pre eklamsi sampai sekarang belum ketahui.1 Pre Eklamsi Berat Pengertian Pre eklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi.3. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung c. misalnya pada molahidatidosa. Mencari dan mengobati penyebab 2. Profilaksis jangka panjang Diberikan pada keadaan epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Semua pakaian ketat dibuka b. 2) Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit.3. Pre eklamsi berat yaitu penyakit kehamilan dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.kira sampai anak umur 4 tahun. Pengobatan rumat a. d. tetapi dapat terjadi sebelumnya. Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen. Penhisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen. edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. retardasi perkembangan dan mikrosefali. diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika. Kejang demam yang mempunyai ciri: 1) Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi. Profilaksis intermiten Untuk mencegah kejang berulang. 2. e.a. b. Terlah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit tersebut.3 2. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira . 3. berdifat fokal atau diikiuti kelainan saraf yang sementara atau menetap 3) Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik 4) Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan 4. tetapi tidak ada yang . Umunya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan.

hidramnion dan molahidaidosa 2. . 3. Gangguan visus & serebral 6.3. Protein urine 5 gr/ lr / 24 jam atau lebih 4. Oliguri ( Produksi Urine kurang 500 cc / 24 jam ) 5. Oedem tungkai. Kerusakan hepatocellulair 10. maka untuk memenuhi oksigenasi jaringan & mengatasi tahanan perifer maka tekanan darah meningkat. edema.jari. muka yg tampak jelas 3. Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan ibu dengan kematian janin dalam uterus Sebab terjadinya eklamsi pada kehailan-kehailan berikutnya 5.3. Spasme pada plasenta & rahim mengakibatkan penurunan aliran darah shg terjadi Ischemia utero plasentae dan merangsang keluarnya tromboplastin sehingga terjadi DIC . Nyeri epigastrium atau nyeri pd kuadrant kanan atas abdomen kd mual & muntah 7. Pertumbuhan janin (intra Uteri) terhambat 2. proteiuria kejang dan koma 2.3 Manifestasi Klinis 1. Tekanan darah 160/110 mm Hg atau > 2.memberikan jawaban yang memuaskan. Sebab timul hipertensi. kehamilan ganda. Trombocytopenia berat 9. 4.4 Patofisiologi Perubahan pokok pada Pre Eklampsi yaitu Spasme arteriola di seluruh tubuh. juga mengaktifkan angiotensin II shg terjadi vaso spasme vaskuler secara menyeluruh dan mengakibatkan Hypoxia kapiler sehingga terjadi oedema dan kenaikan BB karena penimbunan cairan dan retensi garam yang bertambah diruangan interstisial. Teori yang dapat diterima menerangkan sebagai berikut : 1. Sering terjadi pada primigravida. Odema paru & Cyanosis 8.

2. sakit kepala . refleks & DJJ setiap jam 5. pada ibu a. pada janin a.Juga menyebabkan perubahan – perubahan pada endotel glomeruli ginjal dan penurunan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi proteinuria. Infus Dextrose 5% agar memudahkan pemberian obat-obat suntik Intravena juga menambah kalori untuk mencegah ketosis & melindungi hepar. Observasi tanda-tanda Vital dgn ketat. peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal 2. Periksa nilai pembekuan darah. bahayanya dpt terjadi Odem paru. Kateterisasi urine untuk mengukur Volume dan proteinuria. terhambatnya pertumbuhan dalam uterus b. Perubahan system saraf pusat menyebabkan Hyper refleksi. kelainan pembekuan darah (DIC) e. 4. dan kejang. .3.7 Penanganan Prediksi dini terjadinya Hipertensi dalam kehamilan dianjurkan melakukan pemeriksaan secara teratur untuk meramalkan sedini mungkin terjadinya pre eklampsia. solutio plasenta c. 2. 2. Ukur keseimbangan cairan dgn ketat jangan sampai overload. asfiksia neonatorum d. gagal jantung hingga syok dan kematian 2.6 Penatalaksanaan 1.3.3. eklamsia b. ablasio plasenta f.payah ginjal& jantung 3. perdarahan subkapsula hepar d. premature c. kematian dalam uterus e. Spasme arteri juga mengakibatkan gangguan pada mata .5 Komplikasi 1. jantung & Otak.

a. b. g. Penanganan Kejang a. Perlengkapan penanganan kejang yaitui Sacien lengkap. h. Lindungi px dari kemungkinan trauma d.Bila ditemukan gejala Pre eklampsi pada kehamilan usia 37 mgg maka perawatan dijadwalkan sbb : Masuk Rumah Sakit ( Opname ) Tujuannya untuk observasi secara cermat & terus – menerus serta perjalanan penyakit sukar untuk diramalkan. d. e.posisi trendelenburg u/ menghindari aspirasi f. Beri Oksigen masker/ nasal 4-6 lt / mnt ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY A DENGAN DIAGNOSA MEDIS G2P10001 UK 37/38 MINGGU+PEB+BSC ’09 DI PAVILIUN E1 RUMKITAL Dr RAMELAN SURABAYA . Pantau tekanan darah Periksa lab untuk proteinurie Pantau keadaan janin Pantau Reflek Tirah baring dengan posisi miring 2 kali @ 2 jam Diet biasa Persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah kejang. Sikap yg terbaik thd kehamilan pd Eklampsia ialah segera mengakhiri kehamilan dgn f. c. Tidak perlu obat – obatan cara Induksi persalinan atau sectio Caesarea. Pertimbangannya adalah hilangnya gejala – gejala Eklampsia & stabilitas keadaan pasien. Beri obat anti konvulsan b. alat oksigenasi lengkap c. Baringkan pasien ke sisi kiri. Aspirasi mulut & tenggorokan e.

Tanggal masuk Ruang/Kelas Pengkajian tanggal A. Keluhan utama saat ini: Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng dan keluar darah becampur darah mulai tanggal 28 September 2011 jam 16. keluar darah bercampur lendir dari kemaluannya. IDENTITAS Nama Pasien Umur Suku/Bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Status : 28 September 2011 : E1/3 : 29 September 2011 Jam masuk Kamar No Jam : 22. Hipertensi. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN YANG LALU No Tahun 2009 Jenis persalinan SC Penolong Dokter Jenis kelamin P Keadaan bayi waktu lahir Normal Masalah kehamilan Panggul 1 . Riwayat kesehatan masa lalu: Ibu mengatakan bahwa memiliki sesak napas mulai tahun 2004. Asma. 3.30 : Ny. DM (-). Alergi.00 WIB.30 : 4B : 00. B. A : 38 tahun : Jawa/ Indonesia : Islam : SMP : IRT : Surabaya : Menikah 1x Nama Suami : Tn. Riwayat kesehata keluarga: keluarga pasien tidak ada yang menderita DM. 2. 4. S Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Status : 28 tahun : Islam : SMA : TNI AL : Surabaya : Menikah 1x Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Lamanya menikah 3 tahun 1. Hipertensi (-). Mengapa ibu datang ke klinik Karena ibu merasakan perutnya kenceng-kenceng.

RIWAYAT KEHAMILAN SAAT INI HPHT : 21 Desember 2010 BB sebelum hamil: 48 Kg Menarche: umur 13 tahun Lamanya: ± 7hari No 1 BB/TD 60 kg 150/110 mmHg TFU 31 cm janin Presentasi kepala Tafsiran Partus : 18 Oktober 2011 TD sebelum hamil : 120/ 80 mmHg Siklus: Teratur (28-30 hari) Dishmenorea tidak pernah Letak/presentasi DJJ 141x/dop Usia Gestasi 37-38 mgg keluhan Perut terasa kencengkenceng dan keluar darah bercampur lendir dari kemaluan. Masalah ginekologi: panggul sempit dan tinggi badan kurang 2.sempit dan tinggi badan kurang 2 Hamil ini Pengalaman menyusui : ya C. E. Tanda vital . RIWAYAT GINEKOLOGI 1. Riwayat kb berapa lama : 3 bulan : tidak ada D. DATA UMUM KESEHATAN SAAT INI Status Obstetri: G2P10001 UK 37/38 minggu dengan PEB Keadaan umum: baik Kesadaran : compos mentis BB/TB : 60/ 144 kg/cm 1.

sclera putih. tidak ada nyeri tekan. 3) Payudara : Mammae membesar. bibir kering da pecah-pecah. Pengeluaran ASI: belum keluar : Linea (+). Abdomen 1) Linea & Striae 2) TFU 3) DJJ 4) Leopold I 5) Leopold II 6) Leopold III 7) Leopold IV 5. tidak ada suara tambaha.5 ˚c TB : 144cm Kepala : bentuk simetris. Kepala leher N: 84x/menit Suhu : 36. tidak ada suara Wheezing. areolla Mammae hiperpigmentasi. Mulut : tidak ada Sianosis. Hidung :tidak ada polip. tidak ada pernapasan cuping hidung. tidak ada benjolan. kelopak mata normal. sinus normal. tidak ada pembsaran kelenjar thyroid. bibir simetris.TD : 160/110 mmHg RR : 20x/menit BB : 60 kg 2. 3. Irama : teratur. Telinga : bersih tidak ada serumen. gigi rapi dan teratur. rambut hitam. Mata : pupil isokor. Leher : tidak terjadi pembesaran kelenjar getah bening. konjungtiva merah muda. 2) Paru : Jalan pernapasan: bersih suara nafas vesikuler. Dada 1) Jantung : Kecepatan Denyut apical : 84x/I. S1 dan S2 tunggal. tidak ada Ronchi. Striae (+) : 31 cm : 144x/i : TFU: 31 cm dengan persentasi bokong : DJJ: 144x/i dengan posisi punggung Kiri : Persentasi Kepala : Kepala telah masuk PAP : tidak ada varises papilla mammae menonjol 4) 4. Perineum dan genital 1) Varises . Terpasang nasal canula dengan tekanan 3 atm.

1) Pola Nutrisi Di rumah. Aktifitas ibu di RS : Bed rest total 10. dan sayuran dan minum 5-6gelas/hari. ibu mengatakan bahwa makan 3x/hari dengan jenis makanan nasi. dan bersih-bersih rumah sudah merupakan suatu olah raga. 2) Di Rumah sakit: pekat. Ekstremitas 1) Haemoroid : tidak ada haemoroid Vulva tampak bersih Odema Varises : Ekstremitias bawah odema.ibu mengatakan bahwa selalu berkunpul dengan keluarga menonton tv atau pergi belanja bersama suami dan anaknya. menjemur baju. Apabila ada waktu luang. Ibu mengatakam tidak ada keluhan dengan aktifitas yang dijalani sehari-hari. 8. Istirahat dan kenyamanan Kebiasaan tidur lama 8 jam. mencuci.2) 3) 6. Ibu mengatakan bahwa tidak pernah olah raga khusus di luar. Ibu . Nutrisi dan cairan a. Eliminasi 1) a) b) a) b) Di rumah: BAB : ibu mengatakan bahwa BAB setiap hari 2x/hari pada pagi dan BAK : ibu mengataka bahwa BAK 6-7x/hari BAB : ibu mengatakan belum BAB BAK : Ibu terpasang Down Kateter dengan urin 100cc berwarna kuning sore hari dengan konsistensi lunak. ibu menganggap pekerjaan rumah tangga seperti merawat anak. frekuensi teratur Pola tidur di RS: sering terbangun 9. Ibu mengatakan bahwa menyukai segala jenis masakan dan tidak ada riwayat alergi makanan. Aktifitas Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. lauk pauk. ektremitas atas tidak : tidak terjadi varises mengalami odema 2) 7.

dinantikan mengatasi nyeri : belajar dari pengalaman kehamilan anak pertama. Terapi yang di dapat: 1) Infus RD : 17 tetes/menit 2) Injeksi ceftriaxon 2gr IV 3) Mylanta 2sendok makan persiapan SC 4) Injeksi Sulfat Magnesium 20% dan Infus drip SM 40% . d. puasa pre SC sejak pukul 02. proses persalinan. Persiapan persalinan a. Ramelan Surabaya c. cara RSAL Dr. Keadaan mental Adaptasi psikologis : pasien senang dengan kehamilannya Penerimaan terhadap kehamilan : kehamilan ini memang sudah direncanakan 12. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. diet RG 11. e. Senam hamil : tidak pernah Rencana tempat melahirkan : sudah direncanakan sebelumnya.00. b. Laboratorium : : Hb: 13.berkata bahwa semua makanan yang di makan adalah masakan sendiri dan hampir tidak pernah beli makanan atau minuman di luar.1 % 1) Protein rebus tanggal 29 September 2011 : (++++) 2) Cek DL tanggal 29 September 2011 b. 2) Di Rumah sakit. di Perlengkapan kebutuhan bayi : sudah disiapkan Kesiapan ibu dan keluarga : anak yang ada dikandungannya sudah Pengetahuan tanda-tanda melahirkan. F.

5˚ c hipovolemi Aliran darah menurun Spasme arteri ETIOLOGI PEB No. Proteinuri (++++) Perubahan permeabilitas pembuluh darah Kelebihan volume cairan .rekam medis : 10080471 ruang : E1 MASALAH Penurunan curah jantung PARAF penurunan curah jantung DS: DO: ibu terpasang kateter dengan tampak volume odema urine Spasme arteri Penurunan aliran darah ke ginjal Mekanisme pengaturan melemah Kelebihan volume cairan DS: ibu mengatakan masih merasakan gerakan janin DO: gerakan janin (+) DJJ: 141x/dopp. Hipovolemi dalam tubuh PEB Resiko cedera janin di 100cc/7jam (oliguria) dan ekstremitas bawah.ANALISA DATA Nama Klien : Ny.A Umur : 38 tahun DATA DS: DO: TD: 160/110 N: 84x/menit RR: 20x/menit Suhu: 36.

R: daerah perut (abdomen) S: skala 5 T: saat kontraksi/ his DO: ibu tampak meringis kesakitan saat kontraksi datang DS: ibu mengatakan disuruh puasa untuk persiapan SC DO: terpasang infus RD di lengan kiri pasien dengan jumlah tetesan 17x/menit Ekstremitas bawah ibu tampak odema TD: 160/110 Nadi : 84x/mnit RR : 20x/menit Suhu : 36.5˚c Nyeri Nyeri prenatal komplikasi PEB penjadwalan prosedur invasif mayor (SC) resiko ketidakseimbangan volume cairan Resiko ketidakseim bangan volume cairan .DATA ETIOLOGI Spasme plasenta dan rahim Penurunan curah jantung Penurunan aliran darah ke janin Hipoksia Resiko cedera janin prenatal kotraksi uterus agen cedera:fisik (fisiologis) MASALAH PARAF DS: ibu mengatakan perutnya sakit saat kencengkenceng P: kontraksi rahim Q: terasa seperti mules.

DO: ibu tampak sering bertanya tentang kondisinya TD: 160/110 Nadi : 84x/mnit RR : 20x/menit Suhu : 36.DATA DS: ibu mengatakan takut akan kondisi ibu dan bayinya.5˚c ETIOLOGI Prenatal Komplikasi PEB Terpasang infus.nasal kanul Perubahan status kesehatan Ansietas MASALAH ansietas PARAF .

sakit kepala. Untuk mencegah tmbulnya kejang . Berikan obat anti hipertensi 2. 3. TTV dalam batas normal 2. Meningkatkan aliran balk vena.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Klien : Ny. Lakukan tirah baring pada ibu dengan miring kiri jantung dan perfusi ginjal Kolaborasi : 1. Observasi TTV dan obat hipertensi 2. muntah. Mengetahui efek samping yng terjadi INTERVENSI 1.dan palpitasi 2. curah 4.dengan KH: 1.Rekam Medis: TUJUAN 10080471 Rawat Hari Ke 0 RASIONAL 1.5 lpm Penurunan curah jantung b/d hipovolemi Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan curah jantung kembali normal. Obat antihipertensi bekerja secara sesuai dengan kebutuhan berdasarkan advis dokter langsung pada arteriol untuk meningkatkan relaksasi otot polos kardiovaskuler dan membantu meningkatkan suplai darah 1. Kolaborasi dengan dokter pemberian Mg2SO4 2. A NO 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN Umur : 38 tahun No. Dapat mengetahui kadar protein urin Mencegah adanya hipoksia 4. mual. Monitor kandungan protein dalam urin 3. Berikan oksigen nasal kanul 2. Intake dan output cairan seimbang 3. Odema (-) seperti takikardi.

Intake dan output seimbang 2. Edema (-) 1. Berikan diet rendah garam sesuai kolaborasi dengan ahli gizi . Observasi TTV. Memantau atau menimbang Observasi keadaan edema Kaji distensi vena jugularis tepat untuk menentukan keseimbangan cairan 4. cairan dalam tubuh dimanifestaikan dengan pelebaran vena jugularis dan edema perifer 6. Konstruksi vaskuler yang lama. Diet rendah garam akan mengurangi terjadinya kelebihan cairan 7. 4. RASIONAL Memberikan gambaran akurat dari hemodinamik invasif perubahan vaskuler dan volume cairan. peningkatan dan hemokonsentrasi. Pantau dan catat intake dan 2. CRT 2. Kelebihan volume cairan b/d perubahan permeabilitas pembuluh darah Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan volume cairan klien dalam batas normal dengan KH: 1. Dapat mengetahui adanya keseimbangan output cairan dan dapat diramalkan keadaan kerusakan glomerulus 3. Diuretik dapat meningkatkan filtrasi berat badan ibu dan perifer 6. serta perpindahan cairan menurunkan curah jantung 1. INTERVENSI Pemantauan parameter 3.NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN 3. 5. dapat dijadikan pdoman untuk penggantian cairan atau menilai respons dari kardiovaskuler 2. Berat badan merupakan indikator yang Edema merupakan indikator keadaan Retensi cairan yang berlebihan bisa 3. 5.

Anjurkan ibu untuk miring kiri 3. Istirahatkan ibu 2. sehingga dapat direncanakan Kolaborasi: 1. Dengan memnatu DJJ dapat diketahui keadaan jantung janin lemah atau menurun menandakan suplai oksigen ke plasenta berkurang. sehingga suplai oksigen ke janin berkurang 3. sehingga aliran darah ke plasenta menjadi 4.NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN 7. Dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolisme tubuh menurun dan peredaran darah ke plasenta menjadi adekuat. Memantau bunyi jantung janin lancar 4. Pergerakan janin (+) tentang pemberian diuretik 1. Beri obat antihipertensi sesuai tindakan selanjutnya . Diharapkan vena kava dibagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar. INTERVENSI Kolaborasi dengan dokter RASIONAL glomerulus dan menghambat penyerapan sodium dan air dalam tubulus ginjal 1. DJJ normal 2. aliran darah ke plasenta berkurang. Observasi TTV 2. Dengan memantau tekanan darah ibu dapat diketahui keadaan aliran darah ke plasenta seperti tekanan darah tinggi. Resiko cedera janin b/d hipoksia Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan cedera janin tidak terjadi dengan KH: 1. sehingga kebutuhan oksigen utuk janin terpenuhi 3.

Observasi TTV . 1. Ajarkan teknik relaksasi menarik napas panjang dan hembusskan perlahan lewat mulut 6. Klien dapat mengontrol nyeri 1. 5.NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI dengan advis dokter RASIONAL 1. Resiko ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan 1. sehingga tekann darah turun. nadi. Miring kiri dapat melancarkan aliran darah ke plasenta 7. TTV dalam batas nomal b. diharapkan klien dapat mentolerir nyeri dengan kriteria hasil: a. 3. Obat anti hiertensi akan menurunkan tonus arteri dn menyebabkan penurunan offerload jantung dengan vasodilatasi pembuluh darah. Pantau dan catat aktivias uterus pada setiap kontraksi 5. Sebagai dokumentasi dan membantu Teknik relaksasi meminimalkan rasa nyeri mengidentifikasi pola kontraksi yag abnormal pada klien 6. Untuk mengetahui adanya peningkatan 5. Bina hubungan saling percaya 2. Kaji tingkatan nyeri dengan skala 1-10 4. Lakukan back rubs agen cedera:fisik (fisiologis) intervensi 4. Memudahkan intervensi keperawatan 2. Anjurkan pasien untuk miring kiri 7. Dengan turunnya tekanan darah maka aliran darah ke plasenta menjadi adekuat. dan suhu 4. Untuk mengetahui peningkatan tekanan Memudahkan perawat memberikan darah. Backrubs dapat meminimalkan rasa nyeri 1. Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam. Observasi TTV dan CHPB 3.

Pasang kateter 4. Terapi itravena utuk menjaga keseimbangan cairan tubuh 3. Penjelasan kepada pasien dan keluarga 6. Observai TTV 2. 4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan Setelah dilakukan asuhan keperawaan 1x24 jam diharapkan klien bisa mengatasi kecemasan dengan KH: a. Klien tidak mengalami dehidrasi INTERVENSI 2. Obseravsi odema klien RASIONAL tekanan darah. Adanya edema merupakan indikator keadaan cairan dalam tubuh. Kaji respon psikologi pada kejadian dan ketersediaan sistem pendukung 3. TTV normal 2. 4. 1. nadi. nadi dan suhu 2.NO DIAGNOSA KEPERAWATAN volume cairan berhubungan dengan penjadwalan tindakan invasif mayor (SC) TUJUAN keperawatan 1x24jam diharapkan resiko ketidakseimbangan volume cairan pada klian tidak terjadi dengan KH: 1. Observasi intake dan output cairan 6. Klien tampak tenang b. Dukung atau arahkan kembali mekanisme koping yang diekseptasikan 5. 3. Anjurkan ibu mengungkapkan atau mngekspresikan perasaan 4. makin besar tingkat ansietas. Untuk mengetahui balance cairan. mencegah terjadinya kekurangan maupun kelebihan cairan 5. Respon klien mengindikasikan keadaan klien. Klien dapat menerima keadaannya 1. dan suhu 2. Mendukung mekanisme koping dasar dan otomatis meningkatan kepercayaan diri serta penerimaan dan menurunkan ansietas 5. Pasang terapi ntravena RD 17tetes/menit 3. Jelaskan kepada ibu dan . Untuk mengetahui peningkatan tekanan darah. Observasi respon klien 5. Makin ibu merasakan ancaman. Membantu mengidentifikasikan perasaan dengan memberikan kesempatan untuk mengatasi perasaan.

memberikan ketenanan kepada pasien RASIONAL dapat mengurangi kecemasan pasien 6. Ajak pasien untuk berbincangbincang. Rekam Medis : 10080471 .A Umur : 38 Tahun No. Dengan berbincang-bincang pasien dapat mengungkapkan perasaannya dan memudahkan kita untuk menenangkan pasien IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama Klien : Ny.NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI keluarga (suami) tentang kondisi ibu 6.

S: 36. Melakukan pemeriksaan DJJ 21. Memasang oksigen nasal kanul 2. Mengkaji tingkatan nyeri dengan skala 1-10 5. Mengajarkan kepada pasien teknik relaksasi (tarik nafas dari hidung .35 2. Melakukan pemeriksaan protein urin rebus 6. menganjurkan ibu untuk miring kiri 7.00 02.15 01.25 02. memasang kateter 9.20 01. Menganjurkan kepada ibu untuk mengungkapkan perasaannya 13. memberikan injeksi SM 40% dripp 17 tetes/menit 16.50C.00 pasien akan melakukan operasi sectio caesarea 19.25 01. Mengobservasi adanya edema 14.15 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 1.00 01.35 01. memberikan obat anti hipertensi nifedipine 10 mg 15. Nadi : 84x/mnt TT Perawat 4 3 4 02.15 02. Melakukan pemeriksaan CRT 17. jam 29 Sept’11 00.55 02. Memberi pasien minum terakhir. Memberikan injeksi SM 20% bolus iv 10. menjelaskan kepada ibu bahwa tindakan yang dilakukan untuk kepentingannya 12. Melakukan pemeriksaan DJJ 3.55 01.30 02.30 01.NO. Memasang terapi IV RL 20tetes/menit 4.5 lpm 11.20 01.30 00.05 02.15 02.45 01.Dx 3 5 4 1 3 6 5 1 1 6 6 2 3 1 2 2 6 Tanggal.35 01. Melakukan pemeriksaan HIS 20.setelah itu memberitahukan pasien untuk puasa 18. Menenangkan ibu dan memberikan penjelasan tentang tindakan yang dilakukan 8. Memberitahukan pasien bahwa pukul 10. Observasi TTV klien TD : 160/110 mmHg.10 01.

Menganjurkan pasien untuk miring kiri 25. Memerintahkan pasien untuk istirahat 24. miring kiri sambil menunggu persiapan operasi 33.30 30.NO. Mengobservasi tanda-tanda vital TD: 130/90 mmHg S : 36.15 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN keluarkan lewat mulut) 22.15 6 06. Menganjurkan ibu untuk mengungkapkan perasaannya 32. Mempersiapkan pasien untuk operasi.Dx 3 3 6 Tanggal. Hasil protein urin +4 TT Perawat 3 05. Melakukan back rubs pada punggung klien 23.80C Nadi : 88x/mnt RR : 20x/ mnt 26.45 02.00 2 06. Melakukan pemeriksaan EKG 31. . Melakukan pemeriksaan DJJ 27.45 05.30 1 1 6 3 29 Sept’ 11 07.00 05. informed consent.30 08. Menganjurkan kepada keluarga (suami) untuk selalu memberikan dukungan dan menemani klien 29. Menganjurkan ibu untuk istirahat. jam 02. Memantau intake dan output cairan Intake: 300cc Output : 110cc/7 jam 28.00 07.30 06.00 08.

Tanggal. Memberikan mylanta 2 sdm 35.A NO.00 09.NO. jam Umur : 38 Tahun No.Dx Tanggal. jam 09.15 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 34. Rekam Medis : 10080471 TT Perawat CATATAN PERKEMBANGAN . Pasien diberangkatkan ke OK Kandungan TT Perawat CATATAN PERKEMBANGAN Nama Klien : Ny.

pergerakan janin (+). Nadi : 84x/mnt. CRT < 2 detik.00-0700 .Dx 1 29-09-2011 21.80C Nadi : 88x/mnt RR: 20x/mnt DJJ: 153.00 S: ibu mengatakan sakit saat dilakukan injeksi SM 20% O: TD : 160/110 mmHg.00 3 29-09-2011 21.50C.00-07. Ibu tampak meringis dan mecengkram kasur saat dilakukan injeksi SM 20 % A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi S: ibu bertanya kapan harus puasa O: edema (+). S: 36. RR: 20x/mnt Intake/BAK: 100cc/110cc Protein rebus (++++). NST: normal. TD: 130/90 mmHg S : 36.00-07. memberi tahu pasien bahwa sudah mulai puasa Intake/output: 300cc/100cc A: masalah belum teratasi P: lanjutkan intervensi S: O: TTV. ibu tampak tiduran dengan miring ke kiri A: masalah teratasi 2 29-09-2011 21.

80C Nadi : 88x/mnt RR: 20x/mnt pasien terpasang infus.4 29-09-2011 21. TD: 130/90 mmHg S : 36.00 P: hentikan intervensi S: ibu mengatakan perutnya sakit P: kenceng-kenceng Q: kadang-kadang.00-07.mules.00-07. ibu menggunakan teknik relaksasi dan melakukan teknik back rubs punggung TTV.terasa seperti BAB R: perut bagian bawah S: skala nyeri 5 T: hilang timbul O: ibu tampak meringis saat merasa kenceng-kenceng.80C Nadi : 88x/mnt RR: 20x/mnt A: masalah teratasi sebagian 5 29-09-2011 21.00 P: lanjutkan intervensi S:O: TTV. kateter Intake/output: 300cc/100cc A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi . TD: 130/90 mmHg S : 36.

00 S: ibu mengatakan takut dengan tindakan yang dilakukan kepadanya O:ibu tampak gelisah dan menangis TTV.00-07.A NO.6. Dx 5 Tanggal.80C Nadi : 88x/mnt RR: 20x/mnt A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi CATATAN PERKEMBANGAN Nama Klien : Ny. TD: 130/90 mmHg S : 36. Rekam Medis : 10080471 TT Perawat CATATAN PERKEMBANGAN . jam 29-09-2011 S:Umur : 38 Tahun No. 29-09-2011 21.

580C. S: 36.08. TD: 130/90 mmHg S : 36.30 O: TTV. kateter Intake/output: 300cc/100cc A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi S: ibu mengatakan sudah tidak gelisah O: ibu tampak bisa megontrol kecemasannya TD : 130/90 mmHg.15 .30 09. Nadi : 88x/mnt A: tujuan tercapai P: hentikn intervensi Pasien diberangkatkan ke ok kandungan 6 29-09-2011 08.80C Nadi : 88x/mnt RR :20x/mnt pasien terpasang infus.

Abdul Bari dkk. . Ilmu Bedah Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo & JNKKR-POGI. 2001. Surabaya Saifudin. Yayasan Bina Pustaka S. Soetomo. Jakarta.Unpad.1993. 1989.. Lab. Diagnosa Keperawatan. Diktat Kuliah Ilmu Keperawatan Maternitas TA: 2000/2001 PSIK.. Para Medika: Yogyakarta ……………. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Eleman Bandung Nanda.FK. SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUD Dr.et all. Pedoman Diagnosa & Terapi. Hanifa. Jakarta ………………2000.DAFTAR PUSTAKA Bagian Obstetri & ginekologi FK.2001. Obstetri Fisiologi.P. 2005.Surabaya.W. Unair.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->