P. 1
Emile Durkheim Dan Max Weber

Emile Durkheim Dan Max Weber

|Views: 7|Likes:
Published by Himawan Muhammad

More info:

Published by: Himawan Muhammad on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

Emile Durkheim dan Max Weber Posted on June 1, 2010 Filed Under Uncategorized | Leave a Comment pemikiran-emile

-durkheim-dan-max-weber PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM 1. FAKTA SOSIAL Kata ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 oleh sosiolog Perancis Émile Durkheim dan banyak mempengaruhi analisa Durkheim (dan para pengikutnya) ketika dalam meneliti masyarakat antara lain (Ritzer 2000:73) mengatakan struktur sosial, norma kebudayaan, dan nilai sosial yang dimasukan dan dipaksakan (koersi) kepada pelaku sosial. Durkheim bertujuan agar sosiologi memiliki dasar positivisme yang kuat, sebagai ilmu di antara ilmu yang lain. Ia berpendapat bahwa setiap ilmu tertentu harus memiliki subyek pembahasan yang unik dan berbeda dengan ilmu lain, namun harus dapat diteliti secara empiris. Durkheim mengemukakan tiga karakteristik fakta sosial yang berbeda. Pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Sesudah memberikan contoh mengenai fakta sosial itu (bahasa, sistem moneter, norma – norma profesional, dll), Durkheim menegaskan bahwa “Ini merupakan cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut dilihat sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran individu”. Kedua, bahwa fakta sosial itu memaksa individu. Jelas bagi Durkheim bahwa individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang Durkheim katakan : “Tipe – tipe perilaku atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauan individu titu sendiri”. Ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang negatif atau membatasi seperti memaksa seseorang untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Karakteristik fakta sosial yang ketiga, adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial itu merupakan milik bersama, bukan sifat individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar – benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini. Durkheim ingin menegakkan pentingnya tingkat sosial daripada menarik kenyataan sosial dari karakteristik individu. Dalam buku Rules of Sociological Method, Durkheim menulis: “Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, baik tetap maupun tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu.” Dalam sudut pandang Durkheim, sosiologi sederhananya adalah ‘ilmu dari fakta sosial’. Oleh karena itu, tugas dari para ahli sosiologi adalah mencari hubungan antara fakta-fakta sosial dan menyingkapkan hukum yang berlaku. Setelah hukum dalam struktur sosial ini ditemukan, baru kemudian para ahli sosiologi dapat menentukan apakah suatu masyarakat dalam keadaan ‘sehat’ atau ‘patologis’ dan kemudian menyarankan perbaikan yang sesuai. 1. SOLIDARITAS SOSIAL Konsep solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim (1858-1917) dalam mengembangkan teori sosiologi. Durkheim (dalam Lawang, 1994:181) menyatakan bahwa solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka.

berdasarkan hasilnya. Durkheim melihat bahwa masyarakat berkembang dari masyarakat sederhana menuju masyarakat modern. namun perlu dibedakan (3) dari perbedaan yang kedua itu muncul perbedaan yang ketiga. menjungkirbalikan mobil. sehingga timbul rasa kebersamaan diantar mereka. Jika setiap kesadaran individual itu menggemakan perasaan kolektif. atau menunjukkan sikap kepahlawanan. . dan dengan demikian tidak memiliki kekhususan. namun masih tetap dalam satu kesatuan. disesbabkan oleh sesuatu yang dipaksakan pada tiap-tiap individu. diantaranya pada kesadaran kolektif yang berlainan dengan dari kesadaran individual terlihat pada tingkah laku kelompok. Pada solidaritas positif yang lainnya. Bilamana orang berkumpul untuk berdemonstrasi politik. yang akan memberi ciri dan nama kepada kedua solidaritas itu. Jadi masing-masing individu diserap dalam kepribadian kolektif. mereka melakukan hal-hal yang tidak mungkin mereka lakukan jika sendirian. sehingga menjadi tingkah laku dan pikiran masyarakat. kegiatan religius. Fakta sosial yang berada di luar individu memiliki kekuatan untuk memaksa. Jadi. Selanjutnya. individu tergantung dari masyarakat. Salah satu komponen utama masyarakat yang menjadi pusat perhatian Durkheim dalam memperhatikan perkembangan masyarakat adalah bentuk solidaritas sosialnya. Pada saat solidaritas mekanik memainkan peranannya. perasaan kolektif yang merupakan akibat (resultant) dari kebersamaan. fakta sosial berasal dari pikiran atau tingkah laku individu. kepribadian tiap individu boleh dikatakan lenyap. yang menyatukan hubungan-hubungan yang tetap. Solidaritas negatif tidak menghasilkan integrasi apapun. karena ia bukanlah diri indvidu lagi. manusia hidup bersama dan berinteraksi. gotong royong dan sebagainya. Fakta sosial yang merupakan gejala umum ini sifatnya kolektif. Argumentasi Durkheim. solidaritas dapat dibedakan antara solidaritas positif dan solidaritas negatif. semangat pengorbanan yang luar biasa. berdasarkan bentuknya. sedangkan masyarakat modern mengembangkan bentuk solidaritas sosial organik. masyrakat berpikir dan bertingkah laku dihadapkan kepada gejala – gejala sosial atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada di luar individu. tetapi berbeda peranan dan fungsinya dalam masyarakat. (2) solidaritas positif yang kedua adalah suatu sistem fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus. yang pada akhirnya menjadi fakta sosial. Masyarakat sederhana memiliki bentuk solidaritas sosial yang berbeda dengan bentuk solidaritas sosial pada masyarakat modern. Orang melakukan perusakan dan merampok toko-toko. melainkan hanya sekedar mahluk kolektif. walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu saja. Rasa kebersamaan ini milik masyarakat yang secara sadar menimbulkan perasaan kolektif. Pada awalnya. karena individu tergantung dari bagianbagian yang membentuk masyarakat tersebut. tanpa perantara. Masyarakat sederhana mengembangkan bentuk solidaritas sosial mekanik. hal itu bersumber dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan kolektif tersebut. solidaritas sosial masyarakat terdiri dari dua bentuk yaitu: (1) SOLIDARITAS SOSIAL MEKANIK Pandangan Durkheim mengenai masyarakat adalah sesuatu yang hidup. Ciri-ciri tipe kolektif tersebut adalah individu merupakan bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan. Keduanya hanya merupakan dua wajah dari satu kenyataan yang sama. huru-hara rasial atau untuk menonton sepakbola. Berkaitan dengan perkembangan masyarakat. merupakan hasil aksi dan reaksi diantara kesadaran individual.Menurut Durkheim. namun terdapat pula pikiran dan tingkah laku yang sama dari individu-individu yang lain. Dalam masyarakat. sedangkan solidaritas positif dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri: (1) yang satu mengikat individu pada masyarakat secara langsung. semuanya dianggap musatahil oleh yang bersangkutan.

di bawah pengaruh proses sosial mengakibatkan pembagian kerja semakin terdiferensiasi. bakat. keseluruhan kepercayaan dan perasaan umum di kalangan anggota masyarakat membentuk sebuah sistem tertentu yang berciri khas. Dengan sendirinya. juga demi keterikatan pada kelompok. individu dan kelompok dalam masyarakat merasa semakin tergantung kepada pihak lain yang berbeda pekerjaan dan spesialisasinya. Moralitas mempunyai keterikatan yang erat dengan keteraturan perbuatan dan otoritas. Bukan pembagian kerja yang mendahului kebangkitan individu.Masyarakat bukanlah sekedar wadah untuk terwujudnya integrasi sosial yang akan mendukung solidaritas sosial. Nilai-nilai itu sudah merasuk dalam batin dan memaksa individu. saling ketergantungan fungsional antar pelbagai bagian masyarakat yang heterogen itu mengakibatkan terjadi suatu pegeseran dalam tata nilai masyarakat. orang merasa lebih bebas. prestasi. dan semuanya memiliki gaya hidup yang kira-kira sama. dimana semua anggota pada dasarnya memiliki kepercayaan bersama. Kesadaran kolektif pada masyarakat mekanik paling kuat perkembangannya pada masyarakat sederhana. Jadi. melainkan juga pangkal dari kesadaran kolektif dan sasaran utama dari perbuatan moral. karena belum pluralnya masyarakat. Kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang. Titik tolak perubahan tersebut berasal dari revolusi industri yang meluas dan sangat pesat dalam masyarakat. yaitu solidaritas organik. melainkan dasar integrasi sosial sedang mengalami perubahan ke satu bentuk solidaritas yang baru. yang merupakan tipe masyarakat yang pluralistik. maka kehendak semua orang bergerak secara spontan dan seperasaan. (2) SOLIDARITAS SOSIAL ORGANIK Solidaritas organik berasal dari semakin terdiferensiasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial. Durkheim merumuskan gejala pembagian kerja sebagai manifestasi dan konsekuensi perubahan dalam nilai-nilai sosial yang bersifat umum. nilai. Penghargaan baru terhadap kebebasan. Suatu tindakan bisa disebut moral. tidak menghasilkan heterogenitas yang tinggi. perkembangan tersebut tidak menimbulkan adanya disintegrasi dalam masyarakat. tujuannya untuk memelihara kesatuan sosial. pendapat. Peningkatan terjadi secara bertahap. sehingga menimbulkan kesadaran individu baru. misalnya tindakan yang secara langsung mengungkapkan ketidaksamaan yang menyolok dengan orang yang melakukannya dengan tipe kolektif. Pelanggaran yang dilakukan individu menimbulkan reaksi terhadap kesadaran kolektif. Moralitas merupakan suatu keinginan yang rasional. setiap kali dorongan itu berlangsung. demikian pula kepercayaan. Pekerjaan orang menjadi lebih terspesialisasi dan tidak sama lagi. sekalipun pemaksaannya tidak langsung dirasakan karena proses pembatinan itu untuk menyesuaikan diri. Solidaritas mekanik tidak hanya terdiri dari ketentuan yang umum dan tidak menentu dari individu pada kelompok. sikap. Terdapat daya kekuatan sosial yang hakiki yang berdasarkan atas kesamaan-kesamaan sosial. pandangan. kalau tindakan itu tidak menyalahi kebiasaan yang diterima dan didukung oleh sistem kewenangan otoritas sosial yang berlaku. Heterogenitas yang semakin beragam ini tidak menghancurkan solidaritas sosial. terdapat suatu penolakkan karena tidak searah dengan tindakan kolektif. Tindakan ini dapat digambarkan. dan juga gaya hidup. karena pembagian kerja semakin tinggi. dan karir individual menjadi dasar masyarakat pluralistik. . Pembagian kerja masih relatif rendah. Pengalaman orang menjadi semakin beragam. kenyataannya dorongan kolektif terdapat dimana-mana. Bentuk ini benar-benar didasarkan pada saling ketergantungan di antara bagian-bagian yang terspesialisasi. Setiap individu yang melakukan pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma kolektif timbul rasa bersalah dan ketegangan dalam batin. Jadi perbuatan moral bukanlah sekedar “kewajiban” yang tumbuh dari dalam diri melainkan juga “kebaikan” ketika diri telah dihadapkan dengan dunia sosial. sistem itu dinamakan hati nurani kolektif atau hati nurani umum. Menurutnya. dan membawa hasil dimana-mana pula. atau tindakan-tindakan itu melanggar organ hati nurani umum. Hal inilah yang diungkapkan oleh hukum bersifat represif (menekan). Sebaliknya. melainkan sebaliknya perubahan dalam diri individu. merasa dirinya semakin berbeda dalam kepercayaan. dan kesadaran pada umumnya. Lain halnya pada masyarakat organik.

1986:188). Ikatan yang mempersatukan individu pada solidaritas mekanik adalah adanya kesadaran kolektif. dan bahwa hubungan antara ideal agama dan kepentingan ekonomi sebenarnya bersifat saling tergantung.Kesadaran baru yang mendasari masyarakat modern lebih berpangkal pada individu yang mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih terbatas dalam masyarakat dan mereka tetap mempunyai kesadaran kolektif yang terbatas pada kelompoknya saja. hubungannnya itu bersifat timbal-balik. maka kesadaran kolektif semakin kurang. contohnya yang sesuai dengan pekerjaannnya saja. Terjadinya perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya pembagian kerja dan kompleksitas sosial. Titik tolak baginya adalah mengenai individu yang bertidak yang tindakan-tindakannya itu hanya SOLIDARITAS ORGANIK Pembagian kerja tinggi Kesadaran kolektif rendah Hukum restitutif dominan Individualiasme tinggi Saling ketergantungan yang tinggi Bersifat insdustrial-perkotaan . ditandai oleh heterogenitas dan individualitas yang semakin tinggi.Weber juga mengemukakan mengenai analisa tipe-ideal dimana memungkinkan untuk mengatasi peristiwaperistiwa khusus dan untuk memberikan analisa perbandingan dengan menggunakan kategorikategori teoritis yang umum sifatnya. Integrasi sosial akan terancam jika kepentingan-kepentingan individu atau kelompok merugikan masyarakat secara keseluruhan dan kemungkinan konflik dapat terjadi. dapat dilihat sebagai perubahan dari struktur otoritas tradisional ke struktur legal-rasional. dan legal rasional. bahwa individu berbeda satu sama lain. Keseluruhan pendekatannya menekankan bahwa kepentingan ideal dan materiil mengatur tindakan orang. Kharismatik. Pada solidaritas organik. Perkembangan ini mempunyai dua akibat penting. Kita dapat membandingkan sifat – sifat pokok dari masyarakat yang didasarkan pada solidaritas mekanik dengan solidaritas organik. yang dapat bersifat mekanik. Otoritas tradisional. mengidentifikasikan dua tipe tindakan rasional yang berbeda dan dua tipe tindakan yang nonrasional. Dengan kata lain. dapat juga dilihat sebagai perkembangan evolusi model linier (Lawang. Mereka membentuk solidaritas dalam kelompok-kelompok kecil. Kedua. Masing-masing pribadi mempunyai ruang gerak tersendiri untuk dirinya. dimana solidaritas organik mengakui adanya kepribadian masing-masing orang. Kepribadian individu diserap sebagai kepribadian kolektif sehingga individu saling menyerupai satu sama lain. Pertama. Pengaruh agama terhadap pola perilaku individu serta bentuk-bentuk organisasi sosial juga dapat dilihat dalam analisa perbandingannya mengenai agama-agama dunia yang besar. dia meningkatkan solidaritas organik yang didasarkan pada saling ketergantungan fungsional. Ketiga tipe otoritasnya yang terkenal yakni. Pertumbuhan masyarakat kota modern yang bersifat industrial. dia merombak kesadaran kolektif yang memungkinkan berkembangnya individualitas. Karena sudah terspesialisasi dan bersifat individualistis. Analisanya mengenai etika protestan serta pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu serta tidakan ekonominya. SOLIDARITAS MEKANIK Pembagian kerja rendah Kesadaran kolektif kuat Hukum represif dominan Individualisme rendah Secara relatif saling ketergantungan rendah Bersifat primitif atau pedesaan PEMIKIRAN MAX WEBER Tekanan Weber pada konsep rasionalitas. Kecenderungan sejarah pada umumnya dalam masyarakat Barat adalah ke arah bertambahnya spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang modern ini sebagai perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Corak kesadaran kolektif lebih bersifat abstrak dan universal. termasuk saling ketergantungan anatara Protestantisme dan kapitalisme.

Tindakan Tradisional . Tujuan Weber sebenarnya adalah untuk masuk ke arti – arti subyektif yang berhubungan dengan berbagai “kategori interaksi manusia”. ia memilih satu diantara banyak tujuan yang kadang – kadang saling bersaing. Pembedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang nonrasional. seorang anak yang ingin menjadi pemain sepak bola memilih membeli sepatu sepak bola untuk berlatih dari pada membeli mainan. tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai – nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya. tindakan – tindakan yang bersifat religius. Posisi Weber berkaitan dengan posisis Nominalis. 1. 2. Nilai – nilai akhir bersifat nonrasional dalam hal dimana seseorang tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan – tujuan mana yang harus dipilih. apabila atau sepanjang individu yang bertindak itu memberikan arti subyektif kepada tindakan itu. Tindakan itu deisebut tindakan sosial karena arti subyektif tadi dihubungkan dengannya oleh individu yang bertindak. Dia mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibat – akibatnya. Kenyataan sosial baginya pada dasarnya terdiri dari tindakan-tindakan sosial individu. Di dalam kedua kategori utama mengenai tindakan rasional dan nonrasional itu. Singkatnya.. Tindakan Rasionalitas Instrumental (Zweckrationalitat) Tindakan ini dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. TIPE – TIPE TINDAKAN SOSIAL Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe – tipe tindakan sosial.dapat dimengerti menurut arti subyektifnya. memperhitungkan perilaku orang lain dan karena itu diarahkan ke tujuannya. Meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tuuan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Sebagai contoh. TINDAKAN INDIVIDU DAN ARTI SUBYEKTIF Weber sangat tertarik pada masalah – masalah sosiologis yang luas mengenai struktur sosial dan kebudayaan. Berdasarkan kriteria tertentu. tetapi dia melihat bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu – individu dan tindakan – tindakan sosialnya yang berarti. dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu – individu. Tindakan ini yang paling tinggi rasionalitasnya. Dengan “tindakan” dimaksudkan bahwa semua perilaku manusia. 1. Titik tolak Weber pada tingkat individual mengingatkan kita bahwa struktur sosial atau sistem budaya tidak dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang berada secara terlepas dari individu yang terlibat di dalamnya. Tindakan Rasionalitas yang Berorientasi Nilai (Wertrationalitat) Tindakan ini dilakukan seseorang yang didasari oleh nilai-nilai dasar dalam masyarakat. untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe – tipe struktur sosial dan untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat – masyarakat Barat. Individu memiliki berbagai tujuan yang harus dilakukan. Sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat – alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar. 3. Contohnya. 1. ada dua bagian yang berbeda satu sama lain. Mungkin aspek pemikiran Weber yang paling terkenal yang mencerminkan tradisi idealis adalah tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif) sebagai metoda untuk memperolrh pemahaman yang valid mengenai arti – arti subyektif tindakan sosial. tindakan rasional (menurut Weber) berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Kaum nominalis berpendirian bahwa hanya individu – individulah yang riil secara obyektif.

Teori Sosiologi: Klasik dan Modern. Jakarta : Gramedia. . Sosiologi Suatu Pengentar. adat istiadat yang turun temurun tanpa. Tapi itu karena sudah menjadi kebiasaan atau tradisi. tindakan tersebut tidak masuk akal. kemarahan. di masyarakat Jawa adat adat mitoni yaitu upacara yang dilakukan dalam bulan ke tujuh usia kandungan pertama seorang istri. Ini dilakukan agar diberi keselamatan pada saat kelahiran nanti. ia sampai menitikkan air mata. Ini merupakan tindakan yang nonrasional. berarti sedang memperlihatkan tindakan afektif. DAFTAR PUSTAKA Johnson. Misalnya saja sese orang begitu mendengar cerita yang menyedihkan. Tindakan Afektif Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. sehingga dalam melakukan tindakan ini tanpa mengkritisi dan memikirkan terlebih dulu. maka masyarakat tetap ada yang mau melakukan. Pengantar Sosiologi. ketakutan. Paul D.Z. 1998. Lawang). Jakarta : Rajawali. Seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap – luap seperti cinta. Robert M. dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi. Tindakan ini biasa dilakukan pada masyarakat yang hukum adat masih kental.Tindakan ini dilakukan atas dasar kebiasaan. 2000. 1994. Contohnya. Seperti yang telah saya ungkapkan di atas. Jilid I dan II. 4. Walaupun bila dipikir ulang sebenarnya tidak masuk akal. atau kegembiraan. Kamanto Sunarto. (Terj. Jakarta : LPFEUI. Soerjono Soekanto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->