PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :

Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Pencatatan dan Pelaporan 8. Langkah Langkah Pelaksanaan 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Standar Ketenagaan 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Menetapkan Tujuan 4. Pembentukan Jejaring 3. Batasan 2. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Jenis Logistik Program 2. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Manajemen OAT 3. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Analisa Situasi 2. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Tujuan Penelitian 2. Kerangka Pola Pikir 3. Pelatihan 3. Metodologi 4. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Langkah Langkah 3. Indikator Program 9. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1.

Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .

swasta maupun lembaga masyarakat. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. SpJP(K) v . Selamat berjuang! Jakarta. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. dan kelemahan akibat TB. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. ketidakproduktifan. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). Mengingat besar dan luasnya masalah TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Siti Fadilah Supari. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Berbagai kemajuan telah dicapai.

maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. PAPDI. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. MPH vi . masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. I Nyoman Kandun. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. lembaga swadaya masyarakat.000 pertahun. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. IDAI.000 dan jumlah kematian sekitar 101. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Jakarta. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. alur diagnosis anak (sistem skoring). pengurangan.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi.Supervisi.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. definisi kasus TB.Kemitraan. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. .Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). indikator pemantauan dan evaluasi. . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .Tuberkulosis dan permasalahannya.Manajemen Laboratorium TB .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi).Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . .Penelitian TB .Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Pelatihan. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Advokasi. Penambahan bab-bab baru meliputi : . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. . sementara situasi program penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 .Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. maka dilakukan penanambahan.Tuntutan masyarakat akan mutu. . . dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak.

buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. - 2 .Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci.Tuberkulosis. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . propinsi. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program .Diagnosis TB. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. . klasifikasi penyakit dan tipe pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. Sebagai sebuah pedoman.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Jika ia meninggal akibat TB. Demikian juga.1. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). maka akan kehilangan 3 . terjadi pada negara-negara berkembang. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Gambar 2. Insidens TB didunia (WHO. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Pada tahun 1995. persalinan dan nifas.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. • Dampak pandemi infeksi HIV. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.000 penduduk. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.000 orang. Pada saat yang sama. Diperkirakan pada tahun 2004. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. . Hal ini diakibatkan oleh: . kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. tidak dilakukan pemantauan. obat tidak terjamin penyediaannya. • Kegagalan program TB selama ini. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. Menyikapi hal tersebut. pencatatan dan pelaporan yang standar. setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101. Di Indonesia. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) .Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. pada tahun 1993. dan sebagainya).Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. Selain merugikan secara ekonomis. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. 4 .Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . . Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Situasi TB didunia semakin memburuk.

Pada waktu batuk atau bersin. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. diperkirakan diantara 100. • Risiko menjadi sakit TB . Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). . . Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Dengan ARTI 1%. • Cara penularan . . . maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. maka jumlah pasien TB akan meningkat. . . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). . pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). ARTI sebesar 1%.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. • Risiko penularan . seperti tuberkulosis. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. .Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. .Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. makin menular pasien tersebut.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Sebagian besar kuman TB menyerang paru.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. 5 .

UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. best practices. juga mencegah berkembangnya MDR-TB.2. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : Ventilasi Kepadatan Dalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI Malnutrisi Penyakit DM. setelah 5 tahun. 6 . Penerapan strategi DOTS secara baik. clinical trials.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi .50% meninggal .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. immunosupresan Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Tatalaksana tak memadai Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. akan: .

Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. 4. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. Pada tahun 1995. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. 3. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. 4. 2. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Mencapai. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Komitmen politis 2. 5. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. 6. termasuk pengawasan langsung pengobatan. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. 5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. 7 . Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.

Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Sampai tahun 2000. 1. Di Indonesia. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. • Indonesia. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. • Tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sejak tahun 1995. Setelah perang kemerdekaan. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. • Sampai tahun 2005. sampai saat ini. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun.

sarana dan prasarana) b. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). memutuskan rantai penularan. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. h. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. j. i. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). KEBIJAKAN a. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). tenaga. e. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. f.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. k. Rumah Sakit Paru (RSP). l. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. meliputi Puskesmas. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. pelaksanaan. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. sektor pemerintah. 3. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. masyarakat dan pekerjaannya.

I. c. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Peningkatan SDM (pelatihan. Penemuan dan pengobatan. Menteri Kesehatan R. b. Penelitian f. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. e. STRATEGI a. Pemantauan dan Evaluasi d. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Perencanaan c. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Tingkat Kabupaten / Kota. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Tingkat Pusat. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Unit Pelayanan Kesehatan. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. d. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Promosi g. Rumah Sakit. Dilaksanakan oleh Puskesmas. KEGIATAN a. 10 . Kemitraan 6. b. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. supervisi) e.

Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. • • 7. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). 11 • . Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Rumah Sakit Umum. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Pada keadaan geografis yang sulit. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. rumah sakit atau BP4. a. Menghadapi tantangan TB-HIV.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Memperkuat penelitian operasional 12 . b. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien.

Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. seperti bronkiektasis. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. diagnosis. sesak nafas. berat badan menurun. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. dianggap tidak cost efektif. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. pencatatan. kanker paru. yang menunjukkan gejala sama. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. 1. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . asma. Strategi penemuan Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. nafsu makan menurun. pelaporan. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. didukung dengan penyuluhan secara aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. dan lain-lain. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. batuk darah. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. harus diperiksa dahaknya. petugas yang terkait. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. bronkitis kronis. badan lemas. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. malaise. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. terutama mereka yang BTA positif. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.

Pemeriksaan lain seperti foto toraks. segera setelah bangun tidur. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. Diagnosis TB ekstra paru. sehingga sering terjadi overdiagnosis. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. 2. yaitu sewaktu . Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. saat menyerahkan dahak pagi. patologi anatomi. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. serologi. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. Pada program TB nasional. misalnya uji mikrobiologi. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). foto toraks dan lain-lain. Pada saat pulang. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.pagi sewaktu (SPS). biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. 14 . • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena.

1. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .Sewaktu. 15 .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + ..- .. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.- Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. Pagi. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- Hasil BTA .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.analisis kohort hasil pengobatan Beberapa istilah dalam definisi kasus: .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. (lihat bagan alur) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . . KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN • Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • • • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. (lihat bagan alur) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . pleuritis eksudativa.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. yaitu: . . Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). . 3.menentukan paduan pengobatan yang sesuai . .mengurangi efek samping.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.registrasi kasus secara benar . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. • • • 16 .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.

pleuritis eksudativa unilateral. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. kulit. alat kelamin. dan lain-lain. yaitu bentuk berat dan ringan. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. 17 . selaput otak. .1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. misalnya: TB kelenjar limfe. . tulang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. misalnya: meningitis. TB usus. maka untuk kepentingan pencatatan. yaitu: . . . TB tulang belakang. usus.TB ekstra paru ringan. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. kelenjar lymfe. sendi. pleuritis eksudativa bilateral. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. .1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. TB saluran kemih dan alat kelamin. dan atau keadaan umum pasien buruk. milier.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. ginjal. persendian. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . • • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. saluran kencing.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif .Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. selaput jantung (pericardium). misalnya pleura. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. .TB ekstra-paru berat. peritonitis. • Tuberkulosis ekstra paru. dan kelenjar adrenal. tulang (kecuali tulang belakang). perikarditis.

dapat juga mengalami kambuh. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Meskipun sangat jarang. bakteriologik (biakan). • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. harus dibuktikan secara patologik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).. • • • 18 . gagal. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. dan pertimbangan medis spesialistik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. radiologik. default maupun menjadi kasus kronik.

Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). mencegah kematian. sifat dan dosis OAT Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Sifat Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . . Jenis.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Tahap Lanjutan . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.1. Tahap awal (intensif) . memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . mencegah kekambuhan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Jenis. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. .prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. yaitu tahap intensif dan lanjutan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 .

KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. 2.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). 1. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. . dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Paket Kombipak. yaitu Isoniasid. Pirazinamid dan Etambutol. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru 20 . Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Rifampisin. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Disamping kedua kategori ini.

21 . + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.2.3. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. (1ml = 250mg) 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.

foto tulang dan sendi. dan pemeriksaan penunjang.4. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . dan lain lainnya. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). pungsi pleura. Lihat tabel 3. seperti bilasan lambung.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. funduskopi.5. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. pemeriksaan fisik. 22 . Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. pungsi lumbal. CT-Scan. patologi anatomi. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Setelah dokter melakukan anamnesis. 5. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama.

atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Bawah garis Klinis gizi buruk keadaan gizi merah (KMS) (BB/U < 60%) atau BB/U < 80% Demam tanpa > 2 minggu sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.5. aksila.--> lampirkan tabel badan badan. dan lain – lain. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. BTA negatif atau tidak tahu. kelenjar limfe koli. jumlah >1. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). 23 . (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. Sinusitis. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB Tidak Laporan BTA positif jelas keluarga. lutut. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.

efusi pleura 3. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. kavitas. kaku kuduk penurunan kesadaran kegawatan lain. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. OAT pada anak diberikan setiap hari.2. misalnya sesak napas 2. koksitis Gambar 3. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. OAT tetap dihentikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. Setelah pemberian obat 6 bulan .6. Tanda bahaya: kejang. Gibbus. Tabel 3. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. tidak boleh dibelah OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. c. Dosis OAT KDT pada anak 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 1 tablet 1 tablet 2 tablet 2 tablet 4 tablet 4 tablet Keterangan: Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Juru Immunisasi. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.7. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Sanitarian. Obat harus diberikan secara utuh. Pekarya. dipercaya dan disetujui. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. 25 . Perawat. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat badan (kg) 5-9 10-19 20-32 Tabel 3. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. misalnya Bidan di Desa. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. 6. dirujuk ke rumah sakit. anggota PPTI. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. PKK. a. dan lain lain. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. guru. Anak dengan BB > 33 kg . PMO dapat berasal dari kader kesehatan. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif.

Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). 26 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. d. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB.

rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. tahap lanjutan tetap diberikan. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Beri Sisipan 1 bulan.8. Jika mungkin. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.

mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. dahak. 28 . Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: Lacak pasien Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis Diskusikan dan Tb extra paru: selesai cari masalah Lanjutkan pengobatan Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan sebelumnya kurang sampai seluruh dosis hasil BTA (+) dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan Kategori-2: rujuk.9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Bila satu atau lebih Kategori-1 Mulai kategori-2 Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.

Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. b. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. 29 . Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. • • • • • 8.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. kecuali streptomisin. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Menurut WHO. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. a. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya.

oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. harus dihentikan. 30 . Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. susuk KB). pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. suntikan KB. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. d. Pasien dengan kelainan hati. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). d. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati.

tapi perlu penjelasan kepada pasien. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. h. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. 31 .10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. mual. 9. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. g. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: Meningitis TB TB milier dengan atau tanpa meningitis TB dengan Pleuritis eksudativa TB dengan Perikarditis konstriktiva. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. adalah: Untuk TB paru: Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. setelah selesai pengobatan TB. kemudian diturunkan secara bertahap. karena dapat memperberat kelainan tersebut. Tabel 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi.

segera lakukan tes fungsi hati. ganti Etambutol. Berikan dulu anti-histamin.11. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Streptomisin dihentikan. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Bila keadaan seperti ini. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Bila mungkin. ganti obat tersebut dengan obat lain. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Hentikan Etambutol. Hentikan semua OAT. Streptomisin dihentikan. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. ganti Etambutol. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. Untuk membedakannya. Hentikan Rifampisin. hentikan semua OAT. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas.

pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. 33 . Namun. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.

harus mengikuti acuan/standar. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Kegiatan – kegiatan laboratorium. mulai dari tingkat Kecamatan. Untuk mendukung kinerja program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Sumber daya laboratorium. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. mudah. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. murah. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. 34 . Propinsi. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. bersifat spesifik. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Keamanan dan kebersihan laboratorium. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. dan Nasional. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Namun. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Kab/Kota.

BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). Laboratorium rujukan Regional. Laboratorium rujukan Provinsi Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). c. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). RSP dll. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. dll. Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). BP4. Rumah Sakit. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. tb dari spesimen dahak. e. identifikasi. Laboratorium mikroskopis TB UPK UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. peran. Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. identifikasi dan DST M. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. 35 . Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. Laboratorium rujukan Nasional. b. uji kepekaan M. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi.

1. Australia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB PRM. PPM Rumah Sakit Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) 36 .

Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil.Fungsi: . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB.Laboratorium mikroskopis TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Peran: . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat.Tugas: PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. b. sampai diperoleh hasil. . . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. Laboratorium mikroskopis TB UPK.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. . . Catatan : Bilamana perlu. Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. . . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. dan keamanan dan keselamatan kerja. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. FUNGSI dan PERAN.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . . sampai diperoleh hasil PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS.

3.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. .Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. isolasi. Fungsi . .Menyelenggarakan pembinaan Lab. . TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tugas: Tanggung jawab: TB setempat.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. Pembina laboratorium TB sesuai jejaring Tugas: .Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. identifikasi dan tes kepekaan M. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). termasuk EQAS sesuai jejaring. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. Laboratorium rujukan Provinsi. - c. Isolasi. Tanggung jawab: . . .Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. 38 . Peran: Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. 2. 1. TB dari dahak. .Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.

Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Laboratorium rujukan untuk isolasi. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab. Laboratorium rujukan Nasional. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Peran: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. Laboratorium rujukan Regional. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan uji kepekaan (DST). . identifikasi dan DST M. - e. tuberculosis.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . 39 . .tb dan MOTT bagi yang memerlukan. Tugas: . Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. rujukan provinsi.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.tb di laboratorium provinsi Tugas: Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Tanggung jawab: . identifikasi dan DST M. . TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Fungsi: Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Peran: Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M.

pipet.Air mengalir. ditambah dengan : .Botol berisi pasir dan desinfektan . . minimal SMAK/setara . timer.Desinfektans.Sarana keamanan .Sarana keamanan . lampu spiritus. rujukan pemeriksaan dahak.Idem PS kerja Lab b.Wadah pembuangan berisi desinfektans.Formulir standard (TB. kertas lensa.Sarana: . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 . lidi lancip. kertas saring. .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai .1 buah mikroskop binokule . kerja Lab . sticker.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . ose/lidi.Idem PS . Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. . TB 04 .Ruang: . aether alkohol.Idem dengan PS. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a. Mikroskopik dahak BTA) .Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. minimal SMAK/setara .Sarana: .pewarna ZN bermutu. .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) (lihat buku pedoman pem.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. rak pengering. timer . Laboratorium mikroskopis TB UPK. .Ruang: .05).Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. minyak emersi.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. penjepit sediaan dari kayu. kotak sediaan. corong. kaca sediaan/frosted sediaan.

Ruang dekontaminasi dan pencucian alat.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: - Sarana keamanan kerja Lab c. Seorang pembantu analis. Laboratorium rujukan Provinsi. .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Ruang pelatihan. Administrasi: Seorang tenaga administrasi. Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. . .Tb: Idem dengan lab. Teknisi alat laboratorium: Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. uji silang ditambah dengan : 10 mikroskop binokuler 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . Penanggung Jawab Tenaga : Pimpinan Instansi setempat Teknis laboratoris: Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. .Ruang administrasi .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang pembuatan media dan reagensia.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .

.1 incubator.Minimal 3 orang tenaga analis (mikro). .Generator listrik.Cabinet untuk pembuatan media .1 waterbath.Botol McCartney .1 biosafety cabinet class II .1 inspisator.Minimal 2 orang tenaga analis (Media). Laboratorium rujukan Regional.300 C) .idem dengan lab Propinsi Sarana: .1 freezer (. Teknis alat laboratorium: . .Micro-pipette . . . . . Administrasi: . .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik. .Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . GLP.Magnetic stirrer.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).5000 g) .Minimal seorang tenaga administrasi.Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.1 bio-containment centrifuge (500 . managemen) d.Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Idem lab Propinsi kerja Lab - 42 .1 incenerator / carbonizer .1 lemari es. .Alat gelas laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .Blender/homogenizer (autoclavable) . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Teknis laboratoris: . Ruang: . .Vortex mixer.1 timbangan gram (0–500 gr) .

1 mikroskop fluorescence .Amplifikasi asam nukleat: Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). UV transilluminator/imaging system .Optional: Fasilitas kultur sel. dan Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik.Dot blotter . dan Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. refrigerator.Ruang dengan negative pressure . Mikroskopik dahak BTA Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. eye wash.Nucleic Acid Sequencing system . vortex. microcentrifuge.ELISA system . system elektroforesis vertical. vortex. 2 orang analis untuk media dan reagensia. refrigerator. Laboratorium rujukan Nasional. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . heating blockpem. freezer –20oC.TB: .Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M.Thermo-cycler . dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. pipet mikro. Waterbath . microcentrifuge Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. 1 set pipet mikro. freezer –20oC. shower . dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) 5 tenaga analis. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.Automated Liquid culture system . Penanggung Jawab Tenaga : Kepala Laboratorium setempat Tenaga Teknis Laboratoris: Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Ruang gelap . system elektroforesis horizontal. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.Ruang Asam: fume hood. 1 set pipet mikro.

Peningkatan mutu (Quality Improvement).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: .Protap pengelolaan limbah . terintegrasi dalam PMI dan PME. pasca-analisis.Protap pengambilan dahak . Pemantapan Mutu Internal 2. penyimpanan. pengiriman. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. pengolahan contoh uji.Idem dengan lab regional ditambah dengan : .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1.Protap pembuatan sediaan dahak . Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. analisis.Protap pemeriksaan Mikroskopis .Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. dan harus dilakukan terus menerus. Pemantapan Mutu Eksternal 3. misalnya : . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar.Protap pembuatan media 44 . Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. pemeriksaan contoh uji. Tujuan PMI Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Mendeteksi keslahan. pengambilan. Membantu peningkatan pelayanan pasien.

PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : Uji silang sediaan dahak. audit internal. 45 . hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara Menentukan jenis kegiatan PME Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME Penilaian dan umpan balik. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut.Dsb.Protap inokulasi . laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. laboratorium pembaca pertama. Pada pelaksanaan uji silang.

Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. pemeliharaan. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. dll.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. sarana dan prasarana laboratorium. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. uji fungsi Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. mutu pewarnaan. 46 . penyegaran. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. mutasi Sarana dan prasarana : Pengadaan. pelatihan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. meliputi : Tenaga : Pelatihan. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Supervisi Laboratorium TB. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. pengembangan metoda pemeriksaan 5.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. dsb) 2. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. serologi. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. jadwal pemantauan dan evaluasi. 1. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. masyarakat umum. PCR/biomolekuler. 4. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. 47 . lingkungan sekitar laboratorium. biakan. Penyediaan perangkat (protap. dsb). uji kepekaan. peralatan.

Ose. Eter Alkohol. 1. pendistribusian. tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1. Reagensia Ziehl Neelsen. penyimpanan. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop. kaca sediaan. dan sisipan. Minyak imersi. Lysol. Slide Box. pengadaan. Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. 48 . Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya. dan tiap blister berisi 28 tablet. kategori 2. b. monitoring dan evaluasi. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman. Kertas pembersih lensa mikroskop. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. Rak pewarna dan pengering. Logistik OAT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan. a. format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Lampu spiritus. kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister. kertas saring. yang dikemas dalam blister untuk satu dosis. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum.

• sisa stock OAT yang ada.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Disamping rencana kebutuhan OAT KDT. triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. perencanaan ini diteruskan ke pusat. • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat. MANAJEMEN OAT a. • buffer-stock. perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi 49 . Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya. Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK).

Pengawasan Mutu. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kabupaten/Kota dan UPK. c. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. e. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. Setelah OAT sampai di Propinsi. b. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Buffer stock ditingkat pusat. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. d. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Keutuhan kemasan dan wadah 50 . Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. f. kemasan. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). artinya. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Monitoring dan Evaluasi. jumlah.

cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. 3. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Waktu hancur atau disolusi 5. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). boks dan master boks 5. Pemberian 3. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Uji potensi 8. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. • Dan pihak lain yang terkait. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Kemurnian/ kadar cemaran 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Kadar zat aktif 7. Identitas obat 2. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik.

formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. Bahan Uji tuberkulin. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. 52 . propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Ose. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Slide Box. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. Rak pewarna dan pengering. Botol plastik bercorong pipet dll. Lampu speritus. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah.

Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dan kesinambungan (sustainability). dan 1 tenaga laboratorium. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. supervisi. pembinaan (pelatihan. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. 2. 1. dan 1 tenaga laboratorium 53 . 1 perawat/petugas TB. Unit Pelayanan Kesehatan 1. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. 3 perawat/petugas TB. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. kalakarya/on the job training). pelatihan dan supervisi. 3 perawat/petugas TB.

(Fakultas Kedokteran. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. jumlah tergantung kebutuhan. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. minimal telah dilatih. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. b. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 2 perawat/petugas TB. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. 3. Fakultas Keperawatan. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui • 54 . Pelatihan ulangan (retraining). Fakultas Kesehatan Masyarakat. seluruh materi diberikan. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. terdiri dari: 1. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. 2. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Tingkat Kabupaten/Kota 1. 2 perawat/petugas TB. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. 3. 3. jumlah tergantung kebutuhan. 2. menyesuaikan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Pelatihan penuh.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. dan lain-lainnya. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. 5 fasilitator pelatihan. Tingkat Provinsi 1. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. 2. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Dokter Praktek Swasta. dan lain-lainnya. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D.

kinerja (supervisi) . • persiapan administratif penyiapan bahan. pelatihan TB-HIV. d.dampak 55 . pelatihan advokasi. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. fasilitator. pelatihan DOTS plus. kepanitiaan.pembelajaran • paska pelatihan . seperti: pelatihan manajemen OAT.. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. materi. peserta. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . dana. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Diadopsi dari Tovey (1997) Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. metode pembelajaran. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi.1. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. surveilans.reaksi dan . tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. Pelatihan penyegaran.

• Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak.2. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Tidak semua harus dipelajari.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN 56 . Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih.

diskusi. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompetensi pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) waktu modifikasi dari berbagai sumber 57 . Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. 3. bantuan teknis. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. bersama-sama mencari pemecahan masalah dan memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : observasi. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang.

maka supervisi harus direncanakan dengan baik.01 dan TB. 4. Pengumpulan informasi pendukung. 58 . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan. . Penjadwalan kegiatan supervisi. penuh perhatian. misalnya laporan. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. Pelaksanaan supervisi. . Kepribadian supervisor.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Pelatihan baru selesai dilaksanakan.Melakukan pendekatan fasilitatif. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. .Pada tahap awal pelaksanaan program. 2. . yaitu: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. bila memungkinkan . terutama pada tingkat UPK : 1. . 3. misalnya angka konversi rendah.06. BP4.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. . Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. sebagai berikut: 1. empati.03) . Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. 2. . angka kesembuhan rendah. maka perlu dilakukan persiapan.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia.Menjadi pendengar yang baik. Kegiatan penting selama supervisi. 2. . . partisipatif dan tidak instruktif.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. RS. serta kebutuhannya. .Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. . Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. pemetaan wilayah. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester.

2. b. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. dapat dilaksanakan. g. realistik. kreatifitas. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. inisiatif. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. 59 . inovatif. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. maka berarti ada masalah kinerja. melakukan on the job training. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. tidak mampu melaksanakan. mungkin karena tugasnya tidak jelas. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. f. Tentukan penyebab yang paling mungkin.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. praktis. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. dan tidak menciptakan masalah baru. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. e. Laporan supervisi. 5. d. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. sebaiknya 3 lembar: . Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. 1. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. c. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). 4. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. 3. realistis. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. Lembar 3 : arsip supervisor. 60 .

legislative. b. Keberlanjutan program 5. mengingat : 1. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. Potensi melibatkan sector lain 4. sektor swasta.Meningkatkan sumber daya. Akuntabilitas. organisasi keagamaan. kelompok media massa. c. mutu.Meningkatkan komitmen . kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis .Meningkatkan koordinasi . Beban masalah TB yang tinggi 2. Keterbatasan sector pemerintah 3.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. baik dari pemerintah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Lembaga Swadaya Masyarakat. 61 . PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin.Meningkatkan komunikasi . organisasi profesi. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1.

agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. disepakati sejak awal. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. Identifikasi. Pemantauan dan penilaian. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. e. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. b. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. b. Penyamaan persepsi. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. c. Komunikasi intensif. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. tugas dan fungsi masing. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. dana. Pembentukan Komitmen. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Melakukan kegiatan. sarana dan prasarana. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. 3. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. f. g. Pengaturan peran.

advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Pada konteks dalam negeri. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. 63 . BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. Dalam konteks global. komunikasi. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. 1. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. Dalam konteks penanggulangan TB. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan.

factor lain 64 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Buku Pedoman .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Angka kesembuhan . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .1. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Media Promosi .Sumber dana (APBN.Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Tenaga Penyuluh .

Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. menulis dan lain-lain. pertemuan/rapat kerja. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. memberikan laporan. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. berfikir. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. b. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. metode dsb) Mengembangkan bahan. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. Dalam proses komunikasi. dan Mobilisasi sumber dana. Memilih strategi yang tepat (advokator. 2. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. pelaksana. 65 . Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. 1. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. konsultasi. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber.

Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. c. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. d. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. seminar peningkatan pengetahuan . Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: .Radio.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . 66 .Surat kabar. 3. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan.Rapat pertemuan-pertemuan. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1.Demonstrasi. latihan (meningkatkan kemampuan) . percakapan.Televisi. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. lancar tidaknya suatu proses. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan.

Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. ikut menjadi PMO. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. harus merupakan elemen kemasyarakatan. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. masyarakat. . 4. sasaran.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. Kader TB dan sebagainya. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat.Community material : Sarana masyarakat . Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. alih pengetahuan dan keterampilan. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . . . KIE berbasis individu. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. . berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. . motivasi.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . 3. 5. pesan. dan ormas lainnya 67 . 2. . .Memerlukan pengulangan secara periodik.Memenuhi permintaan masyarakat.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. keluarga.indikator dan umpan balik mobilisasi.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak.

Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. LSM. Komisi 9 DPR Akademisi. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. 68 . . Langkah-langkah mobilisasi sosial . .dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. Konseling. . . dunia usaha.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. dll Peminatan Kebijakan. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. PAPP) LSM. dapat digunakan tabel contoh berikut. Tabel 9.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader.1. Ormas. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok.organisasi profesi. Kunjungan rumah. Lintas program.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. . Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. LSM. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. Diskusi kelompok (DK). dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. Lintas sektor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyuluhan kelompok. profesi (IDI.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB.

Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien. billboard dan spanduk.mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). radio spot. filler/spot. 69 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV.

strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB. dan seluruh petugas terkait. 70 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004. pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10. selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK. UPK di tempat kerja. UPK polisi. rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. antara lain : rumah sakit. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%.1. BP4. Setelah mencapai prakondisi tersebut. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. UPK lapas / rutan. 2. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29% Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%. dan lain lain. 1. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan, memantau, melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. 2. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. 6. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. 4. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Validasi data pasien di UPKt 7. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK

72

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10.1. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Penemuan Diagnosis Mulai Pengobatan Konsultasi Pencatatan suspek Pengobatan selanjutnya Klinis dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis, memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan), serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : Tingkat sosial ekonomi pasien Biaya Konsultasi Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) Biaya Transportasi Kemampuan dan fasilitas UPK. Hal yang penting diketahui : - Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% - Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85%

73

pengendalian mutu pelayanan. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification).Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. 74 . Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. akses pelayanan kesehatan. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. 1. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. 2. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional.

Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. 2. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). modeling.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . b. 3. termasuk survei. 75 . a. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. eksperimentasi. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. dan community based approach. in-depth interview dan lain-lain.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. misalnya dengan melibatkan pustu. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). bidan di desa. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. Penelitian operasional tuberkulosis. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. focus group discussion. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. termasuk mutu kinerja laboratorium.Spesifik terhadap program tuberkulosis . khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi .Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . kuasi eksperimen. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . antara lain: 1. b. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. a. 4.

dan lain-lain. 4. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 6. 7. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. seperti: TB/HIV. 76 . c. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. 5. TBKusta. Dokter Praktek Swasta. dan UPK lainnya. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan.

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Propinsi. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. sosial budaya. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. 77 . kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. a. Laboratorium dan unit lainnya. Puskesmas. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 12 PERENCANAAN Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. pendidikan. Dalam sistem desentralisasi. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap.

keberhasilan diagnosis. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. pencapaian program (penemuan pasien. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). dicari masalah dan penyebabnya. sampai dimana kemajuan program. angka kesembuhan. • Disamping untuk perencanaan. dan market). Dari kesenjangan yang ditemukan. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. antara lain kebijakan lokal. material. money. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. a. method. Untuk maksud tersebut. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . dana (money). Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. logistik (material). Untuk memudahkan. diseminasi informasi serta umpan balik. keberhasilan pengobatan). pohon masalah dan log frame. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. b. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). 2. dan metodologi yang digunakan (method). Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. komitmen nasional maupun international. Selain data tersebut. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man.

Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). Memiliki target waktu. 1) Daya ungkitnya tinggi. . MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. Rasional (realistis) f. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. Terukur (kuantitatif) e. 4. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. 3. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Terkait dengan masalah d. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. 5. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan.

Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. rumah sakit. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. sampai pada pencatatan pelaporan. perlu dinilai semua unsurnya. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. karena akan memberikan dampak epidemiologis. pengobatan dan case holding pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. Setelah itu baru rumah sakit. RSTP dan dokter praktek swasta). Masing-masing aspek tersebut. sarana. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). kepadatan penduduk. c. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. b. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. BP4. dan kemitraan. namun perlu didukung dengan data penyakit. diagnosis pasien. BP4. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. 3) Kesiapan : Tenaga. yaitu penurunan jumlah pasien. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. Pada tahap awal. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk.

Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Penetapan target. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). daya ungkit dan kesiapan daerah Sasaran penduduk. Perluasan unit pelaksana. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Penetapan Sasaran dan Target Sasaran wilayah.

c. 6. d. 82 . waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Cara pemantauan. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Dengan kata lain disebut program oriented. b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Pelaksana (siapa yang memantau). Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. e. bukan budget oriented. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi.

proses. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. maupun keluaran (output). Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. 1. Rumah Sakit. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. bagian atas. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. dianalisis. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. Propinsi. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. diinterpretasi. Kabupaten/Kota. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. BP4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku.

• Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. PPM. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). 3. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. RS. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. BP-4. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan.

3.1. 2. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Tabel 12. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ √ √ √ √ 5 Triwulan 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.

misalnya rumah sakit. • X 100 % Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. BP4 atau dokter praktek swasta.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB .15%.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. 86 . indikator ini tidak dapat dihitung. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa Angka ini sekitar 5 . Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.

Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Bila angka ini jauh lebih rendah. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. itu berarti mutu diagnosis rendah. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Angka ini berkisar 15%. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % X 100 % 87 .

angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. setelah selesai pengobatan. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat.08. Di tingkat kabupaten. X 100 % 88 . kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. propinsi dan pusat. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. propinsi dan pusat. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Di tingkat kabupaten. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.11. default (drop-out atau lalai). meninggal. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. gagal. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. dan pindah keluar. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. setelah pengobatan intensif (2 bulan). Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial.01.12 bulan sebelumnya. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat.01.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

7)

Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif, perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar

Benar KKPP KBPP KBPP KBPP

Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganalisa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang, disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain, supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)

89

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100.000

Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 %

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

90

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PDPI. Paris. 2004. WHO. WHO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. New Delhi. What the Clinician Should Know. WHO/HTM/TB/2004. New Delhi. Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers.329W. 2000 18. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 3rd edition. 2006 8. WHO/IUATLD. 1998. Tuberculosis: A Manual for Medical Students. Kelompok Kerja TB-HIV. Depkes RI. Microscopy. 2003 2. Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers. ISBN 97996622-2-2 10. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Jakarta. Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT). 19. The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). IAUTLD. WHO. Geneva. SEA/TB/248 24. 2003 3. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. 2003.24/Ind/P 5.995. IUATLD. Geneva. Cetakan ke-10. WHO/HTM/TB/2004. Intervention for Tuberculosis Control and Elimination. Paris. Depkes/UKK Respirologi IDAI.258 92 . WHO/TB/98. Depkes RI. WHO-SEARO. 2002 3. W85 13. Jakarta. Jakarta. Jakarta. 2000. Jakarta. Horne N. Geneva. Geneva. 1999 4. 2006. 16. 23. and Control of Tuberculosis. 2002. Treatment and Monitoring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4. Laboratory Service in TB Control: part 1.210 14. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS.313 20. 2002. WHO. WHO. WHO/TB/98. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO. A Tuberculosis for Specialist Physicians. Toman’s Tuberculosis. TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition. Geneva.258 5. 1997. New Delhi. 2000. A guide for Tuberculosis Treatment Support. Core Curricullum on Tuberculosis. 2003.300 12. 22. The Hague. Atlanta. Organization and Management. WHO-SEARO. Atlanta. 21.334 15. Treatment of Tuberculosis. 11. Laboratory Service in TB Control: part 2. Depkes RI. Paris. 17. ATS/CDC/IDSA. Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia. Miller F. WHO/CDS/TB/2002. Washington. 2006. Geneva. London and Oxford. WHO. Crofton J. 2002. Clinical Tuberculosis. 616. 2004. 1998. 2004 6. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Geneva. 2nd edition. 2003. PP IDAI-UKK Pulmonologi. WHO/CDS/TB/2003. ATS/CDC/IDSA. 2005. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. Case Detection. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. WHO-SEARO. Adherence to Long Theraphy. Effective Diagnosis. Geneva. WHO. 2003 7. Geneva. WHO/TB/96. 2006 9. CDC/US Department of Health and Human Service. Jakarta. 1999 BAB 5. 4th edition. McMillan Education Ltd. External Assessment for AFB Smear Microscopy. Depkes RI. Jakarta. 2004. Geneva. IUATLD. Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis. 1999 2. 1998 4. Atlanta. Treatment. Tuberculosis: Epidemiology and Control. WHO. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes.

WHO/HTM/TB/2005. 1998 8. WHO. Refika Aditama.301. A Usmara (ed). Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Geneva. WHO. 2005. Modul D : Provide Training for TB Control. Geneva. Prentice Hall. Surabaya. Abbat FR. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. JJ Gilbert. 2006. How to Organize Training for Distric Coordinator. 1997 10. WHO. Geneva. WA 530. Bandung. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. 2005. November 2005 14. McMahon Rosemary. WHO/HTM/TB/2005. Amara Books. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Cetakan ke-10.308 BAB 7. The World Health Report 2006. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. 2003. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis.19 3. Insan Cendekia. Abbat FR. Geneva. 2005. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. 1992 2. 12. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO. W 21. 2005.353 16. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. WHO/HTM/TB/2005. Sydney.1991 3. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Depkes RI. WHO. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Jogyakarta. Irianto Jusuf. 2003 9. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Geneva. WHO.347d 18. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control.1 19. (comprehensive draft. WHO/CDS/STB/2002. WHO.995. Geneva. McMillan. Manila. 2002. Tovey MD. Depkes RI Badan PPSDM. WHO/CDS/TB/2002. 2005. Revised and Updated 1998. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.725/Menkes/SK/V/2003). Jakarta. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. WHO.347c 17. unpublished). Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. 15. 2003 4. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control.350 11. WHO-SEA. WHO. WHO. Training in Australia: Design. 2005. Delivery. Jakarta. WHO/HTM/TB/2005. Jakarta. Geneva. 2001 7. Educational Hanbook for Health Personal. Geneva. Geneva. WHO-WEPRO. WHO. Geneva. No. WHO/HTM/TB/2005. 1999. 2003 6. 2002.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. WHO. WHO/CDS/TB/2002. 2006. Geneva. 2002 2.2002. Evaluation and Management. Mangkunegara Anwar Prabu. 616. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). New Delhi. Depkes RI. Geneva. 93 . Teaching Health care worker: A practical guide.24/Ind/P 5.347 13. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. MSH/WHO. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Working together for Health. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.

BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Public-Private Partnerships for TB Control. Understanding the TB Cohort Review Process. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. SEA/TB/259 5.323 4. 2001 2. WHO. TB Advocacy: Practical Guide. Jakarta. SEA/TB/213 3.355 3. 2003. 2003. Depkes RI. 1999 2. Depkes RI Pusat PKM. New Delhi. 2004 2. WHO-SEARO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Research Methods for Promotion of Lung Health. WHO. Geneva. WHO/CDS/TB/2003. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. 2005. Paris. WHO. Tearfund. 2006 5. Jakarta. Penelitian Tuberkulosis 1. Atlanta. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. Gordom Graham. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Geneva. 1999. 2006. 2006 3. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. Depkes RI. 2006. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control.995. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. WHO/SEARO. WHO. Jakarta. WHO/CDS/TB/2003. Advokasi. IAUTLD. Depkes RI.24 BAB 9. Kemitraan dengan Sector Swasta. WHO. 616. Geneva. 2001 3. 2001 2. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. The Power of Partnership. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. WHO. Jakarta. Making Health Communication Program Work. 2004 2. WHO/HTM/STB/2003. 2002 6.312 7. Geneva. Jakarta. 2001 BAB 11. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. New Delhi. Jakarta. Depkes RI Pusdiklatkes. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. Atlanta. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. 2000 3. Cetakan ke-10. WHO-SEARO. 2002 4. Interventions. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. belum diterbitkan). Depkes RI. Issues.24/Ind/P 94 . 2003. and Emerging Policy Framework. Global Partnership to STOP TB. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. 2003. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Pedoman Advokasi.

Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. WHO.253 6. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Jakarta. WHO. 1999 95 . 1999 6. Combating Tuberculosis. Geneva. Tuberculosis Handbook. 1998. WHO/TB/98. Geneva.995. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. 2004. Depkes RI. 1998. 2005 4. Perencanaan 1. New Delhi . Cetakan ke-10. WHO/SEARO. WHO/TB/98.240 BAB 13. 616. WHO/TB/98. Geneva.344 5. 2006. WHO/HTM/TB/2004. New Delhi . Tuberculosis Handbook. WHO/SEARO. WHO. 4th edition.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. WHO. 1996 3. Geneva. Principles for Accelerating DOTS Coverage.24/Ind/P 2. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. belum dipublikasi).253 5. Stop TB Partnership. (draft. 1998. Geneva. National Level TB Management Cycles. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. Paris.

termasuk pasien TB dengan BTA positif. Terdiri 17 standar. Indonesian Association of Pulmonologists. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. U. dimana semua praktisi. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru.S. dan World Care Council. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV.S. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). American College of Chest Physicians. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV).). Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. antara lain : Indian Medical Association. TB ekstra paru. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). International Council of Nurses. Infectious Diseases Society of America. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. American Thoracic Society. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang- 96 . Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Philippine College of Chest Physicians. Stop TB Partnership. (dewasa. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. pasien TB dengan BTA negatif. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Centers for Disease Control & Prevention. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Pada pasien dengan atau diduga HIV. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. bilasan lambung atau induksi sputum. Fase awal terdiri dari INH. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. Pada pasien demikian. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya.Rifampisin. 97 . Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. foto toraks menunjukkan kelainan TB. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. (dewasa. pleura. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. Bila ada fasiliti.

konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. paling baik dinilai secara klinis. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). 98 . Rifampisin. Rifampisin. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV.

Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Rifampisin dan Etambutol.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Reg.Lab Hasil/ Tgl. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. as.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).GGULANGAN TUBERKULOSIS BUPATEN / KOTA TB.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. dapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). Reg. Reg. 104 .Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. an atau lebih dengan BTA positif. sitif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama egister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). Reg.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

A= dahak sewaktu pertama. .Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. 106 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. sebagai berikut : . 02/15/237 B dan 02/15/237 C. . yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. misalnya 02. . yang merupakan nomor urut UPK. misalnya 15. . misalnya 237. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. yang merupakan nomor urut kab/ kota.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

110

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

111

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis .Angka gagal : 89 . 9. AKMS : 1.Diagnosis TB ekstra paru: 14 . 2. 5.efek samping berat : 32 .lihat PMO DOTS : 7.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 10. Buffer stock : 49 Cakupan . CBA : 81 CDR : 9. 70 BTA : 5.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 11.pertimbangan dokter : 15 DOT . 63. 64.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 11.Diagnosis utama : 14 .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 89 . 6 . 14 Darurat .Diagnosis TB paru : 14 .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. .efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 91 .Angka default : 89 . 87 . 2.analisa indikator : 85 . 39. 64. 12.Fokus DOTS : 7 . 22. 23 BP4 : 8. lihat uji silang D Dahak . B C 118 .angka kesembuhan : 9 .peningkatan cakupan : 80.Alur diagnosis TB paru : 15 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 65. 9. . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 70.lihat hasil pengobatan .daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.analisa situasi : 77 Angka . 11.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.pola pikir : 64 . 13. 71. 63. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.Overdiagnosis : 14. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 29.angka konversi : 88 .pandemi : 4 .Diagnosis pendukung : 14 Dokter .dampak terhadap TB : 4.efek samping ringan : 31 .batasan : 63 .

30.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 57 . 85. 22 Klasifikasi : 16 .syarat jejaring yang baik : 72 .dosis paduan KDT-OAT : 21. 18.Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .Gejala utama : 13 . 22.evaluasi kinerja : 56.indikator program : 84.jejaring internal : 71 . 11.kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 21.kategori 1 : 20 .Kesalahan kecil .definisi kasus : 16 .kasus setelah putus berobat : 18 .Kesalahan besar .lihat visi KDT-OAT : 20. Indikasi . 29.jejaring ekternal : 71 .indikator jejeraing : 71 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat . 6.evaluasi dampak : 56 .kasus kambuh : 18 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .kategori 2 : 21 .Kesalahan Gradasi (KG) .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.syarat indikator : 85 . 49 .langkah-langkah kemitraan : 62 . .tujuan : 61 . 89. 86 .lihat hasil pengobatan .kasus setelah gagal : 18 . .pembentukan jejaring : 71 . 16.evaluasi pembelajaran : 56 .kasus baru : 18 .Gejala klinis pasien TB : 13 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 . 5.klasifikasi penyakit : 16 119 I J .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .kasus lain : 18 . 17.kasus kronik: 18 .kasus pidahan : 18 .kasus TB : 18 .indikasi operasi : 31 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 . 7.keuntungan KDT : 20 . 48.pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 Jejaring .prinsip dasar kemitraan : 61 .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .

80 .inkompetensi : 57 Kortikosteroid .menetapkan masalah prioritas : 78 .bentuk-bentuk : 88 . O OAT .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1. 40 .OAT sisipan 20. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.Koordinator pelatihan : 56 .ruang lingkup : 34 .Laboratorium rujukan uji silang : 35.Manajemen logistik OAT : 49 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 38.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.definisi : 63. . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 9.masalah MDR : 4. 10. 37.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 39.Laboratorium rujukan provinsi : 35.Materi pelatihan : 56 . 10.Pelatihan dasar : 54 120 P M .Evaluasi pelatihan : 56 . 8. 6. 54 . sifat dan dosis : 19 . 42 .fungsi.Laboratorium rujukan nasional : 35.peningkatan mutu : 44.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 9 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.masalah tuberkulosis di dunia : 4 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 67 . 65 . lihat MDG Misi .pemantapan mutu eksternal : 45 .tujuan mengatasi masalah : 79 .Laboratorium rujukan regional : 35.penggunaan pada pasien TB : 31 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4. 39. 49. peran.pemecahan masalah : 79 .standar kompetensi : 57 .Konsep pelatihan : 54 .Pelatihan dalam tugas : 54 .Manajemen logistik lainnya : 51 Manajemen laboratorium . 41 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .Mempertahankan mutu : 80 . 53 .Jenis. 21 .masalah prioritas : 7. 6. 7 . 40 .identifikasi masalah : 78 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) . 66 .negara dengan beban masalah TB : 4 .pemantapan mutu internal : 44 .efek samping OAT (lihat efek samping) .Jenis logistik : 48 .prinsip : 66. 7. 51 .definisi komunikasi : 63.beban masalah TB (penyebab) : 4 .

2.tujuan : 44 PPM .program TB di Indonesia : 8 . 9.siklus perencanaan : 77 .Prinsip pengobatan : 19 .tujuan PSDM : 53 . 8 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 35.pencatatan di laboratorium : 85 .Pelatihan ulangan : 54 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .Puskesmas Satelit : 11.Ruang lingkup : 75 . 26 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .Karakteristik penelitian TB : 74 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1.Langkah-langkah .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 37.Pelatihan penuh : 54 .tujuan dan target : 9 .Batasan : 53 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .pengobatan pencegahan : 24 .kegagalan program : 4 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 . 10.ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 . 37.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 . 77.pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 36.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan . 53 . 36. 74 . . 7.pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.pengobatan lengkap : 29 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 25. 10.lihat public-private mix .strategi program: 10 .pencatatan di UPK : 84 .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .Pelatihan penyegaran : 55 . 35.prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 10. 37. 37. 9. 11.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 9.tujuan perencanaan : 77 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 79 .Tujuan pengobatan: 19 . 4. 40.strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .perencanaan berbasis bukti : 77 .perencanaan : 45 . Q QA (quality assurance) : 35 121 .batasan : 70 . 70 .tahap : 44 . 36. 40 . 36. 35. 35.Metodologi : 75 .Pelatihan lanjutan : 55 .Persyaratan : 25 . 40 .kebijakan program : 9 .

37.sasaran buku : 2 .tingkat kabupaten/kota : 54 . U V Valid : 85. VCT : 30 Visi .gambaran radiologis : 14. 52. 40.Penentuan tipe : 18 Tujuan .case notification rate (lihat CNR) .pelaksanaan supervisi : 58 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .Tipe pasien : 18.target program : 9 Tatalaksana : . . 10.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14. 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 7.hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 122 .prinsip dasar tatalaksana : 13 .dokter praktek swasta : 54 .supervisi laboratorium TB : 46 . Rate (lihat juga angka) . 6 .TB .pemetaan : 81 WHO : 6.risiko menjadi sakit TB : 5 .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.risiko penularan TB : 5 .tujuan buku : 2 .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.pengembangan : 80 . 82 .persiapan supervisi : 58 . 22.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .perencanaan supervisi : 58 .tatalaksana TB anak : 22 . 35.sasaran wilayah : 82 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.Pukesmas : 53 . 53.case detection rate (lihat CDR) .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1. 10 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .laporan supervisi : 59 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.kegiatan supervisi : 57 .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .penetapan target : 82 . 82 .tujuan program : 9 . 44.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful