P. 1
Olah Tubuh

Olah Tubuh

|Views: 284|Likes:
Published by Abdul JaBbar

More info:

Published by: Abdul JaBbar on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2015

pdf

text

original

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI

MANFAAT OLAH TUBUH
BAGl SEORANG PENARl
(The 8enefits of Calisthenics for a Dancer)
Oleh : Moh. Hasan Bisri

Aktifitas manusia yang dilakukan daam kehidupan sehari-hari, merupakan
kegiatan rutinitas yang di dalamnya bertumpu pada kemampuan tubuh
manusia itu sendiri untuk melakukan gerakan-gerakan, baik gerakan yang
alami/naluriah maupun gerakan-gerakan yang terkontrol. Melalui gerakan-
gerakan fisik yang menempati ruang dan waktu inilah manusia menyalurkan
aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gerakan tubuh dalam
kehidupan memiliki art; penting, hal ini dapat dirasakan ketika seseorang
dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar dan mendapatkan hasil sesuai
yang diinginkan. Selain itu gerakan tubuh semakin terasa penting ketika
salah satu dari organ tubuh kita mengalami gangguan (sakit) sehingga pada
bagian yang sakit itu tidak mampu melakukan gerakan dan bahkan seluruh
tubuh terasa dampaknya. Sadar akan semua ini maka gerakan organ
tubuh manusia sangat vital dalam kehidupan. Tidak jauh dari permasalahan
gerak tubuh manusia, satu sisi budaya manusia dalam hal ini seni tari yang
notabene menggunakan gerak tubuh sebagai media ungkap estetik,
bertumpu juga pada kemampuan fisik/tubuh manusia. Ini menjadi satu hal
yang mendasar dalam mempersiapkan tubuh untuk dapat digunakan sebagai
media ungkap dalam seni tari.
$-: Tubuh Manusia, Olah Tubuh, Gerak, Tari.
A. Pendahuluan
Kesíapan tubuh secara físík bagí seorang penarí sangat vítaí
keberadaannya untuk meíakukan aktífítas gerak tarí. Ketrampíían
tarí yang dímíííkí dapat díbentuk meíaíuí kesíapan organ-organ
tubuh (físík) yang akan dígunakan untuk meíakukan gerak. Bísa |adí
gerak-gerak yang dííakukan dapat díkontroí dengan baík sesuaí yang
díharapkan. Pada prínsípnya untuk dapat meíakukan gerak tarí
dengan trampíí períu adanya kesíapan físík yang príma. Kondísí
semacam íní dapat dícapaí apabíía seorang penarí dengan sadar
meíakukan kesíapan-kesíapan seíuruh organ

Staf Pengajar Jurusan Sendratasik FBS UNNES
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
61
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
tubuh dengan rutín (kontínu). Pengertían íaín, secara sadar bahwa
seorang penarí harus meíakukan pengoíahan gerak tubuh secara
merata dan sempurna.
Pengertían pengoíahan tubuh bagí seorang penarí atau seríng
díkatakan dengan síngkat Olah Tubuh, adaíah suatu kegíatan
manusía mengoíah tubuh yang dengan senga|a men|adíkan barang
mentah men|adí barang yang masak atau barang |adí, sehíngga síap
untuk dípergunakan. Upaya íní mengandung maksud yaítu usaha
mempersíapkan organ tubuh daíam keadaan stabil (normaí) men|adí
kondísí yang labil (íentur). Perkataan tubuh daíam Oíah Tubuh
menun|ukkan bahwa tekanan aktívítas pada pengoíahan tubuh
manusía seutuhnya meííputí |íwa dan raga, yang men|adí satu
kesatuan (Sumedí, 1; 86).
Oíah Tubuh bagí seorang penarí adaíah suatu bentuk aktívítas
yang dííakkan dengan |aían meíakukan susunan íatíhan yang teratur
meííputí otot-otot, persendían, pada seíuruh organ tubuh agar seíaíu
síap dapat berfungsí íebíh baík dan optímaí serta díharapkan dapat
menambah kwaíítas gerak.
B. Tubuh Sebagai Alat Bagi Seorang Penari
Setíap manusía memíííkí bentuk tubuh yang berbeda-beda, haí
íní díkarenakan memíííkí ukuran bentuk tubuh yang berbeda puía.
Ukuran tubuh seseorang meííputí tínggí rendah dan besar kecíínya
badan yang berpengaruh pada beban tubuh. Meííhat kondísí yang
semacam íní maka seseorang berusaha untuk mengatasí keíemahan
yang dímíííkí. Mísaínya seseorang yang memíííkí tubuh gemuk,
tentunya akan suíít untuk meíoncat karena bebannya teríaíu berat.
Sebaííknya seseorang yang memíííkí tubuh kecíí/kuru geraknya akan
íebíh ííncah, bíía meíoncat, meíompat, beríarí dan gerak-gerak yang
íaín daíam setíap aktífítasnya.
Ada beberapa upaya untuk merubah kondísí tubuh seseorang
darí kurang ídeaí pada sísí ukuran /beban tubuh, atau merubah darí
yang tídak díkehendakí men|adí sepertí yang díkehendakí. Adapun
upaya untuk ítu saíah satunya yaítu dengan meíakukan oíah tubuh,
dengan oíah tubuh ínííah kíta meíakukan upaya dengan
menggerakkan seíuruh sekmen tubuh dengan teratur dan
sístematís. Serak yang dííakukan daíam aktífítas oíah tubuh, yaítu
dímana seíuruh organ tubuh kíta dapat dígerakkan ke arah lateral,
frontal maupun rotasi. Secara umum tubuh kíta dapat
díkeíompokkan men|adí empat bagían yaítu, 1. kepaía, 2. badan, 3.
íengan kanan dan kírí, 4. tungkaí kanan dan kírí. Darí ke empat
keíompok íní seíuruhnya dapat dígerakkan ke arah íateraí yaítu arah
yang se|a|ar dengan bídang tubuh kíta atau ke kanan dan ke kírí, ke
arah frontal yaítu arah yang beríawanan dengan bídang tubuh kíta
atau ke depan dan ke beíakang, rotasí yaítu gerak berputar pada
setíap persendían.
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
62
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
Tídak |auh darí gerak yang dííakukan oíeh seíuruh tubuh,
begítu |uga sama haínya dengan gerak yang dííakukan daíam sení
tarí. Dí daíam menarí, gerak-gerak yang dííakukan oíeh penarí
tentunya memíííkí tuntutan tertentu waíaupun pada prínsípnya
menggerakkan sekmen-sekmen tubuh. Meííhat kontek gerak daíam
tarí dengan tuntutan nííaí-nííaí estetík, maka tídakíah sekedar
menggerakkan tubuh sepertí daíaT. aktífítas kehídupan seharí-harí.
Tubuh bagí seorang penarí merupakan aíat untuk meíakukan gerak
sebagaí medía, guna pengungkapan ekspresí |íwa yang mengarah
ke pemuncuían nííaí-nííaí estetís. Waíaupun demíkían tídakíah
mudah memuncuíkan nííaí estetís (yang abstrak) tanpa dídahuíuí
dengan proses gerak tubuh (materí) yang dapat dítangkap oíeh
índra pengííhatan. Untuk ítu bermuía darí kemampuan meíakukan
gerakan-gerakan tubuh ítuíah seorang penarí mengkomuníkasíkan
perasaannya dengan bahasa gerak. |adí yang pentíng daíam haí íní
berpangkaí darí tubuh manusíaíah yang men|adí títík toíak sebagaí
bahasa daíam sení tarí.
Sebagaí seorang penarí, harus menggunakan tubuhnya, baík
daíam berekspresí maupun daíam menghayatí/merasakan apa yang
ter|adí dí sekeííííngnya. Oíeh karena ítu seorang penarí harus sadar
akan kemampuan, keíebíhan dan kekurangan darí tubuh yang
dímíííkí, untuk kemudían meíatíhnya agar |angkauan geraknya dapat
íebíh íeíuasa (Murgíyanto, 1983). Setíap gerakan darí setíap sekmen
tubuh harus dííatíh secara bertahap dan kontínu yang meííputí darí
ke tíga aspek, yaítu :
- Tenaga; hubungannya dengan stamína yang dímíííkí
untuk meíakukan gerak cepat, keras, kencang dan
íaín-íaín.
- Ruang ; daíam artí dímana darí sekmen tubuh dapat
dígerakkan ke berbagaí arah yang
memakan/menempatí ruang
- Waktu : durasí yang dígunakan/dítempuh daíam
meíakukan íatíhan oíeh tubuh, dan ídeaínya daíam
waktu yang stabíí, mísaínya satu harí satu kaíí @ 60
menít.
C. Latihan Kondisi Physik Penting Bagi Penari
Ada beberapa unsur physík yang harus díkembangkan
kemam-puannya meíaíuí íatíhan-íatíhan, kemampuan tubuh yang
baík adaíah hasíí darí koordínasí unsur-unsur kondísí physík yang
baík. Adapun kondísí physík yang períu dípersíapkan atau dííatíh ada
beberapa unsur antara íaín :
1. Kekuatan (Strength)
2. Kecepatan (Speed)
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
63
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
3. Oaya Tahan (Endurance)
4. Keííncahan (/Agíííty)
5. Keíenturan (Fíexíbíííty
6. Koordínasí (Koordínatíon)
7. Ketepatan (Accuracy)
Unsur-unsur tersebut dí atas pentíng untuk díperhatíkan bagí
seorang penarí dan tentunya seíaíu meíakukan íatíhan oíah tubuh
untuk mengkondísíkan physík agar príma daíam menarí. Kesíapan
tubuh seorang penarí akan berdampak pada kwaíítas gerak tarí.
Kwaíítas gerak akan terkaít pada unsur-unsur gerak, yang meííputí:
- 8entuk, rumít dan sederhananya gerak
- Volume, íuas dan sempítnya gerak
- Tekanan, keras dan íemahnya gerak
- Tempo, cepat dan íambatnya gerak
Kembaíí pada kondísí physík seorang penarí, dímana kondísí
harus seíaíu príma baík ketíka menarí maupun sebeíum menarí.
Kondísí semacam íní akan íebíh memberíkan keíeíuasaan bagí penarí
tersebut untuk íebíh terfokus pada íma|ínasí, ekspresí atau
penghayatan ketíka sedang menarí. Dapat díkatakan demíkían
karena apabíía saíah satu sekmen tubuh terganggu atau kondísí
physík tídak príma maka yang ter|adí adaíah terganggu puía pada
penampíían ketíka menarí, haí íní hanya dapat dírasakan oíeh penarí
ítu sendírí. Sadar akan adanya haí yang demíkían dapat ter|adí maka
períu díperhatíkan beberapa unsur pentíng tersebut dí atas.
1. Kekuatan (Strength)
Bagí seorang penarí kekuatan tubuh sangat fítaí, terutama
pada sekmen-sekmen tubuh tertentu yang seríng meíakukan
aktífítas gerak. Kekuatan utama yang períu dípersíapkan adaíah
pada sekmen ke dua tungkaí, dímana darí ke dua tungkaí ínííah yang
men|adí penyangga darí seíuruh beban tubuh, baík pada kondísí
díam maupun ketíka sedang bergerak. Kekuatan tungkaí men|adí
sentraí díbandíng darí sekmen tubuh yang íaín, karena harus seíaíu
menyangga daíam kondísí apapun sekmen tubuh íaín meíakukan
gerakan.
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
64
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
Dí daíam konteks gerak tarí, gerak yang dííakukan cenderung
tídak sama dengan gerak-gerak seharí-harí. Kondísí yang demíkían
menuntut adanya íatíhan gerak yang harus dípersíapkan
sebeíumnya, secara sadar bahwa gerak daíam tarí bukan gerak
naíuríah tetapí merupakan medía ungkap perasaan, maka gepak dí
sítu ter|adí akíbat adanya stylisasi yang cenderung íepas darí gerak
seharí-harí. Satu contoh daíam gerak tarí |awa gaya Serakarta pada
tungkaí, yaítu posísí tan|ak. Pada posísí íní bentuk teíapak kakí
kanan membuka ke arah kanan dan taíopak kakí kírí membuka ke
arah kírí, dan ke dua íutut sedíkít dí tekuk, kemudían beret badan
dítarík ke kírí bíía tan|ak kanan dan dí tarík ke kanan bííe tan|ak kírí.
Pada kondísí yang demíkían maka yang terasa adaíah beban tubuh
akan bertambah berat menumpu pada tungkaí, bíía díbandíng
dengan apabíía berdírí tegak íurus. Bagí seorang penarí akan sadar
pentíngnya kekuatan tungkaí. Seíaín ítu kekuatan sekmen tubuh
yang íaín tetap |uga harus mendapatkan perhatían untuk dííatíh.
Kekuatan adaíah kemampuan otot-otot atau sekeíompok otot
untuk mengatasí suatu beban/tahanan daíam men|aíankan aktívítas
(Santoso 23; 1986). Latíhan kekuatan harus dííatíh paííng awaí
sebeíum pengembangan unsur-unsur yang íaín, cara meníngkatkan
kekuatan adaíah dengan |aían íatíhan dengan tahanan. Latíhan
tahanan dapat dííakukan dengan |aían: menahan, mengangkat
beban, mendorong atau menank suatu tahan /beban. Daíam
meníngkatkan íatíhan kekuatan kíta harus seíaíu íngat akan prínsíp
peníngkatan/penahanan beban secara bertahap dan kontínu.
2. Daya Tahan (Endurance)
Daya tahan adaíah kemampuan íamanya bertahan organísme
untuk meíawan keíeíahan yang tímbuí daíam meíakukan aktívítas.
Pada unsur daya tahan íní seorang penarí harus seíaíu dí|aga teruta-
ma ketíka sedang menarí, apaíagí pada tarí-tarían yang memíííkí
durasí "pan|ang". Perístíwa semacam íní sífatnya masíh merupakan
daya tahan secara umum, círí íatíhannya adaíah menu|u
perkembangan kemampuan |antung, peredaran darah, pernafasan,
reíaxasí otot. Metode íatíhan yang dígunakan adaíah íatíhan íntervaí
dengan batas waktu íatíhan yang cukup íama secara terus menerus.
Stamína merupakan saíah satu bentuk daya tahan, yaítu daya
tahan íamanya organísme tubuh untuk meíawan keíeíahan yang
tímbuí akíbat íatíhan dengan menggunakan tenaga yang efektíf
daíam waktu tertentu. Stamína menentukan prestasí penarí, karena
mempunyaí nííaí yang íebíh tínggí darí pada daya tahan. Daya
tahan baík beíum tentu stamína baík, akan tetapí stamína yang baík
berartí mempunyaí daya tahan yang baík puía.
3. Keíenturan (Fíexíbíííty)
Keíenturan adaíah kemampuan tubuh seseorang untuk
meíakukan gerakan dengan ampíítude gerakan yang íuas. Usaha
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
65
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
gerakan-gerakan tersebut díhasííkan atas kemampuan keíenturan
tubuh atau persendían-persendían. Bentuk íatíhannya dítu|ukan
pada:
- Penguíuran/perenggangan otot, tendo dan íígamen
- Memperíebar gerakan-gerakan pada
persendían dengan |aían mengayunkan seíuas
mungkín
Beberapa keuntungan bíía seorang penarí memíííkí keíenturan yang
baík, antara íaín yaítu:
- Cepat menguasaí tekník suatu gerakan
- Tídak mudah ter|adí cídera.
- Gerakan-gerakan seíuruh sekmen tubuh akan
dapat dííaksanakan dengan mudah sehíngga tídak
íekas íeíah.
- Membantu daya tahan, kecepatan dan keííncahan.
D. Metode Latihan Olah Tubuh
Susunan íatíhan oíah tubuh yang banyak dííakukan oíah
ragawan atau oíeh orang pada omumnya dí Indonesía menggunakan
sístem Austría yang dícíptakan oíeh Ganíhofer dan Straícher.
Menggunakan metode íatíhan oíah tubuh díharapkan akan membuat
íatíhan men|adí teratur dan sístematís sehíngga mendapatkan hasíí
sesuaí yang díharapkan dan terkontroí. Adapun susunan
seíengkapnya adaíah teruraí sebagaí beríkut 1. Latíhan
Pendahuíuan (Pemanasan)
Pemanasan adaíah suatu proses gerakan-gerakan yang berguna
untuk menyíapkan tubuh dan |íwa seorang penarí daíam
menghadapí aktívítas beríkutnya yang íebíh berat. Kegunaan
pemanasan daíam íatíhan oíah tubuh yaítu:
- Menyíapkan anatomís, physíoíogís dan
psychoíogís penarí daíam menghadapí íatíhan.
- Menyíapkan gerakan-gerakan oíah tubuh untuk
men|aíankan íatíhan oíah tubuh tersebut.
- Sebagaí pencegahan terhadap ter|adínya cídera
seíama men|aíankan aktívítas oíah tubuh.
- Untuk mempercepat ter|adínya scond wind dan
steady state tubuh
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
66
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
2. Latíhan Intí
Pada saat masuk íatíhan íntí, seorang penarí yang meíakukan
oíah tubuh harus menyesuaíkan kebutuhan sepertí yang díharapkan.
Secara umum íatíhan íntí terdírí darí :
1. Latíhan tubuh
Latíhan tubuh pad prínsípnya mempunyaí sífat untuk
memperbaíkí dan membetuíkan kesaíahan-kesaíahan (normaíísasí)
ríngan yang terdapat pada tubuh. Sedangkan íatíhan tubuh terdírí
darí:
- Latíhan peíemasan, terutama untuk memberíkan
kemungkínan ke-ííncahan dan keíuasan gerak pada
persendían-persendían tubuh. Sendí-sendí yang
períu dííatíh adaíah: sendí íeher, sendí pergeíangan
bahu dan sendí bahu, sendí síku dan pergeíangan
tangan, sendí pínggang, sendí íutut, sendí pangguí,
sendí pergeíangan kakí.
- Latíhan penguíuran, yaítu untuk memperpan|ang
|aríngan-|aríngan pengíkat, tendo-tendo otot, agar
otot-otot men|adí eíastís. Otot-otot yang períu
mendapat íatíhan penguíuran adaíah: otot íeher, otot
dado dan punggung, otot perut dan pínggang dan
sampíng ba-tang badan, otot paha depan dan
beíakang, otot betís, otot íengan dan bahu.
- Latíhan penguatan, yaítu untuk menguatkan otot-
otot setempat yang íemah, terutama otot-otot
perut dan otot-otot pínggang dan punggung serta
otot paha
- Latíhan peíepasan, yaítu untuk mempertínggí
koordínasí otot dan perasaan gerak. Perasaan gerak
yang dímaksud adaíah agar otot-otot yang beker|a
dapat bergerak sebaík-baíknya tanpa adanya
hambatan darí manapun.
Pada prakteknya íatíhan-íatíhan peíemasan, penguíuran, penguatan
dan peíepasan ítu tídak dípísahkan satu sama íaínnya, tetapí
mungkín ada satu haí yang períu mendapatkan tekanan atau porsí
íatíhan íebíh banyak
2. Latíhan keseímbangan
Tu|uan íatíhan keseímbangan adaíah untuk mempertínggí
perasaan keseímbangan dan perasaan ker|a otot serta mempunyaí
artí dan ke-gunaan yang besar daíam pembentukan síkap gerak.
Dísampíng ítu íatíhan keseímbangan mempunyaí nííaí yang besar
tehadap pertumbu-han ketangkasan dan prestasí. Latíhan
keseímbangan adaíah |íka íatíhan ítu pemeííharaan keseímbangan
tubuh íebíh suíít darí pada síkap berdírí bíasa. Latíhan keseímbangan
termasuk |uga dí daíamnya berdírí díatas satu kakí.
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
67
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
3. Latíhan kekuatan dan ketangkasan
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
68
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
Latíhan íní memíííkí artí pentíng terhadap pembentukan síkap
dan gerak, serta pencapaían prestasí. Bagaímanapun |uga manusía
harus nempunyaí kekuatan dan ketangkasan daíam segaía
geraknya, íebíh-íebíh bagí seorang penarí. Dengan demíkían íatíhan
íní akan mema|ukan efísíensí daíam segaía gerak tubuh manusía,
artínya dengan tenaga yang sedíkít mungkín dapat memberíkan
hasíí yang sebanyak-banyaknya. Untuk tídak menímbuíkan saíah
pengertían atau penafsíran, maka períu dí bedakan antara
pengertían íatíhan penguatan dan íatíhan kekuatan, yaítu sebagaí
beríkut.
- Latíhan penguatan adaíah untuk menguatkan otot-
otot setempat yang íemah, |adí hanya otot-otot yang
tídak menyangkut kwaíítas kemampuan tubuh
manusía
- Latíhan kekuatan adaíah meníngkatkan kwaíítas
kemampuan tubuh manusía ítu secara menyeíuruh.
Latíhan ketangkasan akan menyangkut keííncahan dan kecepatan.
Cepat daíam mengambíí tíndakan, seíaín ítu íatíhan kekuatan dan
ke-tangkasan menambah keberanían, ketahanan dan penguasaan
dírí.
- Latíhan meíompat dan meíoncat
Latíhan íní memíííkí peran pentíng terhadap pembentukan dan
prestasí dan sangat mempengaruhí ker|a |antung dan paru-paru.
Bíasanya íatíhan íní merupakan keían|utan darí íatíhan íntí, dan
merupakan puncak íatíhan |aían dan íarí yang dígabungkan dengan
íatíhan meíompat dan meíoncat, dengan maksud agar dapat
memberíkan bermacam-macam varíasí daíam íatíhan.
3. Latíhan Penutup (Penenangan)
Tu|uan íatíhan penenangan (penutup) adaíah untuk membawa
suhu badan dan ker|a organ-organ tubuh kembaíí ke daíam keadaan
yang bíasa (normaí). Sehíngga kondísí tubuh kembaíí síap untuk
mengíkutí aktívítas beríkutnya dí íuar íatíhan oíah tubuh. Seíaín ítu
membawa |íwa raga orang tersebut ke penyegaran daíam suasana
yang baru. Adapun íatíhan yang dííakukan yaítu menggerakkan
kembaíí seíuruh sekmen tubuh, darí seíuruh otot-otot dan seíuruh
persendían meíakukan gerakan dengan rííek. Ketíka meíakukan
gerakan-gerakan tersebut dísertaí dengan pengaturan nafas atau
tarík nafas dengan teratur. Gerakan-gerakan íní dííakukan híngga
kondísí tubuh kembaíí ke kondísí yang normaí atau cukup sepertí
yang díkehendakí.
E. Kesimpulan
Pada tuíísan íní bukannya membahas tentang permasaíahan tarí
dengan kandungan kwaíítas atau nííaí estetík yang tínggí, meíaínkan
pembahasan tentang saíah satu unsur darí permasaíahan tentang
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
69
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
es-tetíka tarí. Tídak íaín medía utama untuk tercíptanya sebuah tarí
adaíah "gerak", banyak pendapat yang mengatakan bahwa medíum
utama darí sení tarí adaíah gerak tubuh manusía. Beberapa tokoh
tarí berpendapat tentang defínísí tarí, antara íaín mengatakan
bahwa tarí adaíah gerak-gerak yang dí bentuk secara ekspresíf yang
dícíptakan oíeh manusía untuk dapat díníkmatí dengan rasa
(Susanne K. Langer, daíam díktat Soedarsono, 3; 78). Defínísí yang
hampír sama mengatakan bahwa tarí adaíah gerak-gerak darí
bagían tubuh manusía yang dísusun seíaras dengan írama musík
serta mempunyaí maksud tertentu. (Suryodíníngrat, daíam díktat
Soedarsono, 2; 78). Hubungannya dengan pendapat-pendapat dí
atas pada prínsípnya memberí pemahaman kepada kíta bahwa tarí
adaíah menggunakan medía gerak tubuh manusía sebagaí aíat
ungkap. Darí sísí gerak tubuh manusía ínííah yang men|adí tu|uan
pembahasar, daíam tuíísan íní. Tídak íepas darí masaíah estetíka,
bahwa keberadaan gerak yang dííakukan oíeh penarí dí daíam
menya|íkan suatu tarían adaíah sangat fítaí. Nííaí estetík muncuí
ketíka darí gerak tersebut teíah mengaíamí pengoíahan darí
pencípta tarí atau sí penarí.
Pada perkembangan pencíptaan tarí dí tahun 1980-an,
Humardaní seorang tokoh tarí pernah menerapkan masaíah
kemampuan físík kepada para penarínya, sehíngga muncuí postuíat
bahwa menggarap tarí, peranan penarí sangat vítasí untuk
terbentuknya suatu tubuh sebagaí aíat bergerak yang mempunyaí
kuaíítas tínggí. Yang dímaksud kuaíítas tínggí bagí seorang penarí
íaíah apabíía ía mampu menya|íkan berbagaí |enís kuaíítas
komposísí tarí. Untuk ítu oíah tubuh yang mengarah pada
ketrampíían otot dan seíuruh tubuh sebagaí aíat ekspresí períu dí
bína dan díoptímaíkan. AAetode sema-cam íní pada umumnya
banyak menghasííkan penarí-penarí yang íebíh menon|oíkan
kekuatan físík tentang keíenturan, stamína, dínamík gerak. (Tasman,
1991).
Tentang konsep estetíka tarí, Susan K. Langer mengenaíkan
bentuk físík dan bentuk dínamík. Darí síní kíta dapat membuat suatu
pemíkíran bahwa konsep pencíptaan tarí berhubungan erat dengan
Bentuk Físík yang díwadaí daíam gerak tubuh (konkrít), dan Bentuk
Dínamík merupakan ungkapan rasa gerak darí penarí (abstrak) (ííhat
komposísí tarí Soedarsono, 1986). Begítu |uga Empu-empu tarí |awa,
teíah menga|ukan konsep tentang tarí yaítu : Wiraga, Wirama,
Wirasa, yang pada pokoknya sama dengan konsep Bentuk Físík dan
Bentuk Dínamík (Prabowo, 1986).
|eías bagí kíta bahwa tubuh manusía sebagaí aíat bagí seorang
penarí dan gerak merupakan medía utama daíam tarí, sehíngga
peng-optímaían kemampuan gerak tubuh sangat pentíng untuk
dípersíapkan. Untuk ítu íatíhan oíah tubuh bagí seorang penarí
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
70
HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI
men|adí suatu bagían darí rutínítas proses íatíhan tarí. Rasa-rasanya
tídak dapat dípísahkan pembentukan físík meíaíuí oíah tubuh bagí
penarí guna menun|ang kemampuan teknís kepenaríannya, maupun
untuk meníngkatkan kwaíítas gerak tarí.
DAFTAR PUSTAKA
Munandar, A. 1979. lkhtisar Anatomi Alat Cerak dan llmu Cerak.
|akarta: RGC Penerbít Buku Kedokteran.
Prabowo, Wahyu S. 1986. Catalan lecil 5ebagai Acuan Diskusi
Tari. Surakarta: ASKI Surakarta. R
Ronoatmod|o, A Tasman. 1991. 5edikit Renungan Tentang Tari.
(Makaíah Dískusí). Surakarta: STSI Surakarta).
Santoso, Sumedí. 1986. Prinsip-prinsip Latihan Olah Tubuh.
(Díktat) Surakarta: ASKI Surakarta.
Sukíyo. 1982. Pengertian Dasar llmu leolahragaan.
Surakarta: Uníversítas Sebeías Maret Surakarta.
Soedarsono. 1978. Díktat Pengantar Pengetahuan dan lomposisi
Tari. Yogyakarta: ASTI Yogyakarta.
Wídaryanto. 1986. Tari. Bandung: Proyek Pengembangan
Instítut Kesenían Indonesía Sub Proyek Akademí Sení Tarí
Indonesía.
Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001
71

?  >  (  . >&        .

.

∗      .

         .

    .

                 .

.

  .

.

 %     .

.

.

  (    .

 .

 .

   .

               <         =   .

           .

     .

 "       .

 .

 '    .

       .

      .

   .

  .

.

.

/  7   .

.

  .

 .

        .

      '      .

 .

    .

       #       .

                 .

   .

.

.

   .

   .

       .

    %           .

          .

  .

   .

  .       $ ->  .

 ?   .  A   .

  .

/($1''$/   .

  " 4   . 4  .

.

 .

< " 4  ( .

.

& .

" " " .

"   "     .

 & .

(  " ( (4 .

"  "  .

 .

9 .

4   " & .

" .

( .

" .

.

" " " .

 " +  (  "9  " & .

( " " .

( (".

 ( .

.

4 " & .

(  " .

 ( .

 .

& .

" ( " " .

 "  ( .

.

   ( .

& "  .

 " & .

  .

.(  .

 4  . ( (.

.

 ( .

.

(  " " .

"  .

9"  .

   .

9 Staf Pengajar Jurusan Sendratasik FBS UNNES Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001 61 .

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI 4  ( .

.

 .

".

.

 .

  .

.

 (  4 .  .: .

.

   " " .

.

  .

 " 4  .   ( .

.

 .

  .

.

  .

4  4   .

.

 .

(" " .

( .

.

.

" D  &: (  "  .

.

 .

  4  & .

( .

.

.

 .

 (" .

4  .

.

 .

 ( 4  .

& .

" 4  .

 (: .

 .

" (  .

" .

  & .

 .

.

( .

" ( &     " .

 .

4  ( " ( .

   .

  .

 ( ".

(  & .

    .

 " .

4  ( 6  4  .

.

 "" .

4 . " .

.

" < ( .

  .

4  .

 .

&   . ( .

 : & .

.

 ( " .

 (: B )/ 6  4  4   .

.

 (  4 .

" " < & .

( "" .

( .

.

 .

" " .

.

.

 .

& .

      9  :  .

( .

: (    .

4    ( 4  .

 4 4 " ( .

   (  " .

( .

  " 2 ''1 $0$& $ 2$0& $/0 . 4  ".

/$&   .

  " 4 .

" 4  & .

4 4 ( 94 ( :  .

 ("  .

" .

 " "  .

4 .

" 4  & .

4 4 (  "  .

4   .

  .

  .

(  ( .

 . 4  " .

& 4 ( .

& .

4  .

  ( 4 4 .

4    ".

(  & .

. .

 "  .

4   .

" .

 "  .

& .

(  "  .

&  .

& .

 " 4  ": .

.

& " .

 .

" .

"  ..

4 4 .

.

&  4    4 ".

&  .

& .

 " 4  " . C"   ".

& " .

4 .

: 4 ..

:  : 4   ( ..

 "9  " & .

.

(  "  .

&  !( 4 4  & .

"  4  ".

(  4   .

(  "  .

( (   "  .

C4 4 .

4 :  4  (  & .

( " ("  .

( " .

 (   & .

("  .

( " !( .

& .

"   .

& &  ( .

.

" " .

  4 : ( .

.

  4  .

  " " " .

& ( .

.

.

 "" .

  " .

4  ( .

.

  ( .

     " & .

( " " .

( "    4 : &  ( .

   .

4  " ( (  "" .

"     +     .

 4  " ( ("  "" .     .

.

 ( 4  .

&  :  " :  4 ( .

: # .

.

" .

.

( .

": * .

"  " .

.

( .

"   " "  " .

  .

& ( (  "" .

"    &    & .

   ( .

.

4( .

4  " " " .

.

( .

" ": "       &    & .

. 4  .

.

( .

.

4( .

4  " " ( .

( .

" 4 " .

:   &   " 4   (   .

( .

 Vol. 3/September – Desember 2001 62 . 2 No.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI ( "   (   " & .

( " " .

    4 : 4    .

& ( .

.

 " & .

( " " .

( .

   ( .

:  "9  " & .

( " " .

  .

 .

.

&  " .

.

 .

. .

( .

 .

& .

 "" .

" .

9 " .

4    ".

"  " (  ( .

.

.

.

.

 9.

  ": " ( "  " (  .

 "" .

4    (  "  " ( .

 9  4  4   .

.

  " .

.

" " " .

 " 4  ( : .

.

.

" .

& . "   .

.

  " .

..

.

 9.

    % .

( " .

( "  (  .

. " .

.

   & .

4  " .

((   ( .

.

  " 4    & .

( ( .

"   .

( .

 .

 .

"  4  (  " .

" " .

 " .

9  " .

4     .

.

 .

" .

" " .

 .

.

& ( .

.

4   " 8 ( & .

.

.

(  .

 4  .

" (  4  .

  & .

.

 (  "  " 4  4  ( .

   4   .

.

:   .

.

" .

4 .

& : 4 " ( 4  "   .

( .

 & C  " .

& .

 ( ( "  .

.

&  6  "  .

  .

.

   (  " .

" .

: " 4 .

( .

" "  .

.

(  4  & .

(  ": .

" " ( .

.

&  .

" .

 ".

& ( 4   & .

)#    " . : .

(   " .

4    (  .  4   ( .

".

.

& .

  (  "  ": &  G 9 &  B  4 .

.

.

& ( .

.

.

& .

(  " .

" " " .

 " . : "  : " .

..

( .

.

9 .

  B (   ( . 9 .

(  " .

4  ( (  "" .

" 4 4    & .

" .

C .

  .

9  G (   & .

( .

" .

C(  ( " " .

 .

  4 : ( .

( .

& ( . " & .

4 :  .

&   "  V /$ .

  3 $&1$/ /(&!& .

.!&.1.

/&/0 2$0& .

/$& !( 4 4  .

 & " & .

  (" 4 .

" .

" 9 .

.

&   .

9  .

: " .

4  & .

4 " (    (  "(.

 .

9 .

 ".

(  & " & .

4 " !( .

".

(  & " & .

 (   " .

(  ( 4 4  .

 .

 .

G   " .

  .

.    .

3/September – Desember 2001 63 .  ( Vol. 2 No.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI 6 &  .

.

(  .

  ..

 ..

C!   &  .

 .

H P4  & (.

 (.

.

  .

.  . !.& .

9 .

  4 ( .

.

.

" (  " .

4   .

.

 ( .

.

.

& " " .

 .

  4  .

" .

".

( " .

& "   ( .

   .

4   .

.

 " .

4 ( " ( ".   "  .   " " .

"  ( .

9 .

  ": & .

 :   ( .  G 9 .

(  .

.

&  " 9 E : ( .

 .

&  " 9 & : "  ( .

.

( .&  " 9 &  : .

4 .

&  "  4  ( ".

(  & "  .

.

: ( .

".

(     4 " " " .

 .

4 .

 .

(  . .

 " .

4 4 " .

" .

4  .

  4 .

" 4 " (  .

: "   .

 & .

" " ( .

.

  (" " .

( " .

"  .

4  " .

4   .

".

(  & " ( "  " & .

 ( (   .

( .

 .

" " .

:  .

  .

& ( ( " .

  .

  .

(  (  " .

( .

&  & .

( " .

(  ( "  (  " .

4 4  .

 .

.

 4 (    " .

  .

 +   .

.

 " " .

4  .

 :  ( " .

9 " .

4   .

& .

.

" " .

"   "  " .

& .

 (   " .

(  ( " .

" ( .

" : ( .

(  " ( .

"  .

  & .

.

 ( .

& .

(    4 4 .

4 : 4 " ( ".

(  ( .

" " ( .

4   "  " .

.

"  .

 ( .

 (4 .

(.

(  " .

4  & .

.

: "  .

  .

& .

( ".

(  .

" .

4  .

" " .

 " .

3/September – Desember 2001 64 . # * 1 / 5 Vol. 2 No.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI  ( ".

"  " :  " & .

( " " .

. .

(  .

( " ( .

.

 "9  "  9  .

(  & .

( " .

.

.

( .

&  .

 " & .

  (   " .

4 .

& : .  " (  4 " .  (  4 .

 " .

    " .

( .

"  .

: " " (   ( "4 ( .

&    & .

. .

(  .

. (   "  9   .

 (  "   . &   "  ( .

" : &     .

 " (    .

 4 .

" " " " " .

.

4 " "   " .

.

( .

 " " " " 4 " "   ": ( .

" ( (" ( " ": " ( .

4  4 ( .

( " " " 4 .

 " " .

.

( .

( " " " .

.

4 .

 " " ( ".

(  & .

( " .

" & .

 (  4 4 .

4  " .

4  4  4  .

( .

" : 4 (4 .

(.

( .

.

4 4 ( "   +   .

.

 " .

(  .

.

.

& " " .

.

"   .

 " " .

" .

4  & .

.

   .

( " .

  .

.

" (   " .

(  " .

  9  "  "   .

" .

 4 4 .

C  .

.

( .

 .

" .

" <  .

  #B .)/ '  .

" " .

  (  .

. 4 .

4 .

.

.

9 .

 & .

.

: .  .

.

" " .

" " .

(  ( .

.

 .

 .

( .

.

 .

.

 '  .

 .

.

( ( " " .

( .

.

 .

G .

 .

: .

.

" 4 4 .

: .

(.

.

.

"  .

C4 4 .

  .

.

" " .

 .

" " .

"   .

" .

.

 .

.

" .

C .

 .

.

4 4 .

 4   ( . .

".

.

   &  .

.

(  .

.   &  .

(  " .

.

& 4   .

 .

 .

. " .

"  .

& .

 4 ( " " .

" <  ( .

 ( &  .

.

  .

.

   (  9 " " ( .

.

:  ( 9  .

& .

 " (   = .

 .

=  . . .

  .

&   " .

( &  .

  .  : . .

.

& (  .

 " 4 .

.

" .

 .

.

:  (  .

(  : .

 .

:  P      (  .

& .

( .

" .

(   .

.

< ( .

.

"  . 4 .

& .

  . . " .

   .

 " .

 4 .

" ( &  .

: &  ( &  .

.

&  .

 4  .

. " .

"  .

& .

 4 "4  .

( .

.

.

.

" .

.

& .

 "  ( . "  .

  .

.

.

" .

  .

: "  .

.

&  .

  & .

4 .

 (  ( ( &  .

  &  .

4 " 4 .

.

4 ": " .

 .

& .

4 " 4    .

&  ( &  .

& .

4 "  #  .

 .

H P4  &  .

 .

(  " .

4   .

.

" " " .

 " .

( .

.

 (  " .

& .

2 No. 3/September – Desember 2001 65 .    Vol.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI  " .

9  " .

 4 (  " .

" .

" .

 .

4   .

( .

9  .

( .

 + .

"  .

.

& (  " .

( G 9 .

 .

C  .

.

.

  : .

( ( .

 .

9   4   " .

9  " .

(  .

( .

( .

.

 .

.

& .

" .

.

".

+ 4  " .

.

.

4  .

.

  " " .

 .

& .

4 ": .

 .

&  G 9 J .

 ".

"  " .

9 ( " (   ( .(   9 2  " .

9  " .

  " .

4  " .

( ( " .

" .

( .

.

(  .

( " "  9  4 .

( &  .

: " . .

( .

" .

.  .

  ( $&1$/ $1 ''1  .

.

 .

  4  & .

4 .

& " ( " " .

   . .

   .

(  .

& ( .

(.

 .

.

" .

 !  & .

(. " .

  2 .

  ( .

  .   .

.

" .

(  .

  4  (  " .

" .

4  .

.

 (   ( .

  .

.

( " .

   & .

(  " .

( .

".

  !( .

.

.

.

" .

& (     4  4 "  '  .

.

(  .

 .

.

 .

.

(    " .

9  " .

& .

4  .

.

" .

& " .

4  ( .

.  .

.

 ( .

 (  " < 4 " .

& & .

4 4    .

.

.

.

(  .

  4  &  G 9  .

& " .

.

  : &    ( .

   . &.

 ( .

 (   .

 9  .

& " .

 " .

9  " .

  4  .

" .

 .

" .

 .

  4   4  9  4  .

.  .

 (  (.

& .(  .

 .

" .

" <   4  9 .

" .  (.

&      ( .

    4  Vol. 3/September – Desember 2001 66 . 2 No.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI  '  .

.

 ( "  .

.

:  .

.

 & .

" " .

  4   .

& " .

" 4  .

  & .

(  " .

  .   .

.

 ( (  G  '  .

4  '  .

4  ( .

 .

& .

&   .

" 4 " ( .

4 " .

"  .

9"  .

.

   .

.

& .

( ( 4   ( .

" .

 .

4  ( ( G 9 '  .

.

:  .

" 4 " .

" .

".

.

" 9 .

 ..

( .

" .

 " (  .

( .

9  .

( .

4   .

(9 .

( & .

 (  ( G .

(  : .

(  .

.

4  ( .

.

( 4  : .

( " ( .

 .

.

.

.

: .

( .

.

: .

( : .

( .

: .

(  .

.

" " 9 '  .

.

 .

: &  .

"  .

 .

 .

.

9 .

.

.

" : .

(9 .

(   :    9  .

 (   6  9  & .

 .

(  .

.

 .

( G    :   ( ( ( .

.

.

:    ( .

.

.

( .

.

4 9 .

4 ( .

:    ( .

( .

4 " .

:   4  :   .

.

( .

4   9 '  .

.

.

: &  .

" .

" .

  9   & .

:    9   ( .

  9  .

.

( .

.

.

    9 '  .

.

: &  .

"  .

 "(.

   ( .

 .

 "  .

 " & .

( " ( (     9  & .

4 "  ( 4   " 4 "94 ".

& .

( .

&  4 .

(  .

.

 (  " ".

&  .

9  .

.

: .

 .

: .

.

( .

.

 ( " (  " .

.

.

& :  .

".

(  & .

 .

( " .

" .

.

   .

4 4 .

& "  '  .

"  4 .

.

 .

 .

"  4 .

.

(  .

"  .

  .

"  4 .

.

( .

 .

"     .

&    ( .

" 9 .

.

& .

4  ( 4 .

" .

"  "  .

  .

"  4 .

.

.

&  .

  & .

4   (  4 9 .

" .

" .

( .

  '  .

"  4 .

.

(  "  .

   .

"  4 .

.

4  4  (  ( " 4 ( 4  '  .

"  4 .

.

 " ( ( .

& 4 ( ( " " Vol. 3/September – Desember 2001 67 . 2 No.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI # '  .

" " .

( .

" .

" .

3/September – Desember 2001 68 . 2 No. Vol.

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI '  .

.

  "   .

.

 ( 4 .

" .

" ( .

 ":  .

 ..

  +  .

.

 .

   .

.

&  " " .

( .

" .

" .

(  ".

& : 49 4 4   .

.

  .

.

( " .

 .

.

 " .

 " .

  .

 (  " 4  .

 :  .

& ( .

.

.

& .

(" .

".

( 4 " .

  & .

4 .

& "94 .

& ".

&  .

" ( " .

 4 " .

 .

  .

.

  .

: "  ( 4 ( " .

.

 .

  .

 .

.

.

( .

 .

" " .

: &  4  4 "  9 '  .

.

.

(  .

" .

" .

  9   & .

:  (  .

&   9  & .

( " .

& .

 " . " ".

4  .

 9 '  .

" " .

(  .

.

" " .

".  " .

4  .

 .   .

&   '  .

" .

" .

" .

.

& .

" " .

 ..

( .

" . .

 J ( .

4 .

( " .

: .

  .

" " .

( .

" 9 .

" .

.

4  " 4  .

 .

: "  .

.

( .

.

.

( 9 '  .

 ( .

.

'  ..

.

  "  .

.

.

 ( 4 .

" .

( .

  ( .

.

.

  "   .

.

( .

 9   + .

&  .

.

  " .

" .

 .

(   .

.

: ( .

 " .

.

"  ..

 .

( .

 & .

( 4 .

" .

( .

.

 .

 ( .

.

. : ( .

.

" (  ( 4 " .

9 . 4  . <   (  .

 # '  .

.

 .

.

.

.

  .

 .

.

.

.

.

 .

 (  .

 4 ( . " 4 .

( .

"   .

9 .

4  " 4  " ( " ( .

& .

4 .

   .

".

(  4  " 4   .

" .

"  " < 4 " .

& (   .

  4   .

.   .  4 .

 4 " .

&  .

( .

& .

4   !( .

 .

& .

( " " .

&  .

 "" .

" 4    " .

4 : (      9  ( .

   .

( .

" " .

 " .

( .

.

 "  " " " .

 " .

9  " .

 4 (   ( .

.

.

 .

.

 " .

 ( .

.

  2  " .

9  " .

.

 ( " " .

.

".

(  4  " 4  " ".

(  & .

.

 . "   & .

("  .

( "  !&'$/ (  .

.

 4 " .

.

& 4  .

.

 ( .

.

" .

( .

.

 . ".

  " & .

.

4  .

.

.

 .

 (    .

 : .

" .

 .

.

.

Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001 69 .

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI 9 "  ( " .

( .

 . " .

& 4   (  =  "=: 4 .

& " .

( & .

.

" .

( (  . 4 .

  (   " 4  .

  + 4  "  4  .

( .

.

( .

  : .

 .

.

" .

 (   "9  " & . 4 .

( 4 .

" .  "   & .

(. " .

  .

 .

" ( (.

"  ( .

.

  .

.

 ' .

: ( ("  (  .

: #B 5)  .

  & .

  .

" .

4 .  (   "9  " (  4  .

4  .

 & .

( .

 ( .

.

 "  .

&  " (  .

  &(.

.

 : ( ("  (  .

: B 5) 3 4 .

.

.

& ( .

.

.

( 9 .

( ( ( .

 .

& 4   .

" ( " 4 .  (  .

.

" .

(  " 4  .

 4  .

"       " 4  .

 .

  & .

.

 (  .

4  : (  .

.

" 4  ( . ( " (   " : 4 .

 " & .

( " " .

  .

 ( ( .

& " .

 .

(  .

  0  " .

. " " (   "  4  .

 .

  .

(  .

.   .

 ( " 4 .

.

.

. .

 (  .

.)$9 .

: 3 ( .

  .

"  .

 .

 " .

 " .

 " " (  .

.

& : .

.

.  4 . .

 :  .

.

.

 .

< .

" 4 .

".

& 4  4  4   " & .

.

&  "  .

 N .

( " ( "  .

 4   .

.

   4  .

& " .

4 4   .

 "  "     .

"    4  & .

.

  ( "   .

  ( .

  4  4  "    ( 4.

( .

(  " .

 !! ( 9. .

 ( .

& 4 .

& " .

  " .

.

9 .

 & .

4 .

.

 " .

" " .

 " .

.

" .

 .

: .

: (.

"  "  .

: . ..

.

".

" :  .

 ' .

 .

.

" .

4 .

"  " ( .

4 .

" (.

"   .

 " ( 4 " .

". 4 .

.

 ..

 4  4 .

.

 ( .

.

+ .

" H " & .

(. (  (  " 4  ".

" : ( .

+ .

" .

"  " .

.

" .

  " (  .

  4  "   "      (  .

: . :  .)/ +    9   .

 " .

".

.

.

 &  G  +  +  : & .

( "".

& ( .

.

".

+ .

" H " ( .

+ .

" .

4  .: .)/ 8 4  " 4 . "   4.

 4  4   .

.

 ( .

 "  " .

( ( : .

.

9  .

" .

 " 4  .

.

.

.

" (   " .

 .

"   .

  4  4   .

.

 Vol. 2 No. 3/September – Desember 2001 70 .

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI .

 ( 4  .

( ( " ( (  " .

.

 .

.

.

 .

.

" .

.

" " .

".   .

   .

 9 .

& 4 .

" .

 "    4  4  " .

".

 " .

 .

.

& : .

  "   - .

   .

.

( : ! .* 1   '  '  ?  1 ?  8 "  G -2J .5.

4 + "  ("  .

: % &  .)/*   $  .  4.

  &    "  G !   "   -.   '  .

 (: ! .

 ..* .

  &   &   "   "    "  G     "    .   .

)/   2   D  & "    "  G !   "    "& .  :  ( .  1 $       "  G .)*   .

<    4     "    (  .

 .5) "       $   & * N & "  G ! N & "   %( & .

 .)/ & * + .

( .

G & " .

4 .

.

.

  .

 .

.

(.

  4 & " !" (   .

  .

(.

  Vol. 3/September – Desember 2001 71 . 2 No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->