P. 1
makalah parasitologi trematoda darah dan jaringan

makalah parasitologi trematoda darah dan jaringan

|Views: 4,224|Likes:
Published by Nini Ci Enduutt

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Nini Ci Enduutt on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Trematoda atau cacing daun termasuk dalam filum Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit.Banyak sekali macam hewan yang dapat berperan sebagai hospes definitif bagi cacing trematoda ,sebut saja kucing ,anjing, sapi ,babi, tikus, burung, dan harimau. Tidak ketinggalan manusia pun merupakan hospes utama bagi cacing trematoda. Trematoda menurut tempat hidupnya dibagi menjadi empat yaitu trematoda hati, trematoda paru, trematoda usus, dan trematoda darah. (FKUI, 1998) Makalah ini akan membahas tentang Trematoda darah dan jaringan (Trematoda paru dan trematoda hati). Pada trematoda darah akan membahas tiga spesies pentingnya yaitu Schistosoma mansoni,

Schistosoma japonicum dan Schistosoma haematobium. Paragonimus westermani pada trematoda paru dan pada trematoda hati akan membahas Clonorchis sinensis, Opistorchis felineus, dan Fasciola hepatica. (Onggowaluyo, 2001) Secara umum cacing – cacing ini mempunyai hospes definitif manusia. Cacing tersebut sebagian juga dapat kita temukan di Indonesia seperti Schistosoma japonicum, Paragonimus westermani dan Clonorchis sinensis (Onggowaluyo,2001). Oleh sebab itu diperlukan informasi yang jelas dan tepat mengenai spesies dari cacing tersebut, habitatnya, gejala penyakit, pengobatan, pencegahan dan juga pengandaliannya, untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit yang dapat timbul akibat cacing trematoda.

1|Page

B. Tujuan Tujuan penyusunan makalah berjudul “Trematoda Parasit Darah dan Jaringan ini adalah : 1. Untuk mengetahui klasifikasi Trematoda Darah dan Jaringan 2. Untuk mengetahui hospes dan nama penyakit yang ditimbulkan oleh Trematoda Darah dan Jaringan 3. Untuk mengetahui morfologi Trematoda Darah dan Jaringan 4. Untuk mengetahui distribusi geografik Trematoda Darah dan Jaringan 5. Untuk mengetahui siklus hidup Trematoda Darah dan Jaringan 6. Untuk mengetahui epidemiologi Trematoda Darah dan Jaringan 7. Untuk mengetahui patologi dan gejala klinis yang ditimbulkan oleh Trematoda Darah dan Jaringan 8. Untuk menngetahui diagnosis yang harus dilakukan dalam penanganan Trematoda Darah dan Jaringan 9. Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit akibat Trematoda Darah dan Jaringan 10. Untuk mengetahui pencegahan yang harus dilakukan agar tidak terjangkit penyakit yang disebabakan oleh Trematoda Darah dan Jaringan

2|Page

BAB II ISI

A. Trematoda Darah 1. Schistosoma japonicum a) Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Subkelas Ordo Genus Spesies : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Digenea : Strigeidida : Schistosoma : Schistosoma Japonicum

b) Hospes dan Nama Penyakit

Hospes utamanya adalah manusia dan beberapa jenis hewan seperti tikus sawah, babi hutan, sapi dan anjing hutan. Hospes perantara dari cacing ini adalah keong air ( Oncomelania sp ) dan di Indonesia yaitu keong air Oncomelania hupensis lindoensis ( Onggowaluyo, 2001 ). Habitat keong air yang berada di Danau Lindu adalah di daerah ladang, sawah yang tidak terpakai lagi, parit diantara sawah dan di daerah hutan perbatasan bukit, serta dataran rendah. (FKUI, 1998)
3|Page

Manusia

merupakan

hospes

definitive

Schistosoma

japonicum (oriental blood fluke), sementara babi, anjing, kucing, kerbau, sapi, kambing, kuda, dan rodensia merupakan hospes reservoir. Membutuhkan hospes perantara siput air tawar spesies Oncomelania nosophora, O. hupenis, O. formosona, O. hupensis lindoensis di danau lindu (Sulawesi tengah) dan O. quadrasi. Siput ini berukuran kecil, operculate, bersifat amphibi serta dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam keadaan yang relative kering (Natadisastra, 2005) Parasit ini akan menyebabkan penyakit yaitu Oriental schistosomiasis, Schistosomiasis japonica dan penyakit Katayama atau demam keong.

(Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi Cacing dewasa menyerupai Schistosoma mansoni dan S. haematobium akan tetapi tidak memiliki integumentary

tuberculation. Cacing jantan, panjang 12-20 mm, diameter 0,500,55 mm, integument ditutupi duri-duri sangat halus dan lancip, lebih menonjol

pada daerah batil isap dan kanalis ginekoporik, memiliki buah Cacing (6-8) testis. betina,

panjang ± 26 mm dengan diameter

4|Page

± 0,3 mm. Ovarium dibelakang pada pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria terbatas di daerah lateral ¼ bagian posterior tubuh. Uterus merupakan saluran yang panjang dan urus berisi 50-100 butir telur. Telur berhialin, subsperis atau oval dilihat dari lateral, dekat salah satu kutub terdapat daerah melekuk tempat tumbuh semacam duri rudimenter (tombol); berukuran (70-100) × (50-65) m. khas sekali, telur diletakkan dengan memusatkannya pada vena kecil pada submukosa atau mukosa organ yang berdekatan. Tempat telur s. japonicum biasa pada percabangan vena mesenterika superior yang mengalirkan darah dari usus halus (Natadisastra, 2005). Telur-telur cacing Schistosoma japonicum lebih besar dan lebih bulat disbanding jenis lainnya, berukuran panjang 70 – 100 mm dan lebarnya 55 – 64 mm. Tulang belakang di telur S. japonicum lebih kecil dan kurang mencolok dibandingkan spesies lainnya.

d) Distribusi geografik Parasit S. japonicum ditemukan di Asia terutama di Cina, Filipina, Jepang (saat ini sudah tidak ditemukan lagi karena program pengendalian telah sukses dilaksanakan). Indonesia dapat ditemukan dibeberapa lembah yang terisolasi di Sulawesi Tengah (sekitar

Danau Lindu pada tahun 1937 dan Lembah Napu ditemukan tahun 1972. ( Departement of parasitology Univ. Cambridge, 2010)

5|Page

e) Siklus Hidup

Schistosoma hidup terutama di dalam vena mesenterika superior, di tempat ini betina menonjolkan tubuhnya dari yang

jantan atau meninggalkan yang jantan untuk bertelur di dalam venula-venula mesenterika kecil pada dinding usus. Telur berbentuk oval hingga bulat, dan memerlukan waktu beberapa hari untuk berkembang menjadi mirasidium matang di dalam kulit telur. Massa telur menyebabkan tekanan pada dinding venula yang tipis, yang biasanya dilemahkan oleh sekresi dari kelenjar histolitik mirasidium yang masih berada di dalam kulit telur. Dinding itu kemudian sobek, dan telur menembus lumen usus yang kemudian keluar dari tubuh. Pada infeksi berat, beribu-ribu cacing ditemukan di dalam pembuluh darah (Muslim, 2009). Selanjutnya jika kontak dengan siput sesuai, larva menembus jaringan lunak dalam 5-7 minggu, membentuk generasi
6|Page

pertama dan kedua sporokista. Pada perkembangan selanjtunya dibentuk cercaria yang bercabang. Cercaria ini dikeluarkan jika siput berada pada atau di bawah permukaan air. Dalam waktu 24 jam, cercaria menembus kulit sebagai hasil kerja kelenjar penetrasi yang menghasilkan enzim proteolitik, menuju jalinan kapiler, ke dalam sirkulasi vena menuju jantung kanan dan paru-paru, terbawa sampau ke jantung kiri menuju sirkulasi sistemik. Tidak sepenuhnya rute perjalanan ini diambil oleh schistosomula (schistosoma muda) pada migrasi mereka dari paru-paru ke hati. Mungkin seperti S. mattheei, schistosomula merayap melawan aliran darah sepanjang dinding A. Pulmonalis, jantung kanan, dan vena cava menuju ke hati melalui vena hepatica. Infeksi dapat bertahan untuk jangka waktu yang tidak terbatas, dapat mencapai 47 tahun. (Natadisastra, 2005) Penetasan berlangsung di dalam air. Walaupun Ph, kadar garam, suhu, dan aspek lainnya penting, faktor-faktor di dalam telur berperan utama dalam proses penetesan. Migrasi Schistosoma japonicum ke dalam tubuh dimulai dari masuknya cacing tersebtu ke dalam pembuluh darah kecil, kemudian ke jantung dan sistem peredaran darah. Cacing yang sedang migrasi biasanya tidak atau sedikit menimbulkan kerusakan atau gejala, tetapi kadang terjadi reaksi hebat, misalnya pneumonia akibat masuknya cacing ke dalam paru. Schistosoma japonicum merupakan penyakit yang ebih berat dan destruktif daripada penyakit yang disebabkan oleh dua spesies lain yang biasa menginfeksi manusia (Muslim, 2009)

f) Epidemiologi Schistosoma japonicum adalah satu-satunya trematoda darah pada manusia yang kebetulan ditemukan di Cina. Ini yang adalah

penyebab schistosomiasis japonica,

penyakit

masih tetap

7|Page

menjadi masalah kesehatan yang signifikan terutama di daerah danau dan tanah rawa. Schistosomiasis adalah infeksi yang

disebabkan terutama oleh tiga spesies schistosome berikut yaitu Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum Schistosoma haematobium. S. japonicum yang memiliki dan sifat

paling menular diantara ketiga spesies tersebut. (Tie-Wu Jia et al, 2007) Infeksi dengan demam Katay ama akut. Catatan sejarah penyakit Kata yama menunjukan kembali penemuan oleh cacing schistosomes diikuti

S. japonicum di Jepang pada tahun 1904. Penyakit ini dinamai sesuai dengan daerah endemic tersebut yaitu Katayama, Hiroshima, Jepang (Ishii A et al, 2003). Jika tidak diobati, ia akan berkembang menjadi suatu kondisi kronis yang ditandai dengan penyakit hepatosclemic dan perkembangan fisik dan kognitif terganggu. Tingkat keparahan Schistosoma japonicum muncul dalam 60% dari semua penyakit saraf di Schistosomes karena migrasi telur ke otak. (Robert et al, 2005) Strain bersifat geographical. Telah diketahui ada 2 strain, yaitu strain Thailand-malasyia dan strain Sulawesi. Terdapat perbedaan pada kedua strain tersebut, yaitu pada tuan rumah yang

8|Page

sesuai. Di Indonesia, di pulau Sulawesi, keadaan endemic tinggi di daerah danau lindu. Pada tahun 1971 dari pemeriksaan tinja terdapat infeksi s. japonicum 53 % dari 126 orang penduduk pada usia antara 7-70 tahun, dan di lembah Napu dilaporkan infection rate 8 dan 12 % pada dua desa serta 7 % pada Ratus exulans, tikus liar .

g) Patologi dan Gejala Klinis Setelah parasit memasuki tubuh inang dan memproduksi telur, parasit menggunakan system kekebalan inang (granuloma) untuk transportasi telur ke dalam usus. Telur merangsang di pembentukan mereka.

granuloma

sekitar

Granuloma yang terdiri dari sel motil membawa telur ke dalam lumen usus. Ketika dalam lumen, sel granuloma membubarkan

meninggalkan telur untuk dibuang dalam feses. Sayangnya sekitar 2/3 dari telur tidak dikeluarkan, sebaliknya mereka berkembang di usus. Hal ini dapat menyebabkan fibrosis. Pada kasus kronis, Schinostoma japonicum adalah pathogen sebagian besar spesies Schistosoma karena memproduksi hingga 3000 telur per hari, sepuluh kal lebih besar dari Schistosoma mansoni. (Robert et al, 2005) Sebagai penyakit kronis, parasit ini dapat menyebabkan demam Katayama, fibrosis hati, sirosis hati, hipertensi hati portal, spinomegali dan ascites. Beberapa telur mungkin lewat hati dan masuk paru-paru, system saraf dan organ lain di mana mereka dapat

9|Page

memengaruhi kesehatan individu yang terinfeksi. (Robert et al, 2005)

h) Diagnosis Identifikasi mikroskopis telur dalam tinja atau urin adalah metode yang paling praktis untuk diagnosis. Pemeriksaan feses harus dilakukan ketika infeksi S. mansoni atau S. japonicum dicurigai, dan pemeriksaan urin harus dilakukan jika diduga terinfeksi

S. haematobium . Telur dapat berada dalam tinja pada infeksi semua spesies Schistosoma. Pemeriksaan dapat dilakukan pada Pap sederhana ( pap untuk 1 sampai 2 mg feces). Sejak telur dapat ditularkan sebentarsebentar atau dalam jumlah kecil, deteksi mereka akan ditingkatkan dengan pemeriksaan ulang dan atau melakukan prosedur konsentrasi (seperti formalin - teknik etil asetat). Selain itu, untuk melakukan survei lapangan dan tujuan yang diteliti, keluaran telur dapat diukur dengan mg feces) urin pada menggunakan teknik Kato-Katz (20 sampai 50

atau teknik Ritchie. infeksi koleksi

Telur dapat

ditemukan dalam yang

dengan S. haematobium (waktu antara siang ditingkatkan dan 3

disarankan untuk

sore) dan dengan

S.japonicum. Deteksi akan

dengan sentrifugasi dan

dengan melakukan pemeriksaan sedimen. Kuantifikasi ini bisa dilakukan menggunakan filtrasi melalui membran Nucleopore dari volume standar urin diikuti oleh jumlah telur pada membran. Biopsi jaringan (biopsi rektal untuk semua jenis dan biopsi kandung

kemih untuk parasit S. haematobium) dapat menunjukkan adanya telur ketika pemeriksaan tinja atau urin negatif.

10 | P a g e

Telur S. japonicum kecil,

sehingga

diagnose

teknik

konsentrasi mungkin diperlukan. Biopsi sebagian besar dilakukan untuk menguji schistomiasis kronis tanpa telur. Tes dengan metode ELISA dapat juga dilakukan

untuk menguji antibodi yang spesifik untuk schistosomes. Hasil positif menunjukkan infeksi saat ini atau terakhir (dalam dua tahun terakhir).Pemeriksaan ultrasonografi dapat dilakukan untuk menilai sejauh mana morbiditas hati dan limpa terkait (Tie-Wu Jia et al, 2007). Masalah dengan metode immunodiagnostic adalah bahwa Hanya positif waktu menyeberang tertentu setelah infeksi dan Mereka bisa infeksi cacingan lainnya

atau berinteraksi dengan

(Robert et al, 2005).

i) Pengobatan Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan

prazikuantel. Selain itu dapat juga digunakan natrium antimony tartrat. Obat lainnya tidak memberikan hasil yang memuaskan karena sebenarnya tidak ada obat khusus untuk parasit ini. Obatobatan yang akan menyebabkan terlepasnya pegangan cacing dewasa pada pembuluh darah, sehingga akan tersapu ke dalam hati oleh sirkulasi portal. (Onggowaluyo, 2001)

j) Pencegahan Kontrol infeksi Schistosoma japonicum memerlukan beberapa upaya pencegahan penting yang terdiri dari pendidikan, menghilangkan penyakit dari orang yang terinfeksi, pengendalian vektor dan memberikan vaksin pelindung. (Robert et al, 2005)

11 | P a g e

Pendidikan dapat tetapi sulit juga, meminta

menjadi

cara

yang daya.

sangat efektif, Dilakukan tradisi dan

dengan kurangnya orang

sumber

untuk mengubah kebiasaan,

perilaku dapat menjadi tugas yang sulit (Robert et al, 2005). Mengontrol S. japonicum dengan molluscicide telah terbukti tidak efektif karenaOncomelania bekicot amfibi dan air

hanya sering untuk bertelur (Robert et al, 2005). Kotoran manusia harus dibuang secara higienis. Kotoran manusia di dalam air bila bertemu dengan hospes intermediet siput Oncomelania merupakan penyebab utama untuk kelangsungan hidup cacing schistosoma. Maka, kotoran sisa manusia tidak boleh digunakan untuk nightsoiling (pemupukan tanaman dengan kotoran manusia). Untuk menghindari infeksi, individu harus menghindari kontak dengan air yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan, sumber air terutama yang endemik untuk siput Oncomelania (Robert et al, 2005). Sesaat sebelum memasuki perairan atau daerah air yang berpotensi terinfeksi, repellants cercarial dan salep cercaricidal dapat diterapkan pada kulit sebelum masuk air. Barrier krim tingkat dengan

basis dimethicone ditawarkan perlindungan

tinggi selama

minimal 48 jam (Ingram R.J et al, 2002). Pencarian untuk vaksin praktis terus dan sangat dapat mengambil manfaat daerah bencana (Robert et al, 2005).

2. Schistosoma mansoni a) Klasifikasi Kingdom Filum : Animalia : Platyhelminthes

12 | P a g e

Kelas Subkelas Ordo Genus Spesies

: Trematoda : Digenea : Strigeidida : Schistosoma : Schistosoma mansoni

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes reservoirnya adalah kera Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah keong air tawar genus Biomphalaria sp. dan Australorbis sp.. Habitat cacing ini adalah vena kolon dan rektum. Pada manusia cacing ini dapat menyebabkan Skistosomiasis usus, Disentri mansoni dan Skistosomiasis mansoni. (Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi

Bentuk cacing dewasa seperti S. haematobium, tetapi ukurannya lebih kecil. Cacing betina panjangnya 1.7 – 7.2 mm. Kelenjar vitelaria meluas ke pinggir pertengahan tubuh. Ovariumnya di anterior pertengahan tubuh, uterus pendek berisi 1 – 4 butir telur.

13 | P a g e

Cacing jantan panjangnya 6.4 – 12 mm, gemuk dengan bagian ventral terdapat ginaekoforalis, testes 6 – 9 buah dan kulit terdiri dari duri-duri kasar. Telur berbentuk lonjong, berwarna coklat kekuningkuningan, dinding hyalin, berukuran 114 - 175 x 45 – 64 mikron. Pada satu sisi dekat ujung terdapat duri agak panjang, telur berisi mirasidium. (Onggowaluyo, 2001)

d) Distribusi Geografik Parasit Schistosoma mansoni ditemukan di banyak negara di Afrika, Amerika Selatan (Brasil, Suriname dan Venezuela), Karibia (termasuk Puerto Rico, St Lucia, Guadeloupe, Martinique, Republik Dominika, Antigua dan Montserat) dan di bagian Timur Tengah. (Departement of Parasitology University Cambridge, 2010)

e) Siklus Hidup

14 | P a g e

Manusia terinfeksi oleh serkaria di air tawar melalui penetrasi pada kulit. Serkaria masuk tubuh melalui sirkulasi vena ke jantung, paru-paru dan sirkulasi portal. Setelah tiga minggu serkaria matang dan mencapai vena mesenterika superior usus halus lalu tinggal disana serta berkembang biak (Abdul Ghaffar dan Gregory Brower, 2009). Telur yang dikeluarkan oleh cacing betina di dalam usus menembus jaringan sub mukosa dan mukosa lalu masuk kedalam lumen usus dan keluar bersama tinja. Telur yang berada di air tawar menetas dan melepaskan mirasidium yang kemudian berenang bebas mencari hospes perantaranya yaitu keong. Dalam tubuh keong mirasidium

berkembang menjadi sporokista 1 dan 2 kemudian menjadi larva serkaria yang ekornya bercabang. Serkaria selanjutnya akan mencari hospes definitif dalam waktu 24 jam. ( Onggowaluyo, 2001)

f) Epidemiologi Parasit Schistosoma mansoni ditemukan di banyak negara di Afrika, Amerika Selatan (Brasil, Suriname dan Venezuela), Karibia (termasuk Puerto Rico, St Lucia, Guadeloupe, Martinique, Republik Dominika, Antigua dan Montserat) dan di bagian Timur Tengah. (Departement of Parasitology University Cambridge, 2010) Hospes definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes reservoirnya adalah kera Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah keong air tawar genus Biomphalaria sp. dan Australorbis sp.. Habitat cacing ini adalah vena kolon dan rektum. Pada manusia cacing ini dapat menyebabkan Skistosomiasis usus, Disentri mansoni dan Skistosomiasis mansoni. (Onggowaluyo, 2001)

15 | P a g e

g) Patologi dan Gejala Klinis Patologi yang berhubungan dengan infeksi dengan Schistosma mansoni dapat dibagi menjadi dua bidang utama, yaitu schistosomiasis akut dan kronis. Schistosomiasis akut bisa disebut juga demam Katayama. Hal ini terkait dengan timbulnya parasit betina bertelur (sekitar 5 minggu setelah infeksi), dan pembentukan granuloma sekitar telur terdapat di hati dan dinding usus, menyerupai hepatosplenomegali dan leukositosis dengan eosinofilia, mual, sakit kepala, batuk, dalam kasus yang ekstrim diare disertai dengan darah, lendir dan bahan nekrotik. Gejala kronis akan tampak beberapa tahun setelah infeksi. Gejalanya seperti peradangan pada hati dan jarang ditemukan di organ lain (paru-paru). (Departement of Parasitology University Cambridge, 2010)

h) Diagnosis

S. mansoni dalam kolon

Diagnosis dapat ditentukan dengan menemukan telur di dalam tinja. Beberapa cara untuk melakukan beberapa cara seperti sediaan hapus langsung dari tinja (metode Kato) maupun dengan cara sedimentasi (0,5 % gliserin dalam air). Bila dalam tinja tidak ditemukan telur diagnosis dapat dilakukan dengan tes serologi, sedangkan untuk menemukan telur yang masih segar dalam hati dan

16 | P a g e

usus dapat dilakukan dengan teknik digesti jaringan. (Onggowaluyo, 2001)

i) Pengobatan Natrium antimonium tartrat cukup efektif untuk

pengobatan penyakit yang diakibatkan oleh parasit ini. Stiboven dapat diberikan secara intramuskuler. Nitridiasol juga efektif tetapi bukan sebagai obat pilihan. Obat lain yang cukup baik diberikan pr oral adalah oksamniquin dan nitrioquinolin. (Onggowaluyo, 2001)

j) Pencegahan Pengendalian Schistosomiasis, dengan mengontrol setiap organisme yang memungkinkan untuk menularkan cacing. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi baru, biasanya oleh gangguan siklus hidup parasit. Pencegahan dan pengendalian dapat dicapai dengan sejumlah metode seperti berusaha untuk menghilangkan hospes perantara, penghapusan parasit dari hospes definitif, pencegahan infeksi pada inang definitif dan pencegahan infeksi pada hospes perantara. (Departement of Parasitology University

Cambridge, 2010)

3. Schistosoma haematobium a) Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Subkelas : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Digenea

17 | P a g e

Ordo Family Genus Species

: Strigeidida : Schistosomatidae : Schistosoma : Schistosoma haematobium

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitif dari cacing ini adalah manusia, kera dan baboon. Hospes perantaranya adalah keong air tawar bergenus Bulinus sp., Physopsis sp. dan Biomphalaria sp.. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah skistosomiasis vesikalis, hematuri skistosoma, bilharziasis urinarius. Cacing ini tidak ditemukan di Indonesia. (Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi

Cacing dewasa jantan gemuk berukuran 10-15 x 0,8-1 mm. Ditutupi integumen tuberkulasi kecil, memiliki dua betil isap berotot, yang ventral lebih besar. Di sebelah belakang batil isap
18 | P a g e

ventral, melipat ke arah ventral sampai ekstremitas kaudal, membentuk kanalis ginekoporik. Di belakang batil isap ventral terdapat 4-5 buah testis besar. Porus genitalis tepat di bawah batil isap ventral. Cacing betina panjang silindris, ukuran 20x0,25 mm. Batil isap kecil, ovarium terletak posterior dari pertengahan tubuh. Uterus panjang, sekitar 20-30 telur berkembang pada saat dalam uterus. Kerusakan dinding pembuluh darah oleh telur mungkin disebabkan oleh tekanan dalam venule, tertusuk oleh duri telur dan mungkin karena zat lisis yang keluar melalui pori kulit telur sehingga telur dapat merusak dan menembus dinding pembuluh darah. (Natadisastra, 2005)

d) Distribusi Geografik Distribusi Schistosoma haematobium ini sebagian besar di Sub-Sahara, di lembah Sungai Nil, Afrika, Negara utara lainnya, dan di Timur Tengah.

Doi: 10.1371/journal.pone.0032729

19 | P a g e

e) Siklus Hidup

Orang yang terinfeksi buang air kecil atau buang air besar di air, air kencing atau kotoran mengandung telur cacing. Telur cacing menetas dan cacing pindah ke keong, cacing muda pindah dari keong ke manusia. Dengan demikian, orang yang mencuci atau berenang di air di mana orang yang terinfeksi pernah buang air kecil atau buang air besar, maka ia akan terinfeksi.Cacing atau serkaria (bentuk infektif dari Schistosoma haematobium) menginfeksi dengan cara menembus kulit pada waktu manusia masuk kedalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus kulit, larva ini kemudian masuk ke dlaam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan, lalu paru dan kembali ke jantung kiri; kemudian masuk ke system peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan menjadi dewasa di hati. Setelah dewasa, cacing ini kembali ke vena portae dan vena usus atau vena kandung kemih dan kemudian betina bertelur

20 | P a g e

setelah berkopulasi. Cacing betina meletakkan telur di pembuluh darah. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kendung kemih untuk kemudian ditemukan di dalam tinja atau urine. Telur menetas di dalam air; dan larva yang keluar disebut mirasidium. Mirasidium ini kemudian masuk ke tubuh keong air dan berkembang menjadi serkaria. (Muslim, 2009)

f) Epidemiologi Schistosoma haematobium ini merupakan trematoda darah vesicalis yang dapat menimbulkan schistomiasis vescicalis,

schitosomoasis haematobia, vesical atau urinary bilharziasis, schitosomal hematuria. Infeksi S. haematobium sering terjadi di lembah hulu Sungai Nil, meliputi bagian besar Afrika termasuk kepulauan di pantai Timur Afrika; ujung Selatan Eropa; Asia Barat dan India. (Natadisastra, 2005)

g) Patologi dan Gejala Klinis Setelah kontak dengan kulit manusia, serkaria masuk ke dalam pembuluh darah kulit. Lebih kurang 5 hari setelah infeksi, cacing muda mulai menjangkau vena portae dan hati. Kira-kira tiga minggu setelah infeksi pematangan cacing dimulai sejak keluarnya dari vena portae. Setelah infeksi 10-12 minggu, cacing betina mulai meletakan telur pada venule. Efek pathogen terdiri atas: a. Reaksi lokal dan umum terhadap metabolit cacing yang sedang tumbuh dan matang b. Trauma dengan perdarahan akibat telur keluar dari venule.
21 | P a g e

c. Pembentukan pseudoabses dan pseudotuberkel mengelilingi telur terbatas pada jaringan perivaskuler Penyakit ini seringkali tidak memperlihatkan tanda-tanda awal. Di beberapa tempat tanda-tanda umum yang sering terlihat adalah adanya darah di dalam air kencing atau kotoran. Pada wanita tanda ini bisa juga disebabkan oleh adanya luka pada alat kelaminnya. Di daerah di mana penyakit ini banyak terjadi, orang yang memperlihatkan sekedar gejala-gejala yang tidak parah atau hanya sekedar sakit perut saja, patut diperiksa. (Sutanto, 2008)

h) Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno sorbent assay).

i) Pengobatan Pengobatan terbaik penyakit ini adalah dengan obatobatan. Menemui seorang petugas kesehatan untuk mengetahui obat apa yang harus digunakan, atau membaca buku kesehatan umum. Luka pada alat kelamin dan adanya darah di dalam air kencing juga merupakan tanda penyakit infeksi kelamin menular (STI = Sexually Transmitted Infections). Banyak wanita tidak mau berobat karena takut mereka akan dituduh mengidap penyakit STI. Jika tidak diobati

22 | P a g e

akan memicu penyakit infeksi parah lainnya dan dapat membuat wanita jadi tidak subur (tidak dapat hamil). Obat Metrifonate, organoposforus cholinesterase inhibitor. Dosisnya 5-15 mg/ kg berat badan diberikan dengan interval 2 minggu. (Natadisastra, 2005)

j) Pencegahan Penyakit cacing dalam darah tidak ditularkan secara langsung dari satu ke orang lain. Sebagian hidup cacing harus dihabiskan dengan hidup di dalam keong air jenis tertentu. Program masyarakat dapat diadakan untuk membasmi keong-keong ini agar mencegah penularan penyakit cacing dalam darah. Program-program ini hanya berjalan baik jika orang mentaati langkah pencegahan yang paling mendasar yakni: jangan buang air kecil atau buang air besar di dalam atau di dekat sumber air. Cara menghindari penyebab penyakit ini antara lain: a. Menghindari kencing atau buang air besar di dalam air atau dekat sumber air. b. Hindari berenang di dalam air kotor. c. Gunakan perlindungan sepatu jika masuk ke air, misalnya memakai sepatu boot. (Muslim, 2009)

B. Trematoda Paru Paragonimus westermani a) Klasifikasi Kingdom Filum : Animalia : Platyhelminthes

23 | P a g e

Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Trematoda : Plagiorchiida : Troglotrematidae : Paragonimus : Paragonimus Westermani

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes perantara pertama adalah keong beroperkulum dari genus Hua, Semisulcospira, Syncera dan Thiara. Hospes perantara kedua adalah ketam air tawar dari genus Eriocheir, Potamon, Sesarma dan Parathelpusa (Brown, 1979). Hospes definitive dari parasit ini adalah manusia dan mamalia pemakan ketam yaitu kucing luak, anjing, harimau dan serigala. Penyakit yang disebabkan oleh Paragonimus westermani adalah paragonimiasis, distomiasis paruparu. Penyakit ini termasuk kelompok zoonosis. (Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi Cacing dewasa berwarna merah kecoklatan, berukuran 1218 x 4-6 mm.Pada saat aktif seperti sendok dengan ujung satunya berkontraksi dan yang lainnya memanjang, bentuk pada ssat kontraksi menyerupai biji kopi,membujur dan pipih,kutikula berduri. Batil isap kepala besarnya sama dengan batil isap perut.Batil isap perut terletak tepat di anterior garis anterior. Testis berlobus dalam dan tidak teratur,terletak miring dan berada sepertiga bagian dari posterior tubuh. Ovarium besar dan berlobus,terletak disebelah anterior testis,disebelah kanan berhadapan dengan uterus yang

berkelak kelok.Telurnya berbentuk lonjong dan berwarna kuning kecoklatan berukuran 95 x 45 mikron, dinding dua lapis, pada salah

24 | P a g e

satu ujung terdapat operkulum besar dan ceper ( pendek ). Sedangkan pada ujung yang lain dinding mengalami penebalan.Isi telur berupa morula. (Onggowaluyo, 2001)

Microfilaria

Telur

d) Distribusi Geografik Cacing ini ditemukan di RRC , Taiwan, Korea, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand , India, Malaysia, dan Amerika

25 | P a g e

Latin.Cacing juga dapat ditemukan di Indonesia namun hanya pada binatang,sedangkan pada manusia hanya sebagai kasus impor saja (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

e) Siklus Hidup

Siklus hidup dimulai ketika telur menetas dan mirasidium keluar dari dalam telur. Telur yang dapat dikeluarkan melalui tinja maupun sputum ini, tidak memiliki mirasidium secara langsung namun, telur akan matang dan berisi mirasidium dalam waktu 16 hari setelah dikeluarkan oleh hospes definitif. Setelah mirasidium keluar, mirasidium akan hinggap di hospes perantara yaitu keong air. Setelah itu di dalam tubuh keong mirasidium akan mengalami perubahan menjadi sporokista, redia I,redia II dan kemudian menjadi serkaria. Serkaria keluar dari keong dan berenang menuju hospes definitif II yaitu udang batu, kepiting maupun ketam yang kemudian

26 | P a g e

akan

membentuk metaserkaria di dalam tubuhnya. Metaserkaria

yang termakan oleh hospes definitive yaitu manusia kemudian akan menjadi cacing dewasa di dalam duodenum. Cacing dewasa muda kemudian akan bermigrasi menembus difragma dan menuju ke paru. Jaringan hospes kemudian akan mengadakan reksi jaringan shingga cacing terbungkus di dalam kista. (Bagian Parasitologi FKUI, 1998) Di dalam paru kista akan menetas menjadi telur yang kemudian menyebabkan batuk. Telur telur tersebut sebagian tertelan dan melanjutkan daur hidupnya di hospes definitif dan sebagian lagi ada yang keluar melalui tinja maupun sputum. Infeksi dapat terjadi apabila manusia memakan udang kepiting, maupun lobster dalam keadaan tidak matang atau mentah. (Anonim, 2010)

f) Epidemiologi Paragonimus westermani adalah kosmopolit terhadap mamalia, kosmopolit terhadap manusia banya ditemukan di daerah Timur Jauh. Daerah endemic utama adalah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok dan Filiphina. Manusia mendapat infeksi bila memakan ketam air tawar atau udang batu mentah yang terkena infeksi. Kebiasaan di daerah Timur adalah memakan udang batu yang diasinkan atau disajikan menjadi ketam mabuk. Ketam mabuk dibuat dengan dicampurkan anggur dan metaserkaria masih dapat hidup selama beberapa ajm dalam cairan anggur. (Brown, 1979) Infeksi pada anak terjadi karena ketam air tawar digunakan sebagai obat campak dengan cara ditumbuk dan diambil cairannya. Hal ini sering dilakukan di daerah Korea. (Brown, 1979)

27 | P a g e

g) Patologi dan Gejala Klinis Apabila cacing dewasa berada dalam kista paru-paru atau bronkus, penderita dapat mengalami gejala batuk kering dan sesak nafas, sakit dada dan demam. Kasus ini disebut dengan hemoptisis endemis dan kejadiannya terjadi pada pagi hari. Sepintas gejala ini mirip dengan tuberculosis aktif. Penderita biasanya mengeluarkan sputum berdarah (berwarna karat). Pada pemeriksaan fisik menunjukkan suatu bronkopneumoni dengan efusi pleural.

(Onggowaluyo, 2001) Migrasi cacing dewasa ke organ lainnya dapat

menimbulkan gejala yang berbeda-beda tergantung dari organ yang diserang. Keadaan selanjutnya, cacing berada pada otak dan dapat menimbulkan desakan jaringan yang ada disekitarnya. Hal ini menyebabkan prognosis yang buruk karena penderita akan mengalami epilepsy, hemiplegia atau monoplegia. Cacing yang ada di bawah kulit dapat menimbulkan tumor yang dapat digerakkan. Secara patologis, lokalisasi di paru terdapat reaksi-reaksi jaringan yang mendahului pembentukan kapsul jaringan fibrosis (bungkus berwarna biru mengandung sepasang cacing, telur dan infiltrasi radang). (Onggowaluyo, 2001)

h) Diagnosis Diagnosis kuat dibuat dengan menemukan telur di dalam sputum maupun cairan pleura. Kadang – kadang telur juga dapat ditemukan di dalam tinja orang yang terinfeksi. Reaksi serologi merupakan cara yang efektif di dalm melakukan diagnosis (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

28 | P a g e

i) Pengobatan Klorokuin yang diberikan pada orang dewasa hasilnya cukup baik. Bitiono dan tiobisdiklorofenol yang diberikan peroral dapat menyembuhkan 90% dari 1.315 penderita yang diobati, tetapi memberikan reaksi efek samping seperti diare, kemerahan kulit dan sakit perut. (Onggowaluyo, 2001)

j) Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan memasak setiap udang, keong, ketam maupun kepiting hingga matang dan menghindari memakannya secara langsung (mentah). Pembuangan tinja dan sputum pada tempatnya (jamban) juga dapat mengurangi penyebaran cacing ini (Anonim,2010).

C. Trematoda Hati 1. Clonorchis sinensis a) Klasifikasi Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Opisthorchiida : Opisthorchiidae : Clonorchis : Clonorchis Sinensis

29 | P a g e

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes parasit ini adalah manusia. Selain manusia, hospes parasit ini adalah anjing, kucing, babi, beruang kutub dan pernah dilaporkan juga bahwa parasit ini ditemukan pada angsa. Hospes perantara I parasit ini adalah keong air genus Bulinus, Hua,

Semisulcospira,

Alocinna,

Parafossarulus,

Tiara

atau

sedangkan hospes perantara II adalah family Cyprinidae. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut Klonorkiasis.

(Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi

dewasa

telur

Cacing dewasa berbentuk pipih dan lonjong menyerupai daun. Bagian posteriornya membulat dan pada integumennya tidak ditemukan duri. Ukuran cacing dewasa 10 – 25 x 3 – 5 mm. batil isap kepala lebih besar dari batil isap perut. Testes berlobus dalam tersusun membentuk tandem dan terletak di bagian posterior tubuh. Ovarium terletak di anterior testes pada garis tengah tubuh. Porus genitalis di depan, dekat pada batil isap perut. Uterus berkelokkelok berisi telur dan bermuara pada porus genitalis. Fitelaria membentuk folikel-folikel (lembut) dan terletak di lateral tubuh.

30 | P a g e

Telur parasit ini berbentuk oval seperti kendi, operculum besar, konvek dan bagian posterior menebal. Ukuran telur 28 – 35 x 12 – 19 mikron berisi mirasidium. (Onggowaluyo, 2001)

d) Distribusi Geografik Cacing ini memiliki hospes perantara I berupa keong air tawar dan hospes perantara II nya yaitu ikan. Sedangkan hospes definitifnya adalah manusia, kucing,anjing, beruang kutub dan babi.Penyakit yang ditimbulkan oleh parasit ini adalah klonorkiasis. Persebaran cacing ini ditemukan di Cina, Jepang, Korea, dan Vietnam. Sedangkan di Indonesia, penyakit yang ditemukan kebanyakan tidak merupakan infeksi autokton (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

e) Siklus Hidup

31 | P a g e

Telur menetas dan

mengeluarkan

mirasidium

bila

termakan oleh hospes perantara satu atau keong air.Dalam keong air kemudian berkembang menjadi sporokista,redia 1,redia 2 dan lalu menjadi serkaria.Serkaria lalu keluar dari keong air dan mencari hospes perantara dua yaitu keluarga dari Cyprinidae. Serkaria menembus tubuh hospes perantara dua dan melepaskan

ekornya.Dalam tubuh hospes perantara dua, serkaria membentuk kista yang disebut metaserkaria (bentuk infektif). Hospes perantara dua termakan oleh manusia atau hospes definitif,lalu masuk ke duodenum,kemudian metaserkaria pecah dan mengeluarkan larva dan masuk kedalam saluran empedu selama satu bulan,yang akhirnya berkembang menjadi dewasa (Onggowaluyo,2001).

f) Epidemiologi Cacing ini memiliki hospes perantara I berupa keong air tawar dan hospes perantara II nya yaitu ikan. Sedangkan hospes definitifnya adalah manusia, kucing,anjing, beruang kutub dan babi.Penyakit yang ditimbulkan oleh parasit ini adalah klonorkiasis. Persebaran cacing ini ditemukan di Cina, Jepang, Korea, dan Vietnam. Sedangkan di Indonesia, penyakit yang ditemukan kebanyakan tidak merupakan infeksi autokton (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

g) Patologi dan Gejala Klinis Gejala yang dialami penderita klonorkiasis adalah akibat dari rangsangan mekanik dan sekresi toksin oleh cacing. Pada awal infeksi terjadi lekositosis ringan dan eosinofilia. Apabila terjadi hiper infeksi dari jumlah cacing yang banyak maka dapat menimbulkan sirosis, tubuh lemah, ikterus, anemia, berat badan menurun, edema,

32 | P a g e

gangguan pencernaan, rasa tidak enak didaerah epigastrum dan diare. Gejala selanjutnya palpitasi, vertigo dan sepresi mental. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian karena adanya penurunan daya tahan tubuh yang drastis (Onggowaluyo, 2001). h) Diagnosis Diagnosis dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja atau pada cairan di duodenum.Pada daerah endemis yang penduduknya gemar makan ikan mentah, diagnosis klinis dapat diduga apbila penderita mengalami hepatomegali dan hepatitis (Onggowaluyo, 2001).

i) Pengobatan Obat yang bisa diberikan pada penderita Klonorkiasis adalah praziuantel. Pada infeksi ringan dapat diberikan Genian violet, sedangkan pada infeksi berat diberikan klorokuin.

(Onggowaluyo, 2001)

j) Pencegahan Pencegahan yang paling sederhana dan mudah adalah memasak semua jenis ikan sampai benar-benar matang,karena stadium infektif paling banyak terdapat pada ikan.Pada daerah endemis dengan menghindari buang air besar sembarangan terutama di perairan agar tidak terjadi pencemaran tinja oleh telur cacing ini (hospes perantara dua). (Onggowaluyo, 2001)

33 | P a g e

2.

Opisthorchis felineus a) Klasifikasi Kingdom Phylum Class Subclass Order Suborder Superfamily Family Genus Species : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Digenea : Plagiorchiida : Opisthorchiata : Opisthorchioidea : Opisthorchiidae : Opisthorchis : Opisthorchis felineus

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes cacing ini adalah kucing, anjing, manusia, anjing hutan dan babi. Cacing dewasa hidup di dalam saluran empedu dan saluran pancreas hospes definitive. Hospes perantara satu nya adalah keong air tawar genus Bulinus sedangkan hospes perantara duanya adalah spesies ikan Cyprinidae. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut opistorkiasis. (Onggowaluyo, 2001)

c) Morfologi Cacing dewasa bibirnya seperti lanset,berwarna kemerah – merahan berukuran 7-12 x 2-3 mm. Bagian posteriornya membulat, kulitnya halus dan batil isap kepala mempunyai ukuran hampir sama dengan ukuan batil isap perut. Batil isap kepala terletak sub terminal dan batil isap perut terletak seperlima anterior tubuh. Testis padat berlobus dalam, letaknya miring antara satu dan lainnya dan letaknya berurutan dengan ovarium. Ovarium berlobus melingkar dan berisi

34 | P a g e

telur. Telurnya mirip dengan C.sinensis berbentuk oval seperti kendi, lebih kecil dan ujungnya lebih menyempit daripada C. Sinensis. Ukurannya 298x16 mikron. Bagian Posterior menebal, operkulum besar, pinggirnya kurang jelas dan telur berisi mirasidium (Onggowaluyo, 2001)

d) Distribusi Geografik Cacing ini tersebar di Eropa Timur, Eropa Tengah, Eropa Selatan, Asia, Vietnam, dan India. Daerah yang sangat endemis adalah Polandia, Donetz, dan Desna Basin. (Onggowaluyo, 2001)

e) Siklus Hidup Telur keluar bersama tinja kemudian terbawa oleh aliran air. Telur kemudian termakan oleh keong sebagai hospes perantara pertama. Dalam tubuh keong telur berubah menjadi mirasidium lalu menjadi sporokista setelah itu berubah menjadi redia dan

terakhir menjadi serkaria. Serkaria lalu keluar dari tubuh keong dan masuk kedalam tubuh ikan yang merupakan hospes perantara dua. Kemudian ikan mentah yang termakan oleh manusia yang akan menginfeksi tubuh hospes definitif. Serkaria masuk dalam tubuh
35 | P a g e

dan menjadi cacing dewasa selama 3- 4 minggu di dudenum. Siklus kemudian terus berlanjut dan berulang (Bagian Parasitologi FKUI, 1998).

f) Epidemiologi Cacing ini tersebar di Eropa Timur, Eropa Tengah, Eropa Selatan, Asia, Vietnam, dan India.Daerah yang sangat endemis adalah Polandia, Donetz, dan Desna Basin.Kucing merupakan hospes reservoar terpenting di daerah hiper endemis. Keong dari genus Hulinus (Hospes perantara satu) mendapat infeksi dari tinja yang terbawa oleh aliran air.Hospes perantara dua nya adalah ikan Cyprinidae.Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut Opistorkiasis.Infeksi terjadi apabila hospes definitif memakan ikan mentah atau ikan yang dimasak kurang matang

(Onggowaluyo,2001).

36 | P a g e

g) Patologi dan Gejala Klinis Gejala yang disebabkan oleh cacing dewasa adalah terjadinya reaksi peradangan dan poliferasi sel-sel epitel saluran empedu. Gejala selanjutnya dapat menjadi fibrosis.Apabila terjadi hiperinfeksi saluran dan kandung empedu penderita,akan mengalami fibrosis periportal.Skala berat dari penyakit ini tergantung dari banyaknya jumlah cacing dan lamanya infeksi. Apabila jumlah cacing pada hospes definitif 50 – 60 ekor akan menimbulkan gejala yang masih ringan,tetapi bila cacing dalam jumlah ratusan akan menimbulkan gejala sedang berupa nyeri, hepatomegali, terjadi obstruksi dan ikterus. Pada infeksi berat terjadi invasi pankreas yang menyebabkan gangguan pencernaan. Telur dalam caian empedu merangsang terbentuknya batu empedu dan dapat menimbulkan gejala kolik ,nafsu makan berkurang ,edema muka dan asites (Onggowaluyo, 2001).

h) Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja atau cairan duodenum. Telur cacing ini mirip dengan telur C. sinensis. Untuk membedakan telur ini sangat sulit sehingga riwayat pasien harus diketahui dengan pasti. (Onggowaluyo, 2001)

i) Pengobatan Pengobatan dilakukan dengan memberikan prazikuantel, klorokuin dan gentian violet. Pengobatan ini sama dengan pengobatan klonorkiasis. (Onggowaluyo, 2001)

37 | P a g e

j) Pencegahan Infeksi dapat dicegah dengan memasak ikan sampai matang, membuang tinja menurut cara-cara sanitasi yang baik, tidak meminum air mentah yang tercemar tinja penderita opistorkiasis (Onggowaluyo, 2001).

3.

Fasciola hepatica a) Klasifikasi Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Animalia : Platyhelminthes : Trematoda : Echinostomida : Fasciolidae : Fasciola : Fasciola Hepatica

b) Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitf cacing ini adalah biri-biri, kambing, sapi, rusa dan kadang-kadang juga pada manusia. Biri-biri merupakan mamalia yang sering terinfeksi sehingga disebut sheep liver fluke. Hospes perantara satu adalah keong air tawar genus Lymnea misal Lymnea truncatula. Hospes perantara dua adalah tumbuhan air missal Trapa bicornis. Cacing ini hidup di saluran empedu bagian proksimal maupun kantung empedu, kemudian masuk ke dalam jaringan hati. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah faskiolapsis, liver rot. (Onggowaluyo, 2001)

38 | P a g e

c) Morfologi

Dewasa

Fasciola hepatica memiliki bentuk seperti daun dan pipih, berukuran sekitar 1 x3 cm. Cacing dewasa berbentuk pipih seperti daun, sebagian besar kutikel tertutup spina halus, berukuran 30 x 13 mm. bagian anterior berbentuk seperti kerucut dengan bahu yang khas, batil isap dengan batil perut berukuran sama dan terletak berdekatan. Sekum bercabang dua dan membentuk huruf Y terbalik dan masing-masing cabang membentuk rantai divertikel sampai arah ujung posterior. Usus terdiri dari banyak divertikel, ovarium bercabang-cabang seperti kipas, terletak di satu sisi berdekatan dengan batil isap perut, uterus pendek seperti roset, berkelok-kelok, terletak antara ootip dan porus genital. Testes dua buah dan bercabang membentuk susunan tandem dan terletak pada 2/3 bagian posterior tubuh. Kelenjar vitalaria bercabang-cabang difus dan terletak di bagian lateral sampai posterior tubuh. (Onggowaluyo, 2001) Bagian anterior cacing in berbentuk kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang besarnya kira-kira 1mm, sedangkan pada bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut
39 | P a g e

yang besarnya kira-kira 1,6 mm. Saluran pencernaan bercabangcabang sampai ke ujung distal sekum. Testis dan kelenjar vitelin cacing ini juga bercabang-cabang. Telurnya berbentuk lonjong dengan ukuran terbesar diantara telur-telur cacing yang lain. Ukuran telurnya 130 – 150 x 65 – 90 mikron. Pada salah satu

ujungnya terdapat operculum kecil, dinding tipis tidak ada penebalan dan di dalamnya terdapat sel telur atau morula berwarna kuning (Bagian

Parasitologi FKUI,1998). telur

d) Distribusi Geografik Fasioliasis pada manusia banyak ditemukan di Amerika Latin, Perancis dan negara-negara sekitar Laut Tengah. Sedangkan fasioliasis pada sapi maupun kambing sendiri banyak sekali ditemukan di negara-negara yang banyak menkonsumsi daging hewan tersebut baik di Asia termasuk Indonesia

hingga di negara-negara Eropa (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

e) Siklus Hidup Telur di air menjadi matang dan menetas mengeluarkan mirasidium. Mirasidium masuk ke hospes perantara I (keong Lymnaea sp.). Di dalam tubuh keong, mirasidium berubah menjadi sporokista, redia I, redia II, dan serkaria. Serkaria menuju ke hospes perantara II (tumbuhan air) dan mengalami enkistasi menjadi kista

40 | P a g e

metaserkaria. Hospes definitif akan terinfeksi amemakan tumbuhan air yang mengandung metaserkaria. Metaserkaria keluar dari kista (eksistasi) menembus duodenum hospes definitif kemudian

menembus dinding usus ke rongga peritonium menuju saluran empedu hingga cacing menjadi dewasa. Periodenya 3-4 bulan (Onggowaluyo, 2001).

f) Epidemiologi Cacing F.hepatica memiliki hospes kambing maupun sapi. Namun terkadangjuga dapat ditemukan pada manusia. Penyakit yang dapat disebabkan oleh parasit ini adalah fasioliasis. Fasioliasis pada manusia banyak ditemukan di Amerika Latin, Perancis dan negaranegara sekitar Laut Tengah. Sedangkan fasioliasis pada sapi maupun kambing sendiri banyak sekali ditemukan di negara-negara yang banyak menkonsumsi daging hewan tersebut baik di Asia termasuk Indonesia hingga di negara-negara Eropa (Bagian Parasitologi FKUI,1998).

41 | P a g e

g) Patologi dan Gejala Klinis Metaserkaria dalam tubuh hospes tidak menimbulkan gejala yang nyata. Tingkat kerusakan tergantung dari jumlah cacing dalam hospes dan lamanya infeksi. Setiap ekor cacing dapat menimbulkan gangguan yang hebat bila menyumbat saluran empedu. Jumlah cacing yang banyak dapat menyebabkan obstruksi usus akut. Gejala peradangan perubahan adenoma dan fibrtik di saluran empedu terjadi karena adanya tekanan sekresi metabolit toksi dan cara makan cacing. Parenkim hati lalu mengalami atrofi dan sirosis periportal, sakit di daerah sub strernum, dan gatal-gatal. Adanya rasa sakit di daerah kuadran atas sebelah kanan ke belakang dan ke bahu merupakan tanda-tanda awal terjadinya infeksi. Infeksi lanjutan yaitu terjadi hempatomegali lunak, ikterus, diare, dan anemia. (Onggowaluyo, 2001) Cacing dewasa memakan darah 0,2 mm per hari. Cacing muda bermigrasi ke hepar dan menimbulkan lesi pada dinding usus, jantung, paru-paru, bola mata dan jaringan sub kutan. Selain itu juga menimbulkan gejala laringofaringitis yang disebut halzoun. Terjadi karena cacing muda termakan bersama hati yang masih mentah dan melekat pada mukosa faring (Onggowaluyo, 2001).

h) Diagnosis Menemukan telur yang khas dalam tinja, empedu, dan cairan duodenum atau menemukan cacing dewasa yang tumbuh dari tubuh penderita. Diagnosis klinis sulit karena gejala yang ditimbulkan sangat kompleks. Diperlukan pemeriksaan serologik untuk mengetahui lebih lanjut apakah penderita benar-benar terkena penyakit yang disebabkan oleh Fasciola hepatica (Onggowaluyo, 2001).

42 | P a g e

i) Pengobatan Obat pilihan yang digunakan adalah bitionol yang diberikan secara per oral. Obat lain yang bisa digunakan adalah emetin hidroklorida yang diberikan secara intramuscular.

Prazikuantel juga cukup efektif untuk pengobatan faskioliasis. (Onggowaluyo, 2001)

j) Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak memakan tumbuhan air yang tumbuh di tempat yang banyak dijumpai hewan ternak dan keong air. Bisa juga dengan memberikan pengobatan terhadap hewan-hewan yang terinfeksi. Memberantas keong dengan molus kisida, tidak memakan hati mentah atau tidak dimasak dengan matang. (Onggowaluyo, 2001)

43 | P a g e

BAB III KESIMPULAN

a

Tremadota

darah

terdiri

dari

Schistosoma

japonicum,

Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium. Sedangkan trematoda jaringan terdiri dari Paragonimus westermani

(trematoda paru), Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, dan Fasciola hepatica (trematoda hati). b Hampir semua spesies dari trematoda darah dan jaringan mempunyai hospes definitif manusia, tetapi pada cacing Fasciola hepatica lebih sering ditemukan pada hewan daripada manusia. Sedangkan secara umum hospes perantara I adalah keong air, kecuali pada Fasciola hepatica yang selain keong menggunakan tumbuhan air. c Untuk semua cacing pencegahan dan pengendalian yang paling sderhana yaitu dengan menjaga kebersihan terutama pada saat buang air besar dan memasak tumbuhan air, keong, maupun ikan dengan benar yaitu dengan cara dimasak sampai matang.

44 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Parasitologi FKUI . 1998 . Parasitologi Kedokteran edisi keempat . Balai Penerbit FKUI . Jakarta Departement of Parasitology University Cambridge . 2010 . Schistosoma. http://www.path.cam.ac.uk/~schisto/schistosoma/schisto_pathology.ht ml . Diakses tanggal 20 Maret 2011 Faust, E. C., et al. 1976. Basic Clinical Parasitology, 9th Edition Philadelpia. Lea & Febiger. Gaffar,Abdul, Gregory Brower . 2009 .Trematoda . (flukes). Diakses

http://pathmicro.med.sc.edu/parasitology/trematodes.html tanggal 20 Maret 2011

Ishii A; Tsuji M; Tada I (2003 Dec). "History of Katayama disease: schistosomiasis japonica in Katayama district, Hiroshima,

Japan". (New York: Elsevier) 52 (4): 313–9. Larry S Roberts; Schmidt, Gerald D (2005). Foundations of Parasitology (7th ed.). pp. 247–261. Muslim, HM, 2009, Parasitologi untuk Keperawatan, Penerbit:Buku

Kedokteran EGC, Jakarta Muslim, M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC. Natadisastra, D. 2005, Parasitologi Kedokteran, Penerbit : Buku Kedokteran EGC, Jakarta Noble, E. R. dan G. A. Noble. 1976. Parasitology, The Biology of Animal Parasit .Lea dan Febiger. Philadelphia.

45 | P a g e

Onggowaluyo, JS. 2010. Parasitologi Medik I . Penerbit EGC Kedokteran . Jakarta R. J. Ingram; A. Bartlett; M.B. Brown; C. Marriott; P.J. Whitfield (April 2002). "Dimethicone Barrier Cream Prevents Infection of Human Skin by Schistosome Cercariae: Evidence from Franz Cell Studies". The Journal of Parasitology 88 (2): 399–402. Sutanto dkk, 2008, Parasitologi Kedokteran, Penerbit:FKUI, Jakarta Tie-Wu Jia; Xiao-Nong Zhou; Xian-Hong Wang; Jürg Utzinger; Peter Steinmann; Xiao-Hua Wu (June 2007). "Assessment of the age-specific disability weight of chronic schistosomiasis japonica". Bulletin of the World Health Organization (Geneva: World Health

Organization) 85 (6): 458–465. Xiao Shuhua; Marcel Tanner; Eliézer K. N’Goran; Jürg Utzinger; Jacques Chollet; Robert Bergquist; Chen Minggang; Zheng Jiang (May 2002). "Recent investigations of artemether, a novel agent for the prevention of schistosomiasis japonica, mansoni and haematobia". Acta

Tropica 82 (2): 175–181. Xiao-Nong Zhou; Guo-Jing Yang; Kun Yang; Xian-Hong Wang; Qing-Biao Hong; Le-Ping Sun; John B. Malone; Thomas K. Kristensen; N. Robert Bergquist; Jürg Utzinger (2008). "Potential Impact of Climate Change on Schistosomiasis Transmission in China". Am. J. Trop.

Med.hyg 78 (2): 188–194.

46 | P a g e

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->