P. 1
Pengolahan Air Asin Atau Payau Dengan Sistem Osmosis Balik

Pengolahan Air Asin Atau Payau Dengan Sistem Osmosis Balik

|Views: 289|Likes:
Published by rsirya

More info:

Published by: rsirya on Apr 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2014

pdf

text

original

Pengolahan Air Asin Atau Payau Dengan Sistem Osmosis Balik

Proses mengolah air asin/payau menjadi air tawar atau sering dikenal dengan istilah desalinasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu 1. Proses destilasi (suling). 2. Proses penukar ion dan 3. Proses filtrasi. Proses destilasi memanfaatkan energi panas untuk menguapkan air asin. Uap air tersebut selanjutnya didinginkan menjadi titik-titik air dan hasil ditampung sebagai air bersih yang tawar. Proses desalinasi menggunakan teknik penukar ion memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam dalam air. Pada proses ini ion garam (Na Cl) ditukar dengan ion seperti Ca+2 dan SO4-2 . Materi penukar ion berasal dari bahan alam atau sintetis. Materi penukar ion alam misalnya zeolit sedangkan yang sintetis resin (resin kation dan resin anion). Proses desalinasi yang ke tiga menggunakan filter semipermeabel untuk memisahkan molekul garam dalam air. Proses ketiga ini lebih dikenal dengan sistem osmose balik (Reverse Osmosis). Keistimewaan dari proses ini adalah mampu nyaring molekul yang lebih besar dari molekul air. Model pengolahan air asin/payau yang diuraikan pada tulisan ini adalah hasil rancangan tim Kelompok Air Bersih dengan kapasitas 7,5 - 10 m3/hari. Unit ini sudah dipasang di Kepulauan Seribu Jakarta Utara (Pulau Tidung, Pramuka dan Kelapa), di Palembang (Unit RO bergerak) dan di Cilacap Jawa Tengah.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Sumber air tersebut ada yang diperoleh dari air tanah, mata air air sungai, danau dan air laut. Sumber air di bumi tersebut berasal dari suatu siklus air dimana tenaga matahari merupakan sumber panas yang mampu menguapkan air. Air baik yang berada di darat maupun laut akan menguap oleh panas matahari. Uap kemudian naik berkumpul menjadi awan. Awan mengalami kondensasi dan pendinginan akan membentuk titik-titik air dan akhirnya akan menjadi hujan. Air hujan jatuh kebumi sebagian meresap kedalam tanah menjadi air tanah dan mata air, sebagian mengalir melalui saluran yang disebut air sungai, sebagian lagi terkumpul dalam danau/rawa dan sebagian lagi kembali ke laut. Manusia sering dihadapkan pada situasi yang sulit dimana sumber air tawar sangat terbatas dan di lain pihak terjadi peningkatan kebutuhan. Bagi masyarakat yang tinggal didaerah pantai, pulau kecil seperti kepulauan seribu air tawar merupakan sumber air yang sangat penting. Sering terdengar ketika musim kemarau mulai datang maka masyarakat yang tinggal di daerah pantai atau pulau kecil-kecil mulai kekurangan air. Air hujan yang merupakan sumber air yang telah disiapkan di bak penampung air hujan (PAH) sering tidak dapat mencukupi kebutuhan pada musim kemarau. Padahal kita mengetahui bahwa sebenarnya sumber air asin itu begitu melimpah, kenyataan menunjukkan bahwa ada banyak daerah pemukiman yang justru berkembang pada daerah pantai. Melihat kenyataan semacam itu manusia telah berupaya untuk mengolah air asin/payau menjadi air tawar mulai dari yang

Teknologi pengolahan air asin/payau ini lebih dikenal dengan sistem osmosa balik (Reverse Osmosis disingkat RO).menggunakan teknologi sederhana seperti menyuling. Pemanfaatan teknologi ini akan memberi kemudahan bagi manusia untuk mendapatkan air bersih yang diperoleh dari pengolahan air asin/payau. Teknologi ini menerapkan sistem osmosis yang dibalik yaitu dengan memberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmosis air asin/payau. dengan demikian alat ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia. Alat pengolah air sistem RO mempunyai fungsi untuk mengolah air asin/payau menjadi air tawar dengan cara filtrasi tingkat molekul. Sumber air asin/payau yang sifatnya sangat melimpah telah membuat manusia berfikir untuk mengolahnya menjadi air tawar. molekul yang mempunyai diameter lebih besar dari air akan tersaring. . Teknologi pengolahan air asin/payau yang akan dibahas pada tulisan ini terutama yang menggunakan teknologi filtrasi membran semipermeabel. akan tetapi tidak dapat atau sulit sekali dilalui oleh molekul lain yang lebih besar dari molekul air. Membran (selaput) semipermeabel adalah suatu selaput penyaring skala molekul yang dapat ditembus oleh molekul air dengan mudah. filtrasi dan ionisasi (pertukaran ion). Manfaat lainnya yang dapat dinikmati oleh manusia dengan diterapkannya pengolah air sistem RO berupa peningkatan mutu kualitas air hasil olahan. Air asin/payau tersebut ditekan supaya melewati membran yang bersifat semi permeabel. Hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk memenuhi kebutuhan akan air tawar manusia telah mengembangkan sistem pengolahan air asin/payau dengan teknologi membran semipermeabel.

Pandual Kualitas Air Hasil Pengolahan Sistem RO Tabel 2. Laboratorium : PAM Jaya 1. Adapun macam-macam komponen yang mungkin masih dapat dikembangkan di Indonesia adalah: .4.Tabel 1. Potensi Potensi yang dapat diambil dari penerapan teknologi ini berupa nilai tambah sebagai hasil dari pengembangan dan rekayasa komponen utama unit RO. Paduan Kualitas Air Hasil Uji Coba di Kelapa Gading Jakarta Utara Tekanan Membran :300 Psi. Temperatur Air : 20-28 oC.

Air asin sebelum masuk pada unit RO harus diolah terlebih dahulu. paralon maupun "fiber glass". Pretreatment atau pengolahan awal mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengolahan air ini. Jantung filter dari sistem RO adalah terletak pada teknologi membran.. 8. 4. 3. 6. Industri perakitan. Valve. mangan aktif dan karbon aktif.. Saat ini teknologi membran belum dapat diproduksi di Indonesia. hal ini disebabkan karena kita belum menguasai teknologi tersebut terutama untuk skala produksi.. . sehingga peranan fabrikasi oleh perusahaan lokan akan menunjang penerapan teknologi ini. Fabrikasi media. dirakit dalam suatu industri perakitan. tidak berbau. Syarat air baku sebelum masuk ke unit utama harus tidak boleh keruh. Berdasarkan kriteria tersebut maka pengolahan tingkat awal menjadi hal yang begitu penting. Flow Meter. kandungan zat besi/mangan kurang dari 0. Media filter sangat diperlukan sebagai media filter. Pompa Tekanan tinggi. Media filter biasanya terdiri dari pasir silika. Teknologi untuk mengolah media tersebut sudah dikuasai oleh bangsa Indonesia. mesin dan listrik. 7. tidak boleh berwarna.. Fabrikasi pretreatmen dan filter.Studi membran semipermeable yang mengarah pada produksi lokal. Modul Membran Tabung. Untuk itu perlu segera dilakukan transfer teknologi pembuatan membran semipermeabel dari negara lain. Pada industri semacam itu paling tidak diperlukan beberapa orang ahli yang mengetahui dasar teknik... 2. 5. Untuk menghasilkan 1 unit RO maka diperlukan beberapa komponen dasar yang terdiri dari : 1. Komponen pendukung lain. Sumber bahan yang dapat diolah menjadi media filter juga banyak terdapat di Indonesia... Casis.01 ppm. Pipa fleksibel. Untuk fabrikasi pembuatan pretreatmen dan filter dapat dibuat dengan bahan dari "stainless stell". Panel Listrik.

Air Payau (DHL 1250 .000 mhos). Batas kelarutan garam dalam air baku untuk standart air minum adalah untuk DHL = 400 .1. Pohon Komoditi Gambar 1 menunjukkan pohon komoditi sistem pengolahan air berdasarkan kadar salinitas (kegaraman terlarut) dalam air baku.1250 mmhos dan Cl . sehingga untuk menentukan jenis teknologi yang akan digunakan salah satunya ditentukan oleh kadar salinitas tersebut.12.=600 ppm.5. dan Air Asin > 12. Air Tawar (DHL < 1250 mmhos). 2.000 mmhos). . Pembagian kualitas air berdasarkan kadar salinitas air adalah : 1.

Komponen Desinfeksi dan Tangki Penampung Air Minum . Pengolahan Tingkat Awal B. Komponen RO C.Komponen Utama Unit RO dibagi menjadi 4 macam yaitu: A.

Pembangkit Listrik .D.

Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tekanan osmosis adalah konsentrasi garam dan suhu air. Air laut umumnya mengandung TDS minimal sebesar 30.7 kg/cm2. mempunyai tekanan osmose 26. untuk air laut dengan TDS 35.000 ppm TDS pada suhu 30o C mempunyai tekanan osmosis 32. Jika tekanan pada sisi air garam (air asin) diberikan tekanan sehingga melampaui tekanan osmosisnya. Aliran air melalui selaput semipermeabel tersebut dapat berlangsung karena adanya tekanan osmosis. Sistem RO tidak bisa menyaring garam sampai 100 % sehingga air produksi masih sedikit mengandung garam. maka yang terjadi adalah air dipaksa keluar dari larutan garam melalui selaput semipermeabel. Proses memberikan tekanan balik tersebut disebut dengan osmosis balik. maka yang terjadi adalah tidak ada aliran dari air ke air garam atau sebaliknya.METODOLOGI Jika air murni dan larutan garam dipisahkan oleh selaput semipermeabel maka akan terjadi aliran yang mengalir dari zat cair dengan konsentrasi rendah menuju ke air garam (larutan air yang mengandung kadar garam tinggi) yang mempunyai konsentrasi tinggi. . Jika ingin membuat air minum yang mengandung kira-kira 300 sampai 600 ppm TDS cukup menggunakan saluran tunggal.000 ppm pada suhu air 25o C. Untuk mendapatkan air dengan kadar garam yang kecil maka diterapkan sistem dengan dua sampai tiga saluran. sedangkan yang mengandung 42. Prinsip osmosis balik tersebut diterapkan untuk pengolahan air payau atau air laut menjadi air tawar.7 kg/cm2. Jika tekanan dilakukan sebaliknya yaitu air garam diberikan suatu tekanan buatan yang besarnya sama dengan tekanan osmosis. Sistem tersebut disebut Reverse Osmosis atau RO. Sebagai contoh.000 ppm.

RO mempunyai ciri-ciri yang sangat khusus sebagai model pengolah air asin yaitu:  Energi Yang Relatif Hemat yaitu dalam hal pemakaian energinya.Jika air olahan yang dihasilkan menjadi semakin banyak maka jumlah air baku akan menjadi lebih besar dan sebagai akibatnya tekanan yang dibutuhkan akan menjadi semakin besar. Untuk memasang alat RO dibutuhkan ruangan yang cukup hemat. servis dan biaya operator. penggantian media penyaring. Hal ini dimaksudkan agar alat tersebut dapat digunakan secara baik dan awet. bahan bakar. Konsumsi energi alat ini relatif rendah untuk instalasi kemasan kecil adalah antara 8-9 kWh/T (TDS 35. Kualitas air baku yang buruk akan membutuhkan sistem pengolahan yang lebih rumit. Biaya tersebut diperlukan antara lain untuk bahan kimia. maka pengolahan yang dibutuhkan akan lebih kompleks lagi. Sistem pengolahan air sangat bergantung pada kualitas air baku yang akan diolah. Mudah dalam pengoperasian karena dikendalikan dengan sistem panel dan instrumen dalam sistem pengontrol dan dapat dioperasikan pada suhu kamar. Meskipun alat pengolah air sistem RO tersebut mempunyai banyak keuntungan akan tetapi dalam pengoperasiannya harus memperhatikan petunjuk operasi. Apabila kualitas air baku mempunyai kandungan parameter fisik yang buruk (seperti warna dan kekeruhan). sedangkan proses untuk kekeruhan cukup dengan penjernihan melalui pengendapan dan penyaringan biasa. Tetapi apabila kualitas air baku mempunyai kandungan parameter kimia yang buruk. Tekanan kerja yang dibutuhkan jika memakai air laut adalah antara 55 sampai 70 kg/cm2.    Hemat Ruangan.000) dan 9-11 kWh untuk TDS 42. Kemudahan dalam menambah kapasitas. .000. Tekanan buatan (tekanan kerja) tersebut harus lebih besar dari tekanan osmosis pada air baku. maka yang membutuhkan pengolahan secara lebih khusus adalah penghilangan warna. Untuk menunjang operasional sistem RO diperlukan biaya perawatan.

saringan untuk besi dan mangan (Iron & manganese filter) dan yang terakhir adalah sistem penghilang warna (colour removal). air baku utama yang digunakan pada umumnya adalah air tanah (dangkal atau dalam). Dengan sistem RO ini. yaitu yang dilakukan melalui suatu elemen yang disebut membrane. Air baku yang buruk. Gambar skema unit pengolah air sistem RO dapat dilihat pada gambar 3 . khlorida dan TDS yang tinggi dapat diturunkan atau dihilangkan sama sekali. manganese dan zat warna organik. saringan pasir cepat (rapid sand filter). Jadi bila pada musim kemarau panjang. membutuhkan pengolahan dengan sistem Reverse Osmosis (RO). Dengan demikian sistem RO pada umumnya selalu dilengkapi dengan pretreatment yang memadai untuk menghilangkan unsur-unsur pengotor. Kualitas air tanah ini sangat bergantung dari curah hujan. sehingga air tanah tersebut dengan mudah akan terkontaminasi oleh air laut. seperti besi. Ciri adanya intrusi air laut adalah air yang terasa payau atau mengandung kadar garam khlorida dan TDS yang tinggi. manganese dan zat organik (warna organik). seperti adanya kandungan khlorida dan TDS yang tinggi. air tawar yang berasal dari air hujan sudah tidak tersedia lagi. Sistem pretreatment yang mendukung sistem RO umumnya terdiri dari tangki pencampur (mixing tank).Untuk daerah pesisir pantai dan kepulauan kecil. Sistem RO menggunakan penyaringan skala mikro (molekul). Syarat penting yang harus diperhatikan adalah kualitas air yang masuk ke dalam elemen membrane harus bebas dari besi.

Proses perpindahan ini melalui membran semipermeabel. menyesuaikan pH operasi dan . destilasi. yaitu : 1.Metode pemurnian air dapat dilakukan dengan menggunakan membran secara reverse osmosis. dimana proses perpindahan air akan berhenti setelah konsentrasi kedua larutan sama. menggunakan mikroorganisme. Pengolahan Awal (pretreatment) Air umpan terlebih dahulu diolah agar sesuai dengan kondisi membran dengan menghilangkan padatan tersuspensi. elektrolisis. Metode kombinasi reverse osmosis dan ion exchange Osmosis merupakan proses perpindahan air dari larutan yang konsentrasinya rendah menuju larutan yang konsentrasinya tinggi dikarenakan adanya tekanan osmosis. Sistem RO umumnya terdiri dari 4 proses. Metode yang lain yaitu dengan menggunakan metode kombinasi reverse osmosis dan ion exchange. RO membutuhkan tekanan hidrostatik lebih besar daripada perbedaan tekanan osmotiknya sehingga air bisa mengalir dari larutan yang konsentrasinya lebih tinggi melalui membran semipermeabel. maupun ion exchange.

antara 25. 2. Air hasil keluaran dari membran berupa air bersih yang disebut permeate. 4. Pemberian Tekanan Air umpan yang sudah diolah dinaikkan tekanannya dengan pompa sampai tekanan operasi yang diinginkan agar sesuai dengan membran dan kadar garam air umpan. Stabilisasi Air hasil keluaran membran (air produk) biasanya disesuaikan pHnya terlebih dahulu sebelum ditransfer ke sistem distribusi.menambahkan inhibitor untuk control scaling yang disebabkan konstituenkonstituen seperti kalsium sulfat. karena tidak ada membran yang dapat bekerja 100% sempurna.000 liter per hari per m2 Teknologi RO dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminankontaminan organik maupun inorganik Tidak mempunyai dampak terhadap lingkungan . Namun. Separasi Membran Membran semipermeabel menghambat jalannya air umpan yang melewatinya. 3. Kelebihan dan kekurangan sistem RO. dan yang tertahan pada membran disebut concentrate. yaitu : Kelebihan        Proses RO tergolong mudah Biaya instalasi rendah Tanpa material non-metalik dalam konstruksi Energi yang digunakan untuk mengolah air payau antara 1-3 kWh tiap 1 m3air produk Dapat menghasilkan rasio kapasitas produksi yang besar.000 – 60. maka ada sebagian kecil garam yang masih dapat melewati membran.

Sebagai pengganti ion-ion tersebut. Pertukaran hanya dapat terjadi di antara ion-ion yang sejenis dan berlangsung dalam waktu yang singkat. Karakteristik Air Payau Secara kualitatif. ion-ion dari bahan padat diberikan ke dalam larutan. dan kemungkinan mengandung padatan tersuspensi [Sagle dan Benny. 2006].000 mg/L ini menjadikan air payau tidak baik dikonsumsi langsung sebagai air minum. memiliki kesadahan yang cukup tinggi. beberapa karakteristik air payau diantaranya memiliki kandungan garam yang cukup tinggi (2000-5000 ppm). Teknik Kimia ITB. Kandungan garam yang mencapai 5. Teknologi ini telah tumbuh dan berkembang secara dinamis sejak pertama kali dikomersialkan oleh Sartorius-Werke di Jerman pada tahun 1927. 2006]. yaitu pada saat terjadi kontak antara larutan dengan penukar ion. Pengolahan air payau dengan teknologi membran Teknologi membran merupakan teknologi pengolahan air yang sedang berkembang dewasa ini. khususnya untuk membran mikrofiltrasi [Dep. Beberapa keunggulan teknologi ini terletak pada kebutuhan energi yang .Kekurangan     Membran sensitif atau tidak efisien bila digunakan berlebihan Air umpan harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan partikulatpartikulat Operasi RO membutuhkan material dan alat dengan kualitas standar yang tinggi Ada kemungkinan terjadi pertumbuhan bakteri pada membran itu sendiri Ion exchange merupakan suatu proses dimana ion-ion dari suatu larutan elektrolit diikat pada permukaan bahan padat.

. sedangkan zat terlarut berupa garam maupun zat organik akan ditolak [Scott. tetapi tidak untuk garam dan senyawa yang memiliki beratmolekul yang lebih besar. Pada proses ini. Prinsip kerja membran adalah memisahkan zat terlarut dengan berat molekul kecil dan memisahkan larutan cair yang mengandung zat organik dalam jumlah yang kecil. membran RO akan menahan komponen-komponen lain selain pelarut. Atau dengan kata lain. Pada proses ini. membran akan permeable terhadap air tetapi tidak terhadap garam dan senyawa dengan berat molekul besar. Akibatnya membran hanya dilalui oleh pelarut.rendah. Teknologi membran RO merupakan teknologi desalinasi yang ramah lingkungan dan tidak memerlukan lahan yang luas. Skema proses RO dapat dilihat pada Gambar 1. nanofiltrasi (NF) dan mikrofiltrasi (MF).membran ini bersifat permeabel terhadap air. permasalahan korosi peralatan yang minimum dan penggantian dan penginstalasian alat yang mudah berintegrasi dengan sistem yang ada. Membran RO Membran RO umumnya digunakan untuk memisahkan bahan-bahan dengan berat molekul rendah atau garam-garam organik dari larutan. 1995]. ultrafiltrasi (UF). Contoh penerapan RO dapat dilihat pada desalinasi air laut. Teknologi membran yang dapat digunakan dalam pengolahan air adalah RO.

Dengan kata lain struktur model membran yang digunakan bersifat dense skin layer. Umumnya tekanan operasi yang diperlukan minimal tiga kali lipat dari tekanan osmosis larutannya. .Proses RO dikenal juga sebagai proses hiperfiltrasi. Larutan umpan mengalir aksial sepanjang modul dalam celah yang terbentuk antara spacer dan membran. Modul membran Spiral Wound Membran dengan modul spiral wound terdiri dari dua lembar membran datar. Pada bagian tengah silinder terdapat pipa pengumpul permeat yang berfungsi untuk menampung aliran permeat dan mengalirkannya sebagai produk. Skematik modul lilit spiral dapat dilihat pada Gambar 2 [Morales dan Maria. Penjarak umpan merupakan suatu ayakan yang berfungsi untuk meningkatkan turbulensi aliran umpan pada permukaan membran.1996]. sedangkan penjarak umpan dibiarkan terbuka agar aliran umpan dapat masuk. sebab tekanan yang dibutuhkan untuk melewatkan umpan lebih besar dari tekanan osmosis umpan sebelum umpan dilewatkan melalui membran.05-1. yakni berkisar antara 10-100 bar dengan batasan fluks sebesar 0.4 L/m2 jam [Mulder. Membran ini memiliki suatu lapisan tidak berpori yang tidak terdeteksi oleh SEM. penjarak umpan dan bahan berpori pengumpul permeat yang digulung membentuk silinder. 2002]. Dua lembar membran dan bahan berpori pengumpul permeat disatukan dengan lem.

Unit RO yang digunakan terdiri dari sebuah modul membran spiral wound.750 dan 3. Pada umpan air payau sintetis dilakukan analisa awal yaitu analisa Total Dissolved Solid (TDS). 2. Permeat yang dihasilkan kemudian dianalisa. stopwatch dan tabung penyimpanan sampel. Sebelum melakukan percobaan utama. salinitas dan konduktivitas.500.a yang dilarutkan dalam akuades.Sebagai larutan umpan air payau sintetis digunakan serbuk natrium klorida (NaCl) p.500.000. sebuah retentate throttle valve yang berfungsi untuk mengatur beda tekanan dalam membran. 2. Larutan NaCl dibuat pada konsentrasi 2.000 mg/L.5-7 bar. Bahan membran adalah Polyamide Thin. Umpan larutan NaCl dilewatkan melalui membran.Film Composite dengan luas penampang 5. terlebih dahulu dilakukan forward flushing dengan menggunakan akuades pada membran. Fluks untuk masing-masing tekanan diukur setiap sepuluh menit percobaan. 2.5 ft2. sebuah pompa. 2.Penelitian dengan menggunakan membran RO tekanan rendah ini dilakukan pada skala . Skema rangkaian unit RO ini dapat dilihat pada Gambar 3. 2.750 dan 3. gelas ukur 50 mL.250. beaker glass 2 L.000 mg/L dan variasi tekanan 0. dengan variasi konsentrasi 2.1812-100. Setelah forward flushing selama 30 menit.000. maka percobaan utama dapat dilakukan. dua buah pressure gauge. Membran RO yang digunakan merk Filmtec USA model TW30. 2.250. Percobaan dilakukan dengan menggunakan seperangkat unit RO. speed control dan satu unit alat pengukur konduktivitas tipe Orion 125 Aplus.

dkk. Pengaruh tekanan terhadap fluks permeat RO adalah salah satu operasi membran yang menggunakan tekanan sebagai gaya dorong (driving force). Adanya perbedaan tekanan adalah syarat mutlak bagi berlangsungnya operasi ini. dan t adalah waktu (jam). 2005]. Secara matematis fluks dirumuskan sebagai [Mulder. Pengaruh tekanan terhadap fluks permeat dapat dilihat pada Gambar 4. Fluks ini diukur dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk menampung permeat dalam volume tertentu. maka volum fluida yang dapat melewati membran akan meningkat. A adalah luas permukaan membran (m2). 1986]. Peningkatan fluks . Umpan larutan sintetis NaCl yang digunakan dianggap dapat mewakili karakteristik air payau. Pada umpan dengan konsentrasi NaCl 2. yang meliputi grafik antara tekanan terhadap fluks permeat dan faktor rejeksi membran. 1996]: dengan J adalah fluks (L/m2jam). Semakin besar tekanan yang diberikan.5 bar diperoleh fluks sebesar 4.08 L/m2 jam. dimana fluks akan meningkat seiring dengan adanya peningkatan tekanan [Kaliappan. Fenomena yang sama juga ditemui oleh Winduwati dkk (2000).000 ppm dan tekanan operasi 0. V adalah volume permeat (mL). Fluks merupakan laju volume fluida yang melewati penampang membran [Cheryan. Dengan menggunakan variabel tekanan 40 sampai 120 psi dan konsentrasi NaCl 20 hingga 100 mg/L.78 L/m2 jam. Metode analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan metode curve fitting. seperti yang terlihat pada Gambar 5. Fluks permeat disepanjang membran memilikihubungan langsung dengan tekanan umpan. didapatkan adanya kenaikan fluks permeat akibat dari kenaikan tekanan operasi. Sedangkan pada konsentrasi yang sama dengan tekanan operasi 7 bar diperoleh fluks 44.laboratorium. Gambar 4 menunjukkan adanya peningkatan fluks seiring dengan peningkatan tekanan operasi.

. koefisien rejeksi Staverman (σ). dan viskositas (μ). konstanta permeabilitas (k). perbedaan tekanan osmotik (ΔΠ).akibat adanya peningkatan tekanan juga telah dirumuskan oleh Darcy pada persamaan 2 yang menghubungkan fluks (jv) dengan pressure drop (ΔP).

000 ppm dan tekanan 0.5 bar diperoleh rejeksi NaCl sebesar 83%. 1996]: dengan R adalah koefisien rejeksi (%) dan Cp serta Cf adalah konsentrasi zat terlarut dalam permeat dan Umpan Pengaruh tekanan operasi terhadap faktor rejeksi ditunjukkan pada Gambar 6 dan 7. Sedangkan pada umpan dengan konsentrasi yang sama dan tekanan 7 bar diperoleh rejeksi 92%. Pada umpan dengan konsentrasi NaCl 2. Rejeksi adalah ukuran kemampuan membran untuk menahan atau melewatkan padatan terlarut [Cheryan.000 ppm . Secara matematis rejeksi dinyatakan dengan [Mulder. 1986]. Pada gambar tersebut. terlihat adanya peningkatan rejeksi seiring dengan peningkatan tekanan operasi. Pada umpan dengan 2.250 ppm hingga 3. Gambar 6 menunjukkan pengaruh tekanan umpan terhadap rejeksi garam.Pengaruh tekanan terhadap rejeksi.

Peningkatan tekanan umpan menyebabkan rejeksi garam meningkat.5 bar. Semakin tinggi tekanan yang diberikan mengakibatkan garam yang melewati membran semakin banyak. Namun. . peningkatan tekanan mengakibatkan penurunan konsentrasi NaCl dalam permeat. sama halnya dengan rejeksi. Hal yang sama juga terjadi pada rejeksi TDS di dalam umpan seperti yang terlihat pada Gambar 7.5 bar menjadi 0. Namun terdapat batasan tertentu bagi jumlah garam yang dapat direjeksi untuk tekanan umpan yang digunakan. 2005]. Rejeksi maksimum rata-rata membran pada range tekanan 0. dkk. Hal ini terjadi karena peningkatan tekanan dapat meningkatkan rejeksi garam terlarut di dalam umpan. terjadi peningkatan rejeksi dari 0. pada titik tertentu tekanan tidak lagi berpengaruh pada konsentrasi NaCl dalam permeat.82 pada tekanan 5 bar.terjadi penurunan rejeksi setelah tekanan 6. Pengaruh dari tekanan terhadap jumlah NaCl dalam permeat dapat dilihat pada Gambar 8. Pada Gambar 8. Tekanan yang tinggi memaksa garam terlarut melewati pori-pori membran sehingga pada kondisi tersebut.66 pada tekanan 0. Pada umpan dengan konsentrasi 2. banyaknya NaCl di dalam permeat menjadi konstan.000 mg/L.5 bar hingga 7 bar diperoleh pada larutan umpan dengan konsentrasi 2.000 mg/L yaitu sebesar 90%. Hal ini terjadi karena umpan didorong melalui membran pada kecepatan tinggi sehingga garam yang berada pada permukaan membran ikut menembus membran bersama umpan [Kaliappan. Pengaruh tekanan terhadap kualitas produk Kualitas produk yang dihasilkan pada penelitian ini dilihat dari jumlah NaCl yang ada pada permeat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->