TUGAS MATA KULIAH “KEPEMIMPINAN” “KECERDASAN EMOSIONAL”

NAMA NRP

: RIZKY ADITYA MUHAMMAD ALFATH : 1110112262

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA ANGKATAN 2011

adalah kemampuan merasakan. dan . dan semakin maraknya permainan (game) komputer yang membantu anak-anak menguasai keterampilan berwawasan (spatial skills). untuk belajar mengakui. naluri yang tersembunyi. dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain). Faktor penyebabnya adalah nutrisi yang lebih baik. Namun ironisnya. menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. pada intinya kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Ada tiga unsur penting kecerdasan emosional. EQ berubah sejalan dengan pengalaman dan keinginan belajar. cenderung cemas. dengan meningkatnya skor IQ mereka tingkat EQ (kecerdasan emosional) mereka justru menurun. IQ hanya merupakan pengetahuan tanpa tenaga dan gairah. namun memiliki perbedaan. Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional. dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati. dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah. IQ tidak berubah sepanjang waktu. Menurut penelitian Daniel Goleman skor IQ rata-rata anak-anak di AS meningkat cukup significant dibandingkan sewaktu PD I. IQ pada saat masuk sekolah sampai dengan IQ pada saat lulus tidak akan mengalami perubahan. menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat. terdiri atas kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri). Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan.PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIAONAL Emotional Intelligence/EQ (Kecerdasan Emosional) menurut Daniel Goleman. dan dengan efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi. Howes dan Herald (1999) mengatakan. Hal yang menyebabkan adalah karena anak-anak saat ini tumbuh dalam kesepian dan depresi. lebih impulsif. informasi. dan pengaruh yang manusiawi. menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. lebih mudah marah dan sulit diatur. Daniel Goleman berpendapat bahwa IQ dan EQ merupakan dua sahabat yang saling melengkapi. dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ. kesempatan menyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. kecilnya jumlah anggota keluarga. Emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati. Dari beberapa pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat. tempat kerja. Ibaratnya tanpa EQ. kecakapan sosial (menangani suatu hubungan). memahami. namun keduanya berinteraksi secara dinamis. kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. memahami.

yaitu :  Self awareness. * Mengenali emosi diri. bertanggung jawab atas kinerja pribadi. dan kegigihan dalam memperjuangkan kegagalan dan hambatan. menciptakan kesempatan-kesempatan melalui pergaulan dengan berbagai macam orang. dan keprihatinan orang. luwes terhadap perubahan. serta team building. hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Linda Keegan (Vice President Citibank) pernah mengungkapkan bahwa. Kompetensi dimensi ketiga adalah dorongan untuk menjadi lebih baik.  Motivation.  Social skills. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan. yaitu sbb.  Empathy. menyesuaikan dengan sasaran kelompok atau organisasi.  Self regulation.” Intinya adalah perusahaan-perusahaan saat ini semakin sadar bahwa dukungan untuk mengembangkan ketrampilan kecerdasan emosi karyawan merupakan hal yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan profit/bottom line perusahaan. membaca hubungan antara keadaan emosi dan kekuatan hubungan suatu kelompok. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Goleman menyebutkan ada lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat dijadikan pedoman bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi dimensi kedua ini adalah menahan emosi dan dorongan negatif. artinya mengetahui keadaan dalam diri. Dimensi ke-empat terdiri dari kompetensi understanding others. dapat melepas kecemasan. artinya mengelola keadaan dalam diri dan sumber daya diri sendiri. kemampuan menyelesaikan pendapat. Kompentensi dalam dimensi pertama adalah mengenali emosi sendiri. dan keyakinan akan kemampuan sendiri. kemurungan atau ketersinggungan. hal-hal yang lebih disukai. mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri. menjaga norma kejujuran dan integritas. Tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya akan berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah. “Kecerdasan emosi harus menjadi alasan mendasar dalam setiap pelatihan manajemen. kepentingan. Hal-hal demikian menurut Daniel Goleman berseberangan dengan dunia kerja saat ini dimana tingkat kecerdasan emosi lebih dibutuhkan dibandingkan dengan IQ. yaitu kesadaran akan perasaan. developing others. artinya dorongan yang membimbing atau membantu peraihan sasaran atau tujuan. kolaborasi dan kooperasi. dan intuisi. mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas. * Mengelola emosi. dan terbuka terhadap ide-ide serta informasi baru. customer service.agresif. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sebaliknya. kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. Diantaranya adalah kemampuan persuasi. semangat leadership. Dimensi kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman terdapat 5 (lima) dimensi EQ. artinya kemahiran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain. orang yang buruk kemampuannya dalam .

sadar perlu memperbaiki dan telah memikirkan caranya. dan (e) keadaan flow. dan sungguh-sungguh mengubah cara bertindak mereka. namun belum siap melaksanakan. Tanpa memiliki keterampilan. sbb: 1.mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri. Pada tahap ini telah menjalankan rencana. seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Suharyo Chaidir . Orang yang memiliki kenyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah bagaikan seorang pilot yang canggih mampu mengenali kepekaan lebih tinggi akan keadaan emosi yang dirasakan saat itu. Inilah yang disebut “tahapan perubahan”. (d) optimisme. artinya tidak siap sama sekali dan menyangkal bahwa perlu untuk merubah diri. pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. telah memusatkan pada solusi dan secara nyata telah siap melaksanakannya. . seorang pakar psikologi memberikan beberapa arahan agar kita dapat mengenali dan mengembangkan kecerdasan emosi kita dengan baik. Dengan demikian. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri. energi yang dimiliki seseorang akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan seseorang. mulai mempraktekan tahapan-tahapannya. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. (a) cara mengendalikan dorongan hati.  Tahap kontemplasi. Sebaliknya. Mengenali perasaan sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi. Mengenali emosi diri kesadaran diri.  Tahap tindakan. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman diri. * Memotivasi diri. * Mengenali emosi orang lain. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal.  Tahap persiapan. diharapkan seseorang dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. menyatakan bahwa kesuksesan penerapan dari EQ ini dapat dibedakan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut :  Tahap tidak sadar. * Membina hubungan dengan orang lain. perubahan nyata telah dimulai. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita sesungguhnya menempatkan kita dalam lingkungan perasaan. Salovey. orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain. Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut. mengganggu atau tidak berperasaan. (c) kekuatan berpikir positif. Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan seseorang dalam pergaulan dengan orang lain. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilanketerampilan semacam inilah yang menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh. (b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang.

Memotivasi diri. 4. merupakan keterampilan bergaul/berinteraksi dengan orang lain. Penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri serta mampu melakukan kreasi secara bebas. 3. Berkomunikasi “dengan jiwa “.2. Dengan demikian kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang dengan reaksi atau penilaian. Mengelola emosi. 6. Membina hubungan. Empati adalah kemampuan yang juga bergantung pada kesadaaran diri emosional. Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu kepada lawan bicara kita untuk berbicara juga. Jika seseorang memiliki kemampuan empati yang tinggi. Ingat kita diberikan dua buah telinga dan satu mulut banyaklah mendengar sedikitlah berbicara dengan demikian kita mampu memahami apa yang diinginkan orang lain. situasi demikian dapat mengarahkan seseorang pada pekerjaan yang cocok untuk dirinya. kemurungan atau ketersinggungan. hal ini dapat menunjang seseorang dalam mengembangkan pergaulannya. Menangani perasan agar dapat terungkap dengan tepat adalah kecakapan yang tergantung pada keasadaran diri. . Kemampuan untuk menghibur diri. sehingga kita mampu memposisikan diri kita pada situasi dan kondisi yang tepat. melepasakan kecemasan. atau akibat–akibat yang muncul karena kegagalan keterampilan emosional dasar ini. dengan memposisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik. 5. Keterampilan membina hubungan merupakan bagian dari keterampilan sosial. Memahami emosi orang lain. Pengendalian emosi seperti menahan diri terhadap suatu kepuasaan dan pengendalian dorongan hati sebagai landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.

kedisiplinan diri. juga mampu mengelola. pemikiran. seorang pemimpin atau pegawai dapat mengenal dan memahami emosi. dan membangun hubungan. Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey. ada empat level kecerdasan emosi. pemahaman emosi diri. tentang arti kecerdasan emosional. dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja institusinya. seorang psikolog dari Universitas Yale. memampukan kita menilai suatu situasi dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni. Menurut Salovey. Level pertama adalah self awareness atau kesadaran diri. Pada level ketiga yang disebut social awareness atau kesadaran social Pemimpin atau pegawai sudah mampu berempati. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi bawahannya maupun orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya dalam memimpin suatu institusi. Dalam bukunya yang lain berjudul Working With Emotional Intelligence. Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri. dan situasi yang dihadapi orang lain. yaitu peka terhadap perasaan. Pada level kedua. kekuatan dan kelemahan. Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis. Menurut Goleman. Kecerdasan emosi memampukan kita untuk menyadari dan memahami perasaan sendiri dan orang lain. Pada tahap ini. 2001). Pemimpin yang memiliki kemampuan kelola diri yang baik secara rutin melakukan evaluasi diri setelah menghadapi keberhasilan maupun kesuksesan dan mampu mempertahankan motivasi dan perilaku kerjanya untuk menghasilkan kinerja yang baik. pengenalan diri. pengelolaan emosi.(1998). nilai-nilai serta motivasi dirinya. yaitu self management atau kelola diri Pemimpin atau pegawai tidak hanya mampu mengenal dan memahami emosinya.Hubungan pemimpin dengan kecerdasan emosional Kecerdasan emosional atau EQ yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman di sekitar pertengahan tahun 1990-an menjelaskan dalam bukunya yang bertulis kan kemampuan seseorang untuk mendeteksi dan mengelola emosi. Kecerdasan emosional ini sangat penting sekali melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. ketekunan yang terus menerus. Daniel Goleman telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence (1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management. . pemotivasian diri. mengendalikan dan mengarahkannya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Memang seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Bisa dibayangkan seorang pegawai teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah. gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu.memengaruhi perasaan dan keyakinan orang lain. mengembangkan kapabilitas orang lain. gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya. ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilanprestasinya. Pemimpin tersebut mampu menginspirasi orang lain. gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis. pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu. gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi. Misalnya ketika memimpin pegawai yang masih baru. Dilihat dari posisinya. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. tingkat kerusakan). Hemat saya tidak demikian. dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. dan membentuk kerja sama yang menguntungkan semua pihak. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi. mutu. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan. mengatasi konflik. Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi. motivasi dan hubungan sosial. Untuk para operator. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan. Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi.Pada level yang keempat yaitu relationship management atau kelola hubungan Seorang Pemimpin atau pegawai mampu mengendalikan dan mengarahkan emosi orang lain. semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya. Sementara ketika menghadapi pegawai yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. membina hubungan. Semuanya berhubungan dengan orang. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. .

05 yang artinya bahwa variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan dengan melihat koefisien regresi linier yang positif. Hal ini sebaiknya menjadi perhatian manajeman bank Rakyat Indonesia agar lebih meningkatkan potensi kesadaran diri manajer di dalam lingkungan Bank Rakyat Indonesia.439 (X3).179 (X1).039. 0.008 yang < 0. Penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pangaruh signifikan antara variabel kompetensi utama kecerdasan emosional (kasadaran diri.74 dengan taraf signifikan 0. kegembiraan emosional dan motivasi.793 variabel kesadaran diri. 2. motivasi dan efikasi diri dapat dijadikan indikator kenyamanan seorang manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan antara kesadaran diri.3%. faktor itu adalah efikasi diri manajer itu sendiri. 0. sehingga hipotesis keempat yang menyatakan ada pengaruh signifikan variable kompetensi utama kecerdasan utama dan efikasi diri secara bersama-sama terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-kabupaten dapat terbukti. mungkin dengan cara mangadakan pelatihan-pelatihan semacam ESQ.754 > F table 2. motivasi dan efikasi diri manajer terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen. 0.056) dengan tingkat signifikan masing-masing 0. Data diperoleh dari responden yang merupakan manajer unit Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen yang berjumlah 31 orang.034. Ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kenyamanan seorang manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan. Dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggidari seorang manajer maka manajer tersebut mampu melakukan penilaian yang baik terhadap kinerja karyawannya. ketiga dan keempat bahwa ada pengaruh signifikan antara variabel kompetensi utama kecerdasan utama emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia terbukti. Hubungan –hubungan variabel kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri dapat dilihat pada t hitung (2. Pada F hitung sebesar 29.000m< 0. 2.022. hal ini menyatakan bahwa di dalam hipotesisi pertama. Hipotesis yang didapatkan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan antara kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen baik secara parsial maupun secara bersama-sama. motivasi dan efikasi diri secara bersama-sama mampu menjelaskan variable kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia sebesar 79. kedua. . Baik tidaknya penilaian manajer terhadap karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di masa yang akan datang. 2. kegembiraan emosional.05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pangaruh yang signifikan dan koefisien regresi linier yang bernilai posotif menyatakan bahwa ada pengaruh positif secara bersama-sama variable kompetensi utama kecerdasan emosional dan efikasi diri terhadap kenyamanan penilaikan kinerja karyawan Bank rakyat Indonesia se-Kabupaten Sragen. kegembiraan emosional. Kemantangan seorang manajer dapat didukung dengan kecerdasan emosional yang baik dari manajer itu sendiri. Pengaruh dari empat variabel yaitu kesadaran diri.Hubungan kecerdasan emosional dengan manajer Keberlangsungan sebuah organisasi sangat tergantung seorang pemimpin atau manajer yanag dapat mangatur ornganisasi tersebut. koefisien adjusted R2 = 0.886 (X4)) > t tabel (2. motivasi) an efikasi diri terhadap kenyamanan manajer dalam melakukan penilaian kinerja karyawan Bank Rakyat Indonesia se-Kabupeten Sragen baik secara parsial maupun secara bersama-sama. kegembiraan emosional. Selain kecerdasan emosional yang terdiri dari kesadaran diri.241 (X2). kegembiraan emosional.