BAB I KATA PENGANTAR

Problema remaja merupakan topik pembicaraan di negara mana pun di seluruh dunia. Negara-negara super modern pun masih saja mempunyai persoalan dengan perkembangan remajanya. Pada kenyataannya negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, problema remaja cukup ruwet. Hal ini disebabkan banyak faktor, terutama sekali para remaja di negara berkembang belum siap menerima perubahan yang begitu cepatnya. Sementara itu lingkungan budaya yang begitu kukuh berakar dalam pribadi telah menentukan sikap tertentu terhadap perubahan tersebut. Akan tetapi keadaan jiwa remaja yang masih dalam keadaan transisi menunjukkan sikap labil dan gampang sekali terpengaruh terhadap sesuatu yang datang pada dirinya, sehingga kadang-kadang timbullah konflik pada dirinya dengan lingkungannya. Hal ini memancar kepada tingkah laku yang mengandung problema terhadap lingkungan dan terhadap dirinya sendiri.

IDENTIFIKASI MASALAH 1. Pendekatan teori kriminologi terhadap kenakalan remaja 2. Dampak kenakalan remaja bagi masyarakat luas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pendapat Para Ahli Mengenai Kenakalan Remaja Atau Juvenile Delinquency Kartini Kartono menyatakan bahwa; Geng delinquen banyak tumbuh dan berkembang di kota-kota besar dan bertanggung jawab atas banyaknya kejahatan dalam bentuk: pencurian, perusakan milik orang lain, dengan sengaja melanggar dan menentang otoritas orang dewasa serta moralitas yang konvensional, melakukan tindak kekerasan, meneror lingkungan dan lain-lain.

Wagiati Soetedjo mengemukanan pendapat mengenai kenakalan anak bahwa: hal tersebut cenderung dikatakan sebagai kenakalan

anak dari pada kejahatan anak terlalu ekstrim rasanya seorang anak yang melakukan tindak pidana dikatakan sebagai penjahat, sementara kejadiannya adalah prose salami yang tidak setiap manusia harus mengalami kegoncangan masa menjelang kedewasaannya. Sofyan S. Willis, “kenakalan remaja itu adalah disebabkan kegagalan mereka dalam memperoleh penghargaan dari masyarakat di mana anak dan remaja itu tinggal. Penghargaan yang diharapkan remaja itu ialah dalam bentuk tugas dan tanggung jawab seperti orang dewasa. Mereka menuntut suatu peranan sebagaimana yang dilakukan orang dewasa. Fuad Hassan, “secara sosiologis kenakalan remaja ialah kelakuan atau perbuatan anti social dan anti normative” Kusumanto: “juvenile Deliquency” atau kenakalan remaja ialah tingkah laku individu yang bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umum yang dianggap sebagai akseptabel dan baik oleh suatu lingkungan atau hukum yang berlaku di suatu masyarakat yang berkebudayaan,” Paul Moedikno memberikan perumusan mengenai Juvenile Delinquency, yaitu sebagai berikut: a. Semua perbuatan yang dari orang-orang dewasa merupakan suatu kejahatan, bagi anak-anak merupakan delinquency,. Jadi semua tindakan yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya, membunuh dan sebagainya. b. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu

Semua perbutan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi social. Andie Mappiare. mode you can see dan sebagainya. . Bahwa seorang anak digolongkan anak Delinquency apabila tampak adanya kecenderungan-kecenderungan anti sosial yang demikian memuncaknya sehingga yang berwajib terpaksa atau hendaknya mengambil tindakan terhadapnya. merumuskan Juvenile Delinquency sebagai berikut: “ A child is classified as a delinquent when social tendencies appear to be so grave thet has become or ought tobecome the subject of official action”. pengemis dan lain-lain. termasuk gelandangan. Merril. Keadaan agresif yang mengalami tingkah laku bermasalah. misalnya memakai celana jangki tidak sopan.yang menimbulkan keonaran dalam masyarakat. c. Maud A. mengemukakan pengertian sebagai berikut: yang disebut kenakalan remaja atau Jevenile delinquency yaitu pembagain karena tidak tahu terhadap peraturan yang ada. Tim proyek Juvenile Delinquency Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Desember 1967 memberikan perumusan mengenai Juvenile Delinquency sebagai berikut. bahwa suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di suatu negara dan yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsiran sebagai perbuatan yang tercela. menimbulkan pelanggaran-pelanggaran tersebut. dalam arti menahannya atau mengasingkannya.

perkosaan. Petronio memberikan definisi tentang penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak (Juvenile Delinquency) yaitu sebagai berikut. kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa perbuatannya itu diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. pemerasan dan lain-lain. pencopetan. dari beberapa definisi kenakalan remaja diatas dalam bukunya yang bejudul Kriminologi adalah tindak perbuatan para remaja yang bertentangan dengan hukum. Kenakalan yang melawan status.M. agama dan norma-norma mesyarakat sehingga akibatnya dapat merugikan orang lain. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian. Beliau juga membagi kenakalan remaja menjadi empat jenis : 1. Kesimpulan Yesmil Anwar dan Adang. Gold dan J. pencurian. 3. misalnya mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya. dan lain-lain. pembunuhan. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran. penyalahgunaan obat 4. Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan. . 2. mengganggu ketentraman umum dan juga merusak dirinya sendiri.

Pendekatan yang didasarkan atas umur terdapat berbagai variasi.BAB III PEMBAHASAN Kejahatan Anak dan Pelajar (kesimpulan) Pengertian kejahatan anak yang dalam berbagai literatur dikenal dengan istilah “juvenile deliquency” memiliki keberagaman. Sementara pengertian tentang anak juga terdapat beberapa pemahaman yang berbeda. Di Amerika Serikat. Istilah kejahatan anak di rasakan terlalu tajam. Sementara istilah kenakalan remaja sering disalah tafsirkan dengan kenakalan yang tertuangkan dalam pasal 489 KUHP. . Pengertian anak dalam kaitannya dengan perilaku delinkuensi biasanya didasarkan atas tingkatan umur. Pengertian anak termasuk juga remaja. belum cukup umur dan sebagainya. Namun demikian adapula yang mendasarkan pada pendekatan psikososial. Istilah yang sering terdengar dan lazim dipergunakan adalah kenakalan remaja atau sering juga dipergunakan istilah kejahatan anak. Dalam perundangundangan biasanya di sebutkan dengan istilah anak. karena dalam konteks hukum peristilahan remaja kurang lazim dipergunakan. 27 negara bagian menentukan batas umur 8-18 th. belum dewasa (minder jarig).

akan tetapi hanya menyangkut aktivitasnya. Dalam perkembangan selanjutnya pengertian subyek/pelaku pun mengalami pergeseran. Pengertian secara etimologis telah mengalami pergeseran. Di Jepang antara 14-20 th. Sementara batasan anak yang didasarkan aspek psikososial. yakni: istilah kejahatan (Delinquency) menjadi kenakalan. berusia 12-15 tahun (c) Remaja penuh. seseorang yang berusia dibawah 12 tahun. Di Belanda di tentukan antara umur 12-18 th. berusia 15-17 tahun. (b). di Australia 8-16 th. (e) Dewasa. (d) Dewasa muda berusia 1721 tahun. ada pula bagian lain yang menentukan batas umur 8-16 tahun. Masing-masing tingkatan usia mempunyai karakteristik kejiwaan sendiri-sendiri. Singapura menentukan batas antara 7-16 th. seseorang yang berusia di atas 21 tahun. Di Inggris ditentukan batas umur antara 12-16 th. anak ditetatpkan pada usia 8-18 th.3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. yaitu (a) Anak. Sedangkan di Indonesia berdasarkan ketentuan UU No. Di negara-negara Asia antara lain Srilangka menentukan batas umur antar 8-16 tahun. Ada beberapa pakar yang ahli dalam “Juvenile Deliquency” memberi definisi agak berbeda dengan definisi di atas. Remaja dini. jika perbuatan tersebut dilakukan . Di Malaysia antara 7-18 th. klasifikasi perkembangan anak hingga dewasa di kaitkan dengan usia dan kecenderungan kondisi kejiwaanya. Bimo Walgito merumuskan arti “Juvenile Deliquency” yakni tiap perbuatan.sedangkan negara-negara Asean antar lain Philipina menentukan 7-16 tahun. Perkembangan usia anak hingga dewasa dapat diklasifikasikan menjadi lima.sementara 6 negara bagian menentukan batas umur 8-17 th.

maka “Juvenile Deliquency” pada giliranya mendapat pengertian “Kenakalan Remaja”. kenakalan remaja tersebut meliputi perbuatan yang sering menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat. sesaudara saling bermusuhan. yang dilakukan oleh anak. khususnya anak remaja. Bertitik tolak pada konsepsi dasar inilah. Paham Kenakalan Remaja dalam arti luas meliputi perbuatanperbuatan anak remaja yang bertentangan dengan kaedah-kaedah hukum tertulis baik yang terdapat dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana maupun perundang-undangan Pidana diluar KUH Pidana. anti sosial. Sedangkan Fuad Hasan merumuskan definisi Deliquency adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan. Dalam pengertian yang luas tentang kenakalan remaja ialah perbuatan/kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja bersifat melawan hukum.oleh orang dewasa. . anti susila dan menyalahi normanorma. yakni durhaka kepada kedua orang tua. maka perbuatan itu merupakan suatu kejahatan. Paradigma kenakalan remaja lebih banyak luas cakupan dan lebih dalam bobot isinya. Ada pula perbuatan anak remaja yang bersifat anti susila. Dapat pula terjadi perbuatan anak remaja tersebut bersifat anti sosial yaitu perbuatan yang menimbulkan keresahan masyarakat pada umumnya. akan tetapi tidak tergolong delik pidana umum maupun pidana khusus. jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum.

sekolah maupun keluarga. dapat terjadi saling menunjang dan . pembagian ini berdasarkan sikap dan corak perbuatan. Pada garis besarnya dari kedua bentuk delinquent ternyata delinquent sosiologislah yang sering melakukan pelanggaran didalam masyarakat. Dalam kondisi tersebut kebanyakan anak tidak merasa bersalah bila merugikan orang lain. tetapi keduanya hanya memiliki batas secara gradasi. menganggu wanita di jalan yang pelakunya anak remaja. Hal ini bukan berarti delinquent individual sama sekali tidak menimbulkan keresahan didalam masyarakat. atau merasa tidak berdosa walau mencuri hak milik orang lain asal bukan kelompoknya sendiri yang menderita kerugian. Biasanya hubungan dengan orang tua semakin memburuk justru karena bertambhanya usia. perkelahian antar sekolah. asal bukan dari kelompoknya sendiri. Secara global delinquent yang dilakukan oleh anak remaja dapat berupa berupa: delinquent sosiologis dan delinquent individual. mengedarkan pornografi dan corat-coret tembok pagar. Dapat di pandang sebagai delinquent sosiologis apabila anak memusuhi seluruh konteks kemasyarakatan kecuali konteks masyarakatnya sendiri. sikap anak yang memusuhi orang tua dan sanak saudara atau perbuatan-perbuatan lain yang tercela seperti: menghisap ganja. Delinquent sosiologis dan individual bukan merupakan dua hal yang antagonis. Jika ditinjau dari bermulanya. kawan dan sekolah atau sanak saudara bahkan termasuk kedua orang tuanya sendiri. Sedangkan dalam delinquent individual. anak tersebut memusuhi orang baik tetangga. Contoh sangat simple yaitu pencurian oleh remaja.

Pada prinsipnya Juvenile Deliquency adalah kejahatan dan pelanggaran pada orang dewasa. Jika penilaian delinquent berdasarkan faktor hukum pidana. Dalam penilaian kedua akan terjadi perbedaan penilaian antara masyarakat yang satu dengan yang lain. misalnya karena broken home atau quasi broken home. yaitu: Pertama. Seorang anak yang bergaul dengan sebaya yang baik dapat menjadi delinquent karena pengaruh kehidupan keluarga. akan tetapi menjadi “Juvenile . Dalam hal ini dapat dijumpai seorang anak menjadi delinquent bermula dari keadaan intern dan kemudian dikembangkan dan ditunjang oleh pergaulan. maka konsekuensinya disetiap negara akan berbeda penilaiannya. maka hendaklah diperhatikan faktor hukum pidana yang berlaku sebagai hukum positif serta faktor lingkungan yang menjadi ajang hidup anak remaja.memperkembangkan. Kedua dalam menentukan delinquent adalah norma atau kaidah-kaidah yang hidup dan bertumbuh dalam masyarakat. Agar dapat memberikan penilaian apakah suatu perbuatan termasuk delinquent atau tidak. tetapi tidak jarang pula seorang anak menjadi delinquent justru karena meniru kawan-kawan sebayanya kemudian didukung oleh berkembang di dalam keluarga. hukum pidanalah yang merumuskan bahwa suatu perbuatan merupakan suatu pelanggaran dan kejahatan. Adat kebiasaan dan norma-norma kemasyarakatan yang hidup dan bertumbuh di desa agak berbeda dengan adat kebiasaan yang berkembang di kota secara gradasi. Kedua masyarakat tersebut memiliki norma-norma yang agak berbeda. Misalnya saja antara masyarakat desa dan masyarakat kota.

Pengumpulan dan pencatatan data nyata mengenai kriminalitas pelanggar muda dapat dilakukan dengan baik bilamana dilakukan dengan suatu landasan berfikir tertentu. Sikap ini dibentuk oleh kesadaran obyektifnya akan nilai dan norma dari masyarakat atau kelompoknya. mereka yang belum mencapai umur dewasa secara yuridis formal. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh sikapnya (attitude) dalam menghadapi situasi tertentu. walaupun pada prinsip dasarnya sama. Nilai dan norma ini diterima dan dihayati oleh individu dalam kebudayaan dimana ia . Masalah kriminalitas pelanggar muda sebenarnya menyangkut pelanggaran norma masyarakat. Secara yuridis formal masalah “Juvenile Deliquency” telah memperoleh pedoman yang baku. Pertama-tama adalah hukum pidana yang pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal yang embrional yaitu pasal 45-46 dan 47 KUHPidana. Landasan berfikir dalam menganalisis kecenderungan kriminalitas pelanggar muda dapat menggunakan teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli dalam mencari “sebab” meningkatnya kriminalitas pelanggar muda.Deliquency” oleh karena pelakunya adalah: anak/kaum remaja. Pelanggaran norma masyarakat adalah salah satu bentuk tingkah laku manusia. “Juvenile Deliquency” yang melawan kaidah hukum tertulis yakni Kitab Undang-Undang Hukum Pidana disebut “Anak Negara” dan sesuai dengan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebut “Anak Sipil”. Kondisi dualistik tersebut membawa konsekuensi logis yang berbeda di dalam sebutan. Disamping itu KUHPerdata pun mengatur tentang “Juvenile Deliquency” terutama pasal 302 dan segala pasal yang ditunjuk dan terkait.

yang secara umum dapat dibagi dua: (a) yang mempergunakan pendekatan psikologis. (b) yang mempergunakan pendekatan sosiologis. Dalam masalah pelanggar muda terlebih dahulu dianalisa teori yang bertujuan mencari faktor etiologi. sikap ini adalah hasil dari proses sosialisasi individu tersebut. Seorang individu yang melanggar norma mempunyai sikap tertentu terhadap situasi yang diatur oleh norma yang bersangkutan.dilahirkan dan dibesarkan. Persoalannya dalam usaha tersebut kita tidak tahu banyak mengenai faktor yang mempengaruhi sosialisasi pelanggar muda ke arah sikap pelanggar norma tersebut. dan juga kita tidak tahu banyak mengenai cara yang efektif untuk merubah sikap pelanggar muda tadi. sedangkan usaha penanggulangan represif dilakukan agar terjadi perubahan dari sikap ini. maka dalam usaha penanggulangan preventif diusahakan agar sosialisasi yang mengakibatkan sikap ini tidak terjadi. Sebenarnya kedua pendekatan tersebut berbicara mengenai masalah yang sama dan hanya mencoba menjawab pertanyaan yang berlainan. Jika dapat diterima tingkah laku melanggar norma dari pelanggar muda itu dientukan oleh sikapnya terhadap situasi tertentu. Pendekaan psikologis pada dasarnya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan: . Sikap tertentu yang menganggap tidak perlu untuk mentaati norma yang bersangkutan.

suku. Teori-teori dengan pendekatan psikologis banyak dipergunakan dalam menganalisa data nyata dari studi kasus (case studies). Teori dengan pendekatan sosiologik pada dasarnya sangat menentang pendapat bahwa tingkah laku melanggar norma disebabkan oleh “kelainan” atau kemunduran” biologik atau psikologik dari pelaku. jenis kelamin. bagaimana kepribadian (personality) seseorang berinteraksi dengan lingkungan sehingga menghasilkan tingkah laku jahat (lihat teori motivasi). bagaimana tingkah laku jahat menurut umur. Pendekatan sosiologis pada dasarnya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan : bilamana dibandingkan bagian-bagian dari suatu sistem sosial yang satu dengan yang lain. Teori sosiologik ini berpendapat bahwa tingkah laku melanggar norma dipelajari sebagaimana tingkah laku lain yang tidak melanggar norma. maka bagaimanakah dapat diterangkan perbedaan (dalam angka perimbangan rate) yang ada mengenai hal-hal sebagai berikut: yaitu tingkah laku jahat sistem tersebut (dengan mencatat perbedaan yang ada dengan melihat kebudayaan dan pranatanya. 2. darah. tingkah laku melanggar . Dalam pemikiran ini. kelas sosial dan sebagainya). Pengalaman apakah pada seseorang akan menimbulkan kepribadian yang lebih cenderung pada tingkah laku jahat (lihat teori kepribadian).1. Dengan demikian penekanan teori ini terletak kepada pengetahuan dan pengertian mengenai proses belajar pelanggar muda. Teori dengan pendekatan sosiologis ini banyak dipergunakan dalam menganalisa data nyata dari studi kriminalitas pelanggar muda sebagai sosial phenomena.

TEORI DIFFERENTIAL ASSOCIATION Teori yang dikemukakan oleh E. is present. such as movies and newspaper. Criminal behaviour is learned. Criminal behaviour is learned in interaction with other persons in a process of communication. which are sometimes very complicated. Sutherland dalam menjelaskan proses terjadinya perilaku kejahatan termasuk perilaku delinkuensi tentunya. retionalizations and attitudes. Negatively. Asumsi yang melandasi teori ini ialah: Criminal act occurs when asituation appropriate for it. Sutherland pada dasarnya melandaskan proses belajar. 3. 4. When criminal behaviour is learned.norma dipelajari seseorang dalam jangka waktu panjang dari kebudayaannya dengan bentuk tingkah laku yang mendukung pelanggaran norma tersebut. this means that criminal behaviour is not inherited. (b) the specific direction of metives. . the learning in cludes (a) techniques of committing the crime. mengajukan 9 proposisi yaitu: 1. drives. 2. plays a relatively unimportant part in the genesis of criminal behaviour. Negatively. This communication is verbal in many respects but includes also “the communication of gesture”. Kejahatan seperti juga perilaku pada umumnya merupakan suatu yang dipelajari. as defined by the person. this means that the interpersonal agencies of communication. The principal part of the learning of criminal behaviou occurs within intimate personal group. sometimes very simple.

A person becames delinquent because of an excess of definitions favorabe to vitaltion of violation of law over definition unfavorable to violation of law. fokus tersebut tergantung dari pengertian (maksud) yang memberi arti pergaulan tersebut.5. (2) Secara implisit batasan pengertian differential association bahwa orang yang berada dalam hal kepentingan mereka menggabungkan diri untuk menjunjung tinggi hukum atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. The specific direction of motives and drives is learned fom definitions of the legal codes as favorable on unfavorable. and anti intensity. Differential Assocition ma vary ini fequency. 7. 6. duration prioity. 8. khususnya dengan siapa dia banyak . The prosess of learning criminal behaviour by association whit criminal patterns involves all of the mechanisms that are involved in any other learning. While criminal behaviour is an expression of general needs and values. it isnot-criminal explained by those general and vallues since no-criminal behaviour is an exprssion of the same needs and values. 9. while in other he is surrounded by person whose definition are favorable to the violation of the legal codes. Ada beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan dari sembilan “preposisi” yang dikemukakan oleh Sutherland. In some societies an individual is surrouded by person who invariably define the legal codes as rules to be obserbed. yaitu (1) Teori differential association (perbedaan pergaulan) tidak perlu menunjukkan dengan siapa bergaul. Seseorang kemudian akan belajar atau menjauhi dari kejahatan sesuai standart budaya masyarakatnya.

oleh karena itu mereka mengajukan sejumlah teori lain yang mungkin dapat benar-benar menyentuh hakekat pokok sesungguhnya. Teori tersebut mengemukakan bahwa seseorang melakukan tingkah laku jahat sejauh ia mengidentifikasi dirinya dengan orang tertentu baik yang tampil secara nyata maupun dalam bayangan belaka. Guna memberikan suatu dasar teori tentang timbulnya kriminalitas pelanggar muda dan gang-gang remaja nampaknya teori yang diajukan oleh Glaser yang dinamakan teori “differential identification” cukup dapat menjelaskan kenyataaan tersebut. sukar diterima untuk menjelaskan sebab kriminalitas pelanggar muda karena tidak semua anak muda dalam keadaan tersebut lantas berbuat melanggar hukum atau norma sosial yang lain. lingkungan atau rumah tangga yang tidak baik.bergaul dan lamanya pergaulan tersebut. Persoalan urbanisasi. Pertanyaan mengapa seorang anak muda tunduk pada pola tingkah laku yang dapat diterima secara sosial sedangkan anak muda yang lain tidak. misalnya tidak bisa dipakai untuk menjelaskan kenakalan dari pelanggar muda sosiopathi. Dan dari pandangan mereka tingkah laku jahat yang dilakukannya dapat . kejahatan yang bersifat “non karir” maupun kriminalitas emosional”. kemajuan industri. masih tetap menggantung tanpa jawaban yang memuaskan. Namun beberapa ahli sosiologi menganggap teori “differential association” ini dalam beberapa hal kurang memuaskan. mengapa seseorang tertarik pada pola tingkah laku yang secara sosial dapat diterima sedangkan yang lain menjauhinya.

artinya terdapat satu pilihan dari “model”. seorang pentolan penjahat beken.diterima. sebagian atau keseluruhan wujud kriminalitas pelanggar muda tersebut memperhitungkan kriminalitasnya dapat diterima. Dengan demikian apabila dihubungkan dengan situasi timbulnya kriminalitas pelanggar muda dan geng remaja dengan menuruti jalan pikiran tersebut. terlepas apakah orang itu dikenalnya secara pribadi atau hanya melalui perkenalan tidak langsung (misalnya : melalui film atau mass media). dapat ditunjukkan bahwa salah satu diantara sekian banyak faktor yang menentukan dalam kriminalitas pelanggar muda serta geng remaja adalah karena tersedianya sejumlah orang yang dapat dijadikan identifikasi semacam itu. “Seorang remaja mungkin mengidentifikasikan dirinya dengan seorang tokoh “hippys yang terkenal. “slebor”. dari pandangan siapa. remaja misalnya melakukan “nembak”. Aspek konflik kebudayaan yang terdapat dalam sistem sosial yang bersangkutan (terdapat konflik antara kebudayaankebudayaan dari berbagai kelompok masyarakat yang . Sebagai suatu teori.” Secara umum maka teori sosiologik ini dapat pula dibagi berdasarkan penekanan pada: 1. “narkotik”. melakukan kehidupan seks bebas atau sejenisnya karena ia menganggap tokoh identifikasinya tadi melakukan hal semacam itu atau setidaknya menerima perlakuan yang demikian. Juga interaksi dalam diri individu itu dalam mengubah perbuatannya atas dasar ukuran dari orang yang menjadi tokoh identifikasinya. yang ditekankan disini adalah interaksi rasional.

TEORI ANOMI . Yang penting bukan perbedaan yang miskin dan kaya. 2.bersangkutan. 4. yang menyebabkan dalam masyarakat tadi tidak terdapat pedoman yang jelas menganai “benar” dan “salah”. maka sebagian penduduk tidak dapat turut berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas masyarakat setempat dan kerena itu pula tidak dapat mengkontrol anakanaknya). Aspek sub budaya (sub kultur) yang terdapat dalam kebudayaan induk (dominant kultur) masyarakat bersangkutan (dan sub budaya mana mempunyai nilai dan norma yang berbeda atau kadang-kadang malahan bertentangan dengan nilai dan norma kebudayaan induk). 3. Aspek ketiadaan norma (anomi) dalam sistem sosial dari masyarakat bersangkutan (disebabkan karena adanya jurang perbedaan yang lebar antara aspirasi dalam bidang ekonomi yang telah melembaga dalam masyarakat dengan kesempatankesempatan yang diberikan sistem sosial bersangkutan kepada warga-warga masyarakatnya untuk mencapai aspirasi tersebut. tetapi ketidakmampuan miskin untuk mengikuti sistim nilai dan norma masyarakat dalam usaha mencapai aspirasinya di bidang ekonomi). Kedua-duanya juga dinamakan teori-teori kontrol. Aspek disorganisasi sosial yang terdapat dalam daerah-daerah tertentu di mana terdapat konflik kebudayaan tadi (karena heterogenitas penduduk. karena mencoba menerangkan gejala kriminalitas pelanggar muda berdasarkan ketiadaan kontrol atau pengendalian yang efektif dari orang tua dan masyarakat.

. Frustasi akan timbul pada sebagian warga masyarakat apabila kebudayaan masyarakat tersebut mencanangkan adanya kesempatan yang sama untuk semua. Pertama. Disamping itu. kebudayaan yang bersangkutan harus pula memberi tekanan kepada tujuan atau cita-cita yang bersifat materiil (kekayaan . yaitu aspirasi-aspirasi yang ditanamkan oleh kebudayaan bersangkutan kepada para warganya. norma-norma yang mengatur sarana yang secara syah dapat ditempuh para warga masyarakat untuk mencapai cita-cita mereka. Ketiga. dinamakan cara-cara melembaga. Kedua. Di dalam setiap masyarakat selalu akan terdapat penyebaran yang tidak merata dari sarana dan kesempatan tersebut di atas menurut kelas dan kedudukan sosial. Keadaan semacam ini belum cukup untuk mengakibatkan timbulnya “frustasi”. kenyataan penyebaran dari pada sarana dan kesempatan untuk mencapai tujuan kebudayaan dengan cara yang tidak sesuai dengan norma. Hal ini dapat mengakibatkan frustasi atau “tekanan batin” pada para warga masyarakat yang mengalami ketidakselarasan ini. Padahal kenyataan dalam kehidupan inilah menimbulkan masalah. “Frustasi” ini disebabkan karena warga tersebut telah menghayati tujuan yang ditanamkan oleh kebudayaan yang bersangkutan. tetapi dalam kenyataannya cara yang tersedia tidak memberikan kemungkinan kepada mereka dalam usaha untuk mencapai cita-cita tersebut. tujuan-tujuan dari kebudayaan tersebut. Sering dalam suatu masyarakat terdapat ketidakselarasan antara tujuan atau cita-cita dengan cara mencapai tujuan tersebut.Teori ini membedakan tiga macam aspek yang terdapat dalam setiap kebudayaan.

Di dalam suatu masyarakat yang para warganya “tunduk” kepada struktur kelas yang ketat sedangkan setiap kelas mempunyai sendiri cita-cita sendiri yang “sesuai”.ekonomik). Penghayatan subyektif dari pada nilai dan norma tertentu menentukan sikap seorang warga masyarakat dalam menghadapi suatu situasi tertentu. Bentuk penyesuaian diri yang “menyeleweng” dari norma yang berlaku misalnya: keinginan merubah status kehidupan dengan mencuri. Keadaan ini dinamakan anomi. dimana sebagian dari para warga tersebut akan cenderung untuk mengatasi masalahnya dengan melakukan beberapa bentuk penyesuaian diri yang “menyeleweng” dari norma-norma yang berlaku. bahwa ketidakselarasan yang menyolok dan mengakibatkan “frustasi” pada sebagian warga masyarakat.. dan penarikan diri dengan melalui alkohol dan obat bius. dapat menimbulkan suatu keadaan di mana para warga tidak lagi mempunyai ikatan yang kuat dengan tujuan kebudayaan dan cara yang melembaga dalam kebudayaan yang bersangkutan untuk mencapai tujuan tersebut. TEORI SUB KEBUDAYAAN Batasan kebudayaan mengandung di dalamnya pengertian adanya sistem nilai dan norma dalam masyarakat bersangkutan. . birokrasi dengan aturan yang ketat. Para warga dapat tunduk pada kenyataan atau menolak salah satu antara : tujuan atau cara atau menolak kedua-duanya : tujuan dan cara”. “Pendapat Merton. maka masalah “frustasi” ini tidak akan timbul (misalnya dalam masyarakat feodal).

Dilihat dari segi kelompok masyarakat. pada dasarnya dikemukakan pendapat bahwa pola perilakuan yang “menyeleweng” dari nilai dan norma yang dominan adalah sebenarnya “penyesuaian diri” dari warga bersangkutan terhadap nilai dan norma kelompoknya (sub kebudayaannya). Akan tetapi disamping itu terdapat pula nilai dan norma yang berbeda dan atau bertentangan dengan kebudayaan induk. Varian ini dinamakan sub kebudayaan yang pada dasarnya mempunyai nilai dan norma yang sama dengan kebudayaan induk. Dalam suatu masyarakat tertentu disamping kebudayaan induk akan terdapat berbagai macam ragam varian dari kebudayaan induk. penghayatan nilai dan norma tertentu oleh para warganya akan menentukan pola cara berfikir yang kemudian terwujud sebagai pola perilakuan kelompok masyarakat bersangkutan. Dan sikap seorang warga masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh pola cara berfikir dan pola perilakuan dari kelompok yang terdekat dengannya. Dengan demikian yang menyeleweng adalah sebagian dari nilai dan norma sub kebudayaan yang bersangkutan (berbeda atau bertentangan dengan kebudayaan induk). Seorang warga masyarakat sangat peka terhadap sikap dan tingkah laku sesama warga sekelompoknya. Dalam teori sub kebudayaan. TEORI NETRALISASI Teori ini beranggapan bahwa aktifitas manusia dikendalikan . Para warga hanya “belajar” dari nilai dan norma kelompoknya.

khususnya pelaku-pelaku kejahatan kelas bawah. Sykes dan Matza mengemukakan bahwa meskipun kebanyakan teori kejahatan beranggapan bahwa pelaku kejahatan atau delinkuesi. Menurut teori ini orang-orang tersebut berperilaku jahat atau menyimpang disebabkan adanya kecendrungan di kalangan mereka untuk merasionalkan norma-norma dan nilai-nilai (yang seharusnya berfungsi sebagai pencegah perilaku jahat) menurut persepsi dan kepentingan mereka sendiri. mempunyai ciri-ciri berbeda dengan orang pada umunya. yaitu bahwa justru kesamaan-kesamaan ciri antara pelaku kejahatan dan orang kebanyakan lebih banyak kecendrungannya daripada perbedaannya. Pertanyaan itu sekaligus mencerminkan suatu anggapan bahwa kebanyakan orang dalam berbuat sesuatu selalu dikendalikan oleh pikirannya yang baik. Sykes dan Matza berpikir sebaliknya. Pendapat itu didasarkan atas pengamatan . dalam hal tertentu berubah menjadi jahat. di ikalangan banyak anak-anak delinkuen pun recognizes both the legitimacy of the dominant social order its moral rightness. Teori netralisasi juga beranggapan bahwa di masyarakat selalu terdapat persamaan pendapat tentang. Dengan demikian pertanyaan dasar yang dilontarkan teori ini ialah pola pikir yang bagaimanakah yang terdapat di dalam benak orang-orang baik.pikirannya.”Hal-hal yang baik di dalam kehidupan masyarakat dan jalan yang layak untuk mencapai hal tersebut”. Hal yang menarik dari teori ini ialah terletak pada cara menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah prosesnya sehigga seseorang yang pada umumnya berpikir baik sampai melakukan kejahatan atau berperilaku menyimpang.

The denial of Injury. Para pelaku kejahatan itu merupakan “orangorang yang gagal meminta maaf atas perbuatannya” (apologetis failure) dan mengikuti arus gaya hidup para pelaku kejahatan lainnya. 4. mereka biasanya menyebut diri mereka sebagai “pahlawan” atau “the avenger”dan menganggap diri seperti “si patung”. melalui suatu proses yang disebut pembenaran kelakuannya pembenaran kelakuan itu oleh Sykes dan Matza disebut teknik netralisasi. misalnya kurangnya kasih sayang. yaitu: 1. manakala mereka baru saja perbuatan jahatnya.mereka bahwa ternyata dikalangan para pelaku kejahatan terdapat adanya rasa malu. robin hood” dan sebagainya. misalnya pencurian mobil diungkapkan dengan istilah “pinjem mobil” atau numpang pakai “dan sebagainya. 3. The denial of the victims. mereka biasanya berpandangan bahwa perbuatannya tidak mengakibatkan kerugian besar di masyarakat. pergaulan serta lingkungan kurang baik dan sebagainya. 2. Hal ini tampak dari bahasa ungkapan yang sering digunakan dalam hal mereka melakukan perbuatan penyimpangan. dan rasa bersalah. The denial of responsibility. mereka menganggap dirinya sebagai korban tekanan-tekanan sosial. Lebih jauh Sykes dan Matza memerinci bentuk-bentuk atau kecendrungan penetralisasian di kalangan para pelaku kejahatn itu menjadi lima kecenderungan. Condemnation of the condemners. mereka beranggapan bahwa orang yang mengutuk perbuatan mereka itu sebagai orang- .

. yaitu : mengapa kita patuh dan taat pada norma-norma masyarakat? Atau mengapa kita tidak melakukan penyimpangan? pertanyaan dasar itu mencerminkan suatu pemikiran bahwa penyimpangan bahwa penyimpangan bukan merupakan problematik yang dipandang sebagai persoalan pokok adalah ketaatan atau kepatuhan pada norma-norma kemasyarakatan. misalnya kelompok “geng” atau saudara kandung”. 5. Appeal to higher loyality. dengan demikian menurut paham ini sesuatu perlu dicari kejelasannya ialah ketaatan pada norma. dan menjadi jahat apabila masyarakatnya membuatnya demikian. Pertanyaan dasar yang dilontarkan paham ini berkaitan dengan unsur-unsur pencegah yang mampu menangkal timbulnya perilaku delinkuen di kalangan anggota masyarakat. hipokrit atau pelaku kejahatan terselubung dan sebagainya. TEORI KONTROL Teori kontrol atau sering juga disebut teori kontrol sosial berangkat dari asumsi atau anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya. utamanya para anak dan remaja. Ia menjadi baik kalau saja masyarakatnya membuatnya demikian. Baik jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakat. dan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang patuh . menjadi “baik” atau “jahat”.orang munafik. mereka merasa dirinya terperangkap antara kemauan masyarakat luas dan hukumnya dengan kebutuhan kelompok kecil atau minaritas dari mana mereka berasal atau tergabung.

Oleh karena itu. Dengan demikian berarti bahwa manakala di suatu masyarakat. mengacu pada kemampuan seseorang untuk menginternalisasikan norma-norma masyarakat. tidak mengherankan apabila penganut paham ini berpendapat bahwa ikatan sosial (sosial bound) seseorang dengan masyarakatnya dipandang sebagai faktor pencegah timbulnya perilaku penyimpangan. Apabila sesorang telah menginternalisasikan norma-norma itu. Jadi kalau seseorang melanggar norma-norma masyarakat itu. dan (d) be liefs. Seseorang yang lemah atau terputus ikatan sosialnya dengan masyarakat. maka berarti ia tidak peduli . Seseorang dapat melemah atau terputus ikatan sosial dengan masyarakatnya. Selanjutnya Hirschi mengklasifikasikan unsur-unsur ikatan sosial itu menjadi empat yaitu (a) attachment. suatu sistem kontrol sosial yang tidak tertulis namun memperoleh pengakuan keabsahan keberlakuannya di masyarakat. (b) commitment. Pada dasarnya upaya menjelaskan perilaku “tidak patuh norma”. “Bebas” melakukan penyimpangan. di mana kondisi lingkungannya tidak menunjang berfungsinya dengan baik lembaga kontrol sosial tersebut banyak akan mengakibatkan melemah atau terputusnya. manakala di masyarakat itu telah terjadi pemerosotan fungsi lembaga kontrol sosial informasi di sini ialah sarana-sarana kontrol sosial non hukum positif atau dalam konteks masyarakat kita sarana-sarana tersebut dapat diidentikan dengan lembaga adat.atau taat pada norma-norma kemasyarakatan. Attachment. dan pada gilirannya akan memberi kebebasan kepada mereka untuk berperilaku menyimpang. (c) involvement. maka berarti ia mampu mengantisipasi kepentingan orang lain.

termasuk waktunya. Latar belakang pemikiran ini adalah bahwa orang pada umumnya menginventarisasikan segala hal. tenaganya. sehingga kesempatan untuk berpikir apalagi melakukan penyimpangan tidak akan pernah muncul. maka ia tidak akan pernah sempat berfikir apalagi melibatkan diri dalam perbuatan penyimpangan. mengacu pada suatu pemikiran bahwa apabila seseorang disibukkan dalam berbagai kegiatan konvensional. Involvement. keyakinan atau “super ego” terkandung dalam konsep keterikatan individu pada orang lain. dan dengan demikian ia akan merasa bebas untuk melakukan perbuatan penyimpangan. berarti di dalam benak pikirannya telah terjadi proses perhitungan untung-rugi mengenai keterlibatannya dalam perilaku penympangan itu. seseorang memutuskan untuk berperilaku menyimpang di masyarakat. Hakiki penginternalisasian norma-norma masyarakat. Seseorang terlihat dalam berbagai kegiatan konvensional berarti ia terikat dengan segala aspek yang terkandung di dalam kegiatan konvensional tersebut. misalnya membuat janji dengan pihak lain. maka orang-orang yang merasa tidak terikat lagi dengan masyarakat. pendapat serta kepentingan orang lain. .dengan pandangan. Dalam konteks yang lebih luas. mengacu pada perhitungan untung rugi keterlibatan seseorang dalam perbuatan penyimpangan. Commitment. terikat pada perencanaan program dan sebagainya. terikat pada batas waktu. ia tidak peka pada kepentingan orang lain. dirinya sendiri dalam suatu kegiatan di masyarakat dengan maksud untuk memperoleh reputasi di masyarakat. berarti ia itu tidak terikat lagi dengan normanorma masyarakat itu. Apabila demikian halnya.

dan pada gilirannya akan menimbulkan situasi ketidakpastian dikalangan mereka. seperti telah disinggung di muka dan sesuai pula dengan permasalahan yang diajukan dimuka. hari esok itu soal nanti.Beliefs. Para pelaku penyimpangan itu umumnya mengetahui bahwa perbutannya “salah”. yang penting hari ini ia “happy”esok hari masalah lain-hari ini punya hari ini. Keanekaragaman ini terutama difokuskan pada keabsahan (validitas) moral yang terkandung di dalam kaidah-kaidah kemasyarakatan itu. ritualis. Pada gilirannya tentu mengarahkan para remaja itu untuk bersikap “cuek” masa bodoh. Apabila kemudian kerangka teori itu dikaitkan dengan gejala perilaku delinkuensi anak dan remaja perkotaan. Kehidupan perkotaan yang menampakkan heterogenitas tata nilai serta perubahan sosial yang cepat. retreatis atau . innovator. Situasi demikian tentunya dapat saja mendorong para usia muda untuk mengelompokkan diri dalam salah satu pengkategorisasian pengadaptasian merton (conformity. demikian kata gito rollies. baik dalam berperilaku maupun dalam menentukan masa depan mereka. mengacu pada situasi keanekaragaman penghayatan kaidahkaidah kemasyarakatan di kalangan anggota masyarakat. mau tidak mau dihadapi juga oleh para usia muda. sehingga kendor ikatan dirinya dengan tertib masyarakat kevensional dan pada gilirannya ia merasa bebas untuk melakukan penyimpangan. maka beberapa hal dapat dikemukakan berikut ini. namun makna dan keampuhan pemahamannya itu kalah bersaing dengan keyakinan lain (kerancuan penghayatan keabsyahan moral).

rebellion) atau membentuk sub budaya tandingan (counter sub culture) ala Albert K Cohen atau Cloward dan Ohlin (ciminal subculture. c. conflict subculture atau retreatis subculture) kecenderungan itu dapat pula terarah pada upaya perasionalisasian segala perilakunya. Bentuk-bentuk penyimpangan yang tampak terlihat dalam konteks penetralisasian perilaku remaja itu misalnya penyimpangan seksual. . (b) denial of injury (c) denial of the victim. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja ada 3 antara lain : a. “Joy Riding” dan sebagainya. geng-geng remaja. ia cenderung menetralisasikan segala perilaku penyimpangan. melawan petugas hukum. Bagi diri remaja itu sendiri Bagi keluarga Bagi lingkungan masyarakat. dan pada gilirannya menerapkan pula pola-pola pikir kearah (a) denial of responsibility. (d) condemnation of the condemners atau (e) appeal to higher loyality. b.

1). komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. . walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Bagi diri remaja itu sendiri Akibat dari kenakalan yang dia lakukan akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental. bersenang-senang minum-minuman mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama tidak ada yang mengarahkan. Sehingga mengakibatkan anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya dengan bersama jalan teman-temannya untuk keras. Kenakalan yang dilakukan yang dampaknya bagi fisik yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena karena gaya hidup yang tidak teratur. Dan tentunya ini sangat tidak baik. berfikirnya tidak stabil dan keperibadiannya akan terus menyimpang dari segi moral dan endingnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya. Dan menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Bagi keluarga Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Sedangkan dalam segi mental maka pelaku kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada memtal-mental yang lembek. Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga. 2).

Bagi lingkungan masyarakat Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya remaja sering bertemu orang dewasa atau para orang tua. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran.3). Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan dampaknya akan buruk bagi dirinya. baik itu ditempat ibadah ataupun ditempat lainnya. Diantara penyebab terjadinya Kenakalan remaja adalah karena faktor kurangnya perhatian dan kasih sayang dari pihak keluarga. pemahaman tentang agama dan pembinaan tentang keagamaan serta pengaruh pergaulan dengan lingkungan sekitar yang meliputi . yang mana nantinya apapun yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum remaja. mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. BAB IV KESIMPULAN Dari ualasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: 1. dan keluarga.

komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Adapun upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi kenakalan remaja yaitu menanamkan nilai-nilai moral dan hal itu dapat dimulai dalam rumah tangga dan dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah. nasehat-nasehat yang dipandang baik.berupa budaya dari barat. Pembinaan tersebut bias dengan latihan-latihan. awalnya Cuma mencoba malah terjerumus di dalamnya. keluarga maupun lingkungan sekitarnya berada. 3. Dan akibat yang ditimbulkan kenakalan remaja bagi diri sendiri sangat berpengaruh pada psikologi remaja itu sendiri. Serta bagi masyarakat sekitar menganggap remajalah yang sering membuat keonaran. dan bagi keluarga para orang tuanya agama apabila jangan anaknya langsung berkelakuan main fisik menyimpang dari ajaran dampaknya akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga. Dan itu semua akan berdampak negatif dan kurang baik bagi remaja itu sendiri baik bagi dirinya. Dan pembinaan harus dimulai dari orang tua baik . Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan untuk berubah kejalan yang lebih baik. 2. mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral itu dalam lingkungannya.

Selasa 16 November 2010. Harian Umum Pikiran Rakyat. harian Umum Pikiran Rakyat. PT Eresco. Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial. Bandung Anwar. pada Harian Umum Pikiran Rakyat .perlakuan. Memahami Geng Motor (2). Bandung Simandjuntak. Jum’at. Tarsito. Yamani. Zaki. 16 November 2010. Agus Salim. Kriminologi. Selasa. Setelah Geng Dibubarkan. Yesmil dan Adang. Atmasasmita. Mansyur. Refika Aditama. 2010. Romli. 1981. Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. 6 Januari 2011. Refika Aditama. Bandung. Saat Menuai Kejahatan. Yesmil. 2009. pelayanannya kepada remaja memperlihatkan contoh teladan yang baik dan sebagainya DAFTAR PUSTAKA Anwar. Bandung. B.

Mengenal dan Memahami masalah Remaja. Syafrudin.detik.Kartini Kartono. 1986). 71 Dr. (Jakarta: Pustaka Antara. Remaja Rosda Karya. Rajawali. 2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.com/read/2010/12/30/104305/1535719/486/tv/in dex. hal. (Jakarta : CV.59. H. (Bandung: PT. Syamsu Yusuf. 52 . 1993).http://bandung.html Dr. hal. hal. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja.

8. 5. 9. 3.MAKALAH KRIMINOLOGI HUKUM “KENAKALAN REMAJA” DISUSUN OLEH 1.P SITI AISYAH DEWI MINARDO NABABAN NOVRIANSYAH ANDI WIDODO RIZKY ANLAFATER : FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU. 7. 6. 4. DESEMBER 2011 . DIANA DEWI SETIAWATI JUN RAMADHANI ISMAIL SAMUEL SANDI G. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful