PSBG DALAM PERRSPEKTIF BUDAYA Penanggung Jawab : Drs. Kunto Nugroho, M.Si. Penulis utama Dibantu : Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si : Sri Santosa, S.Pd., M.Pd. Drs. Tjahja Witono, M.Pd. Editor : Dra. Zulhelmi Asmarantaka, M.M. Dra. Endang Dwi Rahayu. Diperbanyak oleh : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah (PUG Bidang Pendidikan Provinsi Jawa Tengah)

Cetakan pertama Desember 2010

Sambutan Setiap program kegiatan bidang pendidikan harus mengacu pada analisis situasi permasalahan yang terjadi di lapangan, sedangkan data yang akurat mengenai permasalahan pendidikan dimaksud sebaiknya terpilah antara laki laki dan perempuan. Dengan maksud agar kita dapat memenuhi permasalahan kebutuhan laki laki dan perempuan dalam bidang pendiidkan. Buku analisis gender dan implementasinya merupakan acuan bagi kita, bagaimna sebaiknya pengarusutamaan gender bidang pendidikan diimplementasikan, utamanya di Dinas Pendidikan Kabupaten, Kota maupun di sekolah. Tentu masing masing Dinas Pendidikan Kabupaten, Kota dan sekolah mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan kepentingan daerah dengan tidak meninggalkan tujuan pendidikan nasional. Utamanya yang berkaitan dengan permasalahan kebutuhan laki laki dan perempuan atau sering disebut dengan kebutuhan gender yang adil dan setara. Kebijakan afirmatif action diperuntukkan bagi mereka yang tertinggal, perempuan maupun laki laki dengan latar belakang yang berbeda keyakinan, agama, dan budaya. Dengan mengangkat mereka yang tertinggal berarti kita menghargai martabat manusia yang mempunyai derajat yang sama dihadapan sang Pencipta. Dengan mengangkat yang tertinggal berarti kita menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Karena kenikmatan sesungguhnya adalah apabila kita bisa merasakan baersama suka maupun duka, dengan kebersamaan kita akan bisa berharap terwujutnya peradaban manusia yang lebih maju dan bermartabat sebagai makluk yang paling mulia. Terimakasih saya ucapkan hingga terwujutnya buku analisis gender dan implementasinya, yang diharapkan dapat dipakai sebagai alternative pemecahan permasalahan gender bidang pendidikan di Provinsi, Kabupaten, Kota dan sekolah. Karena ketepatan dalam menganalisis sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kesejahteraan mereka yang tertinggal. Namun karena keterbatasan, saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada, Selamat berjuang, semoga pengarusutamaan gender bidang pendidikan mempunyai makna lebih dalam membangun relasi perempuan dan laki laki yang adil dan setara. Utamanya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Jawa Tengah. Kepala Dinas Pendidikan,

Drs. Kunto Nugro HP., M.Si. NIP. 19580115 198503 1 014

KATA PENGANTAR

Puji syukur pada Tuhan bahwa dengan niat dan semangat yang kuat bersama teman teman akhirnya selesai penulisan buku Analisis gender dan implementasinya, untuk Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten, Kota dan Sekolah. Dengan munculnya buku ini diharapkan permalahan yang berkaitan dengan kebutuhan laki laki dan perempuan dapat diselesaikan dengan baik. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang telah merekomendasikan buku ini dapat dipakai di jajaran pendikan, tentu masih banyak kekurangan dalam penulisan ini, untuk itu mohon koreksi dan dimaafkan. Masih banyak permasalahan gender di jajaran pendidikan yang perlu terus kita perjuangkan, dan kami berharap buku ini dapat sebagai acuan dalam menganalisa permasalahan permasalahan yang ada yang berkaitan dengan gender. Akhir kata semoga bermanfaat bagi kita di jajaran pendidikan dalam menganalisis situasi sehingga implementasi pengarusutamaan gender bidang pendidikan dapat dilaksanakan tepat sasaran. Dengan demikian kita dapat bersama sama menikmati kemakmuran dan kesejahteraan. Perjuangan tidak pernah akan berakhir untuk melakukan yang terbaik di bidang pendidikan, semoga Tuhan member rahmat pada kita sewkalian.

Penulis

TUJUAN D. APLIKASI ANALISIS GENDER PADA SKPD B. KATEGORI ANGGARAN RESPONSIF GENDER D. PRASYARAT PENGINTEGRASIAN GENDER C. APLIKASI ANALISIS GENDER PADA TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ANGGARAN PENDIDIKAN RESPONSIF GENDER A. LATAR BELAKANG B. PENGERTIAN GENDER B. LANDASAN HUKUM C. GENDER BUDGET STATEMENT PENUTUP BAB IV BAB V BAB V LAMPIRAN 1: CONTOH RINCIAN ANGGARAN APBS HASIL KERJA KELOMPOK PADA TOT PENDIDIKAN SEKOLAH BERWAWASAN GENDER DI BINA DHARMA SALATIGA. KOMPONEN KUNCI PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN 1 1 1 4 5 6 7 8 9 11 11 13 15 25 29 33 47 51 51 52 53 57 BAB II BAB III KONSEP ANALISIS GENDER BIDANG PENDIDIKAN A. RUANG LINGKUP PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN C. TANGGAL 2-7 AGUSTUS 2010 . PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN B. PERMASALAHAN/INDIKATOR GENDER BIDANG PENDIDIKAN D. PENGERTIAN ANALISIS ANALISIS GENDER C. TEKNIK-TEKNIK ANALISIS GENDER APLIKASI ANALISIS GENDER BIDANG PENDIDIKAN DENGAN METODE GAP A. PENGERTIAN ARG B. RUANG LINGKUP KEBIJAKAN PENDIDIKAN RESPONSIF GENDER A.SISTIMATIKA BAB I SAMBUTAN DAFTAR ISI PENDAHULUAN A.

1.1. Tipe Daerah. 3.4. 3.2 4.6. dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Angka Partisipasi Kasar Menurut Jenjang Pendidikan.5. 3. 3.7. JUDUL Komponen Kunci Pelaksanaan PUG pendidikan Tabel untuk Menghitung Disparitas dan Indeks Paaritas Gender Tabel Kerja untuk Menghitung Disparitas Gender dan Indeks Paritas Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan.6. Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2008 Contoh Data Terpilah Pendidikan Hasil Analisis Kebijakan Responsif Indikator Gender Transformasi GAP-GBS Warga sekolah dalam Menciptakan Budaya Sekolah Sensitif Gender Sarana dan Prasarana yang Responsif Gender HAL 9 18 19 20 20 21 21 3. 3. 37 42 45 46 48 49 . Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2008 Persentase Penduduk 10 Tahun ke atas yang Melek Huruf Aksara Menurut Tipe Daerah. Tipe Daerah.5. 4. 22 4. 3.4. 4.3.1.3.2.DAFTAR TABEL NO TABEL 2. 4. dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Angka Partisipasi Usia Sekolah Menurut Partisipasi Sekolah dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Persentase Penduduk 10 tahun ke-atas yang Melek Aksara menurut Tipe Daerah. 4.

3.3. 4. 4. 4. 3. 2. 4. 4.4.7.2. 3.1.5. 4.4.2.DAFTAR GAMBAR NO GAMBAR 2.6.1. 3.1. 5. 3. 3. 4. 3.2.1.5.6. Pengarusutamaan Gender Alur Pikir Pelaksanaan PUG Pendidikan Pengertian Gender Manifestasi Ketidakadilan Gender Pengertian Analisis Gender Faktor Kesenjangan Gender Tiga Pilar Pembangunan Pendidikan Analisis Gender Materi Bahan Ajar Contoh bahan Ajar Bias Gender Perempuan Butuh Ruang Laktasi Kamar Mandi tidak Responsif Gender Alur Gender Analysis Pathway Gambar Analisis Kebijakan responsif Gender Analisis Data Terpilah Langkah Isu Gender Formulasi Kebijakan Responsif Gender Transformasi GAP-GBS JUDUL HAL 7 8 12 13 14 15 16 23 24 30 30 32 33 37 39 44 57 .7. 3.

Kegiatan pengarusutamaan gender bidang pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh semua unit kerja yang ada di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Pengarustamaan gender bidang pendidikan dipilih sebagai strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan pendidikan.BAB I PENDAHULUAN A. mengefektifkan dan mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan secara terpadu dan terkoordinasi. Untuk memperlancar. Modul ini disusun agar mempermudah seluruh stakeholders pendidikan dalam melaksanakan pengaruustamaan gender bidang pendidikan. (Permendiknas 84 Tahun 2008). Menteri Pendidikan Nasional menetapkan Peraturan tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Target Millennium Development Goals (MDGs): . Target Dakkar: Salah satu target Dakkar menyebutkan: “Penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 dengan fokus pada kepastian sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu” b. LATAR BELAKANG Komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam bidang pendidikan telah secara eksplisit dituangkan dalam kebijakan pendidikan. mendorong. LANDASAN HUKUM 1. Landasan Hukum Internasional a. B.

c. Komitmen Nasional a. pemantauan. UU No. Memperluas keterjangkauan layanan pendidikan 2 . Permendiknas Nomor 84 tahun 2008: Permendiknas memberikan acuan bagi Kementerian Pendidikan Nasional. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam proses perencanaan.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional: Pengarusutamaan gender adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender (KKG) melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. 17 tahun 2007 tentang RPJMN: Peningkatan kesetaraan gender merupakan salah satu tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) ke-2 (2010-2014).Goal 2: Mencapai pendidikan dasar bagi semua dengan tujuan bahwa pada tahun 2015 semua anak baik laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan dasar Goal 3: Mempromosikan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dengan tujuan untuk menghapuskan segala bentuk disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah paling lambat pada tahun 2015. dan evaluasi atas seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan sektor pembangunan. b. RENSTRA 2010-2O14 Visi Kemendiknas 2025: Menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). Inpres No. dan satuan pendidikan dalam memasukkan dimensi kesetaraan gender dalam pembangunan pendidikan d. Meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan 2. aspirasi. Visi Kemendiknas 2014: “Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif “ Misi (5 K) 1. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/ Kota. 2. pelaksanaan.

Tersedia dan terjangkaunya layanan PAUD bermutu dan berkesetaraan di semua provinsi. 4 Tahun 2009 tentang RPJMD Provinsi Jawa Tengah. Komitmen pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender tertuang dalam Renstra Provinsi Jawa Tengah melalui Perda Nomor 4 Tahun 2009 tentang RPJMD Provinsi Jawa Tahun 2008-2013 dimana salah satu isu strategisnya adalah belum terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. dan berkesetaraan di semua provinsi. menengah. Menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan Tujuan Strategis RENSTRA 2010-2O14 meliputi: 1. Pada RPJMD tersebut dinyatakan bahwa 30% SKPD harus melaksanakan Pengarusutamaan Gender (PUG) (RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2008-2013). 2. dan kota. relevan. berdaya saing internasional dan berkesetaraan di semua provinsi. 6. Tersedia dan terjangkaunya layanan pendidikan orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan.3. 4. 5. Perda No. bermutu. dan tinggi yang berkualitas dan relevan serta berkesetaraan gender dengan memperhatikan inklusifitas di semua provinsi. Tersedia dan terjangkaunya layanan Dikti bermutu. kabupaten.9 dan GEM menjadi 61. 3. Tersedia dan terjangkaunya layanan Dikmen yang bermutu. kabupaten. Terjaminnya kepastian memperoleh layanan Dikdas bermutu dengan dan berkesetaraan di semua provinsi. dan kota. 3 . Meningkatkan kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan 4. dan kota. Tersedianya sistem tata kelola dan handal dalam menjamin terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional Sasaran strategis gabungan pada Renstra 2010-2O14 adalah penetapan sasaran ketersediaan dan keterjangkauan layanan pendidikan dasar. 3. dan kota. Komitmen Daerah a.8. relevan. dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. kabupaten. kabupaten. Mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan 5. Target yang ingin dicapai pada tahun 2013 adalah meningkatkan GDI menjadi 65.

Surat Gubernur Jawa Tengah Nomor 411/23719 tanggal 30 Desember 2009 tentang Anugerah Parahita Ekapraya dan Surat Gubernur Jawa Tengah Nomor 411/10068 tanggal 11 April 2010 yang menetapkan 15 (lima belas) SKPD sebagai ujicoba penerapan Anggaran Responsif Gender di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun anggaran 2011. b. isu strategis yang ingin dicapai adalah mengakomodasi isu-isu strategis Millenium Development Goals. dimana salah satunya adalah mewujudkan kesetaraan gender bidang pendidikan. pelaksanaan. 2. memberikan acuan bagi perencana pendidikan pada SKPD pendidikan maupun satuan pendidikan untuk menyusun perencanaan pendidikan berperspektif gender. Pada renstra Dinas Pendidikan. khususnya pada misi ke dua juga dinyatakan adanya dukungan untuk mewujudkan keadilan. dan kegiatan pembangunan bidang pendidikan. pemantauan. C. dan evaluasi atas kebijakan. berkelanjutan. yaitu “menjamin penyelenggaraan pendidikan bermutu. program. TUJUAN Modul ini bertujuan : 1. Renstra Dinas Pendidikan Pada Renstra Dinas Pendidikan ditetapkan bahwa selain mendukung 3 pilar pembangunan pendidikan. Surat Wakil Gubernur Nomor 411/21935 tanggal 13 November 2009 tentang Ujicoba Penyusunan Anggaran Responsif Gender di setiap SKPD. merata dan berkeadilan sesuai otonomi daerah dan tugas pembantuan.Perda tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan surat Gubernur Jawa Tengah Nomor 411/12331 tanggal 11 Juni 2009 tentang Percepatan Pengarusutamaan Gender. memberikan acuan bagi para pemegang kebijakan dan pelaksana pendidikan pada SKPD pendidikan dan satuan pendidikan dalam menyusun strategi pengintegrasian gender yang dilakukan melalui perencanaan. 4 . penganggaran.

landasan hukum. tujuan dan ruang lingkup modul. permasalahan/indiktor gender bidang pendidikan. Konsep analisis gender bidang pendidikan. RUANG LINGKUP Panduan ini terdiri atas lima Bab. Bab VI: 5 . Gender Budget Statement. kategori ARG. Kebijakan pendidikan respsonsif gender. mencakup: pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan. mencakup: pengertian anggaran responsif gender (ARG). pengenalan “Gender Analysis Pathway”. membahas latar belakang. memberikan acuan bagi perencana pendidikan pada SKPD pendidikan maupun satuan pendidikan untuk menyusun anggaran pendidikan responsif gender. ruang lingkup PUG pendidikan. komponen kunci pengarusutamaan gender bidang pendidikan. D. Bab V : Anggaran pendidikan responsif gender. Bab III: Bab IV: “GAP” sebagai dasar penyusunan perencanaan kebijakan/program pendidikan responsif gender. pengertian analisis gender. teknik-teknik analisis gender. meliputi: Bab I: Bab II: Pendahuluan.3. prasyarat pengintegrasian gender. mencakup: aplikasi analisis gender pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan aplikasi analisis gender pada satuan pendidikan. mencakup: pengertian gender. Penutup.

norma kerakyatan dan demokrasi untuk membentuk manusia yang memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kerakyatan dan demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat. pemantauan dan evaluasi dari 6 . nilai-nilai keadilan sosial untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang merata dan bermutu bagi seluruh bangsa serta menjamin penghapusan segala bentuk diskriminasi dan bias gender serta terlaksananya pendidikan untuk semua dalam rangka mewujudkan masyarakat berkeadilan sosial (Renstra Pendidikan 2010-2014). antara lain: a. dan d. pelaksanaan.BAB II KEBIJAKAN PENDIDIKAN RESPSONSIF GENDER Landasan filosofis pendidikan sebagaimana tertuang dalam Renstra pendidikan 2010-2014 adalah memberdayakan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya. pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Pendidikan menyatakan bahwa setiap satuan unit kerja bidang pendidikan yang melakukan perencanaan. c. norma agama dan kemanusiaan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. b. maupun makhluk sosial. pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan. A. berbangsa. norma persatuan bangsa untuk membentuk karakter bangsa dalam rangka memelihara keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender disbut sebagai pengarusutamaan gender. pelaksanaan. aspirasi. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan. dan program pembangunan bidang pendidikan agar mengintegrasikan gender di dalamnya. dan bernegara. yaitu yang menjunjung tinggi dan memegang dengan teguh norma dan nilai. Dalam upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. makhluk individu. PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG) BIDANG PENDIDIKAN Pengarusutamaan gender adalah suatu strategi yang ditempuh untuk mencapai ksetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

: Pengarusutamaan Gender Alur pikir pelaksanaan PUG pendidikan digambarkan sebagai berikut: 7 .1. BKKBN. Gambar 2. 2003: 105). dan UNFA.seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan (KemenPP.

3. Pendidikan Non Formal 6. termasuk proses pengambilan keputusan.2.Gambar 2. Pendidikan Tinggi 5. PUG dapat dilakukan dalam lingkup: 1. 4. Berpartisipasi yang sama dalam proses pembangunan. RUANG LINGKUP PUG PENDIDIKAN Dalam bidang pendidikan. karena dengan PUG dapaat diidentifikasi apakah laki-laki dan perempuan: 1. Pendidikan (Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender) 8 . Memperoleh akses yang sama kepada sumberdaya pembangunan. Pendidikan Menengah 4. PAUD 2. Alur Pikir Pelaksanaan PUG Pendidikan PUG bidang pendidikan sangatlah diperlukan. Pendidikan Dasar 3. Memiliki kontrol yang sama atas sumberdaya pembangunan Memperoleh manfaat yang samaa dari hasil pembangunan B. 2.

forum.1. baik dalam bentuk unit kerja struktural ataupun dalam bentuk unti kerja fungsional seperti kelompok kerja. kepekaan.  Sumber daya manusia yang memiliki kesadaran.C. 9 . gender focal point. ketrampilan dan motivasi yang kuat dalam melaksanakan pengarusutamaan gender di unitnya  Sumberdana dan sarana yang memadai untuk melaksanakan pengarusutamaan gender. KOMPONEN KUNCI PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN Komponen kunci pelaksanaan pengarusutamaan gender bidang pendidikan mencakup hal-hal sebagai berikut: Tabel 2. respon. Juklak dan juknis Kebijakan Strategi Program Kegiatan Kerangka kerja akuntabilitas Kerangka pemantauan dan evaluasi  Struktur organissi pemerintah yang 4 Sumber-sumberdaya yang memadai mempunyai tugas dan fungsi yang mendukung pelaksanaan PUG. : Komponen Kunci Pelaksanaan PUG pendidikan No 1 Prasyarat yang Diperlukan Komitmen politik (political will) dan kepemimpinan (leadership) dari lembagalembaga eksekutif dan yudikatif serta legislatif Komponen Kunci                2 3 Adanya kerangka kebijakan (policy framework) sebagai wujud komitmen pemerintah yang ditujukan bagi perwujudan kesetaraan dan keadilan gender bidang pendidikan Struktur dan mekanisme pemerintah yang mendukung pengaruustamaan gender UUD UU PP Peraturan/Keputusan presiden Peraturan/Keputusan menteri Peraturan daerah Peraturan/Keputusan Gubernur Peraturan/Keputusn Walikota/Bupati Keputusan Kepala Dinas.

penganggaran. pemantauan dan evaluasi 7 Dorongan dari masyarakat  Partisipasi masyarakat madani yang madani kepada pemerintah dilakukan dalam mekanismemekanisme dialog dan diskusi dalam prosess perencanaan. penganggaran. Sumber: Inpres 9 Tahun 2000 (dengan penyesuaian) Sistem infromasi dan data yang terpilah menurut jenis kelamin Alaat analisis  Data dan statistik yang terpilah menurut jenis kelamin 10 .5 6  Alat analisis gender untuk: perencanaan. pemantauan dan evaluasi. pelaksanaan.

Kodrat sifatnya universial. Sedangkan kodrat laki-laki adalah menghasilkan sperma. Sifat kodrati tersebut khas berlaku bagi masing-msing jenis kelamin perempuan maupun laki-laki dan tidak bisa saling dipertukarkan. 6. Dalam kehidupan sehari-hari. berbeda antar budaya.BAB III KONSEP ANALISIS GENDER BIDANG PENDIDIKAN A. Misal: Kodrat perempuan adalah menghasilkan sel telur. demikian halnya mengemudikan mobil. memiliki squatrum. hamil. menjadi tukang parkir. dapat dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki. Sebagai hasil konstruksi sosial. Gender terbentuk melalui proses Keluarga Media Massa Tempat Kerja Interpretasi Agama Masyarakat Sekolah 2. berbeda antar waktu. menolong persalinan. Kodrat sifatnya given (terberi) dari Allah s. sosialisasi yang terus menerus melalui: 1. memiliki rahim. PENGERTIAN GENDER Yang dimaksud dengan gender adalah perbedaan peran. fungsi. menstruasi. memanjat pohon. tetap.t sejak manusia lahir. mengalami mimpi basah. Aktivitas memasak dapat dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki. tanggung jawab. 11 . tidak berubah dan tidak bisa dipertukarkan menurut jenis kelamin. Negara.w. 4. maka gender dapat saling dipertukarkan. seringkali terjadi kerancuan anatara gender dengan kodrati. mengemudikan perahu. 5. melahirkan dan menyusui. memiliki kromosom XX. harapan dan karakteristik femininitas dan maskulinitas antara laki-laki dan perempuan hasil konstruksi sosial budaya. mencuci pakaian. dll. 7. dll. menghasilkan sperma. 3. Hal ini berbeda dengan gender. menadi direktur.

Dikatakan terjadi sub-ordinasi apabila salah satu jenis kelamin senanatiasa dipandang lebih rendah dibandingkan jenis kelamin lainnya. bukan karena kompetensi.: Pengertian Gender Dengan demikian. beban ganda. Dikatakan terjadi beban ganda apabila beban kerja salah satu jeniskelamin senantiasa lebih berat 12 . Dikatakan terjadi marginaliasai apabila salah satu jenis kelamin senantiasa terpinggirkan secara ekonomi dibandingkan jenis kelmain lainnya. gender bisa menimbulkan masalah. 4. 3. Sebaliknya gender menjadi masalah apabila terjadi ketidakadilan gender/ketimpangan gender.1. antara lain: 1. Situasi terkini. marginalisais.Gambar 3. 2. Gender tidak menjadi masalah apabila dilakukan secara adil karena akan menguntungkan kedua belah pihak. dimana salah satu jenis kelamin mengalami: subordinasi. bisa pula tidak menimbulkan masalah. terjadi ketidakadilan gender. salah satu jenis kelamin dirugikan salah satu jenis kelamin dibedakan derajatnya salah satu jenis kelamin dianggap tidak mampu salah satu jenis kelamin diperlakukan lebih rendah yang disebabkan oleh penilaian-penilaian yang berat sebelah karena faktor jenis kelaminnya. kekerasan dan stereotipe.

dibandingkan jenis kelamin lainnya. 13 . ekonomi maupun kekerasan seksual (diraba bagian tubuhnya. dicium paksa. serta faktor-faktor yang mempengaruhinya (Kementeraian PP. dibunuh. dll). BKKBN dan UNFPA. dll). dll). Dikatakan terjadi kekerasan apabila salah satu jenis kelamin mengalami tekanan yang kurang menyenangkan. fungsi. baik secara fisik (misal: dipukul. ditendang. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. tak berdaya. diperkosa. psikologis (dibuat sangat tergantung. 2003: 106). PENGERTIAN ANALISIS GENDER Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis teentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifiksi dan mengungkapkan kedudukan.: Manifestasi Ketidakadilan Gender B. Gambar 3.2.

3.: Faktor Kesenjangan Gender 14 .: Pengertian Analisis Gender Gambar 3.4..Gambar 3.

C. Sedangkan pada tingkat satuan pendidikan. permasalahan gender dapat terjadi dalam hal representasi perempuan dan laki-laki dalam jabatan struktural. 3. 2.Tujuan analisis gender adalah: 1. Pendidikan Menengah 4. akses. Merumuskan permasalahan sebagai akibat adanya kesenjangan gender. Mengetahui latar belakang terjadinya kesenjangan gender. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan 3. PAUD 2. Perluasan dan Pemerataan Pendidikan 2. kontrol dan manfaat yang diperoleh. Pendidikan Tinggi 5. Mengidentifikasi langkah-langkah/ tindakan intervensi yang diperlukan. Mengidentifikasi kesenjangan gender dilihat dari peran. 4. 15 . Akuntabilitas dan Penitraan Publik. Tata Kelola. Pendidikan Dasar 3. Pendidikan Informal (Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender/PKBG) Permasalahn gender dapat terjadi pada tiga pilar pembangunan pendidikan. PERMASALAHAN/INDIKTOR GENDER BIDANG PENDIDIKAN Permasalahan-permasalahan gender di bidang pendidikan dapat terjadi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Bidang Pendidikan maupun pada Satuan pendidikan. Pendidikan Non Formal 6. mencakup: 1. Pada tingkat SKPD. permasalahan gender dapat terjadi pada: 1.

Gambar 3. antara lain: 1. Perluasan & Pemerataan Pendidikan Perluasan dan Pemerataan pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator. Indeks paritas mencapai angka satu mengindikasikan tidak terjadinya kesenjangan gender terhadap pendidikan 16 .5. Angka Buta Aksara / Angka Melek Aksara Suatu keadaan dikatakan terjadi kesenjangan gender apabila salah satu jenis kelamin berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan jenis kelamin lainnya.: Tiga Pilar Pembangunan Pendidikan Ad 1. Angka Partisipasi Kasar (APK) 3. Indeks Paritas atau keseimbangan (Parity Index) dapat dihitung dengan menghitung rasio kinerja pendidikan penduduk perempuan terhadap kinerja pendidikan penduduk laki-laki. Angka Partisipasi Murni (APM) 4. Dengan demikian kesenjangan gender dapat terjadi pada laki-laki ataupun perempuan. Apabila: 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) 2. Kesenjangan akses pendidikan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan dapat diukur menggunakan indeks paritas gender ataupun disparitas gender.

dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal........ Disparitas gender < 0..47 92.: Tabel Kerja untuk Menghitung Indeks Paritas dan Disparitas Gender Menurut Indiktor Pendidikan No 1 2 3 Indikator Pendidikan Angka Melek Huruf (%) Rata-rata lama sekolah (th) Angka Partisipasi Sekolah (%): 7-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun P 76.. ....... lalu buatlah kesimpulan siapa yang berada dalam keadaan tertinggal..1................. dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal. apakah laki-laki..... tidak terjadi kesenjangan gender terhadap Cara menghitung Indeks Paritas (IP) adalah membagi kinerja hasil pembangunan pada perempuan dibagi laki-laki. ......2 7. Apabila: 1............8 6.01 17 . D ...47= 1.....8 dibagi 88..84. IP rata-rata lama sekolah = 6.05 IP ... . 3.. berarti terjadi kesenjangan gender.... ............. .... yaitu selisih antara kinerja pendidikan pada perempuan dikurangi kinerja pendidikan pada laki-laki..2 = 0. kesenjangan gender juga dapat diukur angan cara menghitung disparitas gender. Disparitas gender = 0 berarti pendidikan 2. ... Selain menggunakan indeks paritas gender. ... ...... ........... ....... Jadi: IP Angka Melek Huruf = 76... Indeks paritas lebih besar dari satu mengindikasikan lebih besarnya proporsi perempuan yang memperoleh akses terhadap pendidikan...7 = 0.. Indeks paritas lebih kecil dari satu mengindikasikan lebih besarnya proporsi laki-laki yang memperoleh akses pendidikan dibanding perempuan..7 98........ Dispartias gender > 0 berarti terjadi kesenjangan gender.64 64.......87.........47 51. 3......96 L 88. Cobalah menghitung disparitas gender dan indeks paritas gender dari data dibawah ini....5 100 91. IP angka partisipasi sekolah 7-12 tahun = 100 dibagi 98..5 dibagi 7. ataukah perempuan? Tabel 3.....2.....

Jadi: Disparitas (D) Angka Melek Huruf = 76.5 dikurangi 7.09 Berdasarkana hasil perhitungan diatas dapat dimasukkan dalam tabel kerja sebagai berikut: Tabel 3.4 D rata-rata lama sekolah = 6.64 64.IP angka partisipasi sekolah 13-15 tahun = 91.47 51.98 IP angka partisipasi sekolah 16-18 tahun = 51.1.47 92.2. apabila hasil perhitungan menunjukkan minus berarti perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki dan apabila hasilnya sama dengan nol berarti tidak ada kesenjangan gender.12.96 dikurangi 64. dan apabila IP lebih besar dari 1 berarti laki-laki lebih tertinggal dibandingkan perempuan.8 6.05= 0.2 D angka partisipasi sekolah 7-12 tahun = 100 dikurangi 98.7 = -1.8 dikurangi 88.47 dikurangi 92.2 1.96 dibagi 64.98 0. Demikian halnya dengan Disparitas gender.53 -1.64= -1.4 .2 7.53 D angka partisipasi sekolah 13-15 tahun = 91. 18 .87 0.12.05= -12. kita dapat menarik kesimpulan siapa yang berada dalam keadaan teringgal dilihat dari jenis kelaminnya. Apabila IP sama dengan 1 berarti tidak terjadi kesenjangan gender.17 .81 Cara menghitung Disparitas Gender adalah dengan mengurangkan kinerja hasil pembangunan pada perempuan dikurangi laki-laki.7 98. apabila hasil perhitungan menunjukkan angka plus berarti laki-laki berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan perempuan.05 IP 0.47 dibagi 92.: Tabel Kerja Hasil Perhitungan Indeks Paritas dan Disparitas Gender Menurut Indiktor Pendidikan No 1 2 3 Indikator Pendidikan Angka Melek Huruf (%) Rata-rata lama sekolah (th) Angka Partisipasi Sekolah (%): 7-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun P 76. Apabila IP lebih kecil dari 1 berarti perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkaan laki-laki.09 Selanjutnya dengan melihat hasil perhitungan sebagaimana tersebut diatas.96 L 88.5 100 91.2 = -12.81 D .17 D angka partisipasi sekolah 16-18 tahun = 51.47= 1.01 0.84 1.64= 0.

..0 IP ..6 8. D .... ... Adakah kesenjangan gender? Adakah perbedaan kesenjangaan gender antara daerah perdesaan dengan daerah perkotaan? Tabel 3................ P 8..4.4 6.....: Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Jenjang Pendidikan..... Tipe Daerah dan Jenis Kelamin 2008 19 ..3.... Tabel 3..... .: Tabel Kerja untuk Menghitung Indeks Paritas dan Disparitas Gender Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin No Tipe Daerah 1 Perkotaan (K) 2 Perdesaan (D) 3 K+D Sumber: Bappenas... ............. ..... Hitunglah disparitas gender dan indeks paritas gender pada data-data pendidikan dibawah ini.......5 5........Contoh lain...1 L 9.... 2008...7 7....... hitunglah disparitas dan indeks paritas tentang rata-rata lama sekolah (dalam tahun) penduduk berusia 15 tahun keatas menurut tipe daerah dan jenis kelamin tahun 2008.

: Angka Partisipasi Usia Sekolah Menurut Partisipasi Sekolah dan jenis Kelamin 2008 20 . : Angka Partisipasi kasar (APK) Menurut Jenjang Pendidikan.5.6. Tipe Daerah dan Jenis Kelamin 2008 Tabel 3.Tabel 3.

hingga tabel 3.Tabel 3.7. Proporsi penulis bahan ajar perempuan terhadap laki-laki 3. APM SMA/MA/SMK laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan. Proporsi siswa perempuan terhadap siswa laki-laki meneurut program studi pada jenis pendidikan kejuruan dan jenjang pendidikan tinggi. Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2008 Dengan mengacu pada tabel 3. Sebagai contoh dapat dilihat pada tabel 3.1. Keberadaan materi bahan ajar yang bias gender 2. sebaliknya di perdesaan. kita dapat melihat APM menurut jenjang pendidikan dan tipe daerah tahun 2008. Selain itu kesenjangan gender juga dapat terjadi antar desa dan kota. dapat diketahui bahwa kesenjangan gender bidang pendidikan dapat terjadi pada perempuan maupun lakilaki.7.3. Data yang ada menunjukkan bahwa di perkotaan APM SMA/MA/SMK pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Tahap-tahap analisis gender pada materi bahan ajar dapat digambarkan sebagai berikut: 21 dapat dianalisis . B. Mutu dan Relevansi Pendidikan Analisis gender terhadap mutu dan relevansi pendidikan dengan menggunakan data dan informasi seperti: 1.: Persentase Penduduk 10 Tahun ke atas yang Melek Huruf Aksara Menurut Tipe Daerah.

: Analisis Gender Materi Bahan Ajar Analisis materi bahan ajar dapat dilakukan terhadap isi substansi bahan ajar maupun gambar-gambar yang digunakan sebagai contoh dalam bahan ajar. beban ganda. 22 .6. kekerasan dan marginalisasi. Selanjutnya analisis dapat dilakukan dengan menggunakan kategori bias gender seperti: subordinasi.Gambar 3. stereotipe.

. sedangkan laki-laki digambarkan sebagai dokter. 2010). ”Pak Raharja mengasuransikan perusahaannya agar .. bias gender juga bisa termanifestasi dalam bentuk kalimat. Tiap bulan ..7..” 23 .” 3.000 poundsterling kepada Tuan Charly di London” 5.7.. ”Pak Herman mengimpor alat-alat elektronik .... Itulah yang disebut sebagai sub-ordinasi. Perempuan sedang memarut..Gambar 3... Contoh Bias Gender Dalam Kalimat: 1. Selain dalam bentuk gambar..... Berdasarkan gambar 3.... Pak Johan mengasuransikan pendidikan anaknya agar . diketahui bahwa pada bahan ajar digambarkan lakilaki sebagai direktur.” 2...: Contoh bahan Ajar Bias Gender (Sumber: Nurhaeni.. sedangkan perempuan sebagai sekretaris.... Untuk memenuhi permintaa Pak Arif …….. ”Pak Arif seorang importir di Surabaya membeli . dimana aktivitas-aktivitas terkait teknologi diasosiasikan dikerjakan oleh laki-laki sedangkan aktivita menjual jamu dilakukan oleh perempuan. Selain itu juga terdapat gambar yang bersifat stereotipe... ” Bu Astuti seorang pensiunan guru. membayarkan 1..” 4.. Gambaran tersebut menunjukkan indikasi bahwa salah satu jenis kelamin (dalam hal ini laki-laki) digambarkan memiliki kedudukan ekonomi yang selalu lebih tinggi dibandingkan perempuan.

akuntabiltas dan pencitraan publik dapat dilihat antara lain: 1. Bu Tatik jualan pisang goreng . Pengawas sekolah/Tutor 4.. Pendidikan Non Formal 3. 2010) Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh laki-laki mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Data pendidik dan kependidikan formal dan non formal. model Moser.. ”Pak Made Wiratha mengekspor ukiran-ukiran Bali kepada Tuan Antonio di Manila . Tata Kelola. dll.. Longwe mendasarkan pada pentingnya pembangunan bagi perempuan. dll. PT. teknik analisis gender Problem Base Anaysis (PROBA). Kepala sekolah SD. MIPA) 2. Sedangkan pada bagian akhir akan dijelaskan lebih detail tentang model “GAP”. D. bagaimana menangani isu gender sebagai kendala pemberdayaan perempuan dalam upaya memenuhi kebutuhan spesifik perempuan dan upaya mencapai kesetaraan gender. teknik analisis gender model Moser.. antara lain: teknik analisis gender model Sara Longwee. Sara H Longwe mengembangkan teknik analisis gender yang dikenal dengan ”Kerangka Pemampuan Perempuan”. Pemberdayaan perempuan mencakup tiga hal: (1) capacity building bermakna membangun 24 . guru tersertifikasi (IPS. bagian ini akan diuraikan secara singkat tentang teknik analisis gender model Sara Longwee. Metode Sara H. Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Permasalahan gender dalam hal tata kelola. model Harvard. teknik analisis gender model Havard.” 7. Bahasa. D. model Gender Analysis Pathway (GAP) dan model PROBA. Masing-masing teknik Pada analisis gender tersebut digunakan sesuai dengan konteksnya dan ada kelebihan maupun kelemahan dari masing-masing teknik analisis gender tersebut. (Sumber: Nurhaeni. SMP. teknik analisis Gender Analysis Pathway (GAP)..... SMA.. Teknik -Teknik Analisis Gender Ada berbagai macam teknik analisis gender.6.

(2) Penilaian Kebutuhan Gender. Bappenas. yaitu ( 1) Identifikasi Peranan Gender (Tri Peranan). Profil akses dan kontrol. Mencari informasi yang lebih rinci sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender yang optimal. 3. (GAD). organisasi penyadaran gender dan perencana dalam perencanaan. Analisis siklus proyek. Kementerian PP dan BKKBN. (4) partisipasi. 2001). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan akses dan kontrol. (3) penyadaran. Untuk memetakan pekerjaan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan. Harvard mengembangkan model analisis gender yang dimaksudkan untuk: 1. (5) Matriks Kebijakan Women in Development (WID) dan Gender and Development. (4) menyeimbangkan peranan. yaitu: (1) kesejahteraan. Upaya pemberdayaan diarahkan pada tercapainya kesejahteraan masyarakat melalui kesetaraan gender. (6) Melibatkan perempuan. yaitu Profil Kegiatan. Kriteria analisis yang digunakan dalam metode ini terdiri atas 5 (lima) kriteria.kemampuan perempuan. Gender Analysis Pathway (GAP) merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat membantu para perencana dalam melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan kebijakan atau program pembangunan. (3) Pemisahan kontrol atas sumberdaya dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan di rumah tangga. dari proyek sampai perencanaan daerah. Metode GAP adalah metode analisis . Moser menggunakan 6 alat dalam perencanaan untuk semua tingkatan. (2) cultural change yaitu perubahan budaya yang memihak kepada perempuan. Membantu para perencana merancang proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara menyeluruh.2001. (3) structural adjustment adalah penyesuaian struktural yang memihak perempuan. 25 2. meliputi empat komponen yang berhubungan satu dengan lainnya. Dengan GAP dapat diidentifikasi kesenjangan gender dan permasalahan gender serta sekaligus menyusun rencana/kebijakan/ program/ kegiatan yang responsif gender (NFPA. CIDA dan WSP. (2) akses. (5) kontrol. Kerangka analisis Harvard mengumpulkan data pada tingkat mikro (masyarakat dan rumah tangga).

peran.untuk mengetahui kesenjangan gender dengan melihat aspek akses. manfaat dan kontrol yang diperoleh laki-laki dan perempuan dalam programprogram pembangunan. (2) Telaah kebijakan. Dengan GAP dapat diidentifikasi kesenjangan gender dan permasalahan gender serta sekaligus menyusun rencana/kebijakan/ program/proyek/kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil atau menghapus kesenjangan gender tersebut. Langkah Analisis Proba meliputi: (1) Analisis masalah gender. (5) Monitoring dan evaluasi. 26 . Analisis ini lebih menekankan pada identifikasi masalah kesenjangan gender dalam merumuskan program intervensi pemerintah yang tepat. Analisis PROBA dikembangkan oleh Kementerian PP dan BKKBN atas dukungan dari UNFPA. (3) Formulasi kebijakan baru responsif gender. propinsi maupun kabupaten/kota. Metode ini dianjurkan untuk dipelajari dan diterapkan dalam proses perencanaan baik di tingkat pusat. (4) Penyusunan rencana aksi dan kegiatan intervensi.

: Model Analisis Proba 27 .Gambar – 3.8.

Bappenas. Kementerian PP dan BKKBN. Perbedaan perempuan dan laki-laki melahirkan perbedaan kebutuhan. kebutuhan. kepentingan perempuan dan laki-laki dalam kebijakan/program/ kegiatan yang dibuat. Dengan GAP dapat diidentifikasi kesenjangan gender dan permasalahan gender serta sekaligus menyusun rencana/kebijakan/ program/ kegiatan yang responsif gender (NFPA. aspirasi. manfaat dan kontrol yang diperoleh laki-laki dan perempuan dalam program-program pembangunan.BAB IV APLIKASI GAP SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN PERENCANAAN KEBIJAKAN/PROGRAM PENDIDIKAN RESPONSIF GENDER Gender Analysis Pathway (GAP) merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat membantu para perencana dalam melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan kebijakan atau program pembangunan.2001. Rencana/kebijakan/program/kegiatan yang responsif gender adalah Rencana/kebijakan/ program/ kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dengan cara merespon perbedaan aspirasi. peran. Beberapa contoh perbedaan tersebut dapat divisualisasikan dalam gambar berikut: 28 . dan pengalaman. Metode GAP adalah metode analisis untuk mengetahui kesenjangan gender dengan melihat aspek akses. Dengan GAP dapat diidentifikasi kesenjangan gender dan permasalahan gender serta sekaligus menyusun rencana/kebijakan/program/proyek/kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil atau menghapus kesenjangan gender tersebut. 2001). CIDA dan WSP.

1. dll asal memiliki kompetensi untuk menduduki posisi itu. kepentingan dan kesempatannya. Demikian halnya laki-laki dapat menjadi ahli masak.: Perempuan butuh ruang laktasi Gambar 4. Dengan demikian. dokter spesialis asal memiliki kompetensi untuk menduduki posisi itu. batas usia untuk mendapatkan bea siswa melanjutkan pendidikan bagi perempuan dibedakan dibandingkan laki-laki karena perbedaan fungsi reproduksi 29 .: Kamar mandi tidak responsif gender Yang dimaksud kesetaraan gender adalah: bahwa semua manusia (baik laki-laki maupun perempuan) bebas mengembangkan kemampuan personal mereka dan membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotype. Hal ini mencakup perlakuan yang setara atau perlakuan yang berbeda tetapi diperhitungkan ekuivalen dalam hal hak. perawat.2. Hal ini bukan berarti bahwa perempuan dan laki-laki harus selalu sama. tetapi hak. Yang dimaksud dengan keadilan gender adalah keadilan dalam memperlakukan perempuan dan laki-laki sesuai kebutuhan mereka.Gambar 4. insinyur. tanggung jawab dan kesempatannya tidak dipengaruhi oleh apakah mereka dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan) (Unesco dalam Nurhaeni. peran gender yang kaku. ahli mengasuh anak. penolong persalinan. kita tidak perlu lagi mempermasalahkan apakah suatu posisi diduduki oleh laki-laki ataupun perempuan karena yang menentukan posisi itu adalah kompetensi seseorang. presiden. bukan jenis kelaminnya. Contoh kesetaraan gender anatar lain: perempuan dapat menjadi direktur. kewajiban. 2009). Contoh keadilan gender : perempuan diberi kelonggaran utnuk tidak mengikuti plajaran olah raga fisik ketika sedang menstruasi.

untuk melihat bagaimana kebijakan dan program yang ada saat ini memberikan dampak yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan. sehingga para perencana memahami adanya perbedaan pengalaman. secara tidak sengaja. Identifikasi faktor-faktor penyebab kesenjangan antara laki-laki dan perempuan (gender gap). dll sehingga diberi kelonggaran hingga usia 40 tahun. mengasuh anaknya yang masih kecil. Pada umumnya kebijakan pemerintah hingga saat ini masih netral gender (gender netral) dan kadang-kadang. kebutuhan dan permasalahan antara perempuan dan laki-laki. yaitu:  Pertama: lakukan analisis kebijakan responsif gender. Data harus dipilah menurut jenis kelamin. Langkah-langkah melakukan Gender Analysis Pathway Terdapat tiga tahap utama dalam GAP. Rencana aksi perlu disertai dengan adanya indikator keberhasilan untuk mengukur kinerja dalam mengimplementasikan rencana aksi. Seluruh Kegiatan dalam rencana aksi harus sesuai dengan tujuan yang telah diidentifikasi dalam tahap formulasi kebijakan kesetaraan dan keadilan gender. baik berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Untuk mengevaluasi keberhasilannya.antara leduanya (misal perempuan pada usia 35 tahun masih disibukkan dengan berbagai urusan seperti melahirkan. gunakan indikator gender. identifikasi isu-isu gender apa saja yang ada di dalamnya. Formulasi kebijakan kesetaraan dan keadilan gender dibuat untuk memastikan bahwa perempuan dan laki-laki dapat berpartisipasi lebih optimal dalam proses pembangunan dan mendapatkan manfaat yang adil dari pembangunan tersebut. aspirasi.   Ketiga: Susun rencana aksi kebijakan Kesetaraan dan Keadilan Gender. 30 . Gunakan data pembuka wawasan. Kedua: Formulasikan kebijakan responsif gender dengan menyusun sasaran kebijakan kesetaraan dan keadilan gender sebagai upaya untuk mengurangi atau menghapus kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. mempunyai dampak kurang menguntungkan bagi perempuan dan atau laki-laki sebagai suatu kelompok. baik berupa indikator kuantitatif maupun indikator kualitatif yang memperlihatkan apakah kesenjangan gender telah berkurang atau terhapus.

3.Gambar 4.: Alur Gender Analysis Pathway 31 .

perlu dilakukan analisis terhadap tujuan kebijakan/program SKPD yang saat ini berlaku seperti renstra strategis SKPD.A. Pertanyaan dasar yang dapat diajukan pada langkah ini antara lain:  Tujuan kebijakan/program/kegiatan apa saja yang telah dirumuskan untuk meningkatkan kedudukan perempuan?  Apakah komitmen tersebut telah diintegrasikan dalam kebijakan/program proyek/ kegiatan tersebut?  Apabila tidak. Analisis gender dilakukan dengan mengidentifikasi tujuan umum kebijakan/ program/ kegiatan yang ada. Rencana operasional. apa yang perlu dilakukan? Tahap 1: Analisis Kebijakan Responsif Gender: Analisis tujuan/sasaran kebijakan/program/kegiata n: Apakah formulasinya:    Netral Gender Bias Gender Responsif Gender Tingkat Daerah:     RPJM RKPD Renja SKPD Renstra SKPD Gambar 4. dll. Analisis terhadap tujuan kebijakan/program: Pada tahap ini. Aplikasi analisis gender pada SKPD Untuk memulai analisis gender pada SKPD. Lakukan analisis kebijakan yang responsif gender a.4.: Analisis Kebijakan Responsif Gender Catatan: Pada umumnya kebijakan maupun program pemerintah hingga saat ini masih netral gender dan kadang-kadang secara tidak sengaja mempunyai dampak 32 . langkah-langkah operasional yang harus dilakukan dalam GAP adalah sebagai berikut: 1.

bias atau responsif gender? b. Tahap yang harus dilakukan adalah: lakukan analisis terhadap satu/beberapa kebijakan/program yanag ada pada SKPD.kurang menguntungkan bagi perempuan dan atau laki-laki sebagai suatu kelompok. Pertanyaan: lakukan analisis terhadap formulasi program dan kegiatan tersebut. Contoh analisis gender tahap 1 langkah 1: Rumusan kebijakan: Pembangunan sub bidang pendidikan diarahkan kepada perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat Program: Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Kegiatan: Perintisan Wajar 12 Tahun (Sumber: Propeda Kabupaten Karanganyar 2004-2008). apakah rumusan kebijakan pada renstra/RKPD/Renja SKPD. Suatu kebijakan dikatakan bias gender apabila kebijakan/program/kegiatan tersebut menguntungkan pada salah satu jenis kelamin yang berakibat munculnya permasalahan gender. Kebijakan yang dipilih sangat tergantung pada pilihan anda. apakah masuk kategori netral. Data Terpilah 33 . Suatu kebijakan dikatakan responsif gender apabila kebijakan/program/kegiatan pembangunan yang dirumuskan sudah memperhatikan berbagai pertimbangan untuk terwujudnya kesetaraan dan keadilan pada berbagai aspek kehidupan antara laki-laki & perempuan. Setelah anda sudah menetapkan kebijakan/program yang akan dianalisis. bias gender atau responsif gender. apakah formulasinya netral gender. Suatu kebijakan dikatakan netral gender apabila kebijakan/ program/kegiatan atau kondisi yang tidak memihak pada salah satu jenis kelamin. kemudian lakukan analisis pada tujuan/sasaran kebijakan/program/kegiatan.

Data kualitatif adalah nilai variabel yang tidak terukur dan sering disebut atribut.7 tahun = -1.  Apabila Indeks paritas mencapai angka satu mengindikasikan tidak terjadi kesenjangan gender.2%= -11.7 tahun. Indeks Paritas atau keseimbangan (Parity Index) atau rasio kinerja pendidikan penduduk perempuan terhadap kinerja pendidikan penduduk laki-laki. Contoh lain.8% dan AMH laki-laki sebesar 88.2 tahun berarti terjadi kesenjangan gender dalam hal rata-rata lama sekolah. 34 .4% berarti terjadi kesenjangan gender dalam hal angka melek huruf dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki.4%.  Disparitas gender lebih kecil dari 0 (nol) berarti terjadi kesenjangan gender. maka disparitas gendernya adalah: 6.2 tahun.  Disparitas gender lebih besar dari 0 (nol) berarti terjadi kesenjangan gender.nilai variabel yang terukur. Data kuantitatif adalah .5 tahun dikurangi 7.2%. Karena disparitas gender menunjukkan angka minus 11.5 tahun. dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki. maka disparitas gendernya adalah: 76. Apabila:  Disparitas gender sama dengan 0 berarti tidak terjadi kesenjangan gender . diketahui rata-rata lama sekolah penduduk perempuan sebesar 6.Sajikan data kuantitatif dan kualitatif yang terpilah menurut jenis kelamin sebagai pembuka wawasan. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk laki-laki sebesar 7.8%-88. Pertanyaan yang dapat diajukan :  Apakah data yang ada mengungkapkan kesenjangan atau perbedaan yang cukup berarti antara perempuan dan laki-laki?  Ada tidaknya kesenjangan gender gender secara kuantitatif dapat dihitung dengan disparitas gender aataupun indeks paaritas gender. dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki. Disparitas gender gender adalah selisih antara kinerja pembangunan pada perempuan dikurangi kinerja pembangunan pada laki-laki. Karena disparitas gendernya menunjukkan angka minus 1. Contoh: apabila data terpilah menurut jenis kelamin dalam hal angka melek huruf (AMH) diperoleh hasil: AMH perempuan sebesar 76. dimana laki-laki berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan perempuan.

Contoh lain.5 tahun dibagi 7.  Contoh: apabila data terpilah menurut jenis kelamin dalama hal angka melek huruf (AMH) diperoleh hasil: AMH perempuan sebesar 76. Karena disparitas gender menunjukkan angka lebih kecil dari satu berarti terjadi kesenjangan gender dalam hal angka melek huruf dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki. maka indeks paritas gendernya adalah: 6.7 tahun.5 tahun. Karena disparitas gendernya menunjukkan lebih kecil dari satu berarti terjadi kesenjangan gender dalam hal rata-rata lama sekolah. 0. sedangkan rata-rata lama sekolah laki-laki sebesar 7. Apabila indeks paritas lebih besar dari satu mengindikasikan lebih besarnya proporsi perempuan yang memperoleh akses terhadap pendidikan.2%.7 tahun = 0. maka indeks paritas gendernya adalah: 76.8% dan AMH laki-laki sebesar 88. 35 . diketahui rata-rata lama sekolah penduduk perempuan sebesar 6.  Apabila Indeks paritas lebih kecil dari satu mengindikasikan lebih besarnya proporsi laki-laki yang memperoleh akses pendidikan dibanding perempuan.2%= 0.87%. dimana perempuan berada dalam keadaan tertinggal dibandingkan laki-laki. 84.8% dibagi 88.

09 Indeks Paritas 0.1.4 -1.5 100. 2.87 0. Contoh Data Terpilah Pendidikan No 1.4.Operasionalisasi langkah 2: Sajikan Data Pembuka Wawasan:   Kuantitatif Kualitatif (Data harus relevan dengan langkah 1) Tujuan:   Menunjukkan ada/tidaknya kesenjangan gender Menunjukkan bagaimana kebijakan saat ini memberi dampak berbeda Menunjukkan pada perencana tentang adanya kesenjangan karena perbedaan pengalaman.0 91.5.02 0.17 -12.7 98.05 Disparitas -11.47 51. Indikator Angka Melek Huruf (%) Rata-rata lama sekolah (tahun) Angka Partisipasi Sekolah APS 7-12 tahun APS 13-15 tahun APS 16-18 tahun P 76.47 92.4.8 6. 3.2 7.99 0.81 36 .53 -0.2 1.: Analisis Data Terpilah Contoh data terpilah: Tabel .96 L 88.84 1. aspirasi dan permasalahan antara perempuan dan laki-laki  Gambar.64 64.

81.02.  Angka partisipasi sekolah perempuan pada kelompok usia 16-18 tahun (SMA) lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan disparitas sebesar -10.  Angka partisipasi sekolah perempuan pada kelompok usia 13-15 tahun (SMP) lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan disparitas sebesar -0. Jadi ada ketidaksetaraan gender di bidang pendidikan.dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok.  Semakin tinggi kelompok usia pada APS.Data tersebut menunjukkan bahwa:  Angka melek huruf perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan disparitas gender sebesar -11.2% dan indeks paritas sebesar 0. c. Faktor Penyebab Kesenjangan Analisis sumber atau faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan gender.4% dan indeks paritas sebesar 0.99.87.  Rata-rata lama sekolah perempuan lebih pendek dibandingkan laki-laki dengan disparitas gender sebesar -1. analisis pada internal organisasi dan analisis pada eksternal organisasi. semakin tinggi ketertinggalan perempuan dibandingkan laki-laki. khususnya dalam hal angka melek huruf.  partisipasi perempuan dan laki-laki terhadap sumber daya pembangunan.09 dan indeks paaritas sebesar 0. Pada proses perencanaan dapat diidentifikasi tentang: apakah ada perbedaan tentang:  akses perempuan dan laki-laki terhadaap sumber daya pembangunan.53 dan indeks paritas sebesar 1.84.  Angka partisipasi sekolah perempuan pada kelompok usia 7-12 tahun lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan disparitas gender sebesar 1. 37 .17 dan indeks paritas sebesar 0. yaitu analisis pada proses perencanaan. rata-rata lama sekolah dan angka partisipasi sekolah kelompok usia 13-15 tahun dan 16-18 tahun.

Faktor Partisipasi : Pada jenjang SMP dan SMA. Langkah 3: Isu Gender Analisis faktor penyebab kesenjangan gender Proses perencanaan:  Akses  Peran/Paartisipa si  Kontrol Internal lembaga/ budaya organisasi:  Kurangnya pemahaman gender  Lemahnya komitmen  Belum ada produk hukum Eksternal lembaga:  Budaya patriarki  Stereotipe (laki-laki sebagai KK.6. tetapi lebih disebabkan oleh rendahnya persentase perempuan yang melanjutkan studi ke jenjang pendidikan SMP dan SMA. 38 . penguasaan/kontrol pembangunan perempuan dan laki-laki terhadap sumber daya  manfaat hasil pembangunan terhadap perempuan dan laki-laki. perempuan tidak perlu pendidikan tinggi) Gambar.: Langkah Isu Gender Fakor penyebab kesenjangan gender dapat dilihat sbb: Faktor Akses: Akses bagi perempuan untuk melanjutkan studi tidak disebabkan oleh sistem seleksi masuk sekolah.4. Gejala tersebut merupakan akibat dari adanya stereotipe (pelabelan) dalam masyarakat tentang peran gender. angka partisipasi sekolah perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

dan tinggal di daerah perdesaan. Faktor Internal Lembaga/Budaya Organisasi: Pada tingkat internal organisasi seringkali dijumpai kurangnya pemahaman geder para perencana pembangunan yang mengakibat lemahnya komitmen mereka untk mendesain kebijakaan publik responsif gender. Faktor Eksternal Lembaga: Budaya patriarki yang masih berakar kuat mengakibatkan adaanya stereotipe gender yang kaku dimana (laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga dan perempuan dianggap tidak perlu memperoleh pendidikan yang tinggi karena mereka dianaggap sebagai ibu rumah tangga semata. Nilai. ayah berfungsi sebagai kepala keluarga. Faktor Manfaat: Ketidaksetaraan gender dalam melanjutkan studi berakibat kepada pekerjaan dan penggajian. Laki-laki yang dianggap sebagai penopang ekonomi keluarga diarahkan untuk tetap melanajutkan sekolah. Laki-laki memiliki kesempatan memperoleh keahlian dan status profesional yang tinggi. Selain itu belum ada produk hukum yang menjamin keadilan dan kesetaraan gender (KKG). 39 . serta terjadi bias gender dalam peranperan sosial yang berbeda. Perempuan yang dianggap sebagai pemeran fungsi domestik (rumah tangga). khususnya keputusan untuk melanjutkan studi. rata-rata penghasilan laki-laki lebih tinggi dibandingkan rata-rata penghasilan perempuan. pandangan ayah sebagai kepala keluarga berpengaruh di dalam proses pengambilan keputusan keluarga. terlebih ketika ekonomi keluarga terbatas. lebih diarahkan untuk membantu keluarga di rumah. Akibatnya. sikap.Faktor Kontrol: Dalam keluarga.

faktor sosial budaya. Pertanyaan dasar :  Apa masalah-masalah gender yang diungkapkan oleh kesenjangan tersebut?  Dimana terjadinya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki? Apakah kesenjangan terjadi di wilayah publik dan/ataukah terjadi di wilayah domestik?  Mengapa terjadi kesenjangan tersebut?  Apakah kebijakan/program/proyek/kegiatan yang ada justru memperlebar kesenjangan tersebut.d. Identifikasi Isu Gender Identifikasi masalah gender di wilayah garapan. mempersempit kesenjangan tersebut atau tetap?  Apakah akar permasalahannya? Untuk melakukan analisis gender. maupun faktor agama. Analisis bias gender ini meliputi kesenjangan dalam faktor sosial ekonomi. gunakan matrik dibawah ini: Hasil dari analisis kebijakan responsif gender dituangkan ke dalam matrik sebagai berikut: 40 .

rata-rata lama sekolah dan APS 13-15 tahun dan APS 16-18 tahun. Masukkan hasil analisis faktor kesenjangan dari aspek internal organisasi Masukkan hasil analisis faktor kesenjangan dari aspek eksternal organisasi 41 . dimana.5 tahun L: 7. bagaimana kebijakan/program/ Data pembuka Faktor kesenjangan Sebab Sebab kegiatan wawasan kesenjangan kesenjangan pembangunan yang internal eksternal akan dianalisis (1) (2) (3) (4) (5) Kebijakan: Pembangunan sub bidang pendidikan diarahkan kepada perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat Program: Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Kegiatan: Perintisan Wajar 12 Tahun (Sumber: Propeda Kabupaten Karanganyar 20042008).96 % L: 64.47 % APS 13-15 th: P: 91. apakah kesenjangan itu mengungkapkan kesenjangan dalam hal peluang Kolom 4 Kolom 5 : : memperoleh sumberdaya tertentu antara laki-laki dan perempuan. berkaitan dengan masalah yang terungkap dalam matrik 1. tetapi lebih disebabkan oleh rendahnya partisipasi dan kontrol mereka untuk melanjutkan studi sehingga berakibat pada status profesional yang berbeda (sosial dan ekonomi)  Kurangnya pemahaman gender  Lemahnya komitmen  Belum ada produk hukum yang menjamin KKG  Budaya patriarki  Stereotipe (laki-laki sebagai KK. Hasil Analisis Kebijakan Responsif Gender Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 Langkah 5 Analisis kebijakan yang Responsif Gender Pilih Isu gender: apa.7 tahun APS 7-12 th: P: 100 % L: 98. diisi dengan data laki-laki dan perempuan. AMH: P: 76. Faktor kesenjangan berdasarkan akses diisi dengan permasalahan yang terungkap dalam matrik 1. Data terpilah.05 % Ada ketidaksetaraan gender di bidang pendidikan. mengapa.64 % APS 16-18 th: P: 51.8% L: 88.47 % L: 92. perempua n tidak perlu pendidika n tinggi) Petunjuk pengisian: Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 : : : Isikan kebijakan saat ini yang saudara analisis.Tabel-4. khususnya dalam hal angka melek huruf.2% Rata-rata lama sekolah: P: 6.2. Akses perempuan untuk melanjutkan studi tidak disebabkan oleh sistem seleksi masuk sekolah.

program. 42 . proyek atau kegiatan apa untuk memecahkan kesenjangan yang ada?  Rumusan tujuan kebijakan. Pertanyaan dasar :  Langkah apa yang diperlukan untuk mengatasi kesenjangan yang ada?  Alternatif kebijakan. baik perempuan dan laki-laki. Rumuskan kembali kebijakan/program/proyek/kegiatan dengan mempertimbangkan input dari keseluruhan proses analisis gender yang dilakukan. proyek atau kegiatan yang bagaimana yang dapat menjamin kesetaraan dan keadilan gender pada kelopok sasaran? Contoh formulasi kebijakan responsif gender : Kebijakan: Pembangunan sub bidang pendidikan diarahkan kepada perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat. baik laki-laki maupun perempuan sehingga mereka dapat memperoleh pendidikan setidak-tidaknya sampai jenjang sekolah menengah atas atau yang sederajat. sehingga menghasilkan kebijakan/program/proyek/kegiatan baru yang responsif gender. peraturan perundang-undangan. peraturan perundang-undangan. program.Langkah ke tiga: Formulasi kebijakan Responsif Gender dan Indikator Gender a. Program: Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Kegiatan: Perintisan WAJAR 12 tahun bagi seluruh lapisan masyarakat.

baik kuantitatif maupun kualitatif yang dapat diidentifikasi untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan kebijakan/program/proyek/ kegiatan yang responsif gender?  Indikator apa saja yang dapat menjelaskan apakah faktor-faktor kesenjangan sudah berkurang. Yang dimaksud dengan indikator adalah alat ukur berupa statistik yang dapat menunjukkan perbandingan. peraturan perundang-undangan.Tahap Kedua FORMULASI KEBIJAKAN RESPONSIF GENDER (2 langkah) Perumusan kembali kebijakan/program/kegiatan yang responsif gender Indikator Gender (alat ukur keberhasilan) Gambar. Identifikasi indikator gender dari setiap kebijakan. kecenderungan atau perkembangan suatu hal yang menjadi pokok perhatian.: Langkah Isu Gender b. memperlihatkan tetap atau bahkan melebar?  Apakah ukuran keberhasilan kesetaraan dan keadilan gender? Indikator gender memperlihatkan apakah kesenjangan gender telah menghilang atau berkurang. proyek atau kegiatan yang dihasilkan.7.4. Pertanyaan dasar:  Indikator apa saja. dan/atau memperlihatkan apakah telah terjadi perubahan perilaku dan 43 . Indikator gender menyajikan secara langsung perbedaan status laki-laki atau perempuan terhadap suatu hal yang menjadi pokok perhatian. program.

Pada umumnya hasil analisis data terpilah pada awal penyusunan analisis gender digunakan sebagai baseline data.5 L 88. dan/atau di masyarakat.47 51.0 Hasil formulasi kebijakan dan indikator gender dituangkan dalam matriks sebagai 44 . Indikator Gender Angka Melek Huruf (%) Rata-rata lama sekolah (tahun) Angka Partisipasi Sekolah APS 7-12 tahun APS 13-15 tahun APS 16-18 tahun berikut: 100.0 7.47 92. di internal lembaga.3.00 Data base-line P 76.64 64.2 7.0 8.00 91.96 98.00 100. dan/atau memperlihatkan apakah terjadi perubahan relasi gender di dalam rumah tangga.nilai pada para perencana kebijakan/program/kegiatan. 3.00 93.00 65. 2.05 100.00 55.: Indikator Gender No 1. Contoh Indikator Gender: Tabel 4.8 6.00 92.7 Ukuran keberhasilan Yang ingin dicapai P L 80.0 90.

7 tahun APS 7-12 th: P: 100 % L: 98.4.8% L: 88. dsb. Organisasi dan Budaya Sekolah 45 .5 tahun L: 7. antara lain: (a) Organisasi dan Budaya Sekolah.Tabel 4. legislatif dan masyarakat. 1. sosialisasi.0% Rata-rata lama sekolah: P: 7. Program: Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Kegiatan: Perintisan Wajar 12 Tahun bagi seluruh lapisan masyarakat.) kepada eksekutif.  Capacity buliding (advokasi.47 % APS 13-15 th: P: 91.64 % APS 16-18 th: P: 51. baik perempuan dan laki-laki)  Peningkatan upaya penarikan kembali siswa putus sekolah jenjang SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B dan lulusan SD/MI/paket A yang tidak melanjutkan ke dalam sistem pendidikan tanpa diskriminasi gender melalui pemberian beasiswa pendidikan khusus untuk perempuan.47 % L: 92.  Data dan informasi pendidikan terpilah menurut jenis kelamin  Pembuatan regulasi untuk menjamin KKG Pengukuran Hasil Data Dasar (Baseline) Indikator Gender AMH: P: 76. (b) Sarana dan Prasarana. dll. (d) Kebijakan dan Pengelolaan Sekolah.05 % AMH: P: 80. baik laki-laki maupun perempuan sehingga mereka dapat memperoleh pendidikan setidaktidaknya sampai jenjang sekolah menengah atas atau yang sederat.0 tahun L: 8.96 % L: 64.0 tahun APS 7-12 th: P: 100 % L: 100 % APS 13-15 th: P: 92 % L: 93 % APS 16-18 th: P: 55 % L: 65 % B.2% Rata-rata lama sekolah: P: 6.0% L: 90. (c) Administrasi Sekolah.: Hasil Analisis Kebijakan Responsif Gender Langkah 6 (6) Langkah 7 (7) Langkah 8 (8) Langkah 9 (9) Perumusan kebijakan dan rencana aksi Reformulasi Tujuan Rencana Aksi Kebijakan: Pembangunan sub bidang pendidikan diarahkan kepada perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat. Aplikasi analisis gender pada Satuan Pendidikan Analisis gender pada satuan pendidikan sekurang-kurang dapat dilakukan pada empat komponen pendidikan yang ada di sekolah.

Langkah menciptakan Budaya Sekolah yang Sensitif Gender meliputi: 1. kontrol dan manfaat pendidikan. (2) Ekspresi non-verbal. 5: Warga sekolah dalam Menciptakan Budaya Sekolah Sensitif Gender 46 . Sekolah perlu dibangun di atas landasan keadilan dan kesetaraan gender. (3) Lingkungan internal dan eksternal. dan (4) Kultur sekolah. Menghindari terjadinya diskriminasi gender baik terhadap laki-laki maupun terhadap perempuan 4. seksual berbasis perbedaan jenis kelamin 2. Menciptakan rasa aman dan nyaman tanpa ada kekerasan fisik. Memberikan penghargaan dan penghormatan kepada perempuan dan laki-laki sesuai dengan posisi dan perannya masing-masing 3. poster. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh warga sekolah dalam membangun budaya sensitif gender antara lain: Tabel 4. tidak diskriminatif dan terbebas dari ancaman terjadinya kekerasan berbasis gender. gambar. norma dan hubungan antar gender . Menghilangkan stereotipi gender baik mengenai fungsi dan peran laki-laki maupun perempuan 5. Budaya sekolah sensitif genderdapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap. Hal tersebut bisa berupa (1) Ekspresi verbal. Tidak menggunakan simbol-simbol. Budaya sekolah responsif dapat diciptakan oleh seluruh warga sekolah dan stakeholder pendidikan (komite sekolah dan lingkungan masyarakat). lukisan dan bahasa verbal maupun non-verbal yang dapat menimbulkan pelecehan laki-laki maupun perempuan. psikis.Di tingkat satuan pendidikan perlu dibangun organisasi dan budaya sekolah yang sensitif gender dengan cara memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik laki-laki dan perempuan untuk berpartisipasi seoptimal mungkin tanpa terkendala oleh adanya stereotipe yang merugikan salah satu jenis kelamin. partisipasi. norma dan relasi warga sekolah yang memungkinkan laki-laki dan perempuan memperoleh keuntungan dalam hal akses. terutama yang berkaitan dengan perkembangan sikap.

Sarana dan Prasarana Dalam mewujudkan pendidikan di sekolah yang berwawasan gender (PSBG). Membanagun relasi gender yang egaliter 1. pengembangan sarana dan prasarana pendidikan perlu diupayakan responsif gender sehingga semua warga sekolah memiliki akses yang sama untuk mendayagunakannya tanpa membedakan jenis kelamin. Memberikan keteladanan yang setara dan adil gender 2. Mematuhi kebijakan sekolah responsif gender 1. Memberikan keteladanan yang setara dan adil gender 2. Membangun relasi gender yang egaliter b.No 1 Unsur Tenaga pendidik 2 Kepala sekolah 3 Peserta Didik 4 Karyawan 5 Komite Sekolah Aktivitas 1. Memberikan keteladanan yang setara dan adil gender 2. Menerapkan pembelajaran responsif gender 3. Memberi pelayanan yang responsif gender 3. Menerapkan pembelajaran responsif gender 3. Memberikan keteladanan yang setara dan adil gender 2. Membanagun relasi gender yang egaliter 1. Membuat kebijakan responsif gender 3. Membangun relasi yang non diskriminasi 3. Membangun relasi gender yang egaliter 1. Mengembangkan hubungan sosial yang tidak saling melecehkan 2. 47 .

dll. Seberapa besar anggaran untuk mempercepat terwujudnya kesetaraan gender di sekolah? 48 . APBS merupakan instrumen yang cukup penting dalam rangka menciptakan iklim sekolah yang responsif gender. Administrasi Sekolah Satuan pendidikan perlu memiliki data yang terpilah antara laki-laki dan perempuan dan disajikan pada berbagai dokumen sekolah. Beberapa pertanyaan kunci untuk menyusun indikator APBS dan kesetaraan gender adalah sebagai berikut: a. dll. Indikator yang dikembangkan dalam sistem pendataan dan informasi tersebut diusahakan mencakup unsur-unsur input. Seberapa besar anggaran yang diperuntukkan pada kebutuhan perempuan sebagai tindakan khusus (affirmative action)? b. jabatan. D.Tabel 4. jumlah guru menurut pangkat. proses. dan seimbang. runag pemeriksaan kesehatan yang nyaman. pil anti nyeri haid.6. C. Misal: menyediakan kelengkapan sarana UKS berupa pembalut wanita. adil. dan hasil. seperti: jumlah peserta didik menurut jenis kelamin. : Sarana dan Prasarana yang Responsif Gender Aspek Sarana dan prasarana sekolah Indikator  Tersedia sarana prasarana di sekolah yang mempertimbangkan perbedaan kebutuhan antara laki-laki dan perempuan. Kebijakan dan Pengelolaan Sumberdaya Analisis gender dalam hal kebijakan dan pengelolaan sumberdaya bisa dilakukan salah satunya dengan membuat RAPBS/APBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) responsif gender. APB/RAPBS responsif gender perlu dibuat dengan berorientasi terhadap pemenuhan kebutuhan untuk laki-laki dan perempuan secara setara. menyediakan ruang ganti pakaian yang aman dan nyaman. pendidikan terakhir dan jenis kelamin.

pengelolaan ketenagaan. partisipasi. evaluasi. pengelolaan budaya sekolah.c. Seberapa besar anggaran untuk kebijakan dan program sekolah yang responsif gender dengan indikator akses. pengelolaan kurikulum dan pembelajaran. kontrol dan manfaatnya untuk lakilaki dan perempuan secara setara dan adil gender? Contoh selengkapnya tentang RAPBS ressponsif gender diuraikan secar lengkap pada bab V. pengelolaan fasilitas. peran serta masyarakat. dan supervisi. pelayanan siswa. 49 . Kesetaraan dan keadilan gender dapat pula diintegrasikan melalui tugas dan fungsi (tupoksi) sekolah dalam menerapkan MBS yang meliputi komponen-komponen seperti pengelolaan proses belajar mengajar. pengelolaan keuangan. perencanaan.

6. baik lakilaki maupun perempuan. Anggaran yang responsif gender mencakup seluruh anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan. ada bermacam-macam istilah yang digunakan terkait dengan anggaran responsif gender. PENGERTIAN Dilihat dari terminologinya. Anggaran yang responsif gender bukan anggaran 50% untuk laki-laki dan 50% untuk perempuan 4. Bukan pula anggaran yang terpisah untuk perempuan dan laki-laki 5. Yang dimaksud dengan ARG adalah: 1. 3. Gender responsif budget atau anggaran responsif gender 2. Upaya untuk menjamin agar anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah beserta kebijakan dan program yang mendasarinya dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan setiap warga negara dari kelompok manapun. Perlu kerangka Regulasi dan Kerangka Pendanaan dalam menjawab isu gender. BAB V ANGGARAN PENDIDIKAN RESPONSIF GENDER A. 2. antara lain: 1. Anggaran yang sensitif gender atau gender-sensitive budgets Semua terminologi ini mengacu pada satu hal yaitu upaya untuk menjamin agar anggaran yang dialokasikan dapat mendorong keadilan dan kesetaraan gender. 50 . Anggaran gender atau gender budgets 3. Anggaran perempuan atau women’s budget 4. Merupakan anggaran yang disusun dan disyahkan melalui proses analisis dalam perspektif gender.

materi bahan ajar. Dinas Pendidikan mengeluarkan SK Pokja PUG. etika. 4. pelaksanaan dan monev. DPRD. membuat peraturan/keputusan internal sektor pendidikan yang memungkinkan terlaksananya PUG. PT/PSW. membuat keputusan kepala dinas pendidikan. penganggaran. 3. Ormas/LSM. aturan yang mengatur pola perilaku mengintegrasikan gender pada indikator input. Budaya organisasi berupa norma. dll. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: membuat kebijakan yang responsif gender berupa perda pendidikan yang responsif gender. dll) untuk melakukan upaya strategis dalam implementasi PUG. dll. Akuntabilitas berupa mekanisme dalam organisasi yang menjain terlaksananya kesetaraan gender. peningkatan kapasitas bagi perencana program dan anggaran. pedoman ataupun juklak. mengembangkan kajian kebijakan pendidikan yang responsif gender. mengembangkan Contoh: pertanggungjawaban (LAKIP) yang responsif gender ditunjukkan dengan performance kinerja. Kegiataan bisa dimulai dari unii yang paling siap untuk melaksanakan strategi PUG. 2. mengembanagkna iklim keterbukaan. output dan outcome pelaporan organisasi yang mendukung kesetaraan gender. identifikasi perda bidang pendidikan yang bias gender. akuntabilitas kementerian/lembaga. prosedur. Komitmen Politis dari seluruh pemangku kepentingan di daerah seperti pemerintah. Kegiatan yang dilakukanL SDM telah bergerak dari sensitivitas ke implementasi. rencana aksi yang responsif gender. kriteria organisasi berubah sejalan dengan penguatan kemampuan SDM. PRASYARAT PENGINTEGRASIAN GENDER Ada sekurang-kurangnya 4 prasyarat untuk mengintegrasikan Anggaran responsif gender. 51 .B. msal: dikembangkan modul KIE peningkatan kapasitas SDM bidang pendidikan yang mampu melakukan strategi PUG. Kapasitas teknis SDM yang mampu untuk mengimplementasikan strategi PUG di setiap tahapan pembanagunan dari perencanaan. Kegiatan yang dapat dilakukan berupa: menyusun dan mengkaji target dan sasaran terpilah sektor pendidikan. yaitu: 1. kemudian dikembangkan ke unit kerja yang lain.

KATEGORI ANGGARAN RESSPONSIF GENDER Pengalokasian anggaran responsif gender dapat menggunakan pendekatan kategori anggaran: 1. dll. penyusunan data dan informasi pendidikan terpilah menurut jenis kelamin. Contoh alokasi anggaran untuk pelembagaan PUG bisa dilakukan dalam bentuk capacity builidng tentang PUG. dll. dll. disusun pedoman pelaksanaan perencanaan dan penganaggaran C. Alokasi anggaran umum (paling penting karena umumnya mencapai 99% dari total anggaran) Contoh alokasi anggaran untuk kebutuhan spesifik antara lain: mengandung Zat Besi. latihan kepemimpinan bagi peserta didik perempuan atau laki-laki agar siap menjadi pengurus OSIS. Gambaran tentang conoth anaggaran reponsif gender dapat dilihaat pada gambaar berikut: 52 . perencanaan program pendidikan.mengembangkan mekanisme kesetaraan gender di internal organisasi. Misal: isu-isu gender terinternalisasi dalam rapat-rapat sektor pendidikan. penyediaan pembalut wanita. Alokasi untuk kebutuhan spesifik 2. Alokasi untuk pelembagaan kesetaraan gender 4. Alokasi untuk meningkatkan peluang yang sama antara laki-laki dan perempuan (Affirmative action) 3. penyediaan pil anti nyeri haid bagi wanita. Contoh alokasi anggaran untuk isu kesetaraan gender (pengarusutamaan gender) bisa dilakukan dalam bentuk intergasi sasaran penerima beasiswa pada program bea siswa sekolah. penyediaan vitamin yang Contoh alokasi anggaran untuk meningkatkan peluang yang sama antara laki-laki dan perempuan (affirmative action) antara lain: peningkatan kapasitas kepemimpinan terhadap tenaga pendidik perempuan untuk siap menduduki jabatan sebagai kepala sekolah karena selama ini ada anggapan bahwa kemampuan kepemimpinan perempuan menjadi penghamabat bagai dirinya untuk promosi sebagai kepala sekolah. pembuatan media KIE.

53 .

54 .

55 .

D. GAP). GBS menginformasikan suatu kegiatan sudah responsif gender. GBS disusun dengan mendasarkan diri pada analisis gender (a.: Transformasi GAP-GBS Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 Langkah 5 Langkah 6 Langkah 7 GAP Kebijakan/program/kegiatan Data pembuka wawasan Faktor kesenjangan Sebab internal kesenjangan Sebab eksternal kesenjangan Reformulasi tujuan Rencana aksi Langkah 8 Langkah 9 Data dasar (baseline) Indikator gender Program. output kegiatan Analisis situasi -Sda-Sda-SdaTujuan out-put/sub output Rencana tindak (komponenkomponen yang berkontribusi kepada kesetaraan gender Dampak/ hasil output kegiatan GBS kegiatan. Transformasi GAP ke GBS dapat digambarkan sebagaimana terlihat pada tabel berikut: Tabel 5. dan menunjukkan bahwa SKPD mengalokasikan anggaran untuk merealisasikan niat tersebut.l. 56 .1. GBS (GENDER BUDGET STATEMENT) Gender Budget Statement adalah dokumen akuntabililtas spesifik-gender yang disusun oleh SKPD. menunjukkan niat SKPD untuk melakukan kegiatan dalam rangka meningkatkan kesetaraan gender.

27 P 50 40 27 19.5 5. Contoh Gender Budget Statement (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) (Format GBS Model Pemerintah Pusat) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Program Kegiatan Sub-kegiatan Analisis Situasi : Departemen Pendidikan Nasional : Ditjen Pendidikan Nonformal dan Informal Direktorat Pendidikan Masyarakat Pendidikan Nonformal Pendidikan Keaksaraan Fungsional Pengendalian mutu Angka Buta Aksara sejak tahun 1971 sampai dengan tahun 2008 terus mengalami penurunan.6 7.85 9.40 5. Pogram pemberantasan buta aksaa dilakukan melalui pendekatan: 1).97 200 8*) 228. yaitu 10 provinsi terpadat buta aksaranya. 57 .88 11.36 7. angka buta aksara perempuan terus menurun.04 4.7 224.33 4.89 12.73 8.82 9.4 205. daerah perbatasan. Data penurunan tersebut adalah: Jumlah Jumlah Penduduk BA Tahun (jutaan) (jutaan ) 1971 1980 1990 2000 2003 2005 2006 200 7 119.32 3.5 Berdasarkan data di atas.34 6.9 L+P 39 31 21 14. 2). Sistem ini ditekankan dalam upaya membertantas secara tuntas di suatu kecamatan atau kabupaten yang terpadat buta aksaranya.8 6. dan terpencil.07 9.62 12.67 18.1.2 D isparitas G ender 22 18 12 9.9 46. namun dalam kenyataannya angka buta aksara perempuan masih sangat tinggi dibanding laki-laki. Menentukan daerah Prioritas.4 6.6 215.18 15.2 218.20 5.6 179.41 14.59 5.76 37.51 7.49 45. Sistem Blok.2 147.76 % L 28 22 15 9.6 213.6 10.55 10.4 13.

3) Pendekatan Vertikal (Vertical Approach)Melalui kebijakan dari pemerintah pusat.Para pemangku kepentingan di 10 provinsi terpadat buta aksara mempunyai data buta aksara berdasarkan jenis kelamin (by name. .Terjadi penurunan angka buta aksara perempuan secara siginifikan di 10 provinsi terpadat buta aksara terutama bagi perempuan.Laki-laki dan perempuan terlibat secara aktif dalam program pemberantasan buta aksara terutama sebagai tutor di lapangan. dengan menjaga tidak terulangnya buta aksara kembali melalui pendekatan kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri.Adanya pendekatan pemberantasan buta aksara yang memprioritaskan buta aksara perempuan . by address) . maka dilakukan kegiatan keaksaraan usaha mandiri dan koordinasi terutama dengan 10 provinsi terpadat buta aksara. organisasi sosial dan organisasi kemasyarakatan Dalam rangka menjaga warga masayarakat terutama perempuan agar tidak buta aksara kembali.Pastikan bahwa warga yang sudah 58 Kegiatan yang direncanakan Indikator Input 1 Indikator Output 1 Grup Akun 2 . Peningkatan Kapasitas Inovasi Pendidikan Keaksaraan . Grup Akun 1 Peningkatan mutu Pembelajaran Pendidikan Keaksaraan . organisasi perempuan. Pemberantasan buta aksara yang lebih memprioritaskan buta aksara perempuan. pemerintah daerah sampai pada tingkat pelaksana teknis di lapangan 4) Pendekatan Approach ) Horisontal (Horizontal Dalam pedekatan ini pemerintah melakukan kerjasama formal dengan Perguruan tinggi. dan koordinasi sertta evaluasi teruatama pada 10 provinsi terpadat buta aksara secara nasional.

. .Tersedianya tutor laki-laki dan perempuan secara seimbang dalam penyelenggaran kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri Warga Keaksaraan Usaha Mandiri laki-laki dan perempuan dapat mengikuti secara aktif dan mampu membentuk KBU sehingga ekonomi keluarganya meningkat Pengembangan Keaksaraan Berbahasa Ibu .Tersedianya tutor laki-laki dan perempuan yang masih aktif . .Indikator Input 2 Indikator Output 2 Grup Akun 3 Indikator Input 3 menyelesaikan keaksaraan dasar laki-laki dan perempuan mengikuti kegiatan Keaksaraan Usaha Mandiri.Tersedianya penyelenggara laki-laki dan perempuan yang masih aktif Meningkatnya kemampuan tutor dan penyelenggara pendidikan keaksaraan dalam menyusun bahan ajar dengan menggunakan pendekatan bahasa ibu dalam pembelajaran pendidikan keaksaraan Indikator Output3 59 .Tersedianya data warga laki-laki dan perempuan yang telah menyelesaikan kegiatan keaksaraan dasar.Pastikan bahwa perempuan dan laki-laki yang mengikuti Keaksaraan Usaha Mandiri mempunyai Kelompok Belajar Usaha (KBU) yang produktif dalam meningkatkan pendapatan keluarganya.

Terevaluasinya kinerja penyelenggara program Indikator Input 4 Indikator Output 4 Grup Akun 5 Indikator Input 5 Indikator Output 5 Grup Akun 6 Indikator Input 6 pendidikan keaksaraan selama tahun 2010 Indikator Output .Grup Akun 4 Peningkatan Kualitas Program dan Substansi Pendidikan Kkeaksaraan .istrumen pembinaan program dengan mencantumkan kebutuhan laki-laki dan perempuan .Tersedianya tutor laki-laki dan perempuan yang masih aktif . Tutor.Terlaksananya pembinaan dan pembimbingan 6 program pendidikan keaksaraan .Dapat dilakukannya estimasi potensi dan masalah pembinaan program pendidikan keaksaraan pada tahun 2011 60 .data lembaga penyelenggara program pendidikan masyarakat Meningkatnya kemampuan lembaga penyelenggara program pendidikan keaksaraan dalam melaksanakan program Pendidikan Mamsyarakat. Evaluasi Program Pendidikan Keaksaraan Tersedianya data WB.jumlah aparat pelaksana dan fasilitas sarana prasarana dengan mempertimbangkan petugas pelaksana dan sarana prasarana yang memfasilitasi kebutuhan laki-laki dan perempuan Indikator Output .garis besar rencana dan program yang memfasilitasi kebutuhan laki-laki dan perempuan Indikator Input 7 .Tersusunnya strategi penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan tahun 2011 Grup Akun 7 Penyusunan Rencana Teknis tahun 2011 .Tersusunnya garis besar rencana dan program pendidikan keaksaraan tahun 2011 7 . Penyelenggara yang terpilah laki-laki dan perempuan .Tersedianya penyelenggara laki-laki dan perempuan yang masih aktif Meningkatnya kemampuan tutor dan penyelenggara pendidikan keaksaraan dalam melakukan inovasi pembelajaran dan penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Program Dikmas .

Meningkatnya patisipasi perempuan dan laki-laki dalam membentuk KBU baru.. 5.Meningkatnya kesiapan aparat pelaksana dan Grup Akun 8 Indikator Input 8 sarana prasarana pendukung bagi pembinaan pendidikan keaksaraan tahun 2011 Kelompok Kerja Pendidikan Keaksaraan Data kelompok kerja yang seimbang antara anggota pokja laki-laki dan perempuan. sehingga ekonomi keluaga warga buta aksara lebih baik dan tidak terjadi buta aksara kembali.00 Indikator Output 8 Anggaran sub-kegiatan Indikator Outcome (dampak/hasil ) (dapat mengambil outcome pada tingkat kegiatan atau program) .000.518.Menurunnya angka buta aksara perempuan pada 10 provinsi terpadat buta aksara secara signifikan sehingga disparitas gender buta aksara lebih kecil. 61 . Meningkatnya kemampuan kelompok kerja dalam memberikan dukungan operasi manajemen pelaksanaan tugas pembinaan pendidikan keaksaraan Rp. .354.

misalnya LKDO (Latihan Kepemimpinan Dasar Osis). 60% perempuan dan 40% laki-laki. Keadaan ini perlu diubah dengan melibatkan perempuan dan laki-laki secara berimbang dalam kepentenaga pendidiksan OSIS. . Grup akun 1 Masa Persiapan (Rapat Para Perwakilan Kelas) Kegiatan yang direncanakan 62 . • Sekolah menyusun program pembinaan kesiswaan. Susunan pentenaga pendidiks OSIS terdiri dari siswa laki-laki ataupun perempuan.2. baik untuk laki-laki maupun perempuan. Contoh Gender Budget Statement Pada Satuan Pendidikan SMP (format GBS Model Provinsi Jawa Tengah Program Kegiatan Pembinaan Kesiswaan Program Kegiatan Subkegiatan Analisis situasi Kegiatan Pembinaan Kesiswaan Pengorganisasian Kesiswaan (OSIS) Pembentukan Pentenaga pendidiks OSIS OSIS merupakan satu-satunya organisasi yang sah di sekolah yang berguna untuk membina siswa agar mampu berorganisasi dengan baik. misalnya 60% laki-laki dan 40% perempuan atau sebaliknya . Bisa juga berimbang 50%:50%. • Sekolah perlu menyusun aturan yang berkaitan dengan komposisi pentenaga pendidiks OSIS dengan perbandingan 60%:40% atau 50%:50% antara laki-laki perempuan. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan bahwa jumlah pentenaga pendidiks OSIS lakilaki lebih dominan dibanding perempuan atau sebaliknya. dimana pentenaga pendidiks OSIS lebih didominasi oleh perempuan. pembinaan siswa berprestasi. dan kegiatan lain yang bermanfaat bagi siswa. kegiatan lomba.

500. Pelaksanaan Rapat Pembentukan Pentenaga pendidiks OSIS • Penentuan jumlah pentenaga pendidiks dengan mengacu peraturan yang ditetapkan oleh kepala sekolah. misalnya: jika laki-laki menjadi ketua maka wakilnya perempuan. Pelaksanaan Program Kegiatan OSIS • Jenis kegiatan yang dilaksanakan bisa diikuti oleh sebagian laki-laki dan sebagian perempuan.00 Penggunaan anggaran harus seimbang: • • • • • Anggaran untuk masa persiapan. misalnya menjadi pembawa acara. Anggaran untuk pelaksanaan rapat. jika perempuan sebagai ketua maka laki-laki sebagai sekretaris. Anggaran untuk penyusunan program. • Pembagian tugas dalam rapat dengan melibatkan wakil kelas perempuan menjadi petugas dalam rapat. • Kegiatan OSIS dapat bersifat lomba.Indikator input Grup akun 2 Indikator input • Peserta perwakilan kelas adalah laki-laki dan atau perempuan yang mewakili kelasnya.000. Anggaran Kegiatan OSIS Rp 2. Penyusunan Program kegiatan OSIS • Program OSIS disusun dengan memperhatikan kebutuhan siswa laki-laki dan perempuan. demikian pula sebaliknya. • Komposisi pentenaga pendidiks antara lakilaki dan perempuan berimbang. • Kegiatan OSIS dapat diikuti oleh siswa lakilaki dan perempuan pada waktu dan tempat yang sama. Grup akun 3 Indikator input Grup akun 4 Indikator input Grup akun 5 Indikator input Contoh Gender Budget Statement Pada Satuan Pendidikan SMP Program Kegiatan Pembinaan Kesiswaan 63 . Anggaran untuk pelaksanaan program. Anggaran untuk pelaporan pelaksanaan program.

Kelas VII dan VIII kurang diperhatikan. Pelaksanaan Pembelajaran tambahan • Pada pelaksanaan pembelajaran tambahan siswa laki-laki yang tidak mengikuti pelajaran tambahan. • Sekolah menekankan bahwa kegiatan pelajaran tambahan harus diikuti semua siswa tanpa kecuali. Menyusun Jadwal Pelajaran Tambahan • Sekolah menyusun jadwal pelajaran tambahan untuk kelas VII. Pelaksanaan Kegiatan Lomba OSN (Olimpiade Sain Nasional) Peserta pada kegiatan lomba kebanyakan dari siswa perempuan karena mereka lebih tertarik pada kegiatan lomba dibanding dengan siswa laki-laki. Dalam kenyataannya siswa putra cenderung tidak mengikuti dibandingkan dengan siswa perempuan. IX. perhatian serius kepada siswa laki-laki perlu lebih ditingkatkan. • Perlu tindakan motivasi siswa laki-laki agar mereka mempunyai semangat dalam mengikuti kegiatan pelajaran tambahan. dan IX.d. Kondisi ini jika dibiarkan akan berdampak buruk. Padahal prestasi di kelas IX sebenarnya dibangun sejak di kelas sebelumnya. dibimbing secara persuasive. Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input • Sekolah merencanakan program kegiatan pembelajaran tambahan pada kelas VII s. Karena itu. • Disadarkan bahwa laki-laki mempunyai taggung jawab besar akan masa depan karena merekalah yang akan menjadi kepala rumah tangganya. Hal ini berdampak negative karena siswa laki-laki akan 64 Grup akun 2 Indikator input Subkegiatan Analisis situasi . • Perlu sikap tegas dan kontinyu kepada para siswa laki-laki yang kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran tambahan. VIII.Program Kegiatan Subkegiatan Analisis situasi Kegiatan Pembinaan Kesiswaan Pembinaan Siswa Berprestasi Pelaksanaan Pembelajaran Tambahan (model les) Pembelajaran tambahan selama ini diberikan kepada siswa kelas IX dengan target kelulusan yang tinggi. • Ada upaya pembimbingan untuk memberikan motivasi kepada siswa laki-laki.

mengalami penurunan rasa percaya diri. Oleh karena itu, penyertaan peserta siswa laki-laki perlu ditingkatkan. Pemberian motivasi dan persuasi kepada siswa laki-laki lebih diintensifkan. Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Grup akun 2 Indikator input • Sekolah memprogramkan kegiatan lomba yang lebih menarik bagi semua siswa. • Sekolah memrogramkan kegiatan lomba yang lebih menarik bagi siswa laki-laki. Mempublikasikan Secara Luas • Publikasi dilakukan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada siswa laki-laki dan perempuan secara proporsional. Melaksanakan Lomba • Peserta lomba dipilih dari laki-laki dan perempuan tiap kelas secara proporsional. • Penilian penampilan menggunakan standar tertentu sehingga tidak diskriminatif. Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang bersifat eksploratif sebagai upaya pengembangan diri atas minat dan bakat siswa. Karena itu, diupayakan menjadi media untuk mengembangakan bakat dan minat siswa , baik laki-laki maupun perempuan. Kegiatan ekstra seperti pramuka, PMR, dan kesenian lebih didominasi oleh siswa putri. Hal ini perlu dihindari dengan cara banyak melibatkan siswa lakilaki dalam kegiatan ekstra tersebut.

Subkegiatan Analisis situasi

65

Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Grup akun 2 Indikator input Grup akun 3 Indikator input

• Sekolah menyusun program ekstrakurikuler yang bisa diikuti oleh siswa laki-laki dan perempuan. Menyusun program pengembangan diri • Sekolah merencanakan berbagai kegiatan ekstrakuri-kuler yng bisa diikuti oleh siswa lakilaki dan perempuan dalam waktu dan tempat yang sama. Melaksanakan kegiatan • Kegiatan yang melibatkan siswa laki-laki dan perempuan perlu diatur sedemikian rupa sehingga tidak mendeskriditkan kelompok tertentu. Penggunaan anggaran Rp 80.038.400,00 • Anggaran yang disediakan untuk kegiatan kesiswaan diatur sedemikian sehingga terjadi keseimbangan. Persentase pembagiannya, misalnya: 50% kegiatan kesiswaan dan 50% untuk peningkatan prestasi akademik.

66

Contoh Gender Budget Statement Pada Satuan Pendidikan SMP Program Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik Dan Kependidikan

Program Kegiatan Subkegiatan Analisis situasi

Peningkatan Profesionalisme Tenaga pendidik

dan

Kompetensi

Pendidikan dan Pelatihan Profesi Tenaga pendidik • Diklat/Workshop Diklat/workshop merupakan upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalitas tenaga pendidik laki-laki maupun perempuan. Kenyataan di lapangan peserta diklat atau workshop kebanyakan tenaga pendidik laki-laki dibanding perempuan. Pelaksanaan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan kualitas antara tenaga pendidik laki-laki dengan perempuan. Padahal, tenaga pendidik professional dan kompeten bukan milik tenaga pendidik laki-laki saja. Oleh karena itu, perlu pemerataan peran sehingga kualitas tenaga pendidik tidak hanya milik tenaga pendidik lakilaki tetapi juga para tenaga pendidik perempuan. Sekolah mengirimkan atau menyelenggarakan diklat/workshop secara merata antara tenaga pendidik laki-laki dengan perempuan.

Kegiatan yang direncanakan

Grup akun 1 Indikator input

Pelaksanaan diklat/workshop Tenaga pendidik mata pelajaran diikutkan dalam pelaksanaan diklat/workshop tanpa mendiskriminasikan tenaga pendidik laki-laki atau perempuan tetapi memberi kesempatan yang sama kepada keduanya. Tindak lanjut • Tenaga pendidik mata pelajaran yang telah mengikuti diklat harus menyusun laporan hasil diklat. • Tenaga pendidik mata pelajaran tersebut
67

Grup akun 2 Indikator input

Subkegiatan Analisis situasi

diharapkan mampu menerapkan hasil diklat dalam tugasnya. Seminar/symposium Seminar atau simposium merupakan media untuk menambah wawasan tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas sehingga akan lebih berkualitas. Selama ini kegiatan seminar/simposium belum melibatkan tenaga pendidik perempuan secara proporsional. Agar simposium/seminar juga menjadi milik tenaga pendidik perempuan maka sudah selayaknya tenaga pendidik perempuan diikutkan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Subkegiatan Analisis situasi

Sekolah mengirimkan tenaga pendidik perempuan mengikuti kegiatan simposium/seminar yang sesuai dengan bidang tugasnya. Menugaskan tenaga mengikuti seminar pendidik perempuan

• Tenaga pendidik perempuan didaftarkan sebagai peserta seminar atau simposium yang ada. • Pelatihan Komputer Banyak tenaga pendidik perempuan yang merasa enggan mengembangkan kompetensi dalam menguasai ITC sehingga penugasan diberikan kepada tenaga pendidik laki-laki. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi terhadap penguasaan computer. Oleh karena itu, pelatihan computer perlu dilakukan secara adil dan merata. Tenaga pendidik perempuan yang belum neguasai ITC perlu diberikan kesempatan mengikutinya. Sekolah merencanakan pengiriman tenaga pendidik perempuan untuk mengikuti diklat ITC dalam rangka penguasaan komputerisasi.

Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Grup akun 2

Menugaskan tenaga pendidik perempuan mengikuti pelatihan komputer/internet. • Sekolah mengirimkan tenaga pendidik perempuan mengikuti diklat computer. Menugasi tenaga pendidik perempuan melaksanakn pengimbasan hasil diklat.
68

Subkegiatan Analisis situasi Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Grup akun 2 Indikator input Grup akun 3 Indikator input Subkegiatan Menugaskan tenaga mengikuti seminar pendidik perempuan Tenaga pendidik perempuan didaftarkan sebagai peserta seminar atau simposium yang ada. Hal ini berkorelasi dengan pencalonan kepala sekolah yang umumnya tenaga pendidik laki-laki. Lomba Tenaga pendidik Berprestasi Kebanyakan lomba tenaga pendidik berprestasi kebanyakan diikuti oleh tenaga pendidik laki-laki.Indikator input Tenaga pendidik perempuan ditugasi melaksanakan pengimbasan hasil diklat computer kepada semua karyawan/tenaga pendidik di sekolahnya. Menugasi tenaga pendidik perempuan melaksanakan pengimbasan hasil diklat. Mengadakan kegiatan sejenis seminar di sekolah Kepala sekolah menunjuk tenaga pendidik perempuan menjadi penyaji dalam kegiatan seminar. Tenaga pendidik perempuan ditugasi melaksanakan pengimbasan hasil diklat kepada semua karyawan/tenaga pendidik di sekolahnya. Peningkatan Kompetensi Tenaga pendidik 69 . Sekolah mengirimkan tenaga pendidik perempuan mengikuti kegiatan simposium/seminar yang sesuai dengan bidang tugasnya.

Mengadakan studi banding ke sekolah lain Semua tenaga pendidik(perempuan dan laki-laki) diikutkan dalam studi banding.000. misalnya: 40% untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik. Peningkatan kompetensi bisa dilakukan dalam berbagai cara.Analisis situasi Kompetensi tenaga pendidik harus terus ditingkatkan sejalan dengan perkembangan dan tuntutan zaman dan perubahan paradigma di bidang pendidikan. • Sebagai tindak lanjut semua tenaga pendidik diharapkan menyusun rencana pasca studi banding. Penggunaan Anggaran Rp 44. 30% untuk peningkatan kompetensi tenaga pendidik. Padahal. keseimbangan kesempatan perlu diperhatikan. Kesempatan memperoleh peningkatan kompetensi didominasi oleh tenaga pendidik laki-laki. Grup akun 3 Indikator input 70 . Karena itu. Menyusun Laporan Hasil Studi Banding • Hasil studi banding harus dilaporkan secara tertulis dan semua tenaga pendidik diharapkan mampu menyimpulkan. dan 30% untuk peningkatan kualitas pegawai. misalnya pelatihan computer.570.00 Sekolah menyediakan anggaran untuk kegiatan ini dengan pengatruran yang seimbang. Kegiatan yang direncanakan Grup akun 1 Indikator input Grup akun 2 Indikator input Sekolah mengadakan studi banding sebagai upaya meningkatkan kompetensi tenaga pendidik. kompetensi di bidang pendidikan milik semua tenaga pendidik. studi banding dan lain-lain.

3) 71 . Contoh rincian penggunaan anggaran responsif gender ini dapat dilihat pada lampiran. Anggaran kegiatan siswa (1.4.1.4. b. e.2.CATATAN: 1. dan 2. a.4. s. c.4. 2.3) Anggaran ekstrakurikuler (1. Anggaran yang dicontohkan pada tampilan ini hanya salah satu dari sekian komponen anggaran pendapatan dan belanja sekolah pada sekolah berstandar nasional (SSN). 2. 1.d.5) Anggaran peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan (2.11) Anggaran peningkatan akademik siswa (1. d.4) Anggaran kegiatan lomba (1.

baik dari aspek kebijakan.BAB V PENUTUP Komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan harus didukung semua pihak. Dengan analisis gender diharapkan kesenjangan gender dapat diidentifikasi dan dianalisis sehingga dapat ditemukan faktor penyebab serta langkah-langkah pemecahannya secara tepat. maupun kegiatan yang akan dikembangkan. 72 . Alat tersebut adalah analisis gender. Dengan demikian diharapkan masalah gender di bidang pendidikan dapat diatasi dan dipersempit sehingga program pendidikan yang berwawasan gender dapat diwujudkan. program. Pengarusutamaan gender bidang pendidikan sebagai strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender mensyaratkan adanya penguasaan “tools” (alat) sebagai dasar dari setiap proses pengarusutamaan gender.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan.). Lilik e(d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Surakarta: UNS Press. 73 . Nurhaeni. Perda Nomor 4 Tahun 2009 tentang RPJMD Provinsi Jawa Tahun 2008-2013 Sardjunani. Surakarta: UNS Press. 2009. 2004. Bunga Ramapai Panduan dan Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Direktorat Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional. Reformasi Kebijakan Pendidikan Menuju Kesetaraan dan Keadilan Gender (edisi kedua). 2009. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Panduan Sekolah Berwawasan Gender. Panduan Pelaksanaan INPRES Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Ismi Dwi Astuti. 2009. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Pendidikan Adil Gender: Konsep dan Aplikasi di Sekolah. Press. Ismi Dwi Astuti. 2009. Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013.DAFTAR PUSTAKA Dinas Pendidikan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Di Daerah. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. 2010. Nurhaeni. Nina dan Setywati. BKKBN dan UNFPA. Surakarta: UNS Nurhaeni. Kebijakan Publik Pro Gender. Ismi Dwi Astuti. 2002.

74 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.