ARTIKEL JURNAL BAHASA DAN SASTRA Saturday, December 18th, 2010 | Author: hernawan PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA MELALUI

MODEL PENGALAMAN BERBAHASA TERKONSENTRASI1) Hernawan2) Abstrak: Hasil observasi di sekolah-sekolah menunjukkan kemampuan membaca siswa SMP masih tergolong rendah. Hal tersebut memperkuat temuan-temuan hasil penelitian tentang rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa SMP pada khususnya yang dilakukan oleh para ahli dan lembaga-lembaga yang meneliti kemampuan membaca. Berdasarkan kajian empiris dan studi literatur tersebutlah yang antara lain mendorong suatu penelitian dengan judul ―Peningkatan Kemampuan Membaca Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009)‖. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakanlah sebuah model mengajar pengalaman berbahasa terkonsentrasi (PBT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kemampuan membaca dan mengukur tingkat efektivitas model PBT dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia serta mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan model PBT. Hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan akhir membaca siswa SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta yang belajar dengan menggunakan model PBT dengan kemampuan akhir membaca siswa yang belajar dengan menggunakan model konvensional. Sesuai dengan tujuan di atas, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Desain metode eksperimen yang digunakan, yaitu Desain Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Akhir Beracak (The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design) yang diadopsi dari Fraenkel dan Wallen. Eksperimen dilaksanakan terhadap siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009, berjumlah 39 orang. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik tes, observasi, dan wawancara. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar kemampuan membaca siswa, yang kemudian diolah dengan teknik statistik. Teknik observasi dan wawancara digunakan untuk mengumpulkan data proses belajar mengajar menggunakan model PBT. Temuan dari penelitian yaitu menunjukkan bahwa rata-rata KEM siswa kelompok eksperimen setelah menggunakan model PBT adalah 137,54 kpm dengan kategori tinggi. Temuan lainnya yaitu adanya perbedaan yang signifikan antara tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen yang menggunakan model PBT dengan tes akhir kemampuan membaca kelompok kontrol yang menggunakan model konvensional. Hasil tersebut berdasarkan hasil penghitungan uji hipotesis yang menunjukkan thitung (7,15) > ttabel (1,99) pada p < 0,05 dalam dk=76, berada di luar daerah penerimaan maka H0 penelitian ini ditolak atau dengan kata lain kemampuan

membaca kelompok eksperimen berbeda secara signifikan dengan kemampuan akhir membaca kelompok kontrol siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model PBT telah menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Demikian pula, proses belajar mengajar menggunakan model PBT telah terbukti keberterimaannya. Kata Kunci: pengalaman berbahasa terkonsentrasi, membaca pemahaman Pendahuluan
1)

Diterbitkan dalam Jurnal FPBS UPI edisi Oktober 2009 Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI

2)

1 Membaca itu merupakan alat utama untuk mencapai kehidupan yang baik, tetapi masih banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek penting dalam kemampuan berkomunikasi yang perlu dikuasai. Pentingnya kegiatan membaca ini dikemukakan oleh Adler dalam Damaianti (2005:1) bahwa “reading is a basic tool in the living a good life”. 1 Tidaklah berlebihan jika pengajaran membaca perlu mendapatkan posisi yang sangat penting, karena dengan membaca kita dapat mengungkapkan rahasia alam sekitar. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa tidak semua pihak menyadari akan pentingnya membaca. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh penulis ditemukan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki kebergantungan pada membaca sebagai proses belajar. Beberapa penelitian yang telah dilakukan, misalnya oleh IEA (1992) dan PISA (2003) menunjukkan kemampuan membaca dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kegiatan membaca masih rendah (Damaianti, 2005:2). Rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia memang bukan hanya isu, tapi didukung oleh bukti-bukti hasil penelitian lembaga-lembaga internasional yang bergerak dalam kajian membaca. Laporan World Bank dalam Education in Indonesia: From Crisis to Recovery (1988) yang mengutip hasil penelitian Vincent Greanary menyatakan bahwa kemampuan membaca (reading ability) anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling bawah bila dibandingkan dengan anak-anak Asia pada umumnya. Dalam hal ini kemampuan membaca anak-anak Indonesia berada di bawah anak-anak Filipina, Thailand, Singapura, dan Hong Kong.

Hasil penelitian terakhir yang dilaksanakan PISA (2003), dari 40 negara, Indonesia berada pada peringkat terbawah dalam kemampuan membaca. Tiga besar teratas diduduki Finlandia, Korea, dan Kanada. Bagi Indonesia, ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA, kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru berada pada tingkat satu. Artinya, hanya mampu memahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia. Kemampuan untuk menafsirkan, menilai, atau menghubungkan isi teks dengan situasi di luar terbatas pada pengalaman hidup di lingkungannya (Witdarmono, 2007). Berdasarkan hasil observasi pendahuluan penulis di lapangan, ditemukan masalah yang dihadapi oleh siswa tentang kemampuan membaca. Masalah yang ditemukan bukan hanya kemampuan membaca pemahaman (kemampuan kognisi) saja, kemampuan visual (kecepatan rata-rata membaca) pun menjadi masalah bagi siswa SMP. Menurut hasil observasi kemampuan membaca pemahaman yang paling sulit dialami siswa adalah kemampuan membaca pemahaman pada aspek analisis, sedangkan kesulitan yang dialami siswa pada kemampuan visual di antaranya kecepatan rata-rata baca yang sangat rendah. Masih hasil observasi, ditemukan tiga orang siswa SMP kelas VII yang kemampuan membacanya setaraf dengan kemampuan membaca siswa kelas dua sekolah dasar. Untuk mengatasi masalah kekompleksan membaca dan pembelajarannya tersebut, para ahli telah berusaha menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Sejak tahun 1970-an penelitian terhadap kegiatan membaca telah dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah mengapa beberapa anak-anak tidak bisa membaca. Mulai dari pendekatan bottom-up dan top down (Brown, 1994:283), hingga dewasa ini berkembang dengan pesat berbagai model pembelajaran membaca antara lain model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter), yang selanjutnya disingkat PBT. Model PBT adalah model belajar yang memiliki empat prinsip pokok yaitu 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok; 2) pembelajaran dengan model PBT adalah berjenjang (scafholding). Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru, kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi, apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan; 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. Apa yang dikatakan atau ditulis, dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya; dan 4) siswa belajar bahasa melalui jalan pikiran mereka dan mampu untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. Dari temuan-temuan observasi tersebut, penelitian ini dianggap penting untuk dilaksanakan karena alasan-alasan sebagai berikut. 1) selama ini isu tentang rendahnya kemampuan membaca siswa di Indonesia jangan hanya sebatas dijadikan wacana saja, tapi diperlukan adanya solusi dan langkah kongkret yang serius untuk mengatasinya. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut; 2) rendahnya kemampuan siswa di SMP menurut hasil observasi awal dikarenakan pembelajaran siswa di sekolah sebatas membunyikan huruf-huruf saja atau istilah lainnya

decoding. Jadi, secara mekanis hanya melatih kemampuan visualnya saja, sedangkan kemampuan kognisinya kurang terpenuhi; 3) penelitian ini berusaha memberikan informasi bahwa kemampuan membaca yang baik dapat menunjang hidup seseorang ke arah yang lebih baik; 4) penelitian ini memberikan manfaat tentang hakikat kemampuan membaca yang sesungguhnya, sehingga siswa memperoleh pengalaman dan manfaat dari kegiatan membacanya; 5) penelitian ini berusaha memberikan solusi tentang langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa; 6) penelitian ini diharapkan dapat mengatasi masalah guru dalam memilih model pembelajaran membaca. Model PBT diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi kebingungan yang dihadapi guru dalam memilih model yang tepat; dan 7) model PBT yang diperkenalkan dalam penelitian ini merupakan model yang efektif yang sudah teruji keberhasilannya dalam peningkatan kemampuan membaca siswa di beberapa negara di Asia. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengukur tingkat kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP; (2) mengukur keefektifan model PBT untuk meningkatkan kemampuan membaca bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP; dan (3) memperoleh deskripsi tentang proses pembelajaran membaca bahasa Indonesia menggunakan model PBT di kelas VII SMP. Tinjauan Pustaka Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada dikemukakan oleh pakar pendidikan membaca yaitu Farr (1984) (dalam Harjasujana, 2006) dalam sebuah kalimat yang berbunyi „Read is the heart of education‘. Membaca merupakan jantungmya pendidikan. Betapa tidak, dengan membaca maka informasi-informasi dapat diserap pembaca secara leluasa. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang kompleks. Selain membutuhkan kemampuan visual untuk membaca lambang-lambang huruf menjadi bermakna, kemampuan kognitif untuk memahami bacaan pun diperlukan. Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif aktif. Reseptif artinya dengan membaca pembaca menerima berbagai informasi, ide, gagasan dan amanat yang ingin disampaikan penulis. Aktif artinya dalam kegiatan membaca pembaca melakukan kegiatan aktif menggunakan kemampuan visual dan kognitifnya untuk menafsirkan lambang-lambang yang dilihatnya sekaligus menginterpretasikannya sehingga isi bacaannya menjadi bermakna dan dapat dipahami. Dalam kegiatan membaca terjadi interaksi antara pembaca dan penulis secara tidak langsung. Akan tetapi, walaupun tidak langsung tetap bersifat komunikatif.

Jadi. dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. karena membaca dilakukan secara aktif. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Turner (1995:145) memberi definisi bahwa pemahaman meliputi apa pun yang berhubungan dengan aktivitas membaca. gagasan dan amanat yang hendak disampaikan oleh penulis. yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Kedua kemampuan ini diperlukan untuk memerikan lambang-lambang huruf agar dapat dipahami dan menjadi bermakna bagi pembaca. . Harjasujana (1997:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. 1996:24) membaca pemahaman adalah memahami sebuah bacaan yang sama halnya dengan memecahkan persoalan dalam matematika. Lebih jauh Turner mengungkapkan bahwa seseorang dikategorikan pembaca aktif apabila pembaca tersebut membawa pengetahuan dan pengalamannya ke dalam aktivitas membaca untuk membuat kesimpulan dan menerapkannya ke dalam kehidupannya.Mengenai definisi membaca telah banyak dikemukakan oleh beberapa orang pakar membaca. Hingga saat ini terdapat beberapa definisi tentang membaca pemahaman. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca. Turner pun mengungkapkan bahwa kecepatan membaca pun mungkin saja dapat mempengaruhi terhadap pemahaman. dari bacaan pembaca dapat menangkap ide. 2003:6) berpendapat bahwa ‗reading is making sense of written language‟. Selain itu. Tingkatan membaca pemahaman yang lebih tingginya lagi apabila pembaca terlibat dengan cara bertukar ide dengan penulis dalam hal ini pembaca membaca untuk sebuah tujuan yang khusus. 1979:7) mengemukakan pendapatnya bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan. Berikut ini beberapa definisi tentang membaca yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut. yaitu (1) kepribadian. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Gillet dan Temple (dalam Harjasujana dan Damaianti. Dengan demikian. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. Membaca pemahaman yang baik memerlukan kecepatan membaca yang fleksibel. sewaktu proses membaca berlangsung. Turner mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman. (3) kebiasaan. Belum ada hasil penelitian yang mengutarakan bahwa pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang cepat pemahaman terhadap bacaannya kurang baik dibandingkan dengan pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat. Gates dalam Richardson (1995:65) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang lengkap. dan (4) lingkungan di luar sekolah. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. selama itu pula terjadi komunikasi secara tidak langsung antara pembaca dengan penulis. (2) motivasi. mulai dari definisi yang sempit hingga yang luas. Hodgson (Tarigan. Menurut Thorndike (Whitehead. tetapi memberikan suatu gambaran yang sangat terbatas. ketika itu pula terjadi proses membaca.

sehingga diperoleh kecepatan rata-rata membaca dan kemampuan kognitif untuk memahaminya. (2) terjemahan. menyimpulkan. Namun. Kadar proses berpikir dalam menjawab pertanyaan jenjang terjemahan lebih rendah dari proses berpikir untuk menjawab pertanyaan jenjang interpretasi. Tingkat inferensial meliputi kegiatan interpretasi. Berbeda halnya dengan Bloom yang membagi ranah kognisi menjadi enam tataran. ranah afektif. (6) mensitesis. ranah yang diukur dalam penelitian ini adalah aktivitas kognitif. dan mengorganisasi. Alasan Harjasujana membaginya menjadi tujuh jenjang tataran berpikir dalam anatomi pertanyaan kemampuan membaca karena pertanyaan membaca mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari jenis-jenis pertanyaan lain yang sifatnya umum. Tingkat evaluasi meliputi penilaian. mengingat. Salah satunya yang diketahui sebagai taksonomi pemahaman yang terbaik menurut Turner adalah Taksonomi Barret (Turner. mulai dari proses berpikir sederhana hingga proses berpikir yang paling kompleks. meliputi jenjang: (1) mengingat. (5) menganalisis. 1997:81) yang menyarankan tiga ranah dalam penilaian pendidikan dan pengajaran. Ranah kognisi menurut Bloom terbagi ke dalam enam tingkat berpikir. yakni jenjang pemahaman. Bloom (1956) (dalam Harjasujana dan Mulyati. dan kritik. (4) mengaplikasi. sebenarnya merupakan bagian dari proses kognitif jenjang kedua. termasuk pendidikan dan pengajaran membaca. 1994:150). dikenal pula taksonomi yang tidak kalah terkenalnya dari Benyamin S. pertanyaan pada jenjang terjemahan tidak terlalu menuntut peserta tes untuk berpikir untuk memahami. Selain Taksonomi Barret. dan ranah psikomotor. Dalam kegiatan membaca terdapat dua komponen utama yang terlibat yaitu indera penglihatan untuk melihat lambang-lambang huruf. dan (7) mengevaluasi. Ketiga ranah tersebut dikenal dengan Taksonomi Bloom. (2) memahami. dan (6) mengevaluasi. sistem berpikir seseorang sebagai cermin dari kinerja kognisinya berjenjang-jenjang. Sesuai dengan masalah dan tujuan dalam penelitian ini. yang meliputi ranah kognitif. yaitu jenjang terjemahan (kadarnya lebih rendah) dan jenjang interpretasi (yang kadarnya lebih mencerminkan proses pemahaman yang sesungguhnya). (3) interpretasi. dan memprediksi. Taksonomi Barret tersebut yaitu (1) literal. jenjang pertanyaan terjemahan dan jenjang interpretasi. yaitu meliputi: (1) mengingat. apresiasi. . menganalisis. Yang dijadikan landasan teori dalam penelitian ini adalah jenjang ranah kognitif yang dikemukakan oleh Harjasujana dan Mulyati. Menurut Harjasujana dan Mulyati. dan (3) evaluasi. (2) inferensial. (3) mengaplikasi. Jenjang literal meliputi aspek mengidentifikasi.Upaya untuk menamakan dan mengklasifikasikan aspek-aspek pemahaman tersebut disebut taksonomi aspek pemahaman. (4) menganalisis. Harjasujana dan Mulyati (1997:89) membaginya menjadi tujuh jenjang. Atas perbedaan itulah Harjasujana dan Mulyati membagi lagi jenjang pemahaman Bloom menjadi dua klasifikasi. (5) mensitesis. Menurut Bloom (1956).

Perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan membaca inilah yang oleh beberapa kalangan ahli membaca disebut dengan kecepatan efektif membaca atau disingkat KEM. pikiran. Jenjang Pendidikan SD/SMP SMA Mahasiswa Mahasiswa pascasarjana Orang dewasa (yang tidak sekolah (kata per menit/kpm) 200 250 325 400 200 Kecepatan rata-rata baca di atas dipadukan dengan batas minimal kemampuan kognisi dalam memahami bacaan. Pada tahap awal.7) mengemukakan formula yang bisa dijadikan tolok ukur kemampuan rata-rata membaca sebagai berikut. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya oleh Harjasudjana dan Mulyati bahwa seseorang dikategorikan mempunyai kemampuan pemahaman yang baik apabila . 1997:59) mengemukakan enam hal yang dianggap penting dalam mempertimbangkan kesiapan membaca. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Harjasujana (1997:54-55) mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud dengan kecepatan membaca adalah kemampuan seseorang dalam menggerakkan mata secara cepat dan tepat pada saat membaca sehingga diperoleh rata-rata kecepatan baca berupa jumlah kata per menit. Sementara itu. yaitu: (1) fasilitas bahan. 4. (3) diskriminasi auditori dan diskriminasi visual. 5. Seseorang dapat dikatakan mempunyai kemampuan membaca yang baik jika ia mampu memahami isi bacaan tersebut minimal 70 persen. dan penalaran) seseorang dalam kegiatan membaca. (5) sikap dan minat. Kemampuan membaca disini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. 1. Harjasujana dan Mulyati (1997:56) mengemukakan pendapatnya bahwa yang disebut dengan kecepatan efektif membaca (KEM) ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Harras dan Sulistianingsih (1997:3. Kemampuan kognitif yang dimaksud adalah kemampuan dalam menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. tingkat pencapaian KEM erat kaitannya dengan faktor kesiapan membaca (reading readness). dan (6) kematangan emosi dan sosial. 2. 3. Burron dan Claubaugh (Harjasujana.Sehubungan dengan istilah kecepatan dan kemampuan membaca. KEM merupakan perpaduan kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Standar Minimal Kecepatan Membaca Berdasarkan Jenjang Pendidikan Kecepatan Membaca No. Dengan kata lain. (4) intelegensi. kemampuan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif (ingatan. (2) latar belakang pengalaman.

dapat memahami isi bacaan minimal 70%. Dilworth dalam Rahman dan Sudaryat (2009:2) memberikan batasan bahwa yang disebut dengan model adalah representasi abstrak mengenai proses. atau subsistem dari dunia nyata. dan 4) tingkat perguruan tinggi : 350 x 70% sampai dengan 400 x 70% = 140-175 kpm (Harjsudjana dan Mulyati. – 104 Kualifikasi Tinggi sekali Tinggi Sedang/memadai Rendah/kurang memadai Rendah sekali Batasan-batasan tentang model pembelajaran banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut John Dewey (1916) dalam Joyce dkk. Sudjana (1975:7) memberikan batasan bahwa mengajar adalah menyampaikan ilmu. dan membimbing kegiatan siswa belajar. 1997:73). Dengan demikian. merancang . Model digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. system. Joyce dan Weil (1980:1) memberikan batasan bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan dalam menyusun kurikulum. Semua model mencakup pemetaan dalam dimensi konseptual baru dari seperangkat elemen yang dipahami dalam situasi termodelkan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. 3. Pembelajaran merupakan proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar. 5. Menurut Richards (1985:228) model adalah representasi konsep atau maujud yang dirancang secara khusus serta digunakan untuk menjelaskan struktur atau fungsinya. tingkat SMP : 200 x 70% sampai dengan 250 x 70% = 140-175 kpm. bila dihitung KEM-nya masingmasing akan menjadi: 1) 2) 3) tingkat akhir SD : 200 x 70% = 140 kpm. tingkat SMA : 250 x 70% sampai dengan 325 x 70% = 175-245 kpm. Model pembelajaran terdiri atas dua kata yaitu model dan pembelajaran. (dalam satuan kpm) 140 – … 133 – 139 119 – 132 105 – 118 …. Model bermanfaat dalam melukiskan alternatif dan analisis performansinya. (2000:13) proses mengajar adalah penciptaan atau penataan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat berinteraksi dan belajar bagaimana belajar.berkomunikasi. 1. 2. Kualifikasi Kecepatan Efektif Membaca untuk Siswa Jenjang SMP Rata-rata KEM No. 4. Model pembelajaran merupakan panduan bagi guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. maka kualifikasi KEM untuk siswa SMP yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel berikut.

meningkatkan kepercayaan dirinya. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok.materi pembelajaran. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. ketrampilan. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau rencana belajar yang dapat membantu guru dan siswa dalam proses belajar mengajar untuk menyusun rencana pembelajaran dan memperoleh informasi. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). 2000:13) Dari beberapa pengertian tentang model pembelajaran di atas. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. (Taroepratjeka. dan memahami ekspresinya. nilai-nilai. siswa tidak mau bicara (Nusyirwan.. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. Selain itu. Model mengajar merupakan deskripsi lingkungan belajar yang dapat digunakan sebagai rencana kurikulum. 2002:1). Menurut Joyce dkk. dan member petunjuk di dalam kelas dan kegiatan lainnya. Kemudian. yaitu: (1) model pemrosesan informasi (the information processing family). atau pelajaran untuk menyeleksi bahan ajar. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. berpikir kreatif. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. meningkatkan kepercayaan diri. guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. dan memandu tindakan guru di kelas (Joyce dkk. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. dengan cara menerapkan serangkaian kegiatan tertentu secara sistematis. program multimedia. 2003). Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. dan (4) model perilaku (the behavioral models). kursus. mereka mengemukakan bahwa model mengajar pada dasarnya adalah model pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi. (3) model sosial (the social family). Dalam pengajaran PBT ini. cara berpikir. serta mampu bekerja secara kelompok. Selain itu. guru memberi contoh dan menuntun. (2000:17-30) pada dasarnya terdapat empat rumpun model pembelajaran. . gagasan. sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. (2) model personal (the personal family). berpikir kreatif. serta mampu bekerja secara kelompok. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis. sekalipun pada awalnya. gagasan.

menganalisis jenis bacaan. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis. Berdasarkan rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan sebelumnya. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. Model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan. 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan.Taroepratjeka (2002:3) menyatakan bahwa model PBT dikembangkan berdasarkan pada prinsipprinsip sebagai berikut. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit. Apa yang dikatakan atau ditulis. Dengan demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. dari gerakan. Model PBT yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari pendapat Sisavanh (1997: 4) yang digambarkan dalam diagram berikut ini. Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. serta nada suara dari guru atau temannya. a) Tahap kesatu. Tahap 1 Tahap 4 Tahap 2 Tahap 5 Diagram Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima fase. roman muka. 3) mendiskusikan isi bacaan. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. Tahap 3 . 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. Untuk lebih jelasnya. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan.

Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. bahkan bila mereka tidak mau membaca. mendiskusikan isi bacaan. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Pada tahap ini. c) Tahap ketiga. karakteristik tokoh. aktivitas bahasa dan elaborasi. Pada tahap ini. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. Kegiatan pengembangan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. dan sebagainya. pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit . diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama. Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan.Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. d) Tahap keempat. Selain itu. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. b) Tahap kedua. rangkaian kejadian dalam wacana. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya. e) Tahap kelima. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. tokoh dalam wacana. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks.

Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. reflect. dan review). peneliti membentuk dua kelompok. observasi. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga teknik yaitu tes. Adapun desain metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Akhir Beracak (The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design). Sesuai dengan kebutuhan data-data yang diperlukan. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. dan wawancara. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan. Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. Pada rancangan eksperimen ini. Random O Pretest X2 O Treatment Posttest O Pretest X1 O Treatment Posttest . question. Kedua kelompok sampel ini ditentukan secara acak dengan cara diundi. merefleksi. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. Treatment R group Random assignment Control R group assignment (Fraenkel dan Wallen. dan mengulang secara menyeluruh. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview.dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. yaitu satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Desain metode eksperimen dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut. recite. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. 1993: 249) Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data.. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. read. menanyakan pada diri sendiri. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.

Kemampuan Kognisi pada Kelompok Eksperimen Dari data rekapitulasi jawaban yang benar dan data persentase kemampuan kognisi pada tes awal dan tes akhir siswa kelompok eksperimen. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan cara diundi. Rata-rata kemampuan visual awal kelompok kontrol adalah sebesar 4. rata-rata kemampuan visual kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 0. sedangkan program SPSS 15 for Windows digunakan untuk mengolah uji sifat data dan uji hipotesis penelitian. rata-rata kemampuan visual akhir kelompok kontrol tersebut sebesar 4. 1) Analisis Data Kemampuan Membaca Siswa Kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 Analisis data yang dipajankan dalam penelitian ini meliputi analisis data kemampuan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta tahun 2008/2009. Sumber data dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta.Teknik yang digunakan untuk mengolah data dalam penelitian ini selain dengan menggunakan rumus-rumus statistik secara manual. Program Excel digunakan untuk mencari validitas dan reliabilitas instrumen. juga digunakan program SPSS 15 for Windows dan Excel.32 menit. (3) kemampuan membaca. Dari hasil tersebut dapat kita bandingkan bahwa peningkatan kemampuan visual kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan peningkatan kemampuan visual kelompok kontrol. Karena jumlah populasi penelitian tersebut terlalu banyak untuk diteliti.17 menit. diketahui bahwa rata-rata kemampuan visual awal siswa kelompok eksperimen adalah sebesar 6. (2) uji sifat data dan (3) pengujian hipotesis penelitian. dan (4) peningkatan kemampuan membaca.52 menit. Pembahasan Hasil Penelitian Pengolahan data hasil tes kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 dilakukan dengan empat langkah. setelah diberikan perlakuan dengan pembelajaran secara konvensional. setelah mendapatkan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT rata-rata kemampuan visual akhirnya menjadi 3. dilakukan pengambilan sampel. Hal ini . Dengan kata lain. yaitu (1) analisis data. yaitu satu kelas untuk kelompok eksperimen dan satu kelas untuk kelompok kontrol. Populasi data penelitian yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah tujuh kelas.41. Dengan kata lain.93 menit. Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis data (1) kemampuan visual. kemampuan visual kelompok eksperimen mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3. terdapat peningkatan kemampuan kognisi. (2) kemampuan kognisi. maka untuk keperluan sumber data yang dibutuhkan.14 menit. Kemampuan Visual Dari data yang berhasil dikumpulkan.

21% pada tes akhir. Hasil Uji Gain Kemampuan Kognisi Kelompok Eksperimen Selisih perbandingan tes awal dan tes akhir kemampuan kognisi kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 1. (3) interpretasi. yaitu sebesar 7. dan (5) analisis. sedangkan yang dimaksud kemampuan kognisi yang diukur dalam penelitian ini meliputi lima jenjang aspek pemahaman.42%. peningkatan kemampuan kognisi siswa pada kelas kontrol.10 Kemampuan Membaca Siswa Kelas VII SMPN 1 Wanayasa Kabupaten Purwakarta Tahun 2008/2009 Sesuai dengan apa yang telah dikemukakan pada kajian pustaka. d2 0.41 Kemampuan Kognisi Siswa Kelompok Kontrol Dari data rekapitulasi jawaban yang benar dan data persentase kemampuan kognisi pada tes awal dan tes akhir siswa kelompok kontrol. (2) terjemahan.41 artinya kemampuan kognisi kelompok eksperimen meningkat dari saat tes awal. Ada dua komponen utama yang terlibat di dalamnya yaitu kemampuan visual dan kemampuan kognisi. terdapat peningkatan kemampuan kognisi. Jadi.10 artinya kemampuan kognisi kelompok kontrol meningkat dari saat tes awal. Jadi.99 .03%. (4) terapan.82% pada tes akhir. yaitu sebesar 1. peningkatan kemampuan kognisi siswa pada kelas eksperimen.36 d 0. Hasil Uji Gain Kemampuan Kognisi Kelompok Kontrol Selisih perbandingan tes awal dan tes akhir kemampuan kognisi kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 0.ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kemampuan kognisi dari yang semula 56. Untuk lebih jelasnya terlihat pada tabel berikut. Tes Awal 12.79 d 1. Untuk lebih jelasnya terlihat pada tabel berikut. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kemampuan kognisi dari yang semula 61.01 d2 1. Besarnya peningkatan kemampuan kognisi siswa tersebut dapat diketahui dari hasil uji gain terhadap rata-rata tes awal dan tes akhir. kemampuan membaca yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan kecepatan efektif membaca (KEM) yang merupakan cerminan kemampuan membaca yang sesungguhnya.79% pada tes awal menjadi 62.79% pada tes awal menjadi 63. Yang dimaksud kemampuan visual siswa dalam penelitian ini adalah kecapatan siswa membaca wacana. Besarnya peningkatan kemampuan kognisi siswa tersebut dapat dikethui dari hasil uji gain terhadap rata-rata tes awal dan tes akhir.26 Tes Akhir 12. yaitu (1) ingatan.38 Tes Akhir 12. Tes Awal 11.

54 kpm.13%) orang siswa mempunyai kemampuan sedang. diketahui 33 (84. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 3. (4) kemampuan akhir membaca kelompok kontrol. Artinya KEM awal siswa kelompok eksperimen yang berjumlah 39 (100%) orang siswa dikategorikan rendah sekali. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa masih kurang baik. Kemampuan Awal Membaca Siswa Kelompok Kontrol Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini. kemudian diberikan tes akhir.43 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 16 (80%) soal tes pemahaman bacaan dengan benar. Maka.92%).15 kpm. Pada hasil tes akhir. dengan kata lain KEM akhir kelompok eksperimen dikategorikan tinggi. (2) kemampuan akhir membaca siswa kelompok eksperimen. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa dikategorikan kurang baik.79 (63. Kemampuan Akhir Membaca Siswa Kelompok Eksperimen Setelah diberikan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT.26 (61. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 16) yaitu 54.62%) orang siswa kemampuan membacanya rendah sekali.28%). KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 29) yaitu 209.81 kpm dengan kemampuan visualnya 8. secara keseluruhan diperoleh rata-rata KEM sebesar 81. KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 31) yaitu 96.32 menit. (3) kemampuan awal membaca kelompok kontrol.42 kpm dengan kemampuan visualnya 2. Pada tes awal.Hasil temuan kemampuan membaca yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi: (1) kemampuan awal membaca siswa kelompok eksperimen. artinya kemampuan konisinya baik. diketahui bahwa dari seluruh siswa pada tes awal kelompok eksperimen ini diperoleh rata-rata KEM sebesar 59.93 menit. .28 kpm.27 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 16 soal dari 20 soal tes pemahaman bacaan dengan benar. maka diketahui KEM akhir dari 39 orang siswa pada kelompok eksperimen mencapai rata-rata sebesar 137.17 menit.37 menit dan kemampuan kognisinya hanya dapat menjawab 1 soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan.65 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 8 (40%) soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan.38 (56. dan 2 (5.97%). Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 11. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 6. Rata-rata skor tes awal pada kelompok kontrol ini sebesar 12.26%) orang mempunyai kemampuan rendah.80 kpm dengan kemampuan visualnya 4. Kemampuan Awal Membaca Kelompok Eksperimen Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini. 4 (10. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 08) yaitu 3. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 4. dengan kata lain kemampuan awal kelompok kontrol berada dalam kategori rendah sekali. Rata-rata skor tes akhir pada kelas eksperimen ini sebesar 12. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa tergolong kurang baik.76 kpm dengan kemampuan visualnya 5.

dan 26 (66. Hasil tes akhir menunjukkan KEM tertinggi diraih oleh siswa 22) yaitu 152. meskipun mengalami peningkatan dari KEM awal 81.13 10.82%) orang siswa tergolong sedang. KEM siswa tertinggi diraih oleh siswa 39) yaitu 131.26 25.47 kpm dengan kemampuan visualnya 4. Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelompok Eksperimen Untuk lebih jelasnya.13 5. peningkatan kemampuan siswa kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut.64 100 .16 kpm. kemudian kelompok kontrol tersebut diberi tes akhir. Peningkatan Kemampuan Membaca sebelum dan sesudah Pembelajaran dengan Model PBT SEBELUM PBT KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH SESUDAH PBT KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH F 0 0 0 0 39 39 % 0 0 0 0 100 100 F 21 2 2 4 10 39 % 53.56%) orang siswa tergolong tinggi sekali.15 kpm menjadi 93.79%.13). dari data tes awal dan tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen (pada tebel 4.79 kpm dengan kemampuan visualnya 4. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 4.Pada tes awal.41 menit. Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 12.33 menit dan kemampuan kognisinya mencapai skor 9. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 19) yaitu 53. Hasil tes akhir kemampuan membaca pada kelompok kontrol ini menunjukkan sebanyak 1 (2.85 5. KEM siswa terendah diraih oleh siswa 19) yaitu 38.67%) orang siswa tergolong rendah sekali.16 kpm.13%) orang siswa tergolong tinggi. dengan kata lain kemampuan membaca siswa pada tes akhir kelompok kontrol ini tergolong rendah sekali. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa yaitu sebesar 61.60 menit dan kemampuan kognisinya hanya dapat menjawab 4 soal tes pemahaman bacaan dengan benar dari 20 soal yang diujikan. Kemampuan Akhir Membaca Siswa Kelompok Kontrol Setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan pembelajaran secara konvensional. Secara keseluruhan diperoleh rata-rata KEM sebesar 93. 5 (12.36. peningkatannya tidak begitu berarti. 5 (12.12 dan 4.82%) orang siswa tergolong rendah.35 menit dan kemampuan kognisinya dapat menjawab 18 soal tes pemahaman bacaan dengan benar. Jadi.15 menit dan kemampuan kognisinya mencapai skor 15.75 kpm dengan kemampuan visualnya 5.61 kpm dengan kemampuan visualnya 6. 2 (5.

54 kpm. 4 (10. 2 (5. sebanyak 29 (71. selisih perbandingan kemampuan tes awal dan kemampuan tes akhir kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan sebesar 78. Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelompok Kontrol Peningkatan kemampuan siswa kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut. Dengan kata lain.13%) orang siswa tergolong tinggi.67%) orang siswa . maka KEM siswa mengalami peningkatan menjadi 137.82 12.13%) orang siswa berkemampuan tinggi. Artinya. tetapi setelah diberikan pembelajaran membaca menggunakan model PBT.67 100 Dari tabel di atas. dan sisanya sebanyak 10 (25. 2 (5. artinya tergolong tinggi.13%) orang siswa tergolong sedang. sedangkan kemampuan akhirnya setelah menggunakan model PBT sebanyak 21 (53.64%) orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali.13 12.82%) orang siswa tergolong rendah. 4 (10. 2 (5. Artinya kemampuan membaca pada tes akhir kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tes awal. Setelah diberikan perlakuan dengan pembelajaran membaca secara konvensional (tanpa model PBT) diperoleh hasil sebanyak 1 (2.56 5.26 kpm. seluruhnya (100%) mengalami peningkatan kemampuan membaca.62%) orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali. diketahui kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa sebelum menggunakan model PBT seluruhnya (100%) tergolong rendah sekali. 5 (12.17 sebelumnya.56%) orang siswa kemampuan membacanya tergolong tinggi sekali.26%) orang siswa berkemampuan rendah. dan 26 (66.26 84.26 kpm.79%) orang siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca.13 10. apabla dirata-ratakan KEM siswa mengalami peningkatan sebesar 78. Sehingga. dan sisanya sebanyak 33 (84. Rata-rata KEM awal siswa mencapai 59.13%) orang siswa berkemampuan sedang. Dari 39 siswa kelompok eksperimen.62 100 F 1 2 5 5 26 39 % 2. pembelajaran dengan menggunakan model PBT secara keseluruhan meningkat dari rendah sekali menjadi tinggi.82%) orang siswa tergolong sedang.26%) orang siswa berkemampuan rendah. 5 (12.Dari tabel di atas. Peningkatan Kemampuan Membaca sebelum dan sesudah Pembelajaran tanpa Model PBT SEBELUM KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH SESUDAH KRITERIA Tinggi sekali Tinggi Sedang Rendah Rendah sekali JUMLAH F 0 0 2 4 33 39 % 0 0 5.82 66. diketahui kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa tanpa menggunakan model PBT 2 (5. Sebagaimana hasil uji gain yang telah dikemukakan pada tabel 4.28 tergolong rendah sekali.85%) orang siswa mempunyai kemampuan membaca tinggi sekali.

23%) orang siswa yang mengalami peningkatan KEM.15 kpm menjadi 93.28 kpm. secara keseluruhan kemampuan membaca pada kelompok kontrol tersebut masih tergolong rendah sekali. Berbeda halnya dengan peningkatan KEM yang terjadi pada kelompok eksperimen yaitu sebesar 78.28 21. meskipun terdapat sedikit peningkatan kemampuan membaca. perbandingan tes awal kelompok eksperimen dan tes awal kelompok kontrol serta tes akhir kemampuan membaca kelompok eksperimen dan tes akhir kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik berikut ini. Untuk lebih jelasnya. dapat disimpulkan terdapat perbedaan sebesar 21. Grafik Perbandingan Tes Akhir KEM . Tes Awal Tes Awal Perbandingan tes akhir KEM pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik beikut. terdapat peningkatan kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa tanpa menggunakan model PBT.15 kpm dan kelompok eksperimen sebesar 59.01 kpm.berkemampuan membaca rendah sekali. Jadi. Dari deskripsi data peningkatan kemampuan membaca kelompok eksperimen dan kelompok kontrol di atas.26 kpm. Grafik Perbandingan Tes Awal KEM pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari grafik di atas terlihat bahwa tes awal KEM kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan kelompok eksperimen. Selisih Rata-Rata Tes Awal KEM Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari tabel di atas diketahui bahwa rataSelisih rata tes awal KEM Kelas Kontrol Kelas Eksperimen kelompok kontrol 81. KEM siswa pada kelompok kontrol ini pun mengalami peningkatan. Artinya. dari yang semula rata-rata KEM siswa sebesar 81. 11 (28. Jadi.87 kpm yang menunjukkan bahwa tes awal KEM kelompok kontrol lebih tinggi daripada kolompok eksperimen.56%) orang siswa KEM-nya tetap. hanya peningkatannya sedikit yaitu 12.87 sebesar 81. Secara keseluruhan.16 kpm. berdasarkan hasil uji gain pada rata-rata tes awal KEM kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini.15 59.01 kpm. Selisih perbandingan kemampuan membaca antara tes awal dan tes akhir kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 12. dan 1 (2.21%) orang siswa justru mengalami penurunan KEM. Dari 39 siswa kelompok kontrol terdapat 27 (69.

496 -0. 1.38 Rasio kurtosis -0. didapat hasil uji normalitas seperti yang tertera dalam tabel berikut. 1. berdasarkan hasil uji gain pada rata-rata tes akhir KEM kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini.67 -0.52 -0.16 kpm dan kelompok eksperimen sebesar 137. diadakan penilaian terhadap data kurtosis yang dihasilkan dari olahan program SPSS 15 for windows dengan cara mengubah ukuran tersebut ke dalam angka angka rasio kurtosis.38 kpm yang menunjukkan bahwa tes akhir KEM kelompok kontrol lebih tinggi daripada kolompok eksperimen. Hasil Uji Normalitas Data No.006 -1.54 Selisih 2) Uji Sifat Data Pengujian sifat data ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan pengujian data secara kuantitatif.151 0. Jadi. 1. 1.99 -0. Uji Normalitas Data Untuk menguji normalitas data.pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari grafik di atas terlihat bahwa tes akhir KEM kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Variabel tes awal KEM kelompok eksperimen tes akhir KEM kelompok eksperimen skor tes awal kelompok eksperimen skor tes akhir kelompok eksperimen tes awal KEM kelompok kontrol tes akhir KEM kelompok kontrol Ukuran kurtosis 0. Uji sifat data ini meliputi uji normalitas data. Berdasarkan hasil penghitungan statistik. Tes Akhir Kelas Kontrol 93. 1.008 1. Untuk lebih jelasnya.67 Interval -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 -2 dan +2 Tafsiran Normal Normal Normal Normal Normal Normal . Selisih Rata-Rata Tes Akhir KEM Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Dari tabel di atas diketahui bahwa ratarata tes akhir KEM 44.38 kelompok kontrol sebesar 93.738 -0. uji homogenitas data.55 0. dapat disimpulkan terdapat perbedaan sebesar 44. 1.389 -0.54 kpm.16 Tes Akhir Kelas Eksperimen 137. dan analisis regresi.

Berdasarkan hasil penghitungan statistik. 3.05 1. 4.14 292.76 1.67 – 1.33 1. bagaimana hubungan antara tes awal (variabel X) dan tes akhir (variabel Y) pada masing-masing kelompok (eksperimen dan kontrol).15 1.33 4.67 – 1. 1. Hasil Uji Homogenitas Varian Ftabel No.147 -0. Berdasarkan hasil analisis regresi menggunakan program SPSS 15 for Windows.79 dk 1 37 38 RJK 5358.14 10818. homogenitas data dalam penelitian ini terlihat dalam tabel berikut.67 – 1. Pasangan Variabel 1.69 1.571 -2 dan +2 -2 dan +2 Normal Normal Uji Homogenitas Pengujian homogenitas merupakan salah satu asumsi yang harus dipenuhi untuk dapat menguji perbedaan dua rata-rata atau untuk melakukan analisis varian.65 16176.11 linier Tafsiran .67 – 1.1. 2. Tes Awal KEM Eksperimen-Kontrol Tes Akhir KEM Eksperimen-Kontrol Skor Tes Awal Eksperimen-Kontrol Skor Tes Akhir Eksperimen-Kontrol Fhitung p < 0. Jika varian antarkelompok yang hendak dicari reratanya itu homogen. berarti perbandingan itu dilakukan secara adil.18 1. Daftar Analisis Variansi Regresi Linier Kelompok Eksperimen Ftabel Model Regresi Residu Jumlah JK 5358. skor tes awal kelompok -0. regresi linier untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam tabel berikut ini.76 39 39 39 39 homogen homogen homogen homogen N Tafsiran Analisis Regresi Tujuan dilakukannya analisis regresi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat data.76 1.423 kontrol -1.850 kontrol skor tes akhir kelompok 0.76 1.05 18.40 Fhitung P < 0.

33 dan nilai Ftabel dalam distribusi F pada tingkat kepercayaan p = 95% menunjukkan nilai 4.37 31.05B1. nilai Fhitung lebih besar daripada nilai Ftabel.39 dk 1 37 38 RJK Fhitung P < 0.11. Hal tersebut mengandung arti bahwa tes awal dan tes akhir pada kelompok eksperimen mempunyai hubungan yang linier. Dengan demikian. Dengan kata lain.29 berikut ini. Hal tersebut mengandung arti bahwa tes awal dan tes akhir pada kelompok kontrol mempunyai hubungan yang linier.16 1766. Analisis variansi regresi linier kelompok kontrol dapat terlihat pada tabel 4. Hal ini pun menunjukkan bahwa garis regresi signifikan dapat dipakai sebagai alat peramal untuk variabel tak bebas pda taraf nyata α = 0.Pada tabel di atas terlihat bahwa Fhitung sebesar 18.60 dan nilai Ftabel dalam distribusi F pada tingkat kepercayaan p = 95% menunjukkan nilai 4. berikut disajikan hasil uji beda rata-rata (uji-t). Dari hasil uji regresi di atas.05.11 linier Tafsiran Pada tabel 4.13A1. nilai tes awal pada kelompok eksperimen dapat digunakan untuk meramalkan nilai tes akhir. nilai tes awal pada kelompok kontrol dapat digunakan untuk meramalkan nilai tes akhir pada kelompok kontrol.69 10262.19 4. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata untuk Data Kemampuan Tes Akhir No Sampel 1 Eksperimen 2 Kontrol Varians total t hitung Rata-rata 137. Daftar Analisis Variansi Regresi Linier Kelompok Kontrol Ftabel Model Regresi Residu Jumlah JK 8764. dapat disimpulkan bahwa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol hubungan antara tes awal dan tes akhir bersifat linier dengan persamaan regresi yang signifikan.82+0. Hal ini pun menunjukkan bahwa garis reresi signifikan dan dapat dipakai sebagai alat peramal untuk variabel tak bebas pda taraf nyata α = 0.10+0. uji kesamaan dua rata-rata untuk data kemampuan membaca pada tes akhir antara kelompok eksperimen yang menggunakan pembelajaran model PBT dengan . dengan persamaan regresi B2 = 89.11. nilai Fhitung lebih besar daripada nilai Ftabel.69 277.26 n (banyaknya data) 39 39 Berdasarkan hasil uji t-test.05.21 7.54 93.15 s (varian) 1990. Pengujian Hipotesis Penelitian Untuk menguji hipotesis penelitian tersebut. Dengan kata lain.29 terlihat bahwa Fhitung sebesar 31.70 19027.60 4. Dengan demikian. dengan persamaan regresi A2=129.05 8764.

99.10) = 0.05 dalam dk=76 berada di luar daerah penerimaan maka H0 ditolak dan H1 diterima. Banyaknya data kelompok eksperimen adalah 39 dan banyaknya data untuk kelompok kontrol adalah 39 sehingga dk = 39 + 39 – 2 = 76. Pembelajaran Membaca Menggunakan Model Mengajar Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. dapat dilihat pada tabel berikut. dari tabel t didapat 1. .15) > ttabel (1. Daerah penerimaan H0 yaitu : -1. atau dengan kata lain rata-rata nilai kemampuan tes akhir kelompok eksperimen berbeda secara signifikan dengan rata-rata kemampuan tes akhir kelompok kelompok kontrol.99. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri.99 < t < 1.05 dk Daerah Penerimaan H0 Tafsiran 7.10% maka peluang untuk t tabel adalah ½α = ½(0.kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran secara konvensional.15.99 Signifikan Dari perhitungan di atas didapat t hitung yaitu 7. (Taroepratjeka.15 1. Untuk α = 0. Karena thitung (7. Makna dari hasil pengujian hipotesis penelitian ini yakni bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% kemampuan membaca dengan menggunakan model Concentrated Language Encounter berbeda secara signifikan dengan kemampuan membaca dengan pembelajaran membaca secara konvensional. Model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Data Kemampuan Membaca pada Tes Akhir antara Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol ttabel Pasangan Variabel n Kemampuan akhir kelompok eksperimen39 kemampuan akhir kelompok kontrol thitung p <0. model PBT ini efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. guru memberi contoh dan menuntun.99 < t < 1. 2002: 1).99 76 -1.05)(76).05. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. Berdasarkan rumpun model pembelajaran yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian t(1/2α)(n1 + n2 – 2) = t(0.99) pada p < 0. Dengan kata lain.

Prinsip-prinsip yang mendasari model ini. siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. guru memberi contoh dan menuntun. berpikir kreatif. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis.Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. 2003). sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. Orientasi Model Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. sekalipun pada awalnya. berpikir kreatif. Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. serta mampu bekerja secara kelompok. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. berikut ini disajikan tentang pembelajaran membaca menggunakan Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter). 1. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing. sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. 3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. Dengan . menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan. (Taroepratjeka. yaitu 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. Dalam pengajaran PBT ini. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. serta mampu bekerja secara kelompok. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). 1. Selain itu. meningkatkan kepercayaan dirinya. Selain itu. 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). siswa tidak mau bicara (Nusyirwan. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran terprogram. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. 2002: 1). guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. meningkatkan kepercayaan diri. Apa yang dikatakan atau ditulis. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. Berdasarkan pembahasan tentang hakikat model pembelajaran di atas.

Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. menganalisis jenis bacaan. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran sebagai upaya untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. Pada tahap ini. Kegiatan pengembangan kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. b) Tahap kedua.demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama. serta nada suara dari guru atau temannya. 2. 1. dan sebagainya. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. karakteristik tokoh. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. rangkaian kejadian dalam wacana. tokoh dalam wacana. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. Untuk lebih jelasnya. bahkan bila mereka tidak mau membaca. Berdasarkan rumpun model pembelajaran. Model Pembelajaran 1) Langkah-langkah Pembelajaran (Syntax) Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima langkah pembelajaran. . roman muka. dari gerakan. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. a) Tahap kesatu. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. Model PBT dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis. diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. 3) mendiskusikan isi bacaan. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi.

siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. merefleksi. Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. recite. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. Selain itu. dan mengulang secara menyeluruh. serta mampu bekerja secara kelompok. 2) Sistem Sosial (Social System) Pola hubungan antara guru dengan siswa dalam pelaksanaan model PBT ini diharapkan guru memiliki kesabaran dalam membimbing siswa mengembangkan kemampuannya. Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. read. aktivitas bahasa dan elaborasi.Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. mengungkapkan sesuatu. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. . Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. e) Tahap kelima. berpikir kreatif. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. mendiskusikan isi bacaan. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan. question. Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. meningkatkan kepercayaan dirinya. Pada tahap ini. dan review). Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. reflect. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview. pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. menanyakan pada diri sendiri. d) Tahap keempat. c) Tahap ketiga. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya.

3. a) Pada tahap menganalisis jenis bacaan. Penerapan Model . Guru pun perlu memiliki pemikiran yang fleksibel dan mampu menghargai pemikiran dan pendapat siswa yang belum tentu sesuai dengan pemikirannya. pada tahap ini guru mengarakhan siswa untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian guru member komentar terhadap kegiatan berbahasa siswa. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. guru membimbing siswa untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. c) Pada tahap mendiskusikan isi bacaan. Ragam bacaan yang menjadi penunjang model PBT ini adalah ragam bacaan yang dapat mengembangkan kemampuan visual dan kognisi siswa. guru mengarahkan siswa untuk dapat melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. Guru menanggapi hasil analisis siswa dan memberikan umpan balik. bahkan bila mereka tidak mau membaca. 3) Prinsip-prinsip Reaksi Prinsip reaksi yang diberikan oleh guru terhadap perilaku siswa selama pembelajaran menggunakan Model PBT adalah sebagai berikut. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. d) Pada tahap menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. e) Pada tahap aktivitas bahasa dan elaborasi.Fungsi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran menuntut guru agar dapat membiasakan diri dan sabar mendengarkan serta memahami pendapat siswanya sesuai dengan kebutuhan siswa. 1. Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. b) Pada tahap menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. guru mengarahkan siswa untuk membaca sebuah bacaan. guru memberi tanggapan atas pendapat yang disampaikan siswa. Selain itu. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. 4) Sistem Penunjang Yang menjadi penunjang keefektifan model PBT ini di antaranya tersedianya ragam bacaan yang bervariasi dan dapat menyalurkan minat membaca siswa. guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya.

2 (5. mandiri.13%) orang siswa berkemampuan tinggi.79 (63. Model PBT pun dapat diterapkan di SD dan SMA dengan adaptasi seperlunya bergantung permasalahan siswa yang dihadapi.78 (56. Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh simpulan sebagai berikut.13%) orang siswa berkemampuan sedang. Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 6. 4.17 menit. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh secara empirik pada saat penelitian ini berlangsung. kemudian diberikan tes akhir.97%). Rata-rata kemampuan visual siswa untuk membaca wacana yaitu selama 3. 1.32 menit.Model PBT dalam penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. 2) setelah diberikan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan model PBT. Artinya KEM awal siswa kelompok eksperimen yang berjumlah 39 (100%) orang siswa dikategorikan rendah sekali. Lebih khusus lagi. sedangkan kemampuan akhirnya setelah menggunakan model PBT diperoleh data sebanyak 21 (53. 3) adanya peningkatan kemampuan membaca yaitu dari 39 orang siswa. 2 (5.92%). memiliki kepercayaan diri. Dampak penyerta lainnya yaitu siswa memiliki kemampuan berinteraksi dengan guru dan siswa dengan baik.54 kpm. Rata-rata skor tes akhir pada kelas eksperimen ini sebesar 12. penelitian ini telah memperoleh kesimpulan berkenaan dengan peningkatan kemampuan membaca menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter). penelitian ini secara keseluruhan telah mencapai tujuannya yaitu mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas VII SMP Negeri 1 Wanayasa. berpikir logis. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa termasuk pada kualifikasi kurang baik. 1) dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata KEM awal siswa kelompok eksperimen sebesar 59.79%) orang siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca. dengan kata lain kemampuan aspek kognisi siswa masih kurang baik.64%) . Dampak pembelajaran yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan kreativitas. 29 (71. 4 (10.28 kpm. kemampuan visual dan kemampuan kognisi siswa. Rata-rata skor tes awal pada kelas eksperimen ini sebesar 11. dan sisanya sebanyak 10 (25.85%) orang siswa mempunyai kemampuan membaca tinggi sekali. Secara terperinci dapat dijelaskan bahwa kemampuan membaca siswa SMPN 1 Wanayasa sebelum menggunakan model PBT seluruhnya (100%) tergolong rendah sekali. Dampak Instruksional dan Dampak Penyerta Dampak pembelajaran yang diharapkan dari penggunaan model PBT ini adalah kemampuan siswa dalam membaca bacaan bahasa Indonesia yang sangat memadai.26%) orang siswa berkemampuan rendah. dengan kata lain KEM akhir kelompok eksperimen dikategorikan tinggi. maka diketahui KEM akhir dari 39 orang siswa pada kelompok eksperimen mencapai rata-rata sebesar 137. dan menghargai pendapat orang lain.

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diharapkan dalam pembelajaran membaca menggunakan model PBT.05 dalam dk = 76 berada di luar daerah penerimaan maka H0 ditolak atau dengan kata lain rata–rata nilai kemampuan tes akhir kelas eksperimen berbeda secara signifikan dengan rata–rata kemampuan tes akhir kelas kelas kontrol. Setelah dipersentasekan hasil obervasi terhadap kegiatan siswa dalam pembelajaran membaca dengan menggunakan model PBT mencapai kurang lebih 86. 1) setelah dieksperimenkan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) terbukti secara empirik efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. 4) dari hasil uji hipotesis secara statistik diperoleh nilai thitung (7. model PBT ini efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMP. Dengan kata lain. 7) pada umumnya siswa mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model PBT dengan cukup baik. 6) proses pembelajaran dengan menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) telah menapai kurang lebih 95.65%. Artinya. model pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat mengatasi permasalahan utama dalam penelitian ini yaitu rendahnya kemampuan membaca siswa di SMP Negeri 1 Wanayasa. Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. penulis menyarankan kepada guru-guru bahasa Indonesia di SMP . Saran Berdasarkan hasil temuan-temuan dalam penelitian ini. pembelajaran membaca dengan menggunakan model PBT secara keseluruhan meningkat dari rendah sekali menjadi tinggi. dan 8) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa secara signifikan. Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa telah mengikuti kegiatan pembelajaran membaca menggunakan model PBT dengan cukup baik.99) pada p < 0. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut. Oleh karena itu. Dengan kata lain guru sangat memahami langkah-langkah pembelajaran model tersebut dengan baik.orang siswa mempunyai kemampuan rendah sekali. penulis perlu menyampaikan beberapa saran sehubungan dengan upaya peningkatan kemampuan membaca siswa di SMP.67%. Dengan kata lain.15) > ttabel (1. 5) dilihat dari hasil akhir kemampuan membaca siswa kelas eksperimen. Makna dari hasil pengujian hipotesis penelitian ini yakni bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% kemampuan membaca dengan menggunakan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) berbeda secara signifikan dengan kemampuan membaca dengan pembelajaran membaca secara konvensional. Dengan diterapkannya model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter kemampuan membaca siswa dapat meningkat dari kategori rendah sekali menjadi tinggi.

J. Furqon.agar model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran membaca untuk meningkatkan kemampuan membaca. V. 2) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) ini perlu diujicobakan secara lebih luas lagi di jenjang SMP. the Learner and the School.//www. A.E. Y. Brown. ―Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Meningkatkan Motivasi Membaca‖ Makalah FPBS UPI: tidak diterbitkan Destefano. Masyarakat dan Bangsa.php?newsid=6025 – 50k Arikunto. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek.pikiranrakyat.htm Harjasujana.R.S. Fraenkel.fajar. 1997. 2006. 1981. dan Mulyati. Inc.S. New Jersey: Prentice Hall Regent. 2003. Untuk dapat menerapkan model ini dengan lebih baik.S. www.S. disarankan agar model tersebut diujicobakan pada populasi yang lebih luas. New York: Willy. & Wallen. N. 3) model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) ini perlu diujicobakan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa menyimak. Bandung: Mutiara Harjasujana. Language. A. dan menulis. dan 4) untuk dapat mengetahui keefektifan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) lebih komprehensif.id/news. Membaca Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud. How to Design and Evaluate Research in Education. dan Damaianti. J. Statistika Terapan untuk Penelitian. http. guru perlu dilatih untuk menerapkan model ini sesuai dengan prinsip dan tujuan model pembelajaran ini. I. berbicara. Membaca dalam Teori dan Praktik. Membaca untuk Transformasi Diri. 2005. Harjasujana. D. New York: McGraw-Hill. 2005.S. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language pedagogy. Pustaka Rujukan Amin. A. V. . com/setak/2006/082006/19/wacana. Jakarta: PT Rineka Cipta. Bandung: CV Alfabeta.S. Damaianti. 1994. 1993. S. 1998. 1997. ―Pentingnya Kedudukan Membaca‖.co.

Supriyoko. ―Model-Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra‖. 1997. Kuswari. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997. ―Concentrated Language Encounter‖: http://www. 1984. Bandung: ABA Yapari. Nusyirwan.S. Bandung: Tarsito. K. Sudjana. S.. 2003. ―Model Group Mapping Activity (GMA) dalam Pembelajaran Membaca‖. U. K. Subino. Bimbingan Skripsi. Sukmadinata.org/english/pdf/bali-seminar/Sistim%20Pendidikan%20 Nasional%20%20ki%20supriyono. Robert & Spiegel. 2009. Bandung: CV Diponegoro. compdfdistric02%20%20CLE%20+%20Wacana. Metode Penelitian Pendidikan.pdf . 2008. Otto. M. Jakarta: Balai Pustaka. 2007. N. Boston: Allyn and Bacon. Y. Rude. Pearson.Harras. E. Laporan Penelitian. Weil. Sistem Pendidikan Nasional Dan Peran Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan.pdf. & Calhoun. 1982. B. Rusyana. Laporan Penelitian JPBD FPBS UPI: tidak diterbitkan Rattavanich. Rahman dan Sudaryat.D. Strategi Pembelajaran Bahasa. 1982. Wayne. 1997. Dixielee. ―Literacy in Thailand Project: A Lighthouse Project in Asia”. 1984. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Commpany. Sisavanh. 2005. 1979. 2003. Bandung: SPs UPI dan PT Rosda Karya. Y. P. Joyce.www. 2000. Metoda Statistika. Membaca 1. 253 Iskandarwassid dan Sunendar. How to Teach Reading. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997. Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud. Handbook of Reading Research. New York: Longman. dan Sulistianingsih. ―Concentrated Language Encounter as a Starting Point to Improving Literacy in Laos PDR‖. D.lfip. L. Bandung: PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya. L.govritje. Models of Teaching.A. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan.

S. C. T. NH: Heineman. A.G. adalah staf pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS Universitas Pendidikan Indonesia. Seni Membaca untuk Studi. S. Turner. Tarigan. 2006. V. 2008. 1992. Reading Strategis and Practise: a Compendium. Membaca dan Agresivitas. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. 1995. 2002. Reading Process and Practicse. PP. —— 1994. M. H. Category: artikel .Suyanto dan Djihad. H.N. 2007. Widyamartaya. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Taroepratjeka. Bandung: Angkasa. Yogyakarta: Kanisius.Pd. www. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Membaca Ekspresif.kompas. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.htm – 42k Riwayat Hidup Penulis Hernawan. Syamsuddin. Membaca.Pd. H. Portsmounth. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: UPI Weaver. Pedoman Guru untuk CLE: Pengajaran untuk Pemula (terjemahan dari Leteracy Teaching in Developing Countries: Turning Failure Into Success: A Teacher‟s Manual for Teaching of Beginners). Witdarmono. 1979. AR dan Damaianti. Bandung: Angkasa. 1988. 2000.com/kompas-cetak /0609/08/opini/2937720.. Bandung: SPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya.

Di Indonesia dikenal dengan istilah calistung (membaca. tapi didukung oleh bukti-bukti hasil penelitian lembaga-lembaga internasional yang bergerak dalam kajian membaca. December 15th. memang bukan hanya isu. and arithmetic) yang kemudian dikenal dengan 3R‘s (Suyanto. menulis dan berhitung (reading.PROSIDING SEMINAR INTERNASIONAL JURDIKSATRASIA Wednesday. yaitu menganalisis jenis bacaan. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. Isu tentang rendahnya kemampuan membaca masyarakat Indonesia telah berkembang sejak lama. Pentingnya aspek membaca terbukti dengan doktrin pendidikan yang terasa getarannya ke setiap penjuru dunia yang dikenal dengan kembali ke dasar (go back to basic). 2000: 89). Kata Kunci: Pengalaman. PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). Isinya sederhana saja. Terkonsentrasi Pendahuluan Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek penting dalam kemampuan berkomunikasi yang perlu dikuasai oleh orang-orang yang ingin berhasil dalam kehidupannya. masih banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya kegiatan membaca untuk menunjang kehidupannya ke arah yang lebih baik. Hal tersebut. Pembelajaran menggunakan model tersebut dilakukan melalui lima fase. Membaca itu merupakan alat utama untuk kehidupan yang baik. menulis. Membaca. mendiskusikan isi bacaan. writing. guru memberi contoh dan menuntun. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. yaitu membaca. yang dicetuskan oleh Amerika Serikat pada tahun 1957. mulai dari kegiatan berbahasa yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. Akan tetapi. 2010 | Author: hernawan MODEL PENGALAMAN BERBAHASA TERKONSENTRASI DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA Abstrak: Dalam tulisan ini dipaparkan tentang Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca. dan berhitung). Laporan World Bank dalam Education in Indonesia: From Crisis to Recovery (1988) yang mengutip hasil penelitian Vincent Greanary menyatakan bahwa kemampuan membaca (reading ability) anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling bawah bila . Supriyoko (2003) mengungkapkan kemampuan membaca siswa Indonesia tidak memperlihatkan prestasi yang membanggakan. dan aktivitas bahasa dan elaborasi. Pentingnya kegiatan membaca ini dikemukakan oleh Adler dalam Damaianti (2005: 1) bahwa “reading is a basic tool in the living a good life”. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru.

20 persen. Thailand (65. dan aliterat‘. Literasi ialah kemampuan membaca. guru pun mengalami kesulitan dalam menerapkan strategi pembelajaran. kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru berada pada tingkat satu. skor tingkat membaca anak-anak Indonesia yaitu 51. Program tersebut dirancang untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas mental dan intelektual secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa Indonesia yang terdiri atas keterampilan menyimak. Reseptif artinya dengan membaca pembaca menerima berbagai informasi. Iliterat adalah bentuk adjektiva yang berarti tidak bisa membaca. Tiga besar teratas diduduki Finlandia. Dalam hal ini kemampuan membaca anak-anak Indonesia berada di bawah anak-anak Filipina. Artinya. (Iskandarwassid.dibandingkan dengan anak-anak Asia pada umumnya. dan Hong Kong. Indonesia berada pada peringkat terbawah dalam kemampuan membaca. menilai. Aliterasi kerarti kekurangan sikap membaca. No 16369-IND dan Studi IEA di Asia Timur. yaitu pengajaran. Menurut penelitian lembaga IEA terhadap daya baca di 41 negara. dan Kanada.5 juta atau 9.7 berada di bawah Filipina (52. Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 9) memberi definisi strategi pembelajaran sebagai kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai dari perencanaan.0). Berdasarkan pemaparan di atas. Kemampuan untuk menafsirkan. ide. ‗iliterat‘.1) dan Singapura (74. serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. gagasan dan amanat yang ingin disampaikan . membaca. ‗aliterasi‘. Singapura. 2003: 31-32) Kegiatan membaca merupakan kegiatan reseptif aktif. dari 40 negara. 2007). Hasil penelitian terakhir yang dilaksanakan PISA (2003). Menurut laporan Bank Dunia. Thailand. 2008:9). atau menghubungkan isi teks dengan situasi di luar terbatas pada pengalaman hidup di lingkungannya (Witdarmono. Aliterat merupakan bentuk adjektiva kata aliterasi (Harjasujana dan Damaianti. pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi. Bagi Indonesia. Literat adalah bentuk adjektiva yang berarti dapat menulis dan membaca dalam suatu bahasa. Iliterasi berarti ketidakmampuan membaca. Menurut data terbaru dari Depdiknas. Lebih lanjut diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran bahasa Indonesia yaitu pola keterampilan pembelajaran yang dipilih dosen atau pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia.6). Korea. ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA. ‗iliterasi‘. dan menulis. sedikitnya ada enam kata yang harus dikenal yaitu ‗literasi‘. penulis ingin mengemukakan sebuah alternatif pembelajaran membaca bahasa Indonesia berbasis pengalaman berbahasa terkonsentrasi (selanjutnya disingkat PBT) Membaca Pemahaman Dalam membaca. tingkat melek huruf pada orang dewasa (di atas 15 tahun) di Indonesia sekitar 15. ‗literat‘. Indonesia berada di peringkat ke-39. hanya mampu memahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia. berbicara. Selain siswa.

persepsi. Membaca bukan hanya proses melihat dan menyerap lambang-lambang visual saja. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan tunggal. belajar. Kegiatan pemahaman bacaan berkaitan dengan proses berpikir. pengalaman. Kemampuan memahami tidak dapat dilihat. sekuensial. ketika itu pula terjadi proses membaca. Hingga saat ini terdapat beberapa definisi tentang membaca pemahaman. berasosiasi. Pemahaman terhadap gagasan pokok yang ada dalam sebuah teks bacaan merupakan inti dari kegiatan membaca. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Langkah ini menunjukkan bahwa siswa harus belajar dan belajar membaca secara perlahan tapi pasti untuk meraih hakikat membaca yang sesungguhnya. Kedua kemampuan ini diperlukan untuk memerikan lambang-lambang huruf agar dapat dipahami dan menjadi bermakna bagi pembaca. 2003: 6) berpendapat bahwa ‗reading is making sense of written language‟. Pemahaman adalah suatu proses mental yang merupakan perwujudan kegiatan kognisi. berpikir. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca. mulai dari definisi yang sempit hingga yang luas. dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. tapi juga merupakan sintesis faktor visual dan nonvisual. hanya dapat diuji. Turner (1995:145) memberi definisi bahwa pemahaman meliputi apa pun yang berhubungan dengan aktivitas membaca. Kriteria pemahaman sebuah bacaan dapat diukur melalui pertanyaan gagasan pokok. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. Kecepatan membaca merupakan kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa agar dapat berhasil dalam kegiatan membaca. Aspek-aspek tersebut. Burns (Harjasujana dan Damaianti. Dalam aspek ini siswa akan diukur kemampuan visualnya sebelum lebih jauh lagi diuji kemampuan kognisinya. karena membaca dilakukan secara aktif. Harjasujana (1997:4) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. dan berafeksi. Berikut ini beberapa definisi tentang membaca yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut.penulis. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Mengenai definisi membaca telah banyak dikemukakan oleh beberapa orang pakar membaca. Aktif artinya dalam kegiatan membaca pembaca melakukan kegiatan aktif menggunakan kemampuan visual dan kognitifnya untuk menafsirkan lambang-lambang yang dilihatnya sekaligus menginterpretasikannya sehingga isi bacaannya menjadi bermakna dan dapat dipahami. Lebih jauh Turner mengungkapkan bahwa seseorang dikategorikan pembaca aktif apabila pembaca tersebut membawa pengetahuan . 2003: 42-62) mengungkapkan bahwa ada delapan aspek yang terlibat dalam kegiatan membaca. yaitu aspek sensori. Gillet dan Temple (dalam Harjasujana dan Damaianti. Kecepatan membaca yang fleksibel merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki siswa dalam kegiatan membaca.

Turner pun mengungkapkan bahwa kecepatan membaca pun mungkin saja dapat mempengaruhi terhadap pemahaman. Belum ada hasil penelitian yang mengutarakan bahwa pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang cepat pemahaman terhadap bacaannya kurang baik dibandingkan dengan pembaca yang memiliki kecepatan membaca yang lebih lambat. tetapi memberikan suatu gambaran yang sangat terbatas. nada. 3) mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan secara eksplisit atau hanya menjawab isi sebuah parafrase. Robinson (1966) (dalam Turner. Pembaca mendapatkan pemahaman dengan mengkonstruksi dengan aktif sebuah arti secara mendalam melalui interaksi dari sesuatu yang dibacanya. dan . Beberapa penelitian tentang aspek-aspek keterampilan dalam membaca pemahaman telah berkembang. menyimpulkan arti sebuah kata dari suatu konteks. yaitu (1) kepribadian. Salah satunya adalah ragam keterampilan membaca pemahaman hasil Frederick B Davis. serta kemungkinan lain yang dimaksudkan penulis. Membaca pemahaman yang baik memerlukan kecepatan membaca yang fleksibel. maupun arti yang tidak tersirat. Davis (1968) dalam Turner (1995:148) mengidentifikasi delapan keterampilan membaca pemahaman melalui sebuah prosedur analisis faktor (analisis faktor merupakan suatu prosedur statistik yang digunakan untuk mengidentifikasi komponen unik dari suatu kompetensi): 1) 2) mengingat arti kata. sikap. Turner mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi membaca pemahaman. Selanjutnya Anderson dan Pearson (1984:255) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang spesipik. mengidentifikasi teknik penulis. Menurut Thorndike (Whitehead. 1996:24) membaca pemahaman adalah memahami sebuah bacaan yang sama halnya dengan memecahkan persoalan dalam matematika. dan (4) lingkungan di luar sekolah. membuat suatu kesimpulan bacaan. Gates dalam Richardson (1995:65) mengungkapkan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu proses berpikir yang lengkap. mengenal maksud. arti secara harfiah. (3) kebiasaan. 4) 5) 6) 7) menyusun bersama sebuah gagasan.dan pengalamannya ke dalam aktivitas membaca untuk membuat kesimpulan dan menerapkannya ke dalam kehidupannya. 1995:146) berpendapat bahwa membaca pemahaman adalah mengerti dengan jelas apa yang dibaca. dan kemauan penulis. Selain itu. (2) motivasi.

dan (3) evaluasi. pemikiran-pemikiran tentang aspek-aspek tersebut terus berkembang. Taksonomi Barret tersebut yaitu (1) literal. dan ranah psikomotor. mengenal maksud. dikenal pula taksonomi yang tidak kalah terkenalnya dari Benyamin S.8) mengikuti struktur sebuah pola. termasuk pendidikan dan pengajaran membaca. sehingga diperoleh kecepatan rata-rata membaca dan kemampuan kognitif untuk memahaminya. (2) inferensial. kemampuan yang sudah mempertimbangkan kecepatan rata-rata baca berikut ketepatan memahami isi bacaan yang dibacanya. Kemampuan membaca disini mengandung pengertian sebagai paduan dari kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Harjasujana dan Mulyati (1997:56) mengemukakan pendapatnya bahwa yang disebut dengan kecepatan efektif membaca (KEM) ialah perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Upaya untuk menamakan dan mengklasifikasikan aspek-aspek pemahaman tersebut disebut taksonomi aspek pemahaman. dan mengikuti struktur sebuah pola. Berbagai hasil penelitian tentang aspek-aspek dalam membaca pemahaman telah berkembang dari masa ke masa. 1994:150). ranah afektif. Dengan kata lain. Selain Taksonomi Barret. Ketiga ranah tersebut dikenal dengan Taksonomi Bloom. Namun demikian. KEM merupakan perpaduan kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Lebih sederhana lagi dikemukakan oleh Spearit (1972) tentang keterampilan dalam pemahaman sebagai berikut. sikap. Salah satunya yang diketahui sebagai taksonomi pemahaman yang terbaik menurut Turner adalah Taksonomi Barret (Turner. Menurut Pearson dan Johnson (1978) (dalam Turner (1995:149) sederetan aspek-aspek tersebut hanya membingungkan pembelajaran membaca. menyimpulkan. KEM merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. 1) 2) 3) 4) mengingat arti kata. 1997:81) yang menyarankan tiga ranah dalam penilaian pendidikan dan pengajaran. Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi . yang meliputi ranah kognitif. Bloom (1956) (dalam Harjasujana dan Mulyati. dan kemauan penulis. nada. Dalam kegiatan membaca terdapat dua komponen utama yang terlibat yaitu indera penglihatan untuk melihat lambang-lambang huruf. Perpaduan antara kecepatan membaca dan kemampuan membaca inilah yang oleh beberapa kalangan ahli membaca disebut dengan kecepatan efektif membaca atau disingkat KEM.

siswa juga diarahkan untuk meningkatkan konsentrasi dan motivasinya. berpikir kreatif. Mereka dibimbing untuk mengembangkan cara yang efektif untuk mengenali dan menuliskan kaka-kata baru. sekalipun pada awalnya. Dengan cara seperti ini setiap siswa akan mempelajari bahasa dengan jalan pikirannya masing-masing. Setiap hal yang dikerjakan atau diucapkan akan ditulis oleh setiap siswa. Selain itu. 2002: 1). sehingga pada saatnya mereka akan mampu mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. Model Pembelajaran Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) adalah model belajar yang ―membenamkan‖ siswa dalam berbahasa yang terkait dengan kegiatan-kegiatan baru dalam kegiatan kelompok. Setiap bahasa yang dihasilkan merupakan pengalaman dari sebuah kegiatan. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. Dalam pengajaran PBT ini. serta mampu bekerja secara kelompok. 2003). Keberhasilan penerapan model ini di Australia mendorong Richard Walker dan Rotarian Saowalak Rattanavich serta Noraseth Pathmanand untuk membuat suatu pilot proyek di daerah terpencil di Thailand. guru pun dituntut kesabarannya menghadapi siswa yang kurang percaya diri. mulai dari yang sederhana sampai pada kegiatan yang sulit. 2) pengajaran dengan PBT adalah berjenjang (scaffolding). Apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa terlebih dahulu diberi contoh oleh guru. harus memberikan dorongan supaya siswa mau terlibat. (Taroepratjeka. berpikir kreatif. apabila siswa makin mampu melakukan dan memilih sendiri apa yang akan mereka lakukan. siswa tidak mau bicara (Nusyirwan. meningkatkan kepercayaan diri. meningkatkan kepercayaan dirinya. Penerapan model ini dilatarbelakangi oleh kegagalan pembelajaran dengan menggunakan model tradisional. guru diharapkan sabar membimbing siswa mengembangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu. serta mampu bekerja secara kelompok. Hal senada diungkapkan oleh Nusyirwan (2003) bahwa PBT merupakan suatu model yang melibatkan murid dalam belajar bahasa secara berkelompok dengan menggunakan metode ‗scaffolding‟ (berjenjang). Selanjutnya mereka mengembangkan kemampuan untuk menyatakan sesuatu. kemudian contoh maupun bimbingan dari guru sedikit demi sedikit dikurangi. Selain itu. guru memberi contoh dan menuntun. menerima ide dan pendapat temannya atau orang lain. sambil mendorong siswa untuk mampu mengembangkannya sendiri. Cara seperti ini membimbing mereka untuk memahami semua yang mereka baca dan mereka tulis.Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (Concentrated Language Encounter) pertama kali diterapkan di tempat-tempat terpencil di Australia yang ditujukan untuk pendidikan anak-anak suku Aborigin pada tahun 1980. . Taroepratjeka (2002:3) menyatakan bahwa model PBT dikembangkan berdasarkan pada prinsipprinsip 1) PBT merupakan model yang mengarahkan siswa dalam kegiatan berbahasa terkait dengan kegiatan-kegiatan baru secara berkelompok mulai dari kegiatan sederhana dan makin lama makin sulit.

3) setiap belajar bahasa merupakan pengalaman dari setiap kegiatan yang dilakukan. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. yaitu: 1) menganalisis jenis bacaan. Dengan demikian siswa akan dapat memahami apa mereka baca atau lakukan. 4) menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. rangkaian kejadian dalam wacana. Pada tahap ini. Model kedua PBT yang diterapkan dalam penelitian ini diadopsi dari pendapat Sisavanh (1997: 4). Pada tahap ini diawali dengan kegiatan mengukur kecepatan membaca siswa dengan cara guru membimbing untuk membaca wacana bersama-sama dan mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah wacana. b) Tahap kedua. serta nada suara dari guru atau temannya. Hal ini berdasarkan asumsi penulis bahwa berdasarkan prinsip-prinsip dan konsep dasarnya. kemudian dibimbing untuk menganalisis jenis bacaan secara berkelompok. selanjutnya mereka juga dibantu untuk mengerti apa arti kata yang mereka ucapkan atau mereka tulis. dari gerakan. Arahkan siswa untuk mau melibatkan diri. dan 5) aktivitas bahasa dan elaborasi. a) Tahap kesatu. Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi dalam Pembelajaran Membaca Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi (PBT) memiliki lima fase. model PBT dalam penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam rumpun model behavioral (behavioral model). Setelah kecepatan rata-rata bacanya diketahui. roman muka. Kegiatan pengembangan . Untuk lebih jelasnya. tokoh dalam wacana. karakteristik tokoh. dan 4) belajar bahasa melalui jalan pikiran untuk mengkomunikasikannya dalam ucapan dan tulisan. Apa yang dikatakan atau ditulis. Pada tahap ini guru dituntut bersabar dalam membimbing siswa yang kurang mempunyai rasa percaya diri. serta memahami apa yang diharapkan dapat mereka lakukan. diusahakan agar siswa mengerti dengan baik isi bacaan secara keseluruhan seperti mengamati ilustrasi wacana (bila ada). 3) mendiskusikan isi bacaan. dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya. model PBT memiliki karaktristik yang relatif sama utamanya dengan model pembelajaran pembelajaran berkelompok/bergugus dan model pembelajaran trprogram. Tujuan akhir dari tahap ini adalah siswa dapat menentukan jenis bacaan yang dibacanya. Berdasarkan rumpun model pembelajaran. berikut diuraikan langkah-langkah tersebut. menganalisis jenis bacaan. bahkan bila mereka tidak mau membaca. dan sebagainya. 2) menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. tungguilah siswa tersebut sampai rasa percaya dirinya berkembang hingga siswa mau bergabung dalam kegiatan membaca dan berdiskusi. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membacanya secara kreatif dan menghubungkan isi teks dengan pengalaman pribadinya. siswa diarahkan untuk membaca sebuah bacaan. Pada tahap ini siswa membaca bersama-sama.

reflect. e) Tahap kelima. Pembelajaran menggunakan model tersebut dilakukan . Kegiatan pengembangan kemampuan kognitif siswa dilaksanakan dengan cara menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadinya. Selain itu. Dengan mencatat siswa dapat menuangkan ide baru dari perpaduan informasi. siswa merundingkan isi teks secara berkelompok. pada tahap ini siswa dapat diarahkan untuk menemukan arti kata-kata yang sulit dalam wacana kemudian siswa diharapkan dapat membuat kalimat menggunakan kata-kata yang sulit tersebut. Penutup Model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca. Dalam strategi elaborasi dikenal pula bentuk kegiatan pembuatan catatan.kemampuan membaca dapat dilakukan dengan dua kegiatan yaitu peningkatan kemampuan visual siswa dan kemampuan kognitif siswa. sedangkan analogi adalah cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara ciri pokok benda atau ide. Dalam kelompok tersebut siswa diharapkan terlibat semuanya untuk dapat mengemukakan pendapatnya. c) Tahap ketiga. read. Pembuatan catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang dimiliki sebelumnya dengan informasi baru yang diperoleh melalui proses mencatat. merefleksi. Pada tahap ini siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi bacaan sebagai hasil kegiatan membacanya. mendiskusikan isi bacaan. recite. Pada tahap ini. PQ4R merupakan strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. Siswa melakukan aktivitas berbahasa dan elaborasi dari hasil kegiatan membacanya. dan mengulang secara menyeluruh. aktivitas bahasa dan elaborasi. menanyakan pada diri sendiri. Pada tahap ini siswa menganalisis dengan kritis sebuah teks baru secara berkelompok kemudian menjawab soal-soal yang telah dipersiapkan pada teks. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Guru harus dengan sabar dan cermat mengamati jalannya diskusi sehingga siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk terlibat akhirnya mau terlibat dengan rekan-rekannya. yaitu pembuatan catatan analogi dan PQ4R (preview. question. dan review). d) Tahap keempat. Kegiatan yang dilakukan di antaranya membaca selintas dengan cepat. Bentuk kegiatan elaborasi bahasa tersebut ada dua. Pada tahap ini siswa dilatih agar mempunyai kemampuan visual yang sesuai dengan batas kemampuannya dengan cara mencatat lamanya waktu setiap kali menyelesaikan kegiatan membaca sebuah wacana. Startegi elaborasi merupakan proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Pada tahap ini siswa diharapkan berpikir secara kritis dalam menganalisis bacaan.

S. Bandung: SPs UPI dan PT Rosda Karya. Category: artikel . Membaca dan Agresivitas. 2003.org/english/pdf/baliseminar/Sistim%20Pendidikan%20Nasional%20%20ki%20supriyono. ―Concentrated Language Encounter as a Starting Point to Improving Literacy in Laos PDR‖. Iskandarwassid dan Sunendar.compdfdistric02%20%20CLE%20+%20Wacana. Membaca dalam Teori dan Praktik. V. 2008. K. Membaca Jakarta: Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III Depdikbud.govritje.S. yaitu menganalisis jenis bacaan.. H. Nusyirwan. Sistem Pendidikan Nasional Dan Peran Budaya Dalam Pembangunan Berkelanjutan. A.www. menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman pribadi. Pustaka Rujukan Damaianti. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 2006. Witdarmono. 2003. dan aktivitas bahasa dan elaborasi.pdf. Strategi Pembelajaran Bahasa.com/kompas-cetak /0609/08/opini/2937720. dan Mulyati. mendiskusikan isi bacaan. 2005. menganalisis dengan kritis sebuah teks baru. Harjasujana.www. V. Rattavanich.lfip. A.pikiranrakyat. http.kompas.//www. 2003.pdf. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III.S. 1997. Sisavanh. ―Concentrated Language Encounter‖: http://www.htm – 42k. 1997.melalui lima fase. ―Pentingnya Kedudukan Membaca‖. S. 2007. A. Y. Salah satu implikasi dari penerapan model Pengalaman Berbahasa Terkonsentrasi adalah meningkatnya kemampuan membaca. Supriyoko.htm Harjasujana. Bandung: Mutiara Harjasujana. dan Damaianti. ―Literacy in Thailand Project: A Lighthouse Project in Asia”. 1997. D. 2000.com/setak/2006/082006/19/wacana. ―Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Meningkatkan Motivasi Membaca‖ Makalah FPBS UPI: tidak diterbitkan Suyanto dan Djihad. L.S.S.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.