P. 1
kmb makalah askep

kmb makalah askep

|Views: 284|Likes:

More info:

Published by: 'sSi Bherry' Chapoenk CiLik II on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

KMB I GANGGUAN PERNAPASAN (EFUSI PLEURA

)

Oleh: Angga Dian Vito Erlambang Reza Hidayati Irnawati Yunia Putut Pujianto Ristin Wahyuni Sita Ni’matus Z Zahrotul Kamila (10.1.002) (10.1.010) (10.1.014) (10.1.016) (10.1.035) (10.1.042) (10.1.047) (10.1.059)

POLITEKNIK KESEHATAN RUMAH SAKIT dr. SOEPRAOEN MALANG

Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah KMB ini yang berjudul “ Gangguan Pernapasan (Efusi Pleura)” . Penulis mengucapkan terima kasih kepada : a. Allah SWT
b. Orang tua kami yang sentiasa memberi dukungan c. Dosen pembimbing kami Riki Ristanto

Kami berharap agar setelah membaca karya tulis ilmiah ini, para pembaca ini dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan yang lebih berguna, sebagaimana yang tertera dalam tujuan pembuatan makalah ini. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu kami membuka diri untuk menerima berbagai kritik dan salam demi perbaikan di masa mendatang.

Malang, September 2011

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan BAB II 2.1 Anatomi Fisiologi 2.2 Konsep Penyakit 2.2.1 Pengertian Efusi Pleura 2.2.2 Etiologi 2.2.3 Klasifikasi Efusi Pleura 2.2.4 Patofisiologi 2.2.5 Pemeriksaaan Fisik 2.2.6 Tanda dan Gejala 2.2.7 Pengobatan BAB III 3.1 ASKEP BAB IV 4.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang

Pleura adalah suatu lapisan ganda jaringan tipis yang terdiri dari : sel-sel mesoteliat, jaringan ikat, pembuluh-pembuluh darah kapiler, dan pembuluh-pembuluh getah bening. Seluruh jaringan tersebut memisahkan paru-paru dari dinding dada dan mediastinum. Efusi pleura sering dijumpai. Dalam keadaan normal pleura parietalis menghasilkan cairan yang direabsorpsi oleh pleura viseralis. Kelebihan produksi cairan (misalnya akibat inflamasi) atau gangguan reabsorpsi menyebabkan akumulasi cairan. Gejala sesak napas timbul pada efusi dengan jumlah yang agak banyak. Pleura mempunyai bentuk anatomi yang kompleks serta risiko kelainan patologi yang besar. Hal ini terlihat pada rongga pleura yang sewaktu-waktu dapat terkena keadaan patologis yang serius seperti efusi karena infeksi, neoplasma, hemotoraks, kilotoraks, empiema dan adanya udara karena pneumotoraks. Sedangkan tindakan peniadaan terhadap rongga pleura ini tidaklah memberikan akibat yang serius. Contoh keadaan ini dapat dilihat pada binatang gajah (mammalia), yang tidak mempunyai rongga pleura, sedangkan rongga yang potensial antara paru-paru dan dinding dada tugasnya digantikan oleh selapis jaringan yang elastis dan avaskular. Dalam masa embriologi membran pleura dibentuk dan mesenchim yang akan memisahkan paru dari mediastinum, diafragma dan dinding dada. Pada prinsipnya pleura dibentuk untuk mempermudah pergerakan paru-paru di rongga dada selama bernapas dan salah satu fungsi yang lain adalah mekanisme penghubung antara paru-paru dengan dinding dada. 1 Pleura terdiri atas pleura visceral yang membungkus permukaan paru dan pleura parietal yang melapisi bagian dalam dinding dada. Di antaranya terdapat rongga yang berisi sedikit cairan sebagai pelumas dalam pergerakan pernapasan. Dalam keadaan normal pada foto toraks tidak dapat diperlihatkan lapisan pleura 2,3 Pleura dan rongga pleura dapat menjadi tempat sejumlah gangguan yang dapat menghambat pengembangan paru-paru atau alveolus atau keduanya. Keadaan ini dapat

diakibatkan penekanan pada paru-paru salah satunya akibat penimbunan cairan dalam rongga pleura.

1.2 TUJUAN 1.2.1 Tujuan Umum Mengetahui masalah keperawatan pada efusi pleura. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Mengetahui penyebab efusi pleura. b. Mengetahui manifestasi klinis efusi pleura. c. Mengetahui perjalanan efusi pleura. d. Mengetahui penatalaksanaan medis efusi pleura e. Mengetahui diagnosa keperawatan efusi pleura. f. Mengetahui perencanaan asuhan keperawatan efusi pleura g. Mengetahui implementasi asuhan keperawatan efusi pleura h. Mengetahui evaluasi asuhan keperawatan efusi pleura

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Anatomi Fisiologi Paru-paru ada 2, merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada, terletak disebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung berserta pembuluh darah bersanya dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastinum. Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apex (puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula di dalam dasar leher. Pangkal paru-paru duduk di atas landai rongga thoraks di atas diafragma. Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat tampuk paru-paru, sisi belakang yang menyentuh tulang belakang dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung. Paru-paru di bagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fistula. Paru-paru kanan mempunyai 3 lobus dan paru-paru kiri 2 lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Sebuah pipa bronkhial kecil masuk ke dalam setiap lobula dan semakin ia bercarabang, semakin menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong kecil-kecil yang merupakan kantong udara paru-paru. Setiap paru-paru dilapisi oleh membran serosa rangkap dua, yaitu pleura. Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan penetrasi dengan cabang

utama bronkus, ateri dan vena bronkhialis, serabut saraf dan pembuluh limfe. Secara histologi, kedua lapisan ini terdiri dari sel mestotelial, jaringan ikat, pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Pleura viseral dapat melapisi paru-paru, masuk ke dalam fisura dan dengan demikian memisahkan lobus satu dari yang lain. Membran ini kemudian dilipat kembali di sebelah tampak paru-paru dan membentuk pleura parietalis dan melapisi bagian dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga ialah pleura kostalis, bagian yang menutupi diafragma ialah ”Pleura diafragma dan bagian yang terletak di atas leher ialah ”Pleura serukalis”. Pleura ini diperkuat oleh membran yang kuat bernama ”membran suprapleuralis” (Fasia simbron) dan di atas membran ini terletak arteri subklavia. Di antara kedua lapisan pleura ini terdapat sedikit eksudat untuk meminyaki permukaannya dan menghindarkan gesekan-gesekan antara paru-paru dan dinding dada yang sewaktu bernapas bergerak. Dalam keadaan sehat, kedua lapisan ini satu dengan yang lain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura itu hanya ruang yang tidak nyata, tetapi dalam keadaan tidak hormonal, velana atau caman memisahkan kedua pleura itu dan ruang diantaranya menjadi jelas.

2.2 Konsep Penyakit 2.2.1 Pengertian Efusi Pleura Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain.

Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus ( Baughman C Diane, 2000 ) Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002). Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-200 ml. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl.

2.2.2 Etiologi
1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti

pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig ( tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. 2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : 1. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik 2. 3. Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural

4.

Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Ada dua penyebab efusi pleura yaitu transudat dan eksudat.

a. Transudat Pada cairan transudat, selain memiliki serum protein yang rendah (< 0,5) juga memiliki LDH yang rendah (< 0,6). Penyebab utama terjadinya cairan transudat ini adalah: • • • • b. Eksudat Pada cairan eksudat kadar protein lebih tinggi dari 0,5 gram/100 cc cairan efusi dan kadar LDH lebih tinggi dari 0,6. Terjadinya eksudat antara lain disebabkan oleh: Infeksi paru akibat: pneumococcus, staphylococcus, haemophillus, tuberculosa dan kuman gram negatif yaitu psudomonas aeroginosa. Sindroma nefrotik Sirosis hepatis Sindroma Meig’s Tumor

2.2.3 Klasifikasi Efusi Pleura A. Berdasarkan Jenis Cairan Kalau seorang pasien ditemukan menderita efusi pleura, kita harus berupaya untuk menemukan penyebabnya. Ada banyak macam penyebab terjadinya pengumpulan cairan pleura. Tahap yang pertama adalah menentukan apakah pasien menderita efusi pleura jenis transudat atau eksudat. Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Efusi pleura tipe

transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan, pleura. Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini, sementara efusi pleura transudatif tidak memenuhi satu pun dari tiga kriteria ini : 1. Protein cairan pleura / protein serum > 0,5 2. LDH cairan pleura / cairan serum > 0,6 3. LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal di dalam serum. PARAMETER Warna BJ Jumlah set Jenis set Rivalta Glukosa Protein Rasio protein T-E/plasma LDH Rasio LDH T-E/plasma TRANSUDAT Jernih <1,016 Sedikit PMN <50% Negatif 60mg/dl (GD plasma) 2,5 g/dl <0,5 <200 IU/dl <0,6 EKSUDAT Jernih, keruh, berdarah <1,016 Banyak (>500sel/mm2) PMN <50% Negatif 60mg/dl (bervariasi) 2,5gr/dl <0,5 <200 IU/dl <0,6

a.) Eksudat, disebabkan oleh : 1. Pleuritis karena virus dan mikoplasma : virus coxsackie, Rickettsia, Chlamydia. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 1006000/cc. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala, demam, malaise, mialgia, sakit dada, sakit perut, gejala perikarditis. Diagnosa dapat dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi terhadap virus dalam cairan efusi. 2. Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. Bakteri penyebab dapat merupakan bakteri aerob maupun anaerob (Streptococcus paeumonie, Staphylococcus aureus, Pseudomonas, Hemophillus, E. Coli, Pseudomonas, Bakteriodes, Fusobakterium, dan lain-lain). Penatalaksanaan dilakukan dengan pemberian antibotika ampicillin dan

metronidazol serta mengalirkan cairan infus yang terinfeksi keluar dari rongga pleura. 3. Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis, Aspergillus,

Kriptococcus, dll. Efusi timbul karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. 4. Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening, dapat juga secara hemaogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan, sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura, menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraks kiri dan jarang yang masif. Pada pasien pleuritis tuberculosis ditemukan gejala febris, penurunan berat badan, dyspneu, dan nyeri dada pleuritik. 5. Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru, mammae, kelenjar linife, gaster, ovarium. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung yang tidak membesar. Patofisiologi terjadinya efusi ini diduga karena: • • Infasi tumor ke pleura, yang merangsang reaksi inflamasi dan terjadi kebocoran kapiler. Invasi tumor ke kelenjar limfe paru-paru dan jaringan limfe pleura, • bronkhopulmonary, hillus atau mediastinum, menyebabkan gangguan aliran balik sirkulasi. Obstruksi bronkus, menyebabkan peningkatan tekanan-tekanan negatif intra pleural, sehingga menyebabkan transudasi. Cairan pleura yang ditemukan berupa eksudat dan kadar glukosa dalam cairan pleura tersebut mungkin menurun jika beban tumor dalam cairan pleura cukup tinggi. Diagnosis dibuat melalui pemeriksaan sitologik cairan pleura dan tindakan blopsi pleura yang menggunakan jarum (needle biopsy).

6. Efusi parapneumoni adalah efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri, abses paru atau bronkiektasis. Khas dari penyakit ini adalah dijumpai predominan sel-sel PMN dan pada beberapa penderita cairannya berwarna purulen (empiema). Meskipun pada beberapa kasus efusi parapneumonik ini dapat diresorpsis oleh antibiotik, namun drainage kadang diperlukan pada empiema dan efusi pleura yang terlokalisir. Menurut Light, terdapat 4 indikasi untuk dilakukannya tube thoracostomy pada pasien dengan efusi parapneumonik: •Adanya pus yang terlihat secara makroskopik di dalam kavum pleura • Mikroorganisme terlihat dengan pewarnaan gram pada cairan pleura •Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 50 mg/dl
• Nilai pH cairan pleura dibawah 7,00 dan 0,15 unit lebih rendah daripada

nilai pH bakteri 7. Efusi pleura karena penyakit kolagen: SLE, Pleuritis Rheumatoid, Skleroderma 8. Penyakit AIDS, parapneumonik. b.) Transudat, disebabkan oleh : 1. Gangguan kardiovaskular Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. Sedangkan penyebab lainnya adalah perikarditis konstriktiva, dan sindroma vena kava superior. Patogenesisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada sehingga terjadi peningkatan filtrasi pada pleura parietalis. Di samping itu peningkatan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorpsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongg pleura dan paru-paru meningkat. pada sarkoma kapoksi yang diikuti oleh efusi

Tekanan hidrostatik yang meningkat pada seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral. Tapi yang agak sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan. Terapi ditujukan pada payah jantungnya. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan istirahat, digitalis, diuretik dll, efusi pleura juga segera menghilang. Kadang-kadang torakosentesis diperlukan juga bila penderita amat sesak. 2. Hipoalbuminemia Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian garam. Tapi pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin. 3. Hidrothoraks hepatik Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura. Efusi biasanya di sisi kanan dan biasanya cukup besar untuk menimbulkan dyspneu berat. Apabila penatalaksanaan medis tidak dapat mengontrol asites dan efusi, tidak ada alternatif yang baik. Pertimbangan tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan pintas peritoneum-venosa (peritoneal venous shunt, torakotomi) dengan perbaikan terhadap kebocoran melalui bedah, atau torakotomi pipa dengan suntikan agen yang menyebakan skelorasis. 4. Meig’s Syndrom Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderitapenderita dengan tumor ovarium jinak dan solid. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa : tumor ovarium kistik, fibromyomatoma dari uterus, tumor ovarium ganas yang berderajat rendah tanpa adanya

metastasis. Asites timbul karena sekresi cairan yang banyak oleh tumornya dimana efusi pleuranya terjadi karena cairan asites yang masuk ke pleura melalui porus di diafragma. Klinisnya merupakan penyakit kronis. 5. Dialisis Peritoneal Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal. Efusi terjadi unilateral ataupun bilateral. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. c.) Darah Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Bila darah aspirasi segera membeku, maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.

B. Berdasarkan Kuman Penyebab 1. Mycobacterium Tuberculosis a. Bakteriologi Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini adalah sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mm dan tebal 030,6 mm. Kuman ini tahan terhadap asam dikarenakan kandungan asam lemak (lipid) di dindingnya. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dingin. Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant yang suatu saat kuman dapat bangkit kembali dan aktif kembali. Kuman ini hidup sebagai parasit intraseluter didalam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian

disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan predileksi penyakit tuberkulosis.

b. Patogenesis  Tuberkulosis Primer Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nudei dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung dari ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap, kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi terhisap oleh oang sehat, ia akan menempel pada jalan napas atau paru-paru. Kuman dapat masuk lewat luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini sangat jarang terjadi. Kuman yang menetap di jaringan paru, ia tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa ke organ tubuh lain. Kuman yang bersarang tadi akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju illus (limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hillus (limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi : 1) Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat 2) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas, berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hillus atau kompleks (sarang) Ghon. 3) Berkomplikasi dan menyebar secara:

- Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya - Secara bronkogen pada paru ysng bersangkutan maupun paru yang di sebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama tertelan besama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus - Secara limfogen, ke organ tubuh lainnya - Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya Semua kejadian diatas tergolong ke dalam perjalanan tuberklosis primer.  Tuberkulosis Post-Primer Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahuntahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (PostPrimer). Tuberkulosis Post-Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru-paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiller paru. Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan bermacam-macam jaringan ikat. Bergantung dari imunitas penderita, virulensi, jumlah kuman, sarang dapat menjadi : 1) Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut 2) Sarang yang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dan menimbulkan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras, menimbulkan perkapuran dan akan sembuh delam bentuk perkapuran. 3) Sarang dini yang meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya

menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik. Kavitas dapat : - Melus kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Sarang ini selanjutnya mengikuti perjalanan seperti yang disebutkan terdahulu. - Memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Tuberkuloma ini dapat mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan jadi kavitas lagi. - Bersih dan menyembuh, disebut open heated cavity. Dapat juga menyembuh dengan membungkus diri dan menjadi kecil. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus, menciut dan berbentuk seperti bintang disebut stellate shaped. Pada penvakit TBC paru, efusi pleura diduga disebabkan oleh rupturnya fokus subpleural dari jarngan nerotik perkijuan sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura, menimbulkan reaksi hipersensitif tipe lambat. Hal ini didukung dengan ditemukannya limfossit T, Interleukin-2 dan Interleukin reseptor pada cairan pleura. Cara penyebaran lainnya diduga secara hematogen dan secara

perkontinuitatum dari kelenjar-kelenjar getah bening servikal, rnediastinal, dan dari abses di vertebrae. Efusi pleura yang disebabkan oleh TBC dapat juga berupa empyema, yaitu buila terjadi infeksi sekunder karena adanya fitula bronchopulmonal, atau berupa chylothoraxs yaitu bila terdapat penekanan kelenjar atau tarikan fibrin pada duktus thoracicus. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraxs kiri, jarang yang masif. Pada thoraxosentesis ditemukan cairan berwarna kuning jernih, mengandung > 3 gr protein/ 100 ml, bila cairan berupa darah, serosanguineous atau merah muda diagnosis TBC harus diragukan.

2.2.4. Patofisiologi Tekanan hidrostatik normal di dalam kapiler pleura parietal kemungkinan sama dengan tekanan di kapiler-kapiler sistemik dengan rata-rata 25 mmHg, sedangkan tekanan intrapleura sedikit di bawah atmosfir dengan rata-rata –3 mmHg, memungkinkan filtrasi cairan. Kebalikannya yaitu tekanan onkotik yang mana tekanan onkotik tersebut lebih tinggi di plasma daripada di cairan pleura sehingga memungkinkan reabsorpsi. Pada kapiler di pleura visceral, keseimbangan antara tekanan hidrostatik dengan onkotik adalah berlawanan, walaupun begitu tekanan onkotiknya sama dengan di kapiler pleura parietal dan tekanan hidrostatik dan onkotiknya yang memungkinkan terjadinya reabsorpsi di pleura visceral yang hasil akhirnya karena ada keseimbangan antara filtrasi dari plura parietal dengan reabsorpsi dipertahankan minimal. Tekanan hidrostatik kapiler dinding dada adalah 22 mmHg sedangkan tekanan di dalam rongga pleura –5 mmHg sehingga tekanan mendorong filtrasi besarnya 22 + 5 = 27 mmHg. Tekanan osmotik koloidal darah di pleura parietalis 25 mmHg dan tekanan osmotik di rongga pleura 6 mmHg, artinya tekanan menghambat filtrasi di pleura parietalis 25 – 6 = 19 mmHg, sehingga tekanan total yang mendorong filtrasi di pleura parietal adalah 27 – 19 = 8 mmHg. Dengan cara yang sama didapatkan tekanan total yang mendorong reabsorpsi di pleura visceral yaitu sebesar 4 mmHg. Akumulasi cairan yang berupa transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler hidrostatik dan tekanan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorpsi oleh pleura lainnya. 1,4 Eksudat merupakan cairan pleura yang terbentuk melalui membran kapiler yang permiabel abnormal (meninggi) dan berisi protein berkonsentrasi tinggi. Terjadinya perubahan permeabilitas membran adalah karena adanya peradangan pada pleura. Akibat meningkatnya permeabilitas kapiler dapat menyebabkan bocornya pembuluh darah menyebabkan cairan eksudat kaya akan protein dan sel.

Peningkatan permeabilitas kapiler pleura karena radang, bertambah masuknya protein dan cairan ke rongga pleura, sistem limfe yang tidak adekuat dan metastase tumor ganas dapat menambahkan jumlah cairan dan konsentrasi protein dan sel-sel di rongga pleura.

2.2.5. Pemeriksaaan Fisik Pemeriksaan fisik yang ditemukan bervariasi tergantung dari volume efusi pleura. Secara umum, tidak dapat ditemukan jika volumenya < 300 ml. Jika > 300 ml pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan diantaranya:

• Suara pekak atau menurunnya resonansi pada perkusi • Suara pernafasan berkurang atau menghilang • Stem fremitus melemah • Egofoni • Suara gesekan pleura • Pengembangan rongga torak yang asimetris sehingga sisi yang mengalami efusi terjadi ketinggalan bernafas (Hoover sign) • Pergeseran mediastinum hanya terlihat pada efusi yang masif (>1000 mL) pada gambaran radiologi dijumpai adanya pergesaran trakea dan mediastinum ke arah kontra lateral lesi efusi • Beberapa pemeriksaan penting yang menjadi petunjuk adanya efusi pleura:

- anasarka - perubahan pada kulit pada penyakit hati kronis - distensi vena jugularis - S3 gallop - clubbing finger - massa intra abdomen atau nodul pada payudara 2.2.6 Tanda dan Gejala 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Batuk Dispnea bervariasi Adanya keluhan nyeri dada (nyeri pleuritik) Pada efusi yang berat terjadi penonjolan ruang interkosta. Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang mengalami efusi. Perkusi meredup diatas efusi pleura. Egofoni diatas paru yang tertekan dekat efusi. Suara nafas berkurang diatas efusi pleura. Fremitus fokal dan raba berkurang.

10. Jari tabuh merupakan tanda fisik yang nyata dari karsinoma bronkogenik, bronkiektasis, abses dan TB paru.

2.2.7 Pengobatan Efusi pleura masif harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan pleura akan menekan organ-organ vital dalam rongga dada dan dapat menimbulkan kematian secara tiba-tiba. Beberapa macam pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif adalah sebagai berikut : 1) Obati penyakit yang mendasarinya

2)

Torakosentesis - keluarkan cairan seperlunya hingga sesak - berkurang (lega), jangan lebih 1-1,5 liter pada setiap kali aspirasi,Zangelbaum dan Pare menganjurkan jangan lebih 1.500 ml dengan waktu antara 20-30 menit. Torakosen tesis ulang dapat dilakukan pada hari berikutnya.Torakosentesis untuk tujuan diagnosis setiap waktu dapat dikerjakan, sedangkan untuk tujuan terapeutik pada efusi pleura tuberkulosis dilakukan atas beberapa indikasi : a) b) Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada, perasaan tertekan pada dada. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih, sehingga akan mendorong dan menekan jantung dan alat mediastinum lainnya, yang dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba. c) Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada, walaupun sudah melewati masa 3 minggu. Dalam hal seperti ini biasanya cairan sudah berubah menjadi pyotoraks. d) Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6 minggu, namun cairan masih tetap banyak.

3)

Jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak, lebih baik dipasang selang

dada (chest tube),sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi sempurna. Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus. Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru 4) Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga akan mencegah penumpukan cairan pluera kembali. Hal ini dipertimbangkan untuk efusi pleura yang rekuren seperti pada efusi karena keganasan. Sebelum dilakukan pleurode-sis cairan dikeluarkan terlebih dahulu melalui selang dada danparu dalam keadaan mengemban. Pleurodesis dilakukan dengan memakai bahan sklerosis yang dimasukkan ke dalam rongga pleura. Efektifitas dari bahan ini tergantung pada kemampuan untuk menimbulkan fibrosis dan obliterasi kapiler pleura. Bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk keperluan pleurodesis ini yaitu : Bleomisin, Adriamisin, Siklofosfamid, Mustard, Thiotepa, Fluro urasil, perak nitrat,talk, Corynebacterium parvum

dan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan salah satu obat yang juga digunakan pada pleurodesis, harga murah dan mudah didapat dimana-mana. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar masukkanlah tetrasiklin sebanyak 500 mg yang sudah dilarutkan dalam 20-30 ml larutan garam fisiologis ke dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti segera dengan 10 ml larutan garam fisiologis untuk pencucian selang dada dan 10 ml lidokain 2% untuk mengurangi rasa sakit atau dengan memberikan golongan narkotik 1,5-1 jam sebelum dilakukan pleurodesis. Kemudian kateter diklem selama 6 jam, ada juga yang melakukan selama 30 menit dan selama itu posisi penderita diubah-ubah agar tetrasiklin terdistribusi di seluruh rongga pleura. Bila dalam 24-48 jamcairan tidak keluar lagi selang dada dicabut. 5) Pengobatan pembedahan mungkin diperukan untuk : a) b) c) Hematoraks terutama setelah trauma Empiema Pleurektomi yaitu mengangkat pleura parietalis; tindakan ini jarang dilakukan kecuali pada efusi pleura yang telah mengalami kegagalan setelah mendapat tindakan WSD, pleurodesis kimiawi, radiasi dan kemoterapi sistemik, penderita dengan prognosis yang buruk atau pada empiema atau hemotoraks yang tak diobati. d) Ligasi duktus torasikus, atau pleuropritoneal shunting yaitu menghubungkan rongga pleura dengan rongga peritoneum sehingga cairan pleura mengalir ke rongga peritoneum. Hal ini dilakukan terutama bila tindakan torakosentesis maupun pleurodesis tidak memberikan hasil yang memuaskan; misalnya tumor atau trauma pada kelenjar getah bening.

BAB III ASKEP i. PENGKAJIAN DATA
Tanggal Pengkajian : 30 April 2001, pukul 08.15 wib

A. Identitas diri klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat : Tn. C : 51 tahun : Laki-laki : Gresik

Status perkawinan : Kawin Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Tanggal MRS : Islam : Jawa : SMA : Distributor : 29 April 2001

Keluarga yang mudah dihubungi Nama Pekerjaan Alamat B. Riwayat Penyakit 1. Keluhan Utama Keluarga klien mengatakan klien mengalami Batuk hingga sesak napas dan dahak yang sulit keluar kurang lebih selama 2 bulan 2. Riwayat Penyakit sekarang : ny.F : PNS : Gresik

Keluarga Klien mengatakan pada tanggal 29 April 2011, pukul 18.45 wib kx mengalami batuk hingga napasnya sesak.
3. Riwayat penyakit dahulu

Keluarga Mengatakan klien sebelumnya belum pernah MRS. Dan tidak penyakit yang cukup parah. 4. Riwayat Penyakit keluarga Keluarga klien mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit seperti klien, penyakit menurun seperti Hipertensi dan penyakit menular seperti TBC, HIV AIDS 5. Hubungan Sosial, Spiritual, Psikososial 1. Pola pikir dan persepsi: klien menggunakan kacamata ukuran plus dan minus sejak tahun 1994 (klien tidak tahu ukurannya) Kesulitan yang dialami : Klien tidak mengeluh sering pusing, menurunnya sensitifitas sakit dan sensitifitas terhadap panas dan dingin 2. Persepsi diri : Hal yang amat dipikirkan saat ini : klien merasa penyakitnya adalah penyakit yang sukar disembuhkan. Harapan setelah menjalani perawatan : klien ingin cepat sembuh Perubahan yang dirasakan setelah sakit : tidak mampu meneruskan pekerjaan 3. Suasana hati : cemas Rentang perhatian : Klien memikirkan kehidupan keluarganya yang sudah terkena TB Paru (Istrinya mengidap TB Paru sejak tahun 1997, kemudian menyusul putranya yang nomor dua kemudian klien sendiri masuk dengan diagnosis yang sama ) 4. Hubungan komunikasi - Klien berbicara menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan jelas, relevan, mampu mengekspresikan perasaan dan mampu mengerti orang lain.

- Klien tinggal di rumah milik sendiri beserta istri, putra nomor 2 dan putri bungsu (nomor 4 ) - Adat istiadat yang dianut adalah adat Jawa, klien sebagai kepala rumah tangga membuat keputusan dalam keluarga, keuangan memadai. - Tidak ada kesulitan dalam hubungan antar anggota keluarga. Klien mengalami gangguan libido menurun, tetapi klien tidak menganggap hal tersebut suatu hal yang serius karena menganggap dirinya sudah tua dan lebih mengutamakan kesembuhan penyakitnya. - Yang disukai dari dirinya sendiri adalah klien mampu mencari nafkah yang cukupo memadai bagi keluarganya. Yang ingin dirubah dari kehidupan adalah lingkaran penularan penyakit TB paru dalam keluarganya. - Yang dilakukan jika klien stress adalah mencari penyelesaian masalah dengan mendidkusikannya dengan istri. - Agar perawatan klien nyaman, klien merubah posisi yang dianggap nyaman. - Sumber kekuatan bagi klien adalah Tuhan, klien menganggp Tuhan, Agama dan Kepercayaan penting bagi klien - Kegiatan keagamaan yang dilakukan di rumah sakit adalah berdoa agar cepat Sembuh

1. Pola nutrisi : Frekwensi 3 x sehari TB = 158 cm BB= 38 kg

Jenis makanan : Nasi, sayur, lauk, nuah Makanan yang disukai : Buah segar Makanan yang tidak disukai : tidak spesifik Makanan pantang : tidak ada Nafsu makan : sedang, alasan: nafsu makan kurang Perubahan BB dalam 6 bulan terakhir : turun drastis jadi kurus

2. Pola eliminasi : BAB : frekuensi 1 x sehari, tidak menggunakan pencahar, kebiasaan waktu pagi, warna kecoklatan, konsistensi lunak BAK : Frekuensi 1 – 2 x sehari, jumlah kira-kira 750 – 1000 cc, warna kuning , bau amoniak

3. Pola tidur dan istrahat: waktu tidur tidak tentu sesuai kondisi pekerjaan, lama tidur kirakira 5 – 6 jam, kebiasaan pengantar tidur tidak ada, kebiasaan saat tidur tidak ada, sekarang mengalami kesulitan tidur karena merasa panas

9. Pola Aktifitas dan Latihan Kegiatan dalam pekerjaan : distributor dan teknikal perusahaan minyak Tidak pernah berolahraga Kegiatan di waktu luang : tidur Tidal mengalami kesulitan yang berartiuntuk kebutuhan seharihari kecuai mudah merakan lelah bila beraktifitas berat.

10. Pola bekerja : Jenis pekerjaan berat karena harus mengantar dan menjemput minyak ke daerah, jadwal kerja rata-rata di atas 10 jam tergantung kebutuhan, jadwal kerja setiap hari.

V. Riwayat Lingkungan Klien dan keluarga tinggal di lingkungan industri petrokimia Gresik sehingga memiliki ancaman besar terhadap polusi debu, Kamar bagian belakang gelap, kebersihan terjaga.

VII. Pengkajian Fisik 1. Keadaan Umum

Baik, bisa memenuhi kebutuhan ADL sendiri tapi belum mampu beraktifitas yang berat. 2. Tanda-tanda vital S = 37 o C per axilla N = 80 x/mnt teratur T = 120/80 mmHg lengan kanan RR = 20 x / mnt HR = 80 x/mnt

3. Body System Pernapasan ( B1 : Breating ) - Pernapasan melalui hidung, tidak ada kelainan bentuk, epistaksis tidak ada, alergi tidak ada, deviasi tidak ada. Trachea normal, tidak ada deviasi. - Bentuk dada pectus excavatus (dingding dada gepeng dengan sternum depressi), ekspansi dada menurun pada kedua paru terutama sebelah kiri. Retraksi interkostal tidak ada, penggunaan otot bantu pernafasan tidak ada . Pelebaran pembuluh kolateral tidak nampak, cyanosis tidak ada, warna kulit agak pucat. Irama pernapasan reguler RR 20 x/mnt . Clubbing finger tidak ada, capillary refill 3 detik. a. Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, ekspansi paru menurun dan lebih rendah pada dada sebelah kiri, fremitus vokal menurun pada daerah infra klavikularis kanan dan kiri. b. Perkusi : Pekak pada kedua lapang paru, redup pada area jantung c. Auskultasi : ronchi positif pada kedua lapang paru, rales terutama pada paru sebelah kiri

Cardiovaskular ( B2 : Bleeding )

-Nyeri dada tidak ada, nyeri saat beraktifitas ada, kadang-kadang pusing, palpitasi tidak ada, ictus cordis tampak pada ics 5 mid sternal kiri, distensi vena jugularis tidak tampak. Edema tidak ditemukan. - Palpasi : teraba ictus cordis pada ics 5 mid sternal kiri d. Perkusi : redup pada area jantung e. Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni, tidak ada murmur, irama gallop tidak ada

Persyarafan (B3 : Brain ) a. Kesadaran komposmentis, GCS 456 total nilai 15. b. Kepala bentuk mesoceophal tidak ada pelebaran vena di temporal, tidak ada bekas luka. Wajah simetris. c. Bentuk mata simetris, sklera putih, conjunctiva pucat, pupil ukuran 2 mm isokor, reflek pupil dan reflek kornea normal. d. Tidak ada pembesaran kelenjar di leher e. Kaku kuduk tidak ada, kernig sign tidak ada

Persepsi sensori - Tidak ada gangguan pendengaran, tidak menggunakan hearing aids - Fungsi penciuman normal - Fungsi pengecapan normal, dapat membedakan rasa manis, asin, pahit - Fungsi penglihatan menurun, menggunakan kacamata +/- (klien tidak tahu ukurannya) sejak tahun 1997 - Tidak ada gangguan fungsi perabaan, bisa membedakan panas, dingin dan tekan,

Perkemihan-eliminasi uri ( B4 : Bladder ) Produksi urin per hari kirkira 1750 cc frekuensi berkemih 2– 3 x/hari warna kuning bau amoniak, tidak ada gangguan perkemihan, nyeri saat berkemih tidak ada Pencernaan – Eliminasi Alvi ( B5 : Bowel ) a. Gigi taring dan pre molar kiri dan kanan bagian atas dan bawah tanggal berjumlah 8 buah, tidak ada gangguan menelan b. Abdomen simetris bilateral, datar dan warna sama dengan kulit sekitarnya, tidak ada pembesaran vena, nyeri tekan tidak ada, suara hipersonor pada epigastrium, redup pada kuadran kanan ats dan kuadran kiri atas, pekak pada kuadran kanan bawah dan kuadran kiri bawah, distensi abdomen tidak ada, bowel sound menurun . c. Ada riwayat hemorroid, tetapi berobat ke dokter ( tidak dioperasi) d. BAB frekuensi 1 x/hari konsistensi padat dan keras, tidak menggunakan pencahar

Tulang-Otot-Integumen ( B6 : Bone ) •

Kemampuan pergerakan sendi bebas tanpa ada tahanan dan kekakuan, parese dan paralise tidak ada, kelemahan gerak ada Ekstremitas atas tidak ada kelainan, ekstremitas bawah tidak ada kelainan Tulang belakang normal, tidak lordosis maupun skoliosis

Kulit : Warna kulit sawo matang, pucar, integritas intake, tidak ada bekas perlukaan, peradangan maupun edema, turgor kulit baik, akral hangat Sistem Endokrin Tidak tampak eksophtalmus, toleransi terhadap sensasi panas/dingin baik, palpitasi tidak ada, rigiditas tidak ada Sistem Hematopoietik Tidak ada riwayat gangguan hematopietik, lebam dan peteki tidak ada Psikososial Konsep Diri:

-

Citra diri/body image : Klien menganggap dirinya tidak sekuat dulu, ia menyukai semua bagian tubuhnya. Yang kurang disukai adalah gigi yang tidak lengkap lagi sehingga kesulitan untuk mengunyah

-

Identitas : Status klien dalam keluarga adalah sebagai kepala rumah tanga, klien puas terhadap status dan posisinya dalam keluarga Peran : Klien senang dengan perannya sebagai kepala keluarga, sanggup melaksanakannya da puas terhadap perannya Ideal diri/harapan :

* Klien berharap semua anggota tubuhnya masih dapat berfungsi dengan baik, posisi klien dalam keluarga sebagai pencari nafkah, status sebagai kepala keluarga dan berharap ia segera dapat kembali ke rumah untuk meneruskan usaha warungnya. * Klien berharap anggota keluarga tidak ada yang tertular TB paru lagi, dan berharap lingkungan tempat tinggalnya bisa berkurang atau bebas dari polusi pabrik. Harga Diri : Tanggapan klien terhadap harga dirinya tinggi

Sosial / Interaksi
-

Hubungan klien dengan lingkungan sangat baik, dukungan keluarga aktif, reaksi klien saat interaksi dengan perawat defensif terutama bila menyinggung penyakit TB paru, konflik yang terjadiadalah terhadap nilai yang dianut.

Spiritual Klien percaya bahwa penguasa kehidupan adalah Allah, sumber kekuatan dan harapan di saat sakit adalah kehendak Allah, ritual ibadah yang dilakukan saat ini adalah sholat Tidak ada upaya kesehatan yang bertentangan dengan agama, klien percaya bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit dan klien percaya penyakitnya dapat disembuhkan. Klien menganggap penyakitnya sebagai cobaan/peringatan dari Tuhan.

I.PEMERIKSAAN PENUNJANG Tgl 25-4-2001 Foto Roentgent : Efusi Pleura + KP Duplex Tgl 29-4-2001 Hb Leukosit PCV Glukosa Protein total Sel Mono Poli : 12,0 g/dl : 7,5 x 10 g/l (N : 4,3 – 10,3 ) (N : 0,40 – 0,47)

: 0,35 : 108 mg/dl : 5,21 g/dl

: 1129 sel/cm : 93 % : 7%

Tgl 30-4-2001 BTA negatif Urinalisis : Protein, glukosa, bilirubin, urobilin negatif Sedimen : darah merah + ( 0-1 ) darah putih sel epitel + (1-2 ) + (0-1 )

kristal negatif Terapi : Asam mefenamat Etambutol Multivit Thoracentesis : I. Tgl 29-4-2001 750 cc 3x1 3x1 3x1

II. Tgl 30-4-2001 III. Tgl 1-5-2001

975 cc 750 cc

ANALISA DATA

PENGELOMPOKAN DATA

PENYEBAB

MASALAH

DS :Klien mengatakan kesulitan bernafas Sekresi karna ada dahak didalam tenggorokannya berlebih DO : - saat kx batuk mengeluarkan secret berwarna hijau kekuning-kuningan - adanya pernafasan cuping hidung - ronchi broncial(+) - wheezing(+) - adanya retraksi otot ientercostae - TTV : TD :140/80 mmHg N : 90x/i S : 37c Rr : 28x/i

mucus

yang Bersihan jalan nafas tak efektif

DS : Klien mengatakan jika batuk susah mengeluarkan dahak DO : -Ronchi di paru kanan dan kiri -Rales terutama di kanan, di kiri menurun -Fremitus vokal menurun di daerah infra sklapularis kanan dan kiri -Foto Ro” : Efusi pleura kanan dan KP duplex

Peninhgkatan

akumulasi Bersihan jalan nafas tidak efektif

sekret di jalan nafas

DS : -Klien mengatakan sesak jika duduk tegak Penurunan DO : -Foto Ro” : Efusi pleura + KP duplex - Ronchi di paru kanan dan kiri - Rales terutama di kanan, menurun di kiri - Thoracentesis : I. Tgl 29/4 750 cc II. Tgl 30/4 975 cc III. Tgl 1/5 750 cc DS : Klien mengatakan hanya bisa menghabiskan sepa-ruh dari porsi yang di be- rikan - Klien mengeluh sesak jika tegak - Klien mengeluh batuk jika menelan sesuatu duduk Penurunan dyspnea keinginan Perubahan kebutuhan nutrisi dari kemampuan Gangguan Pertukaran Gas

eks- pansi paru

makan sekunder akibat kurang

DO : - TB 158 cm BB 38 kg - Konjungtiva pucat - Klien nampak kurus - Makanan yang dihabiskkan hanya separuh dari porsi

DS : - Klien mengemukakantidak tahu tentang penyakitnya -Klien mengemukakan penyebab

Informasi adeku-at proses pengobatan

yang

tidak Pengetahuan kurang dan

mengenai penyakit

penyakitnya karena tidur tidak teratur dan kele-lahan

DO : -Klien meminta informasi tentang

penyakitnya -Klien menanyakan tentang

proses/tahapan pengobatan-nya

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan primer dan sekresi yang statis DS : Klien mengatakan batuk lebih kurang 1 bulan, sputum tidak ada, berobat ke puskesmas tidak sembuh DO : Ronchi di paru kanan dan kiri Klien mengemukakan sesak jika duduk tegak

- Rales terutama di kanan, menurun di kiri - Bentuk dada simetris pectus excavatus - Foto Ro” : Efusi pleura + KP duplex

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan akumulasi sekret di jalan napas DS : - Klien mengatakan jika batuk susah mengeluarkan dahak DO : Ronchi di paru kanan dan kiri Rales terutama di kanan, menurun di kiri Foto Ro” : Efusi pleura + KP duolex Fremitus Vokel menurun di daerah infra skapularis kanan- kiri

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru DS :

DO :

Klien mengatakan sesak jika duduk tegak

- Foto Ro” : Efusi pleura + KP duplex - Ronchi di paru kanan dan kiri - Rales terutama di kanan, di kiri menurun - Thoracentesis : I. tgl 29/4 II. tgl 30/4 III. tgl 1/5 750 cc 975 cc 750 cc

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan keinginan makan sekunder akibat dyspnea DS : DO : - TB : 158 cm BB 38 kg - Konjungtiva pucat - Makanan yang dihabiskan hanya separuh porsi Klien mengatakan hanya bisa menghabiskan separuh dari porsi yang diberikan Klien mengeluh sesak jika duduk tegak Klien mengeluh sesak jika menelan sesuatu

5. Pengetahuan kurang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan DS : kelelahan DO : Klien mengemukakan tidak tahu tentang penyakitnya Klien mengemukakan penyebab penyakit karena tidur tidak teratur dan

-

Klien meminta informasi tentang penyakitnya Klien menanyakan tentang proses /tahapan pengobatannya

RENCANA TINDAKAN PERAWATAN

TGL

DX Kep dan Hasil yang diharapkan

Rencana Tindakan

Rasionalisasi

1/5/2001 Resiko tingggi penyebaran 1. Jelaskan tentang pato- Membantu infeksi pertahanan b.d penurunan logi primer penyakit dan sederhana dan penyebaran

klien

secara menyadari/menerima potensil prosedur pengobatan infeksi dan perawatan untuk mencegah komplikasi

sekret yang statis Tujuan : Dalam waktu 2 x pertemuan klien akan dapat

melalui droplet air borne

2Ajarkan klien untuk ba- Membiasakan tuk dan sputum dengan tissue / untuk

pe-

mengeluarkan rilaku yang penting mencegah

1.Mengidentifikasi

cara sapu tangan dan mencuci penularan infeksi

pencegahan dan penurunan tangan dengan baik resiko penyebaran infeksi 2.Memperlihatkan meningkatkan yang aman teknik/ 3.Monitor indikasi suhu sesuai

gaya hidup berubah untuk lingkungan terhadap

Reaksi

febris

merupakan indikator berlanjutnya infeksi

penyebaran infeksi 4.Observasi Kriteria hasil : 1. cara Klien penurun-an 2. Menutup menjelaskan dan resiko mulut 5.Kolaborasi pemberian INH adalah drug of choice untuk klien beresiko dan dikomperkemba- Membantu pengobatan respons klien memodan

ngan setiap hari dan kul nitor efektif tidak-nya tur sputum selama terapi

pencegahan

penyebaran in-feksi. dengan tissue/sapu tangan INH,etambutol,rifampicin

bila batuk 3. Memalingkan tubuh jika berhadapan dengan orang lain saat batuk. 4. Sputum ditampung diwa-dah tertutup.

binasikan khusus nya

dengan pada

“primary drugs” lain penyakit tahap lanjut.

Penurunan Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret di jalan napas Tujuan : Dalam jangka waktu 2x24 jam klien akan mempertahankan jalan nafas yang efektif 1/5/2001 Kriteria hasil : - Klien dpat melakukan teknik napas dalam dan batuk yang efektif - Klien melaporkan sesak yang berkurang dan upaya yang Ventilasi atelektasis, 2. Atur posisi semi fowler katkan sekret keluar Memaksi malkan ekspansi paru menurunkan pernafasan berlebihan. maksimal mening1.Kaji fungsi paru, adanya bunyi nafas tambahan , perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori bunyi nafas dapat ronchi menan-dakan atelektasis, menunjukkan adanya akumulasi sekret, dan adanya ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas menyebabkan otot penggunaan asesori dan usaha

peningkatan bernapas

dapat membuka area perpindahan

Intake ngurangi

cairan

me-

penimbu-

nan sekret, memudahkan pembersihan

Memudahkan pengeluaran jalan efektif napas sekret secara

3.Pertahankan KI

cairan Menurunkan sek-ret dan bersimemfasilitasi han

2500 ml/hari bila tanpa pulmonal

4. Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif

TB Pulmonal dapat menyebabkan efek yang luas, termasuk penimbunan cairan di pleura sehingga menghasilkan gejala

5. Kolaborasi : -Mucolytic agent

distres pernafasan

Akumulasi Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi mengganggu oksigenasi

sekret

yang berlebihan dapat organ /

jaringan vital

paru Tujuan : Dalam jangka waktu 1 x 24 jam kebutuhan pertukaran gas akan terpenuhi Kriteria hasil : - Klien melaporkan berkurangnya dyspnea Klien memperlihatkan

1.Kaji adanya dyspnea, penurunan suara nafas, bunyi nafas tambahan, peningkatan usaha untuk Menciptakan usa-ha bernapas, ekspansi dada untuk yang terbatas, kelelahan melawan outflow udara mencegah kolaps karena jalan sempit, 2.Evaluasi kesadaran. adanya perubahan Perhatikan dan cyanotis napas yang membantu napas

distribusi udara dan menurunkan pendek.

peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat 1/5/2001 -ABGs dalam batas normal

perubahan warna kulit dan membran mukosa serta clubbing finger Mengurangi kon-

sumsi oksigen selama periode bernapas dan mengurangi gejala sesak napas

3.Dorong/ajarkan ekshalasi

berna-

pas melalui mulut selama

Penurunan

tekanan

O2(PaO2) dan saturasi atau peningkatan PaCO2 munjukkan kebutuhan untuk perubahan terapetik

Mengoreksi babkan

hipokterjadinya

semia yang menye4. Tingkatkan bedrest/ penurunan sekunder ventilasi dan berku-

pengurangan aktifitas

rangnnya permukaan alveolar

Berguna menentukan lu

untuk derajat

5.Monitor ABGs bila per- masalah dan penentuan intervensi selanjutnya

Membantu identifikasi 6.Kolaborasi suplemen han nutrisi oksigen bila perlu

mengkebutu-

Dapat kerena

disebabkan perubahan

diet, mengidentifikasi pemilihan nutrisi yang sesuai 1.Kaji status nutrisi saat Perubahan nutrisi kurang MRS, turgor dari ngan kebutuhan dengan berhubu- derjat kulit dan BB, penurunan Membantu butuhan meningkat penyim metabolik terutama

penurunan kemampuan mengunyah, mukosa dan riwayat membran,

panan enrgi bila ke-

keinginan makan sekunder kelembaban akibat dyspnea

Tujuan : Dalam jukkan jangka waktu 1

mual/muntah

saat demam

minggu klien akan menunkebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : -BB meningkat -Konjungtiva tidak anemis -Wajah tidak pucat -Turgor kulit normal -Membran mukosa lembab

2.Monitor intake dan out- Menurunkan dik

rasa

put dan BB secara perio- tidak nyaman karena sputum atau pengobatan tertentu yang bisa mual merangsang

3.Perhatikan muntah

adanya Pembelajaran

ter-

keluhan anorexia, mual, gantung pada status emosional dan kesiapan fisik dalam penerimaan belajar

1/5/2001 Indikasi 4.Tingkatkan istrahat progresif

kebutuhan atau reaktivasi penyakit atau efek samping pengobatan, serta untuk evaluasi lebih lanjut

Meningkatkan 5.Ajarkan pemeliharaan sadaran

ke-

kebutuhan

gigi dan mulut

nutrisi untuk meminimalkan kelemahan

Meningkatkan kerjasama /partisipa-

si terapetik dan mencegah putus obat 1.Kaji kemampuan belajar, tingkat kecemasan, Dapat sesuai untuk belajar Pengetahuan kurang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat menenai proses penyakit dan pengobatan Tujuan : Dalam jangka waktu 2x30 menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman yang adekuat tentang penyakit dan pengobatannya Kriteria hasil : 3.Tingkatkan pengetahutentang kebutuhan penyebab TKTP Paparan yang ber2.Identifikasi dokter/perawat Memberikan simptom kesempatan untuk misperyang harus dilaporkan ke mengoreksi mengurangi partisipasi, media yang rasa kurang nyaman dari pengobatan untuk perbaikan kondisi klien

sepsi dan mengura ngi kecemasan

lebihan dari polusi udara meningkatkan resiko negatif fungsi pernapasan Merokok menyebabkan fungsi pernapasan dapat dis-

1.Klien menjelaskan secara an sederhana penularan 2.Klien menjelaskantentang penyakit dan pencegahan

alasan pengobatan penya- 4.Jelaskan instruksi dan kitnya informasi misalnya penjadwalan pengobatan

Pengetahuan menurunkan penularan TB

dapat resiko

1/5/2001 5.Kaji ulang potensial

efek samping pengobatan

6.Dorong klien mengekspresikan ketidaktahuan/ kecemasan dan beri informasi yang dibutuhkan

7.Evaluasi faktor resiko yang berhubungan dengan pekerjaan

8.Tingkatkan

motivasi

untuk berhenti merokok

9.Review

pengetahuan

tentang tuberculosis paru

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-200 ml. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA Baughman C Diane, Keperawatan medical bedah, Jakrta, EGC, 2000. Doenges E Mailyn, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC. 1999. Hudak,Carolyn M. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1, Jakarta.EGC. 1997. Purnawan J. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Media Aesculapius. FKUI.1982. Price, Sylvia A, Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit, Ed4. Jakarta. EGC. 1995. Smeltzer c Suzanne, Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Brunner and Suddarth's, Ed8. Vol.1, Jakarta, EGC, 2002. Syamsuhidayat, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta, EGC, 1997. Susan Martin Tucker, Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta EGC. 1998.
Blog: http://3rr0rists.net/medical/efusi-pleura.html http://medicastore.com/penyakit/147/Efusi_Pleura.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->