P. 1
Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tbc

Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tbc

|Views: 30|Likes:
Published by Destya Megawati

More info:

Published by: Destya Megawati on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2012

pdf

text

original

PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Tujuan Penelitian 2. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Standar Ketenagaan 2. Jenis Logistik Program 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Pelatihan 3. Batasan 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Analisa Situasi 2. Manajemen OAT 3. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pembentukan Jejaring 3. Menetapkan Tujuan 4. Langkah Langkah 3. Metodologi 4. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Indikator Program 9. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Pencatatan dan Pelaporan 8. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Kerangka Pola Pikir 3.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .

Berbagai kemajuan telah dicapai. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). ketidakproduktifan. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. swasta maupun lembaga masyarakat. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. Siti Fadilah Supari. SpJP(K) v . namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. dan kelemahan akibat TB. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. dr. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Selamat berjuang! Jakarta.

Jakarta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. PAPDI. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. lembaga swadaya masyarakat. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. MPH vi . Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. I Nyoman Kandun. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia.000 pertahun. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. IDAI. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. Penambahan bab-bab baru meliputi : .Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .Supervisi.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.Penelitian TB . indikator pemantauan dan evaluasi. maka dilakukan penanambahan.Kemitraan. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT).Tuberkulosis dan permasalahannya.Manajemen Laboratorium TB . pengurangan. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . sementara situasi program penanggulangan TB. . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi).Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . . alur diagnosis anak (sistem skoring).Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis.Pelatihan. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .Advokasi. . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Tuntutan masyarakat akan mutu. definisi kasus TB. .

dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . - 2 . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Sebagai sebuah pedoman.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. . akan dikembangkan dalam buku tersendiri.Diagnosis TB. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. propinsi.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . klasifikasi penyakit dan tipe pasien.Tuberkulosis.

terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga. maka akan kehilangan 3 . Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. Insidens TB didunia (WHO. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. persalinan dan nifas. Jika ia meninggal akibat TB.1. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Pada tahun 1995. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Gambar 2. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Situasi TB didunia semakin memburuk. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Selain merugikan secara ekonomis. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. • Kegagalan program TB selama ini.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh: . gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . Menyikapi hal tersebut. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. • Dampak pandemi infeksi HIV.000 penduduk. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Diperkirakan pada tahun 2004. pencatatan dan pelaporan yang standar. dan sebagainya). .Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101. obat tidak terjamin penyediaannya. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. pada tahun 1993. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. Pada saat yang sama. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. tidak dilakukan pemantauan. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. Di Indonesia. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. 4 .Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . .000 orang.

sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. ARTI sebesar 1%. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Dengan ARTI 1%. makin menular pasien tersebut. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. . . Sebagian besar kuman TB menyerang paru. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. .Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. 5 . maka jumlah pasien TB akan meningkat. • Risiko penularan .Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity).Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.Pada waktu batuk atau bersin. . ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. • Cara penularan .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. . dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. • Risiko menjadi sakit TB . diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). . .Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. diperkirakan diantara 100.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. .Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. seperti tuberkulosis.

akan: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Penerapan strategi DOTS secara baik.2. setelah 5 tahun. best practices. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM. immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.50% meninggal . clinical trials. 6 .

akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Pada tahun 1995. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. termasuk pengawasan langsung pengobatan. 6. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Komitmen politis 2. 3. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. 5. 4. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. 2. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 7 . Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. 5. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 3. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Mencapai. 4. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.

Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Sejak tahun 1995. 1. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. • Indonesia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . • Tahun 1995. Setelah perang kemerdekaan. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. sampai saat ini. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Sampai tahun 2000. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). • Sampai tahun 2005. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Di Indonesia.

serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. l. 3. Rumah Sakit Paru (RSP). Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. tenaga. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. masyarakat dan pekerjaannya. j. sektor pemerintah. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. KEBIJAKAN a. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. pelaksanaan. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). i. e. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. k. sarana dan prasarana) b. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. memutuskan rantai penularan. meliputi Puskesmas. f. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. h.

Kemitraan 6. STRATEGI a. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. KEGIATAN a. Peningkatan SDM (pelatihan. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Perencanaan c. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Penemuan dan pengobatan. Menteri Kesehatan R. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. c.I. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Penelitian f. d. 10 . b. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. e.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. b. Tingkat Pusat. Pemantauan dan Evaluasi d. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Rumah Sakit. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Unit Pelayanan Kesehatan. Tingkat Kabupaten / Kota. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Promosi g. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. supervisi) e.

Menghadapi tantangan TB-HIV. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Pada keadaan geografis yang sulit. rumah sakit atau BP4. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. • • 7. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. 11 • . Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Rumah Sakit Umum. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB.

Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. b. Memperkuat penelitian operasional 12 . optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3.

Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. kanker paru. harus diperiksa dahaknya. dianggap tidak cost efektif. diagnosis. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. 1. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. yang menunjukkan gejala sama. petugas yang terkait. malaise. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. terutama mereka yang BTA positif. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. nafsu makan menurun. berat badan menurun. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. asma. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. dan lain-lain. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. pelaporan. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. bronkitis kronis. demam meriang lebih dari satu bulan. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. batuk darah. sesak nafas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. pencatatan. badan lemas. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. didukung dengan penyuluhan secara aktif. seperti bronkiektasis. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.

misalnya uji mikrobiologi. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. 14 . Pada program TB nasional. Diagnosis TB ekstra paru. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. serologi. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua.pagi sewaktu (SPS). misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. Pada saat pulang. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. yaitu sewaktu . 2. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. foto toraks dan lain-lain. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). sehingga sering terjadi overdiagnosis. saat menyerahkan dahak pagi. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. segera setelah bangun tidur. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. patologi anatomi.

.- Hasil BTA . Pagi.- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + . Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis . Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + ..PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.1. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel. 15 .- .- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.Sewaktu.

(lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. 3. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. yaitu: .mengurangi efek samping.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. pleuritis eksudativa.Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. • • • 16 .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: . . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . . . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .registrasi kasus secara benar .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .

dan kelenjar adrenal. milier. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. TB tulang belakang. . persendian. saluran kencing. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. yaitu: . . alat kelamin.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. kulit. dan lain-lain. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.TB ekstra paru ringan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. misalnya pleura. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. . pleuritis eksudativa bilateral. yaitu bentuk berat dan ringan.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . . Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. 17 . usus. selaput otak. TB saluran kemih dan alat kelamin. tulang.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. pleuritis eksudativa unilateral. perikarditis. ginjal. . peritonitis.TB ekstra-paru berat.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. misalnya: TB kelenjar limfe. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. tulang (kecuali tulang belakang). maka untuk kepentingan pencatatan. . sendi. misalnya: meningitis. • Tuberkulosis ekstra paru. . selaput jantung (pericardium). Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. kelenjar lymfe. dan atau keadaan umum pasien buruk. TB usus.

Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Meskipun sangat jarang. gagal. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru.. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. radiologik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). dapat juga mengalami kambuh.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. default maupun menjadi kasus kronik. • • • 18 . harus dibuktikan secara patologik. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. dan pertimbangan medis spesialistik. bakteriologik (biakan).

Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) .Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . Jenis. mencegah kekambuhan. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Tahap Lanjutan . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. .Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat.1. mencegah kematian. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Tahap awal (intensif) . biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Jenis. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . yaitu tahap intensif dan lanjutan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.

1.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. 2. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: .Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Paket Kombipak. Pirazinamid dan Etambutol. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. . sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Disamping kedua kategori ini. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. yaitu Isoniasid. Rifampisin.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.

3. (1ml = 250mg) 3. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. 21 .2. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3.

CT-Scan. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.4. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. seperti bilasan lambung. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. pungsi lumbal.5. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . funduskopi. Setelah dokter melakukan anamnesis. patologi anatomi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. dan pemeriksaan penunjang. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. pemeriksaan fisik. 22 . tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Lihat tabel 3. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). dan lain lainnya. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. pungsi pleura. foto tulang dan sendi. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). 5. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama.

--> lampirkan tabel badan badan. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. aksila. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.5. lutut. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. Sinusitis. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. dan lain – lain. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. 23 . BTA negatif atau tidak tahu. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). kelenjar limfe koli. jumlah >1.

Setelah pemberian obat 6 bulan . misalnya sesak napas 2. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Gibbus. kavitas. koksitis Gambar 3. efusi pleura 3. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 .2. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. OAT pada anak diberikan setiap hari. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Tabel 3. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.6. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. OAT tetap dihentikan. Tanda bahaya: kejang.

Pekarya. anggota PPTI. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. dipercaya dan disetujui. Perawat. a. dirujuk ke rumah sakit. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. PKK. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Juru Immunisasi. 6. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Obat harus diberikan secara utuh. Sanitarian. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. 25 . Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. c. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. Anak dengan BB > 33 kg . • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. misalnya Bidan di Desa. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. PMO dapat berasal dari kader kesehatan.7. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. dan lain lain. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. guru.

Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. d. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. 26 .

Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai.8. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Beri Sisipan 1 bulan. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Jika mungkin. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. tahap lanjutan tetap diberikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan.

28 . Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. dahak.9. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan.

Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. kecuali streptomisin. 29 . Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. b. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Menurut WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. • • • • • 8. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. a. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. harus dihentikan. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. suntikan KB. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. d. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. susuk KB). 30 . oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. d. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Pasien dengan kelainan hati. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal.

mual. 9. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. kemudian diturunkan secara bertahap. h. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. 31 . EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. setelah selesai pengobatan TB. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Tabel 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. g.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. karena dapat memperberat kelainan tersebut. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan.

ganti Etambutol. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi.11. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. ganti Etambutol. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Bila mungkin. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. ganti obat tersebut dengan obat lain. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Untuk membedakannya. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. Hentikan Rifampisin. hentikan semua OAT. segera lakukan tes fungsi hati. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Bila keadaan seperti ini. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Streptomisin dihentikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Hentikan semua OAT. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Streptomisin dihentikan. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Hentikan Etambutol. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Berikan dulu anti-histamin.

33 . Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Namun. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.

mudah. Propinsi. murah. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. mulai dari tingkat Kecamatan. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. harus mengikuti acuan/standar. Sumber daya laboratorium. 34 . Namun. bersifat spesifik. Untuk mendukung kinerja program. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Keamanan dan kebersihan laboratorium. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. dan Nasional. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. Kab/Kota. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Kegiatan – kegiatan laboratorium.

Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. uji kepekaan M. Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. BP4. Laboratorium rujukan Regional. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Laboratorium rujukan Nasional. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. peran. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. b. 35 . e. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. c. RSP dll. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. tb dari spesimen dahak. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. Rumah Sakit. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. dll. identifikasi dan DST M. identifikasi. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA).

PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Australia.1.

Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. sampai diperoleh hasil. .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. .Laboratorium mikroskopis TB. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. . . dan keamanan dan keselamatan kerja. Laboratorium mikroskopis TB UPK. b. . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat.Peran: . PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. .Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. FUNGSI dan PERAN. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. . Catatan : Bilamana perlu.Fungsi: . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak.

3.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. Laboratorium rujukan Provinsi. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB.Menyelenggarakan pembinaan Lab.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Tanggung jawab: . . identifikasi dan tes kepekaan M. Fungsi . . Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. .Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. TB dari dahak. . Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. Isolasi. 1.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. 38 .Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . isolasi. termasuk EQAS sesuai jejaring. - c. . . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. 2. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.

tuberculosis. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. Laboratorium rujukan Regional. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium rujukan untuk isolasi. Laboratorium rujukan Nasional. .Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . . Tanggung jawab: . 39 . identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M.Melaksanakan pemeriksaan isolasi.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. - e. Tugas: .Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. identifikasi dan DST M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. identifikasi dan DST M. identifikasi dan DST M. identifikasi dan uji kepekaan (DST). Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. . rujukan provinsi. Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional.

lampu spiritus.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .pewarna ZN bermutu. .Sarana: . . pipet.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . rujukan pemeriksaan dahak. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. kertas saring.Formulir standard (TB.05). .Ruang: . kerja Lab .1 buah mikroskop binokule .Sarana keamanan .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. kotak sediaan.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . timer. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Sarana: .Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. .Idem PS . lidi lancip. ditambah dengan : .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. corong.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . sticker. . kertas lensa.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Ruang: . Mikroskopik dahak BTA) . minimal SMAK/setara . penjepit sediaan dari kayu. kaca sediaan/frosted sediaan.Botol berisi pasir dan desinfektan . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 . aether alkohol.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Sarana keamanan . timer .Idem PS kerja Lab b. . rak pengering. TB 04 .Desinfektans. ose/lidi.Wadah pembuangan berisi desinfektans.Air mengalir. minyak emersi. minimal SMAK/setara .Idem dengan PS.

2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. .Ruang pelatihan. Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. Laboratorium rujukan Provinsi. Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . . .Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Tb: Idem dengan lab.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Ruang administrasi . . uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . Seorang pembantu analis.Ruang pembuatan media dan reagensia.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.

1 biosafety cabinet class II . . . .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. .1 lemari es.Minimal 2 orang tenaga analis (Media).Alat gelas laboratorium. Teknis alat laboratorium: .Vortex mixer.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.1 incubator.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .Minimal seorang tenaga administrasi.1 timbangan gram (0–500 gr) .Cabinet untuk pembuatan media .Micro-pipette . .5000 g) .1 incenerator / carbonizer .Generator listrik. .1 bio-containment centrifuge (500 . managemen) d. Ruang: .1 inspisator. Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .idem dengan lab Propinsi Sarana: . .Magnetic stirrer.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium. Administrasi: .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .1 freezer (. .300 C) .Blender/homogenizer (autoclavable) . . GLP.1 waterbath. .Botol McCartney . . Laboratorium rujukan Regional.

Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. Laboratorium rujukan Nasional. vortex. UV transilluminator/imaging system . dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. pipet mikro. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis. 1 set pipet mikro. refrigerator. vortex. microcentrifuge. system elektroforesis horizontal. shower .Thermo-cycler .Dot blotter . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). freezer –20oC. refrigerator. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. 1 set pipet mikro.Ruang gelap . 2 orang analis untuk media dan reagensia. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . freezer –20oC. heating blockpem. Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler.Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.1 mikroskop fluorescence .Nucleic Acid Sequencing system .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.Ruang Asam: fume hood.Optional: Fasilitas kultur sel.Ruang dengan negative pressure . eye wash.TB: . dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik.Automated Liquid culture system .ELISA system . Idem ruang lab regional ditambah dengan : . system elektroforesis vertical. Waterbath .

Membantu peningkatan pelayanan pasien. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman.Protap pembuatan media 44 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . pengolahan contoh uji. terintegrasi dalam PMI dan PME.Protap pengelolaan limbah . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. pengambilan. Peningkatan mutu (Quality Improvement).Protap pemeriksaan Mikroskopis . dan harus dilakukan terus menerus. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. Pemantapan Mutu Internal 2. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1.Protap pengambilan dahak . penyimpanan. Pemantapan Mutu Eksternal 3. Mendeteksi keslahan. analisis. pemeriksaan contoh uji.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen .Protap pembuatan sediaan dahak . pasca-analisis. pengiriman.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . misalnya : . Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar.

dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik.Dsb. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Protap inokulasi . Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. laboratorium pembaca pertama. audit internal. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. 45 . dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. Pada pelaksanaan uji silang. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak.

Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. mutu pewarnaan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. penyegaran. pengembangan metoda pemeriksaan 5. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. pelatihan. Supervisi Laboratorium TB. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. sarana dan prasarana laboratorium. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. meliputi : Tenaga : Pelatihan. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. dll. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. pemeliharaan. 46 .

biakan. lingkungan sekitar laboratorium. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. Penyediaan perangkat (protap. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. peralatan. 4. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. masyarakat umum. uji kepekaan. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. 47 . jadwal pemantauan dan evaluasi. dsb). dsb) 2. 1. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. PCR/biomolekuler. serologi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja.

Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. b. Eter Alkohol. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. a. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. 48 . pendistribusian. 1. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. Kertas pembersih lensa mikroskop. Logistik OAT. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. Ose. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. pengadaan. Lysol. Slide Box. penyimpanan. Rak pewarna dan pengering. monitoring dan evaluasi. kaca sediaan. dan sisipan. Lampu spiritus. kategori 2. Reagensia Ziehl Neelsen. kertas saring. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. Minyak imersi. dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1.

Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. perencanaan ini diteruskan ke pusat. MANAJEMEN OAT a. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. • sisa stock OAT yang ada. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). • buffer-stock. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati.

Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. jumlah. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Kabupaten/Kota dan UPK. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Setelah OAT sampai di Propinsi. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. d. Monitoring dan Evaluasi. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. artinya. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Pengawasan Mutu. b. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. e. kemasan. f. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. c. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Keutuhan kemasan dan wadah 50 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat.

• Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. 3. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Waktu hancur atau disolusi 5. Pemberian 3. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. boks dan master boks 5. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Identitas obat 2. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. • Dan pihak lain yang terkait. Kemurnian/ kadar cemaran 6. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Uji potensi 8. Kadar zat aktif 7. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL.

Botol plastik bercorong pipet dll. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. Lampu speritus. Rak pewarna dan pengering. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. Slide Box. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. Bahan Uji tuberkulin. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. 52 . • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Ose.

pelatihan dan supervisi. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. kalakarya/on the job training). dan 1 tenaga laboratorium. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. pembinaan (pelatihan. dan kesinambungan (sustainability). 2. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Unit Pelayanan Kesehatan 1. 3 perawat/petugas TB. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. 1 perawat/petugas TB. 1. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 3 perawat/petugas TB. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. supervisi. dan 1 tenaga laboratorium 53 .

2. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. dan lain-lainnya. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. seluruh materi diberikan. Dokter Praktek Swasta. terdiri dari: 1. 2 perawat/petugas TB. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 3. Fakultas Keperawatan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. 2. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 3. 2. 5 fasilitator pelatihan. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. menyesuaikan. jumlah tergantung kebutuhan. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Pelatihan ulangan (retraining).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Pelatihan penuh. Tingkat Kabupaten/Kota 1. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . dan lain-lainnya. Tingkat Provinsi 1. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. minimal telah dilatih. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. (Fakultas Kedokteran. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. 2 perawat/petugas TB. 3. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. jumlah tergantung kebutuhan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. b. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas.

Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. metode pembelajaran. dana. surveilans. c. peserta. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. fasilitator. kepanitiaan. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. • persiapan administratif penyiapan bahan.dampak 55 . pelatihan advokasi.reaksi dan . • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. seperti: pelatihan manajemen OAT. d.kinerja (supervisi) .1. pelatihan DOTS plus. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. Pelatihan penyegaran.pembelajaran • paska pelatihan .. pelatihan TB-HIV. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. materi.

2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Tidak semua harus dipelajari. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program.

Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. diskusi. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 . bantuan teknis. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. 3. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung.

Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. penuh perhatian. Pelaksanaan supervisi. RS.Menjadi pendengar yang baik. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan. . empati. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Pengumpulan informasi pendukung.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. yaitu: . maka supervisi harus direncanakan dengan baik.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja .03) .Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. serta kebutuhannya. 2. terutama pada tingkat UPK : 1.06. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. Kegiatan penting selama supervisi. 3. maka perlu dilakukan persiapan. . 58 . . .Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. . .Pelatihan baru selesai dilaksanakan. bila memungkinkan . Penjadwalan kegiatan supervisi. .Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. misalnya angka konversi rendah. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. misalnya laporan. Kepribadian supervisor. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. . 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. . angka kesembuhan rendah. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut.Melakukan pendekatan fasilitatif. 4.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.01 dan TB. .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. BP4. pemetaan wilayah. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. 2.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. partisipatif dan tidak instruktif. sebagai berikut: 1. . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan.Pada tahap awal pelaksanaan program.

4. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. 59 . 1. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Laporan supervisi. f. realistik. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. 3. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. tidak mampu melaksanakan. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut).Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. dapat dilaksanakan. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. sebaiknya 3 lembar: . d. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. dan tidak menciptakan masalah baru. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. 2. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Tentukan penyebab yang paling mungkin. inovatif. mungkin karena tugasnya tidak jelas. inisiatif. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. c. g. b. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. maka berarti ada masalah kinerja. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. e. realistis. praktis. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. 5. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. melakukan on the job training. kreatifitas. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor. 60 .

Meningkatkan sumber daya. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . mutu. legislative. Beban masalah TB yang tinggi 2. c. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. Potensi melibatkan sector lain 4. kelompok media massa. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. organisasi keagamaan. Keberlanjutan program 5.Meningkatkan komunikasi . Keterbatasan sector pemerintah 3. sektor swasta.Meningkatkan koordinasi . organisasi profesi. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. mengingat : 1.Meningkatkan komitmen . Lembaga Swadaya Masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. 61 . Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. b. Akuntabilitas. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . baik dari pemerintah.

kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. b. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. tugas dan fungsi masing. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. 3. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. b. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. sarana dan prasarana. Pengaturan peran. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. dana. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. Komunikasi intensif. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Melakukan kegiatan. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. f. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. g. Pemantauan dan penilaian. e. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. Pembentukan Komitmen. Identifikasi.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. c. disepakati sejak awal. Penyamaan persepsi.

Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Pada konteks dalam negeri. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Dalam konteks global. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. Dalam konteks penanggulangan TB. komunikasi. 63 . Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. 1. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis.

Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .factor lain 64 .Buku Pedoman . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .1.Angka kesembuhan .Media Promosi .Sumber dana (APBN.Tenaga Penyuluh .

Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. menulis dan lain-lain. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. 65 . STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. pelaksana. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. memberikan laporan. dan Mobilisasi sumber dana. b. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. berfikir. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. 2. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). konsultasi. Memilih strategi yang tepat (advokator. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. metode dsb) Mengembangkan bahan.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. pertemuan/rapat kerja. 1. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Dalam proses komunikasi. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.

Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.Demonstrasi.Radio. 66 . Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan.Rapat pertemuan-pertemuan.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . c. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. lancar tidaknya suatu proses. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu.Televisi. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. 3.Surat kabar. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . percakapan. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . latihan (meningkatkan kemampuan) . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. seminar peningkatan pengetahuan . sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. d. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa.

baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. keluarga.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. Kader TB dan sebagainya. motivasi. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. alih pengetahuan dan keterampilan. dan ormas lainnya 67 .Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. KIE berbasis individu. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. 4. 3. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. 2. sasaran. pesan.Memenuhi permintaan masyarakat. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .Memerlukan pengulangan secara periodik.indikator dan umpan balik mobilisasi. . .Community fund : Dana yang ada di masyarakat . Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. ikut menjadi PMO.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. .Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. . . memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. . Peran dan karakteristik penggerak masyarakat.Community material : Sarana masyarakat . . harus merupakan elemen kemasyarakatan. . masyarakat. 5. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat.

dunia usaha. . legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. dll Peminatan Kebijakan.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.1. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. dapat digunakan tabel contoh berikut. LSM. Langkah-langkah mobilisasi sosial . Kunjungan rumah.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Lintas sektor. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. profesi (IDI. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. Lintas program. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. PAPP) LSM.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Konseling.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Tabel 9. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD.organisasi profesi. LSM. . . . Ormas. Komisi 9 DPR Akademisi. Diskusi kelompok (DK). digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. 68 . Penyuluhan kelompok.

69 . billboard dan spanduk.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . radio spot. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. filler/spot.

Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. UPK di tempat kerja. 70 . 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. antara lain : rumah sakit. 1. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. dan lain lain. Setelah mencapai prakondisi tersebut. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. UPK polisi. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. 2. BP4. strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. dan seluruh petugas terkait. UPK lapas / rutan. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK.1. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. 1. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. 74 . TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. akses pelayanan kesehatan. pengendalian mutu pelayanan. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. 2. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program.

dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: .Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. Penelitian operasional tuberkulosis. 2.Spesifik terhadap program tuberkulosis . khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. 75 . eksperimentasi. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. termasuk survei. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. b. b.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal .Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. termasuk mutu kinerja laboratorium. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. antara lain: 1. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. 3. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. 4. dan community based approach. modeling. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. misalnya dengan melibatkan pustu. a. a. bidan di desa. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. in-depth interview dan lain-lain. focus group discussion. kuasi eksperimen. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation).

Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. dan lain-lain. 5. seperti: TB/HIV. dan UPK lainnya. TBKusta. c. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. 7. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. 4. Dokter Praktek Swasta. 76 .

daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. a. Rumah Sakit. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Dinas Kesehatan Propinsi. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. 77 . ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Puskesmas. Laboratorium dan unit lainnya. Dalam sistem desentralisasi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. pendidikan. sosial budaya. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut.

Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. sampai dimana kemajuan program. 2. pencapaian program (penemuan pasien. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. a. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). dan market). diseminasi informasi serta umpan balik. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. keberhasilan pengobatan). • Data Program Meliputi data tentang beban TB. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). method. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. Untuk maksud tersebut. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). • Disamping untuk perencanaan. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. money. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. Dari kesenjangan yang ditemukan. b. keberhasilan diagnosis. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). logistik (material). Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. material. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. antara lain kebijakan lokal. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . dicari masalah dan penyebabnya. dan metodologi yang digunakan (method). Data ini diperlukan untuk menetapkan target. pohon masalah dan log frame. dana (money). angka kesembuhan. komitmen nasional maupun international. Selain data tersebut. Untuk memudahkan. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah.

Terkait dengan masalah d. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. 1) Daya ungkitnya tinggi. Rasional (realistis) f. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. . MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Terukur (kuantitatif) e. 4. Dalam menetapkan pemecahan masalah. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. 5. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). 3. Memiliki target waktu. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik.

sarana. karena akan memberikan dampak epidemiologis. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . sampai pada pencatatan pelaporan. yaitu penurunan jumlah pasien. rumah sakit. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. perlu dinilai semua unsurnya. b. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. c. RSTP dan dokter praktek swasta). pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. namun perlu didukung dengan data penyakit. Setelah itu baru rumah sakit. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. 3) Kesiapan : Tenaga. Masing-masing aspek tersebut. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. BP4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. BP4. pengobatan dan case holding pasien. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. diagnosis pasien. dan kemitraan. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. kepadatan penduduk. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Pada tahap awal.

Perluasan unit pelaksana. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Penetapan target. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e.

MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Pelaksana (siapa yang memantau). tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. Dengan kata lain disebut program oriented. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. 6. d. c. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. b. e. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. bukan budget oriented. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. 82 . waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Cara pemantauan. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.

o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. BP4. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. 1. dianalisis. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. diinterpretasi. Rumah Sakit. Kabupaten/Kota. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. proses. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. bagian atas. maupun keluaran (output). Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Propinsi. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing.

Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). PPM. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. BP-4. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. 3. RS. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan.

1. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. Tabel 12. 2. 3.

15%. 86 . Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 .000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. indikator ini tidak dapat dihitung. misalnya rumah sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. BP4 atau dokter praktek swasta. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.

4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif).X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Bila angka ini jauh lebih rendah. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. itu berarti mutu diagnosis rendah. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Angka ini berkisar 15%. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat.

6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. X 100 % 88 . yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap.01. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.08. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. setelah selesai pengobatan. gagal. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. default (drop-out atau lalai). meninggal. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Di tingkat kabupaten. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.11. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. setelah pengobatan intensif (2 bulan). yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. propinsi dan pusat. Di tingkat kabupaten.12 bulan sebelumnya. dan pindah keluar. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. propinsi dan pusat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

2nd edition. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC).258 92 . WHO. PP IDAI-UKK Pulmonologi.313 20. Laboratory Service in TB Control: part 2. New Delhi. Washington. McMillan Education Ltd. WHO-SEARO. What the Clinician Should Know. CDC/US Department of Health and Human Service. Geneva. WHO/HTM/TB/2004. WHO. WHO/TB/98. Jakarta. Geneva. A guide for Tuberculosis Treatment Support. Jakarta. WHO. 2004. 1998. WHO. Tuberculosis: Epidemiology and Control. WHO/CDS/TB/2002. 22. 2006.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. New Delhi. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. Treatment and Monitoring. Kelompok Kerja TB-HIV. London and Oxford. 616. Treatment. Cetakan ke-10. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. 2004. Atlanta.210 14. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Geneva.995. 11. 3rd edition. 1998. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. Organization and Management. Toman’s Tuberculosis. 1999 2. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2002. Geneva. 2002 3. 1999 BAB 5. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Laboratory Service in TB Control: part 1. 4th edition. Miller F. WHO. 1997. 17. 2003. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Geneva. 23. 2002. WHO-SEARO. 2003 2. Geneva. 2003. Atlanta. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Jakarta. Depkes RI. 2004 6. Depkes/UKK Respirologi IDAI. WHO/HTM/TB/2004. Horne N. Case Detection. Geneva.24/Ind/P 5. Jakarta. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers. ATS/CDC/IDSA. WHO. 2006 9. W85 13. 1999 4. and Control of Tuberculosis. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Paris. WHO. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. 2000.329W. IUATLD. A Tuberculosis for Specialist Physicians. PDPI. 16. IAUTLD. Effective Diagnosis. ATS/CDC/IDSA. 19. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. Crofton J. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. 2006.258 5. Geneva. 2002. Adherence to Long Theraphy. Microscopy. Jakarta. 2006 8. WHO-SEARO. The Hague. Jakarta. Paris. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. Tuberculosis: A Manual for Medical Students.334 15. WHO/TB/96. 2000. Jakarta. Geneva. 2005.300 12. 2003. 2004. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. 21. SEA/TB/248 24. 2003 3. Treatment of Tuberculosis. Clinical Tuberculosis. External Assessment for AFB Smear Microscopy. Depkes RI. 2003 7. WHO. Geneva. IUATLD. WHO/IUATLD. 2000 18. New Delhi. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). Depkes RI. Depkes RI. Atlanta. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. ISBN 97996622-2-2 10. WHO/CDS/TB/2003. Core Curricullum on Tuberculosis. WHO/TB/98. 1998 4. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. WHO. Paris.

Manila. 1997 10. WHO.350 11. 2002. 2006. Geneva. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Sydney. Delivery. WHO/CDS/TB/2002. Geneva.995. 15. Revised and Updated 1998. Jakarta. JJ Gilbert. Abbat FR. Evaluation and Management. WHO. WHO. WHO. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. Geneva. unpublished). Jogyakarta. McMillan. Geneva.347d 18. Irianto Jusuf. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. WHO. Mangkunegara Anwar Prabu. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. 1999. Geneva. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Teaching Health care worker: A practical guide. WHO/HTM/TB/2005. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Prentice Hall. Depkes RI. 2005.19 3.301. Cetakan ke-10. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. 2006. WHO/CDS/STB/2002. November 2005 14. No. How to Organize Training for Distric Coordinator. WHO. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. 2003 6. 93 . WHO. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. WHO/HTM/TB/2005. 2005. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Geneva.24/Ind/P 5. WHO/HTM/TB/2005. Bandung. Depkes RI. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Tovey MD.2002. W 21. WHO. 1998 8.347 13. New Delhi. WHO-WEPRO. A Usmara (ed). WHO. (comprehensive draft. MSH/WHO. The World Health Report 2006. 2003 4. 2003. Geneva. Modul D : Provide Training for TB Control. Working together for Health. Educational Hanbook for Health Personal. 2005. WHO. Jakarta. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. WA 530. Geneva.347c 17. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.1 19. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT).353 16. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Geneva. 1992 2. Amara Books. 616. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. 2005. Insan Cendekia. Abbat FR. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. WHO. McMahon Rosemary. Surabaya.725/Menkes/SK/V/2003). Training in Australia: Design. 2002. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. Refika Aditama.308 BAB 7. WHO/CDS/TB/2002. Jakarta. Geneva. Depkes RI Badan PPSDM. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. 12. 2001 7. WHO/HTM/TB/2005. WHO. 2003 9. Geneva.1991 3. 2005. 2005. 2002 2. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. WHO-SEA.

312 7. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. Guidelines for Workplace TB Control Activities. 2001 3. 2006 3. and Emerging Policy Framework. 2006. WHO/SEARO. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. The Power of Partnership.995. Gordom Graham. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. 1999. WHO. 2003. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. WHO. Pedoman Advokasi. Depkes RI Pusdiklatkes. TB Advocacy: Practical Guide. New Delhi. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. 2003.355 3. WHO. Atlanta. Understanding the TB Cohort Review Process. Cetakan ke-10. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Making Health Communication Program Work. Jakarta. Depkes RI. SEA/TB/213 3. WHO/HTM/STB/2003. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Geneva. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. 2001 2. WHO-SEARO. Research Methods for Promotion of Lung Health. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2001 2. 2006. 2004 2. Jakarta. 2003. Geneva. Depkes RI Pusat PKM. 1999 2. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Kemitraan dengan Sector Swasta. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. belum diterbitkan). 616. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit.24/Ind/P 94 . Atlanta. Advokasi. Depkes RI. Jakarta. WHO. Public-Private Partnerships for TB Control. 2005. New Delhi. Geneva. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. Geneva. 2002 6. Paris. WHO/CDS/TB/2003. Jakarta. 2004 2. WHO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Global Partnership to STOP TB. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. 2002 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Tearfund. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Jakarta. Issues. 2003. 2006 5. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Depkes RI. SEA/TB/259 5. Depkes RI. Jakarta. Penelitian Tuberkulosis 1. IAUTLD. Interventions. WHO. WHO-SEARO.323 4. 2000 3. 2001 BAB 11. Depkes RI Ditjen PPMdanPL.24 BAB 9. WHO/CDS/TB/2003.

2006. Paris. 1998.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. Depkes RI.995. Geneva. Cetakan ke-10. WHO/HTM/TB/2004. WHO/SEARO. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO/TB/98. Geneva.240 BAB 13. 2004. Geneva. National Level TB Management Cycles. Geneva. WHO/TB/98. Combating Tuberculosis.253 6. 1999 6.253 5. Perencanaan 1. WHO. WHO/TB/98. 1999 95 . belum dipublikasi). 4th edition. WHO. 2005 4.24/Ind/P 2. WHO. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. Geneva. Stop TB Partnership. WHO/SEARO. New Delhi .344 5. 616. (draft. 1998. Jakarta. New Delhi . 1998. Tuberculosis Handbook. 1996 3. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Tuberculosis Handbook. WHO. Principles for Accelerating DOTS Coverage.

Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Philippine College of Chest Physicians. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Indonesian Association of Pulmonologists. dimana semua praktisi. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Centers for Disease Control & Prevention. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Terdiri 17 standar. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization.S.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Philippine Coalition Against Tuberculosis. Infectious Diseases Society of America. termasuk pasien TB dengan BTA positif. U. TB ekstra paru. American Thoracic Society. (dewasa. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. American College of Chest Physicians. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . International Council of Nurses. Stop TB Partnership. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV).S. dan World Care Council.). antara lain : Indian Medical Association. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. pasien TB dengan BTA negatif.

Bila ada fasiliti. Fase awal terdiri dari INH. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). pleura. (dewasa. Pada pasien demikian. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. Pada pasien dengan atau diduga HIV. 97 . kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. bilasan lambung atau induksi sputum. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).Rifampisin. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. foto toraks menunjukkan kelainan TB. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M.

98 . Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Rifampisin. paling baik dinilai secara klinis. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Rifampisin. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien.

Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Rifampisin dan Etambutol. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. 104 . • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Reg. Reg. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. Reg.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. an atau lebih dengan BTA positif.Lab Hasil/ Tgl. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No.GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur).Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. as. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. . misalnya 237. . misalnya 15.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. 106 . misalnya 02.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. .A= dahak sewaktu pertama. . sebagai berikut : . 02/15/237 B dan 02/15/237 C.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. yang merupakan nomor urut UPK. yang merupakan nomor urut kab/ kota.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

Diagnosis TB ekstra paru: 14 .dampak terhadap TB : 4. 9. 14 Darurat .Diagnosis TB paru : 14 . 10.lihat hasil pengobatan . 63.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. 11. 5.Fokus DOTS : 7 . 70. 9. . 11. 91 . 71. 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. B C 118 .pertimbangan dokter : 15 DOT . .Angka default : 89 . 11.efek samping ringan : 31 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 63.Diagnosis utama : 14 . 2. 65 AIDS (lihat juga HIV) : . 87 . 89 . 22.efek samping berat : 32 . 70 BTA : 5.peningkatan cakupan : 80. 2.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4. 12.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 .angka konversi : 88 . 23 BP4 : 8.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 29.pandemi : 4 . 65. 13. 39.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 6 .pola pikir : 64 .lihat PMO DOTS : 7. CBA : 81 CDR : 9.Alur diagnosis TB paru : 15 .Overdiagnosis : 14. .angka kesembuhan : 9 .Diagnosis pendukung : 14 Dokter .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. Buffer stock : 49 Cakupan .Angka gagal : 89 . lihat uji silang D Dahak .batasan : 63 . AKMS : 1. 64. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 64.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. .analisa situasi : 77 Angka .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1.analisa indikator : 85 .

kategori 1 : 20 . 22.syarat jejaring yang baik : 72 . 86 . 22 Klasifikasi : 16 . Indikasi .tujuan : 61 .Kesalahan Gradasi (KG) .klasifikasi penyakit : 16 119 I J .indikator jejeraing : 71 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .dosis paduan KDT-OAT : 21.kategori 2 : 21 . 30.Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.langkah-langkah kemitraan : 62 . 49 . 85. 29.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB . .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) . 7. 48. 5.jejaring internal : 71 .pembentukan jejaring : 71 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 . 18.syarat indikator : 85 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 21.Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .kasus TB : 18 .Kesalahan kecil .lihat hasil pengobatan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .lihat visi KDT-OAT : 20.kasus baru : 18 . 57 . 6.kasus pidahan : 18 .kasus setelah gagal : 18 .jejaring ekternal : 71 .Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 11.keuntungan KDT : 20 .Gejala klinis pasien TB : 13 .kasus setelah putus berobat : 18 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.evaluasi kinerja : 56.kasus kronik: 18 . 89.indikator program : 84. .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .evaluasi pembelajaran : 56 .kasus lain : 18 .prinsip dasar kemitraan : 61 .indikasi operasi : 31 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .evaluasi dampak : 56 . 17.definisi kasus : 16 .Gejala utama : 13 .kasus kambuh : 18 .Kesalahan besar .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4. 16.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .

42 .klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 7 . 10. lihat MDG Misi .pemantapan mutu eksternal : 45 .definisi : 63. 9. 65 . 66 . 6.inkompetensi : 57 Kortikosteroid .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 10.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 8. 9 . 21 . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 41 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 7.misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 39.Materi pelatihan : 56 . .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.Laboratorium rujukan regional : 35.tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .Pelatihan dalam tugas : 54 .Evaluasi pelatihan : 56 .pemantapan mutu internal : 44 . 53 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48. 49. 67 . 40 .Konsep pelatihan : 54 .prinsip : 66.Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .Koordinator pelatihan : 56 .standar kompetensi : 57 . 51 .Manajemen logistik OAT : 49 .efek samping OAT (lihat efek samping) .Jenis logistik : 48 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.OAT sisipan 20.penggunaan pada pasien TB : 31 .beban masalah TB (penyebab) : 4 .karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .masalah prioritas : 7. 38.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.negara dengan beban masalah TB : 4 .identifikasi masalah : 78 .Laboratorium rujukan uji silang : 35.tujuan mengatasi masalah : 79 .Laboratorium rujukan nasional : 35. 80 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. . 39.menetapkan masalah prioritas : 78 . 40 . 37.definisi komunikasi : 63. 54 .Pelatihan dasar : 54 120 P M . O OAT .Jenis.Mempertahankan mutu : 80 . sifat dan dosis : 19 .masalah MDR : 4.peningkatan mutu : 44. peran.Laboratorium rujukan provinsi : 35.fungsi. 6.ruang lingkup : 34 .bentuk-bentuk : 88 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .pemecahan masalah : 79 .

pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.kebijakan program : 9 .pencatatan di laboratorium : 85 . 40.strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19. 40 .Pelatihan lanjutan : 55 .Pelatihan penyegaran : 55 .lihat public-private mix .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. . 9. 37.hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .Ruang lingkup : 75 . 35.pengobatan lengkap : 29 . 35. 37.pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat . 40 .tujuan dan target : 9 .Persyaratan : 25 .Langkah-langkah . 36. Q QA (quality assurance) : 35 121 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 36.Pelatihan penuh : 54 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1. 25. 74 . 35.kegagalan program : 4 . 77.pengobatan pencegahan : 24 .Batasan : 53 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 . 36.batasan : 70 . 36.Metodologi : 75 . 9. 79 . 7.tujuan : 44 PPM . 37.tujuan perencanaan : 77 .siklus perencanaan : 77 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .pencatatan di UPK : 84 . 11. 53 .Karakteristik penelitian TB : 74 . 8 . 26 . 10.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.Pelatihan ulangan : 54 . 10.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .tahap : 44 .Prinsip pengobatan : 19 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.Tujuan pengobatan: 19 .tujuan PSDM : 53 .Puskesmas Satelit : 11.program TB di Indonesia : 8 . 37. 70 .strategi program: 10 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) . 35.ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .perencanaan : 45 . 9. 4.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 10.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 2.perencanaan berbasis bukti : 77 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .

122 .Pukesmas : 53 .Penentuan tipe : 18 Tujuan . 6 . 82 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 37.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14. 82 .TB .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9. 10.visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.Tipe pasien : 18.prinsip dasar tatalaksana : 13 . 44.tujuan buku : 2 . 53.error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.tatalaksana TB anak : 22 . 22.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .sasaran buku : 2 .kegiatan supervisi : 57 .risiko menjadi sakit TB : 5 .pelaksanaan supervisi : 58 .gambaran radiologis : 14.target program : 9 Tatalaksana : . .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 10 .case notification rate (lihat CNR) . U V Valid : 85.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) . 52.laporan supervisi : 59 . VCT : 30 Visi . Rate (lihat juga angka) . 40. 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.supervisi laboratorium TB : 46 .tingkat kabupaten/kota : 54 .penetapan target : 82 .pemetaan : 81 WHO : 6.case detection rate (lihat CDR) . 7.pengembangan : 80 .persiapan supervisi : 58 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .sasaran wilayah : 82 .tujuan program : 9 .dokter praktek swasta : 54 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 . 35.perencanaan supervisi : 58 .risiko penularan TB : 5 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->