P. 1
Pola Pengasuhan Anak Panti

Pola Pengasuhan Anak Panti

|Views: 336|Likes:
Published by Laskar Bajo

More info:

Published by: Laskar Bajo on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2014

pdf

text

original

1

Final Report

Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Dan Pondok Pesantren Kota Solo Dan Kabupaten Klaten

Penelitian ini Terselenggara Atas Kerjasama:

Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM UNS dengan UNICEF

2

Tahun 2009
ABSTRAKSI
Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten, 2009, Kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM, UNS Pola pengasuhan anak tidak selamanya terjadi di dalam sebuah lingkungan keluarga. Lembaga pengganti fungsi orang tua (keluarga) yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Selain itu, salah satu tujuan pengasuhan lainnya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan yang dipilih para orang tua salah satunya melalui pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Oleh karena itu pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren sangat menarik untuk diteliti. Karena di dalam perkembangannya, ada berbagai persoalan yang menyangkut pemenuhan hak anak melalui 3 konsep pengasuhan anak yaitu pengajaran, pengganjaran (penghargaan dan hukuman) serta pembujukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi mengenai pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Untuk memperkuat data kuantitatif, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara, FGD dan surat curhat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif sehingga mampu menggambarkan pola pengasuhan yang terjadi. Adapun hasil penelitian pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren dapat digambarkan melalui proses pengajaran, pengganjaran dan pembujukan. Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan memberikan arahan. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Selain itu, juga melalui metode mengingatkan dan menyuruh. Pengganjaran meliputi dua hal, yaitu penghargaan dan hukuman. Penghargaan berupa pemberian hadiah maupun memberikan pujian. Sedangkan hukuman dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi jika dilihat dari tuntutan pemenuhan hak anak maka terlihat adanya bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan. Pembujukan dilakukan dengan memberikan nasihat, diskusi apabila ada masalah dan pendekatan secara personal agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai, ustadz/ustadzah serta menaati peraturan, tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren. Dari hasil penelitian tersebut, maka hal yang penting adalah menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak dalam memberlakukan model pola pengasuhan yang memperhatikan pemenuhan kebutuhan hak anak. Karena pemenuhan hak anak dilindungi oleh undang-undang sehingga menjadi lembaga yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan kembang anak.

3

DAFTAR ISI Halaman i ii iii v viii 1 11 11 12 12 13 15 18 24 32 32 32 33 33 33 34 35 35 45 52 54 58 66 70 82 88 91 91 107 123 123 148 162 165 167 186

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... ABSTRAKSI ........................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................ DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR MATRIK ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................. B. Perumusan Masalah ......................................................................... C. Tujuan Penelitian ............................................................................. D. Manfaat Penelitian ........................................................................... E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Sebagai Warga Negara .......................................................... B. Panti Asuhan ................................................................................... C. Pondok Pesantren ............................................................................. D. Pola Pengasuhan ............................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian .................................................................. B. Lokasi Penelitian dan Partisipan ...................................................... C. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. D. Teknik Pengambilan Partisipan ....................................................... E. Teknik Analisis Data ........................................................................ F. Perencanaan Penelitian ..................................................................... G. Organisasi Penelitian ....................................................................... BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .............. 1. Keadaan Umum Kota Surakarta ............................................... 2. Keadaan Umum Kabupaten Klaten .......................................... B. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .... 1. Panti Asuhan di Kota Surakarta .......................................... 2. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ...................................... C. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten ........................................................................................ 1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta ................................... 2. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ............................... BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar .................................................................................. B. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan .................................... 1. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kota Surakarta .. 2. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ................................................................................. C. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren ............................. 1. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kota Surakarta ............................................................................. 2. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ................................................................................. D. Pembahasan 1. Karakteristik Sosial Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 2. Pola Pengasuhan di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 3. Dampak Pengasuhan Anak Berbasis Lembaga ................... PENUTUP

BAB VI

4

A. Kesimpulan ............................................................................... B. Rekomendasi ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN FOTO

194 196 200 2002

5. Tabel 4.18.16. Tabel 5.13. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 5. dan Kepala Keluarga Di Surakarta Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. Tabel 5. Tabel 5. tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) . Tabel 4.3.5. Tabel 4.10.13. Tabel 5.12.8.4. Tabel 5.17. Tabel 4.15. Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) 44 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara 47 48 49 50 52 53 68 69 91 92 93 97 97 98 99 99 100 101 101 102 103 104 104 105 106 Tabel 4.16.5 DAFTAR TABEL Halaman 38 39 40 40 41 41 42 42 43 43 Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4.1. Tabel 5.9.12. Tabel 5.8.11.14. Tabel 5.17.7. Tabel 5.11.15. Tabel 5.14.2. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4. Banyaknya Kelurahan. RW. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4.6. Tabel 5.1.3.10.19. Tabel 4.6.7.4. Tabel 5. Tabel 5.2.9. RT.

Tabel 5. Tabel 5.51.30.48. Tabel 5.42.44. Tabel 5. Tabel 5.24. Tabel 5. Tabel 5.45. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.25. Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 146 150 151 152 152 153 154 155 155 156 157 138 140 142 143 144 144 131 132 133 135 137 114 117 118 119 120 120 121 123 124 125 130 106 108 108 109 110 111 112 112 113 . Tabel 5.36.6 Tabel 5.23.26. Tabel 5. Tabel 5.27.40.55. Tabel 5.18. Tabel 5.21. Tabel 5.47.43. Tabel 5.35. Tabel 5. Tabel 5.58.32.37. Tabel 5.31. Tabel 5.49.59. Tabel 5.22. Tabel 5.52.20. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.50. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.41.19. Tabel 5.28.54.33.34. Tabel 5.46. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.56.39.53.37. Tabel 5.57. Tabel 5.38. Tabel 5.29.

61.66.65.63. Tabel 5. Tabel 5.7 158 Tabel 5. Tabel 5.60. Tabel 5. Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 161 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga 162 165 166 166 167 190 . Tabel 5. Tabel 5.64.62.

8 DAFTAR MATRIK Matrik 1 Matrik 2 Matrik 3 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri 174 183 185 .

Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya merupakan hakeket pembangunan yang ingin dicapai aleh bangsa Indonesia. dan keseimbangan diantara kedua kebutuhan tersebut. sehingga dapat dikatakan sebagai perbuatan kebaikan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam segala aspeknya pada akhirnya akan mendorong proses pembangunan di segala bidang. pangan tidak akan terasa tanpa diiringi adanya pemenuhan terhadap rasa aman. keserasian. Ginandjar Kartasasmita dalam bukunya Pembangunan Untuk Rakyat Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. sejarah menunjukkan tidak senantiasa demikian kenyataannya. sandang. menyebutkan bahwa . Pembangunan pada umumnva diarahkan untuk memperbaiki keadaan. Namun. Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata. mandiri dan sejahtera berdasarkan Pancasila. rasa aman. sandang. tetapi juga terpenuhinya keselarasan. rasa keadilan dan lain sebagainya. pangan dan lain sebagainya dan juga untuk memenuhi kebutuhan batiniah seperti kebebasan beragama.9 BAB I PENDAHULUAN A. terpenuhinya pendidikan. keserasian dan keseimbangan diantara keduanya. Hal ini diartikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan papan. rasa tenteram dan rasa keadilan. Tidak akan ada artinya pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah tanpa mengedepankan keselarasan. Latar Belakang Masalah Salah satu arah pembangunan jangka panjang disebutkan dalam GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dalam masyarakat Indonesia agar makin maju. rasa tenteram. begitu juga sebaliknya. Pemenuhan papan. serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis.

Kedua. . atau tidak halal. seni dan lain-lain kegiatan yang dapat memperbaiki. baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. Diantara ketiga faktor ini sumber daya manusia adalah faktor terpenting. tetapi tidak bermanfaat bagi yang lain. Sumber daya manusia ini harus benar-benar dapat diandalkan sebagai modal pembangunan. Keempat. Pembangunan yang merusak alam dan lingkungan.10 pembangunan dapat merupakan suatu hal yang tidak baik. jika ditujukan untuk kepentingan pembangunan suatu kelompok dengan mengorbankan yang lain. Pertama. Berbagai masalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan yakni masalah kependudukan seperti kekurangan tempat tinggal. terbatasnya lapangan pekerjaan. pangan. 1986:3). Ketiga. Oleh karena itu. apabila hal-hal berikut yang terjadi. Pembinaan sumber daya manusia atau Human Resources Development adalah usaha untuk memperbesar kemampuan berproduksi seseorang baik dalam pekerjaan. (Soeroto. yang segala perbuatannya hanyalah untuk kepuasan didunia saja.(Kartasasmita. Proses ini membutuhkan modal baik dana. tidak baik. sumber daya manusia perlu dibina sedemikian rupa menjadi sumber daya yang berperan aktif dalam setiap pembangunan. terbatasnya sarana dan prasarana. kekurangan sandang. apabila pembangunan hanya menguntungkan sebagian orang. pembangunan yang hanya mengejar kebutuhan lahiriah dan mengabaikan sisi rohaniah manusia. Pembangunan yang dijalankan dengan tidak memperhatikan nilai kemanusiaan pada umumnya. rendahnya tingkat kesehatan. yang mana kesemua masalah tersebut memerlukan penanganan yang serius dengan suatu Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat. Kelima. apabila pembangunan dijalankan dengan menggunakan cara yang tidak benar. Keenam. sebagai mahkluk yang utuh. 1996: 24) Tidak dapat dipungkiri bangsa Indonesia sebagai negara yang berkembang masih menghadapi berbagai masalah dalam pelaksanaan pembangunan. teknologi maupun manusia. Pembangunan yang demikian menghasilkan manusia yang materialistis. Pembangunan merupakan proses kegiatan yang terus-menerus yang bertujuan untuk mencapai kearah keadilan yang lebih baik.

menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. memperkokoh kepribadian dan disiplin. sehingga manusia Indonesia tidak menjadi beban negara tetapi menjadi pendukung yang dapat diarahkan dalam rangka pencapaian arah pembangunun. Agar anak mampu . kedamaian dan keadilan serta mengesampingkan perilaku yang menindas serta diskriminatif. rasa. karsa maupun kesadaran martabat kemanusiaannya. (Murtiningsih. dimana secara alamiah anak tumbuh menjadi besar dan dewasa. ketrampilan dan semangat kerja keras. Untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional perlu ditingkatkan pembinaan dan pengembangan generasi muda serta diarahkan menjadi kader penerus bangsa dan manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila dilakukan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME. 2004:6-7) Anak yang merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. pendidikan selalu bertujuan untuk membina kepribadian manusia menjadi lebih ‘manusiawi’ dan mengembangkan serta mengutuhkan potensi kemanusiaannya yang masih terpendam dengan mengedepankan suasana yang penuh cinta-kasih. memikul tanggung jawab masa depan terhadap maju mundurnya suatu negara. Mereka adalah penerus perjuangan bangsa yang akan menerima estafet kepemimpinan di kelak kemudian hari. memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi. Artinya. baik potensi intelektual atau kognitif. masyarakat dan pemerintah. mengembangkan kemandirian. memperluas wawasan ke masa depan. mental.11 Dengan demikian ada peningkatan kemampuan berproduksi bagi setiap orang. Pendidikan adalah sebuah proses penyempurnaan semua individu sebagai peserta didik. ilmu. Untuk itu pembinaan dan pengembangan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu antara keluarga. Pada hakekatnya dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda tercakup didalamnya adalah pendidikan baik formal maupun informal. Sebagai pewaris kemerdekaan pemuda bertugas mengisi kemerdekaan.

kasih sayang dan pergaulan diantara mereka. keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan sehingga melalaikan kewajibannya atau tiadanya salah satu atau kedua orang tua (tidak punya orang tua). Namun dilihat dari kenyataannya yang ada dengan masih tingginya jumlah anak terlantar. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989. Ataupun sebab lain yang dapat mengakibatkan mereka menjadi. perlindungan. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. terlantar. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. berakhlak mulia. Seperti diketahui bahwa anak sebagai generasi muda adalah aset bangsa yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Kondisi semacam tersebut di atas menjadi idaman/dambaan suatu bangsa yang ingin maju dan dinamis. pendidikan. Pemenuhan hakhak anak agar mereka dapat hidup. Ada diantara mereka yang mengalami hambatan sehingga ia menjadi terlantar. berkembang. Akibatnya mereka menjadi tidak terpenuhi kebutuhan akan makan.12 melaksanakan tugas-tugas melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan dari generasi pendahulunya. dan sejahtera. pakaian. perumahan. Hal ini terjadi seperti pada keluarga yang mengalami perpecahan. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. maka sudah semestinya anak harus dibiarkan tumbuh dan berkembang secara normal. Tetapi kenyataan yang ada di masyarakat tidak semua anak dapat terpenuhi kebutuhannya. Negara dan Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989 dan hal ini telah diimplementasikan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. tumbuh. pengobatan. berarti tidak semua anak. maka kepadanya perlu mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar baik rohaniah. jasmaniah maupun sosial. menjalani kehidupan yang layak sebagai seorang anak yang seharusnya tumbuh wajar sesuai .

dikhawatirkan anak akan frustasi. sehingga dapat berperan dalam pembangunan. Anak-anak terlantar merupakan masalah nasional yang perlu segera mendapat perhatian dengan pembinaan mental dan pengetahuannya agar nantinya potensi yang ada dalam dirinya dapat tergali dan termanfaatkan oleh proses pembangunan bangsa. namun pada prosesnya ternyata tidak bersikap ramah terhadap dunia anak-anak. dan seluruh masyarakat Indonesia.13 dengan dunianya. . mereka terhina dan akan berontak terhadap keadaan. Ketika situasi keterlantaran anak yatim piatu dan anak dari keluarga bermasalah tersebut dibiarkan tanpa ada usaha penanggulangannya. Sungguh sangat memprihatinkan apabila proses pembangunan yang telah menghasilkan manfaat. Hal ini seperti yang tersebut dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Kesempatan pemeliharaan hanya akan dapat dilaksanakan dan diperoleh apabila usaha kesejahteraan anak terjamin. Usaha kesejahteraan anak sebagai pembinaan tunas bangsa senantiasa dikedepankan oleh pemerintah. Pembinaan dan bimbingan terhadap anak-anak terlantar mutlak diperlukan agar terbentuk pribadi-pribadi yang utuh untuk terciptanya kualitas Sumber Daya Manusia seutuhnya. Anak dapat menerima hak-haknya secara penuh dan dapat melaksanakan kewajibannya dengan didasari atas kesadaran dan tanggung jawab yang ia peroleh dari bimbingan. Karena dalam usaha mencapai kesejahteraan anak yang lebih baik tidak mungkin diupayakan oleh mereka sendiri. Sebagai negara yang berkeadilan sosial. pembinaan/asuhan yang intensif. Pembinaan terhadap anak terlantar telah dilaksanakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap kelangsungan bangsa. terprogram dan berkesinambungan. pemerintah bertanggung jawab terhadap kondisi anak-anak terlantar. Adapun realisasinya diupayakan bersama antara negara.

baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Dalam rangka pemenuhan hak anak kaitannya dalam memecahkan masalah keterlantaran anak maka diperlukan lembaga pengganti fungsi orang tua yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah dan salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga pelayanan profesional yang bertanggung jawab memberikan pengasuhan dan pelayanan pengganti fungsi orang tua kepada anak terlantar (Buku Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak melalui Panti Sosial Asuhan Anak). Adapun tujuan didirikannya PSAA adalah: . Namun persoalannya tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugas tersebut. perawatan. yang menyatakan bahwa anak berhak atas kesejahteraan. Undang-undang ini menekankan.14 Kelangsungan hidup. yang menyatakan bahwa ”Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara. bahwa orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak baik secara jasmani. Salah satu pasal yang didalamnya mencakup Hak Anak termuat pada BAB II pasal 2. Anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya. perlindungan dan partisipasi merupakan hak anak secara universal dan di Indonesia pengaturan hak anak secara tersurat ditegaskan melalui Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan. organisasi maupun badan-badan”. Dan untuk pelaksanaan usaha kesejahteraan anak termuat pada Bab II Pasal 4 Ayat 1. asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang. baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. rohani maupun sosial. tumbuh kembang.

Dikelola oleh tenaga pelaksana yang memenuhi standar profesi. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sistem pelayanan yang dilaksanakan dalam panti asuhan sangat kompleks. Dengan demikian pelayanan bagi anak terlantar dalam panti sosial asuhan merupakan suatu sistem. Terwujudnya kualitas pelayanan atas dasar standar profesional: a. Terwujudnya jaringan kerja dan sistem informasi pelayanan kesejahteraan anak secara berkelanjutan baik secara horisontal maupun vertikal. Terwujudnya hak atau kebutuhan anak yaitu kelangsungan hidup.15 1. Terlaksananya manajemen kasus sebagai pendekatan pelayanan yang memungkinkan anak memperoleh pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keanekaragaman sumber. 2. 3. d. Meningkatnya kualitas kehidupan sehari-hari di lingkungan panti yang memungkinkan anak berintegrasi dengan masyarakat secara serasi dan harmonis. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan tekhnologi yang ada memunculkan suatu permasalahan bagaimana membina dan . Unsur-unsur pelayanan yang ada dalam panti dalam pelaksanaan asuhan merupakan satu kesatuan yang utuh. tumbuh kembang. Meningkatnya kepedulian masyarakat sebagai relawan sosial. bahwa panti sosial tidak hanya bertujuan memberikan pelayanan. karena di dalam prakteknya terdapat keterikatan-keterikatan berbagai unsur pelayanan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. sehingga tidak adanya satu unsur saja dapat mempengaruhi proses pelayanan. pemenuhan kebutuhan fisik semata namun juga berfungsi sebagai tempat kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak-anak terlantar yang diharapkan nantinya mereka dapat hidup secara mandiri dan mampu bersaing dengan anak-anak lain yang notabene masih mempunyai orang tua serta berkecukupan. c. Sesuai dengan tujuan panti asuhan sebagai lembaga kesejahteraan sosial. perlindungan dan partisipasi. b.

1990: 1-2). lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya. anak beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku dilingkungannya Mengasuh anak bukan hanya merawat atau mengawasi anak saja. melainkan lebih dari itu. mandiri dan mempunyai kualitas intelektual. Dalam masa pengasuhan. memimpin dan dipimpin. orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak. . Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Di dalam pondok pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. sopan santun. Melalui orang tua. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati dan meladeni kehidupannya dalam segala hal. Pada umumnya banyak anak yang dalam proses pembentukannya bukan hanya diasuh oleh orang tua (ayah-ibu) yang merupakan basis dalam proses pengasuhan melainkan juga oleh individuindividu lain dan atau lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang ada disekitarnya (Supanto dkk. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Di samping harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan oleh . Anak tumbuh dan berkembang dibawah asuhan dan perawatan orang tua. Mengingat potensi atau kemampuan yang ada dalam pribadi anak-anak tersebut sangat besar untuk dapat dijadikan sebagai modal dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. mempunyai integritas pribadi yang utuh. yang bersumber pada pengetahuan kebudayaan yang dimiliki orang tuanya. berakhak mulia. membentuk latihan-latihan tanggung jawab. Oleh karena itu. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. yakni meliputi: pendidikan. berorganisasi. pengetahuan pergaulan dan sebagainya.16 mengembangkan potensi pribadi anak-anak terlantar sehingga nantinya diharapkan mereka mampu bersaing dan bertahan di dalam masyarakat.

masjid. hanya terdiri atas kyai. pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap imam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan. yang secara berurutan unsur- . Sedangkan Prasodjo mengemukakan bahwa pola-pola pondok pesantren terdiri dari lima pola. unsur-unsur pondok pesantren sangat sederhana. (Dhofier. santri dan kitab kuning. yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu relatif panjang. (Sukamto. Meskipun tradisi keagamaan pesantren dapat membangun sebuah subkultur. Pondok pesantren membentuk tradisi keagamaan yang bergerak dalam bingkai sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks. Sedangkan unsur-unsur lainnya . Sistem sosial yang lebih besar cenderung menekan komunitas-komunitas kecil yang sesungguhnya masih dalam ruang lingkup pengaruhnya. Unsur-unsur pondok pesantren berkembang sangat variatif tatkala para kyai membuat kebijakan yang bersifat adaptasi terhadap kurikulum nasional dalam upaya memperbarui bidang pendidikan di pesantren. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa: ”Unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri. 1999 : 1). Sementara itu. seperti melakukan shalat berjamaah.17 Dhofier menyatakan bahwa unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai.” (Sukamto 1999: 2 ) Subkultur yang dibangun komunitas pesantren senantiasa berada dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. Pada awalnya. asrama. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok pesantren dengan lembaga pendidikan di luar pondok pesantren terletak pada unsur tersebut. Unsur ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren. tetapi pesantren sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat. santri dan kitab kuning bersifat subsider yang keberadaannya di bawah kontrol dan pengawasan kyai. karena dianggap sebagai pemilik. Peranan kyai dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren.masjid. asrama. 1982: 44-60). santri dan bangunan rumah kyai yang berfungsi sebagai tempat mengaji Al-Qur'an.

Menurut Zamakhsyari Dhofier. Tipe yang kedua adalah pesantren khalaf (modern). Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan. atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP. pola II terdiri dari masjid. . tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. madrasah. 1986: 104-109). Hal ini menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial keagamaan dan pendidikan. tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. pondok dan madrasah. rumah kyai. Perkembangan pondok pesantren senantiasa melahirkan unsur-unsur baru tanpa harus menghilangkan unsur yang sudah terbentuk. pondok. 1997: 83). madrasah. pola V terdiri dari masjid. SMU dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya: (Wahjoetomo. 1999: 4) Terdapat bermacam-macam tipe pendidikan pesantren yang masingmasing mengikuti kecenderungan yang berbeda-beda. rumah kyai. lembaga pesantren bergerak secara dinamis dalam kurun waktu tertentu. gedung perkantoran. tempat ketrampilan. rumah kyai. pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kyai. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). tempat keterampilan. Secara garis besar.18 unsurnya berkembang dari sederhana hingga variatif. (Wahjoetomo. rumah kyai. universitas. (Sukamto. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. pondok. pola IV terdiri dari masjid. 1997: 87) Akan tetapi. pondok. pola III terdiri dari masjid. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah umum tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya. (Prasodjo. Terjadinya akumulasi atas unsur tersebut membuat pondok pesantren tetap eksis dan berfungsi dalam arus perubahan sosial.

Perkembangan pondok pesantren dan panti asuhan di Indonesia saat ini cukup dinamis sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki masa depan anak di era globalisasi ini. tidak selamanya pendidikan di pondok pesantren dan panti asuhan itu salah.19 Dibandingkan dengan pesantren salaf. Berbagai kasus kekerasan anak yang terjadi selama ini juga ada dilakukan baik di pondok pesantren dan panti asuhan. Mengidentifikasi pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak. pesantren khalaf mengantongi satu nilai plus karena lebih lengkap materi pendidikannya yang meliputi pendidikan agama dan umum. B. Tetapi pilihan anak untuk masuk ke pondok pesantren dan panti asuhan pun menjadi sebuah pertanyaan besar karena tidak semua anak berminat untuk tumbuh dan berkembang di sebuah lingkungan asrama. Lokasi penelitian ini difokuskan di Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Meskipun begitu. Tujuan Penelitian 1. . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimanakah pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren di Kota Solo dan Kabupaten Klaten?” C. Para santri pesantren khalaf diharapkan lebih mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern daripada alumni pesantren salaf. Karena tidak semua lingkungan asrama memberikan kenyamanan dan keamanan seperti tinggal di rumah sendiri. Oleh karena itu sangat menarik untuk mengambil penelitian tentang pola pengasuhan anak yang diselenggarakan di panti asuhan dan pondok pesantren yang memiliki karakteristik tertentu.

Potensi. Ruang Lingkup Penelitian 1. Terpetakannya dampak pola pengasuhan anak bagi tumbuh kembang anak khususnya dalam pemenuhan hak-hak anak di panti asuhan dan pondok pesantren 3. Profil Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang ada di Kota Solo dan Kabupaten Klaten 2. tantangan dan sumber daya panti asuhan dan pondok pesantren didalam menerapkan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. 3. Terpetakannya pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren sehingga dapat menjadi masukan dan bahan kajian bagi pemerintah daerah khususnya dalam membuat kebijakan tentang perlindungan anak di panti asuhan 2. Tersusunnya model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren E. Menyusun model pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak D. Dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren 4. Intervensi strategis untuk menyusun standar pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik anak di panti asuhan dan pondok pesantren . Manfaat Penelitian 1. Mengidentifikasi dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten 3.20 2.

2. meliputi perlindungan dan diskriminasi. tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. kelangsungan hidup dan perkembangan diri mereka. suku bangsa atau sosial. 3. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. dan (4) hak untuk berpartisipasi. bahasa. termasuk siksaan dan eksploitasi. jenis kelamin. spiritual. cacat.21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. agama. Negara-negara peserta konvensi akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi. yaitu: 1. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. yang menetapkan hal-hal penting menyangkut keberadaan anak. asal-usul bangsa. Hak-hak perlindung dari penelantaran dan kekerasan fisik atau pun mental. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggitingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. pendidikan. (3) hak atas perlindungan. 4. . Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak yang meliputi: (1) hak untuk hidup. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. Anak sebagai Warga Negara Yang dimaksud dengan anak dalam konvensi PBB (pasal 1). kelahiran atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum (Prinst. harta kekayaan. Tanpa memandang ras. Hak-hak yang melekat pada diri anak untuk hidup. adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun kecuali berdasarkan Undangundang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. mental. Hak-hak atas sebuah nama dan kewarganegaraan sejak lahir. Keempat hak anak tersebut di awali adanya Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989. Hak-hak atas pemeliharaan. (2) hak untuk berkembang. 2003: 104). moral dan sosial. dan perawatan khusus. warna kulit. pandangan politik atau pandangan lain.

tumbuh. penelantaran dan eksploitasi. Dalam UUD 1945 dalam pasal 28B ayat 2 disebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 6. dan penurunan angka kematian anak. Hak-hak atas perlindungan dari penyalahgunaan obat-obat terlarang dan keterlibatan dalam produksi atau peredarannya. Hak-hak memperoleh perlindungan dari upaya penculikan dan perdagangan anak. pendidikan kesehatan. 8. 7. Hak-hak memperoleh perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan pekerjaan yang dapat merugikan pendidikan mereka. Hak-hak untuk beristirahat dan bermain. tumbuh. atau membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 10. Pemenuhan hak-hak anak agar mereka dapat hidup. berkembang. Dengan penerapan disiplin dalam sekolah yang menghormati harkat dan martabat anak. Hak-hak mendapat perlakuan manusiawi dalam proses hukum sehingga memajukan rasa harkat dan martabat anak-anak yang terlibat kasus hukum untuk kepentingan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. dan mempunyai kesempatan yang sama atas kegiatan-kegiatan budaya dan seni. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.22 5. serta mendapat perlindungan dari . 11. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Hak-hak atas Pendidikan dasar yang harus disediakan oleh negara. Untuk mengimplementasikan amanat konstitusi. 12. Hak-hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dengan menitik beratkan pada upaya-upaya preventif. Hak-hak memperoleh perawatan atau pelatihan khusus untuk penyembuhan dan rehabilitasi bagi korban perlakuan buruk. 9.

Dalam beberapa keadaan tertentu keluarga tak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam pemenuhan kebutuhan anak. ”Beberapa penyebab keterlantaran anak. antara lain: 1. anak dapat: 1. Mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. . Pengembangan Kota Layak Anak secara terus menerus diimplementasikan ke sejumlah bagian kabupaten/kota yang terbatas dengan program pelayanan dasar perkotaan yang secara maksimum didukung oleh sumber daya yang ada. 4. sebagai upaya nyata untuk menyatukan isu hak anak ke dalam perencanaan dan pembangunan kabupaten/kota. Pemenuhan hak anak ini diwujudkan dalam pengembangan kota layak anak. 2. sosial. dan sosial. Dapat berpartisipasi dalam kehidupan keluarga. Dengan mengintegrasikan konsep perlindungan anak ke dalam program pembangunan kabupaten/kota akan lebih mudah dibandingkan dengan merealisasikan Konvensi Hak Anak secara langsung. Lingkungan yang dimaksud salah satunya adalah lingkungan panti asuhan dan pondok pesantren. komunitas. 3. Sebagai warga kota. Salah satu keberhasilan mewujudkan kota layak anak adalah adanya lingkungan yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang anak. B. Orang tua meninggal dan atau tidak ada sanak keluarga yang merawatnya sehingga anak menjadi yatim piatu. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup terlantar. berakhlak mulia.23 kekerasan dan diskriminasi. Panti Asuhan Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. Berkontribusi terhadap kebijakan yang akan mempengaruhi kotanya. dan sejahtera. yang kemudian menyebabkan keterlantaran pada anak. Berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan sosial.

kelima. jasmani. atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik. merawat. 1986:111). maupun sosial. piatu. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lain-lain (BPAS. kurang pendidikan dan pengetahuan. keempat kurang bermain. mengasuh anak-anak yang berasal dari latar belakang status sosial bermasalah (yatim. Panti asuhan mencoba untuk menggantikan keluarga dalam menggantikan menjalankan fungsi keluarga guna pemenuhan kebutuhan anak. Menurut Undang-undang No. kedua. baik secara jasmani.24 2. Keterlantaran anak yang terjadi karena fungsi keluarga yang tidak dapat dijalankan secara baik tersebut kemudian diatasi. rohani. terlantar. Panti asuhan adalah rumah. miskin. 1979). keluarga retak dan orang tua sakit) Menurut buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengetahuan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. ketiga. Tentang Kesejahteraan anak Bab 1 Pasal 1) Ciri-ciri anak terlantar adalah: Pertama. Orang tua tidak mampu (sangat miskin) sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal anak-anaknya 3. baik secara rohani. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. tempat untuk memelihara.” (BKPA: Pedoman Panti Asuhan. definisi anak terlantar adalah sebagai berikut: ”Anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu sebab orang tuanya tidak dapat menjalankan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. Orang tua tidak dapat dan tidak sanggup melaksanakan fungsinya dengan baik atau dengan wajar dalam waktu relatif lama misalnya menderita penyakit kronis dan lain-lain. mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas. maupun sosial” (UU No. mengenai definisi dari Panti Asuhan bahwa: “Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan pelayanan pengganti. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. 4/1979. salah satunya oleh panti asuhan. yatim piatu. tepat dan memadai bagi .

Dengan demikian yang bertempat tinggal di dalam panti asuhan berasal dari latar belakang ekonomi . Sedangkan menurut Badan Pembinaan Koordinasi dan Pengawasan Kegiatan (BPKPK). Panti asuhan dapat pula dikatakan atau berfungsi sebagai pengganti keluarga dan pimpinan panti asuhan sebagai pengganti orang tua. Penyebab keterlantaran ini antara lain salah satu atau kedua orang tuanya meninggal sehingga tidak ada yang merawat. keluarga dan masyarakat. menjaga dan memberikan bimbingan dari pimpinan kepada anak dengan tujuan agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang cakap dan berguna serta bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat kelak di kemudian hari. Dengan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan panti asuhan bukan hanya menyantuni akan tetapi juga berfungsi sebagai pengganti orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. rohani maupun sosial 3. Umumnya anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah: 1. sehingga tidak memungkinkan anak dapat berkembang secara wajar baik jasmani. sehubungan dengan orang tua anak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam mendidik dan mengasuh anaknya” (BPKPK: PA. Selain itu panti asuhan juga memberikan pelayanan dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah pengembangan pribadi yang wajar dan kemampuan ketrampilan kerja. piatu dan yatim piatu terlantar 2. definisi dari Panti Asuhan adalah: ”Panti asuhan dapat diartikan sebagai suatu lembaga untuk mengasuh anak-anak.25 perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. Anak terlantar yang keluarganya mengalami perpecahan. Anak terlantar yang keluarganya dalam waktu relatif lama tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranan sosialnya secara wajar. 1986:3). sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya. 1982:1). sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional” (Depsos RI. Anak yatim.

Panti asuhan baik yang diselenggarakan oleh negara maupun yayasan dimaksudkan sebagai tempat bernaung bagi anak-anak terlantar dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang mengalami berbagai macam gangguan sosial. Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih . perpecahan dalam keluarga. Pondok Pesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para siswanya tinggal bersama dalam suatu kompleks dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan “Kyai” (Dhofier. baik bersifat intrinsik yaitu berasal dari anak itu sendiri maupun ekstrinsik yaitu karena pengaruh lingkungan luar dari anak. tidak ada catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan Islam ini pertama kali muncul di Indonesia. panti asuhan mencoba untuk membentuk anak asuhnya dalam menghadapi stereotif masyarakat yang memandang bahwa anak panti asuhan memiliki kelas yang lebih rendah dan minder ini coba untuk diatasi panti asuhan ini melalui para pengasuh. Pesantren sering kali kurang dipahami oleh masyarakat diluar lingkungannya. meski telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu. kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar abad pertengahan. Dengan visinya yang ingin membentuk manusia secara utuh dengan cara memanusiakan manusia. 1982:50). Sesuai dengan definisi di atas. mencerminkan tanggung jawab pengasuh untuk menghidupkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan. panti asuhan memberikan pelayanan pemeliharaan baik secara fisik. Peranan seorang pengasuh. Pada umumnya panti asuhan memberikan penanaman nilai-nilai kepercayaan diri agar bisa menerima kondisi dirinya dan mengatasi rasa minder dan rendah dirinya. kondisi mental dan sosial anak asuh menjadi perhatian khusus. kemiskinan dan lain sebagainya sehingga anak menjadi terlantar. Namun secara lebih lanjut. C.26 yang berbeda-beda yang akan membentuk lingkungan masyarakat yang baru. mental maupun sosial. seperti orang tua tunggal.

(Suaedy. (Marjuki Wahid. berekonomi. 2. sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. 1999:14) Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah para san-tri atau murid tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu yang mandiri. ”Pondok pesantren merupakan latar belakang pendidikan yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku santrinya”. Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat. rumah tempat linggal kyai dan keluarganya. Hal ini bisa dibuktikan dalam kehidupan bersosial budaya. dan ruangan-ruangan belajar. Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik. Dalam perjalanan perkembangannya. Santri taat dan patuh kepada kyainya. berpolitik. Lembaga tersebut muncul walaupun dalam bentuk yang sederhana tetapi ternyata dalam perkembangannya telah memberikan investasi bernilai luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat. 5. 4. yaitu masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan. pondok pesantren semakin mengembangkan dirinya untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman. biasanya sebuah pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri dari sarana dasar. Sehingga saat ini kita melihat ada bermacam-macam tipe pendidikan . tumbuh sekitar peralihan abad ke19. pondok tempat tinggal para santri. bernegara dan beragama di Indonesia sampai sekarang. beragama dan bidang kehidupan lainnya dari kelompok masyarakat Islam tradisional sekalipun dibandingkan dengan masyarakat Islam modern saat ini. Menurut Abdurrahman Wahid. seperti: 1. Adanya semangat gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan.27 modern sebagaimana dikenal sekarang. Para santri hidup secara mandiri dan sederhana. 2001:1) Lembaga pendidikan pesantren ini muncul sebagai tantangan zaman dari desakan masyarakat Islam yang masih tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan agama. 3.

sedangkan yang belum harus mengulanginya lagi. Dalam tradisi pesantren. Bagi santri yang telah menguasai materi pelajarannya akan ditambahkan materi baru. 1994: 41 ) Beberapa pesantren salaf masih mempertahankan kecenderungan dengan tipe penyajian pelajaran klasik. yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kyai.28 pesantren. Secara garis besar. atau membuka tipetipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren. Pesantren Salafi. pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode berikut: 1. Metode wetonan dan bandongan. yaitu bentuk belajar-mengajar di mana kyai hanya menghadapi seorang santri atau se-kelompok kecil santri yang masih dalam tingkat dasar. yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya. Pesantren Khalafi. lalu men-jelaskan kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab dan para santri menyimak bacaan kyai sambil mem-buat catatan . Beberapa pesantren yang dikenal dengan pesantren modern tidak lagi menggunakan tipe pelajaran klasik tetapi juga memasukkan pengetahuan umum agar mampu bersaing di pasar kerja. ialah metode mengajar dengan sistem ceramah. 2. 2. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar. kemudian kyai membacakan beberapa bagian dari kitab itu. Di daerah Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah bandongan. Dalam metode ini kyai biasanya membacakan. yaitu : 1. Kyai membaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu seperti sesudah salat berjemaah subuh atau isya. lalu murid mengulangi bacaannya di bawah tuntunan kyai sampai santri benar-benar dapat membacanya dengan baik. Kecenderungan seperti ini tentunya mengalami kendala serius dalam menjaga kelangsungan pesantren. menerjemahkan. Metode sorogan. (Dhofier.

yakni murid mengelilingi guru yang membahas kitab. Secara umum kehidupan di dunia pesantren akan tergambar dalam kegiatan para kyai dan santri melalui peran dan fungsinya masing-masing. khususnya dalam bidang agama. Segala daya dan upaya yang ia miliki digunakan untuk terwujudnya sebuah lembaga pondok pesantren. Lembaga pendidikan pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Para santri tinggal menetap di asrama yang telah disediakan kyai. sehingga tanggung jawab yang berhubungan dengan kesantrian dan kepesantrenan berujung pada sang kyai. Ciri-ciri tersebut antara lain: 1. karena para santri tinggal di asrama yang disediakan. 3. 2. ekonomi dan budaya sehingga diharapkan santrinya setelah selesai/keluar dari pesantrennya mampu menjadi motivator dan dinamisator di masyarakat. namun juga dalam bidang politik. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri. sehingga pembinaan dan komunikasi antara santri dan kyai menjadi lancar dan mudah mengaturnya. ialah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap ma-salah yang berhubungan dengan pelajaran santri di tingkat tinggi. Di daerah luar Jawa metode ini disebut haldqah (Ar. dia jalan terus. Metode musyawarah. . Masyarakat yang hendak membantu diterima dengan senang hati. 4. Para kyai siap melayani para santrinya selama 24 jam. yaitu santri harus aktif mem-pelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. 3. Para kyai selalu memberi bimbingan penuh kepada para santrinya. Kyai hanya menyerahkan dan memberi bimbingan seperlunya. tetapi jika tidak ada bantuan dari masyarakat. Pondok Pesantren didirikan oleh seorang kyai yang sudah bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk membina secara khusus dalam pendidikan agama.).29 penjelasan di pinggiran kitabnya.

Kurikulum yang disajikan semuanya pelajaran agama melalui kitab kuning klasik.30 5. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah pondok pesantren adalah : 1. 13. sehingga kelihatan sekali wibawa para kyai di kalangan para santri. 2000 : 91-93) Dalam perjalanan sejarah Indonesia pesantren telah memainkan peranan yang besar dalam usaha memperkuat iman. 6. . sebagai pendiri. pengasuh sekaligus pemimpin dan manajernya. madrasah. Kekhidmatan para santri kepada para kyai sangat tinggi. 11. sudah disajikan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Sarana prasarana yang tersedia atau harus dipersiapkan adalah berupa masjid. Metode dan teknik mengajar di pesantren secara umum melalui metode wetonan. meningkatkan ketakwaan. 12. kecuali pesantren khalafiyah. nonformal. Untuk menjadi seorang ulama yang besar. ( Muttaqin. Budaya yang menonjol dari kehidupan pondok pesantren selalu bersifat religius. 10. dan pendidikan formal yang diselenggarakannya. Adanya kyai. Pada umumnya pesantren itu adalah lembaga pendidikan non formal. 9. pemilik. Para santri siap mengabdikan diri pada para kyai dan menimba ilmu dari padanya. sorogan. bandongan. 7. membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal. Para santri dididik hidup mandiri dan dewasa melalui berbagai kondisi yang ada dan kegiatan di pesantren. seorang santri harus mampu menguasai berbagai kitab kuning dari yang kecil sampai kepada yang besar. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri. dan pondokan/asrama tempat tinggal para santri. Secara informal lembaga pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. 8.

Biasanya masjid menjadi tempat beribadah terutama shalat lima waktu dan beberapa diantaranya berfungsi pula sebagai tempat pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Pertama. (Dhofier. pengajaran kitab-kitab Islam klasik (sering disebut juga kitab kuning) tetap dipertahankan. yaitu: . yang kurikulumnya ditentukan oleh kyai. 5. yang tinggal di pondok/asrama untuk belajar ilmu agama dan sekaligus mengabdikannya pada kyai. Karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon ulama. 1982: 46-47) Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. Dan ketiga. Kedua hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana hampir tidak ada perumahan yang cukup untuk menampung santri. sebagai sarana/tempat ibadah/shalat berjamaah dan sekaligus untuk belajar ilmu agama. untuk tempat tinggal para santri. maka meskipun kini kebanyakan pesantren telah menggunakan metode pengajaran modern. Menurut Zamakhsyari Dhofier. para santri harus meninggalkan kampung halaman dan menetap.31 2. Memiliki masjid. Kedudukannya sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. 1982 : 49) Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satusatunya pengajaran formal yang diberikan di pesantren. Adanya santri. ada tiga alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama. ada sikap timbal balik dimana santri menganggap kyai sebagai bapaknya sendiri dan kyai menganggap santri titipan Tuhan yang harus dilindungi. (Dhofier. Adanya kegiatan mengaji kitab-kitab kuning. kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. Di dalam pesantren sendiri terdapat dua kelompok santri. Adanya pondokan. 4. 3. Untuk dapat menggali ilmu tersebut secara teratur dan lama.

Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. kedua. gelar untuk orang-orang tua. lah yang biasanya menjadi penentu kebijakan pesantren. (Dhofier. sehingga pertumbuhan dan corak pesantren bergantung kepada kemampuan kyai. dan ketiga gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Menurut Wagnel dan Funk bahwa mengasuh itu meliputi menjaga serta memberi bimbingan menuju pertumbuhan kearah . kata ini dipakai untuk tiga jenis gelar (Dhofier. Apa yang dilakukan pesantren tidak mendasarkan pada strategi tertentu. Sedangkan kyai merupakan elemen pembentuk tradisi pesantren yang paling esensial. Pengasuhan berasal dari kata asuh yang mempunyai makna menjaga. merawat dan mendidik anak yang masih kecil (Poerwadarminta. melindungi. D. gelar untuk benda-benda keramat. melainkan berangkat dari penghayatan dan keberagaman kyai. apabila kyai pengasuh pesantren meninggal. Karenanya dapat dipahami apabila pasang surut perjalanan pesantren bergantung pada kyai. 1982: 52). Menurut asal usulnya. yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren. 2. Dan. Karenanya. mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. Santri kalong.32 1. mendampingi. Pertama. Santri mukim. kepemimpinan secara otomatis dipegang oleh anaknya atau keluarganya. 1984). yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. 1982 : 52). yaitu murid-murid yang berasal dari jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan adalah bentuk perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara. hanya dalam pengertian yang terakhirlah kata ”kyai” dipakai dalam penelitian ini.

Pemberian disiplin dalam arti mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik. Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang . Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam mempersiapkan seseorang menjadi anggota masyarakat. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu. 1989:3). Sejak kecil anak mulai belajar dari orang tua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma tersebut. hal ini memerlukan suatu proses yaitu dengan sosialisasi. mentaati. Artinya mempersiapkan orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didukungnya. termasuk prestasi yang diraihnya. yaitu orang tua atau tokoh otoritas lainnya. Menurut Soerjono Soekanto. ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku. maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar mengendalikan diri. sosialisasi adalah suatu proses dimana warga masyarakat dididik untuk mengenal. dan belajar mengakui adanya sejumlah hak dan kewajiban yang ada dibalik aturan dan norma tersebut. Dengan demikian cara atau bentuk disiplin yang diberikan banyak tergantung pada sipemberi disiplin. makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh (Sunarti dkk. menghargai dan menghayati norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Soekanto 1982: 142). Penanaman nilai-nilai yang diberikan tentunya tidak bisa dilakukan dalam sekejab. memahami. Orang tua mempunyai pengaruh penting serta wakil lingkungan sosial yang terkecil. Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang melanggar aturan dan norma itu.33 kedewasaan dengan memberikan pendidikan. Cara pemberian disiplin berbeda-beda dan sudah barang tentu memberikan hasil yang berbeda. Pengasuhan anak (Child Rearing) adalah salah satu bagian penting dalam proses sosialisasi.

Individu tidak begitu saja melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya karena individu memiliki lingkungan di luar baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. 3. 1990:12) Lebih lanjut. Proses sosialisasi adalah proses belajar. ide-ide.” (Vembriarto. 3. yaitu proses akomodasi dengan mana individu menahan. dan kemudian mengidentifikasikan dirinya menjadi suatu pribadi. yaitu: 1. nilai-nilai.” (Khaeruddin 1985:79) Melalui proses sosialisasi seseorang akan mengenal nilai dan norma. sikap. proses sosialisasi tersebut tersirat ke dalam tiga tahap kegiatan. pengalaman kelompok dan pengalaman unik. antara lain: warisan biologis. 2. Tahap pengalaman mental. Adapun proses sosialisasi. Vembriarto mendefinisikan proses sosialisasi. Khaerudin membagi ke dalam tiga tahap. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. pola-pola. Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang yang mana didahului oleh suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama. lingkungan fisik. 2. Kepribadian menyatakan cara berperilaku dan bertindak yang khas dari . kepribadian seseorang akan terbentuk.34 menyerap nilai dan norma yang ditanamkan. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dan diri pribadinya. Tahap belajar (learning) Dalam tahap ini sosialisasi berlangsung dan individu mengalami proses belajar. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan. Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati atau mendarah dagingkan (internalize) nilai-nilai dan norma-norma kelompok dimana la hidup sehingga timbullah diri yang unik (Horton dan Hunt 1991: 100) Dalam sosialisasi. dan tingkah laku menurut standart dimana ia hidup. kebudayaan. yaitu: 1. Tahap penyesuaian diri terhadap lingkungan. Kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Penerapan larangan maupun keharusan terhadap pola pengasuhan anak beraneka ragam. dan juga pendidikan (moral maupun intelektual). Pengajaran (instructing) Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengajaran berasal dari kata “ajar” yang berarti “barang apa yang dikatakan kepada orang supaya diketahui (dituruti. Pengajaran (Instructing). larangan. kepribadian adalah merupakan keseluruhan faktor biologis. Dengan kata lain. psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu (Horton dan Hunt. dll. perihal mengajar atau segala sesuatu mengenai mengajar” (Poerwadarminta.” Sedangkan “Pengajaran” mempunyai arti “cara (perbuatan.Pengganjaran (rewarding). (3). yang merupakan hasil perpaduan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi perilaku yang dihadapi seseorang. penerapan disiplin. (2) cara penerapan larangan atau keharusan yang dipergunakan. yaitu hukuman dan penghargaan. 2.35 seseorang setiap harinya. norma. (2). Pembujukan (inciting) (Sunarti dkk. 1991: 90). 1. Tetapi pada prinsipnya cara pengasuhan anak ini setidaktidaknya mengandung sifat (1). keharusan yang harus ditaati dan diketahui anak. 1989:1-3). Pengganjaran (rewarding) Menurut Hurlock pengganjaran dalam pola pengasuhan dibedakan menjadi 2 jenis. 1984:22). . Dari beberapa pengertian tentang batas asuh. dsb). Kepribadian seseorang yang terbentuk tersebut merupakan wujud dari bentukan nilai yang telah tersosialisasi dan terinternalisasi dalam diri seseorang. yang patut dicatat adalah apa yang diuraikan oleh Whitung dan Child (1966) yang mengatakan bahwa dalam proses pengasuhan anak harus diperhatikan (1) orang yang mengasuh. Dengan demikian nilai merupakan salah satu hal utama yang menjadi tujuan sosialisasi. dsb) mengajar atau mengajarkan. Pengajaran disini diartikan sebagai bagaimana mensosialisasikan nilai-nilai.

Potter dan Stacy Smith juga meliputi tampilan aksi di media yang membahayakan manusia secara individu maupun kelompok yang terjadi akibat kekerasan yang tidak tampak (unseen violent mean). W James Potter dan Stacy Smith (1999) mendefinisikan kekerasan sebagai berikut: any overt depiction of a credible threat of physical force or the actual use of such . Latin: Violare = “memakai kekuatan”) didefinisikan oleh Yonky Karman sebagai pemakaian kekuatan untuk melukai. Kekerasan (Inggris: Violence. kecenderungan untuk mengancam. Hukuman Hukuman berasal dari kata latin “punire” yang berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan. Penghargaan tidak harus dalam bentuk materi. (Hurlock.) Sementara itu.KIPPAS. tetapi dapat berupa kata-kata pujian. kekerasan yang ditampilkan media massa menurut W James Potter dan Stacy Smith terdiri dari tiga tipe dasar yakni. merusak harta benda atau orang secara fisik maupur psikis (Karman. Sedangkan Ashadi Siregar secara sederhana mendefinisikan kekerasan sebagai situasi yang melibatkan dua pihak. Kekerasan menurut W James. di satu pihak adalah yang melakukan dominasi dan pada pihak lain yang mengalami ketidak-berdayaan (http://www.force intended to harm physically an animate being or group of beings (Segala tampilan yang menggambarkan kecenderungan maupun tindakan nyata untuk mengancam atau membahayakan seseorang atau kelompok secara fisik) (Potter dan Smith. aksi . perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan.36 a. 1999: 35). senyuman atau tepukan dipunggung. membahayakan. 1999: 86-90) Di dalam cara pengasuhan anak dengan pengganjaran (rewarding) sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh anak.com. 1999). Penghargaan Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk setiap hasil yang baik. Dari pemikiran di atas. b.

keras sebagai sifat) dengan acts of violence (tindakan-tindakan kekerasan) (Whindhu. Dari sudut korban. yaitu sebagai berikut: a. Galtung tidak membedakan violent acts (tindakan-tindakan yang keras. tidak bebas. . Disengaja atau tidak. mengatasi kekerasan struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. yang hanya menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup untuk melihat. Pemahaman Galtung tentang kekerasan lebih ditentukan pada segi akibat atau pengaruhnya pada manusia. d. tubuh manusia disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Ada obyek atau tidak. Ada subyek atau tidak. dan cenderung manipulatif. dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak langsung. Kekerasan fisik dan psikologis. mean). Sistem orientasi imbalan (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. 1992: 65). Pengaruh positif dan negatif. kekerasan tetap kekerasan. kurang terbuka. e. dan kekerasan yang tidak terlihat namun memiliki akibat sangat berbahaya (unseen violent. meskipun memberikan kenikmatan dan euphoria.37 nyata. Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan psikologis. Galtung juga menguraikan enam dimensi penting dari kekerasan. meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia. c. Dalam kekerasan fisik. Kekerasan disebut langsung atau personal jika ada pelakunya. Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan pemahaman. b. Sedangkan kekerasan psikologis adalah tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak. sengaja atau tidak.

Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang tidak kelihatan (latent). dapat dilihat meski secara tidak langsung. 1992: 73). Pembujukan (inciting) Menurut Poerwadarminta (1984) pembujukan berasal dari kata “bujuk” yang artinya kata-kata manis untuk memikat hati. sedangkan “pembujukan” adalah hal atau perbuatan membujuk (Poerwadarminto. . yakni kekerasan personal dan kekerasan struktural. baik yang personal maupun struktural. memerlihatkan stabilitas tertentu dari tidak tampak (Windhu. “Membujuk” artinya mengenakan kata-kata manis dengan maksud hendak memikat hati. atau evolusi hasil dukungan militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah tantangan utama terlewati. kekerasan personal seperti yang telah disebutkan di atas akan diperhatikan. Galtung membedakan kekerasan menjadi dua jenis. Kekerasan yang ada di dalam masyarakat menurut Galtung tersebut akan berbeda-beda tergantung pada golongan apakah masyarakat tersebut. Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun dengan mudah. sementara kekerasan struktural dianggap wajar. mudah diamati. nyata (manifest).38 f. Dalam masyarakat yang statis. kekerasan personal bisa dilihat sebagai hal yang berbahaya dan salah. Kekerasan tersembunyi yang struktural terjadi jika suatu struktur egaliter dapat dengan mudah diubah menjadi feodal. Sifat kekeraan struktural adalah statis. Menurutnya masyarakat ada yang statis dan dinamis. sementara kekerasan struktural semakin nyata menampilkan diri. tetapi bisa dengan mudah meledak. Kekerasan yang tampak. memerlihatkan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan. 1984:159). Namun dalam masyarakat yang dinamis. sifat kekerasan personal adalah dinamis. Yang tampak dan tersembunyi. 3.

panti asuhan memiliki dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya. menarik hati dan terkesan tidak menyuruh. yaitu sistem pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. Di dalam UU Perlindungan Anak juga diatur tentang pola pengasuhan lembaga pelayanan anak ini. Masing-masing lembaga pelayanan anak seperti panti asuhan dan pondok pesantren memiliki pola pengasuhan yang berbeda-beda. . Kedua sistem pengasuhan tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh.39 Pembujukan dilakukan agar anak mau mengikuti ajakan atau perintah pengasuh dengan kata-kata yang lebih halus. Sehingga anak menurut dengan pengasuh. yaitu tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama karena ada konsekuensi hukumnya. Secara umum. stabilitas dan kontinyuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh pengasuh.

40 BAB III METODE PENELITIAN A. swasta dan campuran. Teknik Pengumpulan data Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian ini adalah Indepth Interview (Wawancara Mendalam) . C. Untuk memudahkan di dalam proses penelitian maka masing-masing daerah di ambil 2 panti asuhan dan 2 pondok pesantren. Lokasi Penelitian dan Partisipan Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. Sedangkan data kuantitatif dikumpulkan untuk menyusun profil panti asuhan dan penguatan data kualitatif. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data mendalam dan informasi tentang masalah yang dialami oleh partisipan (anak) dalam kaitannya dengan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Pengambilan sampel panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat memenuhi semua strata atau kriteria khususnya panti asuhan yang dikelompokkan kedalam kategori milik pemerintah. Lokasi penelitian diutamakan di Kecamatan Banjarsari dan Pasar Kliwon untuk Kota Solo serta Kecamatan Bayat dan Wedi untuk Kabupaten Klaten. Focus Group Discussion (FGD) dan Observasi dengan didukung dokumen atau arsip sebagai penguatan data. Adapun jumlah panti asuhan di Kota Solo 13 dan di Kabupaten Klaten berjumlah 20. . B. Sedangkan jumlah pondok pesantren di Kota Solo ada 3 dan di Kabupaten Klaten ada 2.

Dari analisis data tersebut akan disusun model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Rencana Penelitian 1. 7. F. data primer dilakukan untuk mengetahui dampak atau permasalahan yang dihadapi anak kaitannya dengan pelaksanaan perlindungan anak dalam pola pengasuhan yang dilakukan oleh panti asuhan dan pondok pesantren.41 D. E. 4. Pelatihan kepada peneliti oleh Technical Advisor Try Out Instrumen Penelitian di Kota Solo Penyempurnaan Instrumen Penelitian . FGD terhadap anak menurut kelompok usia dan dilanjutkan dengan telling story dan indepth interview dengan pendekatan analisis psikologis. Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif. Perbaikan protokol penelitian dan pembuatan instrumen penelitian Rekruitmen peneliti oleh Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS Solo 5. 2. Teknik Pengambilan Partisipan Sebagai populasi penelitian adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti dengan teknik stratified random sampling menurut kelompok usia (6-12 tahun) dan (13-18 tahun). Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan indikator yang diteliti dilakukan melalui tahapan penelitian FGD terhadap primary care giver (pengasuh). Penyusunan protokol penelitian Pertemuan dengan Stakeholders Kota Solo dan Kabupaten Klaten untuk mencari masukan bagi penyempurnaan protokol penelitian 3. pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. 6. Analisis data sekunder dan primer dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis profil panti asuhan dan pondok pesantren.

Penyusunan Final Report G. Irfan. 1 orang psikolog dan 8 orang enumerator. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dimulai bulan Mei hingga Agustus 2009. Seminar hasil pemetaan untuk penyempurnaan final report 11. Mita. Henry.Si Enumerator : 9 orang (Erliana.A (sosiolog) : Dra. Argyo Demartoto. Yuni. Mahmud Yusuf.Psi. S.Sos. 1 orang koordinator peneliti. S. M. Organisasi Penelitian: Organisasi dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang Technical Advisor. MS (sosiolog/perlindungan anak) Koordinator Peneliti : Drs. Personalia dalam penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut : Ketua Peneliti (TA) : Ir Retno Setyowati. MP Drs. M.Si (sosiolog) Sri Lestari. 1 orang koordinator Solo. . M. 9. M. Indra Waskita.42 8. Devi.Si (Psikolog) Koordinator Solo Koordinator Klaten : Atik Catur Budiati. 1 orang koordinator Klaten. Isti & Nurul). Nunuk Siti Rahayu. Pengumpulan data primer dan sekunder Analisis data dan penulisan laporan penelitian oleh koordinator peneliti (1 koordinator peneliti kota Solo dan 1 koordinator peneliti kabupaten Klaten) dan Technical Advisor (TA) 10.

43 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Karena terjadi perselisihan suksesi. Sejak saat itu nama desa Solo berubah mcnjadi Surakarta Hadiningrat Selanjutnya kekuasaan Kerajaan Mataram terus menyusul. Sejarah Berdirinya Kota Surakarta Kota Surakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan dan kesenian Jawa di Indonesia. 1995: 20) Sejarah Kota Surakarta berawal pada tanggal 17 Suro 1670 atau 17 Februari 1745 dimasa Kerajaan Mataram Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Paku Buwono II memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Kartosuro ke sebuah desa kecil di tepi Bengawan Solo bernama Desa Solo. Menurut perhitungan. maka Pemerintah Daerah . di desa Solo inilah Keraton akan mencapai kebesaran dan kemakmuran. Keadaan Umum Kota Surakarta a. yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1753. Orang yang pertama kali melakukan babat alas adalah Ki Gede Sala yang makamnya berada di daerah dalam beteng. Kedua keraton ini merupakan sumber budaya Jawa yang adiluhung dan telah banyak memberikan warna kehidupan dalam bidang seni dan budaya pada masyarakat Surakarta dan sekitarnya (Pemerintah Daerah kota Surakarta. yaitu Kasunanan dan Mangkunegara. Politik adu domba yang dilancarkan VOC menyebabkan Mataran terpecah menjadi dua bagian. yaitu Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pemerintahan di Negara Republik Indonesia. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten 1. kemudian lahirlah Perjanjian Salatiga yang menyatakan bahwa Surakarta dibagi menjadi dua Kerajaan. Hal ini tidak lepas dari keberadaan dua keraton di Surakarata.

sebagai kota industri. sekarang berstatus sebagai Kotamadya. Namun secara yuridis Kota Surakarta baru terbentuk berdasarkan ketetapan Pemerintah Tahun 1949 No. dan pada tahun 1905. Berdasarkan status administratifnya. Sejarah Kota Surakarta yang bernuansa feodal. Hal ini tidak begitu mengherankan jika menengok sejarah berdirinya Kota Surakarta yang sebelumnya memang bernama Sala. Keadaan alam Kota Surakarta Wilayah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m dari permukaan . nama Sala atau Solo lebih popular. 16/SD yang diumumkan tanggal 15 Juli 1946. memberi andil bagi perkembangan budaya patriarki masyarakatnya hingga saat ini. Setelah Indonesia merdeka. b. Surakarta vang sebelumnya menggunakan sistem pemerintahan kerajaan diubah menjadi ibu kota Karesidenan. pariwisata.44 Kota Surakarta berhak mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri di Kota Surakarta. Adapun perkembangan perubahan yang terjadi di Kota Surakarta. yaitu: 1) Kota Surakarta 2) Haminte Surakarta 3) Kota Besar Surakarta 4) Kotapraja Surakarta 5) Kotamadya Surakarta (1946 – 1947) (1947 – 1948) (1948 – 1957) (1957 – 1965) (1965 – 1974) 6) Kotamadya Dati II Surakarta (1974 – 1999) 7) Pemerintah Kota Surakarta (1999 – sekarang) Surakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Daerah Tingkat II Kota Praja. perdagangan. budaya dan olahraga. sedangkan sebutan Surakarta lebih bernuansa formal-birokratis. tepatnya pada tahun 1945. Secara defacto Kota Surakarta terbentuk pada tanggal 16 Juni 1746 dengan daerah meliputi bekas Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran. Hingga saat ini Surakarta telah berkembang dengan pesat menjadi kota besar yang berfungsi sebagai pusat administrasi tingkat regional.

Kota Surakarta terletak antara 110o 45’ 15” dan 110o 45’ 35” Bujur Timur dan antara 7° 36’ dan 7° 56’ Lintang Selatan. Letak Kota Surakarta juga sangat strategis. Sungai Bengawan Solo merupakan Sungai yang terpanjang di Pulau Jawa. c. Letak dan Luas Kota Surakarta terletak di daerah Propinsi Dati II Jawa Tengah bagian Selatan dan merupakan penghubung antara Daerah Propinsi Jawa Tengah bagian Timur dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keadaan lalu lintas yang cukup ramai. Selain itu. Anyar. yaitu berada diantara dua Gunung maupun Pegunungan. yaitu Gunung Lawu di bagian Timur. dan Jenes yang kesemuanya tersebut bermuara di Bengawan Solo. tetapi setidaknya kita dapat menikmati keindahan alam. tepatnya di Tawangmangu (Kabupaten Karanganyar) serta di bagian Barat adalah Gunung Merapi dan Merbabu. yang tepatnya berada di Selo (Perbatasan Kabupaten Boyolali dan Magelang). akan menambah keindahan panorama saat berkendara di Kota. Batas-batas wilayah Kota Solo. sehingga sungai Bengawan Solo ini adalah salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh Kota Surakarta. Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang menunjang kota-kota lainnya seperti Semarang maupun Yogyakarta. walaupun keindahan alam tersebut bukan merupakan kekayaan alam Kota Surakarta. Menurut keadaan astronomi. yaitu antara lain: 1) Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali 2) Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar 3) Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten . Dengan terlihatnya dua Gunung yang mengapit Kota Surakarta ini.45 air laut dan dilalui oleh sungai Pepe.

644.06 km2 yang terbagi dalam lima kecamatan.742 Laweyan 11 105 452 Serengan 7 75 332 Pasar Kliwon 9 100 424 Jebres 11 145 605 Banjarsari 13 167 832 Kota 51 592 2.rata jumlah KK setiap RT berkisar sebesar 48 kk setiap RT. Tabel 4.742 kk. RW dan Kepala Keluarga yang berada di Kota Surakarta.242 31. Sedangkan untuk kegiatan ekonomi juga memakan tempat yang cukup besar. RT.1 Banyaknya Kelurahan. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah kelurahan. yaitu : 1) Kecamatan Laweyan 2) Kecamatan Serengan 3) Kecamatan Pasar Kliwon 4) Kecamatan Jebres 5) Kecamatan Banjarsari Sebagian besar lahan dipakai sebagai tempat permukiman sebesar 61%. yaitu berkisar antara 20% dari luas lahan yang ada. Dengan jumlah Kepala Keluarga sebesar 127. maka rata .864 15. Jumlah RW tercatat sebanyak 592 dan jumlah RT sebanyak 2.746 127. RW. dan Kepala Keluarga Di Surakarta No 1 2 3 4 5 Kecamatan Kelurahan RW RT Kepala Keluarga 22.645 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 .020 20. Wilayah Kota Solo terbagi dalam 5 Kecamatan dan 51 Kelurahan.870 37. RT.46 4) Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar Sukoharjo dan Kabupaten Luas wilayah Kota Surakarta mencapai 44.

serta RT (ada 832).838 15. d.750 14.972 40.972 40.131 37.241 55 – 59 8.443 485.320 15.076 15 – 19 21.501 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki.467 45 – 49 14. karena di Kecamatan Banjarsari juga terdapat jumlah paling banyak Kelurahan (ada 13).934 35 – 39 17.430 26.031 15.256 29.498 Jumlah 231.601 40 – 44 17.546 7.635 47.235 30 – 34 22.519 18.496 20. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah penduduk Kota Surakarta menurut kelompok umur dan jenis kelamin.47 Dari data tersebut diatas tampak bahwa sebagian besar ataupun jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Banjarsari.627 10 – 14 18.241 64 + 13.811 13.494 18.355 43.276 15.519 21.670 31.716 38. RW (ada 167).491 25 – 29 19.104 21. Tabel 4.356 26. Sedangkan usia produktif yaitu antara 20 – 39 tahun yang berjumlah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 .491 8.946 5–9 17. Keadaan Demografi Penduduk Kota Surakarta 1) Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penduduk yang tinggal di Kota Surakarta terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surakarta.107 35.495 22.469 54.287 50 – 54 12.660 29.022 28.866 60 – 64 5.058 254.2 Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Usia (Tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Total 0–4 16.991 20 – 24 26.

628 3 2006 512.614 orang penduduk laki-laki dan 86.592 78.647 orang penduduk perempuan. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.540 88.35 2 2005 250.4 Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Usia 0 – 19 tahun L P Jumlah 1 2004 557.672 534.058 254.261 orang.364 88.898 80.80 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Sedangkan jumlah penduduk yang berusia 0 – 19 tahun dapat dilihat pada Tabel 4.775 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Jumlah Penduduk Sesuai dengan Undang-Undang No.264 170.433 510.501 90.868 283. Di usia produktif ini.48 172. Namun data diatas yang didapatkan dari BPS usianya antara 0-19 tahun.4. Data dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Surakarta menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut: Tabel 4.711 95.183 158.540 82.731 85.103 2 2005 534.443 173. Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jenis Kelamin Rasio Jenis Jumlah Kelamin Laki-laki Perempuan 1 2004 249.443 485. bahwa batas usia anak dibawah 18 tahun.44 3 2006 231. Adapun anak yang putus sekolah Tahun 2004/2005 di Kota Surakarta adalah sebagai berikut: .660 87. penduduk wanita lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki.278 261. terdiri dari 85.

49 Tabel 4.5 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Siswa Putus Sekolah SD SMP/MI SMA/MA 1 Laweyan 1 16 35 2 Serengan 0 7 29 3 Pasar Kliwon 4 46 41 4 Jebres 12 61 4 5 Banjarsari 21 32 89 Total 38 162 178 Sumber : Profil Pendidikan Dinas DIKPORA Kota Surakarta No Kecamatan Daftar anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Surakarta dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.6 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No 1 2 3 4 5 6 Jenis PMKS Anak Balita terlantar Anak terlantar Anak yang menjadi KTK Anak nakal Anak jalanan Anak cacat Jumlah Tahun 2004 L P Jml 130 130 Tahun 2005 L P Jml 400 752 41 78 111 387 1769 Tahun 2006 L P Jml 199 167 366 378 20 75 92 464 1228 304 17 4 7 348 847 682 37 79 99 812 2075 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta .

dapat disimak dalam tabel 4. LSM PPAP Seroja.50 Adapun keadaan anak yang mengalami penyalahgunaan anak. rohani dan sosial anak dapat dilihat dalam tabel 4. Tabel 4.7. LSM Sari Surakarta. Disnakertrans Kota Surakarta Keadaan anak yang mengandung cacat fisik.8.7 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Tahun 2005 Tahun 2006 L P Jml L P Jml 1 Perkosaan 13 13 10 2 Pencabulan 1 1 2 13 3 Penganiayaan 1 1 2 4 Persetubuhan 3 3 2 5 Pelarian 4 6 Perdagangan 4 Jumlah 1 18 19 4 31 35 Sumber: Devisi Dokin PTPAS Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No Jenis kasus Keadaan anak yang memiliki pekerjaan terburuk dari berbagai sektor pekerjaan.8 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. Tabel 4.9 . tahun 2006 No Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Pemulung 5 3 8 2 Sektor Industri Kecil 1 1 2 3 Sektor Industri Besar 28 4 Pengamen 16 18 54 Sumber : LSM Kapas. mental maupun mental dan fisik (ganda) pada usia 0 – 18 tahun di Kota Surakarta dapat digambarkan melalui tabel 4. eksploitasi dan mengalami berbagai tindakan kekerasan yang membahayakan perkembangan jasmani. menunjukkan bahwa anak diperkerjakan.

906 19. 3.771 88.254 418 1.715 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 .646 43. Jenis kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 9.825 14. 5.437 68.003 13.343 0 93.054 45. 6. 4.167 27. 7.942 19.061 15. yaitu dihitung mulai umur 10 tahun keatas.170 1.9 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Tahun 2006 L P Jml 1 Cacat tubuh 122 86 208 2 Cacat Rungu Wicara 80 66 146 3 Cacat Netra 21 20 41 4 Cacat Mental Reterdasi 139 93 232 5 Cacat Mental Eks Psikotik 27 24 51 6 Cacat Ganda 56 45 101 7 Cacat Bibir Sumbing 17 15 31 Jumlah 462 348 810 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta Tahun 2006 2) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Banyaknya penduduk secara umum menurut mata pencaharian penduduk di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini.10 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) Jenis Pekerjaan Utama 1. operator angkutan. 2.005 836 225.196 6.971 11.720 No Kriteria Cacat Tenaga profesional dan lainnya Tenaga kepemimpinan & laksana Pejabat pelaksana.762 209 3. tenaga TU Tenaga Usaha Penjualan Tenaga Usaha Jasa Tenaga Usaha Pertanian Tenaga Produksi. dan tenaga kasar 8.672 48.257 3. serta secara khusus. TNI/POLRI 836 Jumlah 132. Tabel 4.704 7.51 Tabel 4.

103 95. Walaupun banyak terdapat bidang perindustrian.123 bahwa tingkat pendidikan masyarakat Surakarta cukup tinggi.974 103. operator angkutan.498 73.979 25.343 jiwa. dan tenaga kasar berjumlah 68. . sebagai tenaga produksi.825 jiwa. Tabel 4. untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang berada di kota Surakarta dan sekitarnya.11 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) Tingkat Pendidikan Tamat Pendidikan/Perguruan Tinggi Tamat SLTA Tamat SLTP Tamat Sekolah Dasar Tidak Tamat Sekolah Dasar Belum Tamat Sekolah Dasar Tidak Sekolah Jumlah Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 Dari tabel diatas dijelaskan No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 33. karena dilihat dari jumlah keseluruhan penduduk yang berpendidikan SLTA dan Akademi atau Perguruan Tinggi mencapai 129. Keadaan ini dapat dimengerti karena wilayah Surakarta dan sekitarnya banyak berdiri pabrik-pabrik terutama tekstil atau kerajinan batik. tetapi di Kota Surakarta juga masih menyisahkan sawah. Hal ini dikarenakan adanya dukungan sarana pendidikan terutama beberapa Akademi dan Perguruan Tinggi baik itu negeri maupun swasta yang ada di Kota Surakarta.077 orang.184 485.569 105.52 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jenis pekerjaan terbesar penduduk Kota Surakarta adalah sebagai tenaga usaha penjualan berjumlah 88. dan tenaga usaha jasa berjumlah 27.170 jiwa.816 47.

1233 ha. Letak Geografis Kabupaten Klaten terletak secara geografis antara 7o32’19” sampai 7o48’33” dan antara 110o26’14” sampai 110o47’51”. yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata. b. terbagi dalam 26 kecamantan.121 ha) merupakan lahan bukan sawah. Keadaan Sosial Ekonomi Corak perekonomian Kota Surakarta tidak terletak pada sektor pertanian. . Seperti Visi dan Misi Kota Surakarta yang terpampang dipojokan Pasar Kleco dekat dengan patung seorang ibu yang sedang mencanthing (membuat batik dengan cara tradisional). 2. terjadi perubahan penggunaan dari lahan pertanian ke non pertanian.53 e.556 ha.82 %.556 ha. Tahun 2007 tanah pertanian sebesar 33. Luas Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten mempunyai luas wilayah sebesar 65.09 %) sedangkan lahan bukan sawah mengalami kenaikan (tahun 2007 sebesar 0. Luas Kabupaten Klaten 51 % (33. Perubahan terbesar digunakan untuk bangunan dan industri. perdagangan dan pariwisata sebagai sektor utamanya. Keadaan Umum Kabupaten Klaten a. Dibandingkan tahun 2006 mengalami kenaikan penggunaan lahan ke non pertanian sebesar 15. Letak Kabupaten Klaten cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Surakarta. tetapi bercorak perdagangan dengan sektor industri. 401 desa/kelurahan.435 ha) merupakan lahan sawah dan 49 % (32.10%) Perubahan penggunaan tanah pertanian juga cukup besar tiap tahunnya. Seiring dengan perkembangan keadaan. Hal ini ditunjukkan dari luas lahan sawah yang bukan sawah mengalami penurunan (tahun 2007 0. Dari 65.

50 ini berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki.70 % dari total penduduk Klaten. kondisi ini menunjukkan penambahan 3. Untuk usia produktif (usia 15-64 tahun) sebesar 981.745 jiwa dari tahun sebelumnya dan pertumbuhannya sebesar 0. kecuali Kecamatan Kemalang yang paling rendah kepadatannya sebesar 669 jiwa per km2. dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya dari seluruh masyarakat Indonesia.12 menunjukkan Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 .29%.771 jiwa.296. Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten sebesar 95. sekitar 75.987 jiwa. Tahun 2007 jumlah penduduk Klaten sebesar 1. Pertumbuhan jumlah penduduk seyogyanya diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk.54 c. Tabel 4. Secara umum kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten merata untuk semua kecamatan. Keadaan Penduduk Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.

196.56 0.617 6.971 7.01 1.02 1.52 1.36 1.242 1.058 1.235 5.46 0.265.297 1.179.295 1.976 1.281.439 1.071 5.295 1.277.49 0.216.272 7.473 8.55 0.35 0.161.745 % 1.10 1.987 Pertambahan Penduduk (Jiwa) 11.613 6.223.201 5.640 1.228.542 1.49 0.489 4.47 0.530 1.154.45 0.234.12 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.184 3.711 1.269 5.047 1.255 1.112.124.202.257.286.09 0.106 14.788 1.437 5.19 0.619 1.682 1.742 1.171 1.537 6.296.60 0.240 12.12 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 adalah 1.113 1.61 0.786 1.267 7.358 6.673 10.29%.184.618 1.501 1.988 11.572 5.296.54 0.293.271.242.307 1.189.393 6.69 1.55 Tabel 4.009 1.44 0.086.20 0.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Tabel 4.166.172.767 4.55 0.987 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.101.334 13.149.33 0.45 0.51 0. .42 0.869 1.430 5.241 13.964 1.598 14.89 0.535 1.345 6.138.

09 0.402 63.002 62.212 63.987 Penambahan Penduduk (Jiwa) 74 221 190 -99 -33 295 268 14 151 120 22 238 253 -37 135 20 307 485 132 3 95 37 131 379 123 221 3.603 65.13 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah 2006 49.92 0.15 0.284 57.17 0.164 34.726 49.149 40.881 61.242 2007 49.519 44.56 Tabel 4. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Kebonarum sebesar 21.26 0.296.721 41.01 0.249 43.08 0.54 0.06 0.936 81.702 65.226 44.558 48.374 57.016 61.72 0.03 0.38 0.34 -0.298 jiwa.201 34.293.075 40.07 0.748 55.870 43.29 0.985 45.022 62.730 51.969 81.745 Laju Pertumbuhan (%) 0.164 21.338 63.212 43.824 41.811 48.54 0.629 1.589 38.673 41.29 0.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 yang terbanyak adalah di Kecamatan Trucuk yaitu 81.869 37.05 0.26 0.248 44.469 57. .06 0.767 50.869 jiwa.101 54.574 36.16 -0.53 0.098 54.709 38.896 21.428 40.49 1.40 -0.858 49.850 1.28 0.844 41.527 55.470 45.36 0.559 41.298 57.100 63.

504 33.63 92.655 19.544 18.134 22.102 27.573 21.847 31.824 41.435 Jumlah 49.17 92.666 41.48 96.905 11.986 25.730 51.748 55.41 98.149 40.377 23.016 61.74 96.249 43.552 Perempuan 25.298 57.022 62.652 21.708 27.811 48.027 22.099 32.078 29.354 26.11 96.394 28.94 97.270 40.02 95.434 24.18 95.85 98.452 21.46 93.338 63.61 96.164 21.192 32.26 98.055 22.394 25.30 95.248 44.101 54.844 41.392 20.539 663.986 20.492 22.14 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah Laki-Laki 23.30 95.415 23.032 21.744 25.850 1.689 22.39 96.402 63.68 95.311 633.169 29.469 57.296.999 26.603 65.50 Sumber : BPS Kabupaten Klaten .201 34.559 41.38 95.382 32.936 81.58 92.325 18.61 94.830 30.987 Rasio Jenis Kelamin 91.21 94.519 44.60 90.709 38.464 23.259 10.741 31.869 37.115 21.28 94.792 20.761 29.220 28.559 21.470 45.858 49.10 96.66 95.788 16.497 19.413 17.57 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.054 18.956 31.661 32.25 99.

070 133.455 57.341 35.15 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Laki-laki 47.064 jiwa .212 101.089 68.271 23.283 48.110 jiwa. kelompok 10-14 tahun berjumlah 116.064 116.201 51.885 56.987 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 untuk kelompok umur 0-4 tahun berjumlah 94.411 88. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.964 54. Jadi berdasarkan data dari BPS Kabupaten Klaten tahun 2007 jumlah penduduk (anak) menurut kelompok umur 0-19 tahun berjumlah 449.544 (laki-laki) dan berjumlah 41.033 28.917 55.893 108.922 663.422 98.946 46.315 62.534 29.976 53.153 25.061 103.325 (perempuan).805 52.296.778 54.378 42. .080 71.476 52.981 64.893 jiwa.070 jiwa dan kelompok umur 15-19 tahun berjumlah 133.812 633.435 Jumlah 94.179 59.083 jiwa. kelompok umur 5-9 tahun berjumlah 105.186 53.739 35.119 50.734 1.614 26.841 31.196 50.511 113.58 Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di Kecamatan Trucuk berjumlah 40.033 45.011 49.083 105.552 Perempuan 46.

Adapun tujuan paling banyak adalah ke Kalimantan. e.594 akseptor dan peserta KB baru sebesar 21. f. Pada tahun 2007 jumlah transmigran yang berangkat dari Kabupaten Klaten sebesar 8 KK.40 % dari tahun 2006. Keluarga Berencana Peserta KB aktif di Kabupaten Klaten tahun 2007 mencapai 153. g.62 % dibandingkan dengan tahun 2006. terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7-24 tahun). Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Sumber Daya Manusia sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan. Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 jumlah murid yang tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 Jumlah anak putus sekolah tahun 2007 sebesar 631 orang baik untuk sekolah negeri maupun swasta. Sedangkan metode alat kontrasepsi yang banyak digunakan untuk peserta KB baik aktif atau baru adalah suntik. . Kondisi ini menunjukkan penurunan sekitar 5. Jumlah dan kmposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi.510 orang mengalami penurunan sebesar 1.921 orang. Transmigrasi Salah satu usaha memperluas kesempatan kerja adalah melalui program transmigrasi selain untuk pemerataan penduduk. Tingkat pendidikan untuk pencari kerja yang terbanyak adalah SMU/SMK sebesar 10.59 d.137 akseptor. Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Tahun 2007 jumlah pencari kerja sebanyak 15. kondisi ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006.

0271-2506767 Panti Asuhan Mardhatilah Jl Sawo 27-B RT 001/04 SOLO 57163 Telp. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Jumlah panti asuhan di seluruh Indonesia diperkirakan antara 5. 0271-733152 Jl Dipati Ukur 120 SOLO 40132 Telp. 0271-744152 Panti Asuhan Pamardi Yoga Jl Gajah Mada 119 RT 002/03 SOLO 57132 Telp. 0271-713304 Panti Jompo Aisiyah Jl Pajajaran Utr III 7 SOLO 57138 Telp. ini yang kemungkinan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia. diselenggarakan oleh masyarakat. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah.000 yang mengasuh sampai setengah juta anak. Kondisi itu membuat anak asuh di banyak panti asuhan di Tanah Air tidak terperhatikan.16 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta No Nama Panti Asuhan 1 Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah 2 Panti Asuhan Yatim Putri Aisiyah 3 Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah 4 Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Nurhidayah 5 Panti Asuhan Hosana 6 7 8 9 10 Alamat Jl Brigjen Slamet Riyadi 441 SOLO 57146 Telp. 0271-710843 Jl Gremet 38 SOLO 57139 0271-718698 Jl Tulang Bawang Utr 41 RT 006/06 SOLO 57136 Telp. 0271-712023 . Lebih dari 99% panti asuhan di Indonesia. 0271-742485 Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 SOLO 57143 Telp.d 8.000 s.000.000 sampai 8.60 B. 0271-715805 Panti Sosial Karya Wanita Jl Dr Rajiman 624 SOLO 57146 Utama Telp. Persoalan di Indonesia terlihat dari jumlah pengasuh di panti asuhan anak masih sangat minim. utamanya organisasi keagamaan. Tabel 4. yang jumlahnya diperkirakan antara 5. 0271-713260 Panti Asuhan Pintu Jl Dr Cipto Mangunkusumo 37 SOLO Pengharapan 57139 Telp. Panti asuhan harus mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang memerlukan pengasuhan alternatif dengan profesionalitas dan pengasuhan yang berkualitas.

Klaten 23 Kwaren. Wonosari 30 Jl. Klaten Selatan Batur. Juwiring Ngreden. Wonosari 15 Pantisari RT 16/03 35 Gumul Karangnongko Sabrangan RT 20/8. Angsana Trunuh.61 11 12 13 Panti Tuna Netra & Tuna Jl Dr Rajiman 622 SOLO 57146 Rungu Wicara Bhakti Telp. Di Kota Surakarta terdapat 14 panti asuhan anak yatim piatu (Tabel 4. 0271-733152 PA Anak Misi Nusantara Jl. 04 / RW XX Gilingan Banjar Sari Solo Telp. Ngawen 15 Jl. 0271 654526. Dahlia No. Tabel 4. Cemara No. 654558 14 Sumber: Departemen Sosial Jumlah panti asuhan di Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 440 yang terbagi menjadi 28 panti asuhan milik pemerintah dan 412 milik swasta. Ceper. 42 Gumul Karangnongko Jl. 0271-621044 Yayasan Panti Asuhan Anak Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 Yatim Nurhidayah SOLO 57143 Telp. Sedangkan Kabupaten Klaten memiliki 14 panti asuhan yang semuanya milik swasta (Tabel 4. 4 60 Jl. 60 Gayamprit.17).17 Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten No Nama Panti Asuhan 1 PA Muhammadiyah Juwiring 2 3 4 5 6 7 8 PA Pakarti Murni PA Putri Aisyah PA Yatim Putra Muhammadiyah PA Muhammadiyah Wonosari PA Al Munir PA Baiturrachman YPBT Siwi Mekar Alamat Jumlah Anak Tanon RT 02/RW 08 20 Kenaiban. 25 Klaten Selatan 9 10 11 PA Darul Hadlonah PA Y Putri Aisyiah Ngawen YAAT (SLB A) Trunuh .16). Bibis Wetan Rt. 8 52 Ngreden. 0271-716985 Chandrasa Surakarta Panti Werda Asih Jl Kencur 21 SOLO 57146 Telp. Sindoro 14 B.

1. I a Cawas 14 Yayasan Bina Taruna Jl. (0271) 713260 Surakarta. Panti Asuhan di Kota Surakarta 1. Pada masa perjuangan tahun 1948-1950 Panti ini dipindah ke Pangkalpuluhan di Kelurahan Gajahan. . Gajah Mada No. Sumberejo.1 Panti Asuhan Pamardi Yoga Panti Asuhan Pamardi Yoga berdiri pada tahun 1947 yang dahulu namanya adalah Panti Pendidikan Pamardi Yoga bertempat di Mangkubumen Kota Surakarta. Hal ini menandakan masih lemahnya kesadaran setiap yayasan yang membuka panti asuhan untuk mendaftarkan diri. Data ini diperlukan bagi pengembangan dan pengawasan jalannya panti asuhan yang ada untuk menghindari penyimpangan fungsi panti asuhan. Barukan. Manisrenggo Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Klaten 12 Yayasan Shanti Yoga 31 35 25 Jumlah panti asuhan yang ada di Kabupaten Klaten ini sebenarnya lebih dari 14 panti asuhan tetapi sebagian besar dari mereka tidak secara resmi mendaftar kepada Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Beskalan Surakarta. Klaten Selatan 13 Yayasan Panca Bhakti Mulia Jl. Sekarang tempat tersebut menjadi lapangan sepak bola yang dikenal dengan lapangan Kota Barat. kemudian dipindahkan lagi ke Kp. Madyotaman Kel. Gading dan pada tahun 1952 di pindahkan ke Kp. Dan sedangkan pada tahun 1960 diadakan perubahan nama yaitu Pendidikan Pamardi Yoga menjadi Panti Asuhan Pamardi Yoga sampai sekarang. Manisrenggo KM2 Temurejo. Hanya 14 panti asuhan yang terdaftar secara resmi. 02/02 Jln. Punggawan Rt. Merapi No. Pada tahun 1953 sampai sekarang ini Panti ini menempati tanah dan bangunan di Kp.62 Bendogantungan. 19 telp.

Untuk sasaran dari Panti Asuhan Pamardi Yoga sendiri yaitu anak-anak yang menyandang masalah kesejahteraan sosial yang terdiri dari anak yatim. anak dari keluarga broken home.63 Sejak berdiri hingga tahun 2001. Pada tahun 2001 dengan berlakunya otonomi daerah melalui Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 27 tahun 2001 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra Pemberdayaan Perempuan Kota Surakarta. dengan sumber dana yang berasal dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. rohani maupun sosial dan memberikan asuhan dan bimbingan kearah pengembangan pribadi dan potensi agar kelak menjadi orang yang mampu hidup layak. status Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Surakarta. Ada syarat atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang anak atau orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepada Panti Asuhan Pamardi Yoga ini. Untuk dapat masuk ke Panti Asuhan Pamardi Yoga ini tidak bisa langsung diterima begitu saja. anak piatu. 12 tahun 2004 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain yaitu: a. anak dari keluarga tidak mampu dan anak dari keluarga yang tidak jelas status orang tuanya. Selanjutnya dirubah atau disempurnakan dengan Keputusan Walikota Surakarta No. Foto copy surat kelahiran b. anak yatim piatu. maka Panti Asuhan Pamardi Yoga berstatus menjadi UPDT Dinas Kesra PP dan KB Kota Surakarta. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah diketahui Camat . Tujuan didirikannya Panti Asuhan Pamardi Yoga ini adalah untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial berdasar profesi Pekerjaan Sosial kepada anak asuh agar dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani.

Syarat-syarat tersebut digunakan sebagai bahan dokumentasi tentang identitas anak sehingga profil anak yang tinggal di panti ini dapat teridentifikasi dengan baik. Karena banyaknya anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dan yatim piatu dari luar pulau dan daerah yang terpencil di Indonesia.64 c. Hal ini didasarkan pada Firman Tuhan yang berkata: ”Bapa bagi anak yatim” (Mazmur 68:6). Sulawesi dan Kalimantan. Foto copy raport terakhir h. Maluku. Biak. NTB. Foto ukuran 3 x 4 (4 lembar) j.2 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Panti asuhan ini didirikan oleh Pendeta Sadrach pada tahun 1971. NTT. Aceh. Mentawai. Timor. Tujuan didirikannya panti asuhan ini sebagai bagian dari tubuh Kristus yang mengambil beban untuk melayani serta menjangkau daerah yang terpencil dan suku terasing. Surat keterangan pindah penduduk dari kelurahan. Flores. Bali. dengan sendirinya dapat melihat secara langsung kehidupan anak-anak desa yang memerlukan pertolongan. Surat pernyataan orang tua yang isinya menyetujui anaknya masuk Panti Asuhan dan bersedia menerima kembali setelah pengasuhan (Lulus SLTA) dan diketahui Lurah atau Kepala Desa d. Sumatera Utara. ”Kepadamulah orang lemah menyerahkan diri untuk anak yatim engkau menjadi penolong" (Mazmur 10:14) . Dalam memberikan pelayanan ini. Surat berbadan sehat dari dokter f. Surat pernyataan anak yang isinya sanggup mentaati semua peraturan di panti e. Sumbawa. Foto copy surat kelakuan baik g. Irian. Lombok. 1. Surat keterangan pindah dari sekolah (bagi yang pindah) i. Panti asuhan ini banyak menampung anak-anak dari daerah Pulau Nias.

anak-anak panti asuhan ini tidak dibatasi sampai kapan mereka akan tinggal. sehingga misi Kristen juga bisa menjangkau mereka yang miskin. Biasanya . banyak jiwa dimenangkan untuk Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu panti asuhan ini diberi nama "Anak Misi Nusantara". Meskipun begitu. selain untuk menjalankan Firman Tuhan yang telah disebutkan di atas. sebab mereka dididik keagamaan yang kuat dan dibentuk sedini mungkin untuk menjadi misi Kristen yang kuat sehingga dapat memenangkan banyak jiwa untuk Yesus Kristus. menuai jiwa di desa. kalau pemerintah mengadakan pergerakan anak asuh. suku. menampung mereka yang berada di daerah terpencil dan suku-suku terasing di Indonesia. maka Anak Misi Nusantara ini merupakan bagian kecil dari gerakan anak-anak asuh. Anak Misi Nusantara mempunyai keistimewaan khusus. Pertama. kaum bangsa (Lukas 10:2.65 ”Ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan Allah Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dalam kesusahan mereka. dan menjaga dirinya sendiri supaya tidak dicemarkan oleh dunia "(Yacobus 1:27). agar anak-anak bebas mengenyam pendidikan dan merupakan program pengentasan kemiskinan. Kebanyakan dari mereka tinggal di dalam panti asuhan sampai mereka lulus SMU. Kedua. Yohanes 4 :36-38). menjadi terang. Allah sangat peduli dengan anak yatim piatu dan anak miskin. sehingga akan terjadi perkara-perkara besar di daerah mereka. setelah anak-anak selesai mengikuti pendidikan formal dan Sekolah Pelayanan Injil (SPI) maka anak-anak dikembalikan ke daerah mereka masing-masing dengan modal ilmu dan iman yang kuat serta penuh dengan kuasa Tuhan. Ada dua hal yang menjadi latar belakang berdirinya Panti Asuhan ini. dan mereka akan pulang ke kampung halamannya atau kepada orang tuanya.

Kemudian oleh menantu Hj. Sowam didirikan lembaga pendidikan yakni TKIT dan SDIT. dan setelah lulus SMU mereka tetap tinggal dipanti untuk membantu mengurus panti.66 mereka akan mencari kerja dikampung halamannya. Dan disamping itu juga memiliki . Dasar utama yang menjadi landasan berdirinya griya asuh ini adalah ajaran agama yang menganjurkan untuk memelihara anak yatim dan menyantuni orang miskin. Sebelum didirikan griya asuh dirumah beliau selalu ada anak yatim yang di asuh. 2. Pihak panti sudah menyampaikan kepada anak-anak yang tinggal didalam panti tersebut. Awal berdirinya panti asuhan ini karena keprihatinannnya melihat kondisi anak-anak yang ada didaerah pedesaan yang secara ekonomi mauapun kehidupan sosialnya masih dibawah garis kemiskinan. Najibatun Sowam. Baru pada tahun 2007 mulai ada 9 anak yang mau tinggal dipanti dan terus bertambah hingga saat ini mencapai 61 anak. meskipun beliau termasuk orang yang kaya raya tetapi dalam penampilannya sangat sederhana dan dalam pergaulan tidak memandang status sosial. mungkin karena bencana atau memang sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Panti Asuhan Darul Hadlonah Panti asuhan ini disebut dengan Griya Asuh Darul Hadlonah yang mulai dirintis pada tahun 1980an oleh Hj. Najibatun Sowam adalah pribadi yang sangat sederhana. Sosok Hj. Namun ada juga beberapa yang sudah tidak mengenal orang tuanya. Pada awalnya dibangun gedung yang dikhususkan untuk anakanak griya asuh. bahwa mereka diperbolehkan untuk tinggal sampai kapanpun didalam panti asuhan tersebut dengan kegiatan yang tidak berbeda dengan waktu dia masih sekolah. Akan tetapi karena selama bertahun-tahun tidak ada anak yang mau tinggal maka mengggunakan sistem non panti.

67 tujaun untuk menyelamatkan ahklak anak-anak yatim tersebut. Meningkatkan kualitas sumber daya perempuan Indonesia dalam bidang sosial/lingkungan hidup dan kesehatan/KB. Dan juga anak-anak yang terlantar. Dan juga anakanak yang secara ekonomi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya. kesehatan dan lingkungan hidup c. khususnya generasi muda dalam pembangunan bangsa dan negara. Menggalang dan mengerakkan potensi perempuan Indonesia dalam mewujudkan wadah pelayanan di bidang sosial. Karena yang dimaksud yatim disini bukan pengertian yatim secara harfiah yakni anak yang bapak/ibunya sudah meninggal. Hal tersebut dilakukan karena Panti Asuhan Darul Hadlonah belum memiliki kamar-kamar khusus untuk putra. karena di tinggal orang tua merantau dan hanya ikut dengan kakek/neneknya. lembaga dalam maupun luar negeri dalam melaksanakan program-programnya. Adapun visi ini didukung dengan misi sebagai berikut: a. Kerja sama yang dilakukan yaitu berupa penempatan anak asuh putra untuk tinggal di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Visi dari panti asuhan ini adalah menyantuni dan memelihara anak-anak yatim/piatu/yatim piatu dan tidak mampu baik melalui panti maupun non panti. Menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi. . Meningkatkan kualitas sumber daya insan. b. Akan tetapi meski anak itu masih memiliki orang tua secara ilmu agama orang tuanya tidak mempunyai pengertian yang cukup untuk mengajarkan anaknya tentang agama maka anak itu sudah terkategori yatim. Kerja sama antara Panti Asuhan Darul Hadlonah dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam berada dalam wadah yang bernama Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU ( YKM NU) atau yang lebih sering disebut sebagai Griya Asuh. Panti Asuhan Darul Hadlonah bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam yang berada tidak jauh dari panti asuhan. d.

Tidak ada jarak yang terlihat dalam interaksi antara pengurus dengan anak-anak griya asuh. Pelajaran olahraga juga diberikan di griya asuh ini. Akan tetapi meski sangat dekat rasa hormat yang tinggi juga terlihat jelas dari anak-anak kepada para pengurus dan pengasuh. pembuatan berbagai macam perhiasan dari manik-manik. Sapaan yang hangat dengan bahasa yang santun itulah pertama kali yang kami rasa saat pertama tiba di griya asuh ini. Hubungan antara anak griya dengan pengasuh dan pengurus juga terlihat akrab. dan juga olah raga yang lain. setiap hari Minggu ada guru olah raga yang datang ke griya asuh untuk mengajar senam. Untuk pendanaan griya asuh ini pada awalnya dana pribadi yang digunakan akan tetapi seiring bertambahnya jumlah anak yang ada maka untuk pendanaan juga mulai membuka untuk pribadi atau lembaga yang ingin menginfakkan ataupun untuk menshodaqohkan hartanya kepada griya asuh. Di griya asuh ini juga mendatangkan guru-guru dari luar untuk beberapa mata pelajaran umum yang disana banyak anak griya asuh yang kesulitan seperti.68 Sistem pendidikan yang dilakukan di Griya Asuh ini lebih menekankan pada pendidikan akhlak dan juga moral agama. Di Griya Asuh ini juga diberikan beberapa pelajaran keterampilan seperti pembuatan telur asin. Jadi model pembelajaran lebih ke model pembelajaran pesantren. Dengan harapan apabila anak-anak ini telah keluar dari griya asuh ini tidak hanya mempunyai bekal ilmu umum dari bangku sekolah akan tetapi memiliki ahklak yang baik dan juga memiliki skill yang dapat digunakan untuk bekal hidup selanjutnya. Secara pribadi ada beberapa nama tetapi . Ada juga kolam tempat pemeliharaan ikan lele dan rumah tanaman. pelajaran bahasa Inggris dan MIPA. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi karena untuk pendidikan/pengetahuan umum anak-anak sudah mendapatkan dari sekolah pagi. pembuatan keset dari kain. Serta penghormatan mereka terhadap tamu juga sangat baik.

Beliau bersama dokter-dokter yang lain (Ikatan Dokter Klaten) kemudian mendirikan YPBT karena sering mendapat keluhan dari masyarakat. Panti Asuhan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Panti Asuhan YPBT didirikan pada tahun 1959. untuk yang SMA berada dalam satu kamar.Soeradji dan rekan memindahkan lokasi YPBT ke kediaman Dr. YPBT sering mengalami perpindahan lokasi dalam perjalanannya. Yang semula kurus-kurus sekarang badannya mulai berisi dan banyak juga perubahan sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut. Kondisi gedung sarana dan prasarana di griya asuh ini bisa dibilang bagus. Sepeninggal Dr. kamar tidur dua ruangan. SD dan TK menjadi satu kamar. Sarana olah raga ada lapangan voli dan lapangan badminton. kediaman Ibu Hadi Sanyoto dan .Soeradji. Untuk kamar mandi ada 6 kamar mandi dan masih ada perencanaan untuk penambahan kamar mandi. Soeradji Tirtonegoro.69 hanya pengurus yang tahu karena memang tidak ingin dipublikasikan.Soeradji.sedangkan secara lembaga dengan Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Perkembangan anak secara umum banyak perubahan baik secara fisik maupun tingkah laku. Dr. untuk yang SMP. Sowam juga masih terus. dapur. Meski dana pribadi dari keluarga almarhumah ibu Hj. mushola dilantai dua. Pertama kali YPBT berlokasi di RSUP Klaten. Namun pertimbangan banyaknya orang sakit di RSUP membuat Dr. Pemrakarsanya adalah Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Klaten. Untuk kesenian griya asuh ini memiliki rebana. Hal ini tidak hanya sekedar cerita pengurus tetapi juga cerita dari anak-anak griya asuh sendiri dan dari pengasuh juga. Sebelum di Gayamprit. ruang makan sendiri. lokasi YPBT berpindah lagi ke kantor veteran dan dikelola oleh istri-istri veteran. YPBT berlokasi di jalan Pemuda.

Taman bermain kecil setelah masuk gerbang b. Ruang tamu dan kantor h. 4 kamar mandi (1 untuk Ibu Panti. YPBT berpindah lokasi di Jalan Sindoro 14B Gayamprit. di sebelah kanan bagian depan YPBT. bermain f. Selain mengelola Panti Asuhan. YPBT juga mengelola Tempat Penitipan Anak (TPA) Siwi Mekar. setelah masuk gerbang (di samping taman bermain) c. Klaten Selatan. Ruang tidur anak / bayi dan pengasuh YPBT (di dalam ruangan ini terdapat 1 tempat tidur yang digunakan oleh anak Ibu Panti. Dapur. makan. 1 untuk Siti (anak yang mengalami cacat mental. Garasi.58 dan TPA Siwi Mekar Nomor 24. Akte Notaris YPBT Nomor 46. Ruang tidur ibu Panti i. Ruang TV (menjadi satu dengan teras serbaguna) g. YPBT dan TPA Siwi Mekar memiliki ijin usaha.55. YPBT memiliki luas bangunan sekitar 290 m2 yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan sebagai berikut: a. Teras serbaguna yang digunakan untuk belajar. 1 untuk anak Ibu Panti. Tempat cuci piring dan menjemur pakaian di sebelah kiri bagian depan YPBT e.70 sejak tahun 2004. sementara anak / bayi tidur di atas busa di lantai) j. Ruang ganti baju dan meletakkan peralatan sekolah (jadi satu dengan ruang tidur anak / bayi) k. Gudang . dan 1 kamar mandi untuk semua anak / bayi serta pengasuh dan tamu). memiliki atap namun terbuka d. WC berupa lantai kamar mandi yang dilubangi dan ditutupi kayu (langsung terhubung ke saluran pembuangan/ tidak ada WC model jongkok seperti yang ada di rumah-rumah) l.

ibu Sri Rejeki. pihak panti dan pihak penyerah bayi (orang tua. Meskipun begitu tidak semua pihak penyerah bayi membayar biaya penitipan. rata-rata saat mereka berusia 3 hari. Ruangan lantai atas (dulunya digunakan sebagai dapur. Beberapa alasan mendasari anak-anak ini berada di sini. kemungkinan bayi-bayi ini akan terlantar.namun ditelantarkan atau tidak diakui. Pada dasarnya YPBT adalah tempat penitipan bayi. sebenarnya mereka memiliki ayah atau ibu.71 m. Pada awal bayi dititipkan. Karena jika ada syarat. namun setelah 1 tahun yang lalu dapur pindah ke bawah sehingga ruangan atas tidak digunakan atau sebagai gudang) n. Dinas Sosial) sudah melakukan perjanjian mengenai biaya penitipan. Ada yang hanya membayar pada awalnya lalu tidak datang lagi untuk membayar biaya penitipan maupun menengok anaknya. tidak direstui orang tuanya. Tapi ada juga yang menitipkan anaknya di sini karena keharusan bekerja sehingga tidak bisa merawat anaknya. Sebagian besar kasus. Ada yang karena “korban kampus”. Beranda lantai 2. Misal ibu yang tidak mempunyai suami harus bekerja sehingga menitipkan anaknya di panti YPBT. Namun pihak panti tetap meminta identitas pihak yang menyerahkan bayi tersebut ke Panti. Menurut penuturan Ibu Panti. Biaya biasanya per bulan. Ada juga yang datang setahun sekali . Tidak ada syarat (tidak harus yatim piatu) yang diberlakukan di Panti ini dalam penerimaan bayi. kebanyakan anakanak di sini bukan yatim piatu (tidak benar-benar tidak memiliki ayah atau ibu). wali. atau bayi hasil temuan oleh masyarakat yang oleh polisi atau Dinsos diserahkan ke YPBT. Semisal jika terjadi adopsi pihak Panti memerlukan ijin pihak bayi untuk menyerahkan kepada pihak pengadopsi. yang ibunya TKW. untuk menjemur pakaian o. Tidak ada ruangan khusus untuk sholat Sebagian besar anak-anak yang berada di Panti Asuhan YPBT diserahkan ke panti ini saat mereka masih bayi.

panti menghubungi Notaris YPBT f. bagaimana kondisi ekonominya. Penyerahan bayi dari Dinas Sosial. YPBT mengijinkan adanya adopsi. pihak panti asuhan tidak melakukan kontrol terhadap bayi yang diadopsi) Panti asuhan dan TPA dibedakan dari lama penitipannya. Jika bayi ada. . Panti asuhan memilih bayi yang diijinkan untuk diadopsi c. Jika syarat memenuhi. yang tidak ada identitas orang tuanya. Kebanyakan berusia antara 3-12 tahun. Menyampaikan pada panti keinginan untuk adopsi bayi b. Biasanya bayi yang diadopsi adalah bayi yang dibuang. namun ada pula yang tidak. prospek masa depan untuk bayi yang akan diadopsi. “beda bayaran. biaya biasanya per hari dan berbeda-beda. atau orang tua bayi (setelah diserahkan ke pihak pengadopsi. Pelayanan yang diberikan kepada bayi atau anak tergantung pada besarnya biaya yang dibayarkan ke YPBT. Saat ini terdapat sekitar 30 anak yang diasuh di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. membayar biaya penitipan anaknya dan sekalian menengok anaknya / bayi yang dititipkannya di YPBT. bayi yang diadopsi memiliki orang tua. Menurut pengasuh. Sidang adopsi di pengadilan g.72 (pembayaran dirapel). panti asuhan menghubungi pihak yang akan mengadopsi d. diserahkan ke YPBT waktu pagi dan diambil orang tuanya sore atau malam harinya. dan lain-lain) e. Namun tidak semua bayi bisa diadopsi. Ada bayi yang menggunakan pampers. Prosedur adopsi: a. Panti asuhan dan dinDinas Sosial melakukan survei pada pihak yang akan mengadopsi (apa pekerjaannya. Kepolisian. beda perlakuan!”. Bagi bayi atau anak yang dititipkan di TPA. Bayi atau anak yang dititipkan di Panti Asuhan tinggal atau tidur di YPBT sedangkan bayi atau anak yang dititipkan di TPA. Tapi tidak menutup kemungkinan.

Tidak boleh keluar /pergi tanpa ijin c. Ardianto Eko Nogroho (8 tahun). Fasha (5 tahun). Neyla C. Desi Rahmalia (SMA). memasak. dan mengepel. Tugas pengasuh di YPBT dan TPA adalah mengasuh bayi dan anak. Anak YPBT yang menginap di YPBT yaitu Stella Vinona Aipasha (12 tahun). Ratna Dewi Safitri (11 tahun). Mereka bekerja di YPBT tanpa wawancara. Kurniady Ary P (11 tahun) dan Reza (batita). Semuanya bertempat tinggal di Klaten. 3 di antaranya adalah laki-laki. Terdapat 10 pengasuh yang bekerja di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. Nur Wahyu Ardianto (8 tahun). Peraturan lebih seperti norma kesopanan : a. Neyla A (5 tahun). Ada yang sama sekali belum mengenyam pendidikan dan jenjang pendidikan tertinggi adalah SLTA. Kukuh Adi Nugroho (11 tahun). Jidane (1 tahun). Agus Salim. mencuci baju dan piring. Neyla B. Anik (bayi). Tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor e. Farah Sabina (9 tahun). Tidak ada pembagian tugas yang spesifik untuk pengasuh. Tidak boleh membawa sepeda sendiri Rata-rata pengasuh di panti asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar berusia di atas 30 tahun. Anis Novita Sari (10 tahun). Wajib menghormati orang yang lebih tua d. Risky Arta Novita Ayu P (14 tahun). menyapu. Tidak boleh berkelahi f.73 beberapa berusia di bawah 3 tahun dan di atas 12 tahun. Satu pengasuh untuk banyak pekerjaan. Agus Santoso (9 tahun). Arafig. Florentin (11 tahun). Jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Tidak ada peraturan khusus (tertulis) yang diberlakukan di YPBT. Tidak boleh main jauh-jauh dan terlalu lama b. kebanyakan bekerja karena diminta oleh pihak YPBT (oleh Ibu Panti). Ada juga anak yang dititipkan di YPBT tapi tidak menginap seperti Rio (2 . Tidak boleh membawa handphone g.

namun sudah 1 bulan ini tidak dijalankan oleh anakanak Panti. dan hasil penjualan dari usaha (gas. memasak. sehingga terbentuk watak bangsa yang membuat kehidupan bangsa Indonesia menjadi semakin baik. ilmu . Anakanak di YPBT biasa disuruh oleh mbak pengasuh untuk membantu pekerjaan mbak pengasuh. Pakaian yang dipakai anak-anak panti adalah pemberian donatur. susu. yang memberi bantuan baik berupa uang atau barang (seperti beras. membuang sampah. Sumber dana rutin berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta. ilmu-ilmu bahasa Arab. Kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di YPBT seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya seperti bermain dan belajar. Tifa (5 tahun). seperti menyapu. biasanya karena kekhususan disiplin ilmu yang diajarkan oleh kyainya. bayi yang tidak diketahui namanya oleh Ibu panti maupun mbak pengasuh. mie. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Pondok pesantren merupakan lembaga Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam. C. Arif (8 tahun). subsidi pemerintah. jualan jajanan dan sayur matang). ilmu tafsir. Oleh karena itu. Ada yang khusus mengajarkan disiplin ilmu hadis dan fikih. pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Monika (8 tahun). tas). Pesantren pada masa ini ada yang memiliki kekhususan tertentu yang membuatnya berbeda dengan pesantren lainnya. Ada kegiatan mengaji Al Qur’an dengan mendatangkan guru ngaji (2 orang) dari Damaran setiap hari Jum’at dan Minggu sore jam 3. galon air mineral. Sumber dana tidak rutin berasal dari donatur dan dermawan baik individu maupun kelompok. Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan keagamaan.74 tahun). Sebenarnya ada jadwal piket yang dibuat oleh ibu Panti bagi anak-anak. pondok pesantren dan madrasah diminta untuk terus meningkatkan metodologi kepengasuhannya.

Perubahan penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan pesantren ialah ketika dimasukkannya sistem madrasah. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. ashriyah maupun kombinasi dari keduanya. pesantren juga mengalami perubahan dalam segi kurikulum dengan ditambahkannya sejumlah pelajaran nonagama.574 yang tersebar di Kabupaten/Kota dengan berbagai tipe baik salafiyah. pesantren mencapai banyak kemajuan yang terlihat dari bertambahnya jumlah pesantren.69%) yang tersebar di 5 kecamatan dan di Kabupaten Klaten berjumlah 30 (1. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. Dari jumlah tersebut. walaupun pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan metode sorogan dan wetonan tetap dipertahankan. pondok pesantren yang ada di Kota Solo berjumlah 18 (0.18 (Kota Surakarta) dan Tabel 4.75 tasawuf. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. mempunyai integritas pribadi yang kukuh. Saat ini jumlah pondok pesantren di Jawa Tengah berjumlah 2. berakhlak mulia.16%) yang tersebar di 14 kecamatan. .19 (Kabupaten Klaten). dan lain-lain. Hal ini dianggap sebagai imbangan terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai sistem pendidikan Barat. Dengan sistem madrasah. sehingga ijazah tidak terlalu dipentingkan dan waktu belajarnya juga tidak dibatasi. dan mempunyai kualitas intelektual. mandiri. Di samping itu. Adapun penyebaran pondok pesantren tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

76

Tabel 4.18 Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Tipe Jumlah Santri L P 290 280 4 18 35 21 248 267 120 30 25 67 40 249 55 45 55 40 87 186 65 113 37 43 117 114 116 118

1 PP. Al Muayyad 2 PP. Al Qur'an 3 PP. Darussholihin 4 PP. Muttaqien 5 PP. Nurus Salman 6 PP. Ta'mirul Islam 7 PP. Al Ma'hadu Islami Jamsaren 8 PP. Darud Dzikri 9 PP. Suryani 10 PP. MTA 11 PP. Tahfidz Wata'limil Qur'an 12 PP. Ar Royan 13 PP. Hidayatullah Al Kahfi 14 PP. Hidayatullah Solo Utara 15 PP. Terbuka Al Ahad 16 PP. Al Abidin 17 PP. Budi Utomo 18 PP. Hadil Iman Sumber: Departemen Agama

Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Kombinasi Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Ashriyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Pasar Kliwon Ashriyah Pasar Kliwon Kombinasi Jebres Salafiyah Jebres Salafiyah Jebres Ashriyah Jebres Salafiyah Banjarsari Ashriyah Banjarsari Salafiyah Banjarsari Salafiyah

Pesantren-pesantren tersebut dapat dikategorikan dalam tiga model. Pertama, model pesantren tradisional yang masih mempertahankan sistem salafiyahnya dan menolak intervensi kurikulum dunia luar. Kedua, model pesantren yang sudah lebur dengan modernisasi. Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan adapula kurikulum umum. Tetapi pada

perkembangannya, karakteristik kepesantrenannya hilang begitu saja dan hanya mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Ketiga, model pesantren yang mengikuti proses perubahan modernitas, tanpa menghilangkan sistem kurikulum lama yang salafi.

77

Tabel 4.19 Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Prambanan Gantiwarno Wedi Wedi Trucuk Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Karangnongko Karangnongko Ceper Ceper Ceper Ceper Juwiring Juwiring Wonosari Wonosari Wonosari Wonosari Karanganom Karanganom Tulung Tulung Jatinom Jatinom Jatinom Kemalang Klaten Utara Klaten Utara Tipe Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Ashriyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Kombinasi Kombinasi Jumlah Santri L P 35 12 25 12 7 1 68 89 63 72 29 34 30 23 58 24 4.200 3.061 54 50 47 30 2 19 50 30 93 54 8 18 70 30 60 100 102 70 86 150 60 93 4 15 127 30 24 38 24 18 10 15 55 60 85 54 69 96

1 PP. Arruum Widodo 2 PP. Candi Barokah 3 PP. Darul Muhibbin 4 PP. Sunan Kali Jaga 5 PP. Ta'limul Qur'an 6 PP. Al Madinah 7 PP. Hidayatul Qur'an 8 PP. Al Munir 9 PP. Darul Qur'an 10 PP. Hudallah 11 PP. Jeblogan Bambu Atiq 12 PP. Mambaul Hikam 13 PP. Nurudh Dholam 14 PP. Sendang Sinongko 15 PP. Al Fattah 16 PP. Daar Al Muttaqin 17 PP. Abdurrahman Bin Auf 18 PP. Al Barokah 19 PP. Al Manshur 20 PP. Al Qur'an YAPI 21 PP. Karanganom 22 PP. Roudlotuzzahidin 23 PP. Ar Ridwan 24 PP. Ageng Selo 25 PP. Al Manshurin 26 PP. Raudhatun Nasyi'in 27 PP. Syafaatur Rosul 28 PP. Fathul Huda 29 PP. Al Urwatul Wutsqa 30 PP. Syarifudin Sumber: Departemen Agama

78

Berdasarkan pada observasi, pondok pesantren yang tersebar di Kota Solo dan Kabupaten Klaten tidak semuanya menggunakan sistem madrasah (memberlakukan sekolah formal di dalam pondok pesantren). Ada beberapa pondok pesantren yang dijadikan tempat untuk

memperdalam ilmu agama Islam dan untuk menempuh pendidikan formal, mereka masuk ke sekolah-sekolah umum. Pondok pesantren yang berkembang tetap mencirikan pada konsep kesederhanaan, keikhlasan serta kepatuhan terhadap sebagai pimpinan

pondok pesantren. Hal ini terungkap dari persepsi para pengurus pondok pesantren terhadap sosok ideal seorang santri yaitu patuh, penurut, dan memiliki kepribadian yang Islami. Untuk lebih jelasnya tentang profil pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini.

1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad Pondok pesantren ini terletak di pusat Kota Surakarta tepatnya Jalan KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan. Pondok Pesantren AlMuayyad dirintis mulai tahun 1930 oleh KH. Abdul Mannan di atas tanah seluas 3.500 m2 yang dijariyahkan oleh KH. Ahmad Shofawi di Kampung Mangkuyudan Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pada perkembangannya luas lahan yang dipunyai Al Muayyad menjadi 3.650 m2, tetapi luas tanah ini sudah tidak memadai lagi untuk mewadahi perkembangan jumlah santri dan satuan pendidikan yang dirintis karena sangat penting bagi Al Muayyad untuk terus mengembangkan diri seiring dengan perkembangan zaman. Pada mulanya Al-Muayyad merupakan pondok pesantren yang bercorak tashawwuf, dalam arti pesantren dengan kegiatan utama latihan pengamalan syari’at Islam dan belum melakukan pendalaman ilmu-ilmu agama secara teratur. Titik beratnya melatih para santri

79

dengan perilaku keagamaan. Pengajian yang diselenggarakan berkisar pada ajaran akhlak. Pada tahun 1939 didirikan Madrasah Diniyah untuk lebih menertibkan proses belajar mengajar ilmu-ilmu agama yang banyak menggunakan rujukan kitab kuning. Meskipun beberapa

madrasah/sekolah menyusul didirikan di lingkungan Al-Muayyad, namun oleh masyarakat Pondok Pesantren Al-Muayyad lebih dikenal sebagai pondok Al-Qur’an. Hal ini dimungkinkan karena pengajian Al-Qur’an menjadi inti pengajaran hingga saat ini. Selain itu KH. Ahmad Umar sendiri dikenal sebagai seorang kyai yang ahli dalam bidang Al-Qur’an dengan sanad (silsilah ilmu) dari KHR. Moehammad Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Nama Al-Muayyad diberikan oleh seorang ulama besar KHM. Manshur. Beliau seorang mursyid thariqah Naqsyabandiyah yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Semula nama Al-Muayyad diperuntukkan bagi nama masjid di komplek pondok. Namun nama ini kemudian digunakan untuk menamai setiap lembaga dan badan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dengan nama tersebut, yang berarti dikuatkan, para ber-tafa’ul (berharap) agar pesantren ini menjadi besar dengan dukungan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinan KH Ahmad Umar Abdul Mannan membentuk Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah/madrasah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan Pekan Pembinaan Tunas Ahlussunnah wal Jama’ah (PEPTA). Saat itu pulalah Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah Ma’ahid AlIslamiyyah (RMI/Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal 21 Dzul-Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M.

b. Secara singkat tahap-tahap perkembangan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Tahun 1930 – 1937 Tahun 1937 – 1939 Tahun 1939 Tahun 1970 Tahun 1974 Tahun 1992 : Pengajian Tashawuf : Pengajian Al-Qur’an : Berdiri Madrasah Diniyah : Berdiri Madrasah Tsanawiyah dan SMP : Berdiri Madrasah Aliyah : Berdiri Sekolah Menengah Atas Madrasah Diniyah bersama-sama dengan pengajian Al-Qur’an dan sekolah serta kegiatan kepesantrenan lainnya menempatkan ALMuayyad dalam keaktifan meningkatkan mutu sumber daya manusia. c. Sesuai dengan kemampuan dan pertimbangan situasional dewasa ini. Lembaga Pengajaran yang mencerdaskan para santri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. sehingga pembagian kewenangan. dan tanggungjawab para pengelola bisa dibakukan. tugas. khususnya di bidang pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan nasional. Lembaga Pendidikan yang aktif menanamkan nilai-nilai keislaman. kemasyarakatan. karena pesantren sesungguhnya milik masyarakat. secara khusus mengarahkan diri untuk berfungsi sebagai: a. dan kebangsaan. Lembaga Dakwah yang menyebarluaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di masyarakat. Dengan pola semacam itu Al-Muayyad berkeinginan mampu mewadahi dukungan masyarakat luas bagi penyiapan generasi muda dalam wadah pesantren dengan manajemen terbuka. Al-Muayyad secara umum berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fiddîn (pendalaman ilmu-ilmu agama). .80 Yayasan yang menjadi tulang punggung manajemen pesantren diaktifkan.

Pengasuh menunjuk beberapa orang untuk menjadi pengurus. partisipasi. dan swadaya mereka sendiri. Pengasuh merupakan pemilik pondok. Pengurus dibagi menjadi 2. Memiliki ilmu dasar mengenal Al-Qur’an dan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. atas tanggung jawab dan keswadayaan mereka. menuju kehidupan yang lebih baik. Tugas BPPA adalah membagi guru dan santri serta mengumpulkan buku ngaji yang berfungsi sebagai absensi. Masing-masing pengurus terdiri dari ketua.81 d. Pimpinan tertinggi adalah pengasuh (Pak Abdul Rozaq Shofawi). Memiliki kecakapan dasar untuk memimpin organisasi atas dasar inisiatif. Lembaga Pengembangan Masyarakat yang mengentaskan/ mengemansipasikan santri dari kalangan tidak mampu untuk dibina. BPPA dan Kamtib. wali kamar. Memiliki sikap mandiri dalam kehidupan sehari-hari. e. b. Memiliki ketrampilan dasar pengamalan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. pengurus putra dan pengurus putri. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah menjadikan santri lulusannya: a. sekretaris. e. d. Memiliki bekal ilmu dan pengetahuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. . BPPA adalah Badang Pengawas Pengajian Al-Qur’an. Secara umum tujuan pendidikan Pondok Pesantren AlMuayyad adalah menanamkan dan meningkatkan rûh Islam dalam perikehidupan beragama secara perorangan maupun bermasyarakat berdasarkan keikhlasan beribadah serta pengamalan syari’at Islam secara murni. bendahara. c. f. Memiliki kemampuan dasar untuk merumuskan dan menyampaikan gagasan dakwah Islamiyah. Lembaga Pelatihan yang membekali para santri dengan ketrampilan sebagai bekal hidup di kemudian hari.

. santri memiliki jadwal rutin yang dimulai dari jam 4 pagi sampai 11 malam yang di isi dengan kegiatan beribadah. Jika sakitnya parah langsung dibawa ke RS terdekat. Di dalam PP Al Muayyad terdapat sie kesehatan yang bertugas menangani santri yang sakit. Misal mengganti lampu putus. Selain itu pada hari-hari tertentu. Hasil pemeriksaan absensi mengaji ditindaklanjuti dengan memberikan laporan kepada sekolah/ madrasah tempat siswa belajar di lingkungan Al-Muayyad dan memberikan pembinaan terhadap siswa yang kurang rajin. Setiap harinya. jika ada dokter langsung ditangani dokter. Saat ini PP Al Muayyad memiliki jumlah santri sebanyak 290 santri dan 280 santriwati yang duduk di bangku sekolah SMP. SMA dan MA. Ada juga sie Sarana dan Prasarana yang bertugas mengurusi kebutuhan pondok. Sedangkan wali kamar bertanggung jawab mengawasi santri menurut pembagian kamar.82 Untuk ketertiban mengaji pondok menerbitkan buku absen mengaji yang setiap hari Kamis pagi dikumpulkan di Kantor Pondok untuk diperiksa. Teknis pemberian sanksi diatur oleh masing-masing sekolah/madrasah yang tidak menyimpang dari ketentuan dan kode etik pendidikan. santri diwajibkan melakukan ritual peribadatan yang telah dijadwalkan dan wajib diikuti oleh semua santri. jika sakit biasa diberi obat / dirawat di klinik. Bagi santri yang tidak memenuhi target minimal pengajian diberikan sanksi berupa tidak boleh mengikuti tes bersama santri yang memenuhi syarat. Satu wali kamar bertanggung jawab mengawasi 1 – 2 kamar. Pengawas keamanan dan ketertiban yang bertugas mengawasi dan menertibkan santri dalam kegiatan pondok serta berwenang memberi sangsi kepada santri yang melakukan pelanggaran. PP Al Muayyad menerbitkan buku kecil yang berisi peraturan yang ada di dalam ponpes. Kerajinan mengaji dijadikan syarat mengikuti tes. Untuk memudahkan sosialisasi peraturan tersebut.

sebagai senior (Mbak kamar). . handuk. pakaian. peraturan pondok. juga tempat nongkrong santri putri (curhatcurhatan). biasanya untuk menaruh barang-barang pribadi santri seperti peralatan mandi. Di atas almari-almari pembatas. Kondisi kamar lumayan semrawut. dimasing-masing kamar ada yang SMA atau Aliyah. Kamar ukuran besar (± 9 x 8 meter) dibagi menjadi 2 kamar dengan disekat almari. Lantai 2 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMP). Kamar ukuran kecil (± 3 x 4 meter) dipakai 8 – 10 anak. tempat nyuci. dan lain-lain. kamar mandi. dan aula. Masing-masing wali kamar mengawasi 2 kamar. Ditembok masing-masing kamar biasanya ditempel jadwal piket. Lantai 3 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMA atau Aliyah). masing-masing dipakai ± 15 anak. Di atas juga banyak pakaian yang digantung (termasuk pakaian dalam). peralatan makan.83 a. kamar pengurus putri. jadwal kegiatan pondok. ”dilarang menaruh alas kaki disini”. dan lain-lain. Pondok Putri Pondok putri ada 20 kamar. Kamar ukuran kecil ada yang full tembok. hanya pakai kasur lipat yang sangat tipis. Ditembok gang-gang kamar biasa ditempel kata-kata peringatan seperti ”jagalah kebersihan”. Tidak ada dipan. Lantai 4 untuk jemuran pakaian dalam. tempat menonton TV. ada juga yang sebagian tembok kemudian sisi yang lain dibatasi almari karena di terletak di gang. Lantai 1 untuk kantor pengurus pondok putri.

3 ukuran memanjang dipakai 25 – 30 anak. Pondok Putra Pondok putra ada 8 kamar. Lantai 1 untuk tempat makan (dulunya kamar). sekaligus tempat wudhu santri. rak-rak kecil. Setiap kamar diawasi 1 orang wali kamar.84 Masing-masing kamar ada ketua. Kamar ukuran sedang (± 5 x 6 meter) untuk 25 anak. Kantor pengurus putri. almari berisi dokumen-dokumen. Tidak ditata dengan baik (umbruk-umbrukan). Namun tempatnya lebih bagus dari tempat putri. Kamar ukuran besar di lt. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. Kamar pengurus putri terdiri dari 2 ruangan (2 kamar). Ada tempat menonton TV. di atas almari tempat menaruh barang-barang pribadi. Keadaan kamar putra berantakan. Air di depan kamar mandi agak menggenang (receh). b. berisi sekitar 24 – 30 anak. ruangan lebih besar. ada 1 komputer. Punya putra lantai . Menonton TV setiap hari jum’at. Letaknya di samping kamar pengurus. kasur-kasur lipat ditumpuk tidak beraturan. hanya ada kasur lipat tipis. Ada tempat menonton TV. Setiap kamar ada mas kamar dan ketua kamar. kalau yang SMA atau Aliyah biasanya sebagai mbak kamar). Kamar mandi ada 19 buah di lantai 1 dengan ukuran 2 x 1 meter. kelas 3. Ukuran kamar lebih besar dari kamar putri. Tempat mencuci berupa kerankeran air. Setiap kamar ada petugas piket harian yang dibagi oleh wali kamar. kantor pengurus putra dan tempat nonton TV. Kadang-kadang kantor pengurus putri juga dipakai tidur beberapa pengurus dengan alasan kamar pengurus banyak orang. Tidak ada dipan. Keadaan tidak jauh berbeda dengan kamar santri (berantakan). Lantai 2 dan 3 untuk kamar santri. pakaian dicentel. biasanya yang lebih senior (misalnya SMP kelas 2. Sepertinya keadaan tidak jauh berbeda dengan pondok putri. Mas kamar dipilih yang paling rajin dan senior (setidaknya yang kelas 3).

Menonton TV setiap hari jum’at. banyak warga masyarakat yang sadar dan bertaubat hingga kekurangan tempat beribadah. Telp.08282712334. Dan didaftarkan ke Notaris dengan Nomor 4 Tanggal 11 April 2006 di Kantor Notaris HM. bersabda “ Sebaik baik manusia adalah yang bemanfaat sesama Manusia “ Dilandasi hadits tersebut. 081 825 4976. Joyotakan Kec.MH and friends. Ponpes ini beralamat di Kp.Tony Rodhiarto SH. 1. Joyotakan Wetan RT. Mereka menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. (0271) 5869294. Berawal dari kepedulian kondisi tersebut masyarakat setempat dan beberapa Pegawai BI Solo. yang terdiri dari Pensiunan Pegawai atau warga masyarakat sekitar. Dan ironisnya tidak ada tokoh Islam atau pemerintah yang peduli terhadap kondisi ini. Serengan Surakarta.pada tahun 2005 membeli tanah berukuran 3m X 7m untuk didirikan sebuah bangunan sarana ibadah untuk menimba ilmu agama serta memperkuat iman kaum Muslimin diwilayah tersebut.85 keramik dan lumayan bersih. Dalam hadits Rosulullah SAW HP. 06/06 Kel. Satu tahun kemudian terwujud bangunan itu dan diberi nama PP Darud Dzikri Surakarta. Kamar mandi lantainya kotor. Pondok Pesantren Darud Dzikri . serta Anak Yatim Piatu dan Fakir Miskin yang secara materi tergolong tidak mampu.2 Pondok Pesantren Darud Dzikri Masyarakat Joyotakan Wetan Kota Surakarta sejak dulu dikenal sebagai daerah Black List yaitu daerah yang penuh dengan pezinaan. tapi punya putri hanya ubin. Ketika pada tahun 1980-an berdiri sebuah musholla kecil sebagai sarana beribadah. Untuk itu kehadiran agama dimasyarakat itu sangat dibutuhkan sekali walaupun mungkin penuh dengan tantangan dan ujian. HP. kemaksiatan dan sarang persembuyian para perampok kelas kakap. Pondok Pesantren Darud Dzikri adalah tempat belajarnya para insan lansia.

Menghindarkan mereka dari pengaruh negatif dan pergaulan bebas c. karena dalam membangun dan mengembangkan pesantren melibatkan seluruh lapisan masyarakat Islam. Ponpes Darud Dzikri Surakarta mempunyai sumber dana antara lain : a. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta berdiri di Kalurahan Banyuanyar Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta Jawa Tengah-Indonesia pada tanggal 15 Desember 1990. . Infaq dan Shodaqoh dari para simpatisan /Hamba Allah. Mencapai dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. c. Dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Mujahidin dengan nomor Akte Notaris No. 3 Tanggal 22 Pebruari 1980. Kas Pondok Pesantren Darud Dzikri Surakarta.3. 1. tidak berada dibawah organisasi atau kelompok tertentu dan tidak berafiliasi pada golongan atau jami`iyah tertentu.86 Surakarta memilih “Pesantren Lansia dan Panti Anak Yatim Piatu & Fakir Miskin” sebagai program utama dalam rangka mengharap Ridlo Allah SWT. Dalam menjalankan kegiatan Pesantren Lansia. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah milik umat Islam. Bantuan dari berbagai pihak yang tidak mengikat dari instansi swasta maupun pemerintah. Pondok Pesantren Mujahiddin Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang memadukan antara sistem kepesantrenan dengan pendidikan modern. b. Adapun maksud dan tujuan Panti ini adalah: a. Mempersiapkan masa depan mereka dengan Imtaq dan Iptek yang berguna bagi bangsa b. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta merupakan pondok/lembaga yang mandiri.

menggabungkan kurikulum pelajaran SMP dan Pondok Pesantren ditambah ekstrakurikuler. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas.753 m2 yang merupakan tanah Wakaf Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta memiliki 3 visi yaitu: a. tangguh dalam bidang ilmu dan fisik serta sholeh akhlaqnya Adapun visi tersebut didukung dengan misi sebagai berikut: a. Tujuan pondok pesantren ini salah satunya diwujudkan melalui pendirian unit pendidikan yaitu MTs (khusus putra) yang terakreditasi B dengan Nomor 058/BAPSM/XII/2007. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas dan mampu memahami Islam secara lengkap/kaffah. Memiliki siswa yang tangguh dan sholeh. berahklaq mulia dan memahami Islam secara kaaffah. Menjadi tempat berlatih muslim dalam bidang keilmuan dan ketrampilan c.87 Pondok Pesantren Al Mujahidin ini berdiri diatas areal tanah seluas 1. sehingga nantinya diharapkan menjadi generasi yang beriman. b. Melatih generasi muslim dengan bekal ketrampilan hidup (life skill) yang memadai c. Pondok pesantren ini didukung dengan 16 staf pengajar yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dari mulai lulusan MAN dan terkemuka di . Mendidik generasi muslim agar menjadi pribadi yang lurus iman. Menjadi Madrasah / Pesantren unggulan Indonesia b. berakhlak mulia. Melatih generasi muslim agar selalu membela agama Islam dan berjuang fi sabilillah dengan harta dan nyawa disegala bidang kehidupan Tujuan pondok pesantren ini adalah untuk memfasilitasi anak-anak Islam yang kurang mampu dalam menempuh pendidikan serta mendidik generasi muslim yang sholeh.

dan dana pembangunannya berasal dari Masjid Agung. kebanyakan santri belajar dikamar masingmasing. Jumlah santri ada 207 yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan persebaran santri menetap berjumlah 27 anak dan santri tidak tetap/binaan berjumlah 180 anak. Masjidnya adalah Masjid Agung. Setiap santri memiliki rutinitas yang telah dijadwalkan dari mulai jam 3.88 sampai S2. Akhirnya pada tahun 1983 atas prakarsa KH Umar Sahid dan KH Muhamad Sidiq didirikanlah pondok tersebut. yaitu 1 Ketua. Surakarta Pondok pesantren ini pada awalnya berdiri karena gagasan para pendatang yang menginginkan adanya suatu pesantren untuk belajar mengaji dan membaca Al Qur’an ditengah-tengah keramaian Kota Surakarta dimana penduduk asli Surakarta sendiri tidak tepat dalam membaca Al Quran. Disamping itu santri yang tinggal disini tidak boleh bekerja atau menikah. hal ini karena agar dalam proses belajar mengajar para pengasuh atau ustadz lebih mudah membimbing para santri karena sudah memiliki kesamaan paham. Pondok pesantren ini khusus untuk santri yang berumur 18 tahun keatas atau sudah termasuk usia dewasa. Masjid Agung. Untuk kamar tidur. dimana setiap kamar santri ada ketua yang disebut ketua kamar yang bertugas untuk mencatat pelanggaran yang dilakukan santri. sedangkan untuk tempat belajar santri bisa dimana saja selama masih dilingkungan pondok pesantren. setiap kamar tidur terdapat ± 3-5 santri. Fasilitas yang ada antara lain tempat untuk bermain bulutangkis.4. mengumpulkan hp pada waktu . 1 Sekretaris dan 1 Bendahara.30 pagi sampai jam 10 malam. Pondok pesantren ini terdiri dari 3 pengurus inti. Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. 1.

dan pengumpulan Handphone. yaitu Abah Mutohar yang mengajar bacaan Tahfidz dan Abah Dasuki sebagai pengasuh Ta’lim. dan adapun aturan dalam pelanggaran adalah satu kali melakukan pelanggaran santri diingatkan. Sanksi didasarkan pada kredit point. santri biasa dilibatkan dalam pembuatan peraturan ringan seperti ketentuan waktu berkumpul. Bagan 1. Pondok ini memiliki 2 pengasuh Utama atau biasa disebut . serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukan santri yang berkaitan dengan peraturan pondok. 100-300 ribu dan sumbangan dana rutin dari Masjid Agung. Surakarta Pengasuh Ketua Pengurus Sekretaris Ketua Kamar Bendahara Santri Biaya operasional kegiatan santri sehari-hari berasal dari iuran santri tiap bulan sebesar Rp. penentuan khotib dalam khutbah. Hierarki Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. Sanksi terberat dalam pondok ini adalah minum-minuman keras. jika melakukan hal ini santri bisa langsung dikeluarkan oleh pihak pondok. dua kali .89 yang telah disepakati. Masjid Agung. Untuk pelibatan santri dalam membuat keputusan didasarkan pada situasi dan kondisi.

2. akan tetapi pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter ada seseorang yang ingin menjual tanah di daerah yang sekarang menjadi lokasi PonPes seluas 12x6m2. kemudian beliau membeli tanah itu dan mendirikan pondok pesantren. . yakni bapak Akhid yang sekarang menjadi pengasuh di pondok pesantren Al Munir. Pare Kediri. Pondok Pesantren Al Munir Pondok Pesantren (PonPes) Al Munir terletak di Desa Gumul. karena pada saat itu beliau aktif mengisi ataupun mengajar ngaji di daerah tersebut. Yayasan Al Munir memiliki tiga Program Utama yaitu : Pondok Pesantren (Ponpes). dan Panti Asuhan. Dari awal pendirian pondok ini memang ditujukan untuk anaknya yang saat itu masih nyantri di Pondok Pesantren Darussalam. Pondok Pesantren ini berdiri pada tahun 2000. dan barulah ketiga kalinya santri baru dilaporkan ke orang tua.90 melakukan pelanggaran santri juga masih diingatkan. Madrasah Diniyah (Madin). dan bernyanyi dimalam hari sering dikeluhkan oleh santri. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten 2. Pendiri dari pondok pesantren ini adalah bapak Irwandi ayah dari bapak Akhid Mutiangin yang sekarang menjadi di ponpes ini. Pondok ini memang bersebelahan dengan perumahan penduduk. kebanyakan santri sangat senang tinggal dipondok ini. keakraban terjalin erat antara santri dan pengurus. Akan tetapi resmi dijadikan menjadi sebuah yayasan resmi yakni Yayasan Al Munir baru pada tahun 2003. akan tetapi juga ada santri yang mengeluhkan tentang keberadaan warga sekitar pondok yang beraktivitas dimalam hari karena sering mengganggu. Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Bapak Irwandi berasal dari Bantul Yogyakarta. dan aktivitas penduduk seperti kumpul. Hubungan santri dengan pengurus dan pengasuh terlihat dari raut wajah dan perilaku santri.1.

pada data tertulis santri yang menetap ada sekitar 40 anak. Pada saat ini ada terdapat 7 santri yang mukim di pondok ini.peraturan di pondok pesantren ini ada tapi belum tertulis. Kegiatan belajar dimulai dari pukul 4 pagi (waktu sholat shubuh) dan berakhir pada pukul 8 malam (setelah mengaji). pondok ini memiliki 2 kamar untuk santri putri.91 Bangunan Pondok cukup luas. dan dilantai 2 ada satu ruangan yang masih kosong. Adapun pembelajaran ilmu fiqih melalui penggunaan beberapa kitab. Selanjutnya waktu digunakan untuk belajar dan istirahat. setelah selesai menggunakan juz Amma ba’dadiyah. membuat gaduh. sebenarnya untuk kamar santri putra tetapi karena anak-anak takut tidur diatas. Dua diantaranya sudah dewasa selain sebagai santri juga sekaligus sebagai pengasuh dari santri-santri yang lain karena 5 dari santri yang ada masih duduk di sekolah dasar. satu dapur. Peraturan. Untuk santri yang ada di pondok ini masih pasang surut. Beberapa peraturan yang ada antara lain : tidak boleh memakai pakaian ketat (kaos ketat & celana jeans). Sementara untuk santri Kalong yakni santri yang hanya datang untuk ngaji dan setelah selesai langsung pulang sebanyak 120 anak dan untuk anak panti berjumlah 40 anak. lari-larian di pesantren. satu kamar tamu. . pertama kali menggunakan Iqro. dan jika juz amma telah selesai baru naik ke Al Qur’an. Pada pembelajaran Al Qur’an. akhirnya ruangan itu kosong. Semua kegiatan telah dijadwalkan dengan ketat. Materi pembelajaran ada 2 yaitu pembelajaran Al Qur’an dan ilmu fiqih. ramai. berpakaian tidak sopan. Untuk pelajaran umum diperoleh melalui sekolah-sekolah formal yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. akhlak. dan juga bersih-bersih. satu mushola. satu ruangan untuk madrasah diniyah. jadi untuk makan santri bergabung dengan pak . hafalan-hafalan serta kitab kuning. Untuk santri dewasa setelah sholat subuh memasak untuk santri-santri yang masih sekolah.

ghosob atau mencuri. membuat keset dan lain-lain. Madrasah Diniyyah.2. kursus menjahit. memanggil dengan nama jelek. pada tahun 2004 terbukalah pintu hidayah dari Allah SWT kepada warga sekitar dan sampai luar daerah sehingga berkembanglah kuantitas santri yang studi di Ponpes ini hingga terbentuklah Majelis Ta’lim. pesantren ini masih menumpang di rumah kakaknya istri dari pengasuh Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. Sebenarnya kursus ini untuk anak-anak panti karena memang satu lokasi sehingga anak pesantren juga mengikuti kegiatan tersebut. Di pondok ini juga diberikan beberapa keterampilan seperti membuat tas dari anyaman.92 mengejek antar santri. Dengan pengetahuan manusia akan dapat menggunakan otaknya . 2. Respons masyarakat terhadap keberadaan pesantren ini memang masih rendah. atau diminta untuk mencuci piring. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Bermula dari dua orang anak santri yang mengaji kepada Kyai Susilo Eko Pramono. Sejak awal berdirinya Ponpes Sunan Kalijaga memang belum memiliki apa-apa seperti tanah pesantren. Pendidikan adalah kebutuhan dan bagian dari hak asasi manusia. memanfaatkan ilmu pengetahuan. sebab dengan pendidikan manusia mampu menerima. mengamalkan. Dengan keterbatasan lokasi dan dana maka aktivitas belajar masih dalam keadaan darurat dan sangat memprihatinkan. memahami. Sanksi-sanksi yang ada juga belum diterapkan. Pada awal bedirinya. Apabila ada pelanggaran biasanya santri-santri dinasehati dan kalaupun diberi sanksi oleh pengasuh biasanya dengan cubitan atau kalau tidak disuruh mengambil kayu bakar. akan tetapi sanksi fisik tidak ada. hingga Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. untuk Madrasah Diniyah justru lebih banyak anak dari luar kampung.

Aqidah. Kondisi perekonomian sang pengasuh santri yang masih rendah ekonominya. Klaten. Bahasa Indonesia. Sejarah Islam. ataupun keagamaan khususnya studi agama Islam. Kaligrafi. hingga yang sudah berkeluarga untuk mendapatkan ilmu agama seperti baca tulis Al Quran. bahkan masih menumpang di masjid. dan memadukan fungsi otak dan hatinya untuk merealisasikan dan menikmati hasil dari pengetahuan. Dengan kata lain asrama pondok yang masih menyewa tanahnya. Dan pengetahuan umum seperti Ilmu Hitung. dan dalam rumah sewaan sang pengasuh santri. sang pengasuh tetap terus berusaha untuk mengasuh dan membina para santrinya baik santri kalong (santri yang berangkat dari rumah santri dan pulang setelah belajar) ataupun santri yang tinggal bersama pengasuh (santri mukim). Kepramukaan atau Kepanduan. Ironisnya. pemuda. Sains. telah meluangkan hidupnya untuk membina dan mengasuh mulai dari anak-anak. . terkadang pengetahuan yang kondusif dan sesuai sarana prasarananya hanya menjadi komoditi bagi orang-orang yang memiliki dana yang cukup saja. Desa Dengkeng. Fiqih. Kesenian atau Karawitan atau Seni Gamelan Jawa. sedangkan bangunannya dari bambu. Ilmu Sosial. Bahasa Inggris. belum adanya sumbangan dan sponsor yang membantu pendanaan Ponpes ini maka tidaklah mengherankan sejak tahun 2004 sarana dan prasarana studi masih memprihatinkan (tanpa gedung sekolah). baik untuk pengetahuan umum. Bahasa Jawa.93 untuk berfikir. Keadaan semakin memprihatinkan setelah terjadi gempa bumi 27 Mei 2006. Kecamatan Wedi. hatinya untuk merasakan. teras rumah. Akhlak. Adalah seorang anak manusia yang memperjuangkan pengetahuan dengan dasar kemanusiaan dan sosial yang tinggal di Dukuh Karang Ngasem. Meskipun demikian. Bahasa Arab.

Sebagai sarana studi keilmuan baik ilmu keislaman ataupun pengetahuan umum seperti sains dan teknologi. b. Propinsi Yogyakarta yang tidak terjangkau oleh posko bantuan gempa. Ikut berperan serta dalam keadilan sosial dan kesejahteraan warga negara Republik Indonesia. Pondok pesantren ini mempunyai visi sebagai berikut: a. Ketiga visi tersebut diterjemahkan dalam tiga misi untuk mendukung pengembangan diri pondok pesantren sehingga mampu bersaing dengan pondok pesantren lainnya. c. khususnya komunitas muslim. Mewujudkan jiwa-jiwa yang nasionalis dan patriotis kepada tanah air Republik Indonesia dan tetap berpegang teguh pribadi muslim yang berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah. dan telah memperoleh sertifikat sejak 29 Januari 2007/10 Muharam 1428 H. dengan menganut organisasi Nahdlatul ‘Ulama. Membantu program pemerintah Republik Indonesia khususnya di bidang peningkatan pendidikan. Sebagai pelestarian budaya bangsa terutama budaya Jawa. dan agama. . sebagai berikut: a. b.94 Atas dasar kemanusiaan dan sosial pengasuh. Status institusi Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga telah didaftar sejak 16 Oktober 2006 di Departemen Agama Kabupaten Klaten. Fenomena pemberian bantuan tersebut berlangsung hingga lebih dari 5 bulan (sejak awal gempa hingga bulan Oktober 2006) dikarenakan telah habisnya stok bantuan yang ada di Pondok Pesantren. Sedangkan pelayanan studi pengetahuan umum. dibuktikan dengan bantuan gempa yang masuk ke Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga dalam bentuk apapun telah diberikan kepada seluruh santri. serta pusat peribadahan Islam tetap berjalan baik dari sebelum gempa hingga pasca gempa. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan perekonomian. bahkan sampai di Kabupaten Gunung Kidul. warga. dan dari beberapa desa yang lain.

. dan kondisi sosial sehingga berprinsip: sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain dan berakhlakul karimah. ada 4 organisasi yang berkembang di dalam pondok pesantren ini yaitu Organisasi Santri Madrasah Diniyyah (Osmada). Untuk mendukung kegiatan pondok pesantren. kemanusiaan.95 c. Saat ini jumlah santri yang belajar ada 15 santri dan 5 santriwati. Membentuk insan-insan yang peka terhadap lingkungan. Badan Pengembangan Pondok Pesantren (BP3) dan Dewan Wali Santri (DWS). Bangunan pondok ini sangat sederhana terbuat bambu dan anyaman bambu. Khusus santriwati memiliki status sebagai santri mukim. Laskar Santri (LSBPM Suka).

(3) hak atas perlindungan. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik.000 sampai 8. Hal ini karena kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. moral dan sosial. diselenggarakan oleh masyarakat. Mayoritas panti asuhan di Indonesia memiliki tujuan utama menyediakan akses pendidikan dan menitikberatkan kegiatan pengasuhan pada pendidikan formal di sekolah. PENGANTAR Sebutan Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten sebagai kota/kabupaten layak anak sebaiknya tidak hanya pada tataran retorika saja. meliputi perlindungan dan diskriminasi. mayoritas (85%) berusia sekolah (10-17 tahun) dan sebagian besar (98%) sedang bersekolah. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari Save the Children. yang jumlahnya diperkirakan antara 5.96 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hal ini menunjukkan adanya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan. dan(4) hak untuk berpartisipasi. Pemenuhan Hak anak seperti (1) hak untuk hidup. Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggi-tingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. . (2) hak untuk berkembang. utamanya organisasi keagamaan. Data jumlah panti asuhan menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen panti asuhan di Indonesia. mental. spiritual. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup di dalam panti asuhan maupun pondok pesantren.000. label ini haruslah dipahami dan direalisasikan pada tataran kehidupan nyata dan keseharian di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. sosial. Anak-anak di kebanyakan panti asuhan.

Selain itu. dan Departemen Sosial yang menunjukkan alasan orang tua memasukkan anak ke dalam panti asuhan agar si anak mendapatkan jaminan pendidikan karena kemampuan ekonomi orang tua sangat minim. Sulawesi Utara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak yang tinggal di dalam panti asuhan sehingga diperoleh suatu standar pengasuhan anak panti. Penelitian yang dilakukan di 37 panti asuhan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). penelantaran atau resiko yang lain meski kenyataannya terdapat anak-anak yang dimasukkan ke panti asuhan karena mengalami kekerasan dalam keluarga atau dibuang oleh keluarganya. Dengan tercapainya kualitas pengasuhan di panti asuhan diharapkan dapat membantu komunikasi . Maluku. Keterampilan dan kualifikasi yang ditetapkan dalam perekrutan pengasuh di panti asuhan belum diprioritaskan bagi kondisi sentuhan ramah anak dan lebih banyak difokuskan pada kualifikasi kemampuan pengajaran. Pada akhirnya upaya ini dicoba diakomodir dalam Konferensi Panti Asuhan yang pernah dilakukan di Propinsi NAD.97 UNICEF. Kondisi yang demikian membuat anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus cukup mandiri untuk mengurus diri mereka sendiri. Keadaan anak yang tinggal di panti asuhan sebagian besar membersihkan dan membantu kebersihan panti asuhan. dan Kalimantan Barat menunjukkan hasil bahwa ternyata mayoritas anak-anak panti asuhan tidak kehilangan orang tua atau ditelantarkan oleh keluarganya. Jawa Tengah. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio pengasuh dengan jumlah anak masih rendah yaitu 1 pengasuh berbanding 10 anak. Hal ini jelas mempengaruhi pola pengasuhan anak yang ada di panti asuhan karena keberadaan pengasuh profesional dengan jumlah memadai belum diprioritaskan. Nusa Tenggara Barat. hampir tidak satu pun panti yang memberikan perhatian kepada anak-anak yang kemungkinan membutuhkan pengasuhan alternatif akibat kekerasan dalam keluarga. Lebih dari 90% anak yang tinggal di panti asuhan memiliki salah satu atau kedua orang tua.

mempunyai integritas pribadi yang kukuh. Pertama. Di dalam pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. dan mempunyai kualitas intelektual. pesantren dilihat sebagai lembaga pendidikan yang hanya mampu mencetak alumni yang memiliki kemampuan agama tanpa kemampuan yang dibutuhkan pasar khususnya tenaga kerja. berorganisasi. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. posisi. mandiri. Pesantren dengan label pendidikan agama yang di emban diharapkan akan berkontribusi penting dalam pembenahan kemiskinan spiritual masyarakat.98 antara anak yang berada di panti asuhan dengan keluarga mereka secara sistematik. Selain panti asuhan. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. memimpin dan dipimpin. disamping harus bersedia menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh kyai. Kedua. Sistem bandongan atau wetonan dengan belajar bersama-sama dihadapan kyai dengan mendengarkan dan menuliskan makna dari kitab yang dibahas oleh kyai. menambah keakraban antara santri dan kyai. Kurikulum Pesantren menawarkan kajian yang sangat penting yang tidak hanya terbatas pada bagaimana membangun relasi dengan Tuhan namun juga relasi dengan sesama manusia maupun lingkungan. pesantren dilihat sebagai pabrik ilmu-ilmu . Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati kyai dan meneladani kehidupannya dalam segala hal. berakhlak mulia. Sistem sorogan yaitu dengan belajar face to face (tatap muka) dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu per satu dengan kyai memberikan kesempatan kepada santri untuk menimba ilmu yang masih dirasakan dangkal. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Kehadiran pesantren di Indonesia pada umumnya tidak dapat dipungkiri lagi perannya. fungsi dan peran pesantren cenderung dilihat oleh masyarakat. alternatif pengasuhan di luar keluarga adalah pondok pesantren. Para santri menimba ilmu dengan cara bandongan atau wetonan dan sorogan.

67 100 .99 keislaman yang diamanahkan untuk mencetak ulama-ulama atau intelektual Islam yang handal.33 6. Boyolali. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kota Surakarta 1. Setiap anak yang diterima tinggal di panti asuhan ini minimal usia SMP dan harus keluar dari panti ketika tamat SMA.1 Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga No Lama Tinggal 1 Kurang dari 3 th 2 4 – 6 th 3 7 th Jumlah Sumber: Data Primer.1. Anak yang menjadi penghuni panti ini tidak hanya berasal dari Solo tetapi juga berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.1 Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga a. Lama tinggal anak-anak ini di panti asuhan berkisar antara 1–7 tahun. Pengurus panti asuhan ini berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga dari segi kesejahteraan telah terpenuhi oleh Negara. Sukoharjo. Eks Karesidenan Surakarta (Klaten. hal ini dapat dilihat pada tabel 5. POLA PENGASUHAN ANAK DI PANTI ASUHAN 1. dan Karanganyar) dan Jawa (Grobogan. Ketiga. Dari 15 anak panti yang dijadikan responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Solo. Tabel 5. B. Juli 2009 Jumlah 9 5 1 15 % 60 33. pesantren memiliki peran ganda yaitu mendapatkan ilmu-ilmu keislaman dan juga keterampilan siap pakai yang dapat bersaing di pasar tenaga kerja. Sragen. Purwodadi dan Ngawi). Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik pemerintah dibawah Dinas Sosial Kota Solo.

100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.67 26. Hal ini dapat dilihat dari pengantar anak datang ke panti asuhan yang sebagian besar diantar oleh tetangga.2 berikut ini: Tabel 5. menurut anak-anak jumlahnya tidak tentu. penyantunan.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Ketidakpedulian orangorang disekitarnya terhadap kepemilikan akte kelahiran patut dipertanyakan.67 20 6. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Selain itu juga sesuai dengan tujuan dari pendirian panti asuhan ini oleh Pemkot Solo yaitu menampung anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan perawatan. Adapun besarnya uang saku.67%) lainnya tidak memiliki akte kelahiran.33%) yang memiliki dan 7 anak (46. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5. Juli 2009 Pada umumnya anak yang datang ke panti asuhan ini karena mengalami kesulitan ekonomi. Dari hasil FGD yang dilakukan. pengembangan dan pembinaan. Karena banyak daerah yang memberlakukan pengurusan akte kelahiran gratis sebagai upaya pemenuhan hak anak yang dilindungi oleh Undang-Undang. menurut salah satu pengurus jumlah uang saku masing-masing anak berbeda karena berkaitan .2 Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Kepala Desa Jumlah 7 4 3 1 15 Persen (%) 46. Pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan yang telah ditetapkan dalam APBD Kota Solo. dari 15 responden ada 8 anak (53.

101 dengan jarak sekolah dengan panti asuhan.67 13. Bagi anak kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap . Juli 2009 b.33 86.67 0 0 13. membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan. Uang saku tersebut digunakan untuk biaya transportasi ke sekolah dan pemenuhan kebutuhan pribadi anak seperti ditabung maupun untuk jajan ketika di sekolah.33 Sumber: Data Primer. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar. Kondisi ini membuat anak jadi tidak nyaman berada di panti asuhan sekaligus karena jauh dari orang tua (bagi yang masih memiliki orang tua).67 86.33 0 Tidak Ada 0 0 7 0 0 2 % 0 0 46.67 Tidak Layak 0 0 0 4 2 0 % 0 0 0 26.3 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 15 15 8 11 13 13 % 100 100 53.33 73. bermain. meskipun fasilitas yang ada dianggap tidak layak Tabel 5. sebagian besar anak menganggapnya biasa saja (12 anak). Kondisi lingkungan di panti asuhan. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini. Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman meskipun kadangkala ada teman yang membuat kesal misal saling mengejek. bersih (2 anak) dan tidak menjawab (1 anak). beribadah bersama.

Menurut anak-anak. lagi pada ngapain niy?? Aku ikut bantuin boleh ya?” Jeki : “oh. Ada beberapa anak laki-laki yang sedang bermain kejar-kejaran. Kejadian ini terjadi pada hari selasa.00 WIB. pengurus panti asuhan baik. peneliti mulai pada pukul 14. silakan mbak ga apa-apa. Kegiatan ini berlangsung sekitar setengah jam lebih karena letak sumber air nya ada diluar kamar. Akhirnya peneliti bisa juga mengobrol dengan beberapa anak perempuan yang sedang membungkusi air untuk dijadikan es batu. kegiatan membuat es batu ini dilakukan setiap hari ya?” . Peneliti : “dek. Peneliti juga sedikit mngobrol dengan mereka. Sesampainya disana ada banyak sekali aktivitas yang terjadi. Suasana kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan adalah adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak dengan tetap memperhatikan etika kesopanan. Seharian itu peneliti mengikuti kegiatan anak-anak asuh disana. peneliti membantu mereka bekerja.4).102 tidak memberatkan (Tabel 5. santai aja. Waktunya anakanak sudah pulang sekolah. 21 Juli 2009 di PA Pamardi Yoga. Tapi apa nanti gag ngrepotin mbak?” Peneliti : “enggak kog dek. peneliti mengamati setiap gerak-gerik mereka agar peneliti bisa mencari celah untuk masuk ke dunia mereka. ada segerombol anak perempuan di dalam kamar yang sedang ngrumpi dan ada pula yang mencuci baju bahkan ada yang sedang terbaring lemas di tempat tidur karena sedang sakit. ramah dan penuh kasih sayang. Aku dirumah juga sering kerja kaya gini kog” Jeki Peneliti : “yasuda kalu gitu gpp mbak” : “dek.

es nya kayaknya enak tuh. Tapi kadang kalau yang disinik habis nanti belinya di tempat bu Nuk.” ..103 Jeki : “iya mbak. Hehehe. Ya karena banyak pedagang di sekitar panti yang membeli es batu disini” Peneliti Jeki : “oh.” Beberapa saat kemudian ada seorang anak yang membawa bungkusan. Ya paling untuk membeli kebutuhan pribadi itu. Kemudian peneliti beinisiatif untuk bertanya kepada anak itu. itu sudah jadi pelanggan kami. mending kita naik motor aja gimana?” Dewi : “enggak jauh kog mbak. Diseberang jalan sana aja kok. ibu yang jualan mie ayam di depan itu ya?” : “iya mbak. ya hitung-hitung buwat nambah uang jajan atau untuk ditabung” Peneliti : “biasanya untuk jajan apa dek? Kebutuhan pribadi ya” Jeki : “kalu jajan sebenarnya jarang sih mbak. karena kan udah dapat jatah makan juga dari panti. Peneliti : “dek. Beli nya dimana ya?” Dewi : “oh. Cuma dekat sini. aku anterin yuk!!” Peneliti : “ayuk. Isinya es kucir sepertinya. Bisa dibilang setiap hari membuat es batu.. tempatnya jauh dari sini gag? Kalau jauh. yang didepan itu lho” Peneliti : “lha terus nanti keuntungan dari penjualan es batu itu diberikan untuk panti atau untuk anak-anak panti dek?” Jeki : “untuk hasilnya biasanya untuk anak-anak panti mbak.. mbak kepengen ya? Kalau mau beli.

” Kegiatan berlanjut di panti asuhan. Pulang yuk. habis es nya enak” : “jumlah anak-anak yang disana tadi berapa tow wi? Beli 10 ribu cukup gag ya?” Dewi : “cukup mbak. ayo Wi. namun semuanya dapat saya atasi dengan baik.. Aku tadi juga jalan kaki kok dari sana” peneliti : “ya sudah. . makasi banyak ya mbak” : “iya.!” Dewi peneliti Dewi : “iya mbak. Ntar dibagi sama yang lain juga ya wi..... Senang rasanya bisa melihat kebersamaan seperti itu. gpp. peneliti Dewi peneliti : “wi.” Sambil berjalan menuju ke tempat penjual es.. hehehe.” ... Ada beberapa masalah yang muncul.104 peneliti Dewi : “beneran niy jalna kaki gpp?” : “iya mbak.sama-sama wi.. Akhirnya kegiatan hari itu ditutup dengan pengumpulan surat curhat yang beberapa hari yang lalu aku bagikan kepada mereka. Mbak juga suka ya es kaya gini tow” peneliti : “iyah.. “ayuk. Sesampainya di panti anak-anak pada berebut es buah tadi. Dengan terkumpulnya semua surat curhat dari anak-anak maka menutup perjumpaan dengan anak-anak panti di hari itu. anak-anak di panti suka jajan es disini ya?” : “iya mbak.

hak anak dalam panti asuhan adalah mendapatkan uang saku dan bebas mempergunakan fasilitas yang ada dengan tetap mengutamakan toleransi.67 0 80 3 20 0 80 2 13.67 0 0 0 1 5 0 0 0 % 0 0 6. Sedangkan faktanya.4 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.33 0 0 0 Sumber: Data Primer.67 6.33 1 % 1 1 0 0 0 6. Juli 2009 .5 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat anak Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 12 12 13 9 15 15 15 86.33 1 6.5).67 13. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak yang harus dipenuhi oleh pengurus seperti hak untuk berpendapat dan mendapatkan perlindungan. Tabel 5.105 Tabel 5.67 60 100 100 100 Tdk Tidak % Senang Tahu 93. Juli 2009 Jumlah 0 4 11 15 % 0 26.67 33.67 6.33 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (Tabel 5.

Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah tidak menjalankan perintah pengurus. Hukuman yang diberikan untuk memberikan rasa tanggungjawab pada anak atas perbuatan yang dilakukan dan membuat jera anak untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.33 53.106 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan. Sedangkan menurut anak.67 0 6. Hal ini ditunjukkan pada tabel 5. Tabel 5.33 86.67 0 0 0 KadangKadang 0 6 7 9 2 1 9 % 0 40 46.67 60 Tidak 15 8 8 5 13 14 6 % 100 53. Hukuman yang diberikan biasanya membersihkan lingkungan panti.67 60 13. pelanggaran yang dilakukan tidak sering terjadi.33 6. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. Hal ini karena kesadaran pengurus tentang hak-hak anak dan kewajiban negara untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan. tidak piket dan merokok. Untuk hukuman fisik hanya ada 1 anak yang menjawab yaitu push up.6 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Merokok Terlambat pulang Tidak piket Tidak beribadah Tidak menginap Membawa barang yang dilarang Berkelahi Sering 0 1 0 1 0 0 0 % 0 6.33 33. . sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.67 93.6.33 40 Sumber: Data Primer. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat. Juli 2009 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. membuat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi dan yang paling berat adalah diskors.7). mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali.

67 13. Tabel 5. anak-anak panti pernah mengalami.67 0 0 Jarang % Tidak % 12 80 0 0 10 66. Juli 2009 .67 100 Berdasarkan hasil penelitian.33 80 Sumber: Data Primer.33 6.67 14 93.8 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 % 20 0 0 0 0 0 0 0 0 13.33 6.7 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Berlaku sama saat menjadi pengajar Jumlah Sumber: Data Primer No 1 2 3 4 Pernah 7 2 5 1 15 % 46.33 20 80 53.33 0 0 15 100 1 6.67 5 33.33 46.33 3 20 12 80 1 6. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.33 0 0 1 10 2 7 3 0 0 6.67 66.33 33.107 Tabel 5.8).67 14 93.67 13.67 20 15 15 14 3 12 8 12 100 100 93.

berdiskusi. Mentawai.9 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 10 13 3 % 80 66. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara a.33 80 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. 6 anak (40%) pernah mendapatkan pujian dan pernah diberi hadiah sebanyak 9 anak (60%). bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. Penelitian ini mengambil responden sebanyak 23 responden yang berusia antara 8 sampai 18 tahun dengan asal daerah Nias.108 Selain pemberian hukuman. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan untuk anak-anak korban bencana seperti tsunami dan gempa bumi sehingga semua anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari luar Solo bahkan luar Pulau Jawa. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan. Juli 2009 Panti Asuhan Parmadi Yoga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. Itupun tidak selalu berada di dalam panti. Sumatera Barat. Mayoritas anak yang tinggal .33 13. Kalimantan Tengah dan Flores. Dari 15 anak yang diteliti. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5. 1. Tabel 5.2.67 86.9). Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini cukup banyak tidak sebanding dengan jumlah pengurusnya yang hanya 3 orang.67 20 Jarang 3 5 2 12 % 20 33.

39 4.39%) saja yang memiliki dan 19 anak (82.47 8.109 di panti asuhan ini adalah laki-laki.34 8. saudara.69 100% Jumlah Sumber: Data Primer.10). hanya ada satu anak perempuan yang menjadi responden.08 43. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia.08 4.69 17. Artinya. Lama tinggal anak-anak ini dipanti ada yang sudah 15 tahun tetapi ada juga yang baru 1 tahun tinggal di panti asuhan (lihat Tabel 5.34 100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.69 4. pembimbing dan orang tua (lihat Tabel 5. Anak-anak ini dibawa ke panti oleh pendeta. Tabel 5.11 Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Pendeta Orang Tua Saudara Pengurus Tetangga Pembimbing Tidak Menjawab Jumlah 6 3 6 1 2 1 2 23 anak Persen (%) 26. Juli 2009 .04 26.34 8.08 13.10 Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Kurang dari 3 th 4 – 6 th 7 – 10 th Lebih dari 10 th Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 6 10 2 4 1 23 % 26. Tabel 5.11).6%) lainnya menjawab ketidaktahuannya tentang akte kelahiran. ada anak yang selama hidupnya telah tinggal di panti asuhan ini dari mulai bayi umur satu tahun. dari 23 responden hanya 4 anak (17.

34 Ibu Lasmi bercerita ”pernah dulu anak anak melakukan pelanggaran. ”mentang-mentang saya disini adalah anak panti. Bahkan . mereka diam saja. ternyata anak anak itu masih bermain bola sampai batas yang sudah ditentukan sama saya. Namun terkadang. terutama kakak-kakak yang lebih tua. berdoa. dan ada yang minta orang tua. Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan meskipun tidak menentu baik waktu maupun jumlahnya. dimarahi. Ia juga bercerita bahwa ia pernah dihukum lari keliling kompleks panti. Ia juga bercerita bahwa yang selama ini sering menghukum adalah penanggung jawab penuh dari panti asuhan. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 13 7 1 1 1 23 % 56. Uang saku tersebut untuk memenuhi kebutuhan pribadi anak (jajan) dan ditabung. ia juga sering merasa dilecehkan.34 4. Seperti dituturkan oleh SH.12). karena melakukan suatu kesalahan. Ia juga mencurahkan hatinya terhadap saya bahwa ia juga sering dibentak.43 4. yaitu bapak Victor. bahwa ia pernah.12 Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Keinginan Sendiri Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Orang Tua Keinginan sendiri & ekonomi Jumlah Sumber: Data Primer.110 Adapun alasan mereka tinggal disini juga cukup beragam dari mulai keinginan sendiri sampai karena kesulitan ekonomi (lihat Tabel 5. pengasuh serta pengurus juga terkadang melakukannya.34 4.52 30. Tabel 5.trus anak anak saya suruh push up sambil bugil” ceritanya sambil tertawa tawa. disuruh push up oleh pengasuh karena ia melakukan kesalahan. lalu anak anak itu saya suruh main bola mulai jam setengah empat sampai jam setengah lima sore.saya merasa kurang dihargai”. Jika uang saku tersebut habis.

maka sekarang anak-anak panti asuhan tidak diperbolehkan untuk menerima uang kiriman dari orang tua mereka masing-masing. terlihat lantai yang masih berupa lantai semen cor kasar dan tangga yang tidak ada tiang pegangannya sehingga dirasa kurang aman karena tidak ada perlindungan disaat anak-anak naik turun tangga panti. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar.52 Tidak Tahu 0 1 1 1 1 2 % 0 4. disitu saya melihat kondisi panti yang cukup bersih.34 4. Dengan beberapa kejadian tersebut.04 56. karena takut kalau diminta atau dibohongin kakak-kakak mereka.65 82. (lihat Tabel 5.34 4.13 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 20 22 22 22 19 8 % 86.69 Sumber: Data Primer.6 34. Fasilitas yang ada di dalam panti asuhan cukup beragam dan dianggap cukup layak oleh anak-anak. meskipun kondisi bangunan belum selesai secara keseluruhan.65 95. Bahkan sering anak-anak yang lebih tua membohongi adiknya apabila adiknya ada yang mempunyai uang. Namun. Tabel 5.30 – 4. Juli 2009 b.34 8. bermain.95 95.74 Tidak Layak 3 0 0 0 3 13 % 13. Kondisi lingkungan di panti asuhan bersih karena setiap hari mereka diwajibkan untuk membersihkan lingkungan panti asuhan yaitu pada pukul 3.04 0 0 0 13.65 95.34 4. ibadah. Bagi santri kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (lihat .111 kakak-kakak yang lebih tua ini sering melakukan pemaksaan kepada adik-adiknya. membersihkan kamar dan lingkungan panti.13).30 WIB. Jadi sering kali apabila anak-anak mempunyai uang selalu dititipkan kepada pengurus.

6 86.34 4.86 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (lihat Tabel 5. Tabel 5.95 78.73 60. Hal yang dirasakan memberatkan karena anak-anak diminta bekerja yaitu setiap hari membersihkan lingkungan panti asuhan seperti membersihkan kamar kecil dan menyapu.95 56.14 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.39 21.39 8.26 82.65 Tidak Senang 0 2 0 1 1 1 % 0 8.69 0 4. Hal yang membantu kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya membuat anak-anak merasa betah tinggal di panti asuhan.112 Tabel 18).04 13.52 95.04 17.15).15 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Senang 20 18 19 20 13 22 % 86.13 0 . Setiap anak juga memiliki hak yang dipenuhi oleh pengurus panti asuhan seperti makan.34 4.34 Tidak Tahu 3 3 4 2 9 0 % 13.69 39. Tabel 5. membelikan pakaian. Juli 2009 Jumlah 4 5 14 23 % 17. dan kebebasan untuk menggunakan fasilitas panti asuhan yang ada.

16). .6 95. Juli 2009 mengalami. Hukuman fisik yang pernah dilakukan oleh pengurus adalah push up. Karena lebih lanjut.39 8. melihat dan mendengar No 1 2 3 4 6 7 Pernah 12 1 1 3 4 2 23 % 52.16 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Tidak menjawab Ikhlas.04 0 Sumber: Data Primer.04 17. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. malu. sebagian besar anak panti asuhan menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 Panti asuhan ini memberlakukan peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anak panti. dicubit dan lari-lari.69 100 Berdasarkan hasil penelitian. tidak segan-segan pengurus memberikan hukuman baik fisik maupun non fisik. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.113 No 7 8 Keterangan Memotivasi Media belajar Senang 19 22 % 82.17 4. Tabel 5. dijewer.65 Tidak Senang 1 1 % 4. dinasehati. anak panti asuhan menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat.34 13.34 4. Apabila ada yang melanggar.34 Tidak Tahu 3 0 % 13. para anak panti asuhan pernah kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.34 4. Sedangkan hukuman non fisik adalah dimarahi dan diminta menghafal ayat Al Kitab.

04 26.17 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.114 Tabel 5.43 30.34 0 13.78 17. 22 orang pernah mendapatkan pujian dan atau diberi hadiah karena berprestasi serta hanya ada 1 orang yang dibiarkan saja.91 69.18 Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 10 18 18 14 % 43.47 26.08 30.52 43.43 30.52 73.86 60.91 69.47 56.04 Sumber: Data Primer.56 69.08 Tidak 5 1 0 3 % 21.56 56.73 4.86 78. Dari 23 anak panti asuhan yang diteliti.73 26.56 69.43 30.56 100 Selain itu adanya pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus Panti Asuhan Anak Misi Nusantara ini. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 17 16 16 13 10 6 3 6 7 7 7 7 0 % 73.86 Jarang 8 4 5 6 % 34.39 21.08 30.95 73. Tabel 5.47 78.43 0 Tidak 6 7 7 10 13 17 20 17 16 16 16 16 23 % 26.43 30.56 69. Juli 2009 .08 13.56 69.43 43.91 86.

Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik perseorangan yang berusaha untuk menjalankan ibadah agama dengan menyatuni anak-anak fakir miskin dan yatim piatu.33%) dan lama tinggal 4 tahun ada 2 anak (13.33). Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kabupaten Klaten 2. saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA. Lama tinggal anak-anak ini di Panti Asuhan Darul Hadlonah berkisar antara 1 – 4 tahun. Keinginan mulia ini akhirnya terwujud dengan mendirikan Panti Asuhan Darul Hadlonah. Artinya. Anak yang telah tinggal selama 1 tahun sebanyak 8 anak (53. 1 anak (6. pemenuhan kebutuhan hak untuk anak Indonesia telah terpenuhi karena . dari 15 responden ada 12 anak (80%) yang memiliki.33%) lainnya menjawab tidak tahu.1 Panti Asuhan Darul Hadlonah a. 2.33%). lama tinggal 2 tahun ada 5 anak (33.33%). Penelitian ini mengambil 15 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 8 anak (53. Kota Solo ada 1 anak (6. Untuk kepemilikan akte kelahiran. Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah menjadi alasan terbesar anak-anak untuk tingga di panti asuhan.67%) tidak memiliki dan 2 anak (13.677%) dan sisanya sebanyak 6 anak (40%) berasal dari Jawa selain Solo dan Klaten.115 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak panti asuhan (lihat Tabel 22). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti sehingga seperti merasa berada di lingkungan keluarga sendiri.

karena sangat penting untuk masa depan anak nantinya.19 Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Pengurus Panti Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.000. untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya ditabung untuk kebutuhan yang mendesak termasuk apabila kehabisan uang saku.33 20 6.67 6.20 Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Kesulitan Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Sendiri Keinginan Pondok Tidak Menjawab Jumlah 6 3 4 1 1 15 Persen (%) 40 20 26. Hal ini dapat diketahui dari Tabel 5.33 6. pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. 100. Bagi yang mengalami kesulitan ekonomi. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Juli 2009 Jumlah 5 1 5 3 1 15 Persen (%) 33.67 100 Anak yang datang ke panti asuhan ini memiliki alasan yang cukup beragam (Tabel 5.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 . Tabel 5.19 berikut ini: Tabel 5.67 33. Untuk memenuhi kebutuhan akte kelahiran bagi yang belum membutuhkan perhatian dari pihak panti asuhan untuk mengurusnya.20).116 sebagian besar telah memilik akte kelahiran.67 6.

Panti asuhan diharapkan dapat bekerja .33 1 13. Berdasarkan hasil observasi. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.33 1 0 1 % bagi % 0 0 6.67 1 13.67 1 80 2 80 2 93.67 6. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali.67 0 0 0 6.67 6. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas mendukung terselenggaranya kehidupan panti asuhan yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. Tabel 5. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini.33 1 100 0 86. bangunan di panti asuhan ini cukup baik dan membuat anak merasa betah untuk tinggal cukup lama. Hanya ada 1 anak yang menjawab bahwa kehidupan panti kadang-kadang menyenangkan. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5.67 1 Ruang Belajar 14 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 13 4 Ruang Makan 12 5 Fasilitas Olahraga 12 6 Fasilitas Kesenian 14 Sumber: Data Primer.21.33 0 % sangat Tidak Ada 6.21 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah No Jenis Fasilitas Layak Tidak Layak 93. namun karena banyaknya aturan sehingga tidak merasakan kebebasan.117 Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman dan didukung dengan pengurus yang baik serta ramah meskipun kadangkala ada teman yang memusuhinya. meskipun fasilitas yang ada tidak selalu dianggap layak.67 6.

.22). Tabel 5. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak anak yaitu hak hidup dan berkembang. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Kehidupan anak di Panti Asuhan Darul Hadlonah kadangkala membosankan apalagi untuk urusan kerja bakti akan tetapi pengetahuan anak tentang hak-haknya memberikan efek positif bagi anak untuk bisa berpendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan lingkungan panti asuhan.23). Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama. hak mendapatkan kasih sayang. belajar kitab. serta bermain. b.22 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer. . membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.118 profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku. bermain. Juli 2009 Jumlah 0 6 9 15 % 0 40 60 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan sebagian besar dianggap menyenangkan (Tabel 5. tadarus. Pengurus yang ada di panti baik dan ramah serta sering mengajak berkomunikasi untuk membicarakan sesuatu hal. Bagi anak panti asuhan kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5.

119 Tabel 5. Pemberian hukuman tersebut. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah anak sering tidak ijin ketika akan pulang. biasanya anak mendapatkan nasehat. peringatan baru setelahnya diberikan hukuman.33 Tdk Senang 0 0 1 0 1 1 0 1 % 0 0 6.24 berikut ini: .67 6.23 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 13 15 14 15 12 14 15 14 % 86. maupun menulis istigfar sebanyakbanyaknya.67 0 6. menurut pengurus untuk mendidik anak lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang telah dilakukan. membersihkan kamar mandi selama 1 bulan. menulis sholawat. di dalam panti asuhan juga memberlakukan hukuman menghafal Al Qur’an. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu push up. scot jump. Sebelum memberikan hukuman. dan diminta berdiri ketika mengantuk pada waktu mengaji. Selain hukuman fisik.33 100 93.67 Tidak Tahu 2 0 0 0 2 0 0 0 % 13.67 0 6. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam seperti dalam tabel 5. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.33 0 0 0 13.67 100 93.33 100 80 93.33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Menurut anak. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.

67 Tidak 12 10 10 10 15 12 11 % 80 66. Tabel 5.120 Tabel 5. Ada 7 anak (46.67 100 80 73.33 26.67 66. Juli 2009 No 1 2 3 4 Pernah 9 1 3 2 15 % 60 6.67 66.67 20 13. Adapun anak yang tidak menyukai hukuman fisik memilih hukuman yang sifatnya mendidik seperti menghafal Al Qur’an.25 Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Biasa saja Jumlah Sumber: Data Primer.33%) yang setuju dengan hukuman fisik. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 0 0 6. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.25).33 0 20 26. menulis sholawat maupun istigfar.33 100 .67 33.24 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 0 Tidak menginap 0 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 0 Sumber: Data Primer.67 0 0 0 0 Jarang 3 5 4 5 0 3 4 % 20 33.67%) yang tidak setuju adanya pemberian hukuman fisik dan ada 8 anak (53. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali.

Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak.67 Jarang 9 9 8 9 5 3 2 2 3 7 6 3 1 % 60 60 53.33 66.33 60 33. . Juli 2009 Selain pemberian hukuman. ada 9 anak pernah diberi hadiah (60%). Dari 15 anak yang diteliti.26 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 7 % 6. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. anak-anak panti pernah mengalami.33 6 40 7 46.67 Sumber: Data Primer. 2 anak (13.67 13. Tabel 5.33 46. dan 1 anak (6.26).67 6.33 13.33%) pernah mendapatkan pujian.67 6 40 10 66.67 12 80 13 12 12 7 8 10 7 86.67 46.67 40 20 6.67 80 80 46. 3 anak (20%) pernah diberi pujian dan hadiah.67 0 6.67 53.121 Berdasarkan hasil penelitian.33 20 13. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.67 0 0 0 0 0 0 6.67 Tidak % 5 33.33 20 46.67) memberikan jawaban “dinasehati untuk selalu meningkatkan prestasi lebih baik lagi”.

anak-anak akan dipindah ke panti lain atau diambil orang tua. dan sisanya diberikan kepada para pengasuh. YPBT telah melimpahkan tiga anak ke Panti Asuhan Aisyiyah dan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah karena telah berusia di atas 12 tahun. Selama ini keluarga yang akan mengadopsi anak dari YPBT itu banyak. .27). Kondisi Umum Anak YPBT adalah panti asuhan yang hanya menerima anak hingga usia 12 tahun. Saat ini. Pada saat dikelola oleh pengurus lama disebutkan bahwa di YPBT ini ada sistem adopsi anak. Untuk mengadopsi anak dari YPBT.67 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer.67 100 93. berdiskusi.33 Jarang 3 2 0 1 % 20 13.33 0 6. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. 2.122 Tabel 5. Biaya adopsi sebesar satu juta rupiah yang digunakan untuk membayar biaya persidangan. Setelah usia itu. pengurus akan menyeleksi terlebih dahulu tentang situasi dan kondisi keluarga yang akan mengadopsi sehingga anak akan berada di tangan yang baik. Juli 2009 Pihak pengurus Panti Asuhan Darul Hadlonah juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut.2 Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) a. sehingga dibuat daftar antrian. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.27 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 13 15 14 % 80 86.

Bahkan pengasuh atau pemimpin juga sembari berjualan (makanan. Dikatakan ia meninggal karena sakit Azrina ditemukan meninggal dalam keadaan tertelungkup di atas meja dengan hidung berdarah saat ditinggal pengasuh melakukan hal yang lain Yulianto meninggal tanpa diketahui sebabnya. dan lain-lain) di lokasi panti asuhan karena salah satu pengurus menyebutkan alasan bekerja di YPBT ini untuk mencari uang. namun juga menjadi tempat penitipan anak. Tetapi berdasarkan hasil observasi. Prosedur adopsi anak ini dilakukan dengan melibatkan Dinas Sosial/Polisi untuk kemudian dilakukan seleksi terhadap keberadaan keluarga pengadopsi. Proses adopsi selanjutnya dilakukan di depan notaris sebagai bukti legal atas adopsi anak. Tetapi hasil penelitian menunjukkan. Saat ditemukan pengasuh sudah tidak bernapas. sistem adopsi masih dilakukan oleh pengurus YPBT yang baru. Adopsi dilakukan ketika anak masih berusia bayi. ditemukan kejanggalan terhadap penyebab kematian yaitu: Cantika meninggal karena terlambat dibawa ke RS akibat komplikasi jantung dan paru Amelia meninggal akibat mulutnya dimasuki batu oleh salah satu anak panti (yang abnormal) dan dicekik dengan selendang. gas. tiba-tiba kejang-kejang setelah dimandikan Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) bukan hanya panti asuhan saja. setahun terakhir ada 2 anak yang diadopsi dari YPBT namun tidak tercantum datanya di Pengadilan negeri Ada 4 kasus anak yang meninggal di panti asuhan ini yang disebut oleh pengurusnya meninggal karena sakit.123 Saat ini. Hal menarik dari panti asuhan ini adalah .

09%) menjawab tidak tahu.18%) dan 1 anak (9.124 ketidaktahuan semua pengurus tentang sumber dana yang diperoleh untuk membiayai panti asuhan ini. Jakarta 1 anak (9. Jawa ada 2 anak (18. Kota Solo ada 1 anak (9. (Tabel 5. Variasi jawaban ini mengindikasikan kurang adanya kepedulian pengurus tentang peraturan yang dikeluarkan negara tentang adanya perlindungan anak meskipun ada 2 pengurus yang mengetahui tentang UU Perlindungan Anak tetapi tidak secara detail mengetahui isinya. Mereka mengetahuinya dari para pengurus.45%) dan laki-laki ada 6 anak (54.28). 0 -12 th. Usia anak bagi pengurus ada yang menyebutkan 0 – 7 th.09%). Tetapi ada juga yang tidak mengetahui siapa yang telah mengantar mereka ke panti asuhan ini. Semua anak di panti asuhan ini telah memiliki akte kelahiran.09%). Ada 2 pengurus yang menyebutkan bahwa sumber dana panti ini berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta.72%) yang menyebutkan sejak bayi sudah tinggal di panti asuhan ini. 0 -5 th dan 0 -18 th. Usia anak yang menjadi responden berkisar antara 8 – 12 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 5 anak (45.36%).09%). Magelang 1 anak (9.27%) yang tidak mengetahui berapa lama telah tinggal di panti asuhan dan ada 8 anak (72. . Sebagian besar anak tinggal di panti sejak masih bayi sehingga dari 11 anak ini ada 3 anak (27.54%). Penelitian ini mengambil 11 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 4 anak (36. Pengetahuan pengurus tentang hak anak sangat minimal. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini sebagian besar di antar orang tuanya akibat kesulitan ekonomi.

27 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Mereka menonton TV ketika hanya salah satu dari pengurus menghidupkan TV. Misalnya menonton TV.28 Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara (Simbah) Tidak Tahu Jumlah 7 1 3 11 Persen (%) 63.63 9. dimarahi. dan diberi hukuman.125 Tabel 5. 100. kehidupan di panti asuhan kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. jika tidak anak yang ada dipanti ini tidak dapat menonton televisi. Hal yang membuat senang tinggal di panti asuhan karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain dan menonton TV. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. . Juli 2009 Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. Bagi anak.000 untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi yaitu jajan di sekolah dan apabila kehabisan uang saku ada yang pinjam teman sekolah dan ada yang diam saja. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali karena setiap hari dibersihkan oleh pengurus. Sedangkan hal yang membuat tidak senang di panti karena tidak bisa keluar.09 27. dijahili teman. Tidak dengan mudah anak dapat menghidupkan TV. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 33 Berdasarkan pada hasil observasi tidak semua fasilitas dengan mudah di akses oleh anak.

90 100 27. belajar kitab. kegiatan rutin tersebut . Bagi anak.27 bagi yang 1 Ruang Belajar 9 2 Ruang Ibadah 11 3 Ruang Bermain 10 4 Ruang Makan 11 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 8 Sumber: Data Primer. Anak-anak di YPBT cepat akrab dengan orang asing.29 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT No Jenis Fasilitas Layak % 81.126 Tabel 5.27 72. b. dan berusaha untuk dekat. belajar dan membersihkan kamar. sampai hal-hal yang pernah dilakukan anak yang lain. tadarus. membersihkan kamar dan lingkungan panti.72 Tidak Layak 1 0 0 0 0 0 % 9.81 100 90. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih sayang dan kepedulian pengurus terhadap keberadaan anak-anak panti sangat kurang. Juli 2009 Fasilitas terselenggaranya yang ada jelas sangat mendukung YPBT kehidupan Panti Asuhan memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan.09 0 0 0 0 0 Tidak % Ada 1 9. Tetapi menurut pengurus ada beberapa fasilitas yang ada belum dapat maksimal dipergunakan misalnya fasilitas kesenian seperti rebana dan aklung karena belum ada pelatihnya. bahkan ketika peneliti datang kesana pertama kali beberapa anak langsung menanyakan nama saya.09 0 0 8 72. Beberapa menit disana. Pola Pengasuhan Setiap anak memiliki kewajiban yang harus dijalankan yaitu beribadah bersama (sholat berjamaah). anak-anak sudah mengajak bermain.72 3 27. dan bercerita banyak hal muai dari kegiatan mereka. nama-nama anak yang lain. bermain. Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama.09 0 0 1 9.

36 27. Hal ini dianggap anak sebagai hal menyenangkan sehingga betah tinggal di panti asuhan Tabel 5.30).30 Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.27 Tidak Tahu 4 3 7 6 3 % 36.45 Tdk % Senang 1 9. tempat tinggal dan bermain menambah kenyamanan anak untuk tinggal di panti asuhan.127 kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5.18 0 0 2 3 18.72 27. Antara anak dan pengurus seringkali terlibat dalam obrolan dan saling bercanda.27 .27 45. Tetapi tugas yang diberikan panti asuhan yang memberatkan anak patut dijadikan perhatian karena dapat menganggu tumbuh kembang anak.27 63.54 36. Selain itu terpenuhinya kebutuhan dasar anak seperti makan.09 2 18.31 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Senang 6 6 4 3 5 % 54. Anak merasa kecapaian ketika harus bersih-bersih. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah membersihkan lingkungan kamar dan panti asuhan.63 54.54 27.18 27. Tabel 5.27 100 Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5. Juli 2009 Jumlah 0 8 3 11 % 0 72.54 54. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di panti asuhan karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak.36 27.31).

18 18.54 Sumber: Data Primer. Adanya anggapan pengurus kalau anak-anak yang tinggal di panti anak nakal sehingga kalau hukuman hanya diberi nasehat saja tidak akan membuat anak jera sehingga bentuk hukuman fisik menjadi pilihan.63 18. Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % Jarang % 0 0 0 0 4 36.36 9.54 Tidak 11 7 2 2 2 10 3 % 100 63. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.45 4 36. bahkan ada yang pernah dipukul pakai sandal.18 0 6 0 54. dipukul dengan tangan.63 54.18 18.27 36.09 0 6 7 6 54. disetrap.54 63.36 54. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah bermain jauh dari panti asuhan dan suka berbicara jelek. Hukuman dipukul sering dilakukan di dalam panti ini.45 27.128 6 7 8 Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar 5 3 5 45.18 90. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5. Hukuman tersebut diberikan karena anak dianggap tidak mematuhi perintah pengasuh atau main terlalu jauh. Selain hukuman fisik. Menurut anak.90 .54 3 27.32) tetapi tidak sering dilakukan.36 5 45.32 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 6 Tidak beribadah 4 Tidak menginap 5 Membawa barang 6 1 yang dilarang 7 Berkelahi 2 Sumber: Data Primer. dicubit. di dalam panti juga memberlakukan hukuman verbal yaitu dimarahi oleh pengurus. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu dijewer telinganya.09 18.45 45.27 45. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.45 0 1 0 0 9.

18 Jarang 5 3 5 6 8 5 7 7 0 2 2 2 2 % 45.36 36.33 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 6 4 4 1 1 2 2 2 0 0 0 0 2 % 54.45 63.63 63. Tetapi dari hasil penelitian tentang suatu peristiwa yang pernah dilihat.18 18.54 72. Tabel 5. diberitahu mana yang benar mana yang salah serta jangan dimarahi.81 81.54 36. anak-anak ini memberikan respons yang cukup beragam (campur aduk) dari menerima dengan ikhlas. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada . malu.63 0 18.09 9.129 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. anak-anak Panti Asuhan YPBT pernah mengalami.09 18.18 18.81 81.36 18. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. semua anak menjawab “diberikan pujian”.18 Tidak 0 4 2 4 2 4 2 2 11 9 9 9 9 % 0 36.18 36.18 0 0 0 0 18.18 18.27 45.81 81. Data penelitian menunjukkan semua anak yang diteliti setuju dengan adanya hukuman fisik tetapi mereka juga menyebutkan kalau hukuman bagi mereka lebih baik dinasehati. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi.81 Sumber: Data Primer.45 27.18 18.45 54.72 45.18 36.36 18.18 18.36 9. sampai adanya perasaan dendam.18 100 81. nangis.36 18. dialami dan didengar oleh anak pemberian hadiah juga pernah dilakukan oleh pengurus meskipun jarang dilakukan.18 18.

130

yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.33). Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak. Meskipun begitu, berdasarkan pada hasil observasi ada banyak kejadian di dalam panti asuhan yang melanggar hak anak bahkan cenderung diabaikan. Salah satu contoh kejadian tersebut adalah: “Suatu siang, peneliti bermain ke YPBT. Sejenak duduk di teras rumah itu, dia melihat anak yang dipukul pakai sendok. Berulang kali anak itu dipukul, dan Nurul masih saja diam untuk memperhatikan sembari bermain dengan beberapa anak. Anak yang dipukul itu menghadap sepiring makanan bersama dengan beberapa anak yang duduk di sebelahnya. Ketika anak-anak yang lain sudah menghabiskan makanannya, anak yang dipukul tadi masih belum menyentuh makanannya. Setelah semua selesai makan, Ibu Sri membentak anak itu ”masih tidak mau makan!!!”. anak tersebut tetap tidak mau makan, dan akhirnya Ibu Sri menyuruh orang untuk mengambilkan ”remason” dan menyuruh beberapa anak untuk memegangi anak yang tidak mau makan tadi. Setelah itu anak tersebut ”dokeroki”. Anak tersebut nangis kencang sekali karena seluruh badannya ”dikeroki” Peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan sering terjadi di dalam panti asuhan ini. Hal ini terlihat adanya kesenjangan rasio jumlah pengurus dan jumlah anak. Jumlah pengurus yang ada tidak mampu menangani anak-anak di panti asuhan ini padahal usia anak masih balita. ”Peneliti datang setelah dzuhur, dan ketika datang ada anak yang menangis. Setelah sekian lama (sampai ashar) tidak juga digubris oleh pengasuh, akhirnya dilihat. Seluruh badan anak itu sudah basah, semua pakaian basah mungkin karena ompol dan juga keringat. Menjelang ’ashar, peneliti meminta pengasuh untuk melihat, barulah ada pengasuh yang mendatangi anak itu, tetapi hanya diberikan susu dan ditinggal pergi lagi. Kata pengasuh, nanti anak itu juga akan diam sendiri”

131

Ada hal menarik lagi yaitu tentang adanya salah satu anak yang diberi perhatian khusus oleh pengasuh. “Kiki mendapatkan perlakuan spesial dari Ibu Panti maupun dari pengasuh dan anak panti. Dia memiliki handphone yang bagus, kamar mandi sendiri, tempat tidur atau ranjang (sementara anakanak yang lain tidur di atas kasur busa di bawah), tidak harus piket, tidak ikut belajar pada jam belajar, tidak berlaku jam malam untuknya (gerbang ditutup jam 9, tapi bebas untuk Kiki), bebas maen dengan sepeda atau sepeda motor, diperbolehkan berambut panjang (anak-anak yang lain baik laki-laki atau perempuan diharuskan berambut pendek atau potongan Ronaldowati)” Tabel 5.34 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT
No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 3 4 7 2 % 27,27 36,36 63,63 18,18 Jarang 2 7 4 4 % 18,18 63,63 36,36 36,36 Tidak % 6 54,54 0 0 1 5 9,09 45,45

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Panti Asuhan YPBT juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut, berdiskusi, menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.34). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan.

C. POLA PENGASUHAN ANAK DI PONDOK PESANTREN 1. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad a. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Muayyad merupakan ponpes yang juga berfungsi sebagai sekolah madrasah. Secara umum, kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur

132

maupun asal daerah. Jumlah santri ponpes Al Muayyad berjumlah 517 yang sedang melanjutkan sekolah di SMP, SMA/MA dan hanya sebagian kecil saja yang berasal dari Solo yaitu 27 anak (5,22%). Tabel 5.35 Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Banyak Santri Asal Solo Putra Putri SMP VII 88 1 3 VIII 94 4 1 IX 80 5 5 SMA X 65 1 XI 33 3 XII 45 1 1 MA I 34 II 39 1 III 39 1 Jumlah 517 12 15 Sumber: Pondok Pesantren Al Muayyad, Juli 2009 Sekolah Kelas Banyak Santri Responden yang diambil dalam penelitian ini cukup bervariasi baik dari asal daerah maupun lama tinggal di Pondok Pesantren Al Muayyad. Dari 15 santri yang ada 2 orang berasal dari luar Jawa yaitu Kepulauan Riau dan Lampung, ada 6 anak yang berasal dari Eks Karisidenan Surakarta, ada 5 anak yang berasal dari Jawa Tengah dan sisanya ada 2 anak berasal dari Solo dengan lama tinggal antara 1 sampai 4 tahun. Santri datang ke ponpes, sebagian besar diantar oleh orang tua (lihat Tabel). Dari 15 anak yang menjadi responden penelitian semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. Artinya, tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 200.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.

133

Tabel 5.36 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara Sendiri Jumlah 12 2 1 15 anak Persen (%) 80 13,33 6,67 100%

Jumlah Sumber: Data Primer, Juli 2009

Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami ketidaknyamanan tinggal di ponpes. Hal ini terjadi karena ketatnya peraturan yang ada, teman yang tidak saling mendukung, dan termasuk padatnya kegiatan ponpes yang tidak didukung dengan fasilitas yang memadai sehingga membuat santri merasa bosan dan capai. Namun di sisi lain, santri juga merasakan kenyamanan tinggal di ponpes karena memiliki banyak teman, belajar agama dan dapat hidup lebih mandiri. Dalam menjalankan kegiatan ponpes didukung dengan berbagai fasilitas, sebagian santri ada yang menyatakan layak dan ada yang menyatakan tidak layak. Selain itu secara umum, fasilitas yang diberikan oleh ponpes adalah: 1) Makanan Pondok putra dan putri mempunyai dapur sendiri-sendiri. Tidak ada ruang makan khusus. Yang masak disebut mbak masak (ibu kos). Santri mengumpulkan rengkot yang telah diberi nama/ identitas masing-masing. Misalnya untuk makan malam, sebelum berangkat ke sekolah atau Madrasah Diniyah santri mengumpulkan rengkot, diambil setelah kegiatan ekstra kurikuler selesai (sebelum maghrib). Untuk sarapan, setelah makan malam santri mengumpulkan rengkot lagi, diambil pada waktu jam sarapan, dan seterusnya. Jika santri merasa tidak cukup puas (masih lapar) bisa jajan di depan atau di belakang pondok pesantren (ada warung/

Jika butuh air panas. dan yang kedua adalah Kepala Puskesmas Sukoharjo. Seperti yang diungkapkan oleh NS. Gudhik disebabkan karena sering memakai pakaian dan handuk bersama-sama (atau . panas. Sedangkan di Pondok Pesantren putra terdapat kamar mandi sebanyak 13 buah. 13 tahun : ”Tahun ini banyak santri yang mengalami penyakit gudhik. 3) MCK Di Pondok Pesantren putri terdapat kamar mandi sebanyak 19 buah. Ada 2 orang dokter. bisa beli di kantin pondok pesantren 1 gelas Rp.134 orang jualan yang lewat) atau di kantin pondok pesantren santri minta dibuatkan mie instan. pilek. Surat ijin juga harus ditandatangani wali kamar. batuk. jika pertama kali tinggal di pondok pesantren pasti mengalami gudhiken. dan lengkap. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. Air minum ambil di kran yang sudah melewati proses Aqua guard. 500. Selain itu juga ada kebiasaan menggunakan handuk bergantian (istilah mereka ”joinan”). dan lain-lain. Untuk membuat surat ijin sakit. Santri putra banyak yang mengeluh menderita penyakit kulit “gudhiken”. Yang pertama adalah menantu pak kyai. karena kamar mandi (katanya) kurang bersih. Ukuran 2 x 1 meter.00 kepada sie kesehatan sebagai ganti cetak surat ijin (bentuk lembaran kertas).100. Biasanya ditunggu oleh Sie kesehatan pengurus putra. namun setelah 1 tahun sudah terbiasa. Pondok Pesantren Al Muayyad mempunyai sebuah klinik yang nyaman. Kata santri putra. Mereka datang setiap hari Senin malam dan Rabu malam. Air di depan kamar mandi agak menggenang.00. 2) Kesehatan Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para santri. santri harus membayar Rp.

gudhiken tidak menyerang lagi” 4) Fasilitas Olahraga Penyediaan fasilitas olahraga memanfaatkan lapangan Sri Waru atau lapangan Penumping dan menggunakan aula yang ada di dalam ponpes. mengaji).00 dan setiap hari pukul 03. setiap hari Jumat baik santri maupun santriwati menyelenggarakan tahlil dan kegiatan ke-IPMA-an. tetapi kalau sudah 1 – 2 tahun. b. Kewajiban rutin santri adalah menjalankan ibadah (sholat berjamaah. yaitu mlenthung-mlenthung dan di dalamnya ada nanahnya. Selain itu. belajar kitab. pengganjaran baik hukuman maupun penghargaan dan pembujukan. Pengajaran dapat dilihat dari berbagai kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. 13 tahun : ”Saya ingin di pondok itu kamar mandinya dikuras setiap hari karena air mandi ini menyebabkan penyakit gudhiken. Kegiatan santri setiap hari dimulai pukul 04.00 sampai jam 23.135 yang disebut joinan)” Keluhan serupa juga diungkapkan oleh AR. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. 5) Mencuci dan Menyetrika Kebutuhan untuk mencuci baju dan menyeterika baju dapat dilakukan oleh santri sendiri maupun pihak penyedia jasa laundry. Setiap hari Senin melakukan shalawat Nariyah. Di dalam ponpes dilarang memakai peralatan elektronik yang mempergunakan listrik sehingga apabila akan menyeterika baju santri harus menggunakan arang. Pola Pengasuhan Prinsip dalam pola pengasuhan ada 3 hal yaitu pengajaran. Kegiatan ini . Gudhiken ini biasanya diterima oleh anak yang masih baru. Taushiyah pengasuh dan setiap hari Kamis para santri membaca Manâqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani dan dilanjutkan membaca Maulid Al-barzanjiy.00 para santri melaksanakan sholat Tahajjud.

jika memakai celana yang longgar (Namun ada santriwati yang berpendapat bahwa memakai rok itu susah. Aturan tersebut adalah: 1) Tidak boleh nonton bioskop 2) Tidak boleh nonton konser musik 3) Tidak boleh main PS 4) Tidak boleh ke warnet (Di sekitar pondok pesantren banyak terdapat warnet. santri diperbolehkan menggunakan telepon kantor pondok pesantren. Aturan-aturan yang diberlakukan oleh santri cukup banyak dan harus dipelajari oleh para santri melalui buku kecil.136 kadangkala dianggap memberatkan karena terlalu banyak dan monoton sehingga membuat santri merasa bosan. Handphone dianggap hanya mempermudah untuk berkomunikasi dengan pacar. karena pernah ditemukan Hp dengan gambar / foto porno) 6) Santriwati harus memakai rok. Alasannya. Di dalam ponpes juga diberlakukan jam malam yaitu pukul 20. . Nur Ridho.00 sesuai dengan kebutuhan. ”Peraturan pondok ditetapkan oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren. dan aturan dibuat demi kebaikan santri itu sendiri”. mereka berganti dengan celana panjang di luar pondok) Sebagaimana yang diungkapkan salah satu pengurus.00 karena pada waktu itu jam belajar telah berlaku yakni dari jam 19. karena pengasuh dan pengurus pondok pesantren mengetahui kemampuan dan kondisi psikologis santri. ada kebutuhan mengakses informasi) 5) Tidak boleh membawa handphone (Jika santri akan berkomunikasi dengan keluarga.00 sampai 22. sehingga pada saat santriwati ke luar pondok.

hukuman ini dianggap efektif karena dapat melatih santri untuk lebih bertanggungjawab dan pemberian shock terapy agar jera. 28 tahun.137 Aturan sudah ada dibuat sejak lama. Bagi pengurus. 20 tahun. menghafal Al Qur’an. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengurus. handphone-nya disuruh dibanting di hadapan teman-temannya. Chasanah.67%) menyatakan adanya hukuman fisik yang berupa penggundulan. Apabila ada santri yang melanggar aturan tersebut maka diberlakukan sanksi/hukuman yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu: 1) Dipanggil kemudian dinasehati 2) Membersihkan kamar 3) Dicukur gundul 4) Ditabok (pernah terjadi pada santri putri sekitar tahun 2005) 5) Ketahuan bawa handphone. membaca Yassin termasuk membersihkan kamar. tidak piket. Selain itu mereka juga pernah dihukum dengan menyalin pelajaran. Adapun pelanggaran yang sering dilakukan santri menurut para pengurus adalah merokok. Berdasarkan pada hasil penelitian. sebagai berikut : ”Pemberian sangsi diperlukan karena sangat mendidik dan sebagai efek kejut atau shock therapy” Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pengurus pondok putri bagian BPPA. dimuat dalam tata tertib pondok pesantren. pemukulan. Dari bentuk sangsi yang diberikan terlihat adanya hukuman fisik yang diberikan kepada santri. membawa barang yang . dan diminta push up. yang disosialisasikan kepada santri saat masuk pondok pesantren (masa orientasi). dari 15 santri sebanyak 7 santri (46. M. sebagai berikut : ”Melatih santri melakukan tanggungjawab disamping itu untuk yg non-fisik membantu anak utk lebih memahami / menghafal juz amma”. Shobi Showabi.

Karena ada beberapa santri yang merasa dendam dan akan berlaku yang sama ketiga menjadi pengajar. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU . Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes.67 1 6.67 8 53.67 7 46. para santri pernah mengalami. semuanya pernah mendapatkan pujian. dan berkelahi. dinasehati. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Yang sering mendapatkan pujian berjumlah 7 anak (46. Dari 15 santri yang diteliti.37). Selain itu lebih lanjut.33 7 46.138 dilarang seperti handphone. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. Selain itu pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus ponpes ini.67%) dan yang jarang mendapatkan hadiah ada 8 anak (53.33 3 Menyapa saat bertemu 7 46. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan.37 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad No Keterangan Sering % Jarang % Tidak % 1 Berdiskusi 9 60 6 40 0 0 2 Menasehati dengan 0 0 kata lembut 7 46.67 0 0 Sumber: Data Primer. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas. Termasuk juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5.67 4 Bermusyawarah 8 53.33%). Tabel 5.

Pengurus hendaknya sebagai teladan yang patut ditiru namun ternyata bersikap Jarkoni.37 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak.67 73.67 60 73. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 14 13 11 8 8 7 12 12 13 9 11 11 9 % 93. Peristiwa tersebut dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus. ada pemberlakuan hukuman fisik dan juga kebiasaan wali kamar yang suka menyuruh-nyuruh. Tabel 5.67 40 Untuk pengembangan ponpes ke depan.67 80 80 86.67 13.33 46.67 53.139 Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.67 26. diharapkan ada peraturan yang tidak terlalu ketat dan banyak.33 20 20 13.67 46.67 46.33 86.33 53.33 40 26.37).33 26.33 60 Tidak 1 2 4 7 7 8 3 3 2 6 4 4 6 % 6. .33 73.33 53.

teman.67 6. Dari 15 santri yang ada hanya 1 anak yang tidak mengetahui tentang kepemilikan akte kelahiran. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 5 3 1 4 1 1 15 anak Persen (%) 33. maupun saudara (lihat Tabel 5. ada yang diantar orang tua.67 26. Jumlah santriwati ada 11 anak dan jumlah santri ada 4 anak yang berasal dari Solo 8 anak (53. kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur maupun asal daerah.67 100% . Pengasuh Ponpes. Ponpes ini didukung dengan 5 pengurus yang masing-masing menjabat sebagai Pemimpin Ponpes. Ketua Yayasan dan Bendahara.33 20. Santri datang ke ponpes. Sekretaris.00 6.33) berasal dari Salatiga.33%).38).2. Eks Karesidinan Surakarta sebanyak 5 anak (33. Pondok Pesantren Darud Dzikri a. Ponpes yang berada dalam lingkungan perkampungan padat penduduk ini memiliki santri sebanyak 15 anak yang berumur paling muda 9 tahun dan yang paling tua 16 tahun. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Darud Dzikri merupakan ponpes yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal untuk para santri dan tidak berfungsi sebagai Sekolah Madrasah. Lama santri yang tinggal di Ponpes ini adalah 3 tahun dan ada yang baru saja masuk sekitar 1 bulan yang lalu. Secara umum.33) dan 2 anak (13.140 1.38 Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Orang Tua Saudara Tetangga Teman Sendiri Orang Tua dan Teman Jumlah Sumber: Data Primer.67 6. Tabel 5.

Bagi pengurus ponpes. Kegiatan di ponpes ini didukung dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh yayasan.39 Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri No Jenis Fasilitas Layak % Tidak Layak 1 Ruang Belajar 14 93.00 0 3 Ruang Bermain 10 66.67 2 5 Fasilitas Olahraga 5 33. ruang belajar. persoalah ekonomi ada 2 anak dan keinginan saudara ada 2 anak. . dan belajar agama dengan ustad/ustadzahnya.141 Alasan para santri tinggal di ponpes ini sebagian besar karena keinginan sendiri sebanyak 11 anak. fasilitas yang ada hanya ruang ibadah. dapur dan laboratorium komputer yang kurang layak. Hal ini terjadi jika antar santri saling bertengkar.67 66.67 5 4 Ruang Makan 13 86. Bahkan memberikan uang saku.39 Tabel 5. Di satu sisi. banyak fasilitas yang menurut santri cukup bersih. Artinya.33 10 Sumber: Data Primer.67 0.67 66.33 6.33 1 2 Ruang Ibadah 15 100.33 10 6 Fasilitas Kesenian 5 33. seorang anak masuk ke ponpes tidak hanya karena persoalan ekonomi meskipun ponpes ini tidak memberlakukan biaya bulanan sehingga lebih mirip sebuah panti asuhan. Juli 2009 % 6. Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami kebosanan di dalam ponpes. santri juga merasakan kenyamanan tingal di ponpes karena memiliki banyak teman.00 33. Persepsi santri terhadap kondisi fasilitas yang ada dapat dilihat pada Tabel 5. dimarahi ustad/ustadzahnya dan disuruh-suruh untuk mengerjakan sesuatu.67 Persepsi santri ini sangat berbeda jauh dengan persepsi para pengurus ponpes.

Selain itu tidak tahunya para pengurus ponpes tentang Konvensi Hak Anak yang dilakukan PBB termasuk UU No.40). 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.142 b. Rendahnya pengetahuan pengurus ponpes tentang anak memberikan kontribusi bagi terciptanya kekerasan anak di dalam pola pengasuhan ponpes Hal ini juga terlihat dari hukuman yang diberlakukan bagi santri jika melanggar peraturan ponpes. Terlihat adanya diskrimasi gender. Yang dimaksud dengan anak adalah yang berusia 0 – 12 tahun sebanyak 3 orang dan berusia 0 – 18 tahun ada 2 orang. Hukuman fisik yang sering dilakukan oleh pengurus ponpes adalah push up dari mulai 25 kali sampai 50 kali dengan pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak melaksanakan piket (persepsi dari pengurus). 12 anak menyatakan pernah dihukum melakukan push up dengan jumlah yang bervariasi. Hal ini tidak sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa sejak dalam kandungan sampai umur 18 tahun seseorang dianggap sebagai anak. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan merupakan sebuah sistem yang mengatur keberadaan para santri seharusnya didukung dengan pengetahuan yang cukup tentang anak baik yang menyangkut hak anak maupun perlindungan anak. Tentu saja ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak yang telah diatur dalam perundang-undangan. Meskipun menurut pengurus. Dari 15 santri yang ada. Selain itu ada 11 anak yang pernah dihukum untuk . Sedangkan pelanggaran yang pernah dilakukan menurut para santri cukup beragam (lihat Tabel 3. hukuman ini dianggap tidak efektif karena tidak membuat anak jera. Persepsi tentang anak cukup beragam. Bahkan ada yang menyebut kalau hukuman bagi santriwati lebih baik disuruh untuk membersihkan lingkungan ponpes. Dari hasil penelitian yang ada menunjukkan pengetahuan pengurus ponpes tentang anak sama sekali tidak ada.

13 juli 2009 saya berbincang dengan andi. dinasehati.143 menyalin pelajaran dan menghafal surat dalam Al Qur’an.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.67 14 % 100 86. Seperti halnya push-up dan kadang suka membentak dalam memberi memperingatkan. tetapi terkadang dalam memberikan hukuman kepada para santri suka memberatkan seperti push-up 25 kali.00 86. Andi : saya sebenarnya senang mbak tinggal disini karena banyak temannya dan bisa belajar mengaji secara gratis.67 93.33 66.33 10 6. Tetapi ada sedikit curhatan yang saya dengar dari anak-anak penghuni ponpes.67 14 33.40 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 berkelahi 8 Jarang Mematuhi Sumber: Data Primer. pada sabtu.00 12 13.67 80.33 13 20. Buat saya itu kok terlalu gimana gitu soalnya kan kita belajar disini kenapa kalau kita salah .67 11 6.33 93. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. 12 tahun (bukan nama sebenarnya) dia bercerita tentang bagaimana sebenarnya dia tidak merasa nyaman dengan pemberian hukuman yang ada di ponpes darut dzikri tersebut yang dinilainya terlalu memberatkan. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. Karena lebih lanjut.33 13 26. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 46). Juli 2009 Pernah 0 2 3 2 4 1 5 1 % Tidak 0 15 13.67 73. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Tabel 5.

sebut saja Mia. semenjak kedatangannya ke ponpes ini tidak pernah merasa kerasan dan tidak cocok dengan suasana ponpes. Biasanya kita di hukum karena terlambat atau ramai dan menurut saya kesalahan seperti itu kan wajar mbak. Saya sempat berbincang dengan salah seorang santriwati. Dan sebut saja santriwati ini Ita (9 tahun). apa yang di suruh oleh ustad ya kita harus lakukan dan tidak nanti akan terkena marah lagi oleh ustad. perempuan juga mendapatkan hukuman yang sama dari ustad. Dia juga merasa tdak nyaman dengan para ustad dan ustadzahnya yang dirasa terlalu keras dalam berbicara dan katanya suka menghukum push-up. Dan terkadang dia suka ngrasani mia dengan teman-teman santriwati yang lain. Enumerator : pernahkah kamu membantah saat diberikan hukuman? Dan jangan-jangan kesalahan yang kamu lakukan terlalu berat atau mungkin kamu nakal? Andi : tidak berani mbak. Kenapa kita sudah di hukum push-up masih di suruh menghafal surat-surat pendek lagi.144 kita harus di hukum dengan push-up? Kan masih bisa kita di hukum dengan hanya di nasehati saja atau di suruh menghafalkan surat-surat pendek saja. Saya merasa pertemanan dan gaya bercanda antara para santri terlalu kasar dan tidak pantas dilakukan. Dia merasa sering di kucilkan oleh teman-temannya di ponpes oleh karena itu dia sering menyendiri dan tidak suka berbaur dengan teman-temannya. . Hukumannya juga tidak hanya untuk anak laki-laki saja. Kata-kata guyonan yang mereka lontarkan pun terlalu kasar seperti melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan antara santri. dia sering sekali bercerita kepada saya tiap saya berkunjung ke pesantren ini. karena mia dianggap terlalu sombong. dia bilang kurang suka dengan keberadaan Mia disini. 16 tahun . Saya tinggal disini karena terpaksa oleh keluarga yang menginginkan saya untuk tinggal di ponpes ini dan belajar disini.

Peristiwa tersebut baik dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus. Tabel 5.67 100 Berdasarkan hasil penelitian. para santri pernah mengalami.67 13. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 8 1 1 1 2 1 1 15 % 53.67 6. Dan pada saat itu. malu. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak.67 6. belum ada pengawasan langsung oleh ustad atau ustadzah yang mengasuh ponpes tersebut. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer.33 6.33 6. yang mereka sendiri terkadang merasa risih dengan keadaan yang seperti ini. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar Undangundang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.145 Dan tanganya pun terlalu enteng.42).41 Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Blm pernah dihukum Tidak menjawab Ikhlas. mengaji dan menghafal surat-surat pendek pun sendiri. Mereka sholat berjamaah sendiri. Keadaan kamar mereka juga tidak terawat dan sangat kumuh. bisa saling memukul dan tidak segan-segan kepala yang dipukul oleh mereka.67 6. . Kegiatan yang mereka lakukan sebagai santri di waktu pulang sekolah lebih banyak di habiskan di depan televisi dan tidur.

33 0 6. memasak dan membersihkan lingkungan ponpes. beribadah.67 93.67 Setiap santri wajib melakukan kegiatan yang telah ditetapkan oleh pengurus yaitu belajar. bahkan saling tukar cerita.33 13.33 6. mengajak diskusi.67 73. Kondisi ini tertutupi dengan metode pengajaran yang diberlakukan oleh ponpes ini dianggap santri cukup menyenangkan seperti menghargai pendapat setiap santri.33 100 93.67 0 6.67 20 60 66.33 80 40 33. .67 0 6.33 33.67 66. Setiap hari.146 Tabel 5.67 86. Meskipun secara keseluruhan kegiatan rutin santri ini dianggap tidak memberatkan tetapi ada kegiatan yang dianggap paling memberatkan oleh santri adalah membersihkan WC karena dapat membuat santri cepat lelah ditambah kewajiban memasak.33 100 93.67 100 93. santri mendapatkan piket memasak untuk kebutuhan mereka sehari-hari dengan menu yang telah ditetapkan.33 26.33 Tidak 2 0 1 0 1 3 9 10 10 13 14 15 14 4 % 13.42 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok 14 Pertengkaran Sumber: Data Primer. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 13 15 14 15 14 12 6 5 5 2 1 0 1 11 % 86.

Dari 15 santri yang ada. Ada 2 santri yang menyatakan ketidaktahuannya akan akte kelahiran. Sedangkan hubungan antar santri juga cukup dekat karena sebagian santri menyebutkan teman curhatnya adalah temannya sendiri.5 – 3 tahun. sebanyak 13% pernah mendapatkan hadiah dan 2 lainnya tidak pernah. Untuk kemajuan ponpes ke depan. 1. dari Jawa Tengah ada 6 anak dan 1 anak dari Jambi. Hubungan antara pengurus dan santri digambarkan sangat dekat seperti keluarga sendiri seperti menemani santri ketika belajar. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Solo dan sekitarnya dengan lama tinggal antara 1. Pondok Pesantren Mujahiddin a. artinya masih lemahnya santri di dalam menuntut hak-haknya sebagai anak Indonesia. Yang berasal dari Solo ada 4 anak. Dari jumlah tersebut. . Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Mujahidin merupakan ponpes yang memiliki santri laki-laki saja. mengajak diskusi dan bermusyawarah serta selalu menyapa saat berpapasan. Selain itu. Secara keseluruhan jumlah santri di Ponpes ini ada 27 anak yang saat ini menempuh pendidikan SMP dan SMA (lihat Tabel 5. didalam ponpes juga ada pola pengasuhan melalui pembujukan yaitu menasehati dengan kata lembut. dari Eks Karesidenan Surakarta ada 1 anak.43). penelitian mengambil 12 santri sebagai responden yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. bagi santri menginginkan pengurus semakin memperhatikan kondisi mereka termasuk mengajak untuk berekreasi.3. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang.147 Didalam ponpes ini ada bentuk penghargaan bagi anak yang berprestasi.

Artinya.43 Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Nama Kelas Umur No 1 Deni Arif Sulistyo VII 13 2 Endang Sudrajad VII 15 3 Mu'as Abdul Rohim VII 13 4 Ridzwan Nur secha VII 13 5 Wildan Syahidullah VIII 13 6 Abdurrahman Arif VIII 15 7 Ahmad Romadhon VIII 14 8 Ali Taufikurrahman VIII 14 9 Dian Hafidz Saifudin VIII 14 10 Humam Ujiana VIII 14 11 Ilham Kurniasandi VIII 14 12 Sayid Imam Muhammad VIII 14 13 As'ad IX 16 14 Dafid saiful Anwar IX 15 15 Deni Sudrajad IX 15 16 Fahrur Rozik IX 17 17 Faidillah IX 15 18 Faqih Hidayatullah IX 16 19 Fathurrohim IX 16 20 Hadiyatna Hamid IX 15 21 Khoirudin IX 15 22 muh Zami' Al Wahid I IX 15 23 Muhammad Yusuf IX 15 24 Rifqi As Sabiq IX 15 25 Rizal Abdul Aziz Al Qomar IX 15 26 Muhammad Salman IX 16 27 Prasetyo IX 16 Sumber: Data Kesiswaan Pondok Pesantren Mujahidin. sebagian besar (9 anak) diantar oleh orang tua dan 3 anak lainnya diantar saudaranya. Juli 2009 Santri datang ke ponpes. tidak ada pemaksaan .148 Tabel 5. Dari 12 anak yang menjadi responden semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri.

Tidak ada pemaksaan terhadap anak. Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang. Tersedianya fasilitas untuk mendukung kehidupan santri juga memberikan efek positif bagi keberadaan santri di lingkungan ponpes meskipun ada sebagian yang dianggap tidak layak (lihat Tabel 5. dan Rp. Jika santri kehabisan uang saku. kondisi lingkungan cukup bersih karena setiap harinya ada santri yang mendapatkan jatah piket untuk membersihkan lingkungan ponpes. kondisi lingkungan ponpes menurut para santri ada yang menyebutkan bersih (5 anak) dan ada yang menyebutkan biasa saja (7 anak).100. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Banyak hiburannya karena suka duka dirasakan bersama 4) Ustadnya baik 5) Dapat hidup mandiri Secara umum. 100. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan 1 anak mendapatkan uang saku dari saudaranya. .149 dari siapapun untuk masuk ke ponpes.000 s/d Rp. rata-rata mereka hanya diam saja ada 7 anak atau minta orang tua ada 5 anak.44).000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. sekolah dan ditabung. mulai kurang dari Rp. 200. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. Bagi pengurus ponpes.000. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal.

67 91. Bagi sebagian besar santri.67 91.45) . mau bergaul dengan santri mendengarkan keluh kesah pada santri maupun bercanda bersama. tadarus.33 0 0 0 0 Tidak Tahu 0 0 0 0 1 3 1 1 % 0 0 0 0 8.33 25 8. tidak mudah marah.44 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Komputer Perpustakaan Layak 12 12 12 11 11 9 11 11 % 100 100 100 91. kegiatan rutinitas itu dirasakan tidak memberatkan (sebanyak 9 anak) dan kadang-kadang memberatkan (sebanyak 3 anak). menghafal Al Qur’an dan belajar kitab) dan belajar ilmu pengetahuan umum (pelajaran sekolah).150 Tabel 5.67 Tidak Layak 0 0 0 1 0 0 0 0 % 0 0 0 8.33 8. Juli 2009 b.33 Sumber: Data Primer.67 75 91. Selain itu setiap santri diwajibkan untuk menjalankan piket yang juga telah dijadwalkan untuk membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Hal ini karena didukung oleh keberadaan pengurus ponpes baik pengasuh maupun ustadnya yang dianggap santri menyenangkan. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5. Pola pengasuhan Fasilitas-fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Mujahidin secara efektif digunakan untuk melakukan kegiatan rutin santri yang telah dijadwalkan seperti kegiatan keagamaan (sholat berjamaah.

67 58. ada pengasuh yang menemani mereka.30 sampai 04.30. Bagi santri yang kurang berprestasi akan mendapatkan bimbingan khusus dan mengadakan belajar kelompok untuk meningkatkan prestasi.33 8.33 2 2 0 3 2 16.67 16. tidak menjalankan kegiatan keagamaan maupun terlambat sekolah. memberikan bimbingan semampunya atau meminta senior mereka untuk membantunya.33 8. menggunakan fasilitas yang ada dan refreshing setiap 1 tahun sekali. rolling.21. ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan. pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak piket. Selain itu mereka juga pernah merokok.151 Tabel 5. Bagi pengurus. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk push up. lari mengelilingi ponpes. Juli 2009 Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri.33 Tdk Senang 0 1 1 1 1 0 2 0 % 0 8.33 0 16.30 dan jam belajar mulai pukul 19.67 Sumber: Data Primer.67 0 Tidak % Tahu 4 33. Jika mereka mengalami kesulitan belajar.33 83. Setiap santri belajar.30 . dan . scot jump.67 91.33 75 75 100 58. Kegiatan refreshing ini membuat santri tidak merasa bosan. sit up. Di dalam ponpes diberlakukan jam malam mulai pukul 21. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes.67 0 25 16.33 0 0 4 33.45 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 8 11 7 9 9 12 7 10 % 66.33 8.

67 0 83. Juli 2009 Pernah 1 7 12 2 0 7 4 7 % Tidak 8.67 Bagi santri sendiri. menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat. dicukur gundul dan pemberian skorsing. hukuman-hukuman tersebut dianggap efektif karena mendidik santri untuk mandiri dan bertanggungjawab serta sudah merupakan kesepakatan bersama antar pengurus ponpes sebagai sebuah peraturan sehingga dianggap tidak menyimpang.47 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Pernah 12 10 6 6 2 6 % 100 83.67 41.152 jalan jongkok.33 100 41.67 10 0 12 58.33 5 100 0 16.33 50 .46 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 Berkelahi 8 Kabur Sumber: Data Primer. Tabel 5. Meskipun sebagian besar santri menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut.67 50 50 83. diperingatkan atau diajak bermusyawarah ketika santri mendapatkan hukuman karena santri merasa malu dengan hukuman tersebut. Tabel 5. ayat-ayat Al Qur’an.33 11 58.67 41.33 5 % 91.67 50 Tidak 0 2 6 6 10 6 % 0 16.33 50 50 16. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal muffrodat.33 5 33.67 66. Peraturan yang dibuat tidak melibatkan santri. Bagi pengurus.33 8 58.

pintu ini tidak dijaga oleh pihak pondok dikarenakan pintu ini merupakan akses bagi masyarakat umum untuk masuk ke masjid.67 75 100 Pada waktu saya di ponpes Al Mujahidin santri banyak bercerita tentang hukuman dan peraturan yang diterapkan dipondok. bisa dikatakan sebagai jalan umum. Hukuman gundul diberikan pada anak-anak yang kabur dari pondok. seperti halnya yang dikatakan oleh AB”kalau hukuman yang sering aku terima ya itu mas. selain digundul mereka juga sering diskorsing dan push up. tapi aku juga pernah . langsung digundul”. Juli 2009 No Pernah 4 9 12 11 4 3 0 % 33.153 Keterangan Menyuruh berdiri di bawah 7 matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up Menyiram air untuk 10 membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.push up paling tidak 40 kali. sebut saja AA.67 25 0 8. itu AA mas paling banyak dapat hukuman. tetapi saya tidak dapat mengambil gambar atau melihat secara langsung karena pada waktu itu tidak ada santri yang melakukan pelanggaran. Ada beberapa anak yang mendapatkan hukuman ini. kita biasanya disuruh menghafal muffrodat. skorsing dan hukuman gundul. apalagi hukuman gundul” AA”aku pernah dihukum gundul mas. biasanya karena telat masuk kelas.33 75 100 91. AB dan AC yang sering melakukan pelanggaran.33 66. AC”kalau kita terlambat ikut sholat berjamaah dan terlambat masuk kelas gitu.67 33. Mereka bertiga pernah kabur karena jenuh berada dilingkungan pondok.oleh pak ustad karena kabur. Sangsi yang sering diberikan adalah hukuman push up. mereka kabur lewat pintu belakang pondok.33 25 0 Tidak 8 3 0 1 8 9 12 % 66.

Dari responden hanya ada satu orang yang belum pernah mendapatkan hadiah. mereka menyadari bahwa mereka mendapat hukuman karena kesalahan mereka sendiri. Juli 2009 Selain memberikan penggajaran berupa hukuman. mereka pada dasarnya menyetujui hukuman fisik. sama membersihkan wc ”.33 50 Jarang 6 0 2 6 % 50 0 16.48 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 5 12 10 6 % 41.48).67 100 83. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes karena situasi ponpes yang menyenangkan Tabel 5.33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Santri tidak pernah marah dan menerima apa adanya hukuman yang diberikan oleh pihak pondok. . Hukuman skorsing adalah hukuman menghafal bagi santri. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya. hukuman ini termasuk hukuman ringan. Hampir semua santri sering menerima hukuman ini. yaitu menghafal ejaan Al Quran dan menghafal cara berkhutbah.154 digundul. selain itu hukuman yang lain ya berupa lari kecil. Tetapi bagi santri sendiri.67 50 Tidak 1 0 0 0 % 8.itu gara-gara kabur sama AC. Pondok Pesantren Mujahidin juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah.akan tetapi lebih baik apabila hukuman yang diterapkan adalah berupa teguran dan saran terlebih dahulu.scot jump.

sekolah (termasuk transport) dan sisanya untuk ditabung. Secara garis besarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori ponpes anak karena santri yang tinggal di ponpes ini kebanyakan adalah mahasiswa. Pondok Pesantren Tahfid Wata'limil Qur'an Penelitian pada ponpes yang berada di lingkungan Masjid Agung Kota Solo ini dijadikan pembanding terhadap ponpes lainnya. Terdapat lapangan badminton dan ada kesenian hadrah sehingga mampu menambah aktivitas para santri untuk aktualisasi diri. Fasilitas yang tersedia di dalam ponpes ini sangat sederhana. Ketiga anak tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini untuk melihat pola pengasuhan di pondok pesantren. Sragen dan Kebumen. Yang paling menonjol adalah keberadaan Masjid Agung sebagai tempat pelaksanaan ibadah. mempunyai banyak teman yang mengajarkan tentang adanya perbedaan dan didukung dengan ustadz yang baik dalam pengasuhan menjadikan santri lebih mampu hidup mandiri. Salah satu santri sudah cukup lama tinggal di ponpes ini selama 3 tahun karena merasa nyaman tinggal di ponpes ini. . Selebihnya hanya mengandalkan fasilitas seadanya seperti tempat belajar berada di dalam kamarnya masingmasing.4. Keutamaan untuk menjalankan keagamaan menjadi kewajiban rutin yang harus dijalankan oleh santri dari mulai sholat berjamaah.155 1. Ketiga santri ini berasal dari Wonogiri. Kehidupan yang menyenangkan didalam ponpes membuat santri merasa betah tinggal di ponpes meskipun jauh dari keluarga. Kebutuhan untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Santri yang tinggal di ponpes ini tetap mendapatkan uang saku dari orang tuanya dengan jumlah yang tidak tentu. Alasan masuk ke dalam ponpes ini karena keinginan sendiri dan diantar oleh orang tua masing-masing. hanya ada 3 orang yang berusia dibawah 18 tahun.

setiap santri memiliki hak untuk berpendapat dan mengeluarkan kritik ataupun saran kepada pengurus ponpes bagi kebaikan ponpes selanjutnya di masa mendatang. kewajiban menjalankan piket untuk membersihkan kamar. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Munir merupakan ponpes yang didirikan untuk mengembangkan keilmuan keagamaan yang ditempuh oleh salah satu anak pendiri Yayasan Al Munir. Tidak ada hukuman fisik yang berlaku di dalam ponpes. lingkungan ponpes dan memasak. ponpes ini diharapkan menambah fasilitas yang lebih baik untuk mendukung kegiatan ponpes. Peraturan yang di dalam ponpes telah dibuat oleh pengurus dan tidak ada kelibatan santri di dalam pembuatan peraturan tersebut. Pengurus pondok pesantren ini memiliki persepsi bahwa usia anak adalah 0 – 12 tahun. 2.1. Selain kewajiban. Pondok Pesantren Al Munir a. Semua kegiatan itu dilakukan dengan senang hati dan cara pengasuhan diponpes ini dianggap santri menyenangkan. Selain itu. Ke depan. Hal ini dapat dibenarkan karena mereka tidak mengetahui tentang adanya Kovensi Hak Anak dan Undang-Undang . Selain itu.156 belajar kitab. Sanksi yang diberikan bagi santri yang melanggar adalah menghafal Al Qur’an dan membersihkan lingkungan ponpes. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kabupaten Klaten 2. Pengganjaran dalam ponpes ini diberikan dalam bentuk penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar peraturan. dan mengaji. diharapkan sanksi yang tegas bagi yang melanggar peraturan ponpes dan adanya penambahan waktu untuk mempelajari kitab Al Qur’an. Adanya ruang terbuka untuk menerima masukan santri menandakan kepedulian besar terhadap hak-hak santri untuk berpartisipasi di dalam kemajuan ponpes.

Bagi santri. dan memiliki pengurus yang baik hati. Ada yang masih 3 hari masuk ponpes tetapi ada anak yang sudah 5 tahun tinggal di ponpes. kehidupan di ponpes kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Apabila uang saku yang diberikan telah habis. Penelitian ini mengambil 10 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 6 anak (60%). Rembang ada 1 anak (10%). Mereka datang ke ponpes ini dengan berbagai alasan seperti kesulitan ekonomi. Usia anak yang menjadi responden paling tua berumur 17 tahun dan yang paling muda berumur 9 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 2 anak (20%) dan laki-laki ada 8 anak (80%). belajar agama. keinginan sendiri maupun hanya sekedar menuruti keinginan orang tua. Sebagian anak masih baru tinggal di panti. mereka cenderung meminta lagi kepada orang tua kecuali yang diberikan ponpes mereka hanya bersikap diam saja. Santri yang tinggal di ponpes ini masih mendapatkan uang saku dari orang tuanya kecuali bagi orang tua yang tidak mampu maka santri mendapatkan uang saku dari ponpes meskipun tidak rutin dengan jumlah yang tidak tentu. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi santri seperti jajan dan ditabung. Hal yang membuat senang tinggal di ponpes karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain. Demak ada 1 anak (10%) dan Ngawi ada 1 anak (10%). ada 8 anak yang memiliki akte kelahiran dan sisanya sebanyak 2 anak menjawab tidak tahu. Santri yang tinggal di ponpes ini sebagian besar di antar orang tuanya sebanyak 8 anak dan 2 anak lainnya diantar oleh saudara dan tetangganya.157 Perlindungan Anak. Dari 10 responden. Hal yang membuat tidak senang anak-anak adalah karena . Yogyakarta ada 1 anak (10%). Sumber dana dari pondok pesantren ini berasal dari donatur tetap serta sumbangan yang sifatnya tidak rutin.

Setiap pengasuhan yang diterapkan memiliki konsekuensi tersendiri bagi keberadaan ponpes ke depan. fasilitas tersebut dapat dilakukan di dalam kamar seperti makan dan di luar ruangan (lingkungan ponpes) seperti bermain. olahraga dan berkesenian. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan dalam ponpes ini menerapkan 3 konsep pengasuhan yaitu pengajaran melalui kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. Kondisi lingkungan di ponpes dirasakan cukup bersih karena setiap hari mereka wajib membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. b. ponpes ini tidak memiliki ruang untuk bermain.158 mereka jauh dari orang tua. olahraga dan kesenian. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas sangat mendukung bagi terselenggaranya kehidupan ponpes yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. pengganjaran baik berupa penghargaan maupun hukuman serta pembujukan. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan santri ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.49 Tabel 5. makan. Tetapi menurut pengurus ponpes. . Adapun fasilitas yang ada di ponpes ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5.49 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 7 9 5 6 2 6 % 70 90 50 60 20 60 Tidak Layak 1 1 2 2 3 1 % 10 10 20 20 30 10 Tidak Ada 2 0 3 2 5 3 % 20 0 30 20 50 30 Sumber: Data Primer. Di dalam pemikiran santri.

maka hal yang biasa dilakukan adalah memberikan nasehat untuk tidak mengulangi perbuatannya. Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5.50 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 9 8 9 8 10 9 10 10 % 90 80 90 80 100 90 100 100 Tdk Senang 0 1 0 1 0 1 0 0 % 0 10 0 10 0 10 0 0 Tidak Tahu 1 1 1 1 0 0 0 0 % 10 10 10 10 0 0 0 0 Sumber: Data Primer.50. mengaji. Selain itu selama tinggal di ponpes. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. santri merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari pengurus sehingga perasaan nyaman dan aman dirasakan oleh santri. belajar kitab. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Tabel 5. Bagi santri. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di ponpes yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan santri.159 Setiap santri memiliki kewajiban yang harus dijalankan dari sholat berjamaah. kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik . Antara anak dan pengurus seringkali terjalin komunikasi. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah nyuci piring/baju dan belajar pagi karena persiapan untuk ke sekolah jadi terganggu.). Juli 2009 Apabila ada santri yang mendapatkan masalah atau melakukan pelanggaran peraturan ponpes.

Menurut anak. Selain hukuman fisik. Tabel 5. anak-anak ini sebagian menerima dengan ikhlas ada 3 anak.52 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Sering 1 1 0 0 0 0 0 0 % 10 10 0 0 0 0 0 0 Jarang 9 7 3 5 6 6 6 1 % 90 70 30 50 60 60 60 10 Tidak 0 2 7 5 4 4 6 9 % 0 20 70 50 40 40 60 90 . di dalam panti juga memberlakukan hukuman seperti menghafal Al Qur’an maupun menyalin ayat Al Qur’an. ikhlas dan akan berlaku sama dengan pengajar ada 1 anak dan 1 anak lagi merasa malu.51) tetapi tidak sering dilakukan. diberikan pujian dan hadiah. Tabel 5.160 yaitu dijewer telinganya tetapi jarang dilakukan. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5. ikhlas dan merasa malu ada 2 anak. merasa malu ada 1 anak. sakit hati dan malu ada 2 anak. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi.51 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Keterangan Sering Merokok 2 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 1 Tidak menginap 1 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 1 Sumber: Data Primer. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 20 0 10 10 10 0 10 Jarang 2 3 4 6 3 4 5 % 20 30 40 60 30 40 50 Tidak 6 3 5 3 6 6 4 % 60 30 50 30 60 60 40 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.

Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian.53 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir No Keterangan Sering 1 Berdiskusi 5 2 Menasehati dengan kata lembut 9 3 Menyapa saat bertemu 3 4 Bermusyawarah 3 Sumber: Data Primer. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 57). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. Juli 2009 % 50 90 30 30 Jarang 5 1 5 5 % 50 10 50 50 Tidak 0 0 2 2 % 0 0 20 20 Pondok Pesantren Al Munir juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. santri pernah mengalami. Meskipun tidak sering terjadi tetapi dapat mempengaruhi kejiwaan santri yang notabene masih usia anak. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 58).161 No 9 10 11 12 13 Keterangan Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 0 0 2 2 7 % 0 0 20 20 70 Jarang 4 5 4 4 1 % 40 50 40 40 10 Tidak 6 5 4 4 2 % 60 50 40 40 20 Sumber: Data Primer. . Tabel 5. berdiskusi.

67 6. Hal ini sungguh memprihatinkan karena kepemilikan akte kelahiran ini merupakan hak setiap anak Indonesia. Legalitas anak untuk menjadi warga negara Indonesia berasal dari akte kelahiran. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Sunan Kalijaga berdiri sejak tahun 2006 sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan ekonomi.162 2.67 6. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. ada 2 santri yang tidak memiliki akte kelahiran. Ada yang diantar oleh saudara. Penelitian ini mengambil responden berjumlah 15 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (Tabel 5.54 Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Magelang Semarang Jawa Klaten Pasuruan Ungaran Cepu Kendal Temanggung Jumlah Sumber: Data Primer.2.67 100 Santri datang ke ponpes tidak selalu diantar oleh orang tuanya.67 6.33 6.67 20 13. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Klaten dan sekitarnya dengan lama tinggal rata-rata masih dibawah 1 tahun. Tabel 5.54).67 6. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga a. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah 4 3 2 1 1 1 1 1 1 15 % 26. Dari 15 responden.67 6. teman maupun tetangganya .

33 13.163 (Tabel 5.33 13.33 40 13.55 Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Orang Tua Saudara Teman Tetangga Jumlah Sumber: Data Primer. rata-rata mereka hanya diam menunggu kiriman dan ada sebagian kecil yang meminjam uang ke teman sekolah. Tabel 5. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini . Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 11 2 1 1 15 % 73. Mereka datang ke ponpes sebagian besar karena keinginan sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak (Tabel 5.56 Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Keinginan Sendiri Ekonomi Keinginan Sendiri dan Ekonomi Memperdalam Ilmu Agama Jumlah Sumber: Data Primer. Artinya.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah. dan Rp. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 5 6 2 2 15 % 33.100. 100. Jika santri kehabisan uang saku. Tabel 5. mulai kurang dari Rp. tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes.000.56).000 s/d Rp. 200. Hanya sedikit anak yang uang sakunya ditabung.55).33 Santri secara rutin ada yang mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan ada juga yang mendapatkan uang saku dari ponpes.67 100 Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang.67 6.33 6.

Juli 2009 Menurut Kyai Susilo Eko Pramono. biasa saja (5 santri atau 33.67 20 3 20 9 60 33. kondisi lingkungan biasa saja. (lihat Tabel 5. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Memiliki Ustad yang baik 4) Berbeda dengan ponpes yang lain Secara umum. Dilihat dari segi ilmu belajar mengajar.67 8 53.33 8 53. Kegiatan para santri didukung dengan berbagai fasilitas yang telah ada didalam ponpes meskipun dirasakan oleh santri tidak layak.164 berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. . kondisi fasilitas di Ponpes ini sebenarnya jauh dari kelayakan.33 % 1 Ruang Belajar 3 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 3 4 Ruang Makan 9 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 5 Sumber: Data Primer.33 2 13.67%).33 60 2 13. Namun karena kondisi ekonomi memang masih sangat terbatas. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal.33 4 26. Tidak ada pemaksaan terhadap anak. Bagi pengurus ponpes. Tabel 5. menurut para santri kondisi lingkungan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga ini bersih (6 santri atau 40%).57 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No Jenis Fasilitas Layak Tidak Tidak % % Layak Ada 20 12 80 0 0 100 0 0 0 0 20 4 26.33%) dan sisanya menyebutkan lingkungan ponpes kumuh/kurang memadai/memprihatinkan ( 4 santri atau 26.57). ruang kelas ini sebenarnya sangat tidak layak untuk dipakai. seperti yang diungkapkan sebagai berikut: ”Fasilitas pondok terutama ruang belajar mengajar bisa dikatakan sangat jauh dari layak.

33 Sumber: Data Primer.67 0 0 0 0 0 Tidak Tahu 1 0 1 0 1 1 1 2 % 6.165 dan donator tetap juga tidak ada.33 0 100 0 86.67 6. Kegiatan tersebut bagi 9 anak dirasakan tidak memberatkan tetapi ada 6 anak yang merasa kadang-kadang kegiatan tersebut memberatkan. Kalau melihat seperti itu sebenarnya kasihan juga. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5.58) Tabel 5.67 0 0 0 0 0 % 0 0 6. mengaji/tadarus.58 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 15 13 15 14 14 14 13 Tdk Senang 93. dan karena ruang sangat sempit. selalu saja duduk di tikar.67 1 % 100 93. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang dilakukan setiap santri cukup padat yang meliputi sholat berjamaah. belajar kitab. lantai belum disemen. Kondisi ini agak tertolong karena hubungan antara anak dan pengurus ponpes cukup baik meskipun pengetahuan pengurus ponpes tentang hak anak dan perlindungan anak belum memiliki. maka duduk berdesak-desakan.” b.67 6. Mereka saling berkomunikasi dan diskusi tentang hal-hal yang terjadi di dalam ponpes. Juli 2009 .67 0 6.33 93.33 93.33 86. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes serta memasak.67 0 6. Terutama untuk kelas ibu-ibu. bermain.67 13. jadi mau bagaimana lagi.

166

Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri, ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan, mendapatkan ilmu agama dan berpendapat. Persepsi mengenai jam malam dan jam belajar antar santri memiliki perbedaan. Ada yang menyebutkan jam malam dimulai pukul 20.00 WIB tetapi ada yang menyebutkan jam 20.30 WIB. Jam belajar berkisar antara 22.00 – 23.00 WIB. Jika mereka mengalami kesulitan belajar, diadakan kelompok belajar sehingga antar santri saling memberikan bantuan pelajaran sekolah. Para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya. Tetapi sistem pemberian penghargaan ini sering dilakukan oleh pengurus ponpes. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk lari mengelilingi ponpes, scot jump, sit up, dan mengisi bak air. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal Al Qur’an jus 30, dan menyalin pelajaran yang belum lengkap. Tabel 5.59 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % Merokok 2 13,33 3 20 10 66,67 Terlambat pulang 4 26,67 10 66,67 1 6,67 Tidak piket 2 13,33 9 60 4 26,67 Tidak beribadah 0 0 6 40 9 60 Tidak menginap 0 0 1 6,67 14 93,33 Membawa barang 6 0 0 1 6,67 14 93,33 yang dilarang 7 Berkelahi 0 0 0 0 15 100 Sumber: Data Primer, Juli 2009 No 1 2 3 4 5

167

Sebagian santri, menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat, diperingatkan atau di ajak bermusyawarah. Santri yang

mendapatkan hukuman sebagian besar menerima dengan ikhlas yang disertai perasaan malu dan menyesal. Hukuman yang diberikan kepada para santri pun bermacammacam tergantung pada bentuk kesalahan dan pengurus ponpes. Adapun bentuk hukuman yang pernah diberlakukan seperti yang diceritakan para santri kepada peneliti sebagai berikut: 1. Penuturan Sm “Suatu hari NZ pernah di tampar karena salah saat baca Al Barzanji pada waktu acara di masjid dengan warga sekitar. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil, kemudian di marahi dengan dibentak-bentak, dan NZ akhirnya ditampar” ”Pada suatu hari setelah kegiatan belajar (pukul 21.00), santri Z dan P diminta untuk memasang keramik bak mandi dalam pondok. Dan santri D dan S diminta memperbaiki mesin jahit yang rusak.” (yang pasang keramik sampai jam 03.00 baru selesai, yang membetulkan mesin jahit sampai sekitar jam dua ditinggal tidur, dan kerjaan belum selesai. Abi tahu tetapi tidak dimarahi. Ketika mereka bekerja, Abi bercanda saja dengan keluarganya, dan menyalakan radio. Berdasarkan hasil observasi, kebiasaan abi kalau malam memang mendengarkan radio) ”Kalau amanah abi tidak dilaksanakan, biasanya santri akan dibentak-bentak. Kadang abi juga menyuruh yang aneh-aneh, pernah saya disuruh abi untuk cari jeruk nipis, ketika itu sudah jam sembilan malam. Saya mencari ke rumah-rumah warga, dan akhirnya dapat” 2. Penuturan DR ”Sumur, septitank, dan kamar mandi yang dibuat saat ini sebenarnya hukuman yang diberikan oleh Abi kepada santri lama. Abi memberikan waktu seminggu untuk membuat itu semua. Namun dalam perjalanannya, pembuatan itu dibantu juga oleh santri-santri yang baru.” 3. Penuturan FS ”Dulu pernah dihukum dijemur saat jam 12 siang di depan masjid, dengan melihat matahari selama 30 menit. Saat itu dihukum bersama dengan 12 santri. Silau sekali saat itu dan merasa pusing. Rasanya berat juga untuk melaksanakan

168

hukuman itu. Hukuman itu sudah lama, mungkin sekitar 3 bulan yang lalu.” ”Abi juga kadang memberi amalan untuk dijalankan santri (amalan biasa diberi semacam buku atau doa-doa untuk dibaca). Dulu saya dan 8 orang santri lain pernah diberi amalan, tempat amalan dipisah-pisah, dan sebelum didatangi oleh Abi tidak boleh berhenti. Saya dan satu orang lagi mendapat jatah di kebun di bawah pohon. Saya disuruh mengucap kalimat dan diulang-ulang dengan kaki diangkat satu. Ketika tengah melakukan itu pas mungkin tengah malam hujan deras. Jadi saya dan satu orang yang lain tadi tidak berani kembali ke pondok, dan menunggu di datangi Abi. Waktu itu menunggu Abi datang lumayan lama, jadi saya hujan-hujanan, dan kedinginan di bawah pohon.” ”Santri kalau sudah menghatamkan satu kitab biasa diberi ujian oleh Abi. Saya dulu ketika menyelesaikan Kitab Shohibul Ghoiz di suruh Abi untuk tidak tidur selama 3 hari. Dan saya laksanakan, dan ternyata kuat.” 4. Penuturan NK “Pernah dihukum push up 50 kali dan scot jump 99 kali, garagara pada waktu itu diberi kesempatan liburan dan disuruh ziarah ke makam-makam, namun karena pulangnya lebih dari waktu yang ditentukan, akhirnya dihukum.” 5. Penuturan PY ”NZ pernah di tampar Abi karena salah saat memimpin membaca Al Barzanji dengan warga. Waktu itu ketika sebelum acara mencatat dulu yang akan dibaca. Namun ditengah menjalankan bacaan Al Barzanji, dan membaca catatan, antara santri satu dengan yang lain ada yang berbeda. Akhirnya bacaan berhenti beberapa saat karena bingung. Dan ketika dilanjutkan ada bacaan yang terlewat. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil oleh Abi. Setelah dimarah-marahi, kemudian NZ ditampar oleh Abi” 6. Penuturan D ”Jika bangun dengan cara disiram air seperti pagi tadi sebenarnya dalam hati mereka pasti merasa jengkel, namun santri itu jika dengan saya tidak berani mengeluh. Tadi sebenarnya saya sudah bangunkan, karena mereka sudah bangun lalu tidur lagi, mau tak mau saya siram air, karena waktu subuh tadi juga sudah mepet waktunya. Biasanya saya membangunkan dulu mereka 2-3 kali baru setelahnya dengan menyiram air. Namun tadi karena waktunya sudah hampir habis, maka hanya saya bangunkan sekali, dan yang kedua kalinya langsung saya siram air”

169

7. Wiro (Bambang Wahyu Saputro) ”Saya adalah santri yang paling sering dihukum oleh pak kyai. Saat inipun saya sedang melaksanakan hukuman dengan cara menyalin buku ini (semacam buku belajar mengaji untuk kelas iqro’). Untuk menyalin buku ini (buku tersebut berukuran seperti buku tulis biasa dengan tebal 53 halaman) saya diberi waktu 3 hari. Tadi diberi hukuman ini karena saya terlambat masuk ke kelas. Tadi saya terlalu lama mencari jas almamater. Sebenarnya barang-barang saya ada di kamar belakang, tetapi tadi jas saya ada di kamar di dalam masjid. Biasanya ada santri yang pinjam, tapi tidak dikembalikan ke kamar saya atau ke saya. Karena terlalu lama mencari, akhirnya terlambat masuk kelas. Jas almamater tidak saya persiapkan sebelumnya, karena hari ini tidak ada jadwal untuk memakai jas almamater. Namun tadi sore setelah ashar ada pengumuman untuk memakai jas almamater, karena sekaligus untuk seragam ketika acara malam harinya.” Tabel 5.60 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 1 0 0 0 0 0 0 7 3 0 1 9 % 20 6,67 0 0 0 0 0 0 46,67 20 0 6,67 60 Jarang 11 10 3 4 3 2 0 5 7 11 10 5 2 % 73,33 66,67 20 26,67 20 13,33 0 33,33 46,67 73,33 66,67 33,33 13,33 Tidak % 1 6,67 4 26,67 12 80 11 73,33 12 80 13 86,67 15 10 1 1 5 9 4 100 66,67 6,67 6,67 33,33 60 26,67

Sumber: Data Primer, Juli 2009

tingkah laku dan wataknya ditentukan oleh lingkungannya. Tabel 5.61 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % No 1 Berdiskusi 15 100 0 0 0 0 2 Menasehati dengan 11 73.67 Sumber: Data Primer. John Locke mengatakan bahwa seorang bayi yang baru lahir ibaratnya kertas putih yang belum mempunyai cacat sedikitpun baik atau buruknya nanti kertas tersebut tergantung dari orang atau lingkungan yang menjamah kertas tersebut.67 kata lembut 3 Menyapa saat bertemu 13 86.170 Pondok Pesantren Sunan Kalijaga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. Proses pembentukan diri anak terjadi dengan dijalankannya fungsifungsi keluarga.61). 1983: 9) Dalam menjalankan fungsinya terhadap pembentukan diri anak . keluarga memiliki beberapa fungsi. Dengan demikian seorang bayi yang baru lahir hingga menjadi dewasa sikap. fungsi pemeliharaan fisik terhadap anggota keluarga. 1985: 75).67 2 13. Secara umum. PEMBAHASAN Dalam teori tabularasa.33 12 80 1 6.33 0 0 4 Bermusyawarah 2 13.33 3 20 1 6. Proses pembentukan ini didapat karena belajar dari lingkungan dan tentu saja si anak berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini yang terpenting adalah proses awal sebagai dasar pembentukan anak tersebut terutama dalam lingkungan yang terdekat. yaitu keluarga (Khairuddin. antara lain fungsi reproduksi. fungsi kontrol sosial dan fungsi penempatan sosial bagi anak-anak serta fungsi sosialisasi (Goode. Juli 2009 D.

cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya (Khairuddin. keyakinan. hidup dalam sebuah keluarga yang utuh dan yang menjalankan fungsinya dengan baik. melainkan juga dukungan moril. khususnya sejak usia dini. Agar manusia dapat berhubungan baik dengan orang lain dalam masyarakat. psikis. cinta.171 tersebut. Keluarga. Masih banyak anak yang tidak mendapatkan pemeliharaan baik secara fisik. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma-norma. Masih banyak . sikap. maupun secara sosial. Nilainilai dan norma-norma itu pada tahap awal diajarkan pada anak melalui sosialisasi dalam keluarga. dalam hal ini terutama adalah orang tuanya. 1991: 178). Anak-anak dalam suatu keluarga akan menyerap nilai-nilai dan mengambil alih kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan dalam keluarga. nilai-nilai dan hal-hal yang tabu dalam masyarakat (Horton dan Hunt. perhatian dorongan dan bahkan kehadiran orang tuanya. melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku. Anak tidak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan secara materiil saja. tidak semua anak memiliki nasib yang sama. maka perlu untuk dituntut hidup menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. suatu keluarga memiliki peran yang sangat penting terhadap anak. Nilainilai dan norma-norma merupakan modal penting dalam kehidupan sosial. seperti kasih sayang. 1985: 60). yang kemudian nilainilai dan norma-norma tersebut menjadi miliknya dan menjadi standar perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. memegang peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Fungsi sosialisasi ini menunjuk kepada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan orang lain dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak dan sebagai lingkungan masyarakat yang terkecil serta sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama. Peranan keluarga sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama dalam hal membentuk kepribadian anak. Namun demikian.

namun demikian dalam pelaksanaannya pemerintah dibantu oleh lembaga-lembaga. Ciri-ciri anak-anak terlantar adalah: Pertama. atau dibiayai oleh pihak-pihak lain di luar keluarga yang memiliki perhatian khusus terhadap anak terlantar. 1986: 111). organisasiorganisasi atau pihak-pihak tertentu yang berkompeten menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam pemeliharaan anak terlantar. . Hal-hal tersebut mengakibatkan tidak mendapatkan pemeliharaan sebagaimana mestinya. Tidak berfungsinya keluarga dapat disebabkan oleh beberapa hal. kelima. Tanggung jawab pemeliharaan terhadap anak terlantar berada di tangan pemerintah. Salah satunya adalah panti asuhan sebagai sebuah wadah yang menampung. Panti asuhan dan pondok pesantren merupakan sistem pelayanan sosial berbasis lembaga khususnya untuk pengasuhan anak. Hal lainnya yaitu adanya suatu kondisi ekonomi yang sangat buruk menimpa orang tua. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lainlain (BPAS. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. kedua.172 anak yang belum mendapatkan haknya dalam keluarga. misalnya karena adanya bencana alam atau orang tua yang sedang mengalami masa hukuman penjara. maka kemudian anak diasuh dan dipelihara. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. membiayai serta membina anak-anak terlantar tersebut. Guna tetap mendapatkan haknya. kurang pendidikan dan pengetahuan. yang kemudian menyebabkan anak tersebut tidak mengalami fungsi keluarga berupa pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan yang menjadi hak anak. ketiga. Selain itu terdapat Pondok Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran (pengasuhan) kepada anak (anak didik/santri) yang didasarkan atas ajaran islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan Allah SWT. antara lain karena tidak berfungsinya salah satu atau kedua orang tua akibat meninggal dunianya salah satu atau kedua orang tua atau perceraian. keempat kurang bermain. atau dengan kata lain anak mengalami keterlantaran. atau dikarenakan kondisi khusus yang memisahkan anak dengan keluarganya. dan sebagainya.

panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat menggantikan fungsi keluarga.62 Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Nama Panti Asuhan Pamardi Yoga Misi Nusantara Tahun berdiri 1947 Alasan tinggal di panti asuhan Kesulitan ekonomi. Permasalahan muncul seiring proses adaptasi anak dengan lingkungan baru. Tabel 5. Namun demikian walaupun sebagai lembaga pengganti keluarga.62 menunjukkan karakteristik panti asuhan di Kota Surakarta. Tabel 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Flores 2 1971 . Yatim piatu Korban bencana alam No 1 Status/Pendiri Milik Pemerintah dibawah DKRPP dan KB Yayasan Anak Misi Nusantara Asal anak Solo dan sekitarnya Nias. Perbedaan kondisi diantara lingkungan keluarga. panti asuhan dan pondok pesantren tentu saja berbeda dengan keluarga. Karakteristik sosial panti asuhan dan pondok pesantren Sosialisai nilai yang tadinya dijalankan oleh keluarga. Sumbar. Mentawai. Perbedaan antara keluarga dan panti asuhan maupun pondok pesantren tersebut kemudian juga memunculkan permasalahan pada diri anak asuh maupun santri. Dengan demikian panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan memberikan pelayanan yang menyamai atau setidaknya mendekati peranan keluarga. Fungsi-fungsi keluarga yang bisa diambil alih oleh panti asuhan dan pondok pesantren.173 Sebagai lembaga pengganti fungsi keluarga. kemudian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. kemudian diambil alih perannya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. panti asuhan dan pondok pesantren tersebut memunculkan proses adaptasi dari anak yang menjadi anggota panti asuhan dan pondok pesantren. Kalteng. 1.

Juli 2009 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Juli 2009 4 .64 menunjukkan karakteristik pondok pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. Jawa ilmu agama Tengah Asal anak 2 Darul Dzikri 3 Mujahiddin Tahfid Wata’limil Quran Sumber : Data primer. yatim piatu dan juga karena bencana alam. Jawa ilmu agama Tengah dan luar Pulau Jawa Solo. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Jawa ilmu agama Tengah Solo. Tabel 5. Tabel 5. Dari tabel 6767 dan tabel 6769 dapat diketahui bahwa panti asuhan ada yang milik pemerintah dan perseorangan (Yayasan). Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Jawa ilmu agama Tengah dan luar pulau Jawa Solo. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta.64 Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta No 1 Nama pondok pesantren Al Muayyad Status/ Pendiri Tahun berdiri Alasan tinggal di Ponpes Solo.174 Tabel 5. Pada umumnya anak tinggal di panti asuhan karena kesulitan ekonomi.63 Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Tahun berdiri Alasan tinggal di panti asuhan Fakir miskin dan yatim piatu Yatim piatu No 1 Nama Yayasan Darul Hadlonah Status/Pendiri Milik Perseorangan Asal anak Klaten dan sekitarnya Klaten dan sekitarnya Penerimaan Bayi Milik YPBT Terlantar (YPBT) Sumber: Data Primer.

Meskipun demikian. maka ia dituntut untuk belajar bermacam-macam yang berlaku dalam lingkungannya. pola pengasuhan mengandung sifat pengajaran (instructing). artinya makhuk yang hidup dalam lingkungan manusia lain. Agar manusia itu bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama manusia lain.64 dan tabel 5. proses sosialisasi tetap berlangsung. Pada dasarnya. ustadz/ustazah.65 menunjukkan bahwa pada umumnya santri tinggal dan belajar di pondok pesantren tersebut karena ingin memperdalam ilmu agama. Klaten. dan luar Pulau Jawa 2.1 Pengajaran (instructing) Manusia merupakan makhuk sosial. anak mempunyai pergaulan yang lebih . Jawa Timur Asal anak 2 Sunan Kalijaga Yayasan Sunan Kalijaga Sumber : data Primer. Akan tetapi di panti asuhan anak diasuh oleh pengasuh (ibu/asuh)dan pondok di pondok pesantren santri dididik dan diasuh oleh kyai. Misalnya. Jawa Tengah . Yogyakarta.65 Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten No 1 Nama pondok pesantren Al Munir Status/Pendiri Yayasan Al Munir Tahun berdiri Alasan tinggal di Pondok Pesantren Klaten. pada usia sekolah. Memperdalam Yogyakarta. penggajaran (rewarding) dan pembujukan (inciting).175 Tabel 5. Jawa Timur. ilmu agama Jawa Tengah dan Jawa Timur Klaten. Pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren Pola pengasuhan anak merupakan bagian dari proses sosialisasi yang pada umumnya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Memperdalam Jawa ilmu agama Tengah. Juli 2009 Tabel 5. Adapun asal santri cukup beragam yaitu dari Solo. Eks Karisedenan Kota Surakarta. 2.

176

luas dan sudah tidak dianggap sebagai anak balita lagi. Oleh karena itu, pada usia sekolah, anak mulai diajarkan tentang berbagai hal dan diharapkan sudah dapat membantu pekerjaan rumah. Cara pengajaran yang dilakukan antara satu pengasuh dengan lainnya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pengajaran dengan menggunakan contoh banyak dilakukan oleh pengasuh (ibu/bapak asuh) di panti asuhan maupun kyai, ustadz/ustazah di ponpes. Sejak anak-anak, seperti yang tinggal di panti asuhan perlu dilatih untuk bekerja mulai dari yang ringan-ringan dulu sesuai dengan umur dan kemampuannya. Setelah agak besar diajari yang lebih berat, seperti mencuci piring, mencuci pakaiannya sendiri dan memasak. Dalam hal-hal yang kecil, pengasuh tinggal menyuruh si anak untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Seperti disuruh untuk membeli sesuatu di warung terdekat atau disuruh untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Menyuruh anak untuk melakukan sesuatu pekerjaan adalah melatih agar anak patuh kepada orang tua tidak seenaknya saja. Selain dengan menggunakan contoh, dalam memberikan pengajaran dapat pula dilakukan dengan cara memberikan arahan, yaitu pengasuh di panti asuhan dan kiai ustadz/ustazah di ponpes memberikan keterangan seperlunya yang bermaksud mengarahkan agar anak mengetahui maksud dari pengasuh atau kiai, ustadz/ustazah. Pengajaran dengan memberikan arahan kebanyakan ditujukan kepada anak yang sudah agak besar. Pada usia sekolah anak sudah dapat berfikir lebih maju, sehingga apabila diberikan contoh sekali dua kali sudah dapat menirukan. Setelah dari tahap memberikan contoh, dilanjutkan dengan memberikan arahan saja. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hal-hal yang diajarkan pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai, ustadz/ustazah kepada santri/santriwati di ponpes juga menyangkut

177

kehidupan sehari-hari, antara lain masalah (a) sopan santun (b) kedisiplinan, (c) pekerjaan rumah sehari-hari, (d) penanaman nilainilai keagamaan. a. Sopan santun Sopan santun yang diajarkan oleh pengasuh di panti asuhan dan kyai ustadz/ustazah di ponpes kepada anak/santri diharapkan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak. Sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan ponpes, mengacu pada norma yang ada di masyarakat itu sendiri, yaitu kebiasaankebiasaan yang dianggap baik dan dilakukan oleh banyak orang. Sehingga sejak kecil anak diajarkan sopan santun agar dapat membawa dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya ketika seorang bertingkah laku yang dianggap tidak sopan, orang akan mengatakan dengan sebutan “ora/ga elok” yang artinya adalah “tidak baik, tidak sepatutnya”. Pengasuh di panti asuhan dan kyai, ustadz/ustazah di ponpes akan berusaha menanamkan sopan santun sesuai dengan yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren antara lain: sopan santun dalam hal makan, juga mengajarkan sopan santun ketika sedang ada tamu dan ketika bertamu. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam sopan santun adalah mengenai bahasa yang digunakan. Misalnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau cara pemilihan bahasa ketika mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Sebab bahasa merupakan alat komunikasi dengan orang lain. Tingkah laku yang menunjukkan kesopanan juga diajarkan kepada anak agar anak tersebut mengerti mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap tabu atau tidak sopan dalam pergaulan sehari-hari. Jika anak bersikap sopan terhadap orang lain, orang akan menganggap bahwa anak tersebut mempunyai budi yang

178

luhur dan masyarakat akan lebih mudah untuk menerima kehadirannya. Dari apa yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil gambaran umumnya bahwa, setiap panti asuhan dan pondok pesantren pada dasarnya mengharapkan agar anak bisa bersikap sopan dan santun terhadap orang lain, lebih-lebih bagi yang sudah tua. Kesopanan merupakan sarana agar anak dapat menghargai dirinya sendiri dan juga menghargai orang lain, yang akan dibawanya dalam lingkungan interaksinya yang lebih luas, sehingga orang tua (dalam hal ini pengasuh) diharapkan dapat menanamkan nilai kesopanan kepada anak sejak masih kecil. Sosialisasi bisa dilihat sebagai proses pewarisan pengetahuan kebudayaan berisi nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan untuk berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Pengetahuan kebudayaan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan yang menyebabkan tidak tertutup kemungkinan adanya pergeseran, perubahan nilai, norma dan aturan itu sehingga membentuk aturan atau norma baru. Proses pewarisan akan terus berjalan sepanjang hidup manusia. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah mendapatkan kewenangan untuk mengasuh dan mendidik anak/santri dengan caranya. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar anak dan santri mandiri, dan bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Pengasuh dan kyai,

ustadz/ustazah memberikan pewarisan pengetahuan kebudayaan yang dianggapnya baik dan yang berlaku dimasyarakat pada umumnya. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah telah berusaha untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan kepada anak maupun santri, yang mana anak maupun santri tersebut diharapkan bisa mengamalkan apa yang telah diajarkan, memegang teguh prinsip-

179

prinsip kesopanan yang akan dibawanya berinteraksi dengan lingkungannya yang lebih luas dan untuk jangka waktu yang panjang b. Kedisiplinan Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Karena tanggung jawab sudah beralih kepada pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah, maka pengasuh wajib mendidik anak asuh dan santri tersebut dengan sebaik-baiknya. Disiplin merupakan salah satu alat untuk mendidik anak-anak. Melalui alat ini panti asuhan dan pondok pesantren mengharapkan agar anak dan santrinya membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sesuai dengan yang diajarkan dan sebaliknya menghindari kebiasaan yang bertentangan dengan lingkungannya. Disiplin merupakan suatu cara atau alat dalam pendidikan yang melatih anak untuk bertingkah laku menurut pola atau aturan yang ada termasuk juga untuk memperbaiki tingkah laku yang kurang baik agar terbentuk tingkah laku yang sesuai dengan norma. Adapun tujuannya supaya seseorang dapat mengerti dan mematuhi serta dapat mengendalikan dirinya dengan baik (Sunarti, dkk, 1989: 90). Dalam menanamkan disiplin dalam panti asuhan maupun pondok pesantren, harus dimulai dari pengasuh itu sendiri. Sebab secara tidak langsung anak dan santri akan mengamati dan sedikit banyak akan mencontoh pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah. Kedisiplinan mengandung adanya aturan yang harus ditaati oleh anggota panti asuhan maupun pondok pesantren. Adapun aturan yang diterapkan antara satu panti asuhan maupun pondok pesantren dengan panti asuhan maupun pondok pesantren yang lainnya sering kali berbeda-beda. Dari hasil hasil penelitian disiplin tentang belajar diatas, dapat diketahui bahwa setiap pengasuh maupun kyai,

disiplin bangun tidur. seperti menyapu. sejak kecil diajarkan untuk bagaimana menjaga kebersihan rumah.180 ustadz/ustazah mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan pola belajar anak dan santrinya. ustadz/ustazah c. disiplin beribadah dan disiplin membantu pengasuh dan atau kyai. menyiangi rumput. secara formal seperti di sekolah. pondok pesantren/Madrasah. anak atau santri diperbolehkan untuk mencari bantuan kepada yang lebih mampu dan bisa. beragama. Penanaman nilai-nilai keagamaan Setiap orang tua (dalam hal ini adalah pengasuh) mengiginkan agar anaknya menjadi anak yang patuh kepada orang tua. dilihat dari umur dan kemampuan anak. Pekerjaan sehari-hari Sejak kecil anak asuh di panti asuhan diajarkan untuk bisa membantu pengasuh dalam pekerjaan sehari-hari. disiplin tidur. Penanaman agama dapat dilakukan di panti asuhan. dan berusaha untuk memberikan sesuai dengan batas kemampuan pengasuh dan kyai. Penanaman nilai keagamaan kepada anak sejak kecil merupakan landasan untuk masa yang akan datang. ustadz/ustazah. Bagi anak perempuan. Selain disiplin sepulang sekolah dan belajar. . Ketika pengasuh maupun kyai. Sedikit-sedikit diajarkan dari yang paling mudah dan tidak beresiko sampai kepada keberhasilan tentang diri dan lingkungannya. Anak tidak terlalu dituntut untuk membantu kebersihan rumah. d. mencuci piring. Sedangkan untuk anak laki-laki biasanya lebih longgar dalam hal pekerjaan rumah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. disiplin yang diterapkan adalah disiplin waktu makan. bertingkah laku sesuai dengan norma. ustadz/ustazah merasa tidak mampu membantu. mencuci baju dan lain-lain.

181 Matriks 1 di bawah ini menunjukkan pola pengajaran di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti. .

Juli 2009 Pondok Pesantren • Membersihkan pondok pesantren • Mencuci bajunya sendiri • Mengajar surat pendek • Mengajar TPA • Mengajak pengajian . mencuci piring dan bajunya sendiri Nilai agama • Mengijinkan TPA • mengigatkan beribadah 2 • Sorogan • Dalam hal tingkah laku • Bandongan dan bahasa • Ceramah (Bahsul yang Kutub) digunakan • Contoh • Arahan • Mengingatkan • Menyuruh Sumber :Data primer.182 Matriks 1 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan • • • • Metode Sopan santun Contoh Arahan Mengingatkan Menyuruh • Dalam hal tingkah laku dan bahasa yang digunakan Disiplin • Merapikan alat sekolah • Membantu pengasuh • Belajar kelompok • Merapikan alat sekolah • Tidur siang • Beribadah • Belajar kelompok & di pondok • Membantu mengajar Hal yang diajarkan Pekerjaan sehari-hari • Menyapu.

karena memerlukan pengakuan dari masyarakat maka di dalam suatu masyarakat yang sudah kompleks susunannya dan sudah mengenal pembagian kerja yang rinci. Biasanya pertumbuhan pesantren tergantung kepada kemampuan pribadi kiainya. Wewenang merupakan sesuatu kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan. Kebanyakan kiai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan wewenang (Power and Authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. waktunya dan cara menggunakan kekuasaan itu. staf mempunyai wewenang tertentu. Para santri selalu mengharap dan berfikir bahwa kiai yang dianutnya merupakan orang yang percaya penuh kepada dirinya sendiri (Selfconfident). maupun dalam bidang kekuasaan dan manajemen pesantren. wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya.183 Kekuasaan dan wewenang kyai di pondok pesantren Di dalam sebuah lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren pihak pengurus. Kiai adalah orang yang mempunyai peranan esensial dan mempunyai jenjang tertinggi pada sebuah pesantren. baik dalam soal-soal pengetahuan Islam. 1994 : 56 ). ( Soekanto. 1999 : 294 ) Dengan wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan. Para kiai dengan kelebihan pengetahuannya dalam Islam. sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam. Tidak seoarang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kiai lain yang lebih besar pengaruhnya. (Dhofier. sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau. terutama oleh kebanyakan .

tanpa melihat tinggi rendah kelas sosialnya. namun kedudukan masing-masing pondok pesantren sangat bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas keilmuan yang dimiliki oleh kiai. 1999: 137-139). Sistem pendidikan yang ditempuh selama ini memang menunjuk sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. la juga diharapkan untuk rendah hati. (Dhofier. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya masyarakat sekitar pondok pesantren. 1994 : 60) Sistem pendidikan pesantren akan selalu berkembang secara terus. kekayaan dan pendidikannya. Boleh jadi lembaga pondok pesantren mempunyai dasar-dasar idiologi keagamaan yang sama dengan pondok pesantren yang lain. misalnya ada sebuah pondok pesantren salaf dan pondok pesantren kholaf . tipe pendidikan di pesantren. Ia juga diharapkan dapat menunjukan kepemimpinannya. Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekuasaan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol keilmuan yaitu kopiah dan sorban. Perbedaan kurun waktu berdirinya sebuah pondok pesantren akan tampak jelas. menghormati semua orang. 1994 : 56 ) Masyarakat biasanya mengharapkan seseorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Tapi hal ini tidaklah bisa diartikan . ketika kita cermati tanda-tanda. (Dhofier. memberikan khutbah Jum'at dan menerima undangan perkawinan. menerus serta memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. karena banyak orang yang datang memintanya nasehat dan bimbingan dalam banyak hal.184 orang awam. Kiai mempunyai peran yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di pondok pesantren. begitu pula arah perkembangnnya. Semakin tinggi kitab-kitab yang diajarkan. ia akan semakin dikagumi. banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan waktu. (Sukamto. kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya. kematian dan lain-lain.

nahwu sharaf. Tidak mungkin suatu sistem pendidikan pondok pesantren itu bisa berjalan secara kontinyu dan lestari tanpa melalui proses peranan kiai dalam perkembangannya. sorogan dan ceramah yang demokratis serta diskusi. yang diajarkan dan dijelaskan oleh kiai dan para ustadznya masing-masing untuk menopang nilai-nilai agama. hal ini terbukti sudah banyak pondok pesantren yang sudah mendirikan sekolah formal.185 sebagai sikap isolatif. Aktifitas kiai dalam memberikan pengarahan dan pengembangan pendidikan di pesantren merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama yang merupakan sumber kehidupan. Fenomena seperti ini tidak terlepas dari pengalaman dan keilmuan yang dimiliki serta latar belakang pendidikan kiai tersebut. Sistem pengajaran yang di sampaikan dan dilakukan oleh kiai kepada para santrinya yaitu metode bandongan. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif terhadap pendidikan nasional. kiai sering kali memberikan kesempatan bertanya pada para santri. apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. Meskipun pesantren memiliki pola teknik penyelenggaraan yang berbeda. cara mengajar kepada para santrinya dan . Hal tersebut nyata difasilitasi oleh marhalah-marhalah yang dikembangkan oleh kiai. fiqih. supaya setiap marhalah mendapatkan pelajaran-pelajaran tauhid. tahfidz Al-Quran dan lain-lain. karena secara institusional dan melalui pranata yang khas. Kiai di Pondok Pesantren merangkup upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan pola dasar pendidikan yang tidak terlepas dari peranan kiai tersebut. karena hal ini sangat mempengaruhi kepemimpinan kiai. ia merupakan lembaga yang mendukung dan menyokong pencapaian tujuan pendidikan nasional itu. Membekali para santri dengan ilmu agama dan agar tidak merasa cukup dengan ilmu itu adalah merupakan aktivitas yang dilakukan oleh kiai kepada para santri dalam kesehariannya.

dalam memberikan pengarahan dijalankan secara langsung yang berupa perintah dan larangan agar santri bertindak sesuai dengan kaidah agama. Disamping itu hubungan santri dengan Kiai menimbulkan sifat keterbukaan diantaranya. Dan ternyata menampakkan pembangunan dilaksanakan. selain juga santri diharapkan untuk tidak berbuat dan mencegah tindakan yang dilarang agama sehingga santri menjadi pribadi yang baik. melalui forum ini selain santri belajar untuk memahami ilmu agama dalam hal ini terutama kitab-kitab klasik juga diajarkan bagaimana cara hasilnya. Aktivitas kiai sebagai seorang pemimpin di Pondok Pesantren.186 hubungannya dengan para santri yang penuh kasih sayang dan cukup dekat. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam rangka membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama. Hal ini merupakan perwujudan dan . Pondok santri Pesantren terus dan menerus sekolah berdatangan. sehingga hal ini dijadikan sarana kiai untuk mengetahui keadaan santri baik mengenai masalah pribadinya maupun masalah dalam kegiatan proses belajar mengajar dan kegiatan pesantren yang lainnya yang dijadikan sebagai sarana oleh kiai untuk memotivasi dan membangkitkan partisipasi aktif santri dalam kegiatan yang dilakukan pesantren. Selain itu kiai melakukan pengarahan melalui forum pengajian. Di pondok pesantren kiai selalu menanamkan rasa untuk memiliki Pondok Pesantren serta mempunyai semangat ruhul zihad (semangat jihad) yang sangat kuat terutama dalam masalah pendidikan. Peranan kiai yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan partisipasi santri didalam kegiatan pondok pesantren. sehingga santri taat dan patuh dalam menjalankan niali-nilai agama yang merupakan sumber kehidupannya. terus menerus mengamalkannya dan bagaimana memahami kenyataan hidup seharihari.

Yang membedakan adalah waktunya. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya . Dalam fungsi ini ia belajar melakukan peranan sebagai asimilator antar tata nilai yang telah ada. Kiai mempunyai peranan yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren. Dalam menunaikan fungsinya yang pertama. dan merupakan salah satu syarat tercapainya tujuan bersama. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya sebagai santri. ia mulai memperkenalkan kepada masyarakat di luar pesantren dalam bentuk macam-macam. minimal meladeni para orang tua santri dan tamu berkunjung ke pesantren. karena jumlah santri yang cukup banyak maka kiai dibantu oleh para ustadz dan para pengurus pesantren.. Tugas dan Kewajiban Santri Kiai mempunyai peranan untuk meningkatkan partisipasi aktif santri selain dalam hal pendidikan dan dalam masalah human relationnya juga dilakukan dalam upaya meningkatkan kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya terhadap pondok pesantren. sehingga santri taat dan patuh menjalani peraturanperaturan yang ditetapkan oleh pesantren. Kedudukan ustadz/staf pengajar memiliki dua fungsi pokok: sebagai latihan penumbuhan kemampuannya untuk menjadi kiai dikemudian hari. Untuk memberikan materi pelajaran pada para santri.187 pemenuhan hak-hak anak khususnya hak santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan di pondok pesantren secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia. dan sebagai pembantu kiai dalam mendidik para santri. Pada dasarnya setiap Pondok Pesantren mengalami perubahan dan perkembangan. Aktivitas ini dilaksanakan langsung oleh kiai baik yang berupa perintah maupun larangan yang sudah jelas tercantum di dalam tata tertib pesantren.

berwawasan luas dan berguna bagi masyarakat. mau mendengarkan nasihat dan masukan dari pengikut. didukung oleh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang dimiliki kiai serta ciri kepribadian yang melekat pada kiai. sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. pola pikir dan pola perilaku yang demokratis. Pondok pesantren pada saat ini tidak hanya sebagai tempat untuk mencetak calon kiai. demontrasi mengajar dan adanya evaluasi belajar serta adanya pembagian marhalah/tingkat dalam pengajian Kemudian berkaitan dengari ciri yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu ciri kepribadian pemimpin yang baik. terbuka terhadap inovasi . ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah yang didasari oleh adanya pengakuan kiai terhadap kemampuan yang dimiliki santri. menjadi pendengar yang baik. mandiri. keterampilan berkomunikasi secara efektif. ulama akan tetapi Pondok Pesantren menekankan pada kualitas santri agar menjadi manusia yang beriman dan berilmu tinggi.188 masyarakat sekitar pondok pesantren. ini terbukti dimana pesantren sudah mampu menyerap idiom-idiom baru dalam hal pendidikan. dan masalah yang berkembang. aktif. Proses kepemimpinan kiai yang berkaitan dengan sistem pendidikan pesantren. gaya yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan demokratis. Dalam kepemimpinan kiai di Pondok Pesantren harus terbuka terhadap inovasi-inovasi positif. hal ini dapat dilihat dimana kiai sangat menghargai potensi setiap individu santri dengan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaan pesantren baik fisik maupun non fisik. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan individu kiai dalam mengelola pesantren dimana kiai mempunyai kemampuan. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga terdapat adanya ruang koordinasi diantara pengurus dan pengelola pesantren. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sementara bahwa objektivitas dalam melihat situasi. disamping adanya sistem bandongan dan sorogan juga sudah diterapkannya model diskusi.

cubitan) atau dapat berupa hukuman sosial (dikucilkan. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah. alat sekolah. meskipun tidak semua orang mengganjar orang lain dan juga diganjar atas tindakannya.189 positif. kurang pantas. dan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaannya. dan lain-lain) atau dapat berupa pujian yang menyenangkan. dimarahi). tidak diterima oleh masyarakat akan mendapatkan hukuman. Dan sebaliknya. Pengganjaran mengandung dua pengertian yaitu penghargaan dan hukuman. Penghargaan tersebut bisa berupa barang (baju baru. pengertian dan perhatian kepada pengikut. akan tetapi karena didukung oleh faktor keturunan dan pola pikir kiai yang rasional. Hukuman dapat berupa hukuman badan (pukulan. tidak baik. Selain itu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman yang banyak sehingga kepatuhan santri tidak hanya karena kharisma yang dimilikinya. idealnya jika anak berbuat baik. dikurangi hak-haknya. mau mendengar masukan dari pengikut. Sehingga kiai di beberapa pondok pesantren yang diteliti sudah memakai gaya demokratis dalam kepemimpinannya. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman kiai 2. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. menyenangkan. Tingkah laku anak yang salah. ketegasan dalam dan disegani oleh pengikut/santrinya. kemampuan analitik.2 Pengganjaran (rewarding) Pemberian ganjaran merupakan imbalan yang diberikan kepada orang atas tindakannya. tercela. berprestasi akan mendapatkan penghargaan. . menghargai setiap potensi individu sehingga tercipta suasana dan interaksi yang dinamis antara santri dengan kiai. jeweran.

Dalam memberikan ganjaran. bahwa tidak banyak panti asuhan dan ponpes yang memberikan hadiah berupa barang ataupun hanya sekedar pujian. Pemberian hadiah atau pujian cenderung diberikan pada saat anak atau santri mendapatkan nilai bagus. Sedangkan penghargaan yang berupa hadiah dan pujian jarang dilakukan. Hal ini berarti bahwa sosialisasi yang digunakan lebih bersifat negatif atau represif. Pemberian hukuman lebih banyak kepada kemarahan. Begitupun dengan penghargaan. ustadz/ustadzah akan memberikan hukuman jika anak dan santri melakukan kesalahan meskipun itu bukan anaknya sendiri. pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik untuk anak asuh dan santrinya. ustadz/ustadzah.190 Berdasarkan hasil penelitian tidak semua pengasuh di panti asuhan maupun kyai. Dari hasil penelitian pada umumnya pengasuh dan kyai. ustadz/ustadzah yang tidak atau jarang memberikan hadiah dan pujian. Pengasuh maupun kyai. . ustadz/ustadzah di pondok pesantren melakukan pengganjaran terhadap anak dan santri atas tindakannya. Dengan hukuman tersebut diharapkan anak dan santri tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan anak dan santri mengerti bagaimana yang seharusnya. bukan pada hukuman fisik. yang sering dilakukan adalah dalam bentuk hukuman. yang berbeda adalah kadar pemberian hukumannya ada yang biasa dan ada yang keras. Padahal hasil penelitian Grogan-Kaylor (2005) menunjukkan bahwa pemberian hukuman fisik bukan merupakan metode pendisiplinan anak yang baik karena mendorong anak untuk terlibat dalam perilaku antisosial lebih awal. Karena adanya alasan-alasan tertentu dari pengasuh maupun kyai. ustadz/ustadzah yang sering memberikan hadiah dan pujian maupun pengasuh maupun kyai. Dengan dimarahi dirasa anak sudah cukup mengerti.

scot jump Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Menghafal Al Quran Membersihkan kamar mandi Menulis sholawat atau istigfar Keterangan Penghargaan • Pujian • Hadiah • Pamardi Yoga • Misi Nusantara • Darul Hadlonah • YPBT 2 Pondok pesantren • Pujian • Hadiah • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga Sumber : Data Primer.191 Matrik 2 Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti asuhan Pengajaran Hukuman • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Diminta menghafal ayat Al Kitab Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up. ustadz/ustazah di pondok pesantren kepada santri/santriwati sering terjadi tindak kekerasan. Baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis. ustadz/ustazah di pondok pesantren . Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa pola pengajaran yang dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai. Jenis-jenis tindak kekerasan yang sering dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai.

menyiram air untuk membangunkan. menendang.3. 2004) yakni munculnya simtom depresi pada masa dewasa muda. menjewer. Terkadang anak sulit untuk mematuhi perintah orang tua.192 kepada santri/santriwati antara lain memarahi. 2006) menemukan bahwa semakin banyak dan bervariasi hukuman fisik yang dialami remaja. menyuruh berdiri di bawah matahari. tetapi perlakuan tersebut pasti akan terus membekas dalam diri si anak atau santri sehingga dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Gielen. & Lancaster. Dampak tersebut lebih nampak pada remaja laki-laki daripada remaja perempuan. Sementara penelitian yang lain (Mathurin. dan diminta menghafal Al Kitab kalau salah diberi hukuman. membentak. scot jump. menyuruh push up. membersihkan kamar mandi. Kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak seperti tindak kekerasan diatas dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan atau pondok pesantren serta dapat menggangu kondisi kejiwaan anak. bersikap tidak adil seperti pengurus merokok sedang santri tidak diperbolehkan merokok. memukul dengan tangan. Pembujukan bersifat merayu. Penelitian tentang pemberian hukuman fisik (corporal punishment) menemukan bahwa hukuman yang diterima pada masa anak-anak berpengaruh dalam jangka panjang (Turner & Muller. maka emosinya makin tidak stabil. perilakunya makin agresif/bermusuhan. . Meskipun sebagian besar anak dan santri menerima dengan ikhas perlakukan tersebut. 2. memukul dengan alat. mempengaruhi. agar anak mau menurut. mencukur gundul. maka diperlukan cara untuk membujuk agar anak mau menurut dengan kehendak pengasuh. dan secara psikologis sulit untuk menyesuaikan diri. Pembujukan Pembujukan adalah salah satu cara agar anak mau melakukan perintah maupun aturan tanpa harus merasa terpaksa.

Tujuan dari sistem pembujukan ini . Matriks berikut ini menunjukkan pola pembujukan di panti asuhan dan di pondok pesantren kepada anak/santri. ustadz/ustadzah kepada santrinya yaitu: nasehat dengan lembut.193 Dari hasil penelitian dapat diketahui pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuh dan kyai. Misalnya. dibujuk agar mau sekolah. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa metode pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuhnya maupun yang dilakukan oleh kyai. ustadz/ustadzah menempuh cara membujuk agar anak mau menurut dengan apa yang dianggap baik oleh pengasuh dan kyai. anak di panti asuhan dibujuk agar tetap kerasan tinggal dengan pengasuh untuk sementara waktu. Matriks 3 Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan Metode Pembujukan Keterangan • Pamardi Yoga • Misi Nusantara Darul Hadlonah YPBT • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga • Nasehat dengan lembut • Berdiskusi • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah 2 Pondok • Nasehat dengan lembut Pesantren • Berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah Sumber : Data Primer. menyapa saat bertemu dan bermusyawarah. ustadz/ustadzah. ustadz/ustadzah kepada santrinya dapat dijelaskan bahwa pengasuh dan kyai. berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak/santri. dibujuk agar anak mau makan pagi sebelum berangkat sekolah.

terutama yang termasuk kategori anak rentan atau kurang beruntung (anak terlantar). tetapi yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa apa yang dilakukannya (misal makan pagi. yang selanjutnya akan mendorong anak untuk merasakan dirinya berharga. bersekolah. diharapkan anak dorongan untuk melakukan aktivitas lebih bersifat internal atau muncul dari dalam diri anak sendiri. Bila ditinjau dari aspek psikologis. Karena hal ini dijamin oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. sebaiknya yang menjadi tujuan dari perlakuan pengasuh bukan menjadikan anak sebagai anak yang penurut. . tinggal di panti) adalah untuk kepentingan dirinya demi meraih masa depan yang labih baik. perlakuan yang lembut dapat membuat anak merasa dirinya dihargai. Namun perlu diperhatikan pula. sehingga pengasuh tidak perlu selalu harus membujuk anak. sedangkan melibatkan anak dalam memecahkan masalah berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam menemukan solusi. 3. meski bukan yang terbaik dalam melindungi dan memenuhi kesejahteraan anak. sistem pelayanan sosial berbasis lembaga seperti Panti Asuhan dan pondok pesantren dipandang sebagai solusi yang paling diandalkan. di kemudian hari anak dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki kompetensi sosial yang memadai untuk dapat menghadapi masalah dalam kehidupannya secara mandiri.194 adalah untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan atau di pondok pesantren. Dengan perlakuan tersebut. Dampak Pengasuhan anak berbasis lembaga Selama puluhan tahun. Dengan adanya kesadaran tersebut. Pelayanan sosial berbasis lembaga tidak selamanya buruk dan bahkan dalam situasi tertentu tetap diperlukan sebagai salah satu model pelayanan sosial bagi anak.

berempati. dan Settles (2008) menyatakan bahwa dampak negatif yang dapat timbul pada anak yang dibesarkan di lembaga antara lain kompetensi sosial yang kurang yang mewujud dalam kurangnya motivasi anak untuk unggul. pengasuh lebih berorientasi pada mencari uang. Smyke. Zeanah. Sebagai salah satu respons terhadap keadaan ini. maka ia kurang memiliki motivasi untuk mendorong perkembangan anak. yakni model kelembagaan (institutional atau residential care) dan model kemasyarakatan (community care). Secara garis besar. Akibatnya. pengasuhan anak memerlukan pelayanan sosial khusus biasanya dilakukan melalui dua model yang dibedakan. bahwa dampak negatif tersebut dapat timbul akibat kurangnya pemahaman pengasuh terhadap karakteristik anak maupun hak-hak anak yang perlu dipenuhi agar perkembangan anak optimal. Lebih lanjut diungkapkan oleh Zeanah. Kita tahu bahwa lembaga pelayanan . dan Settles (2008). Selain itu.195 Penelitian ini memberi pesan jelas bahwa bentuk-bentuk pengasuhan anak di dalam lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren sering menimbulkan beberapa dampak negatif terhadap perkembangan anak dan hak-hak anak. dan menjalin relasi prososial dengan teman sebaya. Dapat pula terjadi anak mengalami gangguan dalam regulasi emosi dan relasi sosial yang kurang sebagai akibat dari pembatasan untuk bergaul dengan orang-orang dari luar lingkungan lembaga. Jumlah pengasuh yang hanya beberapa orang dituntut oleh kondisi untuk melakukan pengasuhan terhadap jumlah anak yang terlampau banyak. Smyke. melakukan imitasi. rasio jumlah pengasuh dan anak yang diasuh belum seimbang. anak kurang mendapatkan perhatian dan stimulasi yang memadai terkait dengan pemenuhan kebutuhan pribadinya yang unik dan cenderung diperlakukan sama oleh pengasuh. kita menyaksikan adanya peningkatan perhatian terhadap pendekatanpendekatan alternatif berbasis masyarakat dalam memberikan perlindungan dan pengasuhan terhadap anak. Apalagi bila dalam bekerja.

baik terhadap anak laki-laki maupun perempuan. Namun pada umumnya sebuah pelayanan lembaga/panti menampung sejumlah besar anak-anak yang berada pada sebuah setting ”tiruan” yang secara jelas memisahkan mereka bukan saja dari keluarga inti (nuclear family) dan keluarga besarnya (extented family). sejumlah kelemahan senantiasa menyertai model ini antara lain berupa pelanggaran serius hak-hak anak. Bukti-bukti penelitian menyaksikan bahwa dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga terutama sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak usia di bawah 5 atau 6 tahun. Akibat-akibat jangka panjang dari keadaan ini terhadap perkembangan anak dapat menjadi serius. melainkan pula dari komunitas asal mereka dan dari masyarakat setempat dimana lembaga itu berada. Namun. Penelitian mengenai pengasuhan anak berbasis lembaga secara konsisten menunjukkan bahwa model tersebut mengandung beberapa dampak negatif (Tolfree. Pada beberapa kasus. kelemahan model pengasuhan anak berbasis lembaga juga berkaitan dengan pembiayaan dan keberlanjutan pelayanan. Artinya. Dampak buruk tersebut tergantung pada karakteristik kepribadian dan ciri-ciri individu. kekerasan seksual (sexual abuse). serta proses pembelajaran dan penerapan disiplin yang menyimpang dan terlalu keras. 2003). Selain isu-isu di atas. Usia merupakan variabel yang penting. Namun. tampaknya tidak terlalu ditentukan oleh perbedaan gender. perawatan kesehatan dan pemberian nutrisi yang buruk. Pelayanan lembaga seringkali lebih mahal dalam memenuhi kebutuhan anak daripada memenuhi kebutuhan anak-anak yang hidup . Misalnya ”rumah anak” yang berupa kelompok kecil menyerupai keluarga yang berada di suatu komunitas lokal. kondisi fisik lembaga ditemukan cukup bagus dan bahkan standar pendidikan yang diberikan sangat baik. eksploitasi.196 anak seperti residential care yang dilakukan di dalam masyarakat. dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga samasama membawa dampak negatif.

Pusat-pusat pengasuhan anak berbasis lembaga.197 dalam keluarganya atau dalam sebuah pengasuhan berbasis keluarga dalam masyarakat (family-based care in the community). Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga dapat dilihat dalam tabel 5.66: . terukur dan menarik banyak lembaga donor. Namun demikian. karena sistem pelayanannya jelas. seringkali menjadi magnet yang menarik sumberdaya dalam jumlah besar. model pelayanan sosial berbasis lembaga tidak sanggup merespons perkembangan masalah dan kebutuhan akan pelayanan di masa depan yang cenderung semakin meningkat secara cepat.

ketrampilan motorik dan sosial anak Kemampuan anak terhambat akibat kurangnya pengalaman. anak kehilangan jaringan dukungan di masa depan Kehilangan kesempatan untuk berelasi dan terikat dengan figur orang tua. rasa memiliki masyarakat. 6. cinta dan pemahaman. pengetahuand an ketrampilan beradaptasi dengan orang dewasa 2. menjaga identitas dirinya. Karakteristik yang berhubungan dengan sistem kelembagaan Lembaga cenderung memisahkan anak yang mengakibatkan munculnya diskriminasi dengan stigma Penempatan anak pada sebuah lembaga seringkali berdasarkan keinginan keluarga. perawatan dan afeksi secara individual karena lembaga cenderung memperlakukan anak secara seragam Banyak lembaga tidak memberikan stimulasi dan kegiatan yang berguna bagi anak Anak yang tumbuh di lembaga cenderung kehilangan kesempatan untuk mempelajari peranan orang dewasa dalam kebudayaan tertentu Relevansi dengan prinsip dan hak-hak anak Prinsip non diskriminasi Dampak terhadap perkembangan anak Stigma dan diskriminasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan identitas dan kepercayaan diri anak Penempatan dalam lembaga sering dipersepsi anak sebagai bentuk penolakan keluarga. bermain dan rekreasi sesuai dengan usia anak Anak harus disiapkan untuk dapat hidup mandiri di masyarakat 4. kontak dengan orang tua dan anggota keluarga besar lainnya terus memburuk Kurangnya perhatian. dan reunifikasi keluarga Hak untuk tumbuh dalam suasana bahagia.198 Tabel 5. Akibatnya. . anak merasa dibuang dan kehilangan kepercayaan diri Kehilangan identitas personal dan keluarga. khususnya pada masa perkembangan awal anak Ketiadaan stimulasi menghambat perkembangan intelektual. Hak untuk memelihara kontak dengan orang tua secara reguler. mengekspresikan pendapat Hak memperoleh kesenangan. bukan berdasarkan keinginan anak Meskipun anak masih memiliki kedua orang tua. Prinsip kepentingan terbaik anak (the child’s best interests) 3. 5.66 Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga No 1.

termasuk akibat konflik bersenjata Hak memperoleh bimbingan yang memungkinkan anak dapat melaksanakan tanggungjawabnya di masyarakat Menghambat keragaman relasi dengan temans ebaya dan kehilangan “normal” keluarga Kekerasan terhadap anak sangat merusak kehidupan dan perkembangan anak dalam jangka panjang Anak mengalami perasaan terpisah. Lembaga seringkali kurang memberi kesempatan pada anak untuk bergaul dengan anak-anak lain di luar lembaga Beragam kekerasan terhadap anak sering terjadi selama bertahun-tahun tanpa terungkap oleh dunia luar Lembaga cenderung gagal merespon secara adekuat kebutuhan psikologis anak Anak-anak yang hidup di lembaga sering kali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar lembaga. penelantaran dan eksploitasi Hak memperoleh perawatan rehabilitasi. Banyak yang berakhir di penjara dan lembaga perawatan mental Hak untuk memperoleh kebebasan berteman dan berkumpul dengan anak lain Hak memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan. Sumber: Olah Data. 2009 . kehilangan dan ketakutan Ketergantungan akibat kurangnya kesempatan untuk berfikir dan mampu memecahkan masalahnya sendiri. 10. 9. Lemahnya ketrampilan hidup dan kemandirian anak 8.199 7.

Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. Terdapat beberapa situasi dimana pengasuhan anak perlu dilakukan di dalam lembaga. d. anak-anak yang terlantar mereka umumnya memerlukan perawatan lembaga sebelum berintegrasi kembali dengan kehidupan normal di masyarakat. Sebagai contoh. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. . Dalam konteks ini. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. perlu penyiapan keluarga dan masyarakat sebelum menerima kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam pembunuhan dan perusakan. Program-program yang bersifat kelompok diperlukan. Selain itu. pelayanan sosial di dalam lembaga dipandang tepat sebagai sarana penyesuaian diri sementara bagi anak-anak. Karenanya. c.200 Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. penyesuaian psikologis dan dukungan personal bagi anak-anak sebagai persiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. hak-hak anak dan perkembangan anak. seperti : a. b. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. termasuk pendidikan.

pada dasarnya anakanak tidak mau dipisahkan dari kehidupan keluarganya. baik pada staf maupun anak-anak untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan masyarakat. Karena. pengasuhan lembaga juga seringkali menimbulkan ketergantungan dan kesulitan.201 Namun demikian. penerapan pengasuhan anak berbasis lembaga perlu dilakukan secara terencana dan cermat. . Selain relatif lebih mahal dan kapasitas daya tampungnya terbatas.

tidak selamanya anak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dalam lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh dan kembang anak. 3. dijaga. 4. dan dipelihara. Fakta di lapangan. Peraturan tersebut mencerminkan bahwa dalam diri setiap anak sudah melekat harkat dan martabat sebagai seorang manusia yang harus dijunjung tinggi. lari mengelilingi ponpes. scot jump. Namun. 2. Mayoritas anak-anak ditempatkan di panti asuhan dan ponpes oleh keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi dengan tujuan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan. melainkan hanya menyediakan akses . mayoritas panti asuhan dan ponpes tidak memberikan 'pengasuhan' sama sekali. Seperti misalnya pemberian hukuman push up. KESIMPULAN 1. Keluarga sebagai lembaga pengasuhan terbaik bagi anak tidak selamanya selalu memberikan kehidupan yang nyaman bagi anak. pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren tidak selalu sama bahkan tidak memberikan kenyamanan bagi anak karena sangat rentan dengan terjadinya kekerasan. Berdasarkan hasil penelitian. anak membutuhkan lembaga pengasuhan alternatif salah satunya melalui panti asuhan dan pondok pesantren. Meskipun sebagian besar anak menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut tetapi perlakuan tersebut akan terus membekas dalam diri si anak yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Hak anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau Convention on the Rights of Child (CRC) yang disetujui oleh Majelis Umum PBB tanggal 20 November 1989 dan telah terbitnya Undangundang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.202 BAB VI PENUTUP A. maupun membersihkan kamar mandi dalam jangka waktu tertentu. Untuk itu.

hal ini tertera dalam pendekatan pengasuhan. Sopan santun dapat ditunjukkan dengan dua cara. mengingatkan dan menyuruh juga merupakan metode pengajaran. melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sehingga panti asuhan membuat peraturan yang cukup ketat dan hukuman fisik dan pelecehan banyak ditemukan. maka bahasa yang dianggap baik adalah bahasa Jawa krama halus.203 pendidikan. Karena hidup di Jawa. Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. yaitu melalui tingkah laku dan bahasa yang digunakan. Hal ini mengindikasikan rendahnya standard minimum pengasuhan sehingga sangat sulit untuk menghasilkan pengasuhan yang professional dan berkualitas. tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren mempunyai aturan yang ketat dalam . Adapun sifat-sifatnya adalah : 1. Sopan santun . Secara eksplisit. Pengajaran (Instructing) Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan juga dengan memberikan arahan. dan sumberdaya yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes. pelayanan yang diberikan. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. 5. Penelitian ini menemukan bahwa 'pengasuhan' dimengerti dalam konteks merespon masalah dan cenderung berhubungan dengan isu-isu disiplin. Meskipun demikian. Sopan santun menyangkut pada norma yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. b. Kedisiplinan Kedisiplinan menyangkut adanya aturan yang mengikat panti asuhan dan pondok pesantren. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas pada dasarnya dalam pola pengasuhan anak dan proses pendidikan terdapat proses belajar yang terus menerus. Hal-hal yang diajarkan selama masa pengasuhan tersebut antara lain : a. Selain itu.

masing-masing pengasuh dan kyai. disiplin belajar. penghargaan dan hukuman. REKOMENDASI Penelitian ini menyusun sejumlah rekomendasi untuk menanggapi kebutuhan mencegah penempatan anak di panti asuhan dan pondok pesantren yang tidak perlu sehingga kualitas pelayanan dan pengasuhan yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes menjadi lebih baik. tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren B. Kedisiplinan yang diterapkan antara lain disiplin sepulang sekolah. Selain itu. Penanaman nilai-nilai keagama Bahwa setiap anak diharapkan dapat belajar ilmu agama agar beriman dan bertakwa. disiplin membantu pengasuh c. Pengasuh menghindari hukuman yang berupa kekerasan fisik. yaitu . Pengganjaran (rewarding) Pengganjaran meliputi dua hal. Penghargaan berupa pemberian hadiah berupa materi menunggu ketika ada uang lebih. 2. Sedangkan hukuman yang sering diberikan adalah dalam bentuk anak dimarahi.204 mendidik anak maupun santrinya. Pekerjaan sehari-hari Anak diajarkan untuk bisa mandiri diajarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan umur dan kemampuannya. ustadz/ustadzah serta menaati peraturan. Dalam hal penghargaan ini. disiplin tidur. berbuat baik dan saling berbagi diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren. yaitu: . ustadz/ustadzah mempunyai alasan sendiri-sendiri untuk tidak memberikan penghargaan kepada anak dan santri. ustadz/ustadzah. d. 3. Sedangkan hukuman lebih ditekankan agar tidak atau jarang dilakukan oleh pengasuh dan kyai. Pembujukan (inciting) Pembujukan ini dilakukan agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai.

c. 3. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. seperti : a. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. .205 1. b. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. 2. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dengan membuat pola pengasuhan yang dapat memberikan kenyamanan bagi tumbuh kembang anak. Adanya peraturan yang jelas tentang standar pendirian panti asuhan dan ponpes mengingat tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren terdaftar sehingga akses untuk memberikan pengawasan tidak maksimal dilakukan. Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. d. Pembuatan sistem pengumpulan data yang dapat menunjukkan situasi dan kondisi anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren 4. Karenanya. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. hak-hak anak dan perkembangan anak.

Untuk itu hendaknya diadakan suatu training tentang manajemen organisasi agar pondok pesantren mempunyai SDM yang handal dan profesional. sehingga setelah kembali ke pondok pesantren pengalaman dan pengetahuannya tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan kualitas pendidikan pondok pesantren. hendaknya pondok pesantren menjalin hubungan dengan departemen yang terkait (Departemen Agama) agar kurikulum bisa sejajar dengan lembaga pendidikan agama lain. d. misalnya kerjasama dengan lembaga pendidikan komputer. Tujuannya agar santri benar-benar terbuka cakrawala pikirannya.206 5. misalnya dengan diadakannya dialog (open talk) yang terjadwal antara kiai dengan santri. Dalam menghadapi modernisasi dan diperlukan tenaga ahli dan SDM untuk mengelola suatu organisasi dengan baik (skill management). Membuka jaringan kerjasama dengan lembaga pendidikan di luar negeri yang bisa memberikan beasiswa kepada santri yang berprestasi untuk belajar disana. Tujuannya agar santri mempunyai keahlian di bidang komputer dan supaya tidak gagap teknologi (gaptek). Dalam memberikan materi dan sistem pendidikan pesantren/kurikulum pondok pesantren. misalnya ke Universitas Al Azhar di Kairo. Untuk Pondok Pesantren a. Diadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan keterampilan. Tujuannya adalah bisa tercipta kominikasi timbal balik antara kiai mengungkapkan berbagai masalah. Diadakan studi banding ke pondok pesantren lain agar wawasan para santri dan ustadz bertambah. c. b. Untuk Kiai Searah dengan arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini hendaknya kiai lebih meningkatkan dan mengefektifkan pengawasan terhadap para santri. sehingga santri bisa belajar komputer di pesantren. dengan para santri untuk . 6.

Dengan demikian ustadz/pengurus akan lebih memahami gejolak-gejolak emosi. berwawasan luas dan berakhlak mulia. narkoba atau tindakan menyimpang lainnya. minuman keras. 8. Bisa menjaga diri dari pergaulan bebas. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan para santri dalam menerima dan mengamalkan pelajaran yang telah diberikan serta melaksanakan aturan-aturan. Untuk Ustadz/pengurus Disamping memberikan materi pelajaran pada santri secara bersamasama (klasikal) dan menjalankan tugas kepengurusan hendaknya ustadz juga mengadakan pendekatan secara personal dengan para santri. penyampaian gagasan. Hendaknya santri dengan bekal ilmu agama yang dimiliki mempunyai kemampuan dan kepekaan didalam memfilter pengaruh tersebut agar tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Untuk Santri a. yang telah ditetapkan oleh pesantren. disiplin. ide-ide dari para santri terhadap sistem yang ada di pondok pesantren maupun yang ada di luar pesantren secara umum. . berilmu tinggi. Selain itu dengan adanya pendekatan personal pada santri maka ustadz dan pengurus pesantren akan mengetahui latar belakang dari masing-masing santri. keinginan-keinginan juga pandangan santri terhadap orang lain dan terhadap perkembangan jaman pada saat ini. b. Hendaknya santri lebih memperhatikan dan menjalankan tata tertib di pesantren agar tujuan santri ke pondok pesantren bisa tercapai dalam rangka mendukung pembentukan sikap mental santri yang tangguh. saran atau kritikan.207 7.

M. Balai Pustaka. Hukum Anak Indonesia. 1988. BPFE. Hurlock. J. 5 Tahun XXIV Mei 1995. A. Jakarta. 1990.. 2006. 2003. Pedoman Depsos RI. Erlangga. 306-324. Child Maltreatment. Corporal punishment and personality traits in the children of St. Virgin Islands. Ginandjar. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup. Mathurin. Prinsip Pendidikan Pesantren. Jakarta. U. Pergeseran Otoritas Kepemimpinan Politik kyai. 10. Croix.S. Penertbit Erlangga. N. P3M. Perkembangan Anak. Elizabeth. Muhammad Asfar. 1991. Zamakhsyari. Psikologi Suatu Pengantar. Mastuhu. 2005. 1979. Poerwadarminta. 1986. Prisma. Prinst.208 DAFTAR PUSTAKA BKPA. Jakarta. Chester L. Pedoman Panti Asuhan. Grogan-Kaylor. Bandung. Sosiologi. Corporal punishment and the growth trajectory of children’s antisocial behavior. 283-292. Mahmud Dimyati. Kamus Umum Bahasa Indonesia. . PT Pustaka Cidesindo.. Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak Melalui PSAA. CrossCultural Research. Jakarta. Jakarta. 1999. Gielen. 1984. Dhofier. 1996. Kartasasmita. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. 1990. No. Horton. Badan Kesejahteraan Sosial Nasional. U. Jakarta. Sosiologi Suatu Pengantar. & Lancaster. P. Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. Yogyakarta. Darwan. Paul B. Soekanto. PT Raja Grafindo Persada. dan Hunt. Soerjono. Citra Aditya Bakti. Jakarta. Jakarta. 40. Jakarta. 1982. LP3ES. 2000.

UU RI No. D. UNS Press. 1989. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. H. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta.A. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Pemilu dan Partai Politik.B.. K. Persamaan Negara. Gajah Mada Univ Press. Jakarta. 25.. 2004. C.209 Suedy. Hermawan. Grasindo. Turner. A. Jakarta. Jakarta. & Phillips. 2000. Vembriarto. 1990. Smyke. L. Sunarti. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Malden: Blackwell Publishing. Departemen P dan K. 2008. Blackwell Handbook of Early Childhood Development. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja. dkk. (Eds). Sutopo. Surakarta. Sukamto. 2002. & Settles. Journal of Family Issues. Suroto. 1999. Zeanah. T. H. P. Sosiologi Pendidikan.A & Muller. Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren. Metodologi Penelitian Kualitatif. Orphanages as a developmental context for early chilhood. P3M. Kyai dan Demokrasi Suatu Potret Pandangan Tentang Pluralisme. dkk. Jakarta. D. . Departemen P dan K. Long-term effects of child corporal punishment on depressive symptoms in young adults: potential moderators and mediators. 1986. Ahmad dan Sulistyo. UU No. Yogyakarta. Jakarta. 761-782. 1993. In McCartney. H. Supanto. LP3ES. Toleransi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->