0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Jespersen juga . Sebaliknya. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Di beberapa negara maju. Dalam salah satu bab buku itu. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Amerika. biasanya dalam kalimat pendek. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. seperti Prancis. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. dan Jerman. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. mereka lebih terkesan linear. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. Inggris. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. sederhana. Development. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. pada tahun 1922. Jepang. Misalnya. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Grimm (2008: 8) berpendapat. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. tidak komprehensif. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. tidak memperlihatkan emosi. and Origin. lebih bersifat pertanyaan.

2005:36). pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). keadaan. ekonomi. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. sweet. terrific. 2004:3—4). yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. misalnya. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). politik. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. agama. Di samping itu. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. yaitu waktu. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. lingkungan sosial. perempuan sering menggunakan adorable. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. tempat. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. Namun. etnik. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. predikat (P). Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. dan mitra tutur. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. charming. dan objek (O). perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. Namun. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. matang. Kuntjara. . kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. 2004. proses. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Misalnya. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. sangat berkuasa. seperti great. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. menurut Lakoff. atau neat. cool. kelas. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. peristiwa. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Dalam bahasa Indonesia. Dalam khazanah sosiolinguistik. Oleh karena itu.

Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Sebagai contoh. Namun. 4. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . Women Are from Venus. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". perasaan. 1. dan hubungan antarmanusia. tetapi palsu. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. 3. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Di dalam buku psikologi populer. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki.Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. tetapi juga psikologi. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. 5. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. seperti buku Tannen dan Gray. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Men Are from Mars. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. buku Deborah Tannen. misalnya. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. 2. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta.

The Study of Speakers’ Choices.000 sampai dengan 25. New York: The MacMillan Company. Jespersen. Otto. 2005. Alessandro. Greene. The Female Brain. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Development and Origin. Salah satunya adalah Mark Liberman.000 kata. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. New york: Cambridge University Press.000 kata sehari. 2001. The Key Term in Language and Culture. tungau di seberang lautan tampak‖. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. misalnya. Language Laws. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. Setelah menelusuri kepustakaan populer. Namun. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Language: Its Nature. termasuk status mitos tentang fakta itu. dalam mitos Mars dan Venus. Janet. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. 2011: 54—56).000. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. London: Longman. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. 1992. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Holmes. 1999). Florian.berkomunikasi. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Duranti. Pada tahun 2006. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. . Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Dalam perekonomian saat ini. An Introduction to Sociolinguistics. and the Politics of Identity. Publisher. Namun. Robert Lane. New York: Delacorte Press. 1922. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Daftar Pustaka Coulmas. Oxford: Blackwell. Sociolinguistics. 2011. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene.

You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Misalnya. Lakoff. and Origin. terrific. Society. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. dieditori oleh Mary Bucholtz). pada tahun 1922. perempuan sering menggunakan adorable. Language. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). 1991. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Deborah. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Development. Lakoff menyatakan bahwa terdapat . Dalam salah satu bab buku itu. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. New York: Oxford University Press. Inggris. New York: Ballantine Books. Misalnya. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. Thomas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Tannen. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. 2003. Bahasa dan Kekuasaan. Gender. and Power. 2004. sweet. Robin Tolmach. Esther. Di beberapa negara maju.Kuntjara. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. dan Jerman. atau neat. 2004. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. seperti Prancis. cool. charming. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Amerika. Jepang. Linda and Shân Wareing. seperti great. New York: Routledge.

Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). Oleh karena itu. Kuntjara. agama. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Namun. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. dan mitra tutur. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. 2005:36). Di samping itu. Dalam bahasa Indonesia. misalnya. You Just Don't Understand: Women and Men in . Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. 2004:3—4). tetapi juga psikologi. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. keadaan. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. ekonomi. Namun. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. kelas. menurut Lakoff. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. 2004. proses. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. matang. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. tempat. dan objek (O). Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. peristiwa. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. sangat berkuasa. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. predikat (P). Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. etnik. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. lingkungan sosial. Dalam khazanah sosiolinguistik. yaitu waktu. politik. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. buku Deborah Tannen. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. misalnya.banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Oleh karena itu.

Conversation dan buku John Gray. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. dalam mitos Mars dan Venus. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". tetapi palsu. perasaan. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. fakta . Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. dan hubungan antarmanusia. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. 3. Di dalam buku psikologi populer. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Namun. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. 1999). 2. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Men Are from Mars. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Namun. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Dalam perekonomian saat ini. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. 5. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. 1. 4. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Sebagai contoh. seperti buku Tannen dan Gray. Women Are from Venus. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas.

Kuntjara. The Key Term in Language and Culture. Namun. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. Jespersen. Development and Origin.000 kata sehari. New York: The MacMillan Company. Otto. 1992. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Language: Its Nature. 2005. The Female Brain. 2011: 54—56). Setelah menelusuri kepustakaan populer. Pada tahun 2006. 1922. New york: Cambridge University Press. New York: Oxford University Press.000. Bahasa dan Kekuasaan. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Language Laws. Janet.000 sampai dengan 25. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Lakoff. Esther. Gender. Sociolinguistics. and the Politics of Identity. Daftar Pustaka Coulmas. Alessandro. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Publisher. tungau di seberang lautan tampak‖. Oxford: Blackwell. London: Longman. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Robert Lane. misalnya. New York: Delacorte Press. You Are What You Speak: Grammar Grouches. 2004. 2004. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. Greene. An Introduction to Sociolinguistics. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. Robin Tolmach. Duranti. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. termasuk status mitos tentang fakta itu. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. 2001. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011. Florian. Salah satunya adalah Mark Liberman. dieditori oleh Mary Bucholtz). The Study of Speakers’ Choices. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Holmes. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. .000 kata. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20.

Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. pada perempuan melekat istilah PSK. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. dan tataran gramatikalnya. Maka itu. jika benar-benar ditilik. istilah. Society. New York: Ballantine Books. tante girang. ugkapan. lonte. Artinya. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. Deborah. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. Hal ini memang perkara sederhana. 2003. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. Padahal. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. Language. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. 28 Okotober. dan sejenisnya. Linda and Shân Wareing. New York: Routledge. Thomas. 1991. gaya. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation.Tannen. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. . cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. and Power. pelacur. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. murahan. Sejauh ini. Selanjutnya. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. baik lelaki maupun perempuan.

kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. aneuk tét mie. dan lain-lain. Artinya. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. Hindia Barat. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. ‗ok mai. Sebagai contoh kasus. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. Bahkan. Ironis. Para . papleumo.Masih pada tataran yang sama. Sedangkan pada lelaki. Sebaliknya. Akibatnya. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. misalnya bahasa Aceh. ketika si perempuan sudah menikah. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. seperti Marlinda Abdullah Puteh. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. ia menyandang pula nama suaminya. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. brét ma keuh. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. Nani Yudhoyono. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. Afrika. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. bisa-bisa dibunuh. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. begitu lahir. di Zulu. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. Misalnya. Sangking pantangnya bagi mereka. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. Kemudian.

Selamat memperingati Bulan Bahasa. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Namun demikian. Banyak bahasa. Sebagai ilustrasi. Dalam konsep gender. ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . Namun. kegiatan. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. bagi para lelaki. seperti dalam kasus waria. Dalam isu LGBT. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". yang dikonstruksi secara sosial. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Semoga bahasa kita tetap jaya."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. Dengan kata lain. dibolehkan membunyikan ―Z‖. perilaku. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). dalam suatu masyarakat.perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi.

sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing.. Di samping sebagai bagian. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. 1964: 79). sistem religi. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan.H. Maka. Bahasa adalah cermin budaya. Dalam pengertian yang luas. BI bias maskulin. Sebagai wahana budaya. Mengapa BI memihak lelaki.. BI akan dibedah dari perspektif gender. seakanakan yang salah memang budayanya. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya.1) Itulah sebabnya. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Greenberg (Samsuri. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. dan benda karya budaya. sistem kemasyarakatan. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Di sini. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. senang atau tidak. Dalam hal ini. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. tindakan. Singkat kata." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . menarik diungkap di sini keyakinan J. Dengan perspektif gender. dan bahasa (Koentjaraningrat. bahasa juga merupakan wahana budaya. kesenian. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. sebagai matra sentral Feminisme. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).adapun wanita lemah lembut manja . nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. Untuk diskusi ini. sistem ekonomi dan mata pencaharian. Kebudayaan. "bahasa menunjukkan bangsa". Ingat. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu.

kekerasan. yang akan membentuk realitas simbolis. dst. Dilihat dari kemurniannya. Dengan ancangan ini. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. pada beberapa suku. dan kelompok sosial lain. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). terutama dalam menyusun kategorisasi data. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. hukum. Dari segi kebahasaan. 1986). dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller.3) Akan tetapi. yang membentuk realitas sosiobehavioral. Padahal. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan.Dengan pendekatan verbal. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. dan . data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. masyarakat. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. interaksi manusia. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. berupa tuturan bahasa. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. Dengan ini. Untuk telaah ketimpangan gender pun. yakni tuturan alamiah keseharian. keniscayaan struktur. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Jika Bambang dan Linda sudah dewasa.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. telaah ini bersifat interdisipliner. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). ini tidak keliru. Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?".2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. penyebutan keberadaan atau tindakan. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan".Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). tindakan. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). Atau. Soalsoal sosial-politik. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. dan inisiatif pengucapan. Sebagai human instrument. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. etnis.

dan ratu adil. macan'). yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. Semua setuju. dan memang tidak harus jantan. dewa perang. agresif. Siapa pun tahu. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. putri. dewi. *babon nggambar. Layak dipertanyakan kebenaran ini. *putra malu.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Dalam kosakata BI kontemporer. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. Riyanto. *babon matematika. memang. kesabaran. dan agresif itu. perintis koperasi itu Mbak Tutut. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. pemberani. dan damai. bapak pembangunan. *jago semang. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. Dengan memakai ibu. dan ratu. bapak pendidikan nasional. Masalahnya. termasuk dalam hal menerima sebutan. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. induk. raja copet. nenek moyang. raja judi. bapak koperasi. induk semang. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. *kakek moyang. dan jelas bukan *ratu judi. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. Bung Hatta "Bapak Koperasi". ibu pertiwi. dan bukan *bapak kota. ketenangan. *ibu koperasi. "ibu kota. *dewa malam. Agaknya sudah menjadi "kodrat". dan *raja adil". Alih-alih dengan itu. kepasifan. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). garang. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. dewa maut. raja siang ('matahari'). nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. jago nggambar. *bapak pertiwi. misalnya. Riyanto yang sudah almarhum itu. jago matematika. untuk sesuatu yang bersifat garang. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. misalnya. predikat. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. putri malu (sejenis bunga). yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Maka. dewi malam ('bulan'). Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. nenek. diam. seorang artis yang bernama Lisa A. *ratu copet. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Setelah berumah tangga. *ibu pendidikan nasional. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. *ibu pembangunan.

bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan.A. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. R.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Tentu saja. Masalahnya. tenang. Akan tetapi. ganti lagi dengan yang lain. "teko". harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. saya belum siap diprotes. Dengan demikian. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. itu soal lain. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Atau. orang bisa menepuk dada. Dan. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Kata pelacur. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. "*Ibu Koperasi". Maka. saya mau ke belakang". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. atau alumni madrasah tsanawiyah. harus "dihaluskan". Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. konotasi yang muncul berbeda. Lalu. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. "gigolo". dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. menjijikkan. Jadi. "bawon". indah. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil."*Ibu Pembangunan". Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. Untuk ini. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. dan tiba-tiba perutnya mules. misalnya. norak. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). mengajar. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. anggun. karena dipandang vulgar. memang ada. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. Sehubungan dengan kajian ini. Perasaan menjadi lega. "bandot". Masalahnya lagi. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. barangkali kembali ke pelacur lagi. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. jika PTS dipilih. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. Jika boleh. Seseorang yang sedang makan siang bersama. WTS pun mesti dihapus.

Padahal. Itu kan menurut situ. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. remeh. sebab ramai. nanti. Bu. melawan. gaji tinggi melebihi suami kok malu. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Pernyataan "cuma istri. Hebat. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. WK) berpenghasilan tinggi. saya kan cuma istri. WK : Ah. Cepet kaya. manakala saya tanyakan berapa gajinya. sebagai survival strategy. Bu. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. nggak juga. Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. akan sering muncul di sekitar kita. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Saya: Gaji segitu besar lho. patuh. Dengan standar ganda ini. makna kata menjadi enteng. Karena beban kondisi ini. Jadi.Dengan degradasi. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Aneh. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. WK : Ah. hanya sekadar membantu suami saja. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. jadi tidak sekadar melengkapi. Mereka malu mengakui. Ini kan di atas gaji suami. mengalah. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. misalnya. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. Mengherankan. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain.

Lagipula. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Nduk. Inilah produk paling diskriminatif dari . kok di sini dipotong orang seenaknya. Ini urusan lelaki. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Nduk! AP : Mbok. kita itu kan perempuan to. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Ee . Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. 1981). Sementara diam dan nerimo saja. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran." katanya. Aku kan bininya. Cuma perempuan.. "Perempuan saja kok macem-macem. Kita ini orang kecil.. Ini urusan lelaki. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. Ibu ini tak salah. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Nduk. Jadi ya termasuk duitku juga.. Malahan. Tentu saja. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Maka. dengan imbangan penghargaan yang tak sama.. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. ingat kamu itu perempuan lho. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Dipikir . tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Nggak ada ceritanya. bahkan tak tahu diri. Lurah kok mau dilawan. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Siang keras. Biar dia yang ngurus. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. Perempuan saja kok macem -macem.. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Maka. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. sempurna sudah kekalahan mereka. tapi ini kan duit laki saya. perempuan bisa menang. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya.bergender lelaki.

merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. khususnya dalam buku-buku bacaan.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Ayah sudah berangkat ke kantor. Adikku yang manis menimang boneka. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita.. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya.. Ibu memasak di dapur. entah sadar entah tidak. Ingat kita ini kan lelaki. seperti lingkungan kita ini. dalam wacana di atas. salah satunya dalam dunia pendidikan. (463) 5. Siti masih sering pulang malam. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. 427) 2. Malahan. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). *Bejo: Iya ya. (hal. atau malah pagi buta. (460) 4. Masak mau menuntut pak lurah.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. (473) . Apa sih jeleknya orang ngalah. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. kalau boleh menduga. misalnya. Kan nggak pantas. 1979: 205). Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Akan tetapi. Sebagai bandingan. sedangkan ayah sedang membaca koran. atau peristiwa tutur lainnya. Aku bermain layang-layang. Ibu menjahit baju. Oleh karena itu. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. (438) 3. Lelaki saja kok macammacam. perhatikan dialog rekayasa berikut. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. . Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. 1. percakapan. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. ini urusan lelaki. kita 'kan lelaki. Ibu sedang memasak. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam.

misalnya. (5). Dokter H. Akan tetapi. yang menentukan segalanya. Oleh karena itu. Begitulah. bahkan mungkin lebih negatif. Banda Aceh. itu mungkin saja. hanya seorang yang perempuan. Padahal. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere).15cm. agak besar. melontarkan interupsi. demikian juga "berat". sampai sangat kecil. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. rendah. hanya layak untuk lelaki. Bahkan. menurut pengamatan D. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. hasilnya sama saja. tebal) dan bukan yang minor (ringan. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. Jika ungkapan mulut perempuan. kesan remeh. sepele. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. tipis). misalnya mencakup dari sangat besar.15cm itu memang tergolong . Zainal Abidin. Sementara. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Jadi. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. yang memang membahas kalimat dan wacana. besar. sedikit. menempati kesan buruk. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Spender (1980). sedangkan pada kalimat (2). dari perempuan. ini bukan barang aneh. misalnya. dasar betina. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. kecil." (biarpun 0. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Direktur RSU Dr. Kamaruzzaman (52 tahun). kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0.15cm". dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). yang hanya mengganggu saja.7) Sebutan Negatif. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. Jumat malam meninggal secara mendadak. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. mitos soal-soal besar. agak kecil. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. "tinggi". Coba diandaikan. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. Akan tetapi. Padahal. banyak. misalnya. jika bab-bab lain ditelaah. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. (6). (3).6. penting. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". Kontinum standar "besar". Dalam kontinum tersebut. pantas dikenakan pada perempuan. menohok perempuan. Kalau dicermati. tinggi. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. dan "banyak". muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". kecil. dll. (477) 7. Pada kalimat (1).

misalnya. yang berbau perempuan itu nonstandar. rujukan. sentimentil. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. jantan >< betina. orang pun latah. Maka. Akan tetapi. malu-malu. lain fakta. pasif. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. Bukankah standarnya selalu "celana. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. 9. yang tidak negatif.8) Maka. Itu 'kan khas perempuan. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". "polisi" saja. jika yang . hakikatnya. Barisan lelaki dianggap superior. Sebagai standar. lain konsep. ini harus ditegaskan lagi. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. orang akan mempersembahkan konotasi positif. standar. Maka. entah lelaki entah perempuan. "sastrawan". Barangkali. lamban. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. Oleh karena itu. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. grogi" bukan standar. malu-malu. hakikatnya. Jangan lupa. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. keluar keringat dinginnya. feminin >< maskulin. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Doni mengenakan rok mini. seorang perempuan yang "tomboy". Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". Cowok atletis itu malu-malu. artinya sudah standar. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). dan rasional. Sebab. 10. Umumnya orang. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan.relatif tipis). sudah "kodrat". sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. PD". Maka. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. Oleh karena itu. tetapi jika yang disebut mahasiswi. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. "*agak perempuan". Lelaki pakai rok? "Ah. "rok mini. Mengapa demikian? Ya. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. 11. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. grogi. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. itu sudah semestinya. Dalam realitas empiris. cengeng. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. memang tidak ada "*sangat lelaki". "*lebih betina". Dina memakai celana. tegar. bandingan. Sebaliknya. yakin. apakah orang sudah paham pasti. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11).

2. untuk konsep manusia. dan bukan woman. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. Dalam kebudayaan Barat. sekali lagi. aku akan menceraikannya. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. misalnya. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Tapi. sedang perempuan substandar. Maka. seorang perempuan dapat "kawin dengan". tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. sastra. Denggan kondisi ini. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. layak saja. Sebab. akan bertindak aktif dan menuntut. untuk menyebut manusia pada umumnya. Maka. Spender mesti meminjam dulu kata man. "kamu". dan polisi wanita (polwan). Tetapi. lelaki itu standar. berkedudukan. aku masih bisa menerima. Dalam keadaan terpaksa. Dalam bahasa Inggris. tak ada pilihan lain. berkuasa. Maka. sabar atau tidak. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. kalau disebut man. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. ini tercermin dalam bahasanya juga. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. "bercerai dari". Artinya. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. sehingga menjadi wanita wartawan . dan "diceraikan oleh". melainkan juga realitas kultur. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). "minta cerai dari". dan bukan woman. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. Maka. Alwi dkk. sedangkan perempuan. Biarpun begitu. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". Dalam kultur masyarakat kita. akan tetapi jika disebut woman. 1. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". bahkan lebih gila lagi. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. 1988. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". masalahnya dia itu selingkuh. tetap saja. dan bukan *Woman Made Language. soal bahasa bukan hanya struktur. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. bukan kodratnya perempuan. Maka. meskipun sebenarnya aku masih cinta.9) Lelaki memang menjadi standar. apa salahnya. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. ketika D. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. "belum manusia utuh". predikat (P). sastrawan wanita.dimaksud adalah oknum perempuan. 1993). kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). orang meminjam kata man.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980).. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . "aku".

atau mungkin sebenarnya mengerti. bukan karena struktur. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. memprakarsai. dalam dunia komunikasi (pergaulan. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Mengapa? Ya itu tadi. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. bebal. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. Aku sangat mencintainya. Akan kucium keningnya. tetapi tidak transparan. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Biasanya. lain tidak. tampak isi". "tidak langsung buka kulit. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. Tetapi. meliputi: . Jika nanti sudah menjadi milikku. akan kusayangi dia. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. Oleh karena itu. perpacaranan. keluarga/perkawinan. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. dan pilihan konteks situasi yang tepat. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. misalnya. Tetapi. Maka. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. perempuan bereaksi.struktur. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. aku ragu. perkencanan). Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. goblog. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. apa dia mau. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. atau resmi nikah. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. isyarat dan perhatian.

(b) sebutan pelecehan martabat.. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. wanita dijajah pria . Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. terutama dalam menyikapi gender. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. dan inisiatif ekspresi. Dalam posisi yang serba timpang ini. lelaki mendominasi. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. semacam WTS. . sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Dengan demikian. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu.. bahasa ini mungkin bergender lelaki.. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. sedang perempuan tersubordinasi. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Apalagi inisiatif ekspresi. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. pandangan hidupnya. Sebutan pelecehan martabat gender. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status.. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". khususnya terhadap eksistensi gender. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Dengan begini. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. dan (f) sebutan penstandaran gender.

306--312). dan bahasa Indonesia. Muh. No.C. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. . bodoh. Dengan begini. 1--14. 6. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. Dengan pendekatan verbal. subbab 'Language and Sexim' (hal. Cet. 2. Kebudayaan. 1.H. 1. 28 Oktober 1986. hal. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. Lihat Arief Budiman. TBBBI edisi II (1993). LPK2I. 1994). Siusana Kweldju. 4. juga Kweldju (1991). No. bermain boneka).) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. An Introduction to Language. 7--18. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. 7) TBBBI edisi I (1988). Prisma XXV/5. 5.Catatan 1. . Warta Studi Perempuan. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. No. V (Fort Worth: Holt. hal. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. Vol. wadah. masyarakat.M. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. Mei 1996. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. hanya 2 orang yang perempuan. khususnya bab "Language in Society". Ph. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. pintar. Vol. ". sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. supremasi kekuasaan lelaki. Marginalisation and Rural Industry". dari 11 penyusun. 1993). Vol.D. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. Oktober 1996. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". 3. dan hegemoni pria. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu.. subordinasi perempuan. lih. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Edisi V. 4. 24 Agustus 1996. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. Buletin Yaperna. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Dalam hal ini saya (dkk. "Gender. 32. Lalamentik. dan alat budaya. lemah. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. dan hanya bisa bergantung pada lelaki.. 1975: 14--23. ketimpangan gender. 1981). Asfar. bermain layanglayang). dominasi lelaki. Inc. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. abang. Konsep ini dekat dengan seksisme. kuat. Periksa: Samsuri. 5. Warta Studi Perempuan. Rinehart and Winston.). tak berdaya. 1994.

Ashen.. you answerd. .L. 1980). Spender. 1990. Harding. Fromkin dan Rodman. New Delhi: Kali for Women. He isn't afraid to say what is on his mind. New York: Cornell University Press. sebab lelaki juga (harus) bisa. 23 Juni. she's mouthy .. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII.. she's hard .. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. When you say Man... He stands firm. and three in the evening'. 1986. berikut ini dikutipkan beberapa saja. New York: State University of New York Press. hal 307. n... Lih. A businessman is good on details. 1995. she slept her way to the top.. merawat rumah bukan monopoli perempuan. Lih. 1981. 6) menulis: "A businessman is agressive.. D. dan F. . memasak. lebih tegas lagi. London: Longman. she's been around . K. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. Daftar Pustaka Bhasin. Dalam pandangan kelompok ini. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal.. Jupriono. Coates. J... Sebagai contoh. II/16. Opcid. 1986.. You didn't say anything about women. J. Kirk. dan bukan kodrat (nature) perempuan. Everyone knows that. Tempo Interaktif. Language and the Sexes. 1997. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". she doesn't know when to quit . Jakarta: PT Gramedia. a man of great learning".. He's closemouthed. 8.. dan M. Pembagian Kerja secara Seksual. Women. Beverly Hills: Sage Publication.. Frank. 'Man'.. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor.. two at noon. mengasuh anak. What is Patriarchy. LP3K Multimatra. she's power mad ... He is a man of the world. melahirkan. D. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. she's picky . A. 1983. Bahkan. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture).7. The Science Question in Feminism (Ithaca. Miller. He exercises authority diligenttly. she's secretive. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. He climbed the ladder of success. Budiman. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. . 1986). a businesswoman is pushy .." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). Reliability and Validity in Qualitative Research. you include women too. He follows through. F. yaitu menstruasi. 9. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language... S.

Dalam pengertian yang luas. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. BI akan dibedah dari perspektif gender. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. seakanakan yang salah memang budayanya. 1996. senang atau tidak. sebagai matra sentral Feminisme. Singkat kata. 1993. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. Dengan perspektif gender. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. BI bias maskulin. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. Bahasa Indonesia. Di sini. Aktivitas noninstingtif--yang hanya .. Mengapa BI memihak lelaki. pemakaiannya.. dan implikasi kemasyarakatannya. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian.Kweldju. Samsuri. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Kebudayaan. S.

keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. sistem ekonomi dan mata pencaharian. 1986).H. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. dan bahasa (Koentjaraningrat. dan benda karya budaya. hukum. yang akan membentuk realitas simbolis.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Sebagai human instrument. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis).3) Akan tetapi. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. yakni tuturan alamiah keseharian. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. interaksi manusia.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. dst." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. terutama dalam menyusun kategorisasi data. sistem religi. Bahasa adalah cermin budaya. Dilihat dari kemurniannya. Padahal. sistem kemasyarakatan. Topik bincang . jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. Untuk diskusi ini. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. Di samping sebagai bagian. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach).bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. yang membentuk realitas sosiobehavioral. bahasa juga merupakan wahana budaya.Dengan pendekatan verbal. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. Dari segi kebahasaan. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. Ingat. Dalam hal ini. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Sebagai wahana budaya. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). Dengan ini. Soalsoal sosial-politik. menarik diungkap di sini keyakinan J. masyarakat.1) Itulah sebabnya. kekerasan. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Maka. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. "bahasa menunjukkan bangsa". Dengan ancangan ini. ini tidak keliru. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). Greenberg (Samsuri. 1964: 79). tindakan. kesenian. berupa tuturan bahasa. telaah ini bersifat interdisipliner. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. tindakan. Untuk telaah ketimpangan gender pun. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya.

dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". pada beberapa suku. etnis. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. dewi. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. dan inisiatif pengucapan. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. Riyanto. dewi malam ('bulan'). Riyanto yang sudah almarhum itu. nenek moyang. dan bukan *bapak kota. penyebutan keberadaan atau tindakan. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. *kakek moyang. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. dan ratu adil. Atau. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. keniscayaan struktur. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. "ibu kota. Alih-alih dengan itu. predikat. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. putri malu (sejenis bunga). hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. dan ratu. *jago semang. putri. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. seorang artis yang bernama Lisa A. Maka. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. Dengan memakai ibu. induk semang. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. *putra malu. *dewa malam. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. *bapak pertiwi. misalnya. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. nenek. Setelah berumah tangga. dan *raja adil". induk. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. misalnya. nuansa kesan yang memancar adalah . ibu pertiwi. termasuk dalam hal menerima sebutan. dan kelompok sosial lain. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama.

raja judi. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. norak.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. Bung Hatta "Bapak Koperasi". orang bisa menepuk dada. harus "dihaluskan". kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). dan tiba-tiba perutnya mules. "bawon". bapak pembangunan. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. Layak dipertanyakan kebenaran ini. Sehubungan dengan kajian ini. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. *ratu copet. dan jelas bukan *ratu judi. dan agresif itu. dewa maut. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. kepasifan. Tentu saja. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. Siapa pun tahu. tenang. Seseorang yang sedang makan siang bersama. bapak koperasi. pemberani. "bandot". untuk sesuatu yang bersifat garang. menjijikkan. "teko". bapak pendidikan nasional. *ibu pendidikan nasional. perintis koperasi itu Mbak Tutut. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. Semua setuju.kedamaian. memang. dan memang tidak harus jantan. *ibu pembangunan. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. R. *babon matematika. ketenangan. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. misalnya. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. memang ada. agresif. Dalam kosakata BI kontemporer. indah. itu soal lain. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". Kata pelacur. konotasi yang muncul berbeda. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. *babon nggambar. Akan tetapi. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. "*Ibu Koperasi". garang. karena dipandang vulgar.A. adalah fakta bahwa "pria penghibur". jago matematika. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. diam. Agaknya sudah menjadi "kodrat". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. kesabaran. macan'). jago nggambar. dan damai. anggun. raja copet. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. saya mau ke belakang". Masalahnya. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. dewa perang. *ibu koperasi. raja siang ('matahari'). "gigolo". Perasaan menjadi lega. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Jadi.

barangkali kembali ke pelacur lagi. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Dengan demikian. saya belum siap diprotes. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. hanya sekadar membantu suami saja. Saya: Gaji segitu besar lho. WK : Ah. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Bu. Cepet kaya. manakala saya tanyakan berapa gajinya. nggak juga. Atau. sebagai survival strategy. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Jika boleh. Pernyataan "cuma istri. Ini kan di atas gaji suami.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. mengajar. Masalahnya. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. WK) berpenghasilan tinggi. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. Maka. Dan. WTS pun mesti dihapus. Toh mereka merasa . Lalu. gaji tinggi melebihi suami kok malu. makna kata menjadi enteng. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Masalahnya lagi.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. Hebat. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. misalnya. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. nanti. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Jadi. jadi tidak sekadar melengkapi. Bu. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. ganti lagi dengan yang lain. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Itu kan menurut situ. saya kan cuma istri. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. akan sering muncul di sekitar kita. remeh. Karena beban kondisi ini. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). jika PTS dipilih. Untuk ini. atau alumni madrasah tsanawiyah. Mengherankan. Mereka malu mengakui. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. WK : Ah.

semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. sebab ramai. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Jadi ya termasuk duitku juga. Lagipula. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. patuh. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Lurah kok mau dilawan. Nduk. ingat kamu itu perempuan lho. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. tapi ini kan duit laki saya. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel.. mengalah. Aku kan bininya. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil.. Nduk. Siang keras. Cuma perempuan. Kita ini orang kecil. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Nduk! AP : Mbok. Perempuan saja kok macem . perempuan bisa menang. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. melawan. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Padahal. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga.. kok di sini dipotong orang seenaknya. kita itu kan perempuan to... Nggak ada ceritanya. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. Dipikir .hanyalah figuran pendamping belaka. Aneh. Ee . Dengan standar ganda ini.

ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Ingat kita ini kan lelaki. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Ibu memasak di dapur. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Sebagai bandingan. atau peristiwa tutur lainnya. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Kan nggak pantas. 1979: 205). Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. . lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh.. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. percakapan. Adikku yang manis menimang boneka. Maka.-macem. Biar dia yang ngurus. Sementara diam dan nerimo saja. Apa sih jeleknya orang ngalah. *Bejo: Iya ya. seperti lingkungan kita ini. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Ibu menjahit baju. 1981). Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Maka. Lelaki saja kok macammacam. salah satunya dalam dunia pendidikan. sempurna sudah kekalahan mereka. Aku bermain layang-layang. ini urusan lelaki. Ini urusan lelaki. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Masak mau menuntut pak lurah.. Malahan. "Perempuan saja kok macem-macem. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Oleh karena itu. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. dalam wacana di atas. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. ." katanya. Ini urusan lelaki. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. perhatikan dialog rekayasa berikut. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. bahkan tak tahu diri. khususnya dalam buku-buku bacaan. Ibu ini tak salah. Tentu saja. kita 'kan lelaki.

Banda Aceh. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. mitos soal-soal besar. bahkan mungkin lebih negatif. Kamaruzzaman (52 tahun). Kalau dicermati. Dokter H. yang menentukan segalanya. sedangkan pada kalimat (2). (6). kalau boleh menduga. Zainal Abidin. (460) 4.7) Sebutan Negatif. itu mungkin saja. Sementara. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). yang memang membahas kalimat dan wacana. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Akan tetapi. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Padahal. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. menohok perempuan. sepele. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Ayah sudah berangkat ke kantor. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. yang hanya mengganggu saja. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. hanya layak untuk lelaki. Siti masih sering pulang malam. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. 427) 2. hanya seorang yang perempuan. sedangkan ayah sedang membaca koran. (477) 7. Malahan. Direktur RSU Dr. (5). kecil. jika bab-bab lain ditelaah. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). entah sadar entah tidak. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. misalnya. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. (3). (hal. Begitulah. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. (438) 3. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . pantas dikenakan pada perempuan. Coba diandaikan. Akan tetapi. atau malah pagi buta. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. (473) 6. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. ini bukan barang aneh. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. 1. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. Pada kalimat (1). Ibu sedang memasak. Akan tetapi. kesan remeh. dari perempuan. hasilnya sama saja. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Jumat malam meninggal secara mendadak. penting. (463) 5. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. Jadi.

besar. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. tebal) dan bukan yang minor (ringan. demikian juga "berat". lain fakta. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. Padahal. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". hakikatnya. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. dan rasional. itu sudah semestinya. malu-malu. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. Dalam realitas empiris. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. kecil. "*agak perempuan".8) Maka. dll. Dalam kontinum tersebut. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. bandingan. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? . Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. lain konsep. pasif. misalnya. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. Oleh karena itu. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". melontarkan interupsi. Spender (1980). agak besar. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. sampai sangat kecil. banyak. tinggi. memang tidak ada "*sangat lelaki". Sebaliknya. Maka. Kontinum standar "besar". sudah "kodrat". jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. hakikatnya. sedikit. misalnya. Bahkan. Jika ungkapan mulut perempuan. jantan >< betina. tegar. misalnya. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. misalnya. seorang perempuan yang "tomboy". yang tidak negatif. misalnya mencakup dari sangat besar.15cm itu memang tergolong relatif tipis). tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. cengeng. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. Barisan lelaki dianggap superior. dan "banyak". Oleh karena itu. Maka. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Mengapa demikian? Ya. agak kecil. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. menempati kesan buruk. sentimentil. feminin >< maskulin.15cm. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. rendah. Oleh karena itu. lamban. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. tipis).15cm". segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. Barangkali. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. "*lebih betina". "tinggi". dasar betina. menurut pengamatan D. Sebagai standar. kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. rujukan. Akan tetapi.perempuan"." (biarpun 0. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". standar.

sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. grogi" bukan standar. ketika D. sastra. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. orang pun latah. grogi. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. dan bukan woman. Biarpun begitu. sedang perempuan substandar. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). yakin. Dalam keadaan terpaksa. Itu 'kan khas perempuan. Maka. Lelaki pakai rok? "Ah. Dalam kebudayaan Barat. 11. layak saja. entah lelaki entah perempuan. untuk menyebut manusia pada umumnya. Denggan kondisi ini. dan bukan woman. Umumnya orang. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. yang berbau perempuan itu nonstandar. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. Jangan lupa. "belum manusia utuh". Sebab. tetapi jika yang disebut mahasiswi. "kamu". Maka. sehingga menjadi wanita wartawan . dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. dan bukan *Woman Made Language. sedangkan perempuan. artinya sudah standar. sekali lagi. Cowok atletis itu malu-malu. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). dan polisi wanita (polwan). Doni mengenakan rok mini. "polisi" saja. tetap saja. akan tetapi jika disebut woman. Spender mesti meminjam dulu kata man. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. orang meminjam kata man. kalau disebut man. 9. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. PD". Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. untuk konsep manusia. lelaki itu standar. . bahkan lebih gila lagi. 10. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). malu-malu. "sastrawan". Artinya. bukan kodratnya perempuan. Dalam bahasa Inggris. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. sabar atau tidak. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. misalnya. Dina memakai celana.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. ini harus ditegaskan lagi. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan.9) Lelaki memang menjadi standar. Maka. keluar keringat dinginnya. Sebab. Maka. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. "aku".8. sastrawan wanita. Bukankah standarnya selalu "celana. apakah orang sudah paham pasti. akan bertindak aktif dan menuntut. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". orang akan mempersembahkan konotasi positif. "rok mini. ini tercermin dalam bahasanya juga.

melainkan juga realitas kultur.. soal bahasa bukan hanya struktur. "tidak langsung buka kulit. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. 1988. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. tetapi tidak transparan. berkedudukan. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga.1. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. 1993). obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. perkencanan). bukan karena struktur. aku akan menceraikannya. atau resmi nikah. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. 2. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. "bercerai dari". dalam dunia komunikasi (pergaulan. bebal. dan pilihan konteks situasi yang tepat. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . atau mungkin sebenarnya mengerti. tak ada pilihan lain. memprakarsai. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Maka. seorang perempuan dapat "kawin dengan". berkuasa. apa salahnya. perpacaranan. predikat (P). Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. Biasanya. aku masih bisa menerima. goblog. Tetapi. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Dalam kultur masyarakat kita. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. perempuan bereaksi. masalahnya dia itu selingkuh. Tetapi. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Tapi. "minta cerai dari". ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Alwi dkk. meskipun sebenarnya aku masih cinta. misalnya. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. dan "diceraikan oleh". Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. tampak isi". Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. isyarat dan perhatian. Oleh karena itu. Maka.

Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. pandangan hidupnya. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. keluarga/perkawinan. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. aku ragu. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. dan (f) sebutan penstandaran gender. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. Maka. lain tidak. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Aku sangat mencintainya. Akan kucium keningnya. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. akan kusayangi dia. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. apa dia mau. Apalagi inisiatif ekspresi. khususnya terhadap eksistensi gender. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. dan inisiatif ekspresi.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. semacam WTS. Sebutan pelecehan martabat gender. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Mengapa? Ya itu tadi. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. Jika nanti sudah menjadi milikku. Tetapi. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. (b) sebutan pelecehan martabat.

. Vol. 1993). ". konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. pintar. 1975: 14--23. khususnya bab "Language in Society". Inc. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. Catatan 1.. wadah. 1994. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. Edisi V. Asfar. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Cet. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Marginalisation and Rural Industry". wanita dijajah pria . masyarakat. No.. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Siusana Kweldju. tak berdaya. 28 Oktober 1986. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. bahasa ini mungkin bergender lelaki. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. Warta Studi Perempuan. sedang perempuan tersubordinasi. Buletin Yaperna. 1981). 2. ketimpangan gender. dan alat budaya. supremasi kekuasaan lelaki. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. dan bahasa Indonesia. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. Kebudayaan. Konsep ini dekat dengan seksisme. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. subordinasi perempuan. dan hegemoni pria.. Periksa: Samsuri. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. "Gender. lemah. 306--312). sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. Dengan demikian.berkembang. bodoh. Lihat Arief Budiman.. Dengan pendekatan verbal. kuat. Prisma XXV/5. An Introduction to Language. terutama dalam menyikapi gender. Dalam posisi yang serba timpang ini. 4. Dengan begini. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. lelaki mendominasi. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". lih. V (Fort Worth: Holt. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . Dengan begini. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior.. Muh. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. . Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. subbab 'Language and Sexim' (hal. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". Rinehart and Winston. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Mei 1996. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. 3. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. dominasi lelaki.

and three in the evening'. 7.). 1994).. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). 1986). 6. You didn't say anything about women.M." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul.. juga Kweldju (1991).D. you include women too. He follows through.. mengasuh anak. He's closemouthed. Bahkan. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. 4. New York: Cornell University Press. she doesn't know when to quit . 1.. Vol. He climbed the ladder of success. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. Dalam hal ini saya (dkk. S. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin... Vol. Lih. No. 1.. 'Man'. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. 5.. He stands firm.. lebih tegas lagi. 7) TBBBI edisi I (1988). Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. 1980).) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. dari 11 penyusun. LPK2I. He is a man of the world. . D. memasak. hal 307. No. Oktober 1996. 6) menulis: "A businessman is agressive. yaitu menstruasi. she's been around .. Harding. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. n. abang. 1--14. Opcid. two at noon... 24 Agustus 1996. When you say Man.. Everyone knows that. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". 9. a businesswoman is pushy . He isn't afraid to say what is on his mind. hanya 2 orang yang perempuan. she's secretive. 7--18. ... sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak.. sebab lelaki juga (harus) bisa. The Science Question in Feminism (Ithaca. 8. melahirkan.. she's mouthy . hanya 1 orang saja yang perempuan (W. dan bukan kodrat (nature) perempuan. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. she's power mad . He exercises authority diligenttly.. Lih. hal. bermain boneka). bermain layanglayang). Ph. she's hard . Spender. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. hal. you answerd... mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. she slept her way to the top. a man of great learning". Lalamentik.H. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. Sebagai contoh. A businessman is good on details. TBBBI edisi II (1993)..5. Fromkin dan Rodman. she's picky . merawat rumah bukan monopoli perempuan... berikut ini dikutipkan beberapa saja. Stereotipi Seks". Warta Studi Perempuan. Daftar Pustaka .. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. 32.C. Dalam pandangan kelompok ini.

Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. New York: State University of New York Press. Kweldju. Kirk. Budiman. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan.L. pemakaiannya. Women. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. New Delhi: Kali for Women. Bahasa Indonesia. J. A. 1996. S. dan implikasi kemasyarakatannya. Pembagian Kerja secara Seksual. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. II/16. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. 1993.Bhasin. Frank. What is Patriarchy. J. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. 1986. 1995. Beverly Hills: Sage Publication. 1981. Coates. jabatan. F. sedang lelaki aktif. Miller. K. Jupriono. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. dan F. Dalam kebijakan institusional tergambar . sedang lelaki tidak dipersoalkan. 23 Juni. sedangkan lelaki pemberi identitas. LP3K Multimatra. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. perempuan penerima identitas. D. sedang lelaki penguasa kehidupan. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Language and the Sexes. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. London: Longman. Reliability and Validity in Qualitative Research. Samsuri. 1986. Tempo Interaktif. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. dan M. Jakarta: PT Gramedia. 1997. Ashen. 1983. organisasi. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. 1990. prestasi.

1993). bahasa adalah cermin kebudayaan. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. sistem ekonomi. kosakata. Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. 1982). dll. 1986). Demi kerincian. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. artinya. sebab dari sudut pandang gender. Beberapa penelitian terakhir. Meskipun demikian. Dikatakan oleh Labov. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. ungkapan. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian.. misalnya. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. sistem sosial. tetapi tidak diakui. sistem religi. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. 2003). identitas.jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. Sebagai unsur. misalnya. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia.). 2001). Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. Dikatakan “secara garis besar”. . menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. Bailey. dengan kata lain. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky.

Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. Dalam gramatika. kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. 1984). Dalam berbahasa. dan remeh (Kramarae. sehingga terkesan kurang tegas. fonologis. Dalam ragam bahasanya. 2001). juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. pasif. lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. 1981). kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). yaitu kosakata. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. kosakata lebih sedikit. Coates. dan Belanda. dan lebih inferior. Realitasa ini. terlalu boros kata-kata. lebih subordinat.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. bodoh. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. 1991). dan tidak mengumpat. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. dan gramatika. 1981. 1991). kurang meyakinkan. dan fonologi. 1979). sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. 1991). manja. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. Bahkan. dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. menurut (Coates. gramatika. Di samping itu. dibandingkan dengan kelompok lelaki. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. berbicara lebih sopan. Dalam fonologi. emosional. USA. 1982). irasional. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. Akibatnya. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. Dalam hal kosakata dan ungkapan. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini.

sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. bagaimanapun. dan . Kweldju. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. menjaga perasaan. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. Tetapi. 1993). sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. dan subordinat adalah perempuan. andai saja suami itu bodoh. Kedua. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. Pertama. mencuci. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. termasuk ungkapan alah Mak. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. Menurut Jespersen (dalam Kweldju. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. termasuk mengajari anak berbahasa. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. 1979). Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. sedang lelaki dikodratkan aktif. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. Sebagai ibu rumah tangga. Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. inferior. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. mengasuh dan mengajari anak. dan dominan. Oleh karena itu.majemuk setara. superior. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. 1993). sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. misalnya memasak.

ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. tidur terbuka menelentang) (Sobary. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. melahirkan) atau pun neng omah. Sebagai bandingan. . yang justru lebih kaya. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. Boleh saja. kasur. mlumah. masak. malam jadi alas untuk ditindih). istri gelap. olah-olah. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. suami bebas atau tidak usah nama baru. lulur. Keempat. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. 2000). Maka. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. manak (memasak. 2003). Ketiga. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. sungguh tidak perlu diragukan. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. sumur. misalnya. Dalam dunia prostitusi. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. Sementara. mbegagah ngablah-ablah (di rumah. 1985). atau pun *penyimpan. dalam bahasa Jawa pun. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. Ia mesti pasif menunggu. misalnya *pemiara. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. atau pun simpanan.menghormati lelaki (suami) (Spender. macak. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. *suami gelap. 2003). dan jika istri menjabat. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. Linda atau Bu Astuti. yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. Kuntjara. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. merias diri. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. memasak.

khotbah. disamakan dengan banci. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. biasanya menjadi profesor wanita. organisasi. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika. pesilat wanita. Ketujuh. Misalnya. konotasi semantisnya cenderung negatif. istri akan dipanggil Bu Kades. Sebaliknya. “masa kini”. Kelima. peranannya . Contoh lain: bapak pembangunan. *ibu pendidikan. asal masih mau sedikit berdandan saja. Keenam. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. ceramah. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi. rapat. perangai Eny yang tomboy. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. Jika kosakata itu berbau perempuan.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades).: Bpk/Ibu/Sdr. … dan tentu bukan *Kepada Yth. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. *ibu koperasi. adalah Bapak-bapak. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. suami yang istrinya menjadi kades. Bapak-bapak yang saya hormati. Ibu-ibu yang saya hormati…. Julukan jago matematika. Jika dilekatkan kepada perempuan. prestasi. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. Tetapi. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. Sebutan profesor. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. bapak pendidikan. bapak koperasi. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. misalnya. misalnya. kesebelasan wanita. pesilat. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan.: Ibu/Bpk/Sdr. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. … Kedelapan. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. Dengan kata lain. kesebelasan. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. “gaul”—oleh sekitarnya.

sebagai berikut. Secara psikologis kultural. Bahkan. hanya kerja sambilan. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Sebaliknya. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. Dalam hal demikian. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. wanita. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. sedang lelaki aktif. *Hari Kartini. dan *Hari Bapak. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . Hari Kartini. Dia akan mendapat cap buruk. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. untuk tambah-tambah saja. tahta. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. Misalnya seorang istri yang berdagang. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. 2003). Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. prestasi. lelaki tidak menjadi masalah. penilaian negatif. tetapi tidak diakui. atau kalau diakui. organisasi. sedang lelaki tidak dipersoalkan. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. misalnya dalam ungkapan harta. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. Sebagai bagian dari masalah. Kesembilan. dengan malu-malu.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). atau peluru dan wanita. dan Hari Ibu. penghasilan suami cuma berapa. sedangkan lelaki pemberi identitas. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. sedang lelaki penguasa kehidupan. terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri.

1993). Universitas Kristen Petra. sebagai kajian sosiolinguistik. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. Santoso et al. Sari. Maka. dan sosiokultural (Kweldju. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. 1979. Jupriono. A. Co. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). dan Kekuasaan.. Sekadar.). tetapi tidak diakui. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. (ed. Kramarae. London: Longman. 1982. 1991. Bahasa. Daftar Pustaka Acuan Budiman. menyodorkan saran.A. New York: MacMillan Pub. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. “Bahasa Indonesia. Dalam B. dan Kekuasaan”. kognitif. E. D. Saville-Troike. Parafrase 3(1). Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. Kuntjara. FSU in the Limelight 5(2) Juli. London: Newbury House Pub. Coates. 2003. Wishart & L. Lakoff. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. Surabaya: Fakultas Sastra. D.I. Inc. 1997.. 2003. R. “Talking Like a Lady”. dapat dimanfaatkan dalam hal ini. buku Esther Koentjara (2003). Reichman (ed.J. K. Hudson. Rahayu. Jupriono. M. Men. “Gender. Dalam B. Kweldju. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. R. 2003. C. Pertama. selayaknya diadakan pengayaan data. Inc. Ketiga.). Warta Studi Perempuan 4(1). 1993. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. 1992. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural).C. Modern Sociolinguistics Issues.C. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. S. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. 1986. misalnya pendekatan psikodinamis. Bahasa Lelaki?”. Parafrase 4(1) Februari. jika kajian ini dilanjutkan. 1981. Women. Oxford: Basil . N. Cambridge: Cambridge University Press. A. Sociolinguistics.perempuan sebagai golongan kelas dua. J. The Ethnography of Communication: An Introduction. Februari. data yang disajikan amat terbatas. Gender. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. Kuntarti. bahasa. Kedua.

Oxford: Oxford University Press. M. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Untag Surabaya Trudgill. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. 2001. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. P. Program Pascasarjana. Pada pengajaran BIPA.Blackwell. Harmonsworth: Penguin Books. Di sisi lain. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. Program Studi Magister Psikologi. 2000. 1984. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. (Tesis tidak dipublikasikan). Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. Sociolinguistics. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. Spolsky. London: Routledge & Kegan Paul. 2003. 1985. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Dukungan Sosial Suami. Sociolinguistics. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . Man Made Language. D. Sobary. “Wanodya” (Hal. Sudarwati M. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. Spender. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. B. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal.

Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. Secara umum. sort of. dsb. Interupsi ini dilakukan . (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. Akan tetapi. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta. lucu.. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. dsb. biru laut. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. (6) penggunaan katakata penguatan: just. so (I like him so much.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. turqoise. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. Disadari atau tidak. gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi. dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). dan gaya bertutur. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. Di lain pihak. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku. semantik. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. juga Ponynton (1989). Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. Pada bahasa Inggris. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin.. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. Oleh karena itu. stewardess). charming. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. ya kan?. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. dsb. khususnya bahasa Inggris. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin.). gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin..

Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Menurut Holmes (2001). Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. Di lain pihak. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). dan berperan sebagai bahasa T. sesuai dengan situasinya. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. formal dan informal. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. mereka menggunakan bahasa standar. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. untuk menimbulkan rasa aman.untuk ―membungkam‖ lawan bicara. bentuk . Oleh karena itu. Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. baik masyarakat barat maupun timur. Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. Selain bahasa vernakular. Secara tidak langsung. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. Masih menurut Holmes (2001).

. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. Silakan mas Ali. Ya. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. Orang pertama nyebur. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. deh. terus? Jadi. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. itu bagus sekali mas Erdam. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. gitu. Sebentar. si Clement ini disuruh mundur.

materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. Hornberger.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. Intercultural Communication in Contexts. Janet. 2001. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. California: Mayfield Publishing Company. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. Judith N and Thomas K Nakayama. McKay. Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. — Presentation Transcript  1. Daftar Pustaka Holmes. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. 2000. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya.ii. Malaysia: Longman. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Sandra Lee and Nancy H. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. 1996. Oleh karena itu. Chambers 1995:102)i. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). Martin. Ketika mengajarkan bahasa vernakular. Sociolinguistics and Language Teaching. An Introduction to Sociolinguistics. USA: Cambridge University Press. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa .

menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa. perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi.pendidikan. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial. yaitu perbedaan tinggi nada suara. 6. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa. 4.3. “malam”. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. diantaranya:1. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri. 6. 6. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . b. serta dapat hiduplebih lama6. Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. sebuah golongan AS. Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”.D. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. dan “sun” („matahari‟). yaitu di tentukan akibat proses sosiologi. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut. “ball” („bola‟). wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944).3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki.2. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki. “steward”. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. 6.b. sertac. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. begitu juga sebaliknya. dibandingkan dengan wanita 3.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. 5. . “seniman”. iii.bentuk bahasa baku. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. den pendidikan sosial. “sabun”. Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. Wanita lebih baik dalam membaca. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟).5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati. „Wanita.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). Selain itu. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6.

kelamin. hegemoni. *** . Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. dominasi. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. dan manipulasi pemaknaan. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan.Bahasa. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. Perempuan. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. atau ideologi.

Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan . Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. agama. ekonomi. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. dan identitas. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. dan bahasa. dan identitas. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. politik. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. dan identitas perempuan. atau kaum tunduk. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. subjek. subjek.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. subjek. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. kaum kalah. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan.

Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik.peran. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. politik. Begitu. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . kesusastraan. atau media massa. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa.

Bidang vokal laki-laki lebih panjang. (7) idiologi linguistik. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. Daiam kebudayaan yang berbeda. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. dan (8) reformasi bahasa. dan netral (Matthews 1997: 142). Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. 1. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. laring mereka lebih besar. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Di Jepang. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. (2) perbedaan (3) dominasi. Namun. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. Ke(tidak)samaan. Perbedaan. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. musik recital akan berbeda-beda cirinya. (6) jender dalam lintasan budaya. feminin. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. terdapat temuan bahwa selama . dominasi. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. Berkaitan dengan istilah jender. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. adaiah benar-benar alamiah. bentuk dan panjang bidang vokal. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. Misalnya. (4) jender dan variasi fonetik. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. (5) jaringan sosial. Pembagian itu meliputi maskulin. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. perbedaan.

cara mereka menyapa satu sama lain. dan gejala etiket linguistik lainnya. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. 2. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. 1992). Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Sementara itu. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin.

Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. 1991). diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti . Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. 4. pada kata running. ditemukan. (Spender. 1985: 139). 1999: 61). Gordon. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. (Gibbon. Penjelasan seperti di atas. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. Sementara itu. 1997). 1990. 1989. Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘.ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. seperi Norwich (Trudgill. contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. Perbedaan pola pergE. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal. 1992). Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. akan tetapi penjelasannya berbeda. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas.lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya.. Tannen. 3. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive).. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. Contoh. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan.

jaringan perkenalan. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. Seperti tampak pada gambar 3. etnik.1 hal 41. jaringan sosial. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. tingkat sosial. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. dan sebagainya. Hubungan antara jender. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. teman dan orang asing. 2002: 111). Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki. dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. Labov (1990) dikutip Coulmas. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Contohnya. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . Jika dilihat dari jenis kelamin. seperti kelas sosial. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada.ini. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. punya anak atau tidak. 5. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana.

Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. M. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. 1. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. baik disengaja maupun tidak disengaja. Reformasi Bahasa . 7. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. M. 8. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. 6. 1. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja.

mereka sama-sama manusia. berkata kasar dan sebagainya. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Kalau sedang emosi. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. atau faktor sosial lain. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. membanting. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. Padahal. cenderung untuk mengandalkan fisik. Seperti seekor reptil. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. meskipun . kelas sosial. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. Para ahli otak. maupun cara menyelesaikannya. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. Dalam menghadapi masalah. Dalam banyak hal. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. .Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. Sedangkan pada wanita. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga.tentu saja . ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. Dari bentuk maupun fungsinya. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. Perbedaan itu. Seperti memukul. Di antaranya. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. Karena itu.

Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. . seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. pada wanita yang mengalami stroke. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. Hampir di seluruh tubuhnya. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Dalam hal seksualitas. atau bahasa tubuh mereka. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Selain itu. Pada lelaki. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. seperti sedih dan gembira. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. tidak perlu kondisi seperti itu. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Sehingga. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Secara struktural. Sedangkan pada wanita. Kebanyakan pria jika kena stroke. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. sayangnya. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. Cuma. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira.Pada perempuan. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. dibandingkan lelaki. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen.

seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. masa membesarkan dan mendidik anak. Meskipun.a. masa menyusui. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain. Sejak usia baligh. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Dan sebagainya. ketika mereka melahirkan.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. • . Belum lagi. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Dan berulangkali terjadi. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. Belum lagi. “lupakan tentang si jelek itu. Nyeri karena datang bulan itu. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. kamu akan lulus ujian”. Karena. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. tingkah laku.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. 2. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. Pada dasarnya. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. dalam fisik. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Dan seterusnya. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol.

mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play. menjelek-jelekan pacar.b. diantaranya :1. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. 2.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. Lying (Berbohong) . Katakan bila kamu marah. Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan.2 . Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. Terdiridari 3 management strategy. S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai. 2.Sampaikan perasaanmu. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality). Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan.3 3.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. kesal. Misal : membaca email tanpa ijin. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i .c.Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini.

Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar. orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. Jadi. misal : untuk uang ataupun materiil. Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik.Definisi menurut Random House Dictionary.Berbohong sebagian besar secara verbal. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) . Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h . Carl Camden. Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu.( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta.

misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. begitu juga kebohongan.8 persen untuk kepentingan pembohong.D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek. Sangat sulit . hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian.5 persen untukkepentingan orang lain. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal.b i c a r a .5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. Banyak kebohongan efektif. 2.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur). 21. mengenai cita rasa atau masakan. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang. Hasil analisis Camden. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur.

seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . Denganmengetahui penggunaannya. Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap. Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal. kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas. Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . bertukarpikiran atau pengalaman.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f .untukberbohong non verbal secara meyakinkan. Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh. Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur.

i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan.7 . Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan.terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. Gossip Menurut Random house dictionary. gosip adalah omong kosong atau rumor.Banyak orang yang egosentris. Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). kadang-kadang self-talk. Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang. keluarga. M e r e k a i n i l a h o r a n g . ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. kisah cinta. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . masalah. karir. Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang. b u k a n kesembarang orang. Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. prestasi dan j u g a kegagalan).

anda tidak sependapat denganlawan bicara. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. 8 twitter. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc. Dalam konfirmasi. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. termasuk juga komunikasi orang tersebut. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. Dalam berbagai bidang ilmu.” Atau “dia menganggap kamu ….kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia ……. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi.b. Pada penolakan. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan.Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. interaksi memiliki makna yang berbeda. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN .

Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. 22. 2. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. 24. atau atribut. dll. 21. namun dinyatakan sama. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. 6. 7. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. 11. 3. ciri khas. bagaikan. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. 23. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. 19. 4. 18. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. . Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. seperti layaknya. 3. 5. 16. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. 15. 9. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.1. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. dll. bagaikan. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. 17. 13. 2. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. MAJAS SINDIRAN 1. 10. melalui kiasan atau penggambaran. 14. 12. 20. 8.

Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. 16. 24. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. 2. dihubungkan dengan kata penghubung.4. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. 21. 13. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. 3. kebiasaan. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. 5. atau klausa yang sejajar. dll. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. 15. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. namun sebenarnya keduanya benar. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. 19. MAJAS PERTENTANGAN 1. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 12. 17. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. 18. 9. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. 5. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. sehingga menjadi kalimat yang rancu. 20. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. 4. tetapi dengan makna yang berlainan. frase. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. frase. . 6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 10. 22. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. 8. MAJAS PENEGASAN 1. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. 14. atau parodi. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. 11. 7. 25. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. Repetisi: Perulangan kata. ironi. 23. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. . 3. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya.2. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. mulai dari hal-hal yang sederhana. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. Dalam proses pembelajaran di sekolah. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. Jadi. 4. Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. bercerita dalam pelajaran berbahasa. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. 5. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa.

(http://imadesudiana. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem.kemdiknas. and desires. emotions.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial.go. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis. Sapir (1921) dalam A. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. A. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. Sementara menurut H. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya.id/kbbi/index. Pengertian Sosiolinguistik. ataupun kurangnya rangsangan dari guru. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. Hakikat Bahasa. dan mengidentifikasikan diri. (http://pusatbahasa. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. by means of a system of voluntarily produced symbols.php) .‖ Di samping itu. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya ….wordpress. barangkali juga untuk sistem generatif. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. bahasa guru yang menekan anak. S. berinteraksi. artinya. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan . sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Pertama. 4. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. 7. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Fishman. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. Wikipedia. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. 9. Greus Meijer.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. Booiji (Rafiek. 2. Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu.blogspot. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain. change. (Rene appel. Dengan demikian. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. mengenai lembaga-lembaga. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. 1976:10).html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. Kedua. Nababan. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. 6. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. 5. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. Selin itu. 2. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. 3. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . the characteristics of their functions.2forum. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. 8. and change one another within a speech community. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. Gerad Hubert.

1975:139). memelihara. Dalam hal ini. 4. Booij. J. topik.J Verkuyl. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya.) (Nancy Parrot Hickerson. menggunakan bahasa apa. Dalam hal ini.Piet Corder. geleng-geleng kepala. pendengar. 3. 1975:156). Maksudnya. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya.E. 1980:81). Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. Dilihat dari segi pendengar. dan apa tujuannya.Widdowson dalam J.Criper dan H. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational.bahasa dan pergaulan sosial. dan amanat pembicaraan. anggukan kepala. Kersten.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. Sosiolinguistcs is the study of language operation. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. Dilihat dari sudut penutur. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. memperlihatkan perasaan bersahabat. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation.G. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. kapan. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. bahasa berfungsi fatik. Karena. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan. (G. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran. viewing variation or it social context. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia.B Allen dan S. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. bahasa berfungsi direktif. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur.) (C. atau solidaritas sosial. dan H. kepada siapa. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial.P. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . kode. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu.G. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. dan kedipan mata. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran.

berestetik atau tidak. dongeng. tidak mempunyai nilai keindahan. Dengan sosiolinguistik. di mana bahasa berfungsi imajinatif. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. tidak terpaku pada satu ukuran. Akan tetapi. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. Hudson 1996: 2). peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. Dengan adanya sosiolinguistik. cerita. dan sebagainya. Holmes 1993: 1. lelucon. Melalui sosiolingguistik. dan sebagainya. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai.yang akan disampaikan). Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. dan sebagainya. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. Kalau kita simpulkan.

untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. dan pendekatan pemilihan bahasa. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Rumusan Masalah 1.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Oleh karena itu. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . faktor penanda pemilihan bahasa. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. Tujuan 1. B.

3. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. Misalnya. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. Ketiga. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. . Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Pertama. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. dengan melakukan campur kode. Kedua. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. dengan melakukan alih kode.

kuliah. Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. . Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. yaitu pemakaian satu kata. dan (4) fungsi interaksi. status sosial ekonomi. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. yaitu (1) partisipan. ungkapan. peristiwa-peristiwa aktual. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. atau frase. Di Indonesia. (2) partisipan dalam interkasi. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. dan (4) fungsi interaksi. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. kebiasaan rutin (salam. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. (3) isi wacana. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. permohonan. (2) situasi. (3) topik percakapan. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. dan tawar menawar barang di pasar. selamat kelahiran di sebuah keluarga. meminta maaf. dan topik harga barang di pasar.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. Senada dengan Evin-Tripp. B. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). pekerjaan. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. atau mengucapkan terima kasih). jenis kelamin. rapat di keluarahan. keberhasilan anak. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya.

(3) tingkat formalitas. 5. partisipan dalam interkasi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. topik percakapan (isi wacana). 4. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. (2) sekolah. Dari paran berbagai faktor di atas. dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. Di Obserwart. (2) kehadiran pembicara monolingual. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. (2) penciptaan jarak sosial. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. dan (2) tipe kosakata. 2. fungsi interaksi. situasi. Berbeda dengan Gal. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. . Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. 3. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. dan (4) tingkat keakraban. latar (waktu dan tempat). di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. dan (4) memerintah atau meminta. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status.

dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). yaitu pendekatan sosiologi. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. akomodasi ke atas . (1973). pendekatan psikologi sosial. agama. dan pekerjaan. topik. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. dan partisipan. ketetanggaan. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Pertama. hubungan peran antar-komunikator. serta Bourhish dan Taylor (1977). Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). Giles et al. Sebagai contoh. dan pendekatan antropologi.C. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. misalnya keluarga. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah.

psikologi sosial. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Dengan demikian. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. . Sementara itu.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. Kedua. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. dan antropologi. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. yakni observasi terlibat (participant observation). Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. akomodasi ke bawah. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Sebagai contoh.

(2) situasi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. Abdul dan Leonie Agustina. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » .blogspot.com. Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. yaitu pendekatan sosiologi. Sosiolingustik Perkenalan Awal. dengan melakukan alih kode (code switching).BAB III PENUTUP A. (3) partisipan dalam interkasi. Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. pendekatan psikologi sosial. (4) topik percakapan (isi wacana). Pertama. 2009. Kedua. Sosiolinguistik. 2004. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). DAFTAR PUSTAKA Chaer. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Pemilihan Bahasa. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Ketiga. dan pendekatan antropologi. dan Masyarakat Multilingual. http://fathur-linguistik. dengan melakukan campur kode (code mixing).

dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Kata kunci: pemilihan bahasa. sosiolinguistik. 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. masyarakat multibahasa. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. dan pendekatan antropologi. yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. seperti perkawinan. pendekatan psikologi sosial. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. psikologis. Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. baik faktor sosial. Namun. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. pendekatan sosiologi. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. pewarisan harta peninggalan. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. maupun pragmatis. budaya.

Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an.. baik faktor kebahasaan maupun lainnya. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. Holmes. 1971. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. 1972. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). (3) faktor penentu pemilihan bahasa. 1. 1984: 4. berbagai macam bahasa dan variasinya. Dittmar. sosialbudaya. 1976). PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. (2) kategori pemilihan bahasa. (2) identitas peserta tutur. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974). apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. Sejalan dengan rumusan itu. sebagai berikut. (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. . Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi.pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. Los Angeles. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. 1993. Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. Fishman. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. (6) tingkatan variasi linguistik. Hudson. tahun 1964. 1996: 2). penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik.

Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. Hudson. sistem tingkah laku budaya. yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). Wijana (1997: 5). yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. (4) act sequence (topik/urutan tutur). Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. Hymes (1972. Sebagai aspek tutur. pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. Pada umumnya. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). 1975).Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. seperti faktor sosialbudaya. kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. serta sistem pragmatik. Dalam kajian pemilihan bahasa. dan situasional (Kartomihardjo. budaya. (5) keys (nada tutur). (3) ends (tujuan tutur). Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). 1996. Dalam kenyataannya. tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. (2) participants (peserta tutur). Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). (7) norms (norma- . baik secara korelasional maupun implikasional. Fasold. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. (6) instrumentalities (sarana tutur). 1973. sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. Dengan demikian. yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). budaya. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. 1984. 1981. tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. dan bahasa asing.

Pertama. Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini.norma tutur). misalnya. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. atau berkencan. Kedua. Faktor pertama dapat berupa halhal. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. (2) partisipan dalam interaksi. . seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. terdapat tiga jenis pilihan. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. Misalnya. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages). Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. Kenyataannya. Di Indonesia. harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. yaitu pemakaian satu kata. 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. Ketiga. dengan melakukan campur kode (code-mixing). sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). dan (8) genre (jenis tutur). Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). dan (4) fungsi interaksi. dengan alih kode (code-swicthing). dalam hal memilih. ungkapan atau frase pendek. (3) topik percakapan. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. pesta kuliah.

jenis kelamin. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. pendekatan psikologi sosial. (c) tingkat formalitas. yaitu (1) partisipan. yaitu (1) desa. (b0 kehadiran pembicara monolingual. yaitu pendekatan sosiologi. dan (d) memerintah atau meminta. suami-istri. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. (2) situasi. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. dan (d) tingkat keintiman. seperti: usia. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. (g) pekerjaan. Berbeda dengan Gal. Gal (dalam Grosjean. asal.Faktor kedua mencakup hal-hal. Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. (3) status sosial ekonomi. pekerjaan. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. (3) isi wacana. permohonan. Dari jabaran di atas. (h) latar belakang etnis. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. penjual pembeli. harga sembako. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. (f) pendidikan. latar belakang kesukuan. (i) relasi kekeluargaan. (e) jenis kelamim. dan (l) kekuatan luar yang menekan. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. guru-siswa). Di Obewart. (k) sikap kepada bahasa-bahasa. (b) jarak sosial. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). pembicara akan memilih bahasa Guarani. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. (contoh: direktur-karyawan. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. (2) sekolah. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. dan sebagainya. (j) keintiman. peristiwa aktual. status sosial ekonomi. Di desa. dan pendekatan antropologi. dan (3) tempat umum. Pendekatan Sosiologi . Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. dan mengucapkan terima kasih. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. (4) fungsi interaksi. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. (d) usia. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. olah raga.

Analisis domain terkait dengan diglosia. Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi. dan partisipan. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. hubungan peran antar komunikator. Greenfield menyebarkan kuesioner. Fishman (dalam Amon. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. topik. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol. agama. yaitu: orang. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. gereja. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. 5 berarti semua bahasa Inggris. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. dan pekerjaan. seperti pendidikan dan pemerintahan. tempat. Sebagai contoh. ketetanggaan. misalnya keluarga. sekolah. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. dan tempat kerja. dan topik. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. 1972). pantai. Di bagian lain.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). . Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal.01. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga.

dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Dalam kondisi tertentu. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). akomodasi mengambil bentuk konvergensi. Herman membicarakan tiga jenis situasi. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). Seperti juga psikologi sosial. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. Giles. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. Bourhish dan Taylor 1977). Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973.Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. seperti motivasi individu. kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping). Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). daripada berorientasi pada masyarakat. seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih.Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang . Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs). Dengan pendekatan yang sama. Kedua. Howard Giles (1977. Dengan kata lain. yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. Pertama. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Secara normal.

antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. 1976 Sociolinguistics.T. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. 1976 Sociolinguistics: Goals. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. dan situasional. Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Australia Timur. Dittmar. melainkan juga dengan masalah sosial. Selain itu. R. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. DAFTAR PUSTAKA Bell. London: Bastford. and Problems.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. Approaches. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. London: Edwar Arnold . PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. budaya. 1970: 49). 1984: 192). Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). dan psikologi sosial. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. Norbert. pendekatan sosiologi. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. Sebagai contoh. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. psikologis.

Howard dan St. John dan Hymes. Oxford: Basil Blackwell. London: Academik Press. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. Advences of Sociology of Language. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. Oxford: Basil Blackwell. Groesjean. Gumperz. Joshua A. Sociolinguistics. Rinehart. 1979 Language and Social Psychology. Susan M. Greenfield. Giles. Evin-Tripp. Ethnicity. and Intergroup Relations. Susan.‖ Dalam Fishman. Giles. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. 1994 Multilingualism. Robert. Howard. John. Cambridge: Harvard University Press. 1982.Edwards. Many men and women assume that males . Ralph. (hlm. (hlm. England: Penguin Books Ltd. 1972 The Sociology of Language. Lawrence. 1972. Place. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. ed. Fracois. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. 1972 Direction in Sociolinguistics. 225-240). Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. Life with Two Languages. Women Don’t Ask (2003). 1984 The Sociolinguistics of Society. Fasold. Clair. New York: Academic Press. Fishman. Oxford: Basil Blackwell Publisher. The Hague: Mouton. Harmondsworth: Penguin. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. Dell (eds. ________. 17-35). New York: Holt. 1977 Language.6 percent higher than those attained by women.). In their new book. 1990 The Sociolinguistics of Language. Volume 2. Gal. and Winston. Rowley: Newbury House. 1972.). 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria.

Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. As a consequence. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. If these stereotypical assumptions are right. During personal interactions. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. Men are expected to emphasize objective fact. Male negotiators. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. They have the right to use any . This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. women are thought to be emotional and intuitive. manipulative. REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical.are highly competitive. and they are more effective using this approach. Females are thought to be more accommodating. which causes women to be perceived as less forceful. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). This is especially true when females use foul language and loud voices. ―you know‖) than their male cohorts. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. women focus more on the maintenance of relationships. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. These men give further leverage to their female opponents. When men and women interact. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. (Deborah Tannen. women are supposed to be passive and submissive. Men utilize more direct language. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. Men are expected to be dominant and authoritative. they allow their female opponents with a bargaining advantage. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics.

Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. . they tend to feel unprepared. fearing that competitive success will alienate them from others. Even when minimally prepared. when women are successful. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. regardless of the stereotypes those tactics might contradict.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. Play Like a Man. on a credit/no-credit basis than men (27%). Most boys are exposed to competitive situations at an early age. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. football. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. basketball. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. On the other hand. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. and other competitive athletic endeavours. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. (Gail Evans. This factor causes male success to be overvalued. and female success to be undervalued. They have been encouraged to engage in little league baseball. where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. no matter how thoroughly prepared women are.techniques they think appropriate. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. When men are successful. soccer. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. I find this frustrating. Win Like a Woman 80 (2000)).

They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. Many individuals believe that men are highly competitive. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. (Charles B. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. The average results are almost similar. Barnes. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. My students participate in a series of bargaining exercises. Over the past thirty years. Craver & David W. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. business persons.STATISTICAL RESULTS Since 1973. I have discovered that practicing attorneys.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). Several people suggested to me that while the average results might be equal. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. Charles Craver is a Professor of Law. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. Reader Comments . Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. Risk Taking and Negotiation Performance. generating more results in the mid-range. the results of which affect their course grades. while more competitive. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. ―Gender. Over the past thirty years. George Washington University. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. If this hypothesis were true. the male results would be more widely distributed. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender.

preferably to this page. Please find below a suggested description to accompany your link. meskipun disebut sebagai horison baru.we ask only that you include a clean html link back to this site. negotiation Q&A's. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. teori kesantunan berbahasa. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik.. Bookmark the permalink. teori kesopanan berbahasa. namun juga dari aspek etika.S. . namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis.negotiations. terkecuali dalam telaah pragmatik. 2011. bukan hanya dari aspek tata bahasa. negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. bukan pula dari aspek psikososial. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Kesantunan dalam berbahasa. You can find in-depth negotiation articles. S. M. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. pragmatik.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part .Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. business cartoons.com.

maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Selain itu. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). ini bukan dalam arti rupa fisik. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. baik oleh pakar atau linguis. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. Teori yang diulas singkat ini. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. sementara itu.‖ dalam hal. secara tradisional. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. maupun milik mitra tutur. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. Brown. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). namun ―wajah‖ . Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. ―Wajah. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. 1995). Selain itu.‖ baik milik penutur. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Kesantunan berbahasa. yang membawa ideologi liberal. agar santun. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. Brown. Teori Wajah oleh Goffman. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. dan Levinson. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. maupun para pembelajar bahasa. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika.

sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. dalam tradisi Cina. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . artinya. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Dalam teori ini. baik wajah positif maupun negatif. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. Meskipun demikian. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. ketakformalan. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. 2008). bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. atau dimiliki secara individu. sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. konco. atau anak dan ayah). termasuk dalam berbahasa. dalam konsep kesantunan berbahasa. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. 2008:2). dan kesekoncoan. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. merupakan ―pinjaman masyarakat. bebas dari gangguan pihak luar. pacar. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi.dalam artian public image. pemabuk. Pada wajah. tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. Untuk lebih memahami konsep wajah ini. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial. dan sebagainya).. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. Sementara itu. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. pengakuan. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Wajah. Oleh karena itu.

dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. tapi so lewat jao. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. (Astaga. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. maaf. ketakformalan. ini skarang so sampe di Kastela. nanti bilang turun di Sasa. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. numpang tanya. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. dan sebagainya. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. rasa kekoncoan (camaraderie). sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. tanya sadiki. (Bukannya masih jauh mas. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. tidak sopan. . kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. melalui konsep wajah positif. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. tapi mereka tidak mau). konco. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Dari aspek kesopanan. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. kesekoncoan. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. maaf nih. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Tuturan sopir B. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. dan wajah mereka terancam. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. dan mungkin berpendidikan rendah. tetapi dari aspek kesantunan. ini sekarang sudah sampai di Kastela.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. Sejenak jika dilihat. nanti baru nae oto dari bawa saja. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas.

nanti naik angkot lagi dari selatan.tapi sudah kelewat jauh. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. tarima kasih e? (waduh. penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. gender. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. om. bukan masyarakat asli. om. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. Maaf lagi… (Saya. Perhatikan contoh berikut ini. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Kami minta maaf). 2006:104). Bahkan. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. dan strata akademik. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Penumpang A: Wah. hal ini bukan hanya mengancam . Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Dalam konteks interaksi seperti di atas. atau keformalan. strata sosial. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial.106). nanti bilang turun di Sasa). termasuk usia. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. jelaslah bahwa dalam berbahasa. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Artinya.

termasuk mitra tutur. Artinya. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. (2008). P & S. E. A. Pidato Pengukuhan Guru Besar. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. Menggugat yang Semu. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. Australia: Monash University. Di lain sisi. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. . dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. tekanan. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). Goody (ed). Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Daftar Pustaka Aziz. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Levinson. A. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Disertasi. E. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Santun berarti tidak mengancam wajah. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. In E. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. Aziz. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. maka ancamannya pada wajah positif. Menuju Universalisme yang Hakiki. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Intinya. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. maka pengancaman wajah bersifat negatif. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. atau gangguan dari pihak lain.N. 56-289. (1987).wajah mitra tutur muda. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Sementara itu. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. maka ancamannya pada wajah negatif. Brown. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. (2000). Cambridge: Cambridge University Press.C. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. maka pengancaman wajah bersifat positif.

G. yang membawa ideologi liberal. secara tradisional. bukan pula dari aspek psikososial. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika.Goffman. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. (2008). (1995). sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. NY: Doubleday. 2011. (1967). agar santun. Garden City. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman.. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). Bookmark the permalink. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. E. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Yule. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. teori kesantunan berbahasa. M. Pragmatik. namun juga dari aspek etika. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. J. pragmatik.S. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . meskipun disebut sebagai horison baru. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. Selain itu. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. teori kesopanan berbahasa. bukan hanya dari aspek tata bahasa. London: Longman. Interaction Ritual. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. Kesantunan dalam berbahasa. baik oleh pakar atau linguis. Kesantunan berbahasa. Thomas. S. Indonesia: Pustaka Pelajar. terkecuali dalam telaah pragmatik. maupun para pembelajar bahasa.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

Maaf lagi… (Saya. 2006:104). Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. tekanan. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. atau gangguan dari pihak lain. Sementara itu. termasuk mitra tutur. termasuk usia. maka ancamannya pada wajah negatif. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. om. Artinya. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. maka pengancaman wajah bersifat positif. Dalam konteks interaksi seperti di atas. om. Intinya. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. gender. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). maka pengancaman wajah bersifat negatif. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. maka ancamannya pada wajah positif.106). penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Kami minta maaf). dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Bahkan. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Perhatikan contoh berikut ini. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. strata sosial. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . jelaslah bahwa dalam berbahasa. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. dan strata akademik.

Universals in Language Usage: Politeness Phenomena.N. Aziz. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. (1995). (2000). Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Interaction Ritual. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. 56-289. Di lain sisi. (2008). (2008). Santun berarti tidak mengancam wajah. (1987). London: Longman. E. Thomas. Menggugat yang Semu. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. Furthermore. NY: Doubleday. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. A. Goffman. Pidato Pengukuhan Guru Besar. A. Australia: Monash University. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Brown. E. Cambridge: Cambridge University Press. Levinson. Daftar Pustaka Aziz.adalah kehilangan wajah (loosing face). Menuju Universalisme yang Hakiki. E. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Goody (ed). Disertasi. Yule. Indonesia: Pustaka Pelajar.C. I aim to move . (1967). J. P & S. Pragmatik. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. In E. Garden City. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. ethinking Politeness. G. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics.

(3) In this way. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. we can map out parameters for . it should be seen within the context of a community of practice. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. and who needs to repair the damage. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. Keywords: politeness. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. modes of talk and domains. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. To illustrate these ideas. we need to be able to analyse the various strategies which gendered. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. constitutes a discourse analysis of politeness. I would argue that we need several analytical changes: firstly. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. rather than individuals. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. but. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. in an analysis of an incident at a departmental party. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. nevertheless. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. in the final part of this essay. secondly. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. and finally.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness. we may be able to see gendered protocols at work. I will suggest that. Thus. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. gender. as Brown and Levinson (1978) have done. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. rather than a linguistic analysis of politeness. therefore. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. rather than as simply as the product of individual speakers. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. This. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. I argue that communities of practice. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. pragmatics. (2) In terms of the analysis of politeness. (Sperber and Wilson.

(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. (Eckert and McConnell-Ginet. Ways of doing. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. Fuss. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. there will also be different `takes‘ on those norms. 1999:175) Thus. and they will have different positions within these groups. Johnson & Meinhof 1997. Thus. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. Bing & Freed. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. a joint negotiated enterprise. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. (Coates & Cameron. rather than . 1990. values.' (Wenger. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. Within this view. However. (both dominant and peripheral). Bergvall. and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. 1995). 1998. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. ways of talking. we need to modify this notion of community of practice slightly. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect.1988. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. (see Butler. as many essentialist theorists have done so far. developed by Wenger. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. beliefs. 1999). each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women. power relations – in short. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. (1998). the issue of gender is even more fraught. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed.

(Freed. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. . This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. 1999). classed and raced. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. However. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. 1998:488/9) Thus. rather. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. thus. politeness is already gendered. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations. however. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. the stereotypes of gender. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. (5) Furthermore. athleticism and musicality. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. particularly when we are considering linguistic politeness. As I will argue later in this paper. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. so that stereotypically it bears a signature of middle class. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely.‘(Eckert & McConnell-Ginet. in the way that they react to politeness and impoliteness. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness.

the spread of power throughout a society. (Mills. Tannen.'(Brown & Levinson. (Foucault. a friend. They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. 1975. conversely. 1998. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. that is. by treating him/her as a member of an in-group. by our class position. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. via Goffman. we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. their linguistic directness. Face is a term drawn. and so on. because of her access to information upon which they depend. Spender. rather than the holding and withholding of power by individuals. will need to employ politeness forms which would normally signal deference. 1991). a person whose wants and personality traits are . S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). 1996) Thus. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. their confidence. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness.g. This is what I would like to call interactional power. lecturers who need this information and who are reliant on her. maintained or enhanced. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. or breakdown of communication will ensue. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. described as co-operative strategies or rapport talk. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. concern and sympathy. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. (Coates. rather loosely from the Chinese.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. (Lakoff. and that can be lost. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. however temporarily.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. (6) For example. In engaging in interaction. and must be constantly attended to in interaction. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place.

forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence. Boz. however. 1995:5) However. it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. or expressing them indirectly. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. i.e. The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8).. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance. hedges and deference). and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . such interpretations may be subject to disagreement. It is thus a model of interaction which is focused on production.. Thus. 1996) As Holmes notes. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference.known and liked). Thus. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. this might in fact be interpreted as impolite. which conflates the intentions. 1994. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example. (Culpeper.‘(Holmes. Thus. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them. which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms.' (ibid. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. Thus. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. and even then. this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. (Mao. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. politeness cannot be said to reside within linguistic forms.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). and this is not the first time that the request has been made. The essence of politeness is that appears to be invisible. a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness.

1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping.‘ (Holmes.‘ (Holmes. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. Indeed. For example. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others. and thus is again an example of the disembodied. women are more polite than men. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. focusing on impoliteness may be slightly easier. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place.‘ (Holmes.polite. Drawing on brown and Levinson's work. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. ingratiating or patronising. nurture and develop personal relationships. as well as non-imposing distancing behaviour. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language. therefore. They use language to establish. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. and thus Holmes asserts that. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe.‘ (Holmes. . so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. especially with friends and intimates. either in relation to the perceived norms of the situation. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole.

women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. and this type of public verbal play in general. and even then it is something which may be contested by some community members. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. and/or when it leads to a breakdown in relations. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. Liladhar. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. although it would be within almost any other community. but older than the postgraduate. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. 1972) (14) However. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. 2000 forthcoming) In the incident in question. However. I had to think up some form of appropriate phatic . 2000 forthcoming. banter. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. Thus. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. I would argue that within that particular community of practice.a documentary programme on army training and literary drama . Since the party was well underway. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. In the army training documentary which he examines. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. like us. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic. when uttered at a staff party may be considered differently. community members.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. (12) Thus. the officers. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. but which female members of staff may also engage in equally. (Labov. The dominant group in the interaction. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. 1998). 1996). this person. as Clare Walsh has shown. this is not classified as impolite. However. He analyses several contexts of linguistic use . but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. one of my female postgraduates and a new male member of staff. usually dominant.

but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. (Sperber and Wilson.' (Cameron. (see Cameron. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. were in fact patronising and therefore insincere. and impolite. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. I did not wish to be forced to answer this question. (17) What is also . the male staff member then made comments which we both considered impolite. but instead had to be classified as offensive and impolite. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. eye contact. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. he was in fact implying that I could not name six poets. This response on his part confused me .communion. 1998:448) In this case. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. Proxemic cues. However. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. because he considered them to be excessive. then I would have to comply and provide a list of poets. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. (15) Banter was not an option since I did not know the person. facial expression and his tone of voice. However. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. Under this interpretation. `Name me six poets‘. such as body stance. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. where we had been attempting to be friendly and polite towards him.

but continued to use positive politeness strategies. perhaps. However. do not necessarily bring any form of power to oneself. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. We tried to assuage him and calm him down. drawing attention to our femaleness and sexuality. Because of these strategies we were locked into the interaction. which in many contexts such as this one. partly because both of us were fearful of physical attack. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. As it was. it led to an increase in insulting terms. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. that is. we would not necessarily have considered the incident impolite. we could not simply walk away. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. that is. Having worked with extremely impolite. verbal aggression and impoliteness. (Walsh. `masculinist‘ females as well. in the interests of departmental harmony.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. suggesting that we talk on other subjects. (19) Further gendered stereotypes were brought in. whereas for the male staff member. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. . it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. as if perhaps these were implicit from the beginning. a stereotypically feminine response. For myself and the postgraduate. it led to a range of `repair‘ behaviours. Thus. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. Thus. for the best of motives.

we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. particularly to the postgraduate. and the way that this judgement is not a once and for all act. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. However. However. where the postgraduate tried to make a formal complaint. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. and the party was disrupted by the event.(20) After several weeks of not communicating with the person. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. one which attempts to resolve the situation. or even perhaps an admission of some fault on our part. However. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. A seemingly feminine response to the situation. Furthermore. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. Thus. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. that is. (21) However. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. and even those stereotypes can be used for our own ends. even though this is a strategic use of femininity. cannot be simply coded as powerless. however. Thus. since in fact this is what brings the incident to a close. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation.The incident itself is not particularly important. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. Conclusions Thus. Generally. Thus. I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. what I .

politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. 1999) 3. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. including the seemingly more co-operative/rapport ones. May. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. Utrecht. 2000 forthcoming. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. Reina Lewis. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. depending on . (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. 6. As I show later. in 1993.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. however. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. Corinne Boz. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. 1994) 5. 2000. (See Liladhar. November 1999. this was clearly the case. (see. also. Perhaps. February. 2000. 1999. Janine Liladhar. Manana Tevzadze. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. or change their meaning or function. Cameron. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. 2000. California. Keith Green. Clare Walsh. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. Holmes and Meyerhoff. Lia Litoselliti. 2. but even here. 4. and Gender and Language Conference. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. Also. and it can also enable us to see that within different communities of practice. Bell et al.(Butler. Thus. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. complex that relation is ). Eckert and McConnell. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. individuals may perform their gendered identities in different ways. May. Notes 1. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. Jane Sunderland. International Gender and Language Association.

uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event.ac. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. 1999 on peripheral group members) For example. China. I also requested comments on his interpretation of the incident. it is interesting that not all secretaries do adopt it.uk.ac. or at our web-board: http://hum-webboard. 12.shu. 11.. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. . Indeed. the incident still has effects on the department and is still discussed. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with. 10. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain. Details of the group can be found on the website http:\\www.7. of course. Turkey. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved.mills@shu. 13. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. the community of practice. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness. 8. 9. Even over two years. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face. Italy. Finland and the Netherlands. he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. this article is part of that process of understanding the event. Georgia. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. in the army training example. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. 2000. bullying and overbearing. as Walsh (forthcoming) has noted.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. and I asked his permission to publish it.ac. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area.ntu. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted.bargiela@ntu. However. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness.l.ac. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone. stated that when he did his year's army training. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. and we are currently working on communities of practice and politeness. composed of linguists from Britain.

and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. he has not responded. It is not something that they necessarily want to do. such as comments about the house where the party was being held.31-48. J. but the timing of the interaction precluded the use of these. Here. Binnie. 18. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. and may be misinterpreted when used between relative strangers. Furthermore. References Bell. & Valentine. . 21. J. pp. 15. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. 19. this is what leads to conflict. D. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. (See Clark. 1998. However. for a discussion) 20. in Gender. I would agree that alcohol affects what we say to people. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation. or even the weather. 17. No formal complaint was made. 16. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. (1994) `All hyped up and no place to go‘. G. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. Cream. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. Place and Culture. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy.14. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). in fact. However. 1/1. despite several attempts to discuss this issue with him.

D. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. From Nancy Bonvillain's "Language. Sheffield Hallam University Brown.' Pp. C." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. London. in ed. Culture. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. From historical recurrence. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. Bucholtz. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. pp. E. Vera?': gender. 9/4 Cameron. M. Johnson. Therefore. pp. & Freed. J. to talk rough. Language and Masculinity. Oxford. V. and Meinhoff. Bing. Cambridge. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. Blackwell.Bergvall. (1998) `Is there any ketchup. power and pragmatics'. Cambridge University Press. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction.56311. they note that boys. Boz. U. "are permitted. Goody. S. PhD thesis. formal stylistic markers). and Communication" she notes that. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". J. Cameron. even encouraged. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. Longman. pp. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls.203-225.86-107. A. 28/2 Butler." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. in Discourse and Society. D. in Language in Society. However. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. London. in eds. 435-455. eds. cultivate a deep "masculine" voice . and softening devices such as hedges and questions. Routledge. P and Levinson. "women typically use more polite speech than do men.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

have a settled curriculum. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. at issues relating to teaching and learning stances. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. we can contrast syllabi . however. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. and critically. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. for instance.and corpus linguistics). see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. ‗Language and the Media‘. In what follows. at the design of language and gender modules. including linguistic behaviour. or Women‘s Studies. see Halpern (2000). or within non-language programmes. 3. a contemporary review of the field (Cameron. represents a strong biological (evolutionary) perspective. (Baron-Cohen (2003). and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. However. Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity.) Within language and gender as a field. we look at commonality and diversity in language and gender curricula. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. including selection and sequencing of curricular content. the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. whether in the form of coherent modules on the topic. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). for a broader overview of sex differences in cognition.g. Language and gender doesn‘t. such as Women‘s Studies. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour.) 2. (For sources. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. at least across the ‗western‘ world.

4. Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. On the basis of these syllabi at least. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. but there are particular issues. A similar. racial and national identities with gender.csulb. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). at the time at UCLA. The classic case here is probably sexist (English) . and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). sometimes problematical. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. These are mainly US sources and not all recent links are available. on the other hand.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. Both have a strong empirical focus. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. reflecting disciplinary perspectives. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. This site includes reading lists and assignment topics. they see oppression as a thing of the past. for instance. that relate to the teaching of language and gender. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. given the disciplinary and other differences referred to above. Students‘ background. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. both modules explore relevant aspects of language and gender. whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. given the nature of the subject. He also covers gender and literacy. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. First. 2005: ‗Aims of the course‘). Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. has a strong and explicit anthropological focus. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. Besnier. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. and include student project work. a problem solved. but the subject is to some extent differently constituted in each case. grammatical gender.edu/~lemaster/lgarchive). and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject.

While fiftysomethings may have argued for. and to associate Ms with. focusing on current arguments for Ms). knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps . Certainly. classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. and the associated question of empirical research. be made to feel unwelcome. and indeed continue to use Ms. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. and indeed of making one‘s own politics explicit. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules.) It makes more sense. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). Perhaps male students feel that language and gender is not for them. in Women‘s Studies.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. Secondly. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. this may still come as a shock to students. used. (This is. but also to many third world women. encouraged. Amongst male students. who are largely unused to this form of scholarship. and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. on language and gender modules.for example. say. variously.language (together with language change. being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. lesbianism and a hatred of men. on which so much language and gender scholarship is based. and this needs to be pointed out and demonstrated. While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. of course. divorce. of feminism in general. In this context. having signed up. and for whom linguistic description and analysis (for example. eighteen. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. man-hating. there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). On a different level. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). worse. indeed. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). and guidelines for inclusive language). but a history whose implications are currently felt more widely . if they are not simply indifferent to these debates and issues. Thirdly. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms). even that they will feel uncomfortable – or. The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. then. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘.

Topical C. appropriately integrated. that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. but in an accessible way. indeed. Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. subject positioning. discourse(s). It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. Theoretical/methodological approaches D. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. better. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). according to different organisational criteria:     A. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. These complex notions need to be addressed. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). or. Queer theory. and in fact approached critically. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. orientation to gender. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. identity.something particularly characteristic of language and gender. these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. often having no problem identifying with the findings. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. 5. Historical B. and some simplification may be pedagogically necessary and. appropriate. Eclectic . talk more than women. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). Designing modules in language and gender In Section 5. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area.

Sociolinguistic work: e. Women and men’s talk: single/mixed sex. gender and fiction 8. Conversation analysis 7. gender and the language classroom 8. have grown out of (responded to/reacted against) . 7. gender as constructed in and by language 2. Gender and the media – magazines.g. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen. both topical and methodological. Trudgill 3. Language. Coates. Theoretical/Methodological 1. Gender and cyber-communication D. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. Critical discourse analysis 5. Classroom talk 5. Gender and discourse 5. private/public 3. politics) 10. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. Language. continued. Eclectic! 1. Corpus linguistics 9. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. Written texts: language. CA/Discursive psychology in language and gender study C. Identity 8. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Empirical and non-empirical early work: Haas. Language. As above. ads. The importance of context 6. Sexist language 2. gender and sexuality 9. Jespersen 2. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. The shift to discourse 7. As in other fields. Zimmerman and West 5. Early feminist work: Lakoff. Holmes 6. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. Discourse analysis 4. Workplace talk 6. current emphases in language and gender.B. Performativity 9. Historical: Example 1. newspapers. Empirical work and the feminist contribution 3. Language. Labov. Topical: Example A. Discursive psychology 8. gender and powerful institutions (religion. Sexuality/Queer theory 1. Ethnographic/Anthropological approaches 3. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. gender and children’s books 10. perhaps including the topic of gender and politeness 4. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. Spender 4.

) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. The language and gender field is young. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. Queer theory. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. . the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. but wide. If such history is to be included (Example A). mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible. We noted above that these have traditionally been downplayed. which has made its own important contribution to language and gender. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion.g. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005). how these are constructed in the literature. other organising principles than the chronological development of the field. but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature.e. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). A third question is the role of biological factors/explanations. however. In terms of teaching. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. Of course.g. and now usually are – but the message does not always get through. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. But while the field has moved on considerably. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). and fast-growing. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. relatedly. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. classroom talk. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. intellectually complex. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. the workplace. previous emphases can be included critically. of course.previous ones. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. As mentioned in Section 1. Most basic is the question of time.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

With respect to the model of communication proposed in the book.g. speaker model.g. data collection instruments. a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. 1998: 76).to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). Finally. namely. notion of habitus) the constituents of politeness (e. appropriateness. and methodological difficulties (e. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. In chapter 2.g. data collection. notion of politeness. face and face threatening acts). racial identity.g. power.. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative . gender. positive and negative politeness. Theorising politeness... The variables of class. reliance on speech act theory. and linguistic interpretation of pragmatic data.. interpretation. analysis of social variables such as power. and imposition). their model of communication (e. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. inability to describe politeness at the level of inference). individual strategies. distance. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. Brown and Levinson's (1978. In particular. strategic politeness.

age. In particular. Further. namely. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. and. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender. This chapter is organized into four sections: the first section. 3) different forms of data need to be considered. but rather as separate notions with specific characteristics. race. and class. sexual orientation. Politeness and impoliteness. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms.analysis of politeness. politeness and impoliteness. . after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. swearing and directness. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. and race are examined in relation to (im)politeness. 2) politeness is a matter of judgment and assessment. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. two features of impoliteness are analyzed. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. factors of gender. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. In chapter 3. class. Then. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts.

and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. swearing. Furthermore. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . Finally. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. power. Finally. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. class. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness.In chapter 4. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. middle-class women's behavior. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. Gender and politeness. and polite. indirect. loudness. In chapter 5. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. and sexual orientation. mitigation. Theorising gender. is normally associated with prototypical descriptions of white. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. among other factors. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. interruption. race.

While the analysis presented in the book is theory. gender. in Conclusions. In particular. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. power) in relation to politeness and gender research.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. and contextual elements. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. data collection procedures. the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. and data analysis could have been described in one particular section..driven. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. General information . EVALUATION Overall. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. race. for the sake of methodological clarity. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. specific information regarding subjects. Finally. among other factors. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class.g. sexual orientation.

number of subjects. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results. 77 which do not coincide with the bibliography. information concerning data collection procedures. more extensive information on the methodological procedures used in the study. on p. Finally. Overall. 14-15) within the introduction. Furthermore. is mentioned in footnotes (pp. there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. For example. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. 2001b) on p. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. including a description of the subjects. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). tasks. data collection procedures and analysis. number of hours of recorded data. Most importantly. etc. 61 Lakoff. and Wierzbicka (2003). Watts (2003).

class. A. P. Cambridge. and sexual orientation).. Eelen. 56. D. and Levinson.. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. (2001). Sweden: Universidad de Estocolmo. Brown. (1987). New York. G. and Levinson.). E. gender. Goody (ed. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes.g.. UK: Cambridge University Press. Manchester. Cambridge. S. UK: Cambridge University Press. Politeness: Some universals in language use. Cambridge. Stockholm. edition. E. A critique of politeness theories. UK: St. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. race.310. P. S.) (2003). REFERENCES Bravo. Watts. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE. 2nd. (1998). R. Politeness. Cambridge. In particular. (2003). and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. (2003). (Ed. UK: Cambridge University Press.(im)politeness and gender. Communities of practice. (1978). UK: Cambridge University Press. Brown. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. NY: Mouton de Gruyter. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. Wierzbicka. ABOUT THE REVIEWER . Wenger. Jeromes Press.

politeness theory. Bloomington. His research interests include cross-cultural pragmatics. interlanguage pragmatics. writing in the second language classroom. . and first and second language acquisition. research methods in pragmatics research.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. speech act theory.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.