BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Diare (menurut WHO, 1980) adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Apabila frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu maka hal ini disebut diare akut (Setiawan, 2007). Diare merupakan salah satu manifestasi klinis dari banyak penyakit, dan mempunyai berbagai etiologi yang bervariasi pula. Karena itu diagnosis yang akurat diperlukan agar dapat menentukan penatalaksanaan yang paling tepat.

Berikut ini adalah permasalahan dalam skenario 1:

Seorang anak umur 6 tahun dibawa ke RS dengan keluhan sejak 4 hari yang lalu BAB dengan tinja lembek diserai lendir dan darah lebih dari 5x/hari. Keluhan disertai panas, sakit perut, dan mual muntah. Tidak ada batuk pilek atau nyeri telan. Sudah 2 hari ini penderita tidak mau makan dan minum sehingga kondisinya lemah. Sudah makan obat diapet tetapi masih belum sembuh.

Dari anamnesa didapatkan: vital sign: T 110/70, N=120x/menit, R:24x/menit, suhu: 39,2°C. Pemeriksaan abdomen: inspeksi normal, auskultasi hiperperistaltik, palpasi: nyeri tekan region kanan bawah. Perkusi: hipertimpani. Nyeri tekan lepas titik Mc Burney (-). Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja untuk melihat kemungkinan agen penyebabnya. B. RUMUSAN MASALAH Mengapa dapat timbul manifestasi klinis pada pasien tersebut? Mengapa pasien tetap diare, padahal sudah minum obat diapet? Apakah pertimbangan yang didapatkan dari hasil anamnesis dan interpretasi dari hasil pemeriksaan yang telah didapatkan? Apakah diagnosis banding untuk kasus?

habitat. Menjelaskan komplikasi. 2008) Diare akut disebabkan 90% oleh infeksi bakteri dan parasit sedangkan yang lain dapat disebabkan oleh obat-obatan dan bahan-bahan toksik.Bagaimana patogenesis dan patofisiologi penyakit dalam kasus? Bagaimana penatalaksanaan pasien dalam kasus? C. seperti pemeriksaan laboratorium. diare dibedakan menjadi diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari. dan penegakan diagnosis penyakit infeksi. Mahasiswa mampu menjelaskan secara patofisiologi masing-masing penyakit tropis secara biomedik. prognosis. sifat. Diare Akut Akibat Infeksi Berdasarkan mekanismenya. daur hidup. pengobatan. diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari. dan diare kronik berlangsung lebih dari 14 hari dan berlangsung intermitten (Soebagyo. Menurut lamanya. dan asalnya. . Faktor penentu terjadinya diare akut sangat dipengaruhi oleh faktor pejamu (host). MANFAAT PENULISAN Mahasiswa mampu menetapkan diagnosis atau Differential Diagnosis penyakit infeksi berdasarkan pemeriksaan fisik. Mahasiswa mampu melakukan pencegahan primer dan sekunder pada penyakit infeksi. diare dibedakan menjadi dua. HIPOTESIS Pasien mengalami diare akut akibat infeksi. Diare ditularkan fekal oral. dan rehabilitasi). yaitu diare akibat gangguan absorbsi dan diare akibat gangguan sekresi. yang berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme dalam menyerang sistem pertahanan tubuh host. dan investigasi tambahan yang sederhana. Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi penyakit mulai dari masuknya agen infeksius hingga muncul gejala klinis. perawatan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TUJUAN PENULISAN Menjelaskan berbagai macam agen infeksius: morfologi. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit infeksi (cara pencegahan. yaitu faktor yang berkaitan dengan kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme dan faktor penyebab (agent). E. D.

secara mikroskopis didapati leukosit polimorfonuklear. . dehidrasi (Setiawan. muntah. volume cairan didalam lumen usus meningkatà dinding usus berkontraksià terjadi hiperperistaltikà cairan keluar (diare). yang disebut dengan Watery diarrhea. Hiswani. secara klinis berupa diare bercampur lendir dan darah. tenesmus. yaitu bakteri yang memproduksi toksin yang nantinya toksin tersebut hanya melekat pada mukosa usus halus & tidak merusak mukosa.cholerae. fetus. dan penetrating. non inflammatory. thypi. secara makroskopis ditemukan lendir dan/ atau darah. parathypi A.coli (ETEC). memberikan keluhan diare seperti air cucian beras dan disebabkan oleh bakteri enteroinvasif. terutama pada kasus yang tidak segera mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin didapati leukosit mononuclear. Keluhan abdominal biasanya minimal atau tidak ada sama sekali. serta gejala dan tanda dehidrasi. Mikroorganisme penyebab biasanya S. V. enterocolitidea. demam. Proses diare adalah akibat adanya enterotoksin yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah. Chronic Septicemia. Penetrating diarrhea lokasi pada bagian distal usus halus. demam. 2007. Non inflamatory diarrhea kelainan yang ditemukan di usus halus bagian proksimal.Inflamatory diarrhea akibat proses invasi dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah. Bakteri non invasif. Enterotoxigenic E. namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul. yaitu membagi diare akut atas mekanisme inflamatory. nyeri perut. dan C. S. Gejala klinis umumnya adalah keluhan abdominal seperti mulas sampai nyeri seperti kolik. patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri dibedakan menjadi dua: bakteri non invasif. dengan gejala klinis demam disertai diare. Salmonella. Y. Pada pemeriksaan tinja rutin. enteritidis.Patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri adalah : Bakteri masuk melalui makanan atau minumanà ke lambungà sebagian ada yang mati karena asam lambung dan sebagian lolosà bakteri yang lolos masuk ke duodenumà bakteri berkembang biak (di duodenum)à memproduksi enzim mucinase sehingga berhasil mencairkan lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel epitel ususà bakteri masuk ke dalam membrane à bakteri mengeluarkan toksinà mengeluarkan CAMP (meningkatkannya). yang berfungsi untuk merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi & menghambat cairan usus dibagian apikal villià terjadi rangsangan cairan yang berlebihan. cholerasuis. Untuk diare akut. Manifestasi klinis diare yang disebabkan oleh virus diantaranya adalah : diare akut. yaitu diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. S. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit. 2003) Pembagian diare akut berdasarkan proses patofisiologi enteric infection. S. Penyakit ini disebut juga Enteric fever. Mikroorganisme penyebab seperti. Patogenesis diare yang disebabkan oleh virus adalah : Virus masuk melalui makanan & minuman ke tubuhà masuk ke sel epitel usus halusà terjadi infeksià selsel epitel yang rusak digantikan oleh enterosit (tapi belum matang sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik)à villi mengalami atrofi & tidak dapat mengabsorbsi cairan & makanan dengan baikà meningkatkan tekanan koloid osmotik ususà hiperperistaltik ususà cairan& makanan yang tidak terserap terdorong keluar. mual. B.

Selain tinja. sehingga menyebabkan anemia. 2004). serta 5) siapa penderita tersebut (Setiawan. kadang terlihat di mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada saat defekasi. Diagnosis Banding Diare akut akibat infeksi dapat ditegakkan diagnosis etiologi bila anamnesis. 2) makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dikonsumsi penderita. diagnosis amebiasis yang akurat membutuhkan pemeriksaan tinja untuk mengidentifikasi bentuk trofozoit dan kista. Beberapa agen infeksi yang dapat menyebabkan diare inflamasi antara lain dari golongan protozoa adalah Entamoeba hystolitica dan dari golongan cacing adalah cacing cambuk. dan biopsi (Hemma. hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. aspirat. . Diagnosis. Gejala bervariasi. 4) dimana tempat tinggal penderita. 2006). Sering digunakan kombinasi obat untuk meningkatkan hasil pengobatan. Trichuris trichiura Disebut juga cacing cambuk dan menimbulkan penyakit trikuriasis. karena amoeba yang hidup sebagai komensal di dalam lumen usus besar. Penatalaksanaan. Entamoeba hystolitica Infeksi terjadi karena tertelannya kista dalam makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja. B. Di samping itu. Patogenesis dan patologi. dan pemeriksaan penunjang menyokongnya. 2007). 3) adakah orang disekitarnya yang menderita hal serupa. manifetasi klinis. cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum. terutama hidup di sekum. sewaktu-waktu dapat menjadi patogen. terutama pada anak. Metode yang paling disukai adalah teknik konsentrasi dan pembuatan sediaan permanen dengan trichom stain. Amebiasis dapat berlangsung tanpa gejala (asimptomatik). yakni kumpulan gejala gangguan pencernaan yang meliputi diare berlendir dan berdarah disertai tenesmus. 2006).(Zein. Patogenesis dan patologi. ternyata cacing ini menghisap darah. Pada infeksi berat. Pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus. sebaiknya diobati. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis: 1) bentuk feses. Selain menilai gejala dan tanda. Walaupun tanpa keluhan dan gejala klinis. mulai rasa tidak enak di perut hingga diare. Masa inkubasi dapat terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa bulan. Untuk screening cukup menggunakan sediaan basah dengan bahan saline dan diwarnai lugol agar terlihat lebih jelas. Kista yang tertelan mengeluarkan trofozoit dalam usus besar dan memasuki submukosa (Chandrasoma dan Taylor. Gejala yang khas adalah sindroma disentri. spesimen yang dapt diperiksa berasal dari enema.

Pada infeksi saluran cerna pencegahan sangat penting. Pemeriksaan penting dalam tinja ialah terhadap parasit dan telur cacing. Adanya darah dapat menjadi petunjuk lokasi perdarahan. Sama pentingnya dalam keadaan tertentu adalah tes terhadap darah samar. Adanya lendir berarti rangsangan atau radang dinding usus. jumlah. Pencegahan dan Penatalaksanaan Penatalaksanaan diare akut karena infeksi terdiri atas: 1) rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan. dan imunitas melalui vaksinasi memegang . sedangkan nyeri lambat dapat diperoleh dari ketiganya. Makin proksimal terjadinya perdarahan. jika bercampur baur dengan tinja mungkin sekali usus kecil. nyeri cepat diperoleh melalui rangsangan jenis mekanis atau suhu.Diagnosis. albendazol dan oksantel pamoat. serta jadwal pemberian cairan. asam asetilkolin. kontusio jaringan. Hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat adalah jenis cairan yang akan digunakan. sanitasi lingkungan. Penatalaksanaan. Selain itu. Beberapa zat kimia yang merangsang jenis nyeri kimiawi adalah bradikinin. Pada umumnya. 2) memberikan terapi simtomatik. Intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan kecepatan kerusakan jaringan yang disebabkan oleh pengaruh lain selain panas (diatas 45°C). E. Pada pemeriksaan mikroskopik. dan enzim proteolitik. infeksi cacing Trichuris dapat diobati dengan hasil yang cukup baik (Margono. seperti infeksi bakteri. Dengan menggunakan mebendazol. Rasa nyeri dapat dirasakan melalui berbagai jenis rangsangan. D. serotonin. usaha mencari protozoa dan cacing merupakan maksud terpenting (Gandasoebrata. dan 3) memberikan terapi definitif. 2007). dan lain sebagainya (Guyton dan Hall. ion kalium. lokalisasi iritasi itu mungkin usus besar. Satu zat kimia yang terlihat mengakibatkan rasa nyeri lebih hebat daripada yang lain adalah bradikinin. Merah muda biasanya oleh perdarahan yang segar di bagian distal. Secara makroskopik. suhu. histamin. 1998) C. dan kimiawi. Patogenesis dan Patofisiologi Reseptor nyeri merupakan ujung saraf bebas. darah bercampur dengan tinja sehingga makin hitam warnanya. prostaglandin dan substansi P meningkatkan sensitivitas ujung-ujung serabut nyeri tetapi tidak secara langsung merangsangnya. 2007). kelainan dalam saluran usus dan oleh obat-obatan yang diberikan. warna tinja dapat dipengaruhi oleh jenis makanan. Dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja. yaitu rangsang nyeri mekanis. Hygiene perorangan. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Tinja. jalan masuknya cairan. Jika lendir tersebut berada di bagian luar tinja. iskemia jaringan. yang terdapat di kulit dan jaringan lain.

yaitu 1) menghambat peristaltik usus (contohnya obat Imodium) dan 2) absorbent. hal ini mungkin dapat disebabkan karena rilis serotonin yang menekan pusat lapar di area hipotalamus lateral. diapet). Padahal. atau Tetrasiklin (Setiawan. Sebab lain yang mungkin adalah traktus GIT yang teregang akibat kontriksi sebagai akibat rilis mediator proinflamasi. Sakit perut yang dialami pasien adalah salah satu manifestasi akibat adanya iritasi mukosa GIT. BAB III PEMBAHASAN Pasien BAB sejak 4 hari yang lalu dengan tinja lembek disertai lendir dan darah lebih dari 5x/hari. rentang waktu. maka kondisi pasien lemah. dan konsistensi dari feses telah menunjukkan bahwa pasien tersebut mengalami diare akut. lumbricoides. Sebagai konsekuensi kurangnya asupan nutrisi. set point suhu pada hipotalamus menjadi kacau. Mual muntah juga menjadi indikasi adanya peradangan mukosa GIT. diantaranya bradikinin. yang berakibat peningkatan PGE2 sehingga bekerja di hipotalamus. Penggunaan obat jenis absorbent ini malah dapat menghambat ekskresi kuman. serotonin. tepatnya di nukleus dorsomedial dan arkuata di bagian posterior. Sinyal inhibisi yang teregang akan dihantarkan. Secnidazole. kemungkinan besar keluarga pasien tidak mendapatkan edukasi tentang sanitasi yang baik. sehingga agen infeksius penyebab diare masih tetap berada dalam traktus GIT. sehingga nafsu makan akan berkurang. dan A. Diare dengan lendir dan darah ini dapat terjadi pada infeksi E. sehingga infeksi dapat terus berlangsung. Adanya infeksi mengakibatkan rilis mediator proinflamasi. Adanya lendir dan darah menunjukkan adanya peradangan pada traktus gastrointestinal (GIT). terutama usus halus. Dari anamnesa. Mekanisme obat antidiare sendiri dibagi menjadi 2. didapatkan pasien adalah keluarga buruh bangunan dan anak tersebut suka bermain tanah dan kadang minum air mentah. panas atau demam ini terjadi akibat adanya rangsangan terhadap metabolisme asam arachidonat. Pada pengobatan amebiasis digunakan Metronidazol. Pasien sudah makan obat diapet tetapi belum sembuh. yang akibat impuls iritatif berupa mual yang disampaikan ke pusat muntah di batang otak ini kemudian terjadi respon berupa gerakan muntah yang kemudian disampaikan ke diafragma dan otot abdomen. cacing tambang. terutama melalui nervus vagus untuk menekan pusat makan. T. Rangsangan terhadap metabolisme asam arachidonat ini dilakukan oleh pirogen endogen (IL-1) sebagai akibat rangsangan oleh pirogen eksogen yang ada pada agen infeksius. kebiasaan meminum air mentah mengandung risiko besar tertular penyakit amebiasis .peran. Mekanisme peradangan sebagai efek dari infeksi ini dapat menjadi rujukan terjadinya infeksi. Selanjutnya. 2007). Dari keterangan ini. karena hal ini juga diperkuat oleh terjadinya keluhan panas. Penderita tidak mau makan dan minum. Frekuensi. hystolitica. yaitu menyerap cairan dan toksin (contohnya obat new diatab. trichiura. sehingga tubuh berusaha untuk mencapai set point “palsu” tersebut dengan mekanisme demam sebagai salah satu usaha termogenesis. dan histamin (terutama bradikinin) yang kemudian merangsang ujung bebas dari reseptor nyeri dan menimbulkan rasa nyeri perut. Tinidazol. Seperti mekanisme infeksi pada umumnya. sehingga anak tersebut tidak dilarang minum air mentah.

Hipotensi (T=110/90 mmHg) hal ini terjadi karena pasien mungkin mengalami syok akibat dehidrasi. Hiperperistaltik terjadi akibat adanya gangguan motilitas usus. Hasil pemeriksaan fisik. Suhu tubuh meningkat (39. BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan sementara yang telah dilakukan. maka baru dapat ditarik diagnosis pasti dari penyakit infeksi parasit tersebut. gold standard dari pemeriksaan penyakit tersebut adalah menemukan parasit atau telurnya dalam pemeriksaan tinja atau darah. Apabila telah didapatkan hasil pemeriksaan darah dan tinja.2°C). Dokter menyarankan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja untuk melihat kemungkinan agent penyebabnya. Takikardi (N=120x/menit) terjadi akibat kompensasi tubuh untuk mengatasi keadaan syok. maka hal ini dapat menggugurkan dugaan adanya apendisitis. Takipneu (R=24x/menit) juga terjadi akibat mekanisme kompensasi tubuh seperti halnya takikardi. . karena itu hasil tersebut dapat menggugurkan diagnosis ascariasis.dan trichuriasis. SARAN Sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan darah dan tinja agar dapat ditemukan adanya telur atau parasit dalam stadium tertentu sebagai gold standard pemeriksaan parasit. hal ini terjadi akibat mekanisme demam yang sudah dijelaskan sebelumnya. Namun diagnosis pasti belum dapat ditegakkan selama belum ditemukannya parasit dalam tinja atau darah (dalam hal ini tinja) sebagai Gold Standard pemeriksaan infeksi parasit. Nyeri tekan regio kanan bawah menjadi salah satu dasar diagnosis banding dengan apendisitis akut. Sementara dari kebiasaan anak tersebut bermain tanah. pasien menderita infeksi ameba (amebiasis). B. hal ini dapat dibantu oleh petugas kesehatan setempat dalam mengingatkan pentingnya kebersihan lingkungan. Pada diagnosis berbagai jenis infeksi parasit. Namun. Sebaiknya tingkat sanitasi dari keluarga pasien lebih ditingkatkan. dapat dicurigai anak tersebut menderita askariasis atau ancylostomiasis. karena nyeri tekan lepas titik McBurney (-). Infeksi Ascaris lumbricoides juga mempunyai manifestasi klinis apendisitis.

id/download/fk/06001187. Wita.85. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Protozoa Intestinalis. 14. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga JIlid 1. Jakarta: FK UI. H. John E. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV.pdf. Diare Akut pada Anak. Sri S. http://209.usu. Penuntun Laboratorium Klinik. Hemma. Alwi. . dkk. 2008. 2007. Hiswani. Jakarta: EGC. Gandasoebrata. Soebagyo. Setiawan. S.pdf+patogenesis+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&lr=lang_id Mansur. Yulfi. B. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2.usu. 2006. 1998.ac.id/download/fkm/fkmhiswani7. R. Bambang.2003. 2007. Jakarta: Dian Rakyat. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta: EGC.ac. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Budi. Idrus. 2006. Diare Akut Karena Infeksi dalam Sudoyo. Pribadi. Arthur C. Setiati.175. Arif. Simadibrata K. Margono.55. Aru W. Guyton. Setiyohadi. http://library. Hall. Diakses pada 1 Juni 2009. Marcellus. Siti. 2007.Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat Yang Kejadiannya Sangat Erat Dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.DAFTAR PUSTAKA Chandrasoma dan Taylor.104/search?q=cache:zsj5KrN_psgJ:library. 2000. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Ilahude. Nematoda dalam Gandahusada.

ac. .pdf. Umar.pdf+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id&lr=lang_id Zein.usu. Sri Maryani. 2004.Sutadi. (diakses pada 1 Juni 2009.14.usu. Diakses di: http://72. http://library.id/download/fk/penydalamsrimaryani2.235. jam 14.id/download/fk/penydalamumar4. Diare Kronik.ac.30). Diare Akut Infeksius Pada Dewasa.104/search?q=cache:mWVOpJ8NsEoJ:library. 2003.