1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945 karena yang menjadi causa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik, bobroknya managemen negara yang mereproduksi KKN, hancurnya nilai-nilai rasa keadilan rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah UUD Republik Indonesia 1945. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. Akibatnya dalam penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Dari dua kali kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998) telah membuktikan hal itu, sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa sebelumnya. Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah kini telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai “kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita-citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi). Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa.

Dalam artian. dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan. merupakan bahan yang kami bahas dalam makalah ini. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis.2. sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah mencerminkan kehendak bersama. 1.1 Pembatasan Masalah Dalam sistem kenegaraan.2 Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD 1945.2 Pembatasan Masalah dan Identifikasi Masalah 1. disebabkan berjalannya sistem pemerintahan tidak lepas dari rujukan yang mesti dilaksanakan dalam perundang – undangan negara. Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan sangat berarti bagi perubahan-perubahan selanjutnya. masalah perundang – undangan merupakan hal yang sangat penting bagi jalannya sistem pemerintahan suatu negara. Masalah kontroversi perubahan UUD 1945 yang masih menjadi perbincangan. . sesuai dengan nilai keadilan sosial. Sebab dapat dikatakan konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan. kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang melakukannya serta dalam situasi seperti apa perubahan itu terjadi. Karena dari sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga masyarakat. kita akan dapat dinilai apakah rumusan-rumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih baik dan sempurna. menjadikan suatu bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu.

2 Manfaat Penulisan Sedangkan manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Menjabarkan beberapan pendapat pro-kontra terhadap amandemen UUD 1945. Permasalahan yang kencenderungan terjadi perdebatan sehingga timbulnya pra-kontra terhadap perumusan amandemen UUD 1945. 1.3 1.2.2 Identifikasi masalah Dalam prosesnya. Lebih mengenal kembali Undang-undang dasar negara Republik Indonesia Mengikuti proses perkembangan perundangan Republik Indonesia.1 Tujuan penulisan Adapun tujuan penulisan tugas makalah ini adalah : 1. Menganalisa sejauh mana proses perkembangan amandemen dan beberapa pendapat tentang amandemen UUD 1945.3. 2. Meningkatkan pengetahuan tentang negara dan konstitusi negara Republik Indonesia 2. . amandemen UUD 1945 menimbulkan perdebatan. Sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia sejak awal terbentuknya UUD 1945 sampai saat kini. 1.3.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Beberapa pendapat terhadap amandemen UUD 1945. 2. 3. 3. penyusun mengidentifikasi beberapa masalah pokok sebagai berikut : 1.

Mereka semua committed jika kelak keadaan mengizinkan.4 BAB II PEMBAHASAN 2. Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. tetapi tetap menganut paham demokrasi konstitusional meski dengan sistem berlainan. meski tetap menggunakan UUD 1945 sebagai konstitusi. bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilu untuk membuat UUD baru yang definit berasas kedaulatan rakyat.1 Sejarah ketatanegaraan Saat founding fathers menerima diberlakukannya UUD 1945 yang dicetuskan Prof Soepomo pada sidang PPKI 18 Agustus 1945 telah menyadari. UUD 1945 hanya bersifat sementara atau istilah Bung Karno "undang-undang dasar kilat". bahkan pernah bertolak belakang secara konseptual. berarti hanya dua bulan kita menerapkan UUD 1945 yang "asli" yang kekuasaan sepenuhnya di tangan Presiden. Bukan disebabkan Konstituante tak berhasil atau mengalami deadlock dalam menyusun UUD baru sebagaimana diajarkan dalam semua buku pelajaran sejarah versi . Baru tahun 1955 pertama kali diselenggarakan pemilu dan dibentuk Majelis Konstituante untuk membuat UUD baru yang definitif. hanya di masa kabinet Soekarno-Hatta yang pertama (Agustus 1945-sampai keluar Maklumat X tanggal 16 Oktober 1945). Maklumat Wakil Presiden No X mengubah secara mendasar sistem ketatanegaraan dari Presidensial ke Parlementer. Dalam periode revolusi. Sejarah ketatanegaraan kita yang menggunakan konstitusi UUD 1945 sebagai landasan struktural telah menghasilkan berbagai sistem pemerintahan yang berbeda-beda. Sebelum tugasnya selesai. Pada 1949 bangsa Indonesia telah mengganti UUD 1945 dengan Konstitusi RIS dan tahun 1950 lagi-lagi diganti dengan UUD Sementara 1950.

2. timbul kembali pemerintahan otoriter di bawah panji Demokrasi Terpimpin Soekarno dilanjutkan rezim otoriter Orde Baru Soeharto dengan panji Demokrasi Pancasila. Dulu mereka berhasil menjegal Majelis Konstituante dengan memakai "pedang" Dekrit 5 Juli 1959. adanya sisa-sisa kalangan militer dan pendukung Soekarno yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Terpimpin". Abdurrahman Wahid. tetapi karena ada kepentingan politik dari kalangan militer dan pendukung Soekarno. Hal ini didasari pula pada ketetentuan pasal 37 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “untuk melakukan perubahan UUD ditentukan dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang hadir”. Ditambah ketentuan lain yang terdapat dalam pasal 3 UUD 1945 bahwa tugas dari . baik di zaman Habibie. Tuntutan untuk kembali ke UUD 1945 jelas diwarnai nostalgia atau sindrom pada kekuasaan otoriter dan totaliter yang pernah dinikmati di masa lampau dan merasa "kehilangan" atau tak bisa eksis lagi untuk membangun kekuatan politik dalam konteks UUD 1945 hasil amandemen. Atau pendukung Soeharto yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Pancasila" yang dengan landasan UUD 1945 yang "murni dan konsekuen" berhasil berkuasa selama 32 tahun. Megawati sebelum Pemilu 2004.5 pemerintah. kita menyaksikan betapa lemahnya UUD 1945 mengatur penyelenggaraan kekuasaan negara karena sifatnya yang multi-interpretasi. kondisi dewasa ini dikhawatirkan kita menghadapi bahaya pengulangan sejarah. Dengan diberlakukannya kembali UUD 1945 melalui Dekrit 5 Juli 1959.2 Pandangan Terhadap Amandemen UUD 1945 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai badan/lembaga politik yang diposisikan “tertinggi” karena dianggap representasi dari kedaulatan rakyat adalah badan yang dianggap memiliki kewenangan melakukan perubahan UUD. Dalam masa pemerintahan transisi. Pemegang kekuasaan negara bisa melakukan berbagai distorsi dan devisiasi nilai-nilai demokrasi dan sistem pemerintahan.

Mengingat hanya ada dua model pemerintahan yang dianut negara-negara demokrasi lainnya. MPR mengubah 9 pasal UUD 1945 yang berkenaan dengan soal kewenangan eksekutif-legislatif serta pembatasan masa jabatan eksekutif (presiden). Pengalaman dengan pemerintahan yang didominasi eksekutif dan tiadanya kontrol terhadapnya telah berlangsung lebih dari 32 tahun dan itu menimbulkan akibatakibat seperti yang dialami saat ini. Dengan penambahan kewenangan kepada DPR. Pemerintahan Daerah (otonomi daerah). Sistem dengan pencampuran semacam nampaknya akan masih . warga negara dan penduduk. Pertahanan dan Keamanan Negara. Indonesia dikategorikan menganut sistem percampuran (quasi) antara keduanya berdasarkan distribusi kekuasaan bukan atas dasar pemisahan kekuasaan. sebagai upaya untuk memberdayakan legislatif terutama dalam fungsinya melakukan kontrol terhadap eksekutif. MPR telah mengubah UUD 1945 sebanyak empat kali.6 MPR adalah menetapkan UUD. Pada perubahan yang pertama. Namun pergeseran itu sendiri. Bendera. Sebagaimana hakikat dari konstitusionalisme yang mengharuskan adanya pengakuan dan jaminan terhadap HAM diatur dalam konstitusi. sehingga “tidak ada” kontrol sama sekali dari DPR terhadap kinerja pemerintahan. Perubahan dan penambahan itu menyangkut soal wilayah negara. telah mengurangi dominasi dari pemerintahan yang eksekutif heavy. terutama dalam soal fungsi legislasi dan pengawasannya dapat dikatakan telah terjadi pergeseran bandul politik ke arah legislatif. antara sistem pemerintahan presidensiil atau parlementer. Sepanjang reformasi dalam sidang-sidangnya. disamping memilih dan menetapkan Presiden dan Wapres serta membuat GBHN. Sedangkan pada perubahan yang kedua. Lambang Negara dan Lagu kebangsaan. terutama dengan dimuatnya soal hak asasi manusia. Selain itu dengan adanya pembatasan kewenangan dan masa jabatan bagi eksekutif (presiden). Perubahan ini berangkat dari pengalaman pemerintahan yang terjadi selama ini dengan sangat kuatnya eksekutif (presiden) dan lemahnya DPR. hak asasi manusia. kewenangan DPR. MPR tidak hanya mengubah tapi juga menambah muatan materi yang terkandung didalamnya. Dan sebagai perimbangannya diberikan kewenangan-kewenangan kepada DPR. Bahasa. masih belum menampakkan secara jelas sistem pemerintahan yang akan diterapkan. Diakui bahwa dalam perubahan UUD 1945 itu ada beberapa kemajuan.

Ruang publik itu telah dipenjara secara politis oleh MPR. 2. masih menyisakan soal yudikatif (kekuasaan kehakiman yang mandiri) yang belum diubah yang selama ini juga tidak lepas dari dominasi eksekutif. MPR yang dimaknai sebagai representasi kekuasan tertinggi rakyat dan dapat melakukan kontrol terhadap kekuasaan lainnya menjadi super body yang tidak dapat dikontrol. Sistem Pemerintahan Presidensiil dan Konsep Negara Kesatuan.3 Catatan. apalagi perubahan itu juga tidak dilakukan secara bersamaan.7 menyisakan persoalan-persoalan. karena tidak berangkat dari kerangka dasar disertai pemahaman yang jelas. Keputusan untuk tidak mengubah ketiga hal tersebut secara politis memang terkesan telah menjadi kehendak mayoritas bangsa. Guna memudahkan . Disamping mengubah dan menambah materi dalam UUD 1945. Satu hal mendasar lagi adalah tentang keberadaan MPR yang dalam posisinya sebagai lembaga tertinggi negara membuat rancu sistem pemerintahan yang demokratis. Meskipun telah ada pemikiran dan kehendak dari masyarakat untuk merekontruksi kembali posisi dan peran MPR terkait dengan keinginan pemilihan presiden secara langsung menjadi sistem bikameral atau meniadakannya sama sekali. hasil perubahan-perubahan UUD 1945 itu belum menyentuh persoalan-persoalan yang menyangkut MPR. karena perannya juga seperti lembaga legeslatif namun ia bukan lembaga legeslatif. Perubahan dan penambahan kewenangan kepada DPR itu nampaknya hanya memindah masalah baru dan memperpanjang krisis politik. MPR juga telah memutuskan untuk tidak mengubah Pembukaan. Kesemuanya masih menggantung. MPR terlalu tergesagesa menutup ruang publik yang hendak mempertanyakan kembali esensi dari ketiganya dan publik dipaksa untuk menerima sesuatu yang diluar kehendak dan pada kenyataannya adalah berbeda. Namun keputusan itu tidak berangkat dari kenyataan yang ada dan disertai pemahaman dan penerimaan publik yang rasional. jika dikaitkan dengan kejelasan masing-masing hak dan kewenangan lembaga-lembaga negara serta relasi (check and balances).CatatanTerhadap Hasil Perubahan Catatan-catatan ini ditujukan untuk dapat melihat secara komprehensif dan menelaah lebih jauh beberapa kekurangan-kelemahan dari hasil amandement UUD 1945.

catatan dibawah ini dibuat sistematikanya berdasarkan tema/issue (bab perubahan) yang dilakukan. secara substansial rumusanrumusan yang dihasilkan tidak mengelaborasi secara rinci seluruh hak asasi manusia. ketentuan hak asasi warga negara ini harus diatur serta dalam mengelaborasi ketentuan mengenai hak asasi manusia perlu kiranya dibedakan antara hak yang diberikan kepada setiap orang dengan hak yang diberikan kepada warga negara. yakni sebagai berikut. Rumusan HAM ini dibuat di Sidang Tahunan MPR 2000 dalam Bab XA Pasal 28 Perubahan KeII UUD 1945 yang perumusannya terdiri dari 10 pasal (A – J). begitu pula hak pendidikan dipisahkan dengan hak memilih pendidikan dan pengajaran. Padahal masih banyak lagi sesungguhnya hak-hak yang hakikatnya diberikan kepada warga negara sebagai konsekuensi kalau UUD adalah hukum dasar yang substansinya antara lain mengenai bagaimana hubungan antara negara dan warga negara. Beberapa persoalan-kelemahan yang terdapat dalam rumusan HAM ini adalah: Rumusan-rumusan HAM ini. Bahkan dalam beberapa soal . hak sosial-budaya. hak sipil. misalnya dipisahkannya hak bekerja dengan hak memilih pekerjaan. karena sebelumnya dalam UUD 1945 dapat dikatakan “tidak ada” sama sekali materi atau bab tersendiri soal HAM. hak ekonomi. Dirumuskannya materi HAM dalam bab tersendiri diharapkan akan memberikan perlindungan dan jaminan bagi pelaksanaan HAM di Indonesia. bila dijabarkan keseluruhan.8 pemahaman. merupakan satu langkah maju. Hak Asasi Manusia (HAM) Dimuatnya materi soal hak asasi manusia dalam perubahan UUD 1945. 1. Penyusunan pasal-pasal HAM itu juga kurang sistematis dan tidak didasari pada pembidangan HAM dalam hak politik. Hal ini dapat dilihat. Malah perumusannya disatukan atau dicampurbaur antara satu soal dengan soal lain. Apabila ditinjau dari tujuan negara sebagaimana diatur dalam Pembukaan UUD maka ada hak-hak yang secara khusus hanya dimiliki dan diberikan oleh negara hanya untuk warganegara. Hal ini terlihat pula dalam contoh hak yang diberikan untuk warga negara dalam pasal 28 D (3) “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan “ hanya diatur dalam satu pasal. Oleh karena itu. sehingga terkesan bahwa Anggota MPR tidak dilandasi pemahaman yang mendalam tentang esensi HAM yang harus diatur dalam UUD.

hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”. Demikian pula dalam rumusan pasal lainnya seperti berhak untuk mendapat pendidikan (pasal 28 C ayat 1) berhak untuk memperoleh informasi (pasal 28 F). menimbulkan ketidakjelasan dan persoalan/kontroversi baru. seperti yang tertuang dalam pasal 23 ayat 1 DUHAM. sosial. Rumusan – rumusan HAM itu juga tidak sesuai dengan Deklarasi Umum HAM atau International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Rumusan ini mengundang pertanyaan apa yang dimaksud dengan “dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban itu”? Penggunaan kata „tradisional‟ lebih mengarah kepada pengertian yang sempit. masih rancu.9 perumusannya disebut disebut dua kali yakni. Misalnya soal penyiksaan dalam pasal 28 G (2) dan 28 I (1). budaya dan politik. hak untuk tidak diperbudak. hak untuk tidak disiksa. Seharusnya adalah kewajiban negara untuk melindungi apa-apa yang telah diakui sebagai hak asasi seseorang bukan malah menyembunyikannya. Berbeda esensinya dengan rumusan yang berbunyi “setiap orang berhak atas pekerjaan…”. hak beragama. Pasal 28I (3) yang berbunyi “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Dalam perumusan pasal 28 I (1) dimasukkan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut (prinsip non retroaktif) yang lengkapnya berbunyi “hak untuk hidup. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. demikian pula soal hak beragama (pasal 28E ayat 1 dan pasal 28I ayat 1) dan hak hidup (pasal 28A dan pasal 28I ayat (1). hal ini dapat dilihat dari rumusan-rumusan Rumusan pasal 28D (2) yang berbunyi “setiap orang berhak untuk bekerja…” rumusan semacam itu ada pemikiran berusaha untuk menghilangkan/ menyembunyikan tanggungjawab negara. Prinsip itu memang merupakan prinsip hukum pidana modern yang oleh sistem hukum . yang hanya berkaitan dengan identitas budaya tidak menerjemahkan secara lebih luas mencakup hak ekonomi. Adanya penegasan untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut karena belum ada aturan ketentuan sebelumnya atau dikenal dengan asas nonretroaktif telah mengadposi secara mentah Konvensi Hak Sipil dan Politik tanpa mengetahui prinsip dasarnya.

yang statusnya sama dengan undangundang. jika dikaitkan dengan ketentuan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana pula dicantumkan dalam UUD akan berakibat pada masalah pelanggaran hak asasi manusia. dengan memasukkan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun (non derogable) kedalam UUD. keterbatasan dana pemerintah yang selalu menjadi alasan untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar dapat diterima masyarakat. dan menjadi dilematis apabila diterapkan. yang dianggap sebagai kejahatan menurut hukum nasional maupun internasional.10 internasional ditempatkan sebagai hak yang bersifat sekunder ketika berhadapan dengan asas keadilan dan adanya kejahatan HAM berat. Maka dari itu perlu dipertimbangkan secara serius apakah asas non derogable tetap akan dipertahankan dalam UUD atau dihilangkan. Artinya. rumusan itu tidak menyerap seluruh aspirasi dalam DUHAM dan ICCPR yang mengakui adanya kewenangan untuk mengadili para pelanggaran HAM masa lalu. suatu hal yang kurang disadari oleh para anggota MPR . Karena sepertinya kita mengikat tangan sendiri. Rumusan itu telah memutlakkan prinsip non retroaktif dan tidak membuka peluang bagi digunakannya prinsip-prinsip hukum internasional seperti yang tertuang dalam pasal 11(2) DUHAM dan pasal 15 (1-2) ICCPR (Konvensi Hak Sipil dan Politik). Perumusan pasal ini juga dipandang sangat lemah. Berarti. Sementara di pihak lain. hal ini bisa berdampak serius mengingat bahwa penempatan pasal ini ada dalam konstitusi yang merupakan hukum tertinggi yang tidak mungkin dikalahkan peraturan perundangan dibawahnya. Oleh karena itu keberadaan pasal itu bukan untuk melindungi para pelanggar HAM melainkan untuk tempat persembunyian para pelaku pelanggaran HAM. Meskipun ada klausul lain dalam pasal 28 J (2) yang menyatakan wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. apalagi bila mengingat bahwa PBB sendiri hanya meletakkan non derogable rights dalam kovenan. sebagaimana dimaksud Konvensi Geneva 1949.

Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan adanya upaya pemberdayaan dan meningkatkan peran DPR. termasuk dalam hal ini ketika presiden memberikan grasi dan rehabilitasi harus dengan pertimbangan MA (pasal 14 ayat 1) dan dalam memberikan gelar serta tanda jasa yang harus diatur dengan undang-undang (pasal 15). Terhadap pemberian kewenangan/kekuasaan kepada DPR dapat terlihat dalam rumusanrumusan perubahan pertama UUD 1945. Budiman Sujatmiko karena harus menunggu proses dari DPR dan pembubaran Departemen Sosial dan Penerangan yang menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. Hal ini menjadi dilematis. satu sisi pemberian kekuasaan itu membuat DPR menjadi “kuat” dan disisi lain membuat presiden menjadi “lemah” tidak berdaya. Perubahan-perubahan itu menjadikan lembaga DPR “setara” dengan presiden sebagai balance sekaligus kontrol terhadap peranan presiden. Kontruksi semacam ini nampaknya juga tidak menguntungkan juga bagi jalannya demokrasi. Namun konsekwensinya yang terjadi kemudian adalah terhambatnya proses-proses pemulihan yang harus dilakukan oleh presiden karena kesemuanya harus melalui mekanisme atau prosedur DPR. presiden memberi amnesti dan abolisi (pasal 14 ayat 2). hal ini dapat dilihat dari tertundanya pembebasan Sdr. Sebagai contoh. Sedangkan dalam perubahan yang kedua kekuasaan DPR ini ditambah dengan memiliki hak interpelasi. telah menempatkan DPR pada posisi yang kurang proporsional karena tidak berangkat dari kebutuhan yang paling urgen yang sekarang dibutuhkan. harus dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Perubahan dengan semangat “parlementarian” itu. Sama seperti halnya perubahan pada pasal 7 yang telah membatasi masa . presiden membentuk departemen (pasal 17 ayat 4). hak angket dan hak menyatakan pendapat untuk menjalankan fungsinya (pasal 20A ayat 2). yang secara tidak langsung pula menandakan pembatasan kewenangan presiden yang besar. System Pemerintahan Yang akan dicermati soal sistem pemerintahan ini adalah rumusan perubahan yang berkenaan dengan pemberian kewenangan/kekuasaan kepada Legeslatif (DPR) dan pengurangan kewenangan presiden serta pembatasan masa jabatannya. Yakni dalam soal presiden mengangkat duta/konsul dan penerimaan/penempatan duta negara lain (pasal 13).11 2.

meskipun masa jabatan dan kekuasaan presiden tidak dibatasi seperti yang tertuang diatas. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah.12 jabatan presiden dan wapres hanya untuk dua periode. . Pemerintahan Daerah Secara umum perumusan yang terkandung dalam pasal 18 ini tidak mensistematisir apa yang sesungguhnya harus diatur dalam UUD perihal otonomi daerah. diyakini dalam masa transisi tidak akan terjadi lagi penyalahgunaan kekuasaan lagi oleh presiden. Karena pengertian “dibagi” ini tergantung dari interprestasi pemerintah pusat yang tidak didasari realitas dan aspirasi masing-masing daerah. presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR. Kebebasan berekspresi. sampai soal pengakuan terhadap masyarakat hukum adat (ps. Kekuasaan ini tidak hanya DPR secara institusional namun juga secara personal anggota DPR mempunyai hak mengajukan usul rancangan undang-undang (pasal 21). sedangkan dalam perubahan pasal 20 (1) DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang.” dapat menimbulkan kontradiksi. Penggunaan kata “dibagi” dalam perumusan “Negara kesatuan RI dibagi atas daerah provinsi-provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota…. persoalan kemudian adalah bias apa yang hendak ditekankan karena harus diatur (atribusi) lagi dalam undang-undang. pemilihan kepala daerah dan DPRD (ps 18 ayat 3&4). Berdasarkan perubahan pertama pasal 5 UUD 1945. Perubahan ini menempatkan DPR pada posisi sebagai pemegang kekuasaan pembuat undang-undang yang sebelumnya dipegang oleh presiden. Artinya. Perubahan lainnya yang terjadi adalah dalam soal pengajuan dan pengesahan undangundang. Seperti soal. Hal ini berkenaan dengan adanya beragam format pengaturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah/otonomi daerah. TAP MPR No. dan apa yang hendak dikonsepsikan dalam konstitusi ini perihal pemerintahan daerah (otonomi daerah). IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah dan UU No. berorganisasi dan pers yang telah dijamin dapat menjadi kontrol yang efektif kepada kekuasaan presiden. 18B ayat 2). Kalaupun itu mau diatur dalam UUD. yakni di Amandemen Kedua UUD 1945. Dan seharusnya digunakan kata terdiri yang lebih menunjukan prinsip independensi dan egalitarian dalam mewujudkan otonomi daerah. 3. pembagian wilayah (ps 18 ayat 1). Hampir semua obyek yang merupakan proporsi undang-undang diatur dalam pasal ini.

13 Dalam kasus lain. namun disisi lain pada kenyataan adanya tuntutan untuk membebaskan daerah (merdeka) seperti Aceh dan Papua. Konsepsi otonomi daerah dalam rumusan pasal 18 (5) yang berbunyi “ Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. 22 tahun 1999 yakni Otonomi yang luas. . serta kehendak untuk merubah bentuk negara kesatuan menjadi federalisme tidak bisa dinafikkan begitu saja.…” berbeda maknanya dengan apa yang sebelumnya dirumuskan dalam UU No. juga akan menimbulkan interpretasi yang beragam dalam pelaksanaannya. nyata dan bertanggungjawab. Dampak dari perbedaan ini disamping menimbulkan kotradiksi hukum. Sehingga penempatan konsep pemerintahan daerah ini dalam konstitusi masih manjadi kendala. meskipun prinsip pemerintahan daerah dengan otonomi daerah itu merupakan hakikat dalam konteks negara kesatuan. karena bisa jadi itu bukan merupakan rumusan yang final berdasarkan kehendak politis seluruh rakyat Indonesia.

keempat amandemen yang telah dilakukan masih meninggalkan tiga hal yang penting dilihat dari segi kedaulatan. Permasalahan pokok yang mengakibatkan terjadinya perdebatan adalah perumusan amandemen UUD 1945 yang multitafsir. Pertama. . tiadanya kemampuan rakyat pemilih menarik kedaulatan mereka. sehingga peraturan di bawah konstitusi dapat mengurangi arti kekhususan otonomi. 3. yakni lemahnya kemampuan legal drafting dalam merumuskan dan menyusun pasal-pasal. tidak tercantumnya otonomi khusus Aceh dan Papua maupun Yogyakarta.. MPR tidak memiliki konsep atau desain ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang hendak dicapai melalui serangkaian amandemen itu. Maka penyusun dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : 1. dan memungkinkan multitafsir 2.14 BAB III KESIMPULAN Melihat dengan adanya pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Perbedaan perdapat yang terjadi pula terkait dengan masalah konseptual. banyak pasal hasil amandemen yang tumpang tindih. kontradiktif. Ketiga. Akibatnya. yang tampak dari segi sistematika yang rancu maupun bahasa hukum yang dipergunakan. Kedua. tidak dicantumkan supremasi otoritas sipil terhadap militer.

dkk. 2005.html . Yogyakarta. Modul Globalisasi.com/20/07/08/kemiskinan-25. Kewarganegaraan Untuk SMA/ MA. Slamet dkk. Djoko.id/publik/p2kp/des/memahami99. 2006. 2007. Wawasan Kebangsaan.go. Cahaya Pustaka.geocities.html http://fosmake. Santoso.2006.15 DAFTAR PUSTAKA Nugroho.com/rainforest/canopy/8087/miskin.blogspot.html www. Banyumas. Gunarso Dwi. Cahaya Pustaka Santoso Slamet. CV. Pendidikan Kewarganegaraan.pu. The Indonesian Army Press Riyadi. www. Unsoed : Purwokerto. CV. Banyumas.