1

Final Report

Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Dan Pondok Pesantren Kota Solo Dan Kabupaten Klaten

Penelitian ini Terselenggara Atas Kerjasama:

Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM UNS dengan UNICEF

2

Tahun 2009
ABSTRAKSI
Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten, 2009, Kerjasama Pusat Penelitian Kependudukan, LPPM, UNS Pola pengasuhan anak tidak selamanya terjadi di dalam sebuah lingkungan keluarga. Lembaga pengganti fungsi orang tua (keluarga) yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. Selain itu, salah satu tujuan pengasuhan lainnya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan yang dipilih para orang tua salah satunya melalui pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Oleh karena itu pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren sangat menarik untuk diteliti. Karena di dalam perkembangannya, ada berbagai persoalan yang menyangkut pemenuhan hak anak melalui 3 konsep pengasuhan anak yaitu pengajaran, pengganjaran (penghargaan dan hukuman) serta pembujukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi mengenai pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Untuk memperkuat data kuantitatif, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara, FGD dan surat curhat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif sehingga mampu menggambarkan pola pengasuhan yang terjadi. Adapun hasil penelitian pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren dapat digambarkan melalui proses pengajaran, pengganjaran dan pembujukan. Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan memberikan arahan. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Selain itu, juga melalui metode mengingatkan dan menyuruh. Pengganjaran meliputi dua hal, yaitu penghargaan dan hukuman. Penghargaan berupa pemberian hadiah maupun memberikan pujian. Sedangkan hukuman dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi jika dilihat dari tuntutan pemenuhan hak anak maka terlihat adanya bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan. Pembujukan dilakukan dengan memberikan nasihat, diskusi apabila ada masalah dan pendekatan secara personal agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai, ustadz/ustadzah serta menaati peraturan, tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren. Dari hasil penelitian tersebut, maka hal yang penting adalah menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak dalam memberlakukan model pola pengasuhan yang memperhatikan pemenuhan kebutuhan hak anak. Karena pemenuhan hak anak dilindungi oleh undang-undang sehingga menjadi lembaga yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan kembang anak.

3

DAFTAR ISI Halaman i ii iii v viii 1 11 11 12 12 13 15 18 24 32 32 32 33 33 33 34 35 35 45 52 54 58 66 70 82 88 91 91 107 123 123 148 162 165 167 186

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... ABSTRAKSI ........................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................................ DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR MATRIK ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................. B. Perumusan Masalah ......................................................................... C. Tujuan Penelitian ............................................................................. D. Manfaat Penelitian ........................................................................... E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Sebagai Warga Negara .......................................................... B. Panti Asuhan ................................................................................... C. Pondok Pesantren ............................................................................. D. Pola Pengasuhan ............................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian .................................................................. B. Lokasi Penelitian dan Partisipan ...................................................... C. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. D. Teknik Pengambilan Partisipan ....................................................... E. Teknik Analisis Data ........................................................................ F. Perencanaan Penelitian ..................................................................... G. Organisasi Penelitian ....................................................................... BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .............. 1. Keadaan Umum Kota Surakarta ............................................... 2. Keadaan Umum Kabupaten Klaten .......................................... B. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten .... 1. Panti Asuhan di Kota Surakarta .......................................... 2. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ...................................... C. Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten ........................................................................................ 1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta ................................... 2. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ............................... BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar .................................................................................. B. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan .................................... 1. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kota Surakarta .. 2. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan di Kabupaten Klaten ................................................................................. C. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren ............................. 1. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kota Surakarta ............................................................................. 2. Pola Pengasuhan Anak di Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten ................................................................................. D. Pembahasan 1. Karakteristik Sosial Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 2. Pola Pengasuhan di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren ... 3. Dampak Pengasuhan Anak Berbasis Lembaga ................... PENUTUP

BAB VI

4

A. Kesimpulan ............................................................................... B. Rekomendasi ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN FOTO

194 196 200 2002

Tabel 5.4. Tabel 4. Tabel 5.16.12.13. Tabel 4.3. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.17. Tabel 4. tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) . dan Kepala Keluarga Di Surakarta Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. Tabel 5.5.15. Tabel 4. Tabel 4.1.9. Tabel 4. Tabel 4.19.17.2.13. Tabel 5. Tabel 5.14.1. Tabel 5.15.11.10.2.11.18. RT.5 DAFTAR TABEL Halaman 38 39 40 40 41 41 42 42 43 43 Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4. Banyaknya Kelurahan.4.8. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 4.5. Tabel 4.14.7. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5.16.8.12.10.6.9.3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4. Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) 44 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara 47 48 49 50 52 53 68 69 91 92 93 97 97 98 99 99 100 101 101 102 103 104 104 105 106 Tabel 4.7. RW. Tabel 5. Tabel 4.6.

Tabel 5. Tabel 5.53.41. Tabel 5. Tabel 5.36.47.45. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.37.57.18. Tabel 5.44.39. Tabel 5.46.28.20. Tabel 5.6 Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.26. Tabel 5.31.54. Tabel 5.37.48. Tabel 5.22. Tabel 5.34.59.55. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.42. Tabel 5.25.24.19. Tabel 5.33. Tabel 5. Tabel 5.43.50. Tabel 5. Tabel 5.52. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.32. Tabel 5. Tabel 5.51.38.27.49. Tabel 5. Tabel 5.58. Tabel 5.35. Tabel 5.23.56.30.40. Tabel 5. Tabel 5.21. Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 146 150 151 152 152 153 154 155 155 156 157 138 140 142 143 144 144 131 132 133 135 137 114 117 118 119 120 120 121 123 124 125 130 106 108 108 109 110 111 112 112 113 . Tabel 5.29.

61. Tabel 5.66. Tabel 5.63.60. Tabel 5. Tabel 5. Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga 161 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga 162 165 166 166 167 190 .65. Tabel 5.62.7 158 Tabel 5.64. Tabel 5.

8 DAFTAR MATRIK Matrik 1 Matrik 2 Matrik 3 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri 174 183 185 .

Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata. Pembangunan pada umumnva diarahkan untuk memperbaiki keadaan. keserasian dan keseimbangan diantara keduanya. menyebutkan bahwa . terpenuhinya pendidikan. rasa aman. sandang. sehingga dapat dikatakan sebagai perbuatan kebaikan. keserasian. Pemenuhan papan. rasa tenteram dan rasa keadilan. serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis.9 BAB I PENDAHULUAN A. mandiri dan sejahtera berdasarkan Pancasila. pangan dan lain sebagainya dan juga untuk memenuhi kebutuhan batiniah seperti kebebasan beragama. Latar Belakang Masalah Salah satu arah pembangunan jangka panjang disebutkan dalam GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dalam masyarakat Indonesia agar makin maju. tetapi juga terpenuhinya keselarasan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam segala aspeknya pada akhirnya akan mendorong proses pembangunan di segala bidang. rasa keadilan dan lain sebagainya. Tidak akan ada artinya pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah tanpa mengedepankan keselarasan. begitu juga sebaliknya. sandang. rasa tenteram. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya merupakan hakeket pembangunan yang ingin dicapai aleh bangsa Indonesia. sejarah menunjukkan tidak senantiasa demikian kenyataannya. pangan tidak akan terasa tanpa diiringi adanya pemenuhan terhadap rasa aman. Ginandjar Kartasasmita dalam bukunya Pembangunan Untuk Rakyat Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Hal ini diartikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan papan. Namun. dan keseimbangan diantara kedua kebutuhan tersebut.

Pembangunan yang merusak alam dan lingkungan. Pembangunan yang demikian menghasilkan manusia yang materialistis. Pembangunan yang dijalankan dengan tidak memperhatikan nilai kemanusiaan pada umumnya.(Kartasasmita. Ketiga.10 pembangunan dapat merupakan suatu hal yang tidak baik. yang mana kesemua masalah tersebut memerlukan penanganan yang serius dengan suatu Manajemen Sumber Daya Manusia yang tepat. yang segala perbuatannya hanyalah untuk kepuasan didunia saja. (Soeroto. Keenam. seni dan lain-lain kegiatan yang dapat memperbaiki. apabila pembangunan hanya menguntungkan sebagian orang. 1986:3). atau tidak halal. Kelima. . sebagai mahkluk yang utuh. pangan. Oleh karena itu. teknologi maupun manusia. pembangunan yang hanya mengejar kebutuhan lahiriah dan mengabaikan sisi rohaniah manusia. Pembangunan merupakan proses kegiatan yang terus-menerus yang bertujuan untuk mencapai kearah keadilan yang lebih baik. terbatasnya lapangan pekerjaan. baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. terbatasnya sarana dan prasarana. Sumber daya manusia ini harus benar-benar dapat diandalkan sebagai modal pembangunan. Kedua. Pertama. apabila pembangunan dijalankan dengan menggunakan cara yang tidak benar. sumber daya manusia perlu dibina sedemikian rupa menjadi sumber daya yang berperan aktif dalam setiap pembangunan. Berbagai masalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan yakni masalah kependudukan seperti kekurangan tempat tinggal. apabila hal-hal berikut yang terjadi. Pembinaan sumber daya manusia atau Human Resources Development adalah usaha untuk memperbesar kemampuan berproduksi seseorang baik dalam pekerjaan. Proses ini membutuhkan modal baik dana. rendahnya tingkat kesehatan. 1996: 24) Tidak dapat dipungkiri bangsa Indonesia sebagai negara yang berkembang masih menghadapi berbagai masalah dalam pelaksanaan pembangunan. jika ditujukan untuk kepentingan pembangunan suatu kelompok dengan mengorbankan yang lain. tetapi tidak bermanfaat bagi yang lain. tidak baik. Keempat. Diantara ketiga faktor ini sumber daya manusia adalah faktor terpenting. kekurangan sandang.

(Murtiningsih. mental.11 Dengan demikian ada peningkatan kemampuan berproduksi bagi setiap orang. ilmu. kedamaian dan keadilan serta mengesampingkan perilaku yang menindas serta diskriminatif. memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi. masyarakat dan pemerintah. karsa maupun kesadaran martabat kemanusiaannya. memperluas wawasan ke masa depan. Untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional perlu ditingkatkan pembinaan dan pengembangan generasi muda serta diarahkan menjadi kader penerus bangsa dan manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila dilakukan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME. memikul tanggung jawab masa depan terhadap maju mundurnya suatu negara. Untuk itu pembinaan dan pengembangan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu antara keluarga. memperkokoh kepribadian dan disiplin. pendidikan selalu bertujuan untuk membina kepribadian manusia menjadi lebih ‘manusiawi’ dan mengembangkan serta mengutuhkan potensi kemanusiaannya yang masih terpendam dengan mengedepankan suasana yang penuh cinta-kasih. Pada hakekatnya dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda tercakup didalamnya adalah pendidikan baik formal maupun informal. Sebagai pewaris kemerdekaan pemuda bertugas mengisi kemerdekaan. mengembangkan kemandirian. sehingga manusia Indonesia tidak menjadi beban negara tetapi menjadi pendukung yang dapat diarahkan dalam rangka pencapaian arah pembangunun. baik potensi intelektual atau kognitif. menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Agar anak mampu . rasa. Pendidikan adalah sebuah proses penyempurnaan semua individu sebagai peserta didik. 2004:6-7) Anak yang merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Mereka adalah penerus perjuangan bangsa yang akan menerima estafet kepemimpinan di kelak kemudian hari. Artinya. ketrampilan dan semangat kerja keras. dimana secara alamiah anak tumbuh menjadi besar dan dewasa.

pendidikan. tumbuh. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. Pemenuhan hakhak anak agar mereka dapat hidup. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Seperti diketahui bahwa anak sebagai generasi muda adalah aset bangsa yang akan meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Negara dan Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989 dan hal ini telah diimplementasikan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ada diantara mereka yang mengalami hambatan sehingga ia menjadi terlantar. terlantar. jasmaniah maupun sosial. pengobatan. Hal ini terjadi seperti pada keluarga yang mengalami perpecahan. perlindungan. dan sejahtera. berakhlak mulia. Tetapi kenyataan yang ada di masyarakat tidak semua anak dapat terpenuhi kebutuhannya. Ataupun sebab lain yang dapat mengakibatkan mereka menjadi. Namun dilihat dari kenyataannya yang ada dengan masih tingginya jumlah anak terlantar. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989. Kondisi semacam tersebut di atas menjadi idaman/dambaan suatu bangsa yang ingin maju dan dinamis. berarti tidak semua anak. pakaian.12 melaksanakan tugas-tugas melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan dari generasi pendahulunya. kasih sayang dan pergaulan diantara mereka. berkembang. maka sudah semestinya anak harus dibiarkan tumbuh dan berkembang secara normal. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. menjalani kehidupan yang layak sebagai seorang anak yang seharusnya tumbuh wajar sesuai . Akibatnya mereka menjadi tidak terpenuhi kebutuhan akan makan. perumahan. maka kepadanya perlu mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar baik rohaniah. keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan sehingga melalaikan kewajibannya atau tiadanya salah satu atau kedua orang tua (tidak punya orang tua).

pemerintah bertanggung jawab terhadap kondisi anak-anak terlantar. Adapun realisasinya diupayakan bersama antara negara. . pembinaan/asuhan yang intensif. Kesempatan pemeliharaan hanya akan dapat dilaksanakan dan diperoleh apabila usaha kesejahteraan anak terjamin. terprogram dan berkesinambungan. Pembinaan dan bimbingan terhadap anak-anak terlantar mutlak diperlukan agar terbentuk pribadi-pribadi yang utuh untuk terciptanya kualitas Sumber Daya Manusia seutuhnya. Usaha kesejahteraan anak sebagai pembinaan tunas bangsa senantiasa dikedepankan oleh pemerintah. namun pada prosesnya ternyata tidak bersikap ramah terhadap dunia anak-anak. Karena dalam usaha mencapai kesejahteraan anak yang lebih baik tidak mungkin diupayakan oleh mereka sendiri. Hal ini seperti yang tersebut dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. dan seluruh masyarakat Indonesia. Anak dapat menerima hak-haknya secara penuh dan dapat melaksanakan kewajibannya dengan didasari atas kesadaran dan tanggung jawab yang ia peroleh dari bimbingan. Anak-anak terlantar merupakan masalah nasional yang perlu segera mendapat perhatian dengan pembinaan mental dan pengetahuannya agar nantinya potensi yang ada dalam dirinya dapat tergali dan termanfaatkan oleh proses pembangunan bangsa. Ketika situasi keterlantaran anak yatim piatu dan anak dari keluarga bermasalah tersebut dibiarkan tanpa ada usaha penanggulangannya. mereka terhina dan akan berontak terhadap keadaan. Pembinaan terhadap anak terlantar telah dilaksanakan oleh lembaga pemerintah maupun swasta sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap kelangsungan bangsa. dikhawatirkan anak akan frustasi. Sebagai negara yang berkeadilan sosial. sehingga dapat berperan dalam pembangunan. Sungguh sangat memprihatinkan apabila proses pembangunan yang telah menghasilkan manfaat.13 dengan dunianya.

Salah satu pasal yang didalamnya mencakup Hak Anak termuat pada BAB II pasal 2. Adapun tujuan didirikannya PSAA adalah: . baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya. asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan. Dan untuk pelaksanaan usaha kesejahteraan anak termuat pada Bab II Pasal 4 Ayat 1. yang menyatakan bahwa anak berhak atas kesejahteraan. tumbuh kembang. Anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. perlindungan dan partisipasi merupakan hak anak secara universal dan di Indonesia pengaturan hak anak secara tersurat ditegaskan melalui Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. bahwa orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak baik secara jasmani. perawatan. Dalam rangka pemenuhan hak anak kaitannya dalam memecahkan masalah keterlantaran anak maka diperlukan lembaga pengganti fungsi orang tua yang memiliki peran dan posisi sejenis melalui pemerintah dan salah satunya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak. organisasi maupun badan-badan”.14 Kelangsungan hidup. yang menyatakan bahwa ”Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara. Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga pelayanan profesional yang bertanggung jawab memberikan pengasuhan dan pelayanan pengganti fungsi orang tua kepada anak terlantar (Buku Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak melalui Panti Sosial Asuhan Anak). rohani maupun sosial. Namun persoalannya tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugas tersebut. Undang-undang ini menekankan.

Sesuai dengan tujuan panti asuhan sebagai lembaga kesejahteraan sosial. pemenuhan kebutuhan fisik semata namun juga berfungsi sebagai tempat kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak-anak terlantar yang diharapkan nantinya mereka dapat hidup secara mandiri dan mampu bersaing dengan anak-anak lain yang notabene masih mempunyai orang tua serta berkecukupan. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan tekhnologi yang ada memunculkan suatu permasalahan bagaimana membina dan . b. Dikelola oleh tenaga pelaksana yang memenuhi standar profesi. tumbuh kembang. bahwa panti sosial tidak hanya bertujuan memberikan pelayanan. c. Terwujudnya jaringan kerja dan sistem informasi pelayanan kesejahteraan anak secara berkelanjutan baik secara horisontal maupun vertikal. 3. Terwujudnya hak atau kebutuhan anak yaitu kelangsungan hidup. 2. Meningkatnya kepedulian masyarakat sebagai relawan sosial. perlindungan dan partisipasi. Terlaksananya manajemen kasus sebagai pendekatan pelayanan yang memungkinkan anak memperoleh pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keanekaragaman sumber. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sistem pelayanan yang dilaksanakan dalam panti asuhan sangat kompleks. Dengan demikian pelayanan bagi anak terlantar dalam panti sosial asuhan merupakan suatu sistem. Terwujudnya kualitas pelayanan atas dasar standar profesional: a.15 1. Unsur-unsur pelayanan yang ada dalam panti dalam pelaksanaan asuhan merupakan satu kesatuan yang utuh. sehingga tidak adanya satu unsur saja dapat mempengaruhi proses pelayanan. karena di dalam prakteknya terdapat keterikatan-keterikatan berbagai unsur pelayanan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. d. Meningkatnya kualitas kehidupan sehari-hari di lingkungan panti yang memungkinkan anak berintegrasi dengan masyarakat secara serasi dan harmonis.

Pada umumnya banyak anak yang dalam proses pembentukannya bukan hanya diasuh oleh orang tua (ayah-ibu) yang merupakan basis dalam proses pengasuhan melainkan juga oleh individuindividu lain dan atau lembaga pendidikan baik formal maupun informal yang ada disekitarnya (Supanto dkk. berakhak mulia. yang bersumber pada pengetahuan kebudayaan yang dimiliki orang tuanya. Dalam masa pengasuhan. melainkan lebih dari itu. membentuk latihan-latihan tanggung jawab. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. 1990: 1-2). mandiri dan mempunyai kualitas intelektual. berorganisasi. Melalui orang tua.16 mengembangkan potensi pribadi anak-anak terlantar sehingga nantinya diharapkan mereka mampu bersaing dan bertahan di dalam masyarakat. pengetahuan pergaulan dan sebagainya. memimpin dan dipimpin. . Di dalam pondok pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. Mengingat potensi atau kemampuan yang ada dalam pribadi anak-anak tersebut sangat besar untuk dapat dijadikan sebagai modal dalam pelaksanaan pembangunan bangsa. yakni meliputi: pendidikan. Oleh karena itu. mempunyai integritas pribadi yang utuh. Di samping harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan oleh . Mereka juga dituntut untuk dapat menaati dan meladeni kehidupannya dalam segala hal. sopan santun. Anak tumbuh dan berkembang dibawah asuhan dan perawatan orang tua. anak beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku dilingkungannya Mengasuh anak bukan hanya merawat atau mengawasi anak saja. lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya. orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. yaitu manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.

yang secara berurutan unsur- . pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap imam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan. asrama. unsur-unsur pondok pesantren sangat sederhana. Pondok pesantren membentuk tradisi keagamaan yang bergerak dalam bingkai sosial kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks. masjid. karena dianggap sebagai pemilik. Pada awalnya. Sistem sosial yang lebih besar cenderung menekan komunitas-komunitas kecil yang sesungguhnya masih dalam ruang lingkup pengaruhnya. Unsur ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren. santri dan bangunan rumah kyai yang berfungsi sebagai tempat mengaji Al-Qur'an. (Sukamto. tetapi pesantren sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat. santri dan kitab kuning bersifat subsider yang keberadaannya di bawah kontrol dan pengawasan kyai. hanya terdiri atas kyai. yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu relatif panjang. (Dhofier. seperti melakukan shalat berjamaah. 1982: 44-60). santri dan kitab kuning. Sedangkan Prasodjo mengemukakan bahwa pola-pola pondok pesantren terdiri dari lima pola. Sedangkan unsur-unsur lainnya . Unsur-unsur pondok pesantren berkembang sangat variatif tatkala para kyai membuat kebijakan yang bersifat adaptasi terhadap kurikulum nasional dalam upaya memperbarui bidang pendidikan di pesantren. Meskipun tradisi keagamaan pesantren dapat membangun sebuah subkultur. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa: ”Unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri. Sementara itu.17 Dhofier menyatakan bahwa unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai. asrama. Peranan kyai dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren. Karakteristik fisik yang membedakan lembaga pondok pesantren dengan lembaga pendidikan di luar pondok pesantren terletak pada unsur tersebut.” (Sukamto 1999: 2 ) Subkultur yang dibangun komunitas pesantren senantiasa berada dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. 1999 : 1).masjid.

lembaga pesantren bergerak secara dinamis dalam kurun waktu tertentu. pondok. pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah umum tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kyai. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. .18 unsurnya berkembang dari sederhana hingga variatif. (Wahjoetomo. 1999: 4) Terdapat bermacam-macam tipe pendidikan pesantren yang masingmasing mengikuti kecenderungan yang berbeda-beda. tempat keterampilan. pola II terdiri dari masjid. Perkembangan pondok pesantren senantiasa melahirkan unsur-unsur baru tanpa harus menghilangkan unsur yang sudah terbentuk. pola III terdiri dari masjid. rumah kyai. lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). Tipe yang kedua adalah pesantren khalaf (modern). Terjadinya akumulasi atas unsur tersebut membuat pondok pesantren tetap eksis dan berfungsi dalam arus perubahan sosial. SMU dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya: (Wahjoetomo. gedung perkantoran. pondok. pola V terdiri dari masjid. madrasah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial keagamaan dan pendidikan. pola IV terdiri dari masjid. (Sukamto. 1997: 83). rumah kyai. universitas. 1997: 87) Akan tetapi. tempat ketrampilan. 1986: 104-109). pondok. tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. pondok dan madrasah. rumah kyai. Menurut Zamakhsyari Dhofier. Secara garis besar. (Prasodjo. atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP. tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. rumah kyai. madrasah.

Mengidentifikasi pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak. Lokasi penelitian ini difokuskan di Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Berbagai kasus kekerasan anak yang terjadi selama ini juga ada dilakukan baik di pondok pesantren dan panti asuhan.19 Dibandingkan dengan pesantren salaf. pesantren khalaf mengantongi satu nilai plus karena lebih lengkap materi pendidikannya yang meliputi pendidikan agama dan umum. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimanakah pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren di Kota Solo dan Kabupaten Klaten?” C. Tetapi pilihan anak untuk masuk ke pondok pesantren dan panti asuhan pun menjadi sebuah pertanyaan besar karena tidak semua anak berminat untuk tumbuh dan berkembang di sebuah lingkungan asrama. Para santri pesantren khalaf diharapkan lebih mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern daripada alumni pesantren salaf. Oleh karena itu sangat menarik untuk mengambil penelitian tentang pola pengasuhan anak yang diselenggarakan di panti asuhan dan pondok pesantren yang memiliki karakteristik tertentu. Perkembangan pondok pesantren dan panti asuhan di Indonesia saat ini cukup dinamis sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki masa depan anak di era globalisasi ini. Karena tidak semua lingkungan asrama memberikan kenyamanan dan keamanan seperti tinggal di rumah sendiri. Tujuan Penelitian 1. B. Meskipun begitu. . tidak selamanya pendidikan di pondok pesantren dan panti asuhan itu salah.

Profil Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang ada di Kota Solo dan Kabupaten Klaten 2. Ruang Lingkup Penelitian 1. 3. Manfaat Penelitian 1. Terpetakannya pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren sehingga dapat menjadi masukan dan bahan kajian bagi pemerintah daerah khususnya dalam membuat kebijakan tentang perlindungan anak di panti asuhan 2. Tersusunnya model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren E. Terpetakannya dampak pola pengasuhan anak bagi tumbuh kembang anak khususnya dalam pemenuhan hak-hak anak di panti asuhan dan pondok pesantren 3. Mengidentifikasi dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten 3. Intervensi strategis untuk menyusun standar pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik anak di panti asuhan dan pondok pesantren .20 2. Potensi. tantangan dan sumber daya panti asuhan dan pondok pesantren didalam menerapkan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Menyusun model pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak D. Dampak pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren 4.

Hak-hak yang melekat pada diri anak untuk hidup. Hak-hak atas sebuah nama dan kewarganegaraan sejak lahir. dan (4) hak untuk berpartisipasi. bahasa. adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun kecuali berdasarkan Undangundang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. harta kekayaan. termasuk siksaan dan eksploitasi. Anak sebagai Warga Negara Yang dimaksud dengan anak dalam konvensi PBB (pasal 1). agama. . tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. meliputi perlindungan dan diskriminasi. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. mental. (2) hak untuk berkembang. pandangan politik atau pandangan lain. Hak-hak perlindung dari penelantaran dan kekerasan fisik atau pun mental. 2. Hak-hak atas pemeliharaan. pendidikan. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggitingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. Keempat hak anak tersebut di awali adanya Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989. warna kulit. Negara menjamin dan harus memenuhi hak-hak anak yang meliputi: (1) hak untuk hidup. 2003: 104). Negara-negara peserta konvensi akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi. kelangsungan hidup dan perkembangan diri mereka. suku bangsa atau sosial. jenis kelamin. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. Tanpa memandang ras. yang menetapkan hal-hal penting menyangkut keberadaan anak. 3. cacat. dan perawatan khusus. asal-usul bangsa. yaitu: 1. kelahiran atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum (Prinst. (3) hak atas perlindungan. spiritual. moral dan sosial. 4.21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

serta mendapat perlindungan dari . Dengan penerapan disiplin dalam sekolah yang menghormati harkat dan martabat anak. Hak-hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dengan menitik beratkan pada upaya-upaya preventif. Hak-hak atas perlindungan dari penyalahgunaan obat-obat terlarang dan keterlibatan dalam produksi atau peredarannya. Hak-hak mendapat perlakuan manusiawi dalam proses hukum sehingga memajukan rasa harkat dan martabat anak-anak yang terlibat kasus hukum untuk kepentingan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. Hak-hak memperoleh perawatan atau pelatihan khusus untuk penyembuhan dan rehabilitasi bagi korban perlakuan buruk. 8. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. 7. tumbuh. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Untuk mengimplementasikan amanat konstitusi. Hak-hak untuk beristirahat dan bermain. 11. atau membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka. penelantaran dan eksploitasi. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. berkembang. Dalam UUD 1945 dalam pasal 28B ayat 2 disebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. tumbuh. dan penurunan angka kematian anak. Hak-hak memperoleh perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan pekerjaan yang dapat merugikan pendidikan mereka. pendidikan kesehatan. 9. 6. 10. dan mempunyai kesempatan yang sama atas kegiatan-kegiatan budaya dan seni. 12. Hak-hak memperoleh perlindungan dari upaya penculikan dan perdagangan anak.22 5. Hak-hak atas Pendidikan dasar yang harus disediakan oleh negara. Pemenuhan hak-hak anak agar mereka dapat hidup.

Pengembangan Kota Layak Anak secara terus menerus diimplementasikan ke sejumlah bagian kabupaten/kota yang terbatas dengan program pelayanan dasar perkotaan yang secara maksimum didukung oleh sumber daya yang ada. Dalam beberapa keadaan tertentu keluarga tak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam pemenuhan kebutuhan anak. Dengan mengintegrasikan konsep perlindungan anak ke dalam program pembangunan kabupaten/kota akan lebih mudah dibandingkan dengan merealisasikan Konvensi Hak Anak secara langsung. B. . Berkontribusi terhadap kebijakan yang akan mempengaruhi kotanya. Sebagai warga kota. antara lain: 1. Dapat berpartisipasi dalam kehidupan keluarga. sosial. anak dapat: 1. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup terlantar. Panti Asuhan Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. 3. Pemenuhan hak anak ini diwujudkan dalam pengembangan kota layak anak. berakhlak mulia. 2.23 kekerasan dan diskriminasi. yang kemudian menyebabkan keterlantaran pada anak. Mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan. Orang tua meninggal dan atau tidak ada sanak keluarga yang merawatnya sehingga anak menjadi yatim piatu. Salah satu keberhasilan mewujudkan kota layak anak adalah adanya lingkungan yang aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang anak. dan sosial. Lingkungan yang dimaksud salah satunya adalah lingkungan panti asuhan dan pondok pesantren. komunitas. dan sejahtera. Berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan sosial. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas. ”Beberapa penyebab keterlantaran anak. 4. sebagai upaya nyata untuk menyatukan isu hak anak ke dalam perencanaan dan pembangunan kabupaten/kota.

baik secara jasmani. Tentang Kesejahteraan anak Bab 1 Pasal 1) Ciri-ciri anak terlantar adalah: Pertama. 1979).” (BKPA: Pedoman Panti Asuhan. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. terlantar. rohani. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas. maupun sosial” (UU No. keempat kurang bermain. kelima. Orang tua tidak dapat dan tidak sanggup melaksanakan fungsinya dengan baik atau dengan wajar dalam waktu relatif lama misalnya menderita penyakit kronis dan lain-lain. Panti asuhan mencoba untuk menggantikan keluarga dalam menggantikan menjalankan fungsi keluarga guna pemenuhan kebutuhan anak. kedua. piatu. Panti asuhan adalah rumah. baik secara rohani. maupun sosial. miskin. 1986:111). Keterlantaran anak yang terjadi karena fungsi keluarga yang tidak dapat dijalankan secara baik tersebut kemudian diatasi. salah satunya oleh panti asuhan. mengasuh anak-anak yang berasal dari latar belakang status sosial bermasalah (yatim. keluarga retak dan orang tua sakit) Menurut buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengetahuan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. mengenai definisi dari Panti Asuhan bahwa: “Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan pelayanan pengganti.24 2. 4/1979. Menurut Undang-undang No. Orang tua tidak mampu (sangat miskin) sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal anak-anaknya 3. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lain-lain (BPAS. tepat dan memadai bagi . kurang pendidikan dan pengetahuan. tempat untuk memelihara. yatim piatu. definisi anak terlantar adalah sebagai berikut: ”Anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu sebab orang tuanya tidak dapat menjalankan kewajibannya sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar. atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik. merawat. ketiga. jasmani.

sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional” (Depsos RI. Anak yatim. rohani maupun sosial 3. Anak terlantar yang keluarganya mengalami perpecahan. Dengan demikian yang bertempat tinggal di dalam panti asuhan berasal dari latar belakang ekonomi . Selain itu panti asuhan juga memberikan pelayanan dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah pengembangan pribadi yang wajar dan kemampuan ketrampilan kerja. sehingga tidak memungkinkan anak dapat berkembang secara wajar baik jasmani. sehubungan dengan orang tua anak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam mendidik dan mengasuh anaknya” (BPKPK: PA. Dengan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan panti asuhan bukan hanya menyantuni akan tetapi juga berfungsi sebagai pengganti orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Umumnya anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah: 1.25 perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. 1986:3). Anak terlantar yang keluarganya dalam waktu relatif lama tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranan sosialnya secara wajar. sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya. piatu dan yatim piatu terlantar 2. 1982:1). Panti asuhan dapat pula dikatakan atau berfungsi sebagai pengganti keluarga dan pimpinan panti asuhan sebagai pengganti orang tua. keluarga dan masyarakat. definisi dari Panti Asuhan adalah: ”Panti asuhan dapat diartikan sebagai suatu lembaga untuk mengasuh anak-anak. Sedangkan menurut Badan Pembinaan Koordinasi dan Pengawasan Kegiatan (BPKPK). Penyebab keterlantaran ini antara lain salah satu atau kedua orang tuanya meninggal sehingga tidak ada yang merawat. menjaga dan memberikan bimbingan dari pimpinan kepada anak dengan tujuan agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang cakap dan berguna serta bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat kelak di kemudian hari.

panti asuhan memberikan pelayanan pemeliharaan baik secara fisik. meski telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu. Sesuai dengan definisi di atas. C. kondisi mental dan sosial anak asuh menjadi perhatian khusus. tidak ada catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan Islam ini pertama kali muncul di Indonesia. Pondok Pesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para siswanya tinggal bersama dalam suatu kompleks dan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan “Kyai” (Dhofier. perpecahan dalam keluarga. Peranan seorang pengasuh. baik bersifat intrinsik yaitu berasal dari anak itu sendiri maupun ekstrinsik yaitu karena pengaruh lingkungan luar dari anak. Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih . panti asuhan mencoba untuk membentuk anak asuhnya dalam menghadapi stereotif masyarakat yang memandang bahwa anak panti asuhan memiliki kelas yang lebih rendah dan minder ini coba untuk diatasi panti asuhan ini melalui para pengasuh. kemiskinan dan lain sebagainya sehingga anak menjadi terlantar. Panti asuhan baik yang diselenggarakan oleh negara maupun yayasan dimaksudkan sebagai tempat bernaung bagi anak-anak terlantar dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang mengalami berbagai macam gangguan sosial. Namun secara lebih lanjut. 1982:50). seperti orang tua tunggal. mencerminkan tanggung jawab pengasuh untuk menghidupkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan.26 yang berbeda-beda yang akan membentuk lingkungan masyarakat yang baru. Dengan visinya yang ingin membentuk manusia secara utuh dengan cara memanusiakan manusia. kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar abad pertengahan. Pesantren sering kali kurang dipahami oleh masyarakat diluar lingkungannya. Pada umumnya panti asuhan memberikan penanaman nilai-nilai kepercayaan diri agar bisa menerima kondisi dirinya dan mengatasi rasa minder dan rendah dirinya. mental maupun sosial.

biasanya sebuah pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri dari sarana dasar. Adanya semangat gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan. tumbuh sekitar peralihan abad ke19.27 modern sebagaimana dikenal sekarang. (Suaedy. sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren. rumah tempat linggal kyai dan keluarganya. (Marjuki Wahid. Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik. Dalam perjalanan perkembangannya. Santri taat dan patuh kepada kyainya. beragama dan bidang kehidupan lainnya dari kelompok masyarakat Islam tradisional sekalipun dibandingkan dengan masyarakat Islam modern saat ini. pondok tempat tinggal para santri. Lembaga tersebut muncul walaupun dalam bentuk yang sederhana tetapi ternyata dalam perkembangannya telah memberikan investasi bernilai luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat. Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat. 3. yaitu masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan. dan ruangan-ruangan belajar. pondok pesantren semakin mengembangkan dirinya untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Menurut Abdurrahman Wahid. Para santri hidup secara mandiri dan sederhana. ”Pondok pesantren merupakan latar belakang pendidikan yang mampu membentuk pola pikir dan perilaku santrinya”. 2. berpolitik. seperti: 1. 4. berekonomi. Hal ini bisa dibuktikan dalam kehidupan bersosial budaya. bernegara dan beragama di Indonesia sampai sekarang. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. 5. 2001:1) Lembaga pendidikan pesantren ini muncul sebagai tantangan zaman dari desakan masyarakat Islam yang masih tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan agama. 1999:14) Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah para san-tri atau murid tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu yang mandiri. Sehingga saat ini kita melihat ada bermacam-macam tipe pendidikan .

lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar. Di daerah Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah bandongan. Dalam tradisi pesantren. 2. ialah metode mengajar dengan sistem ceramah. Bagi santri yang telah menguasai materi pelajarannya akan ditambahkan materi baru. atau membuka tipetipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren. yaitu : 1. (Dhofier. 1994: 41 ) Beberapa pesantren salaf masih mempertahankan kecenderungan dengan tipe penyajian pelajaran klasik. Pesantren Salafi. Metode wetonan dan bandongan. Secara garis besar.28 pesantren. Dalam metode ini kyai biasanya membacakan. yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. lalu murid mengulangi bacaannya di bawah tuntunan kyai sampai santri benar-benar dapat membacanya dengan baik. sedangkan yang belum harus mengulanginya lagi. lalu men-jelaskan kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab dan para santri menyimak bacaan kyai sambil mem-buat catatan . pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode berikut: 1. Beberapa pesantren yang dikenal dengan pesantren modern tidak lagi menggunakan tipe pelajaran klasik tetapi juga memasukkan pengetahuan umum agar mampu bersaing di pasar kerja. kemudian kyai membacakan beberapa bagian dari kitab itu. yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya. 2. Kecenderungan seperti ini tentunya mengalami kendala serius dalam menjaga kelangsungan pesantren. Pesantren Khalafi. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kyai. Metode sorogan. menerjemahkan. yaitu bentuk belajar-mengajar di mana kyai hanya menghadapi seorang santri atau se-kelompok kecil santri yang masih dalam tingkat dasar. Kyai membaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu seperti sesudah salat berjemaah subuh atau isya.

tetapi jika tidak ada bantuan dari masyarakat. Metode musyawarah. 2. Pondok Pesantren didirikan oleh seorang kyai yang sudah bertekad untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk membina secara khusus dalam pendidikan agama.29 penjelasan di pinggiran kitabnya. sehingga tanggung jawab yang berhubungan dengan kesantrian dan kepesantrenan berujung pada sang kyai. Para kyai siap melayani para santrinya selama 24 jam. ialah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap ma-salah yang berhubungan dengan pelajaran santri di tingkat tinggi. Di daerah luar Jawa metode ini disebut haldqah (Ar. khususnya dalam bidang agama. Masyarakat yang hendak membantu diterima dengan senang hati. yakni murid mengelilingi guru yang membahas kitab. ekonomi dan budaya sehingga diharapkan santrinya setelah selesai/keluar dari pesantrennya mampu menjadi motivator dan dinamisator di masyarakat. 3. Lembaga pendidikan pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. 3. Ciri-ciri tersebut antara lain: 1. Kyai hanya menyerahkan dan memberi bimbingan seperlunya. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri. Para kyai selalu memberi bimbingan penuh kepada para santrinya. sehingga pembinaan dan komunikasi antara santri dan kyai menjadi lancar dan mudah mengaturnya. Para santri tinggal menetap di asrama yang telah disediakan kyai. . karena para santri tinggal di asrama yang disediakan. 4. yaitu santri harus aktif mem-pelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. namun juga dalam bidang politik. Segala daya dan upaya yang ia miliki digunakan untuk terwujudnya sebuah lembaga pondok pesantren.). Secara umum kehidupan di dunia pesantren akan tergambar dalam kegiatan para kyai dan santri melalui peran dan fungsinya masing-masing. dia jalan terus.

Secara informal lembaga pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang membentuk watak dan kepribadian santri. Adanya kyai. Para santri dididik hidup mandiri dan dewasa melalui berbagai kondisi yang ada dan kegiatan di pesantren. 11. bandongan. Kekhidmatan para santri kepada para kyai sangat tinggi. nonformal. seorang santri harus mampu menguasai berbagai kitab kuning dari yang kecil sampai kepada yang besar. 13. 8. sebagai pendiri. Sarana prasarana yang tersedia atau harus dipersiapkan adalah berupa masjid. 2000 : 91-93) Dalam perjalanan sejarah Indonesia pesantren telah memainkan peranan yang besar dalam usaha memperkuat iman. sehingga kelihatan sekali wibawa para kyai di kalangan para santri. pengasuh sekaligus pemimpin dan manajernya. sudah disajikan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. dan pendidikan formal yang diselenggarakannya. dan pondokan/asrama tempat tinggal para santri. Kurikulum yang disajikan semuanya pelajaran agama melalui kitab kuning klasik. Budaya yang menonjol dari kehidupan pondok pesantren selalu bersifat religius. meningkatkan ketakwaan. Pesantren juga telah melaksanakan pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu kemandirian para santri. kecuali pesantren khalafiyah. Pada umumnya pesantren itu adalah lembaga pendidikan non formal. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah pondok pesantren adalah : 1.30 5. Para santri siap mengabdikan diri pada para kyai dan menimba ilmu dari padanya. 7. madrasah. ( Muttaqin. 6. Metode dan teknik mengajar di pesantren secara umum melalui metode wetonan. pemilik. membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya masyarakat Indonesia dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan informal. . 12. Untuk menjadi seorang ulama yang besar. sorogan. 9. 10.

maka meskipun kini kebanyakan pesantren telah menggunakan metode pengajaran modern. Adanya pondokan. 1982: 46-47) Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren. sebagai sarana/tempat ibadah/shalat berjamaah dan sekaligus untuk belajar ilmu agama. yaitu: . 5. 1982 : 49) Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satusatunya pengajaran formal yang diberikan di pesantren. Menurut Zamakhsyari Dhofier. ada sikap timbal balik dimana santri menganggap kyai sebagai bapaknya sendiri dan kyai menganggap santri titipan Tuhan yang harus dilindungi. Kedudukannya sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon ulama. untuk tempat tinggal para santri. Biasanya masjid menjadi tempat beribadah terutama shalat lima waktu dan beberapa diantaranya berfungsi pula sebagai tempat pengajaran kitab-kitab Islam klasik. pengajaran kitab-kitab Islam klasik (sering disebut juga kitab kuning) tetap dipertahankan. Untuk dapat menggali ilmu tersebut secara teratur dan lama. (Dhofier. (Dhofier. Adanya santri. Adanya kegiatan mengaji kitab-kitab kuning. Kedua hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana hampir tidak ada perumahan yang cukup untuk menampung santri. 4. yang kurikulumnya ditentukan oleh kyai.31 2. Di dalam pesantren sendiri terdapat dua kelompok santri. Pertama. yang tinggal di pondok/asrama untuk belajar ilmu agama dan sekaligus mengabdikannya pada kyai. para santri harus meninggalkan kampung halaman dan menetap. 3. kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. ada tiga alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama. Memiliki masjid. Dan ketiga.

dan ketiga gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. gelar untuk benda-benda keramat. melainkan berangkat dari penghayatan dan keberagaman kyai. hanya dalam pengertian yang terakhirlah kata ”kyai” dipakai dalam penelitian ini. kepemimpinan secara otomatis dipegang oleh anaknya atau keluarganya. merawat dan mendidik anak yang masih kecil (Poerwadarminta. sehingga pertumbuhan dan corak pesantren bergantung kepada kemampuan kyai. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan adalah bentuk perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara. Pengasuhan berasal dari kata asuh yang mempunyai makna menjaga. mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. 1982 : 52). Pertama. 1982: 52). Apa yang dilakukan pesantren tidak mendasarkan pada strategi tertentu. Karenanya dapat dipahami apabila pasang surut perjalanan pesantren bergantung pada kyai. apabila kyai pengasuh pesantren meninggal. D. mendampingi. Santri mukim. lah yang biasanya menjadi penentu kebijakan pesantren. Karenanya. 2. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. gelar untuk orang-orang tua. kedua. Santri kalong. yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren. kata ini dipakai untuk tiga jenis gelar (Dhofier. yaitu murid-murid yang berasal dari jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. 1984). Sedangkan kyai merupakan elemen pembentuk tradisi pesantren yang paling esensial. (Dhofier. melindungi. Dan. yang biasanya tidak menetap dalam pesantren.32 1. Menurut asal usulnya. Menurut Wagnel dan Funk bahwa mengasuh itu meliputi menjaga serta memberi bimbingan menuju pertumbuhan kearah .

ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku. Pengasuhan anak (Child Rearing) adalah salah satu bagian penting dalam proses sosialisasi. hal ini memerlukan suatu proses yaitu dengan sosialisasi. dan belajar mengakui adanya sejumlah hak dan kewajiban yang ada dibalik aturan dan norma tersebut. maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar mengendalikan diri. Sejak kecil anak mulai belajar dari orang tua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma tersebut. yaitu orang tua atau tokoh otoritas lainnya. Pemberian disiplin dalam arti mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik. termasuk prestasi yang diraihnya. Orang tua mempunyai pengaruh penting serta wakil lingkungan sosial yang terkecil. mentaati. Artinya mempersiapkan orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didukungnya. memahami. makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh (Sunarti dkk. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu. Menurut Soerjono Soekanto. Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang .33 kedewasaan dengan memberikan pendidikan. Cara pemberian disiplin berbeda-beda dan sudah barang tentu memberikan hasil yang berbeda. Dengan demikian cara atau bentuk disiplin yang diberikan banyak tergantung pada sipemberi disiplin. menghargai dan menghayati norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (Soekanto 1982: 142). Penanaman nilai-nilai yang diberikan tentunya tidak bisa dilakukan dalam sekejab. Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam mempersiapkan seseorang menjadi anggota masyarakat. 1989:3). sosialisasi adalah suatu proses dimana warga masyarakat dididik untuk mengenal. Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang melanggar aturan dan norma itu.

sikap. mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya. Individu tidak begitu saja melakukan tindakan yang dianggap sesuai dengan dirinya karena individu memiliki lingkungan di luar baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. ide-ide. lingkungan fisik. Kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor. 3. yaitu proses akomodasi dengan mana individu menahan. dan kemudian mengidentifikasikan dirinya menjadi suatu pribadi. Tahap belajar (learning) Dalam tahap ini sosialisasi berlangsung dan individu mengalami proses belajar. Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati atau mendarah dagingkan (internalize) nilai-nilai dan norma-norma kelompok dimana la hidup sehingga timbullah diri yang unik (Horton dan Hunt 1991: 100) Dalam sosialisasi. Proses sosialisasi adalah proses belajar. kepribadian seseorang akan terbentuk. 2. 3. Adapun proses sosialisasi. nilai-nilai. kebudayaan. yaitu: 1. Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang yang mana didahului oleh suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. Vembriarto mendefinisikan proses sosialisasi.” (Khaeruddin 1985:79) Melalui proses sosialisasi seseorang akan mengenal nilai dan norma. Tahap pengalaman mental. Kepribadian menyatakan cara berperilaku dan bertindak yang khas dari . Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan. Tahap penyesuaian diri terhadap lingkungan. dan tingkah laku menurut standart dimana ia hidup. Khaerudin membagi ke dalam tiga tahap. pengalaman kelompok dan pengalaman unik. antara lain: warisan biologis.34 menyerap nilai dan norma yang ditanamkan. 1990:12) Lebih lanjut. pola-pola. yaitu: 1. 2.” (Vembriarto. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dan diri pribadinya. proses sosialisasi tersebut tersirat ke dalam tiga tahap kegiatan.

Pengajaran disini diartikan sebagai bagaimana mensosialisasikan nilai-nilai. dan juga pendidikan (moral maupun intelektual). yang patut dicatat adalah apa yang diuraikan oleh Whitung dan Child (1966) yang mengatakan bahwa dalam proses pengasuhan anak harus diperhatikan (1) orang yang mengasuh. larangan. Pengajaran (Instructing). Pembujukan (inciting) (Sunarti dkk. (3).Pengganjaran (rewarding). kepribadian adalah merupakan keseluruhan faktor biologis. Pengajaran (instructing) Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengajaran berasal dari kata “ajar” yang berarti “barang apa yang dikatakan kepada orang supaya diketahui (dituruti. 1991: 90). 1989:1-3). Pengganjaran (rewarding) Menurut Hurlock pengganjaran dalam pola pengasuhan dibedakan menjadi 2 jenis. perihal mengajar atau segala sesuatu mengenai mengajar” (Poerwadarminta. 1. Dari beberapa pengertian tentang batas asuh. (2). Kepribadian seseorang yang terbentuk tersebut merupakan wujud dari bentukan nilai yang telah tersosialisasi dan terinternalisasi dalam diri seseorang. yaitu hukuman dan penghargaan. Tetapi pada prinsipnya cara pengasuhan anak ini setidaktidaknya mengandung sifat (1).” Sedangkan “Pengajaran” mempunyai arti “cara (perbuatan. norma. yang merupakan hasil perpaduan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi perilaku yang dihadapi seseorang. penerapan disiplin. psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu (Horton dan Hunt. Dengan kata lain.35 seseorang setiap harinya. keharusan yang harus ditaati dan diketahui anak. Dengan demikian nilai merupakan salah satu hal utama yang menjadi tujuan sosialisasi. (2) cara penerapan larangan atau keharusan yang dipergunakan. Penerapan larangan maupun keharusan terhadap pola pengasuhan anak beraneka ragam. . dsb) mengajar atau mengajarkan. dll. 1984:22). dsb). 2.

com. Kekerasan menurut W James. Penghargaan tidak harus dalam bentuk materi. kekerasan yang ditampilkan media massa menurut W James Potter dan Stacy Smith terdiri dari tiga tipe dasar yakni. senyuman atau tepukan dipunggung. merusak harta benda atau orang secara fisik maupur psikis (Karman. Dari pemikiran di atas. (Hurlock. di satu pihak adalah yang melakukan dominasi dan pada pihak lain yang mengalami ketidak-berdayaan (http://www.KIPPAS. b. tetapi dapat berupa kata-kata pujian. kecenderungan untuk mengancam.) Sementara itu. Hukuman Hukuman berasal dari kata latin “punire” yang berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan. 1999). Sedangkan Ashadi Siregar secara sederhana mendefinisikan kekerasan sebagai situasi yang melibatkan dua pihak. Potter dan Stacy Smith juga meliputi tampilan aksi di media yang membahayakan manusia secara individu maupun kelompok yang terjadi akibat kekerasan yang tidak tampak (unseen violent mean). W James Potter dan Stacy Smith (1999) mendefinisikan kekerasan sebagai berikut: any overt depiction of a credible threat of physical force or the actual use of such . 1999: 35). perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. aksi .force intended to harm physically an animate being or group of beings (Segala tampilan yang menggambarkan kecenderungan maupun tindakan nyata untuk mengancam atau membahayakan seseorang atau kelompok secara fisik) (Potter dan Smith. Kekerasan (Inggris: Violence. Latin: Violare = “memakai kekuatan”) didefinisikan oleh Yonky Karman sebagai pemakaian kekuatan untuk melukai.36 a. Penghargaan Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk setiap hasil yang baik. membahayakan. 1999: 86-90) Di dalam cara pengasuhan anak dengan pengganjaran (rewarding) sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh anak.

b. sengaja atau tidak. dan kekerasan yang tidak terlihat namun memiliki akibat sangat berbahaya (unseen violent. d. e. Ada obyek atau tidak. Galtung juga menguraikan enam dimensi penting dari kekerasan. mean). Ada subyek atau tidak. meskipun memberikan kenikmatan dan euphoria. . 1992: 65). Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan psikologis. c. Sedangkan kekerasan psikologis adalah tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak. Kekerasan fisik dan psikologis. Kekerasan disebut langsung atau personal jika ada pelakunya. keras sebagai sifat) dengan acts of violence (tindakan-tindakan kekerasan) (Whindhu. tubuh manusia disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. tidak bebas. kekerasan tetap kekerasan. Dari sudut korban.37 nyata. Galtung tidak membedakan violent acts (tindakan-tindakan yang keras. Pengaruh positif dan negatif. Disengaja atau tidak. kurang terbuka. yang hanya menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup untuk melihat. Pemahaman Galtung tentang kekerasan lebih ditentukan pada segi akibat atau pengaruhnya pada manusia. dan cenderung manipulatif. mengatasi kekerasan struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. Sistem orientasi imbalan (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”. yaitu sebagai berikut: a. meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia. Dalam kekerasan fisik. Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan pemahaman. dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak langsung.

mudah diamati.38 f. Sifat kekeraan struktural adalah statis. baik yang personal maupun struktural. kekerasan personal bisa dilihat sebagai hal yang berbahaya dan salah. Namun dalam masyarakat yang dinamis. Kekerasan tersembunyi yang struktural terjadi jika suatu struktur egaliter dapat dengan mudah diubah menjadi feodal. dapat dilihat meski secara tidak langsung. Galtung membedakan kekerasan menjadi dua jenis. sementara kekerasan struktural dianggap wajar. 1992: 73). Pembujukan (inciting) Menurut Poerwadarminta (1984) pembujukan berasal dari kata “bujuk” yang artinya kata-kata manis untuk memikat hati. Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang tidak kelihatan (latent). nyata (manifest). Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun dengan mudah. atau evolusi hasil dukungan militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah tantangan utama terlewati. sedangkan “pembujukan” adalah hal atau perbuatan membujuk (Poerwadarminto. Yang tampak dan tersembunyi. sifat kekerasan personal adalah dinamis. . sementara kekerasan struktural semakin nyata menampilkan diri. memerlihatkan stabilitas tertentu dari tidak tampak (Windhu. Menurutnya masyarakat ada yang statis dan dinamis. kekerasan personal seperti yang telah disebutkan di atas akan diperhatikan. Kekerasan yang tampak. memerlihatkan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan. Dalam masyarakat yang statis. 1984:159). 3. “Membujuk” artinya mengenakan kata-kata manis dengan maksud hendak memikat hati. yakni kekerasan personal dan kekerasan struktural. Kekerasan yang ada di dalam masyarakat menurut Galtung tersebut akan berbeda-beda tergantung pada golongan apakah masyarakat tersebut. tetapi bisa dengan mudah meledak.

menarik hati dan terkesan tidak menyuruh.39 Pembujukan dilakukan agar anak mau mengikuti ajakan atau perintah pengasuh dengan kata-kata yang lebih halus. yaitu sistem pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. stabilitas dan kontinyuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh pengasuh. yaitu tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama karena ada konsekuensi hukumnya. Di dalam UU Perlindungan Anak juga diatur tentang pola pengasuhan lembaga pelayanan anak ini. Sehingga anak menurut dengan pengasuh. panti asuhan memiliki dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya. Kedua sistem pengasuhan tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh. Masing-masing lembaga pelayanan anak seperti panti asuhan dan pondok pesantren memiliki pola pengasuhan yang berbeda-beda. Secara umum. .

Sedangkan data kuantitatif dikumpulkan untuk menyusun profil panti asuhan dan penguatan data kualitatif. Pengambilan sampel panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat memenuhi semua strata atau kriteria khususnya panti asuhan yang dikelompokkan kedalam kategori milik pemerintah. . Untuk memudahkan di dalam proses penelitian maka masing-masing daerah di ambil 2 panti asuhan dan 2 pondok pesantren. Teknik Pengumpulan data Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian ini adalah Indepth Interview (Wawancara Mendalam) . C. swasta dan campuran. Sedangkan jumlah pondok pesantren di Kota Solo ada 3 dan di Kabupaten Klaten ada 2.40 BAB III METODE PENELITIAN A. Focus Group Discussion (FGD) dan Observasi dengan didukung dokumen atau arsip sebagai penguatan data. B. Lokasi Penelitian dan Partisipan Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. Lokasi penelitian diutamakan di Kecamatan Banjarsari dan Pasar Kliwon untuk Kota Solo serta Kecamatan Bayat dan Wedi untuk Kabupaten Klaten. Adapun jumlah panti asuhan di Kota Solo 13 dan di Kabupaten Klaten berjumlah 20. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kualitatif untuk mendapatkan data mendalam dan informasi tentang masalah yang dialami oleh partisipan (anak) dalam kaitannya dengan pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren.

Rencana Penelitian 1. Dari analisis data tersebut akan disusun model pola pengasuhan anak berbasis perlindungan dan kepentingan terbaik bagi anak di panti asuhan dan pondok pesantren. 6. data primer dilakukan untuk mengetahui dampak atau permasalahan yang dihadapi anak kaitannya dengan pelaksanaan perlindungan anak dalam pola pengasuhan yang dilakukan oleh panti asuhan dan pondok pesantren. Perbaikan protokol penelitian dan pembuatan instrumen penelitian Rekruitmen peneliti oleh Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS Solo 5. Penyusunan protokol penelitian Pertemuan dengan Stakeholders Kota Solo dan Kabupaten Klaten untuk mencari masukan bagi penyempurnaan protokol penelitian 3.41 D. FGD terhadap anak menurut kelompok usia dan dilanjutkan dengan telling story dan indepth interview dengan pendekatan analisis psikologis. 7. pola pengasuhan anak di panti asuhan dan pondok pesantren. Pelatihan kepada peneliti oleh Technical Advisor Try Out Instrumen Penelitian di Kota Solo Penyempurnaan Instrumen Penelitian . Teknik Pengambilan Partisipan Sebagai populasi penelitian adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti dengan teknik stratified random sampling menurut kelompok usia (6-12 tahun) dan (13-18 tahun). Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif. Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan indikator yang diteliti dilakukan melalui tahapan penelitian FGD terhadap primary care giver (pengasuh). 2. F. 4. Analisis data sekunder dan primer dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis profil panti asuhan dan pondok pesantren. E.

Penyusunan Final Report G. . Seminar hasil pemetaan untuk penyempurnaan final report 11. Argyo Demartoto. MS (sosiolog/perlindungan anak) Koordinator Peneliti : Drs. Pengumpulan data primer dan sekunder Analisis data dan penulisan laporan penelitian oleh koordinator peneliti (1 koordinator peneliti kota Solo dan 1 koordinator peneliti kabupaten Klaten) dan Technical Advisor (TA) 10.Si (sosiolog) Sri Lestari. MP Drs. Henry. Devi.A (sosiolog) : Dra. 1 orang psikolog dan 8 orang enumerator. Mita. M.Psi. M. Mahmud Yusuf. S. Indra Waskita. 1 orang koordinator Solo. Personalia dalam penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut : Ketua Peneliti (TA) : Ir Retno Setyowati. M. Isti & Nurul). Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dimulai bulan Mei hingga Agustus 2009. 9. S.Si Enumerator : 9 orang (Erliana. 1 orang koordinator peneliti. Irfan. M. Nunuk Siti Rahayu. Organisasi Penelitian: Organisasi dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang Technical Advisor.42 8. Yuni.Sos.Si (Psikolog) Koordinator Solo Koordinator Klaten : Atik Catur Budiati. 1 orang koordinator Klaten.

yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1753. Politik adu domba yang dilancarkan VOC menyebabkan Mataran terpecah menjadi dua bagian. kemudian lahirlah Perjanjian Salatiga yang menyatakan bahwa Surakarta dibagi menjadi dua Kerajaan. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pemerintahan di Negara Republik Indonesia. Karena terjadi perselisihan suksesi. yaitu Kasunanan dan Mangkunegara. Keadaan Umum Kota Surakarta a. Sejarah Berdirinya Kota Surakarta Kota Surakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan dan kesenian Jawa di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari keberadaan dua keraton di Surakarata. Gambaran Umum Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten 1. di desa Solo inilah Keraton akan mencapai kebesaran dan kemakmuran. maka Pemerintah Daerah . yaitu Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Kedua keraton ini merupakan sumber budaya Jawa yang adiluhung dan telah banyak memberikan warna kehidupan dalam bidang seni dan budaya pada masyarakat Surakarta dan sekitarnya (Pemerintah Daerah kota Surakarta. 1995: 20) Sejarah Kota Surakarta berawal pada tanggal 17 Suro 1670 atau 17 Februari 1745 dimasa Kerajaan Mataram Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Paku Buwono II memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Kartosuro ke sebuah desa kecil di tepi Bengawan Solo bernama Desa Solo. Menurut perhitungan. Orang yang pertama kali melakukan babat alas adalah Ki Gede Sala yang makamnya berada di daerah dalam beteng.43 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Sejak saat itu nama desa Solo berubah mcnjadi Surakarta Hadiningrat Selanjutnya kekuasaan Kerajaan Mataram terus menyusul.

Berdasarkan status administratifnya. memberi andil bagi perkembangan budaya patriarki masyarakatnya hingga saat ini. Surakarta vang sebelumnya menggunakan sistem pemerintahan kerajaan diubah menjadi ibu kota Karesidenan. perdagangan. b. Secara defacto Kota Surakarta terbentuk pada tanggal 16 Juni 1746 dengan daerah meliputi bekas Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran. Hingga saat ini Surakarta telah berkembang dengan pesat menjadi kota besar yang berfungsi sebagai pusat administrasi tingkat regional. Adapun perkembangan perubahan yang terjadi di Kota Surakarta. sekarang berstatus sebagai Kotamadya. Hal ini tidak begitu mengherankan jika menengok sejarah berdirinya Kota Surakarta yang sebelumnya memang bernama Sala. sedangkan sebutan Surakarta lebih bernuansa formal-birokratis. nama Sala atau Solo lebih popular. dan pada tahun 1905. Setelah Indonesia merdeka. pariwisata. sebagai kota industri. Namun secara yuridis Kota Surakarta baru terbentuk berdasarkan ketetapan Pemerintah Tahun 1949 No. 16/SD yang diumumkan tanggal 15 Juli 1946. budaya dan olahraga. yaitu: 1) Kota Surakarta 2) Haminte Surakarta 3) Kota Besar Surakarta 4) Kotapraja Surakarta 5) Kotamadya Surakarta (1946 – 1947) (1947 – 1948) (1948 – 1957) (1957 – 1965) (1965 – 1974) 6) Kotamadya Dati II Surakarta (1974 – 1999) 7) Pemerintah Kota Surakarta (1999 – sekarang) Surakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Daerah Tingkat II Kota Praja.44 Kota Surakarta berhak mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri di Kota Surakarta. Keadaan alam Kota Surakarta Wilayah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m dari permukaan . tepatnya pada tahun 1945. Sejarah Kota Surakarta yang bernuansa feodal.

Selain itu. tetapi setidaknya kita dapat menikmati keindahan alam. c. Dengan terlihatnya dua Gunung yang mengapit Kota Surakarta ini. Kota Surakarta terletak antara 110o 45’ 15” dan 110o 45’ 35” Bujur Timur dan antara 7° 36’ dan 7° 56’ Lintang Selatan. dan Jenes yang kesemuanya tersebut bermuara di Bengawan Solo. walaupun keindahan alam tersebut bukan merupakan kekayaan alam Kota Surakarta. tepatnya di Tawangmangu (Kabupaten Karanganyar) serta di bagian Barat adalah Gunung Merapi dan Merbabu.45 air laut dan dilalui oleh sungai Pepe. Anyar. Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang menunjang kota-kota lainnya seperti Semarang maupun Yogyakarta. Letak dan Luas Kota Surakarta terletak di daerah Propinsi Dati II Jawa Tengah bagian Selatan dan merupakan penghubung antara Daerah Propinsi Jawa Tengah bagian Timur dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan keadaan lalu lintas yang cukup ramai. sehingga sungai Bengawan Solo ini adalah salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh Kota Surakarta. Sungai Bengawan Solo merupakan Sungai yang terpanjang di Pulau Jawa. yang tepatnya berada di Selo (Perbatasan Kabupaten Boyolali dan Magelang). Letak Kota Surakarta juga sangat strategis. yaitu antara lain: 1) Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali 2) Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar 3) Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten . yaitu berada diantara dua Gunung maupun Pegunungan. Menurut keadaan astronomi. yaitu Gunung Lawu di bagian Timur. akan menambah keindahan panorama saat berkendara di Kota. Batas-batas wilayah Kota Solo.

645 Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 . RW.870 37.46 4) Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar Sukoharjo dan Kabupaten Luas wilayah Kota Surakarta mencapai 44. yaitu : 1) Kecamatan Laweyan 2) Kecamatan Serengan 3) Kecamatan Pasar Kliwon 4) Kecamatan Jebres 5) Kecamatan Banjarsari Sebagian besar lahan dipakai sebagai tempat permukiman sebesar 61%.242 31.864 15.742 Laweyan 11 105 452 Serengan 7 75 332 Pasar Kliwon 9 100 424 Jebres 11 145 605 Banjarsari 13 167 832 Kota 51 592 2. Jumlah RW tercatat sebanyak 592 dan jumlah RT sebanyak 2.020 20. Wilayah Kota Solo terbagi dalam 5 Kecamatan dan 51 Kelurahan.rata jumlah KK setiap RT berkisar sebesar 48 kk setiap RT. RW dan Kepala Keluarga yang berada di Kota Surakarta.742 kk.644. Tabel 4. Sedangkan untuk kegiatan ekonomi juga memakan tempat yang cukup besar. RT. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah kelurahan.06 km2 yang terbagi dalam lima kecamatan. RT. Dengan jumlah Kepala Keluarga sebesar 127. maka rata . dan Kepala Keluarga Di Surakarta No 1 2 3 4 5 Kecamatan Kelurahan RW RT Kepala Keluarga 22.746 127.1 Banyaknya Kelurahan. yaitu berkisar antara 20% dari luas lahan yang ada.

287 50 – 54 12.031 15.498 Jumlah 231.076 15 – 19 21.107 35. d.494 18.355 43. Tabel 4.241 55 – 59 8.972 40.467 45 – 49 14.866 60 – 64 5.546 7.320 15.443 485.601 40 – 44 17.022 28.750 14.946 5–9 17.241 64 + 13.660 29.491 25 – 29 19.519 18.972 40.256 29.2 Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Usia (Tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah Total 0–4 16.058 254.496 20.670 31.934 35 – 39 17.811 13. Sedangkan usia produktif yaitu antara 20 – 39 tahun yang berjumlah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 .519 21. karena di Kecamatan Banjarsari juga terdapat jumlah paling banyak Kelurahan (ada 13). Keadaan Demografi Penduduk Kota Surakarta 1) Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penduduk yang tinggal di Kota Surakarta terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surakarta.235 30 – 34 22.491 8.838 15.104 21. RW (ada 167).501 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2006 Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki.991 20 – 24 26.469 54.627 10 – 14 18.495 22.635 47.131 37. Tabel berikut ini akan memperlihatkan jumlah penduduk Kota Surakarta menurut kelompok umur dan jenis kelamin.716 38.356 26. serta RT (ada 832).430 26.47 Dari data tersebut diatas tampak bahwa sebagian besar ataupun jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Banjarsari.276 15.

4.443 173.3 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Jenis Kelamin Rasio Jenis Jumlah Kelamin Laki-laki Perempuan 1 2004 249.660 87.672 534.775 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Jumlah Penduduk Sesuai dengan Undang-Undang No.058 254.80 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004/2005/2006 No Tahun Sedangkan jumlah penduduk yang berusia 0 – 19 tahun dapat dilihat pada Tabel 4.614 orang penduduk laki-laki dan 86.898 80.731 85.48 172.540 88.35 2 2005 250. Data dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Surakarta menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut: Tabel 4.647 orang penduduk perempuan.183 158.103 2 2005 534.433 510.364 88.264 170. terdiri dari 85.4 Jumlah penduduk dan penduduk menurut jenis kelamin pada usia 0-19 tahun Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Usia 0 – 19 tahun L P Jumlah 1 2004 557.44 3 2006 231.278 261.868 283.540 82.628 3 2006 512.711 95.501 90. Di usia produktif ini. Namun data diatas yang didapatkan dari BPS usianya antara 0-19 tahun.261 orang. bahwa batas usia anak dibawah 18 tahun.592 78. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tabel 4. penduduk wanita lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki. Adapun anak yang putus sekolah Tahun 2004/2005 di Kota Surakarta adalah sebagai berikut: .443 485.

49 Tabel 4.5 Jumlah Anak Putus Sekolah berdasarkan Kecamatan & Tingkat pendidikan Tahun 2006 Siswa Putus Sekolah SD SMP/MI SMA/MA 1 Laweyan 1 16 35 2 Serengan 0 7 29 3 Pasar Kliwon 4 46 41 4 Jebres 12 61 4 5 Banjarsari 21 32 89 Total 38 162 178 Sumber : Profil Pendidikan Dinas DIKPORA Kota Surakarta No Kecamatan Daftar anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Surakarta dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.6 Daftar Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No 1 2 3 4 5 6 Jenis PMKS Anak Balita terlantar Anak terlantar Anak yang menjadi KTK Anak nakal Anak jalanan Anak cacat Jumlah Tahun 2004 L P Jml 130 130 Tahun 2005 L P Jml 400 752 41 78 111 387 1769 Tahun 2006 L P Jml 199 167 366 378 20 75 92 464 1228 304 17 4 7 348 847 682 37 79 99 812 2075 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta .

7 Jumlah Anak Korban kekerasan sesuai dengan kasus yang terjadi di Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 Tahun 2005 Tahun 2006 L P Jml L P Jml 1 Perkosaan 13 13 10 2 Pencabulan 1 1 2 13 3 Penganiayaan 1 1 2 4 Persetubuhan 3 3 2 5 Pelarian 4 6 Perdagangan 4 Jumlah 1 18 19 4 31 35 Sumber: Devisi Dokin PTPAS Kota Surakarta Tahun 2004/2005/2006 No Jenis kasus Keadaan anak yang memiliki pekerjaan terburuk dari berbagai sektor pekerjaan.7. Disnakertrans Kota Surakarta Keadaan anak yang mengandung cacat fisik.50 Adapun keadaan anak yang mengalami penyalahgunaan anak. rohani dan sosial anak dapat dilihat dalam tabel 4. Tabel 4.8 Banyaknya Pekerja Terburuk Anak Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta. tahun 2006 No Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Pemulung 5 3 8 2 Sektor Industri Kecil 1 1 2 3 Sektor Industri Besar 28 4 Pengamen 16 18 54 Sumber : LSM Kapas. mental maupun mental dan fisik (ganda) pada usia 0 – 18 tahun di Kota Surakarta dapat digambarkan melalui tabel 4. Tabel 4. dapat disimak dalam tabel 4.8. LSM Sari Surakarta. LSM PPAP Seroja. eksploitasi dan mengalami berbagai tindakan kekerasan yang membahayakan perkembangan jasmani.9 . menunjukkan bahwa anak diperkerjakan.

704 7.942 19.906 19.672 48.51 Tabel 4. operator angkutan.196 6.720 No Kriteria Cacat Tenaga profesional dan lainnya Tenaga kepemimpinan & laksana Pejabat pelaksana.715 Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 .825 14.9 Daftar Anak Penyandang Cacat menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006 Tahun 2006 L P Jml 1 Cacat tubuh 122 86 208 2 Cacat Rungu Wicara 80 66 146 3 Cacat Netra 21 20 41 4 Cacat Mental Reterdasi 139 93 232 5 Cacat Mental Eks Psikotik 27 24 51 6 Cacat Ganda 56 45 101 7 Cacat Bibir Sumbing 17 15 31 Jumlah 462 348 810 Sumber : Data PMKS dan PSKS DKRPPKB Kota Surakarta Tahun 2006 2) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Banyaknya penduduk secara umum menurut mata pencaharian penduduk di Kota Surakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini.054 45. yaitu dihitung mulai umur 10 tahun keatas. 5.167 27. TNI/POLRI 836 Jumlah 132.10 Jumlah penduduk Kota Surakarta menurut mata pencaharian (10 tahun keatas) Jenis Pekerjaan Utama 1. 3. 4.254 418 1.003 13.762 209 3. 2.343 0 93. Tabel 4.170 1. Jenis kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 9. tenaga TU Tenaga Usaha Penjualan Tenaga Usaha Jasa Tenaga Usaha Pertanian Tenaga Produksi.061 15. dan tenaga kasar 8.257 3.771 88. serta secara khusus. 7.971 11.437 68.646 43. 6.005 836 225.

untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang berada di kota Surakarta dan sekitarnya. dan tenaga kasar berjumlah 68. Keadaan ini dapat dimengerti karena wilayah Surakarta dan sekitarnya banyak berdiri pabrik-pabrik terutama tekstil atau kerajinan batik.343 jiwa.170 jiwa. operator angkutan.103 95. .123 bahwa tingkat pendidikan masyarakat Surakarta cukup tinggi. tetapi di Kota Surakarta juga masih menyisahkan sawah. karena dilihat dari jumlah keseluruhan penduduk yang berpendidikan SLTA dan Akademi atau Perguruan Tinggi mencapai 129. sebagai tenaga produksi.11 Jumlah Penduduk Kota Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan (5 Tahun keatas) Tingkat Pendidikan Tamat Pendidikan/Perguruan Tinggi Tamat SLTA Tamat SLTP Tamat Sekolah Dasar Tidak Tamat Sekolah Dasar Belum Tamat Sekolah Dasar Tidak Sekolah Jumlah Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka Tahun 2004 Dari tabel diatas dijelaskan No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 33.569 105. dan tenaga usaha jasa berjumlah 27.816 47.825 jiwa.52 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jenis pekerjaan terbesar penduduk Kota Surakarta adalah sebagai tenaga usaha penjualan berjumlah 88.077 orang. Walaupun banyak terdapat bidang perindustrian.974 103.184 485. Hal ini dikarenakan adanya dukungan sarana pendidikan terutama beberapa Akademi dan Perguruan Tinggi baik itu negeri maupun swasta yang ada di Kota Surakarta.498 73. Tabel 4.979 25.

Keadaan Sosial Ekonomi Corak perekonomian Kota Surakarta tidak terletak pada sektor pertanian. Luas Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten mempunyai luas wilayah sebesar 65. Hal ini ditunjukkan dari luas lahan sawah yang bukan sawah mengalami penurunan (tahun 2007 0.10%) Perubahan penggunaan tanah pertanian juga cukup besar tiap tahunnya. Tahun 2007 tanah pertanian sebesar 33.556 ha. b. 2.435 ha) merupakan lahan sawah dan 49 % (32.1233 ha. Perubahan terbesar digunakan untuk bangunan dan industri. . Luas Kabupaten Klaten 51 % (33. tetapi bercorak perdagangan dengan sektor industri. perdagangan dan pariwisata sebagai sektor utamanya.121 ha) merupakan lahan bukan sawah. Dari 65. terbagi dalam 26 kecamantan. Letak Kabupaten Klaten cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Surakarta. Seperti Visi dan Misi Kota Surakarta yang terpampang dipojokan Pasar Kleco dekat dengan patung seorang ibu yang sedang mencanthing (membuat batik dengan cara tradisional).53 e.09 %) sedangkan lahan bukan sawah mengalami kenaikan (tahun 2007 sebesar 0. Keadaan Umum Kabupaten Klaten a. terjadi perubahan penggunaan dari lahan pertanian ke non pertanian. 401 desa/kelurahan. Letak Geografis Kabupaten Klaten terletak secara geografis antara 7o32’19” sampai 7o48’33” dan antara 110o26’14” sampai 110o47’51”.556 ha.82 %. Seiring dengan perkembangan keadaan. yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata. Dibandingkan tahun 2006 mengalami kenaikan penggunaan lahan ke non pertanian sebesar 15.

Tabel 4.12 menunjukkan Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 . Tahun 2007 jumlah penduduk Klaten sebesar 1. Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten sebesar 95.70 % dari total penduduk Klaten. sekitar 75. Untuk usia produktif (usia 15-64 tahun) sebesar 981. Pertumbuhan jumlah penduduk seyogyanya diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk.29%. dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya dari seluruh masyarakat Indonesia.987 jiwa. kecuali Kecamatan Kemalang yang paling rendah kepadatannya sebesar 669 jiwa per km2. kondisi ini menunjukkan penambahan 3.745 jiwa dari tahun sebelumnya dan pertumbuhannya sebesar 0.54 c. Secara umum kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten merata untuk semua kecamatan.50 ini berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki.771 jiwa. Keadaan Penduduk Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan.296.

255 1.598 14.35 0.47 0.613 6.52 1.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Tabel 4.55 0.473 8.971 7.55 0.673 10.489 4.179.071 5.501 1.149.572 5.46 0.745 % 1.295 1.297 1.101.56 0.61 0.33 0.196.112.086.20 0.02 1.19 0.161.54 0.358 6.216.272 7.12 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 adalah 1.281.535 1.439 1.171 1.234.01 1.537 6.113 1.124.640 1.430 5.987 Pertambahan Penduduk (Jiwa) 11.49 0.12 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Klaten Tahun 1980-2007 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.345 6.307 1.228.711 1.257.241 13.742 1.201 5.42 0.976 1.89 0.10 1. .45 0.987 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.138.235 5.437 5.277.166.393 6.988 11.617 6.542 1.60 0.36 1.964 1.202.172.786 1.618 1.058 1.619 1.296.184.267 7.271.296.189.530 1.29%.69 1.334 13.242 1.223.047 1.44 0.295 1.49 0.293.45 0.767 4.788 1.09 0.184 3.55 Tabel 4.240 12.51 0.869 1.265.286.269 5.242.009 1.154.682 1.106 14.

05 0.164 34.673 41.29 0.03 0.374 57.709 38.01 0.149 40.26 0.811 48.721 41.469 57.54 0.730 51.726 49.53 0.09 0.298 jiwa.248 44. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Kebonarum sebesar 21.338 63.249 43.629 1.527 55.293.558 48.212 43.824 41.002 62.987 Penambahan Penduduk (Jiwa) 74 221 190 -99 -33 295 268 14 151 120 22 238 253 -37 135 20 307 485 132 3 95 37 131 379 123 221 3.767 50.92 0.54 0.428 40.28 0.969 81.748 55.06 0.226 44.242 2007 49.101 54.29 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 yang terbanyak adalah di Kecamatan Trucuk yaitu 81.896 21.936 81.858 49.869 37.284 57.745 Laju Pertumbuhan (%) 0.574 36.850 1.26 0.098 54.15 0.869 jiwa.589 38.985 45.212 63.559 41.075 40.298 57.38 0.07 0.72 0.603 65.56 Tabel 4.29 0.470 45.402 63.164 21.296.100 63.870 43.49 1.08 0.881 61.702 65.40 -0.201 34.844 41. .06 0.519 44.36 0.16 -0.13 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2006-2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah 2006 49.17 0.016 61.34 -0.022 62.

761 29.02 95.655 19.741 31.382 32.354 26.709 38.46 93.296.115 21.788 16.661 32.956 31.325 18.102 27.987 Rasio Jenis Kelamin 91.63 92.016 61.666 41.858 49.464 23.394 28.402 63.573 21.169 29.708 27.792 20.544 18.434 24.30 95.164 21.61 94.220 28.999 26.28 94.48 96.149 40.58 92.844 41.94 97.830 30.936 81.603 65.027 22.85 98.298 57.41 98.435 Jumlah 49.869 37.652 21.60 90.470 45.101 54.14 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Jumlah Laki-Laki 23.559 41.504 33.26 98.078 29.054 18.519 44.539 663.38 95.748 55.394 25.392 20.744 25.905 11.61 96.21 94.201 34.57 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.730 51.497 19.811 48.66 95.413 17.311 633.39 96.377 23.259 10.032 21.50 Sumber : BPS Kabupaten Klaten .10 96.11 96.986 25.192 32.099 32.689 22.338 63.452 21.559 21.134 22.30 95.415 23.847 31.552 Perempuan 25.850 1.055 22.986 20.17 92.74 96.18 95.249 43.824 41.469 57.25 99.270 40.248 44.492 22.022 62.68 95.

544 (laki-laki) dan berjumlah 41. kelompok umur 5-9 tahun berjumlah 105.119 50.033 28.033 45. .58 Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di Kecamatan Trucuk berjumlah 40.805 52.296.110 jiwa.981 64.271 23.186 53.083 jiwa.325 (perempuan).976 53.987 Sumber : BPS Kabupaten Klaten Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Klaten pada tahun 2007 untuk kelompok umur 0-4 tahun berjumlah 94.089 68.922 663.778 54.201 51.739 35.917 55.080 71.070 jiwa dan kelompok umur 15-19 tahun berjumlah 133. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.212 101. kelompok 10-14 tahun berjumlah 116.196 50.841 31.552 Perempuan 46.153 25.083 105. Jadi berdasarkan data dari BPS Kabupaten Klaten tahun 2007 jumlah penduduk (anak) menurut kelompok umur 0-19 tahun berjumlah 449.378 42.812 633.341 35.011 49.315 62.061 103.734 1.435 Jumlah 94.15 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Klaten Tahun 2007 Umur 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Laki-laki 47.455 57.893 108.064 116.422 98.064 jiwa .070 133.885 56.893 jiwa.283 48.534 29.964 54.511 113.946 46.614 26.411 88.179 59.476 52.

Jumlah dan kmposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Keluarga Berencana Peserta KB aktif di Kabupaten Klaten tahun 2007 mencapai 153. Pada tahun 2007 jumlah transmigran yang berangkat dari Kabupaten Klaten sebesar 8 KK. e. g.510 orang mengalami penurunan sebesar 1. .62 % dibandingkan dengan tahun 2006. terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7-24 tahun). f.59 d. Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Sumber Daya Manusia sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan. Tahun 2007 jumlah pencari kerja sebanyak 15. Di Kabupaten Klaten Tahun 2007 jumlah murid yang tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 Jumlah anak putus sekolah tahun 2007 sebesar 631 orang baik untuk sekolah negeri maupun swasta.921 orang. Adapun tujuan paling banyak adalah ke Kalimantan. Tingkat pendidikan untuk pencari kerja yang terbanyak adalah SMU/SMK sebesar 10. kondisi ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006.137 akseptor. Transmigrasi Salah satu usaha memperluas kesempatan kerja adalah melalui program transmigrasi selain untuk pemerataan penduduk.594 akseptor dan peserta KB baru sebesar 21. Kondisi ini menunjukkan penurunan sekitar 5. Sedangkan metode alat kontrasepsi yang banyak digunakan untuk peserta KB baik aktif atau baru adalah suntik.40 % dari tahun 2006. Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan.

0271-712023 . 0271-744152 Panti Asuhan Pamardi Yoga Jl Gajah Mada 119 RT 002/03 SOLO 57132 Telp. Persoalan di Indonesia terlihat dari jumlah pengasuh di panti asuhan anak masih sangat minim. Kondisi itu membuat anak asuh di banyak panti asuhan di Tanah Air tidak terperhatikan.d 8. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah.000 sampai 8. 0271-742485 Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 SOLO 57143 Telp.000 yang mengasuh sampai setengah juta anak. 0271-710843 Jl Gremet 38 SOLO 57139 0271-718698 Jl Tulang Bawang Utr 41 RT 006/06 SOLO 57136 Telp. Profil Panti Asuhan di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Jumlah panti asuhan di seluruh Indonesia diperkirakan antara 5. utamanya organisasi keagamaan. 0271-713304 Panti Jompo Aisiyah Jl Pajajaran Utr III 7 SOLO 57138 Telp. 0271-733152 Jl Dipati Ukur 120 SOLO 40132 Telp. ini yang kemungkinan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia. 0271-2506767 Panti Asuhan Mardhatilah Jl Sawo 27-B RT 001/04 SOLO 57163 Telp.60 B. Lebih dari 99% panti asuhan di Indonesia. 0271-715805 Panti Sosial Karya Wanita Jl Dr Rajiman 624 SOLO 57146 Utama Telp. diselenggarakan oleh masyarakat. yang jumlahnya diperkirakan antara 5.000 s.16 Persebaran Panti Asuhan di Kota Surakarta No Nama Panti Asuhan 1 Panti Asuhan Keluarga Yatim Muhammadiyah 2 Panti Asuhan Yatim Putri Aisiyah 3 Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah 4 Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Nurhidayah 5 Panti Asuhan Hosana 6 7 8 9 10 Alamat Jl Brigjen Slamet Riyadi 441 SOLO 57146 Telp. Panti asuhan harus mampu memenuhi kebutuhan anak-anak yang memerlukan pengasuhan alternatif dengan profesionalitas dan pengasuhan yang berkualitas. Tabel 4. 0271-713260 Panti Asuhan Pintu Jl Dr Cipto Mangunkusumo 37 SOLO Pengharapan 57139 Telp.000.

16). Angsana Trunuh. Tabel 4. 4 60 Jl. Ngawen 15 Jl. 0271-733152 PA Anak Misi Nusantara Jl. Bibis Wetan Rt. 42 Gumul Karangnongko Jl. 25 Klaten Selatan 9 10 11 PA Darul Hadlonah PA Y Putri Aisyiah Ngawen YAAT (SLB A) Trunuh .17 Persebaran Panti Asuhan di Kabupaten Klaten No Nama Panti Asuhan 1 PA Muhammadiyah Juwiring 2 3 4 5 6 7 8 PA Pakarti Murni PA Putri Aisyah PA Yatim Putra Muhammadiyah PA Muhammadiyah Wonosari PA Al Munir PA Baiturrachman YPBT Siwi Mekar Alamat Jumlah Anak Tanon RT 02/RW 08 20 Kenaiban.61 11 12 13 Panti Tuna Netra & Tuna Jl Dr Rajiman 622 SOLO 57146 Rungu Wicara Bhakti Telp. 04 / RW XX Gilingan Banjar Sari Solo Telp. Dahlia No. Ceper. Sedangkan Kabupaten Klaten memiliki 14 panti asuhan yang semuanya milik swasta (Tabel 4. 8 52 Ngreden. 654558 14 Sumber: Departemen Sosial Jumlah panti asuhan di Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 440 yang terbagi menjadi 28 panti asuhan milik pemerintah dan 412 milik swasta. Sindoro 14 B. Wonosari 30 Jl. Wonosari 15 Pantisari RT 16/03 35 Gumul Karangnongko Sabrangan RT 20/8. 0271-621044 Yayasan Panti Asuhan Anak Jl Jend Basuki Rachmat 20 RT 003/13 Yatim Nurhidayah SOLO 57143 Telp. Klaten 23 Kwaren. Di Kota Surakarta terdapat 14 panti asuhan anak yatim piatu (Tabel 4. Cemara No. 0271 654526. 60 Gayamprit. Klaten Selatan Batur. Juwiring Ngreden. 0271-716985 Chandrasa Surakarta Panti Werda Asih Jl Kencur 21 SOLO 57146 Telp.17).

Hanya 14 panti asuhan yang terdaftar secara resmi. Gajah Mada No. Beskalan Surakarta. Sumberejo. Manisrenggo KM2 Temurejo. Barukan. 1. 19 telp. Pada masa perjuangan tahun 1948-1950 Panti ini dipindah ke Pangkalpuluhan di Kelurahan Gajahan. Merapi No.62 Bendogantungan. Manisrenggo Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Klaten 12 Yayasan Shanti Yoga 31 35 25 Jumlah panti asuhan yang ada di Kabupaten Klaten ini sebenarnya lebih dari 14 panti asuhan tetapi sebagian besar dari mereka tidak secara resmi mendaftar kepada Dinas Sosial Kabupaten Klaten. Madyotaman Kel. (0271) 713260 Surakarta. Punggawan Rt. Pada tahun 1953 sampai sekarang ini Panti ini menempati tanah dan bangunan di Kp. Sekarang tempat tersebut menjadi lapangan sepak bola yang dikenal dengan lapangan Kota Barat. Data ini diperlukan bagi pengembangan dan pengawasan jalannya panti asuhan yang ada untuk menghindari penyimpangan fungsi panti asuhan. Dan sedangkan pada tahun 1960 diadakan perubahan nama yaitu Pendidikan Pamardi Yoga menjadi Panti Asuhan Pamardi Yoga sampai sekarang. Hal ini menandakan masih lemahnya kesadaran setiap yayasan yang membuka panti asuhan untuk mendaftarkan diri. Gading dan pada tahun 1952 di pindahkan ke Kp.1 Panti Asuhan Pamardi Yoga Panti Asuhan Pamardi Yoga berdiri pada tahun 1947 yang dahulu namanya adalah Panti Pendidikan Pamardi Yoga bertempat di Mangkubumen Kota Surakarta. . Klaten Selatan 13 Yayasan Panca Bhakti Mulia Jl. I a Cawas 14 Yayasan Bina Taruna Jl. kemudian dipindahkan lagi ke Kp. 02/02 Jln. Panti Asuhan di Kota Surakarta 1.

Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Surakarta. anak dari keluarga tidak mampu dan anak dari keluarga yang tidak jelas status orang tuanya. dengan sumber dana yang berasal dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Selanjutnya dirubah atau disempurnakan dengan Keputusan Walikota Surakarta No. status Panti Asuhan Pamardi Yoga Surakarta adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 12 tahun 2004 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra. Untuk sasaran dari Panti Asuhan Pamardi Yoga sendiri yaitu anak-anak yang menyandang masalah kesejahteraan sosial yang terdiri dari anak yatim. Untuk dapat masuk ke Panti Asuhan Pamardi Yoga ini tidak bisa langsung diterima begitu saja. Pada tahun 2001 dengan berlakunya otonomi daerah melalui Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 27 tahun 2001 tentang Pedoman Uraian Tugas Dinas Kesra Pemberdayaan Perempuan Kota Surakarta. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain yaitu: a. anak yatim piatu. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah diketahui Camat . rohani maupun sosial dan memberikan asuhan dan bimbingan kearah pengembangan pribadi dan potensi agar kelak menjadi orang yang mampu hidup layak. Ada syarat atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang anak atau orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepada Panti Asuhan Pamardi Yoga ini. anak piatu. maka Panti Asuhan Pamardi Yoga berstatus menjadi UPDT Dinas Kesra PP dan KB Kota Surakarta.63 Sejak berdiri hingga tahun 2001. anak dari keluarga broken home. Tujuan didirikannya Panti Asuhan Pamardi Yoga ini adalah untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial berdasar profesi Pekerjaan Sosial kepada anak asuh agar dapat memenuhi kebutuhan baik jasmani. Foto copy surat kelahiran b.

dengan sendirinya dapat melihat secara langsung kehidupan anak-anak desa yang memerlukan pertolongan. Foto ukuran 3 x 4 (4 lembar) j. Lombok. Panti asuhan ini banyak menampung anak-anak dari daerah Pulau Nias. Hal ini didasarkan pada Firman Tuhan yang berkata: ”Bapa bagi anak yatim” (Mazmur 68:6). Timor. 1. Flores. Surat berbadan sehat dari dokter f. Karena banyaknya anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dan yatim piatu dari luar pulau dan daerah yang terpencil di Indonesia. Aceh.64 c. Tujuan didirikannya panti asuhan ini sebagai bagian dari tubuh Kristus yang mengambil beban untuk melayani serta menjangkau daerah yang terpencil dan suku terasing. Surat keterangan pindah penduduk dari kelurahan. Surat keterangan pindah dari sekolah (bagi yang pindah) i. Biak. Foto copy raport terakhir h. Sumbawa. Syarat-syarat tersebut digunakan sebagai bahan dokumentasi tentang identitas anak sehingga profil anak yang tinggal di panti ini dapat teridentifikasi dengan baik.2 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Panti asuhan ini didirikan oleh Pendeta Sadrach pada tahun 1971. Mentawai. Sumatera Utara. Maluku. Surat pernyataan orang tua yang isinya menyetujui anaknya masuk Panti Asuhan dan bersedia menerima kembali setelah pengasuhan (Lulus SLTA) dan diketahui Lurah atau Kepala Desa d. Sulawesi dan Kalimantan. Bali. NTB. NTT. Foto copy surat kelakuan baik g. ”Kepadamulah orang lemah menyerahkan diri untuk anak yatim engkau menjadi penolong" (Mazmur 10:14) . Surat pernyataan anak yang isinya sanggup mentaati semua peraturan di panti e. Dalam memberikan pelayanan ini. Irian.

menuai jiwa di desa. Yohanes 4 :36-38). Anak Misi Nusantara mempunyai keistimewaan khusus. Ada dua hal yang menjadi latar belakang berdirinya Panti Asuhan ini. sehingga akan terjadi perkara-perkara besar di daerah mereka. banyak jiwa dimenangkan untuk Tuhan Yesus Kristus. menjadi terang. sebab mereka dididik keagamaan yang kuat dan dibentuk sedini mungkin untuk menjadi misi Kristen yang kuat sehingga dapat memenangkan banyak jiwa untuk Yesus Kristus. Pertama. selain untuk menjalankan Firman Tuhan yang telah disebutkan di atas. menampung mereka yang berada di daerah terpencil dan suku-suku terasing di Indonesia. Biasanya . Oleh karena itu panti asuhan ini diberi nama "Anak Misi Nusantara". Kebanyakan dari mereka tinggal di dalam panti asuhan sampai mereka lulus SMU. suku. Meskipun begitu. agar anak-anak bebas mengenyam pendidikan dan merupakan program pengentasan kemiskinan. sehingga misi Kristen juga bisa menjangkau mereka yang miskin. Allah sangat peduli dengan anak yatim piatu dan anak miskin. anak-anak panti asuhan ini tidak dibatasi sampai kapan mereka akan tinggal. setelah anak-anak selesai mengikuti pendidikan formal dan Sekolah Pelayanan Injil (SPI) maka anak-anak dikembalikan ke daerah mereka masing-masing dengan modal ilmu dan iman yang kuat serta penuh dengan kuasa Tuhan. dan mereka akan pulang ke kampung halamannya atau kepada orang tuanya. kaum bangsa (Lukas 10:2. kalau pemerintah mengadakan pergerakan anak asuh. maka Anak Misi Nusantara ini merupakan bagian kecil dari gerakan anak-anak asuh. dan menjaga dirinya sendiri supaya tidak dicemarkan oleh dunia "(Yacobus 1:27).65 ”Ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan Allah Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dalam kesusahan mereka. Kedua.

Pihak panti sudah menyampaikan kepada anak-anak yang tinggal didalam panti tersebut. Dan disamping itu juga memiliki . Akan tetapi karena selama bertahun-tahun tidak ada anak yang mau tinggal maka mengggunakan sistem non panti. Namun ada juga beberapa yang sudah tidak mengenal orang tuanya. Kemudian oleh menantu Hj. mungkin karena bencana atau memang sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Dasar utama yang menjadi landasan berdirinya griya asuh ini adalah ajaran agama yang menganjurkan untuk memelihara anak yatim dan menyantuni orang miskin. Awal berdirinya panti asuhan ini karena keprihatinannnya melihat kondisi anak-anak yang ada didaerah pedesaan yang secara ekonomi mauapun kehidupan sosialnya masih dibawah garis kemiskinan. Sebelum didirikan griya asuh dirumah beliau selalu ada anak yatim yang di asuh. Sosok Hj. Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Panti Asuhan Darul Hadlonah Panti asuhan ini disebut dengan Griya Asuh Darul Hadlonah yang mulai dirintis pada tahun 1980an oleh Hj. 2. Baru pada tahun 2007 mulai ada 9 anak yang mau tinggal dipanti dan terus bertambah hingga saat ini mencapai 61 anak.66 mereka akan mencari kerja dikampung halamannya. Sowam didirikan lembaga pendidikan yakni TKIT dan SDIT. meskipun beliau termasuk orang yang kaya raya tetapi dalam penampilannya sangat sederhana dan dalam pergaulan tidak memandang status sosial. bahwa mereka diperbolehkan untuk tinggal sampai kapanpun didalam panti asuhan tersebut dengan kegiatan yang tidak berbeda dengan waktu dia masih sekolah. dan setelah lulus SMU mereka tetap tinggal dipanti untuk membantu mengurus panti. Najibatun Sowam adalah pribadi yang sangat sederhana. Najibatun Sowam. Pada awalnya dibangun gedung yang dikhususkan untuk anakanak griya asuh.

. Dan juga anakanak yang secara ekonomi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya. Visi dari panti asuhan ini adalah menyantuni dan memelihara anak-anak yatim/piatu/yatim piatu dan tidak mampu baik melalui panti maupun non panti. kesehatan dan lingkungan hidup c. d.67 tujaun untuk menyelamatkan ahklak anak-anak yatim tersebut. b. karena di tinggal orang tua merantau dan hanya ikut dengan kakek/neneknya. Menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi. Kerja sama antara Panti Asuhan Darul Hadlonah dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam berada dalam wadah yang bernama Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU ( YKM NU) atau yang lebih sering disebut sebagai Griya Asuh. Adapun visi ini didukung dengan misi sebagai berikut: a. Dan juga anak-anak yang terlantar. Meningkatkan kualitas sumber daya perempuan Indonesia dalam bidang sosial/lingkungan hidup dan kesehatan/KB. Karena yang dimaksud yatim disini bukan pengertian yatim secara harfiah yakni anak yang bapak/ibunya sudah meninggal. Panti Asuhan Darul Hadlonah bekerja sama dengan Pondok Pesantren Mambaul Hikam yang berada tidak jauh dari panti asuhan. Menggalang dan mengerakkan potensi perempuan Indonesia dalam mewujudkan wadah pelayanan di bidang sosial. Hal tersebut dilakukan karena Panti Asuhan Darul Hadlonah belum memiliki kamar-kamar khusus untuk putra. Meningkatkan kualitas sumber daya insan. Kerja sama yang dilakukan yaitu berupa penempatan anak asuh putra untuk tinggal di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Akan tetapi meski anak itu masih memiliki orang tua secara ilmu agama orang tuanya tidak mempunyai pengertian yang cukup untuk mengajarkan anaknya tentang agama maka anak itu sudah terkategori yatim. lembaga dalam maupun luar negeri dalam melaksanakan program-programnya. khususnya generasi muda dalam pembangunan bangsa dan negara.

dan juga olah raga yang lain. pembuatan berbagai macam perhiasan dari manik-manik. pembuatan keset dari kain. Serta penghormatan mereka terhadap tamu juga sangat baik. Ada juga kolam tempat pemeliharaan ikan lele dan rumah tanaman. Hubungan antara anak griya dengan pengasuh dan pengurus juga terlihat akrab. pelajaran bahasa Inggris dan MIPA. Akan tetapi meski sangat dekat rasa hormat yang tinggi juga terlihat jelas dari anak-anak kepada para pengurus dan pengasuh. Pelajaran olahraga juga diberikan di griya asuh ini. Untuk pendanaan griya asuh ini pada awalnya dana pribadi yang digunakan akan tetapi seiring bertambahnya jumlah anak yang ada maka untuk pendanaan juga mulai membuka untuk pribadi atau lembaga yang ingin menginfakkan ataupun untuk menshodaqohkan hartanya kepada griya asuh. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi karena untuk pendidikan/pengetahuan umum anak-anak sudah mendapatkan dari sekolah pagi. Di Griya Asuh ini juga diberikan beberapa pelajaran keterampilan seperti pembuatan telur asin. Di griya asuh ini juga mendatangkan guru-guru dari luar untuk beberapa mata pelajaran umum yang disana banyak anak griya asuh yang kesulitan seperti.68 Sistem pendidikan yang dilakukan di Griya Asuh ini lebih menekankan pada pendidikan akhlak dan juga moral agama. Jadi model pembelajaran lebih ke model pembelajaran pesantren. setiap hari Minggu ada guru olah raga yang datang ke griya asuh untuk mengajar senam. Secara pribadi ada beberapa nama tetapi . Dengan harapan apabila anak-anak ini telah keluar dari griya asuh ini tidak hanya mempunyai bekal ilmu umum dari bangku sekolah akan tetapi memiliki ahklak yang baik dan juga memiliki skill yang dapat digunakan untuk bekal hidup selanjutnya. Tidak ada jarak yang terlihat dalam interaksi antara pengurus dengan anak-anak griya asuh. Sapaan yang hangat dengan bahasa yang santun itulah pertama kali yang kami rasa saat pertama tiba di griya asuh ini.

Hal ini tidak hanya sekedar cerita pengurus tetapi juga cerita dari anak-anak griya asuh sendiri dan dari pengasuh juga. kediaman Ibu Hadi Sanyoto dan . lokasi YPBT berpindah lagi ke kantor veteran dan dikelola oleh istri-istri veteran.sedangkan secara lembaga dengan Dinas Sosial Kabupaten Klaten. YPBT berlokasi di jalan Pemuda. Untuk kamar mandi ada 6 kamar mandi dan masih ada perencanaan untuk penambahan kamar mandi.69 hanya pengurus yang tahu karena memang tidak ingin dipublikasikan.Soeradji dan rekan memindahkan lokasi YPBT ke kediaman Dr. kamar tidur dua ruangan. Sepeninggal Dr. Soeradji Tirtonegoro. Perkembangan anak secara umum banyak perubahan baik secara fisik maupun tingkah laku.Soeradji. Kondisi gedung sarana dan prasarana di griya asuh ini bisa dibilang bagus. Untuk kesenian griya asuh ini memiliki rebana. untuk yang SMP. Dr. Pertama kali YPBT berlokasi di RSUP Klaten. Namun pertimbangan banyaknya orang sakit di RSUP membuat Dr. Beliau bersama dokter-dokter yang lain (Ikatan Dokter Klaten) kemudian mendirikan YPBT karena sering mendapat keluhan dari masyarakat. Sowam juga masih terus.Soeradji. Pemrakarsanya adalah Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Klaten. mushola dilantai dua. Yang semula kurus-kurus sekarang badannya mulai berisi dan banyak juga perubahan sikap dan tingkah laku anak-anak tersebut. SD dan TK menjadi satu kamar. Sarana olah raga ada lapangan voli dan lapangan badminton. dapur. ruang makan sendiri. Panti Asuhan Yayasan Pemeliharaan Bayi Terlantar (YPBT) Panti Asuhan YPBT didirikan pada tahun 1959. YPBT sering mengalami perpindahan lokasi dalam perjalanannya. untuk yang SMA berada dalam satu kamar. Meski dana pribadi dari keluarga almarhumah ibu Hj. Sebelum di Gayamprit.

di sebelah kanan bagian depan YPBT. sementara anak / bayi tidur di atas busa di lantai) j. Ruang tidur anak / bayi dan pengasuh YPBT (di dalam ruangan ini terdapat 1 tempat tidur yang digunakan oleh anak Ibu Panti. bermain f. setelah masuk gerbang (di samping taman bermain) c. YPBT memiliki luas bangunan sekitar 290 m2 yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan sebagai berikut: a. 4 kamar mandi (1 untuk Ibu Panti. YPBT juga mengelola Tempat Penitipan Anak (TPA) Siwi Mekar.70 sejak tahun 2004. Klaten Selatan. WC berupa lantai kamar mandi yang dilubangi dan ditutupi kayu (langsung terhubung ke saluran pembuangan/ tidak ada WC model jongkok seperti yang ada di rumah-rumah) l. memiliki atap namun terbuka d. Taman bermain kecil setelah masuk gerbang b. Garasi. Dapur.55. Akte Notaris YPBT Nomor 46. YPBT dan TPA Siwi Mekar memiliki ijin usaha. 1 untuk Siti (anak yang mengalami cacat mental. Ruang ganti baju dan meletakkan peralatan sekolah (jadi satu dengan ruang tidur anak / bayi) k. Ruang tamu dan kantor h.58 dan TPA Siwi Mekar Nomor 24. Ruang tidur ibu Panti i. Selain mengelola Panti Asuhan. makan. Tempat cuci piring dan menjemur pakaian di sebelah kiri bagian depan YPBT e. Teras serbaguna yang digunakan untuk belajar. 1 untuk anak Ibu Panti. Ruang TV (menjadi satu dengan teras serbaguna) g. YPBT berpindah lokasi di Jalan Sindoro 14B Gayamprit. dan 1 kamar mandi untuk semua anak / bayi serta pengasuh dan tamu). Gudang .

Meskipun begitu tidak semua pihak penyerah bayi membayar biaya penitipan. Pada awal bayi dititipkan. Sebagian besar kasus. yang ibunya TKW. Biaya biasanya per bulan.71 m. Ada yang karena “korban kampus”. wali. tidak direstui orang tuanya. Misal ibu yang tidak mempunyai suami harus bekerja sehingga menitipkan anaknya di panti YPBT. Tapi ada juga yang menitipkan anaknya di sini karena keharusan bekerja sehingga tidak bisa merawat anaknya. Namun pihak panti tetap meminta identitas pihak yang menyerahkan bayi tersebut ke Panti. Semisal jika terjadi adopsi pihak Panti memerlukan ijin pihak bayi untuk menyerahkan kepada pihak pengadopsi. Beberapa alasan mendasari anak-anak ini berada di sini. kemungkinan bayi-bayi ini akan terlantar. atau bayi hasil temuan oleh masyarakat yang oleh polisi atau Dinsos diserahkan ke YPBT. pihak panti dan pihak penyerah bayi (orang tua. Ruangan lantai atas (dulunya digunakan sebagai dapur. untuk menjemur pakaian o. ibu Sri Rejeki. kebanyakan anakanak di sini bukan yatim piatu (tidak benar-benar tidak memiliki ayah atau ibu). Tidak ada ruangan khusus untuk sholat Sebagian besar anak-anak yang berada di Panti Asuhan YPBT diserahkan ke panti ini saat mereka masih bayi. Pada dasarnya YPBT adalah tempat penitipan bayi. Karena jika ada syarat. Menurut penuturan Ibu Panti. Ada juga yang datang setahun sekali . rata-rata saat mereka berusia 3 hari.namun ditelantarkan atau tidak diakui. Tidak ada syarat (tidak harus yatim piatu) yang diberlakukan di Panti ini dalam penerimaan bayi. namun setelah 1 tahun yang lalu dapur pindah ke bawah sehingga ruangan atas tidak digunakan atau sebagai gudang) n. sebenarnya mereka memiliki ayah atau ibu. Ada yang hanya membayar pada awalnya lalu tidak datang lagi untuk membayar biaya penitipan maupun menengok anaknya. Dinas Sosial) sudah melakukan perjanjian mengenai biaya penitipan. Beranda lantai 2.

Bagi bayi atau anak yang dititipkan di TPA. panti asuhan menghubungi pihak yang akan mengadopsi d. bagaimana kondisi ekonominya. . Saat ini terdapat sekitar 30 anak yang diasuh di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. Namun tidak semua bayi bisa diadopsi. Tapi tidak menutup kemungkinan. Panti asuhan memilih bayi yang diijinkan untuk diadopsi c. Biasanya bayi yang diadopsi adalah bayi yang dibuang. Menyampaikan pada panti keinginan untuk adopsi bayi b. Jika syarat memenuhi. “beda bayaran. membayar biaya penitipan anaknya dan sekalian menengok anaknya / bayi yang dititipkannya di YPBT. Sidang adopsi di pengadilan g. Bayi atau anak yang dititipkan di Panti Asuhan tinggal atau tidur di YPBT sedangkan bayi atau anak yang dititipkan di TPA. Panti asuhan dan dinDinas Sosial melakukan survei pada pihak yang akan mengadopsi (apa pekerjaannya. YPBT mengijinkan adanya adopsi. yang tidak ada identitas orang tuanya. dan lain-lain) e. Pelayanan yang diberikan kepada bayi atau anak tergantung pada besarnya biaya yang dibayarkan ke YPBT. Penyerahan bayi dari Dinas Sosial. pihak panti asuhan tidak melakukan kontrol terhadap bayi yang diadopsi) Panti asuhan dan TPA dibedakan dari lama penitipannya. prospek masa depan untuk bayi yang akan diadopsi. biaya biasanya per hari dan berbeda-beda. atau orang tua bayi (setelah diserahkan ke pihak pengadopsi. namun ada pula yang tidak. panti menghubungi Notaris YPBT f. diserahkan ke YPBT waktu pagi dan diambil orang tuanya sore atau malam harinya. Menurut pengasuh. Kepolisian.72 (pembayaran dirapel). bayi yang diadopsi memiliki orang tua. Jika bayi ada. Prosedur adopsi: a. Kebanyakan berusia antara 3-12 tahun. Ada bayi yang menggunakan pampers. beda perlakuan!”.

memasak. mencuci baju dan piring. Tidak boleh keluar /pergi tanpa ijin c. Jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMA. menyapu. Farah Sabina (9 tahun). Anik (bayi). kebanyakan bekerja karena diminta oleh pihak YPBT (oleh Ibu Panti). Semuanya bertempat tinggal di Klaten. Fasha (5 tahun). Neyla A (5 tahun). Tidak boleh berkelahi f. Peraturan lebih seperti norma kesopanan : a. Ratna Dewi Safitri (11 tahun). Ardianto Eko Nogroho (8 tahun). Neyla B. Florentin (11 tahun). Agus Santoso (9 tahun). Tugas pengasuh di YPBT dan TPA adalah mengasuh bayi dan anak. Tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor e. Tidak boleh membawa handphone g. Mereka bekerja di YPBT tanpa wawancara. dan mengepel. Tidak boleh main jauh-jauh dan terlalu lama b. Risky Arta Novita Ayu P (14 tahun). Ada juga anak yang dititipkan di YPBT tapi tidak menginap seperti Rio (2 . Jidane (1 tahun). 3 di antaranya adalah laki-laki. Kukuh Adi Nugroho (11 tahun). Desi Rahmalia (SMA).73 beberapa berusia di bawah 3 tahun dan di atas 12 tahun. Tidak boleh membawa sepeda sendiri Rata-rata pengasuh di panti asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar berusia di atas 30 tahun. Anak YPBT yang menginap di YPBT yaitu Stella Vinona Aipasha (12 tahun). Agus Salim. Terdapat 10 pengasuh yang bekerja di Panti Asuhan YPBT dan TPA Siwi Mekar. Neyla C. Satu pengasuh untuk banyak pekerjaan. Wajib menghormati orang yang lebih tua d. Tidak ada peraturan khusus (tertulis) yang diberlakukan di YPBT. Nur Wahyu Ardianto (8 tahun). Tidak ada pembagian tugas yang spesifik untuk pengasuh. Ada yang sama sekali belum mengenyam pendidikan dan jenjang pendidikan tertinggi adalah SLTA. Kurniady Ary P (11 tahun) dan Reza (batita). Arafig. Anis Novita Sari (10 tahun).

Sumber dana tidak rutin berasal dari donatur dan dermawan baik individu maupun kelompok. dan hasil penjualan dari usaha (gas. Arif (8 tahun). tas). pondok pesantren dan madrasah diminta untuk terus meningkatkan metodologi kepengasuhannya. C. seperti menyapu. Pakaian yang dipakai anak-anak panti adalah pemberian donatur. ilmu . ilmu-ilmu bahasa Arab. ilmu tafsir. biasanya karena kekhususan disiplin ilmu yang diajarkan oleh kyainya. Ada yang khusus mengajarkan disiplin ilmu hadis dan fikih. galon air mineral. yang memberi bantuan baik berupa uang atau barang (seperti beras. Ada kegiatan mengaji Al Qur’an dengan mendatangkan guru ngaji (2 orang) dari Damaran setiap hari Jum’at dan Minggu sore jam 3. Pesantren pada masa ini ada yang memiliki kekhususan tertentu yang membuatnya berbeda dengan pesantren lainnya. susu. Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan keagamaan. Sebenarnya ada jadwal piket yang dibuat oleh ibu Panti bagi anak-anak. bayi yang tidak diketahui namanya oleh Ibu panti maupun mbak pengasuh. Sumber dana rutin berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta. Anakanak di YPBT biasa disuruh oleh mbak pengasuh untuk membantu pekerjaan mbak pengasuh. sehingga terbentuk watak bangsa yang membuat kehidupan bangsa Indonesia menjadi semakin baik. membuang sampah. jualan jajanan dan sayur matang). namun sudah 1 bulan ini tidak dijalankan oleh anakanak Panti. mie. pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di YPBT seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya seperti bermain dan belajar.74 tahun). Profil Pondok Pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten Pondok pesantren merupakan lembaga Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam. Oleh karena itu. Monika (8 tahun). Tifa (5 tahun). subsidi pemerintah. memasak.

Di samping itu. Saat ini jumlah pondok pesantren di Jawa Tengah berjumlah 2. Dari jumlah tersebut. Perubahan penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan pesantren ialah ketika dimasukkannya sistem madrasah. pesantren juga mengalami perubahan dalam segi kurikulum dengan ditambahkannya sejumlah pelajaran nonagama. mandiri. walaupun pengajaran kitab-kitab Islam klasik dengan metode sorogan dan wetonan tetap dipertahankan. .69%) yang tersebar di 5 kecamatan dan di Kabupaten Klaten berjumlah 30 (1. Adapun penyebaran pondok pesantren tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. ashriyah maupun kombinasi dari keduanya. dan mempunyai kualitas intelektual.574 yang tersebar di Kabupaten/Kota dengan berbagai tipe baik salafiyah. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. pondok pesantren yang ada di Kota Solo berjumlah 18 (0.18 (Kota Surakarta) dan Tabel 4. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati.16%) yang tersebar di 14 kecamatan. Dengan sistem madrasah. sehingga ijazah tidak terlalu dipentingkan dan waktu belajarnya juga tidak dibatasi. dan lain-lain. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.75 tasawuf. pesantren mencapai banyak kemajuan yang terlihat dari bertambahnya jumlah pesantren. berakhlak mulia. Hal ini dianggap sebagai imbangan terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai sistem pendidikan Barat. mempunyai integritas pribadi yang kukuh.19 (Kabupaten Klaten).

76

Tabel 4.18 Persebaran Pondok Pesantren di Kota Surakarta No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Tipe Jumlah Santri L P 290 280 4 18 35 21 248 267 120 30 25 67 40 249 55 45 55 40 87 186 65 113 37 43 117 114 116 118

1 PP. Al Muayyad 2 PP. Al Qur'an 3 PP. Darussholihin 4 PP. Muttaqien 5 PP. Nurus Salman 6 PP. Ta'mirul Islam 7 PP. Al Ma'hadu Islami Jamsaren 8 PP. Darud Dzikri 9 PP. Suryani 10 PP. MTA 11 PP. Tahfidz Wata'limil Qur'an 12 PP. Ar Royan 13 PP. Hidayatullah Al Kahfi 14 PP. Hidayatullah Solo Utara 15 PP. Terbuka Al Ahad 16 PP. Al Abidin 17 PP. Budi Utomo 18 PP. Hadil Iman Sumber: Departemen Agama

Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Kombinasi Laweyan Salafiyah Laweyan Salafiyah Laweyan Ashriyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Serengan Salafiyah Pasar Kliwon Ashriyah Pasar Kliwon Kombinasi Jebres Salafiyah Jebres Salafiyah Jebres Ashriyah Jebres Salafiyah Banjarsari Ashriyah Banjarsari Salafiyah Banjarsari Salafiyah

Pesantren-pesantren tersebut dapat dikategorikan dalam tiga model. Pertama, model pesantren tradisional yang masih mempertahankan sistem salafiyahnya dan menolak intervensi kurikulum dunia luar. Kedua, model pesantren yang sudah lebur dengan modernisasi. Ada pelajaran atau kurikulum salafiyah dan adapula kurikulum umum. Tetapi pada

perkembangannya, karakteristik kepesantrenannya hilang begitu saja dan hanya mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Ketiga, model pesantren yang mengikuti proses perubahan modernitas, tanpa menghilangkan sistem kurikulum lama yang salafi.

77

Tabel 4.19 Persebaran Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten No Nama Pondok Pesantren Kecamatan Prambanan Gantiwarno Wedi Wedi Trucuk Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Karangnongko Karangnongko Ceper Ceper Ceper Ceper Juwiring Juwiring Wonosari Wonosari Wonosari Wonosari Karanganom Karanganom Tulung Tulung Jatinom Jatinom Jatinom Kemalang Klaten Utara Klaten Utara Tipe Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Kombinasi Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Ashriyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Salafiyah Kombinasi Salafiyah Kombinasi Kombinasi Jumlah Santri L P 35 12 25 12 7 1 68 89 63 72 29 34 30 23 58 24 4.200 3.061 54 50 47 30 2 19 50 30 93 54 8 18 70 30 60 100 102 70 86 150 60 93 4 15 127 30 24 38 24 18 10 15 55 60 85 54 69 96

1 PP. Arruum Widodo 2 PP. Candi Barokah 3 PP. Darul Muhibbin 4 PP. Sunan Kali Jaga 5 PP. Ta'limul Qur'an 6 PP. Al Madinah 7 PP. Hidayatul Qur'an 8 PP. Al Munir 9 PP. Darul Qur'an 10 PP. Hudallah 11 PP. Jeblogan Bambu Atiq 12 PP. Mambaul Hikam 13 PP. Nurudh Dholam 14 PP. Sendang Sinongko 15 PP. Al Fattah 16 PP. Daar Al Muttaqin 17 PP. Abdurrahman Bin Auf 18 PP. Al Barokah 19 PP. Al Manshur 20 PP. Al Qur'an YAPI 21 PP. Karanganom 22 PP. Roudlotuzzahidin 23 PP. Ar Ridwan 24 PP. Ageng Selo 25 PP. Al Manshurin 26 PP. Raudhatun Nasyi'in 27 PP. Syafaatur Rosul 28 PP. Fathul Huda 29 PP. Al Urwatul Wutsqa 30 PP. Syarifudin Sumber: Departemen Agama

78

Berdasarkan pada observasi, pondok pesantren yang tersebar di Kota Solo dan Kabupaten Klaten tidak semuanya menggunakan sistem madrasah (memberlakukan sekolah formal di dalam pondok pesantren). Ada beberapa pondok pesantren yang dijadikan tempat untuk

memperdalam ilmu agama Islam dan untuk menempuh pendidikan formal, mereka masuk ke sekolah-sekolah umum. Pondok pesantren yang berkembang tetap mencirikan pada konsep kesederhanaan, keikhlasan serta kepatuhan terhadap sebagai pimpinan

pondok pesantren. Hal ini terungkap dari persepsi para pengurus pondok pesantren terhadap sosok ideal seorang santri yaitu patuh, penurut, dan memiliki kepribadian yang Islami. Untuk lebih jelasnya tentang profil pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut ini.

1. Pondok Pesantren di Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad Pondok pesantren ini terletak di pusat Kota Surakarta tepatnya Jalan KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan. Pondok Pesantren AlMuayyad dirintis mulai tahun 1930 oleh KH. Abdul Mannan di atas tanah seluas 3.500 m2 yang dijariyahkan oleh KH. Ahmad Shofawi di Kampung Mangkuyudan Kelurahan Purwosari Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pada perkembangannya luas lahan yang dipunyai Al Muayyad menjadi 3.650 m2, tetapi luas tanah ini sudah tidak memadai lagi untuk mewadahi perkembangan jumlah santri dan satuan pendidikan yang dirintis karena sangat penting bagi Al Muayyad untuk terus mengembangkan diri seiring dengan perkembangan zaman. Pada mulanya Al-Muayyad merupakan pondok pesantren yang bercorak tashawwuf, dalam arti pesantren dengan kegiatan utama latihan pengamalan syari’at Islam dan belum melakukan pendalaman ilmu-ilmu agama secara teratur. Titik beratnya melatih para santri

79

dengan perilaku keagamaan. Pengajian yang diselenggarakan berkisar pada ajaran akhlak. Pada tahun 1939 didirikan Madrasah Diniyah untuk lebih menertibkan proses belajar mengajar ilmu-ilmu agama yang banyak menggunakan rujukan kitab kuning. Meskipun beberapa

madrasah/sekolah menyusul didirikan di lingkungan Al-Muayyad, namun oleh masyarakat Pondok Pesantren Al-Muayyad lebih dikenal sebagai pondok Al-Qur’an. Hal ini dimungkinkan karena pengajian Al-Qur’an menjadi inti pengajaran hingga saat ini. Selain itu KH. Ahmad Umar sendiri dikenal sebagai seorang kyai yang ahli dalam bidang Al-Qur’an dengan sanad (silsilah ilmu) dari KHR. Moehammad Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Nama Al-Muayyad diberikan oleh seorang ulama besar KHM. Manshur. Beliau seorang mursyid thariqah Naqsyabandiyah yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Semula nama Al-Muayyad diperuntukkan bagi nama masjid di komplek pondok. Namun nama ini kemudian digunakan untuk menamai setiap lembaga dan badan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dengan nama tersebut, yang berarti dikuatkan, para ber-tafa’ul (berharap) agar pesantren ini menjadi besar dengan dukungan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinan KH Ahmad Umar Abdul Mannan membentuk Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah/madrasah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan Pekan Pembinaan Tunas Ahlussunnah wal Jama’ah (PEPTA). Saat itu pulalah Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah Ma’ahid AlIslamiyyah (RMI/Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal 21 Dzul-Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M.

dan tanggungjawab para pengelola bisa dibakukan. Secara singkat tahap-tahap perkembangan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Tahun 1930 – 1937 Tahun 1937 – 1939 Tahun 1939 Tahun 1970 Tahun 1974 Tahun 1992 : Pengajian Tashawuf : Pengajian Al-Qur’an : Berdiri Madrasah Diniyah : Berdiri Madrasah Tsanawiyah dan SMP : Berdiri Madrasah Aliyah : Berdiri Sekolah Menengah Atas Madrasah Diniyah bersama-sama dengan pengajian Al-Qur’an dan sekolah serta kegiatan kepesantrenan lainnya menempatkan ALMuayyad dalam keaktifan meningkatkan mutu sumber daya manusia. Lembaga Dakwah yang menyebarluaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di masyarakat. Dengan pola semacam itu Al-Muayyad berkeinginan mampu mewadahi dukungan masyarakat luas bagi penyiapan generasi muda dalam wadah pesantren dengan manajemen terbuka. khususnya di bidang pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan nasional. Al-Muayyad secara umum berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fiddîn (pendalaman ilmu-ilmu agama). b. tugas. dan kebangsaan. sehingga pembagian kewenangan. c. secara khusus mengarahkan diri untuk berfungsi sebagai: a. Lembaga Pendidikan yang aktif menanamkan nilai-nilai keislaman. Lembaga Pengajaran yang mencerdaskan para santri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. kemasyarakatan. Sesuai dengan kemampuan dan pertimbangan situasional dewasa ini. karena pesantren sesungguhnya milik masyarakat.80 Yayasan yang menjadi tulang punggung manajemen pesantren diaktifkan. .

bendahara. dan swadaya mereka sendiri. partisipasi. BPPA dan Kamtib. Lembaga Pelatihan yang membekali para santri dengan ketrampilan sebagai bekal hidup di kemudian hari. Pengasuh merupakan pemilik pondok. menuju kehidupan yang lebih baik. Memiliki ketrampilan dasar pengamalan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. f. Memiliki sikap mandiri dalam kehidupan sehari-hari. c. sekretaris. d. . Memiliki kemampuan dasar untuk merumuskan dan menyampaikan gagasan dakwah Islamiyah.81 d. e. Pimpinan tertinggi adalah pengasuh (Pak Abdul Rozaq Shofawi). Memiliki bekal ilmu dan pengetahuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tugas BPPA adalah membagi guru dan santri serta mengumpulkan buku ngaji yang berfungsi sebagai absensi. Pengasuh menunjuk beberapa orang untuk menjadi pengurus. Masing-masing pengurus terdiri dari ketua. Lembaga Pengembangan Masyarakat yang mengentaskan/ mengemansipasikan santri dari kalangan tidak mampu untuk dibina. atas tanggung jawab dan keswadayaan mereka. pengurus putra dan pengurus putri. Memiliki kecakapan dasar untuk memimpin organisasi atas dasar inisiatif. Secara umum tujuan pendidikan Pondok Pesantren AlMuayyad adalah menanamkan dan meningkatkan rûh Islam dalam perikehidupan beragama secara perorangan maupun bermasyarakat berdasarkan keikhlasan beribadah serta pengamalan syari’at Islam secara murni. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah menjadikan santri lulusannya: a. Memiliki ilmu dasar mengenal Al-Qur’an dan syari’at Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Pengurus dibagi menjadi 2. b. BPPA adalah Badang Pengawas Pengajian Al-Qur’an. e. wali kamar.

jika ada dokter langsung ditangani dokter. Setiap harinya. Kerajinan mengaji dijadikan syarat mengikuti tes. . Misal mengganti lampu putus. Untuk memudahkan sosialisasi peraturan tersebut. Sedangkan wali kamar bertanggung jawab mengawasi santri menurut pembagian kamar. santri diwajibkan melakukan ritual peribadatan yang telah dijadwalkan dan wajib diikuti oleh semua santri. Saat ini PP Al Muayyad memiliki jumlah santri sebanyak 290 santri dan 280 santriwati yang duduk di bangku sekolah SMP. Bagi santri yang tidak memenuhi target minimal pengajian diberikan sanksi berupa tidak boleh mengikuti tes bersama santri yang memenuhi syarat. Hasil pemeriksaan absensi mengaji ditindaklanjuti dengan memberikan laporan kepada sekolah/ madrasah tempat siswa belajar di lingkungan Al-Muayyad dan memberikan pembinaan terhadap siswa yang kurang rajin. Pengawas keamanan dan ketertiban yang bertugas mengawasi dan menertibkan santri dalam kegiatan pondok serta berwenang memberi sangsi kepada santri yang melakukan pelanggaran. SMA dan MA. Satu wali kamar bertanggung jawab mengawasi 1 – 2 kamar. jika sakit biasa diberi obat / dirawat di klinik. Jika sakitnya parah langsung dibawa ke RS terdekat.82 Untuk ketertiban mengaji pondok menerbitkan buku absen mengaji yang setiap hari Kamis pagi dikumpulkan di Kantor Pondok untuk diperiksa. PP Al Muayyad menerbitkan buku kecil yang berisi peraturan yang ada di dalam ponpes. Teknis pemberian sanksi diatur oleh masing-masing sekolah/madrasah yang tidak menyimpang dari ketentuan dan kode etik pendidikan. Di dalam PP Al Muayyad terdapat sie kesehatan yang bertugas menangani santri yang sakit. santri memiliki jadwal rutin yang dimulai dari jam 4 pagi sampai 11 malam yang di isi dengan kegiatan beribadah. Ada juga sie Sarana dan Prasarana yang bertugas mengurusi kebutuhan pondok. Selain itu pada hari-hari tertentu.

masing-masing dipakai ± 15 anak. Di atas juga banyak pakaian yang digantung (termasuk pakaian dalam). Ditembok masing-masing kamar biasanya ditempel jadwal piket. dan lain-lain. pakaian. biasanya untuk menaruh barang-barang pribadi santri seperti peralatan mandi. Lantai 1 untuk kantor pengurus pondok putri. ”dilarang menaruh alas kaki disini”. handuk. tempat nyuci. Lantai 3 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMA atau Aliyah). dimasing-masing kamar ada yang SMA atau Aliyah. Lantai 4 untuk jemuran pakaian dalam. Masing-masing wali kamar mengawasi 2 kamar. juga tempat nongkrong santri putri (curhatcurhatan). jadwal kegiatan pondok. hanya pakai kasur lipat yang sangat tipis. ada juga yang sebagian tembok kemudian sisi yang lain dibatasi almari karena di terletak di gang. Pondok Putri Pondok putri ada 20 kamar. Kamar ukuran kecil ada yang full tembok. tempat menonton TV. peraturan pondok. Kamar ukuran kecil (± 3 x 4 meter) dipakai 8 – 10 anak. dan lain-lain. Kamar ukuran besar (± 9 x 8 meter) dibagi menjadi 2 kamar dengan disekat almari. peralatan makan.83 a. . dan aula. sebagai senior (Mbak kamar). Kondisi kamar lumayan semrawut. Tidak ada dipan. Di atas almari-almari pembatas. Lantai 2 untuk kamar santri (biasanya untuk santri SMP). Ditembok gang-gang kamar biasa ditempel kata-kata peringatan seperti ”jagalah kebersihan”. kamar pengurus putri. kamar mandi.

Punya putra lantai . Ukuran kamar lebih besar dari kamar putri. Kamar ukuran besar di lt. pakaian dicentel. Air di depan kamar mandi agak menggenang (receh).3 ukuran memanjang dipakai 25 – 30 anak. sekaligus tempat wudhu santri. ruangan lebih besar. Namun tempatnya lebih bagus dari tempat putri. Kamar ukuran sedang (± 5 x 6 meter) untuk 25 anak. Setiap kamar ada mas kamar dan ketua kamar. Pondok Putra Pondok putra ada 8 kamar. b. hanya ada kasur lipat tipis. almari berisi dokumen-dokumen. kalau yang SMA atau Aliyah biasanya sebagai mbak kamar). Tidak ditata dengan baik (umbruk-umbrukan). Ada tempat menonton TV. Kamar pengurus putri terdiri dari 2 ruangan (2 kamar). Sepertinya keadaan tidak jauh berbeda dengan pondok putri. Tidak ada dipan. Lantai 2 dan 3 untuk kamar santri. Mas kamar dipilih yang paling rajin dan senior (setidaknya yang kelas 3). Lantai 1 untuk tempat makan (dulunya kamar). Kadang-kadang kantor pengurus putri juga dipakai tidur beberapa pengurus dengan alasan kamar pengurus banyak orang. Kantor pengurus putri. Menonton TV setiap hari jum’at. rak-rak kecil. kasur-kasur lipat ditumpuk tidak beraturan. ada 1 komputer.84 Masing-masing kamar ada ketua. Tempat mencuci berupa kerankeran air. Keadaan tidak jauh berbeda dengan kamar santri (berantakan). Setiap kamar ada petugas piket harian yang dibagi oleh wali kamar. biasanya yang lebih senior (misalnya SMP kelas 2. Letaknya di samping kamar pengurus. Setiap kamar diawasi 1 orang wali kamar. kantor pengurus putra dan tempat nonton TV. Kamar mandi ada 19 buah di lantai 1 dengan ukuran 2 x 1 meter. Keadaan kamar putra berantakan. berisi sekitar 24 – 30 anak. kelas 3. Ada tempat menonton TV. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. di atas almari tempat menaruh barang-barang pribadi.

Telp. serta Anak Yatim Piatu dan Fakir Miskin yang secara materi tergolong tidak mampu. Dan ironisnya tidak ada tokoh Islam atau pemerintah yang peduli terhadap kondisi ini. Pondok Pesantren Darud Dzikri adalah tempat belajarnya para insan lansia. 1. Menonton TV setiap hari jum’at. tapi punya putri hanya ubin. Kamar mandi lantainya kotor. Joyotakan Wetan RT. 081 825 4976.08282712334. Ponpes ini beralamat di Kp. bersabda “ Sebaik baik manusia adalah yang bemanfaat sesama Manusia “ Dilandasi hadits tersebut. (0271) 5869294. Untuk itu kehadiran agama dimasyarakat itu sangat dibutuhkan sekali walaupun mungkin penuh dengan tantangan dan ujian. HP.2 Pondok Pesantren Darud Dzikri Masyarakat Joyotakan Wetan Kota Surakarta sejak dulu dikenal sebagai daerah Black List yaitu daerah yang penuh dengan pezinaan. Pondok Pesantren Darud Dzikri . Mereka menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. banyak warga masyarakat yang sadar dan bertaubat hingga kekurangan tempat beribadah. kemaksiatan dan sarang persembuyian para perampok kelas kakap. Satu tahun kemudian terwujud bangunan itu dan diberi nama PP Darud Dzikri Surakarta. Berawal dari kepedulian kondisi tersebut masyarakat setempat dan beberapa Pegawai BI Solo.MH and friends.pada tahun 2005 membeli tanah berukuran 3m X 7m untuk didirikan sebuah bangunan sarana ibadah untuk menimba ilmu agama serta memperkuat iman kaum Muslimin diwilayah tersebut. yang terdiri dari Pensiunan Pegawai atau warga masyarakat sekitar.85 keramik dan lumayan bersih. Dalam hadits Rosulullah SAW HP.Tony Rodhiarto SH. Ketika pada tahun 1980-an berdiri sebuah musholla kecil sebagai sarana beribadah. Joyotakan Kec. Serengan Surakarta. Dan didaftarkan ke Notaris dengan Nomor 4 Tanggal 11 April 2006 di Kantor Notaris HM. 06/06 Kel.

1. Dalam menjalankan kegiatan Pesantren Lansia.3. karena dalam membangun dan mengembangkan pesantren melibatkan seluruh lapisan masyarakat Islam. c. Pondok Pesantren Mujahiddin Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang memadukan antara sistem kepesantrenan dengan pendidikan modern. Ponpes Darud Dzikri Surakarta mempunyai sumber dana antara lain : a. Menghindarkan mereka dari pengaruh negatif dan pergaulan bebas c. Infaq dan Shodaqoh dari para simpatisan /Hamba Allah. 3 Tanggal 22 Pebruari 1980. Bantuan dari berbagai pihak yang tidak mengikat dari instansi swasta maupun pemerintah. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta merupakan pondok/lembaga yang mandiri. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta berdiri di Kalurahan Banyuanyar Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta Jawa Tengah-Indonesia pada tanggal 15 Desember 1990. Kas Pondok Pesantren Darud Dzikri Surakarta. tidak berada dibawah organisasi atau kelompok tertentu dan tidak berafiliasi pada golongan atau jami`iyah tertentu. b. Mempersiapkan masa depan mereka dengan Imtaq dan Iptek yang berguna bagi bangsa b. Adapun maksud dan tujuan Panti ini adalah: a. Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta adalah milik umat Islam. Dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Mujahidin dengan nomor Akte Notaris No.86 Surakarta memilih “Pesantren Lansia dan Panti Anak Yatim Piatu & Fakir Miskin” sebagai program utama dalam rangka mengharap Ridlo Allah SWT. Mencapai dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. .

Melatih generasi muslim dengan bekal ketrampilan hidup (life skill) yang memadai c. Mendidik generasi muslim agar menjadi pribadi yang lurus iman. b. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas dan mampu memahami Islam secara lengkap/kaffah. Melatih generasi muslim agar selalu membela agama Islam dan berjuang fi sabilillah dengan harta dan nyawa disegala bidang kehidupan Tujuan pondok pesantren ini adalah untuk memfasilitasi anak-anak Islam yang kurang mampu dalam menempuh pendidikan serta mendidik generasi muslim yang sholeh. berakhlak mulia. Memiliki siswa yang tangguh dan sholeh. berwawasan ilmu pengetahuan yang luas. Pondok pesantren ini didukung dengan 16 staf pengajar yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dari mulai lulusan MAN dan terkemuka di . tangguh dalam bidang ilmu dan fisik serta sholeh akhlaqnya Adapun visi tersebut didukung dengan misi sebagai berikut: a. Tujuan pondok pesantren ini salah satunya diwujudkan melalui pendirian unit pendidikan yaitu MTs (khusus putra) yang terakreditasi B dengan Nomor 058/BAPSM/XII/2007. berahklaq mulia dan memahami Islam secara kaaffah. Menjadi tempat berlatih muslim dalam bidang keilmuan dan ketrampilan c. menggabungkan kurikulum pelajaran SMP dan Pondok Pesantren ditambah ekstrakurikuler. sehingga nantinya diharapkan menjadi generasi yang beriman. Menjadi Madrasah / Pesantren unggulan Indonesia b.753 m2 yang merupakan tanah Wakaf Pondok Pesantren dan Asuhan Yatim Miskin Al Mujahidin Surakarta memiliki 3 visi yaitu: a.87 Pondok Pesantren Al Mujahidin ini berdiri diatas areal tanah seluas 1.

Fasilitas yang ada antara lain tempat untuk bermain bulutangkis.30 pagi sampai jam 10 malam. 1 Sekretaris dan 1 Bendahara. Disamping itu santri yang tinggal disini tidak boleh bekerja atau menikah. yaitu 1 Ketua. mengumpulkan hp pada waktu . Pondok pesantren ini terdiri dari 3 pengurus inti. Untuk kamar tidur.88 sampai S2. Pondok pesantren ini khusus untuk santri yang berumur 18 tahun keatas atau sudah termasuk usia dewasa. 1. kebanyakan santri belajar dikamar masingmasing. Masjid Agung. hal ini karena agar dalam proses belajar mengajar para pengasuh atau ustadz lebih mudah membimbing para santri karena sudah memiliki kesamaan paham.4. Setiap santri memiliki rutinitas yang telah dijadwalkan dari mulai jam 3. Masjidnya adalah Masjid Agung. Akhirnya pada tahun 1983 atas prakarsa KH Umar Sahid dan KH Muhamad Sidiq didirikanlah pondok tersebut. sedangkan untuk tempat belajar santri bisa dimana saja selama masih dilingkungan pondok pesantren. dan dana pembangunannya berasal dari Masjid Agung. setiap kamar tidur terdapat ± 3-5 santri. Jumlah santri ada 207 yang semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan persebaran santri menetap berjumlah 27 anak dan santri tidak tetap/binaan berjumlah 180 anak. dimana setiap kamar santri ada ketua yang disebut ketua kamar yang bertugas untuk mencatat pelanggaran yang dilakukan santri. Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. Surakarta Pondok pesantren ini pada awalnya berdiri karena gagasan para pendatang yang menginginkan adanya suatu pesantren untuk belajar mengaji dan membaca Al Qur’an ditengah-tengah keramaian Kota Surakarta dimana penduduk asli Surakarta sendiri tidak tepat dalam membaca Al Quran.

dan adapun aturan dalam pelanggaran adalah satu kali melakukan pelanggaran santri diingatkan. dan pengumpulan Handphone. santri biasa dilibatkan dalam pembuatan peraturan ringan seperti ketentuan waktu berkumpul. Masjid Agung. Hierarki Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Wata’limil Qur’an. Sanksi didasarkan pada kredit point. Untuk pelibatan santri dalam membuat keputusan didasarkan pada situasi dan kondisi. 100-300 ribu dan sumbangan dana rutin dari Masjid Agung. Pondok ini memiliki 2 pengasuh Utama atau biasa disebut . Sanksi terberat dalam pondok ini adalah minum-minuman keras. yaitu Abah Mutohar yang mengajar bacaan Tahfidz dan Abah Dasuki sebagai pengasuh Ta’lim. Bagan 1. Surakarta Pengasuh Ketua Pengurus Sekretaris Ketua Kamar Bendahara Santri Biaya operasional kegiatan santri sehari-hari berasal dari iuran santri tiap bulan sebesar Rp. dua kali . penentuan khotib dalam khutbah.89 yang telah disepakati. jika melakukan hal ini santri bisa langsung dikeluarkan oleh pihak pondok. serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukan santri yang berkaitan dengan peraturan pondok.

yakni bapak Akhid yang sekarang menjadi pengasuh di pondok pesantren Al Munir. Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Dari awal pendirian pondok ini memang ditujukan untuk anaknya yang saat itu masih nyantri di Pondok Pesantren Darussalam. Pare Kediri. karena pada saat itu beliau aktif mengisi ataupun mengajar ngaji di daerah tersebut. Akan tetapi resmi dijadikan menjadi sebuah yayasan resmi yakni Yayasan Al Munir baru pada tahun 2003. akan tetapi juga ada santri yang mengeluhkan tentang keberadaan warga sekitar pondok yang beraktivitas dimalam hari karena sering mengganggu. dan bernyanyi dimalam hari sering dikeluhkan oleh santri. 2. Pondok Pesantren Al Munir Pondok Pesantren (PonPes) Al Munir terletak di Desa Gumul. Pondok Pesantren ini berdiri pada tahun 2000. Hubungan santri dengan pengurus dan pengasuh terlihat dari raut wajah dan perilaku santri. Madrasah Diniyah (Madin). Yayasan Al Munir memiliki tiga Program Utama yaitu : Pondok Pesantren (Ponpes). Pendiri dari pondok pesantren ini adalah bapak Irwandi ayah dari bapak Akhid Mutiangin yang sekarang menjadi di ponpes ini.90 melakukan pelanggaran santri juga masih diingatkan. Bapak Irwandi berasal dari Bantul Yogyakarta. keakraban terjalin erat antara santri dan pengurus.1. kemudian beliau membeli tanah itu dan mendirikan pondok pesantren. akan tetapi pada tahun 1998 saat terjadi krisis moneter ada seseorang yang ingin menjual tanah di daerah yang sekarang menjadi lokasi PonPes seluas 12x6m2. Pondok Pesantren di Kabupaten Klaten 2. dan aktivitas penduduk seperti kumpul. kebanyakan santri sangat senang tinggal dipondok ini. . dan barulah ketiga kalinya santri baru dilaporkan ke orang tua. dan Panti Asuhan. Pondok ini memang bersebelahan dengan perumahan penduduk.

Kegiatan belajar dimulai dari pukul 4 pagi (waktu sholat shubuh) dan berakhir pada pukul 8 malam (setelah mengaji). Beberapa peraturan yang ada antara lain : tidak boleh memakai pakaian ketat (kaos ketat & celana jeans). Materi pembelajaran ada 2 yaitu pembelajaran Al Qur’an dan ilmu fiqih. ramai. pertama kali menggunakan Iqro. satu ruangan untuk madrasah diniyah. Pada saat ini ada terdapat 7 santri yang mukim di pondok ini. pondok ini memiliki 2 kamar untuk santri putri. Untuk santri yang ada di pondok ini masih pasang surut. Adapun pembelajaran ilmu fiqih melalui penggunaan beberapa kitab. dan juga bersih-bersih. akhlak. pada data tertulis santri yang menetap ada sekitar 40 anak. Dua diantaranya sudah dewasa selain sebagai santri juga sekaligus sebagai pengasuh dari santri-santri yang lain karena 5 dari santri yang ada masih duduk di sekolah dasar. Sementara untuk santri Kalong yakni santri yang hanya datang untuk ngaji dan setelah selesai langsung pulang sebanyak 120 anak dan untuk anak panti berjumlah 40 anak. akhirnya ruangan itu kosong. membuat gaduh. setelah selesai menggunakan juz Amma ba’dadiyah. dan dilantai 2 ada satu ruangan yang masih kosong. jadi untuk makan santri bergabung dengan pak .91 Bangunan Pondok cukup luas. Pada pembelajaran Al Qur’an. dan jika juz amma telah selesai baru naik ke Al Qur’an. Peraturan. satu mushola. Untuk pelajaran umum diperoleh melalui sekolah-sekolah formal yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.peraturan di pondok pesantren ini ada tapi belum tertulis. sebenarnya untuk kamar santri putra tetapi karena anak-anak takut tidur diatas. Selanjutnya waktu digunakan untuk belajar dan istirahat. hafalan-hafalan serta kitab kuning. . berpakaian tidak sopan. satu dapur. Semua kegiatan telah dijadwalkan dengan ketat. satu kamar tamu. lari-larian di pesantren. Untuk santri dewasa setelah sholat subuh memasak untuk santri-santri yang masih sekolah.

2. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Bermula dari dua orang anak santri yang mengaji kepada Kyai Susilo Eko Pramono. Di pondok ini juga diberikan beberapa keterampilan seperti membuat tas dari anyaman. atau diminta untuk mencuci piring. memanggil dengan nama jelek. untuk Madrasah Diniyah justru lebih banyak anak dari luar kampung. membuat keset dan lain-lain. Sanksi-sanksi yang ada juga belum diterapkan. mengamalkan.92 mengejek antar santri. Sejak awal berdirinya Ponpes Sunan Kalijaga memang belum memiliki apa-apa seperti tanah pesantren. Pada awal bedirinya. Pendidikan adalah kebutuhan dan bagian dari hak asasi manusia. Sebenarnya kursus ini untuk anak-anak panti karena memang satu lokasi sehingga anak pesantren juga mengikuti kegiatan tersebut. sebab dengan pendidikan manusia mampu menerima. ghosob atau mencuri. Respons masyarakat terhadap keberadaan pesantren ini memang masih rendah. 2. hingga Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. Apabila ada pelanggaran biasanya santri-santri dinasehati dan kalaupun diberi sanksi oleh pengasuh biasanya dengan cubitan atau kalau tidak disuruh mengambil kayu bakar. memahami. pesantren ini masih menumpang di rumah kakaknya istri dari pengasuh Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga. memanfaatkan ilmu pengetahuan. akan tetapi sanksi fisik tidak ada. Dengan pengetahuan manusia akan dapat menggunakan otaknya . kursus menjahit. pada tahun 2004 terbukalah pintu hidayah dari Allah SWT kepada warga sekitar dan sampai luar daerah sehingga berkembanglah kuantitas santri yang studi di Ponpes ini hingga terbentuklah Majelis Ta’lim. Madrasah Diniyyah. Dengan keterbatasan lokasi dan dana maka aktivitas belajar masih dalam keadaan darurat dan sangat memprihatinkan.

Ilmu Sosial. sedangkan bangunannya dari bambu. Dengan kata lain asrama pondok yang masih menyewa tanahnya. Bahasa Inggris. Meskipun demikian. Desa Dengkeng. Bahasa Arab. Adalah seorang anak manusia yang memperjuangkan pengetahuan dengan dasar kemanusiaan dan sosial yang tinggal di Dukuh Karang Ngasem. ataupun keagamaan khususnya studi agama Islam. Akhlak. hingga yang sudah berkeluarga untuk mendapatkan ilmu agama seperti baca tulis Al Quran. Kepramukaan atau Kepanduan. terkadang pengetahuan yang kondusif dan sesuai sarana prasarananya hanya menjadi komoditi bagi orang-orang yang memiliki dana yang cukup saja. Aqidah. Kecamatan Wedi. teras rumah. Kaligrafi. . bahkan masih menumpang di masjid. Bahasa Jawa. Sains. Klaten. baik untuk pengetahuan umum. Kondisi perekonomian sang pengasuh santri yang masih rendah ekonominya. dan memadukan fungsi otak dan hatinya untuk merealisasikan dan menikmati hasil dari pengetahuan. dan dalam rumah sewaan sang pengasuh santri. Ironisnya. Bahasa Indonesia. belum adanya sumbangan dan sponsor yang membantu pendanaan Ponpes ini maka tidaklah mengherankan sejak tahun 2004 sarana dan prasarana studi masih memprihatinkan (tanpa gedung sekolah). Kesenian atau Karawitan atau Seni Gamelan Jawa.93 untuk berfikir. telah meluangkan hidupnya untuk membina dan mengasuh mulai dari anak-anak. sang pengasuh tetap terus berusaha untuk mengasuh dan membina para santrinya baik santri kalong (santri yang berangkat dari rumah santri dan pulang setelah belajar) ataupun santri yang tinggal bersama pengasuh (santri mukim). pemuda. Sejarah Islam. Fiqih. hatinya untuk merasakan. Keadaan semakin memprihatinkan setelah terjadi gempa bumi 27 Mei 2006. Dan pengetahuan umum seperti Ilmu Hitung.

pelestarian budaya bangsa dan peningkatan perekonomian.94 Atas dasar kemanusiaan dan sosial pengasuh. b. Sebagai pelestarian budaya bangsa terutama budaya Jawa. Sebagai sarana studi keilmuan baik ilmu keislaman ataupun pengetahuan umum seperti sains dan teknologi. dan agama. sebagai berikut: a. Pondok pesantren ini mempunyai visi sebagai berikut: a. Propinsi Yogyakarta yang tidak terjangkau oleh posko bantuan gempa. Fenomena pemberian bantuan tersebut berlangsung hingga lebih dari 5 bulan (sejak awal gempa hingga bulan Oktober 2006) dikarenakan telah habisnya stok bantuan yang ada di Pondok Pesantren. c. . dan telah memperoleh sertifikat sejak 29 Januari 2007/10 Muharam 1428 H. Ketiga visi tersebut diterjemahkan dalam tiga misi untuk mendukung pengembangan diri pondok pesantren sehingga mampu bersaing dengan pondok pesantren lainnya. b. Membantu program pemerintah Republik Indonesia khususnya di bidang peningkatan pendidikan. Status institusi Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga telah didaftar sejak 16 Oktober 2006 di Departemen Agama Kabupaten Klaten. dibuktikan dengan bantuan gempa yang masuk ke Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga dalam bentuk apapun telah diberikan kepada seluruh santri. Sedangkan pelayanan studi pengetahuan umum. Mewujudkan jiwa-jiwa yang nasionalis dan patriotis kepada tanah air Republik Indonesia dan tetap berpegang teguh pribadi muslim yang berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah. warga. serta pusat peribadahan Islam tetap berjalan baik dari sebelum gempa hingga pasca gempa. bahkan sampai di Kabupaten Gunung Kidul. dan dari beberapa desa yang lain. Ikut berperan serta dalam keadilan sosial dan kesejahteraan warga negara Republik Indonesia. dengan menganut organisasi Nahdlatul ‘Ulama. khususnya komunitas muslim.

Bangunan pondok ini sangat sederhana terbuat bambu dan anyaman bambu. kemanusiaan. dan kondisi sosial sehingga berprinsip: sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain dan berakhlakul karimah. Untuk mendukung kegiatan pondok pesantren. Badan Pengembangan Pondok Pesantren (BP3) dan Dewan Wali Santri (DWS). Khusus santriwati memiliki status sebagai santri mukim. Membentuk insan-insan yang peka terhadap lingkungan. Saat ini jumlah santri yang belajar ada 15 santri dan 5 santriwati. . ada 4 organisasi yang berkembang di dalam pondok pesantren ini yaitu Organisasi Santri Madrasah Diniyyah (Osmada). Laskar Santri (LSBPM Suka).95 c.

Menjadi kabur ketika dalam kenyataan di lapangan masih terdapat diskriminasi pada komunitas anak yang tidak beruntung dari segi ekonomi. Mayoritas panti asuhan di Indonesia memiliki tujuan utama menyediakan akses pendidikan dan menitikberatkan kegiatan pengasuhan pada pendidikan formal di sekolah. dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah. maupun budaya dalam potret banyaknya anak yang hidup di dalam panti asuhan maupun pondok pesantren. Anak-anak di kebanyakan panti asuhan. meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal mempengaruhi anak. tindak kekerasan dan ketelantaran terhadap anak. Pemenuhan Hak anak seperti (1) hak untuk hidup. dan(4) hak untuk berpartisipasi. meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik. Data jumlah panti asuhan menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen panti asuhan di Indonesia.96 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. mental. PENGANTAR Sebutan Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten sebagai kota/kabupaten layak anak sebaiknya tidak hanya pada tataran retorika saja. utamanya organisasi keagamaan.000 sampai 8. sosial. moral dan sosial. . label ini haruslah dipahami dan direalisasikan pada tataran kehidupan nyata dan keseharian di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. spiritual. meliputi perlindungan dan diskriminasi. Hal ini menunjukkan adanya pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari Save the Children.000. yang jumlahnya diperkirakan antara 5. diselenggarakan oleh masyarakat. (3) hak atas perlindungan. meliputi hak untuk mencapai status kesehatan setinggi-tingginya serta mendapatkan perawatan sebaik-baiknya. mayoritas (85%) berusia sekolah (10-17 tahun) dan sebagian besar (98%) sedang bersekolah. Hal ini karena kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas. (2) hak untuk berkembang.

Dengan tercapainya kualitas pengasuhan di panti asuhan diharapkan dapat membantu komunikasi . Keterampilan dan kualifikasi yang ditetapkan dalam perekrutan pengasuh di panti asuhan belum diprioritaskan bagi kondisi sentuhan ramah anak dan lebih banyak difokuskan pada kualifikasi kemampuan pengajaran. Pada akhirnya upaya ini dicoba diakomodir dalam Konferensi Panti Asuhan yang pernah dilakukan di Propinsi NAD. dan Departemen Sosial yang menunjukkan alasan orang tua memasukkan anak ke dalam panti asuhan agar si anak mendapatkan jaminan pendidikan karena kemampuan ekonomi orang tua sangat minim. Maluku. Keadaan anak yang tinggal di panti asuhan sebagian besar membersihkan dan membantu kebersihan panti asuhan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak yang tinggal di dalam panti asuhan sehingga diperoleh suatu standar pengasuhan anak panti. Nusa Tenggara Barat. penelantaran atau resiko yang lain meski kenyataannya terdapat anak-anak yang dimasukkan ke panti asuhan karena mengalami kekerasan dalam keluarga atau dibuang oleh keluarganya. Kondisi yang demikian membuat anak-anak yang tinggal di panti asuhan harus cukup mandiri untuk mengurus diri mereka sendiri. Jawa Tengah. Penelitian yang dilakukan di 37 panti asuhan yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). dan Kalimantan Barat menunjukkan hasil bahwa ternyata mayoritas anak-anak panti asuhan tidak kehilangan orang tua atau ditelantarkan oleh keluarganya. Lebih dari 90% anak yang tinggal di panti asuhan memiliki salah satu atau kedua orang tua.97 UNICEF. Selain itu. hampir tidak satu pun panti yang memberikan perhatian kepada anak-anak yang kemungkinan membutuhkan pengasuhan alternatif akibat kekerasan dalam keluarga. Hal ini jelas mempengaruhi pola pengasuhan anak yang ada di panti asuhan karena keberadaan pengasuh profesional dengan jumlah memadai belum diprioritaskan. Sulawesi Utara. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio pengasuh dengan jumlah anak masih rendah yaitu 1 pengasuh berbanding 10 anak.

Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pesantren didasarkan atas ajaran Islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. Kedua.98 antara anak yang berada di panti asuhan dengan keluarga mereka secara sistematik. disamping harus bersedia menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh kyai. Kurikulum Pesantren menawarkan kajian yang sangat penting yang tidak hanya terbatas pada bagaimana membangun relasi dengan Tuhan namun juga relasi dengan sesama manusia maupun lingkungan. yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Pesantren dengan label pendidikan agama yang di emban diharapkan akan berkontribusi penting dalam pembenahan kemiskinan spiritual masyarakat. menambah keakraban antara santri dan kyai. Para santri dididik untuk menjadi mukmin sejati. pesantren dilihat sebagai lembaga pendidikan yang hanya mampu mencetak alumni yang memiliki kemampuan agama tanpa kemampuan yang dibutuhkan pasar khususnya tenaga kerja. berakhlak mulia. mandiri. alternatif pengasuhan di luar keluarga adalah pondok pesantren. Kehadiran pesantren di Indonesia pada umumnya tidak dapat dipungkiri lagi perannya. Di dalam pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. Selain panti asuhan. mempunyai integritas pribadi yang kukuh. Para santri menimba ilmu dengan cara bandongan atau wetonan dan sorogan. pesantren dilihat sebagai pabrik ilmu-ilmu . Pertama. Sistem bandongan atau wetonan dengan belajar bersama-sama dihadapan kyai dengan mendengarkan dan menuliskan makna dari kitab yang dibahas oleh kyai. fungsi dan peran pesantren cenderung dilihat oleh masyarakat. dan mempunyai kualitas intelektual. memimpin dan dipimpin. Sistem sorogan yaitu dengan belajar face to face (tatap muka) dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu per satu dengan kyai memberikan kesempatan kepada santri untuk menimba ilmu yang masih dirasakan dangkal. berorganisasi. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. posisi. Mereka juga dituntut untuk dapat menaati kyai dan meneladani kehidupannya dalam segala hal.

hal ini dapat dilihat pada tabel 5. dan Karanganyar) dan Jawa (Grobogan. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik pemerintah dibawah Dinas Sosial Kota Solo. Setiap anak yang diterima tinggal di panti asuhan ini minimal usia SMP dan harus keluar dari panti ketika tamat SMA. Eks Karesidenan Surakarta (Klaten. Purwodadi dan Ngawi). Sukoharjo. Sragen.1 Lama Tinggal Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga No Lama Tinggal 1 Kurang dari 3 th 2 4 – 6 th 3 7 th Jumlah Sumber: Data Primer.1 Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Pamardi Yoga a.33 6.1. pesantren memiliki peran ganda yaitu mendapatkan ilmu-ilmu keislaman dan juga keterampilan siap pakai yang dapat bersaing di pasar tenaga kerja. POLA PENGASUHAN ANAK DI PANTI ASUHAN 1. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kota Surakarta 1. Ketiga. Pengurus panti asuhan ini berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga dari segi kesejahteraan telah terpenuhi oleh Negara. Juli 2009 Jumlah 9 5 1 15 % 60 33. Lama tinggal anak-anak ini di panti asuhan berkisar antara 1–7 tahun. Boyolali.99 keislaman yang diamanahkan untuk mencetak ulama-ulama atau intelektual Islam yang handal. Dari 15 anak panti yang dijadikan responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Solo.67 100 . B. Anak yang menjadi penghuni panti ini tidak hanya berasal dari Solo tetapi juga berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tabel 5.

Juli 2009 Pada umumnya anak yang datang ke panti asuhan ini karena mengalami kesulitan ekonomi. Adapun besarnya uang saku.67 26. Hal ini dapat dilihat dari pengantar anak datang ke panti asuhan yang sebagian besar diantar oleh tetangga. Dari hasil FGD yang dilakukan. penyantunan. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia. Karena banyak daerah yang memberlakukan pengurusan akte kelahiran gratis sebagai upaya pemenuhan hak anak yang dilindungi oleh Undang-Undang. Pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan yang telah ditetapkan dalam APBD Kota Solo.33%) yang memiliki dan 7 anak (46. menurut anak-anak jumlahnya tidak tentu.2 berikut ini: Tabel 5.67 20 6. menurut salah satu pengurus jumlah uang saku masing-masing anak berbeda karena berkaitan . Ketidakpedulian orangorang disekitarnya terhadap kepemilikan akte kelahiran patut dipertanyakan. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya.67%) lainnya tidak memiliki akte kelahiran. dari 15 responden ada 8 anak (53.2 Yang Mengantar Santri ke Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Kepala Desa Jumlah 7 4 3 1 15 Persen (%) 46. pengembangan dan pembinaan.100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer. Selain itu juga sesuai dengan tujuan dari pendirian panti asuhan ini oleh Pemkot Solo yaitu menampung anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan perawatan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.

Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini.3 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 15 15 8 11 13 13 % 100 100 53.33 73.101 dengan jarak sekolah dengan panti asuhan.67 86. bermain.67 13. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar. bersih (2 anak) dan tidak menjawab (1 anak). membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.67 Tidak Layak 0 0 0 4 2 0 % 0 0 0 26. sebagian besar anak menganggapnya biasa saja (12 anak). Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman meskipun kadangkala ada teman yang membuat kesal misal saling mengejek. Kondisi lingkungan di panti asuhan.67 0 0 13.33 0 Tidak Ada 0 0 7 0 0 2 % 0 0 46. beribadah bersama. meskipun fasilitas yang ada dianggap tidak layak Tabel 5. Uang saku tersebut digunakan untuk biaya transportasi ke sekolah dan pemenuhan kebutuhan pribadi anak seperti ditabung maupun untuk jajan ketika di sekolah. Juli 2009 b. Kondisi ini membuat anak jadi tidak nyaman berada di panti asuhan sekaligus karena jauh dari orang tua (bagi yang masih memiliki orang tua).33 Sumber: Data Primer. Bagi anak kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap .33 86.

peneliti membantu mereka bekerja. Peneliti juga sedikit mngobrol dengan mereka. Peneliti : “dek. peneliti mulai pada pukul 14. Sesampainya disana ada banyak sekali aktivitas yang terjadi. peneliti mengamati setiap gerak-gerik mereka agar peneliti bisa mencari celah untuk masuk ke dunia mereka. Aku dirumah juga sering kerja kaya gini kog” Jeki Peneliti : “yasuda kalu gitu gpp mbak” : “dek. silakan mbak ga apa-apa. Ada beberapa anak laki-laki yang sedang bermain kejar-kejaran. Menurut anak-anak. ada segerombol anak perempuan di dalam kamar yang sedang ngrumpi dan ada pula yang mencuci baju bahkan ada yang sedang terbaring lemas di tempat tidur karena sedang sakit. 21 Juli 2009 di PA Pamardi Yoga. Tapi apa nanti gag ngrepotin mbak?” Peneliti : “enggak kog dek. lagi pada ngapain niy?? Aku ikut bantuin boleh ya?” Jeki : “oh. Kejadian ini terjadi pada hari selasa. Akhirnya peneliti bisa juga mengobrol dengan beberapa anak perempuan yang sedang membungkusi air untuk dijadikan es batu. ramah dan penuh kasih sayang. pengurus panti asuhan baik. Waktunya anakanak sudah pulang sekolah.4).102 tidak memberatkan (Tabel 5. Kegiatan ini berlangsung sekitar setengah jam lebih karena letak sumber air nya ada diluar kamar. Seharian itu peneliti mengikuti kegiatan anak-anak asuh disana.00 WIB. Suasana kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan adalah adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak dengan tetap memperhatikan etika kesopanan. santai aja. kegiatan membuat es batu ini dilakukan setiap hari ya?” .

103 Jeki : “iya mbak. Tapi kadang kalau yang disinik habis nanti belinya di tempat bu Nuk. yang didepan itu lho” Peneliti : “lha terus nanti keuntungan dari penjualan es batu itu diberikan untuk panti atau untuk anak-anak panti dek?” Jeki : “untuk hasilnya biasanya untuk anak-anak panti mbak. Hehehe. Ya paling untuk membeli kebutuhan pribadi itu. ya hitung-hitung buwat nambah uang jajan atau untuk ditabung” Peneliti : “biasanya untuk jajan apa dek? Kebutuhan pribadi ya” Jeki : “kalu jajan sebenarnya jarang sih mbak. Kemudian peneliti beinisiatif untuk bertanya kepada anak itu. Ya karena banyak pedagang di sekitar panti yang membeli es batu disini” Peneliti Jeki : “oh.. es nya kayaknya enak tuh. Cuma dekat sini. Beli nya dimana ya?” Dewi : “oh.. Bisa dibilang setiap hari membuat es batu. Diseberang jalan sana aja kok.” .” Beberapa saat kemudian ada seorang anak yang membawa bungkusan. itu sudah jadi pelanggan kami. karena kan udah dapat jatah makan juga dari panti. aku anterin yuk!!” Peneliti : “ayuk. Isinya es kucir sepertinya. mending kita naik motor aja gimana?” Dewi : “enggak jauh kog mbak. tempatnya jauh dari sini gag? Kalau jauh. mbak kepengen ya? Kalau mau beli.. Peneliti : “dek. ibu yang jualan mie ayam di depan itu ya?” : “iya mbak.

Senang rasanya bisa melihat kebersamaan seperti itu.sama-sama wi. habis es nya enak” : “jumlah anak-anak yang disana tadi berapa tow wi? Beli 10 ribu cukup gag ya?” Dewi : “cukup mbak.104 peneliti Dewi : “beneran niy jalna kaki gpp?” : “iya mbak....” . Akhirnya kegiatan hari itu ditutup dengan pengumpulan surat curhat yang beberapa hari yang lalu aku bagikan kepada mereka. . namun semuanya dapat saya atasi dengan baik. makasi banyak ya mbak” : “iya..” Sambil berjalan menuju ke tempat penjual es. Ada beberapa masalah yang muncul. anak-anak di panti suka jajan es disini ya?” : “iya mbak. “ayuk... Sesampainya di panti anak-anak pada berebut es buah tadi. ayo Wi.. Ntar dibagi sama yang lain juga ya wi.. Pulang yuk. Aku tadi juga jalan kaki kok dari sana” peneliti : “ya sudah. Dengan terkumpulnya semua surat curhat dari anak-anak maka menutup perjumpaan dengan anak-anak panti di hari itu. hehehe.” Kegiatan berlanjut di panti asuhan. gpp.!” Dewi peneliti Dewi : “iya mbak. peneliti Dewi peneliti : “wi... Mbak juga suka ya es kaya gini tow” peneliti : “iyah.

33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Tabel 5.105 Tabel 5.67 6.67 13.67 33. Juli 2009 . hak anak dalam panti asuhan adalah mendapatkan uang saku dan bebas mempergunakan fasilitas yang ada dengan tetap mengutamakan toleransi. Sedangkan faktanya. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak yang harus dipenuhi oleh pengurus seperti hak untuk berpendapat dan mendapatkan perlindungan.67 60 100 100 100 Tdk Tidak % Senang Tahu 93.4 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.67 0 0 0 1 5 0 0 0 % 0 0 6.5 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat anak Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 12 12 13 9 15 15 15 86.33 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (Tabel 5.5).33 1 % 1 1 0 0 0 6. Juli 2009 Jumlah 0 4 11 15 % 0 26.33 1 6.67 6.67 0 80 3 20 0 80 2 13.

67 60 Tidak 15 8 8 5 13 14 6 % 100 53. pelanggaran yang dilakukan tidak sering terjadi. Hal ini ditunjukkan pada tabel 5. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali. Sedangkan menurut anak.67 0 6.33 53.33 86.67 93. Tabel 5. Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.7).67 0 0 0 KadangKadang 0 6 7 9 2 1 9 % 0 40 46.67 60 13.106 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan. Hukuman yang diberikan biasanya membersihkan lingkungan panti. Hukuman yang diberikan untuk memberikan rasa tanggungjawab pada anak atas perbuatan yang dilakukan dan membuat jera anak untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.33 40 Sumber: Data Primer.33 6.6. Hal ini karena kesadaran pengurus tentang hak-hak anak dan kewajiban negara untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah tidak menjalankan perintah pengurus. Juli 2009 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Untuk hukuman fisik hanya ada 1 anak yang menjawab yaitu push up. .6 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Merokok Terlambat pulang Tidak piket Tidak beribadah Tidak menginap Membawa barang yang dilarang Berkelahi Sering 0 1 0 1 0 0 0 % 0 6. tidak piket dan merokok.33 33. membuat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi dan yang paling berat adalah diskors.

33 20 80 53.67 14 93.8).8 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 % 20 0 0 0 0 0 0 0 0 13.107 Tabel 5.67 66. anak-anak panti pernah mengalami.33 6.7 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Pamardi Yoga Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Berlaku sama saat menjadi pengajar Jumlah Sumber: Data Primer No 1 2 3 4 Pernah 7 2 5 1 15 % 46.33 46.67 20 15 15 14 3 12 8 12 100 100 93.67 0 0 Jarang % Tidak % 12 80 0 0 10 66.33 0 0 1 10 2 7 3 0 0 6. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.67 14 93. Juli 2009 .33 0 0 15 100 1 6.67 5 33.33 3 20 12 80 1 6. Tabel 5.67 13.67 100 Berdasarkan hasil penelitian.33 80 Sumber: Data Primer.67 13.33 6.33 33.

Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5. Itupun tidak selalu berada di dalam panti.9 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Pamardi Yoga No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 10 13 3 % 80 66. Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara a.33 13. Sumatera Barat. Mentawai.67 86.108 Selain pemberian hukuman. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. 1. Juli 2009 Panti Asuhan Parmadi Yoga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. berdiskusi. Dari 15 anak yang diteliti. Penelitian ini mengambil responden sebanyak 23 responden yang berusia antara 8 sampai 18 tahun dengan asal daerah Nias. Mayoritas anak yang tinggal .2.9). Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan untuk anak-anak korban bencana seperti tsunami dan gempa bumi sehingga semua anak yang tinggal di panti asuhan ini berasal dari luar Solo bahkan luar Pulau Jawa. Kalimantan Tengah dan Flores.67 20 Jarang 3 5 2 12 % 20 33.33 80 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini cukup banyak tidak sebanding dengan jumlah pengurusnya yang hanya 3 orang. 6 anak (40%) pernah mendapatkan pujian dan pernah diberi hadiah sebanyak 9 anak (60%). Tabel 5.

Juli 2009 .08 43.08 4. Tabel 5. Anak-anak ini dibawa ke panti oleh pendeta.39%) saja yang memiliki dan 19 anak (82. saudara.39 4.47 8.6%) lainnya menjawab ketidaktahuannya tentang akte kelahiran.10).69 17.34 100 Untuk kepemilikan akte kelahiran.69 4.34 8. hanya ada satu anak perempuan yang menjadi responden.08 13.11). dari 23 responden hanya 4 anak (17.04 26.11 Yang Mengantar Anak Ke Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Pendeta Orang Tua Saudara Pengurus Tetangga Pembimbing Tidak Menjawab Jumlah 6 3 6 1 2 1 2 23 anak Persen (%) 26. Tabel 5. pembimbing dan orang tua (lihat Tabel 5. ada anak yang selama hidupnya telah tinggal di panti asuhan ini dari mulai bayi umur satu tahun.69 100% Jumlah Sumber: Data Primer. Padahal kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 6 10 2 4 1 23 % 26.109 di panti asuhan ini adalah laki-laki.10 Lama Tinggal anak di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Kurang dari 3 th 4 – 6 th 7 – 10 th Lebih dari 10 th Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.34 8. Lama tinggal anak-anak ini dipanti ada yang sudah 15 tahun tetapi ada juga yang baru 1 tahun tinggal di panti asuhan (lihat Tabel 5. Artinya.

karena melakukan suatu kesalahan. Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan meskipun tidak menentu baik waktu maupun jumlahnya. ia juga sering merasa dilecehkan.52 30. Uang saku tersebut untuk memenuhi kebutuhan pribadi anak (jajan) dan ditabung. yaitu bapak Victor. Seperti dituturkan oleh SH.34 4.34 Ibu Lasmi bercerita ”pernah dulu anak anak melakukan pelanggaran.12). ”mentang-mentang saya disini adalah anak panti. ternyata anak anak itu masih bermain bola sampai batas yang sudah ditentukan sama saya. terutama kakak-kakak yang lebih tua. disuruh push up oleh pengasuh karena ia melakukan kesalahan. lalu anak anak itu saya suruh main bola mulai jam setengah empat sampai jam setengah lima sore.12 Alasan Tinggal di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Lama Tinggal Keinginan Sendiri Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Orang Tua Keinginan sendiri & ekonomi Jumlah Sumber: Data Primer.saya merasa kurang dihargai”.trus anak anak saya suruh push up sambil bugil” ceritanya sambil tertawa tawa. pengasuh serta pengurus juga terkadang melakukannya. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 Jumlah 13 7 1 1 1 23 % 56. berdoa. Jika uang saku tersebut habis. Ia juga mencurahkan hatinya terhadap saya bahwa ia juga sering dibentak. Ia juga bercerita bahwa ia pernah dihukum lari keliling kompleks panti.34 4. Ia juga bercerita bahwa yang selama ini sering menghukum adalah penanggung jawab penuh dari panti asuhan.110 Adapun alasan mereka tinggal disini juga cukup beragam dari mulai keinginan sendiri sampai karena kesulitan ekonomi (lihat Tabel 5. Tabel 5. mereka diam saja. dimarahi. dan ada yang minta orang tua. Namun terkadang.43 4. bahwa ia pernah. Bahkan .

95 95.34 8.04 56.74 Tidak Layak 3 0 0 0 3 13 % 13. Kondisi lingkungan di panti asuhan bersih karena setiap hari mereka diwajibkan untuk membersihkan lingkungan panti asuhan yaitu pada pukul 3.13). Bahkan sering anak-anak yang lebih tua membohongi adiknya apabila adiknya ada yang mempunyai uang. Tabel 5.13 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 20 22 22 22 19 8 % 86.30 – 4.52 Tidak Tahu 0 1 1 1 1 2 % 0 4.6 34. ibadah.04 0 0 0 13. bermain. disitu saya melihat kondisi panti yang cukup bersih.69 Sumber: Data Primer. terlihat lantai yang masih berupa lantai semen cor kasar dan tangga yang tidak ada tiang pegangannya sehingga dirasa kurang aman karena tidak ada perlindungan disaat anak-anak naik turun tangga panti.34 4. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah belajar. Dengan beberapa kejadian tersebut. Fasilitas yang ada di dalam panti asuhan cukup beragam dan dianggap cukup layak oleh anak-anak. Namun. Juli 2009 b. Jadi sering kali apabila anak-anak mempunyai uang selalu dititipkan kepada pengurus. maka sekarang anak-anak panti asuhan tidak diperbolehkan untuk menerima uang kiriman dari orang tua mereka masing-masing.30 WIB. membersihkan kamar dan lingkungan panti. (lihat Tabel 5.65 95.65 95. meskipun kondisi bangunan belum selesai secara keseluruhan. karena takut kalau diminta atau dibohongin kakak-kakak mereka.65 82.34 4.34 4. Bagi santri kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (lihat .111 kakak-kakak yang lebih tua ini sering melakukan pemaksaan kepada adik-adiknya.

86 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan ada yang menyenangkan tetapi ada pula yang tidak menyenangkan (lihat Tabel 5. Juli 2009 Jumlah 4 5 14 23 % 17. Setiap anak juga memiliki hak yang dipenuhi oleh pengurus panti asuhan seperti makan.95 78.26 82.39 8.13 0 .14 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer. Tabel 5.6 86.95 56.69 39. Tabel 5.73 60.39 21.52 95. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya membuat anak-anak merasa betah tinggal di panti asuhan.04 13.15).04 17. membelikan pakaian. Hal yang membantu kehidupan yang menyenangkan di panti asuhan yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak.69 0 4. Hal yang dirasakan memberatkan karena anak-anak diminta bekerja yaitu setiap hari membersihkan lingkungan panti asuhan seperti membersihkan kamar kecil dan menyapu. dan kebebasan untuk menggunakan fasilitas panti asuhan yang ada.112 Tabel 18).34 4.15 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Senang 20 18 19 20 13 22 % 86.34 4.34 Tidak Tahu 3 3 4 2 9 0 % 13.65 Tidak Senang 0 2 0 1 1 1 % 0 8.

Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.04 0 Sumber: Data Primer. sebagian besar anak panti asuhan menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.04 17.113 No 7 8 Keterangan Memotivasi Media belajar Senang 19 22 % 82. Hukuman fisik yang pernah dilakukan oleh pengurus adalah push up. para anak panti asuhan pernah kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. anak panti asuhan menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat.34 Tidak Tahu 3 0 % 13. Karena lebih lanjut.16 Respons Menerima Hukuman di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Tidak menjawab Ikhlas. Apabila ada yang melanggar.34 4. dijewer.34 4.16). Juli 2009 Panti asuhan ini memberlakukan peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh anak-anak panti. dinasehati. malu. Tabel 5. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.39 8. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer.17 4. dicubit dan lari-lari. . Sedangkan hukuman non fisik adalah dimarahi dan diminta menghafal ayat Al Kitab. melihat dan mendengar No 1 2 3 4 6 7 Pernah 12 1 1 3 4 2 23 % 52.6 95. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan.69 100 Berdasarkan hasil penelitian. Juli 2009 mengalami.34 13.65 Tidak Senang 1 1 % 4. tidak segan-segan pengurus memberikan hukuman baik fisik maupun non fisik.

47 26.86 Jarang 8 4 5 6 % 34.04 Sumber: Data Primer.52 43. Juli 2009 . Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 17 16 16 13 10 6 3 6 7 7 7 7 0 % 73.73 26.08 Tidak 5 1 0 3 % 21.86 78.52 73.43 30.56 69.43 30.47 56.73 4.08 13. Tabel 5.08 30. Dari 23 anak panti asuhan yang diteliti.114 Tabel 5.91 86.56 69.47 78.56 100 Selain itu adanya pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus Panti Asuhan Anak Misi Nusantara ini.56 56.78 17.91 69.43 30.39 21.08 30.18 Pola Pengasuhan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 10 18 18 14 % 43.04 26.86 60.43 43.91 69.56 69.43 30.56 69.17 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Anak Misi Nusantara Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer. 22 orang pernah mendapatkan pujian dan atau diberi hadiah karena berprestasi serta hanya ada 1 orang yang dibiarkan saja.43 0 Tidak 6 7 7 10 13 17 20 17 16 16 16 16 23 % 26.34 0 13.95 73.

2.33%). pemenuhan kebutuhan hak untuk anak Indonesia telah terpenuhi karena .67%) tidak memiliki dan 2 anak (13. Lama tinggal anak-anak ini di Panti Asuhan Darul Hadlonah berkisar antara 1 – 4 tahun.33%) lainnya menjawab tidak tahu.677%) dan sisanya sebanyak 6 anak (40%) berasal dari Jawa selain Solo dan Klaten. Penelitian ini mengambil 15 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 8 anak (53. Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah menjadi alasan terbesar anak-anak untuk tingga di panti asuhan.33).1 Panti Asuhan Darul Hadlonah a. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti sehingga seperti merasa berada di lingkungan keluarga sendiri. Pola Pengasuhan Anak Di Panti Asuhan Kabupaten Klaten 2. saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA. 1 anak (6.33%) dan lama tinggal 4 tahun ada 2 anak (13. lama tinggal 2 tahun ada 5 anak (33. Kota Solo ada 1 anak (6. Anak yang telah tinggal selama 1 tahun sebanyak 8 anak (53. Kondisi Umum Anak Panti asuhan ini merupakan panti asuhan milik perseorangan yang berusaha untuk menjalankan ibadah agama dengan menyatuni anak-anak fakir miskin dan yatim piatu. Keinginan mulia ini akhirnya terwujud dengan mendirikan Panti Asuhan Darul Hadlonah.33%). Untuk kepemilikan akte kelahiran.115 Panti Asuhan Anak Misi Nusantara juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak panti asuhan (lihat Tabel 22). Artinya. dari 15 responden ada 12 anak (80%) yang memiliki.

20 Alasan Masuk ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Kesulitan Ekonomi Yatim Piatu Keinginan Sendiri Keinginan Pondok Tidak Menjawab Jumlah 6 3 4 1 1 15 Persen (%) 40 20 26.33 6.20).67 6. Tabel 5.19 berikut ini: Tabel 5. untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya ditabung untuk kebutuhan yang mendesak termasuk apabila kehabisan uang saku. Untuk memenuhi kebutuhan akte kelahiran bagi yang belum membutuhkan perhatian dari pihak panti asuhan untuk mengurusnya.000. Juli 2009 Jumlah 5 1 5 3 1 15 Persen (%) 33. pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. Bagi yang mengalami kesulitan ekonomi. karena sangat penting untuk masa depan anak nantinya. 100. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Juli 2009 .116 sebagian besar telah memilik akte kelahiran.67 100 Jumlah Sumber: Data Primer.33 20 6.67 33.67 6.67 100 Anak yang datang ke panti asuhan ini memiliki alasan yang cukup beragam (Tabel 5. Hal ini dapat diketahui dari Tabel 5.19 Yang Mengantar Anak ke Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 Keterangan Tetangga Saudara Orang Tua Pengurus Panti Tidak Menjawab Jumlah Sumber: Data Primer.

namun karena banyaknya aturan sehingga tidak merasakan kebebasan. Fasilitas yang ada di panti asuhan memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan diri sesuai dengan minatnya selama ini.33 1 13. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan.67 6.67 6.67 1 80 2 80 2 93. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali.117 Kehidupan di panti asuhan cukup menyenangkan bagi anakanak karena mereka mendapatkan banyak teman dan didukung dengan pengurus yang baik serta ramah meskipun kadangkala ada teman yang memusuhinya.33 1 100 0 86. Panti asuhan diharapkan dapat bekerja .33 0 % sangat Tidak Ada 6.67 1 13. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. meskipun fasilitas yang ada tidak selalu dianggap layak.21 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan Darul Hadlonah No Jenis Fasilitas Layak Tidak Layak 93.67 0 0 0 6. bangunan di panti asuhan ini cukup baik dan membuat anak merasa betah untuk tinggal cukup lama.33 1 0 1 % bagi % 0 0 6. Berdasarkan hasil observasi. Hanya ada 1 anak yang menjawab bahwa kehidupan panti kadang-kadang menyenangkan.67 1 Ruang Belajar 14 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 13 4 Ruang Makan 12 5 Fasilitas Olahraga 12 6 Fasilitas Kesenian 14 Sumber: Data Primer. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas mendukung terselenggaranya kehidupan panti asuhan yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan.67 6.21.

belajar kitab. b.22). Pengurus yang ada di panti baik dan ramah serta sering mengajak berkomunikasi untuk membicarakan sesuatu hal. Bagi anak panti asuhan kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5. bermain. Anak yang tinggal dalam panti asuhan ini cukup mengerti tentang hak anak yaitu hak hidup dan berkembang. hak mendapatkan kasih sayang. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Tabel 5.. membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.23). serta bermain.118 profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku. tadarus. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama. .22 Penilaian Terhadap Kegiatan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 Keterangan Memberatkan Kadang-kadang Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer. Juli 2009 Jumlah 0 6 9 15 % 0 40 60 100 Sedangkan model pengasuhan para pengurus panti asuhan sebagian besar dianggap menyenangkan (Tabel 5. Kehidupan anak di Panti Asuhan Darul Hadlonah kadangkala membosankan apalagi untuk urusan kerja bakti akan tetapi pengetahuan anak tentang hak-haknya memberikan efek positif bagi anak untuk bisa berpendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan lingkungan panti asuhan.

24 berikut ini: .33 0 0 0 Sumber: Data Primer. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu push up.23 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 13 15 14 15 12 14 15 14 % 86. membersihkan kamar mandi selama 1 bulan. Menurut anak. dan diminta berdiri ketika mengantuk pada waktu mengaji.67 0 6.67 100 93. peringatan baru setelahnya diberikan hukuman.119 Tabel 5. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti asuhan ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan. biasanya anak mendapatkan nasehat. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam seperti dalam tabel 5.67 Tidak Tahu 2 0 0 0 2 0 0 0 % 13. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan. Selain hukuman fisik.67 0 6.33 0 0 0 13. maupun menulis istigfar sebanyakbanyaknya. scot jump. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah anak sering tidak ijin ketika akan pulang. di dalam panti asuhan juga memberlakukan hukuman menghafal Al Qur’an. Sebelum memberikan hukuman. menulis sholawat. menurut pengurus untuk mendidik anak lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang telah dilakukan.33 100 80 93.33 Tdk Senang 0 0 1 0 1 1 0 1 % 0 0 6. Pemberian hukuman tersebut.33 100 93.67 6.

Hukuman yang dianggap lebih baik oleh anak panti asuhan adalah pemberian nasehat.120 Tabel 5.67 66.67 0 0 0 0 Jarang 3 5 4 5 0 3 4 % 20 33. Juli 2009 No 1 2 3 4 Pernah 9 1 3 2 15 % 60 6. sebagian besar anak menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 5.33%) yang setuju dengan hukuman fisik. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 0 0 6.33 100 .67 Tidak 12 10 10 10 15 12 11 % 80 66.25).33 0 20 26.67 100 80 73.67 66.67 33.25 Respons Anak Menerima Hukuman di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Menerima dengan ikhlas Malu Ikhlas dan malu Biasa saja Jumlah Sumber: Data Primer. mengajak diskusi atau dikembalikan ke orang tua/wali.24 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan Darul Hadlonah Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 0 Tidak menginap 0 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 0 Sumber: Data Primer. menulis sholawat maupun istigfar. Ada 7 anak (46.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Adapun anak yang tidak menyukai hukuman fisik memilih hukuman yang sifatnya mendidik seperti menghafal Al Qur’an. Tabel 5.33 26.67%) yang tidak setuju adanya pemberian hukuman fisik dan ada 8 anak (53.67 20 13.

67 80 80 46.67) memberikan jawaban “dinasehati untuk selalu meningkatkan prestasi lebih baik lagi”. 2 anak (13.67 Jarang 9 9 8 9 5 3 2 2 3 7 6 3 1 % 60 60 53.67 40 20 6.33 66. 3 anak (20%) pernah diberi pujian dan hadiah. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.67 Tidak % 5 33. anak-anak panti pernah mengalami. dan 1 anak (6. bentuk pengganjaran yang lain adalah pemberian pujian dan hadiah bagi anak yang berprestasi. Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak.33%) pernah mendapatkan pujian.121 Berdasarkan hasil penelitian.33 20 46.67 6. Dari 15 anak yang diteliti.67 53.33 6 40 7 46. .26).67 12 80 13 12 12 7 8 10 7 86. Tabel 5.26 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 7 % 6. ada 9 anak pernah diberi hadiah (60%).67 0 6.67 13.67 46.33 13.67 Sumber: Data Primer.33 20 13. Juli 2009 Selain pemberian hukuman.67 0 0 0 0 0 0 6.33 46.33 60 33.67 6 40 10 66.

Biaya adopsi sebesar satu juta rupiah yang digunakan untuk membayar biaya persidangan. berdiskusi.27). Kondisi Umum Anak YPBT adalah panti asuhan yang hanya menerima anak hingga usia 12 tahun.67 Tidak 0 0 0 0 % 0 0 0 0 Sumber: Data Primer.33 Jarang 3 2 0 1 % 20 13.33 0 6. Saat ini.27 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Darul Hadlonah No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 12 13 15 14 % 80 86. pengurus akan menyeleksi terlebih dahulu tentang situasi dan kondisi keluarga yang akan mengadopsi sehingga anak akan berada di tangan yang baik. Juli 2009 Pihak pengurus Panti Asuhan Darul Hadlonah juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5. sehingga dibuat daftar antrian.2 Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) a. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti. dan sisanya diberikan kepada para pengasuh. Setelah usia itu. 2. anak-anak akan dipindah ke panti lain atau diambil orang tua. Untuk mengadopsi anak dari YPBT. .67 100 93. Selama ini keluarga yang akan mengadopsi anak dari YPBT itu banyak. Pada saat dikelola oleh pengurus lama disebutkan bahwa di YPBT ini ada sistem adopsi anak. YPBT telah melimpahkan tiga anak ke Panti Asuhan Aisyiyah dan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah karena telah berusia di atas 12 tahun.122 Tabel 5.

Bahkan pengasuh atau pemimpin juga sembari berjualan (makanan. Tetapi hasil penelitian menunjukkan. Adopsi dilakukan ketika anak masih berusia bayi. Proses adopsi selanjutnya dilakukan di depan notaris sebagai bukti legal atas adopsi anak.123 Saat ini. Prosedur adopsi anak ini dilakukan dengan melibatkan Dinas Sosial/Polisi untuk kemudian dilakukan seleksi terhadap keberadaan keluarga pengadopsi. setahun terakhir ada 2 anak yang diadopsi dari YPBT namun tidak tercantum datanya di Pengadilan negeri Ada 4 kasus anak yang meninggal di panti asuhan ini yang disebut oleh pengurusnya meninggal karena sakit. Dikatakan ia meninggal karena sakit Azrina ditemukan meninggal dalam keadaan tertelungkup di atas meja dengan hidung berdarah saat ditinggal pengasuh melakukan hal yang lain Yulianto meninggal tanpa diketahui sebabnya. dan lain-lain) di lokasi panti asuhan karena salah satu pengurus menyebutkan alasan bekerja di YPBT ini untuk mencari uang. Saat ditemukan pengasuh sudah tidak bernapas. Tetapi berdasarkan hasil observasi. ditemukan kejanggalan terhadap penyebab kematian yaitu: Cantika meninggal karena terlambat dibawa ke RS akibat komplikasi jantung dan paru Amelia meninggal akibat mulutnya dimasuki batu oleh salah satu anak panti (yang abnormal) dan dicekik dengan selendang. sistem adopsi masih dilakukan oleh pengurus YPBT yang baru. gas. namun juga menjadi tempat penitipan anak. Hal menarik dari panti asuhan ini adalah . tiba-tiba kejang-kejang setelah dimandikan Panti Asuhan Yayasan Penerimaan Bayi Terlantar (YPBT) bukan hanya panti asuhan saja.

0 -12 th.09%). Sebagian besar anak tinggal di panti sejak masih bayi sehingga dari 11 anak ini ada 3 anak (27. Tetapi ada juga yang tidak mengetahui siapa yang telah mengantar mereka ke panti asuhan ini.36%).09%).28). Penelitian ini mengambil 11 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 4 anak (36. Kota Solo ada 1 anak (9.45%) dan laki-laki ada 6 anak (54. Usia anak yang menjadi responden berkisar antara 8 – 12 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 5 anak (45. Magelang 1 anak (9.72%) yang menyebutkan sejak bayi sudah tinggal di panti asuhan ini. 0 -5 th dan 0 -18 th.09%) menjawab tidak tahu. .09%).54%).124 ketidaktahuan semua pengurus tentang sumber dana yang diperoleh untuk membiayai panti asuhan ini.27%) yang tidak mengetahui berapa lama telah tinggal di panti asuhan dan ada 8 anak (72. Variasi jawaban ini mengindikasikan kurang adanya kepedulian pengurus tentang peraturan yang dikeluarkan negara tentang adanya perlindungan anak meskipun ada 2 pengurus yang mengetahui tentang UU Perlindungan Anak tetapi tidak secara detail mengetahui isinya.18%) dan 1 anak (9. Usia anak bagi pengurus ada yang menyebutkan 0 – 7 th. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini sebagian besar di antar orang tuanya akibat kesulitan ekonomi. (Tabel 5. Jakarta 1 anak (9. Pengetahuan pengurus tentang hak anak sangat minimal. Mereka mengetahuinya dari para pengurus. Semua anak di panti asuhan ini telah memiliki akte kelahiran. Jawa ada 2 anak (18. Ada 2 pengurus yang menyebutkan bahwa sumber dana panti ini berasal dari Yayasan Dharmais Jakarta.

000 untuk digunakan memenuhi kebutuhan pribadi yaitu jajan di sekolah dan apabila kehabisan uang saku ada yang pinjam teman sekolah dan ada yang diam saja. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat nyaman untuk ditinggali karena setiap hari dibersihkan oleh pengurus. jika tidak anak yang ada dipanti ini tidak dapat menonton televisi.27 100 Jumlah Sumber: Data Primer. kehidupan di panti asuhan kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan.63 9. dijahili teman. Misalnya menonton TV. Adapun fasilitas yang ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 33 Berdasarkan pada hasil observasi tidak semua fasilitas dengan mudah di akses oleh anak. Tidak dengan mudah anak dapat menghidupkan TV. dan diberi hukuman. dimarahi. . Bagi anak.125 Tabel 5.28 Yang Mengantar anak ke Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara (Simbah) Tidak Tahu Jumlah 7 1 3 11 Persen (%) 63. 100. Hal yang membuat senang tinggal di panti asuhan karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain dan menonton TV. Mereka menonton TV ketika hanya salah satu dari pengurus menghidupkan TV.09 27. Juli 2009 Setiap anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan dengan besaran dibawah Rp. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Sedangkan hal yang membuat tidak senang di panti karena tidak bisa keluar.

81 100 90. kegiatan rutin tersebut . Tetapi menurut pengurus ada beberapa fasilitas yang ada belum dapat maksimal dipergunakan misalnya fasilitas kesenian seperti rebana dan aklung karena belum ada pelatihnya.126 Tabel 5.72 3 27.72 Tidak Layak 1 0 0 0 0 0 % 9.90 100 27. Juli 2009 Fasilitas terselenggaranya yang ada jelas sangat mendukung YPBT kehidupan Panti Asuhan memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan.29 Kondisi Fasilitas di Panti Asuhan YPBT No Jenis Fasilitas Layak % 81. belajar kitab.27 bagi yang 1 Ruang Belajar 9 2 Ruang Ibadah 11 3 Ruang Bermain 10 4 Ruang Makan 11 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 8 Sumber: Data Primer.09 0 0 8 72. Beberapa menit disana. bahkan ketika peneliti datang kesana pertama kali beberapa anak langsung menanyakan nama saya. nama-nama anak yang lain. sampai hal-hal yang pernah dilakukan anak yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih sayang dan kepedulian pengurus terhadap keberadaan anak-anak panti sangat kurang. dan bercerita banyak hal muai dari kegiatan mereka. anak-anak sudah mengajak bermain.09 0 0 0 0 0 Tidak % Ada 1 9. Bagi anak. Pola Pengasuhan Setiap anak memiliki kewajiban yang harus dijalankan yaitu beribadah bersama (sholat berjamaah). dan berusaha untuk dekat.27 72.09 0 0 1 9. tadarus. bermain. Anak-anak di YPBT cepat akrab dengan orang asing. b. Kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama. belajar dan membersihkan kamar. membersihkan kamar dan lingkungan panti.

30).18 0 0 2 3 18.18 27.54 54.54 27.31 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Senang 6 6 4 3 5 % 54.36 27.31). Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di panti asuhan karena adanya hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan anak. Tetapi tugas yang diberikan panti asuhan yang memberatkan anak patut dijadikan perhatian karena dapat menganggu tumbuh kembang anak.27 Tidak Tahu 4 3 7 6 3 % 36. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah membersihkan lingkungan kamar dan panti asuhan.27 45. Antara anak dan pengurus seringkali terlibat dalam obrolan dan saling bercanda.27 .127 kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan (Tabel 5.45 Tdk % Senang 1 9.63 54. Juli 2009 Jumlah 0 8 3 11 % 0 72.72 27.54 36. Selain itu terpenuhinya kebutuhan dasar anak seperti makan.27 100 Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5. Anak merasa kecapaian ketika harus bersih-bersih.27 63.30 Penilaian Terhadap Kegiatan Panti Asuhan YPBT Keterangan No 1 Memberatkan 2 Kadang-kadang 3 Tidak Memberatkan Jumlah Sumber: Data Primer.36 27. tempat tinggal dan bermain menambah kenyamanan anak untuk tinggal di panti asuhan.09 2 18. Hal ini dianggap anak sebagai hal menyenangkan sehingga betah tinggal di panti asuhan Tabel 5. Tabel 5.

Hukuman tersebut diberikan karena anak dianggap tidak mematuhi perintah pengasuh atau main terlalu jauh. dipukul dengan tangan.90 .128 6 7 8 Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar 5 3 5 45.32 Jenis Pelanggaran di Panti Asuhan YPBT Keterangan Sering Merokok 0 Terlambat pulang 0 Tidak piket 6 Tidak beribadah 4 Tidak menginap 5 Membawa barang 6 1 yang dilarang 7 Berkelahi 2 Sumber: Data Primer.36 9.18 18.09 0 6 7 6 54.63 18. Adapun pelanggaran yang paling sering dilanggar menurut pengurus adalah bermain jauh dari panti asuhan dan suka berbicara jelek.27 36. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % Jarang % 0 0 0 0 4 36.54 Sumber: Data Primer. dicubit. di dalam panti juga memberlakukan hukuman verbal yaitu dimarahi oleh pengurus. disetrap. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik yaitu dijewer telinganya. bahkan ada yang pernah dipukul pakai sandal.18 90.18 0 6 0 54.54 3 27. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.45 4 36. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5.36 54.27 45.36 5 45. Juli 2009 Bentuk pengganjaran dalam pola pengasuhan di panti ini adalah pemberian hukuman dan penghargaan.54 Tidak 11 7 2 2 2 10 3 % 100 63.09 18.18 18.54 63.45 0 1 0 0 9. Selain hukuman fisik. Menurut anak.45 45. Hukuman dipukul sering dilakukan di dalam panti ini. Adanya anggapan pengurus kalau anak-anak yang tinggal di panti anak nakal sehingga kalau hukuman hanya diberi nasehat saja tidak akan membuat anak jera sehingga bentuk hukuman fisik menjadi pilihan.45 27. Tabel 5.63 54.32) tetapi tidak sering dilakukan.

36 18.72 45. nangis. dialami dan didengar oleh anak pemberian hadiah juga pernah dilakukan oleh pengurus meskipun jarang dilakukan.36 18. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi.36 18.18 18.54 72.18 18.18 36.63 63. anak-anak Panti Asuhan YPBT pernah mengalami.18 100 81. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian.129 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.45 27. Tetapi dari hasil penelitian tentang suatu peristiwa yang pernah dilihat.54 36.18 18.81 81.18 18.18 0 0 0 0 18.18 18.81 81.09 9.18 Jarang 5 3 5 6 8 5 7 7 0 2 2 2 2 % 45. sampai adanya perasaan dendam.18 Tidak 0 4 2 4 2 4 2 2 11 9 9 9 9 % 0 36. anak-anak ini memberikan respons yang cukup beragam (campur aduk) dari menerima dengan ikhlas.63 0 18. Data penelitian menunjukkan semua anak yang diteliti setuju dengan adanya hukuman fisik tetapi mereka juga menyebutkan kalau hukuman bagi mereka lebih baik dinasehati.45 54. diberitahu mana yang benar mana yang salah serta jangan dimarahi. semua anak menjawab “diberikan pujian”. Tabel 5.09 18. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada .45 63. malu.18 18.81 81.27 45.36 9.18 36.36 36.33 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Panti Asuhan YPBT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 6 4 4 1 1 2 2 2 0 0 0 0 2 % 54.81 Sumber: Data Primer.

130

yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 5.33). Meskipun tidak sering terjadi tetapi kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan karena dapat menganggu kondisi kejiwaan anak. Meskipun begitu, berdasarkan pada hasil observasi ada banyak kejadian di dalam panti asuhan yang melanggar hak anak bahkan cenderung diabaikan. Salah satu contoh kejadian tersebut adalah: “Suatu siang, peneliti bermain ke YPBT. Sejenak duduk di teras rumah itu, dia melihat anak yang dipukul pakai sendok. Berulang kali anak itu dipukul, dan Nurul masih saja diam untuk memperhatikan sembari bermain dengan beberapa anak. Anak yang dipukul itu menghadap sepiring makanan bersama dengan beberapa anak yang duduk di sebelahnya. Ketika anak-anak yang lain sudah menghabiskan makanannya, anak yang dipukul tadi masih belum menyentuh makanannya. Setelah semua selesai makan, Ibu Sri membentak anak itu ”masih tidak mau makan!!!”. anak tersebut tetap tidak mau makan, dan akhirnya Ibu Sri menyuruh orang untuk mengambilkan ”remason” dan menyuruh beberapa anak untuk memegangi anak yang tidak mau makan tadi. Setelah itu anak tersebut ”dokeroki”. Anak tersebut nangis kencang sekali karena seluruh badannya ”dikeroki” Peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan sering terjadi di dalam panti asuhan ini. Hal ini terlihat adanya kesenjangan rasio jumlah pengurus dan jumlah anak. Jumlah pengurus yang ada tidak mampu menangani anak-anak di panti asuhan ini padahal usia anak masih balita. ”Peneliti datang setelah dzuhur, dan ketika datang ada anak yang menangis. Setelah sekian lama (sampai ashar) tidak juga digubris oleh pengasuh, akhirnya dilihat. Seluruh badan anak itu sudah basah, semua pakaian basah mungkin karena ompol dan juga keringat. Menjelang ’ashar, peneliti meminta pengasuh untuk melihat, barulah ada pengasuh yang mendatangi anak itu, tetapi hanya diberikan susu dan ditinggal pergi lagi. Kata pengasuh, nanti anak itu juga akan diam sendiri”

131

Ada hal menarik lagi yaitu tentang adanya salah satu anak yang diberi perhatian khusus oleh pengasuh. “Kiki mendapatkan perlakuan spesial dari Ibu Panti maupun dari pengasuh dan anak panti. Dia memiliki handphone yang bagus, kamar mandi sendiri, tempat tidur atau ranjang (sementara anakanak yang lain tidur di atas kasur busa di bawah), tidak harus piket, tidak ikut belajar pada jam belajar, tidak berlaku jam malam untuknya (gerbang ditutup jam 9, tapi bebas untuk Kiki), bebas maen dengan sepeda atau sepeda motor, diperbolehkan berambut panjang (anak-anak yang lain baik laki-laki atau perempuan diharuskan berambut pendek atau potongan Ronaldowati)” Tabel 5.34 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan YPBT
No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 3 4 7 2 % 27,27 36,36 63,63 18,18 Jarang 2 7 4 4 % 18,18 63,63 36,36 36,36 Tidak % 6 54,54 0 0 1 5 9,09 45,45

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Panti Asuhan YPBT juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut, berdiskusi, menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 5.34). Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan.

C. POLA PENGASUHAN ANAK DI PONDOK PESANTREN 1. Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kota Surakarta 1.1. Pondok Pesantren Al Muayyad a. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Muayyad merupakan ponpes yang juga berfungsi sebagai sekolah madrasah. Secara umum, kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur

132

maupun asal daerah. Jumlah santri ponpes Al Muayyad berjumlah 517 yang sedang melanjutkan sekolah di SMP, SMA/MA dan hanya sebagian kecil saja yang berasal dari Solo yaitu 27 anak (5,22%). Tabel 5.35 Data Santri Pondok Pesantren Al Muayyad Tahun Pelajaran 2008 / 2009 Banyak Santri Asal Solo Putra Putri SMP VII 88 1 3 VIII 94 4 1 IX 80 5 5 SMA X 65 1 XI 33 3 XII 45 1 1 MA I 34 II 39 1 III 39 1 Jumlah 517 12 15 Sumber: Pondok Pesantren Al Muayyad, Juli 2009 Sekolah Kelas Banyak Santri Responden yang diambil dalam penelitian ini cukup bervariasi baik dari asal daerah maupun lama tinggal di Pondok Pesantren Al Muayyad. Dari 15 santri yang ada 2 orang berasal dari luar Jawa yaitu Kepulauan Riau dan Lampung, ada 6 anak yang berasal dari Eks Karisidenan Surakarta, ada 5 anak yang berasal dari Jawa Tengah dan sisanya ada 2 anak berasal dari Solo dengan lama tinggal antara 1 sampai 4 tahun. Santri datang ke ponpes, sebagian besar diantar oleh orang tua (lihat Tabel). Dari 15 anak yang menjadi responden penelitian semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. Artinya, tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi antara Rp. 100.000 s/d Rp. 200.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.

133

Tabel 5.36 Yang Mengantar Santri ke Pondok Pesantren Al Muayyad No 1 2 3 Keterangan Orang Tua Saudara Sendiri Jumlah 12 2 1 15 anak Persen (%) 80 13,33 6,67 100%

Jumlah Sumber: Data Primer, Juli 2009

Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami ketidaknyamanan tinggal di ponpes. Hal ini terjadi karena ketatnya peraturan yang ada, teman yang tidak saling mendukung, dan termasuk padatnya kegiatan ponpes yang tidak didukung dengan fasilitas yang memadai sehingga membuat santri merasa bosan dan capai. Namun di sisi lain, santri juga merasakan kenyamanan tinggal di ponpes karena memiliki banyak teman, belajar agama dan dapat hidup lebih mandiri. Dalam menjalankan kegiatan ponpes didukung dengan berbagai fasilitas, sebagian santri ada yang menyatakan layak dan ada yang menyatakan tidak layak. Selain itu secara umum, fasilitas yang diberikan oleh ponpes adalah: 1) Makanan Pondok putra dan putri mempunyai dapur sendiri-sendiri. Tidak ada ruang makan khusus. Yang masak disebut mbak masak (ibu kos). Santri mengumpulkan rengkot yang telah diberi nama/ identitas masing-masing. Misalnya untuk makan malam, sebelum berangkat ke sekolah atau Madrasah Diniyah santri mengumpulkan rengkot, diambil setelah kegiatan ekstra kurikuler selesai (sebelum maghrib). Untuk sarapan, setelah makan malam santri mengumpulkan rengkot lagi, diambil pada waktu jam sarapan, dan seterusnya. Jika santri merasa tidak cukup puas (masih lapar) bisa jajan di depan atau di belakang pondok pesantren (ada warung/

500. karena kamar mandi (katanya) kurang bersih. Di depan kamar mandi ada rak sepatu. 3) MCK Di Pondok Pesantren putri terdapat kamar mandi sebanyak 19 buah. Selain itu juga ada kebiasaan menggunakan handuk bergantian (istilah mereka ”joinan”). namun setelah 1 tahun sudah terbiasa. Jika butuh air panas. Pondok Pesantren Al Muayyad mempunyai sebuah klinik yang nyaman. Ada 2 orang dokter. santri harus membayar Rp. Santri putra banyak yang mengeluh menderita penyakit kulit “gudhiken”. Air di depan kamar mandi agak menggenang.100. Surat ijin juga harus ditandatangani wali kamar. dan lain-lain. panas. Sedangkan di Pondok Pesantren putra terdapat kamar mandi sebanyak 13 buah. 2) Kesehatan Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para santri. pilek. Air minum ambil di kran yang sudah melewati proses Aqua guard. 13 tahun : ”Tahun ini banyak santri yang mengalami penyakit gudhik. bisa beli di kantin pondok pesantren 1 gelas Rp. batuk. Kata santri putra. Ukuran 2 x 1 meter. jika pertama kali tinggal di pondok pesantren pasti mengalami gudhiken. Mereka datang setiap hari Senin malam dan Rabu malam. Seperti yang diungkapkan oleh NS. Untuk membuat surat ijin sakit. Biasanya ditunggu oleh Sie kesehatan pengurus putra. dan yang kedua adalah Kepala Puskesmas Sukoharjo. dan lengkap. Yang pertama adalah menantu pak kyai.00 kepada sie kesehatan sebagai ganti cetak surat ijin (bentuk lembaran kertas).00.134 orang jualan yang lewat) atau di kantin pondok pesantren santri minta dibuatkan mie instan. Gudhik disebabkan karena sering memakai pakaian dan handuk bersama-sama (atau .

membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. gudhiken tidak menyerang lagi” 4) Fasilitas Olahraga Penyediaan fasilitas olahraga memanfaatkan lapangan Sri Waru atau lapangan Penumping dan menggunakan aula yang ada di dalam ponpes. 13 tahun : ”Saya ingin di pondok itu kamar mandinya dikuras setiap hari karena air mandi ini menyebabkan penyakit gudhiken. 5) Mencuci dan Menyetrika Kebutuhan untuk mencuci baju dan menyeterika baju dapat dilakukan oleh santri sendiri maupun pihak penyedia jasa laundry. Di dalam ponpes dilarang memakai peralatan elektronik yang mempergunakan listrik sehingga apabila akan menyeterika baju santri harus menggunakan arang. Gudhiken ini biasanya diterima oleh anak yang masih baru. Pengajaran dapat dilihat dari berbagai kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri.00 sampai jam 23.00 para santri melaksanakan sholat Tahajjud. Selain itu. b. setiap hari Jumat baik santri maupun santriwati menyelenggarakan tahlil dan kegiatan ke-IPMA-an. Kegiatan ini . pengganjaran baik hukuman maupun penghargaan dan pembujukan.135 yang disebut joinan)” Keluhan serupa juga diungkapkan oleh AR. Setiap hari Senin melakukan shalawat Nariyah. yaitu mlenthung-mlenthung dan di dalamnya ada nanahnya. Taushiyah pengasuh dan setiap hari Kamis para santri membaca Manâqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani dan dilanjutkan membaca Maulid Al-barzanjiy. mengaji). tetapi kalau sudah 1 – 2 tahun.00 dan setiap hari pukul 03. Kegiatan santri setiap hari dimulai pukul 04. belajar kitab. Kewajiban rutin santri adalah menjalankan ibadah (sholat berjamaah. Pola Pengasuhan Prinsip dalam pola pengasuhan ada 3 hal yaitu pengajaran.

karena pernah ditemukan Hp dengan gambar / foto porno) 6) Santriwati harus memakai rok. . jika memakai celana yang longgar (Namun ada santriwati yang berpendapat bahwa memakai rok itu susah. Aturan-aturan yang diberlakukan oleh santri cukup banyak dan harus dipelajari oleh para santri melalui buku kecil. ada kebutuhan mengakses informasi) 5) Tidak boleh membawa handphone (Jika santri akan berkomunikasi dengan keluarga. karena pengasuh dan pengurus pondok pesantren mengetahui kemampuan dan kondisi psikologis santri. sehingga pada saat santriwati ke luar pondok. dan aturan dibuat demi kebaikan santri itu sendiri”. Nur Ridho.00 karena pada waktu itu jam belajar telah berlaku yakni dari jam 19. mereka berganti dengan celana panjang di luar pondok) Sebagaimana yang diungkapkan salah satu pengurus.136 kadangkala dianggap memberatkan karena terlalu banyak dan monoton sehingga membuat santri merasa bosan. Di dalam ponpes juga diberlakukan jam malam yaitu pukul 20. Aturan tersebut adalah: 1) Tidak boleh nonton bioskop 2) Tidak boleh nonton konser musik 3) Tidak boleh main PS 4) Tidak boleh ke warnet (Di sekitar pondok pesantren banyak terdapat warnet. ”Peraturan pondok ditetapkan oleh pengasuh dan pengurus pondok pesantren.00 sesuai dengan kebutuhan. Alasannya.00 sampai 22. santri diperbolehkan menggunakan telepon kantor pondok pesantren. Handphone dianggap hanya mempermudah untuk berkomunikasi dengan pacar.

Adapun pelanggaran yang sering dilakukan santri menurut para pengurus adalah merokok. sebagai berikut : ”Melatih santri melakukan tanggungjawab disamping itu untuk yg non-fisik membantu anak utk lebih memahami / menghafal juz amma”. 28 tahun. pemukulan. yang disosialisasikan kepada santri saat masuk pondok pesantren (masa orientasi). hukuman ini dianggap efektif karena dapat melatih santri untuk lebih bertanggungjawab dan pemberian shock terapy agar jera.137 Aturan sudah ada dibuat sejak lama. Dari bentuk sangsi yang diberikan terlihat adanya hukuman fisik yang diberikan kepada santri. handphone-nya disuruh dibanting di hadapan teman-temannya. 20 tahun. membaca Yassin termasuk membersihkan kamar. tidak piket. Selain itu mereka juga pernah dihukum dengan menyalin pelajaran. sebagai berikut : ”Pemberian sangsi diperlukan karena sangat mendidik dan sebagai efek kejut atau shock therapy” Hal senada juga disampaikan oleh salah satu pengurus pondok putri bagian BPPA. Shobi Showabi. M. Chasanah. membawa barang yang . dan diminta push up.67%) menyatakan adanya hukuman fisik yang berupa penggundulan. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengurus. Bagi pengurus. menghafal Al Qur’an. dari 15 santri sebanyak 7 santri (46. dimuat dalam tata tertib pondok pesantren. Berdasarkan pada hasil penelitian. Apabila ada santri yang melanggar aturan tersebut maka diberlakukan sanksi/hukuman yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu: 1) Dipanggil kemudian dinasehati 2) Membersihkan kamar 3) Dicukur gundul 4) Ditabok (pernah terjadi pada santri putri sekitar tahun 2005) 5) Ketahuan bawa handphone.

67 4 Bermusyawarah 8 53.37).33%). Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes. para santri pernah mengalami.37 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Muayyad No Keterangan Sering % Jarang % Tidak % 1 Berdiskusi 9 60 6 40 0 0 2 Menasehati dengan 0 0 kata lembut 7 46. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.67%) dan yang jarang mendapatkan hadiah ada 8 anak (53. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan. Selain itu pemberian hadiah dan pujian bagi santri juga dilakukan oleh pengurus ponpes ini.138 dilarang seperti handphone. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas. semuanya pernah mendapatkan pujian. Termasuk juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. Yang sering mendapatkan pujian berjumlah 7 anak (46. Selain itu lebih lanjut. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar UU .67 8 53. Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. Tabel 5. Karena ada beberapa santri yang merasa dendam dan akan berlaku yang sama ketiga menjadi pengajar. dan berkelahi. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian.33 7 46.67 1 6.33 3 Menyapa saat bertemu 7 46. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Dari 15 santri yang diteliti.67 7 46.67 0 0 Sumber: Data Primer. dinasehati.

33 53. Tabel 5.67 46.139 Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.67 40 Untuk pengembangan ponpes ke depan. ada pemberlakuan hukuman fisik dan juga kebiasaan wali kamar yang suka menyuruh-nyuruh. diharapkan ada peraturan yang tidak terlalu ketat dan banyak.33 40 26. . Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 14 13 11 8 8 7 12 12 13 9 11 11 9 % 93. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak.67 46.33 20 20 13.33 53.33 60 Tidak 1 2 4 7 7 8 3 3 2 6 4 4 6 % 6.37 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Muayyad Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer.33 86.67 26.33 73.33 26.37).67 53.33 46. Peristiwa tersebut dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus.67 60 73.67 73.67 13. Pengurus hendaknya sebagai teladan yang patut ditiru namun ternyata bersikap Jarkoni.67 80 80 86.

2. Jumlah santriwati ada 11 anak dan jumlah santri ada 4 anak yang berasal dari Solo 8 anak (53. kondisi santri yang tinggal di Ponpes ini cukup bervariasi dari segi umur maupun asal daerah.67 6. Ponpes yang berada dalam lingkungan perkampungan padat penduduk ini memiliki santri sebanyak 15 anak yang berumur paling muda 9 tahun dan yang paling tua 16 tahun.00 6. Sekretaris.67 6. ada yang diantar orang tua. Pondok Pesantren Darud Dzikri a. Ponpes ini didukung dengan 5 pengurus yang masing-masing menjabat sebagai Pemimpin Ponpes. Eks Karesidinan Surakarta sebanyak 5 anak (33. Santri datang ke ponpes.38 Yang Mengantar Santri Ke Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Orang Tua Saudara Tetangga Teman Sendiri Orang Tua dan Teman Jumlah Sumber: Data Primer. maupun saudara (lihat Tabel 5.140 1. Pengasuh Ponpes.38). Tabel 5.33) berasal dari Salatiga.67 26. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Darud Dzikri merupakan ponpes yang hanya berfungsi sebagai tempat tinggal untuk para santri dan tidak berfungsi sebagai Sekolah Madrasah.33%).33 20. Ketua Yayasan dan Bendahara.67 100% . Lama santri yang tinggal di Ponpes ini adalah 3 tahun dan ada yang baru saja masuk sekitar 1 bulan yang lalu. teman. Secara umum.33) dan 2 anak (13. Dari 15 santri yang ada hanya 1 anak yang tidak mengetahui tentang kepemilikan akte kelahiran. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 5 3 1 4 1 1 15 anak Persen (%) 33.

dapur dan laboratorium komputer yang kurang layak.67 Persepsi santri ini sangat berbeda jauh dengan persepsi para pengurus ponpes.67 5 4 Ruang Makan 13 86. dan belajar agama dengan ustad/ustadzahnya.67 0. Artinya.67 66. ruang belajar. Bagi pengurus ponpes.141 Alasan para santri tinggal di ponpes ini sebagian besar karena keinginan sendiri sebanyak 11 anak. persoalah ekonomi ada 2 anak dan keinginan saudara ada 2 anak.39 Kondisi Fasilitas Pondok Pesantren Darud Dzikri No Jenis Fasilitas Layak % Tidak Layak 1 Ruang Belajar 14 93.33 6.33 10 Sumber: Data Primer.33 10 6 Fasilitas Kesenian 5 33. santri juga merasakan kenyamanan tingal di ponpes karena memiliki banyak teman.67 66. Hal ini terjadi jika antar santri saling bertengkar.67 2 5 Fasilitas Olahraga 5 33. Juli 2009 % 6.39 Tabel 5. Bahkan memberikan uang saku. Persepsi santri terhadap kondisi fasilitas yang ada dapat dilihat pada Tabel 5.00 0 3 Ruang Bermain 10 66. Di satu sisi. . fasilitas yang ada hanya ruang ibadah. banyak fasilitas yang menurut santri cukup bersih. seorang anak masuk ke ponpes tidak hanya karena persoalan ekonomi meskipun ponpes ini tidak memberlakukan biaya bulanan sehingga lebih mirip sebuah panti asuhan.33 1 2 Ruang Ibadah 15 100. Kegiatan di ponpes ini didukung dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh yayasan. dimarahi ustad/ustadzahnya dan disuruh-suruh untuk mengerjakan sesuatu. Meskipun begitu kadangkala santri juga mengalami kebosanan di dalam ponpes.00 33.

Persepsi tentang anak cukup beragam. hukuman ini dianggap tidak efektif karena tidak membuat anak jera. Meskipun menurut pengurus. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan merupakan sebuah sistem yang mengatur keberadaan para santri seharusnya didukung dengan pengetahuan yang cukup tentang anak baik yang menyangkut hak anak maupun perlindungan anak. Dari 15 santri yang ada.40). Bahkan ada yang menyebut kalau hukuman bagi santriwati lebih baik disuruh untuk membersihkan lingkungan ponpes. Hukuman fisik yang sering dilakukan oleh pengurus ponpes adalah push up dari mulai 25 kali sampai 50 kali dengan pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak melaksanakan piket (persepsi dari pengurus). Tentu saja ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak yang telah diatur dalam perundang-undangan. 12 anak menyatakan pernah dihukum melakukan push up dengan jumlah yang bervariasi. Rendahnya pengetahuan pengurus ponpes tentang anak memberikan kontribusi bagi terciptanya kekerasan anak di dalam pola pengasuhan ponpes Hal ini juga terlihat dari hukuman yang diberlakukan bagi santri jika melanggar peraturan ponpes. Terlihat adanya diskrimasi gender. Selain itu ada 11 anak yang pernah dihukum untuk . 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dari hasil penelitian yang ada menunjukkan pengetahuan pengurus ponpes tentang anak sama sekali tidak ada.142 b. Selain itu tidak tahunya para pengurus ponpes tentang Konvensi Hak Anak yang dilakukan PBB termasuk UU No. Hal ini tidak sesuai dengan definisi yang dikeluarkan oleh UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa sejak dalam kandungan sampai umur 18 tahun seseorang dianggap sebagai anak. Yang dimaksud dengan anak adalah yang berusia 0 – 12 tahun sebanyak 3 orang dan berusia 0 – 18 tahun ada 2 orang. Sedangkan pelanggaran yang pernah dilakukan menurut para santri cukup beragam (lihat Tabel 3.

pada sabtu. santri menjawab tidak menyukai hukuman fisik tetapi lebih menyukai bentuk hukuman lain seperti menyalin pelajaran/menghafal surat. Tetapi ada sedikit curhatan yang saya dengar dari anak-anak penghuni ponpes. 12 tahun (bukan nama sebenarnya) dia bercerita tentang bagaimana sebenarnya dia tidak merasa nyaman dengan pemberian hukuman yang ada di ponpes darut dzikri tersebut yang dinilainya terlalu memberatkan.33 10 6. Buat saya itu kok terlalu gimana gitu soalnya kan kita belajar disini kenapa kalau kita salah .67 80. Andi : saya sebenarnya senang mbak tinggal disini karena banyak temannya dan bisa belajar mengaji secara gratis.67 11 6. Juli 2009 Pernah 0 2 3 2 4 1 5 1 % Tidak 0 15 13.33 13 26.33 93. dinasehati. sebagian besar santri menerimanya dengan ikhlas (lihat Tabel 46). Karena lebih lanjut.00 86.67 14 33.33 13 20.67 73.00 12 13. Seperti halnya push-up dan kadang suka membentak dalam memberi memperingatkan.40 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Darud Dzikri No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 berkelahi 8 Jarang Mematuhi Sumber: Data Primer. Tabel 5. diajak berdiskusi maupun bermusyawarah tentang apa yang telah dilanggarnya.143 menyalin pelajaran dan menghafal surat dalam Al Qur’an. tetapi terkadang dalam memberikan hukuman kepada para santri suka memberatkan seperti push-up 25 kali.33 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan.33 66. 13 juli 2009 saya berbincang dengan andi. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hukuman itu dibenarkan.67 14 % 100 86.67 93.

144 kita harus di hukum dengan push-up? Kan masih bisa kita di hukum dengan hanya di nasehati saja atau di suruh menghafalkan surat-surat pendek saja. karena mia dianggap terlalu sombong. Kata-kata guyonan yang mereka lontarkan pun terlalu kasar seperti melontarkan kata-kata hinaan dan ejekan antara santri. Dan sebut saja santriwati ini Ita (9 tahun). Saya merasa pertemanan dan gaya bercanda antara para santri terlalu kasar dan tidak pantas dilakukan. Kenapa kita sudah di hukum push-up masih di suruh menghafal surat-surat pendek lagi. Saya sempat berbincang dengan salah seorang santriwati. . Dan terkadang dia suka ngrasani mia dengan teman-teman santriwati yang lain. Hukumannya juga tidak hanya untuk anak laki-laki saja. Saya tinggal disini karena terpaksa oleh keluarga yang menginginkan saya untuk tinggal di ponpes ini dan belajar disini. dia sering sekali bercerita kepada saya tiap saya berkunjung ke pesantren ini. perempuan juga mendapatkan hukuman yang sama dari ustad. 16 tahun . sebut saja Mia. semenjak kedatangannya ke ponpes ini tidak pernah merasa kerasan dan tidak cocok dengan suasana ponpes. apa yang di suruh oleh ustad ya kita harus lakukan dan tidak nanti akan terkena marah lagi oleh ustad. dia bilang kurang suka dengan keberadaan Mia disini. Dia merasa sering di kucilkan oleh teman-temannya di ponpes oleh karena itu dia sering menyendiri dan tidak suka berbaur dengan teman-temannya. Dia juga merasa tdak nyaman dengan para ustad dan ustadzahnya yang dirasa terlalu keras dalam berbicara dan katanya suka menghukum push-up. Biasanya kita di hukum karena terlambat atau ramai dan menurut saya kesalahan seperti itu kan wajar mbak. Enumerator : pernahkah kamu membantah saat diberikan hukuman? Dan jangan-jangan kesalahan yang kamu lakukan terlalu berat atau mungkin kamu nakal? Andi : tidak berani mbak.

mengaji dan menghafal surat-surat pendek pun sendiri.67 6. Dan pada saat itu.67 13. .33 6. Kegiatan yang mereka lakukan sebagai santri di waktu pulang sekolah lebih banyak di habiskan di depan televisi dan tidur. malu. bisa saling memukul dan tidak segan-segan kepala yang dipukul oleh mereka. Kondisi ini dapat membuat santri merasa tidak betah di dalam ponpes dan memberikan lingkungan yang tidak nyaman bagi tumbuh kembang santri yang masih anak-anak. belum ada pengawasan langsung oleh ustad atau ustadzah yang mengasuh ponpes tersebut. Peristiwa tersebut baik dilakukan oleh temannya sendiri maupun oleh pengurus. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan dan seharusnya tidak boleh dilakukan karena melanggar Undangundang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (lihat Tabel 5.67 6.41 Respons Santri Menerima Hukuman di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Menerima dengan ikhlas Sakit hati Malu Ikhlas dan malu Blm pernah dihukum Tidak menjawab Ikhlas. Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 8 1 1 1 2 1 1 15 % 53. Keadaan kamar mereka juga tidak terawat dan sangat kumuh.42).145 Dan tanganya pun terlalu enteng.33 6. yang mereka sendiri terkadang merasa risih dengan keadaan yang seperti ini.67 6. Mereka sholat berjamaah sendiri. sakit hati Jumlah Sumber: Data Primer.67 100 Berdasarkan hasil penelitian. para santri pernah mengalami.

42 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Darud Dzikri Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up 10 Menyiram air untuk membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok 14 Pertengkaran Sumber: Data Primer.67 Setiap santri wajib melakukan kegiatan yang telah ditetapkan oleh pengurus yaitu belajar. .67 93.33 Tidak 2 0 1 0 1 3 9 10 10 13 14 15 14 4 % 13. Setiap hari.67 0 6.67 20 60 66. Kondisi ini tertutupi dengan metode pengajaran yang diberlakukan oleh ponpes ini dianggap santri cukup menyenangkan seperti menghargai pendapat setiap santri.33 80 40 33. santri mendapatkan piket memasak untuk kebutuhan mereka sehari-hari dengan menu yang telah ditetapkan. bahkan saling tukar cerita.67 66.33 33. Meskipun secara keseluruhan kegiatan rutin santri ini dianggap tidak memberatkan tetapi ada kegiatan yang dianggap paling memberatkan oleh santri adalah membersihkan WC karena dapat membuat santri cepat lelah ditambah kewajiban memasak.67 100 93.33 100 93.146 Tabel 5. memasak dan membersihkan lingkungan ponpes.33 26. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Pernah 13 15 14 15 14 12 6 5 5 2 1 0 1 11 % 86.67 73.33 0 6.67 0 6.67 86. mengajak diskusi.33 13.33 6. beribadah.33 100 93.

Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. Pondok Pesantren Mujahiddin a. Secara keseluruhan jumlah santri di Ponpes ini ada 27 anak yang saat ini menempuh pendidikan SMP dan SMA (lihat Tabel 5. penelitian mengambil 12 santri sebagai responden yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.147 Didalam ponpes ini ada bentuk penghargaan bagi anak yang berprestasi. 1. bagi santri menginginkan pengurus semakin memperhatikan kondisi mereka termasuk mengajak untuk berekreasi. didalam ponpes juga ada pola pengasuhan melalui pembujukan yaitu menasehati dengan kata lembut. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Mujahidin merupakan ponpes yang memiliki santri laki-laki saja. Dari jumlah tersebut. sebanyak 13% pernah mendapatkan hadiah dan 2 lainnya tidak pernah. dari Jawa Tengah ada 6 anak dan 1 anak dari Jambi. Dari 15 santri yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Solo dan sekitarnya dengan lama tinggal antara 1. Yang berasal dari Solo ada 4 anak. artinya masih lemahnya santri di dalam menuntut hak-haknya sebagai anak Indonesia. dari Eks Karesidenan Surakarta ada 1 anak. Hubungan antara pengurus dan santri digambarkan sangat dekat seperti keluarga sendiri seperti menemani santri ketika belajar.5 – 3 tahun.3. Selain itu.43). mengajak diskusi dan bermusyawarah serta selalu menyapa saat berpapasan. Ada 2 santri yang menyatakan ketidaktahuannya akan akte kelahiran. Sedangkan hubungan antar santri juga cukup dekat karena sebagian santri menyebutkan teman curhatnya adalah temannya sendiri. Untuk kemajuan ponpes ke depan. .

Dari 12 anak yang menjadi responden semuanya menyatakan alasan ikut ponpes ini adalah karena keinginannya sendiri. Artinya. Juli 2009 Santri datang ke ponpes.148 Tabel 5. sebagian besar (9 anak) diantar oleh orang tua dan 3 anak lainnya diantar saudaranya.43 Data Santri Pondok Pesantren Mujahidin Nama Kelas Umur No 1 Deni Arif Sulistyo VII 13 2 Endang Sudrajad VII 15 3 Mu'as Abdul Rohim VII 13 4 Ridzwan Nur secha VII 13 5 Wildan Syahidullah VIII 13 6 Abdurrahman Arif VIII 15 7 Ahmad Romadhon VIII 14 8 Ali Taufikurrahman VIII 14 9 Dian Hafidz Saifudin VIII 14 10 Humam Ujiana VIII 14 11 Ilham Kurniasandi VIII 14 12 Sayid Imam Muhammad VIII 14 13 As'ad IX 16 14 Dafid saiful Anwar IX 15 15 Deni Sudrajad IX 15 16 Fahrur Rozik IX 17 17 Faidillah IX 15 18 Faqih Hidayatullah IX 16 19 Fathurrohim IX 16 20 Hadiyatna Hamid IX 15 21 Khoirudin IX 15 22 muh Zami' Al Wahid I IX 15 23 Muhammad Yusuf IX 15 24 Rifqi As Sabiq IX 15 25 Rizal Abdul Aziz Al Qomar IX 15 26 Muhammad Salman IX 16 27 Prasetyo IX 16 Sumber: Data Kesiswaan Pondok Pesantren Mujahidin. tidak ada pemaksaan .

200.149 dari siapapun untuk masuk ke ponpes. Tersedianya fasilitas untuk mendukung kehidupan santri juga memberikan efek positif bagi keberadaan santri di lingkungan ponpes meskipun ada sebagian yang dianggap tidak layak (lihat Tabel 5. . mulai kurang dari Rp. kondisi lingkungan ponpes menurut para santri ada yang menyebutkan bersih (5 anak) dan ada yang menyebutkan biasa saja (7 anak). Jika santri kehabisan uang saku. dan Rp. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. Tidak ada pemaksaan terhadap anak. rata-rata mereka hanya diam saja ada 7 anak atau minta orang tua ada 5 anak.000 s/d Rp.44). Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang.100. yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Banyak hiburannya karena suka duka dirasakan bersama 4) Ustadnya baik 5) Dapat hidup mandiri Secara umum. kondisi lingkungan cukup bersih karena setiap harinya ada santri yang mendapatkan jatah piket untuk membersihkan lingkungan ponpes.000. 100. sekolah dan ditabung. Bagi pengurus ponpes. Dan secara rutin mereka mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan 1 anak mendapatkan uang saku dari saudaranya. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya.

33 8. Hal ini karena didukung oleh keberadaan pengurus ponpes baik pengasuh maupun ustadnya yang dianggap santri menyenangkan.33 0 0 0 0 Tidak Tahu 0 0 0 0 1 3 1 1 % 0 0 0 0 8. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5.45) .44 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Komputer Perpustakaan Layak 12 12 12 11 11 9 11 11 % 100 100 100 91.67 91.33 Sumber: Data Primer.33 25 8. Juli 2009 b.67 Tidak Layak 0 0 0 1 0 0 0 0 % 0 0 0 8. menghafal Al Qur’an dan belajar kitab) dan belajar ilmu pengetahuan umum (pelajaran sekolah).67 91. mau bergaul dengan santri mendengarkan keluh kesah pada santri maupun bercanda bersama. Bagi sebagian besar santri.67 75 91. Pola pengasuhan Fasilitas-fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Mujahidin secara efektif digunakan untuk melakukan kegiatan rutin santri yang telah dijadwalkan seperti kegiatan keagamaan (sholat berjamaah. tadarus. Selain itu setiap santri diwajibkan untuk menjalankan piket yang juga telah dijadwalkan untuk membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. tidak mudah marah.150 Tabel 5. kegiatan rutinitas itu dirasakan tidak memberatkan (sebanyak 9 anak) dan kadang-kadang memberatkan (sebanyak 3 anak).

45 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 8 11 7 9 9 12 7 10 % 66. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes. Setiap santri belajar. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk push up. Di dalam ponpes diberlakukan jam malam mulai pukul 21.21. lari mengelilingi ponpes. ada pengasuh yang menemani mereka. Kegiatan refreshing ini membuat santri tidak merasa bosan.33 83.67 Sumber: Data Primer.33 8.33 75 75 100 58. tidak menjalankan kegiatan keagamaan maupun terlambat sekolah. sit up. Selain itu mereka juga pernah merokok. ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan.33 Tdk Senang 0 1 1 1 1 0 2 0 % 0 8.33 0 16.30 .67 58.30 dan jam belajar mulai pukul 19.33 0 0 4 33.151 Tabel 5. pelanggaran yang sering dilakukan adalah tidak piket. memberikan bimbingan semampunya atau meminta senior mereka untuk membantunya.30. rolling. Juli 2009 Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri. Bagi pengurus.30 sampai 04. Jika mereka mengalami kesulitan belajar.33 8. menggunakan fasilitas yang ada dan refreshing setiap 1 tahun sekali.67 91.67 0 Tidak % Tahu 4 33. Bagi santri yang kurang berprestasi akan mendapatkan bimbingan khusus dan mengadakan belajar kelompok untuk meningkatkan prestasi.33 2 2 0 3 2 16.67 16. scot jump. dan .67 0 25 16.33 8.

menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat.67 50 Tidak 0 2 6 6 10 6 % 0 16.33 100 41.33 8 58.67 41.33 50 50 16.47 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Pernah 12 10 6 6 2 6 % 100 83.67 41. dicukur gundul dan pemberian skorsing. ayat-ayat Al Qur’an.33 50 .33 5 33.67 50 50 83. Peraturan yang dibuat tidak melibatkan santri. hukuman-hukuman tersebut dianggap efektif karena mendidik santri untuk mandiri dan bertanggungjawab serta sudah merupakan kesepakatan bersama antar pengurus ponpes sebagai sebuah peraturan sehingga dianggap tidak menyimpang.33 5 % 91.67 Bagi santri sendiri. diperingatkan atau diajak bermusyawarah ketika santri mendapatkan hukuman karena santri merasa malu dengan hukuman tersebut.67 66.33 11 58.33 5 100 0 16.46 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Mujahidin No Keterangan 1 Merokok 2 Terlambat pulang 3 Tidak piket 4 Tdk sholat 5 Tdk menginap 6 Membawa barang yang dilarang 7 Berkelahi 8 Kabur Sumber: Data Primer. Bagi pengurus.67 10 0 12 58. Tabel 5. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal muffrodat.67 0 83. Juli 2009 Pernah 1 7 12 2 0 7 4 7 % Tidak 8. Tabel 5.152 jalan jongkok. Meskipun sebagian besar santri menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut.

33 25 0 Tidak 8 3 0 1 8 9 12 % 66. bisa dikatakan sebagai jalan umum.153 Keterangan Menyuruh berdiri di bawah 7 matahari 8 Mencukur gundul 9 Menyuruh push up Menyiram air untuk 10 membangunkan 11 Memaksakan sesuatu 12 Bersikap tidak adil 13 Pengurus Merokok Sumber: Data Primer. seperti halnya yang dikatakan oleh AB”kalau hukuman yang sering aku terima ya itu mas.67 33. pintu ini tidak dijaga oleh pihak pondok dikarenakan pintu ini merupakan akses bagi masyarakat umum untuk masuk ke masjid. kita biasanya disuruh menghafal muffrodat. selain digundul mereka juga sering diskorsing dan push up.33 75 100 91. Sangsi yang sering diberikan adalah hukuman push up. Mereka bertiga pernah kabur karena jenuh berada dilingkungan pondok. biasanya karena telat masuk kelas. mereka kabur lewat pintu belakang pondok. skorsing dan hukuman gundul.67 75 100 Pada waktu saya di ponpes Al Mujahidin santri banyak bercerita tentang hukuman dan peraturan yang diterapkan dipondok. AB dan AC yang sering melakukan pelanggaran. tetapi saya tidak dapat mengambil gambar atau melihat secara langsung karena pada waktu itu tidak ada santri yang melakukan pelanggaran. sebut saja AA. AC”kalau kita terlambat ikut sholat berjamaah dan terlambat masuk kelas gitu. Juli 2009 No Pernah 4 9 12 11 4 3 0 % 33.33 66. Hukuman gundul diberikan pada anak-anak yang kabur dari pondok. apalagi hukuman gundul” AA”aku pernah dihukum gundul mas.push up paling tidak 40 kali. Ada beberapa anak yang mendapatkan hukuman ini. langsung digundul”. tapi aku juga pernah .67 25 0 8. itu AA mas paling banyak dapat hukuman.oleh pak ustad karena kabur.

48). selain itu hukuman yang lain ya berupa lari kecil. Tetapi bagi santri sendiri. . Juli 2009 Selain memberikan penggajaran berupa hukuman. mereka menyadari bahwa mereka mendapat hukuman karena kesalahan mereka sendiri. Hal ini tentu memberikan efek positif bagi keberadaan santri untuk tumbuh dan berkembang selayaknya di dalam lingkungan ponpes karena situasi ponpes yang menyenangkan Tabel 5.itu gara-gara kabur sama AC. sama membersihkan wc ”.akan tetapi lebih baik apabila hukuman yang diterapkan adalah berupa teguran dan saran terlebih dahulu.48 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Mujahidin No 1 2 3 4 Keterangan Berdiskusi Menasehati dengan kata lembut Menyapa saat bertemu Bermusyawarah Sering 5 12 10 6 % 41. para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah.33 0 0 0 Sumber: Data Primer. mereka pada dasarnya menyetujui hukuman fisik. yaitu menghafal ejaan Al Quran dan menghafal cara berkhutbah. Pondok Pesantren Mujahidin juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. Santri tidak pernah marah dan menerima apa adanya hukuman yang diberikan oleh pihak pondok. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya.33 50 Jarang 6 0 2 6 % 50 0 16.67 100 83.154 digundul.scot jump.67 50 Tidak 1 0 0 0 % 8. Dari responden hanya ada satu orang yang belum pernah mendapatkan hadiah. Hampir semua santri sering menerima hukuman ini. Hukuman skorsing adalah hukuman menghafal bagi santri. hukuman ini termasuk hukuman ringan.

Kehidupan yang menyenangkan didalam ponpes membuat santri merasa betah tinggal di ponpes meskipun jauh dari keluarga. mempunyai banyak teman yang mengajarkan tentang adanya perbedaan dan didukung dengan ustadz yang baik dalam pengasuhan menjadikan santri lebih mampu hidup mandiri. Santri yang tinggal di ponpes ini tetap mendapatkan uang saku dari orang tuanya dengan jumlah yang tidak tentu. Terdapat lapangan badminton dan ada kesenian hadrah sehingga mampu menambah aktivitas para santri untuk aktualisasi diri. Secara garis besarnya tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori ponpes anak karena santri yang tinggal di ponpes ini kebanyakan adalah mahasiswa.155 1. Kebutuhan untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan.4. Selebihnya hanya mengandalkan fasilitas seadanya seperti tempat belajar berada di dalam kamarnya masingmasing. Keutamaan untuk menjalankan keagamaan menjadi kewajiban rutin yang harus dijalankan oleh santri dari mulai sholat berjamaah. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Alasan masuk ke dalam ponpes ini karena keinginan sendiri dan diantar oleh orang tua masing-masing. Pondok Pesantren Tahfid Wata'limil Qur'an Penelitian pada ponpes yang berada di lingkungan Masjid Agung Kota Solo ini dijadikan pembanding terhadap ponpes lainnya. Sragen dan Kebumen. Ketiga anak tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini untuk melihat pola pengasuhan di pondok pesantren. Yang paling menonjol adalah keberadaan Masjid Agung sebagai tempat pelaksanaan ibadah. hanya ada 3 orang yang berusia dibawah 18 tahun. sekolah (termasuk transport) dan sisanya untuk ditabung. Ketiga santri ini berasal dari Wonogiri. Salah satu santri sudah cukup lama tinggal di ponpes ini selama 3 tahun karena merasa nyaman tinggal di ponpes ini. . Fasilitas yang tersedia di dalam ponpes ini sangat sederhana.

Pola Pengasuhan Anak Di Pondok Pesantren Kabupaten Klaten 2. kewajiban menjalankan piket untuk membersihkan kamar. Selain itu. Tidak ada hukuman fisik yang berlaku di dalam ponpes. Peraturan yang di dalam ponpes telah dibuat oleh pengurus dan tidak ada kelibatan santri di dalam pembuatan peraturan tersebut. setiap santri memiliki hak untuk berpendapat dan mengeluarkan kritik ataupun saran kepada pengurus ponpes bagi kebaikan ponpes selanjutnya di masa mendatang. diharapkan sanksi yang tegas bagi yang melanggar peraturan ponpes dan adanya penambahan waktu untuk mempelajari kitab Al Qur’an. Pengganjaran dalam ponpes ini diberikan dalam bentuk penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar peraturan. Sanksi yang diberikan bagi santri yang melanggar adalah menghafal Al Qur’an dan membersihkan lingkungan ponpes. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Al Munir merupakan ponpes yang didirikan untuk mengembangkan keilmuan keagamaan yang ditempuh oleh salah satu anak pendiri Yayasan Al Munir. ponpes ini diharapkan menambah fasilitas yang lebih baik untuk mendukung kegiatan ponpes.1.156 belajar kitab. Pengurus pondok pesantren ini memiliki persepsi bahwa usia anak adalah 0 – 12 tahun. Selain itu. lingkungan ponpes dan memasak. Selain kewajiban. 2. Adanya ruang terbuka untuk menerima masukan santri menandakan kepedulian besar terhadap hak-hak santri untuk berpartisipasi di dalam kemajuan ponpes. Pondok Pesantren Al Munir a. Ke depan. Hal ini dapat dibenarkan karena mereka tidak mengetahui tentang adanya Kovensi Hak Anak dan Undang-Undang . Semua kegiatan itu dilakukan dengan senang hati dan cara pengasuhan diponpes ini dianggap santri menyenangkan. dan mengaji.

Penelitian ini mengambil 10 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah khususnya Kabupaten Klaten sebanyak 6 anak (60%). Mereka datang ke ponpes ini dengan berbagai alasan seperti kesulitan ekonomi. Uang saku tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi santri seperti jajan dan ditabung. Santri yang tinggal di ponpes ini sebagian besar di antar orang tuanya sebanyak 8 anak dan 2 anak lainnya diantar oleh saudara dan tetangganya. Bagi santri. keinginan sendiri maupun hanya sekedar menuruti keinginan orang tua. Apabila uang saku yang diberikan telah habis. Hal yang membuat senang tinggal di ponpes karena mendapatkan banyak teman sehingga ada teman untuk bermain. Sebagian anak masih baru tinggal di panti. Ada yang masih 3 hari masuk ponpes tetapi ada anak yang sudah 5 tahun tinggal di ponpes. Hal yang membuat tidak senang anak-anak adalah karena . Usia anak yang menjadi responden paling tua berumur 17 tahun dan yang paling muda berumur 9 tahun yang berjenis kelamin perempuan ada 2 anak (20%) dan laki-laki ada 8 anak (80%).157 Perlindungan Anak. Demak ada 1 anak (10%) dan Ngawi ada 1 anak (10%). dan memiliki pengurus yang baik hati. Yogyakarta ada 1 anak (10%). Rembang ada 1 anak (10%). kehidupan di ponpes kadang menyenangkan kadang tidak menyenangkan. belajar agama. mereka cenderung meminta lagi kepada orang tua kecuali yang diberikan ponpes mereka hanya bersikap diam saja. ada 8 anak yang memiliki akte kelahiran dan sisanya sebanyak 2 anak menjawab tidak tahu. Sumber dana dari pondok pesantren ini berasal dari donatur tetap serta sumbangan yang sifatnya tidak rutin. Santri yang tinggal di ponpes ini masih mendapatkan uang saku dari orang tuanya kecuali bagi orang tua yang tidak mampu maka santri mendapatkan uang saku dari ponpes meskipun tidak rutin dengan jumlah yang tidak tentu. Dari 10 responden.

49 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 Jenis Fasilitas Ruang Belajar Ruang Ibadah Ruang Bermain Ruang Makan Fasilitas Olahraga Fasilitas Kesenian Layak 7 9 5 6 2 6 % 70 90 50 60 20 60 Tidak Layak 1 1 2 2 3 1 % 10 10 20 20 30 10 Tidak Ada 2 0 3 2 5 3 % 20 0 30 20 50 30 Sumber: Data Primer. Pola Pengasuhan Pola pengasuhan dalam ponpes ini menerapkan 3 konsep pengasuhan yaitu pengajaran melalui kegiatan rutin yang wajib dilakukan oleh santri. Di dalam pemikiran santri. makan. b. . olahraga dan kesenian. Tetapi menurut pengurus ponpes. ponpes ini tidak memiliki ruang untuk bermain. pengganjaran baik berupa penghargaan maupun hukuman serta pembujukan. Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan santri ketika didukung dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Kondisi lingkungan di ponpes dirasakan cukup bersih karena setiap hari mereka wajib membersihkan kamar dan lingkungan ponpes.49 Tabel 5. Adapun fasilitas yang ada di ponpes ini dan segi kelayakannya dapat dilihat pada Tabel 5. Setiap pengasuhan yang diterapkan memiliki konsekuensi tersendiri bagi keberadaan ponpes ke depan. Juli 2009 Fasilitas yang ada jelas sangat mendukung bagi terselenggaranya kehidupan ponpes yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan. fasilitas tersebut dapat dilakukan di dalam kamar seperti makan dan di luar ruangan (lingkungan ponpes) seperti bermain.158 mereka jauh dari orang tua. olahraga dan berkesenian.

).50. Juli 2009 Apabila ada santri yang mendapatkan masalah atau melakukan pelanggaran peraturan ponpes. Selain itu selama tinggal di ponpes. maka hal yang biasa dilakukan adalah memberikan nasehat untuk tidak mengulangi perbuatannya. santri merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari pengurus sehingga perasaan nyaman dan aman dirasakan oleh santri. belajar kitab. Tabel 5. Hal yang membantu kehidupan menyenangkan di ponpes yaitu hubungan yang terjalin dengan baik antara pengurus dengan santri. Kegiatan yang dianggap memberatkan adalah nyuci piring/baju dan belajar pagi karena persiapan untuk ke sekolah jadi terganggu. mengaji. Antara anak dan pengurus seringkali terjalin komunikasi. Bagi santri.159 Setiap santri memiliki kewajiban yang harus dijalankan dari sholat berjamaah. Hukuman diberikan bagi anak yang melanggar peraturan.50 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 9 8 9 8 10 9 10 10 % 90 80 90 80 100 90 100 100 Tdk Senang 0 1 0 1 0 1 0 0 % 0 10 0 10 0 10 0 0 Tidak Tahu 1 1 1 1 0 0 0 0 % 10 10 10 10 0 0 0 0 Sumber: Data Primer. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes. Hal ini didukung dengan cara pengasuhan yang dianggap anak cukup menyenangkan (Tabel 5. Hukuman yang berikan ada yang berupa hukuman fisik . kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun sebagian besar menganggap tidak memberatkan.

di dalam panti juga memberlakukan hukuman seperti menghafal Al Qur’an maupun menyalin ayat Al Qur’an. Tabel 5. Adapun penghargaan bagi anak yang berprestasi. ikhlas dan merasa malu ada 2 anak.160 yaitu dijewer telinganya tetapi jarang dilakukan. anak-anak ini sebagian menerima dengan ikhlas ada 3 anak.51) tetapi tidak sering dilakukan. pelanggaran yang dilakukan cukup beragam (Tabel 5. sakit hati dan malu ada 2 anak. ikhlas dan akan berlaku sama dengan pengajar ada 1 anak dan 1 anak lagi merasa malu. Selain hukuman fisik.51 Jenis Pelanggaran di Pondok Pesantren Al Munir Keterangan Sering Merokok 2 Terlambat pulang 0 Tidak piket 1 Tidak beribadah 1 Tidak menginap 1 Membawa barang 6 0 yang dilarang 7 Berkelahi 1 Sumber: Data Primer. Tabel 5.52 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Al Munir No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Sering 1 1 0 0 0 0 0 0 % 10 10 0 0 0 0 0 0 Jarang 9 7 3 5 6 6 6 1 % 90 70 30 50 60 60 60 10 Tidak 0 2 7 5 4 4 6 9 % 0 20 70 50 40 40 60 90 . merasa malu ada 1 anak. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 % 20 0 10 10 10 0 10 Jarang 2 3 4 6 3 4 5 % 20 30 40 60 30 40 50 Tidak 6 3 5 3 6 6 4 % 60 30 50 30 60 60 40 Dari berbagai bentuk hukuman yang diberikan. diberikan pujian dan hadiah. Menurut anak.

Juli 2009 % 50 90 30 30 Jarang 5 1 5 5 % 50 10 50 50 Tidak 0 0 2 2 % 0 0 20 20 Pondok Pesantren Al Munir juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut. Tabel 5. Meskipun tidak sering terjadi tetapi dapat mempengaruhi kejiwaan santri yang notabene masih usia anak.161 No 9 10 11 12 13 Keterangan Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 0 0 2 2 7 % 0 0 20 20 70 Jarang 4 5 4 4 1 % 40 50 40 40 10 Tidak 6 5 4 4 2 % 60 50 40 40 20 Sumber: Data Primer. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti.53 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Al Munir No Keterangan Sering 1 Berdiskusi 5 2 Menasehati dengan kata lembut 9 3 Menyapa saat bertemu 3 4 Bermusyawarah 3 Sumber: Data Primer. santri pernah mengalami. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian. berdiskusi. melihat dan mendengar kejadian yang tidak menyenangkan meskipun tidak sering mereka lihat bahkan ada yang belum pernah melihat kejadian tersebut (Tabel 57). menyapa saat bertemu maupun bermusyawarah (lihat Tabel 58). .

54 Asal Daerah Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Magelang Semarang Jawa Klaten Pasuruan Ungaran Cepu Kendal Temanggung Jumlah Sumber: Data Primer. Tabel 5. Pondok Pesantren Sunan Kalijaga a.67 6. Hal ini sungguh memprihatinkan karena kepemilikan akte kelahiran ini merupakan hak setiap anak Indonesia.162 2.67 6. teman maupun tetangganya . Hal ini menunjukkan bahwa ponpes ini tidak hanya diminati oleh anak-anak dari Klaten dan sekitarnya dengan lama tinggal rata-rata masih dibawah 1 tahun.2. Ada yang diantar oleh saudara. Kepemilikan akte kelahiran merupakan hak setiap anak Indonesia dan dijamin dalam Undang-Undang. Legalitas anak untuk menjadi warga negara Indonesia berasal dari akte kelahiran.67 6. Kondisi Umum Santri Pondok Pesantren Sunan Kalijaga berdiri sejak tahun 2006 sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan. pelestarian budaya bangsa dan peningkatan ekonomi. ada 2 santri yang tidak memiliki akte kelahiran.67 20 13.33 6.67 6.67 100 Santri datang ke ponpes tidak selalu diantar oleh orang tuanya.54). Penelitian ini mengambil responden berjumlah 15 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (Tabel 5. Juli 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah 4 3 2 1 1 1 1 1 1 15 % 26. Dari 15 responden.67 6.

Tabel 5.67 100 Semua santri yang tinggal di ponpes merasa senang.55). dan Rp.56).33 Santri secara rutin ada yang mendapatkan uang saku yang berasal dari orang tua mereka sendiri dan ada juga yang mendapatkan uang saku dari ponpes. rata-rata mereka hanya diam menunggu kiriman dan ada sebagian kecil yang meminjam uang ke teman sekolah. 200. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 11 2 1 1 15 % 73.56 Alasan Tinggal di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Keinginan Sendiri Ekonomi Keinginan Sendiri dan Ekonomi Memperdalam Ilmu Agama Jumlah Sumber: Data Primer. Jika santri kehabisan uang saku.100.000.33 6. Tabel 5. mulai kurang dari Rp.33 13. tidak ada pemaksaan dari siapapun untuk masuk ke ponpes.33 13.000 s/d Rp.000 yang digunakan untuk kebutuhan pribadi dan sekolah.33 40 13. karena mereka datang ke ponpes atas inisiatif sendiri sehingga ini . Artinya. 100.55 Yang Menghantar ke Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Asal Daerah Orang Tua Saudara Teman Tetangga Jumlah Sumber: Data Primer. Uang saku yang mereka terima cukup bervariasi dan tidak menentu. Juli 2009 No 1 2 3 4 Jumlah 5 6 2 2 15 % 33.67 6. Hanya sedikit anak yang uang sakunya ditabung.163 (Tabel 5. Mereka datang ke ponpes sebagian besar karena keinginan sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak (Tabel 5.

33%) dan sisanya menyebutkan lingkungan ponpes kumuh/kurang memadai/memprihatinkan ( 4 santri atau 26.33 4 26.33 60 2 13.33 8 53. .67 20 3 20 9 60 33.57). Juli 2009 Menurut Kyai Susilo Eko Pramono.67%). yaitu: 1) Banyak teman untuk diajak bermain bersama 2) Banyak pengalaman terutama ilmu agama 3) Memiliki Ustad yang baik 4) Berbeda dengan ponpes yang lain Secara umum. menurut para santri kondisi lingkungan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga ini bersih (6 santri atau 40%).67 8 53. Dilihat dari segi ilmu belajar mengajar. kondisi fasilitas di Ponpes ini sebenarnya jauh dari kelayakan. Tabel 5.164 berpengaruh pada perkembangan kejiwaannya. Namun karena kondisi ekonomi memang masih sangat terbatas. Kegiatan para santri didukung dengan berbagai fasilitas yang telah ada didalam ponpes meskipun dirasakan oleh santri tidak layak. biasa saja (5 santri atau 33.33 % 1 Ruang Belajar 3 2 Ruang Ibadah 15 3 Ruang Bermain 3 4 Ruang Makan 9 5 Fasilitas Olahraga 3 6 Fasilitas Kesenian 5 Sumber: Data Primer. seperti yang diungkapkan sebagai berikut: ”Fasilitas pondok terutama ruang belajar mengajar bisa dikatakan sangat jauh dari layak. Tidak ada pemaksaan terhadap anak.33 2 13. Bagi pengurus ponpes. ruang kelas ini sebenarnya sangat tidak layak untuk dipakai. (lihat Tabel 5. kondisi lingkungan biasa saja.57 Kondisi Fasilitas di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No Jenis Fasilitas Layak Tidak Tidak % % Layak Ada 20 12 80 0 0 100 0 0 0 0 20 4 26. Mereka merasa senang di ponpes karena beberapa hal.

67 0 6. Kalau melihat seperti itu sebenarnya kasihan juga.58 Penilaian Terhadap Cara Pengasuhan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Penampilan Penyampaian nasihat Menghargai pendapat santri Intonasi ketika berbicara Metode Pengajaran Cara berkomunikasi Memotivasi Media belajar Senang 14 15 13 15 14 14 14 13 Tdk Senang 93. belajar kitab. Mereka saling berkomunikasi dan diskusi tentang hal-hal yang terjadi di dalam ponpes. jadi mau bagaimana lagi.58) Tabel 5. Pola Pengasuhan Kegiatan rutin yang dilakukan setiap santri cukup padat yang meliputi sholat berjamaah.165 dan donator tetap juga tidak ada. mengaji/tadarus. maka duduk berdesak-desakan.33 93. bermain. Juli 2009 .33 93. Kondisi ini terungkap juga dari penilaian santri terhadap metode pengajaran yang mereka terapkan dianggap oleh santri menyenangkan (lihat Tabel 5. Kegiatan tersebut bagi 9 anak dirasakan tidak memberatkan tetapi ada 6 anak yang merasa kadang-kadang kegiatan tersebut memberatkan.67 0 0 0 0 0 % 0 0 6. selalu saja duduk di tikar.67 0 0 0 0 0 Tidak Tahu 1 0 1 0 1 1 1 2 % 6. Terutama untuk kelas ibu-ibu.67 6. dan karena ruang sangat sempit. Kondisi ini agak tertolong karena hubungan antara anak dan pengurus ponpes cukup baik meskipun pengetahuan pengurus ponpes tentang hak anak dan perlindungan anak belum memiliki.33 Sumber: Data Primer.67 6. lantai belum disemen.” b.33 86. membersihkan kamar dan lingkungan ponpes serta memasak.67 13.33 0 100 0 86.67 1 % 100 93.67 0 6.

166

Selain memiliki kewajiban rutin yang harus dijalankan setiap santri, ada hak santri yang diberikan oleh ponpes selama ini dengan cukup baik yaitu makan, mendapatkan ilmu agama dan berpendapat. Persepsi mengenai jam malam dan jam belajar antar santri memiliki perbedaan. Ada yang menyebutkan jam malam dimulai pukul 20.00 WIB tetapi ada yang menyebutkan jam 20.30 WIB. Jam belajar berkisar antara 22.00 – 23.00 WIB. Jika mereka mengalami kesulitan belajar, diadakan kelompok belajar sehingga antar santri saling memberikan bantuan pelajaran sekolah. Para santri yang berprestasi juga diberikan pujian dan pemberian hadiah. Meskipun tidak semua santri mendapatkannya. Tetapi sistem pemberian penghargaan ini sering dilakukan oleh pengurus ponpes. Meskipun kehidupan ponpes menyenangkan tetapi ada hukuman fisik bagi yang melanggar peraturan ponpes. Hukuman fisik yang pernah dilakukan pengurus ponpes adalah menyuruh untuk lari mengelilingi ponpes, scot jump, sit up, dan mengisi bak air. Selain itu hukuman yang diberikan juga meminta menghafal Al Qur’an jus 30, dan menyalin pelajaran yang belum lengkap. Tabel 5.59 Jenis Pelanggaran Menurut Santri di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % Merokok 2 13,33 3 20 10 66,67 Terlambat pulang 4 26,67 10 66,67 1 6,67 Tidak piket 2 13,33 9 60 4 26,67 Tidak beribadah 0 0 6 40 9 60 Tidak menginap 0 0 1 6,67 14 93,33 Membawa barang 6 0 0 1 6,67 14 93,33 yang dilarang 7 Berkelahi 0 0 0 0 15 100 Sumber: Data Primer, Juli 2009 No 1 2 3 4 5

167

Sebagian santri, menyetujui adanya hukuman fisik tersebut tetapi lebih baik hukuman yang diberikan berupa nasehat, diperingatkan atau di ajak bermusyawarah. Santri yang

mendapatkan hukuman sebagian besar menerima dengan ikhlas yang disertai perasaan malu dan menyesal. Hukuman yang diberikan kepada para santri pun bermacammacam tergantung pada bentuk kesalahan dan pengurus ponpes. Adapun bentuk hukuman yang pernah diberlakukan seperti yang diceritakan para santri kepada peneliti sebagai berikut: 1. Penuturan Sm “Suatu hari NZ pernah di tampar karena salah saat baca Al Barzanji pada waktu acara di masjid dengan warga sekitar. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil, kemudian di marahi dengan dibentak-bentak, dan NZ akhirnya ditampar” ”Pada suatu hari setelah kegiatan belajar (pukul 21.00), santri Z dan P diminta untuk memasang keramik bak mandi dalam pondok. Dan santri D dan S diminta memperbaiki mesin jahit yang rusak.” (yang pasang keramik sampai jam 03.00 baru selesai, yang membetulkan mesin jahit sampai sekitar jam dua ditinggal tidur, dan kerjaan belum selesai. Abi tahu tetapi tidak dimarahi. Ketika mereka bekerja, Abi bercanda saja dengan keluarganya, dan menyalakan radio. Berdasarkan hasil observasi, kebiasaan abi kalau malam memang mendengarkan radio) ”Kalau amanah abi tidak dilaksanakan, biasanya santri akan dibentak-bentak. Kadang abi juga menyuruh yang aneh-aneh, pernah saya disuruh abi untuk cari jeruk nipis, ketika itu sudah jam sembilan malam. Saya mencari ke rumah-rumah warga, dan akhirnya dapat” 2. Penuturan DR ”Sumur, septitank, dan kamar mandi yang dibuat saat ini sebenarnya hukuman yang diberikan oleh Abi kepada santri lama. Abi memberikan waktu seminggu untuk membuat itu semua. Namun dalam perjalanannya, pembuatan itu dibantu juga oleh santri-santri yang baru.” 3. Penuturan FS ”Dulu pernah dihukum dijemur saat jam 12 siang di depan masjid, dengan melihat matahari selama 30 menit. Saat itu dihukum bersama dengan 12 santri. Silau sekali saat itu dan merasa pusing. Rasanya berat juga untuk melaksanakan

168

hukuman itu. Hukuman itu sudah lama, mungkin sekitar 3 bulan yang lalu.” ”Abi juga kadang memberi amalan untuk dijalankan santri (amalan biasa diberi semacam buku atau doa-doa untuk dibaca). Dulu saya dan 8 orang santri lain pernah diberi amalan, tempat amalan dipisah-pisah, dan sebelum didatangi oleh Abi tidak boleh berhenti. Saya dan satu orang lagi mendapat jatah di kebun di bawah pohon. Saya disuruh mengucap kalimat dan diulang-ulang dengan kaki diangkat satu. Ketika tengah melakukan itu pas mungkin tengah malam hujan deras. Jadi saya dan satu orang yang lain tadi tidak berani kembali ke pondok, dan menunggu di datangi Abi. Waktu itu menunggu Abi datang lumayan lama, jadi saya hujan-hujanan, dan kedinginan di bawah pohon.” ”Santri kalau sudah menghatamkan satu kitab biasa diberi ujian oleh Abi. Saya dulu ketika menyelesaikan Kitab Shohibul Ghoiz di suruh Abi untuk tidak tidur selama 3 hari. Dan saya laksanakan, dan ternyata kuat.” 4. Penuturan NK “Pernah dihukum push up 50 kali dan scot jump 99 kali, garagara pada waktu itu diberi kesempatan liburan dan disuruh ziarah ke makam-makam, namun karena pulangnya lebih dari waktu yang ditentukan, akhirnya dihukum.” 5. Penuturan PY ”NZ pernah di tampar Abi karena salah saat memimpin membaca Al Barzanji dengan warga. Waktu itu ketika sebelum acara mencatat dulu yang akan dibaca. Namun ditengah menjalankan bacaan Al Barzanji, dan membaca catatan, antara santri satu dengan yang lain ada yang berbeda. Akhirnya bacaan berhenti beberapa saat karena bingung. Dan ketika dilanjutkan ada bacaan yang terlewat. Setelah acara selesai, semua santri dipanggil oleh Abi. Setelah dimarah-marahi, kemudian NZ ditampar oleh Abi” 6. Penuturan D ”Jika bangun dengan cara disiram air seperti pagi tadi sebenarnya dalam hati mereka pasti merasa jengkel, namun santri itu jika dengan saya tidak berani mengeluh. Tadi sebenarnya saya sudah bangunkan, karena mereka sudah bangun lalu tidur lagi, mau tak mau saya siram air, karena waktu subuh tadi juga sudah mepet waktunya. Biasanya saya membangunkan dulu mereka 2-3 kali baru setelahnya dengan menyiram air. Namun tadi karena waktunya sudah hampir habis, maka hanya saya bangunkan sekali, dan yang kedua kalinya langsung saya siram air”

169

7. Wiro (Bambang Wahyu Saputro) ”Saya adalah santri yang paling sering dihukum oleh pak kyai. Saat inipun saya sedang melaksanakan hukuman dengan cara menyalin buku ini (semacam buku belajar mengaji untuk kelas iqro’). Untuk menyalin buku ini (buku tersebut berukuran seperti buku tulis biasa dengan tebal 53 halaman) saya diberi waktu 3 hari. Tadi diberi hukuman ini karena saya terlambat masuk ke kelas. Tadi saya terlalu lama mencari jas almamater. Sebenarnya barang-barang saya ada di kamar belakang, tetapi tadi jas saya ada di kamar di dalam masjid. Biasanya ada santri yang pinjam, tapi tidak dikembalikan ke kamar saya atau ke saya. Karena terlalu lama mencari, akhirnya terlambat masuk kelas. Jas almamater tidak saya persiapkan sebelumnya, karena hari ini tidak ada jadwal untuk memakai jas almamater. Namun tadi sore setelah ashar ada pengumuman untuk memakai jas almamater, karena sekaligus untuk seragam ketika acara malam harinya.” Tabel 5.60 Perlakuan Yang Tidak Menyenangkan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Keterangan Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Memaksakan sesuatu Bersikap tidak adil Pengurus Merokok Sering 3 1 0 0 0 0 0 0 7 3 0 1 9 % 20 6,67 0 0 0 0 0 0 46,67 20 0 6,67 60 Jarang 11 10 3 4 3 2 0 5 7 11 10 5 2 % 73,33 66,67 20 26,67 20 13,33 0 33,33 46,67 73,33 66,67 33,33 13,33 Tidak % 1 6,67 4 26,67 12 80 11 73,33 12 80 13 86,67 15 10 1 1 5 9 4 100 66,67 6,67 6,67 33,33 60 26,67

Sumber: Data Primer, Juli 2009

Juli 2009 D.61 Pola Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Keterangan Sering % Jarang % Tidak % No 1 Berdiskusi 15 100 0 0 0 0 2 Menasehati dengan 11 73.170 Pondok Pesantren Sunan Kalijaga juga melakukan pola pengasuhan dengan sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut dan diajak berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri (lihat Tabel 5. PEMBAHASAN Dalam teori tabularasa. 1985: 75). 1983: 9) Dalam menjalankan fungsinya terhadap pembentukan diri anak . tingkah laku dan wataknya ditentukan oleh lingkungannya. fungsi kontrol sosial dan fungsi penempatan sosial bagi anak-anak serta fungsi sosialisasi (Goode. Tabel 5. Dengan demikian seorang bayi yang baru lahir hingga menjadi dewasa sikap.61).67 Sumber: Data Primer.67 kata lembut 3 Menyapa saat bertemu 13 86. Proses pembentukan ini didapat karena belajar dari lingkungan dan tentu saja si anak berinteraksi dengan orang lain.33 3 20 1 6. John Locke mengatakan bahwa seorang bayi yang baru lahir ibaratnya kertas putih yang belum mempunyai cacat sedikitpun baik atau buruknya nanti kertas tersebut tergantung dari orang atau lingkungan yang menjamah kertas tersebut. Proses pembentukan diri anak terjadi dengan dijalankannya fungsifungsi keluarga. yaitu keluarga (Khairuddin. keluarga memiliki beberapa fungsi. antara lain fungsi reproduksi. fungsi pemeliharaan fisik terhadap anggota keluarga. Secara umum.33 0 0 4 Bermusyawarah 2 13.33 12 80 1 6.67 2 13. Dalam hal ini yang terpenting adalah proses awal sebagai dasar pembentukan anak tersebut terutama dalam lingkungan yang terdekat.

cinta. Namun demikian.171 tersebut. 1991: 178). maka perlu untuk dituntut hidup menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. yang kemudian nilainilai dan norma-norma tersebut menjadi miliknya dan menjadi standar perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Nilainilai dan norma-norma itu pada tahap awal diajarkan pada anak melalui sosialisasi dalam keluarga. 1985: 60). Agar manusia dapat berhubungan baik dengan orang lain dalam masyarakat. Anak-anak dalam suatu keluarga akan menyerap nilai-nilai dan mengambil alih kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan dalam keluarga. perhatian dorongan dan bahkan kehadiran orang tuanya. hidup dalam sebuah keluarga yang utuh dan yang menjalankan fungsinya dengan baik. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan orang lain dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. seperti kasih sayang. Fungsi sosialisasi ini menunjuk kepada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. keyakinan. dalam hal ini terutama adalah orang tuanya. sikap. Masih banyak . Peranan keluarga sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama dalam hal membentuk kepribadian anak. maupun secara sosial. suatu keluarga memiliki peran yang sangat penting terhadap anak. Masih banyak anak yang tidak mendapatkan pemeliharaan baik secara fisik. Keluarga. memegang peran penting dalam membentuk kepribadian anak. melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku. nilai-nilai dan hal-hal yang tabu dalam masyarakat (Horton dan Hunt. psikis. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak dan sebagai lingkungan masyarakat yang terkecil serta sebagai tempat sosialisasi yang pertama dan utama. Anak tidak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan secara materiil saja. melainkan juga dukungan moril. tidak semua anak memiliki nasib yang sama. khususnya sejak usia dini. Melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma-norma. cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya (Khairuddin. Nilainilai dan norma-norma merupakan modal penting dalam kehidupan sosial.

Tidak berfungsinya keluarga dapat disebabkan oleh beberapa hal. Guna tetap mendapatkan haknya. . atau dengan kata lain anak mengalami keterlantaran. Selain itu terdapat Pondok Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran (pengasuhan) kepada anak (anak didik/santri) yang didasarkan atas ajaran islam dengan tujuan ibadah untuk mendapatkan Allah SWT. namun demikian dalam pelaksanaannya pemerintah dibantu oleh lembaga-lembaga. kedua. kelima. Hal lainnya yaitu adanya suatu kondisi ekonomi yang sangat buruk menimpa orang tua. 1986: 111). Panti asuhan dan pondok pesantren merupakan sistem pelayanan sosial berbasis lembaga khususnya untuk pengasuhan anak. dan sebagainya. kurang pendidikan dan pengetahuan. atau dikarenakan kondisi khusus yang memisahkan anak dengan keluarganya. Tanggung jawab pemeliharaan terhadap anak terlantar berada di tangan pemerintah. kurang kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. Hal-hal tersebut mengakibatkan tidak mendapatkan pemeliharaan sebagaimana mestinya. misalnya karena adanya bencana alam atau orang tua yang sedang mengalami masa hukuman penjara. membiayai serta membina anak-anak terlantar tersebut. ketiga. antara lain karena tidak berfungsinya salah satu atau kedua orang tua akibat meninggal dunianya salah satu atau kedua orang tua atau perceraian.172 anak yang belum mendapatkan haknya dalam keluarga. Ciri-ciri anak-anak terlantar adalah: Pertama. Salah satunya adalah panti asuhan sebagai sebuah wadah yang menampung. yang kemudian menyebabkan anak tersebut tidak mengalami fungsi keluarga berupa pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan yang menjadi hak anak. lingkungan keluarga kurang membantu perkembangannya. organisasiorganisasi atau pihak-pihak tertentu yang berkompeten menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam pemeliharaan anak terlantar. atau dibiayai oleh pihak-pihak lain di luar keluarga yang memiliki perhatian khusus terhadap anak terlantar. kurang adanya kepastian tentang hari esok dan lainlain (BPAS. maka kemudian anak diasuh dan dipelihara. keempat kurang bermain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Perbedaan kondisi diantara lingkungan keluarga. Permasalahan muncul seiring proses adaptasi anak dengan lingkungan baru.173 Sebagai lembaga pengganti fungsi keluarga. Yatim piatu Korban bencana alam No 1 Status/Pendiri Milik Pemerintah dibawah DKRPP dan KB Yayasan Anak Misi Nusantara Asal anak Solo dan sekitarnya Nias. Fungsi-fungsi keluarga yang bisa diambil alih oleh panti asuhan dan pondok pesantren.62 Karakteristik Panti Asuhan di Kota Surakarta Nama Panti Asuhan Pamardi Yoga Misi Nusantara Tahun berdiri 1947 Alasan tinggal di panti asuhan Kesulitan ekonomi. Mentawai. panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan dapat menggantikan fungsi keluarga. Tabel 5.62 menunjukkan karakteristik panti asuhan di Kota Surakarta. Tabel 5. Perbedaan antara keluarga dan panti asuhan maupun pondok pesantren tersebut kemudian juga memunculkan permasalahan pada diri anak asuh maupun santri. panti asuhan dan pondok pesantren tersebut memunculkan proses adaptasi dari anak yang menjadi anggota panti asuhan dan pondok pesantren. kemudian diambil alih perannya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. 1. kemudian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh panti asuhan dan pondok pesantren. Dengan demikian panti asuhan dan pondok pesantren diharapkan memberikan pelayanan yang menyamai atau setidaknya mendekati peranan keluarga. Karakteristik sosial panti asuhan dan pondok pesantren Sosialisai nilai yang tadinya dijalankan oleh keluarga. Namun demikian walaupun sebagai lembaga pengganti keluarga. panti asuhan dan pondok pesantren tentu saja berbeda dengan keluarga. Flores 2 1971 . Sumbar. Kalteng.

Jawa ilmu agama Tengah Asal anak 2 Darul Dzikri 3 Mujahiddin Tahfid Wata’limil Quran Sumber : Data primer. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta.64 Karakteristik Pondok pesantren di Kota Surakarta No 1 Nama pondok pesantren Al Muayyad Status/ Pendiri Tahun berdiri Alasan tinggal di Ponpes Solo. yatim piatu dan juga karena bencana alam.64 menunjukkan karakteristik pondok pesantren di Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Juli 2009 4 . Juli 2009 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan mempunyai alasan yang berbeda. Pada umumnya anak tinggal di panti asuhan karena kesulitan ekonomi.63 Karakteristik Panti Asuhan di Kabupaten Klaten Tahun berdiri Alasan tinggal di panti asuhan Fakir miskin dan yatim piatu Yatim piatu No 1 Nama Yayasan Darul Hadlonah Status/Pendiri Milik Perseorangan Asal anak Klaten dan sekitarnya Klaten dan sekitarnya Penerimaan Bayi Milik YPBT Terlantar (YPBT) Sumber: Data Primer. Dari tabel 6767 dan tabel 6769 dapat diketahui bahwa panti asuhan ada yang milik pemerintah dan perseorangan (Yayasan).174 Tabel 5. Jawa ilmu agama Tengah dan luar pulau Jawa Solo. Jawa ilmu agama Tengah dan luar Pulau Jawa Solo. Tabel 5. Eks Karisedenan Memperdalam Kota Surakarta. Jawa ilmu agama Tengah Solo. Tabel 5.

Memperdalam Yogyakarta. Juli 2009 Tabel 5. Yogyakarta. Pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren Pola pengasuhan anak merupakan bagian dari proses sosialisasi yang pada umumnya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. ustadz/ustazah. Eks Karisedenan Kota Surakarta.175 Tabel 5. penggajaran (rewarding) dan pembujukan (inciting).1 Pengajaran (instructing) Manusia merupakan makhuk sosial. dan luar Pulau Jawa 2. Pada dasarnya. Klaten. pola pengasuhan mengandung sifat pengajaran (instructing).65 Karakteristik Pondok pesantren di Kabupaten Klaten No 1 Nama pondok pesantren Al Munir Status/Pendiri Yayasan Al Munir Tahun berdiri Alasan tinggal di Pondok Pesantren Klaten. Jawa Timur Asal anak 2 Sunan Kalijaga Yayasan Sunan Kalijaga Sumber : data Primer. 2. maka ia dituntut untuk belajar bermacam-macam yang berlaku dalam lingkungannya. Meskipun demikian. Misalnya.65 menunjukkan bahwa pada umumnya santri tinggal dan belajar di pondok pesantren tersebut karena ingin memperdalam ilmu agama. Jawa Timur. Agar manusia itu bisa hidup dengan tenang dan tentram bersama manusia lain. anak mempunyai pergaulan yang lebih .64 dan tabel 5. Akan tetapi di panti asuhan anak diasuh oleh pengasuh (ibu/asuh)dan pondok di pondok pesantren santri dididik dan diasuh oleh kyai. Adapun asal santri cukup beragam yaitu dari Solo. proses sosialisasi tetap berlangsung. Jawa Tengah . Memperdalam Jawa ilmu agama Tengah. artinya makhuk yang hidup dalam lingkungan manusia lain. ilmu agama Jawa Tengah dan Jawa Timur Klaten. pada usia sekolah.

176

luas dan sudah tidak dianggap sebagai anak balita lagi. Oleh karena itu, pada usia sekolah, anak mulai diajarkan tentang berbagai hal dan diharapkan sudah dapat membantu pekerjaan rumah. Cara pengajaran yang dilakukan antara satu pengasuh dengan lainnya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pengajaran dengan menggunakan contoh banyak dilakukan oleh pengasuh (ibu/bapak asuh) di panti asuhan maupun kyai, ustadz/ustazah di ponpes. Sejak anak-anak, seperti yang tinggal di panti asuhan perlu dilatih untuk bekerja mulai dari yang ringan-ringan dulu sesuai dengan umur dan kemampuannya. Setelah agak besar diajari yang lebih berat, seperti mencuci piring, mencuci pakaiannya sendiri dan memasak. Dalam hal-hal yang kecil, pengasuh tinggal menyuruh si anak untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Seperti disuruh untuk membeli sesuatu di warung terdekat atau disuruh untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Menyuruh anak untuk melakukan sesuatu pekerjaan adalah melatih agar anak patuh kepada orang tua tidak seenaknya saja. Selain dengan menggunakan contoh, dalam memberikan pengajaran dapat pula dilakukan dengan cara memberikan arahan, yaitu pengasuh di panti asuhan dan kiai ustadz/ustazah di ponpes memberikan keterangan seperlunya yang bermaksud mengarahkan agar anak mengetahui maksud dari pengasuh atau kiai, ustadz/ustazah. Pengajaran dengan memberikan arahan kebanyakan ditujukan kepada anak yang sudah agak besar. Pada usia sekolah anak sudah dapat berfikir lebih maju, sehingga apabila diberikan contoh sekali dua kali sudah dapat menirukan. Setelah dari tahap memberikan contoh, dilanjutkan dengan memberikan arahan saja. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hal-hal yang diajarkan pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai, ustadz/ustazah kepada santri/santriwati di ponpes juga menyangkut

177

kehidupan sehari-hari, antara lain masalah (a) sopan santun (b) kedisiplinan, (c) pekerjaan rumah sehari-hari, (d) penanaman nilainilai keagamaan. a. Sopan santun Sopan santun yang diajarkan oleh pengasuh di panti asuhan dan kyai ustadz/ustazah di ponpes kepada anak/santri diharapkan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak. Sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan ponpes, mengacu pada norma yang ada di masyarakat itu sendiri, yaitu kebiasaankebiasaan yang dianggap baik dan dilakukan oleh banyak orang. Sehingga sejak kecil anak diajarkan sopan santun agar dapat membawa dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya ketika seorang bertingkah laku yang dianggap tidak sopan, orang akan mengatakan dengan sebutan “ora/ga elok” yang artinya adalah “tidak baik, tidak sepatutnya”. Pengasuh di panti asuhan dan kyai, ustadz/ustazah di ponpes akan berusaha menanamkan sopan santun sesuai dengan yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun yang diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren antara lain: sopan santun dalam hal makan, juga mengajarkan sopan santun ketika sedang ada tamu dan ketika bertamu. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam sopan santun adalah mengenai bahasa yang digunakan. Misalnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau cara pemilihan bahasa ketika mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Sebab bahasa merupakan alat komunikasi dengan orang lain. Tingkah laku yang menunjukkan kesopanan juga diajarkan kepada anak agar anak tersebut mengerti mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap tabu atau tidak sopan dalam pergaulan sehari-hari. Jika anak bersikap sopan terhadap orang lain, orang akan menganggap bahwa anak tersebut mempunyai budi yang

178

luhur dan masyarakat akan lebih mudah untuk menerima kehadirannya. Dari apa yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil gambaran umumnya bahwa, setiap panti asuhan dan pondok pesantren pada dasarnya mengharapkan agar anak bisa bersikap sopan dan santun terhadap orang lain, lebih-lebih bagi yang sudah tua. Kesopanan merupakan sarana agar anak dapat menghargai dirinya sendiri dan juga menghargai orang lain, yang akan dibawanya dalam lingkungan interaksinya yang lebih luas, sehingga orang tua (dalam hal ini pengasuh) diharapkan dapat menanamkan nilai kesopanan kepada anak sejak masih kecil. Sosialisasi bisa dilihat sebagai proses pewarisan pengetahuan kebudayaan berisi nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan untuk berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok. Pengetahuan kebudayaan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan yang menyebabkan tidak tertutup kemungkinan adanya pergeseran, perubahan nilai, norma dan aturan itu sehingga membentuk aturan atau norma baru. Proses pewarisan akan terus berjalan sepanjang hidup manusia. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah mendapatkan kewenangan untuk mengasuh dan mendidik anak/santri dengan caranya. Tujuan dari sosialisasi ini adalah agar anak dan santri mandiri, dan bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Pengasuh dan kyai,

ustadz/ustazah memberikan pewarisan pengetahuan kebudayaan yang dianggapnya baik dan yang berlaku dimasyarakat pada umumnya. Pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah telah berusaha untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan kepada anak maupun santri, yang mana anak maupun santri tersebut diharapkan bisa mengamalkan apa yang telah diajarkan, memegang teguh prinsip-

179

prinsip kesopanan yang akan dibawanya berinteraksi dengan lingkungannya yang lebih luas dan untuk jangka waktu yang panjang b. Kedisiplinan Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Karena tanggung jawab sudah beralih kepada pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah, maka pengasuh wajib mendidik anak asuh dan santri tersebut dengan sebaik-baiknya. Disiplin merupakan salah satu alat untuk mendidik anak-anak. Melalui alat ini panti asuhan dan pondok pesantren mengharapkan agar anak dan santrinya membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sesuai dengan yang diajarkan dan sebaliknya menghindari kebiasaan yang bertentangan dengan lingkungannya. Disiplin merupakan suatu cara atau alat dalam pendidikan yang melatih anak untuk bertingkah laku menurut pola atau aturan yang ada termasuk juga untuk memperbaiki tingkah laku yang kurang baik agar terbentuk tingkah laku yang sesuai dengan norma. Adapun tujuannya supaya seseorang dapat mengerti dan mematuhi serta dapat mengendalikan dirinya dengan baik (Sunarti, dkk, 1989: 90). Dalam menanamkan disiplin dalam panti asuhan maupun pondok pesantren, harus dimulai dari pengasuh itu sendiri. Sebab secara tidak langsung anak dan santri akan mengamati dan sedikit banyak akan mencontoh pengasuh dan kyai, ustadz/ustazah. Kedisiplinan mengandung adanya aturan yang harus ditaati oleh anggota panti asuhan maupun pondok pesantren. Adapun aturan yang diterapkan antara satu panti asuhan maupun pondok pesantren dengan panti asuhan maupun pondok pesantren yang lainnya sering kali berbeda-beda. Dari hasil hasil penelitian disiplin tentang belajar diatas, dapat diketahui bahwa setiap pengasuh maupun kyai,

disiplin tidur. d. mencuci baju dan lain-lain. pondok pesantren/Madrasah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan untuk anak laki-laki biasanya lebih longgar dalam hal pekerjaan rumah. ustadz/ustazah. Penanaman nilai keagamaan kepada anak sejak kecil merupakan landasan untuk masa yang akan datang. disiplin yang diterapkan adalah disiplin waktu makan. disiplin beribadah dan disiplin membantu pengasuh dan atau kyai. dan berusaha untuk memberikan sesuai dengan batas kemampuan pengasuh dan kyai. dilihat dari umur dan kemampuan anak. secara formal seperti di sekolah. anak atau santri diperbolehkan untuk mencari bantuan kepada yang lebih mampu dan bisa. sejak kecil diajarkan untuk bagaimana menjaga kebersihan rumah. . Selain disiplin sepulang sekolah dan belajar. beragama. mencuci piring. Anak tidak terlalu dituntut untuk membantu kebersihan rumah. bertingkah laku sesuai dengan norma. Sedikit-sedikit diajarkan dari yang paling mudah dan tidak beresiko sampai kepada keberhasilan tentang diri dan lingkungannya. ustadz/ustazah c. Ketika pengasuh maupun kyai. menyiangi rumput. Penanaman nilai-nilai keagamaan Setiap orang tua (dalam hal ini adalah pengasuh) mengiginkan agar anaknya menjadi anak yang patuh kepada orang tua. disiplin bangun tidur. Pekerjaan sehari-hari Sejak kecil anak asuh di panti asuhan diajarkan untuk bisa membantu pengasuh dalam pekerjaan sehari-hari. ustadz/ustazah merasa tidak mampu membantu. Bagi anak perempuan.180 ustadz/ustazah mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan pola belajar anak dan santrinya. seperti menyapu. Penanaman agama dapat dilakukan di panti asuhan.

181 Matriks 1 di bawah ini menunjukkan pola pengajaran di panti asuhan dan pondok pesantren yang diteliti. .

182 Matriks 1 Pola Pengajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan • • • • Metode Sopan santun Contoh Arahan Mengingatkan Menyuruh • Dalam hal tingkah laku dan bahasa yang digunakan Disiplin • Merapikan alat sekolah • Membantu pengasuh • Belajar kelompok • Merapikan alat sekolah • Tidur siang • Beribadah • Belajar kelompok & di pondok • Membantu mengajar Hal yang diajarkan Pekerjaan sehari-hari • Menyapu. mencuci piring dan bajunya sendiri Nilai agama • Mengijinkan TPA • mengigatkan beribadah 2 • Sorogan • Dalam hal tingkah laku • Bandongan dan bahasa • Ceramah (Bahsul yang Kutub) digunakan • Contoh • Arahan • Mengingatkan • Menyuruh Sumber :Data primer. Juli 2009 Pondok Pesantren • Membersihkan pondok pesantren • Mencuci bajunya sendiri • Mengajar surat pendek • Mengajar TPA • Mengajak pengajian .

1999 : 294 ) Dengan wewenang dimaksudkan sebagai suatu hak yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk menetapkan kebijaksanaan. terutama oleh kebanyakan . Para kiai dengan kelebihan pengetahuannya dalam Islam. ( Soekanto. 1994 : 56 ). (Dhofier. sehingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau. Para santri selalu mengharap dan berfikir bahwa kiai yang dianutnya merupakan orang yang percaya penuh kepada dirinya sendiri (Selfconfident). Tidak seoarang pun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kiai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kiai lain yang lebih besar pengaruhnya. Kebanyakan kiai di Jawa beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai suatu kerajaan kecil dimana kiai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan wewenang (Power and Authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam. Biasanya pertumbuhan pesantren tergantung kepada kemampuan pribadi kiainya. baik dalam soal-soal pengetahuan Islam. maupun dalam bidang kekuasaan dan manajemen pesantren. Wewenang merupakan sesuatu kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting dan untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan.183 Kekuasaan dan wewenang kyai di pondok pesantren Di dalam sebuah lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren pihak pengurus. waktunya dan cara menggunakan kekuasaan itu. karena memerlukan pengakuan dari masyarakat maka di dalam suatu masyarakat yang sudah kompleks susunannya dan sudah mengenal pembagian kerja yang rinci. Kiai adalah orang yang mempunyai peranan esensial dan mempunyai jenjang tertinggi pada sebuah pesantren. staf mempunyai wewenang tertentu. wewenang biasanya terbatas pada hal-hal yang diliputinya.

selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya masyarakat sekitar pondok pesantren. 1994 : 56 ) Masyarakat biasanya mengharapkan seseorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Perbedaan kurun waktu berdirinya sebuah pondok pesantren akan tampak jelas.184 orang awam. Kiai mempunyai peran yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di pondok pesantren. Tapi hal ini tidaklah bisa diartikan . ketika kita cermati tanda-tanda. kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya. (Dhofier. la juga diharapkan untuk rendah hati. begitu pula arah perkembangnnya. ia akan semakin dikagumi. misalnya ada sebuah pondok pesantren salaf dan pondok pesantren kholaf . Ia juga diharapkan dapat menunjukan kepemimpinannya. Boleh jadi lembaga pondok pesantren mempunyai dasar-dasar idiologi keagamaan yang sama dengan pondok pesantren yang lain. Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekuasaan mereka dalam bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol keilmuan yaitu kopiah dan sorban. kekayaan dan pendidikannya. 1999: 137-139). banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan waktu. kematian dan lain-lain. (Dhofier. Sistem pendidikan yang ditempuh selama ini memang menunjuk sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. tanpa melihat tinggi rendah kelas sosialnya. menghormati semua orang. karena banyak orang yang datang memintanya nasehat dan bimbingan dalam banyak hal. Semakin tinggi kitab-kitab yang diajarkan. 1994 : 60) Sistem pendidikan pesantren akan selalu berkembang secara terus. tipe pendidikan di pesantren. memberikan khutbah Jum'at dan menerima undangan perkawinan. (Sukamto. menerus serta memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. namun kedudukan masing-masing pondok pesantren sangat bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas keilmuan yang dimiliki oleh kiai.

kiai sering kali memberikan kesempatan bertanya pada para santri. karena secara institusional dan melalui pranata yang khas. Membekali para santri dengan ilmu agama dan agar tidak merasa cukup dengan ilmu itu adalah merupakan aktivitas yang dilakukan oleh kiai kepada para santri dalam kesehariannya. Aktifitas kiai dalam memberikan pengarahan dan pengembangan pendidikan di pesantren merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama yang merupakan sumber kehidupan. karena hal ini sangat mempengaruhi kepemimpinan kiai. ia merupakan lembaga yang mendukung dan menyokong pencapaian tujuan pendidikan nasional itu. yang diajarkan dan dijelaskan oleh kiai dan para ustadznya masing-masing untuk menopang nilai-nilai agama. cara mengajar kepada para santrinya dan . Sistem pengajaran yang di sampaikan dan dilakukan oleh kiai kepada para santrinya yaitu metode bandongan. hal ini terbukti sudah banyak pondok pesantren yang sudah mendirikan sekolah formal. apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. supaya setiap marhalah mendapatkan pelajaran-pelajaran tauhid. Meskipun pesantren memiliki pola teknik penyelenggaraan yang berbeda. Hal tersebut nyata difasilitasi oleh marhalah-marhalah yang dikembangkan oleh kiai.185 sebagai sikap isolatif. sorogan dan ceramah yang demokratis serta diskusi. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif terhadap pendidikan nasional. Fenomena seperti ini tidak terlepas dari pengalaman dan keilmuan yang dimiliki serta latar belakang pendidikan kiai tersebut. Tidak mungkin suatu sistem pendidikan pondok pesantren itu bisa berjalan secara kontinyu dan lestari tanpa melalui proses peranan kiai dalam perkembangannya. nahwu sharaf. Kiai di Pondok Pesantren merangkup upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan pola dasar pendidikan yang tidak terlepas dari peranan kiai tersebut. tahfidz Al-Quran dan lain-lain. fiqih.

Pondok santri Pesantren terus dan menerus sekolah berdatangan. Dan ternyata menampakkan pembangunan dilaksanakan. selain juga santri diharapkan untuk tidak berbuat dan mencegah tindakan yang dilarang agama sehingga santri menjadi pribadi yang baik. Selain itu kiai melakukan pengarahan melalui forum pengajian. melalui forum ini selain santri belajar untuk memahami ilmu agama dalam hal ini terutama kitab-kitab klasik juga diajarkan bagaimana cara hasilnya. sehingga santri taat dan patuh dalam menjalankan niali-nilai agama yang merupakan sumber kehidupannya. Di pondok pesantren kiai selalu menanamkan rasa untuk memiliki Pondok Pesantren serta mempunyai semangat ruhul zihad (semangat jihad) yang sangat kuat terutama dalam masalah pendidikan. Disamping itu hubungan santri dengan Kiai menimbulkan sifat keterbukaan diantaranya.186 hubungannya dengan para santri yang penuh kasih sayang dan cukup dekat. terus menerus mengamalkannya dan bagaimana memahami kenyataan hidup seharihari. Aktivitas kiai sebagai seorang pemimpin di Pondok Pesantren. Peranan kiai yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan partisipasi santri didalam kegiatan pondok pesantren. sehingga hal ini dijadikan sarana kiai untuk mengetahui keadaan santri baik mengenai masalah pribadinya maupun masalah dalam kegiatan proses belajar mengajar dan kegiatan pesantren yang lainnya yang dijadikan sebagai sarana oleh kiai untuk memotivasi dan membangkitkan partisipasi aktif santri dalam kegiatan yang dilakukan pesantren. Hal ini merupakan perwujudan dan . dalam memberikan pengarahan dijalankan secara langsung yang berupa perintah dan larangan agar santri bertindak sesuai dengan kaidah agama. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam rangka membangun kesadaran santri akan nilai-nilai agama.

sehingga santri taat dan patuh menjalani peraturanperaturan yang ditetapkan oleh pesantren. dan sebagai pembantu kiai dalam mendidik para santri. Kiai mempunyai peranan yang menentukan dalam perkembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren. Aktivitas kiai dalam memberikan pengarahan merupakan sarana dalam membangun kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya sebagai santri. Untuk memberikan materi pelajaran pada para santri. Pada dasarnya setiap Pondok Pesantren mengalami perubahan dan perkembangan. ia mulai memperkenalkan kepada masyarakat di luar pesantren dalam bentuk macam-macam.. Yang membedakan adalah waktunya. minimal meladeni para orang tua santri dan tamu berkunjung ke pesantren. Dalam menunaikan fungsinya yang pertama. karena jumlah santri yang cukup banyak maka kiai dibantu oleh para ustadz dan para pengurus pesantren. selain dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya . dan merupakan salah satu syarat tercapainya tujuan bersama. Kedudukan ustadz/staf pengajar memiliki dua fungsi pokok: sebagai latihan penumbuhan kemampuannya untuk menjadi kiai dikemudian hari. Aktivitas ini dilaksanakan langsung oleh kiai baik yang berupa perintah maupun larangan yang sudah jelas tercantum di dalam tata tertib pesantren. Tugas dan Kewajiban Santri Kiai mempunyai peranan untuk meningkatkan partisipasi aktif santri selain dalam hal pendidikan dan dalam masalah human relationnya juga dilakukan dalam upaya meningkatkan kesadaran santri akan tugas dan kewajibannya terhadap pondok pesantren.187 pemenuhan hak-hak anak khususnya hak santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan di pondok pesantren secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Dalam fungsi ini ia belajar melakukan peranan sebagai asimilator antar tata nilai yang telah ada.

ini terbukti dimana pesantren sudah mampu menyerap idiom-idiom baru dalam hal pendidikan. disamping adanya sistem bandongan dan sorogan juga sudah diterapkannya model diskusi. berwawasan luas dan berguna bagi masyarakat. Dalam kepemimpinan kiai di Pondok Pesantren harus terbuka terhadap inovasi-inovasi positif. keterampilan berkomunikasi secara efektif. terbuka terhadap inovasi . demontrasi mengajar dan adanya evaluasi belajar serta adanya pembagian marhalah/tingkat dalam pengajian Kemudian berkaitan dengari ciri yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu ciri kepribadian pemimpin yang baik. hal ini dapat dilihat dimana kiai sangat menghargai potensi setiap individu santri dengan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaan pesantren baik fisik maupun non fisik. mau mendengarkan nasihat dan masukan dari pengikut. didukung oleh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang dimiliki kiai serta ciri kepribadian yang melekat pada kiai. Proses kepemimpinan kiai yang berkaitan dengan sistem pendidikan pesantren. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan individu kiai dalam mengelola pesantren dimana kiai mempunyai kemampuan.188 masyarakat sekitar pondok pesantren. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah yang didasari oleh adanya pengakuan kiai terhadap kemampuan yang dimiliki santri. pola pikir dan pola perilaku yang demokratis. mandiri. gaya yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan demokratis. sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sementara bahwa objektivitas dalam melihat situasi. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga terdapat adanya ruang koordinasi diantara pengurus dan pengelola pesantren. aktif. Pondok pesantren pada saat ini tidak hanya sebagai tempat untuk mencetak calon kiai. dan masalah yang berkembang. ulama akan tetapi Pondok Pesantren menekankan pada kualitas santri agar menjadi manusia yang beriman dan berilmu tinggi. menjadi pendengar yang baik.

kurang pantas. Sehingga kiai di beberapa pondok pesantren yang diteliti sudah memakai gaya demokratis dalam kepemimpinannya. menyenangkan. dan lain-lain) atau dapat berupa pujian yang menyenangkan. Tingkah laku anak yang salah. pengertian dan perhatian kepada pengikut. Hukuman dapat berupa hukuman badan (pukulan. berprestasi akan mendapatkan penghargaan. . dikurangi hak-haknya. tidak diterima oleh masyarakat akan mendapatkan hukuman. jeweran. Pengganjaran mengandung dua pengertian yaitu penghargaan dan hukuman. meskipun tidak semua orang mengganjar orang lain dan juga diganjar atas tindakannya.2 Pengganjaran (rewarding) Pemberian ganjaran merupakan imbalan yang diberikan kepada orang atas tindakannya.189 positif. namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman kiai 2. Dan sebaliknya. akan tetapi karena didukung oleh faktor keturunan dan pola pikir kiai yang rasional. alat sekolah. ini dilakukan dengan selalu melibatkan mereka dalam musyawarah. tidak baik. dan melibatkan mereka dalam kepengurusan pesantren serta pengelolaannya. tercela. cubitan) atau dapat berupa hukuman sosial (dikucilkan. Selain itu didukung oleh pengetahuan dan pengalaman yang banyak sehingga kepatuhan santri tidak hanya karena kharisma yang dimilikinya. Penghargaan tersebut bisa berupa barang (baju baru. Kemudian adanya pembagian kewenangan dan tugas sehingga keputusan tidak terpusat secara sentral dari kiai seorang. dimarahi). kemampuan analitik. ketegasan dalam dan disegani oleh pengikut/santrinya. menghargai setiap potensi individu sehingga tercipta suasana dan interaksi yang dinamis antara santri dengan kiai. idealnya jika anak berbuat baik. mau mendengar masukan dari pengikut.

Pengasuh maupun kyai. Dalam memberikan ganjaran. Dari hasil penelitian pada umumnya pengasuh dan kyai. ustadz/ustadzah yang sering memberikan hadiah dan pujian maupun pengasuh maupun kyai. ustadz/ustadzah akan memberikan hukuman jika anak dan santri melakukan kesalahan meskipun itu bukan anaknya sendiri. Dengan hukuman tersebut diharapkan anak dan santri tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan anak dan santri mengerti bagaimana yang seharusnya. yang sering dilakukan adalah dalam bentuk hukuman. Karena adanya alasan-alasan tertentu dari pengasuh maupun kyai. Sedangkan penghargaan yang berupa hadiah dan pujian jarang dilakukan. ustadz/ustadzah di pondok pesantren melakukan pengganjaran terhadap anak dan santri atas tindakannya. Pemberian hukuman lebih banyak kepada kemarahan.190 Berdasarkan hasil penelitian tidak semua pengasuh di panti asuhan maupun kyai. bahwa tidak banyak panti asuhan dan ponpes yang memberikan hadiah berupa barang ataupun hanya sekedar pujian. Dengan dimarahi dirasa anak sudah cukup mengerti. Hal ini berarti bahwa sosialisasi yang digunakan lebih bersifat negatif atau represif. pada dasarnya mempunyai tujuan yang baik untuk anak asuh dan santrinya. ustadz/ustadzah yang tidak atau jarang memberikan hadiah dan pujian. Pemberian hadiah atau pujian cenderung diberikan pada saat anak atau santri mendapatkan nilai bagus. . Begitupun dengan penghargaan. bukan pada hukuman fisik. ustadz/ustadzah. yang berbeda adalah kadar pemberian hukumannya ada yang biasa dan ada yang keras. Padahal hasil penelitian Grogan-Kaylor (2005) menunjukkan bahwa pemberian hukuman fisik bukan merupakan metode pendisiplinan anak yang baik karena mendorong anak untuk terlibat dalam perilaku antisosial lebih awal.

Jenis-jenis tindak kekerasan yang sering dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai. Baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis. ustadz/ustazah di pondok pesantren kepada santri/santriwati sering terjadi tindak kekerasan. ustadz/ustazah di pondok pesantren . Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa pola pengajaran yang dilakukan oleh pengasuh di panti asuhan kepada anak asuh dan kyai.191 Matrik 2 Pola Penggajaran di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren No 1 Jenis Lembaga Panti asuhan Pengajaran Hukuman • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Diminta menghafal ayat Al Kitab Memarahi Membentak Menjewer Memukul dengan tangan Memukul dengan alat Menendang Menyuruh berdiri di bawah matahari Mencukur gundul Menyuruh push up. scot jump Menyiram air untuk membangunkan Bersikap tidak adil Pengurus merokok Menghafal Al Quran Membersihkan kamar mandi Menulis sholawat atau istigfar Keterangan Penghargaan • Pujian • Hadiah • Pamardi Yoga • Misi Nusantara • Darul Hadlonah • YPBT 2 Pondok pesantren • Pujian • Hadiah • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga Sumber : Data Primer.

& Lancaster. Pembujukan Pembujukan adalah salah satu cara agar anak mau melakukan perintah maupun aturan tanpa harus merasa terpaksa. mencukur gundul. maka emosinya makin tidak stabil. menyuruh push up. Gielen. Sementara penelitian yang lain (Mathurin. memukul dengan alat. bersikap tidak adil seperti pengurus merokok sedang santri tidak diperbolehkan merokok. 2. tetapi perlakuan tersebut pasti akan terus membekas dalam diri si anak atau santri sehingga dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. membentak. agar anak mau menurut. menyuruh berdiri di bawah matahari. dan secara psikologis sulit untuk menyesuaikan diri.3. Meskipun sebagian besar anak dan santri menerima dengan ikhas perlakukan tersebut. Penelitian tentang pemberian hukuman fisik (corporal punishment) menemukan bahwa hukuman yang diterima pada masa anak-anak berpengaruh dalam jangka panjang (Turner & Muller. 2004) yakni munculnya simtom depresi pada masa dewasa muda. 2006) menemukan bahwa semakin banyak dan bervariasi hukuman fisik yang dialami remaja. Kejadian yang tidak menyenangkan bagi anak seperti tindak kekerasan diatas dapat membuat anak tidak nyaman untuk tinggal di panti asuhan atau pondok pesantren serta dapat menggangu kondisi kejiwaan anak. Terkadang anak sulit untuk mematuhi perintah orang tua. menjewer. Dampak tersebut lebih nampak pada remaja laki-laki daripada remaja perempuan. dan diminta menghafal Al Kitab kalau salah diberi hukuman. membersihkan kamar mandi. menyiram air untuk membangunkan. Pembujukan bersifat merayu. menendang.192 kepada santri/santriwati antara lain memarahi. mempengaruhi. . maka diperlukan cara untuk membujuk agar anak mau menurut dengan kehendak pengasuh. memukul dengan tangan. scot jump. perilakunya makin agresif/bermusuhan.

ustadz/ustadzah menempuh cara membujuk agar anak mau menurut dengan apa yang dianggap baik oleh pengasuh dan kyai. dibujuk agar mau sekolah. Matriks 3 Pola Pembujukan di panti asuhan dan pondok pesantren kepada anak/santri No 1 Jenis Lembaga Panti Asuhan Metode Pembujukan Keterangan • Pamardi Yoga • Misi Nusantara Darul Hadlonah YPBT • Al Muayyat • Darud dzikri • Mujahiddin • Tahfid Wata’limil Qur’an • Al Munir • Sunan Kalijaga • Nasehat dengan lembut • Berdiskusi • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah 2 Pondok • Nasehat dengan lembut Pesantren • Berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan santri • Menyapa saat bertemu • bermusyawarah Sumber : Data Primer. anak di panti asuhan dibujuk agar tetap kerasan tinggal dengan pengasuh untuk sementara waktu. Matriks berikut ini menunjukkan pola pembujukan di panti asuhan dan di pondok pesantren kepada anak/santri. dibujuk agar anak mau makan pagi sebelum berangkat sekolah. berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah atau pelanggaran yang dilakukan anak/santri. Juli 2009 Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa metode pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuhnya maupun yang dilakukan oleh kyai. ustadz/ustadzah kepada santrinya yaitu: nasehat dengan lembut. ustadz/ustadzah. menyapa saat bertemu dan bermusyawarah. Tujuan dari sistem pembujukan ini . Misalnya. ustadz/ustadzah kepada santrinya dapat dijelaskan bahwa pengasuh dan kyai.193 Dari hasil penelitian dapat diketahui pembujukan yang dilakukan oleh pengasuh kepada anak asuh dan kyai.

Dengan adanya kesadaran tersebut. sedangkan melibatkan anak dalam memecahkan masalah berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam menemukan solusi. terutama yang termasuk kategori anak rentan atau kurang beruntung (anak terlantar). Pelayanan sosial berbasis lembaga tidak selamanya buruk dan bahkan dalam situasi tertentu tetap diperlukan sebagai salah satu model pelayanan sosial bagi anak. Dampak Pengasuhan anak berbasis lembaga Selama puluhan tahun. bersekolah. sistem pelayanan sosial berbasis lembaga seperti Panti Asuhan dan pondok pesantren dipandang sebagai solusi yang paling diandalkan. di kemudian hari anak dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki kompetensi sosial yang memadai untuk dapat menghadapi masalah dalam kehidupannya secara mandiri. perlakuan yang lembut dapat membuat anak merasa dirinya dihargai. meski bukan yang terbaik dalam melindungi dan memenuhi kesejahteraan anak. yang selanjutnya akan mendorong anak untuk merasakan dirinya berharga. sebaiknya yang menjadi tujuan dari perlakuan pengasuh bukan menjadikan anak sebagai anak yang penurut. sehingga pengasuh tidak perlu selalu harus membujuk anak.194 adalah untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti asuhan atau di pondok pesantren. tetapi yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa apa yang dilakukannya (misal makan pagi. . Karena hal ini dijamin oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. 3. Bila ditinjau dari aspek psikologis. tinggal di panti) adalah untuk kepentingan dirinya demi meraih masa depan yang labih baik. Dengan perlakuan tersebut. Namun perlu diperhatikan pula. diharapkan anak dorongan untuk melakukan aktivitas lebih bersifat internal atau muncul dari dalam diri anak sendiri.

yakni model kelembagaan (institutional atau residential care) dan model kemasyarakatan (community care). Secara garis besar. pengasuhan anak memerlukan pelayanan sosial khusus biasanya dilakukan melalui dua model yang dibedakan. dan Settles (2008) menyatakan bahwa dampak negatif yang dapat timbul pada anak yang dibesarkan di lembaga antara lain kompetensi sosial yang kurang yang mewujud dalam kurangnya motivasi anak untuk unggul. maka ia kurang memiliki motivasi untuk mendorong perkembangan anak. Jumlah pengasuh yang hanya beberapa orang dituntut oleh kondisi untuk melakukan pengasuhan terhadap jumlah anak yang terlampau banyak. Smyke. berempati. Dapat pula terjadi anak mengalami gangguan dalam regulasi emosi dan relasi sosial yang kurang sebagai akibat dari pembatasan untuk bergaul dengan orang-orang dari luar lingkungan lembaga. anak kurang mendapatkan perhatian dan stimulasi yang memadai terkait dengan pemenuhan kebutuhan pribadinya yang unik dan cenderung diperlakukan sama oleh pengasuh. Kita tahu bahwa lembaga pelayanan . Akibatnya. Lebih lanjut diungkapkan oleh Zeanah. Smyke. melakukan imitasi.195 Penelitian ini memberi pesan jelas bahwa bentuk-bentuk pengasuhan anak di dalam lembaga seperti panti asuhan dan pondok pesantren sering menimbulkan beberapa dampak negatif terhadap perkembangan anak dan hak-hak anak. pengasuh lebih berorientasi pada mencari uang. Sebagai salah satu respons terhadap keadaan ini. bahwa dampak negatif tersebut dapat timbul akibat kurangnya pemahaman pengasuh terhadap karakteristik anak maupun hak-hak anak yang perlu dipenuhi agar perkembangan anak optimal. rasio jumlah pengasuh dan anak yang diasuh belum seimbang. Selain itu. dan menjalin relasi prososial dengan teman sebaya. kita menyaksikan adanya peningkatan perhatian terhadap pendekatanpendekatan alternatif berbasis masyarakat dalam memberikan perlindungan dan pengasuhan terhadap anak. dan Settles (2008). Apalagi bila dalam bekerja. Zeanah.

Penelitian mengenai pengasuhan anak berbasis lembaga secara konsisten menunjukkan bahwa model tersebut mengandung beberapa dampak negatif (Tolfree. serta proses pembelajaran dan penerapan disiplin yang menyimpang dan terlalu keras. Usia merupakan variabel yang penting. Akibat-akibat jangka panjang dari keadaan ini terhadap perkembangan anak dapat menjadi serius. Pada beberapa kasus. Bukti-bukti penelitian menyaksikan bahwa dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga terutama sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak usia di bawah 5 atau 6 tahun. Pelayanan lembaga seringkali lebih mahal dalam memenuhi kebutuhan anak daripada memenuhi kebutuhan anak-anak yang hidup . kondisi fisik lembaga ditemukan cukup bagus dan bahkan standar pendidikan yang diberikan sangat baik. sejumlah kelemahan senantiasa menyertai model ini antara lain berupa pelanggaran serius hak-hak anak. perawatan kesehatan dan pemberian nutrisi yang buruk. 2003). tampaknya tidak terlalu ditentukan oleh perbedaan gender. kelemahan model pengasuhan anak berbasis lembaga juga berkaitan dengan pembiayaan dan keberlanjutan pelayanan. Misalnya ”rumah anak” yang berupa kelompok kecil menyerupai keluarga yang berada di suatu komunitas lokal. Selain isu-isu di atas. Dampak buruk tersebut tergantung pada karakteristik kepribadian dan ciri-ciri individu.196 anak seperti residential care yang dilakukan di dalam masyarakat. Namun. melainkan pula dari komunitas asal mereka dan dari masyarakat setempat dimana lembaga itu berada. kekerasan seksual (sexual abuse). dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga samasama membawa dampak negatif. Namun pada umumnya sebuah pelayanan lembaga/panti menampung sejumlah besar anak-anak yang berada pada sebuah setting ”tiruan” yang secara jelas memisahkan mereka bukan saja dari keluarga inti (nuclear family) dan keluarga besarnya (extented family). Artinya. baik terhadap anak laki-laki maupun perempuan. eksploitasi. Namun.

Pusat-pusat pengasuhan anak berbasis lembaga. Namun demikian. karena sistem pelayanannya jelas. model pelayanan sosial berbasis lembaga tidak sanggup merespons perkembangan masalah dan kebutuhan akan pelayanan di masa depan yang cenderung semakin meningkat secara cepat.197 dalam keluarganya atau dalam sebuah pengasuhan berbasis keluarga dalam masyarakat (family-based care in the community). seringkali menjadi magnet yang menarik sumberdaya dalam jumlah besar. Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga dapat dilihat dalam tabel 5.66: . terukur dan menarik banyak lembaga donor.

. Hak untuk memelihara kontak dengan orang tua secara reguler. mengekspresikan pendapat Hak memperoleh kesenangan. Prinsip kepentingan terbaik anak (the child’s best interests) 3. bermain dan rekreasi sesuai dengan usia anak Anak harus disiapkan untuk dapat hidup mandiri di masyarakat 4. khususnya pada masa perkembangan awal anak Ketiadaan stimulasi menghambat perkembangan intelektual. 5. Akibatnya.66 Dampak negatif pengasuhan anak berbasis lembaga No 1. dan reunifikasi keluarga Hak untuk tumbuh dalam suasana bahagia. kontak dengan orang tua dan anggota keluarga besar lainnya terus memburuk Kurangnya perhatian. rasa memiliki masyarakat. pengetahuand an ketrampilan beradaptasi dengan orang dewasa 2. perawatan dan afeksi secara individual karena lembaga cenderung memperlakukan anak secara seragam Banyak lembaga tidak memberikan stimulasi dan kegiatan yang berguna bagi anak Anak yang tumbuh di lembaga cenderung kehilangan kesempatan untuk mempelajari peranan orang dewasa dalam kebudayaan tertentu Relevansi dengan prinsip dan hak-hak anak Prinsip non diskriminasi Dampak terhadap perkembangan anak Stigma dan diskriminasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan identitas dan kepercayaan diri anak Penempatan dalam lembaga sering dipersepsi anak sebagai bentuk penolakan keluarga. cinta dan pemahaman. anak merasa dibuang dan kehilangan kepercayaan diri Kehilangan identitas personal dan keluarga. anak kehilangan jaringan dukungan di masa depan Kehilangan kesempatan untuk berelasi dan terikat dengan figur orang tua.198 Tabel 5. menjaga identitas dirinya. ketrampilan motorik dan sosial anak Kemampuan anak terhambat akibat kurangnya pengalaman. Karakteristik yang berhubungan dengan sistem kelembagaan Lembaga cenderung memisahkan anak yang mengakibatkan munculnya diskriminasi dengan stigma Penempatan anak pada sebuah lembaga seringkali berdasarkan keinginan keluarga. 6. bukan berdasarkan keinginan anak Meskipun anak masih memiliki kedua orang tua.

9. penelantaran dan eksploitasi Hak memperoleh perawatan rehabilitasi. Lemahnya ketrampilan hidup dan kemandirian anak 8. Lembaga seringkali kurang memberi kesempatan pada anak untuk bergaul dengan anak-anak lain di luar lembaga Beragam kekerasan terhadap anak sering terjadi selama bertahun-tahun tanpa terungkap oleh dunia luar Lembaga cenderung gagal merespon secara adekuat kebutuhan psikologis anak Anak-anak yang hidup di lembaga sering kali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di luar lembaga. Banyak yang berakhir di penjara dan lembaga perawatan mental Hak untuk memperoleh kebebasan berteman dan berkumpul dengan anak lain Hak memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan. Sumber: Olah Data. 2009 . 10. kehilangan dan ketakutan Ketergantungan akibat kurangnya kesempatan untuk berfikir dan mampu memecahkan masalahnya sendiri. termasuk akibat konflik bersenjata Hak memperoleh bimbingan yang memungkinkan anak dapat melaksanakan tanggungjawabnya di masyarakat Menghambat keragaman relasi dengan temans ebaya dan kehilangan “normal” keluarga Kekerasan terhadap anak sangat merusak kehidupan dan perkembangan anak dalam jangka panjang Anak mengalami perasaan terpisah.199 7.

Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. seperti : a. termasuk pendidikan. b. Selain itu. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. Sebagai contoh.200 Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. perlu penyiapan keluarga dan masyarakat sebelum menerima kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam pembunuhan dan perusakan. Terdapat beberapa situasi dimana pengasuhan anak perlu dilakukan di dalam lembaga. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. hak-hak anak dan perkembangan anak. penyesuaian psikologis dan dukungan personal bagi anak-anak sebagai persiapan menghadapi kehidupan di masyarakat. Dalam konteks ini. anak-anak yang terlantar mereka umumnya memerlukan perawatan lembaga sebelum berintegrasi kembali dengan kehidupan normal di masyarakat. d. Program-program yang bersifat kelompok diperlukan. . c. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. Karenanya. pelayanan sosial di dalam lembaga dipandang tepat sebagai sarana penyesuaian diri sementara bagi anak-anak.

201 Namun demikian. Selain relatif lebih mahal dan kapasitas daya tampungnya terbatas. pada dasarnya anakanak tidak mau dipisahkan dari kehidupan keluarganya. Karena. baik pada staf maupun anak-anak untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan masyarakat. penerapan pengasuhan anak berbasis lembaga perlu dilakukan secara terencana dan cermat. pengasuhan lembaga juga seringkali menimbulkan ketergantungan dan kesulitan. .

Peraturan tersebut mencerminkan bahwa dalam diri setiap anak sudah melekat harkat dan martabat sebagai seorang manusia yang harus dijunjung tinggi. 4. Seperti misalnya pemberian hukuman push up. pola pengasuhan di panti asuhan dan pondok pesantren tidak selalu sama bahkan tidak memberikan kenyamanan bagi anak karena sangat rentan dengan terjadinya kekerasan. 2. dan dipelihara. Namun. melainkan hanya menyediakan akses .202 BAB VI PENUTUP A. 3. scot jump. Fakta di lapangan. Untuk itu. KESIMPULAN 1. Meskipun sebagian besar anak menerima dengan ikhlas perlakuan tersebut tetapi perlakuan tersebut akan terus membekas dalam diri si anak yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Keluarga sebagai lembaga pengasuhan terbaik bagi anak tidak selamanya selalu memberikan kehidupan yang nyaman bagi anak. tidak selamanya anak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dalam lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh dan kembang anak. Mayoritas anak-anak ditempatkan di panti asuhan dan ponpes oleh keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi dengan tujuan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan. lari mengelilingi ponpes. anak membutuhkan lembaga pengasuhan alternatif salah satunya melalui panti asuhan dan pondok pesantren. Berdasarkan hasil penelitian. mayoritas panti asuhan dan ponpes tidak memberikan 'pengasuhan' sama sekali. Hak anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau Convention on the Rights of Child (CRC) yang disetujui oleh Majelis Umum PBB tanggal 20 November 1989 dan telah terbitnya Undangundang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. dijaga. maupun membersihkan kamar mandi dalam jangka waktu tertentu.

melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sehingga panti asuhan membuat peraturan yang cukup ketat dan hukuman fisik dan pelecehan banyak ditemukan. mengingatkan dan menyuruh juga merupakan metode pengajaran.203 pendidikan. Meskipun demikian. Hal ini mengindikasikan rendahnya standard minimum pengasuhan sehingga sangat sulit untuk menghasilkan pengasuhan yang professional dan berkualitas. Pemberian contoh secara langsung lebih mudah diterima dan ditiru oleh anak. hal ini tertera dalam pendekatan pengasuhan. Karena hidup di Jawa. Adapun sifat-sifatnya adalah : 1. yaitu melalui tingkah laku dan bahasa yang digunakan. 5. dan sumberdaya yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes. Secara eksplisit. Hal-hal yang diajarkan selama masa pengasuhan tersebut antara lain : a. pelayanan yang diberikan. Selain itu. Kedisiplinan Kedisiplinan menyangkut adanya aturan yang mengikat panti asuhan dan pondok pesantren. tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren mempunyai aturan yang ketat dalam . Sedangkan arahan lebih cocok diterapkan bagi anak yang sudah agak besar. Sopan santun menyangkut pada norma yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. Sopan santun dapat ditunjukkan dengan dua cara. b. Pengajaran (Instructing) Pengajaran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memberikan contoh dan juga dengan memberikan arahan. maka bahasa yang dianggap baik adalah bahasa Jawa krama halus. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas pada dasarnya dalam pola pengasuhan anak dan proses pendidikan terdapat proses belajar yang terus menerus. Penelitian ini menemukan bahwa 'pengasuhan' dimengerti dalam konteks merespon masalah dan cenderung berhubungan dengan isu-isu disiplin. Sopan santun .

Pembujukan (inciting) Pembujukan ini dilakukan agar anak atau santri mau menurut dengan pengasuh maupun kyai. Dalam hal penghargaan ini. ustadz/ustadzah serta menaati peraturan. Pengasuh menghindari hukuman yang berupa kekerasan fisik. Sedangkan hukuman lebih ditekankan agar tidak atau jarang dilakukan oleh pengasuh dan kyai. d. Pengganjaran (rewarding) Pengganjaran meliputi dua hal. yaitu: . yaitu . REKOMENDASI Penelitian ini menyusun sejumlah rekomendasi untuk menanggapi kebutuhan mencegah penempatan anak di panti asuhan dan pondok pesantren yang tidak perlu sehingga kualitas pelayanan dan pengasuhan yang diberikan oleh panti asuhan dan ponpes menjadi lebih baik. Penanaman nilai-nilai keagama Bahwa setiap anak diharapkan dapat belajar ilmu agama agar beriman dan bertakwa. 3. Sedangkan hukuman yang sering diberikan adalah dalam bentuk anak dimarahi. Pekerjaan sehari-hari Anak diajarkan untuk bisa mandiri diajarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan umur dan kemampuannya. Penghargaan berupa pemberian hadiah berupa materi menunggu ketika ada uang lebih. disiplin membantu pengasuh c. ustadz/ustadzah mempunyai alasan sendiri-sendiri untuk tidak memberikan penghargaan kepada anak dan santri. ustadz/ustadzah. 2.204 mendidik anak maupun santrinya. disiplin tidur. tata tertib tugas dan kewajiban anak asuh maupun santri di panti asuhan atau pondok pesantren B. Selain itu. berbuat baik dan saling berbagi diterapkan di panti asuhan dan pondok pesantren. penghargaan dan hukuman. Kedisiplinan yang diterapkan antara lain disiplin sepulang sekolah. masing-masing pengasuh dan kyai. disiplin belajar.

2. .205 1. Agar anak-anak tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi. b. 3. keterlibatan aktif anak-anak yang akan diasuh dalam proses perencanaan sangat menentukan keberhasilan program. Bukti yang ada menunjukkan bahwa persiapan para pengasuh anak berkenaan dengan tugas-tugas pengasuhan sangat menentukan keberhasilan program. hak-hak anak dan perkembangan anak. Proses ini memerlukan pelatihan mengenai kesulitan dan resiko-resiko pengasuhan anak serta tugas-tugas sebagai pengasuh dalam kaitannya dengan hak-hak anak. hal penting yang perlu disadari adalah memahami kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan menimpa anak dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Program didukung oleh instansi yang memiliki pengetahuan mengenai norma-norma kemasyarakatan. Anak-anak memiliki aspirasi yang jelas mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang diinginkannya. Menyatukan persepsi yang sama antara Departemen Sosial dan pimpinan Panti Asuhan serta Departemen Agama dan Pondok Pesantren anak untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dengan membuat pola pengasuhan yang dapat memberikan kenyamanan bagi tumbuh kembang anak. Adanya peraturan yang jelas tentang standar pendirian panti asuhan dan ponpes mengingat tidak semua panti asuhan dan pondok pesantren terdaftar sehingga akses untuk memberikan pengawasan tidak maksimal dilakukan. c. Berbagai pilihan yang sesuai untuk beragam anak harus tersedia secara terbuka. seperti : a. Program dilakukan di dalam komunitas lokal berdasarkan kepemilikan dan tanggungjawab masyarakat setempat dalam aspek perawatan dan perlindungannya. Karenanya. d. Pembuatan sistem pengumpulan data yang dapat menunjukkan situasi dan kondisi anak-anak yang tinggal di panti asuhan dan pondok pesantren 4.

Tujuannya agar santri benar-benar terbuka cakrawala pikirannya. misalnya kerjasama dengan lembaga pendidikan komputer. Untuk Pondok Pesantren a. Diadakan studi banding ke pondok pesantren lain agar wawasan para santri dan ustadz bertambah. Membuka jaringan kerjasama dengan lembaga pendidikan di luar negeri yang bisa memberikan beasiswa kepada santri yang berprestasi untuk belajar disana. misalnya ke Universitas Al Azhar di Kairo. Diadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan keterampilan. Untuk itu hendaknya diadakan suatu training tentang manajemen organisasi agar pondok pesantren mempunyai SDM yang handal dan profesional. sehingga setelah kembali ke pondok pesantren pengalaman dan pengetahuannya tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan kualitas pendidikan pondok pesantren. c. dengan para santri untuk . hendaknya pondok pesantren menjalin hubungan dengan departemen yang terkait (Departemen Agama) agar kurikulum bisa sejajar dengan lembaga pendidikan agama lain. Untuk Kiai Searah dengan arus modernisasi dan globalisasi sekarang ini hendaknya kiai lebih meningkatkan dan mengefektifkan pengawasan terhadap para santri. Dalam menghadapi modernisasi dan diperlukan tenaga ahli dan SDM untuk mengelola suatu organisasi dengan baik (skill management).206 5. Tujuannya adalah bisa tercipta kominikasi timbal balik antara kiai mengungkapkan berbagai masalah. 6. misalnya dengan diadakannya dialog (open talk) yang terjadwal antara kiai dengan santri. sehingga santri bisa belajar komputer di pesantren. d. Tujuannya agar santri mempunyai keahlian di bidang komputer dan supaya tidak gagap teknologi (gaptek). Dalam memberikan materi dan sistem pendidikan pesantren/kurikulum pondok pesantren. b.

207 7. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan para santri dalam menerima dan mengamalkan pelajaran yang telah diberikan serta melaksanakan aturan-aturan. ide-ide dari para santri terhadap sistem yang ada di pondok pesantren maupun yang ada di luar pesantren secara umum. Untuk Ustadz/pengurus Disamping memberikan materi pelajaran pada santri secara bersamasama (klasikal) dan menjalankan tugas kepengurusan hendaknya ustadz juga mengadakan pendekatan secara personal dengan para santri. berilmu tinggi. b. Hendaknya santri dengan bekal ilmu agama yang dimiliki mempunyai kemampuan dan kepekaan didalam memfilter pengaruh tersebut agar tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. saran atau kritikan. disiplin. Hendaknya santri lebih memperhatikan dan menjalankan tata tertib di pesantren agar tujuan santri ke pondok pesantren bisa tercapai dalam rangka mendukung pembentukan sikap mental santri yang tangguh. yang telah ditetapkan oleh pesantren. . Bisa menjaga diri dari pergaulan bebas. Untuk Santri a. penyampaian gagasan. berwawasan luas dan berakhlak mulia. narkoba atau tindakan menyimpang lainnya. Dengan demikian ustadz/pengurus akan lebih memahami gejolak-gejolak emosi. minuman keras. 8. keinginan-keinginan juga pandangan santri terhadap orang lain dan terhadap perkembangan jaman pada saat ini. Selain itu dengan adanya pendekatan personal pada santri maka ustadz dan pengurus pesantren akan mengetahui latar belakang dari masing-masing santri.

Dhofier. Erlangga. Jakarta. Sosiologi Suatu Pengantar. & Lancaster. 1988. N. Mastuhu. Prinsip Pendidikan Pesantren. Jakarta. J. Psikologi Suatu Pengantar. Hurlock. dan Hunt. . Jakarta. Soekanto. 1986. PT Pustaka Cidesindo. P3M. 2000. Buku Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Melalui Panti Asuhan Anak. No. Gielen. Pedoman Panti Asuhan. Grogan-Kaylor. Corporal punishment and the growth trajectory of children’s antisocial behavior. 2005. 1991. 1984. Prisma. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Darwan. A. 1990. 5 Tahun XXIV Mei 1995. Balai Pustaka. CrossCultural Research. 283-292. 1982. Croix. Jakarta. Jakarta. Jakarta. 1979. Poerwadarminta. M. Jakarta. 1990. 1999. Mahmud Dimyati. Bandung. 2006. Jakarta. P. 40. Soerjono. Pergeseran Otoritas Kepemimpinan Politik kyai. U. Jakarta.. Horton. Muhammad Asfar. Elizabeth. Hukum Anak Indonesia. Mathurin. Child Maltreatment. Badan Kesejahteraan Sosial Nasional.208 DAFTAR PUSTAKA BKPA. Pedoman Depsos RI. Virgin Islands. 306-324. Perkembangan Anak. Paul B. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Zamakhsyari. 1996. 2003. Citra Aditya Bakti. Yogyakarta.S. Sosiologi. Ginandjar. U. PT Raja Grafindo Persada. 10. BPFE. Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak Melalui PSAA. Corporal punishment and personality traits in the children of St. Chester L. LP3ES. Kartasasmita. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup. Penertbit Erlangga.. Prinst.

Jakarta. Long-term effects of child corporal punishment on depressive symptoms in young adults: potential moderators and mediators. Pemilu dan Partai Politik. Sutopo. Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren. Metodologi Penelitian Kualitatif. & Settles. 1989. Hermawan. . P3M. LP3ES. Ahmad dan Sulistyo. Orphanages as a developmental context for early chilhood. 1999. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta.A & Muller. P. D.209 Suedy. Persamaan Negara. Vembriarto. Jakarta. UU No. T. Journal of Family Issues. UU RI No. 2004. H. L. 1986. Malden: Blackwell Publishing. Blackwell Handbook of Early Childhood Development. dkk. 1993. Departemen P dan K. 25. K. & Phillips. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. dkk. Sukamto. Sunarti. C.. (Eds). Zeanah. Jakarta. Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Supanto. Smyke. In McCartney. 2008. Toleransi. Sosiologi Pendidikan. H. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. H. Surakarta.B. 2000. Kyai dan Demokrasi Suatu Potret Pandangan Tentang Pluralisme. D. Suroto. 1990. Jakarta. Departemen P dan K. Gajah Mada Univ Press. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja.. A.A. 2002. UNS Press. Yogyakarta. Turner. 761-782. Grasindo. Jakarta.