P. 1
Pengelolaan Sampah Secara Terpadu

Pengelolaan Sampah Secara Terpadu

|Views: 1,435|Likes:
Published by Zip-py

More info:

Published by: Zip-py on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.3 TUJUAN PENELITIAN
  • 2.4 KARAKTERISTIK SAMPAH
  • 2.5 KOMPOSISI SAMPAH
  • SAMPAH
  • 2.13 PENGOLAHAN SAMPAH
  • masyarakat yang bisa diterapkan
  • 2.14.1 Komponen Kompos
  • Tabel 2.1 Analisis kimia kompos
  • 2.14.2Keunggulan Kompos
  • 2.14.3PROSES PENGOMPOSAN
  • 2.14.4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PENGOMPOSAN
  • Tabel 2.3 Fungsi mikroorganisme di dalam larutan EM4
  • 2.15 PEMBAGIAN WILAYAH DARI PUSAT KOTA KE DAERAH PEDESAAN
  • 1.1Umum
  • 1.2Lokasi
  • 3.4 Kondisi Topografi
  • 3.7 Potensi yang sudah ada
  • 3.8 Pola Operasional Pengelolaan Sampah
  • 3.9 Peran Serta Masyarakat
  • 4.1 IDE TUGAS AKHIR
  • 4.3 PENGUMPULAN DATA
  • 4.4 PENELITIAN ATAU SAMPLING
  • 4.5 PENGOLAHAN DATA
  • 4.6 PERENCANAAN PENGELOLAAN SAMPAH
  • 4.7 Bahan Penelitian
  • 1.7.1Jenis pewadahan
  • 1.7.2Kotak pengukur
  • 1.7.3Timbangan dan Meteran
  • 1.7.4Termometer dan pH Soil
  • 4.8.1. Bahan pembuatan kompos
  • 4.8.2 Persiapan reaktor
  • Gambar 4.7. Rencana Desain Reaktor Kompos
  • 4.8.3 Tahap Pembuatan
  • 4.9. DIAGRAM TAHAP PERENCANAAN
  • Gambar 4.13 Diagram Tahap Perencanaan
  • No
  • Gambar 5.1 Komposisi sampah Kampung Nitiprayan
  • 5.3 Timbulan sampah
  • 5.4.1 Desain reaktor kompos
  • Gambar 5.2. Desain reaktor kompos
  • 5.4.2Pengamatan pH
  • Tabel 5.5 Pengukuran pH selama proses komposting berlangsung
  • 5.4.3 Pengamatan Suhu
  • 5.4.4 Kualitas Akhir Kompos
  • 5.5Data Responden
  • 1. Jumlah Anggota Keluarga Responden
  • Tabel 5.8 Jumlah Anggota Keluarga Responden
  • Gambar 5.3 Jumlah anggota keluarga responden
  • 2. Penghasilan Rata-rata responden per bulan
  • Tabel 5.9 Penghasilan Rata-rata responden per bulan
  • Gambar 5.4 Jumlah penghasilan responden per bulan
  • Tabel 5.10 pendidikan terakhir responden
  • Gambar 5.5 Pendidikan terakhir responden
  • Tabel 5.11 Pembuangan sampah rumah tangga oleh responden setiap hari
  • Gambar 5.6 pembuangan sampah oleh responden
  • Tabel 5.12 Pemilahan sampah rumah tangga oleh responden
  • Tabel 5.13 Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari Sampah yang dibuang
  • Gambar 5.8 Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari
  • Tabel 5.14 Jenis sampah yang dibuang setiap harinya
  • Gambar 5.9 Jenis sampah yang dibuang setiap hari
  • kampung Nitiprayan
  • 5.6 Pengujian Dengan Statistik
  • Tabel 5.16Correlation untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan
  • Tabel 5.20Correlation untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah
  • 5.7 Pembahasan
  • 5.7.2.1 Pemilahan
  • Kampung Nitiprayan
  • 5.7.2.2 Pewadahan
  • 5.7.2.3 Pengumpulan
  • 5.8 Strategi manajemen pengelolaan sampah
  • 5.9.1 Pengamatan pH
  • Tabel 5.23 Pengukuran pH selama proses komposting berlangsung
  • Gambar 5.17 Hasil engukuran pH kompos
  • 5.9.2Pengamatan suhu
  • Gambar 5.18 Pengukuran suhu kompos
  • 5.9.3 Hubungan pH dan suhu pada reaktor
  • Gambar 5.19Hubungan pH dan Suhu
  • Tabel 5.25. Standar Kualitas Kompos SNI
  • Tabel 5.27. Standar kualitas kompos pupuk dipasaran
  • dipasaran
  • 5.10 Sosialisasi dan pendekatan masyarakat

TA/TL/2008/0254

TUGAS AKHIR
PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik Lingkungan

Disusun Oleh :

Nama No. Mhs

: Wahyu Kuncoro : 02 513 122

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

TA/TL/2008/0254

TUGAS AKHIR

PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik Lingkungan

Disusun Oleh :

Nama No. Mhs

: Wahyu Kuncoro : 02 513 122

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

Pertimbangan inilah yang kemudian penulis angkat menjadi topik dalam tugas akhir ini. selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu. ST.Si selaku Ketua Jurusan Teknik Lingkungan. Bapak Eko Siswoyo. Teman-teman seperjuangan Solid waste. Bapak Ir. Bapak Luqman Hakim. Ari. Seluruh dosen jurusan Teknik Lingkungan. MSc. Serta kakak dan adikku. Rizky. Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan baik hingga tersusunnya laporan ini. selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktu. 7. terima kasih atas supportnya. Insan. Pada kesempatan kali ini penulis mengangkat permasalahan menyusun perencanaan pengelolaan sampah secara terpadu melalui penelitian dan uji sampel untuk melihat potensi sampah yang dihasilkan oleh Kampung Nitiprayan. Kepada kedua orang tua kami yang selalu memberikan motivasi dan semangat bagi kami. yaitu kepada : 1. dan bimbingan yang telah diberikan kepada kami dalam menyusun laporan ini. iv . 8. 6. Ibu Dukuh Kampung Nitiprayan.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya atas bantuan. mba’ Rin. yang telah membantu pelaksanaan Tugas Akhir. tenaga. tenaga. pengarahan. pikiran dalam membimbing penulis.ST. 3. 5. Rekan-rekan mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan yang telah memberikan dukungannya. 2. pikiran dalam membimbing penulis. Widodo Brontowiyono. Asep. 4. Wb. Nug. Alternatif yang sedang dipertimbangkan salah satunya dengan menggunakan Metode Komposting. M. Universitas Islam Indonesia. terimakasih atas semuanya.

Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu baik langsung maupun tidak langsung yang telah ikut membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. oleh karena itu. Yogyakarta. 9. Semoga apa yang penulis sampaikan dalam laporan ini dapat berguna bagi penulis. Wb. Februari 2008 Penyusun. penyusun mengharapkan adanya saran serta kritik yang bisa membangun. rekan-rekan mahasiswa maupun siapa saja yang membutuhkannya. Wassalamu’alaikum wr. Penulis v .. Penyusun menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan di dalam penyusunan laporan ini.

merencanakan suatu reaktor kompos dan menguji parameter unsur N.16%.0539 kg/orang/hari. mengetahui timbulan. P dan K memenuhi syarat.1631 kg/orang/hari.2192 kg/orang/hari yang terdiri dari sampah organik 0. Sebagian besar masyarakat belum memiliki kesadaran untuk memilah sampah. dan sampah non 3R 0. Waktu pematangan kompos adalah 40 hari. Jika dibandingkan dengan SNI untuk unsur N. Pemukiman penduduk sebagai tempat tinggal masyarakat adalah penghasil sampah organik yang paling dominan. Penelitian dilakukan pada 10 titik sampel rumah dan didapatkan jumlah timbulan sampah 0. pengangkutan. karakteristik dan komposisi sampah. dan non 3R. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan manajemen persampahan. dengan menggunakan reaktor dari drum plastik yang telah dilubangi bagian sampingnya. Untuk komposting setiap 1 rumah menggunakan reaktor dengan kapasitas 190 liter.43% dan C/N = 41. phospat (P) = 1. Kata kunci : Kompos. Reaktor. Kandungan kompos adalah Nitrogen (N) = 0. P.854 %. serta mengetahui berapa besar partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Kalium (K) = 2. Nitiprayan.25 %. akan tetapi untuk rasio C/N terlalu tinggi yang disebabkan karena komposisi dari kompos sebagian besar terdiri dari daun-daunan segar dan kering. dan kemudian dibuang ke TPA. TPS.PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN INTISARI Sampah akan terus bertambah seiring dengan banyaknya aktifitas manusia yang disertai semakin besarnya jumlah penduduk di Indonesia. Untuk sampah an organik dan non 3R diolah dengan melakukan pemilahan. K dan rasio C/N dari hasil pengomposan. sampah an organik 0. Sampah. Untuk sampah organik akan diproses dengan menggunakan metode komposting yang dilakukan secara aerobik dengan penambahan starter EM4. an organik. pengumpulan. pewadahan.0022 kg/orang/hari. Pada penelitian ini sampah akan dipilah langsung dari sumbernya berdasarkan jenisnya yaitu organik. . Pengelolaan yang paling sesuai dengan jenis sampah organik adalah dengan metode komposting. Untuk mengetahui partisipasi masyarakat penelitian dengan menggunakan kuisioner.

Research is conducted at 10 dots of sample house and got amount of solidwaste 0. in organic and non 3R solidwaste. know amount of solidwaste.43 % and C/N ratio = 41. The weight of organic solidwaste 0. packaging. The most appropriate management of organic solidwaste type is composting. The settlement of resident as society residence is producer of organic solidwaste which most dominant. To know society participation research using the questionnaire. only value of C/N still high which is caused by composition of compost most consisting of fresh leafs and dry leafs. and solidwaste compotition.INTEGRATED SOLIDWASTE MANAGEMENT OF NITIPRAYAN ABSTRACTION Solidwaste will be increasing along to the number of human being activity that is accompanied greater amount of resident in Indonesia. where its quality enough nicely and enough fulfill standard of SNI for compost.0022 kg/people/day. phosphat (P) = 1. gathering. transporting. And yielded by reactor with capacities 190 litres for capacities 1 house. Keyword : Composting.2192 kg/people/day. For in organic and non 3R solidwaste is conducted with sorting. The purpose of this research is planing solidwaste management. The reactor made from plastical materials. Nitrogen content (N) = 0. Kalium (K) = 2. TPS and thrown to TPA. planning a compost reactor. in organic solidwaste 0. caracteristic. Solidwaste. K.16 %. in form of drum and there are holes at shares of its side. For the management of organic solidwaste use aerobic composting with enhancing EM4 as starter.0854 %.25 %. Nitiprayan . P. and test element parameters of N.0539 kg/people/day.1631 kg/people/day. and C/N that is yielded by composting process. Time maturation of compost during 40 days. and also know the role of society to the solidwaste management. and non 3R 0. Reactor. In this research solidwaste is classified directly from its source based on solidwaste types that is organic.

.. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR...............................................................................................2 2............... BAB I 1......................................................................................................4 1.. HALAMAN PERSEMBAHAN MOTO KATA PENGANTAR DAFTAR ISI.....1 2..........................................................................8 Standarisasi pengelolaan persampahan....4 2.....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN...................... Sumber sampah..................... Rumusan Masalah...................................................... Jenis sampah........... Manfaat Penelitian........................ Faktor-faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah sampah..................................5 2........5 PENDAHULUAN Latar Belakang..................................... Efek samping terhadap manusia dan kesehatan.................................... 11 12 6 6 7 8 9 9 2...7 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian sampah.......................................1 1..............2 1........ Tujuan Penelitian................ Karakteristik sampah....... Komposisi sampah...................................3 1................................................................................. ............6 2...............3 2....... 1 4 4 5 5 BAB II 2........................... ABSTRAK. Batasan Masalah.....

............................................................................................1 4............................................ Penelitian atau sampling......3 3............10 2.......... 2................................... 38 38 38 38 40 41 ............ Pengumpulan data.............................. 2.......4 3........7 3............1 Komponen kompos.............................2 Keunggulan Kompos.........................................................12 2.......................... Pengumpulan sampah........................................................................2 4.................................................................6 3.................................................................. pengolahan data........... Batas wilayah...............................1 3............................................. Perencanaan pengelolaan sampah.14.... Pola operasional pengelolaan sampah..... Pola pengumpulan sampah...............................................................9 Pembagian wilayah dari pusat kota ke daerah pedesaan..................................... 2............................................................................................. Studi pustaka................... Pengomposan (Composting).....3 4.........................................3 Proses Pengomposan.................15 2........9 2..........2............................. Pengolahan sampah................................................ Peran serta masyarakat........................ 35 35 35 35 35 36 36 37 37 BAB IV 4..... Potensi yang sudah ada.................................................14...................... GAMBARAN UMUM DAERAH PERENCANAAN Umum........................... 2.... Lokasi........................ Hipotesa.....5 3....................................................................6 METODOLOGI PENELITIAN Ide tugas akhir.. Luas wilayah................................... 13 15 17 19 21 24 25 25 26 28 32 34 34 2...................5 EM4.....................................4 Faktor yang mempengaruhi laju pengomposan.....................................................15 BAB III 3......... Pewadahan sampah....14............ Kependudukan................................................4 4.. 2.8 3....................14........5 4............2 3....................................14 Pengelolaan sampah.....13 2.. Kondisi topografi......................................14...............................................................................11 2..........

..3 5............................................4.............................7................................1 Pendidikan terakhir dan kesadaran memilah dengan Metoda statistik One Way Anova.................2 Nilai penghasilan dan jumlah anggota keluarga 64 dengan timbulan sampah menggunakan metode statistik One Way ANOVA. 4. 5....... 4................................ 67 70 70 73 ..............7............7 Bahan penelitian..... 5................................................................................................5 5........................................................................................ 49 51 53 53 53 54 55 55 56 64 5........7.. 4.................2 Umum..........7............................. 41 42 42 43 43 43 43 44 45 47 4................. 5................7 Pembahasan.4............................................................................. 4........3 5.4 Termometer dan pH soil................. Pengujian dengan statistik........2 5......1 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengukuran dan perhitungan berat sampah dan volume sampah................... 4................. Perencanaan manajemen pengelolaan sampah............................................ 4.......................................................... Komposting..............................7....................... 5.............................8..... Kualitas akhir kompos........................... 5................................... 4.8.......................1 Jenis pewadahan..6.....7..... 4...................9 Diagram tahap perencanaan....................4 Komposisi sampah.................. BAB V 5...................................................8 Komposting.......................................................................................................................3 Timbangan dan meteran......................... Pengamatan suhu.............6 Data responden.....8.............2 Kotak pengukur............. Pengamatan pH...1 5.......... Timbulan sampah...........3 Tahap pembuatan.......4.4 Desain reaktor kompos.....................2 Persiapan reaktor............6.....1 5................................1 Bahan pembuatan kompos......2 5................................. 5...............4............................................4......................

........ 97 Saran................. 5...2 Pengamatan suhu.. Komposting........ 5.. 5..................4 Tempat penampungan sementara.....................................7.................2....................9................................ 5......1 Pemilahan................... KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan....................... 99 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .............2..................... 5......7............7........2 Sosialisasi dan pendekatan masyarakat.......5 Pembahasan kandungan N... 5.........1 Pengamatan pH. 5..4..........................7 Pembahasan kandungan K....9...............7...2..........................................8 Kualitas akhir kompos.....................9....................................8 5.....................9 Strategi manajemen pengelolalaan sampah.....2............... ...9.........4 Pembahasan kematangan kompos.6 Pembahasan kandungan P.................... 5..3 Hubungan pH dan suhu pada reaktor............................................................................................. 5... 73 76 80 83 83 84 84 85 87 88 89 89 89 89 94 5...................9.................. 5............10 BABVI 6...................................... 5...1 6.........3 Pengumpulan................................9................................9............................2 Pewadahan...... 5..5............2..................................

...................................................3 Tabel 5...............54 Pengukuran suhu selama proses kompos berlangsung.....................3 Perhitungan berat....................8 Tabel 5......10 Tabel 5..............................4 Rata-rata komposisi sampah di Kampung Nitiprayan...2 Perhitungan berat.......................................................62 Kesediaan jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan............13 Tabel 5........11 Tabel 5............60 Pemilahan sampah rumah tangga oleh responden.................25 Perbandingan kandungan karbon dan nitrogen berbagai bahan organik (C/N)....................... volume...........................................1 Tabel 2............................................................2 Analisis kimia kompos..........61 Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari......................5 Tabel 5...............50 Tabel 5.................................................................16 Correlation untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan............12 Tabel 5.............52 Tabel 5..............62 Jenis sampah yang dibuang setiap hari.............................................................................. dan berat jenis sampah an organik............................7 Tabel 5..............................................65 ......................57 Pendidikan terakhir responden.......14 Tabel 5.....................56 Penghasilan rata-rata responden per bulan............................................................... volume..................29 Tabel 2.63 Tabel 5.33 Perhitungan berat...................................55 Tabel 5... dan berat jenis sampah organik.9 Tabel 5..........50 Tabel 5......1 Fungsi mikroorganisme di dalam larutan EM 4............58 Pembuangan sampah rumah tangga oleh responden..DAFTAR TABEL Tabel 2............................15 Pengukuran kualitas akhir kompos............56 Jumlah anggota keluarga responden.................................. dan berat jenis sampah non 3R..........6 Pengukuran pH selama proses kompos berlangsung.............................. volume............................................................49 Tabel 5........

...21 Correlation untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah.................22 Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah.........................................18 Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan..................23 Tabel 5.................67 Tabel 5.................................................................85 Standar Kualitas Kompos SNI........25 Tabel 5..........Tabel 5......68 Homogenitas variansi untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah……………………………………………………………68 Tabel 5...........................92 ........................................26 Tabel 5.....19 Analisis post hoc untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan.............................24 Tabel 5.........90 Standar kualitas kompos Asosiasi Barak Kompos Jepang..28 Hasil pengukuran pH selama proses komposting berlangsung.69 Tabel 5..........17 Homogenitas variansi untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan...............65 Tabel 5............20 Tabel 5........................................90 Standar kualitas kompos pupuk dipasaran.............................................................................................66 Tabel 5.............................................91 Perbandingan kompos hasil penelitian dengan SNI dan produk di pasaran........84 Hasil pengukuran suhu selama proses komposting berlangsung.............................27 Tabel 5.

...............................................2 Gambar 4........46 Gambar 4...............42 Kotak pengukur.64 ..............................................................................................................................................................11 Pengukuran pH..............................................3 Gambar 4.........................60 Grafik pemilahan sampah rumah tangga....................................................................8 Gambar 5..................46 Potongan bahan pada reaktor................9 Grafik komposisi sampah Kampung Nitiprayan........................................................................44 EM4............23 Gambar 4..........59 Grafik pembuangan sampah oleh responden..1 Gambar 5.....48 Gambar 5........................................................62 Grafik jenis sampah yang dibuang setiap hari.....46 Gambar 4........................2 Gambar 5...............................43 Sampah rumah tangga.10 Reaktor kompos................10 Grafik kesediaan peran serta responden jika dilakukan pengelolaan sampah........12 Pengukuran suhu..6 Gambar 5.......62 Grafik banyaknya sampah yang dibuang setiap hari............63 Gambar 5..7 Gambar 4........45 Pemotongan bahan................................7 Gambar 5...........................................................................................................44 Rencana desain reaktor kompos..............................................8 Gambar 4..............4 Gambar 5..5 Gambar 4......................5 Gambar 5..47 Gambar 4..........................................................................3 Gambar 5...13 Diagram tahap Perencanaan.....................................................................58 Grafik pendidikan terakhir responden............................................47 Gambar 4..............43 Termometer dan pH soil..........9 Jenis pewadahan............................57 Grafik jumlah penghasilan responden per bulan..................6 Gambar 4..........4 Gambar 4.......1 Skema swakelola sampah rumah tangga yang berbasis pada masyarakat yang bisa diterapkan...........54 Grafik jumlah anggota keluarga responden....52 Desain reaktor kompos………………………………………….................................................................DAFTAR GAMBAR Gambar 2.....................................................1 Gambar 4.........................................................42 Kotak pengukur.

........................................................13 Plastik.........Gambar 5.......................................................85 Gambar 5..............80 Gambar 5.....................................................87 ..72 Gambar 5...........................................................82 Gambar 5...................75 Gambar 5..78 Gambar 5......86 Gambar 5...........11 Pola pengelolaan sampah mulai dari sumber sampai ke TPA di Kampung Nitiprayan.15 Bin plastik......19 Hubungan pH dan suhu.............................................................77 Gambar 5....................................................................................17 Hasil pengukuran pH kompos................................................................................16 Gerobak sampah......................................................18 Hasil pengukuran suhu kompos...........................12 Neraca Persentase Sampah Mulai Sumber Sampai ke TPA di Kampung Nitiprayan............................................14 Drum untuk kompos..........................

dan volume sampah 1 .BAB I PENDAHULUAN 1. tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya. pengangkutan. Sehingga jelas bahwa pentingnya pengelolaan sampah. Di dalam semua aspek kehidupan manusia selalu menghasilkan sampah (byproduct) disamping produk utama yang diperlukan atau digunakan. pemindahan. dimana hewan memakan sisa makanan dan bahan-bahan lain dapat dibuang ke tanah dengan demikian dapat menguraikan sampah tersebut. pengolahan dan pembuangan akhir. Karakteristik sampah menjadi semakin beragam sejalan dengan meningkatnya standar hidup. Pengelolaan sampah meliputi pewadahan. karena di dalam semua aspek kehidupan selalu dihasilkan sampah. Di daerah perkotaan. karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan pertambahan penduduk maka otomatis jumlah timbulan sampah semakin meningkat sementara lahan yang ada tetap. Sehingga jelas bahwa pentingnya pengelolaan sampah. disamping produk utama yang diperlukan. Sedangkan dalam ilmu kesehatan lingkungan suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebar luasnya suatu penyakit. air dan tanah. dimana jumlah penduduk semakin besar dan kepadatan semakin tinggi. sampah tidak dapat lagi diolah oleh alam. Sampah akan terus bertambah seiring dengan banyaknya aktifitas manusia yang disertai semakin besarnya jumlah penduduk di Indonesia. Untuk daerah pedesaan. pengumpulan. tidak menimbulkan bau (segi estetis).1 LATAR BELAKANG Persampahan merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan. karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan pertambahan penduduk maka otomatis jumlah timbulan sampah semakin meningkat sementara lahan yang ada tetap. Syarat lainnya yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara. dimana pertanian merupakan kegiatan/pekerjaan utama dimana sampah yang dihasilkan jumlahnya sedikit yang mana sampah tersebut dapat diuraikan sendiri oleh alam.

Faktor utama yang akan membedakan jenis dan karakteristik terdapat pada tingkat sosial budaya ekonomi masyarakat. volume dan lain-lain. Sistem pengelolaan persampahan di daerah perkotaan perlu mendapatkan perhatian khusus. c. Hal ini di dukung dengan hal-hal berikut ini: a. Permasalahan baru juga timbul dengan adanya bangunan-bangunan bertingkat apartemen. Cara pewadahan sampah telah berubah dari sistem ditumpuk pada wadah terbuka (keranjang) menjadi sistem kantong. serta adanya perbedaan iklim. hal ini terlihat perbedaan yang sangat besar antara karakteristik. Pada negara berkembang (kota-kota di Asia) mempunyai kepadatan penduduk yang lebih tinggi dari kota-kota di negara maju. Tidak adanya lahan sebagai tempat pengolahan dimana akhirnya menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pesatnya pertambahan penduduk yang disertai derasnya arus urbanisasi 2 . sistem manajemen pengolahan sampah sangat baik tanpa mengalami kesulitan dalam pengelolaannya. Hal ini disebabkan oleh adanya urbanisasi (perpindahan menuju ke kota). Sampah antara negara-negara maju dan berkembang sangat berbeda jauh. selain karena pengelolaan sampah di daerah perkotaan sangat penting karena melihat dari timbulan sampah yang besar (kepadatan penduduk tinggi). Cara pengangkutan telah berubah dari sistem manual atau menggunakan hewan menjadi motor dan dari truk terbuka menjadi truk dengan sistem compaktor. d. ekonomi dan sosial budaya. Kesejahteraan hidup bersih dan manajemen persampahan yang baik. Partisipasi masyarakat yang baik dalam hal penanganan sampah. limbah industri dan lainlain.semakin meningkat dengan cepat. b. Sistem perpajakan yang baik sehingga pendanaan untuk sampah teralokasi pada perpajakan tersebut. Pengelolaan persampahan di negara maju masih sangat memprihatinkan dikarenakan ketidaktersediaan dana yang mencukupi serta tidak adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Biasanya pada negara maju. supermarket. Menurut Arianto Wibowo & Darwin T Djajawinata (2002). Persampahan telah menjadi suatu agenda permasalahan utama yang dihadapi oleh hampir seluruh perkotaan di Indonesia. Tingkat kesejahteraan nasional yang tinggi dan akan masih terus bertambah.

dan pembuangan akhir). Sistem pentarifan dalam bentuk retribusi masih konvensional dan tidak memungkinkan adanya insentif bagi operator . Aspek manajemen dan 4. (3) Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungís operator pemberi layanan. Dengan melakukan peninjuan beberapa aspek diatas. perlu dilihat beberapa aspek yang menaungi sistem pengelolaan persampahan tersebut.telah meningkatkan jumlah sampah di perkotaan dari hari keharinya. Keuangan. dan terkendala jumlah kendaraan serta kondisi peralatan yang telah tua. Aspek kelembagaan 3. dan 3 . Untuk memahami permasalahan tersebut. Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang. Keterbatasan kemampuan Dinas Kebersihan dalam menangani permasalahan tersebut menjadi tanda awal dari semakin menurunnya sistem penanganan permasalahan tersebut. (2) Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara terpadu (pengumpulan. meliputi : 1. Aspek teknis 2. Belum lagi pengelolaan TPA yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ramah lingkungan. Hal ini semakin sulit karena adanya keterbatasan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. (5) Melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip pemulihan biaya (full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan tarif progresif. agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan. dapat disimpulkan perlunya suatu rencana tindak (action plan) yang meliputi: (1) Melakukan pengenalan karekteristik sampah dan metode pembuangannya. Kekurangpedulian penanganan persampahan ini dapat terlihat dari kecilnya anggaran yang disediakan untuk menangani permasalahan persampahan ini. (4) Menggalakkan program Reduce. pengangkutan. penghasilan yang didapat dari pelayanan persampahan masih jauh dari tingkat yang memungkinkan adanya penanganan yang mandiri dan berkelanjutan. Sementara disisi lain.

Partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah. dari timbulan sampah rata-rata per orang per hari sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah terpadu. pengumpulan. 3. (6) Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan. karena sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari bahan organik.mengkaji kemungkinan penerapan struktur tarif yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan. Berapa besar volume sampah yang dihasilkan dan bagaimana komposisi. 4 . timbulan berdasarkan sifatnya. meliputi : 1. pengumpulan. pengangkutan dan pengolahan.2 RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dalam perencanaan pengelolaan sampah antara lain : 1. 1. 3. pengangkutan. Manajemen persampahan yang meliputi sistem pewadahan/pemilahan.3 TUJUAN PENELITIAN Maksud penyusunan Laporan Tugas Akhir ini adalah mengevaluasi dan merencanakan kembali sistem pegelolaan sampah domestik. Adapun perbaikan sistem pengelolaan persampahan adalah dengan menggunakan sistem composting. 1. Untuk mengetahui dan merencanakan sistem manajemen persampahan yang meliputi sistem pewadahan/pemilahan. Untuk mengetahui partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah. 2. komposisi. Untuk mengetahui volume. 2. dan pengolahan. yaitu dengan pemanfaatan ulang sampah organik melalui proses pembusukan.

6.5 MANFAAT Manfaat dari penyusunan laporan Tugas Akhir Ini adalah : 1. Jenis sampling yang digunakan adalah metode random sampling.1. 1. Pengelolaan yang dilakukan adalah pengelolaan dari sumber timbulan sampah. 5. 7. Menghitung besaran timbulan sampah dan mengukur volume sampah per hari. Memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan persampahan. 3. Akan diberikan alternatif pengolahan ditempat penampungan sementara berdasarkan hasil penelitian. 2. Secara umum penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi peneliti yang berminat untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengelolaan persampahan. 4. Tidak dilakukan perhitungan biaya yang diperlukan dalam pengelolaan. Daerah yang akan diteliti adalah kampung Nitiprayan Yogyakarta. 5 . Pengelolaan yang akan direncanakan adalah pengelolaan terhadap sampah yang dihasilkan. 3.4 BATASAN MASALAH Batasan-batasan dan ruang dari pelaksanaan perencanaan pengelolaan sampah adalah sebagai berikut : 1. tempat penampungan sementara dan pembuatan reaktor kompos. Dapat mengetahui dan merencanakan tempat sampah/bak sampah serta bahan yang digunakan. 2.

debu sisa penyapuan. tempat-tempat komersiil. dkk 1993). Bentuk fisik benda-benda tersebut dapat berubah menurut cara pengangkutannya atau cara pengolahannya (Anonim. dari bahan organik dan atau an organik. kertas/karton. 2. ranting pohon. Sampah adalah limbah yang berbentuk padat dan juga setengah padat.2 SUMBER SAMPAH Menurut Anonim (1986). Terdiri dari berbagai macam dan jenis sampah seperti sisa sayuran.1986). yang masing-masing volumenya hampir sama. baik benda logam maupun benda bukan logam.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. atau karena pengolahan. kaleng-kaleng. plastik. sisa makanan dan sebagainnya. 6 . Ciri-ciri sampahnya biasanya mempunyai berbagai macam dan jenis sampah. baik karena telah sudah diambil bagian utamanya. kain bekas. Sampah pasar. Sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan. daun-daunan. daun bekas bungkus.1 PENGERTIAN SAMPAH Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik dan zat an organik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Sampah umumnya dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur). sumber sampah antara lain : a. G. atau karena sudah tidak ada manfaatnya yang ditinjau dari segi sosial ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto. yang dapat terbakar dan yang tidak dapat terbakar. Sampah padat adalah semua barang sisa yang ditimbulkan dari aktivitas manusia dan binatang yang secara normal padat dan dibuang ketika tak dikehendaki atau sia-sia (Tchobanoglous. 1983). Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. dsb (SNI 19-2454-1993).

Isi septik tank merupakan lumpur tinja yang biasanya diambil dan diangkut dengan mobil tangki tinja yang dilengkapi dengan pompa hisap. karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti C. Karakteristiknya hampir sama dengan sampah dari pasar. Benda-benda sisa atau bekas dari proses industri. Ciri-cirinya tidak banyak macam dan jenisnya. misalnya pabrik gula tebu akan membuang ampas tebu. Sampah pabrik atau industri. N. Sampah padat. O. Sampah organik : yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik. f. 2. Sampah selokan. lapangan dan pertamanan. pemakai lapangan dan pertamanan. Sampah pada umumnya dibagi 2 jenis. Umumnya sampah 7 .3 JENIS SAMPAH Berdasarkan jenis sampah pada prinsipnya dibagi 3 bagian besar. Terdiri dari sisa-sisa makanan hewan dan kotorannya. Sampah cair. Sampah jalan. Sampah dalam bentuk gas. atau merupakan ampas-ampas dari pengolahan bahan baku. riol dan septic tank. institusi gedung umum dan lainnya serta pekarangan. Sampah ini terdiri dari pengotoran oleh pelewat jalan atau pemakai jalan. Sampah kandang hewan dan pemotongan hewan. Sampah rumah tinggal. c. yaitu : a. Terdiri dari endapan-endapan dan benda-benda yang hanyut sebagai penyebab tersumbatnya selokan selokan riol. yaitu : 1. c. kantor. H. b. d. kecuali ada sampah dari pengurasan septic tank.b. reruntuhan bunga dan buah. dll. menonjol jumlahnya pada beberapa jenis saja. e. sisa-sisa daging dan tulangtulangnya. pemotong rumput.

hotel. Kedua yang tidak mudah terbakar. debu. Street sweeping. 1983). c. semuanya mudah membusuk. yakni bangkai binatang yang mati karena alam. karet. kaca dan lain-lain. Contohnya kaca. Rubbish. umumnya sampah ini sangat sulit terurai oleh mikroorganisme. 8 . Abandoned vehicle. yakni pengolahan yang tidak mudah membusuk. f. becak. g. zat radioaktif. kaleng. obat-obatan dan lain-lain. Dead animal. contohnya sisa makanan. 2. Pertama yang mudah terbakar. daun-daunan dan lain-lain. yakni semua jenis abu dari hasil pembakaran baik dari rumah maupun industri.organik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme. yakni sampah yang memerlukan penanganan khusus. b. Sampah khusus. misalnya kaleng-kaleng cat. kain. logam-logam lain (Hadiwiyoto. Garbage. dan lain-lain. e. motor. kotoran. sampah pembasmi serangga. alumunium. yakni sampah dari hasil pembersihan jalanan. seperti sepeda. misalnya kaleng.4 KARAKTERISTIK SAMPAH Menurut Anonim (1986) karakteristik sampah adalah sebagai berikut : a. restoran. Ashes. kayu dan sobekan kain. Sampah an organik : sampah yang bahan kandungannya non organik. d. karton. kecelakaan maupun penyakit. sampah halaman. seperti halnya kertas. 2. seperti kertas. kulit. yakni jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan atau sayuran hasil pengolahan dari dapur rumah tangga. yakni bangkai kendaraan.

tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur dengan air minum. kain tekstil. Dampak terhadap kesehatan Lokasi dan pengolahan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. karbon. Penyakit jamur yang dapat menyebar (misalnya jamur kulit). Kayu. e. Menurut Tchobanoglous dkk (1993) komponen sampah-sampah terdiri dari : 1. e. kolera. Kulit. a. h. b. 2. f. Penyakit diare. batu dan keramik). b.5 KOMPOSISI SAMPAH Komposisi sampah adalah komponen fisik sampah seperti sisa-sisa makanan. kertas. g. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. logam besi-non besi. Karet. An organik. Cacing ini 9 . b. c. Kaca. Organik a. kayu. d.2. debu. Kertas. kaca dan lainlain (misalnya tanah. Kain. Kaleng. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat didaerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. karet kulit. . c. c. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Plastik 2. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut : a. Alumunium. Abu. Karbon. Sisa makanan. pasir. d. plastik.6 EFEK SAMPING TERHADAP MANUSIA DAN KESEHATAN A. Logam.

d. drainase dan lain-lain. d. e. b.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminansi oleh raksa (Hg). Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan. c. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien. telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja. B. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. lindi juga berpotensi mencemari air dalam tanah. orang akan 10 . Sampah yang kering menjadi relatif lebih mudah terbakar. b. seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengelolaan air. Sampah beracun. hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis.sebelumnya masuk ke dalam pencernaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah. C. Hal ini dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap. Dampak terhadap lingkungan a. Lindi (leachate) yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. d. Dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi a. Infrastruktur lain dapat juga dipengarui oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai. jembatan. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan. Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator. rendahnya produktifitas). Selain mencemari air permukaan. c. Bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana. Sampah yang dibuang ke saluran drainase atau sungai akan menyumbat atau menghambat aliran air.

Jenis dan jumlah sampah umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor.2003). Kemajuan teknologi Kemajuan teknologi mempengaruhi industri. Tingkat sosial ekonomi Pada ekonomi yang baik maka daya beli masyarakat akan tinggi dan sampah yang dihasilkan akan tinggi pula. 2. SK-SNI. tentang spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang di indonesia. didataran tinggi umumnya banyak sayur-sayuran. S-04-1991-03. Letak Geografi Letak geografi mempengaruhi tumbuh-tumbuhan dan kebiasaan masyarakat. 2. Iklim Iklim yang banyak hujan akan membuat tumbuhan bertambah banyak dibandingkan didaerah kering sehingga sampahnya juga lebih banyak. 2. standar ini mengatur tentang jenis sumber sampah. Kepadatan penduduk Kepadatan penduduk kota jumlahnya tinggi maka akan menghasilkan sampah yang banyak pula. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan sering diperbaiki( Tchobanoglous dkk. besaran 11 . yaitu : 1. 5.7 FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JENIS DAN JUMLAH SAMPAH. yaitu : 1. 1993). sehingga bahan makanan tidak banyak yang terbuang dan hasil buangannya dapat digunakan kembali. 3.8 STANDARISASI PENGELOLAAN PERSAMPAHAN. buah-buahan dan jenis tanaman tegalan yang akhirnya akan mempengaruhi jenis dan jumlah sampah.cenderung membuang sampah dijalan. 4. Standar yang berhubungan dengan pengelolaan persampahan telah diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Badan Standarisasi Nasional (Anonim . dimana selanjutnya akan menggunakan peralatan yang lebih baik.

Pemindahan sampah g. SNI 03-3241-1994. Variasi daerah pelayanan 8. frekuensi pengambilan serta pengukuran dan perhitungan. Penggunaan jenis peralatan 2. kriteria pemilihan lokasi yang meliputi kriteria regional dan kriteria penyisih. Pendapatan dari retribusi 9. standar ini mengatur tentang tata cara pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah yang meliputi lokasi. standar ini mengatur tentang persyaratan teknis yang meliputi : a. f. 2. jumlah contoh. Tingkat pelayanan d.9 PENGELOLAAN SAMPAH Pengelolaan sampah merupakan suatu aliran kegiatan yang dimulai dari sumber penghasil sampah. Timbulan sampah musiman 3. 2. Pengolahan sampah i. Standar ini mengatur tentang ketentuan pemilihan lokasi TPA. Pewadahan Sampah e. cara pengambilan. SNI 19-2454-1991. Frekuensi pelayanan 4.timbulan sampah berdasarkan komponen sumber sampah serta besaran timbulan sampah berdasarkan klasifikasi kota. Sampah dikumpulkan untuk diangkut ke tempat pembuangan untuk 12 . tentang tata cara pengelolaan teknik sampah perkotaan. Estetika 6. Daerah pelayanan c. Tipe kota 7. Teknik Operasional b. Pengangkutan sampah h. Pengumpulan Sampah Kriteria penentuan kualitas operasional pelayanan adalah : 1. Pembuangan akhir 2. Frekuensi penyapuan 5. SNI 19-3964-1994. tentang cara pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah. tentang metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan. Sampah terisolasi dari lingkungan 3.

Penanganan setempat dimaksudkan penanganan yang dilaksanakan sendiri oleh penghasil sampah dengan menanam dalam galian tanah pekarangannya atau dengan cara lain yang masih dapat dibenarkan. Aspek-aspek tersebut dikelompokkan dalam 5 aspek utama. Hal ini dimungkinkan bila daya dukung lingkungan masih cukup tinggi. hukum. teknik operasional. misalnya tersedianya lahan. pencemaran air tanah dan estetika.dimusnahkan. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri dari kegiatan pewadahan/penyimpanan pada sumber sampah. Atau sebelumnya dilakukan suatu proses pengolahan untuk menurunkan volume dan berat sampah. Pada dasarnya pengelolaan sampah ada 2 macam yaitu pengelolaan/penanganan sampah setempat (pola individu) dan pola kolektif untuk suatu lingkungan pemukiman atau kota. Penanganan persampahan dengan pola kolektif. khususnya dalam teknis operasional adalah suatu proses atau kegiatan penanganan sampah yang terkoordinir untuk melayani suatu pemukiman atau kota. 13 . semakin banyak sampah yang dihasilkan. Masalahmasalah muncul akibat semakin berkembangnya kota. dan retribusi serta aspek peran serta masyarakat. pendanaan dan peran serta masyarakat. baik dan sehat. Pengelolaan sampah suatu kota bertujuan untuk melayani penduduk terhadap sampah yang dihasilkannya. Aliran tersebut harus diusahakan berlangsung dengan lancar dan kontinyu dengan meniadakan segala faktor penghambat yang ada. teknik operasional. banjir/genangan. Pengelolaan sampah pada saat ini merupakan masalah yang kompleks. semakin beraneka ragam komposisinya. Pola ini kompleksitas yang besar karena mencakup berbagai aspek terkait. peraturan. pengangkutan serta pembuangan sampai dengan pembuangan akhir harus bersifat terpadu. keterbatasan dana dan beberapa masalah lain yang berkaitan. pembiayaan. yaitu aspek institusi. Secara tidak langsung turut memelihara kesehatan masyarakat serta menciptakan suatu lingkungan yang bersih. Bila salah satu kegiatan tersebut putus atau tidak tertangani dengan baik maka akan menimbulkan masalah kesehatan. Baik dari segi aspek organisasi dan manajemen. kegiatan pengumpulan.

Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang mudah diakses. Dengan adanya wadah yang baik. b. kapasitas 7-10 liter. kapasitas 20-30 liter. maka : a. Misalnya di depan setiap rumah dan pertokoan. Pencampuran sampah yang tidak sejenis dapat dihindari (Enri Damanhuri.Dari segi teknik. b. banyak alternatif penanganan sampah yang sebenarnya dapat diterapkan di Indonesia namun memerlukan dana investasi yang relatif besar. yaitu : 1. Ember plastik dengan penutup. Air hujan ysng berpotensi menambah kadar air di sampah dapat dikendalikan. kapasitas 30-50 liter. biasa digunakan dirumah tangga menengah keatas dengan 14 . c. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya. biasanya untuk pengambilan sebanyak 2 kali seminggu. Bak sampah plastik dengan penutup dan pegangan di kedua sisinya. 2. biasanya dipergunakan di daerah dimana pengambilan sampah dilakukan setiap hari. Bak sampah dari galvanized steel atau plastik dengan penutup. khususnya dalam upaya daur ulang. Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di depan rumah atau bangunan lainnya. Jenis pewadahan secara individual biasanya adalah : a. Bau akibat pembusukan sampah yang juga menarik datangnya lalat dapat diatasi.10 Pewadahan Sampah Pewadahan sampah adalah cara pembuangan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal. maka sebelum melangkah pada teknologi yang canggih. kita perlu menggunakan teknologi yang sesuai untuk kondisi Indonesia. Individual Dimana di setiap sumber timbulan sampah terdapat tempat sampah. Dalam pewadahannya sampah umumnya dibedakan menjadi dua.2006). Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar memudahkan dalam penanganan selanjutnya. c.

biasanya dipergunakan untuk menampung sampah dari perumahan padat. untuk bak dengan kapasitas 2 m3 mampu melayani 2. pemanfaatan dari bekas drum minyak atau semacamnya. Untuk jenis ini pengambilan dilakukan setiap hari. biasanya digunakan di daerah dengan kepadatan relatif rendah. yaitu : a. d. e. Kantong plastik. Ukuran yang biasa digunakan adalah diameter 1 meter. Depo sampah. Jarak maksimum untuk menempatkan depo adalah 150 m. Biasanya ditempatkan di pinggir jalan besar atau tempat terbuka. bin galvanis dengan kapasitas 100 liter untuk 10 keluarga. b. ukuran relatif kecil dan relatif murah. Komunal Yaitu timbulan sampah dikumpulkan pada satu tempat sebelum sampah tersebut diangkut ke TPA. Biasanya terbuat dari kayu. f. bata atau beton dengan pintu. Untuk jenis ini biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga (per tahun) biasanya lebih besar dari jenis-jenis sebelumnya. Depo dibuat dari pasangan batu/bata dengan volume antara 12-25 m3. Drum 200 liter. Bak dengan pintu tertutup. 15 . pewadahan komunal yang paling umum. c. Kapasitas antara 1 – 10 m3. Metode yang digunakan dalam pengumpulan sampah secara komunal biasanya. Kapasitas biasanya tidak lebih dari 2 m3. biasanya dipergunakan didaerah pemukiman kalangan atas. 2. Bagian dalam drum dicat dengan bitumen. perbedaan jenis ini dengan bak pintu penutup adalah tidak adanya pintu pembuangan. dengan volume sesuai kebutuhan dari pemakai. atau ekivalen dengan pelayanan terhadap 10 ribu jiwa. Bin baja yang mudah di angkat.000 orang. biasanya pewadahan ini terbuat dari blok beton.frekuensi pengambilan 2 kali seminggu. Bak dari bis beton. Material yang digunakan oleh jenis ini haruslah bahan yang anti karat sehingga tahan lama. Bak sampah tetap. d.

Mudah dan cepat dikosongkan. Dapat dilakukan dengan 2 cara. 3.Persyaratan bahan dalam pewadahan sampah adalah sebagai berikut : 1. c. Cara pengambilan sampah (manual/mekanik). Di tepi jalan besar. Tidak di pinggir jalan protokol. 4. pada suatu lokasi yang mudah untuk pengoperasiannya. Wadah individual ditempatkan : a. Ekonomis. mudah diperoleh/dibuat oleh masyarakat. Frekuensi pengambilan/pengumpulan sampah. Jumlah penghuni tiap rumah. d. 2. Sistem pelayanan (individual/komunal). Tidak mudah rusak dan kedap air. 2. Lokasi penempatan wadah adalah sebagai berikut : 1. Penentuan ukuran volume ditentukan berdasarkan : 1. 5. Tingkat hidup masyarakat. 4. kecuali kantong plastik/kertas. Di halaman belakang untuk sumber sampah dari hotel dan restoran 2. Tidak mengambil lahan trotoar (kecuali bagi wadah sampah pejalan kaki). Sedekat mungkin dengan sumber sampah. b. Mudah untuk diperbaiki. 2. e. 3. Wadah komunal ditempatkan : a.11 Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan sementara atau ke pengolahan sampah skala kawasan atau langsung tempat pembuangan atau pemrosesan akhir tanpa melalui proses pemindahan. Di halaman muka (tidak di luar pagar) b. Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. yaitu : 16 .

D. TPS dapat pula berfungsi sebagai lokasi pemrosesan skala kawasan yang berguna untuk mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke pemrosesan akhir. Tempat penampungan sementara berupa : 1. Transfer Station / Transfer Depo. Sebaiknya mempunyai tutup. Dan memiliki kriteria persyaratan sebagai berikut : a. kontainer. B. proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan bersamaan. Pada sistem ini. atau langsung ke truk pengangkut sampah. Mudah dalam loading dan unloading. atau ke tempat pembuangan akhir. sebelum diangkut ke tempat pemrosesan. Gerobak tangan merupakan alat pengangkut sampah sederhana yang sering dijumpai di kota-kota Indonesia. Dalam hal ini. Memiliki konstruksi yang ringan dan sesuai dengan kondisi jalan yang ditempuh. Bangunan tempat penampungan / pemuatan sampah. Untuk suatu lokasi transfer depo (TPS) diperlukan areal tanah minimal 200 m2. c. bila lokasi ini berfungsi juga sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan maka dibutuhkan tambahan luas lahan sesuai aktifitas yang dijalankan. Bangunan untuk ruangan kantor. Sampah dari tiap-tiap sumber akan diambil. C. sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu dalam gerobak tangan atau sejenisnya dan diangkut ke TPS. Secara tidak langsung ( Communal ). b. dikumpulkan dan langsung diangkut ke tempat pemrosesan atau ke tempat pembuangan akhir. Secara langsung ( Door to door ). Pada sistem communal ini. Tempat penyimpanan peralatan. Pada sistem ini. 2. sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul seperti dalam gerobak tangan (hand cart) dan diangkut ke TPS. 17 .1. biasanya terdiri dari : A. Peralatan parkir. Tempat penampungan Sementara (TPS) merupakan suatu bangunan atau yang digunakan untuk memindahkan sampah dari gerobak tangan ke landasan.

3. Dibutuhkan landasan permanen sekitar 25–50 m2 untuk meletakkan kontainer. gang). Faktor – faktor yang mempengaruhi pola pengumpulan sampah : a. Keseimbangan pembebanan tugas. Bak – bak komunal yang dibangun permanen dan terletak di pinggir jalan. d. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan adalah waktu pengumpulan dan frekuensi pengumpulan.2. Pengumpulan sampah harus memperhatikan : a. misalnya pagi hingga siang hari. Optimasi penggunaan alat. b. 18 . Jumlah sampah terangkut. f. Bila sistem pengumpulan telah memasukkan upaya daur ulang maka frekuensi pengumpulan sampah dapat diatur sesuai dengan jenis sampah yang akan dikumpulkan. b. 2. Kepadatan penduduk dan tingkat penyebaran rumah. c. Semakin besar frekuensi pengumpulan sampah maka semakin banyak volume sampah yang dikumpulkan per service per kapita. Minimasi jarak operasi. Di banyak tempat di kota–kota Indonesia. Dalam hal ini sampah kering dapat dikumpulkan lebih jarang. Penempatan sarana ini juga bermasalah karena sulit untuk memperoleh lahan dan belum tentu masyarakat yang tempat tinggalnya dekat dengan sarana ini bersedia menerimanya. c. landasan ini tidak disediakan dan kontainer diletakkan begitu saja di lahan tersedia. Jumlah penduduk. 2. e. Sebaiknya waktu pengumpulan sampah adalah saat dimana aktifitas masyarakat tidak begitu padat. Container Besar (Steel Container) volume 6 – 10 m3 yang diletakkan dipingggir jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. Panjang dan lebar jalan. Frekuensi pengumpulan sampah menentukan banyaknya sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut per hari. Kondisi sarana penghubung (jalan. Luas daerah operasi.12 Pola pengumpulan sampah Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah : 1.

Pola individual langsung oleh truk pengangkut menuju ke pemrosesan. becak). B. Penyapuan jalan dan taman.3 m3/hari. Pola individual tidak langsung dengan menggunakan pengumpul sejenis gerobak sampah. 3) Kondisi dan jumlah alat memadai. 19 . d. Komunal tidak langsung. kawasan pemukiman yang tersusun rapi. e. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan. 6) Layanan dapat pula diterapkan pada daerah gang. Individual langsung. dapat digunakan alat pengumpul non mesin (gerobak. b. 2) Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai jalan lainnya. Pola pengumpulan sampah terdiri atas : A. 4) Jumlah timbulan sampah > 0. 3) Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung. daerah elit dan jalan protokol.g. dapat diterapkan bila : 1) Bila kondisi topografi bergelombang (rata – rata < 5 %). 2) Kondisi topografi relatif datar (rata – rata < 5 %). Komunal langsung. Petugas pengangkut tidak masuk ke gang. misalnya dengan bunyi-bunyian. c. dapat diterapkan bila : 1) Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. hanya alat pengumpul mesin yang dapat beroperasi. tetapi hanya akan memberi tanda bila sarana pengangkut ini datang. Jarak titik pengumpulan dengan lokasi. Jenis / pola pengumpulan sampah dapat dibagi menjadi : a. 5) Biasanya daerah layanan adalah pertokoan. 3. Individual tidak langsung. 4) Lebar jalan atau gang cukup lebar untuk dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya.

3) Pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan diangkut ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke pemrosesan akhir. Pola penyapuan jalan. 5) Lebar jalan/gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. 2) Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau alat pengumpul. Dapat digunakan alat pengumpul non mesin (gerobak. 5) Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengangkut (truk). E. C. kontainer kecil beroda dan karung. 3) Alat pengangkut sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual (kondisi daerah berbukit.5) Terdapat organisasi pengelola pengumpulan sampah dengan sistem pengendalinnya. Pola komunal tidak langsung. D. Pola komunal langsung oleh truk pengangkut dilakukan bila : 1) Alat angkut terbatas. 4) Pengendalian personel dan peralatan harus baik. 6) Pemukiman tidak teratur. becak) dan bagi kondisi topografi > 5 % dapat digunakan cara lain seperti pikulan. lapangan rumput dan lain-lain) 2) Penanganan penyapuan jalan untuk setiap daerah berbeda tergantung pada fungsi dan nilai daerah yang dilayani. 4) Bagi kondisi topografi yang relatif datar (rata – rata < 5 %). dengan persyaratan sebagai berikut : 1) Peran serta masyarakat tinggi. 3) Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. 2) Kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan. 20 . 6) Harus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah. gang / jalan sempit). dengan persyaratan sebagai berikut : 1) Juru sapu dapat mengetahui cara penyapuan untuk setiap daerah pelayanan (tanah. 4) Peran serta masyarakat tinggi.

kondisi daerah dan jenis sampah yang akan diangkut (Sarudji. Pengomposan (Composting) Adalah suatu cara pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan aktifitas bakteri untuk mengubah sampah menjadi kompos (proses pematangan).Perencanaan operasional pengumpulan sampah harus memperhatikan : 1. 2. sampah. penghancuran. dan asap akan terbawa ketempat-tempat sekitarnya yang akhirnya akan menimbulkan gangguan. debu. Mempunyai daerah pelayanan tertutup dan tetap. jarak tempuh.13 PENGOLAHAN SAMPAH Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah atau merubah bentuk menjadi lebih bermanfaat. 2. desain peralatan. Pembakaran sampah Pembakaran sampah dapat dilakukan pada suatu tempat. tergantung dari kapasitas kerja. pengeringan dan pendaur ulangan. 21 . Ritasi antara 1 – 4 rit per hari. 5. 4. pengomposan. periode pengumpulannya dapat dilakukan lebih dari 3 hari sekali. Adapun teknik pengolahan sampah adalah sebagai berikut : 1. abu. periodesasi pelayanan semakin sering. Sedang sampah B-3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. (SNI T-13-1990-F). antara lain dengan cara pembakaran. Untuk sampah kering. 3. kualitas kerja. Mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan perlu dipindahkan secara periodik. Pembakaran yang paling baik dilakukan disuatu instalasi pembakaran. Semakin besar persentase sampah organik. 2. Pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah sampah terangkut. namun pembakaran menggunakan insinerator memerlukan biaya yang mahal. Namun demikian pembakaran ini sulit dikendalikan bila terdapat angin kencang. misalnya lapangan yang jauh dari segala kegiatan agar tidak mengganggu. arang sampah. Periodesasi : untuk sampah mudah membusuk maksimal 3 hari sekali namun sebaiknya setiap hari. 1982). yaitu dengan menggunakan insinerator. serta kondisi komposisi sampah.

3. 5. 4. 22 . dimana dilakukan pemisahan atas benda-benda bernilai ekonomi seperti : kertas. bedanya reuse langsung digunakan tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Reduce Adalah usaha untuk mengurangi potensi timbulan sampah. dan lain-lain dari sampah yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga dapat digunakan kembali baik dalam bentuk yang sama atau berbeda dari bentuk semula. plastik. misalnya tidak menggunakan bungkus kantong plastik yang berlebihan. Recycling Merupakan salah satu teknik pengolahan sampah. karet. Reuse Merupakan teknik pengolahan sampah yang hampir sama dengan recycling.

Pembuangan sampah dari rumah tangga dibuang secara terpisah yaitu mulai dari sampah organik dibagi menjadi 2 yaitu sampah organik basah dan kering. sampah kaca. Pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan secara swakelola oleh penduduk setempat dengan membuat kelompok-kelompok tiap RT. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengelolaan sampah di kawasan perencanaan diantaranya: 23 . terutama untuk sampah yang bersumber dari rumah tangga. Skema swakelola sampah rumah tangga yang berbasis pada masyarakat yang bisa diterapkan. dan recycle. dan sampah plastik. reduce. sehingga diusahakan sampah yang keluar dan dibuang ke TPA seminimal mungkin.1. sedangkan untuk sampah anorganik juga dibagi menjadi 3 bagian yaitu sampah logam. Pengelolaan sampah di kawasan perencanaan diarahkan dengan konsep reuse. genthong dll TPS Alat angkut Gerakan masyarakat Evaluasi Gambar 2.Sosialisasi Pendampingan Percontohan Pembentukan lembaga Penyiapan perlengkapan Drum.

menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah). 3. 4. Pemilahan dilakukan pada 4 tempat yakni: organik (sisa dapur. Perlu dibentuk lembaga masyarakat yang khusus menangani sampah. 24 . Melakukan sosialiasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan 2. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan tindakan 3R yaitu reduce. yaitu kelompok Mesophilic (mikroorganisme yang hidup pada temperatur 23°-45° C. 5. dengan bantuan pendampingan kalau dibutuhkan. seperti: cacing pita. semut. Actinomycetes. dan sebagainya). Rotifera. sampah tersebut dapat diurai oleh mikroorganisme atau cacing (vermicomposting) sehingga terjadi proses pembusukan. cacing kremi. misal menjadi kompos atau barang daur ulang sehingga dapat dijual dan menghasilkan uang. Protozoa. gelas/kaca. 2. Lembaga ini harus dibentuk dari warga sendiri. kumbang tanah) dan Thermopilic (mikroorganisme yang hidup pada temperatur 45°-65° C. Proses stabilisasi pada komposting secara aerobik dapat digambarkan seperti Mikroorganisme yang bekerja pada proses pengomposan dibedakan atas dua kelompok. non organik (plastik. cacing tanah. kompos yang dihasilkan sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah karena kandungan unsur hara dan kemampuannya menahan air (Damanhuri 2003). dan kertas). keong kecil.1. Melakukan upaya swakelola sampah tingkat rumah tangga dengan berbasis pada masyarakat (community-based solid waste management) sehingga sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. kutu jamur).14 PENGOMPOSAN ( COMPOSTING ) Pengomposan merupakan teknik pengolahan sampah organik yang biodegradable. reuse dan recycle (mengurangi. Mengadakan pemilahan langsung antara sampah organik dan non organik dari masing-masing rumah tangga. seperti: jamur.

2 Keunggulan Kompos Pupuk organik atau kompos memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pupuk an organik.2004. actinomycetes.83 0. bakteri. Kadar 1. Humus dalam kompos mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.61 2.70 5.2 Kompos juga berfungsi sebagai pemasok makanan bagi mikroorganisme di dalam tanah seperti kapang. Selain itu.1 Komponen Kompos Komponen kompos yang paling berpengaruh terhadap sifat kimiawi tanah adalah kandungan humusnya. 2. humus merupakan penyangga kation yang dapat mempertahankan unsur hara sebagai bahan makanan untuk tanaman. Berikut beberapa perbedaan antara pupuk organik atau kompos dan pupuk an organik : 25 .14. 2004). Humus yang menjadi asam humat atau jenis asam lainnya dapat melarutkan zat besi (Fe) dan alumunium (Al) sehingga fosfat yang terikat besi dan alumunium akan lepas dan dapat diserap oleh tanaman. Kandungan kimiawi kompos dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.dkk.1 Analisis kimia kompos Bahan Nitrogen (%) P205 (%) K20 (%) Humus (%) Kalsium (%) Zat Besi (%) Seng (ppm) Timah (ppm) Tembaga (ppm) Kadmium (ppm) Ph Sumber : Nan Djuarnani dkk.36 53. dan protozoa sehingga dapat meningkatkan dan mempercepat proses dekomposisi bahan organik(Nan Djuarnani.2.33 0.1 285 575 65 5 7.14.

b. Meningkatkan daya serap tanah terhadap air dan zat hara. 2004).dkk.3 PROSES PENGOMPOSAN Prinsip pengomposan adalah menurunkan nilai rasio C/N bahan organik menjadi sama dengan rasio C/N tanah. d. h. 2. 2.14. Melindungi tanah terhadap kerusakan yang disebabkan erosi. f. walaupun jumlahnya sedikit. tetapi justru penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat membuat tanah menjadi keras. (Nan Djuarnani. Mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap. Sifat pupuk an organik 1. Pengomposan secara Aerobik 26 . Memperbaiki drainase dan tata udara di dalam tanah. di dalam B. Sering membuat tanaman manja sehingga rentan terhadap penyakit (Nan Djuarnani. Memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tidak mudah terpencar. Nilai rasio C/N tanah adalah 10-12. 2004 ). Membantu proses pelapukan bahan mineral. Menurunkan aktifitas mikroorganisme tanah yang merugikan. 3. Rasio C/N adalah hasil perbandingan antara karbohidrat dan nitrogen yang terkandung di dalam suatu bahan. 4.A. Hanya mengandung satu atau beberapa unsur hara. 2. c. Dapat memperbaiki struktur tanah dengan cara sebagai berikut : a. Bahan organik yang memiliki rasio C/N sama dengan tanah memungkinkan bahan tersebut dapat diserap oleh tanaman. g. 1. Beberapa tanaman yang menggunakan kompos lebih tahan terhadap serangan penyakit. Memperbaiki kehidupan mikroorganisme didalam tanah dengan cara menyediakan bahan makanan bagi mikroorganisme tersebut. Sifat Kompos 1. tetapi dalam jumlah banyak. Tidak dapat memperbaiki struktur tanah.dkk. Menggemburkan dan meningkatkan ketersediaan bahan organik tanah. e. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) 3.

Sebagian dari energi yang dihasilkan digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan reproduksi. 27 . Setelah itu mulai merombak pati. dan senyawa lain seperti asam organik yang memiliki berat molekul rendah (asam asetat. humus dan energi. dan nitrogen anorganik. Mikroorganisme akan menangkap amonia yang terlepas. energi. asam butirat. CO2. Proses dekomposisi bahan organik secara aerobik dapat disajikan dengan reaksi sebagai berikut : Bahan Organik → CO2 + H2O + Humus + Hara + Energi Selama hidupnya. Pengomposan secara kimiawi Timbunan kompos berhubungan erat dengan faktor kimia yang cukup kompleks. Makanannya diperoleh dari bahan organik yang akan diubah menjadi produk metabolisme berupa karbondioksida (CO2). 3. lemak. enzim dalam sel tanaman telah mulai merombak protein menjadi asam amino. sisanya dibebaskan ke lingkungan sebagai panas. protein dan selulosa di dalam gula. asam propionat. Namun pada proses an aerobik perlu tambahan panas dari luar sebesar 300 C. asam amino. dan asam laktat). Proses ini merupakan proses yang dingin dan tidak terjadi fluktuasi temperatur seperti yang terjadi pada proses pengomposan secara aerobik. Banyak perubahan terjadi selama proses pengomposan. Hasil dari dekomposisi bahan organik secara aerobik adalah CO2. humus.Dekomposisi secara aerobik adalah modifikasi yang terjadi secara biologis pada struktur kimia atau biologi bahan organik dengan kehadiran oksigen (02). Proses an aerobik umumnya dapat menimbulkan bau yang tajam sehingga proses pengomposan lebih banyak dilakukan secara aerobik. mikroorganisme mengambil air dan oksigen dari udara. Proses pengomposan secara an aerobik akan menghasilkan metana atau alkohol. Selanjutnya mikroorganisme menangkap semua bahan yang terlarut seperti gula. bahkan sebelum mikroorganisme bekerja. 2. H2O (air). serta menyatukan unsur kecil menjadi struktur baru. Pengomposan secara An aerobik Dekomposisi secara an aerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia dan biologi bahan organik tanpa adanya kehadiran oksigen (hampa udara). air (H2O). Dalam proses selanjutnya amonia akan diproduksi dari protein.

Namun ukuran bahan tersebut jangan terlalu kecil. mikroorganisme yang ada di dalamnya tidak bisa bekerja secara optimal. Pengomposan secara Biologi Selama proses pengomposan secara aerob. Rasio C/N Rasio C/N merupakan faktor paling penting dalam proses pengomposan hal ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari kegiatan mikroorganisme yang 28 . Bakteri termofilik mulai berperan merombak protein dan karbohidrat nonselulosa seperti pati dan hemiselulosa. 2004 ).14. Jamur ini akan merombak hemisellulosa dan selullosa. Jika pasokan oksigen berkurang. 2.4. populasi mikroorganisme terus berubah. Jamur termofilik mampu hidup pada temperatur 40 – 600 C. Bahan yang berukuran kecil akan cepat didekomposisi karena luas permukaannya meningkat dan mempermudah aktivitas mikroorganisme perombak. gula dan pati. jamur dan bakteri pembuat asam mengubah bahan makanan yang tersedia menjadi asam amino. (Nan Djuarnani. Pada fase termofilik.Nitrogen tanaman dikonversikan menjadi nitrogen mikroba dan sebagian diubah menjadi nitrat. Pade fase mesofilik. Ukuran bahan Proses pengomposan akan lebih cepat jika bahan mentahnya memiliki ukuran yang kecil. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PENGOMPOSAN 1.dkk. tetapi akan mati pada temperatur di atas 600 C. 2. Aktivitas mikroorganisme ini menghasilkan panas dan mengawali fase termofilik di dalam tumpukan bahan kompos. Karena itu bahan yang berukuran besar perlu dicacah atau digiling terlebih dulu sehingga ukurannya menjadi lebih kecil. Ukuran bahan mentah yang terlalu kecil akan menyebabkan rongga udara berkurang sehingga timbunan menjadi lebih mampat dan pasokan oksigen kedalam timbunan akan semakin berkurang. Sebagian dari bakteri ini mampu merombak selulosa. Nitrat merupakan senyawa yang dapat diserap tanaman. 4. thermophilic actinomycetes mulai tumbuh dan jumlahnya terus bertambah karena bakteri ini tahan terhadap panas.

tetapi rasio paling baik adalah 30.8 : 1 6 : 1 hingga 10 : 1 50 : 1 hingga 200 : 1 10 : 1 20 : 1 25 : 1 35 : 1 60 : 1 6:1 100 : 1 100 – 130 : 1 3:1 500 : 1 200 hingga 400 : 1 2:1 29 . Jenis Bahan Urin Tinja Kertas koran Kotoran ayam Kotoran sapi Kotoran kuda Sisa buah buahan Jagung. Besarnya nilai rasio C/N tergantung dari jenis sampah. diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk memyelesaikan degradasi bahan kompos sehingga waktu pengomposan akan lebih lama dan kompos yang dihasilkan akan memiliki mutu rendah. aktivitas biologi mikroorganisme akan berkurang. dan nitrogen untuk membentuk sel. bonggol Lumpur aktif Jerami jagung Kulit batang pohon Darah Serbuk gergaji Kayu Buangan Pemotongan Hewan Rasio C/N 0. Selain itu. Tabel 2. Jika rasio C/N tinggi. Jika rasio C/N terlalu rendah (kurang dari 30).2 Perbandingan kandungan Karbon dan Nitrogen berbagai bahan organik (C/N). kelebihan nitrogen (N) yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tidak dapat diasimilasi dan akan hilang melalui volatisasi sebagai amonia atau terdenenitrifikasi. Pada tabel dapat dilihat komposisi dari bahan-bahan yang dapat dikomposisikan dengan rasio C/N dari masing-masing bahan. Proses pengomposan yang baik akan menghasilkan rasio C/N yang ideal sebesar 20 – 40.membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan pembentuk sel.

bonggol Kacang kacangan Sumber : Yuwono. endapan Apel. 2006 12 : 1 hingga 20 : 1 15 : 1 14 : 1 19 : 1 25 : 1 40 : 1 hingga 125 : 1 50 : 1 hingga 70 : 1 150 : 1 hingga 200 : 1 10 : 1 hingga 40 : 1 50 : 1 hingga 60 : 1 11 : 1 11 : 1 15 : 1 hingga 20 : 1 15 : 1 hingga 60 : 1 15 : 1 hingga 17 : 1 10 . buah/jarum Kopi bubuk. Secara umum kelembaban yang baik untuk berlangsungnya proses dekomposisi secara aerobik adalah 50 – 60 %. Namun sebenarnya kelembaban 30 .Sampah sayuran Sampah dapur campur Pupuk hijau Ganggang laut Kulit kentang Jerami gandum Jerami padi Kertas koran Daun daunan segar Daun daunan kering Daun dadap muda Daun tephrosia Kulit kopi Bahan potong (cabang) Pangkasan teh Bungkil biji kapuk Bungkil kacang tanah Cemara. 1 hingga 12 : 1 7:1 60 : 1 hingga 110 : 1 20 : 1 21 : 1 35 : 1 12 : 1 hingga 25 : 1 60 : 1 15 : 1 3 Kelembaban Dekomposisi secara aerobik dapat terjadi pada kelembaban 30-100 % dengan pengadukan yang cukup. buah Sampah buah buahan Rumput rumputan Jagung.

14.0 – 7.yang baik pada pengomposan tergantung dari jenis bahan organik yang digunakan atau jenis bahan organik yang paling banyak digunakan dalam campuran bahan kompos. Pada proses selanjutnya mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organik yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajad keasaman yang tinggi dan mendekati netral (Nan Djuarnani.5 EM4 EM4 (Effective Microorganisme) berupa larutan cair berwarna kuning kecoklatan. Selain itu pada temperatur tersebut enzim yang dihasilkan juga paling efektif menguraikan bahan organik.0. Teruo Higa dari Universitas Ryuksus Jepang. Namun setiap kelompok mikroorganisme memiliki temperatur optimum yang berbeda sehingga temperatur optimum pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis mikroorganisme yang terlibat. derajad keasaman bahan pada permulaan pengomposan umumnya bersifat asam sampai dengan pH netral (pH 6. Pada temperatur ini mikroorganisme dapat tiga kali lipat dibandingkan dengan temperatur yang kurang dari 550 C. Cairan ini berbau sedap dengan rasa asam manis dan tingkat keasaman (pH) kurang dari 3.0 maka cairan ini tidak dapat digunakan lagi.0 – 8. Apabila tingkat keasaman melebihi 4.5. bakteri asam laktat. ditemukan pertama kali oleh Prof. 4 Temperatur pengomposan Proses pengomposan akan berjalan baik jika bahan berada dalam temperatur yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme perombak. Dr.0). 5 Derajad Keasaman (PH) Pengomposan Kisaran pH kompos yang optimal adalah 6. Temperatur optimum yang dibutuhkan mikroorganisme untuk merombak bahan adalah 35 – 550 C. 2004). Derajad keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. 31 . Mikroorganisme efektif atau EM4 adalah suatu kultur campuran berbagai mikroorganisme yang bermanfaat (terutama bakteri fotosintesis. Pada pengomposan secara aerobik akan terjadi kenaikan temperatur yang cukup cepat selama 3–5 hari pertama dan temperatur kompos dapat mencapai 55–700 C.dkk. ragi. 2.

ampas kelapa. 32 .( yuwono. EM4 terbuat dari kultur campuran berbagai spesies mikroba yang terdapat dalam lingkungan alami di seluruh dunia. sayur. Bokasi adalah kata dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang telah difermentasikan. kulit buah dan sisa makanan lainnya dengan menggunakan EM4. EM4 tidak berbahaya bagi lingkungan karena kultur EM4 tidak mengandung mikroorganisme yang secara genetika telah dimodifikasi. 2005 ).Actinomycetes. dan jamur peragian) yang dapat digunakan sebagai inokulan untuk meningkatakan keragaman mikroba tanah dan dapat memperbaiki pertumbuhan serta jumlah mutu hasil tanaman. Setiap spesies mikroorganisme mempunyai peranan masing-masing. Bokasi dibuat dengan memfermentasikan bahan-bahan organik seperti dedak. bahkan EM4 bisa diminum langsung. tepung ikan dan sampah dapur (sepert sisa-sisa nasi. daging. Bakteri fotosintesis adalah pelaksana kegiatan EM4 yang terpenting karena mendukung kegiatan mikroorganisme dan juga memanfaatkan zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme lain.

misalnya Fusarium. Menguraikan bahan organik secara tepat untuk menghasilkan alkohol. asam nukleik. Menekan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan. 2.zat yang bermanfaat dari sekresi akar tumbuhan. 1. 2. Meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme lainnya. Membentuk zat antibakteri dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam-asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintesis. zat-zat bioaktif dan gula. Menghasilkan asam laktat dari gula.Tabel 2. Zat-zat bermanfaat itu antara lain asam amino. Bakteri fotosintesis Bakteri asam laktat Ragi Actinomycetes Jamur fermentasi 1. 2. 3. Semuanya mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sumber : Yuwono.3 Fungsi mikroorganisme di dalam larutan EM4 Nama Fungsi 1. 2005 33 . ester dan zat-zat antimikroba. 1. Menekan pertumbuhan jamur dan bakteri. serta memfermentasikan tanpa menimbulkan pengaruh-pengaruh merugikan yang diakibatkan oleh bahan-bahan organik yang tidak terurai. Meningkatkan percepatan perombakan bahan organik 4. Dapat menghancurkan bahan-bahan organik seperti lignini dan selulosa. bahan organik dan gasgas berbahaya ( misalnya Hidrogen Sulfida ) dengan menggunakan sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. 1. 2. Membentuk zat. Menghasilkan zat-zat antimikroba dari asam amino yang dihasilkan oleh bakteri fotosintesis dan bahan organik. Menghilangkan bau serta mencegah serbuan serangga dan ulat yang merugikan. 2.

6. City City adalah pusat kota sub urban. 4.16 HIPOTESA Sesuai sumber penghasil sampah dan kegiatan di sumber timbulan yang adalah pemukiman penduduk sebagai tempat tinggal masyarakat. 2. Rural Urban Fringe Rural urban fringe adalah merupakan daerah jalur yang berada di antara desa dan kota. Penglaju/commuter adalah orang-orang yang tinggal di pinggiran kota yang pulang pergi ke kota untuk bekerja setiap hari. Sub urban / Faubourg Sub urban adalah daerah tempat atau area di mana para penglaju / commuter tinggal yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Rural Rural adalah daerah pedesaan atau desa yang penduduknya hidup sederhana. urban adalah daerah yang penduduknya bergaya hidup modern. urban. maka komponen sampah yang paling dominan adalah sampah organik. Urban Fringe Urban fring adalah daerah perbatasan antara kota dan desa yang memiliki sifat yang mirip dengan daerah wilayah perkotaan. urban. 34 . 3. Pengelolaan yang paling sesuai dengan jenis sampah organik adalah dengan cara komposting.15 PEMBAGIAN WILAYAH DARI PUSAT KOTA KE DAERAH PEDESAAN Pembagian wilayah masing-masing memiliki sifat dan ciri-ciri tersendiri.2. Sub urban Fringe Sub urban fringe adalah area wilayah yang mengelilingi daerah sub urban yang menjadi daerah peralihan kota ke desa. 5. 2. dan rural yang menjadi pusat sub urban. dan rural area. urut- urutannya adalah sebagai berikut : 1.

Banyak pendatang yang menetap di kampung ini. 3. Dalam perkembangannya wilayah Nitiprayan adalah sub urban dimana letaknya tidak jauh dari kota atau di pinggiran kota. Bantul berada pada titik 84 m dari permukaan air laut. Dan suhu udara rata-rata 300 s/d 400 C.83 ha untuk tegalan (kuburan dan jalan). setiap RT dipimpin oleh ketua RT. sehingga penduduk menjadi padat. dan 3. banyak sampah yang timbul yang belum tertangani dengan baik. Kecamatan Kasihan. 35 . serta kegiatan orang-orang yang ada didalamnya pulang pergi ke kota untuk bekerja setiap hari. 3. dan dari 12 RT diketuai oleh seorang kepala dukuh. Kasihan. Kondisi topografi berupa dataran rendah. Kabupaten Bantul.1 Umum Nitiprayan. Bantul Yogyakarta. Ngestiharjo.800 ha.250 ha lahan pekarangan. Dengan penduduk yang padat. Banyaknya curah hujan 2000 s/d 3000 mm/tahun. 241.72 ha untuk kawasan rumah. Ngastiharjo. merupakan salah satu kampung yang berada di kelurahan Ngastiharjo kecamatan Kasihan.4 Kondisi Topografi Nitiprayan. 1.2 Lokasi Nitiprayan terletak di Kelurahan Ngastiharjo. Yogyakarta. Terbagi menjadi 12 RT. yang terdiri dari 395. Bantul ini 640. Kasihan.BAB III GAMBARAN UMUM PERENCANAAN 1.3 Luas wilayah Luas wilayah Nitiprayan.

Seni tari 36 .6 Kependudukan 1. seperti : a. d.Laki-laki : 1. TK SD SMP SLTA D1-D3 S1-S3 : 74 Orang : 131 Orang : 121 Orang : 125 Orang : 35 Orang : 29 Orang 3. Sebelah Timur : Dusun Pakuncen : Dusun Tirtonirmolo : Dusun Sonopakis Kidul : Dusun Winongo 3. Kethoprak d.Perempuan : 1. Sebelah Selatan c.Jumlah b.231 Orang . Sebelah Barat d. KK : 2. c.5 Batas wilayah Nitiprayan mempunyai batas-batas wilayah. karena banyak sekali aktifitas seni yang dikembangkan didaerah ini. b. Sebelah Utara b. Karawitan c. Jenis kelamin . Gejog lesung b. e.7 Potensi yang sudah ada Kampung Nitiprayan sering juga disebut sebagai kampung seni. Aktifitas seni tersebut antara lain.341 Orang : 543 KK 2.110 Orang .3. f. Seni rupa e. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan a. Jumlah penduduk menurut : a. antara lain : a.

juga ada pertemuan-pertemuan yang diadakan seperti Rembug kampung. Sehingga sejauh ini peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah masih kurang. terbukti dengan masih belum teraturnya pembuangan sampah.f. 3. Merti desa (kenduri desa) yang diadakan tiap tahun.-/bulan. 37 . Selain banyak aktifitas seni. Karnaval rutin yang diadakan tiap tahun g. yaitu setiap 2 hari sekali sampah diambil dari tiap-tiap rumah. Dari kegiatan kesenian atau kegiatan yang lain di kampung ini yang nantinya akan di gunakan sebagai pendekatan masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah secara terpadu. Bahkan masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai widuri yang dapat mendatangkan sumber penyakit. terbukti dengan belum adanya kesadaran penuh akan pentingnya kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik. dengan biaya Rp 5000. Sebagin besar sampah dibuang di pekarangan atau di kebun untuk dibakar atau ditimbun dalam tanah.8 Pola Operasional Pengelolaan Sampah Saat ini pola operasional pengelolaan sampah di Nitiprayan belum terkelola dengan baik. Beberapa RT di Nitiprayan sampah sudah dikelola cukup baik dengan bekerjasama dengan pihak swasta.9 Peran Serta Masyarakat Selama ini terlihat bahwa masyarakat Belum mempunyai budaya yang baik dalam masalah sampah. 3. dan di buang di TPS di Bugisan.

3. Kasihan. Data Primer 1. 2.1 IDE TUGAS AKHIR Melihat pengelolaan persampahan yang kurang efisien dan tidak inovatif maka muncul ide tugas akhir mengenai pengelolaan persampahan. 4. Ngestiharjo. Bantul. . tulisan ilmiah dan peraturan perundangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Kampung Nitiprayan Yogyakarta.2 STUDI PUSTAKA Mencari dan mengumpulkan data-data dengan mempelajari buku-buku. a. 4. Data sekunder : 1. Yogyakarta.4 PENELITIAN ATAU SAMPLING Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-3964-1994. Data sistem pengelolaan sampah.secara terpadu di kampung Nitiprayan.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 4. b. Data fisik lokasi penelitian. 2. Pengamatan langsung di lapangan. Laboratorium Kimia Analitik MIPA UGM ( uji kualitas kompos ). Data dari wawancara dan kuisioner. Lokasi 1.3 PENGUMPULAN DATA Jenis data yang dikumpulkan untuk mendukung penyusunan laporan Tugas Akhir ini terdiri dari : a. 2. Hasil pengukuran. 38 .

Bila jumlah penduduk > 106 jiwa P = Cd . 1. Kotak Kayu (20x20x50)cm3. 2. Cd <1 bila kepadatan penduduk jarang.b. Cd >1 bila kepadatan penduduk padat.Cj. Peralatan dan Perlengkapan. Cj = Σpenduduk 10 6 Ps = jumlah penduduk bila Cd = koefisien 106 jiwa Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal. 4. Bila jumlah penduduk P = Cd Ps Dimana : Ps = jumlah penduduk bila Cd = koefisien Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal. e. Meteran. Penentuan Jumlah Sampel Penentuan jumlah sampel yang akan diambil menggunakan rumus berikut : 1. Ps 106 jiwa 106 jiwa. Cd >1 bila kepadatan penduduk padat. d. Metode Pengukuran Contoh Timbulan Sampah. Timbangan. c. 39 . Cd <1 bila kepadatan penduduk jarang. Sampah terkumpul diukur volumenya dengan wadah pengukur 20 x 2 x 50 cm dan ditimbang beratnya. 3. Perlengkapan berupa alat pemindah seperti sekop dan sarung tangan. Frekwensi Pengambilan sampel dilakukan dalam 8 hari berturut-turut pada lokasi yang sama pada setiap pukul 16.00 WIB. 2.

c) Mengumpulkan kantong plastik yang sudah terisi sampah. e) Menimbang kotak pengukur. d) Menghitung komposisi sampah. c) Menimbang masing –masing sampah. Menghitung komponen komposisi sampah sebagai berikut : a) Menimbang sampah total. b) Mencatat jumlah unit masing-masing penghasil sampah. Menentukan lokasi pengambilan sampel. l) Menghitung komponen komposisi sampah. Menyiapkan peralatan.5 PENGOLAHAN DATA Data yang telah diperoleh akan dianalisis dan digunakan dalam perencanaan pengelolaan sampah. Menentukan tenaga pelaksana. 5. j) Memilah sampah berdasarkan komponen komposisi sampah. i) Menimbang dan mencatat berat sampah. 2. Tahapan pengerjaan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 40 . Cara pengambilan dan pengukuran sampel. 4.f. f) Menuangkan secara bergiliran ke kotak pengukur 40 liter. 1. 3. 4. b) Memilah sampah sesuai karakteristik. g) Menghentak 3 kali dengan ketinggian kotak 20 cm. d) Mengangkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran. k) Menimbang dan mencatat berat sampah. Melakukan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah sebagai berikut : a) Membagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada sumber sampah satu hari sebelum pengumpulan. h) Mengukur dan mencatat volume sampah.

pengolahan dan penentuan reaktor kompos. deskriptif variablel dan analisis ANOVA. 4. Proses Komposting. meliputi : 1. Uji kualitas kompos. Menghitung berat jenis sampah.a. pengumpulan. 4. 2. Rumus yang digunakan dalam mengukur volume sampah dalam kotak sampling adalah : Volume sampah = luas kotak x tinggi sampah b. 3. 41 . pengangkutan.7 Bahan Penelitian Pada penelitian ini bahan yang digunakan adalah sampah organik rumah tangga di Kampung Nitiprayan. Desain Reaktor. 4. Menganalisa data kuisioner dengan mengemukakan 3 hal yaitu karakteristik responden. Dalam perhitungan berat jenis sampah menggunakan rumus sebagai berikut : Berat jenis sampah = Beratsampah( Kg ) volumesampah(m 3 ) Dimana berat sampah didapat dengan cara menimbang sample. Komposisi sampah dihitung dengan menggunakan rumus : % komponen = Beratkomponen x100% Berattotalsampah c. 5.6 PERENCANAAN PENGELOLAAN SAMPAH Perencanaan meliputi pewadahan. Perhitungan jumlah timbulan dan karakteristik sampah Kampung Nitiprayan Yogyakarta. sedangkan volumenya diukur dengan kotak kayu berukuran 20 x 20 x 50 (cm3). Penentuan jumlah sampel atau titik sampling. Perencanaan dilakukan berdasarkan analisa dari hasil penelitian. Menghitung prosentase komposisi.

1.7.1

Jenis pewadahan

Gambar 4.1. Jenis pewadahan (Sumber: dokumentasi penelitian)

1.7.2

Kotak pengukur

Gambar 4.2. Kotak pengukur (Sumber: dokumentasi penelitian)

42

1.7.3

Timbangan dan Meteran

Gambar 4.3. Timbangan (Sumber: dokumentasi penelitian)

1.7.4

Termometer dan pH Soil

Gambar 4.4. Termometer dan pH soil (Sumber: dokumentasi penelitian)

4.8

Pembuatan kompos

4.8.1. Bahan pembuatan kompos Bahan yang digunakan adalah sampah rumah tangga dari warga Nitiprayan yang telah diambil sampelnya, yaitu sebanyak 10 rumah. Selain sampah rumah tangga bahan yang digunakan adalah EM4 sebagai biostarter dalam pembuatan kompos.

43

Gambar 4.5 Sampah Rumah Tangga (Sumber: dokumentasi penelitian)

Gambar 4.6 EM4 (Sumber: dokumentasi penelitian)

4.8.2 Persiapan reaktor Pembuatan kompos dengan proses aerobik jadi reaktor yang digunakan untuk pembuatan kompos adalah drum plastik yang dilubangi pada sisi – sisinya yang berfungsi untuk suplai oksigen.

44

EM4 berupa larutan cair berwarna kecoklatan.5. Sebelum dimasukkan kedalam reaktor sampah dicacah terlebih dahulu hingga ukuran menjadi lebih kecil.Gambar 4.3 Tahap Pembuatan a. 45 . Setiap memasukkan sampah organik harus diikuti dengan penambahan EM4 agar didapatkan hasil yang maksimal.7.8. yang kemudian dicampur dengan larutan EM4. Pencampuran bahan Selama pengambilan sampel untuk sampah organik dimasukkan kedalam reaktor. Cairan ini berbau sedap dengan rasa asam manis dan tingkat keasaman (pH) kurang dari 3. Rencana Desain Reaktor Kompos 4.

8 Pemotongan bahan (Sumber: dokumentasi penelitian) Gambar 4.Gambar 4.10 Reaktor kompos (Sumber: dokumentasi penelitian) 46 .9 Potongan bahan pada reaktor (Sumber: dokumentasi penelitian) Gambar 4.

dilakukan pengujian unsur mikro N. Pembalikan Setiap 4 hari sekali dilakukan pembalikan kompos agar proses pembusukan dapat merata dan setiap 4 hari sekali dilakukan pengukuran pH dan suhu. P.11 Pengukuran pH (Sumber: dokumentasi penelitian) Gambar 4. Gambar 4. dan C/N. DIAGRAM TAHAP PERENCANAAN Secara garis besar perencanaan ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 47 .9. Pengukuran parameter uji Setelah terjadi pematangan kompos.b. K. 4.12 Pengukuran suhu (Sumber: dokumentasi penelitian) c.

Studi Pustaka

Pengumpulan Data

§ § §

Data Sekunder : Data Umum wilayah perencanaan Data sistem pengelolaan sampah Data perencanaan daerah pelayanan

Penelitian / Sampling

§ §

Mengolah Data : Menghitung volume dan berat jenis sampel Menghitung besaran timbulan sampah

Perencanaan Pengelolaan sampah : § Pewadahan § Pengumpulan § Pengangkutan § Pengolahan

• • •

Pengolahan Sampah Desain Reaktor Proses Komposting Uji kualitas kompos

Gambar 4.13 Diagram Tahap Perencanaan

48

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1

Hasil Pengukuran Dan Perhitungan Berat Sampah, Volume Sampah Pengukuran volume sampah dari masing-masing sumber menggunakan wadah

kotak kayu berbentuk balok yang telah diketahui ukurannya (20 x 20 x 50 cm). Pengukuran timbulan sampah dilakukan selama 8 hari berturut-turut, sebanyak 10 rumah. Selanjutnya desain reaktor berdasarkan hitungan volume timbulan. Setelah diketahui ukuran reaktor, dilakukan proses komposting pencampuran bahan organik dengan penambahan starter untuk proses fermentasi. Penelitian selanjutnya untuk mengetahui parameter yang berperan dalam proses fermentasi yang meliputi, pH dan suhu selama proses fermentasi berlangsung serta uji kualitas N, P, K, C/N di akhir proses (akhir pengamatan). Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan berat, volume dan berat jenis sampah yang didapatkan dari pengukuran di lokasi. Tabel 5.1 Perhitungan berat, volume, dan berat jenis sampah organik
No Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Ratarata Berat Organik (kg/orang/hari) 0.156 0.305 0.306 0.141 0.07 0.222 0.056 0.11 0.044 0.221 1.631 0.1631 Volume (Lt/orang/hari) 1.44 1.519 2.475 1.171 0.792 1.45 0.645 1.03 0.619 1.588 12.729 1.2729 Berat Jenis (kg/m3) 108.3333333 200.7899934 123.6363636 120.4099061 88.38383838 153.1034483 86.82170543 106.7961165 71.08239095 139.1687657 1198.525862 119.8525862

Sumber : data sekunder

49

Tabel 5.2 Perhitungan berat, volume, dan berat jenis sampah an organik
No Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Ratarata Berat An Organik (kg/orang/hari) 0.09 0.054 0.058 0.05 0.048 0.058 0.026 0.04 0.063 0.052 0.539 0.0539 Volume (Lt/orang/hari) 1.38 1.956 1.431 1.475 1.05 2.013 1.255 0.988 1.863 2.108 15.519 1.5519 Berat Jenis (kg/m3) 65.2173913 27.60736196 40.53109713 33.89830508 45.71428571 28.81271734 20.71713147 40.48582996 33.81642512 24.66793169 361.4684768 36.14684768

Sumber : data sekunder Tabel 5.3 Perhitungan berat, volume, dan berat jenis sampah non 3R
No Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Ratarata Berat non 3R (kg/orang/hari) 0.002 0.014 0 0 0 0 0 0 0.006 0 0.022 0.0022 Volume (Lt/orang/hari) 0.063 0.075 0 0 0 0 0 0 0.063 0 0.201 0.0201 Berat Jenis (kg/m3) 31.74603175 186.6666667 0 0 0 0 0 0 95.23809524 0 313.6507937 31.36507937

Sumber : data primer Penganbilan sampel yang dilakukan di Kampung Nitiprayan dengan jumlah sampling 10 KK. Berdasarkan hasil pengambilan sampel pada 10 KK, maka berat sampah rata-rata per hari untuk sampah organik 0,1631 kg/orang/hari dan Volume sampah An Organik rata-rata per hari adalah 1,2729 L/orang/hari, maka :

50

5519 L/orang/hari.0539kg / orang / hari 1.2 Perhitungan komposisi sampah.0022kg / orang / hari 0.8526 kg/m3 Untuk sampah An Organik rata-rata per hari adalah 0.0022 kg/orang/hari.Berat jenis sampah organik = Berat jenis sampah organik = Beratsampah Volumesampah 0.1198526 kg/l = 119. dan volume sampah Non 3R rata-rata per hari adalah 0.0201l / orang / hari Berat jenis sampah Non 3R = 0.1631kg / orang / hari 1. Hasilnya adalah sebagai berikut : 51 . maka : Berat jenis sampah Non 3R = Berat jenis sampah Non 3R = Beratsampah Volumesampah 0. Komposisi sampah ditentukan berdasarkan pengambilan sampel di lokasi.2729l / orang / hari Berat jenis sampah organik = 0.3614685 kg/l = 36.5519l / orang / hari Berat jenis sampah an organik = 0.14685 kg/m3 Untuk sampah Non 3R rata-rata per hari adalah .020 L/orang/hari.3136508 kg/l = 31. dan volume sampah An Organik rata-rata per hari adalah 1.36508 kg/m3 1. maka : Berat jenis sampah an organik = Berat jenis sampah an organik = Beratsampah Volumesampah 0.0539 kg/orang/hari.

9085 25.05625 ( kg ) 8.25577 1.85 1.4635 19.9148 Non 3R ( kg ) 0.4607 30.6 9.35 (%) 69.7 0 0 0 0 0 0.45 10.4 2.59375 (%) 24.86028 584.55 8.02 80.5279 80.95 10.9 7 58.4256 73.82 13.29213 69.4 Rata-rata komposisi sampah di Kampung Nitiprayan Organik Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 jumlah ratarataBerat total ( kg ) 11.1 2.25 2.319 25.03197 Sumber : data primer 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Jenis sampah Presentase (%) Organik An Organik Non 3R Gambar 5.2 6.3798 27.01 12 8.65 6.87 2.09302 70. dan komponen Non 3R 1. 52 .8333 31.8 7.Tabel 5.9 10.2 0 0.8 3.62016 72.09147 74.92 %.05 %.1125 (%) 6.02 20.00858 0 0 0 0 0 2.16667 66.24719 0 8. komponen An Organik 25.1397 207.1 5.2261 18.05319 An organik ( kg ) 2.77393 81.46 3.907 29.45 8.03%.75 2.9 5.9 0.2 6.1 Komposisi sampah Kampung Nitiprayan Komposisi sampah pada penelitian ini adalah komponen organik 73.

Dengan memperkirakan lama waktu pengomposan selama 30 hari maka desain reaktor dibuat dengan kapasitas 190 liter untuk kapasitas 1 rumah. apabila dibandingkan dengan standar SNI. angka timbulan sampah perkotaan dalam hal ini kota sedang/kecil.3 Timbulan sampah Dari hasil pengukuran timbulan sampah total. maka dipilih reaktor/drum plastik yang ada dipasaran seperti gambar dibawah ini : 53 . Hasil perhitungan timbulan sampah total dapat dilihat dibawah ini : Untuk timbulan sampah total adalah : = berat sampah organik + berat sampah an organik + berat non 3R = 0.2192 kg/org/hari.4.5 – 2 L/org/hari atau 0.0539 kg/orang/hari + 0.1631 kg/orang/hari + 0. maka dapat diketahui rata-rata timbulan sampah per orang/hari adalah 0.2192 kg/org/hari 5. Menurut SNI 19-3964-1994.1 Desain reaktor kompos Penelitian dilakukan pada 10 titik sampel rumah dan didapatkan berat sampah organik 0. Berdasarkan hasil pengukuran timbulan sampah total.0022 kg/orang/hari = 0.3 – 0. Untuk memudahkan proses pembuatan. satuan timbulan sampahnya adalah 1.4 kg/org/hari.4 Pengomposan 5. maka sudah memenuhi standar yang berlaku.5.1631 kg/orang/hari.

9 7 6.8 6.2 Pengamatan pH Derajat keasaman perlu dikontrol selama proses komposting berlangsung. Tabel 5. Desain reaktor kompos 5.0 7 6.9 6.0 6.4.5 Pengukuran pH selama proses komposting berlangsung. Hari pengukuran 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 Sumber : data sekunder pH 6.7 54 . dan juga bagi pertumbuhan mikroorganisme.9 6.2.Gambar 5.9 6. karena pH merupakan indikator pemantauan berhasil atau tidaknya proses fermentasi.

Namun setiap kelompok mikroorganisme memiliki temperatur optimum yang berbeda sehingga temperatur optimum pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis mikroorganisme yang terlibat.4.6 Pengukuran suhu selama proses komposting berlangsung Hari pengukuran 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 Sumber : data primer Suhu (0C) 56 50 55 53 46 30 30 29 28 28 5.5. Temperatur optimum yang dibutuhkan mikroorganisme untuk merombak bahan adalah 35 – 550 C.4.4 Kualitas Akhir Kompos Adapun hasil pengukuran kualitas akhir kompos setelah dilakukan pengujian di laboratorium kimia analitik UGM dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 55 .3 Pengamatan Suhu Proses pengomposan akan berjalan baik jika bahan berada dalam temperatur yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme perombak. Tabel 5.

Tabel 5.210 41.263 Kalkulasi METODE 1 5.450 12913.079 23822.5 Data Responden 1.857 II 0. Jumlah Anggota Keluarga Responden Berikut adalah tabel jumlah anggota keluarga responden.008 41.169 Absorbption Spect Atomic 3 K (ppm) 21927.Tabel 5.047 12486.853 III 0.080 Absorption Spect 4 Sumber : data primer C/N 41.852 Kjeldahl Destilasi Atomic 2 Kompos P (ppm) 12379.7 Pengukuran kualitas akhir kompos (pada hari ke-40) NO KODE SAMPEL PARAMETER HASIL PENGUKURAN (%) I N (%) 0.8 Jumlah Anggota Keluarga Responden Anggota keluarga 3 4-6 7-9 9 Persentase (%) 17 72 8 3 56 .590 27087.

9 Penghasilan Rata-rata responden per bulan Penghasilan / bulan < 500.500.500.000.000.000 – 1. 7 sampai 9 orang sebanyak 8 responden (8 %) dan orang sebanyak 3 responden (3 %). 4-6 orang sebanyak 9 72 responden (72 %). Penghasilan Rata-rata responden per bulan Berikut ini adalah penghasilan Rata-rata responden per bulan : Tabel 5.80 70 60 50 40 30 20 10 0 72 presentase (%) 17 8 3 4s/d 6 6 s/d 9 3 9 Jumlah anggota keluarga Gambar 5.000 1.3 menunjukkan jumlah anggota keluarga responden.000 500. 2.000 – 1. Rata-rata anggota keluarga yang paling banyak adalah antara 4-6 orang tiap 1 KK.000 > 1. hal tersebut di sebabkan karena mayoritas penduduk adalah orang pedesaan. Jumlah anggota keluarga responden 3 orang sebanyak 17 responden (17 %).000 kosong Presentase (%) 36 22 27 15 0 57 .3 Jumlah anggota keluarga responden Gambar 5.

500.000.000.500.500.000.4 Jumlah penghasilan responden per bulan Gambar 5.0001. Jumlah penghasilan penduduk Nitiprayan rata-rata/bulan < 500. 1.000 sebanyak 27 responden (27 %).000 1.500.000 kosong 1.000 500.000 sebanyak 22 responden (22 %).000-1.000.000 mengingat sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai buruh ataupun petani. > 1.500.000 Penghasilan/bulan Gambar 5. Meskipun ada yang bermata pencaharian sebagai pegawai negeri ataupun karyawan swasta hanya sebagian kecil saja. Tinggi Kosong Persentase ( % ) 0 27 14 38 21 0 58 .10 pendidikan terakhir responden Pendidikan Tidak sekolah SD SLTP SMA P.000 sebanyak 36 responden (36 %).000>1.000.1. Pendidikan terakhir responden Berikut ini adalah tabel pendidikan terakhir responden : Tabel 5. 3. Penghasilan penduduk kampung Nitiprayan sebagian besar berpenghasilan < 500.40 35 30 25 20 15 10 5 0 persentase (%) 36 27 15 10 0 <500.000 sebanyak 15 responden (15 %).4 menunjukkan penghasilan rata-rata responden per bulan.

5 Pendidikan terakhir responden. karena sebagian penduduk berpenghasilan kecil mereka hanya menamatkan pendidikan mereka hanya sampai pada tingkat SLTA. SD sebanyak 27 responden (27 %). SMA sebanyak 38 responden (38 %). tinggi kosong Persentase (%) 0 Tidak SD sekolah Pendidikan terakhir Gambar 5.40 35 30 25 20 15 10 5 0 38 27 21 14 0 SMP SMAP. Pembuangan sampah rumah tangga setiap hari Berikut ini adalah tabel pembuangan sampah rumah tangga oleh responden setiap hari: 59 . 4. tetapi ada sebagian kecil yang menamatkan pendidikannya sampai pada tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebanyak 21 responden (21 %). Mayoritas pendidikan terakhir penduduk Nitiprayan adalah lulusan SMA. Jumlah pendidikan terakhir yang tidak sekolah sebanyak 0 responden (0 %). SLTP sebanyak 12 responden (14 %).5 menunjukkan pendidikan terakhir responden. Gambar 5.

60 . Jumlah responden yang membuang sampah pada tempat sampah sendiri sebanyak 86 responden (86 %). Membuang ke sungai sebanyak 0 responden (0 %). Sebagian kecil masyarakat bekerjasama dengan pihak swasta untuk membuang sampahnya ke TPS dengan membayar retribusi Rp.6 menunjukkan pembuangan sampah oleh responden setiap hari.Tabel 5.000.00 per bulan.11 Pembuangan sampah rumah tangga oleh responden setiap hari Persentase (%) Tempat sampah 86 sendiri Sungai 0 Lainnya 8 kosong 6 Pembuangan 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86 Persentase (%) Tempat sendiri 0 Sungai 8 Lainnya 6 Kosong Pembuangan sampah Gambar 5. 5.6 pembuangan sampah oleh responden Gambar 5. Kebanyakan masyarakat Nitiprayan membuang sampah yang mereka hasilkan ke pekarangan atau kebun mereka sendiri yang nantinya akan ditimbun atau dibakar setelah sampah sudah banyak. Dan yang tidak mengisi sebanyak 6 responden (6 %). Lainnya sebanyak 8 responden (8 %).

7 menunjukkan Pemilahan sampah oleh responden setiap hari. Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari Berikut ini adalah tabel banyaknya sampah yang dibuang setiap hari oleh responden. maupun non 3R. 61 . 6.7 Pemilahan sampah rumah tangga Gambar 5. Jumlah responden yang memilah sampah sebanyak 19 responden (19 %). Hal tersebut disebabkan karena masih rendahnya tingkat kesadaran untuk mengelola sampah. Sebagian masyarakat belum melakukan pemilahan antara sampah yang bersifat organik. an organik. Pemilahan Sampah Oleh Responden Berikut ini adalah tabel pemilahan sampah oleh responden: Tabel 5. Yang tidak memilah sampahnya sebanyak 81 responden (81 %).12 Pemilahan sampah rumah tangga oleh responden Pemilahan Dilakukan Tidak Kosong Persentase (%) 19 81 0 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 81 Persentase (%) 19 0 Kosong Dilakukan Tidak Pemilahan Sampah Gambar 5.5.

Jenis sampah yang sering dibuang setip harinya Berikut ini adalah tabel jenis sampah yang dibuang setiap harinya oleh responden. Jumlah responden yang membuang sampah < 1 kg sebanyak 60 responden (60 %). 7. sayuran. 2 – 3 kg sebanyak 32 responden (32 %). 4 – 6 kg sebanyak 8 responden (8 %). > 6 kg sebanyak 1 responden (1 %).14 Jenis sampah yang dibuang setiap harinya Jenis sampah Plastik Kertas Organik Lainnya Persentase ( % ) 23 10 57 10 62 .13 Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari Persentase ( % ) Sampah yang dibuang < 1 kg 60 2 – 3 kg 32 4 – 6 kg 8 > 6 kg 0 kosong 0 60 Persentase (%) 50 40 30 20 10 0 <1 kg 2-3 kg 4-6 kg 8 0 >6 kg 0 kosong 32 60 Banyaknya sampah yang dibuang Gambar 5. Tabel 5.Tabel 5. seperti sisa-sisa makanan. Rata-rata sampah yang dibuang oleh masyarakat Nitiprayan setiap harinya adalah < 1 kg. kebanyakan sampah yang dibuang adalah sampah yang bersifat organik.8 menunjukkan banyaknya sampah yang dibuang setiap hari.8 Banyaknya sampah yang dibuang setiap hari Gambar 5.

Kesediaan jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di Nitiprayan. Kesediaan Ya Tidak Kosong Persentase (%) 89 11 0 dusun 63 . Jumlah responden yang membuang sampah plastik sebanyak 23 responden (23 %). Tabel 5. Sampah yang dibuang rata-rata adalah sampah yang bersifat organik yang mudah membusuk. Kertas sebanyak 10 responden (10 %). Lainnya sebanyak 10 responden (10 %).9 Jenis sampah yang dibuang setiap hari Gambar 5.9 menunjukkan jenis sampah yang dibuang setiap harinya.60 Persentase (%) 50 40 30 20 10 0 Plastik Kertas 23 10 57 10 Organik Lainnya Jenis Sampah Gambar 5. daun-daun pembungkus makanan. 8. Organik sebanyak 57 responden (57 %).15 Kesediaan jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan. Selain sampah yang bersifat organik plastik juga merupakan sampah yang sering dibuang oleh penduduk Nitiprayan. seperti sisa makanan. Berikut ini adalah tabel Kesediaan jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di dusun Nitiprayan.

Jumlah responden yang bersedia berperan serta sebanyak 89 responden (89 %).10 menunjukkan kesediaan responden jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di dusun Nitiprayan. 64 .6. serta sampel tidak berhubungan satu dengan yang lain. Varians dari populasi-populasi tersebut adalah sama.90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 89 Persentase (%) 11 Ya Tidak 0 Kosong Kesediaan berperan serta Gambar 5. Uji dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata nilai dari semua variasi memiliki perbedaan yang signifikan. 5. Masyarakat Nitiprayan sebagian besar mau berperan serta jika dilakukan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung mereka.10 Grafik kesediaan peran serta responden jika dilakukan pengelolaan sampah Gambar 5.. sebagian besar dari mereka sadar bahwa sampah jika dibiarkan secara terus-menerus akan mendatangkan sumber penyakit.1 Pendidikan terakhir dan Kesadaran memilah Dengan Metode Statistik One Way ANOVA Pengolahan untuk data lebih dari 2 sampel sebaiknya menggunakan uji ANOVA dengan asumsi populasi-populasi yang akan diuji berdistribusi normal.6 Pengujian Dengan Statistik 5. Yang tidak bersedia sebanyak 11 responden (11 %). Adapun ringkasan statistik dari data nilai tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat.

030 .PNDDKN 1 .05.17 di bawah ini: Tabel 5. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. maka H0 ditolak Berdasarkan Tabel 5.769 100 T. atau keempat varians adalah identik.05. Jika probabilitas > 0.108.769 100 1 .108 Hipotesis : H0 : Keempat rata-rata populasinya identik H1 : Keempat rata-ratanya tidak identik Pengambilan keputusan: a.PMLHAN Test of Homogeneity dilakukan untuk menguji berlaku atau tidaknya asumsi pada ANOVA. Jika probabilitas < 0.17 Homogenitas variansi untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan.PMLHAN Levene Statistic 2. Adapun hasil perhitungan probabilitas dengan tes homogenitas varians dapat dilihat pada tabel 5. (2-tailed) N T.16 Correlation untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan. Hasil analisis dengan menggunakan ANOVA dapat dilihat pada tabel 5. Setelah keempat varians telah terbukti identik maka asumsi untuk ANOVA tidak berlaku (asumsi keempat sampel mempunyai rata-rata (Mean) yang sama).030 . 100 .279 df1 2 df2 97 Sig. yaitu apakah keempat sampel mempunyai varians yang sama.PMLHAN .279.PNDDKN Pearson Correlation Sig.18 dibawah ini : 65 . maka H0 diterima. maka H0 diterima b. 100 T. dengan nilai probabilitas 0. . Test of Homogeneity of Variances T.05.Tabel 5.17 terlihat bahwa levene test hitung adalah 2. oleh karena itu probabilitas > 0. maka uji ANOVA (Analysis of Variance) dilakukan. Correlations T.

maka H0 ditolak b.PMLHAN Sum of Squares .Tabel 5.19 : 66 .414 10. .560 df 2 97 99 Mean Square .508 Between Groups Within Groups Total Hipotesis : H0 : Keempat rata-rata populasinya identik H1 : Keempat rata-ratanya tidak identik Pengambilan keputusan : a. Berdasarkan nilai probabilitas : 1) Jika probabilitas > 0. Oleh karena probabilitas > 0. maka H0 diterima 2) Jika probabilitas < 0.146 10.05. Hal ini akan dibahas pada analisis Bonferrini dan tukey dalam Post hoc. Berdasarkan Perbandingan F hitung dengan F tabel : 1) Jika F hitung < F tabel. Setelah diketahui bahwa tidak ada perbedaan nilai rata-rata pendapatan dan timbulan sampah yang nyata diantara keempat variasi.18 diatas maka dapat terlihat bahwa F hitung adalah 0.05.05. maka dapat diketahui mana saja variasi yang berbeda dan mana saja variasi yang tidak berbeda.18 pemilahan. maka H0 diterima 2) Jika F hitung > F tabel. maka H0 ditolak Berdasarkan Tabel 5.107 F .682 Sig.073 . maka H0 diterima atau ratarata nilai pendidikan dan kesadaran masyarakat pada keempat variasi identik.508.682 dengan probabilitas 0. berarti tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap tingkat kesadaran pemilahan sampah di kampung Nitiprayan. Hasil analisis dengan test Post Hoc dapat dilihat pada tabel 5. Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai pendidikan dan kesadaran ANOVA T.

3499 Dari tabel 5.1906 .0094 .1193 .000 -.00 -.05 maka H0 diterima atau variasi memiliki perbedaan yang signifikan.00 .1247 1.1949 .1126 .Tabel 5.3444 .606 -.00 2.00 -.00 .00 1.1718 .1032 .752 -.1597 .00 .1247 . serta sampel tidak berhubungan satu dengan yang lain.00 1. Pengolahan untuk data lebih dari 2 sampel sebaiknya menggunakan uji ANOVA dengan asumsi populasi-populasi yang akan diuji berdistribusi normal.10791 3.00 -.1032 .19 diatas dapat telihat bahwa dari hasil uji tukey diketahui bahwa rata-rata pendapatan probabilitas > 0.07613 2.19 Analisis post hoc untuk nilai pendidikan dan kesadaran pemilahan.07613 2. Meskipun pendidikan tinggi belum tentu mau melakukan pemilahan.00 .09741 95% Confidence Interval Sig.00 -.00 1. Multiple Comparisons Dependent Variable: T.1597 .000 -.3499 .00 1.09741 Bonferroni 1.0094 .1761 .1537 . Dari data pengolahan di atas dapat diketahui bahwa untuk tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap kesadaran pemilahan.000 -.992 -.3661 1.00 .1126 .1718 . 67 .PNDDKN (I-J) Std.1193 .00 2.07613 2. Adapun ringkasan statistik dari data nilai tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat.3600 . Uji dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata nilai dari semua variasi memiliki perbedaan yang signifikan.1032 .PMLHAN Mean Difference (I) T.1537 .482 -.1126 .3444 1.2 Nilai Penghasilan dan Jumlah Anggota Keluarga Dengan Timbulan Sampah Menggunakan Metode Statistik One Way ANOVA.1761 1.606 -.0094 .10791 3.3600 .09741 3.07613 2.10791 3.1126 .10791 3. Selain itu dari dari hasil uji pun ditemukan tanda * pada kolom Mean Difference maka perbedaan tersebut nyata atau signifikan.3661 .1949 . 5. Error Tukey HSD 1.00 .09741 3.0094 .1906 .1032 .6.00 -.000 -.992 -.PNDDKN(J) T. Lower Bound Upper Bound .00 -. Varians dari populasi-populasi tersebut adalah sama.752 -.482 -. Karena nilai rata-rata dari ketiga variasi identik.

atau keempat varians adalah tidak identik.Tabel 5.20 Correlation untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah Correlations T. . maka uji 68 .21 di bawah ini: Tabel 5. Setelah keempat varians telah terbukti tidak identik maka asumsi untuk ANOVA tidak berlaku (asumsi keempat sampel mempunyai rata-rata (Mean) yang sama). dengan nilai probabilitas 0.948.012 .452* .21 terlihat bahwa levene test hitung adalah 6. Test of Homogeneity dilakukan untuk menguji berlaku atau tidaknya asumsi pada ANOVA.452* 1 .05.PENGH T.012 30 30 .948 df1 2 df2 26 Sig. maka H0 ditolak Berdasarkan Tabel 5.PENGH Pearson Correlation Sig.05. maka H0 ditolak.004. Jika probabilitas < 0. Adapun hasil perhitungan probabilitas dengan tes homogenitas varians dapat dilihat pada tabel 5. Correlation is significant at the 0. 30 30 T.TMBLAN Levene Statistic 6. . Jika probabilitas > 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.05 level (2-tailed).TMBLAN *. (2-tailed) N T. oleh karena itu probabilitas < 0. yaitu apakah ke empat sampel mempunyai varians yang sama.TMBLAN 1 .05.004 Hipotesis : H0 : Keempat rata-rata populasinya identik H1 : Keempat rata-ratanya tidak identik Pengambilan keputusan: a. maka H0 diterima b.21 Homogenitas variansi untuk nilai pendapatan dan timbulan sampah Test of Homogeneity of Variances T.

ANOVA (Analysis of Variance) dilakukan.22 sampah Analysis of Variance (ANOVA) untuk nilai pendapatan dan timbulan ANOVA T.334 dengan probabilitas 0. maka H0 ditolak b.804 7.367 df 3 26 29 Mean Square .521 . Oleh karena probabilitas > 0. maka H0 diterima atau ratarata nilai pendapatan dan timbulan sampah pada keempat variasi identik. Hasil analisis dengan menggunakan ANOVA dapat dilihat pada tabel 5.334 Sig.097 Between Groups Within Groups Total Hipotesis : H0 : Keempat rata-rata populasinya identik H1 : Keempat rata-ratanya tidak identik Pengambilan keputusan : a. maka H0 diterima 2) Jika F hitung > F tabel.22 diatas maka dapat terlihat bahwa F hitung adalah 2. Rumah yang mempunyai penghasilan tinggi belum tentu timbulan sampahnya tinggi atau sebaliknya rumah yang mempunyai penghasilan rendah belum tentu timbulan sampahnya rendah.TMBLAN Sum of Squares 1. maka H0 diterima 2) Jika probabilitas < 0. Jumlah anggota keluarga juga mempengaruhi dalam jumlah timbulan sampah. berarti tingkat pendapatan tidak berpengaruh terhadap jumlah timbulan sampah di Kampung Nitiprayan.22 dibawah ini : Tabel 5. Dari data pengolahan di atas dapat diketahui bahwa untuk tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap jumlah timbulan sampah.223 F 2.05. . Berdasarkan nilai probabilitas : 1) Jika probabilitas > 0. 69 . Berdasarkan Perbandingan F hitung dengan F tabel : 1) Jika F hitung < F tabel.563 5.05.05. maka H0 ditolak Berdasarkan Tabel 5.097.

masyarakat Nitiprayan dan swasta. Tata cara merintis sebuah sistem pengelolaan sampah 2. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merealisasikan sistem pengelolaan sampah secara terpadu meliputi: 1. sedangkan dana yang didapatkan dari penjualan sampah tersebut. yaitu pemerintah.1 Pembahasan Umum Sistem pengelolaan sampah secara terpadu merupakan salah satu alternatif terbaik yang benar-benar mampu mereduksi jumlah volume sampah secara signifikan di kampung Nitiprayan. Keuntungan yang didapat dengan sistem swakelola sampah Pengelolaan sampah di Kampung Nitiprayan direncanakan secara terpadu.7. Sedangkan untuk sampah yang masih dapat dimanfaatkan dikumpulkan untuk di daur ulang. Lalu sampah-sampah yang telah dipak dan masih memiliki nilai jual. Dimana dalam sistem ini menuntut tanggung jawab. agar sampah tersebut dapat dijadikan pupuk dengan metode pengkomposan. digunakan untuk biaya operasional seperti pembayaran upah tenaga kerja dan peremajaan peralatan pengelolaan sampah. dijual kepada pengepul. dapat dikerjasamakan dengan Dinas Kebersihan untuk diangkut menuju TPA. Sistematika operasional 5. Untuk residu maupun sampah-sampah yang tidak memiliki nilai guna dan nilai jual. Tanggung jawab pengelolaan 3. untuk sampah yang bersifat organik setiap rumah diharuskan untuk menyediakan wadah khusus. Metode pelaksanaan 4.7 5. Kerjasama dengan pihak swasta dalam pembuangan sampah ke TPA dilakukan dengan pertimbangan – pertimbangan sebagai berikut : 70 .5. dimana sampah dilakukan pemilahan Sejak dari sumbernya atau dari setiap rumah. partisipasi dan peran aktif dari berbagai pihak.

Penetapan tingkat kualitas layanan dan kualitas sarana dan prasarana. 2. 71 .1. Penetapan tarif retribusi berdasar kualitas pelayanan. Keharmonisan dan kerjasama dengan mitra swasta untuk menjalankan kontrak yang saling menguntungkan. 3.

Sumber Sampah Timbulan Sampah Pemilahan di Sumber Sampah Organik Sampah Anorganik Sampah Non 3R Pengomposan Residu Pewadahan Pewadahan Dipakai Warga Penjualan Pewadahan Pengumpulan Pengumpulann Pengumpulan TPS Pengangkutan TPS Penjualan TPA Pengangkutan TPA Gambar 5. di 72 .11 Pola Pengelolaan Sampah Mulai Dari Sumber sampai ke TPA Kampung Nitiprayan.

Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari sumber sampah dihasilkan.Sedangkan sampah organik yang dibuang ke TPA adalah 10 % dari keseluruhan volume sampah organik.5. (2) Sampah anorganik.2. kaleng.979 m3/hr . seperti sisa – sisa makanan. Organik Sampah organik = 1.05 %. daun.92 % dan 1.2 Perencanaan manajemen pengelolaan sampah di Kampung Nitiprayan.Sampah organik yang dapat dijadikan kompos yaitu bekas sayur – sayuran. setiap individu harus melakukan pemisahan dalam pengumpulan sampah. jadi pemilahan dilakukan di tiap-tiap rumah warga Nitiprayan. alumunium.979 lt/ hr = 2.7.979 m3/hr = 0. seperti plastik. kaca.273 lt/org/hari x 2. karena menyediakan bahan baku yang bersih untuk di daur ulang atau digunakan lagi. seperti obat – obatan. pengangkutan dan pengolahan.1 Pemilahan Sumber sampah yang paling besar di kampung Nitiprayan adalah sampah organik. sedangkan untuk sampah anorganik 1. yaitu : = 10 × 2.273 L/org/hari. 73 . dimana komposisi dari sampah organik di kampung Nitiprayan sebesar 73. . batok kelapa dll. 5.341 jiwa = 2. Dari hasil penelitian didapatkan hasil volume sampah organik sebesar 1.552 L/org/hari sehingga didapatkan : a. kertas. Pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya sejak dari rumah sangat membantu dalam mengurangi beban proses pengumpulan.2979m 3 / hr 100 Sampah organik yang tidak bisa dijadikan kompos adalah tulang. logam. sayuran. Dimana pada skala rumah tangga. yaitu dibagi menjadi: (1) Sampah organik. (3) Sampah non 3R.03 % untuk sampah non 3R. Selain itu juga sangat membantu dalam proses daur ulang. batang pohon. batere. daun-daunan dan sisa makanan. kain. buah-buahan. sedangkan untuk sampah an organik sebesar 25.7.

2979 = 2.9 lt/hari = 3.279 m3/hr + 1.681m 3 / hari b.36329 m3/hr +0.681 m3/hr + 3.2691 m3/hr = 5.552 lt/org/hari x jumlah penduduk = 1.0201 m3/hr = 2.7011 m3/hr Jumlah volume sampah domestik adalah = volume sampah organik + volume sampah anorganik + volume sampah non 3R = 1.36329 m3/hr c.552 lt/org/hari x 2. Non 3R Non 3R = 0. An organik .95 m3/hr anorganik+ Berikut ini adalah neraca persentase sampah mulai dari sumber sampai ke TPA di Kampung Nitiprayan adalah seperti terlihat dalam gambar dibawah ini : 74 .6329 m3/hari = 0.An organik = 1.0201 lt/org/hr x 2.851 m3/hr Jumlah sampah yang dapat dimanfaatkan adalah = volume kompos + Sampah anorganik yang dimanfatkan = 2.047056m3/hr Total residu yang dibuang ke TPA adalah = Volume residu sampah organik + Volume residu sampah volume sampah non 3 R = 0.Total volume kompos = 2.05 lt/org/hr = 0.5519 m3/hr + 0.341 Jiwa = 47.0201 lt/org/hr x jumlah penduduk = 0.341 jiwa = 3632.6329 m3/hr Residu yang akan dibuang ke TPA adalah 10 % dari volume sampah an organik adalah : = 10% x 3.047056 m3/hr = 0.2979 m3/hr + 0.979 − 0.

Sumber sampah 100 % 6.62 %) Pengomposan 2.6329 m3/hari (10 %) Pemanfaatan 3.63 m3/hari Organik 2.78%) Non 3 R 0.681 m3/hari (90 %) Residu 0.53 %) Pemanfaatan 5.2979 m3/hari (10 %) Residu 3.12. 75 .10 %) Gambar 5. Neraca persentase sampah mulai sumber sampai ke TPA di Kampung Nitiprayan.95 m3/hari (88.979 m3/hari (44.04 m3/hari (0.6329 m3/hari (54.26961 m3/hari (90 %) TPA 0.60 %) Anorganik 3.7011 m3/hari (10.

7. Pewadahan sampah organik. dan 0. a. dan dapat dipakai lebih dari satu kali.55 L/orang/hari. Alasan kenapa yang dipakai adalah kantong plastik. an organik dan non 3R. didapatkan volume untuk sampah organik 1. Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan. non 3R diluar rumah sebelum dilakukan pengumpulan ke TPS 1.5.02 L/orang/hari. yaitu .27 L/orang/hari. kantong maupun kontainer lainnya yang dapat digunakan untuk menampung beberapa jenis sampah tersebut. Pewadahan di rumah – rumah dilakukan dengan 3 jenis. an organik. an organik. untuk sampah an organik 1. a) Kantong plastik berwarna merah untuk sampah yang bersifat organik b) Kantong plastik yang berwarna hitam untuk sampah yang bersifat an organik c) Kantong plastik yang berwarna ungu untuk sampah non 3R Dari hasil pengukuran volume sampah kampung Nitiprayan. Maksud dari pewadahan sampah ini adalah untuk memisahkan sampah yang bersifat organik. dan non 3R agar memudahkan dalam proses pengolahan selanjutnya. Wadah yang digunakan untuk sampah di dalam rumah ini atau sampah rumah tangga dengan menggunakan kantong plastik. yang selanjutnya dibuang pada tempat sampah umum yang telah tersedia sesuai dengan jenis sampah yang akan dibuang. non 3R di dalam rumah. Maka ukuran kantong plastik yang digunakan untuk pewadahan sampah adalah : 76 . mudah/praktis/cepat dalam operasi. an organik. Untuk membedakan mana sampah yang bersifat organik. an organik.2. Pewadahan sampah organik. Pewadahan sampah organik. karena sehat. maka kantong plastik diberi tanda dengan tulisan atau dibedakan warnanya. dan non 3R didalam rumah. c.2 Pewadahan Setiap rumah tangga harus menyediakan wadah baik berupa keranjang. b.

27 L/orang/hari x 5 orang = 6.2 L/hari Jadi kantong plastik yang digunakan untuk sampah organik kantong plastik berkapasitas 15 Liter.02 L/orang/hari x 5 orang = 0. Waktu pengambilan sampah dalam kantong plastik 2 hari sekali maka : Ukuran kantong plastik untuk sampah organik atau kantong yang berwarna merah adalah = 6.35 L/hari x 2 = 12.5 L/hari Ukuran kantong plastik untuk sampah non 3R atau plastik berwarna ungu adalah = 0.13 Plastik (Sumber: dokumentasi penelitian) 77 . Gambar 5.55 x 5 orang = 7.7 L/hari Ukuran kantong plastik untuk sampah an organik atau kantong berwarna hitam adalah = 7.1 L/hari. Banyaknya sampah organik adalah 1.1 L/hari x 2 = 0.75 L/hari Banyaknya sampah non 3R adalah 0. dan untuk sampah non 3 R menggunakan kantong plastik berkapasitas 1 Liter.35 L/hari. Banyaknya sampah an organik adalah 1. untuk sampah an organik kantong plastik berkapasitas 20 liter.- Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga.75L/hari x 2 = 15.

Untuk mengolah sampah organik untuk pengomposan pada setiap rumah tangga diperlukan 2 buah drum plastik.Dari hasil pengukuran didapatkan volume sampah organik 1.273 L/org/hari .Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga.2. Gambar 5. Karena ukuran drum terlalu besar maka digunakan 2 buah drum yang berukuran 95 Liter.Waktu pematangan kompos 30 hari. Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan. Proses pengomposan berlangsung secara alami antara 2 – 3 bulan. .14 Drum untuk kompos (Sumber: dokumentasi Pak Widodo) 78 . . . Pengomposan dilakukan dengan drum plastik yang dapat menampung sampah organik yang dihasilkan dari keluarga dengan anggota 5 orang selama 3 bulan.Ukuran drum plastik = volume sampah organik x waktu pematangan kompos x jumlah keluarga = 1. yang masing – masing dapat menampung sampah organik selama 2 – 3 bulan dan di pakai secara bergantian.273 L/org/hr x 30 x 5 = 190 Liter.

Lebih murah 4. Untuk sampah non 3R Penggunaan wadah ini diberlakukan untuk tiap 10 KK. Tahan lama / awet Pewadahan ini dibagi menjadi 4 macam dengan diberi tanda atau kode : 1. Pewadahan sampah di luar rumah sebelum dilakukan pengumpulan di TPS kampung.3. sehingga untuk sampah kertas. Pewadahan dengan menggunakan bin plastik. dan sampah non 3R sebelum dibawa ke tempat pengumpulan atau ke TPS kampung. Maka desain untuk wadah ini adalah Sampah an organik = 15. yaitu sebesar 15. maka 155 L : 3 = 52 L. Maksud dari pewadahan ini adalah memilahkan antara sampah plastik. Sehat 2. logam. Dapat dipakai umum / pribadi 3. plastik. Untuk sampah logam dan kaca 4. dengan tujuan agar memudahkan dalam pengambilan untuk proses pengumpulan.2 L = 155 L Karena sampah organik dibagi menjadi 3 macam.52 L/hari dan volume sampah non 3R sebesar 0. sehingga di TPS tidak melakukan pemilahan lagi. Rata – rata 1 rumah memiliki 5 orang anggota keluarga. Pengambilan dilakukan tiap 2 hari sekali.20 L/hari. kertas. dan logam. yaitu sampah kertas. Dari hasil pengukuran didapat volume sampah an organik untuk 10 KK. Untuk sampah kertas 3. plastik dan logam dan kaca menggunakan bin plastik dengan ukuran 52 L.52 L/hari x 5 orang x 2 = 155. Sampah non 3R = 0.20 L/hari x 5 orang x 2 hari = 2 L/ hari 79 . Untuk sampah plastik 2. dan penempatan wadah ini di pinggir jalan. dengan alasan : 1.

maka digunakan bin plastik dengan ukuran 20 L.Sehingga untuk sampah non 3R menggunakan bin plastik dengan ukuran 2 L.2. Banyaknya bin yang digunakan untuk satu dusun.15 Bin plastik (Sumber: dokumentasi Pak Widodo) 5. yaitu : Banyaknya rumah yang dilayani = 2. 80 .3 Pengumpulan Pengumpulan dilakukan dengan mengambil sampah yang telah ditempatkan dalam wadah yang telah dipilah menjadi 4 bagian. karena bin plastik yang berukuran 2L susah untuk didapat. yaitu untuk sampah kertas. sampah plastik.7. yang penempatannya diletakkan di pinggir jalan agar mudah dalam pengambilannya. sampah logam dan kaca dan sampah non 3R. maka 468rumah = 47 Rumah. 10 Banyaknya bin plastik yang diperlukan = 47 rumah x 4 unit = 188 unit bin Gambar 5.341orang 5orang = 468 rumah Karena penempatan wadah ini setiap 10 kk atau 10 rumah.

Pengumpulan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali. logam dan kaca ) setiap 10 KK adalah 15. Jenis sampah berukuran besar dapat terangkut. Dengan faktor pemadatan 1.1 Volume tiap pengambilan = pengambilan.72 l/ hari untuk satu lokasi. 3.1572 m3/satu lokasi (10 rumah) / pengambilan. dan murah. 2. Volume gerobak sampah 1 m3 = 1000 liter 1 gerobak melayani = 0. dengan alasan : 1. Mudah dan murah pemeliharaannya.52 + 0.20 Lt/hari untuk sampah non 3R.52 Lt/hari dan 0. Operasi lebih mudah. diangkut dengan menggunakan gerobak dengan kapasitas 1 m3. Volume sampah organik ( plastik. jadi volume sampah total = 15. 4.1572 = 0. Bin plastik yang akan diambil sampahnya berjumlah 188 : 4 (setiap lokasi bejumlah 4 unit) = 47 lokasi.143m3 / satulokasi / pengambilan = 7 lokasi/ pengambilan. 7lokasi 81 .72 L/hari untuk satu lokasi.143 m3/ satu lokasi ( 10 rumah) / 1.1 1m3 0.2 L = 0. Pemanfaatan volume cukup besar. - jumlah gerobak sampah yang dibutuhkan = 47lokasi = 7 gerobak. kertas. luwes.20 = 15. = 157. Frekuensi pengambilan = 2 hari Volume sampah tiap pengambilan = 2 hari / pengambilan x 5 orang / rumah x 15.

82 L/hari. Hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional petugas dan sisanya masuk ke kas kampung untuk dana pengembangan dan pembangunan.341 orang x 0. dengan mempertimbangkan : 1.82 L/hari = 3680. dimana sampah yang telah dikumpulkan diangkut dengan gerobak ke TPS kampung untuk dilakukan penyortiran lebih khusus lagi. Volume sampah Non 3R = 2. 3.552 L/orang/hari = 3. Penetapan tingkat kualitas layanan dan kualitas sarana dan prasarana. Untuk sampah yang masih bisa digunakan atau masih bisa dimanfaatkan kembali dilakukan pengepakan untuk selanjutnya dijual pada pengepul sampah.4 Tempat Penampungan Sementara Tempat Penampungan Sementara Sampah berfungsi untuk mengumpulkan sampah warga dusun Nitiprayan. Keharmonisan dan kerjasama dengan mitra swasta untuk menjalankan kontrak yang saling menguntungkan. Volume sampah total = 3.341 orang x 1.Gambar 5. Sampah yang tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan kembali akan dibuang ke TPA yang bekerjasama dengan pihak swasta.2. 82 .633.14 Gerobak sampah (Sumber: dokumentasi Pak Widodo) 5.7.633.02 L/orang/hari = 46. • Banyaknya TPS Kapasitas TPS = 2 m3 Volume sampah An Organik = 2.23 L/hari. Penetapan tarif retribusi berdasar kualitas pelayanan.23 L/hari + 46. 2.05 L/hari.

Untuk pewadahan kompos. peletakannya di tempat yang terlindung dari sengatan sinar matahari langsung ataupun air hujan.8 Strategi manajemen pengelolaan sampah.84 = 2 TPS • Kapasitas pelayanan 1 TPS Luas wilayah = 640. Agar kualitas sampah tetap bagus untuk dijadikan kompos sekalipun pada saat musim penghujan.800 Ha Kapasitas pelayanan 1 TPS = 640.= 3.4 ha. 83 . Berat dan volume sampah juga akan berbeda. Iklim yang banyak hujan akan membuat tumbuhan bertambah banyak dibandingkan didaerah kering sehingga sampahnya juga lebih banyak. Pada saat musim penghujan jumlah sampah yang dihasilkan lebih banyak dibanding pada saat musim kemarau.68005 m3/hari Jumlah TPS = = Volumesampah KapasitasT PS 3.68005 L / hari 2m 3 = 1. Adapun pewadahan yang diterapkan adalah sebagai berikut: 1.800ha 2TPS = 320. 5. 2. Selain itu sampah yang di hasilkan pada saat musim penghujan mempunyai kualitas yang kurang bagus untuk dijadikan kompos. Untuk pewadahan yang berada di luar rumah seperti bin plastik diberi tutup agar pada saat musim penghujan air tidak masuk ke dalam bin yang dapat mempengaruhi kualitas sampah yang akan di manfaatkan kembali menjadi barang yang lebih berguna lagi. Karena akan sangat mengganggu proses pembusukan atau fermentasi. hal tersebut disebabkan karena banyak terdapat kandungan air dalam sampah. untuk pewadahan sampah dalam perencanaan ini menjadi prioritas utama. Iklim sangat mempengaruhi jumlah dan jenis sampah. Sebaiknya diletakkan dalam ruangan.

9 6. P. C/N.5. Derajat keasaman perlu dikontrol selama proses komposting berlangsung.9 Pengomposan Pengukuran parameter uji untuk mengetahui kualitas kompos yang dihasilkan terutama N. Hari pengukuran 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 pH 6.9 6. P. Kualitas akhir kompos 5. Ph 2.23 Pengukuran pH selama proses komposting berlangsung. karena pH merupakan indikator pemantauan berhasil atau tidaknya proses fermentasi.9 6. Nilai pH selama proses komposting berlangsung secara keseluruhan dapat dilihat pada grafik dibawah ini : 84 .1 Pengamatan pH Salah satu parameter yang mempengaruhi kelangsungan hidup mikroorganisme dalam pembentukan kompos adalah pH.9 7 6.7 Dari pengukuran pH selama proses komposting berlangsung dapat dilihat melalui grafik sehingga memudahkan pengamatan proses dekomposisi. K adalah : 1.8 6. dan juga bagi pertumbuhan mikroorganisme. N.0 6. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh nilai pH selama proses kompos berlangsung yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini : Tabel 5. Suhu 3.0 7 6.9. K.

2 6 5.6 6. Dari tabel dapat dilihat bahwa suhu optimal untuk proses pengomposan dapat tercapai. dan pada hari ke 20 megalami kenaikan yang tidak terlalu besar atau mencolok. (Djuarnani 2004).4 6.6 5. Peningkatan pH secara berangsur– angsur disebabkan hasil dekomposisi bahan organik pada tahap sebelumnya seperti asam – asam organik dikonversikan sebagai methan dan CO2 (pholpraset.0. 1989).2 Pengamatan suhu Suhu merupakan indikator proses yang berkaitan dengan aktifitas mikroorganisme. maka nilai pH dapat kembali naik pada angka kisaran kompos yang optimal yaitu 5. Dengan munculnya mikroorganisme yang berasal dari EM4. Proses pengomposan akan berjalan baik jika bahan berada dalam temperatur yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme.7.8 6. Suhu optimal yang dibutuhkan dalam keadaan thermofilik berkisar antara 45 – 65 0C dan sedapat mungkin dipertahankan sekurang–kurangnya 3 hari agar mikroorganisme patogen mati. fungi berkembang baik pada kondisi pH agak asam. 2004) 5. Biasanya pH agak turun pada awal proses pengomposan karena aktivitas bakteri yang menghasilkan asam pada sampah.9.17 Hasil engukuran pH kompos Dari grafik dapat dilihat bahwa pH dari sampah mengalami penurunan pada hari ke 12 penurunan ini terjadi selama kurang lebih 8 hari. Pada prinsipnya bahan organik dengan nilai pH 3 – 11 dapat dikomposkan.5 – 6. Bakteri lebih senang pada pH netral.8 5. (Djuarnani.4 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 pH pengukuran pH Hari pengukuran Gambar 5.2 7 6. Namun setiap kelompok 85 .

24 Pengukuran suhu selama proses komposting berlangsung.mikroorganisme memiliki temperatur optimum yang berbeda sehingga temperatur optimum pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis mikroorganisme yang terlibat.18 Pengukuran suhu kompos Dari grafik dapat dilihat pada awal proses pengomposan terjadi kenaikan suhu mencapai 56 0 C. Hari pengukuran 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 Sumber : data primer Suhu 56 50 55 53 46 30 30 29 28 28 Nilai suhu selama proses komposting berlangsung secara keseluruhan dapat dilihat pada grafik dibawah ini : 60 50 Suhu 40 30 20 10 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 Hari Pengukuran pengukuran suhu Gambar 5. Kenaikan suhu disebabkan karena adanya bakteri EM4 yang 86 . Dari pengamatan suhu selama proses komposting berlangsung dapat dilihat melalui tabel berikut ini : Tabel 5.

berkembang biak menyebabkan kenaikan kalor dan terjadinya temperatur. Hal ini terlihat pada awal pengomposan keadaan fisik kompos terdapat cendawan berwarna putih dan suhu yang tinggi dari dalam reaktor karena naiknya suhu dan jalannya proses dekomposisi. suhu dari kondisi yang tinggi menjadi semakin rendah.3 Hubungan pH dan suhu pada reaktor Hubungan antara pH dan suhu pada proses komposting ditunjukkan pada gambar dibawah ini : 60 Suhu dan pH 50 40 30 20 10 0 56 50 55 53 46 30 30 29 28 28 pengukuran suhu pengukuran pH 6.96. sedangkan pH dari kondisi rendah menjadi semakin tinggi. Kenaikan suhu menunjukkan adanya kalor yang dilepas dari aktivitas mikroorganisme. suhu meningkat hingga mesofilik. Pada fase ini dekomposisi biasanya didominasi oleh bakteri mesofilik dan fungi. yang mana pada saat temperatur mencapai 30 0 C cendawan mesofilik berhenti bekerja dan aktivitas penguraian digantikan oleh cendawan thermofilik. Pada awal proses bakteri bekerja setelah terjadi masa fase laten yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungan baru.7 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 Hari Pengukuran Gambar 5.9 6 6 7 6.19 Hubungan pH dan Suhu Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa hubungan suhu dan pH berbanding terbalik.( Polprasert. 5. 87 . 1989).9.96.97 6.86. kemudian pada hari ke 24 terjadi penurunan suhu.

Semua mikroorganisme hidup membutuhkan N sebagai nutrisi. Akan tetapi kompos awal yang dihasilkan sudah cukup memenuhi persyaratan atau kriteria kompos yang ada.4 Kematangan kompos Pada penelitian ini. maka kelebihan itu akan tertinggal dalam tanah atau dalam kata lain terjadi penambahan unsur N kedalam tanah (Sutanto. Kekurangan tersebut akan mengakibatkan mikroorganisme menganbil unsur N dalam tanah jika kompos tersebut digunakan sebagai pupuk.9.5 Kandungan N Apabila kandungan N rendah. atau belum terlalu matang dikarenakan kompos belum terurai menjadi seperti serbuk. Sebaliknya bila kandungan N tinggi sehingga melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Kompos yang dihasilkan masih berupa butiran – butiran kasar berwarna coklat tua.9. Selain membutuhkan N mikroorganisme juga menghasilkan N. proses pengomposan membutuhkan waktu 40 hari dimulai dari tahap memasukkan sampah ke dalam reaktor yang dilakukan selama 8 hari berturut – turut sampai pada akhir komposting.5.1986). Pengaruh Nitrogen terhadap tanaman adalah sebagai berikut : 88 . 2002). sehingga jumlah N dalam tanah akan berkurang. maka nilai N akan turun sehingga kandungan C/N akan meningkat. (Djuarnani. kehilangan unsur N juga disebabkan karena adanya pencucian (air masuk kedalam media atau tanah) dan jika dalam periode waktu tertentu N dipakai secara terus menerus oleh mikroba. Perlu waktu sekitar 7 hari agar kompos benar – benar matang. 2004 dan SNI) 5. N yang dihasilkan dikurangi dengan N yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan hidupnya akan menghasilkan N yang teranalisis dalam kompos(Pelzjar. maka mikroorganisme yang menguraikan sampah organik akan mengalami kekurangan unsur N untuk keperluan hidupnya. Selain dibutuhkan mikroba untuk pertumbuhannya.

7 Kandungan K Seperti halnya nitogen dan phospor. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.9. untuk unsur P (phospor) pada proses pembuatan berlangsung baik. Dalam pengomposan ini.9. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman. disamping kandungan logam beratnya. miokroorganisme hidup juga membutuhkan phospor sebagai nutrisi. maka 50 – 60% phospor akan berubah bentuk larut sehingga lebih mudah diserap oleh tanaman. Bahan organik yang tidak terdekomposisi secara sempurna akan menimbulkan efek yang merugikan pertumbuhan tanaman. 5. Dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa. mikroorganisme juga menghasilkan phospor.6 Kandungan P Sama seperti nitrogen. 2. Dapat mempercepat pertumbuhan akar semai 2.9. 5. Dapat meningkatkan produksi buji-bijian.8 Kualitas Akhir Kompos Kualitas kompos sangat ditentukan oleh tingkat kematangan kompos. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah. 3. daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau.1. 1986). 4. kekurangan N menyebabkan khlorosis. Untuk menyehatkan pertumbuhan daun. 3. biji atau gabah. mikroorganisme juga membutuhkan kalium untuk pertumbuhannya. Pengaruh phospor terhadap tanaman adalah sebagai berikut : 1. 5. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun. Secara umum kualitas pupuk kompos yang baik untuk diterapkan ke dalam tanah dapat dicirikan dengan sifat sebagai berikut : 89 . 4. P yang dihasilkan dikurangi dengan P yang dibutuhkan akan menghasilkan P yang teranalisis (Pelzjar. Selain membutuhkan phospor.

Suhu sama dengan suhu tanah 7. Standar kandungan pupuk kompos mengacu pada standar nasional Indonesia dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 5. tetapi bisa mendorong pembukaan pasar kompos semakin luas.10 0.40 0. Pembuatan SNI kompos tidak hanya menjamin kepentingan konsumen.25. Sudah tidak berbau 2. Standar Kualitas Kompos SNI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Parameter Kadar Air Suhu Warna Bau pH Bahan Organik C/N-rasio %N %P %K % % % % Satuan % oC Minimum 6. Untuk menjamin kualitas kompos sebaiknya dibuat standar mutu kompos. sisa pembakaran kayu. Berstruktur lemah 3.49 58 20 - (SNI 19-7030-2004) 90 .8 27 10 0. Memiliki pH sebesar 6-8 (Djuarnani. Apalagi sekarang banyak beredar dipasaran pupuk kompos yang dibuat dari serbuk gergaji. Strukturnya ringan 5. Berwarna coklat tua hingga hitam 4. 2004 dan SNI) Karakteristik dan kualitas kompos yang baik sangat perlu diketahui. Rasio C/N sebesar (10-20 : 1) 6.20 Maksimum 50 Suhu Air Tanah Kehitaman Berbau Tanah 7.1. atau lumpur selokan.

89 K (%) 2. serbuk gergaji.81 P (%) 6.06 3 - - (Musnamar.1 - 5 1.3 % 5.2 % < 35 > 0. dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 5.26.87 5 3 1. Standar kualitas kompos pupuk dipasaran No 1 2 3 Nama Pupuk Mekar Asih Kariyana / Pos Eine kompos Bahan Kotoran ayam Kotoran sapi Kotoran sapi.05 8.1 3.05 1.9 1.5 % > 0.5 – 7.26 1. abu.Standar kualitas kompos yang berasal dari Asosiasi Barak Kompos yang terdapat di Jepang. Standar kualitas kompos Asosiasi Barak Kompos Jepang No 1 2 3 4 5 6 Parameter Bahan organik Total N Rasio C/N P K pH Standar > 70 % > 1.79 3 2 0.96 C/N - 4 Sij Horti Bokashi Sari Bumi Bio Tanam Plus BOSF Buto Ijo NPK 2.27.1 1.16 1.5 Standar kualitas kompos yang beredar dipasaran.1 2.1 0.61 1.78 6 7 8 Media Kascing Sampah Pasar Kota Kotoran ayam3 5 0. diambil dari referensi buku ” Pupuk Organik ” dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 5. 2005) 91 .3 0. kalsit Kotoran macam-macam unggas Sampah N (%) 4.

4 % 9.05 % 8.Dibawah ini merupakan perbandingan kompos hasil penelitian dengan SNI ( Standar Nasional Indonesia ) dan produk kompos pasaran ditunjukkan pada tabel dibawah ini : Tabel 5.2 % Suhu air tanah Kehitaman Berbau tanah 7. nilai rata-rata C/N kompos didapat sebesar 41.008 2. maka kompos hasil penelitian ini memiliki kualitas yang cukup baik.49 27-58% 0. P.8-32 % 0.05 % Berdasarkan kandungan N. Untuk menurunkannya dapat digunakan aktivator dekomposisi kompos yang dapat menurunkan rasio C/N dalam bahan sampah. K dari standar kualitas kompos SNI dan standar kualitas kompos Asosiasi Barak Kompos Jepang.yaitu 40:1 karena komposisi dari kompos sebagian besar terdiri dari daun-daunan kering dan daun-daunan segar yang mempunyai nilai C/N 50 :1.23 % 41. Dengan rasio antara karbohidrat dengan nitrogen rendah sebagaimana C/N tanah (< 20) maka bahan sampah menjadi dapat diserap tanaman.1 % 10-20 0. Pada hasil kualitas laboratorium.78 1.7 0.852 % 1.8-7. P.19 % Suhu air tanah Kehitaman Barbau tanah 6.28. Perbandingan Kompos Hasil Penelitian dengan SNI dan produk dipasaran. Parameter Hasil Penelitian SNI 19-7030-2004 Bokashi Sari Bumi Temperatur Warna Bau pH Bahan Organik Nitrogen Karbon Phospor Rasio C/N Kalium Suhu air tanah Coklat kehitaman Berbau tanah 6.61 % 14. serta standar kualitas kompos yang ada dipasaran. K yang terdapat pada kompos hasil penelitian dibandingkan dengan standar kandungan N. 92 .14 % 1.16. K yang tinggi. yang awalnya tinggi (>50) menjadi setara dengan angka C/N tanah. P. karena terbukti memiliki kandungan unsur N.2 1. dan jika dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia sudah sesuai hanya saja kandungan C/N kompos hasil penelitian ini cukup tinggi.

rumput-rumputan penghasil biji yang dapat dimakan. 4.Dalam dekomposisi menggunakan mikroba. kekurangan unsur phospor (P). 2. K). 1) Pada tanaman gandum menimbulkan gejala pada jeraminya. 3. sistem perakaran buruk. Kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan sebaliknya senyawa N (Nitrogen) yang larut (amonia) meningkat. 2) Pada tanaman serealia ( padi-padian. dalam bahan sampah organik terjadi antara lain : 1. Karbohidrat. selulosa. Atau C/N rasio semakin rendah dan stabil mendekati C/N tanah. fungi dan jamur yang terdapat dalam aktivator dekomposisi kompos. kering terus berubah warna menjadi merah kecoklatan. a. mengkilap. berwarna abuabu. jewawut. 2) Perkembangan buah tidak sempurna. kekurangan unsur nitrogen (N) 1) Warna daun yang hijau berubah menjadi kuning. 3) Menimbulkan daun penuh dengan serat. Peruraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. 93 . sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah. Kurang sekali menghasilkan buah/gabah. lemak. akan tetapi pemberian zat N yang sedemikian terhadap tanaman-tanaman bukan penghasil daun. selanjutnya mati. yaitu : 1. pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. gandum jagung). Dapat melambatnya masaknya biji/butir-butir padi. bakteri. dan lilin menjadi CO2 dan air. Akan tetapi batangnya itu akan lembek dan mudah rebah. Tangkai-tangkai daun kelihatan lancip-lancip. Zat putih telur menjadi amonia. umumnya kecil-kecil dan cepat matang. P. 2. b. Gejala kekurangan unsur hara makro (N. seperti misalnya tanaman padi tentu akan dapat merugikan. 3. daun-daunnya berwarna hijau tua/abu-abu. Akan banyak menghasilkan daun dan batang. CO2 dan air. Pembentukan buah jelek. Pemberian zat N yang banyak akan memiliki dampak yang baik terhadap tanaman-tanaman penghasil daun.

selanjutnya sejak ujung dan tepi daun tampak menguning. 94 . Dasa Wisma. Langkah–langkah dalam proses sosialisasi untuk menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan adalah sebagai berikut : 1.c. sedangkan masaknya buah berlangsung lambat. melalui kesenian yang ada di Kampung Selain lewat kesenian. Kampanye masalah sampah Nitiprayan. Ketua RW. kekurangan unsur kalium (K). 5. PKK. pendekatan juga dapat dilakukan lewat organisasi – organisasi yang ada di kampung Nitiprayan. pada akhirnya daun tampak bercorak kotor. sehingga tanaman tampak kerdil. Menyampaikan gagasan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif kepada tokoh masyarakat Nitiprayan. Disamping terciptanya lingkungan yang bersih. 2) Gejala pada batang yaitu batangnya lemah dan pendek-pendek. misalnya buah kelapa dan jeruk banyak yang berjatuhan sebelum masak. dan kemudian mati. ketua-ketua RT. maka pendekatannya melalui kesenian. 3) Gejala yang tampak pada buah. Pengurus Pengajian dan Pemuda. Pada awalnya tampak agak berkerut dan kadang-kadang mengkilap. warna ini tampak pula di antara tulang-tulang daun. Karena kampung Nitiprayan terkenal dengan sebutan kampung seni.10 Sosialisasi dan pendekatan masyarakat Tujuan dari sosialisasi dan pendekatan masyarakat adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dusun Nitiprayan akan pentingnya pengelolaan sampah. 2. seperti karang taruna. misalnya : 1. berwarna coklat. antara lain Kepala Dusun. Takmir Masjid. 1) Gejala pada daun terjadi secara setempat-setempat. daun tampak bergerigi. Wakil Badan Perwakilan Desa (BPD). juga akan mendatangkan nilai ekonomis bagi warga dusun Nitiprayan dengan melaksanakan pengelolaan sampah secara terpadu. Mengadakan lomba lukis tong sampah yang nantinya akan digunakan sebagai pewadahan sampah. rembug desa.

Menyiapkan petugas dan atau menjalin kerjasama dengan pihak lain yang mau menjadi pengambil dan pembeli sampah. alat daur ulang dan TPS kampung. lomba kebersihan lingkungan antar kelompok dasawisma. Pemuda diberi peran besar dalam sosialisasi ini antara lain menjadi organizer sosialisasi kepada pemuda/i dan anak-anak. Sosialisasi. Menyiapkan sarana pendukung pengelolaan sampah. evaluasi dan motivasi secara terus menerus kepada masyarakat agar mau dan mampu melaksanakan pengelolaan sampah swakelola. Untuk meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah dilakukan beberapa latihan. gerobak sampah. Bersama tokoh-tokoh masyarakat yang ada. Pengadaan dan pengerjaan semua sarana sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sendiri secara gotong royong. Lomba-lomba yang diadakan meliputi lomba memisahkan sampah antar anak. Sarana pendukung yang diperlukan dalam pengelolaan sampah misalnya gantungan sampah. gentong kompos. membuat mural dan perlombaan-perlombaan. tanya jawab. 4.2. 3. Tim Pengelola Sampah menjadi bagian dari struktur organisasi kampung. 95 . misalnya latihan memisahkan sampah sesuai jenisnya. lomba membuat kompos dan lomba kreasi daur ulang. 6. permainan. Tujuannya agar masyarakat mempunyai rasa memiliki sarana tersebut sehingga nantinya juga akan memeliharanya dan menggunakannya. berdedikasi tinggi. Pembentukan Tim Pengelola Sampah Kampung. tim ini bertugas melakukan sosialisasi. Mereka yang duduk dalam tim sebaiknya dipilih mereka yang mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan. tong/drum sampah. latihan membuat kerajinan daur ulang dari sampah dll 5. bak kompos. latihan membuat kompos. Sebelum ditawarkan ke pihak lain. edukasi dan motivasi ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat (anak-anak hingga orang tua) dengan metode demonstrasi. Tim ini sangat penting peranannya dalam mengawal keberlangsungan sistem pengelolaan sampah yang akan dijalankan oleh masyarakat. edukasi. lomba membuat mural. bertanggung jawab dan mampu bekerjasama dengan masyarakat.

96 . 7. dilengkapi dengan leaflet dan gambar-gambar petunjuk atau prosedur yang harus dilakukan oleh masyarakat. Pengurus kampung dapat membuat surat himbauan kepada warganya agar mengikuti program pengelolaan sampah mandiri dan produktif. dimulai dari kegiatan pemilahan sampah sesuai jenisnya di rumah tangga masing-masing sampai memasukkan kedalam tong sampah terdekat. Dalam tahap ini perlu disepakati mekanisme dan tanggung jawab antara pihak kampung dengan pihak lain tersebut. Hasilnya dibahas dalam rapat tim untuk menentukan upaya tindak lanjut dan menyusun strategi yang dapat dilakukan. Kegiatan pengelolaan sampah perlu dipantau (monitoring) dan dievaluasi oleh suatu tim pengelola sampah kampung secara terus menerus.sebaiknya ditawarkan kepada masyarakat dalam kampung sendiri dulu misalnya pemuda atau penduduk. Masyarakat diminta untuk segera menerapkan sistim pengelolaan sampah secara terpadu sesuai dengan mekanisme yang disepakati. Pengepul sampah (lapak) yang berada di sekitar daerahnya dapat dijadikan sebagai pihak rekanan (swasta) yang menerima dan membeli sampah-sampah yang telah dipisahkan oleh masyarakat. Surat himbauan dibuat secara resmi dan ditandatangani oleh perangkat kampung/pemerintahan yang berkompeten 8.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.020 L/orang/hari.10 kg/m3. 2. 3. dan sampah non 3R. volume sampah an organik 1. a. an organik. 2) Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian. volume sampah non 3R 0. dan berat sampah non 3R 0. b.002 kg/orang/hari. dan non 3R di dalam rumah. 97 .273 L/orang/hari.05 % sampah organik. Berat jenis sampah organik 146.1 1. an organik. sampah an organik volume 15 liter.2192 kg/org/hari. dan sampah non 3R 1 liter.38 kg/m3. Untuk sampah organik dengan volume 20 liter. Pewadahan dilakukan dengan 3 jenis : 1) Pewadahan sampah organik. Persentase timbulan sampah di kampung Nitiprayan adalah 73. timbulan sampah yang dihasilkan 0. Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari masing–masing rumah penduduk dengan memilahkan antara sampah organik. sampah an organik 25. pengomposan dilakukan dengan drum plastik yang dapat menampung sampah organik yang dihasilkan dari keluarga dengan anggota 5 orang selama 3 bulan.163 kg/orang/hari. Perencanaan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan adalah .054 kg/orang/hari. Sedangkan berat sampah organik 0. berat sampah an organik 0.9 kg/m3.03 % sampah non 3R. dan sampah non 3R 3. volume sampah organik kampung Nitiprayan adalah 1.92 % dan 1. an organik 42.552 L/orang/hari. dengan menggunakan kantong plastik.

P. 6 Pendekatan masyarakat dilakukan melalui kesenian.1631 kg/orang/hari. N. nitrogen 0. dan non 3R. Pengumpulan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali. d. karena dusun Nitiprayan terkenal dengan sebutan kampung seni. kalium 2. Penelitian dilakukan pada 10 titik sampel rumah dan didapatkan berat sampah organik 0. Dengan memperkirakan lama waktu pengomposan selama 30 hari maka desain reaktor dibuat dengan kapasitas 190 liter untuk kapasitas 1 rumah. C/N. yaitu untuk sampah plastik. suhu.TPS yang diperlukan berjumlah 2. Untuk sampah yang masih bisa digunakan atau masih bisa dimanfaatkan kembali dilakukan pengepakan untuk selanjutnya dijual pada pengepul sampah. K dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas kompos yang dihasilkan pada penelitian ini cukup baik dengan kandungan pH sebesar 6. Pewadahan sampah dengan menggunakan bin plastik yang dibagi menjadi 4 macam.854 % phospor 1. 4. c.7. hanya saja kandungan C/N terlalu tinggi. kertas.43 %. Hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional petugas dan sisanya masuk ke kas kampung untuk dana pengembangan dan pembangunan. Dilihat dari parameter karakteristik kompos standar SNI yang terdiri dari pH.3) Pewadahan sampah di luar rumah sebelum dibawa ke TPS kampung. dan untuk menurunkan dapat digunakan aktivator dekomposisi kompos. logam. dan C/N 41. selain melalui kesenian pendekatan juga dilakukan melalui organisasi atau kelembagaan yang ada. diangkut dengan menggunakan gerobak dengan kapasitas 1 m3 diperlukan 7 gerobak untuk beroperasi.16 %.25 %. Tempat Penampungan Sementara. kapasitas pelayanan 1 TPS 320. karena dalam komposisi kompos kebanyakan dari daun-daunan segar dan kering. digunakan untuk melakukan penyortiran lebih khusus lagi. 5.4 Ha. Mengadakan lomba lukis tong sampah yang 98 .

2. Perlu adanya penelitian kualitas lindi yang dihasilkan dari proses pengomposan. Kampanye masalah sampah melalui kesenian yang ada di dusun Nitiprayan. Perlu dilakukan sosialisasi secara intensif dalam pengelolaan sampah secara terpadu. Dan tingkat penghasilan juga tidak berpengaruh terhadap jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. 7. 99 .2 1. SARAN Perlunya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah. 4.nantinya akan digunakan sebagai pewadahan sampah. 6. 5. Perlu mengadakan koordinasi secara terpadu dari instansi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah dengan semua instansi dan masyarakat. Perlu dilakukan pengujian kandungan makro pada kompos seperti kandungan logam berat yang kemungkinan terdapat dalam kompos. agar tercipta lingkungan yang bersih. Dari perhitungan statistik kuisioner di dapatkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah. 3.

Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Tchobanoglous. cara cepat membuat kompos. Jakarta. Materi training untuk tingkat staf teknis proyek PLP sektor persampahan. Darmasetiawan. H & Vigil. 1993. SNI 19 – 7030 – 2004. (SNI T-1311990-F). Nan Djuarnani. 1983. Departemen Pekerjaan Umum. 1995. Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat. 2004 b. (2005). Ekamitra Engineering. Teknologi Persampahan. 1991. Musnamar. Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi . jakarta. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. M. Diktat Kuliah Teknik Lingkungan Pengelolaan Sampah . Surabaya. Perencanaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Theisen. Mc Graw-Hill 100 . Yayasan LPMB. Yayasan Idayu. M. Direktorat Jenderal Cipta Karya. PT agromedia pustaka. G. 1985. E. 2004 a. Anonim. Badan Standar Nasional. Jakarta. Ekamitra Enginering. Darmasetiawan. Inc. Pupuk Organik.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Tata cara pengolahan teknik sampah perkotaan. P. Tata cara pengelolaan sampah di pemukiman. 2004. Daur Ulang Sampah dan Pembuatan Kompos. Damanhuri. Bandung. Jakarta. & Tri. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik. Singapore. Anonim. Hadiwiyoto.A. Organik Waste Recycling. Jakarta. Anonim. Pembuangan Sampah. (1989). S. Anonim. S. Anonim. Penebar Swadaya. Departemen Pekerjaan Umum.C. Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan (SNI 19-3964-1995). Indonesia Sudarso. 2004. Jakarta. Bandung. 1995. Integrated Solid Waste Management Engineering Principles and Management Issues. Polprasert. Jakarta. 1986. SNI 19-3242-1994. 1994. Jakarta.

2006. 101 . Jakarta.Yuwono D. Seri Agritekno. Kompos Cara Aerob dan Anaerob Menghasilkan Kompos Berkualitas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->