P. 1
PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIAONAL

PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIAONAL

|Views: 66|Likes:
Published by soixante

More info:

Published by: soixante on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH “KEPEMIMPINAN” “KECERDASAN EMOSIONAL”

NAMA NRP

: RIZKY ADITYA MUHAMMAD ALFATH : 1110112262

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA ANGKATAN 2011

dan semakin maraknya permainan (game) komputer yang membantu anak-anak menguasai keterampilan berwawasan (spatial skills). terdiri atas kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri). IQ hanya merupakan pengetahuan tanpa tenaga dan gairah. dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. dan dengan efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi. IQ tidak berubah sepanjang waktu. memahami. Hal yang menyebabkan adalah karena anak-anak saat ini tumbuh dalam kesepian dan depresi. dan pengaruh yang manusiawi. kecilnya jumlah anggota keluarga. EQ berubah sejalan dengan pengalaman dan keinginan belajar. Daniel Goleman berpendapat bahwa IQ dan EQ merupakan dua sahabat yang saling melengkapi. namun memiliki perbedaan. Namun ironisnya.PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIAONAL Emotional Intelligence/EQ (Kecerdasan Emosional) menurut Daniel Goleman. IQ pada saat masuk sekolah sampai dengan IQ pada saat lulus tidak akan mengalami perubahan. Howes dan Herald (1999) mengatakan. menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat. dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain). Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional. menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ. Faktor penyebabnya adalah nutrisi yang lebih baik. Ibaratnya tanpa EQ. pada intinya kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. tempat kerja. dan . dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Menurut penelitian Daniel Goleman skor IQ rata-rata anak-anak di AS meningkat cukup significant dibandingkan sewaktu PD I. lebih mudah marah dan sulit diatur. Dari beberapa pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat. cenderung cemas. kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. adalah kemampuan merasakan. untuk belajar mengakui. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan. kesempatan menyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. dengan meningkatnya skor IQ mereka tingkat EQ (kecerdasan emosional) mereka justru menurun. lebih impulsif. Emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati. namun keduanya berinteraksi secara dinamis. dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati. Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan. naluri yang tersembunyi. memahami. informasi. Ada tiga unsur penting kecerdasan emosional. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah. kecakapan sosial (menangani suatu hubungan).

yaitu sbb. yaitu kesadaran akan perasaan. mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas. * Mengenali emosi diri. Sebaliknya. serta team building. Dimensi ke-empat terdiri dari kompetensi understanding others. Hal-hal demikian menurut Daniel Goleman berseberangan dengan dunia kerja saat ini dimana tingkat kecerdasan emosi lebih dibutuhkan dibandingkan dengan IQ. Diantaranya adalah kemampuan persuasi. artinya mengetahui keadaan dalam diri. dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. dan kegigihan dalam memperjuangkan kegagalan dan hambatan.  Self regulation. hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. kepentingan. mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri. developing others. menjaga norma kejujuran dan integritas.  Social skills. dan keyakinan akan kemampuan sendiri. artinya dorongan yang membimbing atau membantu peraihan sasaran atau tujuan.” Intinya adalah perusahaan-perusahaan saat ini semakin sadar bahwa dukungan untuk mengembangkan ketrampilan kecerdasan emosi karyawan merupakan hal yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan profit/bottom line perusahaan. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat.  Motivation. Linda Keegan (Vice President Citibank) pernah mengungkapkan bahwa. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan. bertanggung jawab atas kinerja pribadi. orang yang buruk kemampuannya dalam . kolaborasi dan kooperasi. customer service. Kompetensi dimensi kedua ini adalah menahan emosi dan dorongan negatif. dan terbuka terhadap ide-ide serta informasi baru. Kompetensi dimensi ketiga adalah dorongan untuk menjadi lebih baik. semangat leadership. hal-hal yang lebih disukai. dapat melepas kecemasan. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Goleman menyebutkan ada lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat dijadikan pedoman bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman terdapat 5 (lima) dimensi EQ. Tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya akan berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah. menyesuaikan dengan sasaran kelompok atau organisasi. kemampuan menyelesaikan pendapat. “Kecerdasan emosi harus menjadi alasan mendasar dalam setiap pelatihan manajemen. * Mengelola emosi. dan keprihatinan orang. menciptakan kesempatan-kesempatan melalui pergaulan dengan berbagai macam orang.  Empathy. artinya kemahiran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain. yaitu :  Self awareness. membaca hubungan antara keadaan emosi dan kekuatan hubungan suatu kelompok. kemurungan atau ketersinggungan. artinya mengelola keadaan dalam diri dan sumber daya diri sendiri.agresif. luwes terhadap perubahan. Kompentensi dalam dimensi pertama adalah mengenali emosi sendiri. dan intuisi.

* Mengenali emosi orang lain. Mengenali perasaan sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. (d) optimisme. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Suharyo Chaidir . seorang pakar psikologi memberikan beberapa arahan agar kita dapat mengenali dan mengembangkan kecerdasan emosi kita dengan baik. Mengenali emosi diri kesadaran diri. * Membina hubungan dengan orang lain. artinya tidak siap sama sekali dan menyangkal bahwa perlu untuk merubah diri. * Memotivasi diri. orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita sesungguhnya menempatkan kita dalam lingkungan perasaan. Pada tahap ini telah menjalankan rencana.mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri. Salovey. sadar perlu memperbaiki dan telah memikirkan caranya. Tanpa memiliki keterampilan. telah memusatkan pada solusi dan secara nyata telah siap melaksanakannya. sbb: 1. mengganggu atau tidak berperasaan. (b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman diri.  Tahap persiapan. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. (c) kekuatan berpikir positif. yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi. Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan seseorang dalam pergaulan dengan orang lain. dan (e) keadaan flow. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri. dan sungguh-sungguh mengubah cara bertindak mereka. Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut. diharapkan seseorang dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif.  Tahap kontemplasi. energi yang dimiliki seseorang akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan seseorang. menyatakan bahwa kesuksesan penerapan dari EQ ini dapat dibedakan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut :  Tahap tidak sadar.  Tahap tindakan. Dengan demikian. maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. mulai mempraktekan tahapan-tahapannya. perubahan nyata telah dimulai. . Sebaliknya. seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Orang yang memiliki kenyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah bagaikan seorang pilot yang canggih mampu mengenali kepekaan lebih tinggi akan keadaan emosi yang dirasakan saat itu. Inilah yang disebut “tahapan perubahan”. (a) cara mengendalikan dorongan hati. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilanketerampilan semacam inilah yang menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh. namun belum siap melaksanakan.

merupakan keterampilan bergaul/berinteraksi dengan orang lain. Menangani perasan agar dapat terungkap dengan tepat adalah kecakapan yang tergantung pada keasadaran diri. hal ini dapat menunjang seseorang dalam mengembangkan pergaulannya. 6. . kemurungan atau ketersinggungan. Kemampuan untuk menghibur diri. Memotivasi diri. 3. Berkomunikasi “dengan jiwa “. Keterampilan membina hubungan merupakan bagian dari keterampilan sosial. Penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri serta mampu melakukan kreasi secara bebas. Pengendalian emosi seperti menahan diri terhadap suatu kepuasaan dan pengendalian dorongan hati sebagai landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Mengelola emosi. Membina hubungan. Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu kepada lawan bicara kita untuk berbicara juga. Dengan demikian kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang dengan reaksi atau penilaian.2. atau akibat–akibat yang muncul karena kegagalan keterampilan emosional dasar ini. Jika seseorang memiliki kemampuan empati yang tinggi. Ingat kita diberikan dua buah telinga dan satu mulut banyaklah mendengar sedikitlah berbicara dengan demikian kita mampu memahami apa yang diinginkan orang lain. Empati adalah kemampuan yang juga bergantung pada kesadaaran diri emosional. situasi demikian dapat mengarahkan seseorang pada pekerjaan yang cocok untuk dirinya. sehingga kita mampu memposisikan diri kita pada situasi dan kondisi yang tepat. 5. melepasakan kecemasan. Memahami emosi orang lain. 4. dengan memposisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik.

Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis. Dalam bukunya yang lain berjudul Working With Emotional Intelligence. seorang pemimpin atau pegawai dapat mengenal dan memahami emosi. seorang psikolog dari Universitas Yale. Menurut Salovey. Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey. memampukan kita menilai suatu situasi dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. kekuatan dan kelemahan. tentang arti kecerdasan emosional. pemotivasian diri. Daniel Goleman telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence (1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management. dan situasi yang dihadapi orang lain. pengenalan diri. Pada tahap ini. kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni. yaitu self management atau kelola diri Pemimpin atau pegawai tidak hanya mampu mengenal dan memahami emosinya. dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja institusinya. juga mampu mengelola. Pemimpin yang memiliki kemampuan kelola diri yang baik secara rutin melakukan evaluasi diri setelah menghadapi keberhasilan maupun kesuksesan dan mampu mempertahankan motivasi dan perilaku kerjanya untuk menghasilkan kinerja yang baik. Level pertama adalah self awareness atau kesadaran diri. 2001). Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi bawahannya maupun orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya dalam memimpin suatu institusi. dan membangun hubungan. pemikiran. ada empat level kecerdasan emosi. Pada level ketiga yang disebut social awareness atau kesadaran social Pemimpin atau pegawai sudah mampu berempati. Menurut Goleman. ketekunan yang terus menerus. pengelolaan emosi. pemahaman emosi diri.Hubungan pemimpin dengan kecerdasan emosional Kecerdasan emosional atau EQ yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman di sekitar pertengahan tahun 1990-an menjelaskan dalam bukunya yang bertulis kan kemampuan seseorang untuk mendeteksi dan mengelola emosi.(1998). Pada level kedua. . kedisiplinan diri. Kecerdasan emosional ini sangat penting sekali melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Kecerdasan emosi memampukan kita untuk menyadari dan memahami perasaan sendiri dan orang lain. Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri. yaitu peka terhadap perasaan. mengendalikan dan mengarahkannya. nilai-nilai serta motivasi dirinya.

Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. . Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi. semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. membina hubungan. Memang seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis. tingkat kerusakan). Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional.Pada level yang keempat yaitu relationship management atau kelola hubungan Seorang Pemimpin atau pegawai mampu mengendalikan dan mengarahkan emosi orang lain. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah.memengaruhi perasaan dan keyakinan orang lain. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Semuanya berhubungan dengan orang. Sementara ketika menghadapi pegawai yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi. Dilihat dari posisinya. Bisa dibayangkan seorang pegawai teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. motivasi dan hubungan sosial. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar. Misalnya ketika memimpin pegawai yang masih baru. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya. mutu. gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi. Hemat saya tidak demikian. ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilanprestasinya. mengatasi konflik. Pemimpin tersebut mampu menginspirasi orang lain. gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat. dan membentuk kerja sama yang menguntungkan semua pihak. mengembangkan kapabilitas orang lain. Untuk para operator. Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang.

Dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggidari seorang manajer maka manajer tersebut mampu melakukan penilaian yang baik terhadap kinerja karyawannya. Hubungan –hubungan variabel kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri dapat dilihat pada t hitung (2. 0. Penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pangaruh signifikan antara variabel kompetensi utama kecerdasan emosional (kasadaran diri. mungkin dengan cara mangadakan pelatihan-pelatihan semacam ESQ.793 variabel kesadaran diri. Hal ini sebaiknya menjadi perhatian manajeman bank Rakyat Indonesia agar lebih meningkatkan potensi kesadaran diri manajer di dalam lingkungan Bank Rakyat Indonesia. 2. Pengaruh dari empat variabel yaitu kesadaran diri.000m< 0. . motivasi dan efikasi diri dapat dijadikan indikator kenyamanan seorang manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen. 2. Kemantangan seorang manajer dapat didukung dengan kecerdasan emosional yang baik dari manajer itu sendiri. 0. kegembiraan emosional dan motivasi. Ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kenyamanan seorang manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan.754 > F table 2. kegembiraan emosional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan antara kesadaran diri.3%.022. motivasi) an efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupeten Sragen baik secara parsial maupun secara bersama-sama.Hubungan kecerdasan emosional dengan manajer Keberlangsungan sebuah organisasi sangat tergantung seorang pemimpin atau manajer yanag dapat mangatur ornganisasi tersebut.034.179 (X1). 0. kegembiraan emosional. Hipotesis yang didapatkan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan antara kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen baik secara parsial maupun secara bersama-sama.886 (X4)) > t tabel (2. 2. kegembiraan emosional. Data diperoleh dari responden yang merupakan manajer unit Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen yang berjumlah 31 orang. koefisien adjusted R2 = 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pangaruh yang signifikan dan koefisien regresi linier yang bernilai posotif menyatakan bahwa ada pengaruh positif secara bersama-sama variable kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan penilaikan kinerja karyawan Bank rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen.439 (X3). Baik tidaknya penilaian manajer terhadap karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di masa yang akan datang. motivasi dan efikasi diri secara bersama-sama mampu menjelaskan variable kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia sebesar 79. kedua.039. hal ini menyatakan bahwa di dalam hipotesisi pertama. faktor itu adalah efikasi diri manajer itu sendiri. motivasi dan efikasi diri manajer terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen.008 yang < 0. ketiga dan keempat bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel kompetensi utama kecerdasan utama emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia terbukti. kegembiraan emosional.056) dengan tingkat signifikan masing-masing 0. Selain kecerdasan emosional yang terdiri dari kesadaran diri.241 (X2). sehingga hipotesis keempat yang menyatakan ada pengaruh signifikan variable kompetensi utama kecerdasan utama dan efikasi diri secara bersama-sama terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-kabupaten dapat terbukti. Pada F hitung sebesar 29.05 yang artinya bahwa variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan dengan melihat koefisien regresi linier yang positif.74 dengan taraf signifikan 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->