BAB I BUDAYA POLITIK DI INDONESIA

Apr 11, '08 2:42 PM untuk semuanya

A.

PENDAHULUAN
Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah). Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status sebagai anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya. Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspekaspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu. Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain. Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai -partai politik, perilaku aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah. Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan demikian, budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.

B.

PENGERTIAN BUDAYA POLITIK

1. Pengertian Umum Budaya Politik
Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Namun, setiap unsur masyarakat berbeda pula budaya politiknya, seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. Seperti juga di Indonesia, menurut Benedict R. O'G Anderson, kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa.

Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan tempat dan peranan mereka di dalam sistem politik. Berikut ini adalah beberapa pengertian budaya politik yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoritis sebagai berikut : a. Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.

b. Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau tertutup. c. Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai -nilai adalah prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang berhubungan dengan masalah tujuan.

d. Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong inisiatif kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status quo atau mendorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau politik). Dengan pengertian budaya politik di atas, nampaknya membawa kita pada suatu pemahaman konsep yang memadukan dua tingkat orientasi politik, yaitu sistem dan individu. Dengan orientasi yang bersifat individual ini, tidaklah berarti bahwa dalam memandang sistem politiknya kita menganggap masyarakat akan cenderung bergerak ke arah individualisme. Jauh dari anggapan yang demikian, pandangan ini melihat aspek individu dalam orientasi politik hanya sebagai pengakuan akan adanya fenomena dalam masyarakat secara keseluruhan tidak dapat melepaskan diri dari orientasi individual.

1. Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli
Terdapat banyak sarjana ilmu politik yang telah mengkaji tema budaya politik, sehingga terdapat variasi konsep tentang budaya politik yang kita ketahui. Namun bila diamati dan dikaji lebih jauh, tentang derajat perbedaan konsep tersebut tidaklah begitu besar, sehingga tetap dalam satu pemahaman dan rambu-rambu yang sama. Berikut ini merupakan pengertian dari beberapa ahli ilmu politik tentang budaya politik. a. Rusadi Sumintapura Budaya politik tidak lain adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.

bukan per-individu. Austin Ranney Budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama. nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi. Kedua : hal-hal yang diorientasikan dalam budaya politik adalah sistem politik. Sidney Verba Budaya politik adalah suatu sistem kepercayaan empirik. bahwa budaya politik merupakan refleksi perilaku warga negara secara massal yang memiliki peran besar bagi terciptanya sistem politik yang ideal. Bingham Powell. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas (dalam arti umum atau menurut para ahli). dan gabungan dari keduanya. simbol-simbol ekspresif dan nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi dimana tindakan politik dilakukan. Ball Budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri dari sikap. eksekutif dan sebagainya. atau mendeskripsikan masyarakat di suatu negara atau wilayah. Jr. fungsi-fungsi dari struktur politik. Ketiga . apakah dalam tataran struktur politik. : budaya politik merupakan deskripsi konseptual yang menggambarkan komponenkomponen budaya politik dalam tataran masif (dalam jumlah besar). juga kecenderungan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagianbagian tertentu dari populasi. Alan R. Misal orientasi politik terhadap lembaga politik terhadap lembaga legislatif. yaitu setiap komponenkomponen yang terdiri dari komponen-komponen struktur dan fungsi dalam sistem politik. Seseorang akan memiliki orientasi yang berbeda terhadap sistem politik. sebuah pola orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik. kepercayaan. c. maka dapat ditarik beberapa batasan konseptual tentang budaya politik sebagai berikut : Pertama : bahwa konsep budaya politik lebih mengedepankan aspek-aspek non-perilaku aktual berupa tindakan. dengan melihat fokus yang diorientasikan. artinya setiap berbicara budaya politik maka tidak akan lepas dari pembicaraan sistem politik. Almond dan G. Hal-hal yang diorientasikan dalam sistem politik. e. Almond memandang bahwa budaya politik adalah dimensi psikologis dari sebuah sistem politik yang juga memiliki peranan penting berjalannya sebuah sistem politik. keyakinan. Budaya politik berisikan sikap.b. Hal ini berkaitan dengan pemahaman. tetapi lebih menekankan pada berbagai perilaku nonaktual seperti orientasi. nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan. Hal inilah yang menyebabkan Gabriel A. Gabriel A. sikap. emosi dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan isu-isu politik. d.

yaitu orientasi kognitif (cognitive orientations) dan orientasi afektif (affective oreintatations). Almond dan G. maka yang dicari adalah kambing hitamnya. Almond dan Verba dengan lebih komprehensif mengacu pada apa yang dirumuskan Parsons dan Shils tentang klasifikasi tipe-tipe orientasi. Orientasi kognitif Orientasi afektif Orientasi evaluatif : yaitu berupa pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik. Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. tetapi bukan curiga terhadap orang. Bila terjadi kriris. TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK 1. menuntut kerja sama yang luas untuk memperpadukan modal dan keterampilan. Budaya Politik Militan Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik. Sementara itu. Sikap netral atau kritis terhadap ide orang. peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya. dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi. Sebagai suatu lingkungan psikologis. bahwa budaya politik mengandung tiga komponen obyek politik sebagai berikut. Jr. para aktor dan penampilannya. adalah karena budaya politik menjadi satu lingkungan psikologis. Maksud dari pernyataan ini menurut Ranney. bagi terselenggaranya konflik-konflik politik (dinamika politik) dan terjadinya proses pembuatan kebijakan politik. C. peranannya. : yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan. terdapat dua komponen utama dari budaya politik. Budaya Politik Toleransi Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai. tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. maka komponen-komponen berisikan unsur-unsur psikis dalam diri masyarakat yang terkategori menjadi beberapa unsur.. Bingham Powell. b. . : yaitu perasaan terhadap sistem politik. Komponen-Komponen Budaya Politik Seperti dikatakan oleh Gabriel A. bukan disebabkan oleh peraturan yang salah.1. a. Menurut Ranney. Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap ”militan” atau sifat ”tolerasi”. bahwa budaya politik merupakan dimensi psikologis dalam suatu sistem politik. berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama.

Maka. b. Berdasarkan Orientasi Politiknya Realitas yang ditemukan dalam budaya politik. Budaya politik kaula (subyek political culture). tradisi selalu dipertahankan dengan segala kebaikan dan keburukan.Jika pernyataan umum dari pimpinan masyarakat bernada sangat militan. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang. Budaya Politik terbagi atas : a. Budaya politik parokial (parochial political culture). Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan. 1. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak memungkinkan pertumbuhan unsur baru. yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif. Perubahan dianggap sebagai penyimpangan. maka setiap sistem politik akan memiliki budaya politik yang berbeda. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan. Tipe absolut dari budaya politik sering menganggap perubahan sebagai suatu yang membahayakan. Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat. Tiap perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya yang harus dikendalikan. maka hal itu dapat menciptakan ketegangan dan menumbuhkan konflik. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik. . b. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut : a. Kesemuanya itu menutup jalan bagi pertumbuhan kerja sama. malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna. kritis terhadap diri sendiri. Ia dapat melepaskan ikatan tradisi. dan bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan masa kini. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. bukan kebaikan. dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi. Pola pikir demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). Pernyataan dengan jiwa tolerasi hampir selalu mengundang kerja sama. yaitu tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. Tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan. Budaya politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi. ternyata memiliki beberapa variasi. jarang bersifat kritis terhadap tradisi.

Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah c. output. dan pribadi sebagai partisipan . No Budaya Politik 1. b. 3. Budaya politik partisipan (participant political culture). tidak menutup kemungkinan bahwa terbentuknya budaya politik merupakan gabungan dari ketiga klasifikasi tersebut di atas. a. Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem politik. Hubungannya terhadap sistem plitik secara umum. obyek-obyek input. Tentang klasifikasi budaya politik di dalam masyarakat lebih lanjut adalah sebagai berikut. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat. Parokial Uraian / Keterangan a. Parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi politik berada pada jenjang sangat minim. Partisipan Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif. d. dan terhadap pribadi sebagai partisipan yang aktif mendekati nol.c. b. 2. Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak terdapat struktur input yang terdiferensiansikan. obyek-obyek output. e. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek umum. administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif. d. tetapi frekuensi orientasi terhadap obyek-obyek input secara khusus. c. a. obyek-obyek input. yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi. f. Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu. dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol. dan terhadap output. e. Frekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek umum. Dalam kehidupan masyarakat. Subyek/Kaula Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif. Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik.

tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi masyarakat secara politik. Mereka memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam beberapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompok-kelompok protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan yang tidak fair. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki pemahaman yang sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian terhadap sistem politik. Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif (aspek input dan output sistem politik) c. Mereka akan merasa tidak nyaman bila membicarakan masalah-masalah politik. Kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. Oleh karena itu dalam konteks politik.aktif mendekati satu. karena adanya saling percaya (trust) antar warga negara. Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya politikpartisipan. tetapi tidak bangga terhadap sistem politik negaranya dan perasaan komitmen emosionalnya kecil terhadap negara. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik. Masyarakat berperan sebagai aktivis. b. Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh suburnya demokrasi. Oleh karena itu mereka merasa perlu untuk terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya keterlibatan dalam politik. yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi politik. mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada perasaan lokalitas. Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah. karena masing-masing warga negaranya tidak aktif. tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih pasif. karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang ditunjukan oleh warga negara. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan warga negara dengan pemerintah. Perasaan berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan kontak dengan pejabat lokal. yang didalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa mereka adalah warga negara dari suatu negara. Selain itu warga negara berperan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat secara sukarela. Demokrasi sulit untuk berkembang dalam masyarakat dengan budaya politik subyek. agar terciptanya mekanisme kontrol terhadap berjalannya sistem politik. Selain itu mereka juga memiliki kompetensi politik dan keberdayaan politik yang rendah. Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politik d. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki kemauan untuk mendiskusikan hal tersebut. Mereka tidak memiliki perhatian . Mereka tetap mengikuti berita-berita politik. dan tingkat efficacy atau keberdayaan. sehingga sangat sukar untuk mengharapkan artisipasi politik yang tinggi.

Melainkan terdapat variasi campuran di antara ketiga tipetipe tersebut. tetapi sebagian besar jumlah rakyat hanya menjadi subyek yang pasif. Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul. yaitu : a. ketika berhadapan dengan institusi-institusi politik. seperti di Afrika. dapat dibagi dalam tiga model kebudayaan politik sebagai berikut : Demokratik Industrial Model-Model Kebudayaan Politik Sistem Otoriter Di sini jumlah industrial dan modernis sebagian kecil. Budaya politik subyek-parokial (the parochial. Di negara berkembang seperti Indonesia. menuntut konformitas atau mendorong aktivitas. Budaya politik ini bisa dtemukan dalam masyarakat suku-suku di negara-negara belum maju. dan Amerika Latin. Dari sudut penguasa. Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture) Berdasarkan penggolongan atau bentuk-bentuk budaya politik di atas. Demokratis Pra Industrial Dalam sistem ini cukup banyak aktivis politik untuk menjamin adanya kompetisi partai-partai politik dan kehadiran pemberian suara yang besar. meskipun terdapat organisasi politik dan partisipan politik seperti mahasiswa. Modifikasi .subject culture) b.terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik. Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik. ketiganya menurut Almond dan Verba tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik. dan jarang membicarakan masalah-masalah politik. konformitas menyangkut tuntutan atau harapan akan dukungan dari rakyat. Dalam sistem ini hanya terdapat sedikit sekali partisipan dan sedikit pula keter-libatannya dalam peme-rintahan Pola kepemimpinan sebagai bagian dari budaya politik. Oleh karena itu terdapat kesulitan untuk mencoba membangun demokrasi dalam budaya politik parokial. Asia. pariokal atau subyek. kaum intelektual dengan tindakan persuasif menentang sistem yang ada. pemerintah diharapkan makin besar peranannya dalam pembangunan di segala bidang. Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture) c. pengetahuannya sedikit tentang sistem politik. hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan kewarganegaraan baru. Namun dalam kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki budaya politik murni partisipan.

Jadi. Pengertian Umum Sosialisasi Politik. Akan tetapi. melalui mana individu menerima rangsangan-rangsangan politik. apabila legitimasi itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya. dan sikap-sikap yang diperoleh seseorang itu membentuk satu layar persepsi. sangat ditentukan oleh lingkungan sosial. ekonomi. Budaya tersebut merupakan usaha percampuran politik dengan ciri-ciri keagamaan yang dominan dalam masyarakat tradisional di negara yang baru berkembang. D. maka perubahan mungkin terjadi. juga ditentukan oleh interaksi pengalaman-pengalaman serta kepribadian seseorang. nilai-nilai. Pengetahuan. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi. Apabila tidak ada legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya. diktator dan sebagainya. Sosialsiasi politik. apakah akan menuju kepada stagnasi atau perubahan. merupakan proses yang berlangsung lama dan rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi di antara kepribadian individu dengan pengalaman-pengalaman politik yang relevan yang memberi bentuk terhadap tingkah laku politiknya. otoriter. Selain itu. Tingkah laku politik seseorang berkembang secara berangsur-angsur. Budaya politik para elite berdasarkan budaya politik agama tersebut dapat mendorong atau menghambat pembangunan karena massa rakyat harus menyesuaikan diri pada kebijaksanaan para elite politik. maka dia menuntut rakyat menunjukkan kesetiaannya yang tinggi. SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK 1. merupakan salah satu dari fungsi-fungsi input sistem politik yang berlaku di negara-negara manapun juga baik yang menganut sistem politik demokratis. yaitu politik dikembangkan berdasarkan ciri-ciri agama yang cenderung mengatur secara ketat setiap anggota masyarakat. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya. Akan tetapi. apalagi kritik. Keterlaksanaan sosialisasi politik. ada pula elite yang menyadari inisiatif rakyat yang menentukan tingkat pembangunan. dan kebudayaan di mana seseorang/individu berada. yaitu kondisi politik yang terlalu sentralistis dengan peranan birokrasi atau militer yang terlalu kuat. nilai-nilai. biasanya mempunyai budaya politik bersifat agama politik. maka elite itu sedang mengembangkan pola kepemimpinan inisiatif rakyat dengan tidak mengekang kebebasan. merupakan proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat. David Apter memberi gambaran tentang kondisi politik yang menimbulkan suatu agama politik di suatu masyarakat. tergantung pada keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. Jika pemimpin itu merasa dirinya penting. Akan tetapi. sosialisasi politik adalah proses dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan. dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. bukan tak mungkin yang dihasilkan stagnasi . sekalipun hal ini mungkin bisa terjadi. Sosialisasi politik.atau kompromi tidak diharapkan. Suatu pemerintahan yang kuat dengan disertai kepasifan yang kuat dari rakyat.

b. David F. yang dilahirkan dengan banyak sekali jajaran potensi tingkah laku. dengan siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki beberapa jenis relasi-relasi umum. meskipun diantara para ahli politik terdapat perbedaan.N. c. Aberle. f.1. nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua. Eisentadt. sejauh peranan-peranan baru masih harus terus dipelajari. dituntut untuk mengembangkan tingkah laku aktualnya yang dibatasi di dalam satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya. Denis Kavanagh Sosialisasi politik merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari dan menumbuhkan pandangannya tentang politik. dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya. Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai suatu pewarisan pengetahuan. e. Berikut ini akan dikemukana beberapa pengertian sosialisasi politik menurut para ahli. Sama halnya dengan pengertian-pengertian tentang budaya politik. Irvin L. a. d. Almond Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk. guru. motif-motif dan sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan perananperanan yang sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus berkelanjutan) sepanjang kehidupan manusia normal. S. sistem politik dan seterusnya. Gabriel A. dalam “Culture and Socialization” Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial. Child Sosialisasi politik adalah segenap proses dengan mana individu. Pengertian Menurut Para ahli Berbagai pengertian atau batasan mengenai sosialisasi politik telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan terkemuka. dan sarana-sarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa. Richard E. Oleh Mochtar Mas’oed disebut dengan transmisi kebudayaan. yang menanamkan pada individu-individu keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu pengetahuan). atau aspek-aspek tingkah laku. dalam From Generation to Ganeration Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia lain. namun pada umumnya tetap pada prinsip-prinsip dan koridor yang sama. . Dawson dkk.

sebagai pemeliharaan sistem. kelompok pergaulan. ada dua masalah yang berasosiasi dengan definisi-definisi tersebut di atas.adalah fundamental bagi proses sosialisasi dan bagi proses perubahan. Kedua : sosialisasi politik dapat berwujud transmisi yang berupa pengajaran secara langsung dengan melibatkan komunikasi informasi. a. sekolah. lebih-lebih lagi pengalaman dan kepribadian kelompokkelompok individu. Dari sekian banyak pendapat di atas. dengan siapa yang diajar. atau istilah kaum fungsionalis. sebagai berikut. b. berkenaan pengetahuan atau informasi. Proses mana berlangsung dalam keluarga. menyediakan satu teori yang memungkin pencantuman dua variabel penting. . dan bersamaan dengan itu lahir pulalah kebudayaan politik baru. d. Pertama : seluas manakah sosialisasi itu merupakan proses pelestarian yang sistematis? Hal ini penting sekali untuk menguji hubungan antara sosialisasi dan perubahan sosial. dan tidak membatasi diri dengan segala sesuatu yang telah dipelajari. Dari pandangan Alfian. dan lebih khusus lagi. memberikan indikasi umum hasil belajar tingkah laku individu dan kelompok dalam batas-batas yang luas. pengalaman dan kepribadian individu. motif-motif (nilai-nilai) dan sikap-sikap. Sosialisasi secara fundamental merupakan proses hasil belajar. Dari sekian banyak definisi ini nampak mempunyai banyak kesamaan dalam mengetengah-kan beberapa segi penting sosialisasi politik. media massa. siapa yang mengajar dan hasil-hasil apa yang diperoleh. belajar dari pengalaman/ pola-pola aksi. tetapi sosialisasi berlangsung sepanjang hidup.g. yakni: pertama : sosialisasi politik hendaknya dilihat sebagai suatu proses yang berjalan terusmenerus selama peserta itu hidup. c. menurut Michael Rush & Phillip Althoff. kelompok kerja. sosialisasi itu tidak perlu dibatasi pada usia anak-anak dan remaja saja (walaupun periode ini paling penting). Alfian Mengartikan pendidikan politik sebagai usaha sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat. dan baik secara implisit maupun eksplisit memberikan penjelasan mengenai tingkah laku sosial. Hasil dari penghayatan itu akan melahirkan sikap dan perilaku politik baru yang mendukung sistem politik yang ideal tersebut. Dalam kenyataan tidak ada alasan sama sekali untuk menyatakan mengapa suatu teori mengenai sosialisasi politik itu tidak mampu memperhitungkan: ada atau tidaknya perubahan sistematik dan perubahan sosial. sehingga mereka mengalami dan menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. Dua variabel penting adalah pengalaman dan kepribadian dan kemudian akan dibuktikan bahwa kedua-duanya. nilai-nilai atau perasaanperasaan mengenai politik secara tegas. atau kontak politik langsung. bahwa sosialisasi merupakan prakondisi yang diperlukan bagi aktivitas sosial. ada dua hal yang perlu diperhatikan.

. atau oleh yang melakukan tindakan yang menyangkut pengalaman tersebut. yang diakses yang dipelajari dan juga bahwa berupa instruksi. akan tetapi apakah hal ini menuju pada stagnasi atau pada perubahan. Kiranya kita dapat memahami bahwa sosialisasi politik adalah proses. merupakan hasil eksperimen. Tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan. seperti pemberian suara. akan tetapi apabila legitimasi itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya.Kedua : adalah berkaitan dengan keluasan. Menurut Easton dan Hess. namun secar atotal adalah tidak realistis untuk berasumsi bahwa makna setiap pengalaman harus diakui oleh pelakunya. Proses Sosialisasi Politik Perkembangan sosiologi politik diawali pada masa kanak-kanak atau remaja. karena semua itu berlangsung secara tidak sadar. tertutup. Anak muda itu mempunyai kepercayaan pada keindahan negerinva. sistem-sistem pendidikan kemasyarakatan. tidak bisa diakui dan tidak bisa dkenali. negara bisa secara berhati-hati menyebarkan ideologi-ideologi resminya. seperti "keterikatan kepada sekolah-sekolah mereka". tidak perlu disangsikan. baik yang terbuka maupun yang tertutup. dan bendera nasional. orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya beberapa cara tingkah laku sosial tertentu. bukan tidakmungkin terjadi stagnasi. presiden. Apabila tidak adanya legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya. demokrasi. seperti agen polisi. sistematik dan disengaja. “Pendidikan politik dimulai dari keminkamtaan meminati tradisi dalam bentuk pengamatan dan peniruan terhadap tingkah laku orang tua kita. Manifestasi ini diikuti oleh simbol-simbol otoritas umum. Istilah-istilah seperti “menanamkan” dan sampai batas kecil tertentu “menuntun pada perkembangan” kedua-duanya cenderung mengaburkan segi penting dari sosialisasi. Peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. nilai-nilai dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. Instruksi merupakan bagian penting dari sosialisasi. bahwa satu bagian besar bahkan sebagian terbesar sosialisasi. Maka Michael Oakeshott menyatakan. yang mencakup tingkah laku. kebebasan sipil. tergantung pada keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. secepat kesadaran kita terhadap masa sekarang.” Jadi. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya. dan sedikit sekali atau bahkan tidak ada satupun di dunia ini yang tampak di depan mat akita tanpa memberikan kontribusi terhadapnya. maka perubahan mungkin saja terjadi. belajar politik dimulai pada usia tiga tahun dan menjadi mantap pada usia tujuh tahun. bahwa mereka berdiam di suatu daerah tertentu. dapat memasukkan sejumlah ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaraan. Kita menyadari akan masa lampau dan masa yang akan datang. dan peranan warga negara dalam sistem politik. kebaikan serta kebersihan rakyatnya. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi. sekalipun hal ini mungkin terjadi. Hasil riset David Easton dan Robert Hess mengemukakan bahwa di Amerika Serikat. walaupun kenyataan bahwa sosialisasi itu sebagian bersifat terbuka. 2. dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan. anak-anak mempunyai gambaran yang sama mengenai ayahnya dan presiden selama bertahun- . Akan tetapi tidak bisa terlalu ditekankan. Pada usia sembilan dan sepuluh tahun timbul kesadaran akan konsep yang lebih abstrak.

Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang ekternal. e. menjaga keamanan dan ketentraman. yaitu sebagai berikut. c. bergaul dengan balk. d. mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. 2) Sekolah Di sekolah melalui pelajaran civics education (pendidikan kewarganegaraan). seperti orang tua anak. ketekunan. Suatu penelitian secara khusus telah dilakukan guna menyelidiki nilai-nilai pengasuhan anak yang dilakukan oleh berbagai generasi orang tua di Rusia. siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. b. Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Pengenalan otoritas melalui individu tertentu. sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak. Partai politik harus mampu men- . ketulusan. Nilai-nilai itu adalah sebagai berikut : a. Dengan demikian. Prestasi. Pribadi. menjauhkan diri dari kericuhan. Keduanya dianggap sebagai tokoh kekuasaan. seperti kongres (parlemen). Penyesuaian diri. Intelektual. f. siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilainilai politik yang benar dari sudut pandang akademis. nilai-nilai. keadilan. antara lain : 1) Keluarga (family) Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. kejujuran. d. sering terjadi “obrolan” politik ringan tentang segala hal. pencapaian/perolehan. Politik. belajar dan pengetahuan sebagai tujuan. sikap-sikap. Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal. terutama agama. Tradisi.tahun di sekolah awal. Easton dan Dennis mengutarakan ada 4 (empat) tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi ini. Ini berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpatisannya secara periodik maupun pada saat kampanye. dan kemurahan hati. Adapun sarana alat yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik. mahkamah agung. c. dan pemungutan suara (pemilu). tetapi juga termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan dan tradisi pada umumnya b. presiden dan polisi. dan kepercayaan berkaitan dengan pemerintahan. a. Di mulai dari keluarga inilah antara orang tua dengan anak. yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah. 3) Partai Politik Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran sebagai sosialisasi politik. ganjaran-ganjaran material mobilitas sosial.

si Ibu dapat memainkan satu peranan penting pada saat sosialisasi dini dari anak. Contoh yang sama dapat juga dilihat pada negara Ghana. Namun. Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui kapasitas mereka untuk "memodernisasi" keluarga tradisonal lewat industrialisasi dan pendidikan. proses sosialisasi terdapat banyak perbedaan. Menurut Robert Le Vine. agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa dapat memenangkan pemilu. Sosialisasi Politik dalam Masyarakat Berkembang Masalah sentral sosiologi politik dalam masyarakat berkembang ialah menyangkut perubahan. suku Neuer pada dasarnya bersifat egaliter (percaya semua orang sama derajatnya) dan pasif. b. Khusus pada masyarakat primitif. yang selalu dianggap sebagai satu kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional. Mereka mempunyai dasar penghidupan yang sama dan ditandai ciri karakteristik oleh permusuhan berdarah. Sosialisasi Politik dan Perubahan Sifat sosialisasi politik yang bervariasi menurut waktu serta yang selalu menyesuaikan dengan lingkungan yang memberinya kontribusi. 5. c. terdapat 3 (tiga) faktor masalah penting dalam sosialisasi politik pada masyarakat berkembang. Menurut Robert Le Vine yang telah menyelidiki sosialisasi di kalangan dua suku bangsa di Kenya Barat Daya: kedua suku bangsa tersebut merupakan kelompok-kelompok yang tidak tersentralisasi dan sifatnya patriarkis. yaitu sebagai berikut : a. Adalah mungkin pengaruh urbanisasi. Mustapha Kemal (Kemal Ataturk) berusaha untuk memodernisasi Turki. tetapi juga melalui proses-proses sosialisasi. semakin besar derajat perubahan . berkaitan dengan sifat dari pemerintahan dan derajat serta sifat dari perubahan. sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nilai tradisonal. sedangkan suku Gusii bersifat otoriter dan agresif.ciptakan “image” memperjuangkan kepentingan umum. Paling sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai ke dalam daerah-daerah perkotaan. Akan tetapi. tidak hanya secara material. semakin terperinci agensi-agensi utama dari sosialisasi politik Sebaliknya. Anak dari masing-masing suku didorong dalam menghayati tradisi mereka masing-masing. di mana satu usaha yang sistematis telah dilakukan untuk mempengaruhi maupun untuk mempermudah mencocokkan perubahan yang berlangsung sesudah Perang Dunia Pertama. khususnya dengan pembentukan komunitaskomunitas kesukuan dan etnis di daerahdaerah ini. Hal ini dilukiskan dengan jelas oleh contoh negara Turki. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai -nilai tradisional antara jenis-jenis kelamin. Semakin stabil pemerintahan. 4.

oleh suatu tingkatan partisipasi politik yang cukup tinggi dan oleh satu perasaan yang meluas di kalangan para responden bahwa mereka dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa sampai pada satu taraf tertentu. kebanyakan orang Amerika menerima lembaga presiden. sejauh mana suatu sistem politik dapat diterima oleh masyarakat. para respondennya merasa mampu untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa tersebut. 6. Semakin totaliter sifat perubahan politik. Suatu faktor kunci di dalam konsep kebudayaan politik adalah legitimasi. Dalam suatu sistem politik negara. Jerman. terlepas dari bagaimanapun batasannya pada masyarakat yang berbeda-beda. Legitimasi itu dapat meluas sampai pada banyak aspek dari sistem politik atau dapat dibatasi dalam beberapa aspek. Menurut G. Almond. Amerika Serikat. A. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa masingmasing kelima negara yang ditelitinya. sedangkan orang Inggris memperlihatkan rasa hormat yang lebih besar terhadap pemerintahan mereka. Almond dan Verba mengemukakan hasil survei silang nasional (cross-national) mengenai kebudayaan politik. Inggris. kongres. Sedangkan di Meksiko merupakan bentuk campuran antara penerimaan terhadap teori politik dan keterasingan dari substansinya. pola-pola sosialisasi politik juga mengalami perubahan seperti juga berubahnya struktur dan kultur politik. akan semakin tersebarlah agensi-agensi utama dari sosialisasi politik. Tidak salah jika dikemukakan bahwa segala aktivitas komunikasi politik berfungsi pula sebagai suatu proses sosialisasi bagi anggota masyarakat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam aktivitas komunikasi politik tersebut. Di dalam realitas kehidupan masyarakat. semakin kecil jumlah agensi-agensi utama dari sosialisasi politik itu. Seperti di Amerika Serikat. Italia. menurut Hyman merupakan suatu proses belajar yang kontinyu yang melibatkan baik belajar secara emosional (emotional learning) maupun indoktrinasi politik yang manifes (nyata) dan dimediai (sarana komunikasi) oleh segala partisipasi dan pengalaman si individu yang menjalaninya. Sosialisasi Politik dan Komunikasi Politik Sosialisasi politik. Amerika dan Inggris dicirikan oleh penerimaan secara umum terhadap sistem politik. Meskipun demikian. fungsi sosialisasi menunjukkan bahwa semua sistem politik cenderung berusaha mengekalkan kultur dan struktur mereka sepanjang waktu.dalam satu pemerintahan non totaliter. Hal ini dilakukan terutama melalui cara pengaruh struktur-struktur primer dan sekunder yang dilalaui oleh anggota muda masyarakat dalam proses pendewasaan mereka. Perubahan-perubahan tersebut menyangkut pula soal perbedaan tingkat keterlibatan dan derajat perubahan dalam sub sistem masyarakat yang beraneka ragam. dan Meksiko. dan MA. Tekanan lebih besar diletakkan orang-orang Amerika pada masalah partisipasi. Rumusan ini menunjukkan betapa besar peranan komunikasi politik dalam proses sosialisasi politik di tengah warga suatu masyarakat. tetapi penggunaan hak-hak dari lembaga tersebut selalu mendapat kritik dari masyarakat. kata “terutama” sengaja digunakan karena dalam sosialisasi politik – seperti halnya belajar dalam pengertian yang umum – tidak berhenti pada titik pendewasaan itu sendiri. Dalam The Civic Culture. . mempunyai kebudayaan politik tersendiri. Kebudayaan politik dari Jerman ditandai oleh satu derajat sikap yang tidak terpengaruh oleh sistem dan sikap yang lebih pasif terhadap partisipasinya.

. Hasil akhir proses ini adalah seperangkat sikap mental. serta perasaan mengenai masukan tentang tuntutan dan claim terhadap sistem. kognisi (pengetahuan). standar nilai-nilai dan perasaan-perasaan terhadap sistem politik dan aneka perannya serta peran yang berlaku. dan output otorotatif-nya.Pada sisi lain. sosialisasi politik merupakan proses induksi ke dalam suatu kultur politik yang dimiliki oleh sistem politik yang dimaksud. Hasil proses tersebut juga mencakup pengetahuan tentang nilai-nilai yang mempengaruhi. Berikut adalah bagan terbentuknya sikap politik (political attitude) melalui proses sosialisasi politik.

Jerman dan sebagainya arus informasi relatif homogen. Sosialisasi Politik Laten Dalam bentuk transmisi informasi. Inggris. partai-partai politik dan institusi pemerintah semuanya dapat berperan dalam sosialisasi politik. Almond. komuniti. input dan output sistem politik. Sosialisasi Politik Manifes Berlangsung dalam bentuk transmisi informasi. surat kabar tertentu yang ditujukan pada kelompok kelas atau politik tertentu. India. relasi-relasi dan partisipasi dalam kehidupan kaum dewasa melanjutkan proses tersebut untuk seterusnya. Pada sebagian besar negara berkembang. Dalam suatu bangsa yang majemuk dan besar seperti Indonesia. Masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap para elite politik dan sebaliknya kaum elite-pun dapat segera mengetahui tuntutan masyarakat dan konsekuensi dari segala macam tindakan pemerintah. institusi seperti kelompok sebaya. Berbeda dengan negara yang sudah maju seperti Amerika. Kemudian perkumpulanperkumpulan. Cina dan sebagainya.Dalam proses sosialisasi politik kaitannya dengan fungsi komunikasi politik. perkumpulan-perkumpulan sukarela. Oleh karena itu. media komunikasi. pengaruh strukturstruktur sosial tradisional dalam menterjemahkan informasi yang menjangkau wilayah tersebut amatlah besar. berhubungan dengan struktur-struktur yang terlibat dalam sosialisasi serta gaya sosialisasi itu sendiri. . Para elite politik pemerintahan mungkin mempunyai sumbersumber informasi khusus melalui badan-badan birokrasi tertentu. nilai-nilai atau perasaan terhadap peran. kelompok kerja. sekolah. pengaruh media masa (radio. semua kelompok masyarakat mempunyai akses ke suatu arus informasi dan media massa yang relatif homogen dan otonom sehingga hambatan-hambatan bahasa atau orientasi kultural sangat minim. input dan output mengenai sistem sosial yang lain seperti keluarga yang mempengaruhi sikap terhadap peran. nilai-nilai atau perasaan terhadap peran. mengatakan bahwa sosialisasi politik bisa bersifat nyata (manifes) dan bisa pula tidak nyata (laten). Heterogenitas informasi ini memperkuat perbedaan orientasi dan sikap (attitude) diantara kelompok-kelompok yang mengalami sosialisasi primer yang amat berbeda dari kelompok ataupun teman sebaya. Pada sistem politik masyarakat modern. input dan output sistem politik yang analog (adanya persamaan). Dengan demikian. informasi yang diterima oleh aneka unsur masyarakat akan berlainan karena faktor geografis baik yang di kota maupun di desa. surat kabar dan televisi) di pedesaan sangat terbatas.

dikenal adanya konsep partisipasi politik untuk memberi gambaran apa dan bagaimana tentang partisipasi politik. Partisipasi Politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. Pengertian Partisipasi Politik Pembahasan tentang budaya politik tidak terlepas dari partisipasi politik warga negara. e. 2. karena keberadaan struktur-struktur politik di dalam masyarakat. terdapat lima penyebab timbulnya gerakan ke arah partisipasi lebih luas dalam proses politik. Hal ini merupakan satu indikator adanya keterlibatan rakyat dalam kehidupan politik (partisipan). Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial. bukan sekedar pada tataran formulasi bagi keputusan-keputusan yang dikeluarkan pemerintah atau berupa kebijakan politik. maka yang dicari adalah dukungan rakyat. Ide demokratisasi partisipasi telah menyebar ke bangsa-bangsa baru sebelum mereka mengembangkan modernisasi dan industrialisasi yang cukup matang. Kajian-kajian partisipasi politik terutama banyak dilakukan di . Konsep Partisipasi Politik Dalam ilmu politik. Pengaruh kaum intelektual dan kemunikasi masa modern. yaitu sebagai berikut : a. jika timbul konflik antar elite. Dalam perkembangannya. Masalah siapa yang berhak berpartisipasi dan pembuatan keputusan politik menjadi penting dan mengakibatkan perubahan dalam pola partisipasi politik. Bagi sebagian kalangan. Modernisasi dalam segala bidang kehidupan yang menyebabkan masyarakat makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan politik. b. c. seperti memilih pimpinan negara atau upaya-upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah. tetapi terlibat juga dalam implementasinya yaitu ikut mengawasi dan mengevaluasi implementasi kebijakan tersebut. PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN 1. ekonomi. dan kebudayaan. Konflik antar kelompok pemimpin politik. Menurut Myron Weiner. Perubahan-perubahan struktur kelas sosial. d.E. kelompok kepentingan. terutama saat mengemukanya tradisi pendekatan behavioral (perilaku) dan Post Behavioral (pasca tingkah laku). Terjadi perjuangan kelas menentang melawan kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan membantu memperluas hak pilih rakyat. seperti partai politik. Partisipasi politik pada dasarnya merupakan bagian dari budaya politik. sebenarnya keterlibatan rakyat dalam proses politik. Meluasnya ruang lingkup aktivitas pemerintah sering merangsang timbulnya tuntutantuntutan yang terorganisasi akan kesempatan untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan politik. kelompok penekan dan media masa yang kritis dan aktif. masalah partisipasi politik menjadi begitu penting.

Beberapa sarjana yang secara khusus berkecimpung dalam ilmu politik. Ramlan Partisipasi politik ialah keikutsertaan  Keikutsertaan warga negara Surbakti warga negara biasa dalam menentukan dalam pembuatan dan segala keputusan menyangkut atau pelaksanaan kebijakan publik mempengaruhi hidupnya. yang disampaikan dalam tabel berikut : Sarjana Kevin R. merumuskan beberapa konsep partisipasi politik.. Hardwick Konsep Indikator Partisipasi politik memberi perhatian pada  Terdapat interaksi antara cara-cara warga negara berinteraksi warga negara dengan dengan pemerintah. Michael Partisipasi politik adalah keterlibatan  Berwujud keterlibatan Rush dan individu sampai pada bermacam-macam individu dalam sistem politik Philip tingkatan di dalam sistem politik.negara-negara berkembang. Dalam ilmu politik sebenarnya apa yang dimaksud dengan konsep partisipasi politik ? siapa saja yang terlibat ? apa implikasinya ? bagaimana bentuk praktik-praktiknya partisipasi politik ? apakah ada tingkatan-tingkatan dalam partisipasi politik ? beberapa pertanyaan ini merupakan hal-hal mendasar yang harus dijawab untuk mendapat kejelasan tentang konsep partisipasi politik.  Memiliki tingkatan-tingkatan Althoft partisipasi Huntington Partisipasi politik .. publik. Hal pertama yang harus dijawab berkenaan dengan kejelasan konsep partisipasi politik. Terdapat usaha warga negara pejabat publik agar mampu mewujudkan untuk mempengaruhi pejabat kepentingan-kepentingan tersebut. Miriam Partisipasi politik adalah kegiatan  Berupa kegiatan individu Budiardjo seseorang atau sekelompok orang untuk atau kelompok ikut serta secara aktif dalam kehidupan  Bertujuan ikut aktif dalam politik. mempengaruh kebijakan publik  Dilakukan oleh warga negara preman (biasa) . kegiatan warga negara  Berupa kegiatan bukan dan Nelson preman (private citizen) yang bertujuan sikap-sikap dan kepercayaan mempengaruhi pengambilan kebijakan  Memiliki tujuan oleh pemerintah. yang pada umumnya kondisi partisipasi politiknya masih dalam tahap pertumbuhan. memilih negara.  Dilakukan oleh warga negara biasa Partisipasi politik berarti keikutsertaan warga negara biasa (yang tidak mempunyai kewenangan) dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. warga negara pemerintah berupaya menyampaikan kepentingankepentingan mereka terhadap pejabat. publik. dengan jalan memilih pimpinan ke-hidupan politik. dan secara langsung atau tidak pim-pinan publik atau langsung mempengaruhi kebijakan mempenga-ruhi kebijakan pemerintah (public policy).

dan secara  Warga negara terlibat dalam langsung atau tidak langsung. atau tidak menekankan pada sikap-sikap. . dalam proses-proses politik proses pembentukan kebijakan umum.Herbert McClosky Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan  Berupa kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui sukarela mana mereka mengambil bagian dalam  Dilakukan oleh warga negara proses pemilihan penguasa. Kegiatan partisipasi politik dilakukan oleh warga negara preman atau masyarakat biasa. sehingga seolah-olah menutup kemungkinan bagi tindakan-tindakan serupa yang dilakukan oleh non-warga negara biasa. secara substansial menyatakan bahwa setiap partisipasi politik yang dilakukan termanifestasikan dalam kegiatan-kegiatan sukarela yang nyata dilakukan. Berdasarkan beberapa defenisi konseptual partisipasi politik yang dikemukakan beberapa sarjana ilmu politik tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful