0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Dalam salah satu bab buku itu. sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. biasanya dalam kalimat pendek. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. Development. pada tahun 1922. dan Jerman. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. and Origin. Misalnya. sederhana. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Jepang. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. Amerika. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). tidak memperlihatkan emosi.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. Jespersen juga . Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Grimm (2008: 8) berpendapat. Di beberapa negara maju. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. mereka lebih terkesan linear. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Sebaliknya. seperti Prancis. lebih bersifat pertanyaan. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. tidak komprehensif. Inggris. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan.

perempuan sering menggunakan adorable. Dalam bahasa Indonesia. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Oleh karena itu. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. Namun. Misalnya. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. tempat. . peristiwa. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). proses. cool. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. 2004. menurut Lakoff. matang. Dalam khazanah sosiolinguistik. Oleh karena itu. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). seperti great. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. Di samping itu. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). sweet. atau neat. yaitu waktu. terrific. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. Kuntjara. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. ekonomi. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. sangat berkuasa. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. dan objek (O). pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. keadaan. dan mitra tutur. 2004:3—4). lingkungan sosial. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. etnik. misalnya. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. 2005:36). Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. politik. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. predikat (P). ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. kelas. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. agama. charming. Namun.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu.

Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. perasaan. 4. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. 5. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. dan hubungan antarmanusia. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. tetapi palsu. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Namun. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. seperti buku Tannen dan Gray. 1. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Women Are from Venus. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki.Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. tetapi juga psikologi. misalnya. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. 2. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. 3. Sebagai contoh. Di dalam buku psikologi populer. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Men Are from Mars. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. buku Deborah Tannen. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.

melainkan referensi dari buku pengembangan diri.000 kata. and the Politics of Identity. Language Laws. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. termasuk status mitos tentang fakta itu. Salah satunya adalah Mark Liberman. 2011. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Jespersen. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Oxford: Blackwell. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu.000. Namun. Janet. Dalam perekonomian saat ini. The Female Brain. Language: Its Nature. An Introduction to Sociolinguistics. 1922. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". tungau di seberang lautan tampak‖. misalnya. Duranti. Publisher. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Otto. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu.000 kata sehari. The Study of Speakers’ Choices. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Sociolinguistics. Holmes. 1999). New York: Delacorte Press. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Greene. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. New york: Cambridge University Press. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7.000 sampai dengan 25. The Key Term in Language and Culture. Florian. Development and Origin.berkomunikasi. Alessandro. dalam mitos Mars dan Venus. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. . You Are What You Speak: Grammar Grouches. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. 1992. London: Longman. Daftar Pustaka Coulmas. Robert Lane. New York: The MacMillan Company. Pada tahun 2006. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. 2001. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Setelah menelusuri kepustakaan populer. 2005. 2011: 54—56). fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Namun. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4.

Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Bahasa dan Kekuasaan. Robin Tolmach. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. and Origin. Thomas. seperti Prancis. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). and Power. Dalam salah satu bab buku itu. 2003. perempuan sering menggunakan adorable. 2004. Deborah. New York: Oxford University Press. New York: Ballantine Books. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Lakoff menyatakan bahwa terdapat . pada tahun 1922. Inggris. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. terrific. cool. Society. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Misalnya. Tannen. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. Language. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Lakoff. dan Jerman. charming. atau neat. Gender. New York: Routledge. Di beberapa negara maju. Esther. sweet. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Misalnya. dieditori oleh Mary Bucholtz). Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki.Kuntjara. Jepang. 2004. seperti great. Linda and Shân Wareing. 1991. Amerika. Development.

politik. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman.banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. misalnya. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. 2005:36). You Just Don't Understand: Women and Men in . tempat. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Di samping itu. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. sangat berkuasa. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Dalam khazanah sosiolinguistik. dan mitra tutur. Namun. 2004:3—4). Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. matang. ekonomi. kelas. lingkungan sosial. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. 2004. dan objek (O). pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. yaitu waktu. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. misalnya. Kuntjara. Namun. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. tetapi juga psikologi. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Oleh karena itu. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. agama. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). buku Deborah Tannen. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Dalam bahasa Indonesia. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. keadaan. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. etnik. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. proses. peristiwa. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. predikat (P). banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. menurut Lakoff. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat.

dalam mitos Mars dan Venus. Namun. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". fakta . Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. seperti buku Tannen dan Gray. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Sebagai contoh. Di dalam buku psikologi populer. perasaan. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Namun. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. 1. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". 4. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. Men Are from Mars. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Women Are from Venus. 3. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. dan hubungan antarmanusia. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. tetapi palsu. Dalam perekonomian saat ini. 1999). Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. 5.Conversation dan buku John Gray. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. 2. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki.

Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. New York: Oxford University Press. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. 1922. Publisher. Bahasa dan Kekuasaan. Alessandro. You Are What You Speak: Grammar Grouches. The Female Brain. Daftar Pustaka Coulmas. The Study of Speakers’ Choices.000 kata sehari. Gender. termasuk status mitos tentang fakta itu. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Janet. 2011. Setelah menelusuri kepustakaan populer. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Esther. Pada tahun 2006. New york: Cambridge University Press. An Introduction to Sociolinguistics. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Otto. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Language: Its Nature.000. Duranti. dieditori oleh Mary Bucholtz). Florian. Development and Origin. Robin Tolmach. . Language Laws. 2004. Namun. 2001. Sociolinguistics. and the Politics of Identity. misalnya. New York: Delacorte Press. Oxford: Blackwell. Salah satunya adalah Mark Liberman. The Key Term in Language and Culture. Robert Lane. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Kuntjara. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Greene. Holmes. New York: The MacMillan Company. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4.000 kata. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. London: Longman. 2005. 2011: 54—56). seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. 1992. Lakoff. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Jespersen. 2004.000 sampai dengan 25. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. tungau di seberang lautan tampak‖.

Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. 2003. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. tante girang. and Power. istilah. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. ugkapan. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. lonte. dan tataran gramatikalnya. New York: Routledge. . cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. Thomas. gaya. Deborah. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. Language. Society. pelacur. Artinya. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. jika benar-benar ditilik.Tannen. 1991. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. Hal ini memang perkara sederhana. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. New York: Ballantine Books. baik lelaki maupun perempuan. 28 Okotober. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. dan sejenisnya. Linda and Shân Wareing. pada perempuan melekat istilah PSK. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Padahal. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. Selanjutnya. Sejauh ini. Maka itu. murahan. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus.

seperti Marlinda Abdullah Puteh. Artinya. Sebagai contoh kasus. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. Para . Hindia Barat. Akibatnya. papleumo. ketika si perempuan sudah menikah. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. Ironis. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. Nani Yudhoyono. Bahkan. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun.Masih pada tataran yang sama. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. Sebaliknya. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. dan lain-lain. di Zulu. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. ia menyandang pula nama suaminya. aneuk tét mie. Kemudian. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. bisa-bisa dibunuh. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. Sedangkan pada lelaki. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. brét ma keuh. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. misalnya bahasa Aceh. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. Afrika. ‗ok mai. begitu lahir. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. Misalnya. Sangking pantangnya bagi mereka. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun.

ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Selamat memperingati Bulan Bahasa. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Dalam isu LGBT. dibolehkan membunyikan ―Z‖. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. Namun. seperti dalam kasus waria. Banyak bahasa.perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Dalam konsep gender. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. perilaku. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . dalam suatu masyarakat. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". kegiatan. Namun demikian. Sebagai ilustrasi. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. yang dikonstruksi secara sosial. Dengan kata lain. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Semoga bahasa kita tetap jaya. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). bagi para lelaki. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu.

dan bahasa (Koentjaraningrat. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Sebagai wahana budaya. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. menarik diungkap di sini keyakinan J. Untuk diskusi ini. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. sistem kemasyarakatan. Greenberg (Samsuri. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. kesenian. Di sini. Maka. Ingat. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. 1964: 79). Dalam pengertian yang luas. "bahasa menunjukkan bangsa". seakanakan yang salah memang budayanya. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. BI akan dibedah dari perspektif gender.1) Itulah sebabnya. bahasa juga merupakan wahana budaya. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi.adapun wanita lemah lembut manja ." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. BI bias maskulin. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di samping sebagai bagian. senang atau tidak. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Bahasa adalah cermin budaya. Dengan perspektif gender. Kebudayaan. Singkat kata. sebagai matra sentral Feminisme. tindakan. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. sistem ekonomi dan mata pencaharian.. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan.. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu.H. Mengapa BI memihak lelaki. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. sistem religi. dan benda karya budaya. Dalam hal ini.

keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. Dengan ancangan ini. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. etnis. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). dan kelompok sosial lain. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. Dengan ini. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). hukum. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. yang membentuk realitas sosiobehavioral. kekerasan. dan inisiatif pengucapan.Dengan pendekatan verbal. ini tidak keliru. Padahal. Dilihat dari kemurniannya. terutama dalam menyusun kategorisasi data. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). 1986). dan . dst.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. masyarakat.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. Untuk telaah ketimpangan gender pun. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda.3) Akan tetapi. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). Dari segi kebahasaan. Sebagai human instrument. penyebutan keberadaan atau tindakan. keniscayaan struktur. pada beberapa suku. Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). yang akan membentuk realitas simbolis. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. Atau. interaksi manusia. tindakan. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. telaah ini bersifat interdisipliner. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. berupa tuturan bahasa. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. Soalsoal sosial-politik.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. yakni tuturan alamiah keseharian.

induk. Riyanto. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. misalnya. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. termasuk dalam hal menerima sebutan. untuk sesuatu yang bersifat garang. Masalahnya. raja judi. *ibu koperasi. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. diam. raja copet. Layak dipertanyakan kebenaran ini. dan ratu. Agaknya sudah menjadi "kodrat". dan ratu adil. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. Semua setuju. Untuk sebutan yang feminin kita kenal.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. jago matematika. *ibu pembangunan. Dengan memakai ibu. kesabaran. "ibu kota. *babon nggambar. nenek. bapak pendidikan nasional. predikat. dan damai. *jago semang. seorang artis yang bernama Lisa A. Dalam kosakata BI kontemporer. dewi malam ('bulan'). dan agresif itu. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. raja siang ('matahari'). perintis koperasi itu Mbak Tutut. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. Bung Hatta "Bapak Koperasi". *dewa malam. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . Setelah berumah tangga. dewa maut. putri. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. dan memang tidak harus jantan. dan *raja adil". Siapa pun tahu. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. kepasifan. *ratu copet. Riyanto yang sudah almarhum itu. dan jelas bukan *ratu judi. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. bapak pembangunan. misalnya. putri malu (sejenis bunga). memang. ibu pertiwi. macan'). Alih-alih dengan itu. dewi. garang. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. induk semang. *kakek moyang. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. pemberani. nenek moyang. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. Maka. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. *putra malu. bapak koperasi. jago nggambar. dewa perang. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". ketenangan. *babon matematika. agresif. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). dan bukan *bapak kota. *ibu pendidikan nasional. *bapak pertiwi.

harus "dihaluskan". sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. "gigolo". "bandot". barangkali kembali ke pelacur lagi. Sehubungan dengan kajian ini. atau alumni madrasah tsanawiyah. indah. karena dipandang vulgar. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Masalahnya. konotasi yang muncul berbeda. "bawon". jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. saya belum siap diprotes. menjijikkan. "teko". misalnya. Atau. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Jadi. Dan. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . dan tiba-tiba perutnya mules. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Kata pelacur. Dengan demikian. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. itu soal lain. Maka. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. Perasaan menjadi lega. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. mengajar.A. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Jika boleh. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Akan tetapi. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Seseorang yang sedang makan siang bersama. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. Tentu saja. Masalahnya lagi. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. ganti lagi dengan yang lain. saya mau ke belakang". Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. orang bisa menepuk dada. Lalu. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. "*Ibu Koperasi". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. memang ada. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Untuk ini. anggun. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. R. WTS pun mesti dihapus. tenang. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". jika PTS dipilih. norak. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi."*Ibu Pembangunan".

tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. WK : Ah. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. sebab ramai.Dengan degradasi. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. misalnya. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. mengalah. sebagai survival strategy. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. hanya sekadar membantu suami saja. Aneh. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Saya: Gaji segitu besar lho. WK) berpenghasilan tinggi. WK : Ah. Pernyataan "cuma istri. remeh. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Karena beban kondisi ini. melawan. nanti. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. makna kata menjadi enteng. saya kan cuma istri. Padahal. nggak juga. Bu. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Itu kan menurut situ. gaji tinggi melebihi suami kok malu. Dengan standar ganda ini. Ini kan di atas gaji suami. Cepet kaya. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. manakala saya tanyakan berapa gajinya. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. patuh. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. Bu. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Jadi. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. akan sering muncul di sekitar kita. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Mereka malu mengakui. Hebat. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Mengherankan. jadi tidak sekadar melengkapi.

Lagipula.. Cuma perempuan. ingat kamu itu perempuan lho. kita itu kan perempuan to. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Jadi ya termasuk duitku juga. "Perempuan saja kok macem-macem. Perempuan saja kok macem -macem. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu.. Ini urusan lelaki. Lurah kok mau dilawan. Kita ini orang kecil.bergender lelaki. Ini urusan lelaki. bahkan tak tahu diri. Nduk. Ibu ini tak salah. Nggak ada ceritanya. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Maka.. Tentu saja. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. tapi ini kan duit laki saya. Dipikir . ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. 1981). sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Malahan. Nduk! AP : Mbok. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan... tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Sementara diam dan nerimo saja. kok di sini dipotong orang seenaknya. Ee ." katanya. Maka. Aku kan bininya. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. perempuan bisa menang. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Siang keras. Biar dia yang ngurus. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Inilah produk paling diskriminatif dari . Nduk. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. sempurna sudah kekalahan mereka. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel.

Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. dalam wacana di atas. Ayah sudah berangkat ke kantor. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Sebagai bandingan. Ibu sedang memasak. khususnya dalam buku-buku bacaan. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Aku bermain layang-layang. entah sadar entah tidak. Kan nggak pantas. Ingat kita ini kan lelaki.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. (hal.. (438) 3. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Adikku yang manis menimang boneka. percakapan. Ibu memasak di dapur. (473) . tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. ini urusan lelaki. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. kalau boleh menduga. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. sedangkan ayah sedang membaca koran. salah satunya dalam dunia pendidikan.. Masak mau menuntut pak lurah. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. seperti lingkungan kita ini. Lelaki saja kok macammacam. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. perhatikan dialog rekayasa berikut. Apa sih jeleknya orang ngalah. 1. Ibu menjahit baju. atau malah pagi buta. Siti masih sering pulang malam. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Malahan. Akan tetapi. (463) 5. atau peristiwa tutur lainnya. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. kita 'kan lelaki. . Oleh karena itu. 427) 2. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. 1979: 205). mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. *Bejo: Iya ya. misalnya. (460) 4. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan.

Padahal. (5). jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). demikian juga "berat". dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. kesan remeh. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. yang hanya mengganggu saja. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki.15cm". dari perempuan. bahkan mungkin lebih negatif. tinggi. misalnya. itu mungkin saja. agak besar. Spender (1980). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. tebal) dan bukan yang minor (ringan. hanya seorang yang perempuan. Dokter H.15cm itu memang tergolong .6.7) Sebutan Negatif. kecil. Kamaruzzaman (52 tahun). dalam kenyataan lelaki pun sama saja. Jumat malam meninggal secara mendadak. sedangkan pada kalimat (2). besar. yang memang membahas kalimat dan wacana. ini bukan barang aneh. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. menempati kesan buruk. dll. Bahkan. misalnya. Pada kalimat (1). tipis). lelakilah yang mendominasi pembicaraan. Akan tetapi. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. melontarkan interupsi. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. (477) 7. banyak. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. Kontinum standar "besar". mitos soal-soal besar. hasilnya sama saja. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Oleh karena itu. dasar betina. Dalam kontinum tersebut. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. (3). menurut pengamatan D. (6). Kalau dicermati. misalnya mencakup dari sangat besar. Akan tetapi.15cm. Jadi. Sementara. Coba diandaikan. sepele. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". misalnya. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. yang menentukan segalanya. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. jika bab-bab lain ditelaah. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. rendah. menohok perempuan. Zainal Abidin. "tinggi". Padahal. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. Banda Aceh. dan "banyak". penting. Begitulah. sedikit. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. sampai sangat kecil." (biarpun 0. agak kecil. Jika ungkapan mulut perempuan. pantas dikenakan pada perempuan. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Direktur RSU Dr. kecil. hanya layak untuk lelaki.

kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". artinya sudah standar. 11. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. "sastrawan". hakikatnya. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. bandingan. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. Maka. sudah "kodrat". Doni mengenakan rok mini. PD". lamban. Sebagai standar. pasif. tegar. Umumnya orang. Lelaki pakai rok? "Ah. Dina memakai celana. "rok mini. jantan >< betina. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. grogi" bukan standar. malu-malu. yakin. malu-malu. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". Maka. Oleh karena itu. keluar keringat dinginnya. "*agak perempuan". akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. lain konsep. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). "polisi" saja. Barangkali. "*lebih betina". Itu 'kan khas perempuan. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. orang akan mempersembahkan konotasi positif. Sebab. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. standar. Sebaliknya. 9. sentimentil. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. grogi. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. Barisan lelaki dianggap superior. lain fakta. apakah orang sudah paham pasti. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. itu sudah semestinya. tetapi jika yang disebut mahasiswi. rujukan. cengeng. Akan tetapi. dan rasional. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti.8) Maka. ini harus ditegaskan lagi. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. Mengapa demikian? Ya. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. jika yang . Jangan lupa. hakikatnya. entah lelaki entah perempuan. seorang perempuan yang "tomboy". Dalam realitas empiris. 10.relatif tipis). Cowok atletis itu malu-malu. orang pun latah. Oleh karena itu. yang tidak negatif. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. Bukankah standarnya selalu "celana. memang tidak ada "*sangat lelaki". Maka. misalnya. feminin >< maskulin. yang berbau perempuan itu nonstandar. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu".

obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. orang meminjam kata man. misalnya. kalau disebut man. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . "belum manusia utuh". dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. predikat (P). Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. 2. Tapi. "bercerai dari". Maka. sabar atau tidak. apa salahnya..9) Lelaki memang menjadi standar. seorang perempuan dapat "kawin dengan". ketika D. ini tercermin dalam bahasanya juga. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. lelaki itu standar. Biarpun begitu. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". aku masih bisa menerima. layak saja. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. Maka. dan bukan *Woman Made Language. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. Alwi dkk. berkedudukan. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. 1993). sastrawan wanita. bukan kodratnya perempuan. Artinya. dan "diceraikan oleh". tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. Maka. 1. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. tetap saja. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. tak ada pilihan lain. 1988. untuk konsep manusia. soal bahasa bukan hanya struktur. Tetapi. aku akan menceraikannya. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980).dimaksud adalah oknum perempuan. melainkan juga realitas kultur. "kamu". akan tetapi jika disebut woman. berkuasa. Dalam kultur masyarakat kita. Dalam keadaan terpaksa. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). masalahnya dia itu selingkuh. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". dan bukan woman. "aku". bahkan lebih gila lagi. Maka. "minta cerai dari". sastra. Spender mesti meminjam dulu kata man. Dalam kebudayaan Barat. sedang perempuan substandar. Dalam bahasa Inggris.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. Maka. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. sekali lagi. dan bukan woman. meskipun sebenarnya aku masih cinta. dan polisi wanita (polwan). sedangkan perempuan. Denggan kondisi ini. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. untuk menyebut manusia pada umumnya. sehingga menjadi wanita wartawan . hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. akan bertindak aktif dan menuntut. Sebab.

perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. aku ragu. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. bukan karena struktur. perempuan bereaksi. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. atau resmi nikah. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Jika nanti sudah menjadi milikku. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. goblog. Mengapa? Ya itu tadi. bebal. Biasanya. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Maka. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. tampak isi". atau mungkin sebenarnya mengerti. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. perkencanan). dan pilihan konteks situasi yang tepat. tetapi tidak transparan. perpacaranan.struktur. misalnya. Tetapi. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. lain tidak. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. meliputi: . Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Oleh karena itu. akan kusayangi dia. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Tetapi. dalam dunia komunikasi (pergaulan. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. apa dia mau. Akan kucium keningnya. keluarga/perkawinan. Aku sangat mencintainya. isyarat dan perhatian. memprakarsai. "tidak langsung buka kulit.

Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat.. khususnya terhadap eksistensi gender. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. sedang perempuan tersubordinasi. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. . Dalam posisi yang serba timpang ini. dan (f) sebutan penstandaran gender. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. Sebutan pelecehan martabat gender. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. dan inisiatif ekspresi. Dengan demikian. terutama dalam menyikapi gender. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. wanita dijajah pria . (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki... Dengan begini. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. bahasa ini mungkin bergender lelaki. lelaki mendominasi. semacam WTS. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Apalagi inisiatif ekspresi. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan.. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. pandangan hidupnya. (b) sebutan pelecehan martabat.

subbab 'Language and Sexim' (hal. supremasi kekuasaan lelaki. Mei 1996. Rinehart and Winston. Marginalisation and Rural Industry". 306--312). 32. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. lih. TBBBI edisi II (1993). 4. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Warta Studi Perempuan. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Vol..C. 1. pintar. khususnya bab "Language in Society".H. bermain boneka). tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. No. lemah. 3. 7--18. hal. No. 2. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. 5. Buletin Yaperna. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". Kebudayaan. abang. V (Fort Worth: Holt. dan bahasa Indonesia. An Introduction to Language. Periksa: Samsuri. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. Prisma XXV/5. bermain layanglayang). 24 Agustus 1996. Lihat Arief Budiman.Catatan 1. ketimpangan gender. Vol. Inc. Dengan pendekatan verbal. 5.. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. dan hanya bisa bergantung pada lelaki.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. Muh. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". ". selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. Konsep ini dekat dengan seksisme. No. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 1994. 7) TBBBI edisi I (1988). Warta Studi Perempuan. 1--14. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Vol. 1993). Cet.D. "Gender. 1. Ph. . Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. 4. hanya 2 orang yang perempuan. masyarakat. Dalam hal ini saya (dkk. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. 1994).M. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. Lalamentik. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. LPK2I. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. hal. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Edisi V. 28 Oktober 1986. juga Kweldju (1991). Oktober 1996. Dengan begini. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. bodoh. subordinasi perempuan. 1981).). dari 11 penyusun. Asfar. 1975: 14--23. wadah. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. 6. tak berdaya. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". dan alat budaya. dominasi lelaki. . "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". kuat. Siusana Kweldju. dan hegemoni pria.

dan M. The Science Question in Feminism (Ithaca. Spender. Beverly Hills: Sage Publication. . 8. New York: State University of New York Press. Ashen. lebih tegas lagi. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. 1983. 6) menulis: "A businessman is agressive. she doesn't know when to quit .. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. LP3K Multimatra.. He follows through. He is a man of the world.. yaitu menstruasi." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). Frank. she's picky . you answerd. A businessman is good on details. New York: Cornell University Press. dan bukan kodrat (nature) perempuan. sebab lelaki juga (harus) bisa.. Daftar Pustaka Bhasin. 1981. Kirk. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. Language and the Sexes... A. You didn't say anything about women. What is Patriarchy. He isn't afraid to say what is on his mind.. you include women too.. Opcid. . Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. K.. mengasuh anak. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". 1995. Lih. New Delhi: Kali for Women. 1990. When you say Man. Miller. F. Jupriono. J. Everyone knows that.. a man of great learning". Dalam pandangan kelompok ini. she's secretive. London: Longman. D. hal 307. she's been around . Reliability and Validity in Qualitative Research.. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. Coates.. 1997. . melahirkan..L. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture)... she slept her way to the top.. 1986. 9... S. 1986.7. Budiman. and three in the evening'. merawat rumah bukan monopoli perempuan. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. she's mouthy . Fromkin dan Rodman.. D. Jakarta: PT Gramedia. a businesswoman is pushy . He stands firm. 1986). Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. He climbed the ladder of success. n. berikut ini dikutipkan beberapa saja. He exercises authority diligenttly.. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. Harding. 'Man'. memasak. 1980). Lih. she's hard . two at noon. Sebagai contoh. dan F. Pembagian Kerja secara Seksual. II/16... J. Bahkan. Women.. 23 Juni. He's closemouthed. Tempo Interaktif. she's power mad ..

Di sini. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Dalam pengertian yang luas. Singkat kata. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . S. Bahasa Indonesia. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. dan implikasi kemasyarakatannya. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. seakanakan yang salah memang budayanya.. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Kebudayaan. Aktivitas noninstingtif--yang hanya . Dengan perspektif gender. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. sebagai matra sentral Feminisme.. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. BI akan dibedah dari perspektif gender. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. 1993. pemakaiannya. Mengapa BI memihak lelaki. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau.Kweldju. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. BI bias maskulin. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. 1996. senang atau tidak. Samsuri.

Dengan pendekatan verbal. dan benda karya budaya. sistem ekonomi dan mata pencaharian. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. sistem kemasyarakatan. Sebagai human instrument. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan.H.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. interaksi manusia. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. Topik bincang . Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. Untuk diskusi ini. Sebagai wahana budaya. dst. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). yakni tuturan alamiah keseharian. ini tidak keliru. kesenian. berupa tuturan bahasa. 1986). Bahasa adalah cermin budaya.1) Itulah sebabnya. Dengan ini. 1964: 79).3) Akan tetapi. Soalsoal sosial-politik.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. dan bahasa (Koentjaraningrat. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. Di samping sebagai bagian. Padahal. Ingat. Dilihat dari kemurniannya. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). tindakan. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. menarik diungkap di sini keyakinan J. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. hukum. bahasa juga merupakan wahana budaya. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. Dengan ancangan ini. Maka. Dari segi kebahasaan. Dalam hal ini. Greenberg (Samsuri. terutama dalam menyusun kategorisasi data. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. yang akan membentuk realitas simbolis. sistem religi. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. yang membentuk realitas sosiobehavioral. tindakan. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. kekerasan. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). "bahasa menunjukkan bangsa". masyarakat." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. telaah ini bersifat interdisipliner. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). Untuk telaah ketimpangan gender pun.

Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. dan kelompok sosial lain. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. nenek moyang. dan ratu. misalnya. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. ibu pertiwi. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. nuansa kesan yang memancar adalah . saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. *bapak pertiwi. seorang artis yang bernama Lisa A. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan".dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. pada beberapa suku. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. Riyanto. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. misalnya. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. Maka. Dengan memakai ibu. induk semang. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. *jago semang. dan inisiatif pengucapan. dewi malam ('bulan'). keniscayaan struktur. Alih-alih dengan itu. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. induk. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. nenek. *putra malu. putri. *dewa malam. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Riyanto yang sudah almarhum itu. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. putri malu (sejenis bunga). penyebutan keberadaan atau tindakan. dewi. predikat. dan bukan *bapak kota. termasuk dalam hal menerima sebutan. Setelah berumah tangga. *kakek moyang. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. etnis. dan ratu adil. "ibu kota. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. dan *raja adil". yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. Atau. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan.

*ibu pembangunan. dan tiba-tiba perutnya mules. diam. harus "dihaluskan". Tentu saja. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. konotasi yang muncul berbeda. dan memang tidak harus jantan. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. dewa maut. dan agresif itu. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. bapak koperasi. anggun. "bawon". raja judi. "teko".A. Perasaan menjadi lega. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. dewa perang. bapak pendidikan nasional. raja siang ('matahari'). Akan tetapi. indah. macan'). *ibu koperasi. Bung Hatta "Bapak Koperasi". dan damai. R. Layak dipertanyakan kebenaran ini. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. "gigolo". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. agresif. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. kesabaran. memang. norak. tenang. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. "bandot". Agaknya sudah menjadi "kodrat". Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). "*Ibu Koperasi". semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Dalam kosakata BI kontemporer. Jadi. karena dipandang vulgar.kedamaian. Siapa pun tahu. Sehubungan dengan kajian ini. memang ada. dan jelas bukan *ratu judi. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. bapak pembangunan. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". jago matematika. Kata pelacur. *babon matematika. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. itu soal lain. Seseorang yang sedang makan siang bersama. untuk sesuatu yang bersifat garang. menjijikkan. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. jago nggambar. raja copet. ketenangan. *ibu pendidikan nasional. kepasifan. orang bisa menepuk dada. Semua setuju. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. *ratu copet. *babon nggambar. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. Masalahnya. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. perintis koperasi itu Mbak Tutut. garang. misalnya. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. pemberani. saya mau ke belakang". adalah fakta bahwa "pria penghibur". yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja.

WK) berpenghasilan tinggi. jadi tidak sekadar melengkapi. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. sebagai survival strategy. jika PTS dipilih. Lalu. Ini kan di atas gaji suami. Dan. Pernyataan "cuma istri. remeh. misalnya.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. Hebat.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. Dengan demikian. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Masalahnya. manakala saya tanyakan berapa gajinya. barangkali kembali ke pelacur lagi. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Toh mereka merasa . Mereka malu mengakui. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". saya belum siap diprotes. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. Mengherankan. Bu. Bu. mengajar. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. WK : Ah. saya kan cuma istri. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. makna kata menjadi enteng. nanti. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. nggak juga. WK : Ah. Jika boleh. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. Karena beban kondisi ini. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. Untuk ini. Atau. Jadi. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. ganti lagi dengan yang lain. atau alumni madrasah tsanawiyah. Maka. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. akan sering muncul di sekitar kita. Saya: Gaji segitu besar lho. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Itu kan menurut situ. hanya sekadar membantu suami saja. Masalahnya lagi. Cepet kaya. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. gaji tinggi melebihi suami kok malu. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. WTS pun mesti dihapus.

Dipikir . ingat kamu itu perempuan lho. mengalah. perempuan bisa menang. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Kita ini orang kecil.. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Nggak ada ceritanya. Lurah kok mau dilawan. Cuma perempuan. melawan. sebab ramai. Aku kan bininya. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Lagipula. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok.. kok di sini dipotong orang seenaknya. Ee .. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Perempuan saja kok macem . Padahal.hanyalah figuran pendamping belaka. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Jadi ya termasuk duitku juga. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. patuh. tapi ini kan duit laki saya. kita itu kan perempuan to. Nduk. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. Dengan standar ganda ini. Nduk! AP : Mbok. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. Aneh.. Nduk. Siang keras. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain..

Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. Tentu saja. Ini urusan lelaki. atau peristiwa tutur lainnya. Ini urusan lelaki. Kan nggak pantas. perhatikan dialog rekayasa berikut. dalam wacana di atas. Biar dia yang ngurus. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. "Perempuan saja kok macem-macem.-macem. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Masak mau menuntut pak lurah. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. seperti lingkungan kita ini. khususnya dalam buku-buku bacaan. Aku bermain layang-layang. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki." katanya. 1979: 205). Ibu ini tak salah.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Sebagai bandingan. Malahan. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. bahkan tak tahu diri. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Adikku yang manis menimang boneka. Oleh karena itu. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. 1981). sempurna sudah kekalahan mereka. Apa sih jeleknya orang ngalah.. Sementara diam dan nerimo saja. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. percakapan.. salah satunya dalam dunia pendidikan. . Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Ibu memasak di dapur. Maka. *Bejo: Iya ya. . Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Maka. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Ibu menjahit baju. Lelaki saja kok macammacam. ini urusan lelaki. Ingat kita ini kan lelaki. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). kita 'kan lelaki. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan.

Malahan. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). kalau boleh menduga. Akan tetapi. (438) 3. penting. Kamaruzzaman (52 tahun).Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Kalau dicermati. Zainal Abidin. ini bukan barang aneh.7) Sebutan Negatif. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). sedangkan pada kalimat (2). Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. (3). mitos soal-soal besar. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. Direktur RSU Dr. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. Sementara. sedangkan ayah sedang membaca koran. kecil. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . (5). hanya seorang yang perempuan. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. Siti masih sering pulang malam. menohok perempuan. Jumat malam meninggal secara mendadak. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. kesan remeh. 1. Dokter H. entah sadar entah tidak. Padahal. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. misalnya. dari perempuan. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. (460) 4. Pada kalimat (1). Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. 427) 2. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. Akan tetapi. yang hanya mengganggu saja. Ibu sedang memasak. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. itu mungkin saja. Coba diandaikan. (473) 6. hasilnya sama saja. sepele. yang memang membahas kalimat dan wacana. atau malah pagi buta. (477) 7. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. hanya layak untuk lelaki. (6). (463) 5. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. bahkan mungkin lebih negatif. Akan tetapi. Jadi. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. yang menentukan segalanya. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Begitulah. Ayah sudah berangkat ke kantor. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. jika bab-bab lain ditelaah. pantas dikenakan pada perempuan. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). (hal. Banda Aceh.

rendah. demikian juga "berat". inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". banyak. Oleh karena itu. sampai sangat kecil. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. bandingan. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. Spender (1980). yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. sudah "kodrat". meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. "*agak perempuan". Barisan lelaki dianggap superior. itu sudah semestinya. kecil. Sebaliknya. feminin >< maskulin. hakikatnya. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. Dalam realitas empiris. dan rasional. Oleh karena itu. cengeng. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. dasar betina. sedikit. hakikatnya. Maka. standar. tebal) dan bukan yang minor (ringan. agak kecil. lamban. menurut pengamatan D." (biarpun 0. "*lebih betina". yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. tipis).15cm itu memang tergolong relatif tipis). menempati kesan buruk. pasif. "tinggi". Barangkali. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. jantan >< betina. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". Oleh karena itu. misalnya mencakup dari sangat besar. melontarkan interupsi. misalnya. misalnya.15cm. Kontinum standar "besar". memang tidak ada "*sangat lelaki". lain fakta. Dalam kontinum tersebut. yang tidak negatif. Akan tetapi. misalnya. rujukan. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. sentimentil.15cm".8) Maka. tegar. Maka. malu-malu. Mengapa demikian? Ya. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. Padahal. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. agak besar. besar. Bahkan. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. misalnya. Jika ungkapan mulut perempuan.perempuan". sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. tinggi. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? . seorang perempuan yang "tomboy". dll. Sebagai standar. lain konsep. dan "banyak". segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui.

apakah orang sudah paham pasti. Maka. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. "rok mini. Doni mengenakan rok mini.8. Sebab. sastrawan wanita. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. grogi" bukan standar. Maka. Dalam kebudayaan Barat. 10. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. ketika D. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. sedang perempuan substandar. Dalam keadaan terpaksa. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. "aku". 11. dan bukan woman. Dina memakai celana. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). grogi. lelaki itu standar. ini harus ditegaskan lagi. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". "belum manusia utuh". sedangkan perempuan. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. "sastrawan". untuk menyebut manusia pada umumnya. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. "kamu". artinya sudah standar. Spender mesti meminjam dulu kata man. sehingga menjadi wanita wartawan . dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. Denggan kondisi ini. tetapi jika yang disebut mahasiswi. Biarpun begitu. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. kalau disebut man. entah lelaki entah perempuan. layak saja. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. Cowok atletis itu malu-malu. Itu 'kan khas perempuan. misalnya. dan bukan *Woman Made Language. PD". yang berbau perempuan itu nonstandar. 9. tetap saja. Bukankah standarnya selalu "celana. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. bahkan lebih gila lagi. dan bukan woman. Maka. malu-malu. orang pun latah. Umumnya orang. "polisi" saja. untuk konsep manusia. Maka. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. Dalam bahasa Inggris. sabar atau tidak. Artinya. orang meminjam kata man. ini tercermin dalam bahasanya juga. yakin. Jangan lupa. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). Lelaki pakai rok? "Ah. sastra. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). dan polisi wanita (polwan). bukan kodratnya perempuan. orang akan mempersembahkan konotasi positif. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. Sebab. keluar keringat dinginnya. akan tetapi jika disebut woman.9) Lelaki memang menjadi standar. . akan bertindak aktif dan menuntut. sekali lagi.

Dalam kultur masyarakat kita. perpacaranan. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. masalahnya dia itu selingkuh. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. "bercerai dari". Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. atau mungkin sebenarnya mengerti. perempuan bereaksi. berkuasa. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. "tidak langsung buka kulit. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. 1988. dan "diceraikan oleh". dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. melainkan juga realitas kultur. aku masih bisa menerima. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. Tapi. tampak isi". dalam dunia komunikasi (pergaulan. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. atau resmi nikah. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. tetapi tidak transparan. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Oleh karena itu. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. apa salahnya. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. perkencanan). entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti.. memprakarsai. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. misalnya. soal bahasa bukan hanya struktur.1. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. meskipun sebenarnya aku masih cinta. aku akan menceraikannya. bebal. bukan karena struktur. Maka. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. dan pilihan konteks situasi yang tepat. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. isyarat dan perhatian. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. 2. seorang perempuan dapat "kawin dengan". Tetapi. predikat (P). kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. Maka. goblog. berkedudukan. "minta cerai dari". Alwi dkk. 1993). Tetapi. tak ada pilihan lain. Biasanya.

Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Jika nanti sudah menjadi milikku. Apalagi inisiatif ekspresi. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. semacam WTS. dan (f) sebutan penstandaran gender. Tetapi. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. akan kusayangi dia. Maka. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . (d) sebutan pembatasan berkebebasan. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Aku sangat mencintainya. aku ragu. Akan kucium keningnya. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. Sebutan pelecehan martabat gender. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. lain tidak. dan inisiatif ekspresi. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. keluarga/perkawinan. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. Mengapa? Ya itu tadi. (b) sebutan pelecehan martabat. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. pandangan hidupnya. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. khususnya terhadap eksistensi gender. apa dia mau. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan.

khususnya bab "Language in Society".. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. Kebudayaan. masyarakat. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. 1981). Dengan demikian. tak berdaya. Prisma XXV/5. lemah. 1975: 14--23. Lihat Arief Budiman. 306--312). subbab 'Language and Sexim' (hal. 1994. Rinehart and Winston. Dengan begini. sedang perempuan tersubordinasi. Siusana Kweldju. Warta Studi Perempuan.. 1993). ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. Edisi V. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". sekadar contoh: Mies Grijns dkk. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". An Introduction to Language. 3. wadah. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Periksa: Samsuri. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. dan hegemoni pria. dominasi lelaki. Asfar.berkembang. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. lelaki mendominasi. 4. pintar. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Inc. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. lih. Dalam posisi yang serba timpang ini. Marginalisation and Rural Industry". Dengan pendekatan verbal. Mei 1996. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . ketimpangan gender. 28 Oktober 1986. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia".. "Gender.. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. Dengan begini. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Muh. Catatan 1. V (Fort Worth: Holt.. bodoh. terutama dalam menyikapi gender. bahasa ini mungkin bergender lelaki. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. Konsep ini dekat dengan seksisme. dan bahasa Indonesia. No. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior.. Buletin Yaperna. wanita dijajah pria . Cet. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. subordinasi perempuan. 2. supremasi kekuasaan lelaki. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. kuat. ". dan alat budaya. Vol. .

Daftar Pustaka . Spender. you answerd. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. hal 307. dari 11 penyusun. 8. bermain boneka). Vol.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. No. she's picky . 6) menulis: "A businessman is agressive. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. Oktober 1996. He stands firm. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu.. TBBBI edisi II (1993). Everyone knows that. berikut ini dikutipkan beberapa saja. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. He is a man of the world. 1986).. 7--18. a businesswoman is pushy . Harding. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. 1.C. Lih.M. New York: Cornell University Press. 1994)... The Science Question in Feminism (Ithaca. she doesn't know when to quit . she's hard . S.H. 1980). Vol. 32. two at noon.. 4.. memasak.).. He isn't afraid to say what is on his mind.. 24 Agustus 1996.. A businessman is good on details. you include women too. Fromkin dan Rodman.. and three in the evening'. she's mouthy . He climbed the ladder of success. n. a man of great learning".. sebab lelaki juga (harus) bisa. Bahkan. 1.5. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture).. hal. Sebagai contoh. merawat rumah bukan monopoli perempuan. yaitu menstruasi.. mengasuh anak.. Ph.. He follows through.. melahirkan." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). . LPK2I.. abang. dan bukan kodrat (nature) perempuan... dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Lih. hanya 2 orang yang perempuan. hanya 1 orang saja yang perempuan (W.. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. she's secretive. 'Man'. 6. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". When you say Man. juga Kweldju (1991). No.D. D. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. He exercises authority diligenttly. . mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning.. You didn't say anything about women. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. 1--14. Dalam hal ini saya (dkk. hal. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. Opcid... 7) TBBBI edisi I (1988). He's closemouthed. she slept her way to the top. Warta Studi Perempuan. 9. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. Stereotipi Seks". she's power mad . 7. Lalamentik.. Dalam pandangan kelompok ini. bermain layanglayang). she's been around . 5. lebih tegas lagi.

sedang lelaki tidak dipersoalkan. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. 1986. 1983. Samsuri. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. Women. Budiman. perempuan penerima identitas. Frank. Dalam kebijakan institusional tergambar . Tempo Interaktif. dan M. 1996. J. II/16. 1986. Reliability and Validity in Qualitative Research. Bahasa Indonesia. New Delhi: Kali for Women. sedangkan lelaki pemberi identitas. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. 1995. 1990. jabatan. pemakaiannya. K. Miller. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. S.L. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. New York: State University of New York Press. Jupriono. dan F. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. Language and the Sexes. sedang lelaki penguasa kehidupan. prestasi. 1981. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. Beverly Hills: Sage Publication. Kirk. Pembagian Kerja secara Seksual. J. organisasi. 23 Juni. F. London: Longman. Ashen. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. LP3K Multimatra. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. Jakarta: PT Gramedia. What is Patriarchy. Kweldju. A. 1993. dan implikasi kemasyarakatannya.Bhasin. Coates. sedang lelaki aktif. 1997. D. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”.

Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. sistem sosial. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. tetapi tidak diakui. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. kosakata. 2003). Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. dll. Meskipun demikian.). ungkapan. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. misalnya. Beberapa penelitian terakhir. Sebagai unsur. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky. . pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. identitas. sistem ekonomi. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Dikatakan “secara garis besar”. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. 1993).jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. sebab dari sudut pandang gender. misalnya. sistem religi. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian. struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. dengan kata lain. Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami.. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. Demi kerincian. Bailey. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. 1982). menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. 2001). artinya. 1986). Dikatakan oleh Labov. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. bahasa adalah cermin kebudayaan.

kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. sehingga terkesan kurang tegas. 1991). kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. irasional. dibandingkan dengan kelompok lelaki. Dalam berbahasa. sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. emosional. berbicara lebih sopan. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). yaitu kosakata. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. 1991). Dalam fonologi. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. dan Belanda. fonologis. dan tidak mengumpat. lebih subordinat. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. terlalu boros kata-kata. USA. dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. menurut (Coates. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). dan remeh (Kramarae. 1981). dan gramatika. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. dan fonologi. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. Di samping itu. Dalam hal kosakata dan ungkapan. 1981. pasif. 2001). sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. Bahkan. 1979). gramatika. 1984). kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . Dalam ragam bahasanya. kosakata lebih sedikit. kurang meyakinkan. lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. bodoh. 1982). 1991). Akibatnya. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. manja. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva. dan lebih inferior. Coates. Dalam gramatika. Realitasa ini.

sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. Kweldju. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. dan subordinat adalah perempuan. Oleh karena itu. sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. termasuk ungkapan alah Mak. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. mengasuh dan mengajari anak. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. 1993). Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. Kedua. 1993). dan . sedang lelaki dikodratkan aktif. misalnya memasak. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender.majemuk setara. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. superior. inferior. mencuci. termasuk mengajari anak berbahasa. Tetapi. Pertama. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. Sebagai ibu rumah tangga. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. andai saja suami itu bodoh. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. menjaga perasaan. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. 1979). dan dominan. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. bagaimanapun. Menurut Jespersen (dalam Kweldju.

atau pun *penyimpan. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. mlumah. Linda atau Bu Astuti. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. misalnya. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. Ketiga. *suami gelap. dalam bahasa Jawa pun. masak. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). istri gelap. Keempat. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. Kuntjara. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. Dalam dunia prostitusi. memasak. kasur. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. suami bebas atau tidak usah nama baru. 2000). bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. 1985). Maka. 2003). Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. . merias diri. tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. mbegagah ngablah-ablah (di rumah. yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. olah-olah. sungguh tidak perlu diragukan. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. lulur. malam jadi alas untuk ditindih). di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. yang justru lebih kaya. atau pun simpanan. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. 2003). Sebagai bandingan. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. macak. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan.menghormati lelaki (suami) (Spender. Sementara. sumur. misalnya *pemiara. manak (memasak. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. melahirkan) atau pun neng omah. tidur terbuka menelentang) (Sobary. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. dan jika istri menjabat. Ia mesti pasif menunggu. Boleh saja.

jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. suami yang istrinya menjadi kades. Sebaliknya. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. organisasi. Sebutan profesor. … dan tentu bukan *Kepada Yth. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. Contoh lain: bapak pembangunan. rapat. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. Tetapi. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. konotasi semantisnya cenderung negatif. Kelima. Ibu-ibu yang saya hormati…. disamakan dengan banci. pesilat wanita. prestasi.: Bpk/Ibu/Sdr. misalnya. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. *ibu koperasi. bapak koperasi. Keenam. Julukan jago matematika. misalnya.: Ibu/Bpk/Sdr. perangai Eny yang tomboy. biasanya menjadi profesor wanita. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. adalah Bapak-bapak. pesilat. Misalnya. *ibu pendidikan. Bapak-bapak yang saya hormati. ceramah. … Kedelapan. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. istri akan dipanggil Bu Kades. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan. “gaul”—oleh sekitarnya. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. kesebelasan. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. kesebelasan wanita. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. peranannya .Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. asal masih mau sedikit berdandan saja. “masa kini”. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. Ketujuh. Jika kosakata itu berbau perempuan. khotbah. bapak pendidikan. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. Dengan kata lain. Jika dilekatkan kepada perempuan. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi.

prestasi. sedang lelaki penguasa kehidupan. Dalam hal demikian. misalnya dalam ungkapan harta. *Hari Kartini. untuk tambah-tambah saja. wanita. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. Sebaliknya. 2003). bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. penghasilan suami cuma berapa. Dia akan mendapat cap buruk. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. penilaian negatif. sedang lelaki aktif. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. Hari Kartini. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. dengan malu-malu.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. dan Hari Ibu. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. sedangkan lelaki pemberi identitas. hanya kerja sambilan. atau peluru dan wanita. Misalnya seorang istri yang berdagang. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. Kesembilan. sebagai berikut. Secara psikologis kultural. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. organisasi. terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. lelaki tidak menjadi masalah. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. tetapi tidak diakui. atau kalau diakui. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. dan *Hari Bapak. tahta. sedang lelaki tidak dipersoalkan. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. Bahkan. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. Sebagai bagian dari masalah.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

Lakoff. buku Esther Koentjara (2003).. E. dan Kekuasaan”. data yang disajikan amat terbatas. Daftar Pustaka Acuan Budiman. tetapi tidak diakui. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. Kuntarti.C. 2003. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. 1982. Dalam B. 1993). Kramarae. (ed. “Gender. Inc. Oxford: Basil . 2003. Surabaya: Fakultas Sastra. Wishart & L. Saville-Troike.I. R. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). Cambridge: Cambridge University Press. Parafrase 4(1) Februari. London: Longman. Inc. S. Dalam B. R. A. menyodorkan saran. 1981. D. 1997. “Talking Like a Lady”.J. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). dapat dimanfaatkan dalam hal ini. kognitif. Kweldju. Sekadar. Women. Gender. 1979. Co. J. Sociolinguistics. misalnya pendekatan psikodinamis. 1993. Coates. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”.. Parafrase 3(1). Bahasa Lelaki?”. Pertama. 1986. Santoso et al. K. sebagai kajian sosiolinguistik. Jupriono. Februari. Men. 1992. FSU in the Limelight 5(2) Juli. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. Sari. Ketiga. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis.A. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. Warta Studi Perempuan 4(1). Modern Sociolinguistics Issues. Bahasa. “Bahasa Indonesia. Kuntjara. Kedua. Reichman (ed.). dan Kekuasaan. 1991. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. dan sosiokultural (Kweldju. London: Newbury House Pub. selayaknya diadakan pengayaan data. jika kajian ini dilanjutkan. 2003. C. A. Universitas Kristen Petra. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Hudson. M. bahasa. N. Rahayu. Jupriono.perempuan sebagai golongan kelas dua. New York: MacMillan Pub. Maka. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. D.C. The Ethnography of Communication: An Introduction.).

Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Spender. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. Sociolinguistics. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. B. M. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. P. Di sisi lain. Dukungan Sosial Suami. Sociolinguistics. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Harmonsworth: Penguin Books. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. 2000.Blackwell. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Man Made Language. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. 1985. Sobary. “Wanodya” (Hal. Oxford: Oxford University Press. D. (Tesis tidak dipublikasikan). 2003. Untag Surabaya Trudgill. London: Routledge & Kegan Paul. Pada pengajaran BIPA. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. 2001. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. Sudarwati M. 1984. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. Spolsky. Program Pascasarjana. Program Studi Magister Psikologi.

Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). (6) penggunaan katakata penguatan: just. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Di lain pihak. (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Pada bahasa Inggris. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. Secara umum. Oleh karena itu.. dsb. (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat.. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. dan gaya bertutur. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. so (I like him so much. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. Disadari atau tidak. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. sort of. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku. ya kan?. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. stewardess). dsb. turqoise. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. biru laut. semantik. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. khususnya bahasa Inggris. lucu. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. charming. Akan tetapi. juga Ponynton (1989). Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar.. gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi.). dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. dsb. Interupsi ini dilakukan . gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin.

Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. Di lain pihak. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Masih menurut Holmes (2001). Secara tidak langsung. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. dan berperan sebagai bahasa T. Oleh karena itu. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. Menurut Holmes (2001). formal dan informal. bentuk . Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. mereka menggunakan bahasa standar. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. sesuai dengan situasinya. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. baik masyarakat barat maupun timur.untuk ―membungkam‖ lawan bicara. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. untuk menimbulkan rasa aman. Selain bahasa vernakular. gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin.

. terus? Jadi. Ya. Sebentar. si Clement ini disuruh mundur. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Silakan mas Ali. deh. Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. gitu. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. Orang pertama nyebur. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. itu bagus sekali mas Erdam. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu.

Hornberger. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. California: Mayfield Publishing Company. USA: Cambridge University Press. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. Sociolinguistics and Language Teaching. Daftar Pustaka Holmes. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya. Oleh karena itu. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Intercultural Communication in Contexts. Ketika mengajarkan bahasa vernakular. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular.ii. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). Martin. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. 1996. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. 2000. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. Janet. McKay. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. Chambers 1995:102)i. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). Sandra Lee and Nancy H. An Introduction to Sociolinguistics. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. Malaysia: Longman. — Presentation Transcript  1. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. 2001. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). Judith N and Thomas K Nakayama. Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada.

wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa.3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. “sabun”. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6. „Wanita. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki. “seniman”. 6. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”. 6. 6. perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak. menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa.b.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi.5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati.2. dan “sun” („matahari‟). Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial.3. b. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. “malam”. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi. “steward”. diantaranya:1.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri. iii. Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. den pendidikan sosial. sebuah golongan AS. sertac.D. Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. .pendidikan. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut. 5. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944). Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . 4. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. 6. yaitu perbedaan tinggi nada suara. begitu juga sebaliknya. serta dapat hiduplebih lama6. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki. Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). Selain itu. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟).bentuk bahasa baku. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Wanita lebih baik dalam membaca. “ball” („bola‟). dibandingkan dengan wanita 3.

Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. Perempuan. Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial.Bahasa. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. dan manipulasi pemaknaan. dominasi. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. hegemoni. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. atau ideologi. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. kelamin. *** . Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa.

Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. dan identitas perempuan. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa. subjek. dan bahasa. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. ekonomi. kaum kalah. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. atau kaum tunduk. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. dan identitas. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. agama. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. subjek.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. dan identitas. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. politik. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. subjek. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan . Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan.

Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan. atau media massa. kesusastraan. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . politik. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis. Begitu.peran. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik.

dominasi. (5) jaringan sosial. dan (8) reformasi bahasa. terdapat temuan bahwa selama . Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Misalnya. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. adaiah benar-benar alamiah. feminin. (4) jender dan variasi fonetik. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Namun. perbedaan. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. Perbedaan. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Di Jepang. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Ke(tidak)samaan. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. bentuk dan panjang bidang vokal. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. musik recital akan berbeda-beda cirinya. Daiam kebudayaan yang berbeda. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. dan netral (Matthews 1997: 142). 1. Pembagian itu meliputi maskulin. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. (2) perbedaan (3) dominasi. laring mereka lebih besar. (6) jender dalam lintasan budaya. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. Berkaitan dengan istilah jender. (7) idiologi linguistik. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa.

Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. 1992). Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. dan gejala etiket linguistik lainnya. cara mereka menyapa satu sama lain.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. 2. Sementara itu. Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris.

. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. 1992). Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. ditemukan. Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov.. 1991). pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. seperi Norwich (Trudgill. (Spender. 4. Tannen. 1985: 139). Sementara itu. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. Gordon. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. 1989. (Gibbon. Penjelasan seperti di atas. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti . 3. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya.ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. 1990. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. Contoh. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. 1999: 61).lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. 1997). akan tetapi penjelasannya berbeda. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan. Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas. Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). pada kata running. Perbedaan pola pergE. kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal.

seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. Contohnya. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana. Labov (1990) dikutip Coulmas. tingkat sosial. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . Jika dilihat dari jenis kelamin. Hubungan antara jender. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. jaringan perkenalan. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. dan sebagainya. punya anak atau tidak. seperti kelas sosial. 2002: 111).1 hal 41. etnik. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. teman dan orang asing. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. Seperti tampak pada gambar 3. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. jaringan sosial. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi.ini. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). 5. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak.

perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. M. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. Reformasi Bahasa . bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. M. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. 6. 1. 1. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. 7. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. 8. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. baik disengaja maupun tidak disengaja. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku.

bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. Para ahli otak. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. Perbedaan itu. Kalau sedang emosi. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. cenderung untuk mengandalkan fisik. atau faktor sosial lain. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. Dalam menghadapi masalah. . meskipun .mereka sama-sama manusia.Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. Padahal. Sedangkan pada wanita. kelas sosial. maupun cara menyelesaikannya. Dalam banyak hal. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. Di antaranya. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Seperti seekor reptil. Dari bentuk maupun fungsinya. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan.tentu saja . otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. Karena itu. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. berkata kasar dan sebagainya. Seperti memukul. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. membanting. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda.

Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Sedangkan pada wanita. pada wanita yang mengalami stroke. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Dalam hal seksualitas. atau bahasa tubuh mereka. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Selain itu. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Sehingga. tidak perlu kondisi seperti itu. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. Kebanyakan pria jika kena stroke. Pada lelaki. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Secara struktural. sayangnya. seperti sedih dan gembira. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. . Cuma. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Hampir di seluruh tubuhnya. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. dibandingkan lelaki. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil.Pada perempuan. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira.

masa menyusui. Nyeri karena datang bulan itu. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. kamu akan lulus ujian”. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan.a. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. dalam fisik. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. • . Dan sebagainya. ketika mereka melahirkan. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Sejak usia baligh. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Belum lagi. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol. Karena. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. masa membesarkan dan mendidik anak. Pada dasarnya. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. “lupakan tentang si jelek itu. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. tingkah laku.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain. Dan seterusnya. Belum lagi. Dan berulangkali terjadi. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Meskipun. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. 2.

Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i . Katakan bila kamu marah.b.2 .Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini.Sampaikan perasaanmu. menjelek-jelekan pacar. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. kesal.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play. 2. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. 2. S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai. Terdiridari 3 management strategy. Lying (Berbohong) . Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi.c. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality). Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”. Misal : membaca email tanpa ijin. diantaranya :1.3 3.

suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) .v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h . tapi juga dilakukan dengan elemenn o n .Berbohong sebagian besar secara verbal. Carl Camden. Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan. berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu. Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar. misal : untuk uang ataupun materiil. a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu. Jadi. orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta.( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu.Definisi menurut Random House Dictionary.

b i c a r a . orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. mengenai cita rasa atau masakan. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain.5 persen untukkepentingan orang lain.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Sangat sulit . 21.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong.8 persen untuk kepentingan pembohong. 2. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri. Banyak kebohongan efektif. begitu juga kebohongan. misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek.D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. Hasil analisis Camden.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur. Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur).

mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong.untukberbohong non verbal secara meyakinkan. seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. bertukarpikiran atau pengalaman. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong. Denganmengetahui penggunaannya. Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f . Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi.

Banyak orang yang egosentris. mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. kadang-kadang self-talk. M e r e k a i n i l a h o r a n g . kisah cinta. Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . prestasi dan j u g a kegagalan). Gossip Menurut Random house dictionary. Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. gosip adalah omong kosong atau rumor.7 . masalah. b u k a n kesembarang orang. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. keluarga. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan.i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang. karir. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh.terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan.

Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Dalam berbagai bidang ilmu. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. anda tidak sependapat denganlawan bicara. interaksi memiliki makna yang berbeda.b. 8 twitter. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Pada penolakan. Dalam konfirmasi. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”.Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN .” Atau “dia menganggap kamu …. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia …….Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. termasuk juga komunikasi orang tersebut. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan.

dll. 21. 23. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. bagaikan. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. 3. 19. 17. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. 5. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. 13. 15. 8. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. 4. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. namun dinyatakan sama. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. dll. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. . 22. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. 14. 10. 2. melalui kiasan atau penggambaran. bagaikan. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. atau atribut. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. 7. 24. ciri khas.1. 9. seperti layaknya. 11. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). 6. 20. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. 3. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. 16. MAJAS SINDIRAN 1. 12. 2. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. 18.

Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. frase. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. 24. 14. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 23. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. 10. dll. frase. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. dihubungkan dengan kata penghubung. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. 20. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. MAJAS PERTENTANGAN 1. 3. ironi. 21. kebiasaan. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. namun sebenarnya keduanya benar. atau parodi. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 6. 4. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. 8. 5. . 7. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. atau klausa yang sejajar. 13. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. 15. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. 5. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. 18. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. MAJAS PENEGASAN 1.4. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. tetapi dengan makna yang berlainan. 19. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. 17. 22. 16. sehingga menjadi kalimat yang rancu. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. 9. Repetisi: Perulangan kata. 2. 11. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. 25. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. 12.

Dalam proses pembelajaran di sekolah. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Jadi. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. . Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. 5.2. bercerita dalam pelajaran berbahasa. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. 3. 4. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. mulai dari hal-hal yang sederhana.

ataupun kurangnya rangsangan dari guru. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Sementara menurut H. Pengertian Sosiolinguistik. bahasa guru yang menekan anak.go. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. (http://imadesudiana. by means of a system of voluntarily produced symbols. S. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.kemdiknas.‖ Di samping itu.php) .id/kbbi/index. Sapir (1921) dalam A. artinya. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. berinteraksi. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. barangkali juga untuk sistem generatif. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. dan mengidentifikasikan diri. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya …. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. (http://pusatbahasa. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. A.wordpress. emotions. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. Hakikat Bahasa. and desires.

• Zakii (2008) dalam http://sastrainggris.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. Fishman. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. the characteristics of their functions. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. 2. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. 6. 4. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. Gerad Hubert.html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Dengan demikian. Selin itu. and change one another within a speech community. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Greus Meijer. 1976:10). Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. change. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. Nababan.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. 8.blogspot. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan . Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. 5. Booiji (Rafiek. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . Kedua. 2. 7. Wikipedia. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. 3. (Rene appel.2forum. 9. mengenai lembaga-lembaga. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. Pertama. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.

anggukan kepala. memelihara. Booij. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. memperlihatkan perasaan bersahabat.P. dan amanat pembicaraan. dan apa tujuannya. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara. 3. kode.) (C. Dalam hal ini.B Allen dan S. 4. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan.G.J Verkuyl. 1975:139).Widdowson dalam J. (G. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. yaitu mengatur tingkah laku pendengar.G. 1980:81). sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif. Kersten. Dilihat dari segi pendengar. Karena. kepada siapa. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental. J. bahasa berfungsi fatik. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. Sosiolinguistcs is the study of language operation. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. 1975:156). artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. topik. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. dan kedipan mata. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. bahasa berfungsi direktif. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran.bahasa dan pergaulan sosial. Dilihat dari sudut penutur. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia. viewing variation or it social context. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. pendengar. Maksudnya.E. Dalam hal ini. 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran. kapan. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational.) (Nancy Parrot Hickerson. menggunakan bahasa apa. geleng-geleng kepala.Criper dan H.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran.Piet Corder. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . dan H. atau solidaritas sosial.

setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. dan sebagainya. lelucon. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. dan sebagainya. dan sebagainya. di mana bahasa berfungsi imajinatif. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. tidak mempunyai nilai keindahan. cerita. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. Hudson 1996: 2). dongeng. berestetik atau tidak. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan.yang akan disampaikan). Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Akan tetapi. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. Holmes 1993: 1. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. Melalui sosiolingguistik. tidak terpaku pada satu ukuran. Dengan sosiolinguistik. Kalau kita simpulkan. Dengan adanya sosiolinguistik.

Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. B. faktor penanda pemilihan bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. dan pendekatan pemilihan bahasa. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). Oleh karena itu. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. Tujuan 1. Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2. Rumusan Masalah 1. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3.

Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Kedua. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. Pertama.3. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. dengan melakukan alih kode. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. Misalnya. Ketiga. dengan melakukan campur kode. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. .

Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. dan tawar menawar barang di pasar. permohonan. (3) isi wacana. rapat di keluarahan. B. dan (4) fungsi interaksi. dan (4) fungsi interaksi. keberhasilan anak. atau mengucapkan terima kasih). peristiwa-peristiwa aktual. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. yaitu pemakaian satu kata. dan topik harga barang di pasar. atau frase. kebiasaan rutin (salam. yaitu (1) partisipan. kuliah. Di Indonesia. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. . Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. selamat kelahiran di sebuah keluarga. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. ungkapan. (2) situasi. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. (2) partisipan dalam interkasi. jenis kelamin. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. status sosial ekonomi. Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. pekerjaan. Senada dengan Evin-Tripp. (3) topik percakapan. meminta maaf.

fungsi interaksi. 3. . Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. 5. dan (4) tingkat keakraban. (2) penciptaan jarak sosial. latar (waktu dan tempat). partisipan dalam interkasi. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. Di Obserwart. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. Dari paran berbagai faktor di atas. (2) kehadiran pembicara monolingual. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. 2. situasi. 4. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Berbeda dengan Gal. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. dan (2) tipe kosakata. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. (2) sekolah. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. dan (4) memerintah atau meminta.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. (3) tingkat formalitas. topik percakapan (isi wacana). dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat.

Giles et al. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. misalnya keluarga. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). pendekatan psikologi sosial. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. akomodasi ke atas . apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. serta Bourhish dan Taylor (1977). Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi.C. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. (1973). Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. ketetanggaan. hubungan peran antar-komunikator. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). dan partisipan. Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. topik. Pertama. Sebagai contoh. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). yaitu pendekatan sosiologi. dan pekerjaan. agama. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. dan pendekatan antropologi. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation).

pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Kedua. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. akomodasi ke bawah. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Sebagai contoh. yakni observasi terlibat (participant observation). Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Sementara itu. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. . psikologi sosial. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Dengan demikian. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. dan antropologi. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur.

dengan melakukan alih kode (code switching). dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). pendekatan psikologi sosial. http://fathur-linguistik. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . 2009. (4) topik percakapan (isi wacana). Sosiolingustik Perkenalan Awal. Kedua. dan pendekatan antropologi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. dan Masyarakat Multilingual.BAB III PENUTUP A.blogspot. Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. (2) situasi. dengan melakukan campur kode (code mixing). 2004. Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. yaitu pendekatan sosiologi. (3) partisipan dalam interkasi. Sosiolinguistik. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Abdul dan Leonie Agustina. Pertama. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). Pemilihan Bahasa.com. Ketiga. DAFTAR PUSTAKA Chaer.

yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. Namun. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. pendekatan sosiologi. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. masyarakat multibahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. dan pendekatan antropologi. psikologis. pendekatan psikologi sosial. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik. sosiolinguistik. dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). pewarisan harta peninggalan. seperti perkawinan. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. budaya. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. baik faktor sosial. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. maupun pragmatis. Kata kunci: pemilihan bahasa.

(6) tingkatan variasi linguistik. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). (2) kategori pemilihan bahasa. 1976). Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974). Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. 1993. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. tahun 1964. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. sosialbudaya. (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. 1984: 4. 1. Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. sebagai berikut. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. Los Angeles. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa .pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. (2) identitas peserta tutur. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. Hudson.. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. (3) faktor penentu pemilihan bahasa. 1996: 2). (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. 1972. Sejalan dengan rumusan itu. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. . baik faktor kebahasaan maupun lainnya. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. 1971. Fishman. berbagai macam bahasa dan variasinya. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. Holmes. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. Dittmar. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California.

sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Dengan demikian. (6) instrumentalities (sarana tutur). Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. dan bahasa asing. sistem tingkah laku budaya. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. Pada umumnya. Hymes (1972. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Wijana (1997: 5). pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. (3) ends (tujuan tutur). Hudson. 1984. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. seperti faktor sosialbudaya. kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. baik secara korelasional maupun implikasional. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. 1981. yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. (2) participants (peserta tutur). Fasold. (5) keys (nada tutur). (7) norms (norma- . tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. 1975). yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). 1973. dan situasional (Kartomihardjo. serta sistem pragmatik. Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai aspek tutur.Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. Dalam kenyataannya. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). (4) act sequence (topik/urutan tutur). budaya. budaya. Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. Dalam kajian pemilihan bahasa. Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. 1996.

misalnya. atau berkencan. dengan alih kode (code-swicthing). dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi.norma tutur). yaitu pemakaian satu kata. terdapat tiga jenis pilihan. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. Faktor pertama dapat berupa halhal. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. pesta kuliah. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. dalam hal memilih. Kenyataannya. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. Pertama. ungkapan atau frase pendek. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di Indonesia. seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Misalnya. Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. dan (4) fungsi interaksi. harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. dengan melakukan campur kode (code-mixing). FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. Kedua. (2) partisipan dalam interaksi. Ketiga. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. . sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages). untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. (3) topik percakapan. dan (8) genre (jenis tutur).

suami-istri. Berbeda dengan Gal. dan sebagainya. pendekatan psikologi sosial. (contoh: direktur-karyawan. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. (d) usia. (c) tingkat formalitas. harga sembako. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. Pendekatan Sosiologi . Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. dan (3) tempat umum. (j) keintiman. (b0 kehadiran pembicara monolingual. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. (b) jarak sosial. olah raga. dan (d) memerintah atau meminta. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. penjual pembeli. (4) fungsi interaksi. peristiwa aktual. status sosial ekonomi. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. dan (d) tingkat keintiman. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. (f) pendidikan. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. (h) latar belakang etnis. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. Di Obewart. (e) jenis kelamim. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. (2) situasi. dan (l) kekuatan luar yang menekan. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. Gal (dalam Grosjean. (2) sekolah. jenis kelamin. yaitu (1) partisipan. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. latar belakang kesukuan. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. permohonan. asal. pekerjaan. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. Dari jabaran di atas. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. dan pendekatan antropologi. dan mengucapkan terima kasih. yaitu (1) desa. guru-siswa). (k) sikap kepada bahasa-bahasa. (3) status sosial ekonomi. seperti: usia.Faktor kedua mencakup hal-hal. (g) pekerjaan. yaitu pendekatan sosiologi. (3) isi wacana. Di desa. pembicara akan memilih bahasa Guarani. (i) relasi kekeluargaan. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata.

Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. tempat. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. Greenfield menyebarkan kuesioner. dan topik. dan tempat kerja. sekolah. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. Di bagian lain. Analisis domain terkait dengan diglosia. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). yaitu: orang. pantai. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. 5 berarti semua bahasa Inggris. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol. ketetanggaan. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. misalnya keluarga. . sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. seperti pendidikan dan pemerintahan. 1972). hubungan peran antar komunikator. Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. agama. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). dan partisipan. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. dan pekerjaan. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir.01. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. gereja. Fishman (dalam Amon. bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga. topik. Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. Sebagai contoh. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain).

pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Kedua. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang . satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. seperti motivasi individu. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. Seperti juga psikologi sosial. yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). Dalam kondisi tertentu. akomodasi mengambil bentuk konvergensi. Bourhish dan Taylor 1977). Herman membicarakan tiga jenis situasi. dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). Pertama. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs). situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Secara normal. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973. kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping). daripada berorientasi pada masyarakat. Howard Giles (1977. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. Dengan pendekatan yang sama. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. Dengan kata lain. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). Giles.Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi.Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya.

Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. pendekatan sosiologi.T. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. R. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. Approaches. dan psikologi sosial. melainkan juga dengan masalah sosial. Selain itu. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. 1976 Sociolinguistics. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. London: Edwar Arnold . Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. 1970: 49). Sebagai contoh. Australia Timur. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. dan situasional. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). DAFTAR PUSTAKA Bell. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. 1984: 192). Norbert. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. and Problems. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. psikologis. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Dittmar. budaya. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. London: Bastford. 1976 Sociolinguistics: Goals.

‖ Dalam Fishman. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. Cambridge: Harvard University Press. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. Rowley: Newbury House. Many men and women assume that males . 1984 The Sociolinguistics of Society. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. Giles. New York: Holt. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. (hlm.6 percent higher than those attained by women. and Winston. Groesjean. and Intergroup Relations. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. Women Don’t Ask (2003). 1977 Language. 1979 Language and Social Psychology. Susan M. Place. 225-240). Fracois. 1972.). Fasold. Howard. Susan. Rinehart. Ethnicity. Lawrence. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7.). Oxford: Basil Blackwell. Oxford: Basil Blackwell. Life with Two Languages. 1972 The Sociology of Language. Evin-Tripp. 1972 Direction in Sociolinguistics. 1994 Multilingualism. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. England: Penguin Books Ltd. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. Fishman. (hlm. Clair. The Hague: Mouton. Ralph. Volume 2. Sociolinguistics. 1972. 17-35). Joshua A. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. Gal. ________. Harmondsworth: Penguin. Oxford: Basil Blackwell Publisher. Greenfield. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. London: Academik Press. 1982. John dan Hymes.Edwards. Giles. Howard dan St. ed. In their new book. John. Gumperz. Dell (eds. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. 1990 The Sociolinguistics of Language. New York: Academic Press. Robert. Advences of Sociology of Language.

Male negotiators. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. Females are thought to be more accommodating. These men give further leverage to their female opponents. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. and they are more effective using this approach. During personal interactions. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. Men are expected to be dominant and authoritative. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. Men are expected to emphasize objective fact. ―you know‖) than their male cohorts. they allow their female opponents with a bargaining advantage. Men utilize more direct language. manipulative. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. which causes women to be perceived as less forceful. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. This is especially true when females use foul language and loud voices. women are thought to be emotional and intuitive. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). women focus more on the maintenance of relationships. When men and women interact. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. They have the right to use any . women are supposed to be passive and submissive. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. If these stereotypical assumptions are right. As a consequence. (Deborah Tannen. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender.are highly competitive.

Even when minimally prepared. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. football. (Gail Evans. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. on a credit/no-credit basis than men (27%). Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. . where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. This factor causes male success to be overvalued. and other competitive athletic endeavours. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. and female success to be undervalued. I find this frustrating. On the other hand. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. When men are successful. To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students.techniques they think appropriate. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. regardless of the stereotypes those tactics might contradict. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. Play Like a Man. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. Most boys are exposed to competitive situations at an early age. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. soccer. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. when women are successful.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. no matter how thoroughly prepared women are. Win Like a Woman 80 (2000)). basketball. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. they tend to feel unprepared. They have been encouraged to engage in little league baseball. fearing that competitive success will alienate them from others.

the results of which affect their course grades. Barnes. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. ―Gender. the male results would be more widely distributed. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. Charles Craver is a Professor of Law. Risk Taking and Negotiation Performance. Reader Comments . They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. Over the past thirty years.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. Several people suggested to me that while the average results might be equal. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. generating more results in the mid-range.STATISTICAL RESULTS Since 1973. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. The average results are almost similar. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. business persons. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. My students participate in a series of bargaining exercises. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. while more competitive. George Washington University. (Charles B. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. Over the past thirty years. I have discovered that practicing attorneys. Many individuals believe that men are highly competitive. If this hypothesis were true. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. Craver & David W. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation.

we ask only that you include a clean html link back to this site. teori kesantunan berbahasa. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik.com.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part . 2011. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Bookmark the permalink. You can find in-depth negotiation articles.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa.. business cartoons. teori kesopanan berbahasa. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. . S. bukan hanya dari aspek tata bahasa.negotiations. preferably to this page. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. Please find below a suggested description to accompany your link. negotiation Q&A's. terkecuali dalam telaah pragmatik. negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. namun juga dari aspek etika. Kesantunan dalam berbahasa. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www. M. meskipun disebut sebagai horison baru. bukan pula dari aspek psikososial. pragmatik. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri.S.

1995). Teori Wajah oleh Goffman. agar santun. Selain itu. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. maupun para pembelajar bahasa. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. maupun milik mitra tutur. sementara itu. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. namun ―wajah‖ .‖ dalam hal. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). yang membawa ideologi liberal. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. secara tradisional. ini bukan dalam arti rupa fisik.‖ baik milik penutur. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. dan Levinson. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. baik oleh pakar atau linguis. Brown. Teori yang diulas singkat ini. Selain itu. ―Wajah.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. Brown. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Kesantunan berbahasa. tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Pada wajah. dalam tradisi Cina. artinya. bebas dari gangguan pihak luar. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan.. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial. sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. dan sebagainya). sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. Sementara itu. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. pengakuan. wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. atau dimiliki secara individu. termasuk dalam berbahasa. merupakan ―pinjaman masyarakat. pemabuk. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. ketakformalan. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. 2008:2). apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Wajah. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. 2008).‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. dan kesekoncoan. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). atau anak dan ayah). konco. Untuk lebih memahami konsep wajah ini. baik wajah positif maupun negatif. Oleh karena itu. dalam konsep kesantunan berbahasa. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. pacar. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus.dalam artian public image. tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Meskipun demikian. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . Dalam teori ini. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri.

ketakformalan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. Sejenak jika dilihat. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. (Bukannya masih jauh mas. maaf. maaf nih. tetapi dari aspek kesantunan. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. konco. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. tanya sadiki. ini sekarang sudah sampai di Kastela. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. rasa kekoncoan (camaraderie). ini skarang so sampe di Kastela. Dari aspek kesopanan. tapi so lewat jao. numpang tanya. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. . tapi mereka tidak mau). Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. dan wajah mereka terancam. tidak sopan. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. kesekoncoan. melalui konsep wajah positif. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. (Astaga. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. nanti bilang turun di Sasa. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. Tuturan sopir B. nanti baru nae oto dari bawa saja. dan sebagainya. dan mungkin berpendidikan rendah. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas.

yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Maaf lagi… (Saya. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. Bahkan. Perhatikan contoh berikut ini. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. gender. om.tapi sudah kelewat jauh. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. jelaslah bahwa dalam berbahasa. Artinya. nanti bilang turun di Sasa). bukan masyarakat asli. Kami minta maaf). penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). nanti naik angkot lagi dari selatan. Penumpang A: Wah. 2006:104). atau keformalan. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. termasuk usia. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. om. tarima kasih e? (waduh. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. Dalam konteks interaksi seperti di atas. hal ini bukan hanya mengancam . Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. strata sosial. dan strata akademik.106). kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya.

tekanan. maka ancamannya pada wajah negatif. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). Brown. Aziz. Australia: Monash University. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. (2008). A.wajah mitra tutur muda. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. E. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. E. Menuju Universalisme yang Hakiki. (1987). wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Menggugat yang Semu.N. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Levinson. P & S. Di lain sisi. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang.C. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Disertasi. Goody (ed). Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Pidato Pengukuhan Guru Besar. atau gangguan dari pihak lain. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. Artinya. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. (2000). termasuk mitra tutur. Cambridge: Cambridge University Press. Santun berarti tidak mengancam wajah. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. Intinya. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. . yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. maka ancamannya pada wajah positif. 56-289. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. maka pengancaman wajah bersifat negatif. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Daftar Pustaka Aziz. maka pengancaman wajah bersifat positif. A. In E. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Sementara itu. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif.

yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. (1995). namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. London: Longman. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. Interaction Ritual. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. terkecuali dalam telaah pragmatik. Bookmark the permalink. yang membawa ideologi liberal. G. Thomas.S. NY: Doubleday. Yule. bukan hanya dari aspek tata bahasa. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Kesantunan dalam berbahasa. baik oleh pakar atau linguis. (1967). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Kesantunan berbahasa. Garden City. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. Pragmatik.. M. 2011. (2008). khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). pragmatik. secara tradisional. namun juga dari aspek etika. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. agar santun. bukan pula dari aspek psikososial. J. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . meskipun disebut sebagai horison baru. teori kesantunan berbahasa. teori kesopanan berbahasa. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. Selain itu. Indonesia: Pustaka Pelajar. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan.Goffman. E. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. S. maupun para pembelajar bahasa.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

maka ancamannya pada wajah positif. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. atau gangguan dari pihak lain. Sementara itu. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Perhatikan contoh berikut ini. om.106). termasuk mitra tutur. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. jelaslah bahwa dalam berbahasa. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. termasuk usia. strata sosial. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. maka pengancaman wajah bersifat positif. tekanan. dan strata akademik. maka pengancaman wajah bersifat negatif. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. om. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Dalam konteks interaksi seperti di atas. Bahkan. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. Artinya.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Intinya. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. 2006:104). gender. Maaf lagi… (Saya. Kami minta maaf). Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. maka ancamannya pada wajah negatif. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal.

Garden City. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Santun berarti tidak mengancam wajah. (1995). Goffman. (1987). E. Pidato Pengukuhan Guru Besar. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Daftar Pustaka Aziz. Aziz. (2008). NY: Doubleday. G. Pragmatik. 56-289. Thomas.N. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. A. Cambridge: Cambridge University Press. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. E. Menuju Universalisme yang Hakiki. Disertasi. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Levinson. In E. (2000). London: Longman. (1967). P & S. J. Goody (ed).adalah kehilangan wajah (loosing face). ethinking Politeness. Indonesia: Pustaka Pelajar. Australia: Monash University. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. A. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Furthermore. I aim to move . Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. Questions and Politeness: Strategies in social interaction.C. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. (2008). Di lain sisi. Menggugat yang Semu. Brown. E. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. Interaction Ritual. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Yule.

(3) In this way. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. pragmatics. we may be able to see gendered protocols at work.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. as Brown and Levinson (1978) have done. (2) In terms of the analysis of politeness. and who needs to repair the damage. secondly. we can map out parameters for . rather than as simply as the product of individual speakers. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. To illustrate these ideas. Thus. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. it should be seen within the context of a community of practice. gender. rather than individuals. we need to be able to analyse the various strategies which gendered. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. in the final part of this essay. therefore. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. constitutes a discourse analysis of politeness. and finally. in an analysis of an incident at a departmental party. nevertheless. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. I would argue that we need several analytical changes: firstly. rather than a linguistic analysis of politeness. Keywords: politeness. I will suggest that. modes of talk and domains. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. (Sperber and Wilson. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. I argue that communities of practice. This. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. but. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved.

values. However.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered. rather than . (both dominant and peripheral). there will also be different `takes‘ on those norms. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. Ways of doing. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. Bergvall. (1998). Thus. (Coates & Cameron. the issue of gender is even more fraught. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. 1998. Fuss. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. ways of talking. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender.1988. 1990. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. developed by Wenger.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. a joint negotiated enterprise. 1999). 1999:175) Thus. This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. power relations – in short. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect. and they will have different positions within these groups. (see Butler. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances.(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed. 1995). (Eckert and McConnell-Ginet. as many essentialist theorists have done so far. Bing & Freed. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff.' (Wenger. we need to modify this notion of community of practice slightly. and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. beliefs. practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. Within this view. Johnson & Meinhof 1997. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women.

in the way that they react to politeness and impoliteness. athleticism and musicality. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. 1999).‘(Eckert & McConnell-Ginet. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. politeness is already gendered. particularly when we are considering linguistic politeness. As I will argue later in this paper. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. the stereotypes of gender. classed and raced. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. However. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. thus. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. however. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. (Freed. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. (5) Furthermore. 1998:488/9) Thus. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. rather. . so that stereotypically it bears a signature of middle class. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations. the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change.

They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. a friend. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. that is. concern and sympathy. by our class position. Spender. 1975. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. because of her access to information upon which they depend. Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. (Mills. we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. 1996) Thus. In engaging in interaction. This is what I would like to call interactional power. via Goffman.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. and so on. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). their confidence. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). by treating him/her as a member of an in-group. will need to employ politeness forms which would normally signal deference.'(Brown & Levinson. maintained or enhanced. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. Tannen. and must be constantly attended to in interaction. the spread of power throughout a society. (Foucault. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. 1991). rather than the holding and withholding of power by individuals. a person whose wants and personality traits are . lecturers who need this information and who are reliant on her. their linguistic directness. conversely. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. (6) For example. there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. however temporarily. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. (Coates. and that can be lost. or breakdown of communication will ensue.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. Face is a term drawn. (Lakoff. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. 1998. rather loosely from the Chinese. described as co-operative strategies or rapport talk.g.

several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use. politeness cannot be said to reside within linguistic forms. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. 1996) As Holmes notes. It is thus a model of interaction which is focused on production. Thus. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. hedges and deference). thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. i. Boz. (Culpeper. however. 1994.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example.. it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits.‘(Holmes. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs. Thus.. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. this might in fact be interpreted as impolite. and even then.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence.known and liked). 1995:5) However. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness.e. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference. The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). (Mao. The essence of politeness is that appears to be invisible. which conflates the intentions. or expressing them indirectly. a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions.' (ibid. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. and this is not the first time that the request has been made. such interpretations may be subject to disagreement. Thus. Thus.

An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place.‘ (Holmes. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. They use language to establish. either in relation to the perceived norms of the situation. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not.‘ (Holmes.‘ (Holmes. as well as non-imposing distancing behaviour. Drawing on brown and Levinson's work. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. and thus Holmes asserts that. Indeed. For example. nurture and develop personal relationships. . 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. especially with friends and intimates. ingratiating or patronising. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. women are more polite than men. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. therefore. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. and thus is again an example of the disembodied.polite. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others.‘ (Holmes. focusing on impoliteness may be slightly easier. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do.

1996). this is not classified as impolite. I would argue that within that particular community of practice. However. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. Liladhar. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. Since the party was well underway. He analyses several contexts of linguistic use . 1998). A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. but which female members of staff may also engage in equally. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. banter. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. and this type of public verbal play in general. The dominant group in the interaction. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. However. although it would be within almost any other community. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. one of my female postgraduates and a new male member of staff. women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. (Labov. Thus.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. like us. 2000 forthcoming) In the incident in question. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. as Clare Walsh has shown. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour.a documentary programme on army training and literary drama . 1972) (14) However. this person. In the army training documentary which he examines. I had to think up some form of appropriate phatic . usually dominant. when uttered at a staff party may be considered differently. and/or when it leads to a breakdown in relations. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. and even then it is something which may be contested by some community members. community members. but older than the postgraduate. (12) Thus. the officers. 2000 forthcoming.

1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. (17) What is also . by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. such as body stance. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. (Sperber and Wilson. the male staff member then made comments which we both considered impolite. However. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. (see Cameron. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. because he considered them to be excessive. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties.' (Cameron. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. then I would have to comply and provide a list of poets.communion. and impolite. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. `Name me six poets‘. eye contact. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. were in fact patronising and therefore insincere. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. I did not wish to be forced to answer this question. However. (15) Banter was not an option since I did not know the person. Under this interpretation. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. facial expression and his tone of voice. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. but instead had to be classified as offensive and impolite. Proxemic cues. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. he was in fact implying that I could not name six poets. 1998:448) In this case. This response on his part confused me . where we had been attempting to be friendly and polite towards him.

We tried to assuage him and calm him down. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. Thus. For myself and the postgraduate. partly because both of us were fearful of physical attack. it led to an increase in insulting terms. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. drawing attention to our femaleness and sexuality. (Walsh. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. but continued to use positive politeness strategies. that is. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. perhaps. verbal aggression and impoliteness. a stereotypically feminine response. do not necessarily bring any form of power to oneself. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. in the interests of departmental harmony. it led to a range of `repair‘ behaviours. as if perhaps these were implicit from the beginning. Thus. As it was. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. However. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. for the best of motives. whereas for the male staff member. . we would not necessarily have considered the incident impolite. `masculinist‘ females as well. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. suggesting that we talk on other subjects. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. we could not simply walk away. that is. which in many contexts such as this one. Having worked with extremely impolite. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. Because of these strategies we were locked into the interaction.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. (19) Further gendered stereotypes were brought in. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women.

where the postgraduate tried to make a formal complaint. Thus. particularly to the postgraduate. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. even though this is a strategic use of femininity. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. Furthermore. what I . however. I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. one which attempts to resolve the situation. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. Conclusions Thus. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. (21) However. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women.The incident itself is not particularly important. and the party was disrupted by the event. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. Thus. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. or even perhaps an admission of some fault on our part. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. However. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. cannot be simply coded as powerless. and even those stereotypes can be used for our own ends.(20) After several weeks of not communicating with the person. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. However. Generally. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. and the way that this judgement is not a once and for all act. However. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. since in fact this is what brings the incident to a close. that is. Thus. A seemingly feminine response to the situation.

this was clearly the case. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. Thus. 2000. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. November 1999. Perhaps. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. February. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. International Gender and Language Association. 1994) 5. Holmes and Meyerhoff. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. 2000 forthcoming. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. 2000. 1999) 3. and Gender and Language Conference. and it can also enable us to see that within different communities of practice. Cameron.(Butler. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. Reina Lewis. Bell et al. As I show later. 2000. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. (see. however. May. 4. or change their meaning or function. Lia Litoselliti. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. Janine Liladhar. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. Notes 1. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. also. Corinne Boz. May. in 1993. including the seemingly more co-operative/rapport ones. 1999. Keith Green. but even here. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. Jane Sunderland. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. 2. (See Liladhar. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. Also. complex that relation is ). 6. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. Manana Tevzadze. Clare Walsh. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. depending on . individuals may perform their gendered identities in different ways. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. Eckert and McConnell. California. Utrecht.

has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness. I also requested comments on his interpretation of the incident.mills@shu.. 12.ac. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. 13. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms. 9. and I asked his permission to publish it. 2000. Turkey. Even over two years. Indeed. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. Details of the group can be found on the website http:\\www. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. in the army training example.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . Finland and the Netherlands. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone. the community of practice. China. this article is part of that process of understanding the event. 10. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. and we are currently working on communities of practice and politeness. composed of linguists from Britain. the incident still has effects on the department and is still discussed. 8. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness. Georgia.ac. of course. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. Italy. 11. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain.bargiela@ntu.ac.ntu. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted.shu. stated that when he did his year's army training. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. .l.ac.7.uk. as Walsh (forthcoming) has noted. However. 1999 on peripheral group members) For example.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. it is interesting that not all secretaries do adopt it. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. bullying and overbearing. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. or at our web-board: http://hum-webboard. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face.

conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). 1998. Cream. in Gender. Binnie. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. pp. or even the weather. Furthermore. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. 18. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. 19. (1994) `All hyped up and no place to go‘. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. J. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions.14. he has not responded. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. but the timing of the interaction precluded the use of these. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. G. . for a discussion) 20. 15. D. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. J. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. I would agree that alcohol affects what we say to people. It is not something that they necessarily want to do. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. References Bell. 21. 17. 16. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. Here. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation. this is what leads to conflict. However.31-48. such as comments about the house where the party was being held. and may be misinterpreted when used between relative strangers. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. despite several attempts to discuss this issue with him. & Valentine. in fact. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. (See Clark. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. However. Place and Culture. No formal complaint was made. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. 1/1.

London. Language and Masculinity. E. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. 9/4 Cameron. However. (1998) `Is there any ketchup. Longman. From Nancy Bonvillain's "Language. and softening devices such as hedges and questions. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. and Communication" she notes that. & Freed. in ed. cultivate a deep "masculine" voice . (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity.56311. J. PhD thesis. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". Oxford. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. Sheffield Hallam University Brown. in Discourse and Society. London." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. in eds. Cameron. Goody. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. U. A.Bergvall. Cambridge University Press. "are permitted. D. 28/2 Butler. formal stylistic markers). and Meinhoff. Bing. Johnson. they note that boys. "women typically use more polite speech than do men. in Language in Society. even encouraged.203-225. Therefore. D. P and Levinson. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. C. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. Routledge.' Pp.86-107. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. J. pp." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. Culture. V. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. Boz. pp. eds. M. Cambridge. 435-455. S. pp. power and pragmatics'. Vera?': gender. From historical recurrence. to talk rough. Blackwell. Bucholtz.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

and critically. however. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. 3. or within non-language programmes. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. Language and gender doesn‘t. Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. including selection and sequencing of curricular content. or Women‘s Studies. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. (For sources. the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). ‗Language and the Media‘. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. for a broader overview of sex differences in cognition. whether in the form of coherent modules on the topic. we can contrast syllabi .and corpus linguistics). at least across the ‗western‘ world. have a settled curriculum. such as Women‘s Studies. at issues relating to teaching and learning stances. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies.g. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. a contemporary review of the field (Cameron. In what follows. we look at commonality and diversity in language and gender curricula. for instance. Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. at the design of language and gender modules. represents a strong biological (evolutionary) perspective. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices.) 2.) Within language and gender as a field. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. However. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. (Baron-Cohen (2003). see Halpern (2000). including linguistic behaviour.

Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. sometimes problematical. but there are particular issues. Besnier. Students‘ background. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). The classic case here is probably sexist (English) . academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. A similar. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. He also covers gender and literacy. for instance. that relate to the teaching of language and gender. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. has a strong and explicit anthropological focus. racial and national identities with gender. 2005: ‗Aims of the course‘). and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject. Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. reflecting disciplinary perspectives. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. 4. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). and include student project work. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. they see oppression as a thing of the past. a problem solved. at the time at UCLA. On the basis of these syllabi at least. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that.csulb. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. given the disciplinary and other differences referred to above. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. grammatical gender. whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. Both have a strong empirical focus. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. First. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area.edu/~lemaster/lgarchive). given the nature of the subject. but the subject is to some extent differently constituted in each case. These are mainly US sources and not all recent links are available. both modules explore relevant aspects of language and gender. on the other hand.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). This site includes reading lists and assignment topics.

there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). Secondly. and guidelines for inclusive language). In this context. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. on language and gender modules. be made to feel unwelcome. variously. in Women‘s Studies. and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. On a different level. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. man-hating. focusing on current arguments for Ms). While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. lesbianism and a hatred of men. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. but a history whose implications are currently felt more widely . despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. divorce. and indeed of making one‘s own politics explicit.for example. and for whom linguistic description and analysis (for example. worse. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. if they are not simply indifferent to these debates and issues. Thirdly. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. (This is. having signed up. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps . used. who are largely unused to this form of scholarship. but also to many third world women. While fiftysomethings may have argued for. even that they will feel uncomfortable – or. say. eighteen. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms). Amongst male students. encouraged. of feminism in general. on which so much language and gender scholarship is based. then.language (together with language change. and this needs to be pointed out and demonstrated. The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. of course. Certainly. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules. this may still come as a shock to students.) It makes more sense.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. and to associate Ms with. indeed. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. and indeed continue to use Ms. While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. and the associated question of empirical research.

appropriate. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area. Designing modules in language and gender In Section 5. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. Theoretical/methodological approaches D. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. Queer theory. according to different organisational criteria:     A. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). often having no problem identifying with the findings. identity. orientation to gender. It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. indeed. better. Eclectic . appropriately integrated. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. Topical C. Historical B. subject positioning. talk more than women. discourse(s). and in fact approached critically. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. and some simplification may be pedagogically necessary and. 5.something particularly characteristic of language and gender. these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. These complex notions need to be addressed. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. but in an accessible way. or.

Classroom talk 5. Eclectic! 1. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. ads. Discourse analysis 4. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. Trudgill 3. current emphases in language and gender. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. Historical: Example 1. perhaps including the topic of gender and politeness 4. Critical discourse analysis 5. CA/Discursive psychology in language and gender study C. gender as constructed in and by language 2. private/public 3. Conversation analysis 7. Jespersen 2.g. 7. gender and the language classroom 8. continued. politics) 10. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Sexist language 2. gender and children’s books 10. gender and powerful institutions (religion. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. have grown out of (responded to/reacted against) . Gender and discourse 5. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Discursive psychology 8. Women and men’s talk: single/mixed sex. The importance of context 6. gender and fiction 8. gender and sexuality 9. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. Empirical work and the feminist contribution 3. Holmes 6. Written texts: language. Sexuality/Queer theory 1. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen. Labov. Language. Language. Zimmerman and West 5.B. Gender and cyber-communication D. Identity 8. Corpus linguistics 9. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Gender and the media – magazines. As above. Language. Theoretical/Methodological 1. Spender 4. Empirical and non-empirical early work: Haas. Performativity 9. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. The shift to discourse 7. newspapers. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. Topical: Example A. Early feminist work: Lakoff. Language. Sociolinguistic work: e. both topical and methodological. Workplace talk 6. Coates. As in other fields.

‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘.g. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. of course. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. . gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. and fast-growing. Of course. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). A third question is the role of biological factors/explanations. previous emphases can be included critically.g. The language and gender field is young. If such history is to be included (Example A). In terms of teaching. As mentioned in Section 1. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. classroom talk. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005). intellectually complex. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. relatedly. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. and now usually are – but the message does not always get through. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. which has made its own important contribution to language and gender. but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature. but wide. Queer theory.previous ones. other organising principles than the chronological development of the field. however. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). the workplace. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible. But while the field has moved on considerably.e. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. Most basic is the question of time. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. how these are constructed in the literature. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. We noted above that these have traditionally been downplayed. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

. inability to describe politeness at the level of inference). Brown and Levinson's (1978.g. and linguistic interpretation of pragmatic data. In particular. Finally.. their model of communication (e. notion of politeness. interpretation. Theorising politeness. positive and negative politeness. analysis of social variables such as power. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. strategic politeness. and imposition). distance. power. individual strategies..g. The variables of class. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). The last part of the chapter suggests some implications for an alternative . With respect to the model of communication proposed in the book. reliance on speech act theory. notion of habitus) the constituents of politeness (e. data collection. appropriateness.g.g. speaker model. and methodological difficulties (e. racial identity. face and face threatening acts).to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e. In chapter 2. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. namely. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. gender.. 1998: 76). a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. data collection instruments.

In particular. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. two features of impoliteness are analyzed. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites.analysis of politeness. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. politeness and impoliteness. Further. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. class. race. This chapter is organized into four sections: the first section. factors of gender. but rather as separate notions with specific characteristics. and class. swearing and directness. In chapter 3. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. Politeness and impoliteness. age. . 2) politeness is a matter of judgment and assessment. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. sexual orientation. 3) different forms of data need to be considered. and race are examined in relation to (im)politeness. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. namely. Then. and.

In chapter 4. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. class. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . and polite. Finally. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. mitigation. Gender and politeness. middle-class women's behavior. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. is normally associated with prototypical descriptions of white. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. among other factors. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. swearing. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. In chapter 5. indirect. loudness. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. Finally. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. interruption. race. and sexual orientation. power. Theorising gender. Furthermore.

In particular. Finally. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. General information .g.. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. race.driven.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class. and contextual elements. gender. EVALUATION Overall. data collection procedures. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. for the sake of methodological clarity. power) in relation to politeness and gender research. sexual orientation. and data analysis could have been described in one particular section. in Conclusions. specific information regarding subjects. among other factors. While the analysis presented in the book is theory.

there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. on p. 77 which do not coincide with the bibliography. Watts (2003). For example.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. 61 Lakoff. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). Most importantly. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results. is mentioned in footnotes (pp. Furthermore. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. and Wierzbicka (2003). including a description of the subjects. 2001b) on p. information concerning data collection procedures. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . data collection procedures and analysis. etc. tasks. number of subjects. 14-15) within the introduction. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. Finally. number of hours of recorded data. Overall. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. more extensive information on the methodological procedures used in the study.

Politeness. (2001). (2003). Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. UK: Cambridge University Press. and sexual orientation).). E.. and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. P. D. Jeromes Press. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE.) (2003). race. Brown.g. Cambridge. UK: Cambridge University Press. S. Politeness: Some universals in language use. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. 2nd. Wenger. and Levinson. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. P. (1978). A critique of politeness theories.310. (1998). UK: Cambridge University Press. Brown. Watts. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. Cambridge. REFERENCES Bravo. (2003). (1987). class. Stockholm. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. R.(im)politeness and gender. Goody (ed. Wierzbicka. Cambridge. Eelen. Cambridge. New York. edition. A. and Levinson. UK: St.. ABOUT THE REVIEWER . E. gender. 56. Communities of practice. G. S. (Ed. Manchester. Sweden: Universidad de Estocolmo. NY: Mouton de Gruyter. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. In particular. UK: Cambridge University Press..

. Bloomington.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. writing in the second language classroom. research methods in pragmatics research. interlanguage pragmatics. His research interests include cross-cultural pragmatics. speech act theory. and first and second language acquisition. politeness theory.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful