P. 1
bahan pasca panen

bahan pasca panen

|Views: 294|Likes:
Published by NurHazizah

More info:

Published by: NurHazizah on Apr 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2014

pdf

text

original

pengnganan padi pasca panen

Biji-bijian, sebagai salah satu hasil dari tanaman pangan, adalah kelompok bahan yang sangat penting sebagai sumber bahan pangan dan juga bahan pakan. Kandungan pati yang tinggi pada biji-bijian menjadi sumber energi utama, selain juga kandungan protein dan lemaknya. Beberapa bahan pangan penting yang termasuk ke dalam kelompok biji-bijian adalah padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah. Biji-bijian dengan kandungan pati yang tinggi biasanya dikonsumsi sebagai bahan pangan pokok (seperti beras dan jagung), sedangkan bijibijian dengan kandungan protein dan lemak yang tinggi biasanya dikonsumsi sebagai bahan pangan pelengkap (seperti kedelai dan kacang tanah). Biji-bijian adalah bahan pangan yang mempunyai daya tahan tinggi karena tidak mudah rusak saat diangkut dan tahan lama bila disimpan dengan cara yang benar, dan sebelumnya diolah dengan cara yang benar pula. Namun demikian kegagalan dalam penggunaan teknologi pascapanen yang baik dapat menyebabkan terjadinya susut mutu dan susut bobot dalam waktu yang singkat. Sedikitnya ada tiga faktor yang dapat menimbulkan susut pada biji-bijian, baik susut mutu maupun susut bobot, yaitu faktor fisik, faktor biologis, dan faktor fisiologis. Susut yang disebabkan oleh faktor fisik dapat terjadi selama kegiatan panen, perontokan, pengeringan, dan pengangkutan. Contoh-contoh terjadinya susut pada masing-masing kegiatan antara lain:
1. Selama waktu panen, susut dapat terjadi karena ada biji-bijian yang rontok di lahan akibat cara panen yang tidak benar atau akibat penundaan waktu panen. Penundaan panen juga dapat menyebabkan keretakan pada biji-bijian sehingga akan mudah rusak pada proses pengolahannya.

2. selama perontokan, susut dapat terjadi karena adanya biji-bijian yang tertinggal pada malai, cangkang, atau tongkol. juga kerusakan mekanis yang disebabkan oleh peralatan atau mesin yang digunakan

3. Proses pengeringan yang tidak sempurna juga dapat menimbulkan susut selama proses perontokan atau penggilingan. Perontokan yang dilakukan segera setelah pengeringan juga beresiko memperbesar persentase kerusakan mekanis. Kerusakan mekanis selama perontokan atau penggilingan juga dapat disebabkan oleh pengeringan yang terlalu cepat. Khusus untuk negara-negara Asean, pengeringan seringkali dilakukan dengan cara penjemuran yang dapat menimbulkan susut akibat akibat tercecernya biji-bijian atau dimakan oleh ayam dan burung. 4. Selama dalam pengangkutan atau penyimpanan, susut dapat terjadi akibat biji-bijian tercecer bila tidak dikemas dengan cara yang benar. Susut yang terjadi karena faktor biologis biasanya disebabkan oleh serangan hama dan jamur yang merupakan masalah utama dalam penanganan pascapanen biji-bijian. Pada jagung,

serangan hama bahkan dapat berlangsung selagi biji-bijian masih di lahan. Pada keadaan tertentu, tikus dapat menjadi hama yang sangat merugikan dalam penyimpanan biji-bijian. Tikus bukan hanya memakan biji-bijian, tetapi kotorannya juga akan mempengaruhi kualitas biji-bijian yang disimpan secara keseluruhan. Beberapa jenis tikus bahkan dapat menjadi perantara masuknya mikroba patogen ke dalam biji-bijian yang disimpan. Susut pada produk biji-bijian yang disebabkan oleh faktor fisiologis seperti peningkatan aktifitas metabolisme akibat respirasi sangat kecil bila dibandingkan dengan produk lain seperti buah dan sayuran. Namun hal ini hanya akan terjadi bila biji-bijian telah menjalani proses pengeringan dengan benar, dan disimpan dengan baik. Bila biji-bijian tidak dikeringkan dengan benar (kadar airnya masih tinggi), atau disimpan pada tempat yang hangat dan lembab, transpirasi uap air oleh biji-bijian yang disimpan meningkat sehingga kelembaban udara dalam ruang penyimpanan juga meningkat. Hal yang demikian dapat menciptakan lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan mikroorganisme perusak biji-bijian. Beras merupakan bahan pangan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, baik di kota maupun di pedesaan. Dengan konsumsi beras yang masih sangat tinggi, yaitu sekitar 130 kg/kapita per tahun, maka beras yang harus disediakan setiap tahunnya dalam suatu desa ekologi dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah penduduk desa tersebut. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan beras secara mandiri, berarti pengaliran sumberdaya ekonomi keluar desa karenan harus membeli beras dari luar desa. Selain di tingkat on-farm, penanganan pascapanen padi juga perlu diperhatikan dengan baik. Pemanenan, perontokan, penjemuran, dan penggilingan padi harus dilakukan dengan cara dan teknologi yang tepat, untuk menekan susut mutu dan susut jumlah. Penggilingan padi mempunyai peranan yang sangat vital dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan. Kapasitas giling dari seluruh penggilingan padi yang ada di suatu desa sebaiknya mencukupi baik dari segi produksi maupun penanganan pascapanennya. Dengan demikian, usaha penggilingan padi harus dapat menjamin kelangsungannya, agar usaha pemenuhan kebutuhan akan beras dapat dilakukan secara optimal. Usaha jasa penggilingan padi umumnya tidak berjalan penuh sepanjang tahun atau bersifat musiman, sebab gabah tidak tersedia sepanjang tahun. Kegiatan usaha jasa penggilingan padi berjalan hanya pada musim panen dan beberapa bulan setelahnya, tergantung pada besarnya hasil panen di wilayah sekitar penggilingan padi berada. Oleh karena itu, hari kerja suatu penggilingan padi dalam setahun ditentukan oleh volume hasil dan frekuensi panen di wilayah sekitarnya. Pada masa-masa di luar musim panen, biasanya pemilik dan pekerja usaha jasa penggilingan padi akan mengisi waktu mereka dengan jenis kegiatan lainnya seperti bertani dan berdagang. Oleh karena itu, banyak di antara pemilik penggilingan padi juga berprofesi sebagai pedagang beras untuk mengisi kekosongan kegiatan penggilingan padi, bila mereka mempunyai modal yang cukup untuk itu. Hal ini tidak menjadi masalah dalam pengembangan desa ekologi. Skala usaha industri jasa penggilingan padi ditentukan oleh besar kecilnya kapasitas giling terpasang yang dimiliki suatu penggilingan padi. Suatu penggilingan padi digolongkan sebagai penggilingan padi berskala kecil bila kapasitas penggilingannya tidak lebih dari 1500 kg beras per jam (Departemen Pertanian, 2001). Menurut data tahun 1990-1997, yang dirilis oleh Departemen Pertanian RI (1998), lebih dari 50% penggilingan padi yang ada di Indonesia tergolong dalam penggilingan padi dengan skala kecil dan lebih dari 36% adalah rice milling unit, yang dari segi kapasitas juga termasuk penggilingan padi kecil. Dari sekitar 82 ribu unit

industri jasa penggilingan padi berskala kecil ini, setiap tahunnya dihasilkan lebih dari 24 juta ton beras atau sekitar 95% dari kapasitas giling seluruh penggilingan padi di Indonesia. Secara umum, mesin-mesin yang digunakan dalam usaha industri jasa penggilingan padi adalah mesin pemecah kulit/sekam, (huller atau husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (brown rice separator), mesin penyosoh atau mesin pemutih (polisher), mesin pengayak bertingkat (sifter), mesin atau alat bantu pengemasan (timbangan dan penjahit karung). Bila ditinjau dari kapasitasnya, mesin-mesin penggiling padi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu rice milling unit (RMU) dan rice milling plant (RMP). Perbedaan yang mendasar antara keduanya adalah pada ukuran, kapasitas dan aliran bahan dalam proses penggilingan yang dilakukan. Penggilingan padi yang lengkap kadangkala dilengkapi dengan pembersih gabah sebelum masuk mesin pemecah kulit, dan pengumpul dedak sebagai hasil sampingan dari proses penyosohan. Saat ini ketersediaan penggilingan padi di pedesaan cukup memadai terutama di pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penggilingan padi yang ada dibandingkan dengan tingkat produksi padi di daerah tersebut. Bahkan belakangan ini muncul usaha penggilingan padi bergerak yang biasa disebut grandong di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Usaha ini muncul dengan adanya pemikiran untuk menarik petani menggiling padi tanpa harus memikirkan pengangkutan hasilnya. Mesin penggilingan yang digunakan biasanya berupa RMU yang dimodifikasi dengan mobil pengangkut sehingga dapat dibawa keliling ke tempat petani menyimpan gabahnya. Keberadaan grandong ini secara langsung mengancam kelangsungan usaha penggilingan padi statis/tidak bergerak karena bagaimanapun juga petani tentu akan lebih memilih penggilingan padi yang memudahkan mereka. Dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan bahan pangan beras dalam suatu desa ekologi, sebaiknya usaha penggilingan padi ini, apaun jenisnya, dimiliki oleh penduduk desa setempat. Perlu juga dikaji mengenai peluang usaha jasa penggilingan padi dalam bentuk yang lebih modern yang melakukan pengolahan padi secara terpadu. Sebagai contoh adalah usaha yang memadukan antara proses penggilingan padi hingga menjadi beras berkualitas super yang juga dikombinasikan dengan pemberian bahan aditif untuk meningkatkan nilai gizi beras, sekaligus menangani aspek pasca produksi dan pemasarannya. Karena usaha jasa penggilingan padi tidak terlalu rumit untuk dijalankan, maka risiko yang ada juga relatif kecil dan mudah ditanggulangi. Risiko terbesar adalah sedikitnya pengguna atau rendahnya produktivitas padi per hektar sehingga kapasitas giling terpasang tidak terpenuhi karena volume gabah yang digiling setiap harinya kecil dan jumlah hari operasional penggilingan padi juga kecil. Risiko lainnya adalah kerusakan mesin-mesin penggilingan padi sehingga menyebabkan penurunan kapasitas giling dan mutu hasil gilingan. Selain itu kenaikan biaya operasional juga dapat mempengaruhi kelangsungan usaha jasa penggilingan padi. Variabel biaya terbesar dalam operasional usaha jasa penggilingan padi adalah biaya BBM dan penggantian rubber roll. Risiko kekurangan volume giling sehingga penggilingan padi beroperasi di bawah kapasitas gilingnya dapat diatasi dengan cara mempelajari keadaan sekelilingnya yang berkaitan, yaitu produktivitas lahan, musim panen dalam satu tahun, selang waktu panen dalam satu desa/daerah kawasan sekitar penggilingan padi, kebiasaan petani dalam menangani hasil panennya, dan lain sebagainya. Bila hal-hal seperti di atas diamati dengan seksama, seharusnya volume giling minimal sudah dapat diperkirakan, sehingga peralatan penggilingan padi yang disediakan sudah disesuaikan sejak awal. Risiko kerusakan mesin-mesin penggilingan padi dapat diperkecil dengan melakukan perawatan dan pemeriksaan kondisi mesin-mesin tersebut

Persentase gabah terkupas. Penggantian suku cadang harus sesuai dengan umur pakai setiap suku cadang tertentu. yaitu gabah dengan kadar air sekitar 14% basis basah dan outputnya berupa beras pecah kulit (BPK) yang berwarna putih kecoklatan (kusam) atau disebut juga brown rice. Silinder . Hal ini dapat terjadi karena perkembangan teknologi penggilingan padi telah memungkinkan membuat RMU dengan kapasitas yang relatif besar dan bentuk tetap kompak. dengan asumsi bahwa padi tidak dijual ke luar wilayah dalam bentuk gabah. Tinjauan Teknis Mesin-mesin Penggilingan padi Secara umum. Selanjutnya dalam satu wilayah sejumlah penggilingan padi tidak dibenarkan berada pada lokasi yang berdekatan sehingga tidak mampu menguasai areal minimum persawahan seperti telah dipaparkan di atas. penggilingan padi yang menggunakan mesin rice milling unit (RMU) biasanya memiliki kapasitas kecil dan merupakan usaha jasa murni yang hanya menerima gabah dari petani tanpa ada kerjasama dengan tengkulak atau pedagang beras. Mesin pemecah kulit gabah yang banyak digunakan dewasa ini adalah mesin tipe rubber roll yang prinsip kerjanya memecah kulit gabah dengan cara memberikan tenaga tarik akibat kecepatan putar yang berbeda dari dua silinder karet yang dipasang berhadapan. Demikian juga dengan penggilingan padi besar dapat menggunakan beberapa buah mesin RMU dengan catatan kapasitas giling mesin keseluruhan cukup besar. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan penggilingan padi kecil menggunakan RMP berkapasitas kecil dengan jumlah mesin terbatas pada satu atau dua set. Usaha jasa penggilingan padi memiliki berbagai variasi dalam pola usaha maupun peralatan yang digunakan. dikaitkan dengan kapasitas total dari sejumlah penggilingan padi yang beroperasi di wilayah tersebut. Secara umum sesuai dengan kondisi di lapangan. Peluang usaha jasa pada industri penggilingan padi tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Lingkungan yang menunjang dalam hal ini adalah ketersediaan penggilingan padi masih berada di bawah jumlah yang dibutuhkan. Input bahan dari mesin ini adalah gabah kering giling (GKG). yang dapat diketahui dari jumlah produksi padi total dalam suatu wilayah. beras patah dan beras menir tergantung pada kerapatan dan kelenturan silinder karet ini. sehingga mesin-mesin dapat beroperasi secara optimal. mesin-mesin yang digunakan dalam usaha industri jasa penggilingan padi dapat dikelompokkan sebagai berikut: • Mesin pemecah kulit/sekam atau pengupas kulit/sekam gabah kering giling (hulleratau husker) • Mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (brown rice separator) • Mesin penyosoh atau mesin pemutih (polisher) • Mesin pengayak bertingkat (sifter) • Mesin atau alat bantu pengemasan (timbangan dan penjahit karung) Mesin pemecah kulit/sekam gabah kering giling berfungsi untuk memecahkan dan melepaskan kulit gabah.secara berkala. Sedangkan penggilingan padi besar biasanya menggunakan fasilitas rice milling plant (RMP) yang memiliki kapasitas giling besar dan menjalin kerjasama dengan tengkulak atau pedagang beras dalam menjalankan usahanya.

Pekerjaan ini dilakukan menggunakan mesin lain yang disebut mesin pemisah BPK dan gabah. atau secaram umum disebut pengayak. Mesin pemecah kulit diperlihatkan pada Gambar 1. sedangkan jarak kedua silinder yang renggang akan menyebabkan persentase gabah tidak terkupas meningkat. Bagian yang tidak terkupas tersebut harus dipisahkan dari beras pecah kulit untuk diumpankan kembali kedalam mesin pemecah kulit.yang telah mengeras atau yang terlalu rapat satu sama lain akan meningkatkan jumlah beras patah dan beras menir. Biasanya gabah yang tidak terkupas akan dipisahkan dari beras pecah kulit dan dimasukkan lagi ke dalam pengumpan hingga semuanya terkupas. yang dapat menyatu atau terpisah dengan mesin pemecah kulit. Besar kecilnya persentase gabah tidak terkupas ini tergantung pada penyetelan mesin. sedangkan Gambar 2 memperlihatkan aliran gabah dalam mesin tersebut. Gabah yang diumpankan ke dalam mesin pemecah kulit biasanya tidak seluruhnya terkupas. Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan mesin pemisah gabah dari beras pecah kulit. Gambar 1. Mesin pemecah kulit gabah tipe rubber roll (Sumber : PT Agrindo) .

Hasil dari proses penyosohan adalah beras putih yang siap dipasarkan atau dimasak.Gambar 2. Beras pecah kulit yang diumpankan ke dalam mesin ini didorong memasuki silinder dengan permukaan dalam tidak rata dan pada bagian dalamnya terdapat silinder lain yang lebih kecil dan mempunyai permukaan luar yang tidak rata serta berlubang-lubang. Selain itu hembusan udara ini juga berfungsi untuk menjaga suhu beras tetap rendah selama proses penyosohan sehingga penurunan mutu akibat perubahan kimia (menyebabkan cracking pada beras) yang disebabkan oleh panas dapat dicegah. Mesin penyosoh yang umum digunakan di Indonesia adalah mesin tipe friksi jetpeller. sehingga dapat menurunkan kapasitas penyosohan. sehingga mendorong dan melepaskan serbuk dedak dari permukaan beras dan dinding silinder untuk mendapatkan beras putih yang bersih dan menjaga kapasitas giling tidak menurun. . Aliran bahan pada mesin pemecah kulit gabah tipe rubber roll (Sumber : PT Agrindo) Selanjutnya beras pecah kulit mengalami proses penyosohan yang dilakukan menggunakan mesin penyosoh atau disebut juga mesin pemutih. Beras pecah kulit akan berdesakan dan bergesekan dengan permukaan silinder yang tidak rata sehingga lapisan kulit arinya (aleuron) yang berwarna kecoklatan terkikis. Oleh karena itu mesin penyosoh tipe jetpeller dilengkapi dengan hembusan udara yang kuat dari dalam silinder kecil yang berlubang-lubang. Gambar 3 memperlihatkan mesin penyosoh beras. Kulit ari yang terkikis ini menjadi serbuk dedak yang dapat menempel pada permukaan beras dan juga permukaan dinding silinder.

dan beras menir sebagai mutu ketiga. dapat dilakukan secara manual baik dengan atau pun tanpa bantuan alat penjahit portabel. mesin-mesin penggiling padi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu rice milling unit (RMU) dan rice milling plant (RMP).Gambar 3. Pengemasan umumnya menggunakan karung plastik berukuran 50 kg. beras patah sebagai mutu kedua. demikian pula penutupan karung. Penimbangan dilakukan secara manual. Mesin penyosoh beras pecah kulit tipe friksi jetpeller (Sumber : PT Agrindo) Beras putih hasil proses penyosohan kemudian perlu dipisahkan menurut kelompok mutunya yaitu beras utuh dan beras kepala sebagai mutu terbaik. Perbedaan yang mendasar antara keduanya adalah pada ukuran. Gambar 4. Pemisahan dilakukan menggunakan mesin pengayak bertingkat (sifter) atau silinder pemisah (silinder separator). Ketiga macam mutu beras tadi akan dicampurkan kembali dengan perbandingan tertentu untuk menentukan harga jual sebelum beras dikemas bila akan dipasarkan. Gambar 4 memperlihatkan cara kerja mesin pengayak beras dengan saringan bertingkat beserta hasil pemisahannya. kapasitas dan aliran bahan dalam proses penggilingan . Mesin pengayak beras dengan saringan bertingkat dan hasil proses pemisahannya (Sumber : PT Agrindo) Bila ditinjau dari konstruksinya.

bagian mesin yang berfungsi menyosoh dan mengumpulkan dedak. Kesemua fungsi tersebut dikemas dalam satu mesin yang kompak dan padat. dan pengumpul dedak sebagai hasil sampingan dari proses penyosohan. bagian mesin yang berfungsi mengeluarkan gabah yang belum terkupas untuk dikembalikan ke pengumpan. Salah satu bentuk RMU diperlihatkan dalam Gambar 5. bagian mesinyang berfungsi memisahkan BPK dan gabah dari sekam lalu membuang sekamnya.2 hingga 1. dimana proses pengolahan gabah menjadi beras dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process). sehingga praktis dan mudah digunakan.yang dilakukan. namun sesungguhnya memang terdiri dari beberapa mesin yang disatukan dalam rancangan yang kompak dan bekerja secara harmoni dengan tenaga penggerak tunggal. dan beras menir). Di dalam RMU sesungguhnya terdapat bagian mesin yang berfungsi memecah sekam atau mengupas gabah. Mesin ini bila dilihat fisiknya menyerupai mesin tunggal dengan fungsi banyak. dan bagian mesin yang berfungsi melakukan pemutuan berdasarkan jenis fisik beras (beras utuh. beras patah. beras kepala. RMU rata-rata mempunyai kapasitas giling kecil yaitu antara 0. Rice Milling Unit Rice milling unit (RMU) merupakan jenis mesin penggilingan padi generasi baru yang kompak dan mudah dioperasikan. Penggilingan padi yang lengkap kadangkala dilengkapi dengan pembersih gabah sebelum masuk mesin pemecah kulit. Bentuk RMU (rice milling unit) yang kompak .0 ton/jam. sedangkan skema penanganan bahan dalam penggilingan padi yang menggunakan RMU diperlihatkan dalam Gambar 6. walau mungkin sudah ada yang lebih besar lagi. Gambar 5.

hanya memerlukan penjadwalan yang lebih baik untuk operasional dan perawatan unit-unit yang terpisah tersebut. Karena terpisah. RMP merupakan jenis mesin penggilingan padi yang terdiri dari beberapa unit mesin yang terpisah satu sama lain untuk masing-masing fungsinya dalam proses penggilingan beras. sehingga waktu operasional tiap unit tidak sama untuk jumlah padi yang sama. dari industri manufaktur yang sama. Alur perlakuan dalam proses penggilingan gabah/beras menggunakan rice milling unit Rice Milling Plant Pada prinsipnya. maka. RMU dan RMP (Rice Milling Plant) adalah dua nama yang sama bila ditinjau dari segi fungsi. . unit-unit pada RMP dapat memiliki kapasitas yang berbeda. Hal ini bukan merupakan masalah. Namun demikian aliran bahan dapat dijalankan secara otomatis bila mesin-mesin dari RMP merupakan satu set mesin yang sama.Gambar 6. yaitu mesin-mesin penggilingan padi yang berfungsi mengkonversi gabah kering menjadi beras putih yang siap untuk dikonsumsi. Bila RMU merupakan satu mesin yang kompak dengan banyak fungsi.

Untuk menggiling padi dengan jumlah dan lama waktu giling yang sama. agar mesin penggilingan dapat beroperasi optimal dan ongkos giling per kg beras dapat ditekan. lebih murah membeli sebuah mesin berkapasitas giling besar dibanding jika membeli sejumlah mesin dengan kapasitas giling yang kecil.0 ton/jam. sedangkan alur perlakuan dalam proses penggilingan gabah/beras pada rice milling plant diperlihatkan dalam Gambar 8. bila faktor-faktor lainnya sama.0 hingga 5. baik ditinjau dari segi biaya pembelian maupun perawatan. Rangkaian mesin-mesin pengolahan gabah yang lengkap (Sumber : PT Agrindo) Perbedaan lain yang lebih penting pada RMP dibandingkan dengan RMU terletak pada kapasitas gilingnya. Akan tetapi penggunaan mesin dengan kapasitas giling besar juga tidak akan efisien bila padi yang akan digiling tidak tersedia dalam jumlah yang mencukupi.Gambar 7. . Dengan demikian pemilihan kapasitas mesin giling harus disesuaikan dengan jumlah padi yang akan digiling dalam waktu tertentu. Rangkaian mesin-mesin pengolahan gabah yang lengkap (RMP) dan diagram alir pengolahan gabah menjadi beras diperlihatkan dalam Gambar 7. RMP biasanya memiliki kapasitas giling yang lebih besar daripada RMU yaitu antara 1. akan dibutuhkan jumlah mesin berkapasitas giling kecil yang lebih banyak dibandingkan dengan mesin berkapasitas giling besar. Perbedaan kapasitas giling ini menjadi penting sebab akan meningkatkan efisiensi penggunaan mesin-mesin penggiling. Pada umumnya.

Alur perlakuan dalam proses penggilingan gabah/beras pada rice milling plant Proses Pengolahan Gabah Menjadi Beras Gabah dipanen pada tingkat kadar air sekitar 22% sampai 25% basis basah. yang biasanya dilakukan melalui proses penjemuran (Gambar 9a). Gabah dengan kadar air demikian tidak dapat langsung digiling karena kulitnya masih cukup basah sehingga sukar pecah dan terkupas. Oleh karena itu gabah perlu dikeringkan hingga kadar airnya berkisar 14% basis basah.Gambar 8. . Pengeringan juga dapat dilakukan menggunakan berbagai tipe alat pengering mekanis yang biasanya dioperasikan oleh penggilingan padi berskala besar (Gambar 9b).

yang disebut penggebotan karena gabah bersama malainya digebot (dipukulkan) pada sebuah papan bercelah sehingga butir-butir gabah terlepas dari malainya (Gambar 10a). Penggunaan mesin perontok mekanis kapasitas perontokan dapat ditingkatkan hingga mendekati satu ton GKP per jam. gabah harus dipisahkan dari malainya dengan cara perontokan. Perontokan padi menggunakan: a) alat gebotandan b) mesin perontok mekanis .(a) (b) Gambar 9. selain juga mengurangi susut perontokan yang umumnya tinggi pada perontokan cara gebotan (5-8%). agar penjemuran dapat berlangsung lebih singkat dan dapat menghemat tempat penjemuran. Pengeringan gabah dengan a) penjemuran dan b) menggunakan mesin pengering Sebelum dilakukan penjemuran. Perontokan biasanya dilakukan dengan cara manual. Cara yang lebih baik adalah menggunakan alat perontok semi-mekanis (pedal thresher) atau pun mesin perontok mekanis (power thresher) bila tersedia (Gambar 10b). (a) (b) Gambar 10.

dan (5) kurangnya dukungan kebijakan . logam dan sebagainya. selain memudah untuk ditutupi dan diangkut ke gudang dengan cepat bila sewaktu-waktu turun hujan selama penjemuran. Menurut data BPS 1994/1995. Penggilingan gabah dimulai dengan proses pemecahan dan pengupasan kulit/sekam.com/2009/11/pengnganan-padi-pascapanen.51 % Kualitas gabah masih rendah yang tercermin dari kadar air yang masih tinggi Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yaitu : (1) Penanganan pasca panen yang masih tradisional. Sebelum digiling. Sumber: http://catetankuliah. sedangkan kotoran-kotoran keras seperti batu akan merusak mesin penggiling. (4) belum adanya SOP dan GHP. (2)kurangnya kesadaran dan kepedulian para pelaku pasca panen terhadap kehilangan hasil dan kualitas hasil. (3) kurangnya penerapan teknologi dan dukungan sarana pasca panen. dilanjutkan penyosohan beras pecah kulit (BPK) dan diakhiri dengan pemutuan (grading). Lamporan adalah suatu lantai semen yang dibuat agak tinggi di bagian tengahnya dengan saluran air diantaranya untuk mencegah berkumpulnya air hujan. Kotoran-kotoran lunak seperti jerami akan mengurangi kapasitas giling. Praktek penjemuran yang baik adalah dengan menggunakan alas tikar atau plastik/terpal pada lantai sehingga gabah pada lapisan dasar tidak terkena panas yang berlebihan akibat pemanasan lantai semen. gabah biasanya dibersihkan dari segala kotoran seperti jerami. Gabah hasil pengeringan dengan kadar air sekitar 14% basis basah disebut gabah kering giling (GKG) karena sudah dapat menjalani proses penggilingan. penggilingan. PROSES PENANGANAN PASCA PANEN Penanganan pasca panen padi mempunyai peranan yang penting dalam usaha menekan kehilangan hasil dan meningkatkan mutu gabah/beras SOP dan GHP merupakan aspek penting dan mutlak diperlukan dalam penanganan pasca panen padi Pengunaan alsintan dalam pasca panen padi mutlak diperlukan agar dapat menekan kehilangan hasil dan meningkatkan kualitas hasil padi . kayu. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PENANGANAN PASCA PANEN PADI Penanganan pasca panen padi merupakan subsistem dari sistem agribisnis padi yang mencakup kegiatan mulai dari panen sampai dengan menghasilkan beras atau tepung beras. pengemasan dan penyimpanan. Alur perlakuan yang dikenakan terhadap gabah kering panen dalam proses penggilingan gabah/beras diperlihatkan dalam Gambar 6 dan Gambar 8. perontokan. tingkat kehilangan hasil pasca panen padi tercatat 20.blogspot. sebelum dikemas dan dijual. pecahan batu. dengan perbedaan kecil yang terletak pada jenis mesin penggilingan padi yang digunakan. pengeringan.Sedudah dirontokkan gabah kemudian dijemur di lamporan. Pada prinsipnya penanganan pasca panen meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu panen.html KONDISI DAN PERMASALAHAN PASCA PANEN PADI • Kondisi Secara nasional tingkat kehilangan hasil pasca padi masih tinggi.

1986). peternakan. kegiatan pascapanen meliputi kegiatan pemungutan hasil (pemanenan). Sesuai dengan pengertian tersebut diatas. 1986). Khususnya terhadap komoditas padi. Penanganan pascapanen hasil pertanian meliputi semua kegiatan perlakuan dan pengolahan langsung terhadap hasil pertanian yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. transportasi.html Teknologi Penanganan Pascapanen Padi Agus Setyono Balai Penelitian Tanaman Padi. meningkatkan nilai tambah dan pendapatan. Berdasarkan uraian tersebut diatas menunjukkan bahwa penanganan pascapanen mempunyai peranan yang sangat luas guna mengatasi masalah yang dihadapi petani. perawatan. Sukamandi PENDAHULUAN Pengertian pascapanen hasil pertanian adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan (pemanenan) hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan. pengolahan. penyimpanan. perontokan. holtikultura. karena terlalu banyaknya masalah yang dihadapi. meningkatkan devisa negara dan perluasan kesempatan kerja serta melestarikan sumberdaya alam dan lingkugan hidup. pengangkutan. tahapan pascapanen padi meliputi pemanenan. Penanganan pascapanen hasil pertanian bertujuan untuk menekan tingkat kerusakan hasil panen komoditas pertanian dengan meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri dalam negeri. penyimpanan. pengolahan. penggundangan dan standardisasi mutu ditingkat produsen.blogspot. penggilingan. standardisasi mutu dan penanganan limbah. maka . perkebunan.com/2012/02/teknologi-pasca-panen-tanamanpadi. dan perikanan sampai siap untuk dipasarkan (Anonim. 1986). pengeringan. Adapun yang dimaksud dengan penanganan pascapanen adalah tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada tahapan pascapanen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen dan atau diolah lebih lanjut oleh industri ( Anonim. perawatan. Hasil utama pertanian adalah hasil pertanian yang merupakan produk utama untuk tujuan usaha pertanian dan diperoleh hasil melalui maupun tidak melalui proses pengolahan (Anonim. pengawetan.http://ekaboymaster. Namun demikian.

Oleh karena itu perlu menetapkan prioritas masalah yang akan diatasi. (2) Kadar air gabah. Butir mengapur selain dipengaruhi oleh faktor genetika. Usaha tani padi tidak akan menguntungkan atau tidak akan memberikan hasil yang memuaskan apabila proses pemanenan dilakukan pada umur panen yang tidak tepat dan dengan cara yang kurang benar. 2000). Agroindustri padi belum berkembang seperti yang diharapkan. Masalah Pascapanen Masalah utama dalam penanganan pascapanen padi yang dihadapi petani adalah masih tingginya kehilangan hasil selama penanganan pascapanen yang besarnya sekitar 21% (BPS. belum memperhatikan secara serius produk samping dan limbahnya. Rendahnya mutu gabah disebabkan oleh tingginya kadar kotoran dan gabah hampa serta butir mengapur mengakibatkan rendahnya rendemen beras giling yang diperoleh (Setyono dkk. sedang cara panen yang baik secara kuantitatif dapat menekan kehilangan hasil. yaitu berdasarkan: (1) Umur tanaman menurut diskripsi varietas. perontokan sampai kepada rekayasa sistem pemanenan padi. Umur panen Ada beberapa cara untuk menentukan umur panen padi. seperti yang terlihat dalam penggilingan padi. Oleh karena sebagian besar pemanen merontok padinya dengan cara dibanting atau dengan menggunakan pedal thresher.penanganan pascapanen tidak dapat menyelesaikan semua masalah secara sekaligus. Kehilangan hasil panen dan rendahnya mutu gabah terjadi pada tahapan pemanenan dan perontokan sehingga sasaran utama penelitian pascapanen padi saat itu dititikberatkan kepada penelitian komponen teknologi pemanenan. juga dipengaruhi oleh teknik pemupukan dan pengairan. Pengusaha penggilingan padi umumnya hanya mengutamakan beras hasil giling.1996) dan rendahnya mutu gabah dan beras yang dihasilkan. KERAGAAN HASIL PENELITIAN KOMPONEN TEKNOLOGI PEMANENAN Pemanenan Pemanenan padi merupakan kegiatan akhir dari pra panen dan awal dari pasca panen. sedangkan kadar kotoran dipengaruhi oleh faktor teknis. Umur panen padi yang tepat akan menghasilkan gabah dan beras bermutu baik. Oleh karena itu komponen teknologi pemanenan padi perlu disiapkan. maka gabah yang diperoleh mengandung kotoran dan gabah hampa cukup tinggi. (3) Metode . yaitu cara perontokan.

. Tahapan kegiatan ini bertujuan untuk melepaaskan gabah dari malainya. dan (4) Kenampakan malai (Setyono dan Hasanuddin 1997). Ani-ani umumnya digunakan petani untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi berposter tinggi dengan cara memotong pada tangkainya.Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan mesin perontok.. potong tengah atau potong bawah tergantung cara perontokannya. Proses perontokan padi memberikan kontribusi cukup besar pada kehilangan hasil padi secara keseluruhan. iklim. maka terjadi perubahan penggunaan alat panen dari ani-ani ke penggunaan sabit biasa/sabit bergerigi. Cara panen padi varietas unggul baru dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas. 1996).1981). 1990 b). Cara lain dalam penentuan umur panen yang cukup mudah dilaksanakan adalah metode optimalisasi. Alat panen dan cara panen Alat panen yang sering digunakan dalam pemanenan padi. dan tinggi tempat. Perontokan Perontokan padi merupakan tahapan pascapanen padi setelah pemotongan padi (pemanenan). 1982). umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher . yaitu 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning (Rumiati. (2) sabit biasa dan (3) sabit bergerigi (BPS. Perontokan padi dapat dilakukan secara manual atau dengan alat dan mesin perontok. adalah (1) ani –ani.dkk 1988. Prinsip untuk melepaskan butir gabah dari malainya adalah dengan memberikan tekanan atau pukulan terhadap malai tersebut. Dalam pemanenan padi tersebut menyebabkan kehilangan hasil rendah (Damardjati. Damardjati dkk. Dengan diintroduksikannya varietas –varietas unggul baru padi yang memiliki potensi hasil tinggi dan berpostur pendek. padi dipanen pada saat malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga rata (HSB) sehingga dihasilkan gabah dan beras bermutu tinggi (Rumiati dan Soemadi.1982) Penentuan saat panen yang umum dilaksanakan petani adalah didasarkan kenampakan malai. Cara panen dengan potong bawah.1979.Dengan metode optimalisasi. Berdasarkan kadar air. Waktu (umur) panen berdasarkan umur tanaman sesuai dengan diskripsi varietas dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya varietas. padi yang dipanen pada kadar air 21-26% memberikan hasil produksi optimum dan menghasilkan beras bermutu baik (Damardjati. sehingga umur panennya berbeda berkisar antara 5-10 hari.optimalisasi yaitu hari setelah berbunga rata. Cara panen padi tergantung kepada alat perontok yang digunakan . Nugraha dkk.

Perilaku pemanenan juga mempengaruhi besarnya kehilangan hasil padi..73 kg/jam/orang (Mudjisihono dkk. proses pemotongan padi dan proses perontokan merupakann satu kesatuan proses yang dilaksanakan oleh tenaga pemanen. 1993. Kehilangan Hasil Secara nasional kehilangan hasil selama penanganan masih relatif tinggi.. (4) cara panen. Kemampuan kerja pemanen di Kabupaten Bantul. (4) pedal thresher. yaitu kurang dari satu persen. (2) pukul/gedig.57% -3.1996) .1998).79 kg/jam/orang (Setyono dkk. Dalam sistem pemanenan padi. BPS. tergantung kepada kekuatan orang. (3) alat panen. 1982). cara perontokan dapat dikelompokkan menjadi beberapa cara.2001)sampai 62.8 kg/jam/orang (Mudjisihono. (5) cara/alat perontokan. selain dapat menekan kehilangan hasil juga dapat meningkatkan kapasitas kerja.Setyono dkk. (2) kadar air gabah saat panen.. Kapasitas perontokan dengan cara gebot sangat bervariasi.1988. 2000). yaitu sekitar 21 % dan yang tertinggi terjadi pada tahapan pemanenan sekitar 9 % dan perontokan sebesar 5% (BPS.dkk. Perontokan padi dengan cara dibanting dilakukan dengan cara membantingkan atau memukulkan segenggam potongan padi ke benda keras. antara lain (1) iles/injak-injak.dkk. DI Yogyakarta untuk merontok padi dengan cara gebot berkisar antara 58. misalnya kayu. Pemanenan padi sistem keroyokan (individual) dengan jumlah pemanen tidak terbatas (lebih dari 150 orang per hektar) mendorong pemanen untuk berebut memotong padi yang menyebabkan banyak gabah rontok (Gambar 1).2001) Untuk menghindari hal tersebut.Penggunaan mesin perontok dalam perontokan padi. Hasil pengujian empat mesin perontok padi Type TH-6 menunjukkan bahwa kapasitas mesin perontok tersebut bervariasi antar 523 kg/jam/unit sampai 1. C..1998) Perontokan padi dengan cara gebot banyak gabah yang tidak terontok berkisar antara 6. bambu atau batu yang diletakkan pada alas penampung gabah.8.. Perontokan padi dengan cara dibanting/digebot menyebabkan banyak gabah tercecer dan juga . dan (6) sistem pemanenan padi (Rumiati.4 % . yaitu berkisar antara 41. 1990 a).9 % (Rachmat dkk. 2000). Kehilangan hasil varietas Memberamo yang mudah rontok saat pemotongan padi (6. (3) banting/gebot.. maka perontokan padi perlu menggunakan alat atau mesin perontok. Penggunaan mesin perontok menyebabkan gabah tidak terontok sangat rendah.11%) (Setyono dkk. Kehilangan hasil panen padi dipengaruhi oleh (1) varietas.8 kg/jam/orang (Setyono dkk.36%) lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Cilamaya Muncul (5.1993) sampai 89.12% (Nugraha dkk.Berdasarkan alat perontok padi.1996) Kehilangan hasil panen padi ini akan lebih besar lagi apabila para pemanen menunda perontokan padinya selama satu sampai tiga hari yang menyebabkan kehilangan hasil antara 2. (5) mesin perontok (BPS.125 kg/jam/unit tergantung kepada spesifikasi atau pabrik pembuatannya (Setyono.

58 b 7.42 b 2.17 .76 Kehilangan hasil (%) 4. 30.9 Jumlah 1.90 c 8.banyak gabah tidak terontok.6 jam/orang/ha (Tabel 2). Kehilangan hasil pada sistem keroyokan sebesar 18. masing-masing menyebabkan kehilangan hasil sebesar 4.57 b 9. 7. maka jumlah pemanen per hektar yang sesuai adalah 20 orang dan 30 orang dengan kemampuan pemanen masing-masing 135. Tabel 2.77 c 2. Sumber : Setyono dkk (1993). Tabel 1 Tingkat kehilangan hasil panen pada berbagai sistem pemanenan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kehilangan hasil pemanenan padi secara kelompok dengan jumlah pemanen 20.9% jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem kelompok 5.1 5.0 a 132.9 a 14.75 a 4.2 18. Pengaruh jumlah anggota setiap regu pemanen terhadap kemampuan pemanenan dan kehilangan hasil Jumlah anggota kelompok (orang) 20 30 40 50 KK (%) Kemampuan pemanenan s/d pengumpulan (jam/kelompok/ha) 6.58%. 6. Jumlah pemanen per hektar dalam pemanenan padi sistem kelompok juga telah diteliti untuk mendapatkan efektivitas kerja seoptimal mungkin dengan tingkat kehilangan serendah mungkin.0 c 9.57% dan 9.9% (Tabel 1).8 Kemampuan pemanenan s/d pengumpulan (jam/orang/ha) 135.8 b 107.6 a 110. 40 dan 50 orang. Kehilangan hasil (%) Potong padi s/d perontokan 1 Keroyokan 2 Ceblokan 3 Kelompok KK (%) Keterlambatan perontokan 1 malam 18.3 a 5.90% (Tabel 2).39 a 6.9 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji 5 DMRT.3%.9 a 2.Ditinjau dari rendahnya kehilangan hasil.14 c 16.9 13.0 dan 132.

Pemanenan padi dengan sistem kelompok dan perontokannya menggunakan mesin perontok dapat menyelamatkan hasil panen dari kehilangan sekitar 10% atau lebih (Tabel 3).84% dan 1. Kapasitas mesin perontok sangat bervariasi. Jawa Timur. 1993).Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut BNT. Sumber : Nugraha dkk. yang besarnya 15.31% sampai 0.0 kg/jam dan 1. Kapasitas mesin perontok bervariasi antara 523.24% sampai 6. 0.0 b 523. TH6-Klari. 1993). terutama didaerah Jawa Tengah .84%.54% (Rachmat dkk. Mesin perontok TH6-Quick. 0. 961.7 b 4.3% sampai 4.Daerah Istimewa Yogyakarta . Percobaan ini dilaksanakan dilahan petani.143.perontokan padi dilakukan dengan cara dibanting/gebot. menunjukkan bahwa kehilangan hasil panen cukup rendah berkisar antara 4.45 b 0.80 % (Rachmat dkk.64%. TH6 Aceh dan TH6-Quick-Modifikasi masing-masing memiliki kapasitas kerja 360. Tabel 3. Hasil uji coba empat kelompok jasa pemanen yang masing-masing dilengkapi satu unit mesin perontok padi tipe TH-6. tergantung kepada pabrik pembuatnya. juga dapat mengurangi besarnya kehilangan hasil. Uji coba empat kelompok pemanen dan kelompok jasa perontok dengan luas panen masing-masing setengah hektar atau lebih telah dilakukan pula di daerah Karawang pada Bulan Juni sampai September 1994.31 b 0. Pemanenan padi dengan sistem keroyokan tersebut.3 kg/jam yang menyebabkan gabah tidak terontok berkisar antara 0.2% (Tabel 3).4 c Gabah tidak terontok (%) 0.9 b Alat perontok TH6Klari TH6Aceh TH6- . Pemanenan padi dengan sistem kelompok tersebut menyebabkan kehilangan hasil panen padi berkisar antara 4. Kapasitas operasional keempat mesin perontok dan tingkat kehilangan hasil pada beberapa sistem pemanenan padi Sistem pemanenan Kelompok A Kelompok B Kelompok C Kapasitas perontokan (kg/jam) 780.2%-16.4 kg/jam sampai 1.5 kg/jam.5 b 969.4 b 4. sedangkan gabah yang tidak terontok masing-masing 0.125. Penggunaan mesin perontok selain dapat meningkatkan efisiensi kerja.83 a Kehilangan hasil dari panen sampai perontokan (%) 4. 697. Sulawesi Selatan dan daerah Bali. Kelompok jasa pemanen dan kelompok jasa perontok terus berkembang.9% ternyata jauh lebih rendah dibandingkan pemanenan padi dengan sistim keroyokan ini. (1994).0 kg/jam.1 kg/jam.97% (Tabel 3).

Hasil pengujian menunjukkan bahwa rata-rata kehilangan hasil panen pada sistem kelompok sebesar 4. Pengujian pemanenan padi dengan sistem kelompok telah dilaksanakan di daerah Ciasem Subang pada bulan Agustus sampai September 1999.31 6982.Quik Kelompok D Keroyokan-1 Keroyokan-2 KK (%) TH6Quik-M Gebot Gebot 1.2 a 16.59 Keterangan: Angka diikuti huruf yang sama dalam kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5% BNT Sumber : Setyono dkk.17% (Tabel 4).03 16.00 5808.81 21.3 a 21. Kehilangan hasil (%) 4.35 13. Sistem keroyokan (individual) 1.63 21.3 a 11. Pemanenan padi dengan sistim kelompok perlu terus disosialisasikan kepada pemanen dan petani dan petani dan di uji cobakan. (1998).21 0. Tabel 4. PENERAPAN PEMANENAN PADI DENGAN SISTEM KELOMPOK Perbaikan sistem pemanenan padi dalam usaha menekan kehilangan hasil panen.3 b 15.80 6381.13 16.17 21. dilakukan dengan cara pembatasan jumlah pemanen dalam area panen dan perontokan padi menggunakan mesin perontok.27 7294. Hasil panen riil (kg/ha) 3. Kadar air gabah (%) 7513.97 a 23.125.60 6155.48 2 3 . hasil panen dan kadar air saat panen pada dua sistem pemanenan padi Lokasi 1 A.61 18.65 4. Data hasil pengamatan ubinan.86 7388.80 6115.07 21.89% jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan sistem keroyokan yang besarnya 16. Hasil ubinan (kg/ha) 2.

Selain itu mekanisme sistem pemanenan padi sudah tertata dengan cukup baik. pengumpulan pemotongan padi tergesa-gesa dan saat perontokan padi dengan cara dibanting. Gabah yang rontok untuk varietas Memberamo adalah yang paling tinggi. maka proses .93 5. pemanen saling berebutan memotong padi.29 6677. usaha perkembangan pemanenan padi dengan sistem kelompok di Jalur Pantura Jawa Barat terasa sangat lambat.74 4. Hasil ubinan (kg/ha) 2. Sistem kelompok 1.20 7529. banyak gabah tidak terontok.11%) (Tabel 5). maka jumlah kebutuhan mesin perontok dan pedal thresher mencukupi dan berkembang pesat. yang sebelumnya ikut tanam padi atau merawat tanaman padi tanpa mendapatkan upah. Jumlah gabah yang rontok tersebut dipengaruhi oleh varietas padi. Besarnya kehilangan hasil pada pemanenan padi sistem keroyokan karena pada saat pemotongan padi. Hasil panen riil (kg/ha) 3. karena keterlambatan panen.00 6017. Berdasarkan masalah yang terjadi seperti tersebut di atas.53 23.54%. ratarata 6. petani di daerah Cilamaya.10 6620. yaitu 6. Subang dan Karawang.74 4.89 21.00 7164.19 6994. Pengamatan yang terpisah terhadap jumlah gabah yang tercecer saat pemotongan padi secara keroyokan juga dilaksanakan di Daerah Kabupaten Bandung.29 21.dan yang terwndah Cilamaya Muncul (5. Panen padi dengan sistem ceblokan ini masih juga menimbulkan kerugian bagi petani. Kadar air gabah (%) 6354. Kehilangan hasil (%) 4. Orang lain tidak boleh ikut memanen tanpa mendapatkan ijin dari penceblok.84 21. varietas Way Apo Buru (6.83 Sumber : Setyono dkk.06 4. menyusul varietas IR-64 (6.07% (Tabel 5).36%). Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa gabah yang rontok saat pemotongan padi cukup tinggi.10 6959. (2000). Pemanenan padi sistem coblokan dilakukan oleh pemanen dalam jumlah terbatas. Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Usaha petani untuk mengatasi pemanenan padi sistem keroyokan dan masalah pengasak telah lama dilakukan dengan sistem ceblokan. Namun demikian karena jumlah mesin perontok padi sangat jauh dari memadai dibandingkan dengan luas areal panen. dengan kepemilikan lahan yang sempit dengan areal panen per blok yang tidak luas. akibat penceblok ikut panen keroyokan lebih dulu di tempat lain. Karawang sudah mulai sadar untuk mengurangi kehilangan hasil tidak ada jalan lain lagi bahwa panen padi harus dengan sistem kelompok dan perontokannya menggunakan mesin perontok.B. Berbeda dengan daerah Jawa Tengah.28%) .

78 5.11 5.5 Gabah rontok (kehilangan) (%)* 5.0 R (22. Tabel 5.0 R (21.38 6. Petani 1 2 3 4 5 6 7 Lokasi/Kabupaten Bandung Subang Subang Karawang Karawang Karawang Karawang Varietas IR64 IR64 IR64 IR64 IR64 IR64 IR64 Kadar air gabah saat penen (%)* 23.9) 19 20 Karawang Karawang Cilamaya Muncul Cilamaya 24. No.93 5.10 .1 22.28) 5.38 6.14 6.20 R (6.95 R (6.31 6.5 22.00 6.8 22.09 6.4 22.98 7.5 23.7 22.perontokan padi dapat dilakukan di halaman rumah atau di dalam pendapa pada malam hari.84) 14 15 16 17 18 Bandung Subang Subang Karawang Karawang Way Apo Buru Way Apo Buru Way Apo Buru Way Apo Buru Way Apo Buru 21.96 6.90 7.36) 5.48 6.83 5.15 R (6.0 23.54) 6.74 6.8 21.7 23.2 23.8 23.5 22.5 22.6) 8 9 10 11 12 13 Bandung Bandung Subang Subang Karawang Karawang Memberamo Memberamo Memberamo Memberamo Memberamo Memberamo 21.99 6.0 22.4 21.0 21.0 R (22. Persentase gabah rontok/tercecer beberapa varietas padi saat pemotongan padi pada pemanenan padi sistem keroyokan.

(b) gabah dari malai yang tercecer 1. Pemotongan padi yang berebutan menyebabkan banyak gabah rontok dan tercecer termasuk kehilangan hasil yang tidak disengaja. Tetapi dalam pengumpulan potongan padi. Rincian besarya kehilangan hasil tersebut adalah.Muncul R (23.59% (Tabe 6). Tabel 6. Besarnya kehilangan hasil panen dan persentase gabah yang tercecer dari dua sistem pemanenan padi Sistem Keroyokan 1 2 3 Rerata 1 Sistem Kelompok 2 3 Rerata Kehilangan hasil riil (dihitung secara langsung) . (b) gabah dari malai yang tercecer.11) Titik kritis terjadinya kehilangan hasil pada pemanenan padi. sehingga mencegah timbulnya pengasak. Rinciannya adalah sebagai berikut (a) gabah rontok saat pemotongan padi. ini merupakan kesengajaan dari pemanen.97%. gabah yang tidak terontok sangat rendah. (a) gabah rontok saat pemotongan padi 3. dan (d) gabah yang tidak terontok 8. banyak gabah yang terlempar keluar alas perontokan tanpa disengaja. Penggunaan mesin perontok selain dapat meningkatkan efisiensi kerja.31%. Kondisi ini mendorong tumbuhnya para pengasak yang seringkali menimbulkan kerugian bagi petani Penerapan pemanenan padi sistem kelompok dengan menguji coba kelompok jasa pemanen dan jasa perontok serta pengamatan langsung terhadap ceceran gabah menunjukkan bahwa kehilangan hasil pada pemanenan sistem kelompok relatif rendah. dan (3) pada proses perontokan. (2000). Sebaliknya kehilangan hasil pada sistem keroyokan sangat tinggi.75%..56%.34% (Tabel 6). 0. 3. R (5. (c) gabah tercecer saat penggebotan (perontokan) sebesar 4.86%. kemudian jerami dibuang.75% (Tabel 6).85% dan (c) gabah yang ikut pembuangan jerami dari mesin perontok sebesar 1. 1. ada malai-malai padi yang ditinggalkan untuk nantinya diambil kembali. Tetapi ada pula pemanen dengan sengaja membantingkan padi hanya beberapa kali.8) Keterangan : * Rata-rata dari tiga ulangan pengamatan R ( ) = Rata-rata Sumber : Setyono dkk. sehingga masih banyak gabah yang belum terontok. Sedangkan dalam proses perontokan padi dengan cara gebot (dibanting). (2) pengumpulan potongan padi. yaitu 18. terutama pada (1) pemotongan padi. juga dapat mengurangi kehilangan hasil. Kehilangan hasil tersebut umumnya disebabkan oleh perilaku para pemanen atau penderep baik karena tidak disengaja maupun disengaja.

12 18.26 3.33 1.745 22.94 Rerata 6.47 3.13 3.88 1. Kehilangan hasil yang dihitung secara tidak langsung merupakan perkiraan.944 22.39 6.309 5. Sistem Keroyokan 1 1.462 21.82 3 6. Angka tersebut menunjukkan total kehilangan hasil dan tidak menunjukkan kehilangan hasil pada tiap-tiap tahapan pada pemanenan padi.06 4.36 1.89 1. 4.627 22.47 6.88 1.33 4.1.746 23.82 17.30 4.59 4.27 1 8.46 7.01 .75 Sumber : Setyono dkk. dihitung pada kadar air yang sama dan dinyatakan dalam persen.31 1.357 23. 8.07 1.84 8.08 1. Tabel 7.28 Sistem Kelompok 2 7. Jika dilihat besarnya kehilangan hasil pada metode pendugaan (tidak langsung) (Tabel 7) ternyata hasilnya tidak jauh berbeda dengan total kehilangan hasil dari seluruh tahapan pemanenan (Tabel 6).11 2.50 5.06 6.85 3. 2. Berat gabah hasil panen ubinan (kg/ha) Kadar air gabah (%) 3.305 22.97 - - - - 5.74 17.720 21.01% (Tabel 7).06 - 7.02 0.307 22.933 18. Dengan demikian pendugaan kehilangan hasil secara tidak langsung tersebut mendekati kebenaran. 19.119 21.30 4.06 19.67 3.39 3.730 6.560 22. - - - - 1.25 0.83 3.56 0.30 5.75 3.833 21.66 3.84 8.30 19. Pengamatan terhadap kehilangan hasil panen yang dihitung secara tidak langsung juga dilakukan pada lahan yang sama. Hasil penghitungan tersebut menunjukkan bahwa kehilangan hasil panen pada sistem keroyokan sebesar 18.97 4. Penghitungan kehilangan hasil secara tidak langsung adalah selisih antara berat gabah bersih hasil panen ubinan dengan berat gabah bersih hasil panen riil. Perkiraan kehilangan hasil (%) 3 6.33 1.34 6. (2001).82% dan pada sistem kelompok sebesar 4.72 2.078 7.32 19.88 Rerata 6. Gabah rontok saat pemotongan (%) Gabah dari malai yang tercecer setelah pengumpulan (%) Gabah tidak terontok setelah digebot yang diasak (%) Gabah tercecer saat perontokan cara gebot (dibating) (%) Gabah ikut pembuangan jerami dari mesin perontok (%) Kehilangan hasil riil (%) 3. Hasil panen ubinan dan hasil panen riil serta perkiraan kehilangan hasil pada dua sistem pemanenan padi.74 5.15 1. 2 Berat gabah hasil panen ubinan (kg/ha) Kadar air gabah (%) 2.62 9.

. Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta kelompok pemanen telah berkembang di daerah Kulon Progo. Oleh karena itu. Probolinggo. dalam pelaksanaannya perlu ditempuh melalui pendekatan kepada pemuka masyarakat. Pengembanagan kelompok jasa pemanen dan jasa perontok di Jawa Timur meliputi derah Lamongan. penyuluhan dan kerjasama dangan instansi terkait. Serangkaian penelitian dan pengujian yang telah dilaksanakan secara berkesinambungan membuktikan bahwa pemanenan padi dengan sistem kelompok dan perontokannya menggunakan mesin perontok dapat menyelamatkan hasil panen dari kehilangan lebih dari 10%. petani andalan dan para pemanen. Pekalongan. Madiun. Tenaga pengasak ini umumnya masih ada ikatan keluarga dengan tenaga pemanen. Semarang. Batang. pengasak diberi kesempatan untuk mengambil padi yang belum dirontok atau gabah yang sudah terontok. Pengembangan pemanenan padi dengan sistem kelompok akan menyangkut masalah manusia sebagai pemanen. Khususnya di Propinsi Jawa Barat pemanenan padi dengan sistem baru mulai berkembang di Kecamatan Cilamaya dan Telagasari di Kabupaten Karawang dan Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. termasuk Dinas Pertanian. padi tidak terpotong atau gabah tidak terontok untuk dirinya sendiri setelah pemanenan dan perontokan selesai. MASALAH PENGASAK Pengasak merupakan salah satu istilah dalam pemanenan padi yang berarti orang diluar tenaga pemanen yang pekerjaannnya mengumpulkan gabah. Sragen. Penyuluh Pertanian.Sumber : Setyono dkk. Oleh karena pendapatan sebagai pengasak cukup memadai. adat kebiasaan yang mereka lakuakan bertahun-tahun dan dari segi sosial. apabila masih ada ikatan keluarga. Salah satu cara yang paling baik untuk mengembangkan pemanenan padi sistem kelompok adalah melalui demonstrasi. Salah satu kecurangan tersebut adalah pemanen merontok padi (membanting) kurang bersih. Para pengasak juga tidak segan-segan memberi imbalan kepada pemanen berupa rokok atau bentuk uang. Ngawi. Gunung Kidul dan sedikit di daerah Bantul. (2001). petani dan pemanen serta Pamong Desa. Pemalang. Pemanenan padi dengan sitem kelompok telah berkembang di berbagai daerah Jawa Tengan antara lain Kabupaten Klaten. Pada awalnya pekerjaan pengasak ini dilakukan oleh orang-orang tua yang sudah tidak mampu lagi ikut menjadi tenaga pemanen. Balai Penelitian dan Balai Pengkajian. Bojonegoro. dan Brebes. maka banyak tenaga pemanen wanita di jalur Pantura Jawa Barat beralih profesi menjadi pengasak. Selain itu. malai tercecer. dan Banyuwangi. . Perkembangan pengasak ini akhirnya cenderung kearah hal-hal negatif bagi tenaga pemanen dan sering mengakibatkan kecurangan. pemuka masyarakat. Sukoharjo.

Jumlah pengasak terus bertambah karena pekerjaan sebagai pengasak lebih ringan. yaitu perontokan padi dengan cara dibanting menyebabkan masih banyak gabah tidak terontok. Pekerjaan sebagai pengasak ini sebenarnya tidak disukai oleh petani. tetapi sebagai pengasak. juga memberi harapan mendapatkan hasil yang lebih baik. yaitu (1) kondisi di lapangan sangat mendukung. Karawang. bahwa pemanen perempuan dari daerah Indaramayu ke Karawang (Subang) sudah banyak yang berubah bukan sebagai pemanen. Berkembangnya jumlah pengasak tersebut disebabkan oleh beberapa hal. meningkatkan efisiensi kerja dan guna mengantisipasi terjadinya kesulitan tenaga kerja. sering menimbulkan rasa risih bagi pemaenen. tetapi dapat memeperoleh hasil secara langsung dan lebih cepat. Telah disinggung dimuka. karena pengasak dengan berbagai akal berusaha untuk mendapatkan penghasilan. (3) kurangnya pengawasan atau sulitnya petani melakukan pengawasan karena jumlah pemanen yang sangat banyak. (4) adanya tengkulak yang menampung gabah hasil pengasak. (2) pengasak dapat bagian apa. (2) mereka bekerja sebagai pengasak langsung mendapatkan hasil berupa gabah. Dengan semakin berkembangnya kegiatan . Makin bertambahnya jumlah pengasak mempersempit ruang gerak mereka dan secara tidak langsung terjadi persaingan antar pengasak. menceritakan bahwa hampir semua pemanen yang datang dari Indramayu pada tiga tahun terakhir atau mulai tahun 1998 berubah profesi menjadi pengasak. Penggunaan Mesin Pemanen Padi Untuk mengatasi sifat subyektivitas pemanen.sehingga pengasak dapat leluasa untuk mengambil gabah atau pemanen membanting padi hanya beberapa kali dan kurang bersih. Sejumlah pengasak yang mengelilingi pemanen saat perontokan padi (penggebotan). maka telah dilakukan penelitian penggunaan mesin perontok. Pemanen memotong padi mengumpulkan potongan padi dan diinapkan lebih dulu satu malam dan baru digebot esok harinya. Hal ini disebabkan ada kata-kata dari pengasak yang ditujukan kepada pemanen antara lain (1) tidak berperikemanusiaan karena membanting padi secara bersih. Hasil pemantauan petani di Kecamatan Cilamaya. (3) tidak ada rasa sosial dan masih banyak lagi. Perubahan Karakter Pengasak Pekerjaan sebagai pengasak lebih ringan dibandingkan pekerjaan sebagai pemanen. Perubahan peilaku atau karakter pengasak tersebut menyebabkan kerugian besar bagi petani. Jadi pemanen memperoleh bawon setelah dua hari bekerja. Akibatnya para pengasak ini melakukan hal-hal yang menjurus kepada kecurangan-kecurangan seperti yang dijelaskan di atas.

terlihat semakin berkurangnya tenaga kerja pertanian di pedesaan. namun keberadaan mesin-mesin pemanen tersebut belum diterima oleh para tenaga pemanen. Combine hanvester Kubota Combine haevester Nongyou. Sedang dari angka kehilangan hasil baik secara kuantitas maupun kualitas terlihat bahwa kehilangan hasil secara kuantitas oleh stripper paling rendah dibanding panen manual dan menggunakan reaper (Tabel 9).9 1. khususnya tenaga muda yang sudah dan pernah mengenyam pendidikan (Ananto et al.. Dari unjuk kerja alat terlihat bahwa kapasitas kerja stripper jauh lebih tinggi dibanding panen secara tradisional (manual).3 1. 1992). Kapasitas kerja dan kebutuhan bahan bakar dari berbagai cara dan alat panen Cara/alat panen Manual (sabit-gebot) Stripper buatan IRRI dan thresher TH6 mod.17 17 17 Kebutuhan jam total (jam/ha) 252 19 Bahan bakar (lt/jam) 2.di luar sektor pertanian. sedangkan dan combine harvester Kubota menunjukkan kapasitas kerja tertinggi.05 20. Para tenaga pemanen sangat menentang keberadaan mesin pemanen karena mereka khawatir akan terdesak oleh penggunaan mesin perontok. tipe jalan 5.5 1. Reaper dan thresher TH6 mod.5 1. antara lain lahan harus cukup kering atau cukup keras agar dapat menahan beban alat. Dengan semakin terbatas tenaga kerja panen tersebut. misalnya dengan introduksi alat/mesin panen stripper. Tabel 8. Namun demikian penggunaan combine harvester ini membutuhkan banyak persyaratan. Stripper buatan Surabaya dan thresher TH6 mod.9 0.4 . reaper dan combine harvester. Walaupun penampilan dan hasil uji fungsional mesin pemanen cukup baik dengan tingkat kehilangan hasil rendah.1 0. disamping itu tanaman padi yang akan dipanen tidak boleh basah agar tidak terjadi kemacetan di dalam sistem perontokan (Tabel 8).9 1. perlu meningkatkan efisiensi dalam kegiatan panen.

menghindari para pemanen berebutan dalam memotong padi. (1994).2 2. Tabel 9.Sumber : Purwadaria et al. KEUNTUNGAN PEMANENAN PADI DENGAN SISTEM KELOMPOK Pengembangan pemanenan padi dengan sistem kelompok merupakan salah satu alternatif dalam usaha menekan besarnya kehilangan hasil padi pada pemanenan dan perontokan. sehingga mudah dilakukan pengarahan.2 0. (1994).4 2. maka secara optimis sebesar 10% dari total produksi padi dapat diselamatkan dari kehilangan.2 5.7 0. Butir rusak 9. Kinerja para pemanen dalam bentuk beregu. Reaper dan thresher TH6 mod. Kehilangan hasil panen secara kuantitas dan kualitas dari berbagai cara dan alat panen Kehilangan kualitas Kotoran Manual (sabit-gebot) Stripper IRRI dan thresher TH6Mod. antara lain: Jumlah pemanen yang terbatas akan mudah dilakukan pengawasan dan koordinasi terhadap para pemanen dan juga mempermudah memasukkan teknologi pasca panen kepada pemanen.1 Butir patah 0. . bila pemanenan padi dengan sistem kelompok diterapkan secara menyeluruh.0 Sumber : Purwadaria et al. Stripper Lokal dan thresher TH6Mod.2 2.8 1.8 1.7 0.5 0.3 0.4 2.4 1.5 6. Pemanenan padi dengan sistem kelompok memiliki beberapa keuntungan. Dari hasil penelitian di atas. Pemanenan padi dengan sistem kelompok akan mendidik para tenaga pemanen bekerja secara profesional. mencegah kecurangan pemanen dan mengurangi kehilangan hasil.

selain dapat meningkatkan efisiensi kerja. diharapkan akan mendorong tumbuhnya bengkel-bengkel mesin pertanian di pedesaan. Untuk mengatasi hal tersebut . Penggunaan mesin perontok menyebabkan gabah yang tercecer minim dan gabah yang tidak terontok sangat rendah.per kilogram gabah lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil gebotan. oksidasi dan infeksi hama dan penyakit.700 ton pada tahun 1998 (BPS.. Harga gabah yang dihasilkan lebih tinggi dari harga gabah yang dihasilkan dari cara gebot/dibanting. Akibatnya gabah yang dihasilkan menjadi rusak dan berkecambah. Pengembangan usaha pelayanan jasa alsintan dapat meningkatkan efisiensi kerja baik dalam pengolahan maupun penanganan pascapanen.236.. maka perbaikan sistem pemanenan padi akan meningkatkan pendapatan petani sekitar 10% atau sebesar 6/7 x 600 kg gabah atau 515 kg gabah. Oleh karena itu perlu dirakit teknologi perawatan gabah basah yang sederhana dengan dengan biaya murah dan mudah diterapkan ditingkat petani.Apabila total produksi padi di Indonesia sebesar 49. sehingga dapat mempercepat pengolahan lahan untuk musim berikutnya. Perawatan Gabah Basah Masalah lain yang tidak kalah pentingnya yang dihadapi petani adalah penanganan gabah basah hasil panen dimusim hujan. Pada prinsipnya tujuan dari perawatan gabah adalah mengawasi kecepatan transpirasi.000 kg/ha. Terbatasnya lantai jemur dan tidak munculnya sinar matahari karena hujan dan sulinya mendapatkan mesin pengering serta mahalnya biaya pengeringan mengakibatkan banyaknya petani mengalami kesulitan dalam menyelamatkan gabah hasil panennya. Penggunaan mesin perontok dalam perontokan padi. Pengembangan usaha pelayanan jasa alsintan yaitu pengelola mesin perontok dan mesin pengolah tanah. kurang dari satu persen. Dengan demikian diharapkan akan meningkatkan produktivitas lahan atau menaikkan Indeks Pertanaman.9 juta ton. juga menghasilkan gabah yang lebih bersih dan bermutu baik.sampai Rp 30. Jika di tingkat petani total produksi gabah 6. sedangkan pendapatan pemanen meningkat 1/7 x 600 kg gabah atau sekitar 85 kg gabah. maka perbaikan sistem pemanenan padi secara nasional dapat meningkatkan produksi padi sebesar 4. Harga gabah tersebut sekitar Rp 20. 2000).

1996).3.3% dan tidak terjadi butir kuning (Setyono dkk. Kapasitas SPS 1000 kg. Kapasitas tangki minyak 20 liter. Beras yang dihasilkan dengan cara ini cukup baik.dapat dilakukan dengan cara mengurangi kadar air gabah sampai kadar air simpan atau menghambat kenaikan suhu dalam tumpukan gabah dengan menggunakan zat higroskopis.-) dengan memperkerjakan tenaga kerja 2 orang dengan upah masing-masing Rp. Untuk mencapai kadar air 15% diperlukan waktu 9 jam (Setyono dkk. 2. Pada cerobong tersebut dipasang blower untuk menyedot udara lembab dan dalam silo (Gambar 1). Tutup berbentuk kerucut dengan tinggi 50 cm dan cerobong berbentuk silinder diameter 27 cm tinggi 40 cm. beras pecah 2. yang ruangannya dibagi menjadi tiga ruangan untuk tempat gabah berbentuk silindris. Kebutuhan minyak tanah untuk pemanasan sebanyak 2 liter perjam. Dinding luar SPS. yaitu rendemen beras giling 66. 4. Selama pengeringan.5% .6% menjadi 16. sedangkan suhu dibagian atas antara 420C – 430C.3% . 3.3%.1. Jarak dan dasar tanah sampai dasar silo 70 cm dan tinggi silinder 150 cm.maka jumlah biaya yang dikeluarkan adalah Rp. Seluruh dinding ruangan gabah dibuat dan kawat kasa aliran udara panas dapat menembus timbunan gabah. Alat pengering Silo pengering sirkuler dengan kerangka dari besi siku dan besi plat strip. 11.0%. maka setiap tiga jam sekali dilakukan pembalikan dengan cara menurunkan separo dan total gabah kemudian dimasukkan lagi ke bagian atas.4% . Masing-masing ruangan gabah dipisahkan oleh ruangan untuk jalan aliran udara panas. Silo mempunyai diameter 2000 cm.. berjarak 10 cm.. . kemudian ditutup dan kompor smawar dinyalakan. 1996). dasar dan tutup silo dibuat dari seng plat dengan tebal 2 mm. butir rusak 1. Sumber panas menggunakan kompor tekan smawar dengan diameter dan titik api 12 – 13 cm.600. Dengan perlakuan penyedotan udara lembab dan dalam silo setiap setengah jam selama 10 menit.600.95. suhu ruang di bagian bawah berkisar antara 400C – 410C.000. Kebutuhan minyak tanah seluruhnya 12 liter (Rp..5% dalam waktu 6 jam. Cara kerja Pengisian ruang gabah melalui atas sampai penuh. kadr air gabah dapat diturunkan dan 25. kadar beras kepala 93. Perawatan gabah dengan alat silo pengering 1. Agar kecepatan pengeringan gabah merata.0% .-per 1000 kg gabah lebih murah dibandingkan dengan flat bed dryer.2%.67.

5 – 90 rn/mm dan kebutuhan sekam sekitar 200 kg (Sutrisno. Prisip kerja pengering ABC sama dengan flad bed dryer. aspek sosialekonomi-budaya dan kelembagaan tani setempat.770C dan kecepatan aliran udara 7. dan untuk mencapai kadar air 14. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang menyeluruh terhadap komponen-komponen sistem. mutu beras rendah dan beragam. sehingga diperoleh berbagai alternatif perbaikan keluaran sistem yang dikehendaki. 1996). buruh panen dan pengusaha jasa panen dan jasa perontok. Dengan demikian pengembangannya harus dimulai dari kegiatan intensifikasi sistem pascapanen padi. kurang dan kelebihannya tenaga kerja panen. . Oleh karena itu strategi penanganan pascpanen padi harus ditempatkan sebagai bagian integral dengan program pengembangan sistem usahatani padi. STRATEGI MENEKAN KEHILANGAN HASIL Perbaikan sistem pemanenan Upaya peningkatan produktivitas padi diberbagai sentral produksi padi belum diikuti dengan penanganan pascapanen yang memadahi. Gabah yang dihasilkan bermutu baik. penanganan pascapanen padi diarahkan untuk mengatasi masalah dalam pengembangan sistem usahatani padi. sehingga gabah menjadi kering.5% menjadi 17. Kehilangan hasil secara kualitatif lebih banyak terjadi pada panen dan perontokan akibat perilaku para pemanen karena jumlah pemanen yang cukup banyak.92 diperlukan waktu pengeringan 2 jam. pengolahan hasil dan efesiensi usahatani.Pengeringan gabah dengan pengering ABC Pengering gabah ABC dirancang untuk pengeringan gabah dengan kapasitas menengah (5 ton gabah) dengan biaya murah dengan harapan dapat bersaing dengan biaya penjemuran. perbaikan aspek sosial-ekonomi dan kelembagaan. Perbedaannya bahwa pengering ABC menggunakan bahan bakar sekam dan pemanasan udaranya tidak langsung dengan blower untuk melewati gabah. antara lain kehilangan hasil tinggi.70C. agar dapat menemukan sifat-sifat penting di dalam sistem. Perbaikan sistem pemanenan padi harus mencakup aspek teknis. Dan kadar air 22. Perbaikan tersebut harus menguntungkan semua pihak yang terlibat. yaitu udara panas dilewatkan melalui tumpukan gabah.48% diperlukan waktu 4 jam. sehingga berakibat pada tingginya kehilangan hasil baik secara kuantitatif maupun kualitatif. suhu gabah 34. Sebagai bagian dari pembangunan pertanian. Selanjutnya tungku sekam dinyalakan dan blower dihidupkan. Ketebalan gabah sekitar 50 cm.5% dimasukkan dalam bak pengering dan diratakan. baik petani pemilik. Kondisi pengeringan adalah suhu plenum 42. Gabah sebanyak 5 ton pada kadar 22.

Adapun masalah yang mungkin timbul dalam rangka mencapai tujuan perbaikan pascapanen antara lain : Berkurangnya kesempatan kerja buruh panen (terjadi pengangguran). Secara umum tujuan perbaikan penanganan pascapanen padi adalah : a.Perumusan masalah dan tujuan penanganan pascapanen Perumusan masalah penanganan pascapanen padi dimulai dengan analisis kebutuhan dari setiap komponen di dalam sistem. . Di dalam mencapai tujuan sistem. b. topografi dan sosial-budaya. Intensifikasi sistem penanganan pascapanen Pascapanen padi terdiri dari tahapan kegiatan yang dimulai dari tahapan pengeringan dan penggilingan. ekonomi. setiap tahap kegiatan dipengaruhi oleh berbagai faktor atau input. f. yang dalam beberapa hal merupakan faktor lingkungan yang tidak dapat dipengaruhi oleh sistem tetapi sangat mempengaruhi sistem. Meningkatkan rendemen dan mutu beras giling c. kelembagaan serta kebijakan. Faktor-faktor tersebut antara lain iklim/curah hujan. e. d. Keterlambatan waktu pemanenan. Meningkatkan kelayakan ekonomi dan finansial jasa alsintan pascapanen mulai panen sampai dengan penggilingan. sekaligus mengungkapkan masalah-masalah yeng mungkin timbul akibat pertentangan kepentingan dari setiap komponen yang ada di dalam sistem penanganan pascapanen. Hasil kerja alsintan yang rendah Biaya operasi alsintan pascapanen yang tinggi dan kurang layak secara ekonomi. Menekan kehilangan hasil. sosialekonomi. mulai dari tahap pemanenan sampai dengan penggilingan. Merekayasa sistem kelembagaan jasa pemanen dan pascapanen yang efektif dan efisien. Meningkatkan pendapatan petani pemilik dan buruh panan/penderep. baik dari segi biofisik. Menekan biaya penanganan pascapanen dari pemanenan sampai dengan penggilingan. pola tanam. budaya dan kelembagaan.

maka untuk sementara. Hal ini menuntut perencanaan yang didasarkan informasi wilayah dan dukungan kelembagaan. Pengadaan alsintan dan pola pembayaran Oleh karena masih lamanya modal petani. Jenis SKIM kredit tersebut harus mampu diakses dan dimanfaatkan oleh petani/kelompok tani dan koperasi untuk modal pengadaan . Pendekatan wilayah lebih bersifat "bottom up aproach" dengan memperhatikan tingkat inovasi teknologi faktor sosial budaya.Program perbaikan sistem penanganan pascapanen Program perbaikan penanganan pascapanen dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pendekatan teknologi merupakan "top down aproach" yang lebih didasakan pada kriteria teknis seperti meningkatkan kapasitas dan efesiensi kerja serta perbaikan teknologi alat dan proses untuk meningkatkan rendemen dan mutu beras serta menekan kehilangan hasil. baik oleh kelompok tani maupun koperasi tani dengan membentuk kelembagaan jasa pengeringan. Pendekatan wilayah didasarkan atas pertimbangan persepsi petani sebagai dominan. atau integrasi dari beberapa usaha jasa tersebut dalam bentuk kelembagaan pengembangan agroindustri. antara lain petani pemilik. Analisis kebutuhan alsintan perlu dilakukan untuk mencegah persaingan yang tidak sehat antar pengusaha jasa pascapanen. beras areal panen inventarisai alsintan. Langkah-langkah yang ditempuh dalam perbaikan penanganan pascapanen untuk menekan kehilangan hasil adalah sebagai berikut: Introduksi sistem penanganan pascapanen Upaya perbaikan penanganan pascapanen sebaiknya dilakukan secara berkelompok yang bersifat komersial dan mandiri. buruh tani dan pihak pengusaha jasa pelayanan alsintan dan kelompok jasa pemanen. Analisis kebutuhan alsintan Intensifikasi wilayah pengembangan untuk mengetahui kebutuhan alsintan didasarkan pada pola tanam atau jadwal pengiliran tanaman. jasa penggilingan. pengadaan alsintan dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai SKIM kredit yang disediakan oleh pemerintah. faktor sosial-budaya dan ekonomi serta kelembagaan. ekonomi dan kelembagaan panen ditingkat petani termasuk buruh tani. tenaga kerja dan jenis kegiatan yang membutuhkan bantuan alsintan. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN Satu hal yang perlu diperhatikan dalam perbaikan penanganan pascapanen adalah bahwa secara ekonomi perbaikan tersebut dapat memberikan keuntungan/manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. yaitu (1) pendekatan wilayah dan (2) pendekatan teknologi.

industri. perlu dilakukan pelatihan dan pembinaan kepada kelompok jasa pemanen. Pengembangan bengkel alsintan Untuk perbaikan alsintan dapat dikerjakan di lokasi dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan jika perbaikan dilakukan di luar lokasi. sehingga dengan cara ini akan memberikan kepastian pekerjaan bagi kelompok jasa pemanen dan kelompok jasa perontok yang ada di lahan tersebut. PENUTUP Pemanenan dan perontokan merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi petani padi. Perbaikan pemanenan padi dengan sistem kelompok dapat menekan kehilangan hasil sampai 3. jasa perontok. Banyaknya gabah yang tercecer dan gabah tidak terontok akibat perilaku pemanen menyebabkan kehilangan hasil pada kedua tahapan tersebut mencapai lebih dari 15%. dapat dikembangkan pola pembiayaan yang bersifat swadana dari masyarakat sendiri yang lebih didasarkan pada ikatan tradisi. jasa pengeringan. diperlukan dukungan kelembagaan. Bupati tentang kelompok pemanenan UPJA dan sebagainya.K.76%. Manajemen lapangan Penyusunan rencana operasi jasa pemanen dilakukan berdasarkan pesanan pekerjaan dari petani. sehingga dapat menyelamatkan hasil dari kehilangan sekitar 10%. karena kedua tahapan pascapanen padi tersebut terjadi kehilangan hasil sangat tinggi. penyuluhan dan informasi pasar maupun kebijakan yang dapat memberikan kepastian usaha. Oleh karena itu pembinaan bengkel lokal dapat dimulai dengan memberdayakan bengkel lokal. Pemanenan padi dengan sistem kelompok .alsintan pascapanen. Pelatihan dan pembianaan SDM Untuk menunjang perbaikan penanganan pascapanen. baik dalam bentuk kelembagaan untuk penyebaran informasi teknologi. baik yang diusahakan secara individual maupun secara berkelompok. terutama yang berkaitan dengan pengoperasian alsintandan manajemen keuangan. Pembianaan kelembagaan Untuk mendapatkan perbaikan penanganan pascapanen termasuk kelompok usaha pelayanan jasa pascapanen. Pesanan pekerjaan tersebut sebaiknya diintegrasikan dalam penyusunan RDKK. seperti penetapan S. Peningkatan kemampuan bengkel biasanya mitra bengkel mendapatkan pelatihan dan bantuan kredit atau kredit peralatan bengkel dari dealer alsintan. Bagi lokasi/wilayah yang belum atau sulit terjangkau fasilitas kredit.

dan Badan Litbang Pertanian. Bulog. 1979. Penelitian Pertanian 1 : 19-26. Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986. K. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Ananto. Suatu pendekatan simulasi sistem. Tentang Sistem Budidaya Tanaman. Ditjen Tanaman Pangan. M. Usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA) dalam mengembangkan kelompok jasa perontok. Media Penelitian Sukamandi. dan S. P4-23. IPB. D. 11. diharapkan akan mendorong tumbuhnya bengkel-bengkel alsintan yang membuka lapangan kerja baru di pedesaan. Anonim.merupakan salah satu sumber baru produksi padi. Biro Pusat Statistik. Biro Pusat Statistik. 1994/1995 Kerjasama BPS. Mei 1992. 1992.S. Departemen Pertanian. 1986. Bappenas. Seminar Sehari Penggunaan Data Sensus Pertanian 1993. Penentuan umur panen optimum padi sawah (Oryza sativa L. 1992.S. serta mencegah tumbuhnya para pengasak. No. Jakarta 12 September 1996..S. 1996. H. D. Pengaruh tingkat kematangan padi (Oryza sativa L.). juga dapat menunjang peningkatan stok pangan nasional. Suseno. Anonim. Kerjasama yang baik antara instansi terkait. kelompok tani. Wijandi. Badan Pengendali Bimas.E. Kelompok jasa pemanen yang bekerja secara profesional dapat menghindari perbuatan tidak terpuji atau kecurangan dari anggotanya pada khususnya dan para pemanen pada umumnya. 1996. Perkembangan tenaga pertanian untuk usahatani padi sawah di Kabupaten Karawang. pemuka agama dan tenaga pemanen perlu terus dilakukan. Penyusutan Lahan Pertanian Serta Dampaknya terhadap Penyediaan Pangan. Abdullah dan Eriyanto. Survei susut pascapanen MT. . Djojomartono. pemuka masyarakat. Damardjati. Damardjati. Thesis M. Pengembangan pemanenan padi dengan sistem kelompok selain dapat mengurangi besarnya kehilangan hasil dan dapat meningkatkan pendapatan petani dan pemanen. Oleh karena itu penulis menyarankan agar pemanenan padi dengan sistem kelompok terus dikembangkan baik di daerah yang sudah maupun yang belum melaksanakannya. Tentang Peningkatan Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian. karena dapat menyelamatkan gabah hasil panen dari kehilangan. E.) terhadap sifat dan mutu beras. Institut Pertanian Bogor (Tidak dipublikasikan). Jakarta. 1981. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992.. Ato Suprapto.

A. . Agrimex. Hasanuddin. 1994. Perbaikan sistem pemanenan padi untuk meningkatkan mutu dan mengurangi kehilangan hasil. 1 (1992/1993). Strategi dan Langkah Operasional Program Penelitian Tanaman Padi. Mujisihono. 1998. Hal 1-7. 1996.. 1994. Risalah Tanaman Pangan.. Studi optimasi sistem pemanenan padi untuk menekan kehilangan hasil. Setyono dan R. Hal. Nugraha..K. Suismono. 23-25 Agustus 1995. 42-55 Nugraha. Development of stripping and threshing type harvester. 1990b. S.. Setyono dan D. R. Sutrisno. Penerapan teknologi pemanenan dengan sabit. Pengaruh keterlambatan perontokan padi terhadap kehilangan dan mutu. Rumiati dan Soemardi. Bogor.. Evaluasi pemanenan padi Tabela menunjang SUTPA di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setyono. 13 Sub Balittan Karawang. Nugraha. A. Media Penelitian Sukamandi No. 1990a. Soeharmadi dan S. Prosiding: Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Balai Penelitian Tanaman Padi. 1993. Kompilasi hasil penelitian 1988/1989. Sutrisno dan U. Rumiati.S. 1993. Evaluasi sistem pemanenan beregu menggunakan beberapa mesin perontok. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. S. Hal. E. S. D. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi. Setyono A. Sutrisno dan Ridwan Thahir. Sukamandi. Tahir.. BPTP Ungaran. Purwadaria. Thahir. Damardjati. A. 1997. Evaluasi hasil penelitian peningkatan mutu padi dan palawija. Vol 4 dan 5. Thahir. R. Rob. Cara panen dan perontokan padi VUTW untuk menentukan jumlah kehilangan. Pascapanen.. 38p... Philippines. H. 1982. tanggal 21 s/d 25 Juli 1995. Technical Report Sub mitted to GTZ-IRRI Project. Hasanuddin. Eko Ananto. In Press. Kompilasi hasil penelitian 1988/1989. Setyono dan R. A.Damardjati. 5-6 April 1982. Buku I. dan A. IRRI. dan Agus Setyono. Laporan Kemajuan Penelitian Seri Teknologi Lepas Panen No. Postharvest Technologies for Rice in The Humid Tropics-Indonesia.. 1982. 26-45. Damardjati. Koes Sulistiadji. 13 hal 1-4. Prosiding Ilmiah dan Lokakarya Teknologi Spesifik Lokasi dalam Pengembangan Pertanian dengan Orientasi Agribisnis. S. Rachmat. Sukamandi Research Institute for Food Crops. Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi. Study on harvesting losses in difference harvest tools. Nugraha. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pascapanen dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan di BPLPP Cibitung. 1988. Nugraha. Cibogo.S. A. Setyono dan D. Teknologi pascapanen padi. No.S.

Pengujian pemanenan padi sistem kelompok dengan memanfaatkan kelompok jasa pemanen dan jasa perontok. A. Hal 56-69.Setyono.scribd. Uji coba kelompok jasa pemanen dan jasa perontok..com/albertdin_din2876/d/26807931/22-Perontokan-padi-denganpower-thresher . Prosiding Seminar Ilmiah dan Lokakarya Teknologi Spesifik Lokasi dalam Pengembangan Pertanian dengan Orientasi Agribisnis. 1993.. Padi. 2001. http://shafwandi08. BPTP Ungaran. Sutrisno dan Sigit Nugraha. Sutrisno.html http://www. Laporan Akhir Tahun TA. A. 2000. Jakarta 118 hal. Setyono. Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi.. A. Suparyono dan A. Sigit Nugraha dan Jumali. Uji coba regu pemanen dan mesin perontok padi dalam pemanenan padi sistem beregu. Setakan III. Setyono.blogspot. Disampaikan pada Apresiasi Seminar Hasil Penelitian Balitpa. Penebar Swadaya. 2000.com/2011/06/mesin-mesin-pasca-panen. Sutrisno dan Sigit Nugraha. Setyono. 1998. Sukamandi 10-11 Nopember 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->