2-2 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3

)
































Analisis Analisis Analisis Analisis
Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik Rangkaian Listrik
Di Kawasan s
Sudaryatno Sudirham
2-1
BAB 2
Analisis Rangkaian Menggunakan
Transformasi Laplace

Setelah mempelajari bab ini kita akan
• memahami konsep impedansi di kawasan s.
• mampu melakukan transformasi rangkaian ke kawasan s.
• mampu melakukan analisis rangkaian di kawasan s.
Di bab sebelumnya kita menggunakan transformasi Laplace untuk
memecahkan persamaan rangkaian. Kita harus mencari terlebih dahulu
persamaan rangkaian di kawasan t sebelum perhitungan-perhitungan di
kawasan s kita lakukan. Berikut ini kita akan mempelajari konsep
impedansi dan dengan konsep ini kita akan dapat melakukan
transformasi rangkaian ke kawasan s. Dengan transformasi rangkaian ini,
kita langsung bekerja di kawasan s, artinya persamaan rangkaian
langsung dicari di kawasan s tanpa mencari persamaan rangkaian di
kawasan t lebih dulu.
Sebagaimana kita ketahui, elemen dalam analisis rangkaian listrik adalah
model dari piranti yang dinyatakan dengan karakteristik i-v-nya. Jika
analisis dilakukan di kawasan s dimana v(t) dan i(t) ditransformasikan
menjadi V(s) dan I(s), maka pernyataan elemenpun harus dinyatakan di
kawasan s.
2.1. Hubungan Tegangan-Arus Elemen di Kawasan s
2.1.1. Resistor
Hubungan arus dan tegangan resistor di kawasan t adalah
(t) Ri t v
R R
= ) (
Transformasi Laplace dari v
R
adalah
(s) R dt e t Ri dt e t v s
R
st
R
st
R R
I V
∫ ∫




= = =
0 0
) ( ) ( ) (
Jadi hubungan arus-tegangan resistor di kawasan s adalah
) ( ) ( s R s
R R
I V = (2.1)

2-2 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
2.1.2. Induktor
Hubungan antara arus dan tegangan induktor di kawasan t adalah
dt
(t) di
L t v
L
L
= ) (
Transformasi Laplace dari v
L
adalah (ingat sifat diferensiasi dari
transformasi Laplace) :
) 0 ( ) (
) (
) ( ) (
0 0
L L
st L st
L L
Li s sL dt e
dt
t di
L dt e t v s − =
(
¸
(

¸

= =




∫ ∫
I V
Jadi hubungan tegangan-arus induktor adalah
) 0 ( ) ( ) (
L L L
Li s sL s − = I V (2.2)
dengan i
L
(0) adalah arus induktor pada saat awal integrasi dilakukan atau
dengan kata lain adalah arus pada t = 0. Kita ingat pada analisis transien
di kawasan waktu, arus ini adalah kondisi awal dari induktor, yaitu i(0
+
)
= i(0

).
2.1.3. Kapasitor
Hubungan antara tegangan dan arus kapasitor di kawasan t adalah

+ =
t
c C C
v dt t i
C
t v
0
) 0 ( ) (
1
) (
Transformasi Laplace dari tegangan kapasitor adalah
s
v
sC
s
s
C C
C
) 0 ( ) (
) ( + =
I
V (2.3)
dengan v
C
(0) adalah tegangan kapasitor pada t =0. Inilah hubungan
tegangan dan arus kapasitor di kawasan s.
2.2. Konsep Impedansi di Kawasan s
Impedansi merupakan suatu konsep di kawasan s yang didefinisikan
sebagai berikut.
Impedansi di kawasan s adalah rasio tegangan terhadap arus di
kawasan s dengan kondisi awal nol.
2-3
Sesuai dengan definisi ini, maka impedansi elemen dapat kita peroleh
dari (2.1), (2.2), dan (2.3) dengan i
L
(0) = 0 maupun v
C
(0) = 0,
sC s C
s
Z sL
s L
s
Z R
s
s
Z
C
C
L
L
R
R
R
1
) (
) (
;
) (
) (
;
) (
) (
= = = = = =
I
V
I
V
I
V
(2.4)
Dengan konsep impedansi ini maka hubungan tegangan-arus untuk
resistor, induktor, dan kapasitor menjadi sederhana, mirip dengan relasi
hukum Ohm.
) (
1
; (s) ) ( ; (s) ) ( s
sC
sL s R s
C C L L R R
I V I V I V = = = (2.5)
Sejalan dengan pengertian impedansi, dikembangkan pengertian
admitansi, yaitu Y = 1/Z sehingga untuk resistor, induktor, dan kapasitor
kita mempunyai
sC Y
sL
Y
R
Y
C L R
= = = ;
1
;
1
(2.6)
2.3. Representasi Elemen di Kawasan s
Dengan pengertian impedansi seperti dikemukakan di atas, dan hubungan
tegangan-arus elemen di kawasan s, maka elemen-elemen dapat
direpresentasikan di kawasan s dengan impedansinya, sedangkan kondisi
awal (untuk induktor dan kapasitor) dinyatakan dengan sumber tegangan
yang terhubung seri dengan impedansi tersebut, seperti terlihat pada Gb.
2.1.

Resistor Induktor Kapasitor
Gb.2.1. Representasi elemen di kawasan s.
) ( ) ( s R s
R R
I V = ; ) 0 ( ) ( ) (
L L L
Li s sL s − = I V ;
s
v
sC
s
s
C C
C
) 0 ( ) (
) ( + =
I
V
R

I
R
(s)
+

V
R
(s)



+
sL

Li
L
(0)
+

V
L
(s)


I
L
(s)
+

s
v
C
) 0 (
+

V
C
(s)


I
C
(s)
sC
1

2-4 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
Representasi elemen di kawasan s dapat pula dilakukan dengan
menggunakan sumber arus untuk menyatakan kondisi awal induktor dan
kapasitor seperti terlihat pada Gb.2.2.

Gb.2.2. Representasi elemen di kawasan s.
) ( ) ( s R s
R R
I V = ; |
¹
|

\
|
− =
s
i
s sL s
L
L L
) 0 (
) ( ) ( I V ;
( ) ) 0 ( ) (
1
) (
C C C
Cv s
sC
s + = I V
2.4. Transformasi Rangkaian
Representasi elemen ini dapat kita gunakan untuk mentransformasi
rangkaian ke kawasan s. Dalam melakukan transformasi rangkaian perlu
kita perhatikan juga apakah rangkaian yang kita transformasikan
mengandung simpanan energi awal atau tidak. Jika tidak ada, maka
sumber tegangan ataupun sumber arus pada representasi elemen tidak
perlu kita gambarkan.
COTOH 2.1: Saklar S pada rangkaian berikut telah lama ada di posisi
1. Pada t = 0 saklar
dipindahkan ke
posisi 2 sehingga
rangkaian RLC
seri terhubung ke
sumber tegangan
2e
−3t
V.
Transformasikan rangkaian ke kawasan s untuk t > 0.
Penyelesaian :
Pada t < 0, keadaan telah mantap. Arus induktor nol dan tegangan
kapasitor sama dengan tegangan sumber 8 V.
R

I
R
(s)
+

V
R
(s)


sC
1
Cv
C
(0)
I
C
(s)
+
V
C
(s)

I
L
(s)
+
V
L
(s)

sL


s
i
L
) 0 (

1/2 F

1 H

3 Ω

2e
−3t
V

+
v
C


S

1

2

+

+

8 V

2-5
Untuk t > 0, sumber tegangan adalah v
s
= 2e
−3t
yang transformasinya
ke kawasan s adalah
3
2
) (
+
=
s
s
s
V
Representasi kapasitor adalah impedansinya 1/sC = 2/s seri dengan
sumber tegangan 8/s karena tegangan kapasitor pada t = 0 adalah 8
V. Representasi induktor impedansinya sL = s tanpa diserikan
dengan sumber tegangan karena arus induktor pada t = 0 adalah nol.
Transformasi rangkaian ke kawasan s untuk t > 0 adalah

Perhatikan bahwa tegangan kapasitor V
C
(s) mencakup sumber
tegangan (8/s) dan bukan hanya tegangan pada impedansi (2/s) saja.
Setelah rangkaian ditransformasikan, kita mengharapkan dapat langsung
mencari persamaan rangkaian di kawasan s. Apakah hukum-hukum,
kaidah, teorema rangkaian serta metoda analisis yang telah kita pelajari
di kawasan t dapat kita terapkan? Hal tersebut kita bahas berikut ini.
2.5. Hukum Kirchhoff
Hukum arus Kirchhoff menyatakan bahwa untuk suatu simpul berlaku

=
=
n
k
k
t i
1
0 ) (
Jika kita lakukan transformasi, akan kita peroleh
0 ) ( ) ( ) (
1 1
0 0
1
= =
(
¸
(

¸

=
(
(
¸
(

¸

∑ ∑
∫ ∫

= =




=
n
k
k
n
k
st
k
st
n
k
k
s dt e t i dt e t i I (2.7)
Jadi hukum arus Kirchhoff (HAK) berlaku di kawasan s. Hal yang sama
terjadi juga pada hukum tegangan Kirchhoff. Untuk suatu loop
s
2
s

3

3
2
+ s
+

+

s
8
+
V
C
(s)


2-6 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
0 ) ( ) ( ) (
0 ) (
1 1
0 0
1
1
= =
(
¸
(

¸

=
(
(
¸
(

¸


=
∑ ∑
∫ ∫


= =




=
=
n
k
k
n
k
st
k
st
n
k
k
n
k
k
s dt e t v dt e t v
t v
V
(2.8)
2.6. Kaidah-Kaidah Rangkaian
Kaidah-kaidah rangkaian, seperti rangkaian ekivalen seri dan paralel,
pembagi arus, pembagi tegangan, sesungguhnya merupakan konsekuensi
hukum Kirchhoff. Karena hukum ini berlaku di kawasan s maka kaidah-
kaidah rangkaian juga harus berlaku di kawasan s. Dengan mudah kita
akan mendapatkan impedansi ekivalen maupun admitansi ekivalen
∑ ∑
= =
k paralel ekiv k seri ekiv
Y Y Z Z

; (2.9)
Demikian pula dengan pembagi arus dan pembagi tegangan.
) ( ) ( ; ) ( ) (

s
Z
Z
s s
Y
Y
s
total
seri ekiv
k
k total
paralel ekiv
k
k
V V I I = = (2.10)
COTOH-2.2: Carilah V
C
(s) pada rangkaian impedansi seri RLC
berikut ini.

Penyelesaian :
Kaidah pembagi tegangan pada rangkaian ini memberikan
) (
) 2 )( 1 (
2
) (
2 3
2
) (
2
3
/ 2
) (
2
s
s s
s
s s
s
s
s
s
s
in in in R
V V V V
+ +
=
+ +
=
+ +
=
Pemahaman :
Jika V
in
(s) = 10/s maka
s
2
s
3

+

+
V
C
(s)


V
in
(s)

2-7
t t
C
C
s
s s
C
e e t v
s s s
s
s s
k
s s
k
s s
k
s
k
s
k
s
k
s s s
s
2
2
3
1
2
0
1
3 2 1
10 20 10 ) (

2
10
1
20 10
) (
10
) 1 (
20

; 20
) 2 (
20
; 10
) 2 )( 1 (
20
2 1 ) 2 )( 1 (
20
) (
− −
− =
− = =
+ − = ⇒
+
+
+

+ = ⇒
=
+
=
− =
+
= =
+ +
= →
+
+
+
+ =
+ +
=
V
V

Inilah tanggapan rangkaian rangkaian RLC seri (dengan R = 3Ω , L =
1H, C = 0,5 F) dengan masukan sinyal anak tangga yang
amplitudonya 10 V.
2.7. Teorema Rangkaian
2.7.1. Prinsip Proporsionalitas
Prinsip proporsionalitas merupakan pernyataan langsung dari sifat
rangkaian linier. Di kawasan t, pada rangkaian dengan elemen-elemen
resistor, sifat ini dinyatakan oleh hubungan
) ( ) ( t Kx t y =
dengan y(t) dan x(t) adalah keluaran dan masukan dan K adalah suatu
konstanta yang ditentukan oleh nilai-nilai resistor yang terlibat.
Transformasi Laplace dari kedua ruas hubungan diatas akan memberikan
) ( ) ( s K s X Y =
dengan Y(s) dan X(s) adalah sinyal keluaran dan masukan di kawasan s.
Untuk rangkaian impedansi,
) ( ) ( s K s
s
X Y = (2.11)
Perbedaan antara prinsip proporsionalitas pada rangkaian-rangkaian
resistor dengan rangkaian impedansi terletak pada faktor K
s
. Dalam
rangkaian impedansi nilai K
s
, merupakan fungsi rasional dalam s.
Sebagai contoh kita lihat rangkaian seri RLC dengan masukan V
in
(s). Jika
tegangan keluaran adalah tegangan pada resistor V
R
(s), maka

2-8 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
) (
1
) (
) / 1 (
) (
2
s
RCs LCs
RCs
s
sC sL R
R
s
in in R
V V V
(
¸
(

¸

+ +
=
+ +
=
Besaran yang berada dalam tanda kurung adalah faktor proporsionalitas.
Faktor ini, yang merupakan fungsi rasional dalam s, memberikan
hubungan antara masukan dan keluaran dan disebut fungsi jaringan.
2.7.2. Prinsip Superposisi
Prinsip superposisi menyatakan bahwa untuk rangkaian linier besar
sinyal keluaran dapat dituliskan sebagai
⋅ ⋅ ⋅ + + + = ) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1 1 o
t x K t x K t x K t y
dengan x
1
, x
2
, x
3
… adalah sinyal masukan dan K
1
, K
2
, K
3
… adalah
konstanta proporsionalitas yang besarnya tergantung dari nilai-nilai
elemen dalam rangkaian. Sifat linier dari transformasi Laplace menjamin
bahwa prinsip superposisi berlaku pula untuk rangkaian linier di kawasan
s dengan perbedaan bahwa konstanta proporsionalitas berubah menjadi
fungsi rasional dalam s dan sinyal-sinyal dinyatakan dalam kawasan s.
⋅ ⋅ ⋅ + + + = ) ( ) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1
1
o
s K s K s K s
s s s
X X X Y (2.12)
2.7.3. Teorema Thévenin dan orton
Konsep mengenai teorema Thévenin dan Norton pada rangkaian-
rangkaian impedansi, sama dengan apa yang kita pelajari untuk
rangkaian dengan elemen-elemen resistor. Cara mencari rangkaian
ekivalen Thévenin dan Norton sama seperti dalam rangkaian resistor,
hanya di sini kita mempunyai impedansi ekivalen Thévenin, Z
T
, dan
admitansi ekivalen Norton, Y

, dengan hubungan sbb:
) (
) ( 1

) (
) ( ) ( ; ) ( ) ( ) (
s
s
Y
Z
Z
s
s s Z s s s

T

T
T
T
hs T ht T
I
V
V
I I I V V
= =
= = = =
(2.13)
2-9
COTOH-2.3: Carilah rangkaian ekivalen Thevenin dari rangkaian
impedansi berikut ini.

Penyelesaian :

) )( / 1 (
/
) / 1 (
/ 1
) ( ) (
2 2 2 2
ω + +
=
ω +
+
= =
s RC s
RC s
s
s
sC R
sC
s s
ht T
V V
2 2
1
) ( ) (
ω +
= =
s
s
R
s s
hs
I I
) / 1 (
1
/ 1
/
) / 1 ( ||
RC s C sC R
sC R
RC R Z
T
+
=
+
= =

2.8. Metoda-Metoda Analisis
Metoda-metoda analisi, baik metoda dasar (metoda reduksi rangkaian,
unit output, superposisi, rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton)
maupun metoda umum (metoda tegangan simpul, arus mesh) dapat kita
gunakan untuk analisis di kawasan s. Hal ini mudah dipahami mengingat
hukum-hukum, kaidah-kaidah maupun teorema rangkaian yang berlaku
di kawasan t berlaku pula di kawasan s. Berikut ini kita akan melihat
contoh-contoh penggunaan metoda analisis tersebut di kawasan s.
2.8.1. Metoda Unit Output
COTOH-2.4: Dengan menggunakan metoda unit output, carilah
V
2
(s) pada rangkaian impedansi di bawah ini.
+

B
E
B
A
N
2 2
ω + s
s
sC
1
R

+

B
E
B
A
N
T
V
Z
T

2-10 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)

Penyelesaian :
2
2
2
) ( ) ( ) (
/ 1
1
) ( 1 ) ( ) (
1 ) ( : Misalkan
LCs sC sL s sC s s
sC
sC
s s s
s
L C L
C C
= × = → = = →
= = → = = →
=
V I I
I V V
V

) (
1
) ( ) (

1 ) (
1
1 1
) ( ) ( ) (
1
) ( 1 ) ( ) ( ) (
1
2
1 2
2 *
1
2 2
*
1
2
2
s
RCs LCs
R
s K s
RCs LCs
R
s I
K
R
RCs LCs
sC
R
LCs
s s s
R
LCs
s LCs s s s
s
s
L R
R C L R
I I V
I I I
I V V V
+ +
= = ⇒
+ +
= = ⇒
+ +
= +
+
= + = ⇒
+
= → + = + = →

2.8.2. Metoda Superposisi
COTOH-2.5: Dengan menggunakan metoda superposisi, carilah
tegangan
induktor v
o
(t)
pada rangkaian
berikut ini.
Penyelesaian :
Rangkaian kita transformasikan ke kawasan s menjadi

Jika sumber arus dimatikan, maka rangkaian menjadi :
+

2 2
β +
β
s
B
s
A
R
sL
+
V
o


R
R

1/sC

sL

I
1
(s)
+
V
2
(s)

I
C
(s)
I
R
(s)
I
L
(s)
+

Bsinβt
Au(t)
R
L
+
v
o


R
2-11


L R s
A
A
sL R
L
s
A
sL R
RLs
R
sL R
RLs
s
sL R
RLs
Z
R L
2 /
2 /
2
) (

o1
//
+
=
+
=
+
+
+
= ⇒
+
= →
V

Jika sumber tegangan dimatikan, rangkaian menjadi :

) )( 2 / (
2 2

1 1 1
/ 1
) ( ) (
2 2 2 2
2 2
o2
β + +
β
=
β +
β
×
+
=
β +
β
×
+ +
× = × =
s L R s
s RB
s
B
R sL
sRL
s
B
sL R R
sL
sL s I sL s
L
V


θ −

θ
β − =
− =
β +
= →
|
¹
|

\
| β +
= θ
β +
=
β −
=
β − +
= →
β +
− =
β +
= →
(
¸
(

¸

β −
+
β +
+
+
β
+
+
=
+ = ⇒
j
j
j s
L R s
e
L R
k
L R
e
L R
j L R j s L R s
s
k
L R
L R
s
s
k
j s
k
j s
k
L R s
k RB
L R s
A
s s s
2 2
3
1
2 2
2
2 2
2 /
2 2
1
3 2 1
o2 o1 o
4 ) / (
1
/
2
tan
,
4 ) / (
1

2 /
1
) )( 2 / (

) 2 / (
) 2 / (
) (
2 / 2 2 /
2 /

) ( ) ( ) ( V V V

+

s
A
R
sL
+
V
o1


R
2 2
β +
β
s
B
R
sL
+
V
o2


R

2-12 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
( )
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

+
β +
+
β +

β
+ = ⇒
θ − β θ − β −


) ( ) (
2 2
2
2 2
2
o
4 ) / (
1
) 2 / (
) 2 / (
2 2
) (
t j t j
t
L
R
t
L
R
e e
L R
e
L R
L R
RB
e
A
t v

) cos(
4 ) / (
4
2
) (
2 2
2
2 2
2
o
θ − β
β +
β
+
(
(
¸
(

¸

β +
β
− = ⇒

t
L R
RB
e
L R
B R A
t v
t
L
R

2.8.3. Metoda Reduksi Rangkaian
COTOH-2.6: Dengan menggunakan metoda reduksi rangkaian
selesaikanlah persoalan pada contoh 2.5.
Penyelesaian :
Rangkaian yang
ditransformasikan ke
kawasan s kita gambar
lagi seperti di samping
ini.
Jika sumber
tegangan
ditransformasikan
menjadi sumber
arus, kita
mendapatkan
rangkaian dengan dua sumber arus dan dua resistor diparalel.
Rangkaian tersebut dapat
disederhanakan menjadi
rangkaian dengan satu
sumber arus, dan kemudian
menjadi rangkaian dengan
sumber tegangan.

|
|
¹
|

\
|
+
β +
β
sR
A
s
B R
2 2
2
R/2
sL
+
V
o


+

+
− 2 2
β +
β
s
B
s
A
R
sL
+
V
o


R
2 2
β +
β
s
B
sR
A
R
sL
+
V
o


R
sR
A
s
B
+
β +
β
2 2
R/2
sL
+
V
o


2-13
Dari rangkaian terakhir ini kita diperoleh :

|
|
¹
|

\
|
+
β +
β
×
+
=
sR
A
s
B R
R sL
sL
s
2 2
o
2 2 /
) ( V
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /
) (
2 2
o
β + +
β
+
+
=
s L R s
s RB
L R s
A
s V
Hasil ini sama dengan apa yang telah kita peroleh dengan metoda
superposisi pada contoh 2.5. Selanjutnya transformasi balik ke kawasan t
dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada contoh 2.5.
2.8.4. Metoda Rangkaian Ekivalen Thévenin
COTOH-2.7: Dengan menggunakan rangkaian ekivalen Thévenin
selesaikanlah persoalan
pada contoh 2.5.
Penyelesaian :
Kita akan menggunakan
gabungan metoda
superposisi dengan
rangkaian ekivalen
Thévenin.
Tegangan hubungan
terbuka pada waktu
induktor dilepas, adalah jumlah tegangan yang diberikan oleh
sumber tegangan dan sumber arus secara terpisah, yaitu
2 2
2 2
2 / 2 /


2
1
) ( ) (
β +
β
+ =
β +
β
× × + ×
+
= =
s
RB
s
A
s
B
R
s
A
R R
R
s s
ht T
V V

Dilihat dari terminal induktor,
impedansi Z
T
hanyalah berupa dua
resistor paralel, yaitu
2
R
Z
T
=
+

Z
T
sL
+
V
o


V
T
+
− 2 2
β +
β
s
B
s
A
R
sL
+
V
o


R
+
− 2 2
β +
β
s
B
s
A
R
+
V
ht


R

2-14 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
Dengan demikian maka tegangan induktor menjadi
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /

2 / 2 /
2 /
) ( ) (
2 2
2 2
o
β + +
β
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
β +
β
+
+
=
+
=
s L R s
s RB
L R s
A
s
RB
s
A
R sL
sL
s
Z sL
sL
s
T
T
V V

Persamaan ini telah kita peroleh sebelumnya, baik dengan metoda
superposisi maupun metoda reduksi rangkaian.
2.8.5. Metoda Tegangan Simpul
COTOH 2.8: Selesaikan persoalan pada contoh 2.5. dengan
menggunakan metoda
tegangan simpul.
Penyelesaian :
Dengan referensi
tegangan seperti terlihat
pada gambar di atas,
persamaan tegangan simpul untuk simpul A adalah:
0
1 1 1 1
) (
2 2
o
=
β +
β
− − |
¹
|

\
|
+ +
s
B
s
A
R sL R R
s V
Dari persamaan tersebut di atas kita peroleh
) )( 2 / (
) 2 / (
2 /
2 /


2
) (
atau
2
) (
2 2
2 2
o
2 2
o
β + +
β
+
+
=
|
|
¹
|

\
|
β +
β
+
+
=
β +
β
+ = |
¹
|

\
| +
s L R s
s RB
L R s
A
s
B
Rs
A
R Ls
RLs
s
s
B
Rs
A
RLs
R Ls
s
V
V

Hasil yang kita peroleh sama seperti sebelumnya.
Pemahaman :
Dalam analisis di kawasan s, metoda tegangan simpul untuk
rangkaian dengan beberapa sumber yang mempunyai frekuensi
+
− 2 2
β +
β
s
B
s
A
R
sL
+
V
o


R
A
B
2-15
berbeda, dapat langsung digunakan. Hal ini sangat berbeda dari
analisis di kawasan fasor, dimana kita tidak dapat melakukan
superposisi fasor dari sumber-sumber yang mempunyai frekuensi
berbeda, karena pengertian fasor diturunkan dengan ketentuan bah-
wa frekuensi sama untuk seluruh system.
2.8.6. Metoda Arus Mesh
COTOH-2.9: Pada rangkaian berikut ini tidak terdapat simpanan
energi awal. Gunakan metoda arus mesh untuk menghitung i(t).

Penyelesaian :
Transformasi rangkaian ke kawasan s adalah seperti gambar berikut
ini. Kita
tetapkan
referensi
arus mesh
I
A
dan I
B
.
Persamaan
arus mesh dari kedua mesh adalah
( )
0 10 ) (
10
10 10 ) (
0 10 ) ( 10 01 . 0 ) (
10
4
6
4 4
4 4
= × −
|
|
¹
|

\
|
+ +
= × − + + −
s
s
s
s s s
s
A B
B A
I I
I I

Dari persamaan kedua kita peroleh:
( )
) (
10 2
) (
2
s
s
s
s
B A
I I
+
= →
Sehingga:
+

10kΩ

10mH

1µF
10 u(t)
i(t)
10kΩ

s
s
10
) (
1
= V
+

10
4
10
4
0.01s
s
6
10

I(s)
I
A
I
B

2-16 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
( )
( )
500000
04 , 0
10 8 10 10
; 100
04 , 0
10 8 10 10
dengan
) )( (
10
10 10 02 , 0
10

10 10 10 2 02 , 0
10
) ( ) (
0 10 ) ( ) (
10 2
10 01 . 0
10
4 8 4
4 8 4
6 4 2
4 6 4 2
4
2
4
− ≈
× − − −
= β
− ≈
× − + −
= α
β − α −
=
+ +
=
− + + × +
= = ⇒
= × −
+
+ + − ⇒
s s
s s
s s s s
s s
s s
s
s
s
s
B
B B
I I
I I

| | mA 02 , 0 ) (
10 2
100
10
; 10 2
500000
10
50000 100 ) 500000 )( 100 (
10
) (
500000 100
5
500000
2
5
100
1
2 1
t t
s s
e e t i
s
k
s
k
s
k
s
k
s s
s
− −

− =

− =
− = ⇒
× − =
+
= × =
+
=
+
+
+
=
+ +
= ⇒ I

2-17
Soal-Soal
1. Sebuah resistor 2 kΩ dihubungkan seri dengan sebuah induktor 2 H;
kemudian pada rangkaian ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t)
V. Bagaimanakah bentuk tegangan pada induktor dan pada resistor ?
Bagaimanakah tegangannya setelah keadaan mantap tercapai?
2. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
3. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20cos300t] u(t) V.
4. Rangkaian seri resistor dan induktor soal 1 diparalelkan kapasitor 0.5
µF. Jika kemudian pada rangkaian ini diterapkan tegangan
v(s)=10u(t) V bagaimanakah bentuk arus induktor ? Bagaimanakah
arus tersebut setelah keadaan mantap tercapai?
5. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20sin300t]u(t) V.
6. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20cos300t]u(t) V.
7. Sebuah kapasitor 2 pF diserikan dengan induktor 0,5 H dan pada
hubungan seri ini diparalelkan resistor 5 kΩ. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t) V,
bagaimanakah bentuk tegangan kapasitor ?
8. Ulangi soal 7 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
9. Sebuah resistor 100 Ω diparalelkan dengan induktor 10 mH dan pada
hubungan paralel ini diserikan kapasitor 0,25 µF. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan tegangan v(t) = 10u(t) V, carilah
bentuk tegangan kapasitor.
10. Ulangi soal 9 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.
11. Carilah tanggapan status nol (tidak ada simpanan energi awal pada
rangkaian) dari i
L
pada rangkaian berikut jika v
s
=10u(t) V.

+

v
s

1kΩ
1kΩ
0.1H
i
L

2-18 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)
12. Carilah tanggapan status nol dari v
C
dan i
L
pada rangkaian berikut
jika v
s
=100u(t) V.

13. Carilah tanggapan status nol dari v
C
dan i
L
pada rangkaian berikut
jika v
s
=[10cos20000t]u(t) V.

14. Carilah i pada rangkaian berikut, jika i
s
=100u(t) mA dan tegangan
awal kapasitor adalah v
C
(0) = 10 V.

15. Ulangi soal 14 untuk i
s
=[100cos400t] u(t) mA.
16. Carilah v
o
pada rangkaian berikut, jika i
s
=100u(t) mA dan arus awal
induktor adalah i
L
(0) = 10 mA.

17. Ulangi soal 16 untuk i
s
= [100cos400t] u(t) mA.
18. Carilah tanggapan status nol dari v
L
pada rangkaian berikut, jika v
s
=
10u(t) V , i
s
= [10sin400t]u(t) mA.

i
s

0,1H
0,5kΩ
+
v
L


0,5kΩ
+

v
s
i
s

+
v
o


0,1H
5kΩ
5kΩ
i
s

0,05µF
i

5kΩ
5kΩ
+

v
s

500Ω
50mH
0,05µF
i
L
+
v
C


+

v
s

5kΩ
50mH
0,05µF
i
L
+
v
C


2-19
19. Carilah tanggapan status nol dari v
2
pada rangkaian berikut jika v
s
=
[10cos(900t+30
o
)] u(t) V.

20. Ulangi soal 17 jika tegangan awal kapasitor 5 V sedangkan arus awal
induktor nol.
21. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran v
o
(t) jika tegangan masukan v
s
(t)=10u(t) mV.

22. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran v
o
(t) jika tegangan masukan v
s
(t)=10u(t) mV.

23. Untuk rangkaian berikut, tentukanlah v
o
dinyatakan dalam v
in
.

+

10kΩ
1kΩ
100i

10kΩ
100kΩ
0,1µF

+
v
o

v
s
i

+


+
v
o

+
v
in
R
2 R
1
C
1
C
2
+

10kΩ
1kΩ
50i

10kΩ
20pF

+
v
o

v
s
i

2pF

+

v
1

10kΩ
10mH
1µF
+
v
2


10kΩ

2-20 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (3)



26. Untuk rangkaian
transformator linier
berikut ini tentukanlah i
1
dan i
2
.




27. Pada hubungan beban dengan
transformator berikut ini,
nyatakanlah impedansi masukan
Z
in
sebagai fungsi dari M.



28. Berapakah M agar Z
in
pada soal 27 menjadi
( )
25000
25000 2 , 0 02 , 0
+
+
=
s
s s
Z
in

29. Jika tegangan masukan pada transformator soal 28 adalah
V 300 cos 10 t v
in
= , tentukan arus pada beban 50 Ω.


+

+
v
o

+
v
in
R
2
R
1
C
1
C
2
R
2

+

+
v
o

+
v
in
10kΩ

1µF

10kΩ

i
1
i
2
M
L
1
L
2
+

50Ω

80Ω

50u(t) V

L
1
=0,75H L
2
=1H
M = 0,5H
M
L
1
L
2
50Ω

Z
in
L
1
=20mH L
2
=2mH
2-21









BAB 2 Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace
Setelah mempelajari bab ini kita akan • memahami konsep impedansi di kawasan s. • mampu melakukan transformasi rangkaian ke kawasan s. • mampu melakukan analisis rangkaian di kawasan s. Di bab sebelumnya kita menggunakan transformasi Laplace untuk memecahkan persamaan rangkaian. Kita harus mencari terlebih dahulu persamaan rangkaian di kawasan t sebelum perhitungan-perhitungan di kawasan s kita lakukan. Berikut ini kita akan mempelajari konsep impedansi dan dengan konsep ini kita akan dapat melakukan transformasi rangkaian ke kawasan s. Dengan transformasi rangkaian ini, kita langsung bekerja di kawasan s, artinya persamaan rangkaian langsung dicari di kawasan s tanpa mencari persamaan rangkaian di kawasan t lebih dulu. Sebagaimana kita ketahui, elemen dalam analisis rangkaian listrik adalah model dari piranti yang dinyatakan dengan karakteristik i-v-nya. Jika analisis dilakukan di kawasan s dimana v(t) dan i(t) ditransformasikan menjadi V(s) dan I(s), maka pernyataan elemenpun harus dinyatakan di kawasan s. 2.1. Hubungan Tegangan-Arus Elemen di Kawasan s 2.1.1. Resistor Hubungan arus dan tegangan resistor di kawasan t adalah

vR (t ) = RiR(t)
Transformasi Laplace dari vR adalah

VR ( s ) =

∫0 vR (t )e

− st

dt =

∫0 RiR (t )e

− st

dt =RI R(s)

Jadi hubungan arus-tegangan resistor di kawasan s adalah

VR ( s ) = R I R ( s )

(2.1)

2-1

Inilah hubungan tegangan dan arus kapasitor di kawasan s. Impedansi di kawasan s adalah rasio tegangan terhadap arus di kawasan s dengan kondisi awal nol. Analisis Rangkaian Listrik (3) .3.1.3) t Transformasi Laplace dari tegangan kapasitor adalah I ( s) vC (0) VC ( s ) = C + sC s dengan vC(0) adalah tegangan kapasitor pada t =0.2) dengan iL (0) adalah arus induktor pada saat awal integrasi dilakukan atau dengan kata lain adalah arus pada t = 0. Kita ingat pada analisis transien di kawasan waktu. 2-2 Sudaryatno Sudirham. 2. arus ini adalah kondisi awal dari induktor. Induktor Hubungan antara arus dan tegangan induktor di kawasan t adalah v L (t ) = L diL(t) dt Transformasi Laplace dari vL adalah (ingat sifat diferensiasi dari transformasi Laplace) : VL ( s ) = ∫0 vL (t )e ∞ − st dt = ∫0 L  ∞ diL (t )  − st e dt = sLI L ( s) − LiL (0) dt   Jadi hubungan tegangan-arus induktor adalah VL ( s) = sLI L ( s) − LiL (0) (2.2.2.2. yaitu i(0+) = i(0−). Konsep Impedansi di Kawasan s Impedansi merupakan suatu konsep di kawasan s yang didefinisikan sebagai berikut. 2. Kapasitor Hubungan antara tegangan dan arus kapasitor di kawasan t adalah vC (t ) = 1 C ∫0 iC (t )dt + vc (0) (2.1.

+ IR (s) R + IL (s) sL VR(s) − Resistor VL (s) − Induktor − + LiL(0) VC (s) − Kapasitor + − + IC (s) 1 sC vC (0) s Gb. VL ( s) = sLI L ( s) − LiL (0) . VC = 1 I C ( s) sC (2.3. VR ( s) = RI R (s) . dikembangkan pengertian admitansi. YL = 1 sL . induktor.Sesuai dengan definisi ini. I ( s ) vC (0) VC ( s ) = C + sC s 2-3 . seperti terlihat pada Gb. ZL = L = sL .5) Sejalan dengan pengertian impedansi. VR ( s ) = R I R ( s ) . dan hubungan tegangan-arus elemen di kawasan s. maka impedansi elemen dapat kita peroleh dari (2.1. induktor. sedangkan kondisi awal (untuk induktor dan kapasitor) dinyatakan dengan sumber tegangan yang terhubung seri dengan impedansi tersebut.2). V ( s) V (s) V (s) 1 ZR = R = R .4) Dengan konsep impedansi ini maka hubungan tegangan-arus untuk resistor. maka elemen-elemen dapat direpresentasikan di kawasan s dengan impedansinya. VL ( s) = sLI L (s) . dan kapasitor kita mempunyai YR = 1 R .1.2.1). dan (2. mirip dengan relasi hukum Ohm. 2. Representasi elemen di kawasan s. Z C = C = I R (s) IL ( s ) IC ( s) sC (2. dan kapasitor menjadi sederhana. yaitu Y = 1/Z sehingga untuk resistor. (2.6) 2. YC = sC (2.3) dengan iL (0) = 0 maupun vC (0) = 0. Representasi Elemen di Kawasan s Dengan pengertian impedansi seperti dikemukakan di atas.

+ IR (s) R sL IL (s) + VL (s) − iL (0) s 1 sC IC (s) + VC (s) − VR(s) − CvC(0) Gb. keadaan telah mantap. Dalam melakukan transformasi rangkaian perlu kita perhatikan juga apakah rangkaian yang kita transformasikan mengandung simpanan energi awal atau tidak. CO TOH 2. 2-4 Sudaryatno Sudirham.Representasi elemen di kawasan s dapat pula dilakukan dengan menggunakan sumber arus untuk menyatakan kondisi awal induktor dan kapasitor seperti terlihat pada Gb.2. Transformasi Rangkaian Representasi elemen ini dapat kita gunakan untuk mentransformasi rangkaian ke kawasan s. maka sumber tegangan ataupun sumber arus pada representasi elemen tidak perlu kita gambarkan.2.1: Saklar S pada rangkaian berikut telah lama ada di posisi 1. Transformasikan rangkaian ke kawasan s untuk t > 0. VR ( s ) = R I R ( s ) . Jika tidak ada. s   1 (I C ( s) + CvC (0) ) sC 2.4. Arus induktor nol dan tegangan kapasitor sama dengan tegangan sumber 8 V.2. Analisis Rangkaian Listrik (3) .2. Representasi elemen di kawasan s. VC ( s ) = i ( 0)   VL ( s ) = sL I L ( s ) − L . Penyelesaian : Pada t < 0. Pada t = 0 saklar 1 dipindahkan ke S posisi 2 sehingga 2 + 3Ω 1H + rangkaian RLC 8V− + −3t 1/2 F 2e V vC seri terhubung ke − − sumber tegangan 2e−3t V.

Representasi induktor impedansinya sL = s tanpa diserikan dengan sumber tegangan karena arus induktor pada t = 0 adalah nol. Apakah hukum-hukum. kita mengharapkan dapat langsung mencari persamaan rangkaian di kawasan s. Hal yang sama terjadi juga pada hukum tegangan Kirchhoff. Transformasi rangkaian ke kawasan s untuk t > 0 adalah 3 2 s+3 s 8 s + − 2 s + VC(s) − + − Perhatikan bahwa tegangan kapasitor VC (s) mencakup sumber tegangan (8/s) dan bukan hanya tegangan pada impedansi (2/s) saja. 2. Untuk suatu loop 2-5 .5. Hukum Kirchhoff Hukum arus Kirchhoff menyatakan bahwa untuk suatu simpul berlaku ∑ ik (t ) = 0 k =1 n Jika kita lakukan transformasi. sumber tegangan adalah vs = 2e−3t yang transformasinya ke kawasan s adalah Vs ( s ) = 2 s+3 Representasi kapasitor adalah impedansinya 1/sC = 2/s seri dengan sumber tegangan 8/s karena tegangan kapasitor pada t = 0 adalah 8 V. akan kita peroleh ∫0 ∑ ∞ n n    ik (t ) e − st dt =    k =1 k =1    ∑ ∫0 ∞  ik (t )e − st dt  = I k (s) = 0  k =1 ∑ n (2. kaidah.7) Jadi hukum arus Kirchhoff (HAK) berlaku di kawasan s. teorema rangkaian serta metoda analisis yang telah kita pelajari di kawasan t dapat kita terapkan? Hal tersebut kita bahas berikut ini. Setelah rangkaian ditransformasikan.Untuk t > 0.

Kaidah-Kaidah Rangkaian Kaidah-kaidah rangkaian. Yekiv paralel = ∑ Yk Zk (2.2: Carilah VC (s) pada rangkaian impedansi seri RLC berikut ini. pembagi arus. seperti rangkaian ekivalen seri dan paralel. I k ( s) = Yk Yekiv paralel Itotal ( s) . Karena hukum ini berlaku di kawasan s maka kaidahkaidah rangkaian juga harus berlaku di kawasan s. Dengan mudah kita akan mendapatkan impedansi ekivalen maupun admitansi ekivalen Z ekiv seri = ∑ Zk . Analisis Rangkaian Listrik (3) . pembagi tegangan.6.∑ vk (t ) = 0 k =1 n ⇒ ∫ ∑ n n   ∞ − st   vk (t ) e − st dt = Vk ( s ) = 0  0 vk (t )e dt  = 0    k =1 k =1    k =1 ∞ n (2. Vk ( s ) = Z ekiv Vtotal ( s) (2. sesungguhnya merupakan konsekuensi hukum Kirchhoff.9) Demikian pula dengan pembagi arus dan pembagi tegangan.10) seri CO TOH-2.8) ∑∫ ∑ 2. 3 s Vin (s) + − 2 s + VC (s) − Penyelesaian : Kaidah pembagi tegangan pada rangkaian ini memberikan VR ( s ) = 2/ s 2 3+ s + s Vin ( s) = 2 s + 3s + 2 2 Vin ( s) = 2 Vin ( s) ( s + 1)( s + 2) Pemahaman : Jika Vin(s) = 10/s maka 2-6 Sudaryatno Sudirham.

2. Sebagai contoh kita lihat rangkaian seri RLC dengan masukan Vin(s). L = 1H. Teorema Rangkaian 2. pada rangkaian dengan elemen-elemen resistor. Transformasi Laplace dari kedua ruas hubungan diatas akan memberikan Y ( s ) = KX ( s ) dengan Y(s) dan X(s) adalah sinyal keluaran dan masukan di kawasan s.11) Perbedaan antara prinsip proporsionalitas pada rangkaian-rangkaian resistor dengan rangkaian impedansi terletak pada faktor Ks. C = 0.VC ( s) = k 20 k k = 1+ 2 + 3 s( s + 1)(s + 2) s s + 1 s + 2 → k1 = 20 20 = 10 . Prinsip Proporsionalitas Prinsip proporsionalitas merupakan pernyataan langsung dari sifat rangkaian linier. k 2 = = −20 . Jika tegangan keluaran adalah tegangan pada resistor VR (s). Untuk rangkaian impedansi. Di kawasan t. maka 2-7 .7. Y (s) = K s X (s) (2.1.5 F) dengan masukan sinyal anak tangga yang amplitudonya 10 V. ( s + 1)( s + 2) s = 0 s ( s + 2) s = −1 20 = 10 k3 = s( s + 1) s = −2 10 − 20 10 + + s s +1 s + 2 ⇒ VC ( s) = ⇒ vC (t ) = 10 − 20e −t + 10e − 2t Inilah tanggapan rangkaian rangkaian RLC seri (dengan R = 3Ω . merupakan fungsi rasional dalam s.7. Dalam rangkaian impedansi nilai Ks. sifat ini dinyatakan oleh hubungan y (t ) = Kx(t ) dengan y(t) dan x(t) adalah keluaran dan masukan dan K adalah suatu konstanta yang ditentukan oleh nilai-nilai resistor yang terlibat.

7. Faktor ini. ZT .13) 2-8 Sudaryatno Sudirham.12) 2. x2 . x3 … adalah sinyal masukan dan K1 . K3 … adalah konstanta proporsionalitas yang besarnya tergantung dari nilai-nilai elemen dalam rangkaian.2. Yo ( s ) = K s1 X1 ( s ) + K s 2 X 2 ( s ) + K s3 X 3 ( s ) + ⋅ ⋅ ⋅ (2. Y .VR ( s) = R   RCs Vin ( s) =  Vin ( s) 2 R + sL + (1 / sC )  LCs + RCs + 1 Besaran yang berada dalam tanda kurung adalah faktor proporsionalitas. hanya di sini kita mempunyai impedansi ekivalen Thévenin. Analisis Rangkaian Listrik (3) . dengan hubungan sbb: VT ( s) = Vht ( s) = I ( s) ZT .3. memberikan hubungan antara masukan dan keluaran dan disebut fungsi jaringan. sama dengan apa yang kita pelajari untuk rangkaian dengan elemen-elemen resistor. I ( s) = I hs ( s) = ZT = 1 V ( s) = T Y I ( s) VT ( s) ZT (2. Prinsip Superposisi Prinsip superposisi menyatakan bahwa untuk rangkaian linier besar sinyal keluaran dapat dituliskan sebagai yo (t ) = K1x1 (t ) + K 2 x2 (t ) + K3 x3 (t ) + ⋅ ⋅ ⋅ dengan x1. dan admitansi ekivalen Norton. 2. Sifat linier dari transformasi Laplace menjamin bahwa prinsip superposisi berlaku pula untuk rangkaian linier di kawasan s dengan perbedaan bahwa konstanta proporsionalitas berubah menjadi fungsi rasional dalam s dan sinyal-sinyal dinyatakan dalam kawasan s. K2 . Teorema Thévenin dan orton Konsep mengenai teorema Thévenin dan Norton pada rangkaianrangkaian impedansi. Cara mencari rangkaian ekivalen Thévenin dan Norton sama seperti dalam rangkaian resistor. yang merupakan fungsi rasional dalam s.7.

R B E B A N s s 2 + ω2 + − 1 sC Penyelesaian : VT ( s) = Vht ( s) = s s / RC 1 / sC = R + (1 / sC ) s 2 + ω2 ( s + 1 / RC )( s 2 + ω2 ) I ( s) = I hs ( s) = s 1 2 R s + ω2 R / sC 1 = R + 1 / sC C ( s + 1 / RC ) ZT B E B A N ZT = R || (1 / RC ) = VT + − 2.8. superposisi. baik metoda dasar (metoda reduksi rangkaian.CO TOH-2. arus mesh) dapat kita gunakan untuk analisis di kawasan s. unit output. Metoda-Metoda Analisis Metoda-metoda analisi. 2. Hal ini mudah dipahami mengingat hukum-hukum.8.1. kaidah-kaidah maupun teorema rangkaian yang berlaku di kawasan t berlaku pula di kawasan s. carilah V2(s) pada rangkaian impedansi di bawah ini.3: Carilah rangkaian ekivalen Thevenin dari rangkaian impedansi berikut ini. Berikut ini kita akan melihat contoh-contoh penggunaan metoda analisis tersebut di kawasan s. rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton) maupun metoda umum (metoda tegangan simpul. Metoda Unit Output CO TOH-2. 2-9 .4: Dengan menggunakan metoda unit output.

− − Penyelesaian : Rangkaian kita transformasikan ke kawasan s menjadi R sL + Vo − A s + − R Bβ s + β2 2 Jika sumber arus dimatikan. Metoda Superposisi CO TOH-2. Analisis Rangkaian Listrik (3) .5: Dengan menggunakan metoda superposisi.8. carilah tegangan induktor vo (t) + R pada rangkaian R Bsinβt Au(t) + L vo berikut ini.IL (s) sL I1(s) IR (s) R IC (s) + 1/sC V2(s) − Penyelesaian : Misalkan : V2 ( s ) = 1 → VC ( s ) = V2 ( s ) = 1 → I L ( s ) = I C ( s ) = sC → → I C ( s) = 1 = sC 1 / sC VL ( s ) = sL × sC = LCs 2 → VR ( s) = VL ( s) + VC ( s) = LCs 2 + 1 * ⇒ I1 ( s) = I R ( s) + I L ( s) = → I R (s) = LCs 2 + 1 R LCs 2 + 1 LCs 2 + RCs + 1 + sC = R R ⇒ Ks = 1 * I1 ( s) = R LCs + RCs + 1 R LCs + RCs + 1 2 2 ⇒ V2 ( s) = K s I1 ( s) = I1 ( s) 2. maka rangkaian menjadi : 2-10 Sudaryatno Sudirham.2.

rangkaian menjadi : R sL + Vo2 − R 2 Bβ s + β2 Vo2 ( s ) = sL × I L ( s ) = sL × 1 / sL Bβ × 1 1 1 s 2 + β2 + + R R sL sRL Bβ RBβ s = = × 2sL + R s 2 + β 2 2 ( s + R / 2 L)( s 2 + β 2 ) ⇒ Vo ( s) = Vo1 ( s ) + Vo2 ( s ) = → k1 = → k2 = k1 k k  A/ 2 RBβ  + + 2 + 3   2  s + R / 2 L s + jβ s − jβ  s + R / 2L s (s + β ) 2 2 s = − R / 2L =− ( R / 2 L) ( R / 2 L) 2 + β 2 = 1 = R / L − j 2β 1 ( R / L) + 4β 2 2 s ( s + R / 2 L)(s − jβ) e jθ .+ − A s R sL + Vo1 − R RLs R + sL RLs A L A/ 2 A= ⇒ Vo1 ( s ) = R + sL = RLs s R + 2sL s + R / 2L R+ R + sL → Z L // R = Jika sumber tegangan dimatikan. s = − jβ  + 2β  θ = tan −1   R/L → k3 = 1 ( R / L) + 4β 2 2 e − jθ 2-11 .

dan kemudian menjadi rangkaian dengan sumber tegangan. Rangkaian tersebut dapat disederhanakan menjadi rangkaian dengan satu sumber arus. R/2 sL + Vo − Bβ s 2 + β2 + A sR sL + R/2 Vo − + − R  Bβ A   + 2  s 2 + β2 sR    2-12 Sudaryatno Sudirham. Metoda Reduksi Rangkaian CO TOH-2.5. + − R A sL s + Vo − R Bβ s 2 + β2 Jika sumber tegangan + Bβ ditransformasikan A R R sL Vo 2 menjadi sumber sR s + β2 − arus.3.6: Dengan menggunakan metoda reduksi rangkaian selesaikanlah persoalan pada contoh 2. kita mendapatkan rangkaian dengan dua sumber arus dan dua resistor diparalel.R  − t ( R / 2 L) − e 2L R A − t RBβ  ( R / 2 L) 2 + β 2 ⇒ vo (t ) = e 2 L +  2 2  1 e − j (βt − θ) + e j (βt − θ) + 2 2 ( R / L) + 4β   ( )         A R 2 Bβ  − 2 L t + ⇒ vo (t ) =  − e 2  2 R + 4 Lβ 2    R RBβ ( R / L) 2 + 4β 2 cos(βt − θ) 2. Penyelesaian : Rangkaian yang ditransformasikan ke kawasan s kita gambar lagi seperti di samping ini. Analisis Rangkaian Listrik (3) .8.

5.8.5. Vht 2 − s s + β2 − Tegangan hubungan terbuka pada waktu induktor dilepas.5. R + Bβ + A R Penyelesaian : sL Vo 2 − s s + β2 − Kita akan menggunakan gabungan metoda superposisi dengan rangkaian ekivalen R + Bβ + A R Thévenin. 2. adalah jumlah tegangan yang diberikan oleh sumber tegangan dan sumber arus secara terpisah. yaitu VT ( s) = Vht ( s) = = A/ 2 + s s 2 + β2 Dilihat dari terminal induktor. Metoda Rangkaian Ekivalen Thévenin CO TOH-2. Selanjutnya transformasi balik ke kawasan t dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada contoh 2.7: Dengan menggunakan rangkaian ekivalen Thévenin selesaikanlah persoalan pada contoh 2. yaitu R A Bβ 1 × + R× × R+R s 2 s 2 + β2 RBβ / 2 ZT = R 2 + − ZT VT sL + Vo − 2-13 .4.Dari rangkaian terakhir ini kita diperoleh : Vo ( s) = sL R  Bβ A  ×  +  s 2 + β2 sR  sL + R / 2 2   A/ 2 ( RBβ / 2) s Vo ( s ) = + s + R / 2 L ( s + R / 2 L)( s 2 + β 2 ) Hasil ini sama dengan apa yang telah kita peroleh dengan metoda superposisi pada contoh 2. impedansi ZT hanyalah berupa dua resistor paralel.

R + Bβ + A R Penyelesaian : sL Vo 2 − s s + β2 − Dengan referensi B tegangan seperti terlihat pada gambar di atas.8: Selesaikan persoalan pada contoh 2. baik dengan metoda superposisi maupun metoda reduksi rangkaian.5. dengan menggunakan metoda A tegangan simpul.8. metoda tegangan simpul untuk rangkaian dengan beberapa sumber yang mempunyai frekuensi 2-14 Sudaryatno Sudirham.5. persamaan tegangan simpul untuk simpul A adalah: Bβ 1  1 A 1 1 Vo ( s ) + + − =0 − R R sL  R s s 2 + β 2  Dari persamaan tersebut di atas kita peroleh Bβ  2 Ls + R  A + Vo ( s) = 2  RLs  Rs s + β 2 Vo ( s) = = RLs  A Bβ    + 2 Ls + R  Rs s 2 + β 2    atau ( RBβ / 2) s A/ 2 + s + R / 2 L ( s + R / 2 L)(s 2 + β 2 ) Hasil yang kita peroleh sama seperti sebelumnya. Analisis Rangkaian Listrik (3) . Pemahaman : Dalam analisis di kawasan s. 2.Dengan demikian maka tegangan induktor menjadi Vo ( s ) = =  A / 2 RBβ / 2  sL sL   VT ( s ) = + sL + ZT sL + R / 2  s s 2 + β2    A/ 2 ( RBβ / 2) s + s + R / 2 L ( s + R / 2 L)( s 2 + β 2 ) Persamaan ini telah kita peroleh sebelumnya. Metoda Tegangan Simpul CO TOH 2.

8. dapat langsung digunakan. Metoda Arus Mesh CO TOH-2. Persamaan arus mesh dari kedua mesh adalah − 10 + I A ( s) 0. karena pengertian fasor diturunkan dengan ketentuan bahwa frekuensi sama untuk seluruh system. Kita I(s) 0.berbeda. 2. Hal ini sangat berbeda dari analisis di kawasan fasor.6. dimana kita tidak dapat melakukan superposisi fasor dari sumber-sumber yang mempunyai frekuensi berbeda. 10mH 10 u(t) + − i(t) 10kΩ 10kΩ 1µF Penyelesaian : Transformasi rangkaian ke kawasan s adalah seperti gambar berikut ini.01s + 104 − I B ( s) × 104 = 0 s  106   − I A ( s) × 104 = 0 I B ( s)104 + 104 +  s    ( ) Dari persamaan kedua kita peroleh: → I A ( s) = (2s + 10 ) I 2 s B (s) Sehingga: 2-15 . Gunakan metoda arus mesh untuk menghitung i(t).9: Pada rangkaian berikut ini tidak terdapat simpanan energi awal.01s tetapkan 104 4 10 10 + referensi 106 V1( s ) = IA IB − s arus mesh s IA dan IB.

Analisis Rangkaian Listrik (3) . k2 = ⇒ i(t ) = 0. 0.01s + 10 4 s s 10 ⇒ I ( s ) = I B ( s) = 0.02 s 2 + 2 × 10 4 s + s + 10 6 − 10 4 s 10 10 = = 2 4 6 ( s − α)(s − β) 0.04 ( )( ) β= − 10 4 − 108 − 8 × 10 4 ≈ −500000 0.02 s + 10 s + 10 dengan α = − 10 4 + 108 − 8 × 10 4 ≈ −100 .04 10 k1 k2 = + ( s + 100)( s + 500000) s + 100 s + 50000 s = −100 −100t − 500000t ⇒ I (s) = k1 = 10 s + 500000 = 2 × 10 −5 .02 e [ −e ] mA 10 s + 100 = −2 × 10 −5 s = −500000 2-16 Sudaryatno Sudirham.⇒− 10 2 s + 10 2 I B ( s ) − I B ( s ) × 10 4 = 0 + 0.

7. iL 0. 11. 3. Sebuah resistor 100 Ω diparalelkan dengan induktor 10 mH dan pada hubungan paralel ini diserikan kapasitor 0. Ulangi soal 7 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.1H + − 1kΩ vs 1kΩ 2-17 . Jika kemudian pada hubungan seri-paralel ini diterapkan tegangan v(t) = 10u(t) V. Bagaimanakah bentuk tegangan pada induktor dan pada resistor ? Bagaimanakah tegangannya setelah keadaan mantap tercapai? 2. 10.5 H dan pada hubungan seri ini diparalelkan resistor 5 kΩ. 9. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20sin300t]u(t) V. kemudian pada rangkaian ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t) V. 4. Carilah tanggapan status nol (tidak ada simpanan energi awal pada rangkaian) dari iL pada rangkaian berikut jika vs=10u(t) V.5 µF. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20sin300t] u(t) V. carilah bentuk tegangan kapasitor. Jika kemudian pada hubungan seri-paralel ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t) V. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20cos300t] u(t) V.Soal-Soal 1.25 µF. Rangkaian seri resistor dan induktor soal 1 diparalelkan kapasitor 0. bagaimanakah bentuk tegangan kapasitor ? 8. 6. Sebuah resistor 2 kΩ dihubungkan seri dengan sebuah induktor 2 H. Jika kemudian pada rangkaian ini diterapkan tegangan v(s)=10u(t) V bagaimanakah bentuk arus induktor ? Bagaimanakah arus tersebut setelah keadaan mantap tercapai? 5. Ulangi soal 9 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20cos300t]u(t) V. Sebuah kapasitor 2 pF diserikan dengan induktor 0.

05µF − 14.1H 0. Carilah tanggapan status nol dari vC dan iL pada rangkaian berikut jika vs=100u(t) V.1H 5kΩ + vo − 17. 0. Ulangi soal 14 untuk is=[100cos400t] u(t) mA. Carilah tanggapan status nol dari vL pada rangkaian berikut. Carilah i pada rangkaian berikut. jika is=100u(t) mA dan tegangan awal kapasitor adalah vC (0) = 10 V. is = [10sin400t]u(t) mA. 0.12. + − 500Ω + iL vs vC 50mH 0. Ulangi soal 16 untuk is = [100cos400t] u(t) mA. Carilah tanggapan status nol dari vC dan iL pada rangkaian berikut jika vs=[10cos20000t]u(t) V. 18. 5kΩ + iL vs vC 50mH 0. jika is=100u(t) mA dan arus awal induktor adalah iL (0) = 10 mA. Carilah vo pada rangkaian berikut. 5kΩ is 0. jika vs= 10u(t) V .05µF i 5kΩ 5kΩ is 15.5kΩ + vL vs − 0.5kΩ + − is 2-18 Sudaryatno Sudirham. Analisis Rangkaian Listrik (3) .05µF − + − 13. 16.

tentukanlah vo dinyatakan dalam vin. Untuk rangkaian berikut. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan keluaran vo(t) jika tegangan masukan vs(t)=10u(t) mV. Ulangi soal 17 jika tegangan awal kapasitor 5 V sedangkan arus awal induktor nol. Carilah tanggapan status nol dari v2 pada rangkaian berikut jika vs = [10cos(900t+30o)] u(t) V. 10kΩ vs + − 1kΩ i 10kΩ 100i 0.1µF 100kΩ + vo − 22. R1 + vin C1 R2 + − C2 + vo 2-19 . 10kΩ vs + − i 2pF + vo − 10kΩ 50i 20pF 1kΩ 23.19. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan keluaran vo(t) jika tegangan masukan vs(t)=10u(t) mV. 10mH + − v1 + v2 − 10kΩ 1µF 10kΩ 20. 21.

nyatakanlah impedansi masukan Zin sebagai fungsi dari M. + − 50Ω 50u(t) V L1 L2 80Ω L1=0. Berapakah M agar Zin pada soal 27 menjadi Z in = 0.2s + 25000) s + 25000 29. Jika tegangan masukan pada transformator soal 28 adalah vin = 10 cos 300t V . tentukan arus pada beban 50 Ω.10kΩ 10kΩ + vin 1µF − + + vo C1 R1 + vin C2 R2 R2 − + + vo i2 M i1 26. Pada hubungan beban dengan transformator berikut ini.75H L2=1H M = 0. Untuk rangkaian transformator linier berikut ini tentukanlah i1 dan i2 . Analisis Rangkaian Listrik (3) . 2-20 Sudaryatno Sudirham. M Zin L1 L2 50Ω L1=20mH L2=2mH 28.5H 27.02s(0.

2-21 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful