1

Final Report

Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Dan Pondok Pesantren Kota Solo Dan Kabupaten Klaten

Penelitian ini Terselenggara Atas Kerjasama:

Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM UNS dengan UNICEF

2

Tahun 2009
ABSTRAKSI
Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten, 2009, Kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM, UNS Pola pengasuhan anak tidak selamanya terjadi di dalam sebuah lingkungan keluarga. Lembaga pengganti fungsi orang tua (keluarga) yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Selain itu, salah satu tujuan pengasuhan lainnya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan yang dipilih para orang tua salah satunya melalui pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Oleh karena itu pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren sangat menarik untuk diteliti. Karena di dalam perkembangannya, ada berbagai persoalan yang menyangkut pemenuhan hak anak melalui 3 konsep pengasuhan anak yaitu pengajaran, pengganjaran (penghargaan dan hukuman) serta pembujukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi mengenai pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Untuk memperkuat data kuantitatif, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara, FGD dan surat curhat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif sehingga mampu menggambarkan pola pengasuhan yang terjadi. Adapun hasil penelitian pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren dapat digambarkan melalui proses pengajaran, pengganjaran dan pembujukan. Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan memberikan arahan. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Selain itu, juga melalui metode mengingatkan dan menyuruh. Pengganjaran meliputi dua hal, yaitu penghargaan dan hukuman. Penghargaan berupa pemberian hadiah maupun memberikan pujian. Sedangkan hukuman dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi jika dilihat dari tuntutan pemenuhan hak anak maka terlihat adanya bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan. Pembujukan dilakukan dengan memberikan nasihat, diskusi apabila ada masalah dan pendekatan secara personal agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai, ustadz/ustadzah serta menaati peraturan, tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren. Dari hasil penelitian tersebut, maka hal yang penting adalah menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak dalam memberlakukan model pola pengasuhan yang memperhatikan pemenuhan kebutuhan hak anak. Karena pemenuhan hak anak dilindungi oleh undang-undang sehingga menjadi lembaga yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan kembang anak.

3

DAFTAR ISI Halaman i ii iii v viii 1 11 11 12 12 13 15 18 24 32 32 32 33 33 33 34 35 35 45 52 54 58 66 70 82 88 91 91 107 123 123 148 162 165 167 186

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... ABSTRAKSI ........................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................ DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR MATRIK ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................. B. Perumusan Masalah ......................................................................... C. Tujuan Penelitian ............................................................................. D. Manfaat Penelitian ........................................................................... E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Sebagai Warga Negara .......................................................... B. Panti Asuhan ................................................................................... C. Pondok Pesantren ............................................................................. D. Pola Pengasuhan ............................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian .................................................................. B. Lokasi Penelitian dan Partisipan ...................................................... C. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. D. Teknik Pengambilan Partisipan ....................................................... E. Teknik Analisis Data ........................................................................ F. Perencanaan Penelitian ..................................................................... G. Organisasi Penelitian ....................................................................... BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .............. 1. Keadaan Umum Kota Surakarta ............................................... 2. Keadaan Umum Kabupaten Klaten .......................................... B. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .... 1. Panti Asuhan di Kota Surakarta .......................................... 2. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ...................................... C. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten ........................................................................................ 1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta ................................... 2. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ............................... BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar .................................................................................. B. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan .................................... 1. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kota Surakarta .. 2. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ................................................................................. C. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren ............................. 1. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kota Surakarta ............................................................................. 2. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ................................................................................. D. Pembahasan 1. Karakteristik Sosial Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 2. Pola Pengasuhan di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 3. Dampak Pengasuhan Anak Berbasis Lembaga ................... PENUTUP

BAB VI

4

A. Kesimpulan ............................................................................... B. Rekomendasi ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN FOTO

194 196 200 2002

16.15. Tabel 4.6.11. Tabel 5. RT. tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) .2.12. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.14.8.4.19. Tabel 5.1. Tabel 5.7.13. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5.7.17. dan Kepala Keluarga Di Surakarta Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. Tabel 4.17. Tabel 4.5.15.4. Tabel 4.9. Tabel 4.10. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4.11. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 5.3. Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) 44 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara 47 48 49 50 52 53 68 69 91 92 93 97 97 98 99 99 100 101 101 102 103 104 104 105 106 Tabel 4.13. Tabel 4.16. Tabel 4.6.10. Tabel 5.5 DAFTAR TABEL Halaman 38 39 40 40 41 41 42 42 43 43 Tabel 4. Tabel 4.3.5. Tabel 5.1.12.8.14. Banyaknya Kelurahan.18. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 4.2. Tabel 4.9. RW.

Tabel 5.47.27.56.59. Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 146 150 151 152 152 153 154 155 155 156 157 138 140 142 143 144 144 131 132 133 135 137 114 117 118 119 120 120 121 123 124 125 130 106 108 108 109 110 111 112 112 113 .21.23. Tabel 5. Tabel 5.31. Tabel 5.37. Tabel 5.53.41. Tabel 5. Tabel 5.29. Tabel 5. Tabel 5.45. Tabel 5.46. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.19.6 Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.54.38.34.48.24.55. Tabel 5.42. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.39.30.22. Tabel 5. Tabel 5.44.43. Tabel 5. Tabel 5.58.25. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.26.57.18. Tabel 5.37. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.32. Tabel 5.49.36. Tabel 5. Tabel 5.20. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.28.51.33.52.50.35. Tabel 5.40. Tabel 5.

62.61.66. Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 161 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga 162 165 166 166 167 190 .63.60. Tabel 5.7 158 Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.65. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.64.

8 DAFTAR MATRIK Matrik 1 Matrik 2 Matrik 3 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri 174 183 185 .

dan keseimbangan diantara kedua kebutuhan tersebut. Pemenuhan papan. Namun. tetapi juga terpenuhinya keselarasan. Latar Belakang Masalah Salah satu arah pembangunan jangka panjang disebutkan dalam GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dalam masyarakat Indonesia agar makin maju. rasa keadilan dan lain sebagainya. Tidak akan ada artinya pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah tanpa mengedepankan keselarasan. rasa tenteram dan rasa keadilan. menyebutkan bahwa . Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam segala aspeknya pada akhirnya akan mendorong proses pembangunan di segala bidang. keserasian. Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata. terpenuhinya pendidikan. rasa tenteram. begitu juga sebaliknya. Ginandjar Kartasasmita dalam bukunya Pembangunan Untuk Rakyat Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya merupakan hakeket pembangunan yang ingin dicapai aleh bangsa Indonesia.9 BAB I PENDAHULUAN A. keserasian dan keseimbangan diantara keduanya. sandang. mandiri dan sejahtera berdasarkan Pancasila. pangan dan lain sebagainya dan juga untuk memenuhi kebutuhan batiniah seperti kebebasan beragama. rasa aman. Hal ini diartikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan papan. sejarah menunjukkan tidak senantiasa demikian kenyataannya. Pembangunan pada umumnva diarahkan untuk memperbaiki keadaan. sandang. sehingga dapat dikatakan sebagai perbuatan kebaikan. pangan tidak akan terasa tanpa diiringi adanya pemenuhan terhadap rasa aman. serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis.

Oleh karena itu. Pembinaan sumber daya manusia atau Human Resources Development adalah usaha untuk memperbesar kemampuan berproduksi seseorang baik dalam pekerjaan. Pembangunan yang demikian menghasilkan manusia yang materialistis. apabila pembangunan hanya menguntungkan sebagian orang. jika ditujukan untuk kepentingan pembangunan suatu kelompok dengan mengorbankan yang lain. Pembangunan yang dijalankan dengan tidak memperhatikan nilai kemanusiaan pada umumnya. Pertama. baik bagi dirinya sendiri atau orang lain.10 pembangunan dapat merupakan suatu hal yang tidak baik. Keempat. atau tidak halal. yang segala perbuatannya hanyalah untuk kepuasan didunia saja. sumber daya manusia perlu dibina sedemikian rupa menjadi sumber daya yang berperan aktif dalam setiap pembangunan. Kelima. . pangan. rendahnya tingkat kesehatan. tidak baik. kekurangan sandang. tetapi tidak bermanfaat bagi yang lain. Diantara ketiga faktor ini sumber daya manusia adalah faktor terpenting. Berbagai masalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan yakni masalah kependudukan seperti kekurangan tempat tinggal. terbatasnya sarana dan prasarana. Kedua. 1996: 24) Tidak dapat dipungkiri bangsa Indonesia sebagai negara yang berkembang masih menghadapi berbagai masalah dalam pelaksanaan pembangunan. Pembangunan merupakan proses kegiatan yang terus-menerus yang bertujuan untuk mencapai kearah keadilan yang lebih baik. Pembangunan yang merusak alam dan lingkungan. apabila hal-hal berikut yang terjadi.(Kartasasmita. pembangunan yang hanya mengejar kebutuhan lahiriah dan mengabaikan sisi rohaniah manusia. Proses ini membutuhkan modal baik dana. terbatasnya lapangan pekerjaan. apabila pembangunan dijalankan dengan menggunakan cara yang tidak benar. Ketiga. seni dan lain-lain kegiatan yang dapat memperbaiki. Sumber daya manusia ini harus benar-benar dapat diandalkan sebagai modal pembangunan. sebagai mahkluk yang utuh. teknologi maupun manusia. (Soeroto. 1986:3). Keenam. yang mana kesemua masalah tersebut memerlukan penanganan yang serius dengan suatu Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat.

Untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional perlu ditingkatkan pembinaan dan pengembangan generasi muda serta diarahkan menjadi kader penerus bangsa dan manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila dilakukan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME. memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi. ketrampilan dan semangat kerja keras. Sebagai pewaris kemerdekaan pemuda bertugas mengisi kemerdekaan. Mereka adalah penerus perjuangan bangsa yang akan menerima estafet kepemimpinan di kelak kemudian hari. (Murtiningsih. menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. kedamaian dan keadilan serta mengesampingkan perilaku yang menindas serta diskriminatif. memperkokoh kepribadian dan disiplin. Artinya. mengembangkan kemandirian. mental. sehingga manusia Indonesia tidak menjadi beban negara tetapi menjadi pendukung yang dapat diarahkan dalam rangka pencapaian arah pembangunun. 2004:6-7) Anak yang merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Untuk itu pembinaan dan pengembangan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu antara keluarga. Agar anak mampu . rasa. Pada hakekatnya dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda tercakup didalamnya adalah pendidikan baik formal maupun informal. baik potensi intelektual atau kognitif.11 Dengan demikian ada peningkatan kemampuan berproduksi bagi setiap orang. Pendidikan adalah sebuah proses penyempurnaan semua individu sebagai peserta didik. ilmu. dimana secara alamiah anak tumbuh menjadi besar dan dewasa. masyarakat dan pemerintah. karsa maupun kesadaran martabat kemanusiaannya. memikul tanggung jawab masa depan terhadap maju mundurnya suatu negara. memperluas wawasan ke masa depan. pendidikan selalu bertujuan untuk membina kepribadian manusia menjadi lebih ‘manusiawi’ dan mengembangkan serta mengutuhkan potensi kemanusiaannya yang masih terpendam dengan mengedepankan suasana yang penuh cinta-kasih.

Pemenuhan hakhak anak agar mereka dapat hidup. perumahan. terlantar. perlindungan. berakhlak mulia. pengobatan. Seperti diketahui bahwa anak sebagai generasi muda adalah aset bangsa yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. maka kepadanya perlu mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar baik rohaniah. dan sejahtera. berarti tidak semua anak. Negara dan Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989 dan hal ini telah diimplementasikan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Akibatnya mereka menjadi tidak terpenuhi kebutuhan akan makan. jasmaniah maupun sosial. keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan sehingga melalaikan kewajibannya atau tiadanya salah satu atau kedua orang tua (tidak punya orang tua). Ataupun sebab lain yang dapat mengakibatkan mereka menjadi. berkembang. Hal ini terjadi seperti pada keluarga yang mengalami perpecahan. maka sudah semestinya anak harus dibiarkan tumbuh dan berkembang secara normal. tumbuh. Tetapi kenyataan yang ada di masyarakat tidak semua anak dapat terpenuhi kebutuhannya. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. Namun dilihat dari kenyataannya yang ada dengan masih tingginya jumlah anak terlantar. pakaian. kasih sayang dan pergaulan diantara mereka. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. menjalani kehidupan yang layak sebagai seorang anak yang seharusnya tumbuh wajar sesuai . pendidikan.12 melaksanakan tugas-tugas melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan dari generasi pendahulunya. Ada diantara mereka yang mengalami hambatan sehingga ia menjadi terlantar. Kondisi semacam tersebut di atas menjadi idaman/dambaan suatu bangsa yang ingin maju dan dinamis.

dikhawatirkan anak akan frustasi. Karena dalam usaha mencapai kesejahteraan anak yang lebih baik tidak mungkin diupayakan oleh mereka sendiri. pembinaan/asuhan yang intensif. pemerintah bertanggung jawab terhadap kondisi anak-anak terlantar. . Usaha kesejahteraan anak sebagai pembinaan tunas bangsa senantiasa dikedepankan oleh pemerintah. Sungguh sangat memprihatinkan apabila proses pembangunan yang telah menghasilkan manfaat. Hal ini seperti yang tersebut dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Pembinaan dan bimbingan terhadap anak-anak terlantar mutlak diperlukan agar terbentuk pribadi-pribadi yang utuh untuk terciptanya kualitas Sumber Daya Manusia seutuhnya. Sebagai negara yang berkeadilan sosial. mereka terhina dan akan berontak terhadap keadaan. terprogram dan berkesinambungan. dan seluruh masyarakat Indonesia.13 dengan dunianya. sehingga dapat berperan dalam pembangunan. Anak-anak terlantar merupakan masalah nasional yang perlu segera mendapat perhatian dengan pembinaan mental dan pengetahuannya agar nantinya potensi yang ada dalam dirinya dapat tergali dan termanfaatkan oleh proses pembangunan bangsa. Pembinaan terhadap anak terlantar telah dilaksanakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap kelangsungan bangsa. Ketika situasi keterlantaran anak yatim piatu dan anak dari keluarga bermasalah tersebut dibiarkan tanpa ada usaha penanggulangannya. Anak dapat menerima hak-haknya secara penuh dan dapat melaksanakan kewajibannya dengan didasari atas kesadaran dan tanggung jawab yang ia peroleh dari bimbingan. Adapun realisasinya diupayakan bersama antara negara. Kesempatan pemeliharaan hanya akan dapat dilaksanakan dan diperoleh apabila usaha kesejahteraan anak terjamin. namun pada prosesnya ternyata tidak bersikap ramah terhadap dunia anak-anak.

Dalam rangka pemenuhan hak anak kaitannya dalam memecahkan masalah keterlantaran anak maka diperlukan lembaga pengganti fungsi orang tua yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah dan salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan.14 Kelangsungan hidup. asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang. Adapun tujuan didirikannya PSAA adalah: . tumbuh kembang. organisasi maupun badan-badan”. yang menyatakan bahwa ”Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara. perlindungan dan partisipasi merupakan hak anak secara universal dan di Indonesia pengaturan hak anak secara tersurat ditegaskan melalui Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga pelayanan profesional yang bertanggung jawab memberikan pengasuhan dan pelayanan pengganti fungsi orang tua kepada anak terlantar (Buku Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak melalui Panti Sosial Asuhan Anak). Namun persoalannya tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugas tersebut. rohani maupun sosial. perawatan. baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. Anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya. Dan untuk pelaksanaan usaha kesejahteraan anak termuat pada Bab II Pasal 4 Ayat 1. Salah satu pasal yang didalamnya mencakup Hak Anak termuat pada BAB II pasal 2. Undang-undang ini menekankan. baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. yang menyatakan bahwa anak berhak atas kesejahteraan. bahwa orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak baik secara jasmani.

bahwa panti sosial tidak hanya bertujuan memberikan pelayanan. Terwujudnya hak atau kebutuhan anak yaitu kelangsungan hidup. b. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sistem pelayanan yang dilaksanakan dalam panti asuhan sangat kompleks. pemenuhan kebutuhan fisik semata namun juga berfungsi sebagai tempat kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak-anak terlantar yang diharapkan nantinya mereka dapat hidup secara mandiri dan mampu bersaing dengan anak-anak lain yang notabene masih mempunyai orang tua serta berkecukupan. Sesuai dengan tujuan panti asuhan sebagai lembaga kesejahteraan sosial. Terwujudnya jaringan kerja dan sistem informasi pelayanan kesejahteraan anak secara berkelanjutan baik secara horisontal maupun vertikal. Unsur-unsur pelayanan yang ada dalam panti dalam pelaksanaan asuhan merupakan satu kesatuan yang utuh. 2. d. karena di dalam prakteknya terdapat keterikatan-keterikatan berbagai unsur pelayanan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan tekhnologi yang ada memunculkan suatu permasalahan bagaimana membina dan . Meningkatnya kualitas kehidupan sehari-hari di lingkungan panti yang memungkinkan anak berintegrasi dengan masyarakat secara serasi dan harmonis.15 1. c. Dengan demikian pelayanan bagi anak terlantar dalam panti sosial asuhan merupakan suatu sistem. Meningkatnya kepedulian masyarakat sebagai relawan sosial. 3. sehingga tidak adanya satu unsur saja dapat mempengaruhi proses pelayanan. Terlaksananya manajemen kasus sebagai pendekatan pelayanan yang memungkinkan anak memperoleh pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keanekaragaman sumber. Terwujudnya kualitas pelayanan atas dasar standar profesional: a. perlindungan dan partisipasi. tumbuh kembang. Dikelola oleh tenaga pelaksana yang memenuhi standar profesi.

berakhak mulia. yakni meliputi: pendidikan. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati dan meladeni kehidupannya dalam segala hal. Di samping harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan oleh .16 mengembangkan potensi pribadi anak-anak terlantar sehingga nantinya diharapkan mereka mampu bersaing dan bertahan di dalam masyarakat. Melalui orang tua. memimpin dan dipimpin. orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak. Dalam masa pengasuhan. yang bersumber pada pengetahuan kebudayaan yang dimiliki orang tuanya. anak beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku dilingkungannya Mengasuh anak bukan hanya merawat atau mengawasi anak saja. sopan santun. melainkan lebih dari itu. lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. Di dalam pondok pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. membentuk latihan-latihan tanggung jawab. Oleh karena itu. Pada umumnya banyak anak yang dalam proses pembentukannya bukan hanya diasuh oleh orang tua (ayah-ibu) yang merupakan basis dalam proses pengasuhan melainkan juga oleh individuindividu lain dan atau lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang ada disekitarnya (Supanto dkk. mempunyai integritas pribadi yang utuh. Anak tumbuh dan berkembang dibawah asuhan dan perawatan orang tua. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Mengingat potensi atau kemampuan yang ada dalam pribadi anak-anak tersebut sangat besar untuk dapat dijadikan sebagai modal dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. berorganisasi. pengetahuan pergaulan dan sebagainya. . mandiri dan mempunyai kualitas intelektual. 1990: 1-2).

asrama. karena dianggap sebagai pemilik. asrama. pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap imam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan. (Sukamto. masjid. hanya terdiri atas kyai. yang secara berurutan unsur- . santri dan kitab kuning. seperti melakukan shalat berjamaah. Peranan kyai dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren. (Dhofier. Unsur-unsur pondok pesantren berkembang sangat variatif tatkala para kyai membuat kebijakan yang bersifat adaptasi terhadap kurikulum nasional dalam upaya memperbarui bidang pendidikan di pesantren. santri dan bangunan rumah kyai yang berfungsi sebagai tempat mengaji Al-Qur'an. Sedangkan Prasodjo mengemukakan bahwa pola-pola pondok pesantren terdiri dari lima pola.17 Dhofier menyatakan bahwa unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai. 1982: 44-60).” (Sukamto 1999: 2 ) Subkultur yang dibangun komunitas pesantren senantiasa berada dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. Unsur ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren.masjid. Sementara itu. yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu relatif panjang. unsur-unsur pondok pesantren sangat sederhana. Sistem sosial yang lebih besar cenderung menekan komunitas-komunitas kecil yang sesungguhnya masih dalam ruang lingkup pengaruhnya. 1999 : 1). santri dan kitab kuning bersifat subsider yang keberadaannya di bawah kontrol dan pengawasan kyai. Meskipun tradisi keagamaan pesantren dapat membangun sebuah subkultur. Sedangkan unsur-unsur lainnya . Pondok pesantren membentuk tradisi keagamaan yang bergerak dalam bingkai sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa: ”Unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri. Pada awalnya. tetapi pesantren sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok pesantren dengan lembaga pendidikan di luar pondok pesantren terletak pada unsur tersebut.

1997: 83).18 unsurnya berkembang dari sederhana hingga variatif. Secara garis besar. Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan. rumah kyai. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah umum tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya. pondok. tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. pondok. Tipe yang kedua adalah pesantren khalaf (modern). 1999: 4) Terdapat bermacam-macam tipe pendidikan pesantren yang masingmasing mengikuti kecenderungan yang berbeda-beda. atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP. madrasah. pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. tempat keterampilan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial keagamaan dan pendidikan. (Prasodjo. universitas. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kyai. rumah kyai. tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. (Sukamto. gedung perkantoran. pondok dan madrasah. pola IV terdiri dari masjid. lembaga pesantren bergerak secara dinamis dalam kurun waktu tertentu. Menurut Zamakhsyari Dhofier. rumah kyai. tempat ketrampilan. 1997: 87) Akan tetapi. Terjadinya akumulasi atas unsur tersebut membuat pondok pesantren tetap eksis dan berfungsi dalam arus perubahan sosial. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. pola III terdiri dari masjid. 1986: 104-109). Perkembangan pondok pesantren senantiasa melahirkan unsur-unsur baru tanpa harus menghilangkan unsur yang sudah terbentuk. SMU dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya: (Wahjoetomo. . pola V terdiri dari masjid. pondok. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). (Wahjoetomo. madrasah. pola II terdiri dari masjid. rumah kyai.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimanakah pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren di Kota Solo dan Kabupaten Klaten?” C. Meskipun begitu. Para santri pesantren khalaf diharapkan lebih mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern daripada alumni pesantren salaf. Oleh karena itu sangat menarik untuk mengambil penelitian tentang pola pengasuhan anak yang diselenggarakan di panti asuhan dan pondok pesantren yang memiliki karakteristik tertentu. Tujuan Penelitian 1. pesantren khalaf mengantongi satu nilai plus karena lebih lengkap materi pendidikannya yang meliputi pendidikan agama dan umum. tidak selamanya pendidikan di pondok pesantren dan panti asuhan itu salah. Mengidentifikasi pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak. . Perkembangan pondok pesantren dan panti asuhan di Indonesia saat ini cukup dinamis sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki masa depan anak di era globalisasi ini. Karena tidak semua lingkungan asrama memberikan kenyamanan dan keamanan seperti tinggal di rumah sendiri. B. Lokasi penelitian ini difokuskan di Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Berbagai kasus kekerasan anak yang terjadi selama ini juga ada dilakukan baik di pondok pesantren dan panti asuhan. Tetapi pilihan anak untuk masuk ke pondok pesantren dan panti asuhan pun menjadi sebuah pertanyaan besar karena tidak semua anak berminat untuk tumbuh dan berkembang di sebuah lingkungan asrama.19 Dibandingkan dengan pesantren salaf.

Mengidentifikasi dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten 3. Dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren 4. Menyusun model pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak D. Profil Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang ada di Kota Solo dan Kabupaten Klaten 2. tantangan dan sumber daya panti asuhan dan pondok pesantren didalam menerapkan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren.20 2. Potensi. Terpetakannya pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren sehingga dapat menjadi masukan dan bahan kajian bagi pemerintah daerah khususnya dalam membuat kebijakan tentang perlindungan anak di panti asuhan 2. Intervensi strategis untuk menyusun standar pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik anak di panti asuhan dan pondok pesantren . Manfaat Penelitian 1. 3. Tersusunnya model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Terpetakannya dampak pola pengasuhan anak bagi tumbuh kembang anak khususnya dalam pemenuhan hak-hak anak di panti asuhan dan pondok pesantren 3.

Hak-hak yang melekat pada diri anak untuk hidup. cacat. Keempat hak anak tersebut di awali adanya Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989.21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanpa memandang ras. kelahiran atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum (Prinst. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. harta kekayaan. 2003: 104). 2. adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun kecuali berdasarkan Undangundang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. pendidikan. . tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak yang meliputi: (1) hak untuk hidup. meliputi perlindungan dan diskriminasi. Hak-hak atas sebuah nama dan kewarganegaraan sejak lahir. (3) hak atas perlindungan. 3. 4. kelangsungan hidup dan perkembangan diri mereka. (2) hak untuk berkembang. Negara-negara peserta konvensi akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi. warna kulit. mental. Anak sebagai Warga Negara Yang dimaksud dengan anak dalam konvensi PBB (pasal 1). termasuk siksaan dan eksploitasi. bahasa. jenis kelamin. spiritual. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. yaitu: 1. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. agama. dan perawatan khusus. dan (4) hak untuk berpartisipasi. moral dan sosial. pandangan politik atau pandangan lain. Hak-hak perlindung dari penelantaran dan kekerasan fisik atau pun mental. suku bangsa atau sosial. yang menetapkan hal-hal penting menyangkut keberadaan anak. Hak-hak atas pemeliharaan. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggitingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. asal-usul bangsa.

berkembang. tumbuh. 12. tumbuh. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 6. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. dan penurunan angka kematian anak. Hak-hak untuk beristirahat dan bermain. Hak-hak memperoleh perlindungan dari upaya penculikan dan perdagangan anak. 9. Pemenuhan hak-hak anak agar mereka dapat hidup.22 5. 11. Untuk mengimplementasikan amanat konstitusi. Dengan penerapan disiplin dalam sekolah yang menghormati harkat dan martabat anak. Hak-hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dengan menitik beratkan pada upaya-upaya preventif. Hak-hak memperoleh perawatan atau pelatihan khusus untuk penyembuhan dan rehabilitasi bagi korban perlakuan buruk. Dalam UUD 1945 dalam pasal 28B ayat 2 disebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 10. 7. atau membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka. dan mempunyai kesempatan yang sama atas kegiatan-kegiatan budaya dan seni. Hak-hak mendapat perlakuan manusiawi dalam proses hukum sehingga memajukan rasa harkat dan martabat anak-anak yang terlibat kasus hukum untuk kepentingan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. Hak-hak atas perlindungan dari penyalahgunaan obat-obat terlarang dan keterlibatan dalam produksi atau peredarannya. Hak-hak memperoleh perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan pekerjaan yang dapat merugikan pendidikan mereka. pendidikan kesehatan. penelantaran dan eksploitasi. serta mendapat perlindungan dari . dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hak-hak atas Pendidikan dasar yang harus disediakan oleh negara. 8.

antara lain: 1. sosial. Salah satu keberhasilan mewujudkan kota layak anak adalah adanya lingkungan yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang anak. berakhlak mulia. Orang tua meninggal dan atau tidak ada sanak keluarga yang merawatnya sehingga anak menjadi yatim piatu. sebagai upaya nyata untuk menyatukan isu hak anak ke dalam perencanaan dan pembangunan kabupaten/kota. Panti Asuhan Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. Sebagai warga kota. B. yang kemudian menyebabkan keterlantaran pada anak. Dapat berpartisipasi dalam kehidupan keluarga. ”Beberapa penyebab keterlantaran anak.23 kekerasan dan diskriminasi. Pengembangan Kota Layak Anak secara terus menerus diimplementasikan ke sejumlah bagian kabupaten/kota yang terbatas dengan program pelayanan dasar perkotaan yang secara maksimum didukung oleh sumber daya yang ada. anak dapat: 1. Dengan mengintegrasikan konsep perlindungan anak ke dalam program pembangunan kabupaten/kota akan lebih mudah dibandingkan dengan merealisasikan Konvensi Hak Anak secara langsung. Berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan sosial. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup terlantar. Lingkungan yang dimaksud salah satunya adalah lingkungan panti asuhan dan pondok pesantren. Mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan. komunitas. Dalam beberapa keadaan tertentu keluarga tak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam pemenuhan kebutuhan anak. Berkontribusi terhadap kebijakan yang akan mempengaruhi kotanya. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. . Pemenuhan hak anak ini diwujudkan dalam pengembangan kota layak anak. dan sejahtera. 2. 3. dan sosial. 4.

baik secara rohani. rohani. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. jasmani. baik secara jasmani. maupun sosial” (UU No.24 2. Orang tua tidak dapat dan tidak sanggup melaksanakan fungsinya dengan baik atau dengan wajar dalam waktu relatif lama misalnya menderita penyakit kronis dan lain-lain. yatim piatu. kelima. 1979). mengenai definisi dari Panti Asuhan bahwa: “Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan pelayanan pengganti. Menurut Undang-undang No. terlantar. ketiga. kurang pendidikan dan pengetahuan. mengasuh anak-anak yang berasal dari latar belakang status sosial bermasalah (yatim. Orang tua tidak mampu (sangat miskin) sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal anak-anaknya 3. miskin. maupun sosial. piatu. tempat untuk memelihara. keluarga retak dan orang tua sakit) Menurut buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengetahuan Anak Melalui Panti Asuhan Anak.” (BKPA: Pedoman Panti Asuhan. definisi anak terlantar adalah sebagai berikut: ”Anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu sebab orang tuanya tidak dapat menjalankan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lain-lain (BPAS. Panti asuhan mencoba untuk menggantikan keluarga dalam menggantikan menjalankan fungsi keluarga guna pemenuhan kebutuhan anak. salah satunya oleh panti asuhan. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. 1986:111). atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik. kedua. 4/1979. Keterlantaran anak yang terjadi karena fungsi keluarga yang tidak dapat dijalankan secara baik tersebut kemudian diatasi. mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas. merawat. Tentang Kesejahteraan anak Bab 1 Pasal 1) Ciri-ciri anak terlantar adalah: Pertama. Panti asuhan adalah rumah. tepat dan memadai bagi . keempat kurang bermain.

Dengan demikian yang bertempat tinggal di dalam panti asuhan berasal dari latar belakang ekonomi . 1986:3). definisi dari Panti Asuhan adalah: ”Panti asuhan dapat diartikan sebagai suatu lembaga untuk mengasuh anak-anak. sehubungan dengan orang tua anak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam mendidik dan mengasuh anaknya” (BPKPK: PA. 1982:1). sehingga tidak memungkinkan anak dapat berkembang secara wajar baik jasmani. Umumnya anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah: 1. Anak terlantar yang keluarganya dalam waktu relatif lama tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranan sosialnya secara wajar. sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya. keluarga dan masyarakat. Dengan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan panti asuhan bukan hanya menyantuni akan tetapi juga berfungsi sebagai pengganti orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Anak yatim. Penyebab keterlantaran ini antara lain salah satu atau kedua orang tuanya meninggal sehingga tidak ada yang merawat. menjaga dan memberikan bimbingan dari pimpinan kepada anak dengan tujuan agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang cakap dan berguna serta bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat kelak di kemudian hari. Selain itu panti asuhan juga memberikan pelayanan dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah pengembangan pribadi yang wajar dan kemampuan ketrampilan kerja. sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional” (Depsos RI. Panti asuhan dapat pula dikatakan atau berfungsi sebagai pengganti keluarga dan pimpinan panti asuhan sebagai pengganti orang tua. Anak terlantar yang keluarganya mengalami perpecahan. rohani maupun sosial 3.25 perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. Sedangkan menurut Badan Pembinaan Koordinasi dan Pengawasan Kegiatan (BPKPK). piatu dan yatim piatu terlantar 2.

kondisi mental dan sosial anak asuh menjadi perhatian khusus. seperti orang tua tunggal. kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar abad pertengahan. Dengan visinya yang ingin membentuk manusia secara utuh dengan cara memanusiakan manusia. Namun secara lebih lanjut. 1982:50). Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih .26 yang berbeda-beda yang akan membentuk lingkungan masyarakat yang baru. perpecahan dalam keluarga. Peranan seorang pengasuh. tidak ada catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan Islam ini pertama kali muncul di Indonesia. Pesantren sering kali kurang dipahami oleh masyarakat diluar lingkungannya. Pada umumnya panti asuhan memberikan penanaman nilai-nilai kepercayaan diri agar bisa menerima kondisi dirinya dan mengatasi rasa minder dan rendah dirinya. mental maupun sosial. mencerminkan tanggung jawab pengasuh untuk menghidupkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan. C. baik bersifat intrinsik yaitu berasal dari anak itu sendiri maupun ekstrinsik yaitu karena pengaruh lingkungan luar dari anak. Sesuai dengan definisi di atas. Pondok Pesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para siswanya tinggal bersama dalam suatu kompleks dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan “Kyai” (Dhofier. meski telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu. panti asuhan memberikan pelayanan pemeliharaan baik secara fisik. Panti asuhan baik yang diselenggarakan oleh negara maupun yayasan dimaksudkan sebagai tempat bernaung bagi anak-anak terlantar dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang mengalami berbagai macam gangguan sosial. kemiskinan dan lain sebagainya sehingga anak menjadi terlantar. panti asuhan mencoba untuk membentuk anak asuhnya dalam menghadapi stereotif masyarakat yang memandang bahwa anak panti asuhan memiliki kelas yang lebih rendah dan minder ini coba untuk diatasi panti asuhan ini melalui para pengasuh.

Santri taat dan patuh kepada kyainya. 1999:14) Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah para san-tri atau murid tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu yang mandiri. 5. biasanya sebuah pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri dari sarana dasar. 2.27 modern sebagaimana dikenal sekarang. tumbuh sekitar peralihan abad ke19. 4. dan ruangan-ruangan belajar. Dalam perjalanan perkembangannya. Hal ini bisa dibuktikan dalam kehidupan bersosial budaya. Adanya semangat gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan. rumah tempat linggal kyai dan keluarganya. (Suaedy. sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren. yaitu masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan. Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat. pondok tempat tinggal para santri. berekonomi. (Marjuki Wahid. ”Pondok pesantren merupakan latar belakang pendidikan yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku santrinya”. seperti: 1. pondok pesantren semakin mengembangkan dirinya untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman. beragama dan bidang kehidupan lainnya dari kelompok masyarakat Islam tradisional sekalipun dibandingkan dengan masyarakat Islam modern saat ini. Sehingga saat ini kita melihat ada bermacam-macam tipe pendidikan . Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik. 2001:1) Lembaga pendidikan pesantren ini muncul sebagai tantangan zaman dari desakan masyarakat Islam yang masih tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan agama. Menurut Abdurrahman Wahid. Para santri hidup secara mandiri dan sederhana. Lembaga tersebut muncul walaupun dalam bentuk yang sederhana tetapi ternyata dalam perkembangannya telah memberikan investasi bernilai luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. bernegara dan beragama di Indonesia sampai sekarang. berpolitik.

pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode berikut: 1. ialah metode mengajar dengan sistem ceramah. Dalam metode ini kyai biasanya membacakan. Pesantren Salafi. 1994: 41 ) Beberapa pesantren salaf masih mempertahankan kecenderungan dengan tipe penyajian pelajaran klasik. 2. Bagi santri yang telah menguasai materi pelajarannya akan ditambahkan materi baru. menerjemahkan. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kyai. atau membuka tipetipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren. lalu men-jelaskan kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab dan para santri menyimak bacaan kyai sambil mem-buat catatan . 2. Kecenderungan seperti ini tentunya mengalami kendala serius dalam menjaga kelangsungan pesantren. Beberapa pesantren yang dikenal dengan pesantren modern tidak lagi menggunakan tipe pelajaran klasik tetapi juga memasukkan pengetahuan umum agar mampu bersaing di pasar kerja. Metode sorogan. Di daerah Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah bandongan. lalu murid mengulangi bacaannya di bawah tuntunan kyai sampai santri benar-benar dapat membacanya dengan baik. yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya. Dalam tradisi pesantren. sedangkan yang belum harus mengulanginya lagi. Kyai membaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu seperti sesudah salat berjemaah subuh atau isya. kemudian kyai membacakan beberapa bagian dari kitab itu. Pesantren Khalafi. yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Secara garis besar. (Dhofier. Metode wetonan dan bandongan. yaitu : 1. yaitu bentuk belajar-mengajar di mana kyai hanya menghadapi seorang santri atau se-kelompok kecil santri yang masih dalam tingkat dasar. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar.28 pesantren.

Segala daya dan upaya yang ia miliki digunakan untuk terwujudnya sebuah lembaga pondok pesantren. Para kyai selalu memberi bimbingan penuh kepada para santrinya. karena para santri tinggal di asrama yang disediakan. . Masyarakat yang hendak membantu diterima dengan senang hati. dia jalan terus. Ciri-ciri tersebut antara lain: 1. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri. Pondok Pesantren didirikan oleh seorang kyai yang sudah bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk membina secara khusus dalam pendidikan agama. khususnya dalam bidang agama. 3. tetapi jika tidak ada bantuan dari masyarakat. 2.29 penjelasan di pinggiran kitabnya. ialah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap ma-salah yang berhubungan dengan pelajaran santri di tingkat tinggi. sehingga tanggung jawab yang berhubungan dengan kesantrian dan kepesantrenan berujung pada sang kyai. Kyai hanya menyerahkan dan memberi bimbingan seperlunya. sehingga pembinaan dan komunikasi antara santri dan kyai menjadi lancar dan mudah mengaturnya. ekonomi dan budaya sehingga diharapkan santrinya setelah selesai/keluar dari pesantrennya mampu menjadi motivator dan dinamisator di masyarakat. Secara umum kehidupan di dunia pesantren akan tergambar dalam kegiatan para kyai dan santri melalui peran dan fungsinya masing-masing. Lembaga pendidikan pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. yaitu santri harus aktif mem-pelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. Para kyai siap melayani para santrinya selama 24 jam. Para santri tinggal menetap di asrama yang telah disediakan kyai. 3. 4. yakni murid mengelilingi guru yang membahas kitab. namun juga dalam bidang politik.). Metode musyawarah. Di daerah luar Jawa metode ini disebut haldqah (Ar.

9. pengasuh sekaligus pemimpin dan manajernya.30 5. Metode dan teknik mengajar di pesantren secara umum melalui metode wetonan. Kekhidmatan para santri kepada para kyai sangat tinggi. sebagai pendiri. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah pondok pesantren adalah : 1. 6. Untuk menjadi seorang ulama yang besar. Secara informal lembaga pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. Sarana prasarana yang tersedia atau harus dipersiapkan adalah berupa masjid. pemilik. sehingga kelihatan sekali wibawa para kyai di kalangan para santri. dan pendidikan formal yang diselenggarakannya. 13. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri. madrasah. 10. Adanya kyai. kecuali pesantren khalafiyah. Pada umumnya pesantren itu adalah lembaga pendidikan non formal. sorogan. dan pondokan/asrama tempat tinggal para santri. Para santri dididik hidup mandiri dan dewasa melalui berbagai kondisi yang ada dan kegiatan di pesantren. Budaya yang menonjol dari kehidupan pondok pesantren selalu bersifat religius. sudah disajikan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. 7. Para santri siap mengabdikan diri pada para kyai dan menimba ilmu dari padanya. 12. membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal. 8. bandongan. 2000 : 91-93) Dalam perjalanan sejarah Indonesia pesantren telah memainkan peranan yang besar dalam usaha memperkuat iman. 11. Kurikulum yang disajikan semuanya pelajaran agama melalui kitab kuning klasik. seorang santri harus mampu menguasai berbagai kitab kuning dari yang kecil sampai kepada yang besar. nonformal. meningkatkan ketakwaan. . ( Muttaqin.

Kedua hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana hampir tidak ada perumahan yang cukup untuk menampung santri. Adanya kegiatan mengaji kitab-kitab kuning. (Dhofier. pengajaran kitab-kitab Islam klasik (sering disebut juga kitab kuning) tetap dipertahankan. yang tinggal di pondok/asrama untuk belajar ilmu agama dan sekaligus mengabdikannya pada kyai. Di dalam pesantren sendiri terdapat dua kelompok santri. 1982 : 49) Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satusatunya pengajaran formal yang diberikan di pesantren. 5. Kedudukannya sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Menurut Zamakhsyari Dhofier. Pertama. Adanya santri.31 2. kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. untuk tempat tinggal para santri. ada sikap timbal balik dimana santri menganggap kyai sebagai bapaknya sendiri dan kyai menganggap santri titipan Tuhan yang harus dilindungi. sebagai sarana/tempat ibadah/shalat berjamaah dan sekaligus untuk belajar ilmu agama. (Dhofier. Untuk dapat menggali ilmu tersebut secara teratur dan lama. yang kurikulumnya ditentukan oleh kyai. ada tiga alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama. 1982: 46-47) Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. maka meskipun kini kebanyakan pesantren telah menggunakan metode pengajaran modern. Karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon ulama. Biasanya masjid menjadi tempat beribadah terutama shalat lima waktu dan beberapa diantaranya berfungsi pula sebagai tempat pengajaran kitab-kitab Islam klasik. 3. Dan ketiga. yaitu: . para santri harus meninggalkan kampung halaman dan menetap. Memiliki masjid. 4. Adanya pondokan.

hanya dalam pengertian yang terakhirlah kata ”kyai” dipakai dalam penelitian ini. 1982: 52). D. lah yang biasanya menjadi penentu kebijakan pesantren. melindungi. Apa yang dilakukan pesantren tidak mendasarkan pada strategi tertentu. gelar untuk orang-orang tua. kata ini dipakai untuk tiga jenis gelar (Dhofier. sehingga pertumbuhan dan corak pesantren bergantung kepada kemampuan kyai. 1984). Menurut Wagnel dan Funk bahwa mengasuh itu meliputi menjaga serta memberi bimbingan menuju pertumbuhan kearah . Karenanya. kedua. Santri mukim. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari.32 1. Sedangkan kyai merupakan elemen pembentuk tradisi pesantren yang paling esensial. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan adalah bentuk perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara. Dan. yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. yaitu murid-murid yang berasal dari jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. 2. dan ketiga gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. 1982 : 52). Karenanya dapat dipahami apabila pasang surut perjalanan pesantren bergantung pada kyai. kepemimpinan secara otomatis dipegang oleh anaknya atau keluarganya. Pertama. melainkan berangkat dari penghayatan dan keberagaman kyai. Santri kalong. Pengasuhan berasal dari kata asuh yang mempunyai makna menjaga. (Dhofier. yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren. gelar untuk benda-benda keramat. mendampingi. Menurut asal usulnya. mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. merawat dan mendidik anak yang masih kecil (Poerwadarminta. apabila kyai pengasuh pesantren meninggal.

Menurut Soerjono Soekanto. hal ini memerlukan suatu proses yaitu dengan sosialisasi. memahami. Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam mempersiapkan seseorang menjadi anggota masyarakat. sosialisasi adalah suatu proses dimana warga masyarakat dididik untuk mengenal. Artinya mempersiapkan orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didukungnya. termasuk prestasi yang diraihnya. makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh (Sunarti dkk. Penanaman nilai-nilai yang diberikan tentunya tidak bisa dilakukan dalam sekejab. Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang melanggar aturan dan norma itu. menghargai dan menghayati norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Soekanto 1982: 142). Cara pemberian disiplin berbeda-beda dan sudah barang tentu memberikan hasil yang berbeda. Orang tua mempunyai pengaruh penting serta wakil lingkungan sosial yang terkecil. dan belajar mengakui adanya sejumlah hak dan kewajiban yang ada dibalik aturan dan norma tersebut. maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar mengendalikan diri. ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu. Pengasuhan anak (Child Rearing) adalah salah satu bagian penting dalam proses sosialisasi.33 kedewasaan dengan memberikan pendidikan. yaitu orang tua atau tokoh otoritas lainnya. 1989:3). Sejak kecil anak mulai belajar dari orang tua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma tersebut. mentaati. Dengan demikian cara atau bentuk disiplin yang diberikan banyak tergantung pada sipemberi disiplin. Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang . Pemberian disiplin dalam arti mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik.

3. kebudayaan. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan. lingkungan fisik. yaitu: 1. proses sosialisasi tersebut tersirat ke dalam tiga tahap kegiatan. Tahap pengalaman mental. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dan diri pribadinya. yaitu proses akomodasi dengan mana individu menahan. antara lain: warisan biologis. pola-pola. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Adapun proses sosialisasi. 3. Individu tidak begitu saja melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya karena individu memiliki lingkungan di luar baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. pengalaman kelompok dan pengalaman unik. 1990:12) Lebih lanjut. yaitu: 1. Kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor. 2. Kepribadian menyatakan cara berperilaku dan bertindak yang khas dari . Tahap belajar (learning) Dalam tahap ini sosialisasi berlangsung dan individu mengalami proses belajar. Proses sosialisasi adalah proses belajar. 2. mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. sikap. Khaerudin membagi ke dalam tiga tahap. Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati atau mendarah dagingkan (internalize) nilai-nilai dan norma-norma kelompok dimana la hidup sehingga timbullah diri yang unik (Horton dan Hunt 1991: 100) Dalam sosialisasi. Tahap penyesuaian diri terhadap lingkungan.” (Khaeruddin 1985:79) Melalui proses sosialisasi seseorang akan mengenal nilai dan norma. kepribadian seseorang akan terbentuk. nilai-nilai. ide-ide. Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang yang mana didahului oleh suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama.” (Vembriarto. dan kemudian mengidentifikasikan dirinya menjadi suatu pribadi. Vembriarto mendefinisikan proses sosialisasi.34 menyerap nilai dan norma yang ditanamkan. dan tingkah laku menurut standart dimana ia hidup.

penerapan disiplin. yang merupakan hasil perpaduan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi perilaku yang dihadapi seseorang. keharusan yang harus ditaati dan diketahui anak. (3). Pengajaran (instructing) Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengajaran berasal dari kata “ajar” yang berarti “barang apa yang dikatakan kepada orang supaya diketahui (dituruti. yang patut dicatat adalah apa yang diuraikan oleh Whitung dan Child (1966) yang mengatakan bahwa dalam proses pengasuhan anak harus diperhatikan (1) orang yang mengasuh. kepribadian adalah merupakan keseluruhan faktor biologis. Pengajaran (Instructing). Dari beberapa pengertian tentang batas asuh. perihal mengajar atau segala sesuatu mengenai mengajar” (Poerwadarminta. (2) cara penerapan larangan atau keharusan yang dipergunakan. dan juga pendidikan (moral maupun intelektual). Dengan demikian nilai merupakan salah satu hal utama yang menjadi tujuan sosialisasi. Kepribadian seseorang yang terbentuk tersebut merupakan wujud dari bentukan nilai yang telah tersosialisasi dan terinternalisasi dalam diri seseorang. Pembujukan (inciting) (Sunarti dkk.35 seseorang setiap harinya. psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu (Horton dan Hunt. dll. Pengajaran disini diartikan sebagai bagaimana mensosialisasikan nilai-nilai. 2. 1991: 90). Tetapi pada prinsipnya cara pengasuhan anak ini setidaktidaknya mengandung sifat (1). 1984:22). Penerapan larangan maupun keharusan terhadap pola pengasuhan anak beraneka ragam. larangan. norma. dsb) mengajar atau mengajarkan. Dengan kata lain. 1.” Sedangkan “Pengajaran” mempunyai arti “cara (perbuatan. Pengganjaran (rewarding) Menurut Hurlock pengganjaran dalam pola pengasuhan dibedakan menjadi 2 jenis. (2). yaitu hukuman dan penghargaan.Pengganjaran (rewarding). dsb). 1989:1-3). .

W James Potter dan Stacy Smith (1999) mendefinisikan kekerasan sebagai berikut: any overt depiction of a credible threat of physical force or the actual use of such . di satu pihak adalah yang melakukan dominasi dan pada pihak lain yang mengalami ketidak-berdayaan (http://www. Hukuman Hukuman berasal dari kata latin “punire” yang berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan. Penghargaan tidak harus dalam bentuk materi.) Sementara itu. Kekerasan menurut W James. Sedangkan Ashadi Siregar secara sederhana mendefinisikan kekerasan sebagai situasi yang melibatkan dua pihak.KIPPAS. 1999). Dari pemikiran di atas. Penghargaan Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk setiap hasil yang baik. aksi . perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. kekerasan yang ditampilkan media massa menurut W James Potter dan Stacy Smith terdiri dari tiga tipe dasar yakni. senyuman atau tepukan dipunggung. Kekerasan (Inggris: Violence. (Hurlock.36 a. kecenderungan untuk mengancam. tetapi dapat berupa kata-kata pujian. b. membahayakan. Latin: Violare = “memakai kekuatan”) didefinisikan oleh Yonky Karman sebagai pemakaian kekuatan untuk melukai.force intended to harm physically an animate being or group of beings (Segala tampilan yang menggambarkan kecenderungan maupun tindakan nyata untuk mengancam atau membahayakan seseorang atau kelompok secara fisik) (Potter dan Smith. Potter dan Stacy Smith juga meliputi tampilan aksi di media yang membahayakan manusia secara individu maupun kelompok yang terjadi akibat kekerasan yang tidak tampak (unseen violent mean). merusak harta benda atau orang secara fisik maupur psikis (Karman.com. 1999: 86-90) Di dalam cara pengasuhan anak dengan pengganjaran (rewarding) sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh anak. 1999: 35).

mean). e. yang hanya menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup untuk melihat. d. meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia. Galtung juga menguraikan enam dimensi penting dari kekerasan. Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan psikologis. tubuh manusia disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Disengaja atau tidak. dan cenderung manipulatif. 1992: 65). Kekerasan disebut langsung atau personal jika ada pelakunya. Galtung tidak membedakan violent acts (tindakan-tindakan yang keras. dan kekerasan yang tidak terlihat namun memiliki akibat sangat berbahaya (unseen violent. Ada subyek atau tidak. kekerasan tetap kekerasan. b. tidak bebas. meskipun memberikan kenikmatan dan euphoria. sengaja atau tidak. c. Dari sudut korban. keras sebagai sifat) dengan acts of violence (tindakan-tindakan kekerasan) (Whindhu. . Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan pemahaman. kurang terbuka. Pemahaman Galtung tentang kekerasan lebih ditentukan pada segi akibat atau pengaruhnya pada manusia. Dalam kekerasan fisik. Ada obyek atau tidak. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak langsung. Sistem orientasi imbalan (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”. mengatasi kekerasan struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. Pengaruh positif dan negatif.37 nyata. Kekerasan fisik dan psikologis. Sedangkan kekerasan psikologis adalah tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak. yaitu sebagai berikut: a.

memerlihatkan stabilitas tertentu dari tidak tampak (Windhu. Kekerasan yang ada di dalam masyarakat menurut Galtung tersebut akan berbeda-beda tergantung pada golongan apakah masyarakat tersebut. memerlihatkan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan. Namun dalam masyarakat yang dinamis. sementara kekerasan struktural dianggap wajar. Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang tidak kelihatan (latent). kekerasan personal bisa dilihat sebagai hal yang berbahaya dan salah. Menurutnya masyarakat ada yang statis dan dinamis. 1984:159). dapat dilihat meski secara tidak langsung. Kekerasan tersembunyi yang struktural terjadi jika suatu struktur egaliter dapat dengan mudah diubah menjadi feodal. sedangkan “pembujukan” adalah hal atau perbuatan membujuk (Poerwadarminto. Kekerasan yang tampak. “Membujuk” artinya mengenakan kata-kata manis dengan maksud hendak memikat hati. 3. . baik yang personal maupun struktural. Pembujukan (inciting) Menurut Poerwadarminta (1984) pembujukan berasal dari kata “bujuk” yang artinya kata-kata manis untuk memikat hati. Galtung membedakan kekerasan menjadi dua jenis. yakni kekerasan personal dan kekerasan struktural. sementara kekerasan struktural semakin nyata menampilkan diri. atau evolusi hasil dukungan militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah tantangan utama terlewati. Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun dengan mudah. tetapi bisa dengan mudah meledak. kekerasan personal seperti yang telah disebutkan di atas akan diperhatikan. Dalam masyarakat yang statis. 1992: 73). Yang tampak dan tersembunyi. sifat kekerasan personal adalah dinamis.38 f. nyata (manifest). Sifat kekeraan struktural adalah statis. mudah diamati.

yaitu sistem pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. Di dalam UU Perlindungan Anak juga diatur tentang pola pengasuhan lembaga pelayanan anak ini.39 Pembujukan dilakukan agar anak mau mengikuti ajakan atau perintah pengasuh dengan kata-kata yang lebih halus. Secara umum. Masing-masing lembaga pelayanan anak seperti panti asuhan dan pondok pesantren memiliki pola pengasuhan yang berbeda-beda. menarik hati dan terkesan tidak menyuruh. stabilitas dan kontinyuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh pengasuh. Kedua sistem pengasuhan tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh. . panti asuhan memiliki dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya. yaitu tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama karena ada konsekuensi hukumnya. Sehingga anak menurut dengan pengasuh.

Teknik Pengumpulan data Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian ini adalah Indepth Interview (Wawancara Mendalam) . C. B. Pengambilan sampel panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat memenuhi semua strata atau kriteria khususnya panti asuhan yang dikelompokkan kedalam kategori milik pemerintah. Adapun jumlah panti asuhan di Kota Solo 13 dan di Kabupaten Klaten berjumlah 20. Untuk memudahkan di dalam proses penelitian maka masing-masing daerah di ambil 2 panti asuhan dan 2 pondok pesantren. Sedangkan jumlah pondok pesantren di Kota Solo ada 3 dan di Kabupaten Klaten ada 2.40 BAB III METODE PENELITIAN A. Sedangkan data kuantitatif dikumpulkan untuk menyusun profil panti asuhan dan penguatan data kualitatif. swasta dan campuran. Focus Group Discussion (FGD) dan Observasi dengan didukung dokumen atau arsip sebagai penguatan data. . Lokasi penelitian diutamakan di Kecamatan Banjarsari dan Pasar Kliwon untuk Kota Solo serta Kecamatan Bayat dan Wedi untuk Kabupaten Klaten. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data mendalam dan informasi tentang masalah yang dialami oleh partisipan (anak) dalam kaitannya dengan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Lokasi Penelitian dan Partisipan Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten.

Dari analisis data tersebut akan disusun model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren. F. Pelatihan kepada peneliti oleh Technical Advisor Try Out Instrumen Penelitian di Kota Solo Penyempurnaan Instrumen Penelitian . data primer dilakukan untuk mengetahui dampak atau permasalahan yang dihadapi anak kaitannya dengan pelaksanaan perlindungan anak dalam pola pengasuhan yang dilakukan oleh panti asuhan dan pondok pesantren. 6. Rencana Penelitian 1.41 D. Penyusunan protokol penelitian Pertemuan dengan Stakeholders Kota Solo dan Kabupaten Klaten untuk mencari masukan bagi penyempurnaan protokol penelitian 3. 2. 4. Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan indikator yang diteliti dilakukan melalui tahapan penelitian FGD terhadap primary care giver (pengasuh). Analisis data sekunder dan primer dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis profil panti asuhan dan pondok pesantren. Teknik Pengambilan Partisipan Sebagai populasi penelitian adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti dengan teknik stratified random sampling menurut kelompok usia (6-12 tahun) dan (13-18 tahun). FGD terhadap anak menurut kelompok usia dan dilanjutkan dengan telling story dan indepth interview dengan pendekatan analisis psikologis. pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif. E. Perbaikan protokol penelitian dan pembuatan instrumen penelitian Rekruitmen peneliti oleh Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS Solo 5. 7.

Yuni.Si (Psikolog) Koordinator Solo Koordinator Klaten : Atik Catur Budiati. MP Drs. M. S. 9. S. M. Nunuk Siti Rahayu. Penyusunan Final Report G. 1 orang koordinator Klaten. M. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dimulai bulan Mei hingga Agustus 2009.Sos. Pengumpulan data primer dan sekunder Analisis data dan penulisan laporan penelitian oleh koordinator peneliti (1 koordinator peneliti kota Solo dan 1 koordinator peneliti kabupaten Klaten) dan Technical Advisor (TA) 10. .Si (sosiolog) Sri Lestari. Mita.Psi. 1 orang psikolog dan 8 orang enumerator. Irfan. Argyo Demartoto. 1 orang koordinator peneliti.Si Enumerator : 9 orang (Erliana. MS (sosiolog/perlindungan anak) Koordinator Peneliti : Drs. Indra Waskita. Mahmud Yusuf.A (sosiolog) : Dra. Seminar hasil pemetaan untuk penyempurnaan final report 11. Devi.42 8. 1 orang koordinator Solo. Organisasi Penelitian: Organisasi dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang Technical Advisor. Personalia dalam penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut : Ketua Peneliti (TA) : Ir Retno Setyowati. M. Isti & Nurul). Henry.

Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten 1. Menurut perhitungan. Keadaan Umum Kota Surakarta a. Karena terjadi perselisihan suksesi. Hal ini tidak lepas dari keberadaan dua keraton di Surakarata.43 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. yaitu Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Sejak saat itu nama desa Solo berubah mcnjadi Surakarta Hadiningrat Selanjutnya kekuasaan Kerajaan Mataram terus menyusul. yaitu Kasunanan dan Mangkunegara. Sejarah Berdirinya Kota Surakarta Kota Surakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan dan kesenian Jawa di Indonesia. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pemerintahan di Negara Republik Indonesia. Politik adu domba yang dilancarkan VOC menyebabkan Mataran terpecah menjadi dua bagian. Kedua keraton ini merupakan sumber budaya Jawa yang adiluhung dan telah banyak memberikan warna kehidupan dalam bidang seni dan budaya pada masyarakat Surakarta dan sekitarnya (Pemerintah Daerah kota Surakarta. 1995: 20) Sejarah Kota Surakarta berawal pada tanggal 17 Suro 1670 atau 17 Februari 1745 dimasa Kerajaan Mataram Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Paku Buwono II memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Kartosuro ke sebuah desa kecil di tepi Bengawan Solo bernama Desa Solo. kemudian lahirlah Perjanjian Salatiga yang menyatakan bahwa Surakarta dibagi menjadi dua Kerajaan. maka Pemerintah Daerah . yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1753. di desa Solo inilah Keraton akan mencapai kebesaran dan kemakmuran. Orang yang pertama kali melakukan babat alas adalah Ki Gede Sala yang makamnya berada di daerah dalam beteng.

nama Sala atau Solo lebih popular. Keadaan alam Kota Surakarta Wilayah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m dari permukaan . dan pada tahun 1905. budaya dan olahraga. tepatnya pada tahun 1945. 16/SD yang diumumkan tanggal 15 Juli 1946. yaitu: 1) Kota Surakarta 2) Haminte Surakarta 3) Kota Besar Surakarta 4) Kotapraja Surakarta 5) Kotamadya Surakarta (1946 – 1947) (1947 – 1948) (1948 – 1957) (1957 – 1965) (1965 – 1974) 6) Kotamadya Dati II Surakarta (1974 – 1999) 7) Pemerintah Kota Surakarta (1999 – sekarang) Surakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Daerah Tingkat II Kota Praja. Setelah Indonesia merdeka. Hal ini tidak begitu mengherankan jika menengok sejarah berdirinya Kota Surakarta yang sebelumnya memang bernama Sala. Berdasarkan status administratifnya. pariwisata. Hingga saat ini Surakarta telah berkembang dengan pesat menjadi kota besar yang berfungsi sebagai pusat administrasi tingkat regional. Surakarta vang sebelumnya menggunakan sistem pemerintahan kerajaan diubah menjadi ibu kota Karesidenan. perdagangan. sedangkan sebutan Surakarta lebih bernuansa formal-birokratis. memberi andil bagi perkembangan budaya patriarki masyarakatnya hingga saat ini. Sejarah Kota Surakarta yang bernuansa feodal.44 Kota Surakarta berhak mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri di Kota Surakarta. sebagai kota industri. Namun secara yuridis Kota Surakarta baru terbentuk berdasarkan ketetapan Pemerintah Tahun 1949 No. b. sekarang berstatus sebagai Kotamadya. Secara defacto Kota Surakarta terbentuk pada tanggal 16 Juni 1746 dengan daerah meliputi bekas Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran. Adapun perkembangan perubahan yang terjadi di Kota Surakarta.

Anyar. yang tepatnya berada di Selo (Perbatasan Kabupaten Boyolali dan Magelang). akan menambah keindahan panorama saat berkendara di Kota. Selain itu. tetapi setidaknya kita dapat menikmati keindahan alam. dan Jenes yang kesemuanya tersebut bermuara di Bengawan Solo. yaitu Gunung Lawu di bagian Timur. c. Batas-batas wilayah Kota Solo. Sungai Bengawan Solo merupakan Sungai yang terpanjang di Pulau Jawa. sehingga sungai Bengawan Solo ini adalah salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh Kota Surakarta. yaitu berada diantara dua Gunung maupun Pegunungan. Letak Kota Surakarta juga sangat strategis. Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang menunjang kota-kota lainnya seperti Semarang maupun Yogyakarta. Kota Surakarta terletak antara 110o 45’ 15” dan 110o 45’ 35” Bujur Timur dan antara 7° 36’ dan 7° 56’ Lintang Selatan. yaitu antara lain: 1) Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali 2) Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar 3) Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten . Letak dan Luas Kota Surakarta terletak di daerah Propinsi Dati II Jawa Tengah bagian Selatan dan merupakan penghubung antara Daerah Propinsi Jawa Tengah bagian Timur dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keadaan lalu lintas yang cukup ramai. walaupun keindahan alam tersebut bukan merupakan kekayaan alam Kota Surakarta. Dengan terlihatnya dua Gunung yang mengapit Kota Surakarta ini.45 air laut dan dilalui oleh sungai Pepe. Menurut keadaan astronomi. tepatnya di Tawangmangu (Kabupaten Karanganyar) serta di bagian Barat adalah Gunung Merapi dan Merbabu.

Dengan jumlah Kepala Keluarga sebesar 127.06 km2 yang terbagi dalam lima kecamatan.242 31.746 127.46 4) Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar Sukoharjo dan Kabupaten Luas wilayah Kota Surakarta mencapai 44. Jumlah RW tercatat sebanyak 592 dan jumlah RT sebanyak 2. RW.1 Banyaknya Kelurahan. RT. Tabel 4. maka rata .742 Laweyan 11 105 452 Serengan 7 75 332 Pasar Kliwon 9 100 424 Jebres 11 145 605 Banjarsari 13 167 832 Kota 51 592 2.644.870 37.864 15.rata jumlah KK setiap RT berkisar sebesar 48 kk setiap RT. RT.742 kk. yaitu berkisar antara 20% dari luas lahan yang ada. Sedangkan untuk kegiatan ekonomi juga memakan tempat yang cukup besar. yaitu : 1) Kecamatan Laweyan 2) Kecamatan Serengan 3) Kecamatan Pasar Kliwon 4) Kecamatan Jebres 5) Kecamatan Banjarsari Sebagian besar lahan dipakai sebagai tempat permukiman sebesar 61%. RW dan Kepala Keluarga yang berada di Kota Surakarta.645 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 .020 20. dan Kepala Keluarga Di Surakarta No 1 2 3 4 5 Kecamatan Kelurahan RW RT Kepala Keluarga 22. Wilayah Kota Solo terbagi dalam 5 Kecamatan dan 51 Kelurahan. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah kelurahan.

d.022 28.491 8. RW (ada 167).443 485.058 254.494 18.750 14.972 40.546 7.356 26.241 64 + 13.498 Jumlah 231.496 20. Sedangkan usia produktif yaitu antara 20 – 39 tahun yang berjumlah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 .031 15.235 30 – 34 22.991 20 – 24 26.519 21.276 15.287 50 – 54 12.501 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki.838 15.627 10 – 14 18.241 55 – 59 8.491 25 – 29 19.131 37.355 43. Tabel 4.660 29.811 13.866 60 – 64 5.519 18. karena di Kecamatan Banjarsari juga terdapat jumlah paling banyak Kelurahan (ada 13).601 40 – 44 17.107 35.47 Dari data tersebut diatas tampak bahwa sebagian besar ataupun jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Banjarsari. serta RT (ada 832).670 31.430 26.2 Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Usia (Tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Total 0–4 16.320 15.934 35 – 39 17.495 22.716 38.469 54.076 15 – 19 21.104 21.635 47.972 40. Keadaan Demografi Penduduk Kota Surakarta 1) Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penduduk yang tinggal di Kota Surakarta terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surakarta. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah penduduk Kota Surakarta menurut kelompok umur dan jenis kelamin.256 29.467 45 – 49 14.946 5–9 17.

183 158. bahwa batas usia anak dibawah 18 tahun. Namun data diatas yang didapatkan dari BPS usianya antara 0-19 tahun.731 85.711 95.775 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Jumlah Penduduk Sesuai dengan Undang-Undang No.48 172.3 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jenis Kelamin Rasio Jenis Jumlah Kelamin Laki-laki Perempuan 1 2004 249.264 170.628 3 2006 512.614 orang penduduk laki-laki dan 86.868 283.433 510.364 88. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.058 254.103 2 2005 534. Di usia produktif ini.540 88.540 82.592 78.647 orang penduduk perempuan. Data dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Surakarta menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut: Tabel 4.443 173.443 485.44 3 2006 231.80 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Sedangkan jumlah penduduk yang berusia 0 – 19 tahun dapat dilihat pada Tabel 4.278 261.35 2 2005 250. penduduk wanita lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki.4 Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Usia 0 – 19 tahun L P Jumlah 1 2004 557. Adapun anak yang putus sekolah Tahun 2004/2005 di Kota Surakarta adalah sebagai berikut: .672 534. terdiri dari 85.261 orang.660 87.501 90.4. Tabel 4.898 80.

6 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No 1 2 3 4 5 6 Jenis PMKS Anak Balita terlantar Anak terlantar Anak yang menjadi KTK Anak nakal Anak jalanan Anak cacat Jumlah Tahun 2004 L P Jml 130 130 Tahun 2005 L P Jml 400 752 41 78 111 387 1769 Tahun 2006 L P Jml 199 167 366 378 20 75 92 464 1228 304 17 4 7 348 847 682 37 79 99 812 2075 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta .5 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Siswa Putus Sekolah SD SMP/MI SMA/MA 1 Laweyan 1 16 35 2 Serengan 0 7 29 3 Pasar Kliwon 4 46 41 4 Jebres 12 61 4 5 Banjarsari 21 32 89 Total 38 162 178 Sumber : Profil Pendidikan Dinas DIKPORA Kota Surakarta No Kecamatan Daftar anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Surakarta dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.49 Tabel 4.

8 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta.7. rohani dan sosial anak dapat dilihat dalam tabel 4. dapat disimak dalam tabel 4. LSM Sari Surakarta. mental maupun mental dan fisik (ganda) pada usia 0 – 18 tahun di Kota Surakarta dapat digambarkan melalui tabel 4.8.7 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Tahun 2005 Tahun 2006 L P Jml L P Jml 1 Perkosaan 13 13 10 2 Pencabulan 1 1 2 13 3 Penganiayaan 1 1 2 4 Persetubuhan 3 3 2 5 Pelarian 4 6 Perdagangan 4 Jumlah 1 18 19 4 31 35 Sumber: Devisi Dokin PTPAS Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No Jenis kasus Keadaan anak yang memiliki pekerjaan terburuk dari berbagai sektor pekerjaan. LSM PPAP Seroja. menunjukkan bahwa anak diperkerjakan. Tabel 4.9 . Tabel 4. tahun 2006 No Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Pemulung 5 3 8 2 Sektor Industri Kecil 1 1 2 3 Sektor Industri Besar 28 4 Pengamen 16 18 54 Sumber : LSM Kapas. eksploitasi dan mengalami berbagai tindakan kekerasan yang membahayakan perkembangan jasmani. Disnakertrans Kota Surakarta Keadaan anak yang mengandung cacat fisik.50 Adapun keadaan anak yang mengalami penyalahgunaan anak.

10 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) Jenis Pekerjaan Utama 1. 4. Jenis kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 9.646 43.715 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 . dan tenaga kasar 8.771 88.762 209 3. 6.254 418 1.437 68. yaitu dihitung mulai umur 10 tahun keatas.257 3. 5.170 1.942 19. operator angkutan. serta secara khusus.9 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Tahun 2006 L P Jml 1 Cacat tubuh 122 86 208 2 Cacat Rungu Wicara 80 66 146 3 Cacat Netra 21 20 41 4 Cacat Mental Reterdasi 139 93 232 5 Cacat Mental Eks Psikotik 27 24 51 6 Cacat Ganda 56 45 101 7 Cacat Bibir Sumbing 17 15 31 Jumlah 462 348 810 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta Tahun 2006 2) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Banyaknya penduduk secara umum menurut mata pencaharian penduduk di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini.054 45.196 6.906 19. tenaga TU Tenaga Usaha Penjualan Tenaga Usaha Jasa Tenaga Usaha Pertanian Tenaga Produksi. Tabel 4.003 13. TNI/POLRI 836 Jumlah 132.825 14. 7.704 7.720 No Kriteria Cacat Tenaga profesional dan lainnya Tenaga kepemimpinan & laksana Pejabat pelaksana.343 0 93.971 11. 3.005 836 225.51 Tabel 4.672 48. 2.167 27.061 15.

52 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jenis pekerjaan terbesar penduduk Kota Surakarta adalah sebagai tenaga usaha penjualan berjumlah 88.979 25. Keadaan ini dapat dimengerti karena wilayah Surakarta dan sekitarnya banyak berdiri pabrik-pabrik terutama tekstil atau kerajinan batik.123 bahwa tingkat pendidikan masyarakat Surakarta cukup tinggi.343 jiwa. tetapi di Kota Surakarta juga masih menyisahkan sawah. untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang berada di kota Surakarta dan sekitarnya. operator angkutan. Hal ini dikarenakan adanya dukungan sarana pendidikan terutama beberapa Akademi dan Perguruan Tinggi baik itu negeri maupun swasta yang ada di Kota Surakarta. karena dilihat dari jumlah keseluruhan penduduk yang berpendidikan SLTA dan Akademi atau Perguruan Tinggi mencapai 129. sebagai tenaga produksi. dan tenaga kasar berjumlah 68.569 105. dan tenaga usaha jasa berjumlah 27.11 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) Tingkat Pendidikan Tamat Pendidikan/Perguruan Tinggi Tamat SLTA Tamat SLTP Tamat Sekolah Dasar Tidak Tamat Sekolah Dasar Belum Tamat Sekolah Dasar Tidak Sekolah Jumlah Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 Dari tabel diatas dijelaskan No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 33.498 73.170 jiwa. Tabel 4.974 103.184 485.816 47. .825 jiwa.103 95.077 orang. Walaupun banyak terdapat bidang perindustrian.

2.556 ha. terbagi dalam 26 kecamantan. Hal ini ditunjukkan dari luas lahan sawah yang bukan sawah mengalami penurunan (tahun 2007 0.556 ha.121 ha) merupakan lahan bukan sawah. Luas Kabupaten Klaten 51 % (33. Keadaan Umum Kabupaten Klaten a. 401 desa/kelurahan. Dibandingkan tahun 2006 mengalami kenaikan penggunaan lahan ke non pertanian sebesar 15. Seiring dengan perkembangan keadaan. terjadi perubahan penggunaan dari lahan pertanian ke non pertanian. Perubahan terbesar digunakan untuk bangunan dan industri. Dari 65. perdagangan dan pariwisata sebagai sektor utamanya. Seperti Visi dan Misi Kota Surakarta yang terpampang dipojokan Pasar Kleco dekat dengan patung seorang ibu yang sedang mencanthing (membuat batik dengan cara tradisional). tetapi bercorak perdagangan dengan sektor industri.09 %) sedangkan lahan bukan sawah mengalami kenaikan (tahun 2007 sebesar 0. b. Tahun 2007 tanah pertanian sebesar 33. Letak Geografis Kabupaten Klaten terletak secara geografis antara 7o32’19” sampai 7o48’33” dan antara 110o26’14” sampai 110o47’51”.10%) Perubahan penggunaan tanah pertanian juga cukup besar tiap tahunnya. . Luas Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten mempunyai luas wilayah sebesar 65.82 %. Keadaan Sosial Ekonomi Corak perekonomian Kota Surakarta tidak terletak pada sektor pertanian.1233 ha.53 e. Letak Kabupaten Klaten cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Surakarta. yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata.435 ha) merupakan lahan sawah dan 49 % (32.

kondisi ini menunjukkan penambahan 3.54 c. Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten sebesar 95. Secara umum kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten merata untuk semua kecamatan.50 ini berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. sekitar 75. Tahun 2007 jumlah penduduk Klaten sebesar 1. Keadaan Penduduk Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.70 % dari total penduduk Klaten. dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya dari seluruh masyarakat Indonesia. Pertumbuhan jumlah penduduk seyogyanya diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk.745 jiwa dari tahun sebelumnya dan pertumbuhannya sebesar 0. Untuk usia produktif (usia 15-64 tahun) sebesar 981. kecuali Kecamatan Kemalang yang paling rendah kepadatannya sebesar 669 jiwa per km2.296. Tabel 4.29%.771 jiwa.987 jiwa.12 menunjukkan Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 .

44 0.241 13.20 0.618 1.228.112.55 Tabel 4.55 0.334 13.296.009 1.113 1.489 4.61 0.257.286.786 1.202.161.537 6.33 0.02 1.767 4.430 5.184 3.711 1.138.09 0.265.530 1.10 1.964 1.52 1.01 1.071 5.240 12.272 7.976 1.869 1.745 % 1.60 0.358 6.154.19 0.235 5.35 0.267 7.124.296.49 0.172.987 Pertambahan Penduduk (Jiwa) 11.89 0.269 5.29%.682 1.437 5.473 8.12 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 adalah 1.223.149.307 1.281.54 0.393 6.42 0.69 1.293.673 10.101.12 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.216.242.439 1.295 1.987 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.51 0.542 1.49 0.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Tabel 4.501 1.058 1.295 1.535 1.179.598 14.277.36 1.271.297 1.613 6.196.242 1. .788 1.988 11.619 1.255 1.572 5.047 1.106 14.086.742 1.201 5.55 0.971 7.184.345 6.45 0.47 0.171 1.617 6.56 0.45 0.46 0.166.189.234.640 1.

558 48.53 0.338 63.987 Penambahan Penduduk (Jiwa) 74 221 190 -99 -33 295 268 14 151 120 22 238 253 -37 135 20 307 485 132 3 95 37 131 379 123 221 3.844 41.969 81. .212 43.298 jiwa.293.296.92 0.673 41.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 yang terbanyak adalah di Kecamatan Trucuk yaitu 81.54 0.869 jiwa.098 54.016 61.075 40.985 45.201 34.603 65.022 62.72 0.29 0.726 49.49 1.101 54.149 40.298 57.34 -0.936 81.519 44. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Kebonarum sebesar 21.28 0.745 Laju Pertumbuhan (%) 0.100 63.858 49.212 63.896 21.748 55.226 44.07 0.811 48.629 1.249 43.06 0.721 41.870 43.527 55.26 0.559 41.767 50.29 0.574 36.002 62.17 0.38 0.16 -0.01 0.824 41.09 0.869 37.242 2007 49.06 0.850 1.470 45.164 21.03 0.589 38.13 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah 2006 49.36 0.56 Tabel 4.402 63.164 34.881 61.08 0.284 57.05 0.428 40.26 0.702 65.40 -0.374 57.15 0.54 0.469 57.730 51.248 44.709 38.

552 Perempuan 25.559 21.39 96.61 94.708 27.298 57.248 44.02 95.102 27.987 Rasio Jenis Kelamin 91.661 32.164 21.504 33.078 29.68 95.311 633.709 38.11 96.26 98.192 32.986 20.382 32.94 97.149 40.830 30.032 21.464 23.761 29.544 18.41 98.497 19.201 34.220 28.25 99.986 25.435 Jumlah 49.655 19.115 21.325 18.936 81.392 20.666 41.811 48.14 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah Laki-Laki 23.270 40.689 22.21 94.354 26.055 22.492 22.469 57.847 31.57 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.394 25.63 92.46 93.539 663.296.824 41.054 18.573 21.413 17.559 41.452 21.788 16.60 90.652 21.850 1.869 37.744 25.956 31.48 96.603 65.50 Sumber : BPS Kabupaten Klaten .61 96.792 20.169 29.470 45.17 92.18 95.099 32.66 95.402 63.905 11.999 26.58 92.30 95.748 55.741 31.85 98.377 23.016 61.027 22.30 95.101 54.519 44.249 43.730 51.394 28.74 96.38 95.259 10.415 23.022 62.858 49.134 22.10 96.338 63.844 41.434 24.28 94.

119 50.325 (perempuan).153 25.083 105.080 71. kelompok umur 5-9 tahun berjumlah 105.922 663.212 101.893 jiwa.739 35.435 Jumlah 94. .070 jiwa dan kelompok umur 15-19 tahun berjumlah 133.987 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 untuk kelompok umur 0-4 tahun berjumlah 94.552 Perempuan 46.511 113.976 53.011 49.946 46.893 108. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4. kelompok 10-14 tahun berjumlah 116.964 54.341 35.534 29.917 55.378 42.614 26.064 116.283 48.544 (laki-laki) dan berjumlah 41.981 64.064 jiwa .061 103.734 1.476 52.196 50.271 23.812 633.089 68.411 88. Jadi berdasarkan data dari BPS Kabupaten Klaten tahun 2007 jumlah penduduk (anak) menurut kelompok umur 0-19 tahun berjumlah 449.422 98.070 133.455 57.315 62.805 52.778 54.110 jiwa.083 jiwa.296.201 51.885 56.58 Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di Kecamatan Trucuk berjumlah 40.15 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Laki-laki 47.179 59.033 45.033 28.841 31.186 53.

510 orang mengalami penurunan sebesar 1. Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Sumber Daya Manusia sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan. Adapun tujuan paling banyak adalah ke Kalimantan. Transmigrasi Salah satu usaha memperluas kesempatan kerja adalah melalui program transmigrasi selain untuk pemerataan penduduk. f.594 akseptor dan peserta KB baru sebesar 21. Tahun 2007 jumlah pencari kerja sebanyak 15. Keluarga Berencana Peserta KB aktif di Kabupaten Klaten tahun 2007 mencapai 153.137 akseptor. Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. kondisi ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006. Sedangkan metode alat kontrasepsi yang banyak digunakan untuk peserta KB baik aktif atau baru adalah suntik. Kondisi ini menunjukkan penurunan sekitar 5. g. terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7-24 tahun).921 orang.59 d. Jumlah dan kmposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. e.40 % dari tahun 2006.62 % dibandingkan dengan tahun 2006. Pada tahun 2007 jumlah transmigran yang berangkat dari Kabupaten Klaten sebesar 8 KK. . Tingkat pendidikan untuk pencari kerja yang terbanyak adalah SMU/SMK sebesar 10. Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 jumlah murid yang tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 Jumlah anak putus sekolah tahun 2007 sebesar 631 orang baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

000 s. 0271-713304 Panti Jompo Aisiyah Jl Pajajaran Utr III 7 SOLO 57138 Telp.60 B. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Jumlah panti asuhan di seluruh Indonesia diperkirakan antara 5. yang jumlahnya diperkirakan antara 5. Panti asuhan harus mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang memerlukan pengasuhan alternatif dengan profesionalitas dan pengasuhan yang berkualitas. 0271-713260 Panti Asuhan Pintu Jl Dr Cipto Mangunkusumo 37 SOLO Pengharapan 57139 Telp. 0271-742485 Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 SOLO 57143 Telp.000 yang mengasuh sampai setengah juta anak. 0271-744152 Panti Asuhan Pamardi Yoga Jl Gajah Mada 119 RT 002/03 SOLO 57132 Telp. Tabel 4. utamanya organisasi keagamaan.000. diselenggarakan oleh masyarakat. 0271-710843 Jl Gremet 38 SOLO 57139 0271-718698 Jl Tulang Bawang Utr 41 RT 006/06 SOLO 57136 Telp. ini yang kemungkinan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia.16 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta No Nama Panti Asuhan 1 Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah 2 Panti Asuhan Yatim Putri Aisiyah 3 Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah 4 Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Nurhidayah 5 Panti Asuhan Hosana 6 7 8 9 10 Alamat Jl Brigjen Slamet Riyadi 441 SOLO 57146 Telp. Persoalan di Indonesia terlihat dari jumlah pengasuh di panti asuhan anak masih sangat minim. 0271-712023 . Lebih dari 99% panti asuhan di Indonesia. 0271-2506767 Panti Asuhan Mardhatilah Jl Sawo 27-B RT 001/04 SOLO 57163 Telp. 0271-733152 Jl Dipati Ukur 120 SOLO 40132 Telp. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah.000 sampai 8. Kondisi itu membuat anak asuh di banyak panti asuhan di Tanah Air tidak terperhatikan.d 8. 0271-715805 Panti Sosial Karya Wanita Jl Dr Rajiman 624 SOLO 57146 Utama Telp.

0271 654526. Sindoro 14 B. Sedangkan Kabupaten Klaten memiliki 14 panti asuhan yang semuanya milik swasta (Tabel 4. 8 52 Ngreden. Tabel 4. 60 Gayamprit.17). Bibis Wetan Rt. Wonosari 15 Pantisari RT 16/03 35 Gumul Karangnongko Sabrangan RT 20/8. Dahlia No. 654558 14 Sumber: Departemen Sosial Jumlah panti asuhan di Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 440 yang terbagi menjadi 28 panti asuhan milik pemerintah dan 412 milik swasta.61 11 12 13 Panti Tuna Netra & Tuna Jl Dr Rajiman 622 SOLO 57146 Rungu Wicara Bhakti Telp. 42 Gumul Karangnongko Jl. 25 Klaten Selatan 9 10 11 PA Darul Hadlonah PA Y Putri Aisyiah Ngawen YAAT (SLB A) Trunuh . Juwiring Ngreden. Angsana Trunuh. 4 60 Jl. 0271-621044 Yayasan Panti Asuhan Anak Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 Yatim Nurhidayah SOLO 57143 Telp. Klaten 23 Kwaren. Klaten Selatan Batur. 0271-733152 PA Anak Misi Nusantara Jl. Ngawen 15 Jl. Wonosari 30 Jl.16). 0271-716985 Chandrasa Surakarta Panti Werda Asih Jl Kencur 21 SOLO 57146 Telp. Cemara No.17 Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten No Nama Panti Asuhan 1 PA Muhammadiyah Juwiring 2 3 4 5 6 7 8 PA Pakarti Murni PA Putri Aisyah PA Yatim Putra Muhammadiyah PA Muhammadiyah Wonosari PA Al Munir PA Baiturrachman YPBT Siwi Mekar Alamat Jumlah Anak Tanon RT 02/RW 08 20 Kenaiban. Ceper. 04 / RW XX Gilingan Banjar Sari Solo Telp. Di Kota Surakarta terdapat 14 panti asuhan anak yatim piatu (Tabel 4.

Manisrenggo Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Klaten 12 Yayasan Shanti Yoga 31 35 25 Jumlah panti asuhan yang ada di Kabupaten Klaten ini sebenarnya lebih dari 14 panti asuhan tetapi sebagian besar dari mereka tidak secara resmi mendaftar kepada Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Pada masa perjuangan tahun 1948-1950 Panti ini dipindah ke Pangkalpuluhan di Kelurahan Gajahan. Hal ini menandakan masih lemahnya kesadaran setiap yayasan yang membuka panti asuhan untuk mendaftarkan diri. Pada tahun 1953 sampai sekarang ini Panti ini menempati tanah dan bangunan di Kp. Madyotaman Kel. Manisrenggo KM2 Temurejo. (0271) 713260 Surakarta. Klaten Selatan 13 Yayasan Panca Bhakti Mulia Jl. Gading dan pada tahun 1952 di pindahkan ke Kp. Merapi No. Dan sedangkan pada tahun 1960 diadakan perubahan nama yaitu Pendidikan Pamardi Yoga menjadi Panti Asuhan Pamardi Yoga sampai sekarang. . 19 telp. I a Cawas 14 Yayasan Bina Taruna Jl.62 Bendogantungan. Panti Asuhan di Kota Surakarta 1. Punggawan Rt. Beskalan Surakarta. Gajah Mada No. Data ini diperlukan bagi pengembangan dan pengawasan jalannya panti asuhan yang ada untuk menghindari penyimpangan fungsi panti asuhan.1 Panti Asuhan Pamardi Yoga Panti Asuhan Pamardi Yoga berdiri pada tahun 1947 yang dahulu namanya adalah Panti Pendidikan Pamardi Yoga bertempat di Mangkubumen Kota Surakarta. Hanya 14 panti asuhan yang terdaftar secara resmi. Sekarang tempat tersebut menjadi lapangan sepak bola yang dikenal dengan lapangan Kota Barat. 1. 02/02 Jln. kemudian dipindahkan lagi ke Kp. Barukan. Sumberejo.

Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Surakarta. Untuk sasaran dari Panti Asuhan Pamardi Yoga sendiri yaitu anak-anak yang menyandang masalah kesejahteraan sosial yang terdiri dari anak yatim. anak piatu. status Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. anak yatim piatu. Tujuan didirikannya Panti Asuhan Pamardi Yoga ini adalah untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial berdasar profesi Pekerjaan Sosial kepada anak asuh agar dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani. rohani maupun sosial dan memberikan asuhan dan bimbingan kearah pengembangan pribadi dan potensi agar kelak menjadi orang yang mampu hidup layak. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah diketahui Camat . Selanjutnya dirubah atau disempurnakan dengan Keputusan Walikota Surakarta No. maka Panti Asuhan Pamardi Yoga berstatus menjadi UPDT Dinas Kesra PP dan KB Kota Surakarta. anak dari keluarga tidak mampu dan anak dari keluarga yang tidak jelas status orang tuanya. Foto copy surat kelahiran b. Ada syarat atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang anak atau orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepada Panti Asuhan Pamardi Yoga ini.63 Sejak berdiri hingga tahun 2001. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain yaitu: a. Pada tahun 2001 dengan berlakunya otonomi daerah melalui Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 27 tahun 2001 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra Pemberdayaan Perempuan Kota Surakarta. dengan sumber dana yang berasal dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Untuk dapat masuk ke Panti Asuhan Pamardi Yoga ini tidak bisa langsung diterima begitu saja. 12 tahun 2004 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra. anak dari keluarga broken home.

Aceh. Maluku. Foto copy surat kelakuan baik g. Flores. Foto ukuran 3 x 4 (4 lembar) j. Sulawesi dan Kalimantan. ”Kepadamulah orang lemah menyerahkan diri untuk anak yatim engkau menjadi penolong" (Mazmur 10:14) . Lombok. Sumbawa. Mentawai. Sumatera Utara. Surat berbadan sehat dari dokter f. Irian. Foto copy raport terakhir h.64 c. Panti asuhan ini banyak menampung anak-anak dari daerah Pulau Nias. NTT. Timor. Surat pernyataan anak yang isinya sanggup mentaati semua peraturan di panti e. Biak. 1. NTB. Syarat-syarat tersebut digunakan sebagai bahan dokumentasi tentang identitas anak sehingga profil anak yang tinggal di panti ini dapat teridentifikasi dengan baik. Tujuan didirikannya panti asuhan ini sebagai bagian dari tubuh Kristus yang mengambil beban untuk melayani serta menjangkau daerah yang terpencil dan suku terasing. Surat keterangan pindah dari sekolah (bagi yang pindah) i. Surat pernyataan orang tua yang isinya menyetujui anaknya masuk Panti Asuhan dan bersedia menerima kembali setelah pengasuhan (Lulus SLTA) dan diketahui Lurah atau Kepala Desa d. Bali. Surat keterangan pindah penduduk dari kelurahan.2 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Panti asuhan ini didirikan oleh Pendeta Sadrach pada tahun 1971. Karena banyaknya anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dan yatim piatu dari luar pulau dan daerah yang terpencil di Indonesia. dengan sendirinya dapat melihat secara langsung kehidupan anak-anak desa yang memerlukan pertolongan. Hal ini didasarkan pada Firman Tuhan yang berkata: ”Bapa bagi anak yatim” (Mazmur 68:6). Dalam memberikan pelayanan ini.

Kedua. selain untuk menjalankan Firman Tuhan yang telah disebutkan di atas. dan mereka akan pulang ke kampung halamannya atau kepada orang tuanya. setelah anak-anak selesai mengikuti pendidikan formal dan Sekolah Pelayanan Injil (SPI) maka anak-anak dikembalikan ke daerah mereka masing-masing dengan modal ilmu dan iman yang kuat serta penuh dengan kuasa Tuhan. Ada dua hal yang menjadi latar belakang berdirinya Panti Asuhan ini.65 ”Ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan Allah Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dalam kesusahan mereka. sehingga misi Kristen juga bisa menjangkau mereka yang miskin. maka Anak Misi Nusantara ini merupakan bagian kecil dari gerakan anak-anak asuh. menuai jiwa di desa. sehingga akan terjadi perkara-perkara besar di daerah mereka. Kebanyakan dari mereka tinggal di dalam panti asuhan sampai mereka lulus SMU. anak-anak panti asuhan ini tidak dibatasi sampai kapan mereka akan tinggal. menjadi terang. banyak jiwa dimenangkan untuk Tuhan Yesus Kristus. Allah sangat peduli dengan anak yatim piatu dan anak miskin. dan menjaga dirinya sendiri supaya tidak dicemarkan oleh dunia "(Yacobus 1:27). kaum bangsa (Lukas 10:2. sebab mereka dididik keagamaan yang kuat dan dibentuk sedini mungkin untuk menjadi misi Kristen yang kuat sehingga dapat memenangkan banyak jiwa untuk Yesus Kristus. suku. Meskipun begitu. Anak Misi Nusantara mempunyai keistimewaan khusus. Yohanes 4 :36-38). agar anak-anak bebas mengenyam pendidikan dan merupakan program pengentasan kemiskinan. Biasanya . menampung mereka yang berada di daerah terpencil dan suku-suku terasing di Indonesia. kalau pemerintah mengadakan pergerakan anak asuh. Pertama. Oleh karena itu panti asuhan ini diberi nama "Anak Misi Nusantara".

mungkin karena bencana atau memang sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Namun ada juga beberapa yang sudah tidak mengenal orang tuanya. Sosok Hj. Awal berdirinya panti asuhan ini karena keprihatinannnya melihat kondisi anak-anak yang ada didaerah pedesaan yang secara ekonomi mauapun kehidupan sosialnya masih dibawah garis kemiskinan.66 mereka akan mencari kerja dikampung halamannya. Akan tetapi karena selama bertahun-tahun tidak ada anak yang mau tinggal maka mengggunakan sistem non panti. Kemudian oleh menantu Hj. 2. Dan disamping itu juga memiliki . Baru pada tahun 2007 mulai ada 9 anak yang mau tinggal dipanti dan terus bertambah hingga saat ini mencapai 61 anak. bahwa mereka diperbolehkan untuk tinggal sampai kapanpun didalam panti asuhan tersebut dengan kegiatan yang tidak berbeda dengan waktu dia masih sekolah. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Panti Asuhan Darul Hadlonah Panti asuhan ini disebut dengan Griya Asuh Darul Hadlonah yang mulai dirintis pada tahun 1980an oleh Hj. meskipun beliau termasuk orang yang kaya raya tetapi dalam penampilannya sangat sederhana dan dalam pergaulan tidak memandang status sosial. Sowam didirikan lembaga pendidikan yakni TKIT dan SDIT. Dasar utama yang menjadi landasan berdirinya griya asuh ini adalah ajaran agama yang menganjurkan untuk memelihara anak yatim dan menyantuni orang miskin. Sebelum didirikan griya asuh dirumah beliau selalu ada anak yatim yang di asuh. dan setelah lulus SMU mereka tetap tinggal dipanti untuk membantu mengurus panti. Najibatun Sowam adalah pribadi yang sangat sederhana. Pihak panti sudah menyampaikan kepada anak-anak yang tinggal didalam panti tersebut. Pada awalnya dibangun gedung yang dikhususkan untuk anakanak griya asuh. Najibatun Sowam.

khususnya generasi muda dalam pembangunan bangsa dan negara. karena di tinggal orang tua merantau dan hanya ikut dengan kakek/neneknya. Hal tersebut dilakukan karena Panti Asuhan Darul Hadlonah belum memiliki kamar-kamar khusus untuk putra. Dan juga anakanak yang secara ekonomi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya. Panti Asuhan Darul Hadlonah bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam yang berada tidak jauh dari panti asuhan. Akan tetapi meski anak itu masih memiliki orang tua secara ilmu agama orang tuanya tidak mempunyai pengertian yang cukup untuk mengajarkan anaknya tentang agama maka anak itu sudah terkategori yatim. b. Meningkatkan kualitas sumber daya insan. Visi dari panti asuhan ini adalah menyantuni dan memelihara anak-anak yatim/piatu/yatim piatu dan tidak mampu baik melalui panti maupun non panti. Menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi. kesehatan dan lingkungan hidup c. Adapun visi ini didukung dengan misi sebagai berikut: a. Dan juga anak-anak yang terlantar. Kerja sama antara Panti Asuhan Darul Hadlonah dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam berada dalam wadah yang bernama Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU ( YKM NU) atau yang lebih sering disebut sebagai Griya Asuh. Karena yang dimaksud yatim disini bukan pengertian yatim secara harfiah yakni anak yang bapak/ibunya sudah meninggal. . d. Meningkatkan kualitas sumber daya perempuan Indonesia dalam bidang sosial/lingkungan hidup dan kesehatan/KB. Kerja sama yang dilakukan yaitu berupa penempatan anak asuh putra untuk tinggal di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Menggalang dan mengerakkan potensi perempuan Indonesia dalam mewujudkan wadah pelayanan di bidang sosial. lembaga dalam maupun luar negeri dalam melaksanakan program-programnya.67 tujaun untuk menyelamatkan ahklak anak-anak yatim tersebut.

pelajaran bahasa Inggris dan MIPA. Hubungan antara anak griya dengan pengasuh dan pengurus juga terlihat akrab. dan juga olah raga yang lain. Ada juga kolam tempat pemeliharaan ikan lele dan rumah tanaman. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi karena untuk pendidikan/pengetahuan umum anak-anak sudah mendapatkan dari sekolah pagi. Akan tetapi meski sangat dekat rasa hormat yang tinggi juga terlihat jelas dari anak-anak kepada para pengurus dan pengasuh. Di Griya Asuh ini juga diberikan beberapa pelajaran keterampilan seperti pembuatan telur asin. Secara pribadi ada beberapa nama tetapi . pembuatan keset dari kain. Pelajaran olahraga juga diberikan di griya asuh ini. pembuatan berbagai macam perhiasan dari manik-manik.68 Sistem pendidikan yang dilakukan di Griya Asuh ini lebih menekankan pada pendidikan akhlak dan juga moral agama. Jadi model pembelajaran lebih ke model pembelajaran pesantren. Serta penghormatan mereka terhadap tamu juga sangat baik. setiap hari Minggu ada guru olah raga yang datang ke griya asuh untuk mengajar senam. Dengan harapan apabila anak-anak ini telah keluar dari griya asuh ini tidak hanya mempunyai bekal ilmu umum dari bangku sekolah akan tetapi memiliki ahklak yang baik dan juga memiliki skill yang dapat digunakan untuk bekal hidup selanjutnya. Untuk pendanaan griya asuh ini pada awalnya dana pribadi yang digunakan akan tetapi seiring bertambahnya jumlah anak yang ada maka untuk pendanaan juga mulai membuka untuk pribadi atau lembaga yang ingin menginfakkan ataupun untuk menshodaqohkan hartanya kepada griya asuh. Di griya asuh ini juga mendatangkan guru-guru dari luar untuk beberapa mata pelajaran umum yang disana banyak anak griya asuh yang kesulitan seperti. Tidak ada jarak yang terlihat dalam interaksi antara pengurus dengan anak-anak griya asuh. Sapaan yang hangat dengan bahasa yang santun itulah pertama kali yang kami rasa saat pertama tiba di griya asuh ini.

kamar tidur dua ruangan. Hal ini tidak hanya sekedar cerita pengurus tetapi juga cerita dari anak-anak griya asuh sendiri dan dari pengasuh juga. Pertama kali YPBT berlokasi di RSUP Klaten.Soeradji.Soeradji. Pemrakarsanya adalah Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Klaten. Untuk kesenian griya asuh ini memiliki rebana. Yang semula kurus-kurus sekarang badannya mulai berisi dan banyak juga perubahan sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut. Sarana olah raga ada lapangan voli dan lapangan badminton. Beliau bersama dokter-dokter yang lain (Ikatan Dokter Klaten) kemudian mendirikan YPBT karena sering mendapat keluhan dari masyarakat. Dr. Sepeninggal Dr. Perkembangan anak secara umum banyak perubahan baik secara fisik maupun tingkah laku. lokasi YPBT berpindah lagi ke kantor veteran dan dikelola oleh istri-istri veteran. Namun pertimbangan banyaknya orang sakit di RSUP membuat Dr. dapur. mushola dilantai dua. SD dan TK menjadi satu kamar. YPBT sering mengalami perpindahan lokasi dalam perjalanannya. Meski dana pribadi dari keluarga almarhumah ibu Hj. Soeradji Tirtonegoro. Sebelum di Gayamprit.sedangkan secara lembaga dengan Dinas Sosial Kabupaten Klaten. ruang makan sendiri. YPBT berlokasi di jalan Pemuda.Soeradji dan rekan memindahkan lokasi YPBT ke kediaman Dr. Untuk kamar mandi ada 6 kamar mandi dan masih ada perencanaan untuk penambahan kamar mandi. Kondisi gedung sarana dan prasarana di griya asuh ini bisa dibilang bagus. Panti Asuhan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Panti Asuhan YPBT didirikan pada tahun 1959. untuk yang SMA berada dalam satu kamar. kediaman Ibu Hadi Sanyoto dan .69 hanya pengurus yang tahu karena memang tidak ingin dipublikasikan. untuk yang SMP. Sowam juga masih terus.

makan. Ruang tamu dan kantor h. Gudang . WC berupa lantai kamar mandi yang dilubangi dan ditutupi kayu (langsung terhubung ke saluran pembuangan/ tidak ada WC model jongkok seperti yang ada di rumah-rumah) l. 1 untuk anak Ibu Panti. sementara anak / bayi tidur di atas busa di lantai) j. YPBT memiliki luas bangunan sekitar 290 m2 yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan sebagai berikut: a. dan 1 kamar mandi untuk semua anak / bayi serta pengasuh dan tamu). Teras serbaguna yang digunakan untuk belajar. YPBT berpindah lokasi di Jalan Sindoro 14B Gayamprit.58 dan TPA Siwi Mekar Nomor 24. bermain f. setelah masuk gerbang (di samping taman bermain) c. YPBT juga mengelola Tempat Penitipan Anak (TPA) Siwi Mekar. Ruang tidur anak / bayi dan pengasuh YPBT (di dalam ruangan ini terdapat 1 tempat tidur yang digunakan oleh anak Ibu Panti. Ruang tidur ibu Panti i. Taman bermain kecil setelah masuk gerbang b.55. YPBT dan TPA Siwi Mekar memiliki ijin usaha.70 sejak tahun 2004. Selain mengelola Panti Asuhan. Ruang ganti baju dan meletakkan peralatan sekolah (jadi satu dengan ruang tidur anak / bayi) k. Klaten Selatan. Garasi. 1 untuk Siti (anak yang mengalami cacat mental. di sebelah kanan bagian depan YPBT. Ruang TV (menjadi satu dengan teras serbaguna) g. memiliki atap namun terbuka d. Akte Notaris YPBT Nomor 46. Tempat cuci piring dan menjemur pakaian di sebelah kiri bagian depan YPBT e. 4 kamar mandi (1 untuk Ibu Panti. Dapur.

Beranda lantai 2. Ada juga yang datang setahun sekali . yang ibunya TKW. Ruangan lantai atas (dulunya digunakan sebagai dapur.namun ditelantarkan atau tidak diakui. namun setelah 1 tahun yang lalu dapur pindah ke bawah sehingga ruangan atas tidak digunakan atau sebagai gudang) n. wali.71 m. kemungkinan bayi-bayi ini akan terlantar. Pada dasarnya YPBT adalah tempat penitipan bayi. untuk menjemur pakaian o. Tidak ada syarat (tidak harus yatim piatu) yang diberlakukan di Panti ini dalam penerimaan bayi. Sebagian besar kasus. Namun pihak panti tetap meminta identitas pihak yang menyerahkan bayi tersebut ke Panti. kebanyakan anakanak di sini bukan yatim piatu (tidak benar-benar tidak memiliki ayah atau ibu). Dinas Sosial) sudah melakukan perjanjian mengenai biaya penitipan. Tapi ada juga yang menitipkan anaknya di sini karena keharusan bekerja sehingga tidak bisa merawat anaknya. Biaya biasanya per bulan. atau bayi hasil temuan oleh masyarakat yang oleh polisi atau Dinsos diserahkan ke YPBT. Karena jika ada syarat. Menurut penuturan Ibu Panti. ibu Sri Rejeki. Meskipun begitu tidak semua pihak penyerah bayi membayar biaya penitipan. pihak panti dan pihak penyerah bayi (orang tua. sebenarnya mereka memiliki ayah atau ibu. tidak direstui orang tuanya. Semisal jika terjadi adopsi pihak Panti memerlukan ijin pihak bayi untuk menyerahkan kepada pihak pengadopsi. Misal ibu yang tidak mempunyai suami harus bekerja sehingga menitipkan anaknya di panti YPBT. Beberapa alasan mendasari anak-anak ini berada di sini. Ada yang karena “korban kampus”. Tidak ada ruangan khusus untuk sholat Sebagian besar anak-anak yang berada di Panti Asuhan YPBT diserahkan ke panti ini saat mereka masih bayi. Pada awal bayi dititipkan. Ada yang hanya membayar pada awalnya lalu tidak datang lagi untuk membayar biaya penitipan maupun menengok anaknya. rata-rata saat mereka berusia 3 hari.

bagaimana kondisi ekonominya. “beda bayaran. Jika bayi ada. YPBT mengijinkan adanya adopsi. biaya biasanya per hari dan berbeda-beda. Bayi atau anak yang dititipkan di Panti Asuhan tinggal atau tidur di YPBT sedangkan bayi atau anak yang dititipkan di TPA. dan lain-lain) e. panti asuhan menghubungi pihak yang akan mengadopsi d. beda perlakuan!”. . Saat ini terdapat sekitar 30 anak yang diasuh di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. panti menghubungi Notaris YPBT f. Penyerahan bayi dari Dinas Sosial. Jika syarat memenuhi. Pelayanan yang diberikan kepada bayi atau anak tergantung pada besarnya biaya yang dibayarkan ke YPBT. Kepolisian. pihak panti asuhan tidak melakukan kontrol terhadap bayi yang diadopsi) Panti asuhan dan TPA dibedakan dari lama penitipannya. prospek masa depan untuk bayi yang akan diadopsi. Prosedur adopsi: a. yang tidak ada identitas orang tuanya. Sidang adopsi di pengadilan g. Menyampaikan pada panti keinginan untuk adopsi bayi b. Panti asuhan memilih bayi yang diijinkan untuk diadopsi c. atau orang tua bayi (setelah diserahkan ke pihak pengadopsi. Menurut pengasuh. Bagi bayi atau anak yang dititipkan di TPA. diserahkan ke YPBT waktu pagi dan diambil orang tuanya sore atau malam harinya. Biasanya bayi yang diadopsi adalah bayi yang dibuang. bayi yang diadopsi memiliki orang tua. Kebanyakan berusia antara 3-12 tahun.72 (pembayaran dirapel). Tapi tidak menutup kemungkinan. Panti asuhan dan dinDinas Sosial melakukan survei pada pihak yang akan mengadopsi (apa pekerjaannya. Namun tidak semua bayi bisa diadopsi. namun ada pula yang tidak. Ada bayi yang menggunakan pampers. membayar biaya penitipan anaknya dan sekalian menengok anaknya / bayi yang dititipkannya di YPBT.

Wajib menghormati orang yang lebih tua d. Tugas pengasuh di YPBT dan TPA adalah mengasuh bayi dan anak. Jidane (1 tahun). Tidak boleh membawa handphone g. Ada juga anak yang dititipkan di YPBT tapi tidak menginap seperti Rio (2 . Semuanya bertempat tinggal di Klaten. Kukuh Adi Nugroho (11 tahun). Tidak boleh keluar /pergi tanpa ijin c. Anak YPBT yang menginap di YPBT yaitu Stella Vinona Aipasha (12 tahun). dan mengepel. Ratna Dewi Safitri (11 tahun). Arafig. Agus Santoso (9 tahun). Anis Novita Sari (10 tahun). Neyla C. Ada yang sama sekali belum mengenyam pendidikan dan jenjang pendidikan tertinggi adalah SLTA. Florentin (11 tahun). Tidak boleh membawa sepeda sendiri Rata-rata pengasuh di panti asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar berusia di atas 30 tahun. Neyla A (5 tahun). Nur Wahyu Ardianto (8 tahun). Tidak ada pembagian tugas yang spesifik untuk pengasuh. Ardianto Eko Nogroho (8 tahun). Terdapat 10 pengasuh yang bekerja di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar.73 beberapa berusia di bawah 3 tahun dan di atas 12 tahun. Agus Salim. Mereka bekerja di YPBT tanpa wawancara. mencuci baju dan piring. Anik (bayi). kebanyakan bekerja karena diminta oleh pihak YPBT (oleh Ibu Panti). Fasha (5 tahun). Neyla B. menyapu. Satu pengasuh untuk banyak pekerjaan. memasak. Peraturan lebih seperti norma kesopanan : a. Tidak ada peraturan khusus (tertulis) yang diberlakukan di YPBT. Desi Rahmalia (SMA). 3 di antaranya adalah laki-laki. Farah Sabina (9 tahun). Risky Arta Novita Ayu P (14 tahun). Tidak boleh main jauh-jauh dan terlalu lama b. Tidak boleh berkelahi f. Tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor e. Jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Kurniady Ary P (11 tahun) dan Reza (batita).

Sumber dana rutin berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta. tas).74 tahun). Kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di YPBT seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya seperti bermain dan belajar. namun sudah 1 bulan ini tidak dijalankan oleh anakanak Panti. jualan jajanan dan sayur matang). sehingga terbentuk watak bangsa yang membuat kehidupan bangsa Indonesia menjadi semakin baik. ilmu . ilmu-ilmu bahasa Arab. Ada kegiatan mengaji Al Qur’an dengan mendatangkan guru ngaji (2 orang) dari Damaran setiap hari Jum’at dan Minggu sore jam 3. memasak. ilmu tafsir. Pakaian yang dipakai anak-anak panti adalah pemberian donatur. Monika (8 tahun). galon air mineral. mie. pondok pesantren dan madrasah diminta untuk terus meningkatkan metodologi kepengasuhannya. Ada yang khusus mengajarkan disiplin ilmu hadis dan fikih. biasanya karena kekhususan disiplin ilmu yang diajarkan oleh kyainya. Anakanak di YPBT biasa disuruh oleh mbak pengasuh untuk membantu pekerjaan mbak pengasuh. subsidi pemerintah. C. yang memberi bantuan baik berupa uang atau barang (seperti beras. Sumber dana tidak rutin berasal dari donatur dan dermawan baik individu maupun kelompok. Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan keagamaan. pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Arif (8 tahun). Tifa (5 tahun). susu. Oleh karena itu. bayi yang tidak diketahui namanya oleh Ibu panti maupun mbak pengasuh. Sebenarnya ada jadwal piket yang dibuat oleh ibu Panti bagi anak-anak. dan hasil penjualan dari usaha (gas. Pesantren pada masa ini ada yang memiliki kekhususan tertentu yang membuatnya berbeda dengan pesantren lainnya. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Pondok pesantren merupakan lembaga Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam. membuang sampah. seperti menyapu.

Saat ini jumlah pondok pesantren di Jawa Tengah berjumlah 2.574 yang tersebar di Kabupaten/Kota dengan berbagai tipe baik salafiyah. ashriyah maupun kombinasi dari keduanya. Dengan sistem madrasah. Dari jumlah tersebut.16%) yang tersebar di 14 kecamatan. pesantren mencapai banyak kemajuan yang terlihat dari bertambahnya jumlah pesantren. Hal ini dianggap sebagai imbangan terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai sistem pendidikan Barat. pesantren juga mengalami perubahan dalam segi kurikulum dengan ditambahkannya sejumlah pelajaran nonagama. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Adapun penyebaran pondok pesantren tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Di samping itu.75 tasawuf. pondok pesantren yang ada di Kota Solo berjumlah 18 (0. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. sehingga ijazah tidak terlalu dipentingkan dan waktu belajarnya juga tidak dibatasi. . walaupun pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan metode sorogan dan wetonan tetap dipertahankan. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. dan mempunyai kualitas intelektual.19 (Kabupaten Klaten).69%) yang tersebar di 5 kecamatan dan di Kabupaten Klaten berjumlah 30 (1. berakhlak mulia. mandiri.18 (Kota Surakarta) dan Tabel 4. Perubahan penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan pesantren ialah ketika dimasukkannya sistem madrasah. dan lain-lain. mempunyai integritas pribadi yang kukuh.

76

Tabel 4.18 Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Tipe Jumlah Santri L P 290 280 4 18 35 21 248 267 120 30 25 67 40 249 55 45 55 40 87 186 65 113 37 43 117 114 116 118

1 PP. Al Muayyad 2 PP. Al Qur'an 3 PP. Darussholihin 4 PP. Muttaqien 5 PP. Nurus Salman 6 PP. Ta'mirul Islam 7 PP. Al Ma'hadu Islami Jamsaren 8 PP. Darud Dzikri 9 PP. Suryani 10 PP. MTA 11 PP. Tahfidz Wata'limil Qur'an 12 PP. Ar Royan 13 PP. Hidayatullah Al Kahfi 14 PP. Hidayatullah Solo Utara 15 PP. Terbuka Al Ahad 16 PP. Al Abidin 17 PP. Budi Utomo 18 PP. Hadil Iman Sumber: Departemen Agama

Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Kombinasi Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Ashriyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Pasar Kliwon Ashriyah Pasar Kliwon Kombinasi Jebres Salafiyah Jebres Salafiyah Jebres Ashriyah Jebres Salafiyah Banjarsari Ashriyah Banjarsari Salafiyah Banjarsari Salafiyah

Pesantren-pesantren tersebut dapat dikategorikan dalam tiga model. Pertama, model pesantren tradisional yang masih mempertahankan sistem salafiyahnya dan menolak intervensi kurikulum dunia luar. Kedua, model pesantren yang sudah lebur dengan modernisasi. Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan adapula kurikulum umum. Tetapi pada

perkembangannya, karakteristik kepesantrenannya hilang begitu saja dan hanya mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Ketiga, model pesantren yang mengikuti proses perubahan modernitas, tanpa menghilangkan sistem kurikulum lama yang salafi.

77

Tabel 4.19 Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Prambanan Gantiwarno Wedi Wedi Trucuk Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Karangnongko Karangnongko Ceper Ceper Ceper Ceper Juwiring Juwiring Wonosari Wonosari Wonosari Wonosari Karanganom Karanganom Tulung Tulung Jatinom Jatinom Jatinom Kemalang Klaten Utara Klaten Utara Tipe Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Ashriyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Kombinasi Kombinasi Jumlah Santri L P 35 12 25 12 7 1 68 89 63 72 29 34 30 23 58 24 4.200 3.061 54 50 47 30 2 19 50 30 93 54 8 18 70 30 60 100 102 70 86 150 60 93 4 15 127 30 24 38 24 18 10 15 55 60 85 54 69 96

1 PP. Arruum Widodo 2 PP. Candi Barokah 3 PP. Darul Muhibbin 4 PP. Sunan Kali Jaga 5 PP. Ta'limul Qur'an 6 PP. Al Madinah 7 PP. Hidayatul Qur'an 8 PP. Al Munir 9 PP. Darul Qur'an 10 PP. Hudallah 11 PP. Jeblogan Bambu Atiq 12 PP. Mambaul Hikam 13 PP. Nurudh Dholam 14 PP. Sendang Sinongko 15 PP. Al Fattah 16 PP. Daar Al Muttaqin 17 PP. Abdurrahman Bin Auf 18 PP. Al Barokah 19 PP. Al Manshur 20 PP. Al Qur'an YAPI 21 PP. Karanganom 22 PP. Roudlotuzzahidin 23 PP. Ar Ridwan 24 PP. Ageng Selo 25 PP. Al Manshurin 26 PP. Raudhatun Nasyi'in 27 PP. Syafaatur Rosul 28 PP. Fathul Huda 29 PP. Al Urwatul Wutsqa 30 PP. Syarifudin Sumber: Departemen Agama

78

Berdasarkan pada observasi, pondok pesantren yang tersebar di Kota Solo dan Kabupaten Klaten tidak semuanya menggunakan sistem madrasah (memberlakukan sekolah formal di dalam pondok pesantren). Ada beberapa pondok pesantren yang dijadikan tempat untuk

memperdalam ilmu agama Islam dan untuk menempuh pendidikan formal, mereka masuk ke sekolah-sekolah umum. Pondok pesantren yang berkembang tetap mencirikan pada konsep kesederhanaan, keikhlasan serta kepatuhan terhadap sebagai pimpinan

pondok pesantren. Hal ini terungkap dari persepsi para pengurus pondok pesantren terhadap sosok ideal seorang santri yaitu patuh, penurut, dan memiliki kepribadian yang Islami. Untuk lebih jelasnya tentang profil pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini.

1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad Pondok pesantren ini terletak di pusat Kota Surakarta tepatnya Jalan KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan. Pondok Pesantren AlMuayyad dirintis mulai tahun 1930 oleh KH. Abdul Mannan di atas tanah seluas 3.500 m2 yang dijariyahkan oleh KH. Ahmad Shofawi di Kampung Mangkuyudan Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pada perkembangannya luas lahan yang dipunyai Al Muayyad menjadi 3.650 m2, tetapi luas tanah ini sudah tidak memadai lagi untuk mewadahi perkembangan jumlah santri dan satuan pendidikan yang dirintis karena sangat penting bagi Al Muayyad untuk terus mengembangkan diri seiring dengan perkembangan zaman. Pada mulanya Al-Muayyad merupakan pondok pesantren yang bercorak tashawwuf, dalam arti pesantren dengan kegiatan utama latihan pengamalan syari’at Islam dan belum melakukan pendalaman ilmu-ilmu agama secara teratur. Titik beratnya melatih para santri

79

dengan perilaku keagamaan. Pengajian yang diselenggarakan berkisar pada ajaran akhlak. Pada tahun 1939 didirikan Madrasah Diniyah untuk lebih menertibkan proses belajar mengajar ilmu-ilmu agama yang banyak menggunakan rujukan kitab kuning. Meskipun beberapa

madrasah/sekolah menyusul didirikan di lingkungan Al-Muayyad, namun oleh masyarakat Pondok Pesantren Al-Muayyad lebih dikenal sebagai pondok Al-Qur’an. Hal ini dimungkinkan karena pengajian Al-Qur’an menjadi inti pengajaran hingga saat ini. Selain itu KH. Ahmad Umar sendiri dikenal sebagai seorang kyai yang ahli dalam bidang Al-Qur’an dengan sanad (silsilah ilmu) dari KHR. Moehammad Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Nama Al-Muayyad diberikan oleh seorang ulama besar KHM. Manshur. Beliau seorang mursyid thariqah Naqsyabandiyah yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Semula nama Al-Muayyad diperuntukkan bagi nama masjid di komplek pondok. Namun nama ini kemudian digunakan untuk menamai setiap lembaga dan badan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dengan nama tersebut, yang berarti dikuatkan, para ber-tafa’ul (berharap) agar pesantren ini menjadi besar dengan dukungan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinan KH Ahmad Umar Abdul Mannan membentuk Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah/madrasah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan Pekan Pembinaan Tunas Ahlussunnah wal Jama’ah (PEPTA). Saat itu pulalah Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah Ma’ahid AlIslamiyyah (RMI/Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal 21 Dzul-Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M.

Dengan pola semacam itu Al-Muayyad berkeinginan mampu mewadahi dukungan masyarakat luas bagi penyiapan generasi muda dalam wadah pesantren dengan manajemen terbuka. c. dan kebangsaan. khususnya di bidang pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan nasional. dan tanggungjawab para pengelola bisa dibakukan. Al-Muayyad secara umum berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fiddîn (pendalaman ilmu-ilmu agama). Secara singkat tahap-tahap perkembangan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Tahun 1930 – 1937 Tahun 1937 – 1939 Tahun 1939 Tahun 1970 Tahun 1974 Tahun 1992 : Pengajian Tashawuf : Pengajian Al-Qur’an : Berdiri Madrasah Diniyah : Berdiri Madrasah Tsanawiyah dan SMP : Berdiri Madrasah Aliyah : Berdiri Sekolah Menengah Atas Madrasah Diniyah bersama-sama dengan pengajian Al-Qur’an dan sekolah serta kegiatan kepesantrenan lainnya menempatkan ALMuayyad dalam keaktifan meningkatkan mutu sumber daya manusia. Sesuai dengan kemampuan dan pertimbangan situasional dewasa ini. tugas. sehingga pembagian kewenangan. . secara khusus mengarahkan diri untuk berfungsi sebagai: a. b. kemasyarakatan.80 Yayasan yang menjadi tulang punggung manajemen pesantren diaktifkan. Lembaga Pengajaran yang mencerdaskan para santri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. Lembaga Pendidikan yang aktif menanamkan nilai-nilai keislaman. karena pesantren sesungguhnya milik masyarakat. Lembaga Dakwah yang menyebarluaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di masyarakat.

d. Memiliki ilmu dasar mengenal Al-Qur’an dan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah menjadikan santri lulusannya: a. b. Memiliki ketrampilan dasar pengamalan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. wali kamar. pengurus putra dan pengurus putri. Secara umum tujuan pendidikan Pondok Pesantren AlMuayyad adalah menanamkan dan meningkatkan rûh Islam dalam perikehidupan beragama secara perorangan maupun bermasyarakat berdasarkan keikhlasan beribadah serta pengamalan syari’at Islam secara murni. e. Memiliki kemampuan dasar untuk merumuskan dan menyampaikan gagasan dakwah Islamiyah. Memiliki kecakapan dasar untuk memimpin organisasi atas dasar inisiatif. BPPA adalah Badang Pengawas Pengajian Al-Qur’an. c. atas tanggung jawab dan keswadayaan mereka. Pengasuh merupakan pemilik pondok.81 d. menuju kehidupan yang lebih baik. Masing-masing pengurus terdiri dari ketua. partisipasi. Tugas BPPA adalah membagi guru dan santri serta mengumpulkan buku ngaji yang berfungsi sebagai absensi. Pimpinan tertinggi adalah pengasuh (Pak Abdul Rozaq Shofawi). Pengasuh menunjuk beberapa orang untuk menjadi pengurus. bendahara. Lembaga Pelatihan yang membekali para santri dengan ketrampilan sebagai bekal hidup di kemudian hari. Lembaga Pengembangan Masyarakat yang mengentaskan/ mengemansipasikan santri dari kalangan tidak mampu untuk dibina. dan swadaya mereka sendiri. Pengurus dibagi menjadi 2. Memiliki bekal ilmu dan pengetahuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. . e. BPPA dan Kamtib. f. sekretaris. Memiliki sikap mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap harinya. Misal mengganti lampu putus. SMA dan MA. Di dalam PP Al Muayyad terdapat sie kesehatan yang bertugas menangani santri yang sakit. Satu wali kamar bertanggung jawab mengawasi 1 – 2 kamar. Selain itu pada hari-hari tertentu. jika ada dokter langsung ditangani dokter. Hasil pemeriksaan absensi mengaji ditindaklanjuti dengan memberikan laporan kepada sekolah/ madrasah tempat siswa belajar di lingkungan Al-Muayyad dan memberikan pembinaan terhadap siswa yang kurang rajin. jika sakit biasa diberi obat / dirawat di klinik. Ada juga sie Sarana dan Prasarana yang bertugas mengurusi kebutuhan pondok. Bagi santri yang tidak memenuhi target minimal pengajian diberikan sanksi berupa tidak boleh mengikuti tes bersama santri yang memenuhi syarat. Jika sakitnya parah langsung dibawa ke RS terdekat. Pengawas keamanan dan ketertiban yang bertugas mengawasi dan menertibkan santri dalam kegiatan pondok serta berwenang memberi sangsi kepada santri yang melakukan pelanggaran. PP Al Muayyad menerbitkan buku kecil yang berisi peraturan yang ada di dalam ponpes. Teknis pemberian sanksi diatur oleh masing-masing sekolah/madrasah yang tidak menyimpang dari ketentuan dan kode etik pendidikan. . santri memiliki jadwal rutin yang dimulai dari jam 4 pagi sampai 11 malam yang di isi dengan kegiatan beribadah. Kerajinan mengaji dijadikan syarat mengikuti tes. Sedangkan wali kamar bertanggung jawab mengawasi santri menurut pembagian kamar. Saat ini PP Al Muayyad memiliki jumlah santri sebanyak 290 santri dan 280 santriwati yang duduk di bangku sekolah SMP. santri diwajibkan melakukan ritual peribadatan yang telah dijadwalkan dan wajib diikuti oleh semua santri. Untuk memudahkan sosialisasi peraturan tersebut.82 Untuk ketertiban mengaji pondok menerbitkan buku absen mengaji yang setiap hari Kamis pagi dikumpulkan di Kantor Pondok untuk diperiksa.

biasanya untuk menaruh barang-barang pribadi santri seperti peralatan mandi. dimasing-masing kamar ada yang SMA atau Aliyah. Ditembok masing-masing kamar biasanya ditempel jadwal piket. jadwal kegiatan pondok.83 a. ”dilarang menaruh alas kaki disini”. kamar pengurus putri. peralatan makan. hanya pakai kasur lipat yang sangat tipis. Kamar ukuran kecil ada yang full tembok. Di atas almari-almari pembatas. Pondok Putri Pondok putri ada 20 kamar. Kondisi kamar lumayan semrawut. tempat nyuci. . sebagai senior (Mbak kamar). Lantai 2 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMP). dan lain-lain. tempat menonton TV. dan lain-lain. Ditembok gang-gang kamar biasa ditempel kata-kata peringatan seperti ”jagalah kebersihan”. Kamar ukuran kecil (± 3 x 4 meter) dipakai 8 – 10 anak. Di atas juga banyak pakaian yang digantung (termasuk pakaian dalam). ada juga yang sebagian tembok kemudian sisi yang lain dibatasi almari karena di terletak di gang. Tidak ada dipan. peraturan pondok. pakaian. Lantai 4 untuk jemuran pakaian dalam. handuk. dan aula. Lantai 3 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMA atau Aliyah). juga tempat nongkrong santri putri (curhatcurhatan). Kamar ukuran besar (± 9 x 8 meter) dibagi menjadi 2 kamar dengan disekat almari. masing-masing dipakai ± 15 anak. kamar mandi. Masing-masing wali kamar mengawasi 2 kamar. Lantai 1 untuk kantor pengurus pondok putri.

pakaian dicentel. kantor pengurus putra dan tempat nonton TV. Sepertinya keadaan tidak jauh berbeda dengan pondok putri. biasanya yang lebih senior (misalnya SMP kelas 2. Namun tempatnya lebih bagus dari tempat putri. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. Keadaan kamar putra berantakan. Kamar mandi ada 19 buah di lantai 1 dengan ukuran 2 x 1 meter. kalau yang SMA atau Aliyah biasanya sebagai mbak kamar). Menonton TV setiap hari jum’at. Lantai 1 untuk tempat makan (dulunya kamar). berisi sekitar 24 – 30 anak. Kamar ukuran besar di lt.84 Masing-masing kamar ada ketua. Keadaan tidak jauh berbeda dengan kamar santri (berantakan). sekaligus tempat wudhu santri. Kadang-kadang kantor pengurus putri juga dipakai tidur beberapa pengurus dengan alasan kamar pengurus banyak orang. Pondok Putra Pondok putra ada 8 kamar. Tempat mencuci berupa kerankeran air. Punya putra lantai . Mas kamar dipilih yang paling rajin dan senior (setidaknya yang kelas 3). kelas 3. Tidak ditata dengan baik (umbruk-umbrukan). Letaknya di samping kamar pengurus. Kamar pengurus putri terdiri dari 2 ruangan (2 kamar).3 ukuran memanjang dipakai 25 – 30 anak. Ukuran kamar lebih besar dari kamar putri. Setiap kamar diawasi 1 orang wali kamar. almari berisi dokumen-dokumen. Ada tempat menonton TV. di atas almari tempat menaruh barang-barang pribadi. hanya ada kasur lipat tipis. rak-rak kecil. Ada tempat menonton TV. ada 1 komputer. Setiap kamar ada mas kamar dan ketua kamar. Air di depan kamar mandi agak menggenang (receh). ruangan lebih besar. Lantai 2 dan 3 untuk kamar santri. Tidak ada dipan. kasur-kasur lipat ditumpuk tidak beraturan. Setiap kamar ada petugas piket harian yang dibagi oleh wali kamar. b. Kamar ukuran sedang (± 5 x 6 meter) untuk 25 anak. Kantor pengurus putri.

Mereka menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 081 825 4976.Tony Rodhiarto SH. Telp. Ketika pada tahun 1980-an berdiri sebuah musholla kecil sebagai sarana beribadah.2 Pondok Pesantren Darud Dzikri Masyarakat Joyotakan Wetan Kota Surakarta sejak dulu dikenal sebagai daerah Black List yaitu daerah yang penuh dengan pezinaan. HP.85 keramik dan lumayan bersih. bersabda “ Sebaik baik manusia adalah yang bemanfaat sesama Manusia “ Dilandasi hadits tersebut. (0271) 5869294. Satu tahun kemudian terwujud bangunan itu dan diberi nama PP Darud Dzikri Surakarta. 1.08282712334. Serengan Surakarta. 06/06 Kel. Joyotakan Wetan RT. Pondok Pesantren Darud Dzikri . banyak warga masyarakat yang sadar dan bertaubat hingga kekurangan tempat beribadah. Menonton TV setiap hari jum’at. Berawal dari kepedulian kondisi tersebut masyarakat setempat dan beberapa Pegawai BI Solo. Pondok Pesantren Darud Dzikri adalah tempat belajarnya para insan lansia. Kamar mandi lantainya kotor. yang terdiri dari Pensiunan Pegawai atau warga masyarakat sekitar. Dalam hadits Rosulullah SAW HP. Ponpes ini beralamat di Kp. Dan didaftarkan ke Notaris dengan Nomor 4 Tanggal 11 April 2006 di Kantor Notaris HM. Joyotakan Kec. kemaksiatan dan sarang persembuyian para perampok kelas kakap.MH and friends. tapi punya putri hanya ubin.pada tahun 2005 membeli tanah berukuran 3m X 7m untuk didirikan sebuah bangunan sarana ibadah untuk menimba ilmu agama serta memperkuat iman kaum Muslimin diwilayah tersebut. Dan ironisnya tidak ada tokoh Islam atau pemerintah yang peduli terhadap kondisi ini. Untuk itu kehadiran agama dimasyarakat itu sangat dibutuhkan sekali walaupun mungkin penuh dengan tantangan dan ujian. serta Anak Yatim Piatu dan Fakir Miskin yang secara materi tergolong tidak mampu.

Menghindarkan mereka dari pengaruh negatif dan pergaulan bebas c. . Infaq dan Shodaqoh dari para simpatisan /Hamba Allah. Dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Mujahidin dengan nomor Akte Notaris No. b. Dalam menjalankan kegiatan Pesantren Lansia. 1. karena dalam membangun dan mengembangkan pesantren melibatkan seluruh lapisan masyarakat Islam. Kas Pondok Pesantren Darud Dzikri Surakarta. Ponpes Darud Dzikri Surakarta mempunyai sumber dana antara lain : a. Bantuan dari berbagai pihak yang tidak mengikat dari instansi swasta maupun pemerintah. Pondok Pesantren Mujahiddin Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang memadukan antara sistem kepesantrenan dengan pendidikan modern. tidak berada dibawah organisasi atau kelompok tertentu dan tidak berafiliasi pada golongan atau jami`iyah tertentu.86 Surakarta memilih “Pesantren Lansia dan Panti Anak Yatim Piatu & Fakir Miskin” sebagai program utama dalam rangka mengharap Ridlo Allah SWT. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta merupakan pondok/lembaga yang mandiri. c. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta berdiri di Kalurahan Banyuanyar Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta Jawa Tengah-Indonesia pada tanggal 15 Desember 1990. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah milik umat Islam.3. Adapun maksud dan tujuan Panti ini adalah: a. Mencapai dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 3 Tanggal 22 Pebruari 1980. Mempersiapkan masa depan mereka dengan Imtaq dan Iptek yang berguna bagi bangsa b.

Mendidik generasi muslim agar menjadi pribadi yang lurus iman. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas. sehingga nantinya diharapkan menjadi generasi yang beriman. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas dan mampu memahami Islam secara lengkap/kaffah.753 m2 yang merupakan tanah Wakaf Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta memiliki 3 visi yaitu: a. b. Melatih generasi muslim dengan bekal ketrampilan hidup (life skill) yang memadai c. Menjadi tempat berlatih muslim dalam bidang keilmuan dan ketrampilan c. berahklaq mulia dan memahami Islam secara kaaffah. berakhlak mulia. menggabungkan kurikulum pelajaran SMP dan Pondok Pesantren ditambah ekstrakurikuler. tangguh dalam bidang ilmu dan fisik serta sholeh akhlaqnya Adapun visi tersebut didukung dengan misi sebagai berikut: a.87 Pondok Pesantren Al Mujahidin ini berdiri diatas areal tanah seluas 1. Menjadi Madrasah / Pesantren unggulan Indonesia b. Memiliki siswa yang tangguh dan sholeh. Pondok pesantren ini didukung dengan 16 staf pengajar yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dari mulai lulusan MAN dan terkemuka di . Melatih generasi muslim agar selalu membela agama Islam dan berjuang fi sabilillah dengan harta dan nyawa disegala bidang kehidupan Tujuan pondok pesantren ini adalah untuk memfasilitasi anak-anak Islam yang kurang mampu dalam menempuh pendidikan serta mendidik generasi muslim yang sholeh. Tujuan pondok pesantren ini salah satunya diwujudkan melalui pendirian unit pendidikan yaitu MTs (khusus putra) yang terakreditasi B dengan Nomor 058/BAPSM/XII/2007.

30 pagi sampai jam 10 malam. Pondok pesantren ini terdiri dari 3 pengurus inti. Disamping itu santri yang tinggal disini tidak boleh bekerja atau menikah. sedangkan untuk tempat belajar santri bisa dimana saja selama masih dilingkungan pondok pesantren.88 sampai S2. 1. Setiap santri memiliki rutinitas yang telah dijadwalkan dari mulai jam 3. 1 Sekretaris dan 1 Bendahara. Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. dimana setiap kamar santri ada ketua yang disebut ketua kamar yang bertugas untuk mencatat pelanggaran yang dilakukan santri. Masjidnya adalah Masjid Agung. dan dana pembangunannya berasal dari Masjid Agung. setiap kamar tidur terdapat ± 3-5 santri. mengumpulkan hp pada waktu . Masjid Agung.4. Pondok pesantren ini khusus untuk santri yang berumur 18 tahun keatas atau sudah termasuk usia dewasa. Akhirnya pada tahun 1983 atas prakarsa KH Umar Sahid dan KH Muhamad Sidiq didirikanlah pondok tersebut. yaitu 1 Ketua. hal ini karena agar dalam proses belajar mengajar para pengasuh atau ustadz lebih mudah membimbing para santri karena sudah memiliki kesamaan paham. kebanyakan santri belajar dikamar masingmasing. Jumlah santri ada 207 yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan persebaran santri menetap berjumlah 27 anak dan santri tidak tetap/binaan berjumlah 180 anak. Surakarta Pondok pesantren ini pada awalnya berdiri karena gagasan para pendatang yang menginginkan adanya suatu pesantren untuk belajar mengaji dan membaca Al Qur’an ditengah-tengah keramaian Kota Surakarta dimana penduduk asli Surakarta sendiri tidak tepat dalam membaca Al Quran. Untuk kamar tidur. Fasilitas yang ada antara lain tempat untuk bermain bulutangkis.

dan pengumpulan Handphone. dan adapun aturan dalam pelanggaran adalah satu kali melakukan pelanggaran santri diingatkan. Untuk pelibatan santri dalam membuat keputusan didasarkan pada situasi dan kondisi. serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukan santri yang berkaitan dengan peraturan pondok. Hierarki Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. Bagan 1. yaitu Abah Mutohar yang mengajar bacaan Tahfidz dan Abah Dasuki sebagai pengasuh Ta’lim.89 yang telah disepakati. jika melakukan hal ini santri bisa langsung dikeluarkan oleh pihak pondok. Masjid Agung. 100-300 ribu dan sumbangan dana rutin dari Masjid Agung. Surakarta Pengasuh Ketua Pengurus Sekretaris Ketua Kamar Bendahara Santri Biaya operasional kegiatan santri sehari-hari berasal dari iuran santri tiap bulan sebesar Rp. santri biasa dilibatkan dalam pembuatan peraturan ringan seperti ketentuan waktu berkumpul. Pondok ini memiliki 2 pengasuh Utama atau biasa disebut . dua kali . Sanksi terberat dalam pondok ini adalah minum-minuman keras. penentuan khotib dalam khutbah. Sanksi didasarkan pada kredit point.

yakni bapak Akhid yang sekarang menjadi pengasuh di pondok pesantren Al Munir. Bapak Irwandi berasal dari Bantul Yogyakarta. Pendiri dari pondok pesantren ini adalah bapak Irwandi ayah dari bapak Akhid Mutiangin yang sekarang menjadi di ponpes ini. Pondok ini memang bersebelahan dengan perumahan penduduk. dan bernyanyi dimalam hari sering dikeluhkan oleh santri. dan Panti Asuhan. akan tetapi pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter ada seseorang yang ingin menjual tanah di daerah yang sekarang menjadi lokasi PonPes seluas 12x6m2. keakraban terjalin erat antara santri dan pengurus. akan tetapi juga ada santri yang mengeluhkan tentang keberadaan warga sekitar pondok yang beraktivitas dimalam hari karena sering mengganggu. Pondok Pesantren ini berdiri pada tahun 2000. kebanyakan santri sangat senang tinggal dipondok ini. . Yayasan Al Munir memiliki tiga Program Utama yaitu : Pondok Pesantren (Ponpes). Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. dan barulah ketiga kalinya santri baru dilaporkan ke orang tua. Dari awal pendirian pondok ini memang ditujukan untuk anaknya yang saat itu masih nyantri di Pondok Pesantren Darussalam. dan aktivitas penduduk seperti kumpul. Akan tetapi resmi dijadikan menjadi sebuah yayasan resmi yakni Yayasan Al Munir baru pada tahun 2003. 2. Hubungan santri dengan pengurus dan pengasuh terlihat dari raut wajah dan perilaku santri. Madrasah Diniyah (Madin).90 melakukan pelanggaran santri juga masih diingatkan. Pare Kediri. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten 2. karena pada saat itu beliau aktif mengisi ataupun mengajar ngaji di daerah tersebut. Pondok Pesantren Al Munir Pondok Pesantren (PonPes) Al Munir terletak di Desa Gumul. kemudian beliau membeli tanah itu dan mendirikan pondok pesantren.1.

Semua kegiatan telah dijadwalkan dengan ketat. akhlak. Pada saat ini ada terdapat 7 santri yang mukim di pondok ini. ramai. akhirnya ruangan itu kosong. Materi pembelajaran ada 2 yaitu pembelajaran Al Qur’an dan ilmu fiqih. pertama kali menggunakan Iqro. lari-larian di pesantren. jadi untuk makan santri bergabung dengan pak . dan juga bersih-bersih. Untuk santri yang ada di pondok ini masih pasang surut. Beberapa peraturan yang ada antara lain : tidak boleh memakai pakaian ketat (kaos ketat & celana jeans). berpakaian tidak sopan. Adapun pembelajaran ilmu fiqih melalui penggunaan beberapa kitab. Untuk pelajaran umum diperoleh melalui sekolah-sekolah formal yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. pondok ini memiliki 2 kamar untuk santri putri. Selanjutnya waktu digunakan untuk belajar dan istirahat. Dua diantaranya sudah dewasa selain sebagai santri juga sekaligus sebagai pengasuh dari santri-santri yang lain karena 5 dari santri yang ada masih duduk di sekolah dasar.91 Bangunan Pondok cukup luas. satu mushola. dan jika juz amma telah selesai baru naik ke Al Qur’an. satu dapur. Untuk santri dewasa setelah sholat subuh memasak untuk santri-santri yang masih sekolah. dan dilantai 2 ada satu ruangan yang masih kosong. Sementara untuk santri Kalong yakni santri yang hanya datang untuk ngaji dan setelah selesai langsung pulang sebanyak 120 anak dan untuk anak panti berjumlah 40 anak.peraturan di pondok pesantren ini ada tapi belum tertulis. Kegiatan belajar dimulai dari pukul 4 pagi (waktu sholat shubuh) dan berakhir pada pukul 8 malam (setelah mengaji). hafalan-hafalan serta kitab kuning. membuat gaduh. sebenarnya untuk kamar santri putra tetapi karena anak-anak takut tidur diatas. satu ruangan untuk madrasah diniyah. Peraturan. pada data tertulis santri yang menetap ada sekitar 40 anak. satu kamar tamu. setelah selesai menggunakan juz Amma ba’dadiyah. . Pada pembelajaran Al Qur’an.

Respons masyarakat terhadap keberadaan pesantren ini memang masih rendah. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Bermula dari dua orang anak santri yang mengaji kepada Kyai Susilo Eko Pramono. mengamalkan. 2. pada tahun 2004 terbukalah pintu hidayah dari Allah SWT kepada warga sekitar dan sampai luar daerah sehingga berkembanglah kuantitas santri yang studi di Ponpes ini hingga terbentuklah Majelis Ta’lim. akan tetapi sanksi fisik tidak ada. Pendidikan adalah kebutuhan dan bagian dari hak asasi manusia. kursus menjahit.2. Sebenarnya kursus ini untuk anak-anak panti karena memang satu lokasi sehingga anak pesantren juga mengikuti kegiatan tersebut. memanfaatkan ilmu pengetahuan. Di pondok ini juga diberikan beberapa keterampilan seperti membuat tas dari anyaman. sebab dengan pendidikan manusia mampu menerima.92 mengejek antar santri. membuat keset dan lain-lain. atau diminta untuk mencuci piring. Madrasah Diniyyah. pesantren ini masih menumpang di rumah kakaknya istri dari pengasuh Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. memahami. Dengan pengetahuan manusia akan dapat menggunakan otaknya . untuk Madrasah Diniyah justru lebih banyak anak dari luar kampung. memanggil dengan nama jelek. Dengan keterbatasan lokasi dan dana maka aktivitas belajar masih dalam keadaan darurat dan sangat memprihatinkan. Sejak awal berdirinya Ponpes Sunan Kalijaga memang belum memiliki apa-apa seperti tanah pesantren. ghosob atau mencuri. Sanksi-sanksi yang ada juga belum diterapkan. hingga Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. Pada awal bedirinya. Apabila ada pelanggaran biasanya santri-santri dinasehati dan kalaupun diberi sanksi oleh pengasuh biasanya dengan cubitan atau kalau tidak disuruh mengambil kayu bakar.

Bahasa Inggris. Bahasa Arab. sang pengasuh tetap terus berusaha untuk mengasuh dan membina para santrinya baik santri kalong (santri yang berangkat dari rumah santri dan pulang setelah belajar) ataupun santri yang tinggal bersama pengasuh (santri mukim). Bahasa Jawa. dan memadukan fungsi otak dan hatinya untuk merealisasikan dan menikmati hasil dari pengetahuan. bahkan masih menumpang di masjid. belum adanya sumbangan dan sponsor yang membantu pendanaan Ponpes ini maka tidaklah mengherankan sejak tahun 2004 sarana dan prasarana studi masih memprihatinkan (tanpa gedung sekolah). sedangkan bangunannya dari bambu. Fiqih. ataupun keagamaan khususnya studi agama Islam. Kecamatan Wedi. Akhlak. Ilmu Sosial. Desa Dengkeng. Kaligrafi. hatinya untuk merasakan. telah meluangkan hidupnya untuk membina dan mengasuh mulai dari anak-anak. Kepramukaan atau Kepanduan. hingga yang sudah berkeluarga untuk mendapatkan ilmu agama seperti baca tulis Al Quran. Ironisnya. Dengan kata lain asrama pondok yang masih menyewa tanahnya. baik untuk pengetahuan umum. pemuda. Keadaan semakin memprihatinkan setelah terjadi gempa bumi 27 Mei 2006.93 untuk berfikir. Bahasa Indonesia. teras rumah. Kesenian atau Karawitan atau Seni Gamelan Jawa. Adalah seorang anak manusia yang memperjuangkan pengetahuan dengan dasar kemanusiaan dan sosial yang tinggal di Dukuh Karang Ngasem. . Aqidah. Sejarah Islam. Meskipun demikian. dan dalam rumah sewaan sang pengasuh santri. Sains. Kondisi perekonomian sang pengasuh santri yang masih rendah ekonominya. terkadang pengetahuan yang kondusif dan sesuai sarana prasarananya hanya menjadi komoditi bagi orang-orang yang memiliki dana yang cukup saja. Klaten. Dan pengetahuan umum seperti Ilmu Hitung.

b.94 Atas dasar kemanusiaan dan sosial pengasuh. dan telah memperoleh sertifikat sejak 29 Januari 2007/10 Muharam 1428 H. c. Ketiga visi tersebut diterjemahkan dalam tiga misi untuk mendukung pengembangan diri pondok pesantren sehingga mampu bersaing dengan pondok pesantren lainnya. dan dari beberapa desa yang lain. sebagai berikut: a. Sebagai pelestarian budaya bangsa terutama budaya Jawa. dengan menganut organisasi Nahdlatul ‘Ulama. Fenomena pemberian bantuan tersebut berlangsung hingga lebih dari 5 bulan (sejak awal gempa hingga bulan Oktober 2006) dikarenakan telah habisnya stok bantuan yang ada di Pondok Pesantren. warga. b. dan agama. Sebagai sarana studi keilmuan baik ilmu keislaman ataupun pengetahuan umum seperti sains dan teknologi. Mewujudkan jiwa-jiwa yang nasionalis dan patriotis kepada tanah air Republik Indonesia dan tetap berpegang teguh pribadi muslim yang berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah. Propinsi Yogyakarta yang tidak terjangkau oleh posko bantuan gempa. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan perekonomian. khususnya komunitas muslim. Sedangkan pelayanan studi pengetahuan umum. . Membantu program pemerintah Republik Indonesia khususnya di bidang peningkatan pendidikan. bahkan sampai di Kabupaten Gunung Kidul. serta pusat peribadahan Islam tetap berjalan baik dari sebelum gempa hingga pasca gempa. dibuktikan dengan bantuan gempa yang masuk ke Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga dalam bentuk apapun telah diberikan kepada seluruh santri. Pondok pesantren ini mempunyai visi sebagai berikut: a. Status institusi Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga telah didaftar sejak 16 Oktober 2006 di Departemen Agama Kabupaten Klaten. Ikut berperan serta dalam keadilan sosial dan kesejahteraan warga negara Republik Indonesia.

95 c. Saat ini jumlah santri yang belajar ada 15 santri dan 5 santriwati. Laskar Santri (LSBPM Suka). Untuk mendukung kegiatan pondok pesantren. Badan Pengembangan Pondok Pesantren (BP3) dan Dewan Wali Santri (DWS). ada 4 organisasi yang berkembang di dalam pondok pesantren ini yaitu Organisasi Santri Madrasah Diniyyah (Osmada). Bangunan pondok ini sangat sederhana terbuat bambu dan anyaman bambu. kemanusiaan. dan kondisi sosial sehingga berprinsip: sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain dan berakhlakul karimah. Membentuk insan-insan yang peka terhadap lingkungan. Khusus santriwati memiliki status sebagai santri mukim. .

mayoritas (85%) berusia sekolah (10-17 tahun) dan sebagian besar (98%) sedang bersekolah. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. spiritual.000. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup di dalam panti asuhan maupun pondok pesantren. diselenggarakan oleh masyarakat. Hal ini karena kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas. sosial. label ini haruslah dipahami dan direalisasikan pada tataran kehidupan nyata dan keseharian di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. (2) hak untuk berkembang. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggi-tingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. Data jumlah panti asuhan menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen panti asuhan di Indonesia. PENGANTAR Sebutan Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten sebagai kota/kabupaten layak anak sebaiknya tidak hanya pada tataran retorika saja. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. Pemenuhan Hak anak seperti (1) hak untuk hidup. mental. meliputi perlindungan dan diskriminasi. Hal ini menunjukkan adanya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan.000 sampai 8. (3) hak atas perlindungan.96 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Mayoritas panti asuhan di Indonesia memiliki tujuan utama menyediakan akses pendidikan dan menitikberatkan kegiatan pengasuhan pada pendidikan formal di sekolah. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah. dan(4) hak untuk berpartisipasi. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari Save the Children. yang jumlahnya diperkirakan antara 5. moral dan sosial. utamanya organisasi keagamaan. . Anak-anak di kebanyakan panti asuhan. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak.

Selain itu. Dengan tercapainya kualitas pengasuhan di panti asuhan diharapkan dapat membantu komunikasi . Keadaan anak yang tinggal di panti asuhan sebagian besar membersihkan dan membantu kebersihan panti asuhan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak yang tinggal di dalam panti asuhan sehingga diperoleh suatu standar pengasuhan anak panti.97 UNICEF. Sulawesi Utara. hampir tidak satu pun panti yang memberikan perhatian kepada anak-anak yang kemungkinan membutuhkan pengasuhan alternatif akibat kekerasan dalam keluarga. Penelitian yang dilakukan di 37 panti asuhan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hal ini jelas mempengaruhi pola pengasuhan anak yang ada di panti asuhan karena keberadaan pengasuh profesional dengan jumlah memadai belum diprioritaskan. Jawa Tengah. Keterampilan dan kualifikasi yang ditetapkan dalam perekrutan pengasuh di panti asuhan belum diprioritaskan bagi kondisi sentuhan ramah anak dan lebih banyak difokuskan pada kualifikasi kemampuan pengajaran. Pada akhirnya upaya ini dicoba diakomodir dalam Konferensi Panti Asuhan yang pernah dilakukan di Propinsi NAD. Nusa Tenggara Barat. Lebih dari 90% anak yang tinggal di panti asuhan memiliki salah satu atau kedua orang tua. Kondisi yang demikian membuat anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus cukup mandiri untuk mengurus diri mereka sendiri. Maluku. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio pengasuh dengan jumlah anak masih rendah yaitu 1 pengasuh berbanding 10 anak. dan Kalimantan Barat menunjukkan hasil bahwa ternyata mayoritas anak-anak panti asuhan tidak kehilangan orang tua atau ditelantarkan oleh keluarganya. penelantaran atau resiko yang lain meski kenyataannya terdapat anak-anak yang dimasukkan ke panti asuhan karena mengalami kekerasan dalam keluarga atau dibuang oleh keluarganya. dan Departemen Sosial yang menunjukkan alasan orang tua memasukkan anak ke dalam panti asuhan agar si anak mendapatkan jaminan pendidikan karena kemampuan ekonomi orang tua sangat minim.

memimpin dan dipimpin. Kurikulum Pesantren menawarkan kajian yang sangat penting yang tidak hanya terbatas pada bagaimana membangun relasi dengan Tuhan namun juga relasi dengan sesama manusia maupun lingkungan. Kehadiran pesantren di Indonesia pada umumnya tidak dapat dipungkiri lagi perannya. Pesantren dengan label pendidikan agama yang di emban diharapkan akan berkontribusi penting dalam pembenahan kemiskinan spiritual masyarakat. menambah keakraban antara santri dan kyai. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. berakhlak mulia. Para santri menimba ilmu dengan cara bandongan atau wetonan dan sorogan. berorganisasi. pesantren dilihat sebagai lembaga pendidikan yang hanya mampu mencetak alumni yang memiliki kemampuan agama tanpa kemampuan yang dibutuhkan pasar khususnya tenaga kerja. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT.98 antara anak yang berada di panti asuhan dengan keluarga mereka secara sistematik. disamping harus bersedia menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh kyai. Di dalam pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. posisi. dan mempunyai kualitas intelektual. mempunyai integritas pribadi yang kukuh. alternatif pengasuhan di luar keluarga adalah pondok pesantren. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati kyai dan meneladani kehidupannya dalam segala hal. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain panti asuhan. Sistem sorogan yaitu dengan belajar face to face (tatap muka) dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu per satu dengan kyai memberikan kesempatan kepada santri untuk menimba ilmu yang masih dirasakan dangkal. Kedua. Sistem bandongan atau wetonan dengan belajar bersama-sama dihadapan kyai dengan mendengarkan dan menuliskan makna dari kitab yang dibahas oleh kyai. Pertama. mandiri. pesantren dilihat sebagai pabrik ilmu-ilmu . yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. fungsi dan peran pesantren cenderung dilihat oleh masyarakat.

Dari 15 anak panti yang dijadikan responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Solo.33 6.99 keislaman yang diamanahkan untuk mencetak ulama-ulama atau intelektual Islam yang handal. Purwodadi dan Ngawi). hal ini dapat dilihat pada tabel 5. Ketiga. Lama tinggal anak-anak ini di panti asuhan berkisar antara 1–7 tahun. pesantren memiliki peran ganda yaitu mendapatkan ilmu-ilmu keislaman dan juga keterampilan siap pakai yang dapat bersaing di pasar tenaga kerja. Sukoharjo. Sragen.1 Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga a. B. Eks Karesidenan Surakarta (Klaten. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kota Surakarta 1. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik pemerintah dibawah Dinas Sosial Kota Solo. Anak yang menjadi penghuni panti ini tidak hanya berasal dari Solo tetapi juga berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.1.67 100 . dan Karanganyar) dan Jawa (Grobogan. POLA PENGASUHAN ANAK DI PANTI ASUHAN 1.1 Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga No Lama Tinggal 1 Kurang dari 3 th 2 4 – 6 th 3 7 th Jumlah Sumber: Data Primer. Pengurus panti asuhan ini berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga dari segi kesejahteraan telah terpenuhi oleh Negara. Tabel 5. Setiap anak yang diterima tinggal di panti asuhan ini minimal usia SMP dan harus keluar dari panti ketika tamat SMA. Boyolali. Juli 2009 Jumlah 9 5 1 15 % 60 33.

Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.100 Untuk kepemilikan akte kelahiran. Juli 2009 Pada umumnya anak yang datang ke panti asuhan ini karena mengalami kesulitan ekonomi. Karena banyak daerah yang memberlakukan pengurusan akte kelahiran gratis sebagai upaya pemenuhan hak anak yang dilindungi oleh Undang-Undang. pengembangan dan pembinaan. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia. Pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan yang telah ditetapkan dalam APBD Kota Solo.67%) lainnya tidak memiliki akte kelahiran. penyantunan. menurut salah satu pengurus jumlah uang saku masing-masing anak berbeda karena berkaitan . dari 15 responden ada 8 anak (53. menurut anak-anak jumlahnya tidak tentu. Selain itu juga sesuai dengan tujuan dari pendirian panti asuhan ini oleh Pemkot Solo yaitu menampung anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan perawatan.67 26. Adapun besarnya uang saku. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer.2 Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Kepala Desa Jumlah 7 4 3 1 15 Persen (%) 46.33%) yang memiliki dan 7 anak (46.67 20 6. Ketidakpedulian orangorang disekitarnya terhadap kepemilikan akte kelahiran patut dipertanyakan.2 berikut ini: Tabel 5. Dari hasil FGD yang dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari pengantar anak datang ke panti asuhan yang sebagian besar diantar oleh tetangga.

67 86. meskipun fasilitas yang ada dianggap tidak layak Tabel 5. Kondisi lingkungan di panti asuhan.101 dengan jarak sekolah dengan panti asuhan. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar.33 73. membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.67 0 0 13.33 86.33 Sumber: Data Primer. Uang saku tersebut digunakan untuk biaya transportasi ke sekolah dan pemenuhan kebutuhan pribadi anak seperti ditabung maupun untuk jajan ketika di sekolah. Juli 2009 b. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini. bermain.67 Tidak Layak 0 0 0 4 2 0 % 0 0 0 26. Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman meskipun kadangkala ada teman yang membuat kesal misal saling mengejek. beribadah bersama.3 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 15 15 8 11 13 13 % 100 100 53.33 0 Tidak Ada 0 0 7 0 0 2 % 0 0 46. bersih (2 anak) dan tidak menjawab (1 anak). Bagi anak kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap . Kondisi ini membuat anak jadi tidak nyaman berada di panti asuhan sekaligus karena jauh dari orang tua (bagi yang masih memiliki orang tua). sebagian besar anak menganggapnya biasa saja (12 anak).67 13.

Suasana kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan adalah adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak dengan tetap memperhatikan etika kesopanan. ramah dan penuh kasih sayang.4). peneliti mulai pada pukul 14.102 tidak memberatkan (Tabel 5. Peneliti juga sedikit mngobrol dengan mereka. 21 Juli 2009 di PA Pamardi Yoga. Peneliti : “dek. pengurus panti asuhan baik. ada segerombol anak perempuan di dalam kamar yang sedang ngrumpi dan ada pula yang mencuci baju bahkan ada yang sedang terbaring lemas di tempat tidur karena sedang sakit.00 WIB. Menurut anak-anak. Akhirnya peneliti bisa juga mengobrol dengan beberapa anak perempuan yang sedang membungkusi air untuk dijadikan es batu. kegiatan membuat es batu ini dilakukan setiap hari ya?” . Seharian itu peneliti mengikuti kegiatan anak-anak asuh disana. Tapi apa nanti gag ngrepotin mbak?” Peneliti : “enggak kog dek. Ada beberapa anak laki-laki yang sedang bermain kejar-kejaran. Kejadian ini terjadi pada hari selasa. peneliti membantu mereka bekerja. Kegiatan ini berlangsung sekitar setengah jam lebih karena letak sumber air nya ada diluar kamar. peneliti mengamati setiap gerak-gerik mereka agar peneliti bisa mencari celah untuk masuk ke dunia mereka. Waktunya anakanak sudah pulang sekolah. Sesampainya disana ada banyak sekali aktivitas yang terjadi. santai aja. lagi pada ngapain niy?? Aku ikut bantuin boleh ya?” Jeki : “oh. Aku dirumah juga sering kerja kaya gini kog” Jeki Peneliti : “yasuda kalu gitu gpp mbak” : “dek. silakan mbak ga apa-apa.

Beli nya dimana ya?” Dewi : “oh. mbak kepengen ya? Kalau mau beli. mending kita naik motor aja gimana?” Dewi : “enggak jauh kog mbak. tempatnya jauh dari sini gag? Kalau jauh. Cuma dekat sini. ibu yang jualan mie ayam di depan itu ya?” : “iya mbak.” Beberapa saat kemudian ada seorang anak yang membawa bungkusan. Ya karena banyak pedagang di sekitar panti yang membeli es batu disini” Peneliti Jeki : “oh. Kemudian peneliti beinisiatif untuk bertanya kepada anak itu. Bisa dibilang setiap hari membuat es batu.” . aku anterin yuk!!” Peneliti : “ayuk. karena kan udah dapat jatah makan juga dari panti..103 Jeki : “iya mbak. ya hitung-hitung buwat nambah uang jajan atau untuk ditabung” Peneliti : “biasanya untuk jajan apa dek? Kebutuhan pribadi ya” Jeki : “kalu jajan sebenarnya jarang sih mbak. itu sudah jadi pelanggan kami.. Peneliti : “dek. Ya paling untuk membeli kebutuhan pribadi itu.. Hehehe. yang didepan itu lho” Peneliti : “lha terus nanti keuntungan dari penjualan es batu itu diberikan untuk panti atau untuk anak-anak panti dek?” Jeki : “untuk hasilnya biasanya untuk anak-anak panti mbak. Isinya es kucir sepertinya. Tapi kadang kalau yang disinik habis nanti belinya di tempat bu Nuk. Diseberang jalan sana aja kok. es nya kayaknya enak tuh.

makasi banyak ya mbak” : “iya. Sesampainya di panti anak-anak pada berebut es buah tadi.. anak-anak di panti suka jajan es disini ya?” : “iya mbak. Ntar dibagi sama yang lain juga ya wi.sama-sama wi.104 peneliti Dewi : “beneran niy jalna kaki gpp?” : “iya mbak. hehehe.. Pulang yuk. namun semuanya dapat saya atasi dengan baik.” Sambil berjalan menuju ke tempat penjual es. Ada beberapa masalah yang muncul..!” Dewi peneliti Dewi : “iya mbak. Dengan terkumpulnya semua surat curhat dari anak-anak maka menutup perjumpaan dengan anak-anak panti di hari itu. “ayuk. Akhirnya kegiatan hari itu ditutup dengan pengumpulan surat curhat yang beberapa hari yang lalu aku bagikan kepada mereka.” Kegiatan berlanjut di panti asuhan..... peneliti Dewi peneliti : “wi. ayo Wi.. . habis es nya enak” : “jumlah anak-anak yang disana tadi berapa tow wi? Beli 10 ribu cukup gag ya?” Dewi : “cukup mbak. Aku tadi juga jalan kaki kok dari sana” peneliti : “ya sudah.” .. gpp. Senang rasanya bisa melihat kebersamaan seperti itu.. Mbak juga suka ya es kaya gini tow” peneliti : “iyah.

67 60 100 100 100 Tdk Tidak % Senang Tahu 93.67 6. Tabel 5.33 1 % 1 1 0 0 0 6.67 0 0 0 1 5 0 0 0 % 0 0 6.105 Tabel 5.5).5 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat anak Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 12 12 13 9 15 15 15 86.33 0 0 0 Sumber: Data Primer.67 0 80 3 20 0 80 2 13. Juli 2009 Jumlah 0 4 11 15 % 0 26. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak yang harus dipenuhi oleh pengurus seperti hak untuk berpendapat dan mendapatkan perlindungan.67 6. Juli 2009 . Sedangkan faktanya.4 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.33 1 6.67 33. hak anak dalam panti asuhan adalah mendapatkan uang saku dan bebas mempergunakan fasilitas yang ada dengan tetap mengutamakan toleransi.33 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (Tabel 5.67 13.

Untuk hukuman fisik hanya ada 1 anak yang menjawab yaitu push up. pelanggaran yang dilakukan tidak sering terjadi.106 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.33 33.33 86. tidak piket dan merokok.7). sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah tidak menjalankan perintah pengurus. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.33 53.33 6. Hal ini ditunjukkan pada tabel 5. Hukuman yang diberikan biasanya membersihkan lingkungan panti.67 60 13.67 0 0 0 KadangKadang 0 6 7 9 2 1 9 % 0 40 46.6. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali. . Hal ini karena kesadaran pengurus tentang hak-hak anak dan kewajiban negara untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan.67 60 Tidak 15 8 8 5 13 14 6 % 100 53. Hukuman yang diberikan untuk memberikan rasa tanggungjawab pada anak atas perbuatan yang dilakukan dan membuat jera anak untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Juli 2009 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. membuat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi dan yang paling berat adalah diskors. Tabel 5.6 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Merokok Terlambat pulang Tidak piket Tidak beribadah Tidak menginap Membawa barang yang dilarang Berkelahi Sering 0 1 0 1 0 0 0 % 0 6.67 93.67 0 6.33 40 Sumber: Data Primer. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat. Sedangkan menurut anak.

33 6. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.107 Tabel 5. anak-anak panti pernah mengalami.67 13.67 13.33 33.7 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Berlaku sama saat menjadi pengajar Jumlah Sumber: Data Primer No 1 2 3 4 Pernah 7 2 5 1 15 % 46.67 66.33 0 0 15 100 1 6.33 20 80 53.33 3 20 12 80 1 6.67 14 93.33 80 Sumber: Data Primer. Tabel 5.67 20 15 15 14 3 12 8 12 100 100 93.67 5 33.67 100 Berdasarkan hasil penelitian.33 6.33 46.67 14 93.33 0 0 1 10 2 7 3 0 0 6. Juli 2009 .8).8 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 % 20 0 0 0 0 0 0 0 0 13.67 0 0 Jarang % Tidak % 12 80 0 0 10 66.

6 anak (40%) pernah mendapatkan pujian dan pernah diberi hadiah sebanyak 9 anak (60%). Itupun tidak selalu berada di dalam panti. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini cukup banyak tidak sebanding dengan jumlah pengurusnya yang hanya 3 orang. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara a.33 13.9 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 10 13 3 % 80 66. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan. Mentawai. Kalimantan Tengah dan Flores. Tabel 5.2. Dari 15 anak yang diteliti. Mayoritas anak yang tinggal . Juli 2009 Panti Asuhan Parmadi Yoga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut.33 80 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer.9). Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan untuk anak-anak korban bencana seperti tsunami dan gempa bumi sehingga semua anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari luar Solo bahkan luar Pulau Jawa. Sumatera Barat.67 86.108 Selain pemberian hukuman. 1. berdiskusi.67 20 Jarang 3 5 2 12 % 20 33. Penelitian ini mengambil responden sebanyak 23 responden yang berusia antara 8 sampai 18 tahun dengan asal daerah Nias. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.

34 8.39 4. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia.10).39%) saja yang memiliki dan 19 anak (82.6%) lainnya menjawab ketidaktahuannya tentang akte kelahiran.34 8. Tabel 5.69 100% Jumlah Sumber: Data Primer.08 4.69 4. Juli 2009 . Anak-anak ini dibawa ke panti oleh pendeta.08 13.11 Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Pendeta Orang Tua Saudara Pengurus Tetangga Pembimbing Tidak Menjawab Jumlah 6 3 6 1 2 1 2 23 anak Persen (%) 26. dari 23 responden hanya 4 anak (17.47 8. Tabel 5.04 26. Lama tinggal anak-anak ini dipanti ada yang sudah 15 tahun tetapi ada juga yang baru 1 tahun tinggal di panti asuhan (lihat Tabel 5. pembimbing dan orang tua (lihat Tabel 5. ada anak yang selama hidupnya telah tinggal di panti asuhan ini dari mulai bayi umur satu tahun. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 6 10 2 4 1 23 % 26. saudara. hanya ada satu anak perempuan yang menjadi responden.109 di panti asuhan ini adalah laki-laki. Artinya.34 100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.11).08 43.10 Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Kurang dari 3 th 4 – 6 th 7 – 10 th Lebih dari 10 th Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.69 17.

ia juga sering merasa dilecehkan. karena melakukan suatu kesalahan.34 4. yaitu bapak Victor. bahwa ia pernah.12). pengasuh serta pengurus juga terkadang melakukannya. Ia juga bercerita bahwa ia pernah dihukum lari keliling kompleks panti. Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan meskipun tidak menentu baik waktu maupun jumlahnya. Uang saku tersebut untuk memenuhi kebutuhan pribadi anak (jajan) dan ditabung. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 13 7 1 1 1 23 % 56. Ia juga bercerita bahwa yang selama ini sering menghukum adalah penanggung jawab penuh dari panti asuhan. Jika uang saku tersebut habis.34 4. Tabel 5. mereka diam saja. berdoa. Seperti dituturkan oleh SH. Ia juga mencurahkan hatinya terhadap saya bahwa ia juga sering dibentak. Namun terkadang.saya merasa kurang dihargai”.52 30. ternyata anak anak itu masih bermain bola sampai batas yang sudah ditentukan sama saya. disuruh push up oleh pengasuh karena ia melakukan kesalahan. Bahkan . lalu anak anak itu saya suruh main bola mulai jam setengah empat sampai jam setengah lima sore.110 Adapun alasan mereka tinggal disini juga cukup beragam dari mulai keinginan sendiri sampai karena kesulitan ekonomi (lihat Tabel 5.43 4.12 Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Keinginan Sendiri Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Orang Tua Keinginan sendiri & ekonomi Jumlah Sumber: Data Primer.34 Ibu Lasmi bercerita ”pernah dulu anak anak melakukan pelanggaran. dimarahi.trus anak anak saya suruh push up sambil bugil” ceritanya sambil tertawa tawa. terutama kakak-kakak yang lebih tua. ”mentang-mentang saya disini adalah anak panti. dan ada yang minta orang tua.

Kondisi lingkungan di panti asuhan bersih karena setiap hari mereka diwajibkan untuk membersihkan lingkungan panti asuhan yaitu pada pukul 3.34 4. meskipun kondisi bangunan belum selesai secara keseluruhan. maka sekarang anak-anak panti asuhan tidak diperbolehkan untuk menerima uang kiriman dari orang tua mereka masing-masing. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar. bermain. karena takut kalau diminta atau dibohongin kakak-kakak mereka. Namun.65 82. terlihat lantai yang masih berupa lantai semen cor kasar dan tangga yang tidak ada tiang pegangannya sehingga dirasa kurang aman karena tidak ada perlindungan disaat anak-anak naik turun tangga panti.6 34.30 WIB. Jadi sering kali apabila anak-anak mempunyai uang selalu dititipkan kepada pengurus.52 Tidak Tahu 0 1 1 1 1 2 % 0 4.30 – 4. Tabel 5. Juli 2009 b.34 4.04 56.95 95.13). Dengan beberapa kejadian tersebut. disitu saya melihat kondisi panti yang cukup bersih. Fasilitas yang ada di dalam panti asuhan cukup beragam dan dianggap cukup layak oleh anak-anak. membersihkan kamar dan lingkungan panti. (lihat Tabel 5.34 4. Bagi santri kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (lihat . Bahkan sering anak-anak yang lebih tua membohongi adiknya apabila adiknya ada yang mempunyai uang. ibadah.74 Tidak Layak 3 0 0 0 3 13 % 13.13 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 20 22 22 22 19 8 % 86.65 95.04 0 0 0 13.65 95.34 8.69 Sumber: Data Primer.111 kakak-kakak yang lebih tua ini sering melakukan pemaksaan kepada adik-adiknya.

34 Tidak Tahu 3 3 4 2 9 0 % 13.6 86.34 4.26 82. Hal yang membantu kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak.65 Tidak Senang 0 2 0 1 1 1 % 0 8.86 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (lihat Tabel 5.14 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.15 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Senang 20 18 19 20 13 22 % 86. Tabel 5.04 17.73 60. Juli 2009 Jumlah 4 5 14 23 % 17.69 39.13 0 .95 56. membelikan pakaian.39 8.34 4.95 78. dan kebebasan untuk menggunakan fasilitas panti asuhan yang ada. Hal yang dirasakan memberatkan karena anak-anak diminta bekerja yaitu setiap hari membersihkan lingkungan panti asuhan seperti membersihkan kamar kecil dan menyapu. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya membuat anak-anak merasa betah tinggal di panti asuhan.04 13.15).69 0 4.112 Tabel 18). Setiap anak juga memiliki hak yang dipenuhi oleh pengurus panti asuhan seperti makan.52 95.39 21. Tabel 5.

. Apabila ada yang melanggar. Karena lebih lanjut. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer. dicubit dan lari-lari.16). anak panti asuhan menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.34 4. Juli 2009 Panti asuhan ini memberlakukan peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anak panti.04 17.34 Tidak Tahu 3 0 % 13.69 100 Berdasarkan hasil penelitian. sebagian besar anak panti asuhan menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. dijewer.16 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Tidak menjawab Ikhlas.17 4. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. Juli 2009 mengalami.39 8. tidak segan-segan pengurus memberikan hukuman baik fisik maupun non fisik. Tabel 5.65 Tidak Senang 1 1 % 4.34 4. Sedangkan hukuman non fisik adalah dimarahi dan diminta menghafal ayat Al Kitab.04 0 Sumber: Data Primer. para anak panti asuhan pernah kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. melihat dan mendengar No 1 2 3 4 6 7 Pernah 12 1 1 3 4 2 23 % 52.113 No 7 8 Keterangan Memotivasi Media belajar Senang 19 22 % 82. Hukuman fisik yang pernah dilakukan oleh pengurus adalah push up.34 13. dinasehati. malu.6 95.

56 69.43 30.43 0 Tidak 6 7 7 10 13 17 20 17 16 16 16 16 23 % 26. 22 orang pernah mendapatkan pujian dan atau diberi hadiah karena berprestasi serta hanya ada 1 orang yang dibiarkan saja.39 21.86 Jarang 8 4 5 6 % 34.73 26.43 30.34 0 13.95 73.43 30.56 69.04 26.04 Sumber: Data Primer. Juli 2009 . Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 17 16 16 13 10 6 3 6 7 7 7 7 0 % 73.91 69.52 43.91 86. Dari 23 anak panti asuhan yang diteliti.86 78.43 30.86 60.78 17.47 78. Tabel 5.43 43.47 56.56 69.56 69.52 73.08 30.73 4.08 Tidak 5 1 0 3 % 21.91 69.56 100 Selain itu adanya pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus Panti Asuhan Anak Misi Nusantara ini.17 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.47 26.18 Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 10 18 18 14 % 43.08 30.56 56.114 Tabel 5.08 13.

Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik perseorangan yang berusaha untuk menjalankan ibadah agama dengan menyatuni anak-anak fakir miskin dan yatim piatu. lama tinggal 2 tahun ada 5 anak (33. pemenuhan kebutuhan hak untuk anak Indonesia telah terpenuhi karena .33%) lainnya menjawab tidak tahu.1 Panti Asuhan Darul Hadlonah a. 1 anak (6. Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah menjadi alasan terbesar anak-anak untuk tingga di panti asuhan.115 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak panti asuhan (lihat Tabel 22). Untuk kepemilikan akte kelahiran. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti sehingga seperti merasa berada di lingkungan keluarga sendiri. Kota Solo ada 1 anak (6.677%) dan sisanya sebanyak 6 anak (40%) berasal dari Jawa selain Solo dan Klaten. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kabupaten Klaten 2.33%). 2. Anak yang telah tinggal selama 1 tahun sebanyak 8 anak (53.33). saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA.67%) tidak memiliki dan 2 anak (13. Artinya. dari 15 responden ada 12 anak (80%) yang memiliki.33%) dan lama tinggal 4 tahun ada 2 anak (13. Keinginan mulia ini akhirnya terwujud dengan mendirikan Panti Asuhan Darul Hadlonah. Penelitian ini mengambil 15 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 8 anak (53.33%). Lama tinggal anak-anak ini di Panti Asuhan Darul Hadlonah berkisar antara 1 – 4 tahun.

20).116 sebagian besar telah memilik akte kelahiran.000.33 20 6. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Juli 2009 Jumlah 5 1 5 3 1 15 Persen (%) 33.67 6.67 6.67 33. Tabel 5.19 berikut ini: Tabel 5. untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya ditabung untuk kebutuhan yang mendesak termasuk apabila kehabisan uang saku. pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp.20 Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Kesulitan Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Sendiri Keinginan Pondok Tidak Menjawab Jumlah 6 3 4 1 1 15 Persen (%) 40 20 26. Hal ini dapat diketahui dari Tabel 5. karena sangat penting untuk masa depan anak nantinya. 100.67 100 Anak yang datang ke panti asuhan ini memiliki alasan yang cukup beragam (Tabel 5. Untuk memenuhi kebutuhan akte kelahiran bagi yang belum membutuhkan perhatian dari pihak panti asuhan untuk mengurusnya. Juli 2009 .19 Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Pengurus Panti Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.33 6.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Bagi yang mengalami kesulitan ekonomi.

117 Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman dan didukung dengan pengurus yang baik serta ramah meskipun kadangkala ada teman yang memusuhinya.67 6. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5.21 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah No Jenis Fasilitas Layak Tidak Layak 93.67 0 0 0 6.67 1 Ruang Belajar 14 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 13 4 Ruang Makan 12 5 Fasilitas Olahraga 12 6 Fasilitas Kesenian 14 Sumber: Data Primer. meskipun fasilitas yang ada tidak selalu dianggap layak.67 1 13. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali.67 6.33 0 % sangat Tidak Ada 6.67 6. Tabel 5. Panti asuhan diharapkan dapat bekerja . namun karena banyaknya aturan sehingga tidak merasakan kebebasan. bangunan di panti asuhan ini cukup baik dan membuat anak merasa betah untuk tinggal cukup lama.21.33 1 0 1 % bagi % 0 0 6. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas mendukung terselenggaranya kehidupan panti asuhan yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. Hanya ada 1 anak yang menjawab bahwa kehidupan panti kadang-kadang menyenangkan.67 1 80 2 80 2 93. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini.33 1 100 0 86. Berdasarkan hasil observasi.33 1 13.

Pengurus yang ada di panti baik dan ramah serta sering mengajak berkomunikasi untuk membicarakan sesuatu hal.118 profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku.. Tabel 5. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak anak yaitu hak hidup dan berkembang.22). bermain. Bagi anak panti asuhan kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5. membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan. b. hak mendapatkan kasih sayang.23). belajar kitab. Juli 2009 Jumlah 0 6 9 15 % 0 40 60 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan sebagian besar dianggap menyenangkan (Tabel 5. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. tadarus. Kehidupan anak di Panti Asuhan Darul Hadlonah kadangkala membosankan apalagi untuk urusan kerja bakti akan tetapi pengetahuan anak tentang hak-haknya memberikan efek positif bagi anak untuk bisa berpendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan lingkungan panti asuhan. . serta bermain.22 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.

33 0 0 0 13. Menurut anak. Selain hukuman fisik. Sebelum memberikan hukuman. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam seperti dalam tabel 5.24 berikut ini: . Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah anak sering tidak ijin ketika akan pulang. biasanya anak mendapatkan nasehat.119 Tabel 5. maupun menulis istigfar sebanyakbanyaknya.33 100 80 93.67 100 93. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu push up.33 100 93.67 0 6.67 Tidak Tahu 2 0 0 0 2 0 0 0 % 13.33 Tdk Senang 0 0 1 0 1 1 0 1 % 0 0 6. scot jump. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan. di dalam panti asuhan juga memberlakukan hukuman menghafal Al Qur’an.23 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 13 15 14 15 12 14 15 14 % 86.67 0 6. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. menurut pengurus untuk mendidik anak lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang telah dilakukan. membersihkan kamar mandi selama 1 bulan. menulis sholawat. dan diminta berdiri ketika mengantuk pada waktu mengaji. peringatan baru setelahnya diberikan hukuman.33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Pemberian hukuman tersebut.67 6.

33 26. menulis sholawat maupun istigfar.67 0 0 0 0 Jarang 3 5 4 5 0 3 4 % 20 33. Ada 7 anak (46.67 66.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.33 0 20 26. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.25 Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Biasa saja Jumlah Sumber: Data Primer. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.33%) yang setuju dengan hukuman fisik. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali.33 100 .120 Tabel 5.25). Tabel 5.67 100 80 73.67 20 13.24 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 0 Tidak menginap 0 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 0 Sumber: Data Primer.67%) yang tidak setuju adanya pemberian hukuman fisik dan ada 8 anak (53. Juli 2009 No 1 2 3 4 Pernah 9 1 3 2 15 % 60 6. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 0 0 6.67 Tidak 12 10 10 10 15 12 11 % 80 66.67 33. Adapun anak yang tidak menyukai hukuman fisik memilih hukuman yang sifatnya mendidik seperti menghafal Al Qur’an.67 66.

3 anak (20%) pernah diberi pujian dan hadiah.67 Tidak % 5 33. Juli 2009 Selain pemberian hukuman.33 20 46.67 12 80 13 12 12 7 8 10 7 86. anak-anak panti pernah mengalami.33 13.67 80 80 46.26).67 13. dan 1 anak (6.33%) pernah mendapatkan pujian.67 0 6.67 6 40 10 66. Tabel 5. ada 9 anak pernah diberi hadiah (60%).67 Jarang 9 9 8 9 5 3 2 2 3 7 6 3 1 % 60 60 53. 2 anak (13.121 Berdasarkan hasil penelitian.67 46.33 20 13.67 Sumber: Data Primer. .33 60 33. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi.33 6 40 7 46.33 66.67 6.67 53.26 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 7 % 6. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.67 40 20 6. Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak.67 0 0 0 0 0 0 6.33 46.67) memberikan jawaban “dinasehati untuk selalu meningkatkan prestasi lebih baik lagi”. Dari 15 anak yang diteliti.

menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.2 Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) a. Kondisi Umum Anak YPBT adalah panti asuhan yang hanya menerima anak hingga usia 12 tahun.27 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 13 15 14 % 80 86. 2. Saat ini. Setelah usia itu.33 Jarang 3 2 0 1 % 20 13. sehingga dibuat daftar antrian.27).67 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. .122 Tabel 5. dan sisanya diberikan kepada para pengasuh. anak-anak akan dipindah ke panti lain atau diambil orang tua. Biaya adopsi sebesar satu juta rupiah yang digunakan untuk membayar biaya persidangan.33 0 6. Pada saat dikelola oleh pengurus lama disebutkan bahwa di YPBT ini ada sistem adopsi anak. Untuk mengadopsi anak dari YPBT. pengurus akan menyeleksi terlebih dahulu tentang situasi dan kondisi keluarga yang akan mengadopsi sehingga anak akan berada di tangan yang baik.67 100 93. YPBT telah melimpahkan tiga anak ke Panti Asuhan Aisyiyah dan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah karena telah berusia di atas 12 tahun. berdiskusi. Juli 2009 Pihak pengurus Panti Asuhan Darul Hadlonah juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. Selama ini keluarga yang akan mengadopsi anak dari YPBT itu banyak.

123 Saat ini. Saat ditemukan pengasuh sudah tidak bernapas. Tetapi berdasarkan hasil observasi. Adopsi dilakukan ketika anak masih berusia bayi. dan lain-lain) di lokasi panti asuhan karena salah satu pengurus menyebutkan alasan bekerja di YPBT ini untuk mencari uang. Dikatakan ia meninggal karena sakit Azrina ditemukan meninggal dalam keadaan tertelungkup di atas meja dengan hidung berdarah saat ditinggal pengasuh melakukan hal yang lain Yulianto meninggal tanpa diketahui sebabnya. Prosedur adopsi anak ini dilakukan dengan melibatkan Dinas Sosial/Polisi untuk kemudian dilakukan seleksi terhadap keberadaan keluarga pengadopsi. setahun terakhir ada 2 anak yang diadopsi dari YPBT namun tidak tercantum datanya di Pengadilan negeri Ada 4 kasus anak yang meninggal di panti asuhan ini yang disebut oleh pengurusnya meninggal karena sakit. Tetapi hasil penelitian menunjukkan. Bahkan pengasuh atau pemimpin juga sembari berjualan (makanan. Proses adopsi selanjutnya dilakukan di depan notaris sebagai bukti legal atas adopsi anak. tiba-tiba kejang-kejang setelah dimandikan Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) bukan hanya panti asuhan saja. sistem adopsi masih dilakukan oleh pengurus YPBT yang baru. ditemukan kejanggalan terhadap penyebab kematian yaitu: Cantika meninggal karena terlambat dibawa ke RS akibat komplikasi jantung dan paru Amelia meninggal akibat mulutnya dimasuki batu oleh salah satu anak panti (yang abnormal) dan dicekik dengan selendang. Hal menarik dari panti asuhan ini adalah . namun juga menjadi tempat penitipan anak. gas.

Variasi jawaban ini mengindikasikan kurang adanya kepedulian pengurus tentang peraturan yang dikeluarkan negara tentang adanya perlindungan anak meskipun ada 2 pengurus yang mengetahui tentang UU Perlindungan Anak tetapi tidak secara detail mengetahui isinya. .27%) yang tidak mengetahui berapa lama telah tinggal di panti asuhan dan ada 8 anak (72. Ada 2 pengurus yang menyebutkan bahwa sumber dana panti ini berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta. Mereka mengetahuinya dari para pengurus.28).18%) dan 1 anak (9. Jakarta 1 anak (9. 0 -12 th.45%) dan laki-laki ada 6 anak (54.54%). Sebagian besar anak tinggal di panti sejak masih bayi sehingga dari 11 anak ini ada 3 anak (27.09%). Jawa ada 2 anak (18. Usia anak bagi pengurus ada yang menyebutkan 0 – 7 th. Usia anak yang menjadi responden berkisar antara 8 – 12 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 5 anak (45. Penelitian ini mengambil 11 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 4 anak (36. Kota Solo ada 1 anak (9. Tetapi ada juga yang tidak mengetahui siapa yang telah mengantar mereka ke panti asuhan ini. (Tabel 5. Semua anak di panti asuhan ini telah memiliki akte kelahiran.36%). 0 -5 th dan 0 -18 th.09%).09%).124 ketidaktahuan semua pengurus tentang sumber dana yang diperoleh untuk membiayai panti asuhan ini. Magelang 1 anak (9. Pengetahuan pengurus tentang hak anak sangat minimal. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini sebagian besar di antar orang tuanya akibat kesulitan ekonomi.09%) menjawab tidak tahu.72%) yang menyebutkan sejak bayi sudah tinggal di panti asuhan ini.

Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali karena setiap hari dibersihkan oleh pengurus. Bagi anak.125 Tabel 5. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 33 Berdasarkan pada hasil observasi tidak semua fasilitas dengan mudah di akses oleh anak. jika tidak anak yang ada dipanti ini tidak dapat menonton televisi. Mereka menonton TV ketika hanya salah satu dari pengurus menghidupkan TV.27 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Tidak dengan mudah anak dapat menghidupkan TV. dijahili teman. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.63 9. dan diberi hukuman. 100.09 27. .28 Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara (Simbah) Tidak Tahu Jumlah 7 1 3 11 Persen (%) 63. Misalnya menonton TV. kehidupan di panti asuhan kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Sedangkan hal yang membuat tidak senang di panti karena tidak bisa keluar. Hal yang membuat senang tinggal di panti asuhan karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain dan menonton TV. dimarahi.000 untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi yaitu jajan di sekolah dan apabila kehabisan uang saku ada yang pinjam teman sekolah dan ada yang diam saja. Juli 2009 Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp.

72 Tidak Layak 1 0 0 0 0 0 % 9.27 bagi yang 1 Ruang Belajar 9 2 Ruang Ibadah 11 3 Ruang Bermain 10 4 Ruang Makan 11 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 8 Sumber: Data Primer.81 100 90. Pola Pengasuhan Setiap anak memiliki kewajiban yang harus dijalankan yaitu beribadah bersama (sholat berjamaah). Juli 2009 Fasilitas terselenggaranya yang ada jelas sangat mendukung YPBT kehidupan Panti Asuhan memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama. bermain.72 3 27.27 72.90 100 27. sampai hal-hal yang pernah dilakukan anak yang lain. anak-anak sudah mengajak bermain. tadarus. bahkan ketika peneliti datang kesana pertama kali beberapa anak langsung menanyakan nama saya.126 Tabel 5. belajar dan membersihkan kamar. Beberapa menit disana. Bagi anak. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih sayang dan kepedulian pengurus terhadap keberadaan anak-anak panti sangat kurang. kegiatan rutin tersebut . dan berusaha untuk dekat. membersihkan kamar dan lingkungan panti.09 0 0 8 72. Tetapi menurut pengurus ada beberapa fasilitas yang ada belum dapat maksimal dipergunakan misalnya fasilitas kesenian seperti rebana dan aklung karena belum ada pelatihnya. Anak-anak di YPBT cepat akrab dengan orang asing.29 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT No Jenis Fasilitas Layak % 81. belajar kitab.09 0 0 0 0 0 Tidak % Ada 1 9. b. dan bercerita banyak hal muai dari kegiatan mereka. nama-nama anak yang lain.09 0 0 1 9.

18 27.45 Tdk % Senang 1 9.63 54.31 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Senang 6 6 4 3 5 % 54.31). Antara anak dan pengurus seringkali terlibat dalam obrolan dan saling bercanda. Anak merasa kecapaian ketika harus bersih-bersih.30 Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.30).18 0 0 2 3 18. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di panti asuhan karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Selain itu terpenuhinya kebutuhan dasar anak seperti makan.27 45. Tabel 5.54 36. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah membersihkan lingkungan kamar dan panti asuhan.27 63.27 Tidak Tahu 4 3 7 6 3 % 36.36 27.54 54.36 27.127 kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5.27 .54 27.09 2 18. tempat tinggal dan bermain menambah kenyamanan anak untuk tinggal di panti asuhan.27 100 Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5. Tetapi tugas yang diberikan panti asuhan yang memberatkan anak patut dijadikan perhatian karena dapat menganggu tumbuh kembang anak. Juli 2009 Jumlah 0 8 3 11 % 0 72. Hal ini dianggap anak sebagai hal menyenangkan sehingga betah tinggal di panti asuhan Tabel 5.72 27.

Tabel 5. di dalam panti juga memberlakukan hukuman verbal yaitu dimarahi oleh pengurus. Menurut anak.09 18.54 Tidak 11 7 2 2 2 10 3 % 100 63. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. Selain hukuman fisik. dicubit.27 45.63 18. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah bermain jauh dari panti asuhan dan suka berbicara jelek.54 3 27.32 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 6 Tidak beribadah 4 Tidak menginap 5 Membawa barang 6 1 yang dilarang 7 Berkelahi 2 Sumber: Data Primer.18 18.63 54.18 18. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.18 0 6 0 54. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5.36 5 45. disetrap.54 63.54 Sumber: Data Primer. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu dijewer telinganya.45 0 1 0 0 9.45 27.36 54.18 90. Hukuman tersebut diberikan karena anak dianggap tidak mematuhi perintah pengasuh atau main terlalu jauh.45 45.45 4 36.32) tetapi tidak sering dilakukan.36 9.90 .27 36.09 0 6 7 6 54. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % Jarang % 0 0 0 0 4 36. Hukuman dipukul sering dilakukan di dalam panti ini. bahkan ada yang pernah dipukul pakai sandal.128 6 7 8 Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar 5 3 5 45. Adanya anggapan pengurus kalau anak-anak yang tinggal di panti anak nakal sehingga kalau hukuman hanya diberi nasehat saja tidak akan membuat anak jera sehingga bentuk hukuman fisik menjadi pilihan. dipukul dengan tangan.

18 0 0 0 0 18. semua anak menjawab “diberikan pujian”.18 18.33 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 6 4 4 1 1 2 2 2 0 0 0 0 2 % 54. diberitahu mana yang benar mana yang salah serta jangan dimarahi.18 Tidak 0 4 2 4 2 4 2 2 11 9 9 9 9 % 0 36.81 81.18 18.129 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. malu.36 18.36 18. sampai adanya perasaan dendam.54 36.54 72.18 18.18 Jarang 5 3 5 6 8 5 7 7 0 2 2 2 2 % 45.36 9. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. anak-anak Panti Asuhan YPBT pernah mengalami. Tabel 5.81 81.45 54.18 18.81 Sumber: Data Primer. dialami dan didengar oleh anak pemberian hadiah juga pernah dilakukan oleh pengurus meskipun jarang dilakukan.09 18.63 0 18.09 9. anak-anak ini memberikan respons yang cukup beragam (campur aduk) dari menerima dengan ikhlas.18 36.27 45.18 18. Tetapi dari hasil penelitian tentang suatu peristiwa yang pernah dilihat.18 18. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada . Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi.45 27.18 100 81. nangis.45 63.18 36.81 81.72 45.36 18. Data penelitian menunjukkan semua anak yang diteliti setuju dengan adanya hukuman fisik tetapi mereka juga menyebutkan kalau hukuman bagi mereka lebih baik dinasehati.63 63.36 36.

130

yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.33). Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak. Meskipun begitu, berdasarkan pada hasil observasi ada banyak kejadian di dalam panti asuhan yang melanggar hak anak bahkan cenderung diabaikan. Salah satu contoh kejadian tersebut adalah: “Suatu siang, peneliti bermain ke YPBT. Sejenak duduk di teras rumah itu, dia melihat anak yang dipukul pakai sendok. Berulang kali anak itu dipukul, dan Nurul masih saja diam untuk memperhatikan sembari bermain dengan beberapa anak. Anak yang dipukul itu menghadap sepiring makanan bersama dengan beberapa anak yang duduk di sebelahnya. Ketika anak-anak yang lain sudah menghabiskan makanannya, anak yang dipukul tadi masih belum menyentuh makanannya. Setelah semua selesai makan, Ibu Sri membentak anak itu ”masih tidak mau makan!!!”. anak tersebut tetap tidak mau makan, dan akhirnya Ibu Sri menyuruh orang untuk mengambilkan ”remason” dan menyuruh beberapa anak untuk memegangi anak yang tidak mau makan tadi. Setelah itu anak tersebut ”dokeroki”. Anak tersebut nangis kencang sekali karena seluruh badannya ”dikeroki” Peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan sering terjadi di dalam panti asuhan ini. Hal ini terlihat adanya kesenjangan rasio jumlah pengurus dan jumlah anak. Jumlah pengurus yang ada tidak mampu menangani anak-anak di panti asuhan ini padahal usia anak masih balita. ”Peneliti datang setelah dzuhur, dan ketika datang ada anak yang menangis. Setelah sekian lama (sampai ashar) tidak juga digubris oleh pengasuh, akhirnya dilihat. Seluruh badan anak itu sudah basah, semua pakaian basah mungkin karena ompol dan juga keringat. Menjelang ’ashar, peneliti meminta pengasuh untuk melihat, barulah ada pengasuh yang mendatangi anak itu, tetapi hanya diberikan susu dan ditinggal pergi lagi. Kata pengasuh, nanti anak itu juga akan diam sendiri”

131

Ada hal menarik lagi yaitu tentang adanya salah satu anak yang diberi perhatian khusus oleh pengasuh. “Kiki mendapatkan perlakuan spesial dari Ibu Panti maupun dari pengasuh dan anak panti. Dia memiliki handphone yang bagus, kamar mandi sendiri, tempat tidur atau ranjang (sementara anakanak yang lain tidur di atas kasur busa di bawah), tidak harus piket, tidak ikut belajar pada jam belajar, tidak berlaku jam malam untuknya (gerbang ditutup jam 9, tapi bebas untuk Kiki), bebas maen dengan sepeda atau sepeda motor, diperbolehkan berambut panjang (anak-anak yang lain baik laki-laki atau perempuan diharuskan berambut pendek atau potongan Ronaldowati)” Tabel 5.34 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT
No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 3 4 7 2 % 27,27 36,36 63,63 18,18 Jarang 2 7 4 4 % 18,18 63,63 36,36 36,36 Tidak % 6 54,54 0 0 1 5 9,09 45,45

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Panti Asuhan YPBT juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut, berdiskusi, menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.34). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan.

C. POLA PENGASUHAN ANAK DI PONDOK PESANTREN 1. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad a. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Muayyad merupakan ponpes yang juga berfungsi sebagai sekolah madrasah. Secara umum, kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur

132

maupun asal daerah. Jumlah santri ponpes Al Muayyad berjumlah 517 yang sedang melanjutkan sekolah di SMP, SMA/MA dan hanya sebagian kecil saja yang berasal dari Solo yaitu 27 anak (5,22%). Tabel 5.35 Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Banyak Santri Asal Solo Putra Putri SMP VII 88 1 3 VIII 94 4 1 IX 80 5 5 SMA X 65 1 XI 33 3 XII 45 1 1 MA I 34 II 39 1 III 39 1 Jumlah 517 12 15 Sumber: Pondok Pesantren Al Muayyad, Juli 2009 Sekolah Kelas Banyak Santri Responden yang diambil dalam penelitian ini cukup bervariasi baik dari asal daerah maupun lama tinggal di Pondok Pesantren Al Muayyad. Dari 15 santri yang ada 2 orang berasal dari luar Jawa yaitu Kepulauan Riau dan Lampung, ada 6 anak yang berasal dari Eks Karisidenan Surakarta, ada 5 anak yang berasal dari Jawa Tengah dan sisanya ada 2 anak berasal dari Solo dengan lama tinggal antara 1 sampai 4 tahun. Santri datang ke ponpes, sebagian besar diantar oleh orang tua (lihat Tabel). Dari 15 anak yang menjadi responden penelitian semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. Artinya, tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 200.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.

133

Tabel 5.36 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara Sendiri Jumlah 12 2 1 15 anak Persen (%) 80 13,33 6,67 100%

Jumlah Sumber: Data Primer, Juli 2009

Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami ketidaknyamanan tinggal di ponpes. Hal ini terjadi karena ketatnya peraturan yang ada, teman yang tidak saling mendukung, dan termasuk padatnya kegiatan ponpes yang tidak didukung dengan fasilitas yang memadai sehingga membuat santri merasa bosan dan capai. Namun di sisi lain, santri juga merasakan kenyamanan tinggal di ponpes karena memiliki banyak teman, belajar agama dan dapat hidup lebih mandiri. Dalam menjalankan kegiatan ponpes didukung dengan berbagai fasilitas, sebagian santri ada yang menyatakan layak dan ada yang menyatakan tidak layak. Selain itu secara umum, fasilitas yang diberikan oleh ponpes adalah: 1) Makanan Pondok putra dan putri mempunyai dapur sendiri-sendiri. Tidak ada ruang makan khusus. Yang masak disebut mbak masak (ibu kos). Santri mengumpulkan rengkot yang telah diberi nama/ identitas masing-masing. Misalnya untuk makan malam, sebelum berangkat ke sekolah atau Madrasah Diniyah santri mengumpulkan rengkot, diambil setelah kegiatan ekstra kurikuler selesai (sebelum maghrib). Untuk sarapan, setelah makan malam santri mengumpulkan rengkot lagi, diambil pada waktu jam sarapan, dan seterusnya. Jika santri merasa tidak cukup puas (masih lapar) bisa jajan di depan atau di belakang pondok pesantren (ada warung/

Ukuran 2 x 1 meter. batuk. Gudhik disebabkan karena sering memakai pakaian dan handuk bersama-sama (atau . Mereka datang setiap hari Senin malam dan Rabu malam.00 kepada sie kesehatan sebagai ganti cetak surat ijin (bentuk lembaran kertas). Sedangkan di Pondok Pesantren putra terdapat kamar mandi sebanyak 13 buah. Seperti yang diungkapkan oleh NS.134 orang jualan yang lewat) atau di kantin pondok pesantren santri minta dibuatkan mie instan. santri harus membayar Rp. namun setelah 1 tahun sudah terbiasa. 3) MCK Di Pondok Pesantren putri terdapat kamar mandi sebanyak 19 buah. panas.00. Surat ijin juga harus ditandatangani wali kamar.100. Yang pertama adalah menantu pak kyai. Selain itu juga ada kebiasaan menggunakan handuk bergantian (istilah mereka ”joinan”). bisa beli di kantin pondok pesantren 1 gelas Rp. 13 tahun : ”Tahun ini banyak santri yang mengalami penyakit gudhik. Biasanya ditunggu oleh Sie kesehatan pengurus putra. jika pertama kali tinggal di pondok pesantren pasti mengalami gudhiken. Pondok Pesantren Al Muayyad mempunyai sebuah klinik yang nyaman. dan yang kedua adalah Kepala Puskesmas Sukoharjo. 2) Kesehatan Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para santri. Air minum ambil di kran yang sudah melewati proses Aqua guard. Untuk membuat surat ijin sakit. karena kamar mandi (katanya) kurang bersih. Kata santri putra. Ada 2 orang dokter. pilek. Jika butuh air panas. dan lain-lain. Santri putra banyak yang mengeluh menderita penyakit kulit “gudhiken”. Air di depan kamar mandi agak menggenang. dan lengkap. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. 500.

13 tahun : ”Saya ingin di pondok itu kamar mandinya dikuras setiap hari karena air mandi ini menyebabkan penyakit gudhiken. pengganjaran baik hukuman maupun penghargaan dan pembujukan. b. setiap hari Jumat baik santri maupun santriwati menyelenggarakan tahlil dan kegiatan ke-IPMA-an. Setiap hari Senin melakukan shalawat Nariyah. Pengajaran dapat dilihat dari berbagai kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. 5) Mencuci dan Menyetrika Kebutuhan untuk mencuci baju dan menyeterika baju dapat dilakukan oleh santri sendiri maupun pihak penyedia jasa laundry. Kegiatan ini . membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. belajar kitab. Di dalam ponpes dilarang memakai peralatan elektronik yang mempergunakan listrik sehingga apabila akan menyeterika baju santri harus menggunakan arang.00 dan setiap hari pukul 03.00 sampai jam 23. Taushiyah pengasuh dan setiap hari Kamis para santri membaca Manâqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani dan dilanjutkan membaca Maulid Al-barzanjiy. tetapi kalau sudah 1 – 2 tahun. yaitu mlenthung-mlenthung dan di dalamnya ada nanahnya.135 yang disebut joinan)” Keluhan serupa juga diungkapkan oleh AR. Gudhiken ini biasanya diterima oleh anak yang masih baru.00 para santri melaksanakan sholat Tahajjud. Kewajiban rutin santri adalah menjalankan ibadah (sholat berjamaah. Pola Pengasuhan Prinsip dalam pola pengasuhan ada 3 hal yaitu pengajaran. Kegiatan santri setiap hari dimulai pukul 04. Selain itu. gudhiken tidak menyerang lagi” 4) Fasilitas Olahraga Penyediaan fasilitas olahraga memanfaatkan lapangan Sri Waru atau lapangan Penumping dan menggunakan aula yang ada di dalam ponpes. mengaji).

”Peraturan pondok ditetapkan oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren. dan aturan dibuat demi kebaikan santri itu sendiri”. sehingga pada saat santriwati ke luar pondok. Aturan-aturan yang diberlakukan oleh santri cukup banyak dan harus dipelajari oleh para santri melalui buku kecil. Handphone dianggap hanya mempermudah untuk berkomunikasi dengan pacar. Aturan tersebut adalah: 1) Tidak boleh nonton bioskop 2) Tidak boleh nonton konser musik 3) Tidak boleh main PS 4) Tidak boleh ke warnet (Di sekitar pondok pesantren banyak terdapat warnet. mereka berganti dengan celana panjang di luar pondok) Sebagaimana yang diungkapkan salah satu pengurus. jika memakai celana yang longgar (Namun ada santriwati yang berpendapat bahwa memakai rok itu susah. karena pernah ditemukan Hp dengan gambar / foto porno) 6) Santriwati harus memakai rok. .00 sampai 22. Nur Ridho. karena pengasuh dan pengurus pondok pesantren mengetahui kemampuan dan kondisi psikologis santri. santri diperbolehkan menggunakan telepon kantor pondok pesantren.00 sesuai dengan kebutuhan. Di dalam ponpes juga diberlakukan jam malam yaitu pukul 20.00 karena pada waktu itu jam belajar telah berlaku yakni dari jam 19. ada kebutuhan mengakses informasi) 5) Tidak boleh membawa handphone (Jika santri akan berkomunikasi dengan keluarga.136 kadangkala dianggap memberatkan karena terlalu banyak dan monoton sehingga membuat santri merasa bosan. Alasannya.

Berdasarkan pada hasil penelitian. dari 15 santri sebanyak 7 santri (46. pemukulan. sebagai berikut : ”Pemberian sangsi diperlukan karena sangat mendidik dan sebagai efek kejut atau shock therapy” Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pengurus pondok putri bagian BPPA. Dari bentuk sangsi yang diberikan terlihat adanya hukuman fisik yang diberikan kepada santri. handphone-nya disuruh dibanting di hadapan teman-temannya. membawa barang yang .137 Aturan sudah ada dibuat sejak lama. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengurus. yang disosialisasikan kepada santri saat masuk pondok pesantren (masa orientasi). M. hukuman ini dianggap efektif karena dapat melatih santri untuk lebih bertanggungjawab dan pemberian shock terapy agar jera. Shobi Showabi.67%) menyatakan adanya hukuman fisik yang berupa penggundulan. Bagi pengurus. dan diminta push up. dimuat dalam tata tertib pondok pesantren. Apabila ada santri yang melanggar aturan tersebut maka diberlakukan sanksi/hukuman yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu: 1) Dipanggil kemudian dinasehati 2) Membersihkan kamar 3) Dicukur gundul 4) Ditabok (pernah terjadi pada santri putri sekitar tahun 2005) 5) Ketahuan bawa handphone. sebagai berikut : ”Melatih santri melakukan tanggungjawab disamping itu untuk yg non-fisik membantu anak utk lebih memahami / menghafal juz amma”. Chasanah. 28 tahun. Adapun pelanggaran yang sering dilakukan santri menurut para pengurus adalah merokok. Selain itu mereka juga pernah dihukum dengan menyalin pelajaran. 20 tahun. menghafal Al Qur’an. tidak piket. membaca Yassin termasuk membersihkan kamar.

Karena ada beberapa santri yang merasa dendam dan akan berlaku yang sama ketiga menjadi pengajar.67 4 Bermusyawarah 8 53.37). Tabel 5.33%). santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. Selain itu lebih lanjut.67%) dan yang jarang mendapatkan hadiah ada 8 anak (53. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.67 8 53. para santri pernah mengalami.67 0 0 Sumber: Data Primer.67 7 46. Yang sering mendapatkan pujian berjumlah 7 anak (46. Termasuk juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5.138 dilarang seperti handphone. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU . Selain itu pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus ponpes ini. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas. dinasehati. Dari 15 santri yang diteliti. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes. semuanya pernah mendapatkan pujian.33 3 Menyapa saat bertemu 7 46. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.33 7 46.37 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad No Keterangan Sering % Jarang % Tidak % 1 Berdiskusi 9 60 6 40 0 0 2 Menasehati dengan 0 0 kata lembut 7 46.67 1 6. dan berkelahi.

ada pemberlakuan hukuman fisik dan juga kebiasaan wali kamar yang suka menyuruh-nyuruh.33 73.139 Perlindungan Anak (lihat Tabel 5. Peristiwa tersebut dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus.67 26.33 46.33 53.67 13.33 40 26.67 73.67 80 80 86. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 14 13 11 8 8 7 12 12 13 9 11 11 9 % 93.33 60 Tidak 1 2 4 7 7 8 3 3 2 6 4 4 6 % 6.67 53.67 46.67 40 Untuk pengembangan ponpes ke depan.67 60 73. Pengurus hendaknya sebagai teladan yang patut ditiru namun ternyata bersikap Jarkoni.33 86.37 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.67 46.33 26.33 53. diharapkan ada peraturan yang tidak terlalu ketat dan banyak.33 20 20 13. Tabel 5.37). Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak. .

67 100% . Ponpes ini didukung dengan 5 pengurus yang masing-masing menjabat sebagai Pemimpin Ponpes. Dari 15 santri yang ada hanya 1 anak yang tidak mengetahui tentang kepemilikan akte kelahiran.2. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 5 3 1 4 1 1 15 anak Persen (%) 33. Pengasuh Ponpes. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Darud Dzikri merupakan ponpes yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal untuk para santri dan tidak berfungsi sebagai Sekolah Madrasah. Ketua Yayasan dan Bendahara. Jumlah santriwati ada 11 anak dan jumlah santri ada 4 anak yang berasal dari Solo 8 anak (53. Lama santri yang tinggal di Ponpes ini adalah 3 tahun dan ada yang baru saja masuk sekitar 1 bulan yang lalu.33) dan 2 anak (13. Secara umum.140 1. teman. Sekretaris.67 6. maupun saudara (lihat Tabel 5. kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur maupun asal daerah.33 20.38). Pondok Pesantren Darud Dzikri a. Tabel 5.00 6. Santri datang ke ponpes.38 Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Orang Tua Saudara Tetangga Teman Sendiri Orang Tua dan Teman Jumlah Sumber: Data Primer. Ponpes yang berada dalam lingkungan perkampungan padat penduduk ini memiliki santri sebanyak 15 anak yang berumur paling muda 9 tahun dan yang paling tua 16 tahun.67 6.33) berasal dari Salatiga.67 26.33%). Eks Karesidinan Surakarta sebanyak 5 anak (33. ada yang diantar orang tua.

33 10 Sumber: Data Primer.67 0. seorang anak masuk ke ponpes tidak hanya karena persoalan ekonomi meskipun ponpes ini tidak memberlakukan biaya bulanan sehingga lebih mirip sebuah panti asuhan. santri juga merasakan kenyamanan tingal di ponpes karena memiliki banyak teman. Di satu sisi. banyak fasilitas yang menurut santri cukup bersih.33 1 2 Ruang Ibadah 15 100.141 Alasan para santri tinggal di ponpes ini sebagian besar karena keinginan sendiri sebanyak 11 anak. dan belajar agama dengan ustad/ustadzahnya. Hal ini terjadi jika antar santri saling bertengkar.39 Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri No Jenis Fasilitas Layak % Tidak Layak 1 Ruang Belajar 14 93. fasilitas yang ada hanya ruang ibadah. Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami kebosanan di dalam ponpes.67 Persepsi santri ini sangat berbeda jauh dengan persepsi para pengurus ponpes.33 10 6 Fasilitas Kesenian 5 33.00 33. dapur dan laboratorium komputer yang kurang layak.67 66. . Bagi pengurus ponpes. dimarahi ustad/ustadzahnya dan disuruh-suruh untuk mengerjakan sesuatu. Artinya. persoalah ekonomi ada 2 anak dan keinginan saudara ada 2 anak.33 6.67 5 4 Ruang Makan 13 86. Kegiatan di ponpes ini didukung dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh yayasan.67 66. Persepsi santri terhadap kondisi fasilitas yang ada dapat dilihat pada Tabel 5. ruang belajar. Bahkan memberikan uang saku.00 0 3 Ruang Bermain 10 66.39 Tabel 5.67 2 5 Fasilitas Olahraga 5 33. Juli 2009 % 6.

Dari 15 santri yang ada. Meskipun menurut pengurus. Rendahnya pengetahuan pengurus ponpes tentang anak memberikan kontribusi bagi terciptanya kekerasan anak di dalam pola pengasuhan ponpes Hal ini juga terlihat dari hukuman yang diberlakukan bagi santri jika melanggar peraturan ponpes. Selain itu tidak tahunya para pengurus ponpes tentang Konvensi Hak Anak yang dilakukan PBB termasuk UU No. hukuman ini dianggap tidak efektif karena tidak membuat anak jera. Bahkan ada yang menyebut kalau hukuman bagi santriwati lebih baik disuruh untuk membersihkan lingkungan ponpes. Hal ini tidak sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa sejak dalam kandungan sampai umur 18 tahun seseorang dianggap sebagai anak. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan merupakan sebuah sistem yang mengatur keberadaan para santri seharusnya didukung dengan pengetahuan yang cukup tentang anak baik yang menyangkut hak anak maupun perlindungan anak. 12 anak menyatakan pernah dihukum melakukan push up dengan jumlah yang bervariasi.142 b. Selain itu ada 11 anak yang pernah dihukum untuk . Persepsi tentang anak cukup beragam. Hukuman fisik yang sering dilakukan oleh pengurus ponpes adalah push up dari mulai 25 kali sampai 50 kali dengan pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak melaksanakan piket (persepsi dari pengurus). Yang dimaksud dengan anak adalah yang berusia 0 – 12 tahun sebanyak 3 orang dan berusia 0 – 18 tahun ada 2 orang. Dari hasil penelitian yang ada menunjukkan pengetahuan pengurus ponpes tentang anak sama sekali tidak ada. Sedangkan pelanggaran yang pernah dilakukan menurut para santri cukup beragam (lihat Tabel 3. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Terlihat adanya diskrimasi gender. Tentu saja ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak yang telah diatur dalam perundang-undangan.40).

00 12 13. 13 juli 2009 saya berbincang dengan andi. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan.67 11 6. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.40 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 berkelahi 8 Jarang Mematuhi Sumber: Data Primer. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Karena lebih lanjut. Juli 2009 Pernah 0 2 3 2 4 1 5 1 % Tidak 0 15 13. dinasehati. pada sabtu.33 13 20.67 93.143 menyalin pelajaran dan menghafal surat dalam Al Qur’an.67 73. Andi : saya sebenarnya senang mbak tinggal disini karena banyak temannya dan bisa belajar mengaji secara gratis.67 14 33.33 10 6. Tabel 5.33 66. Seperti halnya push-up dan kadang suka membentak dalam memberi memperingatkan. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 46).67 14 % 100 86. tetapi terkadang dalam memberikan hukuman kepada para santri suka memberatkan seperti push-up 25 kali. Tetapi ada sedikit curhatan yang saya dengar dari anak-anak penghuni ponpes.33 93.67 80.33 13 26.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.00 86. 12 tahun (bukan nama sebenarnya) dia bercerita tentang bagaimana sebenarnya dia tidak merasa nyaman dengan pemberian hukuman yang ada di ponpes darut dzikri tersebut yang dinilainya terlalu memberatkan. Buat saya itu kok terlalu gimana gitu soalnya kan kita belajar disini kenapa kalau kita salah .

Enumerator : pernahkah kamu membantah saat diberikan hukuman? Dan jangan-jangan kesalahan yang kamu lakukan terlalu berat atau mungkin kamu nakal? Andi : tidak berani mbak. Hukumannya juga tidak hanya untuk anak laki-laki saja. . 16 tahun . karena mia dianggap terlalu sombong. sebut saja Mia. perempuan juga mendapatkan hukuman yang sama dari ustad. Biasanya kita di hukum karena terlambat atau ramai dan menurut saya kesalahan seperti itu kan wajar mbak. Saya sempat berbincang dengan salah seorang santriwati. Dia juga merasa tdak nyaman dengan para ustad dan ustadzahnya yang dirasa terlalu keras dalam berbicara dan katanya suka menghukum push-up. Dan sebut saja santriwati ini Ita (9 tahun). Saya merasa pertemanan dan gaya bercanda antara para santri terlalu kasar dan tidak pantas dilakukan. dia sering sekali bercerita kepada saya tiap saya berkunjung ke pesantren ini.144 kita harus di hukum dengan push-up? Kan masih bisa kita di hukum dengan hanya di nasehati saja atau di suruh menghafalkan surat-surat pendek saja. dia bilang kurang suka dengan keberadaan Mia disini. apa yang di suruh oleh ustad ya kita harus lakukan dan tidak nanti akan terkena marah lagi oleh ustad. semenjak kedatangannya ke ponpes ini tidak pernah merasa kerasan dan tidak cocok dengan suasana ponpes. Dan terkadang dia suka ngrasani mia dengan teman-teman santriwati yang lain. Dia merasa sering di kucilkan oleh teman-temannya di ponpes oleh karena itu dia sering menyendiri dan tidak suka berbaur dengan teman-temannya. Saya tinggal disini karena terpaksa oleh keluarga yang menginginkan saya untuk tinggal di ponpes ini dan belajar disini. Kata-kata guyonan yang mereka lontarkan pun terlalu kasar seperti melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan antara santri. Kenapa kita sudah di hukum push-up masih di suruh menghafal surat-surat pendek lagi.

67 6. . belum ada pengawasan langsung oleh ustad atau ustadzah yang mengasuh ponpes tersebut. malu.33 6.33 6. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 8 1 1 1 2 1 1 15 % 53. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar Undangundang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.67 13. Peristiwa tersebut baik dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus. Mereka sholat berjamaah sendiri. Dan pada saat itu. Tabel 5. Kegiatan yang mereka lakukan sebagai santri di waktu pulang sekolah lebih banyak di habiskan di depan televisi dan tidur.145 Dan tanganya pun terlalu enteng. para santri pernah mengalami. Keadaan kamar mereka juga tidak terawat dan sangat kumuh. mengaji dan menghafal surat-surat pendek pun sendiri. bisa saling memukul dan tidak segan-segan kepala yang dipukul oleh mereka.67 6.67 100 Berdasarkan hasil penelitian.42). sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer. yang mereka sendiri terkadang merasa risih dengan keadaan yang seperti ini. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak.67 6.41 Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Blm pernah dihukum Tidak menjawab Ikhlas.

33 6.67 73. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 13 15 14 15 14 12 6 5 5 2 1 0 1 11 % 86.33 0 6.33 80 40 33.67 0 6. Kondisi ini tertutupi dengan metode pengajaran yang diberlakukan oleh ponpes ini dianggap santri cukup menyenangkan seperti menghargai pendapat setiap santri. Meskipun secara keseluruhan kegiatan rutin santri ini dianggap tidak memberatkan tetapi ada kegiatan yang dianggap paling memberatkan oleh santri adalah membersihkan WC karena dapat membuat santri cepat lelah ditambah kewajiban memasak.67 93.33 26. memasak dan membersihkan lingkungan ponpes.33 13.67 66.33 33. santri mendapatkan piket memasak untuk kebutuhan mereka sehari-hari dengan menu yang telah ditetapkan.67 20 60 66.67 100 93. bahkan saling tukar cerita. Setiap hari.67 0 6.33 Tidak 2 0 1 0 1 3 9 10 10 13 14 15 14 4 % 13.146 Tabel 5.67 Setiap santri wajib melakukan kegiatan yang telah ditetapkan oleh pengurus yaitu belajar. mengajak diskusi.67 86. . beribadah.42 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok 14 Pertengkaran Sumber: Data Primer.33 100 93.33 100 93.

Selain itu.43).5 – 3 tahun. dari Jawa Tengah ada 6 anak dan 1 anak dari Jambi. Pondok Pesantren Mujahiddin a.147 Didalam ponpes ini ada bentuk penghargaan bagi anak yang berprestasi. Yang berasal dari Solo ada 4 anak. . penelitian mengambil 12 santri sebagai responden yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Mujahidin merupakan ponpes yang memiliki santri laki-laki saja. didalam ponpes juga ada pola pengasuhan melalui pembujukan yaitu menasehati dengan kata lembut. Sedangkan hubungan antar santri juga cukup dekat karena sebagian santri menyebutkan teman curhatnya adalah temannya sendiri. Dari 15 santri yang ada. Ada 2 santri yang menyatakan ketidaktahuannya akan akte kelahiran. artinya masih lemahnya santri di dalam menuntut hak-haknya sebagai anak Indonesia. Untuk kemajuan ponpes ke depan. Dari jumlah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Solo dan sekitarnya dengan lama tinggal antara 1.3. dari Eks Karesidenan Surakarta ada 1 anak. sebanyak 13% pernah mendapatkan hadiah dan 2 lainnya tidak pernah. bagi santri menginginkan pengurus semakin memperhatikan kondisi mereka termasuk mengajak untuk berekreasi. 1. Hubungan antara pengurus dan santri digambarkan sangat dekat seperti keluarga sendiri seperti menemani santri ketika belajar. Secara keseluruhan jumlah santri di Ponpes ini ada 27 anak yang saat ini menempuh pendidikan SMP dan SMA (lihat Tabel 5. mengajak diskusi dan bermusyawarah serta selalu menyapa saat berpapasan.

148 Tabel 5. Juli 2009 Santri datang ke ponpes. Artinya. Dari 12 anak yang menjadi responden semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. tidak ada pemaksaan . sebagian besar (9 anak) diantar oleh orang tua dan 3 anak lainnya diantar saudaranya.43 Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Nama Kelas Umur No 1 Deni Arif Sulistyo VII 13 2 Endang Sudrajad VII 15 3 Mu'as Abdul Rohim VII 13 4 Ridzwan Nur secha VII 13 5 Wildan Syahidullah VIII 13 6 Abdurrahman Arif VIII 15 7 Ahmad Romadhon VIII 14 8 Ali Taufikurrahman VIII 14 9 Dian Hafidz Saifudin VIII 14 10 Humam Ujiana VIII 14 11 Ilham Kurniasandi VIII 14 12 Sayid Imam Muhammad VIII 14 13 As'ad IX 16 14 Dafid saiful Anwar IX 15 15 Deni Sudrajad IX 15 16 Fahrur Rozik IX 17 17 Faidillah IX 15 18 Faqih Hidayatullah IX 16 19 Fathurrohim IX 16 20 Hadiyatna Hamid IX 15 21 Khoirudin IX 15 22 muh Zami' Al Wahid I IX 15 23 Muhammad Yusuf IX 15 24 Rifqi As Sabiq IX 15 25 Rizal Abdul Aziz Al Qomar IX 15 26 Muhammad Salman IX 16 27 Prasetyo IX 16 Sumber: Data Kesiswaan Pondok Pesantren Mujahidin.

kondisi lingkungan cukup bersih karena setiap harinya ada santri yang mendapatkan jatah piket untuk membersihkan lingkungan ponpes. dan Rp. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan 1 anak mendapatkan uang saku dari saudaranya. . 200. mulai kurang dari Rp.100. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Banyak hiburannya karena suka duka dirasakan bersama 4) Ustadnya baik 5) Dapat hidup mandiri Secara umum. 100.000. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. rata-rata mereka hanya diam saja ada 7 anak atau minta orang tua ada 5 anak. Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang. Tersedianya fasilitas untuk mendukung kehidupan santri juga memberikan efek positif bagi keberadaan santri di lingkungan ponpes meskipun ada sebagian yang dianggap tidak layak (lihat Tabel 5. Tidak ada pemaksaan terhadap anak.000 s/d Rp. sekolah dan ditabung.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi.149 dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Jika santri kehabisan uang saku. kondisi lingkungan ponpes menurut para santri ada yang menyebutkan bersih (5 anak) dan ada yang menyebutkan biasa saja (7 anak). Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal. Bagi pengurus ponpes.44). Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu.

mau bergaul dengan santri mendengarkan keluh kesah pada santri maupun bercanda bersama. Pola pengasuhan Fasilitas-fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Mujahidin secara efektif digunakan untuk melakukan kegiatan rutin santri yang telah dijadwalkan seperti kegiatan keagamaan (sholat berjamaah. tadarus.67 91.44 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Komputer Perpustakaan Layak 12 12 12 11 11 9 11 11 % 100 100 100 91. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5. Juli 2009 b.67 Tidak Layak 0 0 0 1 0 0 0 0 % 0 0 0 8. Selain itu setiap santri diwajibkan untuk menjalankan piket yang juga telah dijadwalkan untuk membersihkan kamar dan lingkungan ponpes.33 Sumber: Data Primer. Bagi sebagian besar santri.150 Tabel 5.45) .67 75 91.33 8. tidak mudah marah. kegiatan rutinitas itu dirasakan tidak memberatkan (sebanyak 9 anak) dan kadang-kadang memberatkan (sebanyak 3 anak). menghafal Al Qur’an dan belajar kitab) dan belajar ilmu pengetahuan umum (pelajaran sekolah).33 25 8.67 91.33 0 0 0 0 Tidak Tahu 0 0 0 0 1 3 1 1 % 0 0 0 0 8. Hal ini karena didukung oleh keberadaan pengurus ponpes baik pengasuh maupun ustadnya yang dianggap santri menyenangkan.

33 2 2 0 3 2 16.33 Tdk Senang 0 1 1 1 1 0 2 0 % 0 8.33 0 0 4 33. rolling. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk push up. Kegiatan refreshing ini membuat santri tidak merasa bosan. dan .67 58. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes.33 8. Jika mereka mengalami kesulitan belajar.45 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 8 11 7 9 9 12 7 10 % 66. Bagi santri yang kurang berprestasi akan mendapatkan bimbingan khusus dan mengadakan belajar kelompok untuk meningkatkan prestasi.30 .33 83. ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan. scot jump.33 0 16. Setiap santri belajar.151 Tabel 5.21.33 8.30.67 91.30 sampai 04. Juli 2009 Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri.33 75 75 100 58.30 dan jam belajar mulai pukul 19.67 0 25 16. Bagi pengurus.67 16. pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak piket.33 8. lari mengelilingi ponpes. Selain itu mereka juga pernah merokok. tidak menjalankan kegiatan keagamaan maupun terlambat sekolah. sit up.67 Sumber: Data Primer. ada pengasuh yang menemani mereka. memberikan bimbingan semampunya atau meminta senior mereka untuk membantunya.67 0 Tidak % Tahu 4 33. menggunakan fasilitas yang ada dan refreshing setiap 1 tahun sekali. Di dalam ponpes diberlakukan jam malam mulai pukul 21.

33 50 .33 5 100 0 16.67 66.33 5 33. Meskipun sebagian besar santri menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut.67 Bagi santri sendiri.67 41. Juli 2009 Pernah 1 7 12 2 0 7 4 7 % Tidak 8.67 50 Tidak 0 2 6 6 10 6 % 0 16. dicukur gundul dan pemberian skorsing. Peraturan yang dibuat tidak melibatkan santri. hukuman-hukuman tersebut dianggap efektif karena mendidik santri untuk mandiri dan bertanggungjawab serta sudah merupakan kesepakatan bersama antar pengurus ponpes sebagai sebuah peraturan sehingga dianggap tidak menyimpang.47 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Pernah 12 10 6 6 2 6 % 100 83.46 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 Berkelahi 8 Kabur Sumber: Data Primer.33 5 % 91.33 100 41.67 0 83.152 jalan jongkok. Bagi pengurus.67 41. Tabel 5.67 50 50 83. Tabel 5.33 11 58.33 8 58.67 10 0 12 58.33 50 50 16. menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal muffrodat. diperingatkan atau diajak bermusyawarah ketika santri mendapatkan hukuman karena santri merasa malu dengan hukuman tersebut. ayat-ayat Al Qur’an.

langsung digundul”. selain digundul mereka juga sering diskorsing dan push up.67 33.push up paling tidak 40 kali. biasanya karena telat masuk kelas. apalagi hukuman gundul” AA”aku pernah dihukum gundul mas.67 25 0 8. sebut saja AA. Mereka bertiga pernah kabur karena jenuh berada dilingkungan pondok. Juli 2009 No Pernah 4 9 12 11 4 3 0 % 33. Hukuman gundul diberikan pada anak-anak yang kabur dari pondok. itu AA mas paling banyak dapat hukuman.33 75 100 91. AB dan AC yang sering melakukan pelanggaran. AC”kalau kita terlambat ikut sholat berjamaah dan terlambat masuk kelas gitu. bisa dikatakan sebagai jalan umum. skorsing dan hukuman gundul. kita biasanya disuruh menghafal muffrodat. pintu ini tidak dijaga oleh pihak pondok dikarenakan pintu ini merupakan akses bagi masyarakat umum untuk masuk ke masjid.67 75 100 Pada waktu saya di ponpes Al Mujahidin santri banyak bercerita tentang hukuman dan peraturan yang diterapkan dipondok. seperti halnya yang dikatakan oleh AB”kalau hukuman yang sering aku terima ya itu mas.33 25 0 Tidak 8 3 0 1 8 9 12 % 66.oleh pak ustad karena kabur. Ada beberapa anak yang mendapatkan hukuman ini. tetapi saya tidak dapat mengambil gambar atau melihat secara langsung karena pada waktu itu tidak ada santri yang melakukan pelanggaran.153 Keterangan Menyuruh berdiri di bawah 7 matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up Menyiram air untuk 10 membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.33 66. Sangsi yang sering diberikan adalah hukuman push up. tapi aku juga pernah . mereka kabur lewat pintu belakang pondok.

48). yaitu menghafal ejaan Al Quran dan menghafal cara berkhutbah. sama membersihkan wc ”. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes karena situasi ponpes yang menyenangkan Tabel 5. mereka menyadari bahwa mereka mendapat hukuman karena kesalahan mereka sendiri. Hukuman skorsing adalah hukuman menghafal bagi santri.akan tetapi lebih baik apabila hukuman yang diterapkan adalah berupa teguran dan saran terlebih dahulu. Pondok Pesantren Mujahidin juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. Tetapi bagi santri sendiri.67 50 Tidak 1 0 0 0 % 8. Santri tidak pernah marah dan menerima apa adanya hukuman yang diberikan oleh pihak pondok. para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah.33 50 Jarang 6 0 2 6 % 50 0 16. mereka pada dasarnya menyetujui hukuman fisik.154 digundul. selain itu hukuman yang lain ya berupa lari kecil. Dari responden hanya ada satu orang yang belum pernah mendapatkan hadiah.48 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 5 12 10 6 % 41. Hampir semua santri sering menerima hukuman ini.itu gara-gara kabur sama AC.scot jump.67 100 83. hukuman ini termasuk hukuman ringan. . Meskipun tidak semua santri mendapatkannya.33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Juli 2009 Selain memberikan penggajaran berupa hukuman.

155 1. Alasan masuk ke dalam ponpes ini karena keinginan sendiri dan diantar oleh orang tua masing-masing. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Pondok Pesantren Tahfid Wata'limil Qur'an Penelitian pada ponpes yang berada di lingkungan Masjid Agung Kota Solo ini dijadikan pembanding terhadap ponpes lainnya. Terdapat lapangan badminton dan ada kesenian hadrah sehingga mampu menambah aktivitas para santri untuk aktualisasi diri. Selebihnya hanya mengandalkan fasilitas seadanya seperti tempat belajar berada di dalam kamarnya masingmasing. Sragen dan Kebumen. Keutamaan untuk menjalankan keagamaan menjadi kewajiban rutin yang harus dijalankan oleh santri dari mulai sholat berjamaah.4. hanya ada 3 orang yang berusia dibawah 18 tahun. Salah satu santri sudah cukup lama tinggal di ponpes ini selama 3 tahun karena merasa nyaman tinggal di ponpes ini. Kebutuhan untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan. Ketiga anak tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini untuk melihat pola pengasuhan di pondok pesantren. Yang paling menonjol adalah keberadaan Masjid Agung sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Santri yang tinggal di ponpes ini tetap mendapatkan uang saku dari orang tuanya dengan jumlah yang tidak tentu. sekolah (termasuk transport) dan sisanya untuk ditabung. Secara garis besarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori ponpes anak karena santri yang tinggal di ponpes ini kebanyakan adalah mahasiswa. Ketiga santri ini berasal dari Wonogiri. . Kehidupan yang menyenangkan didalam ponpes membuat santri merasa betah tinggal di ponpes meskipun jauh dari keluarga. Fasilitas yang tersedia di dalam ponpes ini sangat sederhana. mempunyai banyak teman yang mengajarkan tentang adanya perbedaan dan didukung dengan ustadz yang baik dalam pengasuhan menjadikan santri lebih mampu hidup mandiri.

Pengurus pondok pesantren ini memiliki persepsi bahwa usia anak adalah 0 – 12 tahun. Selain itu. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kabupaten Klaten 2. diharapkan sanksi yang tegas bagi yang melanggar peraturan ponpes dan adanya penambahan waktu untuk mempelajari kitab Al Qur’an. setiap santri memiliki hak untuk berpendapat dan mengeluarkan kritik ataupun saran kepada pengurus ponpes bagi kebaikan ponpes selanjutnya di masa mendatang. Semua kegiatan itu dilakukan dengan senang hati dan cara pengasuhan diponpes ini dianggap santri menyenangkan. Hal ini dapat dibenarkan karena mereka tidak mengetahui tentang adanya Kovensi Hak Anak dan Undang-Undang .1. lingkungan ponpes dan memasak. Tidak ada hukuman fisik yang berlaku di dalam ponpes.156 belajar kitab. ponpes ini diharapkan menambah fasilitas yang lebih baik untuk mendukung kegiatan ponpes. Selain itu. Adanya ruang terbuka untuk menerima masukan santri menandakan kepedulian besar terhadap hak-hak santri untuk berpartisipasi di dalam kemajuan ponpes. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Munir merupakan ponpes yang didirikan untuk mengembangkan keilmuan keagamaan yang ditempuh oleh salah satu anak pendiri Yayasan Al Munir. Pondok Pesantren Al Munir a. kewajiban menjalankan piket untuk membersihkan kamar. Sanksi yang diberikan bagi santri yang melanggar adalah menghafal Al Qur’an dan membersihkan lingkungan ponpes. 2. dan mengaji. Selain kewajiban. Pengganjaran dalam ponpes ini diberikan dalam bentuk penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar peraturan. Peraturan yang di dalam ponpes telah dibuat oleh pengurus dan tidak ada kelibatan santri di dalam pembuatan peraturan tersebut. Ke depan.

Bagi santri. Ada yang masih 3 hari masuk ponpes tetapi ada anak yang sudah 5 tahun tinggal di ponpes. Dari 10 responden. dan memiliki pengurus yang baik hati. Usia anak yang menjadi responden paling tua berumur 17 tahun dan yang paling muda berumur 9 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 2 anak (20%) dan laki-laki ada 8 anak (80%). Hal yang membuat tidak senang anak-anak adalah karena . Mereka datang ke ponpes ini dengan berbagai alasan seperti kesulitan ekonomi. keinginan sendiri maupun hanya sekedar menuruti keinginan orang tua. mereka cenderung meminta lagi kepada orang tua kecuali yang diberikan ponpes mereka hanya bersikap diam saja. Santri yang tinggal di ponpes ini masih mendapatkan uang saku dari orang tuanya kecuali bagi orang tua yang tidak mampu maka santri mendapatkan uang saku dari ponpes meskipun tidak rutin dengan jumlah yang tidak tentu. Demak ada 1 anak (10%) dan Ngawi ada 1 anak (10%). Hal yang membuat senang tinggal di ponpes karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain. Sebagian anak masih baru tinggal di panti.157 Perlindungan Anak. Apabila uang saku yang diberikan telah habis. kehidupan di ponpes kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Santri yang tinggal di ponpes ini sebagian besar di antar orang tuanya sebanyak 8 anak dan 2 anak lainnya diantar oleh saudara dan tetangganya. Yogyakarta ada 1 anak (10%). belajar agama. Sumber dana dari pondok pesantren ini berasal dari donatur tetap serta sumbangan yang sifatnya tidak rutin. Rembang ada 1 anak (10%). Penelitian ini mengambil 10 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 6 anak (60%). Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi santri seperti jajan dan ditabung. ada 8 anak yang memiliki akte kelahiran dan sisanya sebanyak 2 anak menjawab tidak tahu.

. ponpes ini tidak memiliki ruang untuk bermain. Kondisi lingkungan di ponpes dirasakan cukup bersih karena setiap hari mereka wajib membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas sangat mendukung bagi terselenggaranya kehidupan ponpes yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. Setiap pengasuhan yang diterapkan memiliki konsekuensi tersendiri bagi keberadaan ponpes ke depan. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan santri ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan dalam ponpes ini menerapkan 3 konsep pengasuhan yaitu pengajaran melalui kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. olahraga dan kesenian. b. Di dalam pemikiran santri.158 mereka jauh dari orang tua.49 Tabel 5.49 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 7 9 5 6 2 6 % 70 90 50 60 20 60 Tidak Layak 1 1 2 2 3 1 % 10 10 20 20 30 10 Tidak Ada 2 0 3 2 5 3 % 20 0 30 20 50 30 Sumber: Data Primer. fasilitas tersebut dapat dilakukan di dalam kamar seperti makan dan di luar ruangan (lingkungan ponpes) seperti bermain. pengganjaran baik berupa penghargaan maupun hukuman serta pembujukan. makan. olahraga dan berkesenian. Adapun fasilitas yang ada di ponpes ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5. Tetapi menurut pengurus ponpes.

Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah nyuci piring/baju dan belajar pagi karena persiapan untuk ke sekolah jadi terganggu. Bagi santri.50. Tabel 5. Antara anak dan pengurus seringkali terjalin komunikasi. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik . Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5. belajar kitab.159 Setiap santri memiliki kewajiban yang harus dijalankan dari sholat berjamaah. mengaji.50 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 9 8 9 8 10 9 10 10 % 90 80 90 80 100 90 100 100 Tdk Senang 0 1 0 1 0 1 0 0 % 0 10 0 10 0 10 0 0 Tidak Tahu 1 1 1 1 0 0 0 0 % 10 10 10 10 0 0 0 0 Sumber: Data Primer.). Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di ponpes yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan santri. Juli 2009 Apabila ada santri yang mendapatkan masalah atau melakukan pelanggaran peraturan ponpes. maka hal yang biasa dilakukan adalah memberikan nasehat untuk tidak mengulangi perbuatannya. santri merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari pengurus sehingga perasaan nyaman dan aman dirasakan oleh santri. kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Selain itu selama tinggal di ponpes. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.

Menurut anak. di dalam panti juga memberlakukan hukuman seperti menghafal Al Qur’an maupun menyalin ayat Al Qur’an. ikhlas dan akan berlaku sama dengan pengajar ada 1 anak dan 1 anak lagi merasa malu. Tabel 5. sakit hati dan malu ada 2 anak. ikhlas dan merasa malu ada 2 anak. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 20 0 10 10 10 0 10 Jarang 2 3 4 6 3 4 5 % 20 30 40 60 30 40 50 Tidak 6 3 5 3 6 6 4 % 60 30 50 30 60 60 40 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.160 yaitu dijewer telinganya tetapi jarang dilakukan. merasa malu ada 1 anak.51) tetapi tidak sering dilakukan. Tabel 5. diberikan pujian dan hadiah. Selain hukuman fisik.52 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Sering 1 1 0 0 0 0 0 0 % 10 10 0 0 0 0 0 0 Jarang 9 7 3 5 6 6 6 1 % 90 70 30 50 60 60 60 10 Tidak 0 2 7 5 4 4 6 9 % 0 20 70 50 40 40 60 90 . anak-anak ini sebagian menerima dengan ikhlas ada 3 anak.51 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Keterangan Sering Merokok 2 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 1 Tidak menginap 1 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 1 Sumber: Data Primer. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5.

Juli 2009 % 50 90 30 30 Jarang 5 1 5 5 % 50 10 50 50 Tidak 0 0 2 2 % 0 0 20 20 Pondok Pesantren Al Munir juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut.53 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir No Keterangan Sering 1 Berdiskusi 5 2 Menasehati dengan kata lembut 9 3 Menyapa saat bertemu 3 4 Bermusyawarah 3 Sumber: Data Primer. berdiskusi. . menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 58). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 57). Tabel 5. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. santri pernah mengalami. Meskipun tidak sering terjadi tetapi dapat mempengaruhi kejiwaan santri yang notabene masih usia anak.161 No 9 10 11 12 13 Keterangan Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 0 0 2 2 7 % 0 0 20 20 70 Jarang 4 5 4 4 1 % 40 50 40 40 10 Tidak 6 5 4 4 2 % 60 50 40 40 20 Sumber: Data Primer.

Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Sunan Kalijaga berdiri sejak tahun 2006 sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan.54).33 6. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga a.162 2. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan ekonomi. Ada yang diantar oleh saudara. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang.67 6.67 6. Legalitas anak untuk menjadi warga negara Indonesia berasal dari akte kelahiran. Dari 15 responden.54 Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Magelang Semarang Jawa Klaten Pasuruan Ungaran Cepu Kendal Temanggung Jumlah Sumber: Data Primer.67 100 Santri datang ke ponpes tidak selalu diantar oleh orang tuanya.67 6. Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah 4 3 2 1 1 1 1 1 1 15 % 26. teman maupun tetangganya .67 20 13. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Klaten dan sekitarnya dengan lama tinggal rata-rata masih dibawah 1 tahun.67 6.2.67 6. Hal ini sungguh memprihatinkan karena kepemilikan akte kelahiran ini merupakan hak setiap anak Indonesia. Penelitian ini mengambil responden berjumlah 15 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (Tabel 5. ada 2 santri yang tidak memiliki akte kelahiran.

dan Rp.33 13.33 6. 200. rata-rata mereka hanya diam menunggu kiriman dan ada sebagian kecil yang meminjam uang ke teman sekolah.33 13.33 Santri secara rutin ada yang mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan ada juga yang mendapatkan uang saku dari ponpes. Tabel 5.000.55).000 s/d Rp.163 (Tabel 5.55 Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Orang Tua Saudara Teman Tetangga Jumlah Sumber: Data Primer.67 6. Mereka datang ke ponpes sebagian besar karena keinginan sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak (Tabel 5. mulai kurang dari Rp. tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini . Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 11 2 1 1 15 % 73.56 Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Keinginan Sendiri Ekonomi Keinginan Sendiri dan Ekonomi Memperdalam Ilmu Agama Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 5 6 2 2 15 % 33.56).33 40 13.100. Artinya. Hanya sedikit anak yang uang sakunya ditabung.67 100 Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang. 100.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah. Jika santri kehabisan uang saku.

33 60 2 13.67 20 3 20 9 60 33. . Dilihat dari segi ilmu belajar mengajar. Tabel 5. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Memiliki Ustad yang baik 4) Berbeda dengan ponpes yang lain Secara umum.33 2 13.33 % 1 Ruang Belajar 3 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 3 4 Ruang Makan 9 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 5 Sumber: Data Primer. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal. Bagi pengurus ponpes. seperti yang diungkapkan sebagai berikut: ”Fasilitas pondok terutama ruang belajar mengajar bisa dikatakan sangat jauh dari layak. menurut para santri kondisi lingkungan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga ini bersih (6 santri atau 40%).33 8 53. (lihat Tabel 5. Kegiatan para santri didukung dengan berbagai fasilitas yang telah ada didalam ponpes meskipun dirasakan oleh santri tidak layak.67%). Tidak ada pemaksaan terhadap anak. kondisi lingkungan biasa saja. Namun karena kondisi ekonomi memang masih sangat terbatas.57). Juli 2009 Menurut Kyai Susilo Eko Pramono.57 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No Jenis Fasilitas Layak Tidak Tidak % % Layak Ada 20 12 80 0 0 100 0 0 0 0 20 4 26.164 berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya.33%) dan sisanya menyebutkan lingkungan ponpes kumuh/kurang memadai/memprihatinkan ( 4 santri atau 26. ruang kelas ini sebenarnya sangat tidak layak untuk dipakai. biasa saja (5 santri atau 33. kondisi fasilitas di Ponpes ini sebenarnya jauh dari kelayakan.33 4 26.67 8 53.

Mereka saling berkomunikasi dan diskusi tentang hal-hal yang terjadi di dalam ponpes. Terutama untuk kelas ibu-ibu. Juli 2009 . Kegiatan tersebut bagi 9 anak dirasakan tidak memberatkan tetapi ada 6 anak yang merasa kadang-kadang kegiatan tersebut memberatkan. Kondisi ini agak tertolong karena hubungan antara anak dan pengurus ponpes cukup baik meskipun pengetahuan pengurus ponpes tentang hak anak dan perlindungan anak belum memiliki.33 86.67 13.67 0 6. Kalau melihat seperti itu sebenarnya kasihan juga. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5. belajar kitab. bermain.58) Tabel 5.58 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 15 13 15 14 14 14 13 Tdk Senang 93.33 93.67 6.33 0 100 0 86. dan karena ruang sangat sempit.67 6. maka duduk berdesak-desakan. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes serta memasak.67 0 6.67 1 % 100 93. lantai belum disemen.33 Sumber: Data Primer. mengaji/tadarus.67 0 0 0 0 0 % 0 0 6. jadi mau bagaimana lagi. selalu saja duduk di tikar.67 0 0 0 0 0 Tidak Tahu 1 0 1 0 1 1 1 2 % 6.33 93.” b.165 dan donator tetap juga tidak ada. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang dilakukan setiap santri cukup padat yang meliputi sholat berjamaah.

166

Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri, ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan, mendapatkan ilmu agama dan berpendapat. Persepsi mengenai jam malam dan jam belajar antar santri memiliki perbedaan. Ada yang menyebutkan jam malam dimulai pukul 20.00 WIB tetapi ada yang menyebutkan jam 20.30 WIB. Jam belajar berkisar antara 22.00 – 23.00 WIB. Jika mereka mengalami kesulitan belajar, diadakan kelompok belajar sehingga antar santri saling memberikan bantuan pelajaran sekolah. Para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya. Tetapi sistem pemberian penghargaan ini sering dilakukan oleh pengurus ponpes. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk lari mengelilingi ponpes, scot jump, sit up, dan mengisi bak air. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal Al Qur’an jus 30, dan menyalin pelajaran yang belum lengkap. Tabel 5.59 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % Merokok 2 13,33 3 20 10 66,67 Terlambat pulang 4 26,67 10 66,67 1 6,67 Tidak piket 2 13,33 9 60 4 26,67 Tidak beribadah 0 0 6 40 9 60 Tidak menginap 0 0 1 6,67 14 93,33 Membawa barang 6 0 0 1 6,67 14 93,33 yang dilarang 7 Berkelahi 0 0 0 0 15 100 Sumber: Data Primer, Juli 2009 No 1 2 3 4 5

167

Sebagian santri, menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat, diperingatkan atau di ajak bermusyawarah. Santri yang

mendapatkan hukuman sebagian besar menerima dengan ikhlas yang disertai perasaan malu dan menyesal. Hukuman yang diberikan kepada para santri pun bermacammacam tergantung pada bentuk kesalahan dan pengurus ponpes. Adapun bentuk hukuman yang pernah diberlakukan seperti yang diceritakan para santri kepada peneliti sebagai berikut: 1. Penuturan Sm “Suatu hari NZ pernah di tampar karena salah saat baca Al Barzanji pada waktu acara di masjid dengan warga sekitar. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil, kemudian di marahi dengan dibentak-bentak, dan NZ akhirnya ditampar” ”Pada suatu hari setelah kegiatan belajar (pukul 21.00), santri Z dan P diminta untuk memasang keramik bak mandi dalam pondok. Dan santri D dan S diminta memperbaiki mesin jahit yang rusak.” (yang pasang keramik sampai jam 03.00 baru selesai, yang membetulkan mesin jahit sampai sekitar jam dua ditinggal tidur, dan kerjaan belum selesai. Abi tahu tetapi tidak dimarahi. Ketika mereka bekerja, Abi bercanda saja dengan keluarganya, dan menyalakan radio. Berdasarkan hasil observasi, kebiasaan abi kalau malam memang mendengarkan radio) ”Kalau amanah abi tidak dilaksanakan, biasanya santri akan dibentak-bentak. Kadang abi juga menyuruh yang aneh-aneh, pernah saya disuruh abi untuk cari jeruk nipis, ketika itu sudah jam sembilan malam. Saya mencari ke rumah-rumah warga, dan akhirnya dapat” 2. Penuturan DR ”Sumur, septitank, dan kamar mandi yang dibuat saat ini sebenarnya hukuman yang diberikan oleh Abi kepada santri lama. Abi memberikan waktu seminggu untuk membuat itu semua. Namun dalam perjalanannya, pembuatan itu dibantu juga oleh santri-santri yang baru.” 3. Penuturan FS ”Dulu pernah dihukum dijemur saat jam 12 siang di depan masjid, dengan melihat matahari selama 30 menit. Saat itu dihukum bersama dengan 12 santri. Silau sekali saat itu dan merasa pusing. Rasanya berat juga untuk melaksanakan

168

hukuman itu. Hukuman itu sudah lama, mungkin sekitar 3 bulan yang lalu.” ”Abi juga kadang memberi amalan untuk dijalankan santri (amalan biasa diberi semacam buku atau doa-doa untuk dibaca). Dulu saya dan 8 orang santri lain pernah diberi amalan, tempat amalan dipisah-pisah, dan sebelum didatangi oleh Abi tidak boleh berhenti. Saya dan satu orang lagi mendapat jatah di kebun di bawah pohon. Saya disuruh mengucap kalimat dan diulang-ulang dengan kaki diangkat satu. Ketika tengah melakukan itu pas mungkin tengah malam hujan deras. Jadi saya dan satu orang yang lain tadi tidak berani kembali ke pondok, dan menunggu di datangi Abi. Waktu itu menunggu Abi datang lumayan lama, jadi saya hujan-hujanan, dan kedinginan di bawah pohon.” ”Santri kalau sudah menghatamkan satu kitab biasa diberi ujian oleh Abi. Saya dulu ketika menyelesaikan Kitab Shohibul Ghoiz di suruh Abi untuk tidak tidur selama 3 hari. Dan saya laksanakan, dan ternyata kuat.” 4. Penuturan NK “Pernah dihukum push up 50 kali dan scot jump 99 kali, garagara pada waktu itu diberi kesempatan liburan dan disuruh ziarah ke makam-makam, namun karena pulangnya lebih dari waktu yang ditentukan, akhirnya dihukum.” 5. Penuturan PY ”NZ pernah di tampar Abi karena salah saat memimpin membaca Al Barzanji dengan warga. Waktu itu ketika sebelum acara mencatat dulu yang akan dibaca. Namun ditengah menjalankan bacaan Al Barzanji, dan membaca catatan, antara santri satu dengan yang lain ada yang berbeda. Akhirnya bacaan berhenti beberapa saat karena bingung. Dan ketika dilanjutkan ada bacaan yang terlewat. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil oleh Abi. Setelah dimarah-marahi, kemudian NZ ditampar oleh Abi” 6. Penuturan D ”Jika bangun dengan cara disiram air seperti pagi tadi sebenarnya dalam hati mereka pasti merasa jengkel, namun santri itu jika dengan saya tidak berani mengeluh. Tadi sebenarnya saya sudah bangunkan, karena mereka sudah bangun lalu tidur lagi, mau tak mau saya siram air, karena waktu subuh tadi juga sudah mepet waktunya. Biasanya saya membangunkan dulu mereka 2-3 kali baru setelahnya dengan menyiram air. Namun tadi karena waktunya sudah hampir habis, maka hanya saya bangunkan sekali, dan yang kedua kalinya langsung saya siram air”

169

7. Wiro (Bambang Wahyu Saputro) ”Saya adalah santri yang paling sering dihukum oleh pak kyai. Saat inipun saya sedang melaksanakan hukuman dengan cara menyalin buku ini (semacam buku belajar mengaji untuk kelas iqro’). Untuk menyalin buku ini (buku tersebut berukuran seperti buku tulis biasa dengan tebal 53 halaman) saya diberi waktu 3 hari. Tadi diberi hukuman ini karena saya terlambat masuk ke kelas. Tadi saya terlalu lama mencari jas almamater. Sebenarnya barang-barang saya ada di kamar belakang, tetapi tadi jas saya ada di kamar di dalam masjid. Biasanya ada santri yang pinjam, tapi tidak dikembalikan ke kamar saya atau ke saya. Karena terlalu lama mencari, akhirnya terlambat masuk kelas. Jas almamater tidak saya persiapkan sebelumnya, karena hari ini tidak ada jadwal untuk memakai jas almamater. Namun tadi sore setelah ashar ada pengumuman untuk memakai jas almamater, karena sekaligus untuk seragam ketika acara malam harinya.” Tabel 5.60 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 1 0 0 0 0 0 0 7 3 0 1 9 % 20 6,67 0 0 0 0 0 0 46,67 20 0 6,67 60 Jarang 11 10 3 4 3 2 0 5 7 11 10 5 2 % 73,33 66,67 20 26,67 20 13,33 0 33,33 46,67 73,33 66,67 33,33 13,33 Tidak % 1 6,67 4 26,67 12 80 11 73,33 12 80 13 86,67 15 10 1 1 5 9 4 100 66,67 6,67 6,67 33,33 60 26,67

Sumber: Data Primer, Juli 2009

keluarga memiliki beberapa fungsi. Proses pembentukan ini didapat karena belajar dari lingkungan dan tentu saja si anak berinteraksi dengan orang lain.61 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % No 1 Berdiskusi 15 100 0 0 0 0 2 Menasehati dengan 11 73.61). Proses pembentukan diri anak terjadi dengan dijalankannya fungsifungsi keluarga.67 kata lembut 3 Menyapa saat bertemu 13 86.67 2 13.33 12 80 1 6. 1985: 75). Dengan demikian seorang bayi yang baru lahir hingga menjadi dewasa sikap.33 0 0 4 Bermusyawarah 2 13. antara lain fungsi reproduksi. Dalam hal ini yang terpenting adalah proses awal sebagai dasar pembentukan anak tersebut terutama dalam lingkungan yang terdekat. fungsi kontrol sosial dan fungsi penempatan sosial bagi anak-anak serta fungsi sosialisasi (Goode. PEMBAHASAN Dalam teori tabularasa. 1983: 9) Dalam menjalankan fungsinya terhadap pembentukan diri anak . Secara umum.33 3 20 1 6.67 Sumber: Data Primer. yaitu keluarga (Khairuddin. John Locke mengatakan bahwa seorang bayi yang baru lahir ibaratnya kertas putih yang belum mempunyai cacat sedikitpun baik atau buruknya nanti kertas tersebut tergantung dari orang atau lingkungan yang menjamah kertas tersebut.170 Pondok Pesantren Sunan Kalijaga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. fungsi pemeliharaan fisik terhadap anggota keluarga. Juli 2009 D. tingkah laku dan wataknya ditentukan oleh lingkungannya. Tabel 5.

Nilainilai dan norma-norma itu pada tahap awal diajarkan pada anak melalui sosialisasi dalam keluarga. seperti kasih sayang. cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya (Khairuddin. 1991: 178). Masih banyak anak yang tidak mendapatkan pemeliharaan baik secara fisik. Anak-anak dalam suatu keluarga akan menyerap nilai-nilai dan mengambil alih kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan dalam keluarga. yang kemudian nilainilai dan norma-norma tersebut menjadi miliknya dan menjadi standar perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. dalam hal ini terutama adalah orang tuanya. Peranan keluarga sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama dalam hal membentuk kepribadian anak. hidup dalam sebuah keluarga yang utuh dan yang menjalankan fungsinya dengan baik. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan orang lain dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. melainkan juga dukungan moril. maupun secara sosial. keyakinan. Agar manusia dapat berhubungan baik dengan orang lain dalam masyarakat. memegang peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak dan sebagai lingkungan masyarakat yang terkecil serta sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama. Nilainilai dan norma-norma merupakan modal penting dalam kehidupan sosial. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma-norma. Namun demikian. psikis. sikap. khususnya sejak usia dini. suatu keluarga memiliki peran yang sangat penting terhadap anak. tidak semua anak memiliki nasib yang sama. Fungsi sosialisasi ini menunjuk kepada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Anak tidak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan secara materiil saja. perhatian dorongan dan bahkan kehadiran orang tuanya. Masih banyak . melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku. cinta. maka perlu untuk dituntut hidup menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.171 tersebut. nilai-nilai dan hal-hal yang tabu dalam masyarakat (Horton dan Hunt. 1985: 60). Keluarga.

Panti asuhan dan pondok pesantren merupakan sistem pelayanan sosial berbasis lembaga khususnya untuk pengasuhan anak. yang kemudian menyebabkan anak tersebut tidak mengalami fungsi keluarga berupa pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan yang menjadi hak anak. misalnya karena adanya bencana alam atau orang tua yang sedang mengalami masa hukuman penjara. Hal-hal tersebut mengakibatkan tidak mendapatkan pemeliharaan sebagaimana mestinya. atau dikarenakan kondisi khusus yang memisahkan anak dengan keluarganya. membiayai serta membina anak-anak terlantar tersebut. keempat kurang bermain. 1986: 111). Salah satunya adalah panti asuhan sebagai sebuah wadah yang menampung. atau dengan kata lain anak mengalami keterlantaran. Tanggung jawab pemeliharaan terhadap anak terlantar berada di tangan pemerintah. antara lain karena tidak berfungsinya salah satu atau kedua orang tua akibat meninggal dunianya salah satu atau kedua orang tua atau perceraian.172 anak yang belum mendapatkan haknya dalam keluarga. Guna tetap mendapatkan haknya. ketiga. kurang pendidikan dan pengetahuan. Ciri-ciri anak-anak terlantar adalah: Pertama. kedua. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. . atau dibiayai oleh pihak-pihak lain di luar keluarga yang memiliki perhatian khusus terhadap anak terlantar. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lainlain (BPAS. organisasiorganisasi atau pihak-pihak tertentu yang berkompeten menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam pemeliharaan anak terlantar. Tidak berfungsinya keluarga dapat disebabkan oleh beberapa hal. Hal lainnya yaitu adanya suatu kondisi ekonomi yang sangat buruk menimpa orang tua. Selain itu terdapat Pondok Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran (pengasuhan) kepada anak (anak didik/santri) yang didasarkan atas ajaran islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan Allah SWT. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. kelima. namun demikian dalam pelaksanaannya pemerintah dibantu oleh lembaga-lembaga. dan sebagainya. maka kemudian anak diasuh dan dipelihara.

Fungsi-fungsi keluarga yang bisa diambil alih oleh panti asuhan dan pondok pesantren. Perbedaan kondisi diantara lingkungan keluarga. kemudian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. Dengan demikian panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan memberikan pelayanan yang menyamai atau setidaknya mendekati peranan keluarga. Yatim piatu Korban bencana alam No 1 Status/Pendiri Milik Pemerintah dibawah DKRPP dan KB Yayasan Anak Misi Nusantara Asal anak Solo dan sekitarnya Nias. Kalteng. 1. kemudian diambil alih perannya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. Flores 2 1971 . panti asuhan dan pondok pesantren tersebut memunculkan proses adaptasi dari anak yang menjadi anggota panti asuhan dan pondok pesantren. Karakteristik sosial panti asuhan dan pondok pesantren Sosialisai nilai yang tadinya dijalankan oleh keluarga. Tabel 5. panti asuhan dan pondok pesantren tentu saja berbeda dengan keluarga.173 Sebagai lembaga pengganti fungsi keluarga. Perbedaan antara keluarga dan panti asuhan maupun pondok pesantren tersebut kemudian juga memunculkan permasalahan pada diri anak asuh maupun santri. Sumbar. panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat menggantikan fungsi keluarga. Permasalahan muncul seiring proses adaptasi anak dengan lingkungan baru. Mentawai. Namun demikian walaupun sebagai lembaga pengganti keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Tabel 5.62 menunjukkan karakteristik panti asuhan di Kota Surakarta.62 Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Nama Panti Asuhan Pamardi Yoga Misi Nusantara Tahun berdiri 1947 Alasan tinggal di panti asuhan Kesulitan ekonomi.

Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Pada umumnya anak tinggal di panti asuhan karena kesulitan ekonomi. Tabel 5. Dari tabel 6767 dan tabel 6769 dapat diketahui bahwa panti asuhan ada yang milik pemerintah dan perseorangan (Yayasan).174 Tabel 5. yatim piatu dan juga karena bencana alam. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta.64 menunjukkan karakteristik pondok pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. Tabel 5.63 Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Tahun berdiri Alasan tinggal di panti asuhan Fakir miskin dan yatim piatu Yatim piatu No 1 Nama Yayasan Darul Hadlonah Status/Pendiri Milik Perseorangan Asal anak Klaten dan sekitarnya Klaten dan sekitarnya Penerimaan Bayi Milik YPBT Terlantar (YPBT) Sumber: Data Primer. Jawa ilmu agama Tengah Solo. Juli 2009 4 . Juli 2009 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda.64 Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta No 1 Nama pondok pesantren Al Muayyad Status/ Pendiri Tahun berdiri Alasan tinggal di Ponpes Solo. Jawa ilmu agama Tengah Asal anak 2 Darul Dzikri 3 Mujahiddin Tahfid Wata’limil Quran Sumber : Data primer. Jawa ilmu agama Tengah dan luar pulau Jawa Solo. Jawa ilmu agama Tengah dan luar Pulau Jawa Solo.

Pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren Pola pengasuhan anak merupakan bagian dari proses sosialisasi yang pada umumnya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. ustadz/ustazah.65 menunjukkan bahwa pada umumnya santri tinggal dan belajar di pondok pesantren tersebut karena ingin memperdalam ilmu agama. Agar manusia itu bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama manusia lain. Memperdalam Jawa ilmu agama Tengah. Juli 2009 Tabel 5. dan luar Pulau Jawa 2. proses sosialisasi tetap berlangsung.1 Pengajaran (instructing) Manusia merupakan makhuk sosial. Eks Karisedenan Kota Surakarta. 2. Jawa Tengah . Meskipun demikian. anak mempunyai pergaulan yang lebih . pada usia sekolah. Adapun asal santri cukup beragam yaitu dari Solo. ilmu agama Jawa Tengah dan Jawa Timur Klaten. artinya makhuk yang hidup dalam lingkungan manusia lain. penggajaran (rewarding) dan pembujukan (inciting).64 dan tabel 5.175 Tabel 5. Jawa Timur. Akan tetapi di panti asuhan anak diasuh oleh pengasuh (ibu/asuh)dan pondok di pondok pesantren santri dididik dan diasuh oleh kyai. maka ia dituntut untuk belajar bermacam-macam yang berlaku dalam lingkungannya. Yogyakarta. Memperdalam Yogyakarta. Klaten. Pada dasarnya.65 Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten No 1 Nama pondok pesantren Al Munir Status/Pendiri Yayasan Al Munir Tahun berdiri Alasan tinggal di Pondok Pesantren Klaten. Jawa Timur Asal anak 2 Sunan Kalijaga Yayasan Sunan Kalijaga Sumber : data Primer. Misalnya. pola pengasuhan mengandung sifat pengajaran (instructing).

176

luas dan sudah tidak dianggap sebagai anak balita lagi. Oleh karena itu, pada usia sekolah, anak mulai diajarkan tentang berbagai hal dan diharapkan sudah dapat membantu pekerjaan rumah. Cara pengajaran yang dilakukan antara satu pengasuh dengan lainnya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pengajaran dengan menggunakan contoh banyak dilakukan oleh pengasuh (ibu/bapak asuh) di panti asuhan maupun kyai, ustadz/ustazah di ponpes. Sejak anak-anak, seperti yang tinggal di panti asuhan perlu dilatih untuk bekerja mulai dari yang ringan-ringan dulu sesuai dengan umur dan kemampuannya. Setelah agak besar diajari yang lebih berat, seperti mencuci piring, mencuci pakaiannya sendiri dan memasak. Dalam hal-hal yang kecil, pengasuh tinggal menyuruh si anak untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Seperti disuruh untuk membeli sesuatu di warung terdekat atau disuruh untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Menyuruh anak untuk melakukan sesuatu pekerjaan adalah melatih agar anak patuh kepada orang tua tidak seenaknya saja. Selain dengan menggunakan contoh, dalam memberikan pengajaran dapat pula dilakukan dengan cara memberikan arahan, yaitu pengasuh di panti asuhan dan kiai ustadz/ustazah di ponpes memberikan keterangan seperlunya yang bermaksud mengarahkan agar anak mengetahui maksud dari pengasuh atau kiai, ustadz/ustazah. Pengajaran dengan memberikan arahan kebanyakan ditujukan kepada anak yang sudah agak besar. Pada usia sekolah anak sudah dapat berfikir lebih maju, sehingga apabila diberikan contoh sekali dua kali sudah dapat menirukan. Setelah dari tahap memberikan contoh, dilanjutkan dengan memberikan arahan saja. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hal-hal yang diajarkan pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai, ustadz/ustazah kepada santri/santriwati di ponpes juga menyangkut

177

kehidupan sehari-hari, antara lain masalah (a) sopan santun (b) kedisiplinan, (c) pekerjaan rumah sehari-hari, (d) penanaman nilainilai keagamaan. a. Sopan santun Sopan santun yang diajarkan oleh pengasuh di panti asuhan dan kyai ustadz/ustazah di ponpes kepada anak/santri diharapkan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak. Sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan ponpes, mengacu pada norma yang ada di masyarakat itu sendiri, yaitu kebiasaankebiasaan yang dianggap baik dan dilakukan oleh banyak orang. Sehingga sejak kecil anak diajarkan sopan santun agar dapat membawa dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya ketika seorang bertingkah laku yang dianggap tidak sopan, orang akan mengatakan dengan sebutan “ora/ga elok” yang artinya adalah “tidak baik, tidak sepatutnya”. Pengasuh di panti asuhan dan kyai, ustadz/ustazah di ponpes akan berusaha menanamkan sopan santun sesuai dengan yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren antara lain: sopan santun dalam hal makan, juga mengajarkan sopan santun ketika sedang ada tamu dan ketika bertamu. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam sopan santun adalah mengenai bahasa yang digunakan. Misalnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau cara pemilihan bahasa ketika mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Sebab bahasa merupakan alat komunikasi dengan orang lain. Tingkah laku yang menunjukkan kesopanan juga diajarkan kepada anak agar anak tersebut mengerti mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap tabu atau tidak sopan dalam pergaulan sehari-hari. Jika anak bersikap sopan terhadap orang lain, orang akan menganggap bahwa anak tersebut mempunyai budi yang

178

luhur dan masyarakat akan lebih mudah untuk menerima kehadirannya. Dari apa yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil gambaran umumnya bahwa, setiap panti asuhan dan pondok pesantren pada dasarnya mengharapkan agar anak bisa bersikap sopan dan santun terhadap orang lain, lebih-lebih bagi yang sudah tua. Kesopanan merupakan sarana agar anak dapat menghargai dirinya sendiri dan juga menghargai orang lain, yang akan dibawanya dalam lingkungan interaksinya yang lebih luas, sehingga orang tua (dalam hal ini pengasuh) diharapkan dapat menanamkan nilai kesopanan kepada anak sejak masih kecil. Sosialisasi bisa dilihat sebagai proses pewarisan pengetahuan kebudayaan berisi nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan untuk berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Pengetahuan kebudayaan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan yang menyebabkan tidak tertutup kemungkinan adanya pergeseran, perubahan nilai, norma dan aturan itu sehingga membentuk aturan atau norma baru. Proses pewarisan akan terus berjalan sepanjang hidup manusia. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah mendapatkan kewenangan untuk mengasuh dan mendidik anak/santri dengan caranya. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar anak dan santri mandiri, dan bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Pengasuh dan kyai,

ustadz/ustazah memberikan pewarisan pengetahuan kebudayaan yang dianggapnya baik dan yang berlaku dimasyarakat pada umumnya. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah telah berusaha untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan kepada anak maupun santri, yang mana anak maupun santri tersebut diharapkan bisa mengamalkan apa yang telah diajarkan, memegang teguh prinsip-

179

prinsip kesopanan yang akan dibawanya berinteraksi dengan lingkungannya yang lebih luas dan untuk jangka waktu yang panjang b. Kedisiplinan Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Karena tanggung jawab sudah beralih kepada pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah, maka pengasuh wajib mendidik anak asuh dan santri tersebut dengan sebaik-baiknya. Disiplin merupakan salah satu alat untuk mendidik anak-anak. Melalui alat ini panti asuhan dan pondok pesantren mengharapkan agar anak dan santrinya membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sesuai dengan yang diajarkan dan sebaliknya menghindari kebiasaan yang bertentangan dengan lingkungannya. Disiplin merupakan suatu cara atau alat dalam pendidikan yang melatih anak untuk bertingkah laku menurut pola atau aturan yang ada termasuk juga untuk memperbaiki tingkah laku yang kurang baik agar terbentuk tingkah laku yang sesuai dengan norma. Adapun tujuannya supaya seseorang dapat mengerti dan mematuhi serta dapat mengendalikan dirinya dengan baik (Sunarti, dkk, 1989: 90). Dalam menanamkan disiplin dalam panti asuhan maupun pondok pesantren, harus dimulai dari pengasuh itu sendiri. Sebab secara tidak langsung anak dan santri akan mengamati dan sedikit banyak akan mencontoh pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah. Kedisiplinan mengandung adanya aturan yang harus ditaati oleh anggota panti asuhan maupun pondok pesantren. Adapun aturan yang diterapkan antara satu panti asuhan maupun pondok pesantren dengan panti asuhan maupun pondok pesantren yang lainnya sering kali berbeda-beda. Dari hasil hasil penelitian disiplin tentang belajar diatas, dapat diketahui bahwa setiap pengasuh maupun kyai,

disiplin bangun tidur. menyiangi rumput. pondok pesantren/Madrasah. ustadz/ustazah. sejak kecil diajarkan untuk bagaimana menjaga kebersihan rumah. bertingkah laku sesuai dengan norma. seperti menyapu.180 ustadz/ustazah mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan pola belajar anak dan santrinya. Pekerjaan sehari-hari Sejak kecil anak asuh di panti asuhan diajarkan untuk bisa membantu pengasuh dalam pekerjaan sehari-hari. d. Anak tidak terlalu dituntut untuk membantu kebersihan rumah. dan berusaha untuk memberikan sesuai dengan batas kemampuan pengasuh dan kyai. disiplin beribadah dan disiplin membantu pengasuh dan atau kyai. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penanaman nilai-nilai keagamaan Setiap orang tua (dalam hal ini adalah pengasuh) mengiginkan agar anaknya menjadi anak yang patuh kepada orang tua. mencuci baju dan lain-lain. Sedangkan untuk anak laki-laki biasanya lebih longgar dalam hal pekerjaan rumah. anak atau santri diperbolehkan untuk mencari bantuan kepada yang lebih mampu dan bisa. beragama. Bagi anak perempuan. ustadz/ustazah c. secara formal seperti di sekolah. ustadz/ustazah merasa tidak mampu membantu. Selain disiplin sepulang sekolah dan belajar. Penanaman agama dapat dilakukan di panti asuhan. mencuci piring. disiplin tidur. Ketika pengasuh maupun kyai. Sedikit-sedikit diajarkan dari yang paling mudah dan tidak beresiko sampai kepada keberhasilan tentang diri dan lingkungannya. disiplin yang diterapkan adalah disiplin waktu makan. dilihat dari umur dan kemampuan anak. . Penanaman nilai keagamaan kepada anak sejak kecil merupakan landasan untuk masa yang akan datang.

.181 Matriks 1 di bawah ini menunjukkan pola pengajaran di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti.

Juli 2009 Pondok Pesantren • Membersihkan pondok pesantren • Mencuci bajunya sendiri • Mengajar surat pendek • Mengajar TPA • Mengajak pengajian . mencuci piring dan bajunya sendiri Nilai agama • Mengijinkan TPA • mengigatkan beribadah 2 • Sorogan • Dalam hal tingkah laku • Bandongan dan bahasa • Ceramah (Bahsul yang Kutub) digunakan • Contoh • Arahan • Mengingatkan • Menyuruh Sumber :Data primer.182 Matriks 1 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan • • • • Metode Sopan santun Contoh Arahan Mengingatkan Menyuruh • Dalam hal tingkah laku dan bahasa yang digunakan Disiplin • Merapikan alat sekolah • Membantu pengasuh • Belajar kelompok • Merapikan alat sekolah • Tidur siang • Beribadah • Belajar kelompok & di pondok • Membantu mengajar Hal yang diajarkan Pekerjaan sehari-hari • Menyapu.

wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya. sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam. Kiai adalah orang yang mempunyai peranan esensial dan mempunyai jenjang tertinggi pada sebuah pesantren. 1994 : 56 ). Para kiai dengan kelebihan pengetahuannya dalam Islam. ( Soekanto. 1999 : 294 ) Dengan wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan. Para santri selalu mengharap dan berfikir bahwa kiai yang dianutnya merupakan orang yang percaya penuh kepada dirinya sendiri (Selfconfident). waktunya dan cara menggunakan kekuasaan itu. Wewenang merupakan sesuatu kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. karena memerlukan pengakuan dari masyarakat maka di dalam suatu masyarakat yang sudah kompleks susunannya dan sudah mengenal pembagian kerja yang rinci. terutama oleh kebanyakan . Tidak seoarang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kiai lain yang lebih besar pengaruhnya. Biasanya pertumbuhan pesantren tergantung kepada kemampuan pribadi kiainya. staf mempunyai wewenang tertentu. baik dalam soal-soal pengetahuan Islam. (Dhofier. maupun dalam bidang kekuasaan dan manajemen pesantren. sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau.183 Kekuasaan dan wewenang kyai di pondok pesantren Di dalam sebuah lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren pihak pengurus. Kebanyakan kiai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan wewenang (Power and Authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan.

Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekuasaan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol keilmuan yaitu kopiah dan sorban. Sistem pendidikan yang ditempuh selama ini memang menunjuk sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. tipe pendidikan di pesantren. kematian dan lain-lain. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya masyarakat sekitar pondok pesantren. karena banyak orang yang datang memintanya nasehat dan bimbingan dalam banyak hal.184 orang awam. la juga diharapkan untuk rendah hati. (Dhofier. ketika kita cermati tanda-tanda. menghormati semua orang. Semakin tinggi kitab-kitab yang diajarkan. begitu pula arah perkembangnnya. banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan waktu. Tapi hal ini tidaklah bisa diartikan . 1999: 137-139). (Dhofier. (Sukamto. kekayaan dan pendidikannya. 1994 : 60) Sistem pendidikan pesantren akan selalu berkembang secara terus. Ia juga diharapkan dapat menunjukan kepemimpinannya. kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya. namun kedudukan masing-masing pondok pesantren sangat bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas keilmuan yang dimiliki oleh kiai. Boleh jadi lembaga pondok pesantren mempunyai dasar-dasar idiologi keagamaan yang sama dengan pondok pesantren yang lain. misalnya ada sebuah pondok pesantren salaf dan pondok pesantren kholaf . memberikan khutbah Jum'at dan menerima undangan perkawinan. menerus serta memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. 1994 : 56 ) Masyarakat biasanya mengharapkan seseorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. ia akan semakin dikagumi. Perbedaan kurun waktu berdirinya sebuah pondok pesantren akan tampak jelas. tanpa melihat tinggi rendah kelas sosialnya. Kiai mempunyai peran yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di pondok pesantren.

ia merupakan lembaga yang mendukung dan menyokong pencapaian tujuan pendidikan nasional itu.185 sebagai sikap isolatif. nahwu sharaf. Sistem pengajaran yang di sampaikan dan dilakukan oleh kiai kepada para santrinya yaitu metode bandongan. karena hal ini sangat mempengaruhi kepemimpinan kiai. supaya setiap marhalah mendapatkan pelajaran-pelajaran tauhid. hal ini terbukti sudah banyak pondok pesantren yang sudah mendirikan sekolah formal. cara mengajar kepada para santrinya dan . kiai sering kali memberikan kesempatan bertanya pada para santri. Membekali para santri dengan ilmu agama dan agar tidak merasa cukup dengan ilmu itu adalah merupakan aktivitas yang dilakukan oleh kiai kepada para santri dalam kesehariannya. Fenomena seperti ini tidak terlepas dari pengalaman dan keilmuan yang dimiliki serta latar belakang pendidikan kiai tersebut. Hal tersebut nyata difasilitasi oleh marhalah-marhalah yang dikembangkan oleh kiai. Kiai di Pondok Pesantren merangkup upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan pola dasar pendidikan yang tidak terlepas dari peranan kiai tersebut. yang diajarkan dan dijelaskan oleh kiai dan para ustadznya masing-masing untuk menopang nilai-nilai agama. Tidak mungkin suatu sistem pendidikan pondok pesantren itu bisa berjalan secara kontinyu dan lestari tanpa melalui proses peranan kiai dalam perkembangannya. karena secara institusional dan melalui pranata yang khas. fiqih. Aktifitas kiai dalam memberikan pengarahan dan pengembangan pendidikan di pesantren merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama yang merupakan sumber kehidupan. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif terhadap pendidikan nasional. apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. tahfidz Al-Quran dan lain-lain. Meskipun pesantren memiliki pola teknik penyelenggaraan yang berbeda. sorogan dan ceramah yang demokratis serta diskusi.

Pondok santri Pesantren terus dan menerus sekolah berdatangan. selain juga santri diharapkan untuk tidak berbuat dan mencegah tindakan yang dilarang agama sehingga santri menjadi pribadi yang baik. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam rangka membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama. Aktivitas kiai sebagai seorang pemimpin di Pondok Pesantren. dalam memberikan pengarahan dijalankan secara langsung yang berupa perintah dan larangan agar santri bertindak sesuai dengan kaidah agama. Dan ternyata menampakkan pembangunan dilaksanakan. Disamping itu hubungan santri dengan Kiai menimbulkan sifat keterbukaan diantaranya. Hal ini merupakan perwujudan dan . melalui forum ini selain santri belajar untuk memahami ilmu agama dalam hal ini terutama kitab-kitab klasik juga diajarkan bagaimana cara hasilnya. Selain itu kiai melakukan pengarahan melalui forum pengajian. sehingga hal ini dijadikan sarana kiai untuk mengetahui keadaan santri baik mengenai masalah pribadinya maupun masalah dalam kegiatan proses belajar mengajar dan kegiatan pesantren yang lainnya yang dijadikan sebagai sarana oleh kiai untuk memotivasi dan membangkitkan partisipasi aktif santri dalam kegiatan yang dilakukan pesantren. sehingga santri taat dan patuh dalam menjalankan niali-nilai agama yang merupakan sumber kehidupannya. terus menerus mengamalkannya dan bagaimana memahami kenyataan hidup seharihari. Di pondok pesantren kiai selalu menanamkan rasa untuk memiliki Pondok Pesantren serta mempunyai semangat ruhul zihad (semangat jihad) yang sangat kuat terutama dalam masalah pendidikan. Peranan kiai yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan partisipasi santri didalam kegiatan pondok pesantren.186 hubungannya dengan para santri yang penuh kasih sayang dan cukup dekat.

187 pemenuhan hak-hak anak khususnya hak santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan di pondok pesantren secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Yang membedakan adalah waktunya. minimal meladeni para orang tua santri dan tamu berkunjung ke pesantren. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya . Pada dasarnya setiap Pondok Pesantren mengalami perubahan dan perkembangan. Aktivitas ini dilaksanakan langsung oleh kiai baik yang berupa perintah maupun larangan yang sudah jelas tercantum di dalam tata tertib pesantren. Kiai mempunyai peranan yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren. dan merupakan salah satu syarat tercapainya tujuan bersama.. karena jumlah santri yang cukup banyak maka kiai dibantu oleh para ustadz dan para pengurus pesantren. ia mulai memperkenalkan kepada masyarakat di luar pesantren dalam bentuk macam-macam. sehingga santri taat dan patuh menjalani peraturanperaturan yang ditetapkan oleh pesantren. Dalam fungsi ini ia belajar melakukan peranan sebagai asimilator antar tata nilai yang telah ada. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya sebagai santri. Dalam menunaikan fungsinya yang pertama. Untuk memberikan materi pelajaran pada para santri. Kedudukan ustadz/staf pengajar memiliki dua fungsi pokok: sebagai latihan penumbuhan kemampuannya untuk menjadi kiai dikemudian hari. dan sebagai pembantu kiai dalam mendidik para santri. Tugas dan Kewajiban Santri Kiai mempunyai peranan untuk meningkatkan partisipasi aktif santri selain dalam hal pendidikan dan dalam masalah human relationnya juga dilakukan dalam upaya meningkatkan kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya terhadap pondok pesantren.

keterampilan berkomunikasi secara efektif.188 masyarakat sekitar pondok pesantren. pola pikir dan pola perilaku yang demokratis. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan individu kiai dalam mengelola pesantren dimana kiai mempunyai kemampuan. hal ini dapat dilihat dimana kiai sangat menghargai potensi setiap individu santri dengan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaan pesantren baik fisik maupun non fisik. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah yang didasari oleh adanya pengakuan kiai terhadap kemampuan yang dimiliki santri. Proses kepemimpinan kiai yang berkaitan dengan sistem pendidikan pesantren. gaya yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan demokratis. disamping adanya sistem bandongan dan sorogan juga sudah diterapkannya model diskusi. didukung oleh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang dimiliki kiai serta ciri kepribadian yang melekat pada kiai. dan masalah yang berkembang. ini terbukti dimana pesantren sudah mampu menyerap idiom-idiom baru dalam hal pendidikan. aktif. berwawasan luas dan berguna bagi masyarakat. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sementara bahwa objektivitas dalam melihat situasi. menjadi pendengar yang baik. Dalam kepemimpinan kiai di Pondok Pesantren harus terbuka terhadap inovasi-inovasi positif. sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. terbuka terhadap inovasi . demontrasi mengajar dan adanya evaluasi belajar serta adanya pembagian marhalah/tingkat dalam pengajian Kemudian berkaitan dengari ciri yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu ciri kepribadian pemimpin yang baik. mau mendengarkan nasihat dan masukan dari pengikut. Pondok pesantren pada saat ini tidak hanya sebagai tempat untuk mencetak calon kiai. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga terdapat adanya ruang koordinasi diantara pengurus dan pengelola pesantren. ulama akan tetapi Pondok Pesantren menekankan pada kualitas santri agar menjadi manusia yang beriman dan berilmu tinggi. mandiri.

kurang pantas. .189 positif. akan tetapi karena didukung oleh faktor keturunan dan pola pikir kiai yang rasional. idealnya jika anak berbuat baik. tercela. Pengganjaran mengandung dua pengertian yaitu penghargaan dan hukuman. jeweran. menyenangkan. kemampuan analitik. Selain itu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman yang banyak sehingga kepatuhan santri tidak hanya karena kharisma yang dimilikinya. berprestasi akan mendapatkan penghargaan. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah. ketegasan dalam dan disegani oleh pengikut/santrinya. dikurangi hak-haknya. alat sekolah. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman kiai 2. Hukuman dapat berupa hukuman badan (pukulan. tidak diterima oleh masyarakat akan mendapatkan hukuman. dimarahi). meskipun tidak semua orang mengganjar orang lain dan juga diganjar atas tindakannya. tidak baik. pengertian dan perhatian kepada pengikut. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. Sehingga kiai di beberapa pondok pesantren yang diteliti sudah memakai gaya demokratis dalam kepemimpinannya. dan lain-lain) atau dapat berupa pujian yang menyenangkan. dan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaannya. Penghargaan tersebut bisa berupa barang (baju baru. mau mendengar masukan dari pengikut. Dan sebaliknya. menghargai setiap potensi individu sehingga tercipta suasana dan interaksi yang dinamis antara santri dengan kiai. cubitan) atau dapat berupa hukuman sosial (dikucilkan. Tingkah laku anak yang salah.2 Pengganjaran (rewarding) Pemberian ganjaran merupakan imbalan yang diberikan kepada orang atas tindakannya.

pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik untuk anak asuh dan santrinya. Padahal hasil penelitian Grogan-Kaylor (2005) menunjukkan bahwa pemberian hukuman fisik bukan merupakan metode pendisiplinan anak yang baik karena mendorong anak untuk terlibat dalam perilaku antisosial lebih awal.190 Berdasarkan hasil penelitian tidak semua pengasuh di panti asuhan maupun kyai. ustadz/ustadzah. Hal ini berarti bahwa sosialisasi yang digunakan lebih bersifat negatif atau represif. ustadz/ustadzah di pondok pesantren melakukan pengganjaran terhadap anak dan santri atas tindakannya. yang berbeda adalah kadar pemberian hukumannya ada yang biasa dan ada yang keras. Dari hasil penelitian pada umumnya pengasuh dan kyai. ustadz/ustadzah yang tidak atau jarang memberikan hadiah dan pujian. Dengan hukuman tersebut diharapkan anak dan santri tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan anak dan santri mengerti bagaimana yang seharusnya. Pengasuh maupun kyai. Dengan dimarahi dirasa anak sudah cukup mengerti. bukan pada hukuman fisik. ustadz/ustadzah akan memberikan hukuman jika anak dan santri melakukan kesalahan meskipun itu bukan anaknya sendiri. Pemberian hukuman lebih banyak kepada kemarahan. Begitupun dengan penghargaan. bahwa tidak banyak panti asuhan dan ponpes yang memberikan hadiah berupa barang ataupun hanya sekedar pujian. ustadz/ustadzah yang sering memberikan hadiah dan pujian maupun pengasuh maupun kyai. Dalam memberikan ganjaran. . yang sering dilakukan adalah dalam bentuk hukuman. Karena adanya alasan-alasan tertentu dari pengasuh maupun kyai. Pemberian hadiah atau pujian cenderung diberikan pada saat anak atau santri mendapatkan nilai bagus. Sedangkan penghargaan yang berupa hadiah dan pujian jarang dilakukan.

191 Matrik 2 Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti asuhan Pengajaran Hukuman • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Diminta menghafal ayat Al Kitab Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up. scot jump Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Menghafal Al Quran Membersihkan kamar mandi Menulis sholawat atau istigfar Keterangan Penghargaan • Pujian • Hadiah • Pamardi Yoga • Misi Nusantara • Darul Hadlonah • YPBT 2 Pondok pesantren • Pujian • Hadiah • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga Sumber : Data Primer. ustadz/ustazah di pondok pesantren . ustadz/ustazah di pondok pesantren kepada santri/santriwati sering terjadi tindak kekerasan. Baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa pola pengajaran yang dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai. Jenis-jenis tindak kekerasan yang sering dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai.

mencukur gundul. maka emosinya makin tidak stabil. 2006) menemukan bahwa semakin banyak dan bervariasi hukuman fisik yang dialami remaja. . membentak.3. memukul dengan alat. membersihkan kamar mandi. scot jump. Gielen. Sementara penelitian yang lain (Mathurin. agar anak mau menurut. 2. menyuruh push up. mempengaruhi. Kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak seperti tindak kekerasan diatas dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan atau pondok pesantren serta dapat menggangu kondisi kejiwaan anak. dan diminta menghafal Al Kitab kalau salah diberi hukuman. Dampak tersebut lebih nampak pada remaja laki-laki daripada remaja perempuan. dan secara psikologis sulit untuk menyesuaikan diri. menjewer. tetapi perlakuan tersebut pasti akan terus membekas dalam diri si anak atau santri sehingga dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. maka diperlukan cara untuk membujuk agar anak mau menurut dengan kehendak pengasuh. perilakunya makin agresif/bermusuhan. Pembujukan bersifat merayu. Penelitian tentang pemberian hukuman fisik (corporal punishment) menemukan bahwa hukuman yang diterima pada masa anak-anak berpengaruh dalam jangka panjang (Turner & Muller. Terkadang anak sulit untuk mematuhi perintah orang tua.192 kepada santri/santriwati antara lain memarahi. Meskipun sebagian besar anak dan santri menerima dengan ikhas perlakukan tersebut. memukul dengan tangan. Pembujukan Pembujukan adalah salah satu cara agar anak mau melakukan perintah maupun aturan tanpa harus merasa terpaksa. bersikap tidak adil seperti pengurus merokok sedang santri tidak diperbolehkan merokok. menyiram air untuk membangunkan. & Lancaster. menendang. menyuruh berdiri di bawah matahari. 2004) yakni munculnya simtom depresi pada masa dewasa muda.

Tujuan dari sistem pembujukan ini . ustadz/ustadzah kepada santrinya yaitu: nasehat dengan lembut. dibujuk agar anak mau makan pagi sebelum berangkat sekolah. ustadz/ustadzah.193 Dari hasil penelitian dapat diketahui pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuh dan kyai. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa metode pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuhnya maupun yang dilakukan oleh kyai. Matriks 3 Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan Metode Pembujukan Keterangan • Pamardi Yoga • Misi Nusantara Darul Hadlonah YPBT • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga • Nasehat dengan lembut • Berdiskusi • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah 2 Pondok • Nasehat dengan lembut Pesantren • Berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah Sumber : Data Primer. menyapa saat bertemu dan bermusyawarah. Matriks berikut ini menunjukkan pola pembujukan di panti asuhan dan di pondok pesantren kepada anak/santri. ustadz/ustadzah menempuh cara membujuk agar anak mau menurut dengan apa yang dianggap baik oleh pengasuh dan kyai. berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak/santri. anak di panti asuhan dibujuk agar tetap kerasan tinggal dengan pengasuh untuk sementara waktu. dibujuk agar mau sekolah. Misalnya. ustadz/ustadzah kepada santrinya dapat dijelaskan bahwa pengasuh dan kyai.

bersekolah. Dampak Pengasuhan anak berbasis lembaga Selama puluhan tahun. di kemudian hari anak dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki kompetensi sosial yang memadai untuk dapat menghadapi masalah dalam kehidupannya secara mandiri. Dengan perlakuan tersebut. sehingga pengasuh tidak perlu selalu harus membujuk anak. yang selanjutnya akan mendorong anak untuk merasakan dirinya berharga. sistem pelayanan sosial berbasis lembaga seperti Panti Asuhan dan pondok pesantren dipandang sebagai solusi yang paling diandalkan. . diharapkan anak dorongan untuk melakukan aktivitas lebih bersifat internal atau muncul dari dalam diri anak sendiri. Pelayanan sosial berbasis lembaga tidak selamanya buruk dan bahkan dalam situasi tertentu tetap diperlukan sebagai salah satu model pelayanan sosial bagi anak. Namun perlu diperhatikan pula. perlakuan yang lembut dapat membuat anak merasa dirinya dihargai. 3. sedangkan melibatkan anak dalam memecahkan masalah berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam menemukan solusi. sebaiknya yang menjadi tujuan dari perlakuan pengasuh bukan menjadikan anak sebagai anak yang penurut. tinggal di panti) adalah untuk kepentingan dirinya demi meraih masa depan yang labih baik. tetapi yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa apa yang dilakukannya (misal makan pagi. terutama yang termasuk kategori anak rentan atau kurang beruntung (anak terlantar). Karena hal ini dijamin oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. meski bukan yang terbaik dalam melindungi dan memenuhi kesejahteraan anak. Bila ditinjau dari aspek psikologis.194 adalah untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan atau di pondok pesantren. Dengan adanya kesadaran tersebut.

195 Penelitian ini memberi pesan jelas bahwa bentuk-bentuk pengasuhan anak di dalam lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren sering menimbulkan beberapa dampak negatif terhadap perkembangan anak dan hak-hak anak. Selain itu. dan menjalin relasi prososial dengan teman sebaya. maka ia kurang memiliki motivasi untuk mendorong perkembangan anak. Apalagi bila dalam bekerja. yakni model kelembagaan (institutional atau residential care) dan model kemasyarakatan (community care). Smyke. anak kurang mendapatkan perhatian dan stimulasi yang memadai terkait dengan pemenuhan kebutuhan pribadinya yang unik dan cenderung diperlakukan sama oleh pengasuh. Sebagai salah satu respons terhadap keadaan ini. kita menyaksikan adanya peningkatan perhatian terhadap pendekatanpendekatan alternatif berbasis masyarakat dalam memberikan perlindungan dan pengasuhan terhadap anak. Dapat pula terjadi anak mengalami gangguan dalam regulasi emosi dan relasi sosial yang kurang sebagai akibat dari pembatasan untuk bergaul dengan orang-orang dari luar lingkungan lembaga. Akibatnya. pengasuhan anak memerlukan pelayanan sosial khusus biasanya dilakukan melalui dua model yang dibedakan. Lebih lanjut diungkapkan oleh Zeanah. Smyke. dan Settles (2008). Secara garis besar. dan Settles (2008) menyatakan bahwa dampak negatif yang dapat timbul pada anak yang dibesarkan di lembaga antara lain kompetensi sosial yang kurang yang mewujud dalam kurangnya motivasi anak untuk unggul. pengasuh lebih berorientasi pada mencari uang. melakukan imitasi. bahwa dampak negatif tersebut dapat timbul akibat kurangnya pemahaman pengasuh terhadap karakteristik anak maupun hak-hak anak yang perlu dipenuhi agar perkembangan anak optimal. Jumlah pengasuh yang hanya beberapa orang dituntut oleh kondisi untuk melakukan pengasuhan terhadap jumlah anak yang terlampau banyak. rasio jumlah pengasuh dan anak yang diasuh belum seimbang. Kita tahu bahwa lembaga pelayanan . berempati. Zeanah.

melainkan pula dari komunitas asal mereka dan dari masyarakat setempat dimana lembaga itu berada. dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga samasama membawa dampak negatif. 2003). kondisi fisik lembaga ditemukan cukup bagus dan bahkan standar pendidikan yang diberikan sangat baik. Namun. Misalnya ”rumah anak” yang berupa kelompok kecil menyerupai keluarga yang berada di suatu komunitas lokal. kelemahan model pengasuhan anak berbasis lembaga juga berkaitan dengan pembiayaan dan keberlanjutan pelayanan. Penelitian mengenai pengasuhan anak berbasis lembaga secara konsisten menunjukkan bahwa model tersebut mengandung beberapa dampak negatif (Tolfree. baik terhadap anak laki-laki maupun perempuan. Namun. Usia merupakan variabel yang penting. sejumlah kelemahan senantiasa menyertai model ini antara lain berupa pelanggaran serius hak-hak anak. Pada beberapa kasus. tampaknya tidak terlalu ditentukan oleh perbedaan gender. perawatan kesehatan dan pemberian nutrisi yang buruk. serta proses pembelajaran dan penerapan disiplin yang menyimpang dan terlalu keras. Akibat-akibat jangka panjang dari keadaan ini terhadap perkembangan anak dapat menjadi serius. Bukti-bukti penelitian menyaksikan bahwa dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga terutama sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak usia di bawah 5 atau 6 tahun.196 anak seperti residential care yang dilakukan di dalam masyarakat. kekerasan seksual (sexual abuse). Namun pada umumnya sebuah pelayanan lembaga/panti menampung sejumlah besar anak-anak yang berada pada sebuah setting ”tiruan” yang secara jelas memisahkan mereka bukan saja dari keluarga inti (nuclear family) dan keluarga besarnya (extented family). Selain isu-isu di atas. eksploitasi. Pelayanan lembaga seringkali lebih mahal dalam memenuhi kebutuhan anak daripada memenuhi kebutuhan anak-anak yang hidup . Artinya. Dampak buruk tersebut tergantung pada karakteristik kepribadian dan ciri-ciri individu.

model pelayanan sosial berbasis lembaga tidak sanggup merespons perkembangan masalah dan kebutuhan akan pelayanan di masa depan yang cenderung semakin meningkat secara cepat. seringkali menjadi magnet yang menarik sumberdaya dalam jumlah besar. Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga dapat dilihat dalam tabel 5.66: . terukur dan menarik banyak lembaga donor. Namun demikian. Pusat-pusat pengasuhan anak berbasis lembaga.197 dalam keluarganya atau dalam sebuah pengasuhan berbasis keluarga dalam masyarakat (family-based care in the community). karena sistem pelayanannya jelas.

bukan berdasarkan keinginan anak Meskipun anak masih memiliki kedua orang tua. khususnya pada masa perkembangan awal anak Ketiadaan stimulasi menghambat perkembangan intelektual. . kontak dengan orang tua dan anggota keluarga besar lainnya terus memburuk Kurangnya perhatian. 5.66 Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga No 1.198 Tabel 5. ketrampilan motorik dan sosial anak Kemampuan anak terhambat akibat kurangnya pengalaman. cinta dan pemahaman. rasa memiliki masyarakat. bermain dan rekreasi sesuai dengan usia anak Anak harus disiapkan untuk dapat hidup mandiri di masyarakat 4. 6. pengetahuand an ketrampilan beradaptasi dengan orang dewasa 2. dan reunifikasi keluarga Hak untuk tumbuh dalam suasana bahagia. perawatan dan afeksi secara individual karena lembaga cenderung memperlakukan anak secara seragam Banyak lembaga tidak memberikan stimulasi dan kegiatan yang berguna bagi anak Anak yang tumbuh di lembaga cenderung kehilangan kesempatan untuk mempelajari peranan orang dewasa dalam kebudayaan tertentu Relevansi dengan prinsip dan hak-hak anak Prinsip non diskriminasi Dampak terhadap perkembangan anak Stigma dan diskriminasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan identitas dan kepercayaan diri anak Penempatan dalam lembaga sering dipersepsi anak sebagai bentuk penolakan keluarga. anak merasa dibuang dan kehilangan kepercayaan diri Kehilangan identitas personal dan keluarga. Hak untuk memelihara kontak dengan orang tua secara reguler. anak kehilangan jaringan dukungan di masa depan Kehilangan kesempatan untuk berelasi dan terikat dengan figur orang tua. Karakteristik yang berhubungan dengan sistem kelembagaan Lembaga cenderung memisahkan anak yang mengakibatkan munculnya diskriminasi dengan stigma Penempatan anak pada sebuah lembaga seringkali berdasarkan keinginan keluarga. Akibatnya. menjaga identitas dirinya. Prinsip kepentingan terbaik anak (the child’s best interests) 3. mengekspresikan pendapat Hak memperoleh kesenangan.

10. Sumber: Olah Data. Lembaga seringkali kurang memberi kesempatan pada anak untuk bergaul dengan anak-anak lain di luar lembaga Beragam kekerasan terhadap anak sering terjadi selama bertahun-tahun tanpa terungkap oleh dunia luar Lembaga cenderung gagal merespon secara adekuat kebutuhan psikologis anak Anak-anak yang hidup di lembaga sering kali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar lembaga. kehilangan dan ketakutan Ketergantungan akibat kurangnya kesempatan untuk berfikir dan mampu memecahkan masalahnya sendiri. Banyak yang berakhir di penjara dan lembaga perawatan mental Hak untuk memperoleh kebebasan berteman dan berkumpul dengan anak lain Hak memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.199 7. 2009 . termasuk akibat konflik bersenjata Hak memperoleh bimbingan yang memungkinkan anak dapat melaksanakan tanggungjawabnya di masyarakat Menghambat keragaman relasi dengan temans ebaya dan kehilangan “normal” keluarga Kekerasan terhadap anak sangat merusak kehidupan dan perkembangan anak dalam jangka panjang Anak mengalami perasaan terpisah. Lemahnya ketrampilan hidup dan kemandirian anak 8. 9. penelantaran dan eksploitasi Hak memperoleh perawatan rehabilitasi.

perlu penyiapan keluarga dan masyarakat sebelum menerima kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam pembunuhan dan perusakan. Sebagai contoh. seperti : a. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. Dalam konteks ini. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. . hak-hak anak dan perkembangan anak. penyesuaian psikologis dan dukungan personal bagi anak-anak sebagai persiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. c. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. pelayanan sosial di dalam lembaga dipandang tepat sebagai sarana penyesuaian diri sementara bagi anak-anak. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. termasuk pendidikan. d. Terdapat beberapa situasi dimana pengasuhan anak perlu dilakukan di dalam lembaga. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya.200 Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Karenanya. Program-program yang bersifat kelompok diperlukan. anak-anak yang terlantar mereka umumnya memerlukan perawatan lembaga sebelum berintegrasi kembali dengan kehidupan normal di masyarakat. Selain itu. b.

. pada dasarnya anakanak tidak mau dipisahkan dari kehidupan keluarganya. Karena. Selain relatif lebih mahal dan kapasitas daya tampungnya terbatas.201 Namun demikian. pengasuhan lembaga juga seringkali menimbulkan ketergantungan dan kesulitan. baik pada staf maupun anak-anak untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan masyarakat. penerapan pengasuhan anak berbasis lembaga perlu dilakukan secara terencana dan cermat.

3. scot jump.202 BAB VI PENUTUP A. 4. Untuk itu. melainkan hanya menyediakan akses . tidak selamanya anak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dalam lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh dan kembang anak. Fakta di lapangan. pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren tidak selalu sama bahkan tidak memberikan kenyamanan bagi anak karena sangat rentan dengan terjadinya kekerasan. Namun. Seperti misalnya pemberian hukuman push up. 2. mayoritas panti asuhan dan ponpes tidak memberikan 'pengasuhan' sama sekali. KESIMPULAN 1. Keluarga sebagai lembaga pengasuhan terbaik bagi anak tidak selamanya selalu memberikan kehidupan yang nyaman bagi anak. dan dipelihara. Peraturan tersebut mencerminkan bahwa dalam diri setiap anak sudah melekat harkat dan martabat sebagai seorang manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau Convention on the Rights of Child (CRC) yang disetujui oleh Majelis Umum PBB tanggal 20 November 1989 dan telah terbitnya Undangundang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mayoritas anak-anak ditempatkan di panti asuhan dan ponpes oleh keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi dengan tujuan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan. lari mengelilingi ponpes. Meskipun sebagian besar anak menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut tetapi perlakuan tersebut akan terus membekas dalam diri si anak yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. anak membutuhkan lembaga pengasuhan alternatif salah satunya melalui panti asuhan dan pondok pesantren. dijaga. Berdasarkan hasil penelitian. maupun membersihkan kamar mandi dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. dan sumberdaya yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes. tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren mempunyai aturan yang ketat dalam . hal ini tertera dalam pendekatan pengasuhan. Penelitian ini menemukan bahwa 'pengasuhan' dimengerti dalam konteks merespon masalah dan cenderung berhubungan dengan isu-isu disiplin. Karena hidup di Jawa. Sopan santun . Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. pelayanan yang diberikan. Meskipun demikian. Pengajaran (Instructing) Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan juga dengan memberikan arahan. melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sehingga panti asuhan membuat peraturan yang cukup ketat dan hukuman fisik dan pelecehan banyak ditemukan.203 pendidikan. mengingatkan dan menyuruh juga merupakan metode pengajaran. Kedisiplinan Kedisiplinan menyangkut adanya aturan yang mengikat panti asuhan dan pondok pesantren. Sopan santun menyangkut pada norma yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. b. 5. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas pada dasarnya dalam pola pengasuhan anak dan proses pendidikan terdapat proses belajar yang terus menerus. Adapun sifat-sifatnya adalah : 1. maka bahasa yang dianggap baik adalah bahasa Jawa krama halus. Hal ini mengindikasikan rendahnya standard minimum pengasuhan sehingga sangat sulit untuk menghasilkan pengasuhan yang professional dan berkualitas. Sopan santun dapat ditunjukkan dengan dua cara. yaitu melalui tingkah laku dan bahasa yang digunakan. Selain itu. Hal-hal yang diajarkan selama masa pengasuhan tersebut antara lain : a. Secara eksplisit.

Pembujukan (inciting) Pembujukan ini dilakukan agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai. yaitu . Pengganjaran (rewarding) Pengganjaran meliputi dua hal. Penanaman nilai-nilai keagama Bahwa setiap anak diharapkan dapat belajar ilmu agama agar beriman dan bertakwa. disiplin tidur. Pekerjaan sehari-hari Anak diajarkan untuk bisa mandiri diajarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan umur dan kemampuannya. Selain itu. 2. 3. ustadz/ustadzah mempunyai alasan sendiri-sendiri untuk tidak memberikan penghargaan kepada anak dan santri. penghargaan dan hukuman. ustadz/ustadzah serta menaati peraturan.204 mendidik anak maupun santrinya. d. disiplin membantu pengasuh c. Sedangkan hukuman yang sering diberikan adalah dalam bentuk anak dimarahi. disiplin belajar. Kedisiplinan yang diterapkan antara lain disiplin sepulang sekolah. yaitu: . Sedangkan hukuman lebih ditekankan agar tidak atau jarang dilakukan oleh pengasuh dan kyai. Penghargaan berupa pemberian hadiah berupa materi menunggu ketika ada uang lebih. tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren B. masing-masing pengasuh dan kyai. REKOMENDASI Penelitian ini menyusun sejumlah rekomendasi untuk menanggapi kebutuhan mencegah penempatan anak di panti asuhan dan pondok pesantren yang tidak perlu sehingga kualitas pelayanan dan pengasuhan yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes menjadi lebih baik. Dalam hal penghargaan ini. berbuat baik dan saling berbagi diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren. ustadz/ustadzah. Pengasuh menghindari hukuman yang berupa kekerasan fisik.

Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. c. . Adanya peraturan yang jelas tentang standar pendirian panti asuhan dan ponpes mengingat tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren terdaftar sehingga akses untuk memberikan pengawasan tidak maksimal dilakukan. 2. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. hak-hak anak dan perkembangan anak. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. b. Pembuatan sistem pengumpulan data yang dapat menunjukkan situasi dan kondisi anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren 4. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. Menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dengan membuat pola pengasuhan yang dapat memberikan kenyamanan bagi tumbuh kembang anak. d. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. 3. Karenanya.205 1. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. seperti : a.

sehingga setelah kembali ke pondok pesantren pengalaman dan pengetahuannya tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan kualitas pendidikan pondok pesantren. misalnya kerjasama dengan lembaga pendidikan komputer. Diadakan studi banding ke pondok pesantren lain agar wawasan para santri dan ustadz bertambah. Tujuannya agar santri benar-benar terbuka cakrawala pikirannya.206 5. sehingga santri bisa belajar komputer di pesantren. Dalam menghadapi modernisasi dan diperlukan tenaga ahli dan SDM untuk mengelola suatu organisasi dengan baik (skill management). b. misalnya ke Universitas Al Azhar di Kairo. Diadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan keterampilan. Untuk Pondok Pesantren a. 6. Tujuannya adalah bisa tercipta kominikasi timbal balik antara kiai mengungkapkan berbagai masalah. d. Tujuannya agar santri mempunyai keahlian di bidang komputer dan supaya tidak gagap teknologi (gaptek). Untuk itu hendaknya diadakan suatu training tentang manajemen organisasi agar pondok pesantren mempunyai SDM yang handal dan profesional. c. misalnya dengan diadakannya dialog (open talk) yang terjadwal antara kiai dengan santri. Dalam memberikan materi dan sistem pendidikan pesantren/kurikulum pondok pesantren. Membuka jaringan kerjasama dengan lembaga pendidikan di luar negeri yang bisa memberikan beasiswa kepada santri yang berprestasi untuk belajar disana. Untuk Kiai Searah dengan arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini hendaknya kiai lebih meningkatkan dan mengefektifkan pengawasan terhadap para santri. hendaknya pondok pesantren menjalin hubungan dengan departemen yang terkait (Departemen Agama) agar kurikulum bisa sejajar dengan lembaga pendidikan agama lain. dengan para santri untuk .

disiplin. penyampaian gagasan. narkoba atau tindakan menyimpang lainnya. Selain itu dengan adanya pendekatan personal pada santri maka ustadz dan pengurus pesantren akan mengetahui latar belakang dari masing-masing santri. b. . Dengan demikian ustadz/pengurus akan lebih memahami gejolak-gejolak emosi. Untuk Ustadz/pengurus Disamping memberikan materi pelajaran pada santri secara bersamasama (klasikal) dan menjalankan tugas kepengurusan hendaknya ustadz juga mengadakan pendekatan secara personal dengan para santri. berwawasan luas dan berakhlak mulia. 8. yang telah ditetapkan oleh pesantren. ide-ide dari para santri terhadap sistem yang ada di pondok pesantren maupun yang ada di luar pesantren secara umum.207 7. saran atau kritikan. Untuk Santri a. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan para santri dalam menerima dan mengamalkan pelajaran yang telah diberikan serta melaksanakan aturan-aturan. berilmu tinggi. Hendaknya santri lebih memperhatikan dan menjalankan tata tertib di pesantren agar tujuan santri ke pondok pesantren bisa tercapai dalam rangka mendukung pembentukan sikap mental santri yang tangguh. minuman keras. Hendaknya santri dengan bekal ilmu agama yang dimiliki mempunyai kemampuan dan kepekaan didalam memfilter pengaruh tersebut agar tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Bisa menjaga diri dari pergaulan bebas. keinginan-keinginan juga pandangan santri terhadap orang lain dan terhadap perkembangan jaman pada saat ini.

Gielen. Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. Yogyakarta. Bandung. Perkembangan Anak. 2006. M. U. A. Hurlock. Soekanto. P. Jakarta. Pedoman Depsos RI. N. Pedoman Panti Asuhan. P3M. Child Maltreatment. 5 Tahun XXIV Mei 1995. Jakarta. 1988. Paul B.208 DAFTAR PUSTAKA BKPA. Corporal punishment and personality traits in the children of St. Erlangga. Jakarta.. Prinsip Pendidikan Pesantren. Jakarta. Jakarta. Jakarta. 1979. Zamakhsyari. Croix. 1991. 40. Grogan-Kaylor. Dhofier. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. & Lancaster. Psikologi Suatu Pengantar. Corporal punishment and the growth trajectory of children’s antisocial behavior. Citra Aditya Bakti. 306-324. Poerwadarminta. Balai Pustaka. PT Pustaka Cidesindo. Virgin Islands. Prinst. 1990. 1990. Ginandjar. Jakarta. Sosiologi. Penertbit Erlangga. 10. Elizabeth. Sosiologi Suatu Pengantar. Prisma. Horton. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup. Kartasasmita. Pergeseran Otoritas Kepemimpinan Politik kyai. Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak Melalui PSAA. dan Hunt. CrossCultural Research.. 1996. Jakarta. No. Mastuhu. Badan Kesejahteraan Sosial Nasional. PT Raja Grafindo Persada. 283-292. Mahmud Dimyati. 1986. J. Chester L. U. 2003. . Mathurin. Jakarta.S. Darwan. 1984. Soerjono. Muhammad Asfar. Hukum Anak Indonesia. 2000. Kamus Umum Bahasa Indonesia. BPFE. 1982. LP3ES. 2005. 1999.

P3M. Departemen P dan K. Supanto. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Pemilu dan Partai Politik. C. 1990. 2002. .B. & Settles. In McCartney. Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren.A. Zeanah. 1999. UU RI No. Departemen P dan K. Sukamto. H. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Hermawan. Yogyakarta. Sunarti.A & Muller. Jakarta. Smyke. 2000. 25. Jakarta. L. Orphanages as a developmental context for early chilhood. P. UNS Press. Kyai dan Demokrasi Suatu Potret Pandangan Tentang Pluralisme. Journal of Family Issues. Sosiologi Pendidikan. Gajah Mada Univ Press. (Eds). 1986. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.209 Suedy. Long-term effects of child corporal punishment on depressive symptoms in young adults: potential moderators and mediators. Sutopo. A. & Phillips. 761-782. D. Malden: Blackwell Publishing. H. D. Jakarta.. Ahmad dan Sulistyo. Metodologi Penelitian Kualitatif. Turner. dkk. Jakarta. 2004. 1989. Persamaan Negara. 2008. dkk. Grasindo. LP3ES. Surakarta. 1993. UU No. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja. K. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Vembriarto. Jakarta.. Blackwell Handbook of Early Childhood Development. Toleransi. H. Suroto. T.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful