PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Tujuan Penelitian 2. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Pembentukan Jejaring 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Standar Ketenagaan 2. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Manajemen OAT 3. Batasan 2. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pelatihan 3. Langkah Langkah 3. Jenis Logistik Program 2. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Analisa Situasi 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Metodologi 4. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Menetapkan Tujuan 4. Kerangka Pola Pikir 3. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Pencatatan dan Pelaporan 8. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Indikator Program 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1.

Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. ketidakproduktifan. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Siti Fadilah Supari. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Selamat berjuang! Jakarta. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. dr. swasta maupun lembaga masyarakat. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. SpJP(K) v . Mengingat besar dan luasnya masalah TB. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. dan kelemahan akibat TB. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Berbagai kemajuan telah dicapai. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global.

Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih.000 pertahun. MPH vi . beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. I Nyoman Kandun. Jakarta. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. lembaga swadaya masyarakat. PAPDI.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. IDAI. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. . . maka dilakukan penanambahan.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. Penambahan bab-bab baru meliputi : .Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . . saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. sementara situasi program penanggulangan TB.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Pelatihan.Tuntutan masyarakat akan mutu. . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT).Kemitraan.Tuberkulosis dan permasalahannya.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. alur diagnosis anak (sistem skoring).Penelitian TB . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. definisi kasus TB. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. indikator pemantauan dan evaluasi. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 .Advokasi.Manajemen Laboratorium TB .Supervisi.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . pengurangan. . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut.

pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . - 2 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. klasifikasi penyakit dan tipe pasien.Tuberkulosis. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok.Diagnosis TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . Sebagai sebuah pedoman. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. propinsi. . pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. akan dikembangkan dalam buku tersendiri.

Gambar 2. Jika ia meninggal akibat TB. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Pada tahun 1995. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. terjadi pada negara-negara berkembang. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. persalinan dan nifas. maka akan kehilangan 3 . MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Insidens TB didunia (WHO.1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Demikian juga. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia.

Menyikapi hal tersebut.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Diperkirakan pada tahun 2004. Selain merugikan secara ekonomis. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. .Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.000 penduduk. Hal ini diakibatkan oleh: . TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. pada tahun 1993. tidak dilakukan pemantauan. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. obat tidak terjamin penyediaannya. Di Indonesia. Situasi TB didunia semakin memburuk. Pada saat yang sama. . • Dampak pandemi infeksi HIV. • Kegagalan program TB selama ini.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. 4 . pencatatan dan pelaporan yang standar. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat.000 orang. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). dan sebagainya). Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Risiko penularan . • Cara penularan . . Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. . maka jumlah pasien TB akan meningkat. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). . maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. 5 . Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). makin menular pasien tersebut.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. • Risiko menjadi sakit TB . Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. diperkirakan diantara 100. . Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. . seperti tuberkulosis.Pada waktu batuk atau bersin.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. .Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. . sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.Dengan ARTI 1%. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. . ARTI sebesar 1%. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. akan: . 6 . clinical trials. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. setelah 5 tahun. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.2.50% meninggal .25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Penerapan strategi DOTS secara baik. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. best practices. juga mencegah berkembangnya MDR-TB.

Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Mencapai. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. 3. 2. 4. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. 6. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Pada tahun 1995. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 7 . 5. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. 3. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. 5. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Komitmen politis 2.

merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. sampai saat ini. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Di Indonesia. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . Sampai tahun 2000. Sejak tahun 1995. • Indonesia. • Tahun 1995. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. 1. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Setelah perang kemerdekaan. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. • Sampai tahun 2005.

h. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). tenaga. sarana dan prasarana) b. KEBIJAKAN a. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. pelaksanaan. e. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. 3. meliputi Puskesmas. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. memutuskan rantai penularan. masyarakat dan pekerjaannya. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. i. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. sektor pemerintah. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. f. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Rumah Sakit Paru (RSP). k. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. l. j.

e. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. b. KEGIATAN a. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. b. Rumah Sakit. Pemantauan dan Evaluasi d. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. STRATEGI a. Tingkat Pusat. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. supervisi) e. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Peningkatan SDM (pelatihan. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. d. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Promosi g. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Tingkat Kabupaten / Kota. Kemitraan 6. c. 10 . Perencanaan c. Menteri Kesehatan R.I. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Dilaksanakan oleh Puskesmas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Unit Pelayanan Kesehatan. Penemuan dan pengobatan. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Penelitian f.

Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. a. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Menghadapi tantangan TB-HIV. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. rumah sakit atau BP4. • • 7. Rumah Sakit Umum. 11 • . Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). Pada keadaan geografis yang sulit. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus.

Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Memperkuat penelitian operasional 12 . Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. b. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2.

petugas yang terkait. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. berat badan menurun. sesak nafas. dianggap tidak cost efektif. terutama mereka yang BTA positif. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. pencatatan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. asma. badan lemas. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. batuk darah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . pelaporan. diagnosis. dan lain-lain. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. demam meriang lebih dari satu bulan. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. yang menunjukkan gejala sama. kanker paru. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. didukung dengan penyuluhan secara aktif. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. bronkitis kronis. 1. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. harus diperiksa dahaknya. seperti bronkiektasis. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. malaise. nafsu makan menurun.

Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). sehingga sering terjadi overdiagnosis. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.pagi sewaktu (SPS). menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. foto toraks dan lain-lain. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. patologi anatomi. saat menyerahkan dahak pagi. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. Pada saat pulang. misalnya uji mikrobiologi. serologi. yaitu sewaktu . Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. 2. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. segera setelah bangun tidur. Pada program TB nasional. Diagnosis TB ekstra paru. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. 14 .

- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. 15 . Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.- Hasil BTA .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + . Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- ... Pagi.Sewaktu.1. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. . (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.mengurangi efek samping. • • • 16 . 3.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.menentukan paduan pengobatan yang sesuai . yaitu: .registrasi kasus secara benar . Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. . pleuritis eksudativa. . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. misalnya pleura. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). kelenjar lymfe. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. • Tuberkulosis ekstra paru.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. . . yaitu bentuk berat dan ringan. . Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . dan kelenjar adrenal. .Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. maka untuk kepentingan pencatatan. tulang. misalnya: TB kelenjar limfe. sendi. persendian. TB saluran kemih dan alat kelamin. kulit. dan atau keadaan umum pasien buruk.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. selaput otak. milier. . Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. ginjal. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. . pleuritis eksudativa bilateral. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. TB usus.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. selaput jantung (pericardium).TB ekstra-paru berat. saluran kencing. 17 . yaitu: . . TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya.TB ekstra paru ringan. peritonitis. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. alat kelamin.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. tulang (kecuali tulang belakang). perikarditis. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. TB tulang belakang. misalnya: meningitis. pleuritis eksudativa unilateral. dan lain-lain. usus.

gagal.. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. • • • 18 . default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. harus dibuktikan secara patologik. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. dan pertimbangan medis spesialistik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. bakteriologik (biakan). Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). radiologik. dapat juga mengalami kambuh.

• Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. Tahap Lanjutan . sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip .Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . Jenis. . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3.1. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). . PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. mencegah kematian. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. namun dalam jangka waktu yang lebih lama .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. mencegah kekambuhan.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Tahap awal (intensif) .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Jenis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. yaitu tahap intensif dan lanjutan. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. yaitu Isoniasid. Rifampisin.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Disamping kedua kategori ini. Pirazinamid dan Etambutol. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . 2. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. 1. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) .Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Paket Kombipak. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif.

Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. 21 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. (1ml = 250mg) 3. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.3. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.2. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. dan lain lainnya. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Lihat tabel 3. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang.5. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama.4. funduskopi. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). foto tulang dan sendi. pemeriksaan fisik. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. 5. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Setelah dokter melakukan anamnesis. pungsi lumbal. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. CT-Scan. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. pungsi pleura. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. 22 . maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. patologi anatomi. seperti bilasan lambung. dan pemeriksaan penunjang.

(skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. dan lain – lain. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.5. lutut.--> lampirkan tabel badan badan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. kelenjar limfe koli. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. BTA negatif atau tidak tahu. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. jumlah >1. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). aksila. 23 . • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. Sinusitis.

Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. kavitas. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Gibbus. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. OAT pada anak diberikan setiap hari. OAT tetap dihentikan. efusi pleura 3. misalnya sesak napas 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan.6. koksitis Gambar 3.2. Tanda bahaya: kejang. Setelah pemberian obat 6 bulan . lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Tabel 3.

Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. a. 25 . • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. 6. PKK. Pekarya. misalnya Bidan di Desa. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. dan lain lain. dipercaya dan disetujui. c. Anak dengan BB > 33 kg . dirujuk ke rumah sakit. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. Sanitarian. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Perawat. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b.7. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. Obat harus diberikan secara utuh. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. guru. anggota PPTI. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Juru Immunisasi.

Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. d. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. 26 . gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB.

Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika mungkin. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Beri Sisipan 1 bulan. tahap lanjutan tetap diberikan. teruskan pengobatan tahap lanjutan.8. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. rujuk ke unit pelayanan spesialistik.

9. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: .Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. dahak. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk. 28 .

kecuali streptomisin. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. a. Menurut WHO. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. • • • • • 8. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. b. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. 29 . Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. susuk KB). d. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. harus dihentikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. suntikan KB. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. 30 . Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Pasien dengan kelainan hati. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. d. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).

31 . Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Tabel 3. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. g. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. 9. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. h. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. setelah selesai pengobatan TB. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. karena dapat memperberat kelainan tersebut. mual. kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol.

Hentikan Rifampisin. segera lakukan tes fungsi hati. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. hentikan semua OAT. ganti Etambutol.11. ganti Etambutol. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Streptomisin dihentikan. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Streptomisin dihentikan. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). Hentikan semua OAT. Bila keadaan seperti ini. Berikan dulu anti-histamin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Hentikan Etambutol. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Untuk membedakannya. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Bila mungkin. ganti obat tersebut dengan obat lain. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain.

jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. 33 . Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Namun. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.

Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. Keamanan dan kebersihan laboratorium. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Sumber daya laboratorium. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. mulai dari tingkat Kecamatan. 34 . yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Kegiatan – kegiatan laboratorium. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Propinsi. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. bersifat spesifik. dan Nasional. Kab/Kota. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. mudah. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. Untuk mendukung kinerja program. murah. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. harus mengikuti acuan/standar. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar.

Rumah Sakit. RSP dll. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. identifikasi dan DST M. 35 . e. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP).tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. identifikasi. Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. peran. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS).tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. Laboratorium rujukan Regional. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Laboratorium rujukan Nasional. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. c. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. BP4. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. b. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. tb dari spesimen dahak. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. uji kepekaan M. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). dll.

1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Australia.

FUNGSI dan PERAN. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Peran: . Catatan : Bilamana perlu. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis .Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. sampai diperoleh hasil. b. . dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS.Laboratorium mikroskopis TB.Fungsi: . .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. dan keamanan dan keselamatan kerja. PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. . .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. . .Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. . .Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi.

Laboratorium rujukan Provinsi. 38 . TB dari dahak.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. Tanggung jawab: . . Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. 1. . . Fungsi . isolasi. termasuk EQAS sesuai jejaring. . Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. . Isolasi. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Menyelenggarakan pembinaan Lab.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. .Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat. identifikasi dan tes kepekaan M. Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. 2.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . 3.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. - c.

Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan DST M.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan uji kepekaan (DST).Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. - e. 39 . . Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. rujukan provinsi. Laboratorium rujukan untuk isolasi. . Tanggung jawab: .tb dan MOTT bagi yang memerlukan. tuberculosis. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. Laboratorium rujukan Regional. identifikasi dan DST M. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Tugas: . Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. identifikasi dan DST M. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. Laboratorium rujukan Nasional. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.

kotak sediaan.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Formulir standard (TB. . kerja Lab . timer. kaca sediaan/frosted sediaan.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. lidi lancip. minyak emersi. rujukan pemeriksaan dahak.Sarana: . penjepit sediaan dari kayu. lampu spiritus. kertas saring.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. Mikroskopik dahak BTA) .Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .Botol berisi pasir dan desinfektan .Sarana keamanan .Ruang: .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. pipet.Desinfektans. TB 04 .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. .Sarana keamanan . sticker. ose/lidi.Idem PS . minimal SMAK/setara .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. . corong.Ruang: .pewarna ZN bermutu. ditambah dengan : . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a. . .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem.1 buah mikroskop binokule . Laboratorium mikroskopis TB UPK. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.05). . aether alkohol.Air mengalir. minimal SMAK/setara . rak pengering. kertas lensa.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Idem PS kerja Lab b.Sarana: .Idem dengan PS. timer .Wadah pembuangan berisi desinfektans.

Laboratorium rujukan Provinsi.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. Seorang pembantu analis.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . .Ruang pembuatan media dan reagensia. Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. . Administrasi: Seorang tenaga administrasi. Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .Ruang pelatihan.Ruang administrasi .Tb: Idem dengan lab. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.

1 timbangan gram (0–500 gr) . .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Generator listrik. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .1 bio-containment centrifuge (500 . . managemen) d.idem dengan lab Propinsi Sarana: .Micro-pipette .1 incubator.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .Botol McCartney . .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).Magnetic stirrer.1 freezer (.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium. .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Vortex mixer. .Alat gelas laboratorium. .1 waterbath. .Blender/homogenizer (autoclavable) .1 incenerator / carbonizer .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .300 C) . .Minimal 2 orang tenaga analis (Media). . .1 biosafety cabinet class II .1 inspisator. Administrasi: .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. Ruang: . .Cabinet untuk pembuatan media . Laboratorium rujukan Regional.Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .1 lemari es.Minimal seorang tenaga administrasi. Teknis alat laboratorium: .5000 g) . GLP.

Ruang gelap .Nucleic Acid Sequencing system . microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. vortex. Idem ruang lab regional ditambah dengan : .TB: . system elektroforesis horizontal. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). Laboratorium rujukan Nasional. pipet mikro. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. refrigerator. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. Waterbath . microcentrifuge.Optional: Fasilitas kultur sel. shower . dan 1 orang ahli Patologi Anatomi.1 mikroskop fluorescence . freezer –20oC.Automated Liquid culture system . system elektroforesis vertical. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. 1 set pipet mikro. heating blockpem. 1 set pipet mikro. UV transilluminator/imaging system .Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).Ruang Asam: fume hood.Dot blotter . dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. vortex.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . 2 orang analis untuk media dan reagensia. eye wash. refrigerator.Thermo-cycler . freezer –20oC.Ruang dengan negative pressure .ELISA system .

Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. pengambilan. penyimpanan. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. pengiriman.Protap pembuatan sediaan dahak . terintegrasi dalam PMI dan PME. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Mendeteksi keslahan.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. misalnya : . pengolahan contoh uji. pemeriksaan contoh uji.Protap pemeriksaan Mikroskopis . Pemantapan Mutu Eksternal 3.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. analisis. dan harus dilakukan terus menerus. Pemantapan Mutu Internal 2. Peningkatan mutu (Quality Improvement). Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar.Protap pembuatan media 44 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . pasca-analisis. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman.Protap pengelolaan limbah .Protap pengambilan dahak . Membantu peningkatan pelayanan pasien.

audit internal. 45 . karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Pada pelaksanaan uji silang. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. laboratorium pembaca pertama. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol.Dsb.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Protap inokulasi . Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak.

sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. meliputi : Tenaga : Pelatihan. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. 46 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. sarana dan prasarana laboratorium. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. pemeliharaan. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. Supervisi Laboratorium TB. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. penyegaran. pengembangan metoda pemeriksaan 5. mutu pewarnaan. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. dll. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. pelatihan. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. dsb) 2. biakan. lingkungan sekitar laboratorium. 47 . Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. peralatan. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. serologi. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. PCR/biomolekuler. uji kepekaan. 1. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. masyarakat umum. jadwal pemantauan dan evaluasi. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. 4. dsb). Penyediaan perangkat (protap.

kategori 2. kertas saring. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. dan sisipan. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Rak pewarna dan pengering. Minyak imersi. Logistik OAT. penyimpanan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. pengadaan. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. 48 . Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. Eter Alkohol. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. Reagensia Ziehl Neelsen. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. dan tiap blister berisi 28 tablet. kaca sediaan. monitoring dan evaluasi. pendistribusian. Slide Box. Kertas pembersih lensa mikroskop. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. Lysol. Lampu spiritus. 1. a. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. b. Ose. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak.

• sisa stock OAT yang ada. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • buffer-stock. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). perencanaan ini diteruskan ke pusat. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi.

Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kabupaten/Kota dan UPK. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). Keutuhan kemasan dan wadah 50 . Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. f. Monitoring dan Evaluasi. d. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. kemasan. b. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. c. Pengawasan Mutu. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. jumlah. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. artinya. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. Setelah OAT sampai di Propinsi. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. e. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda.

Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Waktu hancur atau disolusi 5. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Pemberian 3. Uji potensi 8. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. • Dan pihak lain yang terkait. Identitas obat 2. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. boks dan master boks 5. 3. Kadar zat aktif 7. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Kemurnian/ kadar cemaran 6. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT.

Ose.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Rak pewarna dan pengering. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Lampu speritus. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Slide Box. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. 52 . Botol plastik bercorong pipet dll. Bahan Uji tuberkulin.

1. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. 1 perawat/petugas TB. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. dan kesinambungan (sustainability). Unit Pelayanan Kesehatan 1. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 3 perawat/petugas TB. 3 perawat/petugas TB. kalakarya/on the job training). tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. pelatihan dan supervisi. supervisi. dan 1 tenaga laboratorium 53 . Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. pembinaan (pelatihan. 2. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program.

Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. b. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. (Fakultas Kedokteran. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. 2 perawat/petugas TB. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. 2 perawat/petugas TB. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Fakultas Keperawatan. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 5 fasilitator pelatihan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 2. menyesuaikan. 3. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. 2. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. terdiri dari: 1. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. dan lain-lainnya. dan lain-lainnya. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. minimal telah dilatih. jumlah tergantung kebutuhan. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. Pelatihan ulangan (retraining). dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Dokter Praktek Swasta. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 3. jumlah tergantung kebutuhan. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. seluruh materi diberikan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Pelatihan penuh. Tingkat Provinsi 1. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 2.

kinerja (supervisi) . c. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi.. fasilitator. pelatihan DOTS plus.reaksi dan . pelatihan TB-HIV. • persiapan administratif penyiapan bahan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. metode pembelajaran.dampak 55 .pembelajaran • paska pelatihan . surveilans. seperti: pelatihan manajemen OAT. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan .1. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. peserta. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. pelatihan advokasi. dana. kepanitiaan. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. materi. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. d. Pelatihan penyegaran. Materi berbeda dengan pelatihan dasar.

Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang.2. Tidak semua harus dipelajari. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih.

Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. diskusi. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. bantuan teknis. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. 3. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.

hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. pemetaan wilayah. Pelaksanaan supervisi. sebagai berikut: 1. RS. Penjadwalan kegiatan supervisi. . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. terutama pada tingkat UPK : 1.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. 3.01 dan TB. . . 2. . partisipatif dan tidak instruktif. 58 . serta kebutuhannya.06. 2. empati. bila memungkinkan . yaitu: .Pada tahap awal pelaksanaan program.Melakukan pendekatan fasilitatif. maka perlu dilakukan persiapan. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. Kepribadian supervisor.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. BP4. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. .03) . Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. .Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. penuh perhatian.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. . misalnya angka konversi rendah.Pelatihan baru selesai dilaksanakan.Menjadi pendengar yang baik.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. . . . Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. Pengumpulan informasi pendukung.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. 2.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. Kegiatan penting selama supervisi. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. 4. misalnya laporan. angka kesembuhan rendah. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.

5. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. realistis. Memberikan umpan balik saran yang jelas. 1. Laporan supervisi. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. kreatifitas. b. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. dapat dilaksanakan. f. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. melakukan on the job training.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. realistik. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. 2. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. 59 . sebaiknya 3 lembar: . maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. inovatif. tidak mampu melaksanakan. mungkin karena tugasnya tidak jelas. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. inisiatif. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. maka berarti ada masalah kinerja. 3. praktis. dan tidak menciptakan masalah baru. c. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. d. e. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. g.

60 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor.

organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . 61 . Lembaga Swadaya Masyarakat.Meningkatkan sumber daya. Potensi melibatkan sector lain 4. Keterbatasan sector pemerintah 3. legislative. Beban masalah TB yang tinggi 2. Keberlanjutan program 5. mengingat : 1. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. b.Meningkatkan koordinasi .Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. organisasi keagamaan. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi.Meningkatkan komitmen . sektor swasta. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. mutu. kelompok media massa. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. c. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. organisasi profesi. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin.Meningkatkan komunikasi . Akuntabilitas. baik dari pemerintah.

tugas dan fungsi masing. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. f. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. Pemantauan dan penilaian. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. sarana dan prasarana. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Pembentukan Komitmen. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. e. disepakati sejak awal. Penyamaan persepsi. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. Melakukan kegiatan. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. Identifikasi. dana. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. Komunikasi intensif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. 3. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. g. b. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. c. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. b. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Pengaturan peran.

secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Dalam konteks penanggulangan TB. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. komunikasi. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. 63 . 1. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Dalam konteks global. Pada konteks dalam negeri. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB.

Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.factor lain 64 . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .Angka kesembuhan .Sumber dana (APBN.Tenaga Penyuluh .Buku Pedoman .1.Media Promosi . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .

Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. 1. Memilih strategi yang tepat (advokator. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. memberikan laporan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). 65 . bah-kan dalam bentuk kelembagaan. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. dan Mobilisasi sumber dana. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. 2. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. pelaksana. Dalam proses komunikasi.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. berfikir. metode dsb) Mengembangkan bahan. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. b. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. konsultasi. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. pertemuan/rapat kerja.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. menulis dan lain-lain.

lancar tidaknya suatu proses. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.Rapat pertemuan-pertemuan. latihan (meningkatkan kemampuan) . Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. c.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). percakapan. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama.Radio.Demonstrasi.Surat kabar. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. 66 . seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. 3. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. d. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa.Televisi. seminar peningkatan pengetahuan . Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan.

Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. alih pengetahuan dan keterampilan.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. 4.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. motivasi. Kader TB dan sebagainya. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. .Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB.Memerlukan pengulangan secara periodik. pesan. .Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak.Memenuhi permintaan masyarakat.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . 5. 2. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. . sasaran. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. . Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. .Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. . .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. harus merupakan elemen kemasyarakatan. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. keluarga.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . 3. KIE berbasis individu. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.Community material : Sarana masyarakat . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. dan ormas lainnya 67 .Community fund : Dana yang ada di masyarakat . ikut menjadi PMO.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .indikator dan umpan balik mobilisasi. masyarakat.

Komisi 9 DPR Akademisi.organisasi profesi.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. 68 . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. profesi (IDI. Tabel 9. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. Langkah-langkah mobilisasi sosial .1. Kunjungan rumah. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). . Lintas program. Penyuluhan kelompok.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. dunia usaha. LSM. dapat digunakan tabel contoh berikut. . . Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. LSM. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Konseling. PAPP) LSM. Diskusi kelompok (DK).mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. . dll Peminatan Kebijakan. Ormas. Lintas sektor.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan.

Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. billboard dan spanduk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 69 . filler/spot.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). radio spot. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV.

strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. UPK polisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. UPK di tempat kerja. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. 2. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. Setelah mencapai prakondisi tersebut. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%.1. antara lain : rumah sakit. UPK lapas / rutan. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. dan seluruh petugas terkait. 1. BP4. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK. dan lain lain. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. 70 . Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. 74 . TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. 1. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). akses pelayanan kesehatan. pengendalian mutu pelayanan. 2. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan.

kuasi eksperimen. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. Penelitian operasional tuberkulosis. 75 .Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. 3. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . 2. eksperimentasi. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis.Spesifik terhadap program tuberkulosis . focus group discussion. b. antara lain: 1. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. in-depth interview dan lain-lain. misalnya dengan melibatkan pustu.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . a. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. a. modeling. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. bidan di desa.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . termasuk survei. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). dan community based approach. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. termasuk mutu kinerja laboratorium. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. 4. b.

Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. TBKusta. 4. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. 5. 6. Dokter Praktek Swasta. c. seperti: TB/HIV. dan lain-lain. 7. dan UPK lainnya. 76 . Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS.

• menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Laboratorium dan unit lainnya. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. sosial budaya. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. Dalam sistem desentralisasi. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. a. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Dinas Kesehatan Propinsi. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. Puskesmas. 77 . ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. pendidikan.

seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). pencapaian program (penemuan pasien. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. method. Selain data tersebut. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. pohon masalah dan log frame. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). b. diseminasi informasi serta umpan balik. money. material. komitmen nasional maupun international. dicari masalah dan penyebabnya. dan metodologi yang digunakan (method).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. 2. Untuk maksud tersebut. Untuk memudahkan. keberhasilan pengobatan). Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. Dari kesenjangan yang ditemukan. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. dan market). Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. angka kesembuhan. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. dana (money). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. a. sampai dimana kemajuan program. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. logistik (material). IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. antara lain kebijakan lokal. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). • Disamping untuk perencanaan. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. keberhasilan diagnosis. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan.

MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Terkait dengan masalah d. Terukur (kuantitatif) e. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. . Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. Memiliki target waktu. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). 4. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Dalam menetapkan pemecahan masalah. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. 5. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . 1) Daya ungkitnya tinggi. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. Rasional (realistis) f. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. 3. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility).

dan kemitraan. sarana. pengobatan dan case holding pasien. diagnosis pasien. perlu dinilai semua unsurnya. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. karena akan memberikan dampak epidemiologis. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. sampai pada pencatatan pelaporan. Masing-masing aspek tersebut. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. c. 3) Kesiapan : Tenaga. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. BP4. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . b. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. yaitu penurunan jumlah pasien. kepadatan penduduk. Pada tahap awal. namun perlu didukung dengan data penyakit. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. RSTP dan dokter praktek swasta). RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. rumah sakit. Setelah itu baru rumah sakit. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. BP4. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program).

Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. Perluasan unit pelaksana.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Penetapan target. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan.

tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. Cara pemantauan. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. 6. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. bukan budget oriented. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Dengan kata lain disebut program oriented. d. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. e. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. b. c. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. 82 . Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Pelaksana (siapa yang memantau).

Kabupaten/Kota. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. diinterpretasi. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. dianalisis. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. bagian atas. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. BP4. proses. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. Rumah Sakit. 1. Propinsi. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. maupun keluaran (output). Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). BP-4. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. PPM. RS. 3.

Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 3. Tabel 12. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut.1. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. 2.

2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. BP4 atau dokter praktek swasta. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. misalnya rumah sakit. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 .15%. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB .000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. indikator ini tidak dapat dihitung. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. 86 .

Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. kemungkinan terjadi overdiagnosis. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Bila angka ini jauh lebih rendah. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Angka ini berkisar 15%. itu berarti mutu diagnosis rendah.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2.

Di tingkat kabupaten.12 bulan sebelumnya. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. default (drop-out atau lalai). Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. gagal.01. meninggal. dan pindah keluar. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Di tingkat kabupaten.08. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. propinsi dan pusat. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK.01. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat.11. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka default tidak boleh lebih dari 10%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. setelah selesai pengobatan. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. setelah pengobatan intensif (2 bulan). angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. X 100 % 88 . Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. propinsi dan pusat. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

Geneva. WHO-SEARO. Jakarta.24/Ind/P 5. London and Oxford. 19. 2002.313 20. IUATLD. 21. Toman’s Tuberculosis. Jakarta. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. 2003 7. 2000. 17. Paris. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. New Delhi. ISBN 97996622-2-2 10. IAUTLD. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. PDPI. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. 11. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. New Delhi. Jakarta. and Control of Tuberculosis. 1998. 2005. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Case Detection. 1998 4. W85 13. WHO. Geneva. WHO/IUATLD. WHO/HTM/TB/2004. Atlanta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. Geneva. Washington. WHO. Paris. What the Clinician Should Know. Depkes RI. IUATLD. WHO/CDS/TB/2002. WHO. Geneva. 2nd edition. WHO. Adherence to Long Theraphy. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 1999 4. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. Miller F. Effective Diagnosis. Laboratory Service in TB Control: part 2. WHO/TB/98. 2000 18. Organization and Management.334 15. McMillan Education Ltd. Cetakan ke-10. Treatment and Monitoring. 1997. 1999 BAB 5. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). A guide for Tuberculosis Treatment Support.210 14. WHO/CDS/TB/2003. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. WHO. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. 22. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. 2003. 2006 9. A Tuberculosis for Specialist Physicians. 2006 8. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. 2006. Geneva. PP IDAI-UKK Pulmonologi. 2002. 2004. Crofton J. 23. WHO. SEA/TB/248 24. Core Curricullum on Tuberculosis. ATS/CDC/IDSA. 2006. Depkes RI. 2003. Atlanta. Depkes/UKK Respirologi IDAI. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Geneva. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Jakarta. Geneva. Treatment. Tuberculosis: Epidemiology and Control. Laboratory Service in TB Control: part 1. 4th edition. Geneva. WHO. Depkes RI. 2004. Jakarta. 2002. Geneva. Clinical Tuberculosis. Horne N. Paris. CDC/US Department of Health and Human Service. WHO.258 5.300 12. 2000. Kelompok Kerja TB-HIV. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). Microscopy. 2003. WHO/TB/96. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Atlanta.258 92 . WHO-SEARO. 1999 2. WHO. Jakarta. 2004. 2002 3. Geneva. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. 2003 2. The Hague. ATS/CDC/IDSA. External Assessment for AFB Smear Microscopy. 616. New Delhi. WHO/TB/98. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Treatment of Tuberculosis. WHO-SEARO. 2004 6. Jakarta.995. 16. 1998.329W. 2003 3. 3rd edition. WHO/HTM/TB/2004.

308 BAB 7. WHO. Geneva. McMahon Rosemary. Cetakan ke-10. How to Organize Training for Distric Coordinator. No. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. McMillan. 12. 2003 9. 2005. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. 2006. WA 530. Geneva. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. WHO. Geneva. 2006.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Revised and Updated 1998. MSH/WHO. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WHO. Prentice Hall. 15. Insan Cendekia. WHO/CDS/TB/2002. WHO. Training in Australia: Design. Mangkunegara Anwar Prabu. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Geneva.350 11. Depkes RI. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Surabaya. WHO/HTM/TB/2005. WHO/CDS/TB/2002. Jakarta. unpublished). 1998 8. Geneva. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.347 13. 2003 6. 2005. A Usmara (ed). Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). WHO/HTM/TB/2005.301. WHO-SEA. WHO/HTM/TB/2005. Depkes RI Badan PPSDM. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. WHO. 2002.353 16. WHO/HTM/TB/2005. Amara Books. 2001 7. 2002. 1992 2. 2005.347c 17. Depkes RI. 93 . Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. WHO/CDS/STB/2002. WHO. WHO. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. New Delhi. Modul D : Provide Training for TB Control. Teaching Health care worker: A practical guide. Jogyakarta. Abbat FR. Manila. WHO. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. WHO. 1999. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. Evaluation and Management. Working together for Health. WHO. Geneva. WHO. Geneva. WHO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.725/Menkes/SK/V/2003). Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control.1 19. Geneva. Tovey MD. 2002 2. Geneva. 2003. Educational Hanbook for Health Personal.24/Ind/P 5.347d 18.995. JJ Gilbert. Geneva.1991 3. 2005. Abbat FR. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Geneva. Irianto Jusuf. November 2005 14. 2005. 2003 4. Sydney. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. 616. 1997 10. Geneva. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Jakarta. 2005. W 21. The World Health Report 2006.19 3. Delivery. Refika Aditama. (comprehensive draft. Bandung. Jakarta. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes.2002. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. WHO-WEPRO.

TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. 1999. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. The Power of Partnership. Tearfund. Jakarta. WHO.312 7. WHO/CDS/TB/2003. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Issues. SEA/TB/259 5.24 BAB 9. 2003. 2002 6. WHO. Depkes RI. Cetakan ke-10. Geneva. Geneva. 2003. Making Health Communication Program Work. 2003. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. 2004 2. Geneva. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Jakarta. SEA/TB/213 3. WHO/SEARO. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. Atlanta. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. 2006 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. Depkes RI. New Delhi. Jakarta. belum diterbitkan). and Emerging Policy Framework. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2001 2. WHO. 2002 4. Depkes RI. Paris. Gordom Graham.24/Ind/P 94 . Penelitian Tuberkulosis 1. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. WHO/HTM/TB/2005. Kemitraan dengan Sector Swasta. Interventions. 2001 BAB 11. 616. WHO. Jakarta. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. WHO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. 1999 2.995. Public-Private Partnerships for TB Control. New Delhi. WHO/CDS/TB/2003. 2006. 2004 2. 2000 3. Depkes RI Pusdiklatkes. Global Partnership to STOP TB. 2005. IAUTLD.355 3. 2006. 2001 3. Depkes RI. WHO-SEARO. Pedoman Advokasi. WHO/HTM/STB/2003. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. Research Methods for Promotion of Lung Health. Jakarta.323 4. 2006 3. Geneva. WHO-SEARO. Advokasi. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. WHO. TB Advocacy: Practical Guide. Atlanta. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Depkes RI Pusat PKM. Understanding the TB Cohort Review Process. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Geneva. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Jakarta. 2001 2. 2003. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan.

253 6. Paris. Perencanaan 1. New Delhi . Jakarta. Combating Tuberculosis. Geneva. Geneva. Depkes RI.253 5. Geneva. Geneva. 1996 3.240 BAB 13. WHO. 2006. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs.995. 1999 6. 1998. Tuberculosis Handbook. 616. 2005 4. WHO/TB/98.344 5. WHO/SEARO. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. National Level TB Management Cycles. Stop TB Partnership. WHO. WHO. (draft. New Delhi . 1999 95 . WHO/HTM/TB/2004. Tuberculosis Handbook. belum dipublikasi). Principles for Accelerating DOTS Coverage. 1998. Cetakan ke-10.24/Ind/P 2. WHO/TB/98. 4th edition. 2004. WHO/TB/98. WHO/SEARO. WHO. Geneva. 1998.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.

Philippine Coalition Against Tuberculosis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). International Council of Nurses. Indonesian Association of Pulmonologists. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).). Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). antara lain : Indian Medical Association. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. (dewasa. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI).S. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. dan World Care Council. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. American College of Chest Physicians. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Infectious Diseases Society of America.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. U. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI.S. Philippine College of Chest Physicians. Centers for Disease Control & Prevention. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. TB ekstra paru. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Terdiri 17 standar. dimana semua praktisi. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Stop TB Partnership. American Thoracic Society. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . pasien TB dengan BTA negatif. termasuk pasien TB dengan BTA positif.

Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. Pada pasien dengan atau diduga HIV. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Bila ada fasiliti. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Pada pasien demikian. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. (dewasa. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. foto toraks menunjukkan kelainan TB. bilasan lambung atau induksi sputum. Fase awal terdiri dari INH. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan.Rifampisin. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. pleura. 97 .

Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. paling baik dinilai secara klinis. Rifampisin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. 98 . Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Rifampisin.

Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Rifampisin dan Etambutol. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). 104 .Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Reg. dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. as. sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Reg.Lab Hasil/ Tgl.GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . an atau lebih dengan BTA positif.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. Reg. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. .A= dahak sewaktu pertama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. 106 . B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. yang merupakan nomor urut UPK. sebagai berikut : . yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. 02/15/237 B dan 02/15/237 C. misalnya 02. yang merupakan nomor urut kab/ kota.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. . misalnya 237. misalnya 15.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. . .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

70 BTA : 5.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. 87 .efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 64. . 12.Diagnosis TB ekstra paru: 14 .Fokus DOTS : 7 . 71. 11. 70. 63. 22. Buffer stock : 49 Cakupan .Diagnosis utama : 14 .analisa indikator : 85 .analisa situasi : 77 Angka . 9. AKMS : 1.pola pikir : 64 . CBA : 81 CDR : 9.strategi AKMS : 65 Analisa : 85. 63.Alur diagnosis TB paru : 15 . 39.batasan : 63 . 65 AIDS (lihat juga HIV) : .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 11. 91 . 89 .efek samping ringan : 31 . lihat uji silang D Dahak . . 14 Darurat . 2. 23 BP4 : 8.angka konversi : 88 .Angka gagal : 89 .peningkatan cakupan : 80.Overdiagnosis : 14.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7.lihat hasil pengobatan . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.dampak terhadap TB : 4. 13.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 5.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . B C 118 .Diagnosis TB paru : 14 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 2.lihat PMO DOTS : 7.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.pandemi : 4 .efek samping berat : 32 . . 9. .pertimbangan dokter : 15 DOT .angka kesembuhan : 9 . 29.Angka default : 89 .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 6 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 65. 11. 10. 64.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .indikator jejeraing : 71 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .lihat visi KDT-OAT : 20.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. 16.Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.kasus setelah putus berobat : 18 .indikator program : 84. 85. 5.Kesalahan kecil .langkah-langkah kemitraan : 62 .tujuan : 61 .evaluasi pembelajaran : 56 .kasus baru : 18 . .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .klasifikasi penyakit : 16 119 I J .keuntungan KDT : 20 . 48.kategori 1 : 20 .dosis paduan KDT-OAT : 21.kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .kasus setelah gagal : 18 . 21.jejaring internal : 71 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .kasus kambuh : 18 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15. 86 . 22 Klasifikasi : 16 . 17.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 6.Kesalahan besar .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .syarat indikator : 85 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .syarat jejaring yang baik : 72 . 29. 89.lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .prinsip dasar kemitraan : 61 . 49 .kasus pidahan : 18 .kasus lain : 18 .Gejala utama : 13 .definisi kasus : 16 . 11.kasus TB : 18 . 18.kasus kronik: 18 .Kesalahan Gradasi (KG) . 7.evaluasi kinerja : 56.pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .kategori 2 : 21 .indikasi operasi : 31 .lihat hasil pengobatan .jejaring ekternal : 71 . .pembentukan jejaring : 71 . 22. 30.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 . 57 .evaluasi dampak : 56 . Indikasi .Gejala klinis pasien TB : 13 .

definisi komunikasi : 63.klasifikasi berdasarkan organ : 17 .OAT sisipan 20.Laboratorium mikroskopis UPK : 37.masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 41 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.menetapkan masalah prioritas : 78 .penggunaan pada pasien TB : 31 . 65 .Laboratorium rujukan nasional : 35.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .negara dengan beban masalah TB : 4 .Konsep pelatihan : 54 . 67 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .pemantapan mutu eksternal : 45 .standar kompetensi : 57 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . peran.fungsi.definisi : 63.inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 7.identifikasi masalah : 78 . 39. 54 .klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Evaluasi pelatihan : 56 . 10.masalah MDR : 4. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 7 . 9 .masalah prioritas : 7. 66 . 21 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .pemecahan masalah : 79 . 42 .Mempertahankan mutu : 80 . . .Materi pelatihan : 56 . 40 .efek samping OAT (lihat efek samping) . 38.Laboratorium rujukan uji silang : 35. 49.tujuan mengatasi masalah : 79 . sifat dan dosis : 19 .bentuk-bentuk : 88 .Pelatihan dasar : 54 120 P M . O OAT . 9.Koordinator pelatihan : 56 .prinsip : 66. 80 . 6.Pelatihan dalam tugas : 54 .beban masalah TB (penyebab) : 4 .Jenis. 53 . 8.Jenis logistik : 48 . lihat MDG Misi .peningkatan mutu : 44.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 37.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.Laboratorium rujukan provinsi : 35.Manajemen logistik OAT : 49 . 40 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .pemantapan mutu internal : 44 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 10.ruang lingkup : 34 . 6. 51 .Laboratorium rujukan regional : 35. 39.

Prinsip pengobatan : 19 . 10.pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .Batasan : 53 . 37.Karakteristik penelitian TB : 74 .pengobatan pencegahan : 24 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .batasan : 70 . 70 . 35.memilih prioritas : 79 Program TB : 1.kebijakan program : 9 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.program TB di Indonesia : 8 . 11.tujuan : 44 PPM .tujuan perencanaan : 77 . 8 .strategi program: 10 .Ruang lingkup : 75 . 79 .tujuan PSDM : 53 .tujuan dan target : 9 . 9.lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 36. 37.tahap : 44 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.pengobatan lengkap : 29 .Pelatihan ulangan : 54 . 9. 10.Pelatihan penuh : 54 . 36.visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 36.pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .Langkah-langkah .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .perencanaan : 45 .Pelatihan penyegaran : 55 .pencatatan di UPK : 84 . Q QA (quality assurance) : 35 121 . 74 . 36. 7.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Tujuan pengobatan: 19 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .kegagalan program : 4 . 40 . 26 .siklus perencanaan : 77 . 40. .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 40 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB . 77. 35. 10. 35.Metodologi : 75 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .perencanaan berbasis bukti : 77 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .Pelatihan lanjutan : 55 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .lihat public-private mix .Puskesmas Satelit : 11. 35. 2.Persyaratan : 25 . 37. 37. 4. 25.prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11. 53 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .pencatatan di laboratorium : 85 .

29 Z Ziehl-Neelsen : 35.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 . 35.pemetaan : 81 WHO : 6.laporan supervisi : 59 . 10. 10 .sasaran wilayah : 82 .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.sasaran buku : 2 .target program : 9 Tatalaksana : .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. 52. 40.Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 6 . 122 . 44. U V Valid : 85. .persiapan supervisi : 58 .tatalaksana TB anak : 22 .Pukesmas : 53 . Rate (lihat juga angka) .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.risiko penularan TB : 5 .tujuan buku : 2 .case notification rate (lihat CNR) .dokter praktek swasta : 54 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . VCT : 30 Visi . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.gambaran radiologis : 14. 82 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . 7.supervisi laboratorium TB : 46 .Tipe pasien : 18.TB .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .prinsip dasar tatalaksana : 13 . 37.faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14. 22.case detection rate (lihat CDR) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .tingkat kabupaten/kota : 54 .perencanaan supervisi : 58 .pengembangan : 80 .risiko menjadi sakit TB : 5 .tujuan program : 9 .Penentuan tipe : 18 Tujuan .penetapan target : 82 .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .pelaksanaan supervisi : 58 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 53.kegiatan supervisi : 57 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1. 82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful