kKEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010 TENTANG

PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN MEDIK KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010 TENTANG PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

:

a.

bahwa gangguan penggunaan NAPZA merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan penanggulangan yang terpadu dari semua pihak yang terkait; bahwa rumah sakit memiliki peran yang penting dalam memberikan terapi dan rehabilitasi pada gangguan penggunaan NAPZA; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit; Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nation Convention Againts Illicit Trafic in Narcotic Drugs and Psycotropic Substances) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3673); Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

b. c.

Mengingat

:

1.

2.

3.

4.

1

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

5.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072); Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional; Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 996/Menkes/ SKA/lll/2002 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sarana Pelayanan Rehabilitasi Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya;

6.

7.

8. 9.

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/ XII/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/PerA/t/2009; 11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategis Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psiko-tropika dan Zat Aditif Lainnya; 12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/ SK/ll/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit; 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008. tentang Rekam Medis; 14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/ III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;

MEMUTUSKAN: Menetapkan KESATU : : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT. Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam 2

KEDUA

:

KEEMPAT : KELIMA : 3 . KETIGA : Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terapi dan rahabilitasi gangguan penggunaan NAPZA di fasilitas pelayanan kesehatan. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Diktum Kesatu tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pedoman ini dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi. dengan melibatkan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Sebagian besar RSJ hanya menyediakan pelayanan untuk detoksifikasi saja. Terbatasnya jenis pelayanan dan kemampuan petugas RSJ untuk berbagai modalitas terapi. RSJ biasanya bekerja sendiri dan menunggu pasien secara sukarela datang. Mengacu pada hal tersebut diatas maka perlu disusun pedoman penanggulang-an gangguan penggunaan NAPZA secara komprehensif yang berbasis rumah sakit. misalnya pedoman dengan pendekatan therapeutic community dan pedoman terapi rumatan. Sebagian besar pasien yang dirawat tidak murni karena ketergantungan NAPZA tapi merupakan pasien dengan dual diagnosis (Gangguan jiwa dan Ketergantungan NAPZA). antara lain :  masih tingginya stigma terhadap gangguan jiwa. stimulan atau alkohol. PENDAHULUAN A. Beberapa penyebab kurangnya pemanfaatan RSJ bagi masyarakat yang ketergantungan NAPZA. LSM dan kelompok pengguna dimana mereka dapat berperan sebagai petugas penjangkau yang akan membawa pasien ketergantungan NAPZA berobat ke RSJ.   4 . sehingga seorang pecandu tidak mau datang berobat ke RSJ kecuali sebelumnya sudah ada gangguan jiwa yang diinduksi oleh penggunaan NAPZA seperti kanabis. Latar Belakang Untuk merespon masalah ketergantungan narkotika. yang semakin marak di Indonesia sejak tahun 80-an Kementerian Kesehatan telah menetapkan kebijakan bahwa 10% kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dialokasikan untuk pasien ketergantungan NAPZA. Dari hasil evaluasi dijumpai bahwa masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan NAPZA yang telah tersedia di RSJ. Dalam beberapa tahun terakhir hampir semua RSJ mengembangkan pelayanan NAPZA. Masih terbatasnya kerjasama dengan masyarakat. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Pelayanan yang ditawarkan RSJ tidak memenuhi kebutuhan pasien yang mengalami Ketergantungan NAPZA.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 420/MENKES/SK/III /2010 Tanggal: 31 Maret2010 PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT I.

5 . Pengembangan sistem informasi 9. 6. 4. secara berjenjang dari Puskesmas. Kebijakan Kebijakan Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Kementerian Kesehatan Rl dilaksanakan berdasarkan Kepmenkes Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007. Keseimbangan dan koordinasi lintas sektor. perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak. Pengurangan dampak buruk (harm reduction) pada pengguna Napza suntik 7. preventif. Legislasi dan peraturan perundang-undangan. Komprehensif dan multi disiplin melalui upaya yang dilakukan sesuai dengan kondisi budaya dan sosial masyarakat setempat meliputi upaya promotif. 4. kuratif dan rehabilitatif. Sasaran 1. 2. 3. Pelayanan terapi terintegrasi pada sistem pelayanan kesehatan yang ada. Melindungi hak asasi manusia dan keselamatan pasien. Pemerintah Daerah mendukung dengan menyediakan tempat dan terapi/obat gangguan penggunaan Napza yang terjangkau. 3. Untuk memperoleh hasil yang optimal. Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Jiwa 8. Mendukung upaya pemulihan oleh masyarakat dan mantan pengguna (ex-users) 5.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B. melalui upaya: 1. termasuk dengan LSM dan swasta. Rumah Sakit Jiwa milik pemerintah menyediakan 10% dari tempat tidur untuk penderita Gangguan penggunaan NAPZA. petugas kesehatan rumah sakit jiwa petugas kesehatan rumah sakit umum LSM Kelompok pengguna NAPZA yang dapat berperan sebagai petugas penjangkau membawa pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA berobat ke rumah sakit D. Tujuan Umum Dan Khusus Umum: Sebagai acuan bagi petugas kesehatan dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA Khusus: Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan di rumah sakit dalam manajemen gangguan penggunaan NAPZA C. Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyalahgunaan NAPZA melalui upaya promotif dan preventif. 2.

media. kesadaran. diperlukan tenaga profesional yang mengabdi di pemerintahan. Kementerian Hukum dan HAM. Advokasi Advokasi merupakan komponen yang penting untuk mengajak semua pemangku kepentingan (stakeholders) dapat berperan serta dalam upaya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA Untuk itu Dinas Kesehatan perlu rnengidentifikasi semua stakeholders antara lain DPRD. instruktur motivational enhancement therapy. Lembaga Swadaya Masyarakat. keluarga. lintas sektor seperti Dinas Sosial. swasta dan masyarakat. Dinas Pendidikan. Bappeda. instruktur Cognitive Behaviour Therapy. 6 . pelatihan konselor adiksi. Peningkatan Kapasitas SDM Guna menjamin terlaksananya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA. seperti: pelatihan relapse prevention. KPAD. pendamping ODHA dan lain-lain. akademis. 3. sedangkan masyarakat yang terorganisir dapat dilakukan dengan tatap muka ataupun melakukan pelatihan untuk terbentuknya perilaku hidup sehat. Sasaran dari pemberdayaan masyarakat ini dapat dilakukan melalui kelompokkelompok masyarakat yang terorganisir (seperti karang taruna pramuka. informasi dan edukasi (KIE) dilakukan melalui media massa baik cetak maupun elektronik atau modalitas lain. stigma terhadap pengguna NAPZA atau pelanggaran hak pasien. BNP/BNK.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA E. Pemberdayaan Masyarakat Strategi pencegahan penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA melalui pemberdayaan masyarakat diarahkan secara dini untuk meningkatkan keterampilan hidup (life skill) remaja serta pemberdayaan orangtua agar dapat mencegah anakanaknya dari gangguan pengunaan NAPZA. 2. prioritas untuk penanggulangan gangguan NAPZA dilakukan melalui 6 strategi: 1. Tenaga profesional tersebut membutuhkan pelatihan-pelatihan yang didesain sesuai kebutuhan dan keterampilan khusus. tidak ada perumahan dan pekerjaan bagi pasien yang telah selesai mengikuti program pemulihan. Untuk masyarakat luas komunikasi. Advokasi ini bertujuan untuk mengurangi hambatan yang mungkin terjadi seperti: ketiadaan pelayanan. tokoh masyarakat. organisasai agama) dan masyarakat luas dengan cara meningkatkan pengetahuan. tokoh agama dan lembaga donor. Strategi Dan Rencana Aksi Sampai tahun 2010. Keterlibatan semua pemangku kepentingan penting dalam penyusunan program yang bisa menjawab kebutuhan nyata serta lebih jauh mereka juga dapat berperan serta dalam pembiayaan. kepedulian dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA.

oleh karena itu perlu digalang kerjasama dengan berbagai LSM dan swasta/dunia usaha dalam mencapai kelestarian program intervensi. Evidence-based: pelayanan yang diberikan harus berbasis bukti dan hasil (outcome) yang dapat terukur dan terstandarisasi komprehensif: pelayanan diberikan secara komprehensif melalui upaya promotifpreventif serta kuratif-rehabilitatif Multidisiplin: Pelayanan harus dilaksanakan oleh tenaga profesional yang multidisiplin dengan memiliki kepemimpinan dan keterampilan teknis tinggi. Disisi lain. (yang selama ini lebih banyak digunakan untuk penanggulangan HIV/AIDS.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4.000 jiwa. Peran dan tanggung jawab berbagai institusi kesehatan mulai dari Kementerian Kesehatan. Layanan adalah tempat. b. Pengembangan Model Pelayanan Gangguan Penggunaan NAPZA Semua pelayanan gangguan penggunaan NAPZA harus dapat menjamin terapi dan perawatan yang terstandarisasi dan memiliki beberapa prinsip pelayanan: a. 6. sedangkan dana untuk penanganan gangguan penggunaan NAPZA sangat sedikit). Mengingat masalah ini sudah menjadi masalah bangsa (bukan hanya masalah kesehatan masyarakat). RSU. psikologis 7 . RSJdan RSKO harus lebih jelas. Pengembangan Pembiayaan dan Keterlibatan Sektor Swasta Upaya penanggulangan ini tidak akan berhasil. tanpa pembiayaan yang memadai. Terapi suatu proses pemulihan dengan memberikan intervensi secara fisik. kompak dan utuh serta mampu menerapkan prinsip pelayanan manajemen kasus. Puskesmas. keterbatasan dana Pemerintah merupakan salah satu hambatan utama. baik rumah sakit atau klinik umum ataupun khusus yang melaksanakan sebuah program atau kegiatan yang berkaitan dengan masalah Gangguan penggunaan NAPZA 2. c. dinas kesehatan provinsi. Masyarakat juga perlu digerakkan untuk memberikan kontribusi dalam penanggulangan. Pada tahun 2005 pemerintah telah menetapkan bahwa jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak 60. Pelayanan harus dilaksanakan melalui kerjasama tim yang solid. maka pemerintah baik pusat maupun daerah perlu mengangkat hal ini menjadi salah satu program yang mendapat perhatian khusus. 5. Pengertian 1. F. dinas kesehatan kabupaten /Kota. Penguatan Sistem Kesehatan Sistem kesehatan terkait dengan upaya penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA perlu ditingkatkan mulai dari pelayanan kesehatan dasar sampai dengan pelayanan rujukan atau spesialistik. Penderita gangguan penggunaan NAPZA yang termasuk dalam kategori keluarga miskin mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan askeskin.000.

melanggar aturan atau cekcok dengan pasangan. 8 . Menentukan kriteria petugas yang sesuai dengan jenis layanan harus dilakukan dengan seksama agar tujuan pelayanan tersebut dapat berjalan secara efektif. Pada umumnya tenaga medis masih memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang terbatas tentang gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya berdampak pada penatalaksanaan terhadap pasien. Rumah Sakit adalah tempat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar dan spesialistik. seperti kesulitan untuk menunaikan kewajiban utama dalam pekerjaan/rumah tangga/sekolah. Gangguan penggunaan NAPZA adalah suatu pola penggunaan NAPZA yang menimbulkan hendaya atau penyulit/komplikasi yang berarti secara klinis dan atau fungsi sosial. berada dalam keadaan intoksikasi yang dapat membahayakan fisik ketika mengoperasikan mesin atau mengendarai kendaraan. pelayanan instalasi dan pelayanan perawatan secara rawat jalan dan rawat inap.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA maupun sosial kepada pasien gangguan penggunaan NAPZA 3. Rehabilitasi adalah suatu proses pemulihan pasien gangguan penggunaan NAPZA baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang yang bertujuan mengubah perilaku mereka agar siap kembali ke masyarakat. II. setiap petugas kesehatan seharusnya memahami spesifikasi setiap jenis NAPZA dan masalah yang timbul akibat penggunaan NAPZA itu. Pendahuluan Masalah gangguan penggunaan NAPZA merupakan suatu masalah yang kompleks sehingga penatalaksanaan terapinya tidak dapat hanya dilaksanakan oleh tenaga medis. Rekrutmen petugas yang akan memberikan layanan kepada pasien merupakan titik kritis sebelum menentukan program atau kegiatan. hal itu seringkali merupakan perencanaan program yang tidak disiapkan secara terinci dan komprehensif. 6. pelayanan penunjang medik. Kondisi ini serlngkali menimbulkan rasa jenuh atau bahkan menimbulkan kesulitan dalam memberikan terapi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya membuat petugas kesehatan tidak berminat untuk memberikan pelayanan kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA. 4. 5. Dengan perubahan tren NAPZA yang digunakan. Komprehensif adalah suatu terapi yang diberikan secara menyeluruh untuk masalah gangguan penggunaan NAPZA. Kurangnya mutu pelayanan dalam bidang kesehatan termasuk kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA bukan merupakan suatu kebetulan. gangguan jiwa lain (dual diagnosis) serta juga dampak lain yang ditimbulkan akibat gangguan penggunaan NAPZA. MANAJEMEN DALAM PENATALAKSANAAN TERAPI GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT A.

Kemungkinan menggunakan NAPZA selama pengobatan harus DIMONITOR secara kontinyu 12.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Komitmen dari pimpinan dan seluruh staf serta karyawan dalam organisasi merupakan pendukung yang sangat penting dalam memberikan pelayanan pada pasien gangguan penggunaan NAPZA. 10. 2. TIDAK ADA satu bentuk terapi yang SESUAI UNTUK SEMUA Kebutuhan terapi harus SIAP DAN TERSEDIA ketika diperlukan Terapi yang efektif mengakomodasi KEBUTUHAN YANG BERAGAM. National Institute on Drug Abuse (NIDA) pada tahun 1999 telah mempublikasikan sebuah buku tentang terapi efektif berdasarkan penelitian di lapangan yang meliputi 13 prinsip: 1. khususnya bilamana dikombinasi dengan terapi perilaku Orang dengan komorbiditas gangguan mental harus ditangani dengan cara yang TERINTEGRASI Detoksifikasi hanya merupakan LANGKAH AWAL dari pengobatan gangguan penggunaan NAPZA dan detoksifikasi hanya memberi sedikit perubahan terkait PENGGUNAAN NAPZA JANGKA PANJANG 5. Hal ini semestinya sangat penting dilakukan agar layanan yang diberikan dapat optimal dan efektif dalam proses pemulihan mereka. 7. Program pengobatan harus menyediakan kajian untuk HIV/AIDS dan infeksi lain serta konseling untuk membantu pasien merubah perilakunya baik untuk HIV/AIDS dan risiko dari infeksi lainnya 9 . 6. Di Indonesia monitoring dan evaluasi efektivitas terapi gangguan penggunaan NAPZA sangat minimal atau bahkan tidak dilakukan. 8. B. 9. 4. Kesinambungan program harus terus dievaluasi agar dapat memenuhi kebutuhan tiap pasien. tidak hanya untuk masalah NAPZA saja Rencana terapi dan layanan lain harus DIKAJI SECARA KONTINYU dan DIMODIFIKASI BILA DIPERLUKAN untuk memenuhi kebutuhan perubahan pada pasien Berada dalam program terapi untuk PERIODE WAKTU YANG ADEKUAT merupakan hal yang sangat penting untuk perubahan perilaku yang signifikan Konseling (individu dan/atau kelompok) dan terapi perilaku lainnya merupakan hal yang SANGAT PENTING Medikasi adalah elemen yang PENTING untuk banyak klien. 3. Pengobatan yang efektif TIDAK harus secara sukarela 11. Terapi Efektif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Efektifitas terapi pada gangguan penggunaan NAPZA perlu dievaluasi dan ditindaklanjuti secara periodik atau berkala.

hasil yang dlharapkan. Model Minnesota. hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yang ada pada setiap pasien adiksi. pemulihan dan program 12 langkah. mantan pengguna sebagai addict counselor 4. kebijakan untuk merawat dan memulangkan pasien. Dibawah ini akan diuraikan beberapa model yang popular dilaksanakan pada masalah Gangguan penggunaan NAPZA. model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter dan memerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejala-gejala serta perubahan perilaku. Kepulihan dari gangguan penggunaan NAPZA dapat menjadi PROSES YANG PANJANG dan seringkali memerlukan beberapa kali episode pengobatan C. Therapeutic Community -TC Model. Berbagai Modalitas Terapi Dan Pendekatan Berbagai kondisi yang mandasari gangguan penggunaan NAPZA akan mempengaruhi jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. Model ini fokus pada abstinen atau bebas NAPZA sebagai tujuan utama pengobatan. 10 . diberikan juga keistimewaan (privileges) dan tanggung jawab. pendidikan adiksi. Pendekatan yang dilakukan meliputi terapi individual dan kelompok. psikolog. pekerja sosial. Diperlukan pula staf profesional seperti dokter. model ini menerapkan pendekatan secara holistik dalam program rehabilitasi. Model Eklektik. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12 langkah merupakan pelengkap program TC yang menggunakan pendekatan perilaku. pendidikan formal dan pekerjaan sehari-hari. termasuk mengikuti program self help group (Alcohol Anonymous atau Narcotics Anonymous) serta layanan lain sesuai dengan kebutuhan pasien secara individu. model ini merujuk pada keyakinan bahwa Gangguan penggunaan NAPZA adalah gangguan pada seseorang secara menyeluruh. sesi encounter yang intensif dengan kelompok sebaya dan partisipasi dari lingkungan terapeutik dengan peran yang hirarki. 3. TC model biasanya merupakan perawatan inap dengan periode perawatan dari dua belas sampai delapan belas bulan yang diikuti dengan program aftercare jangka pendek. Model Medik. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan program rawat inap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke fasilitas di masyarakat. model ini dikembangkan dari Hazelden Foundation dan Johnson Institute. sumber daya manusia yang akan memberikan pelayanan. terapi kelompok. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara nyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memberikan reward dan sangsi yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan kemampuan mengontrol diri dan sosial/komunitas. terapi keluarga untuk kebaikan pasien dan anggota keluarga lain. Pendekatan lain dalam program termasuk tutorial. Model Minessota menggunakan program spesifik yang berlangsung selama tiga sampai enam minggu rawat inap dengan lanjutan aftercare. 1. dan sikap terhadap perilaku pasien. Fase perawatan rawat inap termasuk .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 13. 2.

membuat persetujuan segera untuk sasaran program jangka pendek dan jangka panjang. program ini merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait termasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan pasien 6. ritual dan keyakinan yang dimiliki oleh sistem lokal contoh : pondok pesantren. layanan ini merespons kondisi akut baik emosional dan/atau distres fisik yang terjadi pada pengguna NAPZA 11 . Fungsi Inti Layanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan Napza 1. sumber lain.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. proses administrasi dan asesmen awal untuk masuk ke dalam program 3. biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien. aktifitas yang diberikan oleh tempat layanan. kelompok dan orang lain yang bermakna): menggunakan ketrampilan khusus untuk membantu pasien. pengobatan alternatif. kelemahan. Komponen dasar terdiri dari : medikasi. jika ada serta hak-hak pasien 4. Model Multi Disiplin. sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak menggunakan farmakoterapi D. merupakan proses untuk menentukan apakah pasien dapat masuk atau mengikuti model terapi yang tersedia 2. keluarga atau kelompok dalam mencapai tujuan pengobatan melalui eksplorasi masalah dan pengaruhnya terhadap pasien. ketentuan/aturan yang harus dipatuhi agar pasien bisa keluar dari program sesuai dengan tujuan program. tergantung pada kondisi setempat dan terinpirasi dari hal-hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. program secara umum dan tujuan dari masing-masing program. Asesmen. Orientasi. Intake. pengobatan tradisional atau herbal. atau orang lain di luar layanan yang bersama sama merencanakan rancangan dan aksi dalam rangka mencapai sasaran/tujuan pengobatan. memberikan gambaran kepada pasien tentang . Rencana Pengobatan. Program bersifat jangka pendek dengan aftercare singkat atau tidak sama sekali. menilai sikap dan perasaan pasien. prosedur ini dilaksanakan oleh konselor atau petugas yang ditunjuk untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kekuatan. 7. Skrining. mempertimbangkan alternatif pemecahan masalah. masalah yang dimiliki pasien dan rencana kebutuhan terapi untuk pasien secara individu 5. menetapkan proses pengobatan dan sumber daya yang dibutuhkan 6. untuk program rawat jalan dijelaskan jam pelayanan dan jenis layanan yang tersedia. Model Tradisional. Konseling (individual. Faith Based Model. Manjemen Kasus. proses yang dilakukan oleh konselor atau profesi lain bersama pasien untuk mengidentifikasi dan membuat urutan masalah dan solusi yang diperlukan. agensi. Intervensi Krisis. dan membuat keputusan 7. Kegiatan ini dapat melibatkan orang yang menjadi penghubung (misal LSM) atau pendamping 8.

Medik/Klinis . Hepatitis B dan C. mengidentifikasi kebutuhan pasien yang tidak dapat diperoleh dari konselor/terapis atau tempat layanan serta membantu pasien untuk menggunakan layanan dukungan dan sumber daya lain yang tersedia di masyarakat 11. 12 . 6. catatan kemajuan pasien. Nutrisi/Gizi .merencanakan diet yang dibutuhkan pasien. Spiritual . Hepatitis B/C dan IMS serta melakukan tindakan yang sesuai termasuk VCT (Voluntar. Pencegahan kekambuhan mengajarkan pasien untuk mengenali situasi dengan risiko tinggi dan pencatus yang mungkin menyebabkan menggunakan NAPZA kembali. penting bagi pasien untuk mendapatkan kontribusi lain yang berarti untuk mencapai keberhasilan dalam program pengobatan yang seharusnya diberikan secara lengkap/sesuai oleh penyedia layanan. Rujukan. IMS (Infeksi Menular Seksual) melakukan pemeriksaan HIV. untuk mengembangkan strategi kemampuan menghadapi tekanan dari luar dan belajar untuk mengelola situasi slip (menggunakan NAPZA kembali 2. kesimpulan saat pulang dan data lain yang berhubungan dengan kondisi pasien. Sesuai dengan sifat adiksi pasien membutuhkan layanan baik secara multipel maupun bervariasi.menyediakan layanan medis/psikiatris secara profesional pada tempat dan saat diperlukan serta mampu untuk menentukan baik kondisi fisik maupun psikologis pasien. Dua belas layanan yang seharusnya tersedia atau tergabung sebagai komponen dalam pusat layanan adalah : 1.menyediakan pendidikan agama dan mendorong pasien untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka. Konsultasi dengan profesional lain berkaitan dengan pengobatan atau layanan pasien. 4. Pendidikan Pasien. E. Memelihara pencatatan dan pelaporan. membuat grafik hasil dari asesmen dan rencana pengobatan. 12. yang berhubungan dengan staf yang berada di dalam pusat layanan atau professional lain di luar layanan untuk meyakinkan kualitas pengobatan pasien yang komprehensif. Counseling and Testing) dan PITC (Provider Initiated Testing and Counselling). menyediakan informasi untuk individu maupun kelompok mengenai masalah NAPZA serta layanan atau sumber daya yang tersedia untuk membantu pasien 10. HIV. menulis laporan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 9. 3. Komponen Program Terapi Dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA Tidak ada pengobatan yang lengkap tanpa memperhatikan kebutuhan lain pasien secara bermakna. 5. Layanan/Terapi Keluarga termasuk intervensi keluarga untuk mendorong pasien yang menolak masuk ke dalam program pengobatan dan juga untuk memelihara dukungan kepada pasien dalam proses pemulihan.

11. F. b. Kemajuan akan dibuat grafik sesuai dengan rangkaian pengobatan dari keadaan ketergantungan menjadi tidak ketergantungan NAPZA secara lengkap. 1.bertugas untuk membantu pasien dalam kebutuhan atau masalah yang berkaitan dengan aspek legal. Setelah proses intake/awal.melanjutkan pendidikan formal yang relevan dengan kemampuan pasien. pasien dituntun untuk memiliki kemajuan secara berurutan dari satu layanan ke layanan lain seperti dari detoksifikasi ke rehabilitasi fase primary ke tahap aftercare dan follow up (lanjutan). meningkatkan pengetahuan tentang konsekuensi gaya hidup berisiko dan lain-lain. 9. Tahapan Pengobatan Dan Hasil Yang Diharapkan Merupakan program yang dibangun untuk jangka panjang dengan tahapan-tahapan yang merupakan satu rangkaian pengobatan yang panjang. 12. 7. e. Dalam mengejar pemulihan. meningkatkan harga diri dan menerapkan dasar-dasar kehidupan bebas/bersih dari NAPZA (sober). Akhirnya tahapan akan dilalui sesuai dan berhubungan dengan kemajuan pasien. Konseling .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA sekali. pasien diproses untuk tahapan orientasi. Pra Pengobatan a. d. Akan bijaksana bilamana jumlah dan jenis keistimewaan yang diberikan membuat pasien gembira atau menikmati. Latihan ketrampilan hidup . Bantuan hukum .hubungan terapeutik antara pasien yang membutuhkan bantuan dengan konselor yang dapat menyediakan pertolongan dan dapat secara individu. rujukan dan layanan lain sesuai kebutuhan pasien.mengajarkan untuk mampu bersosialisasi dan ketrampilan bekerja untuk pasien yang sesuai dengan minat dan kompetensi mereka. kelompok atau keluarga.merupakan suatu kelanjutan dari layanan perawatan seperti dukungan kepada kelompok pemulihan. konseling. latihan ketrampilan hidup. tahapan menengah. Aftercare . c. 8. tahapan akhir dan tahapan re-entry. Pendidikan dan informasi . 10.mengembangkan ketrampilan sosial untuk berkomunikasi lebih baik. Hal ini kemungkinan dapat diperlihatkan dalam berbagai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada pasien dalam berbagai periode selama dalam program pengobatan. Identifikasi dan Intervensi Krisis Penerimaan dalam program Orientasi Detoksifikasi Pengobatan Komorbiditas. Tahapan dalam program ini dirancang berdasarkan perkembangan yang diharapkan dari pasien dengan gangguan penggunaan zat melalui proses pengobatan. Terapi vokasional . masalah medis dan psikiatris 13 . penempatan kerja. diikuti dengan tahapan awal. jatuh atau kambuh menggunakan NAPZA).

f. b. g. Perawatan Sekunder (Secondary Care) a. c. c.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. b. i. tes urin) Orientasi Program Tur fasilitas layanan. e. h. pengenalan singkat peraturan dan tata tertib layanan  Memperoleh informasi tentang pasien. Program terapi untuk pasien dan keluarga Pendidikan Rekreasi Spiritual Perawatan kesehatan baik fisik maupun mental Kesadaran diri Evaluasi 3. g. d. e. keluarga dan riwayat penggunaan NAPZA  Pemahaman aturan dan tata tertib dalam fasilitas layanan Hasil yang diharapkan 14 . f. d. Perawatan Primer (Primary Care) a. Lanjutan konseling untuk pasien dan keluarga Rekreasi Pendidikan Spiritual Perawatan kesehatan Dukungan sebaya Rehabilitasi vokasional Pencegahan kekambuhan Aftercare Tahap Pra pengobatan IdentifikasiKonseling individu dan intervensi krisis keluarga Aktifitas Waktu 1-3 minggu  Memotivasi pasien untuk mendapat pengobatan  Menciptakan kesadaran tentang masalah yang dihadapi pasien Penerimaan Pendaftaran Skrining (pemeriksaan tubuh. wawancara.

bicara dan workshop Seminar. Sesi keluarga  Kegiatan lanjutan dalam pemulihan  Membangun ikatan dengan recovering addict yang senior  Meningkatkan kesehatan dan mempererat ikatan dalam program  Mengikutsertakan dalam kegiatan publik dan aktifitas umum  Menerima kekuatan yang tetinggi dan memahami keberadaan Tuhan  Menjaga kesehatan fisik dan mental Rekreasional Permainan Outing Pendidikan Seminar. Diskusi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Diskusi dengan pasien dan keluarga  Persiapan psikologis pasien untuk pengobatan  Membangun hubungan dengan penanggung jawab  Merencanakan pengobatan Detoksifikasi Isolasi dalam ruang pengobatan/perawatan  Penatalaksanaan gejala putus NAPZA  Stabilisasi  Layanan kesehatan untuk penyakit lainnya  Membantu kemajuan dan kemampuan pasien secara keseluruhan Penatalaksanaan Melakukan kajian dan Komorbiditas pemeriksaan secara medis evaluasi Kajian ulang dan tinjauan untuk pengobatan lanjut atau rencana pengobatan baru Tahapan Sekunder Aktifitas Waktu 3-12 bulan Hasil yang diharapkan Sesi Terapeutik Konseling individu. Latihan dan penerapan Asesmen/pemeriksa-an dan Pengobatan Seminar kesehatan Spiritual Perawatan Kesehatan 15 . Sesi kelompok.

terjatuh atau kambuh menggunakan NAPZA Tahapan Aftercare Aktifitas Waktu Setelah 12-18 bulan Hasil yang diharapkan Pertemuan kelompok dukungan 12 langkah (Twelve Step) Konseling berkelanjutan. Rawat Jalan/Ambulatory . Outreach/Penjangkauan masyarakat. mengelola terpeleset. pelatihan dan lajn-lain.menginisiasi/fasilitasi untuk berbagi pengalaman diantara anggota keluarga. 4. dukungan kelompok dalam proses pemulihan  Menguatkan kestabilan  Meningkatkan proses pemulihan secara keseluruhan G. Layanan Lain Yang Tersedia 1. Family Support Group .pasien datang ke pusat layanan untuk mendapatkan layanan. Wawancara kerja Pengelolaan waktu dan keuangan Vokasional Pencegahan Kekambuhan Seminar. informasi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Pemahaman diri Membentuk hubungan/ Berbagi/Diskusi  Memperkuat keyakinan dan mempertimbang-kan nilai-nilai yang dianut selama ini  Bersiap-siap untuk masuk program reentry  Mengembangkan ketrampilan sosial  Program latihan kerja  Penempatan di tempat bekerja Kelompok Dukungan Pertemuan Alcohol Anonymous dan Narcotic Anonymous Latihan Kerja/Job Training. 3. konseling. Diskusi  Mengenali pola kambuh dan pencetus kekambuhan  Mengembangkan kemampuan menghadapi masalah. Workshop. daycare. manajemen kasus. membawa program layanan kepada lingkungan 2. Recovery Support Group/Kelompok Pendukung Pemulihan fasilitasi/ memotivasi 16 .

H. f.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA pasien untuk berpartisipasi dalam kelompok dukungan mandiri (Self Help Group). hal ini bisa diklasifikasikan sebagai pekerjaan berisiko tinggi. tinggal dalam suatu fasilitas dan yang sangat nyata mereka harus menghadapi pasien dengan masalah ketergantungan NAPZA yang seringkali melakukan kekerasan. Evaluasi Pengobatan Evaluasi hasil pengobatan dilakukan secara periodik dalam setiap fase/tahapan pengobatan. bekerja saat hari libur. Rekruitmen Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia (SDM) merupakan modal utama dalam melaksanakan program pengobatan dan rehabilitasi pasien gangguan penggunan Napza. 1. Pelamar dapat dimotivasi dengan pertimbangan lain selain hanya uang/gaji seperti pendidikan. banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi efisiensi dan stabilitas SDM. termasuk masalah pekerjaan. Oleh karena itu. Sejak pengobatan dan rehabilitasi bukan lagi merupakan organisasi yang tradisional. hukum Masalah lain yang penting dan terkait dengan adiksi Pengobatan dan intervensi sosial yang telah diberikan Penilaian efektifitas program secara keseluruhan I. g. b. Diperlukan pembentukan tim untuk mengevaluasi kemajuan setiap pasien yang terdiri dari berbagai profesi. h. finansial. pelatihan atau kesempatan untuk mengembangkan keahlian di bidang gangguan penggunaan NAPZA. Beberapa ha! yang perlu dievaluasi untuk setiap pasien adalah : a. Kondisi fisik/medis Kondisi penggunaan NAPZA Masalah psikologis Masalah keluarga Masalah sosial. setiap institusi perlu untuk membuat suatu ketentuan mengenai pengembangan karier dan promosi bagi setiap SDM yang bekerja pada pusat layanan gangguan penggunaan NAPZA. pendidikan. Seleksi SDM yang baik merupakan dasar untuk memberdayakan SDM tersebut secara efektif. ada keunikan dalam melakukan penerimaan SDM dimana tidak banyak orang yang tertarik untuk melakukan pekerjaan dalam waktu yang panjang (lebih 8 jam kerja). Seringkali sulit untik mendapat SDM yang berkualitas dan mempunyai ketertarikan pada masalah gangguan penggunaan NAPZA. Beberapa strategi untuk rekrutmen/penerimaan SDM : 17 . ketidakstabilan mental. d. meskipun tidak ada garansi penuh bahwa mereka yang sudah diterima akan bekerja secara efisien dan produktif. e. c. on call 24 jam dalam 7 hari. Hal ini seringkali disebabkan adanya persepsi yang salah bahwa bekerja di bidang ini banyak kerja dengan sedikit kemungkinan untuk perkembangan karier dan kenaikan pangkat. Apabila evaluasi menunjukkan tidak adanya kemajuan pada pasien maka perlu ditinjau ulang program terapi selanjutnya agar diperoleh hasil yang optimal.

menentukan tingkat intelejensi pelamar. untuk memperoleh SDM yang berkualitas. regional maupun internasional        3. agar masa penyesuaiannya lebih mudah Pendidikan yang sesuai dengan posisi dan tugasnya Untuk recovering addict. loyalitas dan ketertarikan pada bidang pekerjaan tinggi Harus memiliki 'hati' dan 'jiwa' untuk menolong orang dengan spirit kemanusiaan yang tinggi Mampu berkreasi. Wawancara akan meliputi:         Kematangan emosional Keterandalan Percaya diri Sikap terhadap pekerjaan Kreativitas Sistem nilai Gaya hidup Sikap kritikal c. Kebutuhan dasar untuk SDM pada pusat pengobatan dan rehabilitasi NAPZA    Usia sedikitnya antara 21 sampai 35 tahun. harus sudah lulus dari pusat layanan yang mempunyai reputasi dan sedikitnya sudah 2 tahun abstinensi. untuk mengetahui kepribadian dan motivasi kerja individu b. memberikan informasi tentang bidang kerja. Wawancara Kelompok: pendekatan ini sangat direkomendasi sebagai tambahan dari hasil wawancara individu. Wawancara Individu. mempunyai dorongan diri yang kuat dan berorientasi pada hasil Bersedia untuk menceburkan diri ke dalam program fasilitas residensial Bersedia mengikuti berbagai pelatihan baik secara lokal.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA       Membuat iklan di surat kabar atau radio Layanan On line (jika dimungkinkan tersedia internet/ website) Berhubungan dengan sekolah sesuai dengan profesi yang dibutuhkan Rujukan/rekomendasi dari petugas atau pasien Melakukan jejaring dengan profesi yang berbeda dan organisasi pemerintah Melakukan seleksi melalui kampus 2. menciptakan keinginan baik organisasi. Proses Seleksi a. Beberapa jenis wawancara kelompok yang dilakukan meliputi: 18 . mempunyai pengalaman melaksanakan program 12 Langkah dan modalitas terapi lainnya Untuk konselor harus memiliki sertifikat konselor adiksi Bersedia untuk memberikan waktunya lebih panjang dari pegawai tempat lain Kualitas personal dalam dedikasi. Tes psikologi.

2. Bila memungkinkan unit gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dibuat tersendiri. termasuk kondisi gaduh gelisah. Layanan Yang Dilaksanakan Di Rumah Sakit Jiwa 1. Masih perlu dilakukan pelatihan Gawat Darurat Gangguan penggunaan NAPZA karena umumnya Tim gawat darurat Rumah Sakit Jiwa belum pernah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan dalam bidang Gangguan penggunaan Napza. Rawat Jalan/Rumatan: Umumnya medikasi yang tersedia di Rumah Sakit Jiwa untuk penanganan 19 . seperti overdosis opioida. Untuk kasus overdosis. intoksikasi benzodiazepin. intoksikasi amfetamin. Dekstrometorfan) beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kondisi akut. Pasien yang telah menunjukkan perbaikan setelah ditangani di unit gawat darurat dapat dilanjutkan dengan parawatan rawat inap atau detoksifikasi untuk kasus putus NAPZA atau berobat jalan untuk kondisi yang sudah memungkinkan untuk pulang. Beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kasus intoksikasi amfetamin.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA        Ketrampilan komunikasi dan menulis Pemahaman dan tilikan diri yang mendalam Ketulusan hati dan komitmen untuk ikut serta dalam misi melindungi kehidupan Kemampuan untuk berinteraksi dengan teman lainnya Tingkat komprehensif Menentukan pencapaian tujuan Keseriusan dalam melaksanakan pekerjaan III. Gawat Darurat Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Pada prinsipnya penatalaksanaan gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dilakukan di unit gawat darurat untuk pelayanan umum atau unit gawat darurat untuk gangguan jiwa yang terdapat di Rumah Sakit Jiwa tanpa harus menyediakan unit gawat darurat tersendiri. alkohol dan halusinogen. PEMBELAJARAN DARI RUMAH SAKIT JIWA DALAM LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI PASIEN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA A. khususnya overdosis heroin biasanya pasien dibawa ke Rumah Sakit Umum meskipun seringkali dokter gawat darurat Rumah Sakit Umum tidak tahu diagnosis overdosis heroin/kasus heroin Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah menggunakan skala penilaian putus NAPZA untuk kasus putus heroin (opioida). Untuk intoksikasi NAPZA lain (misal: Benzodiazepin. Untuk dapat menangani kasus-kasus gawat darurat NAPZA dengan baik perlu dilakukan pelatihan untuk tim unit gawat darurat yang meliputi ketrampilan untuk menangani kasus-kasus kedaruratan medik yang terjadi akibat penggunaan NAPZA.

Terapi Musik. Pemeriksaan radiologi dan elektromedik (EEG. Umumnya Layanan Psikososial seperti Konseling Dasar Individual/Kelompok. EKG) juga tersedia di Rumah Sakit Jiwa. Rehabilitasi  Jangka Pendek (Short Term) (1-3 bulan) Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah melaksanakan program ini dengan fokus pada perubahan perilaku. Umumnya diperlukan waktu yang cukup lama sejak mulai berdirinya rehabilitasi sampai dapat melakukan program yang melibatkan keluarga.Long term (6 bulan . Dukungan Kelompok Sebaya. Outing. Untuk pemeriksaan NAPZA umumnya menggunakan Deep Stick disertai tes konfirmasi. seperti program dukungan keluarga dengan anak yang terlibat gangguan penggunaan NAPZA atau program dukungan residen dengan HIV positif. Ada juga yang sudah menjalankan Therapeutic Community (TC) secara penuh yang dilanjutkan dengan/aftercare Setiap intervensi dilakukan secara bertahap. ReEmotive Behaviour Therapy di Rumah Sakit Jiwa masih kurang. Bila rehabilitasi sudah dapat berjalan secara bermakna. Cognitive Behavioural Therapy. Ada juga yang sudah menjalankan program re-entry (hingga 9 bulan). lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk residen kemudian diperpanjang. Dilakukan skrining masalah medis dan psikologis. Memulai program aftercare hanya jika program jangka pendek sudah berhasil dilalui dengan baik. Semua jenis NAPZA dapat dilayani termasuk komplikasi medis maupun psikiatris. Brain Mapping. - 3. Pada awal program. Terapi Vokasional. misalnya untuk lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk pasien (dalam program rehabilitasi biasanya disebut residen) dimulai dengan program jangka pendek terlebih dahulu.lebih) Beberapa Rumah Sakit Jiwa sudah dapat melaksanakan program rehabilitasi untuk jangka waktu 6 bulan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA simtomatis. Detoksifikasi Umumnya detoksifikasi dilakukan di fasilitas rawat inap Rumah Sakit Jiwa dengan menggunakan medikasi simtomatis. Terapi rumatan di Rumah Sakit Jiwa umumnya belum tersedia. Terapi Kelompok. Khusus untuk detoksifikasi heroin (opioida) selain simtomatis juga ada yang mempunyai pengalaman tapering off dengan metadon dan buprenorfin 4.  Jangka Panjang . Umumnya Rumah Sakit Jiwa telah dapat menyediakan Layanan Penunjang Dasar seperti laboratorium dasar Kimia Klinik. Untuk selanjutnya keluarga dapat diajak bekerjasama agar terlibat dalam beberapa program. misalnya menjadi minimal 6 bulan. Motivational Interviewing. biasanya keluarga hanya dilibatkan terkait masalah residen. Family Support Group. Biasanya kegiatan aftercare dilaksanakan di luar lingkungan Rumah Sakit 20 .

Ada petugas yang belum mengikuti pelatihan. Sumber Daya Manusia  Biasanya tenaga medis dan paramedis terbatas dan kurang berminat untuk bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA. Komitmen untuk merencanakan dan menjalankan program dari pengambil keputusan sampai pelaksana kurang kuat dijumpai di beberapa Rumah Sakit Jiwa. terapi rekreasional. Evaluasi Terapi Kebanyakan Rumah Sakit Jiwa belum melakukan secara khusus. Reward/honor petugas yang belum memenuhi standar minimal     2. kecuali residen yang sudah mengalami komplikasi medis atau psikiatris. mereka lebih tertarik untuk bekerja di bangsal umum atau bangsal penyakit jiwa. Sistem Rujukan/Jejaring Sebagian Rumah Sakit Jiwa sudah melaksanakan kerjasama dengan berbagai institusi baik pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tantangan Di Lapangan 1. terapi vokasional. perlu dibentuk kelompok sebaya khusus untuk ODHA pada penasun (pengguna NAPZA suntik) 5. Layanan Psikososial dan Penunjang Pada umumnya Rumah Sakit Jiwa sudah melakukan konseling dasar. Penerapan Program     Penerapan program sulit dilaksanakan karena pengetahuan dan ketrampilan terbatas sehingga kurang percaya diri untuk menjalankan program Keterbatasan dana sehingga beberapa program tidak dapat dilaksanakan misalnya outing. Salah satu alasan mereka enggan bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA karena kurangnya pengetahuan dan kekhawatiran berlebihan terhadap pasien gangguan penggunaan NAPZA yang terinfeksi HIV. Seiring dengan banyaknya kasus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). 7. B.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Jiwa. 6. Keterbatasan pengalaman dalam penanganan kasus dengan dual diagnosis Kesinambungan (sustainability) program yang mendapatkan bantuan tidak direncanakan kelanjutannya sehingga program terhenti ketika bantuan itu 21 . ada juga yang enggan mengikuti pelatihan. Kesulitan untuk mendapat peer educator/konselor pada awal menjalankan program. Ketrampilan petugas dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA masih terbatas. terapi kelompok dan psikoedukasi keluarga.

rileks dan disinhibisi. tenang. Rujukan/Jejaring  Kerjasama RSJ dengan LSM. Efek psikologis yang ditimbulkan mirip seperti pada pengguna kokain. Badan Narkotika Kabupaten/Kota. EFEK DAN GEJALA KLINIS GANGGUAN PENGGUNAAN NAP2A Bab ini akan membahas pengaruh segera atau beberapa saat (efek akut) sesudah menggunakan NAPZA dan pengaruh penggunaan jangka panjang (efek kronis). Pengguna NAPZA apapun jenisnya. belum dilakukan dengan menggunakan tools/panduan yang terstandarisasi 5. selalu mengharapkan efek yang menyenangkan bagi dirinya ("efek positif) yaitu euforia. Efek Fisik dan Psikologis Efek dari metamfetamin lebih kuat dibandingkan efek dari amfetamin. Puskesmas. dosisnya (intoksikasi saja atau overdose). Efek lainnya pada umumnya tidak disukai ("efek negatif) misalnya halusinasi. Evaluasi Terapi  Sudah dilaksanakan evaluasi terapi secara sederhana. agresif. 3. Metamfetamin diketahui lebih bersifat adiktif. 4. tapi berlangsung lebih lama. situasi (sendiri atau berkelompok) dan harapan pengguna terhadap NAPZA tersebut (ingin lepas kendali agar lebih berani atau ingin tenang). Sebagian RS telah melakukan pelayanan dengan menggunakan fasilitas RS yang tersedia. Pemerintah Daerah) masih ada kendala Kerjasama lintas sektor dan lintas program belum berjalan dengan optimal   IV. Sarana dan Prasarana  Sarana dan prasarana seringkali dipersepsikan harus terpisah dari kegiatan rumah sakit secara keseluruhan. Dalam Bab ini hanya akan dibahas NAPZA yang sering digunakan saat ini di Indonesia. AMFETAMIN a. Lapas di banyak tempat masih terbatas.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA berhenti. 22 . yaitu jenisnya (CNS depressant atau CNS stimulant). paranoia dan psikosis dibandingkan pengguna amfetamin. dan cenderung mempunyai dampak yang lebih buruk. RSJ yang sudah melayani ODHA umumnya kerjasama sudah berjalan baik dalam bidang HIV/AIDS Advokasi ke beberapa pemangku kepentingan (Badan Narkotika Propinsi. lamanya penggunaan (toleransi atau belum ada toleransi). waham. 1. berdebar-debar. Efek NAPZA terhadap pengguna dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengguna metamfetamin dilaporkan lebih jelas menunjukkan gejala ansietas. RSU. Komisi Penanggulangan AIDS. NAPZA lain yang digunakan bersamaan.

dizziness.bicara berlebihan  Meningkatkan rasa percaya diri dan kewaspadaan diri  Cemas.dapat meningkatkan libido  Sakit kepala  Gemerutuk gigi  Gangguan serebrovaskular  Kejang  Koma  Gemerutuk gigi  Distorsi bentuk tubuh secara keseluruhan Kardiovaskular  Takikardia (mungkin juga bradikardia)  . termasuk kejam dan agresif  Bicara tak jelas  Paranoid.MI)  vasokonstriksi/ hipertensi  kolap kardiovaskuler  Peningkatan frekwensi napas  Kesulitan dan kedalaman pernapasan bernapas/gagal napas 23 . mood yang berubah-ubah. dan penurunan rasa lelah pandangan kabur. tremor ringan  Euforia/disforia. dizziness  Psikosis (halusinasi delusi. stamina  Sakit kepala.arimia Pernapasan  Stimulasi kardiak (takikardia. paranoia)  Dengan penambahan dosis.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Efek fisik akut dan psikologis : Dosis rendah Susunan Syaraf Pusat. neurologi.  Penigkatan stimulasi.angina. panik  Menekan nafsu makan  Dilatasi pupil Dosis tinggi  Stereotipik atau perilaku yang sukar ditebak  Perilaku kasar atau irasional. perilaku insomnia.kebingungan dan gangguan persepsi  Peningkatan energi.hipertensi  Palpitasi.

diare atau kram abdominal  Mulut kering  Mual dan muntah  kram abdominal  kemerahan atau flushing  hiperpireksia.pucat  hiperpireksia Otot  peningkatan refleks tendon b. Efek fisik dan psikologis jangka panjang :         berat badan menurun. penurunan fungsi kognitif. penurunan kekebalan gangguan makan. ansietas akut. gangguan mood yang lain (misal distimia). anpreksia atau defisiensi gizi kemungkinan atrofi otak dan cacat fungsi neuropsikologis daerah injeksi: bengkak. abses kerusakan pembuluh darah dan organ akibat sumbatan partikel amfetamin pada pembuluh darah yang kecll. bersamaan dengan diberikan medikasi jangka pendak.paranoia. atau adanya gangguan makan pada protracted withdrawal.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Gastrointestinal  Mual dan muntah  Konstipasi . Amphetamines induced psychosis akan berkurang bila penggunaan Napza dihentikan . terutama daya ingat dan konsentrasi. disfungsi seksual gejala kardiovaskuler delirium.   c. Gejala Intoksikasi:                 Agitasi Kehilangan berat badan Takikardia Dehidrasi Hipertermi Imunitas rendah Paranoia Delusi Halusinasi Kehilangan rasa lelah Tidak dapat tidur Kejang Gigi gemerutuk. depresi. malnutrisi. disforesis Kulit  kulit berkeringat. halusinasi. skar.rahang atas dan bawah beradu Stroke Gangguan kardiovaskular Kematian 24 .

individunya dan kondisi saat itu.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. Beberapa hal di bawah ini di anggap sebagai efek positif bagi pengguna. Gejala withdrawal:           Depresi Tidak dapat beristirahat Craving Ide bunuh diri Penggunaan obat-obatan Masalah pekerjaan Pikiran-pikiran yang bizzare Mood yang datar Ketergantungan Fungsi sosial yang buruk 2.yaitu :        perasaan tenang (relaksasi) euforia disinhibisi peningkatan persepsi penglihatan dan pendengaran nafsu makan meningkat persepsi waktu yang salah sulit untuk konsentrasi Sedangkan efek akut negatif adalah:      ansietas dan panik paranoia halusinasi pendengaran dan penglihatan gangguan koordinasi kehilangan memori jangka pendek 25 . efek dari kanabis tergantung dengan dosis yang digunakan. KANABIS a. Komplikasi fisik dan psikososial Efek akut Seperti umumnya dengan napza . Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi:         Agresif/ perkelahian Penggunaan alkohol Berani mengambil risiko Kecelakaan Sex tidak aman Menghindar dari hubungan sosial dengan sekitarnya Penggunaan obat-obatan lain Problem hubungan dengan orang lain e.

3. tidak dapat beristirahat dan mudah tersinggung anoreksia tidur terganggu dan sering mengalami mimpi buruk gangguan gastrointestinal keringat malam hari tremor Gejala-gejala yang terjadi biasanya ringan dan berakhir setelah satu atau dua minggu.berkeringat. mengantuk.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  takikardia dan aritmia supraventrikuler Kanabis tidak menyebabkan overdosis yang fatal Gejala yang umum terj$di pada kondisi putus kanabis adalah       ansietas.penurunan libido  meningkatnya hormon anti diuretik (ADH). penurunan libido.mata dan kulit  pengeluaran urin yang sulit  tekanan darah rendah (reaksi 26 . Efek Opioda SISTIM ORGAN Sistim Saraf      EFEK Analgesi euforia sedasi. galaktorhea  penurunan kadar testosteron pada laki-laki.peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus menstruasi. OPIODA a. Pasien dengan putus kanabis hanya memerlukan manajemen gejala jangka pendek. depresi pernapasan penekanan refleks batuk pupil konstriksi Gastroitestinal  mual dan muntah  konstipasi  spasme biliar ( peningkatan tonus sfingter Oddi)  perubahan hormon sex pada wanita (kadar FSH dan LH rendah .kulit kemerahan histamin)  kekeringan pada daerah mulut. penurunan kadar ACTH Endrokrin Lainnya  gatal-gatal.

rasa lelah. Efek jangka pendek o o o o o o o o mengantuk. keringat meningkat Lebih dari 24 jam  semua gejala mencapai puncaknya  kebanyakan gejala fisik mulai berkurang. bicara cadel/tidak jelas 27 . irirtable. kelelahan gerakan yang tidak terkoordinasi. kelelahan tidak dapat istirahat. irritable. BENZODIAZEPIN Semua benzodiazepin bersifat sedatif. ansiolitik dan anti konvulsan. perasaan panas dan dingin kehilangan nafsu makan keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving) kram perut. sampai beberapa bulan Meningkatnya kesehatan secara umum dan penurunan craving 4. a. Simpton putus opioid dengan kerangka waktu Jarak waktu dari suntikan terakhir 6 – 12 jam 12 – 24 jam Gejala Umum  mata dan hidung berair. menguap  berkeringat              Hari ke 2 sampai 4 Hari ke 5 sampai 7 agitasi dan iritabel berdiri bulu roma (goosebumps) berkeringat.level aktivitas dan mood normal. diare kehilangan nafsu makan. penurunan reaksi terhadap waktu dan ataksia penurunan fungsi kognisi dan memori (terutama amnesia anterograde) kebingungan kelemahan otot atau hipotoni depresi nistagmus. letargi.  nafsu makan mulai kembali  gangguan fisik mulai menghilang. agitasi sulit konsentrasi perasaan panas dan dingin.nyeri per§sndian. mual. Dapat muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur. vertigo disarthria.tangan atau kaki. muntah nyeri punggung. craving Minggu ke 2 Beberapa minggu  kembali ke pola tidur .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. sakit kepala sulit tidur letargi.

mual kelelahan tinnitus hiperakusis. pembesaran payudara ketergantungan (dapat terjadi setelah 3 sampai 6 bulan dalam dosis terapi) d. fotofobia. ditambah dengan :     toleransi terhadap efek sedatif/hipnotik dan psikomotor emosi yang "tumpul" (ketidakmampuan merasa bahagia atau duka sehubungan dengan hambatan terhadap emosi) siklus menstruasi tidak teratur. Gejala Putus Benzodiazepin : Umumnya mencakup:         insomnia ansietas irritable tidak dapat beristirahat agitasi depresi tremor dizziness Jarang terjadi. Efek jangka panjang Mirip dengan efek jangka pendek. tidak dapat beristirahat. mulut kering o sakit kepala o euforia paradoksal. derealisasi pandangan kabur 28 . rasa girang. hipomania dan perilaku inhibisi yang ekstrim (terutama pengguna dosis tinggi dapat merasa tidak dapat dilukai. misal alkohol dan opioid yang dapat meningkatkan risiko penekanan pernapasan b. tapi perlu penanganan serius :   kejang (kejang hampir menyerupai pengguna alkohol dosis tinggi) delirium Gejala lain mencakup:        kedutan otot dan nyeri anoreksia.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o pandangan kabur. kebai terhadap serangan atau pukulan dan merasa dirinya tidak dapat dilihat orang sekitarnya) o efek potensiasi dengan napza depresah susunan syaraf pusat lainnya. gangguan persepsi depersonalisasi.

29 . Intoksikasi Alkohol Akut Intoksikasi dapat dikenali dengan gejala-gejala :     ataksia dan bicara cadel/tak jelas emosi labil dan disinhibisi napas berbau alkohol mood yang bervariasi b. DTs mencakup gejala agitasi. restlessness. berkeringat dan demam tinggi. stupor atau koma perubahan status mental kulit dingin dan lembab. ALKOHOL a. disorientasi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.4 mg/ml c. Gejala putus alkohol: Biasa terjadi 6-24 jam sesudah konsumsi alkohol yang terakhir: Gejala putus alkohol ringan :          Tremor Khawatir dan agitasi Berkeringat Mual dan muntah Sakit kepala Takikardia Hipertensi Gangguan tidur Suhu tubuh meningkat Gejala putus alkohol berat:        muntah agitasi berat disorientasi kebingungan paranoia hiperventilasi delirium tremens (DTs) adalah suatu kondisi gawat darurat pada putus alkohol yang tidak ditangani . tremor kasar.muncul 3-4 hari setelah berhenti minum alkohol. suhu tubuh rendah d. Komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis :    paralisis pernapasan. biasanya bila muntahan masuk saluran pernapasan obstructive sleep apnoea aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol darah lebih dari 0. Gejala klinis sehubungan dengan overdosis alkohol dapat meliputi:    penurunan kesadaran.

Efek akut pada dosis tinggi (reaksi toksik):  stereotipik.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA halusinasi lihat dan paranoia. lebih sering halusinasi dengar  dizziness  kekakuan otot  lemah. Efek akut pada dosis rendah :  anastesi lokal  dilatasi pupil  vasokonstriksi  peningkatan pernapasan  peningkatan denyutjantung  peningkatan tekanan darah  peningkatan suhu tubuh c. Efek yang diharapkan :  euforia  banyak bicara  bertambahnya percaya diri  energi  berkurang keinginan untuk tidur b. perilaku repetitif  ansietas/ agitasi berat/ panik  agresif  kedutan otot/tremor/hilang koordinasi  peningkatan refleks  gagal napas  peningkatan tekanan darah yang bermakna  nyeri dada/angina  edema paru  gagal ginjal akut  konvulsi  penglihatan kabur  stroke akut  kebingungan/delirium  halusinasi. nadi cepat  aritmia jantung  iskemi miokardial dan infark  berkeringat/suhu tubuh sangat tinggi (suhu rektal bisa mencapai 41°C)  sakit kepala  nyeri perut/mual/muntah 30 . KOKAIN a. 6.

VOLATILE SUBSTANCE (SENYAWA YANG MUDAH MENGUAP) a.  secara langsung menghirup b.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. hidung. halusinasi  hilang libido dan/atau impotensi  peningkatan refleks  peningkatan denyut nadi e. bekas cat tertinggal pada baju.waham curiga. solven. atau mulut  intoksikasi terlihat jelas/ perilaku menyimpang/ berani mengambil risiko  kebingungan  koordinasi yang lemah  mengeluarkan keringat yang berlebihan  ada tanda-tanda tidak biasa/rash. Efek pada penggunaan kronis :  insomnia  depresi  agresif atau liar  kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan  kedutan otot  ansietas  psikosis . jari tangan. Efek yang diharapkan :  euforia  rasa girang  rasa melambung  rasa tidak dapat dilukai/disakiti 31 . Gejala putus kokain (terjadi setelah beberapa hari penggunaan kokain)  mood disforia (anhedonia atau kesedihan mirip depresi) dan  kelelahan  insomnia atau hipersomnia  agitasi psikomotor atau retardasi  craving  peningkatan nafsu makan  mimpi buruk  gejala putus alkohol mencapai puncaknya dalam 2-4 hari  gejala disforia bisa berlangsung sampai 10 minggu 7.  iritasi kulit di sekitar mulut dan hidung  sekresi nasal yang berlebihan. Efek pada penggunaan akut  mata merah dan berair  bersin dan batuk  nafas berbau napza kimia  lem.

stupor . ledakan  keracunan. jatuh. kematian ).MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  disinhibisi c. dll)  sufokasi  aspirasi muntahan  terbakar. e. d. kebingungan  tremor  sakit kepala  delusi  gangguan penglihatan atau halusinasi  perilaku yang tidak dapat diprediksi . koma  Gangguan pernafasan  Aritmia jantung Gangguan atau kematian dapat terjadi karena:  perilaku yang berisiko (tenggelam. Gejala putus zat: Permulaan dan lamanya: tidak diklasifikasikan dalam DSM IV tapi sifat dari gejala putus yang memungkinkan dapat terjadi pada 24-48 jam sesudah penggunaan berakhir Gejalanya:  gangguan tidur  tremor 32 . Efek pada dosis tinggi:  berbicara tidak jelas  koordinasi motorik lemah  disorientasi. Gejala Overdosis Dosis tinggi dapat menyebabkan pasien mengalami:  konvulsi. Efek jangka pendek/efek negatif:  mengantuk  gejala mirip flu  mual dan muntah  sakit kepala  diare.final stages ( kejang.ataksia . koma cardiopulmonary arrest. kegagalan organ tubuh (pengguna kronis)  Laryngeal Spasm (Butane) Respiratory Arrest  keracunan logam (bensin/solar) f. nyeri abdominal  pernapasan tidak nyaman  perdarahan hidung dan tenggorokan  perilaku berisiko.

LAYANAN KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT 1. Skrining motivasi untuk bekerja di unit gangguan penggunaan NAPZA dan HIV. umumnya akan terjadi penolakan ketika akan dilakukan rekrutmen atau skrining staf/karyawan yang akan mengelola program untuk gangguan penggunaan NAPZA. Tidak semua jenis profesi harus tersedia dalam sebuah pusat layanan. Sosialisasi program. bilamana memerlukan suatu layanan profesi khusus dapat dilakukan dengan cara sistern rujukan atau membuat kesepakatan kerja. Rekruitmen SDM a. sebelum dirancang program operasional terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA seharusnya pihak manajemen melakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan rumah sakit dan pemangku kepentingan lain yang terkait (donator. Jenis dan jumlah tenaga/profesi yang dibutuhkan. sangat tergantung dengan jenis layanan yang akan dilaksanakan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA     mudah tersinggung dan depresi mual diaforesis ilusi hilang dengan cepat V. Dalam bidang teknis-medis tenaga minimal yang diperlukan :  1 orang psikiater dan atau dokter umum yang terlatih di bidang gangguan penggunaan NAPZA 33 . Dalam sosialisasi perlu dijelaskan tentang beberapa hal terkait dengan operasional layanan untuk gangguan penggunaan NAPZA tersebut yang meliputi :  Keuntungan yang akan diperoleh ataupun kerugian (kalau ada) yang akan dialami rumah sakit  Jenis layanan atau program terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA yang akan dilaksanakan  Staf dan karyawan yang akan terlibat dalam program  Jejaring yang harus dibentuk dengan pemangku kepentingan  Pendanaan dan penghasilan yang dapat diperoleh dari layanan gangguan penggunaan NAPZA b. LSM atau pemda setempat). Untuk itu pihak manajemen harus mampu meyakinkan kepada karyawan/staf tentang reward yang dapat diperoleh bagi petugas/staf di bangsal gangguan penggunaan NAPZA seperti:  Pelatihan khusus masalah gangguan penggunaan NAPZA  Pemberian insentif khusus sesuai dengan jam kerja  Promosi kenaikan pangkat  Promosi untuk pendidikan berkelanjutan. dan lain-lain sesuai kemampuan rumah sakit c.

ketrampilan berkaitan dengan pekerjaan seperti komputer/ IT. Tugas pokok dan fungsi yang jelas. secara periodik sebaiknya dinilai kinerjanya disertai dengan rencana promosi bagi staf/karyawan yang mempunyai dedikasi dan ketrampilan yang bisa diandalkan. kepuasan pelanggan dan lain-lain  Menjaga keamanan di lingkungan fasilitas/kerja e. dokumentasi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA      1 tim (8 orang) perawat/paramedik 1-2 orang instruktur/guru sesuai jenis kegiatan 1 tim (3 orang) konselor adiksi yang sudah terlatih 1 orang pekerja sosial 1 orang pembimbing agama Dalam bidang administrasi kegiatan pelayanan dibutuhkan :  1 orang tenaga pimpinan/program manajer  1 orang petugas tata usaha  1 orang petugas keuangan  1 orang petugas kebersihan  1 tim (4 orang) petugas keamanan d. kelompok kerja dan profesional/tanggung jawab etika dalam pelayanan  Pengembangan manajemen dan ketrampilan supervisi Pelatihan untuk non klinikal/teknis staf meliputi:  Komunikasi. Pelatihan/ketrampilan yang perlu dimiliki. rencana pengobatan dan konseling individu/kelompok/keluarga  Isu-isu lain berkaitan dengan koordinasi. untuk awal pelaksanaan program perlu dilakukan pelatihan pada semua tim teknis/medis baik peningkatan ketrampilan melalui pelatihan maupun magang pada pusat layanan yang sudah mapan/mempunyai kredibilitas. Pelatihan untuk staf teknis/medis meliputi. Supervisi teknis sangat diperlukan untuk kita ketahui demi kebutuhan pengembangan ketrampilan apa yang dibutuhkan untuk menunjang layanan yang optimal. manajemen waktu. program yang diterapkan pada pusat terapi dan rehabilitasi umumnya merupakan program yang terstruktur sehingga pembagian kerja dari masing-masing individu harus sangat jelas agar program dapat berjalan dengan baik.  Promosi dalam pengembangan kompetensi (termasuk perencanaan pelatihan).  Pengetahuan tentang gangguan penggunaan NAPZA dan praktek pengobatan/perawatan  Ketrampilan yang berkaitan untuk pengkajian/asesment. Persiapan untuk rencana pelatihan diperoleh dengan melakukan :  Training Need Assesment (TNA) setiap tahun  Jadwal tahunan setiap tahun  Alokasi dana untuk pelatihan  Dokumentasi hasil pelatihan 34 .

aula. ruang konseling. asrama. Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan RSU tipe A. dapur dan sebagainya. Dibawah ini diterangkan apa saja yang dimaksud dengan sarana dan prasarana dalam layanan terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA Sarana:  Bangunan atau gedung. telepon. tentunya dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyaman pasien lainnya. ruang olah raga. Rawat Darurat. Kebutuhan minimal dalam pelayanan Gangguan penggunaan NAPZA: a. apabila tidak memungkinkan hari layanan untuk pasien dengan Gangguan penggunaan NAPZA tidak diberikan setiap hari tetapi dalam seminggu 2 atau 3 kali layanan. aula. tiang/pipa besi yang dapat dipatahkan. ruang untuk service area.B maupun C Penatalaksanaan umum kondisi emergensi gangguan penggunaan NAPZA: 35 . listrik. kisi-kisi yang bisa untuk menggantung diri. kantor. Model Layanan a.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Membuat perpustakaan di dalam pusat layanan 2. air minum. ruang ketrampilan. dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan program  3. ruang kantor. Prasarana:  Jalan. ruang kelas. ruang pemeriksaan. peralatan kantor. ruang perawatan. saluran air buangan/drainage. pelayanan dapat memanfaatkan sarana yang selama ini sudah tersedia bahkan meskipun sangat sederhana/minimal. Rawat Inap :  Detoksifikasi : Ruang perawatan (6-10 tempat tidur) yang aman dari bendabenda yang membahayakan seperti. untuk poliklinik Gangguan penggunaan NAPZA dapat digabung dengan poliklinik lain khususnya poliklinik psikiatri. Sarana Dan Prasarana Persyaratan minimal disesuaikan dengan jenis layanan yang akan dibuka. B. sumur pompa untuk daerah yang air ledengnya sering tidak mengalir). benda tajam Rehabilitasi : asrama. Rawat Jalan . misalnya. Fasilitas (sarana/prasarana) bisa digabung dengan pelayanan lain pada rumah sakit. ruang ketrampilan. kaca. dapur. pagar. Beberapa sarana yang diperlukan adalah :  Ruang periksa dokter  Ruang konseling/pemeriksaan psikologi  Ruang terapi kelompok untuk sekitar 8-12 orang b. dapat dilayani kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dengan mengacu pada standar minimal RSJ tipe A. peralatan layanan baik medis maupun non medis dan sebagainya (generator untuk daerah sering mati listrik. ruang makan/rekreasi. ruang kelas.

Denyut Nadi. Pasien dengan tanda-tanda vital yang stabil dan tidak memperlihatkan gejala putus NAPZA yang jelas tetapi secara klinis menunjukkan adanya gejala kebingungan seperti pada kohdisi delirium atau demensia. karena dikhawatirkan akan terjadi interaksi dengan NAPZA yang digunakan pasien. Dalam perjalanannya mungkin timbul gejala halusinasi atau waham. Apabila NAPZA yang digunakan pasien sudah diketahui. Tanda-tanda vital pasien pada dasarnya stabil tetapi ada gejala-gejala putus NAPZA yang diperlihatkan pasien maka bila ada gejala-gejala kebingungan atau psikotik hal itu merupakan bagian dari gejala putus NAPZA. kebingungan atau psikotik Terakhir. Pernafasan. 3. Circulation) dan menjaga tanda-tanda vital Bila memungkinkan hindari pemberian obat-obatan. Bila pasien tidak sadar perhatikan alat-alat atau barang yang ada pada diri pasien (seperti adanya jarum suntik. Intoksikasi/Overdosis Opioida:  Merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan secara cepat  Atasi vital sign (Tekanan Darah. Penatalaksanaan kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA akan diuraikan sebagai berikut: 5. Pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA dalam jumlah banyak dan tanda-tanda vital yang membahayakan berkaitan dengan kondisi intoksikasi.1. obat dapat diberikan dengan dosis yang adekuat Merupakan hal yang selalu penting untuk memperoleh riwayat penggunaan NAPZA sebelumnya baik melalui auto maupun alloanamnesa (terutama dengan keluarganya). penting untuk menentukan atau meninjau kembali besarnya atau beratnya masalah penggunaan NAPZA pasien berdasar kategori dibawah ini: 1. Kemungkinan akan disertai dengan gejala-gejala halusinasi. Bilamana tanda-tanda vital pasien stabil dan secara klinis tidak ada gejalagejala kebingungan atau putus NAPZA secara bermakna.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA   Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup (life threatening) melalui prosedur ABC (Airway. tetapi gejala ini akan menghilang bilamana kondisi klinis delirium atau dementia sudah diterapi dengan adekuat 4. Breathing. Temperatur)    36 . obat-obatan dsb) Sikap dan tata cara petugas membawakan diri merupakan hal yang penting khususnya bila berhadapan dengan pasien panik. tetapi menunjukkan adanya halusinasi atau waham dan tidak memiliki insight maka pasien menderita psikosis 5. waham dan kebingungan akan tetapi kondisi ini akan kembali normal setelah gejala-gejala intoksikasi mereda 2.

Haloperidol 2-5 mg atau Chlorpromazine 1 mg/kg BB setiap 4-6 jam bila timbul gejala psikotik  Antihipertensi bila Tekanan Darah diatas 140/100 mHg  Kontrol temperatur dengan selimut dingin atau antipiretika untuk mencegah temperatur tubuh meningkat  Aritmia cordis. Propanolol 2-3x40 mg (perhatikan kontraindikasinya)  Bila ada gejala ansietas berikan ansiolitik golongan Benzodiazepin . Intoksikasi Kanabis  Umumnya tidak perlu farmakoterapi.ialu 50 ml Dekstrose 50% iv (urutan jangan sampai terbalik)  Problem Perilaku (gaduh/gelisah):  Petugas keamanan dan perawat siap bila pasien agresif  Terapis harus toleran dan tidak membuat pasien takut atau 37 . lakukan Cardiac monitoring .5 . Intoksikasi Alkohol  Bila terdapat kondisi Hipoglikemia injeksi 50 mg Dextrose 50%  Bila keadaan Koma :  Posisi face down untuk cegah aspirasi  Observasi ketat tanda vital setiap 15 menit  Injeksi Tiamine 100 mg i.3. sc Kemungkinan perlu perawatan ICU. khususnya bila terjadi penurunan kesadaran Observasi selama 24 jam untuk menilai stabilitas tanda-tanda vital 5.2. Diazepam 3 x 5 mg atau Chlordia-zepoxide 3x25 mg  Asamkan urin dengan Amonium Chlorida 2.v untuk profilaksis terjadinya Wernicke Encephalopathy.4.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA    Berikan antidotum Naloxon HCL (Narcan.1 mg oral. untuk penggunaan oral : merangsang muntah dengan activated charcoal atau kuras lambung adalah penting  Antipsikotik . Intoksikasi Amfetamin atau NAPZA yang menyerupai  Simptomatik.m ulangi setiap 20-30 menit 5. tergantung kondisi klinis. Nokoba) dengan dosis 0. dapat diberikan terapi suportif dengan talking down  Bila ada gejala ansietas berat:  Lorazepam 1-2 mg oral. im.75 mEq/kg atau Ascorbic Acid 8 mg/hari sampai pH urin <5 akan mempercepat ekskresi NAPZA 5.BB secara iv.01 mg/kg. atau  Alprazolam 0. atau  Chlordiazepoxide 10-50 mg oral  Bila terdapat gejala psikotik menonjol dapat diberikan Haloperidol 1-2 mg oral atau i.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

 

merasa terancam Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan Beri dosis rendah sadatif: Lorazepam 1-2 mg atau Haloperidol 5 mg oral, bila gaduh gelisah berikan sacara parenteral (I.m)

Kadar Alkohol Dalam Darah dan Hubungannya Dengan Gejala Pada Sistem Saraf Pusat KONSENTRASI (g/dl) PEMINUM SPORADIK 0,050-0,075 (taraf pesta) Euforia, Suka berkumpul gregarious), suka mengomel (garroulous) 0,100 (intoksikasi secara Tidak terkoordinasi hukum*) 0,125-0,150 . Perilaku tak terkontrol Hilang kewaspadaan, lethargy PEMINUM KRONIK -Tak tampak gejala -Sering masih terlihat segar

Gejala minimal Menyenangkan, mulai euforia, kurang koordinasi Membutuhkan usaha untuk mempertahankan emosi/kontrol motorik

0,200-0,250

0,300-0,350 Lebih dari 0,500

Stupor sampai koma Mengantuk, lamban Fatal, mungkin mem- Koma butuhkan hemodialisis

*) Di beberapa Negara (atau negara bagian di AS seperti California) secara hukum kadar 0.080 sudah ditetapkan sebagai intoksikasi. 5.5. Intosikasi Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin)  Diperlukan terapi kombinasi yang bertujuan : a) Mengurangi efek obat dalam tubuh

38

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

b) Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut c) Mencegah komplikasi jangka panjang  Langkah I: Mengurangi efek Sedatif-Hipnotik :  Untuk tingkat serum sedatif-hipnotik yang tingginya ekstrim dan gejala-gejala sangat berat, pikirkan untuk haimoperfusion dengan Charcoal resin/Norit. Cara ini juga berguna bila ada intoksikasi berat barbiturat yang lebih short acting. Tindakan suportif termasuk: a) pertahankan jalan nafas, pernafasan buatan bila diperlukan b) perbaiki gangguan asam basa Alkalinisasi urin sampai pH 8 untuk memperbaiki pengeluaran obat dan untuk diuresis berikan Furosemide 20-40 mg atau Manitol 12,5-25mg.

Langkah II: Mengurangi absorbsi lebih lanjut:  Rangsang muntah, bila baru terjadi pemakaian. Kalau tidak, pikirkan Activated Charcoal, Selama perawatan pasien harus diperhatikan supaya tidak terjadi aspirasi.

Langkah III: Mencegah komplikasi:  Perhatikan tanda-tanda vital dan depresi pernafasan, aspirasi dan edema paru.  Bila sudah terjadi aspirasi, berikan antibiotik  Bila pasien berusaha bunuh diri, maka dia harus ditempatkan di tempat khusus dengan pengawasan perawat.

5.6. Intoksikasi Halusinogen  Intervensi Non Farmakologik : . o Lingkungan yang tenang, aman dan mendukung o Reassurance : bahwa obat tersebut menimbulkan gejala-gejala itu; dan ini akan hilang dengan berjalannya waktu (talking down) Intervensi Farmakologik: o Bila terjadi bad trip (rasa tidak nyaman) atau serangan panik; berikan anti ansietas : Diazepam 10-30 mg oral

5.7. Intoksikasi Inhalansia  Pertahankan agar pernafasan berlangsung dengan baik agar tidak kekurangan oksigen  Tidak ada antidotum yang spesifik

39

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

 

Simptomatik Pasien dengan gangguan neurologik yang nyata, misalnya neuropati atau persistent ataxia, harus dievaluasi sebagaimana mestinya dan follow up yang ketat.

b. Rawat Jalan :  Model Tradisional : model layanan ini sama seperti layanan penyakit lain, dokter hanya melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan kemudian pengobatan farmakoterapi sesuai dengan diagnosis kerja. Tenaga yang dibutuhkan hanya satu orang dokter dan satu orang perawat yang telah terlatih masalah gangguan penggunaan Napza Model Komprehensif/Holistik : model ini menyatukan layanan dari berbagai profesi sesuai dengan kebutuhan pasien. Profesi yang terlibat antara lain; psikiater, dokter umum terlatih, psikolog klinis, pekerja sosial, perawat terlatih, konselor. Bilamana pasien mengalami suatu komplikasi medis dapat dirujuk kepada spesialis lain sesuai dengan hasil pemeriksaan medis. Dalam layanan ini jenis intervensi yang dapat diberikan adalah : - Farmakoterapi - Konseling - Psikoterapi individual dengan pendekatan khusus seperti Terapi Kognitif dan Perilaku - Terapi kelompok - Terapi Keluarga - Evaluasi Psikologis - Evaluasi Sosial

Dalam intervensi psikososial minimal dapat diberikan konseling umum, untuk pasien yang mempunyai risiko tinggi terpapar HIV dapat diberkan layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) dan edukasi tentang berbagai penyakit terkait dengan penggunaan NAPZA khusunya NAPZA dengan cara suntik. Bilamana sudah memiliki dokter yang terlatih dalam CST (Care, Support and Treatment),maka poliklinik dapat memberikan layanan pengobatan untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). c. Layanan rumatan, merupakan suatu layanan jangka panjang untuk pasien dengan ketergantungan opioida/heroin. Layanan ini harus memenuhi kriteria sesuai dengan pedoman yang telah dibuat secara nasional. Beberapa jenis terapi rumatan bagi ketergantungan opioida yang ada adalah: 1. Metadon Merupakan opioida sintetik yang bekerja long acting (24-36 jam) Digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 60 an Bilamana digunakan untuk terapi rumatan (maintenance) tidak menimbulkan eforia, sedasi atau efek analgesik

40

Levo Alfa Asetil Metadol (LAAM) Merupakan opioida sintetis agonis yang sama efeknya dengan metadon Perubahan rantai kimia menyebabkan efek kerja LAAM lebih lama dari 41 . Metadon HCI Liquid. bekerja pada mu reseptor (depresi pernafasan. ketergantungan flsik dan eforia) Oral bioavisbility 80 . Setiap tablet mengandung 40 mg. Buprenorfin Buprenorfin merupakan derivat tebain (dalam hukum diklasifikasikan sebagai narkotika) Memiliki sifat partial agonist Potensi kuat dengan cara kerja 24 jam pada dosis lazim dan 12 jam pada dosis minimal Pemberian secara sublingual dengan rasa yang sedikit pahit Memberikan efek agonis yang cukup dirasakan oleh pasien Tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 2 mg dan 8 mg Masa kerja lama bila digunakan untuk pengobatan ketergantungan opioida berbeda dengan efek analgesiknya yang singkat Afinitas yang tinggi terhadap mu-reseptor opioida Bersaing dengan opioida lain dan memblok efek opioida lain Disosiasi yang lambat dari mu-reseptor opioida Efek terapeutik yang lebih lama pada pengobatan ketergantungan opioida (berbeda dengan efek analgetik yang relatif singkat) 3. Setiap 1 ml mengandung 10 mg metadon HCI Penggunaan iv setara dengan morfln Mempunyai cara kerja yang serupa dengan morfin.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA - Dosis adekuat sangat individual Zat aktif: Metadon Hidrokhlorida Zat inaktif: Magnesium stearat dan selulosa Bentuk sediaan : tablet: disebut juga Diskettes. dispensing dengan pompa otomatis sehingga dosis kecil dapat terukur dengan baik. artinya bila digunakan melalui oral akan diserap tubuh sebesar 80-90% Oiabsorbsi secara perlahan setalah 30 menit pemberian dan mencapai efek puncak 2-4 jam Dengan pemberian dosis yang berulang waktu paruh rata-rata 22 jam - 2.90%.

Dekongestan. Parasetamol). hanya pada kondisi putus NAPZA berat untuk heroin. Spasmolitika (Papaverin). Buprenorfin yang diberikan secara tapering off. Rawat Komplikasi Fisik dan Psikiatrik. cara penggunaan. 1. apabila memungkinkan dikembangkan untuk detokisifikasi dengan zat substitusi atau UROD (Ultra Rapid Opioid Detoxification)  Beberapa jenis detoksifikasi yang dapat diberikan untuk beberapa jenis NAPZA akan dijelaskan dibawah ini. Sedatif-Hipnotik. Antidiare  Subtitusi dengan golongan Opioida : Kodein. Rawat inap diperuntukkan bagi pasien yang kondisi fisik maupun psikologisnya sulit untuk diatasi dengan rawat jalan seperti : kondisi putus NAPZA berat. Benzodiazepin) atau adanya penyulit baik secara fisik maupun mental. Rehabilitasi. Asam Mefenamat. Putus Opioida  Putus seketika (Abrupt Withdrawal )  Simptomatik. Untuk Metadon dan Buprenorfin terapi dapat dilanjutkan untuk jangka panjang (Rumatan) 42 .1. Rawat Inap. dosis dan cara penggunaan sama dengan Buprenorfin Obat ini sulit untuk disalahgunakan (disuntikan) karena adanya antagonis opioida akan melepas ikatan opioida pada mu-reseptor sehingga. Detoksifikasi  Merupakan suatu langkah awal dalam proses pemulihan  Bertujuan mengatasi kondisi putus NAPZA  Tidak semua pasien memerlukan perawatan detoksifikasi dengan rawat inap. tidak semua pasien memerlukan rawat inap. Detoksifikasi. farmakodinamik. Metadon. 1. sesuai gejala klinis beri analgetika (Tramadol. benzodiazepin dan alkohol atau adanya komplikasi fisik maupun psikologis  Untuk ruangan kondisinya sebaiknya terpisah dengan bangsal penyakit lain karena kemungkinan akan mengganggu pasien lainnya  Detoksifikasi biasanya dilakukan dengan standar minimal dengan simptomatis.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA metadon Waktu kerja mencapai 72 jam (3 hari) sehingga pemberian hanya dilakukan 3 hari sekali Mengingat efek toksik yang cukup tinggi LAAM saat ini jarang digunakan 4. Suboxone Merupakan kombinasi antara Buprenorfin sembilan bagian dengan Nalokson satu bagian (antagonis opioida) Cara kerja. putus NAPZA yang memerlukan tapering off pengobatan (Alkohol. akan timbul gejala putus opioida d.

3. Dapat juga diberikan Tiamine 100 mg ditambah 4 mg Magnesium Sulfat dalam 1 liter dari 5% Dekstrosa / normal saline selama 1 -2 jam .Pemberian injeksi vitamin B kompleks dosis besar (mis : Vitamin neurotropik) kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral vitamin B1.5-3 mg). Neuroleptika (yang memberi efek sedatif. Klonidin dengan dosis 17mcg/Kg.Bila ada riwayat kejang. mis .5 mg. perlu pengawasan tekanan darah.Atasi kondisi gelisah dan agitasinya dengan golongan Benzodiazepin atau Barbiturat .Bila terjadi Delirium Tremens HARUS ADA ORANG YANG SELALU MENGAWASI. Antiansietas (Alprazolam 2 X 0. dan kompllkasi flsik lain . klozapine 25 mg) dapat dikombinasikan dengan obat-obat lain Ultra Rapid Opioid Detoxification (UROD): .Rawat inap diperlukan apabila gejala psikotik berat. Risperidon 2 x 1. bila sistole kurang dari lOOmmHg atau diastole kurang 70 mmHg HARUS DIHENTIKAN Pemberian Sedatif-Hipnotika.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA    Subtitusi non opioida . Diazepam 3 x 5-10 mg. gejala depresi berat atau Kecenderungan bunuh diri. Clobazam 2 x 10 mg) atau Antidepresi golongan SSRI atau Trisiklik/Tetrasiklik sesuai kondisi klinis 1.Setelah seletsi pasien harus menaruskan pengobatan oral dengan Naltrekson 50 mg/hari selama 6 bulan sampai 2 tahun sesuai dengan kondisi klinis pasien 1.Terapi : Antipsikotik (Haloperidol 3 x 1. Putus Amfetamin atau Napza yang serupa .5-Smg.Observasi 24 jam untuk menilai kondisi fisik dan psikiatrik .25-0.2.Merupakan detoksifikasi cepat dangan menggunakan anaestesi atau dalam kaadaan tidak sadar saat melepaskan ikatan opioida dari mureseptor dengan menggunakan antagonis opioida yaitu Nalokson injeksi . multivitamin dan Asam Folat 1 mg .Harus dilakukan dalam ruang Intensif Care Unit (ICU) karena harus dalam pengawasan dokter dengan monitor terpasang di tubuh selama pasien tidak sadar . Putus Sedatif-Hipnotik  Abrupt withdrawal ( pelepasan mendadak ) dapat berakibat fatal karena 43 .Pemberian cairan atas dasar hasil pemeriksaan elektrolit dan keadaan umum pasien .BB dibagi dalam 3-4 dosis diberikan selama 10 hari dengan tapering off 10%/hari.4. 1. putus alkohol atasi dengan Benzodiazepin (Diazepam 10 mg iv perlahan). Putus Alkohol .

Intoksikasi Luminal biasanya tidak menimbulkan disinhibisi. slurred speech/cadel dan ataxia). Bila penurunan dosis menyebabkan pasien gelisah / insomnia/ agitatif atau kejang. lalu dosis harian dihitung kembali Daftar Dosis Ekivalen = (untuk detoksifikasi Sedatif Hipnotik lain) 30 mg Luminal kira-kira setara dengan : 100 mg Pentonal 44 . Dosis Luminal tidak boleh melebihi 500 mg sehari berapa besarnya sekalipun dosis Barbiturat yang diakui pasien dalam anamnesis. 1-2 dosis Luminal berikut dihapus. Penurunan dosis total 10 % per hari. dapat diberikan obat yang biasa digunakan oleh pasien. dosis tunggal sudah cukup. memungkinkan digunakannya dosis kecil yang lebih aman. karenanya jarang menimbulkan problema tingkah laku yang umum dijumpai pada Barbiturat short acting. Untuk keadaan putus Barbiturat. dimulai dengan memastikan dosis toleransi. kemudian baru dimulai dengan penurunan dengan kecepatan maksimal 10 % per 24 jam sampai dosis sedatif nol. setelah itu penurunan dosis dilanjutkan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA itu tidak dianjurkan. ditunda sampai keadaan pasien stabil. disusul dengan pemberian suatu sedatif: Benzodiazepin atau Barbiturat ( Pentotal. atau sampai kondisi pasien tenang. Waktu paruhnya antara 12-24 jam . Luminal) dalam jumlah cukup banyak sampai terjadi gejala-gejala intoksikasi ringan. maksimal 100 mg/hari. Lalu diteruskan selama beberapa hari sampai keadaan pasien stabil. Dosis letal 5 kali lebih besar daripada dosis toksis dan tanda-tanda toksisitasnya lebih mudah diamati (sustained nystagmus. atau barbiturat masa kerja lama yang lain.  Gradual withdrawal (pelepasan bertahap) dianggap lebih rasional. Kadang-kadang pasien tidak bersedia dberikan Luminal. Rumus yang dipakai:   Satu dosis sedatif = satu dosis hipnotik (short acting Barbiturat yang dipakai) Kalau timbul toksitas. Sifat long acting akan mengurangi fluktuasi pada serum yang terlalu besar. Teknik substitusi Fenobarbital (Luminal): Digunakan Luminal sebagai pengganti.

Estazolam 1-2 mg ) . pekerjaan dan hubungan sosial .Klobazam. keinginan untuk berhenti) .evaluasi psikologis melalui wawancara dan tes psikologi . dapat diulangi beberapa kali dengan selang waktu 30-60 menit. lama pemakaian. dsb) Asesmen yang perlu dilakukan pada model terapi ini antara lain : . . Clozapine 25 mg.evaluasi masalah penggunaan NAPZA (Jenis.Berikan vitamin B complex.Berikan hipnotika malam saja (misalnya . Short Term ( Jangka Pendek)      Lama perawatan berlangsung antara 1 sampai 3 bulan tergantung dari kondisi dan kebutuhan pasien Pendekatan yang dapat dilakukan kearah medik dan psikososial Masalah medik masih menjadi fokus utama. dampak yang ditimbulkan. penggunaan waktu senggang dan kehidupan pribadi lainnya Untuk melakukan asesmen memerlukan suatu hubungan terapeutik yang  45 . Program dapat dimulai rehabilitasi jamgka pendek dan bila sarana/prasarana dan SDM sudah memenuhi kriteria dapat dikembangkan menjadi program rehabilitasi jangka panjang 1.Lakukan penurunan dosis (kira-kira 5 mg) setiap 2 hari . .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  500 mg Khloralhidrat 400-600 mg Meprobamat 250-300 mg Metakualon 100 mg Chlordiazepoxide 50 mg khlorazepat 50 mg Diazepam 60 mg Flurazepam Penatalaksanaan dengan tapering off Benzodiazepin .evaluasi sosial : riwayat keluarga.evaluasi medis: riwayat penyakit. kondisi fisik saat ini dan penyakitpenyakit lain yang terkait dengan penggunaan NAPZA .Berikan salah satu Benzodiazepin (Diazepam.evaluasi tentang kegiatan agama. jumlah. Lorazepam) dalam jumlah cukup.Injeksi Diazepam intramuskuler/intravena 1 ampul (10 mg) bila pasien kejang/agitasi. asesmen dilakukan secara lengkap termasuk pemeriksaan penunjang medik Indikasi diberikan kepada pasien yang memiliki kegiatan rutin (bekerja. e. pendidikan. Rehabilitasi. sekolah.

Wawancara awal . Umumnya pasien berada dalam program untuk 6-12 bulan c. Program dangan struktur yang tinggi/ketat b. Rehabilitasi Jangka Panjang. Menstabilkan fungsi kehidupan pasien i. Rehabilitasi vokasional Program ini mempunyai suatu aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang diistilahkan dengan cardinal rules dan five pilars yang sangat mengikat setiap residen untuk menjalankan dan siap menerima sanksi bila melanggar aturan tersebut ( pasien peserta TC lazim disebut residen ) Tahapan program TC yang harus dijalani oleh setiap residen adalah sebagai berikut: a.Pengisian formulir . Primary Stage (6 sampai 9 bulan):    46 . Program pendidikan e.Orientasi program (walking paper} . Diarahkan pada pasien yang mempunyai riwayat perilaku kriminal g.Informed consent .Pengenalan program dan fasilitas layanan b.  Direkomendasikan bagi pasien yang sudah mengalami masalah penggunaan NAPZA dalam waktu lama dan berulang kali kambuh atau sulit untuk berada dalam kondisi abstinen atau bebas darl NAPZA TC dapat digambarkan sebagai model yang cocok atau sesuai dengan pasien yang membutuhkan llngkungan yang mendukung dan dukungan lain yang bermakna dalam mempertahankan kondisi bebas NAPZA atau abstinen. dalam hal ini yang akan dibahas adalah modalitas terapi Therapeutic Community (TC) yang menggunakan pendekatan perubahan perilaku. . Latihan ketrampilan sosial dan penerapannya (seringkali pasien mengalami gangguan fungsi kehidupan yang serius) f. Proses Intake dan Orientasi (2-4 minggu).Pemeriksaan fisik . Gambaran dari TC adalah sebagai berikut: a. Program pengobatan d. Mengembangkan sistem dukungan yang sesuai kebutuhan pasien h.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA terbina antara pasien dengan terapis dan hasil asesmen tersebut menjadi acuan untuk terapi selanjutnya  Pengobatan dapat dilanjutkan dengan rawat jalan atau bila masalah yang dihadapi pasien khususnya perilaku belum memungkinkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi jangka panjang 2.

Penerapan sanksi (reward and punishment) .Kegiatan Family Support Group .  Pengenalan program re-entry  Didampingi buddy  Tidak boleh dikunjungi keluarga  Tidak boleh meninggalkan fasilitas TC  Sanksi berupa tugas-tugas mengurus fasilitas  Mengikuti kegiatan kelompok o Fase A (1.Boleh meninggalkan fasilitas/rumah .Mulai bertanggung jawab terhadap sebagian fasilitas/rumah .Kegiatan dalam kelompok .Mengikuti kegiatan kelompok .Kegiatan Kelompok Untuk Middle Member (anggota menengah 4-6 bulan) .2 bulan).Dilakukan kegiatan FSQ .Pelaksanaan reward dan punishment secara penuh .  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi keluarga setiap waktu  Diberi ijin menginap 1 malam setiap 2 minggu sekali  Boleh menerima uang jajan setiap minggu secara teratur  Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC o Fase B (2 bulan).Dinyatakan graduate/lulus c.Sudah bertanggung jawab penuh terhadap rumah/fasilitas. Tahapan Re-Entry (3 sampai 6 bulan): o Fase Orientasi (2 minggu).Aktif mengikuti program .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk Younger Member (anggota termuda 1-3 bulan) .  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi setiap waktu  Diberi ijin pulang menginap 2 malam setiap 2 minggu  Boleh meminta tambahan uang jajan  Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC operational 47 .Sudah dapat keluar fasilitas TC dengan pendamping .5 .Dikunjungi keluarga .Menjadi buddy bagi younger member . .Dilakukan Family Support Group (FSG) Untuk Older member (anggota lama 6-8 bulan) • .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o Fase C (2 bulan).Waktu dan tempat pelaksanaan disepakati bersama   e.  Intervensi psikososial merupakan komponen kunci untuk terapi gangguan penggunaan NAPZA yang komprehensif baik secara individu maupun kelompok Intervensi ini dapat diberikan pada setiap tahapan terapi baik dalam keadaan intoksikasi sampai pada saat fase rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien khususnya pasien dengan kesadaran penuh Untuk melaksanakan intervensi ini diperlukan pelatihan ketrampilan yang khusus dan memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan jenis intervensi Pendekatan psikososial saja bukan yang superior. Aftercare Program  Program yang ditujukan bagi mantan residen/alumni TC. Intervensi Psikososial. program terapi harus didesain sesuai kebutuhan pasien dengan mempertimbangkan faktor budaya. suatu pendekatan yang mengutamakan pada masalah psikologis dan sosial yang disandang oleh pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien menghadapi setiap masalah (Coping Mechanism).Meminta anggota untuk menanggapi suatu topik .  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi setiap waktu  Diberi ijin pulang  Boleh meminta tambahan uang jajan  Boleh melakukan kegiatan di luar fasilitas TC  Konseling final bagi residen maupun keluarga untuk persiapan pulang d. gender serta komorbiditas Beberapa model intervensi psikososial yang dapat dilakukan dalam layanan pengobatan Gangguan penggunaan NAPZA antara lain :     48 . umur. Tempat pelaksanaan disepakati bersama Program ini bertujuin agar alumni TC mempunyai tempat/kelompok yang sehat dan mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan hidup yang positif Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah : . Program ini dilaksanakan di luar fasilitas TC dan dlikuti oleh semua angkatan dibawah supervisi staf re-entry.Sharing dalam kelompok tanpa ditanggapi .

pencegahan kekambuhan 7. dan berbagai kondisi layanan kesehatan lain. materi self. follow -up.  Pasien yang kompleks dengan isu-isu masalah psikologis/ psikiatrik  Pasien dengan ketergantungan berat  Pasien dengan kemampuan membaca yang rendah  Pasien dengan kesulitan terkait dengan gangguan fungsi kognitif Pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan wawancara mendalam. Bl khususnya dapat dipargunakan untuk pelayanan dasar di puskesmas dan dapat juga digunakan di ruang emergensi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 1. pengurangan dampak buruk 6.Berbagai intervensi membutuhkan waktu antara 5 menit sampai 2 jam. Intervensi direkomendasikan untuk beberapa kondisi seseorang seperti dibawah ini:     Penggunaan alkohol yang membahayakan tetapi belum ketergantungan Ketergantungan alkohol ringan sampai sedang Ketergantungan nikotin/perokok Ketergantungan kanabis ringan sampai sedang Bl tidak direkomendasikan untuk kondisi dibawah ini . informasi tingkat penggunaan yang aman 4. asesmen singkat 2. anjuran untuk mengurangi konsumsi 5. asesmen untuk kesiapan berubah termasuk wawancara memotivasi 8.help ( materi yang membantu pemahaman NAPZA contoh leaflet tentang penanganan overdosis. Brief Intervention (Bl) Brief Intervention dipertimbangkan untuk berbagai kondisi yang melibatkan waktu tenaga profesional yang terbatas untuk mencoba merubah penggunaan NAPZA. bangsal rumah sakit. Enam elemen terapi dalam intervensi singkat yang sering digunakan dan berhasil adalah: F : Feedback  memberikan umpan balik hasil asesmen klinis 49 . Konseling singkat termasuk pemecahan masalah dan tujuan 9.cara menyuntik 3. Bl dapat menggunakan barbagai bentuk format tetapi seringkali termasuk: 1.

. Fungsi Utama Konseling .. Membantu pasien untuk mempelajari dan memperoleh solusi jangka panjang yang memuaskan bagi masalah-masalah yang dialaminya.. memberikan waktu.. tetapi membantu orang untuk: o Mampu mengerti perasaan mereka o Menemukan dan memilih alternatif yang nampaknya paling baik bagi mereka Karakteristik konseling adalah :       50 . mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan mereka. Konseling Dasar ". Membantu pasien memilih dan mengambil pendekatan realistik 4. 1. perhatian dan keahliannya membantu pasien untuk mempelajari situasi mereka. Tujuan dan fungsi konseling . A : Advice  memberikan kejelasan..konseling sendiri biasanya tidak cukup untuk merubah perilaku penggunaan NAPZA pada kebanyakan pasien.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA R : Responsibility  meyakinkan bahwa perilaku penggunaan NAPZA dan masalah yang ditimbulkannya menjadi tanggung jawab individu .. Memberikan dukungan psikomotor melalui ketrampilan komunikasi Konselor membuat suatu kondisi dimana pasien dapat menjadi teman baik melalui pikiran dan perasaan mereka Konselor tidak memberikan nasehat."  Konseling adalah suatu proses pertolongan dimana seseorang. Menyampaikan informasi penting 2. dengan tulusdan tujuan jelas. anjuran praktis dan materi self help M : Menu  memberikan beberapa opsi dan intervensi dalam perubahan perilaku E : Empathy  memperlihatkan sikap tidak menghakimi dan menghayati pasien S : Self-Efficacy  menekankan kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk berubah 2. Membantu pasien mengklarifikasi dan menempatkan masalah 3.

Mehyediakan informasi yang tepat . Ini sangat berguna bila dilakukan pada pasien yang berada pada tahap prekontemplasi dan kontemplasi. 51 . Wawancara Motivasional (Motivational Interviewing -Ml) Motivasi adalah suatu keadaan kesiapan atau keinginan untuk berubah.Menghargai pasien maupun perasaan pasien. selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu atau dari situasi kesituasi lain.Mendengarkan dengan aktif .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Merupakan suatu proses interaktif Merupakan hubungan yang interaktif Berdasarkan pada kolaborasi Melibatkan berbagai ketrampilan konselor Menekankan pada kebebasan personal Menekan-kan pilihan Menggunakan penguatan positif Menggunakan dukungan emosional Pencatatan secara formal Dalam proses konseling agar terbangun suatu hubungan terapeutik seorang konselor harus mampu  Melakukan percakapan yang efektif: .Menyatakan bahwa pasien tidak sendiri menghadapi masalah  untuk mencegah pasien merasa gagal atau ditolak  Memahami prinsip-prinsip umum dalam konseling 3.Mencoba mengerti perasaan pasien . tapi prinsip dan keterampilan wawancara sangat penting pada semua tahap.Tidak menyalahkan atau menghakimi . Dasar pemikiran atau alasan melakukan wawancara motivasional ini adalah bahwa untuk mencapai perubahan adalah lebih mudah bila motivasi untuk berubah tersebut datang dari dalam dirinya sendiri. dari pada dipaksakan oleh konselor atau terapis. dan tidak memaksanya berubah .Menanyakan pertanyaan yang baik . Wawancara motivasionil adalah sebuah wawancara yang interaksinya berpusat pada pasien dan bertujuan untuk membantu seseorang menggali dan mengatasi ambivalensi tentang penggunaan NAPZA melalui tahap perubahan.

Semakin besar perbedaan antara tujuan. Keterampilan mendengarkan dan merefleksikan merupakan bagian penting dari ekpresi empati. nilai dan perilaku mereka saat ini. Ketidakcocokan (perbedaan). Hal ini penting bagi pasien untuk mengidentifikasi tujuan/dan nilai serta untuk mengekspresikan alasan-alasan mereka untuk berubah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Wawancara motivasional didasari pada pengertian bahwa:  Pengobatan yang efektif dapat membantu proses perubahan  Motivasi untuk berubah terjadi dalam konteks hubungan antara pasien dan terapis  Gaya dan semangat dari intervensi sangat menentukan keberhasilan terapis. antara penggunaan NAPZA dan masalah yang berhubungan dengan perilaku mereka saat ini serta arah yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka. khususnya empati yang dihubungkan dengan perbaikan hasil pengobatan. Pendekatan intervensi singkat ini didasarkan pada prinsip wawancara motivasional yang dikembangkan oleh Miller dan kemudian di perluas oleh Miller dan Rollnick. Menghindari argumentasi Prinsip utama dari wawancara motivasional adalah dapat menerima bahwa adanya ambivalensi dan resistensi untuk berubah adalah suatu 52 . Hal ini sangat penting untuk menghindari adanya konfrontasi dan menyalahkan atau mengkritik pasien. Prinsip wawancara motivasional Mengekpresikan Empati Dalam situasi klinis keterlibatan empati memberikan gambaran bahwa konselor atau petugas kesehatan menerima pasien apa adanya. Empati yang dilakukan oleh tenaga kesehatan merupakan faktor penting untuk mengetahui bagaimana respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. kemungkinkan besar pasien dapat berubah. Orang lebih mungkin dimotivasi untuk mengubah perilaku penggunaan NAPZA bila mereka melihat ada perbedaan. tidak menghakimi dan dapat memahami pasien serta menghindari memberikan label. Wawancara motivasional bertujuan untuk menciptakan dan menjelaskan perbedaan antara perilaku saat ini dan tujuan yang lebih basar dan menilai cara pandang pasien terhadap hal tersebut. misalnya menyebut pasien sebagai "alkoholik" atau "pecandu".

Affirmation (Penegasan). Keterampilan ini bertujuan untuk mendorong pasien mau berbicara. Summarising (menyimpulkan). Dukungan keyakinan diri (kepercayaan) Seperti yang telah didiskusikan diatas pasien yakin bahwa mengurangi atau menghentikan perilaku penggunaan NAPZA adalah penting dan mereka mampu melakukannya. Ini biasanya penting untuk menghindari argumentasi dan perdebatan. OARS Pertanvaan terbuka (Open Ended Questions) Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang dan membuka pintu kepada seseoranc igar mareka mau berbicara. Kepercayaan terapis pada kemampuan pasien untuk mengubah perilaku mereka juga penting dan dapat menjadi sugesti diri sendiri. Pada saat pasien memperlihatkan resistensinya.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA hal yang normal dan untuk mengajak pasien mempertimbangkan antara informasi yang didapat dan pandangan terhadap penggunaan NAPZA mereka.(NAPZA)  "Anda kelihatan khawatir dengan penggunaan NAPZA yang anda lakukan selama ini?" bisa disampaikan pada saya tentang hal 53 . Contoh pertanyaan terbuka antara lain:  " Apa manfaat yang anda rasakan dengan menggunakan NAPZA"?  "Ceritakan kepada sayi. Empat keterampilan pertama tersebut sering dikenal dengan singkatan OARS:-Open ended questions (Pertanyaan terbuka). Melakukan negosiasi dan membangun kepercayaan untuk membujuk pasien bahwa sesuatu yang dapat mereka lakukan adalah bagian penting dari wawancara motivasional. hal apt yang anda rasakan kurang baik tentang penggunaan. menggali ambivalensi mereka terhadap penggunaan NAPZA dan menjelaskan alasan mereka untuk mengurangi atau berhenti menggunakan NAPZA. tenaga kesehatan harus dapat menggambarkan kembali atau merefleksikannya. Keterampilan-keterampilan khusus Wawancara motivasional dilaksanakan dengan menggunakan lima keterampilan khusus.. Keterampilan kelima adalah "berbicara mengenai perubahan" OARS dapat membantu pasien menyampaikan argumentasi untuk mengubah perilaku pengguna NAPZA mereka. Reflective listening (mendengarkan dengan cara merefleksikan)...

sementara penegasan pernyataan motivasi diri (atau berbicara tentang perubahan) mendorong kesiapan untuk berubah.?" Penegasan (Affirmation) Termasuk pernyataan apresiasi serta pengertian membantu menciptakan lingkungan yang mendukung... untuk itu terapis harus memberikan cukup waktu agar hal ini dapat dilakukan Dalam wawaneara motivasional....... saya sangat menghargai jika anda tetap seperti ini" ..... mengarahkan pasien untuk mengenali dan peduli dengan masalahnya serta memperkuat 54 .... Hal ini penting untuk merefleksikan kembali perkataan dan perasaan pasien yang telah di ucapkan. Memberikan penegasan terhadap kekuatan pasien dan usaha untuk berubah dapat membantu membangun keyakinan. Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah sama halnya seperti menggunakan cermin untuk seseorang sehingga mereka dapat mendengar apa yang dikatakan terapis seperti apa yang telah mereka sampaikan.?"  "Apa yang akan anda lakukan berkaitan dengan hal tersebut?"  " Apa yang anda ketahui tentang ... Mendenqarkan dengan cara merefleksikan (Reflective listening) Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah suatu pernyataan yang dapat menebak apa yang dimaksud pasien. mendengarkan dengan cara merefleksikan digunakan secara aktif untuk menyoroti ambivalensi pasien tentang penggunaan NAPZA ...MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tersebut lebih lanjut?"  "Seberapa khawatirnya anda pada hal tersebut"  " Bagaimana perasaan anda tentang... Mendengarkan dengan cara merefleksi yang efektif dapat mendorong pasien untuk tetap berbicara.... serta membangun relasi dengan pasien... Contoh penegasan termasuk:  "Terima kasih untuk kedatangannya pada hari ini"  "Saya menghargai kemauan saudara untuk berbicara pada saya tentang penggunaan NAPZA"  "Anda adalah orang yang tepat untuk mengatasi kesulitan ini"  "Saya dapat melihat bahwa anda merupakan orang yang tangguh"  "Itu adalah ide yang bagus"  "Hal ini sulit untuk dibicarakan mengenai.. Mendengarkan dengan cara merefleksikan menunjukkan pada pasien bahwa terapis mengerti apa yang telah dikatakan atau dapat digunakan untuk mengklarifikasi apa yang dimaksud oleh pasien.....

Sebagai contoh suatu rangkuman: "Jadi kelihatannya anda benar-benar menikmati ekstasi dan shabu pada saat pesta dan anda tidak memikirkan bahwa anda menggunakannya lebih banyak dari teman anda . Pada sisi lain anda lebih banyak menghabiskan uang untuk membeli NAPZA dibandingkan penghasilan anda dan ini sangat mengkawatirkan anda. Pasangan anda sangat marah dan sangat membenci perilaku anda. Pertama pasien dapat mendengarkan apa yang ia katakan kemudian ia mendengar terapisnya merefleksikan apa yang telah diucapkan dan kemudian ia mendengarkan kembali dalam kesimpulan atau rangkuman. Anda juga menemui kesulitan untuk membayar tagihan dan kartu kredit anda ditolak. Anda juga mempunyai masalah tidur dan kesulitan mengingat sesuatu. Hal ini penting untuk membuat suatu rangkuman." Berbicara menqenai perubahan (Eliciting change talk) Keterampilan kelima adalah "Berbicara mengenai perubahan" adalah suatu strategi untuk membantu pasien mengatasi 55 . Contoh :       "Anda terkejut bahwa skor anda memperlihatkan bahwa anda mempunyai masalah yang berisiko" "Hal ini sangat penting untuk mempertahankan hubungan anda dengan istri" "Anda merasa tidak nyaman membicarakah hal ini" "Anda marah karena istri sering mengomeli bila anda banyak merokok" "Maukah anda mengurangi penggunaan alkohol pada saat pesta" "Anda sangat menikmati ekstasi dan tidak mau menghentikannya tapi secara bersamaan anda juga melihat bahwa hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah yang berkaitan dengan finansial dan hukum". Terapis memilih apa yang akan dimasukkan dalam rangkuman dan petunjuk apa yang dapat digunakan untuk berubah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA parnyataan yang mengindikasikan bahwa pasien berfikir tentang perubahan. Membuat kesimpulan (Summarising) Membuat kesimpulan atau merangkum adalah hal yang penting untuk menyamakan persepsi terhadap apa yang telah dikatakan pasien serta mempersiapkan pasien untuk berubah.

bahkan sampai kepada penggunaan dalam manajemen perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktifitas yang sustainable dan resilience. sangat kompatibel dengan berbagai sumber daya yang tersedia bagi pasien. Cognitif Behavioral Therapy (CBT) Cognitive Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan CBT adalah sebuah psikoterapi yang mulai banyak digunakan oleh para profesional dan terapis dalam menghadapi berbagai persoalan-persoalan psikologis individual.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ambivalensi dan bertujuan agar pasien dapat menyampaikan pendapatnya untuk mau berubah. CBT terstruktur. CBT sebagai sebuah bentuk psikoterapi digunakan oleh para profesional karena: 1. Ada empat kategori penting untuk membicarakan perubahan :  Mengenali kerugian bila tetap menggunakan NAPZA  Mengenali manfaat blla tidak menggunakan NAPZA  Menyampaikan optimisme tentang perubahan  Menyampaikan tujuan untuk berubah Terdapat beberapa cara yang dapat menggambarkan "berbicara mengenai perubahan" dari pasien.  Mengajukan pertanyaan langsung dan terbuka. 2. 56 . CBT adalah jangka pendek. fokus pada masalah yang dihadapi saat ini yang bergumul untuk mengatasi problem NAPZA yang dialami pasien. contoh :  "Apa yang menyebabkan anda khawatirkan dengan penggunaan NAPZA ?"  "Apa yang anda pikirkan terjadi jika anda tidak berubah?"  > "Manfaat apa yang akan didapatkan jika anda mengurangi penggunaan NAPZA ?"  > "Apa yang anda inginkan dalam kehidupan anda lima tahun mendatang?"  "Apa yang akan anda kerjakan apabila anda memutuskan untuk berubah?"  "Seberapa yakinkah anda bahwa anda dapat berubah?"\  "Seberapa penting bagi anda untuk mengurangi penggunaan NAPZA?"  "Apa yang anda fikirkan saat ini tentang penggunaan NAPZA anda ?" 4. 3. goal-oriented (berorientasi pada sasaran perawatan yang telah dirancang). CBT telah teruji secara klinis dan didukung oleh percobaan empirikal yang solid.

dengan tujuan utama adalah merestruktur cara berpikir lama dan merubah perilaku lama dalam suatu proses pembelajaran. yaitu teori terapi kognitif dan teori terapi perilaku yang telah ada dalam dunia terapi selama ini. terapi perilaku dalam bentuk desentisisasi. CBT dikembangkan sesuai 57 . Ml. pendekatan sangat individual tetapi dapat disesuaikan dengan berbagai bentuk perawatan (inpatient. client center Rogerian. terhadap pribadi yang khusus. CBT sangat fleksibel. modifikasi perilaku. setiap bentuk gangguan sifatnya sangat khusus. cognitive therapy dari Aaron Beck tahun 1970an. dan sasaran individu (penderita gangguan) yang juga khusus.teori ilmu psikologi yang telah berkembang sejak tahun 1950 sampai 1970. dan pada tahun 1990an pendekatan-pendekatan yang baru muncul seperti mindful therapy and acceptance & committment therapy. lalu terapi kognitif REBT menurut Albert ElHs. Didasari atas kedua terapi diatas. Untuk menghemat waktu dan mengejar efektifitas. sesuai dengan sifatnya / hakekat CBT. bertujuan untuk membangun pikiran dan tindakan yang lebih rasional. dll.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. CBT menggunakan dua teori. (1950an). Dengan dasar diatas. Sangat cocok dikombinasikan dengan berbagai terapi seperti MET. Dasar Teori CBT Setiap model dan metoda intervensi. Medis. Sedangkan muatan terapi perilaku. Maka untuk setiap gangguan. aktivasi perilaku-conditioning. harus dilakukan studi yang mendalam sehingga dapat diterapkan secara efektif dan efisien. khususnya bagi pasien remaja dan dewasa. Asumsi yang dipakai adalah. outpatient) demikian juga formatnya (kelompok dan perorangan). yaitu mulai dari psikoanalisa. dengan mengidentifikasi keyakinan-keyakinan inti dan asumsi-asumsi yang tidak rasional yang mengakibatkan atau menjadi kebiasaan (otomatis) dan bekerja kearah mengkoreksinya. lingkungan yang khusus. maka para ahli yang menggunakan CBT mengembangkan apa yang disebut kompetensi CBT untuk berbagai gangguan yang didasari oleh meta-analisa diatas. lebih menekankan teori pembelajaran sosial berupa modeling dan conditioning sebagaimana pasien belajar menggunakan NAPZA. memerlukan dasar teori yang sudah terbukti (evidence based} dan teruji secara klinis. Terapi kognitif. 5. maka dalam praktik. digunakan sekitar 80% terapi kognitif. Intervensi CBT lahir dari 2 (dua) teori . apapun pendekatannya.

maka dari itu efektifitasnya sangat tinggi yang akibatnya memiliki efisiensi atau waktu perawatan yang relatif singkat dibanding dengan cara pendekatan tradisional. Dengan demikian para terapis harus mengembangkan pemikiran yang komprehensif terlebih dahulu sebelum melakukan perawatan. Apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pasien sehingga dia mampu bertahan dengan keadaan emosional dan pefilaku sampai saat ini? Latar belakang sosial dan individual perlu diperhatikan. lingkungan hidupnya. pertanyaan-pertanyaan dibawah ini harus menjadi bagian dari asumsi-asumsi terapis sebelum menghadapi pasien. dan budaya lingkungannya. Gangguan psikologis apa saja yang diderita pasien? Perangkat asesmen dan analisa apa yang harus dipakai untuk mengetahuinya? Kemudian dari hasil-hasil diatas apakah tingkat keparahannya pasien? Tingkat perawatan apa yang berguna dan harus dilaksanakan bagi pasien bersangkutan? Apa saja faktor-faktor berisiko bagi pasien bila dia harus menjalani perawatan rawat jalan maupun rawat inap? Sampai dimana tingkat motivasi pasien untuk berhenti menggunakan NAPZA? Apa faktor-faktor penentu motivasi tersebut sehingga pasien datang keperawatan atau dipaksa menjalankan keperawatan. Jadi CBT didasari atas meta-analisa. termasuk alat - - - - - - 58 . Semakin luas pengetahuan terapis. yang akan ditanyakan dan di selidiki: Apakah pasian memiliki gangguan atau penyakit tertentu sebelum menggunakan NAPZA dan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA. maka akan sangat efektif bagi terapis dalam mengaplikasikan CBT terhadap pasien.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA dengan kondisi dan latar belakang pasien. kemana saya harus merujuknya bila hal ini ada? Apakah pasien memiliki gejala dual diagnosis? Merujuk ke psikiater mana yang mengerti masalah adiksi dan gangguan psikiatrik yang berhubungan dengan adiksi. Dan beberapa pertanyaan yang spesifik yang timbul ketika berhadapan dengan pasien secara langsung. Kesiapan Terapis CBT CBT untuk adiksi didasari atas asumsi pendekatan biopsikososial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang dapat diprediksi dalam kekambuhan adalah sistem keyakinan yang salah dan menetap (. Pencegahan Kekambuhan. misalnya . siapa yang menjadi manager kasus. ketrampilan manajemen diri. 5. siapa yang akan menjadi pendamping (peer counselor).. dengan siapa dan bagaimana penggunaan Napza bisa terjadi) Mengajarkan kam§mpuan msnghadapi masalah (coping skill). dan terakhir apakah fasilitas yang dimiliki terapis sudah memadai dalam menjawab pertanyaanpertanyaan diatas.') Di bawah ini beberapa strategi yang digunakan dalam pencegahan kekambuhan :   Tingkatkan komitmen untuk berubah (misal menggunakan wawancara memotivasi) Identifikasi situasi resiko tinggi yang menimbulkan kekambuhan (Kapan. Program 12 Langkah Fokus dari Program 12 Langkah adalah penerapan langkahlangkah itu dalam kehidupan sehari-hari... ketrampilan sosial. Keberhasilan menjawab sebanyak mungkin pertanyaan diatas akan menentukan langkah-langkah intervensi selanjutnya apakah menjadi mudah atau sulit. Terapis harus melengkapi diri dengan pertanyaan-pertanyaan diatas yang akan dilakukan pada pasien pada tahap awal perawatan primer. kambuh merupakan pengalaman yang sering terjadi dalam porses pemulihan pasien Gangguan penggunaan NAPZA. monitoring diri dari penggunaan NAPZA.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA assessmen apa yang nanti akan digunakan. Disinilah penggunaan istilah Falsafah menjadi lebih relevan. Mengembangkan strategi untuk menghadapi situasi yang dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan : apa yang harus dilakukan pasien dalam suatu kejadian yang dapat menimbulkan kambuh? dimana pasien mendapatkan dukungan? apa peran yang dapat diberikan dari teman atau keluarga? seberapa cepat pasien harus membuat perjanjian untuk kembali ke tempat praktek?   6... dimana. karena langkah-langkah ini 59 .'Saya seorang pecandu dan saya tidak bisa berhenti menggunakan NAPZA.

menyeluruh dan tanpa rasa gentar. Kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orangorang tersebut bilamana memungkinkan. Kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua. sepanjang hayatnya. penyakit kecanduan mempunyai potensi untuk kambuh sewaktu-waktu apabila tidak diredam oleh program pemulihan yang berkesinambungan. Kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah. 10. uraian ini akan mencakup fungsi klinikal . kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lalnnya. Dengan pengamalan atau praktek dari langkahlangkah inilah para pecandu akan dapat meredam penyakitnya agar tidak kambuh. 7. 5. Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita. lebih dari sekedar peraturan. 60 . Pada penjelasan ini. Kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita.yang dapat diterapkan baik dalam kondisi di dalam atau d iluar institusi/panti rehabilitasi. setiap langkah akan diuraikan secara singkat maknanya dan karena setiap langkah di targetkan untuk mengatasi setiap aspek spesifik dalam penyakit kecanduan. 4. Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan sebagaimana kita mamahamiNya. Dan. kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain. setepat mungkin sifat dari kesalahan-kesalahan kita. Kita mengakui kepada Tuhan. untuk diamalkan ketika menjalani kehidupan kesehariannya. 12 Langkah menjadi "Falsafah Hidup" seorang pecandu. Jadi. 6. 9. Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembatikan kita kepada kewarasan. 3. Kita dengan rendah hati memohon kepadaNya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita. berdasarkan paradigma Disease Model of Addiction. Berikut ini adalah contoh 12 Langkah seperti yang tertera dalam program Narcotic Anonymous (NA) 12 LANGKAH NARCOTIC ANONYMOUS 1.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA menjadi panduan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pecandu yang ingin mempertahankan kebersihannya dan membina perjalanan spiritualnya. 2. Kita membuat inventaris moral diri kita sendiri secara penuh. sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali. segera mengakui kesalahan kita. 8.

ketidakberdayaan berarti kecanduan itu sendiri. sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali. lingkungan. "kalau saja masalah ini selesai. alkoholisme. Seringkali terdengar mereka mengeluh. Perlu dicatat bahwa Langkah Satu tidak mengatakan . Pecandu akan terus mencari alasan dari kecanduannya. lalu mencari jawabannya dalam program ini. Kedua hal ini tidak sama. Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita memahamiNya. atau bahkan mulai mencari pertolongan. karena. siapa yang suka untuk mengaku kalah? Untuk mencapai titik ini. Dua hal yang dibicarakan dalam langkah ini adalah ketidakberdayaan dan ketidakterkendalian. Suatu penerimaan di dalam diri yang memerlukan pengkajian diri yang jujur dan dipatahkannya penyangkalan harus mendahului pengakuan ini. saya tentu tidak akan pakai NAPZA lagi'. atau perilaku kecanduan yang lain. para pecandu akan tetap berpikir bahwa dengan membuat perubahan-perubahan kecil dalam hidupnya maka masalah akan tereelesaikan. Langkah ini adalah satu-satunya langkah yang menyebutkan adiksi. dsb. yaitu adiksi itu sendiri. ketidakmampuan untuk mengatur perilakunya. Sebuah pengakuan atas adanya suatu masalah. kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam segala halyang kita lakukan. 12. dimana dampak dari kecanduan itu sudah begitu banyak menghasilkan penderitaan sehingga pecandu mulai berpikir untuk merubah hidupnya. sementara ketidakterkendalian dilihat dari akibat atau konsekuensi dari perilaku kecanduan itu. Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkah-langkah ini. berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya. Ini adalah langkah yang sukar untuk diambil. Konselor harus berhati-hati agar tidak terperangkap dalam membantu pecandu meyelesaikan masalah-masalah ini."berhenti melakukan ini. apakah itu orangtua. dimana pengakuan ini diperlukan untuk memulai proses pemulihan. Langkah Pertama "Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita. Konselor 61 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 11. pergaulan. "Masalah ini" adalah masalah yang mengecohkan dari permasalahan yang sebenarnya." Pecandu diharapkan sudah mencapai titik maksimal dalam kehancurannya. Sebelum mereka mencapai tahap ini. setelah itu lakukan ini. seorang pecandu harus sudah mencapai tahap yang disebut Hit Bottom (mencapai dasar)." Langkah pertama adalah pernyataan masalah.

atau Higher Power yang bisa juga disebut Tuhan oleh mereka yang mempercayainya. atau tidak beragama sekalipun." Pada langkah inilah unsur spiritual dari program 12 langkah mulai nampak. program ini menjauh dari membela atau mementingkan agama tertentu. Higher Power 62 . Konselor yang bekerja menolong orang yang sedang menjalani Langkah ini. Pembinaan spiritual bermakna mengakui ketidakberdayaan pada diri sendiri dan menemukan kekuatan di luar diri sendiri. yaitu menyerahkan seluruh kehidupan seorang pecandu kepada Higher Power yang diyakininya. Di langkah kedua inilah juga dijelaskan penekanan atas perbedaan antara proses spiritual dan proses keagamaan. Ketika di Langkah Satu pecandu berhadapan dengan keadaan yang tidak memberikan banyak harapan. harus memberikannya banyak ruangan agar ia dapat menemukan sendiri konsep Kekuatan yang lebih besar yang ia rasa paling nyaman baginya. Program ini diperuntukkan kepada semua pecandu. karena seperti dibuktikan di Langkah Pertama. Program 12 langkah bukanlah program keagamaan. ia tidak dapat lagi mengendalikannya. di Langkah Dua harapan mulai bersinar lagi. Langkah ini membawa kepada tindakan yang konkrit untuk pertama kalinya. Langkah ini mendorong pecandu untuk menyerahkan kendali atas hidupnya. dan pada akhirnya terpuruk dan menyerah kalah. yang memang merupakan masalah utama yang dihadapi dalam pemahaman Langkah Pertama. Langkah kedua mewakili pemikiran para pendahulu AA yang meyakini bahwa satu-satunya solusi dari masalah kecanduan ini terletak di aspek spiritual dari seorang pecandu. Langkah Kedua "Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembalikan kita kepada kewarasan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA harus bisa membantu pecandu untuk melewati rintangan yang berupa penyangkalan ini. Langkah Ketiga " Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan sebagaimana kita memahamiNya" Langkah ketiga lebih mengembangkan lagi konsep Kekuatan yang Lebih Besar. Disinilah seorang konselor berperan untuk membantu pecandu menemukan konsep Higher Power yang paling bisa diterima dan di percaya olehnya. suatu proses yang bisa dilakukan melalui program keagamaan atau tidak. apapun latar belakang agamanya. Karena 12 Langkah ditetapkan untuk semua pecandu.

Pecandu harus dapat melihat bahwa 63 . dan sex. Kedua Langkah ini bertalian karena keduanya membentuk suatu proses tertentu yang sangat penting di dalam proses pelaksanaan 12 langkah. yaitu perasaan malu dan perasaan bersalah. yaitu membuka diri secara total. setepat mungkin sifat dari kesalahankesalahan kita. pecandu diminta untuk berbagi mengenai cerita itu dengan satu orang lagi yang bisa ia percayai.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tidak perlu menyerupai konsep Tuhan seperti dalam agama formal. terutama bagi mereka yang baru mencobanya untuk pertama kali. Oleh sebab itu. mendokumeritasikannya. ia harus bisa menerima kenyataan itu mengenai masa lalunya untuk kemudian bisa memaafkan. kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lainnya. "penyembuhan luka-luka lama" tidak akan terjadi apabila luka-luka tersebut tidak dibawa kepermukaan dan diakui keberadaannya. memungkinkan proses analisa diri yang lebih mendalam dan memerlukan lebih banyak lagi kejujuran dan keberanian. ketakutan. Langkah Keempat dan Kelima "Kita membuat inventaris moral diri kita sandiri secara penuh. Dalam konsep 12 langkah." "Kita mengakui kepada Tuhan. Menyembunyikan atau memendam pengalaman-pengalaman hidup yang berhubungan dengan ketiga topik tersebut akan menjadikannya beban spiritual yang tidak memungkinkan proses perubahan dan pertumbuhan yang positif. Untuk meringankan beban itu dan memulai adanya perbaikan rohani dalam diri seorang pecandu. Bisa dibayangkan tentunya kedua langkah ini adalah langkah yang cukup sulit dan seringkali bahkan menakutkan. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk membantu pecandu untuk mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan langkah Ini. dan menceritakannya kepada paling sedikit satu orang lain. Karena ketiga topik ini begitu berkaitan dengan dua isu utama yang selalu menghantui pecandu. akan menjadi fondasi spiritual yang kokoh. setelah berbagai hal yang menyakitkan tersebut terangkat ke permukaan dan tidak lagi ditutup-tutupi. dan disinilah konselor dapat membantu untuk menemukannya. Ketiga kategori utama yang biasanya diminta untuk dituliskan adalah kebencian. Keduanya membentuk satu ritual yang khusus. menyeluruh dan tanpa rasa gentar. apabila diserap dengan baik. Baru setelah itulah proses penyembuhan bisa dimulai." Ketiga langkah pertama. tetapi apa saja yang dapat mendatangkan rasa "penguatan" pada diri pecandu.

Di titik inilah menjadi semakin jelas bahwa 12 langkah akan membawa pecandu kepada perbaikan diri yang terus-menerus. tetapi meminta kepada Higher Power untuk melakukannya untukdia? Rekan konselor adalah membantu pecandu melewati rasa "serba mampu" yang datang dari ego yang besar dan menumbuhkan kerendahan hati. Setelah mengetahui dengan jelas semua kerusakan yang ada pada diri pecandu. menawarkan kepada pecandu apabila la ingin meneruskan proses perubahan memasuki tahap yang baru dan memerlukan taraf kepercayaan dan keyakinan yang lebih mantap lagi. Pecandu akan sadar bahwa dengan hanya berhenti menggunakan NAPZA. ia tetap tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Setelah itu. mencari solusi spiritual. yang merupakan prinsip spiritual yang diperlukan untuk kedua langkah ini. Lima langkah pertama telah mendapatkan masalah utama. kondisi mental dan spiritualnya. dan tugas konselor jugalah untuk memupuk sifat yang baik ini dalam pecandu yang ditolongnya. enam dan tujuh.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA kejujuran menjadi modal utama. Langkah Keenam dan Ketujuh "Kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita. Kedua Langkah ini menjadi papan loncatan untuk suatu proses ke depan yang akan memakan masa dan tenaga yang cukup banyak. kedua Langkah ini. apakah ia sudah siap untuk merubahnya? Dan apakah ia sudah sampai pada titik kerendahan hati dimana ia tidak akan merasa selalu mampu untuk menyelesaikan semua masalah." "Kita dengan rendah hati memohon kepadanya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita." "Kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orang-orang tersebut bilamana memungkinkan. fokus dari proses 12 langkah ini 64 . kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain. Langkah Delapan dan Langkah Sembilan "Kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua. dan mencari dan mengangkat berbagai beban dan kesulitan yang memperberat masalah utama." Kedua Langkah ini adalah esensi dari proses perubahan diri dalam 12 Langkah. tetapi perilaku hidupnya. ia diharapkan untuk bertanya pada dirinya. Kedua Langkah inilah yang membawa proses ini melampaui lebih dari hanya berhenti menggunakan NAPZA atau kecanduan lainnya. masih menyerupai ketika ia aktif dalam kecanduannya." Sampai pada langkah ketujuh.

agar tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti orang lain dan diri sendiri. Kecenderungan utama dari seorang pecandu adalah untuk memusatkan perhatiannya kepada rasa ketakutan. segera mengakui kesalahan kita. dan bersalahnya. dan yang terpenting adalah memaafkan diri sendiri. Dengan mengadakan perbaikan langsung. memperbaiki kerusakan. usaha untuk menyelesaikan perasaan malu dan perasaan bersalah ditingkatkan intensitasnya. Memasuki langkah kedelapan. Daftar yang dibuat tidak sepenuhnya sama dengan daftar yang telah dibuat di Langkah Empat. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk mempersiapkan pecandu. menyadiakan diri.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA masih ditujukan kepada diri pecandu yang menjalani proses ini sendiri. Perlu pertimbangan yang benar-benar matang untuk memutuskan perbaikan mana yang harus didahulukan dan yang mana mungkin belum sampai pada saatnya. dan memperbaiki kesalahan secara langsung. bagaimana misalnya susahnya mendatangi orangtua dari seseorang yang pernah dibunuh dan mengakui sebagai pembunuhnya dan meminta maaf. Memaafkan orang lain. Dari Langkah Satu sampai Sembilan dasar 65 . Langkah Sepuluh "Kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah. tahap perkembangan dan kematangan spiritual pecandu sudah dianggap cukup mantap untuk mulai melihat keluar dirinya kepada kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dalam hubungannya dengan orang-orang lain. proses ini membebaskan pecandu secara total dari belenggu perasaan malu. Langkah ini ditempatkan pada nomor sembilan karena untuk mencapainya harus melalui proses pemantapan spiritual yang prima. tetapi berdasarkan apa yang telah dicapai di langkah itu. keberanian yang luar biasa diperlukan untuk mengambil Langkah Sembilan. apakah itu meminta maaf. Pada kedua langkah ini. takut. Diperlukan bimbingan yang tepat untuk menilai kesiapan yang sesungguhnya. atau membayar hutang atau barang yang pernah dicuri. dan akan lebih meringankan lagi beban mental pecandu dan memungkinkan untuk pertumbuhan spiritual yang lebih sehat lagi." Langkah ini adalah permulaan dari apa yang disebut langkahlangkah pemeliharaan. sesuatu yang sering sulit bagi seorang pecandu. dan bersalah. Kemudian. kesediaan diperlukan untuk menyiapkan diri sebelum membuat perbaikan langsung. malu. Setelah itu. Bayangkan. Ada tiga tugas utama yang diminta disini: membuat daftar (berbeda dengan daftar pada Langkah Empat). Kesediaan juga memudahkan pecandu untuk mulai belajar memaafkan. dimana tindakan yang sebenarnya akan dilakukan.

membuatnya mudah untuk dibimbing dan diajak bakerjasama. Sekali lagi perlu dicatat. Mereka yang telah mencapai tahap ini biasanya akan lebih pro-aktif dan mempunyai tingkat kesediaan yang tinggi untuk menjalani program. Konselor dapat membantu pecandu dalam proses analisa diri yang diminta dalam langkah ini." Langkah Kesebelas berfungsi sebagai jembatan menuju Higher Power sebagai sumber kekuatan. program 12 Langkah bukanlah program keagamaan. Di Langkah Kesepuluh pecandu diminta untuk terus-menerus mengawasi dirinya sendiri. sebelas dan duabelas adalah langkah-langkah khusus untuk tujuan itu. sesuatu hal yang baru akan dapat dipelajari. Program 12 Langkah adalah program spiritual khusus bagi mereka yang mempunyai penyakit adiksi. Tetapi yang dianjurkan adalah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA yang kuat telah semakin diperkokoh. dan dengan jujur mengakui apabila berbuat kesalahan atau berperilaku seperti pola lama ketika masih aktif dalam kecanduannya. dan dalam proses pembelajaran ini peran konselor menjadi sangat penting. masa lalu yang buruk telah dengan jujur di ditelusuri dan dibersihkan. dan untuk terus berhubungan melalui doa dengannya. menunjukkan bahwa keduanya adalah praktek yang lazim digunakan dalam Langkah Sebelas untuk berhubungan dengan Higher Power. Artinya. Dari setiap hasil dari pengawasan atau inventarisasi yang secara rutin dilakukan. Pada tahap ini jugalah seringkali banyak perubahan kepribadian yang bisa disaksikan dengan nyata. tidak ada anjuran untuk menjadi pemeluk agama tertentu untuk bisa menjalani 12 Langkah. dan kerusakankerusakan baik pada diri sendiri atau yang berhubungan dengan orang lain telah diperbaiki. dan bagaimana memastikan bahwa kekuatan itu terus ada dengan membina hubungan yang terus menerus juga dengan Higher Power itu. lalu bagaimana mempertahankan semua pencapaian ini? Langkah-langkah sepuluh. meyakini akan adanya kekuatan lain selain diri sendiri yang dapat membantu. Di Langkah ini meditasi dan doa dianjurkan untuk terus dilakukan dan disebutkan secara bersamaan. memonitor kehidupannya sehari-hari. apapun bentuk dari sumber kekuatan tersebut. berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya. Langkah Sebelas "Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita mamahamiNya. dan harus bisa mengakomodasi kepentingan dari semua pecandu dari 66 .

dalam pedoman ini pelayanan penunjang akan difokuskan pada pemeriksaan laboratorium. begitu jugalah para anggota program 12 langkah diminta untuk dengan murah hati berbagi mengenai cerita kehidupannya dalam pemulihan dengan pecandu yang masih menderita. Dan satu-satunya cara untuk meredam adiksi ini agar tidak kambuh atau relapse adalah dengan membina pertumbuhan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. jenis pemeriksaan yang dilakukan 67 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA latarbelakang kelompok apapun. Langkah Dua belas "Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkahlangkah ini. yaitu adiksi. "Pencerahan Spiritual" yang dimaksud adalah perubahan yang menyeluruh dalam jiwa pecandu sehingga ia mencapai keterbukaan. pecandu akan diminta untuk menyampaikan anugerah yang sudah didapatnya ini kepada pecandu lain yang masih menderita. Penekanan ataa pentingnya berdoa adalan Bagian yang cukup sentral dari program 12 Langkah. Pada tahap ini perubahan terjadi pada semua level. Berdasarkan kejadian pertama ketika Bill Wilson berbagi kepada Dr. hasil dari kerja keras seorang pecandu mempelajari dan mengamalkan kesebelas langkah sebelumnya akhirnya dapat diraih. dan emosional. Kemudian. Dengan menerapkan apa yang disarankan oleh metode 12 Langkah. baik spiritual. tetapi inilah tulang punggung dari program 12 Langkah. mental. keyakinan.  Layanan laboratorium terdiri dari pemeriksaan patologi klinik dan laboratorium pemeriksaan NAPZA  Untuk laboratorium patologi klinik yang diperlukan adalah pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan kimia darah  Untuk pemeriksaan NAPZA. dan kepercayaan yang begitu dalam terhadap Tuhan dalam bentuk yang dipercayainya. yaitu seorang pecandu hanya bisa tetap menyimpan kekuatan yang ia miliki untuk bertahan bersih apabila ia membagikannya pada orang lain. 7. yang berarti ia sudah memahami bahwa dalam dirinya ini ada suatu kondisi yang tidak terelakkan dan tidak akan hilang. Bob mengenai alkoholismenya dan setelah itu keinginan untuk minum sirna. Dan ini bukan saja baik bagi pendengar atau pendatang baru. karena dengan berdoa artinya pecandu menjangkau kekuatan yang ada di luar dirinya. Layanan Penunjang. seorang pecandu memastikan pertumbuhan spiritual dalam hidupnya tetap terjaga.kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam segala hal yang kita lakukan." Pada Langkah ini.

Bangunan  Untuk pemeriksaan NAPZA tata ruang laboratorium harus mempunyai tata ruang yang baik dan sesuai dengan alur pelayanan. Peralatan:  Peralatan harus sesuai untuk pemeriksaan NAPZA dan mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan fasilitas seperti luas ruangan.04/Menkes/SK/l/2002  Persyaratan lain yang perlu diperhatikan: ruangan yang mudah dibersihkan. alkali dan larutan organik. minimal seorang Sarjana Kedokteran. c. serta tingkat kelembaban. Beberapa persyaratan yang mesti diperhatikan adalah : a. ii. gang dan lantai harus bersih b. permukaan meja pemeriksaan tidak tembus air. Untuk pemeriksaan HIV/AIDS harus memenuhi standar Kementerian Kesehatan sebsgai Laboratorium pratama atau utama sbb. mendapatkan cahaya sinar matahari dalam jumlah yang cukup  Persayaratan bangunan mengacu Keputusan Menteri Kesehatan Rl No. koridor. Tenaga Teknis.  Persyaratan minimal dapat dilihat pada daftar persyaratan minimal layanan penunjang. tahan asam.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  dapat dilihat pada daftar persyaratan minimal layanan penunjang. 2 orang tenaga analis dimana 1 orang lainnya dapat diganti dengan tenaga Asisten Apoteker atau Analis Kimia. Penanggung jawab. Apoteker atau Sarjana Kimia/Biokimia dan mempunyai pengalaman 3 tahun dl laboratorium (Untuk penanggung jawab pemeriksaan HIV/AIDS dlsarankan konsultasi dengan dokter umum terlatih atau Spesialis Patologi Klinik). Tenaga:  Tenaga untuk laboratorium pemeriksaan NAPZA harus mempunyai persyaratan tenaga teknis minimal sesuai untuk persyaratan laboratorium NAPZA seperti: i. fasilitas listrik dan air yang ada. Sarjana Farmasi. 68 .

Layanan Outreach/Komunitas a. Penanggung Jawab Teknis: Sarjana Kedokteran. Sarjana Farmasi. Ruang Lingkup Kegiatan Penjangkauan dan Pendampingan adalah pendukung dari program penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA berbasis Rumah Sakit Jiwa yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat. atau Sarjana Kimia/Biokimia 2. Populasi ini sulit dijangkau dengan metode yang lebih formal karena stigma dan diskriminasi yang sangat kuat di dalam masyarakat terhadap status penggunaan NAPZAnya. Proses penjangkauan dan pendampingan memberi peluang bagi para pengguna NAPZA untuk dapat mengakses berbagai layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Tenaga Administrasi Lulusan SMU atau sederajat 8. Dalam proses penjangkauan dan pendampingan para pekerja lapangan melakukan proses identifikasi lokasi yang biasa menjadi tempat para pengguna NAPZA berkumpul atau tempat yang memungkinkan untuk melakukan interaksi langsung. ataupun lembaga swadaya masyarakat. Apoteker. seperti: mendapatkan layanan informasi terkait NAPZA. tes HIV dan konseling. layanan manajemen kasus untuk pengguna NAPZA yang membutuhkan. risiko penggunaan NAPZA. Program Penjangkauan dan Pendampingan (outreach) adalah proses penjangkauan langsung yang dilakukan secara aktif kepada pada pengguna NAPZA baik secara kelompok maupun individu.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Jumlah Kebutuhan No. Jenis Tenaga Pratama Utama (Skrining) (Konfirmasi) 1. Tenaga Teknis Analis Perawat 3. akses terhadap material pencegahan (termasuk jarum suntik untuk pengguna NAPZA suntik) dan layanan 69 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 . layanan kesehatan dasar yang tersedia.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA lainnya yang memungkinkan. Memberikan informasi yang memadai mengenai bahaya penggunaan NAPZA dan dampak buruk penggunaan NAPZA sehingga menimbulkan kesadaran pengguna NAPZA untuk menghentikan penggunaan. sehingga ikut terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penggunaan NAPZA pada umumnya. Pecandu NAPZA menjadi sasaran utama (primer) sedangkan pengguna NAPZA yang lain dan kelompok rentan menjadi sasaran sekunder. Pelaksana 70 . Sasaran Sasaran program penjangkauan dan pendampingan adalah semua pengguna NAPZA yang ada di komunitas. orang kunci dan teman-temannya menjadi sasaran tersier. para pengguna NAPZA sampai ke mereka yang termasuk dalam kelompok yang rentan untuk mencoba menggunakan NAPZA. titik tertentu di tempattempat keramaian (pasar. Tujuan   Membuka akses sebesar mungkin bagi pengguna NAPZA yang berada di komunitas. Selain itu masyarakat di sekitar pengguna NAPZA baik keluarga. taman-taman. 4. dan tempat-tempat lainnya. mulai dari pecandu NAPZA. Memberikan dukungan secara terus menerus pada pengguna NAPZA untuk mempertahankan perubahan perilaku lebih aman yang mungkin terjadi Melibatkan pengguna NAPZA agar secara aktif melakukan penyebaran informasi dan membentuk kepedulian sesama. lokasi tertentu di wilayah perumahan. b. mall. Dengan demikian proses penjangkauan dan pendampingan dilakukan di berbagai lokasi yang biasa menjadi tempat para pengguna NAPZA berkumpul atau beraktivitas dalam keseharian.    c. atau mengurangi risiko terhadap dampak buruk yang mungkin muncul bagi yang maaih belum dapat berhenti Memotivasi dan melibatkan pengguna NAPZA untuk menghentikan pemakaian atau mengurangl risiko perilaku penggunaan NAPZA suntik melalui berbagai upaya yang memungkinkan untuk dicoba. Tempat ini dapat berupa tempat orang muda berkumpul. pinggir jalan).

atau kondisi penyakit tertentu yang bukan merupakan akibat gangguan penggunaan NAPZA akan tetapi dapat memperparah kondisi pasien tersebut apabila tidak diberikan pengobatan secara komprehensif. Orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK) Prinsip-Prinsip Umum Perawatan Pasien Gangguan Penggunaan Napza Dengan Masalah Medik a. Sedangkan koordinator penjangkauan berperan dalam memberikan dukungan dan pemantauan terhadap proses penjangkauan dan pendampingan di lapangan sehingga searah dengan tujuan program yang dikembangkan. Kondisi gangguan kesehatan secara fisik/medik seringkali ditemukan pada pasien Gangguan penggunaan NAPZA. VI. termasuk kelompok swadaya masyarakat. Tim penjangkauan dan pendampingan. Remaja dan anak-anak c. Wanita hamil b. Orang dengan penyakit infeksi termasuk HIV/AIDS (ODHA) d. .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Kegiatan penjangkauan dan pendampingan dapat diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah. untuk itu terapis harus memberikan pengobatan khususnya untuk detoksifikasi yang tidak menyebabkan kondisi medis pasien semakin 71 . dll) Pelaksana program penjangkauan dan pendampingan adalah sebuah tim yang terdiri dari petugas lapangan dan koordinator penjangkauan. Kondisi khusus yang akan dibahas dalam pedoman ini sebagai berikut: a. Petugas lapangan bisa yang mempunyai latar belakang mantan pengguna NAPZA atau individu yang mempunyai kemampuan dan kesediaan untuk masuk dalam komunitas pengguna NAPZA. sebelum melaksanakan program sudah mendapatkan pelatihan khusus mengenai penjangkauan dan pendampingan. PENGEMBANGAN PROGRAM TERAPI DAN REHABILITASI GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA PADA KONDISI KHUSUS Ruang Lingkup Yang dimaksud dengan kondisi khusus adalah suatu kondisi yang terkait dengan masalah fisik maupun psikologis sebagai akibat dari gangguan penggunaan NAPZA. Lembaga tersebut seperti:  institusi/lembaga kesehatan  LSM atau organisasi kemasyarakatan  Institusi/lembaga non pemerintah  Kelompok masyarakat (karang taruna. kelompok pemuda.

Ahli Penyakit Jantung. Neuorolog. Klinikus harus selalu ingat untuk melakukan konsultasi dengan dokter-dokter spesialis lain seperti Ahli Penyakit Dalam. ruang dokter) d. Ketika ditemukan adanya gejala dan tanda yang mencurigakan petugas harus mengetahui kemana harus merujuk (misalnya ke ruang emerjensi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA memburuk b. setiap staf harus siap untuk membantu pasien mengatasi gangguan medis maupun gangguan psikiatrik dan melakukan evaluasi terhadap penyakit-penyakit kronis lainnya yang dapat ditimbulkan oleh Gangguan penggunaan NAPZA Dampak Dan Perhatian Pada Kondisi Khusus 1. Ahli Bedah dan lain-lain f. Wanita hamil   NAPZA pada wanita hamil sudah diketahui akan memberikan efek samping terhadap bayi dalam kandungan Deteksi dan intervensi dini pada wanita hamil yang menggunakan NAPZA akan memberikan hasil yang efektif untuk mengurangi efek samping NAPZA terhadap janin Dilakukan asesmen yang bertujuan untuk:  menentukan jumlah dan frekuensi penggunaan NAPZA sejak pasien mendapatkan menstruasi yang terakhir  menentukan tindakan apabila penggunaan NAPZA masih berlangsung  kajian terhadap kemungkinan efek samping yang ditimbulkan oleh NAPZA yang digunakan  memberikan informasi aktual efek dari NAPZA yang digunakan selama kehamilan  melakukan eksplorasi dari pilihan terapi yang akan diberikan sesuai dengan umur kehamilan dan kondisi pasien Efek yang dapat diberikan selama kehamilan atau saat menyusui pada beberapa jenis NAPZA diterangkan sebagai berikut: 1. kelahiran   72 . alat kesehatan untuk pemeriksaan tanda-tanda vital dan pertolongan hidup dasar e. Petugas di ruangan harus dapat mengenali adanya gejala-gejala penyakit tertentu yang sangat mungkin tidak merupakan bagian dari kondisi intoksikasi atau putus NAPZA c. Staf medis harus menyadari akibat dari Gangguan penggunaan NAPZA akan mempengaruhi keseluruhan kondisi kesehatan pasien. Alkohol efek pre natal antara lain : meningkatkan risiko abortus spontan. Ahli Penyakit Kandungan. Setiap setting untuk perawatan pasien Gangguan penggunaan NAPZA sebaiknya dilengkapi dengan peralatan dan obat-obatan untuk kondisi emerjensi seperti tabung oksgen.

adanya anomali pada struktur dan fungsi otak yang dalam perkembangannya akan memperlambat perkembangan kemampuan bayi adanya defek/kelainan pada jantung. namun belum ada data yang jelas mengenai hal ini - 2. hepatitis B dan C efek pada bayi : Neonatal Abstinence Syndrome. bulan kehamilan. jumlah dan pola penggunaan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA prematur. berat badan dan ukuran lingkar kepala bayi kurang dari normal. kelahiran prematur. pendarahan sebelum kelahiran. Bila ibu menyusui sebaiknya diperbolehkan apabila dosis metadon sudah rendah - - 3. meningkatnya risiko tertular HIV/AIDS. kematian bayi di dalam kandungan. meningkatnya risiko Suden Infant Death Syndrome ( SIDS ) terapi paling aman dengan metadon yang dosisnya diturunkan perlahan sampai dosis rendah. hipertensi pada ibu. foetal distress. Pasien dengan Penyakit Infeksi dan HIV/AIDS  Data menunjukkan bahwa infeksi Hepatitis C dan HIV/AIDS merupakan kasus yang sangat tinggi diantara pasien dengan Gangguan penggunaan NAPZA 73 . wajah dan bibir (sumbing). meningkatkan plasenta yang tak sempurna efek terhadap janin : berat badan bayi dan ukuran lingkar kepala kurang dari normal. kondisi kesehatan umum pasien Foetal Alcohol Syndrome (FAS) . berat dan ukuran bayi kurang dari normal efek terhadap janin : tergantung dari jumlah alkohol yang diminum. Psikostimulan (Amfetamin-Kokain) efek psikostimulan pada kehamilan tergantung pada saat umur kehamilan. efek yang berat adalah kematian atau kerusakan pada perkembangan otak dan kranium tidak direkomendasikan untuk menyusui apabila ibu masih minum minuman beralkohol 2. kelahiran prematur efek pada janin . meningkatnya risiko kelainan kongenital efek pada bayi kemungkinan akan menimbulkan gangguan pada perilaku. perbedaan metabolisms efek prenatal . meningkatkan risiko keguguran. Heroin efek pre-natal yang ditimbulkan berupa kelahiran prematur. gambaran klinis menunjukkan adanya pertumbuhan yang lambat dari berat dan ukuran bayi. foetal distress/ ada meconium. perdarahan plasenta mendadak.

meskipun pertukaran barang tersebut tidak terjadi. Hepatitis C :       Paling banyak ditemukan pada pengguna NAPZA suntik.Ophtalmitis . Terapi kombinasi antara interferon dan Ribavirin memberikan respons yang baik kepada banyak pasien. peminum alkohol.Tetanus Beberapa penyakit yang ditularkan melalui darah khususnya penyakit yang disebabkan virus: Hepatitis C. yaitu sekitar 90% dalam dekade terakhir penularan paling tinggi melalui pertukaran jarum suntik dan alat-alat menyuntik lainnya serta jarang sekali karena hubungan seksual infeksi vertikal dari ibu yang HCV-RNA positif kepada anak saat melahirkan berkisar 5-8% Tidak ada data tentang penularan melalui ASI Tes untuk HCV . yang terbanyak adalah infeksi pada katup Trikuspidal. laki-laki.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA khususnya pada pengguna NAPZA suntik  Penelitian terakhir menunjukkan semua peralatan pribadi yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA suntik mempunyai potensi untuk menularkan penyakitpenyakit infeksi melalui darah. Kombinasi terapi ini merupakan kontra indikasi untuk pasien dengan    74 .Bakteriaemia . Pada pasien dengan Sirosis hepatis mempunyai risiko kanker hati sebesar 4% setiap tahunnya dan sebagian besar pasien terinfeksi HCV bukan mati karena komplikasi HCVnya Pemberian terapi dengan antiviral (Interferon) sebagai monoterapi tidak selalu memberikan hasil seperti yang diharapkan.B dan D.Endocarditis.Ab baru terlihat positif setelah 15-30 minggu terpapar sedangkan HCV-RNA terdeteksi setelah 2-3 minggu terpapar virus Beberapa kondisi alamiah pada infeksi HCV adalah : sampai 30% pasien akan bersih dari virus dalam 12 bulan (abortif).Tuberkulosis . bertambahnya usia. Subacute Bacterial Endocarditis (SBE) pada ventrikel kiri sering terjadi pada pengguna NAPZA suntik akibat infeksi bakteri stafllokokus . tetapi kebersihan alat-alat dan indlvidu tidak terjaga sehingga dapat tertular bakteri dan jamur Masalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA suntik adalah: . 10-15% akan menjadi infeksi yang kronis dan 20-30 tahun kemudian akan menderita Sirosis hepatis dan risiko akan meningkat pada pasien usia tua ketika terinfeksi. HIV a.

tiroiditis karena akan mempengaruhi autoimun pada pasien  Monitoring harus dilakukan kepada pasien karena bila timbul efek samping atau karena perkembangan penyakitnya. kriptokokus dan Candida akan mernperparah kondisi infeksi lainnya seperti Hepatitis C       75 . terapi harus ditinjau ulang atau bahkan dihentikan. pertimbangkan pemberian imunisasi HBV dan HAV meskipun hasilnya belum pasti Pencegahan yang terpenting adalah menghentikan penggunaan jarum suntik dan pengobatan diubah dengan memberikan substitusi oral khususnya Program Rumatan Metadon Penerapan Universal Precaution sangat diharuskan   b. pneumonia. Monitor yang harus dilakukan adalah : tes fungsi hati setiap 6 bulan. Setiap pengguna NAPZA suntik. badan meriang) dan menghilang setelah 1 bulan perlu pengulangan dan konsultasi kepada ahli tentang HIV untuk menentukan saat tes (merujuk pada buku Pedoman VCT P2M-Kementerian Kesehatan). infeksi lain yang terjadi pada HIV/AIDS seperti tuberkulosis. Infeksi HIV/AIDS  angka penularan HIV pada pengguna NAPZA suntik di Indonesia sudah memprihatinkan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA gangguan jantung koroner. diperkirakan saat ini sudah mencapai angka 60% dan merupakan angka tertinggi dari cara penularan HIV lainnya tes serologis HIV biru dapat memberikan hasil positif 3 minggu setelah saat masuk virus ke dalam tubuh sedangkan HIV-DNA baru bisa terdeteksi setelah beberapa hari timbulnya gejala masa inkubasi (perasaan lelah seperti orang flu. umumnya yang menjadi masalah adalah infeksi oportunistik yang berarti sudah masuk dalam stadium AIDS pencegahan penularan dengan program pengurangan dampak buruk atau Harm Reduction merupakan pilihan yang utama. pemeriksaan HCV-RNA ulang bila ada perubahan fungsi 'hati. SEE. Informasi terhadap pasien dan pasangannya secara menyeluruh sangatlah penting untuk menurunkan angka penularan dan kondisi yang memburuk pengguna NAPZA suntik yang masih aktif sebaiknya jangan menyangkal tentang kemungkinan tertular HIV dan mau datang berobat untuk mencegah berbagai infeksi lain. monitor fetoprotein setiap 6 bulan pada pasien sirosis. meskipun sudah tidak menggunakan NAPZA suntik lagi sebaiknya dilakukan tes HIV melalui pre dan posttestand Counselling (VCT) pengobatan HIV sangat tergantung dengan tahapannya.

tetapi hasil yang baik akan diperoleh dengan terapi yang terintegrasi dan komprehensif label 1: Gangguan jiwa yang paling sering terkait dengan penggunaan Napza Jenis Napza CNS Depresan Opioida SedatifHipnotik SolvenInhalansia Alkohol CNS Stimulant Amfetamin Kafein Kokain Nikotin Halusinogen X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Ggn. Delirium Cemas Mood Ggn.Seksual Ggn. Pasien dengan Gangguan Jiwa /Psikiatris    Kasus ini cukup banyak di lapangan.Kementerian Kesehatan 3. Ggn. Tidur   76 . Ggn. Support and Treatment (CST) untuk pasien HIV/AIDS perlu ada pelatihan khusus sesuai buku pedoman VCT dan Pedoman Terapi Anti Retro Viral (ARV) P2M . mencapai 10-30% dari populasi Gangguan penggunaan NAPZA Kelainan yang ada sangat bervariasi Bilamana dalam satu periode tertentu dltemukan adanya gangguan psikiatri lain pada pasien Gangguan penggunaan NAPZA balk itu sebagai akibat penggunaan NAPZA maupun sebagai penyakit yang mendasari disebut sebagai KOMORBIDITAS Komorbiditas sangat berhubungan dengan hasil terapi yang tidak optimal dan angka relapse yang cukup tinggi Pengobatan seringkali melibatkan layanan yang lain. Amnestik Ggn. Psikotik Fs.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Untuk program Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan Care.

Gangguan bipolar juga cukup banyak dan relapse seringkali terjadi pada saat Episode manik  Alkohol dan Psikosis   Masalah penggunaan alkohol sangat terkait dengan meningkatnya risiko terjadinya halusinasi dan waham sebagai gejala psikotik. Kanabis dapat menginduksi terjadinya episode psikotik setelah beberapa hari gejala intoksikasi menurun Kanabis dapat mempresipitasl/memicu gangguan Skizofrenia pada individu yang mempunyai faktor predisposisi gangguan ini  Opioida dan gangguan kesehatan jiwa  Laju gangguan jiwa pada pengguna opioida sangat tinggi. meningkatnya problem medik dan gangguan perllaku  Kanabis/Ganja dan Psikosis    Pengalaman yang paling sering pada pengguna kanabis adalah gejala psikotik ringan seperti Paranoia. dan gangguan cemas juga dapat timbul sebagai bagian dari sindroma penggunaan alkoholGangguan panik dan fobia sosial merupakan gangguan yang paling sering pada pasien Ketergantungan alkohol Menurunkan jumlah penggunaan alkohol akan mengoptimalkan pengobatan   77 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KOMORBIDITAS DARI PERSPEKTIF PENGGUNAAN NAPZA  Alkohol dan Gangguan Mood  Seringkali berhubungan dengan gejala gangguan depresi. Depresi biasanya timbul setelah beberapa minggu abstinen/berhenti dari alkohol. fobia sosial dan gangguan cemas lain  Stimulan dan gangguan kesehatan jiwa   Kondisi intoksikasi stimulan akan menimbulkan beberapa gejala psikotik. khususnya terkait dengan gangguan depresi. Penggunaan alkohol diantara penderita Skizofrenia memberikan kontribusi dalam ketidakpatuhan dalam pengobatan. meningkatkan gejala-gejala. beberapa hari sampai beberapa minggu setelah periode intoksikasi Kadangkala kondisi menyerupai Skizofrenia kronik dapat timbul setelah penggunaan amfetamin kronik yang berat KOMORBIDITAS DARI PERSPEKTIF KESEHATAN JIWA  Gangguan cemas dan penggunaan NAPZA  Individu dengan penggunaan alkohol akan mempunyai risiko tinggi untuk menderita gangguan cemas.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Gangguan cemas pasien  Pertimbangkan penyalahgunaan benzodiazepin pada pengobatan gangguan cemas. pemulihan penggunaan NAPZA akan berjalan dengan lambat dan relapse tinggi Penggunaan alkohol dan kanabis dengan gangguan psikotik kronis tiga sampai lima kaii lebih besar kemungkinannya menjadi Ketergantungan NAPZA Kanabis akan menginduksi gejala psikotik akut bila digunakan dalam dosis tinggi tetapi tidak menimbulkan gangguan psikotik kronis. apabila: o gejala-gejala masih menetap meskipun sudah dalam pengobatan o pasien menolak untuk mendapatkan intervensi dan terapi o tetap menggunakan benzodiazepin untuk mengatasi setiap situasi yang memprovokasi timbulnya Gangguan cemas  Gangguan kepribadian dan penggunaan NAPZA   Gangguan kepribadian yang paling banyak berkaitan adalah Gangguan kepribadian antisosial gangguan kepribadian lain yang banyak terkait antara lain : Histrionik. pasien maupun pengunjung 78 . psikosis yang memburuk. diperlukan penatalaksanaan yang asertif dan sukarela o Prinsip-prinsip Perawatan 1. Menghindar. Keamanan baik bag! petugas. dan Obsessif kompulsif  Gangguan psikotik dan penggunaan NAPZA  Pasien dengan gangguan psikotik akan meningkatkan tindak kekerasan. Narsisistik. Ambang. tetapi zat tersebut akan mengeksaserbasi gejala-gejala psikotik yang ada     Bunuh diri dengan penggunaan NAPZA   Bunuh diri lebih disebabkan karena kondisi penggunan NAPZA yang memburuk dan tidak menemukan jalan keluar untuk abstinen Memburuknya mood akibat psikosis yang diderita pasien PENATALAKSANAAN :  Pendekatan terintegrasi dalam suatu layanan yang dilakukan oleh terapis yang mempunyai ketrampilan dan pengetahuan pada ke dua area (gangguan penggunaan NAPZA dan gangguan jiwa) akan lebih efektif dan dapat diterima  Tidak ada pendekatan konfrontatif. tidak memiliki rumah (tunawisma). Kanabis dapat menjadi faktor presipitasi pada individu yang mempunyai kerentanan untuk psikotik dan akan mengeksaserbasi gejala-gejala psikotik yang sudah ada Stimulan dan halusinogen lebih disukai pasien gangguan psikotik.

Stabilisasi. sangat penting dan dilakukan selama dalam perawatan 4. Pengobatan yang terintegrasi. apakah gejala-gejala psikotik timbul selama beberapa waktu setelah periode abstinen? Observasi kondisi jiwa sebagai efek setelah melewati fase intoksikasi Bilamana gejala gangguan jiwa akibat diinduksi NAPZA. akan hilang dengan sendirinya 3. mana yang lebih dahulu timbul?. Melakukan skrining untuk ke dua bidang gangguan 2. untuk pasien dengan kondisi intoksikasi. Pengobatan  bangun motivasi untuk berubah. putus NAPZA.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. melibatkan terapis yang mempunyai ketrampilan dalam bidang kesehatan jiwa dan Gangguan penggunaan NAPZA o Asesmen dan Penatalaksanaan 1. umumnya diinisiasi oleh tim kesehatan jiwa tetapi membutuhkan koordinasi dan kesinambungan perawatan selanjutnya 5. krisis psikososial. gejala-gejala psikotik. Libatkan untuk pengobatan jangka panjang  Penting tetapi tidak mudah. Misalnya : pasieh dengan Skizofrenia yang tidak terkontrol akan sulit untuk merubah kehidupan mereka dan bebas dari penggunaan NAPZA Motivational Enhancement (dimodifikasi untuk pendekatan pasien gangguan psikotik) Terapkan strategi minimalisasi dampak buruk (Harm Minimisation) Gunakan tujuan jangka panjang    5. Kajian :      Diperolah melalui asesmen yang seksama Penatalaksanaan gejala putus NAPZA dan asesmen ulang bila diperlukan Tinjauan ulang diperlukan dalam Waktu tertentu Tanyakan. Adanya kedua gangguan (komorbiditas)   Bila gangguan kesehatan jiwa membaik. gejala-gejala kecemasan atau depresi berat 3. Kekambuhan penggunaan NAPZA dan gangguan jiwa sangat sering 4. antidepresan trisiklik (Amitriptilin) dan penggunaan alkohol sebaiknya dihindari. misalnya . Asesemen komprehensif. Perhatikan interaksi obat yang 79 . maka Gangguan penggunaan NAPZA akan berkurang Pemberian farmakoterapi untuk kedua kondisi tergantung dari jenis NAPZA yang digunakan. tujuan dan hasil pengobatan harus bersifat realistik. Manajemen kasus klinis.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA diberikan dengan NAPZA yang digunakan. Klobazam. Saat ini sudah banyak tenaga yang dilatih di bidang gangguan penggunaan NAPZA akan tetapi banyak yang pada akhirnya kurang dapat menerapkan ilmu yang sudah dipelajarinya. PENUTUP Telah diuraikan berbagai hal yang perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dalam memberikan terapi dan rehabilitasi secara komprehensif untuk pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA. Psikofarmakoterapi   Pemberian antidepresan golongan Trisklik dan SSRI dapat dipertimbangkan bila gejala depresi cukup signifikan Ansiolitik golongan benzodizepin (Diazepam. Alprazolam.  VII. Beberapa hal yang dianggap penting dan menjadi topik bahasan dalam pedoman ini antara lain:      Manajemen dari program terapi dan rehabilitasi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA Pemgalaman dari beberapa rumah sakit yang telah menjalankan program terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA Berbagai modalitas terapi dan rehabilitasi yang dapat diterapkan sesuai dengan sarana dan prasarana yang tersedia Pengembangan jejaring dengan institusi pemerintah maupun LSM Berbagai kondisi medik maupun psikiatrik yang terkait dengan masalah gangguan penggunaan NAPZA serta tatalaksananya Sumber daya manusia yang tertarik dan bersedia untuk menjadi bagian dari program terapi gangguan penggunaan NAPZA yang komprehensif merupakan titik krusial yang harus diantisipasi dalam operasional layanan gangguan penggunaan NAPZA. benzodiazepin 6. Untuk itu pihak manajemen harus dapat membuat suatu terobosan agar sumber daya manusia yang tersedia di pusat layanan kesehatan khususnya RSU dan RSJ bersedia untuk melaksanakan program terapi dan rehabilitasi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA Kondisi lain yang harus diperhatikan adalah kompleksitas dari pasien dengan gangguan penggunaan 80 . Lorazepam) untuk jangka pendek dapat diberikan khusushya pada awal kondisi akut Kombinasi antara antipsikotik tipikal (generasi baru) maupun atipikal dengan ansiolitik maupun antidepresan dapat diberikan untuk jangka panjang apabila gangguan jiwa pasca intoksikasi maupun putus zat masih menetap.  Umumnya penggunaan psikofarmaka seperti antidepresan kurang efektif bila pasien masih tetap menggunakan NAPZA seperti alkohol. Untuk membuat suatu terapi yang komprehensif memerlukan suatu komitmen yang tinggi dan harus didukung oleh berbagai profesi yang rnempunyai integritas yang tinggi.

Masa yang akan datang setiap layanan kesehatan khususnya RSU dan RSJ diharapkan sudah dapat memberikan layanan untuk pasien gangguan panggunaan NAPZA baik minimal maupun yang komprehensif. Satu model terapi belum tentu efektif untuk setiap orang sehingga setiap institusi kesehatan perlu menyediakan berbagai model layanan terapi dan rehabilitasi pasien gangguan penggunaan NAPZA agar dapat memberikan terapi secara optimal. Kepedulian keluarga dan petugas kesehatan merupakan suatu bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh pasien pengguna NAPZA. Bagaimanapun pengguna NAPZA adalah bagian dari masyarakat kita yang harus dibantu. kelompok pengguna maupun dampak yang ditimbulkan. Apabila tidak memungkinkan perlu adanya pembuatan dan perluasan jejaring dengan berbagai fasilitas layanan lain yang lebih lengkap.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NAPZA. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada kita semua bagaimana masalah gangguan penggunaan NAPZA merupakan hal yang harus menjadi perhatian kita semua agar anak bangsa di masa datang mempunyai kualitas yang lebih baik dan tidak terjadi suatu Lost Generation 81 . Masalah penggunaan NAPZA berkembang dari waktu ke waktu baik itu jenis NAPZA. Kondisi yang saat ini kita hadapi adalah penularan berbagai penyakit infeksi khususnya HIV/AIDS dan gangguan jiwa/psikiatris baik sebagai komplikasi maupun kondisi yang memperberat gangguan psikiatris yang sudah ada sebelumnya. apabila stigma dari lingkungan keluarga atau masyarakat terhadap mereka masih sangat tinggi maka terapi apapun tidak akan memberikan hasil yang optimal. Dengan penguatan jejaring akan mempermudah melaksanakan sistem rujukan. Pengetahuan dan ketrampilan petugas dituntut untuk selalu mempelajari hal-hal baru mengenai masalah gangguan penggunaan NAPZA agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang gangguan penggunaan NAPZA. baik itu akibat langsung dari efek NAPZA maupun lingkungan yang kurang mendukung.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DAFTAR PERSYARATAN PERALATAN LAYANAN PENUNJANG NO JEN1S PEMERIKSAAN SPESIMEN METODA LABORATORIUM PERALATAN PRATAMA UTAMA (Skrining) A Konfirmasi Narkotika 1 Heroin (Diethil morphine) Darah Yang diperiksa adalah : Urine Metabolit morphine dalam bentuk Morphine 3 D Qlucoronide dan 6 MAM 2. Canabis Yang diperiksa adalah Darah Metabolit cannabis dalam Urine bentuk 1 1 nor-9 carboxy THC (Tetrahydoccanabinol Carboksilat) 4. Cocaine Yang diperiksa adalah Metabolit cocaine dalam Immunoassay Kromatografi + + Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa + + + + 82 . Morphine Yang diperiksa adalah Darah Metabolit morphine dalam Urine bentuk 3 B morphineQlucoronide Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KIT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Immunoassay Kromatografi + + 3.

Dll Darah Urine Immunoassay Kromatografi + + B PSIKOTROPIKA 1. Yang diperiksa adalah Metabolit MDMA dalam bentuk HMA (4 hidroksi 3 metoxi Metamphetamine) Darah Urine Immunoassay Kromatografi + + Darah Urine Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau + + + + + + + + 3.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Bentuk Benzoylecgonine KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + + + + + 5. Yang diperiksa adalah Metabolit MDMA dalam bentuk HMMA (4 hidroksi 3 metoxi Metamphetamine) b. Derivat Amphetamine a. MDMA (3.4 metilin dioksi Methamphetamine atau Ektasi). Codein 6. Amphetamine Yang diperiksa adalah : Metabolit amphetamine dalam bentuk amphetamine Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KIT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + 2. MDMA (3.4 metilin dioksi Methamphetamine atau Ektasi). Methamphetamine Darah Methamphetamine dalam Urine bentuk + + + + + + + 2 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS 4. Carboksilat Darah Urine + + + + + + + + Darah Urine + + + + + + + + ZATADIKTIFLAINNYA 1.Des Metyl Diazepam/Temazep am/Nordizepam/Oxa zepam b. Benzodiazepin a. AIkohol 2. Klor Diazepoksid Darah Yang diperiksa adalah Urine Metabolite Klor Diazepoksid dalam bentuk 4 Hydroksinordiazepa m/Oxazepam + + + + + + + + 5. Diazepam yang diperiksa adalah : metabolit diazepam dalam bentuk M. Nitrazepam Yang diperiksa adalah Metabolit Nitrazepam dalam bentuk 7 onimo Nitrazepam Darah Urine Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-ViS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eterUV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KIT KIT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Tes Warna Mikrodifusi Kromatografi Peralatan gelas Cawan + + + + + + + + + Darah Urine + + + + + + + + c. Phenobarbital Yang diperiksa adalah Metabolite Phenobarbital dalam bentuk Phydroksyphenobarbital b. Thipental Yang diperiksa adalah : Metabolit thipental dalam bentuk as. Metanol + + + + + 3 . Barbital a.

3. Skrining : adalah pemeriksaan laboratorium sebagai upaya mengetahui adanya jenis obat yang menimbulkan afek toksis atau efek yang tidak diinginkan yang dilakukan secara cepat.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Spektrofotometri conway + KIT manual + KLT Scanner + HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Ket: 1. Etanol 4 . Konfirmasi: adalah pemeriksaan laboratorium lanjutan sebagai upaya untuk menegaskan hasil yang positif dari pemeriksaan pendahuluan yang dilaksanakan lebih akurat. 2.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 6 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 7 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 8 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 9 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 10 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 11 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

12

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

13

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

14

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful