P. 1
munasabah

munasabah

|Views: 333|Likes:
Published by Ahmad Rifa'i

More info:

Published by: Ahmad Rifa'i on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2014

pdf

text

original

Munasabah Al-Qur'an

1

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Lahirnya pengetahuan teori korelasi (munasabah) berawal dari perbedaan
pendapat para ulama salaf bahwa sistematika Al-Qur‟an dalam Mushaf Usmani tidak
berdasarkan atas fakta kronologis turunnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal
tersebut didasarkan pada tauqifidari Nabi SAW. Sebagian ulama lain berpendat
bahwa hal tersebut didasarkan atas ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan
memastikan bahwa susunan ayat-ayat adalah tauqifi.
Penyebab perbedaan pendapat adalah karena adanya mushaf-mushaf ulama
salaf yang bervariasi dalam urutan suratnya. Ada susunan berdasarkan kronologis
turunnya, seperti mushaf Ali yang dimulai dengan ayat iqra‟, kemudian sisanya
disusun berdasarkan tempat turunnya (Makki kemudian Madani). Lain halnya
dengan mushaf Ibn Mas‟ud dimulai dengan surat Al-Baqarah kemudian An-Nisa,
lalu surat Ali „Imran.
Atas dasar perbedaan tersebut, sangat perlu teori korelasi(munasabah) ini
diperhatikan dalam menekuni „Ulum Al-Qur‟an. Ulama yang pertama kali menaruh
perhatian terhadap teori korelasi adalah Syekh Abu Bakar An-Naisaburi (324H),
kemudian menyusul beberapa ulama ahli tafsir seperti Abu Ja‟far bin Jubair dalam
kitabnya Tartib As-Suwar Al-Qur‟an, Syekh Burhanuddin Al-Biqa‟i dengan
kitabnya Nazhm Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayyi wa As-Suwar, dan As-Suyuthi dalam
kitabnya Asrar Al-Tartib Al-Qur‟an.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berukut:
a. Apa hukum mengetahui munasabah?
b. Apa macam-macam munasabah?
c. Ayat-ayat Al-Qur‟an seperti apa sajakah yang termasuk munasabah?

Munasabah Al-Qur'an

2

C. TUJUAN
Tujuan penulisan dan pembahasan makalah ini, diantaranya:
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami latar belakang teori
korelasi(munasabah).
2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami definisi munasabah.
3. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami macam-macam munasabah.
4. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami hikmah mempelajari
munasabah.
















Munasabah Al-Qur'an

3

BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN MUNASABAH
Kata Munasabah secara etimologi berarti al-musyakalah (keserupaan) dan al-
muraqabah (kedekatan). Adapun istilah munasabah digunakan sebagai „illat dalam
bab qiyas, dan berarti Al-wasf Al-muqarib li Al-Hukm (gambaran yang berhubungan
dengan hukum). Istilah munasabah juga diungkapkan dengan kata rabth (pertalian).
1

Menurut pengertian terminologi, munasabah dapat di definisikan sebagai berikut:
1. Menurut Az-Zarkasyi:
ذا لوقعمرما ةبسانملا ىلوبقلاب هتقلت ىلوقعلا ىلع ضرعا
“Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. Tatkala dihadapkan
kepada akal, pasti akal itu akan menerimanya.”
2

2. Menurut Manna Al-Qaththan:
نيب وا ةد
ّ
دعتملا ةيلا يف ةيلاو ةيلا نيب وا ةدحاولا ةيلا يف ةلمجلاو ةلمجلا نيب طابترلا هجو

ّ
سلا ةرو
ّ
سلاو ةرو
“Munasabah adalah sisi keterikatanantara beberapa ungkapandi dalam satu
ayat, atau antarayat pada beberapa ayat, atau antar surat (di dalam Al-
Qur‟an).”
3. Menurut Al-Biqa‟i:
,ىنابملا ةمظتنم ىناعملا ةقستم ةدحاولا ةلملكلاك نوكت ىتح ضغبب اهضعب نارقلا يا طابترا
ميظع ملع
“Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan
dibalik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur‟an, baik ayat dengan
ayat, atau surat dengan surat.”

1
Rosihun Anwar, Ulum Al-Qur'an. Bandung: Pustaka Setia. 2008. hlm 82.
2
M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009. hlm 35.
Munasabah Al-Qur'an

4

Dari beberapa pengertian di atas, diperoleh bahwa dalam konteks „Ulum Al-
Qur‟an, munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antarayat atau antarsurat,
baik korelasi bersifat umum atau khusus, rasional („aqli), persepsi (hassiy),
imajinatif (khayali), atau korelasi berupa sebab-akibat, „illat dan ma‟lul,
perbandingan, dan perlawanan.

B.HUKUM DAN CARA MENGETAHUI MUNASABAH
Para ulama menjelaskan bahwa pengetahuan tentang munasabah bersifat
ijtihadi. Penetapan berdasarkan ijtihadi karena tidak ditemukan riwayat, baik dari
Nabi maupun para sahabatnya. Sehingga tidak ada keharusan mencari munasabah
pada setiap ayat. Alasannya, Al-Qur‟an diturunkan berangsur-angsur mengikuti
berbagai kejadian dan peristiwa yang ada. Sehingga seorang mufasir menemukan
keterkaitan suatu ayat dengan yang lainnya dan terkadang tidak. Ketika tidak
menemukan keterkaitan, maka tidak diperkenankan memaksakan diri. Apabila
terjadi berbagai sebab yang berbeda, keterkaitan salah satunya dengan lainnya tidak
menjadi syarat. Orang yang mengaitkan tersebut berarti mengada-adakan apa yang
tidak dikuasainya.
Untuk meneliti keserasian ayat dan surat (munasabah) dalam Al-Qur‟an
diperlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. Adapun langkah-langkah yang
perlu diperhatikan untuk menemukan munasabah,
3
diantaranya yaitu:
1. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek
pencarian.
2. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas
dalam surat.
3. Menentukan tingkatan uraian-uraian, apakah ada hubungannya atau tidak.
4. Dalam mengambil kesimpulan, hendak memperhatikan ungkapan-ungkapan
bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.


3
Rosihun Anwar. op.cit. hlm 83
Munasabah Al-Qur'an

5

C.MACAM-MACAM MUNASABAH
4

1.Munasabah antarsurat dengan surat sebelumnya
Munasabah antarsatu surat dengan surat sebelumnya berfungsi menerangkan
atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Sebagai contoh, dalam
surat Al-Fatihah ayat 2 dalam ungkapan “alhamdulillah”. Ungkapan tersebut
berkorelasi dengan surat Al-Baqarah ayat 152 dan 186:
EO)+ÒNO7^O·· ¯ª7¯O7^OÒ¡
W-ÒNO¬:;--4Ò Oj¯ ºº4Ò ÷pÒNO¬¼'¯·> ^¯)g÷
“ Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
-·O)³4Ò El·¯ÒEc Og14:gN /j´_4N O)E+)¯··
RUC@O·~ W CUO´_q¡ ÞE4O;NE1 ;v-O.-
-·O)³ ÷p4NE1 W W-O+:O´×4-¯O41·U·· Oj¯
W-ONLg`u·NO^¯4Ò O). ¯ª÷_^UE¬·¯
¬]Ò÷³7-¯O4C ^¯gg÷
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran”
Ungkapan “rabb al „aalamiin” berkorelasi dengan surat Al-Baqarah ayat 21-22:
Og¬³Ò^4C +EE4¯- W-Ò÷³+:;N-
Nª7¯+4O Og~-.- ¯ª7¯·³ÞU·· 4ׯg~-.-4Ò
}g` ¯ª7¯)U¯:·~ ¯ª7¯+UE¬·¯ 4pO¬³+-·> ^g¯÷
“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang
yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Og~-.- ºE¬E_ Nª7¯·¯ 4·¯O·- V-4Og·
47.E©OO¯-4Ò w7.E4) 4·4O^Ò¡4Ò =}g`
g7.E©OO¯- w7.4` E¤4Ou=Ò·· ·gO)
=}g` gª4OE©EV¯- +~^ejO ¯ª7¯-¯ W ºE··
W-O¬UE¬^_Ò` *. -41-E³^Ò¡ ¯ª+^Ò¡4Ò
¬]O÷©ÞUu¬·> ^gg÷

4
Ibid. hlm 85
Munasabah Al-Qur'an

6

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,
dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.”.
Ungkapan “dzaalik al-kitab la raiba fiih” surat Al-Baqarah ayat 2 berkolerasi dengan
surat Ali „Imron ayat 3:
44·EO4^ ¬C^OÞU4N =U4-´¯^¯-
÷--E·^¯) +~g-³=N` E©g¢¯ 4×u-4
gOuCE³4C 4·4O^Ò¡4Ò ·O.4O¯O+-¯-
ºO´_±e"-4Ò ^@÷
“Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan Sebenarnya;
membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat
dan Injil.”
2.Munasabah antarnama surat dan tujuan turunnya
Setiap nama surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol dan
tercermin pada namanya masing-masing, seperti surat Al-Baqarah, surat Yusuf, surat
An-Naml dan surat Al-Jinn.
3.Munasabah antarbagian suatu ayat
Munasabah antarbagian surat sering berbentuk pola munasabah al-tadhadat
(perlawanan). Sebagai contoh dalam surat Al-Hadid ayat 4:
44O¬- Og~-.- 4-ÞUE· gª4OE©OO¯-
4·¯O·-4Ò O)× gO+-´c ±¬+CÒ¡ ·ª¬¦
¯O4O4-¯c- OÞ>4N +¯OE+^¯- _ O¦ÞUu¬4C
4` ÷g)U4C O)× ^·¯O·- 4`4Ò ÷¤NO^C·©
Ogu+g` 4`4Ò N·jO64C =}g` g7.4©OO¯-
4`4Ò ÷¤NOu¬4C OgOg· W 4O¬-4Ò ¯¦7¯E¬4`
4×^¯Ò¡ 4` ¯ª+-47 _ +.-4Ò E©)
4pO¬U4©u¬·> ¬OO´4 ^j÷
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia
bersemayam di atas ´arsy. dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa
yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-
Munasabah Al-Qur'an

7

Nya. dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat
apa yang kamu kerjakan.”
Terdapat korelasi perlawanan antara kata “yaliju” (masuk) dengan kata ”yakhruju”
(keluar) dan kata “yanzilu” (turun) dengan kata “ya‟ruju” (naik).
4.Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan
Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan terdapat ayat yang terlihat
jelas dan tidak jelas. Munasabah antarayat yang terlihat jelas terdiri dari 4 pola,
yaitu:
a. Ta‟kid (penguat) yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat
makna ayat atau bagian ayat yang terletak disampingnya. Sebagai contoh
surat Al-Fatihah ayat 1-2:
´´¦¯O)´ *.- ^}4·uO·O¯- ´¦1gO·O¯-
^¯÷ ÷³;©E·^¯- *. ´_±4O ¬--g©ÞUE¬^¯-
^g÷
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Ungkapan “rabb al „aalamiin” pada ayat kedua memperkuat kata “ar-
rahman” dan ar-rahiim” pada ayat pertama.
b. Tafsir (penjelas) yaitu apabila satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan
maknanya oleh ayat atau bagian ayat di sampingnya.
Elg¯·O CU4-´:^¯- ºº =UuC4O O gOOg· O
O1³¬- =}1´³+÷©·Ug¢¯ ^g÷ 4ׯg~-.-
4pONLg`u·NC jU^O4¯^¯) 4pON©O´³NC4Ò
ÞE_OÞUO¯- 4¼¯¯4Ò ¯ª÷_4L^~Ee4O
4pO¬³g¼LNC ^@÷
"Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka."
Makna “muttaqiin” pada ayat kedua ditafsirkan oleh ayat ketiga. Dengan
demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yang mengimani hal-hal yang
ghaib, mengerjakan shalat, dan seterusnya.
Munasabah Al-Qur'an

8

c. I‟tiradh (bantahan) yaitu apabila terletak satu kalimat atau lebih tidak ada
kedudukannya dalam i‟rab (struktur kalimat), baik dipertengahan kalimat
atau diantara dua kalimat yang berhubungan maknanya. Sebagai contoh surat
An-Nahl ayat 57:
44pO¬UE¬^_·©4Ò *. geE44l^¯-
+OE4E·¯l÷c · ª÷_·¯4Ò E` ¬]O×g4©;=4C
^)_÷
“Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci
Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka
sukai (yaitu anak-anak laki-laki).”
Kata “subhanahu” pada ayat tersebut merupakan bentuk i‟tiradh dari dua
ayat yang mengantarinya. Kata tersebut merupakan bantahan bagi klaim
orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah.
d. Tasydid (penegasan) yaitu apabila satu ayat atau bagian ayat mempertegas
arti ayat yang terletak di sampingnya.Sebagai contohnya surat Al-Fatihah
ayat 6-7:
4^g³u-- EO4O´_^¯-
4®7´³4-¯O÷©^¯- ^g÷ EO4O´· 4ׯg~-.-
=e;©E¬u^Ò¡ ¯ª)_^OÞU4N )O¯OEN
´±O¬_^¯E©^¯- ¯¦)_^OÞU4×
ºº4Ò 4×-g¢¯.·_¯- ^_÷
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang Telah
Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Ungkapan “ash-shirath al-mustaqim” ada ayat 6 dipertegas oleh ungkapan
“shiraathalladziina..”.
Munasabah antarayat yang tidak jelas terlihat dalam qara‟in ma‟nawiyyah
(hubungan makna). Munasabah ini terdiri dari 4 pola, yaitu :
a. At-tanzir (perbandingan) yaitu adanya perbandingan antara ayat-ayat yang
berdampingan. Sebagai contohnya surat Al-Anfal ayat 4-5:
EElj·^·¯Òq¡ Nª¬- 4pONLg`u·÷©^¯-
E³EO _ ¯ª+¤=± 7eE_4OE1 E³4gN
¯¦)_)Þ4O ¬E4Og¼^¯4`4Ò ¬-^ejO4Ò _¦C@Oº±
^j÷ .E©E ElE_4Ou=Ò¡
Munasabah Al-Qur'an

9

ElG4O }g` Elg-uO4 ÷--E·^¯)
Ep)³4Ò L³C@O·· =}g)` 4×-gLg`u·÷©^¯-
4pO¬-@O·¯·¯ ^)÷
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan
serta rezki (nikmat) yang mulia. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi
dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari
orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.”
Pada ayat kelima, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar terus
melaksanakan perintah-Nya meskipun para sahabat tidak menyukainya. Pada
ayat keempat, Allah memerintahkannya agar tetap keluar dari rumah untuk
berperang. Munasabah antar kedua ayat tersebut terletak pada perbandingan
antara ketidaksukaan para sahabat terhadap pembagian ghanimah yang
dibagikan Rasul dan ketidaksukaan mereka untuk berperang. Padahal sudah
jelas bahwa kedua perbuatan tersebut terdapat keberuntungan, kemenangan,
ghanimah dan kejayaan Islam.
b. Al-Mudhadat (perlawanan) yaitu adanya perlawanan makna antara satu ayat
makna yang lain yang berdampingan. Sebagai contoh surat Al-Baqarah ayat 6:
EEp)³ ¬-¯g~-.- W-ÒNOE¼E v7.-4OEc
¯¦)_^1ÞU4× ¯ª÷_·>¯OEO^Ò¡47 u¯Ò¡ ¯ª·¯
¯ª¬-¯O´OL¬> ºº 4pONLg`u·NC ^g÷
"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri
peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan
beriman."
Ayat tersebut berbicara tentang watak orang-orang kafir dan sikap mereka
terhadap peringatan, sedangkan ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang
watak-watak orang mukmin.
c. Istithradh (penjelasan lebih lanjut) yaitu adanya penjelasan lebih lanjut dari
suatu ayat. Sebagai contoh surat Al-A‟raf ayat 26:
×/j_4:4C 4¯E1-47 ;³·~ 4L^¯4O^Ò¡
¯7¯^OÞU4× ±c4lg¯ OjO4ONC
¯ª7¯g>47¯OEc 1=CjO4Ò W +E4lg¯4Ò
¯O4O^³+-¯- Elg¯·O ¬O¯OE= _
Munasabah Al-Qur'an

10

¬Cg¯·O ;}g` ge4C-47 *.- ¯¦÷_^UE¬·¯
4pÒNO-OO4C ^gg÷
“Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu
Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan
Pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka
selalu ingat.”
Pembicaraan ayat ini tentang terbukanya aurat Adam-Hawa dan menutupnya
dengan daun. Hal tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa
penciptaan pakaian berupa daun merupakan karunia Allah, telanjang dan
terbuka aurat merupakan suatu perbuatan yang hina, dan menutupnya
merupakan bagian yang besar dari taqwa.
d. Takhallush (perpindahan) yaitu perpindahan dari awal pembicaraan pada
maksud tertentu secara halus. Sebagai contoh surat Al-A‟raf, mula-mula
Allah berfirman tentang para Nabi dan umat terdahulu, kemudian tentang
Nabi Musa dan para pengikutnya yang selanjutnya berkisah tentang Nabi
Muhammad dan umatnya.
5. Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok ayat disampingnya
Sebagai contoh munasabah ini terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 1-20,
Allah memulai penjelasan-Nya tentang kebenaran dan fungsi Al-Qur‟an bagi orang-
orang yang bertaqwa. Kelompok ayat-ayat berikutnya dibicarakan tiga kelompok
manusia dan sifat-sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu mukmin, kafir dan munafik.
6. Munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat
Munasabah ini mengandung tujuan tertentu diantaranya adalah untuk
menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat. Sebagai contoh
surat Al-Ahzab ayat 25:
E14O4Ò +.- 4ׯg~-.- W-ÒNOE¼E
¯ª)_g¬^O4¯) ¯¦·¯ W-O7¯4L4C -LO¯OE= _
O·>E4Ò +.- 4×-gLg`u·÷©^¯-
4·4´³^¯- _ ¬]~E4Ò +.- CC÷O·~
-4OCjG4N ^g)÷
Munasabah Al-Qur'an

11

“ Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh
kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah
menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan adalah Allah Maha
Kuat lagi Maha Perkasa.”
Ayat tersebut, Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan, bukan
karena lemah melainkan karena Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa. Fashilah
tersebut dimaksudkan agar pemahaman terhadap ayat menjadi lurus dan sempurrna.
Adapun tujuan lainnya memberikan penjelasan tambahan, yang meskipun tanpa
fashilah sebenarnya makna ayat sudah jelas. Sebagai contoh surat An-Naml ayat 80:
EElE^)³ ºº ÷7g©¯O¬ _O4·¯OE©^¯- ºº4Ò
÷7g©¯O¬ ·eO¯- 47.~4×O.- -·O)³
W-¯O-¯4Ò 4ׯ@O);³N` ^g´÷
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar
dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila
mereka telah berpaling membelakang.”
Ungkapan “idza wallau mudbiriin” merupakan penjelasan tambahan terhadap makna
orang tuli.
7.Munasabah antar awal surat dengan akhir surat
Sebagai contoh munasabah ini terdapat pada surat Al-Qashash, yang
diawalidengan penjelasan perjuangan Nabi Musa dalam menghadapi kekejaman
Fir‟aun. Atas perintah dan pertolongan Allah Nabi Musa berhasil keluar dari Mesir.
Di akhir surat Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad yang
menghadapi tekanan dari kaumnya dan janji Allah atas kemenangannya. Munasabah
ini terletak dari sisi kesamaan kondisi yang dihadapi oleh kedua Nabi tersebut.
8.Munasabah antar penutup surat dengan awal surat berikutnya
Sebagai contoh terdapat pada permulan surat Al-Hadid yang dimulai dengan
tasbih. Ayat ini bermunasabah dengan akhir surat sebelumnya yaitu surat Al-
Waqi'ah yang memerintahkan bertasbih.
Munasabah Al-Qur'an

12


D. KEGUNAAN MEMPELAJARI MUNASABAH
Pengetahuan tentang munasabah sangat bermanfaat dalam memahami
keserasian antar makna, mukjizat Al-Qur'an secara retorik, kejelasan keterangannya,
keteraturan susunan kalimatnya, dan keindahan gaya bahasanya.
5

Adapun beberapa manfaat dalam mempelajari munasabah Al-Qur'an,
diantaranya sebagai berikut:
1. Mengetahui hubungan antara kalimat dengan kalimat, ayat dengan ayat, maupun
surat dengan surat, sehingga lebih memperdalam pengatahuan dan pengenalan
terhadap Al-Qur‟an serta memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan
kemukjizatannya.
2. Dapat mengetahui mutu dan tingkat kebahasaan Al-Qur‟an.
3. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an.
4. Dapat menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan sebagian lainnya,
sehingga hubungannya menjadi kuat, bentuk susunannya kukuh dan bersesuaian,
bagian-bagiannya laksana sebuah bangunan yang amat kokoh.








5
Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-qur'an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 2009. hlm
138
Munasabah Al-Qur'an

13







BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Munasabah sangat berperan penting dalam memahami Al-
Qur‟an.Pengetahuan tentang munasabah atau korelasi antara ayat dengan ayat dan
surat dengan surat membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik
dan cermat. Pengetahuan mengenai munasabah bukanlah hal yang tauqifi (tak dapat
diganggu gugat karena telah ditetapkan Rasul), tetapi didasarkan pada ijtihad
seorang mufasir dan tingkat penghayatannya terhadap kemukjizatan Al-Qur‟an,
rahasia retorika dan segi keterangannya yang mandiri. Apabila korelasi itu halus
maknanya, harmonis konteksnya dan sesuai dengan asas-asas kebahasaan dalam
ilmu-ilmu bahasa Arab, maka korelasi tersebut dapat diterima.
Pengetahuan tentang keterkaitan atau hubungan antara bagian Al-Qur'an,
baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan
yang lainnya dapat lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab
Al-Qur'an dan memperkuat keyakinan kita terhadap kewahyuan dan
kemukjizatannya. Semua hal ini dapat membantu kita dalam hal menafsirkan ayat-
ayat Al-Qur'an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat
atau ayat lain.

Munasabah Al-Qur'an

14







DAFTAR PUSTAKA
Al-Qattan,Manna Khalil. 2009. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. Bogor: Pustaka Litera
AntarNusa.
Anwar, Rosihun.2008.Ulum Al-Qur'an. Bandung: Pustaka Setia.
Ash-Shabuni, M.Ali. 2001. At-Tibyan fii 'Ulumil Qur'an. Jakarta: Pustaka Amani.
Ash-Shiddieqy, T M.Hasbi. Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. 2009. Semarang: Pustaka Rizki
Putra.
Ash-Shiddieqy, T M.Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. 2009.
Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Departemen Agama RI, 1986. Al-Qur‟an dan Terjemahannya. Jakarta: PT.
Intermasa.

Agar mahasiswa mengetahui korelasi(munasabah). diantaranya: 1. 2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami definisi munasabah. 2 . 4. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami macam-macam munasabah. 3. TUJUAN Tujuan penulisan dan pembahasan makalah ini. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami hikmah mempelajari dan memahami latar belakang teori munasabah.Munasabah Al-Qur'an C.

Menurut Al-Biqa‟i: . 2008.PENGERTIAN MUNASABAH Kata Munasabah secara etimologi berarti al-musyakalah (keserupaan) dan almuraqabah (kedekatan).” 1 2 Rosihun Anwar.Hasbi Ash-Shiddieqy. Menurut Az-Zarkasyi: ‫المناسبة امرمعقول اذاعرض على العقولى تلقته بالقبولى‬ “Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami.” 3. hlm 35. Adapun istilah munasabah digunakan sebagai „illat dalam bab qiyas. Ulum Al-Qur'an. hlm 82. munasabah dapat di definisikan sebagai berikut: 1.Munasabah Al-Qur'an BAB II PEMBAHASAN A.”2 2. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Bandung: Pustaka Setia. baik ayat dengan ayat. Menurut Manna Al-Qaththan: ‫وجه االرتباط بين الجملة والجملة في االية الواحدة او بين االية واالية في االية المتعددة او بين‬ ّ ‫السورة والسورة‬ ّ ّ “Munasabah adalah sisi keterikatanantara beberapa ungkapandi dalam satu ayat. dan berarti Al-wasf Al-muqarib li Al-Hukm (gambaran yang berhubungan dengan hukum). pasti akal itu akan menerimanya. 3 . M.1 Menurut pengertian terminologi. Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. 2009. Istilah munasabah juga diungkapkan dengan kata rabth (pertalian). atau antarayat pada beberapa ayat. atau surat dengan surat.‫ارتباط اي القران بعضها ببغض حتى تكون كالكلملة الواحدة متسقة المعانى منتظمة المبانى‬ ‫علم عظيم‬ “Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan dibalik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur‟an. Tatkala dihadapkan kepada akal. atau antar surat (di dalam AlQur‟an).

maka tidak diperkenankan memaksakan diri. diperoleh bahwa dalam konteks „Ulum AlQur‟an. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian. perbandingan. Dalam mengambil kesimpulan. Al-Qur‟an diturunkan berangsur-angsur mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa yang ada. Apabila terjadi berbagai sebab yang berbeda. Menentukan tingkatan uraian-uraian.3 diantaranya yaitu: 1. B. persepsi (hassiy). imajinatif (khayali). op.cit. hendak memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan. „illat dan ma‟lul. Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk menemukan munasabah. keterkaitan salah satunya dengan lainnya tidak menjadi syarat. Orang yang mengaitkan tersebut berarti mengada-adakan apa yang tidak dikuasainya. 4. 3 Rosihun Anwar. 3. atau korelasi berupa sebab-akibat. hlm 83 4 . baik dari Nabi maupun para sahabatnya. munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antarayat atau antarsurat.HUKUM DAN CARA MENGETAHUI MUNASABAH Para ulama menjelaskan bahwa pengetahuan tentang munasabah bersifat ijtihadi.Munasabah Al-Qur'an Dari beberapa pengertian di atas. Sehingga seorang mufasir menemukan keterkaitan suatu ayat dengan yang lainnya dan terkadang tidak. Untuk meneliti keserasian ayat dan surat (munasabah) dalam Al-Qur‟an diperlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. Alasannya. Ketika tidak menemukan keterkaitan. baik korelasi bersifat umum atau khusus. Sehingga tidak ada keharusan mencari munasabah pada setiap ayat. 2. Penetapan berdasarkan ijtihadi karena tidak ditemukan riwayat. apakah ada hubungannya atau tidak. rasional („aqli). Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat. dan perlawanan.

Munasabah Al-Qur'an C. dalam surat Al-Fatihah ayat 2 dalam ungkapan “alhamdulillah”. Maka (jawablah). Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. agar kamu bertakwa. dan bersyukurlah kepada-Ku.”                          4 Ibid. sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu. agar mereka selalu berada dalam kebenaran” Ungkapan “rabb al „aalamiin” berkorelasi dengan surat Al-Baqarah ayat 21-22:             “ Hai manusia. Sebagai contoh. bahwasanya Aku adalah dekat.”                     “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku.Munasabah antarsurat dengan surat sebelumnya Munasabah antarsatu surat dengan surat sebelumnya berfungsi menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. hlm 85 5 . dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.MACAM-MACAM MUNASABAH4 1. Ungkapan tersebut berkorelasi dengan surat Al-Baqarah ayat 152 dan 186:        “ Karena itu.

seperti surat Al-Baqarah. surat Yusuf. 3. Ungkapan “dzaalik al-kitab la raiba fiih” surat Al-Baqarah ayat 2 berkolerasi dengan surat Ali „Imron ayat 3:             “Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan Sebenarnya. lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Sebagai contoh dalam surat Al-Hadid ayat 4:                                         “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy.Munasabah antarbagian suatu ayat Munasabah antarbagian surat sering berbentuk pola munasabah al-tadhadat (perlawanan).Munasabah antarnama surat dan tujuan turunnya Setiap nama surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol dan tercermin pada namanya masing-masing.”. padahal kamu Mengetahui. surat An-Naml dan surat Al-Jinn.” 2.Munasabah Al-Qur'an “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. dan dia menurunkan air (hujan) dari langit. dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada- 6 .

dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Tafsir (penjelas) yaitu apabila satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan maknanya oleh ayat atau bagian ayat di sampingnya. b. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. yaitu: a. dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. 7 . Sebagai contoh surat Al-Fatihah ayat 1-2:           “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Terdapat korelasi perlawanan antara kata “yaliju” (masuk) dengan kata ”yakhruju” (keluar) dan kata “yanzilu” (turun) dengan kata “ya‟ruju” (naik). 4. petunjuk bagi mereka yang bertaqwa." Makna “muttaqiin” pada ayat kedua ditafsirkan oleh ayat ketiga.                    "Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya. Munasabah antarayat yang terlihat jelas terdiri dari 4 pola. Tuhan semesta alam. Segala puji bagi Allah. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib. Dengan demikian. Ta‟kid (penguat) yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat makna ayat atau bagian ayat yang terletak disampingnya. dan seterusnya.Munasabah Al-Qur'an Nya.Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan terdapat ayat yang terlihat jelas dan tidak jelas. orang yang bertaqwa adalah orang yang mengimani hal-hal yang ghaib. yang mendirikan shalat. mengerjakan shalat.” Ungkapan “rabb al „aalamiin” pada ayat kedua memperkuat kata “arrahman” dan ar-rahiim” pada ayat pertama.

At-tanzir (perbandingan) yaitu adanya perbandingan antara ayat-ayat yang berdampingan. Munasabah ini terdiri dari 4 pola.”. sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Sebagai contohnya surat Al-Anfal ayat 4-5:                8 .” Kata “subhanahu” pada ayat tersebut merupakan bentuk i‟tiradh dari dua ayat yang mengantarinya. d.Munasabah Al-Qur'an c. baik dipertengahan kalimat atau diantara dua kalimat yang berhubungan maknanya. Munasabah antarayat yang tidak jelas terlihat dalam qara‟in ma‟nawiyyah (hubungan makna).” Ungkapan “ash-shirath al-mustaqim” ada ayat 6 dipertegas oleh ungkapan “shiraathalladziina.. Sebagai contoh surat An-Nahl ayat 57:          “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. yaitu : a. (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka. I‟tiradh (bantahan) yaitu apabila terletak satu kalimat atau lebih tidak ada kedudukannya dalam i‟rab (struktur kalimat). Kata tersebut merupakan bantahan bagi klaim orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah.Sebagai contohnya surat Al-Fatihah ayat 6-7:               “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Tasydid (penegasan) yaitu apabila satu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat yang terletak di sampingnya. Maha Suci Allah.

Munasabah antar kedua ayat tersebut terletak pada perbandingan antara ketidaksukaan para sahabat terhadap pembagian ghanimah yang dibagikan Rasul dan ketidaksukaan mereka untuk berperang. kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan. Sebagai contoh surat Al-Baqarah ayat 6:             "Sesungguhnya orang-orang kafir. Al-Mudhadat (perlawanan) yaitu adanya perlawanan makna antara satu ayat makna yang lain yang berdampingan. Padahal sudah jelas bahwa kedua perbuatan tersebut terdapat keberuntungan. padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Istithradh (penjelasan lebih lanjut) yaitu adanya penjelasan lebih lanjut dari suatu ayat. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar terus melaksanakan perintah-Nya meskipun para sahabat tidak menyukainya. Pada ayat keempat.” Pada ayat kelima. mereka tidak juga akan beriman. c.Munasabah Al-Qur'an            “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. kemenangan. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran. ghanimah dan kejayaan Islam. b. sedangkan ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang watak-watak orang mukmin. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. Sebagai contoh surat Al-A‟raf ayat 26:                9 ." Ayat tersebut berbicara tentang watak orang-orang kafir dan sikap mereka terhadap peringatan. Allah memerintahkannya agar tetap keluar dari rumah untuk berperang. sama saja bagi mereka.

Sebagai contoh surat Al-A‟raf.” Pembicaraan ayat ini tentang terbukanya aurat Adam-Hawa dan menutupnya dengan daun. d. Sebagai contoh surat Al-Ahzab ayat 25:                    10 . Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok ayat disampingnya Sebagai contoh munasabah ini terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 1-20. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. dan menutupnya merupakan bagian yang besar dari taqwa. mula-mula Allah berfirman tentang para Nabi dan umat terdahulu. Munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat Munasabah ini mengandung tujuan tertentu diantaranya adalah untuk menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat. 5.Munasabah Al-Qur'an        “Hai anak Adam. Allah memulai penjelasan-Nya tentang kebenaran dan fungsi Al-Qur‟an bagi orangorang yang bertaqwa. kafir dan munafik. Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. Mudah-mudahan mereka selalu ingat. telanjang dan terbuka aurat merupakan suatu perbuatan yang hina. yaitu mukmin. Takhallush (perpindahan) yaitu perpindahan dari awal pembicaraan pada maksud tertentu secara halus. Hal tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa penciptaan pakaian berupa daun merupakan karunia Allah. Kelompok ayat-ayat berikutnya dibicarakan tiga kelompok manusia dan sifat-sifat mereka yang berbeda-beda. 6. kemudian tentang Nabi Musa dan para pengikutnya yang selanjutnya berkisah tentang Nabi Muhammad dan umatnya. dan Pakaian takwa Itulah yang paling baik.

(lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. 11 . Munasabah ini terletak dari sisi kesamaan kondisi yang dihadapi oleh kedua Nabi tersebut. Di akhir surat Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan janji Allah atas kemenangannya. 8. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. bukan karena lemah melainkan karena Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” Ayat tersebut. yang meskipun tanpa fashilah sebenarnya makna ayat sudah jelas. apabila mereka telah berpaling membelakang. Fashilah tersebut dimaksudkan agar pemahaman terhadap ayat menjadi lurus dan sempurrna. 7. Adapun tujuan lainnya memberikan penjelasan tambahan. Ayat ini bermunasabah dengan akhir surat sebelumnya yaitu surat AlWaqi'ah yang memerintahkan bertasbih. Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.Munasabah antar awal surat dengan akhir surat Sebagai contoh munasabah ini terdapat pada surat Al-Qashash. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.Munasabah Al-Qur'an “ Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan.Munasabah antar penutup surat dengan awal surat berikutnya Sebagai contoh terdapat pada permulan surat Al-Hadid yang dimulai dengan tasbih. Sebagai contoh surat An-Naml ayat 80:             “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan. yang diawalidengan penjelasan perjuangan Nabi Musa dalam menghadapi kekejaman Fir‟aun.” Ungkapan “idza wallau mudbiriin” merupakan penjelasan tambahan terhadap makna orang tuli. Atas perintah dan pertolongan Allah Nabi Musa berhasil keluar dari Mesir.

3. 4. 2. bagian-bagiannya laksana sebuah bangunan yang amat kokoh. 5 Manna Khalil al-Qattan.Munasabah Al-Qur'an D. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an. Studi Ilmu-Ilmu Al-qur'an.5 Adapun beberapa manfaat dalam mempelajari munasabah Al-Qur'an. Mengetahui hubungan antara kalimat dengan kalimat. Dapat mengetahui mutu dan tingkat kebahasaan Al-Qur‟an. bentuk susunannya kukuh dan bersesuaian. Dapat menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan sebagian lainnya. sehingga lebih memperdalam pengatahuan dan pengenalan terhadap Al-Qur‟an serta memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. diantaranya sebagai berikut: 1. sehingga hubungannya menjadi kuat. mukjizat Al-Qur'an secara retorik. dan keindahan gaya bahasanya. keteraturan susunan kalimatnya. ayat dengan ayat. 2009. maupun surat dengan surat. KEGUNAAN MEMPELAJARI MUNASABAH Pengetahuan tentang munasabah sangat bermanfaat dalam memahami keserasian antar makna. kejelasan keterangannya. hlm 138 12 . Bogor: Pustaka Litera AntarNusa.

Apabila korelasi itu halus maknanya. rahasia retorika dan segi keterangannya yang mandiri. baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan yang lainnya dapat lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur'an dan memperkuat keyakinan kita terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. maka korelasi tersebut dapat diterima. harmonis konteksnya dan sesuai dengan asas-asas kebahasaan dalam ilmu-ilmu bahasa Arab. tetapi didasarkan pada ijtihad seorang mufasir dan tingkat penghayatannya terhadap kemukjizatan Al-Qur‟an.Munasabah Al-Qur'an BAB III PENUTUP KESIMPULAN Munasabah sangat berperan penting dalam memahami Al- Qur‟an.Pengetahuan tentang munasabah atau korelasi antara ayat dengan ayat dan surat dengan surat membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik dan cermat. Pengetahuan mengenai munasabah bukanlah hal yang tauqifi (tak dapat diganggu gugat karena telah ditetapkan Rasul). 13 . Pengetahuan tentang keterkaitan atau hubungan antara bagian Al-Qur'an. Semua hal ini dapat membantu kita dalam hal menafsirkan ayatayat Al-Qur'an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat lain.

Anwar.Ali.Hasbi. Rosihun.Manna Khalil. Jakarta: Pustaka Amani. T M. 14 . 2009. 1986. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 2001. Jakarta: PT. 2009. Ash-Shiddieqy.Hasbi. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur'an.Ulum Al-Qur'an. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Al-Qur‟an dan Terjemahannya.2008. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Ash-Shiddieqy. Bandung: Pustaka Setia. T M. At-Tibyan fii 'Ulumil Qur'an. Ash-Shabuni. Departemen Agama RI. 2009.Munasabah Al-Qur'an DAFTAR PUSTAKA Al-Qattan. Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. M. Intermasa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->