P. 1
Resume Psikologi Kepribadian

Resume Psikologi Kepribadian

|Views: 782|Likes:
Published by Nino Prasetyono

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Nino Prasetyono on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2014

pdf

text

original

1

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Resume ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Teori-teori Kepribadian yang merupakan salah satu bahasan dalam mata kuliah Psikologi Kepribadian yang penyusun sajikan berdasarkan study pustaka dari berbagai macam sumber. Resume ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya resume ini dapat terselesaikan. Resume ini memuat tentang “Teori-teori Kepribadian”. Walaupun resume ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses pencarian data dan proses pembuatan resume ini. Semoga resume ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca mengenai psikologi kepribadian. Walaupun resume ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih. Jakarta, 7 Mei 2010 Penyusun

2

DAFTAR ISI
JUDUL ………………………………………………………………………………………… i KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………….. iii RESUME BUKU BAB I : Psikologi Kepribadian dan Teori Kepribadian ……………...………… 2 BAB II : Sigmund Freud: Teori Kepribadian Psikoanalisa …………………….. 6 BAB III : B.F. Skinner: Teori Kepribadian Behaviorisme ………………………. 11 BAB IV : Abraham Maslow: Teori Kepribadian Humanistik …………………... 15

ANALISIS BUKU ……………………………………………………………………………..21 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………… 30

3

BAB I
PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN TEORI KEPRIBADIAN
4

A.PSIKOLOGI KEPRIBADIAN SEBAGAI BIDANG STUDI
Diketahui bahwa tahun 1879 merupakan titik tolak berdirinya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, dan salah satu bidang penting yang ada di dalamnya adalah bidang yang mempelajari kepribadian manusia yang dikenal sebagai psikologi kepribadian. Psikologi kepribadian ini, sama halnya dengan bidang-bidang psikologi lain, yang membedakan psikologi kepribadian dari bidang-bidang psikologi lainnya itu adalah untuk mengsintesiskan dan mengintegrasikan prinsipprinsip yang terdapat dalam bidang-bidang psikologi lain tersebut. Sebagai contoh dalam psikologi umum dipelajari struktur-struktur dasar atau proses-proses yang mendasari ingatan atau pengamatan yang dilakukan individu. Dalam psikologi perkembangan dipelajari proses-proses perkembangan psikofisik individu berikut faktor-faktor tertentu yang menyertai atau mempengaruhinya, dan seterusnya. Sementara itu di pihak lain, psikologi kepribadian mengambil dan menyatukan apa-apa yang dipelajari oleh psikologi umum dan psikologi perkembangan tersebut sebagai bahan-bahan penelaahan lebih lanjut. Pendek kata semua faktor yang menentukan atau mempengaruhi tingkah laku manusia merupakan objek penelitian dan pemahaman para ahli psikologi kepribadian. Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi jelas bahwa dalam psikologi tidak ada satu bidang pun yang memiliki daerah minat yang demikian luas seperti psikologi kepribadian. Dan sesungguhnyalah, studi psikologi kepribadian itu berada pada jalan lintas yang mencakup sebagian besar bidang psikologi. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab tujuan utama dari studi psikologi kepribadian adalah mempelajari manusia secara total atau menyeluruh.

B.SASARAN-SASARAN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Sasaran yang pertama psikologi kepribadian itu tidak lain adalah “memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia”. Karya-karya sastra, sejarah dan agama boleh jadi bisa menyumbangkan informasi yang berhaga mengenai manusia. Tetapi bagaimanapun, kita perlu membedakan informasi tentang manusia yang disampaikan ketiganya dengan informasi yang diperoleh melalui upaya ilmiah, dalam hal ini psikologi kepribadian Sasaran selanjutnya dari psikologi kepribadian adalah “mendorong individu-individu agar bisa hidup secara penuh dan memuaskan”. Sasaran yang terakhir ini bisa dicapai melalui kegiatan terapan atau praktek seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melaluia perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya secara optimal.

C.TEORI KEPRIBADIAN DAN FUNGSINYA
Hall dan Lindzey (1970) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan teori kepribadian itu adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusiaFungsi pertama yang harus dimiliki oleh setiap teori kepribadian adalah fungsi deskriptif (menguraikan atau menerangkan). Fungsi deskriptif ini menjadikan suatu teori kepribadian bisa mengorganisasi dan menerangkan tingkah laku dan kejadian-kejadian yang dialami individu secara sistematis. Teori kepribadian tidak hanya harus dapat menerangkan tingkah laku atau kejadian-kejadian yang telah dan sedang muncul. Melainkan juga harus bisa meramalkan tingkah laku, kejadian-kejadian, atau akibat-akibat yang belum muncul pada diri individu. Dengan demikian, fungsi kedua yang harus dimiliki oleh teori kepribadian adalah fungsi prediktif (meramalkan). Ini ditujukan agar konsepkonsep teori bisa diuji secara empiris dengan kemungkinan diterima atau ditolak.

D.EVALUASI TEORI KEPRIBADIAN
Di samping fungsi deskriptif dan fungsi prediktifnya, teori kepribadian bisa dievaluasi berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Berikut ini akan diungkapakan enam kriteria yang dimaksud. 1.Verifiabilitas Kriteria verifiabilitas ini menekankan bahwa teori kepribadian haruslah bertumpu pada konsep yang jelas, didefinisikan secara eksplisit, dan memiliki kaitan yang logis satu sama lain, yang memungkinkan teori kepribadian ini bisa diverifikasi (diperiksa) oleh para peneliti lain. 2.Nilai Heuristik Kriteria ini mengevaluasi samapai sejauh mana suatu teori kepribadian dapat secara langsung 5

mengundang penelitian. 3.Konsistensi Internal Kriteria konsistensi internal ini menekankan bahwa suatu teori kepribadian janganlah mengandung pertentangan di dalamnya. Jadi, menurut kriteria konsistensi internal, teori kepribadian yang baik adalah teori kepribadian yang bisa menerangkan tingkah laku secara konsisten. 4.Kehematan Kriteria kehematan menekankan bahwa teori kepribadian harus disusun berdasarkan konsep yang sedikit-sedikitnya. 5.Keluasan Kriteria keluasan (comprehensiveness) ini menunjuk kepada bentangan dan keanekaragaman fenomena yang bisa diliput oleh suatu teori fenomena yang bisa diliput oleh suatu teori kepribadian. 6.Signifikansi Fungsi Kriteria yang terakhir ini menekankan bahwa teori kepribadian itu bisa dievaluasi dalam rangka kegunannya membantu orang0orang dalam memahami tingkah laku manusia sehari-hari.

E.ARTI DAN DEFENSI KEPRIBADIAN
Istilah “kepribadian” (personality) sesungguhnya memiliki banyak arti. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusuanan teori, penelitian, dan pegukurannya. Boleh dikatakan, jumlah arti dan definisi kepribadian adalah sebanyak ahli yang mencoba menafsirkannya. 1.Kepribadian Menurut Pengertian Sehari-hari Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari kata Latin : persona. Pada mulanya kata persona ini merujuk kepada topeng yang biasa digunakan oleh para pemain sandiwara di Zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya. Dari sini lambat-laun kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu kepada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menjumpai pengertian kepribadian semacam ini melalui ungkapan-ungkapan seperti : “Dewi memiliki kepribadian Kartini sejati”. Di samping itu, kepribadian juga sering diartikan atau dihubungkan dengan ciri-ciri tertentu yang menonjol pada diri individu. Contohnya : kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang yang suka bertindak kertas dikenakan atribut “ berkepribadian keras”. Selain itu bahkan sering kita jumpai ungkapan atau sebutan “tidak berkepribadian”. Yang terakhir ini biasanya dialamatkan kepada orang-orang yang lemah, plinplan, pengecut dan semacamnya. Dari uraian di atas bisa diperoleh gambaran bahwa kepribadian, menurut pengertian sehari-hari menunjuk kepada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Tetapi sayangnya pengertian kepribadian seperti ini lemah dan tidak bisa menerangkan arti kepribadian yang sesungguhnya, sebab pengertian kepribadian tersebut hanya menunjuk terbatas kepada ciri-ciri yang dapat diamati saja, dan mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung situasi keliling. Tambahan pula, pengertian kepribadian semacam ini lemah disebabkan oleh sifatnya yang evaluatif (menilai). Bagaimanapun, kepribadian itu pada dasarnya tidak bisa dinilai ‘baik’ atau ‘buruk’ (netral). Dan para ahli psikologi selalu berusaha menghindarkan penilaian atas kepribadian. 2.Kepribadian Menurut Psikologi Pengertian kepribadian menurut disiplin ilmu psikologi bisa diambil dari rumusan beberapa teoris kepribadian yang terkemuka. George Kelly, misalnya, memandang kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Teopris yang lain, Gordon Allport, merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku yang bersangkutan. Tepatnya rumusan Allport tentang kepribadian adalah “kepribadian adalah suaru organisasi yang dinamis dari system psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas”. Allport menggunakan istilah ‘sistem psikofisik’ dengan maksud menunjukkan bahwa 6

“jiwa” dan “raga” manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah “khas” dalam batasan kepribadian Allport memiliki arti bahwa setiap individu bertingkah laku dengan caranya sendiri karena setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian dan karenanya tidak akan ada dua orang pun yang bertingkah laku sama. Sementara itu Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yakni id, ego,dan superego. Dan dibalik perbedaan rumusanya, sebagian besar definisi atau batasan yan disusun oleh para teoris kepribadian memiliki beberapa persamaan yang mendasar, yakni : a. Sebagian batasan melukiskan kepribadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku. b. Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik atau khas pada diri setiap orang. c. Para teoris memandang corak dan keunikan kepribadian individu itu ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan.

F.ANGGAPAN-ANGGAPAN DASAR TENTANG MANUSIA
Setiap orang, tak terkecuali para teoris kepribadian, memiliki anggapan-anggapan dasar (basic assumption) tertentu tengtang manusia. Dalam kasus para teoris kepribadian, anggapananggapan dasar ini mempengaruhi konstruksi dan isi dari teori kepribadian yang disusunnya. Berikut ini uraian yang dimaksud : 1.Kebebasan – Ketidakbebasan Kebebasan versus ketidakbebasan adalah dua anggapan dasar yang berlawanan tentang manusia yang sejak lama telah menjadi perdebatan yang hangat di kalangan ahli filsafat. Anggapan bahwa manusia adalah mahluk yang bebas berkehendak, bebas mengambil sikap, dan bebas menentukan arah dari kehidupannya adalah sebuah anggapan dasar yang berakar pada pemikiran filosofis para filsuf, yang kemudian diambil dan menjadi corak pemikiran para teoris kepribadian deari aliran eksistensial dan psikologi humanistik. Abraham Maslow menunjukkann komitmen pada anggapan dasar tentang manusia sebagai mahluk yang bebas. Sedangkan Freud dan Skinner berada di pihak yang berlawanan dengan Maslow, baik Freud maupun Skinner beranggapan bahwa manusia sesungguhnya bukan mahluk yang bebas, melainkan merupakan organisme yang tingkah lakunya dideterminasi (ditentukan) oleh sejumlah determinan. Apabila menurut Freud determinan atau penentu bagi tingkah laku manusia berada atau berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Dalam teori Skinnner determinan bagi tingkah laku manusia itu berasal dari luar. 2.Rasionalitas – Irasionalitas Maslow dan para teoris kepribadian umumnya menunjukkan komitmen pada anggapan dasar manusia sebagai mahluk yang rasional. Di pihak lain, Sigmund Freud, diketahui jelas sebagai teoris yang berpegang pada anggapan dasar tentang manusia sebagai mahluk yang cenderung irasional. Menurut Freud, tingkah laku manusia sebagian besar didorong oleh kekuatankekuatan irasional yang tidak disadari (naluri-naluri). Sedangkan skinner, seprti para behavioris pada umumnya, tidak begitu terikat pada anggapan dasar rasional-irasional ini. 3.Holisme – Elementalisme Prinsip holistik adalah sebuah prinsip yang menekankan bahwa suatu fenomena harus dilihat dan hanya bisa dimengerti dalam keseluruhannya atau sebagai suatu totalitas. Sebaliknya, prinsip elementalistik menekankan bahwa suatu hal hanya bisa dipelajari dan diterangkan dengan jalan menyelidiki aspek-aspeknya secara terpisah. Menurut Freud, lebih-lebih menurut Maslow, manusia hanya bisa dimengerti apabila dia dilihat dan dipelajari sebagai suatu totalitas yang utuh sedangkan skinner berpendapat bahwa apa yang disebut kepribadian tidak lain adalah sekumpulan tingkah laku yang dipelajari. 4.Konsitusionalisme – Environmentalisme Seperti diketahui, Hippocrates, seorang dokter Yunani kuno, mengenukakan pendapatnya bahwa tempramen individu merupakan hasil dari keseimbangan yang unik dari empat cairan tubuh, yakni darah, sumsum hitam, sumsum kuning dan lender. Freud pun, dengan teorinya mengenai 7

naluri yang bersifat bawaan, bisa dimasukkan ke dalam kelompok teoris kepribadian konstitusionalis, begitu pula Maslow dengan teori kebutuhan bertingkatnya. Tetapi komitmen Maslow pada konstitusionalisme ini tidak sebesar Freud. Sementara itu environmentalisme atau paham yang menekankan peranan lingkungan dikemukakan oleh John Locke (1623-1704) dengan teori tabula rasanya beranggapan bahwa jiwa manusia itu adalah ibarat kertas putih yang masih kosong. Akan menjadi bagaimana jiwa seseorang tergantung kepada apa dan bagaimana pengalaman-pengalaman (pendididkan) yang diterima oleh orang itu dari lingkungannya. Dewasa ini sebagian besar ahli psikologi lebih cenderung kepada paham interaksionis, yakni suatu paham yang menekankan bahwa kepribadian dan atau tingkah laku manusia itu merupakan hasil interaksi antara faktor-faktor bawaan (konstitusi) dan faktor-faktor lingkungan. 5.Berubah – Tak berubah Yang dipersoalkan dalam anggapan dasar ini adalah tentang kemungkinan berubah-tidak berubahnya kepribadian individu di sepanjang hidupnya. Bagi Freud, kepribadian individu adalah sesuatu yang ditentukan oleh pengalaman masa kanak-kanak awal, dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu tersebut. Sementara itu Skinner percaya bahwa tingkah laku individu selalu berubah sepanjang hidupnya. Sama halnya dengan Skinner, Maslow juga berpegang pada anggapan keberubahan, yakni bahwa kepribadian adalah sesuatu yang selalu ada dalam perubahan menuju taraf yang lebih tinggi. 6.Subjektivitas – Objektivitas Carl Rogers, tokoh psikologi fenomenologi yang juga sering dipandang sebagai salah seorang tokoh psikologi humanistik mengemukakan dunia batin atau dunia subjektif individu adalah pemberi pengaruh yang paling besar atas tingkah laku individu tersebut. Menurut Freud manusia itu hidup dalam dunia perasaan, emosi-emosi, nilai-nilai atau makna-makna subjektivitasnya. Dan Maslow menegaskan bahwa manusia tidak dapat dipahami tanpa menyertakan referensi atas dunia pribadinya dan bagi psikologi, pengalman subjektif adalah data yang lebih penting daripada tingkah laku yang dapat diamati. Sedangkan Skinner menolak gagasan tentang pengalaman subjektif manusia. Skinner lebih menitikberatkan studi pada gejala (tingkah laku) yang dapat diamati dan diukur secara secara objektif. 7.Proaktif - Reaktif Intisari pandangan proaktif tentang manusia adalah berupa keyakinan bahwa sumber atau penyebab dari seluruh tingkah laku manusia berada dalam diri manusia itu sendiri. Menurut Freud “fakta” bahwa seluruh tingkah laku manusia didorong oleh penyebabpenyebab dari dalam diri manusia itu sendiri yang sebagian besar tidak disadari. Sedangkan menurut konsep Maslow menyatakan bahwa pandangan proaktif tentang manusia mengandung implikasi bahwa manusia itu adalah mahluk yang sadar dan bebas dalam bertingkah laku. Kita, menurut Maslow, secara sadar dan bebas menentukan sendiri tingkah laku apa yang akan atau perlu kita ungkapkan. Di pihak yang berlawanan, Skinner adalah teoris yang berpegang pada pandangan reaktif. Dalam teori Skinner tingkah laku manusia itu merupakan respon (reaksi) terhadap stimulus eksternal. Menurut Skinner penyebab tingkah laku manusia itu berada atau berasal dari luar. 8.Homeostatis – Heterostatis Homeostatis dan heterostatis adalah dua konsep yang berbeda tentang motivasi. Konsep homeostatis, suatu konsep yang bersumber pada gagasan equilibrium (keseimbangan) fisis Leibniz, menerangkan bahwa tingkah laku manusia terutama dimotivasi atau digerakkan ke arah pengurangan tegangan-tegangan internal yang terjadi akibat ketidaksrimbangan fisis (lapar, haus, kekurangan oksigen, dan stimulasi inderawi), sehingga (dengan bertingkah laku itu) keseimbangan bisa dicapai kembali dan terpelihara pada taraf yang optimal. Sedangkan konsep heterostatis, di lain pihak, menerangkan bahwa tingkah laku manusia itu terutama dimotivasi ke arah pertumbuhan, pencarian stimulus (stimulus seeking), dan pengungkapan diri (self-actualization). 9.Dapat diketahui – Tidak dapat diketahui William James, seorang filsuf dan tokoh psikologi Amerika yang terkemuka dan disegani, mengajukan sebuah pernyataannya yang terkenal, yaitu, pengetahuan kita adalah setitik air, sedangkan ketidaktahuan kita adalah ibarat lautan. Hal ini berarti bahwa manusia itu pada dasarnya 8

tidak atau sulit diketahui. Bertolak belakang dari anggapan ini, Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa manusia akan bisa diketahui melalui upaya ilmiah karena pada dasarnya manusia bertingkah laku menurut hukum-hukum alam yang sama dengan makhluk-makhluk hidup lainya. Sepaham dengan James dan berlawanan dengan Freud, Maslow beranggapan bahwa manusia itu tidak akan bisa diketahui sepenuhnya melalui upaya-upaya ilmiah. Bagaimanapun, menurut Maslow, manusia adalah makhluk yang unik yang tidak bisa disamakan dengan makhluk-makhluk lain apa pun, baik keberadaan maupun tingkah lakunya.

BAB II
SIGMUND FREUD: TEORI KEPRIBADIAN PSIKOANALISA
A.RIWAYAT HIDUP SINGKAT FREUD DAN PSIKOANALISA
Sigmund Freud dilahirkan 6 Mei 1856 dari sebuah keluarga Yahudi di Freiberg, Moravia, sebuah kota kecil di Austria. Setelah menamatkan sekolah menengahnya di kota Wina, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter pada tahun 1881. di sela-sela waktu prakteknya Freud masih menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan penelitian dan menulis. Adapun minat ilmiah utama Freud adalah pada neurologi, sebuah minat yang menyebabkan Freud menekuni penanganan gangguan-gangguan neurotik, khususnya histeria. Ketika Freud masih menjadi mahasiswa, seorang ahli saraf ternama dari Wina, Dr. Joseph Breuer, telah menggunakan metode khusus untuk menangani histeria, yakni metode hipnosis. Dengan jalan menghipnosis pasien histeria yang ditanganinya, Breuer berhasil membuktikan bahwa penyebab histeria yang diderita pasiennya itu adalah pengalaman-pengalaman tarumatik tertentu dari si pasien. Kurang lebih pada waktu yang bersamaan, seorang ahli saraf terkemuka dari rumah sakit La Salpetriere, Paris, yakni Jean MartinCharcot, mengembangkan metode yang sama dengan yang digunakan Breuer. Dari kedua orang ini Freud belajar dan mempraktekan metode hipnosis untuk menangani kasus-kasus histeria. Setelah meninggalkan metode hipnosis, Freud mencoba metode lain, yakni metode sugesti yang dipelajarinya dari Bernheim pada tahun 1889. dan metode yang terakhir ini pun ternyata tidak memuaskan Freud sehingga akhirnya ia mengembangkan dan menggunakan metode sendiri yang disebut metode asosiasi bebas (free association method). Berbeda dengan metode hipnosis yang menyadarkan diri pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik yang ada pada pasien histeria perlu dan hanya bisa diungkapkan dalam keadaan si pasien tidak sadar (di bawah pengaruh hypnosis), metode asosiasi bebas bertumpu pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik (pengalaman yang menyakitkan) yang dimiliki pasien histeria itu bisa diungkapkan dalam keadaan sadar. (Dalam asosiasi bebas, pasien, pasien diminta untuk mengemukakan secara bebas hal apa saja yang terlintas dalam pikirannya saat itu. Bagi terapeut, halhal yang dikemukakan oleh pasiennya itu merupakan bahan untuk menggali dan mengungkapkan ingatan-ingatan atau pengalaman-pengalaman yang sifatnya traumatis dari alam tak sadar si pasien). Di samping metode asosiasi bebas, Freud juga mengembangkan analisis mimpi (dream analysis) atau penafsiran mimpi. Penafsiran mimpi ini dikembangkan oleh Freud berdasarkan anggapannya bahwa si mimpi merupakan simbol dari keinginan-keinginan atau pengalaman-pengalaman tertentu yang direpres di alam tak sadar.

B.KEPRIBADIAN DALAM TEORI PSIKOANALISA
Dalam teori psikoanalisa, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yakni id, ego, superego. 1.Id Id adalah sistem kepribadian yan paling dasar sistem yang di dalamnya terdapat nalurinaluri bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut tersebut untuk operasi-operasi 9

atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Id dalam menjalankan fungsi dan operasinya, dilandasi oleh maksud mempertahankan konstansi (the principle of constancy) yang ditujikan menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan (the pleasure principle). Untuk keperluan mencapai maksud dan tujuannya itu, id memiliki perlengkapan berupa dua macam proses. Proses yang pertama adalah “tindakan-tindakan refleks” yakni, suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang mekanisme kerjanya otomatis dan segera, serta adanya pada individu merupakan bawaan. Contohnya refleks mengisap, batuk, mengedipkan mata, dan bersin. Proses yang kedua adalah “proses primer” yakni suatu ppsroses yang melibatkan sejumlah reaksi psikologis yang rumit. Dengan proses primer ini dimaksudkan bahwa id (dan organisme secara keseluruhan) berusaha mengurangi tegangan dengan cara membentuk bayangan dari objek yang bisa mengurangi tegangan. Sebagai contoh proses primer pada orang yang sedang lapar adalah membayangkan (mengkhayalkan) makanan. Tindakan memuaskan suatu kebutuhan yang berlangsung dalam mimpi (mimpi makan,misalnya) oleh Freud juga dipandang sebagai proses primer. Bagi id, objek yang dihadirkan melalui proses primernya itu nyata. Tetapi bagaimanapun, menurut prinsip reslitas yang objektif, proses primer dengan objek yang dihadirkannya itu tidak akan sungguh-sungguh mampu mengurangi ketegangan. Orang yang sedang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan hanya membayangkan atau mimpi memakan makanan. Dengan demikian individu membutuhkan sistem lain yang bisa mengarahkannya kepada pengurangan ketegangan-ketegangan secara nyata atau sesuai kenyataan. Sistem yang dibutuhkan ini tidak lain adalah ego. 2.Ego Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (the reality principle). Apabila dikaitkan dengan contoh orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan bahwa ego bertindak sebagai petunjuk atau pengarah pada orang yang sedang lapar ini kepada makanan. Artinya menurut petunjuk ego,orang yang sedang lapar tersebut akan berpikir bahwa tegangan yang dirasakan akibat kebutuhan akan makanan (lapar) hanya bisa diatasi dengan jalan memakan makanan. Menurut Freud, ego terbentuk pada struiktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Dengan demikian ego bagi individu hanya bertindak sebagai penunjuk kepada kenyataan, tetapi juga berperan sebagai penguji kenyataan (reality tester). Sekilas akan tampak bahwa antara id dan ego hampir selalu bterjadi konflik pertentangan. Tetapi bagaimanapun, menurut Freud, ego dalam menjalankan fungsinya tidaklah ditujukan untuk menghambat pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau naluri-naluri yang berasal dari id, melainkan justru bertindak sebagai perantara dari tuntutan-tuntutan naluriah organisme di satu pihak dengan keadaan lingkungan di pihak lain. Yang dihambat oleh ego adalah pengungkapan naluri-naluri yang tidak layak atautidak bisa diterima oleh lingkungan. Jadi fungsi yang paling dasar dari ego itu tidak lain sebagai pemelihara kelangsungan hidup individu. 3.Superego Superego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Menurut Freud, superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai dan aturan-aturan dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut seperti orangtua dan guru. Adapun fungsi utama dari superego adalah (a). sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat; (b). mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan; dan (c). mendorong individu kepada kesempurnaan Aktivitas dalam diri individu, terutama apabila aktivitas ini bertentangan atau konflik dengan ego, menyatakan diri dalam emosi-emosi tertentu seprti perasaan bersalah dan penyesalan. Sikap-sikap tertentu dari individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik diri, juga bersumber pada superego.

C.DINAMIKA KEPRIBADIAN
1.Naluri 10

Dalam konsep Freud, naluri atau insting adalah representasi psikologis bawaan dari eksitasi (keadaan tegang dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh mmunculnya suatu kebutuhan tubuh. Menurut Freud, naluri akan menghimpun sejumlah energi psikis apabila suatu kebutuhan muncul, dan pada gilirannya naluri ini akan menekan atau mendorong individu untuk bertindak ke arah pemuasan kebutuhan yang nantinya bisa mengurangi tegangan yang ditimbulkan oleh tekanan energi psikis itu. Contoh apabila tubuh membutuhkan makanan, maka energi psikis akan terhimpun dalam naluri lapar yang mendorong dan menggerakkan individu untuk bertindak memuaskan kebutuhan akan makanan (memakan makanan). Dari sini bisa diperoleh gambaran bahwa pada naluri terdapat empat unsur, yakni sumber, upaya, objek, dan dorongan. Sumber dari naluri adalah kebutuhan, upayanya adalah untuk mengisi kekurangan atau memuaskan kebutuhan (misalnya makanan bagi naluri lapar). Adapun dengan unsur dorongannya jelas bahwa naluri itu bersifat mendorong atas diri individu untuk bertindak atau bertingkah laku. Di samping menerima stimulus dari dalam (stimulus internal) berupa naluri-naluri, individu juga menerima stimulus dari luar (stimulus eksternal) berupa sikap dan perlakuan dari individu-individu lain atau berupa situasi dan kondisi lingkungan tempat individu berada. 2.Macam-macam naluri Freud berpendapat bahwa naluri-naluri yang terdapat pada manusia bisa dibedakan ke dalam dua macam naluri, yakni naluri-naluri kematian (life instinct) dan naluri-naluri kematian (death instinct). Yang dimaksudkan naluri kehidupan oleh Freud adalah naluri yang ditujukan pada pemeliharaan ego (the conservation of the individual) dan pemeliharaan kelangsungan jenis (the conservation of the species). Dengan kata lain, naluri kehidupan adalah naluri yang ditujukan kepada pemeliharaan kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai spesies. Contoh dari naluri kehidupan adalah lapar, haus, dan seks. Sementara itu, naluri kematian atau “Thanatos” (kadang-kadang Freud menyebutnya naluri merusak) adalah naluri yang ditujukan kepada perusakan atau penghancuran atas apa yang telah ada (organisme atau individu sendiri). Freud menambahkan bahwa adanya dua jenis naluri yang bertolak belakang ini relevan dengan dua proses pada taraf biologis dari setiap organisme, yakni proses pembentukan (construction) dan proses penghancuran (destruction). Contoh proses pada taraf biologis ini adalah proses anabolisme dan proses katabolisme dalam sel-sel setiap organisme. 3.Penyaluran dan penggunaan energi psikis Seprti diketahui dalam teori Freud dinamika kepribadian terdiri dari jaln tempat energi psikis disalurkan dan digunakan oleh id, ego, dan superego. Dengan masing-masing tugas dan funsinya itu id, ego, dan superego mengguanakan energi psikis dengan hasil atau dampakyang berbeda terhadap kepribadian individu. Demikian pula dominasi salah satu sistem akan memberi corak tertentu kepada kepribadian individu, yang bisa dilihat dari kecenderungan individu tersebut dalam bertingkah laku. Dominasi dari id, misalnya, menyebabkan kepribadian individu tidak matang dan bercorak lust-principe, sehingga individu tersebut dalam bertingkah laku akan cenderung tanpa pertimbangan dan ditujukan selalu kepada pencapaian kesenangan. Sedangkan apabila yang dominan superego, maka yang akan tampil sebaliknya, yakni kepribadian individu yang moralitas, kaku, dan tidak realistis, dengan tingkah laku yang selalu dipertimbangkan dan, bahkan, dihambat oleh kode-kode moral. Dalam kedua keadaan semacam ini, ego selaku eksekutif kepribadian akan berada dalam posisi yang sukit. Baik id maupun superego selalu berusaha agar ego berada di pihaknya. Apabila ego dengan antikateksisnya cukup kuat, maka kedua sistem yang bertolak belakang dan sama-sama ingin tampil dominan itu bisa didamaikan sehingga kepribadian akan terintegrasi dengan baik, begitulah gambaran umumdari dinamika kepribadian dalam konsep psikoanalisa Freud. 4.Kecemasan Peranan atau pengaruh lingkungan terhadap kepribadian individu ditunjukkan oleh fakta bahwa, disamping bisa memuaskan atau menyenangkan individu, lingkungan juga bisa memfrustasikan, tidak menyenangkan atau bahkan mengancam atau membahayakan individu. Terhadap stimulus-stimulus tertentu yang dihadapinya, dalam hal ini stimulus yang mengancam atau membahayakan, individu biasanya menunjukan reaksi ketakutan, lebih-lebih apabila stimulusstimulus tersebut tidak bisa diatasi atau sulit dikendalikan. Dan apabila stimulus yang 11

membahayakan itu terus-menerus menghantui atau mengancam individu, maka individu ini akan mengalami kecemasan (anxiety). Freud membagi kecemasan ke dalam 3 jenis yakni, kecemasan riel, kecemasan neurotic, dan kecemasan moral. Yang dimaksud kecemasan riel adalah kecemasan atau ketakutan individu terhadap bahaya-bahaya nyata yang berasala dari dunia luar (api, binatang buas, orang jahat, penganiayaan, hukuman) sedangkan yang dimaksud dengan kecemasan neurotik adalah kecemasan atas tidak terkendalinya naluri-naluri primitif oleh ego yang nantinya boisa mendatangkan hukuman. Adapun yang dimaksud kecemasan moral adalah kecemasan yang timbul akibat tekanan superego atas ego individu berhubung individu tlah atau sedang melakukan tindakan yang melanggar moral. Kecemasan moral ini menyatakan diri dalam bentuk rasa bersalah atau perasaan berdosa. Sungguhpun dapat menyebabkan individu dalam keadaan yang tidak menyenangkan, kecemasan pada dasarnya memiliki arti penting bagi individu, secara ringkas bisa dikatakan bahwa kecemasan berfungsi sebagai peringatan bagi individu agar mengetahui adanya bahaya yang sedang mengancam, sehingga individu tersebut bisa mempersiapkan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasi bahaya semacam itu. 5.Mekanisme pertahanan ego Freud mengartikan mekanisme pertahanan ego sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan. Berikut ini kita uraikan tujuh macam mekanisme pertahanan ego menurut Freud a)Represi Yang dimaksud dengan represi adalah mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam tak sadar. Dan pengurasan energi psikis oleh mekanisme represi ini bisa membawa akibat berupa efektifnya ego dalam memelihara dan menuntun tingkah laku. Tingkah laku neurotic, penyakit-penyakit psikosomatik, dan penyimpangan seksual adalah akibat-akibat lain yang bisa ditimbulkan oleh pengurasan energi psikis itu. Di samping itu menurut Freud, dorongan-dorongan yang direpres bisa lolos serta muncul ke luar melalui mimpi atau salah ucap dengan bentuknya yang disimbolisasi. Freud menyebut manifestasi semacam itu sebagai psikopatologi kehidupan sehari-hari (psychopathology of everyday life). b)Sublimasi Yang dimaksud dengan sublimasi adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah dan atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif id yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk (tingkah laku) yang bisa diterima dan bahkan, dihargai oleh masyarakat. Contohnya, seorang pemuda yang mengalami kecemasan sehubungan dengan hasrat seksualnya yang besar kemudian bergiat di bidang olah raga, atau sesorang yang mengalami kecemasan karena dorongan agresinya yang kuat, kemudian dia bekerja menjadi tukang jagal. c)Proyeksi Yang dimaksud proyeksi adalah pengalihan dorongan, sikap, tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain. Contoh, seorang siswa yang malas dan kemudian tidak lulus ujian mengatakan kepada orang tuanya, bahwa dia tidak lulus bukan karena malas, melainkan karena guru yang sentimen kepadanya. Prasangka-prasangka atau pengkambinghitaman atas individu dan kelompok lain juga merupakan bentuk proyeksi. d)Displacement Yang dimaksud dengan displacement adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam disbanding dengan objek atau individu individu semula. Contohnya seorang siswa yang dihukum gurunya kemudian melampiaskan keinginannya untuk melakukan pembalasan dengan merusak perabotan sekolahnya, atau seorang anak yang dipukul oleh ayahnya dan ingin membalas kepada sang ayah, tetapi karena takut, si anak kemudian memukul adiknya. e)Rasionalisasi Istilah rasionalisasi menunjuk kepada upaya individu menyelewengkan atau memutarbalikan kenyataan, dalam hal ini kenyataan yang mengancam ego, melalui dalih atau 12

alasan tertentu yang seakan-akan masuk akal sehingga kenyataan teresebut tidak lagi mengancam ego individu yang bersangkutan. Contohnya seorang pemuda berniat mendekati seorang gadis cantik yang menarik hatinya, tetapi karena takut ditolak si pemuda kemudian mengurungkan niatnya itu. Dan ketika ditanya oleh temannya kenapa dia tidak menjadi mendekati si gadis, si pemuda memberikan alasan bahwa gadis itu sesungguhnya tidak menarik. f)Reaksi formasi Kadang-kadang ego individu bisa mengendalikan dorongan-dorongan primitif agar tidak muncul sambil secara sadar mengungkakan tingkah laku sebaliknya. Mekanisme pertahanan egosemacam ini disebut reaksi formasi. Contohnya seorang ibu membenci anaknya, tetapi oleh karena kebencian terhadap anak itu merupakan sesuatu sikap yang tercela, dan karenanya membuat si ibu mengalami rasa berdosa dan kecemasan, maka si ibu kemudian mengungkapkan sikap sebaliknya, yakni menyayangi anaknya secara berlebihan. g)Regresi Yang dimaksud dengan regresi alah suatu mekanisme di mana individu, untuk menghindarkan diri dari kenyataan yang mengancam, kembali kepada taraf perkembangan yang lebih rendah serta bertingkah laku ketika seperti ketika dia berada dalam taraf yang lebih rendah itu. Contohnya seorang gadis yang merasa cemas ditinggalkan pacarnya kemudian dia bertingkah laku kekanak-kanakan.

D.PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Freud menegaskan bahwa pada manusia terdapat empat fase atau tahapan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Fase-fase perkembangan psikoseksual itu adalah fase oral, fase anal, fase falik, dan fase genital. 1.Fase Oral Fase oral adalah fase perkembangan yang berlangsug pada tahun pertama dari kehidupan individu. Pada fase oral ini daerah erogen (daerah yang menimbulkan kesenangan) yang paling penting dan peka adalah mulut. Stimulasi atau perangsangan atas mulut seperti mengisap, bagi bayi merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan. Freud merasa yakin bahwa individu, yang pada fase oralnya memperoleh perangsangan oral yang berlebihan atau sangat kekurangan di masa dewasanya akan memiliki kepribadian oralpassive dengan ciri-ciri karakter seperti penurut, pasif, kurang matang, dan dependen. 2.Fase Anal Fase anal dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga dari kehidupan. Pada fase anal ini, focus dari energi libidal dialihkan dari mulut ke daerah dubur, serta kesenangan atau kepuasan dalm kaitannya diperoleh dengan tindakan mempermainkan atau menahan faeces(kotoran). Pada fase anal ini pulalah anak mulai diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihanoleh orang tuanya melalui toilet training. Freud membedakan dua cara orangtua dalam menerapkan toilet training. Pertama adalah cara penerapan yang keras dan menekan, yang akan berakibat anak di masa dewasanya akan memiliki kepribadian anal retentive dengan beberapa ciri seperti keras kepala, kaku, kikir, terlalu teliti dan ekstrem dalam soal kebersihan. Yang kedua adalah orangtua yang membiarkan anaknya membuang kotoran sekehendak si anak, dengan akibat si anak akan mengembangkan kepribadian anal-aggressive, dengan beberapa ciri seperti akan menunjukkan sifat-sifat kejam, destruktif, pembenci, serta memiliki kecenderungan memandang orang lain sebagai objek untuk dimiliki atau dikuasai 3.Fase Falik Fase falik berlangsung pada tahun keempat atau kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari daerah dubur ke daerah alat kelamin. Pada fase falik ini anak mulai tertarik kepada alat kelaminnya sendiri dan mempermainkannya dengan maksud memperoleh kepuasan. Pada fase falik akan dijumpai apa yang oleh Freud disebut Oedipus complex (pada anak perempuan : Electra complex). 4.Fase Genital Dengan memasuki masa pubertas yang juga merupakan awal atau dimulainya fase genital. Individu mengalami kebangkitan atau peningkatan dalam dorongan seksual, dan mulai menaruh 13

perhatian terhadap lawan jenis..

BAB III
B.F. SKINNER: TEORI KEPRIBADIAN BEHAVIORISME
A.RIWAYAT HIDUP SINGKAT B.F. SKINNER
Burrhus Frederic Skinner dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ayahnya adalah seorang pengacara. Skinner mengenang masa kanak-kanaknya sebagai kehidupan yang penuh kehangatan namun cukup ketat dalam disiplin. Di sekolah menengah Skinner berusaha mencari uang sendiri dengan berbagai cara, antara lain dengan membuat iklan perutnjukan-pertunjukan, bermain jazz band. Di samping kegiatan-kegiatannya itu Skinner tekun belajar, dan dia terutama tetarikkepada kesusasteraan yang membawanya masuk Hamilton College, New York. Dari situ Skinner meraih gelar sarjana muda dalam sastra inggris pada tahun 1926. Skinner mencatat bahwa pada masa di Hamilton College itu ia tidak sepenuhnya mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan mahasiswa. Pada tahun 1928 Skinner memasuki kuliah psikologi di Universitas Harvard dengan menghususkan diri pada bidang tingkah laku hewan dan meraih gelar doktor pada tahun 1931. Dari tahun 1931 sampai tahun 1936 Skinner bekerja di Harvard. Dari tahun 1936 sampai 1945 Skinner menjalani karir sebagai pengajar di Universitas Minnesota. Minat utama Skinner adalah pada analisis eksperimental atas tingkah laku. Ia melakukan penyelidikan terhadap hewan infrahuman, biasanya tikus dan merpati. Di samping itu Skinner juga menerapkan prinsip-prinsip pengondisian opean (operant conditioning) pada penyalidikan tentang psikotik orang-orang dewasa, dan anak autistik. Dengan peralatan yang dirancangnya, satu diantaranya yang terkenal adalah kotak Skinner (Skinner Box).

B.PENDEKATAN PSIKOLOGI SKINNER
Dalam pembahasan sekarang ini, Skinner akan dihadirkan sebagai seorang tokoh psikologi pengembang teori dengan pendekatan-pembelajaran-behavioristik (behavioristic-learning approach) sebagai cirinya yang utama. 1.Tentang Otonomi Manusia Skinner menolak seluruh penguraian (explanation) tingkah laku yang didasarkan pada keberadaan agen hipotesis yang terdapat dan menentukan diri manusia seperti self, ego, dan sebagainya. Skinner menempatkan tanggung jawab bagi tindakan individu terletak pada lingkungan ketimbang pada diri individu itu sendiri. Di samping itu Skinner juga percaya bahwa penguraian yang mentalistik atas perilaku akan selalu berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan baru, dan oleh karenanya tidak akan memuaskan. 2.Penolakan atas Penguraian Fisiologis-Genetik Tidak seperti ahli-ahli psikologi kotemporer lainnya, Skinner tidak percaya bahwa jawaban akhir dari pertanyaan-pertanyaan psikologi akan bisa ditemukan dalam laboratorium para ahli fisiologi. Skinner sesungguhnya tidak menolak adnya unsur0unsur fisiologis-genetik (ketubuhan dan keturunan)dalam tingkah laku, melainkan mengabaikannya disebabkan unsur-unsur tersebut tidak bisa dimanipulasi atau dikendalikan dalam eksperimen. 3.Psikologi Sebagai Ilmu Pengetahuan Tingkah Laku Dalam pendekatannya terhadap studi tentang manusia, Skinner beranggapan bahwa seluruh tingkah laku ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan, dan bisa dibawa ke dalam kontrol lingkungan atau bisa dikendalikan. Memahami tingkah laku adalah dengan mengendalikannya, dan sebaliknya. Dengan tegas Skinner menolak anggapan bahwa manusia adalah mahluk yang bebas berkehendak. Manusia dengan sistem-sistemnya, adalah mesin yang rumit. Skinner bersikeras mempertahankan penggunaan hewan sebagai subjek penelitiannya, sebab ia percaya bahwa antara prinsip-prinsip tingkah laku hewan dan penerapannya pada manusia terdapat hubungan yang nyata. 4.Kepribadian Menurut Perspektif Behaviorisme 14

Dari perspektif behavirisme Skinner, studi tentang kepribadian melibatkan pengujian yang sistematis dan pasti atas sejarah hidup atau pengalaman belajar dan latar belakang genetik atau faktor bawaan yang khas dari individu. Menurut Skinner individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point dimana di mana faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama menhasilkan akibat (tingkah laku)yang khas pula pada individu tersebut. Selanjutnya bagi Skinner studi tentang kepribadian itu ditujukan kepada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan konsekuensi-konsekunsi yang diperkuatnya.

C.PENGONDISIAN OPERAN
Dalam memformulasikan sistem tingkah laku. Skinner membedakan dua tipe respon tingkah laku, yakni responden dan operan . dalm arti singkatnya, tingkah laku responden adalah suaturespon yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenal, dan stimulus itu selalu mendahului respons. Contoh menyempitkan pupil untuk mengurangi stimulasi cahaya atau keluarnya air liur karena melihat makanan. Orang yang pertama mengemukakan bahwa tingkah laku responden itu bisa dikondisikan tidak lain ialah Ivan Pavlov, seorang ahli fisiologi Rusia. Melalui percobaannya yakni pengondisian klasik (classical conditioning), denganmenggunakan anjing sebagai objeknya. Mula-mula oleh Pavlov anjing percobaan itu diikat dan pada bagian rahangnya di pasangi alat pengukur, sehingga nantinya air liur yang keluar bisa ditampungdan diukur banyaknya. Selanjutnya anjing ini ditaruh pada suatu tempat yang nantinya akan mengeluarkan makanan. Makanan ini akan keluar ke hadapan anjing percobaan setiap Pavlov menekan tombol. Dan setiap menghadapi makanan, anjing percobaan akan mengeluarkan air liurnya. Pada tahap berikutnya Pavlov mengeluarkan makanan dengan terlebih dahulu membunyikan bel. Jadi, setiap bel dibunyikan, anjing akan menerima makanan, dan dari mulutnya akan keluar air liur. Setelah pemberian makanan dengan didahului membunyikan bel ini dilakukan berkali-kali, Pavlov mengemukakan bahwa anjing percobaannya telah mengeluarkan air liur begitu mendengar bunyi bel. Kemudian pada tahap terakhir, Pavlov menghentikan pemberian makanan, dan anjing percobaannya hanya menerima bunyi bel. Dan ternyata, meeski dengan hanya menerima bunyi bel tanpa menerima makanan si anjing tetap mengeluarkan air liurnya. Oleh Pavlov air liur yang keluar dari mulut anjing percobaan karena menerima bunyi bel ini disebut respons berkondisi (conditioned response), sedangkan bunyi belnya disebut stimulus berkondisi (conditioned stimulus). Dari percobaan ini Pavlov menyimpulkan bahwa respons atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan, dan organisme bisa memiliki respons tertentu (tingkah laku responden) melalui belajar atau latihan. Skinner yakin, bahwa tingkah laku manusia itu sebagian besar terdiri dar respon kategori kedua yakni, tingkah laku operan, yang menurut Skinner diperoleh melalui pengondisian operan atau instrumental , ditentukan oleh kejadian yang mengikuti respons. Artinya dalam tingkah laku operan, konsekunsi data hasil dari tingkah laku akan menentukan kecenderungan organisme untuk mengulang ataupun menghentikan tingkah lakunya itu di masa datang.

D.PENERAPAN: DUNIA SEBAGAI KOTAK SKINNER
Gagasan-gagasan dan hasil penelitian Skinner telah diterapkan pada berbagai bidang, nulai dari bidang pengajaran sampai pada penanganan pasien psikotik. Melalui bukunya yang berjudul Beyond Freedom and Dignity (1971). Melalui buku ini Skinner menghadirkan dirinya sebagai seorang futuris, yang secara cermat menggariskan bagaimana kebudayaan dengan lembaga-lembaga sosial bisa secara sadar dirancang menurut prinsip-prinsip behaviorisme. 1.Teknologi tingkah laku Skinner mengemukakan pendapatnya, bahwa seluruh masalah utama yang dihadapi dunia modern dewasa ini adalah menyangkut tingkah laku. Ledakan penduduk, polusi lingkungan, kemiskinan, kriminalitas, bencana kelaparan, dan penyakit, kesemuanya berkaitan dan ditentukan oleh tindakan dan atau tinggal diamnya manusia. Untuk mengatasi maslah-masalah tersebut manusi tidak bisa mengandalkan hanya pada fisika atau kimia. Yang dibutuhkan justru adalah teknologi tingkah laku (technology of behavior). Dan menurut Skinner, tekologi tingkah laku yang amat diperlukan itu tidak akan tercipta 15

selama para ilmuwan tingkah laku masih berpegang pada konsep-konsep tingkah laku yang telah usang. Pendek kata, teknologi tingkah laku hanya akan lahir apabila kita mengesampingkan konsep tentang manusia otonom seraya secara selektif memperhatikan lingkungan sebagai sumber penyebab tingkah laku. Menurut Skinner, sifat-sifat atau gambaran-gambaran dari manusia otonom yang paling menghambat atas terbentuknya teknologi tingkah laku adalah “kebebasan” dan “kemuliaan”. 2.Kebebasan Keyakinan yang keliru bahwa manusia pada dasarnya bebas, menurut Skinner, bersumber pada apa yang disebut “literatur kebebasan”. Literatur kebebasan menyebut pengendali-pengendali tingkah laku itu berupa pemerintahan, agama-agama yang diorganisasikan, sistem ekonomi, sistem pendidikan formal, dan keluarga. Menurut Skinner, manusia dan kemanusiaan tidak akan pernah sepenihnya lepas dari kendali lingkungan, melainkan hanya lepas dari pengendali-pengendali tertentu. Untuk memperbaiki keadaan manusia, manusia itu sendiri harus menghentikan usaha pencarian kebebasan yang sia-sia, dan memusatkan perhatian ilmiah kepada perubahan drastis dari struktur-struktur sosial. Untuk membuat kita terbebas dari hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan. Kita tidak perlu lari atau menyerang lingkungan, tetapi kita perlu merancang ulang lingkungan 3.Kemuliaan Konsep mengenai kemuliaan manusia (human dignity) adalah menyangkut pemeliharaan martabat da kehormatan manusia. Penganut konsep ini, menurut Skinner, menentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tingkah laku, sebab mereka dihambat oleh ilusi mengenai tanggung jawab dan kemuliaan manusia otonomitu. Karenanya konsep kemuliaan menghambat kemajuan manusia. Dan jika ingin membangun dunia versi Skinner, konsep kemuliaan manusia itu harus di buang bersama konsep kebebasan. Pendek kata, penyelamatan umat manusia versi Skinner terletak “di seberang kebebasan dan kemuliaan”. 4.Hukuman Skinner menambahkan konsekuensi negatif dari konsep kebebasn dan kemuliaan yakni keduanya ambil bagian atau berperan dalam pemeliharaan konsep ukuman sebagai satu cara yang efektif untuk menangani tingkah laku. Skinner menentang sistem hukuman bukan hanya karena hukuman itu berasal dari konsep yang keliru mengenai tingkah laku manusia, tapi juga menurutnya hukuman itu kebanyakan tidak efektif. Menurut Skinner, salah satu tugas kita yang utama adalah membuat kehidupan kurang dari hukuman dengan merancang masyarakat yang tidak perlu menggunakan hukuman sebagai pengendali tingkah laku para anggotanya. Tetapi, sekali lagi, literatur kebebasan dan kemulian merintangi usaha tersebut. 5.Alternatif dari hukuman Alternatif-alternatif lain dari hukuman dipraktekan secara kaku, dan mendorong manusia otonom untuk menguji kebebasan dan kemuliaan yang diangankan. Alternatif-alternatif lain itu, menurut Skinner, antara lain permissiveness, bimbingan dan metode “mengubah pikiran”. Permissiveness atau kebijakan membiarkan adalah cara yang tidak efektif disebabkan kebijakan semacam ini meninggalkan aspek-aspeklain dari pengendalian lingkungan. Metode bimbingan tidak memadai karena perubahan tingkah laku tidak dikihat dari keniscayaan-keniscayaan yang dirancang secara eksternal, melainkan semata-mata dilihat sebgai pengungkapan kemungkinan manusia. Metode mngubah pikiran juga tidak memadai dan salah arah sebab, menurut Skinner, tujuan yang sesungguhnya harus dicapai adalah mengubah tingkah laku. 6.Nilai-nilai Menurut Skinner, memutuskan atau menilai sesuatu hal sebagai baik atau buruk mengandung arti mengklasifikasikan suatu hal tersebut ke dalam rangka efek-efek memperkuatnya. Tegasnya, sesuatu yang baik adalah sesuatu yang memperkuat secara positif, sedangkan sesuatu itu dikatakan buruk apabila memperkuat secara negatif. Adapun sasaran umum yang diajukan oleh Skinner melalui perancangan ulangan masyarakat itu adalah menciptakan masyarakat yang seimbang, di mana masing-masing orang diperkuat atau memperoleh perkuatan secara maksimal. 7.Evolusi kebudayaan Dalam hal ini Skinner agaknya menyetujui apa yang disebut “Darwinisme sosial”. Kebudayaan sama halnya dengan species-species, mengalami seleksi berdasarkan adaptasinya 16

terhadap lingkungan. Menurut Skinner peranan teknologi tingkah laku dalam pemeliharaan kelangsungan kebudayaan itu adalah memebantu percepatan evolusi kebudayaan. 8.Perancangan kebudayaan Skinner menyimpulkan bahwa rancangan kebudayaan ilmiah itu hanyaah salah satu cara dari kita untuk memelihara kelangsungan kebudayaan dan kehidupan kita sendiri. Kebudayaan kita, yang telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknlogi, perlu menyelamatkan dan diselamatkan pengelolaannya melalui tindakan-tindakan yang efektif. 9.Penghapusan konsep manusia otonom skinner menegaskan perlunya penghapusan konsep manusia otonom. Environmentalisme dan objektivitas Skinner di sini nampak dari pendapatnya, bahwa keberadaan manusia otonom berikut atribut-atribut mentalnya sangat kabur. Menurut Skinner, pada gilirannya konsep manusia otonom itu setahap demi setahap harus digantikan oleh konsep dan upaya pengendalian tingkah laku.

BAB III
ABRAHAM MASLOW: TEORI KEPRIBADIAN HUMANISTIK
A.RIWAYAT HIDUP SINGKAT A.H. MASLOW
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Orang tuanya adalah imigran Yahudi Rusia yang pindah ke Amerika Serikat dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Maslow oleh orang tuanya didorong dengan kuat agar mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Hal ini menjadikan Maslow kesepian menderita di masa kanak-kanak dan remajanya. Tentang perlakuan orang tua berikut akibatnya itu Maslow menulis: “jika mengingat masa kanak-kanak saya, cukup mengherankan bahwa saya tidak menjadi psikotik karenanya. Saya adalah seorang anak yahudi di tengah anak-anak non Yahudi. Di sekolah saya diperlakukan sama dengan perlakuan yang diterima oleh anak-anak Negro, terisolasi dan tidak bahagia. Pendek kata, saya tumbuh di perpustakaan di antara buku-buku, tanpa teman.” (Maslow, 1968). Karena desakan ayahnya, Maslow pada mulanya memilih hokum sebagai biidang studinya di City College, New York. Tetapi baru dua minggu kuliah Maslow pindah ke Universitas Cornell, dan tak lama kemudian ke Universitas Wisconsin, dengan bidang psikologi sebagai pilihannya. Di Universitas Wisconsin ini Maslow meraih gelar sarjana muda pada tahun 1930, sarjana penuh tahun 1931, dan meraih doktor pada tahun 1934. Maslow banyak melakukan penelitian mengenai masalah seks dan penyimpanganpenyimpangannya, terutama homoseksualitas, suatu masalah yang oleh Maslow dipandang sebagai suatu hal yang esensial bagi pemahaman yang mendalam tentang manusia. Sebagian besar bukubuku Maslow ditulis dalam sepuluh tahun terakhir dari hidupnya, yang meliputi buku-buku Toward a Psychology of Being (1962), Religion and Peak Experiences (1964), Eupsychan Management: A Journal (1965), The Psychologi of Science: A Reconnaissance (1966), Motivation and Personality (1970), dan The Father Reaches of Human Natures, ssebuah kumpulan artikel Maslow yang diterbitkan stelah setahun ia meninggal.

B.AJARAN-AJARAN DASAR PSIKOLOGI HUMANISTIK
1.Individu sebagai keseluruhan yang integral Salah satu aspek yang fundamental dari psikologi humanistik adalah ajarannya bahwa 17

manusia atau individu harus dipelajari sebagai keseluruhan yang intergral, khas dan terorganisasi. Berbeda dengan behaviorisme maupun teori atau aliran lain yang elementalistik Maslow mengembangkan teorinya dengan bertumpu pada prinsip holistik. Dalam teori Maslow dengan prinsip holistiknya itu, motivasi mempengaruhi individu secara keseluruhan, dan bukan secara bagian. “Dalam teori yang baik tidak ada yang namanya kebutuhan perut, mulut, atau kebutuhan alat kelamin. Yang ada adalah kebutuhan individu. Yang memebutuhklan makanan itu bukan perut John Smith, melainkan John Smith. Kepuasan dirasakan olehindividu, bukan oleh sebagian tubuh individu. Makanan memuaskan John Smith, bukan memuaskan perut John Smith.” (Maslow 1970). 2.Ketidakrelevanan penyelidikan dengan hewan Maslow dan para teoris kepribadian humanistik umunya memandang manusia sebagai mahluk yang berbeda dengan hewan apa pun. Maslow menegaskan bahwa peneylidikandengan hewan tidak relevan bagi upaya memahami tingkah laku manusia karena hal itu mengabaikan ciriciri yang khas manusia seprti adanya gagasan-gagasan, nilai-nilai, rasa malu, cinta, semangat, humor, rasa seni, dan sebagainya. Dan yang paling berarti dari perspektif humanistik tentang usaha memahami manusia itu adalah fakta bahwa tidak ada ahli kepribadian tikus, merpati, kera, atau limba-lumba. Yang ada adalah ahli kepribadian manusia, dan hanya manusialah yang patut dijadikan subjek pemahaman tingkah laku manusia. 3.Pembawaan baik manusia Teori Freud yang secara implisit menganggap bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakter jahat. Sebaliknya, teori kepribadian humanistik memiliki anggapan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik, atau lebih tepatnya netral. Menurut perspektif humanistik, kekuatan jahat atau merusak yang ada pada manusia itu adalah hasil dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan. 4.Potensi kreatif manusia Maslow, dari studinya atas sejumlah orang tertentu, menemukan bahwa pada orang-orang yang ditelitinya itu terdapat satu ciri yang umum, yakni kreatif. Dari situ Maslow menyimpulkan bahwa potensi kreatif merupakan potensi yang umum pada manusia. Maslow mengingatkan bahwa, untuk menjadi kreatif seorang itu, tidak perlu memiliki bakat atau kemampuan khusus. Menurut Maslow, kreativitas itu tidak lain adalah kekuatan yang mengarahkan manusia kepada pengekspresian dirinya menjadi pembuat sepatu, pembuat rumah, pedagang, eksekutif perusahaan, atau menjadi professor. 5.Penekanan pada kesehatan psikologis Maslow, mengkritiik Freud yang menurutnya terlalu mengutamakan studi atas oaring-orang yang tidak sehat (neurotik atau pskotik). Dengan tegas maslow menyebut teori psikoanalisa ortodoks sebagai teori yang berat sebelah dan kurang komprehensif karena hanya berlandaskan pada bagian abnormal dari tingkah laku manusia. Sedangkan psikologi humanistik memandang self-fulfillment sebagai tema yang utama dalam hidup manusia, suatu tema yang tidak akan ditemukan pada teori-teori lain yang berlandaskan studi atas individu-individu yang mengalami gangguan.

C.TEORI KEBUTUHAN BERTINGKAT
Maslow (1970) melukiskan manusia sebagai mahluk yang tidak pernah berada dalam keadaan sepenuhnya puas. Bagi manusia, kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan menuntut kepuasan, begitu seterusnya. Dan berdasarakan ciri-ciri yang demikian, Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang ada pada manusia adalah merupakan bawaan, tersusun menurut tingkatan bertingkat, oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu dirinci ke dalam lima tingkat kebutuhan, yakni. 1.Kebutuhan-Kebutuhan Fisiologis Kebutuhan-kebutuhan fisologis (physiological needs) adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup. Kebutuhan-kebutuhan fidiologis ini meliputi kebutuhan akan makan, air, udara,aktif, istirahat, seks, dll. Karena merupakan kebutuhan yang paling mendesak, mks 18

kebutuhan-kebutuhan fisiologis ini akan didahulukan pemuasannya oleh individu. Dan jika kebutuhan fisiologis ini belum atau tidak terpenuhi, mka individu tdak akan tergerak untuk bertindak memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain. Sebagai contoh, jika kita sedang lapar, maka kita tidak akan bergerak untuk belajar, bekerja atau bermain musik. Pada saat lapar ini kita dikuasai oleh hasrat memperoleh makanan secepatnya. 2.Kebutuhan Akan Rasa Aman Setelah kebutuhan fisologis terpuaskan, maka dalam individu akan muncul satu kebutuhan lain sebagai kebutuhan dominan dan menuntut pemuasan. Yakni kebutuhan akan rasa aman (need for self-security). Yang dimaksud kebutuhan akan rasa aman adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Contoh manusoia dalam bekerja selalu berusaha untuk memperoleh perlindungan dan keselamatan kerja, penghasilan tetap, atau membayar asuransi. 3.Kebutuhan Akan Cinta dan Rasa Memiliki Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (need for love and belongingness) adalah suatu kebutuhan yang mendorong kebutuhan individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatanikatan emosional dengan individu lain,baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok di masyarakat. Contoh seorang mahasiswa perantauan yang jauh dari kampung halamannya akan kehilangan ikatan atau rasa memiliki. Keadaan ini mendorong si mahasiswa untuk membentuk ikatan baru dengan orang-orang atau kelompok yang ada di tempat dia merantau. 4.Kebutuhan Akan Rasa Harga Diri Kebutuhan yang keempat, yakni kebutuhan akan rasa harga diri (need for self-esteem) dibagi ke adalam dua bagian. Bagian yang pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Individu ingin mengtahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya. Sedangkan bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya. 5.Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri Kebutuhan utuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri (need for self actualization) merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori Maslow. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan yang ada di bawahnya telah terpuaskan dengan baik.maslow mwnandai kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dengan potensi yang dimilikinya. Contoh sesorang yang berbakat musik menciptakan komposisi musik, seseorang yang memiliki potensi intelektual menjadi ilmuwan, dll.

D.MOTIF KEKURANGAN DAN MOTIF PERTUMBUHAN
Motif kekurangan (deficit motive) menyangkut kebutuhan-kebuuhan fisiologis dan rasa aman. Sasaran utama dari motif ini adalah mengatasi peningkatan tenaga organismik yang dihasilkan oleh keadaan kekurangan. Contoh lapar (kekurangan makanan). Maslow mengajukan 5 kriteria atau ciri dari motif-motif kekurangan. a)Ketiadaan pemuasannya membuat sakit. Contoh jika seseorang lapar tidak memakan makanan, maka dia akan jatuh sakit). b)Adanya atau kehadiran pemuasnya mencegah sakit. Contoh dengan memakan makanan orang yang lapar itu tidak akan jatuh sakit). c)Perbaikan atau pengadaan pemuasnya menyembuhkan sakit (tidak ada obat bagi orang yang lapar kecuali makanan). d)Di bawah kondisi memilih, pemenuhan motif kekurangan akan diutamakan (orang yang lapar akan memilih makanan daripada memilih baju). e)Motif-motif kekurangan tidak begitu dominan pada orang sehat (orang yang sehat tingkah lakunya tidak terus-menerus dikuasai oleh hasrat memperoleh makanan). Motif-motif pertumbuhan (metaneds atau being motives) adalah motif-motif yang mendorong individu untuk mengungkapkan potensi-potensinya

E.PENERAPAN: AKTUALISASI DIRI SEBAGAI CORAK
19

HIDUP
Maslow menegmukakan pencapaian aktualisasi diri merupakan gambaran yan optimistis dari corak kehidupan yang ideal. Berikut ini ciri-ciri orang yang memiliki aktualisasi diri. 1.Mengamati Realitas Secara Efisien Barangkali ciri yang paling menonjol yang terdapat pada orang-orang yang mencapai aktualisasi diri adalah kemampuannya untuk mengamati realitas dengan cermat dan efisien, melihat realitas apa adanya tanpa dicampuri keinginan-keinginan atau harapan-harapannya. Karena memiliki kemampuan mengamati secara efisien, maka orang-orang yang mencapai aktualisasi diri bisa menenmukan kebohongan, kepalsuan, dan kecurangan pada diri orang lain dengan mudah. 2.Penerimaan Atas Diri Sendiri, Orang Lain, dan Kodrat Orang- orang yang mencapai aktualisasi diri menaruh hormat kepada dirinya sendiri dan keada orang lain, serta mampu menerima kodrat dengan segala kekurangan dan kelebihannya secara tawakal. Selain itu, mereka juga bebas dari perasaan berdosa yang berlebihan, perasaan malu yang tak beralasan, dan dari perasan cemas yang melemahkan. Penerimaan diri juga dicermikan oleh tahap fisiologisnya. Orang-orang yang mencapai aktualisasi diri pada umunya memiliki cita rasa, makan dan tidur yang baik. Serta menyukai kehidupan seksualnya tanpa hambatan yang tak perlu. Proses-proses biologis (kehamilan, menstruasi, menjadi tua) mereka terima sebagai bagian dari kodrat. 3.Spontan, Sederhana, dan Wajar Tingkah laku orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah spontan, sederhana, dan wajar atau tidak dibuat-buat, dan tidak terikat. Spontanitas, kesederhanaan, dan kewajaran tingkah laku orang-orang yang mencapai aktualisasi diri bersumber dari dalam pribadinya, dan bukan sesuatu yang hanya nampak di permukaan. Sebagai akibat atau tepatnya hubungan timbalbalik dari sifat ini adalah bahwa orang-orang yang mencapai aktualisasi diri memiliki kode etik yang relatif otonom dan individual. 4.Terpusat Pada Masalah Dedikasi terhadap tugas atau pekerjaan merupakan bagian dari misi hidup orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri. Mereka hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Dan pekerjaan mereka alami subjektif. Maslow mencatat bahwa pekerjaan yang dilaksankan orangorang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah pekerjaan non personal atau tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi. 5.Pemisahan Diri dan Kebutuhan Privasi Kebutuhan privasi pada orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri lebih besar dari kebutuhan privasi kebanyakan orang. Bagaimanapun, dibalik kebutuhan privasinya, mereka memiliki keramahan yang tulus di luar dugaan. 6.Kemandirian dari Kebudayaan dan Lingkungan] Orang-orang yang mencapai aktualisasi diri tidak menggantungkan kepuasan-kepuasannya yang utama kepada lingkugan dan kepada orang lain. Mereka lebih bergantung kepada potensipotensi mereka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan hidupnya. Kemandirian mereka menjadikan mereka memiliki kadar arah yang tinggi. Mereka memandang diri sendiri sebagai agen yang merdeka, aktif, bertanggung jawab, dan sebagai agen yang mendisiplinkan diri dalam emnentukan nasibnya sendiri. Mereka cukup kuat untuk lupa akan opini orang lain, dan karenanya mereka cenderung menghindarkan diri dari penghormatan, status, prestise, dan popularitas. Kepuasan yang berasal dari luar diri itu mereka anggap kurang penting ketimbang pertumbuhan diri. 7.Kesegaran dan Apresiasi Orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri menunjukkan kesanggupan untuk menghargai bahkan terhadap hal-hal yang biasa sekalipun. Menghargai hal-hal pokok dalam kehidupan dengan rasa kagum, gembira, bahkan heran, meski bagi orang lain hal-hal tersebut membosankan. Jadi, bagi mereka, kapan saja matahari terbit akan sama indahnya dengan terbitan pertama. Setiap bunga sama indahnya meski mereka telah melihat jutaan kali bunga tersebut. Bagi orang-orang yang mencapai aktualisasi diri kehidupan yang rutin akan tetap merupakan fenomena baru baru yang mereka hadapi dengan “keharuan, kesegaran, dan apresiasi. 20

8.Pengalaman Puncak atau Pengalaman Mistik Orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri umunya memiliki apa yang disebut pengalaman puncak (peak experience) atau pengalaman mistik (mistic experience). Pengalaman puncak menunjuk kepada momen-momen dari perasaan yang mendalam dan meningginya tegangan seperti yang dihasilkan oleh relaksasi dan orgasme seksual. Pengalaman puncak ini, menurut Maslow, diperoleh mereka dari kreativitas, pemahaman, penemuan, dan penyatuan diri dengan alam.pengalaman puncak tidak perlu berupa pengalaman keagamaan, atau pengalaman spiritual, sebab pengalaman puncak itu dialami para subjeknya dari buku, musik dan kegiatan-kegiatan intelektual. Orang yang mengalaminya merasakan dirinya selaras dengan dunia, lupa akan diri, dan bahkan melampauinya, juga merasakan silih berganti rasa kuat dan rasa lemah dari sebelumnya. 9.Minat Sosial Meskipun orang-orang yang mencapai aktualisasi diri kadang-kadang merasa terganggu, sedih, dan maraholeh cacat atau kekurangan umat manusia. Namun mereka memiliki hasrat yang tulus untuk membantu memperbaiki sesamanya. Sikap memelihara (nurturance attitude) ini oleh maslow dianalogikan dengan sikap seseorang terhadap saudaranya. Meski saudaranya lemah, bodoh, bahkan jahat, sesorang itu akan selalu menunjukkan kasih dan pengampunan. Bagi orangorang yang telah mencapai aktualisasi diri bagaimanapun cacat atau bodohnya, manusia adalah sesama yang selalu mengundang simpati dan persaudaraan. 10.Hubungan Antarpribadi Orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri cenderung menciptakan hubungan antarpibadi yang lebih mendalam dibandingkan dengan kebanyakan orang. Mereka cenderung membangun hubungan yang dekat dengan orang-orang yang memiliki karakter, kesanggupan, dan bakat, dan bisanya lingkup persahabatan mereka relatif kecil. 11.Berkarakter Demokratis Orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri memiliki karakter demokratis dalam pengertiannya yang terbaik. Selanjutnya, orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri menatuh hormat kepada semua orang semata-mata karena mereka individu yang manusiawi. Mereka tidak pernah berusaha merendahkan, mengurangi arti, atau merusak martabat orang lain, sekalipun terhadap penjahat. Pada saat yang sama mereka juga memiliki penilaian mengenai benar-salah dan baik-buruk yang tegas mengenai tingkah laku sesamanya. 12.Perbedaan Antara Cara dan Tujuan Orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri memiliki kemampuan membedakan antara cara dan tujuan, dan mereka umumnya terpusat kepada tujuan. Mereka bisa menjadikan suatu kegiatan yang paling kecil dan rutin menjadi kegiatan yang menyenangkan. 13.Rasa Humor Yang Filosofis Ciri lain yang terdapat pada orang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah memiliki rasa humor yang filosofis (sense of phylosophycal humor). Sementara kebanyakan orang menyukai humor yang kelucuannya dari kelemahan atau penderitaan orang lain dengan tujuan untuk mengejek atau menertawakan orang lain. Maslow menambahkan humor yang filosofis itu lebih memancing senyum ketimbang ketawa. 14.Kreativitas Selanjutnya, orang-orang yang elah mencapai aktualisasi diri memiliki ciri kreatif. Kreativitas ini umumny dimanifestasikan dalam kegiatan-kegiatan mereka dalam bidang seniatau ilmu pengetahuan. Kreativitas menurut Maslow, tidak harus berupa penciptaan karya-karya seni, penulisan buku, atau penciptaan karya0karya ilmiah yang berat dan serius. Tetapi juga bisa penciptaan sesuatu yang sederhana.pada dasarnya kreativitas itu berkisar pada daya temu dan penemuan hal-hal baru yang menyimpang atau berbeda dari gagasan lama. 15.Penolakan Enkulturasi Ciri yang terakhir orang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah penolakan terhadap enkulturasi. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha mempertahankan pendirian-pendirian tertentu, dan tidak terlalu terpengaruh oleh kebudayaan masyarakatnya. Mereka bisa menanggalkan kepatuhan pada kebiasaan-kebiasaan lingkungannya de4ngan mudah semudah menanggalkan mantel apabila kepatuhannya itu terlalu mengganggu atau terlalu mahal untuk dipertahankan. 21

Banyak yang menganggap orang-orang yang telah mencapai aktualisasi diri itu adalah manusia-manusia super dan ajaib. Terhadap anggapan seprti ini Maslow dengan tegas menolak dengan mengatakan, bahwa mereka sama sekali bukan manusia yang sempurna. Dan sebagai manusia yang tidak sempurna mereka tidak luput dari kekurangan, kekeliruan, dan kebiasaankebiasaan buruk yang tidak konstruktif. Mereka juga bisa menjadi keras kepala, mudah tersinggung, merasa bosan, lekas marah, merasa bangga akan anak-anak, keluarga, dan temanteman mereka sendiri.

22

TEORI-TEORI DALAM PSIKOLOGI KEPRIBADIAN.
A.PENGERTIAN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Kata personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya 'topeng' yang biasa dipakai artis dalam theater. Para artis itu bertingkah aku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial- kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial. Ada beberapa kata atau istilah yang oleh masyarakat diperlakukan sebagai sinonim kata personality, namun ketika istilah-istilah itu dipakai di dalam teori kepribadian diberi makna berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain : 1. Personality (kepribadian); penggambaran perilaku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative) 2. Character (karakter); penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, 23

baik-buruk) baik secara ekspilit maupun implisit. 3. Disposition (watak); karakter yang telah dimiliki dan sampai sekarang belum berubah. 4. Temperament (temperament); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologic atau fisiologik, disposisi hereditas. 5. Traits (sifat); respons yang senada (sama) terhadap kelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama. 6. Type-Attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimulasi yang lebih terbatas. 7. Habit (kebiasaan): respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula. Sampai sekarang, masih belum ada batasan formal personality yang mendapat pengakuan atau kesepakatan luas dilingkungan ahli kepribadian. Masing-masing pakar kepribadian membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut adalah beberapa contoh definisi kepribadian: 1. Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard & Marquis) 2. Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern) 3. Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport) 4. Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford) 5. Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin) 6. Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa, dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologic saat itu (Mandy atau Burt) 7. Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray) 8. Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares) Jelas, masing-masing definisi mencoba menonjolkan aspek yang berbeda-beda, dan disusun untuk menjawab tantangan permasalahan yang berbeda. Lebih menguntungkan memahami beberapa teori dan memilih teori yang tepat untuk diterapkan pada masalah yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori yang lain sebagai pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil seorang psikologi dapat lebih dipertanggung jawabkan. Namun sesungguhnya dari berbagai definisi itu, ada lima persamaan yang menjadi ciri bahwa definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut : 1. Kepribadian bersifat umum; Kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang-fikiran, kegiatan, dan perasaan- yang berpengaruh terhadap keseluruhan tingkah lakunya. 2. Kepribadian bersifat khas: Kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan dia dengan orang lain, semacam tanda tangan atau sidik jari psikologik, bagaimana individu berbeda dengan yang lain. 3. Kepribadian berjangka lama: Kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalaku terjadi perubahan biasanya bersifat bertahap atau akibat merespon suatu kejadian yang luar biasa. 4. Kepribadian bersifat kesatuan: Kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang membentuk suatu kesatuan. 5. Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk: Kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan kuat? Atau tampil sebagai burung yang lumpuh? Yang berarti kepribadiannya menyimpang atau lemah? Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi sekedarnya. Berikut beberapa teori dalam psikologi kepribadian

B.PSIKOANALISA KLASIK (SIGMUD FREUD 1856-1939)
24

1.Struktur Kepribadian Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (Conscious), pra sadar (Preconscious), dan tidak sadar (Unconscious). Alam sadar adalah apa yang anda sadari pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, persepsi, pemikiran, fantasy, perasaan yang anda miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra sadar, yaitu apa yang kita sebut dengan saat ini dengan 'kenangan yang sudah tersedia' (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dapat di panggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walakupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat mudah dengan mudah dipanggil lagi. Adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar (Unconscious mind). Bagian ini mencakup segal sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke situ karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma. Id, Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari Id ini akan muncul ego dan super-ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drive. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu : berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. pleasure principle diproses dengan du acara, tindak refleks (refllex actions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejabkan mata-dipakai untuk menangani kepuasan rangsang sederhana dan biasanya dapat segera dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/ mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang l apar membayangkan makanan atau punting ibunya. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberikan kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan ini lah yang kemudian membuat Id memunculkan ego. The Ego, ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realitas; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan perkembangan-mencapai kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri untuk akan memperoleh enerji dari Id. The Superego, Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai enerji sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang dijangkaunya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan). Prinsip idealistic mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Superego 25

pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua menangani standart sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego idea, yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan.Proses pengembangan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah menjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua. Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Paling tidak ada 3 fungsi dari superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistic, (2) memerintah impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standart nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan. 2.Perkembangan Kepribadian Freud adalah teoritis pertama yang memusatkan perhatiannya kepada kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-awal dalam pembetukan karakter seseorang. Freud yakin dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Tehnik psikoanalisis mengeksplorasi jiwa pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanak. Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantile (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantile yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi dalam tiga fase, yakni fase oral, fase anal, fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan seks, yang terkait dengan perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual infantile. Perkembangan insting seks berarti perubahan katektis seks, dan perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual. Pemberian nama fase-fase perkembangan infantile sesuai dengan bagian tubuhdaerah aroganyang menjadi kateksis seksual pada fase itu. Tahap perkembangan psikoseksual itu adalah : ⇒Fase Oral berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, dimana aktifitas yang paling utama adalah menghisap dan menggigit. ⇒Tahap Anal yang berlangsung dari usia 18 bulan sampai 3-4 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktifitas yang paling dinikmati. ⇒Tahap Phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi. ⇒Tahap Laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 sampai usia pubertas ( sekitar 12 tahun ). Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses belajar ⇒Tahap Genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas terlihat pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Mastrubasi, seks, oral, homo seksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual yang kita anggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal.

C.PSIKOLOGI INDIVIDUAL (ALFRED ADLER 1870-1937)
1.Struktur Kepribadian Manusia adalah mahluk sosial. Bahwa manusia merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat terbagi-bagi, tampaknya sudah jelas bagi kita. Hal ini merupakan arti pertama dari ucapan "manusia adalah mahluk individual ". Mahluk individual berarti mahluk yang tidak dapat dibagi-bagi (in-dividere). Aristoteles seakan-akan berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari 26

beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak; kemampuan sensitif: bergerak mengamati-amati, bernafsu, dan berperasaan; berkemampuan intelektif: berkemampuan dan berkecerdasan. Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki merupakan mahluk sosial. Sejak ia dilahirkan, ia membutuhkan pergaulan dengan orangorang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, yaitu makan, minuman, dan lain-lain. Manusia, selain mahluk individual yang sebenarnya tidak perlu lagi dibuktikan kebenarannya, sekaligus juga merupakan mahluk sosial. Hal ini pun sebenarnya tidak perlu dibuktikan. Disamping itu manusia merupakan mahluk yang bertuhanan. Hal terakhir juga tidak perlu dibuktikan lagi, sebab bagi manusia terutama Indonesia yang sudah dewasa dan sadar akan dirinya sudah jelas sulit menolak adanya kepercayaan terhadap Tuhan, sebagai segi hakiki dalam perikehidupan manusia dan segi khas bagi manusia pada umumnya. Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan interior, perasaan yang menggerakkan orang untuk bergerak atau berjuang menjadi superioritas atau menjadi sukses. Individu yang secara psikologis kurang sehat berjuang untuk menjadi pribadi superior, dan individu yang sehat termotivasi untuk mensukseskan umat manusia. 2.Pokok-Pokok Teori Adler a)Individualitas sebagai pokok persoalan Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebetulan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu kongfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak yang khas gaya kehidupannya yang bersifat individual. b)Pandangan Teleologis: Finalisme Semu Vaihinger mengemukakan, bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai macam citacita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya yang realitas. c)Dua Dorongan Pokok Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu : a) Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat; dan b) Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri. d)Rasa Rendah Diri dan Kompensasi Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan; melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau kesempurnaan (superior). e)Dorongan Kemasyarakatan Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir; pada dasarnya manusia adalh mahluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing atau dilatih. Gambaran tentang manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan gambaran manusia kuat, agresif dan menguasai serta memeras masyarakat. "Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan terpenting dalam perkembangan kepribadian" ( Adler, 1946, p. 145.) f)Gaya Hidup Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang; 27

inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu. g)Diri yang Kreatif Diri yang kreatifitas adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini ialah karena orang tidak dapat menyaksikan secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya. 3.Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas: Dorongan Maju. Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh atau dorongan utama-dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba untuk hidup sesempurna mungkin. Inferiorta bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walakupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip dengan trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi semakin dekat dengan tujuan final.Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan. Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain. Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang berlebihan. Pembunuh, pencuri, pemain porno adalah contoh ekstrim yang berjuang hanya untuk mencapai keuntungan pribadi. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial. 4.Kesatuan (Unity) Kepribadian Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecahpecahkan. Psikologi individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan. 5.Gaya Hidup Adler juga dipengaruhi oleh Jan Smuts, filosofi dan negarawan Afrika Selatan. Menurut Smuts, kalaku ingin memahami orang lain, kita harus memahami dia dalam kesatuan yang utuh, bukan dalam bentuk yang terpisah-pisah, dan yang lebih penting lagi, kita harus memahaminya sesuai dengan konteks keadaan yang melatari orang tersebut, baik fisik maupun sosial. 6.Kepentingan Sosial Adler menganggap kepekaan sosial ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya. Kepekaan sosial didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan. Di lain pihak, bagi Adler, tidak ada kesadaran sosial adalah sakit jiwa yang sesungguhnya. Segala bentuk sakit jiwa-neurotik, psikotik, tindak kriminal, narkoba, 28

kenakalan remaja, bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan lain-lain sebagainya- adalah penyakit-penyakit yang lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Tujuan orang-orang yang mengidap penyakit ini adalah superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk mereka sendiri

D.Psikologi Behaviorisme (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)
1.Struktur kepribadian Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya. Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1997). 1. Pengekangan Fisik ( physical restraints ) 2. Bantuan Fisik ( physical aids) 3. Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions) 4. Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions) 5. Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses) 6. Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement). 7. Menghukum Diri Sendiri ( self punishment). Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas 1. Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas. 2. Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri. Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi. 2.Dinamika Kepribadian Kepribadian dan Belajar Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol. 3.Tingkah laku Kontrol Diri Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam "self", tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku. 4.Stimulan Aversif Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan. "Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan 29

diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya." Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan hukuman. 5.Kondisioning Klasik (Classical Conditioning) Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan. 6.Kondisioning Operan (Operant Conditioning) Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior). Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik. B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner. 1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan. 2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodologis. 3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik. 4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.

30

DAFTAR PUSTAKA
• • • • Koeswara E. 1991.Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT ERESCO Alwisol. 2007. Psikologi Kepribadian. Malang: UUM Press Walgito Bimo, Dr. Prof. 2003. Psikologi Umum. Jogjakarta: ANDI Sobur Alex, M. Si. Drs. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia • Boeree George, C. Dr. 2004. Personality Theories: Jogjakarta: PRISMASOPHIE

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->