P. 1
Kelas XII SMA Sosiologi 3 Suhardi

Kelas XII SMA Sosiologi 3 Suhardi

|Views: 9,173|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
Buku Sekolah Elektronik untuk pelajar kelas 12/ Kelas 3 SMA/ MA oleh : Suhardi. Silahkan download buku BSE gratis bila perlu
Buku Sekolah Elektronik untuk pelajar kelas 12/ Kelas 3 SMA/ MA oleh : Suhardi. Silahkan download buku BSE gratis bila perlu

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

Keluarga merupakan unsur masyarakat yang sangat penting. Setiap interaksi

sosial sesungguhnya dipengaruhi keluarga, sebab seseorang senantiasa

mengembangkan kepribadiannya berdasarkan sosialisasi awal dari keluarga.

Setiap masyarakat pun telah melembanggakan norma-norma pembentukan

keluarga dengan berbagai ragam bentuk dan struktur. Berikut ini akan kita

bicarakan hakikat keluarga dan fungsinya di masyarakat.

a.Hakikat Lembaga Keluarga

Kebutuhan untuk bergaul dengan

lawan jenis adalah kubutuhan yang men-

dasar dan tidak dapat diingkari. Oleh

karena itu, perlu adanya tata cara supaya

pemenuhannya sesuai dengan nilai dan

norma yang berlaku di masyarakat.

Anda bisa membayangkan, bagaimana

seandainya tidak ada norma keluarga

yang mengatur hak dan kewajiban pria

dan wanita dalam hal pergaulan tersebut.

Keluarga juga merupakan lembaga

sosial yang pertama kali terbentuk.

Dalam masyarakat suku primitif yang

mempunyai jumlah penduduk relatif

sedikit, satu-satunya lembaga yang ada

adalah keluarga. Semua pemenuhan

kebutuhan hidup masyarakat diatur oleh keluarga. Ketika jumlah anggota suku

bertambah, para kepala keluarga bergabung dan terbentuklah lembaga

perwakilan, semacam badan musyawarah desa atau rembug desa, yang pertama.

Gambar 4.6 Upacara pernikahan hanya sekedar aca-
ra simbolik yang menandakan proses terbentuknya
sebuah keluarga.

Sumber: Budi Wahyono

129

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial dan .ungsinya

Adanya badan seperti itu berarti telah lahir sebuah organisasi yang kemudian

memunculkan birokrasi. Demikianlah keluarga menjadi lembaga sosial yang

sangat mendasar.

Sebuah keluarga terbentuk melalui perkawinan terlebih dahulu. Perkawinan

sering diartikan secara sempit sebagai sebuah upacara atau pesta pernikahan.

Hal tersebut hanya merupakan suatu cara mengumumkan secara resmi bahwa

mereka telah menikah. Pengumuman seperti ini memang penting. Lembaga

perkawinan atau keluarga dalam arti luas meliputi norma-norma yang mengatur

hal-hal sebagai berikut; cara memperoleh pasangan hidup, melahirkan dan

merawat anak, memenuhi kebutuhan ekonomi, memelihara anggota yang sakit

atau jompo, serta pengaturan hak dan kewajiban dalam hubungannya dengan

masyarakat luas.

Sebelum sepasang pengantin mengikat diri dalam sebuah keluarga, ada

beberapa tahapan yang mereka lalui sebagai bagian dari proses yang telah

melembaga untuk membentuk keluarga, yaitu kencan, peminangan, pertunang-

an, dan perkawinan.

Namun perlu diingat, bahwa tahapan seperti di atas tidak terjadi secara

universal. Setiap masyarakat memiliki cara-cara yang berbeda dalam mengikat

pasangan untuk berkeluarga. Ada masyarakat yang menjodohkan anak-anak

mereka di bawah usia sepuluh tahun, ada yang memberikan kebebasasan kepada

anak-anak untuk menentukan jodohnya sendiri. Pada umumnya, dalam masya-

rakat pedesaan di Jawa, perjodohan sangat ditentukan oleh orang tua. Namun,

semakin modern pola pikiran, hal tersebut kian luntur. Sementara itu, di

masyarakat Barat (Amerika dan Eropa), orang tua tidak mengatur anak-anaknya

dalam menentukan jodoh.

Dalam memilih calon pasangan, ada masyarakat yang mendorong warganya

untuk mengambil pasangan dari luar masyarakatnya sendiri (eksogami). Namun

ada pula yang menekankan agar seseorang mengambil jodoh dari dalam

kelompok sendiri (endogami). Dalam hal jumlah pasangan, ada masyarakat

yang menyetujui pasangan lebih dari satu (poligami). Bentuk poligami bisa berupa

poliandri atau poligini. Poliandri adalah seorang wanita yang memiliki lebih

dari satu suami, sedangkan poligini adalah seorang pria mengawini lebih dari

satu wanita. Pada masyarakat kita, bentuk yang paling diterima adalah pasangan

satu pria dengan satu wanita (monogami).

Menurut Horton dan Hunt (1991), berdasarkan bentuk-bentuk keluarga

yang ada di seluruh dunia, struktur keluarga ada lima macam. Kelima bentuk

itu adalah:

1) suatu kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama,

2) suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan,

3) pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak,

4) pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak, dan

5) satu orang dengan beberapa anak.

130Sosiologi SMA/MA Kelas XII

Keluarga yang terdiri dari suami, isteri yang diikat perkawinan resmi dan

anak-anak mereka disebut keluarga batih atau keluarga inti (nuclear family).

Bila keluarga batih memasukkan sanak-saudara untuk hidup bersama, maka

disebut keluarga konjugal (conjugal family) atau keluarga luas (extended family).

Ada pula keluarga yang tidak didasarkan pada hubungan perkawinan, tetapi

lebih kepada pertalian darah (consanguine family). Komposisi keluarga hubungan

darah lebih luas karena menyangkut saudara-saudara sedarah beserta anak-

anak mereka.

Setelah keluarga terbentuk, ada masyarakat yang mengatur agar anak yang

baru berkeluarga tinggal terpisah dengan orang tua atau mertuanya. Ini disebut

perkawinan neolokal (neolocal marriage). Namun, ada pula masyarakat yang

menghendaki agar anak yang baru berkeluarga tinggal bersama keluarga suami

(patrilocal marriage) atau sebaliknya tinggal bersama keluarga pihak isteri

(matrilocal marriage).

Adat kebiasaan masyarakat pun mengatur posisi dan peran suami-isteri

dalam keluarga. Apabila pihak laki-laki lebih dominan maka disebut keluarga

patriarkat, dan apabila pihak wanita yang dominan disebut matriarkat. Ikatan

keluarga juga dibedakan menurut garis keturunan. Keluarga patrilineal menganut

garis keturunan bapak (laki-laki) sehingga yang dianggap anggota keluarga adalah

semua keluarga laki-laki dari pihak ayah. Sebaliknya, keluarga matrilineal

menganut garis keturunan ibu, sehingga yang dianggap anggota keluarga adalah

semua saudara perempuan dari pihak ibu. Garis keturunan ini menyangkut

pewarisan harta dan tanggung jawab terhadap anak-anak.

Semua tata cara itu telah melembaga karena telah ditetapkan sebagai pola

yang paling cocok bagi masing-masing masyarakat.Akan tetapi, apabila dilihat

dari sudut pandang kerangka kebudayaan masyarakat lain tentu akan

menimbulkan penilaian berbeda. Hal seperti ini karena budaya bersifat relatif,

artinya sesuatu yang cocok untuk satu masyarakat belum tentu cocok bagi

masyarakat yang lain. Hal yang penting bukan pada perbedaan bagaimana

tata cara tersebut dilembagakan, melainkan tujuan dan fungsinya bagi masyarakat

bersangkutan.

b..ungsi Keluarga

Secara umum, pembentukan keluarga memiliki tiga fungsi utama, yaitu

untuk mengatur hubungan antarjenis kelamin, untuk menghasilkan keturunan

sebagai generasi penerus, dan untuk mengatur tanggung jawab terhadap

pemeliharaan dan pendidikan anak dan perlindungan terhadap semua anggota

keluarga. Ketiga fungsi umum tersebut dijabarkan menjadi tujuh fungsi khusus

berikut ini:

1) Pengaturan Hubungan Seks

Setiap pria dan wanita yang normal memiliki dorongan biologis untuk

berhubungan intim. Hal ini tidak bisa dipungkiri siapa pun dan dengan dalih

ukuran moral apa pun. Namun, akan sangat berbahaya apabila tidak ada norma

131

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial dan .ungsinya

yang mengaturnya. Seandainya manusia bebas seperti binatang dalam hal seks,

struktur masyarakat akan kacau. Selain itu, pergaulan seks bebas berpotensi

menyebarkan penyakit mematikan (AIDS) dan konflik antarwarga masyarakat

yang mungkin terjadi hanya untuk saling memperebutkan pasangan lawan jenis.

2) Reproduksi

.ungsi ini berkaitan dengan upaya

melahirkan keturunan (anak) sebagai ge-

nerasi penerus. Semua orang berkeinginan

memiliki penerus kehidupannya di dunia.

Untuk itu, mereka membutuhkan lawan

jenis untuk mewujudkannya. Cara yang pa-

ling baik dan aman adalah dengan per-

nikahan resmi. Beberapa cara lain juga me-

mungkinkan tetapi tidak praktis, berisiko,

dan bertentangan dengan norma yang

lazim.

3) Sosialisasi

Seorang bayi yang baru lahir mem-

butuhkan kasih sayang langsung dari orang

tuanya. Semakin dewasa, anak tersebut

akan mengenal lingkungan sekitarnya. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh

dalam keluarga akan membentuk kepribadiannya yang paling mendasar. Orang

tua dan anggota keluarga yang lain juga menjadi contoh untuk ditiru tingkah

lakunya. Pendidikan dan pengenalan berbagai norma sosial pada tahap pertama

diperoleh anak dari keluarga. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak

diserap dari sosialisasi dalam keluarga. Oleh karena itu, fungsi keluarga sebagai

media sosialisasi sangat dominan dan penting.

4) Afeksi

Perasaan dicintai dan disayangi orang

tua sangat berpengaruh terhadap kepri-

badian seorang anak. Anak yang tidak

memperoleh kasih sayang cukup dari ke-

luarganya cenderung bermasalah. Misal-

nya anak-anak dari keluarga yang terpecah

(broken home) sering berperilaku nakal dan

cenderung gagal dalam pendidikan. Oleh

karena itu, orang tua sebagai sumber kasih

sayang sangat penting bagi perkembangan

emosi anak. Hal tersebut hanya bisa

diperoleh dalam keluarga.

Gambar 4.7 Salah satu tujuan perkawinan
adalah untuk memperoleh keturunan yang jelas
asal-usul dan statusnya.

Sumber: Ayahbunda, 8 Juni 2005

Gambar 4.8 Anak kecil disosialisasikan untuk
mengenal nilai, norma, status, dan peran sosial
dalam keluarga.

Sumber: Manual Book SONY

132Sosiologi SMA/MA Kelas XII

5) Perlindungan

Tidak ada lembaga yang memberikan per-

lindungan sebaik keluarga kepada anggotanya.

Keluarga memberikan perlindungan dari berbagai

ancaman pihak luar, ancaman ekonomi, dan

ancaman yang bersifat psikologis. Selagi anggota

keluarga masih memiliki makanan, maka anggota

yang lain tak akan takut kelaparan. Hinaan yang

dialami seorang anggota keluarga akan ditang-

gung bersama. Apalagi jika ada ancaman fisik

(penganiayaan), maka seluruh anggota keluarga

akan bersama-sama memberikan perlindungan.

6) .ungsi Ekonomi

.ungsi ini lebih banyak terjadi pada masya-

rakat tradisional yang menempatkan keluarga

sebagai unit ekonomi (produksi). Di masyarakat pedesaan, seluruh anggota

keluarga yang telah dewasa terlibat langsung dalam proses penggarapan lahan

pertanian mereka. Mereka bekerja bersama-sama dan menikmati hasilnya

bersama-sama pula. Kebutuhan ekonomis sehari-hari diupayakan bersama-sama.

7) .ungsi Penentuan Status

Di masyarakat dikenal dua macam status,

yaitu status yang diwariskan (ascribed status) dan

status yang diupayakan (assign status). Status

yang diwariskan biasanya berupa kebangsawanan

dan dan kasta. Pada masyarakat tradisional fungsi

ini masih dinilai penting, terutama di kalangan

aristokrasi. Pewarisan tahta kerajaan didasarkan

kepada status keturunan. Dalam dunia modern

pun, orang masih memandang arti penting status

sosial, sehingga dalam mencari pasangan hidup,

asal-usul keturunan diperhatikan. Di kalangan

masyarakat Jawa dikenal tiga kriteria dalam

memilih jodoh (suami atau isteri), yaitu bibit,

bebet, dan bobot. Ketiga kriteria itu mengacu

kepada pemilihan jodoh berdasarkan kesetaraan

status sosial dan ekonomi. Dalam kasus seperti

inilah fungsi keluarga sebagai penentu status

memiliki peran penting dalam masyarakat.

Gambar 4.9 Di dalam keluargalah kita
memperoleh perlindungan yang paling
tulus.

Sumber: Ayahbunda, 8 Juni 2005

Gambar 4.10 Bagaimana status anak
yang lahir tanpa orang tua jelas?

Sumber: Haryana

133

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial dan .ungsinya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->