ARTIKEL JURNAL BAHASA DAN SASTRA Saturday, December 18th, 2010 | Author: hernawan PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA MELALUI

MODEL PENGALAMAN BERBAHASA TERKONSENTRASI1) Hernawan2) Abstrak: Hasil observasi di sekolah-sekolah menunjukkan kemampuan membaca siswa SMP masih tergolong rendah. Hal tersebut memperkuat temuan-temuan hasil penelitian tentang rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa SMP pada khususnya yang dilakukan oleh para ahli dan lembaga-lembaga yang meneliti kemampuan membaca. Berdasarkan kajian empiris dan studi literatur tersebutlah yang antara lain mendorong suatu penelitian dengan judul ―Peningkatan Kemampuan Membaca Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009)‖. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakanlah sebuah model mengajar pengalaman berbahasa terkonsentrasi (PBT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kemampuan membaca dan mengukur tingkat efektivitas model PBT dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia serta mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan model PBT. Hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan akhir membaca siswa SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta yang belajar dengan menggunakan model PBT dengan kemampuan akhir membaca siswa yang belajar dengan menggunakan model konvensional. Sesuai dengan tujuan di atas, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Desain metode eksperimen yang digunakan, yaitu Desain Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Akhir Beracak (The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design) yang diadopsi dari Fraenkel dan Wallen. Eksperimen dilaksanakan terhadap siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009, berjumlah 39 orang. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik tes, observasi, dan wawancara. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar kemampuan membaca siswa, yang kemudian diolah dengan teknik statistik. Teknik observasi dan wawancara digunakan untuk mengumpulkan data proses belajar mengajar menggunakan model PBT. Temuan dari penelitian yaitu menunjukkan bahwa rata-rata KEM siswa kelompok eksperimen setelah menggunakan model PBT adalah 137,54 kpm dengan kategori tinggi. Temuan lainnya yaitu adanya perbedaan yang signifikan antara tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen yang menggunakan model PBT dengan tes akhir kemampuan membaca kelompok kontrol yang menggunakan model konvensional. Hasil tersebut berdasarkan hasil penghitungan uji hipotesis yang menunjukkan thitung (7,15) > ttabel (1,99) pada p < 0,05 dalam dk=76, berada di luar daerah penerimaan maka H0 penelitian ini ditolak atau dengan kata lain kemampuan

membaca kelompok eksperimen berbeda secara signifikan dengan kemampuan akhir membaca kelompok kontrol siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model PBT telah menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Demikian pula, proses belajar mengajar menggunakan model PBT telah terbukti keberterimaannya. Kata Kunci: pengalaman berbahasa terkonsentrasi, membaca pemahaman Pendahuluan
1)

Diterbitkan dalam Jurnal FPBS UPI edisi Oktober 2009 Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI

2)

1 Membaca itu merupakan alat utama untuk mencapai kehidupan yang baik, tetapi masih banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek penting dalam kemampuan berkomunikasi yang perlu dikuasai. Pentingnya kegiatan membaca ini dikemukakan oleh Adler dalam Damaianti (2005:1) bahwa “reading is a basic tool in the living a good life”. 1 Tidaklah berlebihan jika pengajaran membaca perlu mendapatkan posisi yang sangat penting, karena dengan membaca kita dapat mengungkapkan rahasia alam sekitar. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa tidak semua pihak menyadari akan pentingnya membaca. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh penulis ditemukan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki kebergantungan pada membaca sebagai proses belajar. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, misalnya oleh IEA (1992) dan PISA (2003) menunjukkan kemampuan membaca dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kegiatan membaca masih rendah (Damaianti, 2005:2). Rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia memang bukan hanya isu, tapi didukung oleh bukti-bukti hasil penelitian lembaga-lembaga internasional yang bergerak dalam kajian membaca. Laporan World Bank dalam Education in Indonesia: From Crisis to Recovery (1988) yang mengutip hasil penelitian Vincent Greanary menyatakan bahwa kemampuan membaca (reading ability) anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling bawah bila dibandingkan dengan anak-anak Asia pada umumnya. Dalam hal ini kemampuan membaca anak-anak Indonesia berada di bawah anak-anak Filipina, Thailand, Singapura, dan Hong Kong.

Hasil penelitian terakhir yang dilaksanakan PISA (2003), dari 40 negara, Indonesia berada pada peringkat terbawah dalam kemampuan membaca. Tiga besar teratas diduduki Finlandia, Korea, dan Kanada. Bagi Indonesia, ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA, kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru berada pada tingkat satu. Artinya, hanya mampu memahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia. Kemampuan untuk menafsirkan, menilai, atau menghubungkan isi teks dengan situasi di luar terbatas pada pengalaman hidup di lingkungannya (Witdarmono, 2007). Berdasarkan hasil observasi pendahuluan penulis di lapangan, ditemukan masalah yang dihadapi oleh siswa tentang kemampuan membaca. Masalah yang ditemukan bukan hanya kemampuan membaca pemahaman (kemampuan kognisi) saja, kemampuan visual (kecepatan rata-rata membaca) pun menjadi masalah bagi siswa SMP. Menurut hasil observasi kemampuan membaca pemahaman yang paling sulit dialami siswa adalah kemampuan membaca pemahaman pada aspek analisis, sedangkan kesulitan yang dialami siswa pada kemampuan visual di antaranya kecepatan rata-rata baca yang sangat rendah. Masih hasil observasi, ditemukan tiga orang siswa SMP kelas VII yang kemampuan membacanya setaraf dengan kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar. Untuk mengatasi masalah kekompleksan membaca dan pembelajarannya tersebut, para ahli telah berusaha menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Sejak tahun 1970-an penelitian terhadap kegiatan membaca telah dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah mengapa beberapa anak-anak tidak bisa membaca. Mulai dari pendekatan bottom-up dan top down (Brown, 1994:283), hingga dewasa ini berkembang dengan pesat berbagai model pembelajaran membaca antara lain model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter), yang selanjutnya disingkat PBT. Model PBT adalah model belajar yang memiliki empat prinsip pokok yaitu 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok; 2) pembelajaran dengan model PBT adalah berjenjang (scafholding). Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru, kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi, apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan; 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. Apa yang dikatakan atau ditulis, dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya; dan 4) siswa belajar bahasa melalui jalan pikiran mereka dan mampu untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. Dari temuan-temuan observasi tersebut, penelitian ini dianggap penting untuk dilaksanakan karena alasan-alasan sebagai berikut. 1) selama ini isu tentang rendahnya kemampuan membaca siswa di Indonesia jangan hanya sebatas dijadikan wacana saja, tapi diperlukan adanya solusi dan langkah kongkret yang serius untuk mengatasinya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut; 2) rendahnya kemampuan siswa di SMP menurut hasil observasi awal dikarenakan pembelajaran siswa di sekolah sebatas membunyikan huruf-huruf saja atau istilah lainnya

decoding. Jadi, secara mekanis hanya melatih kemampuan visualnya saja, sedangkan kemampuan kognisinya kurang terpenuhi; 3) penelitian ini berusaha memberikan informasi bahwa kemampuan membaca yang baik dapat menunjang hidup seseorang ke arah yang lebih baik; 4) penelitian ini memberikan manfaat tentang hakikat kemampuan membaca yang sesungguhnya, sehingga siswa memperoleh pengalaman dan manfaat dari kegiatan membacanya; 5) penelitian ini berusaha memberikan solusi tentang langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa; 6) penelitian ini diharapkan dapat mengatasi masalah guru dalam memilih model pembelajaran membaca. Model PBT diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi kebingungan yang dihadapi guru dalam memilih model yang tepat; dan 7) model PBT yang diperkenalkan dalam penelitian ini merupakan model yang efektif yang sudah teruji keberhasilannya dalam peningkatan kemampuan membaca siswa di beberapa negara di Asia. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengukur tingkat kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP; (2) mengukur keefektifan model PBT untuk meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP; dan (3) memperoleh deskripsi tentang proses pembelajaran membaca bahasa Indonesia menggunakan model PBT di kelas VII SMP. Tinjauan Pustaka Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada dikemukakan oleh pakar pendidikan membaca yaitu Farr (1984) (dalam Harjasujana, 2006) dalam sebuah kalimat yang berbunyi „Read is the heart of education‘. Membaca merupakan jantungmya pendidikan. Betapa tidak, dengan membaca maka informasi-informasi dapat diserap pembaca secara leluasa. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang kompleks. Selain membutuhkan kemampuan visual untuk membaca lambang-lambang huruf menjadi bermakna, kemampuan kognitif untuk memahami bacaan pun diperlukan. Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif aktif. Reseptif artinya dengan membaca pembaca menerima berbagai informasi, ide, gagasan dan amanat yang ingin disampaikan penulis. Aktif artinya dalam kegiatan membaca pembaca melakukan kegiatan aktif menggunakan kemampuan visual dan kognitifnya untuk menafsirkan lambang-lambang yang dilihatnya sekaligus menginterpretasikannya sehingga isi bacaannya menjadi bermakna dan dapat dipahami. Dalam kegiatan membaca terjadi interaksi antara pembaca dan penulis secara tidak langsung. Akan tetapi, walaupun tidak langsung tetap bersifat komunikatif.

Mengenai definisi membaca telah banyak dikemukakan oleh beberapa orang pakar membaca. dari bacaan pembaca dapat menangkap ide. Gillet dan Temple (dalam Harjasujana dan Damaianti. Dengan demikian. Gates dalam Richardson (1995:65) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang lengkap. (2) motivasi. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognisi. (3) kebiasaan. Turner (1995:145) memberi definisi bahwa pemahaman meliputi apa pun yang berhubungan dengan aktivitas membaca. tetapi memberikan suatu gambaran yang sangat terbatas. Hodgson (Tarigan. yaitu (1) kepribadian. gagasan dan amanat yang hendak disampaikan oleh penulis. 1996:24) membaca pemahaman adalah memahami sebuah bacaan yang sama halnya dengan memecahkan persoalan dalam matematika. Membaca pemahaman yang baik memerlukan kecepatan membaca yang fleksibel. yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Jadi. ketika itu pula terjadi proses membaca. 1979:7) mengemukakan pendapatnya bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan. Menurut Thorndike (Whitehead. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Belum ada hasil penelitian yang mengutarakan bahwa pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang cepat pemahaman terhadap bacaannya kurang baik dibandingkan dengan pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat. Lebih jauh Turner mengungkapkan bahwa seseorang dikategorikan pembaca aktif apabila pembaca tersebut membawa pengetahuan dan pengalamannya ke dalam aktivitas membaca untuk membuat kesimpulan dan menerapkannya ke dalam kehidupannya. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. mulai dari definisi yang sempit hingga yang luas. dan (4) lingkungan di luar sekolah. 2003:6) berpendapat bahwa ‗reading is making sense of written language‟. Berikut ini beberapa definisi tentang membaca yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut. Turner mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman. karena membaca dilakukan secara aktif. sewaktu proses membaca berlangsung. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca. Turner pun mengungkapkan bahwa kecepatan membaca pun mungkin saja dapat mempengaruhi terhadap pemahaman. dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. Harjasujana (1997:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Tingkatan membaca pemahaman yang lebih tingginya lagi apabila pembaca terlibat dengan cara bertukar ide dengan penulis dalam hal ini pembaca membaca untuk sebuah tujuan yang khusus. Selain itu. Kedua kemampuan ini diperlukan untuk memerikan lambang-lambang huruf agar dapat dipahami dan menjadi bermakna bagi pembaca. selama itu pula terjadi komunikasi secara tidak langsung antara pembaca dengan penulis. . Hingga saat ini terdapat beberapa definisi tentang membaca pemahaman.

meliputi jenjang: (1) mengingat. termasuk pendidikan dan pengajaran membaca. Yang dijadikan landasan teori dalam penelitian ini adalah jenjang ranah kognitif yang dikemukakan oleh Harjasujana dan Mulyati. Jenjang literal meliputi aspek mengidentifikasi. (4) menganalisis. jenjang pertanyaan terjemahan dan jenjang interpretasi. Sesuai dengan masalah dan tujuan dalam penelitian ini. (5) menganalisis. (3) interpretasi. dan memprediksi. pertanyaan pada jenjang terjemahan tidak terlalu menuntut peserta tes untuk berpikir untuk memahami. (4) mengaplikasi. mengingat. . dan (7) mengevaluasi. mulai dari proses berpikir sederhana hingga proses berpikir yang paling kompleks. Kadar proses berpikir dalam menjawab pertanyaan jenjang terjemahan lebih rendah dari proses berpikir untuk menjawab pertanyaan jenjang interpretasi. dikenal pula taksonomi yang tidak kalah terkenalnya dari Benyamin S. Salah satunya yang diketahui sebagai taksonomi pemahaman yang terbaik menurut Turner adalah Taksonomi Barret (Turner. apresiasi. Selain Taksonomi Barret. menyimpulkan. Ketiga ranah tersebut dikenal dengan Taksonomi Bloom. sebenarnya merupakan bagian dari proses kognitif jenjang kedua. Menurut Bloom (1956). (6) mensitesis. yaitu jenjang terjemahan (kadarnya lebih rendah) dan jenjang interpretasi (yang kadarnya lebih mencerminkan proses pemahaman yang sesungguhnya). Harjasujana dan Mulyati (1997:89) membaginya menjadi tujuh jenjang. menganalisis. Bloom (1956) (dalam Harjasujana dan Mulyati. dan (6) mengevaluasi. Dalam kegiatan membaca terdapat dua komponen utama yang terlibat yaitu indera penglihatan untuk melihat lambang-lambang huruf. Tingkat inferensial meliputi kegiatan interpretasi. sehingga diperoleh kecepatan rata-rata membaca dan kemampuan kognitif untuk memahaminya. dan kritik. Ranah kognisi menurut Bloom terbagi ke dalam enam tingkat berpikir. ranah yang diukur dalam penelitian ini adalah aktivitas kognitif. Namun. ranah afektif. 1997:81) yang menyarankan tiga ranah dalam penilaian pendidikan dan pengajaran. yaitu meliputi: (1) mengingat. (3) mengaplikasi. sistem berpikir seseorang sebagai cermin dari kinerja kognisinya berjenjang-jenjang. Taksonomi Barret tersebut yaitu (1) literal.Upaya untuk menamakan dan mengklasifikasikan aspek-aspek pemahaman tersebut disebut taksonomi aspek pemahaman. dan mengorganisasi. Berbeda halnya dengan Bloom yang membagi ranah kognisi menjadi enam tataran. (2) terjemahan. dan (3) evaluasi. yakni jenjang pemahaman. 1994:150). Alasan Harjasujana membaginya menjadi tujuh jenjang tataran berpikir dalam anatomi pertanyaan kemampuan membaca karena pertanyaan membaca mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari jenis-jenis pertanyaan lain yang sifatnya umum. yang meliputi ranah kognitif. Menurut Harjasujana dan Mulyati. (2) memahami. (2) inferensial. (5) mensitesis. dan ranah psikomotor. Tingkat evaluasi meliputi penilaian. Atas perbedaan itulah Harjasujana dan Mulyati membagi lagi jenjang pemahaman Bloom menjadi dua klasifikasi.

dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. Kemampuan kognitif yang dimaksud adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Dengan kata lain. Harjasujana dan Mulyati (1997:56) mengemukakan pendapatnya bahwa yang disebut dengan kecepatan efektif membaca (KEM) ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. (3) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. 1997:59) mengemukakan enam hal yang dianggap penting dalam mempertimbangkan kesiapan membaca. (2) latar belakang pengalaman. Perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan membaca inilah yang oleh beberapa kalangan ahli membaca disebut dengan kecepatan efektif membaca atau disingkat KEM. KEM merupakan perpaduan kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Sementara itu. 1. dan (6) kematangan emosi dan sosial. yaitu: (1) fasilitas bahan. Pada tahap awal. (4) intelegensi. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness).7) mengemukakan formula yang bisa dijadikan tolok ukur kemampuan rata-rata membaca sebagai berikut. Jenjang Pendidikan SD/SMP SMA Mahasiswa Mahasiswa pascasarjana Orang dewasa (yang tidak sekolah (kata per menit/kpm) 200 250 325 400 200 Kecepatan rata-rata baca di atas dipadukan dengan batas minimal kemampuan kognisi dalam memahami bacaan. Harjasujana (1997:54-55) mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya oleh Harjasudjana dan Mulyati bahwa seseorang dikategorikan mempunyai kemampuan pemahaman yang baik apabila .Sehubungan dengan istilah kecepatan dan kemampuan membaca. pikiran. Kemampuan membaca disini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. (5) sikap dan minat. 5. 2. Harras dan Sulistianingsih (1997:3. Standar Minimal Kecepatan Membaca Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kecepatan Membaca No. 4. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Seseorang dapat dikatakan mempunyai kemampuan membaca yang baik jika ia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. 3. Burron dan Claubaugh (Harjasujana.

atau subsistem dari dunia nyata. Joyce dan Weil (1980:1) memberikan batasan bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan dalam menyusun kurikulum. tingkat SMP : 200 x 70% sampai dengan 250 x 70% = 140-175 kpm. 4. Pembelajaran merupakan proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar. dan 4) tingkat perguruan tinggi : 350 x 70% sampai dengan 400 x 70% = 140-175 kpm (Harjsudjana dan Mulyati. system. Model pembelajaran terdiri atas dua kata yaitu model dan pembelajaran.dapat memahami isi bacaan minimal 70%. 5. Model pembelajaran merupakan panduan bagi guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. (2000:13) proses mengajar adalah penciptaan atau penataan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat berinteraksi dan belajar bagaimana belajar. tingkat SMA : 250 x 70% sampai dengan 325 x 70% = 175-245 kpm. dan membimbing kegiatan siswa belajar. merancang . Semua model mencakup pemetaan dalam dimensi konseptual baru dari seperangkat elemen yang dipahami dalam situasi termodelkan. Dengan demikian. bila dihitung KEM-nya masingmasing akan menjadi: 1) 2) 3) tingkat akhir SD : 200 x 70% = 140 kpm. maka kualifikasi KEM untuk siswa SMP yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel berikut. 2. Kualifikasi Kecepatan Efektif Membaca untuk Siswa Jenjang SMP Rata-rata KEM No. – 104 Kualifikasi Tinggi sekali Tinggi Sedang/memadai Rendah/kurang memadai Rendah sekali Batasan-batasan tentang model pembelajaran banyak dikemukakan oleh para ahli. 1997:73). Berdasarkan beberapa pendapat di atas. Menurut Richards (1985:228) model adalah representasi konsep atau maujud yang dirancang secara khusus serta digunakan untuk menjelaskan struktur atau fungsinya. Dilworth dalam Rahman dan Sudaryat (2009:2) memberikan batasan bahwa yang disebut dengan model adalah representasi abstrak mengenai proses.berkomunikasi. 3. (dalam satuan kpm) 140 – … 133 – 139 119 – 132 105 – 118 …. Model digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Model bermanfaat dalam melukiskan alternatif dan analisis performansinya. 1. Sudjana (1975:7) memberikan batasan bahwa mengajar adalah menyampaikan ilmu. Menurut John Dewey (1916) dalam Joyce dkk.

2000:13) Dari beberapa pengertian tentang model pembelajaran di atas. program multimedia. dengan cara menerapkan serangkaian kegiatan tertentu secara sistematis. meningkatkan kepercayaan dirinya. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan.materi pembelajaran. 2002:1). Menurut Joyce dkk. Dalam pengajaran PBT ini. dan memandu tindakan guru di kelas (Joyce dkk. (2) model personal (the personal family). kursus.. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis. (2000:17-30) pada dasarnya terdapat empat rumpun model pembelajaran. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. siswa tidak mau bicara (Nusyirwan. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). ketrampilan. guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. dan (4) model perilaku (the behavioral models). Model mengajar merupakan deskripsi lingkungan belajar yang dapat digunakan sebagai rencana kurikulum. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. serta mampu bekerja secara kelompok. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. gagasan. serta mampu bekerja secara kelompok. berpikir kreatif. gagasan. (3) model sosial (the social family). dan member petunjuk di dalam kelas dan kegiatan lainnya. (Taroepratjeka. meningkatkan kepercayaan diri. siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. . guru memberi contoh dan menuntun. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. atau pelajaran untuk menyeleksi bahan ajar. berpikir kreatif. Selain itu. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. dan memahami ekspresinya. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. 2003). sekalipun pada awalnya. mereka mengemukakan bahwa model mengajar pada dasarnya adalah model pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. Kemudian. nilai-nilai. Selain itu. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau rencana belajar yang dapat membantu guru dan siswa dalam proses belajar mengajar untuk menyusun rencana pembelajaran dan memperoleh informasi. yaitu: (1) model pemrosesan informasi (the information processing family). cara berpikir.

serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. roman muka. Untuk lebih jelasnya. 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. serta nada suara dari guru atau temannya.Taroepratjeka (2002:3) menyatakan bahwa model PBT dikembangkan berdasarkan pada prinsipprinsip sebagai berikut. 3) mendiskusikan isi bacaan. 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis. Berdasarkan rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan sebelumnya. dari gerakan. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. Dengan demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. a) Tahap kesatu. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. Tahap 1 Tahap 4 Tahap 2 Tahap 5 Diagram Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima fase. Model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit. menganalisis jenis bacaan. Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. Apa yang dikatakan atau ditulis. Tahap 3 . Model PBT yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari pendapat Sisavanh (1997: 4) yang digambarkan dalam diagram berikut ini.

Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama. mendiskusikan isi bacaan.Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit . menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks. dan sebagainya. b) Tahap kedua. tokoh dalam wacana. siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. Selain itu. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. karakteristik tokoh. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya. d) Tahap keempat. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. Pada tahap ini. Pada tahap ini. Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Kegiatan pengembangan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. bahkan bila mereka tidak mau membaca. Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan. rangkaian kejadian dalam wacana. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. aktivitas bahasa dan elaborasi. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. e) Tahap kelima. c) Tahap ketiga.

Adapun desain metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Akhir Beracak (The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design). observasi. dan review). Sesuai dengan kebutuhan data-data yang diperlukan. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca.dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.. dan mengulang secara menyeluruh. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga teknik yaitu tes. yaitu satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Random O Pretest X2 O Treatment Posttest O Pretest X1 O Treatment Posttest . Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. Desain metode eksperimen dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan. question. 1993: 249) Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data. peneliti membentuk dua kelompok. menanyakan pada diri sendiri. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. reflect. Pada rancangan eksperimen ini. dan wawancara. read. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview. Kedua kelompok sampel ini ditentukan secara acak dengan cara diundi. recite. Treatment R group Random assignment Control R group assignment (Fraenkel dan Wallen. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. merefleksi.

Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis data (1) kemampuan visual. Populasi data penelitian yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah tujuh kelas. kemampuan visual kelompok eksperimen mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3.14 menit.Teknik yang digunakan untuk mengolah data dalam penelitian ini selain dengan menggunakan rumus-rumus statistik secara manual. dilakukan pengambilan sampel. yaitu (1) analisis data. dan (4) peningkatan kemampuan membaca. sedangkan program SPSS 15 for Windows digunakan untuk mengolah uji sifat data dan uji hipotesis penelitian. Dari hasil tersebut dapat kita bandingkan bahwa peningkatan kemampuan visual kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan peningkatan kemampuan visual kelompok kontrol. (2) uji sifat data dan (3) pengujian hipotesis penelitian. rata-rata kemampuan visual kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 0. Sumber data dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta.17 menit. Pembahasan Hasil Penelitian Pengolahan data hasil tes kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 dilakukan dengan empat langkah. yaitu satu kelas untuk kelompok eksperimen dan satu kelas untuk kelompok kontrol. (2) kemampuan kognisi. maka untuk keperluan sumber data yang dibutuhkan. Kemampuan Visual Dari data yang berhasil dikumpulkan. rata-rata kemampuan visual akhir kelompok kontrol tersebut sebesar 4.32 menit. Karena jumlah populasi penelitian tersebut terlalu banyak untuk diteliti.52 menit. (3) kemampuan membaca.41. Hal ini . 1) Analisis Data Kemampuan Membaca Siswa Kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 Analisis data yang dipajankan dalam penelitian ini meliputi analisis data kemampuan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta tahun 2008/2009. setelah diberikan perlakuan dengan pembelajaran secara konvensional. Program Excel digunakan untuk mencari validitas dan reliabilitas instrumen.93 menit. Rata-rata kemampuan visual awal kelompok kontrol adalah sebesar 4. juga digunakan program SPSS 15 for Windows dan Excel. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan cara diundi. diketahui bahwa rata-rata kemampuan visual awal siswa kelompok eksperimen adalah sebesar 6. Kemampuan Kognisi pada Kelompok Eksperimen Dari data rekapitulasi jawaban yang benar dan data persentase kemampuan kognisi pada tes awal dan tes akhir siswa kelompok eksperimen. Dengan kata lain. terdapat peningkatan kemampuan kognisi. Dengan kata lain. setelah mendapatkan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT rata-rata kemampuan visual akhirnya menjadi 3.

79% pada tes awal menjadi 63. yaitu (1) ingatan.03%.79% pada tes awal menjadi 62. terdapat peningkatan kemampuan kognisi.41 artinya kemampuan kognisi kelompok eksperimen meningkat dari saat tes awal.26 Tes Akhir 12. peningkatan kemampuan kognisi siswa pada kelas kontrol. (4) terapan. yaitu sebesar 7.82% pada tes akhir.10 artinya kemampuan kognisi kelompok kontrol meningkat dari saat tes awal.99 .36 d 0. sedangkan yang dimaksud kemampuan kognisi yang diukur dalam penelitian ini meliputi lima jenjang aspek pemahaman. Tes Awal 11.10 Kemampuan Membaca Siswa Kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 Sesuai dengan apa yang telah dikemukakan pada kajian pustaka. (2) terjemahan.41 Kemampuan Kognisi Siswa Kelompok Kontrol Dari data rekapitulasi jawaban yang benar dan data persentase kemampuan kognisi pada tes awal dan tes akhir siswa kelompok kontrol. Ada dua komponen utama yang terlibat di dalamnya yaitu kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Untuk lebih jelasnya terlihat pada tabel berikut. Hasil Uji Gain Kemampuan Kognisi Kelompok Kontrol Selisih perbandingan tes awal dan tes akhir kemampuan kognisi kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 0. kemampuan membaca yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan kecepatan efektif membaca (KEM) yang merupakan cerminan kemampuan membaca yang sesungguhnya.ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kemampuan kognisi dari yang semula 56. Jadi. peningkatan kemampuan kognisi siswa pada kelas eksperimen. Tes Awal 12.42%. Jadi.79 d 1. (3) interpretasi. dan (5) analisis. Hasil Uji Gain Kemampuan Kognisi Kelompok Eksperimen Selisih perbandingan tes awal dan tes akhir kemampuan kognisi kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 1. Untuk lebih jelasnya terlihat pada tabel berikut.21% pada tes akhir. yaitu sebesar 1. Yang dimaksud kemampuan visual siswa dalam penelitian ini adalah kecapatan siswa membaca wacana. d2 0. Besarnya peningkatan kemampuan kognisi siswa tersebut dapat dikethui dari hasil uji gain terhadap rata-rata tes awal dan tes akhir. Besarnya peningkatan kemampuan kognisi siswa tersebut dapat diketahui dari hasil uji gain terhadap rata-rata tes awal dan tes akhir. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kemampuan kognisi dari yang semula 61.38 Tes Akhir 12.01 d2 1.

Kemampuan Awal Membaca Kelompok Eksperimen Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 16) yaitu 54. artinya kemampuan konisinya baik. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa dikategorikan kurang baik.26%) orang mempunyai kemampuan rendah. Kemampuan Akhir Membaca Siswa Kelompok Eksperimen Setelah diberikan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT. (2) kemampuan akhir membaca siswa kelompok eksperimen. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 3. Kemampuan Awal Membaca Siswa Kelompok Kontrol Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini.38 (56.37 menit dan kemampuan kognisinya hanya dapat menjawab 1 soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan.28%).26 (61.32 menit. Pada tes awal.97%).27 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 16 soal dari 20 soal tes pemahaman bacaan dengan benar. dan 2 (5.76 kpm dengan kemampuan visualnya 5. Rata-rata skor tes akhir pada kelas eksperimen ini sebesar 12. dengan kata lain KEM akhir kelompok eksperimen dikategorikan tinggi. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 6. maka diketahui KEM akhir dari 39 orang siswa pada kelompok eksperimen mencapai rata-rata sebesar 137. (3) kemampuan awal membaca kelompok kontrol. KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 31) yaitu 96.81 kpm dengan kemampuan visualnya 8. KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 29) yaitu 209.17 menit. kemudian diberikan tes akhir. 4 (10. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa tergolong kurang baik. . dengan kata lain kemampuan awal kelompok kontrol berada dalam kategori rendah sekali.79 (63. Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 11.62%) orang siswa kemampuan membacanya rendah sekali. Rata-rata skor tes awal pada kelompok kontrol ini sebesar 12.13%) orang siswa mempunyai kemampuan sedang. diketahui bahwa dari seluruh siswa pada tes awal kelompok eksperimen ini diperoleh rata-rata KEM sebesar 59.42 kpm dengan kemampuan visualnya 2.28 kpm. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa masih kurang baik.43 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 16 (80%) soal tes pemahaman bacaan dengan benar.65 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 8 (40%) soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan.92%). secara keseluruhan diperoleh rata-rata KEM sebesar 81.80 kpm dengan kemampuan visualnya 4.93 menit.Hasil temuan kemampuan membaca yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi: (1) kemampuan awal membaca siswa kelompok eksperimen.54 kpm. Maka. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 08) yaitu 3. Artinya KEM awal siswa kelompok eksperimen yang berjumlah 39 (100%) orang siswa dikategorikan rendah sekali.15 kpm. (4) kemampuan akhir membaca kelompok kontrol. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 4. diketahui 33 (84. Pada hasil tes akhir.

Secara keseluruhan diperoleh rata-rata KEM sebesar 93.82%) orang siswa tergolong rendah. Kemampuan Akhir Membaca Siswa Kelompok Kontrol Setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan pembelajaran secara konvensional. 2 (5. Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 12. dan 26 (66. Peningkatan Kemampuan Membaca sebelum dan sesudah Pembelajaran dengan Model PBT SEBELUM PBT KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH SESUDAH PBT KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH F 0 0 0 0 39 39 % 0 0 0 0 100 100 F 21 2 2 4 10 39 % 53.79%.15 menit dan kemampuan kognisinya mencapai skor 15. KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 39) yaitu 131.26 25. meskipun mengalami peningkatan dari KEM awal 81.85 5. peningkatannya tidak begitu berarti.13 5.75 kpm dengan kemampuan visualnya 5.79 kpm dengan kemampuan visualnya 4. dengan kata lain kemampuan membaca siswa pada tes akhir kelompok kontrol ini tergolong rendah sekali.13 10. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 19) yaitu 53.13). Hasil tes akhir menunjukkan KEM tertinggi diraih oleh siswa 22) yaitu 152.15 kpm menjadi 93.64 100 .56%) orang siswa tergolong tinggi sekali.82%) orang siswa tergolong sedang. peningkatan kemampuan siswa kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut.12 dan 4. Jadi. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 4. dari data tes awal dan tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen (pada tebel 4. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa yaitu sebesar 61.36. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 19) yaitu 38. 5 (12.33 menit dan kemampuan kognisinya mencapai skor 9.13%) orang siswa tergolong tinggi.47 kpm dengan kemampuan visualnya 4.41 menit.61 kpm dengan kemampuan visualnya 6. Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelompok Eksperimen Untuk lebih jelasnya. kemudian kelompok kontrol tersebut diberi tes akhir.16 kpm. Hasil tes akhir kemampuan membaca pada kelompok kontrol ini menunjukkan sebanyak 1 (2.35 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 18 soal tes pemahaman bacaan dengan benar.67%) orang siswa tergolong rendah sekali.60 menit dan kemampuan kognisinya hanya dapat menjawab 4 soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan. 5 (12.16 kpm.Pada tes awal.

Sehingga.82%) orang siswa tergolong rendah. seluruhnya (100%) mengalami peningkatan kemampuan membaca.62 100 F 1 2 5 5 26 39 % 2. 4 (10.56 5. 2 (5. Dengan kata lain. maka KEM siswa mengalami peningkatan menjadi 137. diketahui kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa tanpa menggunakan model PBT 2 (5.56%) orang siswa kemampuan membacanya tergolong tinggi sekali.26 84. Artinya. 2 (5. Sebagaimana hasil uji gain yang telah dikemukakan pada tabel 4. Dari 39 siswa kelompok eksperimen.26%) orang siswa berkemampuan rendah. apabla dirata-ratakan KEM siswa mengalami peningkatan sebesar 78. pembelajaran dengan menggunakan model PBT secara keseluruhan meningkat dari rendah sekali menjadi tinggi. sebanyak 29 (71. dan 26 (66.Dari tabel di atas.13%) orang siswa berkemampuan tinggi. artinya tergolong tinggi.82 66.54 kpm. selisih perbandingan kemampuan tes awal dan kemampuan tes akhir kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan sebesar 78.64%) orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali. 2 (5.13%) orang siswa berkemampuan sedang. tetapi setelah diberikan pembelajaran membaca menggunakan model PBT.82 12. diketahui kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa sebelum menggunakan model PBT seluruhnya (100%) tergolong rendah sekali.79%) orang siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca.17 sebelumnya. Setelah diberikan perlakuan dengan pembelajaran membaca secara konvensional (tanpa model PBT) diperoleh hasil sebanyak 1 (2.82%) orang siswa tergolong sedang. Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelompok Kontrol Peningkatan kemampuan siswa kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut. Rata-rata KEM awal siswa mencapai 59. Peningkatan Kemampuan Membaca sebelum dan sesudah Pembelajaran tanpa Model PBT SEBELUM KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH SESUDAH KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH F 0 0 2 4 33 39 % 0 0 5. sedangkan kemampuan akhirnya setelah menggunakan model PBT sebanyak 21 (53.13%) orang siswa tergolong tinggi. dan sisanya sebanyak 33 (84. dan sisanya sebanyak 10 (25. 5 (12.28 tergolong rendah sekali.62%) orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali. 4 (10.13 10. 5 (12.67 100 Dari tabel di atas.26 kpm.85%) orang siswa mempunyai kemampuan membaca tinggi sekali.26 kpm.26%) orang siswa berkemampuan rendah.67%) orang siswa .13 12.13%) orang siswa tergolong sedang. Artinya kemampuan membaca pada tes akhir kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tes awal.

Dari deskripsi data peningkatan kemampuan membaca kelompok eksperimen dan kelompok kontrol di atas.28 kpm.01 kpm. Untuk lebih jelasnya.15 kpm menjadi 93.26 kpm. berdasarkan hasil uji gain pada rata-rata tes awal KEM kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini. perbandingan tes awal kelompok eksperimen dan tes awal kelompok kontrol serta tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen dan tes akhir kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik berikut ini.15 kpm dan kelompok eksperimen sebesar 59. Artinya.23%) orang siswa yang mengalami peningkatan KEM. Selisih perbandingan kemampuan membaca antara tes awal dan tes akhir kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 12. terdapat peningkatan kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa tanpa menggunakan model PBT.berkemampuan membaca rendah sekali. Jadi. meskipun terdapat sedikit peningkatan kemampuan membaca. Berbeda halnya dengan peningkatan KEM yang terjadi pada kelompok eksperimen yaitu sebesar 78. KEM siswa pada kelompok kontrol ini pun mengalami peningkatan. hanya peningkatannya sedikit yaitu 12.87 sebesar 81. secara keseluruhan kemampuan membaca pada kelompok kontrol tersebut masih tergolong rendah sekali.21%) orang siswa justru mengalami penurunan KEM. Dari 39 siswa kelompok kontrol terdapat 27 (69. Tes Awal Tes Awal Perbandingan tes akhir KEM pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik beikut. Secara keseluruhan. Grafik Perbandingan Tes Awal KEM pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari grafik di atas terlihat bahwa tes awal KEM kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan kelompok eksperimen. dan 1 (2. 11 (28.16 kpm.87 kpm yang menunjukkan bahwa tes awal KEM kelompok kontrol lebih tinggi daripada kolompok eksperimen.56%) orang siswa KEM-nya tetap.15 59.28 21. Grafik Perbandingan Tes Akhir KEM . Jadi.01 kpm. dapat disimpulkan terdapat perbedaan sebesar 21. Selisih Rata-Rata Tes Awal KEM Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari tabel di atas diketahui bahwa rataSelisih rata tes awal KEM Kelas Kontrol Kelas Eksperimen kelompok kontrol 81. dari yang semula rata-rata KEM siswa sebesar 81.

151 0.55 0. 1. Selisih Rata-Rata Tes Akhir KEM Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari tabel di atas diketahui bahwa ratarata tes akhir KEM 44. Untuk lebih jelasnya. Uji sifat data ini meliputi uji normalitas data.496 -0. 1.38 kpm yang menunjukkan bahwa tes akhir KEM kelompok kontrol lebih tinggi daripada kolompok eksperimen. 1.16 kpm dan kelompok eksperimen sebesar 137.67 -0. Variabel tes awal KEM kelompok eksperimen tes akhir KEM kelompok eksperimen skor tes awal kelompok eksperimen skor tes akhir kelompok eksperimen tes awal KEM kelompok kontrol tes akhir KEM kelompok kontrol Ukuran kurtosis 0. dan analisis regresi.006 -1.38 kelompok kontrol sebesar 93. diadakan penilaian terhadap data kurtosis yang dihasilkan dari olahan program SPSS 15 for windows dengan cara mengubah ukuran tersebut ke dalam angka angka rasio kurtosis. Tes Akhir Kelas Kontrol 93.54 Selisih 2) Uji Sifat Data Pengujian sifat data ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan pengujian data secara kuantitatif.52 -0. uji homogenitas data. berdasarkan hasil uji gain pada rata-rata tes akhir KEM kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini. Uji Normalitas Data Untuk menguji normalitas data.99 -0.738 -0. 1. Jadi.54 kpm. 1. Berdasarkan hasil penghitungan statistik. Hasil Uji Normalitas Data No.008 1.pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari grafik di atas terlihat bahwa tes akhir KEM kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. dapat disimpulkan terdapat perbedaan sebesar 44. didapat hasil uji normalitas seperti yang tertera dalam tabel berikut.389 -0. 1.16 Tes Akhir Kelas Eksperimen 137.67 Interval -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 Tafsiran Normal Normal Normal Normal Normal Normal .38 Rasio kurtosis -0.

regresi linier untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam tabel berikut ini.05 1.18 1.79 dk 1 37 38 RJK 5358.76 39 39 39 39 homogen homogen homogen homogen N Tafsiran Analisis Regresi Tujuan dilakukannya analisis regresi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat data.33 1. Berdasarkan hasil penghitungan statistik. skor tes awal kelompok -0. 2.15 1.14 10818. Jika varian antarkelompok yang hendak dicari reratanya itu homogen.850 kontrol skor tes akhir kelompok 0.76 1.69 1.65 16176. Hasil Uji Homogenitas Varian Ftabel No.33 4. Tes Awal KEM Eksperimen-Kontrol Tes Akhir KEM Eksperimen-Kontrol Skor Tes Awal Eksperimen-Kontrol Skor Tes Akhir Eksperimen-Kontrol Fhitung p < 0. bagaimana hubungan antara tes awal (variabel X) dan tes akhir (variabel Y) pada masing-masing kelompok (eksperimen dan kontrol).76 1.67 – 1.67 – 1.147 -0. homogenitas data dalam penelitian ini terlihat dalam tabel berikut.67 – 1. 4. berarti perbandingan itu dilakukan secara adil. Daftar Analisis Variansi Regresi Linier Kelompok Eksperimen Ftabel Model Regresi Residu Jumlah JK 5358.76 1. 1. 3.11 linier Tafsiran .14 292. Pasangan Variabel 1.423 kontrol -1.05 18. Berdasarkan hasil analisis regresi menggunakan program SPSS 15 for Windows.67 – 1.40 Fhitung P < 0.1.571 -2 dan +2 -2 dan +2 Normal Normal Uji Homogenitas Pengujian homogenitas merupakan salah satu asumsi yang harus dipenuhi untuk dapat menguji perbedaan dua rata-rata atau untuk melakukan analisis varian.

21 7. berikut disajikan hasil uji beda rata-rata (uji-t). dapat disimpulkan bahwa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol hubungan antara tes awal dan tes akhir bersifat linier dengan persamaan regresi yang signifikan.60 dan nilai Ftabel dalam distribusi F pada tingkat kepercayaan p = 95% menunjukkan nilai 4.37 31.33 dan nilai Ftabel dalam distribusi F pada tingkat kepercayaan p = 95% menunjukkan nilai 4.60 4.11 linier Tafsiran Pada tabel 4. Dengan demikian. Hal tersebut mengandung arti bahwa tes awal dan tes akhir pada kelompok eksperimen mempunyai hubungan yang linier.Pada tabel di atas terlihat bahwa Fhitung sebesar 18.39 dk 1 37 38 RJK Fhitung P < 0.15 s (varian) 1990. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata untuk Data Kemampuan Tes Akhir No Sampel 1 Eksperimen 2 Kontrol Varians total t hitung Rata-rata 137. nilai Fhitung lebih besar daripada nilai Ftabel. Dari hasil uji regresi di atas.29 terlihat bahwa Fhitung sebesar 31. Pengujian Hipotesis Penelitian Untuk menguji hipotesis penelitian tersebut. nilai Fhitung lebih besar daripada nilai Ftabel.05B1. Daftar Analisis Variansi Regresi Linier Kelompok Kontrol Ftabel Model Regresi Residu Jumlah JK 8764. uji kesamaan dua rata-rata untuk data kemampuan membaca pada tes akhir antara kelompok eksperimen yang menggunakan pembelajaran model PBT dengan .05 8764. dengan persamaan regresi A2=129. dengan persamaan regresi B2 = 89. Dengan kata lain. Dengan demikian. Hal ini pun menunjukkan bahwa garis reresi signifikan dan dapat dipakai sebagai alat peramal untuk variabel tak bebas pda taraf nyata α = 0. Hal tersebut mengandung arti bahwa tes awal dan tes akhir pada kelompok kontrol mempunyai hubungan yang linier. Dengan kata lain. nilai tes awal pada kelompok kontrol dapat digunakan untuk meramalkan nilai tes akhir pada kelompok kontrol.19 4.70 19027.05.54 93.69 10262.29 berikut ini. nilai tes awal pada kelompok eksperimen dapat digunakan untuk meramalkan nilai tes akhir. Hal ini pun menunjukkan bahwa garis regresi signifikan dapat dipakai sebagai alat peramal untuk variabel tak bebas pda taraf nyata α = 0.13A1.11.11.10+0.16 1766. Analisis variansi regresi linier kelompok kontrol dapat terlihat pada tabel 4.05.26 n (banyaknya data) 39 39 Berdasarkan hasil uji t-test.82+0.69 277.

Model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). guru memberi contoh dan menuntun.99.15) > ttabel (1.99 76 -1. Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Data Kemampuan Membaca pada Tes Akhir antara Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol ttabel Pasangan Variabel n Kemampuan akhir kelompok eksperimen39 kemampuan akhir kelompok kontrol thitung p <0. dapat dilihat pada tabel berikut.05 dk Daerah Penerimaan H0 Tafsiran 7. Dengan demikian t(1/2α)(n1 + n2 – 2) = t(0.05)(76).99 < t < 1. Karena thitung (7.kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran secara konvensional. .05. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). (Taroepratjeka.10) = 0.10% maka peluang untuk t tabel adalah ½α = ½(0. Pembelajaran Membaca Menggunakan Model Mengajar Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok.15 1. 2002: 1). Banyaknya data kelompok eksperimen adalah 39 dan banyaknya data untuk kelompok kontrol adalah 39 sehingga dk = 39 + 39 – 2 = 76.99 < t < 1. atau dengan kata lain rata-rata nilai kemampuan tes akhir kelompok eksperimen berbeda secara signifikan dengan rata-rata kemampuan tes akhir kelompok kelompok kontrol. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri.99) pada p < 0.99. Dengan kata lain. Berdasarkan rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan sebelumnya. dari tabel t didapat 1.05 dalam dk=76 berada di luar daerah penerimaan maka H0 ditolak dan H1 diterima. model PBT ini efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. Untuk α = 0. Daerah penerimaan H0 yaitu : -1.99 Signifikan Dari perhitungan di atas didapat t hitung yaitu 7. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. Makna dari hasil pengujian hipotesis penelitian ini yakni bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% kemampuan membaca dengan menggunakan model Concentrated Language Encounter berbeda secara signifikan dengan kemampuan membaca dengan pembelajaran membaca secara konvensional.15.

sekalipun pada awalnya. siswa tidak mau bicara (Nusyirwan. guru memberi contoh dan menuntun. meningkatkan kepercayaan dirinya. berpikir kreatif. siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. Selain itu. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. 1. berpikir kreatif. (Taroepratjeka. 2003). meningkatkan kepercayaan diri. 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis. sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. 1. Selain itu. 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). 2002: 1). Prinsip-prinsip yang mendasari model ini. Apa yang dikatakan atau ditulis. serta mampu bekerja secara kelompok. berikut ini disajikan tentang pembelajaran membaca menggunakan Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter). serta mampu bekerja secara kelompok. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. Berdasarkan pembahasan tentang hakikat model pembelajaran di atas. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. Orientasi Model Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. Dalam pengajaran PBT ini. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. yaitu 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. Dengan . menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain.Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing. guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran terprogram. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan.

Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama. menganalisis jenis bacaan. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. Berdasarkan rumpun model pembelajaran. dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran sebagai upaya untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. dan sebagainya. rangkaian kejadian dalam wacana. 1. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. 2. b) Tahap kedua. roman muka. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. dari gerakan. a) Tahap kesatu. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Model PBT dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. serta nada suara dari guru atau temannya. bahkan bila mereka tidak mau membaca. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. Model Pembelajaran 1) Langkah-langkah Pembelajaran (Syntax) Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima langkah pembelajaran. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. Kegiatan pengembangan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. 3) mendiskusikan isi bacaan. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. . karakteristik tokoh. tokoh dalam wacana. Pada tahap ini. Untuk lebih jelasnya. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis.demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya.

Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. serta mampu bekerja secara kelompok. read. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. mengungkapkan sesuatu. Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks. Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. berpikir kreatif. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan.Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan. Selain itu. mendiskusikan isi bacaan. pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Pada tahap ini. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview. recite. c) Tahap ketiga. Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. aktivitas bahasa dan elaborasi. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. merefleksi. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. . menanyakan pada diri sendiri. dan mengulang secara menyeluruh. dan review). menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. e) Tahap kelima. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. reflect. d) Tahap keempat. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. 2) Sistem Sosial (Social System) Pola hubungan antara guru dengan siswa dalam pelaksanaan model PBT ini diharapkan guru memiliki kesabaran dalam membimbing siswa mengembangkan kemampuannya. question. meningkatkan kepercayaan dirinya.

d) Pada tahap menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Guru pun perlu memiliki pemikiran yang fleksibel dan mampu menghargai pemikiran dan pendapat siswa yang belum tentu sesuai dengan pemikirannya. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. 4) Sistem Penunjang Yang menjadi penunjang keefektifan model PBT ini di antaranya tersedianya ragam bacaan yang bervariasi dan dapat menyalurkan minat membaca siswa. guru memberi tanggapan atas pendapat yang disampaikan siswa. Ragam bacaan yang menjadi penunjang model PBT ini adalah ragam bacaan yang dapat mengembangkan kemampuan visual dan kognisi siswa. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Guru menanggapi hasil analisis siswa dan memberikan umpan balik. c) Pada tahap mendiskusikan isi bacaan. guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. 3) Prinsip-prinsip Reaksi Prinsip reaksi yang diberikan oleh guru terhadap perilaku siswa selama pembelajaran menggunakan Model PBT adalah sebagai berikut. bahkan bila mereka tidak mau membaca. guru mengarahkan siswa untuk membaca sebuah bacaan. Selain itu. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi.Fungsi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran menuntut guru agar dapat membiasakan diri dan sabar mendengarkan serta memahami pendapat siswanya sesuai dengan kebutuhan siswa. a) Pada tahap menganalisis jenis bacaan. guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. e) Pada tahap aktivitas bahasa dan elaborasi. pada tahap ini guru mengarakhan siswa untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian guru member komentar terhadap kegiatan berbahasa siswa. 1. guru membimbing siswa untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. 3. guru mengarahkan siswa untuk dapat melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Penerapan Model . kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. b) Pada tahap menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri.

Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 3. 2) setelah diberikan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa termasuk pada kualifikasi kurang baik. memiliki kepercayaan diri. penelitian ini telah memperoleh kesimpulan berkenaan dengan peningkatan kemampuan membaca menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter). kemampuan visual dan kemampuan kognisi siswa. Dampak pembelajaran yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan kreativitas. Secara terperinci dapat dijelaskan bahwa kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa sebelum menggunakan model PBT seluruhnya (100%) tergolong rendah sekali.13%) orang siswa berkemampuan sedang. dan sisanya sebanyak 10 (25.79 (63. Rata-rata skor tes akhir pada kelas eksperimen ini sebesar 12.85%) orang siswa mempunyai kemampuan membaca tinggi sekali.79%) orang siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca. Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh simpulan sebagai berikut.28 kpm. Lebih khusus lagi. 4. Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 11. dengan kata lain KEM akhir kelompok eksperimen dikategorikan tinggi. 2 (5. Artinya KEM awal siswa kelompok eksperimen yang berjumlah 39 (100%) orang siswa dikategorikan rendah sekali.78 (56. Dampak penyerta lainnya yaitu siswa memiliki kemampuan berinteraksi dengan guru dan siswa dengan baik. dan menghargai pendapat orang lain. Dampak Instruksional dan Dampak Penyerta Dampak pembelajaran yang diharapkan dari penggunaan model PBT ini adalah kemampuan siswa dalam membaca bacaan bahasa Indonesia yang sangat memadai. 29 (71.17 menit.97%). kemudian diberikan tes akhir.54 kpm.64%) . Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh secara empirik pada saat penelitian ini berlangsung. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa masih kurang baik. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 6. sedangkan kemampuan akhirnya setelah menggunakan model PBT diperoleh data sebanyak 21 (53.26%) orang siswa berkemampuan rendah.32 menit. mandiri.13%) orang siswa berkemampuan tinggi.92%). 4 (10. penelitian ini secara keseluruhan telah mencapai tujuannya yaitu mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas VII SMP Negeri 1 Wanayasa. 1. maka diketahui KEM akhir dari 39 orang siswa pada kelompok eksperimen mencapai rata-rata sebesar 137. 3) adanya peningkatan kemampuan membaca yaitu dari 39 orang siswa.Model PBT dalam penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. 2 (5. 1) dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata KEM awal siswa kelompok eksperimen sebesar 59. Model PBT pun dapat diterapkan di SD dan SMA dengan adaptasi seperlunya bergantung permasalahan siswa yang dihadapi. berpikir logis.

15) > ttabel (1. Makna dari hasil pengujian hipotesis penelitian ini yakni bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% kemampuan membaca dengan menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) berbeda secara signifikan dengan kemampuan membaca dengan pembelajaran membaca secara konvensional. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diharapkan dalam pembelajaran membaca menggunakan model PBT. 6) proses pembelajaran dengan menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) telah menapai kurang lebih 95. Oleh karena itu.05 dalam dk = 76 berada di luar daerah penerimaan maka H0 ditolak atau dengan kata lain rata–rata nilai kemampuan tes akhir kelas eksperimen berbeda secara signifikan dengan rata–rata kemampuan tes akhir kelas kelas kontrol. Dengan kata lain guru sangat memahami langkah-langkah pembelajaran model tersebut dengan baik. 5) dilihat dari hasil akhir kemampuan membaca siswa kelas eksperimen. Setelah dipersentasekan hasil obervasi terhadap kegiatan siswa dalam pembelajaran membaca dengan menggunakan model PBT mencapai kurang lebih 86. penulis menyarankan kepada guru-guru bahasa Indonesia di SMP . pembelajaran membaca dengan menggunakan model PBT secara keseluruhan meningkat dari rendah sekali menjadi tinggi. Saran Berdasarkan hasil temuan-temuan dalam penelitian ini. Dengan kata lain.orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali.67%. dan 8) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa secara signifikan. Dengan kata lain. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut. model PBT ini efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. 4) dari hasil uji hipotesis secara statistik diperoleh nilai thitung (7. Artinya. Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa telah mengikuti kegiatan pembelajaran membaca menggunakan model PBT dengan cukup baik. penulis perlu menyampaikan beberapa saran sehubungan dengan upaya peningkatan kemampuan membaca siswa di SMP. Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa.65%. 7) pada umumnya siswa mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model PBT dengan cukup baik. model pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat mengatasi permasalahan utama dalam penelitian ini yaitu rendahnya kemampuan membaca siswa di SMP Negeri 1 Wanayasa. Dengan diterapkannya model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter kemampuan membaca siswa dapat meningkat dari kategori rendah sekali menjadi tinggi. 1) setelah dieksperimenkan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) terbukti secara empirik efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP.99) pada p < 0.

S. V. Membaca dalam Teori dan Praktik.R. Furqon.agar model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran membaca untuk meningkatkan kemampuan membaca. Y.E. N.co. J. 2005. 1998. Membaca Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. com/setak/2006/082006/19/wacana.S. 1994. Untuk dapat menerapkan model ini dengan lebih baik. 1993. ―Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Meningkatkan Motivasi Membaca‖ Makalah FPBS UPI: tidak diterbitkan Destefano. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language pedagogy. dan Mulyati. ―Pentingnya Kedudukan Membaca‖. New York: Willy. D. . 1997. Statistika Terapan untuk Penelitian. A. Damaianti. 3) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) ini perlu diujicobakan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa menyimak. 2003.id/news. How to Design and Evaluate Research in Education. Language. S. 2006. Pustaka Rujukan Amin. www.pikiranrakyat. Bandung: Mutiara Harjasujana. http.S. disarankan agar model tersebut diujicobakan pada populasi yang lebih luas.fajar. Harjasujana. Masyarakat dan Bangsa. A. V. 1997. dan 4) untuk dapat mengetahui keefektifan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) lebih komprehensif. 2005. Bandung: CV Alfabeta. A.htm Harjasujana. New Jersey: Prentice Hall Regent.//www. Fraenkel. guru perlu dilatih untuk menerapkan model ini sesuai dengan prinsip dan tujuan model pembelajaran ini. dan menulis. Membaca untuk Transformasi Diri. Jakarta: PT Rineka Cipta. Inc.S. dan Damaianti. J. 2) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) ini perlu diujicobakan secara lebih luas lagi di jenjang SMP.S.php?newsid=6025 – 50k Arikunto. the Learner and the School. Brown. berbicara. 1981. & Wallen.S. New York: McGraw-Hill. I.

1997. Y. Sistem Pendidikan Nasional Dan Peran Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan. Rahman dan Sudaryat. 1984. ―Concentrated Language Encounter‖: http://www. 1997. 2003. Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud. dan Sulistianingsih. E. Bandung: ABA Yapari. Sudjana. 2005. Membaca 1. 1997. Jakarta: Balai Pustaka. Pearson. How to Teach Reading. M.govritje. 253 Iskandarwassid dan Sunendar. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: CV Diponegoro.. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Commpany. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kuswari. L. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Laporan Penelitian JPBD FPBS UPI: tidak diterbitkan Rattavanich. 1984.D. & Calhoun. 1982. Bandung: SPs UPI dan PT Rosda Karya. 1982. N. Models of Teaching. Wayne. ―Literacy in Thailand Project: A Lighthouse Project in Asia”. S. 2003. Dixielee. Sisavanh. Weil. D. Y. Subino. Bimbingan Skripsi. Rusyana. Otto. 1997. P.www. L. Handbook of Reading Research. Sukmadinata. Rude. Nusyirwan. ―Concentrated Language Encounter as a Starting Point to Improving Literacy in Laos PDR‖. 2000. 2009. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Tarsito.org/english/pdf/bali-seminar/Sistim%20Pendidikan%20 Nasional%20%20ki%20supriyono.Harras. Boston: Allyn and Bacon.pdf.lfip. 2007. U. B. 1979. ―Model Group Mapping Activity (GMA) dalam Pembelajaran Membaca‖.A. K. Bandung: PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya. Metoda Statistika. Supriyoko. Joyce.pdf .S. Laporan Penelitian. compdfdistric02%20%20CLE%20+%20Wacana. Metode Penelitian Pendidikan. 2008. Robert & Spiegel. ―Model-Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra‖. New York: Longman. K.

H. Bandung: SPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya. Seni Membaca untuk Studi. Portsmounth. 2002.Pd. H.Suyanto dan Djihad. Witdarmono. M. —— 1994. Pedoman Guru untuk CLE: Pengajaran untuk Pemula (terjemahan dari Leteracy Teaching in Developing Countries: Turning Failure Into Success: A Teacher‟s Manual for Teaching of Beginners). S. C. Reading Strategis and Practise: a Compendium. 2007. 1992. Membaca dan Agresivitas. Syamsuddin.. 2000. www. adalah staf pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS Universitas Pendidikan Indonesia.kompas. Bandung: Angkasa. Bandung: Angkasa. Turner. 1995. Widyamartaya. Membaca Ekspresif. AR dan Damaianti. Taroepratjeka. T. H. Yogyakarta: Kanisius. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Category: artikel . Reading Process and Practicse.Pd.com/kompas-cetak /0609/08/opini/2937720. Universitas Pendidikan Indonesia. A. V. 1979. 2006. Tarigan. 1988.htm – 42k Riwayat Hidup Penulis Hernawan. PP.N.G. Bandung: UPI Weaver. Membaca. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. NH: Heineman.S.

yaitu menganalisis jenis bacaan. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. memang bukan hanya isu. 2010 | Author: hernawan MODEL PENGALAMAN BERBAHASA TERKONSENTRASI DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA Abstrak: Dalam tulisan ini dipaparkan tentang Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca. Isinya sederhana saja. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok. Pentingnya aspek membaca terbukti dengan doktrin pendidikan yang terasa getarannya ke setiap penjuru dunia yang dikenal dengan kembali ke dasar (go back to basic). menulis dan berhitung (reading. and arithmetic) yang kemudian dikenal dengan 3R‘s (Suyanto. Kata Kunci: Pengalaman. Isu tentang rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia telah berkembang sejak lama. mulai dari kegiatan berbahasa yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. dan berhitung). Membaca itu merupakan alat utama untuk kehidupan yang baik. dan aktivitas bahasa dan elaborasi. Laporan World Bank dalam Education in Indonesia: From Crisis to Recovery (1988) yang mengutip hasil penelitian Vincent Greanary menyatakan bahwa kemampuan membaca (reading ability) anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling bawah bila . Hal tersebut. Di Indonesia dikenal dengan istilah calistung (membaca. Membaca. guru memberi contoh dan menuntun. mendiskusikan isi bacaan.PROSIDING SEMINAR INTERNASIONAL JURDIKSATRASIA Wednesday. masih banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya kegiatan membaca untuk menunjang kehidupannya ke arah yang lebih baik. December 15th. writing. yang dicetuskan oleh Amerika Serikat pada tahun 1957. Akan tetapi. yaitu membaca. PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). 2000: 89). menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. tapi didukung oleh bukti-bukti hasil penelitian lembaga-lembaga internasional yang bergerak dalam kajian membaca. Supriyoko (2003) mengungkapkan kemampuan membaca siswa Indonesia tidak memperlihatkan prestasi yang membanggakan. Pentingnya kegiatan membaca ini dikemukakan oleh Adler dalam Damaianti (2005: 1) bahwa “reading is a basic tool in the living a good life”. Terkonsentrasi Pendahuluan Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek penting dalam kemampuan berkomunikasi yang perlu dikuasai oleh orang-orang yang ingin berhasil dalam kehidupannya. Pembelajaran menggunakan model tersebut dilakukan melalui lima fase. menulis.

Dalam hal ini kemampuan membaca anak-anak Indonesia berada di bawah anak-anak Filipina. atau menghubungkan isi teks dengan situasi di luar terbatas pada pengalaman hidup di lingkungannya (Witdarmono. Singapura. pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi. ‗literat‘. Iliterasi berarti ketidakmampuan membaca. Kemampuan untuk menafsirkan. dan menulis. Literasi ialah kemampuan membaca. guru pun mengalami kesulitan dalam menerapkan strategi pembelajaran. Aliterasi kerarti kekurangan sikap membaca. 2008:9). Reseptif artinya dengan membaca pembaca menerima berbagai informasi. Program tersebut dirancang untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas mental dan intelektual secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa Indonesia yang terdiri atas keterampilan menyimak. Artinya. skor tingkat membaca anak-anak Indonesia yaitu 51.0). Korea. Thailand. Iliterat adalah bentuk adjektiva yang berarti tidak bisa membaca. gagasan dan amanat yang ingin disampaikan . ide. Indonesia berada pada peringkat terbawah dalam kemampuan membaca.5 juta atau 9. yaitu pengajaran. 2003: 31-32) Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif aktif.dibandingkan dengan anak-anak Asia pada umumnya. (Iskandarwassid. ‗iliterasi‘. tingkat melek huruf pada orang dewasa (di atas 15 tahun) di Indonesia sekitar 15. No 16369-IND dan Studi IEA di Asia Timur. dan Kanada.1) dan Singapura (74. Tiga besar teratas diduduki Finlandia. Menurut data terbaru dari Depdiknas. berbicara.6). kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru berada pada tingkat satu. dan Hong Kong. Bagi Indonesia. Berdasarkan pemaparan di atas. hanya mampu memahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia.20 persen. penulis ingin mengemukakan sebuah alternatif pembelajaran membaca bahasa Indonesia berbasis pengalaman berbahasa terkonsentrasi (selanjutnya disingkat PBT) Membaca Pemahaman Dalam membaca. dari 40 negara. Menurut laporan Bank Dunia. Thailand (65. dan aliterat‘. ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 9) memberi definisi strategi pembelajaran sebagai kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai dari perencanaan. ‗aliterasi‘. Selain siswa. Menurut penelitian lembaga IEA terhadap daya baca di 41 negara. membaca. sedikitnya ada enam kata yang harus dikenal yaitu ‗literasi‘.7 berada di bawah Filipina (52. Aliterat merupakan bentuk adjektiva kata aliterasi (Harjasujana dan Damaianti. Lebih lanjut diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran bahasa Indonesia yaitu pola keterampilan pembelajaran yang dipilih dosen atau pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia. Hasil penelitian terakhir yang dilaksanakan PISA (2003). ‗iliterat‘. Indonesia berada di peringkat ke-39. serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. 2007). menilai. Literat adalah bentuk adjektiva yang berarti dapat menulis dan membaca dalam suatu bahasa.

2003: 42-62) mengungkapkan bahwa ada delapan aspek yang terlibat dalam kegiatan membaca. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. pengalaman. Kegiatan pemahaman bacaan berkaitan dengan proses berpikir. Pemahaman terhadap gagasan pokok yang ada dalam sebuah teks bacaan merupakan inti dari kegiatan membaca. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. Aktif artinya dalam kegiatan membaca pembaca melakukan kegiatan aktif menggunakan kemampuan visual dan kognitifnya untuk menafsirkan lambang-lambang yang dilihatnya sekaligus menginterpretasikannya sehingga isi bacaannya menjadi bermakna dan dapat dipahami. sekuensial. dan berafeksi. Langkah ini menunjukkan bahwa siswa harus belajar dan belajar membaca secara perlahan tapi pasti untuk meraih hakikat membaca yang sesungguhnya. belajar. tapi juga merupakan sintesis faktor visual dan nonvisual. hanya dapat diuji. Turner (1995:145) memberi definisi bahwa pemahaman meliputi apa pun yang berhubungan dengan aktivitas membaca. Kecepatan membaca yang fleksibel merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki siswa dalam kegiatan membaca. karena membaca dilakukan secara aktif. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Kemampuan memahami tidak dapat dilihat. Harjasujana (1997:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Mengenai definisi membaca telah banyak dikemukakan oleh beberapa orang pakar membaca. yaitu aspek sensori. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Pemahaman adalah suatu proses mental yang merupakan perwujudan kegiatan kognisi. persepsi. dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca.penulis. Hingga saat ini terdapat beberapa definisi tentang membaca pemahaman. Gillet dan Temple (dalam Harjasujana dan Damaianti. berpikir. mulai dari definisi yang sempit hingga yang luas. Kriteria pemahaman sebuah bacaan dapat diukur melalui pertanyaan gagasan pokok. Dalam aspek ini siswa akan diukur kemampuan visualnya sebelum lebih jauh lagi diuji kemampuan kognisinya. Kedua kemampuan ini diperlukan untuk memerikan lambang-lambang huruf agar dapat dipahami dan menjadi bermakna bagi pembaca. 2003: 6) berpendapat bahwa ‗reading is making sense of written language‟. Membaca bukan hanya proses melihat dan menyerap lambang-lambang visual saja. berasosiasi. Aspek-aspek tersebut. ketika itu pula terjadi proses membaca. Burns (Harjasujana dan Damaianti. Lebih jauh Turner mengungkapkan bahwa seseorang dikategorikan pembaca aktif apabila pembaca tersebut membawa pengetahuan . Berikut ini beberapa definisi tentang membaca yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut. Kecepatan membaca merupakan kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa agar dapat berhasil dalam kegiatan membaca.

Davis (1968) dalam Turner (1995:148) mengidentifikasi delapan keterampilan membaca pemahaman melalui sebuah prosedur analisis faktor (analisis faktor merupakan suatu prosedur statistik yang digunakan untuk mengidentifikasi komponen unik dari suatu kompetensi): 1) 2) mengingat arti kata. 3) mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan secara eksplisit atau hanya menjawab isi sebuah parafrase. Salah satunya adalah ragam keterampilan membaca pemahaman hasil Frederick B Davis. Turner pun mengungkapkan bahwa kecepatan membaca pun mungkin saja dapat mempengaruhi terhadap pemahaman. Pembaca mendapatkan pemahaman dengan mengkonstruksi dengan aktif sebuah arti secara mendalam melalui interaksi dari sesuatu yang dibacanya. serta kemungkinan lain yang dimaksudkan penulis. arti secara harfiah. Beberapa penelitian tentang aspek-aspek keterampilan dalam membaca pemahaman telah berkembang. mengenal maksud. membuat suatu kesimpulan bacaan. Belum ada hasil penelitian yang mengutarakan bahwa pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang cepat pemahaman terhadap bacaannya kurang baik dibandingkan dengan pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat. yaitu (1) kepribadian. (2) motivasi. menyimpulkan arti sebuah kata dari suatu konteks.dan pengalamannya ke dalam aktivitas membaca untuk membuat kesimpulan dan menerapkannya ke dalam kehidupannya. Menurut Thorndike (Whitehead. (3) kebiasaan. dan . maupun arti yang tidak tersirat. 1995:146) berpendapat bahwa membaca pemahaman adalah mengerti dengan jelas apa yang dibaca. Robinson (1966) (dalam Turner. nada. sikap. tetapi memberikan suatu gambaran yang sangat terbatas. 4) 5) 6) 7) menyusun bersama sebuah gagasan. 1996:24) membaca pemahaman adalah memahami sebuah bacaan yang sama halnya dengan memecahkan persoalan dalam matematika. Selanjutnya Anderson dan Pearson (1984:255) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang spesipik. dan (4) lingkungan di luar sekolah. Gates dalam Richardson (1995:65) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang lengkap. Membaca pemahaman yang baik memerlukan kecepatan membaca yang fleksibel. Turner mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman. Selain itu. dan kemauan penulis. mengidentifikasi teknik penulis.

Perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan membaca inilah yang oleh beberapa kalangan ahli membaca disebut dengan kecepatan efektif membaca atau disingkat KEM. nada. dan kemauan penulis. dikenal pula taksonomi yang tidak kalah terkenalnya dari Benyamin S. dan (3) evaluasi. dan ranah psikomotor. 1) 2) 3) 4) mengingat arti kata. (2) inferensial. Namun demikian. yang meliputi ranah kognitif. Selain Taksonomi Barret. Salah satunya yang diketahui sebagai taksonomi pemahaman yang terbaik menurut Turner adalah Taksonomi Barret (Turner. Dengan kata lain. Bloom (1956) (dalam Harjasujana dan Mulyati. ranah afektif. Harjasujana dan Mulyati (1997:56) mengemukakan pendapatnya bahwa yang disebut dengan kecepatan efektif membaca (KEM) ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. sikap. Ketiga ranah tersebut dikenal dengan Taksonomi Bloom. Lebih sederhana lagi dikemukakan oleh Spearit (1972) tentang keterampilan dalam pemahaman sebagai berikut. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Menurut Pearson dan Johnson (1978) (dalam Turner (1995:149) sederetan aspek-aspek tersebut hanya membingungkan pembelajaran membaca. menyimpulkan. Kemampuan membaca disini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Berbagai hasil penelitian tentang aspek-aspek dalam membaca pemahaman telah berkembang dari masa ke masa. KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi . mengenal maksud. Upaya untuk menamakan dan mengklasifikasikan aspek-aspek pemahaman tersebut disebut taksonomi aspek pemahaman. Taksonomi Barret tersebut yaitu (1) literal. dan mengikuti struktur sebuah pola. pemikiran-pemikiran tentang aspek-aspek tersebut terus berkembang. Dalam kegiatan membaca terdapat dua komponen utama yang terlibat yaitu indera penglihatan untuk melihat lambang-lambang huruf. sehingga diperoleh kecepatan rata-rata membaca dan kemampuan kognitif untuk memahaminya. 1997:81) yang menyarankan tiga ranah dalam penilaian pendidikan dan pengajaran. termasuk pendidikan dan pengajaran membaca.8) mengikuti struktur sebuah pola. KEM merupakan perpaduan kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. 1994:150).

siswa tidak mau bicara (Nusyirwan. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. berpikir kreatif. sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. Dalam pengajaran PBT ini. Selain itu. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. 2002: 1). sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. (Taroepratjeka. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. meningkatkan kepercayaan diri. sekalipun pada awalnya. Penerapan model ini dilatarbelakangi oleh kegagalan pembelajaran dengan menggunakan model tradisional. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. . guru memberi contoh dan menuntun. guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. Selain itu. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. Keberhasilan penerapan model ini di Australia mendorong Richard Walker dan Rotarian Saowalak Rattanavich serta Noraseth Pathmanand untuk membuat suatu pilot proyek di daerah terpencil di Thailand. 2003). Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing.Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) pertama kali diterapkan di tempat-tempat terpencil di Australia yang ditujukan untuk pendidikan anak-anak suku Aborigin pada tahun 1980. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. Taroepratjeka (2002:3) menyatakan bahwa model PBT dikembangkan berdasarkan pada prinsipprinsip 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. serta mampu bekerja secara kelompok. apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan. meningkatkan kepercayaan dirinya. berpikir kreatif. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. serta mampu bekerja secara kelompok.

menganalisis jenis bacaan. karakteristik tokoh. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. b) Tahap kedua. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. Apa yang dikatakan atau ditulis. bahkan bila mereka tidak mau membaca. dan sebagainya. diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya. selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. roman muka. Dengan demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. a) Tahap kesatu. Berdasarkan rumpun model pembelajaran.3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama. model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. dari gerakan. 3) mendiskusikan isi bacaan. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. tokoh dalam wacana. Model kedua PBT yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari pendapat Sisavanh (1997: 4). Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi dalam Pembelajaran Membaca Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima fase. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. Pada tahap ini. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. Kegiatan pengembangan . Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. serta nada suara dari guru atau temannya. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. Untuk lebih jelasnya. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. rangkaian kejadian dalam wacana.

dan mengulang secara menyeluruh. d) Tahap keempat. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. merefleksi. e) Tahap kelima. read. mendiskusikan isi bacaan. dan review). pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan. recite. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan. Selain itu. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. Pada tahap ini. aktivitas bahasa dan elaborasi. Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya.kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. question. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. Pembelajaran menggunakan model tersebut dilakukan . Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. c) Tahap ketiga. siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. reflect. Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. Penutup Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca. menanyakan pada diri sendiri. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks.

S.S.govritje. dan Damaianti. Harjasujana.S. Iskandarwassid dan Sunendar.//www. A. Sistem Pendidikan Nasional Dan Peran Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara Harjasujana. 2005. 2008.com/setak/2006/082006/19/wacana. A. V. Nusyirwan.. L. Y.S.com/kompas-cetak /0609/08/opini/2937720. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III.pdf. Sisavanh. yaitu menganalisis jenis bacaan. 2006. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Strategi Pembelajaran Bahasa. K. Bandung: SPs UPI dan PT Rosda Karya. Salah satu implikasi dari penerapan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi adalah meningkatnya kemampuan membaca.compdfdistric02%20%20CLE%20+%20Wacana. ―Concentrated Language Encounter as a Starting Point to Improving Literacy in Laos PDR‖. 2007. Membaca dan Agresivitas. mendiskusikan isi bacaan. 2003. 2003. http.S. D. Pustaka Rujukan Damaianti.kompas. A. V. 2000.htm – 42k.htm Harjasujana. Membaca Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud.www.org/english/pdf/baliseminar/Sistim%20Pendidikan%20Nasional%20%20ki%20supriyono. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Witdarmono. 2003.pdf. ―Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Meningkatkan Motivasi Membaca‖ Makalah FPBS UPI: tidak diterbitkan Suyanto dan Djihad. 1997.www. 1997. ―Pentingnya Kedudukan Membaca‖. H. ―Literacy in Thailand Project: A Lighthouse Project in Asia”. dan aktivitas bahasa dan elaborasi. 1997. Category: artikel . dan Mulyati.S. Supriyoko.lfip.pikiranrakyat.melalui lima fase. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Rattavanich. ―Concentrated Language Encounter‖: http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful