EFEK ALOKSAN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR

LAPORAN AKHIR PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran

Disusun Oleh : ANINDHITA YURISKA F NIM : G2A005015

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2009

1

HALAMAN PENGESAHAN Artikel Ilmiah EFEK ALOKSAN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR

yang disusun oleh: Anindhita Yuriska F G2A 005 015 telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Artikel Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada tanggal 25 Agustus 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan saran-saran yang diberikan.

TIM PENGUJI ARTIKEL

Penguji,

Pembimbing,

dr. Pudjadi, SU NIP. 130 530 278 Ketua Penguji,

dr. P. Setia Rahardja Komala NIP. 130 516 877

dr. Nyoman Suci, M.Kes, Sp.PK NIP. 132 168 891

2

DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Pengesahan Daftar Isi Daftar Gambar, Tabel, dan Lampiran Abstrak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang……………………………………………………… 1.2.Perumusan Masalah………………………………………………..... 1.3.Tujuan Penelitian……………………………………………………. 1.3.1.Tujuan Umun………………………………………………...... 1.3.2.Tujuan Khusus………………………………………………… 1.4.Manfaat penelitian…………………………………………………... BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aloksan…………………………………………………………….... 2.1.1. Definisi dan Sifat Kimia…………………………………….... 2.1.2. Pengaruh Aloksan tehadap Kerusakan Sel beta Pankreas……. 2.2. Karbohidrat…………………………………………………………. 2.2.1. Definisi……………………………………………………….. 2.2.2. Klasifikasi…………………………………………………….. 2.2.3. Fungsi………………………………………………………… 2.2.4. Glukosa……………………………………………………….. 2.2.5. Konsentrasi dan Sumber Glukosa Darah……………………... 2.2.6. Pengaruh Hormonal dalam Pengaturan Glukosa Darah……… 2.3. Diabetes Melitus…………………………………………………….. 2.3.1. Definisi………………………………………………………... 2.3.2. Patofisiologi…………………………………………………... 2.3.3. Manifestasi Klinis…………………………………………….. 2.3.4. Diagnosis……………………………………………………… 2.4. Kerangka Teori………………………………………………………. 2.5. Kerangka Konsep……………………………………………………. 2.6. Hipotesis……………………………………………………………... BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Ruang Lingkup Penelitian……………………………………………. 3.1.1. Ruang Lingkup Keilmuan……………………………………... 3.1.2. Waktu dan Tempat Penelitian…………………………………. 3.2. Jenis Penelitian……………………………………………………….. 3.3. Populasi dan Sampel…………………………………………………. 3.3.1. Populasi………………………………………………………... i ii iii v vi 1 4 4 4 4 4 6 6 6 8 8 8 10 10 11 12 14 15 15 16 16 18 18 18 19 19 19 19 20 20

3

3.3.2. Sampel…………………………………………………………. 3.3.3. Besar Sampel………………………………………………….. 3.4. Variabel Penelitian…………………………………………………… 3.4.1. Klasifikasi Variabel…………………………………………… 3.5. Alat dan Bahan……………………………………………………….. 3.5.1. Alat…………………………………………………………….. 3.5.2. Bahan…………………………………………………………... 3.6. Data yang Dikumpulkan……………………………………………... 3.7. Cara Pengambilan Data………………………………………………. 3.8. Alur Penelitian………………………………………………………... 3.9. Definisi Operasional………………………………………………….. 3.9.1. Pemberian Aloksan pada Tikus Wistar………………………… 3.9.2. Glukosa Darah…………………………………………………. 3.10. Pengolahan dan Analisis Data………………………………………. 3.10.1. Cara Pengolahan Data………………………………………... 3.10.2. Analisis Data………………………………………………….

20 21 21 21 21 21 22 22 22 24 25 25 25 25 25 26

BAB 4 HASIL………….…..……………………………………………… 27 BAB 5 PEMBAHASAN…………………………………………………… 28 BAB 6 PENUTUP 6.1.Kesimpulan…………………………………………………………… 32 6.2.Saran………………………………………………………………….. 32 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 33

4

............. 17 Gambar 2.DAFTAR GAMBAR.....00 for windows . Data Deskriptif dan Uji Shapirowilk SPSS 15..... Langkah-Langkah Diagnostik DM dan Toleransi Glukosa Terganggu…….. Box Plot Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (mg/dL).... 36 Lampiran2... TABEL.......………… 37 Lampiran3...……………… 38 5 ....00 for windows. DAN LAMPIRAN Daftar Gambar Gambar 1....... Data Uji t tidak berpasangan SPSS 15.. Data Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar..28 Daftar Tabel Tabel 1.…………………........ Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah pada Tiap Kelompok (mg/dL)…… 27 Daftar Lampiran Lampiran1.......

Kesimpulan : Tidak terjadi peningkatan terhadap kadar glukosa darah pada pemberian aloksan dengan dosis 125 mg/kgBB intraperitoneal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian aloksan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar.608 ± 8. sebelumnya selama 1 minggu dilakukan adaptasi pakan standar. Kata kunci: aloksan. Penelitian dilakukan selama 38 hari. Oleh karena itu diperlukan berbagai penelitian mengenai diabetes melitus. Sepuluh ekor tikus wistar jantan dibagi acak menjadi 2 kelompok. Setia Rahardja Komala**) ABSTRAK Latar Belakang : Penyakit metabolik seperti diabetes melitus cenderung meningkat. Hasil : Hasil penelitian ini didapat rerata kadar glukosa darah tikus wistar P(89. Adapun aloksan merupakan suatu substrat yang secara struktural adalah derivat pirimidin sederhana. Uji t test tidak berpasangan antara kelompok kontrol dan perlakuan tidak berbeda bermakna (p > 0. Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan metode Enzyimatic Colorimetric test “GOD-PAP”.05). Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk membuat tikus hiperglikemi. Metoda : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test Only Control Group Design yang dilakukan di laboratorium Biokimia FK UNDIP Semarang.553). glukosa darah a)Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang b) Staf pengajar Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang 6 . yaitu kelompok kontrol (K) yang diberi pakan standar dan kelompok perlakuan (P) yang diberi pakan standar dan aloksan 125 mg/kgBB.133) lebih tinggi daripada K (75.EFEK ALOKSAN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR *) Anindhita Yuriska F . P. Pada hari ke 38 tikus diterminasi.100 ±16. Aloksan mempunyai kemampuan untuk merusak sel beta pancreas. Dimana angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi.

Alloxan has ability to destruct beta pancreas cell. Semarang. Alloxan is a kind of substrate which has simple pirimidin in its structure.133) was higher than K (75. Conclusions: Blood glucose level were not rise in the giving of alloxan with dose 125mg/kgBW intraperitoneally. All rats used in experiment were adapted with standard diets for 7 days and treatments were given for 38 days. Methods: The design of this experimental study was Post Test Only Control Group Design in Biochemistry laboratory of Faculty Medicine of Diponegoro University. It has high mortality and morbidity values.553) .THE EFFECT OF ALLOXAN TO BLOOD GLUCOSE LEVEL OF WISTAR RATS Anindhita Yuriska F*).05). blood glucose level a)Student of Medical Faculty of Diponegoro University Semarang b)Lecturer in Department of Biochemistry Medical Faculty of Diponegoro University Semarang 7 .100 ±16. Results: The result of research revealed that mean concentration of blood glucose level P (89. Unpaired t test between control group and treatment group was not significantly different (p>0. This study is a introduction experiment to make hyperglycaemic rats. Setia Rahardja Komala**) ABSTRACT Background: Metabolic diseases like diabetes mellitus has increased. The blood glucose level was measured using Enzymatic Colorimetric Test “GOD-PAP”. The sample were ten male wistar rats which divided into 2 groups. P. So it is important to held some studies about diabetes mellitus.608 ± 8. The aim of this study is to know the effect of alloxan to blood glucose level of wistar rats. the first group (K) was given standart diets and the second group (P) was given standart diets and alloxan 125mg/kgBB. Keywords: alloxan.

perawatannya pun mudah.1.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Aloksan murni diperoleh dari oksidasi asam urat oleh asam nitrat.1. Tikus wistar mempunyai kemampuan metabolik yang relatif cepat sehingga lebih sensitif bila digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan metabolik tubuh. Latar Belakang Aloksan adalah suatu substrat yang secara struktural adalah derivat pirimidin sederhana. 7 8 . Selain harganya yang murah. intraperitoneal. Pemberian aloksan adalah cara yang cepat untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada binatang percobaan. 6 Pada penelitian eksperimental.4 Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada binatang percobaan . binatang percobaan yang sering digunakan adalah tikus wistar.5 Aloksan dapat diberikan secara intravena. Tikus wistar juga mudah dikembangbiakan. atau subkutan pada binatang percobaan.1-3 Aloksan diperkenalkan sebagai hidrasi aloksan pada larutan encer. Tikus hiperglikemik dapat dihasilkan dengan menginjeksikan 120 150 mg/kgBB.

asidosis laktat. Penelitian epidemiologi telah menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insiden dan prevalensi diabetes melitus di berbagai penjuru dunia. infeksi kronik dan ulkus kaki diabetic. dan gangren adalah komplikasi yang paling utama. kematian fetus intrauterin pada ibu – ibu yang menderita diabetes melitus tidak terkontrol juga meningkat. Komplikasi akut diabetes melitus dapat berupa ketoasidosis diabetik. koma hiperosmolar. Selain itu. Sedangkan komplikasi kronis diabetes melitus dapat berupa kelainan pada organ mata (retinopati diabetik). ginjal (nefropati diabetik).9 Diabetes melitus mengakibatkan berbagai komplikasi akut maupun kronik yang dapat mengenai berbagai jaringan dan organ tubuh. atau kedua – duanya yang berhubungan dengan kerusakan jangka panjang. hiperglikemi non ketotik. Perserikatan Bangsa – Bangsa (WHO) membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes di atas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun 9 . penyakit pembuluh darah koroner dan perifer.Adapun penyakit metabolik yang disebabkan oleh aloksan adalah diabetes melitus. 10-13 Tujuh puluh lima persen penderita diabetes melitus akhirnya meninggal karena penyakit vaskular. kerja insulin. 13 Selain komplikasi diabetes melitus yang banyak dan mematikan. insidensinya pun tergolong tinggi. gagal ginjal. stroke.8. syaraf (neuropati diabetik). hipoglikemik iatrogenik akibat reaksi insulin atau syok insulin. Serangan jantung. dan infeksi akut. disfungsi. atau kegagalan beberapa organ tubuh. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin.

4 juta orang pada tahun 2025. Adanya gangguan pada toleransi glukosa berkaitan dengan resistensi insulin. serta dislipidemia. Oleh karena itu diperlukan suatu pemeriksaan untuk mendiagnosa diabetes melitus. Data terakhir dari WHO (2005) menunjukkan peningkatan tertinggi jumlah penderita diabetes melitus justru terjadi di Asia Tenggara. prevalensi. Adapun pemeriksaan kadar glukosa darah menjadi pilihan utama.5 juta orang. dan mortalitas akibat diabetes melitus di Indonesia serta mengingat salah satu penyebab terjadinya diabetes melitus adalah kerusakan sel beta pankreas oleh aloksan. jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang. dan komplikasi diabetes melitus menggambarkan betapa pentingnya pencegahan dan penatalaksanaan dini penyakit tersebut. Peningkatan glukosa darah sebanding dengan peningkatan radikal bebas di dalam tubuh sehingga memicu berbagai komplikasi. naik 2 tingkat dibanding tahun 1995 dimana jumlah pasien sebanyak 4. 14 Besarnya insidensi. hipertensi. Sedangkan Indonesia akan menempati peringkat 5 sedunia dengan jumlah pasien sebanyak 12. 9 Merujuk pada tingginya angka insiden. Gangguan toleransi glukosa merupakan resiko terjadinya aterosklerosis dan sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.kemudian yaitu pada tahun 2025. prevalensi. Maka peneliti merasa tertarik untuk mengetahui peningkatan kadar glukosa darah akibat induksi aloksan pada sel beta pankreas sehingga dapat bermanfaat untuk penelitian selanjutnya. 10 .

Tujuan Umum Meneliti efek pemberian aloksan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar. Tujuan Penelitian 1. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang bahaya aloksan dalam kehidupan sehari – hari. 11 .3. Manfaat Penelitian a. 1.1. dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah apakah pemberian aloksan dapat meningkatkan kadar glukosa darah tikus wistar? 1. Hasil penelitian ini dapat membuktikan adanya peningkatan glukosa darah setelah pemberian aloksan. Mengukur kadar glukosa darah tikus wistar setelah disuntik aloksan b. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas.2. Tujuan Khusus a.4.3. Membuktikan adanya perbedaan kadar glukosa darah tikus wistar yang tidak disuntik aloksan dengan yang disuntik aloksan 1.1.3. b.2.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 12 . Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk penelitian lebih lanjut.c.

2.4. Aloksan 2. Pemberian aloksan adalah cara yang cepat untuk menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada binatang percobaan.5.1.4 Nama lain dari aloksan adalah 2.6tetraoxypirimidin.2.5.6 Aloksan dapat menyebabkan Diabetes Melitus tergantung insulin pada binatang tersebut (aloksan diabetes) dengan karakteristik mirip dengan Diabetes Melitus tipe 1 pada manusia.1.1-3 Aloksan diperkenalkan sebagai hidrasi aloksan pada larutan encer. 2.5.4 Aloksan adalah senyawa kimia tidak stabil dan senyawa hidrofilik. Aloksan bersifat toksik selektif terhadap sel beta pancreas 13 . Aloksan murni diperoleh dari oksidasi asam urat oleh asam nitrat. Pengaruh Aloksan terhadap Kerusakan Sel Beta Pankreas Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada binatang percobaan .5 menit.4.4.15 Rumus kimia aloksan adalah C4H2N2O4. Definisi dan Sifat Kimia Aloksan adalah suatu substrat yang secara struktural adalah derivat pirimidin sederhana.3-Diazinan-2. atau subkutan pada binatang percobaan.4.1.6-tetron (IUPAC) dan asam Mesoxalylurea 5-oxobarbiturat. intraperitoneal.16 2.4 dan suhu 37o C adalah 1. 1. Nama aloksan diperoleh dari penggabungan kata allantoin dan oksalurea (asam oksalurik).4. Waktu paruh aloksan pada pH 7.6-primidinetetron.1.15 Aloksan dapat diberikan secara intravena.5.

Efek ini spesifik untuk sel beta pankreas sehingga aloksan dengan konsentrasi tinggi tidak berpengaruh terhadap jaringan lain.5 Tingginya konsentrasi aloksan tidak mempunyai pengaruh pada jaringan percobaan lainnya. Aloksan mungkin mendesak efek diabetogenik oleh kerusakan membran sel beta dengan meningkatkan permeabilitas.15 Aloksan meningkatkan pelepasan insulin dan protein dari sel beta pankreas tetapi tidak berpengaruh pada sekresi glucagon. Aloksan bereaksi dengan merusak substansi esensial di dalam sel beta pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya granula – granula pembawa insulin di dalam sel beta pankreas.4.4 Aloksan dan produk reduksinya.6 Aksi sitotoksik aloksan dimediasi oleh radikal bebas.4 Dean dan Matthew (1972) mendemonstrasikan adanya depolarisasi membran sel beta pankreas dengan pemberian aloksan.4. Aksi toksik aloksan pada sel beta diinisiasi oleh radikal bebas yang dibentuk oleh reaksi redoks. Aksi radikal bebas 14 . membentuk siklus redoks dengan formasi radikal superoksida.yang memproduksi insulin karena terakumulasinya aloksan secara khusus melalui transporter glukosa yaitu GLUT2. asam dialurik. Mekanisme aksi dalam menimbulkan perusakan selektif sel beta pankreas belum diketahui dengan jelas. Radikal ini mengalami dismutasi menjadi hydrogen peroksida. Radikal hidroksil dengan kereaktifan yang tinggi dibentuk oleh reaksi Fenton. Efek diabetogeniknya bersifat antagonis terhadap glutathion yang bereaksi dengan gugus SH.

2.dengan rangsangan tinggi meningkatkan konsentrasi kalsium sitosol yg menyebabkan destruksi cepat sel beta. dan pentosa (5 karbon). Karbohidrat 2.2. yaitu: a.2. fruktosa.1. Keluarnya ion kalsium dari mitokondria mengakibatkan homeostasis yang merupakan awal dari matinya sel. Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa.2. Berdasarkan jumlah atom yang dimiliki. 17 2. tetrosa (4 karbon).5 Penelitian terhadap mekanisme kerja aloksan secara invitro menunjukkan bahwa aloksan menginduksi pengeluaran ion kalsium dari mitokondria yang mengakibatkan proses oksidasi sel terganggu. Klasifikasi Pada umumnya karbohidrat dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan. 15 . Monosakarida yang penting adalah gula yang memiliki 6 karbon yaitu glukosa. Definisi Merupakan senyawa kimia yang terdiri atas unsur – unsur karbon (C). Perbandingan antara hidrogen dan oksigen pada umumnya adalah 2:1. Monosakarida Monosakarida adalah gula yang paling sederhana yang terdiri dari molekul tunggal. Hidrogen (H).15 2. dan oksigen (O). ada nama monosakarida lain yaitu triosa (3 karbon).

seperti selulosa. Fruktan adalah sekelompok oligo dan polisakarida yang terdiri atas beberapa unit fruktosa yang terikat dengan satu molekul glukosa. stakiosa. dan pektin. 17 c. dan trehalosa. Polisakarida penguat tekstur ini tidak dapat dicerna oleh tubuh tetapi merupakan serat – serat yang sangat bermanfaat untuk diet (dietary fiber) yang dapat menstimulasi enzim – enzim pencernaan dan sangat berguna bagi kesehatan. Disakarida terdiri atas dua unit monosakarida yang terikat satu sama lain melalui reaksi kondensasi. ada yang dapat dicerna dan ada yang tidak dapat dicerna. hemiselulosa. Polisakarida dalam bahan makanan berfungsi sebagai tekstur.dan galaktosa. dan verbaskosa adalah oligosakarida yang terdiri atas unit – unit glukosa. tidak terasa atau rasanya pahit. Ada empat jenis disakarida. Polisakarida Polisakarida adalah karbohidrat yang tersusun atas banyak gugusan gula sederhana. Rafinosa. yaitu sukrosa atau sakarosa. glikogen. laktosa. fruktosa. Adapun polisakarida yang berfungsi sebagai sumber energi adalah pati. dan arabinosa.18 Adapun conatoh monosakarida yang memiliki 5 karbon adalah rbosa.17 b.17. dan galaktosa. tidak larut dalam air. dekstrin.18 16 . Disakarida termasuk oligosakarida karena terdiri dari dua polimer monosakarida. dan fruktan. xilosa. Oligosakarida Oligosakarida terdiri atas dua hingga sepuluh polimer monosakarida. Disakarida dapat dipecah kembali menjadi dua molekul monosakarida melalui reaksi hidrolisis. maltosa.

sukrosa. Glukosa dapat dimanfaatkan untuk energi tinggi.2. diantaranya:17. Dalam keadaan normal sistem syaraf pusat hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi.4. sirup jagung. yaitu di dalam sayur. menghemat penggunaan protein d. Tubuh hanya dapat menggunakan glukosa dalam bentuk dekstro. dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. disebut juga dekstrosa atau gula anggur. sari pohon. dan laktosa pada hewan dan manusia. membantu pengeluaran feses f.2.3. maltosa. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati. memberi rasa manis e. terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit. glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber energi. sebagai energi cadangan dalam bentuk glikogen hati dan glikogen otot g. Glukosa dalam bentuk bebas hanya terdapat dalam jumlah terbatas dalam bahan makanan. terlibat dalam metabolisme lemak c. sumber energi utama b. Tingkat kemanisan glukosa hanya 17 . glukosa sebagai sumber energi utama bagi otak dan syaraf 2.2. Dalam proses metabolisme. buah. Glukosa Glukosa. Fungsi Fungsi karbohidrat sangatlah banyak.18 a.

sehingga dapat digunakan lebih banyak untuk tingkat kemanisan yang sama. kadar tersebut naik hingga 6.3 – 3. karena pengaturan otak secara langsung pada pasokan glukosa. galaktosa. seperti beberapa asam amino serta 18 .2.5 – 5. Konsentrasi dan Sumber Glukosa Darah Pada keadaan setelah penyerapan makanan. Senyawa ini dapat digolongkan menjadi dua kategori yaitu: senyawa yang melibatkan konversi neto langsung menjadi glukosa tanpa daur ulang yang bermakna. Namun.5 – 7. dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum. 19 Sebagian besar karbohidrat yang dapat dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di hati. kadar glukosa darah pada manusia dan mamalia berkisar antara 4.5 mmol/L. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa. seperti terlihat pada keadaan overdosis insulin. Saat puasa kadar glukosa darah akan turun menjadi sekitar 3. Penurunan mendadak kadar glukosa darah akan menyebabkan konvulsi. kadar yang jauh lebih rendah dapat ditoleransi asalkan terdapat adaptasi yang progressif. 20 Glukosa dibentuk dari senyawa – senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis. Zat – zat ini lalu diangkut ke hati lewat vena porta hati.9 mmol/L.separuh sukrosa.2 mmol/L. Setelah ingesti makanan yang mengandung karbohidrat.5.17 2.

6.propionat dan senyawa yang merupakan produk metabolisme parsial glukosa pada jaringan tertentu dan yang diangkut ke hati serta ginjal untuk disintesis kembali menjadi glukosa.19. Konsentrasi glukosa darah menentukan aliran lewat glikolisis. Hormon ini dihasilkan oleh sel – sel beta pada pulau – pulau Langerhans pankreas sebagai reaksi langsung terhadap keadaan hiperglikemia.2. yang berefek pendauran glukosa dari hati ke otot dengan pembentukan piruvat yang diikuti dengan transaminasi menjadi alanin. Pengaruh Hormonal dalam Pengaturan Glukosa Darah a. Insulin Selain pengaruh langsung hiperglikemia dalam meningkatkan ambilan glukosa baik ke hati maupun jaringan perifer. Peningkatan konsentrasi ATP akan menghambat saluran K+ yang sensitif terhadap ATP sehingga menyebabkan depolarisasi membran sel beta.19 19 . dan kemudian diikuti oleh glukoneogenesis kembali menjadi glukosa. 19-22 2. siklus asam sitrat dan pembentukan ATP. hormon insulin juga mempunyai peranan sentral dalam pengaturan konsentrasi glukosa darah. Kenyataan ini kemudian menghasilkan postulasi siklus glukosa alanin. keadaan ini akan meningkatkan aliran masuk Ca2+ lewat saluran Ca2+ yang sensitif terhadap voltase dan dengan demikian menstimulasi eksositosis insulin. Glukosa juga dibentuk dari glikogen hati melalui glikogenolisis. lalu transpor alanin ke hati.20 Alanin merupakan asam amino yang paling dominan ditranspor dari otot ke hati selama masa kelaparan.

23 c.17. Pemberian insulin dapat mengakibatkan hipoglikemia seketika.Konsentrasi insulin di dalam darah sejajar dengan konsentrasi glukosa darah. Sebagian besar glukagon endogen (dan insulin) dibersihkan dari sirkulasi darah oleh hati. Pada saat mencapai hati (lewat vena porta).19. sekretin. glikogenesis. badan keton. glukagon. Zat – zat lain yang menyebabkan pelepasan insulin adalah asam amino. Meskipun demikian. Glukagon Glukagon merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel – sel alfa pada pulau – pulau Langerhans pankreas. hormon glukagon menimbulkan glikogenolisis dengan mengaktifkan enzim fosforilase. Glukagon juga meningkatkan glukoneogenesis dari asam amino dan laktat.22 b. Glukokortikoid 20 .19. dan obat – obat sulfonilurea tolbutamid serta gliburid. secara tidak langsung insulin akan meningkatkan ambilan jangka panjang glukosa oleh hati sebagai hasil kerjanya pada sintesis enzim yang mengontrol glikolisis. dan glukoneogenesis. asam lemak bebas. hormon insulin tidak memiliki efek langsung terhadap penetrasi glukosa pada sel – sel hati. Sekresinya dirangsang oleh keadaan hipoglikemia. Sebaliknya. Insulin mempunyai efek segera yang meningkatkan ambilan glukosa di jaringan seperti jaringan adiposa dan otot.

3.1. Definisi Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin. sedangkan pasien hipotiroid mengalami penurunan kemampuan dalam menggunakan glukosa dan mempunyai sensitivitas terhadap insulin yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan orang – orang normal atau penderita hipertiroid.19 2. Meskipun demikian. Epinefrin Epinefrin disekresi medula adrenal sebagai akibat dari rangsangan yang menimbulkan stres (ketakutan.3. Hormon tiroid Pada manusia. Diabetes Melitus 2. kegembiraan. kadar glukosa puasa tampak naik di antara pasien – pasien hipertiroid dan menurun di antara pasien – pasien hipotiroid. atau kedua – duanya yang berhubungan dengan 21 . hipoksia. pasien hipertiroid kelihatnnya menggunakan glukosa dengan kecepatan yang normal atau meningkat. kerja insulin. hipoglikemia. perdarahan . Glukokortikoid menyebabkan peningkatan glukoneogenesis dan bersifat antagonistik terhadap insulin.Glukokortikoid disekresi oleh korteks adrenal dan sangat penting di dalam metabolisme karbohidrat.17.dll) dan menimbulkan glikogenolisis di hati serta otot karena stimulasi enzim fosforilase dengan menghasilkan cAMP.19 e.17.19 d.

kadang dijumpai virus yang merusak sitoplasma sel.8. herpes dan lain – lain.10. seperti virus cocksakie. Pada Diabetes jenis ini dijumpai kadar insulin normal atau meningkat yang disebabkan oleh sekresi insulin abnormal dan resistensi terhadap kerja insulin karena kurangnya reseptor insulin pada organ target sehingga terjadi defek relatif pankreas untuk mensekresi insulin.kerusakan jangka panjang.9 2. Insulitis hanya menyerang sel beta.10 Namun hampir semua berpendapat adanya destruksi sel β pulau Langerhans. Secara patologi terlihat adanya peradangan pankreas ( insulitis ) yang ditandai dengan adanya infiltrasi makrofag dan limfosit T teraktivasi di sekitar dan di dalam sel islet.10. rubella. Sehingga kerusakan ini akan menyebabkan terbentuknya antibodi ICA ( Islet Cell Antibody ) yang mengganggu produksi insulin.24 Sedangkan Diabetes Mellitus tipe 2 pada umumnya lebih bersifat genetik. 22 . yang diakibatkan oleh proses autoimun.8. disfungsi.8. atau kegagalan beberapa organ tubuh.3.2.10 Tipe ini mencakup lebih dari 90 % dari semua populasi diabetes. Patofisiologi Etiologi Diabetes Mellitus tipe 1 hingga kini masih belum dapat disepakati oleh para ahli. biasanya sel alfa dan sel delta tetap utuh. kelainan primernya adalah resistensi insulin di jaringan perifer seperti otot dan lemak sehingga terjadi peningkatan kebutuhan insulin.23 Pada penderita yang obesitas.8.24 Insulitis bisa disebabkan macam – macam di antaranya virus.8.

mulut kering. gangguan refraksi mata. Diagnosis Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila ditemukan gejala khas DM berupa poliuria.8. polidipsia. dan pruritus vulva pada wanita.75 gr/kg BB (anak) yang dilarutkan dalam air 250 ml.10 2.12 2. timbul rasa haus (polidipsia). 12 Uji toleransi glukosa oral merupakan salah satu cara efektif untuk mendiagnosis Diabetes Melitus.3. Penderita dipuasakan paling sedikit 8 jam mulai malam hari sebelum pemeriksaan. kelainan mata seperti mata kabur. kemudian diperiksa kadar glukosa darah puasa. meningkatnya pengeluaran kemih (poliuria). Manifestasi Klinis Gejala khas pada penderita DM berupa meningkatnya rasa lapar (polifagia). lemas. impotensi pada pria. kelainan primernya berupa kerusakan sel beta dan kelainan sekundernya di jaringan perifer.Sedangkan pada penderita yang non obesitas. bisul yang sulit sembuh. polifagia dan penurunan berat badan. dan berat badan turun. diplopia. Keluhan dan gejala yang khas disertai hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl atau glukosa darah puasa > 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus. kelainan kulit seperti gatal.4.8. Setelah itu penderita diberikan beban glukosa 75 gr (dewasa) atau 1. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan adalah kesemutan. Pemberian 23 .3.3.

Pada orang dewasa normal maupun anak normal.beban glukosa dilakukan selama lima menit kemudian diperiksa kadar glukosa darah dua jam setelah pembebanan. Langkah – langkah diagnostik DM dan toleransi glukosa terganggu ( dikutip dari Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. konsentrasi glukosa darah pasca pembebanan ≥ 200 mg/dl sedangkan kadar glukosa darah puasa hampir selalu di atas 140 mg/dl.25 Gambar 1. 2006 : 1880 24 . kadar glukosa darah setelah pemberian beban post prandial akan meningkat menjadi 120-140 mg/dl. 9. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. Setelah dua jam kadar ini akan turun kembali dan kembali ke nilai normal. Pada penderita Diabetes Melitus.

2. Hipotesis Penelitian Pemberian aloksan dapat meningkatkan glukosa darah tikus wistar 25 . Kerangka Konsep Aloksan Glukosa Darah 2.5.4.6. Kerangka Teori Aloksan Kerusakan potensial membran sel Radikal bebas Idiopatik Autoimun Infeksi virus Kerusakn sel beta pankreas Insulin menurun Glukosa darah meningkat 2.

BAB 3 METODE PENELITIAN 3. dan Endokrinologi.2.1.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan pendekatan post test only control group design. Rancangan Percobaan: K Tikus wistar R P OP OK 26 .2.1. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan di laboratorium swasta yang telah tersertifikasi. Ruang Lingkup Penelitian 3. Penelitian ini menggunakan dua kelompok. yaitu satu kelompok kontrol dan satu kelompok eksperimental. 3.1. Penelitian dan pemeliharaan dilakukan di laboratorium Biokimia FK UNDIP. Pengumpulan data dilakukan selama 37 hari. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan pada mulai bulan Mei 2008. 3. Patologi Klinik. Ruang Lingkup Keilmuan Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang Biokimia.

Sampel Sampel penelitian diperoleh secara consecutive random sampling dengan kriteria sebagai berikut: Kriteria Inklusi : a. 3.2. Berat badan menurun (kurang dari 200 gram) 27 .1.3.3.Keterangan: R K P = Randomisasi = Kontrol (diet standar) = Perlakuan (diet standar + aloksan) O K = Kadar glukosa darah pada K O P = Kadar glukosa darah pada P 3. Tidak ada kelainan anatomis Kriteria Eksklusi : a. Tikus mati b. Populasi Populasi penelitian ini adalah tikus wistar jantan.3. Populasi dan Sampel 3. Berat badan 200 – 250 gram d. Tikus wistar jantan b. Umur 3 bulan c.

Klasifikasi Variabel 1. Spuit 5. Variabel Penelitian 3. Menggunakan skala rasio. Tabung centrifuge 6.5. Timbangan 3. Alat 1. Alat untuk terminasi tikus 4.3. 2. Alat dan Bahan 3. Tabung cuvet 28 . Besar Sample Sesuai kriteria WHO.1. minimal lima ekor tikus setiap kelompok perlakuan. 3.4. Kandang hewan coba 2.3.4.5. Menggunakan skala rasio. 26 3. Variabel bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian aloksan.1. Variabel tergantung Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kadar glukosa darah. Tikus tidak bergerak aktif atau sakit 3. Centrifuge 7.c.

Pipet 3. Aloksan 4.2.8. Cara Pengambilan Data Tikus wistar sebanyak 16 ekor yang memenuhi criteria inklusi. Diet standar 3.6. Bahan 1. Spektrofotometer 9. diaklimasi di dalam laboratorium. 3.5. Masing – masing dikandangkan secara individual. yaitu kadar glukosa darah tikus wistar setelah disuntik dengan aloksan. Darah 5. serta diberi pakan ternak selama satu minggu secara ad libitum. Tikus wistar tersebut lalu dibagi dalam dua kelompok sehingga setiap kelompok terdiri dari 8 ekor tikus wistar. Tikus wistar 2. Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data primer. Bahan untuk pemeriksaan glukosa darah 3.7. Kelompok pertama adalah kelompok dimana tikus tanpa diinduksi aloksan dan hanya diberi diet 29 .

Adapun perhitungan kadar glukosa darah dengan metoda GOD-PAP: 27 C (mg/dl) = 100 x d Asp d Astd C (mmol/L)= 100 x d Asp d Astd Keterangan: C = kadar glukosa darah dalam mg/dl atau mmol/L atau d Asp = absorbansi sampel d Astd = absorbansi standar 30 .standar. Kadar glukosa darah ditentukan dengan metode Glucose Oxidase-Phenol 4-Aminoantipirin (GOD-PAP). Hal ini terjadi setelah serum dicampur dengan reagen glucose liquiqolor dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 20oC – 25oC atau selama 5 menit pada suhu 37oC. Kemudian diperoleh serum dan diperiksa kadar glukosa darah. hydrogen peroksida yang terbentuk akan bereaksi dengan adanya peroksidase dengan phenol serta 4-aminophenazone menjadi warna quinoneimine yang berwarna merah violet. Kemudian mengukur absorbansi standar dan absorbansi sampel menggunakan spektrofotometer. Sampel diambil dari masing – masing tikus. Prinsip metode ini adalah: glukosa ditentukan setelah oksidasi enzimatis dengan adanya glukosa oksidase. Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok dimana tikus disuntik aloksan intraperitoneal dan diberi diet standar. Tikus wistar kemudian diterminasi pada hari ke 38.

3.8. Alur Penelitian 16 ekor tikus wistar umur 3 bulan Adaptasi selama seminggu Randomisasi 8 tikus diberi diet standar 8 tikus diberi diet standar + induksi aloksan 1 bulan Pengambilan darah 31 .

Analisa Data 3. Definisi Operasional 3.10.3.1.9. Cleaning data untuk meneliti kembali kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi c.9. 3. Aloksan Aloksan merupakan derivat pirimidin sederhana yang merusak sel beta pankreas sehingga menurunkan produksi insulin. Pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan adalah dengan menggunakan metoda GOD-PAP.2.9. 3. Penabulasian data dengan cara disajikan ke dalam tabel-tabel yang telah disediakan 32 . Adapun satuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mg/dL.10. Mengedit data yang tersedia (tahap editing) b. Glukosa darah Glukosa darah adalah hasil metabolisme karbohidrat di dalam tubuh.1. Cara pengelolaan data Tahap-tahap pengolahan data: a. Dalam percobaan ini tikus disuntikan aloksan sebanyak 125 mg /kg BB secara intraperitoneal. Aloksan yang diberikan dalam bentuk serbuk yang kemudian dilarutkan dengan aquades.

33 . Analisis data Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 15.00 for windows.3. Langkah pertama yakni melakukan uji normalitas distribusi dengan uji Shapirowilk.10.2. Kemudian dilakukan uji parametric dengan uji t tidak berpasangan.

Penelitian dilakukan selama 38 hari dan diperoleh data primer (lampiran 1).100 Standar Deviasi 8. Adapun hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah. Hal ini dikarenakan adanya 4 ekor tikus yang mati saat penelitian sehingga untuk penyeragaman jumlah tikus dalam tiap kelompok maka diambil 5 ekor tikus untuk tiap kelompok. Data primer yang diperoleh kemudian dilakukan uji normalitas sebaran data dengan menggunakan uji Shaphiro-Wilk dan didapatkan hasil bahwa data terdistribusi normal (p>0. Tabel 1.608 89. Hasil pengukuran kadar glukosa darah pada tiap kelompok (mg/dl) Kadar glukosa darah Kelompok Kontrol (diet standar) Perlakuan (diet standar + aloksan) N 5 5 Mean 75.05) (lampiran 2). dimana pada awal penelitian menggunakan 16 ekor tikus wistar jantan dan pada akhirnya menggunakan 10 ekor tikus wistar jantan.133 34 .553 16.BAB 4 HASIL Setelah sampel diperoleh dengan menggunakan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Karena data terdistribusi normal maka digunakan mean sebagai ukuran pemusatan dan standar deviasi sebagai ukuran penyebaran.

00 8 110.00 diet standar diet standar + aloksan perlakuan penelitian Gambar 2.00 4 80.05) yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal kadar glukosa darah antar kelompok.100 ±16.120.608 ± 8.133).553) lebih rendah dari kelompok perlakuan (89. atau yang diberi diet standard dan aloksan 35 .00 100. maka uji hipotesis dilanjutkan dengan uji statistik parametric Uji t test tidak berpasangan. Box Plot Kadar GLukosa Darah Tikus Wistar (mg/dL) Dari tabel 1. diperoleh data rerata kadar glukosa darah kelompok kontrol atau yang hanya diberi diet standar (75. Hasil dari uji statistik Uji t test tidak berpasangan didapat nilai tidak signifikan (p>0.00 60.00 70.00 kadar glukosa 90. Karena distribusi data normal.

Aksi radikal bebas dengan rangsangan tinggi meningkatkan konsentrasi kalsium sitosol yg menyebabkan destruksi cepat sel beta pankreas.BAB 5 PEMBAHASAN Hasil penelitian ini didapat bahwa rerata kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan lebih tinggi daripada kelompok kontrol dan hasil ini tidak bermakna secara statistik.5 Menigkatnya konsentrasi kalsium sitosol juga disebabkan karena aloksan menginduksi pengeluaran kalsium dari mitokondria yang kemudian menyebabkan terganggunya proses oksidasi sel beta pankreas. membentuk siklus redoks dengan formasi radikal superoksida. Hal ini memperlihatkan bahwa teori yang digunakan sudah sesuai namun secara statistik hasilnya tidak bermakna.15 Karena rusaknya sel beta pankreas maka insulin tidak terbentuk sehingga kadar glukosa darah 36 . Radikal ini mengalami dismutasi menjadi hydrogen peroksida.4 Aloksan dan produk reduksinya. Radikal hidroksil dengan kereaktifan yang tinggi dibentuk oleh reaksi Fenton. Aksi toksik aloksan pada sel beta diinisiasi oleh radikal bebas yang dibentuk oleh reaksi redoks. Meningkatnya kadar glukosa darah pada pemberian aloksan dapat disebabkan oleh dua proses yaitu terbentuknya radikal bebas dan kerusakan permeabilitas membran sel sehingga terjadi kerusakan sel beta pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin. asam dialurik.

Gurao. dan Arvindeka (2007) yang mengatakan bahwa regenerasi dan neogenesis pankreas dapat terjadi pada waktu 12 hari pada penggunaan aloksan dosis 120 mg/kgBB. Hasil penelitian ini tidak signifikan mungkin dikarenakan adanya regenerasi sel beta pankreas.28-30 Hal ini sesuai dengan penelitian Chaugale. Panaskar.6 Kerusakan membran akan mempermudah terjadinya kerusakan sel beta pankreas sehingga produksi insulin menurun.2 Berkurangnya granula-granula pembawa insulin menyebabkan metabolisme glukosa terganggu sehingga kadar glukosa darah akan meningkat. Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa pemberian aloksan dosis 140 mg/kgBB akan terjadi peningkatan glukosa darah yang dapat kembali normal pada waktu beberapa bulan. Hal ini seperti proses yang terjadi pada diabetes melitus tipe 1 pada manusia.1.meningkat.28 Selain itu.4 Dean dan Matthew (1972) mendemonstrasikan adanya depolarisasi membran sel beta pankreas dengan pemberian aloksan. tidak signifikannya hasil penelitian ini mungkin dapat diperbaiki bila peyuntikan aloksan dilakukan secara intravena dimana 100% 37 . Aloksan mungkin mendesak efek diabetogenik oleh kerusakan membran sel beta dengan meningkatkan permeabilitas. Selain itu dalam penelitian lain disebutkan bahwa aloksan bereaksi dengan merusak substansi esensial di dalam sel beta pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya granula–granula pembawa insulin di dalam sel beta pankreas.

6 Hasil yang tidak signifikan ini juga dapat dikarenakan yang melakukan pemberian aloksan bukanlah analis laboratorium. Adapun dosis suntikan secara intraperitoneal dan subkutan adalah 2-3 kali dari dosis intravena. Hal tersebut memungkinkan terjadinya kesalahan walaupun masih dalam pengawasan.zat yang disuntikan dapat diabsorbsi seluruhnya. 38 .

2. Kesimpulan Tidak terjadi peningkatan yang bermakna terhadap kadar glukosa darah tikus wistar pada pemberian aloksan dosis 125 mg/kgBB. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih banyak untuk mengurangi kesalahan dalam penelitian c. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan handling specimen yang lebih baik 39 .1. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan dosis dan lama perlakuan d. Saran Saran peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah: a. 6. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan dosis yang lebih bervariasi agar diketahui dosis optimal untuk membuat tikus hiperglikemi b.BAB 6 PENUTUP 6.

Media Medika Indonesia Vol.org/cgi/content/abstract/207/2/436 5.physiology. Dalam : Sudoyo AW. Available from: www. Jilid III. 2004 : 154 – 60. editors. [Internet]. Filipponi P. Santeusanio F.nih. Setiati S. Available from: http://ajplegacy. 1. Puwaningsih E. Pengaruh diet ekstrak rumput laut (Eucheuma sp.) terhadap kadar glukosa darah tikus putih ( Rattus norvegicus ) hiperglikemik.gov/pubmed/3522213 6. 2008 [cited 2009 February 18]. Setiyohadi B.DAFTAR PUSTAKA 1. Nicoletti I. 2005 : 1155 – 224.ncbi. The endocrine system. Cooperstein SJ.nlm. Buku ajar ilmu penyakit dalam . 2. Lazarow A. Robbins and Cotran. Available from: http://en. Perbedaan diet ekstrak rumput laut (Eucheuma sp) dan insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih ( Rattus norvegicus ) hiperglikemik. Simadibrata M. Diagnosis dan klasifikasi diabetes mellitus. Nugroho BA.[Internet]. Selective impairment of pancreatic A cell suppreession by glucose during acute alloxan – induced insulinopenia: in vitro study on isolated perfused rat pancreas. 2008 [cited 2009 February 18]. 40 . 2008 [cited 2009 January 23]. Philadelphia. Use of laboratory animals in toxicology studies. Nelson F. Alwi I. Gregorio F.ncbi. Cristallini S.gov/pubmed/11829314 7. Abbas AK. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. The mechanism of alloxan and streptozotocin action in B cells of the rat pancreas [Internet]. 2008 [cited 2009 February 18]. Effect of alloxan on permeability of pancreatic islet tissue in vitro. In: Kumar V. Kram DJ. Abbas AK. Szkudelski T.nih. 3. Alloxan. Nugroho BA. Ferrandina C.nlm. 41 No.39 No. 8. Available from: http://www. Gustaviani R. Pathologics basis of disease.Wikipedia. Maitra A. In: Toxicology testing handbook. 9. Media Medika Indonesia Vol. Keller KA. Watkins D. New York. [Internet].7th ed. 2006 : 23-30.org/wiki/Alloxan 4. 2001: 1 – 17. 2007 :1857 – 9. Edisi IV. USA : Elsevier Saunders. 3. Puwaningsih E.wikipedia. USA : Marcel Dekker.

Jakarta : EGC. Diabetes mellitus di Indonesia. 2007 : 580-8. Jakarta : EGC. [Internet]. Cermin Dunia Kedokteran. 2007 :1852 – 6. Lenzen S.Pubmed. Setiadi S. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.co. Suyono S. dan strategi pengelolaan. Edisi 3. Karbohidrat. Malang : Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang. 11.gov/pubmed/18087688?ordinalpos=1&itool=Entre zSystem2. Volume 2. editor. Waspandji S. Setiowulan W. 140. 2000 : 2196 – 217. Dalam : Sudoyo AW. Simadibrata M. 14. Alwi I. 18. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedukteran Universitas Indonesia. Volume 5. Setiati S. Price SA. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 12. Dalam : Sudoyo AW. Wilson LM. Buku ajar ilmu penyakit dalam .PEntrez. Jilid 1. 2004 : 28 – 47. Dalam: Dasar – dasar ilmu gizi. Hartanto H. Diabetes mellitus. Mahanani DA. Budiyanto M. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. alihbahasa Sadikin Mohamad dkk.html 16. Jilid III. Edisi 6. Harrison Prinsip – prinsip imu penyakit dalam. Triyanti K. Kapita selekta kedokteran. Almatsier S.nlm. Karbohidrat. In : Isselbacher KJ. Dalam: Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : EGC.10.kalbe.id/files/cdk/06_PengujianBioaktivitasAntiDiabetes. The mechanism of alloxan and streptozotocin induced diabetes [Internet]. Wulansari P. Dalam: Biokimia. Stryer L . Glikolisis. Jilid III. Patofisiologi konsep klinis proses – proses penyakit. Braunwald E. 19. Edisi 13. Suharmiati. Komplikasi kronik diabetes : mekanisme terjadinya. 2005 : 1260 – 70. Alih bahasa : Asdie AH. 13. 2000 : 505 – 79 41 . Available from: http://www. 2006 : 1906 – 10. Alih bahasa : Pendit BU. 15. Pubmed_Discovery_RA&linkpos=4&log$=relatedreviews&logdbfrom=pub med 17. Alwi I. 2003 [cited 2009 January 20]. Edisi IV.pdf/ 06_Pengujian BioaktivitasAntiDiabetes. Mansjoer A.Pubmed_ResultsPanel. Savitri R. Available from: http://www. Edisi IV. Martin JB.Pubmed_DiscoveryPanel. Buku ajar ilmu penyakit dalam.nih. Agus K. Fauci AS. Pengujian bioaktifitas anti diabetes melitus tumbuhan obat. Setiyohadi B. 2008 [cited 2009 January 23]. Wilson JD. Wardhani WI.ncbi. Foster DW. Kasper DL. 2004 : 19 – 25. diagnosis. Setiyohadi B. Simadibrata M.

Biodiversitas. 1999 : 1 – 15.who. Dalam : Soegondo S. Ngestiningsih D. Soewondo P. Dalam: Djokomoeljanto R.7 No. Dinsmoor RS. 1993 : 31 – 41. Darmono. Panaskar SN. Rahmi FL. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Research guidlines for evaluating the safety and efficacy of herbal medicines. 2006: 378-382.408 29. Semarang : Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran UNDIP. Hewan percobaan diabetes melitus: Patologi dan mekanisme aksi diabetogenik. 2006. Vol. Jakarta : EGC. Karam JH. Patofisiologi diabetes melitus. Jakarta : EGC. Forsham PH. [Internet]. Suhartono T. 25. Dalam: Greenspan FS. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Suhartono T.com/tem/indianJPharmaco1122123_7886327_2154. Yusuf I. 2000 : 590-8.4. 16: 21-4. [cited 2006 September 28] Available from: URL: http://www.online. Viswanath K. Chougale AD. Endokrinologi dasar dan klinik. Diabetic retinopathy: clinical findings and management. editor. 30. Insulin perannya pada pengelolaan diabetes melitus. dan lipid. Hormon – hormon pankreas dan diabetes melitus. JCEH 2003. Beta cell regeneration. World Health Organization. Jakarta : PB. Available from: http:// sciarlet. Petunjuk praktikum biokimia II.net/fulltext/?doi=ajb2007. Pemeriksaan karbohidrat. protein plasma. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. 28. Metabolisme glikogen. 2006 [cited 2009 August 21]. Suyono S. Optimization of alloxan dose is essential to induce stable diabetes for prolong period. 23. Nugroho AE. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu. Djokomoeljanto R. Stryer L . Subekti I. Insulin : Berperan central dalam diabetes melitus. 2005 : 7 – 15. alihbahasa Sadikin Mohamad dkk. Komala SR. PERKENI. editor. 1998 : 742 – 55. editor. Baxter JD. Dalam: Biokimia. McGavin DDM. 26.402. 2007. Gurao PM. Manila : Region al Office for The Western Pacific. 24. Pdf 42 . Available from: http//www. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Arvindeka AU. 27.ijp.20. 22.int/acd/vision2020_actionplan/documents/. [cited 2009 August 10]. 21.

60 89.36 43 .LAMPIRAN Lampiran 1 Data Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tikus K1 K2 K3 K4 K5 P1 P2 P3 P4 P5 Glukosa Darah (mg/dL) 66.87 88.36 88.63 74.93 70.42 76.78 75.46 77.13 115.

21468 .93 89.318 5 .82493 kadar glukosa perlakuan penelitian diet standar Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Statistic 75.Lampiran 2 Data deskriptif dan uji Shapirowilk SPSS 15.55280 66.16 1.237 1.3889 88.49 14. kadar diet standar .483 diet standar + aloksan 5% Trimmed Mean Median Variance Std.1325 1 75.258 16.489 2.000 7.1000 69.2277 75.913 2.6080 64.843 df 5 5 Sig.0688 109.13 115. a Lilliefors Significance Correction Shapiro-Wilk Statistic .66 1.175 44 .87 40.200(*) glukosa diet standar + . Error 3.109 aloksan * This is a lower bound of the true significance.913 2.914 .260 5 .970 89.3228 74. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Descriptives .00 for windows Std.6000 73.9883 86. .150 8.493 .3600 260.42 22. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Mean 95% Confidence Lower Bound Interval for Mean Upper Bound 5% Trimmed Mean Median Variance Std.000 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov(a) perlakuan penelitian Statistic df Sig.131 2 88.74 25.

149 -13.084 .55280 16.398 -1.49200 8.00 for windows Group Statistics Std.1000 Std.137 .42257 Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig.82493 7.6080 89. (2-tailed) Mean Difference Std. t df Sig.16588 Lower Upper -32.33856 -13.49200 8.32256 5.40657 6.652 -1.16588 -33.13251 T-Test Independent Samples Test kadar glukosa darah (mg/dl) Equal variances Equal variances assumed not assumed .21468 kadar glukosa perlakuan penelitian diet standar diet standar + aloksan N 5 5 Mean 75. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference 45 .Lampiran 3 Data uji t tidak berpasangan SPSS 15.652 8 6.797 . Error Mean 3. Deviation 8.