P. 1
Penanganan Alat Dan Bahan-bahan Laboratorium

Penanganan Alat Dan Bahan-bahan Laboratorium

|Views: 1,999|Likes:

More info:

Published by: Ahmad Faisal Nasution on Apr 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya ilmu adalah pengetahuan yang tertata.

Pengetahuan ilmiah dihimpun secara sistematis melalui rangkaian percobaan yang dirancang dengan seksama, pengamatan yang dicatat dengan cermat sampai kesimpulan yang ditarik dengan cendikia. Laboratorium boleh jadi merupakan suatu tempat yang berbahaya apabila kita ceroboh dan kurang perhatian. Laboratorium adalah suatu tempat untuk melakukan eksperimen atau praktikum. Eksperimen adalah suatu kegiatan yang membutuhkan ketepatan hasil analisa yang bergantung pada mutu bahan dan peralatan yang digunakan, serta kecermatan dan ketelitian kerja agar diketahui kebenarannya. Kecermatan dan ketelitian kerja merupakan sifat pribadi seseorang karena diperoleh dari pengalaman kerja sehingga menjadi kebiasan yang dapat memperlancar kerja seseorang tersebut. Kehati-hatian dan kecermatan dalam menggunakan bahan-bahan kimia dan peralatan laboratorium merupakan prasyarat penting bagi keselamatan dan keberhasilan dalam melakukan praktikum, serta dapat menciptakan suasana laboratorium sebagai sarana belajar sains yang aman. Untuk melaksanakan praktikum, percobaan maupun penelitian diperlukan sarana-sarana sebagai penunjang dalam pelaksanaannya. Sarana-sarana tersebut dapat berupa alat-alat praktikum dan bahan-bahannya. Oleh karena itu seorang praktikan yang akan melaksanakan praktikum harus mengetahui nama, bentuk dan fungsi dari alat-alat praktikum. Dengan mengenali berbagai macam alat-alat tersebut dimaksudkan agar seorang praktikan bisa terbantu pelaksanaan kegiatan praktikum. Sehingga tidak terjadi kesalahankesalahan dalam penggunaan alat-alat praktikum, atau setidaknya dapat meminimalisir akan kesalahan-kesalahan yang terjadi.

1

fungsinya.1 Alat-Alat Laboratorium Alat-alat laboratorium dapat dikelompokkan berdasarkan sifatnya. harganya dan frekuensinya serta penggunaan dan kondisinya. kering. pH meter digital elektroda Mengukur pH larutan terlindungi dan tidak kering dari larutan KCl jenuh 2 . keadaan dan bentuknya. antara lain sebagai berikut : Penyimpanan / Pemeliharaan Nama Alat Gambar Alat Fungsi Neraca Analitik Digital Di ruang timbang dengan meja beton (meja tidak dan Mengukur massa benda terpengaruh getaran) dan terhindar suhu tinggi Neraca Analitik Ayun Cabinet.BAB II ISI 2.

Di samping jumlahnya cukup banyak juga bahan kimia dapat menimbulkan resiko bahaya cukup tinggi. tingkat resiko bahaya (multiple hazards).2 Bahan-Bahan Zat laboratorium Bahan kimia yang ada di lab jumlahnya relatif banyak seperti halnya jumlah peralatan. oleh karena itu dalam pengelolaan lab aspek penyimpanan. fasilitas penyimpanan (storage facilities).Nama Alat Gambar Alat Fungsi Penyimpanan / Pemeliharaan Mengukur Gelas ukur Jumlah Volume cairan Lemari rak (shelves) Labu ukur Menentukan konsentrasi larutan baku Lemari rak (shelves) Mengambil Pipet ukur volume cairan Rak pipet 2. Hal umum yang harus menjadi perhatian di dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation). wadah sekunder 3 . pelabelan (labeling). penataan dan pemeliharaan bahan kimia merupakan bagian penting yang harus diperhatikan.

kuning untuk bahan oksidator. inventarisasi (inventory). Di samping pemberian label pada lokasi penyimpanan. biru untuk bahan toksik. pelabelan pada botol reagen jauh lebih penting. gas beracun. dan informasi resiko bahaya (hazard information). Misalnya warna merah untuk bahan flammable. kebutuhan itu hanya diperlukan untuk melakukan proses pengadministrasian. Banyak bahan kimia yang memiliki sifat lebih dari satu jenis tingkat bahaya. atau degradasi kimia. dan hijau untuk bahan yang bahayanya rendah. Berikut ini merupakan panduan umum untuk mengurutkan tingkat bahaya bahan kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya. dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya. tingkat bahaya. Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah tepat. Oleh karena itu penyimpanan benzena harus ditempatkan pada cabinet tempat menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada cabinet bahan toxic. harus disimpan secara khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Misalnya benzena memiliki sifat flammable dan toxic. Sifat dapat terbakar dipandang memiliki resiko lebih tinggi daripada timbulnya karsinogen. tanggal diterima dan dipakai. Penyimpanan bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko bahayanya yang paling tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api. Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif > Cairan Flammable > Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif terhadap Air > Padatan Flammable > Bahan Oksidator > Bahan Combustible > Bahan Toksik > Bahan yang tidak memerlukan pemisahan secara khusus Wadah bahan kimia dan lokasi penyimpanan harus diberi label yang jelas. ledakan. bahan kadaluarsa (outdate chemicals). Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain.(secondary containment). Informasi yang harus dicantumkan pada botol reagen diantaranya : Nama kimia dan rumusnya 4 . putih untuk bahan korosif. Label wadah harus mencantumkan nama bahan. Alangkah baiknya jika tempat penyimpanan masing-masing kelompok bahan tersebut diberi label dengan warna berbeda. Pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis.

tidak atas dasar volume bahan cair yang ada dalam wadahnya. dsb. Cairan radioaktif ketika wadah berukuran ≥ 250 mL Semua cairan berbahaya lain untuk wadah ≥ 2. Bahan radioaktif 2. Ukuran wadah bahan primer yang perlu disediakan wadah sekundernya yaitu : 1.- Konsentrasi Tanggal penerimaan Tanggal pembuatan Nama orang yang membuat reagen Lama hidup Tingkat bahaya Klasifikasi lokasi penyimpanan Nama dan alamat pabrik Sebaiknya bahan kimia ditempatkan pada fasilitas penyimpanan secara tertutup seperti dalam cabinet. Bahan kimia cair yang berbahaya harus disimpan pula dalam wadah sekunder seperti baki plastik untuk mencegah timbulnya kecelakaan akibat bocor atau pecah.5 L Secara umum pengelompokkan bahan berbahaya yang memerlukan wadah sekunder adlah : 1. Ingat bahwa biaya pembuangan bahan 5 . trikloroetan. dan bahan kimia yang rusak harus dibuang melalui unit pengelolaan limbah. perkloroetan dsb. kering dan jauh dari sumber panas atau kena sengatan sinar matahari. loker. Wadah sekunder yang diperlukan harus didasarkan atas ukuran wadah yang langsung diisi bahan kimia. 3. 4. asam florida. eter. asam klorida. Bahan kimia kadaluarsa. Cairan flammable dan combustible serta pelarut terhalogenasi misalnya alkohol. Asam-asam mineral pekat misalnya asam nitrat. 2. dan kalium hidroksida. natrium hidroksida. asam fosfat dsb. Di samping itu tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan ventilasi yang menuju ruang asap atau ke luar ruangan. asam sulfat. Basa-basa pekat misalnya amonium hidroksida. Tempat penyimpanan harus bersih. bahan kimia yang tidak diperlukan.

lokasi penyimpanan. oleh karena itu limbah kimia harus dibersihkan setiap saat. komposisi bahan. Hubungi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan informasi itu. atau jalin hubungan dengan Rumah Sakit untuk mempermudah penanganan jika terjadi kecelakaan di laboratorium. rumus. Di suatu laboratorium.kimia akan meningkat jika ditunggu sampai waktu cukup lama. Sekalipun di laboratorium sekolah bahan ini tidak tersedia. Perbaharui label-label yang rusak secara secara periodik. ekologi. menggunakan. Inventarisasi harus dilakukan terhadap bahan kimia yang ada di laboratorium.2 Penyimpanan dan penataan bahan kimia reaktif 6 . Inventarisasi harus melibatkan nama bahan. Catat jumlah nyata dan perhatikan batas jumlah penyimpanan yang diperbolehkan. identifikasi tingkat bahaya.2. nama industri. Berikut ini akan dibahas tentang panduan cara penyimpanan dan penataan bahan kimia untuk masing-masing bahan menurut kelompok tingkat bahayanya. dan tanggal penerimaan. Di dalam MSDS biasanya terdapat informasi tentang nama produk dan industri. kualitas. pembuangan dan aturan pemerintah yang diberlakukan. kestabilan dan kereaktifan. MSDS (Materials Safety Data Sheets) atau sumber lain yang memberikan informasi tentang resiko bahaya dari setiap bahan harus ada. penanganan dan penyimpanan. cara menangani kecelakaan. Hubungi Radiation Safety Officer untuk memperoleh informasi rinci tentang penggunaan dan penyimpanan bahan radioaktif tersebut. menyimpan dan membuang bahan radioaktif. Pada tempat penyimpanan harus dituliskan kata “HATI-HATI BAHAN RADIOAKTIF ( CAUTION RADIOACTIVE MATERIALS)”. 2. jumlah. informasi toksikologi. Bahan radioaktif harus disimpan di suatu tempat yang terawasi dan terjaga keamanannya dari kehilangan oleh orang yang tak bertanggung jawab. lama dan pendeknya bahaya terhadap kesehatan. transportasi.1 Penyimpanan dan penataan bahan kimia radioaktif Tidak sembarangan laboratorium dapat membeli. pertolongan pertama bila terkena bahan itu. cara perlindungan fisik. bahaya terhadap kesehatan.2. tidak ada salahnya bagi anda mengetahui cara penyimpanannya. bahaya fisik. 2. Bahan tersebut dapat diadakan di suatu lab makala mendapat izin dari Departemen Kesehatan khususnya bagian radiasi.

sehingga sangat tidak stabil. karena itu memerlukan penanganan dan penyimpanan secara khusus. eksplosif. Demikian gas silan harus disimpan secara khusus. misalnya bahan tersebut termasuk padatan flammable juga sebagai bahan yang reaktif terhadap air. Biasanya bahan reaktif memiliki lebih dari satu macam kelompok bahan bahaya. Faktor yang menunjang timbulnya ledakan dari bahan kimia di laboratorium diantaranya adalah : (1) Kandungan oksigen senyawa. beberapa senyawa seperti hidrazin memiliki gugus oksidatif dan reduktif. Hati-hati dalam membaca label bahan kimia. Untuk meminimalkan timbulnya bahaya dari bahan kimia tersebut. Bahan piroforik adalah bahan yang dapat terbakar ketika kontak dengan udara pada suhu < 54. etil eter.44 0C. api dan perubahan tekanan yang tinggi. Bahan kimia reaktif biasanya dikelompokkan menjadi bahan kimia piroforik. terlebih harus menentukan bahaya spesifik dari bahan itu. Biasanya sebelum menentukan cara terbaik dalam penyimpanan bahan kimia reaktif. tetrahidrofuran. (2) Gugus reaktif. atau kontak dengan uap lembab. asam pikrat kering) juga mudah meledak. Beberapa eter dan senyawa sejenis cenderung bereaksi dengan udara dan cahaya membentuk senyawa peroksida yang tidak stabil. Bahan eksplosif adalah bahan yang dapat menimbulkan ledakan. Keputusan yang harus diambil dalam menentukan penyimpanan bahan mudah meledak atas sifat masing-masing bahan kimia tersebut. Ledakan tersebut diakibatkan oleh penguraian bahan secara cepat dan menghasilkan pelepasan energi dalam bentuk panas. Bahan piroforik harus disimpan di dalam cabinet flammable secara terpisah dari cairan flammable dan cairan combustible. dan reaktif air. asetaldehid. Banyak faktor yang menyebabkan suatu bahan dapat meledak. gesekan. sehingga menyulitkan dalam pengelompokkan bahan eksplosif ini. Beberapa senyawa nitro (misalnya Trinitrotoluen/TNT. azida. Bahan kimia piroforik ada yang berupa padatan seperti fosfor. Perhatikan secara khusus agar penyimpanan bahan tersebut tidak mengundang atau meningkatkan bahaya misalnya hindari penyimpanan asam pikrat jangan sampai kering. dan sikloheksena. Unsur fosfor harus disimpan dan dipotong dalam air. dan perhatikan lambang yang menunjukkan kestabilan dan mudah meledaknya bahan tersebut. Bahan kimia yang dapat membentuk peroksida tersebut diantaranya adapah p-dioksan. pembentuk peroksida. cairan seperti tributilaluminium atau gas seperti silan. Beberapa peroksida (misalnya benzyol peroksida kering) dan oksidator kuat lainnya mudah meledak.Bahan reaktif dikategorikan sebagai bahan yang bereaksi sendiri atau berpolimerisasi menghasilkan api atau gas toksik ketika ada perubahan tekanan atau suhu. maka cara yang harus diperhatikan dalam penyimpanannya adalah sebagi berikut : 7 .

3. Buanglah 8 . Penyimpanan dan penataan bahan kimia korosif Bahan kimia korosif terdiri dari dua macam yaitu asam dan basa. sehingga dapat mengganggu kesehatan pengguna. kalsium (Ca).6 bulan (lihat Tabel-5). Simpan dalam desikator yang diisi dengan silika gel. Penyimpanan asam organik biasanya dibolehkan dengan cairan flammable dan combustible.2. dan asam mineral oksidator (misalnya asam kromat.). atau gas mudah meledak. 4. dan asam berasap seperti asam nitrat dan asam sulfat). Penyimpanan bahan kimia korosif jangan sampai bereaksi dengan tempat penyimpanannya (lemari rak dan cabinet). d. flammable. Panduan penyimpanan untuk kelompok asam ini diantaranya adalah : a. asam perklorat. asam florida. Buanglah wadah bahan kimia pembentuk peroksida yang tidak pernah dibuka sesuai batas kadaluarsa yang diberikan pabrik atau 12 bulan setelah diterima.4. asam format. peroksida yang telah dibuka setelah 3 . Pisahkan asam dari bahan kimia yang dapat menghasilkan gas toksik dan dapat menyala seperti natrium sianida (NaCN). b.1. Uji secara periodik (3 atau 6 bulan) terjadinya pembentukan peroksida. Oleh karena itu penyimpanan bahan kimia ini harus dijauhkan dari sumber air (jangan menyimpannya di bawah atau di atas bak cuci. Perhatikan bahwa diantara bahan korosif dapat bereaksi dengan hebat. Gunakan pemadam api dengan bahan kimia kering apabila terjadi kebaran dengan bahan ini. Pisahkan asam-asam tersebut dari basa dan logam aktif seperti natrium (Na). Bahan yang reaktif dengan air apabila kontak dengan dengan udara lembab saja akan menghasilkan senyawa toksik. Pisahkan asam-asam organik dari asam mineral dan asam mineral oksidator. Simpan bahan kimia pembentuk peroksida itu dalam botol tertutup rapat (tidak kontak dengan udara) atau dalam wadah yang tidak terkena cahaya. magnesium (Mg) dll. Misalnya hipoklorit dan logam hidrida. 2. Untuk keperluan penyimpanan. c. asam-asam yang berujud cairan diklasifikasi lagi menjadi tiga jenis yaitu asam-asam organik (misalnya asam asetat glacial. besi sulfida (FeS). kalsium karbida (CaC2) dll. Berikan label pada wadah tentang tanggal diterima dan dibuka bahan tersebut. 2. asam mineral (misalnya asam klorida dan asam fosfat). dst. kalium (K).

Simpanlah botol asam pada tempat dingin dan kering. Simpanlah asam dengan botol besar pada kabinet atau lemari rak asam.2. natrium hidroksida (NaOH) harus dilakukan sebagai berikut : a. Simpan larutan basa anorganik dalam wadah polyethylene (plastik). 2. i.2 berikut memperlihatkan penyimpanan bahan kimia pada wadah primer dan wadah sekunder yang disimpan dalam lemari/cabinet. bahan eksplosif. kalsium hidroksida. Titik bakar dinyatakan sebagai suhu minimum cairan untuk menghasilkan uap yang cukup sehingga dapat terbakar ketika bercampur dengan udara. Gambar-5. g. Simpanlah botol-botol besar larutan basa dalam lemari rak atau cabinet yang tahan korosif. peroksida organik. Penyimpanan basa padatan atau cairan seperti amonium hidroksida (NH4OH). f. logam aktif. Botol besar disimpan pada rak lebih bawah daripada botol lebih kecil. Baki plastik atau panci kue dari pyrex sangat baik digunakan lagi pula murah harganya.e. Simpanlah wadah asam pada wadah sekunder seperti baki plastik untuk menghindari cairan yang tumpah atau bocor. dan gunakan botol bawaannya ketika dipindahkan ke luar lab. Pisahkan basa dari asam. h. Gunakan wadah sekunder untuk menyimpan asam itu. Ca(OH)2. b. dan bahan flammable. kalium hidroksida (KOH). Botol besar disimpan pada rak lebih bawah daripada botol lebih kecil. c. Jauhkan asam oksidator seperti asam sulfat pekat dan asam nitrat dari bahan flammable dan combustible. Tempatkan wadah larutan basa dalam baki plastik untuk menghindari pecah atau keborocan. d. dan jauhkan dari sumber panas atau tidak terkena langsung sinar matahari.5 Penyimpanan dan penataan bahan kimia Flammable & Combustable Cairan Bahan kimia flammable dan combustible diklasifikasi menurut titik bakar/nyala (flash point) dan titik didihnya (boiling point). 9 . Khusus asam perklorat harus disimpan pada wadah gelas atau porselen dan jauhkan dari bahan kimia organik.

hidrogen peroksida (H2O2). 10 . ksilena. logam alkali (litium = Li. Jangan sekali-kali menyimpan cairan flammable di dalam kulkas biasa. etanol. Misalnya kalium permanganat (KMnO4). Bila reaktif terhadap air. 2.Bahan kimia flammable dapat disimpan dengan bahan kimia combustible. Jangan menyimpan pada wadah/tempat yang terbuat dari kayu juga jangan berdekatan dengan bahan lain yang mudah terbakar. sengatan matahari langsung. Hindari penyimpanan cairan flammable dari panas. feri klorida (FeCl3). Wadah dari gelas jangan digunakan untuk menyimpan cairan flammable. Cairan flammable yang memerlukan kondisi dingin. dsb. kalsium karbida. sumber nyala atau api. aseton. fosfor pentaklorida. pelarut non-flammable (metilklorida). Padatan flammable ini harus disimpan dalam cabinet flammable dan dijauhkan dari cairan flammble atau cairan combustible. d. Pelarut dengan kualitas teknis harus disimpan dalam wadah logam. rubidium = Rb) dan asam formiat (HCOOH). kalium = K.2. Secara umum penyimpanan cairan flammable di laboratorium adalah sebagai berikut . Bahan kimia oksidator harus dipisahkan dari bahan-bahan flammable dan combustible serta bahan kimia reduktor seperti seng (Zn). asam organik combustible (misalnya asetat). e. c. Jauhkan bahan flammable dari oksidator. Simpan pada tempat dingin dan kering. Unsur litium (Li). dan kalium. hanya disimpan pada kulkas yang bertuliskan “Lab-Safe” atau “Flammable Storage Refrigerators”. litium. Bahan kimia padatan yang cepat terbakar karena gesekan. ataupun reaktif Misalnya asam pikrat. toluen. heksana. sedangkan dari > 25 galon hingga 60 galon harus disimpan juga dalam cabinet. natrium = Na. a. dan natrium (Na) harus disimpan di dalam minyak tanah (kerosene) atau minyak mineral. Beberapa cairan flammable yang umumnya dijumpai diantaranya adalah asetaldehid. natrium nitrat (NaNO3). kalium (K). janganlah disimpan di bawah bak cuci. panas. b. terhadap air dan spontan terbakar dinamakan padatan flammable.6 Penyimpanan dan penataan bahan kimia oksidator Bahan kimia yang termasuk oksidator adalah bahan kimia yang menunjang proses pembakaran dengan cara melepaskan oksigen atau bahan yang dapat mengoksidasi senyawa lain. Cairan flammable kelas I yang jumlahnya > 10 galon hingga 25 galon harus disimpan dalam wadah (cans) yang aman.

beracun (toxic) dengan oral rate LD50 50-100 mg/kG dan sebagai bahan kimia karsinogen (penyebab kanker). e. Pisahkan dan tandai mana tabung gas yang berisi dan mana yang kosong. Jauhkan silinder dari sumber panas. Jagalah sumbat katup jangan sampai lepas ketika menggeser-geserkan silinder. 2. maka tuliskan label pada bagian luar botol tersebut.8 Penyimpanan dan penataan bahan kimia sensitif cahaya Penyimpanan bahan kimia yang sensitif cahaya harus dipisahkan atas dasar tingkat kebahayaannya. Tulisi wadah bahan kimia ini dengan kata “bahan beracun”. bahan mudah terbakar. Apabila botol penyimpan bahan kimia ini harus dibungkus dengan foil (kertas perak/timah). K4[Fe(CN)6].2. garam merkuri. a. Gunakan gerobak yang dilengkapi rantai ketika memindahkan silinder gas berukuran besar. g. bahan kimia ini harus terhindar dari cahaya. h. Agar tidak terjadi penguraian. 2. karena gas dalam silinder memiliki tekanan tinggi.9 Penyimpanan dan penataan Gas Terkompresi (Compressed Gases) Dengan memperhatikan Gambar-9 di atas.7 Penyimpanan dan penataan bahan kimia beracun (toxic) Bahan kimia ini terdiri dari bahan beracun tinggi (highly toxic) dengan ciri memiliki oral rate LD50 (Lethal Dosis 50%) < 50 mg/kG. b. Sedangkan Tabel-9 memperlihatkan bahan-bahan kimia karsinogen. i. Misalnya brom dengan oksidator. natrium iodida (NaI) dll. Tabel-6 memperlihatkan beberapa bahan kimia toksik yang selama ini sudah dicarikan penggantinya. Pisahkan silinder yang satu dengan yang lainnya jika gas dari silinder satu dapat menimbulkan reaksi dengan gas dari silinder lain. Atur regulator ketika gas dalam silider digunakan. Gunakan lemari asap untuk mereaksikan gas yang diambil dari silinder. Beberapa concoh senyawa sensitif cahaya diantaranya adalah brom (Br2).2. Amankan bagian atas dan bawah silinder dengan menggunakan rantai dan rak logam. c. 11 bahan korosif bahan berasap maupun . d. arsen dengan senyawa beracun. Pasang tutup pentil ketika silinder tidak digunakan. Simpan di dalam wadah yang tidak mudah pecah.2.2. f. dan tertutup rapat. kalium ferosianida. Simpanlah bahan sensitif cahaya ini dalam botol berwarna coklat (amber bottle).

Jangan mencampur bahan infeksi dengan menghisap/meniup pipet Jangan mengeluarkan cairan dari dalam pipet secara paksa Gunakan kapas yang telah diberi disinfektan bila ada tetesan spesimen yang jatuh di meja. Hindari aerosol. Pembukaan wadah di tempat kerja sering dilakukan. masukkan sumbat kapas untuk mengurangi kontaminasi. bahan terinfeksi yang ada dalam wadah dapat menularkan secara langsung atau jatuh ke tempat kerja.3 Penggunaan Alat –alat Di Laboratorium Penggunaaan alat-alat di laboratorium 1. cairan.2. kemudian kapas di buang di tempat khusus untuk diautoclave Rendam pipet habis pakai di disinfektan 18-24 jam Cara menggunakan jarum suntik (kecelakaan penggunaan jarum suntik penyebab umum infeksi yang terjadi di laboratorium dan fasilitas kesehatan lain) • • • • • 3. Hindari memipet dengan mulut. Gunakan jas lab. karena tak terlihat dapat menimbulkan aerosol atau kontaminasi pada kulit atau daerah kerja. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari resiko terinfeksi adalah sebagai berikut : • • • Buka tutup wadah di tempat kerja dengan hati-hati agar isi dalam wadah tidak terpencar ke luar. Cara menggunakan pipet dan alat bantu pipet • • • • • 2. memiliki potensi terinfeksi. dan sarung tangan. gunakan alat bantu. 12 • . gelembung secara vertikal ke kapas yang telah ada desinfektan Jangan membengkokkan atau memindahkan jarum dengan tangan Buang jarum suntik pada tempat khusus sebelum steril Cara pembukaan wadah Pembukaan wadah botol atau cawan petri dan tabung biakan. bila tidak hati-hati. Hindari gerakan cepat dan tergesa-gesa saat memegang jarum suntik Gunakan sarung tangan Buang kelebihan udara. Spesimen yang bocor atau pecah hanya dibuka di dalam Safety Cabinet.

Jika spesimen bocor / tumpah di atas baki. maka tempat pemeriksaan spesimen dapat dilakukan pada meja khusus dalam areal laboratorium. Penerimaan spesimen di Laboratorium • Laboratorium mempunyai loket khusus penerimaan spesimen. Wadah terbuat dari bahan tidak mudah pecah/bocor. Spesimen harus di tempatkan dalam wadah yang tertutup rapat untuk mencegah tumpahnya/bocornya spesimen. Jika jumlah spesimen tidak banyak. melabel dan membawa spesimen • Gunakan sarung tangan • Hanya petugas lab yang boleh melakukan pengambilan darah. • • • • • • • 5. Jika 13 Petugas pembawa spesimen dalam Laboratorium . Jarum suntik habis pakai sebaiknya dibakar dalam alat insinerasi. Mengambil. Lapor pada petugas/panitia keamanan kerja laboratorium jika terluka saat bekerja.4. Jika mungkin. Baki harus didisinfeksi / diautoklaf secara teratur setiap hari. a. • • • • • 6. Wadah diberi label tentang identitas spesimen. Wadah harus dapat didisinfeksi atau diautoklaf. Wadah diletakkan pada baki khusus yang terbuat dari logam atau plastik yang dapat didisinfeksi atau diautoklaf ulang. Tindakan khusus terhadap darah dan cairan tubuh Tindakan di bawah ini dibuat untuk melindungi petugas laboratrorium terhadap infeksi yang ditularkan melalui darah seperti Virus hepatitis B. dekontaminasi baki dan sisa spesimen diautoklaf. wadah diletakkan di atas baki dalam posisi berdiri. Mengenakan jas laboratorium yang tertutup rapat pada bagian depan saat membawa spesimen. lepaskan jarum dari sempritnya dengan alat khusus yang sekaligus merupakan wadah penyimpanan jarum habis pakai. • Setelah pengambilan darah. Pindahkan darah ke dalam tabung spesimen dengan hari-hati dan tutup rapat mulut tabung spesimen. Membawa spesimen di atas kaki Mencuci tangan dengan disinfektan jika terkena tumpahan/percikan dari spesimen. HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan lain-lain.

alirkan hipoklorit atau glutaraldehid ke dalam alat disinfektan hanya pada keadaan tertentu. Formulir permintaan dibawa secara terpisah. hindari penggunaan alat suntik selain untuk mengambil darah. Sediaan darah pada kaca objek • Pegang kaca objek dengan forsep Peralatan otomatis • Sebaiknya gunakan alat yang tertutup (enclosed type) • Cairan yang keluar dari alat/effalut harus dikumpulkan dalam tabung/wadah tertutup atau dibuang ke dalam sistem pembuangan limbah. e. • Sedapat mungkin. Melakukan sentrifus • Gunakan tabung sentrifus yang mempunyai tutup • Gunakan selongsong/rotor yang dilengkapi penutup g. b. • Gunakan sarung tangan • Untuk mencegah percikan. • Tabung spesimen dan formulir permintaan harus diberi label BAHAYA INFEKSI. f.fasilitas insinerasi tidak tersedia. • Masukkan tabung ke dalam kantung plastik untuk dibawa ke laboratorium. Jaringan • Fiksasi jaringan dengan formalin. dapat difiksasi dan didekontaminasi dalam waktu kurang lebih 2 jam. • Setelah melakukan potong beku (frozensection). buka sumbat tabung setelah dibungkus kain kasa. Kaca dan benda tajam • Jika mungkin. Spesimen berukuran kecil. Membuka tabung spesimen dan mengambil sampel • Buka tabung spesimen dalam kabinet keamanan biologis Kelas I dan Kelas II. gunakan alat terbuat dari plastik sebagai pengganti kaca/gelas. c. alat (cryotome) haru didekontaminasi. seperti dari biopsi jarum. • Jika memungkinkan. jarum suntik dan sempritnya diautoklaf dalam kantong yang terpisah. tetapi spesimen berukuran besar membutuhkan waktu beberapa hari. Bahan kaca/gelas dapat dipakai jika terbuat dari borosilikat. d. 14 .

Oleh sebab itu perlu diupayakan tindakan pencegahan dengan urutan prioritas sebagai berikut : a. Perlindungan petugas pemeriksa • • • Batasi kontaminasi Dekontaminasi pegawai Dekontaminasi areal yang berhubungan b. Bila terjadi kecelakaan diruang kerja laboratorium. 2. keracunan. Bersihkan dengan tissue atau lap dengan menggunakan sarung tangan. Sebaiknya kotak peralatan tersebut disertai dengan petunjuk lengkap tentang pertolongan pada kecelakaan. Kecelakaan di Laboratorium Di laboratorium mikrobiologi. Diamkan 10 menit. Dekontaminasi kulit detergen tidak boleh digunakan.4 Penataan Alat Laboratorium Penataan (ordering) alat dimaksudkan adalah proses pengaturan alat di laboratorium agar tertata dengan baik. shock/collapse serta terbaca oleh semua staff. perawatan harus dilakukan dengan tidak merusak kulit c.7. infeksi bakteri merupakan resiko yang sering terjadi sebagai penyebab penularan utama pada petugas pemeriksa laboratorium. Harus dipindahkan dari lokasi tumpahan sampai kontaminasi dapat termonitor. Dekontaminasi daerah kerja Basahi semua daerah yang terkena tumpahan termasuk wadah yang rusak dengan disinfektan. e. luka bakar. Dianjurkan disinfektan yang digunakan adalah Hypochlorite. terpotong/tersengat. d. Dekontaminasi pakaian pakaian yang terkontaminasi harus dipindahkan secepatnya dan diletakkan pada wadah tertentu. Kotak peralatan P3K yang lengkap harus tersedia di laboratorium dan diletakkan di tempat yang diketahui oleh semua staf laboratorium. Dalam menata alat tersebut berkaitan erat dengan keteraturan dalam 15 . Dekontaminasi mata = dilakukan dengan perawatan air untuk mencegah penyebaran kontaminasi dari satu area ke area lainnya. batasi orang yang masuk di daerah tersebut sampai dilakukan monitor terhadap kontaminasi oleh petugas.

terpelihara identitas dan presisi alat. pada bagian ini pembahasan akan difokuskan pada penataan alat. Di laboratorium terdapat berbagai macam fasilitas umum lab maupun peralatan. dan Bentuk dan ukuran alat Bobot / berat alat BAB III 16 . 6. Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan di dalam penataan alat terutama cara penyimpanannya. 3.penyimpanan (storing) maupun kemudahan dalam pemeliharaan (maintenance). 5. 8. Beberapa contoh penataan fasilitas umum lab sudah dikemukakan sebelumnya. 9. Dengan demikian penataan alat laboratorium bertujuan agar alat-alat tersebut tersusun secara teratur. mudah dan aman dalam pengambilan dalam arti tidak terhalangi atau mengganggu peralatan lain. serta terkontrol jumlahnya dari kehilangan. Keteraturan penyimpanan dan pemeliharaan alat itu. tentu memerlukan cara tertentu agar petugas lab (teknisi dan juru lab) dengan mudah dan cepat dalam pengambilan alat untuk keperluan kerja lab. 7. Fungsi alat. indah dipandang (estetis). 4. juga ada kemudahan dalam memelihara kualitas dan kuantitasnya. Kualitas alat termasuk kecanggihan dan ketelitian Keperangkatan Nilai/ harga alat Kuantitas alat termasuk kelangkaannya Sifat alat termasuk kepekaan terhadap lingkungan Bahan dasar penyusun alat. apakah sebagai alat ukur ataukah hanya sebagai penyimpan bahan kimia saja 2. diantaranya adalah : 1.

dan waktu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien.PENUTUP 3. Efektifitas merupakan landasan untuk mencapai sukses. 2. pelaksanaan. bahan. Sifatsifat zat.Sedangkan efisiensi merupakan sumber daya minimal yang digunakan untuk mencapai kesuksesan itu. yaitu seberapa jauh rencana dapat dilaksanakan dan seberapa jauh tujuan tercapai. terpendek langkahnya. dan pengontrolan sumber daya manusia. money. Dengan demikian manajemen dapat diartikan sebagai proses perencanaan. dengan memperhatikan kelompoknya yang telah ditentukan. lokaasi tempat dan dalam ruangan. Masing-masing zat disimpan pada tempat yang telah ditentukan / direncanakan. pelaksanaan.1 Kesimpulan Pengelolaan atau sering disebut manajemen adalah proses mengelola sumber daya untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. Merencanakan dan menentukan tempat yang akan digunakan untuk menyimpan masingmasing zat tersebut. kelompok zat dan banyaknya zat yang digunakan sebagai dasar dalam menentukian macam tempat. 17 . suhu kamar. biaya. dan minute (manusia. tersingkat waktunya. Jadi efektifitas berkenaan dengan derajat pencapaian tujuan baik secara eksplisit maupun implisit. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara mendesain penempatan rak/lemari yang diperlukan pada ruangan yang telah ada. machines. Hal ini yang harus diperhatikan adalah kelembaban udara. serta menentukan dari jumlahnya masingmasing zat. Sedangkan fungsi manajemen meliputi empat kegiatan. yaitu yang termudah cara mengerjakannya. dan pengontrolan). bahan. termurah biayanya. dan waktu). Dengan berdasarkan sifat-sifat tertentu. methods. yakni: planning. Dalam mengelola zat kimia. uang. Sumber daya yang dikelola meliputi 6 M. mesin atau peralatan. pengorganisasian. pengelompokkan berdasarkan sifat-sifatnya seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. 3. pengelolaan zat dapat dilaksankan sebagai berikut : 1. Menginfentarisasi jumlah macam zat yang ada. dan controlling (perencanaan. yakni: man. actuating. teringan bebannya. Jadi efisien berarti optimasi penggunaan sumber daya. cahaya matahari dan ventilasi ruangan serta kondisi lingkungan dari segi pengamanannya. metode atau cara. metode atau cara. mesin atau peralatan. pengorganisasian. materials. organizing. agar digunakan sebagai dasar dalam penenpatannya dan mengadiminstrasikannya.

5. Pengadministrasian (pencatatan) dengan menggunakan perangkat administrasi yang ada. dari buku catatan zat yang telah habis dan perlu direncanakan. 18 . Pengerjaan dan pembinaan secara rutin dan teratur serta kesinaambungan. keselamatan semua yang terlibat dan keselamatan lingkungan.4. sehingga tujuan dan fungsi laboratorium dapat dicapai secara optimal. diantaranya kartu untuk masing-masing zat. buku catatan harian untuk penggunaan zat. daftar zat yang adaa. Dalam melaksanakan pengelolaan zat agar selaalu diperhaatikan tentang faktor-faktor keselamatan diri.

jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Grover. Moedjiadi et al. Pengelolaan Laboratorium. Jakarta : P3G. Tim Dosen. Pengelolan Laboratorium IPA. Tehnik Laboratorium. et al. (1981). Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1981). Buku Pedoman Praktikum dan Manual Alat Laboratorium Pendidikan Kimia. (1979). Sarosa Purwadi dan Tobing.L. 2011. (1984). Laboratory Organization and Management. eds. 19 . Djupripadmawinata. Fred and Wallace. London : Butterworths.DAFTAR PUSTAKA Anna Poedjiadi. Medan : FMIPA Universitas Negeri Medan.. Peter. R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->