PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Pembentukan Jejaring 3. Jenis Logistik Program 2. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Standar Ketenagaan 2. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Langkah Langkah 3. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Pelatihan 3. Kerangka Pola Pikir 3. Indikator Program 9. Batasan 2. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Langkah Langkah Pelaksanaan 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Analisa Situasi 2. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menetapkan Tujuan 4. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Tujuan Penelitian 2. Pencatatan dan Pelaporan 8. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Manajemen OAT 3. Metodologi 4. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv . Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. dan kelemahan akibat TB. Berbagai kemajuan telah dicapai. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Siti Fadilah Supari. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Selamat berjuang! Jakarta. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. ketidakproduktifan. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. dr. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. SpJP(K) v . swasta maupun lembaga masyarakat. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG).

Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Jakarta. lembaga swadaya masyarakat. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. PAPDI. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995.000 pertahun. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. MPH vi . IDAI. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. I Nyoman Kandun.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi.Supervisi. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). Penambahan bab-bab baru meliputi : .Tuntutan masyarakat akan mutu. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .Pelatihan. . . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.Manajemen Laboratorium TB . indikator pemantauan dan evaluasi.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak.Kemitraan. definisi kasus TB. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. Untuk mengakomodasi keadaan tersebut.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . dibuat dalam buku pegangan tersendiri .Tuberkulosis dan permasalahannya. maka dilakukan penanambahan. pengurangan. alur diagnosis anak (sistem skoring).Penelitian TB .Advokasi.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. sementara situasi program penanggulangan TB.

Sebagai sebuah pedoman. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. . dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program .Tuberkulosis. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. klasifikasi penyakit dan tipe pasien. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. propinsi. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . - 2 . Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan.Diagnosis TB.

Jika ia meninggal akibat TB. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Gambar 2.1. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. maka akan kehilangan 3 . Insidens TB didunia (WHO. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Pada tahun 1995. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga. persalinan dan nifas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%.

Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. • Dampak pandemi infeksi HIV.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries).Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. tidak dilakukan pemantauan. Diperkirakan pada tahun 2004. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Hal ini diakibatkan oleh: . obat tidak terjamin penyediaannya.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. Di Indonesia. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. . gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . pada tahun 1993.000 orang. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. pencatatan dan pelaporan yang standar. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. • Kegagalan program TB selama ini. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. 4 .000 kasus baru dan kematian 101. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. setiap tahun ada 539. dan sebagainya). . WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Situasi TB didunia semakin memburuk. Menyikapi hal tersebut.000 penduduk. Selain merugikan secara ekonomis. Pada saat yang sama.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .

Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. • Cara penularan .Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. maka jumlah pasien TB akan meningkat. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.Dengan ARTI 1%. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). . tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. . berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI sebesar 1%.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. • Risiko penularan . Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. makin menular pasien tersebut. diperkirakan diantara 100. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. . ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). • Risiko menjadi sakit TB .Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah.Pada waktu batuk atau bersin. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. . . . seperti tuberkulosis. 5 .Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. . . diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. .

immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.50% meninggal . Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.2. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. clinical trials. Penerapan strategi DOTS secara baik. best practices. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. setelah 5 tahun. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. 6 . akan: .

Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Pada tahun 1995. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 3. Mencapai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. 4. termasuk pengawasan langsung pengobatan. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. 2. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Komitmen politis 2. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. 4. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. 5. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 5. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. 6. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 3. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. 7 . prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular.

Sampai tahun 2000. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Setelah perang kemerdekaan. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. Di Indonesia. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). 1. • Indonesia. • Tahun 1995. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. sampai saat ini. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Sejak tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . • Sampai tahun 2005. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu.

k. KEBIJAKAN a. e. masyarakat dan pekerjaannya. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. f. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. h. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). j. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. tenaga. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. sektor pemerintah. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). l. i. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). memutuskan rantai penularan. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. sarana dan prasarana) b. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Rumah Sakit Paru (RSP). Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. 3. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. pelaksanaan. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. meliputi Puskesmas.

Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. c. Promosi g. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Perencanaan c. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. b. Unit Pelayanan Kesehatan. Dilaksanakan oleh Puskesmas. STRATEGI a. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Pemantauan dan Evaluasi d. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Tingkat Pusat. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. supervisi) e. 10 . Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Rumah Sakit.I. Menteri Kesehatan R. KEGIATAN a. Penemuan dan pengobatan. e. b. ORGANISASI PELAKSANAAN a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Penelitian f. Peningkatan SDM (pelatihan. Tingkat Kabupaten / Kota. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. d. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Kemitraan 6.

• • 7. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Rumah Sakit Umum. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. a. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. 11 • . • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). rumah sakit atau BP4. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Menghadapi tantangan TB-HIV. Pada keadaan geografis yang sulit. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+).

Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Memperkuat penelitian operasional 12 . b. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program.

petugas yang terkait. dianggap tidak cost efektif. pencatatan. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. sesak nafas. seperti bronkiektasis. badan lemas. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. kanker paru. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. berat badan menurun. demam meriang lebih dari satu bulan. batuk darah. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. didukung dengan penyuluhan secara aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. diagnosis. yang menunjukkan gejala sama. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. nafsu makan menurun. malaise. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. harus diperiksa dahaknya. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. asma. dan lain-lain. bronkitis kronis. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. terutama mereka yang BTA positif. pelaporan. 1. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi.

yaitu sewaktu . pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. Diagnosis TB ekstra paru. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. foto toraks dan lain-lain. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. segera setelah bangun tidur. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. 14 . patologi anatomi. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. misalnya uji mikrobiologi. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. 2. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. sehingga sering terjadi overdiagnosis. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.pagi sewaktu (SPS). Pada saat pulang. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. saat menyerahkan dahak pagi. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional. serologi. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan.

- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.1. Pagi.- .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.- Hasil BTA ..- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .Sewaktu. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.. 15 . Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis . Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .

Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. 3. yaitu: . . .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. .mengurangi efek samping.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . . pleuritis eksudativa. • • • 16 .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.registrasi kasus secara benar . (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.menentukan paduan pengobatan yang sesuai . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .

milier. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . pleuritis eksudativa bilateral. persendian. pleuritis eksudativa unilateral.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. selaput otak.TB ekstra paru ringan.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. misalnya: meningitis. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. dan kelenjar adrenal. • Tuberkulosis ekstra paru. dan atau keadaan umum pasien buruk. . TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. peritonitis. usus.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. maka untuk kepentingan pencatatan. yaitu bentuk berat dan ringan.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. alat kelamin. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. . selaput jantung (pericardium). misalnya: TB kelenjar limfe.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. perikarditis. saluran kencing. misalnya pleura. tulang.TB ekstra-paru berat. kelenjar lymfe.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. . tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. sendi. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . tulang (kecuali tulang belakang). Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). dan lain-lain. TB tulang belakang. . yaitu: . . TB saluran kemih dan alat kelamin. ginjal. TB usus. 17 . . . kulit.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. harus dibuktikan secara patologik. Meskipun sangat jarang. bakteriologik (biakan). gagal. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). radiologik. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.. dapat juga mengalami kambuh. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. dan pertimbangan medis spesialistik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. • • • 18 . Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. default maupun menjadi kasus kronik.

Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. .Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . yaitu tahap intensif dan lanjutan. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . mencegah kekambuhan. Tahap awal (intensif) .Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Jenis. Tahap Lanjutan . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Jenis. mencegah kematian. .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 .1. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Disamping kedua kategori ini. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . 2.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). 1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . Paket Kombipak. Pirazinamid dan Etambutol. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. yaitu Isoniasid. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Rifampisin. . Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.

+ 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. (1ml = 250mg) 3.7ml sehingga menjadi 4ml.2.3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. 21 .

Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. 5. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. foto tulang dan sendi. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). patologi anatomi. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor.4. dan lain lainnya. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. seperti bilasan lambung. 22 . funduskopi. pungsi pleura. pungsi lumbal.5. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. pemeriksaan fisik. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Setelah dokter melakukan anamnesis. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. dan pemeriksaan penunjang. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . CT-Scan. Lihat tabel 3.

Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. Sinusitis. kelenjar limfe koli. BTA negatif atau tidak tahu. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul.--> lampirkan tabel badan badan.5. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. jumlah >1. dan lain – lain. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. 23 . dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. aksila. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). lutut. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.

Gibbus. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. misalnya sesak napas 2. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . OAT pada anak diberikan setiap hari. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. efusi pleura 3. Tabel 3.2. Setelah pemberian obat 6 bulan .6. koksitis Gambar 3. OAT tetap dihentikan. Tanda bahaya: kejang. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. kavitas.

a. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. dan lain lain. 6. dipercaya dan disetujui. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. guru. PKK. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Anak dengan BB > 33 kg . Sanitarian. Juru Immunisasi. Pekarya. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. Perawat. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. dirujuk ke rumah sakit. 25 . anggota PPTI. misalnya Bidan di Desa. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Obat harus diberikan secara utuh. c. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5.7. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela.

Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. d. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. 26 .

Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . teruskan pengobatan tahap lanjutan. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. tahap lanjutan tetap diberikan. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal.8. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Jika mungkin. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Beri Sisipan 1 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Jika setelah sisipan masih tetap positif.

Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. 28 . Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . dahak.9. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.

Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. kecuali streptomisin. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Menurut WHO. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. 29 . Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. • • • • • 8. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. a. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. b. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat.

oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. susuk KB). Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. harus dihentikan. d. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. suntikan KB. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). Pasien dengan kelainan hati. 30 . Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. d. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB.

karena dapat memperberat kelainan tersebut. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. 9. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Tabel 3. dilanjutkan dengan anti diabetes oral.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. tapi perlu penjelasan kepada pasien. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. 31 . Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. setelah selesai pengobatan TB. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. g. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. kemudian diturunkan secara bertahap. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. h. mual. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.

Hentikan semua OAT. hentikan semua OAT. ganti Etambutol. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Bila keadaan seperti ini. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge.11. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Streptomisin dihentikan. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Streptomisin dihentikan. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Hentikan Etambutol. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. ganti obat tersebut dengan obat lain. Berikan dulu anti-histamin. segera lakukan tes fungsi hati. Bila mungkin. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Untuk membedakannya. ganti Etambutol. Hentikan Rifampisin. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas.

pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. Namun. 33 . Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.

pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. 34 . Propinsi. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. murah. bersifat spesifik. mudah. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. Sumber daya laboratorium. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Namun. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Untuk mendukung kinerja program. Kab/Kota. mulai dari tingkat Kecamatan. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. dan Nasional. Keamanan dan kebersihan laboratorium. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. harus mengikuti acuan/standar. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Kegiatan – kegiatan laboratorium. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru.

Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. 35 . c. uji kepekaan M.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. Rumah Sakit. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. BP4. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. Laboratorium rujukan Nasional. identifikasi dan DST M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. b. identifikasi. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. dll. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. peran. Laboratorium rujukan Regional. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. e. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. tb dari spesimen dahak. RSP dll.

Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk.1. Australia. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5.

Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. .Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. Catatan : Bilamana perlu. .Fungsi: . FUNGSI dan PERAN.Laboratorium mikroskopis TB. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. . membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. sampai diperoleh hasil. . .Peran: .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. . dan keamanan dan keselamatan kerja.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB.Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. b. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.

Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat. 2. - c. .Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. 38 . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring.Menyelenggarakan pembinaan Lab. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. . Fungsi . identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Laboratorium rujukan Provinsi. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. Isolasi. identifikasi dan tes kepekaan M. Tanggung jawab: . Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . 3. .Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. 1. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. . . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. . TB dari dahak. termasuk EQAS sesuai jejaring. isolasi.

tuberculosis. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. . Laboratorium rujukan Nasional. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. identifikasi dan DST M. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan DST M. identifikasi dan uji kepekaan (DST). .tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Tanggung jawab: . Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Laboratorium rujukan Regional. identifikasi dan DST M.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Tugas: . Laboratorium rujukan untuk isolasi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. 39 . Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. rujukan provinsi. - e.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . . Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.

timer.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. lidi lancip. kotak sediaan. .Idem PS . aether alkohol. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Ruang: .Air mengalir.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Formulir standard (TB. Mikroskopik dahak BTA) .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Desinfektans.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem. pipet. sticker. Laboratorium mikroskopis TB UPK. ditambah dengan : .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . rujukan pemeriksaan dahak. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 . kerja Lab . rak pengering. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Sarana keamanan .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . minimal SMAK/setara . penjepit sediaan dari kayu. . kaca sediaan/frosted sediaan.05). TB 04 . minimal SMAK/setara . .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. .Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Ruang: .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Idem dengan PS. kertas saring. timer .Sarana: . ose/lidi. lampu spiritus. minyak emersi.Idem PS kerja Lab b.Wadah pembuangan berisi desinfektans. kertas lensa.Sarana keamanan .Sarana: .1 buah mikroskop binokule .pewarna ZN bermutu. corong.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Botol berisi pasir dan desinfektan . .

Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.Ruang administrasi . . .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. Administrasi: Seorang tenaga administrasi. uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Ruang pelatihan.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. Seorang pembantu analis. Laboratorium rujukan Provinsi. Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Tb: Idem dengan lab.Ruang pembuatan media dan reagensia.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . .

Alat gelas laboratorium.Minimal 2 orang tenaga analis (Media).Idem lab Propinsi Sarana keamanan . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .1 incubator.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Generator listrik. .Blender/homogenizer (autoclavable) . Teknis alat laboratorium: .Magnetic stirrer.Cabinet untuk pembuatan media .1 bio-containment centrifuge (500 .1 waterbath.idem dengan lab Propinsi Sarana: . .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. .1 timbangan gram (0–500 gr) .5000 g) . managemen) d.300 C) .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . . .Micro-pipette .Minimal seorang tenaga administrasi. .Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .1 inspisator.Vortex mixer. Laboratorium rujukan Regional. . GLP. Administrasi: .Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik. Ruang: . . .1 lemari es. .1 freezer (.Botol McCartney . .1 biosafety cabinet class II .1 incenerator / carbonizer .

microcentrifuge. vortex.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. Waterbath . fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . refrigerator. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. vortex.Ruang Asam: fume hood.1 mikroskop fluorescence .Optional: Fasilitas kultur sel.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. system elektroforesis horizontal.Nucleic Acid Sequencing system .Thermo-cycler .Ruang dengan negative pressure . dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). eye wash. UV transilluminator/imaging system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. Idem ruang lab regional ditambah dengan : .ELISA system . heating blockpem. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis.Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). pipet mikro.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. Laboratorium rujukan Nasional. refrigerator. 1 set pipet mikro. freezer –20oC. 2 orang analis untuk media dan reagensia.Dot blotter .Ruang gelap . freezer –20oC.TB: .Automated Liquid culture system . microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. 1 set pipet mikro. system elektroforesis vertical. shower .

pengiriman.Protap pembuatan media 44 . Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. Mendeteksi keslahan. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. Membantu peningkatan pelayanan pasien. penyimpanan. pasca-analisis.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . pemeriksaan contoh uji. dan harus dilakukan terus menerus.Protap pembuatan sediaan dahak . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Peningkatan mutu (Quality Improvement). terintegrasi dalam PMI dan PME.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . pengolahan contoh uji. pengambilan. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1.Protap pengambilan dahak . Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.Protap pengelolaan limbah . Pemantapan Mutu Internal 2. Pemantapan Mutu Eksternal 3. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien.Protap pemeriksaan Mikroskopis . mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. analisis. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. misalnya : .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: .

Protap inokulasi . laboratorium pembaca pertama. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya.Dsb. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Pada pelaksanaan uji silang. 45 . audit internal. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO.

Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. Supervisi Laboratorium TB. pemeliharaan. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. pelatihan. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. pengembangan metoda pemeriksaan 5. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. penyegaran. sarana dan prasarana laboratorium. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. 46 . Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. mutu pewarnaan. meliputi : Tenaga : Pelatihan. dll. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan.

Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. uji kepekaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. lingkungan sekitar laboratorium. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Penyediaan perangkat (protap. jadwal pemantauan dan evaluasi. dsb). 4. peralatan. masyarakat umum. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. 47 . dsb) 2. PCR/biomolekuler. serologi. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. 1. biakan.

Ose. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. Kertas pembersih lensa mikroskop.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. pengadaan. kategori 2. kaca sediaan. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. kertas saring. Lysol. 1. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. Rak pewarna dan pengering. dan tiap blister berisi 28 tablet. penyimpanan. dan sisipan. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. Logistik OAT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. Lampu spiritus. Slide Box. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. 48 . pendistribusian. a. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. Minyak imersi. Eter Alkohol. Reagensia Ziehl Neelsen. monitoring dan evaluasi. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum.

Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . • buffer-stock. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). MANAJEMEN OAT a. • sisa stock OAT yang ada. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. perencanaan ini diteruskan ke pusat. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program.

OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. kemasan. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. artinya. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Kabupaten/Kota dan UPK. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. Monitoring dan Evaluasi. Pengawasan Mutu. c. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. jumlah. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. e. b. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. Setelah OAT sampai di Propinsi.

Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Waktu hancur atau disolusi 5. Pemberian 3. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. Kemurnian/ kadar cemaran 6. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. 3. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Identitas obat 2. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. • Dan pihak lain yang terkait. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Uji potensi 8. boks dan master boks 5. Kadar zat aktif 7.

• Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Botol plastik bercorong pipet dll.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Lampu speritus. Bahan Uji tuberkulin. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. Slide Box. Ose. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. 52 . Rak pewarna dan pengering. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat.

dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 1 perawat/petugas TB. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. 3 perawat/petugas TB. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. supervisi. 3 perawat/petugas TB. dan kesinambungan (sustainability). dan 1 tenaga laboratorium. pelatihan dan supervisi. kalakarya/on the job training). Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. Unit Pelayanan Kesehatan 1. 1. dan 1 tenaga laboratorium 53 . Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. pembinaan (pelatihan. 2. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter.

yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. jumlah tergantung kebutuhan. 2. 2 perawat/petugas TB. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. seluruh materi diberikan. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 5 fasilitator pelatihan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 3. 2 perawat/petugas TB. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Dokter Praktek Swasta. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tingkat Provinsi 1. minimal telah dilatih. Pelatihan ulangan (retraining). dan lain-lainnya. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. terdiri dari: 1. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 3. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . Tingkat Kabupaten/Kota 1. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. (Fakultas Kedokteran. 2. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. 3. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. menyesuaikan. Pelatihan penuh. 2. b. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. dan lain-lainnya. jumlah tergantung kebutuhan. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. Fakultas Keperawatan.

• proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. pelatihan DOTS plus. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan .pembelajaran • paska pelatihan . materi. pelatihan advokasi. seperti: pelatihan manajemen OAT. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. dana. fasilitator.kinerja (supervisi) . tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. metode pembelajaran. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. Pelatihan penyegaran. pelatihan TB-HIV. d. • persiapan administratif penyiapan bahan. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7.dampak 55 . peserta. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya.1. c. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. kepanitiaan.. surveilans. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi.reaksi dan . Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. Materi berbeda dengan pelatihan dasar.

Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Tidak semua harus dipelajari. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta.2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. bantuan teknis. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 . diskusi. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. 3.

. 58 . . sebagai berikut: 1. penuh perhatian. terutama pada tingkat UPK : 1.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Kegiatan penting selama supervisi. Pelaksanaan supervisi. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.Pada tahap awal pelaksanaan program.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. yaitu: .Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. Pengumpulan informasi pendukung. maka perlu dilakukan persiapan.06. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. . Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. . partisipatif dan tidak instruktif. pemetaan wilayah. misalnya laporan. . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut.Menjadi pendengar yang baik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. angka kesembuhan rendah.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. 3. empati. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . maka supervisi harus direncanakan dengan baik. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. Kepribadian supervisor.03) . RS. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. BP4. Penjadwalan kegiatan supervisi. serta kebutuhannya.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. . .Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat.Melakukan pendekatan fasilitatif. . misalnya angka konversi rendah. . Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. 2. bila memungkinkan . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. . 4. 2.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. . 2. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.01 dan TB.

mungkin karena tugasnya tidak jelas. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. 59 . Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. g. 5. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. inisiatif. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. 2. d. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. maka berarti ada masalah kinerja. Laporan supervisi. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. inovatif. 4. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. b. 3. tidak mampu melaksanakan. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. realistik. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. realistis. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Tentukan penyebab yang paling mungkin. sebaiknya 3 lembar: . kreatifitas. melakukan on the job training. dan tidak menciptakan masalah baru. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. c. e. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Memberikan umpan balik saran yang jelas. praktis. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. dapat dilaksanakan. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). f. 1.

Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. 60 .

legislative. Akuntabilitas. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. sektor swasta.Meningkatkan komunikasi .Meningkatkan koordinasi . Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. Potensi melibatkan sector lain 4. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. baik dari pemerintah. mutu. mengingat : 1. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. b. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. kelompok media massa. 61 . Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin.Meningkatkan sumber daya. Keterbatasan sector pemerintah 3. organisasi keagamaan.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . c.Meningkatkan komitmen . Beban masalah TB yang tinggi 2. Keberlanjutan program 5. organisasi profesi. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Lembaga Swadaya Masyarakat. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis.

antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Komunikasi intensif. g. c. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. Identifikasi. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Pengaturan peran. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Pemantauan dan penilaian. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. b. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. e. disepakati sejak awal. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. tugas dan fungsi masing. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. Penyamaan persepsi. Melakukan kegiatan. b. f. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. dana. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . 3. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. sarana dan prasarana. Pembentukan Komitmen.

KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. 63 . BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. Dalam konteks penanggulangan TB. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. komunikasi. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Pada konteks dalam negeri. Dalam konteks global. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. 1.

Buku Pedoman .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .factor lain 64 .1.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Tenaga Penyuluh .Media Promosi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Angka kesembuhan .Sumber dana (APBN.

b. pelaksana. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. 65 . Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. pertemuan/rapat kerja. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. 2. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. 1. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. dan Mobilisasi sumber dana. Dalam proses komunikasi. berfikir.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. metode dsb) Mengembangkan bahan. Memilih strategi yang tepat (advokator. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. konsultasi. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. menulis dan lain-lain. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. memberikan laporan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a.

Rapat pertemuan-pertemuan. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . seminar peningkatan pengetahuan .Televisi. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. d. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. lancar tidaknya suatu proses. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2.Demonstrasi. 3. 66 . komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. latihan (meningkatkan kemampuan) .Surat kabar. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. percakapan. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. c.Radio. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3.

Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. .Memenuhi permintaan masyarakat. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . KIE berbasis individu. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. . harus merupakan elemen kemasyarakatan.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. . memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. .Memerlukan pengulangan secara periodik. . dan ormas lainnya 67 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat.indikator dan umpan balik mobilisasi. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. pesan.Community material : Sarana masyarakat . Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. 2. .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. ikut menjadi PMO. Kader TB dan sebagainya. 5. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. motivasi.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. keluarga. sasaran. 3. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. alih pengetahuan dan keterampilan. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. . 4.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. masyarakat. .

Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Konseling. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. . Lintas program. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Langkah-langkah mobilisasi sosial .organisasi profesi. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Lintas sektor. LSM. LSM.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. dapat digunakan tabel contoh berikut. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. 68 . legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. Diskusi kelompok (DK).melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Tabel 9. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. dll Peminatan Kebijakan. Ormas. dunia usaha.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. Penyuluhan kelompok. PAPP) LSM.1. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. . dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. . Komisi 9 DPR Akademisi.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi).mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. . Kunjungan rumah. profesi (IDI.

Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. radio spot. filler/spot. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV. billboard dan spanduk.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). 69 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .

• Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. UPK polisi. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. BP4. dan lain lain. UPK di tempat kerja. 1. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Setelah mencapai prakondisi tersebut. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. UPK lapas / rutan. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. 2. 70 . dan seluruh petugas terkait.1. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. antara lain : rumah sakit. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. pengendalian mutu pelayanan. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. 2. 74 . mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. akses pelayanan kesehatan. 1. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific).

Spesifik terhadap program tuberkulosis . in-depth interview dan lain-lain. bidan di desa. 75 . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. 4. b. a. a. termasuk mutu kinerja laboratorium.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . b. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . 2. 3. Penelitian operasional tuberkulosis. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . modeling. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . antara lain: 1. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation).Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. termasuk survei. eksperimentasi. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. focus group discussion. misalnya dengan melibatkan pustu. kuasi eksperimen. dan community based approach.

7. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. 5. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. seperti: TB/HIV. 76 . 6. dan lain-lain. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. TBKusta. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. c. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. Dokter Praktek Swasta. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. dan UPK lainnya. 4.

Rumah Sakit. pendidikan. Dinas Kesehatan Propinsi. a. 77 . sosial budaya. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Laboratorium dan unit lainnya. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. Dalam sistem desentralisasi. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Puskesmas.

agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. dicari masalah dan penyebabnya. Selain data tersebut. Untuk memudahkan. b. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. dan metodologi yang digunakan (method). a. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. material. komitmen nasional maupun international. money. keberhasilan diagnosis. method. pencapaian program (penemuan pasien. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. dan market). pohon masalah dan log frame.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. • Disamping untuk perencanaan. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. Dari kesenjangan yang ditemukan. keberhasilan pengobatan). Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). 2. logistik (material). antara lain kebijakan lokal. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. sampai dimana kemajuan program. angka kesembuhan. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. dana (money). karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. diseminasi informasi serta umpan balik. Untuk maksud tersebut.

oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. 5. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. 4. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . 1) Daya ungkitnya tinggi. Terukur (kuantitatif) e. Memiliki target waktu. Terkait dengan masalah d. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Rasional (realistis) f. . Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. 3.

Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. Masing-masing aspek tersebut. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. BP4. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . namun perlu didukung dengan data penyakit. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. yaitu penurunan jumlah pasien. kepadatan penduduk. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. RSTP dan dokter praktek swasta). yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Pada tahap awal. rumah sakit. b. karena akan memberikan dampak epidemiologis. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. sarana. c. dan kemitraan. 3) Kesiapan : Tenaga. diagnosis pasien. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. pengobatan dan case holding pasien. BP4. perlu dinilai semua unsurnya. sampai pada pencatatan pelaporan. Setelah itu baru rumah sakit. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Perluasan unit pelaksana. Penetapan target. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e.

Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. 6. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. e. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. d. 82 . Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Pelaksana (siapa yang memantau). tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Dengan kata lain disebut program oriented. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. b. Cara pemantauan. c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. bukan budget oriented.

Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. diinterpretasi. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Kabupaten/Kota. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. 1. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. proses. Rumah Sakit. maupun keluaran (output). bagian atas. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. BP4. Propinsi. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. dianalisis.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. PPM. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. 3. RS. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. BP-4. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2.

2. 3.1. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . Tabel 12.

ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . misalnya rumah sakit. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. 86 . BP4 atau dokter praktek swasta. indikator ini tidak dapat dihitung. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 .06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.15%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.

X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Bila angka ini jauh lebih rendah. itu berarti mutu diagnosis rendah. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. Angka ini berkisar 15%. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati.

yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh.01. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif.12 bulan sebelumnya. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat.08. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Di tingkat kabupaten.01. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. meninggal. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Di tingkat kabupaten. X 100 % 88 .11. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. setelah selesai pengobatan. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. gagal. propinsi dan pusat. default (drop-out atau lalai). diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. dan pindah keluar. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. setelah pengobatan intensif (2 bulan). propinsi dan pusat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

16. Depkes RI. Tuberculosis: Epidemiology and Control. 1999 2. WHO/CDS/TB/2003. PDPI. Organization and Management. WHO/CDS/TB/2002. WHO. WHO/HTM/TB/2004. Laboratory Service in TB Control: part 2.995. 2006 9. Washington. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. 1997. Jakarta. Laboratory Service in TB Control: part 1. 3rd edition. WHO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. WHO-SEARO. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Geneva. Case Detection. WHO. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Geneva. Geneva. Depkes RI. 2006. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). W85 13. Atlanta. Treatment of Tuberculosis. Geneva. 1999 4.313 20. CDC/US Department of Health and Human Service. Microscopy. 2002. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. 23. and Control of Tuberculosis. WHO. A Tuberculosis for Specialist Physicians. 4th edition.258 92 . Core Curricullum on Tuberculosis. 2003. 22. Cetakan ke-10. Depkes RI. Atlanta. External Assessment for AFB Smear Microscopy. 2002. Geneva. IAUTLD. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. 2nd edition. 2002. Paris. Geneva. Effective Diagnosis. Geneva. 2005. 2002 3. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. New Delhi. A guide for Tuberculosis Treatment Support. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. 1999 BAB 5. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. WHO/TB/96. ISBN 97996622-2-2 10.334 15. 2006. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. 1998 4. New Delhi. 2006 8. Jakarta. 2000 18. PP IDAI-UKK Pulmonologi.300 12. Kelompok Kerja TB-HIV. Depkes/UKK Respirologi IDAI. 2000. WHO/TB/98. New Delhi. 17.258 5.329W. WHO. 21. 2003 2. 1998. WHO-SEARO. ATS/CDC/IDSA. WHO. WHO-SEARO. WHO/TB/98. Toman’s Tuberculosis. 2004. London and Oxford. Jakarta. Geneva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. 2003. 2003 7. 616. 19. Horne N. Geneva. Adherence to Long Theraphy. What the Clinician Should Know. Clinical Tuberculosis. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. 2004. ATS/CDC/IDSA. WHO/IUATLD. Jakarta. Jakarta. 2004. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. Jakarta. 2000. Miller F. WHO. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. 11.210 14. Paris. The Hague. Paris. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003. WHO. Treatment and Monitoring. Depkes RI. 2004 6. 1998. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). Jakarta. 2003 3. WHO/HTM/TB/2004. McMillan Education Ltd. Crofton J. Atlanta. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. IUATLD. Treatment.24/Ind/P 5. Geneva. IUATLD. SEA/TB/248 24.

1998 8. Educational Hanbook for Health Personal. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. Bandung.308 BAB 7. Prentice Hall. Geneva. Jogyakarta. WHO. Depkes RI Badan PPSDM. 2002 2. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. 93 . Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Abbat FR. Cetakan ke-10. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Jakarta. 616. Revised and Updated 1998.347d 18. Depkes RI. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Geneva. 1999. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.353 16.1991 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. McMahon Rosemary. New Delhi. 1997 10. WHO. Irianto Jusuf. Abbat FR.2002. WHO-SEA. 2005. W 21. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Mangkunegara Anwar Prabu. Teaching Health care worker: A practical guide. McMillan. 2005. Geneva. WHO. How to Organize Training for Distric Coordinator. unpublished). JJ Gilbert. Jakarta. Manila. WHO.350 11. (comprehensive draft. Geneva.19 3.301. Amara Books. WHO. Geneva. WHO/CDS/STB/2002.725/Menkes/SK/V/2003). Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO. WHO. 2001 7. Insan Cendekia. 1992 2. 2002. 2005. 2005. Modul D : Provide Training for TB Control. Geneva. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. WHO. WHO/HTM/TB/2005. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WHO. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. Sydney. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Tovey MD. WHO/HTM/TB/2005. WA 530. 2003 9. WHO. MSH/WHO. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. WHO/CDS/TB/2002. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. WHO-WEPRO. Jakarta. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. Evaluation and Management. 2003 6. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.347 13. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1.347c 17. A Usmara (ed).1 19. 2006. 12. November 2005 14. Refika Aditama. Depkes RI. WHO.995. 2006. WHO/CDS/TB/2002. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Delivery. WHO/HTM/TB/2005. WHO. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. No. Geneva. 2005. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Geneva.24/Ind/P 5. 2002. The World Health Report 2006. Working together for Health. 2003 4. 2003. Training in Australia: Design. 15. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Geneva. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Geneva. 2005. Surabaya.

and Emerging Policy Framework. 2004 2. Jakarta. TB Advocacy: Practical Guide. 2001 2. WHO/CDS/TB/2003. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI. Depkes RI Pusat PKM. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. WHO. WHO. Geneva. 2006 5.323 4. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. Depkes RI Pusdiklatkes.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. Research Methods for Promotion of Lung Health. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Geneva. Global Partnership to STOP TB. WHO-SEARO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2006 3. Guidelines for Workplace TB Control Activities. 2003. Cetakan ke-10. 2002 4. 1999 2. New Delhi. IAUTLD. WHO. Paris.312 7. The Power of Partnership. 2000 3. Pedoman Advokasi. 2006. Understanding the TB Cohort Review Process. belum diterbitkan). New Delhi. WHO-SEARO. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. SEA/TB/213 3. Atlanta. Tearfund. 1999. WHO. 2006.24 BAB 9. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Jakarta.995. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Atlanta. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Jakarta. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Penelitian Tuberkulosis 1. 2002 6. Public-Private Partnerships for TB Control. Geneva. WHO. 2001 3. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Depkes RI. Geneva.24/Ind/P 94 . Jakarta. WHO/HTM/TB/2005. WHO/CDS/TB/2003. 2003. 616. Interventions. Geneva. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Kemitraan dengan Sector Swasta. WHO. Making Health Communication Program Work. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. 2001 BAB 11. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. 2003. WHO/SEARO. Depkes RI. 2001 2. 2004 2. Jakarta. Jakarta. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Gordom Graham. SEA/TB/259 5. Depkes RI. WHO/HTM/STB/2003. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan.355 3. Issues. 2003. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. Advokasi. 2005.

Principles for Accelerating DOTS Coverage. WHO/HTM/TB/2004. 616. 1999 95 . 2004. WHO/TB/98. Cetakan ke-10. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. Depkes RI. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. 1998. Geneva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Tuberculosis Handbook. Stop TB Partnership. WHO. 1999 6. National Level TB Management Cycles. WHO/SEARO.253 6. WHO/TB/98. Jakarta. WHO/TB/98. 1998. 1996 3. New Delhi . Geneva. 2006.240 BAB 13. Paris. WHO. New Delhi .24/Ind/P 2. 2005 4. 4th edition. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. 1998.344 5.253 5. WHO. (draft. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. Geneva. Tuberculosis Handbook. Geneva. Perencanaan 1. Geneva. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. WHO/SEARO.995. belum dipublikasi). Combating Tuberculosis.

yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Philippine College of Chest Physicians.S. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. termasuk pasien TB dengan BTA positif. Centers for Disease Control & Prevention. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. (dewasa. Stop TB Partnership. Terdiri 17 standar. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).S. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. TB ekstra paru. American College of Chest Physicians. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). American Thoracic Society. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). dan World Care Council. U. dimana semua praktisi. Infectious Diseases Society of America. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. pasien TB dengan BTA negatif. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).). antara lain : Indian Medical Association. International Council of Nurses. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . Indonesian Association of Pulmonologists. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

pleura. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Bila ada fasiliti. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. foto toraks menunjukkan kelainan TB. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. Fase awal terdiri dari INH. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. Pada pasien demikian. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai.Rifampisin. bilasan lambung atau induksi sputum. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. Pada pasien dengan atau diduga HIV. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. (dewasa. 97 .

Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). 98 . Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. paling baik dinilai secara klinis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Rifampisin. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Rifampisin. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat.

tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Rifampisin dan Etambutol.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . Reg.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur).GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.Lab Hasil/ Tgl.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Reg. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. an atau lebih dengan BTA positif. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. 104 . as. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Reg.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. misalnya 02. sebagai berikut : . 02/15/237 B dan 02/15/237 C.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. misalnya 15. yang merupakan nomor urut kab/ kota. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. . . . yang merupakan nomor urut UPK. .Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. misalnya 237. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. 106 .A= dahak sewaktu pertama.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

.efek samping berat : 32 .pandemi : 4 . 23 BP4 : 8. 70 BTA : 5.lihat PMO DOTS : 7.efek samping ringan : 31 . 89 . 64.batasan : 63 . 9.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 2.lihat hasil pengobatan .analisa situasi : 77 Angka . 5.peningkatan cakupan : 80.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 11. 39.Fokus DOTS : 7 . 63.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.Diagnosis TB ekstra paru: 14 . CBA : 81 CDR : 9.pola pikir : 64 .dampak terhadap TB : 4.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . AKMS : 1. 63. 12. 11.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 14 Darurat . Buffer stock : 49 Cakupan . 10.Alur diagnosis TB paru : 15 .Diagnosis utama : 14 .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 2. .Overdiagnosis : 14.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7.angka konversi : 88 .daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4. 87 . 70.strategi AKMS : 65 Analisa : 85. 9. 22. 11. 71. 64.Angka gagal : 89 . lihat uji silang D Dahak .pertimbangan dokter : 15 DOT . 13.analisa indikator : 85 .Diagnosis TB paru : 14 . . B C 118 .angka kesembuhan : 9 .efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 29.Angka default : 89 . 91 . 65. 65 AIDS (lihat juga HIV) : . 6 .

kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .indikasi operasi : 31 .kategori 2 : 21 . 21.syarat jejaring yang baik : 72 .kasus lain : 18 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .indikator program : 84.Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.evaluasi kinerja : 56. 89.kasus kronik: 18 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .dosis paduan KDT-OAT : 21.definisi kasus : 16 . 6.evaluasi dampak : 56 .kasus setelah gagal : 18 .jejaring ekternal : 71 .evaluasi pembelajaran : 56 .kategori 1 : 20 .klasifikasi penyakit : 16 119 I J . 48. 57 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 . 85.Kesalahan besar .kasus pidahan : 18 .keuntungan KDT : 20 . 11.kasus TB : 18 .indikator jejeraing : 71 .prinsip dasar kemitraan : 61 . 18.tujuan : 61 .Gejala utama : 13 . 22.kasus setelah putus berobat : 18 .Gejala klinis pasien TB : 13 . . 16.pembentukan jejaring : 71 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring . 17. 5.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 22 Klasifikasi : 16 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. 49 .langkah-langkah kemitraan : 62 .jejaring internal : 71 .lihat hasil pengobatan . Indikasi .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) . .Kesalahan Gradasi (KG) .kasus kambuh : 18 . 29.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 30.lihat visi KDT-OAT : 20.evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 . 86 .kasus baru : 18 . 7.syarat indikator : 85 .Kesalahan kecil .

39. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 9.ruang lingkup : 34 .pemantapan mutu internal : 44 . .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. O OAT .Manajemen logistik OAT : 49 .prinsip : 66.Laboratorium rujukan regional : 35.Evaluasi pelatihan : 56 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .pemecahan masalah : 79 .Pelatihan dasar : 54 120 P M .Mempertahankan mutu : 80 . 10. 39.Laboratorium rujukan uji silang : 35.definisi komunikasi : 63. . 41 . 67 .bentuk-bentuk : 88 .Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium . 49. 10.beban masalah TB (penyebab) : 4 .identifikasi masalah : 78 .negara dengan beban masalah TB : 4 .Jenis.Materi pelatihan : 56 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : .tujuan mengatasi masalah : 79 . 51 .masalah prioritas : 7.penggunaan pada pasien TB : 31 . 40 .Pelatihan dalam tugas : 54 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 7 .standar kompetensi : 57 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .masalah MDR : 4.fungsi. 8.definisi : 63.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1. 37. 21 . 66 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 53 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 6. 54 .Laboratorium rujukan provinsi : 35. 65 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 . 42 .Laboratorium rujukan nasional : 35.OAT sisipan 20.Jenis logistik : 48 .peningkatan mutu : 44. 9 . peran. sifat dan dosis : 19 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48. 38. 40 . 7.misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.Koordinator pelatihan : 56 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. lihat MDG Misi .efek samping OAT (lihat efek samping) .pemantapan mutu eksternal : 45 .menetapkan masalah prioritas : 78 .Konsep pelatihan : 54 . 80 . 6.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .

Persyaratan : 25 .Langkah-langkah . 7.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .Karakteristik penelitian TB : 74 .lihat public-private mix . 40 . 70 . 9.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1.program TB di Indonesia : 8 . 36. 36. 10.lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 25.visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .Pelatihan sebelum bertugas : 54 . 40.strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.Prinsip pengobatan : 19 . 37.tujuan PSDM : 53 .pengobatan pencegahan : 24 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.tujuan : 44 PPM . 9.Pelatihan lanjutan : 55 .kebijakan program : 9 . 35.Tujuan pengobatan: 19 . Q QA (quality assurance) : 35 121 . 35. 4. 9. 37. 35. 40 . 36.batasan : 70 .tujuan perencanaan : 77 . 26 .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 8 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.pencatatan di UPK : 84 .strategi program: 10 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 .Pelatihan penyegaran : 55 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.Pelatihan penuh : 54 .perencanaan berbasis bukti : 77 .kegagalan program : 4 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 . 10. 37. 36. 2.Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .Puskesmas Satelit : 11.pengobatan lengkap : 29 .tahap : 44 .pencatatan di laboratorium : 85 . 53 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 . 77.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .siklus perencanaan : 77 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 37.Ruang lingkup : 75 . 35. 10.pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .Metodologi : 75 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .perencanaan : 45 .tujuan dan target : 9 . . 11.Pelatihan ulangan : 54 . 74 .Batasan : 53 . 79 .

VCT : 30 Visi .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.dokter praktek swasta : 54 .pelaksanaan supervisi : 58 .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut . 82 .tatalaksana TB anak : 22 .risiko menjadi sakit TB : 5 .pengembangan : 80 . 82 .prinsip dasar tatalaksana : 13 . 22.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.tujuan buku : 2 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .penetapan target : 82 . 10. 6 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 53. 10 . 7.case notification rate (lihat CNR) .target program : 9 Tatalaksana : .Pukesmas : 53 .sasaran buku : 2 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .Tipe pasien : 18.syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. Rate (lihat juga angka) .case detection rate (lihat CDR) .persiapan supervisi : 58 . 35.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .tingkat kabupaten/kota : 54 .gambaran radiologis : 14.tujuan program : 9 . 122 . U V Valid : 85. 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.TB .Penentuan tipe : 18 Tujuan .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.risiko penularan TB : 5 . 52.sasaran wilayah : 82 . .supervisi laboratorium TB : 46 . 44.kegiatan supervisi : 57 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . 40.visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.pemetaan : 81 WHO : 6.perencanaan supervisi : 58 . 37.laporan supervisi : 59 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful