PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Analisa Situasi 2. Tujuan Penelitian 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Pencatatan dan Pelaporan 8. Menetapkan Tujuan 4. Batasan 2. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Indikator Program 9. Manajemen OAT 3. Metodologi 4. Jenis Logistik Program 2. Kerangka Pola Pikir 3. Standar Ketenagaan 2. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Prinsip Dasar Kemitraan 2. Langkah Langkah 3. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Pelatihan 3. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Pembentukan Jejaring 3. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv . Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

Siti Fadilah Supari. Berbagai kemajuan telah dicapai. Selamat berjuang! Jakarta. dan kelemahan akibat TB. SpJP(K) v . efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. ketidakproduktifan. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. dr. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. swasta maupun lembaga masyarakat. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan.

PAPDI. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. IDAI.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Jakarta. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. I Nyoman Kandun. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. MPH vi .000 pertahun.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. lembaga swadaya masyarakat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . indikator pemantauan dan evaluasi. sementara situasi program penanggulangan TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . .Advokasi. .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). dibuat dalam buku pegangan tersendiri .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. .Manajemen Laboratorium TB . Penambahan bab-bab baru meliputi : . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program.Tuntutan masyarakat akan mutu. maka dilakukan penanambahan.Pelatihan.Penelitian TB . dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.Kemitraan. . definisi kasus TB. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. alur diagnosis anak (sistem skoring). Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. pengurangan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000.Supervisi.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. .Tuberkulosis dan permasalahannya. .

TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. propinsi.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.Diagnosis TB. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. klasifikasi penyakit dan tipe pasien. - 2 . . pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .Tuberkulosis. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. Sebagai sebuah pedoman. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat.

diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. persalinan dan nifas. Insidens TB didunia (WHO.1. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Gambar 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Demikian juga. terjadi pada negara-negara berkembang. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. maka akan kehilangan 3 . Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Pada tahun 1995. Jika ia meninggal akibat TB.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. • Dampak pandemi infeksi HIV.000 penduduk. Di Indonesia. Situasi TB didunia semakin memburuk. setiap tahun ada 539. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. pencatatan dan pelaporan yang standar.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. .Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. Selain merugikan secara ekonomis. Pada saat yang sama. 4 . TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. pada tahun 1993. obat tidak terjamin penyediaannya.000 kasus baru dan kematian 101. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. tidak dilakukan pemantauan. dan sebagainya). • Kegagalan program TB selama ini. Menyikapi hal tersebut. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Diperkirakan pada tahun 2004. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.000 orang. Hal ini diakibatkan oleh: .Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) .Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. . terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.

Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. .Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. seperti tuberkulosis. maka jumlah pasien TB akan meningkat. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). .Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. . maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. makin menular pasien tersebut. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. • Cara penularan .Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. ARTI sebesar 1%.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. . . tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. . . diperkirakan diantara 100. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. • Risiko menjadi sakit TB . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). 5 . • Risiko penularan . . . Sebagian besar kuman TB menyerang paru. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Dengan ARTI 1%.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).Pada waktu batuk atau bersin.

Penerapan strategi DOTS secara baik. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. 6 . disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. clinical trials. setelah 5 tahun. akan: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi .25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2.50% meninggal . Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.2. best practices.

3. 5. 5. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. 2. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Pada tahun 1995. Mencapai. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. 4. Komitmen politis 2. termasuk pengawasan langsung pengobatan. 7 . Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 4. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. 6. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. 3.

untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. sampai saat ini. Setelah perang kemerdekaan. Sejak tahun 1995. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. • Sampai tahun 2005. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. • Indonesia. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. • Tahun 1995. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. Di Indonesia. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. 1. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Sampai tahun 2000. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.

sektor pemerintah. pelaksanaan. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. j. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. l. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Rumah Sakit Paru (RSP). dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. e. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. i. f. masyarakat dan pekerjaannya. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. h. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). KEBIJAKAN a. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. meliputi Puskesmas. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. tenaga. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. 3. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. sarana dan prasarana) b. memutuskan rantai penularan. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). k. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB.

c.I. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Pemantauan dan Evaluasi d. Rumah Sakit. Peningkatan SDM (pelatihan. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. supervisi) e. STRATEGI a. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. d. KEGIATAN a. Tingkat Pusat. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Penemuan dan pengobatan. 10 . Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Perencanaan c. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Promosi g. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. e. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Menteri Kesehatan R. b. Kemitraan 6. b. Unit Pelayanan Kesehatan. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Penelitian f. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Tingkat Kabupaten / Kota.

Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. • • 7. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Menghadapi tantangan TB-HIV. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Pada keadaan geografis yang sulit. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Rumah Sakit Umum. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). 11 • . Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. rumah sakit atau BP4. a. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4.

b. Memperkuat penelitian operasional 12 . Adapun strategi fungsional tersebut: 1. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses.

Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. kanker paru. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. asma. bronkitis kronis. nafsu makan menurun. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. demam meriang lebih dari satu bulan. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. dianggap tidak cost efektif. petugas yang terkait. pencatatan. harus diperiksa dahaknya. 1. diagnosis. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. yang menunjukkan gejala sama. sesak nafas. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. pelaporan. batuk darah. terutama mereka yang BTA positif. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. dan lain-lain. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. berat badan menurun. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. seperti bronkiektasis. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. didukung dengan penyuluhan secara aktif. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. badan lemas. malaise. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.

Pada program TB nasional. saat menyerahkan dahak pagi. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. misalnya uji mikrobiologi. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. 14 . patologi anatomi. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Pada saat pulang. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. foto toraks dan lain-lain. sehingga sering terjadi overdiagnosis. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis.pagi sewaktu (SPS). Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. 2. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. serologi. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. Diagnosis TB ekstra paru. yaitu sewaktu . segera setelah bangun tidur. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .- .- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.1. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + . Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- Hasil BTA ..Sewaktu.. 15 . alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel. Pagi.

menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. • • • 16 . . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. yaitu: . KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . . 3.Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.registrasi kasus secara benar . .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . pleuritis eksudativa. (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. .menentukan paduan pengobatan yang sesuai . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).mengurangi efek samping. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .

TB ekstra paru ringan. pleuritis eksudativa unilateral. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. saluran kencing. .Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. . TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. 17 . misalnya: meningitis. misalnya: TB kelenjar limfe. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. perikarditis. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. TB saluran kemih dan alat kelamin. tulang. . peritonitis. tulang (kecuali tulang belakang). pleuritis eksudativa bilateral. yaitu bentuk berat dan ringan. • Tuberkulosis ekstra paru. persendian.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. milier. TB tulang belakang. . usus. selaput jantung (pericardium). Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . dan kelenjar adrenal. alat kelamin. sendi. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. yaitu: . selaput otak. kulit. maka untuk kepentingan pencatatan.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru.TB ekstra-paru berat. . ginjal. kelenjar lymfe. dan lain-lain. . Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. TB usus. dan atau keadaan umum pasien buruk. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. misalnya pleura.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

dapat juga mengalami kambuh. harus dibuktikan secara patologik. • • • 18 . radiologik. default maupun menjadi kasus kronik. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. bakteriologik (biakan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. gagal. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. dan pertimbangan medis spesialistik. Meskipun sangat jarang. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap.

Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Jenis. . PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. Tahap Lanjutan .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Tahap awal (intensif) .prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . Jenis.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3.1. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. yaitu tahap intensif dan lanjutan. mencegah kematian.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). . biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. namun dalam jangka waktu yang lebih lama .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. mencegah kekambuhan.

Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. 2. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Disamping kedua kategori ini. Paket Kombipak. Rifampisin. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. . Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . yaitu Isoniasid.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) .Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.

Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.3. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.2. (1ml = 250mg) 3. 21 . OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2.

Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. 22 . funduskopi. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. CT-Scan. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Lihat tabel 3. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. pungsi lumbal. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . dan lain lainnya. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis).4. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. patologi anatomi. dan pemeriksaan penunjang. Setelah dokter melakukan anamnesis. foto tulang dan sendi. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. pemeriksaan fisik.5. seperti bilasan lambung.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. pungsi pleura. 5.

dan lain – lain. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. BTA negatif atau tidak tahu. jumlah >1. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga.--> lampirkan tabel badan badan. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. lutut. 23 . (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. aksila. Sinusitis. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. kelenjar limfe koli. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.5.

Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Tanda bahaya: kejang. Setelah pemberian obat 6 bulan . OAT tetap dihentikan. Gibbus. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti.2.6. koksitis Gambar 3. misalnya sesak napas 2. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . Tabel 3. kavitas. efusi pleura 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1.

Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Pekarya. PKK. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. dipercaya dan disetujui. Anak dengan BB > 33 kg . misalnya Bidan di Desa. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. Juru Immunisasi. dirujuk ke rumah sakit. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. 25 . Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. dan lain lain. anggota PPTI. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. c.7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. Sanitarian. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. Perawat. Obat harus diberikan secara utuh. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. guru. a. 6. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan.

gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. d. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. 26 . Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif.

Jika setelah sisipan masih tetap positif. tahap lanjutan tetap diberikan. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.8. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika mungkin. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Beri Sisipan 1 bulan.

Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . 28 . menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. dahak. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3.9. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk.

Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. kecuali streptomisin. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Menurut WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. 29 . a. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. b. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. • • • • • 8. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui.

Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. suntikan KB. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. d. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. 30 . harus dihentikan. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. susuk KB). Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien dengan kelainan hati. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). d.

mual. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. h. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. setelah selesai pengobatan TB. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. 31 . karena dapat memperberat kelainan tersebut. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. g. 9. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Tabel 3. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. kemudian diturunkan secara bertahap.

pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Streptomisin dihentikan. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Hentikan Etambutol. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). hentikan semua OAT. Hentikan semua OAT. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Bila mungkin. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Jika gejala efek samping ini bertambah berat.11. Berikan dulu anti-histamin. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. segera lakukan tes fungsi hati. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. ganti obat tersebut dengan obat lain. Bila keadaan seperti ini. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. Hentikan Rifampisin. ganti Etambutol. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. ganti Etambutol. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Untuk membedakannya. Streptomisin dihentikan. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis.

Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Namun. 33 . Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang.

yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Untuk mendukung kinerja program. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. bersifat spesifik. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Sumber daya laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. mulai dari tingkat Kecamatan. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. 34 . Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. mudah. Namun. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Propinsi. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. dan Nasional. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Kab/Kota. Keamanan dan kebersihan laboratorium. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Kegiatan – kegiatan laboratorium. harus mengikuti acuan/standar. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. murah.

tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. tb dari spesimen dahak. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). RSP dll. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). c. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. uji kepekaan M. Laboratorium rujukan Nasional. identifikasi. Rumah Sakit. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. BP4. peran. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. b. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. e. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. dll. laboratorium di salah satu Rumah Sakit.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. 35 . Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Laboratorium rujukan Regional. identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi.

Australia.1. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk.

sampai diperoleh hasil. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS.Peran: . . membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. Catatan : Bilamana perlu. .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Laboratorium mikroskopis TB. PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. .Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. dan keamanan dan keselamatan kerja. . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. .Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. . Laboratorium mikroskopis TB UPK. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. b.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. FUNGSI dan PERAN. . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Fungsi: .Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

identifikasi dan tes kepekaan M. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. - c. .Menyelenggarakan pembinaan Lab. .Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. isolasi. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. Laboratorium rujukan Provinsi. 3. Tanggung jawab: .Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. .Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. Isolasi. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. 2. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. . TB dari dahak. termasuk EQAS sesuai jejaring. . . Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. 1.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. 38 . . Fungsi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap.

Laboratorium rujukan Regional.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. identifikasi dan uji kepekaan (DST). Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab. .Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. - e.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. . TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. identifikasi dan DST M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. identifikasi dan DST M. . Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional.tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. rujukan provinsi. tuberculosis.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. Tanggung jawab: . Laboratorium rujukan Nasional. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. Tugas: . 39 . identifikasi dan DST M. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Laboratorium rujukan untuk isolasi.

Wadah pembuangan berisi desinfektans. .Air mengalir.Ruang: . rujukan pemeriksaan dahak.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Idem PS kerja Lab b.Sarana: . minyak emersi.Sarana keamanan .1 buah mikroskop binokule . Mikroskopik dahak BTA) . penjepit sediaan dari kayu. .Ruang: .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.05).Botol berisi pasir dan desinfektan . Laboratorium mikroskopis TB UPK. kotak sediaan. corong.Formulir standard (TB. sticker. .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. kertas lensa.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Idem dengan PS. ditambah dengan : . timer. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a. kerja Lab .Sarana: . lidi lancip.Idem PS . kaca sediaan/frosted sediaan. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 . TB 04 .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. rak pengering. minimal SMAK/setara . timer .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . kertas saring.Desinfektans.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. .Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . ose/lidi.pewarna ZN bermutu.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. pipet. .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. minimal SMAK/setara . . aether alkohol.Sarana keamanan . lampu spiritus.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .

Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.Tb: Idem dengan lab.Ruang administrasi . . Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 .Ruang pembuatan media dan reagensia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. . Laboratorium rujukan Provinsi. Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Ruang pelatihan. Seorang pembantu analis.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . .

Minimal 3 orang tenaga analis (mikro). .Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 . Administrasi: .Alat gelas laboratorium. GLP.Blender/homogenizer (autoclavable) .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . .Magnetic stirrer. .Minimal 2 orang tenaga analis (Media).Micro-pipette .1 waterbath. . Ruang: .1 lemari es.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).idem dengan lab Propinsi Sarana: . Laboratorium rujukan Regional.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 incenerator / carbonizer . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .Generator listrik. .Vortex mixer.Minimal seorang tenaga administrasi.1 bio-containment centrifuge (500 .1 incubator. .1 inspisator.5000 g) . . . .Botol McCartney .Cabinet untuk pembuatan media . .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.1 freezer (.Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.Idem lab Propinsi Sarana keamanan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .1 timbangan gram (0–500 gr) .300 C) . . Teknis alat laboratorium: . managemen) d.1 biosafety cabinet class II .

freezer –20oC. shower . heating blockpem. 1 set pipet mikro. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik.Thermo-cycler .Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. Idem ruang lab regional ditambah dengan : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 .Optional: Fasilitas kultur sel. vortex. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. freezer –20oC. system elektroforesis horizontal. 2 orang analis untuk media dan reagensia.Nucleic Acid Sequencing system . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. microcentrifuge. refrigerator. eye wash. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis.Ruang dengan negative pressure .Automated Liquid culture system .Ruang Asam: fume hood. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.ELISA system .Dot blotter . 1 set pipet mikro. Laboratorium rujukan Nasional. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. UV transilluminator/imaging system . refrigerator. pipet mikro. system elektroforesis vertical.1 mikroskop fluorescence .Ruang gelap .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. Waterbath . vortex.TB: .

misalnya : .Protap pembuatan sediaan dahak . Membantu peningkatan pelayanan pasien. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. pasca-analisis. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Mendeteksi keslahan. pengambilan.Idem dengan lab regional ditambah dengan : .Protap pemeriksaan Mikroskopis .Protap pembuatan media 44 . pemeriksaan contoh uji. dan harus dilakukan terus menerus.Protap pengambilan dahak . Pemantapan Mutu Internal 2. Peningkatan mutu (Quality Improvement).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . analisis. pengiriman. terintegrasi dalam PMI dan PME. pengolahan contoh uji.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. penyimpanan. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4.Protap pengelolaan limbah . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. Pemantapan Mutu Eksternal 3.

laboratorium pembaca pertama. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya.Dsb. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. 45 . PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik.Protap inokulasi . Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Pada pelaksanaan uji silang. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. audit internal. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat.

dll. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. pemeliharaan. 46 . Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. mutu pewarnaan. sarana dan prasarana laboratorium. penyegaran. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. meliputi : Tenaga : Pelatihan. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Supervisi Laboratorium TB. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. pelatihan. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. pengembangan metoda pemeriksaan 5. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium.

Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. masyarakat umum. uji kepekaan. Penyediaan perangkat (protap. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. biakan. 4. 47 . serologi. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. dsb) 2. jadwal pemantauan dan evaluasi. peralatan. lingkungan sekitar laboratorium. PCR/biomolekuler. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. 1. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. dsb).

kategori 2. monitoring dan evaluasi. Kertas pembersih lensa mikroskop. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. 1. kertas saring. Reagensia Ziehl Neelsen. pendistribusian. Lysol. Minyak imersi. kaca sediaan. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. a. Lampu spiritus. b. Slide Box. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. pengadaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. dan sisipan. 48 . Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. dan tiap blister berisi 28 tablet. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. Rak pewarna dan pengering. Ose. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Logistik OAT. Eter Alkohol. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. penyimpanan. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain.

sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. MANAJEMEN OAT a. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. perencanaan ini diteruskan ke pusat. • buffer-stock. • sisa stock OAT yang ada. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya.

penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . Setelah OAT sampai di Propinsi. d. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Pengawasan Mutu. kemasan. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. Monitoring dan Evaluasi. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. f. jumlah. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. c. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Kabupaten/Kota dan UPK. artinya. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. b. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. e.

Pemberian 3. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Uji potensi 8. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Identitas obat 2. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. 3. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. boks dan master boks 5. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Kadar zat aktif 7. Waktu hancur atau disolusi 5. Kemurnian/ kadar cemaran 6. • Dan pihak lain yang terkait.

pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Slide Box. 52 . 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. Lampu speritus. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Ose. Bahan Uji tuberkulin. Rak pewarna dan pengering. Botol plastik bercorong pipet dll. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin.

3 perawat/petugas TB. 3 perawat/petugas TB. 2. Unit Pelayanan Kesehatan 1. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. supervisi. dan 1 tenaga laboratorium 53 . dan kesinambungan (sustainability). 1 perawat/petugas TB. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. pembinaan (pelatihan. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. kalakarya/on the job training). dan 1 tenaga laboratorium. pelatihan dan supervisi.

sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. 3. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Fakultas Keperawatan. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. dan lain-lainnya. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. dan lain-lainnya. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. b. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 5 fasilitator pelatihan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 3. Tingkat Provinsi 1. jumlah tergantung kebutuhan. menyesuaikan. Dokter Praktek Swasta. Pelatihan ulangan (retraining). 2. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. 2 perawat/petugas TB. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. seluruh materi diberikan. minimal telah dilatih. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. terdiri dari: 1. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 3. Pelatihan penuh. 2 perawat/petugas TB. 2. 2. jumlah tergantung kebutuhan. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. (Fakultas Kedokteran. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. Fakultas Kesehatan Masyarakat.

2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. pelatihan DOTS plus. surveilans.dampak 55 . • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. metode pembelajaran. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.1. fasilitator. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . dana. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. materi. c.. seperti: pelatihan manajemen OAT.kinerja (supervisi) . • persiapan administratif penyiapan bahan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. pelatihan advokasi. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator.pembelajaran • paska pelatihan . On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya.reaksi dan . yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. pelatihan TB-HIV. kepanitiaan. Pelatihan penyegaran. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. peserta. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. d.

Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan.2. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Tidak semua harus dipelajari.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 . bantuan teknis. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. 3. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. diskusi. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi.

Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. . Penjadwalan kegiatan supervisi.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.Melakukan pendekatan fasilitatif. angka kesembuhan rendah. . sebagai berikut: 1. 2. 58 . . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan. . terutama pada tingkat UPK : 1.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas.01 dan TB.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. Kegiatan penting selama supervisi. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. Pelaksanaan supervisi. . RS.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. misalnya angka konversi rendah. . . bila memungkinkan . 2. misalnya laporan. yaitu: . BP4. . Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. serta kebutuhannya. Pengumpulan informasi pendukung.03) . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. Kepribadian supervisor. 2. .Pada tahap awal pelaksanaan program. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. penuh perhatian.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. pemetaan wilayah.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. maka perlu dilakukan persiapan. 4. partisipatif dan tidak instruktif. empati. maka supervisi harus direncanakan dengan baik.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. .Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB.Menjadi pendengar yang baik.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . 3.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas .06. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.

c. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. inovatif. dan tidak menciptakan masalah baru. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. d. realistik. Tentukan penyebab yang paling mungkin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. melakukan on the job training. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. 3. 4. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. g. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). f. 5. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. tidak mampu melaksanakan. praktis. 59 . agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. mungkin karena tugasnya tidak jelas. realistis. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. 1. dapat dilaksanakan. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. 2. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. b. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. sebaiknya 3 lembar: . inisiatif. kreatifitas. Laporan supervisi. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. maka berarti ada masalah kinerja. e. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor. 60 .

Meningkatkan koordinasi . organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. sektor swasta. b. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . c. mutu. Lembaga Swadaya Masyarakat. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis.Meningkatkan komitmen . Keberlanjutan program 5. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Potensi melibatkan sector lain 4. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. mengingat : 1. organisasi profesi. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. baik dari pemerintah.Meningkatkan komunikasi . Keterbatasan sector pemerintah 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. kelompok media massa. 61 . Akuntabilitas. Beban masalah TB yang tinggi 2. legislative. organisasi keagamaan.Meningkatkan sumber daya.

Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. disepakati sejak awal. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Pembentukan Komitmen. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. Pemantauan dan penilaian. tugas dan fungsi masing.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. f.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. sarana dan prasarana. b. Penyamaan persepsi. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. e. Komunikasi intensif. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. dana. Identifikasi. b. Pengaturan peran. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. Melakukan kegiatan. g. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. c. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. 3.

Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. 63 . Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. 1. Dalam konteks global. Pada konteks dalam negeri. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Dalam konteks penanggulangan TB. komunikasi. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan.

Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .Sumber dana (APBN.Media Promosi .Angka kesembuhan .Tenaga Penyuluh .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.factor lain 64 .1.Buku Pedoman .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Memilih strategi yang tepat (advokator. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. metode dsb) Mengembangkan bahan. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. dan Mobilisasi sumber dana. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. konsultasi. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. 1. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. berfikir. b. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). pertemuan/rapat kerja. Dalam proses komunikasi. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 2. memberikan laporan. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. 65 . Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. pelaksana. menulis dan lain-lain. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan.

seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan.Radio. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . lancar tidaknya suatu proses. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat.Demonstrasi. Beberapa prinsip mobilisasi sosial .Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). seminar peningkatan pengetahuan . 66 . c.Televisi. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. latihan (meningkatkan kemampuan) . Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik.Rapat pertemuan-pertemuan. 3. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat.Surat kabar. d. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. percakapan.

karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi.Community material : Sarana masyarakat . .Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. motivasi. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. . . Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. masyarakat. 3. keluarga. .indikator dan umpan balik mobilisasi. harus merupakan elemen kemasyarakatan. dan ormas lainnya 67 .Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal.Memenuhi permintaan masyarakat. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. sasaran. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . ikut menjadi PMO. .Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . 4. KIE berbasis individu.Community fund : Dana yang ada di masyarakat .Memerlukan pengulangan secara periodik. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. . Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. . pesan. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. . Kader TB dan sebagainya. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. 5. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. 2.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. alih pengetahuan dan keterampilan.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat.

Lintas sektor. Penyuluhan kelompok. dapat digunakan tabel contoh berikut. Diskusi kelompok (DK). digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. . Ormas. . Komisi 9 DPR Akademisi. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. profesi (IDI. Langkah-langkah mobilisasi sosial .organisasi profesi.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Lintas program. Kunjungan rumah. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. dunia usaha. LSM. 68 . Konseling. Tabel 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. .1. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. LSM. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. . Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. PAPP) LSM. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. . dll Peminatan Kebijakan.

Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV. billboard dan spanduk.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 69 . radio spot. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. filler/spot.

• Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%.1. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. UPK lapas / rutan. strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. Setelah mencapai prakondisi tersebut. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. UPK polisi. 2. 70 . 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. BP4. antara lain : rumah sakit. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. UPK di tempat kerja. dan lain lain. dan seluruh petugas terkait. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. 1. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. 2. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. akses pelayanan kesehatan. pengendalian mutu pelayanan. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. 74 . Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. 1.

Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . in-depth interview dan lain-lain.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. dan community based approach. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. bidan di desa. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. Penelitian operasional tuberkulosis. 75 . Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis.Spesifik terhadap program tuberkulosis . bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). termasuk survei. modeling. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. 2. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. 4. 3. antara lain: 1.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. misalnya dengan melibatkan pustu. b. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. a. a. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). eksperimentasi. termasuk mutu kinerja laboratorium. focus group discussion. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. kuasi eksperimen. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . b.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah .

seperti: TB/HIV. 4. 76 . 7. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. dan UPK lainnya. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. TBKusta. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. c. Dokter Praktek Swasta. dan lain-lain.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. 5. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. 6.

Rumah Sakit. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. pendidikan. Puskesmas. Laboratorium dan unit lainnya. Dinas Kesehatan Propinsi. a. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. 77 . • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Dalam sistem desentralisasi. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. sosial budaya.

sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. 2. komitmen nasional maupun international. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. angka kesembuhan. antara lain kebijakan lokal. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). keberhasilan diagnosis. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). • Data Program Meliputi data tentang beban TB. dicari masalah dan penyebabnya. money. diseminasi informasi serta umpan balik. Untuk maksud tersebut. Untuk memudahkan. Dari kesenjangan yang ditemukan. Selain data tersebut. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. pohon masalah dan log frame. b. keberhasilan pengobatan). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. material. logistik (material). dan metodologi yang digunakan (method). perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. • Disamping untuk perencanaan. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. method. sampai dimana kemajuan program. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. pencapaian program (penemuan pasien. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). dana (money). agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. dan market). a.

Rasional (realistis) f. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. 4. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. Terukur (kuantitatif) e. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. 5. Memiliki target waktu. 1) Daya ungkitnya tinggi. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). Terkait dengan masalah d. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. 3. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS.

b. dan kemitraan. 3) Kesiapan : Tenaga. Masing-masing aspek tersebut. rumah sakit. Pada tahap awal. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. yaitu penurunan jumlah pasien. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). kepadatan penduduk. RSTP dan dokter praktek swasta). sampai pada pencatatan pelaporan. sarana. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. Setelah itu baru rumah sakit. perlu dinilai semua unsurnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. karena akan memberikan dampak epidemiologis. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. c. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). diagnosis pasien. namun perlu didukung dengan data penyakit. BP4. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. pengobatan dan case holding pasien. BP4. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS.

Penetapan target. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Perluasan unit pelaksana. Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d.

waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Pelaksana (siapa yang memantau). Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Dengan kata lain disebut program oriented. Cara pemantauan. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. 6. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. e. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. 82 . bukan budget oriented. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. d. b. c. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu.

Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. BP4. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. 1. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. diinterpretasi. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. bagian atas. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Propinsi. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). proses. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Rumah Sakit. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. maupun keluaran (output). Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. dianalisis. Kabupaten/Kota.

menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). RS. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. PPM. BP-4. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM.

1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. Tabel 12. 2. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut.

Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. indikator ini tidak dapat dihitung.15%. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. BP4 atau dokter praktek swasta.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. misalnya rumah sakit. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 . serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. 86 . • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.

5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Bila angka ini jauh lebih rendah. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. itu berarti mutu diagnosis rendah. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat.

01. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif.08. propinsi dan pusat. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. setelah pengobatan intensif (2 bulan). diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. Di tingkat kabupaten. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. propinsi dan pusat. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. dan pindah keluar. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.01. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. meninggal. X 100 % 88 . Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. setelah selesai pengobatan. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. default (drop-out atau lalai). Di tingkat kabupaten.12 bulan sebelumnya. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif.11. gagal. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

Atlanta. 2004. 2006 8. Tuberculosis: A Manual for Medical Students.329W. W85 13. WHO. WHO/TB/98. Depkes RI. External Assessment for AFB Smear Microscopy. 23. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. 3rd edition. WHO. Geneva. Geneva. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Clinical Tuberculosis. Atlanta. 2005. Treatment. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Paris. Geneva. IUATLD.313 20. 2006.300 12. 4th edition. What the Clinician Should Know. ISBN 97996622-2-2 10. Geneva. Treatment and Monitoring. 2002. Paris. Geneva. IUATLD. Laboratory Service in TB Control: part 2. WHO-SEARO. 1999 BAB 5. Laboratory Service in TB Control: part 1. Case Detection. SEA/TB/248 24. 1998. WHO/TB/96. 2nd edition. Washington.210 14. 1998. Treatment of Tuberculosis. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. Geneva. WHO/TB/98.258 92 . Depkes/UKK Respirologi IDAI. 1999 4. Depkes RI. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. New Delhi. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. Microscopy. Depkes RI. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). 1998 4. Adherence to Long Theraphy. 1997. WHO-SEARO. 2003 7. 2003. 22.24/Ind/P 5. and Control of Tuberculosis. 2004. 616. 17. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. ATS/CDC/IDSA. A Tuberculosis for Specialist Physicians. Kelompok Kerja TB-HIV. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. Geneva. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Geneva. 11. Atlanta. 2000. Jakarta. Jakarta. 1999 2. 2002 3. WHO/CDS/TB/2003. Depkes RI. Geneva. New Delhi. Effective Diagnosis. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. WHO-SEARO. Core Curricullum on Tuberculosis. WHO/HTM/TB/2004. Cetakan ke-10. Jakarta. 2002. Horne N. Paris. Jakarta. 16. 2006 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. IAUTLD. Geneva. Organization and Management. 2006. McMillan Education Ltd. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. WHO. Crofton J. 2003. WHO/IUATLD.995. PP IDAI-UKK Pulmonologi. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). 21. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. ATS/CDC/IDSA. 2004 6. 2003 2. Tuberculosis: Epidemiology and Control. Jakarta.334 15. A guide for Tuberculosis Treatment Support. 2000.258 5. WHO/HTM/TB/2004. WHO/CDS/TB/2002. Jakarta. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. CDC/US Department of Health and Human Service. WHO. Toman’s Tuberculosis. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. 2003 3. PDPI. The Hague. 19. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. London and Oxford. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. Miller F. WHO. 2002. 2004. New Delhi. WHO. WHO. WHO. Jakarta. 2003. 2000 18. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. WHO.

1998 8.1991 3. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Jakarta. WHO/HTM/TB/2005. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. WHO/CDS/TB/2002. WHO. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. unpublished). Manila. Geneva.353 16. Amara Books.347 13. Refika Aditama. Geneva. WHO-SEA. Geneva. Geneva. 2002. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control.350 11. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. New Delhi. (comprehensive draft. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. Depkes RI. WA 530. Training in Australia: Design. Geneva. Geneva. Revised and Updated 1998.347d 18. How to Organize Training for Distric Coordinator. Depkes RI Badan PPSDM. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Modul D : Provide Training for TB Control. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. MSH/WHO. 2003 6. WHO. Abbat FR. 2001 7. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Working together for Health. Cetakan ke-10. 2005. 2003 4. Geneva. 1999. Educational Hanbook for Health Personal.1 19. 12. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. 2005. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. No. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. November 2005 14. 1997 10. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan.308 BAB 7. The World Health Report 2006. Insan Cendekia. WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Abbat FR.725/Menkes/SK/V/2003). 2002 2.19 3. WHO/HTM/TB/2005. 2002. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. Evaluation and Management. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Mangkunegara Anwar Prabu.995. WHO. Sydney. WHO/HTM/TB/2005. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. WHO. JJ Gilbert. Geneva. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. WHO/CDS/STB/2002. 15. Jakarta.24/Ind/P 5. 616. 93 . Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Tovey MD. WHO/CDS/TB/2002. 2003 9. WHO. WHO-WEPRO. 2005. 2005. McMahon Rosemary. W 21. WHO.2002. WHO. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. WHO. Depkes RI. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Jogyakarta.347c 17. 2005. WHO. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Prentice Hall. Bandung. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Geneva. 1992 2. Geneva. Irianto Jusuf. McMillan. Teaching Health care worker: A practical guide. 2006. 2003. Surabaya. A Usmara (ed). WHO. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. 2006. Jakarta. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Delivery.301. 2005.

Paris. Global Partnership to STOP TB. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. Atlanta. Depkes RI. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. WHO-SEARO. Depkes RI Ditjen PPMdanPL.24/Ind/P 94 . CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. WHO. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. WHO/SEARO. Interventions. Jakarta. 2001 BAB 11. Geneva. WHO. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. WHO/CDS/TB/2003. SEA/TB/259 5. Advokasi. TB Advocacy: Practical Guide. Jakarta. 616. 2003. Public-Private Partnerships for TB Control. 2005. WHO. 2003. Research Methods for Promotion of Lung Health. 2006 3. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. 2006 5. Jakarta. WHO/HTM/STB/2003. Geneva. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Jakarta. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. New Delhi. Geneva. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Depkes RI. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. Kemitraan dengan Sector Swasta. Depkes RI Pusat PKM.24 BAB 9. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service.312 7. Depkes RI Pusdiklatkes. 2001 2. SEA/TB/213 3. 2004 2. 2006. Jakarta. Issues.995. 2003. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 1999 2. WHO. 2001 3. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Geneva. 2000 3. Making Health Communication Program Work. Atlanta. 2001 2. The Power of Partnership. WHO. IAUTLD. WHO/CDS/TB/2003. 1999. Gordom Graham.355 3. Depkes RI. 2003. Geneva. Tearfund. Understanding the TB Cohort Review Process. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Jakarta. 2002 6. WHO/HTM/TB/2005. Depkes RI. 2002 4. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. WHO. Penelitian Tuberkulosis 1.323 4. 2006.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. New Delhi. and Emerging Policy Framework. 2004 2. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Cetakan ke-10. Pedoman Advokasi. belum diterbitkan). Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. WHO-SEARO.

WHO. (draft. Geneva. Paris. Tuberculosis Handbook. 4th edition. Jakarta. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. WHO. WHO/SEARO. 2004. belum dipublikasi). New Delhi . 1998. 1998.24/Ind/P 2. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief.995.253 6. 2006. Cetakan ke-10. New Delhi . Combating Tuberculosis. Principles for Accelerating DOTS Coverage. 1999 95 . 2005 4. Stop TB Partnership. WHO/TB/98. WHO/HTM/TB/2004. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Geneva. National Level TB Management Cycles. Geneva.253 5.344 5. Perencanaan 1. Tuberculosis Handbook. WHO/TB/98.240 BAB 13. 1996 3. Depkes RI. WHO. Geneva. Geneva. 1998. WHO. 616. 1999 6. WHO/TB/98. WHO/SEARO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs.

Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). dimana semua praktisi. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. termasuk pasien TB dengan BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Terdiri 17 standar. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI.S. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Indonesian Association of Pulmonologists. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Centers for Disease Control & Prevention. pasien TB dengan BTA negatif. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA).). Philippine College of Chest Physicians. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). American College of Chest Physicians.S. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Stop TB Partnership. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. U. dan World Care Council. Infectious Diseases Society of America. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. American Thoracic Society. International Council of Nurses. TB ekstra paru. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. (dewasa. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . antara lain : Indian Medical Association. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis.

Rifampisin. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. foto toraks menunjukkan kelainan TB. Fase awal terdiri dari INH.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. pleura. (dewasa. Pada pasien demikian. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. bilasan lambung atau induksi sputum. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. 97 . Bila ada fasiliti. Pada pasien dengan atau diduga HIV. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru.

Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). paling baik dinilai secara klinis. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. 98 . Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Rifampisin. Rifampisin.

• Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Rifampisin dan Etambutol. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB. Reg. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. an atau lebih dengan BTA positif. 104 . sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Lab Hasil/ Tgl. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. Reg. as. Reg.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. yang merupakan nomor urut UPK. 106 .Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. misalnya 02. misalnya 15. . . misalnya 237.A= dahak sewaktu pertama. 02/15/237 B dan 02/15/237 C. sebagai berikut : .Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. .Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. yang merupakan nomor urut kab/ kota.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

Angka gagal : 89 . lihat uji silang D Dahak . 87 . 89 . 63.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.Fokus DOTS : 7 . 63.lihat hasil pengobatan . . 23 BP4 : 8. 65. 9. 64. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.efek samping ringan : 31 . AKMS : 1.dampak terhadap TB : 4.angka kesembuhan : 9 .angka konversi : 88 .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 70.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.analisa indikator : 85 .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 14 Darurat . .Diagnosis TB paru : 14 .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.Overdiagnosis : 14. 2. 71. 2.Diagnosis TB ekstra paru: 14 .lihat PMO DOTS : 7. .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 11. 5. 39.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 29.peningkatan cakupan : 80. 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 6 .efek samping berat : 32 .pandemi : 4 .pola pikir : 64 . CBA : 81 CDR : 9.Diagnosis utama : 14 . Buffer stock : 49 Cakupan .batasan : 63 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 .analisa situasi : 77 Angka . 9. 11. . 70 BTA : 5.strategi AKMS : 65 Analisa : 85.Angka default : 89 . 11.pertimbangan dokter : 15 DOT . B C 118 .Alur diagnosis TB paru : 15 . 22. 12. 13. 91 . 64. 10.

evaluasi dampak : 56 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .lihat hasil pengobatan .indikator program : 84.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.prinsip dasar kemitraan : 61 .klasifikasi penyakit : 16 119 I J . 48.kasus setelah gagal : 18 . . Indikasi .indikator jejeraing : 71 . 22 Klasifikasi : 16 .kasus pidahan : 18 . 5.evaluasi kinerja : 56.jejaring ekternal : 71 . . 85. 29.Gejala klinis pasien TB : 13 . 11.Kesalahan Gradasi (KG) .tujuan : 61 .Kesalahan kecil .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .Gejala utama : 13 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .definisi kasus : 16 .kasus kambuh : 18 .syarat indikator : 85 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.jejaring internal : 71 . 89.Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 18. 22. 57 . 30.langkah-langkah kemitraan : 62 .kasus baru : 18 .lihat visi KDT-OAT : 20.pembentukan jejaring : 71 . 17.keuntungan KDT : 20 . 16.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .kasus lain : 18 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .kasus TB : 18 . 6.dosis paduan KDT-OAT : 21. 7.kategori 1 : 20 . 21. 49 .kasus kronik: 18 .indikasi operasi : 31 .kategori 2 : 21 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.Kesalahan besar .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .kasus setelah putus berobat : 18 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .syarat jejaring yang baik : 72 . 86 .evaluasi pembelajaran : 56 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .

tujuan mengatasi masalah : 79 . 7 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. 80 .Pelatihan dalam tugas : 54 .ruang lingkup : 34 . 7.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 .peningkatan mutu : 44.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 41 . 54 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . . O OAT . 39.prinsip : 66. 37.Evaluasi pelatihan : 56 . 67 . 40 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 40 . lihat MDG Misi .standar kompetensi : 57 . 10.penggunaan pada pasien TB : 31 .Laboratorium rujukan provinsi : 35.pemecahan masalah : 79 . 51 .Laboratorium rujukan nasional : 35.Laboratorium rujukan uji silang : 35.Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .Pelatihan dasar : 54 120 P M .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 65 .Materi pelatihan : 56 . sifat dan dosis : 19 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.inkompetensi : 57 Kortikosteroid .negara dengan beban masalah TB : 4 . 49.Manajemen logistik OAT : 49 .karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .Konsep pelatihan : 54 .identifikasi masalah : 78 .pemantapan mutu eksternal : 45 . peran. 8.Koordinator pelatihan : 56 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4. .definisi : 63. 39. 66 .Jenis logistik : 48 .pemantapan mutu internal : 44 .Laboratorium rujukan regional : 35.bentuk-bentuk : 88 . 53 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.menetapkan masalah prioritas : 78 .fungsi.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) . 10.Jenis. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 6.klasifikasi berdasarkan organ : 17 .Mempertahankan mutu : 80 .definisi komunikasi : 63. 38.OAT sisipan 20. 9 .beban masalah TB (penyebab) : 4 .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1. 6.masalah MDR : 4.efek samping OAT (lihat efek samping) . 21 . 9.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.masalah prioritas : 7.masalah tuberkulosis di dunia : 4 . 42 .

10. 70 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 . 37.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 35. 9.tujuan dan target : 9 .Pelatihan penuh : 54 .Persyaratan : 25 .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 8 .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 36.Metodologi : 75 . 74 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .pencatatan di laboratorium : 85 . 79 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .Pelatihan ulangan : 54 .program TB di Indonesia : 8 .tahap : 44 .perencanaan berbasis bukti : 77 . 26 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.pengobatan pencegahan : 24 .Tujuan pengobatan: 19 .kebijakan program : 9 . . 11. 4.prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.lihat public-private mix .Ruang lingkup : 75 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19. 9. 10. 25. 37. 36. 35.memilih prioritas : 79 Program TB : 1.kegagalan program : 4 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) . 77.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 35.tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 9.tujuan : 44 PPM . 40 .Puskesmas Satelit : 11. 36.batasan : 70 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .tujuan PSDM : 53 .Batasan : 53 .perencanaan : 45 .Pelatihan lanjutan : 55 . 7. Q QA (quality assurance) : 35 121 .pencatatan di UPK : 84 .pengobatan lengkap : 29 . 36.pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8. 53 .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .tujuan perencanaan : 77 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 40.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Prinsip pengobatan : 19 .siklus perencanaan : 77 . 2.Pelatihan penyegaran : 55 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .strategi program: 10 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.Karakteristik penelitian TB : 74 . 35.Langkah-langkah . 40 . 37. 10. 37.

persiapan supervisi : 58 .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 . 10 . 53.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . 6 .risiko menjadi sakit TB : 5 .target program : 9 Tatalaksana : . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. 40.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut . 7.error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 82 . Rate (lihat juga angka) .laporan supervisi : 59 .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.perencanaan supervisi : 58 .case detection rate (lihat CDR) . U V Valid : 85. 122 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .Tipe pasien : 18.case notification rate (lihat CNR) .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.kegiatan supervisi : 57 . 10. 37.pemetaan : 81 WHO : 6.tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.tujuan program : 9 .dokter praktek swasta : 54 .tatalaksana TB anak : 22 .Pukesmas : 53 . 82 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 . 22.sasaran wilayah : 82 . VCT : 30 Visi .Penentuan tipe : 18 Tujuan .tingkat kabupaten/kota : 54 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 35.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .tujuan buku : 2 .pelaksanaan supervisi : 58 .pengembangan : 80 .gambaran radiologis : 14.prinsip dasar tatalaksana : 13 . 44.sasaran buku : 2 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .penetapan target : 82 .supervisi laboratorium TB : 46 .risiko penularan TB : 5 .TB .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. 52.