PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN OTONOMI DAERAH Memperhatikan keanekaragaman

1

aspek

demokrasi,

keadilan,

pemerataan

serta

potensi

dan

2 Otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab 3 Otoda yang luas dan utuh untuk Kabupaten, Otoda yang terbatas untuk Propinsi 4 Sesuai dengan konstitusi sehingga terjamin hubungan serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah 5 Lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom sehingga dalam kabupaten tidak ada wilayah administrasi 6 Peningkatan peran dan fungsi Badan Legislatif Daerah wilayah administrasi 7 Asas dekonsentrasi diletakkan pada Propinsi sebagai wilayah administrasi 8 Asas Tugas Pembantuan diberikan dari Pemerintah kepada Daerah serta dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa

Otonomi daerah di Indonesia
Otonomi daerah di Indonesia Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu: 1. Nilai Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"), yang berarti kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan 2. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang ketatanegaraan. [1] Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik berat pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II) [2]dengan beberapa dasar pertimbangan[3]: 1. Dimensi Politik, Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehingga risiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim; 2. Dimensi Administratif, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat relatif dapat lebih efektif;

1

selanjutnya disebut Daerah. Undang-Undang No. Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati IIlah yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya. prinsip otonomi yang dianut adalah: 1. Atas dasar itulah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak. digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 5. Perpu No. Dinamis. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan panglima. dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.[4] Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom. otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di daerah. dan 3. pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia. Nyata. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 7. Bertanggung jawab. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru Sejak tahun 1966. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 6. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi inilah. Banyak prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 4. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah 2. pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar pembangunan di seluruh pelosok tanah air. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No. wewenang. Undang-Undang No. 2. pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan maju Aturan Perundang-undangan Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah: 1. berwenang dan 2 . Mengacu pada UU ini. dan mobilisasi massa atas dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. Otonomi Daerah adalah hak. terutama keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program pembangunan dari pusat. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah 3. dibentuklah Undang-Undang No.3.

diatur dalam Pasal 27. nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. mengadakan perubahan. serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan. meminta keterangan.[8] Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II (Kabupaten/Kotamadya). dan penyelidikan). sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pembantuan (medebewind). 28.berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[10] dengan hak. b)menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara. dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri. Dekonsentrasi. prakarsa. mengamankan serta mengamalkan PANCASILA dan UUD 1945. mengajukan pernyataan pendapat.[11] Berkaitan dengan susunan. atau jika dipandang perlu olehnya. fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota. wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban memberikan keterangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun.[6] 2. atau apabila diminta oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. c) bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batas-batas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundangundangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah. namun dalam prakteknya yang terjadi adalah sentralisasi (baca: kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun 3 . [5] Undang-undang No. pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabat di daerah. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusatdaerah yang dirangkum dalam tiga prinsip: 1.[12] dan kewajiban seperti a) mempertahankan. Desentralisasi. dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (hak anggaran.[7] dan 3. tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. 5 Tahun 1974 adalah suatu komitmen politik. dan d) memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah.[13] Dari dua bagian tersebut di atas.[9] untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak. Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undang-undang sebelumnya antara lain : 1. 2. Oleh karena itu. Pada masa ini. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif. nyata dan bertanggung jawab. Salah satu fenomena paling menonjol dari pelaksanaan UU No. atau 3. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan. Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis). membuat pemerintah provinsi sebagai agen murni pemerintah pusat. otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah.implementasi pembangunan Indonesia. melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah. 3. pembentukan negara federal. yaitu dengan memberlakukan Undang-Undang No. 2. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II. Di samping itu. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. pemerintahan Habibie memberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru untuk menggantikan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 ini adalah ketergantungan Pemda yang relatif tinggi terhadap pemerintah pusat. 5 Tahun 1974. dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat. yang berarti mengurangi peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah. karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas. serta meningkatkan peran dan fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. 4 . sedang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri. yang dalam Undang-undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tidak dipergunakan lagi. adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat. Pemerintahan Habibie yang memerintah setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan yaitu[14]: 1. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999.

dan pertimbangannya lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. potensi daerah. 11. Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah. penetapan pensiun. sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut sebatas 1/3 wilayah laut propinsi. daerah. Mengenai asas tugas pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi. moneter dan fiskal serta agama dan bidang. Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. Sedang yang selama ini disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil dihitung secara lurus dari garis pangkal pantai. anggaran dan legislasi daerah. standar. Misalnya kewenangan di bidang perhubungan. pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. nyata dan bertanggung jawab. yaitu wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan kepadanya. hankam. sedang pada propinsi otonomi yang terbatas. Dalam hubungan ini. Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan. yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. luas daerah. peradilan. 9. pekerjaan umum. 12. 7. 6. dimana semua kewenangan pemerintah. kabupaten. dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang.4. pemberhentian. jumlah penduduk. Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas. Gubernur selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden. kota dan desa. 5. dan dipilih bersama pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD. daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain. 5 . pemindahan.bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh. Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah. tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. prosedur yang ditetapkan pemerintah.[15] 8. sosial politik. 13. Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. yang ditetapkan dengan undang-undang. berdasarkan nama. kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah administrasi. Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. DPRD mempunyai fungsi pengawasan. Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas. yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD bukan unsur pemerintah daerah. Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman yang ditetapkan Pemerintah. 10. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. diganti menjadi daerah propinsi dengan kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi. bulat dan menyeluruh. sosial budaya. kecuali bidang politik luar negeri.

sedangkan untuk propinsi merupakan otonomi yang terbatas. Lembaga Staf Teknis Daerah. potensi dan keanekaragaman daerah. 7. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas. Lembaga pembantu Gubernur. Pembantu Bupati/Walikota. Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara membentuk badan pengelola tersendiri. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu sepenuhnya diserahkan pada daerah. 6. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintah daerah. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. baik fungsi legislatif. pemerataan. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. seperti yang dijelaskan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah mempunyai prinsip sebagai berikut: 1. Dinas-Dinas Teknis Daerah. 15. seperti yang menangani perencanaan. keadilan. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administratif untuk melaksanakan 6 . serta antar daerah. 4. Selain DPRD. 3. daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah. 2. penelitian dan pengembangan. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan kota. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. Kantor Wilayah dan Kandep dihapus. pengawasan dan badan usaha milik daerah. Sekretariat Daerah. Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD. nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaanh otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. 5. dan DPRD dapat meminta Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali tidak dapat diterima oleh DPRD. yang terdiri dari Kepala Daerah. 14. Asisten Sekwilda.kehutanan dan perkebunan dan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota. Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah Agar dalam penyelenggaraan otonomi daerah yang menitik beratkan pada Daerah sesuai dengan tujuannya. pendidikan dan latihan. baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom dan karenanya dalam daerah kabupaten dan daerah kota tidak ada bagi wilayah administrasi.

maka dapat diartikan bahwa peranan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah cukup besar. pemantauan/monitoring. Monitoring/Pemantauan pelaksanaan RKP tahun 2009 bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 7 . dan penyusunan database terhadap Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang merupakan pelaksanaan dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah seperti yang termuat dalam RPJM (Rencana Program Jangka Menengah) Tahun 2004 . Berdasarkan prinsip tersebut di atas. evaluasi. Koordinasi Penyusunan RKP 2010 dan RPJMN 2010 . yaitu: 1. Terkait dengan hal tersebut maka pada tahun anggaran 2009 telah diselesaikan serangkaian kegiatan tahunan yang merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) dari Direktorat Otonomi Daerah. Prinsip-prinsip tersebut perlu dipahami oleh setiap aparatur pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat dan pemerintah pusat sebagai perumus kebijaksanaan. Terutama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. Direktorat Otonomi Daerah ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan koordinasi.PPN/09/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara PPN/Bappenas.2009 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahunnya. LAPORAN KEGIATAN DIREKTORAT OTONOMI DAERAH TAHUN 2009 Adanya tuntutan reformasi serta amanat konstitusi. dan peran serta masyarakat. pemberdayaan. untuk melaksanakan UU 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sesuai Surat Keputusan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor PER: 01/M. Saat ini. akan tetapi masih tetap dalam kerangka memperkokoh negara kesatuan sesuai dengan konstitusi yang berlaku.2014 2. maka Pemerintah melalui UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. Selain itu. Pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan agar implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dapat berjalan dengan baik.

dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kajian Perumusan Rancangan Arah Kebijakan Jangka Menengah Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 2010-2014 Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak. wewenang. memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas. Penyusunan database dan sistem informasi bidang desentralisasi dan otonomi daerah tahun 2009 5. Otonomi daerah adalah hak. Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 2. wewenang. Evaluasi pelaksanaan RKP 2009 bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 4. Pasal 2 8 . selanjutnya disebut daerah. 5. Daerah otonom. 6. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. lebih nyata dan bertanggung jawab. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.3. terutama dalam mengatur. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum.

(3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi seluasluasnya. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. dan dokumen. dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. serta perangkat daerah. pelayanan umum. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah. potensi daerah. penunjukan penjabat kepala daerah.(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah. pendanaan. ibukota. teknis. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. pengisian keanggotaan DPRD. (2) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. peralatan. pengalihan kepegawaian. batas. BAB II PEMBENTUKAN DAERAH DAN KAWASAN KHUSUS Bagian Kesatu Pembentukan Daerah Pasal 4 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. dan daya saing daerah. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. dan fisik kewilayahan. Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. (3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. cakupan wilayah. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. sosial 9 . kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan.

memungut pajak daerah dan retribusi daerah. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. c. e. f. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. d. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. keamanan. mengembangkan kehidupan demokrasi. b. mengelola aparatur daerah. pertahanan. g. sosial politik. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. dan h. melindungi masyarakat. Bagian Ketiga Hak dan Kewajiban Daerah Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. b. 10 . meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. d. daerah mempunyai kewajiban: a. f. c. dan prasarana pemerintahan. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. daerah mempunyai hak: a. menjaga persatuan. e. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. kesatuan dan kerukunan nasional. kependudukan. memilih pimpinan daerah. sarana.budaya. lokasi calon ibukota. mengelola kekayaan daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. g. luas daerah. mewujudkan keadilan dan pemerataan. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan.

mengelola administrasi kependudukan. Pelayanan yang disediakan Pemda kepada masyarakat ada yang bersifat regulative(pengaturan) seperti mewajibkan penduduk untuk mempunyai KTP. n. Tanpa itu. Apapun barang dan regulasi yang disediakan oleh Pemda haruslah menjawab kebutuhan riil warganya. Otonomi dijadikan sebagai pembatas besar dan luasnya daerah otonom dan hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah untuk menghindari daerah otonom menjadi Negara dalam Negara. Ada dua tujuan yang ingn dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitu tujuan politik dan tujuan administrative. Daerah otonom adalah batas wilayah tertentu yang berhak. Sedangkan tujuan administrative akan memposisikan Pemda sebagai unit pemerinthan di tingkat local yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakat secara efektif dan ekonomis. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.h. 11 . Sedangkan bentuk pelayanan lainnya adalah yang bersifat penyediaan public goods yaitu barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti jalan. melestarikan lingkungan hidup. pasar. j. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. rumaha sakit. melestarikan nilai sosial budaya. dan o. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. mengembangkan sistem jaminan sosial. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. dsb. terminal dsb. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. m. k. KK. i. l. pemda akan kesulitan dalam memberikan akuntabilitas atas legitimasi yang telah diberikan kepada pemda untuk mengatur dan mengurus masyarakat. Tujuan Otonomi Daerah Otonomi daerah merupakan suatu wujud demokrasi yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah daerah untuk mengurus sendiri rumah tanggannya dengan tetap berpegang kepada peraturan perundangan yang berlaku. IMB. Tujuan Politik akan memposisikan Pemda sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakat di tingkat local dan secara nasional unutk mempercepat terwujudnya civil society.

pendidikan. menjadi salah satu factor untuk memajukan daerah itu sendiri. Semangat otonomi daerah memang harus dimiliki oleh setiap putra daerah. wakil-wakil rakyat tersebut akan selalu menyerap. harimau mati. meninggalkan belang. karena hal inilah maka perebutan kursi untuk menduduki jabatan gubernur atau bupati menjadi sangat didambakan semua insan politik di tanah air.undang otonomi daerah. Daerah kelahiran mereka yang dulu telah lama ditinggalkan. dan manusia mati meninggalkan kebaikan dan amal perbuatan”. efisien. Dengan adanya undang. dalam agama manapun juga diajarkan. kebijakan public di tingkat local tidak boleh bertentangan dengan kebijakan public nasional dan diselenggarakan dalam koridorkoridor norma. dan agama. baik dalam segi ekonomi. seperti pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading. Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah atau KPPOD adalah lembaga independen pemantauan pelaksanaan otonomi daerah yang lahir dari sebuah pemikiran bahwa pelaksanaan otonomi daerah sejak tanggal 1 Januari 2001 sebagaimana di atur dalam Undang Undang No. Yang tak dapat dilupakan. sekarang menunggu dan menanti untuk dimajukan oleh putra daerah masing. mengartikulasikan serta meng-agregasikan aspirasi rakyat tersebut kedalam kebijakan-kebijakan public tingkat local. dan ekonomis serta melalui cara-cara yang demokratis.masing.bondong balik kekampung dan daerahnya masing.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang No. Demokrasi pada pemda berimplikasi bahwa pemda dijalankan oleh masyarakat sendiri melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih secara demokratis dan dalam menjalankan misinya mensejahterahkan rakyat.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. budaya. Pepatah inilah yang harus selalu diingat selama mengisi kehidupan di dunia dan sebagai bekal di akherat. perlu dicermati terus menerus demi keberhasilannya demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran rakyat di semua bagian negara berdasarkan potensi dan keanekaragamannya tanpa meninggalkan prinsip kesatuan Republik Indonesia. 12 . mereka berbondong. Membangun dan Memajukan Daerah Wacana pembangunan daerah sudah lama didengungkan saat adanya undang.masing untuk mencari simpati atau tebar pesona kepada masyarakat sekitar asal mereka. Banyaknya potensi lahan di daerah yang belum digarap. Namun.undang ini maka tanpa disadari para gubernur dan bupati menjadi raja kecil ataupun presiden di daerahnya sendiri. karena merupakan kebanggaan tersendiri. nilai dan hukum positif yang berlaku pada Negara dan bangsa tersebut.Misi keberadaan Pemda adalah begaimana mensejahterahkan masyarakat melalui penyediaan pelayanan public secara efektif.

Keinginan ini diawali dengan penyelenggaraan Diskusi Nasional "Menyelamatkan Otonomi Daerah" tanggal 7 Desember 2000 yang dihadiri kalangan bisnis. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah Kabupaten dan daerah Kota. pemerintah propinsi. dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah Daerah Provinsi. dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. daerah kabupaten. Hubungan keuangan. dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. pemerintah daerah. akademisi. kabupaten. Negara mengakui dan 13 . dan daerah kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. seperti: disharmoni produk produk hukum Nasional dan Daerah. Setiap daerah provinsi. Indonesia adalah sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah Provinsi. ketidakjelasan kebijakan fiskal pusat-daerah. Kebutuhan itu terasa sebab munculnya berbagai permasalahan. Sementara itu. Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi. dan lain-lain) yang bertentangan dengan prinsip prinsip dasar mekanisme ekonomi. Berbagai hambatan perdagangan antar daerah dapat menghancurnya keutuhan ekonomi nasional dan menumpulkan daya saing internasional ekonomi Indonesia. kabupaten. Bahaya dari perkembangan ini adalah timbulnya ekonomi berbiaya tinggi. Bupati. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. CSIS dan LPEM-FEUI ingin ikut memberikan kontribusi pemikiran dan upaya untuk mengoptimalkan tujuan pelaksanaan otonomi daerah. Gubernur. media masa dan pihak pihak lain yang mempunyai perhatian mengenai otonomi daerah. KPEN-KADIN. retribusi. diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. dalam pelaksanaan otonomi daerah telah muncul berbagai kebijakan daerah (pajak.Atas pertimbangan itu. Melalui berbagai diskusi persiapan maka pada tanggal 1 Maret 2001 secara resmi telah direalisasikan pembentukan Yayasan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) atau Regional Autonomy Watch. pelayanan umum. Pemerintahan daerah provinsi. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. lemahnya koordinasi pemerintah Pusat dan Daerah (Propinsi & Kabupaten/Kota). dan setumpuk permasalahan lainnya. koordinasi kekuasaan Eksekutif dengan Legislatif yang kontraproduktif. DPRD. pemerintah pusat. lemahnya sinergi kebijakan pembangunan di Daerah dan antar Daerah. Pada gilirannya semua ini akan menghambat investasi dan pada akhirnya akan membawa dampak negatif bagi upaya menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan rakyat. Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis.

dan 3. 2. 3. Yang dimaksud satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus adalah daerah yang diberikan otonomi khusus. DKI Jakarta Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan undang-undang. 14 .menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah khusus Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Selain itu. Bagi Provinsi NAD diberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Bagi Provinsi Papua dan Papua Barat diberlakukan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. UU Khusus Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain diatur dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah diberlakukan pula ketentuan khusus yang diatur dalam undang-undang lain. cari Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi. Bagi Provinsi DKI Jakarta diberlakukan UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1. yang diatur dalam undang-undang. 4. 2. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Provinsi Aceh. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Daerah-daerah yang diberikan otonomi khusus ini adalah 1. dan Provinsi Papua Barat. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. negara mengakui dan menghormati hak-hak khusus dan istimewa sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi Papua.

dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing. 5. Aturan sebagai daerah otonom tingkat provinsi dan lain sebagainya tetap terikat pada peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. Oleh karena itu. 3. 15 . Dana dalam rangka pelaksanaan kekhususan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu kota Negara ditetapkan bersama antara Pemerintah dan DPR dalam APBN berdasarkan usulan Pemprov DKI Jakarta. hak. Gubernur mempunyai hak protokoler. Gubernur dapat menghadiri sidang kabinet yang menyangkut kepentingan Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. kewajiban. Beberapa hal yang menjadi pengkhususan bagi Provinsi DKI Jakarta antara lain: 1. dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Provinsi DKI Jakarta adalah daerah khusus yang berfungsi sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. hak.Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Provinsi DKI Jakarta) sebagai satuan pemerintahan yang bersifat khusus dalam kedudukannya sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai daerah otonom memiliki fungsi dan peran yang penting dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang dipimpin oleh seorang Gubernur. kewajiban. serta pusat/perwakilan lembaga internasional. Wilayah Provinsi DKI Jakarta dibagi dalam kota administrasi dan kabupaten administrasi. Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta berjumlah paling banyak 125% (seratus dua puluh lima persen) dari jumlah maksimal untuk kategori jumlah penduduk DKI Jakarta sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. Aceh Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perlu diberikan kekhususan tugas. Untuk itulah Pemerintah Pusat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (LN 2007 No. 7. 4. UU ini mengatur kekhususan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu kota Negara. TLN 4744). 2. Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekhususan tugas. termasuk mendampingi Presiden dalam acara kenegaraan. Provinsi DKI Jakarta berkedudukan sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 6. 93.

Pengakuan sifat istimewa dan khusus oleh Negara kepada Aceh sebenarnya telah melalui perjalanan waktu yang panjang. dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh. Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan daerah provinsi dalam sistem NKRI berdasarkan UUD Tahun 1945 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. UU 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah tercermin melalui pemberian kewenangan untuk pemanfaatan sumber pendanaan yang ada. Otonomi ini diberikan oleh Negara Republik Indonesia melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 (LN 2001 No. Papua Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tatanan otonomi seluas-luasnya yang diterapkan di Aceh berdasarkan UU Pemerintahan Aceh ini merupakan subsistem dalam sistem pemerintahan secara nasional. diharapkan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan di Aceh untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan dan keadilan yang berkesejahteraan di Aceh. 135 TLN No 4151). Otonomi Khusus sendiri adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua. 4. Tercatat setidaknya ada tiga peraturan penting yang pernah diberlakukan bagi keistimewaan dan kekhususan Aceh yaitu Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1959 tentang Keistimewaan Provinsi Aceh. kedudukan. 2. TLN 4633). dan UU 18/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.Hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-undang ini adalah: 16 .Pengakuan Negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62. 5. UU Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial. ekonomi. Implementasi formal penegakan syari’at Islam dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan kewarganegaraan. Hal-hal mendasar yang menjadi isi UU Pemerintahan Aceh ini antara lain: 1. Dengan dikeluarkannya UU Pemerintahan Aceh. 3. untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. termasuk provinsi-provinsi hasil pemekaran dari Provinsi Papua. serta politik di Aceh secara berkelanjutan. Pengaturan dalam Qanun Aceh maupun Kabupaten/Kota yang banyak diamanatkan dalam UU Pemerintahan Aceh merupakan wujud konkret bagi terselenggaranya kewajiban konstitusional dalam pelaksanaan pemerintahan tersebut.

dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. serta Majelis Rakyat Papua sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu. dan yudikatif. Kedua. percepatan pembangunan ekonomi. pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. Keberadaan Pemerintah. Pemerintah Kabupaten/Kota. semua diarahkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan pemberdayaan rakyat. serta perangkat di bawahnya. pembangunan berkelanjutan. 2. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. adalah semua orang yang menurut ketentuan yang berlaku terdaftar dan bertempat tinggal di Provinsi Papua. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. dan 3. Undang-undang ini juga mengandung semangat penyelesaian masalah dan rekonsiliasi. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: 1. pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. dan Ketiga.• • • Pertama. antara lain dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. eksekutif. penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. Pembentukan komisi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan tujuan memantapkan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia di Provinsi 17 . agama. tugas. pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. Pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. Sedangkan penduduk Papua. Pemerintah Provinsi. penegakan supremasi hukum. penghormatan terhadap HAM. Orang asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Provinsi Papua dan/atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua. pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan. dan kaum perempuan. pembagian wewenang. • Keempat. Otonomi khusus melalui UU 21/2001 menempatkan orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subjek utama.