Kajian Linguistik Lanjut

Oleh: Susandi

1. Pendahuluan Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai „ilmu bahasa‟ atau „studi ilmiah mengenai bahasa‟ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut: “The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.” Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern. Selanjutnya Linguistik dapat dibagi menjadi beberapa cabang yaitu, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. 2. Tahapan Studi Linguistik a. Tahap pertama yaitu tahap spekulasi maksudnya pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi. b. Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahapan ini diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. c. Tahap ketiga, tahap perumusan teori atau membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah. 3. Sejarah dan Aliran Linguistik 3.1 Linguistik Tradisional Sejarah Linguistik dimulai dari linguistik tradisional, Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan . . . .”.

Aristoteles (384-322 S. Atau dengan kata lain. Varro (116 – 27 S. Kaum Stoik (Abad ke. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles. kaum naturalis adalah kelompok yang menganut faham itu. bukannya childs. Tokoh pada zaman romawi yang terkenal antara lain.M sampai lebih kurang abad ke 2 M. Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. secara fisis.M). Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada linguis pada waktu itu adalah pertentangan antara bahasa bersifat alami (fisis) dan bersifat konvensi (nomos). sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi. yaitu : 1) Selain menguasai bahasa Latin. Kalau bahasa itu tidak teratur mengapa bentuk jamak bahasa Inggris child menjadi children. setiap kata mempunyai makna secara alami. penyusunan tata bahasa dan malah juga perbandingan. sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani. Dalam masa ini ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. linguistik zaman Pertengahan. karena dipakai sebagai bahasa gereja. Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik.M). Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri.M). bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan.Dalam perkembangannya di dalam aliran linguistik tradisional dikenal linguistik zaman Yunani. Lalu. Sebaliknya. Selanjutnya yang menjadi pertentangan adalah antara analogi dan anomali. mengapa bentuk past tense bahasa Inggris dari write menjadi wrote dan bukannya writed ? Kelompok-kelompok yang termasuk dalam aliriran ini adalah Kaum Sophis (abad ke-5 S. berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata bahasa. yaitu dari lebih kurang abad ke-5 S. yaitu dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dengan bahasa- . 2) Selain bahasa Yunani. Sejarah studi bahasa pada zaman Yunani ini sangat panjang. dan bahasa ilmu pengetahuan. kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. bahasa diplomasi. Berikutnya. berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. dan Arab. artinya.M) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae. Plato (429-347 S. bahasa Ibrani. linguistik zaman Renaisans. Kemudian dikenal lingistik zaman Romawi. dan bahasa Latin menjadi Lingua Franta. Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asalusul. Latin. makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. dan bahasa Arab. Ibrani.M). Dan yang terakhir yang termasuk ke dalam linguistik tradisional adalah masa menjelang lahirnya linguistik modern. berpendapat bahwa setiap kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjuknya. Kaum Alexandrian. Sebaliknya kelompok lain yaitu kaum konvensional.4S. Jika tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja dari bahasa itu.

maka secara singkat dapat dikatakan. 2) Perbedaan La Langue dan La Parole La Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan albert Sechehay tahun 1915. Dalam pembicaraan mengenai linguistik tradisional di atas. Latin dan bahasa-bahasa Jerman lainnya. 3) Perbedaan signifiant dan signifie Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep : 1) Telaah sinkronik dan diakronik Telaah bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Berikut ini merupakan tokoh dan aliran linguistik strukturalis. . Sedangkan yang dimaksud dengan La Parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain. d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.bahasa Yunani. sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita. terutama bahasa Latin. yakni benar atau salah. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa. c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prekriptif. sifatnya abstrak. Pertama. bahwa : a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. 3. atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya. Ferdinand de Saussure. sifatnya konkret karena parole itu tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.2. Linguistik Strukturalis Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika. khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. yaitu Systemic Linguistics (SL).4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatif Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan. wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya. Karena itulah. Aliran Glosematik lahir di Denmark. yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa.K Halliday. Keenam. yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Keempat. Dalam bidang fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Scals and Category Linguistics. Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran strukturalisme : 1) Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama. yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperlukan. Ciri aliran strukturalis Amerika ini adalah cara kerja mereka yang sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memberikan suatu bahasa. yang tersusun secara berurutan. nama John R. Ketiga. Ketujuh adalah Aliran Tagmemik. bersifat linear. tetapi juga antropologis. nama aliran linguistik sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M. Menurut aliran ini satuan dasar dan . Aliran ini dipelopori oleh Kenneth L. Sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar. Leonard Bloomfield dan strukturalis Amerika. Kelima. sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis. yang menerbitkan majalah Language. dan mengakui adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. tokohnya antara lain : Louis Hjemslev (1899 – 1965). Price. aliran sistemik. aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi. Namun kemudian ada nama baru. yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfeld. aliran firthian. seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics. 3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri. yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Kedua. yaitu filsafat behaviorisme. Hjemslev juga menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan. karena adanya The Linguistics Society of America.A.

Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957). melainkan merupakan kegiatan yang dinamis. Dalam perkembangan selanjutnya. menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri. dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu. Selanjutnya pada tahun 1970. yang kemudian disebut classical theory.2. Menurut semantik generatif.1. Chomsky menulis buku generative semantics. sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu mencari kebenaran yang hakiki.3.sintaksis adalah tagmem. sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja. Lakoff. sebagai reaksi terhadap Chomsky. tahun 1980 government and binding theory. sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat. Harms Universal in Linguistic Theory. dan tahun 1993 Minimalist program. 3. E. Setiap tata bahasa dari suatu bahasa. Linguistik Tranformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya Dunia ilmu termasuk linguistik. Tata Bahasa Transformasi Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. kemudian terkenal dengan sebutan kaum Semantik generatif. 3. yaitu: 1) Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut. 3. Tata Bahasa Kasus Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. dan Kiparsky. teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax).3. terbitan Holt Rinehart and Winston. Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Kelompok Lakoff ini. memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran sendiri. dan R. 3. Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling diperlukan untuk mengisi slot tersebut. Mc Cawly. teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat. bukan merupakan kegiatan yang statis. . antara lain Pascal. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik). 2) Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa.3. Semantik Generatif Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach.3.3.

dan Australia banyak dilakukan kajian tentang bahasa-bahasa Indonesia.3. Amerika. dan bahasa negara maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia. 3. Tata Bahasa Relasional Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional. Tentang Linguistik Di Indonesia Hingga saat ini bagaimana studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap. Misalnya negeri Belanda. Perubahan baru terjadi. Pada tanggal 15 November 1975. dan (2) proposisi. banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia. kala. Dardjowidjojo. Interaksi yang dapat terjadi dapat menggunakan : A bunyi → verbal A tulis → lambang terhadap bunyi Beberapa dasar tentang berbahasa : Bebicara → bunyi Mendengarkan → menyimak . yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana. Rusia.Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas. dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. dan Soedarjanto. London.4. 4. Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia. Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra (yang jumlahnya juga belum seberapa) dan di lembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun lima puluhan masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kaswanti Purwo.4. atas prakarsa sejumlah linguis senior berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Kajian Fonologi Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam rangka menjalankan interaksi sosial. aspek. 3. Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya. yang bisa berupa unsur negasi. dan adverbia. meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak. Jerman. Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. yang telah menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia. bahasa persatuan. lebih tepat disebut perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern.

Alofon adalah perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna. dan alofon. atau bunyi yang diartikulasikan (diucapkan) misalnya {lari}. /d/. m) . Bunyi Vokal : bunyi yang tidak mengalami hambatan di daerah artikulator. misalnya /i/ dan /I/ dalam /menangIs/. Pembentukan konsonan a) Bilabial : pembentukan konsonan oleh 2 bibir. 4. misalnya /t/. ai. oi. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang masih abstrak atau yang tidak diartikulasikan. u · Vokal lonjong → i. alat ucap (yang menimbulkan getaran). fon.3 Bunyi Konsonan Bunyi Konsonan adalah bunyi yang mengalami hambatan dalam pengucapan. Disebut juga huruf hidup karena dapat berdiri sendiri dan dapat menghidupkan konsonan. Fon adalah realisasi dari fonem (parole). a · Tengah → e · Belakang → o 4. o. Mengapa bunyi dipelajari? Karena wujud bahasa yang paling primer adalah bunyi. 4. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dibentuk oleh tiga faktor. /c/. fonetik dan fonemik. o.1 Defenisi Fonologi Fonologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tata bunyi/kaidah bunyi dan cara menghasilkannya.Menulis → lambang Membaca → memahami lambing 4.1. Diftong → au. Fonem merupakan aspek bahasa pada aspek langue (istilah de Sausure). e Berdasarkan tinggi rendah lidah · Tinggi → i · Tengah → e · Bawah → a Berdasarkan maju mundurnya lidah · Depan → i. (b. Didalam fonologi terdapat istilah fonem. dan rongga pengubah getaran (pita suara). Bunyi adalah Getaran udara yang masuk ke telinga sehingga menimbulkan suara.2 Klasifikasi vokal : Berdasarkan bentuk bibir · Vokal bulat → a. p. u. yaitu pernafasan (sebagai sumber tenaga). Fonologi dibedakan menjadi. e.3. i. Terdiri dari : a.

Kluster= dua konsonan yang dibaca satu bunyi. Bunyi Segmental ada empat macam 1. kritis. Konsonan= bunyi yang terhambat oleh alat ucap 2.4 Macam-macam bunyi bahasa a. g) Laringal : pita suara terbuka lebar. h) c) Labiodental : pembentukan konsonan oleh gigi dan bibir (f. v) d) Palatal : lidah – langit-langit keras (c. b. 4.b) Apikodental : pembentukan konsonan oleh ujung lidah dan gigi (t. tragis. misalnya: /ai/ dalam sungai. alat ucap dan pita suara. proses kr: kredit. udara keluar melalui geseran. kreatif. Contoh Kluster/Konsonan Rangkap ng: yang ny: nyonya kh: khusus. Bunyi Segmental Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan. prakarya. Diftong= dua vokal yang dibaca satu bunyi. syukur str: struktur.g) f) Hamzah (glottal stop) : posisi pita suara tertutup sama sekali. krisis sy: syarat. khas. transportasi. Vokal = bunyi yang tidak terhambat oleh alat ucap 3. /au/ dalam /kau/ 4. j) e) Velar : belakang lidah – langit-langit lembut (k. strategi spr: sprai tr : tradisi. trauma. d. tragedi. pr: produksi. khitmad. syah. Bunyi Supra Segmental . strata.

ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi segmental. tinggi rendah bunyi. 2 . Tekanan atau Stres Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. panjang pendek bunyi. Nada atau Pitch Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi. diberi tanda ( / ) Jeda antar frase. diberi tanda ( // ) Jeda antar kalimat. Jeda antar kata.Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselangseling dengan jeda singkat atau agak singkat. 3 Jeda atau Persendian Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. diberi tanda ( # ) Perhatikan contoh aplikasi bunyi berikut ini! Doa Karya Chairil Anwar Tuhanku// Dalam/ termangu// Aku// masih/ menyebut/ namaMu/// Biar/ susah sungguh// Mengingat Kau// penuh seluruh/// CayaMu// panas suci // Tinggal// kerdip lilin// di kelam sunyi/// Tuhanku// aku/ hilang bentuk// remuk/// Aku/ mengembara// di negeri asing// Tuhanku// di pintuMu// aku// mengetuk// aku// tidak bisa// berpaling# . 1 . disertai dengan keras lembut bunyi.

Misalnya dalam bahasa Inggris. beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis) atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat). I was examined by the doctor. atau sheep – sheep (tunggal – jamak). maka bentuk tersebut merupakan morfem. misalnya: Dokter memeriksa saya. The doctor examinesme. Penutur bahasa Inggris mengetahui hubungan ini dari pengetahuan mereka mengenai aturan pembentukan kata dalam bahasa Inggris. makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal). seperti pada kata hit – hit (present – past). semua morfem memiliki struktur gramatikal yang dilekatkan padanya.1 Identifikasi Morfem Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain.5. 5. misalnya pada kalimat He loves books dan He is a lover of books. maknanya. seperti penanda jamak ”s” dalam bahasa Inggris. bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan hal yang sama. 1998:96). yang meliputi kata. Misalnya. Morfologi mempelajari struktur internal kata-kata. dan berusaha merumuskan aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut. Sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Bagian dari kompetensi linguistik seseorang termasuk pengetahuan mengenai morfologi bahasa. dogs. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks infleksional. dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata dan dalam bahasa yang lain lagi dengan kata fungsi. suatu kata dapat dihubungkan dengan kata lain melalui aturan. jelas bahwa dalam kebanyakan bahasa. Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem. Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }) kata kedua menjadi {ke} + {dua}. Selain itu. Dalam hubungannya dengan sintaksis. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna sama. kalimat Maxim defends Victor (Maxim mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim (Victor mengalahkan Maxim). morfologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. dan bagaimana unsur-unsur tersebut digabungkan (Fromkin & Rodman. penutur bahasa Inggris mengetahui kata dog. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa. dan dog-catcher memiliki hubungan yang erat. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke-20. Saya diperiksa dokter.2 Morf dan Alomorf . Tetapi morfem lain memiliki pengecualian. Demikian halnya jika bahasa Inggris memiliki penanda have dan be. Jika pada umumnya kata-kata dianggap sebagai unit terkecil dalam sintaksis. Terkadang. 5. Kajian Morfologi Jika fonologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai bunyi. pengucapan kata tersebut. Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan) mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan tersebut digunakan dalam wicara. Urutan kata sangat penting.

2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi Morfem utuh adalah morfem dasar. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. tulis. gaul. harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.3. semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental. Kedua. maknanya dan sebagainya. Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. durasi. baur termasuk morfem terikat. sehingga baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. biasanya satu silabel. 5. memMenyanyi . Pertama bentuk-bentuk seperti : juang. dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. ada afiks yang disebut sufiks yakni yang disisipkan di tengah morfem dasar. dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata. Untuk menentukan konfiks atau bukan. henti. dan . hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga.3 Klasifikasi Morfem Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya. Kelima disebut klitika. merupakan kesatuan utuh. Klitka adalah bentuk singkat. kerontang (kering kerontang). Pertama. daripada. 5. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian terpisah. Sedangkan yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan Alomorf nama untuk bentuk bila sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama) . tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi. Kedua. bentuk seperti baca.Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya.3. . 5.3. secara fonologis tidak mendapat tekanan. meMembawa . Melihat . Keempat. bentuk seperti ke. termasuk morfem terikat. Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi. Ketiga bentuk seperti : tua (tua renta). Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. nada. meng5. menyMenggoda . Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan. Sebab meskipun bukan afiks.1 Morfem bebas dan Morfem terikat Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. keutuhannya. kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan .

predikat. dan objek. Menurut Verhaar (1978).5 Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Dalam kategori sintaksis ada istilah nomina. Pangkal (stem). . Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. 5. Morfologi membicarakan tentang struktur internal kata. Struktur sintaksis minimal mempunyai fungsi subjek dan predikat seperti pada verba intransitif yang tidak membutuhkan objek.3.5. dan peran sintaksis. Sintaksis membicarakan tentang hubungan kata dengan kata lain. P.3.3. penderita. Dalam fungsi sintaksis ada hal-hal penting yaitu subjek. fungsi-fungsi S. Bentuk Dasar. Contohnya: Kalimat aktif: Nenek melirik kakek tadi pagi.4 Morfem beralomorf zero Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan. dan Akar(root) Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa diulang dalam suatu reduplikasi. verba. bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi. kategori sintaksis. dan K merupakan kotak kosong yang diisi kategori dan peranan tertentu. O. Dalam peran sintaksis ada istilah pelaku. SPOK pelaku sasaran Kalimat pasif: Kakek dilirik nenek tadi pagi.1 Struktur Sintaksis Struktur sintaksis ada tiga yaitu fungsi sintaksis. 6. SPOK sasaran pelaku Agar menjadi kalimat berterima. Kajian Sintaksis Morfosintaksis yaitu gabungan dari morfologi dan sintaksis. 5. 6.6 Morfem Dasar. maka fungsi S dan P harus berurutan dan tidak disisipi kata di antara keduanya. adjektiva. dan penerima. dan numeralia.

Kata yang bermakna pelaku dan penerima tetap tidak berubah walaupun kata kerja yang aktif diganti menjadi pasif. SPO Kata “berenang” menjadi berkategori nomina karena yang dimaksud adalah pekerjaan berenangnya. Makna pelaku dan sasaran merupakan makna gramatikal. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna. dan intonasi. Verba transitif selalu membutuhkan objek. hadir tidaknya fungsi sintaksis tergantung konteksnya. Fungsi subjek diisi kategori nomina. Contohnya: Nenek melirik tadi pagi kakek. Menurut Djoko Kentjono(1982). Dalam kalimat aktif transitif mempunyai kendala gramatikal yaitu fungsi predikat dan objek tidak dapat diselipi kata keterangan. Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata. seperti to be pada bahasa Inggris.(salah) Dia adalah guru.(benar) SOSPO Kata “adalah” pada kalimat tersebut merupakan verba kopula. . fungsi predikat diisi kategori verba. fungsi objek diisi kategori nomina. Nenek melirik kakek. Contohnya: Kalimat seruan: Hebat! Kalimat jawaban: Sudah! Kalimat perintah: Baca! Fungsi-fungsi sintaksis harus diisi kategori-kategori yang sesuai. Peran dalam struktur sintaksis tergantung pada makna gramatikalnya. Contohnya: tiga jam – jam tiga. dan fungsi keterangan diisi kategori adverbia. bentuk kata. Penerima berarti objek yang dikenai pekerjaan. – Kakek melirik nenek. Pelaku berarti objek yang melakukan pekerjaan.Contohnya: Kakek makan. Contohnya: Dia guru.(salah) Berenang menyehatkan tubuh. Contohnya: Nenek membersihkan kamarnya.

dan tetapi. Jika disamakan dengan morfem. meskipun. atau. yaitu komponen signifian (yang mengartikan) yang berwujud runtunan bunyi. 7. Bahasa bersifat arbiter. Kalimat tersebut sudah berbeda makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda yang disebut ambigu atau taksa. Konektor subordinatif menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat. Konjungsinya seperti dan. makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. baik morfem dasar maupun morfem afiks. Jika tanda linguistik tersebut disamakan identitasnya dengan kata atau leksem. yaitu berada di tataran fonologi. morfologi dan sintaksis.Intonasi merupakan penekanan. setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari 2 komponen. morfologi dan sintaksis adalah tidak sama. sehingga semantik diabaikan. dan komponen signifie (yang diartikan) yang berwujud pengertian atau konsep (yang dimiliki signifian). dan karena. dan intonasi interjektif dengan tanda seru. ada dua macam konektor. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata. Intonasi juga dapat berupa nada naik atau tekanan. berada di seluruh tataran. Chomsky menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa dan makna kalimat sangat ditentukan oleh semantik ini.2 Jenis Makna . Konektor koordinatif menghubungkan dua konstituen sederajat. 7. pada tahun 1965. Kucing makan tikus / mati. Contohnya: Kalau diundang.1 Hakikat Makna Menurut de Saussure. tak dapat diamati secara empiris. Konjungsinya seperti kalau. Tetapi. Banyak pakar menyatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Perbedaan intonasi juga menimbulkan perbedaan makna. dilihat dari sifatnya. maka makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem. Intonasi ada tiga macam yaitu intonasi deklaratif untuk kalimat bermodus deklaratif atau berita dengan tanda titik. Contohnya: Nenek dan kakek pergi ke sawah. Pakar itu juga mengatakan bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya. sehingga hubungan antara kata dan maknanya juga bersifat arbiter. Kajian Semantik Status tataran semantik dengan tataran fonologi. Semantik dengan objeknya yakni makna. Menurut teori yang dikembangkan Ferdinand de Saussure. Contohnya: Kucing / makan tikus mati. Konektor bertugas menghubungkan konstituen satu dengan yang lain. Makna yang menjadi objek semantik sangat tidak jelas. makna kata atau leksem itu seringkali terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. 7. berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem. saya tentu akan datang. intonasi interogatif dengan tanda tanya.

Namun. jelas. tidak meragukan. deotatif dan makna referensial. reduplikasi. Misalnya : kata-kata pronominal seperti. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata bahasa. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif. waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu. Ada sejumlah kata yang disebut kata diektik. Makna denotatif sebenarnya sama dengan makna leksikal. Makna Leksikal. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya. yakni tempat. Gramatikal dan Kontekstual Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. yang mempunyai kemiripan sifat. b. dia. karena kata-kata tersebut berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. komposisi atau kalimatisasi. Oleh karena itu. e. denotatif atau makna konseptual. Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakan kata tersebut. c. yang acuannya tidak menetap pada satu wujud. keadaaan atau ciri-ciri yang ada pada leksem tersebut. Makna asosiasi sama dengan perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain. d. makna yang dimiliki oleh sebuah kata adalah makna leksikal. Makna gramatikal adalah makna yang ada jika terjadi proses gramatikal seperti afiksasi. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan. meskipun tanpa konteks kalimat. Makna Denotatif dan Makna Konotatif Makna denotatif adalah makna asli. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.a. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Leech (1976) membagi makna menjadi menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. istilah sering dikatakan bebas konteks. makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya. Makna Referensial dan Non-referensial Sebuah kata atau leksem dikatakan bermakna referensial jika ada referensnya atau acuannya. sesuai dengan hasil observasi indera kita atau makna apa adanya. Makna Kata dan Makna Istilah Pada awalnya. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Konotasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain. Makna konseptual sebenarnya sama dengan makna leksikal. saya dan kamu. Istilah mempunyai makna yang pasti. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang bersinonim. sedangkan kata tidak bebas konteks. .

pertentangan. yang lain adalah maknamakna yang dikembangkan berdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu. Makna Idiom dan Peribahasa Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya. Faktor waktu 2. Sinonim Yaitu hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Antonim Yaitu hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. Ketidaksamaan itu terjadi karena faktor : 1. 7. Polisemi Yaitu kata yang mempunyai makna lebih dari satu.3 Relasi Makna Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain. a. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri. Peribahasa memilliki makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya. Faktor bidang kegiatan 6. Idiom terbagi atas idiom penuh dan idiom sebagian. Faktor sosial 5. Oleh karena itu. Dalam kasus polisemi. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya telah melebur menjadi satu kesatuan. Faktor keformalan 4. baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Faktor tempat atau wilayah 3. d. atau kontras antara yang satu dengan yang lain. c. Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama persis. makna-makna pada sebuah kata atau satuan ujaran yang polisemi ini masih berkaitan satu dengan yang lain. Faktor nuansa makna b.f. Homonim .

dan maknanya berbeda. f. yaitu homofon dan homograf. Homofon adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran. makna sebuah kata tidak akan berubah. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi 2. karena ketidakcermatan dalam menyusun konstruksi beranaforis.4 Perubahan Makna Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah. Redudansi Yaitu kata yang berlebih-lebihan yang menggunakan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. tetapi hanya terjadi pada sebuah kata saja. sedangkan ambiguiti adalah satu bentuk ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu sebagai akibat perbedaan tafsiran gramatikal. yang disebabkan oleh beberapa faktor. tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan makna tersebut akan berubah. Perbedaan polisemi dengan ambiguitas adalah bahwa polisemi biasanya hanya pada tataran kata. tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. antara lain : 1. Perkembangan sosial budaya 3. Perkembangan pemakaian kata 4. dan makna-makna yang dimilikinya yang lebih dari satu itu. tetapi ucapan dan maknanya berbeda. Relasi hiponimi bersifat searah. karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. tanpa memperhatikan ejaannya. Dengan demikian jelas bahwa antara keduanya tidak punya hubungan sama sekali. Ketaksaan terjadi dalam bahasa tulis akibat perbedaan gramatikal karena ketiadaan unsur lisan. Dalam masa yang relative singkat. Pada kasus homonim ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan. Homograf adalah bentuk ujaran yang ortografinya dan ejaannya sama. Ambiguitas atau Ketaksaan Yaitu gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Perbedaan homonim dengan ambiguiti adalah bahwa homonim yaitu dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama. e. Perbedaan antara homonim dengan polisemi adalah bahwa homonim yaitu dua buah bentuk ujaran atau lebih yang “kebetulan” bentuknya sama. Hiponimi Yaitu hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih. Pertukaran tanggapan indera (sinestesia) . g. Ini tidak berlaku untuk semua kosakata. 7. sedangkan polisemi yaitu sebuah bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu.Yaitu dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama dan maknanya berbeda.

Perubahan yang menyempit yaitu jika tadinya sebuah kata memiliki makna yang sangat umum. maka kemudian menjadi bermakna B. Lamuddin. A. dan Semantik. Dalam pembicaraan tentang perubahan makna. Teori linguistik merupakan cabang linguistik yang memusatkan perhatian pada teori umum dan metode-metode umum dalam penelitian bahasa. tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus. Perubahan makna total yaitu makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Makna. Jakarta: Rineka Cipta Cahyono. Aspek lain yang berkaitan dengan bidangbidang kajian bahasa juga berkembang. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kajian tentang linguistik lanjut sangat luas dan menarik untuk diperbincangkan di kesempatan berikutnya. sintaksis. Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Balai Pustaka Arifin. 1973/1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Hidayat.Chaedar.N. Daftar Pustaka Alwasilah. Bambang Yudi. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia I. Terjemahan Cours de Linguistique Generale oleh Rahayu S. 2007. Usaha untuk menghaluskan ini dikenal dengan nama eufemia atau eufemisme. Surabaya: Airlangga University Press De Saussure. Oka dan Suparno. dkk. Adanya asosiasi Asosiasi dapat berupa hubungan wadah dengan isinya. 2000. Abdul. Linguistik Suatu Pengantar. Linguistik Umum. menyempit dan berubah total. Morfologi: Bentuk. Sedangkan usaha untuk mengkasarkan dikenal dengan nama disfemia. usaha ini sengaja dilakukan untuk mencapai efek pembicaraan menjadi tegas. Hasan. Zaenal dan Junaiyah. 1993. tetapi telah meluas ke bidang atau aspek-aspek di luar bahasa yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan kehidupan manusia. 2006. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Finoza. perkembangan linguistik sangat pesat. dikenal usaha untuk menghaluskan dan mengkasarkan ungkapan. dan juga berupa hubungan waktu dengan kejadian. Komposisi Bahasa Indonesia. Kajian tentang bahasa tidak hanya meliputi satu aspek saja. Jakarta: Dirjendikti Depdikbud . 1994. Bandung: Angkasa Bandung Alwi. Penutup Dewasa ini. morfologi. 1994. Abdul.5. Perubahan yang meluas yaitu jika tadinya sebuah kata bermakna A. Ada perubahan meluas. 2003. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Cabang linguistik bisa terbagi atas fonologi. Linguistik Umum. 1994. Jakarta: Grasindo Chaer. dan Fungsi. Jakarta: Rineka Cipta Chaer.G. Ferdinand. Perubahan makna ada beberapa macam.

Oxford: Oxford University Press Muslich. M. Peter. Yogyakarta: CV Karyono Verharr. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Komposisi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud Ramlan. Jakarta: PT. Sintaksis. I. Masnur. Linguistik Umum. Jakarta: Bumi Aksara Oka. Asas-asas Linguistik Umum. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Flores: Nusa Indah Kushartanti. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press . 1994. J. Gramedia Pustaka Utama Matthews. Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. 1993. 2008. 2005. 1997. Gorys.N dan Suparno. Untung Yuwono dan Multamia RMT Lauder.Keraf.G. 1996.M.W. 2008.