qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw ertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwert yuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui

Tarian di Indonesia opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa

Apresiasi Seni Tari

sdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
X2/17

Kartika Ika Putri

ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklz xcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa

dan nacah miring.  Gerakan : Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki. kengser. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. . Hal ini dapat diamati pada gerak ukel asta (memutar pergelangan tangan) sebagai format gerak yang sering dilakukan. Gerak kaki pada saat sikap berdiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak (merendah) bergerak ke bawah dan ke atas. Meskipun demikian. Perkembangan busana tari Gambyong yang beragam saat ini lebih terkesan dekoratif dan kurang memerhatikan kemungguhan (kesesuaian) tari. Sebagai contoh. tampak seperti burung gelathik muncul). Bagian bahu dibuat terbuka. busana yang dianggap sesuai dengan ekspresi tari Gambyong adalah busana angkinan dengan gelung gedhe. pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah kecil-kecil). Penari yang bernama Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di Surakarta. Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangkaian gerak. Bentuk busana ini memungkinkan juga memberikan keleluasaan gerak sesuai dengan manifestasi dan kelincahan Tari Gambyong. singget ukel karna.  Kostum : Busana tari Gambyong yang disebut angkinan atau kembenan menjadikan lekuk-lekuk tubuh penari tampak terbentuk. lengan. Dengan demikian. kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lantai). Penari ini juga dsiebutkan dalam buku "Cariyos Lelampahanipun" karya Suwargi R. bagian-bagian tubuh yang digerakkan kelihatan jelas sehingga gerak seperti ogek lambung yang bervolume kecil dapat tampak lebih jelas. maka pada saat berjalan atau bergerak. tubuh. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg). Maka. bahkan kadang-kadang payudara dinaikkan sehingga tampak montok dengan sebutan glathik mungup (lekukan payudara. yaitu srisig. Dengan penggunaan kain yang diwiru. lipatan kain (wiron) itu akan membuka dan menutup serta kelihatan hidup sehingga dapat memperkuat impresif kenesnya. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari-jari tangan menjadikan faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemnahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.Tarian di Indonesia I. dan kepala. Tari Klasik (Tradisional) a.Ng. nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung. bergantian atau disusul kaki kanan di letakkan di depan kaki kiri). Tari Gambyong  Asal Daerah : Jawa Tengah  Tema : Pernikahan (mengawali) atau menerima tamu  Sejarah (Pencipta dan Kapan) : Awal mula istilah Gambying tampaknya berawal dari nama seorang penari taledhek. Gerak kaki yang spesifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag.

Ay. Moertiyah. kempul. sehingga jika disajikan sebagai pertunjukan diberlakukan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Bedhaya Endhol-endhol. Koes Indriyah dalam David t. Wamancara: September 1997). Moertiyah. disajikan hanya untuk rangkaian upacara Jumenengan Tinggalan Dalem di kraton. disebabkan adanya larangan dari pihak kraton Surakarta bahwa tari dan karawitan milik kraton tidak diperbolehkan untuk dipelajari secara privat atau ditulis (didiskripsikan). Karena disadari penari tidak sekadar bergerak secara fisik saja. di samping faktor kebiasaan dan kematangan. Ay. Banyak tari Bedhaya yang hilang atau tidak tergali. dan PB VIII Artinya pada masa-masa itulah banyak diciptakan tarian Bedhaya (G. Wawancara: September 1997). tetapi yang lebih penting adalah mampu mengungkapkan intuisi lewat gerak yang dinamis dan proporsional.R. Keberadaan tari-tari di lingkungan kraton pengelolaannya dilakukan oleh beberapa kelompok abdi dalem putri yang dibawahi oleh Pengageng Parentah Keputren. Kebiasaan dan kematangan pada tari Gambyong akan membentuk penari itu menjadi penari yang luluh atau menyatu dengan tari yang disajikan. dan gong  b. untuk hiburan raja. di sampik menari juga membantu segala pekerjaan yang ada di keputren termasuk menjaga keamanan. Tari Bedhaya Ketawang sampai sekarang disakralkan bagi pihak kraton Surakarta.perkembangan busana itu tetap membuat penyajian tari Gambyong semakin beragam dan menarik. Bedhaya Pangkur. pada masa PB XII. Penyajian tari Gambyong akan dapat mencapai nilai estetis apabila dilakukan oleh penari yang memiliki basis tari yang kuat. Dari sekian banyak gendhing Bedhaya hanya tinggal Gendhing yang masih dapat diketahui tarian diantaranya Bedhoyo Durudasih. Bedhaya Sinom. di samping itu ada peraturan yang membatasi bahwa yang boleh belajar tari hanyalah wanita yang belum menikah. Kanjeng Susuhunan Pakubuwana mengijinkan tari Bedhaya dipelajari oleh masyarakat di luar kraton. diantaranya adalah kelompok abdi dalem Bedhaya. Sekitar tahun 1970-an. yang mana cakepan sindenannya kebanyakan menggambarkan kehidupan raja semata (G. Dengan demikian dapat dimaklumi jika jarang penari dapat mendalami tarian dengan sungguh-sungguh (G. kenong. Namun demikian tidak berarti semua tari Bedhaya bersifat sakral dan tertutup bagi masyarakat umum.t. Menurut Gusti Puger bahwa tari di samping sebagai hiburan juga sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran seorang anak dan juga bisa digunakan untuk penyambutan tamu. Bedhaya Gambir Sawit dan Bedhaya Ketawang. Iringan : Gender. Kelompok abdi dalem Bedhaya memiliki tugas pokok sebagai penari Bedhaya. kendang.R. Bedhaya Tejanata. yang memanfaatkan kesempatan pertama kali Ketika itu adalah ASKI/PKJT sebagai salah satu lembaga pendidikan dan lembaga budaya yang berkedudukan di Sasana Mulyo Baluwarti. PB III. Bedhaya Sukaharja. maka diciptakanlah tari-tari Bedhaya lain yang sifatnya hanya untuk sesuka atau untuk kepuasan batin. Tari Bedhaya  Asal Daerah : Jawa Tengah  Tema : Percintaan  Sejarah (Pencipta dan Kapan) : Tari Bedhaya mengalami masa kejayaan pada abad ke 18 pada masa kekuasaan PB II. Diantara 11 bentuk tari Bedhaya yang dianggap paling tua adalah Bedhaya Ketawang.R. untuk itu kelompok abdi dalem Bedhaya juga dilatih beta diri. Kemantapan sajian tari dari seorang penari dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang membentuk diri penari. Mulai saat itulah penari niyaga dan . Ay. Bila menginginkan belajar harus di dalam kraton. Bedhayo Kabor.: 59-60). PB IV. Bedhaya Kaduk Manis. Bagi kraton Surakarta tari Bedhaya Ketawang merupakan salah satu pusaka.

Kata bangun tulak berasal dari kata bango dan tulak. yaitu penggambaran seisi belantara yang meliputi aneka jenis hewan dan tumbuhan. Apit Meneng.5 kali kain panjang biasa.  pengeprak kraton diperbolehkan berbaur latihan dengan penari niyaga dan pengeprak dari luar kraton. Sementara itu tulak berarti mencegah bala atau kejahatan. batak. Lembaran kain dodot tersebut dihiasi dengan motif alas-alasan. yaitu: a. Bancit. raja diposisikan sebagai titisan Wisnu (dewa pemelihara). yaitu: Batak. Gerakan : Sembilan orang penari dengan menggunakan tata busana dan rias wajah serta tata rambut yang sama. Ay. Apit Wingking. dada. kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat untuk upacara tertentu. Wawancara: Oktober 1997). Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2. yang lazim disebut sebagai Basahan. serta penari Bedhaya dan Serimpi. Bango merupakan nama sejenis burung yang dipercaya memiliki umur yang sangat panjang. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau gelap yang disebut dodot gadung mlathi. buntil. karena dipercaya beliau sangat menyukai warna hijau. Tari Bedhaya memiliki rhytme berbeda sekali yaitu lebih halus dan tenteram dalam gerakannya. sepasang pengantin keraton. Endhel Weton. Dalam konsep dewa raja. Selain itu hijau merupakan simbol kemakmuran. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa yang dinamakan Bedhaya yaitu rakitan penari sembilan orang yang diatur secara rytmische figures dan standen. serta sondher. yang berarti rimba raya. motif garuda merupakan motif yang paling tinggi kedudukannya di antara motif lain. sehingga kendaraannya disejajarkan dengan kendaraan Wisnu.75 hingga 4 meter. tetapi warnanya berbeda. maka dodot yang digunakan bermotif alas-alasan.R. Masing-masing penari membawakan peran dengan nama yang berbedabeda. Apit Ngajeng. sedangkan 7 penari lainnya mengenakan dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak. Hal tersebut dikarenakan tari Bedhaya Ketawang merupakan reaktualisasi pernikahan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul. Garuda dipercaya sebagai burung dewa. dan rasa ketenangan. Busana tersebut meliputi kain dodot. sehingga busana yang dikenakan haruslah busana pengantin. Sebagaimana pengantin. dan sekaligus sebagai simbol matahari. kendaraan Wisnu. hingga panjang dodot bisa mencapai 3. yaitu endel. Akhirnya hingga sekarang tari Bedhaya dapat dipelajari dan disajikan di luar tembok kraton. Endhel Ajeg. Dhadha. Kostum : Busana dan tata rias yang dikenakan penari dalam pagelaran tari Bedhaya Ketawang adalah layaknya pengantin putri Kraton Surakarta. . masingmasing penari memiliki rol sendiri-sendiri. Versi lain kain alas-alasan adalah gadhung mlathi yang memiliki lapisan bawah berwarna hijau sesuai dengan makna gadhung dan lapisan tengah berwarna putih sebagaimana warna bunga melati. dan empat orang pengapit. ketentraman. samparan. Moertiyah. Pada masa lalu. Tarian ini memiliki dua penari utama. Simbol garuda dapat meninggikan kedudukan raja yang berkuasa. Kain tersebut dikenakan sebagai bentuk penghormatan pada Kanjeng Ratu Kidul. gulu. Ragam hias garuda Dalam batik motif semen. Penamaan ini berkaitan dengan elemen-elemen yang membentuk motif tersebut. yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot mereka. (G. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan. Gulu.

Pada kebudayaan Jawa Hindu. kura-kura merupakan penjelmaan Wisnu yang diharapkan akan dapat menjalankan tugasnya menjaga bumi bila bersatu dengan istrinya yaitu Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Sementara itu pada pola batik. i. yaitu kepada Sang Pencipta. Ragam hias burung bangau . ragam hias meru menyimbolkan tanah atau bumi yang menggambarkan proses hidup tumbuh di atas tanah. e. Watak tersebut dilambangkan sebagai Dewi Sri. dan paling baik agar menjadi manusia sempurna. Ragam hias Pohon Hayat Melambangkan kesatuan dan ke-Esaan. Menurut paham Indonesia kuno. paling besar. perempuan. Ragam hias Ayam Jantan Di Indonesia dipandang sebagai symbol keberanian dan tanggung jawab h. Ragam hias gajah Merupakan lambang kendaraan raja yang melambangkan kedudukan luhur. hujan. Ragam hias kura-kura Kura-kura dipercaya sebagai lambang dunia bawah atau lambang bumi. Ragam hias kijang Kijang adalah lambang kelincahan dan kebijaksanaan yang menyimbolkan kelincahan dalam berfikir dan mengambil tindakan serta keputusan. f. Kadangkala burung menjadi lambang nenek moyang yang telah meninggal atau dipakai sebagai kendaraan roh menuju Tuhannya. Sementara itu naga sebagai ular dewa merupakan lambang air dan bumi. Penggunaan ragam hias burung melambangkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke asalnya. Ragam hias Meru Motif meru merupakan simbol gunung. bumi. j. dan yoni. gunung melambangkan unsur bumi atau tanah. air. d. naga melambangkan dunia bawah. Ragam hias burung Burung merupakan lambang dunia atas yang menggambarkan elemen hidup dari udara (angin) dan melambangkan watak luhur. samudera. mengandung arti sesuatu yang paling tinggi. Bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta g. dan bulan. c. Ragam hias ular Ular dianggap sebagai simbol perempuan dan merupakan bagian dari konsep kesuburan. Dalam pengertian simbol. Dalam agama Hindu.b. puncak gunung yang tinggi merupakan tempat bersemayam para dewa.

5 kali lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Namun sebelum dodot dipakai. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut. maka selama menari terdapat dua orang abdi dalem yang bertugas mendampingi untuk membenahi busana para penari apabila busana tersebut rusak ketika sedang menari. Ia dianggap sebagai lambang penolakan keadaan yang tidak baik. Kain tersebut biasanya memiliki panjang 3 meter dan lebar 50 cm. para penari tetap menari dan abdi dalem lah yang menyesuaikan dengan gerakan penari supaya sang penari tetap konsentrasi menari dengan baik karena sedang membawakan tari pusaka. Selanjutnya dikenakan sondher. Dewa juga dilambangkan dengan bunga teratai. Dari uraian tersebut kita mengetahui bahwa para penari Bedhaya Ketawang mengenakan beberapa helai kain yang dalam teknik pemakaiannya tidak memakai proses jahit dan hanya dililitkan. supaya pada akhirnya dapat meraih keselamatan dan berumur panjang. Oleh karena itu. busana tersebut rentan untuk rusak tatanannya selama menari. ujungnya berhias gombyok atau rumbai warna emas.Burung bangau dipercaya memiliki umur yang sangat panjang bahkan dapat mencapai ratusan tahun. sehingga diharapkan dapat menghindari atau menjauhi bahaya apapun. di antara kedua kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan. diselipkan diantara lapisan-lapisan kain lainnya. karena selama membetulkan busana tersebut. Untuk itu pada bagian dahi dilukiskan beberapa bentuk. Pada hakikatnya penggunaan kain dodot dengan motif alas-alasan tersebut memiliki harapan yang baik sekaligus sebagai penolak bala. Hal ini sesuai dengan ornamen-ornamen yang digambarkan pada lembaran kain tersebut. Sisa kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah. Untuk mendukung tata busana penari Bedhaya Ketawang. Ada suatu keunikan disini. yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2. maka wajah para penari tersebut juga dirias selayaknya pengantin. Dalam suatu pagelaran. baik karena terinjak atau karena sebab lain. k. kain yang digunakan sebagai samparan adalah cindhe dengan motif Cakaran berwarna merah.5 kacu atau 2. terlebih dahulu dikenakan samparan. Ragam hias motif kawung Motif ini tersusun atas bentuk elips. Pemakaian kain jenis ini disebut samparan. Bunga ini melambangkan umur panjang dan kesucian. Berdasarkan hal tersebut. Dalam suatu pagelaran. yang disebut sampur atau udhet. maka motif kawung menyimbolkan kedudukan raja sebagai pusat kekuasaan mikrokosmos sejajar dengan dewa sebagai pusat kekuasaan makrokosmos. yang dapat diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan 4 lembar daun bunganya yang sedang mekar. sondher yang dikenakan bermotif cindhe sekar warna merah. yaitu: . yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari. Ragam hias harimau Melambangkan keindahan yang disertai wibawa dan tangguh dalam menghadapi lawan l.

mengapit di kanan kiri bentuk gajahan. Pembuatan godheg dimulai dari atas telinga turun melengkung sampai di depan telinga. Pendamping kanan sebagai pemomong akan selalu setia mengingatkan melalui suara hati agar tetap kuat dan teguh imannya. 4. yang menyimbolkan bahwa meskipun sudah menjadi manusia sempurna harus selalu waspada terhadap sifat buruk pendamping kiri. kelat bahu. Melambangkan bahwa manusia harus mengetahui asal usul dari mana ia datang dan ke mana harus pergi. dan paling baik agar menjadi manusia sempurna. centhung. Bentuk-bentuk tersebut dioles dengan lotha yaitu ramuan berwarna hijau yang dibuat dari campuran malam kote. letak di tengah-tengah dahi ± 3 cm di atas kedua pangkal alis dengan lebar pada pangkal dahi ± 4 cm. kalung. yang disebut sebagai sanggul bokor mengkurep. salah satunya dengan ia akan selalu memperbaharui pernikahannya . Bahwasanya Kanjeng Ratu Kidul akan senantiasa menjaga dan melindungi Kerajaan Mataram. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai bokor yang tengkurap. Melambangkan bahwa agar dapat mengatasi segala serangan buruk dari beberapa arah harus selalu waspada dan bijaksana atau “tanggap ing sasmita”. Bentuk ini berada di dekat telinga kanan dan kiri. Sebagaimana pengantin. meliputi cundhuk jungkat. dan daun dhandhang gula. minyak jarak. 9 buah cundhuk mentul. pengapit. subang. berbentuk ngudup kanthil yaitu seperti kuncup bunga kanthil. Titik yang merupakan pusat dari semua unsur bentuk paes dan disebut cihna. Ujung penitis menghadap ke ujung alis. maka rambut para penari Bedhaya Ketawang juga disanggul. Pada jaman dahulu ramuan tersebut dibuat dari daun yang berbau wangi. 5. Merupakan symbol kearifan dan harapan agar mempunyai tujuan yang tepat. Manusia diharapkan dapat kembali ke asal dengan sempurna. 2. penitis berbentuk seperti setengah bulatan telur ayam pada bagian ujung. godheg berbentuk seperti kudhup atau kuncup bunga turi dengan ukuran mirip dengan pengapit. sehingga rias wajah penari tersebut disebut paes dhandhang gendhis. serta cincin. 3. paling besar. alis penari berbentuk menyerupai tanduk kijang bercabang satu atau disebut menjangan ranggah. Bentuk ini terletak pada dahi. bentuk seperti setengah bulatan telur bebek. Merupakan pendamping kiri-kanan. Sanggul ini ditutup dengan rajutan melati dan dihias dengan bunga tiba dhadha yang dibuat dari roncean melati berbentuk bulat panjang sampai tengah paha. Ada dua penitis seperti halnya pengapit. disebut daun dhandhang gendhis. Keseluruhan tata busana dan rias pengantin yang dikenakan oleh para penari Bedhaya Ketawang tersebut seolah mereaktualisasikan perjanjian antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. apabila ditarik garis lurus pada ujungnya secara vertical tepat pada ujung hidung. garuda mungkur. sesuatu yang paling tinggi. Lebar pengapit pada pangkal dahi ± 2 cm. Keanggunan dan keagungan tata busana dan rias tersebut ditunjang dengan pemakaian seperangkat perhiasan yang biasa dikenakan pengantin. Merupakan lambang kendaraan raja yang menyimbolkan kedudukan luhur. Bentuk ini mempunyai ukuran lebih kecil dari pada gajahan. Kedua ujung pengapit jika ditarik dengan garis lurus akan bertemu di suatu titik antara kedua pangkal alis. yang disebut raja keputren. bentuk ini terletak pada bagian luar dari pengapit kanan dan pengapit kiri. slepe. gajahan.1.

Tari Bondan ini juga paling sulit ditarikan karena sambil menggendong boneka.   Gerakan : Kostum : Mengenakan pakaian seperti gadis desa. memakai sanggul. Hal ini dilakukan untuk mereaktualisasikan pernikahannya dengan Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya selalu hadir setiap tari ini dibawakan. Bondan Mardisiwi. Oleh karena itu para penarinya haruslah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Penari Tari Bondan biasanya menampilkan Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain Wiron. memanggul payung. si penari harus siap-siap naik di atas kendi yang berputar sambil memutar-mutarkan payung kertasnya. gong (gemelan c. dan Bondan Pegunungan/ Tani. memakai caping dan membawa alat pertanian. menggendong boneka. sawah. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. baju kutang. serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Tari Bondan adalah tari unggulan atau tari wajib bagi perempuanperempuan cantik untuk menunjukkan siapa jati dirinya. menari dengan hati-hati di atas kendi yang diinjak dan tidak boleh pecah. Tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati. Tari Bondhan  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan) : Jawa Tengah : : Tari Bondan adalah tari yang berasal dari Surakarta. menggendong tenggok. menggendong tenggok. Ciri tarian :yaitu mengenakan pakaian seperti gadis desa. Tari ini dibagi menjadi 3. memakai caping dan membawa alat pertanian. seorang anak wanita dengan menggendong boneka mainan dan payung terbuka. Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi melambangkan seorang ibu yang menjaga anaknya yang baru lahir dengan hati-hati dan dengan rasa kasih sayang . Hampir semua penari Tari Bondan adalah kembang kampung.dengan raja – raja Mataram. kendhang. Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. kethuk. Di tahun 1960an. Oleh karena itu Sunan biasanya akan mengangkat salah satu penari Bedhaya Ketawang sebagai selirnya. dan membawa kendhi.  Iringan laras pelog. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing. yang kemudian diangkat sebagai selir oleh raja. Kanjeng Ratu Kidul dipercaya akan masuk ke tubuh salah satu penari. yaitu Bondan Cindogo. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. tanpa keprak) : Kemanak. Bentuk tariannya pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan . kenong. tegal pertanian. Jawa Tengah. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. memakai Jamang. Bentuk tariannya pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Sedangkan Bondan Pegunungan. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.

Iringan : Gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. d. Tari Serimpi  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan Tari Beksan Wireng  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan : : : : : : e. memakai Jamang. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing. memanggul payung. menggendong boneka. Tari Prawiroguna  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan Tari Ronggeng  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan Tari Kumbang  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum : : : : : : b. Sedangkan Bondan Pegunungan. sawah. tegal pertanian. baju kutang. : : : : : : II. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi. memakai sanggul. dan membawa kendhi. : : : : : . Tari Kreasi Baru (Modern) a. : : : : : : c. Penari Tari Bondan biasanya menampilkan Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain Wiron. membelakangi penonton.

: : : : : : . d. Iringan : Tari Wira Pertiwi  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan Tari Beksan Gathotkaca vs Suteja  Asal Daerah  Tema  Sejarah (Pencipta dan Kapan)  Gerakan  Kostum  Iringan : : : : : : e.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful