PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Indikator Program 9. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Jenis Logistik Program 2. Pencatatan dan Pelaporan 8. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Batasan 2. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Analisa Situasi 2. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Manajemen OAT 3. Langkah Langkah 3. Pelatihan 3. Menetapkan Tujuan 4. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Kerangka Pola Pikir 3. Standar Ketenagaan 2. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Pembentukan Jejaring 3. Metodologi 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Tujuan Penelitian 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv . Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.

Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. swasta maupun lembaga masyarakat. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. dan kelemahan akibat TB. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Siti Fadilah Supari. SpJP(K) v . sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). Selamat berjuang! Jakarta. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Berbagai kemajuan telah dicapai. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. dr. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. ketidakproduktifan. Mengingat besar dan luasnya masalah TB.

beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. MPH vi . Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. I Nyoman Kandun. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan.000 pertahun. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Jakarta. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. IDAI. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Tentu buku ini masih jauh dari sempurna.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. lembaga swadaya masyarakat. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. PAPDI.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

definisi kasus TB. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .Tuntutan masyarakat akan mutu.Supervisi. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.Kemitraan. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 .Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program.Advokasi.Manajemen Laboratorium TB . alur diagnosis anak (sistem skoring). indikator pemantauan dan evaluasi. pengurangan. .Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. . penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak.Tuberkulosis dan permasalahannya.Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. Penambahan bab-bab baru meliputi : . sementara situasi program penanggulangan TB. .Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : .Pelatihan. maka dilakukan penanambahan. . .Penelitian TB . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .

Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. Sebagai sebuah pedoman.Diagnosis TB. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. propinsi. - 2 . Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. klasifikasi penyakit dan tipe pasien. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .Tuberkulosis. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan.

akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. maka akan kehilangan 3 . Jika ia meninggal akibat TB. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Pada tahun 1995. Demikian juga. Gambar 2. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Insidens TB didunia (WHO. persalinan dan nifas. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. terjadi pada negara-negara berkembang.1. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan.

WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). . seperti pada negara negara yang sedang berkembang. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . Hal ini diakibatkan oleh: . Situasi TB didunia semakin memburuk. pencatatan dan pelaporan yang standar.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. Selain merugikan secara ekonomis. pada tahun 1993.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. obat tidak terjamin penyediaannya. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. . Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. tidak dilakukan pemantauan. dan sebagainya). Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. 4 .000 orang. • Dampak pandemi infeksi HIV.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.000 penduduk. Menyikapi hal tersebut.000 kasus baru dan kematian 101. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Di Indonesia. • Kegagalan program TB selama ini.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. Pada saat yang sama. setiap tahun ada 539. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Diperkirakan pada tahun 2004.

• Cara penularan .Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. maka jumlah pasien TB akan meningkat.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. ARTI sebesar 1%. 5 .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. . ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. . Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. diperkirakan diantara 100. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. . maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. • Risiko menjadi sakit TB . Sebagian besar kuman TB menyerang paru. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Pada waktu batuk atau bersin. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity).Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. • Risiko penularan . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. . . .Dengan ARTI 1%. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). . Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. makin menular pasien tersebut. seperti tuberkulosis. .Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.

setelah 5 tahun. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). clinical trials. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. Penerapan strategi DOTS secara baik. juga mencegah berkembangnya MDR-TB.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . akan: .25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.50% meninggal . Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM.2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. 6 . best practices.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Pada tahun 1995. 5. 4. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. 4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. 7 . 3. Komitmen politis 2. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. 2. 3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Mencapai. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. 6. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 5. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif.

Setelah perang kemerdekaan. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. • Sampai tahun 2005. Sejak tahun 1995. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. • Tahun 1995. Di Indonesia. sampai saat ini. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. • Indonesia. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. 1. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Sampai tahun 2000. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun.

Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). KEBIJAKAN a. h. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. k. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). e. pelaksanaan. sarana dan prasarana) b. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. i. 3. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). f. masyarakat dan pekerjaannya. memutuskan rantai penularan. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. j. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. l. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Rumah Sakit Paru (RSP). Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. sektor pemerintah. tenaga. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. meliputi Puskesmas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB.

Tingkat Pusat. Peningkatan SDM (pelatihan. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Unit Pelayanan Kesehatan. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. supervisi) e. Promosi g.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. c. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Tingkat Kabupaten / Kota. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota.I. d. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Perencanaan c. Penemuan dan pengobatan. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Rumah Sakit. Menteri Kesehatan R. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Pemantauan dan Evaluasi d. Kemitraan 6. b. STRATEGI a. b. 10 . Penelitian f. KEGIATAN a. e. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB.

Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. 11 • . yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Rumah Sakit Umum. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). • • 7. rumah sakit atau BP4. a. Pada keadaan geografis yang sulit. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Menghadapi tantangan TB-HIV. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya.

b. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Memperkuat penelitian operasional 12 . optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien.

badan lemas. pencatatan. dan lain-lain.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. pelaporan. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. 1. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. demam meriang lebih dari satu bulan. harus diperiksa dahaknya. nafsu makan menurun. asma. batuk darah. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. terutama mereka yang BTA positif. kanker paru. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. malaise. dianggap tidak cost efektif. petugas yang terkait. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. bronkitis kronis. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. berat badan menurun. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. seperti bronkiektasis. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. diagnosis. yang menunjukkan gejala sama. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. didukung dengan penyuluhan secara aktif. sesak nafas. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 .

14 . • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. yaitu sewaktu . segera setelah bangun tidur. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. serologi. sehingga sering terjadi overdiagnosis.pagi sewaktu (SPS). 2. Pada saat pulang. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. Pada program TB nasional. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. patologi anatomi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. misalnya uji mikrobiologi. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. Diagnosis TB ekstra paru. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. foto toraks dan lain-lain. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. saat menyerahkan dahak pagi.

Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- . alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel...- Hasil BTA . 15 .1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3. Pagi.Sewaktu. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .

(lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. pleuritis eksudativa.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. 3.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .mengurangi efek samping. . (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. yaitu: . . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. • • • 16 .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. .registrasi kasus secara benar . KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .

Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. alat kelamin. . peritonitis. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. . misalnya: meningitis. pleuritis eksudativa bilateral.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. persendian. kulit. yaitu bentuk berat dan ringan.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. dan lain-lain.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.TB ekstra-paru berat. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. selaput jantung (pericardium). pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. milier. misalnya pleura. pleuritis eksudativa unilateral. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. . tulang. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. . Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. selaput otak. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. 17 .1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. kelenjar lymfe. TB tulang belakang.TB ekstra paru ringan. maka untuk kepentingan pencatatan. dan kelenjar adrenal. • Tuberkulosis ekstra paru. . Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. yaitu: . usus. sendi. saluran kencing. ginjal. misalnya: TB kelenjar limfe. . Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . perikarditis. . TB usus. dan atau keadaan umum pasien buruk. tulang (kecuali tulang belakang). TB saluran kemih dan alat kelamin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru.

bakteriologik (biakan). Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. dan pertimbangan medis spesialistik. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Meskipun sangat jarang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). dapat juga mengalami kambuh. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. default maupun menjadi kasus kronik. radiologik. • • • 18 . gagal. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. harus dibuktikan secara patologik.

. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Jenis. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Tahap Lanjutan . Jenis.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.1.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. mencegah kekambuhan. mencegah kematian. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. yaitu tahap intensif dan lanjutan.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Tahap awal (intensif) . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip .prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat.

Disamping kedua kategori ini. yaitu Isoniasid.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. . 2.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Rifampisin. 1. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Paket Kombipak. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Pirazinamid dan Etambutol.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.

OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3.3. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. 21 . + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.2. (1ml = 250mg) 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj.

pungsi pleura. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. 5. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. 22 . pungsi lumbal. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.5. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . seperti bilasan lambung. dan lain lainnya. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. dan pemeriksaan penunjang. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Lihat tabel 3. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). pemeriksaan fisik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. CT-Scan. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. foto tulang dan sendi.4. Setelah dokter melakukan anamnesis. patologi anatomi. funduskopi.

• Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. dan lain – lain.--> lampirkan tabel badan badan. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. 23 . Sinusitis. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). kelenjar limfe koli. BTA negatif atau tidak tahu.5. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. lutut. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. jumlah >1. aksila. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.

OAT tetap dihentikan.6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. koksitis Gambar 3. Tabel 3. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. efusi pleura 3. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. OAT pada anak diberikan setiap hari. Setelah pemberian obat 6 bulan . Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. misalnya sesak napas 2. Tanda bahaya: kejang.2. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Gibbus. kavitas. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang.

• Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. a. Obat harus diberikan secara utuh. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. 6. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. c. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Juru Immunisasi. misalnya Bidan di Desa. Anak dengan BB > 33 kg . perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. dirujuk ke rumah sakit. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. Pekarya. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. dan lain lain. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. guru. anggota PPTI. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. dipercaya dan disetujui. Sanitarian. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.7. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. 25 . Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Perawat. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. PKK. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan.

Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. 26 . Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. d.

Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan.8. tahap lanjutan tetap diberikan. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Beri Sisipan 1 bulan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Jika mungkin.

pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik.9.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. 28 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . dahak. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.

Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. a. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Menurut WHO. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. 29 . Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. • • • • • 8. kecuali streptomisin. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. b.

Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. suntikan KB. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. d. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. susuk KB). ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Pasien dengan kelainan hati. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. 30 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. d. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. harus dihentikan. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik.

h.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. tapi perlu penjelasan kepada pasien. setelah selesai pengobatan TB. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. 31 . g. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. Tabel 3. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. 9. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. karena dapat memperberat kelainan tersebut. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. kemudian diturunkan secara bertahap. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. mual. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.

namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. segera lakukan tes fungsi hati. ganti obat tersebut dengan obat lain. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). ganti Etambutol. Streptomisin dihentikan. Hentikan Rifampisin. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Hentikan semua OAT.11. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. hentikan semua OAT. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Berikan dulu anti-histamin. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. ganti Etambutol. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Untuk membedakannya. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Bila keadaan seperti ini. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Streptomisin dihentikan. Bila mungkin. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Hentikan Etambutol.

Namun. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. 33 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.

Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Namun. 34 . dan Nasional. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Untuk mendukung kinerja program. mudah. murah. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. mulai dari tingkat Kecamatan. Propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Sumber daya laboratorium. bersifat spesifik. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. Kegiatan – kegiatan laboratorium. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. harus mengikuti acuan/standar. Keamanan dan kebersihan laboratorium. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Kab/Kota.

UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA).tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. BP4. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. 35 . RSP dll. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. peran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. identifikasi. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. c. Laboratorium rujukan Regional. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). laboratorium di salah satu Rumah Sakit. identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. dll. b. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. uji kepekaan M. Rumah Sakit. e. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. Laboratorium rujukan Nasional. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. tb dari spesimen dahak.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Australia. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM.1. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.

Laboratorium mikroskopis TB.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. FUNGSI dan PERAN. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring.Peran: . PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . sampai diperoleh hasil. . . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. b. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. .Fungsi: . .Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. Laboratorium mikroskopis TB UPK. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. Catatan : Bilamana perlu.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. dan keamanan dan keselamatan kerja. . . . . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak.

. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. - c.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. . Isolasi. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). termasuk EQAS sesuai jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. isolasi. 2. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. 1. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. 3.Menyelenggarakan pembinaan Lab.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. Tanggung jawab: . identifikasi dan tes kepekaan M. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. . . Laboratorium rujukan Provinsi.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. TB dari dahak. . Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. 38 . Fungsi .Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB.

Laboratorium rujukan Regional. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. Tugas: .tb dan MOTT bagi yang memerlukan.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. tuberculosis. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. identifikasi dan DST M. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. Laboratorium rujukan Nasional. identifikasi dan uji kepekaan (DST). . Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. identifikasi dan DST M. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. . Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi.tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. identifikasi dan DST M. . Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Laboratorium rujukan untuk isolasi. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. - e.Melaksanakan pemeriksaan isolasi.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. rujukan provinsi. 39 . Tanggung jawab: . Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.

rujukan pemeriksaan dahak.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. kotak sediaan.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.Formulir standard (TB. . lidi lancip.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. . minimal SMAK/setara . .Desinfektans.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. sticker.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . kertas saring. minyak emersi. ose/lidi.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Idem dengan PS.Botol berisi pasir dan desinfektan . . . rak pengering.Sarana: . penjepit sediaan dari kayu.Sarana keamanan . lampu spiritus. timer. pipet. TB 04 . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. aether alkohol. kerja Lab .Idem PS .Sarana: . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .Sarana keamanan .Idem PS kerja Lab b. timer . ditambah dengan : .05).pewarna ZN bermutu. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . kertas lensa.Wadah pembuangan berisi desinfektans. Laboratorium mikroskopis TB UPK.1 buah mikroskop binokule . kaca sediaan/frosted sediaan. . minimal SMAK/setara .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Air mengalir.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem. corong.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Ruang: .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . Mikroskopik dahak BTA) .Ruang: .

setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.Tb: Idem dengan lab. uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. . . Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Ruang pelatihan.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c.Ruang pembuatan media dan reagensia.Ruang administrasi . .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. Laboratorium rujukan Provinsi. Seorang pembantu analis.

Micro-pipette . . Teknis alat laboratorium: .5000 g) .Generator listrik. .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi). managemen) d. GLP.1 bio-containment centrifuge (500 . Administrasi: . Ruang: .Minimal 2 orang tenaga analis (Media).1 incenerator / carbonizer . .Vortex mixer. .1 inspisator. .1 waterbath.1 freezer (.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . .300 C) . .idem dengan lab Propinsi Sarana: . .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro). . .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Botol McCartney .Minimal seorang tenaga administrasi.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.Alat gelas laboratorium. Laboratorium rujukan Regional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .1 biosafety cabinet class II .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.Cabinet untuk pembuatan media .1 lemari es.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.Magnetic stirrer. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .Blender/homogenizer (autoclavable) . .1 timbangan gram (0–500 gr) .1 incubator.

Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).ELISA system .Ruang Asam: fume hood. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik.Nucleic Acid Sequencing system . dan 1 orang ahli Patologi Anatomi.Optional: Fasilitas kultur sel. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . UV transilluminator/imaging system . freezer –20oC. heating blockpem.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. microcentrifuge. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . pipet mikro. refrigerator.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. vortex.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. system elektroforesis vertical. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis.Ruang dengan negative pressure . vortex. system elektroforesis horizontal. eye wash. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler.Dot blotter . freezer –20oC. Laboratorium rujukan Nasional. shower . Waterbath . refrigerator. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. 1 set pipet mikro. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.Automated Liquid culture system . 1 set pipet mikro. 2 orang analis untuk media dan reagensia.1 mikroskop fluorescence . microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.Thermo-cycler .TB: .Ruang gelap .

Pemantapan Mutu Internal 2. Mendeteksi keslahan. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4.Protap pemeriksaan Mikroskopis . pasca-analisis. terintegrasi dalam PMI dan PME. pemeriksaan contoh uji. dan harus dilakukan terus menerus. Peningkatan mutu (Quality Improvement). mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . penyimpanan.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . pengambilan. pengiriman. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. pengolahan contoh uji.Protap pembuatan media 44 . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. misalnya : . Membantu peningkatan pelayanan pasien.Protap pengambilan dahak . Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. analisis. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar.Protap pembuatan sediaan dahak .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. Pemantapan Mutu Eksternal 3.Protap pengelolaan limbah .Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.

Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. laboratorium pembaca pertama. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak.Protap inokulasi . dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Pada pelaksanaan uji silang. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. 45 . hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . audit internal. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja.Dsb.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. penyegaran. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. sarana dan prasarana laboratorium. pemeliharaan. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. meliputi : Tenaga : Pelatihan. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. 46 . kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. dll. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. Supervisi Laboratorium TB. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. pelatihan. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. mutu pewarnaan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. pengembangan metoda pemeriksaan 5.

Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. serologi. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. lingkungan sekitar laboratorium. biakan. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. dsb) 2. Penyediaan perangkat (protap. 47 . dsb). Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. PCR/biomolekuler. uji kepekaan. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. jadwal pemantauan dan evaluasi. 4. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. masyarakat umum. peralatan.

48 . b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. Kertas pembersih lensa mikroskop. Reagensia Ziehl Neelsen. Ose. Lysol. kaca sediaan. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. Slide Box. pengadaan. Minyak imersi. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. kertas saring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. Logistik OAT. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. penyimpanan. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. monitoring dan evaluasi. a. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. dan tiap blister berisi 28 tablet. kategori 2. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. Eter Alkohol. Rak pewarna dan pengering. Lampu spiritus. pendistribusian. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. dan sisipan. 1.

Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. • buffer-stock. • sisa stock OAT yang ada. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. MANAJEMEN OAT a.

Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). b. d. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. jumlah. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. f. Pengawasan Mutu. Setelah OAT sampai di Propinsi. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. e. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. artinya. kemasan. Monitoring dan Evaluasi. c. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. Kabupaten/Kota dan UPK. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi.

boks dan master boks 5. Kadar zat aktif 7. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Identitas obat 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Dan pihak lain yang terkait. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Waktu hancur atau disolusi 5. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. 3. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Pemberian 3. Kemurnian/ kadar cemaran 6. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Uji potensi 8.

400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Rak pewarna dan pengering.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Lampu speritus. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Bahan Uji tuberkulin. Ose. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. 52 . terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Slide Box. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Botol plastik bercorong pipet dll.

pembinaan (pelatihan. Unit Pelayanan Kesehatan 1. 1. dan 1 tenaga laboratorium 53 . 3 perawat/petugas TB. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. 1 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. pelatihan dan supervisi. supervisi. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. kalakarya/on the job training). Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. dan kesinambungan (sustainability). Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dan 1 tenaga laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 3 perawat/petugas TB. 2. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana.

3. 3. Dokter Praktek Swasta. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. b. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. (Fakultas Kedokteran. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 2. minimal telah dilatih. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 2 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. seluruh materi diberikan. 2 perawat/petugas TB. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. 3. dan lain-lainnya. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. jumlah tergantung kebutuhan. terdiri dari: 1. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. menyesuaikan. Pelatihan ulangan (retraining). 2. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. Tingkat Provinsi 1. dan lain-lainnya. 5 fasilitator pelatihan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Pelatihan penuh. 2. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Fakultas Keperawatan. jumlah tergantung kebutuhan.

dana. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. metode pembelajaran. surveilans.. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. seperti: pelatihan manajemen OAT.reaksi dan . Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan.kinerja (supervisi) . Pelatihan penyegaran. • persiapan administratif penyiapan bahan. pelatihan DOTS plus. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. pelatihan advokasi. pelatihan TB-HIV. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. c. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. Materi berbeda dengan pelatihan dasar.pembelajaran • paska pelatihan .1. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.dampak 55 . d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. peserta. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. materi. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. kepanitiaan. fasilitator.

Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 .2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Tidak semua harus dipelajari. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program.

bantuan teknis. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 . Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. diskusi. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. 3.

Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. .Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . penuh perhatian. pemetaan wilayah. .Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. 2. .Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. . partisipatif dan tidak instruktif. Kepribadian supervisor. . Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. misalnya laporan. BP4. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. serta kebutuhannya. Kegiatan penting selama supervisi. Penjadwalan kegiatan supervisi.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. yaitu: . Pengumpulan informasi pendukung. angka kesembuhan rendah. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. sebagai berikut: 1. .03) .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. Pelaksanaan supervisi.01 dan TB.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. 4. misalnya angka konversi rendah. . maka supervisi harus direncanakan dengan baik.Melakukan pendekatan fasilitatif. RS. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.Menjadi pendengar yang baik. .Pada tahap awal pelaksanaan program. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. bila memungkinkan . . . 2. maka perlu dilakukan persiapan. .Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. terutama pada tingkat UPK : 1. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. empati. 58 . 3. 2.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi.Pelatihan baru selesai dilaksanakan.06.

Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. mungkin karena tugasnya tidak jelas. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. 59 . 3. d. 1. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. 2. f. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. tidak mampu melaksanakan. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. c. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. realistik. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. e. inovatif. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Laporan supervisi. realistis. inisiatif. praktis. dapat dilaksanakan. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. Tentukan penyebab yang paling mungkin. sebaiknya 3 lembar: . Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. Memberikan umpan balik saran yang jelas. melakukan on the job training. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. 5. dan tidak menciptakan masalah baru. kreatifitas. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. b.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. maka berarti ada masalah kinerja. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. 4. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). g.

60 . Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya.

transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . mengingat : 1. Beban masalah TB yang tinggi 2.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. kelompok media massa. Potensi melibatkan sector lain 4. Lembaga Swadaya Masyarakat. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. c. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1.Meningkatkan koordinasi . Keterbatasan sector pemerintah 3. b. organisasi keagamaan. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. baik dari pemerintah. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. mutu. sektor swasta.Meningkatkan komunikasi . legislative. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis .Meningkatkan sumber daya. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Akuntabilitas. 61 . Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis.Meningkatkan komitmen . organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. organisasi profesi. Keberlanjutan program 5. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat.

Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. Pembentukan Komitmen. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . b. tugas dan fungsi masing. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. 3. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. c. g. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Komunikasi intensif. b. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. disepakati sejak awal.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. f. Melakukan kegiatan. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. Pengaturan peran. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. e. Identifikasi. Pemantauan dan penilaian.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. sarana dan prasarana. dana. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. Penyamaan persepsi. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra.

Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. 1. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Dalam konteks penanggulangan TB. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Pada konteks dalam negeri. komunikasi. 63 . Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. Dalam konteks global. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan.

Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Media Promosi . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Sumber dana (APBN.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .1.Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Tenaga Penyuluh .factor lain 64 .Buku Pedoman .Angka kesembuhan .

Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. memberikan laporan. metode dsb) Mengembangkan bahan. Memilih strategi yang tepat (advokator. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. 2. pelaksana. pertemuan/rapat kerja. menulis dan lain-lain. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. bah-kan dalam bentuk kelembagaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. berfikir. konsultasi. b. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. 1. dan Mobilisasi sumber dana. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Dalam proses komunikasi. 65 .bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok.

secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). c. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. 3.Demonstrasi.Rapat pertemuan-pertemuan.Televisi.Radio. latihan (meningkatkan kemampuan) . majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . lancar tidaknya suatu proses. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . percakapan. seminar peningkatan pengetahuan . d. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik.Surat kabar. 66 . sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.

. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. 5.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. .Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. 3. 4. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. Kader TB dan sebagainya. ikut menjadi PMO. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . KIE berbasis individu. . dan ormas lainnya 67 .Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.indikator dan umpan balik mobilisasi. .Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . keluarga. pesan.Memerlukan pengulangan secara periodik.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. .Community material : Sarana masyarakat .Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. . . alih pengetahuan dan keterampilan. motivasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . 2. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. . Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. sasaran. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. harus merupakan elemen kemasyarakatan. masyarakat.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal.Memenuhi permintaan masyarakat. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi.

68 . Langkah-langkah mobilisasi sosial . Lintas program. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. dll Peminatan Kebijakan. Kunjungan rumah. . .mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. dunia usaha. . Diskusi kelompok (DK).1. Tabel 9. LSM. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. .mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Ormas. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). Penyuluhan kelompok. . digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. profesi (IDI. Konseling. LSM. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Komisi 9 DPR Akademisi. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. dapat digunakan tabel contoh berikut. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. PAPP) LSM. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Lintas sektor. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok.organisasi profesi. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah.

billboard dan spanduk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV. filler/spot. 69 . radio spot.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama).

sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK. UPK polisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS. BP4. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. Setelah mencapai prakondisi tersebut. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. 70 . • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. UPK lapas / rutan.1. 1. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. dan lain lain. antara lain : rumah sakit. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. dan seluruh petugas terkait. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. UPK di tempat kerja. strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. 2. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. 74 . akses pelayanan kesehatan. pengendalian mutu pelayanan. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. 1. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis).

a. antara lain: 1. Penelitian operasional tuberkulosis. termasuk survei. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. focus group discussion. 4. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. 3. b. 2. termasuk mutu kinerja laboratorium. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. eksperimentasi.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. a. in-depth interview dan lain-lain. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. dan community based approach. misalnya dengan melibatkan pustu. kuasi eksperimen. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal .Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . b. modeling. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas.Spesifik terhadap program tuberkulosis . 75 . bidan di desa. dan 5) penyebarluasan hasil (publication).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. TBKusta. dan UPK lainnya. dan lain-lain. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. 76 . seperti: TB/HIV. 5. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. 4. c. 6. 7. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. Dokter Praktek Swasta.

dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. a. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Puskesmas. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. Dalam sistem desentralisasi. sosial budaya. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. 77 . kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. pendidikan. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Rumah Sakit. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. Laboratorium dan unit lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. Dinas Kesehatan Propinsi. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi.

b. dana (money). Selain data tersebut. antara lain kebijakan lokal. Untuk memudahkan. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. 2. komitmen nasional maupun international. • Disamping untuk perencanaan. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. logistik (material). sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). pencapaian program (penemuan pasien. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. angka kesembuhan. a. Untuk maksud tersebut. material. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. keberhasilan pengobatan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). • Data Program Meliputi data tentang beban TB. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. dan metodologi yang digunakan (method). Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. dan market). pohon masalah dan log frame. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. method. dicari masalah dan penyebabnya. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Dari kesenjangan yang ditemukan. money. diseminasi informasi serta umpan balik. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. sampai dimana kemajuan program. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). keberhasilan diagnosis. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 .

baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. 3. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Rasional (realistis) f. 5. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Memiliki target waktu. Terkait dengan masalah d. . Terukur (kuantitatif) e. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. 4. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Dalam menetapkan pemecahan masalah. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. 1) Daya ungkitnya tinggi. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS.

Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. BP4. RSTP dan dokter praktek swasta). dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). diagnosis pasien. BP4. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. karena akan memberikan dampak epidemiologis. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Pada tahap awal. kepadatan penduduk. perlu dinilai semua unsurnya. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. sarana. dan kemitraan. c. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. yaitu penurunan jumlah pasien. namun perlu didukung dengan data penyakit. pengobatan dan case holding pasien. sampai pada pencatatan pelaporan. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. 3) Kesiapan : Tenaga. Setelah itu baru rumah sakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. rumah sakit. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. Masing-masing aspek tersebut. b.

Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Perluasan unit pelaksana. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Penetapan target. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar.

waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). c. e. b. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. bukan budget oriented. Dengan kata lain disebut program oriented. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. Pelaksana (siapa yang memantau). sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. 6. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. d. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. 82 . Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Cara pemantauan. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu.

Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. 1. Rumah Sakit. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. dianalisis. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . BP4. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Kabupaten/Kota. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. Propinsi. proses. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. bagian atas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. maupun keluaran (output). untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. diinterpretasi. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak.

o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. 3. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. PPM. RS. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. BP-4. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan.

Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. Tabel 12.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 .1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. 2. 3.

000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 . Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. indikator ini tidak dapat dihitung. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. 86 . atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).15%. BP4 atau dokter praktek swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. misalnya rumah sakit.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.

Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. kemungkinan terjadi overdiagnosis. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini jauh lebih rendah. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). itu berarti mutu diagnosis rendah. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2.

11. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. setelah pengobatan intensif (2 bulan). sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. propinsi dan pusat. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. propinsi dan pusat. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %.01.01. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Di tingkat kabupaten. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. setelah selesai pengobatan. X 100 % 88 .08. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. default (drop-out atau lalai). Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. gagal. meninggal. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. dan pindah keluar. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2.12 bulan sebelumnya. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Di tingkat kabupaten.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

2003 2. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Geneva. WHO/TB/98. Depkes RI. Core Curricullum on Tuberculosis. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. Laboratory Service in TB Control: part 1. SEA/TB/248 24. Jakarta. 2003 3. 2002. 1999 BAB 5. WHO-SEARO. Adherence to Long Theraphy.329W. Paris.334 15. Geneva. Depkes RI. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. Treatment and Monitoring. WHO. WHO/IUATLD. 3rd edition. and Control of Tuberculosis. 17. 2006 9. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. ATS/CDC/IDSA. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network.24/Ind/P 5. W85 13. IUATLD. Geneva. New Delhi. McMillan Education Ltd. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. What the Clinician Should Know. WHO/CDS/TB/2003. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. 2004 6. WHO-SEARO. Toman’s Tuberculosis. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1998. CDC/US Department of Health and Human Service. Microscopy. Jakarta. WHO. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. Depkes RI. 1997. 2005. Atlanta. 2000. 1999 4. WHO/TB/96. Atlanta. Geneva. 2006 8. Geneva. WHO. 2006. 2006. Jakarta. Treatment of Tuberculosis. 16. 2002. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). 2000 18.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. New Delhi. A guide for Tuberculosis Treatment Support. PP IDAI-UKK Pulmonologi. 2nd edition. Atlanta.210 14. 11. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.258 5. Kelompok Kerja TB-HIV. WHO/HTM/TB/2004. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. WHO/CDS/TB/2002. Miller F. Clinical Tuberculosis. Depkes/UKK Respirologi IDAI. Laboratory Service in TB Control: part 2. Paris. 2003 7. WHO. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. 21.313 20. The Hague. Geneva. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Jakarta. 19. 23. ATS/CDC/IDSA. WHO/TB/98. 2004. WHO/HTM/TB/2004. 1999 2. Jakarta. 2000. 2004. 2002. Crofton J. Paris. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. Organization and Management. IUATLD. 1998 4. External Assessment for AFB Smear Microscopy. Geneva. 2002 3.995. Geneva. ISBN 97996622-2-2 10. Geneva. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Jakarta. 2003. A Tuberculosis for Specialist Physicians. WHO. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. 1998. IAUTLD. WHO. Treatment. Jakarta. Effective Diagnosis. Depkes RI.300 12. New Delhi. 22. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. 616. Washington. 2004. Horne N. 2003. PDPI. WHO. Geneva. London and Oxford. WHO. WHO. Case Detection.258 92 . 4th edition. Cetakan ke-10. Tuberculosis: Epidemiology and Control. WHO-SEARO. 2003.

WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1.347c 17. Refika Aditama.301. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Mangkunegara Anwar Prabu. WHO. 93 . Geneva. Depkes RI. 1992 2. JJ Gilbert. unpublished). WHO/CDS/STB/2002. Manila. Amara Books.353 16. Insan Cendekia. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. WA 530. WHO. 2003 9. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Jakarta. Geneva. Teaching Health care worker: A practical guide. New Delhi. Prentice Hall. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. 2002. Geneva. Cetakan ke-10. Surabaya. WHO. 1997 10.350 11. Geneva.347d 18. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. 2005. WHO. 2005. 2003. Geneva. 2003 6. (comprehensive draft. Geneva. WHO-WEPRO. A Usmara (ed).308 BAB 7. Geneva.1 19. 2005. Training in Australia: Design. WHO. WHO. 12. WHO/CDS/TB/2002. 2006. Educational Hanbook for Health Personal. W 21. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. MSH/WHO. WHO. Abbat FR.995. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. McMahon Rosemary. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Irianto Jusuf.19 3. Depkes RI Badan PPSDM. WHO/HTM/TB/2005. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI.725/Menkes/SK/V/2003). Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Geneva. 2006. Abbat FR. WHO/HTM/TB/2005. Jakarta. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. 2005. November 2005 14. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. Geneva. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. 15. 1999. Geneva. Delivery. Depkes RI. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Working together for Health. Evaluation and Management. Tovey MD. The World Health Report 2006. WHO/CDS/TB/2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. WHO. 616.347 13. WHO-SEA.2002.24/Ind/P 5. Geneva. 1998 8. McMillan. 2002 2. WHO/HTM/TB/2005. Modul D : Provide Training for TB Control. Sydney. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Bandung. 2005. WHO. WHO. 2005. 2001 7.1991 3. How to Organize Training for Distric Coordinator. 2003 4. Jakarta. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). WHO. 2002.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. No. Jogyakarta. Geneva. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO/HTM/TB/2005. Revised and Updated 1998.

Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Issues. 2005. Interventions. 2002 4. Making Health Communication Program Work. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. WHO. Understanding the TB Cohort Review Process. WHO/CDS/TB/2003. SEA/TB/259 5. WHO-SEARO. SEA/TB/213 3. 2001 3. 2001 2. The Power of Partnership. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke-10.24/Ind/P 94 . CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. 2001 2. Kemitraan dengan Sector Swasta. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Penelitian Tuberkulosis 1. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. 2006.323 4. TB Advocacy: Practical Guide. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Jakarta. 2000 3. Geneva. Depkes RI Pusdiklatkes. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. Depkes RI. Geneva. 2004 2. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. IAUTLD. New Delhi. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Depkes RI Pusat PKM. Geneva. Geneva. 2006. 2006 3. 2002 6. WHO. Research Methods for Promotion of Lung Health. Depkes RI. 1999.312 7. Atlanta. Jakarta. 1999 2. Pedoman Advokasi. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Guidelines for Workplace TB Control Activities. WHO-SEARO. Depkes RI. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. WHO. 2004 2. Global Partnership to STOP TB. Paris. WHO. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Public-Private Partnerships for TB Control. WHO. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 2003. and Emerging Policy Framework. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. New Delhi. Geneva. WHO. belum diterbitkan). Advokasi.995. WHO/HTM/STB/2003. Jakarta. Jakarta. WHO/CDS/TB/2003.24 BAB 9. 2006 5. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. WHO/HTM/TB/2005. Atlanta. WHO/SEARO.355 3. Gordom Graham. Tearfund. 2003. Jakarta. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2001 BAB 11. 2003. 2003. 616. Depkes RI. Jakarta.

Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. Combating Tuberculosis. Geneva.253 6. WHO/TB/98. Tuberculosis Handbook. 1998. 4th edition. WHO/SEARO. National Level TB Management Cycles. Jakarta. belum dipublikasi). 1996 3. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2005 4. Geneva. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. 1998. New Delhi . Geneva. Stop TB Partnership. 2006. 1998. Geneva. Geneva. Depkes RI. WHO/HTM/TB/2004. Tuberculosis Handbook. WHO/SEARO. 2004. WHO. WHO. WHO. 1999 6.240 BAB 13.344 5. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. 1999 95 . (draft. WHO/TB/98. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. Cetakan ke-10. 616. WHO/TB/98. Perencanaan 1.995. Paris. New Delhi . WHO. Principles for Accelerating DOTS Coverage.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.253 5.24/Ind/P 2.

remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . Centers for Disease Control & Prevention.S. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Stop TB Partnership. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Philippine College of Chest Physicians. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). TB ekstra paru. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). American College of Chest Physicians. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Infectious Diseases Society of America. U.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. International Council of Nurses. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Terdiri 17 standar. dimana semua praktisi. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). dan World Care Council.S. American Thoracic Society. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). pasien TB dengan BTA negatif. Indonesian Association of Pulmonologists. antara lain : Indian Medical Association.). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Philippine Coalition Against Tuberculosis. termasuk pasien TB dengan BTA positif. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. (dewasa. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. pleura. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. bilasan lambung atau induksi sputum. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan.Rifampisin. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. Bila ada fasiliti. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Pada pasien dengan atau diduga HIV. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. foto toraks menunjukkan kelainan TB. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. Pada pasien demikian. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. 97 . Fase awal terdiri dari INH. (dewasa. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai.

maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. 98 . Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Rifampisin. paling baik dinilai secara klinis. Rifampisin. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV.

Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Rifampisin dan Etambutol. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Lab Hasil/ Tgl.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. Reg. as. an atau lebih dengan BTA positif.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. 104 . Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. Reg. Reg. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

misalnya 02. 106 . . 02/15/237 B dan 02/15/237 C. yang merupakan nomor urut kab/ kota. misalnya 237.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. sebagai berikut : . misalnya 15. yang merupakan nomor urut UPK. . B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka.A= dahak sewaktu pertama. . . yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

71.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.Fokus DOTS : 7 .Overdiagnosis : 14.pertimbangan dokter : 15 DOT .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 9. 10. 13.analisa situasi : 77 Angka . 11. 9.lihat hasil pengobatan . 12. 29. .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 87 .Alur diagnosis TB paru : 15 .Diagnosis TB paru : 14 . 70 BTA : 5. 23 BP4 : 8.Diagnosis pendukung : 14 Dokter . lihat uji silang D Dahak . 63. Buffer stock : 49 Cakupan .pandemi : 4 .angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 14 Darurat . 65 AIDS (lihat juga HIV) : . B C 118 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 11. 63.angka kesembuhan : 9 . . CBA : 81 CDR : 9.Angka gagal : 89 .Diagnosis utama : 14 .dampak terhadap TB : 4.lihat PMO DOTS : 7. 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31.Diagnosis TB ekstra paru: 14 .angka konversi : 88 . 5.efek samping berat : 32 . 89 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 6 .pola pikir : 64 . .Angka default : 89 . 64.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.strategi AKMS : 65 Analisa : 85. 70. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 91 .batasan : 63 . 65.peningkatan cakupan : 80. 39. 64. AKMS : 1. . 2.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 2.efek samping ringan : 31 .analisa indikator : 85 .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4. 22. 11.

.evaluasi kinerja : 56.Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) . 16.jejaring ekternal : 71 .syarat indikator : 85 . 17.Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .Gejala utama : 13 .kasus baru : 18 . 89. 49 .keuntungan KDT : 20 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .dosis paduan KDT-OAT : 21.indikator program : 84. 18.kategori 1 : 20 .lihat visi KDT-OAT : 20.kasus lain : 18 .kasus setelah gagal : 18 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.Gejala klinis pasien TB : 13 .Kesalahan besar . 7.Kesalahan Gradasi (KG) . 22.tujuan : 61 .Kesalahan kecil .definisi kasus : 16 . 21. 86 .indikasi operasi : 31 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .prinsip dasar kemitraan : 61 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .lihat hasil pengobatan .klasifikasi penyakit : 16 119 I J .evaluasi dampak : 56 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .kasus setelah putus berobat : 18 .Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 6. 85.kasus kambuh : 18 .jejaring internal : 71 . 5.syarat jejaring yang baik : 72 . 48.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .indikator jejeraing : 71 .kasus kronik: 18 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. 29.TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .evaluasi pembelajaran : 56 . 57 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 11.kasus TB : 18 . Indikasi .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.kategori 2 : 21 . 22 Klasifikasi : 16 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .pembentukan jejaring : 71 .langkah-langkah kemitraan : 62 .kasus pidahan : 18 . 30. .peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .

Laboratorium mikroskopis UPK : 37.tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . 40 .Evaluasi pelatihan : 56 .tujuan mengatasi masalah : 79 . 51 . lihat MDG Misi . 8.Pelatihan dalam tugas : 54 . 21 .beban masalah TB (penyebab) : 4 . 49.peningkatan mutu : 44. 39.ruang lingkup : 34 .pemantapan mutu internal : 44 . 53 .Jenis logistik : 48 .negara dengan beban masalah TB : 4 . O OAT .definisi komunikasi : 63. 54 .Mempertahankan mutu : 80 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .identifikasi masalah : 78 . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .Koordinator pelatihan : 56 . 80 .OAT sisipan 20.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.Laboratorium rujukan uji silang : 35. peran.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .bentuk-bentuk : 88 .Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .efek samping OAT (lihat efek samping) .masalah prioritas : 7.inkompetensi : 57 Kortikosteroid . sifat dan dosis : 19 .definisi : 63. 6.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 7.fungsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 10.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.masalah MDR : 4. 38.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .Laboratorium rujukan provinsi : 35. 7 .Laboratorium rujukan regional : 35.manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 6.pemantapan mutu eksternal : 45 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 67 .standar kompetensi : 57 . .Materi pelatihan : 56 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 66 . 9. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48. 41 . 39. 37.Manajemen logistik OAT : 49 .Jenis. .Laboratorium rujukan nasional : 35.penggunaan pada pasien TB : 31 .menetapkan masalah prioritas : 78 .prinsip : 66.Pelatihan dasar : 54 120 P M . 9 . 10. 40 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .pemecahan masalah : 79 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 .Konsep pelatihan : 54 . 65 . 42 .

lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.pengobatan lengkap : 29 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.Batasan : 53 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 37.pencatatan di laboratorium : 85 .Persyaratan : 25 . Q QA (quality assurance) : 35 121 . 35.tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .strategi program: 10 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .tahap : 44 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .Prinsip pengobatan : 19 . 10.visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 9. 35. 37.Langkah-langkah .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .program TB di Indonesia : 8 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Pelatihan lanjutan : 55 . 2.Pelatihan penuh : 54 . 74 . 35. 26 . 8 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) . 40 . 4.Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 36.lihat public-private mix . 36.tujuan perencanaan : 77 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 77. .Metodologi : 75 . 37. 25.Pelatihan penyegaran : 55 .kegagalan program : 4 .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .perencanaan berbasis bukti : 77 .kebijakan program : 9 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .siklus perencanaan : 77 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 . 9.Tujuan pengobatan: 19 .tujuan dan target : 9 .Ruang lingkup : 75 .pencatatan di UPK : 84 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .memilih prioritas : 79 Program TB : 1.pengobatan pencegahan : 24 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 40. 36. 36.tujuan PSDM : 53 .Pelatihan ulangan : 54 . 53 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.batasan : 70 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 7.tujuan : 44 PPM . 9. 10.Puskesmas Satelit : 11. 40 . 10. 37. 70 . 79 . 11. 35.Karakteristik penelitian TB : 74 .perencanaan : 45 .

VCT : 30 Visi . 40. 82 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .persiapan supervisi : 58 . 44.case detection rate (lihat CDR) .perencanaan supervisi : 58 .gambaran radiologis : 14.case notification rate (lihat CNR) . 82 . 35.risiko menjadi sakit TB : 5 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .risiko penularan TB : 5 .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .pelaksanaan supervisi : 58 .prinsip dasar tatalaksana : 13 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.dokter praktek swasta : 54 .sasaran buku : 2 . .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . 10 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.kegiatan supervisi : 57 . 52. 22.tingkat kabupaten/kota : 54 .Pukesmas : 53 .sasaran wilayah : 82 .pemetaan : 81 WHO : 6. 6 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.Penentuan tipe : 18 Tujuan . 10. 7.pengembangan : 80 . Rate (lihat juga angka) .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .penetapan target : 82 .tujuan program : 9 .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.Tipe pasien : 18.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. 37.laporan supervisi : 59 . U V Valid : 85. 53.target program : 9 Tatalaksana : . 122 .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.TB .tujuan buku : 2 .supervisi laboratorium TB : 46 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .tatalaksana TB anak : 22 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful