GURU PROFESIONAL DAN BEBAN KERJANYA

Oleh: Drs. SURIADI Kepala SMP Negeri 1 Tanjung Morawa E-mail: suriadi_trimosurodinoyo@yahoo.co.id Dipresentasikan pada Workshop Peningkatan Profesionalisme Guru Kerjasama SMP Negeri 1 Biru-Biru Dengan Anggota Sub Rayon 31 Tanggal 29 Nopember 2008, di SMP Negeri Biru-Biru

A. Pendahuluan
 Abad 21 yang bercirikan globalisasi yang serba kompetitif dengan perubahan yang terus menggesa merupakan abad profesional.  Sangat mustahil, jika ada organisasi yang bisa bertahan tanpa profesionalisme.  Bahkan, bukan hanya sekedar profesionalisme biasa tetapi profesionalisme kelas tinggi (world-class professionalism) yang memampukan kita sejajar dan bermitra dengan orang-orang dan organisasiorganisasi terbaik dari seluruh dunia (Jansen, 2007:http://www.duniaguru.com).

 Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang merupakan produk pendidikan merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu negara (Depdiknas, 2008.a:1).  Menurut Supriano (2007:3) banyak bukti empirik yang menunjukkan bahwa suatu negara yang lebih memprioritaskan pendidikan dari pada pranata lainnya, ternyata mampu menghasilkan SDM yang lebih unggul, produktif dan inovatif dalam percaturan kehidupan global.

 Bahkan Rusmana (2000:36). Djuwita (2004:12) dan Rochaeni (2004:42) lebih menegaskan bahwa untuk mendapatkan SDM berkualitas harus ditempuh melalui pendidikan yang berkualitas. negara yang mengecilkan pranata pendidikan lebih cepat mengalami keterpurukan disebabkan SDMnya tidak mampu bersaing dalam percaturan kehidupan global. Sebaliknya.  Hal ini didukung Gultom yang mengutip United Nations (2004:2) bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalam meningkatkan kualitas SDM. .

.  Menurut laporan ASPBAE (Asian South Pacific Beurau of Adult Education) and GCE (Global Campaign for Education) yang dikutip Firdaus (2005:7) penelitian terhadap kualitas Pendidikan Dasar di 14 negara Asia Pasifik.go. Kenyataan menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan (Depdiknas.id).  Hal ini didukung Umaedi (2002:2) yang mengatakan bahwa kualitas pendidikan nasional terus mengalami penurunan. Indonesia hanya menempati peringkat 10 di bawah Kamboja dan India.depdiknas. 2003:http://www.

manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan. Masalah pokok dalam pendidikan nasional. yaitu menurunnya akhlak dan moral peserta didik. masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan. . 6. 5. 2. status kelembagaan.Tilaar yang dikutip Anwar (2003:13)  1. pemerataan kesempatan belajar. 4. 3. dan SDM yang belum profesional.

duniaguru.Menurut Poedjinoegroho (2008: http://www. 75.  Yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah 912. . terdiri dari 605. dan 63.6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar.684 guru SMA.961 guru SMK.643 guru SMP. 167.com)  hampir separuh dari lebih kurang 2.217 guru SD.  Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah.505.

Menurut Fattah yang dikutip Poedjinoegroho (2008: http://www.com)  pada uji kompetensi Matematika. dari 40 pertanyaan rata-rata hanya dua pertanyaan yang diisi dengan benar dan pada Bahasa Inggris hanya satu yang diisi dengan benar oleh guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris.duniaguru. .

bencana untuk dunia pendidikan. mengenaskan.Kompas (9 Desember 2005)  Tercatat 15% guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya.  Apakah guru seperti itu merupakan guru profesional? .  Berapa banyak peserta didik yang mengenyam pendidikan dari guru-guru tersebut?  Berapa banyak yang dirugikan?  Memprihatinkan.

 Laporan ASPBAE and GCE yang dikutip Firdaus (2005:7) menunjukkan bahwa kualitas guru Indonesia menempati peringkat terakhir atau paling rendah di antara 14 negara di Asia Pasifik. Fenomena tersebut menegaskan bahwa masalah SDM pendidikan yang belum profesional merupakan salah satu akar permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. .  Hal ini didukung Lubis (2008:4) yang mengatakan bahwa salah satu indikator rendahnya kualitas pendidikan adalah human capital (mental/SDM dan skill manusianya).

duniaguru. . Dharma (2008:http://www. Tampubolon (2008:14) mengatakan bahwa salah satu sebab mendasar dan utama dari rendahnya kualitas pendidikan nasional adalah sistem pemberdayaan guru yang tidak berkualitas. justru pelakupelakunya itulah yang perlu diperhatikan. Sedangkan.com) mengatakan mantan Mendikbud Fuad Hassan ketika dimintai pendapatnya tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata “Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan apa-apa.  Sementara itu.

com)  pernah mencanangkan bahwa pekerjaan guru adalah sebagai profesi seperti halnya dokter. .  Seperti halnya dokter.Mendiknas Bambang Sudibyo yang dikutip Suhendro (2008:http: //www.duniaguru.  Tidak semua orang dapat bertindak sebagai dokter karena menyangkut keselamatan seseorang. wartawan dan profesi lainnya. begitupun dengan profesi guru: tidak semua orang dapat bertindak sebagai guru karena menyangkut masa depan bangsa dan negara. maka guru pun dituntut memiliki kompetensi dan kemampuan akademik yang memadai dalam melaksanakan profesinya.

duniaguru. kebanyakan guru mengajar tanpa program yang jelas dengan alasan mereka merasa hafal di luar kepala terhadap materi yang akan disampaikan. 2. kebanyakan guru merasa cukup dengan keilmuan yang telah mereka dapat di bangku kuliah. .Suhendro (2008:http://www.com)  Kelemahan guru adalah 1. dan 3. masih banyak guru yang bersikap tidak profesional seperti tidak dimilikinya jiwa kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pelajaran.

 Sebuah Data yang disajikan Portal www. .duniaguru. Idealisme profesi guru dan komitmen membangun pendidikan berkualitas merupakan kunci jawaban dari persoalan pendidikan yang dihadapi selama ini. com pada Desember 2007 lalu telah melakukan jajak pendapat dengan pertanyaan ”Jika Anda seorang guru dan 'diberi' kesempatan untuk ganti profesi. maukah Anda?”.

8%).9%). lebih dari 80% guru ingin setia pada profesinya.  Tentu saja ini kabar baik. bingung (1%).4%). karena sulit kita membayangkan kalau para guru mogok atau ogah-ogahan menjalani profesinya. . tetap sebagai guru dan mencari tambahan penghasilan (27.  Ini berarti. Artinya lagi. ganti profesi (15. Jawaban para guru adalah tetap memilih profesi guru (55. tingkat kepuasan menjalani profesi keguruan cukup tinggi.

 Kata “profesional” merujuk kepada dua hal. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan (2) kinerja atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya (Danim.B.  Guru adalah padanan dari pendidik. yang menurut pasal 39 ayat 2 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. . yakni (1) orang yang menyandang suatu profesi. menilai hasil pembelajaran. 2002:22-23). Guru Profesional  Istilah “guru profesional” berasal dari kata “guru” dan “profesional. serta melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat.

guru profesional dalam kajian ini adalah orang yang menyandang profesi guru yang memiliki kinerja atau performance dalam melaksanakan tugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. menilai hasil pembelajaran. Dengan demikian. melakukan pembimbingan dan pelatihan. serta melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sesuai dengan profesi guru. .

Amerika Serikat.Menurut mantan Mendikbud Fuad Hasan yang dikutip Dharma (2008: http://www. Finlandia. . dan di manapun di dunia ini kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya. bukan oleh besarnya dana pendidikan dan juga bukan oleh hebatnya fasilitas.  Jika guru berkualitas baik. maka baik pula kualitas pendidikannya.com)  di Indonesia.duniaguru. Jepang.

. jika tidak ditunjang oleh guru-guru profesional dan inovatif. Danumihardja (2001:39) tidak mungkin pendidikan dapat meningkatkan kualitasnya.  Brand yang dikutip Gultom (2007:2) yang mengemukakan hasil studi dari pakar pendidikan menyimpulkan bahwa guru merupakan faktor kunci yang paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan dinilai dari prestasi belajar siswa.

 Gibson yang dikutip Danim (2002:145) hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah dalam meningkatkan kualitas lulusannya sangat dipengaruhi oleh kapasitas kepala sekolahnya. . di samping adanya guruguru yang kompeten di sekolah itu. dan waktu belajar 18% terhadap hasil belajar siswa. sarana 26%. manajemen 22%.  Nursito (2002:5) hasil penelitian yang dilakukan Bardley di 16 negara. menunjukkan bahwa faktor guru memberikan kontribusi sebesar 34%.

dan 2. yaitu 1. mengelola siswa. . 2002:30). mengelola proses pembelajaran. Untuk melihat tingkat kemampuan profesional guru dilakukan melalui dua presfektif. penguasaan guru terhadap materi bahan ajar. tingkat pendidikan minimal dari latar belakang pendidikan untuk jenjang sekolah tempat guru tersebut menjadi guru. melaksanakan tugastugas bimbingan (Danim.

dan memiliki wewenang penuh dalam perencanaan. . tenaga profesional merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 atau yang setara.Semiawan yang dikutip Danim (2002:31)  hierarki profesi tenaga kependidikan. yaitu 1. penilaian. dan pengendalian pendidikan/pengajaran. pelaksanaan.

2. tenaga semi profesional merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi tenaga kependidikan D3 atau yang setara yang telah berwenang mengajar secara mandiri, tetapi masih harus melakukan konsultasi dengan tenaga kependidikan yang lebih tinggi jenjang profesionalnya, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengendalian pendidikan/pengajaran, dan 3. tenaga paraprofesional merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi tenaga kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengendalian pendidikan/pengajaran.

 Seorang guru disebut sebagai guru profesional karena kemampuannya dalam mewujudkan kinerja profesi guru secara utuh yang dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan pendidikan.  Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian, baik dalam materi, maupun metode.

 Menurut Surya (2005:1) keahlian yang dimiliki guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus untuk itu.  Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang.  Dengan keahliannya itu, guru mampu menunjukkan otonominya, baik secara pribadi, maupun sebagai pemangku profesinya.

Menurut Surya (2005:1) guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi. Guru profesional dituntut untuk mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai guru kepada peserta didik. 2. 4. orangtua.  1. masyarakat. . intelektual. negara dan agamanya. dan moral dan spiritual. bangsa. sosial. 3.

6. idealisme. . komitmen. 5. 7. dan prestasi kerja. 4. 1. 8. kompetensi. 3. panggilan jiwa. minat. kualifikasi akademik. 2. Idealnya guru profesional harus memiliki bakat. 9. tanggung jawab.

memperoleh penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian yang dimiliki tersebut. memiliki kemampuan untuk memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus). 2. .Menurut Djojonegoro yang dikutip Gultom (2007:5)  profesionalisme dalam suatu pekerjaan/jabatan ditentukan oleh tiga faktor penting. memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesialisasi. dan 3. yakni 1.

memberikan perlindungan dan kesejahteraan. . 2. memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dalam memaksimalkan kompetensinya.Menurut Surya (2005:2)  profesionalisme guru mempunyai makna penting. dan 3. merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan. karena profesionalisme 1.

meningkatkan dan memelihara citra profesi. yakni keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal.Surya (2005:2-3)  1. . 4. 5. 2. mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi. dan memiliki kebanggaan terhadap profesinya. kualitas profesionalme ditunjukkan oleh lima unjuk kerja. keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembanangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya. 3.

kemampuan untuk berfikir analitis. sistematis dan bersikap aktif.Suhendro (2008:http://www. .duniaguru. 4. Selain kualifikasi pendidikan. 3.com)  1. kreatif serta inovatif dalam mengembangkan program pendidikan. menarik dan menyenangkan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. adanya kemauan dan keseriusan guru untuk mengembangkan potensi kependidikan atau kompetensi dasar sesuai dengan tuntutan IPTEK. profesionalisme guru dapat dilihat dari tingginya rasa tanggungjawab dan komitmen guru dalam membangun pendidikan bermutu. 2. dan kemampuan membangun konsep belajar bermakna.

memecahkan masalah. dan kreativitas siswa. mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Karakteristik guru profesional adalah 1. melakukan belajar berkesinambungan dan pengembangan profesi. 2. . mempunyai sikap yang positif dan moral yang tinggi. dan 3.

5. memajukan profesi serta karir guru. . 2. 6. meningkatkan mutu pendidikan nasional.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. mengangkat martabat guru. dan 9. mengurangi kesenjangan ketersediaan guru antar daerah dari segi jumlah. mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antar daerah. kualifikasi akademik. menurut Gultom (2007:6) dalam pelaksanaannya memiliki sembilan misi sebagai berikut 1. 3. meningkatkan mutu pembelajaran. mutu. 7. 4. dan kompetensi. meningkatkan kompetensi guru. menjamin hak dan kewajiban guru. 8. meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.

2. kepribadian. profesional. pedagogik. 3. dan 4. sosial. . Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 juga menyebutkan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi 1.

. meliputi 1. memahami peserta didik. melaksanakan pembelajaran. 3. mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. 2. 4.Kompetensi pedagogik. dan 5. termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran. merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. merancang pembelajaran.

kepribadian yang mantap dan stabil. kepribadian yang arif. . kepribadian yang dewasa. 4. 5.Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepemilikan terhadap 1. dan akhlak mulia untukdan dapat menjadi teladan. kepribadian yang berwibawa. 3. 2.

menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi mata pelajaran. .Kompetensi profesional. dan 2. meliputi 1. menguasai substansi keilmuan yang terkait mata pelajaran.

sesama pendidik dan tenaga kependidikan. . 2.Kompetensi sosial. dan 3. berkenaan dengan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif yang meliputi kemampuan berkomunikasi secara dan bergaul secara efektif dengan 1. orangtua/wali peserta didik dan masyarakat. peserta didik.

4. Mentalitas Profesional 1. mentalitas melayani. mentalitas pembelajar. mentalitas altruistik. mentalitas pengabdian.C. mentalitas mutu. 3. 7. . 6. 5. 2. dan mentalitas etis. mentalitas kreatif.

kebergunaan. Mentalitas Mutu  Seorang profesional menampilkan kinerja terbaik yang mungkin. keindahan. kebaikan. keadilan.  Dengan sengaja dia tidak akan menampilkan the second best (kurang dari terbaik) karena tahu tindakan itu sesungguhnya adalah bunuh diri profesi. untuk memuaskan dahaga manusia akan ideal mutu: kekuatan.  Seorang profesional mengusahakan dirinya selalu berada di ujung terbaik (cutting edge) bidang keahliannya.1. menembus batas-batas ketidakmungkinan praktis. .  Dia melakukannya karena hakikat profesi itu memang ingin mencapai suatu kesempurnaan nyata.

 Profesi seperti guru. .  Istilah baik di sini berarti berguna bagi masyarakat. yaitu mutu. Mentalitas Altruistik  Seorang profesional selalu dimotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik.2. atau advokat memang jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. dokter.  Baik dalam mentalitas kedua ini berarti goodness yang dipersembahkan bagi kemaslahatan masyarakat.  Aspek ini melengkapi pengertian baik dalam mentalitas pertama.

 Seorang profesional bahkan dengan tegas mematok nilai moneter atas jasa profesionalnya.  Sebaliknya.  Kaum profesional lahir karena kebutuhan masyarakat pelanggan. .3. atau pemakai jasa profesionalnya telah terpuaskan lebih dahulu via interaksi kerja. kepuasannya muncul karena konstituen. Mentalitas Melayani  Kaum profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja tanpa peduli pada sekitarnya. pelanggan.

terlebih dahulu menerima pendidikan dan pelatihan yang mendalam.  Bila lulus barulah dia mendapatkan sertifikasi profesional dari asosiasi profesinya. Mentalitas Pembelajar  Di bidang olahraga.  Bahkan untuk profesi-profesi yang sudah mapan.  Dan di sepanjang karirnya ia terus-menerus mengenyam latihan-latihan tiada henti. . dia harus menempuh serangkaian ujian. seorang pekerja profesional adalah dia yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan khusus di bidang profesinya. sebelum terjun penuh waktu.4.  Begitu juga di bidang lain. seorang pemain profesional. sebelum seseorang diberi hak menyandang status profesional.

Mentalitas Pengabdian  Seorang pekerja profesional memilih dengan sadar satu bidang kerja yang akan ditekuninya sebagai profesi.  Demikianlah.  Mula-mula. .  Seorang profesional. pilihan itu dipengaruhi oleh bakat dan kemampuannya yang digunakannya sebagai kalkulasi peluang suksesnya di sana.5. semakin ia menekuni profesinya semakin timbul rasa cinta. bahkan ada semacam rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut.  Dan bila hatinya sudah mantap betul maka ia memutuskan untuk hanya menekuni bidang itu sampai tuntas dan menyatu padu dalam sebuah ikatan cinta yang kekal. seorang profesional mengabdi sepenuh cinta pada profesi yang dipilihnya.  Tetapi kemudian berkembang sebuah hubungan cinta antara sang pekerja dengan pekerjaannya.  Pilihannya ini biasanya terkait erat dengan ketertarikannya pada bidang itu.

atau Muhammad Ali di tinju. Pele di sepakbola. asal menguasai teknik-teknik dasar maka memadailah untuk ikut pertandingan-pertandingan.6. tidak pernah sampai ke jenjang seni. . Ia beranjak dari seorang jago menjadi seorang maestro seperti Rudy Hartono di bulutangkis. tetapi juga seni. Mentalitas Kreatif  Seorang olahragawan profesional menguasai sepenuhnya seni bermain.  Sedangkan pemain amatir.  Baginya permainan tidak melulu soal teknis.

dan kekayaan ini akan memicu kegairahan baru bagi sang profesional yang pada gilirannya memampukannya menjadi pekerja kreatif.  Mata hatinya terbuka lebar melihat kekayaan dan keindahan profesi yang ditekuninya. Seorang profesional.  Seterusnya. keindahan.  Dia akan menemukan unsur seni dalam pekerjaannya. perspektif.  Dia akan menghayati estetika dalam profesinya. . sesudah menguasai kompetensi teknis di bidangnya. berdaya cipta. berkembang terus ke tahap seni. dan inovatif.

7. profesi kedokteran menggeluti moralitas kehidupan. baik manis maupun pahit. .  Profesi apa pun pasti terlibat menggeluti wacana moral yang relevan dengan profesi itu. Mentalitas Etis  Seorang pekerja profesional.  Misalnya profesi hukum menggeluti moralitas di seputar keadilan. profesi bisnis menggeluti moralitas keuntungan. sesudah memilih untuk "menikah" dengan profesinya. menerima semua konsekuensi pilihannya. begitu seterusnya dengan profesi lain.

dia juga akan menerimanya dengan wajar. Maka seorang profesional sejati tidak akan menghianati etika dan moralitas profesinya demi uang atau kekuasaan atau yang lainnya. tetapi mereka menerimanya sebagai bentuk penghargaan masyarakat yang diabdinya dengan tulus.  Penghianatan profesi disebut juga sebagai pelacuran profesionalisme yakni ketidaksetiaan pada moralitas dasar kaum profesional.  Kaum profesional bukanlah pertapa yang tidak membutuhkan uang atau kekuasaan. . jika profesinya dihargai dan dipuji orang.  Di pihak lain.

2002:23). . Strategi dalam Mewujudkan Guru Profesional  Profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualitas atau kemampuan para penyandang profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan profesinya itu (Danim.D.  Dalam kajian ini profesionalisasi guru adalah proses peningkatan kualitas guru untuk mencapai kriteria standar ideal (kompetensi guru) dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan profesi guru.

memunculkan suatu pekerjaan yang penuh waktu atau full-time bukan pekerjaan sambilan. 3. melakukan agitasi secara politis untuk memperjuangkan adanya perlindungan hukum terhadap assosiasi profesinya. mengadopsi secara formal kode etik yang ditetapkan. menetapkan sekolah sebagai tempat menjalani proses pendidikan atau pelatihan. 2. 4. dan 5. mendirikan assosiasi profesi. .Wilensky yang dikutip Danim (2002:28-29) mengemukakan lima langkah profesionalisasi suatu pekerjaan 1.

. 4. melancarkan agitasi untuk memperoleh dukungan masyarakat. dan 5. secara bersama mengembangkan fasilitas latihan. mengubah dan menetapkan pekerjaan itu menjadi suatu kebutuhan. menetapkan dan mengembangkan kode etik. 2. 3.Caplow yang dikutip Danim (2002:29) lima tahap profesionalisasi suatu pekerjaan 1. menetapkan perkumpulan profesi.

studi banding.  Aksentasi peningkatan status dapat dilakukan melalui penelitian. mengikuti pelatihan. observasi praktikal. sedangkan aksentasi peningkatan kemampuan praktis dapat dilakukan melalui kegiatan belajar mandiri. . dan (2) peningkatan kemampuan praktis (Danim. Profesionalisasi terhadap guru dalam jabatan mengandung makna dua dimensi utama. dan lain lain menjadi bagian integral upaya profesionalisasi itu. 2002:24). diskusi antarrekan se profesi. yakni (1) peningkatan status. penelitian dan pengembangan membaca karya akademik kekinian dan sebagainya.

dan 3. pengetahuan spesialisasi yang terus dikembangkan sehingga menimbulkan kompetensi atau skill yang inovatif. kemampuan mengkomunikasikan ilmu kepada siswa dan lingkungan sosial. . 2. Untuk pembentukan keprofesionalan guru diperkuat beberapa hal yang harus dimilikinya dan terus disikapi oleh pemerintah. kemampuan intelektual yang perlu digali dan dipertajam dengan input sains dan teknologi yang terkini. yakni 1.

mengikuti informasi up to date surat kabar.  Guru harus terus membaca buku-buku pengetahuan terkini. . tetapi lebih jauh diharapkan mampu merencanakan dan mewujudkan strategistrategi baru yang cerdas dan dinamis. Ketiga hal tersebut mengajak guru tidak hanya merasa puas dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui bangku akademiknya saja.  Menurut Widiani bahwa guru-guru di Jepang yang secara terus-menerus meningkatkan profesionalismenya dengan mengikuti diklat dan mendiskusikan kembali serta mengevaluasi diri. mampu mengoperasikan komputer dan internet dan senantiasa mengikuti pendidikan latihan (diklat) serta melakukan penelitian terhadap perkembangan ilmu yang diperoleh.

model praktik (terapan) berupa penautan antara hasilhasil riset yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis. model inkuiri yaitu pendekatan yang berbasis pada guru-guru. model mentoring yaitu para praktisi atau guru berpengalaman merilis pengetahuannya atau memberikan mentor kepada praktisi yang kurang berpengalaman. seperti membaca.  Crandall yang dikutip Danim (2002:45) mengemukakan model-modelnya sebagai berikut 1. melakukan observasi. dan 3. pengembangan tenaga kependidikan yang efektif dilakukan dengan beberapa model. . Di Amerika Serikat. Pada model ini guru-guru diharuskan aktif menjadi peneliti. bertukar pendapat. menganalisa kritis dan merefleksikan pengalaman praktis. 2.

. pemerintah jangan terlalu banyak menuntut kualitas pendidikan di negeri ini bila tidak dibarengi dengan perhatian yang cukup serius. nasib guru masih sangat memprihatinkan.  Terlebih lagi guru swasta yang belum memiliki ketegasan standar honor minimum.  Konkritnya.  Kenyataan di lapangan. Pengembangan profesionalisme guru perlu mendapat respons aktif dari semua pihak. pihak penyelenggara sekolah (yayasan bila swasta) dan pemerintah melalui pejabat yang berwenang. termasuk kepala sekolah.

SMP. SMA.000 guru. mengikuti kuliah di Perguruan Tinggi sesuai dengan bidangnya bagi guru yang belum memiliki kualifikasi akademik S1/DIV. . SMK. bagi guru yang telah berkualifikasi S1/D4 seyogiyanya melanjutkan ke jenjang S2 terutama pada Program Studi Teknologi Pendidikan. SD. dan PLB baik negeri maupun swasta untuk memperoleh kualifikasi akademik S1/D4 sejumlah 270. Menurut Depdiknas (2008:3) pada tahun 2008 pemerintah memberikan subsidi peningkatan kualifikasi akademik bagi guru PNS dan bukan PNS yang memenuhi syarat dan berada di bawah binaan Depdiknas pada TK.Dengan mengadopsi Slamet (2007:9-10) strategi yang dapat ditempuh dalam pencapaian kompetensi guru adalah 1.

. mengikuti pelatihan dan lokakarya yang sesuai dengan bidang keahliannya. mengikuti pelatihan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dan melaksanakannya di sekolah. 3. mengikuti pendidikan profesi guru yang diselenggarakan Perguruan Tinggi terakreditasi yang ditunjuk pemerintah. 4.2.

. semiloka. belajar mandiri dan dilakukan secara terus menerus. mempelajari modul-modul pendidikan guru berbasis kompetensi. 8. mengikuti kegiatan forum ilmiah (seminar. 7. dan sebagainya). 9. konferensi. temu ilmiah.5. belajar secara berkelompok melalui KKG/MGMP/MGBK. 6. mengikuti cara-cara penulisan karya ilmiah di profesinya. diskusi panel.

10. jurnal-jurnal dan hasil-hasil penelitian di profesinya. dan sebagainya). 15. melakukan pemagangan kepada guru-guru yang terbukti unggul. majalah-majalah. 13. mengunjungi sekolah-sekolah yang unggul (best practices and lessons learned). Perpustakaan. Pusat Penelitian di Perguruan Tinggi. mengunjungi dan berdialog dengan guruguru tangguh. membaca buku-buku. belajarlah dari kesalahan dan lakukan perbaikan atas kekurangannya. berkunjung ke pusat-pusat kegiatan ilmiah/pengembangan ilmu (LiPI. 11. 12. Laboratorium. . 14.

pengalaman kerja di dunia usaha/dunia industri. . penerbit-penerbit. 17. dan tempat-tempat lain yang memiliki sumber belajar. kunjungan ke dunia usaha/dunia industri.16. mengunjungi pusat-pusat sumber belajar. 18.

membaca media masa agar dapat mengetahui perkembangan mutakhir di profesinya. 21. 24. 20.19. menjadi anggota organisasi profesi dan berpartisipasi di dalamnya. 23. 22. . menulis artikel yang dipublikasikan di jurnaljurnal profesinya. menghadiri ceramah-ceramah/presentasipresentasi ilmiah oleh para ahli. memanfaatkan internet (web-site) dan membangun jaringan dengan pihak-pihak yang relevan pada bidangnya. memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya.

mengikuti lomba-lomba karya ilmiah di bidangnya. 26. dan internasional. tutorial oleh teman sejawat di sekolahnya sendiri. pertukaran guru antar sekolah. baik pada bidangnya. maupun didang terkait. 27. 28.25. biasakan membaca selama dua jam per hari. baik tingkat lokal. nasional. .

bersemangat dan bertindak lebih baik). . baru minta didengar. (f) bersinergi (kerja sama kreatif). (b) setiap kegiatan mengacu pada tujuan yang jelas. (g) inovasi (pembaruan) terus menerus. dan (h) spirit tinggi untuk maju (berpikir. (c) buat prioritas (penting dan segera). (e) mendengar lebih dahulu. (d) berpikir menang-menang (saling menghidupi). yakni (a) proaktif. terapkan delapan kebiasaan perilaku tangguh.29.

jalan menuju puncak akan terbuka. Oleh karena itu.30. kehidupan adalah perubahan. lakukan yang terbaik. . tanpa perubahan tidak ada kehidupan dalam diri kita. sekecil apapun kita harus melakukan perubahan berupa peningkatan/ pengembangan. dan 31.

. (c) membuat resume proses tatap muka. (b) kegiatan tatap muka. merencanakan pembelajaran. 3. dan 5.E. (c) bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler. melaksanakan tugas tambahan sebagai (a) kepala sekolah. 4. (b) bimbingan dan latihan pada kegiatan intrakurikuler. 2. membimbing dan melatih peserta didik (a) bimbingan dan latihan pada kegiatan pembelajaran. dan (b) wakil kepala sekolah. . melaksanakan pembelajaran (a) kegiatan awal tatap muka. (c) penilaian non tes berupa penilaian hasil karya. (b) penilaian non tes berupa pengamatan dan pengukuran sikap. Tugas Guru 1. menilai hasil pembelajaran (a) penilaian dengan tes.

.d:3) sebagai tenaga profesional.  Bahkan menurut Depdiknas (2008. Beban Kerja dan Tunjangan Profesi Guru  Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 35 ayat (2) dinyatakan bahwa beban kerja guru mengajar sekurang-kurangnya 24 jam dan sebanyakbanyaknya 40 jam tatap muka per minggu. guru baik PNS maupun bukan PNS dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban memenuhi jam kerja yang setara dengan beban kerja pegawai lainnya yaitu 37.F.5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@ 60 menit) per minggu.

nomor registrasi. dan telah memenuhi beban kerja mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan mengamanatkan bahwa guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik. .

pasal 1 ayat 1 Permendiknas Nomor 36 Tahun 2007  guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru dari Departemen Pendidikan Nasional diberikan tunjangan profesi dengan ketentuan  (1) beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam pelajaran tatap muka dalam satu minggu bagi guru kelas dan guru mata pelajaran. .  (2) beban kerja guru sekurang-kurangnya 6 (enam) jam pelajaran tatap muka dalam satu minggu bagi guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. dan  (4) tugas bimbingan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik bagi guru bimbingan dan konseling.  (3) beban kerja guru sekurang-kurangnya 12 (dua belas) jam pelajaran tatap muka dalam satu minggu bagi guru yang mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah.

 Guru yang tidak dapat memenuhi bebabn kerja minimum 24 jam tatap muka karena struktur program kurikulum dapat diberi tugas sebagai berikut 1. . mengajar di Sekolah atau Madrasah lain baik negeri. menjadi Guru Bina/Pamong pada Pendidikan Terbuka. Paket B. atau 3. 2. mengajar pada Program Kelompok Belajar Paket A.  Pembagian tugas bagi guru tersebut diterbitkan bersama oleh Kepala Sekolah pada Satuan Pendidikan tempat guru diangkat sebagai guru tetap dan Kepala Sekolah/Kepala Kelompok Belajar tempat guru mendapat tambahan jam mengajar serta diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. maupun swasta sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. dan Paket C sesuai bidangnya. namun wajib melaksanakan beban kerja minimum 12 (dua belas) jam tatap muka per minggu pada satuan pendidikan tempat guru diangkat sebagai Guru Tetap.

Guru yang telah memperoleh Sertifikat Pendidik menyampaikan kelengkapan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebagai berikut:  Foto Copy Sertifikat Pendidik yang dilegalisasi oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mengeluarkan.  Foto Copy Nomor Rekening Bank/Pos guru yang bersangkutan.  Foto Copy Impassing Jabatan Fungsional Guru bukan PNS yang dilegalisasi oleh Kepala Sekolah atau Penyelenggara Satuan Penidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.Penyaluran tunjangan profesi bagi guru dilakukan dengan ketentuan 1. .  Surat Keterangan bebabn kerja sebagai guru dari Kepala Sekolah pada Satuan Pendidikan tempat guru diangkat sebagai guru tetap.  Foto Copy SK Kenaikan Pangkat dan Kenaikan Gaji Berkala terakhir bagi guru PNS yang telah dilegalisasi oleh Kepala Sekolah yang bersangkutan.

menerbitkan surat keputusan penetapan guru penerima tunjangan profesi kepada Menteri Pendidikan Nasional.Bank/Pos melakukan penyaluran dana tunjangan profesi ke nomor rekening guru penerima tunjangan profesi. 3. .Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan melaksanakan proses pencairan pembayaran tunjangan profesi berdasarkan surat keputusan melalui Bank/Pos. 4.2.

 pada bulan Desember 2007.  pada bulan Oktober 2007. mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Januari 2008. mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Desember 2007. .  pada bulan Nopember 2007. Guru yang terdaftar sebagai peserta sertifikasi guru tahun 2006 dan telah lulus sertifikasi guru dalam jabatan:  sebelum bulan Oktober 2007. mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Nopember 2007. mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Oktober 2007.

. Guru yang terdaftar sebagai peserta sertifikasi guru tahun 2007 dan telah lulus sebelum bulan Januari 2008 mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Januari 2008.

dan 8. guru mencapai batas usia pensiun atau setinggi-tingginya mencapai usia 60 tahun. Pembayaran tunjangan profesi dapat dihentikan apabila: 1. 7. 8. berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan. guru yang bersangkutan dinyatakan bersalah karena tindak pidana oleh pengadilan dan telah memiliki kekuatan hukum tetap. 2. melalaikan tugas sebagai guru sesuai dengan ketentuan yang berlaku. . 3. 4. 6. mengundurkan diri sebagai guru atas permintaan sendiri atau alih tugas bukan sebagai guru. guru meninggal dunia. beban kerja guru kurang dari yang dipersyaratkan. 5. guru melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.Tunjangan profesi guru dibebankan oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).