P. 1
Kebijakan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Indonesia

Kebijakan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Indonesia

|Views: 675|Likes:
Published by Wisnu Tamara Zavier

More info:

Published by: Wisnu Tamara Zavier on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2014

pdf

text

original

Kebijakan pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia

A. Sejarah Upaya awal untuk mengarusutamakan pendekatan pengelolaan keanekaragaman hayati secara lestari telah dilakukan baik ditingkat global maupun lokal. Di tingkat global, Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati (KKH atau United Nations Conventions on Biological Diversity) merupakan salah satu 8 produk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 di Rio de Janeiro, Brazil . Konvensi ini mulai berlaku di Indonesia sejak tahun 1994, melalui ratifikasi dalam bentuk UU No.5/1994. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) adalah fokal point nasional bagi pelaksanaan KKH. Tujuan utama dari KKH yaitu: (1) konservasi keanekaragaman hayati, (2) pemanfaatan berkelanjutan dari komponennya, dan (3) pembagian keuntungan yang adil dan merata dari penggunaan sumber daya genetis, termasuk akses yang memadai serta alih teknologi, dan melalui sumber pendanaan yang sesuai. Sesuai dengan tujuannya KKH mewajibkan Negara-negara yang meratifikasinya, termasuk Indonesia, untuk : 1. Membuat strategi dan rencana aksi nasional (seperti BAPI 1993 dan IBSAP 2003); 2. Memfasilitasi partisipasi masyarakat adat dan lokal dalam pelaksanaan KKH; 3. Mendukung pengembangan kapasitas bagi pendidikan dan komunikasi

keanekaragaman hayati; 4. Menerapkan pendekatan ekosistem, bilamana memungkinkan, dan memperkuat kapasitas nasional serta lokal; Mengembangkan peraturan tentang akses pada sumber daya genetis dan pembagian keuntungan yang adil; Kesepakatan lain yang ditandatangani oleh pemerintah di tingkat internasional ialah: Misalnya, pemerintah meratifikasi CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) melalui Keppres No. 43/1978 dan Konvensi Ramsar mengenai Lahan Basah melalui Keppres No.48/1991. Ditingkat nasional,

1

5/1994 dan IBSAP 2003 merupakan serangkaian upaya yang apabila dijalankan dapat menjadi sarana bagi pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Misalnya. Pada awal 1990an. Dokumen ini telah didokumentasikan oleh sekretariat UNCBD sebagai dokumen nasional Indonesia. yaitu UU No. 2 . Dokumen BAPI ini pada tahun 2003 direvisi menjadi dokumen Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) juga oleh BAPPENAS. KLH) menerbitkan Strategi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. 5/1990 tentang Pelestarian Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur konservasi ekosistem dan spesies terutama di kawasan lindung. UU No.5/1990. Pada saat yang hampir bersamaan. ada beberapa kebijakan yang diharapkan dapat menjadi panduan komprehensif bagi pengelolaan keanekaragaman hayati. Padahal di luar kawasan lindung banyak sekali eksosistem yang mengalami ancaman yang setara. tahun 1993 Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH sekarang Kementrian Lingkungan Hidup. Tiga kebijakan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menerbitkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati untuk Indonesia (Biodiversity Action Plan for Indonesia 1993 .BAPI 1993). Perundangan ini belum dapat dikatakan komprehensif karena cakupannya masih berbasis kehutanan dan pelestarian hanya di kawasan lindung.kebijakan mengenai pelestarian keanekaragaman hayati adalah UU No.

Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Peraturan Pemerintah RI Nomor 13 Tahun 1994 Tentang Perburuan Satwa Buru.      Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa . Peraturan Pemerintah  Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1994 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Zona Pemanfaatan Taman Nasional . 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. b. Taman hutan Nasional Dan Taman Wisata Alam. 3 . Undang Undang Nomor. Berikut ini adalah daftar peraturanperaturan tersebut yang diklasifikasikan berdasar bentuk perundangannya: a.B. Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Undang Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman . Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar . dan Undang Undang Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 1993 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Peraturan Perundangan Yang Terkait Dengan Keanekaragaman Hayati di Indonesia Sejak tahun 1984 pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundangan yang terkait dengan keanekaragaman hayati. Undang Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang        Undang Undang Nomor 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity.

   Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Suaka Alam Dan Daerah Perlindungan Alam. dan kondisi alam itu sendiri. yaitu faktor teknis dan faktor struktural. dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 Tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Dalam Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia. yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. d. teknologi yang digunakan. Faktor Teknis Ada 3 (tiga) aspek yang masuk kedalam kategori faktor teknis yaitu kegiatan manusia. Krisis keanekaragaman hayati ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Ketiga aspek ini diperkirakan mampu menimbulkan kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati seperti yang diuraikan berikut ini: 4 . c. Keputusan Presiden  Keppres Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.M/PE/1991 dan Nomor 346/Kpts. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kondisi Keanekaragaman Hayati di Indonesia Kekayaan sumberdaya hayati Indonesia saat ini diperkiraan sedang mengalami penurunan dan kerusakan. Faktor-faktor ini dikelompokkan menjadi dua kategori. Keputusan Menteri  Keputusan Menteri Bersama Menteri Pertambangan Energi dan Menteri Kehutanan Nomor 110/12/702.11/1991 tentang pedoman pengaturan bersama usaha pertambangan dan energi dalam kawasan hutan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. C. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Penggunaan Jenis Kehidupan Liar.

1993). dan upaya budidayanya dilakukan. terjadi pencurian ikan. 36 triliun (Kwik.   Pemanfaatan berlebih: Pemanfaatan sumber daya sering dilakukan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Sementara spesies yang dianggap tidak punya nilai ekonomi dibiarkan terancam punah tanpa ada upaya budidaya. pantai utara Jawa. juga marak di Indonesia. Ketidaktahuan ini menimbulkan sikap tidak peduli yang mengarah pada perusakan keanekaragaman hayati.  Tekanan penduduk: Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia dengan populasi mencapai 203 juta orang pada tahun 2000. papan serta ruang untuk 5 . Pemungutan dan perdagangan ilegal: Contoh jelas tentang hal ini adalah penebangan liar. pemahaman dan kepedulian yang rendah: Sebagian lapisan masyarakat kurang memiliki kesadaran hayati bagi dan pemahaman tentang makna penting aset keanekaragaman kehidupan seharihari maupun sebagai pembangunan.2% pada 2000-2005. dan Sulawesi Selatan. lahan pertanian.a. Spesies yang diketahui nilai ekonomi pasarnya dieksploitasi secara berlebih. Untuk penghidupannya. pelabuhan dan industri. sebagian besar oleh kapal asing yang nilainya diperkirakan antara US$ 3 sampai 4 miliar atau Rp. serta perdagangan flora dan fauna.  Konversi habitat alami: Diperkirakan sekitar 20-70% habitat alami Indonesia sudah rusak (Bappenas. yang dilindungi maupun yang tidak. jumlah penduduk yang tinggi ini memerlukan dukungan sandang. Hal ini terjadi terutama karena konversi habitat alami untuk berbagai kepentingan pembangunan. degradasi hutan mangrove untuk dikonversi menjadi tambak. Faktor kegiatan Manusia  Kesadaran. pemukiman. tingkat pertumbuhannya diperkirakan 1. pangan. Kompas 15 Februari 2003). seperti yang umum terjadi di pesisir timur Sumatera. Di kawasan laut.  Monokulturisme11 dalam budidaya dan pemanfaatan: Pola monokultur ini mengarah pada ketidakseimbangan dan akhirnya menimbulkan keterancaman spesies serta erosi keanekaragaman genetik. Misalnya. 2002.

Pola pemanfaatan yang tidak bijaksana akan ancaman bagi kelestarian keanekaragaman hayati. Kualitas SDM yang rendah ini merupakan salah satu penyebab tingginya tingkat kemiskinan di Negara ini. bahan beracun dan pukat harimau. penyelundupan flora dan fauna yang dilindungi serta konversi habitat alami untuk proyek-proyek pembangunan ekonomi. Tingkat kerusakan ini melebihi tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh gelombang. maka tekanan pada sumber daya alam pasti akan meningkat. teknik dan alat untuk pemanfaatan keanekaragaman hayati dapat menimbulkan kerusakan pada ekosisem. sebenarnya perusakan keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh kemiskinan lebih kecil dibandingkan dengan perusakan yang terjadi akibat keserakahan beberapa pihak yang mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan semata. pukat udang dengan lebar 20 meter mampu menggerus dasar laut seluas 1 km2 dalam waktu 1 jam.beraktivitas. Pemilihan Teknologi Beberapa jenis teknologi. 2002). Hampir semua daya dukung ini berasal dari alam yang berkaitan sangat erat dengan KH.  Kemiskinan dan keserakahan: kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah. Sebagai ilustrasi. karena tingkat kemiskinan tertinggi biasanya terdapat di pedesaan. 2000). penebangan berlebih yang resmi maupun ilegal. merupakan ancaman bagi kelestarian keanekaragaman hayati (KLH. Demikian pula. Tekanan jumlah dan kualitas penduduk ini akan semakin mengancan keanekaragaman hayati laut dan pesisir. Lebih dari 60% atau sekitar 140 juta penduduk Indonesia hidup di wilayah pesisir dan laut dan kehidupan mereka bergantung pada sumber daya hayati laut dan pesisir (Dahuri. Sikap serakah inilah yang menjurus pada gejala tangkap lebih di beberapa perairan laut. bahan peledak. Namun. Sebagai contoh:  Jenis alat yang diketahui merusak habitat sumber daya hayati pesisir adalah penggunaan alat pengumpul ikan. 6 . b.

teknologi pertanian yang intensif. yang disebabkan antara lain oleh pemanasan global. Faktor Alam Salah satu faktor alam yang bisa mempengaruhi kerusakan dan penyusutan keanekaragaman hayati ialah Perubahan iklim global. Beberapa tahun terakhir ini. Di bidang pertanian. sumber pencemaran adalah tumpahan minyak dari kapal. pola monokultur ini mengarah pada ketidakseimbangan dan akhirnya menimbulkan keterancaman spesies serta erosi keanekaragaman genetik. Seperti disebutkan diatas. Dampak perubahan iklim pada keanekaragaman hayati secara langsung masih harus diteliti. termasuk sumber daya air dan keanekaragaman hayati. tetapi diperparah oleh perubahan iklim. perubahan iklim telah berdampak pada pertanian. c. Sedangkan diperairan tawar. dan kegiatan industri. termasuk Indonesia. ketahanan pangan. lingkungan. Perubahan iklim global. yang terjadi di banyak bagian dunia. karena musim kemarau menjadi lebih panjang daripada biasanya. yang pada gilirannya berdampak pada struktur dan fungsi ekosistem alami dan penghidupan manusia. kesehatan manusia dan permukiman manusia. sumber pencemar kebanyakan dari limbah kegiatan industri dan rumah tangga. Kebakaran hutan besar yang terjadi tahun 1997/1998 disebabkan oleh kegiatan manusia. mempunyai pengaruh pada sistem hidrologi bumi. Dampak yang mudah terlihat adalah frekuensi dan skala banjir dan musim kering yang panjang.  Di laut. tetapi diduga pengaruhnya cukup besar. 7 . misalnya revolusi hijau (untuk padi) dan revolusi biru (untuk pertambakan udang) telah mengubah cara budidaya polikultur yang kaya spesies dan kultivar dengan budidaya monokultur.

Sentralistik. 1997). Sistem Kelembagaan yang Lemah Indonesia belum mempunyai sistem yang kuat dan efektif untuk pengelolaan keanekaragaman hayati. pemanfaatan keanekaragaman hayati dilakukan dengan prinsip keruk habis. Faktor Struktural Ada dua akar persoalan atau masalah struktural. (KLH. Kebijakan Eksploitatif. Paradigma pembangunan dimasa lalu belum mempertimbangkan kepentingan pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.2. Pemanfaatan dan pengelolaan KH yang lestari dan berkelanjutan memerlukan tata kelola (good governance) yang baik. 8 . bertanggung gugat. termasuk sumber daya alam (Barber. percepatan pertumbuhan ekonomi serta diversifikasi basis perekonomian (Dauvergne dalam Sunderlin dan Resosudarmo. pelaksanaan dan pengawasan pengelolaan lestari keanekaragaman hayati belum terpadu. representatif dan demokratis. perencanaan. paradigm pembangunan yang dianut oleh pemerintah selama era 1970-an hingga 1990-an dan kedua. Pengelolaan keanekaragaman hayati dilakukan oleh berbagai lembaga tanpa mempunyai wewenang hukum yang jelas. belum terbentuk tata kelola (good governance) yang baik. Dengan kata lain. Pemerintah memandang keanekaragaman hayati sebagai sumber daya yang berharga untuk dilikuidasi dalam rangka perolehan devisa. Akibatnya. Pertama. Tata kelola yang baik dicirikan oleh pemerintah yang bersih. 2002). jual murah dan jual mentah. b. kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati meningkat seiring dengan melajunya pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu. Sektoral dan Tidak Partisipatif Paradigma pertumbuhan ekonomi mendorong pemerintah untuk melakukan sentralisasi pelaksanaan pembangunan dan penguasaan sumber daya untuk pembangunan. 1996). Kedua pangkal persoalan tersebut menimbulkan masalah struktural di bawah ini: a.

Koordinasi dan integrasi program di antara para pengelola amat lemah. c. 9 . kadang-kadang aparat di daerah tidak mengetahui atau tidak peduli dengan kebijakan yang telah dibuat di pusat. Lembaga penegakan hokum sering tidak memahami substansi hukum yang terkaitan dengan keanekaragaman hayati. seperti yang telah diuraikan di atas. Lebih jauh. salah satunya karena tidak ada arahan nasional yang kuat dan diakui yang mendasari perencanaan setiap sektor. Karena perumusan kebijakan sering tidak melibatkan partisipasi publik. Sistem judisial juga belum profesional dan otonom sehingga menyulitkan penegakan hukum. sehingga tidak dapat membantu penegakannya. banyak kebijakan berbeda dari hukum adat yang berlaku di masyarakat sehingga kadang-kadang sulit diterima oleh masyarakat.Koordinasi dan integrasi program di antara para pengelola amat lemah. Dan yang terakhir. misalnya KKH. Akibatnya keputusan yang dibuat sering parsial. Kelemahan di segi kelembagaan juga mempengaruhi koordinasi pelaksanaan kewajiban terhadap berbagai konvensi internasional. 2003). Akibatnya keputusan yang dibuat sering parsial. seperti yang telah diuraikan di atas. 2002). dan bahkan keputusan satu sektor bisa bertentangan dengan sektor lainnya (Wetlands Indonesia Programme. Sistem dan penegakan hukum yang lemah Pengelolaan keanekaragaman hayati secara lestari sulit terjadi karena sistem dan instrumen hukum yang ada masih lemah. salah satunya karena tidak ada arahan nasional yang kuat dan diakui yang mendasari perencanaan setiap sektor. Semuanya ini diperparah oleh keterbatasan dana. sumber daya manusia serta infrastruktur yang memadai untuk penegakan hukum (KLH. kalangan masyarakat tidak mengetahui adanya kebijakan tersebut. 2003). dan bahkan keputusan satu sektor bisa bertentangan dengan sektor lainnya (Wetlands Indonesia Programme. Konvensi Ramsar dan CITES.

dan endemisme. telah dikembangkan “specimen based” database yang dinamakan Indonesian Biodiversity Infromation System (IBIS) untuk mengelola koleksi botani dan zoologi. revisi informasi secara teratur dan sistematik serta pengumpulan data baru sangat penting (WCMC.D. WCMC (1994) menegaskan bahwa informasi merupakan landasan bagi semua jenis kegiatan dan pendekatan dalam konservasi keanekaragaman hayati. Gambaran ketersediaan data dan Pengembangan Sistem Informasi keanekaragaman hayati 1. Pusat Penelitian BiologiLIPI melaksanakan Biodiversity Collections Project dengan dana hibah dari Global Environment Facility (GEF). Database ini mengandung 240. Jenis-jenis data yang dibutuhkan untuk mendukung upaya-upaya konservasi keanekaragaman spesies dan habitat terus berubah. keterangan mengenai koleksi seperti status kelimpahan. sebagai biaya dari upaya konservasi dan pada saat yang sama manfaat dari eksploitasinya. 1994). dan pengelolaan koleksi yang dilengkapi sistem informasi.000 nomor entri Botani dan 144. kegiatan entri data dilanjutkan dengan menggunakan dana dari anggaran pembangunan. tahun dan tempat koleksi. kegunaan. nama lokal.000 nomor entri Zoologi. dilengkapi informasi. Oleh karena itu. Aplikasi penentuan lokasi ini mampu menghasilkan peta sebaran suatu spesies berikut indikator geografis keberadaannya. Beberapa inisiatif yang telah dilakukan pemerintah di bidang pengadaan dan pengembangan informasi diantaranya: a. Setelah proyek berakhir pada 2001. Kegiatan ini terdiri dari dua komponen penting yaitu penelitian sistematik dalam bidang botani dan zoologi. antara lain nama ilmiah. 10 . Inisiatif yang sudah dilakukan Informasi mengenai keanekaragaman hayati sangat diperlukan agar perencanaan dan pelaksanaan pengelolan keanekaragaman hayati menjadi lebih efektif serta efisien. Berkaitan dengan Pengelolaan Sistem Informasi. Sistem Informasi Keanekaragaman hayati Indonesia atau IBIS (Indonesian Biodiversity Information System) Dari 1994 hingga 2001.

Kegiatan Fase I (1997-2000) berupa pembangunan Gedung Widyasatwaloka. yaitu lembaga pemerintah. Departemen Kelautan dan Perikanan. c. Jaringan Informasi Keanekaragaman Hayati Nasional atau NBIN (National Biodiversity Information Network) NBIN yang merupakan inisiatif dari Puslit BiologiLIPI adalah jaringan kerja untuk memfasilitasi tukar menukar data dan informasi tentang keanekaragaman hayati di antara institusi yang tergabung di dalamnya. Fase II (2000-2003) melanjutkan dan memperbarui struktur database IBIS yang terintegrasi. 11 . untuk pengelolaan koleksi zoologi. Dana untuk kegiatan ini berasal dari pinjaman Asian Development Bank. ii) meningkatkan daya tanggap terhadap permintaan pengguna informasi. survai lapangan. Tujuannya adalah mewujudkan BIC dan NCIC. dan (iii) memantapkan kemandirian NBIN dalam jangka panjang. dan database peneliti.b. Puslit BiologiLIPI bertindak sebagai institusi pelaksana di bawah payung Marine and Coastal Resources Management Project (MCRMP). perguruan tinggi. yang berada di bawah Direktorat Bina Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. bibliografi. zoologi. sedangkan database koleksi mikrobiologi masih dalam tahap pengembangan. Anggota NBIN berperan sebagai penyedia sekaligus pengguna data dan informasi keanekaragaman hayati. meliputi database koleksi botani. beserta laboratorium dan peralatan pendukungnya. lembaga penelitian maupun organisasi nonpemerintah. Kegiatan NBIN baru dimulai tahun 2002 dengan penandatangan Nota Kesepahaman dan Kesepakatan Bersama para anggotanya. dengan hibah dari pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). dilengkapi dengan penyiapan perangkat keras dan lunak komputer serta infrastruktur jaringan (Local Area Network). Biodiversity Information Center (BIC) dan Nature Conservation Information Center (NCIC) Biodiversity Conservation Project dimulai tahun 1997 oleh Puslit Biologi-LIPI. Tujuannya adalah: i) membangun mekanisme pertukaran data dan informasi.

Komponen kegiatan NBIN meliputi: i) Pembentukan Komisi Nasional Pembakuan Pertukaran Data Keanekaragaman Hayati.net. Sebagian data dapat diakses melalui situs web: http://bio. Pusat Informasi Konservasi Alam (PIKA) Didirikan oleh Direktorat Jendral Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). PIKA berfungsi mengelola data tentang kawasan konservasi di Indonesia. Sistem pengelolaan data dan aplikasinya masih belum dapat segera digunakan oleh pengguna awam. Departemen Kehutanan atas dukungan dana Dari Japan Internasional Corporation Agency (JICA). 2. e. dan v) Pembentukan Kelompok Pengguna.lipi. BIC merupakan pusat pengelolaan data keanekaragaman hayati Indonesia yang berbasis spesimen koleksi. Selain pemerintah. Biodiversity Information Center (BIC) Terletak di gedung Widyasatwaloka.go. swasta dan juga kelompok-kelompok masyarakat seperti: 1. 12 . iii) Pembentukan dan dukungan bagi Asosiasi NBIN. ada berbagai upaya yang dilakukan oleh Organisasi non-pemerintah (Ornop). Bidang Zoologi-Pusat Penelitian Biologi LIPI. d. ii) Menjalin hubungan dengan Komunitas Keanekaragaman Hayati Internasional melalui pembentukan Balai Kliring Keanekaragaman Hayati. iv) Pembentukan Biodiversity Marketing Enterprise (BIOME).id atau http://biolipi. Pembentukan Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) yang mewadahi berbagai kelompok yang ingin melindungi dan mengembangkan pengetahuan tradisional di bidang keanekaragaman hayati. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dibentuk tahun 1994 untuk memberikan dukungan dana dan teknis bagi kegiatan yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati.bogor.

The Nature Conservancy (TNC). termasuk Indonesia. Produsen jamu Indonesia adalah contoh sektor swasta yang mengambil inisiatif untuk bergiat dalam melestarikan KH. Balai Pustaka kemudian menerbitkan dokumen ini sebagai buku pegangan untuk sekolah. Seri buku tersebut dalam versi bahasa Indonesia 13 . kayu dsb. termasuk spesies yang sudah langka. dan telah menerbitkan belasan seri buku tentang spesies budidaya dan liar seperti tanaman buah-buahan. 4. Ornop internasional mulai berkegiatan di Indonesia sejak tahun 1970-an dan semakin meningkat pada dekade terakhir ini. Selain itu.  buku seri Ekologi Indonesia mencakup Ekologi Sumatera.  PROSEA telah mendokumentasikan informasi tentang keanekaragaman spesies tanaman di Asia Tenggara. dengan melibatkan universitas. World Wide Fund (WWF). Ekologi Kalimantan. di antaranya:  dokumen yang berjudul Seri Sumber Daya Ekonomi yang diterbitkan oleh LIPI sejak tahun 1960-an. lembaga penelitian dan masyarakat. Fauna Flora Indonesia (FFI). sayuran. Wetlands International. Ekologi Sulawesi. Wildlife Conservation Society (WCS). dan lainnya yang lebih banyak bergiat di kawasan konservasi. dan Ekologi Laut Indonesia. Selain berusaha melestarikan tanaman obat melalui pelestarian tradisi pengobatan asli Indonesia yang menggunakan tanaman obat. Ekologi Jawa dan Bali. Di antara ornop tersebut adalah Conservation International (CI). Indonesia juga menjadi tuan rumah bagi dua lembaga penelitian internasional yaitu CIFOR (Pusat Penelitian Kehutanan Internasional) dan ICRAF (Pusat Penelitian Agroforestri Internasional). Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku.3. Pembahasan dalam dokumen ini di antaranya menyangkut Sumber Daya Hayati yang dikenal sebagai Seri Buku Hijau. Bentuk dokumentasi lain yang bisa digunakan untuk membangun sistem informasi keanekaragaman hayati. mereka saat ini juga mengembangkan kebun benih dan budidaya tanaman obat.

   Jenis data: kedalaman dan cakupannya tidak sama. fauna.  buku panduan lapangan untuk mengamati fauna. Beberapa kekurangan dari sistem informasi yang sudah ada diantaranya ialah:  Lokasi: data yang digali dan ditampilkan belum menyeluruh atau hanya pada lokasilokasi tertentu saja.dan Sumber data: kebanyakan diambil secara langsung di lapangan (primer). Masing-masing jilid menguraikan secara rinci vegetasi. tergantung dari kebutuhan instansi masing-masing. flora. Biasanya hanya lokasi yang potensial mendapatkan bantuan proyek dalam bentuk hibah maupun pinjaman luar negeri. Waktu: tidak berkesinambungan. Bab selanjutnya akan menguraikan proses penyusunan dan pengembangan sistem informasi berupa pemindaian cepat kawasan kritis keanekaragaman hayati untuk pengambil keputusan. biogeografi dan ekosistem serta interaksinya dengan manusia di berbagai pulau di Indonesia. Bagi para pengambil keputusan.diterbitkan oleh Prenhalindo. informasi yang terintegrasi sangat berharga untuk digunakan sebagai dasar intervensi maupun usulan penyelesaian suatu masalah yang prioritas dilakukan. E. Data dan Informasi Keanekaragaman Hayati untuk Pengambil Keputusan Apa yang sudah dilakukan dalam hal pengembangan sistem informasi keaneka ragaman hayati memang belum cukup. yang diterbitkan oleh LIPI. data sekunder atau dalam bentuk statistik sulit diperoleh. Masih dibutuhkan penyajian informasi geografis yang integrasi agar bisa secara komunikatif menampilkan peta sebaran permasalah keanekaragaman hayati di Indonesia. namun belum merangsang publik untuk menggunakannya bagi panduan pelestarian alam. 14 . beberapa lembaga internasional dan Dephut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->