0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

Inggris. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. pada tahun 1922. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Development. Grimm (2008: 8) berpendapat. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. mereka lebih terkesan linear. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. dan Jerman. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). Jespersen juga . Amerika. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. lebih bersifat pertanyaan. tidak memperlihatkan emosi. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). tidak komprehensif. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Di beberapa negara maju. and Origin. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. Jepang. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. Misalnya. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. biasanya dalam kalimat pendek. seperti Prancis. Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. sederhana. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). Dalam salah satu bab buku itu. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. Sebaliknya.

serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. atau neat. Misalnya. cool. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. lingkungan sosial. seperti great. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. Namun. ekonomi. sangat berkuasa. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. peristiwa. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. misalnya. kelas. etnik. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. Dalam khazanah sosiolinguistik. tempat. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. 2005:36). dan mitra tutur. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. agama. perempuan sering menggunakan adorable. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Dalam bahasa Indonesia. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). terrific. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. predikat (P). atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. charming. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. keadaan. Kuntjara. Oleh karena itu. Namun. matang. dan objek (O). Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. menurut Lakoff. politik. . Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. proses. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). 2004:3—4). sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Oleh karena itu. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. yaitu waktu. sweet. 2004.

Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. 5. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. misalnya. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. perasaan. buku Deborah Tannen. 3. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Sebagai contoh. Men Are from Mars. dan hubungan antarmanusia. 2. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. tetapi juga psikologi. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. 4. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Women Are from Venus. Di dalam buku psikologi populer. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. seperti buku Tannen dan Gray. Namun. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. 1. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus".Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. tetapi palsu.

Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. 1922. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Greene. Daftar Pustaka Coulmas. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. An Introduction to Sociolinguistics. Alessandro. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. dalam mitos Mars dan Venus. Namun. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. 2011: 54—56). Jespersen. 2001. Dalam perekonomian saat ini. New York: Delacorte Press.000 sampai dengan 25. Robert Lane. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis.000 kata.000. Sociolinguistics. New York: The MacMillan Company. misalnya. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. The Study of Speakers’ Choices. Language Laws. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Language: Its Nature. 1992. Pada tahun 2006. 2005. Duranti. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. London: Longman. Namun. 1999). pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. The Female Brain. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. termasuk status mitos tentang fakta itu. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. tungau di seberang lautan tampak‖. and the Politics of Identity. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Janet. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Holmes. Publisher. The Key Term in Language and Culture. Florian. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Development and Origin. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Salah satunya adalah Mark Liberman.berkomunikasi. . melainkan referensi dari buku pengembangan diri. New york: Cambridge University Press. You Are What You Speak: Grammar Grouches. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. Oxford: Blackwell. 2011.000 kata sehari. Setelah menelusuri kepustakaan populer. Otto.

dieditori oleh Mary Bucholtz). tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. New York: Routledge. Jakarta: BPK Gunung Mulia. seperti great. New York: Oxford University Press. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. 2004. Lakoff menyatakan bahwa terdapat .Kuntjara. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. New York: Ballantine Books. and Power. terrific. Bahasa dan Kekuasaan. Linda and Shân Wareing. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Lakoff. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. pada tahun 1922. Development. Robin Tolmach. cool. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Amerika. atau neat. Misalnya. Society. perempuan sering menggunakan adorable. Inggris. seperti Prancis. Jepang. Misalnya. Language. 2004. charming. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Di beberapa negara maju. Esther. and Origin. 1991. Dalam salah satu bab buku itu. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. sweet. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. dan Jerman. Thomas. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Gender. Deborah. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. Tannen. 2003.

Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. menurut Lakoff. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. etnik. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. matang. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). tetapi juga psikologi. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Namun. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. You Just Don't Understand: Women and Men in . Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. ekonomi. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. tempat. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. 2004. 2004:3—4). agama. Namun. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. dan objek (O). lingkungan sosial. misalnya. Dalam bahasa Indonesia. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. peristiwa. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. Dalam khazanah sosiolinguistik. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). Oleh karena itu. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. proses. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. sangat berkuasa. Oleh karena itu. yaitu waktu. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. dan mitra tutur. misalnya. buku Deborah Tannen. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. keadaan. kelas. politik. predikat (P). Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Kuntjara. 2005:36).banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. Di samping itu. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya.

5. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus".Conversation dan buku John Gray. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. perasaan. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. seperti buku Tannen dan Gray. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Dalam perekonomian saat ini. Women Are from Venus. 3. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Sebagai contoh. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. 4. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. tetapi palsu. 1999). Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Di dalam buku psikologi populer. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. fakta . Namun. Namun. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. 1. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. dalam mitos Mars dan Venus. dan hubungan antarmanusia. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. 2. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Men Are from Mars. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia.

Gender. Kuntjara. 2004. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Daftar Pustaka Coulmas. You Are What You Speak: Grammar Grouches. The Female Brain. New York: Oxford University Press. The Key Term in Language and Culture. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. New York: The MacMillan Company. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Jakarta: BPK Gunung Mulia. termasuk status mitos tentang fakta itu. Robin Tolmach. 2011. New york: Cambridge University Press. Namun. dieditori oleh Mary Bucholtz).bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Otto. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine.000 sampai dengan 25. 2011: 54—56). Robert Lane. melainkan referensi dari buku pengembangan diri.000 kata. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Bahasa dan Kekuasaan. Development and Origin. 1922. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. 2005. Greene. 2004. Lakoff. tungau di seberang lautan tampak‖. Alessandro. Holmes. 1992. Pada tahun 2006. Esther. Florian. The Study of Speakers’ Choices.000. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. . Language Laws. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20.000 kata sehari. Publisher. 2001. Language: Its Nature. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. London: Longman. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Delacorte Press. Sociolinguistics. Oxford: Blackwell. Salah satunya adalah Mark Liberman. Janet. Duranti. misalnya. Setelah menelusuri kepustakaan populer. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Jespersen. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. and the Politics of Identity.

sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. 1991. Selanjutnya. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. gaya. Maka itu. pada perempuan melekat istilah PSK. dan tataran gramatikalnya. lonte. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. 2003. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. tante girang. murahan. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. Linda and Shân Wareing. Society. Artinya. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Padahal. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. pelacur. New York: Routledge. Thomas. Deborah. and Power. jika benar-benar ditilik. Hal ini memang perkara sederhana. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. baik lelaki maupun perempuan. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita.Tannen. ugkapan. . Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. Language. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. New York: Ballantine Books. istilah. Sejauh ini. 28 Okotober. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. dan sejenisnya. cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa.

dan lain-lain. seperti Marlinda Abdullah Puteh. Akibatnya. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. Hindia Barat. misalnya bahasa Aceh. ‗ok mai. di Zulu. Bahkan. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. Sebagai contoh kasus. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. brét ma keuh. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. Misalnya. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. Sedangkan pada lelaki. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. begitu lahir. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. bisa-bisa dibunuh. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. aneuk tét mie. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. ketika si perempuan sudah menikah. Sangking pantangnya bagi mereka. ia menyandang pula nama suaminya. papleumo. Para . Kemudian. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. Ironis. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. Nani Yudhoyono. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. Afrika. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. Sebaliknya. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. Artinya. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya.Masih pada tataran yang sama. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖.

sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Semoga bahasa kita tetap jaya. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. perilaku. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. seperti dalam kasus waria. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. yang dikonstruksi secara sosial. Sebagai ilustrasi. Namun. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Dalam konsep gender. Namun demikian."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Selamat memperingati Bulan Bahasa. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Dengan kata lain. dalam suatu masyarakat. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral").perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. kegiatan. dibolehkan membunyikan ―Z‖. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. bagi para lelaki. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). Dalam isu LGBT. Banyak bahasa.

Dalam hal ini. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Singkat kata. Di sini. 1964: 79).adapun wanita lemah lembut manja . BI akan dibedah dari perspektif gender.H. dan bahasa (Koentjaraningrat. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. sebagai matra sentral Feminisme. Maka. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. sistem ekonomi dan mata pencaharian. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. tindakan. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian.. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Sebagai wahana budaya. Dengan perspektif gender. Kebudayaan. Mengapa BI memihak lelaki. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu.1) Itulah sebabnya. Greenberg (Samsuri. Ingat. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. Di samping sebagai bagian. Untuk diskusi ini. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . dan benda karya budaya. Dalam pengertian yang luas. sistem kemasyarakatan. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. sistem religi. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. menarik diungkap di sini keyakinan J. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. kesenian. "bahasa menunjukkan bangsa". senang atau tidak. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan.. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Bahasa adalah cermin budaya. bahasa juga merupakan wahana budaya. BI bias maskulin. seakanakan yang salah memang budayanya.

keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. yakni tuturan alamiah keseharian. keniscayaan struktur. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. tindakan. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. etnis. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. kekerasan. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Dilihat dari kemurniannya.3) Akan tetapi. Sebagai human instrument. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). masyarakat.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). Padahal. penyebutan keberadaan atau tindakan. berupa tuturan bahasa. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. hukum. telaah ini bersifat interdisipliner. Atau. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. Dari segi kebahasaan. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. interaksi manusia.Dengan pendekatan verbal. 1986). Soalsoal sosial-politik. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. ini tidak keliru. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. dan inisiatif pengucapan. dst. terutama dalam menyusun kategorisasi data.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. dan . lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). yang membentuk realitas sosiobehavioral. Dengan ini. yang akan membentuk realitas simbolis. pada beberapa suku. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). dan kelompok sosial lain. Untuk telaah ketimpangan gender pun. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Dengan ancangan ini.

dewa perang. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. ketenangan. seorang artis yang bernama Lisa A. Siapa pun tahu. kepasifan. putri. dan memang tidak harus jantan. Riyanto yang sudah almarhum itu. "ibu kota. predikat. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. dan jelas bukan *ratu judi. diam. perintis koperasi itu Mbak Tutut. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). induk. jago matematika. *putra malu. putri malu (sejenis bunga). Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Dalam kosakata BI kontemporer. Alih-alih dengan itu. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. *ibu pembangunan. jago nggambar. misalnya. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. bapak pembangunan. *ibu pendidikan nasional. *babon nggambar. macan'). yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. Agaknya sudah menjadi "kodrat". harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. nenek moyang. Semua setuju. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. bapak pendidikan nasional. Dengan memakai ibu. dewa maut. *dewa malam. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". Bung Hatta "Bapak Koperasi". nenek. induk semang. *ibu koperasi. Layak dipertanyakan kebenaran ini. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. dewi malam ('bulan'). dan agresif itu. raja copet. bapak koperasi. Masalahnya. garang. *babon matematika. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. Riyanto. dan damai. dan ratu adil. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. Maka. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. memang. raja siang ('matahari'). termasuk dalam hal menerima sebutan. dewi. *bapak pertiwi. dan ratu. raja judi.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. pemberani. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . *ratu copet. untuk sesuatu yang bersifat garang. kesabaran. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. Setelah berumah tangga. misalnya. *kakek moyang. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. dan *raja adil". andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. *jago semang. agresif. ibu pertiwi. dan bukan *bapak kota. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif.

saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. Jadi. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. karena dipandang vulgar. anggun. menjijikkan. atau alumni madrasah tsanawiyah. Perasaan menjadi lega. Maka.A. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Lalu. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Untuk ini. dan tiba-tiba perutnya mules. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar."*Ibu Pembangunan". harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. ganti lagi dengan yang lain. Seseorang yang sedang makan siang bersama. "bandot". Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. Akan tetapi. mengajar. Jika boleh. harus "dihaluskan". mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. adalah fakta bahwa "pria penghibur". layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. "gigolo". diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. barangkali kembali ke pelacur lagi. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". Kata pelacur. WTS pun mesti dihapus. saya mau ke belakang". Tentu saja. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. saya belum siap diprotes. misalnya. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Dan.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. Dengan demikian. indah. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. tenang. "bawon". itu soal lain. orang bisa menepuk dada. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. Masalahnya lagi. jika PTS dipilih. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. "*Ibu Koperasi". konotasi yang muncul berbeda. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . R. Masalahnya. Sehubungan dengan kajian ini. norak. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. Atau. "teko". memang ada. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu.

mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. manakala saya tanyakan berapa gajinya. sebagai survival strategy. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Bu. WK : Ah. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Mereka malu mengakui. WK) berpenghasilan tinggi. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. makna kata menjadi enteng. nggak juga. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. Mengherankan. saya kan cuma istri. Bu. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Pernyataan "cuma istri. hanya sekadar membantu suami saja. Padahal. Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. Cepet kaya. jadi tidak sekadar melengkapi. Dengan standar ganda ini. Hebat. sebab ramai. Saya: Gaji segitu besar lho. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Ini kan di atas gaji suami. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. nanti. remeh. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). patuh. WK : Ah. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". Jadi. mengalah. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. Itu kan menurut situ. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. gaji tinggi melebihi suami kok malu. misalnya. melawan.Dengan degradasi. Karena beban kondisi ini. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. akan sering muncul di sekitar kita. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Aneh.

kita itu kan perempuan to. Perempuan saja kok macem -macem. Siang keras. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. ingat kamu itu perempuan lho. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Tentu saja. Biar dia yang ngurus. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Ibu ini tak salah." katanya. Malahan. perempuan bisa menang. tapi ini kan duit laki saya. Aku kan bininya. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Sementara diam dan nerimo saja. Nduk. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Maka. Dipikir .. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. 1981). ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Ini urusan lelaki.bergender lelaki. Nggak ada ceritanya.. Lurah kok mau dilawan. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). kok di sini dipotong orang seenaknya. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Ee . yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Ini urusan lelaki. Lagipula.. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. "Perempuan saja kok macem-macem. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Jadi ya termasuk duitku juga. Maka. Inilah produk paling diskriminatif dari . Kita ini orang kecil. Cuma perempuan.. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. bahkan tak tahu diri. Nduk. Nduk! AP : Mbok. sempurna sudah kekalahan mereka. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda.. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh.

Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. . Ibu sedang memasak. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. (438) 3. Akan tetapi. Apa sih jeleknya orang ngalah. 427) 2. (463) 5. perhatikan dialog rekayasa berikut. (hal. Ibu memasak di dapur. Siti masih sering pulang malam. dalam wacana di atas. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. salah satunya dalam dunia pendidikan. kalau boleh menduga. atau peristiwa tutur lainnya. khususnya dalam buku-buku bacaan. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. ini urusan lelaki. 1. Ayah sudah berangkat ke kantor. Lelaki saja kok macammacam. misalnya. Malahan. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. *Bejo: Iya ya. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. percakapan. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. 1979: 205). Ingat kita ini kan lelaki.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Aku bermain layang-layang. (473) . Oleh karena itu. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. seperti lingkungan kita ini.. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. Adikku yang manis menimang boneka. sedangkan ayah sedang membaca koran. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Ibu menjahit baju. atau malah pagi buta. (460) 4. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). kita 'kan lelaki. Masak mau menuntut pak lurah. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Kan nggak pantas.. entah sadar entah tidak. Sebagai bandingan.

15cm itu memang tergolong . kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0.15cm". dasar betina. Akan tetapi. pantas dikenakan pada perempuan. tinggi. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. penting. "tinggi". Coba diandaikan. menohok perempuan.15cm. Jika ungkapan mulut perempuan. hanya layak untuk lelaki. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. (5). Direktur RSU Dr. sedangkan pada kalimat (2). ini bukan barang aneh. kecil. Sementara. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Jadi. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. agak kecil. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. tebal) dan bukan yang minor (ringan. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Padahal. Akan tetapi. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. demikian juga "berat". sepele. Banda Aceh. dari perempuan.7) Sebutan Negatif. Pada kalimat (1). melontarkan interupsi. Zainal Abidin. jika bab-bab lain ditelaah. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen.6. yang menentukan segalanya. (3). posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. Dalam kontinum tersebut. misalnya mencakup dari sangat besar. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. banyak. Kamaruzzaman (52 tahun). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. hasilnya sama saja. itu mungkin saja. kecil. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). (477) 7. agak besar. hanya seorang yang perempuan. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). Begitulah. kesan remeh. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. Dokter H. sedikit. Bahkan. dll. Oleh karena itu. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. Jumat malam meninggal secara mendadak. mitos soal-soal besar. menurut pengamatan D. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. Kontinum standar "besar". jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. misalnya. tipis)." (biarpun 0. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. Spender (1980). sampai sangat kecil. Padahal. dan "banyak". misalnya. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. yang hanya mengganggu saja. menempati kesan buruk. Kalau dicermati. rendah. yang memang membahas kalimat dan wacana. (6). besar. bahkan mungkin lebih negatif. misalnya. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan.

entah lelaki entah perempuan. 10. malu-malu. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). orang pun latah. Maka. apakah orang sudah paham pasti. hakikatnya. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". Itu 'kan khas perempuan. yang tidak negatif. Oleh karena itu.8) Maka. standar. grogi. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. Barangkali. malu-malu. Jangan lupa. lamban. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". jantan >< betina. yang berbau perempuan itu nonstandar. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. "*agak perempuan". jika yang . yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. Barisan lelaki dianggap superior. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Dina memakai celana. Sebaliknya. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). "sastrawan". Umumnya orang. bandingan. Akan tetapi. misalnya. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. memang tidak ada "*sangat lelaki". lain fakta. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. cengeng. Dalam realitas empiris. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. grogi" bukan standar. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. Bukankah standarnya selalu "celana. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. Mengapa demikian? Ya. artinya sudah standar. ini harus ditegaskan lagi. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. "polisi" saja. 11. feminin >< maskulin. 9. keluar keringat dinginnya. Oleh karena itu. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. sudah "kodrat". Sebagai standar. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. Cowok atletis itu malu-malu. seorang perempuan yang "tomboy". Sebab.relatif tipis). orang akan mempersembahkan konotasi positif. lain konsep. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. yakin. PD". dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". Maka. sentimentil. rujukan. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. dan rasional. Lelaki pakai rok? "Ah. itu sudah semestinya. "*lebih betina". Doni mengenakan rok mini. Maka. "rok mini. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. hakikatnya. tetapi jika yang disebut mahasiswi. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. tegar. pasif. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum.

kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). dan "diceraikan oleh". Dalam keadaan terpaksa. predikat (P). dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. Maka. dan bukan *Woman Made Language. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. soal bahasa bukan hanya struktur. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. sekali lagi. Denggan kondisi ini. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. aku masih bisa menerima. "bercerai dari". untuk menyebut manusia pada umumnya. lelaki itu standar. Sebab. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. "minta cerai dari". "aku". melainkan juga realitas kultur. ini tercermin dalam bahasanya juga. sedang perempuan substandar. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. Tetapi. Maka. dan polisi wanita (polwan). sedangkan perempuan. Maka. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". "belum manusia utuh". untuk konsep manusia. Artinya. dan bukan woman. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. tak ada pilihan lain. akan tetapi jika disebut woman. berkuasa. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . meskipun sebenarnya aku masih cinta. Maka. Spender mesti meminjam dulu kata man. akan bertindak aktif dan menuntut. masalahnya dia itu selingkuh.9) Lelaki memang menjadi standar. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. 1993). bahkan lebih gila lagi. orang meminjam kata man. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. kalau disebut man. Dalam kebudayaan Barat. dan bukan woman. sastra. sehingga menjadi wanita wartawan . apa salahnya. Tapi. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki.. Biarpun begitu. sabar atau tidak. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". misalnya. Dalam kultur masyarakat kita. 2. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". ketika D. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. layak saja. tetap saja. bukan kodratnya perempuan. sastrawan wanita. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. "kamu". Alwi dkk. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). 1. 1988.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. berkedudukan.dimaksud adalah oknum perempuan. Dalam bahasa Inggris. Maka. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. aku akan menceraikannya. seorang perempuan dapat "kawin dengan".

lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Maka. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. misalnya. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. bukan karena struktur. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. atau resmi nikah. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. dan pilihan konteks situasi yang tepat. Tetapi. tampak isi". jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. perkencanan). keluarga/perkawinan. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. aku ragu. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. "tidak langsung buka kulit. atau mungkin sebenarnya mengerti. isyarat dan perhatian. tetapi tidak transparan. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Akan kucium keningnya. Oleh karena itu. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. akan kusayangi dia. meliputi: . Jika nanti sudah menjadi milikku. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua.struktur. Biasanya. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. lain tidak. perempuan bereaksi. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Mengapa? Ya itu tadi. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. memprakarsai. perpacaranan. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. goblog. dalam dunia komunikasi (pergaulan. apa dia mau. Tetapi. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. Aku sangat mencintainya. bebal. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan.

konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. dan inisiatif ekspresi. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Sebutan pelecehan martabat gender. dan (f) sebutan penstandaran gender. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. (b) sebutan pelecehan martabat... bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. pandangan hidupnya. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. Dengan demikian. semacam WTS. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. khususnya terhadap eksistensi gender.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. bahasa ini mungkin bergender lelaki. Dalam posisi yang serba timpang ini. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini.. sedang perempuan tersubordinasi. wanita dijajah pria . (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Dengan begini. lelaki mendominasi. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. Apalagi inisiatif ekspresi.. . Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". terutama dalam menyikapi gender. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan.

Rinehart and Winston. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. dominasi lelaki. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. No. Inc. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. hanya 2 orang yang perempuan. Konsep ini dekat dengan seksisme. lemah. V (Fort Worth: Holt. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Warta Studi Perempuan. 1981). supremasi kekuasaan lelaki.. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Muh. 1975: 14--23. khususnya bab "Language in Society". Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. "Gender. Dengan begini. Cet. 3. Siusana Kweldju. Vol. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Vol. LPK2I. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. 7) TBBBI edisi I (1988). lih. subbab 'Language and Sexim' (hal. 7--18. 28 Oktober 1986. 1994. No. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. . hanya 1 orang saja yang perempuan (W.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. 1993). Lihat Arief Budiman. Oktober 1996. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. Marginalisation and Rural Industry". Asfar. 5. Vol. Dalam hal ini saya (dkk. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". Kebudayaan. 1994). Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang.. 4. bodoh.Catatan 1. TBBBI edisi II (1993). pintar. 1--14.C. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. hal. 306--312). terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. An Introduction to Language. juga Kweldju (1991).D. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. wadah. Ph. subordinasi perempuan. Edisi V. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. 6. 24 Agustus 1996. Warta Studi Perempuan. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. Mei 1996. Buletin Yaperna. dan alat budaya.H.M. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". dan bahasa Indonesia. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. 1. ". bermain layanglayang). 1. abang. Lalamentik. 32. 2. . hal. 4. dari 11 penyusun. kuat. dan hegemoni pria. Periksa: Samsuri.). "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. 5. tak berdaya. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. Prisma XXV/5. ketimpangan gender. bermain boneka). No. Dengan pendekatan verbal. masyarakat.

she doesn't know when to quit . S. 1980). Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. n.. 'Man'..L. you answerd. Jupriono.. New York: State University of New York Press. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. Opcid. He climbed the ladder of success. melahirkan.. Spender. Bahkan. Miller.. London: Longman. 1981. Daftar Pustaka Bhasin. she's secretive.... 6) menulis: "A businessman is agressive.. Jakarta: PT Gramedia. . mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning.. D. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. J. He is a man of the world.. K. she's mouthy . mengasuh anak. II/16. F. sebab lelaki juga (harus) bisa. she's been around . A businessman is good on details. The Science Question in Feminism (Ithaca. Everyone knows that. lebih tegas lagi. Lih. Coates.. a man of great learning". Dalam pandangan kelompok ini. you include women too. Reliability and Validity in Qualitative Research. You didn't say anything about women. He isn't afraid to say what is on his mind. J. Lih. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita".... Kirk. dan F. 8. Budiman. 1986).. dan bukan kodrat (nature) perempuan. 1995.. Harding.. Fromkin dan Rodman. He follows through. When you say Man.7. merawat rumah bukan monopoli perempuan.. she's power mad . He exercises authority diligenttly. 1986. A. Sebagai contoh. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. berikut ini dikutipkan beberapa saja. Frank.. hal 307. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). LP3K Multimatra. yaitu menstruasi. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. Ashen. she slept her way to the top. New Delhi: Kali for Women. two at noon." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134).. 1990. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan.. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Women. 1986. she's hard . . He's closemouthed. 23 Juni. What is Patriarchy. she's picky .. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. 1997. He stands firm. Language and the Sexes. New York: Cornell University Press. memasak. dan M. and three in the evening'. 9. Beverly Hills: Sage Publication.. Pembagian Kerja secara Seksual. D. . 1983. Tempo Interaktif. a businesswoman is pushy .

Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. 1996. Dengan perspektif gender. sebagai matra sentral Feminisme. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. pemakaiannya. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. seakanakan yang salah memang budayanya. Aktivitas noninstingtif--yang hanya . Dalam pengertian yang luas.. Mengapa BI memihak lelaki. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Samsuri. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. Di sini. 1993. Kebudayaan.Kweldju. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Bahasa Indonesia. senang atau tidak. S. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. BI bias maskulin. Singkat kata. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. dan implikasi kemasyarakatannya. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. BI akan dibedah dari perspektif gender.. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja .

bahasa juga merupakan wahana budaya. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). kekerasan. tindakan. Padahal. Dilihat dari kemurniannya. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). Soalsoal sosial-politik.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang.H. interaksi manusia. Untuk telaah ketimpangan gender pun.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Dengan ancangan ini. Di samping sebagai bagian. Greenberg (Samsuri. Untuk diskusi ini. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. berupa tuturan bahasa. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). menarik diungkap di sini keyakinan J. dst. Sebagai human instrument. sistem religi. Topik bincang . bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. dan bahasa (Koentjaraningrat. tindakan. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. kesenian." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. ini tidak keliru. dan benda karya budaya. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. 1964: 79). jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. yang akan membentuk realitas simbolis. sistem ekonomi dan mata pencaharian. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. 1986). Dari segi kebahasaan. hukum. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. terutama dalam menyusun kategorisasi data. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). sistem kemasyarakatan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Sebagai wahana budaya. yakni tuturan alamiah keseharian. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. Ingat. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study).3) Akan tetapi. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. Dalam hal ini. telaah ini bersifat interdisipliner. Maka. masyarakat. Dengan ini. Bahasa adalah cermin budaya. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. "bahasa menunjukkan bangsa". Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan.1) Itulah sebabnya. yang membentuk realitas sosiobehavioral. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya.Dengan pendekatan verbal. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan).

yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. putri. *kakek moyang. nenek. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. misalnya. Riyanto yang sudah almarhum itu. Riyanto. nenek moyang. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. dewi. misalnya. *bapak pertiwi. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. induk semang. Maka. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". seorang artis yang bernama Lisa A. termasuk dalam hal menerima sebutan.dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. nuansa kesan yang memancar adalah . penyebutan keberadaan atau tindakan. induk. *dewa malam. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. "ibu kota. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. dewi malam ('bulan'). predikat. ibu pertiwi. keniscayaan struktur. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. *putra malu. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. Setelah berumah tangga. pada beberapa suku. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. dan *raja adil". dan bukan *bapak kota. dan inisiatif pengucapan. dan ratu. *jago semang. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Atau. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. etnis. Dengan memakai ibu. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. putri malu (sejenis bunga). terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. Alih-alih dengan itu. dan ratu adil. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. dan kelompok sosial lain.

untuk sesuatu yang bersifat garang. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. *babon nggambar. *ibu pembangunan. dan jelas bukan *ratu judi. konotasi yang muncul berbeda. dan damai. Siapa pun tahu. Akan tetapi. memang. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Kata pelacur. Seseorang yang sedang makan siang bersama. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". dewa maut. dan tiba-tiba perutnya mules. macan'). saya mau ke belakang". Perasaan menjadi lega. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. dan agresif itu. Agaknya sudah menjadi "kodrat". *ibu pendidikan nasional. kepasifan. *ratu copet. garang. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". dewa perang.kedamaian. norak. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. jago nggambar. "teko". Masalahnya. "gigolo". perintis koperasi itu Mbak Tutut. *babon matematika. raja judi. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. harus "dihaluskan". diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. jago matematika. Dalam kosakata BI kontemporer. raja siang ('matahari'). kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. raja copet. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. Jadi. dan memang tidak harus jantan. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". "bawon". Sehubungan dengan kajian ini. tenang. Layak dipertanyakan kebenaran ini. Semua setuju. diam. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. "bandot". *ibu koperasi. pemberani. anggun. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. ketenangan. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. orang bisa menepuk dada. misalnya. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. R. menjijikkan. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. Tentu saja. Bung Hatta "Bapak Koperasi". "*Ibu Koperasi".A. indah. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . memang ada. adalah fakta bahwa "pria penghibur". bapak koperasi. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. agresif. kesabaran. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. bapak pembangunan. itu soal lain. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. bapak pendidikan nasional. karena dipandang vulgar.

Pernyataan "cuma istri. akan sering muncul di sekitar kita. Maka. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Dan. Jika boleh. Atau.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. manakala saya tanyakan berapa gajinya. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". Lalu. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. WK) berpenghasilan tinggi. mengajar. Karena beban kondisi ini. WK : Ah. WK : Ah. Masalahnya lagi. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. jadi tidak sekadar melengkapi. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. nanti. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. makna kata menjadi enteng. Bu. Masalahnya. Dengan demikian. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Toh mereka merasa . gaji tinggi melebihi suami kok malu. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. Jadi. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. sebagai survival strategy. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. Mengherankan. atau alumni madrasah tsanawiyah. Hebat. barangkali kembali ke pelacur lagi. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Saya: Gaji segitu besar lho. jika PTS dipilih. Cepet kaya. remeh. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. hanya sekadar membantu suami saja. Mereka malu mengakui. Itu kan menurut situ. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. Untuk ini. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Bu. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. WTS pun mesti dihapus. saya belum siap diprotes. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. misalnya. ganti lagi dengan yang lain. saya kan cuma istri. nggak juga. Ini kan di atas gaji suami. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi.

Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Dengan standar ganda ini. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Aku kan bininya. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Aneh.. Nduk! AP : Mbok. Nduk. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki.hanyalah figuran pendamping belaka. Lagipula. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. Perempuan saja kok macem .. Nduk. Lurah kok mau dilawan. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. Cuma perempuan. sebab ramai. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam... mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Nggak ada ceritanya. Siang keras. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. patuh. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Ee . Padahal. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. kok di sini dipotong orang seenaknya. Kita ini orang kecil. ingat kamu itu perempuan lho.. tapi ini kan duit laki saya. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. mengalah. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Dipikir . Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. kita itu kan perempuan to. perempuan bisa menang. melawan. Jadi ya termasuk duitku juga.

tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Malahan. Ini urusan lelaki. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. Tentu saja. perhatikan dialog rekayasa berikut. salah satunya dalam dunia pendidikan. Ibu ini tak salah. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Adikku yang manis menimang boneka. kita 'kan lelaki. seperti lingkungan kita ini. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Sebagai bandingan. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. *Bejo: Iya ya. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. "Perempuan saja kok macem-macem. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. khususnya dalam buku-buku bacaan. bahkan tak tahu diri. Maka. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Ini urusan lelaki. Ibu menjahit baju. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. ini urusan lelaki. Maka." katanya. Sementara diam dan nerimo saja. dengan imbangan penghargaan yang tak sama.. Oleh karena itu. percakapan.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. 1981). Masak mau menuntut pak lurah. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. .. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Biar dia yang ngurus. . Aku bermain layang-layang. dalam wacana di atas. Apa sih jeleknya orang ngalah. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. sempurna sudah kekalahan mereka. atau peristiwa tutur lainnya. Lelaki saja kok macammacam. Kan nggak pantas.-macem. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Ibu memasak di dapur. Ingat kita ini kan lelaki. 1979: 205).

Jumat malam meninggal secara mendadak. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. penting. Jadi. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. Siti masih sering pulang malam. Padahal. hanya layak untuk lelaki. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. yang hanya mengganggu saja. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. Akan tetapi. Ayah sudah berangkat ke kantor. entah sadar entah tidak. atau malah pagi buta. Sementara. bahkan mungkin lebih negatif. Akan tetapi. (hal. menohok perempuan. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. Coba diandaikan. Malahan. Akan tetapi. (3). kecil. Ibu sedang memasak. misalnya. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. ini bukan barang aneh. (460) 4. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. (477) 7.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. dari perempuan. hanya seorang yang perempuan. sedangkan pada kalimat (2). (6). 427) 2. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). (5). (438) 3. yang memang membahas kalimat dan wacana. jika bab-bab lain ditelaah. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Banda Aceh. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. sepele. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Direktur RSU Dr. hasilnya sama saja. kesan remeh. sedangkan ayah sedang membaca koran. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. Zainal Abidin. (463) 5. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. mitos soal-soal besar. yang menentukan segalanya.7) Sebutan Negatif. Kamaruzzaman (52 tahun). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Pada kalimat (1). 1. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. Kalau dicermati. itu mungkin saja. (473) 6. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). kalau boleh menduga. Dokter H. Begitulah. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. pantas dikenakan pada perempuan.

banyak. misalnya. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. memang tidak ada "*sangat lelaki". agak kecil. misalnya.8) Maka. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. pasif. Kontinum standar "besar". Sebaliknya. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. melontarkan interupsi. kecil. Dalam kontinum tersebut. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. dll. cengeng. Dalam realitas empiris. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. Sebagai standar. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". jika seorang perempuan terlihat malu-malu. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". dan rasional. Oleh karena itu. Barangkali. misalnya. rujukan. bandingan. tebal) dan bukan yang minor (ringan. Oleh karena itu. itu sudah semestinya. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. tinggi. Jika ungkapan mulut perempuan. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. Bahkan. menurut pengamatan D. "*lebih betina". Lelaki yang terkesan klemar-klemer. "tinggi".15cm itu memang tergolong relatif tipis). Maka." (biarpun 0. menempati kesan buruk. "*agak perempuan". kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0.15cm. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. dasar betina. seorang perempuan yang "tomboy". Maka. sedikit. jantan >< betina. misalnya. misalnya mencakup dari sangat besar. rendah. tegar.perempuan". Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. standar. besar. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? . Akan tetapi. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. Padahal. lamban. sentimentil. Mengapa demikian? Ya. hakikatnya. yang tidak negatif. lain fakta. demikian juga "berat". lain konsep. tipis). sampai sangat kecil. hakikatnya. feminin >< maskulin. dan "banyak". untuk memandang gender perempuan/feminin pun. malu-malu.15cm". Oleh karena itu. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". agak besar. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. sudah "kodrat". sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. Spender (1980). dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. Barisan lelaki dianggap superior.

ini tercermin dalam bahasanya juga. Biarpun begitu. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. sehingga menjadi wanita wartawan . bahkan lebih gila lagi. . untuk konsep manusia. "rok mini. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. sekali lagi. malu-malu. yang berbau perempuan itu nonstandar. Dalam bahasa Inggris. keluar keringat dinginnya. Doni mengenakan rok mini. sastra. "polisi" saja. bukan kodratnya perempuan. ini harus ditegaskan lagi. Maka. Spender mesti meminjam dulu kata man. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. orang meminjam kata man. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. orang akan mempersembahkan konotasi positif. "kamu". layak saja. 11. PD". Dalam kebudayaan Barat. Sebab. dan bukan woman. Lelaki pakai rok? "Ah. sedang perempuan substandar. akan tetapi jika disebut woman. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. artinya sudah standar. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. entah lelaki entah perempuan. Dalam keadaan terpaksa. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. Cowok atletis itu malu-malu. tetap saja. dan bukan woman. Maka.9) Lelaki memang menjadi standar. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. apakah orang sudah paham pasti. Bukankah standarnya selalu "celana. Umumnya orang. Jangan lupa. Maka. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". Maka. sedangkan perempuan. 9. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. misalnya. yakin. Itu 'kan khas perempuan. dan polisi wanita (polwan). Denggan kondisi ini. tetapi jika yang disebut mahasiswi. orang pun latah. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. sastrawan wanita. Dina memakai celana. akan bertindak aktif dan menuntut. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. ketika D.8. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. Artinya. "sastrawan". "aku". 10. lelaki itu standar. untuk menyebut manusia pada umumnya. kalau disebut man. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". "belum manusia utuh". Sebab. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. grogi. sabar atau tidak. dan bukan *Woman Made Language. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. grogi" bukan standar. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11).

melainkan juga realitas kultur. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. bebal. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. Maka. 2. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. berkuasa. "bercerai dari". kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. atau mungkin sebenarnya mengerti. Alwi dkk. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. dan pilihan konteks situasi yang tepat. "tidak langsung buka kulit. Biasanya. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". bukan karena struktur. isyarat dan perhatian. dan "diceraikan oleh". "minta cerai dari". tetapi tidak transparan. atau resmi nikah. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. perpacaranan. 1993). Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. misalnya. perkencanan). tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. seorang perempuan dapat "kawin dengan". masalahnya dia itu selingkuh.1. memprakarsai. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. aku akan menceraikannya. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. 1988. tampak isi". lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. tak ada pilihan lain. Tapi. Tetapi.. Dalam kultur masyarakat kita. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. Oleh karena itu. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. Maka. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. soal bahasa bukan hanya struktur. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . Bahwa setelah mereka resmi pacaran. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). Tetapi. goblog. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. dalam dunia komunikasi (pergaulan. perempuan bereaksi. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. aku masih bisa menerima. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. berkedudukan. meskipun sebenarnya aku masih cinta. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. apa salahnya. predikat (P). Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam.

pandangan hidupnya.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. akan kusayangi dia. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Maka. dan inisiatif ekspresi. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. dan (f) sebutan penstandaran gender. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. Sebutan pelecehan martabat gender. keluarga/perkawinan. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. Jika nanti sudah menjadi milikku. lain tidak. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Tetapi. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. (b) sebutan pelecehan martabat. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. Mengapa? Ya itu tadi. semacam WTS. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. aku ragu. Apalagi inisiatif ekspresi. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. apa dia mau. khususnya terhadap eksistensi gender. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. Aku sangat mencintainya. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Akan kucium keningnya. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan .

1993). Prisma XXV/5. subbab 'Language and Sexim' (hal. ". Cet. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. 306--312). Siusana Kweldju. bahasa ini mungkin bergender lelaki. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . dan alat budaya.. Dalam posisi yang serba timpang ini. subordinasi perempuan. Vol. khususnya bab "Language in Society". Catatan 1. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. Warta Studi Perempuan. tak berdaya. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. 1981). "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". dan hegemoni pria.berkembang. No. Dengan begini. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". V (Fort Worth: Holt. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ".. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Dengan demikian. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. An Introduction to Language. ketimpangan gender. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. 1994. bodoh. lemah. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Lihat Arief Budiman. Dengan begini. 4. 2. 1975: 14--23. Konsep ini dekat dengan seksisme. 3. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. Rinehart and Winston. Mei 1996. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 28 Oktober 1986. dominasi lelaki. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. lelaki mendominasi. terutama dalam menyikapi gender. Periksa: Samsuri. wadah. supremasi kekuasaan lelaki. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. Edisi V. Kebudayaan. "Gender. . dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. Inc. lih.. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. sedang perempuan tersubordinasi.. wanita dijajah pria . masyarakat. pintar.. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. Buletin Yaperna. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Asfar. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. kuat. Muh. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Marginalisation and Rural Industry". dan bahasa Indonesia. Dengan pendekatan verbal. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana..

Warta Studi Perempuan.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. she's been around . He's closemouthed. merawat rumah bukan monopoli perempuan. D.M.. 6. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. dan bukan kodrat (nature) perempuan.. 24 Agustus 1996. 1--14. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin.. He is a man of the world." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). a businesswoman is pushy . When you say Man. Lih. He stands firm.. you include women too. she's secretive. 1986). a man of great learning". Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII.H. You didn't say anything about women. No. He exercises authority diligenttly. she doesn't know when to quit . she's power mad . Stereotipi Seks". two at noon. 1994). 5. No. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. bermain boneka). 6) menulis: "A businessman is agressive. Vol. berikut ini dikutipkan beberapa saja. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. sebab lelaki juga (harus) bisa.. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). bermain layanglayang).. 7.5. juga Kweldju (1991). Opcid. memasak.. TBBBI edisi II (1993). lebih tegas lagi. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. 1980). . melahirkan. 9. 7) TBBBI edisi I (1988). New York: Cornell University Press.. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. A businessman is good on details.. she's hard . Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. she's mouthy . Lih. you answerd. 7--18.C.. Oktober 1996... she slept her way to the top. The Science Question in Feminism (Ithaca.. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. mengasuh anak. 4. Vol. hanya 2 orang yang perempuan. n. He climbed the ladder of success..D. 8. Spender.. Dalam hal ini saya (dkk. He follows through. 1.. abang. LPK2I. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Bahkan. Lalamentik.. 'Man'. Everyone knows that... 1.. 32... Dalam pandangan kelompok ini.. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. Daftar Pustaka . hal. and three in the evening'. S. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. Fromkin dan Rodman. He isn't afraid to say what is on his mind. she's picky . yaitu menstruasi. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. hal. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". Sebagai contoh. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal.). dari 11 penyusun. Ph. Harding. . hal 307..

London: Longman. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. Bahasa Indonesia. Kweldju. sedang lelaki penguasa kehidupan.L. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. 1981. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Pembagian Kerja secara Seksual. 1993. pemakaiannya. Ashen. jabatan. sedangkan lelaki pemberi identitas. Women. K. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. perempuan penerima identitas. dan F. Beverly Hills: Sage Publication. dan M. 1983. 1996. sedang lelaki aktif. D. What is Patriarchy. J. Jupriono. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. New Delhi: Kali for Women. Frank. prestasi. S. Kirk. 1997. J. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. organisasi. 23 Juni. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. New York: State University of New York Press.Bhasin. Coates. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. 1995. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. Budiman. dan implikasi kemasyarakatannya. Tempo Interaktif. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. II/16. 1986. sedang lelaki tidak dipersoalkan. Samsuri. Reliability and Validity in Qualitative Research. Jakarta: PT Gramedia. Dalam kebijakan institusional tergambar . Miller. Language and the Sexes. LP3K Multimatra. F. 1990. A. 1986.

. Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. Meskipun demikian. . akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Sebagai unsur. Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. sebab dari sudut pandang gender. pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat.jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. identitas. 2001). tetapi tidak diakui. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. sistem ekonomi. bahasa adalah cermin kebudayaan. dengan kata lain. misalnya. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Demi kerincian. 1993). Bailey. kosakata. Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky.). sistem religi. artinya. Beberapa penelitian terakhir. menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. ungkapan. misalnya. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. 2003). 1986). Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. Dikatakan “secara garis besar”. sistem sosial. 1982). struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Dikatakan oleh Labov. dll.

dan fonologi. Dalam ragam bahasanya. dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. USA. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. 1991). dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. Akibatnya. dan lebih inferior. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. kosakata lebih sedikit. menurut (Coates. pasif. Dalam gramatika. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. dan tidak mengumpat. gramatika. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. 1979). 2001). Di samping itu. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. 1984). Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. manja. kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. Dalam fonologi. kurang meyakinkan. sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. Dalam hal kosakata dan ungkapan. Coates. yaitu kosakata. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. dan Belanda. emosional. bodoh. sehingga terkesan kurang tegas. 1991). 1991). sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. Bahkan. fonologis. Realitasa ini. bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). berbicara lebih sopan. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. 1981. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. lebih subordinat. irasional. 1981). kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. terlalu boros kata-kata. dibandingkan dengan kelompok lelaki. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. dan gramatika. kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . Dalam berbahasa. 1982). dan remeh (Kramarae.

Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. Kedua. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). bagaimanapun. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. Kweldju. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. superior. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. sedang lelaki dikodratkan aktif. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. 1993). beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. mengasuh dan mengajari anak. Oleh karena itu. Menurut Jespersen (dalam Kweldju. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. dan subordinat adalah perempuan. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. Sebagai ibu rumah tangga. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. mencuci. dan . *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. 1979). 1993). menjaga perasaan. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. termasuk mengajari anak berbahasa. misalnya memasak. aduh Mak—dan bukan *alah Pak.majemuk setara. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. Pertama. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. inferior. andai saja suami itu bodoh. termasuk ungkapan alah Mak. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. Tetapi. dan dominan.

2000). Kuntjara. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. merias diri. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). . 2003). Maka.menghormati lelaki (suami) (Spender. 2003). ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. misalnya *pemiara. tidur terbuka menelentang) (Sobary. istri gelap. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. mbegagah ngablah-ablah (di rumah. yang justru lebih kaya. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. atau pun simpanan. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. kasur. olah-olah. tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. mlumah. lulur. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. misalnya. dan jika istri menjabat. masak. Sementara. *suami gelap. sumur. 1985). Linda atau Bu Astuti. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. atau pun *penyimpan. Ketiga. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. Sebagai bandingan. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. Ia mesti pasif menunggu. Dalam dunia prostitusi. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. malam jadi alas untuk ditindih). Boleh saja. melahirkan) atau pun neng omah. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. sungguh tidak perlu diragukan. memasak. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. Keempat. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. manak (memasak. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. suami bebas atau tidak usah nama baru. macak. dalam bahasa Jawa pun.

bapak pendidikan. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. Keenam. Sebutan profesor. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. Kelima. khotbah. *ibu koperasi. Julukan jago matematika.: Bpk/Ibu/Sdr. ceramah. istri akan dipanggil Bu Kades. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi. Ketujuh. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. kesebelasan wanita. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. “gaul”—oleh sekitarnya. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan. asal masih mau sedikit berdandan saja. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. adalah Bapak-bapak. prestasi. misalnya. … Kedelapan. Dengan kata lain. biasanya menjadi profesor wanita. … dan tentu bukan *Kepada Yth. kesebelasan. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. rapat. Jika kosakata itu berbau perempuan. organisasi. peranannya . Contoh lain: bapak pembangunan. bapak koperasi. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. Bapak-bapak yang saya hormati. konotasi semantisnya cenderung negatif. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. Sebaliknya.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. *ibu pendidikan. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. suami yang istrinya menjadi kades. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. “masa kini”. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. Misalnya. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita.: Ibu/Bpk/Sdr. misalnya. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. disamakan dengan banci. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. Jika dilekatkan kepada perempuan. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. pesilat. pesilat wanita. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. Ibu-ibu yang saya hormati…. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. Tetapi. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. perangai Eny yang tomboy.

untuk tambah-tambah saja. organisasi. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. sedang lelaki aktif. penilaian negatif. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. lelaki tidak menjadi masalah. *Hari Kartini. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. Dia akan mendapat cap buruk. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. Dalam hal demikian. atau kalau diakui. Secara psikologis kultural. Hari Kartini. sedang lelaki penguasa kehidupan. tahta. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. tetapi tidak diakui. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. Sebagai bagian dari masalah. dan *Hari Bapak. wanita. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. Kesembilan. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. Misalnya seorang istri yang berdagang. Bahkan. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear. atau peluru dan wanita. penghasilan suami cuma berapa. sebagai berikut. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. dengan malu-malu. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. dan Hari Ibu. Sebaliknya. 2003). (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. misalnya dalam ungkapan harta. sedang lelaki tidak dipersoalkan. hanya kerja sambilan. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. prestasi. sedangkan lelaki pemberi identitas.

dan sosiokultural (Kweldju. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. “Gender. Maka. buku Esther Koentjara (2003). Oxford: Basil . Sociolinguistics. dan Kekuasaan. London: Longman. Cambridge: Cambridge University Press. 1991. Lakoff. data yang disajikan amat terbatas. Daftar Pustaka Acuan Budiman. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Dalam B. 1982.C. dan Kekuasaan”. Kuntjara. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. Hudson. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. 1992. Men. Jupriono. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. sebagai kajian sosiolinguistik. C. M. Parafrase 4(1) Februari.. “Talking Like a Lady”. 1981. “Bahasa Indonesia. Februari. 2003. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. Surabaya: Fakultas Sastra.A. Inc. The Ethnography of Communication: An Introduction. Bahasa Lelaki?”. A. 2003.C. 1979. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. R. Sekadar. Jupriono. Kuntarti. Inc. jika kajian ini dilanjutkan. Dalam B.. Women. R. FSU in the Limelight 5(2) Juli. menyodorkan saran.J. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). Co. Ketiga. Wishart & L. Rahayu.). tetapi tidak diakui. D. (ed. Modern Sociolinguistics Issues. S.perempuan sebagai golongan kelas dua. A. New York: MacMillan Pub. D. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. bahasa. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. Bahasa. 1993. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. 1997. Warta Studi Perempuan 4(1). Pertama. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. selayaknya diadakan pengayaan data. Kramarae. Gender. Parafrase 3(1). J. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”. dapat dimanfaatkan dalam hal ini. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. misalnya pendekatan psikodinamis. 2003. K. N. Kedua. Reichman (ed. London: Newbury House Pub. 1986.). Santoso et al. Kweldju. kognitif. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa).I. Saville-Troike. Coates. E. Universitas Kristen Petra. 1993). Sari.

Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Oxford: Oxford University Press. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Sobary. 2000. Sudarwati M. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal. London: Routledge & Kegan Paul. “Wanodya” (Hal. Spender. M. B. Di sisi lain. 1985. Spolsky. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa.Blackwell. Program Studi Magister Psikologi. Dukungan Sosial Suami. P. D. (Tesis tidak dipublikasikan). Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. Pada pengajaran BIPA. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. 2003. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. Program Pascasarjana. Untag Surabaya Trudgill. Sociolinguistics. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). 1984. Harmonsworth: Penguin Books. Sociolinguistics. Man Made Language. 2001. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar.

tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Disadari atau tidak. gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi.. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. Interupsi ini dilakukan . semantik. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. khususnya bahasa Inggris. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. dsb.. (6) penggunaan katakata penguatan: just. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. Akan tetapi. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat. biru laut.). dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. juga Ponynton (1989). (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. turqoise. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. so (I like him so much. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. ya kan?. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. dsb. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. Di lain pihak. Secara umum. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. charming. dan gaya bertutur. stewardess). Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. Oleh karena itu. Pada bahasa Inggris. lucu. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. dsb. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin.. sort of. gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin.

Masih menurut Holmes (2001). bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. mereka menggunakan bahasa standar. dan berperan sebagai bahasa T. Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. Selain bahasa vernakular. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Di lain pihak. Secara tidak langsung. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. Menurut Holmes (2001). Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. sesuai dengan situasinya. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. bentuk . Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). baik masyarakat barat maupun timur. formal dan informal. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin.untuk ―membungkam‖ lawan bicara. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Oleh karena itu. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. untuk menimbulkan rasa aman. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar.

Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Sebentar. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu. si Clement ini disuruh mundur. itu bagus sekali mas Erdam. Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. . Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. Ya. gitu. deh.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. terus? Jadi. Orang pertama nyebur. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Silakan mas Ali.

Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya. USA: Cambridge University Press. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76).Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. An Introduction to Sociolinguistics. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . Intercultural Communication in Contexts. Janet. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. California: Mayfield Publishing Company. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). 2001. Sandra Lee and Nancy H. Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). McKay. 2000. Chambers 1995:102)i. Judith N and Thomas K Nakayama. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. Daftar Pustaka Holmes. Ketika mengajarkan bahasa vernakular. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. Martin. Oleh karena itu. Hornberger. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. Malaysia: Longman. — Presentation Transcript  1. 1996. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. Sociolinguistics and Language Teaching. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular.ii. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA.

Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. diantaranya:1. b.bentuk bahasa baku. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. sebuah golongan AS. dan “sun” („matahari‟). “malam”.pendidikan. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. 5. „Wanita. begitu juga sebaliknya. “sabun”. Selain itu. “seniman”.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak. “ball” („bola‟). menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944).3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. 6.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . Wanita lebih baik dalam membaca. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟).5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. den pendidikan sosial. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. 6. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. sertac. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. serta dapat hiduplebih lama6. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut. Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa. 6.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. iii. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi. 6. dibandingkan dengan wanita 3. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial.2. “steward”. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”. 4. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi. yaitu perbedaan tinggi nada suara. . Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki.3.b.D. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki.

Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. dan manipulasi pemaknaan. *** . Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. kelamin.Bahasa. Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. dominasi. atau ideologi. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. hegemoni. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. Perempuan.

Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. subjek. subjek. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. politik. Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. dan identitas. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa. agama. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. kaum kalah. dan bahasa. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. dan identitas perempuan. Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. subjek. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. dan identitas. atau kaum tunduk. ekonomi. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan .

Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis.peran. kesusastraan. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas. politik. Begitu. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. atau media massa.

feminin. Di Jepang. Perbedaan. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. musik recital akan berbeda-beda cirinya. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. (5) jaringan sosial. terdapat temuan bahwa selama . Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. Pembagian itu meliputi maskulin. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. (2) perbedaan (3) dominasi. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. 1. adaiah benar-benar alamiah. Daiam kebudayaan yang berbeda. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. dan netral (Matthews 1997: 142). tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. dominasi. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. perbedaan. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. dan (8) reformasi bahasa. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). Misalnya. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. (7) idiologi linguistik. laring mereka lebih besar. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. (4) jender dan variasi fonetik. Berkaitan dengan istilah jender. Ke(tidak)samaan. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Namun. bentuk dan panjang bidang vokal. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. (6) jender dalam lintasan budaya. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada.

Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. dan gejala etiket linguistik lainnya. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. cara mereka menyapa satu sama lain. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. 2. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. 1992). Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Sementara itu. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama.

ditemukan. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti . Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa.lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. pada kata running. Tannen. diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. (Gibbon. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas. seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. 1990. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan.. 1992). Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. 1985: 139). Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. akan tetapi penjelasannya berbeda. pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York.ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. Gordon. 1991). walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in).. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). 1997). seperi Norwich (Trudgill. 4. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya. 1989. Contoh. Perbedaan pola pergE. 3. (Spender. Sementara itu. Penjelasan seperti di atas. 1999: 61).

tingkat sosial. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya .1 hal 41. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. 5. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold.ini. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. dan sebagainya. jaringan sosial. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. jaringan perkenalan. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. teman dan orang asing. 2002: 111). Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. seperti kelas sosial. punya anak atau tidak. Hubungan antara jender. Contohnya. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. etnik. Jika dilihat dari jenis kelamin. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. Seperti tampak pada gambar 3. Labov (1990) dikutip Coulmas. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid.

Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. baik disengaja maupun tidak disengaja. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. M. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. M. 6. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. Reformasi Bahasa . 1. 8. 7. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. 1. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja.

Sedangkan pada wanita. kelas sosial. Seperti memukul. maupun cara menyelesaikannya. Di antaranya. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. berkata kasar dan sebagainya.Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. atau faktor sosial lain. Dari bentuk maupun fungsinya. cenderung untuk mengandalkan fisik. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. Seperti seekor reptil.tentu saja . ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. Padahal. Para ahli otak. Dalam menghadapi masalah. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. . Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. meskipun . Karena itu. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. Dalam banyak hal.mereka sama-sama manusia. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. Perbedaan itu. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. membanting. Kalau sedang emosi.

ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Sehingga. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Secara struktural. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria.Pada perempuan. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. sayangnya. Kebanyakan pria jika kena stroke. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. pada wanita yang mengalami stroke. Sedangkan pada wanita. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. seperti sedih dan gembira. dibandingkan lelaki. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. Cuma. Pada lelaki. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Selain itu. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Hampir di seluruh tubuhnya. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. tidak perlu kondisi seperti itu. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. atau bahasa tubuh mereka. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Dalam hal seksualitas. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. .

Belum lagi. Dan seterusnya. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. dalam fisik. tingkah laku. Meskipun. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. 2. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain.a. • . Dan sebagainya. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. masa menyusui. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Belum lagi. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain. Karena. kamu akan lulus ujian”. Pada dasarnya. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. masa membesarkan dan mendidik anak. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. “lupakan tentang si jelek itu. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan. seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Nyeri karena datang bulan itu. ketika mereka melahirkan. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Dan berulangkali terjadi. Sejak usia baligh. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi.

Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan.Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini.c. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”. kesal. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah.2 . tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. menjelek-jelekan pacar. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i .3 3. Misal : membaca email tanpa ijin. mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi. Terdiridari 3 management strategy. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai.Sampaikan perasaanmu. Lying (Berbohong) . Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan. 2. diantaranya :1.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality). Katakan bila kamu marah. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. 2.b.

Jadi. Carl Camden.Definisi menurut Random House Dictionary. AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h . a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a .Berbohong sebagian besar secara verbal.( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) . Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. misal : untuk uang ataupun materiil. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu. Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu.

K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. 21.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong.b i c a r a . Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur). Hasil analisis Camden. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri.5 persen untukkepentingan orang lain. 2. Sangat sulit .D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. begitu juga kebohongan. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi. mengenai cita rasa atau masakan. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian. Banyak kebohongan efektif. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas.8 persen untuk kepentingan pembohong. misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah.

mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh. Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . Denganmengetahui penggunaannya. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong. bertukarpikiran atau pengalaman. Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f . H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi. namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n .untukberbohong non verbal secara meyakinkan. kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal.

mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan.Banyak orang yang egosentris. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. kisah cinta. Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i .o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. b u k a n kesembarang orang. kadang-kadang self-talk. prestasi dan j u g a kegagalan).7 .i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . keluarga. maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. Gossip Menurut Random house dictionary. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). karir. Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . gosip adalah omong kosong atau rumor.terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. M e r e k a i n i l a h o r a n g . Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang. masalah. S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan. M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan.

” Atau “dia menganggap kamu …. Dalam berbagai bidang ilmu. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN . Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi. Dalam konfirmasi. termasuk juga komunikasi orang tersebut. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. interaksi memiliki makna yang berbeda. anda tidak sependapat denganlawan bicara.Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia …….Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. 8 twitter. Pada penolakan. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.b. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan.

Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. ciri khas. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. 15. 21. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.1. 8. 20. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. 24. bagaikan. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. 19. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. 10. 16. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. 6. 5. 11. 4. namun dinyatakan sama. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. . Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. MAJAS SINDIRAN 1. 22. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. dll. dll. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. 2. 23. 18. melalui kiasan atau penggambaran. seperti layaknya. 13. 7. 2. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. 3. atau atribut. 14. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. 17. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. 3. bagaikan. 9. 12.

Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 12. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. 16. 13. 4. 3. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Repetisi: Perulangan kata. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. 25. dll. 5. frase. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. 9. 18. dihubungkan dengan kata penghubung. tetapi dengan makna yang berlainan. 2. 5. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. 7. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. 8. 24. sehingga menjadi kalimat yang rancu. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. . Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. atau klausa yang sejajar. 20. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. kebiasaan. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. 6. MAJAS PERTENTANGAN 1. frase. 22. atau parodi. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.4. 19. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 23. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. 21. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. 15. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. ironi. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. 11. namun sebenarnya keduanya benar. MAJAS PENEGASAN 1. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. 14. 17. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. 10.

Jadi. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. Dalam proses pembelajaran di sekolah. bercerita dalam pelajaran berbahasa. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. mulai dari hal-hal yang sederhana. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. .2. 5. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. 4. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. 3. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak.

go. berinteraksi.‖ Di samping itu. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. emotions. Sementara menurut H. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. S. Hakikat Bahasa. artinya.kemdiknas. (http://imadesudiana. Sapir (1921) dalam A. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. barangkali juga untuk sistem generatif. and desires.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. bahasa guru yang menekan anak. A. by means of a system of voluntarily produced symbols. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. Pengertian Sosiolinguistik.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. dan mengidentifikasikan diri. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. (http://pusatbahasa. ataupun kurangnya rangsangan dari guru. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya …. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary.php) .wordpress. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis.id/kbbi/index.

3. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. 4. Greus Meijer. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. 2. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. and change one another within a speech community. Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. 2. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.2forum. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. Gerad Hubert. Fishman. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. Wikipedia. the characteristics of their functions. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. 1976:10). Selin itu. 8. Kedua. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. mengenai lembaga-lembaga. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. 7. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. (Rene appel. Booiji (Rafiek. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. change. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan .blogspot. 5. Pertama. 6. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. Nababan. 9. Dengan demikian.

sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. dan amanat pembicaraan. Karena. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. geleng-geleng kepala. Sosiolinguistcs is the study of language operation. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational. anggukan kepala. Kersten. kapan.G. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . (G.E. kode. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial.) (C. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. bahasa berfungsi direktif.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation.G. 1975:139). pendengar. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. viewing variation or it social context. dan apa tujuannya. Booij.Criper dan H. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia.J Verkuyl. J. dan H. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif.) (Nancy Parrot Hickerson. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. Maksudnya. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. bahasa berfungsi fatik. topik. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran. memelihara. Dilihat dari sudut penutur. 1980:81). memperlihatkan perasaan bersahabat. dan kedipan mata. kepada siapa. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran. 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. menggunakan bahasa apa. 1975:156).B Allen dan S. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. Dilihat dari segi pendengar.Piet Corder. Dalam hal ini. 4. atau solidaritas sosial. 3.bahasa dan pergaulan sosial.Widdowson dalam J. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. Dalam hal ini. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.P.

cerita. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. berestetik atau tidak. Dengan adanya sosiolinguistik. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. lelucon. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. dan sebagainya. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. tidak mempunyai nilai keindahan. Dengan sosiolinguistik. dan sebagainya. dan sebagainya. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. Melalui sosiolingguistik. Kalau kita simpulkan. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Akan tetapi. setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. Holmes 1993: 1. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. dongeng. di mana bahasa berfungsi imajinatif.yang akan disampaikan). Hudson 1996: 2). tidak terpaku pada satu ukuran. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu.

Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . B. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. faktor penanda pemilihan bahasa. di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. dan pendekatan pemilihan bahasa. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Oleh karena itu. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. Tujuan 1. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2.

Pertama. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. dengan melakukan campur kode. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Kedua. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. . Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan.3. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. dengan melakukan alih kode. Misalnya. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Ketiga. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan.

yaitu (1) partisipan. (2) situasi.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. dan tawar menawar barang di pasar. Senada dengan Evin-Tripp. . pekerjaan. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. kebiasaan rutin (salam. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. B. jenis kelamin. Di Indonesia. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. atau frase. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. rapat di keluarahan. permohonan. (3) isi wacana. yaitu pemakaian satu kata. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. dan (4) fungsi interaksi. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. dan (4) fungsi interaksi. meminta maaf. (3) topik percakapan. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. status sosial ekonomi. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. peristiwa-peristiwa aktual. kuliah. keberhasilan anak. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. (2) partisipan dalam interkasi. ungkapan. Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. atau mengucapkan terima kasih). dan topik harga barang di pasar. selamat kelahiran di sebuah keluarga. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language).

topik percakapan (isi wacana). Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. (2) penciptaan jarak sosial. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. 3. dan (4) memerintah atau meminta. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. 2. situasi. 5. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. Berbeda dengan Gal. fungsi interaksi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. (2) kehadiran pembicara monolingual. 4. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. dan (4) tingkat keakraban. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. Dari paran berbagai faktor di atas.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. partisipan dalam interkasi. latar (waktu dan tempat). dan (2) tipe kosakata. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. (2) sekolah. . Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. (3) tingkat formalitas. Di Obserwart.

Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972).C. Sebagai contoh. ketetanggaan. misalnya keluarga. Giles et al. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. Pertama. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. pendekatan psikologi sosial. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. (1973). hubungan peran antar-komunikator. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). topik. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. akomodasi ke atas . penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. serta Bourhish dan Taylor (1977). Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. yaitu pendekatan sosiologi. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. dan pekerjaan. agama. dan partisipan. dan pendekatan antropologi.

untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. dan antropologi. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. yakni observasi terlibat (participant observation).yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Sementara itu. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. . Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Sebagai contoh. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. Dengan demikian. akomodasi ke bawah. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. psikologi sosial. Kedua. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur.

(4) topik percakapan (isi wacana). Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. dengan melakukan alih kode (code switching). dan pendekatan antropologi. dan Masyarakat Multilingual. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). http://fathur-linguistik. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi.com. dengan melakukan campur kode (code mixing).blogspot. yaitu pendekatan sosiologi. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . Ketiga. (2) situasi. 2004. Pemilihan Bahasa. Pertama. Sosiolingustik Perkenalan Awal. DAFTAR PUSTAKA Chaer.BAB III PENUTUP A. Abdul dan Leonie Agustina. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. pendekatan psikologi sosial. (3) partisipan dalam interkasi. Kedua. Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. 2009. Sosiolinguistik. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat).

psikologis. dan pendekatan antropologi. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik. maupun pragmatis. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). pewarisan harta peninggalan. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. baik faktor sosial. seperti perkawinan. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . sosiolinguistik. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. pendekatan sosiologi. budaya. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. masyarakat multibahasa. Namun. pendekatan psikologi sosial. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. Kata kunci: pemilihan bahasa. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri.

tahun 1964. 1976). baik faktor kebahasaan maupun lainnya. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974).pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. 1993. Los Angeles. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. Fishman.. 1996: 2). sosialbudaya. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. Dittmar. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. 1984: 4. Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. Holmes. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. . 1971. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. (2) identitas peserta tutur. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). (2) kategori pemilihan bahasa. serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. 1972. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. (3) faktor penentu pemilihan bahasa. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Sejalan dengan rumusan itu. berbagai macam bahasa dan variasinya. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. (6) tingkatan variasi linguistik. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. Hudson. 1. sebagai berikut. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride.

budaya. dan bahasa asing. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. (6) instrumentalities (sarana tutur). Dengan demikian. tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. budaya. 1984. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. (3) ends (tujuan tutur). Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). (2) participants (peserta tutur). tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Dalam kenyataannya. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. (4) act sequence (topik/urutan tutur). 1973. Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. baik secara korelasional maupun implikasional. sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. 1996. Pada umumnya. Sebagai aspek tutur. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. (7) norms (norma- . yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). dan situasional (Kartomihardjo. Hudson. Fasold. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. 1975).Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. sistem tingkah laku budaya. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. Hymes (1972. serta sistem pragmatik. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. (5) keys (nada tutur). Dalam kajian pemilihan bahasa. Wijana (1997: 5). seperti faktor sosialbudaya. 1981. yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia.

Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. dan (8) genre (jenis tutur). yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. Di Indonesia. misalnya. sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). dalam hal memilih. Ketiga. terdapat tiga jenis pilihan. dengan alih kode (code-swicthing). dengan melakukan campur kode (code-mixing). Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages).norma tutur). Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. Faktor pertama dapat berupa halhal. yaitu pemakaian satu kata. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. . seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. Kedua. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Pertama. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. (3) topik percakapan. ungkapan atau frase pendek. Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. (2) partisipan dalam interaksi. dan (4) fungsi interaksi. Kenyataannya. pesta kuliah. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). Misalnya. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. atau berkencan. 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Gal (dalam Grosjean. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. (3) status sosial ekonomi. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. pembicara akan memilih bahasa Guarani. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. yaitu pendekatan sosiologi. latar belakang kesukuan. yaitu (1) partisipan. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. pendekatan psikologi sosial. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. yaitu (1) desa. (contoh: direktur-karyawan. (e) jenis kelamim. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa.Faktor kedua mencakup hal-hal. permohonan. (2) situasi. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. (f) pendidikan. Di desa. Berbeda dengan Gal. dan (d) memerintah atau meminta. Di Obewart. guru-siswa). Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. asal. (i) relasi kekeluargaan. (h) latar belakang etnis. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. Dari jabaran di atas. Pendekatan Sosiologi . (3) isi wacana. suami-istri. dan sebagainya. (b) jarak sosial. penjual pembeli. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. (b0 kehadiran pembicara monolingual. dan (d) tingkat keintiman. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. (g) pekerjaan. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. jenis kelamin. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. peristiwa aktual. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. (4) fungsi interaksi. (2) sekolah. (k) sikap kepada bahasa-bahasa. (c) tingkat formalitas. dan mengucapkan terima kasih. pekerjaan. harga sembako. seperti: usia. (j) keintiman. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. dan (l) kekuatan luar yang menekan. olah raga. status sosial ekonomi. dan (3) tempat umum. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). dan pendekatan antropologi. (d) usia. Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar.

Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. ketetanggaan. agama. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. tempat. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. sekolah. gereja. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. 5 berarti semua bahasa Inggris. dan partisipan. Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). yaitu: orang. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. . 1972). Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. Fishman (dalam Amon. Greenfield menyebarkan kuesioner. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. misalnya keluarga. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). dan pekerjaan. Sebagai contoh. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. dan topik. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. seperti pendidikan dan pemerintahan. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). pantai. hubungan peran antar komunikator. Di bagian lain. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. dan tempat kerja. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. topik. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol.01. Analisis domain terkait dengan diglosia. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik.

Dengan kata lain. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. daripada berorientasi pada masyarakat. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face).Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. akomodasi mengambil bentuk konvergensi. seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Kedua. Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. Herman membicarakan tiga jenis situasi. yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Howard Giles (1977. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping).Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Secara normal. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs). seperti motivasi individu. akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. Bourhish dan Taylor 1977). Dengan pendekatan yang sama. dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Seperti juga psikologi sosial. Pertama. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. Giles. Dalam kondisi tertentu. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang .

London: Edwar Arnold . Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. London: Bastford. dan situasional. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). dan psikologi sosial. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. Selain itu. Norbert. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. melainkan juga dengan masalah sosial. Sebagai contoh. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. 1976 Sociolinguistics. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. 1970: 49). Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. budaya. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen.T. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. 1976 Sociolinguistics: Goals. pendekatan sosiologi. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. DAFTAR PUSTAKA Bell. Dittmar. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. 1984: 192). psikologis. R. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. Approaches. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Australia Timur. and Problems. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya.

Oxford: Basil Blackwell. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. Gumperz.Edwards. 1972 The Sociology of Language. Giles. Joshua A.). ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. Fracois. Lawrence. John dan Hymes.). 17-35). Gal. Place. Giles. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. (hlm. 1994 Multilingualism. Ethnicity. (hlm. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. Many men and women assume that males . Rinehart. 1984 The Sociolinguistics of Society. 1982. 1977 Language. Groesjean. Robert. Howard. 225-240). Fasold. Fishman. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. In their new book.‖ Dalam Fishman. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. Susan. ________. 1972. Cambridge: Harvard University Press. Dell (eds. Advences of Sociology of Language. Evin-Tripp. London: Academik Press. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. New York: Academic Press. Ralph. 1979 Language and Social Psychology. New York: Holt. Harmondsworth: Penguin. England: Penguin Books Ltd. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. Susan M. Howard dan St. Life with Two Languages. The Hague: Mouton. Volume 2. John. Sociolinguistics. Rowley: Newbury House. Clair. and Intergroup Relations.6 percent higher than those attained by women. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. ed. Women Don’t Ask (2003). and Winston. Greenfield. Oxford: Basil Blackwell. 1990 The Sociolinguistics of Language. 1972 Direction in Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell Publisher. 1972.

They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. women are supposed to be passive and submissive. ―you know‖) than their male cohorts. Females are thought to be more accommodating. Male negotiators. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals.are highly competitive. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. If these stereotypical assumptions are right. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. These men give further leverage to their female opponents. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. They have the right to use any . Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. This is especially true when females use foul language and loud voices. During personal interactions. When men and women interact. Men utilize more direct language. Men are expected to emphasize objective fact. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. Men are expected to be dominant and authoritative. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. women are thought to be emotional and intuitive. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. which causes women to be perceived as less forceful. REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. and they are more effective using this approach. (Deborah Tannen. they allow their female opponents with a bargaining advantage. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. manipulative. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. As a consequence. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). women focus more on the maintenance of relationships.

their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. Play Like a Man. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. they tend to feel unprepared. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. no matter how thoroughly prepared women are. They have been encouraged to engage in little league baseball. I find this frustrating. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. fearing that competitive success will alienate them from others. basketball. (Gail Evans. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. soccer. where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. Even when minimally prepared. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. Most boys are exposed to competitive situations at an early age. on a credit/no-credit basis than men (27%). . men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. When men are successful. On the other hand. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. Win Like a Woman 80 (2000)). Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students. regardless of the stereotypes those tactics might contradict.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. This factor causes male success to be overvalued. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women.techniques they think appropriate. when women are successful. To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. and female success to be undervalued. football. and other competitive athletic endeavours. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years.

I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender. Charles Craver is a Professor of Law. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. generating more results in the mid-range. George Washington University.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). Risk Taking and Negotiation Performance. The average results are almost similar. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. (Charles B. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. Reader Comments .STATISTICAL RESULTS Since 1973. They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. I have discovered that practicing attorneys. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. Barnes. If this hypothesis were true. Many individuals believe that men are highly competitive. My students participate in a series of bargaining exercises. Several people suggested to me that while the average results might be equal. ―Gender. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. Over the past thirty years. the male results would be more widely distributed. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. Over the past thirty years. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. the results of which affect their course grades. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. business persons. Craver & David W. while more competitive.

teori kesantunan berbahasa. 2011. M. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. bukan pula dari aspek psikososial. Please find below a suggested description to accompany your link. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. You can find in-depth negotiation articles. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis.S. S. Kesantunan dalam berbahasa. terkecuali dalam telaah pragmatik. business cartoons. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part . negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27.com. Bookmark the permalink.we ask only that you include a clean html link back to this site. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www. teori kesopanan berbahasa. .negotiations. namun juga dari aspek etika. bukan hanya dari aspek tata bahasa.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. pragmatik. preferably to this page.. meskipun disebut sebagai horison baru. negotiation Q&A's.

maupun para pembelajar bahasa. sementara itu. secara tradisional. 1995). Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. Selain itu. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). Selain itu. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. yang membawa ideologi liberal. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda.‖ baik milik penutur. agar santun. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. Teori yang diulas singkat ini. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Kesantunan berbahasa. Brown. ini bukan dalam arti rupa fisik.‖ dalam hal. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. maupun milik mitra tutur. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. namun ―wajah‖ . Teori Wajah oleh Goffman. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. dan Levinson. baik oleh pakar atau linguis. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. ―Wajah. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. Brown.

artinya. ketakformalan.dalam artian public image. sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. Pada wajah. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. pemabuk. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. atau anak dan ayah). apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. dan sebagainya). tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. Sementara itu. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . atau dimiliki secara individu. pengakuan. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Untuk lebih memahami konsep wajah ini. pacar. Oleh karena itu. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. bebas dari gangguan pihak luar. merupakan ―pinjaman masyarakat. dalam tradisi Cina. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. Meskipun demikian. dalam konsep kesantunan berbahasa. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. konco.. dan kesekoncoan. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. 2008:2). baik wajah positif maupun negatif. bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini. Wajah. termasuk dalam berbahasa. 2008).

Sejenak jika dilihat. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. tapi so lewat jao. dan mungkin berpendidikan rendah. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. ketakformalan. numpang tanya. dan wajah mereka terancam. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. maaf nih. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. konco. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. rasa kekoncoan (camaraderie). kesekoncoan. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. tanya sadiki. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. tapi mereka tidak mau). Tuturan sopir B. ini skarang so sampe di Kastela. melalui konsep wajah positif. ini sekarang sudah sampai di Kastela. . Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. dan sebagainya. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. nanti baru nae oto dari bawa saja. (Bukannya masih jauh mas. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. tidak sopan. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. maaf. tetapi dari aspek kesantunan. nanti bilang turun di Sasa. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. (Astaga. Dari aspek kesopanan.

Perhatikan contoh berikut ini. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. Artinya.106). Kami minta maaf). penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Maaf lagi… (Saya. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. gender. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. hal ini bukan hanya mengancam . nanti naik angkot lagi dari selatan. tarima kasih e? (waduh. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. dan strata akademik. bukan masyarakat asli. Penumpang A: Wah. 2006:104).tapi sudah kelewat jauh. nanti bilang turun di Sasa). termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. om. atau keformalan. strata sosial. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. Dalam konteks interaksi seperti di atas. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. termasuk usia. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. om. Bahkan. Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. jelaslah bahwa dalam berbahasa. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam.

Levinson. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. (2000). Sementara itu. Artinya. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Intinya. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. Menuju Universalisme yang Hakiki. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Australia: Monash University. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Di lain sisi. (1987). P & S. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Goody (ed). maka ancamannya pada wajah negatif. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. Menggugat yang Semu. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. In E. maka pengancaman wajah bersifat positif. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Brown. maka ancamannya pada wajah positif. (2008). Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). termasuk mitra tutur. Cambridge: Cambridge University Press. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Daftar Pustaka Aziz. A. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. tekanan. Santun berarti tidak mengancam wajah. atau gangguan dari pihak lain. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. 56-289. Disertasi. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. . Aziz. Pidato Pengukuhan Guru Besar. E. A. E. maka pengancaman wajah bersifat negatif.wajah mitra tutur muda.N.C. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu.

Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. E.Goffman. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. maupun para pembelajar bahasa. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . yang membawa ideologi liberal. Selain itu. J. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis.S. bukan pula dari aspek psikososial. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). G. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. (1995). Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. meskipun disebut sebagai horison baru. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. Kesantunan berbahasa. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. secara tradisional. 2011. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. terkecuali dalam telaah pragmatik. S. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. (2008). Thomas. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. London: Longman. baik oleh pakar atau linguis. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Pragmatik. teori kesantunan berbahasa. teori kesopanan berbahasa. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. agar santun. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis.. Interaction Ritual. pragmatik. M. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. NY: Doubleday. Bookmark the permalink.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. Indonesia: Pustaka Pelajar. (1967). Yule. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. bukan hanya dari aspek tata bahasa. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. Garden City. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. Kesantunan dalam berbahasa. namun juga dari aspek etika.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. strata sosial. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. Intinya. Maaf lagi… (Saya. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. jelaslah bahwa dalam berbahasa. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Sementara itu. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule.106). Perhatikan contoh berikut ini. termasuk usia.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. maka pengancaman wajah bersifat negatif. maka ancamannya pada wajah positif. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . termasuk mitra tutur. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. Bahkan. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. Dalam konteks interaksi seperti di atas. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. om. 2006:104). dan strata akademik. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. atau gangguan dari pihak lain. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. tekanan. Artinya. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. maka ancamannya pada wajah negatif. Kami minta maaf). gender. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. om. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. maka pengancaman wajah bersifat positif.

I aim to move . atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Yule. Furthermore.C. Daftar Pustaka Aziz.adalah kehilangan wajah (loosing face). NY: Doubleday. G. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Indonesia: Pustaka Pelajar. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. Goffman. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. Cambridge: Cambridge University Press. Di lain sisi. In E. E. Interaction Ritual. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. (1995). Garden City. (2000). Santun berarti tidak mengancam wajah. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Levinson. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Goody (ed). ethinking Politeness. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Aziz. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. A. E. Thomas. (2008). Australia: Monash University. Disertasi. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Pragmatik. J. Menggugat yang Semu. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. 56-289. E. P & S. London: Longman. A. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. (2008). Menuju Universalisme yang Hakiki.N. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Brown. (1987). (1967).

individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. modes of talk and domains. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. I argue that communities of practice. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. we may be able to see gendered protocols at work. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. it should be seen within the context of a community of practice. (2) In terms of the analysis of politeness. I would argue that we need several analytical changes: firstly. (3) In this way. as Brown and Levinson (1978) have done. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. To illustrate these ideas. and finally. Thus. constitutes a discourse analysis of politeness. This. therefore. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. in the final part of this essay. rather than a linguistic analysis of politeness. we can map out parameters for . I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. Keywords: politeness. pragmatics. I will suggest that. secondly. rather than individuals. gender. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. rather than as simply as the product of individual speakers. in an analysis of an incident at a departmental party. and who needs to repair the damage. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. (Sperber and Wilson. nevertheless. but. we need to be able to analyse the various strategies which gendered.

and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. Within this view. ways of talking. 1998. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. values. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. as many essentialist theorists have done so far. Johnson & Meinhof 1997. and they will have different positions within these groups. (1998).' (Wenger. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. developed by Wenger. beliefs.(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. 1999). and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women. (both dominant and peripheral).‘ (Eckert & McConnell-Ginet. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. (Coates & Cameron. Fuss. power relations – in short. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. 1999:175) Thus. we need to modify this notion of community of practice slightly. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. rather than . This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. Bing & Freed. Thus. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. Bergvall. (see Butler.1988. 1995). practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. a joint negotiated enterprise. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. 1990. Ways of doing. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect. However. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. there will also be different `takes‘ on those norms. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. the issue of gender is even more fraught. (Eckert and McConnell-Ginet.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered.

However. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. politeness is already gendered. rather. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. thus. the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. however. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. . ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. athleticism and musicality. so that stereotypically it bears a signature of middle class. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice.‘(Eckert & McConnell-Ginet. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. in the way that they react to politeness and impoliteness. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. 1998:488/9) Thus. 1999). This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. (5) Furthermore. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. particularly when we are considering linguistic politeness. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. (Freed. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. the stereotypes of gender. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. classed and raced. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. As I will argue later in this paper.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities.

we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. and so on. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. (Lakoff. Spender. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. by treating him/her as a member of an in-group. 1975. 1991). In engaging in interaction.g. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. conversely. 1998. or breakdown of communication will ensue. and that can be lost. (Coates. the spread of power throughout a society. a friend. This is what I would like to call interactional power. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. because of her access to information upon which they depend.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. Face is a term drawn. via Goffman. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. that is. described as co-operative strategies or rapport talk. concern and sympathy. lecturers who need this information and who are reliant on her. Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. Tannen. will need to employ politeness forms which would normally signal deference. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. however temporarily. their linguistic directness. (Mills. (6) For example.'(Brown & Levinson. (Foucault. by our class position. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). maintained or enhanced. They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. rather loosely from the Chinese. their confidence. a person whose wants and personality traits are . to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. 1996) Thus. rather than the holding and withholding of power by individuals. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). and must be constantly attended to in interaction.

Thus. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. Thus. i. The essence of politeness is that appears to be invisible.' (ibid. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. and this is not the first time that the request has been made. (Culpeper. It is thus a model of interaction which is focused on production. forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). (Mao.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. and even then. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. however. politeness cannot be said to reside within linguistic forms. The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). 1996) As Holmes notes. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible.‘(Holmes. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example.. this might in fact be interpreted as impolite. which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. Thus. Thus. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. 1994. hedges and deference). such interpretations may be subject to disagreement. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them.e. or expressing them indirectly.known and liked). it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary.. 1995:5) However. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. which conflates the intentions. Boz. this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite.

especially with friends and intimates. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. and thus is again an example of the disembodied. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts.‘ (Holmes. nurture and develop personal relationships. Indeed. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. .‘ (Holmes. women are more polite than men. either in relation to the perceived norms of the situation.polite. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others. ingratiating or patronising. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information.‘ (Holmes. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. and thus Holmes asserts that. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. Drawing on brown and Levinson's work. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. therefore.‘ (Holmes. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. focusing on impoliteness may be slightly easier. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. For example. They use language to establish. as well as non-imposing distancing behaviour.

I had to think up some form of appropriate phatic . it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. like us. usually dominant. and this type of public verbal play in general. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. (Labov. He analyses several contexts of linguistic use . and even then it is something which may be contested by some community members. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. one of my female postgraduates and a new male member of staff. but which female members of staff may also engage in equally. the officers. Thus.a documentary programme on army training and literary drama . I would argue that within that particular community of practice. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. However. 2000 forthcoming. 1996). a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. Since the party was well underway. this is not classified as impolite. this person. although it would be within almost any other community. (12) Thus. women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. In the army training documentary which he examines. 2000 forthcoming) In the incident in question. banter. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. 1972) (14) However. Liladhar. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. However. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. and/or when it leads to a breakdown in relations. as Clare Walsh has shown. 1998). is white and middle class and probably roughly the same age as myself. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. when uttered at a staff party may be considered differently. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. The dominant group in the interaction. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. but older than the postgraduate. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. community members. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated.

such as body stance. Proxemic cues. where we had been attempting to be friendly and polite towards him. eye contact. then I would have to comply and provide a list of poets. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite.' (Cameron. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. (15) Banter was not an option since I did not know the person. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. I did not wish to be forced to answer this question. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. the male staff member then made comments which we both considered impolite. facial expression and his tone of voice. `Name me six poets‘. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. he was in fact implying that I could not name six poets. However. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. and impolite. However.communion. were in fact patronising and therefore insincere. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. (Sperber and Wilson. This response on his part confused me . because he considered them to be excessive. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. Under this interpretation. (17) What is also . 1998:448) In this case. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. (see Cameron. but instead had to be classified as offensive and impolite. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite.

We tried to assuage him and calm him down. Having worked with extremely impolite. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. However.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. Thus. . that is. for the best of motives. but continued to use positive politeness strategies. `masculinist‘ females as well. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. which in many contexts such as this one. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women. we would not necessarily have considered the incident impolite. For myself and the postgraduate. As it was. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. perhaps. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. (Walsh. as if perhaps these were implicit from the beginning. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. whereas for the male staff member. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). drawing attention to our femaleness and sexuality. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. (19) Further gendered stereotypes were brought in. that is. partly because both of us were fearful of physical attack. Thus. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. verbal aggression and impoliteness. suggesting that we talk on other subjects. it led to a range of `repair‘ behaviours. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. in the interests of departmental harmony. a stereotypically feminine response. it led to an increase in insulting terms. we could not simply walk away. do not necessarily bring any form of power to oneself. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. Because of these strategies we were locked into the interaction.

I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. Thus. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction. that is. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. what I . when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. However. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. However. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. or even perhaps an admission of some fault on our part. particularly to the postgraduate. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. and even those stereotypes can be used for our own ends. Thus. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him. A seemingly feminine response to the situation. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. one which attempts to resolve the situation. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. Thus.(20) After several weeks of not communicating with the person. (21) However. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. Furthermore. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. however. where the postgraduate tried to make a formal complaint. However. Generally. and the way that this judgement is not a once and for all act. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. even though this is a strategic use of femininity. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. and the party was disrupted by the event. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour.The incident itself is not particularly important. cannot be simply coded as powerless. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. since in fact this is what brings the incident to a close. Conclusions Thus. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make.

Thus. also. complex that relation is ). that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. Janine Liladhar. Manana Tevzadze. 1994) 5. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. individuals may perform their gendered identities in different ways. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. May. 2000 forthcoming. this was clearly the case. 2000. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. May. (see. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. Corinne Boz. and Gender and Language Conference. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. Reina Lewis. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. Holmes and Meyerhoff. Bell et al. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. Keith Green. 6. 2000. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. 2000. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. Perhaps. Utrecht. Lia Litoselliti. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. February. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. Also. International Gender and Language Association. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. 1999) 3. Clare Walsh. depending on . November 1999. Cameron. or change their meaning or function. however. As I show later. but even here. Eckert and McConnell.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. (See Liladhar. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. Notes 1. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. and it can also enable us to see that within different communities of practice. California. including the seemingly more co-operative/rapport ones. Jane Sunderland.(Butler. 1999. 4. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. in 1993. 2.

the incident still has effects on the department and is still discussed. 8. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. bullying and overbearing.ntu. 2000. 1999 on peripheral group members) For example. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. this article is part of that process of understanding the event.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness. or at our web-board: http://hum-webboard. Turkey.bargiela@ntu. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. as Walsh (forthcoming) has noted.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. and we are currently working on communities of practice and politeness. Details of the group can be found on the website http:\\www. However. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. 13. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it.ac.ac.l. composed of linguists from Britain.shu. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event. 11.7. 9. it is interesting that not all secretaries do adopt it. Even over two years. stated that when he did his year's army training. Finland and the Netherlands. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms. Italy. in the army training example. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face.ac. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness. China. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain. 12. I also requested comments on his interpretation of the incident. 10.. Georgia. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms. and I asked his permission to publish it.mills@shu.uk. Indeed. the community of practice. of course. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. .ac. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone.

Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. It is not something that they necessarily want to do. 16. he has not responded. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. 19. 17. D. Here. However.31-48. 18. Binnie. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. (See Clark.14. Furthermore. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. However. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation. 21. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. 15. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. in Gender. this is what leads to conflict. in fact. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. Cream. References Bell. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. 1/1. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. J. but the timing of the interaction precluded the use of these. for a discussion) 20. conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. or even the weather. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. such as comments about the house where the party was being held. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. G. No formal complaint was made. . pp. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. (1994) `All hyped up and no place to go‘. Place and Culture. despite several attempts to discuss this issue with him. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. & Valentine. J. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). 1998. and may be misinterpreted when used between relative strangers. I would agree that alcohol affects what we say to people.

PhD thesis. A. (1998) `Is there any ketchup. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. in ed. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. formal stylistic markers). J. V. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. & Freed. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. M. in eds. 9/4 Cameron. even encouraged. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes".203-225. and Meinhoff. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. power and pragmatics'. London. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. Boz. pp. C. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Bing.Bergvall. "are permitted. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. Bucholtz. to talk rough. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. Oxford. From Nancy Bonvillain's "Language. Culture. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. D. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. Cambridge. J.' Pp. Johnson. P and Levinson." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. S.56311. Cameron. Blackwell. Routledge. in Language in Society. they note that boys. Goody. However. Therefore. U. Language and Masculinity.86-107. cultivate a deep "masculine" voice . pp. E. London. in Discourse and Society. Cambridge University Press. and Communication" she notes that. Longman. D. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. "women typically use more polite speech than do men. Sheffield Hallam University Brown. eds." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. and softening devices such as hedges and questions. Vera?': gender. From historical recurrence. 28/2 Butler. 435-455. pp.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. ‗Language and the Media‘. 3. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. at the design of language and gender modules. for a broader overview of sex differences in cognition. whether in the form of coherent modules on the topic. at least across the ‗western‘ world. a contemporary review of the field (Cameron. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. at issues relating to teaching and learning stances. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. (For sources. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. represents a strong biological (evolutionary) perspective. we look at commonality and diversity in language and gender curricula. and critically. Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. including selection and sequencing of curricular content. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. for instance. or Women‘s Studies. however. such as Women‘s Studies. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices.and corpus linguistics). Language and gender doesn‘t. However. (Baron-Cohen (2003).) 2. have a settled curriculum. In what follows. including linguistic behaviour. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability).g. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. see Halpern (2000). the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. or within non-language programmes. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. we can contrast syllabi . or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘.) Within language and gender as a field.

and include student project work. Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. These are mainly US sources and not all recent links are available. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive. that relate to the teaching of language and gender. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. both modules explore relevant aspects of language and gender. First.csulb. Students‘ background. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. The classic case here is probably sexist (English) . are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. at the time at UCLA. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). Besnier. given the nature of the subject. sometimes problematical. has a strong and explicit anthropological focus. and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject.edu/~lemaster/lgarchive). A similar. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. for instance. academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. reflecting disciplinary perspectives. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. 2005: ‗Aims of the course‘). racial and national identities with gender. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. they see oppression as a thing of the past. On the basis of these syllabi at least. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. a problem solved. This site includes reading lists and assignment topics.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. Both have a strong empirical focus. 4. but the subject is to some extent differently constituted in each case. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. but there are particular issues. given the disciplinary and other differences referred to above. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. He also covers gender and literacy. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. on the other hand. whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. grammatical gender.

Certainly. and to associate Ms with. classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. on language and gender modules. there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. encouraged. but a history whose implications are currently felt more widely . say. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. Amongst male students.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss.) It makes more sense. but also to many third world women. This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. In this context. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. and the associated question of empirical research. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. eighteen. divorce. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. and for whom linguistic description and analysis (for example. of course. then. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. having signed up. and guidelines for inclusive language). lesbianism and a hatred of men. used. Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. and this needs to be pointed out and demonstrated. man-hating. Thirdly. if they are not simply indifferent to these debates and issues. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. of feminism in general. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps .for example. focusing on current arguments for Ms). even that they will feel uncomfortable – or. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. While fiftysomethings may have argued for. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). be made to feel unwelcome. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. indeed. in Women‘s Studies. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms).language (together with language change. worse. who are largely unused to this form of scholarship. On a different level. and indeed of making one‘s own politics explicit. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. variously. Secondly. and indeed continue to use Ms. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). on which so much language and gender scholarship is based. (This is. this may still come as a shock to students.

these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. and some simplification may be pedagogically necessary and. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). Queer theory. talk more than women. 5. or. and in fact approached critically. often having no problem identifying with the findings. appropriate. subject positioning. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. Topical C. identity. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. Historical B. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. appropriately integrated. These complex notions need to be addressed. discourse(s). It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. Theoretical/methodological approaches D. according to different organisational criteria:     A. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed.something particularly characteristic of language and gender. better. Eclectic . orientation to gender. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. indeed. but in an accessible way. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. Designing modules in language and gender In Section 5. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area.

Empirical and non-empirical early work: Haas. Gender and discourse 5. Critical discourse analysis 5. continued. Jespersen 2. Historical: Example 1. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. Early feminist work: Lakoff. newspapers. Zimmerman and West 5. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. ads. Gender and cyber-communication D. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen.g. Sexist language 2. Holmes 6. Language. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. Empirical work and the feminist contribution 3. gender and powerful institutions (religion. Labov. current emphases in language and gender. gender and sexuality 9. politics) 10. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. Spender 4. gender and children’s books 10. gender as constructed in and by language 2. Written texts: language. 7. Women and men’s talk: single/mixed sex. have grown out of (responded to/reacted against) . gender and the language classroom 8. Performativity 9. The shift to discourse 7. Discursive psychology 8. Eclectic! 1. Identity 8. Sociolinguistic work: e. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Sexuality/Queer theory 1. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. Language. Topical: Example A. Trudgill 3. Language. Language. As above. perhaps including the topic of gender and politeness 4. both topical and methodological. private/public 3.B. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. Workplace talk 6. Gender and the media – magazines. CA/Discursive psychology in language and gender study C. Coates. Discourse analysis 4. As in other fields. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. Theoretical/Methodological 1. gender and fiction 8. Corpus linguistics 9. Classroom talk 5. The importance of context 6. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Conversation analysis 7.

Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. As mentioned in Section 1. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. the workplace. intellectually complex. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. but wide.g. Of course. and now usually are – but the message does not always get through. of course. In terms of teaching. however. previous emphases can be included critically. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. which has made its own important contribution to language and gender.e. relatedly. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. how these are constructed in the literature. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005).previous ones. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. The language and gender field is young. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. A third question is the role of biological factors/explanations. but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. Queer theory. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. other organising principles than the chronological development of the field. But while the field has moved on considerably. classroom talk. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. We noted above that these have traditionally been downplayed. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. . Most basic is the question of time. If such history is to be included (Example A). and fast-growing. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible.g. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. distance.g. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). With respect to the model of communication proposed in the book.g..g. appropriateness. speaker model. and imposition)..g. racial identity. power. strategic politeness. namely. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e.to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice. The variables of class. Finally. data collection instruments. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. and methodological difficulties (e. inability to describe politeness at the level of inference). gender. individual strategies. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. Brown and Levinson's (1978. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative .. analysis of social variables such as power. face and face threatening acts). In particular.. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. data collection. their model of communication (e. In chapter 2. interpretation. Theorising politeness. notion of habitus) the constituents of politeness (e. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. positive and negative politeness. and linguistic interpretation of pragmatic data. reliance on speech act theory. notion of politeness. 1998: 76).

Politeness and impoliteness. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. In particular. Further. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. factors of gender. race. and. In chapter 3. swearing and directness. 3) different forms of data need to be considered. age. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. Then. . but rather as separate notions with specific characteristics. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. politeness and impoliteness. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment.analysis of politeness. 2) politeness is a matter of judgment and assessment. and class. sexual orientation. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. and race are examined in relation to (im)politeness. This chapter is organized into four sections: the first section. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. class. namely. two features of impoliteness are analyzed. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender.

power. is normally associated with prototypical descriptions of white. class. middle-class women's behavior. and polite.In chapter 4. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. Theorising gender. and sexual orientation. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . loudness. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. In chapter 5. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. Finally. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. Furthermore. interruption. swearing. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. mitigation. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. among other factors. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. indirect. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. race. Finally. Gender and politeness.

it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. In particular. General information . the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. data collection procedures. power) in relation to politeness and gender research. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. Finally.driven. While the analysis presented in the book is theory. EVALUATION Overall..g. race. and data analysis could have been described in one particular section. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. specific information regarding subjects. for the sake of methodological clarity. in Conclusions. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. sexual orientation. among other factors. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. and contextual elements. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class. gender.

Overall. For example. 77 which do not coincide with the bibliography. tasks. including a description of the subjects. Most importantly. on p. and Wierzbicka (2003).concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results. number of hours of recorded data. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. 14-15) within the introduction. etc. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. Watts (2003). more extensive information on the methodological procedures used in the study. data collection procedures and analysis. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). is mentioned in footnotes (pp. Finally. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. number of subjects. Furthermore. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. 2001b) on p. there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. 61 Lakoff. information concerning data collection procedures.

race. G. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. Cambridge. S.310. Politeness. P.). D. Eelen. E..(im)politeness and gender. Brown. UK: Cambridge University Press. A. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE. 2nd. (1998). 56.) (2003). Stockholm. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. Brown. and Levinson. Watts. ABOUT THE REVIEWER . Politeness: Some universals in language use. A critique of politeness theories. Cambridge. New York.g. In particular.. P. (2001). Manchester. and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. Jeromes Press. edition. class. E. UK: St.. S. UK: Cambridge University Press. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. Cambridge. (1978). Cambridge. Sweden: Universidad de Estocolmo. UK: Cambridge University Press. (1987). gender. Wierzbicka. Communities of practice. REFERENCES Bravo. Wenger. UK: Cambridge University Press. (2003). (Ed. and Levinson. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Goody (ed. (2003). R. and sexual orientation). NY: Mouton de Gruyter.

.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. Bloomington. politeness theory. His research interests include cross-cultural pragmatics. writing in the second language classroom. speech act theory. research methods in pragmatics research. interlanguage pragmatics. and first and second language acquisition.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.