P. 1
PENGKAJIAN CERPEN INDONESIA: GODLOB

PENGKAJIAN CERPEN INDONESIA: GODLOB

|Views: 779|Likes:
ANALISIS HAL-HAL MENARIK CERPEN GODLOB KARYA DANARTO
ANALISIS HAL-HAL MENARIK CERPEN GODLOB KARYA DANARTO

More info:

Published by: Ingeu Widyatari Heriana on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH PENGKAJIAN CERPEN INDONESIA ANALISIS HAL-HAL MENARIK DALAM CERPEN “GODLOB” DANARTO

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Pengarang:

Danarto

Tahun Terbit: 1974 Judul Cerpen: Godlob Kota Terbit: Penerbit: Jakarta Pustaka Utama Grafiti

Hal-Hal menarik terdapat dalam salah satu cerpen karya Danarto yang berjudul ”Godlob”. Saya memilih dua unsur cerpen sebagai hal menarik tersebut, yaitu amanat dan unsur sosial. Sebagai objek tugas mata kuliah Pengkajian Cerpen Indonesia, berikut Saya jabarkan hal-hal apa saja yang menjadikan cerpen karya Danarto ini menjadi sebuah kisah yang begitu mengesenkan dan memberi pelajaran bagi para pembaca. Amanat Cerpen “Godlob” memberi pelajaran untuk pembaca bahwa manusia harus bersikap setia, komitmen, dan tegas dalam menjalani kehidupan. Dalam salah satu sebelas asas kepemimpinan manusia harus memiliki sikap ambeg paroma arta. Sebagai seorang pemimpin harus sanggup menentukan prioritas dalam hidup. Manusia sebagai pemimpin di bumi Tuhan Yang Maha Esa harus bisa memilih mana yang harus didahului. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan cerpen “Godlob” pada awal alurnya atau prolog cerpen berikut ini. Laksana setan maut yang compang-camping mereka buas dan tidak mempunyai ukuran hingga mereka loncat ke sana loncat kemari., terbang ke sana terbang kemari, dari bangkai atau mayat yang satu ke gumpalan daging yang lain. Dan burung-burung ini jelas kurang tekun dan tidak memiliki kesetiaan. Tidak boleh bersikap seperti hewan yang selalu berpindah-pindah pendirian, pasangan, tuan, dan tempat bernaung. Manusia yang tidak tekun, teliti, dan serius dalam menjalani hidupnya terhadap apa yang telah diamanahkan dan diterima maka manusia adalah hewan. Dari kutipan tersebut dapat diambil hikamh bahwa segala sesuatu yang sedang manusia hadapi atau dapati harus dipertanggungjawabkan. Pembaca juga diajak merenung untuk menerima dengan ikhlas ketentuan atau takdir dari Sang Pencipta. Segala sesuatu yang telah didapatkan sebagai rezeki harus disyukuri karena apa pun yang telah Ia berikan untuk manusisa adalah yang terbaik untuk hidup manusia karena Ia tidak pernah salah. Ia yang menciptakan lalu mengatur alam semsta beserta isinya tidak bisa digugat keadaan yang demikian. Dapat dibuktikan dengan kutipan percakapan tokoh anak kepada ayahnya berikut ini. “Ayah, cukupla. Bagiku semuanya memastikan. Tidak ada yang menyangsikan walaupun keadaannya rutin, rutin belaka. Semuanya kita sudah diatur.Tanpa kuminta dan di luar pengetahuan saya, lahirlah saya dari rahim ibuku yang bersuamikan Ayah.”Ia berhenti bicara karena napasnya tersengal-sengal. Dan roda-roda gerobak berderak-derak, sedang dua ekor kerbau ogah-ogahan. “Aku anak bungsu. Kenapa aku tidak minta sebagai anak sulung? Aku kagum kepada tentara. Aku ingin memasukinya. Aku dilarang. Perang pecah dan membawaku ke sana. Sekarang aku luka parah, mungkin bisa hidup terus, mungkin sebentar nanti mati. Tapi kini aku bisa berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia yang percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongnya untuk mengorbankan segala-segalanya, harta bendanya, keluarganya, dan nyawanya.”

“Ya, manusia yang mulia di mata Tuhan,” Kata orang tua itu. “Ayah, kenapa aku tak memilih lapangan yang lain?Seandainya pilihanku itu suatu bencana bagiku, sang nasiblah yang mengantarkanku ke sana, jadi seharusnya manusia merasa senang juga.”

Selain yang telah diuraikan di atas, pengarang juga ingin menyampaikan melalui tulisannya kepada pembaca bahwa setelah manusia menerima pemberian dari Sang Pencipta, rezekinya itu hatus dijaga, dirawat, dilestarikan dengan baik dan harus menjadi lebih baik. Bisa dikatakan manusia harus bersikap istiqamah terhadap rezeki yang telah diterimanya agar menjadi hikmah untuk kehidupan manusia itu sendiri. Karena sekecil apa pun kebaikan akan berpengaruh terhadap hal yang lain. Begitu juga sebaliknya, keburukan akan berpengaruh terhadap hal yang lain. Jika keburukan yang besar ditimbulkan oleh manusia akan besar juga kehancuran yang akan terjadi. Apabila terdapat keburukan maka harus dikoreksi dengan betul-betul keburukan itu lalu diluruskan menjadi sesuatu yang baik lagi, bahkan harus berkembang menjadi hal yang lebih baik. Dibuktikan oleh kutipan cerpen yang berikut ini. “Apa yang ada ini mempunyai pasang-pasangan. Kalau sesuatu meleset dari pasangannya, manusialah yang salah mengerjakannya. Satu senti meleset mengakibatkan melesetnya satu senti yang lain.” “Sebagaimana perang ini terjadi, umpamanya, bukankan begitu, Anakku?” tukas ayahnya, “Ada setetes yang tidak beres di kalangan atas, yang mnegkibatkan puluhan, ratusan, ribuan jiwa manusia hancur. Dan yang setetes itu harus diselidiki betul-betul. Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng. Atau tentang kebenaran bibir cewek ”

Bisa diteliti lagi dari kutipan di atas, menurut saya, yang dimaksud “setetes” dari kutipan cerpen “Godlob” ini adalah masalah mengenai kelicikan segelinir orang-orang serakah dan tidak bertanggung jawab dalam menjalani tugas titipan dari Tuhan Yang Maha Esa di kehidupan. Perkara sepuluh persen komisi, yaitu “penyogokkan”, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Membela celana kolor yang cengeng maksudnya, yaitu rakyat kecil yang sedikit-sedikit dibela karena mengandalkan kelemahan. Tentang kebenaran bibir cewek maksudnya, yaitu gosip, dugaan, fitnah, atau gunjingan yang memojokkan untuk menjatuhkan orang lain. Melanjutkan uraian di atas mengenai tugas sebagai pmimpin, disinggung bahwa masih banyak manusia yang dibutakan pikirannya dengan pekerjaan, jabatan atau pangkat, harta, keluarga sehingga manusia tidak mengenal keindahan dan kebenaran hidup. Manusia menghalalkan segala cara untuk betahan hidup, agar dipandang, menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan dan memedulikan nasib orang lain. Hingga merenggut hak orang lain untuk mecapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup, bahkan yang lebih membutuhkan sekali pun daripada mereka. Dibuktikan dengan kutipan berikut.

“Nasibkulah, Anakku! Nasibkulah yang menyebabkan aku berbicara, sehingga tidak cukup sekian saja. Aku sudah menyerahkan empat nyawa anak=anakku kepada sang politikus dan tidak ada sesuatu pun yang kuterima. Sekarang ia merenggut anakku yang terakhir dan nyawa yang paling kusayangi, Kau! Kau! Sesuatu yang bagaiamankah dan bentuk kebenaran macam apakah menghalalkan itu semuanya? Anakku! Anakku! Tak bisa kutanggungkan lagi ... .”

Unsur Sosial Bicara mengenai judul untuk cerpen kali ini, saya masih menemukan kebingungan mengenai keterkaitan antara judul dengan alur cerita. Alur cerita pada cerpen ini sulit sekali dipahami, ditambah lagi judul yang digunakan oleh pengarang tidak mewakili secara jelas isi cerita. Bisa dikatakan, ditemukannya absurditas antara judul cerpen dengan alur cerita cerpen ini sendiri. Saya menyelidiki Ada makna tersendiri yang bersifat tersirat dalam “Godlob” bahwa manusia sebagai makhluk paling sempurna karena mempunyai hawa nafsu. Arti “Godlob” sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu keinginan untuk diuji, amarah, atau nafsu. Danarto menganalogikan fitrah manusia berkehidupan di dunia dengan tokoh-tokoh yang ada dalam cerpen karangannya. Menjalani kehidupan pasti disertai dengan godaan-godaan yang memancing nafsu lalu timbul amarah, kakeinginan untuk diuji, penasaran, keserakahan, kehausan terhadap keadilan, ambisius, keinginan menyatakan dan mendapatkan kebenaran, dan ketidakberdayaan. Tokoh Ayah sebagai manusia yang ambisius, penasaran, dan haus akan keadilan dibuktikan dengan membunuh anaknya sendiri sebagai sumbangan untuknya agar anaknya menjadi pahlawan. Mencari ide-ide hebat agar tidak dirugikan lagi. Tokoh Anak mewakili sikap kepasrahan dan ketidakberdayaan pada diri manusia dibuktikan dengan dirinya yang menerima nasib hidupnya dihubungkan dengan disebutnya “tentara” dalam cerpen. “Aku anak bungsu. Kenapa aku tidak minta sebagai anak sulung? Aku kagum kepada tentara. Aku ingin

memasukinya. Aku dilarang. Perang pecah dan membawaku ke sana. Sekarang aku luka parah, mungkin bisa hidup terus, mungkin sebentar nanti mati. Tapi kini aku bisa berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia yang percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongnya untuk mengorbankan segala-segalanya, harta bendanya, keluarganya, dan nyawanya.” ... “Ayah, kenapa aku tak memilih lapangan yang lain?Seandainya pilihanku itu suatu bencana bagiku, sang nasiblah yang mengantarkanku ke sana, jadi seharusnya manusia merasa senang juga.” Lalu datang tokoh Ibu di bagian penyelesaian masalah sebagai manusia yang memiliki sikap kehausan terhadap keadilan dan menyatakan dan mendapatkan kebenaran. Dibuktikan saat ia membawa mayat anaknya, menyerukan kepada kerumunan bahwa suaminya yang membunuh anaknya agar anaknya menjadi pahlawan. Sikap para politikus yang menguasai menganalogikan sikap amarah, kakeinginan untuk diuji, penasaran, keserakahan, kehausan terhadap keadilan, ambisius yang dimiliki manusia. Dibuktikan pada penggalan cerpen berikut ini.

... “Berbangga? Aku telah kenyang dengannya. Sekarang aku harus memutuskan sesuatu yang hebat, biar aku tak dirugikan habis-habisan. Anakku aku minta sumbanganmu?” “Pengkhianat!” Teriak para pembesar bersama-sama. .... “Dengan berpijak pada nilai-nilai objektif, akan tidak ada tipuan-tipuan,” Kata para pembesar bersama-sama. “Adakah nilai-nilai objektif? Semuanya adalah subjektif!” “Apa yang kau harapkan sekarang?” Kata para pembesar bersama-sama. ... “Kalian orang-orang kecil, sekali-sekali boleh pergi ke garis depan. Hingga kita bisa juga berbicara tentang perang. “Lihatlah, sang politikus! Ia bicara tentang negara, tentang perang, tentang ekonomi, tentang sajak, tentang kebun binatang, tentang perempuan. Sudah diborongnya semua. Lantas kita disuruh bicara tentang apa?” Manusia tergila-gila dengan jabatan atau pangkat di dunia karena mereka yakin akan nasib, bukan takdir. Mereka berlomba-lomba mendapatkan “kursi” hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal tersebut. Nyawa manusia, sesamanyalah sebagai syarat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->