P. 1
Modul Pengantar Pariwisata UNTAG SEMARANG FBB

Modul Pengantar Pariwisata UNTAG SEMARANG FBB

4.0

|Views: 4,832|Likes:
Published by Fai Nama Q

More info:

Published by: Fai Nama Q on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2015

pdf

text

original

MODUL

FAKULTAS BAHASA DAN BUDAYA UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG

MATERI KULIAH

INTRODUCTION TO TOURISM
( PENGANTAR PARIWISATA )

Disusun oleh: Yusak L Diyono, M.Pd

Digunakan untuk kalangan sendiri

BAB I PENDAHULUAN A. Sejarah Perjalanan Manusia Dalam sejarah perjalanan manusia disebutkan, sebelum manusia dapat membaca dan menulis mereka telah mlakukan perjalanan ke seluruh pelosik dunia. Namun, sesuai dengan kondisi saat itu, motivasi yang menggerakkan mereka untuk melakukan perjalanan sangat sederhana, antara lain perasaan ingin tahu, perasaan takut, dan gila kekuasaan. Lambat laun perjalanan mereka cukup berarti, mereka sering bepergian dan sering pula tidak kembali ke asalnya. Dari studi literatur, tercatat beberapa bangsa, orang, dan peristiwa yang layak dicatat sebagai titik tolak dari sejarah perjalanan manusia, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Uang sebagai alat pembayaran oleh bangsa Sameria di Babylonia ± 4000 SM. Sejak saat itu merupakan titik awal perjalanan manusia dengan tujuan tujuan dagang. 2. Bangsa Sameria dari Babylonia dianggap sebagai bangsa yang pertama kali melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, walaupun jumlahnya masih terbatas. 3. Jalan raya yang pertama dibuat di Tiongkok, pada masa pemerintahan Dinasti Chou (221-122 SM). 4. Sistem jalan raya ditemukan di Timur Tengah yang dibangun oleh Kerajaan Persia ± 560-330 SM, dari kaki Gunung Zagrep sampai Laut Aegean. 5. Sistem jalan raya di Roma dibangun pada zaman keemasan Kerajaan Romawi ± 312 SM. Panjangnya dari Roma sampai Brundisium ialah 576 km. Proyek ini terkenal dengan nama The Appian Way Project atau Via Appia. Pada masa itu, jalan raya ini merupakan objek wisata yang menarik. 6. Nabi Nuh, dianggap sebagai orang yang pertama kali melakukan perjalanan melalui laut, walau penumpangnya sebagian besar hanya terdiri dari binatang. 7. Bangsa Romawi, dianggap sebagai bangsa yang pertama kali melakukan perjalanan untuk tujuan bersenang-senang. Mereka menempuh ratusan mil dengan kuda untuk melihat candi dan piramida. 8. Yunani, di Asia Kecil, dianggap sebagai daerah tujuan wisata (DTW) yang popular saat itu. Bangsa Romawi sering berkunjung ke Yunani, untuk melihat pertandingan Olimpiade dan mengunjungi sumber air panas (spa) untuk kesehatan. Menyaksikan atraksi kesenian rakyat dan festival didekat tempat mereka menginap. 9. Ephesus (daerah Turki sekarang), tahun 334 SM, Alexander The Great sudah dapat menarik wisatawan sebanyak 700.000 orang untuk menyaksikan acrobat, adu binatang buas, tukang sihir, dan tukang sulap. B. Orang Pertama sebagai Traveller Orang-orang yang dianggap sebagai traveller dengan urutan waktu secara kronologis dapat disebutkan di bawah ini. 1. Marco Polo (1254-1324), dianggap sebagai orang pertama yang mengadakan perjalanan (traveller). Ia telah menjelajahi jalan raya dari Benua Eropa ke Tiongkok dan kemudian kembali ke Venesia. 2. Ibnu Batuta, orang yang mengikuti jejak Marcopolo. Ia melakukan perjalanan pada abad XIV, tepatnya hari Selasa tanggal 14 Juni 1325. Ibnu Batuta berangkat dari Tangier (Afrika Utara) menuju Mekah dan Medinah dalam usia 22 tahun. Setelah mendapat pengakuan sebagai kadi (hakim agama) barulah ia kembali ke Tangier. Ia menamakan dirinya The First Traveller of Islam.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 1

3.

4.

5. 6.

Berangkat pada usia 22 tahun dan kmbali pada usia 29 tahun. Ia melakukan perjalanan seorang diri dengan berjalan kaki, menempuh jarak 75.000 mil. Pangeran Hendry dari Potugal, terkenal sebagai Prince Hendry The Navigator (1394-1460), banyak memberikan sumbangan dalam bidang kelengkapan navigasi, mengirim orang-orang Portugis berlayar ke Kepulauan Azores, ke Afrika, dank e Asia termasuk Indonesia. Dikenal di Benua Barat sebagai The Great Age of Discovery. Christopher Columbus (1451-1506), dengan perahu berbendera Spanyol, pada tanggal 12 Oktober 1492, mendarat di Pegunungan Guanahani yang sekarang dikenal sebagai San Salvador. Menemukan Cuba tanggal 28 Oktober 1492 dan Haiti pada tanggal 5 Desember 1492, yang kemudian dinamakan Hispaniola. Selanjutnya, ekspedisi yang kedua menemukan Puerto Rico, Keplauan Antilen Kecil, serta Jamaica. Pada ekspedisi yang ketiga, menemukan Sungai Orinoco di Venezuela. Akhir abad XV, Portugal menunjuk Alfonso d‟Albuqurque, Vasco da Gama, dan Fernando de Magelhaens untuk menjelajahi kelima samudra. Setengah abad kemudian, Kapten James Cook (1728-1779) seorang berbahasa Inggris, mengelilingi dunia menjelajahi Hebrida Baru, Selandia Baru, dan Australia bagian timur (17681771). Membuat peta perjalanan atau pelintasan Venus.

A. Asal Mula Hari Libur Hari libur atau holiday, berasal dari kata holy dan day. Holy berarti suci dan Day berarti hari. Jadi, Holiday artinya hari suci. Sesuai dengan artinya, pada hari libur tersebut hanya digunakan untuk pergi ke tempat-tempat suci. Karena masih ada waktu luang, dilanjutkan dengan rekreasi dan menyaksikan entertainment atau melakukan hal-hal yang ada kaitannya dengan kegiatan amusement lainnya. Permulaan berlakunya hari libur umum, dilakukan pada zaman Kerajaan Romawi. Hari libur pada masa itu dinamakan Saturnalia, yaitu pesta Saturnus di bulan Desember. Pada waktu itu, semua orang tanpa memandang kasta bersendau gurau memanjakan dirinya, termasuk budak-budak. Perkembangan selanjutnya, Raja Edward VI, mengeluarkan act yang mengatur hari libur (holiday) dan hari-hari untuk berpuasa (fasting-days). Sejak saat itu, kantor-kantor swasta dan semi pemerintah sering ditutup pada hari-hari suci tertentu. Konsep modern tentang hari libur setiap tahun, baru terjadi setelah Revolusi Industri. Hal ini setelah terjadi perubahan besar di Inggris. Hari-hari libur di Inggris, antara lain Hari Natal (Christmas), Easter, dan Whitsuntide. Akibat Revolusi Industri, selama abad XIX, selanjutnya harihari libur merupakan hasil kesepakatan antara buruh dengan pengusaha pabrik. Pemisahan hari-hari libur dengan kegiatan keagamaan akhirnya berlangsung secara bertahap sampai sekarang ini, contohnya libur cuti dan hari raya. D. Dari Inn Menuju Hotel Modern Pada dasarnya manusia perlu tempat untuk beristirahat, agar terhindar dari panas, dingin, dan hujan. Manusia pada zaman purba tidur di gua-gua, diperbukitan, di atas pohon, atau di lembah yang curam. Bentuk penginapan sudah ada pada waktu Mariam dan Yusuf yang membutuhkan tempat tempat untuk menginap, ketika Mariam akan melahirkan Nabi Isa. Penginapan waktu itu berbentuk Inn. Karena semua kamar telah terisi, mereka menginap di kandang domba dan Nabi Isa lahir di tempat yang sederhana itu. Pada masa itu, dikenal juga mansions sebagai bentuk penginapan yang berlokasi di sepanjang jalan yang dibangun oleh Kerajaan Romawi. Kemudian pada abad pertengahan, peraturan yang bersifat keagamaan di Eropa, memerintahkan agar dibangun tempat-tempat di sepanjang jalan yang dilalui orang-orang (roadside inn).

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 2

Marcopolo, ketika mengadakan perjalanan sudah menemukan penginapan yang kita sebut sekarang sebagai guest house, di Mongolia. Guest house itu, disediakan bagi mereka yang melakukan perjalanan dan juga pengantar surat. Penginapan semacam ini dikembangkan dengan sistem selfservice. Kemudian berkembanglah penginapan yang melayani makanan bagi yang membutuhkan. Hotel dengan standar yang lebih baik, pertama kali didirikan di Inggris, disusul Perancis, Swiss, dan beberapa Negara terkemuka lainnya. Tahun 1774, di Convent Garden didirikan hotel yang bergandengan dengan bioskop dekat West-Minster di kota London. Selama abad XIX, di Eropa banyak hotel yang bertaraf lux didirikan. Tahun 1809, Hotel Savoy dibuka di London, kemudian resort mulai bermunculan di Riviera Perancis dan Italia. City Hotel, dibangun di New York tahun 1794, dianggap hotel yang pertama dibangun di AS. Baru tahun 1829, dibangun The Tremont House di Boston. Selain memberikan pelayanan untuk tinggal, juga menyediakan ruangan untuk konferensi. Tahun 1830 dan 1850, didirikan The Palmer House dan The Sherman House di Chicago, Planters di St. Louise, dan Palace Hotel di San Fransisco. Tahun 1890 menyusul Ellsworth Milton Statler di Buffalo dan di New York, hotel yang dibangun untuk kepentingan business travelers dan merupakan yang pertama pada masa itu. E. Travel Agent Pertama di Dunia Setelah permulaan abad XIX, banyak kemajuan dalam bidang transportasi baik darat, laut, maupun udara. Beberapa peristiwa yang dianggap sebagai rintisan kegiatan travel agent adalah sebagai berikut. 1. Thomas Cook, lahir 22 November 1818, dianggap sebagai orang yang pertama menemukan profesi sebagai travel agent. Beberapa gebrakannya antara lain sebagai berikut. a. Tur yang bersejarah, A Round Tri Excursion, antara kota Leicester dan Lougborough RR, masing-masing orang dengan biaya 1 shilling, pada tanggal 5 Juli 1841. Jumlah peserta 500 orang. b. Tahun 1851, Thomas Cook menyelenggarakan tur ke London sebanyak 150.000 orang pengikut untuk menyaksikan World Exposition. c. Tahun 1855, membawa orang-orang Inggris ke Eropa untuk menyaksikan Paris Exhibitions di Perancis. Tur ini dikenal Cook‟s Tour of Eropa. d. Tahun 1868, dibuka kantor Cook‟s Travel Agent di London. e. Jejaknya diikuti oleh anaknya John Mason Cook, pada tahun 1865, aktif menyelenggarakan tur ke Eropa dan Amerika.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 3

BAB II PARIWISATA MERUPAKAN FENOMENAL SOSIAL, EKONOMI, PSIKOLOGI, GEOGRAFI, DAN BUDAYA A. Fenomena Sosial Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, punya naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam masalah kepariwisataan, perjalanan wisata dari satu daerah ke daerah lain merupakan gejala sosial manusia yang selalu ingin melakukan hubungan dengan orang/bangsa lain. Pada saat mulainya peradaban, bangsa Sameria telah melakukan perjalanan dengan motivasi yang sederhana, yakni ingin tetap mempertahankan hidup, lalu berkembang ingin berdagang. Sedangkan Bangsa Romawi melakukan perjalanan untuk bersenang-senang. Dalam peradaban modern ini, pesatnya arus informasi, perkembangan teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan, dan seni, menyebabkan orang tergerak untuk melakukan perjalanan wisata ke luar daerah bahkan ke luar batas wilayah negaranya. Kegiatan pariwisata yang identik dengan rekreasi ini merupakan salah satu dari bentuk aktivitas manusia, seperti dikemukakan oleh Michael Chubb, dkk. dalam bukunya One Third of Our Time. Mengklarifikasikan aktivitas manusia menjadi lima hal, yaitu rekreasi, kebutuhan fisik, spiritual, pekerjaan dan pendidikan, serta tugas-tugas keluarga dan kemasyarakatan (Michael Chubb, 1981). Ilustrasi yang dikemukakan oleh Michael tersebut menggambarkan bahwa rekreasi adalah salah satu kebutuhan dasar aktivitas manusia. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain ini dilakukan dengan berkunjung ke Negara atau bangsa lain. Situasi hubungan antar kedua negara akan mempengaruhi jalur lalu lintas perjalanan dari kedua negara tersebut. Keeratan hubungan antara negara satu dengan lainnya, semakin membuka informasi dan memungkinkan seseorang mengetahui informasi secara global dari suatu negara tujuan wisata. Ilustrasi Michael dapat dilihat pada gambar berikut ini:
bodily necessity role - eating - drinking

- etc.
recreation role a human activity work and education role

spiritual role

duty role - family - community - organization

Figure 1:
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 4

Model showing the five basic roles that a human activity can assume; one or more roles is assumed depending on the way in which the participant perceives the activity.

Derasnya arus informasi dan promosi negara tujuan wisata, semakin meningkatkan keinginan manusia untuk saling berkunjung ke negara-negara tujuan wisata. Hal ini merupakan gejala yang mendasar dari manusia, yakni ingin menjalin hubungan dengan bangsa lain. Pada zaman modern ini, melakukan wisata atau melawat ke negara lain, juga merupakan kebutuhan sekunder, karena di samping rekreasi mereka mempunyai motivasi yang beragam seperti untuk olahraga, pendidikan, dan kebudayaan. Dalam cakupan yang lebih luas, fenomena sosial yang erat kaitannya dengan kegiatan kepariwisataan adalah perjalanan wisata yang dikaitkan dengan kegiatan sosial. Seorang penyanyi yang melawat/melakukan perjalanan wisata untuk tur dan aksi sosial. Organisasi ibu-ibu menyelenggarakan perjalanan wisata bagi anak-anak yatim piatu merupakan salah satu bentuk dari perjalanan wisata sebagai perwujudan rasa sosial untuk membantu orang lain. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa fenomena sosial dalam kepariwisataan adalah kebutuhan dasar manusia untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Di samping itu, lebih luas lagi bisa diartikan sebagai kegiatan wisata yang dibarengi dengan aksi sosial. B. Fenomena Ekonomi Fenomena ekonomi dalam pariwisata mempunyai aspek yang cukup luas, secara makro (nasional) kepariwisataan merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan umum ekonomi. Ada dua aspek dampak kepariwisataan terhadap ekonomi, yakni keuntungan-keuntungan dalam negeri dan kepariwisataan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan umum ekonomi. (Deparpostel, 1983). Keuntungan-keuntungan dalam negeri dari kepariwisataan antara lain: 1. dorongan untuk memperluas lapangan kerja; 2. pasaran baru untuk hasil-hasil produksi tertentu; 3. efek penggandaan; 4. mendorong penanaman modal asing; 5. memajukan pengembangan daerah; 6. mendistribusikan kembali pendapatan nasional. Sedangkan kepariwisataan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan umum ekonomi, antara lain mencakup: 1. suatu alat pembangunan daerah; 2. kepariwisataan mengurangi pengangguran; 3. membangun kepariwisataan sebagai suatu ekspor yang tidak kelihatan (invinsible export); 4. kepariwisataan dan perbendaharaan negara; 5. kepariwisataan dan penanaman modal. Secara mikro, aspek ekonomi dalam kepariwisataan dapat dijelaskan bahwa dengan adanya perkembangan pariwisata akan memberi dampak positif bagi: 1. Pendapatan masyarakat sekitar daerah tujuan wisata (DTW) karena dengan meningkatnya arus wisatawan di DTW, masyarakat di sekitar DTW dapat memanfaatkan untuk membuka usaha yang kira-kira dibutuhkan oleh wisatawan. Dampak positif itu dirasakan, antara lain oleh pengusahaan akomodasi (home stay), rumah makan, sampai dengan jasa-jasa yang lain seperti penyewaan peralatan untuk olahraga air, mobil, masase, dan souvenirshop. 2. Pendapatan pemerintah daerah setempat, dengan perolehan pemasukkan kas daerah dari pemungutan pajak, restribusi, dan sebagainya.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 5

3. Munculnya pedagang asongan yang beroperasi di sekitar DTW. 4. Meningkatnya permintaan hasil daerah setempat, seperti bahan-bahan mentah atau hasil pertanian dan perkebunan yang dipasok ke hotel dan restoran. Meningkatnya permintaan barang-barang kerajinan, handicraft, souvenir, serta barang-barang yang khas dari suatu daerah, seperti kain tenun, sulaman, minuman khas, dan makanan khas. Kepariwisataan sebagai fenomena ekonomi, dapat diartikan perjalanan wisata yang dilakukan oleh orang-orang yang ekonominya sudah mapan. Dalam arti ada hubungan antara kemampuan membayar suatu perjalanan wisata dengan kemampuan ekonomi seseorang. Dalam survey mengenai kepariwisataan disebutkan “penghasilan seseorang banyak sekali menentukan, apakah ia dapat ikut suatu perjalanan wisata atau tidak” (Oka A. Yoeti, 1985). Hal ini sesuai pula dengan ciri-ciri wisatawan yang potensial. Seseorang memiliki potensi sebagai wisatawan apabila ia punya waktu luang dan punya uang. Kesimpulannya, kondisi ekonomi seseorang memungkinkan bisa tidaknya ia melakukan perjalanan wisata. C. Fenomena Psikologis Masyarakat di negara industri yang sudah maju, menghadapi permasalahan yang sangat kompleks dan kompetitif. Di samping dilingkupi oleh teknologi yang maju, juga akibat urbanisasi sebagai salah satu ciri dari kota metropolitan, banyak menarik kaum urban menuju pusat-pusat kota untuk mencari nafkah Akibatnya, banyak orang dari negara industri yang terlibat dalam suasana yang tegang atau stress. Salah satu pelariannya adalah melakukan rekreasi atau liburan di tempat-tempat wisata. Mereka ingin rileks dan menikmati perubahan lingkungan dengan udara yang bersih, untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani agar segar dan siap untuk bekerja kembali. Gejala yang bersifat psikologis ini dalam ruang lingkup pariwisata dikatakan sebagai “gejala pengasingan diri” (withdrawal symptom). E. Barnet mengatakan bahwa “gejala pengasingan diri” ini adalah seseorang berusaha melepaskan dirinya dari lingkungan pekerjaan hariannya, suasana kebiasaan hidupnya atau hanya sekadar pergi nyepi ke tempat yang tenang untuk berkontemplasi mencari ilham (Salah Wahab, 1989). Lebih lanjut dikatakan oleh Salah Wahab, bahwa pariwisata menjadi suatu sarana untuk memulihkan kesehatan moral seseorang dan untuk memantapkan kembali keseimbangan emosi seseorang. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila kegiatan pariwisata dapat digunakan sebagai salah satu terapi untuk menyembuhkan seseorang dari rasa tegang dan stress karena kesibukan kerja yang cukup tinggi. Michael, menyebutkan bahwa rekreasi merupakan salah satu kebutuhan dasar dari aktivitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, pariwisata tidak sekadar perjalanan wisata belaka, tetapi lebih dari itu adalah suatu kebutuhan manusia yang paling mendasar. D. Fenomena Geografi Pariwisata merupakan fenomena geografi. Posisi suatu negara tujuan wisata atau letak geografis suatu daerah tujuan wisata mempunyai peranan dalam pariwisata. Penampakan geografis yang khusus akan merupakan daya tarik bagi wisatawan. Struktur geografis yang terdapat flora dan fauna, seperti di Afrika, dapat dijadikan sebagai daerah wisata untuk berburu. Demikian juga Jeram Niagara, yang merupakan air terjun alami dan posisi tujuan wisata di tengah lalu lintas internasional, akan merupakan modal untuk menarik wisatawan mancanegara. Dardji Darmodihardjo, mengemukakan fenomena geografis di Indonesia sebagai berikut, “keadaan alam yang sukar dicari bandingannya merupakan daya tarik bagi bangsa asing dan adalah modal yang besar bagi pariwisata”(Dardji Darmodihardjo, dkk, 1979). Kepulauan nusantara yang oleh Multatuli digambarkan sebagai “pending zamrud yang membujur sepanjang katulistiwa” adalah
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 6

tidak terlalu berlebihan. Indonesia yang terdiri dari lebih kurang 13.500 pulau besar dan kecil yang bertebaran di antara benua Asia dan Australia dan diantara samudra Psifik dan samudra Indonesia merupakan posisi tujuan wisata yang strategis. Luas Indonesia 2.000.000 km², panjangnya dari Sabang sampai Merauka 5.000 km, hampir seluas benua Eropa. Ragam budaya serta alam Indonesia merupakan daya pikat tersendiri. Banyak primadona yang dapat diandalkan dari geografi Indonesia, Gunung Krakatau, Tangkubanprahu, Ijen, Bromo dengan lautan pasirnya. Taman laut Bunaken, konon terindah di Asia Tenggara. Air terjun Moramo yang 57 tingkat, serta danau tiga warna Kilimutu yang “ajaib” merupakan cirri-ciri geografis yang dapat dijadikan promosi pariwisata. E. Fenomena Budaya Pariwisata dapat dikatakan merupakan fenomena budaya. Dari sisi subjek (wisatawan) sendiri, hal ini terkait dengan motivasi perjalanannya. Motivasi perjalanan yang meliputi aspek-aspek budaya antara lain: 1. ingin melihat adat istiadat bangsa di negara lain; 2. ingin melihat upacara adapt, upacara keagamaan, dan upacara tradisional bangsa lain; 3. ingin melihat pertunjukan kesenian, festival seni, festival tari, festival nyanyi, dan festival drama; 4. untuk keperluan studi kebudayaan masyarakat yang masih mempunyai kebudayaan primitive atau tradisional dan langka, seperti suku Asmat, suku Dayak, dan Toraja; 5. mengunjungi benda-benda bersejarah, monument, peninggalan nenek moyang, candi, piramid, serta hasil-hasil budaya lainnya. Fenomena budaya kepariwisataan ditinjau dari segi objek, merupakan daya tarik pariwisata budaya. Sebagai contoh daerah tujuan wisata Bali merupakan pariwisata budaya, lebih khususnya dapat dikatakan pariwisata budaya religius. Bali dengan pariwisata budayanya mempunyai “daya tarik” yang cukup memikat. Alamnya, tariannya, upacaranya, hasil kerajinannya, candi-candinya, pura-puranya, drama-drama tradisional, dan berbagai macam daya tarik lainnya. Dampak positif adanya kegiatan pariwisata, yang terkait dengan kebudayaan adalah dengan semakin dibutuhkannya penampilan dan pelestarian budaya tradisional. Kebudayaan yang sifatnya tradisional yang semula hampir terlupakan diaktifkan kembali untuk dikemas dan disajikan kepada wisatawan sebagai salah satu atraksi budaya yang menarik.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 7

BAB III PARIWISATA DAN JENIS PARIWISATA A. Penggunaan dan Arti Istilah Pariwisata 1. A Teeuw dalam bukunya Indonesisch-Nederlands Woorden boek: Pariwisata : toerisme. Berpariwisata : als tourist reizen; „n trip maken. Kepariwisataan : toerisme. Pariwisataan : tourist 2. S. Prawiroatmodjo dalam Bausastra Djawa-Indonesia: Wisata : pergi, bepergian; tenteram, tetap hati, setia. Darma : berdarmawisata, bertamasya, bepergian bersama, berpiknik. 3. L. Mardiwarsito dalam Kamus Jawa-Kuno Indonesia: Wisata : tenteram; (dng) senagng, (tenang, enak); seenaknya. 4. W. J. S. Poerwadarminta dalam Kamus Bahasa Indonesia: Pariwisata : perpelancongan (turisme). 5. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pariwisata : yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi; pelancongan; turisme. 6. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 12: Pariwisata : atau turisme, merupakan kegiatan perjalanan seseorang atau serombongan orang dari tempat tinggal asalnya ke suatu tempat ke kota lain atau di negara lain dalam jangka waktu tertentu. Tujuan perjalanan itu dapat bersifat pelancongan, bisnis keperluan ilmiah, bagian kegiatan keagamaan, muhibah, atau juga silaturahmi. Boleh dikatakan hampir semua perjalanan ke daerah lain dapat digolongkan sebagai kegiatan pariwisata, kecuali bila perjalanan itu dilakukan untuk tujuan kerja atau mencari nafkah. Tetapi perjalanan bisnis masih tetap digolongkan sebagai kegiatan pariwisata, karena kebanyakan wisatawan bisnis hanya menggunakan waktu beberapa jam saja dalam setiap harinya untuk mengurus bisnisnya, sedangkan waktu selebihnya digunakannya untuk bersenang-senang. 7. Definisi Pariwisata a. Definisi yang Bersifat Umum Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus, dan melayani kebutuhan wisatawan. b. Definisi yang Lebih Teknis Pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok di dalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Kegiatan tersebut dengan menggunakan kemudahan, jasa, dan factor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau masyarakat, agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan. Kemudahan dalam batasan pariwisata maksudnya antara lain berupa fasilitas yang memperlancar arus kunjungan wisatawan. Misalnya dengan memberikan bebas visa, prosedur pelayanan yang cepat di pintu-pintu masuk dan keluar, tersedianya transportasi dan akomodasi yang cukup. Faktor penunjangnya adalah prasarana dan utilitas umum, seperti jalan raya, penyediaan air minum, listrik, tempat penukaran uang, pos dan telekomunikasi, dan sebagainya.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 8

B. Bentuk dan Jenis Pariwisata Setelah kita pahami tentang istilah dan pengertian tentang pariwisata, berikut dikemukan tentang bentuk dan jenis pariwisata. 1. Bentuk Pariwisata Nyoman S. Pendit dalam bukunya, Ilmu Pariwisata, Sebuah Pengantar Perdana, mengemukakan bentuk pariwisata dapat dibagi menurut kategori sebagai berikut: menurut asal wisatawan, menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran, menurut jangka waktu, menurut jumlah wisatawan, dan menurut alat angkut yang dipergunakan (Nyoman S. Pendit, 1990). Adapun uraian singkat mengenai bentuk pariwisata tersebut antara lain seperti diuraikan di bawah ini. a. Menurut Asal Wisatawan 1. Dari dalam negeri disebut juga pariwisata domestik atau pariwisata nusantara. 2. Dari luar negeri disebut pariwisata internasional atau pariwisata mancanegara. b. Menurut Akibatnya terhadap Neraca Pembayaran 1. Kedatangan wisatawan ke dalam negeri memberi efek positif terhadap neraca pembayaran luar negeri. Pariwisata ini disebut pariwisata aktif. 2. Sebaliknya, warga negara yang ke luar negeri memberikan efek negative terhadap neraca pembayaran luar negeri atau disebut pariwisata pasif. c. Menurut Jangka Waktu 1. Pariwisata jangka pendek, apabila wisatawan yang berkunjung ke suatu DTW hanya beberapa hari saja. 2. Pariwisata jangka panjang, apabila wisatawan yang berkunjung ke DTW waktunya sampai berbulan-bulan. Jadi, yang membedakan adalah lama tinggal. d. Menurut Jumlah Wisatawan 1. Disebut pariwisata tunggal, apabila wisatawan yang bepergian hanya seorang, atau satu keluarga. 2. Disebut pariwisata rombongan, apabila wisatawan yang bepergian satu kelompok atau rombongan yang berjumlah 15 sampai dengan 20 orang atau lebih. e. Menurut Alat Angkut yang Dipergunakan Menurut kategori ini pariwisata dapat dibagi: 1. pariwisata udara; 2. pariwisata laut; 3. pariwisata kereta api; 4. pariwisata mobil. 2. Jenis Pariwisata a. Wisata Budaya Seseorang yang melakukan perjalanan wisata dengan tujuan untuk mempelajari adapt-istiadat, budaya, tata cara kehidupan masyarakat dan kebiasaan yang terdapat di daerah atau negara yang dikunjungi. Termasuk dalam jenis pariwisata ini adalah mengikuti misi kesenian ke luar negeri atau untuk menyaksikan festifal seni dan kegiatan budaya lainnya. b. Wisata Kesehatan Disebut juga Wisata Pulih Sembuh. Artinya seseorang melakukan perjalanan denagn tujuan untuk sembuh dari suatu penyakit atau untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani. Objek wisata
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 9

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

k.

l.

m.

kesehatan adalah tempat peristirahatan, sumber air panas, sumber air mineral dan fasilitas-fasilitas lain yang memungkinkan seorang wisatawan dapat beristirahat sambil berwisata. Wisata Olahraga Seseorang yang melakukan perjalanan dengan tujuan untuk mengikuti kegiatan olahraga, misalnya Olympiade, Thomas Cup, dan Sea Games. Wisata Komersial Istilah lainnya adalah wisata bisnis. Wisatawan yang masuk ke dalam jenis wisata ini adalah mereka yang melakukan perjalanan untuk tujuan yang bersifat komersial atau dagang. Misalnya, mengunjungi pameran dagang, pameran industri, pecan raya, dan pameran hasil kerajinan. Wisata Industri Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa untuk berkunjung ke suatu industri yang besar guna mempelajari atau meneliti industri tersebut. Misalnya: rombongan pelajar dan mahasiswa yang berkunjung ke IPTN untuk melihat industri pesawat terbang. Wisata Politik Seseorang yang berkunjung ke suatu negara untuk tujuan aktif dalam kegiatan politik. Misalnya kunjungan kenegaraan, menghadiri penobatan Kasar Jepang, penobatan Ratu di Inggris. Juga konferensi politik atau kunjungan kenegaraan yang dilanjutkan dengan berdarmawisata mengunjungi obyek-obyek wisata dan atraksi wisata. Wisata Konvensi Seseorang yang melakukan perjalanan dan berkunjung ke suatu daerah atau negara dengan tujuan untuk mengikuti konvensi atau konferensi. Misalnya, KTT Non-Blok yang baru-baru ini diselenggarakan di Jakarta. Wisata konperensi ini erat kaitannya dengan wisata politik. Di samping disediakannya tempat-tempat untuk konvensi atau konferensi, biasanya juga ada post conference tour, yakni acara berdarmawisata sesuai konferensi dengan mengunjungi objek dan atraksi wisata. Wisata Sosial Kegiatan wisata sosial adalah kegiatan wisata yang diselenggarakan dengan tujuan non profit atau tidak mencari keuntungan. Perjalanan wisata ini diperuntukkan bagi remaja, atau golongan masyarakat ekonomi lemah maupun pelajar. Contoh lain: organisasi wanita yang mengajak siswa dari panti asuhan untuk melakukan perjalanan wisata. Kegiatan ini termasuk juga wisata sosial. Wisata Pertanian Pengorganisasian perjalanan yang dilakukan dengan mengunjungi pertanian, perkebunan untuk tujuan studi, dan riset atau studi banding. Contoh: petani dari Jawa Timur baru-baru ini ada yang dikirim ke Jepang untuk mempelajari teknologi pertanian di negara tersebut. Wisata Maritim (Marina) atau Bahari Wisata Bahari ini sering dikaitkan dengan olah raga air, seperti berselancar, menyelam, berenang, dan sebagainya. Objeknya adalah pantai, laut, danau, sungai, kepulauan, termasuk taman laut. Karena kegiatannya di air, wisata ini disebut juga Wisata Tirta. Wisata Cagar Alam Jenis wisata ini adalah berkunjung ke daerah cagar alam. Di samping untuk mengunjungi binatang atau tumbuhan yang langka juga untuk tujuan menghirup udara segar dan menikmati keindahan alam. Objek wisata jenis ini adalah Kebun Raya Bogor, Taman Nasional Blauran, dan sebagainya. Wisata Buru Kegiatan wisata ini dikaitkan dengan hobi berburu. Lokasi berburu ini tentu saja yang telah dimaklumkan oleh pemerintah sebagai daerah perburuan, misalnya jenis binatang yang merusak seperti banteng dan babi hutan. Tidak jarang pula dalam wisata buru ini ada lomba berburu. Wisata Pilgrim
Page 10

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Jenis wisata ini dikaitkan dengan agama, kepercayaan ataupun adapt istiadat dalam masyarakat. Wisata pilgrim ini dilakukan baik perseorangan maupun rombongan. Berkunjung ke tempattempat suci, makm-makam orang suci atau orang-orang yang terkenal, dan pemimpin yang diagungkan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan restu, berkah, kebahagiaan, dan ketentraman. Di Indonesia tempat-tempat yang dapat dikategorikan sebagai objek wisata pilgrim, misalnya makam Bung Karno, makam Wali Songo, makam Gunung Kawi, dan juga candi-candi. n. Wisata Bulan Madu Sesuai dengan namanya, orang yang melakukan perjalanan dalam jenis wisata ini adalah orang yang sedang berbulan madu atau pengantin baru. Agen perjalanan atau Biro Perjalanan yang menyelenggarakan wisata ini biasanya menyediakan fasilitas yang istimewa/khusus. Baik dekorasi tempat penginapannya maupun sajian makanannya. Diharapkan wisatawan benar-benar menikmati bulan madu dengan kesan-kesan khusus, indah, dan meninggalkan kenangan yang istimewa bagi bulan madu mereka.

BAB IV WISATAWAN A. Definisi Wisatawan 1. Wisatawan dalam Arti Murni Dalam The United Nation Conference on Customs Formalities for The Temporary Importation of Private Road Motor Vehicles and for Tourism, dalam Pasal 1 ayat b) dikatakan sebagai berikut: “Istilah wisatawan harus diartikan sebagai seorang, tanpa membedakan ras, kelamin, bahasa dan agama, yang memasuki wilayah suatu negara yang mengadakan perjanjian yang lain daripada negara di mana orang itu biasanya tinggal dan berada di situ kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bula, di dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut, untuk tujuan non-imigran yang legal, seperti perjalanan wisata, rekreasi, olahraga, kesehatan, alas an keluarga, studi, ibadah keagamaan atau urusan usaha (business)” (Oka A. Yoeti, 1988). 2. Menurut IUOTO a. Wisatawan (tourist), yaitu pengunjung sementara yang paling sedikit tinggal selama 24 jam di negara yang dikunjunginya dan tujuan perjalanannya dapat digolongkan ke dalam klarifikasi berikut ini: (a) Pesiar (leisure) seperti untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, studi, keagamaan, dan olahraga.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 11

(b) Hubungan dagang (business), keluarga, konferensi, dan misi. (c) Pelancong (excursionist),yaitu pengunjung sementara yang tinggal kurang dari 24 jam di negara yang dikunjunginya (termasuk pelancong dengan kapal pesiar). 3. Menurut WTO (World Tourism Organization) Untuk diketahui, cikal bakal WTO adalah IUTO (International Union of Tourism Organization) yang didirikan di Den Haag, 1924. WTO sendiri didirikan pada tanggal 27 September 1970, namun baru aktif pada 1 Januari 1976. Rumusan wisatawan berikut ini merupakan salah satu rumusan hasil Sidang Umum IX WTO di Buenos Aires, Argentina yang diselenggarakan dari tanggal 30 Sepetember hingga 4 Oktober 1991: “Wisatawan (tourist), seorang pengunjung untuk sekurang-kurangnya satu malam tapi tidak lebih dari satu tahun dan yang dimaksud utama kunjungannya adalah tidak lain dari melaksanakan suatu kegiatan yang mendatangkan penghasilan bagi negeri yang sikunjungi” (Deparpostel, 1992). 4. Menurut INPRES No. 9 Tahun 1969 “Wisatawan (tourist) adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungannya itu.” 5. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1, ayat 1 dan 2: 1. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata; 2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. B. Jenis dan Macam Wisatawan Berdasarkan sifat perjalanan, lokasi di mana perjalanan dilakukan, wisatawan dapat diklarifikasikan sebagai berikut: 1. Wisatawan Asing (Foreign Tourist) Orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang dating memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan negara di mana ia biasanya tinggal. Wisatawan asing disebut juga wisatawan mancanegara atau disingkat wisman. 2. Domestic Foreign Tourist Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal di suatu negara karena tugas, dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negara di mana ia tinggal. Misalnya, staf kedutaan Belanda yang mendapat cuti tahunan, tetapi ia tidak pulang ke Belanda, tetapi melakukan perjalanan wisata di Indonesia (tempat ia bertugas). 3. Domestic Tourist Seorang warga negara suatu negara yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya. Misalnya, warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan ke Bali atau ke Danau Toba. Wisatawan ini disebut juga wisatawan dalam negeri atau wisatawan nusantara (wisnu). 4. Indigenous Foreign Tourist Warga negara suatu negara tertentu, yang karena tugasnya atau jabatannya berada di luar negeri, pulang ke negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri. Misalnya, warga negara Perancis yang bertugas sebagai konsultan di perusahaan asing di

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 12

Indonesia, ketika liburan ia kembali ke Perancis dan melakukan perjalanan wisata di sana. Jenis wisatawan ini merupakan kebalikan dari Domestic Foreign Tourist. 5. Transit Tourist Wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke suatu negara tertentu, yang terpaksa mampir atau singgah pada suatu pelabuhan/airport/stasiun bukan atas kemauannya sendiri. 6. Business Tourist Orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis, bukan wisata, tetapi perjalanan wisata akan dilakukannya setelah tujuannya yang utama selesai. Jadi, perjalanan wisata merupakan tujuan sekunder, setelah tujuan primer yaitu bisnis selesai dilakukan.

BAB V INDUSTRI PARIWISATA DAN TUJUAN WISATA A. Industri Pariwisata 1. Pariwisata sebagai Suatu Industri Untuk memahami pariwisata sebagai suatu industri, dapat diberikan contoh dengan menggambarkan seseorang yang melakukan perjalanan wisata. Seseorang yang melakukan perjalanan wisata akan mengikuti alur kegiatan sebagi berikut. a. Ketika ia akan mempersiapkan keberangkatannya ke daerah tujuan wisata, ia memerlukan jasa Agen Perjalanan atau Biro Perjalanan Umum untuk memperoleh informasi mengenai Paket Wisata, Reservation (Pemesanan), Daerah Tujuan Wisata, Tiket, Pengurusan Paspor, dan sebagainya. b. Setelah lengkap dokumen perjalanannya, ia memerlukan jasa taksi untuk sampai di Pelabuhan/Bandara. c. Selanjutnya ia naik pesawat/kapal untuk sampai di DTW atau negara tujuan wisata. d. Setelah dating di DTW/Negara Tujuan Wisata ia memerlukan transport untuk menuju ke hotel. e. Setelah di Hotel ia memerlukan makan dan minum, pada saat inilah ia memerlukan restoran atau perusahaan pangan. f. Selama di DTW ia memerlukan guide untuk memandunya ke objek wisata dan atraksi wisata, dan membutuhkan souvenir shop untuk belanja oleh-oleh.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 13

g. Setelah puas di DTW, akhirnya ia kembali ke tempat asalnya semula. Dari pemaparan di atas, sudah jelas bahwa industri pariwisata adalah keseluruhan rangkaian dari usaha menjual barang dan jasa yang diperlukan wisatawan, selama ia melakukan perjalanan wisata sampai kembali ke tempat asalnya. Jadi, adalah salah apabila industri pariwisata diibaratkan sebuah pabrik yang mengolah barang-barang mentah menjadi barang jadi, serta ada produknya. Industri pariwisata adalah keseluruhan usaha-usaha yang dapat dinikmati wisatawan semenjak ia melangkahkan kakinya ke luar rumah sampai ia pulang kembali ke rumahnya. 2. Definisi Industri Pariwisata Industri pariwisata merupakan rangkuman dari berbagai macam bidang usaha, yang secara bersama-sama menghasilkan produk-produk maupun jasa-jasa/layanan-layanan atau services, yang nantinya, baik secara langsung maupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh para wisatawan selama perlawatannya (R.S. Damardjati, 1992). 3. Perlengkapan Industri Pariwisata Perlengkapan industri pariwisata, apabila dikelompokkan dapat dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu: a. transportasi; b. akomodasi dan perusahaan pangan, dan c. perusahaan jasa. a. Transportasi (1) dengan kapal: danau, sungai, laut; (2) dengan kereta api (3) dengan mobil dan bus (4) pengangkutan dengan pesawat udara b. Akomodasi dan Perusahaan pangan (1) Jenis akomodasi: pension, herberg, inn, hospiz, kurt, hotel atau kurpension, schutzhutte, apartemen, sanatorium, bungalow, pondok atau cottage, mess, homestay, roykan, minshuku, motel, hostel atau asrama, perkemahan, pusat peristirahatan, dan sebagainya. (2) Jenis perusahaan pangan: restoran, rumah makan, café, warung, cafeteria, kantin, estaminet, bar, teahouse, cofferoom, beerhouse, buffet, pub, dan sebagainya. c. Perusahaan Jasa Perusahaan jasa: biro perjalanan, agen perjalanan,pelayanan wisata, pramuwisata, pelayanan angkutan barang atau porter, perusahaan hiburan, penukaran uang, dan asuransi wisata. B. Produk Industri Pariwisata 1. Definisi Produk Industri Pariwisata a. Drs. Mohamad Ngafenan dalam Kamus Pariwisata: “Produk wisata (tourist product), segala aspek wisata yang dialami oleh wisatawan selama mengadakan suatu perjalanan wisata, meliputi atraksi wisata, fasilitas wisata, dan kemudahan-kemudahan yang didapatkannya” (Mohammad Ngafenan, 1991). b. Burkart dan Medlik: “…The tourist product may be seen as a composite product, as an amalgam of attractions, transport, accommodation and of entertainment” (Oka A. Yoeti, 1985).

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 14

Dikatakan bahwa produk industri pariwisata merupakan suatu susunan produk yang terpadu, yang terdiri dari objek wisata, atraksi wisata, transportasi (angkutan), akomodasi dan hiburan, di mana tiap unsure dipersiapkan oleh setiap perusahaan dan ditawarkan secara terpisah. 2. Ciri-Ciri Produk Industri Pariwisata a. Hasil atau produk industri pariwisata itu tidak dapat dipindahkan. b. Peranan perantara (middlemen) tidak diperlukan, kecuali Travel Agent atau Tour Operator. c. Hasil atau produk industri pariwisata tidak dapat ditimbun. d. Permintaan (demand) terhadap hasil atau produk industri tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh factor-faktor non-ekonomis. e. Calon konsumen tidak dapat mencicipi produk yang akan dibeli. f. Hasil atau produk industri pariwisata banyak bergantung pada tenaga manusia. g. Hasil atau produk industri pariwisata tidak mempunyai standar atau ukuran yang objektif. h. Dari segi pemilikan usaha, penyediaan produk industri pariwisata memerlukan biaya besar, resiko tinggi, dan elastis permintaan sangat peka. C. Tujuan Wisata 1. Surjanto, dkk, dalam bukunya Kamus Istilah Pariwisata: “daerah tujuan wisata; daerah-daerah yang berdasarkan kesiapan prasarana dan sarana dinyatakan siap menerima kunjungan wisawatan di Indonesia. Saat ini terdapat 10 daerah tujuan wisata, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan” (Surjanto, dkk, 1985). 2. Menurut Drs. Mohamad Ngafenan, dalam Kamus Pariwisata: “tempat tujuan wisata, yakni tempat pemberhentian terakhir suatu perjalanan wisata dan harga paket wisata tersebut” (Mohamad Ngafenan, 1991).

D. Pemukiman Wisata (Tourist Resort) 1. Wilayah Wisata (Tourist Resort) Seperti tercantum dalam Istruksi Presiden RI No. 9 Tahun 1966 pasal 5 ayat 2, daerah pariwisata dapat digabungkan sesuai dengan jenis dan lokasi wisata, dari yang terkecil sampai yang paling luas cakupannya. Penggabungan itu adalah sebagai berikut: a. proyek wisata; b. unit wisata (gabungan dari beberapa proyek wisata); c. lingkungan wisata (gabungan dari beberapa unit wisata); d. daerah wisata (gabungan dari beberapa lingkungan wisata); e. wilayah wisata (gabungan dari beberapa daerah wisata). 2. Tourist Resort Suatu daerah, di mana para wisatawan mendapatkan akomodasi, dapat berekreasi dan fasilitas lain-lain yang dibutuhkan selama mengunjungi daerah itu. Pada umumnya terdiri dari saranasarana wisata, sarana-sarana pelengkap, ataupun sarana-sarana penunjang. E. Objek dan Atraksi Wisata 1. Objek Wisata a. Objek Wisata (Tourist Object).

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 15

Segala objek yang dapat menimbulkan daya tarik bagi para wisatawan untuk dapat mengunjunginya. Misalnya, keadaan alam, bangunan bersejarah, kebudayaan, dan pusat-pusat rekreasi modern. (M. Ngafenan, 1991). a. Kamus Istilah Pariwisata menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan objek wisata, antara lain sebagai berikut: (1) Objek Wisata Perwujudan ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, sejarah bangsa, keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. (2) Objek Wisata Alam Objek wisata yang daya tariknya bersumber pada keindahan dan kekayaan alam. (3) Objek Wisata Budaya Objek yang daya tariknya bersumber pada kebudayaan, seperti peninggalan sejarah, museum, atraksi kesenian, dan objek lain yang berkaitan dengan budaya. (4) Objek Wisata Tirta Kawasan perairan yang dapat digunakan, baik untuk rekreasi maupun untuk kegiatan olah raga air. Dilengkapi dengan fasilitas, antara lain untuk: a. menyelam/skin diving; b. berselancar/surfing; c. memancing; d. berenang; e. mendayung. 2. Atraksi Wisata a. Atraksi wisata seni, budaya, warisan sejarah, tradisi, kekayaan alam, hiburan, jasa, dan lainlain hal yang merupakan daya tarik wisata di daerah tujuan wisata. b. Atraksi wisata dapat berupa kejadian-kejadian tradisional, kejadian-kejadian yang tidak tetap, dan pembuatan keramik di Kasongan. Beberapa atraksi wisata di Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan, misalnya Perayaan Sekaten di Yogya dan Sala, Upacara Ngaben di Bali, gerhana matahari total, dan Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair). Berdasarkan pengertian objek wisata dan atraksi wisata tersebut, dapatlah dikemukakan perbedaan dan persamaan antara obyek wisata dan atraksi wisata. 3. Meningkatkan Daya Tarik Agar suatu daerah tujuan wisata mempunyai daya tarik, di samping harus ada objek dan atraksi wisata, suatu DTW harus mempunyai 3 syarat daya tarik, yaitu: a. ada sesuatu yang bisa dilihat (something to see); b. ada sesuatu yang dapat dikerjakan (something to do); c. ada sesuatu yang bisa dibeli (something to buy). Ketiga syarat tersebut merupakan unsure-unsur untuk mempublikasikan pariwisata. Seorang wisatawan yang dating ke suatu DTW dengan tujuan untuk memperoleh manfaat (benefit) dan kepuasan (satisfactions). Manfaat dan kepuasan tersebut dapat diperoleh apabila suatu DTW mempunyai daya tarik. Prof. Marrioti menyebut daya tarik suatu DTW dengan istilah attractive spontanee, yaitu segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau dating berkunjung ke tempat tersebut. Hal-hal yang dapat menarik orang untuk berkunjung ke suatu DTW antara lain dapat dirinci sebagai berikut. a. Benda-Benda yang Tersedia dan Terdapat di Alam Semesta (Natural Amenities)
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 16

1. Iklim: cuaca cerah (clean air), kering (dry), banyak cahaya matahari (sunny day), panas (hot), sejuk (mild), hujan (wet), dan sebagainya. 2. Bentuk tanah dan pemandangan (land configuration and landscape): tanah yang datar (plains), gunung berapi (volcanos), lembah pegunungan (scenic mountain), danau (lakes), pantai (beaches), sungai (river), air terjun (water-fall), pemandangan yang menarik (panoramic views). 3. Hutan belukar (the sylvan elements), misalnya hutan yang luas (large forest), banyak pepohonan (trees). 4. Fauna dan flora, seperti tanaman-tanaman yang aneh (uncommon vegetation), burungburung (birds), ikan (fish), binatang buas (wild life), cagar alam (national parks), daerah perburuan (hunting and photographic safari), dan sebagainya. 5. Pusat-pusat kesehatan (health center): sumber air mineral (natural spring of mineral water), mandi lumpur (mud-baths), dan sumber air panas (hot spring). b. Hasil Ciptaan Manusia (Man Made Supply) Benda-benda bersejarah, kebudayaan dan keagamaan (historical, cultural and religious): 1. monumen bersejarah dan sisa peradaban masa lalu; 2. museum, art gallery, perpustakaan kesenian rakyat, dan handicraft; 3. acara tradisional, pameran, festival, upacara naik haji, upacara perkawinan, dan khitanan; 4. rumah-rumah beribadah, seperti masjid, gereja, kuil, candi maupun pura. c. Tata Cara Hidup Masyarakat (The Way of Life) Kebiasaan hidup, adat istiadat dan tata cara masyarakat merupakan daya tarik bagi wisatawan. Sebagai contoh: 1. pembakaran mayat (ngaben) di Bali; 2. upacara pemakaman mayat di Tanah Toraja; 3. upacara Batagak Penghuku di Minangkabau; 4. upacara khitanan di daerah Parahiyangan; 5. tea ceremony di Jepang; 6. upacara Waisak di Candi Mendut dan Borobudur. (Oka A. Yoeti, 1985)

BAB VI REKREASI DAN WAKTU SENGGANG A. Pengertian Rekreasi 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan rekreasi sebagai berikut: Rekreasi adalah penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan, piknik: kita memerlukan rekreasi setelah lelah bekerja; berekreasi: mencari hiburan; bermain-main santai; bersenang-senang. 2. Dictionary of Sociology, memberikan rumusan rekreasi sebagai berikut: “…any activity pursued during leisure, either individual or collective, that is free and pleasureful, having its own immediate necessity. Recreation includes play, games, sports, athletics, relaxation, pastime, certain, art forms, hobbies, and avocations. A recreational activity may be engaged in during any age period of the individual, the particular action being deter mined by the time elements, the condition and attidu of the person, and the environmental situation”.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 17

3. George D. Butler dalam bukunya Introduction to Community Recretion memberikan definisi sebagai berikut: “Expressed in terms of activities, recreation may be considered as any activity which is consciously performed for the sake of any reward beyond itself, which is usually engaged in during leisure, which offers man an outlet for his physical, mental or creative powers, and in which he engaged because of inner desire not because of other compulsion. The activity becomes recreation for the individual because it elicits from him a pleasurable and satisfying response. In short, recreation is any form of of experience or activity which an individual engages from choice of the personal enjoyment and satisfaction which it brings directly to him. This concept emphasizes the personal nature of recreation activities are as diversified as the interests on man”. Berdasarkan rumusan definisi tentang rekreasi tersebut dapat didefinisikan cirri-ciri dari rekreasi, antara lain sebagai berikut: 1. Rekreasi adalah suatu aktivitas, kegiatan tersebut bersifat fisik, mental, maupun emosional. Rekreasi menghendaki aktivitas dan tidak selalu bersifat non-aktif. 2. Aktivitas rekreasi tidak mempunyai bentuk dan macam tertentu, semua kegiatan yang dapat dilakukan oleh manusia dapat dijadikan aktivitas rekreasi asalkan saja dilakukan dalam waktu senggang dan memenuhi tujuan dan maksud-maksud positif dari rekreasi. 3. Rekreasi dilakukan karena terdorong oleh keinginan atau mempunyai motif. Motif tersebut sekaligus memilih gerakan atau bentuk dan macam aktivitas yang hendak dilakukan. 4. Rekreasi hanya dilakukan pada waktu senggang (leisure time), ini berarti semua kegiatan yang tidak dilakukan dalam waktu senggang tersebut tidak dapat digolongkan sebagai kegiatan rekreasi. 5. Rekreasi dilakukan secara bebas dari segala bentuk dan macam pelaksanaan. Hal ini penting bagi sifat kegiatan rekreasi sebagai outlet for the creative powers (Butler) dan sebagai sarana untuk dapat memilih salah satu kegiatan rekreasi, ia juga secara bebas dapat melakukan aktivitas tersebut, dan secara bebas pula ia dapat memilih temannya untuk bersama-sama berekreasi. Rekreasi dilakukan dalam suasana kebebasan dan secara sukarela. 6. Rekreasi bersifat universal; rekreasi hingga batas-batas tertentu telah merupakan bagian dari kehidupan manusia, dari semua bangsa, dan tidak terbatas oleh umur, jenis kelamin, pangkat, dan kedudukan sosial. Rekreasi telah dilakukan oleh manusia-manusia zaman purba sekarang dan pada masa mendatang. Meskipun demikian, sebagian besar dari umat manusia belum mendapat kesempatan untuk berekreasi karena belum mempunyai cukup uang. Keinginan akan berekreasi mereka masih dalam keadaan laten. 7. Rekreasi dilakukan selalu secara sungguh-sungguh dan mempunyai maksud-maksud tertentu. Banyak orang menganggap rekreasi tidak bersifat sungguh-sungguh karena justru ingin mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Anggapan tersebut kurang tepat dan merupakan salah pengertian (misconception). Justru karena ingin mendapatkan kesenangan dan kepuasan rekreasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, atau dengan kata lain kesungguhan merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan. 8. Rekreasi adalah fleksibel. Artinya rekreasi tidak dibatasi oleh tempat (indoor recreation dan outdoor recreation), di mana saja, sesuai dengan bentuk dan macam kegiatan rekreasi. Selanjutnya, rekreasi dapat juga dilakukan oleh perorangan maupun oleh sekelompok kawan. Rekreasi tidak dibatasi oleh kemampuan seseorang. Miskin maupun kaya dapat menikmatinya. Rekreasi tidak dibatasi oleh fasilitas atau alat-alat tertentu. Rekreasi dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana maupun dengan alat-alat tertentu. Rekreasi dapat dilakukan dengan alatalat sederhana maupun dengan alat-alat baru mekanisme termodern (Wing Haryono, 1978).

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 18

B. Kegunaan Rekreasi Wing Haryono dalam bukunya Pariwisata Rekreasi dan Entertainment mengatakan kegunaan rekreasi adalah: (1) untuk kesehatan, (2) untuk kesehatan mental, (3) membentuk character building, (4)pencegahan kriminalitas, (5) untuk pendidikan moral, dan (6) untuk tujuan ekonomi. 1. Rekreasi dan Kesehatan Rekreasi dapat menambah dan memelihara kesegaran dan kesehatan jasmani masing-masing individu. Aktivitas yang mempergunakan otot besar merangsang pertumbuhan dan merupakan esensi bagi perkembangan organ vital, memperlancar peredaran darah, memperlancar pengeluaran zat-zat yang tak berguna, menambah kegiatan pernapasan, dan meningkatkan pencernaan. 2. Rekreasi dan Kesehatan Mental Rekreasi dapat membina sikap hidup yang sehat dan membahagiakan. Kehiatan ini memungkinkan seseorang untuk menyalurkan tenaga fisik dan daya pikiran yang kurang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, rekreasi, khususnya music, kesenian, dan pekerjaan tangan adalah tepat sekali untuk memperbaiki atau merehabilitir rasa harga diri. 3. Rekreasi dan Character Building Rekreasi dapat mengembangkan sifat-sifat manusia, dan sangat mempengaruhi perkembangan kehidupan sosial. Membina kerjasama dan menghargai hak-hak orang lain. 4. Rekreasi dan Pencegahan Kriminalitas Rekreasi dapat digunakan sebagai terapi untuk mencegah terjadinya kenalakan remaja. Rekreasi bukan untuk menghilangkan kenakalan remaja, tetapi berguna untuk media penyaluran ambisi dan emosi aktivitas remaja kearah kegiatan yang lebuh bermanfaat.

5. Rekreasi dan Moral Rekreasi dengan aktivitas-aktivitas yang tepat dapat menimbulkan semangat hidup dan berjuang kembali. Menghilangkan tekanan hidup serta rasa kurang percaya diri. Di samping itu, dengan rekreasi akan dapat menumbuhkan inspirasi. 6. Rekreasi dan Ekonomi Kegiatan rekreasi merupakan investasi jangka panjang untuk kesejahteraan dan perkembangan individu. Rekreasi merupakan salah satu alat yang bersifat preventif untuk menghindarkan seseorang dari tindak kejahatan dan sakit jiwa. Oleh karena itu, secara ekonomis menguntungkan, dibanding apabila sudah terkena salah satu penyakit, yang tentunya akan membutuhkan perawatan dan biaya yang cukup besar. C. Mengapa Rekreasi? 1. Rekreasi merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan pada waktu senggang. 2. Rekreasi yang identik dengan bermain, dapat membantu seseorang untuk selingan setelah lelah bekerja atau belajar. Baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Ny. Singgih Gunarsa dalam bahasanya tentang bermain bagi anak memberikan pendapatnya sebagai berikut. a. Bagi anak bermain sering mempunyai arti dalam membantu perkembangan anak. b. Dengan bermain anak melakukan kegiatan-kegiatan dengan senang hati. Bahkan orang dewasa pun memperoleh kesenangan dalam bermain.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 19

3. 4.

5.

D. 1.

c. Di samping penyaluran energy yang berlebihan dalam permainan, mereka dapat menyalurkan perasaan-perasaan terpendam. Perasaan terpendam dan merupakan perasaan yang memang sulit disalurkan karena tidak ada objeknya. Rekreasi merupakan salah satu kebutuhan dasar aktivitas kehidupan manusia, seperti yang disampaikan oleh Michael the five basic roles, salah satunya adalah recreation role. Pada abad ini, kehidupan manusia semakin kompleks, terutama masyarakat di kota industry dan kaum urban. Menimbulkan ada semacam kecenderungan untuk melakukan “pengasingan diri” dari rutinitas kehidupan. Di samping untuk berlibur, mencari ketenangan dan udara segar, juga untuk menghindari stress. Sejak zaman purba sampai abad 20 inim rekreasi merupakan salah satu kebutuhan yang tidak bisa tidak, harus dilakukan dengan bentuk sesuai dengan kondisi sosial-economi masing-masing keluarga atau individu. Waktu Senggang (Leisure Time) Pengertian Waktu Senggang Untuk menghayati lebuh detail mengenai pengertian leisure time, maka berukut ini dikemukakan rumusan tentang leisure time. “Leisure time is time beyond that which is required for existence, the things which we must do, biologically, to stay alive (e.g. eat, sleep, eliminate, etc.), and subsistence, the things we must do to make a living, as in work, or prepare to make living, as in school. Leisure is time which our feelings of compulsion should be minimal. It is discretionary time, time to used according to our own judgement or choice.” If time were to be divided into the major uses of it, it might appear as follow: TIME Type of time I. Existence II. Subsistence III. Leisure (Harold D. Meyer and Brightbill, Charles K, 1964). Selanjutnya, Charles dan Broghtbill menambahkan: “Just there are different kind of time, there are two types of leisure – true leisure and enforced leisure. True leisure is the kind of leisure which is not imposed upon the individual. Enforced leisure, however, is not the leisure which people seek or want. It is the time one has on his hands when he is unemployed, ill, or make to retire from his work when he wants to continue.” Selanjutnya, dalam Dictionary of Sociology tentang leisure time dijelaskan sebagai berikut: “Leisure is the free time after the practical necessities of live have been attended to. The adhective means being unoccupied by the practical necessities, as, leisure hours; the adverb leisurely applies to slowm deliberate, unhurried undertakings. Conceptions of leisure vary from the arithmetical one of time devoted to workm sleepm and other necessitiesm substracted from 24 hours – which gives the surplus time – to the general nation of leisure as the time which one uses as he pleases.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan yang dimaksud dengan „senggang‟ adalah terluang atau lapang (tentang waktu); tidak sibuk. Dengan demikian, waktu senggang adalah waktu yang luang atau waktu yang tidak disibukkan oleh pekerjaan atau tugas. Sedangkan Salah How used eat, sleep, bodily care work, study, social Play-reaction, rest

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 20

Wahab mengartikan waktu luang adalah waktu seseorang dalam keadaan bebas dari segala hambatan dan yang dapat dimanfaatkan atau dihabiskan sesuka hati seseorang. 2. Pariwisata dan Waktu Senggang Diperkirakan oleh pakar pariwisata, kemudian hari peradaban masyarakat digambarkan menjadi suatu “masyarakat santai.” Mengapa demikian? Karena jam kerja di Negara-negara industry telah dibatasi hanya 40 jam per minggu. Semula jumlah jam kerjanya lebih dari 40 jam, karena dampak dari efisiensi dan efektifitas, serta perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga ditemukan suatu sistim kerja yang praktis dan efisien. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Jean Faurastie yang optimis pada tahun 1995, diprakirakan jumlah jam kerja per minggunya hanya 30 jam saja. Dengan banyaknya waktu senggang bagaimanakah cara pemanfaatan waktu tersebut? Pemanfaatan waktu senggang bergantung pada tingkat social ekonomi mereka, yang berpenghasilan sedang cukup hanya rekreasi di negaranya sendiri. Sedangkan yang mempunyai penghasilan yang cukup tinggi pergi ke mancanegara. Dengan demikian, dapatlah dikemukakan kegiatan pariwisata kegiatan pariwisata merupakan salah satu alternative untuk mengisi waktu senggang. Walaupun demikan kegiatan pariwisata tidak dapat dilakukan sembarang waktu, misalnya akhir pecan yang hanya paling banyak 2 hari. Apalagi diperpanjang waktu liburnya atau libur akhir tahun (cuti). Secara urutan efisiensi matematis, jumlah jam kerja per minggu adalah 48, 40, 35 dan 30 jam kerja. Dengan penyusutan jam kerja tersebut, apabila jumlah waktu senggangnya dijadikan satu dalam satu tahun, maka akan diperoleh angka-angka sebagai berikut: a. Dengan 35 jam kerja per minggu, berarti akan tersedia lebih dari 1 bulan hari libur per tahunnya. b. Dengan 30 jam kerja per minggu, berarti akan tersedia 3 bulan hari libur per tahunnya. 3. Kegiatan Manusia dan Hubungannya dengan Waktu Senggang Kehidupan manusia secara global terbagi atas 4 kelompok kegiatan utama, yaitu: kegiatan untuk mencari nafkah, kegiatan untuk memenuhi kebutuhan biologis, kegiatan untuk menunaikan tugas rumah tangga dan kegiatan social, dan kegiatan waktu senggang. Keempat kegiatan ini tidak dapat terpisah antara satu dengan yang lain, namun bersambung bersama-sama dengan proses waktu. Adapun uraian secara singkat makna dari keempat kegiatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: a. Kegiatan mencari nafkah Yang dimaksud dengan kegiatan ini adalah guna mendapatkan gaji/uang yang diperlukan setiap orang untuk menghidupi dirinya. Biasanya waktu seseorang banyak tersita oleh kegiatan yang sehubungan dengan pekerjaannya, sehingga waktu untuk rileks serta waktu luang sangat sempit. b. Kegiatan Pemenuhan Kebutuhan-Kebutuhan Biologis Setiap orang harus memuaskan kebutuhan jasmaninya, misalnya makan dan tidur. Kegiatan ini menghabiskan sebagian waktu seseorang dan umumnya tercakup dalam waktu kerjam karena kegiatan ini membuktikan kelanjutan kehidupan jasmani. c. Kegiatan Penunaian Tugas Rumah Tangga dan Kegiatan Sosial Kegiatan ini mencakup antara lain sebagai berikut: (1) Tugas-tugas sehubungan dengan anggota keluarga di rumah. (2) Tugas-tugas yangberkaitan dengan kelompok masyarakat. (3) Tugas-tugas belanja harian.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 21

d. Waktu Senggang Waktu senggang adalah waktu seseorang dalam keadaan bebas dari segala hambatan dan yang dapat dimanfaatkan atau dihabiskan sesuka hatinya. 4. Pembagian Waktu Senggang Waktu senggang dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni: a. Waktu Senggang Sesudah Jam Kerja (After Work Leisure Time) Waktu senggang setelah pulang kantor/bekerja ini biasanya dapat dilakukan untuk kegiatankegiatan yang bersifat rekreatif walaupun hanya selingan pengisi waktu. Misalnya: nonton TV, nonton bioskop, kegiatan seni tari, memancing, sport, main kartu, membaca bukum dll. Ini merupakan kegiatan untuk menghilangkan kejenuhan seusai kerja rutin, walaupun waktunya jelas sangat terbatas. b. Waktu Senggang Akhir Pekan (Week End Leisure Time) Kesempatan hari libur akhir pecan ini dapat digunakan untuk bepergian wisata jarak pendek, misalnya: (1) ke villa di pegunungan atau di tepi pantai atau menginap di hotel di luar kota di daerah pedalaman; (2) ke tempat perkemahan, tempat caravan dan sejenisnya; (3) ke pusat-pusat rekreasi perawatan kesehatan; (4) ke kawasan sport dan klub-klub. c. Waktu Senggang Selama Cuti (Holiday Leisure Time) Masa cuti akhir tahun, biasanya berkisar antara 2 minggu sampai 4 minggu atau lebih. Waktu inilah yang nampaknya tepat untuk melakukan wisata guna refreshing. Waktunya cukup lama, sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan wisata ke daerah-daerah yang jaraknya agak jauhm seperti Bali dan Danau Toba.

BAB VII ENTERTAINMENT DAN AMUSEMENT A. Beberapa Pengertian 1. Dalam Kamus Inggris-Belanda, entertainment berarti onthaal dan vermakelijkheid. Sedangkan dalam Kamus Belanda, onthaal artinya perjamuan makan atau disambut dengan baik (M.A. Tair dan MR. H. Van Der Tas, 1972). Jadi, entertainment diartikan menerima atau menjamu tamutamu atau kawan-kawan dengan meriah, merupakan suatu pesta di mana tamu atau kawan-kawan juga disuguhi hiburan-hiburan (Wing Haryono, 1978). 2. Peter Salim dalam The Contemporary English-Indonesian Dictionary mengartikan kedua istilah sebagai berikut. Amusement : hiburan, kesenangan. He sings for amusement (Ia bernyanyi sebagai hiburan). Amusement Park : taman hiburan Amusement Center : tempat hiburan. He always comes to the amusement center (Ia selalu datang ke tempat hiburan). Entertainment : 1. hiburan. He gives numerous entertainments to his friends (Ia memberikan banyak hiburan kepada teman-temannya).
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 22

The entertainments at the new theater changes nightly (pertunjukan di teater baru itu berganti setiap malam). 3. John M. Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris-Indonesia: Amusement : 1. hiburan. I went there only for amusement. (Saya ke sana hanya untuk hiburan saja). 2. Kegirangan, kesenangan The clown’s antics caused a great deal of amusement. (Kejenakaan pelawak itu mendatangkan banyak kegirangan). Entertainment : 1. hiburan 2. pertunjukan Entertainment tax = pajak pertunjukan. Entertainment allowance = uang untuk hiburan, dana untuk menghibur nasabah. Dari beberapa pengertian kedua istilah asing tersebut, keduanya berbeda dalam arti maksud, tujuan, dan waktu penyelenggaraan. Namun demikian, dalam pengertian arti kedua istilah itu tidak jauh berbeda, keduanya adalah pertunjukan dan hiburan. Bisa juga diartikan keduanya adalah tontonan dan hiburan. Entertainment dan amusement ini sekarang banyak terdapat di kota-kota besar. Ada yang sifatnya menetap, permanen seperti gedung bioskop, dan sebagainya. Ada pula yang sifatnya berpindahpindah sepert sirkus, sulap, sepakbola, dan sebagainya. Ada pula yang mengartikan bahwa amusement itu termasuk hiburan yang penontonnya pasif, hanya menikmati, menyaksikan saja (Surjanto, cs, 1985). Dan mengartikan entertainment sebagai hiburan yang melibatkan penontonnya, yaitu seperti room or hall containing pintables, gambling machines, etc. (A.S. Hornby, dll.). Tetapi pada hakikatnya kedfua istilah tersebut, amusement dan entertainment adalah untuk hiburan bagi yang menyaksikan, apakah penonton pasif maupun aktif dan ikut terlibat karena hiburannya berbentuk semacam permainan (game). B. Entertainment dan Amusement dalam Masyarakat Modern Dewasa ini perkembangan hiburan atau tontonan sudah maju pesat seiring dengan perkembangan zaman. Wing Haryono (1978) mengatakan bahwa “salah satu cirri dari perkembangan masyarakat modern adalah perkembangan pesat dari hiburan massa dan rekreasi yang dikomersilkan”. Contoh-contoh dari hiburan ini, antara lain: televisi, radio, harian-harian, majalah-majalah, bukubuku komik, bioskop, dan tempat-tempat hiburan massa. Sport events nasional maupun internasional merupakan bentuk-bentuk hiburan massa yang menarik banyak penonton. Dewasa ini, Entertainment dan amusement di hotel-hotel, antara lain berupa: (1) karaoke; (2) band; (3) video; (4) televisi dengan fasilitas parabola, sehingga dapat memancarkan program-program selain TVRI, seperti TV3, RCTI, SCTV, dan program-program TV dari luar negeri; (5) bilyard; (6) pub; (7) pameran-pameran; (8) festival; (9) mode show; (10) atraksi kesenian tradisional; (11) hiburan lain yang sifatnya permanen maupun insidental.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 23

Jenis hiburan di masyarakat perkotaan, banyak pula ragamnya. Mulai dari olahraga, yaitu bola sodok (bilyard), tenis, bowling, golf, renang, dan pacuan kuda. Bioskop yang dikemas secara modern dengan Cineplex, serta peralatan canggih, dan fasilitas lainnya, semakin membuat daya tarik tersendiri. Pub, bar, diskotik dan sejenisnya. Tontonan yang sifatnya insidental dan mengundang massa seperti sirkus, festival musik rock, konser, dan sebagainya. Hiburan kompetisi sepak bola pun sekarang dapat memberikan jaminan suatu tontonan yang banyak menarik peminat, sehingga banyak kompetisi yang meraih keuntungan besar. Tempat-tempat rekreasi yang terdapat pemandangan dan keindahan alam, selalu ramai di hari-hari libur, seperti pantai, daerah pegunungan, peristirahatan, dan sebagainya. Tentu saja tontonan atau hiburan yang dapat menarik massa tersebut digelar, untuk menghibur masyarakat dan meraih keuntungan. Oleh karena itu, tontonan dan hiburan tersebut dapat dikatakan sifatnya komersial. C. Segi Positif dan Negatif 1. Segi-segi Positif a. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan. b. Memberi keuntungan kepada kas pemerintah setempat dan kepada pengusaha swasta. Pemerintah setempat umumnya tidak mempunyai modal dan petugas untuk menyediakan dan menyelenggarakan hiburan-hiburan masyarakat. Pengusaha swasta dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pemerintah setempat mendapatkan hasil dari pajak yang dapat dipungut dari tempat hiburan massa, sedangkan pengusaha mendapatkan keuntungan yang agak lumayan. c. Hiburan-hiburan massa relatif tidak mahal sehingga sebagian besar masyarakat kota dapat melihatnya. Hiburan-hiburan massa umumnya dapat diselenggarakan setiap hari sehingga hasil dari penerimaan terus menerus dapat masuk. d. Pemusatan tempat-tempat hiburan massa menimbulkan usaha perdagangan pelengkap yang tentunya dapat menambah hasil dari pajak pemerintah. e. Hiburan-hiburan massa menyajikan lapangan kerja baru bagi sejumlah penganggur. 2. Segi-Segi Negatif a. Hiburan-hiburan massa lebih banyak bersifat pasif, orang-orang yang membeli hiburan duduk saja sambil menonton pertunjukkan-pertunjukkan yang disajikan; secara emosional memang para penonton juga aktif. b. Dari segi komersial, penonton membeli hiburan yang sifatnya “murah” dipandang dari segi mutu atau nilai hiburan-hiburan tersebut. Hal itu disebabkan para pengusaha menyediakan hiburan-hiburan kepada masyarakat ramai yang tingkat apresiasinya belum demikian tinggi untuk menghargai dan dapat menilai pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih tinggi nilainya. c. Hiburan-hiburan massa yang kurang tinggi mutunya dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh demoralisasi. Misalnya, orang yang berjudi menjadi kurang jujur dan tidak dapatdipercaya. Jumlah kejahatan bertambah karena pengaruh hiburan yang kurang tinggi mutunya demikian pula kemiskinan dan kenakalan remaja. d. Di dalam industry hiburan massa, umumnya orang-orang yang melayani para penonton dan yang mempertunjukkan sesuatu diexploitir oleh pengusaha-pengusaha yang berusaha mendapatkan keuntungan sebesar mungkin.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 24

BAB VIII MOTIVASI PERJALANAN WISATA A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Berwisata Sebelum membahas motivasi secara khusus, terlebih dulu perlu diketahui faktor-faktor yang mendorong seseorang sehingga tertarik untuk melakukan perjalanan wisata. Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yakni faktor-faktor irasional (dorongan bawah sadar) dan faktor-faktor rasional (dorongan yang disadari). 1. Faktor-Faktor Irasional (Dorongan Bawah Sadar) Yang dimaksud faktor-faktor rasional adalah sebagai berikut: a. lingkup pergaulan dan ikatan-ikatan keluarga; b. tingkah laku prestise; c. tiruan dan mode; d. pengalaman pribadi (dalam pola tingkah laku); e. perasaan-perasaan keagamaan; f. hubungan masyarakat dan promosi pariwisata; g. iklan dan penyebaran informasi pariwisata; h. kondisi ekonomi (faktor pendapatan dan biaya). 2. Faktor-Faktor Rasional (Dorongan yang Disadari) Yang dimaksud faktor-faktor rasional adalah sebagai berikut: a. sumber-sumber wisata alam (asset wisata): alam, panorama, warisan budaya, perayaan-perayaan sosial; b. fasilitas wisata (pengorganisasian industri pariwisata di dalam negara tersebut, transportasi); c. fasilitas wisata (prosedur kunjungan, bea cukai, dan lain-lain); d. kondisi lingkungan (sikap masyarakat setempat terhadap orang asing, keramahtamahan, dan sikap mudah bergaul); e. susunan kependudukan (umur, jenis kelamin dan urbanisasi); f. situasi polotik (kestabilannya, tingkat kebebasan warganya); g. keadaan geografis (jarak dari Negara pasaran sumber wisatawan, keindahan panorama, dan lainlain). B. Jenis Motivasi Perjalanan Wisata Ada berbagai macam versi motivasi perjalanan wisata, berikut ini akan dikemukakan tiga versi motivasi perjalanan wisata antara lain versi Drs. Oka A. Yoeti, versi MacIntosh, dan versi Deparpostel. 1. Jenis Motivasi Perjalanan Wisata a. Alasan Pendidikan dan Kebudayaan (1) Ingin melihat bagaimana rakyat negara lain bekerja dan bagaimana cara hidupnya (the way of life). (2) Ingin melihat kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh negara lain. (3) Ingin menyaksikan tempat-tampat bersejarah, peninggalan-peninggalan kuno, monumentmonumen, kesenian rakyat, industri kerajinan, festival, events, keindahan alam dan lain-lain. (4) Untuk mendapatkan saling pengertian dan ide-ide baru ataupun penemuan-penemuan baru. (5) Untuk berpartisipasi dalam suatu festival kebudayaan, kesenian, dan lain-lain. b. Alasan Santai, Kesenangan, dan Petualangan
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 25

c.

d.

e.

f.

(1) Menghindarkan diri dari kesibukan sehari-hari dan kewajiban rutin. (2) Untuk melihat daerah-daerah baru, masyarakat asing untuk mendapatkan pengalaman. (3) Untuk mendapatkan atau menggunakan kesempatan yang ada atau untuk memperolah kegembiraan. (4) Untuk mendapatkan suasana romantic yang berkesan, terutama bagi pasangan-pasangan yang sedang melakukan bulan madu. Alasan Kesehatan, Olahraga, dan Rekreasi (1) Untuk beristirahat dan mengembalikan kekuatan setelah bekerja keras dan menghilangkan ketegangan pikiran. (2) Untuk melatih diri dan ikut dalam pertandingan olah raga tertentu, seperti Olimpiade, Asean Games, dan sebagainya. (3) Untuk menyembuhkan diri dari suatu penyakit tertentu. (4) Melakukan rekreasi dalam menghabiskan masa libur. Alasan Keluarga, Negeri Asal, dan Tempat Bermukim (1) Untuk mengunjungi tempat di mana kita berasal atau dilahirkan. (2) Untuk mengunjungi suatu tempat di mana kita pernah tinggal atau berdiam pada masa lalu. (3) Untuk mengunjungi family dan kawan-kawan. (4) Untuk pertemuan dengan keluarga atau kawan-kawan dalam rangka suatu reuni. Alasan Bisnis, Sosial, Politik, dan Konferensi (1) Untuk menyaksikan suatu pameran, kamar dagang, karya wisata atau meninjau suatu proyek, dan lain-lain. (2) Menghadiri konferensi, seminar, symposium dan pertemuan ilmiah lainnya. (3) Mengikuti perjanjian kerjasama, pertemuan politik, dan undangan negara lain yang berhubungan dengan kenegaraan. (4) Untuk ikut dalam suatu kegiatan sosial. Alasan Persaingan dan Hadiah (1) Untuk memperlihatkan kepada orang lain, bahwa yang bersangkutan juga mampu melakukan perjalanan jauh. (2) Untuk memenuhi keinginan agar dapat bercerita tentang negeri lain pada kesempatankesempatan tertentu. (3) Agar tidak dikatakan orang ketinggalan zaman. (4) Merealisasikan hadiah yang diberikan oleh seseorang.

2. Jenis Motivasi Menurut MacIntosh MacIntosh membagi jenis motivasi perjalanan menjadi 4 kelompok sebagai berikut: a. Physical Motivations Motivasi yang erat kaitannya dengan pengembalian kondisi fisik seseorang. Untuk beristirahat atau sekedar bersantai, olah raga maupun untuk pemeliharaan kesehatan, pemulihan kesehatan jasmani agar dapat menumbuhkan kembali kegairahan bekerja.

b. Cultural Motivation Motivasi yang berhubungan dengan keinginan untuk melihat tata cara masyarakat hidup di Negara lain, khususnya yang berkaitan dengan adat-istiadat, kebiasaan, dan budaya Negara tersebut. c. Interpersonal Motivations

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 26

Motivasi seseorang untuk melakukan perjalanan karena ingin mengadakan hubungan dengan keluarga, teman, atau sekadar untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang bersifat rutin seharihari. d. Status and Prestige Motivation Seseorang yang melakukan perjalanan dengan maksud untuk memperlihatkan siapa dirinya, kedudukannya, ststusnya dalam masyarakat untuk prestige pribadinya. Jadi, sifatnya hanya emosional serta ada kaitannya dengan bisnis, dinas, pendidikan, maupun hobi. 3. Jenis Motivasi Menurut Deparpostel Menurut versi Deparpostel berdasarkan motif-motif tertentu berbagai macam atau jenis pariwisata dapat dibedakan dalam beberapa jenis, antara lain sebagai berikut: a. Pariwisata untuk Menikmati Perjalanan (Pleasure Tourism) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dengan tujuan untuk: (1) berlibur; (2) mencari udara segar yang baru; (3) memenuhi keingintahuannya; (4) mengendorkan ketegangan syaraf-syarafnya; (5) melihat sesuatu yang baru; (6) menikmati keindahan alam; (7) mengetahui cerita rakyat setempat; (8) mendapatkan ketenangan dan kedamaian di daerah luar kote atau sebaliknya: (a) menikmati hiburan di kota-kota besar (b) ikut serta dalam keramaian di pusat-pusat wisatawan b. Pariwisata untuk Rekreasi (Recreation Tourism) Jenis periwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang memanfaatkan hari-hari libur untuk: (1) beristirahat; (2) memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohaninya; (3) menyegarkan keletihan dan kelelahan. Karena tujuannya untuk kesegaran jasmani atau kesehatan maka biasanya orang-orang tersebut memerlukan waktu yang lama di tempat rekreasi tersebut. Tempat tujuan wisata yang menjamin agar orang-orang tersebut dapat memulihkan kesegaran dan rohaninya antara lain adalah tepi pantai, pegunungan, di pusat-pusat peristirahatan atau pusat-pusat kesehatan. Karena tempatnya yang khusus ini maka tempat ini dikenal sengan sebutan health resort. c. Pariwisata Kebudayaan (Cultural Tourism) Pariwisata jenis ini ditandai dengan adanya rangkaian keinginan untuk: (1) belajar dan studi di pusat-pusat pengajaran dan penelitian; (2) mempelajari adat istiadat, kelembagaan, dan cara hidup rakyat Negara lain; (3) mengunjungi pusat-pusat kesenian, pusat-pusat keagamaan, ikut serta dalam festival-festival keagamaan, ikut serta dalam festival-festival seni music, teater, tarian rakyat, dan sebagainya. d. Pariwisata Olahraga (Sport Tourism) Jenis pariwisata ini dapat dibagi menjadi dua jenis sebagai berikut: (1) Big Sport Events, yaitu peristiwa-peristiwa olah raga besar seperti Olympic Games, kejuaraan Ski Dunia, Kejuaraan Tinju Dunia. Yang menarik perhatian bagi olahragawan juga penonton atau penggemar. (2) Sport Tourism of the Practitioners, yaitu pariwisata olahraga bagi mereka yang ingin berlatih dan mempraktekkannya sendiri. Seperti, pendakian gunung, olah raga naik kuda, berburu, memancing, dan lain-lain.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 27

e. Pariwisata untuk Urusan Usaha (Business Tourism) Istilah business tourism tidak hanya berlaku untuk Professional Trips yang dilakukan oleh para pengusaha dan industrialis, tetapi juga yang dilakukan oleh para traveler yang berkunjung untuk tujuan pameran. Kaum pengusaha tidak hanya bersikap dan berbuat sebagai wisatawan biasa. Dalam pengertian sosiologis, mengambil dan memanfaatkan keuntungan dari atraksi yang terdapat di negara tersebut. Berdasarkan kenyataan ini, pemerintah Indonesia melalui Departemen Kehakiman mengeluarkan SK Menteri Kehakiman Nomor M..02-IZ.01.02 tahun 1986. Memberikan kebebasan dari keharusan memiliki visa bagi wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

f. Pariwisata untuk Tujuan Konferensi (Convention Tourism) Pariwisata bentuk ini makin berkembang dan makin penting dilihat dari sudut penerimaan devisa. Jumlah wisata konvensi internasional berkembang pesat. Jika pada tahun 1968 terdapat 4.000 konvensi, dengan peserta 2.000.000, maka pada tahun 1985 terdapat 98.000 konvensi dengan peserta sebanyak 49.000.000 (atau 15% dari jumlah wisata internasional sejumlah 325.000.000). Di Indonesia, pada tahun 1981 terdapat 165 konvensi dengan peserta sebanyak 18.141. Pada tahun 1986 telah diselenggarakan 273 konvensi dengan peserta sebanyak 57.170 peserta, atau kenaikan rata-rata 26% per tahun. Dari data-data Direktorat Bina Hubungan Lembaga Wisata Internasional, Dirjen Pariwisata, Deparpostel tentang “Wisata Konvensi” (Deparpostel, 1991-1992) menunjukkan perkembangan wisata konvensi di Indonesia sangat pesat. Hal ini dapat dilihat pada table berikut ini: TABEL 2
Market Segment International Congresses Assosiation Convention Company / Corporate-Events Programmes Trade Fairs / Exhibitions Sport Events Jumlah 48 273 29.595 56.900 59 341 21.350 60.227 55 219 40.425 69.155 65 270 45.500 73.939 62 558 31.002 101.651 1986 events peserta 86 8.046 1987 events peserta 72 9.341 1988 events peserta 31 6.100 1989 events peserta 30 3.579 1990 events peserta 13 2.964

41

1.607

26

11.125

36

14.190

58

10.350

57

13.052

8

6.581

106

10.850

82

6.540

73

9.361

353

44.339

35

2.071

78

7.561

15

1.900

44

5.159

73

1.027

Sumber: Deparpostel, WISATA KONVENSI, 1991-1992.

Tabel di atas, menunjukkan pertumbuhan Wisata Konvensi Indonesia dari tahun ke tahun sangat pesat. Dari 60.227 peserta dalam tahun 1987, meningkat 69.115 dalam tahun 1988, meningkat lagi menjadi 73.939 peserta dalam tahun 1989. Perkiraan dalam tahun 1990 adalah 101.651 peserta, bila dihitung kenaikannya dalam presentase adalah sebagi berikut:
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 28

(1) 5,8 persen dalam tahun 1987. (2) 14,8 persen dalam tahun 1988. Dari bagian penutup Wisata Konvensi (Deparpostel, 1991-1992) disimpulkan bahwa wisata konvensi sangat potensial, karena wisata konvensi: (1) dapat dipakai sebagai dinamisator promosi biasa; (2) dari segi penerimaan devisa, merupakan pendapatan yang tinggi disbanding dengan wisata biasa; (3) dari segi pasaran, stabil dan tidak goyah oleh naik turunnya keadaan ekonomi dunia; (4) dapat menstimulir lapangan kerja baru dan membuka kesempatan berusaha, karena persyaratan mengharuskan untuk ditangani secara professional. C. Kesimpulan Dari pembahasan berbagai macam motivasi perjalanan wisata yang dikemukakan oleh pakar pariwisata di atas, maka dapat diidentifikasikan motif-motif yang mendorong seseorang melakukan wisata, antara lain: (a) bisnis (k) sosial (b) pendidikan (l) politik (c) kebudayaan (m) persaingan (d) santai (n) hadiah (e) kesenangan (o) konvensi (f) petualangan (p) prestise (g) kesehatan (q) berlibur (h) olah raga (r) istirahat (i) rekreasi (s) status (j) negeri asal Apabila kita ingin mendapatkan informasi secara langsung dari wisatawan mancanegara tentang motivasi yang mendorong mereka melakukan perjalanan wisata, kita bisa melakukan dengan mengajak mereka berdialog. Dari jawaban-jawaban mereka dapat ditemukan motivasi yang bervariasi, sesuai dengan motivasi wisatawan.

BAB IX FAKTOR-FAKTOR PENDORONG BERKEMBANGNYA PARIWISATA MODERN A. Faktor-Faktor Sosial dan Ekonomi Pesatnya perkembangan kepariwisataan pada dasa warsa terakhir ini, menunjukkan perjalanan wisata bukan hanya milik segolongan orang saja. Sebagian besar masyarakat pada saat ini sudah mampu untuk melakukan perjalanan wisata. Hal ini karena adanya berbagai factor antara lain sebagai berikut. 1. Undang-Undang Sosial Seusai Perang Dunia I, Undang-Undang Sosial (Social Legislation) telah membatasi jumlah jam kerja. Menjamin adanya waktu istirahat mingguan dan liburan tahunan yang dibayar, bagi semua karyawan, pegawai dan buruh-buruh yang bekerja. Undang-Undang tersebut merupakan prakarsa dari ILO (International Labour Organization). Setelah mengalami berbagai hambatan akhirnya ditetapkan pada tahun 1936, kemudian diperbaharui tahun 1949 dengan menetapkan pemberian libur minimum enam hari kerja setiap tahun dengan mendapatkan upah penuh.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 29

Konvensi ILO tahun 1954 mengubahnya menjadi dua minggu libur setiap tahun, dan konvensi tahun 1970 meningkat menjadi tiga minggu libur setiap tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, di berbagai negara yang ekonominya sudah maju bahkan menambahkan hari libur dari ketentuan di atas dengan membayar penuh gaji mereka selama libur. Dengan semakin meningkatkan waktu senggang (leisure time) tersebut, senakin banyak peluang untuk melakukan perjalanan wisata. 2. Pendapatan yang Meningkat Faktor yang mendorong perkembangan pariwisata terutama di negara-negara industry yang sudah maju ialah adanya peningkatan pendapatan masyarakatnya. Semakin meningkat pendapatan masyarakat, kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi. Oleh karena itu, makin besar pendapatan seseorang, makin besar pula dana yang dapat disisihkan untuk biaya perjalanan wisata murah bagi masyarakat yang mempunyai penghasilan rendah dan belum dapat melakukan perjalanan wisata. 3. Pendidikan dan Dambaan Ingin Tahu Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi ini, semakin memperbanyak informasi tentang keberadaan Negara lain. Hal ini semakin menumbuhkan keingintahuan terhadap Negara lain. Di samping untuk melanjutkan studi, juga untuk mengetahui keindahan alam, budaya seni, dan teknologi yang sudah maju. 4. Urbanisasi dan kebutuhan untuk Menghindari Kebisingan Kota Keberadaan kota sebagai pusat industry dan dagang, semakin menarik masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran atau pedesaan. Mereka berbondong-bondong ke kota untuk mencari nafkah atau mencari pekerjaan. Hal ini mengakibatkan semakin padatnya penduduk di kota-kota besar. Dampaknya, kota-kota industry dan dagang di samping semakin padat oleh penduduk, juga permasalahannya semakin kompleks. Kondisi yang ramai, bising, padat menyebabkan ketegangan syaraf bagi penduduk perkotaan. Oleh karena itu, timbul hasrat untuk menjauhkan diri sementara dari lingkungan yang ruti serta padat tersebut. Mereka lalu menghilangkan stress dengan melakukan perjalanan wisata. 5. Hasrat Untuk Meniru Faktor lain yang tidak bisa dilupakan ialah kebutuhan sosiologis seseorang untuk meniru orang lain. Hal ini menjadikan dambaan seseorang, setelah mendengarkan kesan-kesan mereka yang telah melakukan perjalanan wisata, baik saudara, teman, maupun tetangganya. Di Negara yang sudah maju serta bagi orang the have, melakukan perjalanan wisata adalah wisata prestise atau mode yang harus mereka lakukan. Sementara itu, bagi masyarakat yang termasuk dalam strata menengah, ingin pula meniru kalangan the have untuk melakukan perjalanan wisata guna mencari kesenangan dan kepuasaan di daerah tujuan wisata.

B. Faktor Administrasi Gerakan liberalisasi ketatnya pengawasan administrasi atau lalu lintas manusia, dan tuntutan pengakuan hak bagi masing-masing orang dalam mengadakan perjalanan wisata di Negara lain, dimulai dari tahun 1948. Pada bulan Desember tahun yang sama, Sidang Umum Perserikatan BangsaBangsa mengesahkan “Universal Declaration of Human Right”, di mana dalam pasal 13 dinyatakan adanya kebebasan bergerak yang dimaksudkan.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 30

Beberapa tahun kemudian, banyak negara yang menandatangani konvensi bilateral maupun multirateral untuk saling mencabut formalitas lintas batas yang ada, serta memberikan keringanan pada formalitas sementara sebagai gantinya. Gerakan liberalisasi tersebut merupakan sumbangan besar atas pertumbuhan dan perkembangan pariwisata sampai sekarang. Kemudian formalitas atas lalu lintas manusia di Indonesia, diberlakukan dengan ketentuan-ketentuan yang memberikan kemudahan bagi wisatawan mancanegara. Antara lain mengenai: bebas visa 2 bulan, memberlakukan jalur hijau dan jalur merah (akan dijelaskan pada bab khusus Peranan Pabean), pembukaan pintu gerbang utama di laut dan di darat, dan ketentuan-ketentuan yang ada pada dasarnya memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. C. Faktor Teknis: Kemajuan Dunia Angkutan Kemajuan pesat di bidang angkutan, khususnya angkutan udara, sangat membantu perkembangan pariwisata internasional. Pesawat yang besar dan cepat, memberikan peluang kepada seseorang untuk menjelajahi seluruh pelosok bumi. Munculnya pesawat jumbo-jet dan supersonic menyebabkan alat angkutan tradisional (misalnya, Kereta Api dan Kapal Uap) harus bersaing dengan ketat dengan cara menawarkan fasilitas yang lengkap, nyaman dan murah. Di Indonesia, banyak gerbong Kereta Api Cepat yang disulap untuk konsumsi wisatawan, seperti Kereta Api Wisata, Kereta Api VIP, Kereta Eksekutif. Kapal laut menawarkan kapal penyebrangan antar pulau yang cepat dan mewah, serta tambahan fasilitas yang lebih baik. Persaingan antar perusahaan penerbangan pun semakin tajam, setiap perusahaan menawarkan jasa angkutannya dengan memberikan tambahan fasilitas-fasilitas pelayanan yang cepat, aman dan nyaman. Di samping perusahaan penerbangan milik BUMN, swasta nasional, sekarang banyak pula penerbangan asing yang membuka cabangnya. Hal ini semakin menambah ketatnya persaingan antar perusahaan penerbangan dalam memasarkan jasa layanannya. Dari hasil survey, menunjukkan jasa angkutan udara paling banyak diminati. Data dari BPP PHRI memaparkan “Lebih dari 98% wisatawan mancanegara menggunakan jalur udara ke Indonesia.” (BPP PHRI, 1991). D. Membaiknya Hubungan Antar Negara Salah satu faktor yang mendorong wisatawan mancanegara berkunjung ke suatu negara tujuan wisata adalah pertimbangan hubungan yang baik antara dua Negara tersebut. Di samping juga situasi politik negara tujuan wisata tersebut stabil. Sebaliknya, apabila hubungan kedua negara kurang harmonis mengakibatkan wisatawan enggan utnuk berkunjung ke negara tersebut. Sebagai contoh, ketika Indonesia sedang mempunyai masalah dengan negara Malaysia. Calon wisatawan dari Malaysia maupun Indonesia tidak tertarik untuk saling mengunjungi. Situasi keamanan di negara tujuan wisata, sangat mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung. Situasi negara yang sedang kacau, konflik dan adanya pemberontakan menyebabkan calon wisatawan mengurungkan niatnya untuk berkunjung walaupun banyak objek dan atraksi wisata yang dapat disaksikan. Demikian pula adanya negara yang termasuk dalam kategori “kasus” internasional. Ada perbedaan jaminan kemudahan untuk berkunjung ke negara tersebut ataupun warga negara dari negara tersebut untuk berkunjung ke negara lain. Misalnya, dalam hal bebas visa 2 bulan untuk di Indonesia, yang juga merupakan kesepakatan internasional bagi 31 negara, kecuali Israel dan Afrika Selatan. Demikian pula dalam posper, bagi warga negara Indonesia yang akan ke luar negeri, berlaku untuk semua negara kecuali Taiwan dan Israel. Perbedaan pemberlakuan kemudahan kunjungan ini erat kaitannya dengan situasi politik di negara-negara tersebut. Dengan adanya diskriminasi itu, tentu saja akan mengurangi minat dan lalu lintas wisatawan mancanegara.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 31

BAB X PERANAN PABEAN A. Pengertian dan Tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1. Pengertian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dahulu oleh orang awam disebut Douane. DJBC adalah salah satu Direktorat Jenderal yang berada dalam lingkungan Departemen Keuangan RI. DJBC dipimpin oleh sekarang Direktur Jenderal yang membawahi: a. Sekretariat b. Direktorat Pabean c. Direktorat Cukai d. Direktorat Pemberantasan Penyelundupan e. Direktorat Sarana Perhubungan f. Direktorat Perencanaan dan Penerimaan g. Pusat Pengolahan Data dan Informasi (PUSLATASI) yang masing-masing dipimpin oleh Sekretaris dan Direktur dan Kepala 2. Tugas DJBC DJBC ditugaskan untuk memungut pajak tidak langsung serta menjadi petugas pertama yang berhadapan langsung dengan penumpang atau barang. Baik wisatawan, pedagang serta barang-barang yang dimasukkan dari daerah luar pabean (impor). Dengan tugas itu, sikap petugas BC dituntut memberikan pelayanan yang sopan, luwes, formal dan tanggap. Di samping tugas pokok tersebut, DJBC juga menerima tugas titipan dari instansi lain. 3. Daerah Pabean Menurut Undang-Undang Tarif Indonesia, yang dimaksud daerah pabean adalah seluruh bagianbagian Indonesia di mana dipungut Bea Masuk dan Bea Keluar, untuk sementara bea keluar dibekukan daerah ini dihitung 12 mil laut dari pantai pada waktu air laut surut.

B. Pelayanan terhadap Penumpang 1. Pengertian Penumpang oleh DJBC Penumpang adalah semua orang yang berpergian atau dating dengan kendaraan darat, laut dan udara dan hanya boleh diturunkan/dinaikkan pada tempat-tempat atau terminal yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Penumpang dapat dibagi sebagai berikut:
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 32

a. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) b. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Penumpang Warga Negara Asing (WNA) terdiri dari: diplomat-diplomat/tamu negara; tenaga ahli; wisatawan; pejabat/tenaga ahli PBB; pengusaha/pedagang; awak kapal udara/laut, ferry dan kendaraan darat; rombongan atau perorangan dengan tujuan tertentu. Penumpang Warga Negara Indonesia (WNI) terdiri dari: diplomat; pejabat negara (PNS/ABRI); pelajar/mahasiswa; awak kapal udara/laut/ferry dan kendaraan darat; jemaah haji; tenaga kerja Indonesia; pengusaha/pedagang; rombongan atau perorangan dengan tujuan tertentu; wisatawan.

2. Pengertian Barang Penumpang Barang penumpang adalah barang yang dibawa serta oleh yang bersangkutan sendiri pada waktu datang/berangkat atau dating kemudian, terdiri dari barang bukan dagangan dan barang dagangan. a. Barang bukan dagangan adalah barang-barang untuk keperluan pribadi serta oleh-oleh/hadiah yang tidak diperdagangkan. Batasan harga barang tersebut untuk perorangan sebesar US.$ 250 dan untuk satu keluarga US.$ 1.000. b. Barang dagangan adalah barang yang dibawa penumpang yang bersangkutan bersamaan datangnya atau kemudian yang nantinya diperdagangkan, bukan untuk dipakai pribadi. 3. Pelayanan terhadap Penumpang Dengan diberlakukannya CFRS (Customs Fast Release System) pelayanan cepat di bidang pabean terhadap penumpang/wisatawan diberlakukan jalur hijau dan jalur merah. Di sini penumpang/wisatawan dituntut kejujurannya sebab jalur hijau untuk penumpang yang telah menyatakan dirinya tidak membawa barang dagangan/hanya barang pribadi. Jalur merah adalah untuk penumpang yang membawa barang yang dikenakan bea masuk. Pada jalur hijau tidak mutlak bahwa penumpang tersebut tidak diperiksa. Atas dasar informasi intelijen terhadap pemakai jalur hijau dapat dikenakan pemeriksaan atas barang bawaannya. Di sini dituntut bahwa petugas BC harus jeli dan tanggap terhadap penumpang yang tidak jujur menggunakan jalur hijau. 4. Pemeriksaan oleh Petugas BC Menurut UU Tarif, terhadap barang yang dimasukkan/ diimpor ke dalam daerah pabean untuk dipakai dikenakan Bea Masuk. Atas dasar tersebut, terhadap barang penumpang/wisatawan pada prinsipnya dikenakan Bea Masuk. Pada DJBC terhadap barang selalu dikenakan Bea Masuk, tetapi ada yang dibebaskan terhadap Bea Masuknya. Pembebasan Bea Masuk ini dibagi menjadi 2 golongan: a. Pembebasan absolute/Bea (pada buku Bea Masuk bea Masuknya 0%)
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 33

b. Pembebasan relative (dibebaskan sebagian atau semua terhadap bea masuknya karena ketentuan peraturan pemerintah). Dalam UU Tarif pasal 2 ayat 5 diberitahukan, barang penumpang adalah barang keperluan pribadi penumpang dan sisa bekal yang dibawanya. Seperti uraian di atas, yang dimaksudkan adalah penumpang WNA dan penumpang WNI yang datang dari luar daerah pabean prinsipnya bebas membawa barang namun atas dasar informasi dari intelijen, pihak BC dapat mengadakan pemeriksaan. Daerah-daerah yang rawan dengan penyelundupan, di Indonesia misalnya di sepanjang pantai timur Sumatera, Kalimantan bagian barat, serta daerah perbatasan dengan negara tetangga. Pihak DJBC perlu mengadakan pengawasan ekstra terhadap penumpang dari daerah tersebut. Namun, petugas BC dituntut keluwesan serta sopan santunnya dalam melayani. Terhadap barang penumpang, petugas BC dalam pemeriksaan selalu berpedoman pada Skep. Menteri Keuangan No. 287/MK/III/5/1970 tanggal 5 Mei 1970, yaitu: a. yang dibebaskan dari bea masuk; b. yang dikenakan bea masuk; c. yang harus membuka LC Adanya hal di atas, terhadap penumpang tertentu petugas BC menemui kesukaran dalam membedakan. Dan ini akan menimbulkan ketidakserasian keterangan penumpang terhadap barang bawaannya dengan petugas BC. Untuk hal tersebut maka setiap penumpang kapal laut/udara/ferry dan darat diwajibkan sebelum memasuki daerah pabean mengisi sendiri daftar barang bawaannya (Customs Declaration atau Passengers Declaration). Jika Pos/Bandara/Pelabuhan/Station masuk daerah pabean, petugas BC hanya mencocokkan barang dengan pemberitahuan tersebut. Namun, untuk turis telah ditentukan sendiri dengan Instruksi Menteri Keuangan No. 02/IMK.05/1983 tanggal 31 Maret 1983 dibebaskan untuk mengisi secara mendetail CD/PD, tetapi cukup mencantumkan nomor paspor serta perkataan Tourist. Untuk barang-barang/peralatan sebernarnya terkena pembatasan/larangan. Barang cetakan, remakan video, dan film yang menurut ketentuan khusus, diperbolehkan di bawa tourist menurut kebijaksanaan Kepala Kantor BC setempat. Dengan syarat barang-barang tersebut tidak membahayakan keamanan negara. 5. Cargo/Barang Cargo adalah barang yang diangkut oleh suatu oleh suatu kendaraan, baik itu kapal udara, kapal laut, dan kendaraan darat yang berupa barang pribadi, barang orang lain, dan barang dagangan. Untuk itu, si pembawa barang (atas nama) diharuskan mengisi suatu daftar yang lazimnya disebut cargo manifest. Kumpulan daftar barang yang diangkut itu harus ditandatangani oleh pimpinan alat pengangkut (pilot, nahkoda, sopir sebagai wakil dari perusahaan). Manifest tersebut wajib diberitahukan kepada petugas BC waktu kedatangannya (keterlambatan melapor dikenakan denda). Di sini barang yang dibawa oleh kendaraan pengangkut dapat dibagi sebagai berikut: a. Barang yang dating bersamaan dengan penumpangnya (companied baggage). b. Barang yang dating tidak bersamaan dengan siempunya (incompanied baggage). 6. Barang Kiriman Biasanya karena terjadi hubungan orang asing dengan penduduk setempat, maka terjalin persaudaraan. Mereka akan saling mengirim berita ataupun barang atas rasa persahabatannya. Untuk barang kiriman ini yang kadang-kadang disebut barang Souvernir, dibedakan: a. Barang kiriman yang bebas bea dan yang dikenakan bea.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 34

b. Barang kiriman yang diharuskan/diwajibkan membuka LC diselesaikan dengan PPUD (sekarang PIUD). 7. Untuk Keberangkatan Untuk keberangkatan ini para penumpang kapal laut/udara, ferry, darat dibebaskan bea keluar terhadap barang bawaannya, karena bea keluar untuk sementara dibekukan. Mengenai barang-barang bebas dibawa keluar kecuali terhadap barang-barang yang terkena larangan ataupun pembatasan/pengawasan yang berlaku. Terhadap barang-barang yang dibawa keluar dari daerah pabean dapat dibawa langsung oleh penumpang itu sendiri atau dikirim sendiri olehnya atau wakil (melalui biro jasa). Untuk ini si empunya harus membuat daftar barang (surat permintaan pengiriman barang-barang kerajinan rakyat) yang akan dikirim dan ditandatangani sendiri atau wakilnya (shipping request). Barang-barang hadiah yang tidak diperdagangkan, dan tidak melebihi ketentuan yang dianggap sebagai melakukan ekspor diharuskan membuat PEB. C. Penjelasan tentang Pelayanan terhadap Penumpang dan Barang Bawaannya 1. Pelayanan terhadap Penumpang a. Sistem Jalur Hijau dan Jalur Merah Dalam usaha peningkatan pelayanan terhadap penumpang dan wisatawan beserta barang-barang bawaannya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melaksanakan Sistem Jalur Hijau dan Jalur Merah. (1) Jalur Hijau adalah jalur keluar penumpang yang tidak membawa barang bawaan yang wajib diberitahukan kepada Pabean. (2) Jalur Merah adalah jalur keluar penumpang yang membawa barang bawaan yang wajib diberitahukan kepada Pabean. b. Sikap Petugas Bea dan Cukai Para petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang bertugas memberikan pelayanan kepada penumpang harus bersikap sopan, luwes, formal dan tanggap. (1) Sopan : Berpakaian rapi, tidak meroko sewaktu bertugas, bertutur kata yang baik tetapi tegas. (2) Luwes : Berkepribadian, ramah, dan tidak sewenang-wenang. (3) Formal : Bersikap resmi dan teliti. (4) Tanggap : Mengerti apa yang harus dikerjakan. c. Cara Pemeriksaan (1) Melalui Jalur Hijau (a) Sepanjang tidak ada informasi dan tidak menunjukkan hal-hal yang mencurigakan maka penumpang yang bersangkutan dapat langsung dipersilakan keluar tanpa diperiksa barang bawaannya. (b) Apabila ada informasi atau terdapat kecurigaan sewaktu penumpang masih berada dalam antrian, petugas mempersilakan penumpang yang bersangkutan untuk menuju jalur merah. (2) Melalui Jalur Merah Sebelum diadakan pemeriksaan, petugas menyampaikan ucapan salam kepada penumpang (misalnya selamat pagi, siang, sore, malam). Selanjutnya, menanyakan kepada yang bersangkutan apakah ada yang perlu diberitahukan. Kemudian apabila yang bersangkutan menjawab “Ya” dipersilakan kepada yang bersangkutan untuk membuka barang bawaannya. Sambil melakukan pemeriksaan, petugas dapat melakukan wawancara antara lain sebagai berikut: (a) Dalam rangka apa Saudara datang ke Indonesia? (b) Untuk berapa lama Saudara berada di Indonesia?
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 35

Setelah selesai pemeriksaan, penumpang dipersilakan untuk menutup kembali koper dan memperlihatkan bahwa tidak ada barang bawaan yang tertinggal sewaktu pemeriksaan dilakukan. Petugas pemeriksaan akhirnya mengucapkan terima kasih atas kerjasama penumpang tersebut turut melancarkan jalannya pemeriksaan. Apabila dijumpai penumpang membawa barang bawaan yang memerlukan pemeriksaan secara teliti, sebaiknya dibawa ke ruangan khusus untuk menghindari kemacetan di meja pemeriksaan. Kemudian petugas menanyakan apakah dapat diperlihatkan paspornya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam paspor adalah sebagai berikut: (1) Identitas diri penumpang sesuai atau tidak. (2) Profesi penumpang. (3) Negara-negara yang pernah dikunjungi penumpang sebelum tiba di Indonesia (perhatikan apakah yang bersangkutan pernah berkunjung ke negara-negara penghasil narkotika). Hasil Pemeriksaan: (1) Jika pada pemeriksaan tidak terdapat barang wajib bea, penumpang yang bersangkutan dipersilakan keluar. (2) Jika pada pemeriksaan kedapatan barang yang wajib bea, petugas pemeriksa: (a) membuat nota pemeriksaan, dengan menguraikan secara jelas dan lengkap jenis dan jumlah barang kondisi dan negara asalnya; (b) membubuhkan nama, tanda tangan, serta NIP, kemudian menyampaikan nota pemeriksaan kepada perugas pemeriksa tariff dan harga. (3) Petugas Memeriksa Tarif/Harga: (a) Menentukan pos tariff, harga, dan memperhitungkan pungutan impornya. (b) Membubuhkan nama, tanda tangan, serta NIP pada Nota Pemeriksaan. (4) Petugas Kasir (a) Setelah pungutan impor dibayar, emmbuat Register 9. (b) Membubuhkan nomor dan tanggal Register 9 pada Nota Pemeriksaan. (c) Membubuhkan nama, tanda tangan, serta NIP pada Nota Pemeriksaan dan Register 9. (d) Menyerahkan Register 9 kepada penumpang yang bersangkutan. 2. Penyelesaian Barang Penumpang a. Warga Negara Asing (1) Diplomat/Tamu Negara: (a) Memiliki paspor dengan tulisan Diplomatic. (b) Tidak dilakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan dan barang bawaannya. Perhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1957 tanggal 1 Maret 1957 tentang Pembebasan dari bea masuk atas dasar hubungan internasional. (a) Jika yang bersangkutan membawa barang/kelengkapan yang belum mendapatkan persetujuan dari Departemen Luar Negeri RI/Sekretariat Kabinet RI agar diperhatikan uraian penyelesaiannya.. (b) Untuk tamu Negara harus melalui tata cara protokoler. (2) Tenaga Ahli (a) Tenaga Ahli yang masuk ke Indonesia harus terdaftar/ada rekomendasi dari Pemerintah c.q. Departemen Tenaga Kerja RI.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 36

(b) Perhatikan peraturan pemerintah Nomor 19 tanggal 1 Juni 1955 tentang peraturan pembebasan dari bea masuk dan bea keluar untuk umum untuk keperluan golongan pejabat dan ahli bangsa asing yang tertentu. (c) Tenaga ahli yang dating tanpa sepengetahuan/tidak terdaftar/tidak ada rekomendasi dari Pemerintah c.q. Departemen Tenaga Kerja RI agar diperhatikan uraian pada penyelesaiannya. (3) Wisatawan (a) Pada dasarnya terhadap wisatawan asing tidak dilakukan pemeriksaan badan atau barang bawaannya (menggunakan fasilitas jalur hijau). (b) Perlengkapan wisatawan tidak perlu di catat di dalam paspor. (c) Jika terdapat kecurigaan atau informasi positif bahwa turis yang bersangkutan membawa barang dicurigai. Dalam penyelesaiannya, petugas yang bersangkutan segera melaporkan kepada atasannya dan membawa wisatawan tersebut ke ruangan khusus. Maksudnya, untuk mendapat keterangan yang lebih rinci guna proses lebih lanjut. (4) Pejabat/Tenaga Ahli (a) Memiliki paspor dengan tulisan “United Nations”. (b) Tidak dilakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan dan barang bawaannya. (c) Perhatikan peraturan pemerintah Nomor 19 tanggal 1 Juni 1955 tentang peraturan pembebasan dari bea masuk dan bea keluar umum untuk keperluan golongan pejabat dan ahli bangsa asing tertentu. (d) Jika yang bersangkutan membawa barang/kelengkaoan yang belum mendapatkan persetujuan dari Sekretariat Kabinet RI agar diperhatikan uraian cara penyelesaiannya. (5) Pengusaha/Pedagang (a) Perhatikan: 1. Keputusan Menteri Keuangan RI tentang ketentuan terhadap barang impor barang kiriman, barang penumpang dan barang anak buah kapal. 2. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 29/KMK/01/1989 tanggal 10 Januari 1989, tentang Pengaturan pemasukan barang contoh (sampel). 3. Surat DJBC No. S-87/BC/1988 tanggal 26 Maret 1988. 4. Surat Edaran DJBC No. SE-02/BC/1989 tanggal 26 Maret 1988. (b) Jika yang bersangkutan membawa barang-barang yang menurut sifatnya/tujuannya sebagai promosi/contoh agar diperhatikan uraian cara penyelesaiannya. (6) Awak Kapal Udara/Laut Awak kapal udara/laut diberikan fasilitas batas bea masuk sesuai Keputusan Menteri Keuangan RI tentang Keputusan terhadap impor barang kiriman, barang penumpang dan barang anak buah kapal. (7) Rombongan atau Perorangan dengan Tujuan Khusus (a) Rombongan atau perorangan dengan tujuan khusus adalah mereka yang dating ke Indonesia dengan tujuan mengikuti/melakukan kegiatan misalnya olah raga, kesenian dan ilmiah. (b) Ada rekomendasi tertulis dari instansi teknis terkait atau organisasi swasta penyelenggara. (c) Dalam hal rombongan atau perorangan dimaksud membawa barang-barang yang akan dibawa kembali ke luar Indonesia (re-ekspor), perhatikan cara penyelesaiannya. b. Warga Negara Indonesia (1) Diplomat:
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 37

(a) Memiliki paspor berwarna hitam dengan tulisan “Diplomatik”. (b) Dapat dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dan barang bawaannya. (c) Terhadap barang-barang bawaannya harus dibedakan. 1. Jika yang bersangkutan telah menyelesaikan tugasnya sebagai diplomat di luar negeri maka berlaku ketentuan barang pindahan. Perhatikan surat keterangan pindah dari Perwakilan RI setempat. 2. Jika yang bersangkutan datang ke Indonesia dalam rangka dinas/cuti maka berlaku ketentuan barang penumpang. (2) Pejabat Negara/Pegawai Negeri Sipil/ABRI (a) Memiliki paspor berwarna biru dengan tulisan “Official”. (b) Terhadap barang-barang bawaannya harus dibedakan: 1. Jika yang bersangkutan telah menyelesaikan tugasnya di luar negeri maka berlaku ketentuan barang pindahan. 2. Jika yang bersangkutan datang ke Indonesia dalam rangka dinas/cuti maka berlaku ketentuan barang penumpang. (3) Mahasiswa/Pelajar Swasta (a) Memiliki paspor biasa berwarna hijau. (b) Terhadap barang-barang bawaannya harus dibedakan: 1. Jika yang bersangkutan telah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa/pelajar di luar negeri maka berlaku ketentuan barang pindahan. Perhatikan surat keterangan pindah dari KBRI setempat. 2. Jika yang bersangkutan datang ke Indonesia dalam rangka libur maka berlaku ketentuan barang penumpang. (4) Awak Kapal Udara/Laut (a) Memiliki paspor biasa berwarna hijau. (b) Awak kapal/laut diberikan fasilitas batas bebas area masuk sesuai Keputusan Menteri Keuangan RI tentang Ketentuan terhadap impor barang kiriman, barang penumpang dan barang anak buah kapal. (5) Jemaah Haji (a) Memiliki paspor biasa berwarna hijau. (b) Perhatikan Surat Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Pemasukkan barang-barang oleh jemaah haji. (6) Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW) (a) Memiliki paspor biasa berwarna hijau. (b) Terhadap barang-barang bawaannya harus dibedakan: 1. Jika yang bersangkutan telah menyelesaikan kontrak/hubungan kerjanya di luar negeri maka berlaku ketentuan barang pindahan. Perhatikan surat keterangan pindah dari KBRI setempat atau surat keterangan dari Departemen Tenaga Kerja RI. 2. Jika yang bersangkutan dating ke Indonesia dalam rangka cuti/libut maka berlaku ketentuan barang penumpang. (7) Pengusaha/Pedagang
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 38

(a) Perhatikan penjelasan barang bagi pengusaha/pedagang. (b) Jika yang bersangkutan membawa barang-barang yang menurut sifatnya/tujuannya sebagai promosi/contoh. (8) Rombongan atau Perorangan dengan Tujuan Khusus Rombongan atau perorangan dengan tujuan khusus adalah mereka yang kembali dari luar negeri dalam rangka mengikuti/melakukan kegiatan, misalnya olah raga, kesenian dan ilmiah. (a) Ada rekomendasi tertulis dari instansi teknis terkait atau organisasi swasta penyelenggara. (b) Dalam hal rombongan atau perorangan dimaksud membawa barang yang berasal dari Indonesia (re-impor) dibebaskan dari pungutan impor. (c) Ruang Lost dan Found, Ruang Kerangkeng Bea dan Cukai dan Entrepot Umum. (1) Ruangan Lost dan Found (a) Setiap pemasukan dan pengeluaran barang yang disimpan di ruang Lost & Found harus dengan izin petugas Bea dan Cukai dan petugas perusahaan penerbangan masing-masing 1 (satu) buah. (b) Setiap pengeluaran barang dari ruang Lost & Found harus diperiksa terlebih dahulu oleh petugas Bea dan Cukai. (2) Ruang Kerangkeng Bea dan Cukai Barang penumpang yang tidak dapat diselesaikan pada saat penumpang tiba, yang disebabkan: (a) Penumpang tidak membawa cukup uang untuk membayar bea-bea. (b) Barng tersebut merupakan barang larangan, pengawasan, dan pembatasan yang perlu diproses lebih lanjut. (c) Barang tersebut akan dibawa kembali ke luar negeri. (d) Barang tersebut belum dilengkapi dengan surat-surat yang diperlukan sesuai ketentuan yang berlaku. (e) Disegel dan disimpan di ruang kerangkeng Bea dan Cukai dengan memberikan surat tahanan atau surat titipan, untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh Hari). Barang yang ditahan atau titipan, diselesaikan dengan PIUD, atau model 2A khusus dan Register (, atau Surat Tahanan/Titipan itu sendiri (khusus untuk re-ekspor). Petugas kerangkeng harus mengadministrasikan buku situasi kerangkeng dan menata barang-barang di dalamnya dengan baik dan benar. (3) Barang penumpang yang disimpan di ruang kerangkeng Bea dan Cukai, apabila tidak diselesaikan/diurus lebih dari 30 (tiga puluh) hari, akan dinyatakan sebagai barang tidak dikuasai dan setelah dicatat, kemudian dikirim ke Entrepot Umum untuk diproses penyelesaian selanjutnya. D. Penyelesaian Barang dengan Perlakuan Khusus 1. Pemasukan Sementara (Temporary Admission) Penumpang yang jelas identitasnya sebagai tenaga ahli, di samping membawa barang keperluan diri juga membawa barang-barang lainnya dalam rangka perjalanannya, dan barang-barang tersebut kelak akan dibawa kembali keluar daerah pabean, tetapi persyaratan pabean untuk menggunakan fasilitas pasal 23 OB belum dimiliki oleh tenaga ahli tersebut. Dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap mereka dapat diberikan kemudahan untuk mengeluarkan barang-barang dengan syarat sebagai berikut:
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 39

a. Identitas jelas sebagai tenaga ahli. Perhatikan paspor, visa, dan surat-surat lain yang mendukung. b. Maksud kunjungan sesuai dengan profesinya. c. Lama kunjungan tidak lebih dari 1 (satu) bulan. d. Membuat surat pernyataan bahwa barang tersebut akan dibawa kembali (dalam formulir Temporary Admission yang disediakan). e. Membuat jaminan tunai/bank garansi atau jaminan tertulis dari instansi pemerintah atau jaminan tertulis dari perusahaan swasta yang bonafid, sejumlah bea masuk dan pungutan lainnya yang seharusnya dibayar. f. Dibuat Nota Pemeriksaan oleh petugas atas barang-barang tersebut dan barang dapat dikeluarkan pada saat itu juga dan PPUD diserahkan pada hari berikutnya. g. Pada waktu dire-ekspor, bukti re-ekspor dinyatakan pada PPUD atau tanpa PPUD dinyatakan pada Nota Pemeriksaan. h. Apabila yang bersangkutan tidak memenuhi kewajibannya untuk membuat PPUD, maka Kepala Kantor Inspeksi wajib memberikan teguran tertulis. 2. Barang Milik Diplomat Asing atau Pejabat/Tenaga Ahli PBB Penumpang yang menggunakan paspor diplomatic/PBB dan membawa barang yang harus disediakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1955 atau Peraturan pemerintah Nomor 8 tahun 1957. Yang bersangkutan tidak dapat menunjukkan surat keputusan pembebasan bea dimaksud, petugas harus memberikan penjelasannya di tempat yang telah ditentukan dengan mendapatkan tanda bukti penitipan barang yang dicantumkan, antara lain jumlah, jenis berat collie dan ditandatangani oleh petugas serta pemilik barang. Barang tersebut dapat dikeluarkan dari tempat penitipan setelah persyaratan pabeannya dipenuhi. 3. Barang Contoh a. Yang Tidak Diragukan Jika menurut penilaian sifat dan tujuannya tidak diragukan sebagai barang contoh, dapat diberikan pembebasan pungutan impor. b. Yang Diragukan Jika menurut penilaian petugas, sifat dan tujuannya bukan merupakan barang contoh, maka dilakukan tindakan sebagai berikut: (1) Penyelesaiannya berdasarkan ketentuan yang berlaku dan melalui BAPEKSTA KEUANGAN. (2) Barang contoh tersebut oleh pemiliknya dirusak/diberi tanda sehingga tidak mempunyai nilai jual, tetapi tidak menghilangkan sifat hakiki sebagai barang contoh. Dan diberikan pembebasan pungutan impor. 4. Barang Larangan, Pengawasan, dan Pembatasan a. Barang Larangan Majalah/buku porno, barang cetakan beraksara Cina, majalah/buku berbau komunisme dan ajaran ekstrim lainnya. (1) Kurang dari 2 kg langsung dimusnahkan di tempat. (2) Lebih dari 2 kg, ditahan untuk diproses pemusnahan selanjutnya. Perhatikan: (a) Narkotika, senjata api/tajam, pistol mainan yang menyerupai aslinya, receiver, transceiver, cordless telephone dan sebagainya ditahan untuk di proses lebih lanjut. (b) Penumpang yang membawa narkotika, senjata api dan barang larangan lainnya harus ditahan untuk diproses lebih lanjut.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 40

b. Barang Pembatasan/Diatur Impornya (1) Buah-buah segar dan sejenisnya. (a) Kurang dari 2 kg, langsung dimusnahkan di tempat. (b) Lebih dari 2 kg, ditahan untuk diproses pemusnahan selanjutnya. (2) Bahan kimia/obat-obatan, ditahan untuk diproses lebih lanjut. c. Barang Pengawasan/Diperlukan Pemeriksaan Instansi Lain (1) Hewan dan tumbuh-tumbuhan, harus melalui pemeriksaan karantina terlebih dahulu. (2) Video, Laser Disc, Video Tape, Cassette Tape yang berisi rekaman, majalah/buku yang disangsikan isinya harus melalui pemeriksaan Kejaksaan. 5. Barang Hadiah dan Cinderamata Apabila penumpang membawa barang hadiah di luar ketentuan Keputusan Presiden nomor: 133/1953 tanggal 12 Agustus 1953 maka penyelesaian dilakukan sesuai penjelasan. 6. Barang Dagangan yang Memenuhi Persyaratan Tertentu Untuk menyelesaikan barang penumpang yang dapat digolongkan sebagai barang dagangan, petugas dapat menggunakan persyaratan sebagai berikut: a. Dapat dibuktikan atau petugas yakin bahwa penumpang/pemilik barang adalah pengusaha industry dalam negeri, kontraktor, konsultan proyek pemerintah atau tenaga ahli asing yang bekerja pada pemerintah RI. b. Dapat dibuktikan atau dapat dimengerti bahwa barang-barang tersebut sangat dibutuhkan untuk keperluan: (1) penggantian bagian-bagian yang rusak dari peralatan industri; (2) pengetesan/pemeriksaan alat-alat industri; (3) pemenuhan target produksi. c. Harga di bawah FOB US $ 1.000 Perhatikan: (1) Uraian barang pada nota Pemeriksaan harus jelas dan terinci. (2) Bukti yang mendukung pemberian fasilitas ini harus disimpan bersama dengan Nota Pemeriksaannya dan diadministrasikan dengan baik.

BAB XI PELAYANAN PARIWISATA (TOURISM SERVICE) Pelayanan adalah factor yang utama dalam pengembangan kepariwisataan. Salah satu faktor yang menentukan dalam pelayanan adalah kesiapan sarana prasarana kepariwisataan. Dalam bab ini akan dibahas mengenai sarana dan prasarana kepariwisataan. A. Prasarana 1. Pengertian Prasana (infrastructures) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sehingga memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya (Oka A. Yoeti, 1985).
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 41

2. Prasarana-Prasarana Salah Wahab, Ph. D. dalam bukunya Tourism Management membagi prasarana menjadi tiga kelompok, yaitu prasarana umum, kebutuhan pokok pola hidup modern, dan prasarana wisata. a. Prasarana Umum Prasarana umum meliputi (1) sistem penyediaan air bersih, (2) kelistrikan, (3) jalur-jalur lalu lintas, (4) sistem pembangunan limbah, dan (5) sistem telekomunikasi Prasarana ini menyangkut kebutuhan orang banyak (umum) yang pengadaannya bertujuan untuk membantu kelancaran roda perekonomian. b. Kebutuhan Pokok Pola Hidup Modern Kebutuhan pokok pola hidup modern misalnya, rumah sakit, apotek, bank, pusat-pusat perbelanjaan, salon, kantor-kantor pemerintahan, dan pompa-pomba bensin. Prasarana ini merupakan prasarana yang mengangkut kebutuhan orang banyak. c. Prasarana Wisata Praarana yang diperuntukkan bagi wisatawan, meliputi tempat penginapan, tempat dan kantor informasi, tempat promosi, tempat-tempat rekreasi, dan sport. (1) Tempat Penginapan Wisatawan Hotel, motel, pension, rumah susun, kamar keluarga yang disewakan, bangunan wisata social (desa wisata, tempat perkemahan, pondok remaja dan sebagainya). (2) Tempat Informasi Wisatawan (a) Agen perjalanan dan biro perjalanan umum. (b) Penyewaan kendaraan dan tour operator lokal. (3) Kantor Informasi dan Promosi Kantor penerangan wisata di pintu-pintu masuk suatu negara, kota atau daerah tertentu. Di Indonesia terkenal dengan Tourist Information Service (TIC). (4) Tempat-tempat Rekreasi dan Sport Fasilitas sport, fasilitas perlengkapan sport darat dan air, dan lain-lain. (5) Sarana Transportasi Penunjang Kapal udara, laut, sungai, KA, dan alat transportasi darat lainnya. B. Sarana Wisata 1. Pengertian Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak bergantung pada kedatangan wisatawan. 2. Sarana Kepariwisataan Sarana kepariwisataan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: sarana pokok kepariwisataan, sarana pelengkap kepariwisataan, dan sarana penunjang kepariwisataan. a. Sarana Pokok Kepariwisataan Sarana pokok kepariwisataan adalah perusahaan yang kehidupannya bergantung pada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan. Termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut: (1) Travel Agent dan Tour Operator.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 42

(2) (3) (4) (5)

Perusahaan-perusahaan Angkutan Wisata. Hotel dan jenis akomodasi lainnya. Bar dan restoran serta rumah makan lainnya. Objek wisata dan atraksi wisata.

Tentang sarana pokok kepariwisataan ini, Nyoman S. Pendit menyebutkan dengan istilah perusahaan utama langsung. Perusahaan utama langsung dapat dibagi menjadi dua, yaitu perusahaan yang termasuk objek sentra dan subjek sentra. Adapun yang dimaksud dengan perusahaan utama yang langsung adalah semua perusahaan yang tujuan pelayanannya khusus diperuntukkan bagi perkembangan kepariwisataan dan kehidupannya benar-benar bergantung padanya. Perusahaan utama yang termasuk dalam kategori objek sentra antara lain sebagai berikut: (1) Perusahaan akomodasi: hotel, motel, asrama, bungalow, dan lain-lain. (2) Perusahaan angkutan wisata: angkutan udara, darat, laut, dan KA. (3) Perusahaan kerajinan tangan, barang-barang kesenian, dan lain-lain. (4) Souvenir Shop, benda-benda khusus untuk wisatawan. (5) Usaha liburan, pemandu wisata, penerjemah, dsb. (6) Lembaga atau badan yang khusus promosi kepariwisataan. (7) Tempat peristirahatan khusus, Spa, sanatorium, dsb. Perusahaan yang termasuk dalam kategori subjek sentra antara lain sebagai berikut: (1) Perusahaan penerbitan kepariwisataan untuk promosi wisata. (2) Bank pariwisata, travel credit, badan pariwisata sosial. (3) Asuransi wisata. b. Sarana Pelengkap Kepariwisataan Sarana pelengkap kepariwisataan adalah perusahaan atau tempat yang menyediakan fasilitas rekreasi yang fungsinya melengkapi sarana pokok kepariwisataan dan membuat para wisatawan dapat lebih lama tinggal pada suatu DTW. Termasuk dalam kelompok ini adalah: (1) sarana olah raga, seperti (a) lapangan tenis, (b) lapangan golf, (c) kolam renang, (d) permainan bowling, (e) daerah perburuan, (f) berlayar, dan (g) berselancar. (2) sarana ketangkasan, seperti (a) permainan bola sodok (bilyard), (b) jackpot, dan (c) amusement lainnya. c. Sarana Penunjang Kepariwisataan Sarana penunjang kepariwisataan adalah perusahaan yang menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok. Berfungsi tidak hanya membuat wisatawan lebih lama tinggal pada suatu DTW, tetapi fungsi yang lebih penting adalah agar wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat yang dikunjunginya. Yang termasuk dalam kelompok ini, ialah
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 43

(1) Night Club, (2) Steam baths, dan (3) Casinos.

BAB XII SEJARAH DAN ORGANISASI KEPARIWISATAAN INDONESIA A. Sejarah Kepariwisataan Indonesia Sejarah perkembangan kepariwisataan di Indonesia dalam perjalanan sejarahnya mengalami pasangsurut, seiring dengan situasi zaman. Untuk mengetahui perkembangan kepariwisataan di Indonesia sesuai urutan kronologis historisnya, berikut ini akan dikemukakan secara garis besar sejarah perkembangan kepariwisataan di Indonesia. 1. Sebelum Perang Dunia II a. Tahun 1910 Kegiatannya: menyelenggarakan perjalann wisata bagi orang-orang Belanda di Indonesia. Objek wisata pada waktu itu: Brastagi, Danau Toba di Sumatera Utara, Bogor, Lembang, Pengalengan, dan Bandung (“Parijs van Java”) di Jabar. Sarangan, Tawangmangu, Tretes di Jatim, Bali dan sebagainya b. Tahun 1926 Didirikan beberapa hotel, misalnya Hotel des Indes dan Hotel der Nederlander di Batavia (Jakarta), Hotel Savoy Homan, dan Grand Hotel Preager di Bandung. Hotel Simpang di Surabaya, Hotel de Boer di Medan, Hotel Balu di Denpasar serta beberapa losmen dan pesanggrahan lainnya. Perusahaan yang berkaitan dengan perjalanan pada waktu itu adalah sebagai berikut: Perusahaan Kereta Api : Staat Spoor (s.s.). Perusahaan Angkutan Udara : Koninklijke Paket vaart Maatschappij (KPM). Perusahaan Angkutan Udara : Koninklijke Lucht vaart Maatschappij (KLM). c. Tahun 1926 Pemerintah Belanda mendirikan (LISLIND) di Batavia. perusahaan perjalanan “LISSONNE LINDEMAN

2. Zaman Pendudukan Jepang

3. Tahun 1945 sampai dengan 1957 a. Tahun 1947 Daerah Yogyakarta, Solo, Madiun, Sarangan, Malang, Purwokerto, Pekalongan, Cirebon dan Sukabumi dikuasai RI, terdapat hotel milik Belanda. Untuk mengelola hotel-hotel tersebut

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 44

pemerintah mendirikan Perusahaan Negara Hotel Negara dan Tourisme (Honet) di bawah Kementrian Perhubungan. b. Tahun 1953 Beberapa pengusaha hotel swasta mendirikan Serikat Gabungan Hotel dan Tourisme Indonesia (Sergahti). c. Tahun 1955 Berdiri Yayasan Tourisme Indonesia (Y.T.I), diprakasai dan dipimpin oleh Prof. Dr. Hendarmin (Ketua), Wongsonegoro (Wakil Ketua) dan R.M. Harjoto (Sekretaris). Pihak Pemerintah, Bank Industri Negara, mendirikan National Hotels and Tourisme Ltd. (Natour Ltd.), mengelola: Hotel Simpang di Surabaya, Bali Hotel di Denpasar, Kuta Beach Hotel di Kuta Bali, Sindhu Beach Hotel di Sanur Bali dan Hotel Numbai di Jayapura Irian Jaya. d. Tahun 1956 Pemerintah menyelenggarakan Pekan Raya di Jakarta yang disebut 1956 Tourism and Entertainment Fair dipimpin oleh Ny. Fatmawati Soekarno. e. Tahun 1957 Pada tanggal 12-14 Januari 1957 di Tugu Bogor, diselenggarakan Musyawarah Nasional Tourisme I, yang melahirkan Dewan Tourisme Indonesia (DTI) sebagai pengganti Yayasan Tourisme Indonesia, dengan status semi pemerintah. Dengan pengurus sebagai berikut: Ketua : Sri Sultan Hamengku Buwono IX Wakil Ketua : Sri Boedjono Sekretaris : M.S Harris Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 129 tahun 1957, pada Kementrian Perhubungan dibentuk bagian tourisme di bawah Biro Sekretariat Jenderal Kementrian Perhubungan. 4. Tahun 1958 sampai dengan 1964 a. Tahun 1958 Di Tretes Jawa Timur, diselenggarakan Musyawarah Nasional Tourisme II, menghasilkan istilah pariwisata sebagai istilah tourisme. b. Tahun 1959 Dewan Tourisme Indonesia bekerjasama dengan PATA mengadakan riset dan survey kepariwisataan Indonesia. c. Tahun 1960 (1) Diterbitkan SK menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Telegrap Nomor H. 2/3/10 tanggal 14 Maret 1960. Menetapkan dewan Tourisme Indonesia ditunjuk sebagai satu-satunya badan yang bertanggung jawab penuh untuk mengatur dan menyelenggarakan segala kegiatan tourisme Indonesia. (2) SK Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Telegrap Nomor H.2/4/9 tanggal 30 Maret 1960. NITOUR ditunjuk sebagai satu-satunya perusahaan yang mengurus perjalanan wisatawan asing Indonesia. (3) Tahun 1960 Dewan Tourisme Indonesia diubah menjadi Dewan Pariwisata Indonesia (Depari). (4) Tehun 1960 dibentuk Depatemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata dengan menterinya Letjen. GPH. Djatikusumo.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 45

Khusus bidang kepariwisataan, diangkat seorang Pembantu menteri Urusan Pariwisata (Pupar) yaitu Letkol. (L) Djali Aznam. (5) Tahun 1960 dibentuk Badan Konsultasi Souvenir Shop sebagai suatu himpunan pengusahapengusaha toko souvenir. (6) Beberapa kegiatan tersebut: (a) Pembangunan Hotel Indonesia di Jakarta, Samudera Beach Hotel di Pelabuha Ratu (Jabar), Ambarukmo Palace Hotel di Yogyakata dan Bali Beach Hotel di Denpasar. Dibangun 1962 dibiayai dengan pampasan perang dari Jepang. (b) Pembangunan pembangunan teater terbuka Roro Jonggrang di Kompleks Candi Prambanan (Jateng) untuk pertunjukkan sendratari Ramayana. (c) Kampanye kepariwisataan Indonesia Floating Fair 1961 ke Singapura, Hongkong, Tokyo, Osaka, Honolulu, dan Manila dengan misi kebudayaan Indonesia. (d) Tahun 1963, pertama kali Indonesia sebagai tuan rumah konferensi di Hotel Indonesia dan lokakarya di Gedung Merdeka Bandung. (7) SK Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata Nomor U.14/9/12 tanggal 16 Juni 1964, dibentuk Direktorat Kepariwisataan. Selanjutnya, dalam perkembangannya diubah menjadi Inspektorat Pariwisata dengan inspekturnya letkol. (L) Djali Aznam. 5. Kurun Waktu 1965 – Sekarang a. Tahun 1965, pengembangan kepariwisataan di Indonesia ditangani oleh Departemen dengan dibentuknya Departemen Pariwisata dengan Menterinya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. b. Tahun 1966, pemerintah membentuk PT Hotel Indonesia Internasional; (PT HII) dengan tugas pokok mengelola hotel-hotel Negara yang didirikan tahun 1962, yaitu Hotel Indonesia, Ambarukmo Palace Hotel, Samudra Beach Hotel dan Bali Beach Hotel. c. Tahun 1966, dibentuk Lembaga Kepariwisataan Republik Indonesia (Gatari) menggantikan Departemen Wisata. Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 103/U/Kep/1966 tanggal 7 Desember 1966, Lembaga Kepariwisataan Republik Indonesia diubah menjadi Lembaga Pariwisata Nasional (LPN) diketuai Brigadir Jenderal Subroto Kusmardjo. d. Tahun 1967, berdiri 2 perhimpunan Biro Perjalanan yaitu Majelis Travel Association Indonesia (Matrai) yang merupakan perhimpunan Biro-Biro Perjalanan Anggota IATA dan Indonesia Tours and Travel Association (ITTRA) yang merupakan perhimpunan Biro-Biro Perjalanan bukan anggota IATA (non IATA). e. Tahun 1969, awal pemantapan dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia antara lain sebagai berikut: (1) Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 1969 dibentuk Sektor L yang diketuai oleh Menteri Perhubungan dengan tugas melaksanakan Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi (KIS) kegiatan-kegiatan operasional pembangunan bidang kepariwisataan. (2) Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 1969 tanggal 22 Maret 1969 dibentuk: Dewan Pertimbangan Kepariwisataan Nasional (Deparnas), yang bertugas membantu Presiden dalam penetapan kebijakan umum di bidang kepariwisataan. Direktur Jenderal Pariwisata, di bawah struktur organisasi Departemen Perhubungan. (3) Inpres Nomor 9 tahun 1969 tanggal 6 Agustus 1969, dibentuk Badan Pengembangan Kepariwisataan Daerah (Bapparda) sebagai badan Konsultatif Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di Bidang Kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I Dinas Pariwisata Daerah (Diparda). f. Tanggal 8 Februari 1969, di bidang perhotelan, dibentuk perhimpunan Indonesia Tourist Hotels Association (ITHA). Tanggal 8 Februari 1969 diubah menjadi Indonesia Hotels and Restaurant

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 46

g.

h. i. j.

k. l.

Association (IHRA), atau dalam bahasa Indonesia disebut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Tahun 1971, Matrai dan Ittra bergabung dengan nama Himpunan Perusahaan Perjalanan Indonesia (HPPI) lebih dikenal dengan nama Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita). Tahun 1972, Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1972 dibentuk Badan Pengembangan Rencana Induk Pariwisata Bali (BPRIP Bali). Tahun 1974, kedua kalinya Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi PATA. Konferensi di Balai Sidang Senayan Jakarta dan Lokakarya diselenggarakan di Bali Beach Hotel Bali. Tahun 1978, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.147/OT/202-Phb-77 tanggal 31 Desember 1977 dan Nomor KM.121/OT/Phb-78 tanggal 21 April 1978, dibentuk Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pariwisata di 10 daerah tujuan wisata. Tahun 1979, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1979 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I. Tahun 1980, diadakan penyempurnaan organisasi dan tata kerja Direktorat jenderal Pariwisata, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.164/OT/002/Phb-80 tanggal 14 Juli 1980.

B. Organisasi Kepariwisataan Indonesia Dewasa Ini 1. Tingkat Pusat a. Dewan Pertimbangan Kepariwisataan Nasional (Deparnas) merupakan badan yang bertugas membantu presiden dalam menetapkan kebijakan umum di bidang pengembangan kepariwisataan. Susunan keanggotaan Deparnas adalah sebagai berikut: Ketua merangkap anggota: Menteri Ekuin Anggota-anggota: Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kehakiman, Menteri HANKAM, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial, Menteri Penerangan, Gubernur Bank Sentral dan Ketua BAPPENAS. b. Direktorat Jenderal Pariwisata Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.164/OT.002/Phb-80 tanggal 14 Juli 1980 Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Pariwisata ditetapkan sebagai berikut: (1) Tugas Pokok Melaksanakan sebagian tugas Departemen Perhubungan di bidang kepariwisataan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. (2) Fungsi (a) Perumusan kebijakan teknis, pemberian bimbingan dan pembinaan serta pemberian perizinan di bidang kepariwisataan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh menteri dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. (b) Pelaksanaan sesuai dengan tugas pokok Direktorat Jenderal Pariwisata, dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. (c) Pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pariwisata sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri serta berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. (3) Organisasi Direktorat Jenderal Pariwisata terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut: (a) Secretariat Direktorat Jenderal Pariwisata (b) Direktorat Bina Pelayanan Wisata
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 47

(c) Direktorat Bina Pemasaran Wisata c. Badan Pengembangan Pariwisata Nasional (Bapparnas) Merupakan badan konsultatif Menteri Perhubungan. Di dalam melaksanakan tugasnya, Bapparnas mengadakan kerjasama yang sebaik-baiknya dengan Direktorat Jenderal Pariwisata. Keanggotaan Bapparnas ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor SK.32/OT/001/Phb-78 tanggal 12 April 1978, dengan susunan sebagai berikut:  Ketua : Menteri Perhubungan  Wakil Ketua : Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan  Ketua Pengurus Harian/Anggota : Direktur Jenderal Pariwisata  Sekretaris I/Anggota : Kepala Direktorat Bina Layanan Wisata  Sekretaris II/Anggota : Sekretaris PHRI Anggota-anggota terdiri dari:  Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan ,  Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum,  Direktur Jenderal Imigrasi,  Direktur Jenderal Kebudayaan,  Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah & Olah Raga,  Direktur Jenderal Pemerintah Umum dan Otonomi Daerah,  Direktur Jenderal Perhubungan Udara/Ketua Komite Nasional Facilitation Airlines (FAL) Indonesia,  Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler,  Direktur Jenderal Aneka Industri dan Kerajinan,  Direktur Jenderal Kehutanan,  Direktur Utama PT Garuda,  Direktur Utama MNA,  Ketua Umum ASITA,  Ketua Umum PHRI dan Ketua Badan Pengembangan Rencana Induk Pariwisata Bali. Untuk melaksanakan tugas sehari-hari dibentuk suatu pengurus harian, dengan susunan keanggotaan sebagai berikut:  Ketua/Anggota : Direktur Jenderal Pariwisata  Sekretaris I/Anggota : Kepala Direktorat Bina Pelayanan Wisata  Sekretaris II/Anggota : Sekretaris Jenderal PHRI  Anggota-Anggota : Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah (PUOD), Ketua Umum ASITA, dan Ketua Umum PHRI. 2. Tingkat Daerah a. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pariwisata KWDJP merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Pariwisata. Dengan memperhatikan segi kesiapan prasarana dan sarana, pada tahap pertama dibentuk Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pariwisata di 10 daerah tujuan wisata. Yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Susunan organisasi dan tata kerjanya diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.147/OT.202/Phb-77 tanggal 31 Desember 1977 sebagai berikut: (1) Tugas
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 48

Menyelenggarakan tugas Direktorat Jenderal Pariwisata di wilayah kewenangannya, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata. (2) Fungsi Untuk menyelenggarakan tugas di atas, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pariwisata mempunyai fungsi sebagai berikut; (a) Memberikan bimbingan dan pembinaan di bidang kepariwisataan dalam wilayahnya. Sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata dan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku. (b) Mengawasi dan mengamankan pelaksanaan, berdasarkan kebijakan Direktorat Jenderal Pariwisata berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. (c) Memberikan informasi dan bantuan teknis kepada perwakilan Departemen Perhubungan di wilayahnya. (3) Organisasi Kantor Wilayah terdiri dari: (a) Bagian Tata Usaha (b) Bidang Bina Pelayanan Wisata b. Badan Pariwisata Daerah (Diparda) Diparda merupakan unsur pelaksana dari Pemerintah Daerah Tingkat I di bidang pariwisata. Adapun urusan-urusan di bidang kepariwisataan yang ditangani oleh Dinas Pariwisata Daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1979. Tentang penyerahan sebagian urusan pemerintah dalam bidang kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I (Deparpostel, 1981).

BAB XIII UPAYA PENGEMBANGAN PARIWISATA A. PARIWISATA ALTERNATIF Istilah Pariwisata Alternatif atau Alternative Tourism mempunyai dua pengertian, yaitu: 1. Sebagai salah satu bentuk kepariwisataan yang timbul sebagai reaksi terhadap dampak-dampak negatif dari pengembangan dan perkembangan pariwisata konvensional; 2. Sebagai bentuk kepariwisataan yang berbeda (yang merupakan alternatif) dari pariwisata konvensional untuk menunjang kelestarian lingkungan. Untuk memahami hakikat pariwisata alternatif, baik yang merupakan reaksi dari dampak-dampak negatif pariwisata konvensional maupun yang sengaja dimunculkan untuk menunjang kelestarian lingkungan, perlu juga dibahas perkembangan pariwisata dari perspektif historis. a. Pariwisata Modern atau Konvensional? Bentuk pariwisata seperti yang kita kenal dewasa ini yang sering disebut pariwisata modern bermula dari suatu bentuk periwisata yang dipelopori oleh Thomas Cook. Ia menyelenggarakan suatu inclusive tour dari Leicester ke Loughbourough p.p. pada tanggal 5 Juli 1842 dengan biaya 1 Shilling/orang. Paket wisata (package tour) atau inclusive tour itu diikuti oleh 570 orang berkat upaya promosi yang dilakukan melalui iklan. Keberhasilan
Page 49

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Thomas Cook itu kemudian ditiru oleh orang lain dengan mendirikan perusahaan-perusahaan perjalanan (tour operators) yang menyelenggarakan berbagai paket wisata atau packaged tour. Pada akhirnya usaha itu menjadi semakin berkembang serta menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena waktu itu bentuk kegiatan wisata/pariwisata seperti yang diperkenalkan oleh Thomas Cook tersebut merupakan suatu hal atau fenomena batu maka Thomas Cook kemudian dijuluki sebagai Bapak atau Arsitek Pariwisata Modern. Jenis atau bentuk kegiatan wisata yang dikemas dalam paket-paket wisata itulah yang sebelumnya disebut sebagai bentuk kepariwisataan alternative, maka apa yang dulu disebut sebagai pariwisata modern itu kini disebut sebagai pariwisata konvensional. b. Pariwisata Berskala Besar Sejak berakhirnya Perang Dunia II, terutama sejak tahun 1960-an, dengan dimulainya pengoperasian pesawat-pesawat terbang berbadan lebar, kegiatan wisata internasional maupun domestic, dan badan-badan usaha kepariwisataan (Industri Pariwisata) berkembang pesat sekali. Dewasa ini per tahunnya ada lebih dari 500 juta international tourism arrivals dengan lebih dari US$ 400 milyar belanja wisatawan internasional (International tourism expenditures). Belum lagi kegiatan wisata domestik dan pengeluaran wisatawan domestik. Sehubungan dengan itu maka dewasa ini badan-badan usaha kepariwisataan telah berkembang menjadi satuan industry pariwisata yang terbesar di dunia (the biggest single industry in the world).

B.

CIRI PARIWISATA KONVENSIONAL Ciri-ciri dari pariwisata konvensional adalah: 1. Kegiatan wisata tersebut memiliki jumlah yang besar (mass tourism). 2. Sebagian dikemas dalam satuan paket wisata (package tour). 3. Pembangunan sarana dan fasilitas kepariwisataan berskala besar dan mewah. 4. Memerlukan tempat-tempat yang dianggap strategis dengan tanah yang cukup luas.

Dengan semakin pesatnya perkembangan industri pariwisata, maka persaingan di antara mereka menjadi semakin ketat sehingga pengembangan dan perkembangan pariwisata serta industri pariwisata menjadi sangat eksploitatif terhadap: a. Sumber daya manusia, khususnya masyarakat/penduduk setempat. Berbagai dampak negatif pariwisata terhadap masyarakat/penduduk setempat antara lain sebagai berikut: 1) terjadinya degradasi nilai-nilai sosial-budaya, 2) nilai-nilai degradasi nilai-nilai moral. 3) komersialisasi prostitusi, termasuk prostitusi anak-anak, 4) penggusuran penduduk, kemiskinan dan lain sebagainya. b. Sumber Daya Alam Pariwisata ternyata juga memberikan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, antara lain: 1) pencemaran lingkungan, 2) kerusakan lingkungan dan ekosistem.

C. REAKSI Berbagai dampak negatif yang terjadi akibat adanya kegiatan pariwisata, terutama sekali yang terjadi pada masyarakat/penduduk setempat, menimbulkan keprihatinan di kalangan rohaniawan,
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 50

cendekiawan dan tokoh-tokoh masyarakat. Keprihatinan ini mendorong mereka, dengan sponsor dari The Christian Conference of Asia, untuk menyelenggarakan serangkaian lokakarya internasional (internasional workshop). Berbagai lokakarya yang pernah mereka lakukan antara lain: 1. Tanggal 9-16 Juni 1975 di Penang, Malaysia. Pada lokakarya ini ditemu-kenali hal-hal sebagai berikut: a. Terjadinya berbagai dampak negatif seperti yang sudah disebutkan di atas. b. Terjadinya berbagai hal positif, seperti perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan pemerintah, termasuk devisa. Adanya dampak positif ini menimbulkan sikap mendua seperti yang tercermin dari judul prosiding lokakarya tersebut, Tourism: The Asian Dilemma. 2. Tanggal 12-25 September 1980, di Manila, Filipina, di mana disadari bahwa pariwisata: a. tidak bisa dibendung b. bukan lagi suatu bentuk kegiatan dari kelompok elit saja, tetapi juga dilakukan oleh lapisan masyarakat bawah. 3. Tanggal 26 April – 8 Mei 1984 di Chiangmai, Thailand, di mana tim melaporkan hasil kerja mereka, antara lain: a. memperkenalkan konsep Alternatif Tourism b. membentuk sebuah wadah bernama Ecuminical Coalition on Third Word Tourism (ECTWT). Lembaga itu kemudian menerbitkan: 1) sebuah kala warta (newsletter) bernama Contours, singkatan dari Concern for Tourism. 2) berbagai buku panduan atau manual-manual tentang pengembangan Alternative Tourism. 3) buku-buku dan penerbitan lainnya yang menggambarkan berbagai dampak negatif pariwisata. Mereka juga menyelenggarakan pertemuan-pertemuan di berbagai negara untuk mengulas pengembangan dan perkembangan pariwisata secara kritis beserta dengan berbagai dampak negatifnya. Karena pada hakikatnya gerakan tersebut merupakan reaksi terhadap (dampak negatif) pariwisata konservatif, maka berbagai pandangan yang mereka kemukakan dan juga perilaku gerakan mereka pada umumnya diwarnai oleh sikap antipariwisata. Rumusan definisi tentang pengertian Pariwisata Alternatif adalah sebagai berikut: Alternative Tourism is a process which promotes a just form of between members of different communities. It seeks to achive mutual understanding, solidarity and equality among participants. D. MENUNJANG KELESTARIAN LINGKUNGAN Jenis pariwisata alternatif, yang merupakan alternatif dari pariwisata konvensional, timbul karena: 1. Adanya suatu asumsi bahwa pariwisata memerlukan lingkungan yang baik, 2. Kesadaran bahwa pariwisata dapat digunakan sebagai instrument untuk menjunjang upaya pelestarian lingkungan. Salah satu bentuk pariwisata alternatif, dalam artian jenis atau bentuk pariwisata yang berbeda dari pariwisata konvensional, disebut dengan ecotourism. Semula ecotourism masih di identikkan dengan nature tourism atau wisata alam biasa seperti yang tercermin dari definisi yang dirumuskan oleh Hector Coballos-Lascurain, yang memperkenalkan istilah ecotourism, pada tahun 1987, yaitu: Nature or ecotourisme is tourism that consists in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objective of studying, admiring, and enjoying the

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 51

scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in these areas. Sementara itu para pemerhati/pakar lingkungan mulai menyadari bahwa berbagai upaya untuk menjaga lingkungan tidak akan efektif jika tidak didukung oleh masyarakat luas, khususnya penduduk setempat; dan penduduk setempat akan mendukungnya jika mereka dapat memperoleh manfaat dari lingkungan yang lestari itu, yang berupa peningkatan kesejahteraan hidup. Sehubungan dengan itu maka pada tahun 1993 The Ecotourism Society, suatu organisasi nirlaba yang didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1991, member rumusan definisi yang bersifat proaktif tentang pengertian ecotourism, yaitu: Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserves the environment and improves the welfare of local people. Sementara itu banyak pakar yang menyadari bahwa pariwisata, meskipun membutuhkan lingkungan yang baik, termasuk ecotourism, juga dapat menimbulkan sebagai dampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran, kerusakan lingkungan dan ekosistem dalam segala bentuk manifestasinya. Sehubungan dengan itu maka timbullah berbagai istilah lainnya seperti, misalnya responsible tourism, acceptable tourism, community based tourism, sustainable tourism dan lain sebagainya. Meskipun masing-masing mempunyai pendekatan yang berbeda, namun semuanya mengacu pada bentuk/jenis pariwisata yang menunjang upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. E. PERUBAHAN PERSEPSI Berbagai dampak negatif pariwisata terutama disebabkan oleh pengembangan periwisata yang dilakukan semata-mata dengan pendekatan ekonomi di mana pariwisata dipersepsikan sebagai instrument untuk meningkatkan pendapatan, terutama pada bidang usaha swasta dan pemerintah. Persaingan yang semakin ketat menyebabkan pengembangan dan perkembangan pariwisata menjadi sangat eksploitatif terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam. Pola perkembangan seperti itu telah berlangsung cukup lama, paling tidak sejak tahun 1960-an, sehingga sudah melekat pada hampir semua upaya pengembangan dan perkembangan pariwisata, termasuk perkembangan Alternative Tourism dan bentuk-bentuk pariwisata alternatif lainnya. Sehubungan dengan hal itu maka pengembangan Alternative Tourism dan bentuk-bentuk pariwisata alternatif lainnya itu termasuk ecotourism mudah terjerat dalam kesalahan yang sama dengan pengembangan pariwisata konservatif (seperti yang telah disinggung di atas) sehingga Alternative Tourism juga dapat menimbulkan dampak negatif yang sama. Untuk menghindari berbagai kekeliruan tersebut maka diperlukan pendekatan-pendekatan yang berbeda: 1. Perubahan persepsi tentang pariwisata Pariwisata harus dipersepsikan sebagai suatu alat atau instrument untuk meningkatkan: a. Kualitas hubungan antarmanusia. b. Kualitas hidup penduduk setempat. c. Kualitas lingkungan hidup. 2. Kriteria-kriteria pengembangan pariwisata Untuk memberikan arahan yang lebih jelas tentang pengembangan perlu ditetapkan beberapa criteria seperti yang diperkrnalkan oleh Rev Ron O‟Grady berikut ini: a. Decision-making about the form of tourism in any place must be made in consultation with the local people and be acceptable to them.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 52

A reasonable share of the profits derived from tourism must return to the people. Tourism must be based on sound environmental and ecological principles, be sensitive to local cultural and religious traditions and should not place any members of the host community in a position of inferiority. d. The number of tourism visiting any area should not be such that they overhelm the local population and deny the possibility of genuine human encounter. 3. Pengembangan pariwisata perlu dijadikan sebagai bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan (sustainable development). Karena merupakan bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan (sustainable development) maka pengembangan pariwisata harus dilakukan dalam kesatuan yang terpadu dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. F. KEBIJAKSANAAN PENGEMBANGAN WISATA ALAM Kebijaksanaan ini diikuti oleh paket kebijaksanaan lainnya, baik yang secara langsung maupun yang tidak langsung memberikan dampak terhadap usaha pengembangan industry pariwisata. Dari segi ekonomi, periwisata alam akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan di daerah-daerah terpencil. Dibandingkan dengan pariwisata tradisional, pariwisata alam membutuhkan investasi yang relatif lebih besar untuk pembangunan sarana dan prasarananya. Untuk itu diperlukan evaluasi yang teliti terhadap kegiatan pariwisata alam tersebut. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa pariwisata alam yang berbentuk ekoturisme belum berhasil berperan sebagai alat konservasi alam maupun untuk mengembangkan perekonomian. Salah satu penyebabnya adalah masih sulitnya mendapatkan dana pengembangan kegiatannya. Kalaupun ada keuntungan yang didapatkan dari penyelenggaraan pariwisata jenis tersebut, namun masih relatif kecil jumlah yang dialokasikan untuk mendukung usaha konservasi dan pengembangan ekonomi.

b. c.

1. Pendapatan dan permintaan Pengelolaan kawasan wisata alam banyak menggunakan dana dari pengunjung; sebagai mekanisme pengembalian biaya pengelolaan dan pelestarian alam atau program pengembangan masyarakat. Secara umum pendapatan dari kegiatan pariwisata alam belum tercapai secara optimal. Di dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata alam di kawasan pelestarian alam diperlukan suatu pengusahaan bisnis pariwisata alam agar mampu menyerap wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestic, antara lain dengan mengembangkan aktivitas-aktivitas tradisional, menata objek dan daya tarik alam yang khas, konservasi dan pemberian insentif wisata alam terhadap wisatawan local. Kajian tentang tingkat pemulihan biaya perlu dipertimbangkan untuk mengetahui biaya untuk menutup investasi pengembangan pariwisata alam, pengeluaran investasi pembangunan pariwisata alam, pengeluaran investasi pembangunan pariwisata alam dan pengoperasiannya dan di samping juga harus mampu menutup biaya tidak langsung akibat dampak negative kegiatan pariwisata tersebut terhadap masyarakat (social cost) yang mana biaya tersebut sulit dikuantifikasikan. Agar dapat memperoleh keuntungan, pendapat yang ditentukan harus lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka pengusahaan pariwisata. Namun untuk pengelolaan kawasan pelestarian alam, keuntungan yang dicari adalah keuntungan yang optimal. Optimasilsasi keuntungan dari pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam pengusahaan pariwisata ala mini tidak sama dengan memaksimalkan pendapatan dengan menarik wisatawan sebanyak-banyaknya. Keuntungan maksimal juga dapat dicapai pada tingkat kunjungan yang lebih rendah karena biaya fungsional, pelestarian

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 53

alam dan biaya social dapat meningkat lebih cepat daripada pendapatan pada tingkat kunjungan yang lebih tinggi. 2. Kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat Salah satu peluang bagi masyarakat di sekitar objek wisata alam adalah kesempatan bekerja pada objek wisata, baik sebagai tenaga staf maupun sebagai tenaga buruh kerja. Pengembangan suatu objek wisata akan member dampak positif bagi kehidupan perekonomian masyarakat, yaitu membuka kesempatan berusaha seperti usaha penyediaan makanan, minuman dan usaha transportasi baik tradisional maupun konvensional. Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 5/1990 pasal 34 ayat 4, yaitu member kesempatan kepada rakyat untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan pelestarian alam. Dengan terbukanya berbagai kesempatan usaha tersebut diharapkan akan dapat terjadi interaksi yang positif antara masyarakat dan objek wisata alam, yang selanjutnya akan menimbulkan rasa ikut memiliki yang pada gilirannya perasaan itu akan terwujud dalam bentuk partisipasi baik langsung maupun tak langsung dalam kegiatan pariwisata, misalnya pengamanan kawasan, ketertiban dan kebersihan kawasan, penyediaan sarana dan prasarana, termasuk kebutuhan akomodasi (homestay). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengelolaan objek wisata alam secara professional memungkinkan untuk berkembangnya kegiatan pengusahaan pariwisata alam yang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. 3. Pengusahaan Wisata Alam Untuk menciptakan iklim usaha dan peluang ekonomi yang secara professional memanfaatkan kegiatan wisata alam, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijaksanaan. Departemen Kehutanan telah mengantisipasinya sejak tahun 1989, yaitu dengan diterbitkannya SK Menteri Kehutanan No. 68/Kpts II/1989 tentang Pengusahaan Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Laut. Ketentuan mengenai pengusahaan pariwisata alam kemudian diperkuat dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi, yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Demikian pula dalam pengembangan Wisata Buru, telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1994 tentang Perburuan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam pengusahaan pariwisata alam tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan minat swasta untuk menjadi mitra kerja yang dapat menunjang pembangunan pariwisata alam di masa mendatang. Gambaran perkembangan pengusahaan pariwisata alam di Indonesia adalah sebagai berikut (label terlampir):  Sebelum ada SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1989, terdapat 4 perusahaan wisata alam di 4 lokasi kawasan pelestarian alam.  Sesudah adanya SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1989, ada 12 perusahaan pariwisata alam baru di 34 lokasi kawasan pelestaria alam.  Sesudah terbitnya Peraturan Pemerintah No. 18/1994, bertambah 2 perusahaan wisata alam baru di 3 lokasi kawasan pelestarian alam. Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah dalam meningkatkan devisa negara, peluang pengembangan pariwisata alam masih perlu ditingkatkan dengan peningkatan mutu pelayanan dan diversifikasi usaha agar dapat menghasilkan nilai tambah, baik dari segi mutu penikmatan objek maupun pelayanan, sehingga dapat memenuhi permintaan jasa wisata alam baik dari wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 54

4. Penerimaan Negara Prospek kegiatan pariwisata alam dalam memberikan andil dalam penerimaan negara cukup besar, baik untuk penerimaan langsung (karcis masuk, pungutan iuran pengusahaan pariwisata alam/PIPPA dalam pungutan usaha pariwisata alam/PUPA) maupun tak langsung melalui pengeluaran wisatawan. Pada Repelita VI ditetapkan sasaran jumlah kunjungan wisata, yaitu 6,5 juta wisatawan mancanegara dan 84 juta wisatawan domestik dengan perkiraan jumlah penerimaan 8 s/d 9 milyar USD dari wisatawan mancanegara dan Rp 8,424 milyar dari wisatawan domestik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13,02% merupakan pengunjung objek wisata alam (antara lain gunung dan pantai) (BPS, 1992). Dengan telah ditetapkannya peraturan perundangan tentang pengusahaan pariwisata alam, maka sumber penerimaan negara berupa pajak retribusi masuk kawasan wisata alam, pungutan usaha pariwisata alam dan iuran usaha pariwisata alam, meskipun sementara ini pemasukan dari pungutan pariwisata alam tersebut masih kecil (sampai tahun 1994 ± Rp 3 milyar), namun diharapkan untuk masa yang akan datang akan terus meningkat sejalan dengan pembenahan pengelolaannya. Kendalakendala antara lain adalah jangka waktu usaha yang belum menjanjikan keuntungan dan peraturan pemerintah yang belum dapat mewadahi iklim usaha pariwisata alam. 5. Peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata alam Untuk mengembangkan pariwisata alam di suatu daerah mutlak diperlukan kerjasama dengan masyarakat sekitar. Untuk menjamin pelaksanaannya diperlukan suatu wadah, lembaga atau badan hukum untuk mengelola dan memanfaatkannya sebagai suatu tourist attraction. Pembentukan yayasan atau badan hukum yang mengelola atau mengusahakan objek wisata alam tersebut akan memberikan manfaat terutama bagi upaya perlindungan dan pelestarian serta pemanfaatan potensi dan jasa lingkungan sumber daya alam. Di lain pihak peran serta masyarakat dapat terwujud oleh karena manfaatnya dapat secara langsung dirasakan melalui terbukanya kesempatan kerja dan usaha jasa wisata yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan mereka. Dengan demikian diharapkan bahwa situasi tersebut akan dapat menggugah keterlibatan masyarakat sehingga mereka mau ikut berperan di dalamnya, baik secara aktif maupun pasif. Peran serta aktif dilaksanakan secara langsung, baik secara peorangan maupun secara bersamasama, yang secara sadar ikut membantu program pemerintah dengan inisiatif dan kreasi mau melibatkan diri dalam kegiatan pengusahaan pariwisata alam atau melalui pembinaan rasa ikut memiliki di kalangan masyarakat. Peran serta pasif adalah timbulnya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menggangu atau merusak lingkungan alam. Dalam peran serta pasif itu masyarakat cenderung sekedar melaksanakan perintah dan mendukung terpeliharanya konservasi sumber daya alam. Upaya peningkatan peran serta pasif dapat dilakukan melalui penyuluhan maupun dialog dengan aparat pemerintah, penyebaran informasi mengenai pentingnya upaya pelestarian sumber daya alam di sekitar kawasan objek wisata alam yang juga mempunyai dampak positif terhadap perekonomian. Keikutsertaan masyarakat sekitar kawasan objek wisata alam dapat berbentuk usaha dagang atau pelayanan jasa, baik di dalam maupun di luar kawasan objek wisata, antara lain: - Jasa penginapan atau homestay. - Penyediaan/usaha warung makanan dan minuman. - Penyediaan/toko souvenir/cinderamata dari daerah tersebut. - Jasa pemandu/penunjuk jalan. - Photografi. - Menjadi pegawai perusahaan/pengusahaan wisata alam, dan lain-lain.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 55

Kegiatan usaha masyarakat tersebut akan dapat menciptakan suasana rasa ikut memiliki tempat mata pencaharian yang pada akhirnya akan mendorong masyarakat untuk ikut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan lingkungan alam dapat pula dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar dengan membentuk suatu wadah yayasan atau badan hukum untuk memperoleh konsesi pengusahaan pariwisata alam. Salah satu sebab terjadinya gangguan terhadap kawasan objek wisata alam adalah kurangnya kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar kawasan objek wisata. Sesuai dengan strategi pemerintah dalam pengembangan pariwisata alam yang terkait dengan pengembangan peran serta masyarakat, pengembangan pariwisata alam diharapkan mampu meningkatkan kesempatan dan peluang bagi masyarakat untuk menikmati manfaatnya, sehingga perkembangan kegiatan pariwisata alam ikut membantu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 6. Pengembangan pariwisata alam yang berwawasan lingkungan Kegiatan pariwisata alam selain memberikan dampak positif juga dapat membawa dampak negatif terhadap lingkungan, baik terhadap lingkungan objek wisata alam maupun terhadap lingkungan sosial budaya setempat. Dampak negative terhadap alam umumnya terjadi sebagai akibat perencanaan pengelolaan objek wisata alam yang kurang baik, misalnya perencanaan pengembangan kegiatan wisata yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dan kurangnya pengetahuan, kendaraan, serta pendidikan masyarakat dan wisatawan terhadap kelestarian lingkungan. Pemanfaatan kawasan konservasi, baik dalam bentuk Kawasan Pelestarian Alam maupun Kawasan Suaka Alam atau kawasan hutan lainnya, tidak lepas dari prinsip pengembangan yang berwawasan lingkungan, sesuai dengan pasal 5 Undang-undang No. 5 Tahun 1990 bahwa konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: - Perlindungan system peyangga kehidupan. - Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. - Pemanfaatan yang lestari atas sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Usaha pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara lestari merupakan penggunaan suatu objek wisata alam yang diatur sedemikian rupa sehingga dalam pelaksanaannya membatasi atau mencegah hal-hal yang dapat merusak lingkungan. Untuk ini pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan pengembangan yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1994 tentang pengusahaan pariwisata alam menyebutkan bahwa Pengusahaan Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam sebagai objek dan daya tarik wisata alam memberikan dampak positif dalam menciptakan perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan pendapatan Negara dan pemasukan devisa. Di samping itu pariwisata alam juga meningkatkan rasa cinta tanah air dan budaya bangsa, pemerataan pembangunan dan pengembangan wilayah serta meningkatkan ketahanan nasional. Penyelenggaraan pengusahaan pariwisata alam harus dilaksanakan dengan memperhatikan: - Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. - Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan kehidupan ekonomi dan sosial budaya. - Nilai-nilai agama, adat istiadat serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. - Kelestarian budaya dan mutu lingkungan. - Keamanan dan ketertiban masyarakat. Pengaturan pengusahaan pariwisata alam berprinsip kepada pembangunan dan pengembangan yang berwawasan lingkungan atau ramah terhadap lingkungan, yaitu dengan ketentuan bahwa

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 56

pemanfaatan hanya terbatas pada zona pemanfaatan di dalam Taman Nasional atau blok pemanfaatan Taman Wisata Alam dan Tahura serta pemanfaatam terbatas pada kawasan konservasi lainnya. Dalam penyelenggaraannya pengusahaan pariwisata alam dibebani kewajiban yang mengarah kepada pembatasan kerusakan lingkungan, serta kewajiban untuk menjaga dan melestarikan objek wisata alam seperti yang tertuang pada pasal 11 PP No. 18/94, yaitu: - Merehabilitasi kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan usaha/kegiatan wisata alam. - Menjamin keamanan dan ketertiban para pengunjung. - Turut menjaga kelestarian fungsi Kawasan Pelestarian Alam. Yang dimaksud dengan merehabilitasi kerusakan adalah menjaga kelestarian objek dan daya tarik wisata alam terutama pada lokasi yang berijin. Pada dasarnya kegiatan untuk menjaga kelestarian fungsi kawasan pelestarian alam menjadi tanggung jawab pemerintah, namun demikian pengusaha pariwisata alam wajib membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian. Alternatif penanggulangan dampak negatif terhadap lingkungan kawasan konservasi/pelestarian alam akibat kegiatan pengembangan pariwisata alam adalah dengan sistem pengelolaan dan pengusahaan yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 berikut penjelasan serta penjabarannya dalam peraturan pemerintah ataupun keputusan Menteri Ketuhanan. Bentuknya antara lain adalah membagi kawasan pelestarian, seperti Tamana nasional ke dalam zonasi-zonasi, yaitu zona pemanfaatan atau blok pemanfaatan pada Taman Wisata Alam dan Tahura, zona insentif, zona perlindungan dan zona lainnya. Penempatan jenis aktivitas dan jenis fasilitas penunjang untuk setiap zona dilakukan dengan menggunakan klasifikasi kesesuaian lahan dan klasifikasi aktivitas serta fasilitas wisata yang menurut Bovy (1987) adalah sebagi berikut: - Jenis aktivitas dan fasilitas terbatas ditempatan pada zona perlindungan terbatas. - Jenis aktivitas dan fasilitas sedang ditempatkan pada zona penunjang. - Jenis aktivitas dan fasilitas besar ditempatkan pada zona intensif atau pemanfaatan. Dengan mengklasifikasikan seperti di atas maka diharapkan akan dapat menghindari dan memperkecil dampak negative terhadap lingkungan alam. Jadi pengembangan wisata alam sebaiknya perlu mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungan alam, binaan dan sosial baik dari segi potensi yang dapat dimanfaatkan maupun dari segi keterbatasan-keterbatasan aspek daya dukung lingkungan alam serta binaan sosial tersebut. Hal di atas merupakan suatu usaha untuk merealisasikan konsep pengembangan periwisata alam yang berwawasan lingkungan, suatu bahan pemikiran dalam menyerasikan pembangunan pariwisata dan konservasi sumber daya alam yang akan semakin kompleks di masa yang akan datang. Perlu dilakukan pengendalian dalam pemberian hak pengusahaan pariwisata alam dalam rangka pengamanan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hal tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan, dari taraf perencanaan sampai ke taraf pelaksanaan, termasuk kewajiban untuk menyusun Rencana Karya Pengusahaan Pariwisata Alam. Pembangunan sarana dan prasarana dilakukan dengan pertimbangan adaptasi lingkungan (back to nature), pengendalian melalui analisis dampak lingkungan, pengaturan pengunjung dengan memperhatikan daya dukung kawasan maupun daya dukung sarana dan prasarana. Namun demikian pada dasarnya kawasan yang diusahakan tersebut masih tetap dikendalikan oleh pemerintah yang mempunyai tanggung jawab penuh atas keutuhan dan kelestarian alam. G. GLOBALISASI DALAM KEPARIWISATAAN Tantangan terbesar yang harus dihadapi dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia adalah akan segera dilakukannya globalisasidi segala sector, yang secara bertahap akan dimulai dengan pemberlakuan AFTA pada tahun 2003 yang dilanjutkan dengan APEC pada tahun 2010. Kondisi ini
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 57

akan memberikan akibat dan dampak langsung terhadap proses pembangunan kepariwisataan dan industri pariwisata. Proteksi pemerintah terhadap industry pariwisata yang melahirkan infant industry tidak akan dapat dinikmati lagi olah sector swasta. Dalam kaitan inilah terlihat betapa pentingnya kesiapan SDM pariwisata. Kendala-kendala pengembangan kepariwisataan nasional sungguh sangat banyak, antara lain tampak dalam mutu produk wisata yang belum dapat terposisikan secara tepat yang mengakibatkan lemahnya daya saing di pasar regional maupun internasional, dan globalisasi pasar yang semakin kompetitif di kawasan destinasi pariwisata dunia, Kawasan Asia-Pasifik, maupun di kawasan Asean. Pemasaran kepariwisataan nasional pun belum dapat mengikuti current trend dan juga belum dapat secara proaksi mengantisipasi future trentd pusat-pusat kepariwisataan dunia ( main tourist market). Kendala yang sangat mendasaryang menjadi salah satu titik lemah kepariwisataan nasional memang terletak pada kesiapan sumber daya manusia pariwisata, baik yang berfungsi sebagai Pembina maupun yang berperan sebagai pelaksana kepariwisataan nasional. Faktor kesiapan sumber daya manusia pariwisata Indonesia ini sangat perlu dicermati secara teliti. Dilihat dari kemampuan menarik wisatawan mancanegara dikawasan Asean, Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand, walaupun dalam lama tinggal dan jumlah pengeluaran Indonesia dapat berada di atas beberapa Negara tersebut. Berdasarkan pada indicatorindikator tersebut maka diperlukan actor-aktor penggerak kepariwisataan nasional. Dalam hal ini sector privat, institusi, serta lembaga terkait harus berperan secara sungguh-sungguh agar perkembangan kepariwisataan dapat berjalan secara optimal. Dalam konteks inilah peran sumber daya manusia pariwisata memegan peran kuci di dalam menghadapi tantangan globalisasi. Peningkatan kinerja kepariwisataan untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional melalui perumusan program-program pengembangan pariwisata sangat tergantung pada kualitas SDM yang berperan untuk merumuskan, melaksanakan, dan sekaligus mengevaluasi program-program tersebut, baik pada unsure pemerintah, privat, maupun institusi pendidikan. Oleh sebab itu perlu diciptakan system dan mekanisme pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia pariwisata yang tepat dan sesuai serta berorientasi pada pengembangan kepariwisataan nasional maupuninternasional melaluipenciptaan tenaga trampil, ahli, dan pemikir yang mampu mengantisipasi dan melihat ke depan perkembangan kepariwisataan yang semakin kompleks. H. TANTANGAN GLOBALISASI TERHADAP SEKTOR PARIWISATA Dalam era globalisasi, dengan perubahan ekonomi dunia yang berjalan semakin capat dan persaingan yang semakin meningkat, di mana perkembangan teknologi berjalan begitu cepat, mengakibatkan peran tenaga kerja pekasana (blue colour labour) semakin berkurang. Dalam situasi yang demikian berlimpahnya tenaga kerja yang tidak disertai dengan kualitas yang tinggi tidak akan lagi merupakan kaunggulan komparatif, melainkan merupakan beban Negara, bukan saja karena Negara harus menyediakan lapangan kerja tetapi juga harus meningkatkan kualitas mereka agar mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif. Peningkatan kualitas SDM merupakan hajat besar yang menyangkut berbagai aspek dan multi kompleks serta memerlukan waktu yang lama. Berlakunya globalisasi di segala aspek menuntut kesiapan masing-masing Negara untuk berkompetisi secara bebas dengan memperlihatkan keunggulan serta kelebihan yang mereka miliki. Bentuk-bentuk tantangan globalisasi terhadap sector pariwisata mencakup factor-faktor sebagai berikut: 1. Mutu Produk Pada dasarnya produk wisatameliputi tiga unsure, yaitu alam, budaya, serta buatan. Ketiga unsure produk tersebut tidak secara otomatis dimiliki oleh Negara destinasi wisatawan. Kondisi daya tarik wisata saat ini, dalam konteks global Negara-negara Asean (khususnya Indonesia), memiliki
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 58

banyak kesamaan, yaitu masih tergantung pada keindahan alam, kacuali Singapura yang merupakan Negara industry dan perdagangan yang kekuatanya justru terletak pada aset yang bersifat buatan. Kegiatan pariwisata social (social tourist) masih baru merupakan unsure pendukung karena pada kenyataannya 1) persentase motivasi berwisata atas daya tarik alam masih dominan, dan 2) Negara-negara berkembang yang pada umumnya masih sedang mencari bentuk dalam pembangunan nasionalnya belum cukup mampu untuk mengeksploitasi secara khusus dan detail atas aspek-aspek yang bersifat social karena beberapa kosideran yang mempengaruhinya, seperti stabilitas politik dan ekonomi, kesenjangan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih tinggi, kasiapan infrastruktur, dan sebagainya. 2. Mekanisme Pasar Mekanis pasar akan menentukan dan mengatur siapa yang terbaik di antara masing-masing Negara dengan segala komoditas dan produk pelayanan terbaik yang dimilikinya. Peran dan campur tangan pemerintah dalam mengatur mekanisme pasar cenderung semakin kecil. Oleh karena itu peran sector privat dituntut untuk semakin berkualitas dengan segala kemampuannya agar dapat bertarung di pasar bebas tersebut. 3. Akses Informasi Kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia untuk menyalurkan segala bentuk keinginannya telah menjadikan dunia sebagai suatu tempat yang tanpa batas. Meluasnya jaringan internet secara missal akan menciptakan mekanisme informasi yang lengkap. Masukan informasi yang lengkap tentunya akan menyebabkan para wisatawan semakin mudah untuk menyeleksi kawasan-kawasan yang akan mereka kunjungi. Namun demikian di sisi lain, bagi para produsen, kondisi ini justru mengakibatkan naiknya tingkat kompetisi di antara sesame Negara destinasi. Hanya Negara yang mampu menginformasikan keunggulan produk pariwisatanya secara tepat sasaran dan mampu mengantisipasi kecenderungan pasarlah yang akan unggul dalam persaingan global tersebut. Sebagai gambaran, hingga tahun 1994 Indonesia baru mamiliki 7 kantor PPPI di luar negari yang berfungsi sebagai marketing intelligences di samping juga berperan sebagai salah satu ujung tombak pemasaran pariwisata nasional. Jumlah ini jauh lebih sedikit apabila di bandingkan dengan Filipina (10 kantor), Singapura (16 kantor), Thailand (11 kantor), serta Malaysia (13 kantor). 4. Daya Saing Aspek daya saing merupakan cerminan kasiapan dan kemampuan produk wisata serta penguasaan terhadap pasar dan informasi yang diformulasikan serta tepat pada strategi dan program pengembangan pariwisata. Faktor-faktor yang memperlihatkan daya saingkepariwisataan Indonesia antara lain: a. Peta pendapatan: dalam lima tahun terakhir peringkat pertama pendapatan nasional Negaranagara Asean di pegang oleh Singapura, yaitu sebesar 32,73% dari total pengeluaran wisatawan di Asean. Posisi Indonesia pada peringkat ke-3 atau sebesar 18,88%. b. Peta jumlah wisatawan: secara kuantitas Malaysia pada posisi pertama sebesar 29,5% sementara Indonesia pada urutan ke-4 (9,98%) c. Peta asal wisatawan: Thailand adalah Jepang dan Eropa, Malaysia adalah Singapore, Singapore adalah Jepang dan Eropa, Filipina adalah Amerika Utara, dan Indonesia adalah Singapura. d. Peta lama tinggal: Filipina menduduki peringkat pertama (11,5 hari) dan Indonesia pada urutan ke-2 (10,5 hari). Keempat peta dominasi tersebut memperhatikan bahwa daya saing pariwisata Indonesia di antara sesame Negara Asean masih lemah, berada di bawah Singapura dan Thailand serta berimbang dengan Malaysia.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 59

Antisipasi Indonesia terhadap keempat tantangan globalisasi pariwisata internasional di atas adalah menciptakan keunggulan kompetitif yang lestari (systainable competitive advantage) yang menuntut kemampuan sumber daya manusia yang baik dalam menghadapi gangguan perilaku pesaingserta evoluasi industry secara global. I. AKTOR/PELAKU PEMBENTUK SDM PARIWISATA Untuk dapat menciptakan dan membantu SDM pariwisata yang berkualitas dan sesuai dengan tuntutan perkembangan kapariwisataan nasional, regional, maupun internasional diperlukan keterlibatan pelaku secara berimbang dan menyeluruh dalam suatu kerangka (comprehensive framework) yang jelas adapun pelaku tersebut adalah: 1. Pemerintah, yang berperan dalam penciptaan kebijakan, regulasi serta instrument kebijakan yang sesuai dan dapat mengatur serta mendorong maupun mengarahkan terbentuknya proses SDM pariwisata. 2. Salah satu srtategi dasar pemerintah yang dijadikan sebagai acuan pembentukan SDM pariwisata yakni Strategi 234. Institusi pendidikan, yang berperan dalam menciptakan dan merencanakan program-program pendidikan dalam system pendidikan nasional dari berbagai tingkat yang sesuai dengan tuntutan dan mekanisme perkembangan kapariwisataan.

BAB XIV PENGUKURAN POTENSI PASARAN WISATA A. Pasaran Wisata Pasar didefinisikan sebagai kumpulan dari seluruh pembeli actual atau potensial dari suatu produk. Pasar terdiri dari individu-individu yang mempunyai baik kebutuhan atau hasrat terhadap produk atau jasa maupun kemampuan, keinginan dan wewenang untuk membeli produk itu. Dalam hal ini pasar yang akan kita bicarakan adalah pelancong (travelers) Pasar wisata secara keseluruhan terlalu luas dan beranekaragam kebutuhannya untuk dapat di puaskan oleh suatu daerah dengan produk wisata yang tertentu. Oleh karena itu diperlukan suatu sasaran (target) strategi pemasaran yang didasarkan atas segmentasi pasar. Segmentasi pasar tersebut harus sedemikian rupa sehingga memiliki nilai desain strategi pemasaran tertentuuntuk suatu segmen tertentu. Langkah-langkah yang diperlukan untuk proses tersebut adalah: 1. Membedakan antara kelompok-kelompok (groups atau segments) yang berlainan yang membentuk pasar. 2. Memilih satu atau lebih dari segmen ini untuk jadi focus perhatian, dan 3. Mengembangkan produk yang akan disajikan dan strategi-strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang dipilih sebagai sasaran. 1. Segmentasi Pasar Segmentasi pasar adalah proses pembagian suatu pasar sebagai suatu keseluruhan (total market) ke dalam kelompok-kelompok (groups) orang yang berbeda dan berarti, yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan produk yang relative sama dan harus digarap melalui strategi-strategi pemasaran secara terpisah. Prinsip pokok pikiran di dalam menggunakan suatu pendekatan segmentasi adalah bahwa di dalam suatu pasar yang heterogen adalah lebih baik untuk mengembangkan suatu strategi pemasaran yang tepat bagi suatu segmen dari pasar secara keseluruhan dari pada mendesain suatu rencana pemasaran yang diperuntukkan bagi kebutuhan semua orang.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 60

2. Mengidentifiksai Orang Yang Melakukan Perjalanan / Customer Untuk mengembangkan strategi pemasaran dibutuhkan identifikasi dari pelanggan (customers), yang dalam hal ini adalah orang-orang yang melakukan perjalanan pada waktu sekarang dan yang potensial menurut siapa saja mereka itu, misalnya demografi, tempat asal, maksud / tujuan perjalanan, yang disenangi dan tidak disenangi, besar rombongan dan semua factor yang diperkirakan ikut menentukan jenis-jenis khusus dari produk, promosi, harga dan distribusi. Dengan identifikasi terhadap pelanggan ini maka pemasaran produk wisata atau daerah / kawasan akan dapat dilakukan secara efektif. Evaluasi terhadap sejumlah variable dan proses coba-coba (trial and error) merupakan cara yang biasa dilakukan untuk menentukan karakteristik konsemem guna menghasilkan definisi-definisi yang berarti tentang segmen pasar. Penantuan segmen pasar dapat dilakukan berbagai cara, yang masing-masing memiliki memiliki kelemahan dan keunggulan sendiri-sendiri. Diskusi berikut mengidentifikasikan karakteristikkarakteristik tadi (variables) yang dianggap paling berguna dan banyak digunakan dalam berbagai studi. Titik mulai (start) yang paling logis adalah dengan analisis terhadap komposisi demografis dan distribusi geografis dari para wisatawan sekarang ke daerah (wilayah) tertentu. Sebagai tambahan terhadap berbagai variable tersebut makadapat dilakukan analisis terhadap berbagai karakteristik perilaku (behavioral characteristics) dan variable-variabel sosialogis atau psikografis untuk melengkapi profil dari wiswtawan. Variabel-variabel yang telah terbukti sangat berhasil dalam studi-studi kepariwisataan meliputi: Variabel-variabel Demografi a. Karakteristik Keluarga: status perkawinan, besarnya keluarga, umur anak terkecil. b. Umur. c. Pekerjaan. d. Pendidikan. e. Penghasilan. Variabel-variabel Geografi a. Tempat asal. b. Daerah tujuan. c. Disribusi regional dari penduduk. d. Komposisi urban / rural dari penduduk. Variabel-variabel Perilaku (Behavioral Variables) a. Mode transportasi. b. Kegiatan-kegiatan selama perjalanan. c. Lama perjalanan. d. Kapan perjalanan dilakukan (musim, hari libur, akhir minggu) e. Melakukan perjalanan dengan siapa. Variabel-variabel Sosiologis / Psikografis a. Alasan (motif) melakukan perjalanan. b. Faktor-faktor yang dianggap paling menentukan dalam memilih tempat tujuan wisata. c. Pengaruh anggota keluarga dalam menentukan perilaku perjalanan tertentu. 3. Menentukan Kebutuhan Pelancong / wisatawan Identifikasi pelancong/wisatawan berdasarkan karakteristik-karakteristik demografi dan perilaku (behavior) merupakan langkah pertama dalam mengidentifikasi pasar target potensial. Langkah berikutnya adalah bagaimana kita mengerti dan menafsirkan kebutuhan-kebutuhan
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 61

pelancong/wisatawan, motivasinya melakukan perjalanan, dan sikapnya terhadap daerah-daerah tujuan wisata. Ada bermacam-macam alas an orang melakukan perjalanan: a. Mengetahui dan menikmati keindahan alam ditempat-tempat jauh (di Negara lain). b. Mengerti dan menghayati kebudayaan-kebudayaan masyarakat Negara lain. c. Mengembalikan kesegaran fisik. d. Beristirahat dan menjauhkan diri dari tugas dan kesibukan rutin. e. Kunjungan keluarga. f. Mempererat hubungan antar bangsa. g. Mengikuti konperensi, tugas tertentu, olah raga. h. Dalam rangka studi dan menambah pengalaman, dan lain-lain. Adalah jarang sekali terjadi bahwa suatu perjalanan dilakukan hanya terbatas untuk memuaskan satu kebutuhan saja. Biasanya suatu perjalanan diharapkan akan dapat menghasilkan pengalamanpengalaman yang dapat memuaskan banyak kebutuhan. Setiap pelancong/wisatawan memiliki aneka kebutuhan fisik, sosial dan pribadi, yang mengharapkan pemuasan dalam rangka pengalaman perjalanannya. Akomodasi dan makanan jelas merupakan kebutuhan fisik, tetapi latar belakang sosial si wisatawan dan keadaan sosial si penyaji juga akan mempengaruhi tingkat kepuasan si wisatawan. Jelasnya, pemilihan akomodasi dan restoran oleh mereka yang mengikuti konvensi akan berbeda dengan pilihan wisatawan dengan tujuan rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation). Kebutuhan masing-masing wisatawan sulit untuk dinilai secara khusus karena biasanya manusia tidak begitu memperhatikan semua kebutuhan yang akan dipuaskannya selama melakukan perjalanan. Konsekuensi dari hal ini adalah perlu dilakukannya pengukuran tidak langsung untuk menilai sejauh mana produk yang disajikan tersebut dapat melayani berbagai kebutuhan dan segmen-segmen target yang dipilih. Maksud/tujuan perjalanan dapat memberikan berbagai indikasi tentang bagaimana pelancong/wisatawan mungkin mendapatkan kepuasan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Kategori maksud perjalanan berikut ini sudah baku sehingga dianjurkan untuk digunakan dalam pengumpulan data primer agar hasilnya dapat dibandingkan (comparable): a. Business b. Convention c. Visiting Friends and relatives d. Outdoor recreation e. Sightseeing f. Entertainment g. Other (shopping trips, trips for medical reasons), dll. Pada setiap kategori maksud perjalanan tersebut terdapat berbagai variasi dalam preferensinya. Misalnya, pada rekreasi di alam terbuka, ada yang keranjingan main golf, tenis dan berenang sehingga wisatawan jenis ini tentu akan mencari suatu resort/kawasan yang dapat memberikan fasilitas untuk itu. Yang lain lebih suka pada kegiatan mendaki gunung, berjemur di pantai, berselancar (surfing), memancing, berburu, dan lain-lain.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 62

Tujuan utama dari penilaian terhadap kebutuhan wisatawan adalah menentukan factor-faktor apa yang mempengaruhi si wisatawan untuk memilih suatu daerah tujuan wisata tertentu. Berbagai jenis perjalanan liburan perlu mendapat perhatian khusus, karena perjalanan bisnis dan perjalanan dalam rangka kunjungan keluarga atau pribadi memiliki daerah tujuan yang ditentukan oleh hakikat daripada bidang usaha dan kunjungan keluarga/pribadi itu sendiri, yang oleh karenannya tidak begitu terpengaruh oleh suatu strategi pemasaran. Dalam suatu survai, di antara pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perilaku perjalanan, ada baiknya ditanyakan, “If your trip was primarily a pleasure trip, net for business or family reasons, what were the main reasons for deciding to visit Bali/Yogyakarta/North Sumatra rather than some other place?” Sering diidentifikasikan empat kelompok factor yang mempengaruhi penentuan pilihan daerah tujuan wisata, seperti: a. Fasilitas: akomodasi, atraksi, jalan, tanda-tanda penunjuk arah. b. Nilai estatis: pemandangan (panorama), iklim santai/terpencil, cuaca. c. Waktu/biaya: jarak dari tempat asal (rumah), waktu dan biaya perjalanan, harga-harga/tariftarif pelayanan. d. Kualitas hidup (quality of life): keramah-tamahan penduduk, bebas dari pencemaran, penampilan perkotaan. Daftar ini sekedar contoh, dan tidak selalu demikian, walau sering merupakan factor yang dominan. Tentu saja faktor-faktor tersebut berikut kepentingan relatifnya akan berbeda untuk daerah yang berbeda. Misalnya, kesempatan pendidikan atau aneka ragam hiburan dapat menggantikan nilai estatis sebagai suatu factor untuk suatu wilayah tertentu. Faktor-faktor tersebut harus diidentifikasikan berdasarkan kriteria yang dianggap penting menurut para wisatawan. Sejalan dengan itu dapat pula dihimpun data mengenai penilaian wisatawan terhadap apa yang disajikan oleh suatu daerah tujuan wisata. Faktor-faktor yang dapat dinilai meliputi; a. things to do/activitics, b. scenery/sightseeing attractions, c. case of traveling around, d. service received in facilities and at attractions, e. cost of things, activitics, and services. Hasil dari ranking demikian itu kemudian diklasifikasikan silang (cross classified) dengan variable-variable demografis untuk menentukan pentingnya berbagai faktor terhadap kelompokkelompok wisatawan yang berbeda. B. SUMBER DAN METODE PENGUMPULAN DATA/INFORMASI Data/informasi yang dibutuhkan untuk analisis potensi pasar telah dijelaskan di depan. Data sekunder dapat menyajikan informasi mengenai latar belakang tentang perilaku wisatawan, komposisi dari pasar wisata/perjalanan, dan data perilaku dengan cakupan Negara bagian/propinsi atau nasional untuk diperbandingkan dengan penemuan-penemuan yang berhubungan dengan karakteristikkarakteristik pelancong/wisatawan local. Data sekunder yang tersedia pada tingkat wilayah atau regional dapat dipergunakan untuk melengkapi data sehingga dapat menghemat beaya. Data primer diperlukan terutama bagi

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 63

pelancong/wisatawan yang sedang malakukan perjalanan ke suatu wilayah, tetapi dapat juga diperlukan untuk pelancong/wisatawan potensial. Data sekunder merupakan data yang lebih banyak dikumpulkan oleh orang atau badan lain untuk tujuan lain, tetapi data ini dapat menyediakan banyak informasi yang dibutuhkan, termasuk mengapa, di mana, kapan dan bagaimana penduduk melakukan perjalanan, dan karakteristik-karakteristik demografi dasar dari pelancong/wisatawan pada tingkat regional, Negara bagian/propinsi atau nasional. Banyak data sekunder yang tersedia relevan untuk kebutuhan perbandingan profil wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tujuan. Data sekunder tidak selalu merupakan data yang dipublikasikan. Banyak informasi yang tersedia dalam bentuk mentah (raw), yakni data yang tidak pernah dianalisis untuk tujuan pengembangan perjalanan/wisata. Namun demikian penggunaan data sekunder harus dilakukan dengan hati-hati. Ada keterbatasan dalam setiap data sekunder sehingga perencanaan harus melalui reliabilitas dan kegunaan dari data dan dibandingkan dengan waktu dan biaya pengumpulan data atau mentrasformasikannya kedalam bentuk (form) yang dapat digunakan. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk menilai data sekunder: 1. Siapa yang mengumpulkan data? (apakah organisasinya dapat dipercaya dan mempunyai reputasi yang baik?) 2. Mengapa pandangan itu dikumpulkan? (apakah ada titik pangkal pandangan atau alas an tertentu dari pengumpulan data yang dapat mempengaruhi penafsiran atau presentasi hasilhasilnya?) 3. Kapan data dikumpulkan? (apakah data masih berlaku untuk kebutuhan daerah) 4. Bagaimana data dikumpulkan? (Apakah prosedur pengumpulan data direncanakan dan dilaksanakan secara hati-hati, apakah pengambilan sampel representative, dan sebagainya). 5. Apakah ada perbedaan definisi? (misalnya mengenai perjalanan (trip), wisatawan, dan sebagainya). C. MENGUMPULKAN DATA PRIMER Kebanyakan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi pasar hanya dapat diperoleh dari orang yang melakukan perjalanan itu sendiri, seperti data mengenai sikap (attitude) dan persepsi, data perilaku dan data pengeluaran. Beberapa data yang diperlukan, seperti besarnya segmen-segmen pasar yang berbeda, bisa diperoleh dari sumber-sumber data sekunder dengan ruang lingkup propinsi atau nasional, tetapi survey terhadap mereka yang bebergian pada waktu sekarang merupakan bagian yang penting dalam pengidentifikasian pasar target. Untuk mengevaluasi potensi pasar dapat digunakan data sekunder, survey rumahtangga (household survey), survey pelancong dan survey perusahaan-perusahaan perjalanan. Pelaksanaan survey rumah tangga untuk mendapatkan sampel pelancong ke suatu daerah tujuan wisata tertentu dalam jumlah yang cukup banyak akan memerlukan biaya yang sangat banyak. Oleh karenanya survey ini jarang dilakukan. Data Sensus Bureau dan Travel Data Center di Negara-negara pasar sering memuat karakteristikkarakteristik dari orang-orang yang bepergian. Data yang disajikan kedua badan ini biasanya didasarkan atas survey rumah tangga.
Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd Page 64

Survey melalui pendekatan biro-biro perjalanan akan memberikan data mengenai volume dan data local sebagai pelengkap yang meliputi karakteristik-karakteristik perilaku, seperti besarnya rombongan, waktu bepergian, dan asal geografis. Tetapi pendekatan seperti ini hanya memberi data perilaku atau demografi secara terbatas dan tidak akan dapat diperoleh data mengenai sikap dan persepsi. Survey wisatawan dapat dilakukan pada waktu mereka sedang melakukan perjalanan di suatu daerah tujuan wisata tertentu. Ada dua pendekatan untuk mengidentifikasikan dan mengadakan kontak dengan wisatawan, yaitu : 1. Di tapal batas atau pintu-pintu masuk keluar; 2. Di tempat-tempat yang banyak menarik perhatian atau digunakan wisatawan, seperti obyek wisata ata akomodasi, restoran, terminal, pusat informasi. Di tempat-tempat seperti itu bisa diperoleh keterangan mengenai lama perjalanan si wisatawan, apakah dia bermalam ataukah sekedar mampir dalam rangka perjalanan ke daerah tujuan lain. Ada baiknya juga dilakukan survey terhadap wisatawan di daerah tujuan wisata milik Negara tetangga yang banyak dikunjungi wisatawan. Walaupun sekarang mereka belum masuk ke dalam sasaran, tetapi untuk masa mendatang mereka dapat dijadikan sebagai sasaran yang baik dari pemasaran. Setiap survey harus menjalankan prosedur sampling bertahap. Tahap-tahap pemilihan sampel meliputi : a. Stratifikasi 1) Musim Pengaruh musim di negeri pasar wisata perlu mendapat perhatian. Sejalan dengan adanya empat musim dalam setahun di negara-negara pasar wisata tertentu maka peling tidak ada empat gelombang survey yang harus dilakukan. Walaupun selama berkunjung ke negara kita mereka hanya akan mendapatkan satu atau dua musim, tetapi musim sepi (off-season) pun harus juga termasuk dalam sampel. Gelombang sample harus direncanakan sesuai dengan kegiatan bepergian menurut musimmusim tersebut. Pengumpulan data pada tiap gelombang harus dilakukan untuk kurun waktu yang sama panjangnya dan jumlah respondenpun harus ditetapkan sama besarnya. 2) Wilayah/Kawasan Jika terdapat berbagai perbedaan wilayah/kawasan di dalam daerah tujuan wisata maka untuk tiap wilayah/kawasan tadi harus ditetapkan sejumlah sampel secara proposional sesuai dengan tingkat heteroginitas wilayah tersebut. Supaya diperoleh responden-responden yang benar-benar representatif maka kawasan yang memiliki variasi daya tarik yang lebih besar diwakili oleh sampel dengan proporsi yang lebih besar pula. 3) Aksesbilitas Untuk memudahkan jangkauan pengelolaan dan pengawasan survey serta demi efisiensi maka dianjurkan untuk mengatur dengan baik proses pelaksanaan survey (interview dengan mempertimbangkan factor waktu dan biaya. Jika jarak wilayah survey berjauhan maka jadwal waktu pelaksanaan perlu direncanakan sesuai dengan persediaan tenaga pertugas lapangan (pewawancara).

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 65

b.

Pengelompokan (clustering) 1) Di dalam wilayah Di dalam tiap wilayah dipilih tempat-tempat yang representatif. Di wilayah perkotaan harus mencakup lingkungan pusat perbelanjaan dan satu atau lebih lingkungan rekreasi. 2) Di dalam cluster Di dalam tiap cluster dipilih lagi lokasi-lokasi representative (subclusters), seperti lokasi hotel/penginapan, atraksi-atraksi, dan fasilitas-fasilitas rekreasi.

Pemilihan Responden 1) Waktu/Hari Pelaksanaan interview di suatu daerah tujuan wisata, misalnya dijadwalkan mulai 08.00 pagi sampai jam 09.00 malam. Agar interview dapat menjangkau semua jenis pengunjung, maka tempat-tempat pelaksanaan interview harus berubah disepanjang hari dipusatkan di hotel-hotel dan restoran-restoran. Tengah hari dilakukan di tempat-tempat rekreasi dan atraksi, sore hari di hotel-hotel lagi dan kemudian pada malam hari di tempat-tempat hiburan. Pelaksanaan interview harus didistribusikan sepanjang minggu untuk menjamin tercakupnya semua jenis pengunjung. 2) Responden Pemilihan responden secara random di tempat atau di lokasi tidaklah praktis. Oleh karenanya petugas lapangan harus terlebih dahulu mendapat petunjuk pelaksanaan pemilihan sampel untuk individu-individu yang mewakili pengunjung menurut menurut kelasnya, seperti orang-orang bepergian dalam rangka bisnis, konvensi, olahraga, liburan, pengunjung yang bermalam dan pengunjung harian. Survey harus dirancang sedemikian rupa lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan awal yang dapat menyeleksi mana yang tergolong tamu perdatang dan mana yang domestic penduduk local. Cara pemilihan sampel responden wisatawan yang akan meninggalkan Indonesia (bisa juga diterapkan untuk daerah tujuan wisata yang bukan pintu gerbang masuk keluar dilakukan sebagai berikut: a) Pelaksanaan interview ditenteukan satu kali dalam dua hari, atau tiap kali diselang satu hari istirahat. Misalnya pelaksanaan interview dijadwalkan pada hari-hari Senin, Rabu, Jumat, Minggu, Selasa dan seterusnya (dilakukan selama tiga bulan, sehingga boleh dikatakan sampel mewakili tiap hari dalam tiap bulan). b) Responden harus mewakili semua penumpang dari semua perusahaan penerbangan yang akan meninggalkan Indonesia. Untuk keperluan itu diperlukan daftar jadwal penerbangan berikut nomor penerbangan ke semua jurusan. Sampel pesawat yang akan berangkat pada hari tertentu ditentukan secara proposional sesuai dengan frekuensi penerbangan. c) Pemilihan responden penumpang pesawat yang telah ditentukan dilakukan pada antrian menjelang counter urusan imigrasi. d) Responden yang dipilih merupakan orang yang ke-n, misalnya tiap kali orang yang ke-3 atau ke-5, dan seterusnya, dalam antrian diberi kuesioner. Proses bisa bermacam-macam tergantung pada situasi dan kondisi dilapangan. e) Wawancara dilakukan di ruang tunggu. DAFTAR PUSTAKA Wiwoho, Ratna Pudjowati, Yulia Himawati, Pariwisata Citra Dan Manfaatnnya, Bina Rena Pariwisata, Jakarta, 1990. Gamal Suwantoro, Perencanaan Produk Wisata, Dinas Pariwisata, Yogyakarta, 1994.

c.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 66

H. Kodhyat, Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesia, PT. Gramedia Widiasa. Lijphart A. Tourism Traffic And Integration Potential, Journal of Common Market Studies, 2 (Februari) 1964, 251262. Linberg, K. And Hawkens. D.E, The Ecotourism Society, North Bennington, USA, 1993. Oka A Yoeti, Pengantar Ilmu Pariwisata, Angkasa Offset Bandung, 1992. Ramaini, Geografi Pariwisata, Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta 1992. Richer, LK, The Polities of Tourism In ASIA, The University of Hawaii Press, Honolulu, Hawaii, 1989. Susetyo Prabowohadi, Teknik Memandu Wisata, Ria, Yogyakarta, 1983. Bahan Baku Penyuluhan Sadar Wisata, Direktorat Jendral Pariwisata, Jakarta, 1990. Bahan Pelatihan Manajemen Kepariwisataan, Sekolah Tingii Pariwisata, Bali, 1995. Bahan Pelatihan Pembangunan Pariwisata Daerah Terpadu, Sekolah Tinggi Pariwisata, Bandung, 1996. Kebijaksanaan Pariwisata Nasional, Direktorat Jendral Pariwisata, Jakarta, 1996. Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 1997. Undang-undang No. 9 Tahun 1990, tentang Kepariwisataan, Direktorat Jendral Pariwisata, Jakarta, 1994.

Modul: Introduction To Tourism – Fakultas Bahasa dan Budaya – UNTAG Semarang, by. Yusac L. Diyono, M.Pd

Page 67

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->