GANGGUAN ORIENTASI REALITA

DISUSUN OLEH ARDWI ANISKA PUTRI LULUK ANGGARANI NUNING RATNASARI SHOLEHA ISMAYA (P27820310003) (P27820310013) (P27820310022) (P27820310033)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SUTOPO SURABAYA 2012

kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sangat membangun guna kesempurnaan untuk tugas makalah-makalah kami ke depannya. Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih Surabaya.KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. 07 Maret 2012 Tim Penulis . Makalah ini kami susun sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa. tentu banyak sekali kekurangan. Dalam makalah ini. Untuk itu. karena berkat-Nya kelompok kami dapat menyelasikan tugas Keperawatan Jiwa “Gangguan Orientasi Realita” ini dengan tepat waktu.

Etiologi 1. Tanda dan Gejala Rentang Respon Neurobiologi : Adaptif Pikiran logis Persepsi akurat Proses pikir Kadang ilusi Maladaptif Gangguan proses pikir : waham PSP : halusinasi . Gejala sekunder : halusinasi. Gangguan orientasi realitas pada umumnya ditemukan pada Skizofrenia. 3. Gangguan orientasi realita adalah ketidakmampuan membedakan lamunan dan kenyataan sehingga muncul perilaku yang sukar dan menakutkan. berespon pada realita dan ketidakmampuan dalam membedakan rangsangan internal dan eksternal. dan gangguan daya ingat. motorik. 5. dan sosial mengakibatkan berespon terganggu  tampak dari perilaku non verbal (ekspresi dan gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). C. Gangguan fungsi kognitif dan persepsi menyebabkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi. serta gangguan atensi dan aktivitas. 4. ambivalen. Definisi 1. Gejala primer Skizofrenia (Bluer) : 4a + 2a  gangguan asosiasi. efek. 2.BAB I LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ORIENTASI REALITA A. ditandai dengan halusinasi dan waham B. waham. Gangguan orientasi realita adalah ketidakmampuan individu dalam menilai. autistik. 2.

Fungsi motorik. Fungsi persepsi • • Depersonalisasi Halusinasi 3. Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat). Fungsi emosi. sirkumtansial). • • • • 4.Emosi konsisten Perilaku sesuai Hubungan sosial Emosi+/Perilaku tidak sesuai Menarik diri Kerusakan emosi Perilaku tidak sesuai Isolasi sosial terorganisir 1. • Imfulsif  gerakan tiba-tiba dan spontan Menerisme • . • • • • Cara berfikir magis dan primitif. 2. • Afek tumpul kurang respons emosional Afek datar Afek tidak sesuai Reaksi berlebihan Ambivalen. neologisme. Perhatian Isi piker Bentuk dan pengorganisasian bicara (tanggensial.

5. D. tidak bertujuan. adalah : • • Gangguan Isi Pikir : Waham PSP : Halusinasi Isi pikir: Gangguan isi pikir merupakan ketidakmampuan individu memproses stimulus internal dan eksternal secara akurat. Respon Neurologis GOR 1. serta tidak dapat diubah dengan alasan yang logis. Gangguannya adalah berupa waham yaitu keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan dengan realitas.  Klasifikasi Waham Waham diklasifikasikan menjadi 6 macam yaitu sebagai berikut:  Waham Agama: keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan. 6. Keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan tingkat intelektual dan latar belakang budayanya.• Stereotipik  gerakan yang di ulang-ulang. . Dalam tatanan keperawatan jiwa respons neurobiologis yang sering muncul. Fungsi sosial kesepian • • • Isolasi social Menarik diri Harga diri rendah. Waham  Pengertian Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. tidak dipengaruhi stimulus yang jalas • Katatonia. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Selain itu keyakinan tersebut diucapkan berulang kali.

 penyakit atau di dalam tubuhnya ada binatang. Sisip Pikir: keyakinan klien bahwa ada pikiran orang lainnya yang disisipkan ke b. Siar Pikir: keyakinan klien bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikiran walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya kepada orang tersebut. Waham Kebesaran: keyakinan klien secara berlebihan tentang kebesaran Waham Somatik: keyakinan klien bahwa tubuh/bagian tubuhnya/terserang Waham Curiga: keyakinan klien bahwa da seseorang atau kelompok Waham Nihilistik: keyakinan klien bahwa dirinya sudah tidak ada di Waham Bizar. dimana isinya adalah sebagai berikut: dalam pikirannya. Kontrol Pikir: keyakinan klien bahwa pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar dirinya.  tertentu yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya.  a. c. dirinya atau kekuasaannya.  Perilaku Waham • • Ketidak mampuan mempercayai orang lain Perasaan takut sampai panic Kewaspadaan yang berlebihan Ketidaktepatan menilai lingkungan/realitas • •  Pohon Masalah Waham Kerusakan Komunikasi Verbal Perubahan Proses Pikir : Waham Gangguan Harga Diri .  dunia/meninggal.

artinya orang disekitar tidak mencium  Pengecapan Klien merasakan sesuatu yg tidak nyata. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai dialamatkan pada pasien itu. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung. tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. dengan kata lain orang disekitar tidak melihat  Penciuman Klien mencium sesuatu yg bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata.  Jenis Halusinasi Halusinasi diklasifikasikan menjadi 5 macam :  Pendengaran Klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hub dengan stimulus yang nyata/ lingkungan. dengan kata lain orang disekitar tidak mendengar apa yang di dengar klien  Penglihatan Klien melihat gambaran yang jelas atau samar tanpa adanya stimulus nyata dari lingkungan. Halusinasi  Pengertian Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.Stressor 2. biasanya merasakan makanan yg tidak enak keadaan pasien sedih atau yang . Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.

 Perabaan : Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata  Tahapan Halusinasi • Fase I o Px mengalami stress yang tidak dapat terselesaikan o Px mulai melamun memikirkan hal yang menyenangkan o Cara ini menolong sementara • Fase II o Kecemasan meningkat o Melamun dan menyendiri o Mulai ada bisikan yang tidak jelas o Px tidak ingin orang lain tahu • Fase III o Bisikan semakin jelas dan menguasainya o Isi bisikan tentang ceritera dan pujian o Px menjadi terbiasa dan tidak berdaya • Fase IV o Bisikan berubah menjadi :   Memerintah Mengancam dan memarahi o Px menjadi takut. marah. hilang kontrol o Px tidak dapat berhubungan dengan orang lain .

 Perilaku Halusinasi   Px menarik diri Subyektif : mengatakan saya merasa…. .. Tidak menghiraukan lingkungan Memandang ke kiri dan kekanan Tampak seperti mendengarkan suara Tersenyum duduk terpaku Bicara sendiri Tiba-tiba marah/ gelisah        Pohon Masalah Halusinasi Masalah Utama (Core Problem) : Halusinasi Resiko Menciderai Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Dengar Isolasi Sosial : Menarik Diri Stressor E. Diagnosa Keperawatan  Potensial mencederai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan perubahan proses pikir: waham. Proses Keperawatan 1.

Evaluasi Klien terhindar dari mencederai diri. Klien mampu mendapatkan dukungan keluarga. Penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efktif berhubungan dengan koping individu inefektif. Klien mampu berhubungan dengan realitas. orang lain dan lingkungan Sejauh mana klien dan keluarga mampu melakukan hal-hal sebagai berikut : Mengontrol perilakusehari-hari terkait waham dan kekambuhannya. . 2. Gangguan komunikasi verbal dan nonverbal berhubungan dengan perubahan proses pikir: waham. Klien mampu memanfaatkan obat.    Harga diri rendah berhubungan dengan koping tidak efektif. Intervensi Keperawatan  Diagnosa 1: Potensial mencederai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan perubahan proses pikir: waham o o • • • • • • o • Tujuan Umum Tujuan Khusus Klien mampu membina hubungan saling percaya. Klien mampu mengidentifikasi kebutuhan yang tidak mampu dipenuhi. Klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.  Gangguan hubungan interpersonal: menarik diri berhuhungan dengan harga diri rendah. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan harga diri rendah.

dan efek obat. Memanfaatkan sumber-sumber komunitas/masyarakat Diagnosis 2: Gangguan hubungan interpersonal: menarik diri berhuhungan dengan harga diri rendah. persiapan pulang dan dirumah. • •  Berperan aktif perawat lien di rumah sakit. o Tujuan Umum Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.• Memanfaatkan obat teratur dan sesuai program. o • • • • Tujuan Khusus Klien dapat membina hubungan saling percaya Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki • • Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada . frekuensi. alasan.

3. SPIk Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien Mendiskusikan kebutuhan yang tidakMenjelaskan pengertian. tanda dan gejala waham. terpenuhi dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya. 2. 4.BAB II STRATEGI PELAKSANAAN GANGGUAN ORIENTASI REALITA Pasien Keluarga No. 2. Membantu pasien memenuhi kebutuhannya Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SPIIP SPIIk Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan waham Berdiskusi tentang kemampuan yang dimilikiMelatih keluarga mempraktekkan cara merawat langsung kepada pasien waham Melatih kemampuan yang dimliki SPIIIP SPIIIk Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) Memberikan pendidikan kesehatan tentangMenjelaskan follow up pasien setelah pulang penggunaan obat secara teratur Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian . 1. 3. 1. Membantu orientasi realita 2. SPIP 1. 3.

Orientasi a. SP 1 (Pertemuan Ke: 1) A. Tiga bulan yang lalu M dan kakaknya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakak M meninggal dunia di tempat.CONTOH PENERAPAN STRATEGI PELAKSANAAN PADA PASIEN GANGGUAN ORIENTASI REALITA DENGAN WAHAM NIHILISTIK STUDY KASUS Saudara M. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar 5. Kondisi: Klien berbicara ngelantur. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1. Mendiskusikan kemampuan yang dimiliki d. merasa dirinya telah meninggal 2. Tujuan Umum: Klien dapat berorientasi pada realitas 4. Klien mampu memenuhi kebutuhan dasarnya c. M sering kali mengucapkan bahwa dirinya sudah meninggal. c. Klien dapat menyadari dirinya masih hidup b. sudah satu bulan dirawat di rumah sakit. usia 27 tahun. Membantu klien untuk beraktifitas dengan kemampuan yang dimiliki B. Salam Terapeutik . Membantu orientasi realitas. Proses Keperawatan 1. Keluarga mengeluhkan kondisi M yang selalu berbicara ngelantur. Membina hubungan saling percaya b. Diagnosa: Waham Nihilistik 3. Tindakan Keperawatan: a. Tujuan Khusus: a.

‘tarik napas dalam’ .. ‘tarik napas dalam’ Orang waham karena ada kebutuhan yang tdk terpenuhi. o Apa yang membuat mas M merasa telah meninggal? o Apa mas M sadar kita berada dimana dan sekarang tanggal berapa? o Apakah mas yakin saya masih hidup? Jika ya. Evaluasi/Validasi Saya lihat mas dari tadi terlihat cemas dan bingung c. Saya yakin. contoh dlm kasus ini klien merasa cemas.Assalamualaikum. Kontrak: • Topik: Bagaimana jika kita membicarakan tentang apa yang menyebabkan mas cemas dan orientasi yang mas rasakan? • Tempat: Mas M mau kita berdiskusi dimana? Bagaimana jika di sini saja? o Waktu: Mas ingin kita berdiskusi berapa lama? Bagaimana jika 20 menit saja? 2. kebutuhan aman dan kenyamanannya tidak terpenuhi. dan saya akan menyentuhnya. o Mas sebenarnya apa yang terjadi? Mas bisa menceritakannya pada saya.00. o Adakah yang mas ingin lakukan atau hobi mas. selamat pagi mas. mengapa saya dapat melihat mas? o Mas coba perlihatkan tangan mas. itu juga yang kakak mas inginkan. Sehingga ajarkan cara mengatasi rasa cemas. Orang waham karena ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. Ini membuktikan mas masih hidup.00-14. Kerja o Mas M. untuk meyakinkan diri mas hidup? o Oh mas suka main gitar? Pasti jago yaa.. Mas bisa menceritakan apapun yang mas rasakan? Jika boleh saya tahu apa yang membuat mas M cemas. mas harus dapat menerima kenyataan dan melanjutkan kehidupan mas dengan baik. o Mas bisa merasakan tangan saya dan saya dapat merasakan tangan mas. Perkenalkan saya Ners Felly. contoh dalam kasus ini klien merasa cemas. saya ingin menjadi teman mas. kebutuhan aman dan kenyamanannya tdk terpenuhi. o O. Sehingga ajarkan cara mengatasi rasa cemas. Nama mas siapa? Senangnya dipanggil apa? b. jadi begitu. yang akan merawat mas selama di sini. Saya bertugas pagi dari jam 07.

Evaluasi Subjektif Bagaimana perasaan mas M sekarang setelah kita berbincang? b. Evaluasi Objektif o Apa saja yang tadi kita bicarakan mas? o Benar.3.00. ketika mas ragu atau cemas kembali. o Baiklah mas karena sekarang ners Felly harus ke tempat klien yang lain. mas besok kita akan bertemu lagi untuk mendiskusikan hobi mas. mas senang main gitar kan? Besok saya akan membawakan gitar untuk mas. Kontrak • Topik: Nah. o Coba mas sebutkan yang kita lakukan untuk membuktikan mas hidup? o Ya benar. Coba mas lakukan lagi. c. d. mas masih hidup. • • Waktu: Besok kita bertemu lagi jam 10. bagaimana mas? Tempat: o Baik sekali. Assalamualaikum SP 2 (Pertemuan Ke-2) . Mas dapat memegang sesuatu disekitar mas seperti bantal ini atau wajah mas sendiri untuk membuktikan mas masih hidup. saya pamit dulu ya mas. mau mau dimana? Bagaimana jika di taman saja? Saya akan menjemput mas disini. Rencana Tindak Lanjut Baiklah mas. Terminasi a.

Masih ingat dengan saya? Benar sekali saya Ners Felly. Diagnosa: Waham Nihilistik 3. Membantu orientasi realitas. selamat pagi mas M. Orientasi a. Kontrak: • Topik: Seperti kontrak kita kemarin. c. Tujuan Umum: Klien dapat berorientasi pada realitas 4. Membina hubungan saling percaya b. Klien mampu memenuhi kebutuhan dasarnya c. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1. b. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar 5. Kondisi: Klien berbicara ngelantur.A. Evaluasi/Validasi Bagaimana perasaan mas hari ini? Sudah dilakukan apa yang saya sarankan? Wah baik sekali c. merasa dirinya telah meninggal 2. hari ini kita akan membicarakan dan latihan tentang hobi mas bermain gitar? • Waktu: Tempat: Mas M mau berapa lama? Bagaimana jika 20 menit saja? • . Klien dapat menyadari dirinya masih hidup b. Membantu klien untuk beraktifitas dengan kemampuan yang dimiliki B. Tindakan Keperawatan: a. Mendiskusikan kemampuan yang dimiliki d. Proses Keperawatan 1. Tujuan Khusus: a. Salam Terapeutik Assalamualaikum.

Kontrak • • • Topik: Waktu: Tempat: Nah. o Mas M sejak kapan bisa main gitar? o Mas bisa memainkan lagu apa saja? Yang paling mas suka? o Coba mas M mainkan.Yuk mas M kita ke taman sekarang seperti perjanjian kita kemarin 2. saya ingin lihat dan dengar. hidup ini indah dan sayang jika disia-siakan. Assalamualaikum . 3. Terminasi a. Kerja o Nah mas M. d.00 siang Besok saya akan menjemput mas untuk berinteraksi dengan teman-teman lain di taman. o Wah bagus sekali. Baiklah sekarang ners Felly pamit dulu ya mas. Rencana Tindak Lanjut Baiklah mas. mas terlihat senang sekali. Bagaimana jika kita buat jadwal rutin untuk ibu bermain gitar? Mas mau main berapa kali? Baiklah dua kali pagi dan sore. mas M ternyata suaranya bagus juga. Evaluasi Subjektif Bagaimana perasaan mas sekarang setelah bermain gitar? b. ini gitar yang saya janjikan kemarin. c. Evaluasi Objektif o Apa saja yang tadi kita bicarakan mas? o Benar. Apa saja yang mas lakukan? o Ya benar. o Terasa hidup kembali ya mas? o Benar sekali mas M. mas untuk besok kita akan berinteraksi dengan teman-teman yang lain Untuk pertemuan besok kita akan bertemu jam 13.

Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.DAFTAR PUSTAKA Keliat. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University: Press Surabaya Maslim Rusdi. Jakarta: EGC. Proses keperawatan Kesehatan Jiwa. Maramis W. BA. 2001. 1990. Jakarta:PPDGJ .F.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful