kKEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010 TENTANG

PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT

DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN MEDIK KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MENKES/SK/III/2010 TENTANG PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

:

a.

bahwa gangguan penggunaan NAPZA merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan penanggulangan yang terpadu dari semua pihak yang terkait; bahwa rumah sakit memiliki peran yang penting dalam memberikan terapi dan rehabilitasi pada gangguan penggunaan NAPZA; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit; Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nation Convention Againts Illicit Trafic in Narcotic Drugs and Psycotropic Substances) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3673); Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

b. c.

Mengingat

:

1.

2.

3.

4.

1

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

5.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072); Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional; Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 996/Menkes/ SKA/lll/2002 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sarana Pelayanan Rehabilitasi Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya;

6.

7.

8. 9.

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/ XII/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/PerA/t/2009; 11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007 tentang Kebijakan dan Rencana Strategis Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psiko-tropika dan Zat Aditif Lainnya; 12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/ SK/ll/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit; 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008. tentang Rekam Medis; 14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/ III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;

MEMUTUSKAN: Menetapkan KESATU : : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF PADA GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT. Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam 2

KEDUA

:

Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pedoman ini dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. KEEMPAT : KELIMA : 3 . Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Propinsi. KETIGA : Pedoman Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Berbasis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terapi dan rahabilitasi gangguan penggunaan NAPZA di fasilitas pelayanan kesehatan. dengan melibatkan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Diktum Kesatu tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Dalam beberapa tahun terakhir hampir semua RSJ mengembangkan pelayanan NAPZA. Sebagian besar RSJ hanya menyediakan pelayanan untuk detoksifikasi saja. Pelayanan yang ditawarkan RSJ tidak memenuhi kebutuhan pasien yang mengalami Ketergantungan NAPZA. Masih terbatasnya kerjasama dengan masyarakat. Latar Belakang Untuk merespon masalah ketergantungan narkotika. yang semakin marak di Indonesia sejak tahun 80-an Kementerian Kesehatan telah menetapkan kebijakan bahwa 10% kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dialokasikan untuk pasien ketergantungan NAPZA. antara lain :  masih tingginya stigma terhadap gangguan jiwa. stimulan atau alkohol. LSM dan kelompok pengguna dimana mereka dapat berperan sebagai petugas penjangkau yang akan membawa pasien ketergantungan NAPZA berobat ke RSJ. sehingga seorang pecandu tidak mau datang berobat ke RSJ kecuali sebelumnya sudah ada gangguan jiwa yang diinduksi oleh penggunaan NAPZA seperti kanabis. Sebagian besar pasien yang dirawat tidak murni karena ketergantungan NAPZA tapi merupakan pasien dengan dual diagnosis (Gangguan jiwa dan Ketergantungan NAPZA). RSJ biasanya bekerja sendiri dan menunggu pasien secara sukarela datang.   4 . psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Dari hasil evaluasi dijumpai bahwa masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan NAPZA yang telah tersedia di RSJ. Beberapa penyebab kurangnya pemanfaatan RSJ bagi masyarakat yang ketergantungan NAPZA. Mengacu pada hal tersebut diatas maka perlu disusun pedoman penanggulang-an gangguan penggunaan NAPZA secara komprehensif yang berbasis rumah sakit. Terbatasnya jenis pelayanan dan kemampuan petugas RSJ untuk berbagai modalitas terapi. PENDAHULUAN A.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 420/MENKES/SK/III /2010 Tanggal: 31 Maret2010 PEDOMAN LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT I. misalnya pedoman dengan pendekatan therapeutic community dan pedoman terapi rumatan.

Pengurangan dampak buruk (harm reduction) pada pengguna Napza suntik 7. Melindungi hak asasi manusia dan keselamatan pasien. Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyalahgunaan NAPZA melalui upaya promotif dan preventif. Keseimbangan dan koordinasi lintas sektor. Legislasi dan peraturan perundang-undangan. 2. Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Jiwa 8. Komprehensif dan multi disiplin melalui upaya yang dilakukan sesuai dengan kondisi budaya dan sosial masyarakat setempat meliputi upaya promotif.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA B. melalui upaya: 1. petugas kesehatan rumah sakit jiwa petugas kesehatan rumah sakit umum LSM Kelompok pengguna NAPZA yang dapat berperan sebagai petugas penjangkau membawa pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA berobat ke rumah sakit D. Pelayanan terapi terintegrasi pada sistem pelayanan kesehatan yang ada. secara berjenjang dari Puskesmas. 4. termasuk dengan LSM dan swasta. perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak. 4. kuratif dan rehabilitatif. 6. Sasaran 1. 3. Pemerintah Daerah mendukung dengan menyediakan tempat dan terapi/obat gangguan penggunaan Napza yang terjangkau. Untuk memperoleh hasil yang optimal. Kebijakan Kebijakan Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Kementerian Kesehatan Rl dilaksanakan berdasarkan Kepmenkes Nomor 486/Menkes/ SK/IV/2007. Mendukung upaya pemulihan oleh masyarakat dan mantan pengguna (ex-users) 5. 2. 3. 5 . Pengembangan sistem informasi 9. Rumah Sakit Jiwa milik pemerintah menyediakan 10% dari tempat tidur untuk penderita Gangguan penggunaan NAPZA. preventif. Tujuan Umum Dan Khusus Umum: Sebagai acuan bagi petugas kesehatan dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA Khusus: Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan di rumah sakit dalam manajemen gangguan penggunaan NAPZA C.

Strategi Dan Rencana Aksi Sampai tahun 2010. keluarga. diperlukan tenaga profesional yang mengabdi di pemerintahan. BNP/BNK. Keterlibatan semua pemangku kepentingan penting dalam penyusunan program yang bisa menjawab kebutuhan nyata serta lebih jauh mereka juga dapat berperan serta dalam pembiayaan. pelatihan konselor adiksi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA E. Dinas Pendidikan. lintas sektor seperti Dinas Sosial. tidak ada perumahan dan pekerjaan bagi pasien yang telah selesai mengikuti program pemulihan. Pemberdayaan Masyarakat Strategi pencegahan penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA melalui pemberdayaan masyarakat diarahkan secara dini untuk meningkatkan keterampilan hidup (life skill) remaja serta pemberdayaan orangtua agar dapat mencegah anakanaknya dari gangguan pengunaan NAPZA. kesadaran. tokoh masyarakat. Kementerian Hukum dan HAM. instruktur motivational enhancement therapy. Peningkatan Kapasitas SDM Guna menjamin terlaksananya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA. pendamping ODHA dan lain-lain. akademis. seperti: pelatihan relapse prevention. 6 . Advokasi ini bertujuan untuk mengurangi hambatan yang mungkin terjadi seperti: ketiadaan pelayanan. informasi dan edukasi (KIE) dilakukan melalui media massa baik cetak maupun elektronik atau modalitas lain. Untuk masyarakat luas komunikasi. Sasaran dari pemberdayaan masyarakat ini dapat dilakukan melalui kelompokkelompok masyarakat yang terorganisir (seperti karang taruna pramuka. Tenaga profesional tersebut membutuhkan pelatihan-pelatihan yang didesain sesuai kebutuhan dan keterampilan khusus. instruktur Cognitive Behaviour Therapy. kepedulian dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA. tokoh agama dan lembaga donor. KPAD. Lembaga Swadaya Masyarakat. prioritas untuk penanggulangan gangguan NAPZA dilakukan melalui 6 strategi: 1. Bappeda. stigma terhadap pengguna NAPZA atau pelanggaran hak pasien. Advokasi Advokasi merupakan komponen yang penting untuk mengajak semua pemangku kepentingan (stakeholders) dapat berperan serta dalam upaya penanggulangan Gangguan penggunaan NAPZA Untuk itu Dinas Kesehatan perlu rnengidentifikasi semua stakeholders antara lain DPRD. swasta dan masyarakat. 3. media. sedangkan masyarakat yang terorganisir dapat dilakukan dengan tatap muka ataupun melakukan pelatihan untuk terbentuknya perilaku hidup sehat. organisasai agama) dan masyarakat luas dengan cara meningkatkan pengetahuan. 2.

dinas kesehatan provinsi. Terapi suatu proses pemulihan dengan memberikan intervensi secara fisik. Pengembangan Pembiayaan dan Keterlibatan Sektor Swasta Upaya penanggulangan ini tidak akan berhasil. Mengingat masalah ini sudah menjadi masalah bangsa (bukan hanya masalah kesehatan masyarakat). RSU. keterbatasan dana Pemerintah merupakan salah satu hambatan utama. 5. Penguatan Sistem Kesehatan Sistem kesehatan terkait dengan upaya penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA perlu ditingkatkan mulai dari pelayanan kesehatan dasar sampai dengan pelayanan rujukan atau spesialistik. Peran dan tanggung jawab berbagai institusi kesehatan mulai dari Kementerian Kesehatan. b. Pelayanan harus dilaksanakan melalui kerjasama tim yang solid. kompak dan utuh serta mampu menerapkan prinsip pelayanan manajemen kasus. tanpa pembiayaan yang memadai. F. baik rumah sakit atau klinik umum ataupun khusus yang melaksanakan sebuah program atau kegiatan yang berkaitan dengan masalah Gangguan penggunaan NAPZA 2. oleh karena itu perlu digalang kerjasama dengan berbagai LSM dan swasta/dunia usaha dalam mencapai kelestarian program intervensi. Disisi lain. Evidence-based: pelayanan yang diberikan harus berbasis bukti dan hasil (outcome) yang dapat terukur dan terstandarisasi komprehensif: pelayanan diberikan secara komprehensif melalui upaya promotifpreventif serta kuratif-rehabilitatif Multidisiplin: Pelayanan harus dilaksanakan oleh tenaga profesional yang multidisiplin dengan memiliki kepemimpinan dan keterampilan teknis tinggi. Pengembangan Model Pelayanan Gangguan Penggunaan NAPZA Semua pelayanan gangguan penggunaan NAPZA harus dapat menjamin terapi dan perawatan yang terstandarisasi dan memiliki beberapa prinsip pelayanan: a. c. Masyarakat juga perlu digerakkan untuk memberikan kontribusi dalam penanggulangan. (yang selama ini lebih banyak digunakan untuk penanggulangan HIV/AIDS. Puskesmas. 6. Pengertian 1. Penderita gangguan penggunaan NAPZA yang termasuk dalam kategori keluarga miskin mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan askeskin.000. Layanan adalah tempat. dinas kesehatan kabupaten /Kota. maka pemerintah baik pusat maupun daerah perlu mengangkat hal ini menjadi salah satu program yang mendapat perhatian khusus.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. RSJdan RSKO harus lebih jelas.000 jiwa. psikologis 7 . sedangkan dana untuk penanganan gangguan penggunaan NAPZA sangat sedikit). Pada tahun 2005 pemerintah telah menetapkan bahwa jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak 60.

Kurangnya mutu pelayanan dalam bidang kesehatan termasuk kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA bukan merupakan suatu kebetulan. 8 . pelayanan instalasi dan pelayanan perawatan secara rawat jalan dan rawat inap.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA maupun sosial kepada pasien gangguan penggunaan NAPZA 3. Gangguan penggunaan NAPZA adalah suatu pola penggunaan NAPZA yang menimbulkan hendaya atau penyulit/komplikasi yang berarti secara klinis dan atau fungsi sosial. setiap petugas kesehatan seharusnya memahami spesifikasi setiap jenis NAPZA dan masalah yang timbul akibat penggunaan NAPZA itu. Menentukan kriteria petugas yang sesuai dengan jenis layanan harus dilakukan dengan seksama agar tujuan pelayanan tersebut dapat berjalan secara efektif. MANAJEMEN DALAM PENATALAKSANAAN TERAPI GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT A. berada dalam keadaan intoksikasi yang dapat membahayakan fisik ketika mengoperasikan mesin atau mengendarai kendaraan. 6. Rekrutmen petugas yang akan memberikan layanan kepada pasien merupakan titik kritis sebelum menentukan program atau kegiatan. pelayanan penunjang medik. II. Rumah Sakit adalah tempat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar dan spesialistik. 5. melanggar aturan atau cekcok dengan pasangan. Pada umumnya tenaga medis masih memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang terbatas tentang gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya berdampak pada penatalaksanaan terhadap pasien. 4. gangguan jiwa lain (dual diagnosis) serta juga dampak lain yang ditimbulkan akibat gangguan penggunaan NAPZA. hal itu seringkali merupakan perencanaan program yang tidak disiapkan secara terinci dan komprehensif. seperti kesulitan untuk menunaikan kewajiban utama dalam pekerjaan/rumah tangga/sekolah. Rehabilitasi adalah suatu proses pemulihan pasien gangguan penggunaan NAPZA baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang yang bertujuan mengubah perilaku mereka agar siap kembali ke masyarakat. Komprehensif adalah suatu terapi yang diberikan secara menyeluruh untuk masalah gangguan penggunaan NAPZA. Pendahuluan Masalah gangguan penggunaan NAPZA merupakan suatu masalah yang kompleks sehingga penatalaksanaan terapinya tidak dapat hanya dilaksanakan oleh tenaga medis. Dengan perubahan tren NAPZA yang digunakan. Kondisi ini serlngkali menimbulkan rasa jenuh atau bahkan menimbulkan kesulitan dalam memberikan terapi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA yang pada akhirnya membuat petugas kesehatan tidak berminat untuk memberikan pelayanan kepada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA.

Di Indonesia monitoring dan evaluasi efektivitas terapi gangguan penggunaan NAPZA sangat minimal atau bahkan tidak dilakukan. 7. Kemungkinan menggunakan NAPZA selama pengobatan harus DIMONITOR secara kontinyu 12.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Komitmen dari pimpinan dan seluruh staf serta karyawan dalam organisasi merupakan pendukung yang sangat penting dalam memberikan pelayanan pada pasien gangguan penggunaan NAPZA. 3. Terapi Efektif Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Efektifitas terapi pada gangguan penggunaan NAPZA perlu dievaluasi dan ditindaklanjuti secara periodik atau berkala. Kesinambungan program harus terus dievaluasi agar dapat memenuhi kebutuhan tiap pasien. 10. B. 2. Pengobatan yang efektif TIDAK harus secara sukarela 11. Hal ini semestinya sangat penting dilakukan agar layanan yang diberikan dapat optimal dan efektif dalam proses pemulihan mereka. tidak hanya untuk masalah NAPZA saja Rencana terapi dan layanan lain harus DIKAJI SECARA KONTINYU dan DIMODIFIKASI BILA DIPERLUKAN untuk memenuhi kebutuhan perubahan pada pasien Berada dalam program terapi untuk PERIODE WAKTU YANG ADEKUAT merupakan hal yang sangat penting untuk perubahan perilaku yang signifikan Konseling (individu dan/atau kelompok) dan terapi perilaku lainnya merupakan hal yang SANGAT PENTING Medikasi adalah elemen yang PENTING untuk banyak klien. 8. 6. 4. TIDAK ADA satu bentuk terapi yang SESUAI UNTUK SEMUA Kebutuhan terapi harus SIAP DAN TERSEDIA ketika diperlukan Terapi yang efektif mengakomodasi KEBUTUHAN YANG BERAGAM. 9. Program pengobatan harus menyediakan kajian untuk HIV/AIDS dan infeksi lain serta konseling untuk membantu pasien merubah perilakunya baik untuk HIV/AIDS dan risiko dari infeksi lainnya 9 . khususnya bilamana dikombinasi dengan terapi perilaku Orang dengan komorbiditas gangguan mental harus ditangani dengan cara yang TERINTEGRASI Detoksifikasi hanya merupakan LANGKAH AWAL dari pengobatan gangguan penggunaan NAPZA dan detoksifikasi hanya memberi sedikit perubahan terkait PENGGUNAAN NAPZA JANGKA PANJANG 5. National Institute on Drug Abuse (NIDA) pada tahun 1999 telah mempublikasikan sebuah buku tentang terapi efektif berdasarkan penelitian di lapangan yang meliputi 13 prinsip: 1.

Model Medik. 10 . pekerja sosial. pendidikan adiksi. Dibawah ini akan diuraikan beberapa model yang popular dilaksanakan pada masalah Gangguan penggunaan NAPZA. Therapeutic Community -TC Model. sesi encounter yang intensif dengan kelompok sebaya dan partisipasi dari lingkungan terapeutik dengan peran yang hirarki. model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter dan memerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejala-gejala serta perubahan perilaku. kebijakan untuk merawat dan memulangkan pasien. Pendekatan lain dalam program termasuk tutorial. pemulihan dan program 12 langkah. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara nyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memberikan reward dan sangsi yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan kemampuan mengontrol diri dan sosial/komunitas. diberikan juga keistimewaan (privileges) dan tanggung jawab. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12 langkah merupakan pelengkap program TC yang menggunakan pendekatan perilaku. Kepulihan dari gangguan penggunaan NAPZA dapat menjadi PROSES YANG PANJANG dan seringkali memerlukan beberapa kali episode pengobatan C. Model Minessota menggunakan program spesifik yang berlangsung selama tiga sampai enam minggu rawat inap dengan lanjutan aftercare. dan sikap terhadap perilaku pasien. Fase perawatan rawat inap termasuk . mantan pengguna sebagai addict counselor 4. Pendekatan yang dilakukan meliputi terapi individual dan kelompok. terapi keluarga untuk kebaikan pasien dan anggota keluarga lain. pendidikan formal dan pekerjaan sehari-hari. Model ini fokus pada abstinen atau bebas NAPZA sebagai tujuan utama pengobatan. Model Minnesota.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 13. model ini dikembangkan dari Hazelden Foundation dan Johnson Institute. Berbagai Modalitas Terapi Dan Pendekatan Berbagai kondisi yang mandasari gangguan penggunaan NAPZA akan mempengaruhi jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. terapi kelompok. psikolog. model ini merujuk pada keyakinan bahwa Gangguan penggunaan NAPZA adalah gangguan pada seseorang secara menyeluruh. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan program rawat inap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke fasilitas di masyarakat. Model Eklektik. TC model biasanya merupakan perawatan inap dengan periode perawatan dari dua belas sampai delapan belas bulan yang diikuti dengan program aftercare jangka pendek. termasuk mengikuti program self help group (Alcohol Anonymous atau Narcotics Anonymous) serta layanan lain sesuai dengan kebutuhan pasien secara individu. sumber daya manusia yang akan memberikan pelayanan. model ini menerapkan pendekatan secara holistik dalam program rehabilitasi. 1. hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yang ada pada setiap pasien adiksi. 3. hasil yang dlharapkan. Diperlukan pula staf profesional seperti dokter. 2.

Asesmen. keluarga atau kelompok dalam mencapai tujuan pengobatan melalui eksplorasi masalah dan pengaruhnya terhadap pasien.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. proses yang dilakukan oleh konselor atau profesi lain bersama pasien untuk mengidentifikasi dan membuat urutan masalah dan solusi yang diperlukan. menilai sikap dan perasaan pasien. tergantung pada kondisi setempat dan terinpirasi dari hal-hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. Manjemen Kasus. memberikan gambaran kepada pasien tentang . aktifitas yang diberikan oleh tempat layanan. Model Multi Disiplin. dan membuat keputusan 7. program secara umum dan tujuan dari masing-masing program. sumber lain. masalah yang dimiliki pasien dan rencana kebutuhan terapi untuk pasien secara individu 5. Kegiatan ini dapat melibatkan orang yang menjadi penghubung (misal LSM) atau pendamping 8. Orientasi. ketentuan/aturan yang harus dipatuhi agar pasien bisa keluar dari program sesuai dengan tujuan program. Program bersifat jangka pendek dengan aftercare singkat atau tidak sama sekali. pengobatan alternatif. Fungsi Inti Layanan Terapi dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan Napza 1. kelemahan. kelompok dan orang lain yang bermakna): menggunakan ketrampilan khusus untuk membantu pasien. mempertimbangkan alternatif pemecahan masalah. ritual dan keyakinan yang dimiliki oleh sistem lokal contoh : pondok pesantren. Model Tradisional. untuk program rawat jalan dijelaskan jam pelayanan dan jenis layanan yang tersedia. menetapkan proses pengobatan dan sumber daya yang dibutuhkan 6. 7. Faith Based Model. Skrining. layanan ini merespons kondisi akut baik emosional dan/atau distres fisik yang terjadi pada pengguna NAPZA 11 . jika ada serta hak-hak pasien 4. prosedur ini dilaksanakan oleh konselor atau petugas yang ditunjuk untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kekuatan. Komponen dasar terdiri dari : medikasi. atau orang lain di luar layanan yang bersama sama merencanakan rancangan dan aksi dalam rangka mencapai sasaran/tujuan pengobatan. agensi. biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien. Konseling (individual. Rencana Pengobatan. Intervensi Krisis. pengobatan tradisional atau herbal. proses administrasi dan asesmen awal untuk masuk ke dalam program 3. sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak menggunakan farmakoterapi D. membuat persetujuan segera untuk sasaran program jangka pendek dan jangka panjang. Intake. merupakan proses untuk menentukan apakah pasien dapat masuk atau mengikuti model terapi yang tersedia 2. program ini merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait termasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan pasien 6.

penting bagi pasien untuk mendapatkan kontribusi lain yang berarti untuk mencapai keberhasilan dalam program pengobatan yang seharusnya diberikan secara lengkap/sesuai oleh penyedia layanan. 6. IMS (Infeksi Menular Seksual) melakukan pemeriksaan HIV.menyediakan layanan medis/psikiatris secara profesional pada tempat dan saat diperlukan serta mampu untuk menentukan baik kondisi fisik maupun psikologis pasien. catatan kemajuan pasien. yang berhubungan dengan staf yang berada di dalam pusat layanan atau professional lain di luar layanan untuk meyakinkan kualitas pengobatan pasien yang komprehensif. Layanan/Terapi Keluarga termasuk intervensi keluarga untuk mendorong pasien yang menolak masuk ke dalam program pengobatan dan juga untuk memelihara dukungan kepada pasien dalam proses pemulihan. E. menulis laporan. 4. Pendidikan Pasien. Dua belas layanan yang seharusnya tersedia atau tergabung sebagai komponen dalam pusat layanan adalah : 1. Konsultasi dengan profesional lain berkaitan dengan pengobatan atau layanan pasien. Rujukan.menyediakan pendidikan agama dan mendorong pasien untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka. 5. untuk mengembangkan strategi kemampuan menghadapi tekanan dari luar dan belajar untuk mengelola situasi slip (menggunakan NAPZA kembali 2. 12. Hepatitis B dan C. Nutrisi/Gizi . Counseling and Testing) dan PITC (Provider Initiated Testing and Counselling).MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 9. kesimpulan saat pulang dan data lain yang berhubungan dengan kondisi pasien. Spiritual . mengidentifikasi kebutuhan pasien yang tidak dapat diperoleh dari konselor/terapis atau tempat layanan serta membantu pasien untuk menggunakan layanan dukungan dan sumber daya lain yang tersedia di masyarakat 11. Pencegahan kekambuhan mengajarkan pasien untuk mengenali situasi dengan risiko tinggi dan pencatus yang mungkin menyebabkan menggunakan NAPZA kembali.merencanakan diet yang dibutuhkan pasien. membuat grafik hasil dari asesmen dan rencana pengobatan. Komponen Program Terapi Dan Rehabilitasi Gangguan Penggunaan NAPZA Tidak ada pengobatan yang lengkap tanpa memperhatikan kebutuhan lain pasien secara bermakna. 12 . menyediakan informasi untuk individu maupun kelompok mengenai masalah NAPZA serta layanan atau sumber daya yang tersedia untuk membantu pasien 10. Memelihara pencatatan dan pelaporan. Medik/Klinis . Hepatitis B/C dan IMS serta melakukan tindakan yang sesuai termasuk VCT (Voluntar. Sesuai dengan sifat adiksi pasien membutuhkan layanan baik secara multipel maupun bervariasi. HIV. 3.

Bantuan hukum . Akan bijaksana bilamana jumlah dan jenis keistimewaan yang diberikan membuat pasien gembira atau menikmati. Latihan ketrampilan hidup . c. 7. kelompok atau keluarga. 1. 11. rujukan dan layanan lain sesuai kebutuhan pasien. d. Terapi vokasional . F. tahapan menengah. jatuh atau kambuh menggunakan NAPZA). Setelah proses intake/awal.mengembangkan ketrampilan sosial untuk berkomunikasi lebih baik. konseling. meningkatkan pengetahuan tentang konsekuensi gaya hidup berisiko dan lain-lain. penempatan kerja. diikuti dengan tahapan awal. Tahapan dalam program ini dirancang berdasarkan perkembangan yang diharapkan dari pasien dengan gangguan penggunaan zat melalui proses pengobatan. 10.merupakan suatu kelanjutan dari layanan perawatan seperti dukungan kepada kelompok pemulihan.bertugas untuk membantu pasien dalam kebutuhan atau masalah yang berkaitan dengan aspek legal. Tahapan Pengobatan Dan Hasil Yang Diharapkan Merupakan program yang dibangun untuk jangka panjang dengan tahapan-tahapan yang merupakan satu rangkaian pengobatan yang panjang. Aftercare . Akhirnya tahapan akan dilalui sesuai dan berhubungan dengan kemajuan pasien. Pra Pengobatan a. Dalam mengejar pemulihan.hubungan terapeutik antara pasien yang membutuhkan bantuan dengan konselor yang dapat menyediakan pertolongan dan dapat secara individu. Identifikasi dan Intervensi Krisis Penerimaan dalam program Orientasi Detoksifikasi Pengobatan Komorbiditas. Konseling . pasien dituntun untuk memiliki kemajuan secara berurutan dari satu layanan ke layanan lain seperti dari detoksifikasi ke rehabilitasi fase primary ke tahap aftercare dan follow up (lanjutan).melanjutkan pendidikan formal yang relevan dengan kemampuan pasien. masalah medis dan psikiatris 13 . Hal ini kemungkinan dapat diperlihatkan dalam berbagai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada pasien dalam berbagai periode selama dalam program pengobatan. tahapan akhir dan tahapan re-entry. 9. Pendidikan dan informasi . e.mengajarkan untuk mampu bersosialisasi dan ketrampilan bekerja untuk pasien yang sesuai dengan minat dan kompetensi mereka. meningkatkan harga diri dan menerapkan dasar-dasar kehidupan bebas/bersih dari NAPZA (sober). Kemajuan akan dibuat grafik sesuai dengan rangkaian pengobatan dari keadaan ketergantungan menjadi tidak ketergantungan NAPZA secara lengkap. 8. 12. b.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA sekali. pasien diproses untuk tahapan orientasi. latihan ketrampilan hidup.

Lanjutan konseling untuk pasien dan keluarga Rekreasi Pendidikan Spiritual Perawatan kesehatan Dukungan sebaya Rehabilitasi vokasional Pencegahan kekambuhan Aftercare Tahap Pra pengobatan IdentifikasiKonseling individu dan intervensi krisis keluarga Aktifitas Waktu 1-3 minggu  Memotivasi pasien untuk mendapat pengobatan  Menciptakan kesadaran tentang masalah yang dihadapi pasien Penerimaan Pendaftaran Skrining (pemeriksaan tubuh. wawancara. tes urin) Orientasi Program Tur fasilitas layanan. d.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. b. Perawatan Sekunder (Secondary Care) a. c. i. b. pengenalan singkat peraturan dan tata tertib layanan  Memperoleh informasi tentang pasien. Perawatan Primer (Primary Care) a. c. f. g. h. d. e. g. e. Program terapi untuk pasien dan keluarga Pendidikan Rekreasi Spiritual Perawatan kesehatan baik fisik maupun mental Kesadaran diri Evaluasi 3. keluarga dan riwayat penggunaan NAPZA  Pemahaman aturan dan tata tertib dalam fasilitas layanan Hasil yang diharapkan 14 . f.

Diskusi. Latihan dan penerapan Asesmen/pemeriksa-an dan Pengobatan Seminar kesehatan Spiritual Perawatan Kesehatan 15 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Diskusi dengan pasien dan keluarga  Persiapan psikologis pasien untuk pengobatan  Membangun hubungan dengan penanggung jawab  Merencanakan pengobatan Detoksifikasi Isolasi dalam ruang pengobatan/perawatan  Penatalaksanaan gejala putus NAPZA  Stabilisasi  Layanan kesehatan untuk penyakit lainnya  Membantu kemajuan dan kemampuan pasien secara keseluruhan Penatalaksanaan Melakukan kajian dan Komorbiditas pemeriksaan secara medis evaluasi Kajian ulang dan tinjauan untuk pengobatan lanjut atau rencana pengobatan baru Tahapan Sekunder Aktifitas Waktu 3-12 bulan Hasil yang diharapkan Sesi Terapeutik Konseling individu. Sesi keluarga  Kegiatan lanjutan dalam pemulihan  Membangun ikatan dengan recovering addict yang senior  Meningkatkan kesehatan dan mempererat ikatan dalam program  Mengikutsertakan dalam kegiatan publik dan aktifitas umum  Menerima kekuatan yang tetinggi dan memahami keberadaan Tuhan  Menjaga kesehatan fisik dan mental Rekreasional Permainan Outing Pendidikan Seminar. Sesi kelompok. bicara dan workshop Seminar.

dukungan kelompok dalam proses pemulihan  Menguatkan kestabilan  Meningkatkan proses pemulihan secara keseluruhan G. Rawat Jalan/Ambulatory . terjatuh atau kambuh menggunakan NAPZA Tahapan Aftercare Aktifitas Waktu Setelah 12-18 bulan Hasil yang diharapkan Pertemuan kelompok dukungan 12 langkah (Twelve Step) Konseling berkelanjutan. pelatihan dan lajn-lain. membawa program layanan kepada lingkungan 2. konseling. Workshop. Outreach/Penjangkauan masyarakat.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Pemahaman diri Membentuk hubungan/ Berbagi/Diskusi  Memperkuat keyakinan dan mempertimbang-kan nilai-nilai yang dianut selama ini  Bersiap-siap untuk masuk program reentry  Mengembangkan ketrampilan sosial  Program latihan kerja  Penempatan di tempat bekerja Kelompok Dukungan Pertemuan Alcohol Anonymous dan Narcotic Anonymous Latihan Kerja/Job Training. informasi. Recovery Support Group/Kelompok Pendukung Pemulihan fasilitasi/ memotivasi 16 . 3. manajemen kasus. Diskusi  Mengenali pola kambuh dan pencetus kekambuhan  Mengembangkan kemampuan menghadapi masalah.pasien datang ke pusat layanan untuk mendapatkan layanan. Layanan Lain Yang Tersedia 1.menginisiasi/fasilitasi untuk berbagi pengalaman diantara anggota keluarga. 4. Family Support Group . Wawancara kerja Pengelolaan waktu dan keuangan Vokasional Pencegahan Kekambuhan Seminar. mengelola terpeleset. daycare.

bekerja saat hari libur. termasuk masalah pekerjaan. Hal ini seringkali disebabkan adanya persepsi yang salah bahwa bekerja di bidang ini banyak kerja dengan sedikit kemungkinan untuk perkembangan karier dan kenaikan pangkat. setiap institusi perlu untuk membuat suatu ketentuan mengenai pengembangan karier dan promosi bagi setiap SDM yang bekerja pada pusat layanan gangguan penggunaan NAPZA. c. Seleksi SDM yang baik merupakan dasar untuk memberdayakan SDM tersebut secara efektif. Beberapa ha! yang perlu dievaluasi untuk setiap pasien adalah : a. pendidikan. Oleh karena itu. Apabila evaluasi menunjukkan tidak adanya kemajuan pada pasien maka perlu ditinjau ulang program terapi selanjutnya agar diperoleh hasil yang optimal.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA pasien untuk berpartisipasi dalam kelompok dukungan mandiri (Self Help Group). Kondisi fisik/medis Kondisi penggunaan NAPZA Masalah psikologis Masalah keluarga Masalah sosial. on call 24 jam dalam 7 hari. Seringkali sulit untik mendapat SDM yang berkualitas dan mempunyai ketertarikan pada masalah gangguan penggunaan NAPZA. Beberapa strategi untuk rekrutmen/penerimaan SDM : 17 . g. finansial. tinggal dalam suatu fasilitas dan yang sangat nyata mereka harus menghadapi pasien dengan masalah ketergantungan NAPZA yang seringkali melakukan kekerasan. f. H. h. Pelamar dapat dimotivasi dengan pertimbangan lain selain hanya uang/gaji seperti pendidikan. meskipun tidak ada garansi penuh bahwa mereka yang sudah diterima akan bekerja secara efisien dan produktif. hal ini bisa diklasifikasikan sebagai pekerjaan berisiko tinggi. Evaluasi Pengobatan Evaluasi hasil pengobatan dilakukan secara periodik dalam setiap fase/tahapan pengobatan. b. e. ketidakstabilan mental. banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi efisiensi dan stabilitas SDM. hukum Masalah lain yang penting dan terkait dengan adiksi Pengobatan dan intervensi sosial yang telah diberikan Penilaian efektifitas program secara keseluruhan I. Rekruitmen Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia (SDM) merupakan modal utama dalam melaksanakan program pengobatan dan rehabilitasi pasien gangguan penggunan Napza. ada keunikan dalam melakukan penerimaan SDM dimana tidak banyak orang yang tertarik untuk melakukan pekerjaan dalam waktu yang panjang (lebih 8 jam kerja). d. Sejak pengobatan dan rehabilitasi bukan lagi merupakan organisasi yang tradisional. Diperlukan pembentukan tim untuk mengevaluasi kemajuan setiap pasien yang terdiri dari berbagai profesi. 1. pelatihan atau kesempatan untuk mengembangkan keahlian di bidang gangguan penggunaan NAPZA.

Beberapa jenis wawancara kelompok yang dilakukan meliputi: 18 . Wawancara Individu. harus sudah lulus dari pusat layanan yang mempunyai reputasi dan sedikitnya sudah 2 tahun abstinensi. menentukan tingkat intelejensi pelamar. mempunyai dorongan diri yang kuat dan berorientasi pada hasil Bersedia untuk menceburkan diri ke dalam program fasilitas residensial Bersedia mengikuti berbagai pelatihan baik secara lokal. Tes psikologi. Kebutuhan dasar untuk SDM pada pusat pengobatan dan rehabilitasi NAPZA    Usia sedikitnya antara 21 sampai 35 tahun. untuk mengetahui kepribadian dan motivasi kerja individu b. Wawancara Kelompok: pendekatan ini sangat direkomendasi sebagai tambahan dari hasil wawancara individu. regional maupun internasional        3.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA       Membuat iklan di surat kabar atau radio Layanan On line (jika dimungkinkan tersedia internet/ website) Berhubungan dengan sekolah sesuai dengan profesi yang dibutuhkan Rujukan/rekomendasi dari petugas atau pasien Melakukan jejaring dengan profesi yang berbeda dan organisasi pemerintah Melakukan seleksi melalui kampus 2. mempunyai pengalaman melaksanakan program 12 Langkah dan modalitas terapi lainnya Untuk konselor harus memiliki sertifikat konselor adiksi Bersedia untuk memberikan waktunya lebih panjang dari pegawai tempat lain Kualitas personal dalam dedikasi. agar masa penyesuaiannya lebih mudah Pendidikan yang sesuai dengan posisi dan tugasnya Untuk recovering addict. untuk memperoleh SDM yang berkualitas. memberikan informasi tentang bidang kerja. menciptakan keinginan baik organisasi. loyalitas dan ketertarikan pada bidang pekerjaan tinggi Harus memiliki 'hati' dan 'jiwa' untuk menolong orang dengan spirit kemanusiaan yang tinggi Mampu berkreasi. Wawancara akan meliputi:         Kematangan emosional Keterandalan Percaya diri Sikap terhadap pekerjaan Kreativitas Sistem nilai Gaya hidup Sikap kritikal c. Proses Seleksi a.

2. Masih perlu dilakukan pelatihan Gawat Darurat Gangguan penggunaan NAPZA karena umumnya Tim gawat darurat Rumah Sakit Jiwa belum pernah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan dalam bidang Gangguan penggunaan Napza. Beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kasus intoksikasi amfetamin. Untuk intoksikasi NAPZA lain (misal: Benzodiazepin. seperti overdosis opioida. intoksikasi amfetamin. Gawat Darurat Pada Gangguan Penggunaan NAPZA Pada prinsipnya penatalaksanaan gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dilakukan di unit gawat darurat untuk pelayanan umum atau unit gawat darurat untuk gangguan jiwa yang terdapat di Rumah Sakit Jiwa tanpa harus menyediakan unit gawat darurat tersendiri. Bila memungkinkan unit gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dapat dibuat tersendiri. Rawat Jalan/Rumatan: Umumnya medikasi yang tersedia di Rumah Sakit Jiwa untuk penanganan 19 . Pasien yang telah menunjukkan perbaikan setelah ditangani di unit gawat darurat dapat dilanjutkan dengan parawatan rawat inap atau detoksifikasi untuk kasus putus NAPZA atau berobat jalan untuk kondisi yang sudah memungkinkan untuk pulang. Dekstrometorfan) beberapa Rumah Sakit Jiwa dapat menangani kondisi akut. khususnya overdosis heroin biasanya pasien dibawa ke Rumah Sakit Umum meskipun seringkali dokter gawat darurat Rumah Sakit Umum tidak tahu diagnosis overdosis heroin/kasus heroin Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah menggunakan skala penilaian putus NAPZA untuk kasus putus heroin (opioida). alkohol dan halusinogen.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA        Ketrampilan komunikasi dan menulis Pemahaman dan tilikan diri yang mendalam Ketulusan hati dan komitmen untuk ikut serta dalam misi melindungi kehidupan Kemampuan untuk berinteraksi dengan teman lainnya Tingkat komprehensif Menentukan pencapaian tujuan Keseriusan dalam melaksanakan pekerjaan III. Untuk dapat menangani kasus-kasus gawat darurat NAPZA dengan baik perlu dilakukan pelatihan untuk tim unit gawat darurat yang meliputi ketrampilan untuk menangani kasus-kasus kedaruratan medik yang terjadi akibat penggunaan NAPZA. Untuk kasus overdosis. intoksikasi benzodiazepin. termasuk kondisi gaduh gelisah. Layanan Yang Dilaksanakan Di Rumah Sakit Jiwa 1. PEMBELAJARAN DARI RUMAH SAKIT JIWA DALAM LAYANAN TERAPI DAN REHABILITASI PASIEN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA A.

Ada juga yang sudah menjalankan Therapeutic Community (TC) secara penuh yang dilanjutkan dengan/aftercare Setiap intervensi dilakukan secara bertahap. Biasanya kegiatan aftercare dilaksanakan di luar lingkungan Rumah Sakit 20 . Semua jenis NAPZA dapat dilayani termasuk komplikasi medis maupun psikiatris. Umumnya Rumah Sakit Jiwa telah dapat menyediakan Layanan Penunjang Dasar seperti laboratorium dasar Kimia Klinik. Dukungan Kelompok Sebaya. lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk residen kemudian diperpanjang.lebih) Beberapa Rumah Sakit Jiwa sudah dapat melaksanakan program rehabilitasi untuk jangka waktu 6 bulan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA simtomatis. Pada awal program. Terapi rumatan di Rumah Sakit Jiwa umumnya belum tersedia. Umumnya Layanan Psikososial seperti Konseling Dasar Individual/Kelompok. Cognitive Behavioural Therapy. EKG) juga tersedia di Rumah Sakit Jiwa. Pemeriksaan radiologi dan elektromedik (EEG. Bila rehabilitasi sudah dapat berjalan secara bermakna. Untuk pemeriksaan NAPZA umumnya menggunakan Deep Stick disertai tes konfirmasi. Brain Mapping. Terapi Kelompok. seperti program dukungan keluarga dengan anak yang terlibat gangguan penggunaan NAPZA atau program dukungan residen dengan HIV positif. ReEmotive Behaviour Therapy di Rumah Sakit Jiwa masih kurang.  Jangka Panjang . Umumnya diperlukan waktu yang cukup lama sejak mulai berdirinya rehabilitasi sampai dapat melakukan program yang melibatkan keluarga. biasanya keluarga hanya dilibatkan terkait masalah residen. Family Support Group.Long term (6 bulan . Detoksifikasi Umumnya detoksifikasi dilakukan di fasilitas rawat inap Rumah Sakit Jiwa dengan menggunakan medikasi simtomatis. misalnya untuk lama waktu dilaksanakan rehabilitasi untuk pasien (dalam program rehabilitasi biasanya disebut residen) dimulai dengan program jangka pendek terlebih dahulu. Outing. Terapi Vokasional. Memulai program aftercare hanya jika program jangka pendek sudah berhasil dilalui dengan baik. - 3. Motivational Interviewing. misalnya menjadi minimal 6 bulan. Untuk selanjutnya keluarga dapat diajak bekerjasama agar terlibat dalam beberapa program. Terapi Musik. Dilakukan skrining masalah medis dan psikologis. Khusus untuk detoksifikasi heroin (opioida) selain simtomatis juga ada yang mempunyai pengalaman tapering off dengan metadon dan buprenorfin 4. Ada juga yang sudah menjalankan program re-entry (hingga 9 bulan). Rehabilitasi  Jangka Pendek (Short Term) (1-3 bulan) Beberapa Rumah Sakit Jiwa telah melaksanakan program ini dengan fokus pada perubahan perilaku.

mereka lebih tertarik untuk bekerja di bangsal umum atau bangsal penyakit jiwa. Sumber Daya Manusia  Biasanya tenaga medis dan paramedis terbatas dan kurang berminat untuk bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA. Evaluasi Terapi Kebanyakan Rumah Sakit Jiwa belum melakukan secara khusus.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Jiwa. B. 7. ada juga yang enggan mengikuti pelatihan. Penerapan Program     Penerapan program sulit dilaksanakan karena pengetahuan dan ketrampilan terbatas sehingga kurang percaya diri untuk menjalankan program Keterbatasan dana sehingga beberapa program tidak dapat dilaksanakan misalnya outing. Layanan Psikososial dan Penunjang Pada umumnya Rumah Sakit Jiwa sudah melakukan konseling dasar. Komitmen untuk merencanakan dan menjalankan program dari pengambil keputusan sampai pelaksana kurang kuat dijumpai di beberapa Rumah Sakit Jiwa. kecuali residen yang sudah mengalami komplikasi medis atau psikiatris. 6. Sistem Rujukan/Jejaring Sebagian Rumah Sakit Jiwa sudah melaksanakan kerjasama dengan berbagai institusi baik pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Salah satu alasan mereka enggan bekerja di bangsal gangguan penggunaan NAPZA karena kurangnya pengetahuan dan kekhawatiran berlebihan terhadap pasien gangguan penggunaan NAPZA yang terinfeksi HIV. Reward/honor petugas yang belum memenuhi standar minimal     2. terapi kelompok dan psikoedukasi keluarga. Tantangan Di Lapangan 1. Seiring dengan banyaknya kasus ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). perlu dibentuk kelompok sebaya khusus untuk ODHA pada penasun (pengguna NAPZA suntik) 5. terapi rekreasional. Ketrampilan petugas dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA masih terbatas. Ada petugas yang belum mengikuti pelatihan. terapi vokasional. Keterbatasan pengalaman dalam penanganan kasus dengan dual diagnosis Kesinambungan (sustainability) program yang mendapatkan bantuan tidak direncanakan kelanjutannya sehingga program terhenti ketika bantuan itu 21 . Kesulitan untuk mendapat peer educator/konselor pada awal menjalankan program.

NAPZA lain yang digunakan bersamaan. 22 . lamanya penggunaan (toleransi atau belum ada toleransi).MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA berhenti. Metamfetamin diketahui lebih bersifat adiktif. Efek psikologis yang ditimbulkan mirip seperti pada pengguna kokain. Badan Narkotika Kabupaten/Kota. situasi (sendiri atau berkelompok) dan harapan pengguna terhadap NAPZA tersebut (ingin lepas kendali agar lebih berani atau ingin tenang). Efek lainnya pada umumnya tidak disukai ("efek negatif) misalnya halusinasi. Sarana dan Prasarana  Sarana dan prasarana seringkali dipersepsikan harus terpisah dari kegiatan rumah sakit secara keseluruhan. Puskesmas. selalu mengharapkan efek yang menyenangkan bagi dirinya ("efek positif) yaitu euforia. dan cenderung mempunyai dampak yang lebih buruk. AMFETAMIN a. Evaluasi Terapi  Sudah dilaksanakan evaluasi terapi secara sederhana. 4. agresif. dosisnya (intoksikasi saja atau overdose). paranoia dan psikosis dibandingkan pengguna amfetamin. rileks dan disinhibisi. Pengguna NAPZA apapun jenisnya. tenang. Sebagian RS telah melakukan pelayanan dengan menggunakan fasilitas RS yang tersedia. Lapas di banyak tempat masih terbatas. tapi berlangsung lebih lama. Pengguna metamfetamin dilaporkan lebih jelas menunjukkan gejala ansietas. Efek NAPZA terhadap pengguna dipengaruhi oleh banyak faktor. RSJ yang sudah melayani ODHA umumnya kerjasama sudah berjalan baik dalam bidang HIV/AIDS Advokasi ke beberapa pemangku kepentingan (Badan Narkotika Propinsi. belum dilakukan dengan menggunakan tools/panduan yang terstandarisasi 5. yaitu jenisnya (CNS depressant atau CNS stimulant). Dalam Bab ini hanya akan dibahas NAPZA yang sering digunakan saat ini di Indonesia. waham. Komisi Penanggulangan AIDS. 1. Pemerintah Daerah) masih ada kendala Kerjasama lintas sektor dan lintas program belum berjalan dengan optimal   IV. Efek Fisik dan Psikologis Efek dari metamfetamin lebih kuat dibandingkan efek dari amfetamin. berdebar-debar. Rujukan/Jejaring  Kerjasama RSJ dengan LSM. EFEK DAN GEJALA KLINIS GANGGUAN PENGGUNAAN NAP2A Bab ini akan membahas pengaruh segera atau beberapa saat (efek akut) sesudah menggunakan NAPZA dan pengaruh penggunaan jangka panjang (efek kronis). 3. RSU.

 Penigkatan stimulasi.bicara berlebihan  Meningkatkan rasa percaya diri dan kewaspadaan diri  Cemas. tremor ringan  Euforia/disforia.arimia Pernapasan  Stimulasi kardiak (takikardia. dizziness.dapat meningkatkan libido  Sakit kepala  Gemerutuk gigi  Gangguan serebrovaskular  Kejang  Koma  Gemerutuk gigi  Distorsi bentuk tubuh secara keseluruhan Kardiovaskular  Takikardia (mungkin juga bradikardia)  . neurologi. panik  Menekan nafsu makan  Dilatasi pupil Dosis tinggi  Stereotipik atau perilaku yang sukar ditebak  Perilaku kasar atau irasional.kebingungan dan gangguan persepsi  Peningkatan energi. dan penurunan rasa lelah pandangan kabur.angina.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Efek fisik akut dan psikologis : Dosis rendah Susunan Syaraf Pusat.MI)  vasokonstriksi/ hipertensi  kolap kardiovaskuler  Peningkatan frekwensi napas  Kesulitan dan kedalaman pernapasan bernapas/gagal napas 23 . perilaku insomnia.hipertensi  Palpitasi. paranoia)  Dengan penambahan dosis. mood yang berubah-ubah. dizziness  Psikosis (halusinasi delusi. stamina  Sakit kepala. termasuk kejam dan agresif  Bicara tak jelas  Paranoid.

Efek fisik dan psikologis jangka panjang :         berat badan menurun. Amphetamines induced psychosis akan berkurang bila penggunaan Napza dihentikan . skar. penurunan fungsi kognitif.rahang atas dan bawah beradu Stroke Gangguan kardiovaskular Kematian 24 . ansietas akut.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Gastrointestinal  Mual dan muntah  Konstipasi . gangguan mood yang lain (misal distimia).   c. depresi. Gejala Intoksikasi:                 Agitasi Kehilangan berat badan Takikardia Dehidrasi Hipertermi Imunitas rendah Paranoia Delusi Halusinasi Kehilangan rasa lelah Tidak dapat tidur Kejang Gigi gemerutuk. anpreksia atau defisiensi gizi kemungkinan atrofi otak dan cacat fungsi neuropsikologis daerah injeksi: bengkak.diare atau kram abdominal  Mulut kering  Mual dan muntah  kram abdominal  kemerahan atau flushing  hiperpireksia. disfungsi seksual gejala kardiovaskuler delirium. terutama daya ingat dan konsentrasi. malnutrisi.pucat  hiperpireksia Otot  peningkatan refleks tendon b.paranoia. atau adanya gangguan makan pada protracted withdrawal. bersamaan dengan diberikan medikasi jangka pendak. halusinasi. penurunan kekebalan gangguan makan. disforesis Kulit  kulit berkeringat. abses kerusakan pembuluh darah dan organ akibat sumbatan partikel amfetamin pada pembuluh darah yang kecll.

Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi:         Agresif/ perkelahian Penggunaan alkohol Berani mengambil risiko Kecelakaan Sex tidak aman Menghindar dari hubungan sosial dengan sekitarnya Penggunaan obat-obatan lain Problem hubungan dengan orang lain e.yaitu :        perasaan tenang (relaksasi) euforia disinhibisi peningkatan persepsi penglihatan dan pendengaran nafsu makan meningkat persepsi waktu yang salah sulit untuk konsentrasi Sedangkan efek akut negatif adalah:      ansietas dan panik paranoia halusinasi pendengaran dan penglihatan gangguan koordinasi kehilangan memori jangka pendek 25 .individunya dan kondisi saat itu. Gejala withdrawal:           Depresi Tidak dapat beristirahat Craving Ide bunuh diri Penggunaan obat-obatan Masalah pekerjaan Pikiran-pikiran yang bizzare Mood yang datar Ketergantungan Fungsi sosial yang buruk 2. Beberapa hal di bawah ini di anggap sebagai efek positif bagi pengguna.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d. KANABIS a. efek dari kanabis tergantung dengan dosis yang digunakan. Komplikasi fisik dan psikososial Efek akut Seperti umumnya dengan napza .

peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus menstruasi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  takikardia dan aritmia supraventrikuler Kanabis tidak menyebabkan overdosis yang fatal Gejala yang umum terj$di pada kondisi putus kanabis adalah       ansietas. penurunan libido. galaktorhea  penurunan kadar testosteron pada laki-laki. depresi pernapasan penekanan refleks batuk pupil konstriksi Gastroitestinal  mual dan muntah  konstipasi  spasme biliar ( peningkatan tonus sfingter Oddi)  perubahan hormon sex pada wanita (kadar FSH dan LH rendah . Efek Opioda SISTIM ORGAN Sistim Saraf      EFEK Analgesi euforia sedasi. tidak dapat beristirahat dan mudah tersinggung anoreksia tidur terganggu dan sering mengalami mimpi buruk gangguan gastrointestinal keringat malam hari tremor Gejala-gejala yang terjadi biasanya ringan dan berakhir setelah satu atau dua minggu.mata dan kulit  pengeluaran urin yang sulit  tekanan darah rendah (reaksi 26 . penurunan kadar ACTH Endrokrin Lainnya  gatal-gatal. 3. mengantuk. Pasien dengan putus kanabis hanya memerlukan manajemen gejala jangka pendek.penurunan libido  meningkatnya hormon anti diuretik (ADH).kulit kemerahan histamin)  kekeringan pada daerah mulut.berkeringat. OPIODA a.

a. rasa lelah.level aktivitas dan mood normal. vertigo disarthria. irirtable. kelelahan tidak dapat istirahat. mual. sampai beberapa bulan Meningkatnya kesehatan secara umum dan penurunan craving 4. penurunan reaksi terhadap waktu dan ataksia penurunan fungsi kognisi dan memori (terutama amnesia anterograde) kebingungan kelemahan otot atau hipotoni depresi nistagmus.tangan atau kaki. perasaan panas dan dingin kehilangan nafsu makan keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving) kram perut. Simpton putus opioid dengan kerangka waktu Jarak waktu dari suntikan terakhir 6 – 12 jam 12 – 24 jam Gejala Umum  mata dan hidung berair. agitasi sulit konsentrasi perasaan panas dan dingin. bicara cadel/tidak jelas 27 . Efek jangka pendek o o o o o o o o mengantuk. sakit kepala sulit tidur letargi. keringat meningkat Lebih dari 24 jam  semua gejala mencapai puncaknya  kebanyakan gejala fisik mulai berkurang. letargi. menguap  berkeringat              Hari ke 2 sampai 4 Hari ke 5 sampai 7 agitasi dan iritabel berdiri bulu roma (goosebumps) berkeringat. BENZODIAZEPIN Semua benzodiazepin bersifat sedatif. diare kehilangan nafsu makan.  nafsu makan mulai kembali  gangguan fisik mulai menghilang.nyeri per§sndian. craving Minggu ke 2 Beberapa minggu  kembali ke pola tidur .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA b. Dapat muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur. muntah nyeri punggung. irritable. ansiolitik dan anti konvulsan. kelelahan gerakan yang tidak terkoordinasi.

mual kelelahan tinnitus hiperakusis. ditambah dengan :     toleransi terhadap efek sedatif/hipnotik dan psikomotor emosi yang "tumpul" (ketidakmampuan merasa bahagia atau duka sehubungan dengan hambatan terhadap emosi) siklus menstruasi tidak teratur. tidak dapat beristirahat. misal alkohol dan opioid yang dapat meningkatkan risiko penekanan pernapasan b. pembesaran payudara ketergantungan (dapat terjadi setelah 3 sampai 6 bulan dalam dosis terapi) d.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o pandangan kabur. Efek jangka panjang Mirip dengan efek jangka pendek. mulut kering o sakit kepala o euforia paradoksal. rasa girang. tapi perlu penanganan serius :   kejang (kejang hampir menyerupai pengguna alkohol dosis tinggi) delirium Gejala lain mencakup:        kedutan otot dan nyeri anoreksia. kebai terhadap serangan atau pukulan dan merasa dirinya tidak dapat dilihat orang sekitarnya) o efek potensiasi dengan napza depresah susunan syaraf pusat lainnya. gangguan persepsi depersonalisasi. derealisasi pandangan kabur 28 . hipomania dan perilaku inhibisi yang ekstrim (terutama pengguna dosis tinggi dapat merasa tidak dapat dilukai. fotofobia. Gejala Putus Benzodiazepin : Umumnya mencakup:         insomnia ansietas irritable tidak dapat beristirahat agitasi depresi tremor dizziness Jarang terjadi.

disorientasi.muncul 3-4 hari setelah berhenti minum alkohol. Intoksikasi Alkohol Akut Intoksikasi dapat dikenali dengan gejala-gejala :     ataksia dan bicara cadel/tak jelas emosi labil dan disinhibisi napas berbau alkohol mood yang bervariasi b. berkeringat dan demam tinggi. ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. DTs mencakup gejala agitasi. biasanya bila muntahan masuk saluran pernapasan obstructive sleep apnoea aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol darah lebih dari 0.4 mg/ml c. ALKOHOL a. stupor atau koma perubahan status mental kulit dingin dan lembab. Komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis :    paralisis pernapasan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5. 29 . Gejala klinis sehubungan dengan overdosis alkohol dapat meliputi:    penurunan kesadaran. tremor kasar. suhu tubuh rendah d. restlessness. Gejala putus alkohol: Biasa terjadi 6-24 jam sesudah konsumsi alkohol yang terakhir: Gejala putus alkohol ringan :          Tremor Khawatir dan agitasi Berkeringat Mual dan muntah Sakit kepala Takikardia Hipertensi Gangguan tidur Suhu tubuh meningkat Gejala putus alkohol berat:        muntah agitasi berat disorientasi kebingungan paranoia hiperventilasi delirium tremens (DTs) adalah suatu kondisi gawat darurat pada putus alkohol yang tidak ditangani .

perilaku repetitif  ansietas/ agitasi berat/ panik  agresif  kedutan otot/tremor/hilang koordinasi  peningkatan refleks  gagal napas  peningkatan tekanan darah yang bermakna  nyeri dada/angina  edema paru  gagal ginjal akut  konvulsi  penglihatan kabur  stroke akut  kebingungan/delirium  halusinasi. Efek akut pada dosis rendah :  anastesi lokal  dilatasi pupil  vasokonstriksi  peningkatan pernapasan  peningkatan denyutjantung  peningkatan tekanan darah  peningkatan suhu tubuh c. Efek akut pada dosis tinggi (reaksi toksik):  stereotipik. KOKAIN a. lebih sering halusinasi dengar  dizziness  kekakuan otot  lemah. 6. nadi cepat  aritmia jantung  iskemi miokardial dan infark  berkeringat/suhu tubuh sangat tinggi (suhu rektal bisa mencapai 41°C)  sakit kepala  nyeri perut/mual/muntah 30 . Efek yang diharapkan :  euforia  banyak bicara  bertambahnya percaya diri  energi  berkurang keinginan untuk tidur b.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA halusinasi lihat dan paranoia.

Gejala putus kokain (terjadi setelah beberapa hari penggunaan kokain)  mood disforia (anhedonia atau kesedihan mirip depresi) dan  kelelahan  insomnia atau hipersomnia  agitasi psikomotor atau retardasi  craving  peningkatan nafsu makan  mimpi buruk  gejala putus alkohol mencapai puncaknya dalam 2-4 hari  gejala disforia bisa berlangsung sampai 10 minggu 7. hidung. halusinasi  hilang libido dan/atau impotensi  peningkatan refleks  peningkatan denyut nadi e. atau mulut  intoksikasi terlihat jelas/ perilaku menyimpang/ berani mengambil risiko  kebingungan  koordinasi yang lemah  mengeluarkan keringat yang berlebihan  ada tanda-tanda tidak biasa/rash. jari tangan.  iritasi kulit di sekitar mulut dan hidung  sekresi nasal yang berlebihan. VOLATILE SUBSTANCE (SENYAWA YANG MUDAH MENGUAP) a.  secara langsung menghirup b.waham curiga. bekas cat tertinggal pada baju. Efek yang diharapkan :  euforia  rasa girang  rasa melambung  rasa tidak dapat dilukai/disakiti 31 . solven. Efek pada penggunaan akut  mata merah dan berair  bersin dan batuk  nafas berbau napza kimia  lem. Efek pada penggunaan kronis :  insomnia  depresi  agresif atau liar  kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan  kedutan otot  ansietas  psikosis .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA d.

Efek jangka pendek/efek negatif:  mengantuk  gejala mirip flu  mual dan muntah  sakit kepala  diare. kematian ). kebingungan  tremor  sakit kepala  delusi  gangguan penglihatan atau halusinasi  perilaku yang tidak dapat diprediksi . e. Gejala putus zat: Permulaan dan lamanya: tidak diklasifikasikan dalam DSM IV tapi sifat dari gejala putus yang memungkinkan dapat terjadi pada 24-48 jam sesudah penggunaan berakhir Gejalanya:  gangguan tidur  tremor 32 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  disinhibisi c. nyeri abdominal  pernapasan tidak nyaman  perdarahan hidung dan tenggorokan  perilaku berisiko.final stages ( kejang. jatuh. ledakan  keracunan. Gejala Overdosis Dosis tinggi dapat menyebabkan pasien mengalami:  konvulsi.stupor . dll)  sufokasi  aspirasi muntahan  terbakar.ataksia . koma cardiopulmonary arrest. kegagalan organ tubuh (pengguna kronis)  Laryngeal Spasm (Butane) Respiratory Arrest  keracunan logam (bensin/solar) f. d. Efek pada dosis tinggi:  berbicara tidak jelas  koordinasi motorik lemah  disorientasi. koma  Gangguan pernafasan  Aritmia jantung Gangguan atau kematian dapat terjadi karena:  perilaku yang berisiko (tenggelam.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA     mudah tersinggung dan depresi mual diaforesis ilusi hilang dengan cepat V. Jenis dan jumlah tenaga/profesi yang dibutuhkan. bilamana memerlukan suatu layanan profesi khusus dapat dilakukan dengan cara sistern rujukan atau membuat kesepakatan kerja. sangat tergantung dengan jenis layanan yang akan dilaksanakan. Dalam bidang teknis-medis tenaga minimal yang diperlukan :  1 orang psikiater dan atau dokter umum yang terlatih di bidang gangguan penggunaan NAPZA 33 . Skrining motivasi untuk bekerja di unit gangguan penggunaan NAPZA dan HIV. Dalam sosialisasi perlu dijelaskan tentang beberapa hal terkait dengan operasional layanan untuk gangguan penggunaan NAPZA tersebut yang meliputi :  Keuntungan yang akan diperoleh ataupun kerugian (kalau ada) yang akan dialami rumah sakit  Jenis layanan atau program terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA yang akan dilaksanakan  Staf dan karyawan yang akan terlibat dalam program  Jejaring yang harus dibentuk dengan pemangku kepentingan  Pendanaan dan penghasilan yang dapat diperoleh dari layanan gangguan penggunaan NAPZA b. LSM atau pemda setempat). Tidak semua jenis profesi harus tersedia dalam sebuah pusat layanan. LAYANAN KOMPREHENSIF GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA BERBASIS RUMAH SAKIT 1. umumnya akan terjadi penolakan ketika akan dilakukan rekrutmen atau skrining staf/karyawan yang akan mengelola program untuk gangguan penggunaan NAPZA. Untuk itu pihak manajemen harus mampu meyakinkan kepada karyawan/staf tentang reward yang dapat diperoleh bagi petugas/staf di bangsal gangguan penggunaan NAPZA seperti:  Pelatihan khusus masalah gangguan penggunaan NAPZA  Pemberian insentif khusus sesuai dengan jam kerja  Promosi kenaikan pangkat  Promosi untuk pendidikan berkelanjutan. Rekruitmen SDM a. sebelum dirancang program operasional terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA seharusnya pihak manajemen melakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan rumah sakit dan pemangku kepentingan lain yang terkait (donator. Sosialisasi program. dan lain-lain sesuai kemampuan rumah sakit c.

ketrampilan berkaitan dengan pekerjaan seperti komputer/ IT.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA      1 tim (8 orang) perawat/paramedik 1-2 orang instruktur/guru sesuai jenis kegiatan 1 tim (3 orang) konselor adiksi yang sudah terlatih 1 orang pekerja sosial 1 orang pembimbing agama Dalam bidang administrasi kegiatan pelayanan dibutuhkan :  1 orang tenaga pimpinan/program manajer  1 orang petugas tata usaha  1 orang petugas keuangan  1 orang petugas kebersihan  1 tim (4 orang) petugas keamanan d.  Promosi dalam pengembangan kompetensi (termasuk perencanaan pelatihan). kepuasan pelanggan dan lain-lain  Menjaga keamanan di lingkungan fasilitas/kerja e. Supervisi teknis sangat diperlukan untuk kita ketahui demi kebutuhan pengembangan ketrampilan apa yang dibutuhkan untuk menunjang layanan yang optimal. Pelatihan untuk staf teknis/medis meliputi. untuk awal pelaksanaan program perlu dilakukan pelatihan pada semua tim teknis/medis baik peningkatan ketrampilan melalui pelatihan maupun magang pada pusat layanan yang sudah mapan/mempunyai kredibilitas.  Pengetahuan tentang gangguan penggunaan NAPZA dan praktek pengobatan/perawatan  Ketrampilan yang berkaitan untuk pengkajian/asesment. secara periodik sebaiknya dinilai kinerjanya disertai dengan rencana promosi bagi staf/karyawan yang mempunyai dedikasi dan ketrampilan yang bisa diandalkan. Tugas pokok dan fungsi yang jelas. dokumentasi. program yang diterapkan pada pusat terapi dan rehabilitasi umumnya merupakan program yang terstruktur sehingga pembagian kerja dari masing-masing individu harus sangat jelas agar program dapat berjalan dengan baik. kelompok kerja dan profesional/tanggung jawab etika dalam pelayanan  Pengembangan manajemen dan ketrampilan supervisi Pelatihan untuk non klinikal/teknis staf meliputi:  Komunikasi. Pelatihan/ketrampilan yang perlu dimiliki. manajemen waktu. Persiapan untuk rencana pelatihan diperoleh dengan melakukan :  Training Need Assesment (TNA) setiap tahun  Jadwal tahunan setiap tahun  Alokasi dana untuk pelatihan  Dokumentasi hasil pelatihan 34 . rencana pengobatan dan konseling individu/kelompok/keluarga  Isu-isu lain berkaitan dengan koordinasi.

Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan RSU tipe A. ruang kelas. ruang ketrampilan. ruang makan/rekreasi. untuk poliklinik Gangguan penggunaan NAPZA dapat digabung dengan poliklinik lain khususnya poliklinik psikiatri. Rawat Jalan . dapur. pagar. B. ruang pemeriksaan. ruang untuk service area. saluran air buangan/drainage. Prasarana:  Jalan. ruang perawatan. kantor. tentunya dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyaman pasien lainnya.B maupun C Penatalaksanaan umum kondisi emergensi gangguan penggunaan NAPZA: 35 . aula. Rawat Darurat. dapur dan sebagainya. aula. kaca. ruang ketrampilan. Fasilitas (sarana/prasarana) bisa digabung dengan pelayanan lain pada rumah sakit. air minum. ruang konseling.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Membuat perpustakaan di dalam pusat layanan 2. benda tajam Rehabilitasi : asrama. Dibawah ini diterangkan apa saja yang dimaksud dengan sarana dan prasarana dalam layanan terapi dan rehabilitasi Gangguan penggunaan NAPZA Sarana:  Bangunan atau gedung. Model Layanan a. dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan program  3. ruang olah raga. asrama. Rawat Inap :  Detoksifikasi : Ruang perawatan (6-10 tempat tidur) yang aman dari bendabenda yang membahayakan seperti. telepon. ruang kantor. ruang kelas. sumur pompa untuk daerah yang air ledengnya sering tidak mengalir). listrik. pelayanan dapat memanfaatkan sarana yang selama ini sudah tersedia bahkan meskipun sangat sederhana/minimal. kisi-kisi yang bisa untuk menggantung diri. apabila tidak memungkinkan hari layanan untuk pasien dengan Gangguan penggunaan NAPZA tidak diberikan setiap hari tetapi dalam seminggu 2 atau 3 kali layanan. peralatan layanan baik medis maupun non medis dan sebagainya (generator untuk daerah sering mati listrik. peralatan kantor. Beberapa sarana yang diperlukan adalah :  Ruang periksa dokter  Ruang konseling/pemeriksaan psikologi  Ruang terapi kelompok untuk sekitar 8-12 orang b. misalnya. dapat dilayani kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA dengan mengacu pada standar minimal RSJ tipe A. Kebutuhan minimal dalam pelayanan Gangguan penggunaan NAPZA: a. Sarana Dan Prasarana Persyaratan minimal disesuaikan dengan jenis layanan yang akan dibuka. tiang/pipa besi yang dapat dipatahkan.

Denyut Nadi. Tanda-tanda vital pasien pada dasarnya stabil tetapi ada gejala-gejala putus NAPZA yang diperlihatkan pasien maka bila ada gejala-gejala kebingungan atau psikotik hal itu merupakan bagian dari gejala putus NAPZA. Bilamana tanda-tanda vital pasien stabil dan secara klinis tidak ada gejalagejala kebingungan atau putus NAPZA secara bermakna. Kemungkinan akan disertai dengan gejala-gejala halusinasi.1. Pernafasan. waham dan kebingungan akan tetapi kondisi ini akan kembali normal setelah gejala-gejala intoksikasi mereda 2. Penatalaksanaan kondisi gawat darurat gangguan penggunaan NAPZA akan diuraikan sebagai berikut: 5. obat dapat diberikan dengan dosis yang adekuat Merupakan hal yang selalu penting untuk memperoleh riwayat penggunaan NAPZA sebelumnya baik melalui auto maupun alloanamnesa (terutama dengan keluarganya). Apabila NAPZA yang digunakan pasien sudah diketahui. kebingungan atau psikotik Terakhir. 3. Temperatur)    36 . Pasien dengan tanda-tanda vital yang stabil dan tidak memperlihatkan gejala putus NAPZA yang jelas tetapi secara klinis menunjukkan adanya gejala kebingungan seperti pada kohdisi delirium atau demensia. Circulation) dan menjaga tanda-tanda vital Bila memungkinkan hindari pemberian obat-obatan. tetapi gejala ini akan menghilang bilamana kondisi klinis delirium atau dementia sudah diterapi dengan adekuat 4. Breathing. Bila pasien tidak sadar perhatikan alat-alat atau barang yang ada pada diri pasien (seperti adanya jarum suntik. Pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA dalam jumlah banyak dan tanda-tanda vital yang membahayakan berkaitan dengan kondisi intoksikasi. obat-obatan dsb) Sikap dan tata cara petugas membawakan diri merupakan hal yang penting khususnya bila berhadapan dengan pasien panik. tetapi menunjukkan adanya halusinasi atau waham dan tidak memiliki insight maka pasien menderita psikosis 5. Intoksikasi/Overdosis Opioida:  Merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan secara cepat  Atasi vital sign (Tekanan Darah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA   Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup (life threatening) melalui prosedur ABC (Airway. penting untuk menentukan atau meninjau kembali besarnya atau beratnya masalah penggunaan NAPZA pasien berdasar kategori dibawah ini: 1. Dalam perjalanannya mungkin timbul gejala halusinasi atau waham. karena dikhawatirkan akan terjadi interaksi dengan NAPZA yang digunakan pasien.

Intoksikasi Kanabis  Umumnya tidak perlu farmakoterapi. Intoksikasi Alkohol  Bila terdapat kondisi Hipoglikemia injeksi 50 mg Dextrose 50%  Bila keadaan Koma :  Posisi face down untuk cegah aspirasi  Observasi ketat tanda vital setiap 15 menit  Injeksi Tiamine 100 mg i.m ulangi setiap 20-30 menit 5. khususnya bila terjadi penurunan kesadaran Observasi selama 24 jam untuk menilai stabilitas tanda-tanda vital 5.1 mg oral. Propanolol 2-3x40 mg (perhatikan kontraindikasinya)  Bila ada gejala ansietas berikan ansiolitik golongan Benzodiazepin .ialu 50 ml Dekstrose 50% iv (urutan jangan sampai terbalik)  Problem Perilaku (gaduh/gelisah):  Petugas keamanan dan perawat siap bila pasien agresif  Terapis harus toleran dan tidak membuat pasien takut atau 37 . Haloperidol 2-5 mg atau Chlorpromazine 1 mg/kg BB setiap 4-6 jam bila timbul gejala psikotik  Antihipertensi bila Tekanan Darah diatas 140/100 mHg  Kontrol temperatur dengan selimut dingin atau antipiretika untuk mencegah temperatur tubuh meningkat  Aritmia cordis. lakukan Cardiac monitoring .01 mg/kg. tergantung kondisi klinis.75 mEq/kg atau Ascorbic Acid 8 mg/hari sampai pH urin <5 akan mempercepat ekskresi NAPZA 5. Intoksikasi Amfetamin atau NAPZA yang menyerupai  Simptomatik.2.v untuk profilaksis terjadinya Wernicke Encephalopathy. Nokoba) dengan dosis 0. atau  Chlordiazepoxide 10-50 mg oral  Bila terdapat gejala psikotik menonjol dapat diberikan Haloperidol 1-2 mg oral atau i.BB secara iv. untuk penggunaan oral : merangsang muntah dengan activated charcoal atau kuras lambung adalah penting  Antipsikotik .4. im.5 . Diazepam 3 x 5 mg atau Chlordia-zepoxide 3x25 mg  Asamkan urin dengan Amonium Chlorida 2. atau  Alprazolam 0.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA    Berikan antidotum Naloxon HCL (Narcan.3. dapat diberikan terapi suportif dengan talking down  Bila ada gejala ansietas berat:  Lorazepam 1-2 mg oral. sc Kemungkinan perlu perawatan ICU.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

 

merasa terancam Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan Beri dosis rendah sadatif: Lorazepam 1-2 mg atau Haloperidol 5 mg oral, bila gaduh gelisah berikan sacara parenteral (I.m)

Kadar Alkohol Dalam Darah dan Hubungannya Dengan Gejala Pada Sistem Saraf Pusat KONSENTRASI (g/dl) PEMINUM SPORADIK 0,050-0,075 (taraf pesta) Euforia, Suka berkumpul gregarious), suka mengomel (garroulous) 0,100 (intoksikasi secara Tidak terkoordinasi hukum*) 0,125-0,150 . Perilaku tak terkontrol Hilang kewaspadaan, lethargy PEMINUM KRONIK -Tak tampak gejala -Sering masih terlihat segar

Gejala minimal Menyenangkan, mulai euforia, kurang koordinasi Membutuhkan usaha untuk mempertahankan emosi/kontrol motorik

0,200-0,250

0,300-0,350 Lebih dari 0,500

Stupor sampai koma Mengantuk, lamban Fatal, mungkin mem- Koma butuhkan hemodialisis

*) Di beberapa Negara (atau negara bagian di AS seperti California) secara hukum kadar 0.080 sudah ditetapkan sebagai intoksikasi. 5.5. Intosikasi Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin)  Diperlukan terapi kombinasi yang bertujuan : a) Mengurangi efek obat dalam tubuh

38

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

b) Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut c) Mencegah komplikasi jangka panjang  Langkah I: Mengurangi efek Sedatif-Hipnotik :  Untuk tingkat serum sedatif-hipnotik yang tingginya ekstrim dan gejala-gejala sangat berat, pikirkan untuk haimoperfusion dengan Charcoal resin/Norit. Cara ini juga berguna bila ada intoksikasi berat barbiturat yang lebih short acting. Tindakan suportif termasuk: a) pertahankan jalan nafas, pernafasan buatan bila diperlukan b) perbaiki gangguan asam basa Alkalinisasi urin sampai pH 8 untuk memperbaiki pengeluaran obat dan untuk diuresis berikan Furosemide 20-40 mg atau Manitol 12,5-25mg.

Langkah II: Mengurangi absorbsi lebih lanjut:  Rangsang muntah, bila baru terjadi pemakaian. Kalau tidak, pikirkan Activated Charcoal, Selama perawatan pasien harus diperhatikan supaya tidak terjadi aspirasi.

Langkah III: Mencegah komplikasi:  Perhatikan tanda-tanda vital dan depresi pernafasan, aspirasi dan edema paru.  Bila sudah terjadi aspirasi, berikan antibiotik  Bila pasien berusaha bunuh diri, maka dia harus ditempatkan di tempat khusus dengan pengawasan perawat.

5.6. Intoksikasi Halusinogen  Intervensi Non Farmakologik : . o Lingkungan yang tenang, aman dan mendukung o Reassurance : bahwa obat tersebut menimbulkan gejala-gejala itu; dan ini akan hilang dengan berjalannya waktu (talking down) Intervensi Farmakologik: o Bila terjadi bad trip (rasa tidak nyaman) atau serangan panik; berikan anti ansietas : Diazepam 10-30 mg oral

5.7. Intoksikasi Inhalansia  Pertahankan agar pernafasan berlangsung dengan baik agar tidak kekurangan oksigen  Tidak ada antidotum yang spesifik

39

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

 

Simptomatik Pasien dengan gangguan neurologik yang nyata, misalnya neuropati atau persistent ataxia, harus dievaluasi sebagaimana mestinya dan follow up yang ketat.

b. Rawat Jalan :  Model Tradisional : model layanan ini sama seperti layanan penyakit lain, dokter hanya melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan kemudian pengobatan farmakoterapi sesuai dengan diagnosis kerja. Tenaga yang dibutuhkan hanya satu orang dokter dan satu orang perawat yang telah terlatih masalah gangguan penggunaan Napza Model Komprehensif/Holistik : model ini menyatukan layanan dari berbagai profesi sesuai dengan kebutuhan pasien. Profesi yang terlibat antara lain; psikiater, dokter umum terlatih, psikolog klinis, pekerja sosial, perawat terlatih, konselor. Bilamana pasien mengalami suatu komplikasi medis dapat dirujuk kepada spesialis lain sesuai dengan hasil pemeriksaan medis. Dalam layanan ini jenis intervensi yang dapat diberikan adalah : - Farmakoterapi - Konseling - Psikoterapi individual dengan pendekatan khusus seperti Terapi Kognitif dan Perilaku - Terapi kelompok - Terapi Keluarga - Evaluasi Psikologis - Evaluasi Sosial

Dalam intervensi psikososial minimal dapat diberikan konseling umum, untuk pasien yang mempunyai risiko tinggi terpapar HIV dapat diberkan layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) dan edukasi tentang berbagai penyakit terkait dengan penggunaan NAPZA khusunya NAPZA dengan cara suntik. Bilamana sudah memiliki dokter yang terlatih dalam CST (Care, Support and Treatment),maka poliklinik dapat memberikan layanan pengobatan untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). c. Layanan rumatan, merupakan suatu layanan jangka panjang untuk pasien dengan ketergantungan opioida/heroin. Layanan ini harus memenuhi kriteria sesuai dengan pedoman yang telah dibuat secara nasional. Beberapa jenis terapi rumatan bagi ketergantungan opioida yang ada adalah: 1. Metadon Merupakan opioida sintetik yang bekerja long acting (24-36 jam) Digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 60 an Bilamana digunakan untuk terapi rumatan (maintenance) tidak menimbulkan eforia, sedasi atau efek analgesik

40

Buprenorfin Buprenorfin merupakan derivat tebain (dalam hukum diklasifikasikan sebagai narkotika) Memiliki sifat partial agonist Potensi kuat dengan cara kerja 24 jam pada dosis lazim dan 12 jam pada dosis minimal Pemberian secara sublingual dengan rasa yang sedikit pahit Memberikan efek agonis yang cukup dirasakan oleh pasien Tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 2 mg dan 8 mg Masa kerja lama bila digunakan untuk pengobatan ketergantungan opioida berbeda dengan efek analgesiknya yang singkat Afinitas yang tinggi terhadap mu-reseptor opioida Bersaing dengan opioida lain dan memblok efek opioida lain Disosiasi yang lambat dari mu-reseptor opioida Efek terapeutik yang lebih lama pada pengobatan ketergantungan opioida (berbeda dengan efek analgetik yang relatif singkat) 3. bekerja pada mu reseptor (depresi pernafasan. dispensing dengan pompa otomatis sehingga dosis kecil dapat terukur dengan baik. Metadon HCI Liquid. Levo Alfa Asetil Metadol (LAAM) Merupakan opioida sintetis agonis yang sama efeknya dengan metadon Perubahan rantai kimia menyebabkan efek kerja LAAM lebih lama dari 41 .90%. ketergantungan flsik dan eforia) Oral bioavisbility 80 . artinya bila digunakan melalui oral akan diserap tubuh sebesar 80-90% Oiabsorbsi secara perlahan setalah 30 menit pemberian dan mencapai efek puncak 2-4 jam Dengan pemberian dosis yang berulang waktu paruh rata-rata 22 jam - 2. Setiap 1 ml mengandung 10 mg metadon HCI Penggunaan iv setara dengan morfln Mempunyai cara kerja yang serupa dengan morfin. Setiap tablet mengandung 40 mg.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA - Dosis adekuat sangat individual Zat aktif: Metadon Hidrokhlorida Zat inaktif: Magnesium stearat dan selulosa Bentuk sediaan : tablet: disebut juga Diskettes.

Asam Mefenamat. 1. Untuk Metadon dan Buprenorfin terapi dapat dilanjutkan untuk jangka panjang (Rumatan) 42 . 1. benzodiazepin dan alkohol atau adanya komplikasi fisik maupun psikologis  Untuk ruangan kondisinya sebaiknya terpisah dengan bangsal penyakit lain karena kemungkinan akan mengganggu pasien lainnya  Detoksifikasi biasanya dilakukan dengan standar minimal dengan simptomatis. tidak semua pasien memerlukan rawat inap. Dekongestan. putus NAPZA yang memerlukan tapering off pengobatan (Alkohol. Detoksifikasi. Buprenorfin yang diberikan secara tapering off. Metadon. apabila memungkinkan dikembangkan untuk detokisifikasi dengan zat substitusi atau UROD (Ultra Rapid Opioid Detoxification)  Beberapa jenis detoksifikasi yang dapat diberikan untuk beberapa jenis NAPZA akan dijelaskan dibawah ini. farmakodinamik. Suboxone Merupakan kombinasi antara Buprenorfin sembilan bagian dengan Nalokson satu bagian (antagonis opioida) Cara kerja. Parasetamol). Spasmolitika (Papaverin). Sedatif-Hipnotik. Antidiare  Subtitusi dengan golongan Opioida : Kodein. Benzodiazepin) atau adanya penyulit baik secara fisik maupun mental. akan timbul gejala putus opioida d. dosis dan cara penggunaan sama dengan Buprenorfin Obat ini sulit untuk disalahgunakan (disuntikan) karena adanya antagonis opioida akan melepas ikatan opioida pada mu-reseptor sehingga. Rehabilitasi. Putus Opioida  Putus seketika (Abrupt Withdrawal )  Simptomatik. Rawat Komplikasi Fisik dan Psikiatrik. cara penggunaan. Rawat Inap. sesuai gejala klinis beri analgetika (Tramadol. hanya pada kondisi putus NAPZA berat untuk heroin. Rawat inap diperuntukkan bagi pasien yang kondisi fisik maupun psikologisnya sulit untuk diatasi dengan rawat jalan seperti : kondisi putus NAPZA berat.1.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA metadon Waktu kerja mencapai 72 jam (3 hari) sehingga pemberian hanya dilakukan 3 hari sekali Mengingat efek toksik yang cukup tinggi LAAM saat ini jarang digunakan 4. Detoksifikasi  Merupakan suatu langkah awal dalam proses pemulihan  Bertujuan mengatasi kondisi putus NAPZA  Tidak semua pasien memerlukan perawatan detoksifikasi dengan rawat inap.

Harus dilakukan dalam ruang Intensif Care Unit (ICU) karena harus dalam pengawasan dokter dengan monitor terpasang di tubuh selama pasien tidak sadar . Antiansietas (Alprazolam 2 X 0. Klonidin dengan dosis 17mcg/Kg.Bila ada riwayat kejang. putus alkohol atasi dengan Benzodiazepin (Diazepam 10 mg iv perlahan).Terapi : Antipsikotik (Haloperidol 3 x 1. gejala depresi berat atau Kecenderungan bunuh diri.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA    Subtitusi non opioida .Rawat inap diperlukan apabila gejala psikotik berat. dan kompllkasi flsik lain .Atasi kondisi gelisah dan agitasinya dengan golongan Benzodiazepin atau Barbiturat .5 mg. perlu pengawasan tekanan darah.4. 1.2.Pemberian injeksi vitamin B kompleks dosis besar (mis : Vitamin neurotropik) kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral vitamin B1.25-0.Pemberian cairan atas dasar hasil pemeriksaan elektrolit dan keadaan umum pasien . Putus Alkohol . Neuroleptika (yang memberi efek sedatif.BB dibagi dalam 3-4 dosis diberikan selama 10 hari dengan tapering off 10%/hari. Dapat juga diberikan Tiamine 100 mg ditambah 4 mg Magnesium Sulfat dalam 1 liter dari 5% Dekstrosa / normal saline selama 1 -2 jam .Merupakan detoksifikasi cepat dangan menggunakan anaestesi atau dalam kaadaan tidak sadar saat melepaskan ikatan opioida dari mureseptor dengan menggunakan antagonis opioida yaitu Nalokson injeksi .5-Smg.Observasi 24 jam untuk menilai kondisi fisik dan psikiatrik . Putus Amfetamin atau Napza yang serupa .3. Putus Sedatif-Hipnotik  Abrupt withdrawal ( pelepasan mendadak ) dapat berakibat fatal karena 43 . klozapine 25 mg) dapat dikombinasikan dengan obat-obat lain Ultra Rapid Opioid Detoxification (UROD): .5-3 mg). bila sistole kurang dari lOOmmHg atau diastole kurang 70 mmHg HARUS DIHENTIKAN Pemberian Sedatif-Hipnotika. Clobazam 2 x 10 mg) atau Antidepresi golongan SSRI atau Trisiklik/Tetrasiklik sesuai kondisi klinis 1. Diazepam 3 x 5-10 mg.Bila terjadi Delirium Tremens HARUS ADA ORANG YANG SELALU MENGAWASI. Risperidon 2 x 1.Setelah seletsi pasien harus menaruskan pengobatan oral dengan Naltrekson 50 mg/hari selama 6 bulan sampai 2 tahun sesuai dengan kondisi klinis pasien 1. mis . multivitamin dan Asam Folat 1 mg .

Teknik substitusi Fenobarbital (Luminal): Digunakan Luminal sebagai pengganti. karenanya jarang menimbulkan problema tingkah laku yang umum dijumpai pada Barbiturat short acting. memungkinkan digunakannya dosis kecil yang lebih aman. Luminal) dalam jumlah cukup banyak sampai terjadi gejala-gejala intoksikasi ringan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA itu tidak dianjurkan. Dosis letal 5 kali lebih besar daripada dosis toksis dan tanda-tanda toksisitasnya lebih mudah diamati (sustained nystagmus. Lalu diteruskan selama beberapa hari sampai keadaan pasien stabil. Intoksikasi Luminal biasanya tidak menimbulkan disinhibisi. ditunda sampai keadaan pasien stabil. Sifat long acting akan mengurangi fluktuasi pada serum yang terlalu besar. setelah itu penurunan dosis dilanjutkan. atau sampai kondisi pasien tenang. dosis tunggal sudah cukup.  Gradual withdrawal (pelepasan bertahap) dianggap lebih rasional. Dosis Luminal tidak boleh melebihi 500 mg sehari berapa besarnya sekalipun dosis Barbiturat yang diakui pasien dalam anamnesis. Untuk keadaan putus Barbiturat. 1-2 dosis Luminal berikut dihapus. Kadang-kadang pasien tidak bersedia dberikan Luminal. kemudian baru dimulai dengan penurunan dengan kecepatan maksimal 10 % per 24 jam sampai dosis sedatif nol. Waktu paruhnya antara 12-24 jam . Bila penurunan dosis menyebabkan pasien gelisah / insomnia/ agitatif atau kejang. atau barbiturat masa kerja lama yang lain. Penurunan dosis total 10 % per hari. dapat diberikan obat yang biasa digunakan oleh pasien. slurred speech/cadel dan ataxia). disusul dengan pemberian suatu sedatif: Benzodiazepin atau Barbiturat ( Pentotal. Rumus yang dipakai:   Satu dosis sedatif = satu dosis hipnotik (short acting Barbiturat yang dipakai) Kalau timbul toksitas. maksimal 100 mg/hari. lalu dosis harian dihitung kembali Daftar Dosis Ekivalen = (untuk detoksifikasi Sedatif Hipnotik lain) 30 mg Luminal kira-kira setara dengan : 100 mg Pentonal 44 . dimulai dengan memastikan dosis toleransi.

keinginan untuk berhenti) .Klobazam. Short Term ( Jangka Pendek)      Lama perawatan berlangsung antara 1 sampai 3 bulan tergantung dari kondisi dan kebutuhan pasien Pendekatan yang dapat dilakukan kearah medik dan psikososial Masalah medik masih menjadi fokus utama.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  500 mg Khloralhidrat 400-600 mg Meprobamat 250-300 mg Metakualon 100 mg Chlordiazepoxide 50 mg khlorazepat 50 mg Diazepam 60 mg Flurazepam Penatalaksanaan dengan tapering off Benzodiazepin . Program dapat dimulai rehabilitasi jamgka pendek dan bila sarana/prasarana dan SDM sudah memenuhi kriteria dapat dikembangkan menjadi program rehabilitasi jangka panjang 1. kondisi fisik saat ini dan penyakitpenyakit lain yang terkait dengan penggunaan NAPZA .evaluasi medis: riwayat penyakit.evaluasi masalah penggunaan NAPZA (Jenis. asesmen dilakukan secara lengkap termasuk pemeriksaan penunjang medik Indikasi diberikan kepada pasien yang memiliki kegiatan rutin (bekerja. e.Berikan salah satu Benzodiazepin (Diazepam. pendidikan. jumlah. dsb) Asesmen yang perlu dilakukan pada model terapi ini antara lain : .Lakukan penurunan dosis (kira-kira 5 mg) setiap 2 hari .evaluasi psikologis melalui wawancara dan tes psikologi . Estazolam 1-2 mg ) . penggunaan waktu senggang dan kehidupan pribadi lainnya Untuk melakukan asesmen memerlukan suatu hubungan terapeutik yang  45 . sekolah. Clozapine 25 mg. lama pemakaian. Lorazepam) dalam jumlah cukup.Berikan hipnotika malam saja (misalnya .evaluasi sosial : riwayat keluarga. .Berikan vitamin B complex. Rehabilitasi.Injeksi Diazepam intramuskuler/intravena 1 ampul (10 mg) bila pasien kejang/agitasi. . dampak yang ditimbulkan.evaluasi tentang kegiatan agama. pekerjaan dan hubungan sosial . dapat diulangi beberapa kali dengan selang waktu 30-60 menit.

Gambaran dari TC adalah sebagai berikut: a.Pengenalan program dan fasilitas layanan b. Diarahkan pada pasien yang mempunyai riwayat perilaku kriminal g. dalam hal ini yang akan dibahas adalah modalitas terapi Therapeutic Community (TC) yang menggunakan pendekatan perubahan perilaku.Orientasi program (walking paper} . Primary Stage (6 sampai 9 bulan):    46 . Umumnya pasien berada dalam program untuk 6-12 bulan c. Program dangan struktur yang tinggi/ketat b.  Direkomendasikan bagi pasien yang sudah mengalami masalah penggunaan NAPZA dalam waktu lama dan berulang kali kambuh atau sulit untuk berada dalam kondisi abstinen atau bebas darl NAPZA TC dapat digambarkan sebagai model yang cocok atau sesuai dengan pasien yang membutuhkan llngkungan yang mendukung dan dukungan lain yang bermakna dalam mempertahankan kondisi bebas NAPZA atau abstinen.Pemeriksaan fisik . Mengembangkan sistem dukungan yang sesuai kebutuhan pasien h. Rehabilitasi Jangka Panjang. Rehabilitasi vokasional Program ini mempunyai suatu aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang diistilahkan dengan cardinal rules dan five pilars yang sangat mengikat setiap residen untuk menjalankan dan siap menerima sanksi bila melanggar aturan tersebut ( pasien peserta TC lazim disebut residen ) Tahapan program TC yang harus dijalani oleh setiap residen adalah sebagai berikut: a. Proses Intake dan Orientasi (2-4 minggu). Program pendidikan e.Wawancara awal . Menstabilkan fungsi kehidupan pasien i.Informed consent . Latihan ketrampilan sosial dan penerapannya (seringkali pasien mengalami gangguan fungsi kehidupan yang serius) f.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA terbina antara pasien dengan terapis dan hasil asesmen tersebut menjadi acuan untuk terapi selanjutnya  Pengobatan dapat dilanjutkan dengan rawat jalan atau bila masalah yang dihadapi pasien khususnya perilaku belum memungkinkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi jangka panjang 2.Pengisian formulir . . Program pengobatan d.

5 .2 bulan).Boleh meninggalkan fasilitas/rumah . Tahapan Re-Entry (3 sampai 6 bulan): o Fase Orientasi (2 minggu).  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi setiap waktu  Diberi ijin pulang menginap 2 malam setiap 2 minggu  Boleh meminta tambahan uang jajan  Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC operational 47 .Dilakukan Family Support Group (FSG) Untuk Older member (anggota lama 6-8 bulan) • .Kegiatan Kelompok Untuk Middle Member (anggota menengah 4-6 bulan) .Mulai bertanggung jawab terhadap sebagian fasilitas/rumah . .Sudah bertanggung jawab penuh terhadap rumah/fasilitas.Dikunjungi keluarga .Mengikuti kegiatan kelompok .Dilakukan kegiatan FSQ .Aktif mengikuti program .Penerapan sanksi (reward and punishment) .Kegiatan Family Support Group .Kegiatan dalam kelompok .Sudah dapat keluar fasilitas TC dengan pendamping .Pelaksanaan reward dan punishment secara penuh .Menjadi buddy bagi younger member .  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi keluarga setiap waktu  Diberi ijin menginap 1 malam setiap 2 minggu sekali  Boleh menerima uang jajan setiap minggu secara teratur  Boleh melakukan aktifitas di luar fasilitas TC o Fase B (2 bulan).  Pengenalan program re-entry  Didampingi buddy  Tidak boleh dikunjungi keluarga  Tidak boleh meninggalkan fasilitas TC  Sanksi berupa tugas-tugas mengurus fasilitas  Mengikuti kegiatan kelompok o Fase A (1.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Untuk Younger Member (anggota termuda 1-3 bulan) .Dinyatakan graduate/lulus c.

Tempat pelaksanaan disepakati bersama Program ini bertujuin agar alumni TC mempunyai tempat/kelompok yang sehat dan mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan hidup yang positif Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah : . suatu pendekatan yang mengutamakan pada masalah psikologis dan sosial yang disandang oleh pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien menghadapi setiap masalah (Coping Mechanism).  Mengikuti kegiatan kelompok  Dapat dikunjungi setiap waktu  Diberi ijin pulang  Boleh meminta tambahan uang jajan  Boleh melakukan kegiatan di luar fasilitas TC  Konseling final bagi residen maupun keluarga untuk persiapan pulang d.Waktu dan tempat pelaksanaan disepakati bersama   e.Meminta anggota untuk menanggapi suatu topik .  Intervensi psikososial merupakan komponen kunci untuk terapi gangguan penggunaan NAPZA yang komprehensif baik secara individu maupun kelompok Intervensi ini dapat diberikan pada setiap tahapan terapi baik dalam keadaan intoksikasi sampai pada saat fase rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien khususnya pasien dengan kesadaran penuh Untuk melaksanakan intervensi ini diperlukan pelatihan ketrampilan yang khusus dan memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan jenis intervensi Pendekatan psikososial saja bukan yang superior. Program ini dilaksanakan di luar fasilitas TC dan dlikuti oleh semua angkatan dibawah supervisi staf re-entry. gender serta komorbiditas Beberapa model intervensi psikososial yang dapat dilakukan dalam layanan pengobatan Gangguan penggunaan NAPZA antara lain :     48 . umur.Sharing dalam kelompok tanpa ditanggapi . program terapi harus didesain sesuai kebutuhan pasien dengan mempertimbangkan faktor budaya. Intervensi Psikososial. Aftercare Program  Program yang ditujukan bagi mantan residen/alumni TC.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA o Fase C (2 bulan).

Bl khususnya dapat dipargunakan untuk pelayanan dasar di puskesmas dan dapat juga digunakan di ruang emergensi. pengurangan dampak buruk 6. pencegahan kekambuhan 7. follow -up. dan berbagai kondisi layanan kesehatan lain. asesmen singkat 2.Berbagai intervensi membutuhkan waktu antara 5 menit sampai 2 jam. Enam elemen terapi dalam intervensi singkat yang sering digunakan dan berhasil adalah: F : Feedback  memberikan umpan balik hasil asesmen klinis 49 . Brief Intervention (Bl) Brief Intervention dipertimbangkan untuk berbagai kondisi yang melibatkan waktu tenaga profesional yang terbatas untuk mencoba merubah penggunaan NAPZA.  Pasien yang kompleks dengan isu-isu masalah psikologis/ psikiatrik  Pasien dengan ketergantungan berat  Pasien dengan kemampuan membaca yang rendah  Pasien dengan kesulitan terkait dengan gangguan fungsi kognitif Pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan wawancara mendalam. Bl dapat menggunakan barbagai bentuk format tetapi seringkali termasuk: 1. Intervensi direkomendasikan untuk beberapa kondisi seseorang seperti dibawah ini:     Penggunaan alkohol yang membahayakan tetapi belum ketergantungan Ketergantungan alkohol ringan sampai sedang Ketergantungan nikotin/perokok Ketergantungan kanabis ringan sampai sedang Bl tidak direkomendasikan untuk kondisi dibawah ini . anjuran untuk mengurangi konsumsi 5. informasi tingkat penggunaan yang aman 4.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 1. asesmen untuk kesiapan berubah termasuk wawancara memotivasi 8. Konseling singkat termasuk pemecahan masalah dan tujuan 9. materi self.cara menyuntik 3. bangsal rumah sakit.help ( materi yang membantu pemahaman NAPZA contoh leaflet tentang penanganan overdosis.

tetapi membantu orang untuk: o Mampu mengerti perasaan mereka o Menemukan dan memilih alternatif yang nampaknya paling baik bagi mereka Karakteristik konseling adalah :       50 . perhatian dan keahliannya membantu pasien untuk mempelajari situasi mereka. Konseling Dasar ".. Membantu pasien untuk mempelajari dan memperoleh solusi jangka panjang yang memuaskan bagi masalah-masalah yang dialaminya. Menyampaikan informasi penting 2. anjuran praktis dan materi self help M : Menu  memberikan beberapa opsi dan intervensi dalam perubahan perilaku E : Empathy  memperlihatkan sikap tidak menghakimi dan menghayati pasien S : Self-Efficacy  menekankan kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk berubah 2. mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan mereka.konseling sendiri biasanya tidak cukup untuk merubah perilaku penggunaan NAPZA pada kebanyakan pasien.. Membantu pasien mengklarifikasi dan menempatkan masalah 3. Memberikan dukungan psikomotor melalui ketrampilan komunikasi Konselor membuat suatu kondisi dimana pasien dapat menjadi teman baik melalui pikiran dan perasaan mereka Konselor tidak memberikan nasehat.. A : Advice  memberikan kejelasan. dengan tulusdan tujuan jelas. memberikan waktu.. Membantu pasien memilih dan mengambil pendekatan realistik 4.. Fungsi Utama Konseling .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA R : Responsibility  meyakinkan bahwa perilaku penggunaan NAPZA dan masalah yang ditimbulkannya menjadi tanggung jawab individu . 1.. Tujuan dan fungsi konseling ."  Konseling adalah suatu proses pertolongan dimana seseorang.

Menanyakan pertanyaan yang baik .Menghargai pasien maupun perasaan pasien. Wawancara Motivasional (Motivational Interviewing -Ml) Motivasi adalah suatu keadaan kesiapan atau keinginan untuk berubah. selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu atau dari situasi kesituasi lain. 51 .Tidak menyalahkan atau menghakimi . tapi prinsip dan keterampilan wawancara sangat penting pada semua tahap. Dasar pemikiran atau alasan melakukan wawancara motivasional ini adalah bahwa untuk mencapai perubahan adalah lebih mudah bila motivasi untuk berubah tersebut datang dari dalam dirinya sendiri. dari pada dipaksakan oleh konselor atau terapis.Menyatakan bahwa pasien tidak sendiri menghadapi masalah  untuk mencegah pasien merasa gagal atau ditolak  Memahami prinsip-prinsip umum dalam konseling 3.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Merupakan suatu proses interaktif Merupakan hubungan yang interaktif Berdasarkan pada kolaborasi Melibatkan berbagai ketrampilan konselor Menekankan pada kebebasan personal Menekan-kan pilihan Menggunakan penguatan positif Menggunakan dukungan emosional Pencatatan secara formal Dalam proses konseling agar terbangun suatu hubungan terapeutik seorang konselor harus mampu  Melakukan percakapan yang efektif: . Wawancara motivasionil adalah sebuah wawancara yang interaksinya berpusat pada pasien dan bertujuan untuk membantu seseorang menggali dan mengatasi ambivalensi tentang penggunaan NAPZA melalui tahap perubahan. Ini sangat berguna bila dilakukan pada pasien yang berada pada tahap prekontemplasi dan kontemplasi.Mencoba mengerti perasaan pasien . dan tidak memaksanya berubah .Mehyediakan informasi yang tepat .Mendengarkan dengan aktif .

Ketidakcocokan (perbedaan). Pendekatan intervensi singkat ini didasarkan pada prinsip wawancara motivasional yang dikembangkan oleh Miller dan kemudian di perluas oleh Miller dan Rollnick. Menghindari argumentasi Prinsip utama dari wawancara motivasional adalah dapat menerima bahwa adanya ambivalensi dan resistensi untuk berubah adalah suatu 52 . Hal ini penting bagi pasien untuk mengidentifikasi tujuan/dan nilai serta untuk mengekspresikan alasan-alasan mereka untuk berubah. Semakin besar perbedaan antara tujuan. khususnya empati yang dihubungkan dengan perbaikan hasil pengobatan. antara penggunaan NAPZA dan masalah yang berhubungan dengan perilaku mereka saat ini serta arah yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka. misalnya menyebut pasien sebagai "alkoholik" atau "pecandu". Hal ini sangat penting untuk menghindari adanya konfrontasi dan menyalahkan atau mengkritik pasien. nilai dan perilaku mereka saat ini. Keterampilan mendengarkan dan merefleksikan merupakan bagian penting dari ekpresi empati. Empati yang dilakukan oleh tenaga kesehatan merupakan faktor penting untuk mengetahui bagaimana respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. tidak menghakimi dan dapat memahami pasien serta menghindari memberikan label. kemungkinkan besar pasien dapat berubah. Wawancara motivasional bertujuan untuk menciptakan dan menjelaskan perbedaan antara perilaku saat ini dan tujuan yang lebih basar dan menilai cara pandang pasien terhadap hal tersebut. Prinsip wawancara motivasional Mengekpresikan Empati Dalam situasi klinis keterlibatan empati memberikan gambaran bahwa konselor atau petugas kesehatan menerima pasien apa adanya. Orang lebih mungkin dimotivasi untuk mengubah perilaku penggunaan NAPZA bila mereka melihat ada perbedaan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Wawancara motivasional didasari pada pengertian bahwa:  Pengobatan yang efektif dapat membantu proses perubahan  Motivasi untuk berubah terjadi dalam konteks hubungan antara pasien dan terapis  Gaya dan semangat dari intervensi sangat menentukan keberhasilan terapis.

tenaga kesehatan harus dapat menggambarkan kembali atau merefleksikannya. Pada saat pasien memperlihatkan resistensinya. hal apt yang anda rasakan kurang baik tentang penggunaan. Keterampilan kelima adalah "berbicara mengenai perubahan" OARS dapat membantu pasien menyampaikan argumentasi untuk mengubah perilaku pengguna NAPZA mereka. Melakukan negosiasi dan membangun kepercayaan untuk membujuk pasien bahwa sesuatu yang dapat mereka lakukan adalah bagian penting dari wawancara motivasional. Keterampilan-keterampilan khusus Wawancara motivasional dilaksanakan dengan menggunakan lima keterampilan khusus. Keterampilan ini bertujuan untuk mendorong pasien mau berbicara. Kepercayaan terapis pada kemampuan pasien untuk mengubah perilaku mereka juga penting dan dapat menjadi sugesti diri sendiri.. Reflective listening (mendengarkan dengan cara merefleksikan). Affirmation (Penegasan). Dukungan keyakinan diri (kepercayaan) Seperti yang telah didiskusikan diatas pasien yakin bahwa mengurangi atau menghentikan perilaku penggunaan NAPZA adalah penting dan mereka mampu melakukannya. OARS Pertanvaan terbuka (Open Ended Questions) Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang dan membuka pintu kepada seseoranc igar mareka mau berbicara. Ini biasanya penting untuk menghindari argumentasi dan perdebatan.. Empat keterampilan pertama tersebut sering dikenal dengan singkatan OARS:-Open ended questions (Pertanyaan terbuka). Contoh pertanyaan terbuka antara lain:  " Apa manfaat yang anda rasakan dengan menggunakan NAPZA"?  "Ceritakan kepada sayi..MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA hal yang normal dan untuk mengajak pasien mempertimbangkan antara informasi yang didapat dan pandangan terhadap penggunaan NAPZA mereka.(NAPZA)  "Anda kelihatan khawatir dengan penggunaan NAPZA yang anda lakukan selama ini?" bisa disampaikan pada saya tentang hal 53 . menggali ambivalensi mereka terhadap penggunaan NAPZA dan menjelaskan alasan mereka untuk mengurangi atau berhenti menggunakan NAPZA. Summarising (menyimpulkan).

?" Penegasan (Affirmation) Termasuk pernyataan apresiasi serta pengertian membantu menciptakan lingkungan yang mendukung. saya sangat menghargai jika anda tetap seperti ini" ....... Contoh penegasan termasuk:  "Terima kasih untuk kedatangannya pada hari ini"  "Saya menghargai kemauan saudara untuk berbicara pada saya tentang penggunaan NAPZA"  "Anda adalah orang yang tepat untuk mengatasi kesulitan ini"  "Saya dapat melihat bahwa anda merupakan orang yang tangguh"  "Itu adalah ide yang bagus"  "Hal ini sulit untuk dibicarakan mengenai..MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tersebut lebih lanjut?"  "Seberapa khawatirnya anda pada hal tersebut"  " Bagaimana perasaan anda tentang.. Mendengarkan dengan cara merefleksikan menunjukkan pada pasien bahwa terapis mengerti apa yang telah dikatakan atau dapat digunakan untuk mengklarifikasi apa yang dimaksud oleh pasien..?"  "Apa yang akan anda lakukan berkaitan dengan hal tersebut?"  " Apa yang anda ketahui tentang ... Hal ini penting untuk merefleksikan kembali perkataan dan perasaan pasien yang telah di ucapkan.... Mendenqarkan dengan cara merefleksikan (Reflective listening) Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah suatu pernyataan yang dapat menebak apa yang dimaksud pasien. sementara penegasan pernyataan motivasi diri (atau berbicara tentang perubahan) mendorong kesiapan untuk berubah..... Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah sama halnya seperti menggunakan cermin untuk seseorang sehingga mereka dapat mendengar apa yang dikatakan terapis seperti apa yang telah mereka sampaikan... mendengarkan dengan cara merefleksikan digunakan secara aktif untuk menyoroti ambivalensi pasien tentang penggunaan NAPZA .. untuk itu terapis harus memberikan cukup waktu agar hal ini dapat dilakukan Dalam wawaneara motivasional. mengarahkan pasien untuk mengenali dan peduli dengan masalahnya serta memperkuat 54 .. Mendengarkan dengan cara merefleksi yang efektif dapat mendorong pasien untuk tetap berbicara... Memberikan penegasan terhadap kekuatan pasien dan usaha untuk berubah dapat membantu membangun keyakinan........ serta membangun relasi dengan pasien.

Sebagai contoh suatu rangkuman: "Jadi kelihatannya anda benar-benar menikmati ekstasi dan shabu pada saat pesta dan anda tidak memikirkan bahwa anda menggunakannya lebih banyak dari teman anda . Pada sisi lain anda lebih banyak menghabiskan uang untuk membeli NAPZA dibandingkan penghasilan anda dan ini sangat mengkawatirkan anda.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA parnyataan yang mengindikasikan bahwa pasien berfikir tentang perubahan. Pasangan anda sangat marah dan sangat membenci perilaku anda. Terapis memilih apa yang akan dimasukkan dalam rangkuman dan petunjuk apa yang dapat digunakan untuk berubah. Contoh :       "Anda terkejut bahwa skor anda memperlihatkan bahwa anda mempunyai masalah yang berisiko" "Hal ini sangat penting untuk mempertahankan hubungan anda dengan istri" "Anda merasa tidak nyaman membicarakah hal ini" "Anda marah karena istri sering mengomeli bila anda banyak merokok" "Maukah anda mengurangi penggunaan alkohol pada saat pesta" "Anda sangat menikmati ekstasi dan tidak mau menghentikannya tapi secara bersamaan anda juga melihat bahwa hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah yang berkaitan dengan finansial dan hukum". Hal ini penting untuk membuat suatu rangkuman. Pertama pasien dapat mendengarkan apa yang ia katakan kemudian ia mendengar terapisnya merefleksikan apa yang telah diucapkan dan kemudian ia mendengarkan kembali dalam kesimpulan atau rangkuman. Anda juga menemui kesulitan untuk membayar tagihan dan kartu kredit anda ditolak. Membuat kesimpulan (Summarising) Membuat kesimpulan atau merangkum adalah hal yang penting untuk menyamakan persepsi terhadap apa yang telah dikatakan pasien serta mempersiapkan pasien untuk berubah." Berbicara menqenai perubahan (Eliciting change talk) Keterampilan kelima adalah "Berbicara mengenai perubahan" adalah suatu strategi untuk membantu pasien mengatasi 55 . Anda juga mempunyai masalah tidur dan kesulitan mengingat sesuatu.

fokus pada masalah yang dihadapi saat ini yang bergumul untuk mengatasi problem NAPZA yang dialami pasien. sangat kompatibel dengan berbagai sumber daya yang tersedia bagi pasien.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ambivalensi dan bertujuan agar pasien dapat menyampaikan pendapatnya untuk mau berubah. goal-oriented (berorientasi pada sasaran perawatan yang telah dirancang). 3. CBT telah teruji secara klinis dan didukung oleh percobaan empirikal yang solid. contoh :  "Apa yang menyebabkan anda khawatirkan dengan penggunaan NAPZA ?"  "Apa yang anda pikirkan terjadi jika anda tidak berubah?"  > "Manfaat apa yang akan didapatkan jika anda mengurangi penggunaan NAPZA ?"  > "Apa yang anda inginkan dalam kehidupan anda lima tahun mendatang?"  "Apa yang akan anda kerjakan apabila anda memutuskan untuk berubah?"  "Seberapa yakinkah anda bahwa anda dapat berubah?"\  "Seberapa penting bagi anda untuk mengurangi penggunaan NAPZA?"  "Apa yang anda fikirkan saat ini tentang penggunaan NAPZA anda ?" 4. bahkan sampai kepada penggunaan dalam manajemen perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktifitas yang sustainable dan resilience. Cognitif Behavioral Therapy (CBT) Cognitive Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan CBT adalah sebuah psikoterapi yang mulai banyak digunakan oleh para profesional dan terapis dalam menghadapi berbagai persoalan-persoalan psikologis individual. Ada empat kategori penting untuk membicarakan perubahan :  Mengenali kerugian bila tetap menggunakan NAPZA  Mengenali manfaat blla tidak menggunakan NAPZA  Menyampaikan optimisme tentang perubahan  Menyampaikan tujuan untuk berubah Terdapat beberapa cara yang dapat menggambarkan "berbicara mengenai perubahan" dari pasien. 56 . CBT sebagai sebuah bentuk psikoterapi digunakan oleh para profesional karena: 1. 2. CBT adalah jangka pendek. CBT terstruktur.  Mengajukan pertanyaan langsung dan terbuka.

CBT dikembangkan sesuai 57 . Ml. aktivasi perilaku-conditioning. outpatient) demikian juga formatnya (kelompok dan perorangan). digunakan sekitar 80% terapi kognitif. Medis.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 4. memerlukan dasar teori yang sudah terbukti (evidence based} dan teruji secara klinis. maka para ahli yang menggunakan CBT mengembangkan apa yang disebut kompetensi CBT untuk berbagai gangguan yang didasari oleh meta-analisa diatas. Terapi kognitif. Sangat cocok dikombinasikan dengan berbagai terapi seperti MET. Asumsi yang dipakai adalah. dan sasaran individu (penderita gangguan) yang juga khusus. dengan mengidentifikasi keyakinan-keyakinan inti dan asumsi-asumsi yang tidak rasional yang mengakibatkan atau menjadi kebiasaan (otomatis) dan bekerja kearah mengkoreksinya. Sedangkan muatan terapi perilaku. CBT sangat fleksibel. lingkungan yang khusus. khususnya bagi pasien remaja dan dewasa. dan pada tahun 1990an pendekatan-pendekatan yang baru muncul seperti mindful therapy and acceptance & committment therapy. terhadap pribadi yang khusus. yaitu mulai dari psikoanalisa. Dasar Teori CBT Setiap model dan metoda intervensi. 5. (1950an). dengan tujuan utama adalah merestruktur cara berpikir lama dan merubah perilaku lama dalam suatu proses pembelajaran. setiap bentuk gangguan sifatnya sangat khusus. lalu terapi kognitif REBT menurut Albert ElHs. bertujuan untuk membangun pikiran dan tindakan yang lebih rasional. Dengan dasar diatas. Intervensi CBT lahir dari 2 (dua) teori . pendekatan sangat individual tetapi dapat disesuaikan dengan berbagai bentuk perawatan (inpatient. yaitu teori terapi kognitif dan teori terapi perilaku yang telah ada dalam dunia terapi selama ini. apapun pendekatannya. dll. terapi perilaku dalam bentuk desentisisasi. modifikasi perilaku. cognitive therapy dari Aaron Beck tahun 1970an. lebih menekankan teori pembelajaran sosial berupa modeling dan conditioning sebagaimana pasien belajar menggunakan NAPZA. Maka untuk setiap gangguan. harus dilakukan studi yang mendalam sehingga dapat diterapkan secara efektif dan efisien.teori ilmu psikologi yang telah berkembang sejak tahun 1950 sampai 1970. client center Rogerian. Didasari atas kedua terapi diatas. sesuai dengan sifatnya / hakekat CBT. maka dalam praktik. CBT menggunakan dua teori. Untuk menghemat waktu dan mengejar efektifitas.

Jadi CBT didasari atas meta-analisa. termasuk alat - - - - - - 58 . dan budaya lingkungannya. yang akan ditanyakan dan di selidiki: Apakah pasian memiliki gangguan atau penyakit tertentu sebelum menggunakan NAPZA dan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA. Kesiapan Terapis CBT CBT untuk adiksi didasari atas asumsi pendekatan biopsikososial.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA dengan kondisi dan latar belakang pasien. Semakin luas pengetahuan terapis. Apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pasien sehingga dia mampu bertahan dengan keadaan emosional dan pefilaku sampai saat ini? Latar belakang sosial dan individual perlu diperhatikan. Gangguan psikologis apa saja yang diderita pasien? Perangkat asesmen dan analisa apa yang harus dipakai untuk mengetahuinya? Kemudian dari hasil-hasil diatas apakah tingkat keparahannya pasien? Tingkat perawatan apa yang berguna dan harus dilaksanakan bagi pasien bersangkutan? Apa saja faktor-faktor berisiko bagi pasien bila dia harus menjalani perawatan rawat jalan maupun rawat inap? Sampai dimana tingkat motivasi pasien untuk berhenti menggunakan NAPZA? Apa faktor-faktor penentu motivasi tersebut sehingga pasien datang keperawatan atau dipaksa menjalankan keperawatan. maka akan sangat efektif bagi terapis dalam mengaplikasikan CBT terhadap pasien. pertanyaan-pertanyaan dibawah ini harus menjadi bagian dari asumsi-asumsi terapis sebelum menghadapi pasien. Dan beberapa pertanyaan yang spesifik yang timbul ketika berhadapan dengan pasien secara langsung. lingkungan hidupnya. maka dari itu efektifitasnya sangat tinggi yang akibatnya memiliki efisiensi atau waktu perawatan yang relatif singkat dibanding dengan cara pendekatan tradisional. Dengan demikian para terapis harus mengembangkan pemikiran yang komprehensif terlebih dahulu sebelum melakukan perawatan. kemana saya harus merujuknya bila hal ini ada? Apakah pasien memiliki gejala dual diagnosis? Merujuk ke psikiater mana yang mengerti masalah adiksi dan gangguan psikiatrik yang berhubungan dengan adiksi.

karena langkah-langkah ini 59 . Disinilah penggunaan istilah Falsafah menjadi lebih relevan. ketrampilan manajemen diri. 5... Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang dapat diprediksi dalam kekambuhan adalah sistem keyakinan yang salah dan menetap (. kambuh merupakan pengalaman yang sering terjadi dalam porses pemulihan pasien Gangguan penggunaan NAPZA. monitoring diri dari penggunaan NAPZA. ketrampilan sosial. Mengembangkan strategi untuk menghadapi situasi yang dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan : apa yang harus dilakukan pasien dalam suatu kejadian yang dapat menimbulkan kambuh? dimana pasien mendapatkan dukungan? apa peran yang dapat diberikan dari teman atau keluarga? seberapa cepat pasien harus membuat perjanjian untuk kembali ke tempat praktek?   6..MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA assessmen apa yang nanti akan digunakan. dengan siapa dan bagaimana penggunaan Napza bisa terjadi) Mengajarkan kam§mpuan msnghadapi masalah (coping skill). misalnya . siapa yang menjadi manager kasus.. dimana. Pencegahan Kekambuhan. Program 12 Langkah Fokus dari Program 12 Langkah adalah penerapan langkahlangkah itu dalam kehidupan sehari-hari.') Di bawah ini beberapa strategi yang digunakan dalam pencegahan kekambuhan :   Tingkatkan komitmen untuk berubah (misal menggunakan wawancara memotivasi) Identifikasi situasi resiko tinggi yang menimbulkan kekambuhan (Kapan. siapa yang akan menjadi pendamping (peer counselor).. Terapis harus melengkapi diri dengan pertanyaan-pertanyaan diatas yang akan dilakukan pada pasien pada tahap awal perawatan primer.'Saya seorang pecandu dan saya tidak bisa berhenti menggunakan NAPZA. Keberhasilan menjawab sebanyak mungkin pertanyaan diatas akan menentukan langkah-langkah intervensi selanjutnya apakah menjadi mudah atau sulit. dan terakhir apakah fasilitas yang dimiliki terapis sudah memadai dalam menjawab pertanyaanpertanyaan diatas.

Berikut ini adalah contoh 12 Langkah seperti yang tertera dalam program Narcotic Anonymous (NA) 12 LANGKAH NARCOTIC ANONYMOUS 1. sepanjang hayatnya. penyakit kecanduan mempunyai potensi untuk kambuh sewaktu-waktu apabila tidak diredam oleh program pemulihan yang berkesinambungan. 8. Kita dengan rendah hati memohon kepadaNya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita.yang dapat diterapkan baik dalam kondisi di dalam atau d iluar institusi/panti rehabilitasi. setepat mungkin sifat dari kesalahan-kesalahan kita. 2. Kita membuat inventaris moral diri kita sendiri secara penuh. kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lalnnya. uraian ini akan mencakup fungsi klinikal . Kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua. 5. kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain. 60 . Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita. berdasarkan paradigma Disease Model of Addiction. Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembatikan kita kepada kewarasan. 12 Langkah menjadi "Falsafah Hidup" seorang pecandu. 7. lebih dari sekedar peraturan. Dan. 4. 9. 10. Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan sebagaimana kita mamahamiNya. Kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah. Kita mengakui kepada Tuhan. Kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita. sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali. menyeluruh dan tanpa rasa gentar. 3. setiap langkah akan diuraikan secara singkat maknanya dan karena setiap langkah di targetkan untuk mengatasi setiap aspek spesifik dalam penyakit kecanduan. Jadi. untuk diamalkan ketika menjalani kehidupan kesehariannya.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA menjadi panduan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pecandu yang ingin mempertahankan kebersihannya dan membina perjalanan spiritualnya. Dengan pengamalan atau praktek dari langkahlangkah inilah para pecandu akan dapat meredam penyakitnya agar tidak kambuh. segera mengakui kesalahan kita. Kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orangorang tersebut bilamana memungkinkan. 6. Pada penjelasan ini.

apakah itu orangtua. Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita memahamiNya. Ini adalah langkah yang sukar untuk diambil. dsb."berhenti melakukan ini. Langkah ini adalah satu-satunya langkah yang menyebutkan adiksi. saya tentu tidak akan pakai NAPZA lagi'. dimana pengakuan ini diperlukan untuk memulai proses pemulihan. Seringkali terdengar mereka mengeluh." Langkah pertama adalah pernyataan masalah. berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya. atau bahkan mulai mencari pertolongan. karena." Pecandu diharapkan sudah mencapai titik maksimal dalam kehancurannya. pergaulan. sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali. ketidakmampuan untuk mengatur perilakunya. kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam segala halyang kita lakukan. Kedua hal ini tidak sama. lalu mencari jawabannya dalam program ini. Konselor 61 . ketidakberdayaan berarti kecanduan itu sendiri. siapa yang suka untuk mengaku kalah? Untuk mencapai titik ini. "kalau saja masalah ini selesai. alkoholisme. Perlu dicatat bahwa Langkah Satu tidak mengatakan . dimana dampak dari kecanduan itu sudah begitu banyak menghasilkan penderitaan sehingga pecandu mulai berpikir untuk merubah hidupnya. yaitu adiksi itu sendiri. seorang pecandu harus sudah mencapai tahap yang disebut Hit Bottom (mencapai dasar). setelah itu lakukan ini. Konselor harus berhati-hati agar tidak terperangkap dalam membantu pecandu meyelesaikan masalah-masalah ini.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 11. "Masalah ini" adalah masalah yang mengecohkan dari permasalahan yang sebenarnya. Pecandu akan terus mencari alasan dari kecanduannya. Sebelum mereka mencapai tahap ini. Sebuah pengakuan atas adanya suatu masalah. Langkah Pertama "Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita. para pecandu akan tetap berpikir bahwa dengan membuat perubahan-perubahan kecil dalam hidupnya maka masalah akan tereelesaikan. Suatu penerimaan di dalam diri yang memerlukan pengkajian diri yang jujur dan dipatahkannya penyangkalan harus mendahului pengakuan ini. Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkah-langkah ini. 12. atau perilaku kecanduan yang lain. sementara ketidakterkendalian dilihat dari akibat atau konsekuensi dari perilaku kecanduan itu. Dua hal yang dibicarakan dalam langkah ini adalah ketidakberdayaan dan ketidakterkendalian. lingkungan.

Program ini diperuntukkan kepada semua pecandu. Langkah Ketiga " Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan sebagaimana kita memahamiNya" Langkah ketiga lebih mengembangkan lagi konsep Kekuatan yang Lebih Besar. karena seperti dibuktikan di Langkah Pertama.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA harus bisa membantu pecandu untuk melewati rintangan yang berupa penyangkalan ini. Program 12 langkah bukanlah program keagamaan. Karena 12 Langkah ditetapkan untuk semua pecandu. program ini menjauh dari membela atau mementingkan agama tertentu. suatu proses yang bisa dilakukan melalui program keagamaan atau tidak." Pada langkah inilah unsur spiritual dari program 12 langkah mulai nampak. apapun latar belakang agamanya. Langkah kedua mewakili pemikiran para pendahulu AA yang meyakini bahwa satu-satunya solusi dari masalah kecanduan ini terletak di aspek spiritual dari seorang pecandu. Langkah ini membawa kepada tindakan yang konkrit untuk pertama kalinya. Pembinaan spiritual bermakna mengakui ketidakberdayaan pada diri sendiri dan menemukan kekuatan di luar diri sendiri. Di langkah kedua inilah juga dijelaskan penekanan atas perbedaan antara proses spiritual dan proses keagamaan. di Langkah Dua harapan mulai bersinar lagi. dan pada akhirnya terpuruk dan menyerah kalah. Langkah ini mendorong pecandu untuk menyerahkan kendali atas hidupnya. ia tidak dapat lagi mengendalikannya. Konselor yang bekerja menolong orang yang sedang menjalani Langkah ini. yaitu menyerahkan seluruh kehidupan seorang pecandu kepada Higher Power yang diyakininya. atau tidak beragama sekalipun. atau Higher Power yang bisa juga disebut Tuhan oleh mereka yang mempercayainya. Disinilah seorang konselor berperan untuk membantu pecandu menemukan konsep Higher Power yang paling bisa diterima dan di percaya olehnya. Higher Power 62 . Langkah Kedua "Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembalikan kita kepada kewarasan. harus memberikannya banyak ruangan agar ia dapat menemukan sendiri konsep Kekuatan yang lebih besar yang ia rasa paling nyaman baginya. yang memang merupakan masalah utama yang dihadapi dalam pemahaman Langkah Pertama. Ketika di Langkah Satu pecandu berhadapan dengan keadaan yang tidak memberikan banyak harapan.

terutama bagi mereka yang baru mencobanya untuk pertama kali. yaitu perasaan malu dan perasaan bersalah. akan menjadi fondasi spiritual yang kokoh. menyeluruh dan tanpa rasa gentar. Bisa dibayangkan tentunya kedua langkah ini adalah langkah yang cukup sulit dan seringkali bahkan menakutkan. mendokumeritasikannya. "penyembuhan luka-luka lama" tidak akan terjadi apabila luka-luka tersebut tidak dibawa kepermukaan dan diakui keberadaannya. Keduanya membentuk satu ritual yang khusus. Untuk meringankan beban itu dan memulai adanya perbaikan rohani dalam diri seorang pecandu. kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lainnya. dan disinilah konselor dapat membantu untuk menemukannya. yaitu membuka diri secara total. ketakutan. dan sex. Dalam konsep 12 langkah. Langkah Keempat dan Kelima "Kita membuat inventaris moral diri kita sandiri secara penuh." "Kita mengakui kepada Tuhan. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk membantu pecandu untuk mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan langkah Ini. pecandu diminta untuk berbagi mengenai cerita itu dengan satu orang lagi yang bisa ia percayai. setepat mungkin sifat dari kesalahankesalahan kita.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tidak perlu menyerupai konsep Tuhan seperti dalam agama formal. Karena ketiga topik ini begitu berkaitan dengan dua isu utama yang selalu menghantui pecandu. Oleh sebab itu. Ketiga kategori utama yang biasanya diminta untuk dituliskan adalah kebencian. setelah berbagai hal yang menyakitkan tersebut terangkat ke permukaan dan tidak lagi ditutup-tutupi. Kedua Langkah ini bertalian karena keduanya membentuk suatu proses tertentu yang sangat penting di dalam proses pelaksanaan 12 langkah. tetapi apa saja yang dapat mendatangkan rasa "penguatan" pada diri pecandu. memungkinkan proses analisa diri yang lebih mendalam dan memerlukan lebih banyak lagi kejujuran dan keberanian. apabila diserap dengan baik. ia harus bisa menerima kenyataan itu mengenai masa lalunya untuk kemudian bisa memaafkan. dan menceritakannya kepada paling sedikit satu orang lain. Pecandu harus dapat melihat bahwa 63 . Baru setelah itulah proses penyembuhan bisa dimulai." Ketiga langkah pertama. Menyembunyikan atau memendam pengalaman-pengalaman hidup yang berhubungan dengan ketiga topik tersebut akan menjadikannya beban spiritual yang tidak memungkinkan proses perubahan dan pertumbuhan yang positif.

Pecandu akan sadar bahwa dengan hanya berhenti menggunakan NAPZA. apakah ia sudah siap untuk merubahnya? Dan apakah ia sudah sampai pada titik kerendahan hati dimana ia tidak akan merasa selalu mampu untuk menyelesaikan semua masalah. enam dan tujuh. masih menyerupai ketika ia aktif dalam kecanduannya. ia diharapkan untuk bertanya pada dirinya." Sampai pada langkah ketujuh. kedua Langkah ini. Langkah Delapan dan Langkah Sembilan "Kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua. dan mencari dan mengangkat berbagai beban dan kesulitan yang memperberat masalah utama. mencari solusi spiritual. tetapi perilaku hidupnya. dan tugas konselor jugalah untuk memupuk sifat yang baik ini dalam pecandu yang ditolongnya. Kedua Langkah inilah yang membawa proses ini melampaui lebih dari hanya berhenti menggunakan NAPZA atau kecanduan lainnya. Setelah itu. tetapi meminta kepada Higher Power untuk melakukannya untukdia? Rekan konselor adalah membantu pecandu melewati rasa "serba mampu" yang datang dari ego yang besar dan menumbuhkan kerendahan hati. Di titik inilah menjadi semakin jelas bahwa 12 langkah akan membawa pecandu kepada perbaikan diri yang terus-menerus." Kedua Langkah ini adalah esensi dari proses perubahan diri dalam 12 Langkah. Kedua Langkah ini menjadi papan loncatan untuk suatu proses ke depan yang akan memakan masa dan tenaga yang cukup banyak. kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain. Langkah Keenam dan Ketujuh "Kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita. menawarkan kepada pecandu apabila la ingin meneruskan proses perubahan memasuki tahap yang baru dan memerlukan taraf kepercayaan dan keyakinan yang lebih mantap lagi. Lima langkah pertama telah mendapatkan masalah utama." "Kita dengan rendah hati memohon kepadanya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita. kondisi mental dan spiritualnya. ia tetap tidak akan mendapatkan kebahagiaan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA kejujuran menjadi modal utama. fokus dari proses 12 langkah ini 64 ." "Kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orang-orang tersebut bilamana memungkinkan. yang merupakan prinsip spiritual yang diperlukan untuk kedua langkah ini. Setelah mengetahui dengan jelas semua kerusakan yang ada pada diri pecandu.

dan yang terpenting adalah memaafkan diri sendiri. Pada kedua langkah ini. keberanian yang luar biasa diperlukan untuk mengambil Langkah Sembilan. tahap perkembangan dan kematangan spiritual pecandu sudah dianggap cukup mantap untuk mulai melihat keluar dirinya kepada kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dalam hubungannya dengan orang-orang lain. tetapi berdasarkan apa yang telah dicapai di langkah itu.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA masih ditujukan kepada diri pecandu yang menjalani proses ini sendiri. Kesediaan juga memudahkan pecandu untuk mulai belajar memaafkan. Memaafkan orang lain. dan memperbaiki kesalahan secara langsung. Daftar yang dibuat tidak sepenuhnya sama dengan daftar yang telah dibuat di Langkah Empat. bagaimana misalnya susahnya mendatangi orangtua dari seseorang yang pernah dibunuh dan mengakui sebagai pembunuhnya dan meminta maaf. Diperlukan bimbingan yang tepat untuk menilai kesiapan yang sesungguhnya. segera mengakui kesalahan kita. dimana tindakan yang sebenarnya akan dilakukan. Memasuki langkah kedelapan. proses ini membebaskan pecandu secara total dari belenggu perasaan malu. dan akan lebih meringankan lagi beban mental pecandu dan memungkinkan untuk pertumbuhan spiritual yang lebih sehat lagi. kesediaan diperlukan untuk menyiapkan diri sebelum membuat perbaikan langsung. Dari Langkah Satu sampai Sembilan dasar 65 . Dengan mengadakan perbaikan langsung. takut. Ada tiga tugas utama yang diminta disini: membuat daftar (berbeda dengan daftar pada Langkah Empat). apakah itu meminta maaf. menyadiakan diri. Langkah ini ditempatkan pada nomor sembilan karena untuk mencapainya harus melalui proses pemantapan spiritual yang prima. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk mempersiapkan pecandu. dan bersalah. memperbaiki kerusakan. Setelah itu. sesuatu yang sering sulit bagi seorang pecandu. dan bersalahnya. Kecenderungan utama dari seorang pecandu adalah untuk memusatkan perhatiannya kepada rasa ketakutan. usaha untuk menyelesaikan perasaan malu dan perasaan bersalah ditingkatkan intensitasnya. Langkah Sepuluh "Kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah. Bayangkan. Perlu pertimbangan yang benar-benar matang untuk memutuskan perbaikan mana yang harus didahulukan dan yang mana mungkin belum sampai pada saatnya." Langkah ini adalah permulaan dari apa yang disebut langkahlangkah pemeliharaan. malu. Kemudian. agar tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti orang lain dan diri sendiri. atau membayar hutang atau barang yang pernah dicuri.

dan harus bisa mengakomodasi kepentingan dari semua pecandu dari 66 . Sekali lagi perlu dicatat. Artinya. lalu bagaimana mempertahankan semua pencapaian ini? Langkah-langkah sepuluh. Tetapi yang dianjurkan adalah. memonitor kehidupannya sehari-hari. Konselor dapat membantu pecandu dalam proses analisa diri yang diminta dalam langkah ini. dan bagaimana memastikan bahwa kekuatan itu terus ada dengan membina hubungan yang terus menerus juga dengan Higher Power itu. tidak ada anjuran untuk menjadi pemeluk agama tertentu untuk bisa menjalani 12 Langkah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA yang kuat telah semakin diperkokoh. dan kerusakankerusakan baik pada diri sendiri atau yang berhubungan dengan orang lain telah diperbaiki. Program 12 Langkah adalah program spiritual khusus bagi mereka yang mempunyai penyakit adiksi. Di Langkah ini meditasi dan doa dianjurkan untuk terus dilakukan dan disebutkan secara bersamaan. berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya. Dari setiap hasil dari pengawasan atau inventarisasi yang secara rutin dilakukan. dan dengan jujur mengakui apabila berbuat kesalahan atau berperilaku seperti pola lama ketika masih aktif dalam kecanduannya. program 12 Langkah bukanlah program keagamaan. Di Langkah Kesepuluh pecandu diminta untuk terus-menerus mengawasi dirinya sendiri. apapun bentuk dari sumber kekuatan tersebut. membuatnya mudah untuk dibimbing dan diajak bakerjasama. sebelas dan duabelas adalah langkah-langkah khusus untuk tujuan itu. sesuatu hal yang baru akan dapat dipelajari. Langkah Sebelas "Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita mamahamiNya. Pada tahap ini jugalah seringkali banyak perubahan kepribadian yang bisa disaksikan dengan nyata. Mereka yang telah mencapai tahap ini biasanya akan lebih pro-aktif dan mempunyai tingkat kesediaan yang tinggi untuk menjalani program. meyakini akan adanya kekuatan lain selain diri sendiri yang dapat membantu. masa lalu yang buruk telah dengan jujur di ditelusuri dan dibersihkan. dan dalam proses pembelajaran ini peran konselor menjadi sangat penting. menunjukkan bahwa keduanya adalah praktek yang lazim digunakan dalam Langkah Sebelas untuk berhubungan dengan Higher Power." Langkah Kesebelas berfungsi sebagai jembatan menuju Higher Power sebagai sumber kekuatan. dan untuk terus berhubungan melalui doa dengannya.

Dan satu-satunya cara untuk meredam adiksi ini agar tidak kambuh atau relapse adalah dengan membina pertumbuhan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. tetapi inilah tulang punggung dari program 12 Langkah. keyakinan. dan kepercayaan yang begitu dalam terhadap Tuhan dalam bentuk yang dipercayainya. begitu jugalah para anggota program 12 langkah diminta untuk dengan murah hati berbagi mengenai cerita kehidupannya dalam pemulihan dengan pecandu yang masih menderita. baik spiritual. Pada tahap ini perubahan terjadi pada semua level. hasil dari kerja keras seorang pecandu mempelajari dan mengamalkan kesebelas langkah sebelumnya akhirnya dapat diraih. karena dengan berdoa artinya pecandu menjangkau kekuatan yang ada di luar dirinya. jenis pemeriksaan yang dilakukan 67 . mental. Dengan menerapkan apa yang disarankan oleh metode 12 Langkah. Penekanan ataa pentingnya berdoa adalan Bagian yang cukup sentral dari program 12 Langkah. yaitu adiksi. dan emosional. "Pencerahan Spiritual" yang dimaksud adalah perubahan yang menyeluruh dalam jiwa pecandu sehingga ia mencapai keterbukaan.  Layanan laboratorium terdiri dari pemeriksaan patologi klinik dan laboratorium pemeriksaan NAPZA  Untuk laboratorium patologi klinik yang diperlukan adalah pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan kimia darah  Untuk pemeriksaan NAPZA. seorang pecandu memastikan pertumbuhan spiritual dalam hidupnya tetap terjaga. Bob mengenai alkoholismenya dan setelah itu keinginan untuk minum sirna." Pada Langkah ini. Langkah Dua belas "Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkahlangkah ini. dalam pedoman ini pelayanan penunjang akan difokuskan pada pemeriksaan laboratorium. yang berarti ia sudah memahami bahwa dalam dirinya ini ada suatu kondisi yang tidak terelakkan dan tidak akan hilang.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA latarbelakang kelompok apapun. Dan ini bukan saja baik bagi pendengar atau pendatang baru. pecandu akan diminta untuk menyampaikan anugerah yang sudah didapatnya ini kepada pecandu lain yang masih menderita. 7. Berdasarkan kejadian pertama ketika Bill Wilson berbagi kepada Dr. Layanan Penunjang.kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam segala hal yang kita lakukan. yaitu seorang pecandu hanya bisa tetap menyimpan kekuatan yang ia miliki untuk bertahan bersih apabila ia membagikannya pada orang lain. Kemudian.

ii. Bangunan  Untuk pemeriksaan NAPZA tata ruang laboratorium harus mempunyai tata ruang yang baik dan sesuai dengan alur pelayanan.04/Menkes/SK/l/2002  Persyaratan lain yang perlu diperhatikan: ruangan yang mudah dibersihkan. 2 orang tenaga analis dimana 1 orang lainnya dapat diganti dengan tenaga Asisten Apoteker atau Analis Kimia. permukaan meja pemeriksaan tidak tembus air. minimal seorang Sarjana Kedokteran. Apoteker atau Sarjana Kimia/Biokimia dan mempunyai pengalaman 3 tahun dl laboratorium (Untuk penanggung jawab pemeriksaan HIV/AIDS dlsarankan konsultasi dengan dokter umum terlatih atau Spesialis Patologi Klinik). c. alkali dan larutan organik.  Persyaratan minimal dapat dilihat pada daftar persyaratan minimal layanan penunjang. Tenaga:  Tenaga untuk laboratorium pemeriksaan NAPZA harus mempunyai persyaratan tenaga teknis minimal sesuai untuk persyaratan laboratorium NAPZA seperti: i.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  dapat dilihat pada daftar persyaratan minimal layanan penunjang. serta tingkat kelembaban. Beberapa persyaratan yang mesti diperhatikan adalah : a. tahan asam. Penanggung jawab. 68 . Sarjana Farmasi. mendapatkan cahaya sinar matahari dalam jumlah yang cukup  Persayaratan bangunan mengacu Keputusan Menteri Kesehatan Rl No. gang dan lantai harus bersih b. fasilitas listrik dan air yang ada. Untuk pemeriksaan HIV/AIDS harus memenuhi standar Kementerian Kesehatan sebsgai Laboratorium pratama atau utama sbb. Tenaga Teknis. Peralatan:  Peralatan harus sesuai untuk pemeriksaan NAPZA dan mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan fasilitas seperti luas ruangan. koridor.

Populasi ini sulit dijangkau dengan metode yang lebih formal karena stigma dan diskriminasi yang sangat kuat di dalam masyarakat terhadap status penggunaan NAPZAnya. Program Penjangkauan dan Pendampingan (outreach) adalah proses penjangkauan langsung yang dilakukan secara aktif kepada pada pengguna NAPZA baik secara kelompok maupun individu. layanan manajemen kasus untuk pengguna NAPZA yang membutuhkan. Dalam proses penjangkauan dan pendampingan para pekerja lapangan melakukan proses identifikasi lokasi yang biasa menjadi tempat para pengguna NAPZA berkumpul atau tempat yang memungkinkan untuk melakukan interaksi langsung. Sarjana Farmasi. seperti: mendapatkan layanan informasi terkait NAPZA. Jenis Tenaga Pratama Utama (Skrining) (Konfirmasi) 1. Layanan Outreach/Komunitas a. ataupun lembaga swadaya masyarakat. layanan kesehatan dasar yang tersedia. Penanggung Jawab Teknis: Sarjana Kedokteran. atau Sarjana Kimia/Biokimia 2. Ruang Lingkup Kegiatan Penjangkauan dan Pendampingan adalah pendukung dari program penanggulangan gangguan penggunaan NAPZA berbasis Rumah Sakit Jiwa yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat. Tenaga Administrasi Lulusan SMU atau sederajat 8. Proses penjangkauan dan pendampingan memberi peluang bagi para pengguna NAPZA untuk dapat mengakses berbagai layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Apoteker.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Jumlah Kebutuhan No. akses terhadap material pencegahan (termasuk jarum suntik untuk pengguna NAPZA suntik) dan layanan 69 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 . Tenaga Teknis Analis Perawat 3. tes HIV dan konseling. risiko penggunaan NAPZA.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA lainnya yang memungkinkan. para pengguna NAPZA sampai ke mereka yang termasuk dalam kelompok yang rentan untuk mencoba menggunakan NAPZA. pinggir jalan). Memberikan informasi yang memadai mengenai bahaya penggunaan NAPZA dan dampak buruk penggunaan NAPZA sehingga menimbulkan kesadaran pengguna NAPZA untuk menghentikan penggunaan. Pelaksana 70 . atau mengurangi risiko terhadap dampak buruk yang mungkin muncul bagi yang maaih belum dapat berhenti Memotivasi dan melibatkan pengguna NAPZA untuk menghentikan pemakaian atau mengurangl risiko perilaku penggunaan NAPZA suntik melalui berbagai upaya yang memungkinkan untuk dicoba. Sasaran Sasaran program penjangkauan dan pendampingan adalah semua pengguna NAPZA yang ada di komunitas. titik tertentu di tempattempat keramaian (pasar. 4. Tujuan   Membuka akses sebesar mungkin bagi pengguna NAPZA yang berada di komunitas. Pecandu NAPZA menjadi sasaran utama (primer) sedangkan pengguna NAPZA yang lain dan kelompok rentan menjadi sasaran sekunder. dan tempat-tempat lainnya. mulai dari pecandu NAPZA. lokasi tertentu di wilayah perumahan. taman-taman. b. orang kunci dan teman-temannya menjadi sasaran tersier. Selain itu masyarakat di sekitar pengguna NAPZA baik keluarga. sehingga ikut terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penggunaan NAPZA pada umumnya. Memberikan dukungan secara terus menerus pada pengguna NAPZA untuk mempertahankan perubahan perilaku lebih aman yang mungkin terjadi Melibatkan pengguna NAPZA agar secara aktif melakukan penyebaran informasi dan membentuk kepedulian sesama.    c. Tempat ini dapat berupa tempat orang muda berkumpul. mall. Dengan demikian proses penjangkauan dan pendampingan dilakukan di berbagai lokasi yang biasa menjadi tempat para pengguna NAPZA berkumpul atau beraktivitas dalam keseharian.

kelompok pemuda. Kondisi gangguan kesehatan secara fisik/medik seringkali ditemukan pada pasien Gangguan penggunaan NAPZA. Kondisi khusus yang akan dibahas dalam pedoman ini sebagai berikut: a. Lembaga tersebut seperti:  institusi/lembaga kesehatan  LSM atau organisasi kemasyarakatan  Institusi/lembaga non pemerintah  Kelompok masyarakat (karang taruna. termasuk kelompok swadaya masyarakat. dll) Pelaksana program penjangkauan dan pendampingan adalah sebuah tim yang terdiri dari petugas lapangan dan koordinator penjangkauan. atau kondisi penyakit tertentu yang bukan merupakan akibat gangguan penggunaan NAPZA akan tetapi dapat memperparah kondisi pasien tersebut apabila tidak diberikan pengobatan secara komprehensif. Wanita hamil b.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Kegiatan penjangkauan dan pendampingan dapat diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah. PENGEMBANGAN PROGRAM TERAPI DAN REHABILITASI GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA PADA KONDISI KHUSUS Ruang Lingkup Yang dimaksud dengan kondisi khusus adalah suatu kondisi yang terkait dengan masalah fisik maupun psikologis sebagai akibat dari gangguan penggunaan NAPZA. sebelum melaksanakan program sudah mendapatkan pelatihan khusus mengenai penjangkauan dan pendampingan. Remaja dan anak-anak c. Orang dengan penyakit infeksi termasuk HIV/AIDS (ODHA) d. . Petugas lapangan bisa yang mempunyai latar belakang mantan pengguna NAPZA atau individu yang mempunyai kemampuan dan kesediaan untuk masuk dalam komunitas pengguna NAPZA. Tim penjangkauan dan pendampingan. Sedangkan koordinator penjangkauan berperan dalam memberikan dukungan dan pemantauan terhadap proses penjangkauan dan pendampingan di lapangan sehingga searah dengan tujuan program yang dikembangkan. untuk itu terapis harus memberikan pengobatan khususnya untuk detoksifikasi yang tidak menyebabkan kondisi medis pasien semakin 71 . VI. Orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK) Prinsip-Prinsip Umum Perawatan Pasien Gangguan Penggunaan Napza Dengan Masalah Medik a.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA memburuk b. Staf medis harus menyadari akibat dari Gangguan penggunaan NAPZA akan mempengaruhi keseluruhan kondisi kesehatan pasien. kelahiran   72 . Petugas di ruangan harus dapat mengenali adanya gejala-gejala penyakit tertentu yang sangat mungkin tidak merupakan bagian dari kondisi intoksikasi atau putus NAPZA c. Ketika ditemukan adanya gejala dan tanda yang mencurigakan petugas harus mengetahui kemana harus merujuk (misalnya ke ruang emerjensi. Neuorolog. Setiap setting untuk perawatan pasien Gangguan penggunaan NAPZA sebaiknya dilengkapi dengan peralatan dan obat-obatan untuk kondisi emerjensi seperti tabung oksgen. alat kesehatan untuk pemeriksaan tanda-tanda vital dan pertolongan hidup dasar e. Ahli Penyakit Kandungan. Alkohol efek pre natal antara lain : meningkatkan risiko abortus spontan. Wanita hamil   NAPZA pada wanita hamil sudah diketahui akan memberikan efek samping terhadap bayi dalam kandungan Deteksi dan intervensi dini pada wanita hamil yang menggunakan NAPZA akan memberikan hasil yang efektif untuk mengurangi efek samping NAPZA terhadap janin Dilakukan asesmen yang bertujuan untuk:  menentukan jumlah dan frekuensi penggunaan NAPZA sejak pasien mendapatkan menstruasi yang terakhir  menentukan tindakan apabila penggunaan NAPZA masih berlangsung  kajian terhadap kemungkinan efek samping yang ditimbulkan oleh NAPZA yang digunakan  memberikan informasi aktual efek dari NAPZA yang digunakan selama kehamilan  melakukan eksplorasi dari pilihan terapi yang akan diberikan sesuai dengan umur kehamilan dan kondisi pasien Efek yang dapat diberikan selama kehamilan atau saat menyusui pada beberapa jenis NAPZA diterangkan sebagai berikut: 1. ruang dokter) d. setiap staf harus siap untuk membantu pasien mengatasi gangguan medis maupun gangguan psikiatrik dan melakukan evaluasi terhadap penyakit-penyakit kronis lainnya yang dapat ditimbulkan oleh Gangguan penggunaan NAPZA Dampak Dan Perhatian Pada Kondisi Khusus 1. Klinikus harus selalu ingat untuk melakukan konsultasi dengan dokter-dokter spesialis lain seperti Ahli Penyakit Dalam. Ahli Penyakit Jantung. Ahli Bedah dan lain-lain f.

perbedaan metabolisms efek prenatal . meningkatkan plasenta yang tak sempurna efek terhadap janin : berat badan bayi dan ukuran lingkar kepala kurang dari normal. meningkatnya risiko tertular HIV/AIDS. bulan kehamilan. meningkatnya risiko Suden Infant Death Syndrome ( SIDS ) terapi paling aman dengan metadon yang dosisnya diturunkan perlahan sampai dosis rendah. berat dan ukuran bayi kurang dari normal efek terhadap janin : tergantung dari jumlah alkohol yang diminum. pendarahan sebelum kelahiran. kondisi kesehatan umum pasien Foetal Alcohol Syndrome (FAS) . hipertensi pada ibu. Pasien dengan Penyakit Infeksi dan HIV/AIDS  Data menunjukkan bahwa infeksi Hepatitis C dan HIV/AIDS merupakan kasus yang sangat tinggi diantara pasien dengan Gangguan penggunaan NAPZA 73 . kelahiran prematur efek pada janin . berat badan dan ukuran lingkar kepala bayi kurang dari normal. jumlah dan pola penggunaan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA prematur. kematian bayi di dalam kandungan. hepatitis B dan C efek pada bayi : Neonatal Abstinence Syndrome. gambaran klinis menunjukkan adanya pertumbuhan yang lambat dari berat dan ukuran bayi. perdarahan plasenta mendadak. kelahiran prematur. wajah dan bibir (sumbing). Psikostimulan (Amfetamin-Kokain) efek psikostimulan pada kehamilan tergantung pada saat umur kehamilan. meningkatnya risiko kelainan kongenital efek pada bayi kemungkinan akan menimbulkan gangguan pada perilaku. foetal distress. Heroin efek pre-natal yang ditimbulkan berupa kelahiran prematur. adanya anomali pada struktur dan fungsi otak yang dalam perkembangannya akan memperlambat perkembangan kemampuan bayi adanya defek/kelainan pada jantung. Bila ibu menyusui sebaiknya diperbolehkan apabila dosis metadon sudah rendah - - 3. meningkatkan risiko keguguran. efek yang berat adalah kematian atau kerusakan pada perkembangan otak dan kranium tidak direkomendasikan untuk menyusui apabila ibu masih minum minuman beralkohol 2. foetal distress/ ada meconium. namun belum ada data yang jelas mengenai hal ini - 2.

Hepatitis C :       Paling banyak ditemukan pada pengguna NAPZA suntik. Pada pasien dengan Sirosis hepatis mempunyai risiko kanker hati sebesar 4% setiap tahunnya dan sebagian besar pasien terinfeksi HCV bukan mati karena komplikasi HCVnya Pemberian terapi dengan antiviral (Interferon) sebagai monoterapi tidak selalu memberikan hasil seperti yang diharapkan. meskipun pertukaran barang tersebut tidak terjadi. Terapi kombinasi antara interferon dan Ribavirin memberikan respons yang baik kepada banyak pasien. 10-15% akan menjadi infeksi yang kronis dan 20-30 tahun kemudian akan menderita Sirosis hepatis dan risiko akan meningkat pada pasien usia tua ketika terinfeksi. Subacute Bacterial Endocarditis (SBE) pada ventrikel kiri sering terjadi pada pengguna NAPZA suntik akibat infeksi bakteri stafllokokus .Endocarditis. yang terbanyak adalah infeksi pada katup Trikuspidal.Ophtalmitis .B dan D.Ab baru terlihat positif setelah 15-30 minggu terpapar sedangkan HCV-RNA terdeteksi setelah 2-3 minggu terpapar virus Beberapa kondisi alamiah pada infeksi HCV adalah : sampai 30% pasien akan bersih dari virus dalam 12 bulan (abortif). bertambahnya usia.Tuberkulosis .Bakteriaemia . peminum alkohol. Kombinasi terapi ini merupakan kontra indikasi untuk pasien dengan    74 . yaitu sekitar 90% dalam dekade terakhir penularan paling tinggi melalui pertukaran jarum suntik dan alat-alat menyuntik lainnya serta jarang sekali karena hubungan seksual infeksi vertikal dari ibu yang HCV-RNA positif kepada anak saat melahirkan berkisar 5-8% Tidak ada data tentang penularan melalui ASI Tes untuk HCV .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA khususnya pada pengguna NAPZA suntik  Penelitian terakhir menunjukkan semua peralatan pribadi yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA suntik mempunyai potensi untuk menularkan penyakitpenyakit infeksi melalui darah. HIV a.Tetanus Beberapa penyakit yang ditularkan melalui darah khususnya penyakit yang disebabkan virus: Hepatitis C. laki-laki. tetapi kebersihan alat-alat dan indlvidu tidak terjaga sehingga dapat tertular bakteri dan jamur Masalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA suntik adalah: .

Infeksi HIV/AIDS  angka penularan HIV pada pengguna NAPZA suntik di Indonesia sudah memprihatinkan. diperkirakan saat ini sudah mencapai angka 60% dan merupakan angka tertinggi dari cara penularan HIV lainnya tes serologis HIV biru dapat memberikan hasil positif 3 minggu setelah saat masuk virus ke dalam tubuh sedangkan HIV-DNA baru bisa terdeteksi setelah beberapa hari timbulnya gejala masa inkubasi (perasaan lelah seperti orang flu. pemeriksaan HCV-RNA ulang bila ada perubahan fungsi 'hati.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA gangguan jantung koroner. kriptokokus dan Candida akan mernperparah kondisi infeksi lainnya seperti Hepatitis C       75 . infeksi lain yang terjadi pada HIV/AIDS seperti tuberkulosis. monitor fetoprotein setiap 6 bulan pada pasien sirosis. tiroiditis karena akan mempengaruhi autoimun pada pasien  Monitoring harus dilakukan kepada pasien karena bila timbul efek samping atau karena perkembangan penyakitnya. SEE. terapi harus ditinjau ulang atau bahkan dihentikan. Setiap pengguna NAPZA suntik. badan meriang) dan menghilang setelah 1 bulan perlu pengulangan dan konsultasi kepada ahli tentang HIV untuk menentukan saat tes (merujuk pada buku Pedoman VCT P2M-Kementerian Kesehatan). pertimbangkan pemberian imunisasi HBV dan HAV meskipun hasilnya belum pasti Pencegahan yang terpenting adalah menghentikan penggunaan jarum suntik dan pengobatan diubah dengan memberikan substitusi oral khususnya Program Rumatan Metadon Penerapan Universal Precaution sangat diharuskan   b. Monitor yang harus dilakukan adalah : tes fungsi hati setiap 6 bulan. meskipun sudah tidak menggunakan NAPZA suntik lagi sebaiknya dilakukan tes HIV melalui pre dan posttestand Counselling (VCT) pengobatan HIV sangat tergantung dengan tahapannya. pneumonia. umumnya yang menjadi masalah adalah infeksi oportunistik yang berarti sudah masuk dalam stadium AIDS pencegahan penularan dengan program pengurangan dampak buruk atau Harm Reduction merupakan pilihan yang utama. Informasi terhadap pasien dan pasangannya secara menyeluruh sangatlah penting untuk menurunkan angka penularan dan kondisi yang memburuk pengguna NAPZA suntik yang masih aktif sebaiknya jangan menyangkal tentang kemungkinan tertular HIV dan mau datang berobat untuk mencegah berbagai infeksi lain.

Kementerian Kesehatan 3. Ggn. Support and Treatment (CST) untuk pasien HIV/AIDS perlu ada pelatihan khusus sesuai buku pedoman VCT dan Pedoman Terapi Anti Retro Viral (ARV) P2M . mencapai 10-30% dari populasi Gangguan penggunaan NAPZA Kelainan yang ada sangat bervariasi Bilamana dalam satu periode tertentu dltemukan adanya gangguan psikiatri lain pada pasien Gangguan penggunaan NAPZA balk itu sebagai akibat penggunaan NAPZA maupun sebagai penyakit yang mendasari disebut sebagai KOMORBIDITAS Komorbiditas sangat berhubungan dengan hasil terapi yang tidak optimal dan angka relapse yang cukup tinggi Pengobatan seringkali melibatkan layanan yang lain.Seksual Ggn.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  Untuk program Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan Care. Psikotik Fs. Tidur   76 . tetapi hasil yang baik akan diperoleh dengan terapi yang terintegrasi dan komprehensif label 1: Gangguan jiwa yang paling sering terkait dengan penggunaan Napza Jenis Napza CNS Depresan Opioida SedatifHipnotik SolvenInhalansia Alkohol CNS Stimulant Amfetamin Kafein Kokain Nikotin Halusinogen X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Ggn. Delirium Cemas Mood Ggn. Pasien dengan Gangguan Jiwa /Psikiatris    Kasus ini cukup banyak di lapangan. Ggn. Amnestik Ggn.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KOMORBIDITAS DARI PERSPEKTIF PENGGUNAAN NAPZA  Alkohol dan Gangguan Mood  Seringkali berhubungan dengan gejala gangguan depresi. Depresi biasanya timbul setelah beberapa minggu abstinen/berhenti dari alkohol. Gangguan bipolar juga cukup banyak dan relapse seringkali terjadi pada saat Episode manik  Alkohol dan Psikosis   Masalah penggunaan alkohol sangat terkait dengan meningkatnya risiko terjadinya halusinasi dan waham sebagai gejala psikotik. meningkatkan gejala-gejala. fobia sosial dan gangguan cemas lain  Stimulan dan gangguan kesehatan jiwa   Kondisi intoksikasi stimulan akan menimbulkan beberapa gejala psikotik. meningkatnya problem medik dan gangguan perllaku  Kanabis/Ganja dan Psikosis    Pengalaman yang paling sering pada pengguna kanabis adalah gejala psikotik ringan seperti Paranoia. Penggunaan alkohol diantara penderita Skizofrenia memberikan kontribusi dalam ketidakpatuhan dalam pengobatan. dan gangguan cemas juga dapat timbul sebagai bagian dari sindroma penggunaan alkoholGangguan panik dan fobia sosial merupakan gangguan yang paling sering pada pasien Ketergantungan alkohol Menurunkan jumlah penggunaan alkohol akan mengoptimalkan pengobatan   77 . khususnya terkait dengan gangguan depresi. beberapa hari sampai beberapa minggu setelah periode intoksikasi Kadangkala kondisi menyerupai Skizofrenia kronik dapat timbul setelah penggunaan amfetamin kronik yang berat KOMORBIDITAS DARI PERSPEKTIF KESEHATAN JIWA  Gangguan cemas dan penggunaan NAPZA  Individu dengan penggunaan alkohol akan mempunyai risiko tinggi untuk menderita gangguan cemas. Kanabis dapat menginduksi terjadinya episode psikotik setelah beberapa hari gejala intoksikasi menurun Kanabis dapat mempresipitasl/memicu gangguan Skizofrenia pada individu yang mempunyai faktor predisposisi gangguan ini  Opioida dan gangguan kesehatan jiwa  Laju gangguan jiwa pada pengguna opioida sangat tinggi.

Keamanan baik bag! petugas. diperlukan penatalaksanaan yang asertif dan sukarela o Prinsip-prinsip Perawatan 1. tetapi zat tersebut akan mengeksaserbasi gejala-gejala psikotik yang ada     Bunuh diri dengan penggunaan NAPZA   Bunuh diri lebih disebabkan karena kondisi penggunan NAPZA yang memburuk dan tidak menemukan jalan keluar untuk abstinen Memburuknya mood akibat psikosis yang diderita pasien PENATALAKSANAAN :  Pendekatan terintegrasi dalam suatu layanan yang dilakukan oleh terapis yang mempunyai ketrampilan dan pengetahuan pada ke dua area (gangguan penggunaan NAPZA dan gangguan jiwa) akan lebih efektif dan dapat diterima  Tidak ada pendekatan konfrontatif. tidak memiliki rumah (tunawisma). apabila: o gejala-gejala masih menetap meskipun sudah dalam pengobatan o pasien menolak untuk mendapatkan intervensi dan terapi o tetap menggunakan benzodiazepin untuk mengatasi setiap situasi yang memprovokasi timbulnya Gangguan cemas  Gangguan kepribadian dan penggunaan NAPZA   Gangguan kepribadian yang paling banyak berkaitan adalah Gangguan kepribadian antisosial gangguan kepribadian lain yang banyak terkait antara lain : Histrionik.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Gangguan cemas pasien  Pertimbangkan penyalahgunaan benzodiazepin pada pengobatan gangguan cemas. Menghindar. Kanabis dapat menjadi faktor presipitasi pada individu yang mempunyai kerentanan untuk psikotik dan akan mengeksaserbasi gejala-gejala psikotik yang sudah ada Stimulan dan halusinogen lebih disukai pasien gangguan psikotik. Narsisistik. Ambang. dan Obsessif kompulsif  Gangguan psikotik dan penggunaan NAPZA  Pasien dengan gangguan psikotik akan meningkatkan tindak kekerasan. psikosis yang memburuk. pemulihan penggunaan NAPZA akan berjalan dengan lambat dan relapse tinggi Penggunaan alkohol dan kanabis dengan gangguan psikotik kronis tiga sampai lima kaii lebih besar kemungkinannya menjadi Ketergantungan NAPZA Kanabis akan menginduksi gejala psikotik akut bila digunakan dalam dosis tinggi tetapi tidak menimbulkan gangguan psikotik kronis. pasien maupun pengunjung 78 .

Kekambuhan penggunaan NAPZA dan gangguan jiwa sangat sering 4. Pengobatan  bangun motivasi untuk berubah. Libatkan untuk pengobatan jangka panjang  Penting tetapi tidak mudah. untuk pasien dengan kondisi intoksikasi. apakah gejala-gejala psikotik timbul selama beberapa waktu setelah periode abstinen? Observasi kondisi jiwa sebagai efek setelah melewati fase intoksikasi Bilamana gejala gangguan jiwa akibat diinduksi NAPZA. Kajian :      Diperolah melalui asesmen yang seksama Penatalaksanaan gejala putus NAPZA dan asesmen ulang bila diperlukan Tinjauan ulang diperlukan dalam Waktu tertentu Tanyakan. Pengobatan yang terintegrasi. gejala-gejala psikotik. Perhatikan interaksi obat yang 79 . Asesemen komprehensif. melibatkan terapis yang mempunyai ketrampilan dalam bidang kesehatan jiwa dan Gangguan penggunaan NAPZA o Asesmen dan Penatalaksanaan 1. Melakukan skrining untuk ke dua bidang gangguan 2. Stabilisasi. gejala-gejala kecemasan atau depresi berat 3. putus NAPZA. krisis psikososial.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2. umumnya diinisiasi oleh tim kesehatan jiwa tetapi membutuhkan koordinasi dan kesinambungan perawatan selanjutnya 5. misalnya . Manajemen kasus klinis. Adanya kedua gangguan (komorbiditas)   Bila gangguan kesehatan jiwa membaik. akan hilang dengan sendirinya 3. Misalnya : pasieh dengan Skizofrenia yang tidak terkontrol akan sulit untuk merubah kehidupan mereka dan bebas dari penggunaan NAPZA Motivational Enhancement (dimodifikasi untuk pendekatan pasien gangguan psikotik) Terapkan strategi minimalisasi dampak buruk (Harm Minimisation) Gunakan tujuan jangka panjang    5. mana yang lebih dahulu timbul?. sangat penting dan dilakukan selama dalam perawatan 4. antidepresan trisiklik (Amitriptilin) dan penggunaan alkohol sebaiknya dihindari. maka Gangguan penggunaan NAPZA akan berkurang Pemberian farmakoterapi untuk kedua kondisi tergantung dari jenis NAPZA yang digunakan. tujuan dan hasil pengobatan harus bersifat realistik.

 VII. PENUTUP Telah diuraikan berbagai hal yang perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dalam memberikan terapi dan rehabilitasi secara komprehensif untuk pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA. Beberapa hal yang dianggap penting dan menjadi topik bahasan dalam pedoman ini antara lain:      Manajemen dari program terapi dan rehabilitasi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA Pemgalaman dari beberapa rumah sakit yang telah menjalankan program terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA Berbagai modalitas terapi dan rehabilitasi yang dapat diterapkan sesuai dengan sarana dan prasarana yang tersedia Pengembangan jejaring dengan institusi pemerintah maupun LSM Berbagai kondisi medik maupun psikiatrik yang terkait dengan masalah gangguan penggunaan NAPZA serta tatalaksananya Sumber daya manusia yang tertarik dan bersedia untuk menjadi bagian dari program terapi gangguan penggunaan NAPZA yang komprehensif merupakan titik krusial yang harus diantisipasi dalam operasional layanan gangguan penggunaan NAPZA. Psikofarmakoterapi   Pemberian antidepresan golongan Trisklik dan SSRI dapat dipertimbangkan bila gejala depresi cukup signifikan Ansiolitik golongan benzodizepin (Diazepam. Lorazepam) untuk jangka pendek dapat diberikan khusushya pada awal kondisi akut Kombinasi antara antipsikotik tipikal (generasi baru) maupun atipikal dengan ansiolitik maupun antidepresan dapat diberikan untuk jangka panjang apabila gangguan jiwa pasca intoksikasi maupun putus zat masih menetap. Alprazolam. benzodiazepin 6. Untuk membuat suatu terapi yang komprehensif memerlukan suatu komitmen yang tinggi dan harus didukung oleh berbagai profesi yang rnempunyai integritas yang tinggi.  Umumnya penggunaan psikofarmaka seperti antidepresan kurang efektif bila pasien masih tetap menggunakan NAPZA seperti alkohol. Klobazam. Untuk itu pihak manajemen harus dapat membuat suatu terobosan agar sumber daya manusia yang tersedia di pusat layanan kesehatan khususnya RSU dan RSJ bersedia untuk melaksanakan program terapi dan rehabilitasi pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA Kondisi lain yang harus diperhatikan adalah kompleksitas dari pasien dengan gangguan penggunaan 80 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA diberikan dengan NAPZA yang digunakan. Saat ini sudah banyak tenaga yang dilatih di bidang gangguan penggunaan NAPZA akan tetapi banyak yang pada akhirnya kurang dapat menerapkan ilmu yang sudah dipelajarinya.

apabila stigma dari lingkungan keluarga atau masyarakat terhadap mereka masih sangat tinggi maka terapi apapun tidak akan memberikan hasil yang optimal. Kepedulian keluarga dan petugas kesehatan merupakan suatu bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh pasien pengguna NAPZA. Masalah penggunaan NAPZA berkembang dari waktu ke waktu baik itu jenis NAPZA. Pengetahuan dan ketrampilan petugas dituntut untuk selalu mempelajari hal-hal baru mengenai masalah gangguan penggunaan NAPZA agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang gangguan penggunaan NAPZA. Satu model terapi belum tentu efektif untuk setiap orang sehingga setiap institusi kesehatan perlu menyediakan berbagai model layanan terapi dan rehabilitasi pasien gangguan penggunaan NAPZA agar dapat memberikan terapi secara optimal. kelompok pengguna maupun dampak yang ditimbulkan. Masa yang akan datang setiap layanan kesehatan khususnya RSU dan RSJ diharapkan sudah dapat memberikan layanan untuk pasien gangguan panggunaan NAPZA baik minimal maupun yang komprehensif.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NAPZA. Bagaimanapun pengguna NAPZA adalah bagian dari masyarakat kita yang harus dibantu. Dengan penguatan jejaring akan mempermudah melaksanakan sistem rujukan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada kita semua bagaimana masalah gangguan penggunaan NAPZA merupakan hal yang harus menjadi perhatian kita semua agar anak bangsa di masa datang mempunyai kualitas yang lebih baik dan tidak terjadi suatu Lost Generation 81 . Kondisi yang saat ini kita hadapi adalah penularan berbagai penyakit infeksi khususnya HIV/AIDS dan gangguan jiwa/psikiatris baik sebagai komplikasi maupun kondisi yang memperberat gangguan psikiatris yang sudah ada sebelumnya. baik itu akibat langsung dari efek NAPZA maupun lingkungan yang kurang mendukung. Apabila tidak memungkinkan perlu adanya pembuatan dan perluasan jejaring dengan berbagai fasilitas layanan lain yang lebih lengkap.

Cocaine Yang diperiksa adalah Metabolit cocaine dalam Immunoassay Kromatografi + + Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa + + + + 82 .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DAFTAR PERSYARATAN PERALATAN LAYANAN PENUNJANG NO JEN1S PEMERIKSAAN SPESIMEN METODA LABORATORIUM PERALATAN PRATAMA UTAMA (Skrining) A Konfirmasi Narkotika 1 Heroin (Diethil morphine) Darah Yang diperiksa adalah : Urine Metabolit morphine dalam bentuk Morphine 3 D Qlucoronide dan 6 MAM 2. Canabis Yang diperiksa adalah Darah Metabolit cannabis dalam Urine bentuk 1 1 nor-9 carboxy THC (Tetrahydoccanabinol Carboksilat) 4. Morphine Yang diperiksa adalah Darah Metabolit morphine dalam Urine bentuk 3 B morphineQlucoronide Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KIT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Immunoassay Kromatografi + + 3.

MDMA (3. Dll Darah Urine Immunoassay Kromatografi + + B PSIKOTROPIKA 1. MDMA (3.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Bentuk Benzoylecgonine KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + + + + + 5. Derivat Amphetamine a. Codein 6. Yang diperiksa adalah Metabolit MDMA dalam bentuk HMA (4 hidroksi 3 metoxi Metamphetamine) Darah Urine Immunoassay Kromatografi + + Darah Urine Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau + + + + + + + + 3.4 metilin dioksi Methamphetamine atau Ektasi). Amphetamine Yang diperiksa adalah : Metabolit amphetamine dalam bentuk amphetamine Darah Urine Immunoassay Kromatografi Kit Elisa KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Kit Elisa KIT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS + + + + + + + + + + + + + + 2. Methamphetamine Darah Methamphetamine dalam Urine bentuk + + + + + + + 2 . Yang diperiksa adalah Metabolit MDMA dalam bentuk HMMA (4 hidroksi 3 metoxi Metamphetamine) b.4 metilin dioksi Methamphetamine atau Ektasi).

Nitrazepam Yang diperiksa adalah Metabolit Nitrazepam dalam bentuk 7 onimo Nitrazepam Darah Urine Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-ViS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KLT KLT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eterUV-VIS Immunoassay Kit Kromatografi Elisa Spektrofotometri KIT KIT Scanner HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Tes Warna Mikrodifusi Kromatografi Peralatan gelas Cawan + + + + + + + + + Darah Urine + + + + + + + + c. Carboksilat Darah Urine + + + + + + + + Darah Urine + + + + + + + + ZATADIKTIFLAINNYA 1. Thipental Yang diperiksa adalah : Metabolit thipental dalam bentuk as. AIkohol 2. Benzodiazepin a.Des Metyl Diazepam/Temazep am/Nordizepam/Oxa zepam b.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS 4. Phenobarbital Yang diperiksa adalah Metabolite Phenobarbital dalam bentuk Phydroksyphenobarbital b. Klor Diazepoksid Darah Yang diperiksa adalah Urine Metabolite Klor Diazepoksid dalam bentuk 4 Hydroksinordiazepa m/Oxazepam + + + + + + + + 5. Metanol + + + + + 3 . Diazepam yang diperiksa adalah : metabolit diazepam dalam bentuk M. Barbital a.

3. Konfirmasi: adalah pemeriksaan laboratorium lanjutan sebagai upaya untuk menegaskan hasil yang positif dari pemeriksaan pendahuluan yang dilaksanakan lebih akurat. Etanol 4 . 2.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Spektrofotometri conway + KIT manual + KLT Scanner + HPLC atau GC/GCMS Spektrofotom eter UV-VIS Ket: 1. Skrining : adalah pemeriksaan laboratorium sebagai upaya mengetahui adanya jenis obat yang menimbulkan afek toksis atau efek yang tidak diinginkan yang dilakukan secara cepat.

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 5 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 6 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 7 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 8 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 9 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 10 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 11 .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

12

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

13

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

14

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful