0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). tidak komprehensif. Jepang. tidak memperlihatkan emosi. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. dan Jerman. Sebaliknya. Development. Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. lebih bersifat pertanyaan. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. and Origin. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. pada tahun 1922. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Jespersen juga . serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. seperti Prancis. Dalam salah satu bab buku itu. Inggris. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. sederhana. Misalnya.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Amerika. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Di beberapa negara maju. Grimm (2008: 8) berpendapat. biasanya dalam kalimat pendek. mereka lebih terkesan linear.

sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). peristiwa. Namun. atau neat. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. dan mitra tutur. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. matang. politik. keadaan. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. etnik. yaitu waktu. cool. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. seperti great. Dalam bahasa Indonesia. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). charming. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. Oleh karena itu. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). 2004. perempuan sering menggunakan adorable. Kuntjara. menurut Lakoff. Misalnya. . Jika kita melihat konteks struktur bahasa. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. kelas. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. misalnya. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. terrific. Oleh karena itu. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. predikat (P). proses. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). sangat berkuasa. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Namun. agama. 2005:36). banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. tempat. Dalam khazanah sosiolinguistik. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. lingkungan sosial. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. ekonomi. 2004:3—4). sweet. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. dan objek (O).

Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. seperti buku Tannen dan Gray. 1. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. dan hubungan antarmanusia. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. 3. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Sebagai contoh. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. buku Deborah Tannen. 4. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Women Are from Venus. perasaan. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Namun. Di dalam buku psikologi populer. tetapi juga psikologi. 5. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Men Are from Mars. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . 2. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. misalnya. tetapi palsu. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray.Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an.

termasuk status mitos tentang fakta itu.000 kata. tungau di seberang lautan tampak‖. Pada tahun 2006. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". misalnya. Daftar Pustaka Coulmas. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Salah satunya adalah Mark Liberman. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Language Laws. Janet. 2001.000 sampai dengan 25. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Robert Lane. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. . dalam mitos Mars dan Venus. Development and Origin. Publisher. Duranti. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. The Female Brain. 1999). Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. 1992. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. Florian. Greene. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Namun. Language: Its Nature. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. An Introduction to Sociolinguistics. 2005.000. The Study of Speakers’ Choices. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. New York: Delacorte Press. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Setelah menelusuri kepustakaan populer.berkomunikasi. 1922. New York: The MacMillan Company. Jespersen. New york: Cambridge University Press. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Alessandro. Namun. 2011. Dalam perekonomian saat ini. 2011: 54—56). Oxford: Blackwell. and the Politics of Identity. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. The Key Term in Language and Culture. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Holmes. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. London: Longman. melainkan referensi dari buku pengembangan diri.000 kata sehari. Otto. Sociolinguistics. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7.

sweet. New York: Routledge. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Development. Di beberapa negara maju. Esther. Gender. 1991. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. 2004. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Lakoff. Inggris. Misalnya. charming. Deborah. Misalnya. dieditori oleh Mary Bucholtz). Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Lakoff menyatakan bahwa terdapat .Kuntjara. 2004. Robin Tolmach. New York: Ballantine Books. cool. atau neat. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. New York: Oxford University Press. Tannen. and Origin. Dalam salah satu bab buku itu. Linda and Shân Wareing. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. seperti great. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. perempuan sering menggunakan adorable. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. pada tahun 1922. seperti Prancis. Society. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Amerika. terrific. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Jepang. 2003. dan Jerman. Language. Bahasa dan Kekuasaan. Thomas. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). and Power. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling.

Dalam bahasa Indonesia. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. sangat berkuasa. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. keadaan. kelas. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S).banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Kuntjara. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. agama. You Just Don't Understand: Women and Men in . Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. dan mitra tutur. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. matang. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. misalnya. tempat. proses. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. 2005:36). Namun. ekonomi. tetapi juga psikologi. predikat (P). Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. politik. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. Namun. Oleh karena itu. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). misalnya. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. Oleh karena itu. Dalam khazanah sosiolinguistik. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. dan objek (O). Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. yaitu waktu. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. 2004. peristiwa. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. Di samping itu. lingkungan sosial. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. 2004:3—4). buku Deborah Tannen. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. etnik. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. menurut Lakoff. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff.

kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. 4. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff.Conversation dan buku John Gray. 1. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. 5. Men Are from Mars. Namun. seperti buku Tannen dan Gray. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. perasaan. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. Women Are from Venus. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. 3. Sebagai contoh. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. fakta . tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. dalam mitos Mars dan Venus. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Di dalam buku psikologi populer. 2. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. tetapi palsu. Dalam perekonomian saat ini. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. 1999). Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". dan hubungan antarmanusia. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Namun. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan.

Development and Origin. Lakoff. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Greene. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Jakarta: BPK Gunung Mulia. New York: Delacorte Press. 2004. 2011: 54—56). menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. misalnya. Publisher. Kuntjara. Pada tahun 2006. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. 2005. London: Longman. and the Politics of Identity. The Female Brain. Setelah menelusuri kepustakaan populer. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Bahasa dan Kekuasaan. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. New York: The MacMillan Company. tungau di seberang lautan tampak‖. An Introduction to Sociolinguistics. 1922. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. dieditori oleh Mary Bucholtz). New york: Cambridge University Press. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. Duranti.000.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. 2011.000 kata. Language: Its Nature. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Jespersen. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Gender. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Salah satunya adalah Mark Liberman. Language Laws. Esther. Robert Lane. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. 2001.000 sampai dengan 25. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. . 2004. termasuk status mitos tentang fakta itu. Oxford: Blackwell. Janet. Otto. Sociolinguistics. Alessandro. The Key Term in Language and Culture. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Holmes. Daftar Pustaka Coulmas. Namun.000 kata sehari. The Study of Speakers’ Choices. New York: Oxford University Press. 1992. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Florian. Robin Tolmach.

perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. lonte. Society. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. Maka itu. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. pelacur. cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. jika benar-benar ditilik. New York: Ballantine Books. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. dan tataran gramatikalnya. Padahal. baik lelaki maupun perempuan. and Power. pada perempuan melekat istilah PSK. Linda and Shân Wareing. Sejauh ini. dan sejenisnya. Deborah. ugkapan. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. 28 Okotober. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. tante girang. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. gaya. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. 2003. Artinya. Language. 1991. Thomas. istilah. Hal ini memang perkara sederhana. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. New York: Routledge. Selanjutnya. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata.Tannen. murahan. .

pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. begitu lahir. misalnya bahasa Aceh. Para . bisa-bisa dibunuh. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. Nani Yudhoyono. Sedangkan pada lelaki. ‗ok mai. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. ketika si perempuan sudah menikah. seperti Marlinda Abdullah Puteh. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. Hindia Barat. Misalnya. Afrika. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). Sebagai contoh kasus.Masih pada tataran yang sama. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. Ironis. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. aneuk tét mie. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. Akibatnya. Kemudian. Sebaliknya. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. Sangking pantangnya bagi mereka. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. papleumo. Bahkan. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. brét ma keuh. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. ia menyandang pula nama suaminya. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. di Zulu. Artinya. dan lain-lain. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖.

bagi para lelaki. kegiatan. Namun demikian. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Banyak bahasa. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". seperti dalam kasus waria. perilaku. Dalam isu LGBT. Dengan kata lain. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Selamat memperingati Bulan Bahasa. yang dikonstruksi secara sosial. Namun. Sebagai ilustrasi. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. Semoga bahasa kita tetap jaya. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu.perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). dalam suatu masyarakat. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. dibolehkan membunyikan ―Z‖. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Dalam konsep gender.

Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. Kebudayaan. Untuk diskusi ini. Bahasa adalah cermin budaya. BI akan dibedah dari perspektif gender. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)..adapun wanita lemah lembut manja . sistem religi. seakanakan yang salah memang budayanya. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. sebagai matra sentral Feminisme.H. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. Dalam hal ini. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Mengapa BI memihak lelaki. sistem kemasyarakatan. kesenian. dan benda karya budaya. "bahasa menunjukkan bangsa". Maka. bahasa juga merupakan wahana budaya. Di samping sebagai bagian. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. 1964: 79). wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. BI bias maskulin. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. tindakan. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. Dengan perspektif gender. Ingat. Di sini. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Sebagai wahana budaya. senang atau tidak. Singkat kata.. sistem ekonomi dan mata pencaharian. Greenberg (Samsuri. seperti yang banyak dipahami orang selama ini.1) Itulah sebabnya. menarik diungkap di sini keyakinan J. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. Dalam pengertian yang luas. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. dan bahasa (Koentjaraningrat.

penyebutan keberadaan atau tindakan. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. Dari segi kebahasaan. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut.Dengan pendekatan verbal. Dengan ini. dst. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. berupa tuturan bahasa. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. pada beberapa suku. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Untuk telaah ketimpangan gender pun. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. dan kelompok sosial lain. yang akan membentuk realitas simbolis. interaksi manusia. 1986). dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. kekerasan. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. keniscayaan struktur. tindakan. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). etnis. yakni tuturan alamiah keseharian.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. terutama dalam menyusun kategorisasi data.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Sebagai human instrument. Atau. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". dan inisiatif pengucapan. ini tidak keliru. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. Dilihat dari kemurniannya. Dengan ancangan ini.3) Akan tetapi. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). telaah ini bersifat interdisipliner. masyarakat. Padahal. dan . yang membentuk realitas sosiobehavioral. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Soalsoal sosial-politik. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. hukum.

nenek. Riyanto. raja copet. dewi. Agaknya sudah menjadi "kodrat". misalnya. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. jago nggambar. dan damai. Semua setuju. dewi malam ('bulan'). seorang artis yang bernama Lisa A. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. perintis koperasi itu Mbak Tutut. Layak dipertanyakan kebenaran ini. diam. dan *raja adil". Siapa pun tahu. dewa perang. dan bukan *bapak kota. dan agresif itu. induk. memang. Masalahnya. bapak pembangunan. *ibu pembangunan. bapak pendidikan nasional. *dewa malam. jago matematika. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. *ibu pendidikan nasional. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. *babon nggambar. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. termasuk dalam hal menerima sebutan. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . putri malu (sejenis bunga). Setelah berumah tangga. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. *putra malu. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. Maka. raja siang ('matahari'). *kakek moyang. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. Dalam kosakata BI kontemporer. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. kesabaran. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". agresif. *bapak pertiwi. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. dan ratu adil. garang. Alih-alih dengan itu. *ibu koperasi. dan jelas bukan *ratu judi. *ratu copet. kepasifan. dan memang tidak harus jantan. predikat. Riyanto yang sudah almarhum itu. *jago semang. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. bapak koperasi. ibu pertiwi. nenek moyang. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. raja judi. misalnya. *babon matematika. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". dan ratu. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. Dengan memakai ibu. dewa maut. induk semang. "ibu kota. ketenangan. untuk sesuatu yang bersifat garang. Bung Hatta "Bapak Koperasi". kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). putri. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. macan').ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. pemberani.

Untuk ini. Seseorang yang sedang makan siang bersama. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. saya mau ke belakang". WTS pun mesti dihapus. harus "dihaluskan". Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Dan. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. Jadi. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. karena dipandang vulgar. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Akan tetapi. "bandot". "bawon".p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. "teko". Dengan demikian. Lalu. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". R.A. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. "gigolo". saya belum siap diprotes. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Atau."*Ibu Pembangunan". memang ada. Masalahnya. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. konotasi yang muncul berbeda. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. norak. menjijikkan. Masalahnya lagi. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. anggun. Jika boleh. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. atau alumni madrasah tsanawiyah. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Perasaan menjadi lega. Sehubungan dengan kajian ini.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. Kata pelacur. Maka. Tentu saja. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . itu soal lain. jika PTS dipilih. "*Ibu Koperasi". misalnya. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. orang bisa menepuk dada. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. barangkali kembali ke pelacur lagi. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. dan tiba-tiba perutnya mules. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. ganti lagi dengan yang lain. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. indah. mengajar. tenang.

Cepet kaya. Karena beban kondisi ini. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. jadi tidak sekadar melengkapi. Mengherankan. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.Dengan degradasi. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . Bu. Padahal. Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. gaji tinggi melebihi suami kok malu. Hebat. patuh. WK : Ah. Bu. Dengan standar ganda ini. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. Aneh. manakala saya tanyakan berapa gajinya. Itu kan menurut situ. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Ini kan di atas gaji suami. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. misalnya. melawan. nanti. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Pernyataan "cuma istri. Saya: Gaji segitu besar lho. sebab ramai. sebagai survival strategy. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Jadi. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. akan sering muncul di sekitar kita. WK) berpenghasilan tinggi. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. nggak juga. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. remeh. WK : Ah. hanya sekadar membantu suami saja. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Mereka malu mengakui. saya kan cuma istri. makna kata menjadi enteng. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. mengalah.

. sempurna sudah kekalahan mereka. Tentu saja. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Malahan. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. Maka. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. perempuan bisa menang. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu.. bahkan tak tahu diri. Sementara diam dan nerimo saja... Lagipula. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Siang keras. Kita ini orang kecil. 1981). Nduk. Perempuan saja kok macem -macem. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. Nduk! AP : Mbok. Aku kan bininya. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya.bergender lelaki." katanya.. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Biar dia yang ngurus. kok di sini dipotong orang seenaknya. kita itu kan perempuan to. Nduk. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). "Perempuan saja kok macem-macem. Ibu ini tak salah. Jadi ya termasuk duitku juga. Nggak ada ceritanya. Dipikir . Ini urusan lelaki. Ini urusan lelaki. Maka. Lurah kok mau dilawan. tapi ini kan duit laki saya. Inilah produk paling diskriminatif dari . Cuma perempuan. ingat kamu itu perempuan lho. Ee .

Sebagai bandingan. Ibu sedang memasak. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Lelaki saja kok macammacam. atau malah pagi buta. *Bejo: Iya ya.. dalam wacana di atas. kita 'kan lelaki. (hal. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. percakapan.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. atau peristiwa tutur lainnya. Kan nggak pantas. seperti lingkungan kita ini. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. 427) 2. Ingat kita ini kan lelaki. kalau boleh menduga. Ibu memasak di dapur. Adikku yang manis menimang boneka. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. sedangkan ayah sedang membaca koran. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Aku bermain layang-layang. 1.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. (438) 3. 1979: 205). ini urusan lelaki. misalnya. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. Siti masih sering pulang malam. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. Akan tetapi. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. (463) 5. Masak mau menuntut pak lurah. perhatikan dialog rekayasa berikut. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Oleh karena itu. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. (460) 4. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. khususnya dalam buku-buku bacaan. (473) . entah sadar entah tidak. Ibu menjahit baju. Apa sih jeleknya orang ngalah. Malahan. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Ayah sudah berangkat ke kantor. . salah satunya dalam dunia pendidikan.. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan.

agak kecil. dll. Padahal. (3). kesan remeh. Kalau dicermati. yang memang membahas kalimat dan wacana. Kontinum standar "besar". misalnya. yang hanya mengganggu saja. misalnya mencakup dari sangat besar. ini bukan barang aneh. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. Direktur RSU Dr. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Akan tetapi. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. (6). kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. Pada kalimat (1). dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0.7) Sebutan Negatif. Banda Aceh. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. (5). hanya seorang yang perempuan. sampai sangat kecil. dan "banyak". Dokter H. Padahal. tebal) dan bukan yang minor (ringan. (477) 7. banyak. misalnya. tipis). sepele. Sementara." (biarpun 0. Coba diandaikan. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. tinggi. menurut pengamatan D. bahkan mungkin lebih negatif. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. Spender (1980). posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. Dalam kontinum tersebut. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. kecil. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. menempati kesan buruk.15cm itu memang tergolong . tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. Oleh karena itu. mitos soal-soal besar. "tinggi". jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. misalnya. hasilnya sama saja. Kamaruzzaman (52 tahun). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. jika bab-bab lain ditelaah. itu mungkin saja. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). pantas dikenakan pada perempuan. menohok perempuan. Zainal Abidin.15cm. Begitulah. penting. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. rendah. melontarkan interupsi.15cm". tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. demikian juga "berat". hanya layak untuk lelaki.6. Akan tetapi. agak besar. sedikit. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". sedangkan pada kalimat (2). Bahkan. besar. yang menentukan segalanya. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. Jadi. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. Jika ungkapan mulut perempuan. dari perempuan. Jumat malam meninggal secara mendadak. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. kecil. dasar betina.

hakikatnya.relatif tipis). "sastrawan". pasif. sudah "kodrat". apakah orang sudah paham pasti. "rok mini. bandingan. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. 9. Sebagai standar. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). rujukan. feminin >< maskulin. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". malu-malu. PD". lain konsep. tetapi jika yang disebut mahasiswi. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. Oleh karena itu. Dalam realitas empiris. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. Oleh karena itu.8) Maka. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. artinya sudah standar. Maka. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. Itu 'kan khas perempuan. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. keluar keringat dinginnya. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. lain fakta. entah lelaki entah perempuan. hakikatnya. grogi. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. Sebab. cengeng. 10. Cowok atletis itu malu-malu. sentimentil. "*agak perempuan". Akan tetapi. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. Jangan lupa. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. Barisan lelaki dianggap superior. Lelaki pakai rok? "Ah. tegar. Sebaliknya. Maka. seorang perempuan yang "tomboy". inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". standar. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. Dina memakai celana. lamban. orang pun latah. Doni mengenakan rok mini. Bukankah standarnya selalu "celana. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. grogi" bukan standar. Maka. Umumnya orang. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. itu sudah semestinya. Mengapa demikian? Ya. Barangkali. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. malu-malu. "*lebih betina". jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. 11. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. jika yang . dan rasional. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. yang berbau perempuan itu nonstandar. memang tidak ada "*sangat lelaki". tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. "polisi" saja. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. misalnya. jantan >< betina. yakin. yang tidak negatif. orang akan mempersembahkan konotasi positif. ini harus ditegaskan lagi.

Artinya. Tetapi. dan "diceraikan oleh". Maka. seorang perempuan dapat "kawin dengan". sabar atau tidak. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. untuk menyebut manusia pada umumnya. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Spender mesti meminjam dulu kata man. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". Sebab. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. lelaki itu standar. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. "aku". ini tercermin dalam bahasanya juga. Maka.dimaksud adalah oknum perempuan. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. dan bukan woman. sastra. akan tetapi jika disebut woman. berkedudukan. Dalam keadaan terpaksa. untuk konsep manusia. sedangkan perempuan. dan bukan woman. Alwi dkk. Dalam kebudayaan Barat. layak saja. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. Dalam kultur masyarakat kita. melainkan juga realitas kultur. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". Maka. soal bahasa bukan hanya struktur. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. sekali lagi. misalnya. "minta cerai dari". hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. sehingga menjadi wanita wartawan . Maka. apa salahnya. orang meminjam kata man. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . 1. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. "belum manusia utuh". dan polisi wanita (polwan). Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. 1988. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. bahkan lebih gila lagi. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". "bercerai dari". masalahnya dia itu selingkuh. 2. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). tetap saja. Biarpun begitu. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). berkuasa. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. aku masih bisa menerima. Dalam bahasa Inggris. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. akan bertindak aktif dan menuntut. dan bukan *Woman Made Language. tak ada pilihan lain. Tapi. predikat (P). aku akan menceraikannya. sastrawan wanita. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu.. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). ketika D. 1993).10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. bukan kodratnya perempuan. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. sedang perempuan substandar. kalau disebut man. "kamu".9) Lelaki memang menjadi standar. meskipun sebenarnya aku masih cinta. Maka. Denggan kondisi ini.

isyarat dan perhatian. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. meliputi: . lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. lain tidak. dan pilihan konteks situasi yang tepat. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. apa dia mau. memprakarsai. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. atau mungkin sebenarnya mengerti. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Maka. Jika nanti sudah menjadi milikku. Aku sangat mencintainya. Biasanya. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. perempuan bereaksi. tetapi tidak transparan. Tetapi. atau resmi nikah. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. aku ragu. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. akan kusayangi dia. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. goblog. Tetapi. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Oleh karena itu. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. perpacaranan. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. misalnya. "tidak langsung buka kulit. keluarga/perkawinan. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. dalam dunia komunikasi (pergaulan. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. tampak isi". 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. Akan kucium keningnya. perkencanan). Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. bebal. bukan karena struktur. Mengapa? Ya itu tadi.struktur.

konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. semacam WTS. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. Dalam posisi yang serba timpang ini. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang... Apalagi inisiatif ekspresi. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ".. lelaki mendominasi. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. khususnya terhadap eksistensi gender. dan (f) sebutan penstandaran gender. (b) sebutan pelecehan martabat. terutama dalam menyikapi gender.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. . Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat.. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. dan inisiatif ekspresi. sedang perempuan tersubordinasi. Sebutan pelecehan martabat gender. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. Dengan begini. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. bahasa ini mungkin bergender lelaki. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. wanita dijajah pria . pandangan hidupnya. Dengan demikian. (d) sebutan pembatasan berkebebasan.

masyarakat. dan hegemoni pria. 32. 6. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. 1--14.D.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. 4. 1993). 1981). Vol. Ph. 5. . juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". 28 Oktober 1986. Warta Studi Perempuan. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Asfar. "Gender. subordinasi perempuan. 7) TBBBI edisi I (1988). pintar. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. Konsep ini dekat dengan seksisme. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". Lalamentik. hal. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". wadah. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. Buletin Yaperna. Dengan begini. Dalam hal ini saya (dkk. hanya 2 orang yang perempuan. ". TBBBI edisi II (1993). kuat. Vol. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. Marginalisation and Rural Industry". 1994). No. lemah. Cet. LPK2I.Catatan 1. bodoh. Rinehart and Winston. 306--312). lih. Dengan pendekatan verbal. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. 1. 3. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". juga Kweldju (1991). 5. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang.). 2. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. No. hal. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak.H. dominasi lelaki.. ketimpangan gender. 24 Agustus 1996. Siusana Kweldju.M. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Muh. supremasi kekuasaan lelaki.. Vol. An Introduction to Language. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. bermain boneka). Periksa: Samsuri. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. 1975: 14--23. 1994. tak berdaya. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. 4. V (Fort Worth: Holt. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. Oktober 1996. Mei 1996. 1. dan bahasa Indonesia. Edisi V. Warta Studi Perempuan. . khususnya bab "Language in Society". dan alat budaya. No. bermain layanglayang). Kebudayaan. Prisma XXV/5. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. 7--18.C. subbab 'Language and Sexim' (hal. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. dari 11 penyusun. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. Inc. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. Lihat Arief Budiman. abang.

J. He follows through.. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. you answerd. 1986. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). F. 9... The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. two at noon. Jupriono. . Women.. Jakarta: PT Gramedia.. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. she's picky . she's been around . New Delhi: Kali for Women. Coates.. D. When you say Man. London: Longman. You didn't say anything about women. mengasuh anak." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134).. S.. 1981.. Lih.. Budiman.. yaitu menstruasi.. Lih. 'Man'. Harding. What is Patriarchy. Miller. and three in the evening'. Kirk. LP3K Multimatra.. Spender. sebab lelaki juga (harus) bisa.. Opcid. J.. 1986... . hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita".. melahirkan. Fromkin dan Rodman.. Everyone knows that.. merawat rumah bukan monopoli perempuan. memasak. Reliability and Validity in Qualitative Research. A. 1983. hal 307. n.7. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. He exercises authority diligenttly.L. K. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. 23 Juni.. lebih tegas lagi. 1986). she's power mad . you include women too. Tempo Interaktif. Bahkan. 1997. . 1990. D. He's closemouthed. Ashen. she slept her way to the top. Pembagian Kerja secara Seksual.. He is a man of the world. Dalam pandangan kelompok ini. dan F.. Daftar Pustaka Bhasin. dan bukan kodrat (nature) perempuan. she's hard . New York: State University of New York Press. A businessman is good on details. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. Language and the Sexes. 8. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. berikut ini dikutipkan beberapa saja. He climbed the ladder of success. II/16. 1980). The Science Question in Feminism (Ithaca.. dan M. He stands firm. 6) menulis: "A businessman is agressive. 1995. He isn't afraid to say what is on his mind. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. a businesswoman is pushy . a man of great learning". Frank. New York: Cornell University Press. Beverly Hills: Sage Publication. she doesn't know when to quit . she's mouthy . Sebagai contoh. she's secretive.

Aktivitas noninstingtif--yang hanya . inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Kebudayaan. seakanakan yang salah memang budayanya. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. sebagai matra sentral Feminisme. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. Mengapa BI memihak lelaki.Kweldju. BI akan dibedah dari perspektif gender. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. 1996. Bahasa Indonesia. S. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. dan implikasi kemasyarakatannya. Dalam pengertian yang luas. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . BI bias maskulin. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. pemakaiannya. Di sini. 1993. Singkat kata. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. seperti yang banyak dipahami orang selama ini.. Samsuri. Dengan perspektif gender.. senang atau tidak.

Maka. Dilihat dari kemurniannya. Dengan ini. tindakan. berupa tuturan bahasa. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. telaah ini bersifat interdisipliner. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. sistem religi. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. tindakan. 1964: 79). 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. kesenian. bahasa juga merupakan wahana budaya.3) Akan tetapi. masyarakat. dst. Dengan ancangan ini. Dari segi kebahasaan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. Sebagai human instrument. menarik diungkap di sini keyakinan J. terutama dalam menyusun kategorisasi data. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). yang membentuk realitas sosiobehavioral. yang akan membentuk realitas simbolis. sistem ekonomi dan mata pencaharian. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. hukum. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. dan bahasa (Koentjaraningrat.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Dalam hal ini. Soalsoal sosial-politik.H. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. 1986). dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller.Dengan pendekatan verbal. Greenberg (Samsuri.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Di samping sebagai bagian. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). Sebagai wahana budaya." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Untuk diskusi ini. Bahasa adalah cermin budaya. kekerasan. "bahasa menunjukkan bangsa". ini tidak keliru. sistem kemasyarakatan. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. Padahal. Untuk telaah ketimpangan gender pun. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. dan benda karya budaya. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. Ingat. interaksi manusia. yakni tuturan alamiah keseharian.1) Itulah sebabnya. Topik bincang . data yang diambil tergolong data lunak (soft data).

manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. induk. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. penyebutan keberadaan atau tindakan. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Alih-alih dengan itu. dewi. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. Atau. putri. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. pada beberapa suku. dan bukan *bapak kota. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. predikat. dewi malam ('bulan'). Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. Riyanto yang sudah almarhum itu. putri malu (sejenis bunga). saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten.dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". dan ratu adil. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. dan inisiatif pengucapan. misalnya. seorang artis yang bernama Lisa A. ibu pertiwi. *bapak pertiwi. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. induk semang. misalnya. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. dan ratu. Riyanto. nuansa kesan yang memancar adalah . Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. dan kelompok sosial lain. "ibu kota. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. etnis. *putra malu. Setelah berumah tangga. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. dan *raja adil". *jago semang. *dewa malam. nenek. Maka. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. Dengan memakai ibu. nenek moyang. keniscayaan struktur. *kakek moyang. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. termasuk dalam hal menerima sebutan. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan.

orang bisa menepuk dada. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. Siapa pun tahu. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. raja copet. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. dan memang tidak harus jantan. "bandot". *ratu copet. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". kepasifan.A. "*Ibu Koperasi". *babon nggambar. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. raja judi. dewa maut. anggun. R. dan jelas bukan *ratu judi. bapak koperasi. "bawon". Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. Jadi. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. kesabaran. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. itu soal lain. Semua setuju. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang .kedamaian. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. misalnya. memang. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. jago nggambar. indah. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. Masalahnya. perintis koperasi itu Mbak Tutut. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. dan damai. diam. saya mau ke belakang". menjijikkan. harus "dihaluskan". yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Kata pelacur. agresif. pemberani. bapak pembangunan. Sehubungan dengan kajian ini. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Seseorang yang sedang makan siang bersama. tenang. "gigolo". diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Bung Hatta "Bapak Koperasi". Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. ketenangan. Akan tetapi. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. jago matematika. dewa perang. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. konotasi yang muncul berbeda. Dalam kosakata BI kontemporer. dan tiba-tiba perutnya mules. Perasaan menjadi lega. Tentu saja. *babon matematika. "teko". Layak dipertanyakan kebenaran ini. macan'). raja siang ('matahari'). dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". garang. memang ada. *ibu pembangunan. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. *ibu pendidikan nasional. dan agresif itu. karena dipandang vulgar. norak. *ibu koperasi. bapak pendidikan nasional. untuk sesuatu yang bersifat garang. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. Agaknya sudah menjadi "kodrat".

Bu. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. nggak juga. Hebat. saya belum siap diprotes. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". Untuk ini. WK) berpenghasilan tinggi. Maka. Saya: Gaji segitu besar lho. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. barangkali kembali ke pelacur lagi. nanti. mengajar. manakala saya tanyakan berapa gajinya. Jadi. remeh. WK : Ah. Masalahnya. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. jadi tidak sekadar melengkapi. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. WK : Ah. gaji tinggi melebihi suami kok malu. Atau. Lalu. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Karena beban kondisi ini. misalnya. Mengherankan. saya kan cuma istri. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Mereka malu mengakui.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. atau alumni madrasah tsanawiyah. jika PTS dipilih. hanya sekadar membantu suami saja. Bu. ganti lagi dengan yang lain. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. WTS pun mesti dihapus. Dan. makna kata menjadi enteng. Pernyataan "cuma istri. Toh mereka merasa . tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Itu kan menurut situ. Masalahnya lagi. Jika boleh. Dengan demikian. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. Cepet kaya. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. sebagai survival strategy. akan sering muncul di sekitar kita. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. Ini kan di atas gaji suami. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS).

Cuma perempuan. Ee . semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. Nduk! AP : Mbok.. Nduk. mengalah. sebab ramai. kita itu kan perempuan to.hanyalah figuran pendamping belaka. Aneh. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. patuh. Dengan standar ganda ini. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Padahal.. Aku kan bininya. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Nduk.. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah.. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. ingat kamu itu perempuan lho. Nggak ada ceritanya. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Kita ini orang kecil. Perempuan saja kok macem . perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. tapi ini kan duit laki saya. Lurah kok mau dilawan. Lagipula. Siang keras. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. kok di sini dipotong orang seenaknya. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga.. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. Jadi ya termasuk duitku juga. melawan. Dipikir . perempuan bisa menang.

mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. sempurna sudah kekalahan mereka.. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. seperti lingkungan kita ini. Aku bermain layang-layang. Ibu ini tak salah. Tentu saja. Ini urusan lelaki. Sebagai bandingan. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. ini urusan lelaki. Masak mau menuntut pak lurah. . Ibu menjahit baju. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. "Perempuan saja kok macem-macem.-macem. Biar dia yang ngurus. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. kita 'kan lelaki. Apa sih jeleknya orang ngalah. Ibu memasak di dapur. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. bahkan tak tahu diri. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Lelaki saja kok macammacam. percakapan. salah satunya dalam dunia pendidikan. perhatikan dialog rekayasa berikut. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Ingat kita ini kan lelaki. Sementara diam dan nerimo saja. *Bejo: Iya ya. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Ini urusan lelaki. atau peristiwa tutur lainnya. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. . Kan nggak pantas. Maka. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Oleh karena itu." katanya. khususnya dalam buku-buku bacaan. 1979: 205). 1981). Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana.. Malahan. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Maka. Adikku yang manis menimang boneka. dalam wacana di atas.

boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . Akan tetapi. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. kesan remeh. sedangkan ayah sedang membaca koran. penting. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Akan tetapi. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. pantas dikenakan pada perempuan. Ibu sedang memasak. hanya layak untuk lelaki. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. Pada kalimat (1). Jadi. kalau boleh menduga. yang memang membahas kalimat dan wacana. ini bukan barang aneh. hasilnya sama saja. kecil. mitos soal-soal besar. Kalau dicermati. (460) 4. 1. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. Malahan. bahkan mungkin lebih negatif. misalnya. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). entah sadar entah tidak. (477) 7. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). (hal. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. (6). hanya seorang yang perempuan. Zainal Abidin. jika bab-bab lain ditelaah. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. (5).7) Sebutan Negatif. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Sementara. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. yang hanya mengganggu saja. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. sepele. dari perempuan. Coba diandaikan. itu mungkin saja. 427) 2. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Banda Aceh. Direktur RSU Dr. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. (3). menohok perempuan. sedangkan pada kalimat (2). dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Siti masih sering pulang malam. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Dokter H. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Padahal. Ayah sudah berangkat ke kantor. atau malah pagi buta.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Begitulah. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. yang menentukan segalanya. Jumat malam meninggal secara mendadak. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. Akan tetapi. (438) 3. Kamaruzzaman (52 tahun). (463) 5. (473) 6.

segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. rendah. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". dll. lamban. Maka. agak kecil. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. sudah "kodrat". dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". dan rasional. menurut pengamatan D. "*lebih betina". rujukan. Barisan lelaki dianggap superior. tebal) dan bukan yang minor (ringan.15cm itu memang tergolong relatif tipis). hakikatnya. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. Oleh karena itu. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran.15cm. pasif. Maka. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. sampai sangat kecil. misalnya. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. misalnya mencakup dari sangat besar. dasar betina. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0." (biarpun 0. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. seorang perempuan yang "tomboy". hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. memang tidak ada "*sangat lelaki".15cm". besar.perempuan". tegar. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. melontarkan interupsi. menempati kesan buruk. standar. Bahkan. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. agak besar. tinggi. Sebagai standar. banyak. Jika ungkapan mulut perempuan. cengeng. yang tidak negatif. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. Sebaliknya. jantan >< betina. "tinggi". sentimentil. Barangkali. sedikit. lain fakta. misalnya. feminin >< maskulin. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. lain konsep. Oleh karena itu. Dalam kontinum tersebut. Spender (1980). Mengapa demikian? Ya. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. itu sudah semestinya. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. malu-malu. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. misalnya. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. Dalam realitas empiris. Kontinum standar "besar". Akan tetapi. demikian juga "berat". Lelaki yang terkesan klemar-klemer. bandingan. kecil. tipis). Padahal. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. "*agak perempuan". hakikatnya. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu.8) Maka. dan "banyak". misalnya. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. Oleh karena itu. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? .

Sebab.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita.9) Lelaki memang menjadi standar. bukan kodratnya perempuan. Umumnya orang. malu-malu. untuk konsep manusia. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. bahkan lebih gila lagi. Artinya. "belum manusia utuh". dan bukan *Woman Made Language. sekali lagi. Itu 'kan khas perempuan. 11. yakin. dan bukan woman. Spender mesti meminjam dulu kata man. Denggan kondisi ini. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. artinya sudah standar. orang akan mempersembahkan konotasi positif. sastra. Maka. sedang perempuan substandar. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). "polisi" saja. sedangkan perempuan. 10. akan tetapi jika disebut woman. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. orang pun latah. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. Bukankah standarnya selalu "celana. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). "sastrawan". "kamu". Maka. untuk menyebut manusia pada umumnya. dan polisi wanita (polwan). ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. sastrawan wanita. sehingga menjadi wanita wartawan . dan bukan woman. Cowok atletis itu malu-malu. grogi. entah lelaki entah perempuan. orang meminjam kata man. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. apakah orang sudah paham pasti. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. Dina memakai celana. "aku". "rok mini. kalau disebut man. misalnya. Maka. lelaki itu standar. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. ketika D. Sebab. Dalam kebudayaan Barat. Maka. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. ini tercermin dalam bahasanya juga. keluar keringat dinginnya. yang berbau perempuan itu nonstandar. Lelaki pakai rok? "Ah. tetap saja. Jangan lupa. tetapi jika yang disebut mahasiswi. 9. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. layak saja. Dalam bahasa Inggris. Dalam keadaan terpaksa.8. grogi" bukan standar. Doni mengenakan rok mini. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). akan bertindak aktif dan menuntut. . ini harus ditegaskan lagi. Biarpun begitu. PD". dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. sabar atau tidak.

berkuasa. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. melainkan juga realitas kultur. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. misalnya. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. isyarat dan perhatian. "bercerai dari". kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. tampak isi". dan "diceraikan oleh". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). aku masih bisa menerima. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. goblog. dan pilihan konteks situasi yang tepat. bebal. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan.1. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. Tapi. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. perpacaranan. berkedudukan. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". masalahnya dia itu selingkuh. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. perkencanan). dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. 2. Oleh karena itu. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. apa salahnya. bukan karena struktur. dalam dunia komunikasi (pergaulan. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Tetapi. tak ada pilihan lain. Maka. soal bahasa bukan hanya struktur.. seorang perempuan dapat "kawin dengan". Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. Biasanya. Alwi dkk. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. Maka. 1988. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . memprakarsai. meskipun sebenarnya aku masih cinta. "tidak langsung buka kulit. atau resmi nikah. atau mungkin sebenarnya mengerti. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. perempuan bereaksi. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. "minta cerai dari". dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Dalam kultur masyarakat kita. Tetapi. predikat (P). aku akan menceraikannya. tetapi tidak transparan. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. 1993). Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam.

aku ragu. semacam WTS. akan kusayangi dia. Maka. Akan kucium keningnya. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. pandangan hidupnya. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. Apalagi inisiatif ekspresi. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. apa dia mau. dan (f) sebutan penstandaran gender. Mengapa? Ya itu tadi. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. Aku sangat mencintainya. lain tidak. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Tetapi. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. keluarga/perkawinan. Jika nanti sudah menjadi milikku. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. dan inisiatif ekspresi. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Sebutan pelecehan martabat gender. khususnya terhadap eksistensi gender. (b) sebutan pelecehan martabat.

Dalam posisi yang serba timpang ini. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Edisi V.. An Introduction to Language. . subordinasi perempuan. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". ". Siusana Kweldju. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. lemah. Inc. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Muh. supremasi kekuasaan lelaki. dan hegemoni pria. masyarakat. Periksa: Samsuri. lih.. V (Fort Worth: Holt. Rinehart and Winston. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. wadah. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior.. bahasa ini mungkin bergender lelaki. 1993). Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. Vol. Asfar. Catatan 1. 1981). Mei 1996. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. "Gender. Konsep ini dekat dengan seksisme. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. wanita dijajah pria . bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. 3. dan bahasa Indonesia. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . lelaki mendominasi. khususnya bab "Language in Society". sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. bodoh. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 1975: 14--23. sedang perempuan tersubordinasi.. Prisma XXV/5. 4. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. No.. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. dominasi lelaki. Dengan begini. 306--312). baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Buletin Yaperna. kuat. Warta Studi Perempuan. Dengan pendekatan verbal.berkembang. Dengan begini. Kebudayaan. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". tak berdaya.. Lihat Arief Budiman. 1994. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. 2. 28 Oktober 1986. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. pintar. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". Cet. Marginalisation and Rural Industry". Dengan demikian. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. terutama dalam menyikapi gender. subbab 'Language and Sexim' (hal. dan alat budaya. ketimpangan gender.

'Man'. hanya 2 orang yang perempuan. dan bukan kodrat (nature) perempuan. 6) menulis: "A businessman is agressive. No. He exercises authority diligenttly. bermain boneka).. 1. memasak. Fromkin dan Rodman. LPK2I. 7--18. 1986). merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture).. she's secretive. He follows through. He isn't afraid to say what is on his mind.. Daftar Pustaka . a businesswoman is pushy . sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. Ph. Lih... and three in the evening'. He stands firm. When you say Man. you include women too. TBBBI edisi II (1993). dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan... 1994). Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD.. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. You didn't say anything about women. 5.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. Dalam hal ini saya (dkk. two at noon.C... Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38.. hal 307. 1. she's power mad .). 8. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. melahirkan. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. .. Dalam pandangan kelompok ini. Vol.D. Lalamentik. 4. hal. No..... Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. 1--14.. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Lih. bermain layanglayang). Everyone knows that. The Science Question in Feminism (Ithaca.. Opcid. berikut ini dikutipkan beberapa saja. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. she's picky . 1980). Oktober 1996. mengasuh anak. He climbed the ladder of success. dari 11 penyusun.. Sebagai contoh. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal.M. 24 Agustus 1996. merawat rumah bukan monopoli perempuan. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. D. Bahkan. New York: Cornell University Press. He is a man of the world.. she's mouthy . you answerd..H. He's closemouthed. A businessman is good on details. she doesn't know when to quit ." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. hal.. 7. 32.. n. S. lebih tegas lagi. 6. abang. Harding. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Spender. . Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. Vol. sebab lelaki juga (harus) bisa.5. 9.. she's been around . Warta Studi Perempuan. she slept her way to the top. 7) TBBBI edisi I (1988). juga Kweldju (1991). Stereotipi Seks". a man of great learning". hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". she's hard . selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. yaitu menstruasi.

What is Patriarchy. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. 23 Juni. jabatan. Language and the Sexes. Jupriono. 1983. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar.L. Dalam kebijakan institusional tergambar . dan implikasi kemasyarakatannya. dan F. sedang lelaki penguasa kehidupan. D. Kweldju. Frank. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. 1986. 1993. Miller. Coates. Pembagian Kerja secara Seksual.Bhasin. Beverly Hills: Sage Publication. Bahasa Indonesia. J. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. sedang lelaki tidak dipersoalkan. II/16. sedangkan lelaki pemberi identitas. dan M. J. 1981. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. London: Longman. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. Budiman. S. K. pemakaiannya. F. sedang lelaki aktif. LP3K Multimatra. Kirk. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Tempo Interaktif. Jakarta: PT Gramedia. A. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. Women. 1986. New York: State University of New York Press. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. 1997. Reliability and Validity in Qualitative Research. organisasi. prestasi. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. 1996. 1995. perempuan penerima identitas. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. 1990. New Delhi: Kali for Women. Samsuri. Ashen. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”.

realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. 2001). menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. . dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. sistem religi. Meskipun demikian. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa.. Dikatakan oleh Labov. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. sebab dari sudut pandang gender. ungkapan. dengan kata lain. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. Dikatakan “secara garis besar”. sistem ekonomi. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. Bailey. Beberapa penelitian terakhir. misalnya.). Demi kerincian. identitas. Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. dll. sistem sosial. 1993). fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. artinya. Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. bahasa adalah cermin kebudayaan.jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. Sebagai unsur. misalnya. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. tetapi tidak diakui. 1982). Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. 1986). pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. kosakata. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian. 2003).

dan Belanda. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. Realitasa ini. Di samping itu. 1981). kosakata lebih sedikit. 1991). lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. Dalam fonologi. irasional. lebih subordinat. Coates. Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. bodoh. Dalam berbahasa. kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. dan fonologi. Akibatnya. Bahkan. USA. dan lebih inferior. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. yaitu kosakata. kurang meyakinkan. pasif. sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. Dalam gramatika. gramatika. bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). terlalu boros kata-kata. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. dibandingkan dengan kelompok lelaki. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. fonologis. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. berbicara lebih sopan. 1984). 1991). manja. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. dan tidak mengumpat. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. 2001). dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. dan gramatika. kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. 1991). sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. Dalam hal kosakata dan ungkapan. menurut (Coates. 1982). dan remeh (Kramarae. emosional. 1979). sehingga terkesan kurang tegas. juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . Dalam ragam bahasanya. 1981. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva.

sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. termasuk mengajari anak berbahasa. dan dominan. andai saja suami itu bodoh. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. sedang lelaki dikodratkan aktif. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. mengasuh dan mengajari anak. Pertama. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. dan . Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. Tetapi. misalnya memasak. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). dan subordinat adalah perempuan. Menurut Jespersen (dalam Kweldju. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. Kedua. Sebagai ibu rumah tangga. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf.majemuk setara. termasuk ungkapan alah Mak. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. Kweldju. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. mencuci. 1993). 1993). sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. bagaimanapun. sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. 1979). superior. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. inferior. Oleh karena itu. menjaga perasaan. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika.

1985). Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. Keempat. memasak. atau pun *penyimpan. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. Ketiga. lulur. olah-olah. Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. macak. 2003). merias diri. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. malam jadi alas untuk ditindih). Boleh saja. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. *suami gelap. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. melahirkan) atau pun neng omah. dalam bahasa Jawa pun. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. yang justru lebih kaya. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. Ia mesti pasif menunggu. . tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. istri gelap. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. masak. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. Sebagai bandingan. manak (memasak. mlumah. misalnya. Kuntjara. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. tidur terbuka menelentang) (Sobary. sumur. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. misalnya *pemiara. yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. Linda atau Bu Astuti. mbegagah ngablah-ablah (di rumah. dan jika istri menjabat. 2000). Dalam dunia prostitusi. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. kasur.menghormati lelaki (suami) (Spender. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. sungguh tidak perlu diragukan. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. suami bebas atau tidak usah nama baru. Sementara. 2003). Maka. di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. atau pun simpanan.

dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. asal masih mau sedikit berdandan saja. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika. misalnya. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. ceramah. misalnya. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan.: Bpk/Ibu/Sdr. peranannya . “gaul”—oleh sekitarnya. *ibu pendidikan. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. Bapak-bapak yang saya hormati. disamakan dengan banci. perangai Eny yang tomboy.: Ibu/Bpk/Sdr. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. adalah Bapak-bapak. *ibu koperasi. Sebutan profesor. organisasi. pesilat. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. pesilat wanita. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. Ketujuh. “masa kini”. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi. bapak pendidikan. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. Misalnya. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. Jika dilekatkan kepada perempuan. prestasi. Contoh lain: bapak pembangunan. rapat. suami yang istrinya menjadi kades. … dan tentu bukan *Kepada Yth. kesebelasan. Sebaliknya. khotbah. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. … Kedelapan. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. kesebelasan wanita. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. Dengan kata lain. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. Jika kosakata itu berbau perempuan. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. Julukan jago matematika.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). Tetapi. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. Keenam. Ibu-ibu yang saya hormati…. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. konotasi semantisnya cenderung negatif. istri akan dipanggil Bu Kades. bapak koperasi. biasanya menjadi profesor wanita. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. Kelima.

hanya kerja sambilan. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. Kesembilan. dengan malu-malu. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. penilaian negatif. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. atau peluru dan wanita. untuk tambah-tambah saja. sedangkan lelaki pemberi identitas. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear. Secara psikologis kultural. sebagai berikut. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. penghasilan suami cuma berapa. organisasi. *Hari Kartini. wanita. Misalnya seorang istri yang berdagang. sedang lelaki penguasa kehidupan. misalnya dalam ungkapan harta. Sebaliknya. Sebagai bagian dari masalah. Dia akan mendapat cap buruk. sedang lelaki tidak dipersoalkan. Bahkan. lelaki tidak menjadi masalah. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. dan Hari Ibu. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. atau kalau diakui. prestasi. Dalam hal demikian. sedang lelaki aktif. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. dan *Hari Bapak. 2003). terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. Hari Kartini. tetapi tidak diakui. tahta. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia.

Santoso et al. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. “Gender. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. London: Longman. Modern Sociolinguistics Issues. Dalam B. London: Newbury House Pub. N. buku Esther Koentjara (2003). padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. C. sebagai kajian sosiolinguistik. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. D. Surabaya: Fakultas Sastra. A. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. 1992. 1982. 2003. Bahasa Lelaki?”. D. Wishart & L. Dalam B. misalnya pendekatan psikodinamis. 1979. Sari. dan sosiokultural (Kweldju. Universitas Kristen Petra.C. 1986. Februari. Pertama. 1991. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”. J. dan Kekuasaan”. Rahayu.. Maka. Inc. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. E. Sekadar. 1993). 1981. Hudson.C. Parafrase 4(1) Februari. Kuntjara. 2003. Bahasa. FSU in the Limelight 5(2) Juli.). Gender. R. dapat dimanfaatkan dalam hal ini. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). A. “Bahasa Indonesia.). (ed. Ketiga.I.. Parafrase 3(1). R.perempuan sebagai golongan kelas dua. Oxford: Basil . 1993. jika kajian ini dilanjutkan. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. data yang disajikan amat terbatas. Inc.J. dan Kekuasaan. Lakoff. 1997. Men. 2003. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Jupriono. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. Reichman (ed. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. S. Kuntarti. New York: MacMillan Pub. Women. tetapi tidak diakui. Kedua. menyodorkan saran. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. Cambridge: Cambridge University Press. K. Kweldju. Jupriono. Kramarae. The Ethnography of Communication: An Introduction. selayaknya diadakan pengayaan data. Sociolinguistics. M. Daftar Pustaka Acuan Budiman. “Talking Like a Lady”.A. Warta Studi Perempuan 4(1). Coates. bahasa. Saville-Troike. kognitif. Co.

Pada pengajaran BIPA. (Tesis tidak dipublikasikan). Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). P. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. D. 2003. M. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. Program Studi Magister Psikologi. Spolsky. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Harmonsworth: Penguin Books. Program Pascasarjana. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. 1984. Sudarwati M. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. Sociolinguistics. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. Sociolinguistics. 1985. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal.Blackwell. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Oxford: Oxford University Press. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. Spender. B. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . Untag Surabaya Trudgill. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. “Wanodya” (Hal. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. 2001. Dukungan Sosial Suami. 2000. Man Made Language. Di sisi lain. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Sobary. London: Routledge & Kegan Paul. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1).

charming. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. dan gaya bertutur. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku.. khususnya bahasa Inggris. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. Disadari atau tidak. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. dsb. sort of. stewardess). semantik. ya kan?. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat. Pada bahasa Inggris. Interupsi ini dilakukan .. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Akan tetapi. (6) penggunaan katakata penguatan: just. turqoise. Oleh karena itu. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. juga Ponynton (1989). (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin. Di lain pihak.. lucu. Secara umum. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. so (I like him so much. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. dsb.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. dsb. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi.). Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. biru laut. gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati.

Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. sesuai dengan situasinya. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. baik masyarakat barat maupun timur. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. formal dan informal. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat.untuk ―membungkam‖ lawan bicara. dan berperan sebagai bahasa T. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. Oleh karena itu. Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Menurut Holmes (2001). gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. mereka menggunakan bahasa standar. untuk menimbulkan rasa aman. Selain bahasa vernakular. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Di lain pihak. bentuk . Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin. Secara tidak langsung. Masih menurut Holmes (2001).

Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. deh. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu. . terus? Jadi. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. Sebentar. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Ya. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Orang pertama nyebur. si Clement ini disuruh mundur. gitu. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. itu bagus sekali mas Erdam. Silakan mas Ali.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular.

Martin. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). Ketika mengajarkan bahasa vernakular. USA: Cambridge University Press. Daftar Pustaka Holmes. An Introduction to Sociolinguistics. Intercultural Communication in Contexts. 1996.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya.ii. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . California: Mayfield Publishing Company. Chambers 1995:102)i. — Presentation Transcript  1. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. Judith N and Thomas K Nakayama. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. Janet. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. 2001. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender).Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. McKay. 2000. Sociolinguistics and Language Teaching. Malaysia: Longman. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA. Oleh karena itu. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. Sandra Lee and Nancy H. Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. Hornberger. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar.

Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). dibandingkan dengan wanita 3. yaitu perbedaan tinggi nada suara.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi.bentuk bahasa baku.b. 6. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟). dan “sun” („matahari‟). Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. den pendidikan sosial.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi. 5. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”. 6. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6.3. Selain itu. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944). Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”. serta dapat hiduplebih lama6. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut.D. “ball” („bola‟). Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. “malam”. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi. 4. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa.pendidikan. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. iii. sebuah golongan AS. 6. menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa. “seniman”. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur.5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki. Wanita lebih baik dalam membaca.2.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. “steward”. „Wanita.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. b. begitu juga sebaliknya. “sabun”. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. . Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial. sertac. 6. diantaranya:1.3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri.

Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. dan manipulasi pemaknaan. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. dominasi. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. kelamin. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. *** . Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. Perempuan. hegemoni. atau ideologi. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa.Bahasa. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika.

Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. politik.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. ekonomi. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan . Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. dan identitas. subjek. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. atau kaum tunduk. subjek. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. dan bahasa. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. kaum kalah. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. agama. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. dan identitas perempuan. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. dan identitas. subjek. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas.

politik. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. kesusastraan. Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas. Begitu. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis.peran. atau media massa. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik.

istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. (7) idiologi linguistik. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. Daiam kebudayaan yang berbeda. 1. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. dominasi. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Perbedaan. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. bentuk dan panjang bidang vokal.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. dan netral (Matthews 1997: 142). laring mereka lebih besar. Namun. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. (4) jender dan variasi fonetik. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. adaiah benar-benar alamiah. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. (6) jender dalam lintasan budaya. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. feminin. (5) jaringan sosial. Ke(tidak)samaan. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. Misalnya. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. dan (8) reformasi bahasa. perbedaan. (2) perbedaan (3) dominasi. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. Di Jepang. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Berkaitan dengan istilah jender. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. terdapat temuan bahwa selama . Pembagian itu meliputi maskulin. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. musik recital akan berbeda-beda cirinya.

Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Sementara itu. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. cara mereka menyapa satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. 1992). Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. dan gejala etiket linguistik lainnya. 2. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa.

Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. 1999: 61). akan tetapi penjelasannya berbeda. (Spender. pada kata running. 3. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. 1991). termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). 1990. (Gibbon. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti . Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. Penjelasan seperti di atas. 1985: 139). seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan.. pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). 1989. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. Perbedaan pola pergE. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan. 1997). kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal..ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. 4. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. seperi Norwich (Trudgill. contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. Tannen. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa. Sementara itu. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya.lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. 1992). 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. Gordon. ditemukan. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. Contoh.

Contohnya. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku.ini. Hubungan antara jender. tingkat sosial. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana. jaringan perkenalan. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. dan sebagainya. Labov (1990) dikutip Coulmas. Jika dilihat dari jenis kelamin. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. 5.1 hal 41. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. teman dan orang asing. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. Seperti tampak pada gambar 3. 2002: 111). perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. punya anak atau tidak. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. etnik. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. jaringan sosial. seperti kelas sosial. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki.

M. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. 1. 1. 6.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. M. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. 7. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. 8. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. baik disengaja maupun tidak disengaja. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja. Reformasi Bahasa . sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut.

Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Karena itu. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita.mereka sama-sama manusia. Di antaranya. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Perbedaan itu. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. berkata kasar dan sebagainya. Kalau sedang emosi. Para ahli otak. maupun cara menyelesaikannya. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Padahal. . Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. atau faktor sosial lain. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. meskipun . Dalam banyak hal. Seperti memukul. Seperti seekor reptil. kelas sosial. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan.Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. Dari bentuk maupun fungsinya. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis.tentu saja . Dalam menghadapi masalah. membanting. ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. cenderung untuk mengandalkan fisik. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. Sedangkan pada wanita.

Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. Selain itu. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Cuma. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. atau bahasa tubuh mereka. seperti sedih dan gembira. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. Kebanyakan pria jika kena stroke.Pada perempuan. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. tidak perlu kondisi seperti itu. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Sehingga. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Hampir di seluruh tubuhnya. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. Sedangkan pada wanita. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Secara struktural. Pada lelaki. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. sayangnya. dibandingkan lelaki. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Dalam hal seksualitas. pada wanita yang mengalami stroke. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. . otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik.

Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Meskipun. tingkah laku. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. masa menyusui. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain. Dan sebagainya. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. 2.a. Sejak usia baligh. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol. kamu akan lulus ujian”. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan. Belum lagi. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Belum lagi. Dan seterusnya. masa membesarkan dan mendidik anak. dalam fisik. ketika mereka melahirkan. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Pada dasarnya. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. • . “lupakan tentang si jelek itu. Nyeri karena datang bulan itu. “banyak yang telah menderita daripadakamu. seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Dan berulangkali terjadi. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. Karena. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk.

S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai.b. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”. Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya.2 . J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i . menjelek-jelekan pacar. Terdiridari 3 management strategy. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality). Katakan bila kamu marah. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting. Misal : membaca email tanpa ijin. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora.Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. 2.c. kesal. mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. Lying (Berbohong) .Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman. 2.3 3. diantaranya :1.Sampaikan perasaanmu. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play.

orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . Jadi. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu.( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. Carl Camden. diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar. Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan. a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . misal : untuk uang ataupun materiil. Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya.Definisi menurut Random House Dictionary. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h .Berbohong sebagian besar secara verbal. AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta. jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) .

Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur). begitu juga kebohongan. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang. 21. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan.8 persen untuk kepentingan pembohong. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi.b i c a r a . Sangat sulit . mengenai cita rasa atau masakan. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. 2. Hasil analisis Camden.5 persen untukkepentingan orang lain. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk.D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong. Banyak kebohongan efektif.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong.

Denganmengetahui penggunaannya. Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur. Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi. seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap. Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. bertukarpikiran atau pengalaman. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh. m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong. namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f .untukberbohong non verbal secara meyakinkan.

Banyak orang yang egosentris. gosip adalah omong kosong atau rumor. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. masalah. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan. Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. b u k a n kesembarang orang. keluarga. Gossip Menurut Random house dictionary. karir. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. kadang-kadang self-talk. M e r e k a i n i l a h o r a n g .7 . Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. prestasi dan j u g a kegagalan).i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a .terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . kisah cinta.

Pada penolakan. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan. termasuk juga komunikasi orang tersebut.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Dalam konfirmasi. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. 8 twitter. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang. anda tidak sependapat denganlawan bicara. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN . sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan.Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain.” Atau “dia menganggap kamu …. interaksi memiliki makna yang berbeda. Dalam berbagai bidang ilmu. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain.b. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia …….Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc.

dll. 8. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. namun dinyatakan sama. 9. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. seperti layaknya. 20. 19. 18. 15. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. 11. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. MAJAS SINDIRAN 1. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. 13. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. 16. 7. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. 24. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). 6. bagaikan. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. 5. 23. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. 10.1. . 21. ciri khas. 14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. 3. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. 22. 3. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. 2. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. 4. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. melalui kiasan atau penggambaran. 17. 12. dll. bagaikan. atau atribut. 2.

Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. 21. tetapi dengan makna yang berlainan. namun sebenarnya keduanya benar. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. frase. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.4. 25. 7. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. MAJAS PENEGASAN 1. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. 10. 8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. 5. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. 13. 2. atau parodi. 15. frase. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. 3. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. dll. 14. 17. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 22. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. dihubungkan dengan kata penghubung. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. 19. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. 23. 6. 24. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 20. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. 9. 18. 5. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. MAJAS PERTENTANGAN 1. 11. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. kebiasaan. 16. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. sehingga menjadi kalimat yang rancu. . Repetisi: Perulangan kata. 12. 4. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. ironi. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. atau klausa yang sejajar. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. 3. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. 5. Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. mulai dari hal-hal yang sederhana. Jadi. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. Dalam proses pembelajaran di sekolah.2. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. . Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. 4. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. bercerita dalam pelajaran berbahasa. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. (http://imadesudiana. Pengertian Sosiolinguistik. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. barangkali juga untuk sistem generatif. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. artinya. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. A. dan mengidentifikasikan diri. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. berinteraksi. S. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya ….com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. emotions.go.‖ Di samping itu.wordpress. ataupun kurangnya rangsangan dari guru. Sapir (1921) dalam A.kemdiknas. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. and desires. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas.php) . Sementara menurut H. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. (http://pusatbahasa. bahasa guru yang menekan anak.id/kbbi/index. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya. by means of a system of voluntarily produced symbols. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis. Hakikat Bahasa.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD.

and change one another within a speech community. 9. (Rene appel.blogspot. Booiji (Rafiek. Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . Kedua.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. Wikipedia. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. 8. 5. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. Nababan. Pertama. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat.html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan . mengenai lembaga-lembaga. Fishman. 2. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. 3.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. change. 6. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. Gerad Hubert. 4. Dengan demikian. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1.2forum. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. 2. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Selin itu. 7. the characteristics of their functions. Greus Meijer. 1976:10). 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan.

B Allen dan S. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. Sosiolinguistcs is the study of language operation. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. dan amanat pembicaraan. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . 1975:156). 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran.G. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. dan kedipan mata. Booij. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal.bahasa dan pergaulan sosial. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa.Criper dan H. bahasa berfungsi direktif. kapan. geleng-geleng kepala. bahasa berfungsi fatik. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya. memperlihatkan perasaan bersahabat. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara.) (C. 1975:139). menggunakan bahasa apa. kode. (G. dan apa tujuannya. dan H. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. 1980:81). Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. pendengar. 4.P. 3. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)).Piet Corder. kepada siapa. memelihara. Dalam hal ini. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. topik. Dilihat dari sudut penutur. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia. Karena. J. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. Dilihat dari segi pendengar.J Verkuyl. viewing variation or it social context.E. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC.) (Nancy Parrot Hickerson.G. Maksudnya. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. Dalam hal ini.Widdowson dalam J. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya. Kersten. atau solidaritas sosial. anggukan kepala.

Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . tidak terpaku pada satu ukuran. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Dengan adanya sosiolinguistik. dan sebagainya. Hudson 1996: 2). kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. tidak mempunyai nilai keindahan. di mana bahasa berfungsi imajinatif. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. Kalau kita simpulkan. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. Melalui sosiolingguistik. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. Dengan sosiolinguistik. Holmes 1993: 1. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. Akan tetapi. lelucon. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu.yang akan disampaikan). berestetik atau tidak. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. dan sebagainya. dongeng. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. cerita. dan sebagainya. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai.

Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. B. untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. Oleh karena itu. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. dan pendekatan pemilihan bahasa. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Tujuan 1. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. faktor penanda pemilihan bahasa. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Rumusan Masalah 1.

Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. Pertama. dengan melakukan campur kode. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Kedua. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. Misalnya. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. dengan melakukan alih kode. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis.3. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Ketiga. .

B. peristiwa-peristiwa aktual. dan (4) fungsi interaksi. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. status sosial ekonomi. dan tawar menawar barang di pasar. dan topik harga barang di pasar. keberhasilan anak. Di Indonesia. pekerjaan. (2) situasi. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. ungkapan. kebiasaan rutin (salam. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. rapat di keluarahan. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. dan (4) fungsi interaksi. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. jenis kelamin. (3) topik percakapan. Senada dengan Evin-Tripp. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. yaitu (1) partisipan. meminta maaf. kuliah. (3) isi wacana. . atau mengucapkan terima kasih). (2) partisipan dalam interkasi. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. selamat kelahiran di sebuah keluarga. atau frase. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. permohonan. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. yaitu pemakaian satu kata.

2.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. 5. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. latar (waktu dan tempat). Dari paran berbagai faktor di atas. 3. Berbeda dengan Gal. (2) sekolah. partisipan dalam interkasi. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. dan (2) tipe kosakata. Di Obserwart. situasi. (2) penciptaan jarak sosial. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. 4. dan (4) memerintah atau meminta. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. topik percakapan (isi wacana). dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. fungsi interaksi. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. (3) tingkat formalitas. . Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. dan (4) tingkat keakraban. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. (2) kehadiran pembicara monolingual.

topik. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. misalnya keluarga. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. dan partisipan. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. Sebagai contoh. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). dan pendekatan antropologi.C. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. Giles et al. pendekatan psikologi sosial. hubungan peran antar-komunikator. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). serta Bourhish dan Taylor (1977). Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. agama. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. akomodasi ke atas . Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. ketetanggaan. Pertama. yaitu pendekatan sosiologi. dan pekerjaan. (1973).

psikologi sosial. . Dengan demikian. akomodasi ke bawah. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Sementara itu. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. yakni observasi terlibat (participant observation). penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Sebagai contoh. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. dan antropologi. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Kedua.

Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. Kedua. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. pendekatan psikologi sosial. Ketiga. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . dengan melakukan campur kode (code mixing). dan Masyarakat Multilingual. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Abdul dan Leonie Agustina. 2004. (3) partisipan dalam interkasi. dengan melakukan alih kode (code switching).com. Pertama.BAB III PENUTUP A. DAFTAR PUSTAKA Chaer. Pemilihan Bahasa.blogspot. (2) situasi. dan pendekatan antropologi. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Sosiolinguistik. http://fathur-linguistik. 2009. Sosiolingustik Perkenalan Awal. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. (4) topik percakapan (isi wacana). dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). yaitu pendekatan sosiologi.

Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. pendekatan psikologi sosial. budaya. maupun pragmatis. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. baik faktor sosial. 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. pewarisan harta peninggalan. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. pendekatan sosiologi. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. seperti perkawinan. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. dan pendekatan antropologi. masyarakat multibahasa. psikologis. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). Kata kunci: pemilihan bahasa. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. Namun. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). sosiolinguistik. yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain.

(6) tingkatan variasi linguistik. Fishman.. tahun 1964. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. 1984: 4. serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. (2) kategori pemilihan bahasa. Holmes. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974). dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. 1972. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. berbagai macam bahasa dan variasinya. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. 1976). Hudson. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. 1971. (3) faktor penentu pemilihan bahasa. (2) identitas peserta tutur. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). 1996: 2). Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. . sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh.pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. baik faktor kebahasaan maupun lainnya. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. 1993. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . sosialbudaya. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. Los Angeles. Dittmar. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. sebagai berikut. 1. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. Sejalan dengan rumusan itu.

serta sistem pragmatik. Dalam kajian pemilihan bahasa. kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. (4) act sequence (topik/urutan tutur). yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). (7) norms (norma- . 1996. dan situasional (Kartomihardjo. Hudson. Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. Hymes (1972. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. sistem tingkah laku budaya. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat.Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. 1973. (3) ends (tujuan tutur). Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Dengan demikian. Fasold. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 1981. budaya. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. 1975). Pada umumnya. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. Dalam kenyataannya. Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. dan bahasa asing. yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. baik secara korelasional maupun implikasional. Sebagai aspek tutur. seperti faktor sosialbudaya. 1984. (2) participants (peserta tutur). tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. (5) keys (nada tutur). (6) instrumentalities (sarana tutur). Wijana (1997: 5). pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). budaya. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial.

. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. (3) topik percakapan. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. dengan alih kode (code-swicthing). Ketiga. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. terdapat tiga jenis pilihan. dan (8) genre (jenis tutur). (2) partisipan dalam interaksi. misalnya. Di Indonesia. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). Misalnya. atau berkencan. dan (4) fungsi interaksi. Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages). Pertama. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. Kenyataannya. yaitu pemakaian satu kata. Kedua. untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Faktor pertama dapat berupa halhal. ungkapan atau frase pendek. Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo.norma tutur). pesta kuliah. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. dengan melakukan campur kode (code-mixing). yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). dalam hal memilih.

(b0 kehadiran pembicara monolingual. pekerjaan. dan (d) memerintah atau meminta. seperti: usia. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. dan (d) tingkat keintiman. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. yaitu pendekatan sosiologi. status sosial ekonomi. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi.Faktor kedua mencakup hal-hal. (contoh: direktur-karyawan. (d) usia. (i) relasi kekeluargaan. (c) tingkat formalitas. (4) fungsi interaksi. (2) situasi. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. dan (3) tempat umum. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. dan sebagainya. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. (h) latar belakang etnis. pembicara akan memilih bahasa Guarani. dan mengucapkan terima kasih. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. yaitu (1) partisipan. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. harga sembako. suami-istri. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. olah raga. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. yaitu (1) desa. Dari jabaran di atas. pendekatan psikologi sosial. Pendekatan Sosiologi . (k) sikap kepada bahasa-bahasa. (f) pendidikan. (b) jarak sosial. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. peristiwa aktual. permohonan. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. jenis kelamin. (2) sekolah. dan pendekatan antropologi. (3) status sosial ekonomi. Gal (dalam Grosjean. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. penjual pembeli. dan (l) kekuatan luar yang menekan. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. Berbeda dengan Gal. guru-siswa). Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. (e) jenis kelamim. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. Di Obewart. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. latar belakang kesukuan. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. asal. Di desa. (g) pekerjaan. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). (j) keintiman. Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. (3) isi wacana.

bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga. topik. Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. hubungan peran antar komunikator. dan topik. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. tempat. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. pantai. agama. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. misalnya keluarga. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. dan partisipan. Fishman (dalam Amon. seperti pendidikan dan pemerintahan. . Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. Sebagai contoh. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). Greenfield menyebarkan kuesioner. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. 1972). Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. Analisis domain terkait dengan diglosia. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. sekolah.01. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. dan tempat kerja. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. ketetanggaan. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. 5 berarti semua bahasa Inggris. yaitu: orang. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). dan pekerjaan. gereja. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol. Di bagian lain.

Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Dengan kata lain. daripada berorientasi pada masyarakat. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. Howard Giles (1977. akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. Pertama. Kedua. Dalam kondisi tertentu. akomodasi mengambil bentuk konvergensi. Seperti juga psikologi sosial. kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping). Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). seperti motivasi individu. Bourhish dan Taylor 1977). Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. Giles. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory).Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. Secara normal. Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs). dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang . yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. Dengan pendekatan yang sama. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. Herman membicarakan tiga jenis situasi. situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya).

Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Approaches. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. London: Bastford. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation).T. pendekatan sosiologi. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. 1976 Sociolinguistics. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. 1984: 192). Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. Australia Timur. R. Sebagai contoh. London: Edwar Arnold . and Problems. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. Selain itu. dan psikologi sosial. dan situasional. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. Dittmar. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. psikologis. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. melainkan juga dengan masalah sosial. DAFTAR PUSTAKA Bell. Norbert. budaya. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. 1970: 49). Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. 1976 Sociolinguistics: Goals.

Gal. Clair. Place. Susan M. The Hague: Mouton.).). Rinehart. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds.‖ Dalam Fishman. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. Evin-Tripp. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. Joshua A. Lawrence. England: Penguin Books Ltd. John dan Hymes. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. (hlm. Giles. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. 225-240). Giles. Sociolinguistics. Fasold. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. New York: Holt. Rowley: Newbury House. Many men and women assume that males . London: Academik Press. Greenfield. ed. Howard. 1977 Language. 1972. ________. 1979 Language and Social Psychology. (hlm. Harmondsworth: Penguin. 1972 Direction in Sociolinguistics. Cambridge: Harvard University Press. Ralph. Groesjean. Oxford: Basil Blackwell. 1982. Life with Two Languages.Edwards. Ethnicity. New York: Academic Press. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. In their new book. Gumperz. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. 1972. Dell (eds. 1972 The Sociology of Language. and Winston. 1984 The Sociolinguistics of Society.6 percent higher than those attained by women. 1990 The Sociolinguistics of Language. Susan. 17-35). Howard dan St. John. Fracois. Oxford: Basil Blackwell Publisher. Advences of Sociology of Language. Fishman. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. Women Don’t Ask (2003). Volume 2. and Intergroup Relations. Oxford: Basil Blackwell. Robert. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. 1994 Multilingualism.

When men and women interact. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. Men are expected to emphasize objective fact. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. This is especially true when females use foul language and loud voices. If these stereotypical assumptions are right. Females are thought to be more accommodating. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. Men are expected to be dominant and authoritative. women are thought to be emotional and intuitive. These men give further leverage to their female opponents.are highly competitive. women are supposed to be passive and submissive. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. which causes women to be perceived as less forceful. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. Male negotiators. They have the right to use any . frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. (Deborah Tannen. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. ―you know‖) than their male cohorts. manipulative. As a consequence. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. they allow their female opponents with a bargaining advantage. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. women focus more on the maintenance of relationships. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. and they are more effective using this approach. Men utilize more direct language. During personal interactions. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents.

To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. Play Like a Man. when women are successful. soccer. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. . on a credit/no-credit basis than men (27%). football. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. no matter how thoroughly prepared women are. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. On the other hand. I find this frustrating. regardless of the stereotypes those tactics might contradict. When men are successful. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. fearing that competitive success will alienate them from others. Even when minimally prepared. This factor causes male success to be overvalued. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. (Gail Evans. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. and other competitive athletic endeavours. and female success to be undervalued. Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. they tend to feel unprepared. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. Win Like a Woman 80 (2000)). Most boys are exposed to competitive situations at an early age. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. basketball. They have been encouraged to engage in little league baseball.techniques they think appropriate.

I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. Several people suggested to me that while the average results might be equal. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. while more competitive.STATISTICAL RESULTS Since 1973. I have discovered that practicing attorneys. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. Risk Taking and Negotiation Performance. If this hypothesis were true. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. Charles Craver is a Professor of Law. Craver & David W. Many individuals believe that men are highly competitive. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. the male results would be more widely distributed. ―Gender. (Charles B. Over the past thirty years. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. the results of which affect their course grades. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. Over the past thirty years. George Washington University. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. generating more results in the mid-range. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. Barnes.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). business persons. Reader Comments . My students participate in a series of bargaining exercises. The average results are almost similar. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender.

2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik.com. teori kesantunan berbahasa. bukan pula dari aspek psikososial. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. You can find in-depth negotiation articles. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part . M. Bookmark the permalink. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. negotiation Q&A's. terkecuali dalam telaah pragmatik. bukan hanya dari aspek tata bahasa. namun juga dari aspek etika. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www.S. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. Please find below a suggested description to accompany your link. teori kesopanan berbahasa. meskipun disebut sebagai horison baru. 2011.we ask only that you include a clean html link back to this site. S.negotiations.. pragmatik. preferably to this page. business cartoons. . Kesantunan dalam berbahasa. negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27.

karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. dan Levinson. tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. agar santun. baik oleh pakar atau linguis. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). Kesantunan berbahasa. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa.‖ baik milik penutur. Selain itu. ―Wajah. sementara itu. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. ini bukan dalam arti rupa fisik. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. Teori yang diulas singkat ini.‖ dalam hal. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. Brown. secara tradisional. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Selain itu. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). maupun para pembelajar bahasa.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. yang membawa ideologi liberal. namun ―wajah‖ . bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Teori Wajah oleh Goffman. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. maupun milik mitra tutur. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Brown. 1995). konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun.

sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. merupakan ―pinjaman masyarakat. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. Pada wajah.dalam artian public image. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. dan sebagainya). 2008). berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. Untuk lebih memahami konsep wajah ini. pacar. apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. atau dimiliki secara individu. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. termasuk dalam berbahasa. pengakuan. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . atau anak dan ayah). dalam tradisi Cina. Dalam teori ini. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Meskipun demikian. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial.. ketakformalan. konco. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. Oleh karena itu. artinya. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. dalam konsep kesantunan berbahasa. tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. 2008:2). bebas dari gangguan pihak luar. Sementara itu. pemabuk. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Wajah. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. baik wajah positif maupun negatif. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. dan kesekoncoan. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus.

melalui konsep wajah positif. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. tapi so lewat jao. maaf nih. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. nanti baru nae oto dari bawa saja. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. tapi mereka tidak mau). rasa kekoncoan (camaraderie). Dari aspek kesopanan. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Sejenak jika dilihat. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. dan sebagainya. numpang tanya. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas. kesekoncoan. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. . konco. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. tanya sadiki. Tuturan sopir B. tetapi dari aspek kesantunan. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. (Astaga. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. ketakformalan. maaf. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. dan mungkin berpendidikan rendah. tidak sopan. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. ini skarang so sampe di Kastela. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. ini sekarang sudah sampai di Kastela. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. dan wajah mereka terancam.

Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Kami minta maaf). atau keformalan. hal ini bukan hanya mengancam .tapi sudah kelewat jauh. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. jelaslah bahwa dalam berbahasa. Artinya. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. nanti naik angkot lagi dari selatan. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. dan strata akademik. bukan masyarakat asli. strata sosial. 2006:104). penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. Bahkan. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. termasuk usia.106). om. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. Dalam konteks interaksi seperti di atas. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. tarima kasih e? (waduh. nanti bilang turun di Sasa). Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. gender. om. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Maaf lagi… (Saya. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Penumpang A: Wah. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. Perhatikan contoh berikut ini.

Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Di lain sisi. Intinya. Artinya. Levinson. 56-289. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita.wajah mitra tutur muda. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Brown. maka pengancaman wajah bersifat negatif. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. atau gangguan dari pihak lain. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Australia: Monash University. P & S. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. termasuk mitra tutur.C. Menuju Universalisme yang Hakiki. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Pidato Pengukuhan Guru Besar. E. Disertasi. . Sementara itu. (2008). Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. (2000). Santun berarti tidak mengancam wajah. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Daftar Pustaka Aziz. E. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Cambridge: Cambridge University Press. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. tekanan. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. In E. Aziz.N. A. Menggugat yang Semu. Goody (ed). Questions and Politeness: Strategies in social interaction. maka ancamannya pada wajah negatif. maka ancamannya pada wajah positif. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. maka pengancaman wajah bersifat positif. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. A. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. (1987). Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar.

NY: Doubleday. London: Longman. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis.. bukan hanya dari aspek tata bahasa. maupun para pembelajar bahasa. (1967). Selain itu. yang membawa ideologi liberal. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). G.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. E. namun juga dari aspek etika. secara tradisional. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. meskipun disebut sebagai horison baru. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. S. teori kesopanan berbahasa. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. M. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. Kesantunan berbahasa. agar santun. Interaction Ritual. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Garden City. (2008).S. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Yule. Thomas. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. Kesantunan dalam berbahasa. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. bukan pula dari aspek psikososial. J. terkecuali dalam telaah pragmatik. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. 2011. Indonesia: Pustaka Pelajar. Bookmark the permalink. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. baik oleh pakar atau linguis. Pragmatik. teori kesantunan berbahasa. (1995). yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. pragmatik.Goffman.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

maka pengancaman wajah bersifat positif. om. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. om. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. Intinya. maka pengancaman wajah bersifat negatif.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal.106). tekanan. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. jelaslah bahwa dalam berbahasa. termasuk usia. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Maaf lagi… (Saya. 2006:104). Dalam konteks interaksi seperti di atas. Perhatikan contoh berikut ini. Kami minta maaf). atau gangguan dari pihak lain. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. maka ancamannya pada wajah negatif. maka ancamannya pada wajah positif. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. Sementara itu. strata sosial. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. gender. dan strata akademik. Bahkan. Artinya. termasuk mitra tutur. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe.

In E. 56-289. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Di lain sisi. Goody (ed). Furthermore. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. (1995). A. (2008). Daftar Pustaka Aziz. ethinking Politeness.adalah kehilangan wajah (loosing face). P & S. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. (1987). Indonesia: Pustaka Pelajar. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. Pragmatik. (1967). Santun berarti tidak mengancam wajah.N. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. (2008). Questions and Politeness: Strategies in social interaction. A. Thomas. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Levinson. Garden City. NY: Doubleday. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. Brown. Interaction Ritual. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Menuju Universalisme yang Hakiki. E. (2000). tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. J. Aziz. Goffman. I aim to move . dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. G. London: Longman. E.C. Menggugat yang Semu. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Cambridge: Cambridge University Press. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Disertasi. Yule. Australia: Monash University. Pidato Pengukuhan Guru Besar. E. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness.

therefore. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. but. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. it should be seen within the context of a community of practice. I argue that communities of practice. as Brown and Levinson (1978) have done. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. and who needs to repair the damage. and finally. (2) In terms of the analysis of politeness. secondly. (3) In this way. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. pragmatics. Keywords: politeness. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. nevertheless. rather than a linguistic analysis of politeness. I will suggest that. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. rather than individuals. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. modes of talk and domains. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. gender. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. (Sperber and Wilson. rather than as simply as the product of individual speakers. This. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. we may be able to see gendered protocols at work. constitutes a discourse analysis of politeness. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. in the final part of this essay. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. we need to be able to analyse the various strategies which gendered. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. Thus. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. in an analysis of an incident at a departmental party. we can map out parameters for . To illustrate these ideas. I would argue that we need several analytical changes: firstly. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests.

1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. 1995). practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. 1998. beliefs. rather than . since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed.1988. power relations – in short. Within this view. However. ways of talking. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. (see Butler. a joint negotiated enterprise. (both dominant and peripheral). This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. Bing & Freed. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. there will also be different `takes‘ on those norms. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered.' (Wenger. Thus. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women. as many essentialist theorists have done so far. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect. Johnson & Meinhof 1997. 1990. 1999). and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice.(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. and they will have different positions within these groups. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. developed by Wenger. (Coates & Cameron. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. (Eckert and McConnell-Ginet. Ways of doing. (1998). 1999:175) Thus. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. values. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff. the issue of gender is even more fraught. we need to modify this notion of community of practice slightly. Bergvall. Fuss.

Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. so that stereotypically it bears a signature of middle class. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). As I will argue later in this paper. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. classed and raced.‘(Eckert & McConnell-Ginet. 1998:488/9) Thus. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. the stereotypes of gender. However. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. rather. ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. (5) Furthermore. politeness is already gendered. in the way that they react to politeness and impoliteness. (Freed. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. however. 1999). the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. . we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. particularly when we are considering linguistic politeness. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. thus.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. athleticism and musicality. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations.

(those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. Face is a term drawn. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. rather than the holding and withholding of power by individuals. however temporarily. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves.g. because of her access to information upon which they depend. their linguistic directness. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. rather loosely from the Chinese. concern and sympathy. (Coates. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. In engaging in interaction. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. the spread of power throughout a society. and so on. maintained or enhanced. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. conversely. 1998.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. by treating him/her as a member of an in-group. This is what I would like to call interactional power. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. (Foucault.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. (Lakoff. Spender. via Goffman. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. 1996) Thus. a person whose wants and personality traits are . 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. by our class position. a friend. lecturers who need this information and who are reliant on her. and that can be lost. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. their confidence. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. Tannen. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. and must be constantly attended to in interaction. we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. (Mills.'(Brown & Levinson. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. will need to employ politeness forms which would normally signal deference. or breakdown of communication will ensue. described as co-operative strategies or rapport talk. there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. that is. 1975. 1991). They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. (6) For example. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects.

' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as .. hedges and deference). thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary. this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. however. Thus.. which conflates the intentions. Thus. (Mao. It is thus a model of interaction which is focused on production. this might in fact be interpreted as impolite.‘(Holmes.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . 1994. politeness cannot be said to reside within linguistic forms. i. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. 1995:5) However. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use.' (ibid. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. and even then. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. such interpretations may be subject to disagreement.known and liked). politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence. it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. Thus. 1996) As Holmes notes. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference. Boz. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. (Culpeper. and this is not the first time that the request has been made. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. or expressing them indirectly.e. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. Thus. The essence of politeness is that appears to be invisible. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance.

especially with friends and intimates. For example. ingratiating or patronising. . abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. nurture and develop personal relationships.‘ (Holmes. so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others. and thus Holmes asserts that. therefore. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. and thus is again an example of the disembodied. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language.‘ (Holmes. They use language to establish. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. women are more polite than men. as well as non-imposing distancing behaviour. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. Indeed.‘ (Holmes.polite. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not.‘ (Holmes. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. focusing on impoliteness may be slightly easier. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. Drawing on brown and Levinson's work. either in relation to the perceived norms of the situation. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness.

community members. Thus. this person. one of my female postgraduates and a new male member of staff. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. but which female members of staff may also engage in equally. like us. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. usually dominant. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. the officers. banter. this is not classified as impolite. but older than the postgraduate. and this type of public verbal play in general. In the army training documentary which he examines. However. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. 2000 forthcoming) In the incident in question. (Labov. (12) Thus. as Clare Walsh has shown. although it would be within almost any other community. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. He analyses several contexts of linguistic use . I would argue that within that particular community of practice. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. However. Liladhar. 2000 forthcoming. The dominant group in the interaction. and even then it is something which may be contested by some community members. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. I had to think up some form of appropriate phatic . and/or when it leads to a breakdown in relations. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. 1996). Since the party was well underway.a documentary programme on army training and literary drama . (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated. 1972) (14) However. when uttered at a staff party may be considered differently. 1998).

such as body stance. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. but instead had to be classified as offensive and impolite. the male staff member then made comments which we both considered impolite. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. because he considered them to be excessive. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. Proxemic cues. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. (see Cameron. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. eye contact. (17) What is also . facial expression and his tone of voice. `Name me six poets‘. (15) Banter was not an option since I did not know the person. were in fact patronising and therefore insincere. However. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. and impolite.' (Cameron. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. This response on his part confused me . sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. However. Under this interpretation. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. then I would have to comply and provide a list of poets. 1998:448) In this case. where we had been attempting to be friendly and polite towards him. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. he was in fact implying that I could not name six poets. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. I did not wish to be forced to answer this question. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference.communion. (Sperber and Wilson.

or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. For myself and the postgraduate. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. (19) Further gendered stereotypes were brought in. suggesting that we talk on other subjects. (Walsh. verbal aggression and impoliteness. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. a stereotypically feminine response. Having worked with extremely impolite. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. we could not simply walk away. in the interests of departmental harmony. Thus. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. do not necessarily bring any form of power to oneself. We tried to assuage him and calm him down. perhaps. that is. which in many contexts such as this one. As it was. as if perhaps these were implicit from the beginning. However. partly because both of us were fearful of physical attack. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. we would not necessarily have considered the incident impolite. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. `masculinist‘ females as well. it led to an increase in insulting terms. for the best of motives. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. it led to a range of `repair‘ behaviours. . but continued to use positive politeness strategies. Because of these strategies we were locked into the interaction.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. whereas for the male staff member. Thus. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). drawing attention to our femaleness and sexuality. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. that is. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women.

I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. and the party was disrupted by the event. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. (21) However. particularly to the postgraduate. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction.(20) After several weeks of not communicating with the person. since in fact this is what brings the incident to a close. where the postgraduate tried to make a formal complaint. cannot be simply coded as powerless. however. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. what I . this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. However. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. Furthermore. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. even though this is a strategic use of femininity. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. A seemingly feminine response to the situation. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. However. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. or even perhaps an admission of some fault on our part. Generally. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. that is. and the way that this judgement is not a once and for all act. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. Thus.The incident itself is not particularly important. one which attempts to resolve the situation. Thus. However. Conclusions Thus. Thus. and even those stereotypes can be used for our own ends. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him.

Keith Green. Utrecht. depending on . Holmes and Meyerhoff. 4. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. Thus. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. Lia Litoselliti. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. this was clearly the case. California. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. including the seemingly more co-operative/rapport ones. Reina Lewis. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. 6. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. Notes 1. in 1993. Cameron. Jane Sunderland. Corinne Boz. Bell et al. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. complex that relation is ). 2000. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. or change their meaning or function. 1999) 3. Clare Walsh. May. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. individuals may perform their gendered identities in different ways. 1999. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. 1994) 5. Perhaps. February. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. 2. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. (See Liladhar. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. November 1999. Eckert and McConnell. 2000. also. International Gender and Language Association. but even here. (see. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. Manana Tevzadze. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. As I show later. and it can also enable us to see that within different communities of practice.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. May. and Gender and Language Conference. 2000. Also. Janine Liladhar. 2000 forthcoming. however.(Butler.

he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. Details of the group can be found on the website http:\\www. 2000.. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. 1999 on peripheral group members) For example. of course. 12. and I asked his permission to publish it.bargiela@ntu.uk. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. composed of linguists from Britain.ac. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain. Finland and the Netherlands. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. the community of practice. 13. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event. 8. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with. 10. Turkey.ac. Indeed. bullying and overbearing. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted.l. in the army training example. the incident still has effects on the department and is still discussed. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face. this article is part of that process of understanding the event. as Walsh (forthcoming) has noted. stated that when he did his year's army training. China.7. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. 9. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . and we are currently working on communities of practice and politeness. it is interesting that not all secretaries do adopt it.ac.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. Even over two years. However. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. Georgia.mills@shu. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness.ac. . 11. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. or at our web-board: http://hum-webboard.ntu. I also requested comments on his interpretation of the incident.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s.shu. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms. Italy.

such as comments about the house where the party was being held. J.14. this is what leads to conflict. in fact. Place and Culture. G. 15. I would agree that alcohol affects what we say to people. 1/1. pp. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. 1998. or even the weather. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. for a discussion) 20. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. It is not something that they necessarily want to do. & Valentine. References Bell. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. 17. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. (1994) `All hyped up and no place to go‘. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation.31-48. Furthermore. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. (See Clark. in Gender. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. No formal complaint was made. 18. Cream. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. However. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. but the timing of the interaction precluded the use of these. J. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. 19. he has not responded. Binnie. despite several attempts to discuss this issue with him. 16. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). 21. D. . However. and may be misinterpreted when used between relative strangers. Here. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways.

J. Cambridge University Press. Cambridge. (1998) `Is there any ketchup. Bucholtz.86-107.56311. even encouraged. Routledge. and Meinhoff. S. Goody. V." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. Culture. C. 435-455.203-225. Sheffield Hallam University Brown. From historical recurrence. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. eds. in ed. A. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. and softening devices such as hedges and questions. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. D. U. E. Johnson. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. London. J. Bing. pp. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. to talk rough.Bergvall. they note that boys. in Discourse and Society. From Nancy Bonvillain's "Language." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. "women typically use more polite speech than do men. Boz. P and Levinson. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". Vera?': gender. Blackwell. cultivate a deep "masculine" voice . in eds. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. Therefore. Oxford. 28/2 Butler. formal stylistic markers).' Pp. However. Cameron. & Freed. pp. D. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. PhD thesis. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. pp. in Language in Society. London. 9/4 Cameron. and Communication" she notes that. Longman. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. M. "are permitted. power and pragmatics'. Language and Masculinity.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

have a settled curriculum. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. However. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. we look at commonality and diversity in language and gender curricula. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. however. represents a strong biological (evolutionary) perspective. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. at least across the ‗western‘ world. Language and gender doesn‘t. 3. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. (For sources. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). at the design of language and gender modules. (Baron-Cohen (2003). Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). including selection and sequencing of curricular content. see Halpern (2000). a contemporary review of the field (Cameron. Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. for instance. we can contrast syllabi . Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. ‗Language and the Media‘. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. at issues relating to teaching and learning stances. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. or Women‘s Studies. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. whether in the form of coherent modules on the topic. including linguistic behaviour. and critically. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. for a broader overview of sex differences in cognition. or within non-language programmes. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. In what follows.g. such as Women‘s Studies. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse.and corpus linguistics).) 2.) Within language and gender as a field.

whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. First. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. at the time at UCLA. has a strong and explicit anthropological focus. reflecting disciplinary perspectives. These are mainly US sources and not all recent links are available. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. He also covers gender and literacy. racial and national identities with gender. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. that relate to the teaching of language and gender. for instance. 2005: ‗Aims of the course‘). on the other hand. and include student project work. A similar. a problem solved. but there are particular issues. given the disciplinary and other differences referred to above.csulb. but the subject is to some extent differently constituted in each case. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. both modules explore relevant aspects of language and gender. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999).edu/~lemaster/lgarchive). Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. This site includes reading lists and assignment topics. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. sometimes problematical. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). Besnier. grammatical gender. academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. 4. they see oppression as a thing of the past. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. On the basis of these syllabi at least. Students‘ background. The classic case here is probably sexist (English) . A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. given the nature of the subject. Both have a strong empirical focus. Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality.

in Women‘s Studies. Secondly. Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research.) It makes more sense. even that they will feel uncomfortable – or. used. Thirdly.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. Amongst male students. indeed. having signed up.for example. and guidelines for inclusive language). focusing on current arguments for Ms). The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. of course. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. and indeed continue to use Ms. on which so much language and gender scholarship is based. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. and the associated question of empirical research. on language and gender modules. being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). if they are not simply indifferent to these debates and issues. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps . this may still come as a shock to students. The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. (This is. variously. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. and this needs to be pointed out and demonstrated. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms). who are largely unused to this form of scholarship. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. eighteen. of feminism in general. Certainly. While fiftysomethings may have argued for. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. and indeed of making one‘s own politics explicit. be made to feel unwelcome. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). encouraged. but also to many third world women. say. but a history whose implications are currently felt more widely . classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population.language (together with language change. man-hating. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. then. In this context. worse. and for whom linguistic description and analysis (for example. On a different level. While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). and to associate Ms with. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). divorce. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules. lesbianism and a hatred of men. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class.

and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. Historical B. appropriate. orientation to gender. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. 5. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. appropriately integrated. identity. Topical C.something particularly characteristic of language and gender. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. Designing modules in language and gender In Section 5. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. and in fact approached critically. and some simplification may be pedagogically necessary and. Theoretical/methodological approaches D. Queer theory. these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. These complex notions need to be addressed. Eclectic . discourse(s). Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. talk more than women. subject positioning. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area. or. but in an accessible way. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. indeed. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). often having no problem identifying with the findings. according to different organisational criteria:     A. better.

what to include in a language and gender module is by no means self-evident.B. Women and men’s talk: single/mixed sex. continued. current emphases in language and gender. Gender and discourse 5. Sexist language 2. Zimmerman and West 5. Eclectic! 1. Language. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. perhaps including the topic of gender and politeness 4. gender and sexuality 9. Workplace talk 6. Critical discourse analysis 5. gender and children’s books 10. Empirical and non-empirical early work: Haas. Spender 4. Empirical work and the feminist contribution 3. gender as constructed in and by language 2. Discourse analysis 4. have grown out of (responded to/reacted against) . Gender and cyber-communication D. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Language. As in other fields. Language. Language. Historical: Example 1. Labov. Topical: Example A. Trudgill 3. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. As above. politics) 10. Theoretical/Methodological 1. CA/Discursive psychology in language and gender study C. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. Discursive psychology 8. Performativity 9. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. Sociolinguistic work: e. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. Sexuality/Queer theory 1. Identity 8. Written texts: language. Holmes 6. 7. gender and powerful institutions (religion. Gender and the media – magazines. gender and fiction 8. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. The importance of context 6. Conversation analysis 7. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. Classroom talk 5. Early feminist work: Lakoff. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. newspapers. Corpus linguistics 9. Jespersen 2. private/public 3. both topical and methodological. The shift to discourse 7. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen. Coates. gender and the language classroom 8. ads.g.

and fast-growing. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are. Most basic is the question of time. however. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). how these are constructed in the literature.g. which has made its own important contribution to language and gender. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. In terms of teaching. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. of course. We noted above that these have traditionally been downplayed. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. As mentioned in Section 1. classroom talk. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. But while the field has moved on considerably. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. relatedly. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005). A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e.previous ones. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. previous emphases can be included critically. the workplace. A third question is the role of biological factors/explanations. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. The language and gender field is young. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. Of course. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature.g. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. . but wide. If such history is to be included (Example A). Queer theory. and now usually are – but the message does not always get through.e. other organising principles than the chronological development of the field. intellectually complex.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

notion of politeness. data collection instruments. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). namely.. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative . Finally. The variables of class. and linguistic interpretation of pragmatic data. and imposition).. distance. Brown and Levinson's (1978.. In chapter 2.to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice. notion of habitus) the constituents of politeness (e.g. With respect to the model of communication proposed in the book. face and face threatening acts). data collection. power.. racial identity. positive and negative politeness. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. reliance on speech act theory. analysis of social variables such as power. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. their model of communication (e. inability to describe politeness at the level of inference). interpretation. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e.g. a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. and methodological difficulties (e. gender. strategic politeness. appropriateness.g. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. and to construct responses which might be relevant to previous utterances.g. Theorising politeness. individual strategies. 1998: 76). speaker model. In particular.

factors of gender. . it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. 2) politeness is a matter of judgment and assessment. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. This chapter is organized into four sections: the first section. Further. In particular. politeness and impoliteness. and race are examined in relation to (im)politeness. race. age. In chapter 3. class. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. and class. two features of impoliteness are analyzed.analysis of politeness. swearing and directness. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. sexual orientation. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. Then. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. and. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. Politeness and impoliteness. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. but rather as separate notions with specific characteristics. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. namely. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender. 3) different forms of data need to be considered.

Finally. Furthermore. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. middle-class women's behavior. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. and sexual orientation. interruption. Gender and politeness. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. Theorising gender. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless.In chapter 4. race. Finally. power. among other factors. In chapter 5. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. and polite. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. loudness. mitigation. indirect. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . class. swearing. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. is normally associated with prototypical descriptions of white. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender.

taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. While the analysis presented in the book is theory. General information . the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. in Conclusions. gender. EVALUATION Overall.driven. sexual orientation. and contextual elements. among other factors. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. data collection procedures. Finally.. for the sake of methodological clarity. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. specific information regarding subjects. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. power) in relation to politeness and gender research. and data analysis could have been described in one particular section. In particular.g. race.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class.

this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . 14-15) within the introduction. there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. Watts (2003). and Wierzbicka (2003). at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). 77 which do not coincide with the bibliography. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. 2001b) on p. Furthermore. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. 61 Lakoff. Most importantly. For example. etc. more extensive information on the methodological procedures used in the study. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. Finally. information concerning data collection procedures. Overall. including a description of the subjects. on p. data collection procedures and analysis. tasks. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. number of subjects. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results. is mentioned in footnotes (pp. number of hours of recorded data.

R. (2001). A. REFERENCES Bravo. and Levinson. Wierzbicka.) (2003). and Levinson. and sexual orientation). Politeness: Some universals in language use.310.. P. ''Universals in language usage: politeness phenomena''.).g. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE. UK: St. S. 56. Politeness. G. D.(im)politeness and gender. 2nd. edition. class. P. E. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. UK: Cambridge University Press. (1987). race. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Brown. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. UK: Cambridge University Press. Stockholm. Brown. Cambridge. (2003). E. Communities of practice. Wenger. A critique of politeness theories. New York. ABOUT THE REVIEWER . S. Jeromes Press. In particular. (1998). gender. Cambridge. (1978). UK: Cambridge University Press. Goody (ed. Cambridge. Manchester. UK: Cambridge University Press. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. (2003). Cambridge. (Ed. NY: Mouton de Gruyter.. Watts.. Sweden: Universidad de Estocolmo. Eelen. and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field.

interlanguage pragmatics. speech act theory. research methods in pragmatics research.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. politeness theory. and first and second language acquisition. writing in the second language classroom. . His research interests include cross-cultural pragmatics. Bloomington.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.