P. 1
Otonomi Daerah

Otonomi Daerah

|Views: 113|Likes:
Published by Ivan Yogi Saragih

More info:

Published by: Ivan Yogi Saragih on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2015

pdf

text

original

PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN OTONOMI DAERAH Memperhatikan keanekaragaman

1

aspek

demokrasi,

keadilan,

pemerataan

serta

potensi

dan

2 Otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab 3 Otoda yang luas dan utuh untuk Kabupaten, Otoda yang terbatas untuk Propinsi 4 Sesuai dengan konstitusi sehingga terjamin hubungan serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah 5 Lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom sehingga dalam kabupaten tidak ada wilayah administrasi 6 Peningkatan peran dan fungsi Badan Legislatif Daerah wilayah administrasi 7 Asas dekonsentrasi diletakkan pada Propinsi sebagai wilayah administrasi 8 Asas Tugas Pembantuan diberikan dari Pemerintah kepada Daerah serta dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa

Otonomi daerah di Indonesia
Otonomi daerah di Indonesia Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu: 1. Nilai Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"), yang berarti kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan 2. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang ketatanegaraan. [1] Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik berat pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II) [2]dengan beberapa dasar pertimbangan[3]: 1. Dimensi Politik, Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehingga risiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim; 2. Dimensi Administratif, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat relatif dapat lebih efektif;

1

25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 4. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah 3. prinsip otonomi yang dianut adalah: 1. Bertanggung jawab. Undang-Undang No. pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia. Undang-Undang No.3. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan panglima. dibentuklah Undang-Undang No. dan 3. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 6. dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Perpu No. berwenang dan 2 . wewenang. Undang-Undang No. Dinamis. Mengacu pada UU ini. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. 2. Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati IIlah yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah 2. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 5. digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya. Otonomi Daerah adalah hak. Undang-Undang No. Atas dasar itulah. selanjutnya disebut Daerah. dan mobilisasi massa atas dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Nyata. otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di daerah. Banyak prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru. pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan maju Aturan Perundang-undangan Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah: 1. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 7. pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar pembangunan di seluruh pelosok tanah air. terutama keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program pembangunan dari pusat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru Sejak tahun 1966.[4] Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang No. Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi inilah.

[9] untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.[13] Dari dua bagian tersebut di atas. Desentralisasi.[8] Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II (Kabupaten/Kotamadya). diatur dalam Pasal 27. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusatdaerah yang dirangkum dalam tiga prinsip: 1. dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri. wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban memberikan keterangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun. Tugas Pembantuan (medebewind).[10] dengan hak. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c) bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batas-batas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundangundangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah. namun dalam prakteknya yang terjadi adalah sentralisasi (baca: kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun 3 . prakarsa. dan penyelidikan).berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.[7] dan 3. fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. atau apabila diminta oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.[6] 2. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. b)menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara. mengadakan perubahan. [5] Undang-undang No. mengajukan pernyataan pendapat.[11] Berkaitan dengan susunan. mengamankan serta mengamalkan PANCASILA dan UUD 1945. nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. meminta keterangan. Dekonsentrasi. penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya. serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan. tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota. 28. atau jika dipandang perlu olehnya. dan d) memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah. 5 Tahun 1974 adalah suatu komitmen politik.[12] dan kewajiban seperti a) mempertahankan. pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabat di daerah. dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (hak anggaran.

Di samping itu. Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak. nyata dan bertanggung jawab. pembentukan negara federal. 5 Tahun 1974. yang dalam Undang-undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu. Pada masa ini. Salah satu fenomena paling menonjol dari pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974 ini adalah ketergantungan Pemda yang relatif tinggi terhadap pemerintah pusat. pemerintahan Habibie memberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru untuk menggantikan Undang-Undang No. otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah. 3. yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II. Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis). Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tidak dipergunakan lagi. karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas. serta meningkatkan peran dan fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. Pemerintahan Habibie yang memerintah setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan yaitu[14]: 1.implementasi pembangunan Indonesia. Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif. sedang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri. yaitu dengan memberlakukan Undang-Undang No. 2. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah. yang berarti mengurangi peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah. 2. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. atau 3. Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undang-undang sebelumnya antara lain : 1. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat. 4 . membuat pemerintah provinsi sebagai agen murni pemerintah pusat.

9. dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang. yang ditetapkan dengan undang-undang. Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. 10. jumlah penduduk. pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. sosial budaya. daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain. potensi daerah. standar. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. DPRD mempunyai fungsi pengawasan. 6. 5. 12. 11. bulat dan menyeluruh. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas. Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman yang ditetapkan Pemerintah. kabupaten. nyata dan bertanggung jawab. Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas. Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil dihitung secara lurus dari garis pangkal pantai. kota dan desa. Gubernur selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden. dan dipilih bersama pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD. Misalnya kewenangan di bidang perhubungan.bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh. tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut sebatas 1/3 wilayah laut propinsi. 7. yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Sedang yang selama ini disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat. anggaran dan legislasi daerah. Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam hubungan ini. kecuali bidang politik luar negeri. prosedur yang ditetapkan pemerintah. pemberhentian. diganti menjadi daerah propinsi dengan kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi. kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah administrasi. peradilan. pemindahan. 13.4. Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan. Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD bukan unsur pemerintah daerah. dimana semua kewenangan pemerintah. yaitu wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan kepadanya. penetapan pensiun. 5 .[15] 8. pekerjaan umum. dan pertimbangannya lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. sedang pada propinsi otonomi yang terbatas. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah. daerah. hankam. luas daerah. sosial politik. moneter dan fiskal serta agama dan bidang. berdasarkan nama. Mengenai asas tugas pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi.

kehutanan dan perkebunan dan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu sepenuhnya diserahkan pada daerah. potensi dan keanekaragaman daerah. Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah Agar dalam penyelenggaraan otonomi daerah yang menitik beratkan pada Daerah sesuai dengan tujuannya. Kantor Wilayah dan Kandep dihapus. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas. penelitian dan pengembangan. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan kota. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administratif untuk melaksanakan 6 . baik fungsi legislatif. pemerataan. Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD. 2. 3. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom dan karenanya dalam daerah kabupaten dan daerah kota tidak ada bagi wilayah administrasi. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. Asisten Sekwilda. 7. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintah daerah. dan DPRD dapat meminta Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali tidak dapat diterima oleh DPRD. pendidikan dan latihan. pengawasan dan badan usaha milik daerah. 6. seperti yang dijelaskan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 bahwa penyelenggaraan pemerintah daerah mempunyai prinsip sebagai berikut: 1. Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara membentuk badan pengelola tersendiri. keadilan. Selain DPRD. Lembaga pembantu Gubernur. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. Dinas-Dinas Teknis Daerah. 4. nyata dan bertanggung jawab. Lembaga Staf Teknis Daerah. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. 14. serta antar daerah. Pembantu Bupati/Walikota. Pelaksanaanh otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. 15. 5. Sekretariat Daerah. baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga. seperti yang menangani perencanaan. yang terdiri dari Kepala Daerah. daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah. sedangkan untuk propinsi merupakan otonomi yang terbatas.

pemantauan/monitoring. Terutama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan agar implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dapat berjalan dengan baik. akan tetapi masih tetap dalam kerangka memperkokoh negara kesatuan sesuai dengan konstitusi yang berlaku.2014 2.2009 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahunnya. Koordinasi Penyusunan RKP 2010 dan RPJMN 2010 . 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. dan penyusunan database terhadap Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang merupakan pelaksanaan dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah seperti yang termuat dalam RPJM (Rencana Program Jangka Menengah) Tahun 2004 .PPN/09/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara PPN/Bappenas. Berdasarkan prinsip tersebut di atas.kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. Saat ini. untuk melaksanakan UU 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sesuai Surat Keputusan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor PER: 01/M. yaitu: 1. maka Pemerintah melalui UU No. Terkait dengan hal tersebut maka pada tahun anggaran 2009 telah diselesaikan serangkaian kegiatan tahunan yang merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) dari Direktorat Otonomi Daerah. Monitoring/Pemantauan pelaksanaan RKP tahun 2009 bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 7 . maka dapat diartikan bahwa peranan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah cukup besar. dan peran serta masyarakat. Selain itu. Prinsip-prinsip tersebut perlu dipahami oleh setiap aparatur pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat dan pemerintah pusat sebagai perumus kebijaksanaan. LAPORAN KEGIATAN DIREKTORAT OTONOMI DAERAH TAHUN 2009 Adanya tuntutan reformasi serta amanat konstitusi. Direktorat Otonomi Daerah ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan koordinasi. evaluasi. pemberdayaan.

Evaluasi pelaksanaan RKP 2009 bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 4. Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. lebih nyata dan bertanggung jawab. Daerah otonom. wewenang. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 2. 6. memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. wewenang.3. 5. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terutama dalam mengatur. Otonomi daerah adalah hak. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 2 8 . Penyusunan database dan sistem informasi bidang desentralisasi dan otonomi daerah tahun 2009 5. juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas. selanjutnya disebut daerah. dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kajian Perumusan Rancangan Arah Kebijakan Jangka Menengah Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah 2010-2014 Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak.

serta perangkat daerah. pelayanan umum. (3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. BAB II PEMBENTUKAN DAERAH DAN KAWASAN KHUSUS Bagian Kesatu Pembentukan Daerah Pasal 4 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. cakupan wilayah. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. ibukota. (3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi seluasluasnya. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. potensi daerah. dan dokumen. (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. sosial 9 . pendanaan. penunjukan penjabat kepala daerah. pengalihan kepegawaian. dan fisik kewilayahan. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. batas. pengisian keanggotaan DPRD. teknis. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah. dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. peralatan. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur.(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah. (2) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. dan daya saing daerah.

dan h. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pertahanan. mengelola kekayaan daerah. sarana. kependudukan. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. daerah mempunyai kewajiban: a. sosial politik. f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah.budaya. Bagian Ketiga Hak dan Kewajiban Daerah Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. b. lokasi calon ibukota. e. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. menjaga persatuan. c. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. d. keamanan. dan prasarana pemerintahan. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. d. daerah mempunyai hak: a. f. memilih pimpinan daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. e. melindungi masyarakat. mewujudkan keadilan dan pemerataan. b. g. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. g. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. 10 . mengembangkan kehidupan demokrasi. c. mengelola aparatur daerah. luas daerah. kesatuan dan kerukunan nasional.

n. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. dan o. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. i. Sedangkan tujuan administrative akan memposisikan Pemda sebagai unit pemerinthan di tingkat local yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakat secara efektif dan ekonomis. Tujuan Otonomi Daerah Otonomi daerah merupakan suatu wujud demokrasi yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah daerah untuk mengurus sendiri rumah tanggannya dengan tetap berpegang kepada peraturan perundangan yang berlaku. melestarikan nilai sosial budaya. melestarikan lingkungan hidup. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. rumaha sakit. Otonomi dijadikan sebagai pembatas besar dan luasnya daerah otonom dan hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah untuk menghindari daerah otonom menjadi Negara dalam Negara. m. Sedangkan bentuk pelayanan lainnya adalah yang bersifat penyediaan public goods yaitu barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti jalan. pasar. pemda akan kesulitan dalam memberikan akuntabilitas atas legitimasi yang telah diberikan kepada pemda untuk mengatur dan mengurus masyarakat. Pelayanan yang disediakan Pemda kepada masyarakat ada yang bersifat regulative(pengaturan) seperti mewajibkan penduduk untuk mempunyai KTP. k. mengelola administrasi kependudukan. Ada dua tujuan yang ingn dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitu tujuan politik dan tujuan administrative. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Apapun barang dan regulasi yang disediakan oleh Pemda haruslah menjawab kebutuhan riil warganya. Daerah otonom adalah batas wilayah tertentu yang berhak. 11 . Tujuan Politik akan memposisikan Pemda sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakat di tingkat local dan secara nasional unutk mempercepat terwujudnya civil society. KK.h. l. mengembangkan sistem jaminan sosial. IMB. dsb. j. Tanpa itu. terminal dsb.

wakil-wakil rakyat tersebut akan selalu menyerap.Misi keberadaan Pemda adalah begaimana mensejahterahkan masyarakat melalui penyediaan pelayanan public secara efektif.masing.undang otonomi daerah. meninggalkan belang. perlu dicermati terus menerus demi keberhasilannya demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran rakyat di semua bagian negara berdasarkan potensi dan keanekaragamannya tanpa meninggalkan prinsip kesatuan Republik Indonesia. Dengan adanya undang. Namun. karena merupakan kebanggaan tersendiri. menjadi salah satu factor untuk memajukan daerah itu sendiri.bondong balik kekampung dan daerahnya masing. Membangun dan Memajukan Daerah Wacana pembangunan daerah sudah lama didengungkan saat adanya undang. Banyaknya potensi lahan di daerah yang belum digarap. Daerah kelahiran mereka yang dulu telah lama ditinggalkan. baik dalam segi ekonomi. dan agama.undang ini maka tanpa disadari para gubernur dan bupati menjadi raja kecil ataupun presiden di daerahnya sendiri. budaya. mengartikulasikan serta meng-agregasikan aspirasi rakyat tersebut kedalam kebijakan-kebijakan public tingkat local.masing untuk mencari simpati atau tebar pesona kepada masyarakat sekitar asal mereka. dan ekonomis serta melalui cara-cara yang demokratis. seperti pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading. Semangat otonomi daerah memang harus dimiliki oleh setiap putra daerah. dalam agama manapun juga diajarkan. Yang tak dapat dilupakan. pendidikan. mereka berbondong. karena hal inilah maka perebutan kursi untuk menduduki jabatan gubernur atau bupati menjadi sangat didambakan semua insan politik di tanah air. dan manusia mati meninggalkan kebaikan dan amal perbuatan”. 12 . Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah atau KPPOD adalah lembaga independen pemantauan pelaksanaan otonomi daerah yang lahir dari sebuah pemikiran bahwa pelaksanaan otonomi daerah sejak tanggal 1 Januari 2001 sebagaimana di atur dalam Undang Undang No. kebijakan public di tingkat local tidak boleh bertentangan dengan kebijakan public nasional dan diselenggarakan dalam koridorkoridor norma. efisien.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang No. Demokrasi pada pemda berimplikasi bahwa pemda dijalankan oleh masyarakat sendiri melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih secara demokratis dan dalam menjalankan misinya mensejahterahkan rakyat.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. sekarang menunggu dan menanti untuk dimajukan oleh putra daerah masing. harimau mati. Pepatah inilah yang harus selalu diingat selama mengisi kehidupan di dunia dan sebagai bekal di akherat. nilai dan hukum positif yang berlaku pada Negara dan bangsa tersebut.

daerah kabupaten. dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.Atas pertimbangan itu. media masa dan pihak pihak lain yang mempunyai perhatian mengenai otonomi daerah. dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah Daerah Provinsi. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Sementara itu. ketidakjelasan kebijakan fiskal pusat-daerah. Melalui berbagai diskusi persiapan maka pada tanggal 1 Maret 2001 secara resmi telah direalisasikan pembentukan Yayasan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) atau Regional Autonomy Watch. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Bupati. Keinginan ini diawali dengan penyelenggaraan Diskusi Nasional "Menyelamatkan Otonomi Daerah" tanggal 7 Desember 2000 yang dihadiri kalangan bisnis. Kebutuhan itu terasa sebab munculnya berbagai permasalahan. Berbagai hambatan perdagangan antar daerah dapat menghancurnya keutuhan ekonomi nasional dan menumpulkan daya saing internasional ekonomi Indonesia. Bahaya dari perkembangan ini adalah timbulnya ekonomi berbiaya tinggi. pemerintah propinsi. pemerintah daerah. dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. akademisi. lemahnya sinergi kebijakan pembangunan di Daerah dan antar Daerah. Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi. CSIS dan LPEM-FEUI ingin ikut memberikan kontribusi pemikiran dan upaya untuk mengoptimalkan tujuan pelaksanaan otonomi daerah. lemahnya koordinasi pemerintah Pusat dan Daerah (Propinsi & Kabupaten/Kota). Indonesia adalah sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah Provinsi. retribusi. dan lain-lain) yang bertentangan dengan prinsip prinsip dasar mekanisme ekonomi. DPRD. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah Kabupaten dan daerah Kota. Pemerintahan daerah provinsi. Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis. Gubernur. Pada gilirannya semua ini akan menghambat investasi dan pada akhirnya akan membawa dampak negatif bagi upaya menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan rakyat. KPEN-KADIN. Hubungan keuangan. kabupaten. kabupaten. dan setumpuk permasalahan lainnya. Negara mengakui dan 13 . pelayanan umum. seperti: disharmoni produk produk hukum Nasional dan Daerah. Setiap daerah provinsi. dalam pelaksanaan otonomi daerah telah muncul berbagai kebijakan daerah (pajak. pemerintah pusat. dan daerah kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. koordinasi kekuasaan Eksekutif dengan Legislatif yang kontraproduktif.

4. Selain itu. UU Khusus Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain diatur dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah diberlakukan pula ketentuan khusus yang diatur dalam undang-undang lain. DKI Jakarta Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan undang-undang. Bagi Provinsi Papua dan Papua Barat diberlakukan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Bagi Provinsi NAD diberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. dan Provinsi Papua Barat. 2. 1. Provinsi Aceh. Daerah khusus Dari Wikipedia bahasa Indonesia. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. 2. negara mengakui dan menghormati hak-hak khusus dan istimewa sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang dimaksud satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus adalah daerah yang diberikan otonomi khusus. cari Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi. Bagi Provinsi DKI Jakarta diberlakukan UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 14 . Daerah-daerah yang diberikan otonomi khusus ini adalah 1. dan 3. 3. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang diatur dalam undang-undang. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Provinsi Papua.

TLN 4744). Provinsi DKI Jakarta berkedudukan sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. hak. 6. dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Untuk itulah Pemerintah Pusat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (LN 2007 No. Gubernur dapat menghadiri sidang kabinet yang menyangkut kepentingan Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang dipimpin oleh seorang Gubernur.Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Provinsi DKI Jakarta) sebagai satuan pemerintahan yang bersifat khusus dalam kedudukannya sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai daerah otonom memiliki fungsi dan peran yang penting dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aceh Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Beberapa hal yang menjadi pengkhususan bagi Provinsi DKI Jakarta antara lain: 1. Wilayah Provinsi DKI Jakarta dibagi dalam kota administrasi dan kabupaten administrasi. 3. serta pusat/perwakilan lembaga internasional. Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta berjumlah paling banyak 125% (seratus dua puluh lima persen) dari jumlah maksimal untuk kategori jumlah penduduk DKI Jakarta sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. 7. perlu diberikan kekhususan tugas. 93. Provinsi DKI Jakarta adalah daerah khusus yang berfungsi sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. Oleh karena itu. Dana dalam rangka pelaksanaan kekhususan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu kota Negara ditetapkan bersama antara Pemerintah dan DPR dalam APBN berdasarkan usulan Pemprov DKI Jakarta. hak. termasuk mendampingi Presiden dalam acara kenegaraan. 2. UU ini mengatur kekhususan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu kota Negara. Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekhususan tugas. dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing. 15 . kewajiban. Aturan sebagai daerah otonom tingkat provinsi dan lain sebagainya tetap terikat pada peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. 5. kewajiban. Gubernur mempunyai hak protokoler.

diharapkan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan di Aceh untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan dan keadilan yang berkesejahteraan di Aceh. termasuk provinsi-provinsi hasil pemekaran dari Provinsi Papua. ekonomi. untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. UU 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan daerah provinsi dalam sistem NKRI berdasarkan UUD Tahun 1945 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. Papua Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tatanan otonomi seluas-luasnya yang diterapkan di Aceh berdasarkan UU Pemerintahan Aceh ini merupakan subsistem dalam sistem pemerintahan secara nasional. 5. Pengaturan dalam Qanun Aceh maupun Kabupaten/Kota yang banyak diamanatkan dalam UU Pemerintahan Aceh merupakan wujud konkret bagi terselenggaranya kewajiban konstitusional dalam pelaksanaan pemerintahan tersebut.Hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-undang ini adalah: 16 . Hal-hal mendasar yang menjadi isi UU Pemerintahan Aceh ini antara lain: 1. 4. Otonomi Khusus sendiri adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua. UU Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial. serta politik di Aceh secara berkelanjutan. Pengakuan sifat istimewa dan khusus oleh Negara kepada Aceh sebenarnya telah melalui perjalanan waktu yang panjang. 2. Implementasi formal penegakan syari’at Islam dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan kewarganegaraan. Pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah tercermin melalui pemberian kewenangan untuk pemanfaatan sumber pendanaan yang ada. Dengan dikeluarkannya UU Pemerintahan Aceh. 3.Pengakuan Negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62. dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh. Tercatat setidaknya ada tiga peraturan penting yang pernah diberlakukan bagi keistimewaan dan kekhususan Aceh yaitu Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1959 tentang Keistimewaan Provinsi Aceh. kedudukan. 135 TLN No 4151). Otonomi ini diberikan oleh Negara Republik Indonesia melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 (LN 2001 No. dan UU 18/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. TLN 4633).

pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. dan kaum perempuan. penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. tugas. agama. Kedua. penghormatan terhadap HAM.• • • Pertama. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. • Keempat. Keberadaan Pemerintah. dan 3. 2. percepatan pembangunan ekonomi. Pemerintah Provinsi. partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan. antara lain dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Otonomi khusus melalui UU 21/2001 menempatkan orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subjek utama. dan Ketiga. pembangunan berkelanjutan. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. Pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. serta perangkat di bawahnya. pembagian wewenang. Orang asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Provinsi Papua dan/atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua. Undang-undang ini juga mengandung semangat penyelesaian masalah dan rekonsiliasi. eksekutif. Pemerintah Kabupaten/Kota. semua diarahkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan pemberdayaan rakyat. Pembentukan komisi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan tujuan memantapkan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia di Provinsi 17 . adalah semua orang yang menurut ketentuan yang berlaku terdaftar dan bertempat tinggal di Provinsi Papua. Sedangkan penduduk Papua. dan yudikatif. serta Majelis Rakyat Papua sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu. pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. penegakan supremasi hukum. pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->