1

Final Report

Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Dan Pondok Pesantren Kota Solo Dan Kabupaten Klaten

Penelitian ini Terselenggara Atas Kerjasama:

Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM UNS dengan UNICEF

2

Tahun 2009
ABSTRAKSI
Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten, 2009, Kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM, UNS Pola pengasuhan anak tidak selamanya terjadi di dalam sebuah lingkungan keluarga. Lembaga pengganti fungsi orang tua (keluarga) yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Selain itu, salah satu tujuan pengasuhan lainnya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan yang dipilih para orang tua salah satunya melalui pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Oleh karena itu pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren sangat menarik untuk diteliti. Karena di dalam perkembangannya, ada berbagai persoalan yang menyangkut pemenuhan hak anak melalui 3 konsep pengasuhan anak yaitu pengajaran, pengganjaran (penghargaan dan hukuman) serta pembujukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi mengenai pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Untuk memperkuat data kuantitatif, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara, FGD dan surat curhat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif sehingga mampu menggambarkan pola pengasuhan yang terjadi. Adapun hasil penelitian pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren dapat digambarkan melalui proses pengajaran, pengganjaran dan pembujukan. Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan memberikan arahan. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Selain itu, juga melalui metode mengingatkan dan menyuruh. Pengganjaran meliputi dua hal, yaitu penghargaan dan hukuman. Penghargaan berupa pemberian hadiah maupun memberikan pujian. Sedangkan hukuman dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi jika dilihat dari tuntutan pemenuhan hak anak maka terlihat adanya bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan. Pembujukan dilakukan dengan memberikan nasihat, diskusi apabila ada masalah dan pendekatan secara personal agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai, ustadz/ustadzah serta menaati peraturan, tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren. Dari hasil penelitian tersebut, maka hal yang penting adalah menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak dalam memberlakukan model pola pengasuhan yang memperhatikan pemenuhan kebutuhan hak anak. Karena pemenuhan hak anak dilindungi oleh undang-undang sehingga menjadi lembaga yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan kembang anak.

3

DAFTAR ISI Halaman i ii iii v viii 1 11 11 12 12 13 15 18 24 32 32 32 33 33 33 34 35 35 45 52 54 58 66 70 82 88 91 91 107 123 123 148 162 165 167 186

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... ABSTRAKSI ........................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................ DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR MATRIK ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................. B. Perumusan Masalah ......................................................................... C. Tujuan Penelitian ............................................................................. D. Manfaat Penelitian ........................................................................... E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Sebagai Warga Negara .......................................................... B. Panti Asuhan ................................................................................... C. Pondok Pesantren ............................................................................. D. Pola Pengasuhan ............................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian .................................................................. B. Lokasi Penelitian dan Partisipan ...................................................... C. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. D. Teknik Pengambilan Partisipan ....................................................... E. Teknik Analisis Data ........................................................................ F. Perencanaan Penelitian ..................................................................... G. Organisasi Penelitian ....................................................................... BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .............. 1. Keadaan Umum Kota Surakarta ............................................... 2. Keadaan Umum Kabupaten Klaten .......................................... B. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .... 1. Panti Asuhan di Kota Surakarta .......................................... 2. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ...................................... C. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten ........................................................................................ 1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta ................................... 2. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ............................... BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar .................................................................................. B. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan .................................... 1. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kota Surakarta .. 2. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ................................................................................. C. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren ............................. 1. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kota Surakarta ............................................................................. 2. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ................................................................................. D. Pembahasan 1. Karakteristik Sosial Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 2. Pola Pengasuhan di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 3. Dampak Pengasuhan Anak Berbasis Lembaga ................... PENUTUP

BAB VI

4

A. Kesimpulan ............................................................................... B. Rekomendasi ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN FOTO

194 196 200 2002

Tabel 4.11.16. Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) 44 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara 47 48 49 50 52 53 68 69 91 92 93 97 97 98 99 99 100 101 101 102 103 104 104 105 106 Tabel 4. Tabel 5. RT. Tabel 4. Tabel 5.8.8.15. Tabel 4.5.17. Tabel 4. Tabel 4.10.1.9. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 5.14. Tabel 5. tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) . Tabel 5. dan Kepala Keluarga Di Surakarta Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta.13.6. Tabel 5. Tabel 5.14. Tabel 5.3.4.9.13. Tabel 4.3.6. RW. Tabel 4.11.16.18.5.7. Tabel 5.2. Banyaknya Kelurahan. Tabel 4.17.19.2.7. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5.5 DAFTAR TABEL Halaman 38 39 40 40 41 41 42 42 43 43 Tabel 4.12. Tabel 4. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5.4.1.10. Tabel 4.15.12.

Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.58. Tabel 5. Tabel 5.40.35. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.51.30.29. Tabel 5. Tabel 5.27.56.26.45.49. Tabel 5. Tabel 5.50.21.44. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.32. Tabel 5. Tabel 5.37. Tabel 5.22. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.41.57. Tabel 5.34. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.55.23.52. Tabel 5.38.42.46.59. Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 146 150 151 152 152 153 154 155 155 156 157 138 140 142 143 144 144 131 132 133 135 137 114 117 118 119 120 120 121 123 124 125 130 106 108 108 109 110 111 112 112 113 . Tabel 5. Tabel 5.33. Tabel 5.19.37. Tabel 5.25. Tabel 5. Tabel 5.47. Tabel 5. Tabel 5.48. Tabel 5.53.54. Tabel 5.36.39.18.28. Tabel 5.20. Tabel 5.24.6 Tabel 5. Tabel 5.43. Tabel 5.31.

Tabel 5.65. Tabel 5.7 158 Tabel 5.66.64. Tabel 5.62.61. Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 161 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga 162 165 166 166 167 190 . Tabel 5. Tabel 5.63.60. Tabel 5.

8 DAFTAR MATRIK Matrik 1 Matrik 2 Matrik 3 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri 174 183 185 .

menyebutkan bahwa . sandang. Tidak akan ada artinya pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah tanpa mengedepankan keselarasan. Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata. keserasian. Pembangunan pada umumnva diarahkan untuk memperbaiki keadaan. Hal ini diartikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan papan.9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu arah pembangunan jangka panjang disebutkan dalam GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dalam masyarakat Indonesia agar makin maju. terpenuhinya pendidikan. serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis. rasa tenteram dan rasa keadilan. tetapi juga terpenuhinya keselarasan. pangan tidak akan terasa tanpa diiringi adanya pemenuhan terhadap rasa aman. rasa keadilan dan lain sebagainya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam segala aspeknya pada akhirnya akan mendorong proses pembangunan di segala bidang. rasa tenteram. rasa aman. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya merupakan hakeket pembangunan yang ingin dicapai aleh bangsa Indonesia. dan keseimbangan diantara kedua kebutuhan tersebut. sandang. Namun. sehingga dapat dikatakan sebagai perbuatan kebaikan. Pemenuhan papan. sejarah menunjukkan tidak senantiasa demikian kenyataannya. pangan dan lain sebagainya dan juga untuk memenuhi kebutuhan batiniah seperti kebebasan beragama. begitu juga sebaliknya. mandiri dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Ginandjar Kartasasmita dalam bukunya Pembangunan Untuk Rakyat Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. keserasian dan keseimbangan diantara keduanya.

Kedua. pembangunan yang hanya mengejar kebutuhan lahiriah dan mengabaikan sisi rohaniah manusia. yang mana kesemua masalah tersebut memerlukan penanganan yang serius dengan suatu Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat. pangan. Pembangunan yang demikian menghasilkan manusia yang materialistis. rendahnya tingkat kesehatan. teknologi maupun manusia. Proses ini membutuhkan modal baik dana. baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. sumber daya manusia perlu dibina sedemikian rupa menjadi sumber daya yang berperan aktif dalam setiap pembangunan. atau tidak halal. Keempat. Sumber daya manusia ini harus benar-benar dapat diandalkan sebagai modal pembangunan. Kelima. jika ditujukan untuk kepentingan pembangunan suatu kelompok dengan mengorbankan yang lain. apabila pembangunan dijalankan dengan menggunakan cara yang tidak benar. apabila pembangunan hanya menguntungkan sebagian orang. Pembangunan yang merusak alam dan lingkungan. . Pertama. terbatasnya sarana dan prasarana. Pembangunan merupakan proses kegiatan yang terus-menerus yang bertujuan untuk mencapai kearah keadilan yang lebih baik. tetapi tidak bermanfaat bagi yang lain. Pembinaan sumber daya manusia atau Human Resources Development adalah usaha untuk memperbesar kemampuan berproduksi seseorang baik dalam pekerjaan. Oleh karena itu. 1996: 24) Tidak dapat dipungkiri bangsa Indonesia sebagai negara yang berkembang masih menghadapi berbagai masalah dalam pelaksanaan pembangunan. 1986:3). yang segala perbuatannya hanyalah untuk kepuasan didunia saja.10 pembangunan dapat merupakan suatu hal yang tidak baik. kekurangan sandang. sebagai mahkluk yang utuh. terbatasnya lapangan pekerjaan. seni dan lain-lain kegiatan yang dapat memperbaiki. (Soeroto. apabila hal-hal berikut yang terjadi. Keenam. Diantara ketiga faktor ini sumber daya manusia adalah faktor terpenting. Berbagai masalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan yakni masalah kependudukan seperti kekurangan tempat tinggal.(Kartasasmita. Pembangunan yang dijalankan dengan tidak memperhatikan nilai kemanusiaan pada umumnya. tidak baik. Ketiga.

11 Dengan demikian ada peningkatan kemampuan berproduksi bagi setiap orang. memikul tanggung jawab masa depan terhadap maju mundurnya suatu negara. menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. masyarakat dan pemerintah. pendidikan selalu bertujuan untuk membina kepribadian manusia menjadi lebih ‘manusiawi’ dan mengembangkan serta mengutuhkan potensi kemanusiaannya yang masih terpendam dengan mengedepankan suasana yang penuh cinta-kasih. ilmu. memperluas wawasan ke masa depan. Untuk itu pembinaan dan pengembangan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu antara keluarga. Pada hakekatnya dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda tercakup didalamnya adalah pendidikan baik formal maupun informal. memperkokoh kepribadian dan disiplin. karsa maupun kesadaran martabat kemanusiaannya. ketrampilan dan semangat kerja keras. Artinya. kedamaian dan keadilan serta mengesampingkan perilaku yang menindas serta diskriminatif. memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi. 2004:6-7) Anak yang merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. baik potensi intelektual atau kognitif. dimana secara alamiah anak tumbuh menjadi besar dan dewasa. Mereka adalah penerus perjuangan bangsa yang akan menerima estafet kepemimpinan di kelak kemudian hari. mengembangkan kemandirian. Pendidikan adalah sebuah proses penyempurnaan semua individu sebagai peserta didik. Agar anak mampu . Untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional perlu ditingkatkan pembinaan dan pengembangan generasi muda serta diarahkan menjadi kader penerus bangsa dan manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila dilakukan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME. (Murtiningsih. rasa. Sebagai pewaris kemerdekaan pemuda bertugas mengisi kemerdekaan. sehingga manusia Indonesia tidak menjadi beban negara tetapi menjadi pendukung yang dapat diarahkan dalam rangka pencapaian arah pembangunun. mental.

Negara dan Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989 dan hal ini telah diimplementasikan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. berkembang. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. perumahan. pendidikan. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. Akibatnya mereka menjadi tidak terpenuhi kebutuhan akan makan.12 melaksanakan tugas-tugas melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan dari generasi pendahulunya. pengobatan. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989. maka kepadanya perlu mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar baik rohaniah. terlantar. dan sejahtera. tumbuh. berakhlak mulia. Tetapi kenyataan yang ada di masyarakat tidak semua anak dapat terpenuhi kebutuhannya. Ataupun sebab lain yang dapat mengakibatkan mereka menjadi. menjalani kehidupan yang layak sebagai seorang anak yang seharusnya tumbuh wajar sesuai . jasmaniah maupun sosial. Namun dilihat dari kenyataannya yang ada dengan masih tingginya jumlah anak terlantar. kasih sayang dan pergaulan diantara mereka. Hal ini terjadi seperti pada keluarga yang mengalami perpecahan. berarti tidak semua anak. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan sehingga melalaikan kewajibannya atau tiadanya salah satu atau kedua orang tua (tidak punya orang tua). maka sudah semestinya anak harus dibiarkan tumbuh dan berkembang secara normal. Pemenuhan hakhak anak agar mereka dapat hidup. Kondisi semacam tersebut di atas menjadi idaman/dambaan suatu bangsa yang ingin maju dan dinamis. pakaian. perlindungan. Ada diantara mereka yang mengalami hambatan sehingga ia menjadi terlantar. Seperti diketahui bahwa anak sebagai generasi muda adalah aset bangsa yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber daya manusia bagi pembangunan nasional.

Kesempatan pemeliharaan hanya akan dapat dilaksanakan dan diperoleh apabila usaha kesejahteraan anak terjamin.13 dengan dunianya. Anak dapat menerima hak-haknya secara penuh dan dapat melaksanakan kewajibannya dengan didasari atas kesadaran dan tanggung jawab yang ia peroleh dari bimbingan. . Pembinaan dan bimbingan terhadap anak-anak terlantar mutlak diperlukan agar terbentuk pribadi-pribadi yang utuh untuk terciptanya kualitas Sumber Daya Manusia seutuhnya. Usaha kesejahteraan anak sebagai pembinaan tunas bangsa senantiasa dikedepankan oleh pemerintah. mereka terhina dan akan berontak terhadap keadaan. Karena dalam usaha mencapai kesejahteraan anak yang lebih baik tidak mungkin diupayakan oleh mereka sendiri. terprogram dan berkesinambungan. namun pada prosesnya ternyata tidak bersikap ramah terhadap dunia anak-anak. sehingga dapat berperan dalam pembangunan. dan seluruh masyarakat Indonesia. pembinaan/asuhan yang intensif. Adapun realisasinya diupayakan bersama antara negara. pemerintah bertanggung jawab terhadap kondisi anak-anak terlantar. Hal ini seperti yang tersebut dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Sungguh sangat memprihatinkan apabila proses pembangunan yang telah menghasilkan manfaat. Sebagai negara yang berkeadilan sosial. Pembinaan terhadap anak terlantar telah dilaksanakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap kelangsungan bangsa. dikhawatirkan anak akan frustasi. Ketika situasi keterlantaran anak yatim piatu dan anak dari keluarga bermasalah tersebut dibiarkan tanpa ada usaha penanggulangannya. Anak-anak terlantar merupakan masalah nasional yang perlu segera mendapat perhatian dengan pembinaan mental dan pengetahuannya agar nantinya potensi yang ada dalam dirinya dapat tergali dan termanfaatkan oleh proses pembangunan bangsa.

perlindungan dan partisipasi merupakan hak anak secara universal dan di Indonesia pengaturan hak anak secara tersurat ditegaskan melalui Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.14 Kelangsungan hidup. baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. yang menyatakan bahwa ”Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara. rohani maupun sosial. Namun persoalannya tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugas tersebut. tumbuh kembang. perawatan. Anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya. Adapun tujuan didirikannya PSAA adalah: . Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga pelayanan profesional yang bertanggung jawab memberikan pengasuhan dan pelayanan pengganti fungsi orang tua kepada anak terlantar (Buku Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak melalui Panti Sosial Asuhan Anak). asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang. Anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. organisasi maupun badan-badan”. baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Salah satu pasal yang didalamnya mencakup Hak Anak termuat pada BAB II pasal 2. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan. Dalam rangka pemenuhan hak anak kaitannya dalam memecahkan masalah keterlantaran anak maka diperlukan lembaga pengganti fungsi orang tua yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah dan salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. bahwa orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak baik secara jasmani. yang menyatakan bahwa anak berhak atas kesejahteraan. Dan untuk pelaksanaan usaha kesejahteraan anak termuat pada Bab II Pasal 4 Ayat 1. Undang-undang ini menekankan.

2. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan tekhnologi yang ada memunculkan suatu permasalahan bagaimana membina dan . Dengan demikian pelayanan bagi anak terlantar dalam panti sosial asuhan merupakan suatu sistem. Dikelola oleh tenaga pelaksana yang memenuhi standar profesi. Meningkatnya kepedulian masyarakat sebagai relawan sosial. b. sehingga tidak adanya satu unsur saja dapat mempengaruhi proses pelayanan. c. Sesuai dengan tujuan panti asuhan sebagai lembaga kesejahteraan sosial.15 1. tumbuh kembang. Terwujudnya jaringan kerja dan sistem informasi pelayanan kesejahteraan anak secara berkelanjutan baik secara horisontal maupun vertikal. d. Meningkatnya kualitas kehidupan sehari-hari di lingkungan panti yang memungkinkan anak berintegrasi dengan masyarakat secara serasi dan harmonis. Terwujudnya hak atau kebutuhan anak yaitu kelangsungan hidup. bahwa panti sosial tidak hanya bertujuan memberikan pelayanan. Unsur-unsur pelayanan yang ada dalam panti dalam pelaksanaan asuhan merupakan satu kesatuan yang utuh. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sistem pelayanan yang dilaksanakan dalam panti asuhan sangat kompleks. karena di dalam prakteknya terdapat keterikatan-keterikatan berbagai unsur pelayanan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. pemenuhan kebutuhan fisik semata namun juga berfungsi sebagai tempat kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak-anak terlantar yang diharapkan nantinya mereka dapat hidup secara mandiri dan mampu bersaing dengan anak-anak lain yang notabene masih mempunyai orang tua serta berkecukupan. 3. Terwujudnya kualitas pelayanan atas dasar standar profesional: a. perlindungan dan partisipasi. Terlaksananya manajemen kasus sebagai pendekatan pelayanan yang memungkinkan anak memperoleh pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keanekaragaman sumber.

1990: 1-2). sopan santun. pengetahuan pergaulan dan sebagainya. yang bersumber pada pengetahuan kebudayaan yang dimiliki orang tuanya. berakhak mulia. . Mengingat potensi atau kemampuan yang ada dalam pribadi anak-anak tersebut sangat besar untuk dapat dijadikan sebagai modal dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati dan meladeni kehidupannya dalam segala hal. Di dalam pondok pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak.16 mengembangkan potensi pribadi anak-anak terlantar sehingga nantinya diharapkan mereka mampu bersaing dan bertahan di dalam masyarakat. melainkan lebih dari itu. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. yakni meliputi: pendidikan. Oleh karena itu. Dalam masa pengasuhan. lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Pada umumnya banyak anak yang dalam proses pembentukannya bukan hanya diasuh oleh orang tua (ayah-ibu) yang merupakan basis dalam proses pengasuhan melainkan juga oleh individuindividu lain dan atau lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang ada disekitarnya (Supanto dkk. membentuk latihan-latihan tanggung jawab. memimpin dan dipimpin. anak beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku dilingkungannya Mengasuh anak bukan hanya merawat atau mengawasi anak saja. Anak tumbuh dan berkembang dibawah asuhan dan perawatan orang tua. mempunyai integritas pribadi yang utuh. Melalui orang tua. berorganisasi. Di samping harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan oleh . mandiri dan mempunyai kualitas intelektual. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati.

masjid. (Sukamto. (Dhofier. tetapi pesantren sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat. Sistem sosial yang lebih besar cenderung menekan komunitas-komunitas kecil yang sesungguhnya masih dalam ruang lingkup pengaruhnya. hanya terdiri atas kyai. 1999 : 1). Unsur ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren. santri dan kitab kuning. Peranan kyai dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren. yang secara berurutan unsur- .17 Dhofier menyatakan bahwa unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai. santri dan kitab kuning bersifat subsider yang keberadaannya di bawah kontrol dan pengawasan kyai. Sedangkan unsur-unsur lainnya . Meskipun tradisi keagamaan pesantren dapat membangun sebuah subkultur. pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap imam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan. Pondok pesantren membentuk tradisi keagamaan yang bergerak dalam bingkai sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks. karena dianggap sebagai pemilik. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa: ”Unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok pesantren dengan lembaga pendidikan di luar pondok pesantren terletak pada unsur tersebut. asrama. Pada awalnya. santri dan bangunan rumah kyai yang berfungsi sebagai tempat mengaji Al-Qur'an. Sementara itu. Sedangkan Prasodjo mengemukakan bahwa pola-pola pondok pesantren terdiri dari lima pola. yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu relatif panjang.masjid. seperti melakukan shalat berjamaah. Unsur-unsur pondok pesantren berkembang sangat variatif tatkala para kyai membuat kebijakan yang bersifat adaptasi terhadap kurikulum nasional dalam upaya memperbarui bidang pendidikan di pesantren. 1982: 44-60).” (Sukamto 1999: 2 ) Subkultur yang dibangun komunitas pesantren senantiasa berada dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. unsur-unsur pondok pesantren sangat sederhana. asrama.

SMU dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya: (Wahjoetomo. pola II terdiri dari masjid. Tipe yang kedua adalah pesantren khalaf (modern). (Wahjoetomo. Menurut Zamakhsyari Dhofier. 1997: 87) Akan tetapi. tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. (Prasodjo. Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan. pondok.18 unsurnya berkembang dari sederhana hingga variatif. pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. rumah kyai. madrasah. universitas. lembaga pesantren bergerak secara dinamis dalam kurun waktu tertentu. tempat keterampilan. Secara garis besar. tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. pola V terdiri dari masjid. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah umum tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya. Perkembangan pondok pesantren senantiasa melahirkan unsur-unsur baru tanpa harus menghilangkan unsur yang sudah terbentuk. . lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. pola III terdiri dari masjid. 1999: 4) Terdapat bermacam-macam tipe pendidikan pesantren yang masingmasing mengikuti kecenderungan yang berbeda-beda. rumah kyai. tempat ketrampilan. 1986: 104-109). pondok dan madrasah. madrasah. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kyai. (Sukamto. Terjadinya akumulasi atas unsur tersebut membuat pondok pesantren tetap eksis dan berfungsi dalam arus perubahan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial keagamaan dan pendidikan. pondok. 1997: 83). pola IV terdiri dari masjid. rumah kyai. gedung perkantoran. rumah kyai. pondok. atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP.

Perkembangan pondok pesantren dan panti asuhan di Indonesia saat ini cukup dinamis sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki masa depan anak di era globalisasi ini. Mengidentifikasi pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimanakah pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren di Kota Solo dan Kabupaten Klaten?” C. Oleh karena itu sangat menarik untuk mengambil penelitian tentang pola pengasuhan anak yang diselenggarakan di panti asuhan dan pondok pesantren yang memiliki karakteristik tertentu. Para santri pesantren khalaf diharapkan lebih mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern daripada alumni pesantren salaf. tidak selamanya pendidikan di pondok pesantren dan panti asuhan itu salah. Meskipun begitu. . pesantren khalaf mengantongi satu nilai plus karena lebih lengkap materi pendidikannya yang meliputi pendidikan agama dan umum. Lokasi penelitian ini difokuskan di Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Tujuan Penelitian 1.19 Dibandingkan dengan pesantren salaf. B. Karena tidak semua lingkungan asrama memberikan kenyamanan dan keamanan seperti tinggal di rumah sendiri. Berbagai kasus kekerasan anak yang terjadi selama ini juga ada dilakukan baik di pondok pesantren dan panti asuhan. Tetapi pilihan anak untuk masuk ke pondok pesantren dan panti asuhan pun menjadi sebuah pertanyaan besar karena tidak semua anak berminat untuk tumbuh dan berkembang di sebuah lingkungan asrama.

Terpetakannya pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren sehingga dapat menjadi masukan dan bahan kajian bagi pemerintah daerah khususnya dalam membuat kebijakan tentang perlindungan anak di panti asuhan 2. Potensi. Mengidentifikasi dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten 3. Intervensi strategis untuk menyusun standar pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik anak di panti asuhan dan pondok pesantren . tantangan dan sumber daya panti asuhan dan pondok pesantren didalam menerapkan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. 3.20 2. Terpetakannya dampak pola pengasuhan anak bagi tumbuh kembang anak khususnya dalam pemenuhan hak-hak anak di panti asuhan dan pondok pesantren 3. Tersusunnya model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Menyusun model pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak D. Dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren 4. Manfaat Penelitian 1. Profil Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang ada di Kota Solo dan Kabupaten Klaten 2.

Tanpa memandang ras. . meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggitingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. pandangan politik atau pandangan lain. 2. kelahiran atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum (Prinst. mental. jenis kelamin. agama. adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun kecuali berdasarkan Undangundang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Hak-hak atas pemeliharaan. Hak-hak perlindung dari penelantaran dan kekerasan fisik atau pun mental. pendidikan.21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. (2) hak untuk berkembang. Hak-hak yang melekat pada diri anak untuk hidup. 3. cacat. Negara-negara peserta konvensi akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi. kelangsungan hidup dan perkembangan diri mereka. 2003: 104). yang menetapkan hal-hal penting menyangkut keberadaan anak. meliputi perlindungan dan diskriminasi. asal-usul bangsa. Anak sebagai Warga Negara Yang dimaksud dengan anak dalam konvensi PBB (pasal 1). dan perawatan khusus. termasuk siksaan dan eksploitasi. suku bangsa atau sosial. Hak-hak atas sebuah nama dan kewarganegaraan sejak lahir. spiritual. yaitu: 1. Keempat hak anak tersebut di awali adanya Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. moral dan sosial. dan (4) hak untuk berpartisipasi. tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. warna kulit. 4. (3) hak atas perlindungan. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak yang meliputi: (1) hak untuk hidup. bahasa. harta kekayaan. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak.

dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. tumbuh. atau membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka. pendidikan kesehatan. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 9. Hak-hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dengan menitik beratkan pada upaya-upaya preventif. Hak-hak memperoleh perawatan atau pelatihan khusus untuk penyembuhan dan rehabilitasi bagi korban perlakuan buruk. Hak-hak memperoleh perlindungan dari upaya penculikan dan perdagangan anak. Hak-hak atas perlindungan dari penyalahgunaan obat-obat terlarang dan keterlibatan dalam produksi atau peredarannya. berkembang. 8. 11. Hak-hak memperoleh perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan pekerjaan yang dapat merugikan pendidikan mereka. Untuk mengimplementasikan amanat konstitusi. 6. dan penurunan angka kematian anak. Dalam UUD 1945 dalam pasal 28B ayat 2 disebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 12. 7. Pemenuhan hak-hak anak agar mereka dapat hidup. Hak-hak mendapat perlakuan manusiawi dalam proses hukum sehingga memajukan rasa harkat dan martabat anak-anak yang terlibat kasus hukum untuk kepentingan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. penelantaran dan eksploitasi. dan mempunyai kesempatan yang sama atas kegiatan-kegiatan budaya dan seni. tumbuh. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Dengan penerapan disiplin dalam sekolah yang menghormati harkat dan martabat anak.22 5. 10. serta mendapat perlindungan dari . Hak-hak atas Pendidikan dasar yang harus disediakan oleh negara. Hak-hak untuk beristirahat dan bermain.

Berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan sosial. Dalam beberapa keadaan tertentu keluarga tak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam pemenuhan kebutuhan anak. Lingkungan yang dimaksud salah satunya adalah lingkungan panti asuhan dan pondok pesantren. Mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup terlantar. . ”Beberapa penyebab keterlantaran anak. 4. B. Salah satu keberhasilan mewujudkan kota layak anak adalah adanya lingkungan yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang anak. sosial. 3. anak dapat: 1. Sebagai warga kota. Pengembangan Kota Layak Anak secara terus menerus diimplementasikan ke sejumlah bagian kabupaten/kota yang terbatas dengan program pelayanan dasar perkotaan yang secara maksimum didukung oleh sumber daya yang ada. antara lain: 1. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. yang kemudian menyebabkan keterlantaran pada anak. Pemenuhan hak anak ini diwujudkan dalam pengembangan kota layak anak. Berkontribusi terhadap kebijakan yang akan mempengaruhi kotanya. berakhlak mulia. Dapat berpartisipasi dalam kehidupan keluarga. Panti Asuhan Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. komunitas. Dengan mengintegrasikan konsep perlindungan anak ke dalam program pembangunan kabupaten/kota akan lebih mudah dibandingkan dengan merealisasikan Konvensi Hak Anak secara langsung. 2. dan sejahtera. dan sosial. Orang tua meninggal dan atau tidak ada sanak keluarga yang merawatnya sehingga anak menjadi yatim piatu. sebagai upaya nyata untuk menyatukan isu hak anak ke dalam perencanaan dan pembangunan kabupaten/kota.23 kekerasan dan diskriminasi.

miskin. piatu.” (BKPA: Pedoman Panti Asuhan. mengasuh anak-anak yang berasal dari latar belakang status sosial bermasalah (yatim. tempat untuk memelihara. Keterlantaran anak yang terjadi karena fungsi keluarga yang tidak dapat dijalankan secara baik tersebut kemudian diatasi. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. mengenai definisi dari Panti Asuhan bahwa: “Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan pelayanan pengganti. kedua. salah satunya oleh panti asuhan. keluarga retak dan orang tua sakit) Menurut buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengetahuan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lain-lain (BPAS. Panti asuhan adalah rumah. rohani. 1986:111). keempat kurang bermain. Orang tua tidak mampu (sangat miskin) sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal anak-anaknya 3. tepat dan memadai bagi . jasmani. baik secara jasmani. kurang pendidikan dan pengetahuan. Orang tua tidak dapat dan tidak sanggup melaksanakan fungsinya dengan baik atau dengan wajar dalam waktu relatif lama misalnya menderita penyakit kronis dan lain-lain. definisi anak terlantar adalah sebagai berikut: ”Anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu sebab orang tuanya tidak dapat menjalankan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar. ketiga. maupun sosial. mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. 1979). Panti asuhan mencoba untuk menggantikan keluarga dalam menggantikan menjalankan fungsi keluarga guna pemenuhan kebutuhan anak. kelima. Menurut Undang-undang No. terlantar. merawat.24 2. baik secara rohani. yatim piatu. maupun sosial” (UU No. atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. Tentang Kesejahteraan anak Bab 1 Pasal 1) Ciri-ciri anak terlantar adalah: Pertama. 4/1979.

rohani maupun sosial 3. Panti asuhan dapat pula dikatakan atau berfungsi sebagai pengganti keluarga dan pimpinan panti asuhan sebagai pengganti orang tua. Dengan demikian yang bertempat tinggal di dalam panti asuhan berasal dari latar belakang ekonomi . Dengan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan panti asuhan bukan hanya menyantuni akan tetapi juga berfungsi sebagai pengganti orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Anak yatim. sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional” (Depsos RI. menjaga dan memberikan bimbingan dari pimpinan kepada anak dengan tujuan agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang cakap dan berguna serta bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat kelak di kemudian hari. sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya. Anak terlantar yang keluarganya mengalami perpecahan. definisi dari Panti Asuhan adalah: ”Panti asuhan dapat diartikan sebagai suatu lembaga untuk mengasuh anak-anak. Sedangkan menurut Badan Pembinaan Koordinasi dan Pengawasan Kegiatan (BPKPK). sehubungan dengan orang tua anak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam mendidik dan mengasuh anaknya” (BPKPK: PA. Penyebab keterlantaran ini antara lain salah satu atau kedua orang tuanya meninggal sehingga tidak ada yang merawat. keluarga dan masyarakat. Umumnya anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah: 1. piatu dan yatim piatu terlantar 2. Anak terlantar yang keluarganya dalam waktu relatif lama tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranan sosialnya secara wajar. Selain itu panti asuhan juga memberikan pelayanan dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah pengembangan pribadi yang wajar dan kemampuan ketrampilan kerja. 1986:3). sehingga tidak memungkinkan anak dapat berkembang secara wajar baik jasmani.25 perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. 1982:1).

Dengan visinya yang ingin membentuk manusia secara utuh dengan cara memanusiakan manusia. kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar abad pertengahan. mental maupun sosial. Pesantren sering kali kurang dipahami oleh masyarakat diluar lingkungannya. baik bersifat intrinsik yaitu berasal dari anak itu sendiri maupun ekstrinsik yaitu karena pengaruh lingkungan luar dari anak. Namun secara lebih lanjut. Peranan seorang pengasuh. tidak ada catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan Islam ini pertama kali muncul di Indonesia. panti asuhan memberikan pelayanan pemeliharaan baik secara fisik. Pondok Pesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para siswanya tinggal bersama dalam suatu kompleks dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan “Kyai” (Dhofier. perpecahan dalam keluarga. Pada umumnya panti asuhan memberikan penanaman nilai-nilai kepercayaan diri agar bisa menerima kondisi dirinya dan mengatasi rasa minder dan rendah dirinya. Sesuai dengan definisi di atas.26 yang berbeda-beda yang akan membentuk lingkungan masyarakat yang baru. Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih . meski telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu. mencerminkan tanggung jawab pengasuh untuk menghidupkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan. seperti orang tua tunggal. kondisi mental dan sosial anak asuh menjadi perhatian khusus. C. Panti asuhan baik yang diselenggarakan oleh negara maupun yayasan dimaksudkan sebagai tempat bernaung bagi anak-anak terlantar dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang mengalami berbagai macam gangguan sosial. 1982:50). panti asuhan mencoba untuk membentuk anak asuhnya dalam menghadapi stereotif masyarakat yang memandang bahwa anak panti asuhan memiliki kelas yang lebih rendah dan minder ini coba untuk diatasi panti asuhan ini melalui para pengasuh. kemiskinan dan lain sebagainya sehingga anak menjadi terlantar.

Para santri hidup secara mandiri dan sederhana. Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik. berekonomi. rumah tempat linggal kyai dan keluarganya. 2. dan ruangan-ruangan belajar. 4. 5. tumbuh sekitar peralihan abad ke19. pondok pesantren semakin mengembangkan dirinya untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat. 1999:14) Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah para san-tri atau murid tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu yang mandiri. biasanya sebuah pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri dari sarana dasar. Dalam perjalanan perkembangannya. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. (Marjuki Wahid. seperti: 1. berpolitik. Lembaga tersebut muncul walaupun dalam bentuk yang sederhana tetapi ternyata dalam perkembangannya telah memberikan investasi bernilai luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat. yaitu masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan. Adanya semangat gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan. beragama dan bidang kehidupan lainnya dari kelompok masyarakat Islam tradisional sekalipun dibandingkan dengan masyarakat Islam modern saat ini. (Suaedy. 2001:1) Lembaga pendidikan pesantren ini muncul sebagai tantangan zaman dari desakan masyarakat Islam yang masih tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan agama. Santri taat dan patuh kepada kyainya. pondok tempat tinggal para santri. Menurut Abdurrahman Wahid. ”Pondok pesantren merupakan latar belakang pendidikan yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku santrinya”. Sehingga saat ini kita melihat ada bermacam-macam tipe pendidikan . 3.27 modern sebagaimana dikenal sekarang. bernegara dan beragama di Indonesia sampai sekarang. sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren. Hal ini bisa dibuktikan dalam kehidupan bersosial budaya.

28 pesantren. yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya. kemudian kyai membacakan beberapa bagian dari kitab itu. yaitu : 1. lalu murid mengulangi bacaannya di bawah tuntunan kyai sampai santri benar-benar dapat membacanya dengan baik. Dalam metode ini kyai biasanya membacakan. pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode berikut: 1. yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. sedangkan yang belum harus mengulanginya lagi. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kyai. Metode wetonan dan bandongan. ialah metode mengajar dengan sistem ceramah. lalu men-jelaskan kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab dan para santri menyimak bacaan kyai sambil mem-buat catatan . Beberapa pesantren yang dikenal dengan pesantren modern tidak lagi menggunakan tipe pelajaran klasik tetapi juga memasukkan pengetahuan umum agar mampu bersaing di pasar kerja. menerjemahkan. Kecenderungan seperti ini tentunya mengalami kendala serius dalam menjaga kelangsungan pesantren. Pesantren Khalafi. Pesantren Salafi. 1994: 41 ) Beberapa pesantren salaf masih mempertahankan kecenderungan dengan tipe penyajian pelajaran klasik. Di daerah Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah bandongan. 2. atau membuka tipetipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren. 2. Metode sorogan. Kyai membaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu seperti sesudah salat berjemaah subuh atau isya. Bagi santri yang telah menguasai materi pelajarannya akan ditambahkan materi baru. Dalam tradisi pesantren. yaitu bentuk belajar-mengajar di mana kyai hanya menghadapi seorang santri atau se-kelompok kecil santri yang masih dalam tingkat dasar. Secara garis besar. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar. (Dhofier.

Kyai hanya menyerahkan dan memberi bimbingan seperlunya. ialah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap ma-salah yang berhubungan dengan pelajaran santri di tingkat tinggi.). Ciri-ciri tersebut antara lain: 1. sehingga pembinaan dan komunikasi antara santri dan kyai menjadi lancar dan mudah mengaturnya. 4. yakni murid mengelilingi guru yang membahas kitab. namun juga dalam bidang politik. yaitu santri harus aktif mem-pelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. Para kyai siap melayani para santrinya selama 24 jam. Metode musyawarah. 3.29 penjelasan di pinggiran kitabnya. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri. ekonomi dan budaya sehingga diharapkan santrinya setelah selesai/keluar dari pesantrennya mampu menjadi motivator dan dinamisator di masyarakat. tetapi jika tidak ada bantuan dari masyarakat. Para santri tinggal menetap di asrama yang telah disediakan kyai. Secara umum kehidupan di dunia pesantren akan tergambar dalam kegiatan para kyai dan santri melalui peran dan fungsinya masing-masing. Lembaga pendidikan pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. 2. dia jalan terus. . Segala daya dan upaya yang ia miliki digunakan untuk terwujudnya sebuah lembaga pondok pesantren. Para kyai selalu memberi bimbingan penuh kepada para santrinya. Di daerah luar Jawa metode ini disebut haldqah (Ar. Masyarakat yang hendak membantu diterima dengan senang hati. 3. sehingga tanggung jawab yang berhubungan dengan kesantrian dan kepesantrenan berujung pada sang kyai. khususnya dalam bidang agama. Pondok Pesantren didirikan oleh seorang kyai yang sudah bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk membina secara khusus dalam pendidikan agama. karena para santri tinggal di asrama yang disediakan.

pengasuh sekaligus pemimpin dan manajernya. Pada umumnya pesantren itu adalah lembaga pendidikan non formal. dan pondokan/asrama tempat tinggal para santri. 13. sebagai pendiri. 9. pemilik. Para santri siap mengabdikan diri pada para kyai dan menimba ilmu dari padanya. 10. 7. Metode dan teknik mengajar di pesantren secara umum melalui metode wetonan. seorang santri harus mampu menguasai berbagai kitab kuning dari yang kecil sampai kepada yang besar. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri. Para santri dididik hidup mandiri dan dewasa melalui berbagai kondisi yang ada dan kegiatan di pesantren. . madrasah. dan pendidikan formal yang diselenggarakannya.30 5. Sarana prasarana yang tersedia atau harus dipersiapkan adalah berupa masjid. meningkatkan ketakwaan. sudah disajikan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. nonformal. membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal. 2000 : 91-93) Dalam perjalanan sejarah Indonesia pesantren telah memainkan peranan yang besar dalam usaha memperkuat iman. Budaya yang menonjol dari kehidupan pondok pesantren selalu bersifat religius. 12. 8. Untuk menjadi seorang ulama yang besar. sehingga kelihatan sekali wibawa para kyai di kalangan para santri. ( Muttaqin. bandongan. Kurikulum yang disajikan semuanya pelajaran agama melalui kitab kuning klasik. Secara informal lembaga pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. sorogan. kecuali pesantren khalafiyah. Kekhidmatan para santri kepada para kyai sangat tinggi. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah pondok pesantren adalah : 1. 6. 11. Adanya kyai.

Adanya santri. Di dalam pesantren sendiri terdapat dua kelompok santri. Adanya pondokan. ada tiga alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama. para santri harus meninggalkan kampung halaman dan menetap. Adanya kegiatan mengaji kitab-kitab kuning. Pertama. Kedudukannya sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. maka meskipun kini kebanyakan pesantren telah menggunakan metode pengajaran modern. sebagai sarana/tempat ibadah/shalat berjamaah dan sekaligus untuk belajar ilmu agama. Karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon ulama. (Dhofier. Untuk dapat menggali ilmu tersebut secara teratur dan lama. Kedua hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana hampir tidak ada perumahan yang cukup untuk menampung santri. kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. Biasanya masjid menjadi tempat beribadah terutama shalat lima waktu dan beberapa diantaranya berfungsi pula sebagai tempat pengajaran kitab-kitab Islam klasik. pengajaran kitab-kitab Islam klasik (sering disebut juga kitab kuning) tetap dipertahankan. 1982: 46-47) Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. Memiliki masjid.31 2. untuk tempat tinggal para santri. ada sikap timbal balik dimana santri menganggap kyai sebagai bapaknya sendiri dan kyai menganggap santri titipan Tuhan yang harus dilindungi. Menurut Zamakhsyari Dhofier. 4. yang kurikulumnya ditentukan oleh kyai. 1982 : 49) Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satusatunya pengajaran formal yang diberikan di pesantren. (Dhofier. yang tinggal di pondok/asrama untuk belajar ilmu agama dan sekaligus mengabdikannya pada kyai. 5. 3. yaitu: . Dan ketiga.

mendampingi. Santri mukim. 2. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren. mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. Santri kalong. Dan. gelar untuk orang-orang tua. kedua. lah yang biasanya menjadi penentu kebijakan pesantren. kata ini dipakai untuk tiga jenis gelar (Dhofier. apabila kyai pengasuh pesantren meninggal. 1982: 52). Pengasuhan berasal dari kata asuh yang mempunyai makna menjaga. Pertama. 1984).32 1. kepemimpinan secara otomatis dipegang oleh anaknya atau keluarganya. Menurut Wagnel dan Funk bahwa mengasuh itu meliputi menjaga serta memberi bimbingan menuju pertumbuhan kearah . dan ketiga gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. melainkan berangkat dari penghayatan dan keberagaman kyai. merawat dan mendidik anak yang masih kecil (Poerwadarminta. yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. yaitu murid-murid yang berasal dari jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. (Dhofier. D. sehingga pertumbuhan dan corak pesantren bergantung kepada kemampuan kyai. gelar untuk benda-benda keramat. Menurut asal usulnya. Apa yang dilakukan pesantren tidak mendasarkan pada strategi tertentu. Karenanya. 1982 : 52). Karenanya dapat dipahami apabila pasang surut perjalanan pesantren bergantung pada kyai. Sedangkan kyai merupakan elemen pembentuk tradisi pesantren yang paling esensial. hanya dalam pengertian yang terakhirlah kata ”kyai” dipakai dalam penelitian ini. melindungi. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan adalah bentuk perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara.

makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh (Sunarti dkk. Pengasuhan anak (Child Rearing) adalah salah satu bagian penting dalam proses sosialisasi. Pemberian disiplin dalam arti mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik. dan belajar mengakui adanya sejumlah hak dan kewajiban yang ada dibalik aturan dan norma tersebut. Menurut Soerjono Soekanto. Artinya mempersiapkan orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didukungnya. termasuk prestasi yang diraihnya. Sejak kecil anak mulai belajar dari orang tua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma tersebut. hal ini memerlukan suatu proses yaitu dengan sosialisasi. mentaati.33 kedewasaan dengan memberikan pendidikan. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu. 1989:3). ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku. maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar mengendalikan diri. sosialisasi adalah suatu proses dimana warga masyarakat dididik untuk mengenal. yaitu orang tua atau tokoh otoritas lainnya. Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang melanggar aturan dan norma itu. menghargai dan menghayati norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Soekanto 1982: 142). Penanaman nilai-nilai yang diberikan tentunya tidak bisa dilakukan dalam sekejab. memahami. Dengan demikian cara atau bentuk disiplin yang diberikan banyak tergantung pada sipemberi disiplin. Cara pemberian disiplin berbeda-beda dan sudah barang tentu memberikan hasil yang berbeda. Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam mempersiapkan seseorang menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang . Orang tua mempunyai pengaruh penting serta wakil lingkungan sosial yang terkecil.

yaitu proses akomodasi dengan mana individu menahan. Tahap pengalaman mental. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dan diri pribadinya. ide-ide. Khaerudin membagi ke dalam tiga tahap. Individu tidak begitu saja melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya karena individu memiliki lingkungan di luar baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.” (Vembriarto. Vembriarto mendefinisikan proses sosialisasi. Adapun proses sosialisasi. pola-pola.” (Khaeruddin 1985:79) Melalui proses sosialisasi seseorang akan mengenal nilai dan norma. kepribadian seseorang akan terbentuk. Kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tahap belajar (learning) Dalam tahap ini sosialisasi berlangsung dan individu mengalami proses belajar. Kepribadian menyatakan cara berperilaku dan bertindak yang khas dari . 1990:12) Lebih lanjut. yaitu: 1. yaitu: 1. Tahap penyesuaian diri terhadap lingkungan. antara lain: warisan biologis. dan kemudian mengidentifikasikan dirinya menjadi suatu pribadi. lingkungan fisik. 2. sikap. Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang yang mana didahului oleh suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama. 3. Proses sosialisasi adalah proses belajar. proses sosialisasi tersebut tersirat ke dalam tiga tahap kegiatan.34 menyerap nilai dan norma yang ditanamkan. Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati atau mendarah dagingkan (internalize) nilai-nilai dan norma-norma kelompok dimana la hidup sehingga timbullah diri yang unik (Horton dan Hunt 1991: 100) Dalam sosialisasi. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan. pengalaman kelompok dan pengalaman unik. dan tingkah laku menurut standart dimana ia hidup. kebudayaan. nilai-nilai. 3. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. 2.

dan juga pendidikan (moral maupun intelektual). Pengajaran disini diartikan sebagai bagaimana mensosialisasikan nilai-nilai. (2) cara penerapan larangan atau keharusan yang dipergunakan. Pengajaran (Instructing). dll. yaitu hukuman dan penghargaan. Kepribadian seseorang yang terbentuk tersebut merupakan wujud dari bentukan nilai yang telah tersosialisasi dan terinternalisasi dalam diri seseorang. . Pembujukan (inciting) (Sunarti dkk. kepribadian adalah merupakan keseluruhan faktor biologis. psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu (Horton dan Hunt. Tetapi pada prinsipnya cara pengasuhan anak ini setidaktidaknya mengandung sifat (1). 1991: 90). Dengan demikian nilai merupakan salah satu hal utama yang menjadi tujuan sosialisasi. keharusan yang harus ditaati dan diketahui anak. perihal mengajar atau segala sesuatu mengenai mengajar” (Poerwadarminta. dsb).” Sedangkan “Pengajaran” mempunyai arti “cara (perbuatan. Dari beberapa pengertian tentang batas asuh. (2). 1989:1-3). 1. 2. Penerapan larangan maupun keharusan terhadap pola pengasuhan anak beraneka ragam.Pengganjaran (rewarding). yang merupakan hasil perpaduan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi perilaku yang dihadapi seseorang. Dengan kata lain. Pengajaran (instructing) Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengajaran berasal dari kata “ajar” yang berarti “barang apa yang dikatakan kepada orang supaya diketahui (dituruti. dsb) mengajar atau mengajarkan. penerapan disiplin. norma.35 seseorang setiap harinya. larangan. Pengganjaran (rewarding) Menurut Hurlock pengganjaran dalam pola pengasuhan dibedakan menjadi 2 jenis. yang patut dicatat adalah apa yang diuraikan oleh Whitung dan Child (1966) yang mengatakan bahwa dalam proses pengasuhan anak harus diperhatikan (1) orang yang mengasuh. 1984:22). (3).

b. di satu pihak adalah yang melakukan dominasi dan pada pihak lain yang mengalami ketidak-berdayaan (http://www. tetapi dapat berupa kata-kata pujian. (Hurlock. Penghargaan tidak harus dalam bentuk materi. kecenderungan untuk mengancam. Potter dan Stacy Smith juga meliputi tampilan aksi di media yang membahayakan manusia secara individu maupun kelompok yang terjadi akibat kekerasan yang tidak tampak (unseen violent mean). kekerasan yang ditampilkan media massa menurut W James Potter dan Stacy Smith terdiri dari tiga tipe dasar yakni. Kekerasan (Inggris: Violence. Dari pemikiran di atas. senyuman atau tepukan dipunggung. merusak harta benda atau orang secara fisik maupur psikis (Karman. Hukuman Hukuman berasal dari kata latin “punire” yang berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan.force intended to harm physically an animate being or group of beings (Segala tampilan yang menggambarkan kecenderungan maupun tindakan nyata untuk mengancam atau membahayakan seseorang atau kelompok secara fisik) (Potter dan Smith. Kekerasan menurut W James. 1999). Sedangkan Ashadi Siregar secara sederhana mendefinisikan kekerasan sebagai situasi yang melibatkan dua pihak. Penghargaan Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk setiap hasil yang baik.com. 1999: 86-90) Di dalam cara pengasuhan anak dengan pengganjaran (rewarding) sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh anak.) Sementara itu. perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. 1999: 35).KIPPAS.36 a. Latin: Violare = “memakai kekuatan”) didefinisikan oleh Yonky Karman sebagai pemakaian kekuatan untuk melukai. W James Potter dan Stacy Smith (1999) mendefinisikan kekerasan sebagai berikut: any overt depiction of a credible threat of physical force or the actual use of such . aksi . membahayakan.

mean). mengatasi kekerasan struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak langsung. meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia. tidak bebas.37 nyata. dan kekerasan yang tidak terlihat namun memiliki akibat sangat berbahaya (unseen violent. Galtung juga menguraikan enam dimensi penting dari kekerasan. kurang terbuka. Pengaruh positif dan negatif. keras sebagai sifat) dengan acts of violence (tindakan-tindakan kekerasan) (Whindhu. Galtung tidak membedakan violent acts (tindakan-tindakan yang keras. Kekerasan fisik dan psikologis. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. Kekerasan disebut langsung atau personal jika ada pelakunya. 1992: 65). Ada obyek atau tidak. Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan pemahaman. b. sengaja atau tidak. Sistem orientasi imbalan (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”. Dalam kekerasan fisik. meskipun memberikan kenikmatan dan euphoria. yaitu sebagai berikut: a. e. Sedangkan kekerasan psikologis adalah tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak. c. Dari sudut korban. Pemahaman Galtung tentang kekerasan lebih ditentukan pada segi akibat atau pengaruhnya pada manusia. Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan psikologis. Ada subyek atau tidak. kekerasan tetap kekerasan. Disengaja atau tidak. . yang hanya menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup untuk melihat. tubuh manusia disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. dan cenderung manipulatif. d.

memerlihatkan stabilitas tertentu dari tidak tampak (Windhu. Pembujukan (inciting) Menurut Poerwadarminta (1984) pembujukan berasal dari kata “bujuk” yang artinya kata-kata manis untuk memikat hati. sifat kekerasan personal adalah dinamis. sementara kekerasan struktural dianggap wajar. Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun dengan mudah. Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang tidak kelihatan (latent). Kekerasan tersembunyi yang struktural terjadi jika suatu struktur egaliter dapat dengan mudah diubah menjadi feodal. Sifat kekeraan struktural adalah statis. memerlihatkan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan. yakni kekerasan personal dan kekerasan struktural. sedangkan “pembujukan” adalah hal atau perbuatan membujuk (Poerwadarminto. 1992: 73). mudah diamati. 1984:159). kekerasan personal bisa dilihat sebagai hal yang berbahaya dan salah. tetapi bisa dengan mudah meledak. “Membujuk” artinya mengenakan kata-kata manis dengan maksud hendak memikat hati. Kekerasan yang ada di dalam masyarakat menurut Galtung tersebut akan berbeda-beda tergantung pada golongan apakah masyarakat tersebut. Menurutnya masyarakat ada yang statis dan dinamis. Namun dalam masyarakat yang dinamis. atau evolusi hasil dukungan militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah tantangan utama terlewati. baik yang personal maupun struktural. Kekerasan yang tampak. Yang tampak dan tersembunyi.38 f. Galtung membedakan kekerasan menjadi dua jenis. nyata (manifest). 3. . sementara kekerasan struktural semakin nyata menampilkan diri. dapat dilihat meski secara tidak langsung. kekerasan personal seperti yang telah disebutkan di atas akan diperhatikan. Dalam masyarakat yang statis.

Secara umum. yaitu sistem pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. yaitu tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama karena ada konsekuensi hukumnya. menarik hati dan terkesan tidak menyuruh. Di dalam UU Perlindungan Anak juga diatur tentang pola pengasuhan lembaga pelayanan anak ini. panti asuhan memiliki dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya. stabilitas dan kontinyuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh pengasuh. . Kedua sistem pengasuhan tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh. Sehingga anak menurut dengan pengasuh.39 Pembujukan dilakukan agar anak mau mengikuti ajakan atau perintah pengasuh dengan kata-kata yang lebih halus. Masing-masing lembaga pelayanan anak seperti panti asuhan dan pondok pesantren memiliki pola pengasuhan yang berbeda-beda.

Focus Group Discussion (FGD) dan Observasi dengan didukung dokumen atau arsip sebagai penguatan data. Sedangkan data kuantitatif dikumpulkan untuk menyusun profil panti asuhan dan penguatan data kualitatif.40 BAB III METODE PENELITIAN A. Adapun jumlah panti asuhan di Kota Solo 13 dan di Kabupaten Klaten berjumlah 20. Untuk memudahkan di dalam proses penelitian maka masing-masing daerah di ambil 2 panti asuhan dan 2 pondok pesantren. B. Pengambilan sampel panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat memenuhi semua strata atau kriteria khususnya panti asuhan yang dikelompokkan kedalam kategori milik pemerintah. swasta dan campuran. Teknik Pengumpulan data Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian ini adalah Indepth Interview (Wawancara Mendalam) . Sedangkan jumlah pondok pesantren di Kota Solo ada 3 dan di Kabupaten Klaten ada 2. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data mendalam dan informasi tentang masalah yang dialami oleh partisipan (anak) dalam kaitannya dengan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Lokasi penelitian diutamakan di Kecamatan Banjarsari dan Pasar Kliwon untuk Kota Solo serta Kecamatan Bayat dan Wedi untuk Kabupaten Klaten. . Lokasi Penelitian dan Partisipan Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. C.

Rencana Penelitian 1. 7. Dari analisis data tersebut akan disusun model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Teknik Pengambilan Partisipan Sebagai populasi penelitian adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti dengan teknik stratified random sampling menurut kelompok usia (6-12 tahun) dan (13-18 tahun).41 D. Penyusunan protokol penelitian Pertemuan dengan Stakeholders Kota Solo dan Kabupaten Klaten untuk mencari masukan bagi penyempurnaan protokol penelitian 3. Pelatihan kepada peneliti oleh Technical Advisor Try Out Instrumen Penelitian di Kota Solo Penyempurnaan Instrumen Penelitian . 2. Perbaikan protokol penelitian dan pembuatan instrumen penelitian Rekruitmen peneliti oleh Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS Solo 5. F. Analisis data sekunder dan primer dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis profil panti asuhan dan pondok pesantren. Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan indikator yang diteliti dilakukan melalui tahapan penelitian FGD terhadap primary care giver (pengasuh). 6. pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. data primer dilakukan untuk mengetahui dampak atau permasalahan yang dihadapi anak kaitannya dengan pelaksanaan perlindungan anak dalam pola pengasuhan yang dilakukan oleh panti asuhan dan pondok pesantren. 4. FGD terhadap anak menurut kelompok usia dan dilanjutkan dengan telling story dan indepth interview dengan pendekatan analisis psikologis. E. Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif.

Personalia dalam penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut : Ketua Peneliti (TA) : Ir Retno Setyowati. MP Drs. Seminar hasil pemetaan untuk penyempurnaan final report 11. Henry. M. S. M. M.Si (sosiolog) Sri Lestari.Psi. MS (sosiolog/perlindungan anak) Koordinator Peneliti : Drs. 1 orang koordinator Solo. . 9. 1 orang koordinator Klaten. Mahmud Yusuf.Si Enumerator : 9 orang (Erliana.A (sosiolog) : Dra. Irfan. 1 orang koordinator peneliti. S. Isti & Nurul). M. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dimulai bulan Mei hingga Agustus 2009. Nunuk Siti Rahayu. Organisasi Penelitian: Organisasi dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang Technical Advisor. 1 orang psikolog dan 8 orang enumerator. Devi. Penyusunan Final Report G. Yuni. Mita.Sos. Indra Waskita.42 8. Argyo Demartoto.Si (Psikolog) Koordinator Solo Koordinator Klaten : Atik Catur Budiati. Pengumpulan data primer dan sekunder Analisis data dan penulisan laporan penelitian oleh koordinator peneliti (1 koordinator peneliti kota Solo dan 1 koordinator peneliti kabupaten Klaten) dan Technical Advisor (TA) 10.

Karena terjadi perselisihan suksesi. maka Pemerintah Daerah . di desa Solo inilah Keraton akan mencapai kebesaran dan kemakmuran. Kedua keraton ini merupakan sumber budaya Jawa yang adiluhung dan telah banyak memberikan warna kehidupan dalam bidang seni dan budaya pada masyarakat Surakarta dan sekitarnya (Pemerintah Daerah kota Surakarta. Hal ini tidak lepas dari keberadaan dua keraton di Surakarata. kemudian lahirlah Perjanjian Salatiga yang menyatakan bahwa Surakarta dibagi menjadi dua Kerajaan. yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1753. Sejak saat itu nama desa Solo berubah mcnjadi Surakarta Hadiningrat Selanjutnya kekuasaan Kerajaan Mataram terus menyusul. Orang yang pertama kali melakukan babat alas adalah Ki Gede Sala yang makamnya berada di daerah dalam beteng. Sejarah Berdirinya Kota Surakarta Kota Surakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan dan kesenian Jawa di Indonesia. yaitu Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten 1. Politik adu domba yang dilancarkan VOC menyebabkan Mataran terpecah menjadi dua bagian. Keadaan Umum Kota Surakarta a. yaitu Kasunanan dan Mangkunegara. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pemerintahan di Negara Republik Indonesia.43 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. 1995: 20) Sejarah Kota Surakarta berawal pada tanggal 17 Suro 1670 atau 17 Februari 1745 dimasa Kerajaan Mataram Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Paku Buwono II memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Kartosuro ke sebuah desa kecil di tepi Bengawan Solo bernama Desa Solo. Menurut perhitungan.

yaitu: 1) Kota Surakarta 2) Haminte Surakarta 3) Kota Besar Surakarta 4) Kotapraja Surakarta 5) Kotamadya Surakarta (1946 – 1947) (1947 – 1948) (1948 – 1957) (1957 – 1965) (1965 – 1974) 6) Kotamadya Dati II Surakarta (1974 – 1999) 7) Pemerintah Kota Surakarta (1999 – sekarang) Surakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Daerah Tingkat II Kota Praja. Keadaan alam Kota Surakarta Wilayah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m dari permukaan . pariwisata. tepatnya pada tahun 1945. Surakarta vang sebelumnya menggunakan sistem pemerintahan kerajaan diubah menjadi ibu kota Karesidenan. Setelah Indonesia merdeka. Sejarah Kota Surakarta yang bernuansa feodal. Secara defacto Kota Surakarta terbentuk pada tanggal 16 Juni 1746 dengan daerah meliputi bekas Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran. dan pada tahun 1905. Berdasarkan status administratifnya. Hingga saat ini Surakarta telah berkembang dengan pesat menjadi kota besar yang berfungsi sebagai pusat administrasi tingkat regional.44 Kota Surakarta berhak mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri di Kota Surakarta. nama Sala atau Solo lebih popular. budaya dan olahraga. b. Adapun perkembangan perubahan yang terjadi di Kota Surakarta. perdagangan. Hal ini tidak begitu mengherankan jika menengok sejarah berdirinya Kota Surakarta yang sebelumnya memang bernama Sala. Namun secara yuridis Kota Surakarta baru terbentuk berdasarkan ketetapan Pemerintah Tahun 1949 No. sekarang berstatus sebagai Kotamadya. 16/SD yang diumumkan tanggal 15 Juli 1946. memberi andil bagi perkembangan budaya patriarki masyarakatnya hingga saat ini. sedangkan sebutan Surakarta lebih bernuansa formal-birokratis. sebagai kota industri.

sehingga sungai Bengawan Solo ini adalah salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh Kota Surakarta.45 air laut dan dilalui oleh sungai Pepe. Letak Kota Surakarta juga sangat strategis. yaitu antara lain: 1) Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali 2) Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar 3) Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten . Letak dan Luas Kota Surakarta terletak di daerah Propinsi Dati II Jawa Tengah bagian Selatan dan merupakan penghubung antara Daerah Propinsi Jawa Tengah bagian Timur dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keadaan lalu lintas yang cukup ramai. Sungai Bengawan Solo merupakan Sungai yang terpanjang di Pulau Jawa. yang tepatnya berada di Selo (Perbatasan Kabupaten Boyolali dan Magelang). Kota Surakarta terletak antara 110o 45’ 15” dan 110o 45’ 35” Bujur Timur dan antara 7° 36’ dan 7° 56’ Lintang Selatan. Anyar. akan menambah keindahan panorama saat berkendara di Kota. c. Selain itu. Batas-batas wilayah Kota Solo. Menurut keadaan astronomi. Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang menunjang kota-kota lainnya seperti Semarang maupun Yogyakarta. tepatnya di Tawangmangu (Kabupaten Karanganyar) serta di bagian Barat adalah Gunung Merapi dan Merbabu. dan Jenes yang kesemuanya tersebut bermuara di Bengawan Solo. tetapi setidaknya kita dapat menikmati keindahan alam. Dengan terlihatnya dua Gunung yang mengapit Kota Surakarta ini. walaupun keindahan alam tersebut bukan merupakan kekayaan alam Kota Surakarta. yaitu Gunung Lawu di bagian Timur. yaitu berada diantara dua Gunung maupun Pegunungan.

020 20. RW dan Kepala Keluarga yang berada di Kota Surakarta.06 km2 yang terbagi dalam lima kecamatan. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah kelurahan.1 Banyaknya Kelurahan.rata jumlah KK setiap RT berkisar sebesar 48 kk setiap RT. dan Kepala Keluarga Di Surakarta No 1 2 3 4 5 Kecamatan Kelurahan RW RT Kepala Keluarga 22.742 Laweyan 11 105 452 Serengan 7 75 332 Pasar Kliwon 9 100 424 Jebres 11 145 605 Banjarsari 13 167 832 Kota 51 592 2. Wilayah Kota Solo terbagi dalam 5 Kecamatan dan 51 Kelurahan.645 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 . Sedangkan untuk kegiatan ekonomi juga memakan tempat yang cukup besar. RT. maka rata . yaitu : 1) Kecamatan Laweyan 2) Kecamatan Serengan 3) Kecamatan Pasar Kliwon 4) Kecamatan Jebres 5) Kecamatan Banjarsari Sebagian besar lahan dipakai sebagai tempat permukiman sebesar 61%. Jumlah RW tercatat sebanyak 592 dan jumlah RT sebanyak 2.242 31.870 37. RT. yaitu berkisar antara 20% dari luas lahan yang ada.644.46 4) Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar Sukoharjo dan Kabupaten Luas wilayah Kota Surakarta mencapai 44. Tabel 4. Dengan jumlah Kepala Keluarga sebesar 127.746 127.864 15.742 kk. RW.

320 15.256 29. Tabel 4.716 38. RW (ada 167).519 18.494 18.467 45 – 49 14.627 10 – 14 18.496 20.495 22.601 40 – 44 17.838 15.660 29.355 43. Keadaan Demografi Penduduk Kota Surakarta 1) Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penduduk yang tinggal di Kota Surakarta terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surakarta.498 Jumlah 231.491 8.47 Dari data tersebut diatas tampak bahwa sebagian besar ataupun jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Banjarsari.131 37.972 40.501 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki.972 40.287 50 – 54 12.241 64 + 13.031 15.2 Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Usia (Tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Total 0–4 16.991 20 – 24 26. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah penduduk Kota Surakarta menurut kelompok umur dan jenis kelamin.241 55 – 59 8.469 54.811 13.430 26.058 254.519 21. karena di Kecamatan Banjarsari juga terdapat jumlah paling banyak Kelurahan (ada 13).276 15.750 14.107 35.946 5–9 17.235 30 – 34 22.491 25 – 29 19.670 31.022 28.356 26. serta RT (ada 832).443 485.076 15 – 19 21. Sedangkan usia produktif yaitu antara 20 – 39 tahun yang berjumlah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 .635 47.104 21.934 35 – 39 17.866 60 – 64 5.546 7. d.

278 261.3 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jenis Kelamin Rasio Jenis Jumlah Kelamin Laki-laki Perempuan 1 2004 249.4 Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Usia 0 – 19 tahun L P Jumlah 1 2004 557. Namun data diatas yang didapatkan dari BPS usianya antara 0-19 tahun.443 173.660 87.647 orang penduduk perempuan.80 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Sedangkan jumlah penduduk yang berusia 0 – 19 tahun dapat dilihat pada Tabel 4.672 534. Di usia produktif ini.628 3 2006 512.264 170.592 78.731 85.058 254. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tabel 4.775 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Jumlah Penduduk Sesuai dengan Undang-Undang No.433 510.540 88.501 90.103 2 2005 534.35 2 2005 250.868 283.261 orang. bahwa batas usia anak dibawah 18 tahun. Data dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Surakarta menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut: Tabel 4.44 3 2006 231.614 orang penduduk laki-laki dan 86.48 172. penduduk wanita lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki.4.711 95.364 88. terdiri dari 85.183 158.898 80. Adapun anak yang putus sekolah Tahun 2004/2005 di Kota Surakarta adalah sebagai berikut: .443 485.540 82.

49 Tabel 4.5 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Siswa Putus Sekolah SD SMP/MI SMA/MA 1 Laweyan 1 16 35 2 Serengan 0 7 29 3 Pasar Kliwon 4 46 41 4 Jebres 12 61 4 5 Banjarsari 21 32 89 Total 38 162 178 Sumber : Profil Pendidikan Dinas DIKPORA Kota Surakarta No Kecamatan Daftar anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Surakarta dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.6 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No 1 2 3 4 5 6 Jenis PMKS Anak Balita terlantar Anak terlantar Anak yang menjadi KTK Anak nakal Anak jalanan Anak cacat Jumlah Tahun 2004 L P Jml 130 130 Tahun 2005 L P Jml 400 752 41 78 111 387 1769 Tahun 2006 L P Jml 199 167 366 378 20 75 92 464 1228 304 17 4 7 348 847 682 37 79 99 812 2075 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta .

menunjukkan bahwa anak diperkerjakan.7.9 . Disnakertrans Kota Surakarta Keadaan anak yang mengandung cacat fisik. eksploitasi dan mengalami berbagai tindakan kekerasan yang membahayakan perkembangan jasmani. mental maupun mental dan fisik (ganda) pada usia 0 – 18 tahun di Kota Surakarta dapat digambarkan melalui tabel 4.8 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. Tabel 4. tahun 2006 No Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Pemulung 5 3 8 2 Sektor Industri Kecil 1 1 2 3 Sektor Industri Besar 28 4 Pengamen 16 18 54 Sumber : LSM Kapas. LSM PPAP Seroja.7 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Tahun 2005 Tahun 2006 L P Jml L P Jml 1 Perkosaan 13 13 10 2 Pencabulan 1 1 2 13 3 Penganiayaan 1 1 2 4 Persetubuhan 3 3 2 5 Pelarian 4 6 Perdagangan 4 Jumlah 1 18 19 4 31 35 Sumber: Devisi Dokin PTPAS Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No Jenis kasus Keadaan anak yang memiliki pekerjaan terburuk dari berbagai sektor pekerjaan. LSM Sari Surakarta.8. dapat disimak dalam tabel 4. rohani dan sosial anak dapat dilihat dalam tabel 4.50 Adapun keadaan anak yang mengalami penyalahgunaan anak. Tabel 4.

257 3.167 27.343 0 93.196 6.672 48.646 43.971 11.005 836 225.170 1. serta secara khusus.704 7. TNI/POLRI 836 Jumlah 132. Tabel 4.254 418 1.825 14.771 88.10 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) Jenis Pekerjaan Utama 1.9 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Tahun 2006 L P Jml 1 Cacat tubuh 122 86 208 2 Cacat Rungu Wicara 80 66 146 3 Cacat Netra 21 20 41 4 Cacat Mental Reterdasi 139 93 232 5 Cacat Mental Eks Psikotik 27 24 51 6 Cacat Ganda 56 45 101 7 Cacat Bibir Sumbing 17 15 31 Jumlah 462 348 810 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta Tahun 2006 2) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Banyaknya penduduk secara umum menurut mata pencaharian penduduk di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini.061 15. tenaga TU Tenaga Usaha Penjualan Tenaga Usaha Jasa Tenaga Usaha Pertanian Tenaga Produksi. 7. yaitu dihitung mulai umur 10 tahun keatas.720 No Kriteria Cacat Tenaga profesional dan lainnya Tenaga kepemimpinan & laksana Pejabat pelaksana. 6. 4. 5. 2. dan tenaga kasar 8.437 68.762 209 3.054 45.715 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 . Jenis kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 9.906 19.003 13. 3. operator angkutan.51 Tabel 4.942 19.

.825 jiwa. Walaupun banyak terdapat bidang perindustrian.569 105. dan tenaga usaha jasa berjumlah 27.123 bahwa tingkat pendidikan masyarakat Surakarta cukup tinggi.816 47.498 73. tetapi di Kota Surakarta juga masih menyisahkan sawah. dan tenaga kasar berjumlah 68.11 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) Tingkat Pendidikan Tamat Pendidikan/Perguruan Tinggi Tamat SLTA Tamat SLTP Tamat Sekolah Dasar Tidak Tamat Sekolah Dasar Belum Tamat Sekolah Dasar Tidak Sekolah Jumlah Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 Dari tabel diatas dijelaskan No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 33. untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang berada di kota Surakarta dan sekitarnya.170 jiwa. operator angkutan.52 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jenis pekerjaan terbesar penduduk Kota Surakarta adalah sebagai tenaga usaha penjualan berjumlah 88.979 25.184 485. Hal ini dikarenakan adanya dukungan sarana pendidikan terutama beberapa Akademi dan Perguruan Tinggi baik itu negeri maupun swasta yang ada di Kota Surakarta.103 95.343 jiwa. Keadaan ini dapat dimengerti karena wilayah Surakarta dan sekitarnya banyak berdiri pabrik-pabrik terutama tekstil atau kerajinan batik. karena dilihat dari jumlah keseluruhan penduduk yang berpendidikan SLTA dan Akademi atau Perguruan Tinggi mencapai 129. Tabel 4. sebagai tenaga produksi.974 103.077 orang.

b. Hal ini ditunjukkan dari luas lahan sawah yang bukan sawah mengalami penurunan (tahun 2007 0. yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata. Keadaan Umum Kabupaten Klaten a. Dari 65. Tahun 2007 tanah pertanian sebesar 33.09 %) sedangkan lahan bukan sawah mengalami kenaikan (tahun 2007 sebesar 0.53 e. 2. tetapi bercorak perdagangan dengan sektor industri. Seiring dengan perkembangan keadaan. Luas Kabupaten Klaten 51 % (33. Luas Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten mempunyai luas wilayah sebesar 65.435 ha) merupakan lahan sawah dan 49 % (32. . terjadi perubahan penggunaan dari lahan pertanian ke non pertanian.556 ha. Perubahan terbesar digunakan untuk bangunan dan industri. Letak Kabupaten Klaten cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Surakarta. Keadaan Sosial Ekonomi Corak perekonomian Kota Surakarta tidak terletak pada sektor pertanian. 401 desa/kelurahan. perdagangan dan pariwisata sebagai sektor utamanya. Letak Geografis Kabupaten Klaten terletak secara geografis antara 7o32’19” sampai 7o48’33” dan antara 110o26’14” sampai 110o47’51”. Dibandingkan tahun 2006 mengalami kenaikan penggunaan lahan ke non pertanian sebesar 15. terbagi dalam 26 kecamantan.1233 ha.121 ha) merupakan lahan bukan sawah.82 %.10%) Perubahan penggunaan tanah pertanian juga cukup besar tiap tahunnya. Seperti Visi dan Misi Kota Surakarta yang terpampang dipojokan Pasar Kleco dekat dengan patung seorang ibu yang sedang mencanthing (membuat batik dengan cara tradisional).556 ha.

Tabel 4.12 menunjukkan Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 . kecuali Kecamatan Kemalang yang paling rendah kepadatannya sebesar 669 jiwa per km2.50 ini berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. kondisi ini menunjukkan penambahan 3.987 jiwa.54 c. dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya dari seluruh masyarakat Indonesia. Secara umum kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten merata untuk semua kecamatan. Untuk usia produktif (usia 15-64 tahun) sebesar 981. Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten sebesar 95.70 % dari total penduduk Klaten.771 jiwa. Tahun 2007 jumlah penduduk Klaten sebesar 1. sekitar 75.745 jiwa dari tahun sebelumnya dan pertumbuhannya sebesar 0. Keadaan Penduduk Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.296. Pertumbuhan jumlah penduduk seyogyanya diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk.29%.

277.45 0.179.788 1.02 1.47 0.047 1.272 7.45 0.971 7.09 0.987 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.124.20 0.33 0.113 1. .171 1.241 13.189.201 5.36 1.154.501 1.01 1.29%.293.42 0.12 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.51 0.55 0.786 1.742 1.44 0.255 1.489 4.542 1.439 1.267 7.35 0.537 6.711 1.242.613 6.106 14.071 5.112.242 1.296.202.12 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 adalah 1.869 1.172.265.572 5.54 0.297 1.240 12.473 8.640 1.009 1.987 Pertambahan Penduduk (Jiwa) 11.161.334 13.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Tabel 4.271.234.430 5.535 1.223.281.184.086.138.61 0.69 1.89 0.745 % 1.358 6.767 4.10 1.964 1.101.184 3.976 1.058 1.49 0.216.269 5.295 1.345 6.286.166.673 10.307 1.682 1.617 6.598 14.295 1.55 0.196.49 0.235 5.393 6.296.52 1.55 Tabel 4.56 0.619 1.530 1.618 1.437 5.46 0.257.988 11.149.19 0.228.60 0.

730 51.603 65.201 34. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Kebonarum sebesar 21.38 0.470 45.212 43.149 40.559 41.13 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah 2006 49.08 0.56 Tabel 4.05 0.26 0.858 49.869 37.745 Laju Pertumbuhan (%) 0.673 41.296.284 57.002 62.298 jiwa.226 44.936 81.016 61.702 65.767 50.726 49.212 63.92 0.01 0.709 38.338 63.748 55.101 54.17 0.06 0.896 21.54 0.428 40.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 yang terbanyak adalah di Kecamatan Trucuk yaitu 81.298 57.869 jiwa.870 43.29 0.164 34.53 0.969 81.402 63.242 2007 49.72 0.558 48.164 21.527 55.811 48.987 Penambahan Penduduk (Jiwa) 74 221 190 -99 -33 295 268 14 151 120 22 238 253 -37 135 20 307 485 132 3 95 37 131 379 123 221 3.519 44.49 1.850 1.469 57.249 43.075 40.54 0.589 38.293.721 41.881 61.574 36.629 1.07 0.985 45.40 -0.28 0.844 41.09 0.824 41.248 44.15 0.374 57.06 0.03 0.34 -0.16 -0.36 0.29 0.100 63.098 54.26 0.022 62. .

032 21.869 37.60 90.741 31.844 41.57 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.377 23.544 18.30 95.847 31.149 40.30 95.18 95.41 98.744 25.394 25.17 92.14 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah Laki-Laki 23.48 96.296.164 21.016 61.689 22.249 43.74 96.708 27.10 96.497 19.986 25.435 Jumlah 49.338 63.655 19.078 29.382 32.552 Perempuan 25.434 24.666 41.559 21.63 92.61 94.354 26.452 21.28 94.415 23.61 96.68 95.761 29.50 Sumber : BPS Kabupaten Klaten .730 51.134 22.102 27.192 32.027 22.492 22.830 30.298 57.519 44.259 10.792 20.504 33.21 94.169 29.26 98.39 96.858 49.603 65.987 Rasio Jenis Kelamin 91.811 48.559 41.115 21.986 20.748 55.850 1.470 45.905 11.248 44.709 38.022 62.270 40.054 18.652 21.402 63.38 95.464 23.58 92.46 93.573 21.413 17.94 97.325 18.394 28.099 32.956 31.539 663.824 41.66 95.311 633.392 20.85 98.055 22.469 57.661 32.936 81.788 16.101 54.11 96.999 26.220 28.25 99.02 95.201 34.

271 23. .946 46.201 51.033 28.922 663.614 26.552 Perempuan 46.153 25.325 (perempuan).812 633.58 Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di Kecamatan Trucuk berjumlah 40.179 59.196 50.070 133.544 (laki-laki) dan berjumlah 41.511 113.893 108.083 105.064 jiwa .212 101.411 88.033 45.083 jiwa.296.981 64.455 57. Jadi berdasarkan data dari BPS Kabupaten Klaten tahun 2007 jumlah penduduk (anak) menurut kelompok umur 0-19 tahun berjumlah 449.422 98.917 55.435 Jumlah 94. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.070 jiwa dan kelompok umur 15-19 tahun berjumlah 133.110 jiwa.893 jiwa.011 49.534 29.378 42.739 35.15 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Laki-laki 47.841 31.119 50.186 53.080 71.283 48.778 54. kelompok umur 5-9 tahun berjumlah 105.987 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 untuk kelompok umur 0-4 tahun berjumlah 94.976 53.061 103.089 68.885 56. kelompok 10-14 tahun berjumlah 116.964 54.341 35.476 52.315 62.734 1.805 52.064 116.

59 d. Kondisi ini menunjukkan penurunan sekitar 5. Tahun 2007 jumlah pencari kerja sebanyak 15.40 % dari tahun 2006. Jumlah dan kmposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Tingkat pendidikan untuk pencari kerja yang terbanyak adalah SMU/SMK sebesar 10.594 akseptor dan peserta KB baru sebesar 21.137 akseptor. Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Adapun tujuan paling banyak adalah ke Kalimantan. Keluarga Berencana Peserta KB aktif di Kabupaten Klaten tahun 2007 mencapai 153. Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 jumlah murid yang tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 Jumlah anak putus sekolah tahun 2007 sebesar 631 orang baik untuk sekolah negeri maupun swasta. . kondisi ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006. Transmigrasi Salah satu usaha memperluas kesempatan kerja adalah melalui program transmigrasi selain untuk pemerataan penduduk. Sedangkan metode alat kontrasepsi yang banyak digunakan untuk peserta KB baik aktif atau baru adalah suntik. terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7-24 tahun). g. Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Sumber Daya Manusia sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan. e. f.510 orang mengalami penurunan sebesar 1.921 orang. Pada tahun 2007 jumlah transmigran yang berangkat dari Kabupaten Klaten sebesar 8 KK.62 % dibandingkan dengan tahun 2006.

000 sampai 8. 0271-712023 . utamanya organisasi keagamaan. 0271-710843 Jl Gremet 38 SOLO 57139 0271-718698 Jl Tulang Bawang Utr 41 RT 006/06 SOLO 57136 Telp. 0271-744152 Panti Asuhan Pamardi Yoga Jl Gajah Mada 119 RT 002/03 SOLO 57132 Telp. 0271-2506767 Panti Asuhan Mardhatilah Jl Sawo 27-B RT 001/04 SOLO 57163 Telp. diselenggarakan oleh masyarakat. Panti asuhan harus mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang memerlukan pengasuhan alternatif dengan profesionalitas dan pengasuhan yang berkualitas.d 8. 0271-715805 Panti Sosial Karya Wanita Jl Dr Rajiman 624 SOLO 57146 Utama Telp. Persoalan di Indonesia terlihat dari jumlah pengasuh di panti asuhan anak masih sangat minim.000 yang mengasuh sampai setengah juta anak. ini yang kemungkinan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia.16 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta No Nama Panti Asuhan 1 Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah 2 Panti Asuhan Yatim Putri Aisiyah 3 Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah 4 Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Nurhidayah 5 Panti Asuhan Hosana 6 7 8 9 10 Alamat Jl Brigjen Slamet Riyadi 441 SOLO 57146 Telp. Kondisi itu membuat anak asuh di banyak panti asuhan di Tanah Air tidak terperhatikan.000 s. Tabel 4.60 B. 0271-713260 Panti Asuhan Pintu Jl Dr Cipto Mangunkusumo 37 SOLO Pengharapan 57139 Telp. 0271-742485 Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 SOLO 57143 Telp.000. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah. 0271-733152 Jl Dipati Ukur 120 SOLO 40132 Telp. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Jumlah panti asuhan di seluruh Indonesia diperkirakan antara 5. Lebih dari 99% panti asuhan di Indonesia. 0271-713304 Panti Jompo Aisiyah Jl Pajajaran Utr III 7 SOLO 57138 Telp. yang jumlahnya diperkirakan antara 5.

60 Gayamprit. Dahlia No.17 Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten No Nama Panti Asuhan 1 PA Muhammadiyah Juwiring 2 3 4 5 6 7 8 PA Pakarti Murni PA Putri Aisyah PA Yatim Putra Muhammadiyah PA Muhammadiyah Wonosari PA Al Munir PA Baiturrachman YPBT Siwi Mekar Alamat Jumlah Anak Tanon RT 02/RW 08 20 Kenaiban. 0271 654526. Bibis Wetan Rt. 0271-621044 Yayasan Panti Asuhan Anak Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 Yatim Nurhidayah SOLO 57143 Telp. Di Kota Surakarta terdapat 14 panti asuhan anak yatim piatu (Tabel 4. 0271-733152 PA Anak Misi Nusantara Jl.16). 04 / RW XX Gilingan Banjar Sari Solo Telp. 42 Gumul Karangnongko Jl. 8 52 Ngreden. Ceper. Tabel 4. Sedangkan Kabupaten Klaten memiliki 14 panti asuhan yang semuanya milik swasta (Tabel 4. 654558 14 Sumber: Departemen Sosial Jumlah panti asuhan di Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 440 yang terbagi menjadi 28 panti asuhan milik pemerintah dan 412 milik swasta. 4 60 Jl. Angsana Trunuh.61 11 12 13 Panti Tuna Netra & Tuna Jl Dr Rajiman 622 SOLO 57146 Rungu Wicara Bhakti Telp. 0271-716985 Chandrasa Surakarta Panti Werda Asih Jl Kencur 21 SOLO 57146 Telp.17). Wonosari 15 Pantisari RT 16/03 35 Gumul Karangnongko Sabrangan RT 20/8. Ngawen 15 Jl. 25 Klaten Selatan 9 10 11 PA Darul Hadlonah PA Y Putri Aisyiah Ngawen YAAT (SLB A) Trunuh . Sindoro 14 B. Klaten 23 Kwaren. Klaten Selatan Batur. Wonosari 30 Jl. Juwiring Ngreden. Cemara No.

Beskalan Surakarta.62 Bendogantungan. Pada masa perjuangan tahun 1948-1950 Panti ini dipindah ke Pangkalpuluhan di Kelurahan Gajahan. Sumberejo. I a Cawas 14 Yayasan Bina Taruna Jl. Sekarang tempat tersebut menjadi lapangan sepak bola yang dikenal dengan lapangan Kota Barat. Panti Asuhan di Kota Surakarta 1. Klaten Selatan 13 Yayasan Panca Bhakti Mulia Jl. 02/02 Jln. 1. Merapi No. kemudian dipindahkan lagi ke Kp. Hal ini menandakan masih lemahnya kesadaran setiap yayasan yang membuka panti asuhan untuk mendaftarkan diri. Barukan. Gajah Mada No. Manisrenggo KM2 Temurejo. 19 telp. Madyotaman Kel. Manisrenggo Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Klaten 12 Yayasan Shanti Yoga 31 35 25 Jumlah panti asuhan yang ada di Kabupaten Klaten ini sebenarnya lebih dari 14 panti asuhan tetapi sebagian besar dari mereka tidak secara resmi mendaftar kepada Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Hanya 14 panti asuhan yang terdaftar secara resmi. Punggawan Rt. Dan sedangkan pada tahun 1960 diadakan perubahan nama yaitu Pendidikan Pamardi Yoga menjadi Panti Asuhan Pamardi Yoga sampai sekarang. Pada tahun 1953 sampai sekarang ini Panti ini menempati tanah dan bangunan di Kp. (0271) 713260 Surakarta. . Gading dan pada tahun 1952 di pindahkan ke Kp. Data ini diperlukan bagi pengembangan dan pengawasan jalannya panti asuhan yang ada untuk menghindari penyimpangan fungsi panti asuhan.1 Panti Asuhan Pamardi Yoga Panti Asuhan Pamardi Yoga berdiri pada tahun 1947 yang dahulu namanya adalah Panti Pendidikan Pamardi Yoga bertempat di Mangkubumen Kota Surakarta.

Ada syarat atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang anak atau orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepada Panti Asuhan Pamardi Yoga ini. Untuk dapat masuk ke Panti Asuhan Pamardi Yoga ini tidak bisa langsung diterima begitu saja. Foto copy surat kelahiran b. Tujuan didirikannya Panti Asuhan Pamardi Yoga ini adalah untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial berdasar profesi Pekerjaan Sosial kepada anak asuh agar dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani. Selanjutnya dirubah atau disempurnakan dengan Keputusan Walikota Surakarta No. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain yaitu: a. status Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. anak yatim piatu. anak dari keluarga tidak mampu dan anak dari keluarga yang tidak jelas status orang tuanya. Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Surakarta. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah diketahui Camat . Untuk sasaran dari Panti Asuhan Pamardi Yoga sendiri yaitu anak-anak yang menyandang masalah kesejahteraan sosial yang terdiri dari anak yatim. maka Panti Asuhan Pamardi Yoga berstatus menjadi UPDT Dinas Kesra PP dan KB Kota Surakarta. rohani maupun sosial dan memberikan asuhan dan bimbingan kearah pengembangan pribadi dan potensi agar kelak menjadi orang yang mampu hidup layak. anak piatu. Pada tahun 2001 dengan berlakunya otonomi daerah melalui Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 27 tahun 2001 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra Pemberdayaan Perempuan Kota Surakarta. 12 tahun 2004 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra.63 Sejak berdiri hingga tahun 2001. dengan sumber dana yang berasal dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. anak dari keluarga broken home.

Sumbawa. Aceh. Panti asuhan ini banyak menampung anak-anak dari daerah Pulau Nias. Surat berbadan sehat dari dokter f. NTT. Biak. Maluku. Irian. Tujuan didirikannya panti asuhan ini sebagai bagian dari tubuh Kristus yang mengambil beban untuk melayani serta menjangkau daerah yang terpencil dan suku terasing. Mentawai. Foto copy raport terakhir h. Karena banyaknya anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dan yatim piatu dari luar pulau dan daerah yang terpencil di Indonesia. dengan sendirinya dapat melihat secara langsung kehidupan anak-anak desa yang memerlukan pertolongan. Lombok.64 c. Hal ini didasarkan pada Firman Tuhan yang berkata: ”Bapa bagi anak yatim” (Mazmur 68:6). Syarat-syarat tersebut digunakan sebagai bahan dokumentasi tentang identitas anak sehingga profil anak yang tinggal di panti ini dapat teridentifikasi dengan baik. 1. Surat pernyataan orang tua yang isinya menyetujui anaknya masuk Panti Asuhan dan bersedia menerima kembali setelah pengasuhan (Lulus SLTA) dan diketahui Lurah atau Kepala Desa d. Surat keterangan pindah penduduk dari kelurahan. Dalam memberikan pelayanan ini. ”Kepadamulah orang lemah menyerahkan diri untuk anak yatim engkau menjadi penolong" (Mazmur 10:14) . Surat keterangan pindah dari sekolah (bagi yang pindah) i. NTB. Foto copy surat kelakuan baik g. Sumatera Utara. Bali. Surat pernyataan anak yang isinya sanggup mentaati semua peraturan di panti e. Timor. Flores. Sulawesi dan Kalimantan. Foto ukuran 3 x 4 (4 lembar) j.2 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Panti asuhan ini didirikan oleh Pendeta Sadrach pada tahun 1971.

menuai jiwa di desa. Meskipun begitu. Kebanyakan dari mereka tinggal di dalam panti asuhan sampai mereka lulus SMU. Biasanya . Kedua. anak-anak panti asuhan ini tidak dibatasi sampai kapan mereka akan tinggal. Allah sangat peduli dengan anak yatim piatu dan anak miskin. kaum bangsa (Lukas 10:2. maka Anak Misi Nusantara ini merupakan bagian kecil dari gerakan anak-anak asuh. sehingga misi Kristen juga bisa menjangkau mereka yang miskin. Ada dua hal yang menjadi latar belakang berdirinya Panti Asuhan ini. setelah anak-anak selesai mengikuti pendidikan formal dan Sekolah Pelayanan Injil (SPI) maka anak-anak dikembalikan ke daerah mereka masing-masing dengan modal ilmu dan iman yang kuat serta penuh dengan kuasa Tuhan. selain untuk menjalankan Firman Tuhan yang telah disebutkan di atas. agar anak-anak bebas mengenyam pendidikan dan merupakan program pengentasan kemiskinan. sebab mereka dididik keagamaan yang kuat dan dibentuk sedini mungkin untuk menjadi misi Kristen yang kuat sehingga dapat memenangkan banyak jiwa untuk Yesus Kristus. menjadi terang. sehingga akan terjadi perkara-perkara besar di daerah mereka. Oleh karena itu panti asuhan ini diberi nama "Anak Misi Nusantara". suku. kalau pemerintah mengadakan pergerakan anak asuh. Anak Misi Nusantara mempunyai keistimewaan khusus.65 ”Ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan Allah Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dalam kesusahan mereka. Pertama. dan mereka akan pulang ke kampung halamannya atau kepada orang tuanya. banyak jiwa dimenangkan untuk Tuhan Yesus Kristus. menampung mereka yang berada di daerah terpencil dan suku-suku terasing di Indonesia. dan menjaga dirinya sendiri supaya tidak dicemarkan oleh dunia "(Yacobus 1:27). Yohanes 4 :36-38).

Akan tetapi karena selama bertahun-tahun tidak ada anak yang mau tinggal maka mengggunakan sistem non panti.66 mereka akan mencari kerja dikampung halamannya. Najibatun Sowam. Dasar utama yang menjadi landasan berdirinya griya asuh ini adalah ajaran agama yang menganjurkan untuk memelihara anak yatim dan menyantuni orang miskin. Pada awalnya dibangun gedung yang dikhususkan untuk anakanak griya asuh. Najibatun Sowam adalah pribadi yang sangat sederhana. Baru pada tahun 2007 mulai ada 9 anak yang mau tinggal dipanti dan terus bertambah hingga saat ini mencapai 61 anak. Dan disamping itu juga memiliki . Pihak panti sudah menyampaikan kepada anak-anak yang tinggal didalam panti tersebut. mungkin karena bencana atau memang sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Sosok Hj. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Panti Asuhan Darul Hadlonah Panti asuhan ini disebut dengan Griya Asuh Darul Hadlonah yang mulai dirintis pada tahun 1980an oleh Hj. 2. Sebelum didirikan griya asuh dirumah beliau selalu ada anak yatim yang di asuh. Namun ada juga beberapa yang sudah tidak mengenal orang tuanya. meskipun beliau termasuk orang yang kaya raya tetapi dalam penampilannya sangat sederhana dan dalam pergaulan tidak memandang status sosial. bahwa mereka diperbolehkan untuk tinggal sampai kapanpun didalam panti asuhan tersebut dengan kegiatan yang tidak berbeda dengan waktu dia masih sekolah. Kemudian oleh menantu Hj. Sowam didirikan lembaga pendidikan yakni TKIT dan SDIT. Awal berdirinya panti asuhan ini karena keprihatinannnya melihat kondisi anak-anak yang ada didaerah pedesaan yang secara ekonomi mauapun kehidupan sosialnya masih dibawah garis kemiskinan. dan setelah lulus SMU mereka tetap tinggal dipanti untuk membantu mengurus panti.

d. kesehatan dan lingkungan hidup c. Menggalang dan mengerakkan potensi perempuan Indonesia dalam mewujudkan wadah pelayanan di bidang sosial. Menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi. Hal tersebut dilakukan karena Panti Asuhan Darul Hadlonah belum memiliki kamar-kamar khusus untuk putra. Kerja sama antara Panti Asuhan Darul Hadlonah dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam berada dalam wadah yang bernama Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU ( YKM NU) atau yang lebih sering disebut sebagai Griya Asuh. karena di tinggal orang tua merantau dan hanya ikut dengan kakek/neneknya.67 tujaun untuk menyelamatkan ahklak anak-anak yatim tersebut. Adapun visi ini didukung dengan misi sebagai berikut: a. Akan tetapi meski anak itu masih memiliki orang tua secara ilmu agama orang tuanya tidak mempunyai pengertian yang cukup untuk mengajarkan anaknya tentang agama maka anak itu sudah terkategori yatim. Dan juga anakanak yang secara ekonomi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya. Dan juga anak-anak yang terlantar. Meningkatkan kualitas sumber daya insan. b. Karena yang dimaksud yatim disini bukan pengertian yatim secara harfiah yakni anak yang bapak/ibunya sudah meninggal. Visi dari panti asuhan ini adalah menyantuni dan memelihara anak-anak yatim/piatu/yatim piatu dan tidak mampu baik melalui panti maupun non panti. Panti Asuhan Darul Hadlonah bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam yang berada tidak jauh dari panti asuhan. . Meningkatkan kualitas sumber daya perempuan Indonesia dalam bidang sosial/lingkungan hidup dan kesehatan/KB. khususnya generasi muda dalam pembangunan bangsa dan negara. lembaga dalam maupun luar negeri dalam melaksanakan program-programnya. Kerja sama yang dilakukan yaitu berupa penempatan anak asuh putra untuk tinggal di Pondok Pesantren Mambaul Hikam.

Jadi model pembelajaran lebih ke model pembelajaran pesantren. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi karena untuk pendidikan/pengetahuan umum anak-anak sudah mendapatkan dari sekolah pagi. Untuk pendanaan griya asuh ini pada awalnya dana pribadi yang digunakan akan tetapi seiring bertambahnya jumlah anak yang ada maka untuk pendanaan juga mulai membuka untuk pribadi atau lembaga yang ingin menginfakkan ataupun untuk menshodaqohkan hartanya kepada griya asuh. Sapaan yang hangat dengan bahasa yang santun itulah pertama kali yang kami rasa saat pertama tiba di griya asuh ini. pembuatan berbagai macam perhiasan dari manik-manik. Hubungan antara anak griya dengan pengasuh dan pengurus juga terlihat akrab. Di Griya Asuh ini juga diberikan beberapa pelajaran keterampilan seperti pembuatan telur asin.68 Sistem pendidikan yang dilakukan di Griya Asuh ini lebih menekankan pada pendidikan akhlak dan juga moral agama. pelajaran bahasa Inggris dan MIPA. Di griya asuh ini juga mendatangkan guru-guru dari luar untuk beberapa mata pelajaran umum yang disana banyak anak griya asuh yang kesulitan seperti. Secara pribadi ada beberapa nama tetapi . Ada juga kolam tempat pemeliharaan ikan lele dan rumah tanaman. pembuatan keset dari kain. Akan tetapi meski sangat dekat rasa hormat yang tinggi juga terlihat jelas dari anak-anak kepada para pengurus dan pengasuh. Pelajaran olahraga juga diberikan di griya asuh ini. Serta penghormatan mereka terhadap tamu juga sangat baik. setiap hari Minggu ada guru olah raga yang datang ke griya asuh untuk mengajar senam. Dengan harapan apabila anak-anak ini telah keluar dari griya asuh ini tidak hanya mempunyai bekal ilmu umum dari bangku sekolah akan tetapi memiliki ahklak yang baik dan juga memiliki skill yang dapat digunakan untuk bekal hidup selanjutnya. dan juga olah raga yang lain. Tidak ada jarak yang terlihat dalam interaksi antara pengurus dengan anak-anak griya asuh.

YPBT sering mengalami perpindahan lokasi dalam perjalanannya. Pemrakarsanya adalah Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Klaten. mushola dilantai dua. Perkembangan anak secara umum banyak perubahan baik secara fisik maupun tingkah laku. Sepeninggal Dr. Pertama kali YPBT berlokasi di RSUP Klaten.Soeradji. YPBT berlokasi di jalan Pemuda. untuk yang SMA berada dalam satu kamar. SD dan TK menjadi satu kamar. Meski dana pribadi dari keluarga almarhumah ibu Hj.sedangkan secara lembaga dengan Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Sebelum di Gayamprit. untuk yang SMP. lokasi YPBT berpindah lagi ke kantor veteran dan dikelola oleh istri-istri veteran. ruang makan sendiri. Kondisi gedung sarana dan prasarana di griya asuh ini bisa dibilang bagus. Sarana olah raga ada lapangan voli dan lapangan badminton. Dr. Sowam juga masih terus. dapur.Soeradji. kamar tidur dua ruangan.69 hanya pengurus yang tahu karena memang tidak ingin dipublikasikan. Panti Asuhan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Panti Asuhan YPBT didirikan pada tahun 1959.Soeradji dan rekan memindahkan lokasi YPBT ke kediaman Dr. Yang semula kurus-kurus sekarang badannya mulai berisi dan banyak juga perubahan sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut. Hal ini tidak hanya sekedar cerita pengurus tetapi juga cerita dari anak-anak griya asuh sendiri dan dari pengasuh juga. Namun pertimbangan banyaknya orang sakit di RSUP membuat Dr. Untuk kamar mandi ada 6 kamar mandi dan masih ada perencanaan untuk penambahan kamar mandi. Untuk kesenian griya asuh ini memiliki rebana. kediaman Ibu Hadi Sanyoto dan . Soeradji Tirtonegoro. Beliau bersama dokter-dokter yang lain (Ikatan Dokter Klaten) kemudian mendirikan YPBT karena sering mendapat keluhan dari masyarakat.

memiliki atap namun terbuka d. 1 untuk Siti (anak yang mengalami cacat mental.58 dan TPA Siwi Mekar Nomor 24. Gudang . Ruang ganti baju dan meletakkan peralatan sekolah (jadi satu dengan ruang tidur anak / bayi) k. Ruang TV (menjadi satu dengan teras serbaguna) g. Tempat cuci piring dan menjemur pakaian di sebelah kiri bagian depan YPBT e. Akte Notaris YPBT Nomor 46. 4 kamar mandi (1 untuk Ibu Panti. YPBT juga mengelola Tempat Penitipan Anak (TPA) Siwi Mekar. 1 untuk anak Ibu Panti. WC berupa lantai kamar mandi yang dilubangi dan ditutupi kayu (langsung terhubung ke saluran pembuangan/ tidak ada WC model jongkok seperti yang ada di rumah-rumah) l. YPBT dan TPA Siwi Mekar memiliki ijin usaha. YPBT berpindah lokasi di Jalan Sindoro 14B Gayamprit. Garasi. YPBT memiliki luas bangunan sekitar 290 m2 yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan sebagai berikut: a. di sebelah kanan bagian depan YPBT.55. dan 1 kamar mandi untuk semua anak / bayi serta pengasuh dan tamu). Klaten Selatan. Dapur. Taman bermain kecil setelah masuk gerbang b. bermain f. Teras serbaguna yang digunakan untuk belajar. Ruang tidur anak / bayi dan pengasuh YPBT (di dalam ruangan ini terdapat 1 tempat tidur yang digunakan oleh anak Ibu Panti.70 sejak tahun 2004. Selain mengelola Panti Asuhan. Ruang tamu dan kantor h. sementara anak / bayi tidur di atas busa di lantai) j. Ruang tidur ibu Panti i. makan. setelah masuk gerbang (di samping taman bermain) c.

wali. Ada yang karena “korban kampus”. Menurut penuturan Ibu Panti. Meskipun begitu tidak semua pihak penyerah bayi membayar biaya penitipan. namun setelah 1 tahun yang lalu dapur pindah ke bawah sehingga ruangan atas tidak digunakan atau sebagai gudang) n. Karena jika ada syarat. yang ibunya TKW. atau bayi hasil temuan oleh masyarakat yang oleh polisi atau Dinsos diserahkan ke YPBT. Ada juga yang datang setahun sekali . kebanyakan anakanak di sini bukan yatim piatu (tidak benar-benar tidak memiliki ayah atau ibu). Tapi ada juga yang menitipkan anaknya di sini karena keharusan bekerja sehingga tidak bisa merawat anaknya. Pada awal bayi dititipkan. Beberapa alasan mendasari anak-anak ini berada di sini.namun ditelantarkan atau tidak diakui. Biaya biasanya per bulan. Ada yang hanya membayar pada awalnya lalu tidak datang lagi untuk membayar biaya penitipan maupun menengok anaknya. Namun pihak panti tetap meminta identitas pihak yang menyerahkan bayi tersebut ke Panti. untuk menjemur pakaian o. tidak direstui orang tuanya.71 m. Beranda lantai 2. rata-rata saat mereka berusia 3 hari. pihak panti dan pihak penyerah bayi (orang tua. Misal ibu yang tidak mempunyai suami harus bekerja sehingga menitipkan anaknya di panti YPBT. Sebagian besar kasus. Tidak ada syarat (tidak harus yatim piatu) yang diberlakukan di Panti ini dalam penerimaan bayi. Semisal jika terjadi adopsi pihak Panti memerlukan ijin pihak bayi untuk menyerahkan kepada pihak pengadopsi. Pada dasarnya YPBT adalah tempat penitipan bayi. sebenarnya mereka memiliki ayah atau ibu. kemungkinan bayi-bayi ini akan terlantar. Ruangan lantai atas (dulunya digunakan sebagai dapur. ibu Sri Rejeki. Tidak ada ruangan khusus untuk sholat Sebagian besar anak-anak yang berada di Panti Asuhan YPBT diserahkan ke panti ini saat mereka masih bayi. Dinas Sosial) sudah melakukan perjanjian mengenai biaya penitipan.

Penyerahan bayi dari Dinas Sosial.72 (pembayaran dirapel). beda perlakuan!”. diserahkan ke YPBT waktu pagi dan diambil orang tuanya sore atau malam harinya. prospek masa depan untuk bayi yang akan diadopsi. Panti asuhan dan dinDinas Sosial melakukan survei pada pihak yang akan mengadopsi (apa pekerjaannya. Namun tidak semua bayi bisa diadopsi. namun ada pula yang tidak. bagaimana kondisi ekonominya. Sidang adopsi di pengadilan g. Ada bayi yang menggunakan pampers. YPBT mengijinkan adanya adopsi. “beda bayaran. membayar biaya penitipan anaknya dan sekalian menengok anaknya / bayi yang dititipkannya di YPBT. yang tidak ada identitas orang tuanya. panti menghubungi Notaris YPBT f. Panti asuhan memilih bayi yang diijinkan untuk diadopsi c. dan lain-lain) e. Bayi atau anak yang dititipkan di Panti Asuhan tinggal atau tidur di YPBT sedangkan bayi atau anak yang dititipkan di TPA. Kepolisian. Menurut pengasuh. Menyampaikan pada panti keinginan untuk adopsi bayi b. Tapi tidak menutup kemungkinan. Saat ini terdapat sekitar 30 anak yang diasuh di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. Pelayanan yang diberikan kepada bayi atau anak tergantung pada besarnya biaya yang dibayarkan ke YPBT. . bayi yang diadopsi memiliki orang tua. Jika syarat memenuhi. Biasanya bayi yang diadopsi adalah bayi yang dibuang. Prosedur adopsi: a. pihak panti asuhan tidak melakukan kontrol terhadap bayi yang diadopsi) Panti asuhan dan TPA dibedakan dari lama penitipannya. atau orang tua bayi (setelah diserahkan ke pihak pengadopsi. Kebanyakan berusia antara 3-12 tahun. Jika bayi ada. Bagi bayi atau anak yang dititipkan di TPA. biaya biasanya per hari dan berbeda-beda. panti asuhan menghubungi pihak yang akan mengadopsi d.

Arafig. Agus Santoso (9 tahun). Ardianto Eko Nogroho (8 tahun). Tidak boleh membawa sepeda sendiri Rata-rata pengasuh di panti asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar berusia di atas 30 tahun. Tugas pengasuh di YPBT dan TPA adalah mengasuh bayi dan anak. Mereka bekerja di YPBT tanpa wawancara. Tidak boleh keluar /pergi tanpa ijin c. Neyla C. Anak YPBT yang menginap di YPBT yaitu Stella Vinona Aipasha (12 tahun). Neyla B. kebanyakan bekerja karena diminta oleh pihak YPBT (oleh Ibu Panti). Tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor e. Tidak boleh berkelahi f. Semuanya bertempat tinggal di Klaten. Desi Rahmalia (SMA). Tidak ada pembagian tugas yang spesifik untuk pengasuh. memasak. Florentin (11 tahun). dan mengepel. menyapu. Fasha (5 tahun). Agus Salim. 3 di antaranya adalah laki-laki. Kukuh Adi Nugroho (11 tahun). Tidak boleh main jauh-jauh dan terlalu lama b. Anis Novita Sari (10 tahun). mencuci baju dan piring. Kurniady Ary P (11 tahun) dan Reza (batita). Satu pengasuh untuk banyak pekerjaan. Ada yang sama sekali belum mengenyam pendidikan dan jenjang pendidikan tertinggi adalah SLTA. Terdapat 10 pengasuh yang bekerja di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar.73 beberapa berusia di bawah 3 tahun dan di atas 12 tahun. Risky Arta Novita Ayu P (14 tahun). Peraturan lebih seperti norma kesopanan : a. Anik (bayi). Ratna Dewi Safitri (11 tahun). Tidak boleh membawa handphone g. Jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. Jidane (1 tahun). Neyla A (5 tahun). Nur Wahyu Ardianto (8 tahun). Ada juga anak yang dititipkan di YPBT tapi tidak menginap seperti Rio (2 . Wajib menghormati orang yang lebih tua d. Farah Sabina (9 tahun). Tidak ada peraturan khusus (tertulis) yang diberlakukan di YPBT.

Pesantren pada masa ini ada yang memiliki kekhususan tertentu yang membuatnya berbeda dengan pesantren lainnya. Monika (8 tahun). Anakanak di YPBT biasa disuruh oleh mbak pengasuh untuk membantu pekerjaan mbak pengasuh. jualan jajanan dan sayur matang). C. namun sudah 1 bulan ini tidak dijalankan oleh anakanak Panti. Ada kegiatan mengaji Al Qur’an dengan mendatangkan guru ngaji (2 orang) dari Damaran setiap hari Jum’at dan Minggu sore jam 3. dan hasil penjualan dari usaha (gas. Kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di YPBT seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya seperti bermain dan belajar. bayi yang tidak diketahui namanya oleh Ibu panti maupun mbak pengasuh. ilmu . sehingga terbentuk watak bangsa yang membuat kehidupan bangsa Indonesia menjadi semakin baik. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Pondok pesantren merupakan lembaga Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam. Oleh karena itu. ilmu tafsir. Tifa (5 tahun). Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan keagamaan. Sumber dana tidak rutin berasal dari donatur dan dermawan baik individu maupun kelompok. pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Sebenarnya ada jadwal piket yang dibuat oleh ibu Panti bagi anak-anak. Arif (8 tahun). ilmu-ilmu bahasa Arab.74 tahun). subsidi pemerintah. susu. seperti menyapu. galon air mineral. pondok pesantren dan madrasah diminta untuk terus meningkatkan metodologi kepengasuhannya. tas). membuang sampah. Sumber dana rutin berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta. Ada yang khusus mengajarkan disiplin ilmu hadis dan fikih. memasak. Pakaian yang dipakai anak-anak panti adalah pemberian donatur. biasanya karena kekhususan disiplin ilmu yang diajarkan oleh kyainya. yang memberi bantuan baik berupa uang atau barang (seperti beras. mie.

ashriyah maupun kombinasi dari keduanya. Dengan sistem madrasah. berakhlak mulia. sehingga ijazah tidak terlalu dipentingkan dan waktu belajarnya juga tidak dibatasi. Saat ini jumlah pondok pesantren di Jawa Tengah berjumlah 2. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.574 yang tersebar di Kabupaten/Kota dengan berbagai tipe baik salafiyah. . Adapun penyebaran pondok pesantren tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. dan lain-lain. pesantren juga mengalami perubahan dalam segi kurikulum dengan ditambahkannya sejumlah pelajaran nonagama.16%) yang tersebar di 14 kecamatan.19 (Kabupaten Klaten).69%) yang tersebar di 5 kecamatan dan di Kabupaten Klaten berjumlah 30 (1.75 tasawuf. Dari jumlah tersebut. mempunyai integritas pribadi yang kukuh. pondok pesantren yang ada di Kota Solo berjumlah 18 (0. dan mempunyai kualitas intelektual. Perubahan penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan pesantren ialah ketika dimasukkannya sistem madrasah. mandiri. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. walaupun pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan metode sorogan dan wetonan tetap dipertahankan. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. Hal ini dianggap sebagai imbangan terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai sistem pendidikan Barat.18 (Kota Surakarta) dan Tabel 4. Di samping itu. pesantren mencapai banyak kemajuan yang terlihat dari bertambahnya jumlah pesantren.

76

Tabel 4.18 Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Tipe Jumlah Santri L P 290 280 4 18 35 21 248 267 120 30 25 67 40 249 55 45 55 40 87 186 65 113 37 43 117 114 116 118

1 PP. Al Muayyad 2 PP. Al Qur'an 3 PP. Darussholihin 4 PP. Muttaqien 5 PP. Nurus Salman 6 PP. Ta'mirul Islam 7 PP. Al Ma'hadu Islami Jamsaren 8 PP. Darud Dzikri 9 PP. Suryani 10 PP. MTA 11 PP. Tahfidz Wata'limil Qur'an 12 PP. Ar Royan 13 PP. Hidayatullah Al Kahfi 14 PP. Hidayatullah Solo Utara 15 PP. Terbuka Al Ahad 16 PP. Al Abidin 17 PP. Budi Utomo 18 PP. Hadil Iman Sumber: Departemen Agama

Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Kombinasi Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Ashriyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Pasar Kliwon Ashriyah Pasar Kliwon Kombinasi Jebres Salafiyah Jebres Salafiyah Jebres Ashriyah Jebres Salafiyah Banjarsari Ashriyah Banjarsari Salafiyah Banjarsari Salafiyah

Pesantren-pesantren tersebut dapat dikategorikan dalam tiga model. Pertama, model pesantren tradisional yang masih mempertahankan sistem salafiyahnya dan menolak intervensi kurikulum dunia luar. Kedua, model pesantren yang sudah lebur dengan modernisasi. Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan adapula kurikulum umum. Tetapi pada

perkembangannya, karakteristik kepesantrenannya hilang begitu saja dan hanya mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Ketiga, model pesantren yang mengikuti proses perubahan modernitas, tanpa menghilangkan sistem kurikulum lama yang salafi.

77

Tabel 4.19 Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Prambanan Gantiwarno Wedi Wedi Trucuk Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Karangnongko Karangnongko Ceper Ceper Ceper Ceper Juwiring Juwiring Wonosari Wonosari Wonosari Wonosari Karanganom Karanganom Tulung Tulung Jatinom Jatinom Jatinom Kemalang Klaten Utara Klaten Utara Tipe Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Ashriyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Kombinasi Kombinasi Jumlah Santri L P 35 12 25 12 7 1 68 89 63 72 29 34 30 23 58 24 4.200 3.061 54 50 47 30 2 19 50 30 93 54 8 18 70 30 60 100 102 70 86 150 60 93 4 15 127 30 24 38 24 18 10 15 55 60 85 54 69 96

1 PP. Arruum Widodo 2 PP. Candi Barokah 3 PP. Darul Muhibbin 4 PP. Sunan Kali Jaga 5 PP. Ta'limul Qur'an 6 PP. Al Madinah 7 PP. Hidayatul Qur'an 8 PP. Al Munir 9 PP. Darul Qur'an 10 PP. Hudallah 11 PP. Jeblogan Bambu Atiq 12 PP. Mambaul Hikam 13 PP. Nurudh Dholam 14 PP. Sendang Sinongko 15 PP. Al Fattah 16 PP. Daar Al Muttaqin 17 PP. Abdurrahman Bin Auf 18 PP. Al Barokah 19 PP. Al Manshur 20 PP. Al Qur'an YAPI 21 PP. Karanganom 22 PP. Roudlotuzzahidin 23 PP. Ar Ridwan 24 PP. Ageng Selo 25 PP. Al Manshurin 26 PP. Raudhatun Nasyi'in 27 PP. Syafaatur Rosul 28 PP. Fathul Huda 29 PP. Al Urwatul Wutsqa 30 PP. Syarifudin Sumber: Departemen Agama

78

Berdasarkan pada observasi, pondok pesantren yang tersebar di Kota Solo dan Kabupaten Klaten tidak semuanya menggunakan sistem madrasah (memberlakukan sekolah formal di dalam pondok pesantren). Ada beberapa pondok pesantren yang dijadikan tempat untuk

memperdalam ilmu agama Islam dan untuk menempuh pendidikan formal, mereka masuk ke sekolah-sekolah umum. Pondok pesantren yang berkembang tetap mencirikan pada konsep kesederhanaan, keikhlasan serta kepatuhan terhadap sebagai pimpinan

pondok pesantren. Hal ini terungkap dari persepsi para pengurus pondok pesantren terhadap sosok ideal seorang santri yaitu patuh, penurut, dan memiliki kepribadian yang Islami. Untuk lebih jelasnya tentang profil pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini.

1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad Pondok pesantren ini terletak di pusat Kota Surakarta tepatnya Jalan KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan. Pondok Pesantren AlMuayyad dirintis mulai tahun 1930 oleh KH. Abdul Mannan di atas tanah seluas 3.500 m2 yang dijariyahkan oleh KH. Ahmad Shofawi di Kampung Mangkuyudan Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pada perkembangannya luas lahan yang dipunyai Al Muayyad menjadi 3.650 m2, tetapi luas tanah ini sudah tidak memadai lagi untuk mewadahi perkembangan jumlah santri dan satuan pendidikan yang dirintis karena sangat penting bagi Al Muayyad untuk terus mengembangkan diri seiring dengan perkembangan zaman. Pada mulanya Al-Muayyad merupakan pondok pesantren yang bercorak tashawwuf, dalam arti pesantren dengan kegiatan utama latihan pengamalan syari’at Islam dan belum melakukan pendalaman ilmu-ilmu agama secara teratur. Titik beratnya melatih para santri

79

dengan perilaku keagamaan. Pengajian yang diselenggarakan berkisar pada ajaran akhlak. Pada tahun 1939 didirikan Madrasah Diniyah untuk lebih menertibkan proses belajar mengajar ilmu-ilmu agama yang banyak menggunakan rujukan kitab kuning. Meskipun beberapa

madrasah/sekolah menyusul didirikan di lingkungan Al-Muayyad, namun oleh masyarakat Pondok Pesantren Al-Muayyad lebih dikenal sebagai pondok Al-Qur’an. Hal ini dimungkinkan karena pengajian Al-Qur’an menjadi inti pengajaran hingga saat ini. Selain itu KH. Ahmad Umar sendiri dikenal sebagai seorang kyai yang ahli dalam bidang Al-Qur’an dengan sanad (silsilah ilmu) dari KHR. Moehammad Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Nama Al-Muayyad diberikan oleh seorang ulama besar KHM. Manshur. Beliau seorang mursyid thariqah Naqsyabandiyah yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Semula nama Al-Muayyad diperuntukkan bagi nama masjid di komplek pondok. Namun nama ini kemudian digunakan untuk menamai setiap lembaga dan badan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dengan nama tersebut, yang berarti dikuatkan, para ber-tafa’ul (berharap) agar pesantren ini menjadi besar dengan dukungan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinan KH Ahmad Umar Abdul Mannan membentuk Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah/madrasah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan Pekan Pembinaan Tunas Ahlussunnah wal Jama’ah (PEPTA). Saat itu pulalah Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah Ma’ahid AlIslamiyyah (RMI/Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal 21 Dzul-Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M.

sehingga pembagian kewenangan.80 Yayasan yang menjadi tulang punggung manajemen pesantren diaktifkan. karena pesantren sesungguhnya milik masyarakat. Lembaga Pengajaran yang mencerdaskan para santri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. khususnya di bidang pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan nasional. Secara singkat tahap-tahap perkembangan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Tahun 1930 – 1937 Tahun 1937 – 1939 Tahun 1939 Tahun 1970 Tahun 1974 Tahun 1992 : Pengajian Tashawuf : Pengajian Al-Qur’an : Berdiri Madrasah Diniyah : Berdiri Madrasah Tsanawiyah dan SMP : Berdiri Madrasah Aliyah : Berdiri Sekolah Menengah Atas Madrasah Diniyah bersama-sama dengan pengajian Al-Qur’an dan sekolah serta kegiatan kepesantrenan lainnya menempatkan ALMuayyad dalam keaktifan meningkatkan mutu sumber daya manusia. secara khusus mengarahkan diri untuk berfungsi sebagai: a. tugas. . Sesuai dengan kemampuan dan pertimbangan situasional dewasa ini. dan tanggungjawab para pengelola bisa dibakukan. dan kebangsaan. b. c. Al-Muayyad secara umum berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fiddîn (pendalaman ilmu-ilmu agama). kemasyarakatan. Lembaga Dakwah yang menyebarluaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di masyarakat. Lembaga Pendidikan yang aktif menanamkan nilai-nilai keislaman. Dengan pola semacam itu Al-Muayyad berkeinginan mampu mewadahi dukungan masyarakat luas bagi penyiapan generasi muda dalam wadah pesantren dengan manajemen terbuka.

Memiliki kemampuan dasar untuk merumuskan dan menyampaikan gagasan dakwah Islamiyah. Pengasuh merupakan pemilik pondok. partisipasi. c. dan swadaya mereka sendiri. bendahara.81 d. Pengurus dibagi menjadi 2. BPPA dan Kamtib. e. sekretaris. Memiliki sikap mandiri dalam kehidupan sehari-hari. e. BPPA adalah Badang Pengawas Pengajian Al-Qur’an. f. . Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah menjadikan santri lulusannya: a. Tugas BPPA adalah membagi guru dan santri serta mengumpulkan buku ngaji yang berfungsi sebagai absensi. Pimpinan tertinggi adalah pengasuh (Pak Abdul Rozaq Shofawi). Lembaga Pelatihan yang membekali para santri dengan ketrampilan sebagai bekal hidup di kemudian hari. atas tanggung jawab dan keswadayaan mereka. Memiliki bekal ilmu dan pengetahuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Memiliki ilmu dasar mengenal Al-Qur’an dan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. menuju kehidupan yang lebih baik. Masing-masing pengurus terdiri dari ketua. Pengasuh menunjuk beberapa orang untuk menjadi pengurus. Lembaga Pengembangan Masyarakat yang mengentaskan/ mengemansipasikan santri dari kalangan tidak mampu untuk dibina. Memiliki kecakapan dasar untuk memimpin organisasi atas dasar inisiatif. d. Memiliki ketrampilan dasar pengamalan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. wali kamar. pengurus putra dan pengurus putri. Secara umum tujuan pendidikan Pondok Pesantren AlMuayyad adalah menanamkan dan meningkatkan rûh Islam dalam perikehidupan beragama secara perorangan maupun bermasyarakat berdasarkan keikhlasan beribadah serta pengamalan syari’at Islam secara murni. b.

Pengawas keamanan dan ketertiban yang bertugas mengawasi dan menertibkan santri dalam kegiatan pondok serta berwenang memberi sangsi kepada santri yang melakukan pelanggaran. Selain itu pada hari-hari tertentu. Di dalam PP Al Muayyad terdapat sie kesehatan yang bertugas menangani santri yang sakit. Kerajinan mengaji dijadikan syarat mengikuti tes. Ada juga sie Sarana dan Prasarana yang bertugas mengurusi kebutuhan pondok. santri memiliki jadwal rutin yang dimulai dari jam 4 pagi sampai 11 malam yang di isi dengan kegiatan beribadah. Saat ini PP Al Muayyad memiliki jumlah santri sebanyak 290 santri dan 280 santriwati yang duduk di bangku sekolah SMP. PP Al Muayyad menerbitkan buku kecil yang berisi peraturan yang ada di dalam ponpes. . Misal mengganti lampu putus. Bagi santri yang tidak memenuhi target minimal pengajian diberikan sanksi berupa tidak boleh mengikuti tes bersama santri yang memenuhi syarat. Teknis pemberian sanksi diatur oleh masing-masing sekolah/madrasah yang tidak menyimpang dari ketentuan dan kode etik pendidikan. santri diwajibkan melakukan ritual peribadatan yang telah dijadwalkan dan wajib diikuti oleh semua santri. jika ada dokter langsung ditangani dokter. Sedangkan wali kamar bertanggung jawab mengawasi santri menurut pembagian kamar. Satu wali kamar bertanggung jawab mengawasi 1 – 2 kamar. Untuk memudahkan sosialisasi peraturan tersebut. jika sakit biasa diberi obat / dirawat di klinik. Jika sakitnya parah langsung dibawa ke RS terdekat.82 Untuk ketertiban mengaji pondok menerbitkan buku absen mengaji yang setiap hari Kamis pagi dikumpulkan di Kantor Pondok untuk diperiksa. SMA dan MA. Setiap harinya. Hasil pemeriksaan absensi mengaji ditindaklanjuti dengan memberikan laporan kepada sekolah/ madrasah tempat siswa belajar di lingkungan Al-Muayyad dan memberikan pembinaan terhadap siswa yang kurang rajin.

sebagai senior (Mbak kamar). dan lain-lain. Lantai 4 untuk jemuran pakaian dalam. ada juga yang sebagian tembok kemudian sisi yang lain dibatasi almari karena di terletak di gang. Kondisi kamar lumayan semrawut. Pondok Putri Pondok putri ada 20 kamar. masing-masing dipakai ± 15 anak. Lantai 2 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMP). Di atas juga banyak pakaian yang digantung (termasuk pakaian dalam). Lantai 1 untuk kantor pengurus pondok putri. Lantai 3 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMA atau Aliyah). kamar pengurus putri. Masing-masing wali kamar mengawasi 2 kamar. peraturan pondok. dan lain-lain. tempat nyuci. tempat menonton TV. Kamar ukuran besar (± 9 x 8 meter) dibagi menjadi 2 kamar dengan disekat almari. kamar mandi. hanya pakai kasur lipat yang sangat tipis. handuk. pakaian. Ditembok gang-gang kamar biasa ditempel kata-kata peringatan seperti ”jagalah kebersihan”. juga tempat nongkrong santri putri (curhatcurhatan). dimasing-masing kamar ada yang SMA atau Aliyah. peralatan makan. dan aula. Kamar ukuran kecil ada yang full tembok.83 a. ”dilarang menaruh alas kaki disini”. Tidak ada dipan. jadwal kegiatan pondok. . Di atas almari-almari pembatas. biasanya untuk menaruh barang-barang pribadi santri seperti peralatan mandi. Ditembok masing-masing kamar biasanya ditempel jadwal piket. Kamar ukuran kecil (± 3 x 4 meter) dipakai 8 – 10 anak.

biasanya yang lebih senior (misalnya SMP kelas 2. Kamar pengurus putri terdiri dari 2 ruangan (2 kamar). Ukuran kamar lebih besar dari kamar putri. kantor pengurus putra dan tempat nonton TV. Kamar mandi ada 19 buah di lantai 1 dengan ukuran 2 x 1 meter. Setiap kamar ada petugas piket harian yang dibagi oleh wali kamar.3 ukuran memanjang dipakai 25 – 30 anak. hanya ada kasur lipat tipis. Ada tempat menonton TV. b. Keadaan kamar putra berantakan. Setiap kamar ada mas kamar dan ketua kamar. Menonton TV setiap hari jum’at. Kamar ukuran sedang (± 5 x 6 meter) untuk 25 anak. ada 1 komputer. Mas kamar dipilih yang paling rajin dan senior (setidaknya yang kelas 3). kasur-kasur lipat ditumpuk tidak beraturan. ruangan lebih besar. Tidak ditata dengan baik (umbruk-umbrukan). di atas almari tempat menaruh barang-barang pribadi. Namun tempatnya lebih bagus dari tempat putri. kelas 3. Ada tempat menonton TV. Tidak ada dipan. Tempat mencuci berupa kerankeran air. sekaligus tempat wudhu santri. Kadang-kadang kantor pengurus putri juga dipakai tidur beberapa pengurus dengan alasan kamar pengurus banyak orang. kalau yang SMA atau Aliyah biasanya sebagai mbak kamar). Punya putra lantai . rak-rak kecil. Lantai 2 dan 3 untuk kamar santri. Keadaan tidak jauh berbeda dengan kamar santri (berantakan). Air di depan kamar mandi agak menggenang (receh).84 Masing-masing kamar ada ketua. almari berisi dokumen-dokumen. Kantor pengurus putri. Lantai 1 untuk tempat makan (dulunya kamar). Sepertinya keadaan tidak jauh berbeda dengan pondok putri. pakaian dicentel. Setiap kamar diawasi 1 orang wali kamar. Kamar ukuran besar di lt. berisi sekitar 24 – 30 anak. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. Pondok Putra Pondok putra ada 8 kamar. Letaknya di samping kamar pengurus.

Menonton TV setiap hari jum’at.85 keramik dan lumayan bersih. Kamar mandi lantainya kotor. serta Anak Yatim Piatu dan Fakir Miskin yang secara materi tergolong tidak mampu. banyak warga masyarakat yang sadar dan bertaubat hingga kekurangan tempat beribadah.Tony Rodhiarto SH. Dan didaftarkan ke Notaris dengan Nomor 4 Tanggal 11 April 2006 di Kantor Notaris HM. Joyotakan Wetan RT. bersabda “ Sebaik baik manusia adalah yang bemanfaat sesama Manusia “ Dilandasi hadits tersebut. Ketika pada tahun 1980-an berdiri sebuah musholla kecil sebagai sarana beribadah. Dan ironisnya tidak ada tokoh Islam atau pemerintah yang peduli terhadap kondisi ini.08282712334.2 Pondok Pesantren Darud Dzikri Masyarakat Joyotakan Wetan Kota Surakarta sejak dulu dikenal sebagai daerah Black List yaitu daerah yang penuh dengan pezinaan. Mereka menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Satu tahun kemudian terwujud bangunan itu dan diberi nama PP Darud Dzikri Surakarta. Pondok Pesantren Darud Dzikri adalah tempat belajarnya para insan lansia. Pondok Pesantren Darud Dzikri . Berawal dari kepedulian kondisi tersebut masyarakat setempat dan beberapa Pegawai BI Solo. Joyotakan Kec. (0271) 5869294. 081 825 4976. Serengan Surakarta. Telp. Ponpes ini beralamat di Kp.MH and friends. HP.pada tahun 2005 membeli tanah berukuran 3m X 7m untuk didirikan sebuah bangunan sarana ibadah untuk menimba ilmu agama serta memperkuat iman kaum Muslimin diwilayah tersebut. tapi punya putri hanya ubin. Untuk itu kehadiran agama dimasyarakat itu sangat dibutuhkan sekali walaupun mungkin penuh dengan tantangan dan ujian. Dalam hadits Rosulullah SAW HP. 1. 06/06 Kel. yang terdiri dari Pensiunan Pegawai atau warga masyarakat sekitar. kemaksiatan dan sarang persembuyian para perampok kelas kakap.

Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta merupakan pondok/lembaga yang mandiri. Ponpes Darud Dzikri Surakarta mempunyai sumber dana antara lain : a. 3 Tanggal 22 Pebruari 1980. c. Mencapai dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Infaq dan Shodaqoh dari para simpatisan /Hamba Allah. Mempersiapkan masa depan mereka dengan Imtaq dan Iptek yang berguna bagi bangsa b. Kas Pondok Pesantren Darud Dzikri Surakarta. 1. Menghindarkan mereka dari pengaruh negatif dan pergaulan bebas c. b. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah milik umat Islam. . Bantuan dari berbagai pihak yang tidak mengikat dari instansi swasta maupun pemerintah. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta berdiri di Kalurahan Banyuanyar Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta Jawa Tengah-Indonesia pada tanggal 15 Desember 1990. tidak berada dibawah organisasi atau kelompok tertentu dan tidak berafiliasi pada golongan atau jami`iyah tertentu. karena dalam membangun dan mengembangkan pesantren melibatkan seluruh lapisan masyarakat Islam. Adapun maksud dan tujuan Panti ini adalah: a. Pondok Pesantren Mujahiddin Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang memadukan antara sistem kepesantrenan dengan pendidikan modern.86 Surakarta memilih “Pesantren Lansia dan Panti Anak Yatim Piatu & Fakir Miskin” sebagai program utama dalam rangka mengharap Ridlo Allah SWT. Dalam menjalankan kegiatan Pesantren Lansia.3. Dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Mujahidin dengan nomor Akte Notaris No.

berwawasan ilmu pengetahuan yang luas.753 m2 yang merupakan tanah Wakaf Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta memiliki 3 visi yaitu: a. Memiliki siswa yang tangguh dan sholeh. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas dan mampu memahami Islam secara lengkap/kaffah. Tujuan pondok pesantren ini salah satunya diwujudkan melalui pendirian unit pendidikan yaitu MTs (khusus putra) yang terakreditasi B dengan Nomor 058/BAPSM/XII/2007. berahklaq mulia dan memahami Islam secara kaaffah. Menjadi tempat berlatih muslim dalam bidang keilmuan dan ketrampilan c.87 Pondok Pesantren Al Mujahidin ini berdiri diatas areal tanah seluas 1. b. menggabungkan kurikulum pelajaran SMP dan Pondok Pesantren ditambah ekstrakurikuler. Menjadi Madrasah / Pesantren unggulan Indonesia b. tangguh dalam bidang ilmu dan fisik serta sholeh akhlaqnya Adapun visi tersebut didukung dengan misi sebagai berikut: a. Pondok pesantren ini didukung dengan 16 staf pengajar yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dari mulai lulusan MAN dan terkemuka di . Melatih generasi muslim dengan bekal ketrampilan hidup (life skill) yang memadai c. Melatih generasi muslim agar selalu membela agama Islam dan berjuang fi sabilillah dengan harta dan nyawa disegala bidang kehidupan Tujuan pondok pesantren ini adalah untuk memfasilitasi anak-anak Islam yang kurang mampu dalam menempuh pendidikan serta mendidik generasi muslim yang sholeh. berakhlak mulia. sehingga nantinya diharapkan menjadi generasi yang beriman. Mendidik generasi muslim agar menjadi pribadi yang lurus iman.

Pondok pesantren ini terdiri dari 3 pengurus inti. 1 Sekretaris dan 1 Bendahara. hal ini karena agar dalam proses belajar mengajar para pengasuh atau ustadz lebih mudah membimbing para santri karena sudah memiliki kesamaan paham. setiap kamar tidur terdapat ± 3-5 santri. Disamping itu santri yang tinggal disini tidak boleh bekerja atau menikah. dan dana pembangunannya berasal dari Masjid Agung. Pondok pesantren ini khusus untuk santri yang berumur 18 tahun keatas atau sudah termasuk usia dewasa. Fasilitas yang ada antara lain tempat untuk bermain bulutangkis. Masjidnya adalah Masjid Agung. Surakarta Pondok pesantren ini pada awalnya berdiri karena gagasan para pendatang yang menginginkan adanya suatu pesantren untuk belajar mengaji dan membaca Al Qur’an ditengah-tengah keramaian Kota Surakarta dimana penduduk asli Surakarta sendiri tidak tepat dalam membaca Al Quran. sedangkan untuk tempat belajar santri bisa dimana saja selama masih dilingkungan pondok pesantren. Untuk kamar tidur. Akhirnya pada tahun 1983 atas prakarsa KH Umar Sahid dan KH Muhamad Sidiq didirikanlah pondok tersebut. dimana setiap kamar santri ada ketua yang disebut ketua kamar yang bertugas untuk mencatat pelanggaran yang dilakukan santri. Jumlah santri ada 207 yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan persebaran santri menetap berjumlah 27 anak dan santri tidak tetap/binaan berjumlah 180 anak.4. yaitu 1 Ketua.30 pagi sampai jam 10 malam. kebanyakan santri belajar dikamar masingmasing. Setiap santri memiliki rutinitas yang telah dijadwalkan dari mulai jam 3. Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. mengumpulkan hp pada waktu .88 sampai S2. 1. Masjid Agung.

Sanksi terberat dalam pondok ini adalah minum-minuman keras. dan adapun aturan dalam pelanggaran adalah satu kali melakukan pelanggaran santri diingatkan. dua kali . penentuan khotib dalam khutbah.89 yang telah disepakati. 100-300 ribu dan sumbangan dana rutin dari Masjid Agung. Hierarki Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. Sanksi didasarkan pada kredit point. jika melakukan hal ini santri bisa langsung dikeluarkan oleh pihak pondok. dan pengumpulan Handphone. Masjid Agung. yaitu Abah Mutohar yang mengajar bacaan Tahfidz dan Abah Dasuki sebagai pengasuh Ta’lim. Bagan 1. Surakarta Pengasuh Ketua Pengurus Sekretaris Ketua Kamar Bendahara Santri Biaya operasional kegiatan santri sehari-hari berasal dari iuran santri tiap bulan sebesar Rp. Untuk pelibatan santri dalam membuat keputusan didasarkan pada situasi dan kondisi. Pondok ini memiliki 2 pengasuh Utama atau biasa disebut . serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukan santri yang berkaitan dengan peraturan pondok. santri biasa dilibatkan dalam pembuatan peraturan ringan seperti ketentuan waktu berkumpul.

Akan tetapi resmi dijadikan menjadi sebuah yayasan resmi yakni Yayasan Al Munir baru pada tahun 2003. Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. dan barulah ketiga kalinya santri baru dilaporkan ke orang tua. Yayasan Al Munir memiliki tiga Program Utama yaitu : Pondok Pesantren (Ponpes). Pondok Pesantren ini berdiri pada tahun 2000. Bapak Irwandi berasal dari Bantul Yogyakarta. kemudian beliau membeli tanah itu dan mendirikan pondok pesantren. karena pada saat itu beliau aktif mengisi ataupun mengajar ngaji di daerah tersebut. 2. yakni bapak Akhid yang sekarang menjadi pengasuh di pondok pesantren Al Munir. akan tetapi juga ada santri yang mengeluhkan tentang keberadaan warga sekitar pondok yang beraktivitas dimalam hari karena sering mengganggu. dan bernyanyi dimalam hari sering dikeluhkan oleh santri. .90 melakukan pelanggaran santri juga masih diingatkan. Pondok ini memang bersebelahan dengan perumahan penduduk. Madrasah Diniyah (Madin). Hubungan santri dengan pengurus dan pengasuh terlihat dari raut wajah dan perilaku santri. Pare Kediri. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten 2. dan Panti Asuhan. Pendiri dari pondok pesantren ini adalah bapak Irwandi ayah dari bapak Akhid Mutiangin yang sekarang menjadi di ponpes ini. dan aktivitas penduduk seperti kumpul. kebanyakan santri sangat senang tinggal dipondok ini. akan tetapi pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter ada seseorang yang ingin menjual tanah di daerah yang sekarang menjadi lokasi PonPes seluas 12x6m2. keakraban terjalin erat antara santri dan pengurus. Dari awal pendirian pondok ini memang ditujukan untuk anaknya yang saat itu masih nyantri di Pondok Pesantren Darussalam.1. Pondok Pesantren Al Munir Pondok Pesantren (PonPes) Al Munir terletak di Desa Gumul.

Untuk santri yang ada di pondok ini masih pasang surut. Pada saat ini ada terdapat 7 santri yang mukim di pondok ini. sebenarnya untuk kamar santri putra tetapi karena anak-anak takut tidur diatas. jadi untuk makan santri bergabung dengan pak . Semua kegiatan telah dijadwalkan dengan ketat. hafalan-hafalan serta kitab kuning. Adapun pembelajaran ilmu fiqih melalui penggunaan beberapa kitab.91 Bangunan Pondok cukup luas. satu mushola. akhirnya ruangan itu kosong. dan dilantai 2 ada satu ruangan yang masih kosong. . membuat gaduh. Sementara untuk santri Kalong yakni santri yang hanya datang untuk ngaji dan setelah selesai langsung pulang sebanyak 120 anak dan untuk anak panti berjumlah 40 anak. Dua diantaranya sudah dewasa selain sebagai santri juga sekaligus sebagai pengasuh dari santri-santri yang lain karena 5 dari santri yang ada masih duduk di sekolah dasar. satu kamar tamu. pada data tertulis santri yang menetap ada sekitar 40 anak. Selanjutnya waktu digunakan untuk belajar dan istirahat. Untuk pelajaran umum diperoleh melalui sekolah-sekolah formal yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. dan jika juz amma telah selesai baru naik ke Al Qur’an. ramai.peraturan di pondok pesantren ini ada tapi belum tertulis. pondok ini memiliki 2 kamar untuk santri putri. satu dapur. satu ruangan untuk madrasah diniyah. Beberapa peraturan yang ada antara lain : tidak boleh memakai pakaian ketat (kaos ketat & celana jeans). setelah selesai menggunakan juz Amma ba’dadiyah. lari-larian di pesantren. Untuk santri dewasa setelah sholat subuh memasak untuk santri-santri yang masih sekolah. Materi pembelajaran ada 2 yaitu pembelajaran Al Qur’an dan ilmu fiqih. Peraturan. Pada pembelajaran Al Qur’an. pertama kali menggunakan Iqro. berpakaian tidak sopan. dan juga bersih-bersih. Kegiatan belajar dimulai dari pukul 4 pagi (waktu sholat shubuh) dan berakhir pada pukul 8 malam (setelah mengaji). akhlak.

mengamalkan. Di pondok ini juga diberikan beberapa keterampilan seperti membuat tas dari anyaman. ghosob atau mencuri. Sanksi-sanksi yang ada juga belum diterapkan. memahami. Apabila ada pelanggaran biasanya santri-santri dinasehati dan kalaupun diberi sanksi oleh pengasuh biasanya dengan cubitan atau kalau tidak disuruh mengambil kayu bakar.92 mengejek antar santri. Dengan keterbatasan lokasi dan dana maka aktivitas belajar masih dalam keadaan darurat dan sangat memprihatinkan. Pada awal bedirinya. memanfaatkan ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia akan dapat menggunakan otaknya . Pendidikan adalah kebutuhan dan bagian dari hak asasi manusia. Madrasah Diniyyah. atau diminta untuk mencuci piring. pada tahun 2004 terbukalah pintu hidayah dari Allah SWT kepada warga sekitar dan sampai luar daerah sehingga berkembanglah kuantitas santri yang studi di Ponpes ini hingga terbentuklah Majelis Ta’lim. 2. untuk Madrasah Diniyah justru lebih banyak anak dari luar kampung. hingga Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Bermula dari dua orang anak santri yang mengaji kepada Kyai Susilo Eko Pramono. kursus menjahit. Sejak awal berdirinya Ponpes Sunan Kalijaga memang belum memiliki apa-apa seperti tanah pesantren. pesantren ini masih menumpang di rumah kakaknya istri dari pengasuh Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga.2. Sebenarnya kursus ini untuk anak-anak panti karena memang satu lokasi sehingga anak pesantren juga mengikuti kegiatan tersebut. membuat keset dan lain-lain. Respons masyarakat terhadap keberadaan pesantren ini memang masih rendah. akan tetapi sanksi fisik tidak ada. memanggil dengan nama jelek. sebab dengan pendidikan manusia mampu menerima.

Bahasa Indonesia. dan dalam rumah sewaan sang pengasuh santri. Desa Dengkeng. Dan pengetahuan umum seperti Ilmu Hitung. Sejarah Islam. Kesenian atau Karawitan atau Seni Gamelan Jawa. Bahasa Arab. Akhlak. dan memadukan fungsi otak dan hatinya untuk merealisasikan dan menikmati hasil dari pengetahuan. Bahasa Inggris. Kaligrafi. belum adanya sumbangan dan sponsor yang membantu pendanaan Ponpes ini maka tidaklah mengherankan sejak tahun 2004 sarana dan prasarana studi masih memprihatinkan (tanpa gedung sekolah). hingga yang sudah berkeluarga untuk mendapatkan ilmu agama seperti baca tulis Al Quran. sedangkan bangunannya dari bambu. Sains. ataupun keagamaan khususnya studi agama Islam. sang pengasuh tetap terus berusaha untuk mengasuh dan membina para santrinya baik santri kalong (santri yang berangkat dari rumah santri dan pulang setelah belajar) ataupun santri yang tinggal bersama pengasuh (santri mukim). Kepramukaan atau Kepanduan. pemuda. Kondisi perekonomian sang pengasuh santri yang masih rendah ekonominya. Kecamatan Wedi. Ironisnya.93 untuk berfikir. Bahasa Jawa. Keadaan semakin memprihatinkan setelah terjadi gempa bumi 27 Mei 2006. telah meluangkan hidupnya untuk membina dan mengasuh mulai dari anak-anak. . Dengan kata lain asrama pondok yang masih menyewa tanahnya. hatinya untuk merasakan. Fiqih. bahkan masih menumpang di masjid. Ilmu Sosial. Aqidah. baik untuk pengetahuan umum. Klaten. Adalah seorang anak manusia yang memperjuangkan pengetahuan dengan dasar kemanusiaan dan sosial yang tinggal di Dukuh Karang Ngasem. terkadang pengetahuan yang kondusif dan sesuai sarana prasarananya hanya menjadi komoditi bagi orang-orang yang memiliki dana yang cukup saja. teras rumah. Meskipun demikian.

Sebagai pelestarian budaya bangsa terutama budaya Jawa. Mewujudkan jiwa-jiwa yang nasionalis dan patriotis kepada tanah air Republik Indonesia dan tetap berpegang teguh pribadi muslim yang berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah. khususnya komunitas muslim. c. Pondok pesantren ini mempunyai visi sebagai berikut: a. dan telah memperoleh sertifikat sejak 29 Januari 2007/10 Muharam 1428 H. Ikut berperan serta dalam keadilan sosial dan kesejahteraan warga negara Republik Indonesia. Membantu program pemerintah Republik Indonesia khususnya di bidang peningkatan pendidikan. sebagai berikut: a. Fenomena pemberian bantuan tersebut berlangsung hingga lebih dari 5 bulan (sejak awal gempa hingga bulan Oktober 2006) dikarenakan telah habisnya stok bantuan yang ada di Pondok Pesantren. warga. b. dan dari beberapa desa yang lain. Sedangkan pelayanan studi pengetahuan umum. Propinsi Yogyakarta yang tidak terjangkau oleh posko bantuan gempa. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan perekonomian. Sebagai sarana studi keilmuan baik ilmu keislaman ataupun pengetahuan umum seperti sains dan teknologi. dengan menganut organisasi Nahdlatul ‘Ulama. serta pusat peribadahan Islam tetap berjalan baik dari sebelum gempa hingga pasca gempa.94 Atas dasar kemanusiaan dan sosial pengasuh. Status institusi Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga telah didaftar sejak 16 Oktober 2006 di Departemen Agama Kabupaten Klaten. . Ketiga visi tersebut diterjemahkan dalam tiga misi untuk mendukung pengembangan diri pondok pesantren sehingga mampu bersaing dengan pondok pesantren lainnya. bahkan sampai di Kabupaten Gunung Kidul. dibuktikan dengan bantuan gempa yang masuk ke Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga dalam bentuk apapun telah diberikan kepada seluruh santri. dan agama. b.

Khusus santriwati memiliki status sebagai santri mukim. Badan Pengembangan Pondok Pesantren (BP3) dan Dewan Wali Santri (DWS). Saat ini jumlah santri yang belajar ada 15 santri dan 5 santriwati. ada 4 organisasi yang berkembang di dalam pondok pesantren ini yaitu Organisasi Santri Madrasah Diniyyah (Osmada). Bangunan pondok ini sangat sederhana terbuat bambu dan anyaman bambu. kemanusiaan. Untuk mendukung kegiatan pondok pesantren. . Membentuk insan-insan yang peka terhadap lingkungan. Laskar Santri (LSBPM Suka).95 c. dan kondisi sosial sehingga berprinsip: sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain dan berakhlakul karimah.

dan(4) hak untuk berpartisipasi. yang jumlahnya diperkirakan antara 5. sosial. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. Hal ini menunjukkan adanya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan. (3) hak atas perlindungan. diselenggarakan oleh masyarakat. Mayoritas panti asuhan di Indonesia memiliki tujuan utama menyediakan akses pendidikan dan menitikberatkan kegiatan pengasuhan pada pendidikan formal di sekolah. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup di dalam panti asuhan maupun pondok pesantren.000 sampai 8.000. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggi-tingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. meliputi perlindungan dan diskriminasi. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah. Pemenuhan Hak anak seperti (1) hak untuk hidup. Anak-anak di kebanyakan panti asuhan.96 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari Save the Children. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. (2) hak untuk berkembang. Hal ini karena kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas. mental. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. PENGANTAR Sebutan Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten sebagai kota/kabupaten layak anak sebaiknya tidak hanya pada tataran retorika saja. Data jumlah panti asuhan menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen panti asuhan di Indonesia. utamanya organisasi keagamaan. spiritual. moral dan sosial. mayoritas (85%) berusia sekolah (10-17 tahun) dan sebagian besar (98%) sedang bersekolah. label ini haruslah dipahami dan direalisasikan pada tataran kehidupan nyata dan keseharian di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. .

Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio pengasuh dengan jumlah anak masih rendah yaitu 1 pengasuh berbanding 10 anak. dan Kalimantan Barat menunjukkan hasil bahwa ternyata mayoritas anak-anak panti asuhan tidak kehilangan orang tua atau ditelantarkan oleh keluarganya. hampir tidak satu pun panti yang memberikan perhatian kepada anak-anak yang kemungkinan membutuhkan pengasuhan alternatif akibat kekerasan dalam keluarga. Keterampilan dan kualifikasi yang ditetapkan dalam perekrutan pengasuh di panti asuhan belum diprioritaskan bagi kondisi sentuhan ramah anak dan lebih banyak difokuskan pada kualifikasi kemampuan pengajaran. Penelitian yang dilakukan di 37 panti asuhan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kondisi yang demikian membuat anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus cukup mandiri untuk mengurus diri mereka sendiri. Dengan tercapainya kualitas pengasuhan di panti asuhan diharapkan dapat membantu komunikasi . penelantaran atau resiko yang lain meski kenyataannya terdapat anak-anak yang dimasukkan ke panti asuhan karena mengalami kekerasan dalam keluarga atau dibuang oleh keluarganya. Selain itu. dan Departemen Sosial yang menunjukkan alasan orang tua memasukkan anak ke dalam panti asuhan agar si anak mendapatkan jaminan pendidikan karena kemampuan ekonomi orang tua sangat minim. Keadaan anak yang tinggal di panti asuhan sebagian besar membersihkan dan membantu kebersihan panti asuhan. Maluku.97 UNICEF. Pada akhirnya upaya ini dicoba diakomodir dalam Konferensi Panti Asuhan yang pernah dilakukan di Propinsi NAD. Jawa Tengah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak yang tinggal di dalam panti asuhan sehingga diperoleh suatu standar pengasuhan anak panti. Hal ini jelas mempengaruhi pola pengasuhan anak yang ada di panti asuhan karena keberadaan pengasuh profesional dengan jumlah memadai belum diprioritaskan. Lebih dari 90% anak yang tinggal di panti asuhan memiliki salah satu atau kedua orang tua.

Sistem sorogan yaitu dengan belajar face to face (tatap muka) dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu per satu dengan kyai memberikan kesempatan kepada santri untuk menimba ilmu yang masih dirasakan dangkal. Kehadiran pesantren di Indonesia pada umumnya tidak dapat dipungkiri lagi perannya. dan mempunyai kualitas intelektual. Kurikulum Pesantren menawarkan kajian yang sangat penting yang tidak hanya terbatas pada bagaimana membangun relasi dengan Tuhan namun juga relasi dengan sesama manusia maupun lingkungan. posisi.98 antara anak yang berada di panti asuhan dengan keluarga mereka secara sistematik. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati kyai dan meneladani kehidupannya dalam segala hal. alternatif pengasuhan di luar keluarga adalah pondok pesantren. Sistem bandongan atau wetonan dengan belajar bersama-sama dihadapan kyai dengan mendengarkan dan menuliskan makna dari kitab yang dibahas oleh kyai. mandiri. mempunyai integritas pribadi yang kukuh. Di dalam pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. disamping harus bersedia menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh kyai. pesantren dilihat sebagai lembaga pendidikan yang hanya mampu mencetak alumni yang memiliki kemampuan agama tanpa kemampuan yang dibutuhkan pasar khususnya tenaga kerja. Selain panti asuhan. Pesantren dengan label pendidikan agama yang di emban diharapkan akan berkontribusi penting dalam pembenahan kemiskinan spiritual masyarakat. Kedua. pesantren dilihat sebagai pabrik ilmu-ilmu . menambah keakraban antara santri dan kyai. Para santri menimba ilmu dengan cara bandongan atau wetonan dan sorogan. fungsi dan peran pesantren cenderung dilihat oleh masyarakat. Pertama. berakhlak mulia. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. memimpin dan dipimpin. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. berorganisasi.

1 Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga No Lama Tinggal 1 Kurang dari 3 th 2 4 – 6 th 3 7 th Jumlah Sumber: Data Primer. Tabel 5.67 100 . Boyolali. Purwodadi dan Ngawi). Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kota Surakarta 1. Setiap anak yang diterima tinggal di panti asuhan ini minimal usia SMP dan harus keluar dari panti ketika tamat SMA. Eks Karesidenan Surakarta (Klaten.99 keislaman yang diamanahkan untuk mencetak ulama-ulama atau intelektual Islam yang handal. Juli 2009 Jumlah 9 5 1 15 % 60 33. Dari 15 anak panti yang dijadikan responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Solo. hal ini dapat dilihat pada tabel 5. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik pemerintah dibawah Dinas Sosial Kota Solo. Anak yang menjadi penghuni panti ini tidak hanya berasal dari Solo tetapi juga berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sragen. dan Karanganyar) dan Jawa (Grobogan.1. B. pesantren memiliki peran ganda yaitu mendapatkan ilmu-ilmu keislaman dan juga keterampilan siap pakai yang dapat bersaing di pasar tenaga kerja. Ketiga. Sukoharjo. Lama tinggal anak-anak ini di panti asuhan berkisar antara 1–7 tahun.1 Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga a. POLA PENGASUHAN ANAK DI PANTI ASUHAN 1. Pengurus panti asuhan ini berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga dari segi kesejahteraan telah terpenuhi oleh Negara.33 6.

Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia. Pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan yang telah ditetapkan dalam APBD Kota Solo.67%) lainnya tidak memiliki akte kelahiran. menurut anak-anak jumlahnya tidak tentu.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer.67 20 6. menurut salah satu pengurus jumlah uang saku masing-masing anak berbeda karena berkaitan . pengembangan dan pembinaan. Juli 2009 Pada umumnya anak yang datang ke panti asuhan ini karena mengalami kesulitan ekonomi.100 Untuk kepemilikan akte kelahiran. Karena banyak daerah yang memberlakukan pengurusan akte kelahiran gratis sebagai upaya pemenuhan hak anak yang dilindungi oleh Undang-Undang. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5. penyantunan.2 berikut ini: Tabel 5. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat dari pengantar anak datang ke panti asuhan yang sebagian besar diantar oleh tetangga.33%) yang memiliki dan 7 anak (46. Ketidakpedulian orangorang disekitarnya terhadap kepemilikan akte kelahiran patut dipertanyakan. Adapun besarnya uang saku.67 26.2 Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Kepala Desa Jumlah 7 4 3 1 15 Persen (%) 46. Dari hasil FGD yang dilakukan. Selain itu juga sesuai dengan tujuan dari pendirian panti asuhan ini oleh Pemkot Solo yaitu menampung anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan perawatan. dari 15 responden ada 8 anak (53.

33 Sumber: Data Primer.67 0 0 13.33 86. sebagian besar anak menganggapnya biasa saja (12 anak). meskipun fasilitas yang ada dianggap tidak layak Tabel 5. bersih (2 anak) dan tidak menjawab (1 anak). Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini. Kondisi lingkungan di panti asuhan.33 0 Tidak Ada 0 0 7 0 0 2 % 0 0 46.67 Tidak Layak 0 0 0 4 2 0 % 0 0 0 26.3 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 15 15 8 11 13 13 % 100 100 53. Bagi anak kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap . membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.67 13. Uang saku tersebut digunakan untuk biaya transportasi ke sekolah dan pemenuhan kebutuhan pribadi anak seperti ditabung maupun untuk jajan ketika di sekolah.67 86.101 dengan jarak sekolah dengan panti asuhan. Juli 2009 b.33 73. beribadah bersama. bermain. Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman meskipun kadangkala ada teman yang membuat kesal misal saling mengejek. Kondisi ini membuat anak jadi tidak nyaman berada di panti asuhan sekaligus karena jauh dari orang tua (bagi yang masih memiliki orang tua). Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar.

Menurut anak-anak. ramah dan penuh kasih sayang. Ada beberapa anak laki-laki yang sedang bermain kejar-kejaran. Aku dirumah juga sering kerja kaya gini kog” Jeki Peneliti : “yasuda kalu gitu gpp mbak” : “dek. silakan mbak ga apa-apa.00 WIB. Peneliti juga sedikit mngobrol dengan mereka. lagi pada ngapain niy?? Aku ikut bantuin boleh ya?” Jeki : “oh. ada segerombol anak perempuan di dalam kamar yang sedang ngrumpi dan ada pula yang mencuci baju bahkan ada yang sedang terbaring lemas di tempat tidur karena sedang sakit. peneliti mengamati setiap gerak-gerik mereka agar peneliti bisa mencari celah untuk masuk ke dunia mereka. Seharian itu peneliti mengikuti kegiatan anak-anak asuh disana.102 tidak memberatkan (Tabel 5. 21 Juli 2009 di PA Pamardi Yoga. Peneliti : “dek.4). Kegiatan ini berlangsung sekitar setengah jam lebih karena letak sumber air nya ada diluar kamar. Sesampainya disana ada banyak sekali aktivitas yang terjadi. peneliti membantu mereka bekerja. kegiatan membuat es batu ini dilakukan setiap hari ya?” . Kejadian ini terjadi pada hari selasa. santai aja. Waktunya anakanak sudah pulang sekolah. Tapi apa nanti gag ngrepotin mbak?” Peneliti : “enggak kog dek. peneliti mulai pada pukul 14. Suasana kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan adalah adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak dengan tetap memperhatikan etika kesopanan. Akhirnya peneliti bisa juga mengobrol dengan beberapa anak perempuan yang sedang membungkusi air untuk dijadikan es batu. pengurus panti asuhan baik.

” Beberapa saat kemudian ada seorang anak yang membawa bungkusan. Hehehe.. mending kita naik motor aja gimana?” Dewi : “enggak jauh kog mbak. Cuma dekat sini... ibu yang jualan mie ayam di depan itu ya?” : “iya mbak. mbak kepengen ya? Kalau mau beli. ya hitung-hitung buwat nambah uang jajan atau untuk ditabung” Peneliti : “biasanya untuk jajan apa dek? Kebutuhan pribadi ya” Jeki : “kalu jajan sebenarnya jarang sih mbak. itu sudah jadi pelanggan kami.103 Jeki : “iya mbak. Diseberang jalan sana aja kok. yang didepan itu lho” Peneliti : “lha terus nanti keuntungan dari penjualan es batu itu diberikan untuk panti atau untuk anak-anak panti dek?” Jeki : “untuk hasilnya biasanya untuk anak-anak panti mbak. Isinya es kucir sepertinya. karena kan udah dapat jatah makan juga dari panti. Tapi kadang kalau yang disinik habis nanti belinya di tempat bu Nuk. Beli nya dimana ya?” Dewi : “oh. tempatnya jauh dari sini gag? Kalau jauh. Ya paling untuk membeli kebutuhan pribadi itu. Ya karena banyak pedagang di sekitar panti yang membeli es batu disini” Peneliti Jeki : “oh. Kemudian peneliti beinisiatif untuk bertanya kepada anak itu. es nya kayaknya enak tuh. aku anterin yuk!!” Peneliti : “ayuk.” . Peneliti : “dek. Bisa dibilang setiap hari membuat es batu.

Aku tadi juga jalan kaki kok dari sana” peneliti : “ya sudah. Mbak juga suka ya es kaya gini tow” peneliti : “iyah. Senang rasanya bisa melihat kebersamaan seperti itu.” ..” Sambil berjalan menuju ke tempat penjual es.. makasi banyak ya mbak” : “iya.!” Dewi peneliti Dewi : “iya mbak. namun semuanya dapat saya atasi dengan baik.. ayo Wi. anak-anak di panti suka jajan es disini ya?” : “iya mbak.. hehehe... Dengan terkumpulnya semua surat curhat dari anak-anak maka menutup perjumpaan dengan anak-anak panti di hari itu. Sesampainya di panti anak-anak pada berebut es buah tadi. Akhirnya kegiatan hari itu ditutup dengan pengumpulan surat curhat yang beberapa hari yang lalu aku bagikan kepada mereka. Ntar dibagi sama yang lain juga ya wi. Pulang yuk.104 peneliti Dewi : “beneran niy jalna kaki gpp?” : “iya mbak.” Kegiatan berlanjut di panti asuhan. habis es nya enak” : “jumlah anak-anak yang disana tadi berapa tow wi? Beli 10 ribu cukup gag ya?” Dewi : “cukup mbak. .. “ayuk. gpp...sama-sama wi. peneliti Dewi peneliti : “wi. Ada beberapa masalah yang muncul..

67 60 100 100 100 Tdk Tidak % Senang Tahu 93. Juli 2009 Jumlah 0 4 11 15 % 0 26. Tabel 5.33 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (Tabel 5.5 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat anak Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 12 12 13 9 15 15 15 86.67 6.33 1 6.67 13.105 Tabel 5.67 0 0 0 1 5 0 0 0 % 0 0 6.67 6. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak yang harus dipenuhi oleh pengurus seperti hak untuk berpendapat dan mendapatkan perlindungan.33 0 0 0 Sumber: Data Primer.33 1 % 1 1 0 0 0 6.67 33.5).4 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer. hak anak dalam panti asuhan adalah mendapatkan uang saku dan bebas mempergunakan fasilitas yang ada dengan tetap mengutamakan toleransi.67 0 80 3 20 0 80 2 13. Juli 2009 . Sedangkan faktanya.

Hukuman yang diberikan untuk memberikan rasa tanggungjawab pada anak atas perbuatan yang dilakukan dan membuat jera anak untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.67 0 6.67 60 13. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali. pelanggaran yang dilakukan tidak sering terjadi. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.7).33 33. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah tidak menjalankan perintah pengurus. Sedangkan menurut anak. membuat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi dan yang paling berat adalah diskors. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.6 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Merokok Terlambat pulang Tidak piket Tidak beribadah Tidak menginap Membawa barang yang dilarang Berkelahi Sering 0 1 0 1 0 0 0 % 0 6. tidak piket dan merokok.67 60 Tidak 15 8 8 5 13 14 6 % 100 53.67 93.106 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.6. Untuk hukuman fisik hanya ada 1 anak yang menjawab yaitu push up. Hal ini ditunjukkan pada tabel 5. Hukuman yang diberikan biasanya membersihkan lingkungan panti.33 40 Sumber: Data Primer.33 53. Juli 2009 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.33 86. Tabel 5. Hal ini karena kesadaran pengurus tentang hak-hak anak dan kewajiban negara untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan.67 0 0 0 KadangKadang 0 6 7 9 2 1 9 % 0 40 46.33 6. . Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.

Juli 2009 .67 14 93.67 66.33 6.33 20 80 53.8).33 3 20 12 80 1 6.33 6.33 0 0 15 100 1 6.67 14 93.33 80 Sumber: Data Primer.67 13.33 0 0 1 10 2 7 3 0 0 6. Tabel 5.7 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Berlaku sama saat menjadi pengajar Jumlah Sumber: Data Primer No 1 2 3 4 Pernah 7 2 5 1 15 % 46.107 Tabel 5.67 100 Berdasarkan hasil penelitian.67 0 0 Jarang % Tidak % 12 80 0 0 10 66. anak-anak panti pernah mengalami.67 20 15 15 14 3 12 8 12 100 100 93. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.8 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 % 20 0 0 0 0 0 0 0 0 13.33 46.67 5 33.33 33.67 13.

Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara a. 1.9 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 10 13 3 % 80 66. Dari 15 anak yang diteliti. Itupun tidak selalu berada di dalam panti.33 80 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. Juli 2009 Panti Asuhan Parmadi Yoga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.67 20 Jarang 3 5 2 12 % 20 33. Mayoritas anak yang tinggal .67 86.33 13.9). Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini cukup banyak tidak sebanding dengan jumlah pengurusnya yang hanya 3 orang. Mentawai. Kalimantan Tengah dan Flores. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan untuk anak-anak korban bencana seperti tsunami dan gempa bumi sehingga semua anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari luar Solo bahkan luar Pulau Jawa. Sumatera Barat. 6 anak (40%) pernah mendapatkan pujian dan pernah diberi hadiah sebanyak 9 anak (60%). berdiskusi. Penelitian ini mengambil responden sebanyak 23 responden yang berusia antara 8 sampai 18 tahun dengan asal daerah Nias. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan. Tabel 5. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi.108 Selain pemberian hukuman.2.

Artinya. Tabel 5.109 di panti asuhan ini adalah laki-laki. pembimbing dan orang tua (lihat Tabel 5. saudara.6%) lainnya menjawab ketidaktahuannya tentang akte kelahiran. Lama tinggal anak-anak ini dipanti ada yang sudah 15 tahun tetapi ada juga yang baru 1 tahun tinggal di panti asuhan (lihat Tabel 5.11).10).10 Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Kurang dari 3 th 4 – 6 th 7 – 10 th Lebih dari 10 th Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.34 8.04 26. Anak-anak ini dibawa ke panti oleh pendeta.69 4.11 Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Pendeta Orang Tua Saudara Pengurus Tetangga Pembimbing Tidak Menjawab Jumlah 6 3 6 1 2 1 2 23 anak Persen (%) 26.08 43.39 4. Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 6 10 2 4 1 23 % 26. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia.69 100% Jumlah Sumber: Data Primer.08 4.39%) saja yang memiliki dan 19 anak (82. dari 23 responden hanya 4 anak (17.08 13.34 8.34 100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.47 8. hanya ada satu anak perempuan yang menjadi responden.69 17. ada anak yang selama hidupnya telah tinggal di panti asuhan ini dari mulai bayi umur satu tahun. Juli 2009 .

dimarahi. Ia juga bercerita bahwa ia pernah dihukum lari keliling kompleks panti. dan ada yang minta orang tua. Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan meskipun tidak menentu baik waktu maupun jumlahnya. lalu anak anak itu saya suruh main bola mulai jam setengah empat sampai jam setengah lima sore. Uang saku tersebut untuk memenuhi kebutuhan pribadi anak (jajan) dan ditabung.12).saya merasa kurang dihargai”. Ia juga mencurahkan hatinya terhadap saya bahwa ia juga sering dibentak. berdoa. karena melakukan suatu kesalahan.34 4. ”mentang-mentang saya disini adalah anak panti. Bahkan .43 4.110 Adapun alasan mereka tinggal disini juga cukup beragam dari mulai keinginan sendiri sampai karena kesulitan ekonomi (lihat Tabel 5. ia juga sering merasa dilecehkan. mereka diam saja.12 Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Keinginan Sendiri Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Orang Tua Keinginan sendiri & ekonomi Jumlah Sumber: Data Primer. Jika uang saku tersebut habis. Seperti dituturkan oleh SH. ternyata anak anak itu masih bermain bola sampai batas yang sudah ditentukan sama saya.52 30. bahwa ia pernah. yaitu bapak Victor. Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 13 7 1 1 1 23 % 56. Ia juga bercerita bahwa yang selama ini sering menghukum adalah penanggung jawab penuh dari panti asuhan. terutama kakak-kakak yang lebih tua.trus anak anak saya suruh push up sambil bugil” ceritanya sambil tertawa tawa.34 4. Namun terkadang. pengasuh serta pengurus juga terkadang melakukannya. disuruh push up oleh pengasuh karena ia melakukan kesalahan.34 Ibu Lasmi bercerita ”pernah dulu anak anak melakukan pelanggaran.

membersihkan kamar dan lingkungan panti.34 8.6 34. karena takut kalau diminta atau dibohongin kakak-kakak mereka.52 Tidak Tahu 0 1 1 1 1 2 % 0 4. Jadi sering kali apabila anak-anak mempunyai uang selalu dititipkan kepada pengurus.04 56. bermain.30 – 4. terlihat lantai yang masih berupa lantai semen cor kasar dan tangga yang tidak ada tiang pegangannya sehingga dirasa kurang aman karena tidak ada perlindungan disaat anak-anak naik turun tangga panti. Namun. Juli 2009 b.65 95. meskipun kondisi bangunan belum selesai secara keseluruhan.69 Sumber: Data Primer.95 95.30 WIB.04 0 0 0 13.34 4.65 82.65 95.74 Tidak Layak 3 0 0 0 3 13 % 13.111 kakak-kakak yang lebih tua ini sering melakukan pemaksaan kepada adik-adiknya. Bagi santri kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (lihat .34 4. ibadah. Dengan beberapa kejadian tersebut. Bahkan sering anak-anak yang lebih tua membohongi adiknya apabila adiknya ada yang mempunyai uang. disitu saya melihat kondisi panti yang cukup bersih. Kondisi lingkungan di panti asuhan bersih karena setiap hari mereka diwajibkan untuk membersihkan lingkungan panti asuhan yaitu pada pukul 3.34 4.13 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 20 22 22 22 19 8 % 86. maka sekarang anak-anak panti asuhan tidak diperbolehkan untuk menerima uang kiriman dari orang tua mereka masing-masing. Fasilitas yang ada di dalam panti asuhan cukup beragam dan dianggap cukup layak oleh anak-anak. (lihat Tabel 5. Tabel 5. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar.13).

Juli 2009 Jumlah 4 5 14 23 % 17.04 13. Setiap anak juga memiliki hak yang dipenuhi oleh pengurus panti asuhan seperti makan. dan kebebasan untuk menggunakan fasilitas panti asuhan yang ada. Tabel 5.112 Tabel 18).34 4.26 82.15 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Senang 20 18 19 20 13 22 % 86.95 78.6 86.73 60. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya membuat anak-anak merasa betah tinggal di panti asuhan.65 Tidak Senang 0 2 0 1 1 1 % 0 8.34 4.39 21.34 Tidak Tahu 3 3 4 2 9 0 % 13.39 8.95 56.69 0 4.13 0 .14 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.86 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (lihat Tabel 5.15). Hal yang membantu kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Hal yang dirasakan memberatkan karena anak-anak diminta bekerja yaitu setiap hari membersihkan lingkungan panti asuhan seperti membersihkan kamar kecil dan menyapu.52 95.69 39.04 17. membelikan pakaian. Tabel 5.

04 0 Sumber: Data Primer. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. tidak segan-segan pengurus memberikan hukuman baik fisik maupun non fisik.16).04 17.113 No 7 8 Keterangan Memotivasi Media belajar Senang 19 22 % 82.16 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Tidak menjawab Ikhlas. Tabel 5. malu.39 8.34 13.6 95. dinasehati.69 100 Berdasarkan hasil penelitian.34 4.17 4. dicubit dan lari-lari. Apabila ada yang melanggar. . anak panti asuhan menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat.34 Tidak Tahu 3 0 % 13. Karena lebih lanjut. Juli 2009 Panti asuhan ini memberlakukan peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anak panti. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 mengalami. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. sebagian besar anak panti asuhan menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Sedangkan hukuman non fisik adalah dimarahi dan diminta menghafal ayat Al Kitab. Hukuman fisik yang pernah dilakukan oleh pengurus adalah push up.65 Tidak Senang 1 1 % 4. dijewer.34 4. melihat dan mendengar No 1 2 3 4 6 7 Pernah 12 1 1 3 4 2 23 % 52. para anak panti asuhan pernah kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Dari 23 anak panti asuhan yang diteliti.47 56.56 69.08 30.08 Tidak 5 1 0 3 % 21.56 69.43 30.86 78.78 17.43 30.91 86. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 17 16 16 13 10 6 3 6 7 7 7 7 0 % 73. 22 orang pernah mendapatkan pujian dan atau diberi hadiah karena berprestasi serta hanya ada 1 orang yang dibiarkan saja.47 26.34 0 13.73 26.114 Tabel 5.08 30. Tabel 5.91 69.43 30.56 69.73 4.52 73.91 69.95 73.52 43.43 0 Tidak 6 7 7 10 13 17 20 17 16 16 16 16 23 % 26.86 Jarang 8 4 5 6 % 34.17 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.08 13.47 78.86 60.04 26.43 43. Juli 2009 .56 100 Selain itu adanya pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus Panti Asuhan Anak Misi Nusantara ini.43 30.18 Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 10 18 18 14 % 43.56 56.39 21.04 Sumber: Data Primer.56 69.

115 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak panti asuhan (lihat Tabel 22). Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik perseorangan yang berusaha untuk menjalankan ibadah agama dengan menyatuni anak-anak fakir miskin dan yatim piatu.33%). saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti sehingga seperti merasa berada di lingkungan keluarga sendiri.33%) lainnya menjawab tidak tahu. Artinya. Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah menjadi alasan terbesar anak-anak untuk tingga di panti asuhan. Penelitian ini mengambil 15 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 8 anak (53. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kabupaten Klaten 2. 2.33). Lama tinggal anak-anak ini di Panti Asuhan Darul Hadlonah berkisar antara 1 – 4 tahun. dari 15 responden ada 12 anak (80%) yang memiliki.1 Panti Asuhan Darul Hadlonah a.33%). Anak yang telah tinggal selama 1 tahun sebanyak 8 anak (53. Untuk kepemilikan akte kelahiran.33%) dan lama tinggal 4 tahun ada 2 anak (13. lama tinggal 2 tahun ada 5 anak (33.67%) tidak memiliki dan 2 anak (13.677%) dan sisanya sebanyak 6 anak (40%) berasal dari Jawa selain Solo dan Klaten. pemenuhan kebutuhan hak untuk anak Indonesia telah terpenuhi karena . 1 anak (6. Kota Solo ada 1 anak (6. Keinginan mulia ini akhirnya terwujud dengan mendirikan Panti Asuhan Darul Hadlonah.

Tabel 5.000.67 33. Juli 2009 .116 sebagian besar telah memilik akte kelahiran. 100.67 100 Anak yang datang ke panti asuhan ini memiliki alasan yang cukup beragam (Tabel 5.20 Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Kesulitan Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Sendiri Keinginan Pondok Tidak Menjawab Jumlah 6 3 4 1 1 15 Persen (%) 40 20 26.67 6.67 6.33 20 6. pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. karena sangat penting untuk masa depan anak nantinya. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya.19 Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Pengurus Panti Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer. Bagi yang mengalami kesulitan ekonomi.33 6. Hal ini dapat diketahui dari Tabel 5. Juli 2009 Jumlah 5 1 5 3 1 15 Persen (%) 33.20). Untuk memenuhi kebutuhan akte kelahiran bagi yang belum membutuhkan perhatian dari pihak panti asuhan untuk mengurusnya.19 berikut ini: Tabel 5. untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya ditabung untuk kebutuhan yang mendesak termasuk apabila kehabisan uang saku.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer.

Berdasarkan hasil observasi. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas mendukung terselenggaranya kehidupan panti asuhan yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini.21 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah No Jenis Fasilitas Layak Tidak Layak 93.33 1 0 1 % bagi % 0 0 6. Tabel 5. meskipun fasilitas yang ada tidak selalu dianggap layak.67 6.33 1 13. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5. Hanya ada 1 anak yang menjawab bahwa kehidupan panti kadang-kadang menyenangkan.67 6.67 1 80 2 80 2 93.33 0 % sangat Tidak Ada 6. namun karena banyaknya aturan sehingga tidak merasakan kebebasan.67 0 0 0 6.67 1 Ruang Belajar 14 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 13 4 Ruang Makan 12 5 Fasilitas Olahraga 12 6 Fasilitas Kesenian 14 Sumber: Data Primer. Panti asuhan diharapkan dapat bekerja .21.67 1 13.117 Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman dan didukung dengan pengurus yang baik serta ramah meskipun kadangkala ada teman yang memusuhinya. bangunan di panti asuhan ini cukup baik dan membuat anak merasa betah untuk tinggal cukup lama.33 1 100 0 86.67 6.

.. Kehidupan anak di Panti Asuhan Darul Hadlonah kadangkala membosankan apalagi untuk urusan kerja bakti akan tetapi pengetahuan anak tentang hak-haknya memberikan efek positif bagi anak untuk bisa berpendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan lingkungan panti asuhan. Pengurus yang ada di panti baik dan ramah serta sering mengajak berkomunikasi untuk membicarakan sesuatu hal. tadarus.22 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer. hak mendapatkan kasih sayang. b. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama.23). Juli 2009 Jumlah 0 6 9 15 % 0 40 60 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan sebagian besar dianggap menyenangkan (Tabel 5. serta bermain. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.118 profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak anak yaitu hak hidup dan berkembang.22). belajar kitab. Bagi anak panti asuhan kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5. Tabel 5. bermain.

119 Tabel 5.33 0 0 0 13. maupun menulis istigfar sebanyakbanyaknya. dan diminta berdiri ketika mengantuk pada waktu mengaji. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.33 Tdk Senang 0 0 1 0 1 1 0 1 % 0 0 6. Selain hukuman fisik. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu push up. menulis sholawat.67 100 93. Pemberian hukuman tersebut.67 0 6. biasanya anak mendapatkan nasehat. membersihkan kamar mandi selama 1 bulan.67 0 6.67 Tidak Tahu 2 0 0 0 2 0 0 0 % 13.67 6. Sebelum memberikan hukuman.23 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 13 15 14 15 12 14 15 14 % 86. peringatan baru setelahnya diberikan hukuman. di dalam panti asuhan juga memberlakukan hukuman menghafal Al Qur’an. menurut pengurus untuk mendidik anak lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang telah dilakukan.33 0 0 0 Sumber: Data Primer.24 berikut ini: . Menurut anak. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam seperti dalam tabel 5.33 100 80 93. scot jump.33 100 93. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah anak sering tidak ijin ketika akan pulang. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.

menulis sholawat maupun istigfar.67 0 0 0 0 Jarang 3 5 4 5 0 3 4 % 20 33.33 26. Tabel 5. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali. Adapun anak yang tidak menyukai hukuman fisik memilih hukuman yang sifatnya mendidik seperti menghafal Al Qur’an.33 100 .67 33.67 20 13. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 0 0 6. Juli 2009 No 1 2 3 4 Pernah 9 1 3 2 15 % 60 6.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.24 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 0 Tidak menginap 0 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 0 Sumber: Data Primer. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.33%) yang setuju dengan hukuman fisik.120 Tabel 5. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.25).67 66.67 66. Ada 7 anak (46.25 Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Biasa saja Jumlah Sumber: Data Primer.67%) yang tidak setuju adanya pemberian hukuman fisik dan ada 8 anak (53.33 0 20 26.67 Tidak 12 10 10 10 15 12 11 % 80 66.67 100 80 73.

3 anak (20%) pernah diberi pujian dan hadiah. Tabel 5. Dari 15 anak yang diteliti.26). ada 9 anak pernah diberi hadiah (60%).67 Tidak % 5 33.67 Sumber: Data Primer.33 46.67) memberikan jawaban “dinasehati untuk selalu meningkatkan prestasi lebih baik lagi”.67 Jarang 9 9 8 9 5 3 2 2 3 7 6 3 1 % 60 60 53.67 6. .67 13.67 0 6.67 40 20 6.33 20 13.33 66. 2 anak (13.67 0 0 0 0 0 0 6.67 53.33 60 33. anak-anak panti pernah mengalami.26 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 7 % 6. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5. dan 1 anak (6.33 6 40 7 46.67 80 80 46.67 46.33%) pernah mendapatkan pujian.33 13. Juli 2009 Selain pemberian hukuman.67 6 40 10 66.67 12 80 13 12 12 7 8 10 7 86. Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak.121 Berdasarkan hasil penelitian.33 20 46.

. Juli 2009 Pihak pengurus Panti Asuhan Darul Hadlonah juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut.67 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. Untuk mengadopsi anak dari YPBT. pengurus akan menyeleksi terlebih dahulu tentang situasi dan kondisi keluarga yang akan mengadopsi sehingga anak akan berada di tangan yang baik.122 Tabel 5. 2. Kondisi Umum Anak YPBT adalah panti asuhan yang hanya menerima anak hingga usia 12 tahun.33 0 6. Saat ini. dan sisanya diberikan kepada para pengasuh. Setelah usia itu.27).33 Jarang 3 2 0 1 % 20 13. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5. anak-anak akan dipindah ke panti lain atau diambil orang tua. sehingga dibuat daftar antrian.67 100 93.2 Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) a. berdiskusi. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. Pada saat dikelola oleh pengurus lama disebutkan bahwa di YPBT ini ada sistem adopsi anak. Selama ini keluarga yang akan mengadopsi anak dari YPBT itu banyak. YPBT telah melimpahkan tiga anak ke Panti Asuhan Aisyiyah dan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah karena telah berusia di atas 12 tahun.27 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 13 15 14 % 80 86. Biaya adopsi sebesar satu juta rupiah yang digunakan untuk membayar biaya persidangan.

123 Saat ini. ditemukan kejanggalan terhadap penyebab kematian yaitu: Cantika meninggal karena terlambat dibawa ke RS akibat komplikasi jantung dan paru Amelia meninggal akibat mulutnya dimasuki batu oleh salah satu anak panti (yang abnormal) dan dicekik dengan selendang. namun juga menjadi tempat penitipan anak. dan lain-lain) di lokasi panti asuhan karena salah satu pengurus menyebutkan alasan bekerja di YPBT ini untuk mencari uang. gas. Proses adopsi selanjutnya dilakukan di depan notaris sebagai bukti legal atas adopsi anak. Bahkan pengasuh atau pemimpin juga sembari berjualan (makanan. Adopsi dilakukan ketika anak masih berusia bayi. Tetapi berdasarkan hasil observasi. Saat ditemukan pengasuh sudah tidak bernapas. Prosedur adopsi anak ini dilakukan dengan melibatkan Dinas Sosial/Polisi untuk kemudian dilakukan seleksi terhadap keberadaan keluarga pengadopsi. Tetapi hasil penelitian menunjukkan. tiba-tiba kejang-kejang setelah dimandikan Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) bukan hanya panti asuhan saja. setahun terakhir ada 2 anak yang diadopsi dari YPBT namun tidak tercantum datanya di Pengadilan negeri Ada 4 kasus anak yang meninggal di panti asuhan ini yang disebut oleh pengurusnya meninggal karena sakit. Hal menarik dari panti asuhan ini adalah . sistem adopsi masih dilakukan oleh pengurus YPBT yang baru. Dikatakan ia meninggal karena sakit Azrina ditemukan meninggal dalam keadaan tertelungkup di atas meja dengan hidung berdarah saat ditinggal pengasuh melakukan hal yang lain Yulianto meninggal tanpa diketahui sebabnya.

18%) dan 1 anak (9. Ada 2 pengurus yang menyebutkan bahwa sumber dana panti ini berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta.54%).09%). Tetapi ada juga yang tidak mengetahui siapa yang telah mengantar mereka ke panti asuhan ini. Jawa ada 2 anak (18.36%). Magelang 1 anak (9. Usia anak yang menjadi responden berkisar antara 8 – 12 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 5 anak (45. 0 -5 th dan 0 -18 th.28).124 ketidaktahuan semua pengurus tentang sumber dana yang diperoleh untuk membiayai panti asuhan ini. (Tabel 5.09%) menjawab tidak tahu. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini sebagian besar di antar orang tuanya akibat kesulitan ekonomi. Kota Solo ada 1 anak (9. Pengetahuan pengurus tentang hak anak sangat minimal. Sebagian besar anak tinggal di panti sejak masih bayi sehingga dari 11 anak ini ada 3 anak (27.09%). Jakarta 1 anak (9. 0 -12 th.72%) yang menyebutkan sejak bayi sudah tinggal di panti asuhan ini.09%). Variasi jawaban ini mengindikasikan kurang adanya kepedulian pengurus tentang peraturan yang dikeluarkan negara tentang adanya perlindungan anak meskipun ada 2 pengurus yang mengetahui tentang UU Perlindungan Anak tetapi tidak secara detail mengetahui isinya.27%) yang tidak mengetahui berapa lama telah tinggal di panti asuhan dan ada 8 anak (72. Penelitian ini mengambil 11 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 4 anak (36. Semua anak di panti asuhan ini telah memiliki akte kelahiran. Mereka mengetahuinya dari para pengurus.45%) dan laki-laki ada 6 anak (54. Usia anak bagi pengurus ada yang menyebutkan 0 – 7 th. .

28 Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara (Simbah) Tidak Tahu Jumlah 7 1 3 11 Persen (%) 63. Hal yang membuat senang tinggal di panti asuhan karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain dan menonton TV. kehidupan di panti asuhan kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 33 Berdasarkan pada hasil observasi tidak semua fasilitas dengan mudah di akses oleh anak. Juli 2009 Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. 100.000 untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi yaitu jajan di sekolah dan apabila kehabisan uang saku ada yang pinjam teman sekolah dan ada yang diam saja. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali karena setiap hari dibersihkan oleh pengurus. Bagi anak.09 27. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.125 Tabel 5. Sedangkan hal yang membuat tidak senang di panti karena tidak bisa keluar.27 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Misalnya menonton TV. Mereka menonton TV ketika hanya salah satu dari pengurus menghidupkan TV. dan diberi hukuman.63 9. jika tidak anak yang ada dipanti ini tidak dapat menonton televisi. . dimarahi. Tidak dengan mudah anak dapat menghidupkan TV. dijahili teman.

90 100 27. Bagi anak. tadarus. belajar kitab. Pola Pengasuhan Setiap anak memiliki kewajiban yang harus dijalankan yaitu beribadah bersama (sholat berjamaah).09 0 0 0 0 0 Tidak % Ada 1 9.09 0 0 1 9. b.27 bagi yang 1 Ruang Belajar 9 2 Ruang Ibadah 11 3 Ruang Bermain 10 4 Ruang Makan 11 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 8 Sumber: Data Primer. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih sayang dan kepedulian pengurus terhadap keberadaan anak-anak panti sangat kurang. Juli 2009 Fasilitas terselenggaranya yang ada jelas sangat mendukung YPBT kehidupan Panti Asuhan memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan.72 Tidak Layak 1 0 0 0 0 0 % 9. bermain. anak-anak sudah mengajak bermain. Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama.09 0 0 8 72. Anak-anak di YPBT cepat akrab dengan orang asing. membersihkan kamar dan lingkungan panti. Beberapa menit disana.126 Tabel 5.29 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT No Jenis Fasilitas Layak % 81.81 100 90. belajar dan membersihkan kamar. kegiatan rutin tersebut . bahkan ketika peneliti datang kesana pertama kali beberapa anak langsung menanyakan nama saya. sampai hal-hal yang pernah dilakukan anak yang lain. Tetapi menurut pengurus ada beberapa fasilitas yang ada belum dapat maksimal dipergunakan misalnya fasilitas kesenian seperti rebana dan aklung karena belum ada pelatihnya. dan berusaha untuk dekat.72 3 27. nama-nama anak yang lain. dan bercerita banyak hal muai dari kegiatan mereka.27 72.

27 Tidak Tahu 4 3 7 6 3 % 36. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah membersihkan lingkungan kamar dan panti asuhan.09 2 18.27 63. Juli 2009 Jumlah 0 8 3 11 % 0 72. Tabel 5.27 100 Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5.18 27. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di panti asuhan karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak.36 27. Antara anak dan pengurus seringkali terlibat dalam obrolan dan saling bercanda.54 36.18 0 0 2 3 18. tempat tinggal dan bermain menambah kenyamanan anak untuk tinggal di panti asuhan. Hal ini dianggap anak sebagai hal menyenangkan sehingga betah tinggal di panti asuhan Tabel 5.31 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Senang 6 6 4 3 5 % 54. Tetapi tugas yang diberikan panti asuhan yang memberatkan anak patut dijadikan perhatian karena dapat menganggu tumbuh kembang anak.27 .127 kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5. Selain itu terpenuhinya kebutuhan dasar anak seperti makan.30).30 Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.72 27.31).63 54.27 45.54 27.36 27.54 54. Anak merasa kecapaian ketika harus bersih-bersih.45 Tdk % Senang 1 9.

Hukuman tersebut diberikan karena anak dianggap tidak mematuhi perintah pengasuh atau main terlalu jauh. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.54 Tidak 11 7 2 2 2 10 3 % 100 63. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. dipukul dengan tangan.54 Sumber: Data Primer. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % Jarang % 0 0 0 0 4 36.18 90. di dalam panti juga memberlakukan hukuman verbal yaitu dimarahi oleh pengurus.54 63.36 54.09 18. bahkan ada yang pernah dipukul pakai sandal.63 18.27 45.63 54. disetrap.18 18.18 18.18 0 6 0 54. Tabel 5. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu dijewer telinganya.45 0 1 0 0 9.36 9.128 6 7 8 Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar 5 3 5 45.45 45.54 3 27. Menurut anak.36 5 45.45 4 36. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah bermain jauh dari panti asuhan dan suka berbicara jelek.32) tetapi tidak sering dilakukan. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5.90 .45 27.27 36. dicubit. Hukuman dipukul sering dilakukan di dalam panti ini. Adanya anggapan pengurus kalau anak-anak yang tinggal di panti anak nakal sehingga kalau hukuman hanya diberi nasehat saja tidak akan membuat anak jera sehingga bentuk hukuman fisik menjadi pilihan.32 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 6 Tidak beribadah 4 Tidak menginap 5 Membawa barang 6 1 yang dilarang 7 Berkelahi 2 Sumber: Data Primer. Selain hukuman fisik.09 0 6 7 6 54.

72 45.81 81. Tabel 5.45 63. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada .18 36.18 Jarang 5 3 5 6 8 5 7 7 0 2 2 2 2 % 45.81 Sumber: Data Primer.18 18. Tetapi dari hasil penelitian tentang suatu peristiwa yang pernah dilihat.09 9.129 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.81 81.18 18.45 27. diberitahu mana yang benar mana yang salah serta jangan dimarahi.36 36.33 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 6 4 4 1 1 2 2 2 0 0 0 0 2 % 54. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian.18 100 81.36 18.18 Tidak 0 4 2 4 2 4 2 2 11 9 9 9 9 % 0 36.18 0 0 0 0 18.18 18.09 18. anak-anak Panti Asuhan YPBT pernah mengalami.54 36.36 18. dialami dan didengar oleh anak pemberian hadiah juga pernah dilakukan oleh pengurus meskipun jarang dilakukan.36 18.63 0 18.18 36.63 63.36 9. malu.27 45. anak-anak ini memberikan respons yang cukup beragam (campur aduk) dari menerima dengan ikhlas. sampai adanya perasaan dendam.18 18.45 54. semua anak menjawab “diberikan pujian”. Data penelitian menunjukkan semua anak yang diteliti setuju dengan adanya hukuman fisik tetapi mereka juga menyebutkan kalau hukuman bagi mereka lebih baik dinasehati.18 18. nangis.81 81.54 72.18 18.

130

yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.33). Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak. Meskipun begitu, berdasarkan pada hasil observasi ada banyak kejadian di dalam panti asuhan yang melanggar hak anak bahkan cenderung diabaikan. Salah satu contoh kejadian tersebut adalah: “Suatu siang, peneliti bermain ke YPBT. Sejenak duduk di teras rumah itu, dia melihat anak yang dipukul pakai sendok. Berulang kali anak itu dipukul, dan Nurul masih saja diam untuk memperhatikan sembari bermain dengan beberapa anak. Anak yang dipukul itu menghadap sepiring makanan bersama dengan beberapa anak yang duduk di sebelahnya. Ketika anak-anak yang lain sudah menghabiskan makanannya, anak yang dipukul tadi masih belum menyentuh makanannya. Setelah semua selesai makan, Ibu Sri membentak anak itu ”masih tidak mau makan!!!”. anak tersebut tetap tidak mau makan, dan akhirnya Ibu Sri menyuruh orang untuk mengambilkan ”remason” dan menyuruh beberapa anak untuk memegangi anak yang tidak mau makan tadi. Setelah itu anak tersebut ”dokeroki”. Anak tersebut nangis kencang sekali karena seluruh badannya ”dikeroki” Peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan sering terjadi di dalam panti asuhan ini. Hal ini terlihat adanya kesenjangan rasio jumlah pengurus dan jumlah anak. Jumlah pengurus yang ada tidak mampu menangani anak-anak di panti asuhan ini padahal usia anak masih balita. ”Peneliti datang setelah dzuhur, dan ketika datang ada anak yang menangis. Setelah sekian lama (sampai ashar) tidak juga digubris oleh pengasuh, akhirnya dilihat. Seluruh badan anak itu sudah basah, semua pakaian basah mungkin karena ompol dan juga keringat. Menjelang ’ashar, peneliti meminta pengasuh untuk melihat, barulah ada pengasuh yang mendatangi anak itu, tetapi hanya diberikan susu dan ditinggal pergi lagi. Kata pengasuh, nanti anak itu juga akan diam sendiri”

131

Ada hal menarik lagi yaitu tentang adanya salah satu anak yang diberi perhatian khusus oleh pengasuh. “Kiki mendapatkan perlakuan spesial dari Ibu Panti maupun dari pengasuh dan anak panti. Dia memiliki handphone yang bagus, kamar mandi sendiri, tempat tidur atau ranjang (sementara anakanak yang lain tidur di atas kasur busa di bawah), tidak harus piket, tidak ikut belajar pada jam belajar, tidak berlaku jam malam untuknya (gerbang ditutup jam 9, tapi bebas untuk Kiki), bebas maen dengan sepeda atau sepeda motor, diperbolehkan berambut panjang (anak-anak yang lain baik laki-laki atau perempuan diharuskan berambut pendek atau potongan Ronaldowati)” Tabel 5.34 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT
No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 3 4 7 2 % 27,27 36,36 63,63 18,18 Jarang 2 7 4 4 % 18,18 63,63 36,36 36,36 Tidak % 6 54,54 0 0 1 5 9,09 45,45

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Panti Asuhan YPBT juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut, berdiskusi, menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.34). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan.

C. POLA PENGASUHAN ANAK DI PONDOK PESANTREN 1. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad a. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Muayyad merupakan ponpes yang juga berfungsi sebagai sekolah madrasah. Secara umum, kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur

132

maupun asal daerah. Jumlah santri ponpes Al Muayyad berjumlah 517 yang sedang melanjutkan sekolah di SMP, SMA/MA dan hanya sebagian kecil saja yang berasal dari Solo yaitu 27 anak (5,22%). Tabel 5.35 Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Banyak Santri Asal Solo Putra Putri SMP VII 88 1 3 VIII 94 4 1 IX 80 5 5 SMA X 65 1 XI 33 3 XII 45 1 1 MA I 34 II 39 1 III 39 1 Jumlah 517 12 15 Sumber: Pondok Pesantren Al Muayyad, Juli 2009 Sekolah Kelas Banyak Santri Responden yang diambil dalam penelitian ini cukup bervariasi baik dari asal daerah maupun lama tinggal di Pondok Pesantren Al Muayyad. Dari 15 santri yang ada 2 orang berasal dari luar Jawa yaitu Kepulauan Riau dan Lampung, ada 6 anak yang berasal dari Eks Karisidenan Surakarta, ada 5 anak yang berasal dari Jawa Tengah dan sisanya ada 2 anak berasal dari Solo dengan lama tinggal antara 1 sampai 4 tahun. Santri datang ke ponpes, sebagian besar diantar oleh orang tua (lihat Tabel). Dari 15 anak yang menjadi responden penelitian semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. Artinya, tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 200.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.

133

Tabel 5.36 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara Sendiri Jumlah 12 2 1 15 anak Persen (%) 80 13,33 6,67 100%

Jumlah Sumber: Data Primer, Juli 2009

Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami ketidaknyamanan tinggal di ponpes. Hal ini terjadi karena ketatnya peraturan yang ada, teman yang tidak saling mendukung, dan termasuk padatnya kegiatan ponpes yang tidak didukung dengan fasilitas yang memadai sehingga membuat santri merasa bosan dan capai. Namun di sisi lain, santri juga merasakan kenyamanan tinggal di ponpes karena memiliki banyak teman, belajar agama dan dapat hidup lebih mandiri. Dalam menjalankan kegiatan ponpes didukung dengan berbagai fasilitas, sebagian santri ada yang menyatakan layak dan ada yang menyatakan tidak layak. Selain itu secara umum, fasilitas yang diberikan oleh ponpes adalah: 1) Makanan Pondok putra dan putri mempunyai dapur sendiri-sendiri. Tidak ada ruang makan khusus. Yang masak disebut mbak masak (ibu kos). Santri mengumpulkan rengkot yang telah diberi nama/ identitas masing-masing. Misalnya untuk makan malam, sebelum berangkat ke sekolah atau Madrasah Diniyah santri mengumpulkan rengkot, diambil setelah kegiatan ekstra kurikuler selesai (sebelum maghrib). Untuk sarapan, setelah makan malam santri mengumpulkan rengkot lagi, diambil pada waktu jam sarapan, dan seterusnya. Jika santri merasa tidak cukup puas (masih lapar) bisa jajan di depan atau di belakang pondok pesantren (ada warung/

500. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. Selain itu juga ada kebiasaan menggunakan handuk bergantian (istilah mereka ”joinan”). pilek. karena kamar mandi (katanya) kurang bersih. Air di depan kamar mandi agak menggenang. Mereka datang setiap hari Senin malam dan Rabu malam. Ukuran 2 x 1 meter. Kata santri putra. namun setelah 1 tahun sudah terbiasa. jika pertama kali tinggal di pondok pesantren pasti mengalami gudhiken.100. Santri putra banyak yang mengeluh menderita penyakit kulit “gudhiken”. Biasanya ditunggu oleh Sie kesehatan pengurus putra. Surat ijin juga harus ditandatangani wali kamar. bisa beli di kantin pondok pesantren 1 gelas Rp. dan lengkap. Ada 2 orang dokter. 2) Kesehatan Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para santri. Yang pertama adalah menantu pak kyai. batuk. Seperti yang diungkapkan oleh NS. Jika butuh air panas. Air minum ambil di kran yang sudah melewati proses Aqua guard. Pondok Pesantren Al Muayyad mempunyai sebuah klinik yang nyaman. Sedangkan di Pondok Pesantren putra terdapat kamar mandi sebanyak 13 buah.00.00 kepada sie kesehatan sebagai ganti cetak surat ijin (bentuk lembaran kertas). dan yang kedua adalah Kepala Puskesmas Sukoharjo. panas.134 orang jualan yang lewat) atau di kantin pondok pesantren santri minta dibuatkan mie instan. 3) MCK Di Pondok Pesantren putri terdapat kamar mandi sebanyak 19 buah. santri harus membayar Rp. Untuk membuat surat ijin sakit. 13 tahun : ”Tahun ini banyak santri yang mengalami penyakit gudhik. dan lain-lain. Gudhik disebabkan karena sering memakai pakaian dan handuk bersama-sama (atau .

Kegiatan ini . Pola Pengasuhan Prinsip dalam pola pengasuhan ada 3 hal yaitu pengajaran. 13 tahun : ”Saya ingin di pondok itu kamar mandinya dikuras setiap hari karena air mandi ini menyebabkan penyakit gudhiken. Pengajaran dapat dilihat dari berbagai kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. Setiap hari Senin melakukan shalawat Nariyah. b. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes.135 yang disebut joinan)” Keluhan serupa juga diungkapkan oleh AR.00 sampai jam 23. gudhiken tidak menyerang lagi” 4) Fasilitas Olahraga Penyediaan fasilitas olahraga memanfaatkan lapangan Sri Waru atau lapangan Penumping dan menggunakan aula yang ada di dalam ponpes. Selain itu. setiap hari Jumat baik santri maupun santriwati menyelenggarakan tahlil dan kegiatan ke-IPMA-an. Kewajiban rutin santri adalah menjalankan ibadah (sholat berjamaah. tetapi kalau sudah 1 – 2 tahun. yaitu mlenthung-mlenthung dan di dalamnya ada nanahnya. Gudhiken ini biasanya diterima oleh anak yang masih baru. Taushiyah pengasuh dan setiap hari Kamis para santri membaca Manâqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani dan dilanjutkan membaca Maulid Al-barzanjiy.00 dan setiap hari pukul 03. Kegiatan santri setiap hari dimulai pukul 04. mengaji).00 para santri melaksanakan sholat Tahajjud. 5) Mencuci dan Menyetrika Kebutuhan untuk mencuci baju dan menyeterika baju dapat dilakukan oleh santri sendiri maupun pihak penyedia jasa laundry. pengganjaran baik hukuman maupun penghargaan dan pembujukan. belajar kitab. Di dalam ponpes dilarang memakai peralatan elektronik yang mempergunakan listrik sehingga apabila akan menyeterika baju santri harus menggunakan arang.

00 sampai 22.00 karena pada waktu itu jam belajar telah berlaku yakni dari jam 19. jika memakai celana yang longgar (Namun ada santriwati yang berpendapat bahwa memakai rok itu susah. Aturan-aturan yang diberlakukan oleh santri cukup banyak dan harus dipelajari oleh para santri melalui buku kecil. karena pengasuh dan pengurus pondok pesantren mengetahui kemampuan dan kondisi psikologis santri. Aturan tersebut adalah: 1) Tidak boleh nonton bioskop 2) Tidak boleh nonton konser musik 3) Tidak boleh main PS 4) Tidak boleh ke warnet (Di sekitar pondok pesantren banyak terdapat warnet. dan aturan dibuat demi kebaikan santri itu sendiri”. ada kebutuhan mengakses informasi) 5) Tidak boleh membawa handphone (Jika santri akan berkomunikasi dengan keluarga.136 kadangkala dianggap memberatkan karena terlalu banyak dan monoton sehingga membuat santri merasa bosan. santri diperbolehkan menggunakan telepon kantor pondok pesantren. Handphone dianggap hanya mempermudah untuk berkomunikasi dengan pacar. .00 sesuai dengan kebutuhan. ”Peraturan pondok ditetapkan oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren. Di dalam ponpes juga diberlakukan jam malam yaitu pukul 20. Alasannya. Nur Ridho. sehingga pada saat santriwati ke luar pondok. mereka berganti dengan celana panjang di luar pondok) Sebagaimana yang diungkapkan salah satu pengurus. karena pernah ditemukan Hp dengan gambar / foto porno) 6) Santriwati harus memakai rok.

Apabila ada santri yang melanggar aturan tersebut maka diberlakukan sanksi/hukuman yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu: 1) Dipanggil kemudian dinasehati 2) Membersihkan kamar 3) Dicukur gundul 4) Ditabok (pernah terjadi pada santri putri sekitar tahun 2005) 5) Ketahuan bawa handphone. 20 tahun. dimuat dalam tata tertib pondok pesantren. dari 15 santri sebanyak 7 santri (46. menghafal Al Qur’an. Bagi pengurus. Dari bentuk sangsi yang diberikan terlihat adanya hukuman fisik yang diberikan kepada santri. Shobi Showabi.137 Aturan sudah ada dibuat sejak lama.67%) menyatakan adanya hukuman fisik yang berupa penggundulan. handphone-nya disuruh dibanting di hadapan teman-temannya. tidak piket. Selain itu mereka juga pernah dihukum dengan menyalin pelajaran. pemukulan. 28 tahun. Adapun pelanggaran yang sering dilakukan santri menurut para pengurus adalah merokok. dan diminta push up. yang disosialisasikan kepada santri saat masuk pondok pesantren (masa orientasi). membawa barang yang . hukuman ini dianggap efektif karena dapat melatih santri untuk lebih bertanggungjawab dan pemberian shock terapy agar jera. sebagai berikut : ”Pemberian sangsi diperlukan karena sangat mendidik dan sebagai efek kejut atau shock therapy” Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pengurus pondok putri bagian BPPA. Berdasarkan pada hasil penelitian. M. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengurus. sebagai berikut : ”Melatih santri melakukan tanggungjawab disamping itu untuk yg non-fisik membantu anak utk lebih memahami / menghafal juz amma”. Chasanah. membaca Yassin termasuk membersihkan kamar.

37). Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. Selain itu pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus ponpes ini. Selain itu lebih lanjut. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU .33 7 46. para santri pernah mengalami. Yang sering mendapatkan pujian berjumlah 7 anak (46.138 dilarang seperti handphone.67%) dan yang jarang mendapatkan hadiah ada 8 anak (53. dinasehati. Dari 15 santri yang diteliti.37 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad No Keterangan Sering % Jarang % Tidak % 1 Berdiskusi 9 60 6 40 0 0 2 Menasehati dengan 0 0 kata lembut 7 46.67 1 6.33 3 Menyapa saat bertemu 7 46.67 8 53. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Karena ada beberapa santri yang merasa dendam dan akan berlaku yang sama ketiga menjadi pengajar. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas. semuanya pernah mendapatkan pujian. Termasuk juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5.67 7 46. Tabel 5.67 4 Bermusyawarah 8 53. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.67 0 0 Sumber: Data Primer. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes.33%). dan berkelahi.

Tabel 5.67 13.139 Perlindungan Anak (lihat Tabel 5. .67 80 80 86.33 46.37).67 60 73.33 53.67 26.33 40 26.33 26.33 73. Pengurus hendaknya sebagai teladan yang patut ditiru namun ternyata bersikap Jarkoni.67 40 Untuk pengembangan ponpes ke depan.33 20 20 13. ada pemberlakuan hukuman fisik dan juga kebiasaan wali kamar yang suka menyuruh-nyuruh.67 53. diharapkan ada peraturan yang tidak terlalu ketat dan banyak. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 14 13 11 8 8 7 12 12 13 9 11 11 9 % 93.33 60 Tidak 1 2 4 7 7 8 3 3 2 6 4 4 6 % 6. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak.37 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.67 73.67 46. Peristiwa tersebut dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus.67 46.33 86.33 53.

67 6. Dari 15 santri yang ada hanya 1 anak yang tidak mengetahui tentang kepemilikan akte kelahiran.33%). Secara umum. maupun saudara (lihat Tabel 5. Pondok Pesantren Darud Dzikri a.140 1.00 6. ada yang diantar orang tua.67 26. Ketua Yayasan dan Bendahara. teman. kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur maupun asal daerah. Santri datang ke ponpes. Pengasuh Ponpes. Jumlah santriwati ada 11 anak dan jumlah santri ada 4 anak yang berasal dari Solo 8 anak (53.67 100% .2. Eks Karesidinan Surakarta sebanyak 5 anak (33. Sekretaris.38). Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 5 3 1 4 1 1 15 anak Persen (%) 33.33) dan 2 anak (13. Ponpes yang berada dalam lingkungan perkampungan padat penduduk ini memiliki santri sebanyak 15 anak yang berumur paling muda 9 tahun dan yang paling tua 16 tahun.67 6.33) berasal dari Salatiga. Tabel 5. Ponpes ini didukung dengan 5 pengurus yang masing-masing menjabat sebagai Pemimpin Ponpes.33 20.38 Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Orang Tua Saudara Tetangga Teman Sendiri Orang Tua dan Teman Jumlah Sumber: Data Primer. Lama santri yang tinggal di Ponpes ini adalah 3 tahun dan ada yang baru saja masuk sekitar 1 bulan yang lalu. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Darud Dzikri merupakan ponpes yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal untuk para santri dan tidak berfungsi sebagai Sekolah Madrasah.

Kegiatan di ponpes ini didukung dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh yayasan. Bagi pengurus ponpes. . banyak fasilitas yang menurut santri cukup bersih.33 6.67 66.39 Tabel 5. Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami kebosanan di dalam ponpes. fasilitas yang ada hanya ruang ibadah. dimarahi ustad/ustadzahnya dan disuruh-suruh untuk mengerjakan sesuatu. santri juga merasakan kenyamanan tingal di ponpes karena memiliki banyak teman. persoalah ekonomi ada 2 anak dan keinginan saudara ada 2 anak.33 1 2 Ruang Ibadah 15 100.67 5 4 Ruang Makan 13 86. Juli 2009 % 6. seorang anak masuk ke ponpes tidak hanya karena persoalan ekonomi meskipun ponpes ini tidak memberlakukan biaya bulanan sehingga lebih mirip sebuah panti asuhan.00 33.67 2 5 Fasilitas Olahraga 5 33. ruang belajar.33 10 6 Fasilitas Kesenian 5 33. Persepsi santri terhadap kondisi fasilitas yang ada dapat dilihat pada Tabel 5.67 Persepsi santri ini sangat berbeda jauh dengan persepsi para pengurus ponpes.67 0.141 Alasan para santri tinggal di ponpes ini sebagian besar karena keinginan sendiri sebanyak 11 anak. Bahkan memberikan uang saku.39 Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri No Jenis Fasilitas Layak % Tidak Layak 1 Ruang Belajar 14 93. Artinya. dan belajar agama dengan ustad/ustadzahnya. dapur dan laboratorium komputer yang kurang layak.33 10 Sumber: Data Primer.00 0 3 Ruang Bermain 10 66.67 66. Di satu sisi. Hal ini terjadi jika antar santri saling bertengkar.

40). Sedangkan pelanggaran yang pernah dilakukan menurut para santri cukup beragam (lihat Tabel 3. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Rendahnya pengetahuan pengurus ponpes tentang anak memberikan kontribusi bagi terciptanya kekerasan anak di dalam pola pengasuhan ponpes Hal ini juga terlihat dari hukuman yang diberlakukan bagi santri jika melanggar peraturan ponpes. Hal ini tidak sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa sejak dalam kandungan sampai umur 18 tahun seseorang dianggap sebagai anak. Selain itu tidak tahunya para pengurus ponpes tentang Konvensi Hak Anak yang dilakukan PBB termasuk UU No. Yang dimaksud dengan anak adalah yang berusia 0 – 12 tahun sebanyak 3 orang dan berusia 0 – 18 tahun ada 2 orang. Hukuman fisik yang sering dilakukan oleh pengurus ponpes adalah push up dari mulai 25 kali sampai 50 kali dengan pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak melaksanakan piket (persepsi dari pengurus). Selain itu ada 11 anak yang pernah dihukum untuk . Dari 15 santri yang ada. Bahkan ada yang menyebut kalau hukuman bagi santriwati lebih baik disuruh untuk membersihkan lingkungan ponpes. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan merupakan sebuah sistem yang mengatur keberadaan para santri seharusnya didukung dengan pengetahuan yang cukup tentang anak baik yang menyangkut hak anak maupun perlindungan anak. Tentu saja ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak yang telah diatur dalam perundang-undangan. hukuman ini dianggap tidak efektif karena tidak membuat anak jera. Dari hasil penelitian yang ada menunjukkan pengetahuan pengurus ponpes tentang anak sama sekali tidak ada.142 b. 12 anak menyatakan pernah dihukum melakukan push up dengan jumlah yang bervariasi. Meskipun menurut pengurus. Persepsi tentang anak cukup beragam. Terlihat adanya diskrimasi gender.

diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.33 10 6.33 13 20.143 menyalin pelajaran dan menghafal surat dalam Al Qur’an.67 93.00 12 13. 13 juli 2009 saya berbincang dengan andi. tetapi terkadang dalam memberikan hukuman kepada para santri suka memberatkan seperti push-up 25 kali.00 86. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 46).67 80. pada sabtu. Karena lebih lanjut. Tabel 5. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan.67 11 6. Buat saya itu kok terlalu gimana gitu soalnya kan kita belajar disini kenapa kalau kita salah .33 93.67 14 33. Andi : saya sebenarnya senang mbak tinggal disini karena banyak temannya dan bisa belajar mengaji secara gratis.33 13 26.40 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 berkelahi 8 Jarang Mematuhi Sumber: Data Primer. dinasehati.67 14 % 100 86. Seperti halnya push-up dan kadang suka membentak dalam memberi memperingatkan. 12 tahun (bukan nama sebenarnya) dia bercerita tentang bagaimana sebenarnya dia tidak merasa nyaman dengan pemberian hukuman yang ada di ponpes darut dzikri tersebut yang dinilainya terlalu memberatkan.33 66.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Tetapi ada sedikit curhatan yang saya dengar dari anak-anak penghuni ponpes. Juli 2009 Pernah 0 2 3 2 4 1 5 1 % Tidak 0 15 13.67 73.

Hukumannya juga tidak hanya untuk anak laki-laki saja. apa yang di suruh oleh ustad ya kita harus lakukan dan tidak nanti akan terkena marah lagi oleh ustad. karena mia dianggap terlalu sombong. perempuan juga mendapatkan hukuman yang sama dari ustad. Dia merasa sering di kucilkan oleh teman-temannya di ponpes oleh karena itu dia sering menyendiri dan tidak suka berbaur dengan teman-temannya. dia sering sekali bercerita kepada saya tiap saya berkunjung ke pesantren ini. Kenapa kita sudah di hukum push-up masih di suruh menghafal surat-surat pendek lagi. Dan terkadang dia suka ngrasani mia dengan teman-teman santriwati yang lain. Biasanya kita di hukum karena terlambat atau ramai dan menurut saya kesalahan seperti itu kan wajar mbak.144 kita harus di hukum dengan push-up? Kan masih bisa kita di hukum dengan hanya di nasehati saja atau di suruh menghafalkan surat-surat pendek saja. Dia juga merasa tdak nyaman dengan para ustad dan ustadzahnya yang dirasa terlalu keras dalam berbicara dan katanya suka menghukum push-up. Saya sempat berbincang dengan salah seorang santriwati. Saya merasa pertemanan dan gaya bercanda antara para santri terlalu kasar dan tidak pantas dilakukan. Enumerator : pernahkah kamu membantah saat diberikan hukuman? Dan jangan-jangan kesalahan yang kamu lakukan terlalu berat atau mungkin kamu nakal? Andi : tidak berani mbak. Dan sebut saja santriwati ini Ita (9 tahun). Kata-kata guyonan yang mereka lontarkan pun terlalu kasar seperti melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan antara santri. Saya tinggal disini karena terpaksa oleh keluarga yang menginginkan saya untuk tinggal di ponpes ini dan belajar disini. semenjak kedatangannya ke ponpes ini tidak pernah merasa kerasan dan tidak cocok dengan suasana ponpes. . 16 tahun . sebut saja Mia. dia bilang kurang suka dengan keberadaan Mia disini.

67 6. Mereka sholat berjamaah sendiri. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar Undangundang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.42).145 Dan tanganya pun terlalu enteng.67 13. para santri pernah mengalami. Dan pada saat itu. mengaji dan menghafal surat-surat pendek pun sendiri. bisa saling memukul dan tidak segan-segan kepala yang dipukul oleh mereka. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer.67 6.41 Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Blm pernah dihukum Tidak menjawab Ikhlas. belum ada pengawasan langsung oleh ustad atau ustadzah yang mengasuh ponpes tersebut.67 100 Berdasarkan hasil penelitian.33 6. Keadaan kamar mereka juga tidak terawat dan sangat kumuh. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 8 1 1 1 2 1 1 15 % 53. yang mereka sendiri terkadang merasa risih dengan keadaan yang seperti ini. Tabel 5.67 6. Peristiwa tersebut baik dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak. malu. Kegiatan yang mereka lakukan sebagai santri di waktu pulang sekolah lebih banyak di habiskan di depan televisi dan tidur. .33 6.

67 93. beribadah. memasak dan membersihkan lingkungan ponpes. Meskipun secara keseluruhan kegiatan rutin santri ini dianggap tidak memberatkan tetapi ada kegiatan yang dianggap paling memberatkan oleh santri adalah membersihkan WC karena dapat membuat santri cepat lelah ditambah kewajiban memasak.67 73.67 Setiap santri wajib melakukan kegiatan yang telah ditetapkan oleh pengurus yaitu belajar.67 0 6.33 33.33 Tidak 2 0 1 0 1 3 9 10 10 13 14 15 14 4 % 13.146 Tabel 5. Setiap hari.33 13.67 20 60 66.67 66. . Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 13 15 14 15 14 12 6 5 5 2 1 0 1 11 % 86.67 86.33 26. bahkan saling tukar cerita.33 0 6.67 0 6.42 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok 14 Pertengkaran Sumber: Data Primer. Kondisi ini tertutupi dengan metode pengajaran yang diberlakukan oleh ponpes ini dianggap santri cukup menyenangkan seperti menghargai pendapat setiap santri.33 80 40 33.33 6. santri mendapatkan piket memasak untuk kebutuhan mereka sehari-hari dengan menu yang telah ditetapkan.33 100 93.67 100 93.33 100 93. mengajak diskusi.

3. Untuk kemajuan ponpes ke depan. Secara keseluruhan jumlah santri di Ponpes ini ada 27 anak yang saat ini menempuh pendidikan SMP dan SMA (lihat Tabel 5. dari Jawa Tengah ada 6 anak dan 1 anak dari Jambi. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. . Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Solo dan sekitarnya dengan lama tinggal antara 1.5 – 3 tahun. didalam ponpes juga ada pola pengasuhan melalui pembujukan yaitu menasehati dengan kata lembut. sebanyak 13% pernah mendapatkan hadiah dan 2 lainnya tidak pernah. Dari jumlah tersebut. artinya masih lemahnya santri di dalam menuntut hak-haknya sebagai anak Indonesia. Sedangkan hubungan antar santri juga cukup dekat karena sebagian santri menyebutkan teman curhatnya adalah temannya sendiri. Pondok Pesantren Mujahiddin a. 1. bagi santri menginginkan pengurus semakin memperhatikan kondisi mereka termasuk mengajak untuk berekreasi. Hubungan antara pengurus dan santri digambarkan sangat dekat seperti keluarga sendiri seperti menemani santri ketika belajar. Dari 15 santri yang ada. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Mujahidin merupakan ponpes yang memiliki santri laki-laki saja.147 Didalam ponpes ini ada bentuk penghargaan bagi anak yang berprestasi.43). penelitian mengambil 12 santri sebagai responden yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada 2 santri yang menyatakan ketidaktahuannya akan akte kelahiran. Yang berasal dari Solo ada 4 anak. Selain itu. mengajak diskusi dan bermusyawarah serta selalu menyapa saat berpapasan. dari Eks Karesidenan Surakarta ada 1 anak.

tidak ada pemaksaan . Artinya.148 Tabel 5. Dari 12 anak yang menjadi responden semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. sebagian besar (9 anak) diantar oleh orang tua dan 3 anak lainnya diantar saudaranya.43 Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Nama Kelas Umur No 1 Deni Arif Sulistyo VII 13 2 Endang Sudrajad VII 15 3 Mu'as Abdul Rohim VII 13 4 Ridzwan Nur secha VII 13 5 Wildan Syahidullah VIII 13 6 Abdurrahman Arif VIII 15 7 Ahmad Romadhon VIII 14 8 Ali Taufikurrahman VIII 14 9 Dian Hafidz Saifudin VIII 14 10 Humam Ujiana VIII 14 11 Ilham Kurniasandi VIII 14 12 Sayid Imam Muhammad VIII 14 13 As'ad IX 16 14 Dafid saiful Anwar IX 15 15 Deni Sudrajad IX 15 16 Fahrur Rozik IX 17 17 Faidillah IX 15 18 Faqih Hidayatullah IX 16 19 Fathurrohim IX 16 20 Hadiyatna Hamid IX 15 21 Khoirudin IX 15 22 muh Zami' Al Wahid I IX 15 23 Muhammad Yusuf IX 15 24 Rifqi As Sabiq IX 15 25 Rizal Abdul Aziz Al Qomar IX 15 26 Muhammad Salman IX 16 27 Prasetyo IX 16 Sumber: Data Kesiswaan Pondok Pesantren Mujahidin. Juli 2009 Santri datang ke ponpes.

100. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal. kondisi lingkungan ponpes menurut para santri ada yang menyebutkan bersih (5 anak) dan ada yang menyebutkan biasa saja (7 anak). kondisi lingkungan cukup bersih karena setiap harinya ada santri yang mendapatkan jatah piket untuk membersihkan lingkungan ponpes. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu.000. Jika santri kehabisan uang saku. sekolah dan ditabung. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Banyak hiburannya karena suka duka dirasakan bersama 4) Ustadnya baik 5) Dapat hidup mandiri Secara umum. Bagi pengurus ponpes. Tidak ada pemaksaan terhadap anak. rata-rata mereka hanya diam saja ada 7 anak atau minta orang tua ada 5 anak. .44). Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan 1 anak mendapatkan uang saku dari saudaranya. Tersedianya fasilitas untuk mendukung kehidupan santri juga memberikan efek positif bagi keberadaan santri di lingkungan ponpes meskipun ada sebagian yang dianggap tidak layak (lihat Tabel 5. 200. Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang. mulai kurang dari Rp. dan Rp.000 s/d Rp.100.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi.149 dari siapapun untuk masuk ke ponpes.

tidak mudah marah.33 8.150 Tabel 5. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5.67 75 91.33 Sumber: Data Primer.67 Tidak Layak 0 0 0 1 0 0 0 0 % 0 0 0 8. kegiatan rutinitas itu dirasakan tidak memberatkan (sebanyak 9 anak) dan kadang-kadang memberatkan (sebanyak 3 anak).67 91.45) .33 25 8.44 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Komputer Perpustakaan Layak 12 12 12 11 11 9 11 11 % 100 100 100 91. Pola pengasuhan Fasilitas-fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Mujahidin secara efektif digunakan untuk melakukan kegiatan rutin santri yang telah dijadwalkan seperti kegiatan keagamaan (sholat berjamaah. Hal ini karena didukung oleh keberadaan pengurus ponpes baik pengasuh maupun ustadnya yang dianggap santri menyenangkan. menghafal Al Qur’an dan belajar kitab) dan belajar ilmu pengetahuan umum (pelajaran sekolah). Selain itu setiap santri diwajibkan untuk menjalankan piket yang juga telah dijadwalkan untuk membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Bagi sebagian besar santri. tadarus.67 91. mau bergaul dengan santri mendengarkan keluh kesah pada santri maupun bercanda bersama.33 0 0 0 0 Tidak Tahu 0 0 0 0 1 3 1 1 % 0 0 0 0 8. Juli 2009 b.

33 0 16. scot jump. Bagi pengurus.33 8.67 91. pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak piket. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes.30 sampai 04.33 2 2 0 3 2 16. lari mengelilingi ponpes.67 Sumber: Data Primer.33 83.21.67 0 Tidak % Tahu 4 33.33 8. sit up. Juli 2009 Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri. Jika mereka mengalami kesulitan belajar.33 0 0 4 33. dan . tidak menjalankan kegiatan keagamaan maupun terlambat sekolah.67 58. menggunakan fasilitas yang ada dan refreshing setiap 1 tahun sekali. ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan. Bagi santri yang kurang berprestasi akan mendapatkan bimbingan khusus dan mengadakan belajar kelompok untuk meningkatkan prestasi.67 0 25 16.30.151 Tabel 5. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk push up. rolling.33 Tdk Senang 0 1 1 1 1 0 2 0 % 0 8. ada pengasuh yang menemani mereka. Setiap santri belajar.30 dan jam belajar mulai pukul 19.33 75 75 100 58. memberikan bimbingan semampunya atau meminta senior mereka untuk membantunya.33 8.45 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 8 11 7 9 9 12 7 10 % 66.67 16.30 . Selain itu mereka juga pernah merokok. Di dalam ponpes diberlakukan jam malam mulai pukul 21. Kegiatan refreshing ini membuat santri tidak merasa bosan.

Meskipun sebagian besar santri menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut.33 5 33.33 5 % 91. menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat.152 jalan jongkok.46 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 Berkelahi 8 Kabur Sumber: Data Primer. dicukur gundul dan pemberian skorsing. hukuman-hukuman tersebut dianggap efektif karena mendidik santri untuk mandiri dan bertanggungjawab serta sudah merupakan kesepakatan bersama antar pengurus ponpes sebagai sebuah peraturan sehingga dianggap tidak menyimpang.47 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Pernah 12 10 6 6 2 6 % 100 83.33 8 58.67 50 50 83.67 50 Tidak 0 2 6 6 10 6 % 0 16.33 50 50 16. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal muffrodat. Peraturan yang dibuat tidak melibatkan santri.67 Bagi santri sendiri. Tabel 5.33 100 41. Bagi pengurus.67 10 0 12 58. Tabel 5. ayat-ayat Al Qur’an. Juli 2009 Pernah 1 7 12 2 0 7 4 7 % Tidak 8.67 66. diperingatkan atau diajak bermusyawarah ketika santri mendapatkan hukuman karena santri merasa malu dengan hukuman tersebut.33 11 58.67 0 83.33 50 .33 5 100 0 16.67 41.67 41.

33 75 100 91.67 75 100 Pada waktu saya di ponpes Al Mujahidin santri banyak bercerita tentang hukuman dan peraturan yang diterapkan dipondok. mereka kabur lewat pintu belakang pondok.push up paling tidak 40 kali. AB dan AC yang sering melakukan pelanggaran.oleh pak ustad karena kabur. Sangsi yang sering diberikan adalah hukuman push up. skorsing dan hukuman gundul. Hukuman gundul diberikan pada anak-anak yang kabur dari pondok. tetapi saya tidak dapat mengambil gambar atau melihat secara langsung karena pada waktu itu tidak ada santri yang melakukan pelanggaran. bisa dikatakan sebagai jalan umum. Juli 2009 No Pernah 4 9 12 11 4 3 0 % 33. Ada beberapa anak yang mendapatkan hukuman ini.33 25 0 Tidak 8 3 0 1 8 9 12 % 66. selain digundul mereka juga sering diskorsing dan push up. pintu ini tidak dijaga oleh pihak pondok dikarenakan pintu ini merupakan akses bagi masyarakat umum untuk masuk ke masjid.153 Keterangan Menyuruh berdiri di bawah 7 matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up Menyiram air untuk 10 membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer. tapi aku juga pernah .67 33. seperti halnya yang dikatakan oleh AB”kalau hukuman yang sering aku terima ya itu mas. AC”kalau kita terlambat ikut sholat berjamaah dan terlambat masuk kelas gitu. itu AA mas paling banyak dapat hukuman. Mereka bertiga pernah kabur karena jenuh berada dilingkungan pondok. apalagi hukuman gundul” AA”aku pernah dihukum gundul mas. langsung digundul”. sebut saja AA. kita biasanya disuruh menghafal muffrodat.33 66. biasanya karena telat masuk kelas.67 25 0 8.

33 0 0 0 Sumber: Data Primer.33 50 Jarang 6 0 2 6 % 50 0 16. sama membersihkan wc ”. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya.scot jump. Hukuman skorsing adalah hukuman menghafal bagi santri. Santri tidak pernah marah dan menerima apa adanya hukuman yang diberikan oleh pihak pondok. Dari responden hanya ada satu orang yang belum pernah mendapatkan hadiah. yaitu menghafal ejaan Al Quran dan menghafal cara berkhutbah. selain itu hukuman yang lain ya berupa lari kecil. para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah. Juli 2009 Selain memberikan penggajaran berupa hukuman. .154 digundul.48 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 5 12 10 6 % 41.akan tetapi lebih baik apabila hukuman yang diterapkan adalah berupa teguran dan saran terlebih dahulu.itu gara-gara kabur sama AC. Hampir semua santri sering menerima hukuman ini. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes karena situasi ponpes yang menyenangkan Tabel 5. mereka menyadari bahwa mereka mendapat hukuman karena kesalahan mereka sendiri. mereka pada dasarnya menyetujui hukuman fisik.67 50 Tidak 1 0 0 0 % 8. Pondok Pesantren Mujahidin juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. hukuman ini termasuk hukuman ringan.67 100 83. Tetapi bagi santri sendiri.48).

Selebihnya hanya mengandalkan fasilitas seadanya seperti tempat belajar berada di dalam kamarnya masingmasing. Yang paling menonjol adalah keberadaan Masjid Agung sebagai tempat pelaksanaan ibadah. sekolah (termasuk transport) dan sisanya untuk ditabung. Ketiga anak tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini untuk melihat pola pengasuhan di pondok pesantren. Pondok Pesantren Tahfid Wata'limil Qur'an Penelitian pada ponpes yang berada di lingkungan Masjid Agung Kota Solo ini dijadikan pembanding terhadap ponpes lainnya. Secara garis besarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori ponpes anak karena santri yang tinggal di ponpes ini kebanyakan adalah mahasiswa. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Terdapat lapangan badminton dan ada kesenian hadrah sehingga mampu menambah aktivitas para santri untuk aktualisasi diri. Ketiga santri ini berasal dari Wonogiri. Kebutuhan untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan. Sragen dan Kebumen. mempunyai banyak teman yang mengajarkan tentang adanya perbedaan dan didukung dengan ustadz yang baik dalam pengasuhan menjadikan santri lebih mampu hidup mandiri. Kehidupan yang menyenangkan didalam ponpes membuat santri merasa betah tinggal di ponpes meskipun jauh dari keluarga. Santri yang tinggal di ponpes ini tetap mendapatkan uang saku dari orang tuanya dengan jumlah yang tidak tentu. Alasan masuk ke dalam ponpes ini karena keinginan sendiri dan diantar oleh orang tua masing-masing. hanya ada 3 orang yang berusia dibawah 18 tahun. Fasilitas yang tersedia di dalam ponpes ini sangat sederhana. .155 1. Salah satu santri sudah cukup lama tinggal di ponpes ini selama 3 tahun karena merasa nyaman tinggal di ponpes ini. Keutamaan untuk menjalankan keagamaan menjadi kewajiban rutin yang harus dijalankan oleh santri dari mulai sholat berjamaah.4.

156 belajar kitab. lingkungan ponpes dan memasak. dan mengaji. Semua kegiatan itu dilakukan dengan senang hati dan cara pengasuhan diponpes ini dianggap santri menyenangkan. Tidak ada hukuman fisik yang berlaku di dalam ponpes. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kabupaten Klaten 2. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Munir merupakan ponpes yang didirikan untuk mengembangkan keilmuan keagamaan yang ditempuh oleh salah satu anak pendiri Yayasan Al Munir. Selain itu. 2. Pengganjaran dalam ponpes ini diberikan dalam bentuk penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar peraturan. Hal ini dapat dibenarkan karena mereka tidak mengetahui tentang adanya Kovensi Hak Anak dan Undang-Undang . kewajiban menjalankan piket untuk membersihkan kamar. Sanksi yang diberikan bagi santri yang melanggar adalah menghafal Al Qur’an dan membersihkan lingkungan ponpes. Selain itu. Peraturan yang di dalam ponpes telah dibuat oleh pengurus dan tidak ada kelibatan santri di dalam pembuatan peraturan tersebut. setiap santri memiliki hak untuk berpendapat dan mengeluarkan kritik ataupun saran kepada pengurus ponpes bagi kebaikan ponpes selanjutnya di masa mendatang. Adanya ruang terbuka untuk menerima masukan santri menandakan kepedulian besar terhadap hak-hak santri untuk berpartisipasi di dalam kemajuan ponpes. Selain kewajiban. Ke depan. diharapkan sanksi yang tegas bagi yang melanggar peraturan ponpes dan adanya penambahan waktu untuk mempelajari kitab Al Qur’an.1. Pondok Pesantren Al Munir a. ponpes ini diharapkan menambah fasilitas yang lebih baik untuk mendukung kegiatan ponpes. Pengurus pondok pesantren ini memiliki persepsi bahwa usia anak adalah 0 – 12 tahun.

Apabila uang saku yang diberikan telah habis. Sumber dana dari pondok pesantren ini berasal dari donatur tetap serta sumbangan yang sifatnya tidak rutin. Ada yang masih 3 hari masuk ponpes tetapi ada anak yang sudah 5 tahun tinggal di ponpes. dan memiliki pengurus yang baik hati. Rembang ada 1 anak (10%). Santri yang tinggal di ponpes ini sebagian besar di antar orang tuanya sebanyak 8 anak dan 2 anak lainnya diantar oleh saudara dan tetangganya. Penelitian ini mengambil 10 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 6 anak (60%). Yogyakarta ada 1 anak (10%). keinginan sendiri maupun hanya sekedar menuruti keinginan orang tua. Usia anak yang menjadi responden paling tua berumur 17 tahun dan yang paling muda berumur 9 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 2 anak (20%) dan laki-laki ada 8 anak (80%). ada 8 anak yang memiliki akte kelahiran dan sisanya sebanyak 2 anak menjawab tidak tahu.157 Perlindungan Anak. belajar agama. Mereka datang ke ponpes ini dengan berbagai alasan seperti kesulitan ekonomi. Santri yang tinggal di ponpes ini masih mendapatkan uang saku dari orang tuanya kecuali bagi orang tua yang tidak mampu maka santri mendapatkan uang saku dari ponpes meskipun tidak rutin dengan jumlah yang tidak tentu. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi santri seperti jajan dan ditabung. Hal yang membuat senang tinggal di ponpes karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain. mereka cenderung meminta lagi kepada orang tua kecuali yang diberikan ponpes mereka hanya bersikap diam saja. Hal yang membuat tidak senang anak-anak adalah karena . kehidupan di ponpes kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. Dari 10 responden. Bagi santri. Demak ada 1 anak (10%) dan Ngawi ada 1 anak (10%). Sebagian anak masih baru tinggal di panti.

49 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 7 9 5 6 2 6 % 70 90 50 60 20 60 Tidak Layak 1 1 2 2 3 1 % 10 10 20 20 30 10 Tidak Ada 2 0 3 2 5 3 % 20 0 30 20 50 30 Sumber: Data Primer. olahraga dan kesenian. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan santri ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.158 mereka jauh dari orang tua.49 Tabel 5. Tetapi menurut pengurus ponpes. . ponpes ini tidak memiliki ruang untuk bermain. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan dalam ponpes ini menerapkan 3 konsep pengasuhan yaitu pengajaran melalui kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. Adapun fasilitas yang ada di ponpes ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5. Di dalam pemikiran santri. fasilitas tersebut dapat dilakukan di dalam kamar seperti makan dan di luar ruangan (lingkungan ponpes) seperti bermain. Setiap pengasuhan yang diterapkan memiliki konsekuensi tersendiri bagi keberadaan ponpes ke depan. pengganjaran baik berupa penghargaan maupun hukuman serta pembujukan. olahraga dan berkesenian. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas sangat mendukung bagi terselenggaranya kehidupan ponpes yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. makan. Kondisi lingkungan di ponpes dirasakan cukup bersih karena setiap hari mereka wajib membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. b.

belajar kitab. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. mengaji. Antara anak dan pengurus seringkali terjalin komunikasi. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di ponpes yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan santri. Juli 2009 Apabila ada santri yang mendapatkan masalah atau melakukan pelanggaran peraturan ponpes.50. santri merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari pengurus sehingga perasaan nyaman dan aman dirasakan oleh santri. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. maka hal yang biasa dilakukan adalah memberikan nasehat untuk tidak mengulangi perbuatannya.159 Setiap santri memiliki kewajiban yang harus dijalankan dari sholat berjamaah. kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik .50 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 9 8 9 8 10 9 10 10 % 90 80 90 80 100 90 100 100 Tdk Senang 0 1 0 1 0 1 0 0 % 0 10 0 10 0 10 0 0 Tidak Tahu 1 1 1 1 0 0 0 0 % 10 10 10 10 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah nyuci piring/baju dan belajar pagi karena persiapan untuk ke sekolah jadi terganggu. Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5.). Bagi santri. Selain itu selama tinggal di ponpes. Tabel 5.

pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi. Selain hukuman fisik. sakit hati dan malu ada 2 anak. merasa malu ada 1 anak. ikhlas dan merasa malu ada 2 anak. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 20 0 10 10 10 0 10 Jarang 2 3 4 6 3 4 5 % 20 30 40 60 30 40 50 Tidak 6 3 5 3 6 6 4 % 60 30 50 30 60 60 40 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.51 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Keterangan Sering Merokok 2 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 1 Tidak menginap 1 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 1 Sumber: Data Primer.52 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Sering 1 1 0 0 0 0 0 0 % 10 10 0 0 0 0 0 0 Jarang 9 7 3 5 6 6 6 1 % 90 70 30 50 60 60 60 10 Tidak 0 2 7 5 4 4 6 9 % 0 20 70 50 40 40 60 90 . ikhlas dan akan berlaku sama dengan pengajar ada 1 anak dan 1 anak lagi merasa malu. Menurut anak.160 yaitu dijewer telinganya tetapi jarang dilakukan.51) tetapi tidak sering dilakukan. Tabel 5. di dalam panti juga memberlakukan hukuman seperti menghafal Al Qur’an maupun menyalin ayat Al Qur’an. diberikan pujian dan hadiah. Tabel 5. anak-anak ini sebagian menerima dengan ikhlas ada 3 anak.

Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. Tabel 5. Meskipun tidak sering terjadi tetapi dapat mempengaruhi kejiwaan santri yang notabene masih usia anak. berdiskusi. Juli 2009 % 50 90 30 30 Jarang 5 1 5 5 % 50 10 50 50 Tidak 0 0 2 2 % 0 0 20 20 Pondok Pesantren Al Munir juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut.53 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir No Keterangan Sering 1 Berdiskusi 5 2 Menasehati dengan kata lembut 9 3 Menyapa saat bertemu 3 4 Bermusyawarah 3 Sumber: Data Primer.161 No 9 10 11 12 13 Keterangan Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 0 0 2 2 7 % 0 0 20 20 70 Jarang 4 5 4 4 1 % 40 50 40 40 10 Tidak 6 5 4 4 2 % 60 50 40 40 20 Sumber: Data Primer. . menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 58). melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 57). Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. santri pernah mengalami.

ada 2 santri yang tidak memiliki akte kelahiran.2. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Klaten dan sekitarnya dengan lama tinggal rata-rata masih dibawah 1 tahun.67 6. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Sunan Kalijaga berdiri sejak tahun 2006 sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tabel 5.162 2.67 100 Santri datang ke ponpes tidak selalu diantar oleh orang tuanya. Ada yang diantar oleh saudara. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. Dari 15 responden. teman maupun tetangganya . Penelitian ini mengambil responden berjumlah 15 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (Tabel 5.54 Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Magelang Semarang Jawa Klaten Pasuruan Ungaran Cepu Kendal Temanggung Jumlah Sumber: Data Primer. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga a.54).67 20 13. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah 4 3 2 1 1 1 1 1 1 15 % 26. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan ekonomi.67 6.33 6. Legalitas anak untuk menjadi warga negara Indonesia berasal dari akte kelahiran.67 6. Hal ini sungguh memprihatinkan karena kepemilikan akte kelahiran ini merupakan hak setiap anak Indonesia.67 6.67 6.

Hanya sedikit anak yang uang sakunya ditabung.55).56). Mereka datang ke ponpes sebagian besar karena keinginan sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak (Tabel 5.33 Santri secara rutin ada yang mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan ada juga yang mendapatkan uang saku dari ponpes. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 5 6 2 2 15 % 33.33 40 13. Tabel 5. Tabel 5.55 Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Orang Tua Saudara Teman Tetangga Jumlah Sumber: Data Primer.33 13. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 11 2 1 1 15 % 73. tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Jika santri kehabisan uang saku. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. 200. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini .163 (Tabel 5.100. mulai kurang dari Rp.33 13. Artinya. 100. dan Rp.33 6.56 Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Keinginan Sendiri Ekonomi Keinginan Sendiri dan Ekonomi Memperdalam Ilmu Agama Jumlah Sumber: Data Primer.67 100 Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang.000 s/d Rp. rata-rata mereka hanya diam menunggu kiriman dan ada sebagian kecil yang meminjam uang ke teman sekolah.000.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.67 6.

yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Memiliki Ustad yang baik 4) Berbeda dengan ponpes yang lain Secara umum.33 % 1 Ruang Belajar 3 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 3 4 Ruang Makan 9 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 5 Sumber: Data Primer.33 4 26.33 2 13.57). Kegiatan para santri didukung dengan berbagai fasilitas yang telah ada didalam ponpes meskipun dirasakan oleh santri tidak layak. Juli 2009 Menurut Kyai Susilo Eko Pramono. seperti yang diungkapkan sebagai berikut: ”Fasilitas pondok terutama ruang belajar mengajar bisa dikatakan sangat jauh dari layak.33 8 53. (lihat Tabel 5.164 berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. Dilihat dari segi ilmu belajar mengajar. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal. biasa saja (5 santri atau 33.33%) dan sisanya menyebutkan lingkungan ponpes kumuh/kurang memadai/memprihatinkan ( 4 santri atau 26. kondisi fasilitas di Ponpes ini sebenarnya jauh dari kelayakan. Bagi pengurus ponpes.67%).67 20 3 20 9 60 33. Tidak ada pemaksaan terhadap anak.67 8 53. Tabel 5. menurut para santri kondisi lingkungan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga ini bersih (6 santri atau 40%). Namun karena kondisi ekonomi memang masih sangat terbatas. ruang kelas ini sebenarnya sangat tidak layak untuk dipakai. kondisi lingkungan biasa saja.33 60 2 13.57 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No Jenis Fasilitas Layak Tidak Tidak % % Layak Ada 20 12 80 0 0 100 0 0 0 0 20 4 26. .

belajar kitab. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang dilakukan setiap santri cukup padat yang meliputi sholat berjamaah.” b.67 13.33 93. Kalau melihat seperti itu sebenarnya kasihan juga. maka duduk berdesak-desakan.58 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 15 13 15 14 14 14 13 Tdk Senang 93. jadi mau bagaimana lagi. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5.33 0 100 0 86. Mereka saling berkomunikasi dan diskusi tentang hal-hal yang terjadi di dalam ponpes. mengaji/tadarus. selalu saja duduk di tikar.67 6.33 93.67 0 0 0 0 0 % 0 0 6.67 0 6.165 dan donator tetap juga tidak ada.67 1 % 100 93. dan karena ruang sangat sempit. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes serta memasak. Kondisi ini agak tertolong karena hubungan antara anak dan pengurus ponpes cukup baik meskipun pengetahuan pengurus ponpes tentang hak anak dan perlindungan anak belum memiliki. Terutama untuk kelas ibu-ibu. lantai belum disemen.67 0 6.33 86. Juli 2009 . Kegiatan tersebut bagi 9 anak dirasakan tidak memberatkan tetapi ada 6 anak yang merasa kadang-kadang kegiatan tersebut memberatkan.33 Sumber: Data Primer.67 6.58) Tabel 5. bermain.67 0 0 0 0 0 Tidak Tahu 1 0 1 0 1 1 1 2 % 6.

166

Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri, ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan, mendapatkan ilmu agama dan berpendapat. Persepsi mengenai jam malam dan jam belajar antar santri memiliki perbedaan. Ada yang menyebutkan jam malam dimulai pukul 20.00 WIB tetapi ada yang menyebutkan jam 20.30 WIB. Jam belajar berkisar antara 22.00 – 23.00 WIB. Jika mereka mengalami kesulitan belajar, diadakan kelompok belajar sehingga antar santri saling memberikan bantuan pelajaran sekolah. Para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya. Tetapi sistem pemberian penghargaan ini sering dilakukan oleh pengurus ponpes. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk lari mengelilingi ponpes, scot jump, sit up, dan mengisi bak air. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal Al Qur’an jus 30, dan menyalin pelajaran yang belum lengkap. Tabel 5.59 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % Merokok 2 13,33 3 20 10 66,67 Terlambat pulang 4 26,67 10 66,67 1 6,67 Tidak piket 2 13,33 9 60 4 26,67 Tidak beribadah 0 0 6 40 9 60 Tidak menginap 0 0 1 6,67 14 93,33 Membawa barang 6 0 0 1 6,67 14 93,33 yang dilarang 7 Berkelahi 0 0 0 0 15 100 Sumber: Data Primer, Juli 2009 No 1 2 3 4 5

167

Sebagian santri, menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat, diperingatkan atau di ajak bermusyawarah. Santri yang

mendapatkan hukuman sebagian besar menerima dengan ikhlas yang disertai perasaan malu dan menyesal. Hukuman yang diberikan kepada para santri pun bermacammacam tergantung pada bentuk kesalahan dan pengurus ponpes. Adapun bentuk hukuman yang pernah diberlakukan seperti yang diceritakan para santri kepada peneliti sebagai berikut: 1. Penuturan Sm “Suatu hari NZ pernah di tampar karena salah saat baca Al Barzanji pada waktu acara di masjid dengan warga sekitar. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil, kemudian di marahi dengan dibentak-bentak, dan NZ akhirnya ditampar” ”Pada suatu hari setelah kegiatan belajar (pukul 21.00), santri Z dan P diminta untuk memasang keramik bak mandi dalam pondok. Dan santri D dan S diminta memperbaiki mesin jahit yang rusak.” (yang pasang keramik sampai jam 03.00 baru selesai, yang membetulkan mesin jahit sampai sekitar jam dua ditinggal tidur, dan kerjaan belum selesai. Abi tahu tetapi tidak dimarahi. Ketika mereka bekerja, Abi bercanda saja dengan keluarganya, dan menyalakan radio. Berdasarkan hasil observasi, kebiasaan abi kalau malam memang mendengarkan radio) ”Kalau amanah abi tidak dilaksanakan, biasanya santri akan dibentak-bentak. Kadang abi juga menyuruh yang aneh-aneh, pernah saya disuruh abi untuk cari jeruk nipis, ketika itu sudah jam sembilan malam. Saya mencari ke rumah-rumah warga, dan akhirnya dapat” 2. Penuturan DR ”Sumur, septitank, dan kamar mandi yang dibuat saat ini sebenarnya hukuman yang diberikan oleh Abi kepada santri lama. Abi memberikan waktu seminggu untuk membuat itu semua. Namun dalam perjalanannya, pembuatan itu dibantu juga oleh santri-santri yang baru.” 3. Penuturan FS ”Dulu pernah dihukum dijemur saat jam 12 siang di depan masjid, dengan melihat matahari selama 30 menit. Saat itu dihukum bersama dengan 12 santri. Silau sekali saat itu dan merasa pusing. Rasanya berat juga untuk melaksanakan

168

hukuman itu. Hukuman itu sudah lama, mungkin sekitar 3 bulan yang lalu.” ”Abi juga kadang memberi amalan untuk dijalankan santri (amalan biasa diberi semacam buku atau doa-doa untuk dibaca). Dulu saya dan 8 orang santri lain pernah diberi amalan, tempat amalan dipisah-pisah, dan sebelum didatangi oleh Abi tidak boleh berhenti. Saya dan satu orang lagi mendapat jatah di kebun di bawah pohon. Saya disuruh mengucap kalimat dan diulang-ulang dengan kaki diangkat satu. Ketika tengah melakukan itu pas mungkin tengah malam hujan deras. Jadi saya dan satu orang yang lain tadi tidak berani kembali ke pondok, dan menunggu di datangi Abi. Waktu itu menunggu Abi datang lumayan lama, jadi saya hujan-hujanan, dan kedinginan di bawah pohon.” ”Santri kalau sudah menghatamkan satu kitab biasa diberi ujian oleh Abi. Saya dulu ketika menyelesaikan Kitab Shohibul Ghoiz di suruh Abi untuk tidak tidur selama 3 hari. Dan saya laksanakan, dan ternyata kuat.” 4. Penuturan NK “Pernah dihukum push up 50 kali dan scot jump 99 kali, garagara pada waktu itu diberi kesempatan liburan dan disuruh ziarah ke makam-makam, namun karena pulangnya lebih dari waktu yang ditentukan, akhirnya dihukum.” 5. Penuturan PY ”NZ pernah di tampar Abi karena salah saat memimpin membaca Al Barzanji dengan warga. Waktu itu ketika sebelum acara mencatat dulu yang akan dibaca. Namun ditengah menjalankan bacaan Al Barzanji, dan membaca catatan, antara santri satu dengan yang lain ada yang berbeda. Akhirnya bacaan berhenti beberapa saat karena bingung. Dan ketika dilanjutkan ada bacaan yang terlewat. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil oleh Abi. Setelah dimarah-marahi, kemudian NZ ditampar oleh Abi” 6. Penuturan D ”Jika bangun dengan cara disiram air seperti pagi tadi sebenarnya dalam hati mereka pasti merasa jengkel, namun santri itu jika dengan saya tidak berani mengeluh. Tadi sebenarnya saya sudah bangunkan, karena mereka sudah bangun lalu tidur lagi, mau tak mau saya siram air, karena waktu subuh tadi juga sudah mepet waktunya. Biasanya saya membangunkan dulu mereka 2-3 kali baru setelahnya dengan menyiram air. Namun tadi karena waktunya sudah hampir habis, maka hanya saya bangunkan sekali, dan yang kedua kalinya langsung saya siram air”

169

7. Wiro (Bambang Wahyu Saputro) ”Saya adalah santri yang paling sering dihukum oleh pak kyai. Saat inipun saya sedang melaksanakan hukuman dengan cara menyalin buku ini (semacam buku belajar mengaji untuk kelas iqro’). Untuk menyalin buku ini (buku tersebut berukuran seperti buku tulis biasa dengan tebal 53 halaman) saya diberi waktu 3 hari. Tadi diberi hukuman ini karena saya terlambat masuk ke kelas. Tadi saya terlalu lama mencari jas almamater. Sebenarnya barang-barang saya ada di kamar belakang, tetapi tadi jas saya ada di kamar di dalam masjid. Biasanya ada santri yang pinjam, tapi tidak dikembalikan ke kamar saya atau ke saya. Karena terlalu lama mencari, akhirnya terlambat masuk kelas. Jas almamater tidak saya persiapkan sebelumnya, karena hari ini tidak ada jadwal untuk memakai jas almamater. Namun tadi sore setelah ashar ada pengumuman untuk memakai jas almamater, karena sekaligus untuk seragam ketika acara malam harinya.” Tabel 5.60 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 1 0 0 0 0 0 0 7 3 0 1 9 % 20 6,67 0 0 0 0 0 0 46,67 20 0 6,67 60 Jarang 11 10 3 4 3 2 0 5 7 11 10 5 2 % 73,33 66,67 20 26,67 20 13,33 0 33,33 46,67 73,33 66,67 33,33 13,33 Tidak % 1 6,67 4 26,67 12 80 11 73,33 12 80 13 86,67 15 10 1 1 5 9 4 100 66,67 6,67 6,67 33,33 60 26,67

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Dalam hal ini yang terpenting adalah proses awal sebagai dasar pembentukan anak tersebut terutama dalam lingkungan yang terdekat.61).67 2 13.33 0 0 4 Bermusyawarah 2 13. Dengan demikian seorang bayi yang baru lahir hingga menjadi dewasa sikap. John Locke mengatakan bahwa seorang bayi yang baru lahir ibaratnya kertas putih yang belum mempunyai cacat sedikitpun baik atau buruknya nanti kertas tersebut tergantung dari orang atau lingkungan yang menjamah kertas tersebut.170 Pondok Pesantren Sunan Kalijaga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. fungsi kontrol sosial dan fungsi penempatan sosial bagi anak-anak serta fungsi sosialisasi (Goode.33 3 20 1 6. 1985: 75). keluarga memiliki beberapa fungsi.33 12 80 1 6. antara lain fungsi reproduksi. fungsi pemeliharaan fisik terhadap anggota keluarga. Proses pembentukan ini didapat karena belajar dari lingkungan dan tentu saja si anak berinteraksi dengan orang lain. 1983: 9) Dalam menjalankan fungsinya terhadap pembentukan diri anak . yaitu keluarga (Khairuddin.67 Sumber: Data Primer. Secara umum. PEMBAHASAN Dalam teori tabularasa. tingkah laku dan wataknya ditentukan oleh lingkungannya. Tabel 5.67 kata lembut 3 Menyapa saat bertemu 13 86. Proses pembentukan diri anak terjadi dengan dijalankannya fungsifungsi keluarga. Juli 2009 D.61 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % No 1 Berdiskusi 15 100 0 0 0 0 2 Menasehati dengan 11 73.

hidup dalam sebuah keluarga yang utuh dan yang menjalankan fungsinya dengan baik. 1991: 178). Nilainilai dan norma-norma itu pada tahap awal diajarkan pada anak melalui sosialisasi dalam keluarga. Masih banyak anak yang tidak mendapatkan pemeliharaan baik secara fisik. memegang peran penting dalam membentuk kepribadian anak.171 tersebut. yang kemudian nilainilai dan norma-norma tersebut menjadi miliknya dan menjadi standar perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma-norma. Nilainilai dan norma-norma merupakan modal penting dalam kehidupan sosial. 1985: 60). cinta. Peranan keluarga sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama dalam hal membentuk kepribadian anak. dalam hal ini terutama adalah orang tuanya. keyakinan. maka perlu untuk dituntut hidup menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. khususnya sejak usia dini. seperti kasih sayang. Fungsi sosialisasi ini menunjuk kepada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. melainkan juga dukungan moril. Namun demikian. melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku. nilai-nilai dan hal-hal yang tabu dalam masyarakat (Horton dan Hunt. Anak-anak dalam suatu keluarga akan menyerap nilai-nilai dan mengambil alih kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan dalam keluarga. Masih banyak . Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak dan sebagai lingkungan masyarakat yang terkecil serta sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama. cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya (Khairuddin. Agar manusia dapat berhubungan baik dengan orang lain dalam masyarakat. sikap. psikis. Anak tidak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan secara materiil saja. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan orang lain dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. maupun secara sosial. Keluarga. perhatian dorongan dan bahkan kehadiran orang tuanya. suatu keluarga memiliki peran yang sangat penting terhadap anak. tidak semua anak memiliki nasib yang sama.

Hal lainnya yaitu adanya suatu kondisi ekonomi yang sangat buruk menimpa orang tua. . kelima. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. membiayai serta membina anak-anak terlantar tersebut. 1986: 111). atau dikarenakan kondisi khusus yang memisahkan anak dengan keluarganya. Tidak berfungsinya keluarga dapat disebabkan oleh beberapa hal. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lainlain (BPAS. organisasiorganisasi atau pihak-pihak tertentu yang berkompeten menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam pemeliharaan anak terlantar. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. Hal-hal tersebut mengakibatkan tidak mendapatkan pemeliharaan sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah panti asuhan sebagai sebuah wadah yang menampung. keempat kurang bermain. antara lain karena tidak berfungsinya salah satu atau kedua orang tua akibat meninggal dunianya salah satu atau kedua orang tua atau perceraian. Guna tetap mendapatkan haknya. kurang pendidikan dan pengetahuan. misalnya karena adanya bencana alam atau orang tua yang sedang mengalami masa hukuman penjara. Selain itu terdapat Pondok Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran (pengasuhan) kepada anak (anak didik/santri) yang didasarkan atas ajaran islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan Allah SWT.172 anak yang belum mendapatkan haknya dalam keluarga. atau dengan kata lain anak mengalami keterlantaran. Panti asuhan dan pondok pesantren merupakan sistem pelayanan sosial berbasis lembaga khususnya untuk pengasuhan anak. atau dibiayai oleh pihak-pihak lain di luar keluarga yang memiliki perhatian khusus terhadap anak terlantar. kedua. maka kemudian anak diasuh dan dipelihara. Tanggung jawab pemeliharaan terhadap anak terlantar berada di tangan pemerintah. Ciri-ciri anak-anak terlantar adalah: Pertama. ketiga. namun demikian dalam pelaksanaannya pemerintah dibantu oleh lembaga-lembaga. yang kemudian menyebabkan anak tersebut tidak mengalami fungsi keluarga berupa pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan yang menjadi hak anak. dan sebagainya.

Karakteristik sosial panti asuhan dan pondok pesantren Sosialisai nilai yang tadinya dijalankan oleh keluarga. Perbedaan kondisi diantara lingkungan keluarga. Mentawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Tabel 5. Tabel 5.62 menunjukkan karakteristik panti asuhan di Kota Surakarta. panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat menggantikan fungsi keluarga. Fungsi-fungsi keluarga yang bisa diambil alih oleh panti asuhan dan pondok pesantren. kemudian diambil alih perannya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. panti asuhan dan pondok pesantren tentu saja berbeda dengan keluarga.62 Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Nama Panti Asuhan Pamardi Yoga Misi Nusantara Tahun berdiri 1947 Alasan tinggal di panti asuhan Kesulitan ekonomi. Dengan demikian panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan memberikan pelayanan yang menyamai atau setidaknya mendekati peranan keluarga. Sumbar. Kalteng. Perbedaan antara keluarga dan panti asuhan maupun pondok pesantren tersebut kemudian juga memunculkan permasalahan pada diri anak asuh maupun santri. 1. Namun demikian walaupun sebagai lembaga pengganti keluarga. kemudian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. panti asuhan dan pondok pesantren tersebut memunculkan proses adaptasi dari anak yang menjadi anggota panti asuhan dan pondok pesantren.173 Sebagai lembaga pengganti fungsi keluarga. Permasalahan muncul seiring proses adaptasi anak dengan lingkungan baru. Yatim piatu Korban bencana alam No 1 Status/Pendiri Milik Pemerintah dibawah DKRPP dan KB Yayasan Anak Misi Nusantara Asal anak Solo dan sekitarnya Nias. Flores 2 1971 .

Tabel 5. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Jawa ilmu agama Tengah dan luar pulau Jawa Solo. Jawa ilmu agama Tengah dan luar Pulau Jawa Solo.64 Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta No 1 Nama pondok pesantren Al Muayyad Status/ Pendiri Tahun berdiri Alasan tinggal di Ponpes Solo. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta.63 Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Tahun berdiri Alasan tinggal di panti asuhan Fakir miskin dan yatim piatu Yatim piatu No 1 Nama Yayasan Darul Hadlonah Status/Pendiri Milik Perseorangan Asal anak Klaten dan sekitarnya Klaten dan sekitarnya Penerimaan Bayi Milik YPBT Terlantar (YPBT) Sumber: Data Primer.64 menunjukkan karakteristik pondok pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten.174 Tabel 5. Juli 2009 4 . Jawa ilmu agama Tengah Solo. Juli 2009 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. yatim piatu dan juga karena bencana alam. Tabel 5. Dari tabel 6767 dan tabel 6769 dapat diketahui bahwa panti asuhan ada yang milik pemerintah dan perseorangan (Yayasan). Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Jawa ilmu agama Tengah Asal anak 2 Darul Dzikri 3 Mujahiddin Tahfid Wata’limil Quran Sumber : Data primer. Pada umumnya anak tinggal di panti asuhan karena kesulitan ekonomi.

Pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren Pola pengasuhan anak merupakan bagian dari proses sosialisasi yang pada umumnya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Pada dasarnya. Yogyakarta. pola pengasuhan mengandung sifat pengajaran (instructing). ilmu agama Jawa Tengah dan Jawa Timur Klaten. ustadz/ustazah. Jawa Timur Asal anak 2 Sunan Kalijaga Yayasan Sunan Kalijaga Sumber : data Primer. pada usia sekolah. 2.65 menunjukkan bahwa pada umumnya santri tinggal dan belajar di pondok pesantren tersebut karena ingin memperdalam ilmu agama. Juli 2009 Tabel 5. maka ia dituntut untuk belajar bermacam-macam yang berlaku dalam lingkungannya. Memperdalam Jawa ilmu agama Tengah. Memperdalam Yogyakarta. Meskipun demikian.64 dan tabel 5. dan luar Pulau Jawa 2. Jawa Tengah . Akan tetapi di panti asuhan anak diasuh oleh pengasuh (ibu/asuh)dan pondok di pondok pesantren santri dididik dan diasuh oleh kyai. Klaten. Agar manusia itu bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama manusia lain. penggajaran (rewarding) dan pembujukan (inciting).1 Pengajaran (instructing) Manusia merupakan makhuk sosial. Adapun asal santri cukup beragam yaitu dari Solo. anak mempunyai pergaulan yang lebih . Eks Karisedenan Kota Surakarta. proses sosialisasi tetap berlangsung. Misalnya.175 Tabel 5. Jawa Timur.65 Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten No 1 Nama pondok pesantren Al Munir Status/Pendiri Yayasan Al Munir Tahun berdiri Alasan tinggal di Pondok Pesantren Klaten. artinya makhuk yang hidup dalam lingkungan manusia lain.

176

luas dan sudah tidak dianggap sebagai anak balita lagi. Oleh karena itu, pada usia sekolah, anak mulai diajarkan tentang berbagai hal dan diharapkan sudah dapat membantu pekerjaan rumah. Cara pengajaran yang dilakukan antara satu pengasuh dengan lainnya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pengajaran dengan menggunakan contoh banyak dilakukan oleh pengasuh (ibu/bapak asuh) di panti asuhan maupun kyai, ustadz/ustazah di ponpes. Sejak anak-anak, seperti yang tinggal di panti asuhan perlu dilatih untuk bekerja mulai dari yang ringan-ringan dulu sesuai dengan umur dan kemampuannya. Setelah agak besar diajari yang lebih berat, seperti mencuci piring, mencuci pakaiannya sendiri dan memasak. Dalam hal-hal yang kecil, pengasuh tinggal menyuruh si anak untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Seperti disuruh untuk membeli sesuatu di warung terdekat atau disuruh untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Menyuruh anak untuk melakukan sesuatu pekerjaan adalah melatih agar anak patuh kepada orang tua tidak seenaknya saja. Selain dengan menggunakan contoh, dalam memberikan pengajaran dapat pula dilakukan dengan cara memberikan arahan, yaitu pengasuh di panti asuhan dan kiai ustadz/ustazah di ponpes memberikan keterangan seperlunya yang bermaksud mengarahkan agar anak mengetahui maksud dari pengasuh atau kiai, ustadz/ustazah. Pengajaran dengan memberikan arahan kebanyakan ditujukan kepada anak yang sudah agak besar. Pada usia sekolah anak sudah dapat berfikir lebih maju, sehingga apabila diberikan contoh sekali dua kali sudah dapat menirukan. Setelah dari tahap memberikan contoh, dilanjutkan dengan memberikan arahan saja. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hal-hal yang diajarkan pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai, ustadz/ustazah kepada santri/santriwati di ponpes juga menyangkut

177

kehidupan sehari-hari, antara lain masalah (a) sopan santun (b) kedisiplinan, (c) pekerjaan rumah sehari-hari, (d) penanaman nilainilai keagamaan. a. Sopan santun Sopan santun yang diajarkan oleh pengasuh di panti asuhan dan kyai ustadz/ustazah di ponpes kepada anak/santri diharapkan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak. Sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan ponpes, mengacu pada norma yang ada di masyarakat itu sendiri, yaitu kebiasaankebiasaan yang dianggap baik dan dilakukan oleh banyak orang. Sehingga sejak kecil anak diajarkan sopan santun agar dapat membawa dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya ketika seorang bertingkah laku yang dianggap tidak sopan, orang akan mengatakan dengan sebutan “ora/ga elok” yang artinya adalah “tidak baik, tidak sepatutnya”. Pengasuh di panti asuhan dan kyai, ustadz/ustazah di ponpes akan berusaha menanamkan sopan santun sesuai dengan yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren antara lain: sopan santun dalam hal makan, juga mengajarkan sopan santun ketika sedang ada tamu dan ketika bertamu. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam sopan santun adalah mengenai bahasa yang digunakan. Misalnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau cara pemilihan bahasa ketika mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Sebab bahasa merupakan alat komunikasi dengan orang lain. Tingkah laku yang menunjukkan kesopanan juga diajarkan kepada anak agar anak tersebut mengerti mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap tabu atau tidak sopan dalam pergaulan sehari-hari. Jika anak bersikap sopan terhadap orang lain, orang akan menganggap bahwa anak tersebut mempunyai budi yang

178

luhur dan masyarakat akan lebih mudah untuk menerima kehadirannya. Dari apa yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil gambaran umumnya bahwa, setiap panti asuhan dan pondok pesantren pada dasarnya mengharapkan agar anak bisa bersikap sopan dan santun terhadap orang lain, lebih-lebih bagi yang sudah tua. Kesopanan merupakan sarana agar anak dapat menghargai dirinya sendiri dan juga menghargai orang lain, yang akan dibawanya dalam lingkungan interaksinya yang lebih luas, sehingga orang tua (dalam hal ini pengasuh) diharapkan dapat menanamkan nilai kesopanan kepada anak sejak masih kecil. Sosialisasi bisa dilihat sebagai proses pewarisan pengetahuan kebudayaan berisi nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan untuk berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Pengetahuan kebudayaan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan yang menyebabkan tidak tertutup kemungkinan adanya pergeseran, perubahan nilai, norma dan aturan itu sehingga membentuk aturan atau norma baru. Proses pewarisan akan terus berjalan sepanjang hidup manusia. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah mendapatkan kewenangan untuk mengasuh dan mendidik anak/santri dengan caranya. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar anak dan santri mandiri, dan bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Pengasuh dan kyai,

ustadz/ustazah memberikan pewarisan pengetahuan kebudayaan yang dianggapnya baik dan yang berlaku dimasyarakat pada umumnya. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah telah berusaha untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan kepada anak maupun santri, yang mana anak maupun santri tersebut diharapkan bisa mengamalkan apa yang telah diajarkan, memegang teguh prinsip-

179

prinsip kesopanan yang akan dibawanya berinteraksi dengan lingkungannya yang lebih luas dan untuk jangka waktu yang panjang b. Kedisiplinan Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Karena tanggung jawab sudah beralih kepada pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah, maka pengasuh wajib mendidik anak asuh dan santri tersebut dengan sebaik-baiknya. Disiplin merupakan salah satu alat untuk mendidik anak-anak. Melalui alat ini panti asuhan dan pondok pesantren mengharapkan agar anak dan santrinya membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sesuai dengan yang diajarkan dan sebaliknya menghindari kebiasaan yang bertentangan dengan lingkungannya. Disiplin merupakan suatu cara atau alat dalam pendidikan yang melatih anak untuk bertingkah laku menurut pola atau aturan yang ada termasuk juga untuk memperbaiki tingkah laku yang kurang baik agar terbentuk tingkah laku yang sesuai dengan norma. Adapun tujuannya supaya seseorang dapat mengerti dan mematuhi serta dapat mengendalikan dirinya dengan baik (Sunarti, dkk, 1989: 90). Dalam menanamkan disiplin dalam panti asuhan maupun pondok pesantren, harus dimulai dari pengasuh itu sendiri. Sebab secara tidak langsung anak dan santri akan mengamati dan sedikit banyak akan mencontoh pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah. Kedisiplinan mengandung adanya aturan yang harus ditaati oleh anggota panti asuhan maupun pondok pesantren. Adapun aturan yang diterapkan antara satu panti asuhan maupun pondok pesantren dengan panti asuhan maupun pondok pesantren yang lainnya sering kali berbeda-beda. Dari hasil hasil penelitian disiplin tentang belajar diatas, dapat diketahui bahwa setiap pengasuh maupun kyai,

dan berusaha untuk memberikan sesuai dengan batas kemampuan pengasuh dan kyai. Bagi anak perempuan. ustadz/ustazah merasa tidak mampu membantu. anak atau santri diperbolehkan untuk mencari bantuan kepada yang lebih mampu dan bisa. bertingkah laku sesuai dengan norma. beragama. Pekerjaan sehari-hari Sejak kecil anak asuh di panti asuhan diajarkan untuk bisa membantu pengasuh dalam pekerjaan sehari-hari. Penanaman agama dapat dilakukan di panti asuhan. disiplin tidur. sejak kecil diajarkan untuk bagaimana menjaga kebersihan rumah. Selain disiplin sepulang sekolah dan belajar. mencuci piring. dilihat dari umur dan kemampuan anak. Penanaman nilai-nilai keagamaan Setiap orang tua (dalam hal ini adalah pengasuh) mengiginkan agar anaknya menjadi anak yang patuh kepada orang tua. Ketika pengasuh maupun kyai. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan untuk anak laki-laki biasanya lebih longgar dalam hal pekerjaan rumah. secara formal seperti di sekolah. disiplin beribadah dan disiplin membantu pengasuh dan atau kyai. pondok pesantren/Madrasah. d. Penanaman nilai keagamaan kepada anak sejak kecil merupakan landasan untuk masa yang akan datang. . ustadz/ustazah. disiplin bangun tidur. Anak tidak terlalu dituntut untuk membantu kebersihan rumah. ustadz/ustazah c. menyiangi rumput.180 ustadz/ustazah mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan pola belajar anak dan santrinya. seperti menyapu. mencuci baju dan lain-lain. Sedikit-sedikit diajarkan dari yang paling mudah dan tidak beresiko sampai kepada keberhasilan tentang diri dan lingkungannya. disiplin yang diterapkan adalah disiplin waktu makan.

.181 Matriks 1 di bawah ini menunjukkan pola pengajaran di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti.

mencuci piring dan bajunya sendiri Nilai agama • Mengijinkan TPA • mengigatkan beribadah 2 • Sorogan • Dalam hal tingkah laku • Bandongan dan bahasa • Ceramah (Bahsul yang Kutub) digunakan • Contoh • Arahan • Mengingatkan • Menyuruh Sumber :Data primer. Juli 2009 Pondok Pesantren • Membersihkan pondok pesantren • Mencuci bajunya sendiri • Mengajar surat pendek • Mengajar TPA • Mengajak pengajian .182 Matriks 1 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan • • • • Metode Sopan santun Contoh Arahan Mengingatkan Menyuruh • Dalam hal tingkah laku dan bahasa yang digunakan Disiplin • Merapikan alat sekolah • Membantu pengasuh • Belajar kelompok • Merapikan alat sekolah • Tidur siang • Beribadah • Belajar kelompok & di pondok • Membantu mengajar Hal yang diajarkan Pekerjaan sehari-hari • Menyapu.

maupun dalam bidang kekuasaan dan manajemen pesantren. Kiai adalah orang yang mempunyai peranan esensial dan mempunyai jenjang tertinggi pada sebuah pesantren. baik dalam soal-soal pengetahuan Islam. waktunya dan cara menggunakan kekuasaan itu. terutama oleh kebanyakan . Para kiai dengan kelebihan pengetahuannya dalam Islam. sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam. karena memerlukan pengakuan dari masyarakat maka di dalam suatu masyarakat yang sudah kompleks susunannya dan sudah mengenal pembagian kerja yang rinci. (Dhofier. menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan. ( Soekanto. Para santri selalu mengharap dan berfikir bahwa kiai yang dianutnya merupakan orang yang percaya penuh kepada dirinya sendiri (Selfconfident). sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau. wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya. Wewenang merupakan sesuatu kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. Kebanyakan kiai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan wewenang (Power and Authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. Tidak seoarang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kiai lain yang lebih besar pengaruhnya.183 Kekuasaan dan wewenang kyai di pondok pesantren Di dalam sebuah lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren pihak pengurus. Biasanya pertumbuhan pesantren tergantung kepada kemampuan pribadi kiainya. 1994 : 56 ). 1999 : 294 ) Dengan wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan. staf mempunyai wewenang tertentu.

Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekuasaan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol keilmuan yaitu kopiah dan sorban. banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan waktu. menerus serta memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. ia akan semakin dikagumi. (Dhofier. menghormati semua orang. ketika kita cermati tanda-tanda. Sistem pendidikan yang ditempuh selama ini memang menunjuk sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya masyarakat sekitar pondok pesantren. 1994 : 60) Sistem pendidikan pesantren akan selalu berkembang secara terus. kematian dan lain-lain. kekayaan dan pendidikannya. kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya. 1999: 137-139). Tapi hal ini tidaklah bisa diartikan . Kiai mempunyai peran yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di pondok pesantren. tanpa melihat tinggi rendah kelas sosialnya. Perbedaan kurun waktu berdirinya sebuah pondok pesantren akan tampak jelas. Semakin tinggi kitab-kitab yang diajarkan. 1994 : 56 ) Masyarakat biasanya mengharapkan seseorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya.184 orang awam. memberikan khutbah Jum'at dan menerima undangan perkawinan. tipe pendidikan di pesantren. (Dhofier. karena banyak orang yang datang memintanya nasehat dan bimbingan dalam banyak hal. Ia juga diharapkan dapat menunjukan kepemimpinannya. misalnya ada sebuah pondok pesantren salaf dan pondok pesantren kholaf . (Sukamto. Boleh jadi lembaga pondok pesantren mempunyai dasar-dasar idiologi keagamaan yang sama dengan pondok pesantren yang lain. namun kedudukan masing-masing pondok pesantren sangat bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas keilmuan yang dimiliki oleh kiai. la juga diharapkan untuk rendah hati. begitu pula arah perkembangnnya.

Fenomena seperti ini tidak terlepas dari pengalaman dan keilmuan yang dimiliki serta latar belakang pendidikan kiai tersebut. Kiai di Pondok Pesantren merangkup upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan pola dasar pendidikan yang tidak terlepas dari peranan kiai tersebut. sorogan dan ceramah yang demokratis serta diskusi. karena hal ini sangat mempengaruhi kepemimpinan kiai.185 sebagai sikap isolatif. nahwu sharaf. Meskipun pesantren memiliki pola teknik penyelenggaraan yang berbeda. hal ini terbukti sudah banyak pondok pesantren yang sudah mendirikan sekolah formal. yang diajarkan dan dijelaskan oleh kiai dan para ustadznya masing-masing untuk menopang nilai-nilai agama. Aktifitas kiai dalam memberikan pengarahan dan pengembangan pendidikan di pesantren merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama yang merupakan sumber kehidupan. Membekali para santri dengan ilmu agama dan agar tidak merasa cukup dengan ilmu itu adalah merupakan aktivitas yang dilakukan oleh kiai kepada para santri dalam kesehariannya. Hal tersebut nyata difasilitasi oleh marhalah-marhalah yang dikembangkan oleh kiai. fiqih. Sistem pengajaran yang di sampaikan dan dilakukan oleh kiai kepada para santrinya yaitu metode bandongan. Tidak mungkin suatu sistem pendidikan pondok pesantren itu bisa berjalan secara kontinyu dan lestari tanpa melalui proses peranan kiai dalam perkembangannya. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif terhadap pendidikan nasional. kiai sering kali memberikan kesempatan bertanya pada para santri. tahfidz Al-Quran dan lain-lain. supaya setiap marhalah mendapatkan pelajaran-pelajaran tauhid. cara mengajar kepada para santrinya dan . ia merupakan lembaga yang mendukung dan menyokong pencapaian tujuan pendidikan nasional itu. apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. karena secara institusional dan melalui pranata yang khas.

Pondok santri Pesantren terus dan menerus sekolah berdatangan. sehingga hal ini dijadikan sarana kiai untuk mengetahui keadaan santri baik mengenai masalah pribadinya maupun masalah dalam kegiatan proses belajar mengajar dan kegiatan pesantren yang lainnya yang dijadikan sebagai sarana oleh kiai untuk memotivasi dan membangkitkan partisipasi aktif santri dalam kegiatan yang dilakukan pesantren. Selain itu kiai melakukan pengarahan melalui forum pengajian. dalam memberikan pengarahan dijalankan secara langsung yang berupa perintah dan larangan agar santri bertindak sesuai dengan kaidah agama. sehingga santri taat dan patuh dalam menjalankan niali-nilai agama yang merupakan sumber kehidupannya. Aktivitas kiai sebagai seorang pemimpin di Pondok Pesantren. Dan ternyata menampakkan pembangunan dilaksanakan. Hal ini merupakan perwujudan dan .186 hubungannya dengan para santri yang penuh kasih sayang dan cukup dekat. melalui forum ini selain santri belajar untuk memahami ilmu agama dalam hal ini terutama kitab-kitab klasik juga diajarkan bagaimana cara hasilnya. Di pondok pesantren kiai selalu menanamkan rasa untuk memiliki Pondok Pesantren serta mempunyai semangat ruhul zihad (semangat jihad) yang sangat kuat terutama dalam masalah pendidikan. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam rangka membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama. Peranan kiai yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan partisipasi santri didalam kegiatan pondok pesantren. selain juga santri diharapkan untuk tidak berbuat dan mencegah tindakan yang dilarang agama sehingga santri menjadi pribadi yang baik. Disamping itu hubungan santri dengan Kiai menimbulkan sifat keterbukaan diantaranya. terus menerus mengamalkannya dan bagaimana memahami kenyataan hidup seharihari.

Pada dasarnya setiap Pondok Pesantren mengalami perubahan dan perkembangan. minimal meladeni para orang tua santri dan tamu berkunjung ke pesantren. dan sebagai pembantu kiai dalam mendidik para santri. Untuk memberikan materi pelajaran pada para santri. Yang membedakan adalah waktunya. Aktivitas ini dilaksanakan langsung oleh kiai baik yang berupa perintah maupun larangan yang sudah jelas tercantum di dalam tata tertib pesantren. Kiai mempunyai peranan yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren. dan merupakan salah satu syarat tercapainya tujuan bersama. karena jumlah santri yang cukup banyak maka kiai dibantu oleh para ustadz dan para pengurus pesantren. Kedudukan ustadz/staf pengajar memiliki dua fungsi pokok: sebagai latihan penumbuhan kemampuannya untuk menjadi kiai dikemudian hari. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya . sehingga santri taat dan patuh menjalani peraturanperaturan yang ditetapkan oleh pesantren. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya sebagai santri. Dalam fungsi ini ia belajar melakukan peranan sebagai asimilator antar tata nilai yang telah ada.187 pemenuhan hak-hak anak khususnya hak santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan di pondok pesantren secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Dalam menunaikan fungsinya yang pertama. ia mulai memperkenalkan kepada masyarakat di luar pesantren dalam bentuk macam-macam. Tugas dan Kewajiban Santri Kiai mempunyai peranan untuk meningkatkan partisipasi aktif santri selain dalam hal pendidikan dan dalam masalah human relationnya juga dilakukan dalam upaya meningkatkan kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya terhadap pondok pesantren..

Dalam kepemimpinan kiai di Pondok Pesantren harus terbuka terhadap inovasi-inovasi positif. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah yang didasari oleh adanya pengakuan kiai terhadap kemampuan yang dimiliki santri. menjadi pendengar yang baik. ulama akan tetapi Pondok Pesantren menekankan pada kualitas santri agar menjadi manusia yang beriman dan berilmu tinggi. berwawasan luas dan berguna bagi masyarakat. sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. disamping adanya sistem bandongan dan sorogan juga sudah diterapkannya model diskusi. keterampilan berkomunikasi secara efektif. terbuka terhadap inovasi . ini terbukti dimana pesantren sudah mampu menyerap idiom-idiom baru dalam hal pendidikan. didukung oleh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang dimiliki kiai serta ciri kepribadian yang melekat pada kiai. hal ini dapat dilihat dimana kiai sangat menghargai potensi setiap individu santri dengan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaan pesantren baik fisik maupun non fisik. demontrasi mengajar dan adanya evaluasi belajar serta adanya pembagian marhalah/tingkat dalam pengajian Kemudian berkaitan dengari ciri yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu ciri kepribadian pemimpin yang baik. mau mendengarkan nasihat dan masukan dari pengikut. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga terdapat adanya ruang koordinasi diantara pengurus dan pengelola pesantren. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan individu kiai dalam mengelola pesantren dimana kiai mempunyai kemampuan. gaya yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan demokratis. aktif. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sementara bahwa objektivitas dalam melihat situasi.188 masyarakat sekitar pondok pesantren. Proses kepemimpinan kiai yang berkaitan dengan sistem pendidikan pesantren. Pondok pesantren pada saat ini tidak hanya sebagai tempat untuk mencetak calon kiai. mandiri. dan masalah yang berkembang. pola pikir dan pola perilaku yang demokratis.

Sehingga kiai di beberapa pondok pesantren yang diteliti sudah memakai gaya demokratis dalam kepemimpinannya. dan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaannya. tercela.189 positif. ketegasan dalam dan disegani oleh pengikut/santrinya. kemampuan analitik. akan tetapi karena didukung oleh faktor keturunan dan pola pikir kiai yang rasional. tidak baik. meskipun tidak semua orang mengganjar orang lain dan juga diganjar atas tindakannya. menghargai setiap potensi individu sehingga tercipta suasana dan interaksi yang dinamis antara santri dengan kiai. dimarahi). menyenangkan.2 Pengganjaran (rewarding) Pemberian ganjaran merupakan imbalan yang diberikan kepada orang atas tindakannya. berprestasi akan mendapatkan penghargaan. cubitan) atau dapat berupa hukuman sosial (dikucilkan. kurang pantas. mau mendengar masukan dari pengikut. Hukuman dapat berupa hukuman badan (pukulan. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman kiai 2. idealnya jika anak berbuat baik. jeweran. dikurangi hak-haknya. dan lain-lain) atau dapat berupa pujian yang menyenangkan. Selain itu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman yang banyak sehingga kepatuhan santri tidak hanya karena kharisma yang dimilikinya. . Dan sebaliknya. Penghargaan tersebut bisa berupa barang (baju baru. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah. pengertian dan perhatian kepada pengikut. alat sekolah. Pengganjaran mengandung dua pengertian yaitu penghargaan dan hukuman. Tingkah laku anak yang salah. tidak diterima oleh masyarakat akan mendapatkan hukuman.

Padahal hasil penelitian Grogan-Kaylor (2005) menunjukkan bahwa pemberian hukuman fisik bukan merupakan metode pendisiplinan anak yang baik karena mendorong anak untuk terlibat dalam perilaku antisosial lebih awal. ustadz/ustadzah akan memberikan hukuman jika anak dan santri melakukan kesalahan meskipun itu bukan anaknya sendiri. . Pemberian hadiah atau pujian cenderung diberikan pada saat anak atau santri mendapatkan nilai bagus. ustadz/ustadzah. ustadz/ustadzah yang sering memberikan hadiah dan pujian maupun pengasuh maupun kyai. Begitupun dengan penghargaan. Pengasuh maupun kyai. Dalam memberikan ganjaran.190 Berdasarkan hasil penelitian tidak semua pengasuh di panti asuhan maupun kyai. Hal ini berarti bahwa sosialisasi yang digunakan lebih bersifat negatif atau represif. pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik untuk anak asuh dan santrinya. ustadz/ustadzah yang tidak atau jarang memberikan hadiah dan pujian. bukan pada hukuman fisik. Pemberian hukuman lebih banyak kepada kemarahan. ustadz/ustadzah di pondok pesantren melakukan pengganjaran terhadap anak dan santri atas tindakannya. yang sering dilakukan adalah dalam bentuk hukuman. bahwa tidak banyak panti asuhan dan ponpes yang memberikan hadiah berupa barang ataupun hanya sekedar pujian. Karena adanya alasan-alasan tertentu dari pengasuh maupun kyai. Dari hasil penelitian pada umumnya pengasuh dan kyai. Dengan dimarahi dirasa anak sudah cukup mengerti. Sedangkan penghargaan yang berupa hadiah dan pujian jarang dilakukan. yang berbeda adalah kadar pemberian hukumannya ada yang biasa dan ada yang keras. Dengan hukuman tersebut diharapkan anak dan santri tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan anak dan santri mengerti bagaimana yang seharusnya.

191 Matrik 2 Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti asuhan Pengajaran Hukuman • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Diminta menghafal ayat Al Kitab Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up. scot jump Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Menghafal Al Quran Membersihkan kamar mandi Menulis sholawat atau istigfar Keterangan Penghargaan • Pujian • Hadiah • Pamardi Yoga • Misi Nusantara • Darul Hadlonah • YPBT 2 Pondok pesantren • Pujian • Hadiah • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga Sumber : Data Primer. Baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa pola pengajaran yang dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai. ustadz/ustazah di pondok pesantren kepada santri/santriwati sering terjadi tindak kekerasan. ustadz/ustazah di pondok pesantren . Jenis-jenis tindak kekerasan yang sering dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai.

memukul dengan alat. membersihkan kamar mandi. tetapi perlakuan tersebut pasti akan terus membekas dalam diri si anak atau santri sehingga dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Dampak tersebut lebih nampak pada remaja laki-laki daripada remaja perempuan. 2006) menemukan bahwa semakin banyak dan bervariasi hukuman fisik yang dialami remaja.3. maka diperlukan cara untuk membujuk agar anak mau menurut dengan kehendak pengasuh. membentak. Meskipun sebagian besar anak dan santri menerima dengan ikhas perlakukan tersebut. maka emosinya makin tidak stabil. perilakunya makin agresif/bermusuhan. menyiram air untuk membangunkan. Gielen. Penelitian tentang pemberian hukuman fisik (corporal punishment) menemukan bahwa hukuman yang diterima pada masa anak-anak berpengaruh dalam jangka panjang (Turner & Muller. mempengaruhi. dan diminta menghafal Al Kitab kalau salah diberi hukuman. dan secara psikologis sulit untuk menyesuaikan diri. menyuruh berdiri di bawah matahari. .192 kepada santri/santriwati antara lain memarahi. 2. memukul dengan tangan. bersikap tidak adil seperti pengurus merokok sedang santri tidak diperbolehkan merokok. menyuruh push up. & Lancaster. scot jump. Terkadang anak sulit untuk mematuhi perintah orang tua. Kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak seperti tindak kekerasan diatas dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan atau pondok pesantren serta dapat menggangu kondisi kejiwaan anak. menendang. Sementara penelitian yang lain (Mathurin. Pembujukan bersifat merayu. mencukur gundul. Pembujukan Pembujukan adalah salah satu cara agar anak mau melakukan perintah maupun aturan tanpa harus merasa terpaksa. 2004) yakni munculnya simtom depresi pada masa dewasa muda. menjewer. agar anak mau menurut.

menyapa saat bertemu dan bermusyawarah. Tujuan dari sistem pembujukan ini . anak di panti asuhan dibujuk agar tetap kerasan tinggal dengan pengasuh untuk sementara waktu. ustadz/ustadzah menempuh cara membujuk agar anak mau menurut dengan apa yang dianggap baik oleh pengasuh dan kyai. ustadz/ustadzah. ustadz/ustadzah kepada santrinya yaitu: nasehat dengan lembut. ustadz/ustadzah kepada santrinya dapat dijelaskan bahwa pengasuh dan kyai.193 Dari hasil penelitian dapat diketahui pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuh dan kyai. Matriks 3 Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan Metode Pembujukan Keterangan • Pamardi Yoga • Misi Nusantara Darul Hadlonah YPBT • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga • Nasehat dengan lembut • Berdiskusi • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah 2 Pondok • Nasehat dengan lembut Pesantren • Berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah Sumber : Data Primer. dibujuk agar mau sekolah. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa metode pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuhnya maupun yang dilakukan oleh kyai. Misalnya. dibujuk agar anak mau makan pagi sebelum berangkat sekolah. Matriks berikut ini menunjukkan pola pembujukan di panti asuhan dan di pondok pesantren kepada anak/santri. berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak/santri.

sehingga pengasuh tidak perlu selalu harus membujuk anak. meski bukan yang terbaik dalam melindungi dan memenuhi kesejahteraan anak. yang selanjutnya akan mendorong anak untuk merasakan dirinya berharga. Dengan adanya kesadaran tersebut. diharapkan anak dorongan untuk melakukan aktivitas lebih bersifat internal atau muncul dari dalam diri anak sendiri. Dampak Pengasuhan anak berbasis lembaga Selama puluhan tahun. Pelayanan sosial berbasis lembaga tidak selamanya buruk dan bahkan dalam situasi tertentu tetap diperlukan sebagai salah satu model pelayanan sosial bagi anak. . Namun perlu diperhatikan pula. bersekolah. perlakuan yang lembut dapat membuat anak merasa dirinya dihargai. terutama yang termasuk kategori anak rentan atau kurang beruntung (anak terlantar). sedangkan melibatkan anak dalam memecahkan masalah berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam menemukan solusi. tetapi yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa apa yang dilakukannya (misal makan pagi. tinggal di panti) adalah untuk kepentingan dirinya demi meraih masa depan yang labih baik. di kemudian hari anak dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki kompetensi sosial yang memadai untuk dapat menghadapi masalah dalam kehidupannya secara mandiri. sebaiknya yang menjadi tujuan dari perlakuan pengasuh bukan menjadikan anak sebagai anak yang penurut. Bila ditinjau dari aspek psikologis.194 adalah untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan atau di pondok pesantren. 3. Karena hal ini dijamin oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. Dengan perlakuan tersebut. sistem pelayanan sosial berbasis lembaga seperti Panti Asuhan dan pondok pesantren dipandang sebagai solusi yang paling diandalkan.

Zeanah. Smyke. Selain itu. Smyke. Akibatnya. Dapat pula terjadi anak mengalami gangguan dalam regulasi emosi dan relasi sosial yang kurang sebagai akibat dari pembatasan untuk bergaul dengan orang-orang dari luar lingkungan lembaga. kita menyaksikan adanya peningkatan perhatian terhadap pendekatanpendekatan alternatif berbasis masyarakat dalam memberikan perlindungan dan pengasuhan terhadap anak. maka ia kurang memiliki motivasi untuk mendorong perkembangan anak. Lebih lanjut diungkapkan oleh Zeanah. Sebagai salah satu respons terhadap keadaan ini. dan Settles (2008). rasio jumlah pengasuh dan anak yang diasuh belum seimbang. Secara garis besar. Kita tahu bahwa lembaga pelayanan . melakukan imitasi. yakni model kelembagaan (institutional atau residential care) dan model kemasyarakatan (community care). bahwa dampak negatif tersebut dapat timbul akibat kurangnya pemahaman pengasuh terhadap karakteristik anak maupun hak-hak anak yang perlu dipenuhi agar perkembangan anak optimal. Jumlah pengasuh yang hanya beberapa orang dituntut oleh kondisi untuk melakukan pengasuhan terhadap jumlah anak yang terlampau banyak.195 Penelitian ini memberi pesan jelas bahwa bentuk-bentuk pengasuhan anak di dalam lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren sering menimbulkan beberapa dampak negatif terhadap perkembangan anak dan hak-hak anak. anak kurang mendapatkan perhatian dan stimulasi yang memadai terkait dengan pemenuhan kebutuhan pribadinya yang unik dan cenderung diperlakukan sama oleh pengasuh. dan menjalin relasi prososial dengan teman sebaya. berempati. pengasuh lebih berorientasi pada mencari uang. Apalagi bila dalam bekerja. pengasuhan anak memerlukan pelayanan sosial khusus biasanya dilakukan melalui dua model yang dibedakan. dan Settles (2008) menyatakan bahwa dampak negatif yang dapat timbul pada anak yang dibesarkan di lembaga antara lain kompetensi sosial yang kurang yang mewujud dalam kurangnya motivasi anak untuk unggul.

serta proses pembelajaran dan penerapan disiplin yang menyimpang dan terlalu keras. Misalnya ”rumah anak” yang berupa kelompok kecil menyerupai keluarga yang berada di suatu komunitas lokal. Usia merupakan variabel yang penting. Artinya. 2003). sejumlah kelemahan senantiasa menyertai model ini antara lain berupa pelanggaran serius hak-hak anak.196 anak seperti residential care yang dilakukan di dalam masyarakat. Bukti-bukti penelitian menyaksikan bahwa dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga terutama sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak usia di bawah 5 atau 6 tahun. Penelitian mengenai pengasuhan anak berbasis lembaga secara konsisten menunjukkan bahwa model tersebut mengandung beberapa dampak negatif (Tolfree. kondisi fisik lembaga ditemukan cukup bagus dan bahkan standar pendidikan yang diberikan sangat baik. Pada beberapa kasus. kelemahan model pengasuhan anak berbasis lembaga juga berkaitan dengan pembiayaan dan keberlanjutan pelayanan. baik terhadap anak laki-laki maupun perempuan. Selain isu-isu di atas. Dampak buruk tersebut tergantung pada karakteristik kepribadian dan ciri-ciri individu. dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga samasama membawa dampak negatif. melainkan pula dari komunitas asal mereka dan dari masyarakat setempat dimana lembaga itu berada. Namun. eksploitasi. tampaknya tidak terlalu ditentukan oleh perbedaan gender. perawatan kesehatan dan pemberian nutrisi yang buruk. Namun pada umumnya sebuah pelayanan lembaga/panti menampung sejumlah besar anak-anak yang berada pada sebuah setting ”tiruan” yang secara jelas memisahkan mereka bukan saja dari keluarga inti (nuclear family) dan keluarga besarnya (extented family). Akibat-akibat jangka panjang dari keadaan ini terhadap perkembangan anak dapat menjadi serius. kekerasan seksual (sexual abuse). Pelayanan lembaga seringkali lebih mahal dalam memenuhi kebutuhan anak daripada memenuhi kebutuhan anak-anak yang hidup . Namun.

197 dalam keluarganya atau dalam sebuah pengasuhan berbasis keluarga dalam masyarakat (family-based care in the community). model pelayanan sosial berbasis lembaga tidak sanggup merespons perkembangan masalah dan kebutuhan akan pelayanan di masa depan yang cenderung semakin meningkat secara cepat. Pusat-pusat pengasuhan anak berbasis lembaga. terukur dan menarik banyak lembaga donor. karena sistem pelayanannya jelas. Namun demikian. Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga dapat dilihat dalam tabel 5.66: . seringkali menjadi magnet yang menarik sumberdaya dalam jumlah besar.

198 Tabel 5. Prinsip kepentingan terbaik anak (the child’s best interests) 3. ketrampilan motorik dan sosial anak Kemampuan anak terhambat akibat kurangnya pengalaman. Hak untuk memelihara kontak dengan orang tua secara reguler. perawatan dan afeksi secara individual karena lembaga cenderung memperlakukan anak secara seragam Banyak lembaga tidak memberikan stimulasi dan kegiatan yang berguna bagi anak Anak yang tumbuh di lembaga cenderung kehilangan kesempatan untuk mempelajari peranan orang dewasa dalam kebudayaan tertentu Relevansi dengan prinsip dan hak-hak anak Prinsip non diskriminasi Dampak terhadap perkembangan anak Stigma dan diskriminasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan identitas dan kepercayaan diri anak Penempatan dalam lembaga sering dipersepsi anak sebagai bentuk penolakan keluarga. 6. menjaga identitas dirinya. pengetahuand an ketrampilan beradaptasi dengan orang dewasa 2. kontak dengan orang tua dan anggota keluarga besar lainnya terus memburuk Kurangnya perhatian. anak merasa dibuang dan kehilangan kepercayaan diri Kehilangan identitas personal dan keluarga. bermain dan rekreasi sesuai dengan usia anak Anak harus disiapkan untuk dapat hidup mandiri di masyarakat 4. Akibatnya. anak kehilangan jaringan dukungan di masa depan Kehilangan kesempatan untuk berelasi dan terikat dengan figur orang tua. cinta dan pemahaman. . rasa memiliki masyarakat. mengekspresikan pendapat Hak memperoleh kesenangan. khususnya pada masa perkembangan awal anak Ketiadaan stimulasi menghambat perkembangan intelektual. Karakteristik yang berhubungan dengan sistem kelembagaan Lembaga cenderung memisahkan anak yang mengakibatkan munculnya diskriminasi dengan stigma Penempatan anak pada sebuah lembaga seringkali berdasarkan keinginan keluarga. 5. dan reunifikasi keluarga Hak untuk tumbuh dalam suasana bahagia.66 Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga No 1. bukan berdasarkan keinginan anak Meskipun anak masih memiliki kedua orang tua.

Lembaga seringkali kurang memberi kesempatan pada anak untuk bergaul dengan anak-anak lain di luar lembaga Beragam kekerasan terhadap anak sering terjadi selama bertahun-tahun tanpa terungkap oleh dunia luar Lembaga cenderung gagal merespon secara adekuat kebutuhan psikologis anak Anak-anak yang hidup di lembaga sering kali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar lembaga. 2009 . Banyak yang berakhir di penjara dan lembaga perawatan mental Hak untuk memperoleh kebebasan berteman dan berkumpul dengan anak lain Hak memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan. Sumber: Olah Data. kehilangan dan ketakutan Ketergantungan akibat kurangnya kesempatan untuk berfikir dan mampu memecahkan masalahnya sendiri. termasuk akibat konflik bersenjata Hak memperoleh bimbingan yang memungkinkan anak dapat melaksanakan tanggungjawabnya di masyarakat Menghambat keragaman relasi dengan temans ebaya dan kehilangan “normal” keluarga Kekerasan terhadap anak sangat merusak kehidupan dan perkembangan anak dalam jangka panjang Anak mengalami perasaan terpisah. 9. 10. penelantaran dan eksploitasi Hak memperoleh perawatan rehabilitasi.199 7. Lemahnya ketrampilan hidup dan kemandirian anak 8.

hak-hak anak dan perkembangan anak. pelayanan sosial di dalam lembaga dipandang tepat sebagai sarana penyesuaian diri sementara bagi anak-anak. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. Dalam konteks ini. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. anak-anak yang terlantar mereka umumnya memerlukan perawatan lembaga sebelum berintegrasi kembali dengan kehidupan normal di masyarakat. termasuk pendidikan.200 Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. penyesuaian psikologis dan dukungan personal bagi anak-anak sebagai persiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. Program-program yang bersifat kelompok diperlukan. Terdapat beberapa situasi dimana pengasuhan anak perlu dilakukan di dalam lembaga. Sebagai contoh. b. c. Selain itu. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. d. Karenanya. seperti : a. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. . perlu penyiapan keluarga dan masyarakat sebelum menerima kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam pembunuhan dan perusakan.

.201 Namun demikian. baik pada staf maupun anak-anak untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan masyarakat. Karena. pengasuhan lembaga juga seringkali menimbulkan ketergantungan dan kesulitan. Selain relatif lebih mahal dan kapasitas daya tampungnya terbatas. penerapan pengasuhan anak berbasis lembaga perlu dilakukan secara terencana dan cermat. pada dasarnya anakanak tidak mau dipisahkan dari kehidupan keluarganya.

Namun. Berdasarkan hasil penelitian. Mayoritas anak-anak ditempatkan di panti asuhan dan ponpes oleh keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi dengan tujuan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan. Peraturan tersebut mencerminkan bahwa dalam diri setiap anak sudah melekat harkat dan martabat sebagai seorang manusia yang harus dijunjung tinggi. Meskipun sebagian besar anak menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut tetapi perlakuan tersebut akan terus membekas dalam diri si anak yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. tidak selamanya anak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dalam lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh dan kembang anak. Keluarga sebagai lembaga pengasuhan terbaik bagi anak tidak selamanya selalu memberikan kehidupan yang nyaman bagi anak. 4. maupun membersihkan kamar mandi dalam jangka waktu tertentu. Hak anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau Convention on the Rights of Child (CRC) yang disetujui oleh Majelis Umum PBB tanggal 20 November 1989 dan telah terbitnya Undangundang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Seperti misalnya pemberian hukuman push up. Fakta di lapangan. Untuk itu. mayoritas panti asuhan dan ponpes tidak memberikan 'pengasuhan' sama sekali. scot jump. 3. lari mengelilingi ponpes. dijaga. melainkan hanya menyediakan akses .202 BAB VI PENUTUP A. pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren tidak selalu sama bahkan tidak memberikan kenyamanan bagi anak karena sangat rentan dengan terjadinya kekerasan. anak membutuhkan lembaga pengasuhan alternatif salah satunya melalui panti asuhan dan pondok pesantren. 2. dan dipelihara. KESIMPULAN 1.

b. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas pada dasarnya dalam pola pengasuhan anak dan proses pendidikan terdapat proses belajar yang terus menerus. Kedisiplinan Kedisiplinan menyangkut adanya aturan yang mengikat panti asuhan dan pondok pesantren. Hal ini mengindikasikan rendahnya standard minimum pengasuhan sehingga sangat sulit untuk menghasilkan pengasuhan yang professional dan berkualitas. Sopan santun menyangkut pada norma yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. 5.203 pendidikan. Secara eksplisit. melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sehingga panti asuhan membuat peraturan yang cukup ketat dan hukuman fisik dan pelecehan banyak ditemukan. hal ini tertera dalam pendekatan pengasuhan. Sopan santun . Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Penelitian ini menemukan bahwa 'pengasuhan' dimengerti dalam konteks merespon masalah dan cenderung berhubungan dengan isu-isu disiplin. Karena hidup di Jawa. yaitu melalui tingkah laku dan bahasa yang digunakan. pelayanan yang diberikan. Meskipun demikian. dan sumberdaya yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes. Sopan santun dapat ditunjukkan dengan dua cara. maka bahasa yang dianggap baik adalah bahasa Jawa krama halus. mengingatkan dan menyuruh juga merupakan metode pengajaran. Adapun sifat-sifatnya adalah : 1. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. Pengajaran (Instructing) Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan juga dengan memberikan arahan. Selain itu. tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren mempunyai aturan yang ketat dalam . Hal-hal yang diajarkan selama masa pengasuhan tersebut antara lain : a.

Penghargaan berupa pemberian hadiah berupa materi menunggu ketika ada uang lebih. Selain itu. REKOMENDASI Penelitian ini menyusun sejumlah rekomendasi untuk menanggapi kebutuhan mencegah penempatan anak di panti asuhan dan pondok pesantren yang tidak perlu sehingga kualitas pelayanan dan pengasuhan yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes menjadi lebih baik. disiplin belajar. Penanaman nilai-nilai keagama Bahwa setiap anak diharapkan dapat belajar ilmu agama agar beriman dan bertakwa. Pekerjaan sehari-hari Anak diajarkan untuk bisa mandiri diajarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan umur dan kemampuannya. masing-masing pengasuh dan kyai. Kedisiplinan yang diterapkan antara lain disiplin sepulang sekolah. Sedangkan hukuman yang sering diberikan adalah dalam bentuk anak dimarahi. Sedangkan hukuman lebih ditekankan agar tidak atau jarang dilakukan oleh pengasuh dan kyai.204 mendidik anak maupun santrinya. berbuat baik dan saling berbagi diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren. tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren B. penghargaan dan hukuman. ustadz/ustadzah serta menaati peraturan. yaitu: . Dalam hal penghargaan ini. ustadz/ustadzah. Pengganjaran (rewarding) Pengganjaran meliputi dua hal. yaitu . d. disiplin tidur. Pembujukan (inciting) Pembujukan ini dilakukan agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai. ustadz/ustadzah mempunyai alasan sendiri-sendiri untuk tidak memberikan penghargaan kepada anak dan santri. 3. 2. Pengasuh menghindari hukuman yang berupa kekerasan fisik. disiplin membantu pengasuh c.

205 1. d. Pembuatan sistem pengumpulan data yang dapat menunjukkan situasi dan kondisi anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren 4. b. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. Menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dengan membuat pola pengasuhan yang dapat memberikan kenyamanan bagi tumbuh kembang anak. Adanya peraturan yang jelas tentang standar pendirian panti asuhan dan ponpes mengingat tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren terdaftar sehingga akses untuk memberikan pengawasan tidak maksimal dilakukan. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. c. hak-hak anak dan perkembangan anak. Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. 2. seperti : a. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. 3. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. . Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. Karenanya.

Diadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan keterampilan. Tujuannya agar santri benar-benar terbuka cakrawala pikirannya. 6. dengan para santri untuk . misalnya dengan diadakannya dialog (open talk) yang terjadwal antara kiai dengan santri. Tujuannya agar santri mempunyai keahlian di bidang komputer dan supaya tidak gagap teknologi (gaptek). c. Untuk Pondok Pesantren a.206 5. misalnya kerjasama dengan lembaga pendidikan komputer. Untuk Kiai Searah dengan arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini hendaknya kiai lebih meningkatkan dan mengefektifkan pengawasan terhadap para santri. sehingga santri bisa belajar komputer di pesantren. hendaknya pondok pesantren menjalin hubungan dengan departemen yang terkait (Departemen Agama) agar kurikulum bisa sejajar dengan lembaga pendidikan agama lain. b. Diadakan studi banding ke pondok pesantren lain agar wawasan para santri dan ustadz bertambah. Untuk itu hendaknya diadakan suatu training tentang manajemen organisasi agar pondok pesantren mempunyai SDM yang handal dan profesional. Tujuannya adalah bisa tercipta kominikasi timbal balik antara kiai mengungkapkan berbagai masalah. Dalam menghadapi modernisasi dan diperlukan tenaga ahli dan SDM untuk mengelola suatu organisasi dengan baik (skill management). d. Membuka jaringan kerjasama dengan lembaga pendidikan di luar negeri yang bisa memberikan beasiswa kepada santri yang berprestasi untuk belajar disana. sehingga setelah kembali ke pondok pesantren pengalaman dan pengetahuannya tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan kualitas pendidikan pondok pesantren. Dalam memberikan materi dan sistem pendidikan pesantren/kurikulum pondok pesantren. misalnya ke Universitas Al Azhar di Kairo.

Hendaknya santri lebih memperhatikan dan menjalankan tata tertib di pesantren agar tujuan santri ke pondok pesantren bisa tercapai dalam rangka mendukung pembentukan sikap mental santri yang tangguh. berilmu tinggi. Untuk Santri a. disiplin. .207 7. ide-ide dari para santri terhadap sistem yang ada di pondok pesantren maupun yang ada di luar pesantren secara umum. Bisa menjaga diri dari pergaulan bebas. berwawasan luas dan berakhlak mulia. minuman keras. keinginan-keinginan juga pandangan santri terhadap orang lain dan terhadap perkembangan jaman pada saat ini. saran atau kritikan. Hendaknya santri dengan bekal ilmu agama yang dimiliki mempunyai kemampuan dan kepekaan didalam memfilter pengaruh tersebut agar tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dengan demikian ustadz/pengurus akan lebih memahami gejolak-gejolak emosi. Selain itu dengan adanya pendekatan personal pada santri maka ustadz dan pengurus pesantren akan mengetahui latar belakang dari masing-masing santri. yang telah ditetapkan oleh pesantren. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan para santri dalam menerima dan mengamalkan pelajaran yang telah diberikan serta melaksanakan aturan-aturan. b. 8. narkoba atau tindakan menyimpang lainnya. penyampaian gagasan. Untuk Ustadz/pengurus Disamping memberikan materi pelajaran pada santri secara bersamasama (klasikal) dan menjalankan tugas kepengurusan hendaknya ustadz juga mengadakan pendekatan secara personal dengan para santri.

Jakarta. 1996.. 283-292. Dhofier. 40. Darwan. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup. Zamakhsyari. Prinst. 1979. Grogan-Kaylor. Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak Melalui PSAA. N. Hurlock. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1990. & Lancaster. Elizabeth. Pedoman Depsos RI. Penertbit Erlangga. PT Pustaka Cidesindo. BPFE. 306-324. Pergeseran Otoritas Kepemimpinan Politik kyai. Jakarta. Croix. . Kartasasmita. Perkembangan Anak. Horton. U. Erlangga. Soekanto. Mathurin. Mahmud Dimyati. 2000. Bandung.S. 1999. 1984. Corporal punishment and personality traits in the children of St. Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. Sosiologi. 2006. Paul B. J. Jakarta. No. P. Jakarta. Prisma. Poerwadarminta. 2003.. Chester L. Yogyakarta.208 DAFTAR PUSTAKA BKPA. 1982. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Pedoman Panti Asuhan. 1990. U. Child Maltreatment. Badan Kesejahteraan Sosial Nasional. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Ginandjar. 5 Tahun XXIV Mei 1995. Jakarta. Muhammad Asfar. Gielen. Prinsip Pendidikan Pesantren. CrossCultural Research. LP3ES. PT Raja Grafindo Persada. M. Corporal punishment and the growth trajectory of children’s antisocial behavior. dan Hunt. 10. 1991. Soerjono. 2005. 1988. P3M. Psikologi Suatu Pengantar. 1986. A. Balai Pustaka. Hukum Anak Indonesia. Jakarta. Virgin Islands. Mastuhu. Jakarta.

1999. 2004. 25. 1986. K.. Suroto. C. H. UU RI No. Departemen P dan K. Jakarta. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Pemilu dan Partai Politik. Supanto. 1989. Persamaan Negara. Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren. D. In McCartney. Toleransi. Vembriarto. Jakarta. 1993. P. Malden: Blackwell Publishing. UNS Press. Sukamto. H. Journal of Family Issues. A. UU No.209 Suedy. Sosiologi Pendidikan. T. LP3ES.A & Muller. Orphanages as a developmental context for early chilhood. L. Sunarti.B. Departemen P dan K. Ahmad dan Sulistyo. Sutopo. Jakarta.A. Yogyakarta. Hermawan. 2008. Blackwell Handbook of Early Childhood Development. Long-term effects of child corporal punishment on depressive symptoms in young adults: potential moderators and mediators. dkk. (Eds). Surakarta. & Phillips. Jakarta. Zeanah. . Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja. 2002. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Gajah Mada Univ Press. 1990. H. D. P3M. Kyai dan Demokrasi Suatu Potret Pandangan Tentang Pluralisme. Turner. 761-782. dkk. 2000. & Settles. Metodologi Penelitian Kualitatif. Grasindo. Smyke.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful