0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

seperti Prancis. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. and Origin. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. lebih bersifat pertanyaan. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. Misalnya. tidak komprehensif. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. dan Jerman. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Jepang. Jespersen juga . „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. tidak memperlihatkan emosi. mereka lebih terkesan linear. pada tahun 1922. biasanya dalam kalimat pendek. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. Di beberapa negara maju. Sebaliknya. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. Development. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Dalam salah satu bab buku itu. sederhana. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. Inggris. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Grimm (2008: 8) berpendapat. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Amerika.

Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. Dalam khazanah sosiolinguistik. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. menurut Lakoff. predikat (P). ekonomi. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. dan objek (O). Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. Dalam bahasa Indonesia. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Di samping itu. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. tempat. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). cool. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. 2005:36). melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. 2004:3—4). dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. Namun. Namun. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). etnik.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. lingkungan sosial. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. charming. terrific. Oleh karena itu. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Misalnya. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. perempuan sering menggunakan adorable. yaitu waktu. kelas. keadaan. proses. 2004. matang. dan mitra tutur. agama. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. sweet. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. peristiwa. misalnya. politik. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). sangat berkuasa. atau neat. Kuntjara. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. Oleh karena itu. . bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. seperti great. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya.

Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . perasaan. tetapi palsu. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. 5. 4. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Men Are from Mars. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Women Are from Venus. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. 1. Di dalam buku psikologi populer. 2. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. tetapi juga psikologi. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. seperti buku Tannen dan Gray. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. misalnya. Namun.Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. buku Deborah Tannen. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. dan hubungan antarmanusia. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. 3. Sebagai contoh. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki.

misalnya. The Female Brain. Florian.000 sampai dengan 25. Daftar Pustaka Coulmas. Language Laws. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. 1992. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Janet. An Introduction to Sociolinguistics. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. 1999). sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. 1922. and the Politics of Identity. tungau di seberang lautan tampak‖. Duranti. Sociolinguistics. Language: Its Nature. Robert Lane. . Publisher.berkomunikasi. Otto. Dalam perekonomian saat ini. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. termasuk status mitos tentang fakta itu. 2001. Development and Origin. The Key Term in Language and Culture. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Greene. 2011: 54—56). Oxford: Blackwell. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak.000. Alessandro. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. New york: Cambridge University Press. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. The Study of Speakers’ Choices. Namun.000 kata sehari. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Jespersen. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Setelah menelusuri kepustakaan populer. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Namun. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Salah satunya adalah Mark Liberman. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. 2005. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. dalam mitos Mars dan Venus. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. Pada tahun 2006.000 kata. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. New York: The MacMillan Company. Holmes. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. 2011. London: Longman. New York: Delacorte Press. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara.

Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. seperti great. Robin Tolmach. 2004. pada tahun 1922. dieditori oleh Mary Bucholtz). 2004. New York: Oxford University Press. Thomas. terrific. Dalam salah satu bab buku itu. dan Jerman. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Development. New York: Routledge. Jakarta: BPK Gunung Mulia. and Origin. Gender. Misalnya.Kuntjara. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Bahasa dan Kekuasaan. 1991. Amerika. 2003. Jepang. Deborah. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. atau neat. perempuan sering menggunakan adorable. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Di beberapa negara maju. Lakoff. Society. Linda and Shân Wareing. Tannen. cool. Misalnya. and Power. charming. Lakoff menyatakan bahwa terdapat . Esther. Inggris. seperti Prancis. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. sweet. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. New York: Ballantine Books. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Language. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral.

etnik. Dalam khazanah sosiolinguistik. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. lingkungan sosial. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. ekonomi. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. Dalam bahasa Indonesia. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. Oleh karena itu. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. menurut Lakoff. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. proses. matang. You Just Don't Understand: Women and Men in . sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. tempat. Kuntjara. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. yaitu waktu.banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. misalnya. sangat berkuasa. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. 2004. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. Namun. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. politik. tetapi juga psikologi. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. agama. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. predikat (P). Di samping itu. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. Namun. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. buku Deborah Tannen. dan objek (O). pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). kelas. misalnya. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Oleh karena itu. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. peristiwa. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. keadaan. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). dan mitra tutur. 2004:3—4). 2005:36). perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya.

Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Namun. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. 5. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. 3. seperti buku Tannen dan Gray. fakta . Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. perasaan. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. 1999). tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. tetapi palsu. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". 2. 1. dalam mitos Mars dan Venus.Conversation dan buku John Gray. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. dan hubungan antarmanusia. Men Are from Mars. Women Are from Venus. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Dalam perekonomian saat ini. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Namun. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. 4. Di dalam buku psikologi populer. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Sebagai contoh. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang.

2004. New york: Cambridge University Press. Namun. New York: The MacMillan Company.000 kata sehari. New York: Delacorte Press. Publisher. Jespersen. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Oxford: Blackwell. The Study of Speakers’ Choices. Esther. 1992. Daftar Pustaka Coulmas. London: Longman. Lakoff. Salah satunya adalah Mark Liberman. tungau di seberang lautan tampak‖.000. Janet. Florian. 1922. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Language Laws. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Holmes. Kuntjara. Bahasa dan Kekuasaan. Duranti. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. and the Politics of Identity.000 sampai dengan 25. misalnya. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Setelah menelusuri kepustakaan populer. The Key Term in Language and Culture. Sociolinguistics. 2011: 54—56). The Female Brain. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. Greene. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Robin Tolmach. An Introduction to Sociolinguistics. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. Language: Its Nature. 2001. 2004. 2005. Otto. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. 2011. Pada tahun 2006. Gender. . melainkan referensi dari buku pengembangan diri.000 kata. Robert Lane. Alessandro. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. termasuk status mitos tentang fakta itu. Development and Origin. New York: Oxford University Press. dieditori oleh Mary Bucholtz).

dan tataran gramatikalnya. Society. pelacur. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. New York: Routledge. pada perempuan melekat istilah PSK. 2003. 1991. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. New York: Ballantine Books. 28 Okotober. dan sejenisnya. ugkapan. cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. and Power. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. Padahal. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. lonte. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. Artinya. murahan. baik lelaki maupun perempuan. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Linda and Shân Wareing. Deborah. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. istilah. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. Maka itu.Tannen. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. . Hal ini memang perkara sederhana. Language. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. gaya. tante girang. Selanjutnya. Thomas. Sejauh ini. jika benar-benar ditilik.

Masih pada tataran yang sama. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. Nani Yudhoyono. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. aneuk tét mie. Para . seperti Marlinda Abdullah Puteh. ia menyandang pula nama suaminya. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. dan lain-lain. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. Afrika. Sebagai contoh kasus. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. misalnya bahasa Aceh. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). brét ma keuh. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. begitu lahir. Sebaliknya. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. papleumo. Bahkan. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. Kemudian. Misalnya. ‗ok mai. Sangking pantangnya bagi mereka. Artinya. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. Ironis. bisa-bisa dibunuh. Akibatnya. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. Sedangkan pada lelaki. ketika si perempuan sudah menikah. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖. Hindia Barat. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. di Zulu.

kegiatan. Namun."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. Banyak bahasa. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Dalam konsep gender. bagi para lelaki. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. Semoga bahasa kita tetap jaya. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. yang dikonstruksi secara sosial. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Sebagai ilustrasi. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral").perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. Dengan kata lain. Selamat memperingati Bulan Bahasa. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". dalam suatu masyarakat. ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Dalam isu LGBT. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. seperti dalam kasus waria. perilaku. dibolehkan membunyikan ―Z‖. Namun demikian.

merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. 1964: 79). seakanakan yang salah memang budayanya. sistem religi. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . Dengan perspektif gender.. Dalam pengertian yang luas. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. Maka. bahasa juga merupakan wahana budaya. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. Mengapa BI memihak lelaki. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. Ingat. BI akan dibedah dari perspektif gender. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. BI bias maskulin. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu.1) Itulah sebabnya. Untuk diskusi ini. tindakan. Di samping sebagai bagian. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal ini.H. Sebagai wahana budaya. senang atau tidak. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Greenberg (Samsuri. menarik diungkap di sini keyakinan J. Singkat kata. dan benda karya budaya.adapun wanita lemah lembut manja . orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan.. sistem kemasyarakatan. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. sistem ekonomi dan mata pencaharian. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. "bahasa menunjukkan bangsa". mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kebudayaan. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. sebagai matra sentral Feminisme. Di sini. dan bahasa (Koentjaraningrat. kesenian. Bahasa adalah cermin budaya.

yang membentuk realitas sosiobehavioral. ini tidak keliru. 1986). yang akan membentuk realitas simbolis. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. dan inisiatif pengucapan. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". hukum. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. dst. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. pada beberapa suku. etnis. Atau. interaksi manusia. Padahal. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. dan . Dari segi kebahasaan.Dengan pendekatan verbal. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Sebagai human instrument. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). kekerasan. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. berupa tuturan bahasa. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. yakni tuturan alamiah keseharian. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. Dengan ini. dan kelompok sosial lain. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. keniscayaan struktur. Dilihat dari kemurniannya. terutama dalam menyusun kategorisasi data.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. Dengan ancangan ini. Soalsoal sosial-politik. Untuk telaah ketimpangan gender pun. tindakan. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. masyarakat. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach).3) Akan tetapi. penyebutan keberadaan atau tindakan. telaah ini bersifat interdisipliner. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja.

dewa maut. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. dan *raja adil". nenek moyang. induk. Semua setuju. "ibu kota. Layak dipertanyakan kebenaran ini. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. induk semang. dewi malam ('bulan'). dan memang tidak harus jantan. *ibu koperasi. Riyanto yang sudah almarhum itu. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. dan ratu. dewa perang. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. Dalam kosakata BI kontemporer. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. dan ratu adil. Bung Hatta "Bapak Koperasi". Riyanto. *putra malu. seorang artis yang bernama Lisa A. macan'). ketenangan. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. kepasifan. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. jago nggambar. raja judi. pemberani. raja copet. *ibu pendidikan nasional. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. *ratu copet. *jago semang. misalnya. Agaknya sudah menjadi "kodrat". Untuk sebutan yang feminin kita kenal. garang. agresif. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. *bapak pertiwi. dan jelas bukan *ratu judi. nenek. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. Masalahnya. bapak pendidikan nasional. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. jago matematika. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. *dewa malam. misalnya. putri. memang. predikat. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). *babon nggambar. ibu pertiwi. *ibu pembangunan. raja siang ('matahari'). Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". dewi. dan agresif itu. kesabaran. *babon matematika. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. Dengan memakai ibu. putri malu (sejenis bunga). perintis koperasi itu Mbak Tutut. dan bukan *bapak kota. *kakek moyang. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. Setelah berumah tangga. dan damai. bapak koperasi. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. Siapa pun tahu. termasuk dalam hal menerima sebutan. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . Maka. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". diam. Alih-alih dengan itu. bapak pembangunan. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. untuk sesuatu yang bersifat garang.

Akan tetapi. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. adalah fakta bahwa "pria penghibur". harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. orang bisa menepuk dada. anggun. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. Masalahnya lagi. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. karena dipandang vulgar. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. dan tiba-tiba perutnya mules. WTS pun mesti dihapus. Dan. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu.A. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Kata pelacur. atau alumni madrasah tsanawiyah. Sehubungan dengan kajian ini. Tentu saja. saya mau ke belakang". Atau. konotasi yang muncul berbeda. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . Lalu. tenang. Seseorang yang sedang makan siang bersama. barangkali kembali ke pelacur lagi. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. Jadi. Dengan demikian. norak. menjijikkan. misalnya. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Untuk ini. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. Maka. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. itu soal lain.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. "bandot". "teko". "*Ibu Koperasi". saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. "gigolo". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi."*Ibu Pembangunan". harus "dihaluskan". bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. indah. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. memang ada. Perasaan menjadi lega. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. mengajar. Jika boleh. saya belum siap diprotes. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. R. ganti lagi dengan yang lain. jika PTS dipilih.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. "bawon". Masalahnya.

WK : Ah. mengalah. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. jadi tidak sekadar melengkapi. Mereka malu mengakui. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. sebagai survival strategy. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". Aneh. makna kata menjadi enteng. Saya: Gaji segitu besar lho. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. nanti. Bu. Pernyataan "cuma istri. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. WK) berpenghasilan tinggi. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. saya kan cuma istri. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. Hebat. WK : Ah. Dengan standar ganda ini. melawan. Cepet kaya. patuh. Padahal. Karena beban kondisi ini. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. Itu kan menurut situ. sebab ramai. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. remeh. nggak juga. manakala saya tanyakan berapa gajinya. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. misalnya. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Ini kan di atas gaji suami. Mengherankan. gaji tinggi melebihi suami kok malu.Dengan degradasi. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. hanya sekadar membantu suami saja. Jadi. akan sering muncul di sekitar kita. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. Bu.

kok di sini dipotong orang seenaknya. Nggak ada ceritanya. bahkan tak tahu diri. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan.. Biar dia yang ngurus. Aku kan bininya. Ini urusan lelaki. Nduk. Tentu saja. Siang keras. Lagipula. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Perempuan saja kok macem -macem. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Inilah produk paling diskriminatif dari .. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Nduk.. kita itu kan perempuan to. Ini urusan lelaki. Maka. tapi ini kan duit laki saya. Ee . sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Nduk! AP : Mbok. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. perempuan bisa menang. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu.bergender lelaki. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). 1981). Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. "Perempuan saja kok macem-macem. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. Jadi ya termasuk duitku juga. Cuma perempuan. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. Kita ini orang kecil. Ibu ini tak salah.. sempurna sudah kekalahan mereka. ingat kamu itu perempuan lho.. Sementara diam dan nerimo saja. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Maka. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Dipikir . dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Malahan." katanya. Lurah kok mau dilawan.

pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). ini urusan lelaki. percakapan. seperti lingkungan kita ini. 427) 2.. (460) 4. Oleh karena itu. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. (473) . yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Apa sih jeleknya orang ngalah. Akan tetapi. Ayah sudah berangkat ke kantor. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. 1. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Aku bermain layang-layang. Ibu sedang memasak. Ibu menjahit baju. Masak mau menuntut pak lurah. . dalam wacana di atas. (438) 3. perhatikan dialog rekayasa berikut. atau peristiwa tutur lainnya. atau malah pagi buta. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Siti masih sering pulang malam. Kan nggak pantas. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Malahan. (463) 5.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Sebagai bandingan. kalau boleh menduga. khususnya dalam buku-buku bacaan. sedangkan ayah sedang membaca koran. (hal. misalnya. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana.. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. salah satunya dalam dunia pendidikan. Lelaki saja kok macammacam. Ingat kita ini kan lelaki. 1979: 205). Kalimat-kalimat yang dicontohkan. kita 'kan lelaki. *Bejo: Iya ya. Adikku yang manis menimang boneka. Ibu memasak di dapur. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. entah sadar entah tidak. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut.

Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. besar. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Direktur RSU Dr. yang menentukan segalanya.15cm itu memang tergolong . dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. hasilnya sama saja. Banda Aceh. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". dll. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. tebal) dan bukan yang minor (ringan. Sementara. Dalam kontinum tersebut. misalnya. hanya layak untuk lelaki.15cm. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. rendah. tipis). tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. menurut pengamatan D. misalnya. Padahal. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Kontinum standar "besar". agak kecil. Akan tetapi. Padahal. sepele. itu mungkin saja. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Jadi. kesan remeh. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. sampai sangat kecil. sedangkan pada kalimat (2). Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. Coba diandaikan. hanya seorang yang perempuan.6. Spender (1980). jika bab-bab lain ditelaah. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. Begitulah.7) Sebutan Negatif. menohok perempuan. Kalau dicermati. (5). dalam kenyataan lelaki pun sama saja. agak besar. Oleh karena itu. menempati kesan buruk.15cm". Zainal Abidin. ini bukan barang aneh. "tinggi". kecil. Jumat malam meninggal secara mendadak." (biarpun 0. mitos soal-soal besar. banyak. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. dan "banyak". penting. Dokter H. (477) 7. misalnya. bahkan mungkin lebih negatif. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. demikian juga "berat". dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. yang memang membahas kalimat dan wacana. misalnya mencakup dari sangat besar. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. dari perempuan. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". dasar betina. melontarkan interupsi. tinggi. Bahkan. pantas dikenakan pada perempuan. (3). Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Akan tetapi. (6). kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. Kamaruzzaman (52 tahun). kecil. Jika ungkapan mulut perempuan. Pada kalimat (1). sedikit. yang hanya mengganggu saja. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki.

tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. artinya sudah standar. keluar keringat dinginnya. grogi" bukan standar. Dina memakai celana. memang tidak ada "*sangat lelaki". Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. hakikatnya. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. feminin >< maskulin. PD". sudah "kodrat". grogi. Mengapa demikian? Ya. Maka. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". untuk memandang gender perempuan/feminin pun. Oleh karena itu. Sebab. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. Doni mengenakan rok mini. Umumnya orang. lain konsep. orang akan mempersembahkan konotasi positif. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). Dalam realitas empiris. Oleh karena itu. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). pasif. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. yakin. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. "polisi" saja. Sebagai standar. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. orang pun latah. Lelaki pakai rok? "Ah. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. Akan tetapi. ini harus ditegaskan lagi. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. "sastrawan". tegar. Sebaliknya. lamban. Itu 'kan khas perempuan. seorang perempuan yang "tomboy". 9. lain fakta. itu sudah semestinya. 11. Bukankah standarnya selalu "celana. 10. misalnya. rujukan. tetapi jika yang disebut mahasiswi. cengeng. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. sentimentil.relatif tipis).8) Maka. apakah orang sudah paham pasti. yang berbau perempuan itu nonstandar. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. jika yang . "*lebih betina". jika seorang perempuan terlihat malu-malu. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. standar. "rok mini. Maka. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. "*agak perempuan". sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. Cowok atletis itu malu-malu. jantan >< betina. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. hakikatnya. Maka. malu-malu. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. malu-malu. Barisan lelaki dianggap superior. entah lelaki entah perempuan. Jangan lupa. bandingan. yang tidak negatif. Barangkali. dan rasional.

untuk konsep manusia. masalahnya dia itu selingkuh. "minta cerai dari". aku akan menceraikannya. dan polisi wanita (polwan). Sebab.dimaksud adalah oknum perempuan. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. layak saja. untuk menyebut manusia pada umumnya. sedangkan perempuan. dan bukan *Woman Made Language. "kamu". sekali lagi. Tetapi. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. orang meminjam kata man. bukan kodratnya perempuan. 1. bahkan lebih gila lagi. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. sastra. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. "bercerai dari". Spender mesti meminjam dulu kata man. ini tercermin dalam bahasanya juga. Tapi. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. sastrawan wanita. soal bahasa bukan hanya struktur. Dalam kultur masyarakat kita.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". predikat (P). Maka. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). Dalam bahasa Inggris. berkedudukan. aku masih bisa menerima. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. Maka. Maka. Denggan kondisi ini. Dalam kebudayaan Barat.9) Lelaki memang menjadi standar. Biarpun begitu. "belum manusia utuh". meskipun sebenarnya aku masih cinta. akan bertindak aktif dan menuntut. sedang perempuan substandar.. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". kalau disebut man. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. dan "diceraikan oleh". lelaki itu standar. dan bukan woman. akan tetapi jika disebut woman. melainkan juga realitas kultur. Dalam keadaan terpaksa. 2. Alwi dkk. Artinya. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. dan bukan woman. misalnya. 1993). Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. Maka. tetap saja. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). seorang perempuan dapat "kawin dengan". Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. berkuasa. 1988. "aku". tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. Maka. ketika D. sabar atau tidak. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. tak ada pilihan lain. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . apa salahnya. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. sehingga menjadi wanita wartawan .

perempuan bereaksi. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Tetapi. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. misalnya. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. apa dia mau. perkencanan). aku ragu. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. dalam dunia komunikasi (pergaulan. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. tetapi tidak transparan. Jika nanti sudah menjadi milikku. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. akan kusayangi dia.struktur. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. memprakarsai. Maka. bebal. Oleh karena itu. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. Mengapa? Ya itu tadi. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Aku sangat mencintainya. "tidak langsung buka kulit. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. meliputi: . dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. goblog. bukan karena struktur. keluarga/perkawinan. atau mungkin sebenarnya mengerti. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. perpacaranan. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Akan kucium keningnya. dan pilihan konteks situasi yang tepat. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. tampak isi". lain tidak. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. isyarat dan perhatian. Biasanya. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Tetapi. atau resmi nikah. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama.

(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. (d) sebutan pembatasan berkebebasan.. bahasa ini mungkin bergender lelaki. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. Dalam posisi yang serba timpang ini. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. semacam WTS. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. lelaki mendominasi. terutama dalam menyikapi gender. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya.. khususnya terhadap eksistensi gender. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". dan inisiatif ekspresi. pandangan hidupnya. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Apalagi inisiatif ekspresi. Dengan demikian. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender.. dan (f) sebutan penstandaran gender. Sebutan pelecehan martabat gender. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat.. . (b) sebutan pelecehan martabat. sedang perempuan tersubordinasi. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. Dengan begini. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. wanita dijajah pria .

tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia.H. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 1975: 14--23. hal. Inc. Kebudayaan. wadah. An Introduction to Language. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. Oktober 1996. Buletin Yaperna. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. No. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. 28 Oktober 1986. 1993). dan hegemoni pria. hal. lih. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". 7) TBBBI edisi I (1988). sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak.C. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". No. dan alat budaya. 32. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. 6. Prisma XXV/5. kuat. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. "Gender. 306--312). juga Kweldju (1991). Mei 1996. Konsep ini dekat dengan seksisme. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. 1--14. masyarakat.D. pintar. 24 Agustus 1996. V (Fort Worth: Holt. Dengan begini. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". subbab 'Language and Sexim' (hal. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. Vol. Rinehart and Winston. Vol. Edisi V. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. LPK2I. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. 4. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. Ph. Lalamentik.M. ". tak berdaya. 4. Lihat Arief Budiman. Vol..) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. hanya 2 orang yang perempuan. dominasi lelaki. 1994). 2. 5. Siusana Kweldju. Cet. Asfar. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. bodoh.. Muh. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. abang. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. khususnya bab "Language in Society". 1981). Dalam hal ini saya (dkk. Warta Studi Perempuan. 1. 1. Dengan pendekatan verbal. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38.Catatan 1. 3.). bermain boneka). bermain layanglayang). supremasi kekuasaan lelaki. No. TBBBI edisi II (1993). Warta Studi Perempuan. . subordinasi perempuan. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. 1994. . sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. Periksa: Samsuri. 5. lemah. 7--18. ketimpangan gender. Marginalisation and Rural Industry". dari 11 penyusun. dan bahasa Indonesia.

Beverly Hills: Sage Publication. Miller. she's mouthy . 6) menulis: "A businessman is agressive. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. Tempo Interaktif. Coates. she's picky . Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. A. Ashen." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134).7. melahirkan. He isn't afraid to say what is on his mind.. Kirk. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning.. 1986. Lih. F. When you say Man. and three in the evening'. 23 Juni. S. lebih tegas lagi.. n. 8. D. she's power mad . sebab lelaki juga (harus) bisa. London: Longman. mengasuh anak. she's secretive. dan F. Daftar Pustaka Bhasin. Budiman. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". 1981. Dalam pandangan kelompok ini. K. He follows through. LP3K Multimatra. Opcid.. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. Jupriono. you include women too.. Lih. 1986). Everyone knows that. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. yaitu menstruasi. dan M. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. Bahkan.. Fromkin dan Rodman. 1980). Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. 1997. she slept her way to the top. she's been around .. Frank. He's closemouthed... you answerd. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya.. He stands firm. He exercises authority diligenttly. New Delhi: Kali for Women. Jakarta: PT Gramedia... Women.. two at noon.. she's hard . 1986. hal 307. II/16.. Harding. He climbed the ladder of success. . a businesswoman is pushy . You didn't say anything about women.L. she doesn't know when to quit .. a man of great learning".. 9... What is Patriarchy. 1983. He is a man of the world. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture).. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language.. A businessman is good on details.. dan bukan kodrat (nature) perempuan. memasak. The Science Question in Feminism (Ithaca. Sebagai contoh. .. 'Man'. 1990. 1995. New York: Cornell University Press. . berikut ini dikutipkan beberapa saja. Spender. Reliability and Validity in Qualitative Research. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. New York: State University of New York Press. D. J.. merawat rumah bukan monopoli perempuan. J. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. Pembagian Kerja secara Seksual. Language and the Sexes.

Mengapa BI memihak lelaki. 1993. seakanakan yang salah memang budayanya. 1996. Kebudayaan. S. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. sebagai matra sentral Feminisme. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . BI akan dibedah dari perspektif gender. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. Singkat kata. dan implikasi kemasyarakatannya. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. Bahasa Indonesia. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. Samsuri. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. seperti yang banyak dipahami orang selama ini.. Dalam pengertian yang luas. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. Dengan perspektif gender. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. BI bias maskulin. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan.. Di sini. pemakaiannya.Kweldju. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. senang atau tidak. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. Aktivitas noninstingtif--yang hanya .

Untuk diskusi ini. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. dan benda karya budaya. Dalam hal ini. dan bahasa (Koentjaraningrat. telaah ini bersifat interdisipliner. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). dst. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). kesenian. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. Bahasa adalah cermin budaya. Topik bincang . Soalsoal sosial-politik. Di samping sebagai bagian. Ingat. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). yakni tuturan alamiah keseharian. interaksi manusia. "bahasa menunjukkan bangsa". masyarakat. sistem kemasyarakatan. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). terutama dalam menyusun kategorisasi data.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). Dengan ancangan ini. sistem religi. Sebagai wahana budaya.1) Itulah sebabnya. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. yang membentuk realitas sosiobehavioral. Untuk telaah ketimpangan gender pun. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. tindakan. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. Sebagai human instrument. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Dari segi kebahasaan. bahasa juga merupakan wahana budaya. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. sistem ekonomi dan mata pencaharian. menarik diungkap di sini keyakinan J.Dengan pendekatan verbal. yang akan membentuk realitas simbolis.H. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. kekerasan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Maka. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. 1964: 79). Dilihat dari kemurniannya. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. hukum. Padahal. tindakan.3) Akan tetapi. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. Greenberg (Samsuri. Dengan ini. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. 1986)." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. ini tidak keliru. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). berupa tuturan bahasa.

ibu pertiwi. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. induk. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. dan *raja adil". etnis. dan bukan *bapak kota. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. dewi malam ('bulan'). Untuk sebutan yang feminin kita kenal. misalnya. Dengan memakai ibu. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. dan ratu adil. dan inisiatif pengucapan. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. nuansa kesan yang memancar adalah . Maka. *dewa malam. *bapak pertiwi. predikat. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". dan ratu. misalnya. termasuk dalam hal menerima sebutan. *putra malu. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. dan kelompok sosial lain. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. *kakek moyang. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. nenek moyang. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. pada beberapa suku. Atau. dewi.dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". induk semang. "ibu kota. keniscayaan struktur. penyebutan keberadaan atau tindakan. Riyanto yang sudah almarhum itu. putri. Setelah berumah tangga. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. seorang artis yang bernama Lisa A. *jago semang. nenek. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. Alih-alih dengan itu. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Riyanto. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. putri malu (sejenis bunga).

Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. Masalahnya. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Jadi. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan.A. Siapa pun tahu. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. jago nggambar. raja siang ('matahari'). menjijikkan. Perasaan menjadi lega. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . *ratu copet. misalnya. *babon matematika. itu soal lain. *ibu koperasi. indah. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. Layak dipertanyakan kebenaran ini. Akan tetapi. memang. kesabaran. dan tiba-tiba perutnya mules. "gigolo".p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. macan'). Agaknya sudah menjadi "kodrat". bapak koperasi. Seseorang yang sedang makan siang bersama. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. adalah fakta bahwa "pria penghibur". diam. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". dewa perang. memang ada. Dalam kosakata BI kontemporer. Tentu saja. dan agresif itu. dan jelas bukan *ratu judi. "teko". dewa maut. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. "bandot". raja copet. garang. "bawon". ketenangan. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. bapak pendidikan nasional. *babon nggambar. konotasi yang muncul berbeda. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". karena dipandang vulgar. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. Bung Hatta "Bapak Koperasi".kedamaian. tenang. anggun. *ibu pendidikan nasional. untuk sesuatu yang bersifat garang. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. saya mau ke belakang". Sehubungan dengan kajian ini. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. "*Ibu Koperasi". kepasifan. Semua setuju. pemberani. harus "dihaluskan". orang bisa menepuk dada. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). bapak pembangunan. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. perintis koperasi itu Mbak Tutut. dan damai. Kata pelacur. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. norak. raja judi. *ibu pembangunan. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. jago matematika. dan memang tidak harus jantan. agresif. R.

Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Dengan demikian. Jika boleh. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Itu kan menurut situ. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Lalu. Maka. sebagai survival strategy. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Ini kan di atas gaji suami. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Toh mereka merasa . hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. WK : Ah. Masalahnya. manakala saya tanyakan berapa gajinya. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. barangkali kembali ke pelacur lagi. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. Masalahnya lagi. Mengherankan. atau alumni madrasah tsanawiyah.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. Jadi. makna kata menjadi enteng. Bu. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. Atau. saya kan cuma istri. mengajar. jika PTS dipilih. Dan. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. gaji tinggi melebihi suami kok malu.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. Karena beban kondisi ini. Cepet kaya. WK : Ah. akan sering muncul di sekitar kita. Pernyataan "cuma istri. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. jadi tidak sekadar melengkapi. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. WK) berpenghasilan tinggi. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). ganti lagi dengan yang lain. Untuk ini. remeh. Hebat. nanti. misalnya. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. saya belum siap diprotes. Mereka malu mengakui. Bu. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. WTS pun mesti dihapus. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". nggak juga. Saya: Gaji segitu besar lho. hanya sekadar membantu suami saja.

. Aneh. Nggak ada ceritanya. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Ee . Dengan standar ganda ini. Aku kan bininya. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Cuma perempuan. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. Kita ini orang kecil. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. patuh. Lurah kok mau dilawan. Nduk. ingat kamu itu perempuan lho. Perempuan saja kok macem . Jadi ya termasuk duitku juga. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. khawatir menyaingi dan menyinggung suami.. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Siang keras. mengalah. kok di sini dipotong orang seenaknya.. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). melawan. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Dipikir . perempuan bisa menang. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. kita itu kan perempuan to. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. tapi ini kan duit laki saya. Lagipula. Nduk! AP : Mbok. Nduk. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil.. sebab ramai. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Padahal.hanyalah figuran pendamping belaka.

Ini urusan lelaki. Tentu saja. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Ingat kita ini kan lelaki. Biar dia yang ngurus. Ini urusan lelaki. Adikku yang manis menimang boneka. 1981). "Perempuan saja kok macem-macem. Masak mau menuntut pak lurah. sempurna sudah kekalahan mereka. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Oleh karena itu. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. khususnya dalam buku-buku bacaan. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Sementara diam dan nerimo saja. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). atau peristiwa tutur lainnya. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Sebagai bandingan.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria." katanya. Aku bermain layang-layang. Ibu memasak di dapur. salah satunya dalam dunia pendidikan. Ibu ini tak salah.. . kita 'kan lelaki. Kan nggak pantas.. *Bejo: Iya ya. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. Lelaki saja kok macammacam. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Apa sih jeleknya orang ngalah. Malahan. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. percakapan. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Ibu menjahit baju. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. seperti lingkungan kita ini. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. dalam wacana di atas. 1979: 205). ini urusan lelaki. bahkan tak tahu diri. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan.-macem. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. perhatikan dialog rekayasa berikut. . Maka. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Maka. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. dengan imbangan penghargaan yang tak sama.

Kalimat-kalimat yang dicontohkan. Jadi. hanya seorang yang perempuan. itu mungkin saja. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). bahkan mungkin lebih negatif. hanya layak untuk lelaki. (460) 4. Coba diandaikan. Dokter H.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. Ibu sedang memasak. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. 427) 2. (438) 3. (463) 5. (477) 7. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. 1. (3). entah sadar entah tidak. hasilnya sama saja. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Zainal Abidin. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut.7) Sebutan Negatif. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. yang hanya mengganggu saja. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. yang memang membahas kalimat dan wacana. (6). Akan tetapi. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. yang menentukan segalanya. Direktur RSU Dr. menohok perempuan. Banda Aceh. misalnya. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Jumat malam meninggal secara mendadak. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. (hal. sedangkan ayah sedang membaca koran. (5). Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. Padahal. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. (473) 6. Siti masih sering pulang malam. atau malah pagi buta. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. kesan remeh. Kalau dicermati. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Begitulah. jika bab-bab lain ditelaah. dari perempuan. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Sementara. Pada kalimat (1). ini bukan barang aneh. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. Malahan. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). pantas dikenakan pada perempuan. penting. Kamaruzzaman (52 tahun). kalau boleh menduga. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Ayah sudah berangkat ke kantor. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . sedangkan pada kalimat (2). Akan tetapi. kecil. mitos soal-soal besar. Akan tetapi. sepele.

15cm". tipis). hakikatnya. dll. Maka. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". tinggi. Akan tetapi. Maka. misalnya. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. "*lebih betina". sentimentil. misalnya. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. bandingan. menurut pengamatan D. yang tidak negatif. Dalam realitas empiris. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? . kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. Mengapa demikian? Ya. pasif. banyak. lain konsep. agak besar. Sebagai standar. menempati kesan buruk.8) Maka. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. rujukan." (biarpun 0. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. demikian juga "berat". bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. Jika ungkapan mulut perempuan. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. misalnya. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. kecil. Oleh karena itu. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. jantan >< betina. agak kecil. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". Oleh karena itu. Sebaliknya. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. lamban. cengeng.perempuan". Spender (1980).15cm. malu-malu. Bahkan. rendah. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. misalnya. "*agak perempuan". Barisan lelaki dianggap superior. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. Dalam kontinum tersebut. "tinggi". dasar betina. memang tidak ada "*sangat lelaki". hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. melontarkan interupsi. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. itu sudah semestinya. tebal) dan bukan yang minor (ringan. Kontinum standar "besar". besar. sampai sangat kecil.15cm itu memang tergolong relatif tipis). dan rasional. seorang perempuan yang "tomboy". dan "banyak". standar. sudah "kodrat". lelakilah yang mendominasi pembicaraan. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". tegar. misalnya mencakup dari sangat besar. hakikatnya. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. Padahal. sedikit. feminin >< maskulin. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Barangkali. lain fakta. Oleh karena itu.

apakah orang sudah paham pasti. . misalnya. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. Cowok atletis itu malu-malu. yang berbau perempuan itu nonstandar. Umumnya orang. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). orang pun latah. layak saja. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. kalau disebut man. Sebab. "polisi" saja. orang akan mempersembahkan konotasi positif. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. 10. artinya sudah standar. Biarpun begitu. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. dan polisi wanita (polwan). Dalam bahasa Inggris. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). yakin. Maka. malu-malu. "aku". dan bukan *Woman Made Language. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". Spender mesti meminjam dulu kata man. Artinya. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". ini harus ditegaskan lagi. Maka. entah lelaki entah perempuan. grogi. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. Lelaki pakai rok? "Ah. sekali lagi. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. Jangan lupa. lelaki itu standar. akan tetapi jika disebut woman. sedang perempuan substandar. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. "sastrawan". dan bukan woman. orang meminjam kata man. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki.9) Lelaki memang menjadi standar. sastra. bahkan lebih gila lagi. dan bukan woman. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. sedangkan perempuan. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. Maka. 9. akan bertindak aktif dan menuntut. sabar atau tidak. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. untuk menyebut manusia pada umumnya. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. ini tercermin dalam bahasanya juga. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. ketika D. sastrawan wanita. sehingga menjadi wanita wartawan . Denggan kondisi ini. PD". "belum manusia utuh". keluar keringat dinginnya. Dalam keadaan terpaksa. Itu 'kan khas perempuan. Sebab. Dalam kebudayaan Barat. bukan kodratnya perempuan. Doni mengenakan rok mini. Bukankah standarnya selalu "celana. 11. Maka. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. Dina memakai celana. tetapi jika yang disebut mahasiswi. tetap saja. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. grogi" bukan standar. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. "kamu".8. untuk konsep manusia. "rok mini.

bukan karena struktur. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. misalnya. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. berkedudukan. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. masalahnya dia itu selingkuh. isyarat dan perhatian. Maka. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. 2. dan "diceraikan oleh". Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. Alwi dkk. dalam dunia komunikasi (pergaulan. Tetapi. Tetapi. bebal. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. meskipun sebenarnya aku masih cinta.. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. 1993). Maka. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. tetapi tidak transparan. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. perkencanan). perempuan bereaksi. "tidak langsung buka kulit. aku akan menceraikannya. "minta cerai dari". Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. "bercerai dari". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. tak ada pilihan lain. atau mungkin sebenarnya mengerti. Tapi. Biasanya. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Dalam kultur masyarakat kita. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. Oleh karena itu. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". goblog. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. tampak isi". sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. memprakarsai.1. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. aku masih bisa menerima. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. 1988. seorang perempuan dapat "kawin dengan". perpacaranan. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. soal bahasa bukan hanya struktur. dan pilihan konteks situasi yang tepat. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. predikat (P). Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. atau resmi nikah. melainkan juga realitas kultur. berkuasa. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . apa salahnya.

Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. Maka. akan kusayangi dia. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. lain tidak. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. pandangan hidupnya. Mengapa? Ya itu tadi. (b) sebutan pelecehan martabat. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. dan (f) sebutan penstandaran gender. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. khususnya terhadap eksistensi gender. Sebutan pelecehan martabat gender. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . Akan kucium keningnya. keluarga/perkawinan. Jika nanti sudah menjadi milikku.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. aku ragu. Apalagi inisiatif ekspresi. dan inisiatif ekspresi. Tetapi. Aku sangat mencintainya. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. apa dia mau. semacam WTS. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya.

"Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". Asfar. . 3. Marginalisation and Rural Industry". bodoh. Lihat Arief Budiman. dan hegemoni pria. Vol. lemah. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. wadah. dominasi lelaki. Dengan demikian. No. Mei 1996. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Inc. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Dengan begini. Prisma XXV/5. 28 Oktober 1986.. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. khususnya bab "Language in Society". "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . wanita dijajah pria . subordinasi perempuan. 1993). masyarakat. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. "Gender. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. Siusana Kweldju. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. V (Fort Worth: Holt. lih. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. Kebudayaan. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki.. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Dengan pendekatan verbal. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini.. terutama dalam menyikapi gender. subbab 'Language and Sexim' (hal. ". Rinehart and Winston. Buletin Yaperna. An Introduction to Language. dan alat budaya. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. ketimpangan gender. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. 1981). sedang perempuan tersubordinasi. Catatan 1. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. 1994. 306--312). pintar. supremasi kekuasaan lelaki. dan bahasa Indonesia. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia.. Edisi V.berkembang. kuat. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. Warta Studi Perempuan.. lelaki mendominasi.. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 2. Cet. bahasa ini mungkin bergender lelaki. Dalam posisi yang serba timpang ini. tak berdaya. Periksa: Samsuri. 4. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. Dengan begini. Muh. 1975: 14--23. Konsep ini dekat dengan seksisme.

7... Lih. He's closemouthed. dan bukan kodrat (nature) perempuan. He follows through." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). He stands firm. merawat rumah bukan monopoli perempuan. 5. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Dalam hal ini saya (dkk. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. she's picky . 1980)... D... hal 307. n. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. Lalamentik. 6) menulis: "A businessman is agressive. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). Stereotipi Seks". terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. she's hard . You didn't say anything about women. she's mouthy . 1986). He is a man of the world. dari 11 penyusun. He climbed the ladder of success. No. you answerd. 9. 1.. a man of great learning". When you say Man.. juga Kweldju (1991).. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. sebab lelaki juga (harus) bisa. Harding. A businessman is good on details. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. 7) TBBBI edisi I (1988). yaitu menstruasi. . Oktober 1996. Daftar Pustaka . Everyone knows that. lebih tegas lagi. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. New York: Cornell University Press. bermain layanglayang). He isn't afraid to say what is on his mind. abang.H. 4. No. she's been around . Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. The Science Question in Feminism (Ithaca. mengasuh anak. she's secretive.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. Dalam pandangan kelompok ini. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan..D. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak.. 1994).. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor.. she doesn't know when to quit . 1. 8. Sebagai contoh. He exercises authority diligenttly. hal. bermain boneka).. . TBBBI edisi II (1993). she's power mad .. 7--18... 24 Agustus 1996. 1--14.M. 6. hal. Vol. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD.. a businesswoman is pushy . LPK2I.. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. and three in the evening'. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul.. Vol.. 'Man'. Ph. she slept her way to the top. 32.. two at noon. Fromkin dan Rodman. you include women too. melahirkan. memasak.).5. berikut ini dikutipkan beberapa saja. Opcid.C. Warta Studi Perempuan. S. Spender. hanya 2 orang yang perempuan. Lih.. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. Bahkan..

1995. 1981. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. 1993. dan F. 1997. J. pemakaiannya. Tempo Interaktif. Frank. Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia. Budiman. Ashen. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. F. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Kweldju. Jupriono. Reliability and Validity in Qualitative Research. Beverly Hills: Sage Publication. sedang lelaki penguasa kehidupan. A. London: Longman. LP3K Multimatra. K. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. What is Patriarchy. J. Language and the Sexes. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. D. Dalam kebijakan institusional tergambar . sedang lelaki aktif. 1986. prestasi.Bhasin. II/16. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. perempuan penerima identitas. sedang lelaki tidak dipersoalkan. sedangkan lelaki pemberi identitas. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. New Delhi: Kali for Women. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”. Miller. 23 Juni. Women. organisasi. 1983. 1996. Samsuri. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. 1986. New York: State University of New York Press.L. S. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. Pembagian Kerja secara Seksual. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Kirk. 1990. dan implikasi kemasyarakatannya. Coates. dan M. jabatan. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki.

2003). ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. Bailey. sistem religi. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian.. sebab dari sudut pandang gender. 1982). Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. Sebagai unsur. misalnya. kosakata. tetapi tidak diakui. menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. Dikatakan “secara garis besar”.). . Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. sistem ekonomi. dll. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. 2001).jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. 1993). Beberapa penelitian terakhir. Meskipun demikian. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. bahasa adalah cermin kebudayaan. struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Demi kerincian. dengan kata lain. ungkapan. 1986). pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. Dikatakan oleh Labov. Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. sistem sosial. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. artinya. identitas. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. misalnya. Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas.

1979). Coates. irasional. Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. 1981. dibandingkan dengan kelompok lelaki. kurang meyakinkan. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. 1981). bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). Di samping itu. menurut (Coates. kosakata lebih sedikit. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). dan lebih inferior. juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. bodoh. Dalam ragam bahasanya. Dalam berbahasa. 2001). 1991). sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. terlalu boros kata-kata. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. 1982). kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. Dalam fonologi. gramatika. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. Dalam gramatika. sehingga terkesan kurang tegas. Realitasa ini. Akibatnya. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. 1991). lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. dan Belanda. lebih subordinat. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. pasif. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. emosional. sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. USA. berbicara lebih sopan. dan remeh (Kramarae. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva. Dalam hal kosakata dan ungkapan. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. 1991). kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . fonologis. dan tidak mengumpat. manja. dan gramatika. dan fonologi. 1984). Bahkan. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. yaitu kosakata.

beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. Pertama. Menurut Jespersen (dalam Kweldju. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. andai saja suami itu bodoh. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. menjaga perasaan. dan . Kedua. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya.majemuk setara. mencuci. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. sedang lelaki dikodratkan aktif. bagaimanapun. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. superior. Tetapi. sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. inferior. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. Sebagai ibu rumah tangga. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. misalnya memasak. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). 1993). Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. Oleh karena itu. termasuk ungkapan alah Mak. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. Kweldju. 1993). termasuk mengajari anak berbahasa. dan dominan. 1979). dan subordinat adalah perempuan. mengasuh dan mengajari anak.

mbegagah ngablah-ablah (di rumah. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. Keempat. mlumah. . dan jika istri menjabat. memasak. suami bebas atau tidak usah nama baru. Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. masak. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. misalnya *pemiara. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. merias diri. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). sungguh tidak perlu diragukan. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. dalam bahasa Jawa pun. Ia mesti pasif menunggu. ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. Kuntjara. Ketiga. malam jadi alas untuk ditindih). yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. atau pun *penyimpan. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. misalnya. Dalam dunia prostitusi. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. Sementara. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. Sebagai bandingan. 2000). Linda atau Bu Astuti. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. lulur. tidur terbuka menelentang) (Sobary. sumur. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. Boleh saja. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. olah-olah. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. 2003). tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. melahirkan) atau pun neng omah. 1985). ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. yang justru lebih kaya. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. 2003). macak. istri gelap. Maka. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. *suami gelap.menghormati lelaki (suami) (Spender. kasur. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. atau pun simpanan. manak (memasak.

Kelima. Ibu-ibu yang saya hormati…. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. pesilat. Jika kosakata itu berbau perempuan. bapak koperasi. istri akan dipanggil Bu Kades. kesebelasan wanita. perangai Eny yang tomboy.: Ibu/Bpk/Sdr. Contoh lain: bapak pembangunan. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. “gaul”—oleh sekitarnya. Sebaliknya. Misalnya. … Kedelapan. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. asal masih mau sedikit berdandan saja. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. “masa kini”. *ibu koperasi. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. rapat. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. Ketujuh. Keenam. Sebutan profesor. suami yang istrinya menjadi kades. konotasi semantisnya cenderung negatif. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. ceramah. adalah Bapak-bapak. Dengan kata lain. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). … dan tentu bukan *Kepada Yth. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. bapak pendidikan. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi. prestasi. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. misalnya. *ibu pendidikan. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan. khotbah. Jika dilekatkan kepada perempuan. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. organisasi. misalnya. Julukan jago matematika. kesebelasan. pesilat wanita. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. Bapak-bapak yang saya hormati. biasanya menjadi profesor wanita. peranannya . tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan.: Bpk/Ibu/Sdr. Tetapi. disamakan dengan banci.

atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. sebagai berikut. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. wanita. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. sedang lelaki penguasa kehidupan. dan Hari Ibu. Dalam hal demikian. Sebaliknya. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. tetapi tidak diakui. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. Secara psikologis kultural. Dia akan mendapat cap buruk. Hari Kartini. penghasilan suami cuma berapa. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. penilaian negatif. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear. tahta. atau kalau diakui. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. Bahkan. Sebagai bagian dari masalah. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. sedang lelaki tidak dipersoalkan. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). untuk tambah-tambah saja. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. Kesembilan. *Hari Kartini. organisasi. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . dengan malu-malu. prestasi. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. Misalnya seorang istri yang berdagang. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. sedangkan lelaki pemberi identitas. misalnya dalam ungkapan harta. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. sedang lelaki aktif. terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. 2003). bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. lelaki tidak menjadi masalah. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. hanya kerja sambilan.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. dan *Hari Bapak. atau peluru dan wanita.

kognitif. jika kajian ini dilanjutkan. Lakoff. C.). Dalam B. Modern Sociolinguistics Issues. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami.. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. Kramarae. 2003. FSU in the Limelight 5(2) Juli. Cambridge: Cambridge University Press. Saville-Troike. Hudson. Surabaya: Fakultas Sastra. S. data yang disajikan amat terbatas. Dalam B. misalnya pendekatan psikodinamis. A. 1982. Maka. R. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. D. “Bahasa Indonesia. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.C. “Talking Like a Lady”. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”.I. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. 1997. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). 1986. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). 2003. Co. Ketiga. Inc. sebagai kajian sosiolinguistik. dan sosiokultural (Kweldju. Men.A. Oxford: Basil . 1993. dan Kekuasaan. Inc. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. Santoso et al. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. Daftar Pustaka Acuan Budiman. buku Esther Koentjara (2003). 1992. Kuntjara.J. Kuntarti. Rahayu. Bahasa. 2003. E. tetapi tidak diakui. Kweldju. K.). bahasa.perempuan sebagai golongan kelas dua. Gender. 1981. New York: MacMillan Pub.C. Pertama. London: Longman. selayaknya diadakan pengayaan data. Sekadar. London: Newbury House Pub. Coates. dapat dimanfaatkan dalam hal ini. Reichman (ed. R. Jupriono. Women. “Gender. (ed. menyodorkan saran. The Ethnography of Communication: An Introduction.. Bahasa Lelaki?”. J. Kedua. D. N. Universitas Kristen Petra. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Wishart & L. Jupriono. Warta Studi Perempuan 4(1). Parafrase 4(1) Februari. 1993). Februari. Parafrase 3(1). dan Kekuasaan”. 1991. Sociolinguistics. Sari. M. A. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. 1979.

Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Program Studi Magister Psikologi. Sociolinguistics. (Tesis tidak dipublikasikan). mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. Untag Surabaya Trudgill. M. “Wanodya” (Hal. 2001. Man Made Language. B. Dukungan Sosial Suami. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. Sociolinguistics. P. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2003. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Spender. Sobary. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. Di sisi lain. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. Oxford: Oxford University Press. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). D. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. London: Routledge & Kegan Paul. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . 1985. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih.Blackwell. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. 2000. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. Spolsky. 1984. Program Pascasarjana. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Sudarwati M. Pada pengajaran BIPA. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Harmonsworth: Penguin Books.

Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. Oleh karena itu. Secara umum. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). dsb. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat. dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin.. (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. khususnya bahasa Inggris. charming. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. ya kan?. so (I like him so much. Pada bahasa Inggris. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. dsb. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. turqoise. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin.). Disadari atau tidak. sort of. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. stewardess). (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. Interupsi ini dilakukan . Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. Di lain pihak. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. dan gaya bertutur. (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. semantik. biru laut. juga Ponynton (1989). (6) penggunaan katakata penguatan: just. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta.. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Akan tetapi. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. lucu. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. dsb..sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun.

dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. Masih menurut Holmes (2001). Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. untuk menimbulkan rasa aman. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. Di lain pihak. Secara tidak langsung. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. baik masyarakat barat maupun timur. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). bentuk .untuk ―membungkam‖ lawan bicara. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. formal dan informal. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. sesuai dengan situasinya. Selain bahasa vernakular. Oleh karena itu. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. mereka menggunakan bahasa standar. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. dan berperan sebagai bahasa T. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. Menurut Holmes (2001). Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga.

Silakan mas Ali. . Sebentar. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu. deh.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. gitu. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. si Clement ini disuruh mundur. terus? Jadi. itu bagus sekali mas Erdam. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. Ya. Orang pertama nyebur. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak.

Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . Ketika mengajarkan bahasa vernakular. California: Mayfield Publishing Company. Malaysia: Longman. Martin. McKay. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. Chambers 1995:102)i. An Introduction to Sociolinguistics. Sandra Lee and Nancy H. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. 2000.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. Judith N and Thomas K Nakayama. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular.ii. 1996. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). 2001. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya. USA: Cambridge University Press. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. Oleh karena itu. Janet.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. Sociolinguistics and Language Teaching. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). — Presentation Transcript  1. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. Intercultural Communication in Contexts. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. Hornberger. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). Daftar Pustaka Holmes. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA.

atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. begitu juga sebaliknya.D. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”.3. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. 6. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa. 6. “malam”. 6. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki.bentuk bahasa baku. “seniman”. „Wanita.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. 6. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi. 4. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944). dan “sun” („matahari‟). “ball” („bola‟). . sertac.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial.5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. Wanita lebih baik dalam membaca. 5. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk.3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak. Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki.b. b. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi.2. den pendidikan sosial. serta dapat hiduplebih lama6. yaitu perbedaan tinggi nada suara. dibandingkan dengan wanita 3. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟). Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. “sabun”. Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”. wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. sebuah golongan AS.pendidikan. “steward”. menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . iii. diantaranya:1. Selain itu. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6.

Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. *** . Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. kelamin. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas.Bahasa. dan manipulasi pemaknaan. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. dominasi. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. hegemoni. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Perempuan. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. atau ideologi.

ekonomi. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. subjek. Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. dan identitas. Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. dan identitas. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. kaum kalah. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. atau kaum tunduk. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. dan bahasa. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. politik. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. dan identitas perempuan. subjek. agama. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan .Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. subjek. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa.

Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. atau media massa. politik. kesusastraan. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan.peran. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . Begitu. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas.

di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. Ke(tidak)samaan. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. (4) jender dan variasi fonetik. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. Namun. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. feminin. Di Jepang. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. dan netral (Matthews 1997: 142). Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. terdapat temuan bahwa selama . Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. perbedaan. bentuk dan panjang bidang vokal. Perbedaan. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. (6) jender dalam lintasan budaya. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Daiam kebudayaan yang berbeda. (7) idiologi linguistik. (2) perbedaan (3) dominasi. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. musik recital akan berbeda-beda cirinya. laring mereka lebih besar. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Berkaitan dengan istilah jender. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. adaiah benar-benar alamiah. (5) jaringan sosial. dominasi. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Pembagian itu meliputi maskulin. 1. dan (8) reformasi bahasa. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Misalnya.

Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. dan gejala etiket linguistik lainnya. Sementara itu. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. 2. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. 1992). Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. cara mereka menyapa satu sama lain. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris.

Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal. pada kata running. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. Contoh. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki.lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). 1991). (Spender. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa. Tannen. 1990. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan. Gordon. ditemukan. Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. 1992).. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas. kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. (Gibbon.ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. 1985: 139). akan tetapi penjelasannya berbeda. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. 3. Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. Sementara itu.. 1997). seperi Norwich (Trudgill. Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. Perbedaan pola pergE. diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. 1999: 61). Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. 4. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. 1989. Penjelasan seperti di atas. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti .

Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. 2002: 111). dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. 5. Jika dilihat dari jenis kelamin. etnik. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. jaringan perkenalan.1 hal 41. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. punya anak atau tidak. Labov (1990) dikutip Coulmas. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. jaringan sosial. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki.ini. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. dan sebagainya. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). Hubungan antara jender. tingkat sosial. perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. seperti kelas sosial. Contohnya. Seperti tampak pada gambar 3. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. teman dan orang asing.

Reformasi Bahasa . Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. 1. 8. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. 6. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. 7. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. M. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. 1. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. M. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. baik disengaja maupun tidak disengaja. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan.

Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama.mereka sama-sama manusia. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. maupun cara menyelesaikannya. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki.tentu saja . Seperti memukul. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. Dalam banyak hal. Perbedaan itu. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja.Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. Dalam menghadapi masalah. kelas sosial. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. Dari bentuk maupun fungsinya. Padahal. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. Di antaranya. Seperti seekor reptil. Karena itu. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. Para ahli otak. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. Sedangkan pada wanita. Kalau sedang emosi. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. membanting. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. berkata kasar dan sebagainya. cenderung untuk mengandalkan fisik. atau faktor sosial lain. meskipun . . Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang.

Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Secara struktural. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. dibandingkan lelaki. Kebanyakan pria jika kena stroke. Sedangkan pada wanita. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Hampir di seluruh tubuhnya. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Selain itu. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. pada wanita yang mengalami stroke. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama.Pada perempuan. atau bahasa tubuh mereka. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. sayangnya. tidak perlu kondisi seperti itu. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Pada lelaki. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. Dalam hal seksualitas. Sehingga. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. . otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Cuma. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. seperti sedih dan gembira.

seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. 2.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. Sejak usia baligh. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. ketika mereka melahirkan. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. dalam fisik. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. “lupakan tentang si jelek itu. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. Belum lagi. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Dan berulangkali terjadi. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. Belum lagi. Pada dasarnya. Dan seterusnya. • . sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. Meskipun. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Karena. masa menyusui. masa membesarkan dan mendidik anak. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. tingkah laku. kamu akan lulus ujian”. Dan sebagainya. Nyeri karena datang bulan itu.a. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain.

dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i .Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. 2. menjelek-jelekan pacar. S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai.Sampaikan perasaanmu. 2. Misal : membaca email tanpa ijin.Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. diantaranya :1. Terdiridari 3 management strategy.b. kesal. Lying (Berbohong) . legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality).You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play.2 .3 3.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman. Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan. Katakan bila kamu marah. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi.c. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting.

Berbohong sebagian besar secara verbal. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . Jadi. Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. misal : untuk uang ataupun materiil. berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h .( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta. Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu. Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan.Definisi menurut Random House Dictionary. orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) . Carl Camden. AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara.

Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur). Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi.D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. 21. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek.5 persen untukkepentingan orang lain. mengenai cita rasa atau masakan. 2. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal. Hasil analisis Camden.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri.8 persen untuk kepentingan pembohong. Sangat sulit . misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong. begitu juga kebohongan. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. Banyak kebohongan efektif. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan.b i c a r a .

S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh. mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas. namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal. H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong. Denganmengetahui penggunaannya.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong.untukberbohong non verbal secara meyakinkan. m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. bertukarpikiran atau pengalaman. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap. kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f . seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam.

Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . prestasi dan j u g a kegagalan). M e r e k a i n i l a h o r a n g .terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain.7 . M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. kadang-kadang self-talk. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. keluarga. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. karir. b u k a n kesembarang orang. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan.i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . gosip adalah omong kosong atau rumor. Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. kisah cinta. Gossip Menurut Random house dictionary. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang.Banyak orang yang egosentris.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. masalah.

Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain. termasuk juga komunikasi orang tersebut.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia ……. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. Dalam berbagai bidang ilmu. 8 twitter. interaksi memiliki makna yang berbeda. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi.Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan.b.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Dalam konfirmasi. Pada penolakan. anda tidak sependapat denganlawan bicara. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN .” Atau “dia menganggap kamu ….

8. 9. 16. 13. 3. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. 19. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. 15. 7. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. bagaikan. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. 11. dll. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. atau atribut. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. 18. seperti layaknya. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. bagaikan. 14. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. 3. 2. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. 5. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. 17. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. 12. 10. 21. 4. 22. 6. namun dinyatakan sama. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. MAJAS SINDIRAN 1. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. . Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. 20. Alegori: Menyatakan dengan cara lain.1. ciri khas. 24. dll. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. melalui kiasan atau penggambaran. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. 23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. 2. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

tetapi dengan makna yang berlainan. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. 3. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 17. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. 15. 6. 14. frase. 10. dll. 25. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. 7. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. 23. MAJAS PERTENTANGAN 1. Repetisi: Perulangan kata. ironi. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. 11. 4. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. 24. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. 22. 18. frase. 9. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. sehingga menjadi kalimat yang rancu. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 8. 16. 5. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. 21. dihubungkan dengan kata penghubung. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. 13. MAJAS PENEGASAN 1. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. 19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. . 20. 5. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. namun sebenarnya keduanya benar. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. 2.4. atau klausa yang sejajar. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. 12. atau parodi. kebiasaan. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. 4. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. Jadi. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. bercerita dalam pelajaran berbahasa. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. . You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 5. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. Dalam proses pembelajaran di sekolah. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. mulai dari hal-hal yang sederhana. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.2. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. 3. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara menurut H. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. by means of a system of voluntarily produced symbols.kemdiknas. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. emotions. berinteraksi. barangkali juga untuk sistem generatif. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. ataupun kurangnya rangsangan dari guru. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya …. Sapir (1921) dalam A.id/kbbi/index. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis.‖ Di samping itu.wordpress. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. S. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya. bahasa guru yang menekan anak. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. A. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. (http://pusatbahasa. dan mengidentifikasikan diri.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. Hakikat Bahasa. artinya. Pengertian Sosiolinguistik.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD.php) .go. (http://imadesudiana. and desires.

2forum. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan . Fishman. 1976:10). 7. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . Wikipedia. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. mengenai lembaga-lembaga. 2. Greus Meijer. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. 9. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. Nababan.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain. 8. Gerad Hubert.blogspot. change. 4.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. Kedua. the characteristics of their functions. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur.html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. 6. Dengan demikian. 5. (Rene appel. Pertama. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. Booiji (Rafiek. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Selin itu. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. 2. 3. and change one another within a speech community.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer.

3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. 3. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. Sosiolinguistcs is the study of language operation. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. memelihara. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif.E. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior.) (Nancy Parrot Hickerson. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus.J Verkuyl. 1980:81). Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. bahasa berfungsi fatik. 4. Dilihat dari segi pendengar. 1975:156). Dalam hal ini.bahasa dan pergaulan sosial.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. Maksudnya. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. viewing variation or it social context. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. J. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. dan apa tujuannya. topik. kepada siapa. Booij.Criper dan H. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental.B Allen dan S. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. kapan. anggukan kepala. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.P. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. kode. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya.) (C. pendengar. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational. dan amanat pembicaraan. (G. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran.Piet Corder. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. Karena. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif.G. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. memperlihatkan perasaan bersahabat. bahasa berfungsi direktif. Kersten. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara.G. menggunakan bahasa apa. dan H. 1975:139). Dilihat dari sudut penutur. dan kedipan mata. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia.Widdowson dalam J. atau solidaritas sosial. geleng-geleng kepala. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya. Dalam hal ini. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran.

Kalau kita simpulkan. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. dan sebagainya. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. Akan tetapi. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Holmes 1993: 1. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. dan sebagainya. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. dan sebagainya. Hudson 1996: 2). di mana bahasa berfungsi imajinatif. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. tidak mempunyai nilai keindahan. tidak terpaku pada satu ukuran. dongeng. cerita. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. Dengan sosiolinguistik. Melalui sosiolingguistik. berestetik atau tidak. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai. kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4.yang akan disampaikan). kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. lelucon. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. Dengan adanya sosiolinguistik. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. dalam hal ini adalah sisi sosialnya.

Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. Rumusan Masalah 1. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . Oleh karena itu. Tujuan 1. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. faktor penanda pemilihan bahasa. untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. dan pendekatan pemilihan bahasa. B. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial.

Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A.3. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. Misalnya. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. dengan melakukan campur kode. Ketiga. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Pertama. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. . Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Kedua. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. dengan melakukan alih kode.

atau mengucapkan terima kasih). Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. dan (4) fungsi interaksi. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. dan tawar menawar barang di pasar. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. dan (4) fungsi interaksi. yaitu pemakaian satu kata. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. rapat di keluarahan. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Di Indonesia. (3) topik percakapan. kuliah. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). peristiwa-peristiwa aktual. . Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. selamat kelahiran di sebuah keluarga. (2) situasi. status sosial ekonomi. jenis kelamin. B. keberhasilan anak. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. atau frase. meminta maaf. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. dan topik harga barang di pasar. kebiasaan rutin (salam. ungkapan. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. (3) isi wacana. pekerjaan. permohonan. Senada dengan Evin-Tripp. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. yaitu (1) partisipan. (2) partisipan dalam interkasi. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini.

topik percakapan (isi wacana). (2) sekolah. dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. dan (4) tingkat keakraban. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. fungsi interaksi. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. dan (2) tipe kosakata. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Berbeda dengan Gal. . Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. partisipan dalam interkasi. (2) kehadiran pembicara monolingual. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. 3. situasi. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. (3) tingkat formalitas. dan (4) memerintah atau meminta. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. latar (waktu dan tempat). Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. Di Obserwart. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. (2) penciptaan jarak sosial.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. 2. 4. 5. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. Dari paran berbagai faktor di atas.

Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). topik. dan pendekatan antropologi. Giles et al. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. agama. Pertama. dan partisipan. akomodasi ke atas . Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. ketetanggaan. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). (1973). Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. hubungan peran antar-komunikator. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). yaitu pendekatan sosiologi. pendekatan psikologi sosial. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi.C. serta Bourhish dan Taylor (1977). pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. misalnya keluarga. dan pekerjaan. Sebagai contoh. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan.

Sebagai contoh. Kedua. psikologi sosial. Sementara itu.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. dan antropologi. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). . Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. yakni observasi terlibat (participant observation). Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. Dengan demikian. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. akomodasi ke bawah.

Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. 2009. Abdul dan Leonie Agustina.BAB III PENUTUP A. Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. dan pendekatan antropologi.com. http://fathur-linguistik. yaitu pendekatan sosiologi. (4) topik percakapan (isi wacana). 2004. dengan melakukan campur kode (code mixing). dan Masyarakat Multilingual. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. (2) situasi. pendekatan psikologi sosial. Ketiga. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Pertama. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Sosiolinguistik. Sosiolingustik Perkenalan Awal. DAFTAR PUSTAKA Chaer. dengan melakukan alih kode (code switching).blogspot. (3) partisipan dalam interkasi. Kedua. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). Pemilihan Bahasa.

2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. sosiolinguistik. budaya. pendekatan sosiologi. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. Namun. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). psikologis. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. pewarisan harta peninggalan.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. baik faktor sosial. maupun pragmatis. masyarakat multibahasa. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. pendekatan psikologi sosial. seperti perkawinan. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. Kata kunci: pemilihan bahasa. dan pendekatan antropologi. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik.

. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. 1971. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. 1984: 4. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). (2) kategori pemilihan bahasa. sosialbudaya. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru.pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. (3) faktor penentu pemilihan bahasa. Los Angeles. Sejalan dengan rumusan itu. (2) identitas peserta tutur. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Dittmar. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. 1996: 2).. 1. Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. Hudson. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. 1972. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. sebagai berikut. (6) tingkatan variasi linguistik. Holmes. tahun 1964. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. Fishman. 1976). Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . baik faktor kebahasaan maupun lainnya. (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. berbagai macam bahasa dan variasinya. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. 1993. Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974).

bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. Dalam kajian pemilihan bahasa. (3) ends (tujuan tutur). kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur.Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. Hymes (1972. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. seperti faktor sosialbudaya. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. 1984. serta sistem pragmatik. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. Dalam kenyataannya. (7) norms (norma- . budaya. (4) act sequence (topik/urutan tutur). 1996. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Fasold. (2) participants (peserta tutur). budaya. yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). Wijana (1997: 5). Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. 1973. Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. baik secara korelasional maupun implikasional. dan situasional (Kartomihardjo. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. (6) instrumentalities (sarana tutur). bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. (5) keys (nada tutur). Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. Dengan demikian. Hudson. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. 1981. 1975). sistem tingkah laku budaya. dan bahasa asing. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. Pada umumnya. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Sebagai aspek tutur. sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa.

(3) topik percakapan. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. misalnya. 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. . yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). ungkapan atau frase pendek. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages). Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. Ketiga. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. Kedua.norma tutur). pesta kuliah. atau berkencan. Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kenyataannya. Pertama. dan (4) fungsi interaksi. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. Di Indonesia. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. Misalnya. sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). Faktor pertama dapat berupa halhal. dengan alih kode (code-swicthing). Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. terdapat tiga jenis pilihan. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. yaitu pemakaian satu kata. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. dan (8) genre (jenis tutur). (2) partisipan dalam interaksi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). dalam hal memilih. dengan melakukan campur kode (code-mixing). Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

(k) sikap kepada bahasa-bahasa. peristiwa aktual. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. Di Obewart. (b0 kehadiran pembicara monolingual. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). Pendekatan Sosiologi . Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. dan (3) tempat umum. Dari jabaran di atas. latar belakang kesukuan. olah raga. dan (d) tingkat keintiman. pekerjaan. (c) tingkat formalitas. Di desa. guru-siswa). Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. jenis kelamin. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. pendekatan psikologi sosial. Berbeda dengan Gal. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. status sosial ekonomi. (f) pendidikan. dan sebagainya. (g) pekerjaan. (3) isi wacana. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. (j) keintiman. (3) status sosial ekonomi. (2) sekolah. dan mengucapkan terima kasih. dan (l) kekuatan luar yang menekan. yaitu (1) partisipan. asal. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. seperti: usia. permohonan. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. yaitu pendekatan sosiologi. (h) latar belakang etnis. (2) situasi. suami-istri. (4) fungsi interaksi. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. harga sembako. Gal (dalam Grosjean. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. (e) jenis kelamim. pembicara akan memilih bahasa Guarani. (contoh: direktur-karyawan. (d) usia. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. (i) relasi kekeluargaan. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. (b) jarak sosial. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. penjual pembeli. dan (d) memerintah atau meminta. Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. yaitu (1) desa. dan pendekatan antropologi. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas.Faktor kedua mencakup hal-hal.

topik. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Analisis domain terkait dengan diglosia. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). dan topik. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. 5 berarti semua bahasa Inggris. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. ketetanggaan. Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. 1972). Sebagai contoh. dan partisipan. dan pekerjaan. yaitu: orang. agama. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. gereja. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. misalnya keluarga. Fishman (dalam Amon. sekolah. . Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. hubungan peran antar komunikator. Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab.01. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. Greenfield menyebarkan kuesioner. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Di bagian lain. seperti pendidikan dan pemerintahan. dan tempat kerja. bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga. pantai. tempat. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed).

pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Kedua. akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). akomodasi mengambil bentuk konvergensi. Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. Herman membicarakan tiga jenis situasi. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. Giles. daripada berorientasi pada masyarakat. Seperti juga psikologi sosial. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Pertama. Bourhish dan Taylor 1977). Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping). seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973.Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). Dengan kata lain. Dalam kondisi tertentu. yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). Secara normal. Dengan pendekatan yang sama.Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang . Howard Giles (1977. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. seperti motivasi individu. situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs).

dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. pendekatan sosiologi. dan situasional. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. Norbert. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. London: Edwar Arnold . Approaches.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Sebagai contoh. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. psikologis. 1976 Sociolinguistics. DAFTAR PUSTAKA Bell. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). Dittmar.T. 1970: 49). melainkan juga dengan masalah sosial. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. dan psikologi sosial. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. London: Bastford. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. and Problems. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. Selain itu. budaya. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. 1976 Sociolinguistics: Goals. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. 1984: 192). R. Australia Timur. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata.

). Lawrence. Advences of Sociology of Language. ________. Dell (eds. The Hague: Mouton. Women Don’t Ask (2003). 1979 Language and Social Psychology. Fasold. Gumperz. In their new book. 1977 Language. Susan. 1994 Multilingualism. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. Giles.‖ Dalam Fishman. Cambridge: Harvard University Press. New York: Holt. Robert. Groesjean. Clair. 1982. Evin-Tripp. Howard. and Intergroup Relations. Harmondsworth: Penguin. Volume 2. Life with Two Languages. London: Academik Press. 1972 The Sociology of Language. 1972 Direction in Sociolinguistics.). 1990 The Sociolinguistics of Language. Fishman. Sociolinguistics. Place. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. Ralph. 1972. Gal. Greenfield. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. Many men and women assume that males . Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. England: Penguin Books Ltd. John. 17-35). Rinehart. John dan Hymes. Fracois. (hlm. Howard dan St. ed. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. Giles.6 percent higher than those attained by women. Rowley: Newbury House.Edwards. and Winston. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. Ethnicity. Susan M. 225-240). is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. 1984 The Sociolinguistics of Society. Joshua A. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. 1972. Oxford: Basil Blackwell Publisher. (hlm. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. New York: Academic Press. Oxford: Basil Blackwell. Oxford: Basil Blackwell.

males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. women focus more on the maintenance of relationships. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. and they are more effective using this approach. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. manipulative. women are thought to be emotional and intuitive. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. Male negotiators. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses.are highly competitive. Men are expected to be dominant and authoritative. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. During personal interactions. (Deborah Tannen. These men give further leverage to their female opponents. They have the right to use any . REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. women are supposed to be passive and submissive. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. ―you know‖) than their male cohorts. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. which causes women to be perceived as less forceful. they allow their female opponents with a bargaining advantage. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. Men are expected to emphasize objective fact. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. If these stereotypical assumptions are right. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). Men utilize more direct language. When men and women interact. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. This is especially true when females use foul language and loud voices. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. As a consequence. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. Females are thought to be more accommodating. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour.

their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. They have been encouraged to engage in little league baseball. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. This factor causes male success to be overvalued. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. basketball.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. fearing that competitive success will alienate them from others. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. Win Like a Woman 80 (2000)). Most boys are exposed to competitive situations at an early age. To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. When men are successful. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. and other competitive athletic endeavours. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. regardless of the stereotypes those tactics might contradict. soccer. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. no matter how thoroughly prepared women are. when women are successful. and female success to be undervalued. Play Like a Man. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. on a credit/no-credit basis than men (27%). Even when minimally prepared. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. football. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. I find this frustrating. . where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. (Gail Evans. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. On the other hand.techniques they think appropriate. Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students. they tend to feel unprepared.

Several people suggested to me that while the average results might be equal. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. Barnes. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. business persons. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. George Washington University. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. generating more results in the mid-range. (Charles B. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. Charles Craver is a Professor of Law. the male results would be more widely distributed. Craver & David W. the results of which affect their course grades. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). My students participate in a series of bargaining exercises. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. Risk Taking and Negotiation Performance. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women.STATISTICAL RESULTS Since 1973. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. ―Gender. Over the past thirty years. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. I have discovered that practicing attorneys. The average results are almost similar. Reader Comments . while more competitive. Over the past thirty years. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. Many individuals believe that men are highly competitive. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. If this hypothesis were true.

Please find below a suggested description to accompany your link.com. namun juga dari aspek etika. 2011. . pragmatik. bukan hanya dari aspek tata bahasa. You can find in-depth negotiation articles. S.S. terkecuali dalam telaah pragmatik.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part .. M. negotiation Q&A's.we ask only that you include a clean html link back to this site. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. meskipun disebut sebagai horison baru. business cartoons. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Kesantunan dalam berbahasa. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www. bukan pula dari aspek psikososial.negotiations. negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. preferably to this page. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. teori kesopanan berbahasa. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. Bookmark the permalink.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. teori kesantunan berbahasa.

diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Kesantunan berbahasa. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. agar santun. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. Teori Wajah oleh Goffman.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. sementara itu. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). Brown. Teori yang diulas singkat ini. dan Levinson. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa.‖ baik milik penutur. tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. namun ―wajah‖ . yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Selain itu. yang membawa ideologi liberal. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. Selain itu. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). maupun milik mitra tutur. ini bukan dalam arti rupa fisik. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. 1995). Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian.‖ dalam hal. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. baik oleh pakar atau linguis. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. secara tradisional. maupun para pembelajar bahasa. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. Brown. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. ―Wajah. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness).

. apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial. tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. 2008:2). bebas dari gangguan pihak luar. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. Oleh karena itu. ketakformalan. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. dan kesekoncoan. sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. Sementara itu. sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. merupakan ―pinjaman masyarakat. dalam konsep kesantunan berbahasa. 2008). dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. pengakuan. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. Dalam teori ini. dan sebagainya). bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. Meskipun demikian. Pada wajah. baik wajah positif maupun negatif. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. Untuk lebih memahami konsep wajah ini. pemabuk. pacar. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. termasuk dalam berbahasa. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. konco. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. Wajah. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. dalam tradisi Cina. atau dimiliki secara individu. artinya. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal.dalam artian public image. atau anak dan ayah).

tanya sadiki. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. tidak sopan. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. numpang tanya. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. . dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. dan sebagainya.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. maaf nih. nanti bilang turun di Sasa. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. ketakformalan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. Tuturan sopir B. Sejenak jika dilihat. dan mungkin berpendidikan rendah. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. kesekoncoan. tapi so lewat jao. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. tetapi dari aspek kesantunan. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. ini skarang so sampe di Kastela. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. Dari aspek kesopanan. (Bukannya masih jauh mas. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. ini sekarang sudah sampai di Kastela. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. tapi mereka tidak mau). nanti baru nae oto dari bawa saja. rasa kekoncoan (camaraderie). melalui konsep wajah positif. dan wajah mereka terancam. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. konco. maaf. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. (Astaga. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas.

tapi sudah kelewat jauh. nanti bilang turun di Sasa). Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Artinya. dan strata akademik. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. Perhatikan contoh berikut ini. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. om. atau keformalan. Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. om. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. nanti naik angkot lagi dari selatan. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. termasuk usia. Maaf lagi… (Saya. Dalam konteks interaksi seperti di atas. jelaslah bahwa dalam berbahasa. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. gender. Bahkan. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. bukan masyarakat asli. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. strata sosial. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. tarima kasih e? (waduh.106). 2006:104). tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. Penumpang A: Wah. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. hal ini bukan hanya mengancam . Kami minta maaf). kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule.

Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). Goody (ed). (2008). 56-289. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Santun berarti tidak mengancam wajah. In E. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri.wajah mitra tutur muda. (1987). Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. maka pengancaman wajah bersifat positif. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Menuju Universalisme yang Hakiki. Disertasi. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. maka ancamannya pada wajah positif. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. P & S. Levinson. Intinya. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. maka ancamannya pada wajah negatif. A. Brown. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Artinya. Aziz. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Sementara itu.C. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Australia: Monash University. maka pengancaman wajah bersifat negatif. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. tekanan. . E. (2000). Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. A. termasuk mitra tutur. Daftar Pustaka Aziz. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita.N. Cambridge: Cambridge University Press. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). atau gangguan dari pihak lain. Di lain sisi. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. Menggugat yang Semu. E. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat.

baik oleh pakar atau linguis. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. J. teori kesopanan berbahasa. Kesantunan berbahasa. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Yule. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan.S. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. E. Kesantunan dalam berbahasa. bukan hanya dari aspek tata bahasa. (1967). Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. terkecuali dalam telaah pragmatik. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. Thomas. teori kesantunan berbahasa. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. meskipun disebut sebagai horison baru. Pragmatik.. Indonesia: Pustaka Pelajar.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. S. pragmatik. (1995). London: Longman. Interaction Ritual. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. Selain itu. G. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. Garden City. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Bookmark the permalink. secara tradisional. bukan pula dari aspek psikososial. M. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. maupun para pembelajar bahasa. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. (2008).Goffman. yang membawa ideologi liberal. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. agar santun. 2011. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. NY: Doubleday. namun juga dari aspek etika.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

om. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. om. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Bahkan. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. dan strata akademik. Dalam konteks interaksi seperti di atas. Maaf lagi… (Saya. Sementara itu. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. maka ancamannya pada wajah positif. Perhatikan contoh berikut ini. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. tekanan. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. Kami minta maaf).106). 2006:104). termasuk usia. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. strata sosial. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). maka ancamannya pada wajah negatif. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. maka pengancaman wajah bersifat positif. termasuk mitra tutur. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Intinya. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Artinya. atau gangguan dari pihak lain. gender. maka pengancaman wajah bersifat negatif. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. jelaslah bahwa dalam berbahasa.

Di lain sisi. Yule. E. Australia: Monash University. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. (1995). Menuju Universalisme yang Hakiki. Disertasi. 56-289. Goody (ed). Brown.adalah kehilangan wajah (loosing face). Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. (1987). Santun berarti tidak mengancam wajah. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Goffman. (2000). Interaction Ritual. A. Pidato Pengukuhan Guru Besar. E. (1967). Garden City. Cambridge: Cambridge University Press. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. NY: Doubleday. (2008). (2008). E. G. Furthermore. Menggugat yang Semu. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri.N. I aim to move . bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi.C. London: Longman. Thomas. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. In E. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. P & S. Levinson. ethinking Politeness. Daftar Pustaka Aziz. Aziz. A. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. Pragmatik. J. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. Indonesia: Pustaka Pelajar.

rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. (Sperber and Wilson. I will suggest that. constitutes a discourse analysis of politeness. modes of talk and domains. I argue that communities of practice. secondly. we need to be able to analyse the various strategies which gendered. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. we may be able to see gendered protocols at work. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. nevertheless. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. in the final part of this essay. To illustrate these ideas. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. it should be seen within the context of a community of practice. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. as Brown and Levinson (1978) have done. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. gender. rather than a linguistic analysis of politeness. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. in an analysis of an incident at a departmental party. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. I would argue that we need several analytical changes: firstly. Keywords: politeness. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. rather than individuals. (3) In this way. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. we can map out parameters for . arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. and who needs to repair the damage. pragmatics. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. but. rather than as simply as the product of individual speakers. therefore. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. This. Thus. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. and finally. (2) In terms of the analysis of politeness. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness.

who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. Bing & Freed. Bergvall. (see Butler. 1998. the issue of gender is even more fraught. developed by Wenger. Fuss. practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. power relations – in short. (Coates & Cameron. Johnson & Meinhof 1997.1988. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. a joint negotiated enterprise. Ways of doing. 1995). moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women.(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. (Eckert and McConnell-Ginet.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. (both dominant and peripheral). ways of talking. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time.' (Wenger. 1999:175) Thus. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. Thus. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff. (1998). 1999). feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. we need to modify this notion of community of practice slightly. 1990. values. and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed. there will also be different `takes‘ on those norms. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. beliefs. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. as many essentialist theorists have done so far. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. Within this view. rather than .strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered. and they will have different positions within these groups. However.

(Freed. politeness is already gendered. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. particularly when we are considering linguistic politeness. so that stereotypically it bears a signature of middle class. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. 1998:488/9) Thus. classed and raced. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men.‘(Eckert & McConnell-Ginet. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. rather. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. As I will argue later in this paper. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. . 1999). As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. thus. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. the stereotypes of gender. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. however. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. However. (5) Furthermore. in the way that they react to politeness and impoliteness. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996).describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. athleticism and musicality.

Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. maintained or enhanced. described as co-operative strategies or rapport talk. 1975. a person whose wants and personality traits are . lecturers who need this information and who are reliant on her. will need to employ politeness forms which would normally signal deference. This is what I would like to call interactional power. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. and must be constantly attended to in interaction. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). and that can be lost. concern and sympathy. (Mills. They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). their linguistic directness. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. because of her access to information upon which they depend. by treating him/her as a member of an in-group. we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. a friend. Face is a term drawn. (Coates. 1998. that is. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. (Foucault. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. rather loosely from the Chinese. and so on. the spread of power throughout a society. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. rather than the holding and withholding of power by individuals. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. or breakdown of communication will ensue.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field.g. via Goffman. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members.'(Brown & Levinson. 1996) Thus. there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. (Lakoff. by our class position. 1991). conversely. Tannen. In engaging in interaction. their confidence. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. Spender. (6) For example. however temporarily.

The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). 1995:5) However. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance. it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example.‘(Holmes. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. The essence of politeness is that appears to be invisible. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. or expressing them indirectly.known and liked). however. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. and even then.' (ibid. and this is not the first time that the request has been made. 1994. Thus. (Culpeper. forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. politeness cannot be said to reside within linguistic forms. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use. a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. Thus.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action.. such interpretations may be subject to disagreement. thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. which conflates the intentions. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). It is thus a model of interaction which is focused on production. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. Boz. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. this might in fact be interpreted as impolite. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them.e. (Mao. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. 1996) As Holmes notes.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. hedges and deference). Thus. which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs.. i. Thus. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference.

as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others.‘ (Holmes. and thus is again an example of the disembodied.‘ (Holmes. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. and thus Holmes asserts that. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. either in relation to the perceived norms of the situation. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness.‘ (Holmes. as well as non-imposing distancing behaviour.‘ (Holmes.polite. Drawing on brown and Levinson's work. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. . 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. For example. They use language to establish. nurture and develop personal relationships. Indeed. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. therefore. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. especially with friends and intimates. ingratiating or patronising. focusing on impoliteness may be slightly easier. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place. 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. women are more polite than men. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men.

he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. (12) Thus. Liladhar. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. The dominant group in the interaction.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. this person. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic. and/or when it leads to a breakdown in relations. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated. and this type of public verbal play in general.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. like us. I would argue that within that particular community of practice.a documentary programme on army training and literary drama . if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. 1972) (14) However. a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. 2000 forthcoming. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. when uttered at a staff party may be considered differently. He analyses several contexts of linguistic use . usually dominant. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. However. banter. 2000 forthcoming) In the incident in question. women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. this is not classified as impolite. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. Thus. one of my female postgraduates and a new male member of staff. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. the officers. community members. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. but older than the postgraduate. as Clare Walsh has shown. although it would be within almost any other community. 1996). but which female members of staff may also engage in equally. (Labov. In the army training documentary which he examines. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. 1998). and even then it is something which may be contested by some community members. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. I had to think up some form of appropriate phatic . Since the party was well underway. However.

but instead had to be classified as offensive and impolite. were in fact patronising and therefore insincere. and impolite. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. the male staff member then made comments which we both considered impolite. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. then I would have to comply and provide a list of poets.' (Cameron. 1998:448) In this case. (see Cameron. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable.communion. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. facial expression and his tone of voice. because he considered them to be excessive. (17) What is also . (15) Banter was not an option since I did not know the person. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. he was in fact implying that I could not name six poets. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. Proxemic cues. (Sperber and Wilson. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. where we had been attempting to be friendly and polite towards him. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. This response on his part confused me . the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. I did not wish to be forced to answer this question. Under this interpretation. However. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. such as body stance. However. eye contact. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. `Name me six poets‘.

drawing attention to our femaleness and sexuality. . What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. Having worked with extremely impolite. We tried to assuage him and calm him down.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. that is. However. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. suggesting that we talk on other subjects. we would not necessarily have considered the incident impolite. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. Thus. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. a stereotypically feminine response. for the best of motives. Thus. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. For myself and the postgraduate. As it was. (Walsh. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). it led to an increase in insulting terms. we could not simply walk away. as if perhaps these were implicit from the beginning. do not necessarily bring any form of power to oneself. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. perhaps. but continued to use positive politeness strategies. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. `masculinist‘ females as well. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. partly because both of us were fearful of physical attack. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. that is. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. (19) Further gendered stereotypes were brought in. in the interests of departmental harmony. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. it led to a range of `repair‘ behaviours. Because of these strategies we were locked into the interaction. whereas for the male staff member. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour. which in many contexts such as this one. verbal aggression and impoliteness.

and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. since in fact this is what brings the incident to a close. (21) However. However. Thus. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer.The incident itself is not particularly important. cannot be simply coded as powerless. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. even though this is a strategic use of femininity. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. Generally. Thus. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. however. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. what I . particularly to the postgraduate. that is. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. one which attempts to resolve the situation. and the party was disrupted by the event. However. and even those stereotypes can be used for our own ends. A seemingly feminine response to the situation. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. Furthermore. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. where the postgraduate tried to make a formal complaint.(20) After several weeks of not communicating with the person. or even perhaps an admission of some fault on our part. Thus. However. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. and the way that this judgement is not a once and for all act. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. Conclusions Thus. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour.

1994) 5. Bell et al. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. in 1993. however. 6. Notes 1. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. 2000. complex that relation is ). also. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. 2000 forthcoming. February. including the seemingly more co-operative/rapport ones. Perhaps. Manana Tevzadze. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. Thus. (see. or change their meaning or function. Janine Liladhar. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. 1999. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. this was clearly the case. 1999) 3. 2. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. California. (See Liladhar. Clare Walsh. and it can also enable us to see that within different communities of practice. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. As I show later. Holmes and Meyerhoff.(Butler. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. but even here. May. Corinne Boz. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. 2000. Lia Litoselliti. May. International Gender and Language Association. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. depending on . one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. Reina Lewis. Utrecht. Also. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. 4. 2000. and Gender and Language Conference. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. Eckert and McConnell. Keith Green. Cameron. individuals may perform their gendered identities in different ways. Jane Sunderland. November 1999.

I also requested comments on his interpretation of the incident. Georgia. However. composed of linguists from Britain. 11. 9. this article is part of that process of understanding the event. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. bullying and overbearing.ac.. 12.mills@shu. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered.ac. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. and I asked his permission to publish it. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. of course. 13. or at our web-board: http://hum-webboard. it is interesting that not all secretaries do adopt it.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. Even over two years. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. the community of practice.shu. Italy. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain. . One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face. 8. in the army training example.uk. Turkey. Details of the group can be found on the website http:\\www. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone. Indeed. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms.ac. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . Finland and the Netherlands. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. and we are currently working on communities of practice and politeness. 10. China. 1999 on peripheral group members) For example. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms.ntu. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite.l. stated that when he did his year's army training.ac. the incident still has effects on the department and is still discussed. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group.bargiela@ntu. he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. as Walsh (forthcoming) has noted. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with.7. 2000.

conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. such as comments about the house where the party was being held. 18. & Valentine. 17. in fact. or even the weather. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. J. J. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. Furthermore. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. 21. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. (See Clark. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. 1998. It is not something that they necessarily want to do. Cream. References Bell. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. However. despite several attempts to discuss this issue with him. pp. D. . This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. No formal complaint was made. but the timing of the interaction precluded the use of these. Binnie. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. However. (1994) `All hyped up and no place to go‘. he has not responded. for a discussion) 20. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. in Gender. this is what leads to conflict. 15. 16. 19. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. 1/1. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. and may be misinterpreted when used between relative strangers. Place and Culture.14. I would agree that alcohol affects what we say to people. Here. G.31-48. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’.

Routledge. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. E. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. Vera?': gender. D. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. 28/2 Butler. J. Language and Masculinity.' Pp. they note that boys. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". pp. Cambridge. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. From historical recurrence. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. Goody. A. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. in ed. C. cultivate a deep "masculine" voice . M. Bing. Cameron. to talk rough. J. and Meinhoff." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. formal stylistic markers). Johnson. London. P and Levinson. Cambridge University Press. "are permitted. Sheffield Hallam University Brown. 435-455. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. However. V. and Communication" she notes that. power and pragmatics'. From Nancy Bonvillain's "Language. even encouraged. Oxford.56311.86-107. pp.203-225. 9/4 Cameron. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. U. London. and softening devices such as hedges and questions. PhD thesis. Bucholtz. in Discourse and Society. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. D. pp. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Boz. Therefore. S. Culture. Blackwell. in Language in Society. & Freed. Longman. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. eds.Bergvall." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. in eds. "women typically use more polite speech than do men. (1998) `Is there any ketchup.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

(Baron-Cohen (2003). stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. for instance. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. at least across the ‗western‘ world. a contemporary review of the field (Cameron. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. we look at commonality and diversity in language and gender curricula.g. or within non-language programmes. Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. at the design of language and gender modules. ‗Language and the Media‘. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. at issues relating to teaching and learning stances. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). including selection and sequencing of curricular content. however. including linguistic behaviour. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. we can contrast syllabi . However. 3.) Within language and gender as a field. Language and gender doesn‘t. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. see Halpern (2000). deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. have a settled curriculum. Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. for a broader overview of sex differences in cognition. (For sources. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. such as Women‘s Studies. In what follows. and critically.and corpus linguistics). whether in the form of coherent modules on the topic. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e.) 2. or Women‘s Studies. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. represents a strong biological (evolutionary) perspective.

The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. they see oppression as a thing of the past. on the other hand. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. A similar. for instance. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. at the time at UCLA. reflecting disciplinary perspectives. First. given the nature of the subject. Students‘ background. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). but there are particular issues. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. grammatical gender. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. sometimes problematical. Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. Besnier. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. Both have a strong empirical focus. and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. 2005: ‗Aims of the course‘). whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). 4. given the disciplinary and other differences referred to above.csulb. both modules explore relevant aspects of language and gender. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). has a strong and explicit anthropological focus. that relate to the teaching of language and gender. racial and national identities with gender. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. On the basis of these syllabi at least. He also covers gender and literacy. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. These are mainly US sources and not all recent links are available. This site includes reading lists and assignment topics. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier.edu/~lemaster/lgarchive). and include student project work. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. a problem solved. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. The classic case here is probably sexist (English) . but the subject is to some extent differently constituted in each case.

The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. On a different level. but a history whose implications are currently felt more widely . (This is. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. on language and gender modules. say. if they are not simply indifferent to these debates and issues. then. and the associated question of empirical research. who are largely unused to this form of scholarship. and for whom linguistic description and analysis (for example. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). Secondly. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. having signed up. focusing on current arguments for Ms). used. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. and indeed continue to use Ms. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. of course. variously. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. in Women‘s Studies. Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. this may still come as a shock to students. but also to many third world women. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). man-hating. While fiftysomethings may have argued for.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. eighteen. even that they will feel uncomfortable – or. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. divorce. Amongst male students. lesbianism and a hatred of men.language (together with language change. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms). This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules.for example.) It makes more sense. be made to feel unwelcome. Thirdly. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps . worse. encouraged. Certainly. and this needs to be pointed out and demonstrated. and to associate Ms with. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. and indeed of making one‘s own politics explicit. of feminism in general. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). and guidelines for inclusive language). and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. In this context. indeed. on which so much language and gender scholarship is based. While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing.

these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. appropriately integrated. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways).something particularly characteristic of language and gender. talk more than women. 5. often having no problem identifying with the findings. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. or. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. Designing modules in language and gender In Section 5. Topical C. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area. Queer theory. These complex notions need to be addressed. Eclectic . better. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. identity. subject positioning. It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. Historical B. orientation to gender. and some simplification may be pedagogically necessary and. according to different organisational criteria:     A. but in an accessible way. appropriate. discourse(s). performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). Theoretical/methodological approaches D. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. indeed. and in fact approached critically.

Written texts: language. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. both topical and methodological. Historical: Example 1. have grown out of (responded to/reacted against) . gender as constructed in and by language 2.g. The shift to discourse 7. Trudgill 3. ads. politics) 10. As in other fields. continued. Jespersen 2. Performativity 9. Holmes 6. gender and children’s books 10. gender and fiction 8. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. Labov. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. Spender 4. Sexuality/Queer theory 1. Discursive psychology 8. Women and men’s talk: single/mixed sex. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Language. Theoretical/Methodological 1. Critical discourse analysis 5. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. Sexist language 2. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen. Language. gender and powerful institutions (religion. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. CA/Discursive psychology in language and gender study C. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Identity 8. Zimmerman and West 5. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. Conversation analysis 7. 7. Topical: Example A. Early feminist work: Lakoff. Eclectic! 1. current emphases in language and gender. gender and sexuality 9. As above. perhaps including the topic of gender and politeness 4. private/public 3. gender and the language classroom 8. Empirical work and the feminist contribution 3. The importance of context 6. Language. Classroom talk 5. Gender and the media – magazines. Corpus linguistics 9. Sociolinguistic work: e. Empirical and non-empirical early work: Haas. Language. Gender and discourse 5. Coates. Discourse analysis 4.B. Workplace talk 6. newspapers. Gender and cyber-communication D. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7.

however.e. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. and fast-growing. Queer theory. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. If such history is to be included (Example A). A third question is the role of biological factors/explanations. classroom talk. of course. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. relatedly. other organising principles than the chronological development of the field. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. In terms of teaching. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and.g. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. The language and gender field is young.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005). considering a balance not only of content and methodology (already referred to). given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are. but wide. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. But while the field has moved on considerably. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. which has made its own important contribution to language and gender. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). Most basic is the question of time. how these are constructed in the literature. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible.previous ones. previous emphases can be included critically. We noted above that these have traditionally been downplayed.g. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. intellectually complex. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. . to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. the workplace. Of course. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. As mentioned in Section 1. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. and now usually are – but the message does not always get through. but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

appropriateness.. and methodological difficulties (e. racial identity. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative .. distance. data collection instruments. data collection. With respect to the model of communication proposed in the book. individual strategies. Finally. gender. reliance on speech act theory. In chapter 2. Theorising politeness. analysis of social variables such as power. strategic politeness. notion of politeness. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. interpretation. face and face threatening acts). 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). positive and negative politeness. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. notion of habitus) the constituents of politeness (e.g.. namely.g.. Brown and Levinson's (1978. In particular. and imposition).g.g. inability to describe politeness at the level of inference). their model of communication (e. 1998: 76). a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. power. The variables of class. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness.to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice. and linguistic interpretation of pragmatic data. speaker model.

to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. sexual orientation. politeness and impoliteness. and. Further. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. Then. class. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. 2) politeness is a matter of judgment and assessment. This chapter is organized into four sections: the first section. swearing and directness. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. 3) different forms of data need to be considered. and race are examined in relation to (im)politeness. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. In chapter 3. and class. age. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. namely. race.analysis of politeness. Politeness and impoliteness. two features of impoliteness are analyzed. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. In particular. but rather as separate notions with specific characteristics. . factors of gender.

swearing. Gender and politeness. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. loudness. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. middle-class women's behavior. power. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . Finally. and polite. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. among other factors. Finally. class. indirect. In chapter 5. Theorising gender. mitigation. interruption. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. is normally associated with prototypical descriptions of white. race. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. Furthermore. and sexual orientation.In chapter 4. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness.

sexual orientation..in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. in Conclusions. for the sake of methodological clarity. and contextual elements. EVALUATION Overall. the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. power) in relation to politeness and gender research.g. While the analysis presented in the book is theory. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. In particular. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class. specific information regarding subjects. General information . among other factors. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. and data analysis could have been described in one particular section. Finally. race. gender.driven. data collection procedures.

Finally. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. 2001b) on p. 14-15) within the introduction. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. 61 Lakoff. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . Overall. number of subjects. 77 which do not coincide with the bibliography. including a description of the subjects.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. and Wierzbicka (2003). information concerning data collection procedures. more extensive information on the methodological procedures used in the study. at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). is mentioned in footnotes (pp. Most importantly. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. number of hours of recorded data. data collection procedures and analysis. tasks. etc. on p. Furthermore. For example. Watts (2003). there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results.

UK: St. A critique of politeness theories. REFERENCES Bravo. NY: Mouton de Gruyter.. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. (1987).g. New York. UK: Cambridge University Press. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. and sexual orientation). (1998). Cambridge. UK: Cambridge University Press. (2003). race. UK: Cambridge University Press. Manchester. Sweden: Universidad de Estocolmo. Cambridge.) (2003). 2nd.(im)politeness and gender. Eelen. gender. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE. S. edition. Wenger. class. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. Cambridge. and Levinson. Watts. E. D. Wierzbicka. Politeness. Stockholm. Cambridge. Brown.. E.). S. Brown. (2003). In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. P. (1978). R. A. Jeromes Press. Communities of practice. P. G.310. Politeness: Some universals in language use. (2001). the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. (Ed. ABOUT THE REVIEWER . and Levinson. UK: Cambridge University Press. Goody (ed.. 56. In particular.

politeness theory. His research interests include cross-cultural pragmatics. interlanguage pragmatics. writing in the second language classroom. Bloomington. speech act theory. and first and second language acquisition.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. research methods in pragmatics research. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful