Demam Tifoid Written by dr.

Dimas Satya Hendarta Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di berbagai belahan dunia hingga saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi. Di Indonesia, demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah “penyakit tifus”. Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus).1,3,4 Munculnya daerah endemik demam tifoid dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, peningkatan urbanisasi, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, kurangnya suplai air, buruknya sanitasi, dan tingkat resistensi antibiotik yang sensitif untuk bakteri Salmonella typhi, seperti kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan ciprofloxcacin.1 Penularan Salmonella typhi terutama terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Selain itu, transmisi Salmonella typhi juga dapat terjadi secara transplasental dari ibu hamil ke bayinya.4 Manifestasi Klinik dan Temuan Fisik Masa inkubasi Salmonella typhi antara 3-21 hari, tergantung dari status kesehatan dan kekebalan tubuh penderita. Pada fase awal penyakit, penderita demam tifoid selalu menderita demam dan banyak yang melaporkan bahwa demam terasa lebih tinggi saat sore atau malam hari dibandingkan pagi harinya. Ada juga yang menyebut karakteristik demam pada penyakit ini dengan istilah ”step ladder temperature chart”, yang ditandai dengan demam yang naik bertahap tiap hari, mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama kemudian bertahan tinggi, dan selanjutnya akan turun perlahan pada minggu keempat bila tidak terdapat fokus infeksi.1,4 Gejala lain yang dapat menyertai demam tifoid adalah malaise, pusing, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri perut, konstipasi, diare, myalgia, hingga delirium dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya lidah kotor (tampak putih di bagian tengah dan kemerahan di tepi dan ujung), hepatomegali, splenomegali, distensi abdominal, tenderness, bradikardia relatif, hingga ruam makulopapular berwarna merah muda, berdiameter 2-3 mm yang disebut dengan rose spot.2,4

Penegakan Diagnosis Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya penurunan kadar hemoglobin, trombositopenia, kenaikan LED, aneosinofilia, limfopenia, leukopenia, leukosit normal, hingga leukositosis.5 Gold standard untuk menegakkan diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan kultur darah (biakan empedu) untuk Salmonella typhi. Pemeriksaan kultur darah biasanya akan memberikan hasil positif pada minggu pertama penyakit. Hal ini bahkan dapat ditemukan pada 80% pasien yang tidak diobati antibiotik. Pemeriksaan lain untuk demam tifoid adalah uji serologi Widal dan deteksi antibodi IgM Salmonella typhi dalam serum. 1,2,4 Uji serologi widal mendeteksi adanya antibodi aglutinasi terhadap antigen O yang berasal dari somatik dan antigen H yang berasal dari flagella Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan titer O aglutinin sekali periksa mencapai ≥ 1/200 atau terdapat kenaikan 4 kali pada titer sepasang. Apabila hasil tes widal menunjukkan hasil negatif, maka hal tersebut tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis demam tifoid.4,5 Penatalaksanaan Hingga saat ini, kloramfenikol masih menjadi drug of choice bagi pengobatan demam tifoid di Indonesia. Dosis yang diberikan pada pasien dewasa adalah 4 x 500 mg hingga 7 hari bebas demam. Alternatif lain selain kloramfenikol, yaitu: tiamfenikol (4 x 500 mg), kotrimoksazol (2 x 2 tablet untuk 2 minggu), ampisilin atau amoksisilin (50-150 mg/kgBB selama 2 minggu), golongan sefalosporin generasi III (contoh: seftriakson 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam per infus sekali sehari untuk 3-5 hari), dan golongan fluorokuinolon (contoh: ciprofloxcacin 2 x 500 mg/hari untuk 6 hari).5 Di Amerika Serikat, pemberian regimen ciprofloxcacin atau ceftriaxone menjadi first line bagi infeksi Salmonella typhi yang resisten terhadap kloramfenikol, ampisilin, trimethoprimsulfamethoxazole, streptomycin, sulfonamides, atau tetrasiklin.1 Pada pasien anak, kloramfenikol diberikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari. Regimen lain yang dapat diberikan pada anak, yaitu: ampisilin (200 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian IV), amoksisilin (100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian PO), trimethoprim (10 mg/kg/hari) atau sulfametoksazol (50 mg/kg/hari) terbagi dalam 2 dosis, seftriakson 100 mg/kg/hari terbagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari) untuk 5-7 hari, dan sefotaksim 150-200 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis.4 Pemberian steroid diindikasikan pada kasus toksik tifoid (disertai gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan CSF dalam batas normal) atau pasien yang mengalami renjatan septik. Regimen yang dapat diberikan adalah deksamethasone dengan dosis 3x5 mg. Sedangkan pada pasien anak dapat digunakan deksametashone IV dengan dosis 3 mg/kg dalam 30 menit sebagai dosis awal yang dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam hingga 48 jam. Pengobatan lainnya bersifat simtomatik.4,5 Komplikasi

Salah satu komplikasi demam tifoid yang dapat terjadi pada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat adalah perforasi dan perdarahan usus halus. Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ketiga yang ditandai dengan suhu tubuh yang turun mendadak, adanya tanda-tanda syok dan perforasi intestinal seperti nyeri abdomen, defance muscular, redup hepar menghilang. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia, miokarditis, hingga meningitis.2,4 Pencegahan Pencegahan infeksi Salmonella typhi dapat dilakukan dengan penerapan pola hidup yang bersih dan sehat. Berbagai hal sederhana namun efektif dapat mulai dibiasakan sejak dini oleh setiap orang untuk menjaga higientias pribadi dan lingkungan, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menyentuh alat makan/minum, mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi yang sudah dimasak matang, menyimpan makanan dengan benar agar tidak dihinggapi lalat atau terkena debu, memilih tempat makan yang bersih dan memiliki sarana air memadai, membiasakan buang air di kamar mandi, serta mengatur pembuangan sampah agar tidak mencemari lingkungan. Referensi 1. Cammie F. Lesser, Samuel I. Miller, 2005. Salmonellosis. Harrison‟s Principles of Internal Medicine (16th ed), 897-900. 2. Chambers, H.F., 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current Medical Diagnosis and Treatment (45th ed), 1425-1426. 3. Brusch, J.L., 2010, Typhoid Fever. http://emedicine.medscape.com/article/231135overview. 4. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008, Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (2nd ed), Badan Penerbit IDAI, Jakarta. 5. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006, Standar Pelayanan Medik, PB PABDI, Jakarta. -----------------------------------Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Demam Tifoid dan Paratifoid

“Demam naik turun lebih dari 5 hari, waspadailah Demam Tifoid dan

Demam Paratifoid”. Apa itu Demam Tifoid dan Demam Paratifoid? Demam Tifoid adalah penyakit usus dengan gejala sistemik akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Sedangkan Demam Paratifoid adalah penyakit usus dengan gejala sistemik akibat infeksi Salmonella paratyphi A, B, C. Masa inkubasi (masa dari masuknya bakteri ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala) demam tifoid/paratifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan tipe bakteri yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan tidak bergejala. Penularan penyakit dapat melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses(tinja).

5F

Food (makanan) Fingers (jari tangan / kuku) Fomitus / Vomitus (muntahan) Fly (lalat) Feses (tinja)

Bakteri masuk ke saluran cerna, sebagian akan musnah oleh asam lambung, dan sebagian akan diserap di usus halus, masuk ke aliran darah dan menuju ke seluruh tubuh. Bakteri tersebut akan menghasilkan endotoksin (racun) sehingga tubuh bereaksi demam. Bakteri masuk organ hati dan limpa, menyebabkan pembengkakan. Pembengkakan ini menimbulkan rasa tidak enak di perut (kembung, nyeri, mual, tidak nafsu makan). Selain itu bakteri ini akan masuk jaringan getah bening usus halus, menimbulkan perlukaan, dan bila infeksinya tidak ditanggulangi dapat menimbulkan komplikasi perdarahan dan perforasi (kebocoran) usus halus.

Bagaimana gejala klinis Demam Tifoid/Paratifoid? Gejala klinis pada anak umumnya lebih ringan dan lebih bervariasi dibandingkan dengan orang dewasa. Walaupun gejala demam tifoid/paratifoid pada anak lebih bervariasi, tetapi secara garis

konstipasi atau diare) dan gangguan kesadaran (kesadaran berkabut. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang: o Pemeriksaan darah: tanda-tanda infeksi o Pemeriksaan uji Widal: dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi/paratyphi. Perforasi usus terjadi pada 0. Kebanyakan komplikasi terjadi di minggu ketiga dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta kenaikan denyut jantung. pakaian. mengigau). Bagaimana mendiagnosis Demam Tifoid/Paratifoid?    Wawancara dokter-pasien: analisis gejala-gejala klinis. yaitu:  Istirahat dan perawatan o Tirah baring o Perawatan: kebersihan tempat tidur. tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella.  Pemberian Antibiotika o Kloramfenikol.besar terdiri dari demam satu minggu/lebih. muntah.  Diet dan terapi penunjang o Prinsipnya adalah memberikan makanan yang nyaman dan dapat memulihkan kesehatan pasien secara optimal.5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita. o Bagi yang merawat: perlu diperhatikan bahwa penyakit ini menular sehingga perlu memperhatikan pembuangan tinja dan urin pasien. serta nyaman bagi mulut pasien. terdapat gangguan saluran pencernaan (mual. Sejalan dengan perkembangan penyakit. dapat diberikan secara oral . serta harus menjaga kebersihan pribadi. suhu tubuh meningkat dengan gambaran „anak tangga‟. Pneumonia sering ditemukan. yaitu makanan yang mudah dicerna dan bergizi. dan perlengkapan yang dipakai. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari. nyeri perut. Nyaman disini adalah nyaman bagi kondisi saluran cerna. serta tidak menimbulkan iritasi saluran cerna. o Kultur darah Bagaimana manajemen Demam Tifoid/Paratifoid? Trilogi penatalaksanaan Demam Tifoid/Paratifoid.

peritonitis atau perforasi. selama 2 minggu o Sefalosporin Generasi Ketiga. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari. Referensi Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FK UI. karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi/paratyphi. 2006. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) o Ampisilin dan amoksilin. syok septik. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik.atau intravena. diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari. Tropik Infeksi. sampai 7 hari bebas panas o Tiamfenikol. DEMAM TIFOID DEMAM TIFOID Definisi . o Kortimoksazol. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB. selama 3-5 hari o Golongan Fluorokuinolon § Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari § Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari § Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari § Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari § Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari o Kombinasi obat antibiotik. Jakarta.

Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam sampah.4º C (130º F) selama 1 jam atau 60 º C (140 º F) selama 15 menit. agfen farmakeutika an bahan tinja. Paratyphi A. kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah. dan S. tetapi tidak meragikan laktosa dan sukrosa. bahan makannan kering. Typhi cendrung untuk menjadi lebih berat daripada bentuk infeksi salmonella yng lain. dan tidak berkapsul. Paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain. 2002) Patogenesis S. manosa dan manitol untuk menghasilkan asam dan gas.Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif Salmonella typhi. 2002) Salmonella memiliki antigen somatik O dan antigen flagella HH. (Darmowandowo. Demam yang disebabkan oleh s. 2006) Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. typhi masuk ketubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. 2000) Setelah mencapai usus. Typhi. (Ashkenazi et al. Antigen O adlah komponen lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas sedangkan antigen H adalah protein labil panas. 2002) Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat motil. Organisme salmonella tumbuh secara aerob dan mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. s. Kebanyakan spesies resistent terhadap agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54. (Ashkenazi et al. Kebanyakkan strain meragikan glukosa. Selama terjadi infeksi. (mansjoer. (Ashkenazi et al. tidak membentuk spora. Salmonella typhosa menembus ileum . Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus.

sehingga pada minggu ke 2 panas tinggi terus menerus terutama pada malam hari. inisiasi sistem beku darah. 2006). biasanya mulai dengan sumer yang makin hari makin meninggi. terjadilah bakteriemi II (Darmowandowo. 3. Humoral sistemik. Lokal (patch of payer) terjadi hiperplasi. depresi sumsum tulang dll (Darmowandowo. Panas lebih dari 7 hari. Secara klinis gambaran penyakit Demam Tifoid berupa demam berkepanjangan. diproduksi IgM dan IgG untuk memudahkan fagositosis Salmonella oleh makrofag. dan bervariasi dari gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak sistem organ. 1. splenomegali dan lidah kotor tepi hiperemi. instabilitas vaskuler. nekrosis dan ulkus. Setelah berkembang biak di RES. gangguan fungsi usus. bahkan sampai koma. diare. 2. hepatomegali. (Darmowandowo. Seluler berfungsi untuk membunuh Salmonalla intraseluler (Darmowandowo. 2006) Diagnosa 1. Gejala gstrointestinal dapat berupa obstipasi. disusul bakteriemi I. Amanesis . Gejalah saraf sentral berupa delirium. muntah. apatis. Humoral lokal. di usus diproduksi IgA sekretorik yang berfungsi mencegah melekatnya salmonella pada mukosa usus.ditangkap oleh sel mononuklear. dan kembung. sopor. Interaksi Salmonella dengan makrofag memunculkan mediator-mediator. 2006) Gejala Klinis Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidak khas. Sistemik timbul gejala panas. dan keluhan susunan saraf pusat. somnolen. 2006) Imunulogi. mual.

2006) Diagnosa Banding 1. Keganasan : – Leukemia 5. Gastroenteritis 9. PCR.S. Kultur empedu (+) : darah pada minggu I ( pada minggu II mungkin sudah negatif). tinja minggu II. Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tanda klinik 3. terapi penyulit (tergantung penyulit yang terjadi). Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam . Tuberculosa – Lymphoma (Darmowandowo. I. Identifikasi antigen : Elisa. 2006) Penatalaksanaan Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif melipu+ti istirahat dan diet. Biasanya baru positif pada minggu II. typhi dot dan typhi dot M (Darmowandowo. Laboratorik 1. Malaria 2. air kemih minggu III 3. anesonofilia 2. IgM S typphi dengan Tubex TF cukup akurat dengan 5.K 4. medikamentosa. pada stadium rekonvalescen titer makin meninggi 4. Leukopenia. Influenza 6. Identifikasi antibodi : Elisa. Reaksi widal (+) : titer > 1/200. Broncho Pneumonia 8.2. Bronchitis 7. Sepsis 3.

Spektrum antibiotik maupun kombinasi beberapa obat yang bekerja secara sinergis dapat dipertimbangkan. diberi  ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari. azithromisin dan fluorokuinolon. atau  amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari. (Mansjoer. Mobilisasi dilakukan bertahap. Kortikosteroid perlu diberikan pada renjatan septik. ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. 2001) Pengobatan Medakamentosa Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol. . Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem. selama 14 hari. terbagi dalam 3-4 kali. (Mansjoer. oral atau intravena. oral.atau kurag lebih selama 14 hari. 2001) Pada kasus perforasi intestinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif dengan nutrisi parenteral total. 2001) Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama. kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol . Pemberian. pasien diberikan bubur saring. selama 21 hari. selama 14 hari. sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Pemberian. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien. (Mansjoer. oral/intravena selama 21 hari  kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. terbagi dalam 3-4 kali. intravena saat belum dapat minum obat.  Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari. terbagi dalam 3-4 kali pemberian.

bila perawatan pasien kurang sempurna. pielonefritis dan perinefritis. trombosis dan tromboflebitis. 6. 2. periostitis. Komplikasi darah: anemia hemolitik. trombositopenia dan atau koagulasi intravaskular diseminata dan sindrom uremia hemoltilik. Komplikasi ekstraintetstinal 1. sindrim Guillain-Barre. 3. Pada anak-anaka dengan demam paratifoid. Komplikasi tulang: osteomielitis. Komplikasi paru: penuomonia. 2001) . selama 5-7 hari. Komplikasi lebih sering terjadi pada keadaan toksemia berat dan kelemahan umum. Perdarahan usus 2. intravena. komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis. miokarditis. polineuritis perifer. maka pilihan antibiotika adalah meropenem. Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer (renjatan/sepsis). Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis. (Darmowandowo. 5. Komplikasi intestinal 1. dapat diberi seftriakson dengan dosis 50 mg/kg BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari. 7. 2006) Komplikasi Komplikasi demam tifoid dapat dibagi di dalam : 1. sekali sehari. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium. Perforasi usus 3. empiema dan peluritis. spondilitis dan artritis. psikosis dan sindrom katatonia. azithromisin dan fluoroquinolon. 4. meningitis. Ileus paralitik 2.Pada kasus berat. mengingismus. Pada kasus yang diduga mengalami MDR. (Mansjoer.

Tatalaksana bedah dilakukan pada kasus-kasus dengan penyulit perforasi usus. (Department of Health and human service. Kemudian disusul pemberian dengan dosis 1 mg/kg BB dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali pemberian. Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan sanitasi karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam tifoid. intravena perlahan (selama 30 menit). Yang pertama adalah vaksin yang diinaktivasi (kuman yang mati) yang diberikan secara injeksi. Satu dosis sudah menyediakan proteksi. Dosis ulangan diperlukan setiap dua . Untuk kasus berat dan dengan manifestasi nerologik menonjol. Yang kedua adalah vaksin yang dilemahkan (attenuated) yang diberikan secara oral. oleh karena itu haruslah diberikan sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum bepergian supaya memberikan waktu kepada vaksin untuk bekerja. orang yang kontak dengan penderita karier tifoid dan pekerja laboratorium. pembuangan dan pengelolaan sampah). Menjaga kebersihan pribadi dan menjaga apa yang masuk mulut (diminum atau dimakan) tidak tercemar Salmonella typhi. Pemberian vaksin tifoid secara rutin tidak direkomendasikan.Penatalaksanaan Penyulit Pengobatan penyulit tergantung macamnya. (Darmowandowo. 2004) Vaksin tifoid yang diinaktivasi (per injeksi) tidak boleh diberikan kepada anakanak kurang dari dua tahun. 2006) Pencegahan Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara: umum dan khusus/imunisasi. (Darmowandowo. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan terhadap penjual (keliling) minuman/makanan. diberi Deksametason dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/kg BB. vaksin tifoid hanta direkomendasikan untuk pelancong yang berkunjung ke tempat-tempat yang demam tifoid sering terjadi. (Penyediaan air bersih. 2006) Ada dua vaksin untuk mencegah demam tifoid.

Vaksin tifoid oral tidak boleh diberikan dalam waktu 24 jam bersamaan dengan pemberian antibiotik. bisa menyebabkan problem serius seperti reaksi alergi yang parah. (Department of Health and human service. sakit kepada (sekitar 3 orang per 100) kemerahan atau pembengkakan pada lokasi injeksi (sekitar 7 orang per 100). mereka hanya boleh mendapatkan vaksin tifoid yang diinaktifasi. 2004) Ada beberapa orang yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid atau harus menunggu.tahun untuk orang-orang yang memiliki resiko terjangkit. Problem serius dari kedua jenis vaksin tifoid sangatlah jarang. Yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid diinaktivasi (per injeksi) adalah orang yang memiliki reaksi yang berbahaya saat diberi dosis vaksin sebelumnya. penderita kanker dan orang yang mendapatkan perawatan kanker dengan sinar X atau obat-obatan. Dosis ulangan diperlukan setiap 5 tahun untuk orang-orang yang masih memiliki resiko terjangkit. Pada vaksin tifoid yang diinaktivasi. Dosis terakhir harus diberikan sekurang-kurangnya satu minggu sebelum bepergian supaya memberikan waktu kepada vaksin untuk bekerja. maka ia tidak boleh mendapatkan vaksin dengan dosis lainnya. sebagaimana obat-obatan lainnya. Empat dosis yang diberikan dua hari secara terpisah diperlukan untuk proteksi. (Department of Health and human service. orang yang sedang mengalami pengobatan dengan obatobatan yang mempengaruhi sistem imunitas tubuh semisal steroid selama 2 minggu atau lebih. reaksi ringan yang dapat terjadi adalah : demam (sekitar 1 orang per 100). Resiko suatu vaksin yang menyebabkan bahaya serius atau kematian sangatlah jarang terjadi. Orang yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid yang dilemahkan (per oral) adalah : orang yang mengalami reaksi berbahaya saat diberi vaksin sebelumnya maka tidak boleh mendapatkan dosis lainnya. 2004) Vaksin tifoid yang dilemahkan (per oral) tidak boleh diberikan kepada anak-anak kurang dari 6 tahun. diantara mereka adalah penderita HIV/AIDS atau penyakit lain yang menyerang sistem imunitas. (Department of Health and human service. 2004) Suatu vaksin. orang yang memiliki sistem imunitas yang lemah maka tidak boleh mendapatkan vaksin ini. Pada .

tanda sudah hilang dan tidak ada komplikasi PENDAHULUAN Demam tifoid atau typhus abdominalis adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.typhy masuk kedalam tubuh melalui makanan/minuman yang tercemar ke dalam lambung.9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3 : 1. kapan saja. terjadi 2472 jam setelah kuman masuk.umur 5. kuman S. sejak usia seseorang mulai dapat mengkonsumsi makanan dari luar. muntah-muntah atau ruam-ruam (jarang terjadi). sumsum tulang dan ginjal. kandung empedu.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. 2004) Penderita dinyatakan sembuh Gejala. Pada akhir masa inkubasi 5 – 9 hari kuman kembali masuk ke aliran darah (kedua kali) dimana terjadi pelepasan endoktoksin menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan gejala demam tifoid. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100. perut tidak enak. nampak pucat. tetapi yang paling sering pada anak besar. CARA TERJADI DEMAM TIFOID Penularan demam tifoid terjadi melalui mulut. ke kelenjar limfoid usus kecil kemudian masuk kedalam peredaran darah. limpa. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur. sakit perut. tetapi terutama pada musim panas. Pengobatan dalam taraf dini akan sangat menguntungkan mengingat mekanisme kerja daya tahan tubuh masih cukup baik dan kuman masih terlokalisasi hanya di beberapa tempat saja. tidak buang air besar atau diare beberapa hari. mual. Makin cepat demam tifoid dapat didiagnosis makin baik. reaksi ringan yang dapat terjadi adalah demam atau sakit kepada (5 orang per 100). (Department of Health and human service. meskipun belum menimbulkan gejala tetapi telah mencapai organ-organ hati. apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila terdapat demam terus menerus lebih dari 1 minggu yang tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat dengan kesan anak baring pasif. Penularan dapat terjadi dimana saja. Kuman dalam peredaran darah yang pertama berlangsung singkat. Ditemukan hampir sepanjang tahun.vaksin tifoid yang dilemahkan. GAMBARAN KLINIK .

nafsu makan menurun. ujung dan tepinya kemerahan dan tremor. Suhu meningkat terutama sore dan malam hari. rambut kering.000/mm3 dan ini ditemukan pada fase demam. Demam adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan klinis. muntah. bibir kering pecah-pecah /terkupas. tergantung endemisitas daerah tersebut. pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba. mual. nafas berbau tak sedap. Misalnya : Surabaya titer OD > 1/160. Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi lebih jelas demam yang tinggi terus menerus. renjatan. disertai gangguan kesadaran dari yang ringan letak tidur pasif. sedangkan pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu tubuh meningkat dan menetap. Manado titer OD > 1/80. Yogyakarta titer OD > 1/160. infeksi selaput usus (peritonitis) . Demam tifoid yang berat memberikan komplikasi perdarahan. Lekosit dapat menurun hingga < 3. perut kembung. Ujung Pandang titer OD 1/320 DIAGNOSIS . koma). acuh tak acuh (apati) sampai berat (delier. Uji Widal bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan serial tiap minggu dengan kenaikan titer sebanyak 4 kali. meningitis). Jakarta titer OD > 1/80. diare atau sulit buang air beberapa hari. lidah ditutupi selaput putih kotor. Pemeriksaan serologik Widal (titer Aglutinin OD) sangat membantu dalam diagnosis walaupun ± 1/3 penderita memperlihatkan titer yang tidak bermakna atau tidak meningkat. Jadi ada tiga komponen utama dari gejala demam tifoid yaitu: bullet Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari). kulit kering.Beberapa laporan yang ada tiap daerah mempunyai nilai standar Widal tersendiri. Manifestasi klinik pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi.Masa inkubasi rata-rata 7 – 14 hari. kebocoran usus (perforasi). bronkopnemoni dan kelainan di otak (ensefalopati. keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam. Anak nampak sakit berat. bullet Gangguan saluran pencernaan bullet Gangguan susunan saraf pusat/ kesadaran LABORATORIUM Pada DT dapat terjadi kekurangan darah dari ringan sampai sedang karena efek kuman yang menekan sumsum tulang. sakit perut. Dalam minggu pertama. sakit kepala.

gambaran klinik dan laboratorium (jumlah lekosit menurun dan titer widal yang meningkat) . Masukan cairan dan kalori perlu diperhatikan. hari II duduk 2 x 30 menit. mencegah terjadinya komplikasi. Tirah baring sempurna terutama pada fase akut.Diagnosis demam tifoid ditegakkan atas dasar riwayat penyakit. hari III makanan biasa. mudah dicerna. hari III jalan. Anak baring terus di tempat tidur dan letak baring harus sering diubah-ubah. Dahulu dianjurkan semua makanan saring. PERAWATAN DAN PENGOBATAN Tujuan perawatan dan pengobatan demam tifoid anak adalah meniadakan invasi kuman dan mempercepat pembasmian kuman. serat. Misalnya hari I makanan lunak. Pengobatan terdiri dari antimikroba yang tepat yaitu : Kloramfenikol. bullet . hari IV pulang. PENCEGAHAN Langkah pencegahan adalah seperti berikut: bullet Penyediaan air minum yang memenuhi syarat bullet Pembuangan kotoran manusia yang pada tempatnya bullet Pemberantasan lalat bullet Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual-penjual makanan. tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas. dan seterusnya. hari II makanan lunak. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada salah satu biakan. sekarang semua jenis makanan pada prinsipnya lunak. mengandung cukup cairan . kalori. tinggi protein dan vitamin. Perawatan biasanya bersifat simptomatis istrahat dan dietetik. Makanan saring / lunak diberikan selama istirahat mutlak kemudian dikembalikan ke makanan bentuk semula secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Lamanya sampai 5-7 hari bebas demam dan dilanjutkan mobilisasi bertahap yaitu : hari I duduk 2 x 15 menit. mencegah relaps dan mempercepat penyembuhan. memperpendek perjalanan penyakit.

Pediatric and child health. 2nd ed. yaitu adanya 3 komponen utama: Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari). In: Coovadia HM. Philadelphia: Saunders. 1988. Nelson WE.umur 5.9 tahun. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur. Loening WEK. adalah penting untuk melakukan pengenalan dini Demam Tifoid. Nelson textbook of pediatrics.147-51.1990. 1-5. Textbook of pediatric infectious diseases. eds. .Gangguan saluran pencernaan. Oxford University Press. eds. In: Feigin RD. Vaughan VC III. Dengan keadaan seperti ini. 1984. 673-81. 14th ed. 7311-34. Lamadjido A.Cherry JD. dan Gangguan susunan saraf pusat/ kesadaran. Kliegman RM. In: BehrmanRE.Imunisasi bullet Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier) bullet Pendidikan kesihatan kepada mayarakat. 1987. Coovadia HM. eds. Bactrial infections. 4. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100. 5. KESIMPULAN Demam tifoid adalah suatu infeksi akut pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Simposium penyakit tipus di UjungPandang. 2. Typhoid fever (enteric fever).000 penduduk per tahun. Feigin RD. tersebar di mana-mana. Protokol penatalaksanaan demam tifoid pada anak. 6. 1989. Loening WEK. dan ditemukan hampir sepanjang tahun. RUJUKAN 1. Salmonella infections. Penanganan penyakit tipes pada anak. Philadelphia: Saunders. Daud D. 3. HornickRB. Typhoid. BIKA FK UNHAS. tetapi yang paling sering pada anak besar. Daud D.

7. Hal ini dikarenakan kasus karier tifoid dapat memberikan hasil positif palsu. Typhoid fever and paratyphoid fever. 11-24. 1980.Uji Widal Untuk tujuan pemeriksaan serologi. Pada pasien yang belum diobati. Simposium demam tifoid FK UI. Soemarsono.1980. 8. Sumarmo. Pemeriksaan serologi untuk menunjukkan infeksi demam tifoid yang tertua adalah uji Felix-Widal atau yang lebih dikenal dengan uji Widal. Glode MP. dibutuhkan 1-3 cc darah yang ditampung dalam tabung tanpa antikoagulan. Masalah demam tifoid pada anak. Pemberian antibiotika sebelum pengambilan spesimen tidak mempengaruhi sensitivitas pemeriksaan kultur sumsum tulang. Cermin dunia kedokteran. In: Current pediatric diagnosis and treatment. Ogle JW.60: 31-4. faktor terpenting yang memengaruhi sensitivitas pemeriksaan kultur darah adalah jumlah spesimen darah. Ismael S. Masalah demam tifoid di Indonesia. 9.6 Untuk mendapatkan hasil yang baik. Pada pasien dewasa. b) PEMERIKSAAN SEROLOGI 1. untuk menegakkan diagnosis definitif demam tifoid tetap dibutuhkan isolasi organisme dari spesimen darah atau sumsum tulang penderita. 869-71. 113-19. 10th ed. dibutuhkan sejumlah 10-15 ml darah. Jakarta. Pemeriksaan LAB DEMAM TIFOID TUBEX TEST LABORATORIUM a) 1SOLASI MIKROORGANISME Sampai saat ini. Widodo D. 1991. IgM dipstick 1. Uji Widal 2. Nathin MA. 1990. Uji Thypidot 4. Patogenesis. Pemeriksaan dapat langsung dilakukan atau ditunda selama 1 minggu tanpa mengubah titer antibodi. 5. Simposium demam tifoid FK UI. Uji Tubex 3. kultur darah menunjukkan hasil positif pada 40-60% kasus. sedangkan pada pasien anak hanya dibutuhkan 2-4 ml darah karena derajat bakteremia yang lebih tinggi pada pasien anak. TumbelakaWAFJ. Jakarta. Kultur dari sediaan sumsum tulang menunjukkan hasil positif yang lebih tinggi. Uji ini mengukur titer antibodi aglutinasi terhadap . Simanjuntak CH. terutama jika kultur dilakukan pada awal perjalanan penyakit. California: Appleton & Lange.Lauer BA. mencapai 90%. patofisiologi dan gambaran klinik demam tifoid.

pemeriksaan ini menggunakan anti¬gen O9 yang hanya ditemukan pada Salmonellae serogroup D dan tidak pada mikroorganisme lain. parathypi B O > 1/160 (1. Terdapat 1. S.6 Hal lain yang harus dipertimbangkan dalam interpretasi adalah kesamaan antigen O dan H yang dimiliki S. parathypi A O dan C O > 1/ 160.5. Hasil positif uji Tubex ini menunjukkan terdapat infeksi Salmonellae serogroup D walau tidak secara spesifik menunjuk pada S. 7. Dipstick.7% responden dengan titer H > 1/320. yang juga berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas.33%).6 Widodo D. typhi. typhi O > 1/160.67%). B H > 1/320 (2. dkk melakukan studi cross sectional pada 300 responden sehat di 5 kecamatan di wilayah DKI Jakarta tahun 2006. namun pemeriksaan ini masih dianjurkan untuk dilakukan dengan pertimbangan klinis yang seksama dan penetapan titer cut off lokal. antigen O mulai muncul pada hari ke 6-8 dan antigen H mulai muncul pada hari ke 10-12 dihitung sejak hari timbulnya demam. yaitu pada hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk infeksi sekunder. Uji ini memiliki sensitivitas dan spesivisitas yang tidak telalu baik (lihat pembahasan berikut). antigen O9 bersifat imunodominan. Sebagian besar responden memberikan hasil seropositif pada pemeriksaan serologi Widal S. Antigen yang menyerupai ditemukan pula pada Trichinella spiralis tetapi antibodi terhadap kedua jenis antigen ini tidak bereaksi silang satu dengan yang lain. Infeksi oleh S.34%). Meskipun pemeriksaan Widal memiliki banyak keterbatasan. Pada daerah endemis. Untuk meningkatkan spesivisitas.antigen O dan anti¬gen H. S. Secara umum.5. Uji Tubex hanya dapat mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai modalitas untuk mendeteksi infeksi lampau.9 1. penentuan cut off untuk hasil positif adalah hal yang mutlak dilakukan kendati hal ini tidak mudah dilakukan karena variasi yang besar pada area dan waktu yang berbeda.paratyphi di Jakarta adalah > 1/160 untuk titer O dan > 1/320 untuk titer H. typhi dengan salmonella lain. Tabung berbentuk V.9 Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen. B O (71%). Tidak ada responden yang memiliki titer S. Karena itu. 1. pada daerah yang belum memiliki pemeriksaan diagnosis yang lebih baru misalnya uji Tubex. Hanya sebagian kecil responden sehat yang memiliki titer S. Karena itu. dan B H (78%). populasi normal yang tidak sakit dapat memiliki antibodi dengan titer rendah. meliputi:1. H (78%). Anti¬gen ini dapat merangsang respons imun secara independen terhadap timus. . berdasarkan penejitian ini disimpulkan bahwa cut off terbaik uji Widal satu kali untuk diagnosis demam tifoid dan uji Widal S. Karena sifat-sifat ini. 1.3%). Hal yang dapat mempengaruhi adalah pemberian antibiotika sebelum pengambilan bahan yang dapat menimbulkan respons kekebalan tubuh. A H > 1/320 (5. Uji Tubex Pemeriksaan ini mudah dilakukan dan hanya membutuhkan waktu singkat untuk dilakukan (kurang lebih 5 menit). typhi O (55. pada bayi.66%).9 Secara imunologi. Jika cut off dapat dilakukan dengan baik. paratyphi C H > 1/320 (0. pemeriksaan Widal tunggal dapat digunakan untuk membantu penegakkan diagnosis walaupun kenaikan titer antibodi > 4 kali pada sampel konvalesen tetap lebih dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis. bahkan kesamaan epitop dengan Enterobactericeae lain yang dapat menyebabkan hasil positif palsu. Hasil positif palsu juga dilaporkan didapatkan pada keadaan klinis lain seperti malaria dan sirosis. dan merangsang mitosis sel B tanpa bantuan dari sel T. paratyphi A H (64.3% responden sehat dengan titer S. Pemeriksaan ini memberikan hasil negatif palsu pada 30% kasus. paratyphi akan memberikan hasil negatif.8 2.7%). respon terhadap anti¬gen O9 berlangsung cepat sehingga deteksi terhadap anti-O9 dapat dilakukan lebih dini. 1. 1. Typhidot.

bila serum mengandung antibodi terhadap O9.9. Jika serum tidak mengandung antibodi terhadap O9. 2001. Reagen A. satu tetes serum dicampur selama kurang lebih 1 menit dengan satu tetes reagen A. yang mengandung partikel magnetik yang diselubungi dengan antigen S. Tabel 1. Di dalam tabung. Tabung kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet dan didiamkan. Berdasarkan warna inilah ditentukan skor. Interpretasi hasil dilakukan berdasarkan warna larutan campuran yang dapat bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan. Dua tetes reagen B kemudian dicampurkan dan didiamkan selama 1-2 menit. Sebaliknya. Interpretasi hasil uji Tubex9 Skor Interpretasi <2 Negatif 3 Borderline 4-5 Positif >6 Positif Berbagai penelitian (House dkk.1. Reagen B. komponen mag-net yang dikandung reagen A akan tertarik pada magnet rak. Mengenali Demam Typhoid Demam tifoid (typhoid fever) atau yang lebih dikenal dengan penyakit tifus ini merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang sering menyerang anak-anak bahkan juga orang dewasa. Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai berikut. dengan membawa serta pewarna yang dikandung oleh reagen B. terlihat warna merah pada tabung yang sesungguhnya merupakan gambaran serum yang lisis. Sebagai akibatnya. Olsen dkk. Ketika diletakkan pada daerah yang mengandung medan magnet (magnet rak). Komponen-komponen ini stabil disimpan selama 1 tahun dalam suhu 40C dan selama beberapa minggu dalam suhu kamar. antibodi pasien akan berikatan dengan reagen A menyebabkan reagen B tidak tertarik pada magnet rak dan memberikan warna biru pada larutan. typhi O9 3.2. 2004. yang interpretasinya dapat dilihat pada label 1. Penyebab penyakit tersebut adalah bakteri Salmonella Typhi. 2007) menunjukkan uji ini memiliki sensitivitas dan spesivisitas yang baik (berturut-turut 75-80% dan 75-90%). yang mengandung partikel lateks berwarna biru yang diselubungi dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen 09. Makalah BAB I PENDAHULUAN A. reagen B akan bereaksi dengan reagen A. . dan Kawano dkk.10 METODE PEMERIKSAAN DEMAM TYPHOID Kategori : Imunoserologi.

Antigen “O” dibuat dari kuman yang tidak bergerak atau dengan pemberian panas dan alcohol. antigen demikian akan beraglutinasi dengan cepat dalam gumpalan besar menyerupai kapas. mual. Struktur Antigen Salmonella a. Melnick. Di Indonesia beberapa isolate memiliki jenis flagella yang unik yaitu Hj (2). antigen “Vi” dirusak oleh pemanasan selama satu jam pada 60ºC dan oleh asam fenol. Waktu inkubasi sangat . pada umumnya itu disebabkan oleh karena melalui makanan ataupun minuman yang sudah tercemar oleh agen penyakit tersebut. Ini dinamakan variase fase anti bodi terdapat antigen H adalah terutama Ig C. diosiribosa. Antigen “V”.Gejala-gejala yang kerap terjadi antara lain seperti nyeri pada perut. Jawet. Penularan penyakit tifus ini. Biakan yang mempunyai antigen “Vi” cenderung lebih virulen. Antigen “H” atau antigen flagel dibuat tidak aktif oleh pemanasan di atas 600C dan juga oleh alcohol dan asam. Adelberg. 1982).J. Strainstrain yang baru diisolasi dengan anti sera yang mengandung agglutinin anti “O” . muntah. Antigen terdapat antigen “O” terutama Ig M. organisme cenderung berubah dari satu fase ke fase lainnya. Kuman ini paling baik disiapkan untuk tes serologi dengan menambahkan formalin pada biakan kaldu muda yang bergerak dengan serum yang mengandung antibody anti H. demam tinggi. Bakteri ini memiliki antigen O9 dan O12 LPS. Beberapa polisakarida spesifik O mengandung gula yang unik. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dengan serum yang mengandung anti “O” antigen ini mengadakan aglutinasi dengan lambat membentuk gumpalan berpasir.A. E.L. termasuk keluarga Enterobacteriaceae. Patogenesis Salmonella typhi adalah bakteri gram negatif. Antigen “O” atau antigen somatic adalah bagian dari dinding sel pada 1000C terdapat alcohol dan terdapat asam yang encer. b. sakit kepala dan diare yang kadang-kadang bercampur darah. antigen kapsul K khusus yang terdapat pada bagian paling pinggir dari kuman. Seseorang terinfeksi Salmonella typhi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut. c. anti somatic O adalah Lipopolisakarida. karena penanganan yang kurang begitu higenis ataupun juga disebabkan dari sumber air yang sering digunakan untuk mencuci dan yang dipakai untuk sehari-hari. Antigen H ini mengandung beberapa unsure imunologik. Antigen K mirip polisakarida kapsul meningokokus atau Haemophilus sp (E. Bisa juga. antigen protein flagelar Hd dan antigen kapsular Vi. Dalam satu spesies Salmonella antigen flagel dapat ditemukan dalam salah satu atau kedua bentuk yang dinamakan fase 1 dan fase 2.

mikrobiologi. sumsum tulang. keadaan imunosupresi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis). dan pengobatan lain seperti H2blockers atau antasida yang mengurangi asam lambung) (3). organisme menyebar ke seluruh bagian tubuh. 2. Organisme secara cepat berpenetrasi ke dalam epitel mukosa melalui sel-sel microfold atau enterocytes dan mencapai lamina propria.tergantung pada kuantitas bakteri dan juga host factors. . • Hitung jenis leukosit: sering neutropenia dengan limfositosis relatif. menetapkan prognosis. • Hitung leukosit sering rendah (leukopenia).kuantitas inokulum yang tertelan. paparan sebelumnya/riwayat vaksinasi. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi. Invasi empedu terjadi secara langsung dari darah atau oleh penyebaran retrograde dari bile. pilihan antimikroba yang digunakan. kimia klinik. di mana secara cepat ditelan oleh makrofag. bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit. 1. Organisme diekskresikan ke dalam empedu (melalui reinvasi dinding intestinal) atau ke dalam feses. Beberapa mikroorganisme melewati sel-sel retikuloendotelial hati dan limpa. Organisme yang masuk ke dalam tubuh akan melewati pilorus dan mencapai usus kecil. Pada fase bakteremia. • LED ( Laju Endap Darah ) : Meningkat • Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). empedu dan Peyer’s Patches dari terminal ileum. Faktor-faktor tersebut adalah lamanya sakit sebelum memperoleh terapi yang sesuai. B. imunoreologi. hati dan limpa (3). Waktu inkubasi umumnya berkisar antara 3 hari sampai > 60 hari . Beberapa bakteri masih berada di dalam makrofag jaringan limfoid usus kecil. tetapi dapat pula normal atau tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan dan outcome klinis demam tifoid. memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit. host factors (tipe HLA. dan biologi molekular. limpa. Salmonella typhi dapat bertahan dan bermultiplikasi dalam sel-sel fagosit mononuclear folikel-folikel limfoid. urinalis. Urinalis • Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam) • Leukosit dan eritrosit normal. Hematologi • Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus atau perforasi. virulensi strain bakteri. Tempat yang paling banyak untuk infeksi sekunder adalah hati.

5. Sebagai uji cepat (rapitd test) hasilnya dapat segera diketahui. Bila hasil reaktif (positif) maka kemungkinan besar bukan disebabkan oleh penyakit saat itu tetapi dari kontrak sebelumnya. Melihat hal-hal di atas maka permintaan tes widal ini pada penderita yang baru menderita demam beberapa hari kurang tepat. Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. antara lain pernah mendapatkan vaksinasi. keadaan umum pasien yang buruk.3. bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya juga dapat segera di ketahui. 2/ jika lgG positif menandakan pernah kontak/ pernah terinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik. Titer O meningkat setelah akhir minggu. reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp). 4. dan sudah mendapat vaksinasi. Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. darah tidak segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan). Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. . saat pengambilan darah masih dalam minggu. Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika. Mikrobiologi • Kultur (Gall culture/ Biakan empedu) Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid/ paratyphoid. Diagnosis Demam Typhoid/ Paratyphoid dinyatakan 1/ bila lgM positif menandakan infeksi akut. yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit kurang dari 2mL). karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. sudah mendapatkan terapi antibiotika. waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit.1 sakit. Uji ini merupakan test kuno yang masih amat popular dan paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis seperti di Indonesia. Kimia Klinik Enzim hati (SGOT. • Elisa Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru. Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor. yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid/ Paratifoid. Karena itu antibodi jenis ini dikenal sebagai Febrile agglutinin. reaksi anamnestik (pernah sakit). SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut. dan adanya penyakit imunologik lain. Imunorologi • Widal Pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen). belum tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid. dan adanya faktor rheumatoid (RF). Sebalikanya jika hasil negati.

di samping itu Enterobacteriaceae lain diketahui dapat mengadakan reaksi silang dengan agglutinin O tetapi tidak dengan agglutinin H. spesifisitas dan nilai ramalnya sangat bervariasi tergantung daerah geografis. Vaksinasi yang diberikan belum lama berselang dapat meningkatkan titer agglutinin. Peran widal dalam diagnosis demam tifoid sampai saat ini masih kontroversial karena sensitivitas. Salmonella typhi merupakan bakteri gram negatif yang dapat menginfeksi manusia melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7hari. Salmonella merupakan kuman yang tersebar secara luas di sekeliling kita. 6. urin. demikian pula bila specimen tidak ditampung pada saat yang tepat. Untuk mendeteksi infeksi tersebut dilakukan dengan pemeriksaan Widal atau dengan metode ELISA. akan tetapi hasil dari uji ini dapat menunjukkan hasil yang positif palsu atau negatif palsu sehingga pemeriksaan ini sedikit banyak mulai ditinggalkan. Spesimen yang digunakan dapat berupa darah. Adanya factor rheumatoid dalam serum juga dapat menghasilkan positif palsu. Pada cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. Pemeriksaan Widal sering di lakukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi dan sebagai uji yang cepat sehingga dapat segera diketahui. sehingga besar sekali kemungkinan seseorang terinfeksi tanpa diketahui.Interprestasi hasil reaksi Widal ditandai dengan adanya aglutinasi pada titer paling rendah. • PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan. Pemeriksaan widal mendeteksi antibodi aglutinasi terhadap antigen O dan H. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi. bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). Biologi molekular. Beberapa pakar menyatakan bahwa titer agglutinin sebesar 1/40 atau 1/80 masih dianggap normal. Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah. Biasanya antibodi O muncul pada hari ke 6-8 . kemudian untuk stadium lanjut/ carrier digunakan urin dan tinja. Pemeriksaan ini menggunakan titer yang ditandai dengan titer paling rendah. khususnya agglutinin H. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa dalam darah seseorang yang tidak sakit dijumpai sejumlah antibody terhadap Salmonella. dimana pemeriksaan tersebut mempunyai masing-masing keunggulan dan kelemahan. Sebaliknya pada penderita yang telah diberikan antibiotika pada awal penyakit uji Widal sering menunjukkan hasil negativ. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam menafsirkan hasil pengujian perlu dipertimbangkan beberapa keterbatasan.

Interprestasi hasil reaksi Widal ditandai dengan adanya aglutinasi pada titer paling rendah. Salmonella yang mencari makanan dan minuman dapat berkembang biak dengan cepat karena keadaan lingkungan.dan H pada hari 10-12 setelah onset penyakit. Telah dibahas gejala klinis dan diagnosis laboratorium penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi Salmonella typhoid dan Salmonella paratyphoid. Penting untuk mengetahui kelebihan dan disesuaikan dengan waktu (sudah berapa hari sakit saat akan diperiksa) dengan beberapa metode pemerikasaan yang biasa digunakan yaitu Widal dan Eliza juga jenis bahan spesimen serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Hasil positif palsu juga dapat terjadi pada kondisi klinis yang lain misalnya malaria. typhus bacteremia yang disebabkan oleh organisme lain dan juga sirosis. Diagnosis laboratorium meliputi pemeriksaan dari hematologi. urinalisis. sehingga besar sekali kemungkinan seseorang terinfeksi tanpa diketahui. Maka dari itu kebersihan lingkungan maupun makanan sangatlah penting untuk menjaga agar tidak terinfksi. BAB IV KESIMPULAN Wabah Salmonella dapat terjadi di mana-mana terutama didaerah yang tidak memperhatikan kebesihan makanan dan air. Beberapa pakar menyatakan . Kemampuan para tenaga medis untuk dapat mendiagnosis dini penting untuk penyembuhan dan pencegahan timbulnya penyulit. Epitop Salmonella typhi juga bereaksi silang dengan enterobacteriaceae lain sehingga menyebabkan hasil positif palsu. Salmonella merupakan kuman yang tersebar secara luas di sekeliling kita. Spesifisitas pemeriksaan widal kurang begitu baik karena serotype Salmonella yang lain juga memiliki antigen O dan H. BAB V PENUTUP Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan mengenai hasil pengumpulan data bahwa di daerah yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan kemungkinan besar dapat dengan mudah terinfeksi Salmonella typhoid dan Salmonella paratyphoid yang datang baik dari unsur makanan dan minuman yang tela terkontaminasi oleh kuman tersebut. Penyakit ini endemis di Indonesia dan potensial berbahaya dengan penyulit yang dapat menyebabkan kematian. mikrobiologi biakan sampai PCR. Hasil negatif palsu pemeriksaan widal bisa mencapai 30%. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa dalam darah seseorang yang tidak sakit dijumpai sejumlah antibody terhadap Salmonella. Hal ini disebabkan karena pengaruh terapi antibiotik sebelumnya. Pemeriksaan pada fase akut harus disertai dengan pemeriksaan kedua pada masa konvalesens. imunoserologis. kimia klinis.

Herlina W G03.001043 4.2005. hal 325326. A Syaiful M G03.2005.2005. EGC edisi : 14.L.2005.001047 8.1982. Alvinofa G03. Gerard Bonang. Arita Aprilia G03. Vaksinasi yang diberikan belum lama berselang dapat meningkatkan titer agglutinin. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan . E. Koeswardono. A Heri Wibowo G03. Istiqomah G03.dasar Mikrobiologi.Melnik. E. 1989 hal 197.001045 6.2005.bahwa titer agglutinin sebesar 1/40 atau 1/80 masih dianggap normal. hal 105-109.001044 5. DAFTAR PUSTAKA Dwijoseputro. 1982. khususnya agglutinin H.2005. Adelberg.001048 . Enggar S. Djambatan Disusun oleh : 1.2005. A.001042 3. Farida P G03. Heru Eko S G03.001046 7. Dasar .001040 2. J. Malang. Jawet. Mikrobiologi Kedokteran untuk Laboratorium dan Klinik.2005. Jakarta : Gramedia.

.

limpa. . kelenjar limfe usus dan Peyer’s patch. serta berkaitan dengan sanitasi yang buruk terutama negara-negara berkembang. di topang dengan bakteremia tanpa terlibat struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati. Penyakit ini ditandai oleh panas yang berkepanjangan.Demam Typhoid BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN 2005 BAB I PENDAHULUAN Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Sampai saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

diperkirakan setiap tahun masih terdapat 35 juta kasus dengan 500. yaitu (1) proses invasi kuman S. Kuman ini mati pada pemanasan suhu 54. Kuman berspora. tumbuh dengan baik pada suhu optimal 37ºC (15ºC-41ºC). Akan tetapi tubuh mempunyai beberapa mekanisme pertahanan untuk . serta tahan pada pembekuan dalam jangka lama.Di negara-negara berkembang perkiraan angka kejadian demam tifoid bervariasi dari 10 sampai 540 per 100. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida.berkapsul. Salmonella memunyai karakteristik fermentasi terhadap glukosa dan manosa.000 kematian terdapat di dunia. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel da dinamakan endotoksin. namun tidak terhadap laktosa dan sukrosa. Patogenesis Salmonella typhi hanya dapat menyebabkan gejala demam tifoid pada manusia. Di antara penyakit yang tergolong penyakit infeksi usus. Patogenesis demam tifoid secara garis besar terdiri dari 3 proses. Salmonella typhi termasuk bakteri famili Enterobacteriaceae dari genus Salmonella. Meskipun angka kejadian demam tifoid turun dengan adanya sanitasi pembuangan di berbagai negara berkembang. tidak membentuk spora fakultatif anaerob. (2) proses kemampuan hidup dalam makrofag dan (3) proses berkembang biaknya kuman dalam makrofag.typhi ke dinding sel epitel usus. dan 60ºC selama 15 menit. bersifat fakultatif anaerob. 2.4ºC selama satu jam. motile. mempunyai flagela. tidak berkapsul. demam tifoid menduduki urutan kedua setelah gastroenteritis.000 penduduk. BAB II URAIAN 1. flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri polisakarida. Etiologi Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah bakteri Gram-negatif. berflagela. Di Indonesia demam tifoid masih merupakan penyakit endemik dengan angka kejadian yang masih tinggi. dan hidup subur pada media yang mengandung empedu. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktorR yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik.

menahan dan membunuh kuman patogen ini. Keadaan asam lambung dapat menghambat multiplikasi Salmonella dan pada pH 2. Bila kuman berhasil mengatasi mekanisme pertahanan tubuh di lambung. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun gejala yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam (1) demam. Setelah menembus epitel usus. Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal dan kemudian pada . nyeri dan kekakuan abdomen. Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi.typhi sebanyak 105-109 yang tertelan melalui makanan atau minuman. baik secara kimiawi maupun fisik. hipoklorhidria atau aklorhidria maka akan mempengaruhi kondisi asam lambung. kuman akan masuk ke dalam kripti lamina propria. maka kuman akan melekat pada permukaan usus. pembesaran hati dan limpa.0 sebagian besar kuman akan terbunuh dengan cepat.typhi dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam fagosit karena adanya perlindungan oleh kapsul kuman. (2) gangguan saluran pencernaan. Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala. Pada keadaan tersebut S. Untuk menimbulkan infeksi diperlukan S. yaitu dengan adanya (1) mekanisme pertahanan non spesifik di saluran pencernaan. serta gangguan status mental.typhi lebih mudah melewati pertahanan tubuh. Setelah kuman sampai di lambung maka mula-mula timbul usaha pertahanan non-spesifik yang bersifat kimiawi yaitu adanya suasana asam oleh asam lambung dan enzim yang dihasilkannya. dan (3) gangguan kesadaran. 3. yaitu (1) jumlah kuman yang masuk dan (2) kondisi asam lambung. dan (2) mekanisme pertahanan spesifik yaitu kekebalan tubuh humoral dan selular. Di samping itu adanya bakteri anaerob di usus juga akan merintangi pertumbuhan kuman dengan pembentukan asam lemak rantai pendek yang akan menimbulkan suasana asam. Sebagian kuman yang tidak mati akan mencapai usus halus yang memiliki mekanisme pertahanan lokal berupa motilitas dan flora normal usus. Pendekatan Diagnosis Demam Tifoid Demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan asimtomatik. Tubuh berusaha menghanyutkan kuman keluar dengan usaha pertahanan tubuh non spesifik yaitu oleh kekuatan peristaltik usus. malaise. Namun demikian S. berkembang biak dan selanjutnya akan difagositosis oleh monosit dan makrofag. anoreksia. Pada penderita yang mengalami gastrotektomi. letargi. Ada beberapa faktor yang menentukan apakah kuman dapat melewati barier asam lambung.

menjadi berat. meskipun kegunaannya masih banyak diperdebatkan. Patogenesis perubahan gambaran darah tepi pada demam tifoid masih belum jelas. namun hanya sebagian kecil penderita demam tifoid mempunyai gambaran tersebut. limfositosis realtif dan menghilangnya eosinofil (aneosinofilia). Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis demam tifoid perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium yang diandalkan.typhi memerlukan waktu 3-5 hari. cairan duodenum dan rose spot. Jika tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu.minggu ke-dua timbul diare. Diare hanya terjadi pada setengah dari anak yang terinfeksi. spesifitas. jika interpretasi dilakukan dengan hati-hati dan memperdebatkan sensitivitas. ditemukan pada 40-80% penderita dan berlangsung singkat (2-3 hari). dapat timbul pada kulit dada dan abdomen. Diagnosis demam tifoid dengan biakan kuman sebenarnya amat diagnostik namun identifikasi kuman S. tinja. nyeri abdomen dan diare. Dahulu dikatakan bahwa leukopenia mempunyai nilai diagnostik yang penting. dan (3) pemeriksaan melacak DNA kuman S. serta perkiraan nilai Widal pada laboratorium dan populasi setempat.typhi. urin.typhi dan menentukan adanya antigen spesifik dari Salmonella typhi. Biakan darah seringkali positif pada awal penyakit sedangkan biakan urin dan tinja. anoreksia. maka angka Widal cukup bermakna. gejala dan tanda klinis menghilang namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 bulan. Rose spots (bercak makulopapular) ukuran 1-6 mm. seperti darah. Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. dan serologis. (2) uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S. Dapat dijumpai depresi mental dan delirium. sedangkan sembelit lebih jarang terjadi. Akibatnya sering terjadi kesulitan dalam menegakkan diagnosis bila hanya berdasarkan gejala klinis. yaitu (1) isolasi kuman penyebab demam tifoid melalui biakan kuman dari spesimen penderita. Diduga leukopenia disebabkan oleh destruksi leukosit oleh toksin dalam peredaran darah. Dalam kepustakaan lain disebutkan bahwa pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam tiga kelompok. umumnya ditandai dengan leukopenia. Gambaran klinis lidah tifoid pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi pemeriksaan darah tepi. Pemeriksaan Widal. Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. bakteriologis. Lemah. Biakan sumsum tulang dan kelenjar limfe atau jaringan retikulo endotelial lainnya sering masih positif setelah darah steril. penurunan berat badan. sumsum tulang. positif setelah terjadi septikemia sekunder. .

Walaupun metoda biakan kuman S. Uji telah digunakan sejak tahun 1896. biakan darah positif hanya pada 10% penderita. Faktor tersebut adalah (1) jumlah darah yang diambil. karena hasilnya tergantung beberapa faktor. Oleh karena itu pemeriksaan biakan darah sebaiknya dilakukan sebelum pemberian antibiotik. tinja. (2) perbandingan volume darah dan media empedu. urin. sedangkan kuman di dalam sumsum tulang lebih sukar dimatikan. Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. Waktu pengambilan darah paling baik adalah pada saat demam tinggi atau sebelum pemakaian antibiotik. Untuk menetralisir efek bakterisidal oleh antibodi atau komplemen yang dapat menghambat kuman pertumbuhan kuman. Uji serologi standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S.typhi sebenarnya amat diagnostik namun memerlukan waktu 3-5 hari. Pada uji Widal terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. Pengobatan antibiotik akan mematikan kuman di dalam darah beberapa jam setelah pemberian. sangat jarang ditemukan kuman di dalam darah. sedangkan pada stadium berikutnya didalam urin dan tinja. Berkaitan dengan patogenesis. sumsum tulang. namun hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid.typhi yaitu uji Widal. cairan duodenum atau rose spots. Bila terjadi relaps. karena 1-2 hari setelah diberi antibiotik kuman sudah sukar ditemukan di dalam darah. maka kuman lebih mudah ditemukan di dalam darah dan sumsum tulang di awal penyakit. Biakan darah positif ditemukan pada 75-80% penderita pada minggu pertama sakit. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid.typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin.Diagnosis pasti demam tifoid bila ditemukan kuman S. sedangkan pada akhir minggu ke-tiga. Biakan kuman ini sulit dilakukan di tempat pelayanan kesehatan sederhana yang tidak memiliki sarana laboratorium lengkap. Biakan sumsum tulang sering tetap positif selama perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan. maka biakan darah akan positif kembali. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. serta (3) waktu pengambilan darah. . Setelah minggu ke-empat penyakit. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang sama.typhi dari darah. maka darah harus diencerkan 5-10 kali.

Pada seseorang yang telah sembuh. disertai dengan peningkatan denyut nadi. Perforasi jarang terjadi tanpa adanya perdarahan sebelumnya dan sering terjadi di ileum bagian bawah. sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9 bulan – 2 tahun. hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis yang lain.typhi. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid adalah komplikasi intestinal berupa perdarahan sampai perforasi usus. Hepatitis tifosa asimtomatik dapat dijumpai pada kasus . delirium. 4. sedangkan antibodi O lebih cepat hilang. teknik laboratorium. aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan. Perforasi terjadi pada 0. dan reaksi silang. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau. kaku abdomen. tetapi hanya dipakai untuk menentukan pengidap S. namun manfaatnya masih menjadi perdebatan. Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin ≥ 1/40 dengan memakai uji widal slide aglutination menunjukkan nilai ramal positif 96%. Antigen Vi biasanya tidak dipakai untuk menentukan diagnosis infeksi. Meskipun uji serologi Widal untuk menunjang diagnosis demam tifoid telah luas digunakan di seluruh dunia.typhi. Sampai saat ini uji serologi Widal sulit dipakai sebagai pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut off point).Pada demam tifoid mula-mula akan terjadi peningkatan titer antibodi O. Banyak senter mengatur pendapat apabila titer O aglutinin sekali periksa ≥ 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. Komplikasi ini biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit. Pada pengidap S. gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis). defence muskular. pemberian antibiotik. Antibodi H timbul lebih lambat. diorientasi. sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman Salmonella typhi (karier). antibodi Vi cenderung meningkat. namun akan tetap menetap lama sampai beberapa tahun. Interpretasi pemeriksaan Widal harus hati-hati karena banyak faktor yang mempengaruhi antara lain stadium penyakit. muntahmuntah. stupor bahkan koma. Perforasi biasanya ditandai dengan peningkatan nyeri abdomen. nyeri pada perabaan abdomen.5-3% dan perdarahan usus yang berat ditemukan pada 110% anak dengan demam tifoid. Komplikasi ini umumnya didahului dengan suhu tubuh dan tekanan darah menurun. Antibodi Vi timbul lebih lambat dan biasanya menghilang setelah penderita sembuh dari sakit. Adanya komplikasi neuropsikiatri. obtudansi. riwayat mendapat imunisasi sebelumnya. Sebagian besar bermanifestasi gangguan kesadaran.

endokarditis. kelenjar ludah dan persendian. trombosis serebral. dan meningitis.demam tifoid dengan ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok. koagulasi intrvaskular diseminata. Proteinuria transien sering dijumpai. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai.000-25. Gambaran Darah Tepi Anemia normokrom normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi pada sumsum tulang jumlah leukosit rendah. seringkali akibat infeksi sekunder oleh kuman lain. Pada umumnya relaps lebih ringan dibandingkan gejala demam tifoid sebelumnya. Komplikasi lain yang juga dapat terjadi adalah enselopati. artritis. Pneumonia sebagai komplikasi sering dijumpai pada demam tifoid. Apabila terjadi abses piogenik maka jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20. . ataksia. Relaps yang didapat pada 5-10% kasus demam tifoid saat era pre antibiotik. demam timbul kembali seminggu setelah penghentian antibiotik. otot. fokal infeksi di beberapa lokasi sebagai akibat bakteremia misalnya infeksi pada tulang. hati. parotitis. otak. sedangkan glomerulonefritis yang dapat bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik mempunyai prognosis buruk. Sistitis dan pielonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid. perforasi dan gangguan hemodinamik). osteomielitis. Apabila terjadi relaps. 6. Dilaporkan pula komplikasi berupa orkitis. Penatalaksananaan Pengobatan terhadap demam tifoid merupakan gabungan antara pemberian antibiotik yang sesuai. Hemolytic Uremic Syndrome. 5. kadang-kadang berlangsung beberapa minggu.000 /µl³. limpa. manajemen cairan. Trombositopenia sering dijumpai. perawatan penunjang termasuk pemantauan. trombositopenia. sekarang lebih jarang ditemukan. serta pengenalan dini dan tata laksana terhadap adanya komplikasi (perdarahan usus. dan afasia. sedang kolesistitis kronik yang terjadi pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karies). namun jarang di bawah 3000 /µl³. pankreatitis.

dengan angka penyembuhan mendekati 100% dalam kesembuhan kinis dan bakteriologis. Demam lebih dari 7 hari disertai gejala gastointestinal. diberikan pada kasus-kasus demam tifoid yang disebabkan S. adalah alternatif pengganti seftriakson yang cukup handal. sedang bila menetap mungkin ada infeksi lain. selama 14 hari. atau c. (2) penetrasi ke jaringan cukup. Sefiksim dengan dosis 10-12 mg/kgBB/hari peroral. Penyembuhan sampai 90% juga dilaporkan pada pengobatan 3-5 hari. tanpa gejala penyerta lain. . Saat redanya demam (time of fever defervescence) merupakan parameter keberhasilan pengobatan. atau kuman penyebab adalah MDRST (multidrug resistant S. 2.typhi) Penggunaan antibiotik yang dianjurkan selama ini adalah sebagai berikut : 1. dibagi 2 dosis. Kotrimoksazol dengan dosis 10 mg/kgBB/hari trimetoprim. masih merupakan pilihan pertama dalam urutan antibiotik. diberikan dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari secara intravena dalam 4 dosis selama 10-14 hari. Ampisilin dengan dosis 150-200 mg/kgBB/hari diberikan peroral/iv selama 14 hari. Pemilihan antibiotik sebelum dibuktikan adanya infeksi Samonella dapat dilakukan secara empiris dengan memenuhi kriteria berikut (1) spektrum sempit. (3) cara pemberian mudah untuk anak. Namun pemberian obat ini masih kontroversial dalam pemberian untuk anak mengingat adanya pengaruh buruk terhadap pertumbuhan kartilago. Bila suhu turun. pada anak usia di atas 5 tahun. (4) tidak mudah resisten. Kloramfenikol. yang terdiri atas : a. Seftriakson dengan dosis 50-80 mg/kgBB/hari. dibagi dalam 2 dosis selama 14 hari. dosis tunggal selama 10 hari . di samping kemudahan pemberian secara oral. berarti membaik.typhi yang resisten terhadap berbagai obat (MDR=multidrug resistance).Pengobatan akan berhasil dengan baik bila penegakan diagnosis dilakukan dengan tepat. b. dapat dicurigai menderita demam tifoid. Banyak penelitian membuktikan bahwa obat ini masih cukup sensitif untuk Salmonella typhi namun perhatian khusus harus diberikan pada kasus dengan leukopenia (tidak dianjurkan pada leukosit <2000/ul)> b. dan (6) adanya bukti efikasi klinis. c. Lini ke dua. (5) efek samping minimal. Florokinolon dilaporkan lebih superior daripada derivat sefalosporin diatas. komplikasi. Lini pertama a. dan saat tersebut menentukan efektifitas antibiotik.

namun di pihak lain ketakutan akan terjadinya kejang dan kenyamanan anak terganggu. Untuk makanan. ataupun syok. Lama pemberian obat dianjurkan 2-10 hari. di satu pihak demam diperlukan untuk efektifitas respons imun dan pemantauan keberhasilan pengobatan. sering membutuhkan pemberian antipiretik. Pencegahan Secara umum. misalnya bila ditemukan status kesadaran delir. Pemberian antipiretik masih kontroversial. 10 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis. berupa penurunan demam sebelum hari ke 4. Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid. Pengobatan suportif akan sangat sangat menentukan keberhasilan pengobatan demam tifoid dengan antibiotik. Pencegahan terhadap demam tifoid dilakukan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dan perilaku sehari-hari. untuk memperkecil kemungkinan tercemar S. sehingga keseimbangan cairan sangat penting diperhatikan. Penderita demam tifoid sering menderita demam tinggi. Aztreonam juga diuji pada beberapa kasus demam tifoid pada anak dengan hasil baik. Vaksin Demam Tifoid . Pengobatan terhadap demam tifoid dengan antibiotik memerlukan acuan data adanya angka kejadian demam tifoid yang bersifat MDR. pemanasan sampai suhu 57ºC beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Beberapa jenis vaksin telah beredar di Indonesia saat ini. serta imunisasi secara aktif dengan vaksin terhadap demam tifoid. Pemberian kortikosteroid juga dianjurkan pada demam tifoid berat. Demam biasanya turun dalam 5 hari. anoreksia dan diare. Deksametason diberikan dengan dosis awal 3 mg/kbBB. diikuti dengan 1 mg/kgBB setiap 6 jam selama 2 hari. Dianjurkan pemberian antipiretik bila suhu di atas 38. koma. Terapi dietetik pada anak dengan demam tifoid tidak seketat penderita dewasa. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi.5ºC. dapat diberikan makanan lebih padat dengan kalori yang adekuat. sudah dipakai untuk pengobatan. 8. stupor. Asitromisin dengan pemberian 5-7 hari juga telah dicoba dalam beberapa penelitian dengan hasil baik. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi setinggi 57ºC untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi.Siprofloksasin. Setelah demam turun. Makanan bebas serat dan mudah dicerna dapat diberikan. Penggunaan obat-obat ini dianjurkan pada kasus demam tifoid dengan MDR.typhi. Pemberian cairan dan kalori yang adekuat sangat penting. maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. 7. namun tidak dianjurkan sebagai pengobatan lini pertama. d.

memberi daya perlindungan 6 tahun. Prognosis Penyembuhan sempurna adalah peran pada anak sehat yang berkembang gastroenteritis Salmonella. Prognosis jelek pada anak dengan meningitis Salmonella (angka mortalitas 50%) atau endokarditis.Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI: 367-375 2.Saat sekarang dikenal tiga macam vaksin untuk penyakit demam tifoid. Edisi pertama. dalam perjalanan penyakit yang lama. yaitu yang berisi kuman yang dimatikan. Jakarta . Jakarta . kuman hidup dan komponen Vi dari Salmonella typhi.Ikatan Dokter Anak Indonesia: 37-46 . 2003. Dalam Pediatrics Update. Bayi muda dan penderita dengan gangguan imun sering mempunyai keterlibatan sistemik. Kegagalan pengobatan tidak selalu berarti antibiotik yang diberikan sudah resisten. Widodo Darmowandoyo. Cetakan pertama. dan komplikasi. KESIMPULAN Tatalaksana kasus demam tifoid pada anak harus didasari strategi yang sesuai dengan patogenesis penyakti tersebut. Vaksin ini diberikan pada anak berumur diatas 2 tahun. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. dapat juga merupakan kesalahan strategi sejak awal tata laksana dalam diagnosis sampai pemantauan DAFTAR PUSTAKA 1. Demam Tifoid. Alan R. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup yang dilemahkan (Ty-21a) diberikan peroral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari. 9. Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella typhi diberikan secara suntikan intramuskular memberikan perlindungan 60-70% selama 3 tahun. Tumbelaka. 2002. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful