Hisab Pada Hari Kiamat

(Oleh: Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi) Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allâh Ta'âlaalu dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada hisab ini.
[1]

PENGERTIAN HISAB Pengertian hisab disini adalah, peristiwa Allâh menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya. Atau Allâh mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan.
[2] [3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allâh akan menghisab seluruh makhluk dan berdua dengan seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya. Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah (proses hisab). Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan, muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat.
[4] [5] [6]

Hisab menurut istilah aqidah memiliki dua pengertian. Pertama. Al „Aradh (penampakkan dosa dan pengakuan), yang mempunyai dua pengertian. 1. Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allâh dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan yang tidak dihisab. 2. Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allâh atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).
[7]

Kedua. Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh), dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya.
[8] [9]

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya:

(QS al Insyiqaq / 84 : 7-8) Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. (QS al Insyiqaq / 84:10-12) Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. maka ia akan binasa”. maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Namun barangsiapa yang dimunaqasyah hisabnya. (QS al Ghasyiyah / 88 : 25-26) .”Bukankah Allâh telah berfirman „maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah‟ Maka Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al ‘aradh. (Muttafaqun „alaihi) [10] HISAB PASTI ADA Kepastian adanya hisab ini telah dijelaskan di dalam al Qur„an dan Sunnah. maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya.“Barangsiapa yang dihisab. Firman Allâh Ta'âla : Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.

sebagaimana disebutkan menurut nash syariat dan Ijma‟. beliau berkata: “Tidak ada seorangpun yang dihisab kecuali binasa. Firman Allâh Ta'âla menyebutkan : [15] .” Aku (Aisyah) bertanya. maka ia telah berbuat kufur. sepakat atas hal ini. Sesungguhnya Allâh amat cepat hisabnya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. di antaranya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah. tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. (Adapun) mukallaf itu mencakup manusia dan jin. seandainya Allâh memeriksa dengan menghitung amal kebajikan dan keburukan dalam hisab hambaNya. ”Wahai Rasulullah. karena mereka mukallaf. Syaikhul Islam menjelaskan. bahwa hisab ini juga mencakup jin. [12] [13] HISAB MANUSIA DAN JIN Syaikhul Islam menyatakan: “Allâh akan menghisab seluruh makhlukNya” [14] Dari pernyataan ini. Imam Ibnu Abil Izz (wafat tahun 792 H) menjelaskan. Yaitu khusus yang Allâh bebani syariat. Begitu pula Syaikh Ibnu „Utsaimin menyatakan. Namun ini termasuk menampakkan keumuman dengan maksud untuk tertentu saja. Oleh karena itu. bahwa Allâh akan menghisab seluruh makhlukNya. Sehingga apabila seseorang mengingkari hisab. (QS al Mu‟min / 40 : 17) Sedangkan dalil dari Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam. dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam. namun barangsiapa yang diperiksa hisabnya. dan pelakunya sama dengan pengingkar hari Kebangkitan.Pada hari ini. bukankah Allâh berfirman „pemeriksaan yang mudah‟?” Beliau menjawab. makna hadits ini adalah. tentulah akan mengadzab mereka dalam keadaan tidak menzhalimi mereka sedikit pun. ”Itu adalah al aradh. jin kafir masuk ke dalam neraka. namun Allâh memaafkan dan mengampuninya. maka binasa”. [11] Demikian juga umat Islam. Karena pemberlakuan proses hisab itu pada amalan baik dan buruk hamba yang mukallaf.

maka jelas mereka dihisab. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. Dapat (juga) dimaksudkan dengan pengertian perhitungan antara amal kebajikan dengan amal keburukan. Adapun orang kafir. yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab maupun adzab. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan mereka dihisab. adzabnya lebih besar dari orang . apakah dihisab ataukah tidak? Dalam permasalahan ini. maka orang yang banyak dosa kesalahannya. (QS ar Rahman / 55 : 46 – 56). para ulama berselisih pendapat. serta celaan terhadap mereka. Dikecualikan dalam hal ini. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan.Allâh berfirman:"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu… (QS. Apabila yang diinginkan dengan hisab adalah pengertian pertama. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Syaikhul Islam mendudukkan permasalahan ini dengan pernyataan beliau rahimahullâh: “Keterangan penentu (dalam masalah ini). Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. maka bila dimaksudkan bahwa orang kafir tetap memiliki kebajikan yang menjadikannya pantas masuk surga. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa orang kafir tidak dihisab. hisab dapat dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan mereka. al A‟raaf/7:38) Yang mukmin masuk syurga. Tetapi bila yang dimaksudkan mereka memiliki tingkatan-tingkatan dalam (menerima) adzab. Namun bila dengan pengertian kedua. Begitu pula dengan hewan yang tidak memiliki pahala dan dosa. menurut mayoritas ulama dan ini yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allâh Ta'âla: Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. maka (pendapat demikian) ini (merupakan) kekeliruan besar.

bukan dalam pengertian penetapan kebaikan yang bermanfaat bagi mereka pada hari Kiamat untuk ditimbang melawan amalan keburukan mereka. maksudnya adalah dalam pengertian menghitung. yang disyaratkan padanya Islam dan niat. maka hisab di atas. dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. (QS al Kahfi / 18 : 105) AMALAN ORANG KAFIR DI DUNIA Amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia terbagi menjadi dua. maka hapuslah amalan-amalan mereka. Pertama. (QS an Nahl / 16:88) Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambah kekafiran. [16] Dengan penjelasan Syaikhul Islam tersebut. (QS at Taubah / 9:37) Apabila adzab sebagian orang kafir lebih keras dari sebagian lainnya –karena banyaknya dosa dan sedikitnya amal kebaikan– maka hisab dilakukan untuk menjelaskan tingkatan adzab. Amalan-amalan ini tidak diterima dan tidak bermanfaat .yang sedikit dosa kesalahannya. maka diringankan adzabnya. dan orang yang memiliki kebajikan. menulis dan memaparkan amalanamalan kepada mereka. Allâh berfirman: Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allâh. Allâh Ta'âla berfirman : [17] Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. bukan untuk masuk syurga. sebagaimana Abu Thalib lebih ringan adzabnya dari Abu Lahab.

Namun. amalan kebaikan yang tidak disyaratkan Islam padanya. Kedua. lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yangberterbangan. amalan yang tidak disyaratkan Islam padanya. (QS al Furqaan / 25 : 23) Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.baginya di dunia dan akhirat. maka ia hanya diadzab disebabkan oleh kekufurannya saja. pada hari Kiamat akan mendapat balasan untuk menutupi kezhalimannya terhadap orang lain. Syaikh Kholil Haras menyatakan: “Yang benar adalah. semua amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir hanya dibalas di dunia saja. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Hingga bila datang hari Kiamat. menunda penagihan hutang bagi yang tidak mampu membayar dan lainlainnya. karena Allâh berfirman: [18] [19] Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan. Menurut pendapat ini. maka ditambahkan adzabnya yang disebabkan kekufurannya. bila orang kafir ini tidak memiliki amal kebaikan di dunia. Apabila antara kezhalimannya seimbang dengan amalan tersebut. Amalan-amalan ini akan diberi balasannya di dunia. (QS Ibrahim / 14 : 18) Ada pendapat lain yang menyatakan amalan kebaikan mereka di dunia dapat meringankan adzab mereka. Demikian ini. amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. seperti keluhuran budi pekerti. [20] CARA HISAB . ia akan mendapati lembaran kebaikannya kosong”.

Kemudian diberikan kitab yang telah ditulis malaikat agar dibaca dan diketahui oleh setiap orang. Kitab apakah ini yang tidakmeninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar. Firman Allâh Ta'âla menyebutkan : Dan diletakkanlah kitab. yang baik maupun yang buruk. dan ia melihat kekiri. sebagaimana dijelaskan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau : [21] Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan. lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya. dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami. Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang juapun.melainkan ia mencatat semuanya?” Dan merekamendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Allâh Ta'âla sendiri yang akan melakukannya. (QS al Kahfi / 18 : 49) Allâh Ta'âla memang menulis semua amalan hambaNya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan. sebagaimana firmanNya: . hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya.Hisab ini dilakukan dalam satu waktu.

karena bumi menceritakan semua amalan mereka. lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya. (QS al Zalzalah / 99:7-8) Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allâh semuanya. niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Allâh mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini). dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan Allâh Maha Menyaksikan segala sesuatu.” pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Dijelaskan dalam firman Allâh Ta'âla : Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). (QS al Zalzalah / 99 : 1-4) . padahal mereka telah melupakannya. niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatanseberat dzarrahpun. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan.

lalu Allâh berseru : “Telah Aku rahasiakan hal itu di dunia. dan Dia merahasiakannya.‟ hingga . tidak ada orang lain yang melihatnya.Pada hari ini Kami tutup mulut mereka.‟Ya. (QS Yaasin / 36:65) CARA HISAB SEORANG MUKMIN DAN KAFIR Allâh Ta'âla yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah. lalu meletakkan padanya penutupNya dan menutupinya (dari pandangan orang lain). wahai Rabb-ku. Demikian dijelaskan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu „Umar. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua amalan tersebut di hadapan mereka. dan sekarang Aku ampuni semuanya”. namun mencukupkan dengan al aradh. dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. lalu (Allâh) berseru : „Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?‟ Mukmin tersebut menjawab. beliau berkata : Aku telah mendengar Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh mendekatkan seorang mukmin.

kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. maka Allâh berfirman : „Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka‟. Allâh berfirman. Sedangkan orang kafir dan munafik. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allâh. kutukan Allâh (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda : . Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah. (HR al Bukhari) Adapun orang-orang kafir. dan Aku sekarang mengampunimu. mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Ingatlah.‟Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia.‟ lalu ia diberi kitab kebaikannya. ia berkata.bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa.

menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta. menjadikan engkau sebagai pemimpin. . serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Allâh berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak. menjadikan engkau sebagai pemimpin. Lalu Allâh menemui hambaNya yang kedua dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu.” maka Allâh berfirman: “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta.Lalu Allâh menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu.

Kemudian (Allâh) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Oleh karena itu. daging dan tulangnya: “Bicaralah!” Lalu paha. bershadaqah. ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allâh (sebagaimana yang dijelaskan dari hadits Ibnu Umar di atas). Mudah-mudahan Allâh memberikan taufiq kepada kita untuk memperbanyak bekal.” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Itulah nasib orang munafik dan orang yang Allâh murkai. Keduanya mendapat laknat dan kemurkaan Allâh. dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Juga aku telah shalat.” kemudian dikatakan kepadanya: “Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu. Allâh menjawab: “Kalau begitu. yang nantinya dengan bekal tersebut kita menghadap sang pencipta dan mendapat keridhaanNya. (HR Muslim) Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. .” maka Allâh berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. Yang pertama seorang mukmin.serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Lalu ia (orang itu) menjawab: “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu. bersiaplah menghadapinya dengan mempersiapkan bekal ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang cukup. daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya. sekarang (pembuktiannya). Yang kedua seorang yang kafir dan ketiga orang munafik (seperti yang dijelaskan dari hadits Abu Hurairah di atas). memperbanyak mengingat hari perhitungan ini dan melihat kepada amalan yang telah kita perbuat. Allâh berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha.” dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. WashAllâhu „ala Nabiyina Muhammad wa „ala aalihi wa shahbihi ajma‟in. kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful