P. 1
Kejahatan korporasi

Kejahatan korporasi

|Views: 167|Likes:
Published by Yudie Buser

More info:

Published by: Yudie Buser on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2012

pdf

text

original

Kejahatan Korporasi

Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya *

Oleh Bismar Nasution **

Aktris Julia Roberts meraih Academy Awards pada tahun 2001 melalui filmnya Erin Brokovich yang menceritakan tentang seorang paralegal bernama sama dengan judul film tersebut, yang mengangkat kasus nyata yang terjadi di Amerika Serikat, dimana perusahaan Pacific Gas and Electric (PG&E Corporation) yang mengetahui bahwa salah satu unit stasiun kompressornya di Hinckley telah mencemarkan air di daerah tersebut. Perusahaan itu tidak mengumumkannya tetapi justru meyakinkan para penduduk setempat dengan memberikan laporan pemeriksaan air di Hinckley yang hasilnya menunjukkan bahwa air di daerah mereka aman untuk dikonsumsi. Akibatnya, para pengguna air yang telah terkontaminasi menderita berbagai macam penyakit dan bahkan sampai meninggal dunia (industrial poisoning). Kasus ini menjadi salah satu kasus corporate crime terbesar dengan penjatuhan sanksi pidana berupa pembayaran ganti rugi dengan jumlah yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Kejahatan korporasi (corporate crime) merupakan salah satu wacana yang timbul dengan semakin majunya kegiatan perekenomian dan teknologi. Corporate crime bukanlah barang baru, melainkan barang lama yang senantiasa berganti kemasan. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa perkembangan zaman serta kemajuan peradaban dan teknologi turut disertai dengan perkembangan tindak kejahatan berserta kompleksitasnya. Di sisi lain, ketentuan Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia belum dapat menjangkaunya dan senantiasa ketinggalan untuk merumuskannya. Salah satu contohnya adalah Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) yang baru dikriminalisasi secara resmi pada tahun 2002. Contoh lain adalah kejahatan dunia maya atau cyber crime yang sampai dengan saat ini pengaturannya masih mengundang tanda tanya. Akibatnya, banyak bermunculan tindakan-tindakan atau kasus-kasus illegal, namun tidak dapat dikategorikan sebagai crime. [1] Tindak pidana (crime) dapat diidentifikasi dengan timbulnya kerugian (harm), yang kemudian mengakibatkan lahirnya pertanggungjawaban pidana atau criminal liability. [2] Yang pada gilirannya mengundang perdebatan adalah bagaimana pertanggungjawaban korporasi atau corporate liability mengingat bahwa di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang dianggap sebagai subyek hukum pidana hanyalah orang perseorangan dalam konotasi biologis yang alami (naturlijkee person). Di samping itu, KUHP juga masih menganut asas sociates delinquere non potest dimana badan hukum atau korporasi dianggap tidak dapat melakukan tindak pidana. [3] Jika seandainya kegiatan atau aktivitas yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi terbukti mengakibatkan kerugian dan harus diberikan sanksi , siapa yang akan bertanggungjawab ? Apakah pribadi korporasi itu sendiri atau para pengurusnya ? Kejahatan Korporasi

which is proscribed and punishable by law―. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia memang hanya menetapkan bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah orang persorangan (legal persoon). kejahatan-kejahatan yang dilaporkan oleh masyarakat hanyalah kejahatankejahatan konvensional. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas aparat kepolisian sebagian besar didasarkan atas laporan anggota masyarakat. pengetahuan aparat penegak hukum menyangkut kejahatan korporasi masih dinilai sangat minim. [7] Pertama. toxic waste dumping). Kedua. [4] Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktivitas-aktivitas pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga. Aparat penegak hukum. A. yang digolongkan kejahatan korporasi tidak hanya tindakan kejahatan atas hukum pidana. sering juga disebut sebagai ―kejahatan kerah putih‖. seperti kepolisian juga pada umumnya lebih sering menindak aksi-aksi kejahatan konvensional yang secara nyata dan faktual terdapat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. tindakan ilegal dari korporasi dan agen-agennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosio-ekonomi bawah dalam hal prosedur administrasi. often referred to as “white collar crime. dimana dalam praktek yudisialnya.g. Simpson yang mengutip pendapat John Braithwaite menyatakan kejahatan korporasi adalah ―conduct of a corporation. Kelima. Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma operasional (internal) dan sub-kultur organisasional. melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional. Karenanya. Ada beberapa beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini. Pembuat undangundang dalam merumuskan delik harus memperhitungkan bahwa manusia melakukan tindakan di dalam atau melalui organisasi yang. sehingga terkadang terkesan enggan untuk menindaklanjutinya secara hukum. baik korporasi (sebagai ―subyek hukum perorangan ―legal persons―) dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan (as illegal actors). Sally. tujuan dari pemidanaan kejahatan korporasi adalah lebih kepada agar adanya perbaikan dan ganti rugi. Ketiga. aturan dan kualitas pembuktian dan penuntutan. Kedua. Ketiga. or employees acting on behalf of a corporation. berbeda dengan pemidanaan kejahatan lain yang konvensional yang bertujuan untuk menangkap dan menghukum. Pertama.Black‘s Law Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate crime adalah any criminal offense committed by and hence chargeable to a corporation because of activities of its officers or employees (e. [5] Simpson menyatakan bahwa ada tiga ide pokok dari definisi Braithwaite mengenai kejahatan korporasi. bergantung pada antara lain kejahatan yang dilakukan. Keempat. sehingga kejahatan yang ditangani oleh kepolisian juga turut bersifat konvensional. [6] Kejahatan korporasi mungkin tidak terlalu sering kita sering dalam pemberitaan-pemberitaan kriminil di media. Kelima. pembuangan limbah). dalam hukum keperdataan maupun di . pandangan serta landasan hukum menyangkut siapa yang diakui sebagai subjek hukum pidana dalam hukum pidana Indonesia. pandangan masyarakat cenderung melihat kejahatan korporasi atau kejahatan kerah putih bukan sebagai hal-hal yang sangat berbahaya. price fixing. tetapi juga pelanggaran atas hukum perdata dan administrasi. kejahatan korporasi sering melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dengan status sosial yang tinggi.. motivasi kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan pribadi.dan juga turut dipengaruhi. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi proses penegakan hukum.

muncul sebagai satu kesatuan dan karena itu diakui serta mendapat perlakuan sebagai badan hukum atau korporasi.11/PNPS/1964 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi UU No. korporasi atau mereka yang dimaksud di atas bersama-sama secara tanggung renteng. maatschap (persekutuan perdatan).7/Drt/1955 tentang Pengusutan.). atau 2. atau 2. Dalam hal ini. Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi. maskapai. dan lain-lain.2. perusahaan. [8] Sehingga. jika yang bersangkutan turut membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar. Berkenaan dengan penerapan butir-butir sebelumnya. sehingga oleh karena itu seluruh atau sebagian besar dari kerugian diderita oleh perseroan. pada tanggal 23 Juni 1976. namun korporasi mulai diposisikan sebagai subyek hukum pidana dengan ditetapkannya UU No. Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. penuntutan pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan yang disediakan dalam perundang-undangan— sepanjang berkenaan dengan korporasi—dapat dijatuhkan.1. mereka yang secara faktual memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana yang dimaksud. pembuat undang-undang akan merujuk pada pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan situasi seperti itu. 1. organisasi. Hal ini bisa kita lihat dalam pasal 398 KUHP yang menyatakan bahwa jika seorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas. Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun korporasi. perserikatan. korporasi diresmikan sebagai subjek hukum pidana dan ketentuan ini dimasukkan kedalam pasal 51 KUHP Belanda (Sr. namun hanya dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi. diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun 4 bulan: 1. maskapai andil Indonesia atau perkumpulan korporasi yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau yang diperintahkan penyelesaian oleh pengadilan. 2. rederij (persekutuan perkapalan) dan doelvermogen (harta kekayaan yang dipisahkan demi pencapaian tujuan tertentu. yang isinya menyatakan antara lain: 1. perseroan. atau perkumpulan…(dan seterusnya). pengenaan sanksi dapat dilakukan terhadap 2. Kemudian kejahatan korporasi juga diatur dan tersebar dalam berbagai undang-undang khusus lainnya dengan rumusan yang berbeda-beda mengenai ―korporasi‖. seperti : UU No. perkumpulan. social fund atau yayasan). Berdasarkan KUHP. [9] Meskipun KUHP Indonesia saat ini tidak mengikutsertakan korporasi sebagai subyek hukum yang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana.luarnya (misalnya dalam hukum administrasi).38/2004 tentang Jalan . yang disamakan dengan korporasi: persekutuan bukan badan hukum. termasuk mereka yang secara faktual memimpin pelaksanaan tindak pidana dimaksud.3. yayasan. sebagai tempat asal KUHP Indonesia. korporasi sendiri. Di Belanda sendiri. antara lain termasuk pengertian badan usaha. jika KUHP Indonesia saat ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi.

31/2004 tentang Perikanan. Banyak pihak yang tidak mendukung pandangan bahwa suatu korporsi yang wujudnya semu dapat melakukan suatu tindak kejahatan serta memiliki criminal intent yang melahirkan pertanggungjawaban pidana. contohnya seperti dalam pasal 20 ayat 1 UU No. sebagai perwakilan. yang apabila dilakukan oleh oknum. Seperti misalnya Prof.UU No. Kemudian kemungkinan berikutnya adala dapat dibebankan baik kepada pengurus korporasi sebagai pemberi perintah atau pemimpin dan juga dibebankan kepada koorporasi. UU No. jelas ditetapkan bahwa suatu korporasi atau badan hukum merukapan subjek hukum perdata dapat melakukan aktivitas jual beli. Namun sampai saat ini. bahwa juga suatu perkumpulan sebagai badan tersendiri dapat dikenakan hukuman pidana sebagai subyek suatu tindak pidana. Identitas hukum suatu korporasi atau perusahaan terpisah dari identitas hukum para pemegang sahamnya. yaitu dibebankan pada korporasi itu sendiri. Para pemegang saham menikmati keuntungan yang diperoleh dari konsep tanggung jawab terbatas. menyatakan : Dengan adanya perkumpulan-perkumpulan dari orang-orang. direksi. yang dipertanggungjawabkan. dapat membuat perjanjian atau kontrak dengan pihak lain. [12] Meskipun tidak digariskan secara jelas seperti dalam KUHP Belanda. Dalam hal ini.31/1999 jo. seperti misalnya seorang direktur dari suatu perseroan terbatas. SH. Pertanggungjawaban Pidana oleh Korporasi Korporasi sebagai badan hukum sudah tentu memiliki identitas hukum tersendiri. Dalam kaidah hukum perdata (civil law). serta dapat menuntut dan dituntut di pengadilan dalam hubungan keperdataan. terang masuk perumusan pelbagai tindak pidana. dalam arti bahwa keberadaannya tidak akan berubah meskipun ada penambahan anggota-anggota baru atau berhentinya atau meninggalnya anggota-anggota yang ada. Kemudian dapat pula dibebankan kepada organ atau pengurus korporasi yang melakukan perbuatan atau mereka yang bertindak sebagai pemimpin dalam melakukan tindak pindana. yaitu orang-orang yang berfungsi sebagai pengurus dari badan hukum. salah satu peraturan yang mempidanakan kejahatan korporasi adalah Undangundang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup. seperti diatur dalam Pasal 65 ayat 1 dan 2 UU No. Wirjono Prodjodikoro. maupun organ-organ lainnya.31/1999. Maka timbul dan kemudian merata gagasan. yang kena hukuman pidana adalah oknum lagi. Sedangkan mungkin sekali seorang direktur itu hanya melakukan saja putusan dari dewan direksi. . konsep pertanggungjawaban pidana oleh korporasi sebagai pribadi (corporate criminal liability) merupakan hal yang masih mengundang perdebatan.38/2004 tentang Jalan. Dr. yang sebagai badan hukum turut serta dalam pergaulan hidup kemasyarakatan. Hal ini dapat dilihat dari isi pasal 46 [11] yang mengadopsi doktrin vicarious liability. [10] Di Indonesia. dan kegiatan korporasi berlangsung terus-menerus. dalam bukunya ―Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia‖. seperti yang diatur dalam pasal 20 ayat 2 UU No.21 tahunn 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan lain-lain Dalam literatur Indonesia juga ditemukan pandangan yang turut untuk mewacanakan menempatkan korporasi sebagai subyek hukum pidana.31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dan UU No. berdasarkan sistem hukum pidana di Indonesia pada saat ini terdapat 3 bentuk pertanggungjawaban pidana dalam kejahatan korporasi berdasarkan regulasi yang sudah ada. timbul gejala-gejala dari perkumpulan itu.

hukum pidana dapat dengan mudah melakukan perujukan pada kewajiban yang dibebankan oleh hukum fiskal pada pemilik. . Pengadilan Inggris pertama kali memberlakukan pertanggungjawaban pidana korporasi hanya bagi kasus-kasus pelanggaran kewajiban hukum oleh korporasi-korporasi quasi-public [17] yang hanya bersifat pelanggaran ketertiban umum (public nuisance). Di Belanda. Bilamana suatu kewajiban tidak dipenuhi. yang didasarkan pada doktrin vicarious liability. Semakin banyak perundang-undangan dan peraturan administratif baru yang bermunculan. maka beranjak dari sistem perundangundangan yang ada. penyewa. Dalam aturan-aturan tersebut. Hal ini diikuti oleh pengadilan di Amerika Serikat yang turut memberlakukan ketetapan yang serupa. namun Pengadilan Pidana sampai saat ini terkesan enggan untuk mengakui dan mempergunakan peraturan-peraturan tersebut. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah dan peranan korporasi. sangat sulit untuk dapat mengatribusikan suatu bentuk tindakan tertentu (actus reus atau guilty act) [13] serta membuktikan unsur mens rea (criminal intent atau guilty mind) [14] dari suatu entitas abstrak seperti korporasi. Di Indonesia.Disamping itu. Dua kasus yang muncul di peradilan sampai dengan saat ini hanya berkaitan dengan pelanggaran lingkungan hidup. Dari sudut pandang ini. sebagaimana disebutkan oleh Remmelink dalam bukunya Hukum Pidana : Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab UndangUndang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kita Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Pandangan ini bahkan sudah dikenal lama sebelum KUHP Belanda dibuat. [18] Pembebanan pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap kejahatan yang memerlukan pembuktian mens rea baru dilakukan setelah melalui waktu dan perkembangan yang lambat. yang sering kali berbentuk korporasi. kemungkinan ini sudah lama dikenal dalam waterschapsverordening (peraturang tentang tata guna dan lalu lintas perairan) yang sering mewajibkan pemilik tanah yang terletak disamping kali atau saluran air untuk membersihkan atau menjaga kebersihan— kewajiban yang diancam dengan sanksi pidana apabila dilalaikan. [16] Dalam praktek common law. dalam perkembangan selanjutnya hukum pidana umum juga semakin sering dengan masalah tersebut. tidak ada acuan yang dapat dijadikan sebagai preseden bagi lingkungan peradilan di Indonesia. terlepas dari itu. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya kasus-kasus kejahatan korporasi di pengadilan dan tentu saja berdampak pada sangat sedikitnya keputusan pengadilan berkaitan dengan kejahatan korporasi. Hal ini dimungkinkan dengan mempertimbangkan kepentingan praktis. ‗korporasi‘ juga dimungkinkan untuk dipandang sebagai ‗pelaku‘. mustahil untuk dapat menghadirkan di korporasi dengan fisik yang sebenarnya dalam ruang pengadilan dan duduk di kursi terdakwa guna menjalani proses peradilan. Jika kita melihat praktek yang diterapkan di Belanda sebelum pertanggung-jawaban pidana korporasi ditetapkan dalam KUHP Belanda. atau yang menyewakan dan lain-lain. ditemukan kemungkinan menuntut pertanggunjawaban pidana terhadap korporasi. dalam bidang hukum pidana fiskal atau ekonomi. [15] Akibatnya. meskipun undang-undang diatas dapat dijadikan sebagai landasan hukum untuk membebankan criminal liability terhadap korporasi. pembuat undang-undang merujuk pada ‗pengemban‘ hak-hak warga yang banyak berbentuk korporasi. Baik dalam sistem hukum common law maupun civil law. Namun. pengadilan memperluas pertanggungjawaban pidana korporasi pada bentuk-bentuk pelanggaran atau kejahatan yang tidak terlalu serius yang tidak memerlukan pembuktian mens rea atau criminal intent (offenses that did not require criminal intent).

dapat dibebankan kepada perusahaan/ korporasi. aturan-aturan administrasi internal suatu lembaga. It has no mind of its own anymore than it has a body of its own. Tindakan yang termasuk mala in se. Teori ini diadopsi di Inggris sejak tahun 1915. Apabila tindakan seseorang itu termasuk perbuatan mala in prohibita. pengembalian tersebut hanya merupakan unsur pertimbangan untuk memberi keringanan hukuman. 705. [1915] A. apabila tindakan yang dilakukan seseorang itu termasuk kategori mala in se. Dalam kasus ini. but who is really the directing mind and will of the corporation. 1. Namun. dimana pemerintah Amerika Serikat mendakwa perusahaan New York Central telah melanggar Elkins Act [19] section I.For if Mr.). Mala In Se Tindakan yang dilakukan seseorang diduga melakukan kejahatan dapat diuji berdasarkan kaedah hukum yang dilanggar apakah tindakan seseorang tersebut termasuk kategori tindakan yang merupakan mala in se atau perbuatan yang merupakan mala in prohibita. menipu. Mens Rea dan Actus Reus Dalam wacana common law.. Identification Tests / Directing Mind Theory Berdasarkan teori identifikasi atau directing minds theory. yaitu melalui kasus Lennard’s Carrying Co. Ltd v. Untuk itu perlu ditelusuri kaedah hukum apa yang dilanggar? Apakah tindakan tersebut termasuk melanggar kaedah hukum bahwa seseorang tidak boleh mengambil barang orang lain tanpa hak seperti pada pencurian. ada atau tidak ada peraturan yang melarangnya misalnya mencuri. Hakim Pengadilan berpendapat : ―[A] corporation is an abstraction. unsur tindak pidananya tidak hilang. Asiatic Petroleum Co. ada kemungkinan dia hanya melanggar aturan administrasi dan tidak dapat dikenakan hukuman pidana melainkan hanya tindakan administratif. penerapan corporate criminal liability pertama kali diterapkan dalam kasus New York Central & Hudson River Railroad Company v. Sedangkan perbuatan yang merupakan mala in prohibita adalah perbuatan yang dinyatakan melanggar hukum apabila ada aturan yang melarangnya misalnya aturan-aturan lalu lintas di jalan raya. at 713 (H. dan sebagainya. membunuh. unless a corporation is not to be liable at all. misalnya. Lennard was the directing mind of the company. kesalahan dari anggota direksi atau organ perusahaan/korporasi yang tidak menerima perintah dari tingkatan yang lebih tinggi dalam perusahaan. then his action must.C. United States.L. ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan pertanggungjawaban pidana korporasi. adalah perbuatan yang melawan hukum. penipuan atau perampokan maka selanjutnya di telusuri pula unsur lainnya seperti adanya mens rea dan actus reus. dalam kasus obligor meskipun dana tersebut dikembalikan. the very ego and centre of the personality of the corporation….Di Amerika Serikat. its active and directing will must consequently be sought in the person of somebody who for some purposes maybe called an agent. have been an action which was the action of the company itself……‖ [20] .

. If it is a guilty mind then that guilt is the guilt of the company. Supreme Court menempatkan directing mind sebagai ―ego‖. dimana perusahaan Fane Robinson dan dua orang direkturnya yang merupakan pengelola yang aktif. yang benar-benar merupakan otak dan kehendak untuk mengarahkan (directing mind and will) dari korporasi tersebut……Jika Tuan Lennard merupakan otak pengarah dari perusahaan. Hakim Pengadilan berpendapat : “The person who acts is not speaking or acting for the company. He is acting as the company and his mind which directs his acts is the mind of the company. Hal ini dapat dilihat dalam kasus R. [1985] 1 S. Pengadilan berpendapat bahwa faktor yang membedakan antara directing mind dengan pegawai biasa adalah tingkatan kewenangan pengambilan atau pembuatan keputusan dalam praktek individual. kehendaknya harus dicari atau ditemukan dalam diri seseorang yang untuk tujuan tertentu dapat disebut sebagai agen/perantara. Sebaliknya. Pengadilan berpendapat bahwa tidak ada alasan mengapa suatu korporasi yang dapat mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian dengan individu atau korporasi lain tidak dapat memenuhi unsur mens rea ketika korporasi tersebut melibatkan dirinya dalam perjanjian yang menjadi dasar utama konspirasi dan penipuan tersebut. Teori identifikasi ini turut diadopsi oleh Kanada. Dengan kata lain unsur mens rea dari pertanggungjawaban pidana korporasi terpenuhi dengan dipenuhinya unsur mens rea pengurus korporasi atau perusahaan tersebut. Dalam kasus lain di Inggris. [22] Kasus lain di Kanada yang dianggap sebagai leading case menyangkut teori identifikasi adalah kasus Canadian Dredge and Dock v. Ia tidak punya akal pikiran sendiri dan begitu pula tubuh sendiri. Supreme Court mengakui teori ini sebagai model untuk menentukan tanggungjawab perusahaan. 153. Begitu pula dengan actus reus yang diwujudkan oleh pengurus korporasi yang berarti merupakan actus reus perusahaan.C. v. individu yang membuat kebijakan untuk operasional day-to-day basis. yaitu kasus Tesco Supermarkets Ltd v Nattrass [1972] A. Niat untuk melakukan tindak pidana (mens rea) dan tindakan hukumnya (actus reus) merupakan niat dan tindakan dari perusahaan dan bahwa konspirasi untuk penggelapan uang dan penipuan merupakan kejahatan yang mampu diwujudkan oleh perusahaan. [23] . bukanlah directing mind. ―pusat‖ dan/atau ―organ vital‖ korporasi. Jika akal pikirannya bersalah.R. didakwa melakukan tindak pidana berkomplot atau berkonspirasi untuk menggelapkan uang dan memperoleh uang dengan cara menipu. Fane Robinson Ltd. Individu yang bertanggungjawab menyusun dan menerapkan kebijakan korporasi adalah directing mind dari perusahaan bersangkutan. maka tindakannya pasti merupakan tindakan dari perusahaan itu sendiri.C. dan akal pikirannya yang mengarahkan tindakannya berarti adalah akal pikiran dari perusahaan. The Queen. Pengadilan menyimpulkan bahwa secara umum kedua orang direktur perusahaan merupakan kehendak bertindak dan mengarahkan (acting and directing will) dari perusahaan.Suatu korporasi adalah sebuah abstraksi. berarti kesalahan itu merupakan kesalahan perusahaan. dalam tingkat banding. Ia bertindak sebagai perusahaan. 662.” [21] Orang yang bertindak bukan berbicara atau bertindak atas nama perusahaan. Dalam kasus ini.

Kelima. Doktrin Vicarious Liablility Doktrin yang pada mulanya diadopsi di Inggris ini sebagaimana disebutkan di penjelasan sebelumnya. tanggung jawab korporasi memerlukan analisa kontekstual. anggota direksi atau pejabat korporasi lain yang merupakan directing mind korporasi tidak bisa dikenakan tanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan tanpa mereka sadari. Keempat. untuk dapat dinyatakan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. Sejumlah pejabat korporasi atau anggota direksi bisa membentuk directing mind. Kedua. Dengan kesalahan yang dilakukan oleh salah satu individu tersebut. Pertama. Namun dalam teori identifikasi. dan iii) dimaksudkan untuk dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Penilaian terhadap kewenangan seseorang untuk menetapkan kebijakan korporasi atau keputusan korporasi yang penting harus dilakukan dalam konteks keadaan yang tertentu (particular circumstances). Jabatan seseorang dalam perusahaan tidak secara otomatis menjadikannya bertanggungjawab. Dengan demikian. korporasi tidak bisa lari dari tanggung jawab dengan berkilah bahwa individu-individu tersebut melakukan perbuatan melawan hukum meskipun telah ada instruksi untuk melakukan tindakan lain yang sah (tidak melawan hukum). menyebutkan bahwa korporasi bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya. agen/perantara atau pihak-pihak lain yang menjadi tanggung jawab korporasi. ii) bukan merupakan penipuan (fraud) yang dilakukan terhadap perusahaan. Dalam hal ini korporasi bisa .Dari case law ini. Dengan kata lain. [24] Pendekatan teori identifikasi yang berkembang dari Inggris ini mengundang kritik karena corporate liability terbatas bagi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh anggota direksi dan beberapa karyawan lain setingkat manager yang memiliki kewenangan dan memberikan perintah. Fakta bahwa suatu korporasi memiliki banyak operasi atau cabang di daerah yang berbeda-beda tidak akan mempengaruhi penentuan individu-individu yang mana yang menjadi directing minds korporasi. penerapan teori ini harus dilakukan dengan berdasarkan pada case-by-case basis dan fact-specific basis. [25] Namun di Kanada teori identifikasi kini kemudian mengalami perkembangan atau ‘modifikasi‘. [26] Dengan melihat penerapan teori ini oleh Kanada untuk menyiasati kekurangan yang ditimbulkan dalam aplikasinya. directing mind dari suatu korporasi atau perusahaan tidak terbatas hanya satu individu saja. kesalahan itu secara otomatis diatribusikan kepada korporasi. untuk dapat menerapkan teori identifikasi harus dapat dibuktikanbahwa tindakan seorang directing mind adalah : i) berdasarkan tugas atau instruksi yang ditugaskan padanya. Ketiga. Keenam. individu bersangkutan harus memiliki criminal intent atau mens rea. Directing mind dan mens rea ada pada individu yang sama. Hal ini secara tidak adil memberikan keuntungan pada korporasi-korporasi yang besar karena mereka akan dapat menghindarkan diri dari pertanggungjawaban pidana akibat tindakan-tindakan yang dilakukan oleh karyawan-karyawan yang jabatannya lebih rendah dan bertugas melakukan aktivitas sehari-hari (day-to-day activities). seseorang tidak dapat menghindar dari tanggung jawab hanya karena ia tidak ditempatkan atau bertugas di daerah dimana perbuatan melawan hukum dilakukan. Anggota direksi dan pejabat korporasi lainnya memiliki kewajiban untuk mengawasi tindak tanduk para pegawai lebih dari sekedar menetapkan panduan umum yang melarang tindakan illegal. Pengadilan Kanada mengidentifikasi dan membuka kemungkinan bahwa directing mind berada pada level atau golongan karyawan yang lebih rendah yang menjalankan perintah atau memiliki kewenangan yang sifatnya delegatif. penentuannya harus dilakukan berdasarkan case-to-case basis. muncul beberapa prinsip atau konsep yang penting. faktor geografis tidak berpengaruh. 2.

Yaitu suatu bentuk sikap. [29] Di Kanada. Ketiga. Tuduhan ini . mengetahui benar atau tidak hati-hati terlibat dalam tindakan-tindakan yang relevan. rangkaian perbuatan atau praktek yang pada umumnya terdapat dalam tubuh korporasi atau dalam bagian tubuh korporasi dimana kegiatan-kegiatan terkait berlangsung. secara diam-diam atau secara tidak langsung mengesahkan (authorize) atau mengizinkan (permit) perwujudan perbuatan pelanggaran atau kejahatan. komisaris.dipersalahkan meskipun tindakan yang dilakukan tersebut tidak disadari atau tidak dapat dikontrol. Inilah yang disebut dengan Doctrine of Collective Knowledge atau Doktrin Pengetahuan Kolektif. unsur actus reus dan mens rea dapat dikonstruksikan dari tingkah laku (conduct) dan pengetahuan (knowledge) dari beberapa individu. 3. Bank of New England (1987) 821 F2d 844. rule. yaitu United States v. aturan. secara diam-diam atau secara tidak langsung mengesahkan (authorize) atau mengizinkan (permit) perwujudan perbuatan pelanggaran atau kejahatan. atau secara terbuka. atau mengarahkan dilakukannya tindakantindakan pelanggaran (non compliance) terhadap peraturan-peraturan tertentu. The Corporate Culture Model Pendekatan jenis ini digunakan oleh Australia.23 tahun 1997 tentang Lingkungan. Aggregation Test Menurut teori ini. Amerika Serikat juga mengadopsi teori ini. kebijakan. agen manajerial korporasi tingkat tinggi (seperti direksi. pendekatan doktrin ini masih digunakan di pengadilan federal Amerika Serikat. ada budaya atau kebiasaan dalam tubuh korporasi yang menginstruksikan. Hal ini dapat dilihat dalam satu kasus. Keempat. dan mengadopsi teori identifikasi. mendorong. Kedua. policy. dewan direksi korporasi dengan sengaja atau dengan tidak hati-hati (ceroboh) melakukan tindakan-tindakan (conduct) yang relevan. [27] Di Indonesia. doktrin ini diterapkan dalam Undang-undang No. atau secara terbuka. Bank of New England didakwa dengan tuduhan secara sengaja tidak melaporkan suatu transaksi mata uang. Namun. teori ini dikritik karena tidak mempedulikan unsur mens rea (guilty mind) dari mereka yang dibebankan pertanggungjawaban. course of conduct or practice existing within the body corporate generally or in the part of the body corporate in which the relevant activities take place”. [28] Menurut undang-undang ini. manajer) secara sengaja. dengan cara menjumlahkan (aggregating) tindakan (acts) dan kelalaian (omission) dari dua atau lebih orang perorangan yang bertindak sebagai perusahaan. Pengadilan di Inggris dan Kanada telah menolak doktrin ini. 3. korporasi gagal membentuk dan mempertahankan budaya yang menuntut kepatuhan (compliance) terhadap peraturan-peraturan tertenty. tanggung jawab pidana bisa dijatuhkan apabila terbukti bahwa : Pertama. bentuk pendekatan ini ditolak karena dinilai terlalu kabur atau samar-samar jika diterapkan untuk menentukan mens rea korpoasi. Istilah corporate culture dapat kita lihat dalam Australian Criminal Code Act 1995 (Undang-undang Pidana Australia) yang didefinisikan sebagai berikut : ―an attitude. Berdasarkan hal ini.

[31] Pertanggungjawaban Pidana oleh Pengurus Korporasi Dalam korporasi atau perusahaan.[32] Hubungan fiduciary duty tersebut didasarkan atas kepercayaan dan kerahasiaan (trust and confidence) yang dalam peran ini meliputi.sesuai dengan posisi seorang direktur sebagai sebuah trustee dalam perusahaan. itikad baik (good faith). ketelitian (scrupulous). Hal ini merefleksikan struktur korporasi-korporasi modern yang umumnya terdesentralisasi dan dimana kejahatan tidak terlalu dikaitkan dengan perbuatan jahat atau kelalaian individual. Menurut Pasal l79 ayat (1) UUPT pengurusan PT dipercayakan kepada Direksi Lebih jelasnya pasal 82 UUPT menyatakan. Menurut pengalaman common law hubungan itu dapat didasarkan pada teori fiduciary duty. maka hal ini akan tampak dari budaya dan kepercayaannya yang tercermin dari struktur. Selain itu dalam melakukan tugasnya tersebut seorang direktur tidak boleh mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri atas perusahaan (duty of loyality ).[34] Negara-negara common law seperti Amerika Serikat yang telah mempunyai standar yang jelas untuk menentukan apakah seorang direktur dapat dimintai pertanggungjawabannya dalam tindakan yang diambilnya.[38] Doktrin atau prinsip fiduciary duty ini dapat kita jumpai dalam Undang-undang No. common law mengakui bahwa orang yang memegang kepercayaan (fiduciary) secara natural memiliki potensi untuk menyalahgunakan wewenangnya. praktek dan prosedur yang ditempuh oleh korporasi tersebut. tetapi lebih kepada sistem yang gagal untuk mengatasi permasalahan pengawasan dan pengaturan resiko. Teori ini menolak pemikiran bahwa korporasi harus diperlakukan sama seperti halnya orang perorangan dan mendukung bahwa harus ada konsep hukum lain untuk menyokong pertanggungjawaban subyek-subyek hukum fictitious (korporasi). bahwa Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan.[37] Pelanggaran terhadap kedua prinsip tersebut dalam hubungannya dengan Fiduciary Duty dapat menyebabkan direktur untuk dimintai pertanggung jawaban hukumnya secara pribadi terhadap perbuatan yang dilakukannya. dan keterusterangan (candor).1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. [30] 4. yaitu didasarkan pada standar duty of loyality dan duty of care.[35] . Oleh sebab itu hubungan pemegang kepercayaan tersebut harus didasarkan kepada standar yang tinggi. Kewajiban utama dari direktur adalah kepada perusahaan secara keseluruhan bukan kepada pemegang saham baik secara individu maupun kelompok.terbukti karena yang dianggap sebagai ‗pengetahuan‘ bank merupakan totalitas dari semua yang diketahui oleh para pegawai dalam ruang lingkup kewenangan mereka. para anggota direksi dan komisaris sebagai salah satu organ vital dalam badan hukum tersebut merupakan pemegang amanah (fiduciary) yang harus berperilaku sebagaimana layaknya pemegang kepercayaan. Sedangkan Pasal 85 . kebijakan. Di sini komisaris dan direktur memiliki posisi fiducia dalam pengurusan perusahaan dan mekanisme hubungannya harus secara fair. Blameworthiness Test Gobert menyatakan bahwa jika suatu korporasi tidak melakukan tindakan pencegahan atau melakukan due diligence guna menghindari melakukan suatu tindak pidana. baik kepada para pemegang saham maupun kepada pihak lainnya. Posisi ini mengharuskan seorang direktur untuk tidak bertindak ceroboh dalam melakukan tugasnya (duty of care)[36].[33] Dalam memahami hubungan pemegang kepercayaan (fiduciary relationship) tersebut.

[41] Sehingga. Dalam konteks direktur. [40] Salah satu tolak ukur untuk memutuskan apakah suatu kerugian tidak disebabkan oleh keputusan bisnis (business judgment) yang tidak tepat sehingga dapat menghindar dari pelanggaran prinsip duty of care adalah: pertama.UUPT menetapkan bahwa setiap anggota Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha Perseroan. memiliki informasi tentang masalah yang akan diputuskan dan percaya bahwa informasi tersebut benar Kedua. Business Judgment Rule Berkaitan dengan tindakan anggota direksi atau pejabat korporasi yang mengambil tindakan untuk kepentingan dan keuntungan bagi korporasi. sangat penting untuk mengontrol perilaku dari para direktur yang mempunyai posisi dan kekuasaan besar dalam mengelola perusahaan. apabila terbukti bahwa tindakan atau keputusan yang diambil oleh direktur untuk memberlakukan suatu kebijakan korporasi yang didasarkan atas business judgment yang tepat dalam rangka meraih keuntungan sebanyak-banyaknya bagi korporasi. maka apabila ternyata tindakan yang diambil tersebut menimbulkan kerugian yang melahirkan pertanggungjawaban pidana. tidak memiliki kepentingan dengan keputusan dan memutuskan dengan itikad baik. maka harus dibuktikan adanya pelanggaran terhadap kekuasaan kewajiban kewenangan yang dimilikinya.[39] Untuk membebankan pertanggungjawaban terhadap direktur atau pengurus korporasi. termasuk menentukan standar perilaku (standart of conduct) untuk melindungi pihak-pihak yang akan dirugikan apabila seorang direktur berperilaku tidak sesuai dengan kewenangannya atau berperilaku tidak jujur. kesalahan yang dilakukan oleh anggota direksi atau pejabat korporasi lainnya hanya dapat dibebankan pada korporasi jika memenuhi syarat: i) tindakan yang dilakukan oleh mereka berada dalam batas tugas atau instruksi yang diberikan pada mereka. namun harus dipikul secara pribadi oleh organ korporasi yang melakukan tindakan tersebut. khususnya bagi para direktur sebuah perusahaan terbatas dalam melakukan suatu keputusan bisnis. Pelanggaran terhadap hal ini dapat menyebabkan Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya tersebut. memiliki dasar rasional untuk mempercayai bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi perusahaan. ii) bukan merupakan penipuan yang dilakukan terhadap perusahaan. Penerapan teori ini mempunyai misi utama. sebagaimana diatur dalam prinsip fiduciary duty. jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi. tidak dapat dibebankan pada pribadi pengurus . Pengurus korporasi dalam hal ini harus dapat dibuktikan telah melanggar good faith yang dipercayakan padanya dalam menjalan korporasi atau perusahaan. Jika kita menghubungkannya dengan identification theory dalam wacana common law sebagaimana telah diuraikan diatas. terdapat pula doktrin dalam hukum korporasi yang melindungi para direktur yang beritikad baik tersebut sebagaimana terdapat dalam teori Business Judgment Rule yang merupakan salah satu teori yang sangat popular untuk menjamin keadilan bagi para direktur yang mempunyai itikad baik. maka kesalahan tersebut tidak dapat dipikul oleh korporasi. Dengan kata lain. Ketiga. yaitu untuk mencapai keadilan. iii) dimaksudkan untuk menghasilkan atau mendatangkan keuntungan bagi korporasi.

maka mereka dapat dipidana atau dibenbankan tanggung jawab. perekonomian. NJ 1986. Dalam berbagai harus terdapat pengaturan menyangkut pertanggungjawaban ini. NJ 1987. diperlukan perhatian studi yang lebih mendalam. Selain itu. dan iii) tidak atau gagal mengambil langkah yang memungkinkan untuk mencegah dilakukannya tindakan itu. menurut pengadilan. maka harus ada konsistensi dan landasan yang solid dalam hukum untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi. Alternatif lain yang dimungkinkan adalah mereka juga dapat dituntut sebagai pihak atas tindakan yang dilakukan oleh individu yang lain. penerimaan atas tindak pidana tersebut dianggap terjadi jika yang bersangkutan mengetahui bahwa dilakukannya tindak pidana secara faktual oleh korporasi (suatu bank) berkaitan langsung dengan apa yang didakwakan. Dalam kasus yang diperiksa. tanggal 16 Desember 1986. [42] Kemudian dalam keputusan berikutnya dalam kasus yang sama.[44] Private Member‘s Bill C-284 [45] telah menetapkan bahwa penjatuhan pertanggungjawaban pidana terhadap direksi dan pejabat-pejabat korporasi lainnya dimana mereka bertindak sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan orang lain. guna membangun suatu kerangka teoritis bagi pertanggungjawaban pidana korporasi. dianggal sengaja mendukung dilakukannya tindakan terlarang itu. [43] Jika kita melihat praktek yang diterapkan di Kanada. [46] Kesimpulan Dengan pertimbangan dampak yang dapat ditimbulkan oleh kejahatan korporasi baik bagi masyarakat. 125. tetapi dibebankan pada korporasi. Pertanggungjawaban oleh pengurus hanya dimungkinkan apabila terbukti terjadi pelanggaran duty of care dan duty of loyalty. majelis hakim memberikan pertimbangan yang menyatakan bahwa dikatakan memimpin faktual apabila fungsionari atau pejabat yang bersangkutan sekalipun berwenang dan secara masuk akal dapat melakukannya justru tidak melakukan langkah-langkah untuk mencegah tindakan terlarang dan secara sadar menerima kesempatan yang kemudian muncul agar tindakan terlarang tersebut terlaksana. pemerintahan dan aspek-aspek lainnya yang berbahaya. yang menetapkan bahwa seseorang baru dapat dikatakan secara faktual memimpin dalam konteks tindak pidana korporasi hanya jika ia mengetahui terjadinya tindak pidana yang bersangkutan (yang dalam kasus ini menyangkut dengan pemalsuan surat). Hoge Raad. dan mensahkan (authorize) tindakan atau kelalaian yang menjadi tindak kejahatan. Hal ini hendaknya diimbangi pula dengan upaya . Jika direksi atau pejabat korporasi lainnya: i) mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa tindakan atau kelalaian itu merupakan tindak pidana. Dalam situasi tersebut.(direksi atau pejabat korporasi lainnya). profesional maupun aparat penegak hukum. bahkan lebih serius dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh bentuk-bentuk kejahatan yang konvensional. Namun kebijakan ini dinilai kurang tepat karena para pemimpin/direksi/pejabat korpoasi lainnya yang tidak secara langsung terlibat atau bekerja serampangan terbebas dari tanggung jawab. 321. baik di kalangan akademis. Apabila kita membandingkan dengan praktek yang dilakukan di Belanda. direksi dan pejabat korporasi lainnya dapat bertanggung jawab secara pribadi. kita dapat melihat suatu beschikking tanggal 19 November 1987. ii) mengetahui bahwa tindakan itu dilakukan atau akan dilakukan. berdasarkan Undang-undang Hukum Pidana Kanada.

.on. Simpson. West Publishing Co.icclr. Gerry. 1995.pdf Prodjodikoro. 1989. 1992.ubc. The Harvard Law Review Association. Little. St. hal. Corporate Criminal Liability: What Purpose Does It Serve?.Rev. Keenan. DAFTAR PUSTAKA Black. Macmillan Press Ltd.. A Theory of Criminal Justice. Brisbane.6. 1996 Lipton. Structure and Corporate Crime. 1998. Gramedia Pustaka Utama. Philip dan Abraham Herzberg. Paul.filion. Little Brown and Company Boston New York Toronto London. 1477. V. Strategy. Charity. www. Christopher M.ca/pdf/ CML%202003%20Paper. Company Law. Remmelink. Ferguson.PDF Gross.. ed. HUKUM PIDANA.S. 17.114. Jakarta : 2003 Rusmana. (Vol. Khanna. 109 Harv. Dine. The Book Law Company Ltd. Joel. www.2. 339. hal. Filion Wakely Thorup Angeletti (Management Labour Lawyers). Henry Campbell. Corporate Criminal Liability in Canada: The Criminalization of Occupational Health & Safety Offences. Jan. ―Caveat Vendor: Broker-Dealer Liability Under the Securities Exchange Act. Smith & Keenan’s Company Law For Students. Pitman Publishing.php Scott.law. L. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. New York.6.SH. PT. 1996. Hyman. 1989) Seligman.‖ Securities Regulation Law Journal. 1990. Wirjono. Ed. . Denis & Josephine Biscare. 1979. Financial Times. Pertanggungjawaban Korporasi dalam Tindak Pidana Perikanan. Oxford University Press. Bandung : Eresco. Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kita Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Sally S.ca/ Publications/ Reports/ FergusonG.peningkatan kualitas dan kemampuan para penegak hukum yang akan menerapkannya. & Natasha Savoline. http://www. Corporations Cases and Materials. Corruption and Criminal Liability. Mereka harus mampu dan kreatif untuk melakukan terobosan-terobosan hukum.solusihukum. 4 Advances in Criminological Theory 171 (1993). Minnessota. Understanding Company Law.com/artikel/artikel45. Janet. Black’s Law Dictionary. Cet.

[5] Sally S. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. Paul. 1990 (Tidak diterbitkan).org/wiki * Disampaikan dalam ceramah di jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Jakarta. 1990. Disertasi. ** Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). http://www.solusihukum. The Spectrum of Corporate Crime in Indonesia.com/artikel/artikel45. tahun 2002-sekarang. tahun 1987– sekarang.pdf Susanto. 4 Advances in Criminological Theory 171 (1993). Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). 2005. 9. 2005. Pusat Studi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan. St. S. 339. [1] Singgih. tahun 2001–sekarang. Statistik Kriminal sebagai Konsruksi Sosial. tahun 2001–2002.114.gov.6..php [4] Henry Campbell Black. Semarang. 1989) http://en. Pertanggungjawaban Korporasi dalam Tindak Pidana Perikanan. Vagts. suatu Studi Kriminologi. A Theory of Criminal Justice. hal. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. Tangerang. Simpson. Basic Corporation Law Materials-Cases Text. Jakarta. West Publishing Co. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). [2] Hyman Gross.Singgih. Pusat Studi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ.au/publications/proceedings/12/soesanto. tahun 2004-sekarang. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. ed.SH. hal. I. Tangerang. Penggunaan dan Penyebarannya. tahun 2003-sekarang. Detlev F. [6] Ibid. Jakarta. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. pada tanggal 27 April 2006. Kejahatan Korporasi yang Mengerikan. bertempat di Tanjung Morawa Medan. 1979. Strategy. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994).aic.wikipedia. (New York: The Foundation Press Inc. Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Tahun 2006-sekarang. Kejahatan Korporasi yang Mengerikan. Minnessota. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Pancasila Jakarta. tahun 2002. Penyusunan. tahun 1999–sekarang. Hal. Krisnadwipayana Jakarta.C. Soesanto. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan.. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Structure and Corporate Crime. 2005. Black’s Law Dictionary. [3]Rusmana. tahun 2002-sekarang. Oxford University Press. Universitas Diponegoro. New York. L. http://www. .

Bandung : Eresco. perserikatan.55. HUKUM PIDANA.2. Statistik Kriminal sebagai Konsruksi Sosial.6. Disertasi. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. S. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. Ayat (3): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. Gramedia Pustaka Utama. perserikatan. perserikatan. Jakarta : 2003. [9] Ibid. [10] Wirjono Prodjodikoro. [8] Jan Remmelink. Ayat (2): Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. Ed. Cet. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. Hal. yayasan atau organisasi lain. 98. perseroan. yayasan atau organisasi lain. 1989. perseroan. [14] Mens rea atau gulty mind adalah salah satu unsur dari pertanggungjawaban pidana. perserikatan. . yayasan atau organisasi lain. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. [13] Actus Reus atau guilty act adalah perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan pelaku bertanggung jawab secara pidana jika unsur mens rea juga turut terbukti. baik berdasa hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kita Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. perseroan. Penggunaan dan Penyebarannya.102. PT. perseroan. disebut juga dengan pengetahuan atau tujuan yang salah. perseroan. yayasan atau organisasi lain. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. 1990. hal. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap keduaduanya. suatu Studi Kriminologi. perserikatan. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. Penyusunan. Ayat (4): Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. hal. dan dilakukan oleh orang-orang. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perserikatan. semata-mata berdasarkan hubungan antara kedua orang tersebut. [12] Vicarious Liability adalah pembebanan pertanggungjawaban pada seseorang atas tindakan yang dilakukan oleh orang lain. I. [11] Pasal 46 Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup menyebutkan : Ayat (1): Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. yayasan atau organisasi lain. perseroan. Semarang (Tidak diterbitkan).[7]Diintisarikan dari Susanto.

S. listerik. www.7. Op.Cit. dalam arti berkerja untuk tujuan pemerintahan.PDF.aic. 109 Harv. Op. 5.2 [19]Elkins Act adalah Undang-undang federal Amerika Serikat (1903) yang mendukung pelaksanaan Interstate Commerce Act (undang-undang perdagangan antara negara bagian) dengan melarang pemotongan harga dan bentuk-bentuk perlakuan istimewa lainnya terhadap jasa pengangkut (shipper) yang besar (Black’s Law Dictionary). hal. [32] 375 U.100. [17] Quasi-public corporations adalah korporasi-korporasi yang tidak seutuhnya bersifat publik. dan perusahaan. hal.filion. Little & Natasha Savoline. Khanna. tetapi operasi atau aktivitas dari korporasi tersebut turut memberikan kenyamanan. hal.6. hal.ca/Publications/ Reports/ FergusonG.wikipedia. hal.org/wiki/Corporate_liability [22] Gerry Ferguson. [20]Gerry Ferguson. Corporate Criminal Liability in Canada: The Criminalization of Occupational Health & Safety Offences. http://www. 195-196 (1965).Cit. The Spectrum of Corporate Crime in Indonesia. kemudahan. seperti perusahaan telepon.S. gas. Op. air.gov.icclr. 1477.wikipedia. Corruption and Criminal Liability.law. L. . (Black‘s Law Dictionary) [18] V.Rev.ca/pdf/CML%202003%20Paper.11 [29] Ibid.ubc. [30] http://en.Cit.Cit. 5.[15] L. hal. Op. [28] Ibid. 5 [21] http://en.on.au/publications/proceedings/12/soesanto.C Soesanto.pdf [16] Jan Remmelink. [27] Christopher M. Little & Natasha Savoline. hal.org/wiki/Corporate_liability [31] Ibid. Universitas Diponegoro. Filion Wakely Thorup Angeletti (Management Labour Lawyers). 1996. www.pdf [24] Ibid. [23] Christopher M. hal. atau kesejahteraan khalayak umum. hal. [25] http://en.org/wiki/Corporate_liability [26] Gerry Ferguson. 8. Corporate Criminal Liability: What Purpose Does It Serve?. The Harvard Law Review Association. 180.wikipedia.

Sweet & Maxwell. . Basic Corporation Law Materials-Cases Text. hal 317. [39] Janet Dine. lihat juga Robert Charles Clark. ―Caveat Vendor: Broker-Dealer Liability Under the Securities Exchange Act. 291. ketelitian (scrupulous). Block. Nancy R. the director of corporation acted on an informed basis in good faith and in the the honest belief that the action was taken in the best interest of the company”. yang sifatnya hanya hubungan atasan-bawahan sesaat. . hal. 1995. Brown and Company. hal 4 [41] Detlev F. The Book Law Company Ltd. [40] Teori Business judgment rule mengalami perkembangannya sebagai yurisprudensi dalam Prinsip Common Law di Amerika dimulai dengan keputusan Lousianna Supreme Court. 625. 1986.7. Barton dan Stephen A.. 1990. 1989). Financial Times. Lihat Dennis J. Prentice Hall law & Business. 2001. Vagts. Sedangkan fiduciary ini adalah seseorang yang memegang peran sebagai suatu wakil (trustee) atau suatu peran yang disamakan dengan sesuatu yang berperan sebagai wakil. 1989) hal 212. Third edition. Little Brown and Company Boston New York Toronto London. itikad baik (good faith). Pitman Publishing. Termasuk juga di dalamnya seorang lawyer yang mempunyai hubungan fiduciary dengan client-nya. [44] Christopher M. Fiduciary ini termasuk hubungan seperti. pengurus atau pengelola. Company Law. hal 342. Op. pengawas. 1998.Cit. hal. The Business judgment Rule Fiduciary Duties of Corporate Directors.111. Company Law. dan keterusterangan (candor). Brisbane. Corporations Cases and Materials. Henry Campbell Black . Janet Dine. Smith & Keenan’s Company Law For Students. hal 123 yang menyatakan bahwa Business Judgement Rule adalah “ a presumption that in making a business decision. [42] Jan Remmelink. hal. [38] Philip Lipton dan Abraham Herzberg. dalam kasus Percy V Millaudon pada tahun 1829. 17. [35] Lihat. Black‘s Law Dictionary. 1996. [37] Joel Seligman. Macmillan Press Ltd. Orang yang mempunyai kewajiban ini harus melaksanakannya berdasarkan suatu standar dari kewajiban (standard of duty) yang paling tinggi sesuai dengan yang dinyatakan oleh hukum. Savoline. [36] Denis Keenan & Josephine Biscare.Sweet &Maxwell’s Textbook Series. (Vol. 1992. Op. wakil atau wali. hal 217. Radin. [43] Ibid. dalam hal ini peran tersebut didasarkan kepercayaan dan kerahasiaan (trust and confidence) yang dalam peran ini meliputi. Understanding Company Law. hal 179.‖ Securities Regulation Law Journal. dan pelindung (guardian). Boston &Toronto: little. Corporate Law.Cit. [34] Charity Scott.[33] Teori fiduciary duty adalah suatu kewajiban yang ditetapkan undang-undang bagi seseorang yang memanfaatkan seseorang lain. (New York: The Foundation Press Inc. hal. dimana kepentingan pribadi seseorang yang diurus oleh pribadi lainnya.

[46] Ibid. . menyangkut kejahatan korporasi beserta para pengurusnya.[45] Undang-undang ini adalah peraturan yang ditetapkan untuk mengademen atau menambah ketentuan isi Penal Code Kanada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->