PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Prinsip Dasar Kemitraan 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Manajemen OAT 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Jenis Logistik Program 2. Batasan 2. Standar Ketenagaan 2. Metodologi 4. Kerangka Pola Pikir 3. Pencatatan dan Pelaporan 8. Langkah Langkah 3. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Tujuan Penelitian 2. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Menetapkan Tujuan 4. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Indikator Program 9. Pembentukan Jejaring 3. Analisa Situasi 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pelatihan 3.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .

Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Selamat berjuang! Jakarta. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Siti Fadilah Supari. SpJP(K) v . dan kelemahan akibat TB. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. dr. swasta maupun lembaga masyarakat. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. ketidakproduktifan. Berbagai kemajuan telah dicapai. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Mengingat besar dan luasnya masalah TB.

masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan.000 dan jumlah kematian sekitar 101. MPH vi . Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. lembaga swadaya masyarakat. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya.000 pertahun. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. IDAI.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. PAPDI. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Jakarta. I Nyoman Kandun. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

pengurangan.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Manajemen Laboratorium TB . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. . .Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. sementara situasi program penanggulangan TB.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. dibuat dalam buku pegangan tersendiri .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. Penambahan bab-bab baru meliputi : . penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT).Kemitraan. . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Advokasi. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Pelatihan. .Penelitian TB . definisi kasus TB.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : .Tuberkulosis dan permasalahannya.Tuntutan masyarakat akan mutu.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . indikator pemantauan dan evaluasi. maka dilakukan penanambahan.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak.Supervisi. alur diagnosis anak (sistem skoring). . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .

dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . Sebagai sebuah pedoman. - 2 . klasifikasi penyakit dan tipe pasien. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. propinsi. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .Tuberkulosis. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. . Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.Diagnosis TB. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat.

Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. Insidens TB didunia (WHO.1. maka akan kehilangan 3 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Jika ia meninggal akibat TB. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Gambar 2. Demikian juga. terjadi pada negara-negara berkembang. persalinan dan nifas.

. 4 . Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. obat tidak terjamin penyediaannya. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 kasus baru dan kematian 101. dan sebagainya). tidak dilakukan pemantauan. setiap tahun ada 539. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Selain merugikan secara ekonomis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Menyikapi hal tersebut. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). pada tahun 1993. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh: . Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. Diperkirakan pada tahun 2004.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . • Kegagalan program TB selama ini. Pada saat yang sama. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. . TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Di Indonesia. pencatatan dan pelaporan yang standar. • Dampak pandemi infeksi HIV. Situasi TB didunia semakin memburuk.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .000 penduduk. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB.000 orang. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).

maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. .Dengan ARTI 1%.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. . sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. 5 . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. . Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). . Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. diperkirakan diantara 100. makin menular pasien tersebut.Pada waktu batuk atau bersin.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. maka jumlah pasien TB akan meningkat.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). . . • Risiko penularan . dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. • Cara penularan .Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. . Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. seperti tuberkulosis.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. . • Risiko menjadi sakit TB . ARTI sebesar 1%. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. . Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.

juga mencegah berkembangnya MDR-TB. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. Penerapan strategi DOTS secara baik. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. akan: . clinical trials. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. setelah 5 tahun. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM. best practices.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.50% meninggal . 6 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi .2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. 5. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Pada tahun 1995. Komitmen politis 2. 3. 7 . Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 6. 5. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. 2. 4. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. 3. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 4. Mencapai. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.

Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. Di Indonesia. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. sampai saat ini. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Sampai tahun 2000. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . • Tahun 1995. • Sampai tahun 2005. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. • Indonesia. Setelah perang kemerdekaan. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. 1. Sejak tahun 1995.

e. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. memutuskan rantai penularan. masyarakat dan pekerjaannya. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Rumah Sakit Paru (RSP). sarana dan prasarana) b. KEBIJAKAN a. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. j. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. k. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. i. sektor pemerintah. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. 3. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). f. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. pelaksanaan. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. meliputi Puskesmas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. l. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. h. tenaga. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015.

Dilaksanakan oleh Puskesmas. Menteri Kesehatan R. komunikasi dan mobilisasi sosial d. c. Penemuan dan pengobatan. Tingkat Kabupaten / Kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Tingkat Pusat. supervisi) e. b. Pemantauan dan Evaluasi d. Peningkatan SDM (pelatihan. STRATEGI a. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Promosi g. Kemitraan 6. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. 10 .I. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Rumah Sakit. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. KEGIATAN a. Unit Pelayanan Kesehatan. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. b. Perencanaan c. e. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Penelitian f. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. d. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB.

a. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. 11 • . Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Menghadapi tantangan TB-HIV. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. • • 7. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Rumah Sakit Umum.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). rumah sakit atau BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Pada keadaan geografis yang sulit. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional.

Adapun strategi fungsional tersebut: 1. b. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Memperkuat penelitian operasional 12 .

PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. terutama mereka yang BTA positif. 1. sesak nafas. pelaporan. batuk darah. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. dan lain-lain. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. harus diperiksa dahaknya. badan lemas. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. didukung dengan penyuluhan secara aktif. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. kanker paru. malaise. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. bronkitis kronis. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. asma. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. petugas yang terkait. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. diagnosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. berat badan menurun. yang menunjukkan gejala sama. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. pencatatan. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. demam meriang lebih dari satu bulan. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. dianggap tidak cost efektif. seperti bronkiektasis. nafsu makan menurun. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular.

serologi. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. segera setelah bangun tidur. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. sehingga sering terjadi overdiagnosis. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. patologi anatomi. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. foto toraks dan lain-lain. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Diagnosis TB ekstra paru. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.pagi sewaktu (SPS). • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. misalnya uji mikrobiologi. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. 14 . • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. yaitu sewaktu . Pada saat pulang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. saat menyerahkan dahak pagi. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. 2. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik.

- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .Sewaktu. 15 .1. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- . Pagi. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.- Hasil BTA ..PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3..

. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.mengurangi efek samping.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. . (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. pleuritis eksudativa.menentukan paduan pengobatan yang sesuai . 3. yaitu: .registrasi kasus secara benar .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. • • • 16 . . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.

perikarditis.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif .Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . 17 . Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. .1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. tulang. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. . alat kelamin.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . .1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. saluran kencing. pleuritis eksudativa bilateral. misalnya: meningitis. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. usus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. yaitu: .Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. maka untuk kepentingan pencatatan. TB saluran kemih dan alat kelamin. pleuritis eksudativa unilateral. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). sendi. • Tuberkulosis ekstra paru. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.TB ekstra paru ringan.TB ekstra-paru berat. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. milier. . persendian. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. selaput jantung (pericardium). Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. kelenjar lymfe. TB usus. dan lain-lain. dan kelenjar adrenal. misalnya pleura. • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. selaput otak. .Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. . misalnya: TB kelenjar limfe. tulang (kecuali tulang belakang). Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. ginjal. dan atau keadaan umum pasien buruk. kulit. yaitu bentuk berat dan ringan. peritonitis. TB tulang belakang.

. dan pertimbangan medis spesialistik. dapat juga mengalami kambuh. harus dibuktikan secara patologik. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. default maupun menjadi kasus kronik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. • • • 18 . radiologik. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. gagal. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Meskipun sangat jarang. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. bakteriologik (biakan).

sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . Jenis.1. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Jenis. yaitu tahap intensif dan lanjutan. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. mencegah kematian. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Tahap Lanjutan . mencegah kekambuhan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Tahap awal (intensif) . .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) .Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap.

Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. . 2. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Rifampisin. yaitu Isoniasid. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. 1. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Pirazinamid dan Etambutol. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Paket Kombipak.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Disamping kedua kategori ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai.

Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. (1ml = 250mg) 3. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).7ml sehingga menjadi 4ml. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. 21 . Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.3.2. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj.

maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis).5. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. Setelah dokter melakukan anamnesis. foto tulang dan sendi. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). funduskopi. dan lain lainnya. Lihat tabel 3. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). pungsi pleura. seperti bilasan lambung. patologi anatomi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. pungsi lumbal. CT-Scan. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. dan pemeriksaan penunjang. 5. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. 22 . pemeriksaan fisik.4.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. dan lain – lain. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). BTA negatif atau tidak tahu. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. 23 .--> lampirkan tabel badan badan. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul.5. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). aksila. kelenjar limfe koli. lutut. jumlah >1. Sinusitis.

Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. misalnya sesak napas 2.2. OAT pada anak diberikan setiap hari. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. Setelah pemberian obat 6 bulan . Tabel 3. kavitas. efusi pleura 3. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Gibbus. OAT tetap dihentikan. koksitis Gambar 3. Tanda bahaya: kejang. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 .6.

PKK.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. Perawat. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. dipercaya dan disetujui. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. c. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. Anak dengan BB > 33 kg . 25 . misalnya Bidan di Desa. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. guru. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. Sanitarian. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. dan lain lain. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. Juru Immunisasi. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. Pekarya.7. a. 6. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. anggota PPTI. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. dirujuk ke rumah sakit. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. Obat harus diberikan secara utuh.

Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. 26 . Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. d. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7.

Beri Sisipan 1 bulan. tahap lanjutan tetap diberikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Jika mungkin.8. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik.

Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. 28 . Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. dahak. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: .

PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. 29 . Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Menurut WHO. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. a. b. • • • • • 8. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. kecuali streptomisin. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.

Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. suntikan KB. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. susuk KB). Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. 30 . d. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. harus dihentikan. d. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Pasien dengan kelainan hati. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO.

Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Tabel 3. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. setelah selesai pengobatan TB. karena dapat memperberat kelainan tersebut. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. h. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. kemudian diturunkan secara bertahap. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. 9. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. mual. 31 . g. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.

Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Hentikan Etambutol. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Bila mungkin. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Berikan dulu anti-histamin. Hentikan Rifampisin. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Hentikan semua OAT. segera lakukan tes fungsi hati. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. ganti Etambutol. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Bila keadaan seperti ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. ganti Etambutol.11. Streptomisin dihentikan. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Streptomisin dihentikan. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Untuk membedakannya. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. hentikan semua OAT. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. ganti obat tersebut dengan obat lain. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui.

Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Namun. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. 33 . mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang.

Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Kab/Kota. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. murah. dan Nasional. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. bersifat spesifik. harus mengikuti acuan/standar. mulai dari tingkat Kecamatan. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Propinsi. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Kegiatan – kegiatan laboratorium. 34 . Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. mudah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Namun. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Untuk mendukung kinerja program. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Keamanan dan kebersihan laboratorium. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Sumber daya laboratorium. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar.

Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). peran. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. identifikasi. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. RSP dll. Laboratorium rujukan Regional. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Rumah Sakit. 35 . tb dari spesimen dahak.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M. BP4. Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. b. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Laboratorium rujukan Nasional. c. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. e. uji kepekaan M. dll. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur.

Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Australia. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 . Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.1.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. sampai diperoleh hasil.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Fungsi: . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. . . .Laboratorium mikroskopis TB. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. Catatan : Bilamana perlu. . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. . PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.Peran: . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Laboratorium mikroskopis TB UPK. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. .Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. . . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. .Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. FUNGSI dan PERAN. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. dan keamanan dan keselamatan kerja.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. b.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .

Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. isolasi. 38 . . Laboratorium rujukan Provinsi.Menyelenggarakan pembinaan Lab.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. Fungsi . Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: . TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. . Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. . .Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. 2. - c. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Tanggung jawab: .Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. identifikasi dan tes kepekaan M. . TB dari dahak. . Isolasi. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). termasuk EQAS sesuai jejaring.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. . 3. 1. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.

Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. . Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan untuk isolasi.Melaksanakan pemeriksaan isolasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. 39 . Tanggung jawab: . identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan Nasional. Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . Melaksanakan pemeriksaan isolasi. rujukan provinsi.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Tugas: . Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. .tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. identifikasi dan DST M. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. tuberculosis. - e. Laboratorium rujukan Regional. Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. identifikasi dan uji kepekaan (DST). Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. .

Botol berisi pasir dan desinfektan .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . timer . penjepit sediaan dari kayu.Sarana keamanan . rujukan pemeriksaan dahak.Idem PS . kertas saring. minimal SMAK/setara . Mikroskopik dahak BTA) .Desinfektans. kaca sediaan/frosted sediaan.Ruang: . ose/lidi. .05).Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . TB 04 .Air mengalir. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Sarana: . minyak emersi. .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. . . kotak sediaan. . kerja Lab .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sarana: . Laboratorium mikroskopis TB UPK. lampu spiritus. corong.Formulir standard (TB.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. lidi lancip.Idem PS kerja Lab b.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . ditambah dengan : .Wadah pembuangan berisi desinfektans. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. sticker.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem. rak pengering. aether alkohol. timer.pewarna ZN bermutu.Sarana keamanan . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.1 buah mikroskop binokule . minimal SMAK/setara .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. . pipet.Idem dengan PS. kertas lensa.Ruang: .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan.

Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. .Tb: Idem dengan lab.Ruang administrasi . .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. . . Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis.Ruang pelatihan.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil. Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Ruang pembuatan media dan reagensia. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. Laboratorium rujukan Provinsi.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . Seorang pembantu analis.

.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.1 inspisator. .5000 g) . Administrasi: .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: . .Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 incenerator / carbonizer .Blender/homogenizer (autoclavable) . .1 incubator.Alat gelas laboratorium. Teknis alat laboratorium: .300 C) .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. .1 waterbath.Botol McCartney . Laboratorium rujukan Regional. .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Generator listrik.1 timbangan gram (0–500 gr) .Cabinet untuk pembuatan media .Magnetic stirrer. managemen) d.1 bio-containment centrifuge (500 . .1 lemari es. . .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . Ruang: .1 biosafety cabinet class II .Micro-pipette .Vortex mixer.idem dengan lab Propinsi Sarana: . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: .Minimal 2 orang tenaga analis (Media). .1 freezer (. GLP. .Minimal seorang tenaga administrasi.Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .

freezer –20oC. dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. 1 set pipet mikro. microcentrifuge.ELISA system . vortex. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . refrigerator. UV transilluminator/imaging system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. pipet mikro.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M.Optional: Fasilitas kultur sel. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. freezer –20oC. heating blockpem.Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler.Ruang dengan negative pressure . dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. 1 set pipet mikro.1 mikroskop fluorescence .Automated Liquid culture system . refrigerator.Nucleic Acid Sequencing system . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). vortex. microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. 2 orang analis untuk media dan reagensia.TB: .Dot blotter . Laboratorium rujukan Nasional.Ruang Asam: fume hood.Ruang gelap . fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . Waterbath . eye wash. system elektroforesis vertical. shower . system elektroforesis horizontal.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.Thermo-cycler .

Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis.Protap pemeriksaan Mikroskopis . analisis. pasca-analisis. Pemantapan Mutu Internal 2. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. pengambilan. pengolahan contoh uji.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. pengiriman. Membantu peningkatan pelayanan pasien. misalnya : . penyimpanan. Mendeteksi keslahan. dan harus dilakukan terus menerus. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . Pemantapan Mutu Eksternal 3. pemeriksaan contoh uji.Protap pengambilan dahak .Idem dengan lab regional ditambah dengan : . mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat.Protap pengelolaan limbah .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Peningkatan mutu (Quality Improvement). pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. terintegrasi dalam PMI dan PME.Protap pembuatan sediaan dahak .Protap pembuatan media 44 .

karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol.Protap inokulasi . dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. 45 . Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. audit internal. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Pada pelaksanaan uji silang. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya.Dsb. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak. laboratorium pembaca pertama.

Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. dll. sarana dan prasarana laboratorium. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. penyegaran. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. meliputi : Tenaga : Pelatihan. 46 . Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. pengembangan metoda pemeriksaan 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. pelatihan. Supervisi Laboratorium TB. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. pemeliharaan. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. mutu pewarnaan.

dsb). Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. 4. 1. 47 . menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. uji kepekaan. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. biakan. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. lingkungan sekitar laboratorium. masyarakat umum. PCR/biomolekuler. peralatan. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. dsb) 2. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Penyediaan perangkat (protap. serologi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. jadwal pemantauan dan evaluasi.

Eter Alkohol. pengadaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. kaca sediaan. Rak pewarna dan pengering. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. Lampu spiritus. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. Slide Box. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. kategori 2. b. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Lysol. 48 . • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. Kertas pembersih lensa mikroskop. dan tiap blister berisi 28 tablet. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. penyimpanan. Minyak imersi. kertas saring. monitoring dan evaluasi. a. Reagensia Ziehl Neelsen. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. pendistribusian. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. Logistik OAT. dan sisipan. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum. Ose. 1.

Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. • buffer-stock. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. MANAJEMEN OAT a. • sisa stock OAT yang ada. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning).

dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. d. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. Kabupaten/Kota dan UPK.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. artinya. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). b. c. Setelah OAT sampai di Propinsi. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Pengawasan Mutu. e. kemasan. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). f. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. jumlah. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Monitoring dan Evaluasi. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan.

Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Waktu hancur atau disolusi 5. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Uji potensi 8. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. boks dan master boks 5. Kadar zat aktif 7. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Pemberian 3. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. • Dan pihak lain yang terkait. Kemurnian/ kadar cemaran 6. Identitas obat 2. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL.

400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. Lampu speritus. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. 52 . Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Botol plastik bercorong pipet dll. Rak pewarna dan pengering. Ose. Slide Box. Bahan Uji tuberkulin.

Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. 2. kalakarya/on the job training). dan 1 tenaga laboratorium. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. 3 perawat/petugas TB. 3 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. pelatihan dan supervisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. 1 perawat/petugas TB. Unit Pelayanan Kesehatan 1. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. dan 1 tenaga laboratorium 53 . Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. dan kesinambungan (sustainability). 1. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. pembinaan (pelatihan. supervisi.

Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. 2 perawat/petugas TB. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. seluruh materi diberikan. (Fakultas Kedokteran. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 2. 3. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. 2 perawat/petugas TB. dan lain-lainnya. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. 5 fasilitator pelatihan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. jumlah tergantung kebutuhan. Dokter Praktek Swasta. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. Pelatihan penuh. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. minimal telah dilatih. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. menyesuaikan. jumlah tergantung kebutuhan. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. 3. Fakultas Keperawatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. terdiri dari: 1. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Tingkat Provinsi 1. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. 2. 2. Pelatihan ulangan (retraining). dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. b. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. dan lain-lainnya. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya.

Pelatihan penyegaran. kepanitiaan. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. pelatihan DOTS plus.. • persiapan administratif penyiapan bahan. d. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. peserta. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator.pembelajaran • paska pelatihan . fasilitator.dampak 55 . penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . c. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh.kinerja (supervisi) . dana. pelatihan advokasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. seperti: pelatihan manajemen OAT. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. surveilans. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. pelatihan TB-HIV. metode pembelajaran. materi.reaksi dan .1. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.

2. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Tidak semua harus dipelajari. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak.

bantuan teknis. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. 3. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. diskusi. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.

hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.01 dan TB. angka kesembuhan rendah. empati. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. terutama pada tingkat UPK : 1. Penjadwalan kegiatan supervisi. . 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . RS. 58 . Pelaksanaan supervisi. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. . 2.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.03) . 4. yaitu: .Pelatihan baru selesai dilaksanakan.Melakukan pendekatan fasilitatif. . bila memungkinkan . Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.Pada tahap awal pelaksanaan program. Kegiatan penting selama supervisi.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. .06.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. penuh perhatian. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. Pengumpulan informasi pendukung. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. partisipatif dan tidak instruktif. pemetaan wilayah. . 3. misalnya angka konversi rendah. sebagai berikut: 1.Menjadi pendengar yang baik. misalnya laporan. 2. maka perlu dilakukan persiapan.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. Kepribadian supervisor. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. . . . . serta kebutuhannya.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. BP4. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. .

Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. b. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. realistik. praktis. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. inovatif. c. sebaiknya 3 lembar: . tidak mampu melaksanakan. kreatifitas. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. Tentukan penyebab yang paling mungkin. inisiatif. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. maka berarti ada masalah kinerja. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. 2. 3. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. 59 . dan tidak menciptakan masalah baru. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. 1. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. mungkin karena tugasnya tidak jelas. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. realistis. 4. g. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. melakukan on the job training. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. e. f. dapat dilaksanakan. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. Laporan supervisi. 5. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. d.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor. 60 .

organisasi keagamaan.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. Keberlanjutan program 5. b. Akuntabilitas. Lembaga Swadaya Masyarakat. sektor swasta.Meningkatkan sumber daya. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. kelompok media massa. Keterbatasan sector pemerintah 3. mengingat : 1. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. Potensi melibatkan sector lain 4. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. baik dari pemerintah. Beban masalah TB yang tinggi 2. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. 61 .Meningkatkan koordinasi . organisasi profesi. c. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. legislative.Meningkatkan komitmen .Meningkatkan komunikasi . transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . mutu.

kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pembentukan Komitmen. Pengaturan peran. Penyamaan persepsi. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. g. sarana dan prasarana. tugas dan fungsi masing. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. 3. e. Komunikasi intensif. b. Pemantauan dan penilaian. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. disepakati sejak awal. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. c. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. b. f. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Identifikasi. Melakukan kegiatan. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. dana. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat.

63 . masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Dalam konteks global. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Pada konteks dalam negeri. komunikasi. 1. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Dalam konteks penanggulangan TB.

Sumber dana (APBN.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Media Promosi .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Tenaga Penyuluh .Buku Pedoman .1. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .factor lain 64 .Angka kesembuhan .

Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. Dalam proses komunikasi. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. konsultasi. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. pertemuan/rapat kerja. 2. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. 65 . Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. menulis dan lain-lain. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. dan Mobilisasi sumber dana. memberikan laporan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. b. bah-kan dalam bentuk kelembagaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 1.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. pelaksana. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. berfikir. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. metode dsb) Mengembangkan bahan. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Memilih strategi yang tepat (advokator. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi.

3. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat.Radio. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan.Rapat pertemuan-pertemuan. lancar tidaknya suatu proses. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. seminar peningkatan pengetahuan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. 66 . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. c.Demonstrasi. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan.Televisi.Surat kabar. percakapan. Beberapa prinsip mobilisasi sosial .Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). d. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. latihan (meningkatkan kemampuan) .

. alih pengetahuan dan keterampilan.indikator dan umpan balik mobilisasi. KIE berbasis individu. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. motivasi.Community material : Sarana masyarakat . . keluarga. . Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . Kader TB dan sebagainya. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. sasaran. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. . karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. 5. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. 2.Memenuhi permintaan masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. .Memerlukan pengulangan secara periodik.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. 4.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. ikut menjadi PMO.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. . 3.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. dan ormas lainnya 67 . pesan.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. masyarakat. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. harus merupakan elemen kemasyarakatan.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural.

Ormas.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Lintas program. . digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. Langkah-langkah mobilisasi sosial . Tabel 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. dll Peminatan Kebijakan. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. dapat digunakan tabel contoh berikut. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. 68 .mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan.organisasi profesi. Diskusi kelompok (DK). Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. . Lintas sektor. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. Konseling. LSM. Penyuluhan kelompok. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. dunia usaha. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. profesi (IDI. Kunjungan rumah.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. .1. PAPP) LSM.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Komisi 9 DPR Akademisi.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. LSM. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. .

Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. filler/spot. billboard dan spanduk. 69 . radio spot. Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .

strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. Setelah mencapai prakondisi tersebut. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. dan seluruh petugas terkait. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. UPK polisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. UPK lapas / rutan. antara lain : rumah sakit. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. BP4. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %.1. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. 2. UPK di tempat kerja. 70 . Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. 2. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. pengendalian mutu pelayanan. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. 1. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. 74 . akses pelayanan kesehatan. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak.

antara lain: 1. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. termasuk mutu kinerja laboratorium. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. 2.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional.Spesifik terhadap program tuberkulosis . 4. b. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . termasuk survei. misalnya dengan melibatkan pustu. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. a. Penelitian operasional tuberkulosis. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). kuasi eksperimen. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 3. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . in-depth interview dan lain-lain. focus group discussion. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . a. modeling.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). b. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. bidan di desa. eksperimentasi. dan community based approach. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). 75 .

Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. TBKusta. 6. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. seperti: TB/HIV. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. Dokter Praktek Swasta. 7. 5. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. c. 4. dan lain-lain. dan UPK lainnya. 76 .

Puskesmas. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. pendidikan. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. Dalam sistem desentralisasi. Dinas Kesehatan Propinsi. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Laboratorium dan unit lainnya. a. sosial budaya. Rumah Sakit. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. 77 . • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi.

Selain data tersebut. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. komitmen nasional maupun international. 2. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . keberhasilan diagnosis. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. diseminasi informasi serta umpan balik. Untuk memudahkan. method. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). • Disamping untuk perencanaan. dan market). Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. antara lain kebijakan lokal. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. Untuk maksud tersebut. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. a. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. dana (money). gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). sampai dimana kemajuan program. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. logistik (material). material. keberhasilan pengobatan). resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). dan metodologi yang digunakan (method). pohon masalah dan log frame. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. money. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. dicari masalah dan penyebabnya. b. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. angka kesembuhan. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). Dari kesenjangan yang ditemukan. pencapaian program (penemuan pasien.

perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . 1) Daya ungkitnya tinggi. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Memiliki target waktu. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Terkait dengan masalah d. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. 5. . Terukur (kuantitatif) e. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Rasional (realistis) f. 4. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. 3. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah).

Masing-masing aspek tersebut. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. yaitu penurunan jumlah pasien. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. perlu dinilai semua unsurnya. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. sarana. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. sampai pada pencatatan pelaporan. Setelah itu baru rumah sakit. BP4. kepadatan penduduk. b. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. pengobatan dan case holding pasien. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . Pada tahap awal. diagnosis pasien. karena akan memberikan dampak epidemiologis. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. dan kemitraan. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. c. rumah sakit. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. BP4. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. RSTP dan dokter praktek swasta). 3) Kesiapan : Tenaga. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. namun perlu didukung dengan data penyakit. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program).

Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah. Penetapan target. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Perluasan unit pelaksana.

Cara pemantauan. Pelaksana (siapa yang memantau). bukan budget oriented. Dengan kata lain disebut program oriented. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. 6. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. e. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. b. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). c. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. d. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. 82 . Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a.

Kabupaten/Kota. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. Rumah Sakit. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. proses. 1. bagian atas. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. maupun keluaran (output). Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. diinterpretasi. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Propinsi. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . dianalisis. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. BP4. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.

3. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. PPM. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. RS. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. BP-4.

Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . Tabel 12.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. 2. 3.1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.

serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . indikator ini tidak dapat dihitung.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. misalnya rumah sakit. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. BP4 atau dokter praktek swasta. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 . Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. 86 .15%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.

Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Angka ini berkisar 15%. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Bila angka ini terlalu besar dari 15%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 . Bila angka ini jauh lebih rendah. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. itu berarti mutu diagnosis rendah. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2.

propinsi dan pusat. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat.01. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. dan pindah keluar. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. default (drop-out atau lalai).12 bulan sebelumnya. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. Di tingkat kabupaten. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. gagal. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. setelah selesai pengobatan. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. propinsi dan pusat. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. X 100 % 88 . dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. setelah pengobatan intensif (2 bulan). Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 .08. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Di tingkat kabupaten. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. meninggal.11. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap.01.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

23. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Geneva. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. PDPI. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. 616. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. 2000 18. 2002.334 15. 2002. WHO. Paris. Tuberculosis: Epidemiology and Control. 1998.24/Ind/P 5. Case Detection. WHO. Paris. Depkes RI. 2003 7. Depkes RI.258 5. 16. 1997. WHO. WHO. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. 19. ATS/CDC/IDSA. Geneva. Effective Diagnosis. CDC/US Department of Health and Human Service. London and Oxford. Geneva. 2004 6. Jakarta. 2nd edition. IAUTLD. 2006 8. WHO/TB/96. New Delhi. 2004. Core Curricullum on Tuberculosis. 2006 9. WHO.313 20. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. WHO. Geneva. 2000. Miller F. Horne N. Clinical Tuberculosis. Depkes/UKK Respirologi IDAI.258 92 . Paris.329W. Jakarta.995. Atlanta. Treatment of Tuberculosis. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children.300 12. 3rd edition. Organization and Management. ISBN 97996622-2-2 10. Jakarta. Adherence to Long Theraphy. 2003. Washington. Geneva. Cetakan ke-10. IUATLD. 1999 BAB 5. WHO. New Delhi. What the Clinician Should Know. 2004. PP IDAI-UKK Pulmonologi. 2002 3. 2000. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). WHO-SEARO. Jakarta. Crofton J. A Tuberculosis for Specialist Physicians. 2003. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Geneva. McMillan Education Ltd. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Toman’s Tuberculosis. WHO/TB/98. 17. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. WHO/HTM/TB/2004. Depkes RI. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). New Delhi. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Treatment and Monitoring. W85 13. Jakarta. Atlanta. Kelompok Kerja TB-HIV. Laboratory Service in TB Control: part 1. 1998 4. 2006. 1999 4. WHO/CDS/TB/2002. 2003. Geneva. 11. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. WHO/IUATLD. Treatment. WHO/TB/98. Microscopy. Geneva. 1999 2. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. WHO-SEARO. WHO-SEARO. 2004. ATS/CDC/IDSA. 2003 2. Laboratory Service in TB Control: part 2. Jakarta. Jakarta. Geneva. 2006. Atlanta. 21. 2002. IUATLD. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. 22. 1998. External Assessment for AFB Smear Microscopy. and Control of Tuberculosis. Geneva. WHO. WHO. 2005. 2003 3. SEA/TB/248 24. WHO/CDS/TB/2003. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. WHO/HTM/TB/2004. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. A guide for Tuberculosis Treatment Support. The Hague. Depkes RI.210 14. 4th edition.

Geneva. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan.301.19 3. Cetakan ke-10. New Delhi. WHO. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. McMahon Rosemary. No. 2005. WHO/HTM/TB/2005. W 21. 93 . Geneva. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. 2006. Educational Hanbook for Health Personal. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. Mangkunegara Anwar Prabu. WHO-WEPRO. Jakarta. 2005. Jakarta. Geneva. 2005. Jakarta. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. A Usmara (ed). 2005. Abbat FR.1991 3. WHO/HTM/TB/2005. Teaching Health care worker: A practical guide. Geneva. WHO.24/Ind/P 5. WHO. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. 1992 2. 2003 6. Tovey MD. Irianto Jusuf. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. WHO. JJ Gilbert. WHO-SEA. Delivery.347c 17. 2003. Prentice Hall. Insan Cendekia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. Revised and Updated 1998. Depkes RI Badan PPSDM. Amara Books. WHO. 1999. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. WHO/HTM/TB/2005. 616. 1998 8. McMillan. WA 530. Surabaya. Geneva.353 16. 2002. WHO. 2003 9. Geneva. 2006.995. November 2005 14. Geneva. 2005.308 BAB 7. WHO. 12. 2001 7. Depkes RI. WHO. Geneva. Geneva. WHO. 2005. 2003 4. Evaluation and Management.347d 18. The World Health Report 2006. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Manila. 1997 10. MSH/WHO. WHO/HTM/TB/2005. WHO. Geneva.725/Menkes/SK/V/2003). Refika Aditama. Abbat FR. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WHO/CDS/TB/2002. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Working together for Health. How to Organize Training for Distric Coordinator. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. unpublished). Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. 15.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6.1 19. Bandung. Geneva. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). WHO/CDS/STB/2002. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Jogyakarta. 2002 2. Geneva. Depkes RI. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. (comprehensive draft. Sydney. WHO.347 13. Modul D : Provide Training for TB Control. WHO/CDS/TB/2002. 2002. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Training in Australia: Design.2002.350 11. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion.

WHO-SEARO. Understanding the TB Cohort Review Process. Cetakan ke-10. Public-Private Partnerships for TB Control. 2001 2. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. 2004 2. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. 2006. Geneva. 2006 5. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Pedoman Advokasi. Jakarta. New Delhi. Jakarta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. Paris. Atlanta. and Emerging Policy Framework. Jakarta. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. 2003. 2001 BAB 11. Depkes RI.995. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Interventions. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. 2004 2. 616. Issues. WHO. Advokasi.355 3.312 7. 2000 3. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 1999. IAUTLD. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. 2003. Depkes RI. WHO/HTM/STB/2003. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. SEA/TB/259 5. Depkes RI. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. 2001 3. 2001 2. Making Health Communication Program Work. 2005. Depkes RI Pusat PKM. 2002 6. Tearfund. Depkes RI. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. WHO/CDS/TB/2003. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. WHO/CDS/TB/2003. WHO. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. WHO/HTM/TB/2005. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. belum diterbitkan). Gordom Graham. Penelitian Tuberkulosis 1. Research Methods for Promotion of Lung Health. Geneva. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Jakarta. Jakarta. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Geneva. The Power of Partnership. WHO/SEARO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. SEA/TB/213 3.24 BAB 9. WHO-SEARO. Geneva. WHO. 2006. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Global Partnership to STOP TB.24/Ind/P 94 . 2003. TB Advocacy: Practical Guide. New Delhi. 2006 3. Jakarta. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. Geneva. 1999 2. Atlanta. Kemitraan dengan Sector Swasta. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. WHO. 2002 4.323 4. WHO. WHO. 2003. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Depkes RI Pusdiklatkes.

Stop TB Partnership. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries.995.240 BAB 13. WHO. 2006. 1999 95 . Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. WHO. 1998. Depkes RI. (draft. 1998. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. 2004. National Level TB Management Cycles. WHO/HTM/TB/2004.24/Ind/P 2. Tuberculosis Handbook. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. 2005 4. 1999 6. 616. belum dipublikasi). Cetakan ke-10. WHO/TB/98. WHO. WHO/SEARO. Geneva. New Delhi . Geneva. Jakarta. WHO/SEARO. Principles for Accelerating DOTS Coverage. WHO/TB/98.344 5. New Delhi . 1998. Geneva. Perencanaan 1.253 6. 1996 3. Paris. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Geneva. WHO/TB/98. Tuberculosis Handbook. 4th edition. WHO.253 5. Geneva. Combating Tuberculosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.

American College of Chest Physicians. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Stop TB Partnership. Terdiri 17 standar. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. antara lain : Indian Medical Association. dan World Care Council. Indonesian Association of Pulmonologists.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB.S. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. TB ekstra paru. (dewasa. International Council of Nurses. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. American Thoracic Society. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). dimana semua praktisi. termasuk pasien TB dengan BTA positif. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).). Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). pasien TB dengan BTA negatif. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Infectious Diseases Society of America. Centers for Disease Control & Prevention. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Philippine College of Chest Physicians. U.S.

Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. (dewasa. 97 . Fase awal terdiri dari INH. Pada pasien demikian. Pada pasien dengan atau diduga HIV. pleura.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. bilasan lambung atau induksi sputum. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. Bila ada fasiliti. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk.Rifampisin. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. foto toraks menunjukkan kelainan TB.

98 . paling baik dinilai secara klinis. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Rifampisin. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Rifampisin. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional.

Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Rifampisin dan Etambutol. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Lab Hasil/ Tgl. Reg.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. 104 . dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. an atau lebih dengan BTA positif. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. as.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. Reg. Reg.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. Reg.GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

misalnya 15. 106 . B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. .Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. . . misalnya 02.A= dahak sewaktu pertama. misalnya 237.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. yang merupakan nomor urut kab/ kota.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. yang merupakan nomor urut UPK. . sebagai berikut : . 02/15/237 B dan 02/15/237 C.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

peningkatan cakupan : 80.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.angka kesembuhan : 9 .efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 70. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. . . 87 . 64. 29. 22.Overdiagnosis : 14.Angka gagal : 89 . 6 .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.Diagnosis pendukung : 14 Dokter . CBA : 81 CDR : 9. 10. 13.efek samping ringan : 31 .pandemi : 4 . 65 AIDS (lihat juga HIV) : .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 9. 2. 5.strategi AKMS : 65 Analisa : 85.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 2. 12.pola pikir : 64 . lihat uji silang D Dahak . 11. 9. 71.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.lihat hasil pengobatan .analisa situasi : 77 Angka . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 63. 65.Diagnosis TB paru : 14 .batasan : 63 .Diagnosis TB ekstra paru: 14 . 70 BTA : 5.Diagnosis utama : 14 . 89 .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis .Alur diagnosis TB paru : 15 .Angka default : 89 . .lihat PMO DOTS : 7.angka konversi : 88 . 14 Darurat . 91 . 11. 63.efek samping berat : 32 .dampak terhadap TB : 4. 11.Fokus DOTS : 7 . B C 118 .pertimbangan dokter : 15 DOT . 39.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. AKMS : 1. 64.analisa indikator : 85 . 23 BP4 : 8. 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. Buffer stock : 49 Cakupan .

tujuan : 61 .Kesalahan besar .Gejala utama : 13 .kasus lain : 18 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.prinsip dasar kemitraan : 61 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 29.kategori 2 : 21 . 57 . 5. Indikasi . 49 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. .kasus kambuh : 18 .Gejala klinis pasien TB : 13 . 7. 6.kategori 1 : 20 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4. 30.indikator program : 84.lihat visi KDT-OAT : 20.definisi kasus : 16 .kasus setelah gagal : 18 .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .jejaring internal : 71 . 16.pembentukan jejaring : 71 .evaluasi pembelajaran : 56 .kasus setelah putus berobat : 18 .Kesalahan kecil .keuntungan KDT : 20 . 11.kasus baru : 18 . 86 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 . 22 Klasifikasi : 16 . 48.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .kasus kronik: 18 . 85.Kesalahan Gradasi (KG) .indikasi operasi : 31 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .syarat indikator : 85 . .indikator jejeraing : 71 .evaluasi dampak : 56 .lihat hasil pengobatan .kasus TB : 18 .jejaring ekternal : 71 .langkah-langkah kemitraan : 62 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 21. 22. 89.klasifikasi penyakit : 16 119 I J .kasus pidahan : 18 . 18.dosis paduan KDT-OAT : 21. 17.koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .syarat jejaring yang baik : 72 .evaluasi kinerja : 56.kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .

komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. peran.Konsep pelatihan : 54 .definisi : 63.Pelatihan dalam tugas : 54 . 6.inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 67 .menetapkan masalah prioritas : 78 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .Laboratorium mikroskopis UPK : 37.Jenis. 41 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 .Laboratorium rujukan provinsi : 35. 6.masalah prioritas : 7.pemantapan mutu eksternal : 45 . 66 . 54 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.Manajemen logistik OAT : 49 .Jenis logistik : 48 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.standar kompetensi : 57 . 49.Laboratorium rujukan nasional : 35.Laboratorium rujukan regional : 35.negara dengan beban masalah TB : 4 . 40 .peningkatan mutu : 44.Laboratorium rujukan uji silang : 35.efek samping OAT (lihat efek samping) .beban masalah TB (penyebab) : 4 .Pelatihan dasar : 54 120 P M .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.OAT sisipan 20. 10.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 37.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.Koordinator pelatihan : 56 . 40 .pemantapan mutu internal : 44 .definisi komunikasi : 63.identifikasi masalah : 78 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 53 . O OAT . 42 .Mempertahankan mutu : 80 . 39. . 65 . 39. 9 . 7. 7 .penggunaan pada pasien TB : 31 . 21 .tujuan mengatasi masalah : 79 .prinsip : 66. lihat MDG Misi .pemecahan masalah : 79 .bentuk-bentuk : 88 . 38.masalah tuberkulosis di dunia : 4 .Evaluasi pelatihan : 56 . 80 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 8. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 9.Materi pelatihan : 56 .ruang lingkup : 34 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1. 10.fungsi.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .masalah MDR : 4.Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium .karakteristik sumber daya laboratorium : 40 . 51 . sifat dan dosis : 19 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . .

pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .batasan : 70 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1. 74 .Prinsip pengobatan : 19 .Pelatihan lanjutan : 55 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1. 35. .Pelatihan sebelum bertugas : 54 . 9. 4. 7.kebijakan program : 9 .tujuan PSDM : 53 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.tahap : 44 .tujuan perencanaan : 77 . 53 .pengobatan lengkap : 29 . 10.pengobatan pencegahan : 24 .Pelatihan penyegaran : 55 . 10. 70 .Persyaratan : 25 . 9.Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 37. 11.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 36.program TB di Indonesia : 8 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) . 8 .strategi program: 10 . 35. 40 .Karakteristik penelitian TB : 74 . 26 . 35.tujuan : 44 PPM . 40 . 36. 2. 9. 36.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 10.Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 37.Ruang lingkup : 75 .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan . 25.Pelatihan ulangan : 54 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .pencatatan di laboratorium : 85 .pencatatan di UPK : 84 .Metodologi : 75 . 40.Batasan : 53 .Langkah-langkah .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 .kegagalan program : 4 . 77.Puskesmas Satelit : 11. 37. 35. Q QA (quality assurance) : 35 121 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 . 37.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 . 79 .lihat public-private mix . 36.perencanaan : 45 .tujuan dan target : 9 .perencanaan berbasis bukti : 77 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .Tujuan pengobatan: 19 .Pelatihan penuh : 54 .siklus perencanaan : 77 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.

gambaran radiologis : 14.sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.laporan supervisi : 59 .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.Penentuan tipe : 18 Tujuan . 40.pelaksanaan supervisi : 58 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 82 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 10. U V Valid : 85.Tipe pasien : 18.tujuan program : 9 .tatalaksana TB anak : 22 .perencanaan supervisi : 58 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. 82 . 7.penetapan target : 82 .tingkat kabupaten/kota : 54 .sasaran wilayah : 82 . 37. 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9. Rate (lihat juga angka) . 10 . . VCT : 30 Visi .tujuan buku : 2 . 44. 6 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .risiko penularan TB : 5 .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.kegiatan supervisi : 57 .case detection rate (lihat CDR) .target program : 9 Tatalaksana : . 53.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut . 52.pengembangan : 80 .supervisi laboratorium TB : 46 .TB .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.risiko menjadi sakit TB : 5 .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1. 22. 122 .prinsip dasar tatalaksana : 13 .Pukesmas : 53 .dokter praktek swasta : 54 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .case notification rate (lihat CNR) .pemetaan : 81 WHO : 6.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .sasaran buku : 2 . 35.persiapan supervisi : 58 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful