P. 1
Tablet

Tablet

|Views: 834|Likes:
Published by Indri Kusuma Dewi

More info:

Published by: Indri Kusuma Dewi on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

laporan farmasetika (tablet

)
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Teori Dasar Tablet a. Definisi Tablet Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan yang sesuai, tablet dapat berbeda ukuran, bentuk, berat, kekersan, dan ketebalalan, daya hancurnya dan aspek lain yang tergantung dengan pemakaian tablet dan cara pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian secara oral. Kebanyakan tablet dibuat dengan penambahan zat warna dan zat pemberi rasa. Tablet lain yang penggunaanya dapat cara sublingual, bukal, atau melalui vagina. Dengan metode pembuatan tablet yang manapun, tablet yang dihasilkan harus mempunyai sifatsifat yang baik, yaitu : 1. Cukup kuat dan resisten terhadap gesekan selama proses pembuatan, pengemasan, transportasi dan sewaktu di tangan konsumen. Sifat ini diuji dengan uji kekerasan dan uji friabilitas. 2. Zat aktif dalam tablet harus dapat tersedia dalam tubuh. Sifat ini dilihat dari uji waktu hancur dan uji disolusi. 3. Tablet harus mempunyai keseragaman bobot dan keseragaman kandungan (untuk zat aktif kurang dari 50 ml). Parameter ini diuji dengan variasi bobot dan uji keseragaman kandungan. 4. Tablet berpenampilan baik dan mempunyai karakteristik warna, bentuk dan tanda lain yang menunjukkan identitas produk. 5. Tablet harus menunjukkan stabilitas fisik dan kimia serta efikasi yang konsisiten

C. KOMPONEN TABLET 1. ZAT AKTIF Kebanyakan zat aktif tidak dapat dikempa langsung menjadi tablet karena tidak punya daya ikat yang cukup yang perlu untuk membuat suatu tablet, disamping itu tidak semua zat aktif mempunyai sifat alir yang baik. Zat aktif dalam pembuatan tablet dapat dibagi dua : 1. Zat aktif yang tidak larut, dimaksudkan untuk memberikan efek local pada saluran cerna, misalnya adsorben untuk tukak lambung (Norit) . 2. Zat aktif yang larut, dimaksudkan untuk membarikan efek sistemik setelah terdisolusi dalam cairan salura cerna kemudian diabsorbsi, terhadap zat aktif yang harus diperhatikan formulasinya, desain, bentuk dan manufaktur untuk menghasilkan tablet yang diinginkan. Sifat kelarutannya merupakan dasar untuk memformulasi dan mendesain produk yang efektif. 2. ZAT TAMBAHAN Eksipien atau zat tambahan adalah zat inert yang tidak aktif secara farmakologi berfungsi sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk membentuk tablet dan untuk mempermudah

Zat pengisi. pengikat dapat dibagi dua : a.Bersama dengan pelincir. zat tersebut masih dapat mempengaruhi sifat fisika. contohnya : PEG .jika kontak degan air akan mengembang sehingga volume tablet membesar dan akhirnya pecah. solany. juga untuk mempermudah pembuatan tablet walaupun pengisi adalah zat yang inert secara farmakologi.Memecah ikatan partikel tablet sehingga akan pecah. sukrosa dan lain. .Acasia 2 – 5 % . mannitol. Amylim : maydis. zat inert secara farmakologi yang dapat ditambahkan dalam sebuah formulasi tablet untuk penyesuian bobot dan ukuran tablet sesuai dengan yang ditetapkan. contoh pengikat basah yang sering digunakan: . tidant memberikan Zat pewarna Zat warna adalah zat inert secara farmakologi ditambahkan kedalam kedalam massa tablet dalam . meranthae.Membentuk gas : asam sitrat dan bikarbonat . Contoh. contoh : oleum cacao . adalah zat inert secara farmakologi yang ditambahkan kedalam formulasi tablet untuk meningkatkan kohesifitas antara partikel–partikel serbuk dalam masa tablet yang diperlukan untuk pembentukkan granul dan kemudian untuk pembentukan massa menjadi kompak dan padat yang disebut tablet. Bahan pengisi yang sering digunakan: laktosa USP. . Penggunaan dari pengisi tergantung dari volume atau berat tablet yang diingan. Bahan tambahan tablet antara lain adalah : 1.Gelatin 1 – 5 % .Natrium Alginat 2 – 5 % 3. contohnya : penghancur dalam memecah granul menjadi partikel.contoh : golongan selulosa.Derivat selulosa 1 – 5 % . ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi.Membentuk kapiler. kimia dan biofarmasi dari sedian tablet. zat disintegran dapat ditambahkan sebagai fasa dalam yang disebut sebagai fasa dalam yang disebut sebagai bahan internal dan sebagai fasa luar yang disebut bahan eksternal. Pengikat Basah ( Adhesive).lain. penghancur luar untuk memecah tablet menjadi granul. Bahan pengikat. Contoh.contoh : golongan amilum dan selulosa . lactose anhydrous. interaksi basa atau garam – garam amin dengan laktosa dan alkali basa yang menyebabkan terjadinya perubahan warna coklat sampai hitam. pengikat kering ditambahkan kedalam massa kering. 2. Bahan penghancur.teknik pembuatan tablet. zat inert secar farmakologi yang ditambahkan pada massa untuk membantu mempercepat waktu hancur tablet dalam saluran cerna.Membentuk lelehan. jika jumlah bahan aktif kecil. .Ditambahkan dengan cara bersama bahan aktif. Mekanisme kerja dari bahan penghancur adalah : . begitu juga dengan stabilitas dan zat tambahan yang digunakan.Sukrosa 2 – 25 % b. Dalam pemilihan bahan tambahan untuk pembuatan tablet harus diperhatikan sifat fisika dan sifat kimianya. Laktosa tidak bercampur dengan asam askorbat dan salisilamide.Penghancur akan melarut.Pasta amylum 1 – 5 % . bahan kering yang sering digunakan: . oryzae. spray dried lactose. Pengikat kering (binder).Derivat selulosa 1 – 5 % .

zat pemanis biasanya adalah gula buatan yang ditambahkan kedalam formula tablet effervescent. memperindah atau meningkatkan harga pasar. Cara penambahanya dapat ditambahkan dalam bentuk granul semprot kering atau sebagai minyak atsiri. kaolin. jika bahan sukar dicampur menjadi granul yang baik 3. jika bahan tahan panas 4. Zat tambahan atau eksipiens harus memenuhi persayaratan di bawah (menurut Farmakope Indonesia) : 1. Tidak boleh menggangu dalam pengujian dan penetapan kadar. 2. c. Zat yang digunakan adalah zat warna yang diperbolehkan oleh perMenkes dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Jika akan terjadi campuran yang menyebabkan cairan. 7. Penambahan adsorben dapat ditambahkan sebagai fasa luar. campuran pewarna tak larut air yang diadsorbsikan pada suatu zat. Metode Pembuatan Tablet Sebelum dibuat tablet maka dibuat granul terlebih dahulu. Bahan penyerap banyak digunakan dalam jumlah yang sesuai dengan berapa banyak kandungan cairan dalam bahan yang akan dikurangi pengaruh cairanya. Tidak boleh berbahaya dalam jumlah yang digunakan 2. Penggunaan penambah aroma atau rasa umumnya berpasangan misalnya aroma jeruk dan rasa asam. veegum. jika bahan mempunyai sifat granul yang baik 2. 1. maka sebaiknya ditambahkan adsorben fasa luar dan fasa dalam. Memberikan identitas atau untuk membedakan produk yang satu dengan yang lainya. pewarna dapat bermigrasi kepermukaan tablet. dan sekaligus ditambahkan warna kuning. Bahan penyerap ( Adsorben ) Adsorben adalah zat inert secara farmakologi yang ditambahkan kedalam formulasi tablet yang bertujuan mengadsorpsi cairan yang ada atau yang akan terjadi dalam massa tablet. 6. 3. Biasanya ditambahkan terakhir bersama – sama fasa luar. zat aktif dan zat tambahan . Tidak mengurangi ketersediaan hayati 4. Contohnya adsorben : golongan silika gel seperti aerosil. Bahan pemanis dan pewangi ( penambah rasa atau aroma) Zat inert secara faarmakologi yang ditambahkan kedalam formulasi tablet dalam jumlah kecil yang bertujuaan memperbaiki rasa atau bau tablet. 2. Zat warna larut dalam air. Penimbangan. Mengurangi terjadinya kesalahan pada waktu pembuatan. Lakes. Zat pengaroma kering lebih mudah ditangani dari pada minyak atsirinya. metode untuk pembuatan tablet sama dengan metoda pembuatan granul yang merupakan bagian untuk pembuatan tablet. Tidak melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk memberikan efek yang diharapkan.jumlah kecil untuk tujuan : 1. jika bahan tahan cairan Tahap granulasi basah basah 1 . 3. Metode granulasi basah 1 : 1. meningkatkan nilai estetika. misalnya Aluminium Hidroksida. dan lain-lain. Tidak mengurangi efek terapi 5. Tidak mengurangi keamanan sediaan 6.

Penimbangan zat aktif dan zat tambahan 2. Haluskan zat aktuif dan zat tambahan 3. Pengeringan tidak mnggunakan lemari penjang 7. 7. Granulasi mesh 14 – 20 6. Pengempaan Metoda cetak langsung 1. Granul basah dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40 – 60 8. Pengempaan Metode granulasi basah 2 : 1. Jika bahan tidak tahan panas 2. Jika bahan mempunyai sifat granul yang tidak baik Tahapan granulasi kering 1. Pencampuran zat padat 4. Pengempaan . Campur semua zat aktif dan zat tambahan ( Pencampuran 1) 4. Penimbangan zat aktif dan zat tambahan 2. Penghalusan. Haluskan zat aktif dan zat tambahan masing – masing ( miling ) 3. Granulasi dengan menggunakan mesh 14 – 20 8. jika bahan tidak tahan panas dan tidak tahan cairan Tahap granulasi basah 2 : 1. Penimbangan zat aktif dan zat tambahan ( mixing ) 2. Penambahan cairan pengikat 5. Pencampuran padat 4. Haluskan zat aktif dan zat tambahan 3. Menyiapkan massa kempa dengan mencampir granul dengan mencampur granul dengan fasa luar / Lubrikasi 10. Campurkan zat aktif dan zat tambahan 4. Siapkan massa kempa dengan mencampur dengan fasa luar (pencampuran 2) 7. Pembuatan masa granul dengan penambahan massa padat kedalam larutan pengikat 6. Massa lembab tadi dihaluskan melalui pengayak mesh 6 – 12. Kempa 5.2. Menyiapkan massa kempa dengan mencampur granul dengan fasa luar | Lubrikasi 9. haluskan zat aktif dan zat tambahan masing – masing 3. 5. Granulasi denga mesh 6 – 12 6. jika bahan sukar dicampur menjadi granul yang baik 3. Pembuatan larutan pengikat. Granul yang telah dikeringkan digranulasi lagi dengan melalui pengayak mesh 14 – 20 dalam mesin granulation uji inproces control 9. Jika granul mempunyai sifat alir yang tidak baik 2. Jika bahan tidak tahan cairan 3. Pengempaan Metoda granulasi kering : 1.

Masalah dalam Pembuatan Tablet Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembuatan tablet : 1. lubrikan kurang.d. Pemeriksaan dan Uji Granul 1. 2. tablet yang penggunaanya dengan menyuntikkan kedalam jaringan. 2. udara yang terperangkap saat granulasi. Penyebabnya adalah terlalu banyak tekanan saat pencetakan. Penyebabnya pengeringan kurang/terlalu lembab. 6. Binding yaitu kesulitan mengeluarkan tablet karena lubrikan yang tidak cukup. cara penggunaannya dengan cara melarutkan tablet kemudian baru disuntikkan kepada pasien. Uji Sudut Henti Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan dengan ketinggian tertentu. Tablet effervesescent. Gundukan yang tertampung lalu diukur tinggi (dicatat sebagai h) dan diameternya (dicatat sebagai d). tablet yang dimasukkan kedalam vagina untuk pengobatan lokal.Jenis Tablet Jenis tablet berdasarkan cara penggunaanya : 1. granulasi terlalu kering. Sticking. 3. yaitu tablet steril yang diberikan atau diletakkan dibaawah kulit. 3. e. Kemudian granul dialirkan melalui corong dan ditampung pada bagian bawahnya. yaitu mudah hancur ketika dikunyah biasanya mengandung mannitol yang berasa dan berwarna khusus. terdapat komponen bertitik leleh rendah seperti asam stearat dan PEG. Mottling yaitu distribusi zat warna yang tidak homogen. tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silindris. tablet kunyah. Jenis. f. tablet vaginal. Chipping dan Cracking yaitu pecahnya tablet disebabkan karena alat dan tablet retak di bagian atas karena tekanan yang besar. Kemudian dihitung sudut hentinya dengan menggunakan rumus : Setelah diperoleh sudut henti (α –nya) lalu dibandingkan dengan parameter untuk sudut henti sebagai berikut : Sudut yang terbentuk Keterangan < 25 o Sangat baik 25 o – 30 o Baik . Tablet triturate. Tablet bukal dan sublingual. 5. yaitu tablet yang melarut sempurna dalam air. Tablet hipodermik. Penyebabnya adalah migrasi zat warna yang tidak seragam. 5. 4. yaitu tablet yang disisipkan dibawah lidah biasanya berbentuk datar. dibuat dengan menggempa atau mencetak mengandung zat tambahan berupa campuran asam dan basa yang apabila dicelupkan dalam air akan mengeluarkan gas karbondioksida. 7. Capping dan lamination yaitu tablet terpisah sebagian atau seluruhya atas dan bawah. terlalu banyak fines dan pemasangan punch dan die yang tidak pas. picking dan filming yaitu tablet lengket di permukaan punch dan dinding die sehingga menyebabkan tablet gumpil dan bersisi kasar. dibuat dengan cetakan MTT atau dibuat dengan kompresi CTT dan biasanya sejumlah kecil obat keras di industri tablet ini dibuat secara kompresi dengan skala kecil dengan cara mencetak karena lebih mudah dan lebih murah di banding tablet yang dibuat secara kompresi. Tablet implantasi. permukaan punch dan die kotor dan kasar. 4.

permukaan . kemudian seluruh granul dimasukkan ke dalam gelas ukur. Uji Sifat aliran Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan dengan ketinggian tertentu. g. Uji Penampilan Tablet diamati secara visual meliputi : warna (homogenitas). bentuk (bundar. Uji Kompresibilitas Merupakan pengukuran persen kemampatan. Pada uji ini menggunakan gelas ukur bervolume besar. diantaranya adalah : 1. Kadar air yang baik untuk granul tablet adalah 2 – 5 %. Evaluasi Tablet Evaluasi tablet dilakukan untuk mengetahui apakah tablet yang dihasilkan telah memenuhi kriteria atau belum. Waktu yang diperlukan granul untuk melewati corong dicatat sebagai t.6 Sangat sukar 4. Kemudian dihitung sifat alirnya dengan menggunakan rumus : Setelah diperoleh sifat alir granul (V –nya) lalu dibandingkan dengan parameter untuk sifat alir sebagai berikut: Sifat alir Keterangan > 10 Sangat baik 4 – 10 Baik 1. Awalnya granul ditimbang. kemudian gelas ukur diketuk-ketukkan sebanyak 500 kali ketukan dengan kecepatan konstan. Uji kadar air Susut pengeringan diukur dengan alat Moisture Balance. Lalu granul tersebut dialirkan melalui corong dan ditampung pada bagian bawahnya.6 – 4 Sukar < 1. Diukur persen (%) kemampatan (K) dengan rumus : Do = tap density (volume granul sebelum dimampatkan) Df = bulk density (volume granul setelah dimampatkan) Setelah diperoleh sifat alir granul (V–nya) lalu dibandingkan dengan parameter untuk sifat alir sebagai berikut: Hasil uji kompresibilitas Keterangan 5 – 12 Sangat baik 13 – 18 Baik 19 – 33 cukup 34 – 38 Buruk > 38 Sangat buruk 4. berat granul dicatat sebagai m.30 o – 40 o Cukup baik < 1. Tingginya lulu diukur lagi dan dicatat sebagai (Df). Tinggi awal granul dicatat sebagai (Do).6 o Sangat buruk 2. Diperlukan beberapa pengujian.

rata/cembung). Uji keseragaman Bobot Uji ini dilakukan terhadap 20 tablet dengan cara menimbang satu persatu. Uji Friabilitas Dilakukan dengan alat Friabilator menggunakan 20 tablet. tanda. pabrik). Uji diameter dan ketebalan tablet ini dilakukan terhadap 20 tablet.5 15 > 300 mg 5 10 Persyaratan : tidak boleh 2 tablet yang bobot rata-ratanya menyimpang dari bobot rata-rata tablet lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satupun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata kolom B. cetakan (garis patah. Uji Keseragaman Ukuran Kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak kurang dari 11/3 tebal tablet. Tablet yang baik mempunyai friabilitas < 1%. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap gesekan atau bantingan selama 4 menit. 3. 5. dll. 2. Nilai friabilitas diperoleh dengan menggunakan rumus : f = friabilitas a = bobot tablet sebelum diuji b = bobot tablet setelah diuji 4. BAB II PRAFORMULASI . Persyaratan dalam Farmakope Indonesia jilid 3 : kecuali dinyatakan lain semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari dari 60 menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput. logo. Persyaratan Farmakope Indonesia : Bobot rata-rata (mg) Deviasi maksimum (%) 2 tablet (A) 1 tablet (B) 2 mg atau kurang 15 30 25-150 mg 10 20 151-300 mg 7. Uji Waktu Hancur Uji waktu hancur menggunakan alat disintegrator tester menggunakan 6 tablet.

Perhatian : pengobatan harus segera bila timbul gejala pertama turunya jumlah sel darah merah atau granulositopenia sakit tenggorokan atau tanda infeksi lain. defisiensi GGPD payah jantung. dan netrosis. porfiria intermiten.2 Rancangan Formulasi Zat aktif : Antalgin Pengikat : Avicel pH 102 Penghancur dalam : Amylum kering . bayi. reaksi alergi sukup sering reaksi kulit edema angioneuretik.2.Nyeri hebat akut atau kronik jika anlagesik lain tidak menolong. Stabilitas : Tidak stabil terhadap udara lembab.dan harus terlindungi dari cahaya matahari Titik leleh : c. Interaksi Obat : . putih sampai kuning Kelarutan : Kelarutanya 1:1.0% b. H2O BM : 351.37 Kadar bahan aktif : mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 101.5 dakm air. wanita hamil 3 bulan pertama dan 6 minggu terkir. retensi cairan dan garam.Efek ototoksik meningkat bila diberikan bersama aminoglikosida. panistopenia. agranulositosis.Mengantagonis tubokurarin dan meningkatkan efek suksinolkolin dan obat antihipertensi Mekanisme Kerja : Dosis Lazim : 2.demam tinggi bila anti piretik lain tidak bisa menolong.1 Tinjauan Pustaka Zat Aktif a.nyeri karena tumor atau kolik. Sifat Fisika Pemerian : Serbuk hablur. Sifat farmakologis : Indikasi : Nyeri akut hebat setelah pembedahan atau luka. Sifat Kimia Nama : Antalgin Sinonim : Methampiron Rumus bangun : Rumus molekul : C13H16N3NaO4S . Kontra Indikasi : Alergi dipiron. 1:30 dalam alchohol . Efek Samping : Infeksi lambung hiperdrosis.sedikit larut dalam kloroform dan tidak larut dalam eter. .Tidak boleh diberikan bersama etakrinat .Toksisitas salisilat meningkat bial diberikan secara bersamaan .. hati-hati pada penederita berpenyakit darah. granulasi topenia.

Konsentrasi talkum sebagai glidan adalah 1-10 %. Konsentrasi laktosa sebagai pengisi adalah 65-85 %. Bahan dan Alat . BAB III FORMULASI TABLET 3. 2. Avicel pH 102 sebagai pengikat Pemilihan Avicel pH 102 sebagai pengikat dikarenakan Avicel pH 102 merupakan pengikat yang kuat pada konsentrsi 1 .Pengisi : Laktosa Lubrikan : Mg stearat Glidan : Talkum Penghancur luar : Amylum kering 2.1 Formulasi Zat aktif : Antalgin Pengikat : Avicel pH 102 Penghancur dalam : Amylum kering / Amprotab Pengisi : Laktosa Penghancur luar : Amylum kering Lubrikan : Mg stearat Glidan : Talkum 3. 5. Biasa digunakan dengan dengan konsentrasi 3-15 %. 4.3 Alasan Pemilihan Bahan 1. Mg stearat sebagai lubrikan Pemilihan Mg starat sebagai lubrikan harus dikombinasikan dengan bahan lain karena Mg Stearat bersifat baik sebagai lubrikan dan antiadheren tapi kurang baik sebagai glidant. 3. Penggunaan amylum sebagai penghancur harus dikombinasikan dengan bahan lain apabila akan digunakan dalam konsentrasi yang tinggi karena dapat menyebabkan hasil kompresi tidak baik dan tablet yang dihasilkan memiki friabilitas dan capping yang tinggi.5%. Talkum sebagai glidant Pemilihan talkum sebagai glidan adalah karena talkum merupakan glidan yang baik dan dapat kombinasikan dengan Mg stearat untuk memperbaiki sifat aliran dari granul. Pengikat yang baik akan mengasilkan daya tarik-menarik antara partikel dengan baik. Amylum kering sebagai penghancur dalam dan penghancur luar Pemilihan amylum kering sebagai penghancur dalam adalah karena amylum merupakan penghancur luar yang umum digunakan.2 Metode Pembuatan Tablet a. Selain itu alasan pemilihan amylum sebagai pengikat adalah karena Avicel pH 102 mudah didapatkan. Talkum merupakan glidan yang baik tapi kurang baik sebagai anti adheren. Mg stearat sebagai lubrikan konsentrasinya 0. Laktosa sebagai pengisi Pemilihan laktosa sebagai pengisi agar tablet yang dihasikan berasa manis karena bahan aktif (Furosemid) yang hampir tidak berasa dengan demikian akan lebih mudah untuk diterima oleh pasien.5-5 % tapi apabila dikombinasikan maka kombinasinya tidak bleh lebih dari 5 % karena sifatnya yang hidrofob.

Mesin pencetak tablet .Antalgin .Amylum kering / Amprotab .Corong b.Avicel pH 102 .Alat uji waktu hancur disintegrator . Penambahan cairan pengikat 5.Gelas ukur . Pengempaan / pencetakan c. Penimbangan 2.Baskom plastic .Alat Moisture Balance .Sendok .Bahan : . Cara Pembuatan dan perhitungan tablet dengan Metode Granulasi basah Formulasi Dibuat tablet Antalgin dengan bobot 700 mg/tablet R/ Antalgin 500 mg Amprotab 5% Fase Dalam = 92% x 700mg Avicel pH 102 5% = 644 mg Laktosa qs Mg Stearat 1% Talc 2% Fase Luar = 8% Amprotab 5% Perhitungan Antalgin 500 mg Amprotab = 5% x 700mg = 35 mg Avicel pH 102 = 5% x 700mg = 35 mg+ 570 mg Laktosa = 570 mg – 644 mg = 74 mg . Pengeringan 7. Penghalusan 3.Kantong plastik .Talk .Mg stearat .Oven . Granulasi (Mesh 18) 8.Penggaris . Granulasi (Mesh 16) 6.Timbangan analitik .Laktosa .Beaker glass . Tahapan pembuatan granul dan tablet metode granulasi basah 1. Pencampuran fase padat 4.Ayakan .Aquades Alat : .Alat uji friabilitas . Pencampuran/ lubrikasi 9.

Ayak massa tersebut dengan ayakan 18 mesh hingga terbentuk granul. 3. 10. Ke dalam campuran M1.5% x 700mg x 250 tablet = 875 mg Talc = 1% x 700mg x 250 tablet = 1750 mg Amprotab = 5% x 700mg x 250 tablet = 8750 mg = 8. Hal ini disebabkan karena pada proses sluging granul tidak dapat dikempa sama sekali. Oven granul pada suhu 40o – 60o C selama 1 hari 1 malam. Lalu keesokan harinya campuran dikeluarkan dari oven. 9. Fase dalam (FD): Antalgin = 500 mg x 250 tablet = 125 g Amprotab = 35 mg x 250 tablet = 8. aduk hingga homogen selama ± 2–5 menit 5. Apabila perlu digerus.5 g Mg Stearat = 0.75 g Metode Pembuatan : 1. .75 g Avicel pH 102 = 35 mg x 250 tablet = 18. Timbang semua bahan yang akan digunakan.5 g Laktosa = 74 mg x 250 tablet = 18. maka gerus terlebih dahulu sebelum ditimbang. Campurkan seluruh fase dalam (antalgin. 12. 11. avicel pH 102. Seluruh M1 lalu ditampung ke dalam baskom. kami memasukkan seluruh FL ke dalam M1 lalu mengaduknya hingga homogen (M2).5% x 700mg x 250 tablet = 875 mg Talc = 1% x 700mg x 250 tablet = 1750 mg Fase luar (FL) Mg Stearat = 0. 2. Masukkan lubrikan FD ke dalam M1. Pada proses ini slug tidak dapat dibentuk sama sekali sehingga dengan anjuran dosen kami berubah proses dari granulasi kering menjadi granulasi basah. Ke dalam M2 dipercikkan aquadest qs sampai terbentuk massa yang dapat dikepal dan dipatahkan.Penimbangan Pada praktikum ini terjadi perubahan metode dari granulasi kering menjadi granulasi basah. Kempa massa M1 dengan mesin sluging atau mesin cetak tablet. 7. dan laktosa) kecuali lubrikan (mg stearat dan talc) dalam kantong plastik yang sesuai selama ± 5 – 10 menit (M1) 4. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 8. Lakukan evaluasi terhadap granul. Lakukan Evaluasi bterhadap tablet. amylum kering. 6. Cetak granul hingga terbentuk tablet.

Bentuk : Tablet bundar -. Kadar air kurang memenuhi syarat.7 – 17 x 100 % = 17.2 cm D (diameter) = 13. Warna : Putih kekuningan -. Sudut Henti (α) Diukur dengan menggunakan alat statif dan corong pisah.2 Evaluasi Tablet a. Cetakan : Garis tengah patah b. Sifat Alir (gram/detik) Laju alir = berat granul= 131 gram = 5.8° → sangat baik (< 25°) c. b.1 Evaluasi Granul a.5 %. % Kadar`air = 1.9 cm tg α = 2 h = 2 x 4.BAB IV EVALUASI GRANUL DAN EVALUASI TABLET 4. Kompresibilitas Do (tap density) = 20. Permukaan : Rata dan licin -. Uji Keseragaman Ukuran Pada uji ini dilakukan uj terhadap Diameter dan Ketebalan Tablet. h (tinggi) = 4.35 % → kadar air yang baik adalah 2 . Kadar Air Diukur dengan alat moisture balance.2 = 03 D 13. Pada saat praktikum tablet yang dihasilkan memenuhi standard keseragaman ukuran FI.9 α(sudut henti)= 21.7 Df (bulk density) = 17 Kompresibilitas = 20.7 4. 87 % → baik : 13-18 % 20. Penampilan (appearance) -.458 gram/detik → baik : 4-10g/detik waktu mengalir 24 detik d. Karena pada uji terhadap 20 tablet .

22 % Keterangan : tablet yang dihasilkan tidak memenuhi standard friabilitas.473 gram Keterangan : Tablet yang dihasilkan memenuhi standar keragaman bobot FI 3 untuk tablet dengan bobot >300 mg yaitu tidak boleh 2 tablet bobot rata-ratanya menyimpang dari bobot ratarata tablet lebih besar dari 5% dan 1 tablet tidak boleh yang bobotnya menyimpang ≥ 10 %. d.59 % 5 0.1 menit.45 4.48 1.63 % 18 0. yaitu 1.47 0.59 % 14 0.48 1.48 1.49 3.59 % 20 0.47 0.75 % 13 0. 47 % 11 0. d.49 3. Karena kerapuhan tablet > 1%. c.47 0.63 % 8 0.47 0. 47 % Bobot rata-rata = 0. 47 % 3 0.46 2.48 1. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya tablet yang penyimpangannya lebih dari 5 % dan hanya ada 1 tablet yang penyimpangannnya lebih dari 10 %. Keregasan (Friability) W1 (berat tablet awal) = 9 gram W2 (berat tablet akhir) = 7 gram Friabilitas = [ (W1 – W2)/W1 ] x 100 % = 9 gram – 7 gram x 100 % 9 gram = 22.63 % 7 0.42 11.48 1. 47 % 9 0.49 3.63 % 12 0. Keseragaman Bobot Tablet Bobot (gram) Penyimpangan Tablet Bobot (gram) Penyimpangan 1 0. 47 % 15 0.63 % 6 0.48 1.86 % 2 0.48 1.47 0.63 % 17 0.20 % 16 0. 47 % 19 0. Uji Waktu Hancur Hasil pengukuran waktu hancur tablet dengan alat uji disintegrator memenuhi standard FI 3 yaitu ke-6 buah tablet waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit.47 0. .tidak ditemukan adanya diameter tablet yang melebihi 3 kali tebal tablet.48 1. 47 % 4 0. 47 % 10 0.

BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum pembuatan tablet ini menggunakan bahan-bahan : Zat aktif : Antalgin Zat tambahan: a. Bahan Penghancur luar : Amylum kering e. penghancur dalam. Glidan : Talk Metode yang digunakan dalam pembuatan tablet adalah granulasi basah. Lubrikan : Mg stearat f. 2. bila dilihat dari parameter yang ada maka granul ini dapat dogolongkan ke dalam kategori baik yaitu berada di antara range 4 – . Sifat alir Granul yang kami hasilkan memiliki laju alir 5. Dimana zat aktif dan zat tambahan dibasahi dengan cairan granulasi. Kadar air yang kecil ini menyebabkan tablet yang kami hasilkan menjadi rapuh. Dalam pembuatan tablet hal pertama yang dilakukan adalah pencampuran Fase dalam yang terdiri Zat aktif dan zat tambahan fase dalam pengisi. Granul dibentuk dengan cara melewatkan massa yang basah melalui ayakan mesh 16 kemudian dikeringkan dalam oven suhu 40 – 500C.458 gram/detik. dan pengikat. karena kadar air yang kecil maka granul yang dihasilkan menjadi sangat keras dan sulit untuk di lewatkan pada mesh. Massa granul yang kering diayak kembali dengan ayakan mesh 18 dan selanjutnya dicetak. Bahan Pengikat : Acivel c. Sebelum tablet dicetak harus dilakukan terlebih dahulu uji granul. lubrikan dan glidan.35 % (granul ideal memiliki kadar air 2-5%). Uji grarnul yang dilakukan yaitu : 1. Bahan Pengisi : Laktosa d. Fase dalam dan fase luar dicampurkan menjadi satu dalam kantong plastik baru kemudian dicetak. Bahan Penghancur dalam : Amylum kering b. Kadar air Kadar air dari granul yang kami hasilkan adalah 1. Setelah fase dalam jadi kemudian ditambahkan fase luar yang terdiri dari penghancur luar.

4. Kendala yang dihadapi selama praktikum pembuatan tablet adalah : a. Bila dilihat dari parameter sudut henti yang ada maka granul ini dapat digolongkan ke dalam kategori cukup baik yaitu berada di antara range 30 o – 40 o. 4. Friabilitas tablet Antalgin yang dihasilkan dalam praktikum adalah 22. Tablet yang dihasilkan telah memenuhi standard keragaman bobot yang ditetapkan FI 3. 3. Sudut henti Granul yang kami hasilkan memiliki sudut henti 31.51 mm. Bentuk : Tablet bundar b. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1.765 %.1°. . Permukaan: Rata dan licin d. dan keregasan. 2.92 mm dan tebal 0. Kompresibilitas Kompresibilitas dari granul yang kami hasilkan 21. ukuran dan ketebalan. waktu hancur. Tablet yang dihasilkan tidak memenuhi standard friabilitas yang seharusnya < 1%. Keseragaman bobot Diuji dengan menimbang satu per satu tablet sebanyak 20 tablet dan dicatat lalu dihitung bobot rata-ratanya. keseragaman bobot dan friabilitas atau kerapuhannya dengan masing-masing alat penguji. Bahan aktif yang kami gunakan merupakan bahan persediaan lama yang warnanya sudah sedikit berubah. Akibatnya tablet yang dihasilkan menjadi sangat rapuh. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena kurangnya kadar air pada granul. Diameter. Pada uji ini tablet memenuhi syarat uji waktu hancur pada FI 3 yang mensyaratkan waktu hancur tablet tidak bersalut kurang dari 15 menit.10 %. Alat pencetak tablet yang kurang mendukung (sedikit rusak) sehingga mempengaruhi hasil cetakan tablet dan pada saat evaluasi tablet seperti kekerasan. tablet yang telah dicetak dilakukan evaluasi yang meliputi : uji dari penampilan tablet (bentuk.22 %. permukaan dan cetakan). 3. Bila dilihat dari parameter kompresibilitas yang ada maka granul ini dapat digolongkan ke dalam kategori cukup yaitu berada di antara range 19 % – 33 %. Penampilan a.473 gram. warna. 5. Cetakan : Garis tengah patah Warna putih kekuningan pada tablet disebabkan karena bahan aktif pada formula merupakan stok lama yang ada di laboratorium yang warnanya sudah sedikit berubah dari warna yang baru. Setelah mengalami proses pencetakan. Waktu hancur Waktu hancur tablet yang dihasilkan yaitu 1. Hal ini menyebabkan warna tablet yang dihasilkan kurang bagus. b. Keregasan (Friabilitas) Diuji dengan menggunakan alat Friabilator menggunakan 20 tablet dengan kecepatan 25 kali putaran permenit selama 4 menit. Tablet yang dihasilkan memenuhi standard tablet yang ditetapkan oleh FI 3 yaitu diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak boleh kurang dari 11/3 tebal tablet. Alat ini menguji kerapuhan suatu tablet terhadap gesekan dan bantingan selama waktu tertentu.1 menit. waktu hancur. Bobot rata-rata dihasilkan pada praktikum ini adalah 0. ukuran dan ketebalan (keseragaman ukuran) Diuji dengan menggunakan 20 tablet dan hasilnya rata-rata sama memiliki diameter 0. Warna : Putih kekuningan c. Kompresibilitas berhubungan dengan proses pencetakan dari tablet. Apabila kompresibilitas baik berarti granul akan mudah untuk dicetak.

4. Jakarta. Carol K.Pediatric Dosage Handbook. 2007. American Pharmaceutical Association.c. Edisi keenam. uji disintegrasi.2001. Ainley and Paul J Weller. uji keseragaman ukuran.1979. Hal ini dapat dilihat dari besarnya angka friability.Buku Penuntun Praktikum Teknologi Sediaan Padat Laboratorium Farmasi.London. The Pharmaceutical Press. Jakarta. Farida dan Nelly Suryani. yaitu tablet kami rapuh. Penggunaan alat pencetak yang sama untuk sediaan tablet yang berbeda zat aktifnya sehingga memyebabkan terkontaminasinya tablet yang dibuat dengan sediaan tablet yang lain.UIN Press .Ed VIII.Jakarta. 3. Depkes RI. Namun masih terdapat kekurangan pada uji friabilitas.2007. tjay. DAFTAR PUTAKA 1.1994. Sulistiawati.Ed II. Wade. 5. BAB VI KESIMPULAN Kualitas dari tablet yang dihasilkan oleh kelompok kami sudah cukup bagus. dan uji keseragaman bobot. Taketomo. 2. Obat-Obat Penting.Handbook of Pharmaceutical excipients. Elex Media Komputindo. Kirana. Hal ini dapat dilihat dari terpenuhinya syarat pada uji penampilan.USA. Farmakope Indonesia Ed III. Tan Hoan dan Rahardja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->