PENGAMBILAN SPESIMEN

Salah satu cara menanggulangi penyakit infeksi adalah dengan menentukan penyebab dan kemudian memberi terapi yang rasional berdasarkan hasil uji laboratorium. Dalam hal ini peranan laboratorium sebagai penunjang diagnosis dan terapi penyakit infeksi menjadi sangat penting . Hasil pemeriksaan mikrobiologik sangat tergantung oleh kualitas spesimen. Spesimen yang diperiksa di lab Mikrobiologi sebagian besar merupakan klinik berkaitan dengan penyakit infeksi. Kualitas specimen ditentukan oleh metoda pengambilan dan proses tranportasi ke laboratorium. Hasil pemeriksaan mikrobiologik negatif tidak selalu berarti bahwa diagnosis salah. Kegagalan isolasi mikroorganisme penyebab infeksi sering ditentukan oleh beberapa hal, antara lain : Pengambilan dan pengiriman spesimen yang tidak benar Teknik atau cara kerja di laboratorium uang tidak tepat

Pengambilan specimen atau bahan pemeriksaan merupakan langkah awal yang sangat menentukan hasil pemeriksaan dalam rangka memperoleh jawaban yang menentukan penyebab infeksi. Dapat terjadi bahwa yang diisolasi bukan penyebab tetapi organisme flora normal sehingga akan memberikan intreprestasi hasil laboratorium yang keliru dan menyebabkan langkah terapi yang salah. Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologik sangat ditentukan oleh cara pengambilan, saat pengambilan dan seleksi spesimen. Beberapa hal penting yang perlu dilakukan untuk memperoleh hasil pemerisaan yang baik adalah : 1. Bahan pemeriksaan sedapat mungkin diambil dari lokasi yang paling besar kemungkinannya mengandung penyebab infeksi pada stadium tertentu. 2. Pada lokasi tubuh yang pada keadaan normal mengandung flora normal, hasil laboratorium positif sebaiknya dikorelasikan dengan keterangan klinik , sehingga mendapatkan suatu interpertasi yang bermakna. 3. Hasil laboratorium positif sangat bermakna bila diperoleh dari lokasi tubuh yang dalam keadaan normal steril (cairan serebro – spinal darah, cairan pleura, cairan). Agar diperoleh kualitas spesimen yang baik, pengambilan spesimen harus memenuhi beberapa kriteria tertentu.

Pedoman Umum Spesimen yang diambil harus memiliki syarat sbb :

lingkungan. Pengambilan harus dilakukan pada stadium yang tepat. Misalnya pengambilan urine atau sputum sebaiknya dengan pot bermulut lebar. 1. untuk ini perlu diketahui riwayat penyakit penderita. jumlah nya harus cukup. 1. alat genital dibersihkan untuk menghindari kontaminasi. Pada demam tifoid minggu pertama. bagian tubuh lain. S. Perbandingan volume darah dengan medium cair adalah 1 :5 atau 1 :10. 3. Alat dan tempat spesimen harus steril dan sesuai.typhi. Bila bahan yang diperiksa berasal dari pasien yang telah diterapi. bahan sputum harus benar-benar berasal dari saluran nafas bagian bawah. Bahan urine : sebaiknya diambil setelah penderita tidak berkemih sekurang-kurangnya 3 jam. bakteri akan dapat ditemukan di darah. dalam waktu 24 jam setelah pemberian antibiotik seringkali sudah tidak mengandung bakteri penyebab. tetapi pada infeksi kronik jumlah bahan yang diambil sebaiknya agak banyak. bahan dari asbes diambil dengan cara aspirasi steril. jumlahnya tidak perlu diperhatikan. Terhindar dari kemungkinan kontaminasi baik dari alat. Misalnya dapat . sebaiknya diambil dari dasar luka dan dihindari kontak dengan kulit sekitarnya sehingga tidak memungkinkan bagi kontaminasi oleh flora kulit. typhi akan ditemukan pada tinja dan urine selama fase akut dari stadium diare.1. misalnya: bahan pemeriksaan dari luka. Bahan berupa darah. sehingga diperoleh volume cukup untuk diambil. Misalnya : bahan dari pus dalam keadaan infeksi aktif. tinja dan urine biasanya positif. 2. selama pemberian terapi antibiotik pada penderita salmonelosis. Representatif untuk proses infeksi : Bahan pemeriksaan harus benar-benar berasal dari tempat infeksi. dalam tinja penderita tidak akan diketemukan S. Setelah bahan ditampung hendaknya ditutup rapat dan dicegah adanya kebocoran untuk menghindari kontaminasi dan pencemaran dari dan pada lingkungan. sebelum dilakukan pengambilan urine. Sedangkan pada minggu ke 2 dan ke 3. misalkan Haemophilus influenzae. bukan hanya berupa saliva. dan petugas pengambil. sebaiknya klinisi memberi catatan khusus. Jumlah spesimen cukup untuk memungkinkan pemeriksaan. sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Perlu diperhatikan hal-hal sbb : cairan serebrospinal yang purulen. Pengambilan spesimen dilakukan sebelum pemberian terapi antibiotik. Saat pengambilan perlu diperhatikan.

untuk kultur anaerob Gal medium.anak Karena organisme pada bakteri jumlahnya kecil. untuk kultur aerob Brain Heart Infusion. Pedoman khusus Dalam melakukan pengambilan spesimen klinik. Bahan pemeriksaan sebaiknya segera dibawa ke laboratorium atau kalau diperlukan dapat pula digunakan media transport yang sesuai. agar bisa diperiksa secepatnya. Cara Pengambilan Tinja atau Usapan Rektal .pasien yang diberi antibiotik : 4-6 kali pengambilan dalam 48 jam 2. juga tidak boleh mengusap jarum suntik dengan kapas alkohol. Contoh media kultur darah yang digunakan: Trypticase Soy Broth. dari vena cubiti. Volume pengambilan : 10-20 ml untuk dewasa 1-5 ml untuk anak. atau alkhohol 80%. 1. Setelah itu tidak boleh dilakukan palpasi lagi. misalnya Jodium tincture 2%. untuk kultur bakteri aerob atau anaerob Thioglikolat broth. Cara Pengambilan Darah Darah biasanya diambil pada saat demam tinggi. Sebelum pengambilan kulit sekitarnya diusap dengan antiseptik. untuk kultur Salmonella Dapat pula ditransport secara stril dalam tabung mengandung SPS Interval pengambilan : endocarditis : 3 kali pengambilan (kultur) dalam 24 jam bakterima : 3 kali pengambilan (kutur) dalam 24-48 jam . sebaiknya segera diinokulasikan kedalam media kultur setelah pengambilan. Jadi pada penderita yang telah diterapi bisa dilakukan pemeriksaan mikrobiologik.diberikan Penisinase untuk merusak penisilin. Pertama-tama dilakukan palpasi untuk mencari letak vena yang akan diambil. perlu diperhatikan beberapa hal khusus sesuai lokasi pengambilan : 1.

Volume urine minimal 10 ml dan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. tutup rapat. karena pada umumnya mengandung garam bismuth yang dapat membunuh mikroorganisme. Cara Pengambilan Dahak atau Sputum Dahak yang diambil diusahakan tidak tercemar oleh flora normal di rongga mulut.Tinja diambil dari bagian yang diperkirakan banyak mengandung organisme penyebab (lendir atau darah). tenggorokan. kemudian dimasukkan media transport bersama kapas lidi atau kedalam tabung kosong bertutup ulir steril. Sampel dari abses harus mengandung pus dan bagian dari dinding abses. Cara Pengambilan Cairan Serebrospinal Dilakukan dengan punksi lumbal oleh seorang dokter ahli dengan memperhatikan aspek sterilitas alat dan teknik pengambilan secara benar. dengan cara batuk dalam-dalam. 6. 3. telinga.aspirasi supra public . Abses Seleksi dan pengambilan yang adekuat sangat berpengaruh pada hasil pemerisaan. diputar (360º) pada mukosa rektal diambil dengan kedalaman 1-2 cm. tetapi dianjurkan tidak lebih dari 8 jam. bahan diambil dari beberapa tempat. harus dilakukan secara aseptik untuk menghindari infeksi. Cara Pengambilan Urine Bahan berupa urine dapat diambil dengan berbagai teknik : . Sebelum pengambilan kulit dibersihkan dengan larutan fisiologis steril.urine pancaran tengah (Mid Stream Urine) Cara pertama dan kedua hanya dilakukan oleh dokter dengan indikasi tertentu karena mengandung resiko. ditampung pada tempat steril. Kuman pada bahan ini pada umumnya . segera dikirim ke laboratorium. Sebaiknya tidak digunakan kertas toilet dalam pengambilan/penampungan tinja.kateterisasi . mata. Seperti diketahui urine adalah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri. sebaiknya pasien diminta berkumur sebelumnya dengan akuades steril. . luka. Jika lesi luas atau terdapat beberapa lesi. Segera mungkin ditanam dalam media perbenihan yang sesuai dengan jenis pemeriksaan. terutama bagi pemeriksaan angka kuman harus segera diperiksa agar tidak terjadi pertumbuhan pesat sebelum diperiksa. Sedangkan usapan rectal diambil dengan kapas lidi steril. perlu kerjasama dengan pasien. bahan diambil dari : hidung. Cara Pengambilan Discharge Mukosa Bahan dari mukosa diambil dengan kapas lidi steril. 5. atau larutan garam fisiologis steril. harus segera dibawa ke laboratorim. lubang urogenital. 4. 7. Apabila terpaksa bisa disinpan dalam almari pendingin selama 24 jam. Dahak ditampung didalam pot steril.

sebaiknya digunakan SPS (Sodium Polynethol Sulfonate) 0. Akan tetapi bila tidak memungkinkan karena beberapa keadaan. 2. Medium transport atau selektif ini berupa medium cair.hanya bertahan beberapa jam. maka volume darah yang dikirim untuk kepentingan isolasi adalah sebanyak 10-20 ml dengan menggunakan antikoagulan. Pengiriman bahan ini harus dilakukan segera mungkin untuk menghindari perkembangan pesat organisme tersangka. dalam waktu 1 jam organisme per ml .Pengiriman Darah Setelah diperoleh darah harus segera dikirim ke laboratorium karena kuman didalam darah akan dipengaruhi oleh sel-sel dalam darah ataupun zat-zat yang ada dalam darah.05% atau 0. sehingga harus segera dikirim ke laboratorium. Pada saat pengiriman temperatur dan tempat pengiriman harus diperhatikan. terutama bagi organisme yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan.Pengiriman Tinja Tinja dapat dikirim tanpa medium transport bila tidak terlalu lama. dapat digunakan media transport sebagai media yang mampu memberikan bahan pertumbuhan untuk mikroorganisme tersangka. PENGIRIMAN SPESIMEN DAN PENANGANAN SPESIMEN Apabila bahan pemeriksaan diambil diluar laboratorium seharusnya segera dikirim untuk diperiksa. dsb. dan terhindar dari kekeringan. Suhu pengiriman supaya dipertahankan untuk tidak lebih dari 37ºC. Perlu diperhatikan suhu dan hindarkan dari kekeringan.025 %. Adapun medium transport yang biasa digunakan adalah : medium Carry & Blair. Disamping sebagai antikoagulan. medium Stuart. medium Amies. Meningokokus sangat rentan terhadap suhu rendah. 3. Selenit Broth. sama sekali tidak dibenarkan menyimpan bahan pemeriksaan ini pada almari pendingin. misalknya : Air peptone alkali. Secara umum telah direkomendasikan bahwa darah untuk perbenihan ditanam dalam perbenihan cair dengan perbandingan 1 : 10 untuk membantu menetralkan efek bakterisidal karena adanya antimikroba dalam (darah pada pasien yang telah diterapi) atau efek komplemen dan fagosit. Apabila jarak pengiriman jauh sehingga memerlukan waktu lebih dari 4 jam. Pengiriman urine Urine dikirim tanpa medium transport karena urine merupakan medium yang baik pertumbuhan kuman. maka perlu digunakan media transport yang sekaligus merupakan medium selektif bagi jenis kuman tertentu. SPS merupakan antikomplemen dan antifagosit dan dapat menetralkan efek anti mikroba. Kadang-kadang bahan pemeriksaan yang tidak memerlukan media transport karena bahan tersebut telah mengandung bahan yang diperlukan bagi pertumbuhan organisme tersangka. 1. Bila darah dikirim tanpa menggunakan perbenihan cair seperti penjelasan dimuka.

tetapi harus sesegera mungkin dibawa ke laboratorium dalam waktu kurang dari 1 jam.Pengiriman Dahak Dikirim tanpa medium transport. jaringan. swab harus merupakan sampel yang mewakili bagian yang mengandung kuman penyebab. kapas lidi dimasukkan dalam tabung media transport secara aseptic. Pengiriman discharge mukosa Setelah diambil dengan kapas lidi dapat dimasukkan dalam media transport. lebih baik spesimen langsung. Suhu dan kekeringan harus diperhatikan. 4. dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). Yang penting pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan ditusuk. spesimen drainage Bahan pemeriksaan dikirim dengan medium transport semisolid Sturt. Bila terpaksa. Carry & Blair (untuk kuman anaerob). anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu . sebaliknya dihindari.1 Punksi Suprapubik Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril.akan menjadi berlipat ganda. Pengiriman abses. 6. 2011 by Administrator Cara Pengambilan Sampel B ahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Pengiriman Cairan Serebrospinal Bahan ini dikirim tanpa medium transport. tetapi harus segera. Hal ini perlu diperhatikan mengingat diagnosis bakteriuri didasarkan pada jumlah kuman per ml urine. 7. Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan steril. Segera ditanam pada medium perbenihan padat yang cocok. 5. Spesimen dari usapan (swab). Bahan urin dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic puncture=spp). Pengambilan Sampel Dan Pemeriksaan Laboratorium Urine Posted on January 7.

dua potong kasa steril dibasahi dengan air sabun.dijaga. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah. mulailah berkemih. 5. maka bakteri apapun dan berapapun jumlah koloni yang tumbuh pada biakan. tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. 3. kemudian keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Lakukan pembilasan sekali lagi. Buang beberapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah ujung penis dengan kasa yang dibasahi air sabun. Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan potongan kasa steril yang mengandung sabun.1 Kateter Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. dapat dipastikan merupakan penyebab ISK. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Setelah selesai. 2.1 Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada pria : 1. Selama pembilasan tetap pisahkan kedua labia dengan 2 jari dan jangan biarkan labia menyentuh muara uretra. Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. dua potong kasa steril dibasahi dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut. Pada cara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus elalu dijaga. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun. Penilaian urin yang diperoleh dari kateter sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi suprapubik. Dengan tetap memisahkan kedua labia.1 Urin Porsi Tengah Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik pengambilan yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada penderita. . lalu keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah. Ulangi sekali lagi. Bila keadaan asepsis baik. Akan tetapi resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. 4. Buang kasa yang telah dipakai ke dalam tempat sampah. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut. 2. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara uretra. Kemudian tampung aliran urin selanjutnya ke dalam wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau setengah wadah terisi. Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa yang dibasahi dengan air atau salin hangat. Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada wanita : 1. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun. Arah pembersihan dari depan ke belakang. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis dan muara uretra. Kemudian buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah. 3. Tidak boleh menggunakan antiseptik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan kultur false-negative. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai. dua potong kasa steril dibasahi air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan selesai. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.

protein.4 Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK yaitu leukosit dan bakteri. kemudian tampung urin yang keluar berikutnya ke dalam wadah steril sampai terisi sepertiga sampai setengahnya. Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat. maka urin tidak perlu dilakukan kultur. Apabila ditemukan satu atau lebih kuman pada pemeriksan langsung. Dengan tetap menahan prepusium ke belakang. darah dan bilirubin tetap dilakukan. Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah. bahan urin harus disimpan pada suhu 4oC selama tidak lebih dari 24 jam. berat jenis dan pH. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna. Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin.7 . perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.5.6 Pemeriksaan Mikroskopik Urin Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan bakteri dalam urin.2 Sampel harus sudah diperiksa dalam waktu 2 jam. perlu dilakukan pemeriksaan kultur. mulailah berkemih. keton. Sedangkan nilai positive predictive value kurang dari 80 % dan negative predictive value mencapai 95%.4. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah > 10 / lapang pandang besar (LPB). Kedua pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas 60-80% dan spesifisitas 70 – 98 %. 2. Apabila kedua hasil menunjukkan hasil negatif. menunjukkan kondisi uretra. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium. Pemeriksaan dipstik digunakan pada kasus skrining follow up. Untuk mengetahui leukosituri. Sampel harus diterima maksimun 1 jam setelah penampungan. Pemeriksaan langsung kuman patogen dalam urin sangat tergantung kepada pemeriksa. karena penundaan akan menyebabkan bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan penghitungan koloni yang tumbuh pada biakan menunjukkan jumlah bakteri sebenarnya yang terdapat dalam urin pada saat pengambilan. seharusnya tidak dikultur dan sebaiknya dimintakan sampel baru.1 Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey) Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. 3. Penentuan nitrit sering memberikan hasil false-negative karena tidak semua bakteri patogen memiliki kemampuan mengubah nitrat atau kadar nitrat dalam urin menurun akibat obat diuretik.3 Bila pengiriman terpaksa ditunda. 4. Setelah selesai. Sedangkan untuk mengetahui bakteri. dipstik akan bereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasil perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada bakteri). Buang beberapa mililiter urin yang keluar.5. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2 jam setelah pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas. Pemeriksaan ini terdiri dari urin empat porsi yaitu : 1. menunjukkan kondisi buli-buli. 5. Apabila didapat leukosituri yang bermakna.1 Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur urin. konsentrasi glukosa. Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat. dipstik akan bereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat dalam granul primer netrofil).5 Pemeriksaan Dipstik Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan leukosit dan bakteri di urin dengan cepat.

maka dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh merupakan penyebab ISK. Jika diperoleh jumlah koloni antara 103 . Bila jumlah koloni yang tumbuh > 105 koloni/ml urin. maka bakteri yang tumbuh kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra. frekuensi berkemih dan pemberian antibiotika sebelumnya.5 Perlu diperhatikan pula banyaknya jenis bakteri yang tumbuh.1. Bila > 3 jenis bakteri yang terisolasi. Sedangkan bila hanya tumbuh koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml urin. kemungkinan kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan biakan ulang dengan bahan urin yang baru.Pemeriksaan Kultur Urin Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur urin masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah kuman adalah kondisi hidrasi pasien.1 .105 koloni / ml urin. maka kemungkinan besar bahan urin yang diperiksa telah terkontaminasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful