Pengertian Penganiayaan

Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut Penganiayaan. Dari segi tata bahasa, penganiayaan adalah suatu kata jadian atau kata sifat yang berasal dari kata dasar ""aniaya" yang mendapat awalan "pe" dan akhiran "an" sedangkan penganiaya itu sendiri berasal dari kata benda yang berasal dari kata aniaya yang menunjukkan subyek atau pelaku penganiayaan itu.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (W.J.S Poerwadarminta 1994:48) mengatakan bahwa penganiayaan adalah perlakuan sewenang-wenang(penyiksaa, penindasan, dan sbagainya). Sedangkan KUHP sendiri tidak memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan istilah penganiayaan (mishandelling) selain hanya menyebut penganiayaan saja, namun pengertian penganiayaan dapat ditemukan dalam beberapa yurisprudensi, yaitu :

1. Arrest Hoge Raad tanggal 10 desember 1902 merumuskan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia atau menyebabkan perasaan sakit sebagai tujuan, bukan sebagai cara untuk mencapai suatu maksud yang diperbolehkan, seperti memukul anak dalam batas-batas yang dianggap perlu yang dilakukan oleh orang tua anak itu sendiri atau gurunya. 2. Arrest Hoge Raad tanggal 20 April 1925 menyatakan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia. Tidak dianggap penganiayaan jika maksudnya hendak mencapai justru tujuan lain dan dalam menggunakan akal ia tak sadar bahwa ia telah melewati batas-batas yang tidak wajar. 3. Arrest Hoge Raad tanggal Februari 1929 menyatakan bahwa penganiayaan bukan saja menyebabkan perasaan sakit, tetapi juga menimbulkan penderitaan lain pada tubuh. Jadi beberapa pengertian dan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menyebut seseorang itu telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut harus mempunyai kesengajaan (Opzetelijk) untuk:

1. Menimbulkan rasa sakit pada orang lain 2. Menimbulkan luka pada tubuh orang lain 3. Merugikan kesehatan orang lain Dengan kata lain untuk menyebut seseorang telah melakukan penganiayaan, maka orang itu harus mempunyai kesengajaan dalam melakukan suatu perbuatan untuk membuat rasa sakit pada orang lain atau luka pada tubuh orang lain ataupun orang itu dalam perbuatannya merugikan kesehatan orang lain. Jadi unsure delik penganiayaan adalah kesengajaan yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain dan melawan hukum.

fraktur. rambut rontok karena dijambak. 1993). dan tempat tinggal. Penganiayaan Fisik Penganiayaan fisik dapat berupa tindakan memukul menendang.1. Cedera fisik yang mungkin dialami korban meliputi cedera pada kulit atau jaringan lunak. Penganiayaan pada wanita tidak hanya bersifat fisik atau seksual. dan penganiayaan emosional. atau orang lain dapat memperparah trauma. Penelantaran Anak Ada beberapa jenis penelantaran anak. penganiayaan terhadap anak-anak. luka tembak. Penganiayaan Seksual Ada dua kategori penganiayaan seksual. Reaksi negatif dari orang yang dekat dengan korban. jatuh dan terbakar. cenderung akan bertindak kejam pada usia dewasa. wanita yang bercerai atau berpisah dari suaminya cenderung lebih beresiko mengalami penganiayaan daripada wanita yang menikah (Sassetti. seksual. gigi rontok. merasa aman dan dilindungi dari bahaya. a. dan penganiayaan terhadap orang tua (Boyd & Nihart. pakaian. Penganiayaan seksual akan menimbulkan trauma. Gagal melindungi anak seperti terminum racun. tenaga kesehatan. ternyata wanita yang tidak menikah. orang tua tiri. sepupu). anggota keluarga besar (kakek/ nenek. kebiruan karena dicambuk. dan penelantara medik. saudara kandung). merusak properti. Penganiayaan pada anak umumnya meliputi penganiayaan fisik. melempar. Termasuk hak anak untuk berperilaku sebagai anak. Penganiayaan Terhadap Anak Semua tindak penganiayaan pada anak merupakan tindakan yang merenggut semua hak yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak. Inses merupakan semua bentuk kegiatan seksual antara anak di bawah usia 18 tahun dengan anggota keluarga dekat (orang tua kandung. diberi makan dan pakaian serta diasuh dengan kasih sayang sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang. menyundut dengan rokok. dan berbagai bentuk kekerasan lainnya yang dapat menimbulkan cedera. A. Anak-anak yang pernah mengalami penganiayaan atau menyaksikan penganiayaan terhadap ibunya. 1993). penelantaran fisik. d. Penelantaran fisik meliputi gagal memberi makan. yakni inses (incest) dan penganiayaan seksual yang dilakukan bukan oleh anggota keluarga. perdarahan pada retina dan perdarahan di conjungtiva (Fontaine. tusuk pisau. c. tetapi juga emosional. yakni gagal melindungi anak. Penganiayaan Emosional . 1996). PENGANIAYAAN Jenis penganiayaan terdiri atas penganiayaan terhadap wanita. paman. Penganiayaan seksual di luar keluarga adalah bentuk kontak seksual antara bukan anggota keluarga dengan anak di bawah usia 18 tahun. bibi. kesetrum listrik. mengancam. luka bakar. Penganiayaan Terhadap Wanita Berdasarkan hasil penelitian. penelantaran. atau orang tua angkat (Rappley & Speare. Penelantaran medik mencakup gagal memberi kebutuhan pelayanan kesehatan pada anak. atau mengisolasi dari keluarga dan teman. 1998). membatasi kebebasan. b. 2.

Mengorupsi dengan melibatkan anak pada perilakudestruktif dan antisosial serta mendukung perilaku menyimpang. B. Respon Psikologis Respon psikologis terdiri atas harga diri rendah. 1998). kepedulian terhadap kredibilitas. 2. Penganiayaan Terhadap Lansia Pengniayaan terhadap lansia mengakibatkan cedera fisik atau penelantaran emosional meliputi menentang keinginan lansia.3. meneror. terutama penganiayaan seksual pada masa kanak-kanak. mengintimidasi. biologis. menjelaskan reaksi korban tindak kekerasan sesuai dengan tingkat perkembangan mulai dari masa bayi sampai usia dewasa tua. Foley cit Shives (1994). persepsi yang salah terhadap tindak kekerasan selama masa laten (7 tahun hingga remaja). preokupasi dengan tindakan yang salah dan benar pada masa kanak-kanak (4-7 tahun). perilaku dan respon interpersonal (Boyd & Nihart. dirasakan oleh orang yang sudah tua (45 tahun dan lebih tua). mengabaikan. Mengabaikan kebutuhan psikologis anak sehingga anak merasa kelaparan secara emosional. mengisolasi. Respon tubuh terhadap stress bersifat kompleks. kepedulian bagaiman tindak kekerasan dapat mempengaruhi kehidupan keluarga dan gaya hidup selama masa dewasa (25-45 tahun). sering kali menjadi peminum alkohol atau menyalahgunakan zat lainnya. Respon Interpersonal Sebagai akibat dari penganiayaan yang sering dilakukan oleh keluarga dekat bahkan orang tua yang seharusnya menyayangi dan melindungi mereka. serta kepedulian terhadap keselamatan diri. reputasi dan kehormatan. Respon Fisik Korban tindak kekerasan menderita sejumlah konsekuensi fisik dari yang ringan hingga berat. Mengisolasi dengan memutus lingkungan anak dengan lingkungan sosial. takut mati. Cedera berat berupa trauma gandu. Meneror dengan menciptakan lingkungan yang menakutkan bagi anak. Respon korban tindak kekerasan dapat ditinjau dari respon fisik. kerancuan terhadap perilaku tindak kekerasan dan akibatnya sebagai remaja (pubertas sampai 18 tahun). 4. 5. atau membuat keputusan yang kejam. Menolak untuk mengakui betapa bernilainya seorang anak. Penganiayaan terhadap lansia umumnya dilakukan oleh anak-anak mereka. Respon Biologis Depresi merupakan salah satu respon yang paling sering terjadi akibat penganayaan. dan cedera pada bagian dalam tubuh. 3. anak-anak korban . rasa bersalah. sistem reaksi yang terintegrasi mempengaruhi tubuh dan jiwa. RESPON KORBAN TINDAK KEKERASAN Respon korban tindak kekerasan sangat bergantung pada tingkat perkembangan korban pada saat terjadi tindak kekerasan tersebut. fraktur yang parah. Cedera ringan berupa abrasi atau lecet. gaya hidup dan nilai moral terjadi pada masa dewasa muda (18-24 tahun). 1. psikologis. Respon Perilaku Wanita yang pernah mengalami penganiayaan. Lima kategori penelantaran emosional terhadap anak adalah menolak. dan mengorupsi anak. Rasa percaya pada orang dewasa akan terguncang selama masa bayi (0-3 tahun). malu dan marah.

takut mati. Pada tahap akut ini. ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA WANITA DAN LANSIA Pengkajian Pengkajian dimulai pada awal kontak perawat dengan korban. seperti di rumah dan lingkungan masyarakat. sosial. tidak percaya. merasa bersalah. 2. a. dan reaksi emosional terhadap situasi yang mengancam kehidupan korban. seperti Unit Gawat Darurat. Reaksi fisik bergantung pada cedera tubuh yang dialami. seperti merasakan otot yang tegang. disertai perasaan lain seperti marah. atau merasa takut mati. yaitu tahap akut atau disorganisasi dan tahap jangka panjang atau reorganisasi. Adaptasi Tahap Akut atau Disorganisasi Tahap disorganisasi meliputi reaksi pertama yang diekpresikan atau reaksi yang ditahan/ dikendalikan. Sindrom trauma tindak kekerasan terdiri atas 2 tahap. Pada bagian kepala. Klinik. terhina dan menyalahkan diri sendiri. marah. serta tatanan lain. lengan dan tungkai. bahkan terjadi luka terbuka pada dinding vagina atau rektal akibat pemaksaan. Puskesmas. dan rektal termasuk rasa nyeri dan bengkak pada vagina atau rektal. seperti kehilangan harga diri dan rasa percaya Menyatukan kejadian di dalam diri secara menyeluruh. b. bekas biru pada wajah. reaksi fisik.penganiayaan akan tumbuh sebagai orang dewasa yang sulit menjalin hubungan rasa percaya dan intim. mata bengkak. Periksa permukaan kulit apakah ada bekas biru. biru dan perdarahan. Merasa sakit pada bagian tertentu yang terkena serangan atau bersifat umum. perilaku/ psikologis. Pada tahap ini. Perhatikan kondisi otot dan tulang. 1. Reaksi emosional berupa perasaan takut. dan sosial budaya spiritual. E. atau fasilitas kesehatan lain. Pengkajian dilakukan secara lengkap dan menyeluruh meliputi pengkajian aspek fisik. Stuart & Sundeen (1995) dan Johnson (1996) menyatakan bahwa korban tindak kekerasan mengalami masalah psikologis yang berkepanjangan. fraktur (patah tulang) wajah. wanita yang mengalami tindak kekerasan biasanya merasa cemas. c. kemungkinan terjadi patah tulang iga. Rumah Sakit. mengingkari. psikologis. yang penting dialami adalah : Mendapatkan kembali rasa aman Mengatasi perasaan takut Mengakhiri perasaan kehilangan. trauma genital. C. merasa terhina. d. spiritual dan seksual terjadi berbulan atau bertahun kemudian. Adaptasi Tahap Jangka Panjang atau Reorganisasi Reorganisasi adalah proses penyesuaian atau adaptasi selama beberapa bulan setelah terjadi tindak kekerasan. syok. Aspek fisik Pengkajian fisik dilakukan secara lengkap dari ujung kaki hingga kepala. Korban dapat ditemui pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan. terkilir pada persendian 1. Pemulihan keseimbangan fisik. PROSES ADAPTASI Proses adapatasi untuk mengembalikan keseimbangan dengan membebaskan diri dari perasaaan takut dan perasaan tidak berdaya disebut dengan sindrom trauma tindak kekerasan. takut membahayakan tubuh. periksa apakah ada tanda-tanda trauma. . a. kognitif. bahkan merasa ingin balas dendam. afektif.

Aspek kognitif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek kognitif adalah : Bagaimana mekanisme pertahanan yang digunakan? Apakah korban tampak bingung? Apakah korban sudah diberi tahu tentang haknya? Uraikan kemampuan konsentrasi korban. Selain trauma fisik secara langsung. benci. kehilangan nafsu makan (anoreksia). tidak berdaya. Apakah korban mampu menguraikan apa yang telah terjadi? Apakah korban mampu membuat keputusan? Siapa yang telah diberitahu korban tentang kejadian tindak kekerasan yang dialaminya? Keluraga. seperti gangguan pola tidur (insomnia). atau mobilitas korban terganggu. baik yang langsung dialami setelah kejadian maupun berkepanjangan selama kehidupannya. terhina.b. dan mengisolasi diri dari orang lain. takut. banyak korban yang mengalami kecemasan dan depresi. dan termasuk merasa tidak . depresi. Keluarga juga bisa merasa bersalah. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) e. merasa sangat lelah. dampak fisik jangka panjang juga mungkin terjadi. Aspek perilaku Pertanyaan yang perlu dijawab ketika mengkaji aspek perilaku korban adalah : Apakah korban mampu menjawab pertanyaan secara verbal? Apakah korban mampu mengikuti petunjuk yang sederhana? Apakah korban telah melakukan tindakan penanggulangan sendiri sebelum datang ke pelayanan kesehatan? Ada juga korban yang tidak mampu menjawab pertanyaan atau petunjuk sederhana apapun. Aspek sosial budaya dan spiritual Keluarga pada umumnya mengalami perasaan dan pemikiran yang sama seperti korban. bahkan korban mungkin mengalami masalah fisik lain. malu. teman. takut. Setelah masa syok dan tidak percaya. Ada juga korban yang menggunakan pengingkaran (denial) untuk menahan pengalaman traumatik. Pada bagian abdomen. marah. rasa bersalah. 1) 2) 3) c. cemas. putus asa. Korban tindak kekerasan menderita trauma emosional. beberapa korban menggunakan mekanisme pertahanan depersonalisasi atau disosiasi untuk melindungi integritas dirinya. 1) 2) d. lihat kemungkinan adanya bekas biru atau luka serta tanda-tanda cedera bagian dalam tubuh. sakit kepala dan nyeri. polisi? Apakah korban memerlukan bantuan pendamping untuk mengatakan kejadian tindak kekerasan pada orang lain? Apakah korban menyalahkan dirinya sendiri? Apakah korban mengalami kilas balik serangan tindak kekerasan? Selama tindak kekerasan yang sebenarnya terjadi. karena rasa taakut yang luar biasa. Aspek psikologis/ afektif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek psikologis/ afektif adalah : Apa respon emosi yang dialami korban? Uraikan data objektif dan subjektif tentang respon berikut ini: rasa tidak percaya terhadap kejadian. marah.

harga diri. m. k. f. dan terapi pendidikan. Perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan. termasuk dukungan yang dapat diberikan keluarga atau teman kepada korban. mengurangi rasa takut. d. Menyusun rencana tindak lanjut. Menyiapkan untuk tindakan lebih lanjut. serta terisolasi. Perubahan status nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. d. Merasa tidak berdaya. c. Ketidakefektifan koping keluarga. i. h. Menyarankan ventilasi tentang tindak kekerasan. Perencanaan Intervensi keperawatan meliputi hal-hal sebagai berikut: Membina hubungan dan rasa percaya. penampilan peran. dan identitas personal. j. dan trauma. Defisit pengetahuan tentang respon fisik dan emosional serta kebutuhan pelayanan kesehatan. d. 2) a. a. Memfasilitasi proses tahapan sindrom trauma tindak kekerasan. Perubahan rasa nyaman: nyeri. Intervensi krisis dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan keamanan fisik. berdaya. b. Sindrom trauma tindak kekerasan. terapi kelompok. e. Ketidakefektifan koping individu. e. Menggali kebutuhan akan rasa aman secara fisik. c. antara lain : Kebutuhan fisik : Potensial terjadi infeksi. Intervensi krisis yang dilakukan adalah untuk membantu korban mengatasi trauma dari pengalaman tindak kekerasan. Keluarga perlu diberikan penyuluhan tentang trauma yang dialami korban tindak kekerasan. cedera. Penatalaksanaan Termasuk dalam modalitas penatalaksanaan adalah intervensi krisis. l. Memberi bimbingan antisipatif kepada keluarga.2. Ketakutan. Gangguan interaksi sosial. e. Kebutuhan emosional: Ansietas. f. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan korban tindaka kekerasan. meningkatkan harga diri dan rasa percaya. Disfungsi seksual (bagi korban dewasa). perasaan tidak berdaya. h. 1) a. terapi keluarga. b. Distress spiritual. g. Potensial terjadi kecacatan. f. Hambatan komunikasi verbal. Perubahan dalam proses keluarga. b. Mengenal perasaan dan sikap perawat sendiri. Gangguan konsep diri: citra tubuh. Perlu dikaji pola koping (mekanisme peratahanan . 4. Gangguan pla tidur dan istirahat. 3. c. g.

Kegiatan ini merupakan pencegahan tersier atau program rehabilitasi. dan masyarakat untuk mampu menolong dirinya sendiri. . Pendidikan Pendidikan atau pelatihan diberikan kepada masyarakat umum maupun korban dan pelaku tindak kekerasan. Pelayanan rehabilitasi Peran perawat dalam pencegahan tersier termasuk memberikan terapi individu. Pendidikan yang diberikan akan meningkatkan harga diri dan menyiapkan korban. terapi kelompok dan terapi keluarga secara berkesinambungan. Terapi keluarga. keluarga. perawat akan dapat menentukan apakah korban memerlukan bentuk terapi lain atau perlu dirujuk pada tenaga profesional lainnya. Jika ternyata korban masih mengalami disorganisasi. kemampuan membuat keputusan. maka perlu dirujuk untuk mendapatkan bantuan profesional lebih lanjut. terapi kelompok (terapi swabantu/ self-help group). biasanya berupa psikoterapi. Biasanya intervensi krisis diakhiri setelah 6 hingga 8 minggu pascatrauma.jiwa). b. dan terapi pendidikan dapat jika kondisi korban dan keluarga membutuhkan bantuan modalitas penatalaksanaan tersebut. 5. c. Evaluasi Evaluasi yang harus dilakukan oleh perawat. yaitu memantau perkembangan koping dan keberhasilan intervensi yang dilakukan. Perawata juga mengidentifikasi keluarga yang mengalami gangguan fungsi keluarga dan membantu mereka untuk mendapatkan penanganan. dan sumber pendukung. Melalui proses ini. Kelompok Swabantu Kelompok swabantu mendukung dan menyiapkan individu. Upaya rehabilitiasi meliputi : a. baik korban maupun pelaku tindak kekerasan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan di measyarakat dan menghindarkan situasi krisis yang mungkin terjadi. serta bertindak sebagai narasumber yang melakukan rujukan pada berbagai fasilitas dan bertindak sebagai perantara.

Umurnya sekitar 75 tahun. Riak ini menyembunyikan realitas bahwa perlakukan sejenis atau bahkan lebih parah darinya bisa dialami dan terjadi pada lansia. Kondisi kamarnya benar-benar menyedihkan. Pengalaman pahit saya rasakan ketika berkunjung ke rumah tetangga. Uniknya. Kekerasan dalam rumah tangga bisa terwujud dalam aneka bentuk. Umumnya kekerasan terhadap lansia meliputi kekerasan fisik. namun demikian kekerasan ini pun banyak terjadi di sekitar kita. Dia adalah mertua dari teman yang sedang saya kunjungi. dan kadangkadang kekerasan seksual. Saya sempat menengok ke kamarnya. atau bukan anggota keluarga si korban. peristiwa-peristiwa seperti ini biasa terjadi dan dilakukan oleh orang-orang dekat dan bisa dipercaya [misalnya anaknya. tubuh. Apa yang saya lihat ini merupakan riak di permukaan. menantunya. . Tentu tidak selalu begitu. saudaranya. dll]. finansial. Kekerasan fisik tentu berkaitan erat dengan fisik. Tindakan kekerasan fisik yang sering terjadi misalnya penelantaran fisik dan kesehatan. Bau pengap menyeruak dan membuat penafasan saya menjadi sesak. Pencideraan terhadap lansia bisa mengakibatkan kemunduran kesehatan atau pun kesejahteraan hidup lansia. lansia menjadi sasaran kekerasan fisik karena ketidakmampuan mereka untuk membela diri seiring makin lemahnya kondisi fisik dan ketergantungan mereka pada pihak lain. Kekerasan terhadap lansia juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang sama sekali tidak kenal. tidak dekat. Kekerasan fisik terwujud dalam aneka bentuk perilaku yang dapat menciderai lansia. Tidak jarang.lansia: rentan menjadi korban kekerasan Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang paling banyak terjadi. Di rumah tersebut terdapat seorang nenek yang sedang menderita sakit stroke. pernahkah kita mendengar istilah kekerasan terhadap lansia? Jenis kekerasan ini memang jarang dibicarakan. Sangat tidak sehat untuk ukuran seorang yang sudah tua dan sedang menderita sakit. Nah. emosional. Masing-masing dengan kadar kekerasannya sendiri. pasangan hidupnya.

di Pusat Nasional Amerika Serikat kekerasan pada lansia diperkirakan terjadi antara 1 – 2 juta warga Amerika berusia 65 tahun atau lebih yang terjadi setiap . relasi subyek-obyek akan semakin menambah daftar kekerasan pada lansia. Ketika tuntutan itu tidak bisa dilakukan. Sebaliknya. Mengapa? Tentu ada konteks yang menjadikannya demikian. Budaya masyarakat cenderung menganggap tabu untuk mengekspos halhal yang bersifat domestik. Maka. Kondisi fisik dan emosional yang semakin menurun disertai dengan ketergantungan mereka akan pihak lain memudahkan munculnya stigma orang lemah yang perlu dibantu. Lama-kelamaan. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh orang lain: istri. Urusan dalam rumah tidak perlu di bawa ke luar rumah. sampai tindakan membatasi keuangan untuk biaya pengobatan. Tindakan kekerasan seksuan tidak hanya berhenti pada tindakan pemerkosaan. ia sudah merasa tertekan dan depresi. Situasi ini akan menjadi semakin parah ketika ada pihak luar yang semakin memojokkannya. Pada saat itulah terjadi kekerasan finansial: tindakan meminta uang secara paksa. Tindakan kekerasan terhadap lansia dengan berbagai perwujudannya sering kali tidak muncul di permukaan. Kekerasan yang dialaminya dibiarkan begitu saja karena muncul kekuatiran. Selain itu. Mungkin kita pernah mendengar ada seorang nenek yang diperkosa. Kekerasan ini berefek berat karena dapat menimbulkan luka batin yang mendalam. Mislnya sindiran-sindiran seputar orga atau hal-hal berbau seks. Kekerasan ini bisa bermula dari ketidaksadaran pelaku sehingga ia menuntut korban berlaku dan bertindak sama seperti ketika mereka masih kuat. Penghormatan akan jati dirinya sebagai manusia mendapat tempat. ada juga faktor dari pihak korban. korban akan semakin mengalami kekerasan berlipat sebagai efek dari dendam pelaku. dan tindakan lain yang sejenis. Jika dilaporkan ke pihak luar. membuat stigma. Urusan dalam rumah biarlah selesai di dalam rumah. melecehkan. entah dari dana pensiun atau dari tabungan selama masih muda. Kekerasan seksual juga kadang terjadi pada lansia. kekerasan terhadap lansia terjadi karena mereka ditempatkan sebagai obyek. Kondisi lansia yang secara fisik melemah sangat rentan dengan jenis kekerasan emosional ini. Relasi subyek-subyek akan meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap lansia. KEKERASAN PADA WANITA LANJUT USIA Kekerasan terhadap wanita lanjut usia (lansia) ini adalah kekerasan yang terjadi pada wanita yang berusia 75 tahun atau lebih tua (8). Akibatnya.Kekerasan yang berefek berat adalah kekerasan emosional. Hal ini dilakukan untuk menjaga citra keluarga. muncullah sikap-sikap yang bertendensi mempermalukan. seorang lansia memiliki kekayaan berlebih. Rasa saya. Faktor terbesarnya adalah faktor budaya. stigma ini akan menempatkan mereka sebagai obyek. pemalsuan surat atau tanda tangan untuk bisa mencairkan uang. Dengan menempatkan lansia sebagai subyek maka relasi menjadi sejajar. Ketika seorang lansia merasa tidak muda lagi sehingga tidak bisa melakukan aktifitas seperti dahulu. kerabat. anak. Tidak jarang. tapi juga bisa berupa pelecehan seksual verbal. salah satu usaha untuk mengurangi kekerasan terhadap lansia adalah bagaimana menempatkan mereka sebagai subyek. rahasia yang terjadi dapat tersimpan sampai beberapa generasi atau bahkan tidak terungkap selamanya. atau yang lain.

Faktor resiko dari kekerasan ini termasuk perselisihan paham dalam keluarga yang dibuat oleh kehadiran seorang yang lebih tua. Mata cekung. termasuk penolakan rekening di Bank.tahunnya. pemindahan sejumlah uang dari rekeningnya atau tanda-tanda lainnya dari kekerasan keuangan atau penggelapan uang. sebagai berikut (1) : 1. bukan ditempat yayasan seperti panti. pengasuh bisa merasa diperangkap dan sendirian ketika menjaga keperluan atau kebutuhan sehari-hari seseorang. Penolakan pergi ke fasilitas kesehatan kembali untuk mengobati cedera yang berulang. Kurang atau tidak komunikatif. seperti demensia (1). nutrisi. penurunan berat badan. dan aktivitas ATM yang tidak seperti biasanya. kesakitan sehingga hanya diam ditempat tidur atau dehidrasi yang tidak jelas. Beberapa memar. psikologis oleh orang lain yang disebabkan adanya kegagalan pemberian asuhan. psikologis atau mental dan seksual. pengawasan. pelayanan medis. Kekerasan pada wanita lansia biasanya terjadi dirumah korban sendiri. Kekerasan pada lansia ini bisa berbentuk fisik.rehabilitasi dan perlindungan yang dibutuhkan. 3. Hal ini merupakan indikasi adanya kelalaian. . Tanda-tanda adanya kekerasan pada wanita lanjut usia. Yang termasuk dalam faktor ini adalah penurunan atau berkurangnya rasa hormat pada orang lanjut usia dan menurut adat kebiasaan mempercayai bahwa sesuatu yang terjadi dalam sebuah rumah bersifat privasi (1). Pelaku biasanya keluarga atau anggota rumah tangga atau pengasuh yang dibayar (1). Tetapi juga bisa berbentuk eksploitasi keuangan dan kelalaian yang disengaja maupun tidak disengaja oleh pengasuh terhadap lansia (1). Keadaan kehidupannya sekarang tidak sama dengan gaya hidupnya. Sebagai tambahan. Hal ini merupakan indikasi dari kekerasan emosi atau psikologis. pengasuh juga bisa dianiaya. 2. Stress dari pengasuh adalah faktor resiko yang lainnya. 4. riwayat dan bentuk kekerasan rumah tangga dalam keluarga inti. mereka sering mengalami kekerasan atau penganiayaan fisik atau psikologis khususnya jika pasien memiliki kelainan jiwa atau saraf. menunjukkan penurunan ketertarikan dalam hubungan sosial atau berperilaku ketakutan dan kecurigaan yang tidak wajar. isolasi sosial dan pengetahuan atau keterampilan pengasuh yang kurang (1). Faktor sosial inilah yang membuat kekerasan pada lansia dengan mudah terus berlanjut tanpa adanya deteksi dan intervensi. fisik/tenaga atau luka fisik. pakaian. Kebanyakan kasus kekerasan pada lansia tidak dilaporkan kepada pemerintah. KEKERASAN PADA LANSIA PENGERTIAN Tindakan yang disengaja atau kelalaian terhadap lansia baik dalam bentuk malnutrisi. 5. khususnya jika tugasnya tidak ia kenali dan kuasai dengan baik. jika mereka kurang latihan atau juga ditemui stress karena keuangan. bekas cengkeraman atau cubitan atau cedera-cedera lainnya merupakan indikasi kekerasan fisik.

mental dan psikologi serta jenis penyiksaan lainnya yang tidak dibenarkan Neglect : suatu keadaan dimana lansia yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri tidak mendapatkan bantuan dari keluarga maupun caregiver AKIBAT         Penyesalan Bunuh diri Gangguan jiwa atau depresi Malnutrisi Maltreatment Terluka Kondisi patologis Dehidrasi TINDAKAN TINDAKAN Primer : pendekatan kepada komunitas/lingkungan pemberian support pada lansia.BENTUK        Fisik Psikologis Pengabaian fisik Pengabaian psikologis Eksploitasi harta Pelanggaran HAM Pengabaian diri sendiri PENYEBAB           Stress Lingkungan yang kurang kondusif Harapan yang besar Faktor finansial Kedekatan keluarga Cara pandang hidup dari pengasuh Riwayat personal dan mental Riwayat pemakaian obat – obatan atau alkohol Pengetahuan keluarga Gender/jenis kelamin ABUSE DAN NEGLECT Abuse : suatu tindakan kekerasan yang disengaja seperti kekerasan fisik. memperkuat .

bokong atau lengan atas. menghargai dan perduli pada anggota keluarga memprioritaskan kepada keamanan. ada bekas luka bakar atau luka tekan Lansia tampak seperti tidak terawat Ditemukan bekas luka memar dengan tingkat kesembuhan yang berbeda Kurang perhatian pada kesehatan/pengobatan Lansia mengatakan tidak diperhatikan Selalu keluar masuk rumah sakit dengan keluhan yang tidak jelas INTERVENSI                    Bina hubungan saling percaya Observasi adanya tanda – tanda memar. melihat tanda – tanda resiko tinggi Sekunder : diskusi. pola sehat lingkungan.koping individu dan keluarga. perawatan tidak adekuat Laporkan pada dokter atau yayasan sosial jika diperlukan Meningkatkan hubungan saling percaya dengan lansia Bicara dengan korban dan pelaku secara terpisah Amati kemampuan pelaku untuk bertindak Pindahkan klien ke tempat yang aman dan terkontrol Kaji lebih dalam tentang cara – cara lansia untuk bisa lebih mandiri Kaji adanya status mental pada lansia agar tidak ada kesalahan tuduhan Akui kemampuan positif dari caregiver Kaji tingkat stress caregiver Kaji penggunaan alkohol terhadap penanganan stress Dukung ekspresi perasaan khususnya marah dan permusuhan Gali tehnik penurunan tingkat stress Sarankan untuk mengatur situasi yang dapat meningkatkan stress . komunikasi yang efektif dengan keluarga Tersier : tidak mentoleransi kekerasan. tulus secara utuh dan pendayagunaan PENGKAJIAN         Memperlihatkan rasa takut yang berlebihan terhadap caregiver Malnutrisi Ada tanda memar di rahang. luka bakar atau injury lainnya yang tidak jelas Catat jenis luka Identifikasi alternatif support sistem lansia Observasi keharmonisan hubungan antar anggota keluarga Catat adanya malnutrisi.

(http//:www. (online). Tellioglu. . Townsend. dr.yahoo.com/access on December 12th 2006). M. PT. Vawnet applied Research Forum. Psi. Carol A. Hawarie. 2004. AAAP.. JAMC.DAFTAR PUSTAKA 1.com/access on December 12th 2006) 2. Canadian Medical Association or Its Licensors. Mary C. Dana Bhakti Prima Jaya : Yogyakarta. Wathen.Hal : 732 – 736 5. 4.1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Margaret. Ph. MacMillan. Harriet L. Abuse and Women with Disabilities.P. APA. Tahir M. Al-Quar’an : Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa Edisi III (Revisi). Violence Againts Women : Integrating The Evidence Into Clinical Practice. (http//:www.D and Howland. Nosek. Dadang H. C. Seri Tafsir Al-Qur’an Bil Ilmi 04. (http//:www.Nadine. 1998. EGC : Jakarta. National Electronic Network on Violence Againts Women. Dr. Abuse. D.H. (online). (online). A. 3. Hal : 386 – 394.healthcentersonline.yahoo.com/access on September 16th 2006).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful