PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pelatihan 3. Manajemen OAT 3. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pencatatan dan Pelaporan 8. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Jenis Logistik Program 2. Standar Ketenagaan 2. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Analisa Situasi 2. Batasan 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Metodologi 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Langkah Langkah 3. Kerangka Pola Pikir 3. Tujuan Penelitian 2. Menetapkan Tujuan 4. Indikator Program 9. Pembentukan Jejaring 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. SpJP(K) v . Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Berbagai kemajuan telah dicapai. Siti Fadilah Supari. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. dan kelemahan akibat TB. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). Mengingat besar dan luasnya masalah TB. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. dr. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Selamat berjuang! Jakarta. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. ketidakproduktifan. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. swasta maupun lembaga masyarakat.

IDAI. MPH vi . Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). PAPDI.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. lembaga swadaya masyarakat. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 pertahun. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Jakarta. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. I Nyoman Kandun. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

maka dilakukan penanambahan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Kemitraan.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . . definisi kasus TB. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . indikator pemantauan dan evaluasi. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005.Tuberkulosis dan permasalahannya.Advokasi. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). .Pelatihan.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : .Supervisi. .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. pengurangan. Penambahan bab-bab baru meliputi : . alur diagnosis anak (sistem skoring). sementara situasi program penanggulangan TB.Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.Tuntutan masyarakat akan mutu. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Manajemen Laboratorium TB .Penelitian TB . dibuat dalam buku pegangan tersendiri . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis.

TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. propinsi. klasifikasi penyakit dan tipe pasien. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. Sebagai sebuah pedoman. . kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.Tuberkulosis. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya.Diagnosis TB. - 2 . dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program .

Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Insidens TB didunia (WHO. Pada tahun 1995. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia.1. Gambar 2. Jika ia meninggal akibat TB. terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). maka akan kehilangan 3 . persalinan dan nifas.

• Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Hal ini diakibatkan oleh: . • Dampak pandemi infeksi HIV. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama. Situasi TB didunia semakin memburuk.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Di Indonesia. . setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101. pencatatan dan pelaporan yang standar.000 penduduk. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries).Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. dan sebagainya).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. . Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. pada tahun 1993. tidak dilakukan pemantauan. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. Menyikapi hal tersebut. Selain merugikan secara ekonomis. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. • Kegagalan program TB selama ini. 4 .000 orang. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. obat tidak terjamin penyediaannya. Diperkirakan pada tahun 2004.

. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. . . seperti tuberkulosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. makin menular pasien tersebut.Pada waktu batuk atau bersin. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. . 5 . berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. .Dengan ARTI 1%. . pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). • Risiko menjadi sakit TB . Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). maka jumlah pasien TB akan meningkat.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. • Risiko penularan . sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. • Cara penularan . tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. . diperkirakan diantara 100. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. . ARTI sebesar 1%.

25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. clinical trials. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Penerapan strategi DOTS secara baik.50% meninggal . best practices. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM. setelah 5 tahun. immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.2. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. 6 . akan: .25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2.

5. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 6. 2. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 3. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Komitmen politis 2. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. 4. 5. 7 . Pada tahun 1995. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Mencapai. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. 4. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB.

hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. • Indonesia. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Setelah perang kemerdekaan. 1. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . sampai saat ini. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Sampai tahun 2000. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. • Tahun 1995. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. • Sampai tahun 2005. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sejak tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Di Indonesia. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.

k. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. f. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. Rumah Sakit Paru (RSP). serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. sektor pemerintah. pelaksanaan. j. e. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. tenaga. memutuskan rantai penularan. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. sarana dan prasarana) b. KEBIJAKAN a. masyarakat dan pekerjaannya. meliputi Puskesmas. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). l. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. 3. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. h. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. i. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 .

c. Unit Pelayanan Kesehatan. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Menteri Kesehatan R. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Promosi g. b. KEGIATAN a. e. ORGANISASI PELAKSANAAN a. STRATEGI a. Tingkat Pusat. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. supervisi) e. Penelitian f.I. b. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. 10 . Peningkatan SDM (pelatihan. Kemitraan 6. Rumah Sakit. Dilaksanakan oleh Puskesmas. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Pemantauan dan Evaluasi d. Perencanaan c. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Tingkat Kabupaten / Kota. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. komunikasi dan mobilisasi sosial d. d. Penemuan dan pengobatan. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi.

Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Menghadapi tantangan TB-HIV. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). rumah sakit atau BP4. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). 11 • . dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. a. • • 7. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Rumah Sakit Umum. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Pada keadaan geografis yang sulit. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya.

optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. b. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Memperkuat penelitian operasional 12 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3.

tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. asma. dan lain-lain. bronkitis kronis. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. malaise. dianggap tidak cost efektif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. kanker paru. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. demam meriang lebih dari satu bulan. pencatatan. sesak nafas. seperti bronkiektasis. harus diperiksa dahaknya. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. nafsu makan menurun. badan lemas. berat badan menurun. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. batuk darah. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. 1. yang menunjukkan gejala sama. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. petugas yang terkait. didukung dengan penyuluhan secara aktif. terutama mereka yang BTA positif. pelaporan. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. diagnosis. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya.

dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. misalnya uji mikrobiologi. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Diagnosis TB ekstra paru. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. serologi. 14 . penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). yaitu sewaktu . saat menyerahkan dahak pagi. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pada saat pulang. Pada program TB nasional. 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. segera setelah bangun tidur. foto toraks dan lain-lain. patologi anatomi. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. sehingga sering terjadi overdiagnosis. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB.pagi sewaktu (SPS).

- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .- Hasil BTA . Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + . 15 .. Pagi. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.- ..Sewaktu.1.

menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. 3. pleuritis eksudativa. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. • • • 16 . .analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . yaitu: . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .menentukan paduan pengobatan yang sesuai .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . . . .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak.mengurangi efek samping. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.registrasi kasus secara benar .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.

dan kelenjar adrenal. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. selaput otak. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. yaitu bentuk berat dan ringan.TB ekstra-paru berat. TB usus. TB saluran kemih dan alat kelamin. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. perikarditis. dan atau keadaan umum pasien buruk. misalnya pleura. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. sendi. saluran kencing. misalnya: meningitis. kulit. . kelenjar lymfe. alat kelamin. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . pleuritis eksudativa bilateral. . .Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. . peritonitis. maka untuk kepentingan pencatatan.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif .Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. tulang (kecuali tulang belakang). .TB ekstra paru ringan. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. .1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. yaitu: . Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. persendian. dan lain-lain. 17 . Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. selaput jantung (pericardium). pleuritis eksudativa unilateral. • Tuberkulosis ekstra paru. tulang. usus. . ginjal. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. misalnya: TB kelenjar limfe. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. milier.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. TB tulang belakang.

Meskipun sangat jarang. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. default maupun menjadi kasus kronik. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. bakteriologik (biakan). yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. dan pertimbangan medis spesialistik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. gagal. • • • 18 . dapat juga mengalami kambuh. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. harus dibuktikan secara patologik. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). radiologik.. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

1.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. mencegah kekambuhan. . yaitu tahap intensif dan lanjutan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Jenis.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. Tahap Lanjutan . Jenis. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Tahap awal (intensif) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). mencegah kematian. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. .

Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . 1. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Paket Kombipak. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). yaitu Isoniasid. Disamping kedua kategori ini. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Rifampisin. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. 2. .Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Pirazinamid dan Etambutol. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.

(1ml = 250mg) 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).7ml sehingga menjadi 4ml. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj.3. 21 . Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.

CT-Scan. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Lihat tabel 3.5. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. pungsi lumbal. 5. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor .4. funduskopi. pungsi pleura. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Setelah dokter melakukan anamnesis. pemeriksaan fisik. foto tulang dan sendi. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. seperti bilasan lambung. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. dan pemeriksaan penunjang. 22 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. patologi anatomi. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. dan lain lainnya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. kelenjar limfe koli. Sinusitis. aksila. jumlah >1. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. lutut. dan lain – lain. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). 23 .--> lampirkan tabel badan badan. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.5. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. BTA negatif atau tidak tahu. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga.

Gibbus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. OAT tetap dihentikan. Tanda bahaya: kejang.6. Setelah pemberian obat 6 bulan . kavitas. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang.2. Tabel 3. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. misalnya sesak napas 2. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. OAT pada anak diberikan setiap hari. koksitis Gambar 3. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. efusi pleura 3.

selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. misalnya Bidan di Desa. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Juru Immunisasi. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien.7. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. a. Pekarya. dan lain lain. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. PKK. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. dirujuk ke rumah sakit. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. 25 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Perawat. anggota PPTI. 6. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. guru. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. Obat harus diberikan secara utuh. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. dipercaya dan disetujui. Sanitarian. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. Anak dengan BB > 33 kg . atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. c. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.

Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. 26 . hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. d.

Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. tahap lanjutan tetap diberikan. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik.8. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Beri Sisipan 1 bulan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika mungkin.

pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. 28 .9.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. dahak.

Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. a. 29 . b. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Menurut WHO. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. kecuali streptomisin. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. • • • • • 8. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.

Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. d. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. susuk KB). Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. suntikan KB. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). d. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. 30 . Pasien dengan kelainan hati. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. harus dihentikan. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya.

Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. h. setelah selesai pengobatan TB. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. 9. g.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. karena dapat memperberat kelainan tersebut. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. 31 . Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Tabel 3. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. kemudian diturunkan secara bertahap. tapi perlu penjelasan kepada pasien. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. mual. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. ganti Etambutol. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . segera lakukan tes fungsi hati. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Jika gejala efek samping ini bertambah berat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang.11. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Bila mungkin. Streptomisin dihentikan. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Berikan dulu anti-histamin. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Bila keadaan seperti ini. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. ganti obat tersebut dengan obat lain. ganti Etambutol. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Hentikan Etambutol. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Hentikan semua OAT. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Streptomisin dihentikan. Untuk membedakannya. Hentikan Rifampisin. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. hentikan semua OAT.

Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Namun.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. 33 . jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin.

murah. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Namun. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. Keamanan dan kebersihan laboratorium. dan Nasional. Sumber daya laboratorium. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. mudah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Kegiatan – kegiatan laboratorium. Propinsi. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. mulai dari tingkat Kecamatan. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. harus mengikuti acuan/standar. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. 34 . Untuk mendukung kinerja program. Kab/Kota. bersifat spesifik. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien.

35 . dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. uji kepekaan M. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. BP4. e. dll. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. RSP dll. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. Laboratorium rujukan Regional. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). b. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. Rumah Sakit. identifikasi dan DST M. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). peran. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). identifikasi. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Laboratorium rujukan Nasional. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). tb dari spesimen dahak. c. Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA).tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.1. Australia.

Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. . dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. . b. . Laboratorium mikroskopis TB UPK. sampai diperoleh hasil. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up.Laboratorium mikroskopis TB. . . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi.Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up.Fungsi: . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. .Peran: . membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. Catatan : Bilamana perlu. . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. FUNGSI dan PERAN. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. dan keamanan dan keselamatan kerja.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. . .Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. . dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak.

Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . . Fungsi . Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. Isolasi. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. 2. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. - c. termasuk EQAS sesuai jejaring. . 3. Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.Menyelenggarakan pembinaan Lab. .Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . 1.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat. Tanggung jawab: .Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. . TB dari dahak. . identifikasi dan tes kepekaan M.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. 38 .Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Laboratorium rujukan Provinsi. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. isolasi.

Melaksanakan pemeriksaan isolasi. . Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. - e. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. tuberculosis. identifikasi dan uji kepekaan (DST).tb dan MOTT bagi yang memerlukan. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan DST M.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Laboratorium rujukan Regional. . Tanggung jawab: .Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. Laboratorium rujukan untuk isolasi. Laboratorium rujukan Nasional.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. identifikasi dan DST M. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . Tugas: .tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. identifikasi dan DST M. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. . Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. 39 . rujukan provinsi.

ose/lidi. aether alkohol.Ruang: . rak pengering. . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai .pewarna ZN bermutu. lampu spiritus.Formulir standard (TB.Sarana keamanan . pipet. minimal SMAK/setara .Ruang: . kerja Lab .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Wadah pembuangan berisi desinfektans.Sarana keamanan . . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a. . minimal SMAK/setara . corong. rujukan pemeriksaan dahak.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.1 buah mikroskop binokule .Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Sarana: . kertas saring. penjepit sediaan dari kayu.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. .05).Desinfektans. minyak emersi.Botol berisi pasir dan desinfektan .Idem PS kerja Lab b.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . .Sarana: .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Idem PS . sticker. TB 04 . Laboratorium mikroskopis TB UPK. kertas lensa. . lidi lancip.Air mengalir. timer.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. timer . kaca sediaan/frosted sediaan. Mikroskopik dahak BTA) . kotak sediaan.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. ditambah dengan : .Idem dengan PS. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . . Seorang pembantu analis. Administrasi: Seorang tenaga administrasi. .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang pembuatan media dan reagensia. .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat.Ruang administrasi .Ruang pelatihan.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. Laboratorium rujukan Provinsi.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. . setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Tb: Idem dengan lab.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . . Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.

Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.Blender/homogenizer (autoclavable) .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.idem dengan lab Propinsi Sarana: .Idem lab Propinsi Sarana keamanan . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: . .1 inspisator. .1 incenerator / carbonizer .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .Botol McCartney .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Cabinet untuk pembuatan media .Vortex mixer. . Laboratorium rujukan Regional. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .1 timbangan gram (0–500 gr) . .1 biosafety cabinet class II .Magnetic stirrer.300 C) . GLP. Administrasi: .1 lemari es. .Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .1 waterbath.1 bio-containment centrifuge (500 . Ruang: .1 incubator. . .Micro-pipette . .Minimal 2 orang tenaga analis (Media).Generator listrik. .1 freezer (.5000 g) . managemen) d.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik. .Minimal seorang tenaga administrasi. Teknis alat laboratorium: .Alat gelas laboratorium.Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).

1 set pipet mikro. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. 2 orang analis untuk media dan reagensia. refrigerator. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. pipet mikro.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.Ruang Asam: fume hood.Dot blotter .TB: .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.ELISA system . freezer –20oC. microcentrifuge. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Optional: Fasilitas kultur sel. system elektroforesis vertical. shower .Ruang gelap . Laboratorium rujukan Nasional. refrigerator. heating blockpem. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. vortex. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis. Waterbath .Thermo-cycler .Nucleic Acid Sequencing system . microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. UV transilluminator/imaging system . freezer –20oC.Automated Liquid culture system .Ruang dengan negative pressure . 1 set pipet mikro.Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. eye wash. vortex. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . system elektroforesis horizontal.1 mikroskop fluorescence .

misalnya : . Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. penyimpanan.Protap pengambilan dahak . pasca-analisis.Protap pembuatan sediaan dahak .Protap pemeriksaan Mikroskopis . Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Peningkatan mutu (Quality Improvement).Idem dengan lab regional ditambah dengan : . pengolahan contoh uji. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. pengambilan. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Membantu peningkatan pelayanan pasien. pemeriksaan contoh uji. analisis. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. dan harus dilakukan terus menerus. Pemantapan Mutu Eksternal 3.Protap pengelolaan limbah . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4.Protap pembuatan media 44 . pengiriman. Pemantapan Mutu Internal 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: .Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . terintegrasi dalam PMI dan PME. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. Mendeteksi keslahan.

Dsb. Pada pelaksanaan uji silang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. laboratorium pembaca pertama. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. 45 . Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan.Protap inokulasi . audit internal. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat.

Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. 46 . meliputi : Tenaga : Pelatihan. pengembangan metoda pemeriksaan 5. pemeliharaan. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. Supervisi Laboratorium TB. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. dll. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. mutu pewarnaan. pelatihan. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. penyegaran. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. sarana dan prasarana laboratorium. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan.

4. masyarakat umum. dsb). 1. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. uji kepekaan. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. biakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. dsb) 2. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. serologi. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. jadwal pemantauan dan evaluasi. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. 47 . PCR/biomolekuler. peralatan. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Penyediaan perangkat (protap. lingkungan sekitar laboratorium.

a. Logistik OAT. dan tiap blister berisi 28 tablet. kategori 2. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. dan sisipan. b. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. 48 . Rak pewarna dan pengering. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. kertas saring. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. Reagensia Ziehl Neelsen. 1. Kertas pembersih lensa mikroskop. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. Eter Alkohol. penyimpanan. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. monitoring dan evaluasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. pendistribusian. pengadaan. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. kaca sediaan. Lysol. Lampu spiritus. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. Minyak imersi. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. Slide Box. Ose.

Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. • buffer-stock. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. MANAJEMEN OAT a. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. • sisa stock OAT yang ada.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. perencanaan ini diteruskan ke pusat.

d. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. kemasan. c. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. jumlah. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. e. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. b. Monitoring dan Evaluasi. f. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. Pengawasan Mutu. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Setelah OAT sampai di Propinsi. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. Kabupaten/Kota dan UPK. artinya. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar.

Waktu hancur atau disolusi 5. 3. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Kadar zat aktif 7. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Kemurnian/ kadar cemaran 6. boks dan master boks 5. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Pemberian 3. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Identitas obat 2. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. • Dan pihak lain yang terkait. Uji potensi 8. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran).

Lampu speritus. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Botol plastik bercorong pipet dll. Slide Box. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Rak pewarna dan pengering. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Ose. Bahan Uji tuberkulin. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. 52 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah.

3 perawat/petugas TB. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 3 perawat/petugas TB. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 2. Unit Pelayanan Kesehatan 1. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. 1. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. 1 perawat/petugas TB. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. dan kesinambungan (sustainability). supervisi. dan 1 tenaga laboratorium. dan 1 tenaga laboratorium 53 . pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. pelatihan dan supervisi. pembinaan (pelatihan. kalakarya/on the job training).

Pelatihan penuh. terdiri dari: 1. menyesuaikan. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. 3. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. 2 perawat/petugas TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. 2 perawat/petugas TB. Fakultas Keperawatan. 2. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Dokter Praktek Swasta. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. 5 fasilitator pelatihan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. minimal telah dilatih. b. 2. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Pelatihan ulangan (retraining). Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. dan lain-lainnya. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Tingkat Provinsi 1. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. jumlah tergantung kebutuhan. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. seluruh materi diberikan. (Fakultas Kedokteran. Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. jumlah tergantung kebutuhan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. dan lain-lainnya. 3.

penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . Materi berbeda dengan pelatihan dasar. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. peserta. materi. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. dana. kepanitiaan.kinerja (supervisi) . Pelatihan penyegaran. d.pembelajaran • paska pelatihan . Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. fasilitator. • persiapan administratif penyiapan bahan. pelatihan advokasi..dampak 55 . tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. surveilans. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya.reaksi dan . seperti: pelatihan manajemen OAT. c. pelatihan DOTS plus. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. metode pembelajaran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi.1. pelatihan TB-HIV.

Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . Tidak semua harus dipelajari. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak.2. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang.

Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. 3. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. diskusi. bantuan teknis.

pemetaan wilayah. Penjadwalan kegiatan supervisi.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. misalnya angka konversi rendah. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi.03) . Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. partisipatif dan tidak instruktif. Kegiatan penting selama supervisi. penuh perhatian. Pengumpulan informasi pendukung. .Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. 2.01 dan TB. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. empati. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. . 2.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. sebagai berikut: 1. . Pelaksanaan supervisi. . 2.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.06. 4.Pada tahap awal pelaksanaan program.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. terutama pada tingkat UPK : 1.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. 3.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. Kepribadian supervisor. . serta kebutuhannya. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. maka perlu dilakukan persiapan. .Melakukan pendekatan fasilitatif. BP4. yaitu: .Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan.Menjadi pendengar yang baik. . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. . RS. angka kesembuhan rendah.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . .Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. . Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. misalnya laporan. 58 . bila memungkinkan . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. .

maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. sebaiknya 3 lembar: . Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. mungkin karena tugasnya tidak jelas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. maka berarti ada masalah kinerja. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. d. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. 5. b. g. 3. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. 59 . Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. 2. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. praktis. e. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. 1. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. inovatif. inisiatif. tidak mampu melaksanakan. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. realistik. f. 4. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. dan tidak menciptakan masalah baru. realistis. kreatifitas. melakukan on the job training. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. dapat dilaksanakan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. Laporan supervisi. c.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor. 60 .

organisasi profesi.Meningkatkan komunikasi . Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. sektor swasta.Meningkatkan sumber daya. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. b. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. Potensi melibatkan sector lain 4. Beban masalah TB yang tinggi 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. baik dari pemerintah. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. kelompok media massa. organisasi keagamaan. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . Akuntabilitas.Meningkatkan komitmen . Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. legislative. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. 61 . organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program.Meningkatkan koordinasi . Lembaga Swadaya Masyarakat. mutu. Keterbatasan sector pemerintah 3. c. mengingat : 1. Keberlanjutan program 5. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin.

termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. e. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. f. Pembentukan Komitmen. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Melakukan kegiatan. c. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. b. b. Pemantauan dan penilaian. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. disepakati sejak awal. 3. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. Penyamaan persepsi. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. sarana dan prasarana. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. tugas dan fungsi masing. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. dana. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . Pengaturan peran. Identifikasi. g. Komunikasi intensif.

Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. 1. 63 . advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Dalam konteks global. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Dalam konteks penanggulangan TB. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. Pada konteks dalam negeri. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. komunikasi. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis.

Angka kesembuhan .1.Tenaga Penyuluh .Buku Pedoman .Sumber dana (APBN.Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Media Promosi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .factor lain 64 . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.

Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. konsultasi. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. b.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. berfikir. Memilih strategi yang tepat (advokator. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. metode dsb) Mengembangkan bahan. memberikan laporan. 2. 65 . Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. menulis dan lain-lain. 1. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Dalam proses komunikasi. pelaksana. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. pertemuan/rapat kerja. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. dan Mobilisasi sumber dana.

lancar tidaknya suatu proses. seminar peningkatan pengetahuan . Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. d.Rapat pertemuan-pertemuan. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. c. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama.Demonstrasi. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. percakapan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. 66 . seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik.Televisi. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). latihan (meningkatkan kemampuan) .Surat kabar.Radio. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. 3.

2. pesan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. . Kader TB dan sebagainya.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. keluarga.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. motivasi.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . sasaran.Memenuhi permintaan masyarakat. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. KIE berbasis individu. masyarakat. . Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. alih pengetahuan dan keterampilan. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. ikut menjadi PMO.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak.Community material : Sarana masyarakat . . 5.indikator dan umpan balik mobilisasi.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. dan ormas lainnya 67 . . karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. 4.Memerlukan pengulangan secara periodik. harus merupakan elemen kemasyarakatan. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . . 3. . memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. .

digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. dll Peminatan Kebijakan. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. LSM. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Lintas sektor. Komisi 9 DPR Akademisi.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat.organisasi profesi. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. Ormas. profesi (IDI. Lintas program. LSM. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. . Kunjungan rumah. Penyuluhan kelompok. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. . digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). . 68 .1. PAPP) LSM. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Diskusi kelompok (DK). dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. . ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Konseling. Langkah-langkah mobilisasi sosial . Tabel 9.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. dapat digunakan tabel contoh berikut. dunia usaha.

69 . billboard dan spanduk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. radio spot. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV. filler/spot.

Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. UPK di tempat kerja. 1. 2. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. 70 . • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%.1. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Setelah mencapai prakondisi tersebut. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. dan lain lain. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. UPK lapas / rutan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. antara lain : rumah sakit. BP4. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK. dan seluruh petugas terkait. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. UPK polisi.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. 1. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). 74 . 2. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. pengendalian mutu pelayanan. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. akses pelayanan kesehatan. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis.

bidan di desa. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . 4.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . termasuk mutu kinerja laboratorium. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. 75 . Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. termasuk survei. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . focus group discussion. 2. misalnya dengan melibatkan pustu. b. eksperimentasi. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Penelitian operasional tuberkulosis. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. a. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. 3. dan community based approach.Spesifik terhadap program tuberkulosis . modeling. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. in-depth interview dan lain-lain. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. b. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. dan 5) penyebarluasan hasil (publication).Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). a. antara lain: 1. kuasi eksperimen.

TBKusta. 7. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. seperti: TB/HIV. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. 5. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. c. dan lain-lain. Dokter Praktek Swasta. 6. dan UPK lainnya. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. 76 . Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS.

sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. a. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Rumah Sakit. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. pendidikan. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. Laboratorium dan unit lainnya. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Dinas Kesehatan Propinsi. Puskesmas. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Dalam sistem desentralisasi. 77 . daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. sosial budaya. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data.

pohon masalah dan log frame. Untuk maksud tersebut. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. pencapaian program (penemuan pasien. method. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. angka kesembuhan. a. Dari kesenjangan yang ditemukan. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . dan market). masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. keberhasilan pengobatan). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. keberhasilan diagnosis. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. dana (money).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. 2. logistik (material). Untuk memudahkan. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). antara lain kebijakan lokal. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. money. dicari masalah dan penyebabnya. Selain data tersebut. material. diseminasi informasi serta umpan balik. sampai dimana kemajuan program. dan metodologi yang digunakan (method). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. • Disamping untuk perencanaan. komitmen nasional maupun international. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. b. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate).

Dalam menetapkan pemecahan masalah. 4. . artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. 5. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. 3. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Terukur (kuantitatif) e. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Terkait dengan masalah d. Rasional (realistis) f. Memiliki target waktu. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. 1) Daya ungkitnya tinggi. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 .

Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. perlu dinilai semua unsurnya. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. yaitu penurunan jumlah pasien. rumah sakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. diagnosis pasien. b. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. karena akan memberikan dampak epidemiologis. Masing-masing aspek tersebut. 3) Kesiapan : Tenaga.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. pengobatan dan case holding pasien. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . dan kemitraan. c. sampai pada pencatatan pelaporan. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. BP4. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. RSTP dan dokter praktek swasta). dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. Setelah itu baru rumah sakit. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. sarana. Pada tahap awal. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. namun perlu didukung dengan data penyakit. BP4. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. kepadatan penduduk. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Penetapan target. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. Perluasan unit pelaksana. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%).

Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. b. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Jenis-jenis kegiatan dan indikator.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Dengan kata lain disebut program oriented. 6. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. c. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Pelaksana (siapa yang memantau). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. 82 . sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. bukan budget oriented. Cara pemantauan. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). d. e. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.

Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. proses. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. Propinsi. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. bagian atas. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. Kabupaten/Kota. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. maupun keluaran (output). Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. BP4. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. 1. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. dianalisis. Rumah Sakit. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. diinterpretasi. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. RS. 3. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). BP-4. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. PPM. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM.

Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 2. 3.1. Tabel 12.

15%. indikator ini tidak dapat dihitung. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 . BP4 atau dokter praktek swasta. 86 . Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. misalnya rumah sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.

atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. Bila angka ini jauh lebih rendah. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. itu berarti mutu diagnosis rendah. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar.

11. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. propinsi dan pusat. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. gagal. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. setelah selesai pengobatan. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %.01.01. setelah pengobatan intensif (2 bulan). Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. Di tingkat kabupaten. meninggal. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. propinsi dan pusat. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. dan pindah keluar. X 100 % 88 . Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2.08. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. default (drop-out atau lalai). Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan.12 bulan sebelumnya. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Di tingkat kabupaten.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

WHO/CDS/TB/2003.334 15. McMillan Education Ltd. 4th edition. WHO-SEARO. Jakarta. 616. 19. Treatment of Tuberculosis. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. 2006 9. 2002 3. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. A Tuberculosis for Specialist Physicians. Geneva. ATS/CDC/IDSA. 2003 7. PP IDAI-UKK Pulmonologi. 2000. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. W85 13. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. PDPI. Paris. 2nd edition. 1999 4. 1997. WHO. Jakarta. 2002. WHO-SEARO. 16. Geneva.313 20. Depkes/UKK Respirologi IDAI. WHO. Horne N. The Hague. Treatment and Monitoring.258 92 . 2003. WHO/TB/96. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. 1998. IAUTLD. Jakarta. 2000 18. Laboratory Service in TB Control: part 1. Jakarta. Tuberculosis: Epidemiology and Control.300 12. Core Curricullum on Tuberculosis. 2003. 2002. 23. 2003 3. WHO. Depkes RI. WHO.210 14. 2000. Depkes RI. WHO. Cetakan ke-10. 1999 2. Treatment. ATS/CDC/IDSA. WHO-SEARO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. Effective Diagnosis. 22. and Control of Tuberculosis. 2003.329W. Laboratory Service in TB Control: part 2. WHO. 2006 8. Jakarta. Paris. Paris. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. WHO. 3rd edition. CDC/US Department of Health and Human Service. 2003 2. 21. 1998 4. 11. Washington. WHO/TB/98. Atlanta. Kelompok Kerja TB-HIV. 2004. Geneva. Toman’s Tuberculosis.995. Geneva. ISBN 97996622-2-2 10. New Delhi. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. Atlanta. 2004 6. 2004. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. Adherence to Long Theraphy. Depkes RI. What the Clinician Should Know. Jakarta. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. SEA/TB/248 24. Atlanta. Depkes RI.24/Ind/P 5. WHO/TB/98. New Delhi. Geneva. Organization and Management. Geneva. 2005. WHO/IUATLD. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Jakarta. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. 1999 BAB 5.258 5. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). WHO/HTM/TB/2004. Geneva. WHO. 17. IUATLD. Microscopy. 2006. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. A guide for Tuberculosis Treatment Support. External Assessment for AFB Smear Microscopy. IUATLD. 2004. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. London and Oxford. Miller F. Geneva. Geneva. New Delhi. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Crofton J. Geneva. WHO/CDS/TB/2002. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). Clinical Tuberculosis. WHO. 2002. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Case Detection. 1998. 2006. WHO/HTM/TB/2004.

WHO/CDS/TB/2002. Amara Books. Depkes RI Badan PPSDM. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Depkes RI. Mangkunegara Anwar Prabu. 2002 2. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. JJ Gilbert. (comprehensive draft.308 BAB 7. November 2005 14. WHO/CDS/STB/2002. Surabaya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. WHO. 2001 7. Teaching Health care worker: A practical guide. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Geneva. 2003 6. Delivery. Insan Cendekia. MSH/WHO.301. WHO/HTM/TB/2005. Working together for Health. Abbat FR. WHO. Abbat FR. Refika Aditama. Geneva. WHO/CDS/TB/2002.2002. New Delhi. WA 530.353 16. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). WHO. Modul D : Provide Training for TB Control. WHO/HTM/TB/2005. WHO. Jakarta. Bandung. 15. Evaluation and Management. WHO. Jakarta. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. 2002. 2006. McMahon Rosemary. 2003. 1992 2. Prentice Hall. Training in Australia: Design. WHO.347d 18. Geneva. WHO. Manila. 2002. Jakarta. Tovey MD. The World Health Report 2006. 616. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. WHO-WEPRO. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. How to Organize Training for Distric Coordinator.19 3. WHO. W 21. Geneva. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. 2005. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Cetakan ke-10. Revised and Updated 1998. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.24/Ind/P 5.347c 17. 1997 10. 2005.347 13. Geneva. McMillan. Geneva. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs.995.725/Menkes/SK/V/2003). Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. 2005. A Usmara (ed).350 11. 2003 4. Sydney. unpublished). 12. WHO. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WHO. WHO/HTM/TB/2005. 2005. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. 93 .1991 3. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. WHO-SEA. Geneva. No. Geneva. 1998 8. 2006. 2003 9. 1999. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Jogyakarta. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Geneva. Educational Hanbook for Health Personal. Geneva.1 19. 2005. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Depkes RI. Irianto Jusuf. 2005. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. WHO. WHO. Geneva. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook.

Depkes RI Ditjen PPMdanPL. WHO. Depkes RI. Jakarta. Understanding the TB Cohort Review Process. Guidelines for Workplace TB Control Activities. 2006 5. WHO. Jakarta. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. WHO/CDS/TB/2003. 2003. Atlanta.312 7. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Geneva. 1999 2. Gordom Graham. Making Health Communication Program Work. 2003. SEA/TB/259 5. 2006. WHO. TB Advocacy: Practical Guide. 1999. WHO. Jakarta. Geneva. 2005. WHO. Depkes RI. WHO/CDS/TB/2003. IAUTLD. belum diterbitkan). Atlanta. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 2003.995. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. 2006. Depkes RI. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Tearfund. WHO-SEARO. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. WHO/HTM/TB/2005. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. 2001 BAB 11. 2001 2.355 3. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Research Methods for Promotion of Lung Health. Jakarta. New Delhi. Jakarta. WHO/SEARO. WHO/HTM/STB/2003. Paris. Pedoman Advokasi. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. WHO-SEARO. WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1.323 4. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. 2004 2. Jakarta. Public-Private Partnerships for TB Control. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Interventions. 2003. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Advokasi. Penelitian Tuberkulosis 1. Geneva. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. Cetakan ke-10. Issues. The Power of Partnership. Depkes RI. and Emerging Policy Framework.24/Ind/P 94 . 2002 6. Kemitraan dengan Sector Swasta. 2001 2. Depkes RI Pusdiklatkes. 616. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. 2004 2. New Delhi. 2001 3.24 BAB 9. Global Partnership to STOP TB. Geneva. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Geneva. 2000 3. 2006 3. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. Depkes RI Pusat PKM. 2002 4. SEA/TB/213 3.

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. New Delhi .24/Ind/P 2. 1998. Combating Tuberculosis. Tuberculosis Handbook. WHO/TB/98. WHO/TB/98.253 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Jakarta. WHO/SEARO. Geneva.253 5. 616. WHO. Geneva. 1998. 1996 3. Geneva. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. New Delhi . WHO/HTM/TB/2004. Depkes RI. 1998. Geneva. belum dipublikasi). 2004. Cetakan ke-10.240 BAB 13. Tuberculosis Handbook.995. 4th edition. Perencanaan 1.344 5. WHO/SEARO. WHO. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. 1999 95 . Paris. Stop TB Partnership. Geneva. 1999 6. (draft. National Level TB Management Cycles. Principles for Accelerating DOTS Coverage. 2006. WHO. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. WHO/TB/98. 2005 4.

dan World Care Council. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). antara lain : Indian Medical Association. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. U. Infectious Diseases Society of America. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). dimana semua praktisi. Indonesian Association of Pulmonologists. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . International Council of Nurses. (dewasa. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U.S. Stop TB Partnership. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru.S. American College of Chest Physicians.). pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Terdiri 17 standar. termasuk pasien TB dengan BTA positif. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). American Thoracic Society. Philippine College of Chest Physicians. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Centers for Disease Control & Prevention. TB ekstra paru. Philippine Coalition Against Tuberculosis. pasien TB dengan BTA negatif.

tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). (dewasa. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. pleura. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).Rifampisin. foto toraks menunjukkan kelainan TB. Fase awal terdiri dari INH. 97 . STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. Pada pasien dengan atau diduga HIV. bilasan lambung atau induksi sputum. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Bila ada fasiliti. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. Pada pasien demikian. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. 98 . Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. paling baik dinilai secara klinis. Rifampisin. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Rifampisin.

Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Rifampisin dan Etambutol. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Reg. 104 . yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. Reg.Lab Hasil/ Tgl. sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. Reg. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. an atau lebih dengan BTA positif. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). Reg. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( .Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). as.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

106 . . 02/15/237 B dan 02/15/237 C.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. .Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. sebagai berikut : .Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. misalnya 15. yang merupakan nomor urut UPK. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. misalnya 02.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. yang merupakan nomor urut kab/ kota. . .A= dahak sewaktu pertama. misalnya 237.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

70. Buffer stock : 49 Cakupan . 6 . .Overdiagnosis : 14.Diagnosis TB paru : 14 . 63.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 23 BP4 : 8. 29. 91 .pola pikir : 64 . 2. 64.Angka default : 89 . 10. CBA : 81 CDR : 9. 14 Darurat .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. . 11. 11. 2. 64.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. lihat uji silang D Dahak . 70 BTA : 5.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4. 39.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . .angka kesembuhan : 9 . 9.analisa situasi : 77 Angka .Fokus DOTS : 7 .pertimbangan dokter : 15 DOT .dampak terhadap TB : 4. 12.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. 63.efek samping berat : 32 . AKMS : 1. 71. 87 .angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.angka konversi : 88 . 13. 5. 89 .analisa indikator : 85 .lihat hasil pengobatan . 22.lihat PMO DOTS : 7. .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 11.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.Diagnosis TB ekstra paru: 14 . B C 118 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 9.Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.Angka gagal : 89 .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 65 AIDS (lihat juga HIV) : . 65.peningkatan cakupan : 80.Diagnosis utama : 14 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31.batasan : 63 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check.pandemi : 4 .efek samping ringan : 31 .Alur diagnosis TB paru : 15 .

jejaring internal : 71 .dosis paduan KDT-OAT : 21.kasus setelah putus berobat : 18 . 30.klasifikasi penyakit : 16 119 I J .indikasi operasi : 31 .Kesalahan Gradasi (KG) . 89. 11.Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.indikator jejeraing : 71 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.pembentukan jejaring : 71 .jejaring ekternal : 71 .evaluasi kinerja : 56.definisi kasus : 16 .syarat indikator : 85 .kasus kambuh : 18 . 29. 18. 57 . Indikasi .kasus setelah gagal : 18 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .Kesalahan besar .kasus baru : 18 . 17.evaluasi pembelajaran : 56 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .kasus TB : 18 . 7. 5.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .syarat jejaring yang baik : 72 .Gejala klinis pasien TB : 13 . 6.koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 . 86 . 49 . 21. 22 Klasifikasi : 16 .kasus pidahan : 18 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .keuntungan KDT : 20 .lihat visi KDT-OAT : 20.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 16.prinsip dasar kemitraan : 61 .langkah-langkah kemitraan : 62 .tujuan : 61 . 48.kategori 1 : 20 .lihat hasil pengobatan .kasus lain : 18 .kategori 2 : 21 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. .Kesalahan kecil .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .evaluasi dampak : 56 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) . 22. .Gejala utama : 13 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .kasus kronik: 18 . 85.indikator program : 84.pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .

efek samping OAT (lihat efek samping) .klasifikasi berdasarkan organ : 17 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 49. .Pelatihan dalam tugas : 54 . 6.masalah MDR : 4.Laboratorium rujukan provinsi : 35.pemantapan mutu internal : 44 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .Konsep pelatihan : 54 .pemecahan masalah : 79 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . sifat dan dosis : 19 .negara dengan beban masalah TB : 4 . 51 .Mempertahankan mutu : 80 .Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .standar kompetensi : 57 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37.penggunaan pada pasien TB : 31 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.masalah prioritas : 7.Jenis logistik : 48 .pemantapan mutu eksternal : 45 . 21 . peran. 8. 39. .definisi komunikasi : 63. 80 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.OAT sisipan 20.Evaluasi pelatihan : 56 . 40 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 42 .prinsip : 66.masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 10. 9. 7 .Jenis. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 10. 67 .peningkatan mutu : 44.tujuan mengatasi masalah : 79 . 66 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1. lihat MDG Misi .beban masalah TB (penyebab) : 4 .Koordinator pelatihan : 56 .Pelatihan dasar : 54 120 P M .Materi pelatihan : 56 .definisi : 63. 6.Laboratorium rujukan uji silang : 35.manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 37. O OAT .inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 7. 41 .Laboratorium rujukan nasional : 35.Manajemen logistik OAT : 49 .fungsi. 9 . 38.bentuk-bentuk : 88 . 65 .identifikasi masalah : 78 .menetapkan masalah prioritas : 78 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .ruang lingkup : 34 .mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) . 54 . 39.Laboratorium rujukan regional : 35. 40 . 53 .

Prinsip pengobatan : 19 .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 35. 77. 10. 11. 9.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8. 37.tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 35.Persyaratan : 25 .tahap : 44 .strategi program: 10 .siklus perencanaan : 77 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 37. 36.prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.tujuan : 44 PPM .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 . 35.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 40. 37.pengobatan lengkap : 29 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .tujuan perencanaan : 77 . 40 .pengobatan pencegahan : 24 . 40 .Puskesmas Satelit : 11. . 8 .pencatatan di UPK : 84 . 36.Pelatihan ulangan : 54 . 37.strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.pencatatan di laboratorium : 85 .perencanaan : 45 .tujuan dan target : 9 . 70 . 74 .program TB di Indonesia : 8 . 9.Karakteristik penelitian TB : 74 . 10. 26 .Batasan : 53 . 36.hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .lihat public-private mix .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .kegagalan program : 4 .kebijakan program : 9 .Pelatihan penuh : 54 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 . 4.Pelatihan lanjutan : 55 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 2. 10.Pelatihan penyegaran : 55 . 35.Metodologi : 75 .batasan : 70 . 36.Langkah-langkah .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.memilih prioritas : 79 Program TB : 1. Q QA (quality assurance) : 35 121 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 25.Ruang lingkup : 75 . 53 . 7. 79 . 9.tujuan PSDM : 53 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .Tujuan pengobatan: 19 .perencanaan berbasis bukti : 77 .

U V Valid : 85. 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .sasaran buku : 2 .supervisi laboratorium TB : 46 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran . 122 . 53.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . 6 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9. 10 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .sasaran wilayah : 82 .Tipe pasien : 18.pemetaan : 81 WHO : 6.tujuan program : 9 .pengembangan : 80 .prinsip dasar tatalaksana : 13 . Rate (lihat juga angka) .Penentuan tipe : 18 Tujuan .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.kegiatan supervisi : 57 .laporan supervisi : 59 .Pukesmas : 53 . 10.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .risiko menjadi sakit TB : 5 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .tujuan buku : 2 .perencanaan supervisi : 58 .TB .case notification rate (lihat CNR) .dokter praktek swasta : 54 .tatalaksana TB anak : 22 . 82 . VCT : 30 Visi .case detection rate (lihat CDR) .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .risiko penularan TB : 5 . 37. 52.target program : 9 Tatalaksana : . . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .persiapan supervisi : 58 . 82 .penetapan target : 82 . 40.tingkat kabupaten/kota : 54 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1. 44. 35.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.pelaksanaan supervisi : 58 . 7.visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.gambaran radiologis : 14. 22.