Rangkuman Bank Indonesia II

Perbankan Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan prinsip kehati-hatian. Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan undang-undang, struktur perbankan di Indonesia, terdiri atas bank umum dan BPR. Perbedaan utama bank umum dan BPR adalah dalam hal kegiatan operasionalnya. BPR tidak dapat menciptakan uang giral, dan memiliki jangkauan dan kegiatan operasional yang terbatas. Selanjutnya, dalam kegiatan usahanya dianut dual bank system, yaitu bank umum dapat melaksanakan kegiatan usaha bank konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah. Sementara prinsip kegiatan BPR dibatasi pada hanya dapat melakukan kegiatan usaha bank konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.

Bank-Bank Milik Negara Bank Sentral Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No 13 Tahun 1968. Kemudian ditegaskan lagi dnegan UU No 23 Tahun 1999.Bank ini sebelumnya berasal dari De Javasche Bank yang di nasionalkan di tahun 1951. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Expor Impor Bank ini berasal dari De Algemene Volkscrediet Bank, kemudian di lebur setelah menjadi bank tunggal dengan nama Bank Nasional Indonesia (BNI) Unit II yang bergerak di bidang rural dan expor impor (exim), dipisahkan lagi menjadi:

agar tercipta sistem perbankan yang sehat. Bank Bumi Daya (BBD) BBD semula berasal dari Nederlandsch Indische Hendles Bank. . Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan Bank Expor Impor Indonesia (Bank Exim). Bank Negara Indonesia (BNI '46) Bank ini menjalani BNI Unit III dengan UU No 17 Tahun 1968 berubah menjadi Bank Negara Indonesia '46. BDN merupakan satu-satunya Bank Pemerintah yang berada diluar Bank Negara Indonesia Unit. Pengaturan dan pengawasan bank diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi perbankan Indonesia sebagai: Lembaga kepercayaan masyarakat dalam kaitannya sebagai lembaga penghimpun dan penyalur dana Pelaksana kebijakan moneter. Bank Dagang Negara(BDN) BDN berasal dari Escompto Bank yang di nasionalisasikan dengan PP No 13 Tahun 1960. Bank Tabungan Negara (BTN) BTN berasal dari De Post Paar Bank yang kemudian menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950. kemudian menjadi Nationale Hendles Bank.baik sistem perbankan secara menyeluruh maupun individual. Bank Dagang Negara (BDN). Lembaga yang ikut berperan dalam membantu pertumbuhan ekonomi serta pemerataan. selanjutnya bank ini menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV dan berdasarkan UU No 19 Tahun 1968 menjadi Bank Bumi Daya. namun PP (Peraturan Pemerintah) ini dicabut dengan diganti dengan UU No 18 Tahun 1968 menjadi Bank Dagang Negara. Hasil merger keempat bank ini dilaksanakan pada tahun 1999. Bank Mandiri Bank Mandiri merupakan hasil merger antara Bank Bumi Daya (BBD). Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bank ini didirikan di daerah-daerah tingkat I. Selanjutnya menjadi Bank Negara Indonesia Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara dengan UU No 20 Tahun 1968. Dasar hukumnya adalah UU No 13 Tahun 1962. Yang membidangi Exim dengan UU No 22 Tahun 1968 menjadi Bank Expor Impor Indonesia.Yang membidangi rural menjadi Bank Rakyat Indonesia dengan UU No 21 Tahun 1968.

Dalam pelaksanaannya.dan mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik. 3. :: Kewenangan Pengaturan dan Pengawasan Bank Pengaturan dan pengawasan bank oleh BI meliputi wewenang sebagai berikut: 1. . Kewenangan untuk mengenakan sanksi (right to impose sanction). Kewenangan untuk mengatur (right to regulate). Pengawasan langsung dapat berupa pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus. pemberian persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank. dan Pengawasan bank yang mendorong bank untuk melaksanakan secara konsisten ketentuan intern yang dibuat sendiri (self regulatory banking) dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya dengan tetap mengacu kepada prinsip kehati-hatian. 2. pihak terkait. Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan melalui alat pemantauan seperti laporan berkala yang disampaikan bank. yaitu kewenangan untuk menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan terhadap bank apabila suatu bank kurang atau tidak memenuhi ketentuan. penutupan dan pemindahan kantor bank. Kebijakan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking). Tindakan ini mengandung unsur pembinaan agar bank beroperasi sesuai dengan asas perbankan yang sehat. yaitu kewenangan untuk menetapkan tatacara perizinan dan pendirian suatu bank. 4. pemberian izin pembukaan. Kewenangan untuk mengawasi (right to control).laporan hasil pemeriksaan dan informasi lainnya. pihak terafiliasi dan debitur bank. perusahaan anak. apabila diperlukan BI dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank termasuk pihak lain yang meliputi perusahaan induk. yaitu kewenangan untuk menetapkan ketentuan yang menyangkut aspek usaha dan kegiatan perbankan dalam rangka menciptakan perbankan sehat yang mampu memenuhi jasa perbankan yang diinginkan masyarakat. BI dapat menugasi pihak lain untuk dan atas nama BI melaksanakan tugas pemeriksaan. yaitu kewenangan melakukan pengawasan bank melalui pengawasan langsung (on-site supervision) dan pengawasan tidak langsung (off-site supervision). Kewenangan memberikan izin (right to license). Cakupan pemberian izin oleh BI meliputi pemberian izin dan pencabutan izin usaha bank. Untuk mencapai tujuan tersebut pendekatan yang dilakukan dengan menerapkan: Kebijakan memberikan keleluasaan berusaha (deregulasi). pemberian izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu.yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan keuangan bank dan untuk memantau tingkat kepatuhan bank terhadap peraturan yang berlaku serta untuk mengetahui apakah terdapat praktik-praktik yang tidak sehat yang membahayakan kelangsungan usaha bank. berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian nasional.

seperti pinjaman emisi dan pedagang efek.[4] Jasa perbankan lainnya antara lain sebagai berikut: 1. 10. 9 Desember 2011) Masyarakat mendambakan perbankan yang tidak saja sehat dan kuat. 13. 11. 5. Selain itu. air. b) Meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian. arah kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2012 akan di arahkan dalam rangka: a) Mengoptimalkan peran kebijakan moneter dalam mendorong kapasitas perekonomian sekaligus memitigasi risiko perlambatan ekonomi global. 12. telepon. atau hadiah Jasa pengiriman uang ( transfer ) Jasa penagihan ( inkaso ) Kliring Penjualan mata uang asing Penyimpanan dokumen Jasa cek wisata Kartu kredit Jasa-jasa yang ada di pasar modal. Arah Kebijakan Moneter dan Perbankan Bank Indonesia Tahun 2012 (Pertemuan Tahunan Perbankan. bukanlah dua hal yang dapat dipisahkan. 8. Dengan memandang bahwa pengelolaan ekonomi makro kedepan masih harus berhadapan dengan risiko global dan kompleksitas permasalahan domestik yang begitu besar. 3. baik dalam sistem pembayaran nasional maupun hubungan sistem pembayaran dengan luar negeri. industri perbankan perlu terus berbenah untuk meningkatkan daya saing terutama dalam menghadapi tantangan yang sudah sangat nyata di depan. pensiun. 7. kehandalan. c) Meningkatkan efisiensi. 6. 9. dengan tetap memperkuat ketahanan perbankan. Terciptanya perbankan yang sehat dan kuat di satu sisi. tapi juga berperan secara efektif dan efisien dalam pembiayaan perekonomian. 4. e) Mendukung pemberdayaan sektor riil termasuk melanjutkan upaya perluasan akses perbankan (financial inclusion) kepada masyarakat . dan keamanan sistem pembayaran. atau uang kuliah Jasa pembayaran seperti pembayaran gaji. Jasa setoran seperti setoran listrik. yaitu perwujudan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. 2. d) Memperkuat ketahanan makro dengan memantapkan koordinasi dalam manajemen pencegahan dan penanganan krisis (PMK). baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan simpanan dan kredit maupun tidak langsung. Jasa Letter of Credit (L/C) Bank garansi dan referensi bank Jasa bank lainnya.Jasa perbankan Diberikan untuk mendukung kelancaran menghimpun dan menyalurkan dana. dan perbankan yang dapat menjalankan fungsi intermediasinya secara efektif dan efisien di sisi lainnya.

namun dengan tetap memperhatikan pencapaian sasaran inflasi. KBI akan didorong untuk menjalankan fungsinya secara efektif. Bank Indonesia juga melihat perlunya langkah-langkah untuk melanjutkan proses ‘re-alignment’ struktur suku bunga di pasar keuangan melalui berbagai penyempurnaan dalam mekanisme operasi pasar terbuka (OPT). Strategi operasi kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk menjaga kestabilan suku bunga di pasar uang rupiah. sekaligus untuk menjaga momentum penguatan ekonomi dan memitigasi risiko dari perlambatan ekonomi global. Bank Indonesia akan mengoptimalkan fungsi Kantor Bank Indonesia (KBI) sebagai fasilitator dan katalisator percepatan pembangunan di daerah. dengan tetap mendorong intermediasi bank termasuk memperluas akses masyarakat ke layanan jasa perbankan berbiaya rendah. serta memberikan kepastian bagi seluruh pelaku ekonomi. kebijakan stabilisasi nilai tukar akan didukung oleh implementasi kebijakan kewajiban penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) dan devisa utang luar negeri (DULN) di bank domestik. Sejak Januari 2012. kebijakan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) akan dilanjutkan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik sehingga sasaran kebijakan . Saya memandang. Dalam rangka pengendalian inflasi di daerah. dengan memperkuat jalinan hubungan dengan Pemerintah Daerah. kebijakan moneter akan diarahkan dalam rangka melanjutkan stabilisasi di sektor keuangan serta menjangkar BI Rate yang konsisten dengan upaya mengoptimalkan stimulus pada perekonomian. kebijakan akan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara peningkatan daya saing dan memperkuat ketahanan perbankan. terutama di wilayah timur Indonesia dimana disparitas pertumbuhannya masih cukup lebar.Pada tahun 2012. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut memerlukan komitmen yang kuat dan dukungan dari banyak pihak termasuk dari kementerian terkait seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. operasi moneter akan bertumpu pada instrumen-instrumen yang secara langsung dapat menghidupkan aktifitas transaksi di pasar uang seperti. ini akan mendorong pengelolaan likuiditas perbankan secara lebih sehat dan efisien. Oleh karena itu. untuk memitigasi risiko kerentanan pada sektorsektor konsumtif yang pertumbuhannya tidak sustainable atau berpotensi mengalami pengelembungan harga aset (asset bubble). Repurchase Agreement (Repo) dan swap. Dalam rangka meningkatkan daya saing perbankan. Kebijakan suku bunga ini akan dilengkapi dengan kebijakan makro prudensial. transaksi pasar uang rupiah antar bank (PUAB). dan memelihara stabilitas pasar keuangan. Kebijakan Bank Indonesia di nilai tukar akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan memperhatikan pencapaian keseimbangan internal dan eksternal perekonomian. Dengan demikian. Pelaksanaa tugas TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) ke depan akan ditopang dengan sistem informasi harga barang strategis terutama mencakup informasi mengenai produksi dan stok secara nasional. termasuk dari Pemerintah Daerah Di bidang perbankan. Bank Indonesia juga tengah me-review ketentuan-ketentuan untuk memperkaya instrument di pasar valas dalam rangka menghidupkan transaksi lindung nilai (hedging). mendukung stabilitas nilai tukar.5 persen ± 1 persen pada tahun 2012 dan 2013. Respon suku bunga akan diarahkan agar konsisten untuk pencapaian sasaran inflasi IHK sebesar 4. bentuk stabilitas tersebut perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi pendalaman pasar keuangan nasional.

Melalui kebijakan ini perbankan Indonesia akan lebih siap dalam mengantisipasi berbagai risiko karena dapat di-cover dengan permodalan yang mencukupi. dan pengaturan terhadap akuntan publik yang digunakan oleh perbankan. Di luar aspek penguatan daya saing dan ketahanan perbankan. untuk peningkatan kualitas tata kelola perbankan. Sebagai tindak lanjut dari sisi pengawasan bank. Upaya peningkatan daya saing dan tata kelola juga akan menjadi arah kebijakan perbankan Syariah. Strategi pengembangan BPRS ke depan diarahkan sesuai dengan karakteristik BPRS sebagai community bank yang sehat. Bank Indonesia juga terus mengkaji kebijakan kepemilikan di perbankan dan kebijakan multi-license seiring dengan semakin kompleksnya kegiatan usaha bank. Beberapa kasus fraud di perbankan yang menyita perhatian pada tahun 2011 memerlukan penataan kembali kebijakan terkait dengan kedua aspek di tersebut. Bank Indonesia akan menyempurnakan ketentuan transparansi laporan keuangan. serta fokus pada penyediaan pelayanan jasa keuangan kepada UMKM dan masyarakat setempat di daerah. Kebijakan penguatan ketahanan perbankan dilakukan melalui peningkatan permodalan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi ke depan dan antisipasi perubahan siklus bisnis. serta mengkaji pembatasan pemberian hadiah bagi nasabah. akan ditingkatkan enforcement ketentuan dengan mewajibkan Rencana Bisnis Bank (RBB) mencantumkan target-target peningkatan efisiensi dan penurunan suku bunga kredit pada level yang wajar. pada tahun 2012 Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan untuk menyempurnakan aspek perlindungan nasabah dan calon nasabah. Selain itu akan didorong pengembangan produk dan aktivitas perbankan syariah. Bank Indonesia juga tengah “mengkaji” praktek pemberian tingkat bunga dana pihak ketiga (DPK) di atas tingkat bunga yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Disamping itu. termasuk peningkatan kualitas program Tabunganku. khususnya yang terkait laporan keuangan publikasi. Oleh karena itu. Lebih lanjut. produktif. b) Memfasilitasi intermediasi untuk mendukung pembiayaan di berbagai sektor potensial bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintah. Aspek perlindungan nasabah dan tata kelola perbankan juga merupakan dua aspek yang perlu memperoleh perhatian. Terkait dengan kebutuhan pembiayaan sektor-sektor yang secara komersial tidak diminati oleh perbankan namun memiliki peran strategis dalam perekonomian. pengembangan edukasi keuangan. kuat. Bank Indonesia akan mendorong intermediasi perbankan melalui beberapa langkah sebagai berikut : a) Melanjutkan upaya mendukung perluasan akses perbankan (financial inclusion) kepada masyarakat khususnya layanan perbankan bagi masyarakat pedesaan berbiaya rendah.dapat tercapai. . akan pula dikaji mengenai berbagai hambatan dalam pembiayaan untuk sektor-sektor yang tingkat pertumbuhan kreditnya masih relatif rendah. Bank Indonesia bersama-sama dengan pemerintah akan mengembangkan berbagai skim pembiayaan. pelaksanaan Financial Identity Number dan pelaksanaan survei literacy.

Bank Indonesia berketetapan untuk mengambil posisi kepemimpinan dalam menentukan arah kebijakan pengembangan jasa pembayaran ke depan. area jasa pembayaran (financial services) juga memiliki tujuan serupa. Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Sebenarnya belum memiliki definisi baku yang telah diterima secara internasional. Koordinasi kebijakan antar instansi dan otoritas akan terus dibutuhkan. peningkatan keamanan dan kehandalan penyelenggaraan jasa pembayaran melalui penerapan mitigasi risiko termasuk memanfaatkan kemajuan teknologi. baik tunai dan non-tunai. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. yang secara terpadu menjadi pedoman dalam mewujudkan sistem pembayaran yang efisien. Risiko yang sering menyertai . baik karena faktor struktural maupun perilaku. aman dan handal. peningkatan efisiensi penyelenggaraan jasa pembayaran nasional. Berbagai program pengembangan jasa pembayaran nasional dituangkan dalam cetak biru. serta penguatan pengaturan perlindungan konsumen. Area jasa pembayaran ini mencakup baik sistem pembayaran yang kita telah kenal. penguatan pengawasan. b) Kedua. serta peningkatan peran industri jasa pembayaran nasional.” ” Stabilitas sistem keuangan adalah suatu kondisi dimana mekanisme ekonomi dalam penetapan harga.Seperti juga dengan industri perbankan yang diharapkan dapat menurunkan biaya perekonomian. Di bawah ini dikutip beberapa definisi SSK yang diambil dari berbagai sumber: ” Sistem keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan.” Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. terlebih karena terdapat pengembangan jasa pembayaran yang melibatkan pihak di luar bank sentral. penguatan kerangka hukum. alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pengembangan industri jasa pembayaran nasional ke depan akan dilakukan melalui sejumlah upaya yaitu : a) Pertama. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik).” ” Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi. muncul beberapa definisi mengenai SSK yang pada intinya mengatakan bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak stabil pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat kegiatan ekonomi. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar. c) Ketiga. Oleh karena itu. termasuk mendorong terciptanya interoperabilitas dan interkoneksi di antara berbagai penyelenggara jasa pembayaran. serta setelmen (penyelesaian transaksi). peningkatan perlindungan konsumen melalui peningkatan transparansi oleh pelaku jasa pembayaran. melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik.

Bank Indonesia dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter secara tepat dan berimbang. memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Oleh sebab itu. Kebijakan moneter melalui penerapan suku bunga yang terlalu ketat. juga dapat mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan tersebut. sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan. Meningkatnya kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung oleh perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin terintegrasi tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka.kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit. kegagalan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan mengganggu perekonomian. Seperti halnya di negara-negara lain. Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis sampai seberapa jauh risiko berpotensi menjadi semakin membahayakan. Bank Indonesia memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat. maka akan timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi sistem keuangan mendatang. Bank Indonesia memiliki lima peran utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Berbagai perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumber-sumber pemicu ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin beragam. Ketiga. akan cenderung bersifat mematikan kegiatan ekonomi. meluas dan bersifat sistemik sehingga mampu melumpuhkan perekonomian. Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II. Kelima peran utama yang mencakup kebijakan dan instrumen dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu adalah: Pertama. Bank Indonesia telah menerapkan suatu kebijakan yang disebut inflation targeting framework. Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya lebih bersifat forward looking (melihat kedepan). Hal ini mengingat gangguan stabilitas moneter memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek ekonomi. Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Kedua. Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar. Begitu pula sebaliknya. risiko pasar dan risiko operasional. Oleh karena itu. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Bank Indonesia mengembangkan . Sementara itu. upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan. Kegagalan tersebut dapat menimbulkan risiko yang bersifat menular (contagion risk) sehingga menimbulkan gangguan yang bersifat sistemik. Selain itu. disiplin pasar melalui kewenangan dalam pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan. inovasi produk keuangan semakin dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut. risiko likuiditas. Bila terjadi gagal bayar (failure to settle) pada salah satu peserta dalam sistem sistem pembayaran. untuk menciptakan stabilitas moneter. Selain itu. sistem pengawasan dan kebijakan perbankan yang efektif haruslah ditegakkan. khususnya perbankan.

fungsi LoLR dapat diterapkan pada bank yang mengalami kesulitan likuiditas temporer namun masih memiliki kemampuan untuk membayar kembali. pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang ketat harus diterapkan dalam penyediaan likuiditas tersebut. BI dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemain dalam jaring pengaman keuangan. Dengan demikian. Bank Indonesia dapat memonitor kerentanan sektor keuangan dan mendeteksi potensi kejutan (potential shock) yang berdampak pada stabilitas sistem keuangan. sasaran JPSK adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sehingga sektor keuangan dapat berfungsi secara normal dan memiliki kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi yang berkesinambungan. Antara lain dengan menerapkan sistem pembayaran yang bersifat real time atau dikenal dengan nama sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) yang dapat lebih meningkatkan keamanan dan kecepatan sistem pembayaran. Bank Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard.mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Bank Indonesia dapat mengembangkan instrumen dan indikator macroprudential untuk mendeteksi kerentanan sektor keuangan. Pemerintah dan Bank Indonesia telah menyusun kerangka Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang kelak akan dituangkan dalam sebuah Rancangan Undang Undang tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan. serta kebijakan penyelesaian krisis. Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). mekanisme pemberian fasilitas pembiayaan darurat oleh bank sentral (lender of last resort). selanjutnya akan menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredam gangguan dalam sektor keuangan. Pada tahun 2005. Bank Indonesia memiliki informasi dan keahlian untuk mengidentifikasi risiko potensial dalam sistem pembayaran. Pada kondisi normal. Melalui pemantauan secara macroprudential. namun demikian kerangka kerja ini juga meliputi mekanisme penyelesaian krisis sehingga tidak menimbulkan biaya yang besar kepada perekonomian. Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. melalui fungsinya dalam riset dan pemantauan. Fungsi sebagai LoLR mencakup penyediaan likuiditas pada kondisi normal maupun krisis. Keempat. Oleh karena itu. Dalam kerangka JPSK dimaksud dimuat secara jelas mengenai tugas dan tanggung-jawab lembaga terkait yakni Departemen Keuangan. Fungsi ini hanya diberikan kepada bank yang menghadapi masalah likuiditas dan berpotensi memicu terjadinya krisis yang bersifat sistemik. Kelima. JPSK pada dasarnya lebih ditujukan untuk pencegahan krisis. Sebagai otoritas dalam sistem pembayaran. Pada prinsipnya Departemen Keuangan bertanggung jawab untuk menyusun perundang-undangan untuk sektor keuangan dan menyediakan dana untuk penanganan krisis. BI sebagai bank sentral bertanggung-jawab untuk menjaga stabilitas moneter dan kesehatan perbankan serta keamanan dan kelancaran sistem . Melalui riset. Hasil riset dan pemantauan tersebut. Bank Indonesia dapat mengakses informasi-informasi yang dinilai mengancam stabilitas keuangan. JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) merupakan kerangka kerja yang melandasi pengaturan mengenai skim asuransi simpanan. Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR.

Untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang berdampak sistemik. (3) skim asuransi simpanan yang memadai dan (4) mekanisme penyelesaian krisis yang efektif. telah diberlakukan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Nomor 24 Tahun 2004. (2) lender of the last resort. 1. BI telah merumuskan secara lebih jelas kebijakan the lender of last resort (LLR) dalam kerangka JPSK untuk dalam kondisi normal dan darurat (krisis) mengacu pada best practices. Program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) yang diberlakukan akibat krisis sejak tahun 1998 memang telah berhasil memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan. MEngingat pentingnya fungsi pengawasan dan pengaturan yang efektif. Namun penelitian menunjukkan bahwa blanket guarantee tersebut dapat mendorong moral hazard yang berpotensi menimbulkan krisis dalam jangka panjang. 2.pembayaran. Sebagai peraturan pelaksanaan fungsi lender of the last resort. 3. Pengaturan dan Pengawasan Bank yang efektif Pengaturan dan pengawasan bank yang efektif merupakan jarring pengaman pertama dalam JPSK (first line of defense). Pada prinsipnya. LLR untuk dalam kondisi normal hanya diberikan kepada bank yang illikuid tetapi solven yang memiliki agunan likuid dan bernilai tinggi. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bertanggung jawab untuk menjamin simpanan nasabah bank serta resolusi bank bermasalah. Bank Indonesia sebagai lender of last resort dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat kepada Bank Umum yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah berdasarkan Undang-undang No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No 3 Tahun 2004 yang telah disetujui DPR tanggal 15 Januari 2004. Sejalan dengan itu. Sejalan dengan itu. Sedangkan dalam pemberian LLR untuk kondisi krisis. dengan tetap mensyaratkan solvensi dan agunan. telah diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 136/PMK. LPS nantinya memiliki dua tanggung jawab . Lender of last Resort Kebijakan lender of last resort (LLR) yang baik terbukti sebagai salah satu alat efektif dalam pencegahan dan penanganan krisis. UU JPSK kelak akan berfungsi sebagai landasan yang kuat bagi kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh otoritas terkait dalam rangka memelihara stabiltas sistem keuangan. potensi dampak sistemik menjadi faktor pertimbangan utama. Dalam undang-undang tersebut tersebut. Pendanaan FPD bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).05/2005 tanggal 30 Desember 2005 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 8/1/2006 tanggal 3 Januari 2006. Dalam RUU JPSK semua komponen JPSK ditetapkan secara rinci yakni meliputi: (1) pengaturan dan pengawasan bank yang efektif. serta harus berpedoman kepada best practices dan standard yang berlaku. Kerangka JPK tersebut telah dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang JPSK yang pada saat ini masih dalam tahap pembahasan Dengan demikian. dalam kerangka JPSK telah digariskan guiding principles bahwa pengawasan dan pengaturan terhadap lembaga dan pasar keuangan oleh otoritas terkait harus senantiasa ditujukan untuk menjaga stabilitas system keuangan. Skim Penjaminan Simpanan (deposit insurance) yang memadai Pengalaman menunjukkan bahwa LPS merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Untuk menghindari dampak negatif terhadap stabilitas keuangan. Dengan demikian. JPSK memerlukan koordinasi yang efektif antar otoritas terkait. jaminan simpanan nasabah bank akan dibatasi sampai dengan Rp100 juta per rekening mulai Maret 2007. Kebijakan Resolusi Krisis yang efektif Kebijakan penyelesaian krisis yang efektif dituangkan dalam kerangka kebijakan JPSK agar krisis dapat ditangani secara cepat tanpa menimbulkan beban yang berat bagi perekonomian. Pilar Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Sistem Pembayaran di Indonesia Apa Itu Sistem Pembayaran (SP)? Apa itu SP? SP adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan. penerapan skim LPS tersebut akan dilakukan secara bertahap. telah dikeluarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan. Termasuk dalam hal ini adalah bank. Dalam pelaksanaannya. Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). cepat. Dalam JPSK ditetapkan peran dan kewenangan masing-masing otoritas dalam penanganan dan penyelesaian krisis. apa saja komponen dari SP? Sudah barang tentu harus ada alat pembayaran. 4. lembaga keuangan selain bank. lembaga. Selanjutnya. Nah. Lantas. sehingga setiap lembaga memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas. Depkeu dan LPS dalam memelihara stabilitas sistem keuangan. Untuk itu dibentuk Komite Koordinasi yang terdiri dari Menteri Keuangan. lembaga bukan bank . dan tidak menimbulkan biaya sosial dan biaya ekonomi yang tinggi. Sebagai bagian dari kebijakan JPSK tersebut. krisis dapat ditangani secara efektif. ada mekanisme kliring hingga penyelesaian akhir (settlement). selain itu juga ada komponen lain seperti lembaga yang terlibat dalam menyelenggarakan sistem pembayaran. Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner LPS tentang Forum Stabilitas Sistem Keuangan sebagai wadah koordinasi bagi BI.pokok yakni: (i) untuk menjamin simpanan nasabah bank. dan (ii) untuk menangani (resolusi) bank bermasalah. dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi.

Uang kartal masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. Dalam perkembangannya. Selanjutnya alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis kertas (paper based). Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan Sistem Kliring. Kalau kita menengok kebelakang yakni awal mula alat pembayaran itu dikenal. transaksi di bursa saham. BI-RTGS melakukan transaksi sedikitnya Rp174. pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral. BI berinisiatif dan akan terus mendorong untuk membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran nontunai atau Less Cash Society (LCS). Alat Pembayaran Nontunai Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan semakin lazim dipakai masyarakat. Pada tahun 2010. cek dan bilyet giro. transaksi valuta asing (valas) serta settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. misalnya. .3 triliun per hari. hampir 95 persen transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent) seperti transaksi di Pasar Uang AntarBank (PUAB). Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga selain bank (LSB).penyelenggara transfer dana. perbandingan uang kartal terhadap jumlah uang beredar sebesar 43. transaksi pemerintah. Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat pembayaran utama yang berlaku di masyarakat. Namun patut diketahui bahwa pemakaian uang kartal memiliki kendala dalam hal efisiensi. Alat Pembayaran Tunai Alat pembayaran tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan logam). sistem barter antarbarang yang diperjualbelikan adalah kelaziman di era pra moderen. Evolusi Alat Pembayaran Alat pembayaran boleh dibilang berkembang sangat pesat dan maju. Kartu Debit dan Kartu Prabayar). Selain itu dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana elektronik dan alat pembayaran memakai kartu (card-based) (ATM. penyelenggara kliring maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia dan dapat berlangsung di Indonesia. Pada tahun 2005. perusahaan switching bahkan hingga bank sentral (lihat Perkembangan). sistem BI-RTGS adalah muara seluruh penyelesaian transaksi keuangan di Indonesia. ketika Anda menunggu melakukan pembayaran di loket pembayaran yang relatif memakan waktu cukup lama karena antrian yang panjang. Misalnya. Sebagai informasi. Kartu Kredit. mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai pembayaran yang lebih dikenal dengan uang.3 persen. Bisa dibayangkan. Menyadari ketidak-nyamanan dan inefisien memakai uang kartal. perampokan dan pemalsuan uang. Sementara itu. Dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini. Hal itu belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran. Hal itu bisa terjadi karena biaya pengadaan dan pengelolaan (cash handling) terbilang mahal. bila melakukan transaksi dalam jumlah besar juga mengundang risiko seperti pencurian. baik dalam proses pengiriman dana.

termasuk kepercayaan terhadap sistem dan alat-alat pembayaran yang diproses dalam sistem. baik atas beban maupun untuk keuntungan nasabah yang bersangkutan Giral adalah simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. Yang dimaksud terciptanya sistem pembayaran. Melihat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional. sudah barang tentu harus dijaga kontinuitas dan stabilitasnya. yang dilakukan dengan cara saling memperhitungkan diantara bank-bank. SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA (SKNBI) Pengertian Kliring Kliring adalah suatu tata cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan suratsurat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya. Sedangkan aspek perlindungan konsumen dimaksudkan penyelenggara wajib mengadopsi asas-asas perlindungan konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya. Hal itu belum memperhitungkan dampak material dan nonmaterial dari macetnya sistem BI-RTGS tadi. SIPS adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak (urgent). dengan maksud agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman. Sementara yang dimaksud dengan kesetaraan akses. serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. Perlu diketahui bahwa BI bukan semata peduli akan terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran. surat perintah pembayaran lainnya. BI akan memperhatikan penerapan asas kesetaraan dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Untuk itulah BI sangat peduli menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). Lalu lintas pembayaran giral adalah. yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat luas. Bila sesaat saja sistem BI-RTGS ini ngadat atau mengalami gangguan jelas akan sangat menganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. Jenis Transaksi Kliring Transaksi kliring yang dapat dilakukan meliputi: . jaringan pendukung dan aturan main dalam SIPS. desain. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalam kategori SWIPS ini.8 triliun per hari yang dilakukan bank atau LSB. atau dengan cara pemindah bukuan. BI juga peduli dengan SWIPS karena sifat sistem yang digunakan secara luas oleh masyarakat. suatu proses kegiatan bayar membayar dengan waktat atau nota kliring. kehandalan teknologi.Sedangkan transaksi nontunai dengan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) dan uang elektronik masing-masing nilai transaksinya hanya Rp8.Adalah wajar saja apabila Bank Indonesia sangat peduli menjaga kestabilan SIPS dengan mengelola risiko. Apabila terjadi gangguan maka kepentingan masyarakat untuk melakukan pembayaran akan terganggu pula. Selain SIPS dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS). tapi juga kesetaraan akses hingga ke urusan perlindungan konsumen. itu artinya memberi kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses ke seluruh wilayah dengan biaya serendah mungkin.

Kliring lokal. Kliring antar cabang. adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur oleh B I. .1. bilyet giro atau warkat debet lainnya). KLiring ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari sauatu kantor cabang untuk kantor cabang lainnya yang bersangkutan pada kantor induk yang bersangkutan. dan 2. Jenis-Jenis Kliring 1. Kliring umum. 2. Transfer kredit (mengisi formulir isian yang disediakan oleh bank) yang kemudian akan dikirim oleh bank melalui data keuangan elektronik yang disediakan dalam SKNBI. 3. adalah : sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Transfer debet (menggunakan cek. adalah : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang berada dalam suatu wilayah kliring (wilayah yang ditentukan).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful