KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA (KPSW

)
18:31 Iceu Indah Mustika

BAB I PENDAHULUAN Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) Adalah pecahnya selaput berisi cairan ketuban yang terjadi 1 jam atau lebih sebelum terjadinya kontraksi. Dulu, jika terjadi KPSW selalu dilakukan tindakan untuk segera melahirkan bayi guna mencegah infeksi yang bisa terjadi pada bayi maupun ibunya. Tetapi pendekatan ini sudah tidak perlu dilakukan lagi karena resiko terjadinya infeksi bisa dikurangi dengan mengurangi frekuensi pemeriksaan dalam 1 kali pemeriksaan dengan bantuan spekulum bisa membantu dokter dalam memastikan pecahnya selaput ketuban, memperkirakan pembukaan serviks (leher rahim) dan mengambil contoh cairan ketubah dari vagina. Jika hasil analisa cairan ketuban menunjukkan bahwa paru-paru bayi sudah cukup matang, maka dilakukan induksi persalinan (tindakan untuk memulai proses persalinan) dan bayi dilahirkan. Jika paru-paru bayi belum matang, persalinan ditunda sampai paru-paru bayi matang.Pada 50% kasus, persalinan bisa ditunda hanya dengan melakukan tirah baring dan mendapatkan cairan infus; beberapa kasus lainnya memerlukan obat yang bisa mencegah kontraksi rahim (misalnya magnesium sulfat yang diberikan melalui infus, suntikan atau tablet terbutalin dan kadang diberikan ritodrin melalui infus). Ibu dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring, tetapi masih diperbolehkan ke kamar mandi. Suhu tubuh dan denyut nadinya diukur 2 kali/hari. Peningkatan suhu tubuh bisa merupakan pertanda terjadinya infeksi. Jika terjadi infeksi, dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan. Jika cairan ketuban tidak keluar lagi dan kontraksi berhenti, ibu diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi tetap menjalani tirah baring dan memeriksakan dirinya 1 kali/minggu. BAB II PEMBAHASAN Ketuban pecah dini atau ketuban pecah sebelum waktunya adalah robeknya selaput korioamniaon dalam kehamilan (sebelum onset persalinan berlangsung). Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) atau ketuban pecah prematur (KPP) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina sebelum proses persalinan. Ketuban pecah prematur yaitu pecahnya membran khorioamniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu atau disebut juga Premature Rupture Of Membrane atau Prelabour Rupture Of Membrane (PROM). Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorioamniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane atau Preterm Prelabour Rupture Of Membrane (PPROM) Insiden PROM : 6-19% kehamilan PPROM : 2% kehamilan Etiologi Penyebab dari KPD tidak atau masih belum diketahui secara jelas maka usaha preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi. Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD antara lain :

kardiotokografi. fetal fibronectin. leukosit esterase (LEA) meningkat. angka respiratory distress. cairan amnion yang keruh dan berbau. . Jika terjadi chorioamnionitis maka angka mortalitas neonatal 4x lebih besar.• Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal • Inkompetensi serviks • Infeksi vagina/serviks • Kehamilan ganda • Polihidramnion • Trauma • Distensi uteri • Stress maternal • Stress fetal • Infeksi • Serviks yang pendek • Prosedur medis • Malpresentasi • Pada banyak kasus belum diketahui Diagnosa • Riwayat pasien/anamnessa • Kehamilan < 20 minggu • Pemeriksaan dengan speculum → cairan • Nitrazine test →alkali • Nile test → mancampur cairan dengan nile blue → orange • Ferning → satu tetes diteteskan pada slide → dikeringkan → periksa dengan mikroskop → sodium pada liquor → mengkristal setelah kering (pola ferning seperti bunga kol) Secara klinik diagnosa ketuban pecah dini tidak sukar dibuat anamnesa pada klien dengan keluarnya air seperti kencing dengan tanda-tanda yang khas sudah dapat menilai itu mengarah ke ketuban pecah dini. atau terdapat cairan ketuban pada forniks posterior • USG : volume cairan amnion berkurang/oligohidramnion • Terdapat infeksi genital (sistemik) • Gejala chorioamnionitis Maternal : Demam (dan takikardi). glukosa. lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servikalis pada bagian yang sudah pecah. diantaranya dengan kultur/gram stain. profilbiofisik. neonatal sepsis dan pardarahan intraventrikuler 3x lebih besar. kultur darah/urin. volume cairan ketuban berkurang. leukositosis (peningkatan sel darah putih) meninggi. Untuk menentukan betul tidaknya ketuban pecah dini bisa dilakukan dengan cara : • Adanya cairan yang berisi mekonium (kotoran janin). Fetal : Takikardi. verniks kaseosa (lemak putih) rambut lanugo atau (bulu-bulu halus) bila telah terinfeksi bau • Pemeriksaan inspekulo. uterine tenderness. Cairan Amnion : Tes cairan amnion. leukosit esterase (LEA) dan sitokin.

5 • Dilakukan uji kertas lakmus/nitrazine test Jadi biru (basa) : air ketuban Jadi merah (asam) : air kencing Prognosis/komplikasi Adapun pengaruh ketuban pecah dini terhadap ibu dan janin adalah : Prognosis ibu • Infeksi intrapartal/dalam persalinan Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas • Infeksi puerperalis/ masa nifas • Dry labour/Partus lama • Perdarahan post partum • Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC) • Morbiditas dan mortalitas maternal • Prolaps tali pusat • Uterus sangat menempel ke fetus • Chorionamnioitis dan sepsis Prognosis janin • Prematuritas dan komplikasinya Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distress sindrome. necrotizing enterocolitis. • Sindrom deformitas janin Terjadi akibat oligohidramnion. tes nitrazin dan tes fern Normal pH cairan vagina 4. timbulnya tanda persalinan. anemia. neonatal feeding problem. perdarahan intrakranial. dry labour/pertus lama. ensefalopaty. cerebral palsy.5 . gawat janin Asuhan Di Rumah Sakit • Riwayat yang akurat . renal failure. deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT) • Morbiditas dan mortalitas perinatal Diagnosis Banding • Fistula vsikovaginal dengan kehamilan • Stress inkonentia Pengobatan • Konservatif → jika tidak ada penyulit (ibu&bayi) pada umur kehamilan 28 – 36 minggu.0 . intraventricular hemorrhage.5. prolaps uteri. • Prolaps funiculli/ penurunan tali pusat (anoksia) • Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi) Mengakibatkan kompresi tali pusat. hypothermia. dirawat di Rs • Aktif →umur kehamilan 20-28 minggu dan > 37 minggu.7. hyperbilirubinemia. apgar score rendah. sepsis. brain disorder (and risk of cerebral palsy).5 dan normal pH cairan amnion 7. Diantaranya terjadi hipoplasia paru. retinopathy of premturity.• Dilakukan tes valsava. respiratory distress. ada tanda infeksi.

amnioinfusi. fasilitas/kemampuan . waktu dan tempat perawatan. sebaiknya perlu mempertimbangkan usia kehamilan. cairan terus menerus • Observasi adanya kontraksi • Pemeriksaan urine midstreem • Pencegahan infeksi→ suhu → 38 derajat. sekret vagina vurulens. masih kontroversi).• Pemeriksaan fisik • Menkaji data yg nendukung • Pengobatan sesuai protap Pengobatan Di Klinik • Anamnesa (waktu pecah. pastikan bukan urine. janin takhikardi • Berikan support • Pemberian antibiotik • NST • Pemberian steroid untuk pematangan paru • Gunakan pembalut yang steril • Lakukam pemeriksaan speculum → diagnosis • Persiapan rujukan Penangaanan konservatif • Bedrest • Ukur suhu. pematangan paru. fetal and maternal monitoring. epitelisasi (vit C dan trace element. banyaknya. nadi&DJJ setiap 4 jam • Pemeriksaan sel darah putoh • Batasi pemeriksaan vagina (tidak dilakukaan) • Pemeriksaan USG untuk menilai volume cairan. fasilitas perawatan intensif. kondisi. kondisi ibu dan janin. Tindakan aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio caesarea (SC) atau pun partus pervaginam Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang dilakukan apakah langkah konservatif ataukah aktif. tokolisis. posisi tali pusat Pengelolaan Aktif • KPD umur kehamilan 20 -28 minggu dan > 37 minggu • Ada tanda infeksi • Ada tanda persalinan • Gawat janin Penyulit • Infeksi • Kematian janin Penatalaksanaan Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD ke RS dan melahirkan bayi yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko infeksi intrauterin Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya pemberian antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan dalam). nyeri pada rahim.

berikan antibiotik eritromisin 3×250 mg. Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan pemberian profilaksis streptokokkus grup B. tokolisis untuk jangka waktu yang lama tidak diindikasikan sedangkan untuk jangka pendek dapat dipertimbangkan untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid. lamanya ketuban pecah dan resiko menunda persalinan KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi. kortikosteroid harus diberikan antara 24-32 minggu (untuk mencegah terjadinya resiko perdarahan intraventrikuler. respiratory distress syndrome dan necrotizing examinations). kondisi/status imunologi ibu dan kemampuan finansial keluarga. oksitosin antagonis (atosiban) Tindakan epitelisasi masih kotroversial. profilaksis streptokokkus grup B. gentamisin 5 mg/KgBB. pemberian kortikosteroid setelah 34 minggu dan pemberian multiple course tidak direkomendasikan Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu deksametason 2×6 mg (2 hari) atau betametason 1×12 mg (2 hari) Agentokolisis yaitu B2 agonis (terbutalin. yaitu pemberian antibiotik karena periode fase laten yang panjang. walaupun vitamin C dan trace element terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah terutama dalam metabolisme kolagen untuk maintenance integritas membran korio-amniotik. jika serviks tidak matang lakukan SC . Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap) lakukan tindakan konservatif. ritodrine). single-coursekortikosteroid. calsium antagonis (nifedipine). magnesium sulfat. jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin. lakukan tindakan konservatif atau induksi persalinan. namun tidak terbukti menimbulkan epitelisasi lagi setelah terjadi PROM Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda chorioamnionitis. Untuk kehamilan 34-36 minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm Untuk usia kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif/expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur (maka perlu dilakukan tes pematangan paru). pemberian profilaksis streptokokkus grup B. berikan antibiotik ampisillin 4×2 gr IV. pemberian kortikosteroid (belum ada konsensus namun direkomendasikan oleh para ahli). amoksisillin 3×500 mg dan kortikosteroid KPD pada kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah >6 jam) berikan ampisillin 2×1 gr IV dan penisillin G 4×2 juta IU. pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena belum ada data untuk pemberian yang lama) Rekomendasi klinik untuk PROM.tidak boleh dilakukan digital cervical examinations jadi pilihannya adalah dengan spekulum. antibiotik dan transportasi maternal.monitoring. terdapat tanda-tanda kompresi tali pusat/janin (fetal distress) dan pertimbangan antara usia kehamilan. tidak direkomendasikan profilaksis streptokokkus grup B dan kortikosteroid. tokolisis (belum ada konsensus) dan pemberian antibiotik selama fase laten (jika tidak ada kontraindikasi) Untuk non viable preterm (usia kehamilan <24 minggu). pemberian antibiotik selama fase laten. prostaglandin sintase inhibitor (indometasin). jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin. lakukan koseling pasien dan keluarga. Untuk usia kehamilan <37 minggu dilakukan penanganan konservatif dengan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan matur. jika serviks tidak matang lakukan SC KPD dengan infeksi (kehamilan <37> 37 minggu).

partus lama. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD. karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada. 2. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi . yaitu : 1. karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan.BAB III KESIMPULAN Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru . Kurang bulan atau prematuritas. dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD. selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju. Infeksi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful