P. 1
Kajian Linguistik Lanjut

Kajian Linguistik Lanjut

|Views: 372|Likes:
Published by Rizky Alfidhdha

More info:

Published by: Rizky Alfidhdha on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2015

pdf

text

original

Kajian Linguistik Lanjut

Oleh: Susandi

1. Pendahuluan Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai „ilmu bahasa‟ atau „studi ilmiah mengenai bahasa‟ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut: “The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.” Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern. Selanjutnya Linguistik dapat dibagi menjadi beberapa cabang yaitu, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. 2. Tahapan Studi Linguistik a. Tahap pertama yaitu tahap spekulasi maksudnya pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi. b. Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahapan ini diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. c. Tahap ketiga, tahap perumusan teori atau membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah. 3. Sejarah dan Aliran Linguistik 3.1 Linguistik Tradisional Sejarah Linguistik dimulai dari linguistik tradisional, Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan . . . .”.

dan Arab. Dan yang terakhir yang termasuk ke dalam linguistik tradisional adalah masa menjelang lahirnya linguistik modern. makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi. berpendapat bahwa setiap kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjuknya. Kemudian dikenal lingistik zaman Romawi.M). Lalu. Kaum Stoik (Abad ke. kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. artinya. Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asalusul. Plato (429-347 S. Kalau bahasa itu tidak teratur mengapa bentuk jamak bahasa Inggris child menjadi children. Ibrani. Dalam masa ini ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa.4S. Tokoh pada zaman romawi yang terkenal antara lain. Atau dengan kata lain. bukannya childs. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata bahasa.M).M). Latin. 2) Selain bahasa Yunani. karena dipakai sebagai bahasa gereja. Varro (116 – 27 S. dan bahasa Arab. setiap kata mempunyai makna secara alami. mengapa bentuk past tense bahasa Inggris dari write menjadi wrote dan bukannya writed ? Kelompok-kelompok yang termasuk dalam aliriran ini adalah Kaum Sophis (abad ke-5 S. Kaum Alexandrian. yaitu : 1) Selain menguasai bahasa Latin. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada linguis pada waktu itu adalah pertentangan antara bahasa bersifat alami (fisis) dan bersifat konvensi (nomos). kaum naturalis adalah kelompok yang menganut faham itu. sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani. yaitu dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dengan bahasa- . Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. yaitu dari lebih kurang abad ke-5 S.M sampai lebih kurang abad ke 2 M. berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. linguistik zaman Renaisans. dan bahasa Latin menjadi Lingua Franta. Berikutnya.Dalam perkembangannya di dalam aliran linguistik tradisional dikenal linguistik zaman Yunani. secara fisis.M) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae. linguistik zaman Pertengahan. Sebaliknya. bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan. bahasa Ibrani. Sebaliknya kelompok lain yaitu kaum konvensional. sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. penyusunan tata bahasa dan malah juga perbandingan. dan bahasa ilmu pengetahuan. Sejarah studi bahasa pada zaman Yunani ini sangat panjang. Selanjutnya yang menjadi pertentangan adalah antara analogi dan anomali. bahasa diplomasi. Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Jika tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja dari bahasa itu.M). Aristoteles (384-322 S.

Latin dan bahasa-bahasa Jerman lainnya.2. Ferdinand de Saussure. maka secara singkat dapat dikatakan. bahwa : a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. sifatnya konkret karena parole itu tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika. Berikut ini merupakan tokoh dan aliran linguistik strukturalis. sifatnya abstrak. e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan. 2) Perbedaan La Langue dan La Parole La Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa. Pertama. 3) Perbedaan signifiant dan signifie Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita. Sedangkan yang dimaksud dengan La Parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita. c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prekriptif. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan albert Sechehay tahun 1915. atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep : 1) Telaah sinkronik dan diakronik Telaah bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. 3. b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain. Dalam pembicaraan mengenai linguistik tradisional di atas.bahasa Yunani. Linguistik Strukturalis Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. yakni benar atau salah. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa. terutama bahasa Latin. .

seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics. aliran sistemik. wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka. yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Price. yaitu filsafat behaviorisme. tetapi juga antropologis. Ciri aliran strukturalis Amerika ini adalah cara kerja mereka yang sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memberikan suatu bahasa. Karena itulah. Keempat. yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfeld.4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatif Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan. karena adanya The Linguistics Society of America. yang menerbitkan majalah Language. Namun kemudian ada nama baru. Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran strukturalisme : 1) Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama. Ketiga. maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Scals and Category Linguistics.K Halliday. dan mengakui adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri. Hjemslev juga menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan. Sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the Theory of Grammar. Aliran ini dipelopori oleh Kenneth L. yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth mengenai bahasa. Dalam bidang fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Kedua. aliran firthian. 3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik. sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperlukan. Aliran Glosematik lahir di Denmark. Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Ketujuh adalah Aliran Tagmemik. Keenam. nama John R. aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi. yang tersusun secara berurutan. Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya. yaitu Systemic Linguistics (SL). tokohnya antara lain : Louis Hjemslev (1899 – 1965). 2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika. sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis. bersifat linear. nama aliran linguistik sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M. khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Kelima. Leonard Bloomfield dan strukturalis Amerika. Menurut aliran ini satuan dasar dan .A.

3. 3. berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu mencari kebenaran yang hakiki. Linguistik Tranformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya Dunia ilmu termasuk linguistik. sebagai reaksi terhadap Chomsky. E.1. sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. kemudian terkenal dengan sebutan kaum Semantik generatif. melainkan merupakan kegiatan yang dinamis.3. teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). antara lain Pascal.sintaksis adalah tagmem. dan Kiparsky. Tata Bahasa Transformasi Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky.3. Semantik Generatif Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky. dan R. Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach.2. 2) Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa.3. Kelompok Lakoff ini. Tata Bahasa Kasus Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat. Dalam perkembangan selanjutnya. 3. Lakoff. Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling diperlukan untuk mengisi slot tersebut.3. tahun 1980 government and binding theory. bukan merupakan kegiatan yang statis. Selanjutnya pada tahun 1970. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik). 3. dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat. sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja. Mc Cawly. Setiap tata bahasa dari suatu bahasa. yaitu: 1) Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut. teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. dan tahun 1993 Minimalist program. . Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957). Chomsky menulis buku generative semantics. Harms Universal in Linguistic Theory. memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran sendiri. yang kemudian disebut classical theory. dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu. menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri.3. Menurut semantik generatif. terbitan Holt Rinehart and Winston.

dan Soedarjanto. Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. yang bisa berupa unsur negasi. Amerika. aspek. Misalnya negeri Belanda. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia. dan adverbia. Perubahan baru terjadi. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional. yang telah menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia. Kajian Fonologi Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam rangka menjalankan interaksi sosial. Rusia. meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak. bahasa persatuan. dan (2) proposisi. Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra (yang jumlahnya juga belum seberapa) dan di lembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun lima puluhan masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif.4. atas prakarsa sejumlah linguis senior berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Tentang Linguistik Di Indonesia Hingga saat ini bagaimana studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap. di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana.4. 3. dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya. dan Australia banyak dilakukan kajian tentang bahasa-bahasa Indonesia. banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia.3. Tata Bahasa Relasional Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Jerman. 3. yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas. Dardjowidjojo. Kaswanti Purwo. kala. dan bahasa negara maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini. 4. Pada tanggal 15 November 1975. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia. Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. lebih tepat disebut perkenalan dengan konsep-konsep linguistik modern. London. Interaksi yang dapat terjadi dapat menggunakan : A bunyi → verbal A tulis → lambang terhadap bunyi Beberapa dasar tentang berbahasa : Bebicara → bunyi Mendengarkan → menyimak . Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.

4. o. Alofon adalah perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna. oi. e.1 Defenisi Fonologi Fonologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tata bunyi/kaidah bunyi dan cara menghasilkannya. a · Tengah → e · Belakang → o 4. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang masih abstrak atau yang tidak diartikulasikan. Fonologi dibedakan menjadi. p. o. i. 4. Pembentukan konsonan a) Bilabial : pembentukan konsonan oleh 2 bibir. Bunyi Vokal : bunyi yang tidak mengalami hambatan di daerah artikulator. Disebut juga huruf hidup karena dapat berdiri sendiri dan dapat menghidupkan konsonan. misalnya /t/. misalnya /i/ dan /I/ dalam /menangIs/. ai.2 Klasifikasi vokal : Berdasarkan bentuk bibir · Vokal bulat → a. Diftong → au.1. /c/. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dibentuk oleh tiga faktor. u. Terdiri dari : a. alat ucap (yang menimbulkan getaran). Didalam fonologi terdapat istilah fonem.Menulis → lambang Membaca → memahami lambing 4.3 Bunyi Konsonan Bunyi Konsonan adalah bunyi yang mengalami hambatan dalam pengucapan. yaitu pernafasan (sebagai sumber tenaga). m) . Bunyi adalah Getaran udara yang masuk ke telinga sehingga menimbulkan suara.3. Fon adalah realisasi dari fonem (parole). e Berdasarkan tinggi rendah lidah · Tinggi → i · Tengah → e · Bawah → a Berdasarkan maju mundurnya lidah · Depan → i. Mengapa bunyi dipelajari? Karena wujud bahasa yang paling primer adalah bunyi. dan alofon. Fonem merupakan aspek bahasa pada aspek langue (istilah de Sausure). u · Vokal lonjong → i. dan rongga pengubah getaran (pita suara). (b. fon. atau bunyi yang diartikulasikan (diucapkan) misalnya {lari}. /d/. fonetik dan fonemik.

tragedi. h) c) Labiodental : pembentukan konsonan oleh gigi dan bibir (f.4 Macam-macam bunyi bahasa a. /au/ dalam /kau/ 4. Contoh Kluster/Konsonan Rangkap ng: yang ny: nyonya kh: khusus. transportasi. d. kritis. Bunyi Segmental ada empat macam 1. tragis. khitmad. prakarya. strata. g) Laringal : pita suara terbuka lebar. trauma. kreatif. Bunyi Supra Segmental . Bunyi Segmental Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan. syah. Konsonan= bunyi yang terhambat oleh alat ucap 2. 4. proses kr: kredit.b) Apikodental : pembentukan konsonan oleh ujung lidah dan gigi (t.g) f) Hamzah (glottal stop) : posisi pita suara tertutup sama sekali. j) e) Velar : belakang lidah – langit-langit lembut (k. udara keluar melalui geseran. Kluster= dua konsonan yang dibaca satu bunyi. pr: produksi. v) d) Palatal : lidah – langit-langit keras (c. Vokal = bunyi yang tidak terhambat oleh alat ucap 3. syukur str: struktur. krisis sy: syarat. khas. alat ucap dan pita suara. strategi spr: sprai tr : tradisi. misalnya: /ai/ dalam sungai. b. Diftong= dua vokal yang dibaca satu bunyi.

3 Jeda atau Persendian Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. disertai dengan keras lembut bunyi. Tekanan atau Stres Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. diberi tanda ( // ) Jeda antar kalimat. panjang pendek bunyi. Nada atau Pitch Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi. diberi tanda ( / ) Jeda antar frase. Jeda antar kata. tinggi rendah bunyi. diberi tanda ( # ) Perhatikan contoh aplikasi bunyi berikut ini! Doa Karya Chairil Anwar Tuhanku// Dalam/ termangu// Aku// masih/ menyebut/ namaMu/// Biar/ susah sungguh// Mengingat Kau// penuh seluruh/// CayaMu// panas suci // Tinggal// kerdip lilin// di kelam sunyi/// Tuhanku// aku/ hilang bentuk// remuk/// Aku/ mengembara// di negeri asing// Tuhanku// di pintuMu// aku// mengetuk// aku// tidak bisa// berpaling# .Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselangseling dengan jeda singkat atau agak singkat. 1 . 2 . ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi segmental.

kalimat Maxim defends Victor (Maxim mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim (Victor mengalahkan Maxim). Saya diperiksa dokter. makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal). Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke-20. seperti penanda jamak ”s” dalam bahasa Inggris. bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan hal yang sama. Penutur bahasa Inggris mengetahui hubungan ini dari pengetahuan mereka mengenai aturan pembentukan kata dalam bahasa Inggris. maka bentuk tersebut merupakan morfem. atau sheep – sheep (tunggal – jamak). beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis) atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat). Jika pada umumnya kata-kata dianggap sebagai unit terkecil dalam sintaksis. maknanya. suatu kata dapat dihubungkan dengan kata lain melalui aturan. penutur bahasa Inggris mengetahui kata dog. Kajian Morfologi Jika fonologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai bunyi. 5. dogs. Misalnya dalam bahasa Inggris. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa. jelas bahwa dalam kebanyakan bahasa. Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal. Selain itu. Misalnya. Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan) mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan tersebut digunakan dalam wicara. semua morfem memiliki struktur gramatikal yang dilekatkan padanya. yang meliputi kata. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna sama. Sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks infleksional. Tetapi morfem lain memiliki pengecualian. Morfologi mempelajari struktur internal kata-kata. pengucapan kata tersebut. Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem. seperti pada kata hit – hit (present – past). dan dog-catcher memiliki hubungan yang erat. 5. Dalam hubungannya dengan sintaksis.5. dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata dan dalam bahasa yang lain lagi dengan kata fungsi.1 Identifikasi Morfem Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. 1998:96). I was examined by the doctor. morfologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Urutan kata sangat penting. Demikian halnya jika bahasa Inggris memiliki penanda have dan be. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }) kata kedua menjadi {ke} + {dua}. misalnya: Dokter memeriksa saya. dan berusaha merumuskan aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut. dan bagaimana unsur-unsur tersebut digabungkan (Fromkin & Rodman. misalnya pada kalimat He loves books dan He is a lover of books.2 Morf dan Alomorf . Terkadang. The doctor examinesme. Bagian dari kompetensi linguistik seseorang termasuk pengetahuan mengenai morfologi bahasa.

biasanya satu silabel. Kedua.1 Morfem bebas dan Morfem terikat Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. . secara fonologis tidak mendapat tekanan. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. Pertama.3 Klasifikasi Morfem Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya.Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Sedangkan Alomorf nama untuk bentuk bila sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama) . Ketiga bentuk seperti : tua (tua renta). meng5. merupakan kesatuan utuh. 5. menyMenggoda . bentuk seperti baca. bentuk seperti ke. Sebab meskipun bukan afiks. Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan. daripada. Kedua. meMembawa . harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang. keutuhannya. memMenyanyi . tulis. Klitka adalah bentuk singkat. ada afiks yang disebut sufiks yakni yang disisipkan di tengah morfem dasar. semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi. Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian terpisah. Pertama bentuk-bentuk seperti : juang. kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan . Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi. dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata. maknanya dan sebagainya. Kelima disebut klitika.3. Melihat . kerontang (kering kerontang). tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi Morfem utuh adalah morfem dasar.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental. Keempat. 5. Untuk menentukan konfiks atau bukan. durasi.3. termasuk morfem terikat. 5. hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga.3. sehingga baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. dan . henti. Sedangkan yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. nada. baur termasuk morfem terikat. gaul.

Kajian Sintaksis Morfosintaksis yaitu gabungan dari morfologi dan sintaksis. 6.4 Morfem beralomorf zero Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.3. dan numeralia. Struktur sintaksis minimal mempunyai fungsi subjek dan predikat seperti pada verba intransitif yang tidak membutuhkan objek.3.5. SPOK sasaran pelaku Agar menjadi kalimat berterima.1 Struktur Sintaksis Struktur sintaksis ada tiga yaitu fungsi sintaksis. Sintaksis membicarakan tentang hubungan kata dengan kata lain. dan Akar(root) Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa diulang dalam suatu reduplikasi. predikat. maka fungsi S dan P harus berurutan dan tidak disisipi kata di antara keduanya. Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. Morfologi membicarakan tentang struktur internal kata. dan K merupakan kotak kosong yang diisi kategori dan peranan tertentu. Bentuk Dasar. Pangkal (stem). adjektiva. 6. fungsi-fungsi S.5 Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dengan morfem lain. 5. Menurut Verhaar (1978).3. Dalam peran sintaksis ada istilah pelaku. penderita. Dalam fungsi sintaksis ada hal-hal penting yaitu subjek. Contohnya: Kalimat aktif: Nenek melirik kakek tadi pagi. verba. kategori sintaksis. dan penerima. dan peran sintaksis. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh. Dalam kategori sintaksis ada istilah nomina. . O. 5.6 Morfem Dasar. P. dan objek. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. SPOK pelaku sasaran Kalimat pasif: Kakek dilirik nenek tadi pagi. bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi.

Kata yang bermakna pelaku dan penerima tetap tidak berubah walaupun kata kerja yang aktif diganti menjadi pasif. Contohnya: Nenek membersihkan kamarnya. fungsi predikat diisi kategori verba. Verba transitif selalu membutuhkan objek. Fungsi subjek diisi kategori nomina. Menurut Djoko Kentjono(1982).(salah) Berenang menyehatkan tubuh. Dalam kalimat aktif transitif mempunyai kendala gramatikal yaitu fungsi predikat dan objek tidak dapat diselipi kata keterangan.Contohnya: Kakek makan. Contohnya: tiga jam – jam tiga. – Kakek melirik nenek. Contohnya: Dia guru. SPO Kata “berenang” menjadi berkategori nomina karena yang dimaksud adalah pekerjaan berenangnya. Peran dalam struktur sintaksis tergantung pada makna gramatikalnya. dan intonasi.(salah) Dia adalah guru. dan fungsi keterangan diisi kategori adverbia. Contohnya: Nenek melirik tadi pagi kakek.(benar) SOSPO Kata “adalah” pada kalimat tersebut merupakan verba kopula. Penerima berarti objek yang dikenai pekerjaan. fungsi objek diisi kategori nomina. Makna pelaku dan sasaran merupakan makna gramatikal. hadir tidaknya fungsi sintaksis tergantung konteksnya. Contohnya: Kalimat seruan: Hebat! Kalimat jawaban: Sudah! Kalimat perintah: Baca! Fungsi-fungsi sintaksis harus diisi kategori-kategori yang sesuai. Nenek melirik kakek. bentuk kata. . Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna. Pelaku berarti objek yang melakukan pekerjaan. Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata. seperti to be pada bahasa Inggris.

morfologi dan sintaksis adalah tidak sama. Konektor bertugas menghubungkan konstituen satu dengan yang lain. ada dua macam konektor. makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Konektor subordinatif menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat. Konjungsinya seperti kalau. Intonasi ada tiga macam yaitu intonasi deklaratif untuk kalimat bermodus deklaratif atau berita dengan tanda titik. meskipun. sehingga hubungan antara kata dan maknanya juga bersifat arbiter. dilihat dari sifatnya. Banyak pakar menyatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. atau. Konektor koordinatif menghubungkan dua konstituen sederajat. Perbedaan intonasi juga menimbulkan perbedaan makna. Menurut teori yang dikembangkan Ferdinand de Saussure. sehingga semantik diabaikan. dan intonasi interjektif dengan tanda seru. yaitu berada di tataran fonologi. Jika tanda linguistik tersebut disamakan identitasnya dengan kata atau leksem. Bahasa bersifat arbiter. intonasi interogatif dengan tanda tanya.1 Hakikat Makna Menurut de Saussure. saya tentu akan datang. Pakar itu juga mengatakan bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya. dan tetapi. Contohnya: Kalau diundang. Kucing makan tikus / mati. Jika disamakan dengan morfem. pada tahun 1965. 7. berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem. Konjungsinya seperti dan. Intonasi juga dapat berupa nada naik atau tekanan. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata. yaitu komponen signifian (yang mengartikan) yang berwujud runtunan bunyi. 7. Tetapi. dan komponen signifie (yang diartikan) yang berwujud pengertian atau konsep (yang dimiliki signifian). tak dapat diamati secara empiris. morfologi dan sintaksis. maka makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem. 7. makna kata atau leksem itu seringkali terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. Kajian Semantik Status tataran semantik dengan tataran fonologi. Chomsky menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa dan makna kalimat sangat ditentukan oleh semantik ini. Makna yang menjadi objek semantik sangat tidak jelas. Semantik dengan objeknya yakni makna.2 Jenis Makna . baik morfem dasar maupun morfem afiks. Contohnya: Kucing / makan tikus mati. setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari 2 komponen. dan karena. berada di seluruh tataran. Kalimat tersebut sudah berbeda makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda yang disebut ambigu atau taksa.Intonasi merupakan penekanan. Contohnya: Nenek dan kakek pergi ke sawah.

saya dan kamu. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas jika kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Namun. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Leech (1976) membagi makna menjadi menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. jelas. Istilah mempunyai makna yang pasti. makna yang dimiliki oleh sebuah kata adalah makna leksikal. yang acuannya tidak menetap pada satu wujud. keadaaan atau ciri-ciri yang ada pada leksem tersebut. Gramatikal dan Kontekstual Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Makna Leksikal. Makna denotatif sebenarnya sama dengan makna leksikal. istilah sering dikatakan bebas konteks. sedangkan kata tidak bebas konteks. Konotasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain. Makna konseptual sebenarnya sama dengan makna leksikal. yakni tempat. tidak meragukan. deotatif dan makna referensial. b. reduplikasi. d. Makna Referensial dan Non-referensial Sebuah kata atau leksem dikatakan bermakna referensial jika ada referensnya atau acuannya. waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.a. komposisi atau kalimatisasi. Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakan kata tersebut. Ada sejumlah kata yang disebut kata diektik. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Oleh karena itu. e. Makna gramatikal adalah makna yang ada jika terjadi proses gramatikal seperti afiksasi. Makna asosiasi sama dengan perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain. Dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya. Makna Kata dan Makna Istilah Pada awalnya. c. Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif. makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata bahasa. dia. sesuai dengan hasil observasi indera kita atau makna apa adanya. karena kata-kata tersebut berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. Misalnya : kata-kata pronominal seperti. yang mempunyai kemiripan sifat. meskipun tanpa konteks kalimat. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang bersinonim. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. . denotatif atau makna konseptual. Makna Denotatif dan Makna Konotatif Makna denotatif adalah makna asli.

Ketidaksamaan itu terjadi karena faktor : 1. d. Sinonim Yaitu hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Faktor sosial 5. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya telah melebur menjadi satu kesatuan. biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya. Dalam kasus polisemi. yang lain adalah maknamakna yang dikembangkan berdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu. Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama persis. Faktor waktu 2. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri. Antonim Yaitu hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan.3 Relasi Makna Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain. makna-makna pada sebuah kata atau satuan ujaran yang polisemi ini masih berkaitan satu dengan yang lain. Faktor bidang kegiatan 6. Oleh karena itu. a. Makna Idiom dan Peribahasa Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya. Faktor keformalan 4. Faktor tempat atau wilayah 3. Peribahasa memilliki makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. 7. Faktor nuansa makna b. pertentangan. baik secara leksikal maupun secara gramatikal. atau kontras antara yang satu dengan yang lain. c. Idiom terbagi atas idiom penuh dan idiom sebagian. Homonim . Polisemi Yaitu kata yang mempunyai makna lebih dari satu.f.

tetapi ucapan dan maknanya berbeda. Homofon adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran. makna sebuah kata tidak akan berubah. Perkembangan sosial budaya 3. tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan makna tersebut akan berubah. Perbedaan polisemi dengan ambiguitas adalah bahwa polisemi biasanya hanya pada tataran kata. Perbedaan homonim dengan ambiguiti adalah bahwa homonim yaitu dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama. yaitu homofon dan homograf. Relasi hiponimi bersifat searah. yang disebabkan oleh beberapa faktor. Hiponimi Yaitu hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. g. antara lain : 1. f. karena ketidakcermatan dalam menyusun konstruksi beranaforis. Redudansi Yaitu kata yang berlebih-lebihan yang menggunakan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. sedangkan ambiguiti adalah satu bentuk ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu sebagai akibat perbedaan tafsiran gramatikal. Ini tidak berlaku untuk semua kosakata. Ketaksaan terjadi dalam bahasa tulis akibat perbedaan gramatikal karena ketiadaan unsur lisan. Dalam masa yang relative singkat. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi 2. tanpa memperhatikan ejaannya. sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih. tetapi hanya terjadi pada sebuah kata saja. dan makna-makna yang dimilikinya yang lebih dari satu itu. Pertukaran tanggapan indera (sinestesia) . dan maknanya berbeda.Yaitu dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama dan maknanya berbeda. Ambiguitas atau Ketaksaan Yaitu gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. sedangkan polisemi yaitu sebuah bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. e. Homograf adalah bentuk ujaran yang ortografinya dan ejaannya sama. Dengan demikian jelas bahwa antara keduanya tidak punya hubungan sama sekali. tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. 7. Perkembangan pemakaian kata 4. Pada kasus homonim ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan. Perbedaan antara homonim dengan polisemi adalah bahwa homonim yaitu dua buah bentuk ujaran atau lebih yang “kebetulan” bentuknya sama.4 Perubahan Makna Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah.

A. dan Fungsi. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Linguistik Suatu Pengantar. Linguistik Umum. Pengantar Linguistik Umum. 1994. 2007. Abdul.N. Makna. maka kemudian menjadi bermakna B. dan juga berupa hubungan waktu dengan kejadian. Jakarta: Diksi Insan Mulia I. 1994.Chaedar. Kajian tentang bahasa tidak hanya meliputi satu aspek saja. 1973/1988. Perubahan yang menyempit yaitu jika tadinya sebuah kata memiliki makna yang sangat umum. 2003. Hasan. Jakarta: Dirjendikti Depdikbud .5. Terjemahan Cours de Linguistique Generale oleh Rahayu S. Usaha untuk menghaluskan ini dikenal dengan nama eufemia atau eufemisme. Perubahan yang meluas yaitu jika tadinya sebuah kata bermakna A. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Hidayat. Daftar Pustaka Alwasilah. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kajian tentang linguistik lanjut sangat luas dan menarik untuk diperbincangkan di kesempatan berikutnya. Jakarta: Rineka Cipta Cahyono. Perubahan makna total yaitu makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. dikenal usaha untuk menghaluskan dan mengkasarkan ungkapan. Bambang Yudi. menyempit dan berubah total. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Lamuddin. Penutup Dewasa ini. Jakarta: Grasindo Chaer. Adanya asosiasi Asosiasi dapat berupa hubungan wadah dengan isinya. Aspek lain yang berkaitan dengan bidangbidang kajian bahasa juga berkembang.G. 2006. Abdul. Ada perubahan meluas. Sedangkan usaha untuk mengkasarkan dikenal dengan nama disfemia. tetapi telah meluas ke bidang atau aspek-aspek di luar bahasa yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan kehidupan manusia. Teori linguistik merupakan cabang linguistik yang memusatkan perhatian pada teori umum dan metode-metode umum dalam penelitian bahasa. Bandung: Angkasa Bandung Alwi. dkk. Dalam pembicaraan tentang perubahan makna. dan Semantik. tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus. Oka dan Suparno. morfologi. sintaksis. 1994. 2000. perkembangan linguistik sangat pesat. Zaenal dan Junaiyah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Finoza. Surabaya: Airlangga University Press De Saussure. Komposisi Bahasa Indonesia. Ferdinand. 1993. usaha ini sengaja dilakukan untuk mencapai efek pembicaraan menjadi tegas. Jakarta: Balai Pustaka Arifin. Cabang linguistik bisa terbagi atas fonologi. Linguistik Umum. Morfologi: Bentuk. Jakarta: Rineka Cipta Chaer. Perubahan makna ada beberapa macam.

Masnur.Keraf.G.N dan Suparno. Yogyakarta: CV Karyono Verharr. Oxford: Oxford University Press Muslich. 1996. Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. 1993. Peter. J. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press . Asas-asas Linguistik Umum. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Sintaksis. Komposisi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud Ramlan. Jakarta: Bumi Aksara Oka. Jakarta: PT. 2008.W. Gorys. 1997. 1994. M. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. 2008. Flores: Nusa Indah Kushartanti. Gramedia Pustaka Utama Matthews. Linguistik Umum. Untung Yuwono dan Multamia RMT Lauder. 2005.M. I.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->