P. 1
Penerapan Pendidikan Karakter Pada Mata Pelajaran Fisika

Penerapan Pendidikan Karakter Pada Mata Pelajaran Fisika

|Views: 1,239|Likes:
Published by Nur Maulita Fis

More info:

Published by: Nur Maulita Fis on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2013

pdf

text

original

Penerapan Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Fisika melalui Pembelajaran Salingtemas untuk Membentuk Habits Of Mind Siswa

Kelas XI IPA di SMA Negeri I Tanah Jawa.

Oleh : Nurmaulita (SMANegeri I Tanah Jawa) Email : maulitanur2007@gmail.com
1)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan membentuk kemampuan habits of mind siswa melalui penerapan pendidikan karakter pada mata pelajaran fisika di SMA Negeri I Tanah Jawa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Kemampuan habits of mind siswa yang paling menonjol adalah kemampuan siswa untuk “Menyadari jalan pikirannya sendiri‟ dan “Membuat rencana yang efektif” dengan nilai jawaban “ya” mencapai persentase 100%. Sedangkan habits of mind siswa yang sulit dikembangkan adalah “Menghindari perilaku tanpa difikirkan” dengan nilai jawaban “Ya” adalah 6.25%. Selanjutnya kemampuan siswa “Membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya” juga mengalami kesulitan untuk dikembangkan dengan jawaban siswa yang menjawab “ya“ adalah 15.63%. Kemampuan habits of mind guru yang belum dikembangkan adalah “ Mendorong siswa menyadari dan menggunakan sumber-sumber informasi yang perlu” dan “Mendorong siswa berpandangan terbuka” serta “Mendorong siswa menemukan solusi sendiri terhadap masalah yang sulit”. Disarankan bagi guru agar menyiapkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa yang dirancang guru sendiri. Selain itu bahan evaluasi hendaknya tidak mengukur hasil akhirnya saja, melainkan proses pembelajaran perlu juga jadi perhatian guru memberikan penilaian.

Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Habits Of Mind

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Berbagai upaya telah banyak dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi kinerja pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Termasuk salah satunya adalah penyelenggaraan ujian nasional yang terdiri dari pola 5 paket soal UN di tahun 2011. Pelaksanaan UN di tahun 2011 ini secara tidak langsung telah memberikan pembelajaran karakter untuk berperilaku positif siswa terhadap pelaksanaan evaluasi diakhir proses pembelajaran. Nilai karakter yang ditanamkan pada proses pelaksanaan UN adalah nilai “kejujuran” di sekolah agar tidak melakukan kecurangan. Baik yang dilakukan oleh siswa, pihak sekolah, pihak dinas pendidikan kabupaten/kota maupun provinsi. Namun, hasil ujian nasional yang diselenggarakan hanya merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa saja. Informasi hasil belajar ini belum dapat mengukur proses belajar mengajar yang sesungguhnya secara keseluruhan. Padahal berdasarkan taxonomi bloom, hasil belajar siswa hendaknya dapat mengukur secara menyeluruh proses kegiatan belajar siswa bukan hanya kemampuaan kognitif saja, melainkan kemampuan afektif dan psikomotorik. Selama ini, pelaksanaan evaluasi hasil belajar disekolah baik ulangan umum, ataupun ujian sekolah hanya mengukur aspek kognitif saja, namun aspek afektif ataupun psikomotorik terabaikan dan tidak maksimal dilakukan guru maupun sekolah. Pembelajaran fisika sebagai salah satu bagian ilmu sains yang pada hakikatnya terdiri dari sains sebagai produk dan sains sebagai proses, memiliki peranan penting dalam mengembangkan proses dan produk sains sebagai hasil belajar yang dapat

2

mengukur aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Bagian sains sebagai produk meliputi kumpulan pengetahuan yang terdiri dari fakta, konsep dan prinsip sains. Sedangkan bagian sains sebagai proses meliputi keterampilan dan sikap positif yang dimiliki peserta didik untuk mencapai produk sains tersebut. Sikap siswa untuk mencapai produk sains dapat ditempuh dengan sikap ilmiah dan kebiasaan berfikir siswa dalam pembelajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar fisika di kelas, siswa diharapkan aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Keaktifan siswa belajar fisika tidak saja secara fisik dilakukan, melainkan siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk memberikan pengalaman berfikir melalui kebiasaan berfikir siswa yang positif. Untuk mencapai kebiasaan berfikir siswa dapat ditempuh dengan menerapkan pendidikan karakter pada setiap proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Efek dari pembelajaran karakter tersebut nantinya dalam kurun waktu tertentu akan dapat menjadi suatu kebiasaan berfikir siswa. Kebiasaan berfikir siswa dalam kegiatan belajar mengajar ini dapat membentuk habits of mind siswa untuk mencapai keberhasilan belajarnya dan dapat menjadi bekal belajar sepanjang hayat. Pembelajaran fisika di kelas menjadi salah satu pelajaran yang memiliki peranan penting dalam pembentukan sikap siswa berupa habits of mind dalam melaksanakan proses pembelajaran sains dan menciptakan produk sains secara ilmiah. Perilaku siswa dalam belajar fisika sebagai pembelajaran sains dapat digambarkan dalam kebiasaan berfikir aktif, berfikir kreatif, dan berfikir kritis bagaimana siswa dapat menghasilkan pengetahuan, dan diharapkan siswa tidak hanya mereproduksi suatu pengetahuan. Permasalahan yang timbul sekarang adalah bagaimana siswa dapat mencapai perubahan belajar kearah dalam pembiasaan berfikir yang positif sehingga dalam waktu tertetu dapat membentuk habits of mind siswa.

3

Selama ini, pembelajaran yang dilakukan guru di kelas terdapat beberapa siswa memiliki kecerdasan kognitif baik namun kurang mampu dalam kecerdasan afektinya. Terdapat siswa yang cerdas dalam penjabaran konsep fisika, dan cerdas dalam hitungan secara matematiknya. Namun rendah dalam kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama dengan teman dikelasnya, tidak memiliki rasa empati dengan sesama, dan mudah berputus asa. Hasil observasi yang dilakukan penulis saat belajar fisika di kelas terdapat permasalahan yang sangat perlu dilakukan perbaikan, yaitu : 1). Sebanyak 30% siswa yang tidak siap untuk kalah saat dilakukan ujian disekolah sehingga menimbulkan rasa berputus asa yang mengakibatkan rendahnya minat dan motivasi siswa untuk belajar, 2). Terdapat 50% dalam kegiatan belajar mengajar dikelas sering berlaku curang suka mencontek saat dilakukan tes sehingga timbul perilaku yang kurang bertanggung jawab, 3). Saat dilakukan pembelajaran dengan metode kerja kelompok, terdapat 50% siswa yang kurang kemampuan untuk bersosialisasinya dengan temannya di kelas, 4). Sebanyak 30% siswa yang hanya menerima pembelajaran dari guru dengan apa adanya, karena memiliki rasa acuh tak acuh sehingga mengakibatkan rendahnya kreativitas siswa, 5) Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas RPP yang disusun guru juga hanya mencapai tujuan aspek kognitif saja, aspek afektif siswa kurang mendapat perhatian, sehingga kebiasaan berfikir siswa kurang dapat dikembangkan pada diri siswa. Permasalahan tersebut apabila dibiarkan dapat menimbulkan permasalahan siswa dalam kehidupan nyata sehari-hari, dan tidak terdapatnya keseimbangan antara kemampuan kognitif dan sikap siswa dengan karakter yang baik. Setelah dianalisa permasalahan tersebut diatas, maka perlu dilakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dengan menerapkan pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran fisika. Hal ini menunjukkan belum maksimalnya pendidikan karakter

4

yang dilaksanakan di sekolah selama ini. Dari hasil refleksi yang dilakukan penulis kurang maksimalnya pendidikan karakter yang dilakukan karena menempuh cara sebagai berikut : 1). Tidak dirancangnya pendidikan karakter dalam mata setiap pelajaran, padahal jika diperhatikan misi sekolah dalam kurikulum yang dirancang adalah menghasilkan insan yang cerdas, beriman dan berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi tujuan utama sekolah, namun pelaksanaannya dilakukan kurang maksimal hanya sekedar sampingan. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah guru mata pelajaran merancang kegiatan belajar mengajar dikelas dengan mempersiapkan Silabus dan RPP yang berbasis karakter. 2). Dalam merancang kurikulum tidak mengembangkan nilai-nilai karakter siswa. Dalam pelaksaan pembelajaran di kelas, mempunyai peluang yang sangat besar dalam mengajarkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Dengan memberi pertanyaan yang mengundang perilaku positif siswa, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerjasama akan terbangun pada diri siswa, sehingga akan membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan dan terhadap sesama. 3). Sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter hanya dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler saja, seperti pramuka, kegiatan kerohanian sekolah, sehingga pelaksanaannya tidak maksimal dilakukan dalam kehidupan nyata siswa. Hasil penelitian berkaitan tentang habits of mind melalui studi-studi kebiasaan berpikir tentang kemampuan dasar bekerja ilmiah telah dilakukan oleh Rustaman. N.Y (2008: 4) yang menyatakan bahwa sejumlah kecerdasan emosional tidak secara otomatis terkembangkan melalui pembelajaran sains/IPA yang menekankan pada kebiasaan berpikir, melainkan perlu dirancang secara khusus. Program pendidikan karakter diharapkan membawa pengaruh positip terhadap persepsi perilaku siswa, staf sekolah, dan masyarakat yang hidup dalam masyarakat

5

dengan budaya tertentu, dan cenderung memperkuat peningkatan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan Darmiyati Zuchdi, dkk. (2010:1) menunjukkan bahwa model pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensif, yang dipadukan dengan pembelajaran bidang studi dan dilandasi pengembangan kultur sekolah, dapat meningkatkan hasil studi, kualitas karakter peserta didik, suasana sekolah yang kondusif, serta kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Mengacu hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas yang menerapkan pendidikan karakter kedalam pembelajaran fisika. Pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan pembelajaran salingtemas. Dari hasil pembelajaran yang dilakukan diharapkan kemampuan habits of mind dalam pembelajaran sains siswa dapat terbentuk. Adapun judul dari penelitian tindakan ini adalah “Penerapan Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Fisika melalui Pembelajaran Salingtemas untuk Membentuk Habits Of Mind Siswa Kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Tanah Jawa”. B. Rumusan Masalah Secara umum rumusan masalah yang di rumuskan adalah : “ Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter melalui pembelajaran salingtemas pada mata pelajaran fisika di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Tanah Jawa dapat membentuk kemampuan habits of mind siswa? “ Secara lebih rinci rumusan masalah tersebut adalah : 1. Bagaimana pelaksanaan penerapan pendidikan karakter melalui pembelajaran salingtemas pada mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Tanah Jawa?

6

2. Apakah penerapan pendidikan karakter melalui pembelajaran salingtemas dapat membentuk kemampuan habits of mind siswa dalam pembelajaran fisika di SMA Negeri 1 Tanah Jawa? 3. Komponen habits of mind apa saja yang dapat dibentuk dengan menerapkan pendidikan karakter melalui pembelajaran salingtemas? C. Tujuan Penelitian 1. Menerapkan pendidikan karakter melalui pedekatan pembelajaran salingtemas pada pembelajaran fisika di SMA Negeri 1 Tanah Jawa. 2. Membentuk kemampuan habits of mind siswa pada mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Tanah Jawa. 3. Menerapkan pendidikan karakter untuk membentuk habits of mind siswa pada mata pelajaran fisika. D. Manfaat Penelitian 1. Mengembangkan pola pendidikan karakter pada pembelajaran fisika. 2. Menerapkan pola pendidikan karakter pada mata pelajaran fisika untuk membentuk kemampuan habits of mind siswa. 3. Membentuk kemampuan habits of mind dengan menerapkan pendidikan karakter melalui pembelajaran Salingtemas.

7

BAB II KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Pentingnya Pendidikan Karakter Pendidikan adalah upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga memiliki sistem berfikir, nilai moral dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya untuk dikembangkan ke arah yang sesuai kehidupan masa kini dan masa mendatang. Untuk mengembangkan potensi peserta didik ke arah karakter yang bernilai budaya dan karakter prinsipnya tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan melainkan terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah. Menurut tim Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (2011: 4), pengertian pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter dirinya, dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religious, nasionalis, produktif dan kreatif. Oleh karena itu, pendidikan karakter diharapkan suatu proses pendidikan yang dapat mengembangkan watak, tabiat, ahlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtualues) dan dapat diyakini sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak. Tahapan pendidikan berkarakter dapat dilakukan dengan : a. Melakukan perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter. Tahapan dengan menerapkan kurikulum melalui hal berikut : 1). Program pengembangan diri 2). Pengintegrasian dalam mata pelajaran

8

3). Menerapkan Budaya Sekolah b. Mengembangkannya ke dalam Proses Pembelajaran Pengembangannya dilakukan didalam kelas, disekolah atau diluar sekolah. c. Melakukan Evaluasi Hasil Belajar Evaluasi yang dilakukan berdasarkan pencapaian nilai budaya dan karakter yang didasarkan pada indikator. Nilai-nilai perlu dikembangkan dalam pendidikan karakter dapat diidentifikasi dari sejumlah nilai pada tabel 1, berikut :

Tabel.1. Nilai dan deskripsi Nilai Pendidikan Karakter (Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, 2011:9) No Nilai yang dikembangkan Religius Jujur Toleransi Disiplin Kerja Keras Kreatif Mandiri Demokratis Rasa Ingin Tahu Semangat Kebangsaan Cinta Tanah Air Deskripsi Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan agama lain. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dipercaya dalamperkataan, tindakan, dan pekerjaan. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,suku, etnis, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Sikap dan tindakan yang berupaya mengetahui lebih mendalam dan luas dari suatu yang dipelajarinya, dilihat, dan dengar Berpikir, bertindak, berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

9

12 13 14 15 16 17 18

Menghargai Prestasi Komunikatif Cinta Damai Gemar membaca Peduli Lingkungan Peduli Sosial Tanggung Jawab Habits Of Mind

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan.

2.

Habits of mind dapat dikatakan sebagai kebiasaan berfikir. Habits of mind siswa merupakan kemampuan siswa untuk mengontrol perilaku positifnya. Menurut Marzano dalam Chaerun (2005: 19), kebiasaan berfikir terdiri dari tiga komponen yang saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen tersebut adalah pengaturan diri (self regulation), berfikir kritis (critical thinking), dan berfikir kreatif (creative thinking). Orang yang memiliki kebiasaan berpikir yang seimbang antara ketiga komponen tersebut cenderung tenang dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan dapat membentuk kepribadian yang mantap Habits of mind dapat juga dikatakan sebagai suatu perilaku positif yang ditunjukan oleh siswa yang dilakukan secara berulang-ulang dari waktu kewaktu secara otomatis. Habits of mind bukan merupakan bakat alamiah atau faktor bawaan, melainkan suatu kebiasaan perilaku yang dipelajari dengan secara sengaja dan sadar selama beberapa waktu. Habits of mind dapat juga digunakan sebagai respon terhadap pertanyaan dan jawaban sebuah masalah yang tidak segera diketahui. Sehingga guru

10

dapat mengamati bagaimana siswa menghasilkan sebuah pengetahuan dari pada hanya mengingat pengetahuan tersebut. Terdapat manfaat kebiasaan belajar positif, yaitu : a. Kebiasaan dapat menghemat waktu dalam mengerjakan sesuatu atau memakai pikiran. Hal ini karena suatu kebiasaan mempunyai sifat spontan yang tidak memerlukan banyak kesengajaan. b. Meningkatkan efisiensi manusia. Dengan kebiasaan belajar yang baik sebagian energi yang diperlukan untuk belajar dapat dipergunakan untuk aktivitas lain. c. d. Membuat seseorang lebih cermat Hasil belajar akan lebih maksimal. Dengan kecrmatan yang tinggi dan usaha belajar yang teratur dan ringan akan meningkatkan hasil belajar. e. Menjadikan seseorang menjadi lebih konsisten dalam kegiatannya seharihari. Menurut Goleman dalam Rustaman N.Y.(2008: 8), bahwa kecerdasan emosi dalam pembelajaran sains perlu dikembangkan. Kecerdasan emosi menurut Goleman ini terdiri dari kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain berupa empati, dan membina hubungan. Menurut Costa dan Kallick (2005:5), terdapat 16 karakteristik habits of mind untuk membentuk kebiasaan berfikir, yaitu dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :

11

Tabel.2. Karakteristik Habits of Mind No 1 2 3 4 5 6 7 Habits Of Mind Persisting (Mampu bertahan) Deskription

8

9

10

11 12 13 14 15 16

Tekun dalam tugas sampai selesai. Tidak mudah menyerah. Tahan dalam menghadapi resiko. Mampu bertindak dengan baik. Managing impulsivity (Mengatur Tindakan) Dorongan hati sesaat. Mampu mendengarkan orang lain. Listening with understanding and empathy (Mendengarkan dengan empati) Berempati terhadap orang lain Berfikir fleksibel bukan berarti tidak Thinking flexibly (Berfikir fleksibel) disiplin melainkan tidak kaku. Berlatih memaksimalkan otak dengan Metacognition konsentrasi 100 %. Kemampuan untuk tidak berbohong. Striving For Accuracy (Berusaha untuk tepat) Berkata nbenar dan dapat dipercaya. Kemampuan memiliki rasa ingin tahu. Question and posing problem Menemukan pemecahan masalah (Mempertanyakan masalah) dengan bertanya sesuatu.. Menerapkan pengetahuan lama pada Applying New Knowledge to New situasi baru. Situation (Menerapkan pengetahuan) Memanfaatkan ilmu dalam kehidupan. Kemampuan berkomunikasi untuk Thinking And Comunicating with berfikir. Clarity and Precision (Berfikir/berkomunikasi dengan jelas) Mengumpulkan data dengan perasaan, Gathering Data Through all Sense (Mengumpulkan data melalui semua sentuhan, pendengaran dan indera) penglihatan. Creating, Imagining and Innovating Mengembangkan ide-ide baru dengan (Mencipta, membayangkan dan menemukan, menciptakan berimaginasi berinovasi) sebuah idea tau gagasan.. Responding with wonderment and awe Menanggapi dengan rasa kekaguman. (Merespon dengan kekaguman) Mampu bertanggung jawab terhadap Taking responsible risk (Mengambil resiko) resiko. Santai dan Enjoy Finding humour (Menemukan humor) Mampu bekerjasama dengan teman lain Thinking interdependently (bergantung) Tidak berhenti belajar. Remaining open to continuous learning (belajar secara terus menerus) Mengakui ketidaktahuan.

12

3.

Pendekatan Salingtemas Pembelajaran fisika dengan pendekatan salingtemas dapat difahami sesuai

istilah yang mengandung kata kunci salingtemas yaitu : sains-lingkungan-tekonologi dan masyarakat. Menurut Ziman dalam La Maronta Ghalib (2009:3) menyatakan bahwa konsep-konsep dan proses sains yang diajarkan di sekolah harus sesuai konteks sosial dan relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Terdapat 11 karakteristik program Sains-Teknologi-Masyarakat (S-T-M), yaitu : a. Identifikasi masalah setempat/lokal yang memiliki kepentingan dan dampak. b. Penggunaan sumber daya setempat/lokal (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah. c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. d. Penambahan/perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah. e. Fokus kepada dampak dari sains dan teknologi terhadap siswa. f. Suatu pandangan bahwa konten sains bukan hanya konsep-konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes. g. Penekanan dalam keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah. h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi. i. Kesempatan bagi siswa untuk mencoba berperan sebagai warga negara atau anggota masyarakat dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi j. Identifikasi dampak sains dan teknologi di masa depan. k. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar. Menurut Poedjiadi dalam Mahmuddin (2009:7), pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi, yaitu:

13

a. Strategi pertama, menyusun topik yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Strategi ini, di awal pembelajaran (topik baru) guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah di lingkungan anak atau menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada di lingkungan mereka. b. Strategi kedua, menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam standar kompetensi atau kompetensi dasar. c. Strategi ketiga, mengajak anak untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains industri atau produk teknologi di masyarakat di saat kegiatan belajar berlangsung. Menurut Mahmuddin (2009:8), tahapan yang ditempuh pada pembelajaran salingtemas adalah : a. Tahapan Invitasi Pada tahap ini guru melakukan brainstorming dan menghasilkan beberapa kemungkinan topik untuk penyelidikan, harus merupakan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan bagi siswa. Dapat diawali dengan apersepsi dan hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya, serta

ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. b. Eksplorasi Pada tahap ini guru dan siswa mengumpulkan data dan informasi melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Tahapan ini merupakan penyelidikan yang dapat memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan c. Mengusulkan Penjelasan dan Solusi Tahap ini siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan

14

para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan d. Mengambil Tindakan Berdasarkan temuan yang dilaporkan dalam fase ketiga (mengajukan penjelasan dan solusi), siswa menerapkan temuan-temuan mereka dalam beberapa bentuk aksi sosial. Jika tindakan ini melibatkan masyarakat sebagai pelaksana. Tindakan ini dapat dijadikan sebagai tindakan follow up.
TEKNOLOGI (masalah nyata di masyarakat)

SAINS (pertanyaan fenomena alam)

Isyu dalam Masyarakat

Bertanya

Pemecahan Masalah

Penjelasan fenomena alam Aksi personal berdasarkan explanasi dan solusi Problem Baru Masyarakat Aplikasi Sosial Explanasi dan Solusi

Solusi Masalah

Pertanyaan Baru

Gambar.1. Tahapan Pembelajaran Salingtemas( I Made Alit Mariana, 2009)

B. Kerangka Berfikir Kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah mengitegrasikan pendidikan karakter untuk membentuk habits of mind kedalam tiga hal yaitu terintegrasi kedalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Pengintegrasian pendidikan

15

karakter di sekolah pada mata pelajaran fisika dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1. Perencanaan Pengembangan Perencanaan pengembangan pendidikan karakter kedalam pembelajaran fisika dapat dilakukan guru dengan menyusun Silabus dan RPP dengan mengembangkan nilainilai karakter siswa yang sesuai dengan materi pelajaran. Perencanaan pengembangan dapat dilakukan dengan cara : a. Mengkaji SK dan KD pada standar isi. b. Memperlihatkan keterkaitan antara SK dan KD c. Mencantumkan nilai-nilai budaya dan karakter dalam silabus d. Mencantumkan nilai-nilai yang sudah ada dalam silabus ke dalam RPP e. Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif dan memberi kesempatan peserta didik menunjukkan perilaku yang sesuai. f. Membantu peserta didik untuk menunjukkan dalam perilaku. 2. Pengembangan Proses Pembelajaran Pengembangan proses pembelajaran dilakukan menggunakan pendekatan proses belajar peserta didik secara aktif dan berpusat pada siswa melalui proses pembelajaran fisika di kelas dengan menggunakan metode pendekatan pembelajaran salingtemas. Digunakan pendekatan salingtemas karena diyakini pendekatan ini dapat membekali siswa mengantisipasi beberapa hal pokok yang berkembang dimasyarakat dan lingkungan, diantaranya : a. Menghindari „materi oriented’ dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional. b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi (AFTA–2003, AFAS–2003, WTO–2010).

16

c. Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasil teknologi dan lain-lainnya hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi. d. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di dalam maupun di luar kelas.

3. Evaluasi Pendidikan Karakter Evaluasi dilakukan berdasarkan indikator yang sudah di rencanakan pada pengembangan yang dilakukan. Hasil belajar dengan penerapan pendidikan karakter ditujukan dalam membentuk habits of mind siswa, yaitu : a. Aspek self regulation : cara siswa membangun kesadaran berfikir, membuat perencanaan percobaan, memanfaatkan sumber-sumber belajar yang dianggap penting, mengevaluasi keefektivan pelaksanaan percobaan yang dibuatnya sendiri. b. Aspek critical thingking, siswa menyiapkan bahan percobaan, memberi perlakukan dan mengukur hasil percobaan, mengumpulkan data dan menganalisis dalam bentuk laporan. c. Aspek creative thingking, menyiapkan hasil percobaan, menyimpulkan percobaan dann mengkomunikasikan hasil percobaan dalam bentuk lisan maupun tulisan.

17

BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah guru fisika dan siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Tanah Jawa semester ganjil tahun ajaran 2011/2012. Selama ini proses pembelajaran fisika di sekolah menggunakan metode yang bervariasi mulai dari metode ceramah, diskusi, tanya jawab, eksperimen dan mengamati langsung dilapangan. Namun dalam pelaksanaan evaluasi diakhir pembelajaran guru hanya mengamati kemampuan siswa dari hasil tes pada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif atau psikomotorik selalu diabaikan. Hubungan siswa dengan guru sangat dekat. Kemampuan siswa dalam hal kognitif sangat beragam. B. Prosedure penelitian Penelitian direncanakan dengan metode penelitian tindakan kelas dalam dua siklus. Pengamatan kemampuan habits of mind siswa dilaksanakan saat proses belajar mengajar di kelas. Dimana peneliti sebagai pelaku tindakan dengan dibantu oleh teman sejawat sebagai observer. Pada penelitian ini kegiatan yang diamati adalah aktivitas proses belajar mengajar yang dilakukan guru fisika dan aktivitas siswa yang menggambarkan kemampuan habits of mind siswa dalam kegiatan percobaan. Kegiatan percobaan yang dimaksud adalah mempersiapkan, melaksanakan dan mengkomunikasikan hasil-hasil percobaan. Objek yang diamati pada kegiatan proses belajar mengajar dalam penelitian ini adalah kemampuan self regulation, critical thingking, dan creative thingking siswa.

18

Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh anggota peneliti dikelas XI mulai dari kegiatan merancang percobaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam melaksanakan penelitian, adapun rangkaian pelaksanaan penerapan pendidikan karakter melalui salingtemas adalah : 1. Perencanaan Pengembangan Pendidikan Karakter  Mengkaji SK dan KD pada standar isi.  Memperlihatkan keterkaitan antara SK dan KD  Mencantumkan nilai-nilai budaya dan karakter dalam silabus  Mencantumkan nilai-nilai yang sudah ada dalam silabus ke dalam RPP  Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif dan memberi kesempatan peserta didik menunjukkan kemampuan habits of mind.  Membantu peserta didik untuk menunjukkan dalam perilaku belajar. 2. Pengembangan Proses Pembelajaran Dikembangkan berdasarkan tahapan pendekatan pembelajaran salingtemas. a. Tahap invitasi : guru melakukan brainstorming. b. Tahap eksplorasi : guru dan siswa mengumpulkan data dan informasi. c. Tahap Mengusulkan Penjelasan dan Solusi : siswa mengatur dan mensintesis informasi, melakukan penyelidikan untuk menguji hipotesis. d. Mengambil Tindakan : mengajukan penjelasan dan solusi, menerapkan temuantemuan mereka untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Evaluasi Pendidikan Karakter Evaluasi hasil belajar pencapaiannya berdasarkan nilai budaya dan karakter yang didasarkan pada indikator mata pelajaran fisika. Tahap evalusi ditentukan instrumen penelitian untuk mengukur aspek kemampuan habits of mind siswa, yaitu :

19

a. Aspek self regulation : cara siswa membangun kesadaran berfikir, membuat perencanaan percobaan, memanfaatkan sumber-sumber belajar yang dianggap penting, mengevaluasi keefektivan pelaksanaan percobaan yang dibuatnya sendiri. b. Aspek critical thingking : siswa menyiapkan bahan dan perlakuan, memberi perlakukan dan mengukur hasil perlakuan, mengumpulkan data dan

menganalisis dalam bentuk laporan. c. Aspek creative thingking : menyiapkan hasil percobaan, mengkomunikasikan hasil percobaan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Hasil penelitian dideskripsikan untuk mengungkap pembentukan habits of mind siswa. Tes uraian dan pilihan ganda dilakukan peneliti menggunakan perangkat soal untuk mengungkap habits of mind apa yang terukur. Observasi dilakukan menggunakan pedoman observasi, catatan lapangan, dan rancangan pembelajaran fisika guru dan siswa untuk mengungkap aktivitas guru selama proses pembelajaran dikelas. Pengamatan yang dilakukan untuk guru dikembangkan berdasarkan habits of mind siswa yang akan terbentuk. Penyebaran agket siswa dan guru digunakan peneliti dengan menggunakan angket yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Angket yang digunakan untuk memperoleh data tentang pendapat siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan.

20

ALUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Pelaksanaan Penerapan Pendidikan Karakter untuk meningkatkan kemampuan Habits of Mind

Siklus 1

Siklus 2

Perencanaan 1 1. Menyusun Silabus dan RPP berkarakter 2. Menyusun Instrumen Habits Of Mind Tindakan 1 Menerapkan Pendidikan karakter melalui Salingtemas pada materi Gaya Gravitasi Observasi 1 1. Tes Akhir Pembelajaran 1 2. Gambaran Aktivitas Habits of Mind Guru dan Siswa

Perencanaan 2 1. Melaksanakan perbaikan pembelajaran 2. Menyusun Silabus dan RPP berkarakter

Tindakan 2 Melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendidikan karakter melalui Salingtemas pada materi Observasi 2 3. 1. Tes Akhir Pembelajaran 1 4. Penguatan Aktivitas Habits of Mind Guru dan Siswa 5. Angket : tanggapaan Guru dan siswa tentang penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran

Refleksi 1 Mendeskripsikan habits of mind berupa self regulation, critical

thingking dan creative thingking
untuk dijadikan bahan perbaikan diskusi

Refleksi 2 Terbentuknya habits of mind siswa yaitu

self regulation, critical thingking dan creative thingking

Hasil Dan Pembahasan

Kesimpulan , Keterbatasan dan Rekomendasi

Gambar.2. Alur Penelitian Tindakan Kelas

21

C. Teknik pengumpulan data a. Observasi Dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi, catatan pembelajaran di kelas dan rancangan penerapan pendidikan karakter untuk mengungkap aktivitas guru dan siswa saat proses pembelajaran. b. Angket dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan angket yang di kembangkan sendiri oleh peneliti. Agket digunakan untuk mendapatkan data tentang pendapat siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dialami sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. c. Tes tulisan uraian dan pilihan ganda. Tes ini menggunakan perangkat soal untuk mengungkap habits of mind nya siswa yang dapat terukur. Tabel.3. Tehnik Pengumpul Data No 1 Siswa 2 Guru dan Siswa 3 Guru dan Siswa Sumber data Jenis data Penguasaan konsep akhir setelah pembelajaran Aktivitas habits of mind guru dan siswa selama pembelajaran salingtemas Tanggapan guru dan siswa terhadap habits of mind dalam pembelajaran karakter Tehnik Pengumpul data Tes Akhir Keterangan Bentuk soal Uraian dan pilihan ganda Lembar Observasi Guru dan siswa Anecdotal Record

Observasi dan Catatan Lapangan

Angket

Lembar Angket

D.

Tehnik analisa data Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan : 1. Tes Akhir : untuk mengungkap kemampuan memecahkan masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi. ( LP-1 dan LP-2)

22

Dilakukan dengan membuat instrumen tes hasil belajar pilihan ganda 10 soal dan tes uraian 2 soal. Nilai akhir di dapat dari rumus :

Nilai Akhir = (0.7xPG) + (0.3xEssay) Hasilnya kemudian di hitung jumlah skor siswa keseluruhan untuk mendapatkan rata-rata hasil belajar siswa. Rata-rata hasil belajar dihitung menggunakan rumus :

Rata-rata hasil =

Kemudian hasil akhirnya dilakukan presentase jumlah siswa yang mencapai skor tertentu untuk menentukan kategori baik-cukup-kurang

Persentase =

x 100%

2. Observasi : Unjuk kerja siswa melakukan kegiatan percobaan (LO-1) dan observasi kemampuan siswa mengungkap habits of mind. (LO-2) Instrumen unjuk kerja siswa melakukan kegiatan percobaan (LO-1) d. Aspek Kinerja siswa mempersiapkan percobaan 1). Merancang alat 2). Menetapkan alat dan bahan yang sesuai 3). Menyusun hipotesis e. Kinerja siswa dalam melaksanakan percobaan a. Menentukan langkah-langkah kerja b. Ketelitian mengukur c. Menuliskan data percobaan dalam

23

f. Akurasi dan efektivitas berfikir siswa dalam eksperimen 1) Mengolah data hasil percobaan 2) Menyimpulkan hasil percobaan 3) Mengkomunikasikan hasil percobaan Kriteria Penilaian : 1 2 3 4 = = = = Kurang Cukup Baik Amat baik

Kategori Persentase : Lebih kecil dari 60 61 s/d 70 71 s/d 80 82 s/d 100 = = = = Kurang Cukup Baik Amat baik

Instrumen pengungkap habits of mind guru untuk siswa oleh guru (LO-2) Pertanyaan : Apakah siswa menunjukkan Habits of Mind seperti : a. Self Regulated Thingking 1) Menyadari jalan pikirannya sendiri (Ya/Tidak) 2) Membuat rencana yang efektif (Ya/Tidak)

3) Menyadari dan mencari sumber-sumber yang perlu (Ya/Tidak) b. Critikal Thinking 1) Akurat dan mengupayakan keakuratan 2) Berpandangan terbuka 3) Menghindari perilaku tanpa difikirkan (Ya/Tidak) (Ya/Tidak) (Ya/Tidak)

24

c. Creative Thingking 1) Mengupayakan terus menerus menyelesaikan (Ya/Tidak) tugas meslkipun

jawabannya belum bias diduga

2) Mendorong diri sendiri untuk mendorong sesuatu yang diyakininya tidak dapat mengerjakannya. (Ya/Tidak)

3) Membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya. (Ya/Tidak)

Instrumen pengungkap habits of mind guru untuk siswa oleh pengamat (LO-3) Pertanyaan : Apakah guru menunjukkan habits of mind seperti : a. Self Regulated Thingking 1) Membantu siswa menyadari jalan fikirannya sendiri (Ya/Tidak) 2) Mendorong siswa membuat rencana yang efektif (Ya/Tidak)

3) Mendorong siswa untuk menyadari dan menggunakan sumber-sumber yang perlu b. Critikal Thinking 1) Mendorong siswa untuk mengupayakan keakuratan. (Ya/Tidak) 2) Mendorong siswa untuk berpandangan terbuka. (Ya/Tidak) (Ya/Tidak)

3) Mendorong siswa untuk mencegah sifat impulsive. (Ya/Tidak) c. Creative Thingking 1) Mendorong siswa untuk terus menerus mengupayakan menyelesaikan tugas meslipun jawabannya belum bias di duga. (Ya/Tidak)

2) Mendorong siswa untuk mencoba sesuatu yang menurutnya tidak yakin dapat mengerjakannya. (Ya/Tidak)

3) Mendorong siswa untuk membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya. (Ya/Tidak)

25

3. Lembar Agket Siswa melalui Penilaian Diri (LPD) a. Self Regulated Thingking 1) Jika kamu tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik, apakah kamu memikirkannya kembali agar dapat menolong kamu menemukan kesalahan dalam menyelesaikan tugas? (Ya/Tidak) 2) Apakah kamu membuat suatu rencana bila kamu akan mengerjakan tugas yang rumit? (Ya/Tidak) 3) Apakah kamu mencari sumber informasi pada setiap mengerjakan tugas yang memerlukan sumber informasi? (Ya/Tidak) b. Critikal Thinking 1) Ketika melakukan perhitungan atau mencatat data hasil observasi, apakah kamu melakukannya dengan teliti? (Ya/Tidak) 2) Apakah kamu akan berlapang dada ketika ide-ide kamu ditolak? (Ya/Tidak) 3) Apakah kamu menjawab pertanyaan langsung tanpa difikirkan terlebih dahulu atau kamu benar-benar mengetahui dasar ilmunya atau hanya asala-asalan? (Ya/Tidak) c. Creative Thingking 1) Apakah kamu tetap mengerjakan tugasmu meskipun kamu gagal mengerjakannya? (Ya/Tidak) 2) Apakah kamu yakin akan kemampuan dirimu dalam mengerjakan tugastugas ? (Ya/Tidak) 3) Apakah kamu dapat menemukan solusi sendiri terhadap masalah yang sulit atau kamu dihadapkan pada pilihan yang sulit? (Ya/Tidak)

26

E.

Jadwal Penelitian Adapun jadwal penelitian disusun dalam tabel berikut : Tabel.4. Jadwal penelitian Agustus September Oktober

NO

1. 2. 3. 4 5.

6

.

Rencana Juli November Des Kegiatan Minggu ke3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pengiriman x x proposal Tindakan 1 & x x x refleksi Tindakan 2 & x x refleksi Tindakan 3 & x x refleksi Penyampaian x x draf laporan via email Penyempurnaan x x laporan Monitoring x x x x Penyerahan x laporan

27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus 1 Siklus pertama dilakukan 3 kali pertemuan, setiap pertemuan selama 2 x 45 menit. 1. Pertemuan Pertama Pelaksanaan Penelitian Pada pertemuan pertama guru mempersiapkan siswa kedalam pembelajaran berkelompok. Pembelajaran fisika dilakukan guru berpedoman pada buku paket siswa pada materi Elastisitas dan gerak Harmonik sederhana. Proses pembelajaran dimulai dari Penyampaian Konsep Elastisitas oleh guru, dilanjutkan tanya jawab dan mengerjakan soal pemahaman konsep dan membimbing siswa mencatat sebanyakbanyaknya benda-benda yang bersifat elastis. Hal tersebut digambarkan dalam diskusi dan tanya jawab sebagai berikut : Guru : Suatu benda dikatakan bersifat elastis apabila pada benda diberi gaya tekan kemudian gaya dihilangkan, maka benda tersebut dapat kembali ke bentuk semula. Misalnya karet ketapel yang ditarik anak-anak saat bermain ketapel. Sedangkan benda dikatakan bersifat plastis adalah bila pada benda tersebut jika diberi gaya tekan kemudian gayanya di tiadakan maka benda tersebut tidak dapat kembali kebentuk semula. Misalnya segumpal tanah liat basa yang ditekan dengan ibu jari. Coba sebutkan peristiwa apa yang terjadi pada karet ketapel dan tanah liat tersebut? : Karet ketapel yang ditarik anak-anak saat bermain ketapel, apabila anak melepaskan tarikannya, dan karet ketapel segera kembali ke bentuk semula. : Segumpal tanah liat basa lalu ditekan dengan ibu jari, maka tanah liat tersebut akan berubah bentuk dan tidak kembali kebentuk semula

Siswa 1

Siswa 2

28

Guru mengarahkan peserta didik membaca buku paket kemudian mendiskusikan dikelompoknya masing-masing tentang materi Elastisitas dan besaran-besaran tegangan, regangan dan modulus elastisitas bahan. Diakhir pembelajaran guru memberi arahan siswa merancang percobaan tentang hukum Hook dari alat yang dirancang siswa sendiri di rumah secara berkelompok. Namun hasil rancangan alat yang dipersiapkan siswa masih jauh dari sempurna. Siswa hanya asal-asalan saja merangkai alat yang digunakan. Hal ini terjadi karena siswa menganggap alat yang dirangkai kurang menarik dan bermanfaat bagi pembelajaran fisika dikelas. Alat yang dirangkai siswa dirumah menurut guru, tidak dapat mengukur kemampuan habits of mind siswa untuk bekerja secara kreatif, bertanggung jawab dan bekerjasama. Untuk itu guru selalu memberi motivasi untuk memperbaiki rancangan alat yang digunakan dalam percobaan. Memotivasi siswa dilakukan guru menggunakan kata-kata “ayo..dicoba lagi”, “kamu pasti bisa, rangkailah alatmu sebaik mungkin” dan yang lebih melibatkan siswa lagi adalah dengan kata-kata “menurut kamu, apakah alat yang kamu rancang ini sudah dapat digunakan untuk mengamati hukum Hook?” 2. Pertemuan Kedua Pelaksanaan Penelitian Pertemuan kedua dilakukan guru dengan melanjutkan penyampaian materi dengan cara diskusi kelompok. Pada pertemuan kedua ini guru juga melakukan penilaian kinerja siswa dengan melakukan percobaan dari alat yang sudah dirangkai di rumah. Namun dalam pelaksanaan saat melakukan praktikum tidak dapat menjelaskan konsep hukum Hook. Untuk itu guru mengganti alat yang dirangkai siswa dengan alat yang dirancang di laboratorium. Namun demikian guru membimbing peserta didik cara melakukan praktikum agar mendapatkan data untuk menjelaskan hukum hook.

29

Dalam pelaksanaan percobaan, siswa merasa senang dan tertarik melakukan percobaan. Guru mengarahkan siswa melakukan langkah kerja untuk mendapatkan data hasil penelitian. Dari proses kinerja siswa merancang alat, melaksanakan percobaan dan melakukan pengamatan hingga mengambil suatu kesimpulan hasil percobaan, siswa menyusun lembar kegiatan kinerja siswa dalam bentuk laporan. Sehingga dari bentuk laporan yang dihasilkan siswa dapat menghasilkan lembar kerja yang disusun siswa sendiri. Kegiatan yang dilakukan ini dapat mengukur kemampuan siswa untuk berfikir kritis, logis percaya diri dan menghargai keberagaman pendapat. Penilaian kinerja dilakukan saat siswa melakukan praktikum, diskusi, merancang alat, sampai mengolah data dan dituangkan kedalam bentuk laporan. Penilaian kinerja ditekankan pada : 1). Persiapan siswa melaksanakan praktikum, 2). Aktivitas siswa melaksanakan praktikum, dan 3) Efektivitas siswa dalam pembuatan laporan praktikum berupa tulisan ilmiah. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua mengukur kemampuan proses sains siswa untuk mengungkap habits of mind siswa. Hasil yang didapat pada persiapan melaksanakan praktikum sudah baik dilakukan, namun alat yang dirangkai tidak dapat menerangkan konsep materi, sehingga guru, melakukan penyempurnaan pada rancangan alat yang digunakan. Namun demikian alat yang dirancang siswa sudah dapat mengukur kemampuan siswa untuk mengungkap habits of mind. 3. Pertemuan Ketiga Pelaksanaan Penelitian Pembelajaran fisika dilaksanakan guru dengan praktikum dilaboratorium. Pelaksanakan praktikum guru mencoba memperoleh informasi dari siswa mengenai kemampuan siswa mempersiapkan praktikum, melaksanakan praktikum dan membuat laporan hasil praktikum untuk mengukur kemampuan berfikir siswa dalam praktikum.

30

Deskripsi karakter siswa dalam pembelajaran fisika menunjukkan bahwa dalam melaksanakan kegiatan praktikum siswa masih dalam kondisi tidak teratur dan suasana kelas masih sulit diatur. Dalam mempersiapkan bahan, terdapat beberapa kelompok yang menyediakan alat dan bahan asal-asalan dan tidak maksimal dipersiapkan. Dalam bekerja kelompok, pembagian tugas melaksanakan percobaan masih didominasi satu atau dua orang, sedang lainnya hanya menerima pekerjaan temannya saja, hal ini menggambarkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok masih kurang. Alat dan bahan yang dipersiapkan siswa hanya beracuan pada petunjuk guru saja, siswa tidak punya inisiatif melengkapi alat dari hasil kreativitas siswa sendiri, hal ini menggambarkan bahwa kemampuan siswa untuk mencipta atau menemukan ide masih rendah. Penentuan langkah kerja untuk mendapatkan data percobaan juga dilakukan siswa sesuai procedure. Kemampuan siswa mengolah data dituangkan kedalam laporan hasil dalam bentuk laporan kerja, selanjutnya menyimpulkan hasil dituangkan dalam laporan kerja. Laporan dibuat siswa dapat menggambarkaan hasil hukum hook. Namun sikap siswa saat melakukan percobaan pada awalnya siswa terlihat bingung dan bahkan siswa mulai jenuh karena hasil yang mereka dapatkan masih kurang tepat untuk menjelaskan materi hukum hook. Guru dapat membaca kebingungan siswa sehingga guru mulai melakukan pembimbingan perkelompok dan memberi petunjuk langkah kerja dapat menghasilkan seperti data yang diharapkan kemudian data diolah dalam grafik. Akhir dari pembelajaran siswa puas dengan hasil yang didapat.

31

Tabel.5. Deskripsi Kinerja Siswa untuk Pengungkap Habits Of Mind siswa siklus 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek Yang diamati Merancang alat Menetapkan alat/bahan yang sesuai Menyusun Hipotesis Menentukan langkah-langkah kerja Ketelitian mengukur Menuliskan data percobaan dalam Mengolah data hasil percobaan Menyimpulkan hasil percobaan Mengkomunikasikan hasil percobaan Rata-rata Jumlah (n) Skor yang Rata-rata (x) Persentase diamati 17 2.13 53.13% 20 17 22 21 20 16 17 17 18.56 2.38 2.13 2.75 2.63 2.38 2 2.13 2.13 2.32 62.50% 53.13% 68.75% 65.63% 62.50% 50.00% 53.13% 53.13% 57.99%

Aspek kemampuan kinerja siswa pada siklus 1 mencapai rata-rata persentase berada pada kategori “kurang” yaitu pada rentangan 57.99 %. Aspek yang masih sulit dicapai siswa adalah Mengolah data hasil percobaan yaitu dalam pencapaian 50.00%. hal ini dapat difahami karena siswa masih kurang terbiasa mengolah hasil percobaan dalam pembelajaran fisika. Selama ini pembelajaran fisika dikelas kurang melibatkan siswa untuk melakukan percobaan, sehingga kemampuan kenerja siswa untuk menggambarkan habits of mind siswa juga tidak dicapai dengan hasil yang baik. Selanjutnya aspek merancang alat, menyusun hipotesis, menyimpulkan hasil, mengkomunikasikan hasil percobaan mencapai perolehan 53.13% yaitu berada pada kategori “kurang”. Hal ini dapat difahami juga karena pembelajaran fisika selama ini kurang melatihkan kemampuan siswa untuk melakukan percobaan sehingga kemampuan habits of mind siswa kurang terbentuk.

32

Aspek kemampuan siswa menetapkan alat/bahan, menentukan langkah kerja, ketelitian mengukur dan menuliskan data percobaan berada pada kategori “cukup” yaitu berada diatas 61%. Namun demikian aspek ini masih perlu dilakukan perbaikan pada tindakan berikutnya. Sehingga masih memerlukan tindakan guru dalam mencapai perbaikan pembelajaran terutama dalam mempersiapkan praktikum. Deskripsi kinerja siswa pada tabel 5 diatas menggambarkan bahwa habits of mind siswa untuk pembiasaan berfikir masih kurang maksimal dilakukan siswa. Kemampuan habits of mind siswa tentang kinerja siswa dalam pembelajaran fisika hanya dapat dicapai oleh kelompok 2 yaitu pencapaian hasil 63.89% berada dalam kategori “cukup”. Sedangkan ketujuh kelompok lain pencapaiannya hanya kurang dari 60 %. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan untuk siklus kedua untuk kinerja siswa. Adapun perlunya dilakukan perbaikan kemampuan kinerja siswa dalam melaksanakan praktikum ini dapat menjelaskan tentang habit of mind siswa yang ke dua yaitu mengatur tindakan (Managing impulsivity) dan yang ke tiga adalah “mencipta, membayangkan dan berinovasi (Creating, Imagining and Innovating)”.

B. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus 2 1. Pertemuan pertama Pelaksanaan Penelitian Guru menyampaikan materi pelajaran dengan mengelompokkan siswa kedalam pembelajaran. Materi yang disampaikan adalah tentang Momentum dan Impuls. Metode yang dilakukan guru adalah brainstorming dikelas, selanjutnya siswa diarahkan menyelesaikan permasalahan tentang konsep materi dengan memberikan tugas kelompok untuk diselesaikan secara berkelompok.

33

2. Pertemuan kedua Pelaksanaan Penelitian Pembelajaran dilakukan dikelas dengan mengarahkan siswa melaksanakan kegiatan praktikum. Alat yang digunakan siswa adalah alat yang sudah dirancang sendiri dirumah, yaitu merancang roket tiruan dari botol aqua bekas. Roket tiruan yang digunakan dalam pembelajaran sudah dirancang oleh siswa dirumah dengan diarahkan dan dibimbing guru pada pertemuan sebelumnya. Sehingga pada pelaksanaan pembelajaran untuk percobaan siswaa tinggal menggunakan alat yang sudah dirancang. Hal ini dilakukan adalah untuk dapat menghemat waktu dalam proses pembelajaran. Ketika melakukan percobaan untuk menggunakan roket tiruan, siswa sangat berantusias mengikuti pembelajaran fisika. Menurut beberapa siswa, pembelajaran fisika menarik dan menyenangkan. Dan alat yang digunakan siswa juga dapat dirancang dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun demikian, masih ada beberapa siswa yang tidak melaksanakan kegiatan merancang alat peraga, ketika ditanya guru siswa menjawab bahwa alat tertinggal dirumah. Selanjutnya guru bersama siswa sama-sama mendemontrasikan di lapangan terbuka untuk menjalankan roket hasil rancangan siswa, dan melakukan observasi untuk mendapatkan data tentang habits of mind siswa pada pembelajaran di kelas. Rangkaian kegiatan pembuatan roket tiruan dirumah sampai dapat mendemonstrasikan nya dilapangan sekolah adalah suatu kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan kinerja untuk mengukur habits of mind siswa.

34

3. Pertemuan ketiga Pelaksanaan Penelitian Pada pertemuan ketiga siswa mempresentasekan hasil demonstrasinya di kelas secara berkelompok. Deskripsi kemampuan habits of mind siswa dalam pembelajaran fisika pada siklus 2 menunjukkan siswa masih dalam kondisi tidak teratur namun siswa mulai dapat memahami karakter apa yang diharapkan dari pelaksanaan percobaan dengan roket tiruan tersebut. Pemanfaatan barang bekas dapat menunjukkan kepedulian siswa terhadap lingkungan siswa. Bahwa barang purna pakai pun dapat digunkana sebagai bahan pembelajaran. Dalam mempersiapkan bahan, terdapat beberapa kelompok yang menyediakan alat sudah lebih baik dari siklus pertama. Setiap siswa merancang roket tiruan dirumah, dan setiap siswa juga melakukan percobaan untuk menerbangkan roket tiruan tersebut dilapangan sekolah. Dalam peluncuran roket, guru member informasi bahwa rancangan roket yang baik adalah rancangan roket yang jarak tempuhnya terjauh. Siswa sangat berantusias untuk berlomba-lomba agar

rancanagnnnya lebih baik dari teman-temannya.. Dalam bekerja kelompok, semua siswa aktif melaksanakan percobaan dan sudah rtidak didominasi lagi oleh satu atau dua orang saja. Hal ini menggambarkan kemampuan bekerjasama dalam kelompok mulai dapat dibangun dan diperbaiki. Siswa mulai kreatif mempersiapkan bahan percobaan. Alat dan bahan yang dipersiapkan siswa tidak hanya beracuan pada petunjuk guru saja, siswa sudah memiliki inisiatif sendiri untuk melengkapi alat dari hasil kreativitas siswa sendiri, hal ini menggambarkan bahwa kemampuan siswa untuk mencipta atau menemukan ide mulai dilatihkan oleh siswa dan mengalami peningkatan dari siklus pertama. Penentuan langkah kerja untuk mendapatkan data percobaan juga dilakukan siswa sesuai procedure. Kemampuan siswa mengolah data percobaan dituangkan

35

kedalam

laporan

hasil

praktikum

dalam

bentuk

laporan

kerja,

selanjutnya

menyimpulkan hasil juga dituangkan dalam laporan kerja. Laporan hasil percobaan yang dibuat siswa dapat menggambarkaan hasil percobaan yang menjelaskan hukum kekekalan momentum. Pelaksanaan kegiatan tersebut guru melakukan observasi yang hasilnya dapat digambarkan pada tabel 6 berikut : Tabel.6. Deskripsi Kinerja Siswa untuk Pengungkap habits Of Mind siswa siklus 2 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek Yang diamati Merancang alat Menetapkan alat/bahan yang sesuai Menyusun Hipotesis Menentukan langkah-langkah kerja Ketelitian mengukur Menuliskan data percobaan dalam Mengolah data hasil percobaan Menyimpulkan hasil percobaan Mengkomunikasikan hasil percobaan Rata-rata Jumlah (n) Rata-rata (x) Persentase 23 20 21 23 21 23 20 20 20 21.22 2.88 2.5 2.63 2.88 2.63 2.88 2.5 2.5 2.5 2.65 71.88% 62.50% 65.63% 71.88% 65.63% 71.88% 62.50% 62.50% 62.50% 66.32%

Aspek kemampuan kinerja siswa pada siklus 2 mengalami peningkatan yaitu mencapai rata-rata persentase berada pada kategori “cukup” yaitu pada rentangan 66.32 %. Peningkatan ini menurut penulis sudah cukup signifikan. Aspek yang masih sulit dicapai siswa pada siklus 1 yaitu Mengolah data hasil percobaan juga mulai mengalami peningkatan yaitu dalam pencapaian 62.50%. Peningkatan ini terjadi karena guru membimbing dan mengarahkan siswa pada setiap pertemuan untuk mencatat dan mengolah data dalam catatan siswa dikelas. Dari siklus 1 siswa belajar, bagaimana mendapatkan data percobaan kemudian mengolahnya untuk di jelaskan dalam bentuk laporan berupa tulisan hasil percobaan siswa. Pembelajaran fisika tidak monoton dilakukan didalam kelas, namun guru mengarahkan siswa untuk belajar melakukan

36

percobaan dan pengamatan di halaman sekolah dengan menerbangkan roket tiruan hasil rancangan siswa sendiri. Dengan melibatkan dan mengaktifkan siswa dalam pembelajaran maka kemampuan kinerja siswa untuk menggambarkan habits of mind juga akan dapat dicapai dengan hasil yang baik. Selanjutnya setiap aspek untuk mengambarkan habits of mind siswa pada siklus dua ini semua mengalami peningkatan. Aspek kemampuan merancang alat dan Menuliskan data percobaan berada pada rentangan 71.88% kategori “Baik”. Dalam pelaksanaan praktikum alat yang dirancang siswa sudah cukup baik, bahkan ada beberapa siswa rancangan alatnya sudah menunjukkan kreativitas siswa yang baik. Selain itu alat dan bahan yang ditentukan gutu untuk disediakan dalam pelaksanaan percobaan juga dilengkapi oleh siswa. Aspek kemampuan siswa menetapkan alat/bahan, menentukan langkah kerja, ketelitian mengukur, mengolah data hasil percobaan, menyimpulkan hasil dan mengkomunikasikan hasil percobaan berada pada kategori “cukup” yaitu berada diatas 61%. Namun demikian aspek ini masih perlu dilakukan perbaikan pada tindakan penelitian berikutnya. Sehingga masih memerlukan tindakan guru dalam mencapai perbaikan pembelajaran terutama dalam mempersiapkan praktikum. Dalam

pembelajaran dengan melakukan percobaan hendaknya guru terlebih dahulu menyusun dan mempersiapkan bahan percobaan yang disusun oleh guru sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kemampuan siswa untuk membiasakan habits of mind siswa dapat diamati dan terukur dengan baik. Deskripsi kinerja siswa pada tabel 6 diatas menggambarkan bahwa habits of mind siswa untuk pembiasaan berfikir sudah mengalami perbaikan.

37

C. Deskripsi Peningkatan Hasil Tindakan Habits Of Mind Siswa Habits Of Mind Siswa Deskripsi sikap perilaku berfikir siswa dapat digambarkan dalam angket yang disebarkan guru. Hasil angket menunjukkan bahwa kebiasaan berfikir siswa tentang : A. Self Regulated Thingking adalah 1). Kemampuan Siswa untuk “Menyadari jalan pikirannya sendiri” dapat di ketahui dengan memberikan pertayaan angket kesiswa “Jika kamu tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik, apakah kamu memikirkannya kembali agar dapat menolong kamu menemukan kesalahan dalam menyelesaikan tugas”. Keseluruhan siswa (100%) menjawab “Ya”, jawaban yang diberikan siswa melalui pertanyaan ini menunjukkan bahwa keseluruhan siswa menyadari jalan fikirannya sendiri. Jika siswa mampu menyadari jalan fikirannya sendiri, maka hal ini dapat menunjukkan kebiasaan berfikir siswa untuk memeahmi jalan fikirannya semdiri sehingga mampu menjadi dirinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugasnya sendiri. Kemampuan siswa untuk mengukur keterampilan berfikir siswa dalam Membuat rencana yang efektif dapat di ketahui dengan memberikan pertayaan angket kesiswa “Apakah kamu membuat suatu rencana bila kamu akan mengerjakan tugas yang rumit? Keseluruhan siswa (100%) menjawab “Ya”, hasil ini menunjukkan bahwa keseluruhan siswa merencakan suatu tugas dengan melakukan rencana terlebih dahulu, misalnya dalam merencanakan praktikum di kelas, terlebih dahulu guru mengajak siswa merencanakan dan mencari alat peraga yang digunakan siswa dirumah baik secara kelompok ataupun mandiri. Jawaban siswa ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk merencanakan suatu pekerjaan dapat dilakukan siswa dengan baik. Setiap melakukan tugas atau pekerjaan siswa selalu direncanakan dengan baik. Kemampuan siswa untuk mencari informasi dalam setiap menyelesaikan tugas yang rumit, jumlah siswa yang menjawab “Ya” pada rentangan 87.50% menunjukkan

38

bahwa tidak keseluruhan siswa mau mencari informasi dengan baik. Hal ini dapat difahami karena sumber informasi yang dimiliki oleh siswa sangat terbatas. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan tidak dapat memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh siswa, selain itu sumber informasi dari internet tidak semua siswa dengan mudah dapat mengakses internet dirumah nya ataupun disekolah. Untuk itu menurut penulis rentangan nilai 87.50% dalam mencari sumber informasi sudah cukup baik dilakukan sebagian siswa. Selanjutnya habits of mind siswa untuk menggali informasi “Menyadari dan mencari sumber-sumber yang perlu” dapat diketahui dengan memberi pertanyaan “Apakah kamu mencari sumber informasi pada setiap mengerjakan tugas yang memerlukan sumber informasi?” dan sebagian siswa menjawab “Ya” sebanyak 87.50% dan menjawab “Tidak” adalah 12.50%. hal ini menunjukkan bahwa tidak keseluruhan siswa mau mencari informasi dengan baik bahwa, siswa hanya mendapatkan informasi dari buku paket ataupun informasi dari guru ataupun temannya. Hal ini dapat dimaklumi difahami karena sumber informasi yang dimiliki oleh siswa sangat terbatas. Buku-buku yang tersedia di perpustakaan tidak dapat memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh siswa, selain itu sumber informasi dari internet tidak semua siswa dengan mudah dapat mengakses internet dirumah nya ataupun disekolah. Untuk itu menurut penulis rentangan nilai 87.50% dalam mencari sumber informasi sudah cukup baik dilakukan sebagian siswa.

39

Tabel.7. Angket Siswa Pengungkap Habits Of Mind No Aspek yang diamati Jika kamu tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik, apakah kamu memikirkannya kembali agar dapat menolong kamu menemukan kesalahan dalam menyelesaikan tugas? Apakah kamu membuat suatru rencana bila kamu akan mengerjakan tugas yang rumit? Apakah kamu mencari sumber informasi pada setiap mengerjakan tugas yang memerlukan sumber informasi? Ketika melakukan perhitungan atau mencatat data hasil observasi, apakah kamu melakukannya dengan teliti? Apakah kamu akan berlapang dada ketika ide-ide kamu ditolak? Apakah kamu menjawab pertanyaan langsung tanpa difikirkan terlebih dahulu atau kamu benar-benar mengetahui dasar ilmunya atau hanya asal-asalan? Apakah kamu tetap mengerjakan tugasmu meskipun kamu gagal mengerjakannya? Apakah kamu yakin akan kemampuan dirimu dalam mengerjakan tugas-tugas ? Apakah kamu dapat menemukan solusi sendiri terhadap masalah yang sulit atau kamu dihadapkan pada pilihan yang sulit? Frekuensi Jawaban Ya Tidak Persentase Frekuensi Ya Tidak

1

32

0

100%

0.0%

2

32

0

100%

0.00%

3

28

4

87.50%

12.50%

4 5

29 14

3 18

90.63% 43.75%

9.38% 56.25%

6

2

30

6.25%

93.75%

7 8 9

30 26 5

2 6 27

93.75% 81.25% 15.63%

6.25% 18.75% 84.38%

Critikal Thinking siswa dapat ditunjukkan dengan 3 angket tentang : 1). “Akurat dan mengupayakan keakuratan”, pertanyaan yang di buat kedalam angket adalah “Ketika melakukan perhitungan atau mencatat data hasil observasi, apakah kamu melakukannya dengan teliti?, jawaban siswa yang menjawab “Ya” adalah 90.63%. hal ini menunjukkan bahwa beberapa siswa yang kurang kemampuan ketelitiannya setelah

40

dianalisa ternyata siswa kurang minatnya melakukan percobaan. Data yang dicatat oleh siswa hanya dilakukan asal-asalan saja. Dalam melakukan praktikum siswa tersebut lebih banyak diam dan kurang melakukan aktivitas pembelajaran, sehingga untuk melakukan penelitian selanjutnya perlu dilakukan pembimbingan ke siswa untuk meningkatkan kemampuan ketelitian siswa melakukan perhitungan dan mencatat hasil observasi. Keterampilan siswa menggunakan aktivitas berfikirnya sudah baik dilakukan, selain itu pertanyaan ini menujukkan bahwa siswa berusaha untuk aktif melakukan aktivitas berfikir kreatif nya. Kreativitas berfikir ini sangat baik dipergunakan dalam pembelajaran sains. Selanjutnya Kemampuan siswa untuk berpandangan terbuka dapat digambarkan dalam pertanyaan angket “Apakah kamu akan berlapang dada ketika ide-ide kamu ditolak? Jawaban siswa “Ya” adalah 43.75%, hal ini menunjukkan bahwa siswa

memiliki keegoisan yang tinggi, dan kurang menyadari kelemahan dan ketidak mampuan siswa dalam melakukan suatu pekerjaan. Namun demikian siswa memiliki kemampuan mempertahankan ide yang kuat, tidak peduli apakah ide itu dapat diterima orang banyak atau tidak. Hasil jawaban siswa ini menunjukkan kemampuan berfikir siswa kurang terbuka untuk ide-ide siswa yang tidak dapat diterima orang lain. Kemampuan siswa untuk point 3). Menghindari perilaku tanpa difikirkan, dapat diketahui dengan memberikan pertanyaan “Apakah kamu menjawab pertanyaan langsung tanpa difikirkan terlebih dahulu atau kamu benar-benar mengetahui dasar ilmunya atau hanya asala-asalan?. Sebagian siswa menjawab “Tidak” adalah 93.75%, hal ini menunjukkan bahwa siswa bersifat hati-hati dan tidak asala-asalan sudah cukup baikm ketika memberikan jawaban atau tanggapan. Untuk memberikan tanggapan atau jawaban yang tepat siswa mencari alasan yang tepat dan dapat diterima.

41

Kemampuan siswa Creative Thingking yaitu aspek 1). Mengupayakan terus menerus menyelesaikan tugas meskipun jawabannya belum bisa diduga sudah baik dimiliki oleh siswa. Pertanyaan angket siswa yang mengusahakan secara terus menerus mengupayakan menyelesaikan tugas selalu dilakukan baik oleh siswa, beberapa siswa menjawab “Ya” adalah 93.75%. Selanjutnya aspek kedua 2). Mendorong diri sendiri untuk mendorong sesuatu yang diyakininya tidak dapat mengerjakannya” juga memiliki respon yang baik dari siswa dengan memberikan pendapat 81.25% jawaban “Ya”. Kemudian dari pertanyaan angket “Apakah kamu dapat menemukan solusi sendiri terhadap masalah yang sulit atau kamu dihadapkan pada pilihan yang sulit?” hal ini sangat sulit dilakukan, dominan jawaban siswa yang menjawab “tidak” yaitu 84.38%.

Deskripsi Habits Of Mind Guru Guru ketika memulai pembelajaran dikelas mencoba membangun komunikasi dengan siswa secara berkelompok, pembelajaran dirancang secara aktif dan komunikatif, mengarahkan siswa agar selalu aktif dalam pembelajaran fisika dikelas. Hasil angket yang diisi guru fisika, menunjukkan bahwa guru berupaya membiasakan berfikir Self Regulated Thingking. Namun dalam poin upaya guru menggunakan sumber-sumber pembelajaran yang perlu, kurang maksimal dilakukan, hal ini dilakukan karena sumber informasi yang ada di sekolah ataupun yang dimiliki oleh siswa dirumah sangat terbatas. Untuk mendapat kan informasi yang diperlukan siswa hanya menggunakan buku pegangan siswa saja, ataupun informasi yang didapatkan dari gurunya. Sedangkan kemampuan guru mengarahkan ke sumber-sumber yang lain tidak dilakukan karena keterbatasan sumber informasi. Sehingga kemampuan habits of mind guru untuk “ Mendorong siswa untuk menyadari dan menggunakan sumber-sumber yang perlu” kurang maksimal dilakukan.

42

Hasil angket yang diberikan pada guru untuk mengukur habits of mind siswa menunjukkan bahwa : Tabel.8. Deskripsi Habits Of Mind Guru No 1 Profile Self Regulated Thingking 1. Membantu siswa menyadari jalan fikirannya sendiri 2. Mendorong siswa membuat rencana yang efektif 3. Mendorong siswa untuk menyadari dan menggunakan sumber-sumber yang perlu. Critikal Thinking 1. Mendorong siswa untuk mengupayakan keakuratan. 2. Mendorong siswa untuk berpandangan terbuka. 3. Mendorong siswa untuk mencegah sifat impulsive. Creative Thingking 1. Mendorong siswa terus menerus mengupayakan menyelesaikan tugas meslipun jawabannya belum bisa di duga. 2. Mendorong siswa untuk mencoba sesuatu yang menurutnya tidak yakin dapat mengerjakannya. 3. Mendorong siswa untuk membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya. Ya/Tidak

Ya Ya Tidak

2

Ya Tidak Ya Ya

3

Ya Tidak

Kemampuan guru di Critikal Thinking masih terdapat hal yanmg perlu diperbaiki. Dalam hal ini adalah memberi arahan dan dorongan ke siswa untuk mau berpandangan terbuka, dapat menerima ide dari teman atau orang lain asal ide tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena dari hasil angket yang didapat bahwa guru “Tidak” melakukan dorongan atau motivasi ke siswa untuk berpandangan terbuka. Selanjutnya kemampuan guru Creative Thingking dalam hal “Mendorong siswa untuk membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya” juga kuranmg maksimal dilakukan. Sehingga pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan pembimbingna dan dorongan agar siswa mau membuat dan memikirkan cara pandang yang inovatif untuk menemukan ide baru untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.

43

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapaan pendidikan karakter pada pembelajaran fisika dapat membentuk kebiasaan berfikir siswa (habits of mind) melalui pembelajaran salingtemas. Beberapa kesimpulan yang dapat dirumuskan dari hasil penelitian ini adalah : 1. Sebelum pembelajaran karakter untuk mengukur habits of mind siswa, guru harus terlebiih dahulu merancang LKS sendiri dan menyusun bahan ajar menggunakan metode pembelajaran yang aktif dan inovatif untuk mengukur kemampuan kebiasaan berfikir siswa yang lebih baik lagi. 2. Penilaian evaluasi yang digunakan guru dapat menggunakan tes uraian obejektif, proyek kerja siswa ataupun penilaian kerja dalam melakukan praktikum. Sein itu aktivitas siswa saat melakukan diskusi baik itu berupa Tanya jawab, menjawab pertanyaan, sumbang saran dan memberikan tanggapan saat mengkomunikasikan hasil percobaan. 3. Kemampuan habits of mind siswa yang paling menonjol adalah Kemampuan Siswa untuk “Menyadari jalan pikirannya sendiri‟ dan “Membuat rencana yang efektif” dengan nilai persentase pilihan 100%. Sedangkan habits of mind siswa yang sulit dikembangkan adalah “Menghindari perilaku tanpa difikirkan” dengan nilai jawaban “Ya” adalah 6.25%. Selanjutnya habits of mind kemampuan siswa “Membuat cara pandang baru yang berbeda dengan cara pandang umumnya” juga mengalami kesulitan untuk dikembangkan dengan jawaban siswa yang menjawab “ya“ adalah 15.63%.

44

B. SARAN 1. Saran bagi guru agar menyiapkan bahan ajar dan lembar kegiatan siswa yang dirancang oleh guru sendiri. Selanjutnya menyiapkan bahan evaluasi hendaknya tidak mengukur hasil akhirnya saja, melainkan proses mendapatkan hasil perlu juga jadi perhatian guru mata pelajaran. 2. Saran bagi pihak sekolah agar memberikan kesempatan guru untuk mengembangkan kemampuannya mengelola pembelajaran yang dapat membentuk habits of mind siswa dalam membentuk karakter berfikir siswa.

45

DAFTAR PUSTAKA Alit Mariana, I.M. 2009. Hakikat IPA dan Pendidikan IPA. Program BERMUTU. Bandung. PPPPTK IPA. Costa, A. & Kallick, B. (2005). Habits of Mind A Curriculum for Community High School of Vermont Students. Alexandria, VA: ASCD. Chaerun, A. (2005). Penerapan Penilaian Kinerja (Performan Assesment) dalam membentuk habits of Mind Siswa pada Pembelajaran Konsep Lingkungan.Tesis. Bandung. Pasca Sarjana UPI. Darmiyati Zuchdi, (2010). Pengembangan Model Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif, Terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia, IPA, dan IPS di Sekolah Dasar. http://lemlit.uny.ac.id/pengembangan-modelpendidikan-karakter-dengan-pendekatan-komprehensif-terpadudalampembelajaran-baha, Diakses 29 Mei 2011. La Maronta Galib, (2009). Pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi dan Masyarakat. http://aplikasifisika.blogspot.com/2009/03/pendekatan-sains-teknologimasyarakat.html. Diakses 28 Mei 2011. Milson J. Andrew. 2000. Creating Curriculum For Character Education : A Case Studi. Journal The Clearing House 74.2 (2000) hal. 89. Retrieved from http://www.galegroup.com Mahmuddin, (2009). Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat dalam Pembelajaran. http://mahmuddin.wordpress.com/2009/11/17/pendekatansains-teknologi-dan-masyarakat-dalam-pembelajaran/. Diakses 29 Mei 2011. Nurmaulita, (2010). Penerapan Pembelajaran SALINGTEMAS Melalui Pembuatan Papan Komposit Sabut Kelapa Sebagai Keterampilan Proses Sains. Laporan Hasil Penelitian. Poedjiadi, A. (2005). Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Rosdakarya Rustaman. N.Y. (2008), Kebiasaan Berfikir Asesmennya. Bandung . Makalah UPI. Dalam Pembelajaran Sains dan

Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Perkasa Rajawali. ………………..(2011). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Jakarta. ….…….Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Fisika. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_d025_034184_chapter2.pdf. Diakses 29 Mei 2010

46

47

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->