P. 1
tantangan sdm

tantangan sdm

|Views: 3,104|Likes:
Published by Fusin Ken

More info:

Published by: Fusin Ken on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. USAHA PENINGKATAN KUALITAS
  • 2. JALUR PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
  • 3. PENGEMBANGAN IPTEK
  • 4. PENDIDIKAN PROFESIONAL DAN KEBUTUHAN SDM MASA MENDATANG
  • 5. USAHA-USAHA PENINGKATAN KINERJA ORGANISASI
  • 6. PEMBINAAN DAN PEMASYARAKATAN OLAHRAGA SERTA KESEGARAN JASMANI
  • 7. Program Pemanduan Bakat/Pembibitan Olahraga
  • 8. Program Peningkatan Prestasi Olahraga

BeritaPolitikHumanioraEkonomiHiburanOlahragaLifestyleWisataKesehatanTeknoMediaMudaGreenLipsusFik
sianaFreez

Home
Regional

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hidup Ini Hanya Satu Kali. Bisakah Kita Hidup Berbuat Indah Untuk Semua ?

Tweet
0inShare

Tantangan SDM Indonesia Di Era
Globalisasi

REP | 16 June 2011 | 01:47Dibaca: 3360 Komentar: 3 2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif

Era Global saat ini sungguh syarat dengan berbagai persaingan yang begitu
ketat dari berbagai bidang didalamnya. Persaingan itu tidak lepas dari semua
unsur kebutuhan ummat manusia yang selalu berkembang setiap detiknya.
Disini sangatlah jelas harus adanya upaya reformasi untuk sebuah perubahan
yang dapat menjawab semua tantangan perkembangan era global, terlebih
bagi Indonesia wajib untuk melakukannya.

Era Glogal abad 21 ini sungguh memiliki banyak tantangan yang harus siap
dan sigap dilakukan oleh segenap umat manusia untuk bisa berbenah diri
dalam peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) didalamnya, termasuk pula
ada upaya meningkatan kualitas dan kuantitas ekonomi.

Sumber Daya Manusia Di Tengah Persaingan Global

Sumber Daya Manusia (SDM) Dan Ekonominya Rakyat Indonesia

SDM merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni
bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan
serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita
abaikan. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut
kondisi SDM Indonesia, yaitu:

1). Ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja.

2). Tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.

Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan
kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai
sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja
terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah
angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Kesempatan kerja

yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin
banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)
Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000
orang.

Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya
perguruan tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana
merupakan kritik bagi perguruan tinggi, karena ketidakmampuannya dalam
menciptakan iklim pendidikan yang mendukung kemampuan wirausaha
mahasiswa.

Kenyataan ini belum menjadi kesadaran bagi bangsa Indonesia untuk kembali
memperbaiki kesalahan pada masa lalu. Rendahnya alokasi APBN untuk
sektor pendidikan — tidak lebih dari 12% — pada peme-rintahan di era
reformasi. Ini menunjukkan bahwa belum ada perhatian serius dari
pemerintah pusat terhadap perbaikan kualitas SDM. Padahal sudah saatnya
pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah secara serius membangun
SDM yang berkualitas.

Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang
tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang
tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan pasar kerja.
Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja.

Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah adalah belum
adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu
menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan
kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan
oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar
kerja.

Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan
suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di
seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan
tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi
oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam
dunia usaha.

Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional
akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan

global menurut World Competitiveness Report menempati urutan ke-45 atau
terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia
(34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).

Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan isu
kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan
keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk
Indonesia, tidak akan mampu menembus pasar internasional.

Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih belum
mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang
memang telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara di sisi lain
Indonesia kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan
globalisasi.

Dengan begitu, seandainya bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan
terhadap pelbagai kondisionalitas yang tercipta akibat globalisasi, maka yang
akan terjadi adalah adanya gejala menjual diri bangsa dengan hanya
mengandalkan sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah.
Sehingga yang terjadi bukannya terselesaikannya masalah-masalah sosial
ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi
akan semakin menciptakan ketergantungan kepada negara maju karena
utang luar negeri yang semakin berlipat.

————————-

Dampak IPTEK Terhadap SDM Indonesia

Terkait dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia yaitu adanya
ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Jumlah
angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar
92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar
87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open
unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini
berjumlah sekitar 8 juta.

Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.
Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan

dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada
kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara
nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis
ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya
kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi
lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai
dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan
tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini
menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di
Indonesia.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)
Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000
orang.

Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan
selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu
sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan
sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing
berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal
dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan
ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti
kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM.

Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK,
karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau
pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan
pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu
dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga
upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang
harus dikedepankan.

Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah
bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada
era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu
dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu pengaruh IPTEK terhadap peningkatan SDM Indonesia
khususnya dalam persaingan global dewasa ini meliputi berbagai aspek dan
merubah segenap tatanan masyarakat. Aspek-aspek yang dipengaruhi,
adalah sebagai berikut :

1. Dampak yang ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisasi. Khususnya
teknologi informasi dan komunikasi, sangat luas. Teknologi ini dapat
menghilangkan batas geografis pada tingkat negara maupun dunia.

2. Aspek Ekonomi. Dengan adanya IPTEK, maka SDM Indonesia akan
semakin meningkat dengan pengetahuan-pengetahuan dari teknologi
tersebut. Dengan kemajuan SDM ini, tentunya secara tidak langsung akan
mempengaruhi peningkatan ekonomi di Indonesia. Berkaitan dengan pasar
global dwasa ini, tidaklah mungkin jika suatu negara dengan tingkat SDM
rendah dapat bersaing, untuk itulah penguasaan IPTEK sangat penting sekali
untuk dikuasai. Selain itu, tidak dipungkiri globalisasi telah menimbulkan
pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat di masa kini akibat pengaruh
negatif dari globalisasi.

3.Aspek Sosial Budaya. Globalisasi juga menyentuh pada hal-hal yang
mendasar pada kehidupan manusia, antara lain adalah masalah Hak Asasi
Manusia (HAM), melestarikan lingkungan hidup serta berbagai hal yang
menjanjikan kemudahan hidup yang lebih nyaman, efisien dan security pribadi
yang menjangkau masa depan, karena didukung oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dampak yang timbul diakibatkannya ikatan-ikatan
tradisional yang kaku, atau dianggap tidak atau kurang logis dan
membosankan. Akibat nyata yang timbul adalah timbulnya fenomena-
fenomena paradoksal yang muaranya cenderung dapat menggeser paham
kebangsaan/nasionalisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan
meningkatnya tanggapan masyarakat atas kasus-kasus yang terjadi dinilai
dengan didasarkan norma-norma kemanusiaan atau norma-norma sosial
yang berlaku secara umum (Universal internasional).

Dari uraian diatas mengenai IPTEK dalam upaya peningkatan SDM Indonesia
di era globalisasi ini, sudah jelas bahwa dengan adanya IPTEK sudah barang
tentu menunjang sekali dalam kaitannya meningkatkan kualitas SDM kita.
Dengan meningkatnya kualitas SDM, maka Indonesia akan lebih siap
menghadapi era globalisasi dewasa ini.

Perlu sekali diperhatikan, bahwasannya dengan adanya IPTEK dalam era
globalisasi ini, tidak dipungkiri juga akan menimbulkan dampak yang negatif
dari berbagai aspek, baik aspek ekonomi, budaya maupun imformasi dan
komunikasi, untuk itulah filtrasi sangat diperlukan sekali dalam penyerapan
IPTEK, sehingga dampak negatif IPTEK dalam upaya peningkatan SDM
dapat ditekan seminimal mungkin. (Disari dari berbagai sumber / dbs :
Syaifud Adidharta)

Laporkan
Tanggapi
Beri Nilai

o
o
o
o

SDM dalam Tantangan Industri
Kelistrikan

Tribun Timur - Selasa, 10 Januari 2012 22:12 WITA
Share|

Berita Terkait

Samsung-BMW Kerjasama Buat Baterai Mobil Listrik
Gubernur Sulsel Akan Pimpin Gerakan Matikan Lampu…
Jangan Wacanakan Kenaikan TDL dan BBM Dulu
Poros Pemuda Indonesoa Gelar Diskusi Listrik
Aliran Listrik di Batua Raya Putus Nyambung
Warga Bone Keluhkan PLN Soal KWH Prabayar
Tarif Listrik Akan Naik 10 Persen
Aneh, Warga Jemur Pakaian di Kabel Listrik
PLN Akan Pakai CNG Gantikan BBM
Petugas PLN Kesetrum Listrik

Pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja sistem kelistrikan terutama dalam hal keandalan, keamanan,
produktifitas, inovasi, modernisasi grid dan perubahan iklim. Suka atau tidak suka, masa transisi pekerja
merupakan tantangan nyata di depan mata yang akan dihadapi oleh industri kelistrikan.

Sulit dipungkiri bahwa keberadaan masyarakat modern dewasa ini, tidak terlepas dari penyediaan energi
listrik. Industri kelistrikan berperan sebagai salah satu pendukung penting dari proses civilisasi modern.
Hal ini bisa dilihat bahwa kegiatan industri, perkantoran hingga rumah tangga tidak akan bekerja optimal
tanpa adanya suplai tenaga listrik. Dampaknya bahwa sering kita melihat dan mendengar keluhan yang
bertubi-tubi jika hanya sebentar saja terjadi pemadaman listrik. Intinya bahwa tanpa industri kelistrikan,

kita belum sampai ke tahap civilisasi modern seperti saat sekarang ini.
Perkembangan sistem tenaga listrik dalam konteks global sangat maju dan pesat. Tujuan utamanya
adalah terpenuhinya suplai daya listrik ke konsumen secara berlanjut dengan kualitas yang memenuhi
standar peralatan konsumen. Akan tetapi, hal ini tidaklah semudah dengan membalikkan telapak tangan
disebabkan karena penyediaan daya listrik yang kontinyu dalam kondisi beban dan ekspektasi beban
yang terus meningkat bisa menimbulkan banyak masalah sedangkan di satu sisi infrastruktur kelistrikan
cenderung tidak bertambah.
Alhasil, sistem kelistrikan yang ada cenderung dioperasikan dalam kondisi kritis dengan stabilitas yang
rendah. Artinya dengan sedikit saja gangguan, maka akan menyebabkan pemutusan dalam skala besar
(system blackout). Bukan tidak ada langkah-langkah konkrit ke arah perbaikan dan penguatan dari sistem
yang sudah ada. Isu tentang smart-grid (grid yang cerdas) merupakan salah satu jawaban.
Pada sistem ini dalam skala yang lebih besar dapat memproses data sensor dalam jumlah besar, dapat
mengambil kesimpulan terhadap kondisi sistem secara cepat dan mampu bertahan dan memperbaiki
sistem secara automatik terhadap segala gangguan yang mungkin muncul. Boleh dikatakan bahwa sistem
kelistrikan yang ada sekarang sudah mapan dengan berbagai dinamikanya.
Hal yang paling kompleks dan dinamik yang pernah diciptakan manusia adalah listrik, sehingga dalam hal
ini peranan manusia untuk menjaga keberlangsungan sistem menjadi sangat vital. Akan tetapi muncul
tantangan secara global, di mana calon mahasiswa peminat jurusan teknik elektro khususnya kompetensi
bidang ketenagalistrikan itu semakin menurun setiap tahunnya.
Kecendrungan ini sebenarnya bukan saja dialami oleh jurusan teknik elektro, tetapi hampir semua bidang
ilmu terapan (engineering) lain pada umumnya. Kepercayaan akan kompetensi dalam dunia kerja pada
saat lulus dari universitas menjadi alasan utama.
Akibatnya calon mahasiswa lebih cenderung memilih sekolah atau akademi yang menurut mereka lebih
jelas mendapatkan pekerjaan pada saat lulus nantinya. Penguatan ilmu alam dan matematika sejak dini
juga menjadi faktor penting karena pembidangan ilmu terapan; namum matematika selalu dianggap
momok yang menakutkan walaupun sebenarnya itu tidak benar.
Kalau fenomena berkurangnya minat ini dibiarkan berlarut-larut, bisa menjadi bencana di sektor
kelistrikan dalam dua atau tiga dekade mendatang.

Kehilangan Tenaga

Dalam sistem kelistrikan yang semakin maju seperti sekarang ini, mesti didukung oleh tersedianya
sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Celakanya, pendidikan calon-calon insinyur listrik tidak bisa
berpacu dengan kebutuhan personel secara global. Terjadi kekurangan yang sangat banyak bagi orang
yang kompeten bekerja pada industri kelistrikan.
Sebagai contoh kasus, North-America Electric Reliable co (NERC) telah mengidentifikasi pekerja-pekerja
tua dan sistem pendidikan yang mengsupport sistem sebagai tantangan kritis yang dihadapi industri
kelistrikan. Terdapat sejumlah 44 persen dari total pekerja di Amerika merupakan pegawai yang telah
melewati masa keemasannya bekerja di sektor kelistrikan akan memasuki masa pensiun.
Jika kondisi ini tidak diatur dengan baik, maka sistem akan kehilangan orang-orang yang berpengalaman
di lapangan dan memiliki pengetahuan yang baik dalam menyelesaikan isu-isu penting. Pada akhirnya
akan mempengaruhi kinerja sistem kelistrikan terutama dalam hal keandalan, keamanan, produktifitas,
inovasi, modernisasi grid dan perubahan iklim. Suka atau tidak suka, masa transisi pekerja merupakan
tantangan nyata di depan mata yang akan dihadapi oleh industri kelistrikan.

Keandalan Sistem

Isu lain berkaitan dengan peningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan yaitu dengan melakukan
upgrading peralatan listrik misalnya penggantian semua relay analog ke relay digital pada sistem
proteksi. Akan tetapi, jika usaha-usaha yang dilakukan ini tidak didukung oleh sumber daya manusia
yang memadai, maka bukan tidak mungkin dengan perubahan yang ada, tidak akan memperbaiki kinerja
sistem justru akan menurunkan keandalan sistem.
Hal ini bisa disebabkan karena kemampuan knowledge dari pekerja untuk memahami
peralatan/komponen yang baru sangat minim terutama dalam hal troubleshooting, testing dan perbaikan.
Apa yang dimaksud dengan sumber daya manusia (SDM) yang handal adalah sumber daya yang mampu
mengikuti perkembangan teknologi kelistrikan dengan segala aspek yang berkaitan di dalamnya tanpa
batas-batas sekat keilmuwan.
Misalnya, seorang insinyur tenaga listrik harus mampu mengerti tentang prinsip berbagai macam jaringan
telekomunikasi, memahami kinerja mikrokontroller dan mikroprosessor dan berusaha terus
mengaktualisasi diri dalam penanganan kasus-kasus baru ketenagalistrikan.
Persoalan bahwa pendidikan calon insinyur ketenagalistrikan tidak berpacu sejalan perkembangan
teknologi mesti menjadi perhatian utama. Perusahaan listrik negara (PLN) harus tahu betul dan sadar
akan tantangan ini dan berusaha melakukan sosialisasi dan penyadaran ke masyarakat sejak dini tentang
peminatan bekerja di sektor kelistrikan. Untuk karyawan/pekerja, training dan pelatihan teratur mesti
terus difasilitasi.
Di lain pihak, lembaga universitas, khususnya jurusan teknik elektro harus selalu membenahi kurikulum
dengan terus mengikuti perkembangan teknologi. Kelas-kelas tambahan tentang sistem tenaga listrik dan
pengalaman praktis tentang signal processing dan feedback control system terkini mutlak ada. Selain itu
perlu keseimbangan antara pembelajaran teori dan praktik. Khusus untuk praktik, mesti disesuaikan
dengan pengalaman dan tradisi dari perusahaan listrik setempat.
Dari beberapa sharing pengalaman tentang isu ini bahwa mahasiswa bisa tertarik dan terus bertahan
menikmati pengalaman di bidang kelistrikan jika diarahkan ke inovasi melalu desain, penemuan melalui
penelitian dan eksperimentasi. Simulasi untuk menunjukan kondisi real melalui grafis interface pada
komputer bisa membantu visualsisai tentang apa sebenarnya yang terjadi dalan suatu sistem. Poin-poin
yang yang dikemukakan di sini mesti ada dalam rejuvenasi kurikulum pendidikan secara lengkap.
Bagaimana kebijakan PLN ke depan tentang isu sumber daya manusia. Dalam satu kesempatan, mantan
Direkutr PLN Bapak Dahlan Iskan pernah mengemukakan dua kebijakan penting yang akan diambil
berkaitan dengan pegembangan sumber daya manusia. Yang pertama yaitu beliau ingin mengembalikan
status image PLN dari orang-orang yang berlatarbelakang non-engineer ke para insinyur teknik dalam
beberapa tahun mendatang. Yang kedua, mengingat tantangan industri kelistrikan sangat berat di masa
depan, maka proses perekrutan karyawan PLN yang baru akan dilakukan di kampus-kampus yang
ditunjuk dengan mengutamakan peringkat dan prestasi mahasiswa.***

Setelah Infrastruktur, SDM Tantangan Ekonomi
Selanjutnya

Idris Rusadi Putra - Okezone

Senin, 12 Desember 2011 10:56 wib

0 0 Email0

Wapres Boediono. Foto: Reuters

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih terkendala infrastruktur yang karut marut.
Bahkan, kendala infrastruktur ini dikatakan masih akan terjadi hingga 5-10 tahun ke depan.

Wakil Presiden Boediono mengatakan dalam jangka menengah infrastruktur masih akan menjadi kendala
pertumbuhan ekonomi. Namun untuk jangka panjangnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas
dan terampil akan menjadi kendala dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Jangka menengah 10 tahun ke atas ada concern yang satu lagi yaitu sumber daya manusia yang
terampil. Pertumbuhan ekonomi membutuhkan SDM yang punya skill. Mencetak ini cukup lama butuh
latihan," ungkap Boediono dalam acara BNI Economic Outlook di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin
(12/12/2011).

Lebih lanjut dia mengingatkan dalam mengantisipasi krisis SDM ini, pemerintah harus menyiapkannya
sejak sekarang. Salah satu cara adalah kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam mencetak SDM
yang terampil.

"Mulai sekarang pemerintah kita harus mengantisipasi concern SDM ini. Kerja sama swasta dan
pemerintah menghasilkan lulusan sekolah formal tidak cukup. Harus ada komunikasi antara dunia usaha
dan pemerintah," sambungnya.

Boediono juga mengatakan, saat ini dia telah meminta kabinet RI untuk mengantisipasi ini. Karena
menurutnya pendidikan saja tidak cukup untuk mencetak SDM berkualitas. "Saya minta rekan saya di
kabinet kerja sama dengan dunia usaha, dengan adanya program magang, pelatihan wirausaha, semua
ini mungkin kita lakukan," pungkasnya. (wdi)

Tantangan-tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia

1.TantanganEkstern/ Lingkungan

Kekuatan-kekuatandari luar yang mempengaruhi kegiatan bisnis/ perusahaan yang
berpengaruh pula pada kegiatan Manajemen SDM, baik langsung maupun tidak langsung.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, Manajemen personalia dapat mengambil langkah-langkah
sebagai berikut:

a) Memonitor secara terus menerus atau secara efektif dan efisien perkembangan dan perubahan
lingkungan bisnis dengan melakukan membaca majalah dan kan, mendengarkan siaran radio,
televisi, dll mendapatkan informasi-informasi up to date yang diperlukan.

b) Merespon atau mereaksi secara cepat dalam bentuk fleksibel setiap informasi setelah dianalisis
untuk menghasilkan respon yang paling tepat dengan cara mengembangkan , mempertahankan
atau menghentikan kegiatan bisnis dan kebijaksanaan SDM yang sedang berlangsung.

2.Tantangan Intern / Keorganisasian

Untuk menghadapi tantangan internal, langkah-langkah yang diambil:

Meningkatkan control untuk mencegah, dengan berusaha agar setiap persoalan dapat
diselesaikan secepatnya sebelum berkembang menjadi persoalan besar.

Bertindak secara proaktif dalam arti aktif melakukan usaha mengambil langkah-langkah
penyelesaian, sebelum masalah-masalah lepas dari kendali.

c) Organisasi/ perusahaan memerlukan manajer yang mampu bekerja dalam menghadapi
kompetisi secara fleksibel

3. Tantangan Individual / Profesionalitas

- Keserasian antara pekerja dengan organisasinya

- Tanggungjawab etnis dan social

- Produktivitas

- Pelimpahan kekuasaan/ wewenang

- Penyaluran buah pikiran

4.Tantangan MSDM lainnya:

a. Masih banyak top manajer dan para manajer pembantunya yang belum memahami fungsi,
tujuan dan kontribusi MSDM dalam mengembangkan organisasi/ perusahaan agar menjadi
kompetitif dalam mewujudkan eksistensinya.

b. Masih banyak top manajer dan para manajer bawahannya, yang tidak menyadari, kurang
memahami, dan tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam mengelola SDM
dilingkungannya masing-masing.

c. Dari manajemenSDM ternyata masih sangat langka tenaga kerja yang professional untuk
melaksanakannya secara efektif dan efisien

Globalisasi memberikan implikasi terbukanya peluang bagi para manajemen dalam berbagai
bidang untuk memberikan solusi alternative kepada pengguna untuk memperoleh kualitas
layanan unggul. Hal ini memberikan tantangan bagi suatu organisasi perusahaan untuk
menghasilkan kualitas layanan prima.

Organisasi dengan subsistem manusianya merupakan kesatuan system yang bertujuan
mencapai berbagai sasaran yang telah ditetapkan organisasi. Pendekatan untuk meningkatkan
daya saing melalui peningkatan produktivitas personel dalam era kompetisi yang semakin
meningkat telah menjadi salah satu upaya kunci keberhasilan organisasi. Kenyataan telah
menunjukkan semakin banyak organisasi yang bergantung pada para karyawan yang
inovatif,kreatif, dan terampil.

Sementara lingkungan bisnis yang telah berubah menuntut adanya pandangan jauh ke depan
searah jalannya organisasi agar tetap stabil dan sigap mengatasi perubahan-perubahan. Dengan
demikian, organisasi perlu memiliki pemimpin yang visioner yang mampu melihat ke depan,
memprediksi perubahan yang akan terjadi, melakukan penyesuaian dalam organisasi, dan
menjembatani tuntutan bisnis sekaligus menjadi ktalisator pengembangan SDM. Pusat
pengembangan potensi SDM mengambil peran untuk memetakan profil kompetensi SDM yang
dimiliki organisasi saat ini berdasarkan criteria- criteria yang dibutuhkan untuk masa datang.

Organisasi harus mencari jalan untuk mengurangi hambatan-hambatan. Pertama, organisasi
harus belajar keanekaragaman dari budayadan nilai-nilai anggotanya.Keedua, organisasi harus
mengembangkan budaya organiasasi sendiri melalui komunikasi yang baik dengan anggotanya.
Untuk mendukung usaha mengembangkan budaya organisasi, harus ada perubahan pada
kebijakan SDM.

Faktor Eksternal Organisasi

Faktor lingkungan atau keadaan yang bersumber dari luar organisasi yang dapat menghambat
usaha peningkatan fungsi SDMyang mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Faktor tersebut adalah angkatan kerja, peraturan/hukum perundang-undangan, persaingan,
konsumen, serta perubahan teknologi, ekonomi, dan masyarakat.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan organisasi, manajemen personalia dan
SDM dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

1. Memonitor lingkungan, untuk mengidentifikasi perubahan variabel lingkungan.

2. Mengevaluasi dampak perubahan lingkungan.

3. Mengambil tindakan-tindakan proaktif dari perubahan lingkungan yang terjadi

4. Mendapatkan dan menganalisa umpan balik.

Sumber daya yang terpenting dalam organisasi adalah sumber daya manusia,

orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas, dan usaha mereka kepada

organisasi agar suatu organisasi dapat tetap eksistensinya. Setiap manusia memiliki

karakteristik individu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Ketersediaan SDM Tantangan Pengembang Lokal

Kamis, 11 Agustus 2011 00:00 WIB | 2305 Views

Berita Terkait

Pasar terbesar di Nepal terbakar, enam orang tewas
Suu Kyi disambut pendukungnya di Mandalay
AFC dukung investigasi FIFA atas laga Bahrain-Indonesia
Rupiah akhir pekan kembali melemah
Eropa pasar terbesar CPO Indonesia

Video Terkait

Pemda Siapkan Posko Dan Dapur ...

Menyimpan Sejarah Lewat Uang

Jakarta (ANTARA News) - Ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten merupakan tantangan utama para
pengembang software lokal ditengah tumbuhnya pasar perangkat keras di Indonesia.

Menurut Indra Sosrodjojo, Direktur Andal Software, sebuah perusahaan pengembang lokal, jumlah programmer di
Indonesia masih sangat terbatas sementara tuntutan peningkatan layanan terus meningkat.

Kebutuhan peningkatan kualitas layanan seperti update software juga harus dipenuhi dan hal itu perlu didukung
tenaga-tenaga programmer yang kompeten.

Indra memetakan bisnis piranti lunak di Indonesia dalam dua pangsa berbeda yakni Mass Market (kalayak) dan Mass
Enterprise (korporat).

Karakter keduanya pun berbeda, Mass Market membutuhkan aplikasi yang mudah, tidak perlu pelatihan khusus, dan
harga jualnya juga lebih murah.

Sementara Mass Enterprise membutuhkan aplikasi yang lebih spesifik, lebih rumit sehingga pengguna memerlukan
pelatihan, dan tingkat keamanannya tinggi sehingga harganya lebih mahal.

"Software Enterprise tidak ada yang dibajak karena aplikasi yang sulit dan butuh pelatihan, berbeda dengan software
Mass Market," kata Indra dalam diskusi bertema "BizTalk" di FX Senayan Jakarta pada Rabu (10/8).

Sebelum terjun ke bisnis enterprise, perusahaan piranti lunak itu harus menentukan model bisnis yang tepat, target
pasar yang besar, dan pengalaman dari mass market bisa dibawa ke enterprise.

Dalam pemasaran, perusahaan piranti lunak memerlukan mitra kerja yang tepat (partnership) karena tidak bisa
bergantung pada toko ritel dan memanfaatkan hubungan yang baik antar pelanggan.

"Tidak mungkin software enterprise dipajang di toko-toko karena itu memerlukan mitra, saat ini Andal sudah memiliki
20 mitra partner," katanya.

Salah satu piranti lunak Andal bagi pasar Enterprise adalah Andal Pay Master untuk payroll.

Sumber Daya Manusia: Peluang dan Tantangan di Era Ekonomi Global

Arifin, Sirajul (2005) Sumber Daya Manusia: Peluang dan Tantangan di Era Ekonomi Global. Jurnal
Akademika, 17 (01). ISSN 1410-7457

Full text not available from this repository.

Abstract

Istilah generik "globalisasi" kerap diwacanakan oleh banyak kalangan dalam berbagai kesempatan.
Kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi sebagai karakter genuine dari proses globalisasi
memunculkan berbagai perubahan. Perubahan secara global memicu timbulnya transformasi struktural
yang kemudian berimplikasi pada pergeseran nilai, sikap, cara hidup, perilaku manusia, sistem, dan lain
sebagainya. Ekonomi global yang inheren dengan aneka perangkat globalisasi teknologi menjanjikan dua
hal sekaligus; peluang dan tantangan. Berpeluang karena terkandung potensi pasar yang luas, terbuka,
dan variatif. Hambatan tarif tidak mewujud, lalu lintas barang bergerak cepat, jasa dan investasi
antarnegara mudah diperoleh, dan mobililitas tenaga kerja sangat tinggi. Sebaliknya, akan menjadi
tantangan, karena dengan kran kebebasan perdagangan yang demikian selain menambah kapasitas
persaingan ekonomi, juga akan memunculkan masalah-masalah baru di bidang sosial, budaya,
pertahanan dan keamanan. Respons yang menjadi suatu keniscayaan dalam menghadapi era yang
berintikan persaingan itu adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang profesional melalui
pendidikan formal, latihan kerja, pengembangan kualitas di tempat kerja, dan peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dibingkai dengan nilai etik dan kultur yang religius.

TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Armai Arief

Era pasar bebas, atau yang biasa disebut dengan era globalisasi sering didengungkan oleh para pemerhati ekonomi
sejak beberapa dekade lalu hingga sekarang ini. Kata “globalisasi” secara populer dapat diartikan menyebarnya segala
sesuatu secara sangat cepat ke seluruh dunia.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture (London, Sage: 1992) mendefinisikan globalisasi
sebagai “the compression of the world into a single space and the intensification of conciousness the world as a
whole”.
Globalisasi juga melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level.
Globalisasi sebagai sebuah proses mempunyai sejarah yang panjang. Globalisasi meniscayakan terjadinya
perdagangan bebas dan dinilai menjadi ajang kreasi dan perluasan bagi pertumbuhan perdagangan dunia,

serta pembangunan dengan sistem pengetahuan. Hal ini berarti bahwa terjadinya perubahan sosial yang mengubah pola
komunikasi, teknologi, produksi dan konsumsi serta peningkatan paham internasionalisme merupakan sebuah nilai budaya.

Terjadinya era globalisasi memberi dampak ganda; dampak yang menguntungkan dan dampak yang merugikan.
Dampak yang menguntungkan adalah memberi kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya kepada negara-negara asing.
Tetapi di sisi lain, jika kita tidak mampu bersaing dengan mereka, karena sumber daya manusia (SDM) yang lemah, maka
konsekuensinya akan merugikan bangsa kita.

Oleh karena itu, tantangan kita pada masa yang akan datang ialah meningkatkan daya saing dan keunggulan
kompetitif di semua sektor, baik sektor riil maupun moneter, dengan mengandalkan pada kemampuan SDM, teknologi, dan
manajemen tanpa mengurangi keunggulan komparatif yang telah dimiliki bangsa kita.

Terjadinya perdagangan bebas harus dimanfaatkan oleh semua pihak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
aspek pendidikan, di mana pendidikan diharuskan mampu menghadapi perubahan yang cepat dan sangat besar dalam
tentangan pasar bebas, dengan melahirkan manusia-manusia yang berdaya saing tinggi dan tangguh. Sebab diyakini, daya
saing yang tinggi inilah agaknya yang akan menentukan tingkat kemajuan, efisiensi dan kualitas bangsa untuk dapat
memenangi persaingan era pasar bebas yang ketat tersebut.

SDM yang tangguh, menurut Muslimin Nasution (1998), adalah SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK). Tugas pendidikan, selain mempersiapkan sumber daya manusia sebagai subjek perdagangan bebas, juga
membina penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nyatanya sangat berperan dalam membantu dunia usaha dalam
upaya meningkatkan perekonomian nasional.

A. Karakteristik Era Globalisasi

Era globalisasi akan ditandai dengan persaingan ekonomi secara hebat berbarengan dengan terjadinya revolusi
teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan teknologi industri. Persaingan ini masih dikuasai oleh tuga raksasa ekonomi
yaitu Jepang dari kawasan Asia, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Masing-masing menampilkan keunggulan yang dimiliki. Amerika misalnya unggul dalam product technology, yaitu
teknologi yang menghasilkan barang-barang baru dengan tingkat teknologi yang tinggi, contoh pembuatan pesawat terbang
supersonik, robot, dan lain-lain.

Jerman dan Jepang mengandalkan kelebihan mereka dalam process technology yaitu teknologi yang menghasilkan
proses baru dalam pembuatan suatu jenis produk yang sudah ada, misalnya CD (compact disc) pertama kali dibuat oleh
Belanda kemudian terus disempurnakan oleh Jepang sehingga menghasilkan CD dengan kualitas yang lebih bagus dan harga
lebih murah. Selain ketiganya, belakangan muncul Cina sebagai kekuatan baru ekonomi dunia dengan pertumbuhan
ekonominya di atas 9 persen –suatu jumlah tertinggi di dunia.

Kompetisi ekonomi pada era pasar bebas juga ditandai dengan adanya perjalanan lalu lintas barang, jasa, modal serta
tenaga kerja yang berlangsung secara bebas, kemudian adanya tuntutan teknologi produksi yang makin lama makin tinggi
tingkatannya, sehingga makin tinggi pula tingkat pendidikan yang dituntut dari para pekerjanya.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan tidak adanya jarak dan
batasan antara satu orang dengan orang lain, kelompok satu dengan kelompok lain, serta antara negara satu dengan negara
lain. Komunikasi antar-negara berlangsung sangat cepat dan mudah. Begitu juga perkembangan informasi lintas dunia
dapat dengan mudah diakses melalui teknologi informasi seperti melalui internet. Perpindahan uang dan investasi modal
oleh pengusaha asing dapat diakukan dalam hitungan detik.

Kondisi kemajuan teknologi informasi dan industri di atas yang berlangsung dengan amat cepat dan ketat di era
globalisasi menuntut setiap negara untuk berbenah diri dalam menghadapi persaingan tersebut. Bangsa yang yang mampu
membenahi dirinya dengan meningkatkan sumber daya manusianya, kemungkinan besar akan mampu bersaing dalam
kompetisi sehat tersebut.

Di sinilah pendidikan -- termasuk pendidikan Islam -- diharuskan menampilkan dirinya, apakah ia mampu mendidik
dan menghasilkan para siswa yang berdaya saing tinggi (qualified) atau justru mandul dalam menghadapi gempuran

berbagai kemajuan dinamika globalisasi tersebut.

Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam konteks ini, Khaerudin
Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional
serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan
berkelanjutan (continuing development ).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi
struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta
bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam
menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan
kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing di bidang-bidang tersebut secara
komprehensif dan komparatif yang berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan (visioner),
rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar
pasar.

Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, sehingga dapat
menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-
citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Pertanyaan selanjutnya, apakah yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan Islam? Untuk menjawabnya, agaknya
kita perlu menengok kerangka pendidikan Islam dalam konteks kenasionalan. Sehingga kita bisa menyiapkan strategi yang
tepat menghadapi sebuah tantangan sekaligus peluang tersebut.

Secara kuantitas, perkembangan jumlah peserta didik pendidikan formal Indonesia mulai dari tingkat TK hingga
jenjang perguruan tinggi (PT) mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Namun secara kualitas masih tertinggal jauh
ketimbang negara-negara lain, baik negara-negara maju, maupun negara-negara anggota ASEAN sekalipun.

Institusi pendidikan Islam dituntut mampu menjamin kualitas lulusannya sesuai dengan standar kompetensi global --paling
tidak mampu mempersiapkan anak didiknya terjun bersaing dengan para tenaga kerja asing-- sehingga bisa mengantisipasi
membludaknya pengangguran terdidik. Di sini harus diakui, lembaga-lembaga pendidikan Islam ternyata belum
siap menghadapi era pasar bebas. Masih banyak yang harus dibenahi; apakah sistemnya ataukah orang yang terlibat di
dalam sistem tersebut.

B. Sumber-sumber Kelemahan Bersaing Pendidikan

Pemerintah, sebagai pemegang kebijakan pendidikan seharusnya memberikan sumbangan yang besar dalam
mensukseskan program pendidikan. Sebab di antara kelemahan-kelemahan sistem pendidikan di Indonesia adalah karena
lemahnya politcal will pemerintah dalam menangani permasalahan pendidikan ini.

Menurut Arief Rahman (2002), setidaknya ada sembilan titik lemah dalam aplikasi sistem pendidikan di Indonesia:

1. Titik berat pendidikan pada aspek kognitif
2. Pola evaluasi yang meninggalkan pola pikir kreatif, imajinatif, dan inovatif
3. Sistem pendidikan yang bergeser (tereduksi) ke pengajaran
4. Kurangnya pembinaan minat belajar pada siswa
5. Kultur mengejar gelar (title) atau budaya mengejar kertas (ijazah).
6. Praktik dan teori kurang berimbang
7. Tidak melibatkan semua stake holder, masyarakat, institusi pendidikan, dan pemerintah

8. Profesi guru/ustadz sekedar profesi ilmiah, bukan kemanusiaan
9. Problem nasional yang multidimensional dan lemahnya political will pemerintah.
Untuk mengantisipasi berbagai kelemahan pendidikan tersebut, diperlukan kerjasama pelbagai pihak. Tidak hanya
institusi pendidikan tetapi pemerintah juga harus serius dalam menangani permasalahan ini agar SDM Indonesia
memperoleh rating kualitas pendidikan yang memadai. Untuk itu hendaknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, orientasi pendidikan harus lebih ditekankan kepada aspek afektif dan psiko motorik. Artinya, pendidikan
lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter peserta didik dan pembekalan keterampilan atau skill, agar setelah lulus
mereka tidak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan daripada hanya sekadar mengandalkan aspek kognitif
(pengetahuan).

Kedua, dalam proses belajar mengajar guru harus mengembangkan pola student oriented sehingga terbentuk karakter
kemandirian, tanggung jawab, kreatif dan inovatif pada diri peserta didik.

Ketiga, guru harus benar-benar memahami makna pendidikan dalam arti sebenarnya. Tidak mereduksi sebatas
pengajaran belaka. Artinya, proses pembelajaran peserta didik bertujuan untuk membentuk kepribadian dan mendewasakan
siswa bukan hanya sekedar transfer of knowledge tapi pembelajaran harus meliputi transfer of value and skill, serta
pembentukan karakter (caracter building).

Keempat, perlunya pembinaan dan pelatihan-pelatihan tentang peningkatan motivasi belajar kepada peserta didik
sehingga anak akan memiliki minat belajar yang tinggi.

Kelima, harus ditanamkan pola pendidikan yang berorientasi proses (process oriented), di mana proses lebih penting
daripada hasil. Pendidikan harus berjalan di atas rel ilmu pengetahuan yang substantif. Oleh karena itu, budaya pada dunia
pendidikan yang berorientasi hasil (formalitas), seperti mengejar gelar atau titel di kalangan praktisi pendidikan dan
pendidik hendaknya ditinggalkan. Yang harus dikedepankan dalam pembelajaran kita sekarang adalah penguasaan
pengetahuan, kadar intelektualitas, dan kompetensi keilmuan dan keahlian yang dimilikinya.

Keenam, sistem pembelajaran pada sekolah kejuruan mungkin bisa diterapkan pada sekolah-sekolah umum. Yaitu
dengan menyeimbangkan antara teori dengan praktek dalam implementasinya. Sehingga peserta didik tidak mengalami titik
kejenuhan berfikir, dan siap manakala dituntut mengaplikasikan pengetahuannya dalam masyarakat dan dunia kerja.

Ketujuh, perlunya dukungan dan partisipasi komprehensif terhadap praktek pendidikan, dengan melibatkan semua
pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan terutama masyarakat sekitar sekolah, sehingga memudahkan akses
pendidikan secara lebih luas ke kalangan masyarakat.

Kedelapan, profesi guru seharusnya bersifat ilmiah dan benar-benar “profesional”, bukan berdasarkan kemanusiaan.
Maksudnya, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa namun guru juga seyogianya dihargai setimpal dengan perjuangannya,
karena itu gaji dan kesejahteraan guru harus diperhatikan pemerintah.

Kesembilan, pemerintah harus memiliki formula kebijakan dan konsistensi untuk mengakomodasi semua kebutuhan
pendidikan. Salah satunya adalah memperhatikan fasilitas pendidikan dengan cara menaikan anggaran untuk pendidikan
minimal 20-25 % dari total APBN. Di sini diperlukan political will kuat dari pemerintah dalam menangani kebijakan
pendidikan.

Jika kita mau jujur, berbagai kelemahan pendidikan kita seperti disebutkan di atas, pada dasarnya bertitik tolak pada
lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada. Padahal, SDM merupakan faktor utama yang menjadi indikator kemajuan
suatu bangsa, di samping faktor sumber daya alam (SDA) (hayati, non hayati, buatan), serta sumber daya ilmu pengetahuan
dan teknologi. Keberhasilan negara-negara Barat adalah didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan hal
itu berhubungan dengan pendidikan sebagai wahana pembentukan SDM.

Jadi, permasalahan lemahnya SDM Indonesia pada dasarnya berawal dari rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya
keahlian dan manajemen serta kurangnya penguasaan teknologi. Lemahnya SDM menyebabkan Indonesia kurang mampu
bersaing dengan negara-negara lain, padahal secara fisiografis Indonesia termasuk negara yang memiliki kekayaan alam
melimpah tetapi sayangnya tidak dikelola dengan baik karena kualitas SDM-nya yang kurang mendukung.

Sistem pendidikan sangat bergantung pada mutunya, seperti juga halnya barang dikatakan berkualitas dan mempunyai
nilai jual yang tinggi karena memiliki mutu yang bagus. Ironis memang jika kita melihat nasib institusi pendidikan di
Indonesia berdasarkan mutu pendidikan yang berada pada urutan terakhir di antara 12 negara Asia yang diteliti oleh The

Political and Eonomic Risk Consultancy (PERC) tahun 2001, jauh di bawh Vietnam (6).

Hasil survei PERC itu mengacu pada tingkat kualitas lulusan pendidikan kita, dengan argumentasi, untuk
mendapatkan tenaga kerja berkualitas tentunya sistem pendidikannya pun harus berkualitas.

Sistem pendidikan yang tidak berkualitas mempengaruhi rendahnya SDM yang dihasilkan, yang pada gilirannya tidak

mampu membawa bangsa ini “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan bangsa lain.

Lemahnya SDM pendidikan sebagai ekses sistem pendidikan yang tidak berkualitas, memunculkan fenomena
masyarakat pekerja (worker society) bak jamur di musim hujan. Ini tentu berbeda dengan sistem pendidikan yang baik, yang
memproduksi employee society.

Dalam konteks ini, Alvin Toffler dalam buku The Future Shock (1972) mengatakan, employee dan worker itu
berbeda. (1) employee memiliki ciri untuk terus meningkatkan kemampuan teknis termasuk keterampilannya,
sedangkanworker menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang tetap; (2) employee dapat mengendalikan alat (mesin),
sedangkanworker relatif dikendalikan oleh mesin; (3) mesin berkhidmat kepada employee, sedangkan worker berkhidmat
kepada mesin; (4) employee pada dasarnya tidak perlu diawasi hanya perlu pembagian tanggung jawab,
sedangkan worker harus diawasi melalui garis organisasi; dan (5) employee memiliki sarana produksi yaitu informasi,
sedangkan worker tidak memilikinya.

Oleh karena itu, orientasi employee society harus dikedepankan dalam rangka mempersiapkan tenaga kerja ahli di
bidang penguasaan teknologi. Karena pada milenium ketiga ini kita dihadapkan pada perubahan besar di bidang ekonomi,
Iptek dan sosial budaya.

Kita seharusnya belajar dari Jepang dan Korea Selatan. Walaupun kedua negara tersebut miskin sumber daya alam
(SDA), tetapi karena dukungan SDM yang kuat, kedua negara Asia Timur itu menjadi pioneer ekonomi dunia, khususnya di
kawasan Asia.

Dalam konteks ini, masyarakat Jepang menurut H.D. Sudjana (2000) memiliki lima karakteristik khusus dalam sikap
dan prilaku yang dipandang sebagai akar kekuatan bangsanya, yaitu:

Pertama, emulasi. Yaitu hasrat dan upaya untuk menyamai atau melebihi orang lain. Orang Jepang, baik selaku
perorangan atau sebagai warga negara memiliki dorongan untuk tidak ketinggalan oleh orang, kelompok, atau bangsa lain.

Kedua, consensus. Yaitu kebiasaan masyarakat Jepang untuk berkompromi, bukan konfrontasi. Budaya kompromi ini
menimbulkan rasa keterlibatan masyarakat yang kuat terhadap kepentingan bersama. Budaya inilah yang menjadi pengikat
kuat yang menjadi pengikat dasar (root bindting) kehidupan masyarakat Jepang.

Ketiga, futurism. Yaitu mempeunyai pandangan jauh ke depan, masyarakat Jepang mempunyai keyakinan bahwa
harkat individu akan naik apabila seluruh kelompok atau bangsa naik. Oleh karena itu kemajuan dan keberhasilan
kelompok, masyarakat dan bangsa sangat diutamakan dalam upaya meningkatkan kemajuan individu.

Keempat, kualitas. Mutu adalah jaminan kualitas. Artinya dalam setiap proses dan hasil produksi di Jepang, mutu
menjadi faktor penarik (full factors).

Kelima, kompetisi. Artinya sumber daya manusia dan produk bangsa Jepang memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif dalam tata kehidupan dan tata ekonomi global.

C. Pendidikan dan Kemampuan Bersaing Bangsa

Kemampuan bersaing pendidikan kita menghadapi era globalisasi ini sangat lemah dibandingkan dengan negara-
negara lain. Hal ini disebabkan karena masih lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Sebagai contoh kita bisa melihat Tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun TKW yang “diekspor” adalah tenaga

buruh, seperti: pembantu rumah tangga, perawat, buruh perkebunan, buruh bangunan, sopir dan pekerja kasar lainnya.
Sedangkan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia adalah kalangan pengusaha, investor dan pemilik perusahaan.
Pekerja kita amat minim penguasaan pengetahuannya serta rendah kemampuan bahasa asingnya, terutama Bahasa Inggris.

Untuk melacak akar kelemahan SDM Indonesia ini bisa dilihat melalui wahana pendidikan. Dari sini secara logis

dimunculkan pemikiran, untuk dapat bersaing dengan bangsa lain dalam memperebutkan lapangan kerja, maka yang harus
dibenahi terlebih dahulu adalah sector pendidikan.

Pendidikan harus benar-benar diberdayakan oleh kita semua, sehingga nantinya, pendidikanlah yang akan mampu
memberdayakan masyarakat secara luas. Masyarakat yang terberdayakan oleh sistem pendidikan memiliki keunggulan
komparatif dan kompetitif dalam konteks persaingan global.

Konsekuensinya, pendidikan harus dikonseptualisasikan sebagai suatu usaha dan proses pemberdayaan, yang benar-
benar harus disadari secara kolektif, baik oleh individu, keluarga, masyarakat, lebih-lebih oleh pemerintah sebagai investasi
masa depan bangsa.

Dengan demikian, pendidikan memegang peranan penting dan strategis dalam menghasilkan SDM yang akan
membangun bangsa ini. Sikap ini tidak berarti mengecilkan peran sektor lain dalam pembangunan bangsa. Adanya sikap
bahwa masa depan akan selalu penting dan strategis ini didasari oleh pertimbangan empirik bahwa selama ini dan juga
untuk waktu yang akan datang, keberadaan sumberdaya manusia yang bermutu dalam arti seluas-luasnya akan semakin
dibutuhkan bagi pembangunan bangsa.

Kualitas SDM yang diiringi moralitas dan integritas kebangsaan yang kuat: tidak korup, jujur, kreatif, antisipatif dan
memiliki visi ke depan diasumsikan akan mempercepat bangsa ini keluar dari krisis yang berlarut-larut. Sebagai
perbandingan, dengan dukungan sumber daya manusia yang kuat, negara-negara jiran kita seperti Malaysia, Thailand dan
Filipina mengalami kemajuan pesat dalam upaya keluar dari krisis seperti yang dialami bangsa kita. Bahkan untuk kasus
Malaysia, negara ini mampu memulihkan (recovey) kondisi ekonominya tanpa perlu mengandalkan bantuan IMF.

Selanjutnya, dalam sektor ekonomi, perkembangan perekonomian nasional, regional dan internasional yang begitu
pesat seperti pasar modal, bursa efek, AFTA, NAFTA, APEC dan kesepakatan-kesepakatan ekonomi internasional yang
lain, saat ini dan ke depan, semua itu akan menjadi kebutuhan bangsa kita.

Tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, juga akan mengalami pergeseran. Perilaku
individualistik akan tumbuh lebih subur daripada rasa kebersamaan. Sementara itu, kehidupan demokratis akan lebih
diterima masyarakat ketimbang perilaku yang otoriter. Perilaku egaliter secara vertikal dan horizontal akan lebih menonjol
dibanding yang feodal dan paternalistik.

Keterbukaan (transparancy) akan diterima masyarakat. Di sisi lain, semangat nasionalisme dan kesemestaan harus
dapat membawa kemajuan bangsa. Janganlah alasan nasionalisme menjadikan bangsa tidak bisa maju dan berkembang.
Sebaliknya, semangat kesemestaan tidak dijadikan alasan bangsa ini tercabik dan terinveksi oleh virus globalisasi.

Semua itu, sekali lagi, memerlukan peran signifikan dan antisipasi pendidikan, apakah pendidikan kita mampu
mengakomodasi dan memberikan solusi dalam upaya memajukan dan memenangkan kompetisi global yang keras dan ketat,
ataukah justru terbelenggu dan asik dalam lingkaran globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur`an al-Karim

Abdullah, Abdurrahman Salih, Educational Theory Qur’anic Theory (Mekkah: Ummul Qura University, tt).
Abd. Al-Baqi, Muhammad Fuad, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur`an al-Karim (Beirut : Dar al-Fikr,1987).
Abdul Hakim, Atang & Jaih Mubarak, Metodologi Studi Islam, Bandung: Rosda, 2001.
Abrasy, Muhammad Athiyah al, Al-Tarbiyah al-Islamiyah (Kairo: Maktabah Isa al-Babi al-Halabi, 1975).
Al-Baghdadi, Abi al-Fadhal Syihabuddin al-Sayyid Mahmud al-Alusi, Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur`an al-‘Azim wa
al-sab’u al-Matsani, juz XI (Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1994).
'Ali, Hasan Abd. al, Al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qarn al-Rabi'al-Hijryi (TT: Dar al-Fikr al-'Araby,tt)
Ali, D.P . Sati, (selanjutnya disebut Siti, pen)., capita selecta, ed.W.van Hoeve (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1954)
Al-Qurthubi, Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari, Tafsir al-Maraghi, Juz VII (Mesir : Mathba’ah al-

babi al-Halâby, tt).
Al-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, juz XXI (Damsyiq : Dar al-Fikr al-

Ma’ashir,1991).

Azim, Ali Abdul, Ensiklopedi dan Aksiologi Ilmu Perspektif al-Qur`an (Bandung : Rosda, 1989).
Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat: Ciputat Press, 2002.
--------, Pendidikan Integralistik; Pemikiran dan Pergerakan Mohammad Natsir dalam Pendidikan, naskah buku belum
diterbitkan.
Arifin, Muzayin, Kapita Selekta Pendidikan (Umum dan Agama), Toha Putra, Semarang, 1981
Asari, Hasan. Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994).
Aziz, M. Amin, “Islamisasi sebagai Isu”, Ulumul Qur’an, Volume II, No. 4. 1992
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modrnisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999.
---------, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Kompas, 2002.
---------, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, dalam Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam
Islam
(Jakarta: Logos, 1994)
Bagir, Haidar dan Zainal Abidin, "Filsafat Sains Islami: Kenyataan atau Khayalan?" kata pengantar dalam Mahdi
Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut al-Qur'an, Bandung: Mizan, 1990
Bakar, Osman, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung: Mizan, 1998, cet. Ke-3.

Bakker, A.H., Metode-metode Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat, t.t.)

Dalizar, Konsepsi Al-Qur'an tentang Hak-hak Asasi manusia, Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1987
Dasuki, H.A. Hafizh, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ikhtiar Van Hoeur, Cet.III, 1999), jilid IV.
Daud, Wan, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.
Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1987
---------, Kumpulan Materi LMD dan SII, YPM Salman, ITB, Bandung, 1987
---------, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Pendidikan Tinggi, Direktorat Jendral Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 1991
Djakfar, Muhammad, Islamisasi Pengetahuan; dari Tataran Ide ke Praksis, dalam buku Quo Vadis Pendidikan
Islam
(ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.
Deming, Edward W., Out of The Crisis, Cambridge: Cambridge Univercity, 1973
Departemen Pendidikan Nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan,
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sekolah lanjutan tingkat Pertama, 2001
Dewey, John, Democracy and Education, Encyclopedia Americana, 1979
Faruqi, Ismail Raji al, Islamisasi Pengetahuan, (terj.) oleh Anas Mahyuddin dari Islamization of Knowledge, Bandung:
Pustaka, 1984.
Freire, Paulo, Pendidikan Kaum Tertindas, terj. Pedagogy of the Oppressed, Jakarta: LP3ES, 2000, ceet. Ke-3
----------, et.al., Menggugat Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, cet. Ke-2
Geertz, Clifford, “Modernization in A Moslem Society: The Indonesia Case”, da’am Quest, vol. 39 (Bombay: 1963).
Hadi S, Qamarul, Membangun Insan Seutuhnya, Al-Ma'arif, Bandung, 1986
Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXI (Jakarta : Pustaka al-Islam, 1982)
Hasanuddin, AH., Cakrawala Kuliah Agama, Al-Ikhlas, Surabaya, 1980
Halimuddin, Kembali Kepada akidah Islam, Rineka Cipta, 1988
Hossein Nasr, Syed, Islam dan Nestapa Manusia Modern, terj. Anas Mahyuddin, Bandung: Mizan, 1983
----------, Islam dan Nestapa Manusia Modern, Pustaka, Bandung, 1983
----------, Mulla Sadra: His Teachings, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed), History of Islamic
Philosophy
, London: Routledge, 1996
----------, dan William C. Chittick, Islam Intelektual Teologi: Filsafat dan Ma'rifat, terj. Tim Perenial, Depok: Perenial
Press, 2001.

---------, Science And Civilization In Islam, (Cambridge: Harvard University press, 1968).

Ikhrom, Dikhotomi Sistem Pendidikan Islam; Upaya menangkap Sebab-sebab dan Penyelesaiannya, dalam
bukuParadigma Pendidikan Islam (ed.) Ismail SM., et.al., Yogyakarta: Pustaka Pelahar, 2001.
Ilich, Ivan, Bebaskan Masyarakat Dari Belenggu Sekolah, terj. Deschooling Society, Jakarta: Yayasan Obor, 2000, ed.
Ke-1, cet. Ke-2
Imron, Ali,j Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Proses, Produk, dan Masa Depannya, Bumi Aksara, Jakarta, 1996.
J. Drost, Pengajaran Kita, Kompas, 7 Agustus 2001.
Jenie, Umar A., Paradigma dan Religiositas Perkembangan Iptek, dalam buku Religiusitas Iptek, Yogyakarta: 1998,
cet. Ke-1.
Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gama Media Pratama,

2002.
---------, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1979)
Kartanegara, Mulyadhi, "Reintegrasi Ilmu Pengetahuan Mungkinkah Itu?", Makalah dari Seminar Nasional
Reintegrasi Ilmu oleh Fak Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tgl 19 Okt 2002

Kurniawan, Khaerudin, “Arah Pendidikan Nasional Memasuki Milenium Ketiga”, Suara Pembaharuan, Januari 1999.
Mc Clelland, David C, The Achieving Society, The Mcmillan Company, 1961
Makdisi, George. The Rise of Colleges (Edinburgh : Edinburgh University Press, 1981).
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1980
M.Natsir, Pendidikan Pengorbanan ke Pemikiran Primondialisme dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1978)
Mursy, Ahmad Munir. Al-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa Tathawwuruha. (Kairo: Maktabah Dar al-'Alami,

1986)

Muthahhari, Murtadha, Mengenal Epistemologi, terj. Muhammad Jawad Bafaqih, Jakarta: Lentera Basritama, 2001
Muhaimin, Redefinisi Islamisasi Pengetahuan; Upaya Menjejaki Model-model Pengembangannya, dalam buku Quo
Vadiss Pendidikan Islam
(ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.
Mulkhan, Abdul Munir, Rekosntruksi Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, dalam buku Pendidikan Islam
dalam Peradaban Industrial
, Yogyakarta: Aditya Media, 1997
Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu: Positivisme, Post Positivisme, dan Post Modernisme, Yogyakarta: Rakesarasin, 2001
Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yogyakarta : Pondok Pesantren al-
Munawwir, 1984).
Muzani, Saiful (ed.) Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1993.
Naim, Mochtar, Mohammad Natsir dan Konsep Pendidikan yang Integral, dalam Anwar Harjono (pen),Pemikiran dan
Perjuangan Mohammad Natsir
, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.
--------, Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, makalah dalam seminar “Pemikiran Mohammad Natsir”, Yisc
Al-Azhar Jakarta, 16-17 Juli 1994
Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam and Civilization in Islam (Cambridge: Harvard University Press, 1968)
Naquib Al-Attas, Syed Muhamad, Konsep Pendidikan dalam Islam, Mizan, Bandung: 1987
Nasution, S, Sosiologi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1995
Nata, Abuddin, Tema-Tema Pokok al-Qur`an (Jakarta : Biro Mental DKI, 1993)
Poerbakawatja, Soegarda, dan A.H. harahap, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, 1980
Puar, Yusuf Abdullah, Mohammad Natsir 70 Tahun, Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta: Pustaka
Antara, 1976), cet. ke-I

S.I. Poeradisastra, "Epistemologi di dalam Islam", di dalam Salemba No. 70 Tahun IV, Juli 1979.

Qamarul Hadi, S., Membangun Insan Seutuhnya, Al-Ma'arif, Bandung, 1986.
Rahardjo, Mudjia, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Sosiologi Islam sebagai Sebuah Tawaran, dalam buku Quo vadis
Pendidikan Islam
, (ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.
Rahardjo, M. Dawam, Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendikiawan Muslim, Mizan,
Bandung: 1996
---------, “Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan” dalam M. Dawam Rahardjo (ed.), Pesantren dan

Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1995), cet. ke-5.
Rachman, Arief, Kualitas Pendidikan Harus Dimaksimalkan, Media Indonesia, 30 Mei 2002
Rahman, Budy Munawar, ed., Kontektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta: 1995
Rahman, Fazlur, “Islamisasi Ilmu, Sebuah Respon”, Ulumul Qur’an Vol. III No. 4 1992.

Ramayulis, Studi Tentang Konsep Pendidikan Mohammad Natsir (Batusangkar: Fakultas Tarbiyah IAIN Imam
Bonjol Batusangkar, 1979)
Rasjidi, Muhammad, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Bulan Bintang: Jakarta, 1974
Salam, Solihin, Wajah Nasional (Jakarta: Pusat Studi dan Penelitian Islam, 1990)
Sardar, Ziauddin, Jihad Intelektual Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, terj. AE Priyono, Surabaya:
Risalah Gusti, 2000
Shihab, M. Quraish, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup bersama Al-Qur`an, Mizan, Bandung: 2000
---------, Membumikan Al-Qur`an, Mizan, Bandung: 2000
Suardi, Rudi, Sistem Manajemen Mutu ISO 9000-2000; Penerapannya untuk Mencapai TQM, Jakarta: PPM &
Rosdakarya, 2001
Sudjana, HD., Manajemen Program Pendidikan, Bandung: Falah Production, 2000
Sumadilaga, H.R. Syarief, dkk., Pengembangan Sumber daya Manusia, Materi Qur`ani dan Metodenya,Simposium
Nasional Cendikiawan Muslim, Jakarta: 1990, tidak diterbitkan
Syadid, Muhammad, Manhaj al-Qur`an fi al-tarbiyah (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1987).
Syalabi, Ahmad. Al-Tarbiyah al-Islamiyah (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1982)
Stanton, Charles Michael, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logos, 1994).
Suwito, Pendidikan yang Memberdayakan, Makalah Pengukuhan Guru Besar di Bidang Sejarah dan Pemikiran
Pendidikan Islam, Januari 2002.
Tilaar, H.A.R., Kajian Kritis Sistem Pendidikan Nasional, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Mencari
Paradigma Baru Pendidikan Nasional Memasuki Milenium III
dalam HUT PGRI di Jogjakarta.
Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 1995
Toffler, Alvin, The Future Shock, terj. Hermawan Sulistyo, Jakarta: Pantja Simpati, 1992
UU No. 2 Tahun 1989 tentang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
van Bruinessen, Martin, “Konjungtur Sosial Politik di Jagat NU Paska Khittah 26: Pergulatan NU Dekade 90-an”,
dalam Ellyasa K.H. Darwis (ed.), Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil, (Yogyakarta: LKiS, 1994), cet. ke-1.

Wahid, Marzuki, “Pesantren di Lautan Pembangunanisme: Mencari Kinerja Pemberdayaan”, dalam Marzuki

Wahid, et.al (ed.) Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi (Bandung: Pustaka
Hidayah, 1999), cet. ke-1.
Walgito, Bimo, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Andi Offset, Yogyakarta, 1989.
Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.
Weber, Mark, The Protestan Ethic and Spirit Capitalism, Simon dan Schuster, New York, 1980.
Yunus, Mahmud, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta : Hidakarya Agung, 1978).

1.1. PENGERTIAN MSDM Keberadaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi sangat penting artinya bagi
organisasi. Dalam perkembangannya, organisasi akan menghadapi permasalahan tenaga kerja yang semakin
kompleks, dengan demikian pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan secara profesional oleh
departemen tersendiri dalam suatu organisasi, yaitu Human Resource Departement.SDM sebagai salah satu
unsur penunjang organisasi, dapat diartikan sebagai manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi

(disebut personil, tenaga kerja, pekerja/karyawan); atau potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam
mewujudkan eksistensinya; atau potensi yang merupakan asset & berfungsi sebagai modal non-material dalam
organisasi bisnis, yang dpt diwujudkan menjadi potensi nyata secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan
eksistensi organisasi (Nawawi, 2000). Pada organisasi yang masih bersifat tradisional, fokus terhadap SDM
belum sepenuhnya dilaksanakan. Organisasi tersebut masih berkonsentrasi pada fungsi produksi, keuangan,
dan pemasaran yang cenderung berorientasi jangka pendek. Mengingat betapa pentingnya peran SDM untuk
kemajuan organisasi, maka organisasi dengan model yang lebih moderat menekankan pada fungsi SDM dengan
orientasi jangka panjang. Mengelola SDM di era globalisasi bukan merupakan hal yang mudah. Oleh karena itu,
berbagai macam suprastruktur dan infrastruktur perlu disiapkan untuk mendukung proses terwujudnya SDM
yang berkualitas. Perusahaan yang ingin tetap eksis dan memiliki citra positif di mata masyarakat tidak akan
mengabaikan aspek pengembangan kualitas SDM-nya. Oleh karena itu peran manajemen sumber daya
manusia dalam organisasi tidak kecil, bahkan sebagai sentral pengelola maupun penyedia SDM bagi
departemen lainnya. Manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan
1
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan
sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat (Flippo, 1996). Atau
dengan kata lain, secara lugas MSDM dapat diartikan sebagai kegiatan perencanaan, pengadaan,
pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan SDM dalam upaya mencapai tujuan individual maupun
organisasional. Secara historis, perkembangan pemikiran tentang MSDM tidak terlepas dari perkembangan
pemikiran manajemen secara umum, dimulai dari gerakan manajemen ilmiah (dengan pendekatan mekanis)
yang banyak didominasi oleh pemikiran dari F.W. Taylor. Pandangan-pandangan yang muncul berkaitan dengan

SDM dalam era tersebut adalah : • SDM sebagai salah satu faktor produksi yang dipacu untuk bekerja lebih
produktif seperti mesin; • Bekerja sesuai dengan spesialisasi yang telah ditentukan; • Yang tidak produktif harus
diganti/dibuang; • Kondisi di atas memunculkan : pengangguran, tidak adanya jaminan dalam bekerja,

berkurangnya rasa bangga terhadap pekerjaan, dan tumbuhnya serikat pekerja. Gerakan human relation
(dengan pendekatan paternalis), era ini ditandai dengan adanya pemikiran tentang peran SDM terhadap
kemajuan organisasi. Pandangan-pandangan yang muncul adalah : • SDM harus dilindungi dan disayangi, tidak
hanya dianggap sebagai faktor produksi belaka tapi juga sebagai pemilik perusahaan; • Mulai disediakannya
berbagai fasilitas pemenuhan kebutuhan karyawan, seperti tempat ibadah, tempat istirahat, jaminan kesehatan,
kantin, perumahan, dan sebagainya sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap tingkat kesejahteraan
karyawan. Gerakan kontemporer (dengan pendekatan sistem sosial), di era ini pemikiran tentang pentingnya
peran SDM dan perlunya perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan serta kepastian dalam bekerja semakin
berkembang. Pandangan-pandangan yang muncul bahwa : 2
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia

• Pencapaian tujuan organisasi tidak terlepas dari kontribusi SDM; • Munculnya teori hirarki kebutuhan dari

Abraham Maslow (1940-an) sebagai landasan motivasi individu menjadi pendorong adanya pemikiran tentang

perlunya memotivasi SDM dengan melihat tingkat kebutuhan yang dimilikinya; • Adanya kecenderungan baru

yang berdampak positif terhadap perkembangan efektivitas organisasi, yaitu : a. Meningkatnya kepentingan
terhadap MSDM; b. Adanya perubahan arah pengawasan dan kebijakan secara sentral, dan pelaksanaan yang
terdesentralisasi; c. Meningkatnya otomatisasi dan pengembangan Sistem Informasi SDM; d. Munculnya
program MSDM yang terintegrasi; e. Adanya perubahan menuju sistem merit dan akuntabilitas; f. Meningkatnya
perhatian terhadap perilaku kerja karyawan; g. Meningkatnya perhatian terhadap budaya dan nilai organisasi; h.
Adanya perluasan program peningkatan produktivitas. Sejalan dengan adanya pemikiran tentang semakin
pentingnya peran SDM dalam organisasi, maka posisi MSDM dalam organisasi adalah mengelola SDM yang
ada di seluruh bagian organisasi. Gambar 1.1. Posisi MSDM dalam organisasi MSDM PEMASARAN
KEUANGAN PRODUKSI AKUNTANSIORGA NI SAS I L INGKUNGAN
3
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
1.2. PENDEKATAN MSDM Mengelola SDM bukan merupakan hal yang mudah, karena manusia merupakan
unsur yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Beberapa pendekatan
yang digunakan dalam MSDM, yaitu : a. Pendekatan SDM, menekankan pengelolaan dan pendayagunaan yang
memperhatikan hak azasi manusia; b. Pendekatan Manajerial, menekankan pada tanggungjawab untuk

menyediakan dan melayani kebutuhan SDM departemen lain; c. Pendekatan Sistem, menekankan pada
tanggungjawab sebagai sub-sistem dalam organisasi; d. Pendekatan Proaktif, menekankan pada kontribusi
terhadap karyawan, manajer dan organisasi dalam memberikan pemecahan masalah. 1.3. PRINSIP-PRINSIP
PENGELOLAAN MSDM • Orientasi pada pelayanan, dengan berupaya memenuhi kebutuhan dan keinginan
SDM dimana kecenderungannya SDM yang puas akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan

para konsumennya; • Membangun kesempatan terhadap SDM untuk berperan aktif dalam perusahaan, dengan

tujuan untuk menciptakan semangat kerja dan memotivasi SDM agar mampu menyelesaikan pekerjaan dengan

baik; • Mampu menumbuhkan jiwa intrapreneur SDM perusahaan, yang mencakup : a. Menginginkan adanya

akses ke seluruh sumber daya perusahaan; b. Berorientasi pencapaian tujuan perusahaan; c. Motivasi kerja
yang tinggi; d. Responsif terhadap penghargaan dari perusahaan; e. Berpandangan jauh ke depan; f. Bekerja
secara terencana, terstruktur, dan sistematis; g. Bersedia bekerja keras; h. Mampu menyelesaikan pekerjaan; i.
Percaya diri yang tinggi; j. Berani mengambil resiko;
4
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
k. Mampu menjual idenya di luar/di dalam perusahaan; l. Memiliki intuisi bisnis yang tinggi; m. Sensitif terhadap
situasi dan kondisi, baik di dalam maupun di luar perusahaan; n. Mampu menjalin hubungan kerja sama dengan
semua pihak yang berkepentingan; o. Cermat, sabar dan kompromistis. 1.4. FUNGSI DAN AKTIVITAS MSDM
MSDM secara fungsional memiliki beberapa fungsi, dimana fungsi-fungsi tersebut terkait satu dengan lainnya,
dan aktivitas yang dijalankan oleh MSDM sesuai dengan fungsi yang dimilikinya, dengan tujuan peningkatan
produktivitas, kualitas kehidupan kerja dan pelayanan. Fungsi perencanaan (planning) merupakan fungsi MSDM
yang dinilai esensial, karena menyangkut rencana pengelolaan SDM organisasi baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang dimana hal tersebut berkaitan erat dengan operasionalisasi organisasi dan kelancaran
kerja yang ada di dalamnya. Fungsi pengadaan (procurement) merupakan fungsi MSDM dalam usaha untuk
memperoleh jenis dan jumlah SDM yang tepat, yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi. Fungsi
Pengembangan (development) berkaitan erat dengan peningkatan ketrampilan dan kemampuan yang
diupayakan melalui jalur pelatihan maupun pendidikan terhadap SDM yang ada. Juga berbagai bentuk
pengembangan diri untuk para karyawan yang berprestasi. Fungsi Pemeliharaan (maintenance) berkaitan
dengan upaya mempertahankan kemauan dan kemampuan kerja karyawan melalui penerapan beberapa
program yang dapat meningkatkan loyalitas dan kebanggaan kerja. Fungsi Penggunaan (use) menekankan
pada pelaksanaan berbagai tugas dan pekerjaan oleh karyawan serta jenjang peningkatan posisi karyawan.
Selain itu berkaitan pula dengan kontraprestasi untuk karyawan yang telah berhenti bekerja, baik yang
sementara atau permanen maupun akibat pemutusan hubungan kerja sepihak.
5
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
Gambar 1.2. Fungsi dan aktivitas MSDM yang terintegrasi PERENCANAAN PENGGUNAAN • Analisis pekerjaan
• Evaluasi pekerjaan • Desain pekerjaan • Uraian pekerjaan • Spesifikasi pekerjaan • Penarikan karyawan •
Seleksi • Pengangkatan • Penempatan • Orientasi PENGADAAN • Penilaian prestasi kerja • Pendidikan dan
Pelatihan• Penugasan, Mutasi dan Promosi • Motivasi dan Disiplin PENGEMBANGAN• Kompensasi •
Kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja• Hubungan industrial PEMELIHARAAN• Perencanaan karir •
Perluasan pekerjaan • Pemerkayaan pekerjaan • Pemberhentian TUJUAN • Produktivitas • Kualitas kehidupan
kerja • Pelayanan 1.5. MANFAAT PENERAPAN MSDM Pengimplementasian Manajemen SDM akan

memberikan berbagai manfaat bagi kegiatan pengorganisasian, antara lain (Nawawi,2000) : a.
Organisasi/perusahaan akan memiliki Sistem Informasi SDM yang akurat. b. Organisasi/perusahaan akan
memiliki hasil analisis pekerjaan/jabatan, berupa diskripsi dan atau spesifikasi pekerjaan/jabatan yang terkini
(up-to-date). c. Organisasi/perusahaan memiliki kemampuan dalam menyusun dan menetapkan Perencanaan
SDM yang mendukung kegiatan bisnis. d. Organisasi/perusahaan akan mampu meningkatkan efisiensi dan
efektivitas rekrutmen dan seleksi tenaga kerja.
6
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
e. Organisasi/perusahaan dapat melakukan kegiatan orientasi/sosialisasi secara terarah. f.
Organisasi/perusahaan dapat melaksanakan pelatihan secara efektif dan efisien. g. Organisasi/perusahaan
dapat melaksanakan penilaian karya secara efektif dan efisien. h. Organisasi/perusahaan dapat melaksanakan
program pembinaan dan pengembangan karier sesuai kondisi dan kebutuhan. i. Organisasi/perusahaan dapat
melakukan kegiatan penelitian/riset. j. Organisasi/perusahaan dapat menyusun skala upah (gaji) dan mengatur

kegiatan berbagai keuntungan/manfaat lainnya dalam mewujudkan sistem balas jasa bagi para pekerja
Penerapan MSDM yang efektif, selain bermanfaat bagi perusahaan, juga memberikan dampak positif terhadap

para karyawan, antara lain : • Pekerja memperoleh rasa aman dan puas dalam bekerja. • Pekerja memperoleh
jaminan keselamatan dan kesehatan kerja. • Manajemen SDM memungkinkan dan mempermudah pekerja
memperoleh keadilan dari perlakuan yang tidak menguntungkan. • Manajemen SDM memungkinkan pekerja
memperoleh penilaian karya yang obyektif. • Para pekerja melalui Manajemen SDM akan memperoleh upah/gaji
dan pembagian keuntungan/manfaat lainnya secara layak. • Manajemen SDM menciptakan dan memberikan

suasana atau iklim kerja yang menyenangkan (Nawawi, 2000). 1.6. SASARAN MSDM : MELAYANI BERBAGAI
STAKEHOLDERS Stakeholders merupakan lembaga dan manusia yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
seberapa baik SDM dikelola oleh suatu organisasi melalui penerapan MSDM. Stakeholders dapat mencakup : 7
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia

Gambar 1.3. Stakeholders dan MSDM PERUSAHAAN • Produktivitas • Laba • Kelangsungan hidup PEMASOK
Penilaian kualitas dan kuantitas INVESTOR Pengembalian modal PELANGGAN • mutu layanan • mutu produk •
kecepatan respon• biaya rendah • inovasi MSDMSERIKAT PEKERJA Mediator MASYARAKAT • Tanggung jwb
sosial • Praktek manajemen etis PEMERINTAH Kepastian hukum KARYAWAN • Perlakuan adil • Kepusan kerja
• Pemberdayaan • Pendayagunaan • Kesehatan dan keselamatan 1.7. TANTANGAN TERHADAP MSDM A.

Tantangan eksternal a. Perubahan Lingkungan Bisnis yang cepat. Untuk keperluan tersebut perusahaan dalam
menghadapi perubahan lingkungan/iklim bisnis yang cepat, perlu menetapkan kebijaksanaan SDM sebagai

berikut: • Menghindari pengaruh negatif berupa perasaan tidak puas pada kondisi yang telah dicapai
perusahaan. • Dalam menghadapi perubahan yang mengharuskan penambahan pembiayaan (cost), perusahaan
harus berusaha mengatasinya, agar dapat mempertahankan pasar/keuntungan yang sudah diraih. • Memberikan

imbalan yang cukup tinggi pada pekerja yang mampu melakukan improvisasi yang kreatif. 8
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
b. Keragaman Tenaga Kerja Di Indonesia keragaman tenaga kerja bersifat terbatas, terutama yang agak
menonjol adalah perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Namun perusahaan di Indonesia harus siap
dalam mengantisipasi keragaman tenaga kerja dalam rangka globalisasi, karena keragaman akan meluas
dengan masuknya modal asing yang berarti juga masuknya tenaga kerja asing dari berbagai etnis atau bangsa.
c. Globalisasi Dari sudut MSDM berarti mengharuskan dilakukannya usaha mengantisipasi sebagai berikut : •
Perusahaan harus berusaha memiliki SDM yang mampu mengatasi pengaruh perkembangan bisnis/ekonomi
internasional seperti resesi, penurunan/kenaikan nilai uang. • Perusahaan harus berusaha memiliki SDM dengan
kemampuan ikut serta dalam bisnis global/internasional dan perdagangan bebas. d. Peraturan Pemerintah
Setiap perusahaan harus memiliki SDM yang mampu membuat keputusan dan kebijaksanaan dan bahkan
melakukan operasional bisnis, sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah. Untuk itu
diperlukan SDM yang memiliki kemampuan mengarahkan agar perusahaan terhindar dari situasi konflik,
keresahan/kegelisahan, komplen, dan lain-lain khususnya dari para pekerja dengan atau tanpa keikutsertaan
serikat sekerja. e. Perkembangan pekerjaan dan peranan keluarga Semakin banyak pasangan suami isteri yang
bekerja, sehingga sering terjadi kesulitan untuk bertanggung jawab secara optimal, karena sebagian waktunya
digunakan untuk melaksanakan tanggung jawabnya di lingkungan keluarga masing-masing. f. Kekurangan
Tenaga Kerja yang Terampil Tenaga kerja terampil semakin banyak diperlukan, baik untuk melaksanakan
pekerjaan teknis, maupun untuk pekerjaan manajerial dan pelayanan, yang tidak mudah mendapatkan yang
kompetitif di antara yang tersedia di pasar tenaga kerja.
9
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
B. Tantangan Internal a. Posisi Organisasi dalam Bisnis yang Kompetitif Untuk mewujudkan
organisasi/perusahaan yang kompetitif , diperlukan berbagai kegiatan MSDM yang dapat meningkatkan
kemampuan SDM. Usaha itu dapat dilakukan dengan mendesain sistem pemberian ganjaran yang mampu
memotivasi berlangsungnya kompetisi prestasi antar para pekerja. b. Fleksibelitas Organisasi / perusahaan
memerlukan pengembangan sistem desentralisasi yang mengutamakan pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab secara berjenjang. Fleksibilitas juga menyangkut penggunaan tenaga kerja, dengan mengurangi
kecenderungan mengangkat pekerja reguler (pekerja tetap). Pengangkatan sebaiknya lebih difokuskan pada
penggunaan tenaga kerja temporer (tidak tetap). c. Pengurangan Tenaga Kerja Manajemen SDM suatu
perusahaan sering dihadapkan dengan keharusan mengurangi secara besar-besaran tenaga kerja, karena
berbagai sebab, seperti resessi, berkurangnya aktivitas bisnis, dan lain-lain harus diatasi dengan cara
memperbaiki struktur pekerja lini dari tingkat bawah, dengan mendesain kembali proses produksi. d. Tantangan

Restrukturisasi Tantangan restrukturisasi adalah usaha menyesuaikan struktur organisasi/perusahaan karena
dilakukan perluasan atau penambahan dan sebaliknya juga pengurangan kegiatan bisnisnya. e. Bisnis Kecil
Bisnis kecil seperti dikemukakan diatas yang terdiri dari banyak anak perusahaan, yang saling memiliki
ketergantungan dalam produk berupa barang atau jasa yang dihasilkan sebagai perwujudan net work (jaringan
kerja) dalam berbisnis, sebagai perusahaan besar/raksasa yang tersebar di banyak lokasi. f. Budaya Organisasi
Budaya perusahaan akan mewarnai dan menghasilkan perilaku atau kegiatan berbisnis secara operasional,
yang tanpa disadari akan menjadi kekuatan yang
10
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
mampu atau tidak mampu menjamin kelangsung eksistensi organisasi/perusahaan. g. Teknologi Tantangan
teknologi tidak sekedar menyangkut pembiayaan (cost), karena bagi Manajemen SDM hubungannya terkait
pada keharusan menyediakan tenaga kerja yang terampil mempergunakannya, baik dari luar maupun melalui
pengembangan tenaga kerja di dalam organisasi/perusahaan. Pada giliran berikutnya tantangan teknologi
berhubungan juga dengan pengembangan sikap dalam menerima perubahan cara bekerja. h. Serikat Pekerja
Dengan kerjasama, perusahaan/organisasi setidak-tidaknya harus berusaha agar serikat pekerja tidak menjadi
penghambat proses produksi, dengan tidak menempatkanya sebagai lawan.

Tantangan dan Peluang Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi

A. Latar Belakang.

IPTEK Prestasi Olahraga

Tantangan dan peluang di Era Globalisasi serta antisipasi yang perlu dilakukan dalam
mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh merupakan tema yang sangat relevan
dengan situasi saat ini karena berbagai alasan. Salah satu diantaranya adalah karena masalah
sumber daya manusia dan globalisasi adalah dua dari sekian banyak topik yang paling hangat
dibicarakan akhir-akhir ini. Tidak terhitung sudah berapa banyak seminar, ceramah, lokakarya,
simposium dan artikel koran sampai saat ini yang tak henti-hentinya mengangkat topik tersebut
baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Pernyataan para pejabat, serta lontaran para
pakar, tokoh masyarakat dan professional dalam berbagai kesempatan semuanya menambah
bobot nilai dan arti penting dari kedua topik tersebut. Hal ini terjadi karena topik sumber daya
manusia dan globalisasi memang menyangkut masalah dasar yang amat penting bagi
kelangsungan hidup kita sebagai bangsa kini dan dimasa mendatang.

Khususnya dibidang Prestasi olahraga dan bisnis olahraga, kita akan menghadapi era
perdagangan bebas di wilayah Asia Tenggara Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2003 dan
wilayah Asia Fasific tahun 2020 sebagai hasil kesepakatan negara-negara anggota APEC (Asia
Pasific Economic Cooperation). Untuk itu , maka setiap negara di Asia Pasific, termasuk
Indonesia, akan dituntut untuk mampu bersaing dalam berbagai bidang . Essensi dari kemampuan
bersaing itu adalah bahwa setiap negara harus dapat menghasilkan produk (barang dan jasa)
yang bermutu tinggi, biaya rendah, effisien dalam proses dan cepat dalam penyerahan/pelayanan.
Hal-hal yang dimaksud terakhir ini dapat disebut dengan kinerja organisasi
(Organizational
performance)dan menjadi tantangan bagi semua pihak yang terkait untuk mewujudkannya.

Dalam kaitan itu, pembangunan pendidikan merupakan upaya yang mendasar dalam
pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pengembangan kualitas SDM melalui pendidikan
perlu dilaksanakan secara terpadu khususnya dalam rangka upaya meningkatkan kemampuan
bangsa Indonesia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan bagi
peningkatan kesejahteraan, kemajuan, peradapan, serta ketangguhan daya saing bangsa
Indonesia

(Djojo-negoro,

1995).

Organisasi adalah salah satu hasil peradapan manusia yang penting bagi kehidupan umat
manusia modern. Dikatakan demikian karena melalui organisasi orang-orang dapat mencapai
tujuannya dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan kalau orang-orang itu melakukan
usaha pencapaian tujuannya secara sendiri-sendiri. Menurut Robbins (1990) : "Organisasi adalah
suatu kesatuan
(entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan batasan yang relatif
dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk tujuan bersama atau
sekelompok

tujuan".

Pendidikan sebagai suatu upaya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas,
karenanya dituntut untuk secara terus menerus mampu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan
irama perubahan yang terjadi. Dalam pada itu, salah satu aspek sistem pendidikan yang amat
berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia berkualitas itu adalah organisasi atau
lembaga pendidikan . Oleh karenanya, langkahlangkah kearah penyesuaian diri dengan
perubahan-perubahan yang terjadi menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penentu pembangunan
nasional. Saat ini, SDM yang memiliki wawasan, pengetahuan dan keterampilan untuk bersaing
dalam mendapatkan lapangan pekerjaan terlebih untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru
masih minim. Untuk itu perlu ada perhatian yang sangat serius dalam mengembangkan
kemampuan para pemuda terutama penanganan yang terkait dengan pengembangan industri
olahraga. Suatu terobosan perlu dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia yaitu
dengan memberikan pembekalan tambahan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan mengenai
jasa industri olahraga yang telah mengalami perkembangan yang pesat dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangan zaman, olahraga telah menjadi salah satu gaya hidup modern di era
globalisasi. Dengan berkembangnya olahraga menjadi gaya hidup modern bagi masyarakat
perkotaan, maka diharapkan dapat turut memberikan dukungan pengembangan industri jasa
olahraga. Serta mampu mengatasi persoalan yang berkaitan dengan aktifitas dan pembinaan
olahraga di tanah air. Wawasan menciptakan lapangan pekerjaan harus terbuka di mata para

mahasiswa usai menamatkan studi di perguruan tinggi. “Mereka tidak lagi mencari pekerjaan

tetapi bersaing untuk menciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan dasar-dasar
pendidikannya yaitu sebagai Pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang olahraga
yang diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani, mental dan rohani, serta ditujukan guna

pembentukan watak dan kepribadian, disiplin, sportifitas dan peningkatan prestasi. Untuk
membentuk atlit berprestasi, perlu dibangun system recruitment antara lain dengan membangun
keterpaduan, koordinasi dan sinergisitas dengan daerah serta membangun wahana untuk
menjaring atlit berprestasi.

Pertandingan atau kejuaraan adalah urat nadi pembentukan prestasi, tempat mengamati
dan mendeteksi bibit atlit sekaligus penjaringan terhadap atlit berprestasi, semakin besar volume
dan frekuensi kejuaraan maka semakin besar peluang untuk menghasilkan atlit berprestasi.
Kejuaraan Nasional merupakan event puncak untuk mengukur sejauh mana keberhasilan
pembinaan atlit di daerah.

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian diatas maka permasalahannya adalah upaya-upaya apakah yang perlu
dilakukan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh di era
globalisasi
".Tantangan dan Peluang Serta Antisipasi yang Perlu Dilakukan Dalam
Mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang Tangguh di Era Globalisasi Dalam Meningkatkan
Mutu Sumber Daya Manusia Melalui Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sebagai Langkah Seorang
Atlit Menuju Industri dan Prestasi Olahraga Profesional

BAB II

PEMBAHASAN

A. Globalisasi : Tantangan Dan Peluang

Globalisasi telah menjadi kata yang amat populer akhir-akhir ini karena banyak
dibicarakan dan dibahas oleh berbagai kalangan. Kemajuan yang pesat dalam teknologi
transportasi, komunikasi dan informasi yang menjadi ciri utama dari proses globalisasi itu
menyebabkan terjadinya berbagai perubahan yang bersifat menyeluruh fundamental dan
berdimensi banyak. lni semua merupakan fenomena yang tak terelakkan. Perubahan-perubahan
pada skala global itu selanjutnya memicu timbulnya transformasi struktural yang pada gilirannya
dapat memberikan dampak pada proses pergeseran nilai, sikap, cara hidup, perilaku manusia,
sistem, kelembagaan dan lain-lain. Dalam kaitan, sumber daya manusia yang berkualitas yakni
yang menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi akan memegang peranan yang sangat
strategis dan mampu memacu pertumbuhan dan pengembangan disegala bidang kehidupan
manusia.

Fenomena globalisasi yang terjadi belakangan ini juga telah menarik perhatian sejumlah
ahli manajemen internasional belum lama ini. Sebagai contoh, dalam artikel pengantarnya pada
salah satu terbitan The Academy of Management Review, Tung & Glinow (1991), memberi ilustrasi
sebagai berikut:
"The word has begun to resemble a global village. The peoples of
different nations are interconnected more closely than they have ever been. Technologi has been

a leading force bringing about this enhanced integration around the globe. Information and
communication technology have increased our knowledge of the people of other nations, they
havemade it possible to interact with and influence each other more than ever before in the
history of humankind". Memang benar, dunia kini seolah-olah sudah menjadi sebuah desa global,
dimana manusia dari berbagai bangsa dapat berhubungan satu sama lain secara lebih dekat dari
pada sebelumnya. Dalam pada itu, teknologi merupakan kekuatan penentu bagi peningkatan
integrasi seluruh belahan bumi, dimana teknologi informasi dan komunikasi telah meningkatkan
pengetahuan kita tentang manusia dari bangsa-bangsa yang lain, serta memungkinkan adanya
interaksi dan saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan lain secara lebih intensif dari
pada sebelumnya. Kita sekarang dengan mudah dapat berbicara meialui telepon dengan sanak
saudara, dan relasi yang berada di belahan bumi yang lain. Demikian pula, dalam waktu yang
singkat kita dapat mengikuti perkembangan politik, ekonomi, olah raga atau lain peristiwa yang
terjadi di berbagai negara melalui televisi dan internet.

Lebih lanjut, Tung et al. (1991) menulis:

"Economic has been the other major force in the globalizationalphenomenon. In particularlarge
multinational organizations have been able, using technology, to increase their economic
efficiencies by beaming about and then obtaining inputs of material, human power, capital
from more cost effective sources around the globe. Further, these new information and
communication technologies have enabled multinational organizationas to market their outputs
internationally, thus expanding the domain in which these organizatios take action and thereby
enhancing their economic efficiency through scale"

Disamping teknologi, ekonomi telah menjadi kekuatan utama yang lain di dalam fenomena
global itu. Perusahaan-perusahaan multinasional besar khususnya telah mampu, dengan
tekhnologinya, menaikkan efisiensi ekonominya dengan belajar tentang dan mendapatkan
masukan berupa bahan sumber daya manusia (SDM), dan modal dari sumber-sumber yang paling
efektif di seluruh dunia. Lebih jauh lagi, tekhnologi baru di bidang infoimasi dan komunikasi
memungkinkan organisasi-organisasi itu memasarkan produknya secara internasional,
memperluas bidang lingkupnya dengan mengambil tindakan dan meningkatkan efisiensi ekonomi
mereka.

Jadi, globalisasi yang pada intinya merupakan rekayasa ekonomi itu telah menjadikan
kehidupan manusia menjadi begitu terbuka. Sebagai konsekwensinya, hal ini menyebabkan
semakin tajamnya persaingan antar negara dan organisasi dalam merebut pasar serta usaha
menghasilkan kinerja dan kualitas produk yang prima. Untuk ini semua, maka pada gilirannya
organisasi bisnis yang terlibat dalam persaingan itu akan menuntut kualitas sumber daya
manusia yang tinggi dan bersaing. Singkatnya, dalam alam keterbukaan itu kuaiitas manusia
menjadi kuncinya; dan oleh karenanya peranan organisasi atau lembaga pendidikan yang
menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu menjadi semakin penting.

Erat kaitannya dengan gejala globalisasi yang diuraikan diatas adalah era perdagangan
bebas. Era perdagangan bebas tersebut ditandai dengan semakin minimnya hambatan-hambatan
tarif, leluasanya lalu lintas barang, jasa dan investasi antar negara, serta tingginya mobilitas
tenaga kerja. Kesemua hal yang disebutkan terakhir ini, kalau dicermati secara khtis,

sesungguhnya sekaligus merupakan peluang yang harus kita rebut. Karena didalamnya
terkandung potensi pasar yang lebih luas dan lebih bervariasi.Khususnya yang berkenaan dengan
tenaga kerja, maka saat itu kelak tenaga kerja asing dalam jumlah besar di suatu negara akan
menjadi pemandangan umum kita sehari-hari. Dampak lebih lanjut daripada situasi ini kelak,
selain dari masalah ekonomi dan bisnis, tentunya sudah dapat diduga, yaitu antara lain :
muncuinya masalah-masalah baru di bidang sosial budaya, dan boleh jadi juga dibidang
pertahanan dan keamanan. Jadi, jika demikian halnya, maka jelas ini akan menjadi tantangan yang
serius bagi kita dalam menghadapi masa yang penuh dengan persaingan itu. Dengan demikian,
globalisasi itu pada dasarnya mentiratkan dua hal sekaligus: tantangan dan peluang. Kitalah yang
harus pandai-pandai memanfaatkannya.

Dalam konteks pendidikan. Fenomena globalisasi (dan regionalisasi) juga membawa
dampak terhadap masyarakat perguruan tinggi. Secara spesifik, Reid (1997), yang merujuk Wichit
Srisaan dari Suranaree University of Technology di Thailand, menyatakan bahwa dampak dari
globalisasi dan regionalisasi itu dapat dirasakan pada 4 (empat ) level yaitu :

lndividu , yaitu dirasakannya tuntutan kebutuhan akan periunya peningkatan pemahaman bahasa asing
(terutama bahasa lnggeris) dikalangan tenaga pengajar dan mahasiswa.
Organisasi, yakni adanya
tuntutan untu melakukan pembenahan/pembangunan kelembagaan
(institutional building) yang
diarahkan pada pencapaian kinerja yang tinggi. Termasuk dalam pembangunan kelembagaan ini
di antaranya adalah -. perubahan dan penyesuaian kurikulum, fasilitas teknologi pengajaran, serta
peningkatan mutu tenaga pengajar dan semacamnya.

Nasional , yaitu adanya tuntutan untuk melakukan perubahanperubahan pada sistem pendidikan tinggi
sehingga mampu mengakomodasikan kebutuhan yang semakin meningkat, misainya meialui :
Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden serta seperangkat Hukum
lainnya.

Intemasional, yaitu adanya tuntutan untuk melakukan kerjasama antar lembaga pendidikan tinggi, baik
ditingkat regional (seperti ASEAN dan Asia Pasific) maupun ditingkat yang lebih luas lagi.

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa proses globalisasi itu membawa dampak
yang tuas dan berdimensi banyak, dan karenanya menjadi tantangan yang harus kita hadapi
dengan bijak dan cerdas.

B. Peranan Sumber Daya Manusia

Masalah sumber daya manusia kini masih terus menjadi bahan perbincangan yang hangat
berbagai kalangan dan dalam berbagai kesempatan. Kata sebagian orang, sumber daya manusia
(SDM) lagi naik daun. Namun jika dicermati benar, sesungguhnya kesadaran akan pentingnya
sumber daya manusia sudah bedangsung cukup lama. Hanya saja sekarang gemanya lebih keras
dari sebelumnya, sehingga kalau seseorang tidak berbicara tentang SDM bisa jadi dianggap tidak
mengikuti trend mutakhir. Bagi bangsa Indonesia hal tersebut tentu saja lebih menyakinkan lagi,
karena masalah SDM atau lebih khusus lagi peningkatan kualitas SDM, secara eksplisit
disebutkan sebagai titik sentral pembangunan nasional pembangunan jangka panjang tahap dua
(PJP II).

Peranan SDM memang sangat peting. Tak ada keraguan akan hal ini. Lebih-lebih dalam era
informasi dan globalisasi seperti sekarang. Mengutip kata John Naisbitt
:"In an information
society, human resource is at the cutting edge. And it means that human resource professionals
are becoming much, much more important in their organization".

Pernyataan Nasibitt diatas jelas menunjukkan betapa besar dan pentingnya peranan SDM
pada masa kini dan akan datang, yang sering disebut dengan masyarakat informasi itu. Hai ini
dapat dimaklumi karena manusia merupakan unsur utama dari setiap organisasi. Merekalah yang
menciptakan berbagai inovasi dan kemudian membuat banyak organisasi menjadi dikenal luas.
Jadi, kiranya tidak salah kalau perusahaan besar seperti Union Carbide menetapkan slogannya
yang berbunyi ..
"Assets make things possible, peoples make things happen". Karena memang
benar, manusialah yang membuat barang-barang dan jasa yang bernilai bagi suatu bangsa, dan
hasil-hasil yang bernilai inilah yang menentukan derajat kesejahteraan dan taraf hidup suatu
masyarakat.

Dunia kita sekarang ini, kata sementara orang, telah menjadi semakin sempit. Pergaulan
dan hubungan antar bangsa di dunia pun telah berlangsung demikian erat dan mudahnya, dan
terjadi diberbagai arena, baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial dan budaya. lni semua
dimungkinkan oleh semakin maju dan berkembangnya teknologi informasi, media komunikasi dan
alat transportasi. Khususnya bidang ekonomi dan bisnis, keadaan ini menyebabkan semakin
tumbuhnya persaingan antar negara dan perusahaan dalam merebut pasar. Sebagai konsekwensi
logisnya, perlombaan untuk menghasilkan kinerja dan kualitas produk dan jasa yang prima
menjadi keharusan, yang pada gilirannya juga menurut kualitas SDM yang tinggi dan bersaing.

C. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Seperti dikatakan diatas bahwa kualitas SDM merupakan kunci dari keseluruhan ikhtiar
manusia di segala bidang, termasuk untuk menghadapi persaingan bisnis global linternasional.
Oleh karena itulah maka tepat sekaii GBHN menempatkan peningkatan kualitas SDM sebagai
sasaran dalam PJP II. Kualitas SDM Indonesia saat ini, kalau dilihat secara kasus per kasus
mungkin kita dapat mengatakan bahwa kualitas SDM Indonesia kini cukup bersaing di kancah
internasional di beberapa bidang tertentu. Artinya SDM kita tidak kalah dengan bangsa-bangsa
lain, dan hasil karyanyapun dapat diandalkan. Bukti untuk hal ini saya kira dapat dengan mudah
ditemui.

Akan tetapi, secara keseluruhan harus diakui bahwa kualitas dan kemampuan SDM
Indonesia relatif masih rendah. Rendahnya kualitas dan kemampuan SDM Indonesia itu tercermin
dari rendahnya produktivitas kerja, baik tingkatannya maupun pertumbuhannya (Batubara, 1992).
Meskipun tidak terialu mengecewakan, jelas hal ini memerlukan usaha-usaha peningkatan
kualitas SDM kita secara terus menerus. Maksudnya agar kita bisa mensejajarkan diri dengan
bangsa-bangsa lain yang lebih tinggi taraf kualitas SDMnya, dan mampu berbicara lebih nyaring
dipercaturan internasional. lni perlu karena keadaan dunia yang akan kita hadapi kelak akan
sangat kompetitif.

Untuk keperluan usaha-usaha peningkatan kualitas SDM, barangkali kita perlu berfikir
lebih spesifik kepada apa dan bagaimana negara-negara lain melakukannya. Selain Jepang, kita
seringkaii mendengar bagaimana Korea, Hongkong, Taiwan dan Singapura melaksanakan

pembangunan ekonominya dan mendapatkan sebutan sebagai NIC'S. Kesemua negara tersebut
meletakkan tumpuan pada kualitas SDMnya. Sekedar illustrasi, Korea mempunyai jumlah tertinggi
PhD per kapita di dunia, menurut Jacquiline Y. Pak dari IL Hae Institute. Kelompok Daewoo saja
memperkerjakan 1000 PhD pada tahun 1990. Dari jumlah itu yang pasti mereka itu kebanyakan
orang-orang Korea yang berpendidikan Amerika (Naisbitt & Aburden, 1990).

Erat kaitannya dengan kualitas SDM, adalah menyangkut masalah relevansi pendidikan,
yang dari waktu ke waktu selalu menjadi tantangan, walau terus menerus dilakukan usaha-usaha
perbaikannya. Dalam pada itu, salah satu masalah pendidikan yang berhubungan dengan
relevansi adalah adanya ketidak sesuaian antara kebutuhan masyarakat dan keluaran pendidikan,

yang oleh Wardiman Djojonegoro (19930 dirinci sebagai: "… adanya kecenderungan bahwa isi

program pendidikan dinilai cenderung berorientasi pada penguasaan prestasi akademik untuk
memasuki pada jenjang yang lebih tinggi dan belum menata arah untuk secara lentur bergerak
cepat sejalan dengan tuntutan dunia ker'a yang secara terus menerus berubah serta kehidupan di
masyarakat". Akibat lanjut dari pada keadaan diatas, terlebih-lebih jika tidak ada perubahan,
adalah terjadinya akumulasi pengangguran tenaga terdidik.

Dari uraian singkat diatas, kiranya jelas bahwa kondisi kualitas SDM kita kini cukup serius,
terlebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan keadaan SDM di negara-negara lain disekitar kita.
Jadi masih banyak usaha-usaha yang perlu kita lakukan terus dalam pengembangan kualitas SDM
ini.

PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->