P. 1
Bahasa Dan Gender

Bahasa Dan Gender

|Views: 2,672|Likes:
Published by Imin Kelompok Tujuh

More info:

Published by: Imin Kelompok Tujuh on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2015

pdf

text

original

0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). sederhana. Di beberapa negara maju. dan Jerman.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Grimm (2008: 8) berpendapat. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Sebaliknya. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. lebih bersifat pertanyaan. Development. Jepang. Jespersen juga . biasanya dalam kalimat pendek. sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Amerika. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. mereka lebih terkesan linear. and Origin. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. pada tahun 1922. tidak memperlihatkan emosi. Misalnya. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Inggris. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Dalam salah satu bab buku itu. seperti Prancis. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. tidak komprehensif. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling.

Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. etnik. sweet. peristiwa. predikat (P). Kuntjara. Namun.menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. ekonomi. sangat berkuasa. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. Di samping itu. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Oleh karena itu. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). kelas. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. Oleh karena itu. seperti great. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. misalnya. perempuan sering menggunakan adorable. Namun. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. terrific. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. 2005:36). Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. proses. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. menurut Lakoff. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. Misalnya. Dalam bahasa Indonesia. agama. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. 2004:3—4). Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. cool. tempat. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). dan objek (O). Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. yaitu waktu. . Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. matang. atau neat. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). dan mitra tutur. charming. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. keadaan. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. 2004. politik. Dalam khazanah sosiolinguistik. lingkungan sosial. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas.

Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. 2. buku Deborah Tannen. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. 5. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". perasaan. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. dan hubungan antarmanusia. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. tetapi palsu. misalnya. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Di dalam buku psikologi populer. Men Are from Mars. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. seperti buku Tannen dan Gray. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. Women Are from Venus. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Sebagai contoh. 3. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Namun. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. tetapi juga psikologi. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. 4. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. 1.

000 kata. 2001. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. New York: The MacMillan Company. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Robert Lane. The Female Brain. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. Publisher. dalam mitos Mars dan Venus. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Greene. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. tungau di seberang lautan tampak‖. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Dalam perekonomian saat ini. Language: Its Nature. Duranti. 2005. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. 2011: 54—56). New york: Cambridge University Press. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. . Setelah menelusuri kepustakaan populer. and the Politics of Identity. The Key Term in Language and Culture.000.berkomunikasi. The Study of Speakers’ Choices. 2011. Development and Origin. Salah satunya adalah Mark Liberman. You Are What You Speak: Grammar Grouches. Jespersen. Pada tahun 2006.000 kata sehari. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. Namun. An Introduction to Sociolinguistics. Alessandro. Otto. termasuk status mitos tentang fakta itu. New York: Delacorte Press. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Language Laws. 1992. misalnya. Janet. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. 1999). Daftar Pustaka Coulmas.000 sampai dengan 25. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Sociolinguistics. Oxford: Blackwell. London: Longman. 1922. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Namun. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Holmes. Florian.

Linda and Shân Wareing. atau neat. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Thomas. Deborah. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. seperti Prancis. 2004.Kuntjara. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Jepang. pada tahun 1922. Bahasa dan Kekuasaan. dan Jerman. cool. Inggris. Lakoff menyatakan bahwa terdapat . Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. Society. and Origin. sweet. Language. Di beberapa negara maju. charming. Amerika. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. 2004. Jakarta: BPK Gunung Mulia. seperti great. Robin Tolmach. dieditori oleh Mary Bucholtz). terrific. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Lakoff. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. and Power. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Dalam salah satu bab buku itu. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Development. Tannen. Esther. Misalnya. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. 1991. 2003. New York: Ballantine Books. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. Gender. perempuan sering menggunakan adorable. New York: Oxford University Press. Misalnya. New York: Routledge.

lingkungan sosial. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). kelas. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. Namun. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. etnik. dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Namun. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. keadaan. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. 2004. misalnya. Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. ekonomi. 2005:36). telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. dan mitra tutur. politik. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. dan objek (O). Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. Dalam khazanah sosiolinguistik. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. You Just Don't Understand: Women and Men in . Kuntjara. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. tetapi juga psikologi. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. predikat (P). Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. Oleh karena itu. tempat. matang. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. buku Deborah Tannen. 2004:3—4). Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. Dalam bahasa Indonesia. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. proses. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. agama. misalnya. sangat berkuasa. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. menurut Lakoff. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). peristiwa.banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. Di samping itu. Oleh karena itu. yaitu waktu.

Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Namun. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. fakta . Namun. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif.Conversation dan buku John Gray. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. Dalam perekonomian saat ini. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Di dalam buku psikologi populer. 4. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. dan hubungan antarmanusia. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Women Are from Venus. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. 1999). Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. 1. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. 5. 2. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. 3. Sebagai contoh. tetapi palsu. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. Men Are from Mars. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. seperti buku Tannen dan Gray. perasaan. dalam mitos Mars dan Venus.

An Introduction to Sociolinguistics. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Kuntjara. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Janet. New York: Delacorte Press.000 kata sehari. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. 2001. 1922. dieditori oleh Mary Bucholtz). New York: Oxford University Press. 2011: 54—56). Duranti. New york: Cambridge University Press. Gender. 2011. Language: Its Nature. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. Alessandro. Development and Origin. misalnya. Robin Tolmach. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. 2005. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. and the Politics of Identity. 1992. Holmes. Salah satunya adalah Mark Liberman. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. termasuk status mitos tentang fakta itu. Pada tahun 2006. . New York: The MacMillan Company. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine.000 sampai dengan 25. Lakoff. Publisher. Namun. The Female Brain. Setelah menelusuri kepustakaan populer.000 kata. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. Jespersen. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. Esther. London: Longman. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. 2004. The Key Term in Language and Culture. Daftar Pustaka Coulmas. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. Oxford: Blackwell. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. 2004. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. Otto. Jakarta: BPK Gunung Mulia.000. You Are What You Speak: Grammar Grouches. The Study of Speakers’ Choices. Language Laws. Greene. Florian. tungau di seberang lautan tampak‖. Bahasa dan Kekuasaan.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Sociolinguistics. Robert Lane.

Selanjutnya. Padahal. 28 Okotober. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. dan tataran gramatikalnya. cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. . dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. ugkapan. Deborah. New York: Routledge. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. pada perempuan melekat istilah PSK. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah.Tannen. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. Maka itu. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Sejauh ini. tante girang. baik lelaki maupun perempuan. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. gaya. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. istilah. Linda and Shân Wareing. dan sejenisnya. New York: Ballantine Books. jika benar-benar ditilik. 1991. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. Thomas. and Power. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. Society. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. Hal ini memang perkara sederhana. lonte. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. Artinya. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. pelacur. 2003. murahan. Language.

Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. aneuk tét mie. ia menyandang pula nama suaminya. ‗ok mai. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖. Akibatnya. Sangking pantangnya bagi mereka. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Misalnya. misalnya bahasa Aceh. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. brét ma keuh. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. Kemudian. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. Nani Yudhoyono. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. seperti Marlinda Abdullah Puteh. Sebagai contoh kasus. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). Para . begitu lahir. Afrika. Ironis. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. Sedangkan pada lelaki. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. papleumo. Sebaliknya. Artinya. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. dan lain-lain. Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. bisa-bisa dibunuh. Hindia Barat. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. ketika si perempuan sudah menikah. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. di Zulu. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. Bahkan. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut.Masih pada tataran yang sama. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya.

Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. Namun demikian. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Sebagai ilustrasi. Dalam konsep gender. gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Dengan kata lain. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . bagi para lelaki. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab). ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. Dalam isu LGBT. Banyak bahasa. WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. Semoga bahasa kita tetap jaya. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Namun. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). dibolehkan membunyikan ―Z‖.perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. perilaku. seperti dalam kasus waria. kegiatan. yang dikonstruksi secara sosial. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. Selamat memperingati Bulan Bahasa."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. dalam suatu masyarakat. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas.

sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Dalam hal ini. dan bahasa (Koentjaraningrat. Dalam pengertian yang luas. sistem kemasyarakatan. senang atau tidak. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. sistem ekonomi dan mata pencaharian. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Sebagai wahana budaya. Dengan perspektif gender. Mengapa BI memihak lelaki.. BI akan dibedah dari perspektif gender. Ingat. Singkat kata. dan benda karya budaya. Bahasa adalah cermin budaya. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. menarik diungkap di sini keyakinan J. "bahasa menunjukkan bangsa".1) Itulah sebabnya. Di samping sebagai bagian. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. Greenberg (Samsuri. sistem religi. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. BI bias maskulin. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . bahasa juga merupakan wahana budaya. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. kesenian. Maka. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. 1964: 79). jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. Di sini. sebagai matra sentral Feminisme.. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Untuk diskusi ini. tindakan. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena.adapun wanita lemah lembut manja . Kebudayaan. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it.H. seakanakan yang salah memang budayanya.

telaah ini bersifat interdisipliner. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. yakni tuturan alamiah keseharian. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. yang akan membentuk realitas simbolis. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Dari segi kebahasaan. penyebutan keberadaan atau tindakan. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. keniscayaan struktur. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. dst. Soalsoal sosial-politik. Atau. masyarakat. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. interaksi manusia. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). Dengan ancangan ini.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. berupa tuturan bahasa. Untuk telaah ketimpangan gender pun. yang membentuk realitas sosiobehavioral.3) Akan tetapi. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. terutama dalam menyusun kategorisasi data. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). sebagai kaki tangan ideologi patriarki. Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". dan . Padahal. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. dan kelompok sosial lain. Sebagai human instrument. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting).4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Dengan ini.Dengan pendekatan verbal. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). 1986). etnis. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Dilihat dari kemurniannya. dan inisiatif pengucapan. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. pada beberapa suku. tindakan. kekerasan. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. hukum. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. ini tidak keliru.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan.

dewi malam ('bulan'). raja copet. untuk sesuatu yang bersifat garang. ibu pertiwi. dan agresif itu. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Masalahnya. Riyanto. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. Agaknya sudah menjadi "kodrat". bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. putri. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. dan damai. *dewa malam. kepasifan. jago nggambar. Dengan memakai ibu. agresif. *putra malu. pemberani. *ratu copet. *babon nggambar. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Untuk sebutan yang feminin kita kenal. jago matematika. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. dan memang tidak harus jantan. predikat. *kakek moyang. dewi. Riyanto yang sudah almarhum itu. bapak pendidikan nasional. Dalam kosakata BI kontemporer. kesabaran. diam. misalnya. dan jelas bukan *ratu judi. bapak pembangunan. raja siang ('matahari'). perintis koperasi itu Mbak Tutut. "ibu kota. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. macan'). apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . Alih-alih dengan itu. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. *bapak pertiwi. Siapa pun tahu. misalnya. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. garang. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. dan *raja adil". *ibu koperasi. dewa perang. dan ratu adil. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. putri malu (sejenis bunga). Bung Hatta "Bapak Koperasi". harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. nenek moyang. nenek. raja judi. Layak dipertanyakan kebenaran ini.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. induk semang. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). dan ratu. Semua setuju. *babon matematika. Setelah berumah tangga. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. dan bukan *bapak kota. seorang artis yang bernama Lisa A. *ibu pendidikan nasional. ketenangan. *jago semang. termasuk dalam hal menerima sebutan. *ibu pembangunan. bapak koperasi. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. dewa maut. memang. Maka. induk.

Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. Dengan demikian. Maka. Jika boleh. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. indah. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. Seseorang yang sedang makan siang bersama. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. harus "dihaluskan". "bawon". Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. konotasi yang muncul berbeda. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". "*Ibu Koperasi"."*Ibu Pembangunan". Tentu saja. "gigolo". ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. misalnya. Untuk ini. orang bisa menepuk dada. R. menjijikkan. dan tiba-tiba perutnya mules. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. "teko". WTS pun mesti dihapus. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. Kata pelacur. karena dipandang vulgar. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. tenang. saya belum siap diprotes. Dan. anggun. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. Atau. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. norak. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. itu soal lain. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. Masalahnya lagi. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. atau alumni madrasah tsanawiyah. barangkali kembali ke pelacur lagi. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. mengajar. Jadi. "bandot".A. memang ada. jika PTS dipilih. adalah fakta bahwa "pria penghibur". sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. saya mau ke belakang". layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. ganti lagi dengan yang lain. Masalahnya. Lalu. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Perasaan menjadi lega. Sehubungan dengan kajian ini. Akan tetapi.

Cepet kaya. nanti. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Itu kan menurut situ. manakala saya tanyakan berapa gajinya. jadi tidak sekadar melengkapi. Saya: Gaji segitu besar lho. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Dengan standar ganda ini. melawan. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Bu. makna kata menjadi enteng. Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Hebat. WK) berpenghasilan tinggi. sebab ramai. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. hanya sekadar membantu suami saja. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. sebagai survival strategy. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. patuh. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Karena beban kondisi ini. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini.Dengan degradasi. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. Bu. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Mengherankan. Jadi. Pernyataan "cuma istri. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. misalnya. Ini kan di atas gaji suami. Padahal. WK : Ah. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. remeh. nggak juga. Aneh. akan sering muncul di sekitar kita. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. saya kan cuma istri. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Mereka malu mengakui. gaji tinggi melebihi suami kok malu. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. WK : Ah. mengalah.

Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. kok di sini dipotong orang seenaknya. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Nduk. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata).. Inilah produk paling diskriminatif dari . Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. tapi ini kan duit laki saya. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Ee . yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Maka. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran.. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu.bergender lelaki. Perempuan saja kok macem -macem. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Kita ini orang kecil." katanya. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. bahkan tak tahu diri. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. Aku kan bininya. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Ini urusan lelaki. Lagipula. perempuan bisa menang. Dipikir . Ibu ini tak salah. Malahan. sempurna sudah kekalahan mereka. 1981). Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel.. Nggak ada ceritanya. Cuma perempuan. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Siang keras. Sementara diam dan nerimo saja. Nduk! AP : Mbok. kita itu kan perempuan to. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Tentu saja. ingat kamu itu perempuan lho.. Biar dia yang ngurus.. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Lurah kok mau dilawan. Nduk. Ini urusan lelaki. Jadi ya termasuk duitku juga. "Perempuan saja kok macem-macem. Maka.

Akan tetapi. Malahan.. . Oleh karena itu. atau malah pagi buta. Adikku yang manis menimang boneka. misalnya. Sebagai bandingan.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. (460) 4. Ibu sedang memasak. sedangkan ayah sedang membaca koran. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. ini urusan lelaki. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. percakapan. Aku bermain layang-layang. perhatikan dialog rekayasa berikut.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. 1. entah sadar entah tidak. Siti masih sering pulang malam. dalam wacana di atas. salah satunya dalam dunia pendidikan. Ayah sudah berangkat ke kantor. Ingat kita ini kan lelaki. 1979: 205). Kalimat-kalimat yang dicontohkan.. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Lelaki saja kok macammacam. Ibu memasak di dapur. Kan nggak pantas. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. atau peristiwa tutur lainnya. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Masak mau menuntut pak lurah. seperti lingkungan kita ini. kita 'kan lelaki. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. khususnya dalam buku-buku bacaan. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. (473) . (463) 5. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Apa sih jeleknya orang ngalah. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. (438) 3. kalau boleh menduga. 427) 2. Ibu menjahit baju. *Bejo: Iya ya. (hal.

tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. Jika ungkapan mulut perempuan. Padahal. sedangkan pada kalimat (2).6. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". agak kecil. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. "tinggi". dalam kenyataan lelaki pun sama saja. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). Akan tetapi. pantas dikenakan pada perempuan. (6). posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. ini bukan barang aneh. hasilnya sama saja. misalnya. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. kecil. Pada kalimat (1). yang menentukan segalanya. Kontinum standar "besar". Padahal. Dalam kontinum tersebut. Kalau dicermati. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. kesan remeh. hanya seorang yang perempuan. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. agak besar. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. Jadi. rendah. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. misalnya mencakup dari sangat besar. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. (477) 7. penting. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. lelakilah yang mendominasi pembicaraan.15cm". kecil. Bahkan. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). misalnya. menempati kesan buruk. dari perempuan. Kamaruzzaman (52 tahun). dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. dll. dan "banyak". banyak. bahkan mungkin lebih negatif. demikian juga "berat". Akan tetapi. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Dokter H. (3). kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen.7) Sebutan Negatif. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Zainal Abidin. hanya layak untuk lelaki. melontarkan interupsi. tebal) dan bukan yang minor (ringan. sedikit. misalnya. jika bab-bab lain ditelaah. Banda Aceh. tinggi. (5). Spender (1980).15cm itu memang tergolong . Jumat malam meninggal secara mendadak. tipis). sampai sangat kecil. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. yang memang membahas kalimat dan wacana. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. dasar betina. Direktur RSU Dr. besar. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. sepele." (biarpun 0. Begitulah. Coba diandaikan. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum.15cm. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. menurut pengamatan D. Oleh karena itu. yang hanya mengganggu saja. Sementara. mitos soal-soal besar. menohok perempuan. itu mungkin saja.

bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. grogi" bukan standar. memang tidak ada "*sangat lelaki". asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). hakikatnya. malu-malu. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). tegar. artinya sudah standar. Bukankah standarnya selalu "celana. Mengapa demikian? Ya.8) Maka. tetapi jika yang disebut mahasiswi. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. misalnya. yang tidak negatif. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. sudah "kodrat". ini harus ditegaskan lagi. Oleh karena itu. keluar keringat dinginnya. jantan >< betina. standar. hakikatnya. yang berbau perempuan itu nonstandar. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. "*lebih betina". pasif. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. seorang perempuan yang "tomboy". Oleh karena itu. Barangkali. cengeng. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin.relatif tipis). Cowok atletis itu malu-malu. lain fakta. bandingan. Jangan lupa. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. Maka. "polisi" saja. malu-malu. sentimentil. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. "*agak perempuan". Dalam realitas empiris. Doni mengenakan rok mini. "rok mini. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. entah lelaki entah perempuan. itu sudah semestinya. feminin >< maskulin. orang akan mempersembahkan konotasi positif. Sebaliknya. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. 9. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. yakin. Dina memakai celana. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. jika yang . orang pun latah. grogi. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. Sebagai standar. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. Maka. Akan tetapi. lain konsep. Barisan lelaki dianggap superior. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. rujukan. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". dan rasional. 11. lamban. Sebab. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. Lelaki pakai rok? "Ah. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. Umumnya orang. 10. apakah orang sudah paham pasti. Maka. "sastrawan". PD". jika seorang perempuan terlihat malu-malu. Itu 'kan khas perempuan.

Alwi dkk. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. bukan kodratnya perempuan. ketika D. Sebab. "bercerai dari". Denggan kondisi ini. 2. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. tak ada pilihan lain. Tapi. "kamu". Dalam kebudayaan Barat. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". Artinya. tetap saja. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. "minta cerai dari". soal bahasa bukan hanya struktur. akan tetapi jika disebut woman. predikat (P). Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. sabar atau tidak. sastra. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. Dalam keadaan terpaksa. berkuasa. aku akan menceraikannya. lelaki itu standar. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). Maka. sehingga menjadi wanita wartawan . dan bukan woman. dan "diceraikan oleh". misalnya. sekali lagi. Maka.9) Lelaki memang menjadi standar. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S).dimaksud adalah oknum perempuan. ini tercermin dalam bahasanya juga. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. berkedudukan. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. seorang perempuan dapat "kawin dengan". Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. 1988. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). untuk menyebut manusia pada umumnya. aku masih bisa menerima. Dalam bahasa Inggris. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". bahkan lebih gila lagi.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. meskipun sebenarnya aku masih cinta. Biarpun begitu. Spender mesti meminjam dulu kata man. dan bukan woman. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. apa salahnya. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. sedang perempuan substandar. layak saja. sedangkan perempuan. akan bertindak aktif dan menuntut. Maka. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu.. dan polisi wanita (polwan). kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . Maka. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". Tetapi. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. dan bukan *Woman Made Language. Maka. kalau disebut man. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. masalahnya dia itu selingkuh. orang meminjam kata man. "aku". untuk konsep manusia. Dalam kultur masyarakat kita. melainkan juga realitas kultur. 1993). 1. "belum manusia utuh". sastrawan wanita.

atau mungkin sebenarnya mengerti. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. Maka. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Tetapi. meliputi: . makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. misalnya. Akan kucium keningnya. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. apa dia mau. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. "tidak langsung buka kulit. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. lain tidak. bukan karena struktur. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. perkencanan). tetapi tidak transparan. perempuan bereaksi. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Biasanya. atau resmi nikah. isyarat dan perhatian. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. Mengapa? Ya itu tadi. memprakarsai. perpacaranan. bebal. Oleh karena itu. keluarga/perkawinan. Aku sangat mencintainya. tampak isi". goblog. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. dan pilihan konteks situasi yang tepat. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. akan kusayangi dia. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Jika nanti sudah menjadi milikku.struktur. dalam dunia komunikasi (pergaulan. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Tetapi. aku ragu.

khususnya terhadap eksistensi gender. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. terutama dalam menyikapi gender.. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ".. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya.. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. (b) sebutan pelecehan martabat. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. bahasa ini mungkin bergender lelaki. wanita dijajah pria . Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. dan (f) sebutan penstandaran gender. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. pandangan hidupnya. Dengan demikian. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. dan inisiatif ekspresi. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Apalagi inisiatif ekspresi. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Dalam posisi yang serba timpang ini. Dengan begini. lelaki mendominasi. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. semacam WTS. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. .. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. sedang perempuan tersubordinasi. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. Sebutan pelecehan martabat gender.

Mei 1996. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. lih. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". V (Fort Worth: Holt. No. Rinehart and Winston. 306--312). Prisma XXV/5. 1993). 6.H. Muh. 32. subbab 'Language and Sexim' (hal. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior.. juga Kweldju (1991). sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. 24 Agustus 1996. Ph. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. 1994). 3. kuat. Asfar. Dengan begini. tak berdaya. Vol. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. An Introduction to Language. Lihat Arief Budiman. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. 28 Oktober 1986. Dengan pendekatan verbal. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. dari 11 penyusun. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. Siusana Kweldju.C. Buletin Yaperna. Warta Studi Perempuan. Inc. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. pintar. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. 1--14.). Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua".) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. Marginalisation and Rural Industry". 5. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. masyarakat. No. 7) TBBBI edisi I (1988). dominasi lelaki. lemah. 4. Lalamentik. supremasi kekuasaan lelaki. hal.M. khususnya bab "Language in Society". dan bahasa Indonesia. Cet. 1975: 14--23. 1. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. dan hegemoni pria. 4. .Catatan 1. 2. 1994. dan hanya bisa bergantung pada lelaki.D. No. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. Dalam hal ini saya (dkk. 5.. 1981). LPK2I. Kebudayaan. Vol. 7--18. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. 1. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Vol. Oktober 1996. hanya 2 orang yang perempuan. TBBBI edisi II (1993). wadah. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. subordinasi perempuan. bermain layanglayang). Edisi V. hal. dan alat budaya. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. . Periksa: Samsuri. "Gender. ". Konsep ini dekat dengan seksisme. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". bodoh. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. bermain boneka). ketimpangan gender. Warta Studi Perempuan. abang.

she's been around . memasak. 1983. Fromkin dan Rodman.. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. 6) menulis: "A businessman is agressive. Spender. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. Language and the Sexes. mengasuh anak. What is Patriarchy. Harding. hal 307.. Everyone knows that.. Women.. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. berikut ini dikutipkan beberapa saja.. J. You didn't say anything about women. A businessman is good on details... F.. Tempo Interaktif. S. she doesn't know when to quit . Lih. Pembagian Kerja secara Seksual. He's closemouthed. D. He isn't afraid to say what is on his mind.. When you say Man. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. 1995.. a man of great learning". New York: State University of New York Press... two at noon. a businesswoman is pushy . hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". Dalam pandangan kelompok ini. she's power mad . dan F. lebih tegas lagi. Coates. 1986. A. she's secretive. Kirk. 23 Juni.. D. she's mouthy . dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. 8. Frank. and three in the evening'. Bahkan. Opcid. she's hard ..7. Budiman. 1980). n.. Daftar Pustaka Bhasin.. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan.. Miller..L. Ashen. New Delhi: Kali for Women. dan bukan kodrat (nature) perempuan. Jupriono.. LP3K Multimatra. New York: Cornell University Press.. yaitu menstruasi. Jakarta: PT Gramedia. 1990. you include women too. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal.. He is a man of the world. Beverly Hills: Sage Publication. 'Man'. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. II/16. He exercises authority diligenttly. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan.. 1981. K. you answerd. she's picky . Reliability and Validity in Qualitative Research." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). . sebab lelaki juga (harus) bisa. Sebagai contoh. He stands firm. London: Longman. 1986). He follows through. Lih. The Science Question in Feminism (Ithaca. 1986... J. merawat rumah bukan monopoli perempuan. . dan M. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. 1997. 9. she slept her way to the top. . melahirkan. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. He climbed the ladder of success.

S. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . senang atau tidak. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. dan implikasi kemasyarakatannya.. Di sini. BI bias maskulin. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. Dengan perspektif gender. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Singkat kata. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. Mengapa BI memihak lelaki. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Kebudayaan. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. Samsuri. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. BI akan dibedah dari perspektif gender. pemakaiannya. seakanakan yang salah memang budayanya.Kweldju.. 1996. Bahasa Indonesia. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. Aktivitas noninstingtif--yang hanya . Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. sebagai matra sentral Feminisme. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. 1993. Dalam pengertian yang luas.

data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). dan bahasa (Koentjaraningrat. ini tidak keliru. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. tindakan. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. Untuk telaah ketimpangan gender pun. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. yang membentuk realitas sosiobehavioral. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). "bahasa menunjukkan bangsa". jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja.H.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. Padahal. Maka. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach).Dengan pendekatan verbal. dst. Untuk diskusi ini. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. Sebagai human instrument. 1964: 79). Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. dan benda karya budaya. kesenian. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. sistem kemasyarakatan. sistem ekonomi dan mata pencaharian. terutama dalam menyusun kategorisasi data. Di samping sebagai bagian. Ingat. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. hukum. Dalam hal ini. Sebagai wahana budaya. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Dengan ini. masyarakat.1) Itulah sebabnya. berupa tuturan bahasa. Soalsoal sosial-politik. bahasa juga merupakan wahana budaya." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. 1986). kekerasan. yang akan membentuk realitas simbolis. tindakan.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Bahasa adalah cermin budaya.3) Akan tetapi. menarik diungkap di sini keyakinan J. sistem religi. interaksi manusia. Dilihat dari kemurniannya. yakni tuturan alamiah keseharian. telaah ini bersifat interdisipliner.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Dengan ancangan ini. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. Topik bincang . Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. Dari segi kebahasaan. Greenberg (Samsuri.

Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. *putra malu. pada beberapa suku. nenek moyang. misalnya. dewi malam ('bulan'). jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. etnis. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. nenek. seorang artis yang bernama Lisa A. dan *raja adil". keniscayaan struktur. misalnya. nuansa kesan yang memancar adalah . Untuk sebutan yang feminin kita kenal. dan ratu. *kakek moyang. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. Riyanto yang sudah almarhum itu. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. dan kelompok sosial lain. *dewa malam. putri malu (sejenis bunga). hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. *jago semang. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. Setelah berumah tangga. dan inisiatif pengucapan. Alih-alih dengan itu.dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". Riyanto. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". Dengan memakai ibu. ibu pertiwi. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. Atau. induk. dewi. Maka. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. dan bukan *bapak kota. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. predikat. penyebutan keberadaan atau tindakan. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. putri. "ibu kota. *bapak pertiwi. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. induk semang. termasuk dalam hal menerima sebutan. dan ratu adil.

norak. dewa maut. jago nggambar. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. indah. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. saya mau ke belakang". dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". R. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. garang. Bung Hatta "Bapak Koperasi". Dalam kosakata BI kontemporer. *ibu pembangunan. memang. itu soal lain. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. "bawon". Akan tetapi.kedamaian. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). untuk sesuatu yang bersifat garang. "teko". yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. Siapa pun tahu. karena dipandang vulgar. dan jelas bukan *ratu judi. diam. *babon nggambar. bapak koperasi. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. dewa perang. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. bapak pembangunan. memang ada. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". bapak pendidikan nasional. perintis koperasi itu Mbak Tutut. anggun. misalnya. Sehubungan dengan kajian ini. kesabaran. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. Masalahnya. harus "dihaluskan". "*Ibu Koperasi". agresif. *babon matematika. Agaknya sudah menjadi "kodrat". tenang. konotasi yang muncul berbeda. Seseorang yang sedang makan siang bersama. dan damai. menjijikkan. Tentu saja. kepasifan. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. jago matematika. dan agresif itu. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". Kata pelacur. Jadi. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. *ibu pendidikan nasional. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. raja copet. "bandot". ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. dan tiba-tiba perutnya mules. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. raja judi. "gigolo".A. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". orang bisa menepuk dada. *ibu koperasi. pemberani. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Semua setuju. raja siang ('matahari'). ketenangan. dan memang tidak harus jantan. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. Perasaan menjadi lega. macan'). apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. *ratu copet. Layak dipertanyakan kebenaran ini.

Lalu. Masalahnya lagi. nanti. barangkali kembali ke pelacur lagi. saya belum siap diprotes. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. WK) berpenghasilan tinggi. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". jadi tidak sekadar melengkapi. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. Jika boleh. ganti lagi dengan yang lain. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. hanya sekadar membantu suami saja. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. sebagai survival strategy. nggak juga. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Pernyataan "cuma istri. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. Karena beban kondisi ini. misalnya. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Dengan demikian. Bu. remeh. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Atau. Toh mereka merasa . mengajar. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. akan sering muncul di sekitar kita. Dan. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. atau alumni madrasah tsanawiyah. jika PTS dipilih. gaji tinggi melebihi suami kok malu. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. Cepet kaya. Mereka malu mengakui. manakala saya tanyakan berapa gajinya. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Untuk ini. Bu. WTS pun mesti dihapus. Saya: Gaji segitu besar lho. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. WK : Ah. Mengherankan. saya kan cuma istri. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Hebat. Jadi. Ini kan di atas gaji suami. makna kata menjadi enteng. WK : Ah. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. Masalahnya.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. Itu kan menurut situ. Maka. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras.

kok di sini dipotong orang seenaknya. Perempuan saja kok macem . Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Aneh. Siang keras.hanyalah figuran pendamping belaka. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Nduk! AP : Mbok. perempuan bisa menang. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. patuh.. Dipikir . mengalah. Cuma perempuan. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Lurah kok mau dilawan. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. Nggak ada ceritanya. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. Nduk. Aku kan bininya. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. kita itu kan perempuan to.. melawan.. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. Padahal. sebab ramai.. tapi ini kan duit laki saya. Ee . jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Jadi ya termasuk duitku juga. Dengan standar ganda ini. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Kita ini orang kecil. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). ingat kamu itu perempuan lho.. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. Nduk. Lagipula.

Ingat kita ini kan lelaki. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Sebagai bandingan. Ibu ini tak salah. sempurna sudah kekalahan mereka. salah satunya dalam dunia pendidikan. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Ibu memasak di dapur. percakapan. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. *Bejo: Iya ya. bahkan tak tahu diri. dalam wacana di atas. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. Maka. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Ibu menjahit baju. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. 1979: 205). Kan nggak pantas.-macem. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. . yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Masak mau menuntut pak lurah.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Oleh karena itu. Aku bermain layang-layang. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). seperti lingkungan kita ini. khususnya dalam buku-buku bacaan. Apa sih jeleknya orang ngalah. 1981). Biar dia yang ngurus. ini urusan lelaki. . Adikku yang manis menimang boneka. Lelaki saja kok macammacam. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini." katanya. "Perempuan saja kok macem-macem. Sementara diam dan nerimo saja. Ini urusan lelaki. dengan imbangan penghargaan yang tak sama.. perhatikan dialog rekayasa berikut. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana.. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Tentu saja. atau peristiwa tutur lainnya. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. Malahan. Maka. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. Ini urusan lelaki. kita 'kan lelaki.

Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. sedangkan pada kalimat (2). Dokter H. Malahan. Jadi. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). Ibu sedang memasak. sedangkan ayah sedang membaca koran. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. (460) 4. hanya layak untuk lelaki. kalau boleh menduga. pantas dikenakan pada perempuan. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Siti masih sering pulang malam. Sementara. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. hasilnya sama saja. yang memang membahas kalimat dan wacana. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Banda Aceh. Kamaruzzaman (52 tahun). dari perempuan. sepele. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. Padahal. menohok perempuan. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. 1. kesan remeh. (5). Akan tetapi. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. jika bab-bab lain ditelaah. ini bukan barang aneh. (438) 3. Direktur RSU Dr. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. Kalau dicermati. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. bahkan mungkin lebih negatif. (hal. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. itu mungkin saja. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. Begitulah. 427) 2. yang menentukan segalanya. penting.7) Sebutan Negatif. (6). mitos soal-soal besar. (463) 5. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. misalnya. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). (3). apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. Pada kalimat (1). hanya seorang yang perempuan. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. atau malah pagi buta. Ayah sudah berangkat ke kantor. kecil. (477) 7. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . entah sadar entah tidak. Akan tetapi. Jumat malam meninggal secara mendadak. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. Akan tetapi. Coba diandaikan. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. (473) 6. Zainal Abidin. yang hanya mengganggu saja. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini.

Maka. Sebagai standar. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. misalnya. misalnya. misalnya. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. lain konsep. memang tidak ada "*sangat lelaki". tebal) dan bukan yang minor (ringan. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. agak kecil. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. Padahal. menurut pengamatan D. tegar. cengeng. sedikit. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. besar. Jika ungkapan mulut perempuan. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. "*lebih betina". "tinggi". sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. Spender (1980). sentimentil. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. dan "banyak". Barangkali. hakikatnya.15cm. misalnya. Oleh karena itu. Oleh karena itu. lain fakta. Maka.perempuan". kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. yang tidak negatif. kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". feminin >< maskulin. dll. Barisan lelaki dianggap superior. sudah "kodrat". "*agak perempuan". untuk memandang gender perempuan/feminin pun. Kontinum standar "besar". misalnya mencakup dari sangat besar. seorang perempuan yang "tomboy".15cm".15cm itu memang tergolong relatif tipis). banyak. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. dan rasional. menempati kesan buruk. hakikatnya. Dalam realitas empiris. malu-malu." (biarpun 0. jantan >< betina. tinggi. kecil. itu sudah semestinya. Akan tetapi. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? . demikian juga "berat". bandingan. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. Sebaliknya. standar. Oleh karena itu. rujukan. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. Mengapa demikian? Ya.8) Maka. melontarkan interupsi. agak besar. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. dasar betina. sampai sangat kecil. Dalam kontinum tersebut. pasif. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. tipis). hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. rendah. lamban. Bahkan.

ini tercermin dalam bahasanya juga. Sebab. untuk konsep manusia. Umumnya orang. Biarpun begitu. Dalam keadaan terpaksa. "aku". Maka. sastra. orang meminjam kata man. kalau disebut man. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. sedang perempuan substandar. malu-malu. Dalam kebudayaan Barat. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". Itu 'kan khas perempuan. akan bertindak aktif dan menuntut. yang berbau perempuan itu nonstandar. lelaki itu standar. Sebab. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). Dalam bahasa Inggris. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. Bukankah standarnya selalu "celana. Cowok atletis itu malu-malu. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. untuk menyebut manusia pada umumnya. dan bukan woman. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya".10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. sedangkan perempuan. sastrawan wanita. 10. PD". sekali lagi. . ini harus ditegaskan lagi. bahkan lebih gila lagi. artinya sudah standar. keluar keringat dinginnya. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". Spender mesti meminjam dulu kata man. dan bukan woman. sabar atau tidak. orang akan mempersembahkan konotasi positif. ketika D. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. dan bukan *Woman Made Language. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. Maka. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. Denggan kondisi ini. "rok mini. layak saja. entah lelaki entah perempuan. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. Artinya. apakah orang sudah paham pasti. Maka. dan polisi wanita (polwan). bukan kodratnya perempuan. orang pun latah. "belum manusia utuh". akan tetapi jika disebut woman. 9. grogi" bukan standar. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. "kamu". sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. grogi. 11. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). tetap saja. Jangan lupa. yakin. Dina memakai celana.9) Lelaki memang menjadi standar. tetapi jika yang disebut mahasiswi.8. "polisi" saja. "sastrawan". dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Lelaki pakai rok? "Ah. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. misalnya. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). Maka. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. Doni mengenakan rok mini. sehingga menjadi wanita wartawan .

tak ada pilihan lain. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. isyarat dan perhatian. perpacaranan. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. "bercerai dari". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). dalam dunia komunikasi (pergaulan. aku akan menceraikannya. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Dalam kultur masyarakat kita. Maka. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. 1993). dan pilihan konteks situasi yang tepat. Biasanya. bukan karena struktur. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. goblog. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. Maka. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. berkedudukan. aku masih bisa menerima. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. "minta cerai dari". "tidak langsung buka kulit. tetapi tidak transparan. dan "diceraikan oleh". predikat (P). Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. Oleh karena itu.. atau mungkin sebenarnya mengerti. atau resmi nikah. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. meskipun sebenarnya aku masih cinta. melainkan juga realitas kultur. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. berkuasa. Tetapi. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. perempuan bereaksi. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. 1988. seorang perempuan dapat "kawin dengan". misalnya. perkencanan). 2. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. masalahnya dia itu selingkuh. soal bahasa bukan hanya struktur. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. Tapi. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. memprakarsai. Tetapi. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". tampak isi". bebal. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . Alwi dkk. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti.1. apa salahnya.

apa dia mau. (b) sebutan pelecehan martabat. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. akan kusayangi dia. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Maka. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Aku sangat mencintainya. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. keluarga/perkawinan. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. Akan kucium keningnya. semacam WTS. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. Sebutan pelecehan martabat gender. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. dan (f) sebutan penstandaran gender. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. pandangan hidupnya. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. Mengapa? Ya itu tadi. khususnya terhadap eksistensi gender. dan inisiatif ekspresi. aku ragu. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. Tetapi. Jika nanti sudah menjadi milikku. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. Apalagi inisiatif ekspresi. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. lain tidak.

konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. 1993).. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. Dengan begini. sedang perempuan tersubordinasi.. ketimpangan gender. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. 28 Oktober 1986. dan bahasa Indonesia. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. No. subbab 'Language and Sexim' (hal. pintar. tak berdaya. An Introduction to Language. Dengan pendekatan verbal. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Lihat Arief Budiman.. . Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat.. masyarakat.. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. Marginalisation and Rural Industry". bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Periksa: Samsuri. kuat. Dengan begini. lelaki mendominasi. Inc. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". dominasi lelaki. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. Rinehart and Winston. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. lih. "Gender. Muh. Edisi V. Mei 1996. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. bodoh. bahasa ini mungkin bergender lelaki. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu.berkembang. dan alat budaya. Siusana Kweldju. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. terutama dalam menyikapi gender. 1981). wadah. Vol. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. dan hegemoni pria. 1994. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. Konsep ini dekat dengan seksisme. 2. ". Warta Studi Perempuan. Cet. V (Fort Worth: Holt. Prisma XXV/5. supremasi kekuasaan lelaki. Buletin Yaperna. Asfar. 306--312). Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Catatan 1. 4. Dalam posisi yang serba timpang ini. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". 3. Dengan demikian. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. lemah. Kebudayaan. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ".. wanita dijajah pria . 1975: 14--23. subordinasi perempuan. khususnya bab "Language in Society". Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami".

terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. sebab lelaki juga (harus) bisa... 1986). a man of great learning". Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. He isn't afraid to say what is on his mind. .. she's hard . you answerd. abang. Warta Studi Perempuan. she's secretive. she doesn't know when to quit . . When you say Man. she's mouthy . Oktober 1996. she's been around .. LPK2I. Lih. 8. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". He's closemouthed. S. juga Kweldju (1991).D. you include women too.)... dari 11 penyusun. Dalam hal ini saya (dkk.. TBBBI edisi II (1993). two at noon. Lih. The Science Question in Feminism (Ithaca. a businesswoman is pushy . New York: Cornell University Press. bermain boneka). Stereotipi Seks".. He follows through. Lalamentik.C. hal. Spender. n. 5. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture)." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134).. 1. 1994). memasak. Harding.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan.. hanya 1 orang saja yang perempuan (W. Fromkin dan Rodman.. Dalam pandangan kelompok ini... she slept her way to the top. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD.. He exercises authority diligenttly. 9. mengasuh anak. hal 307. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak.. bermain layanglayang). she's power mad . dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. Vol. merawat rumah bukan monopoli perempuan.H. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. Ph. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. 6) menulis: "A businessman is agressive. 7) TBBBI edisi I (1988). lebih tegas lagi. Sebagai contoh. yaitu menstruasi.. 24 Agustus 1996. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. 1. Bahkan. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. hal. You didn't say anything about women.. 6. and three in the evening'. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. 'Man'. 7--18. 4. melahirkan.5. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. 32. 7.. 1980). D. Vol. He stands firm. hanya 2 orang yang perempuan.. dan bukan kodrat (nature) perempuan. No..M. berikut ini dikutipkan beberapa saja. Everyone knows that.. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning.. 1--14. He is a man of the world. He climbed the ladder of success. A businessman is good on details. No. Opcid. she's picky ... Daftar Pustaka .

Budiman. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. Tempo Interaktif. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Pembagian Kerja secara Seksual. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. 1995. 1981. Coates. Frank. 23 Juni. Women. 1997. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. A. 1983. sedang lelaki aktif. dan F. dan implikasi kemasyarakatannya. organisasi. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. What is Patriarchy. dan M. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”. Beverly Hills: Sage Publication. Samsuri. J. New York: State University of New York Press. J. perempuan penerima identitas.Bhasin. sedang lelaki tidak dipersoalkan. 1986. Language and the Sexes. K. prestasi. Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. sedang lelaki penguasa kehidupan. Dalam kebijakan institusional tergambar . Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. Jupriono. Kirk. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. pemakaiannya. F. sedangkan lelaki pemberi identitas. Reliability and Validity in Qualitative Research. Kweldju. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. London: Longman. Miller. LP3K Multimatra. Jakarta: PT Gramedia. Ashen. jabatan. S. D. 1986. New Delhi: Kali for Women. 1996. 1993. 1990. Bahasa Indonesia.L. II/16. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan.

Meskipun demikian. kosakata. misalnya. sebab dari sudut pandang gender. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian. 1993). Dikatakan oleh Labov. ungkapan. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky. Kata-kata kunci: ketimpangan gender. Dikatakan “secara garis besar”. artinya. bahasa adalah cermin kebudayaan. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. dll. misalnya. menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju. struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. 2001). tetapi tidak diakui. 1986). 2003). sistem religi. identitas. Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami.). Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson.. sistem sosial. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. sistem ekonomi. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. Demi kerincian. Bailey. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. . can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. 1982). Sebagai unsur. dengan kata lain. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. Beberapa penelitian terakhir.jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat.

perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. kurang meyakinkan. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. menurut (Coates. dan tidak mengumpat. dan Belanda. Di samping itu. 1982). kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. 1991). Akibatnya. kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . 1991). lebih subordinat. Dalam fonologi. Dalam gramatika. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. Coates. pasif. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. 1979). kosakata lebih sedikit. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. dan lebih inferior. sehingga terkesan kurang tegas. Bahkan. dan remeh (Kramarae. USA. irasional. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. dibandingkan dengan kelompok lelaki. 1981). Realitasa ini. berbicara lebih sopan. kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. Dalam ragam bahasanya. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. dan fonologi. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva. bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. bodoh. dan gramatika. fonologis. manja. emosional. 1981. Dalam hal kosakata dan ungkapan. gramatika. 1984). Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. yaitu kosakata. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. terlalu boros kata-kata. 2001). juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. Dalam berbahasa. 1991). Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat.

1993). Kedua. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. Oleh karena itu.majemuk setara. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. sedang lelaki dikodratkan aktif. Pertama. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. dan subordinat adalah perempuan. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. misalnya memasak. termasuk ungkapan alah Mak. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. dan dominan. inferior. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. Sebagai ibu rumah tangga. Kweldju. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. mencuci. termasuk mengajari anak berbahasa. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. mengasuh dan mengajari anak. bagaimanapun. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. 1979). sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. superior. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. dan . menjaga perasaan. sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. Tetapi. 1993). Menurut Jespersen (dalam Kweldju. andai saja suami itu bodoh.

malam jadi alas untuk ditindih). Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. Ketiga. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. lulur. Sebagai bandingan. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. Linda atau Bu Astuti. macak. yang justru lebih kaya. Keempat. atau pun simpanan. tidur terbuka menelentang) (Sobary. Dalam dunia prostitusi. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. 1985). Maka. mlumah. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. sungguh tidak perlu diragukan. *suami gelap. tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. Boleh saja. melahirkan) atau pun neng omah. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. dan jika istri menjabat. kasur. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. sumur. 2000). di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. memasak. masak. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). mbegagah ngablah-ablah (di rumah. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. misalnya *pemiara. ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. olah-olah. manak (memasak. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. atau pun *penyimpan. suami bebas atau tidak usah nama baru. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. Kuntjara.menghormati lelaki (suami) (Spender. . Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. misalnya. dalam bahasa Jawa pun. Ia mesti pasif menunggu. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. 2003). istri gelap. merias diri. 2003). yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. Sementara. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya.

Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. Julukan jago matematika. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. adalah Bapak-bapak. Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. disamakan dengan banci. konotasi semantisnya cenderung negatif. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. prestasi. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). Keenam. khotbah. suami yang istrinya menjadi kades. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki.: Ibu/Bpk/Sdr. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi.: Bpk/Ibu/Sdr. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. biasanya menjadi profesor wanita. bapak koperasi. rapat. ceramah. Dengan kata lain. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. Jika dilekatkan kepada perempuan. perangai Eny yang tomboy. kesebelasan wanita. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. Bapak-bapak yang saya hormati. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia. *ibu koperasi. Kelima. *ibu pendidikan. bapak pendidikan. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. Sebaliknya. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. “masa kini”. misalnya. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. Sebutan profesor. misalnya. peranannya . Contoh lain: bapak pembangunan. organisasi. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. Tetapi. istri akan dipanggil Bu Kades. … Kedelapan. Ketujuh. Ibu-ibu yang saya hormati…. Jika kosakata itu berbau perempuan. … dan tentu bukan *Kepada Yth. asal masih mau sedikit berdandan saja. Misalnya. pesilat. “gaul”—oleh sekitarnya. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. kesebelasan. pesilat wanita. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika.

penilaian negatif. sebagai berikut. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. lelaki tidak menjadi masalah. terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri. atau peluru dan wanita. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. dan Hari Ibu. sedang lelaki penguasa kehidupan. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. 2003). sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. atau kalau diakui. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. *Hari Kartini. Hari Kartini.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. untuk tambah-tambah saja. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. sedang lelaki aktif. dengan malu-malu. wanita. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. organisasi. Dalam hal demikian. tahta. Secara psikologis kultural. misalnya dalam ungkapan harta. tetapi tidak diakui. Dia akan mendapat cap buruk. Misalnya seorang istri yang berdagang. Kesembilan. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. hanya kerja sambilan. Bahkan. sedangkan lelaki pemberi identitas. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . prestasi. Sebaliknya. penghasilan suami cuma berapa. Sebagai bagian dari masalah. dan *Hari Bapak. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. sedang lelaki tidak dipersoalkan. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami.

Surabaya: Fakultas Sastra. Dalam B. 2003. (ed. New York: MacMillan Pub. Jupriono. Kramarae. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. London: Newbury House Pub. data yang disajikan amat terbatas. bahasa. “Gender. 2003. R. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). 2003. 1979. R. Gender.C. Hudson. M. Maka. Jupriono. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. Women.J. 1981. 1991. tetapi tidak diakui. “Bahasa Indonesia. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. menyodorkan saran. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. The Ethnography of Communication: An Introduction. jika kajian ini dilanjutkan. Februari. misalnya pendekatan psikodinamis. Parafrase 3(1). Lakoff. selayaknya diadakan pengayaan data. dan Kekuasaan”. London: Longman. 1982. D. “Talking Like a Lady”. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. Pertama. Warta Studi Perempuan 4(1). S. N. Modern Sociolinguistics Issues. C. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. buku Esther Koentjara (2003). Co. Sari. Parafrase 4(1) Februari. Kuntarti. Inc. Wishart & L. Kweldju. Oxford: Basil . K. Daftar Pustaka Acuan Budiman. Sociolinguistics. 1986.I. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. Saville-Troike. dan sosiokultural (Kweldju. Coates. Dalam B. dapat dimanfaatkan dalam hal ini.A. A. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Kedua.C.). Inc. Universitas Kristen Petra. D. dan Kekuasaan.). Santoso et al. A. Cambridge: Cambridge University Press. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. Ketiga. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. Men. 1993). 1992. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Kuntjara. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”. sebagai kajian sosiolinguistik. kognitif. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. 1993. Bahasa Lelaki?”. Reichman (ed. Sekadar. 1997. FSU in the Limelight 5(2) Juli. J.. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini.perempuan sebagai golongan kelas dua. Rahayu. Bahasa. E..

Program Studi Magister Psikologi. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. M. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Oxford: Oxford University Press. D. Spender. B. Di sisi lain. Sobary. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Spolsky. 1984. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. Sociolinguistics. Dukungan Sosial Suami. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). 2001. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. Sociolinguistics. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. Sudarwati M. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal.Blackwell. P. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Harmonsworth: Penguin Books. 2000. (Tesis tidak dipublikasikan). Program Pascasarjana. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. 1985. Man Made Language. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. “Wanodya” (Hal. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. London: Routledge & Kegan Paul. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . “Pola Kepemimpinan Partisipatif. baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. 2003. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Pada pengajaran BIPA. Untag Surabaya Trudgill.

gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. dsb. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Akan tetapi... Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. Secara umum. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. Oleh karena itu. menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. semantik. turqoise. khususnya bahasa Inggris. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku.. ya kan?. charming. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. biru laut. sort of. (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. dsb. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). Di lain pihak. dan gaya bertutur. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta.). Interupsi ini dilakukan . dsb. perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. lucu. Pada bahasa Inggris. so (I like him so much. juga Ponynton (1989). Disadari atau tidak. gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin. dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. (4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. stewardess). Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. (6) penggunaan katakata penguatan: just. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama.

Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Selain bahasa vernakular. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. dan berperan sebagai bahasa T. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. untuk menimbulkan rasa aman. Di lain pihak. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Secara tidak langsung. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. Menurut Holmes (2001).untuk ―membungkam‖ lawan bicara. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. formal dan informal. Oleh karena itu. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. Masih menurut Holmes (2001). Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. sesuai dengan situasinya. mereka menggunakan bahasa standar. Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). baik masyarakat barat maupun timur. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. bentuk .

bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu. Orang pertama nyebur. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. gitu. Ya. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. Silakan mas Ali. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular. . Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. terus? Jadi. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. Sebentar. deh. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. si Clement ini disuruh mundur. itu bagus sekali mas Erdam.

Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). Judith N and Thomas K Nakayama. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. 2000. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Martin. Janet. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. 2001. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. Hornberger. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar.ii. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. 1996. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. Sandra Lee and Nancy H. — Presentation Transcript  1. Daftar Pustaka Holmes. pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya. Intercultural Communication in Contexts. Chambers 1995:102)i. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). Ketika mengajarkan bahasa vernakular. Oleh karena itu.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. USA: Cambridge University Press. McKay. Malaysia: Longman. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. An Introduction to Sociolinguistics. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). Sociolinguistics and Language Teaching. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. California: Mayfield Publishing Company.

Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟). perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak.5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati. Wanita lebih baik dalam membaca. wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. 6. Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). „Wanita. serta dapat hiduplebih lama6.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi. den pendidikan sosial. dibandingkan dengan wanita 3. Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6. dan “sun” („matahari‟).Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. . 6. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). iii.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944). dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut.b. Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. 5. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi. 4. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa. begitu juga sebaliknya. “sabun”. sertac. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. “malam”.3. “steward”. “seniman”. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata.3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. Selain itu. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”.pendidikan. 6. 6. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. sebuah golongan AS. Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5.2. Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi. diantaranya:1. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku .bentuk bahasa baku. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. b. yaitu perbedaan tinggi nada suara. “ball” („bola‟). menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa.D.

hegemoni. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. dominasi. kelamin. *** . Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan.Bahasa. atau ideologi. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. dan manipulasi pemaknaan. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. Perempuan. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender.

Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. subjek. subjek. dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan . politik. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. kaum kalah. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. dan identitas perempuan. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. agama. dan identitas. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. ekonomi. Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. atau kaum tunduk. dan bahasa. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. subjek. dan identitas. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki.

peran. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian . kesusastraan. Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik. Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Begitu. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. atau media massa. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. politik. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas.

Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. Di Jepang. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. Berkaitan dengan istilah jender. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Misalnya. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. feminin. dan (8) reformasi bahasa. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. (7) idiologi linguistik. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Pembagian itu meliputi maskulin. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. laring mereka lebih besar. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. 1. perbedaan.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. dominasi. adaiah benar-benar alamiah. Perbedaan. (6) jender dalam lintasan budaya. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Namun. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. (5) jaringan sosial. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. (2) perbedaan (3) dominasi. terdapat temuan bahwa selama . suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. Ke(tidak)samaan. bentuk dan panjang bidang vokal. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. musik recital akan berbeda-beda cirinya. dan netral (Matthews 1997: 142). (4) jender dan variasi fonetik. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. Daiam kebudayaan yang berbeda.

Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. 2. Sementara itu. 1992). cara mereka menyapa satu sama lain. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. dan gejala etiket linguistik lainnya. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda.

lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. Tannen. Gordon. Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa.. pada kata running. 1997). 1999: 61). akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult. (Gibbon. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti . kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in).ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. 1989. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas. Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. ditemukan. seperi Norwich (Trudgill. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan. Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. 1991). contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal. Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki.. 1990. Penjelasan seperti di atas. (Spender. 3. akan tetapi penjelasannya berbeda. 1992). Perbedaan pola pergE. diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. 1985: 139). Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. 4. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. Contoh. Sementara itu.

Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. Contohnya. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Hubungan antara jender. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . jaringan perkenalan. punya anak atau tidak. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan.ini. 5. Jika dilihat dari jenis kelamin. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. Labov (1990) dikutip Coulmas. jaringan sosial. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki.1 hal 41. 2002: 111). teman dan orang asing. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. etnik. Seperti tampak pada gambar 3. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. tingkat sosial. seperti kelas sosial. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. dan sebagainya. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana.

baik disengaja maupun tidak disengaja.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. Reformasi Bahasa . M. Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. 8. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja. 7. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. 6. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. 1. 1. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. M.

Karena itu. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. Sedangkan pada wanita. maupun cara menyelesaikannya. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. Para ahli otak. Dalam banyak hal. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya. cenderung untuk mengandalkan fisik. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. membanting. Dalam menghadapi masalah.mereka sama-sama manusia. Padahal. atau faktor sosial lain. Perbedaan itu. meskipun . kelas sosial. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis. Di antaranya. Kalau sedang emosi. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖.tentu saja . Dari bentuk maupun fungsinya. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. .Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. Seperti memukul. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. berkata kasar dan sebagainya. Seperti seekor reptil. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita.

Sedangkan pada wanita. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual.Pada perempuan. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Selain itu. atau bahasa tubuh mereka. Sehingga. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. . Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. Cuma. pada wanita yang mengalami stroke. tidak perlu kondisi seperti itu. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. sayangnya. Dalam hal seksualitas. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Kebanyakan pria jika kena stroke. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Hampir di seluruh tubuhnya. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Secara struktural. seperti sedih dan gembira. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Pada lelaki. otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang. dibandingkan lelaki. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya.

seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. Sejak usia baligh. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. masa menyusui. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. 2. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. • . Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. Dan berulangkali terjadi. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain. Dan seterusnya. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain.a. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. tingkah laku.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Dan sebagainya. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Nyeri karena datang bulan itu. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. Karena. Meskipun. kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. dalam fisik. Pada dasarnya. kamu akan lulus ujian”. Belum lagi. masa membesarkan dan mendidik anak. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. Belum lagi. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. ketika mereka melahirkan. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. “lupakan tentang si jelek itu.

setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. kesal.Sampaikan perasaanmu. mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi. 2. Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman.b. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai. 2. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya.2 . Katakan bila kamu marah.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. Terdiridari 3 management strategy. Misal : membaca email tanpa ijin.Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini.3 3.c.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. menjelek-jelekan pacar. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality). diantaranya :1. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i . Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan. Lying (Berbohong) . Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”.

AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu. diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar.Definisi menurut Random House Dictionary.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. misal : untuk uang ataupun materiil. Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. Carl Camden.Berbohong sebagian besar secara verbal. a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) . tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu.( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. Jadi. Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan. Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h .

D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. 2. komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal. Hasil analisis Camden. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur.b i c a r a . begitu juga kebohongan. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan. Sangat sulit . Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk. misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah. mengenai cita rasa atau masakan. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. 21. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Banyak kebohongan efektif.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong.8 persen untuk kepentingan pembohong.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri.5 persen untukkepentingan orang lain. Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang. Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur).

bertukarpikiran atau pengalaman. Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas. Denganmengetahui penggunaannya. Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal.untukberbohong non verbal secara meyakinkan. m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap. Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f . H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong. S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh. Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi.Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i .

masalah. Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. kadang-kadang self-talk. Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri.terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. kisah cinta. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang). maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . prestasi dan j u g a kegagalan). Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . b u k a n kesembarang orang. ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . keluarga. karir.7 .Banyak orang yang egosentris.i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan. gosip adalah omong kosong atau rumor. Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. M e r e k a i n i l a h o r a n g . Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. Gossip Menurut Random house dictionary. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan. Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri.

interaksi memiliki makna yang berbeda. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN .Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip. termasuk juga komunikasi orang tersebut.” Atau “dia menganggap kamu …. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang. Dalam berbagai bidang ilmu.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia ……. anda tidak sependapat denganlawan bicara. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan.b. Dalam konfirmasi. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan.Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. Pada penolakan. 8 twitter.

13. 19. 5. 14. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. 9. 17. . Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. dll. namun dinyatakan sama. 16. 24. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. 23. 12. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. 3. ciri khas. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). 3. bagaikan. melalui kiasan atau penggambaran. 21. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. 15. bagaikan. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.1. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. 7. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. atau atribut. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. 6. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. 4. 2. 22. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. 20. 10. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. 18. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. 8. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. dll. 2. 11. seperti layaknya. MAJAS SINDIRAN 1.

9. atau klausa yang sejajar. 7. 19. 22. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. 23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. kebiasaan. 17. 11. Repetisi: Perulangan kata. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. 5. . Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. atau parodi. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. 3. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. 14. 20. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. dihubungkan dengan kata penghubung.4. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. 8. MAJAS PENEGASAN 1. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan. frase. 4. 24. dll. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. 16. 5. tetapi dengan makna yang berlainan. namun sebenarnya keduanya benar. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. 6. 2. 18. 25. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. sehingga menjadi kalimat yang rancu. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 13. 12. ironi. 21. 15. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. frase. 10. MAJAS PERTENTANGAN 1.

mulai dari hal-hal yang sederhana. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. 5. bercerita dalam pelajaran berbahasa. Dalam proses pembelajaran di sekolah. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.2. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. . Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. 3. 4. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. Jadi. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi.

artinya. Hakikat Bahasa.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas. Sapir (1921) dalam A. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis. ataupun kurangnya rangsangan dari guru. and desires. bahasa guru yang menekan anak. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. S. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. (http://pusatbahasa.kemdiknas. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. by means of a system of voluntarily produced symbols.go.id/kbbi/index.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD. emotions. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. dan mengidentifikasikan diri. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. barangkali juga untuk sistem generatif. Sementara menurut H. Pengertian Sosiolinguistik.wordpress. A.‖ Di samping itu. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama.php) . Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya …. berinteraksi. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. (http://imadesudiana.

Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.blogspot. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. 5. the characteristics of their functions. Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. 7. (Rene appel.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. Pertama. Nababan. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. change. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan . bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. mengenai lembaga-lembaga.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer.html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. Greus Meijer.2forum. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. Wikipedia. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. 2. 1976:10). 9. 6. 8. Dengan demikian. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. Gerad Hubert. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Fishman. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. 2. Booiji (Rafiek. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . and change one another within a speech community. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. 3. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact. 4. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Selin itu. Kedua.

Piet Corder.P. 1975:139). Dalam hal ini. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. Karena. topik. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman.bahasa dan pergaulan sosial. pendengar. Dalam hal ini.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). kapan.G. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. menggunakan bahasa apa. dan kedipan mata. memelihara. bahasa berfungsi direktif. viewing variation or it social context. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran. Maksudnya.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia. Dilihat dari sudut penutur. 4.Criper dan H. tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional.) (C. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan. sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. Booij. 3. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. 1975:156). 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. anggukan kepala.G. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara.B Allen dan S. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. dan H. Kersten. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. dan apa tujuannya. dan amanat pembicaraan. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental.) (Nancy Parrot Hickerson. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational. 1980:81). Sosiolinguistcs is the study of language operation. (G. geleng-geleng kepala. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. kepada siapa. Dilihat dari segi pendengar. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif. kode. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. memperlihatkan perasaan bersahabat.E. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial.Widdowson dalam J. atau solidaritas sosial. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan .J Verkuyl. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya. bahasa berfungsi fatik. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. J. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial.

Dengan sosiolinguistik. setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Melalui sosiolingguistik. lelucon. cerita. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. dan sebagainya. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. tidak terpaku pada satu ukuran.yang akan disampaikan). dan sebagainya. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi. Hudson 1996: 2). kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie . Kalau kita simpulkan. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. di mana bahasa berfungsi imajinatif. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. dan sebagainya. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. Dengan adanya sosiolinguistik. Akan tetapi. berestetik atau tidak. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. dongeng. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. tidak mempunyai nilai keindahan. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. Holmes 1993: 1.

Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Oleh karena itu. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). dan pendekatan pemilihan bahasa. Tujuan 1. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . faktor penanda pemilihan bahasa. Rumusan Masalah 1. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. B. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2.

Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. dengan melakukan alih kode. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. dengan melakukan campur kode. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. . Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Kedua. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. Pertama. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Misalnya. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Ketiga. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain.3.

yaitu pemakaian satu kata. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. pekerjaan. meminta maaf. Di Indonesia. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. peristiwa-peristiwa aktual. (3) isi wacana. dan tawar menawar barang di pasar. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. (3) topik percakapan. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. dan (4) fungsi interaksi. (2) partisipan dalam interkasi. kuliah. yaitu (1) partisipan. atau frase.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. rapat di keluarahan. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. keberhasilan anak. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. atau mengucapkan terima kasih). . ungkapan. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. kebiasaan rutin (salam. selamat kelahiran di sebuah keluarga. Senada dengan Evin-Tripp. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. dan topik harga barang di pasar. jenis kelamin. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. B. status sosial ekonomi. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. dan (4) fungsi interaksi. permohonan. (2) situasi.

Berbeda dengan Gal. fungsi interaksi. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. (3) tingkat formalitas. 3. 4. partisipan dalam interkasi. . Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. topik percakapan (isi wacana). Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. latar (waktu dan tempat). Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. (2) penciptaan jarak sosial. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. Di Obserwart. Dari paran berbagai faktor di atas. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. 5. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. 2. (2) sekolah. dan (2) tipe kosakata. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. dan (4) tingkat keakraban. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan. dan (4) memerintah atau meminta. situasi. (2) kehadiran pembicara monolingual.

topik. hubungan peran antar-komunikator. dan pekerjaan. serta Bourhish dan Taylor (1977). Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). (1973). Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). dan partisipan. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. yaitu pendekatan sosiologi. Giles et al. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. pendekatan psikologi sosial. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. akomodasi ke atas . Pertama. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. Sebagai contoh. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. dan pendekatan antropologi. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972).C. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. agama. ketetanggaan. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. misalnya keluarga. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat.

Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Dengan demikian.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Kedua. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Sementara itu. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. akomodasi ke bawah. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). . penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. psikologi sosial. Sebagai contoh. yakni observasi terlibat (participant observation). yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. dan antropologi.

Pemilihan Bahasa. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . http://fathur-linguistik. (3) partisipan dalam interkasi. Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolingustik Perkenalan Awal. Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. Pertama. (2) situasi. DAFTAR PUSTAKA Chaer. dengan melakukan campur kode (code mixing).BAB III PENUTUP A. Kedua. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. dan pendekatan antropologi. Ketiga. dan Masyarakat Multilingual. 2009. (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. dengan melakukan alih kode (code switching). pendekatan psikologi sosial. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman. Sosiolinguistik.com. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. (4) topik percakapan (isi wacana). yaitu pendekatan sosiologi. 2004.blogspot.

Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. maupun pragmatis. baik faktor sosial. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984).Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. seperti perkawinan. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Kata kunci: pemilihan bahasa. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). dan pendekatan antropologi. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . pendekatan sosiologi. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. budaya. sosiolinguistik. 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. pewarisan harta peninggalan. psikologis. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. Namun. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. masyarakat multibahasa. pendekatan psikologi sosial.

1976). Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). Hudson. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . berbagai macam bahasa dan variasinya. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik.. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. 1972. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Dittmar. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. (2) kategori pemilihan bahasa. (2) identitas peserta tutur. 1. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. Fishman. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. sosialbudaya. 1984: 4. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. 1996: 2).pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. (3) faktor penentu pemilihan bahasa. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. Holmes. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. . (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). 1993. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. Sejalan dengan rumusan itu. Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974). sebagai berikut. (6) tingkatan variasi linguistik. tahun 1964. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. baik faktor kebahasaan maupun lainnya. 1971. Los Angeles.

sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. 1984. kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. dan bahasa asing. dan situasional (Kartomihardjo. pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Pada umumnya. (4) act sequence (topik/urutan tutur). Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). (3) ends (tujuan tutur). Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). (2) participants (peserta tutur). Hymes (1972. bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai aspek tutur. (7) norms (norma- . (6) instrumentalities (sarana tutur). budaya. Dalam kenyataannya. kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). 1981. yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. Fasold. seperti faktor sosialbudaya. termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. serta sistem pragmatik. Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. (5) keys (nada tutur). 1973. sistem tingkah laku budaya. tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Wijana (1997: 5). budaya. 1996. baik secara korelasional maupun implikasional. 1975). Hudson. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. Dengan demikian. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication).Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. Dalam kajian pemilihan bahasa. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal.

Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages).norma tutur). (3) topik percakapan. Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. Ketiga. sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). Pertama. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. Kedua. atau berkencan. dengan alih kode (code-swicthing). harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. dan (8) genre (jenis tutur). misalnya. dalam hal memilih. Misalnya. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). dan (4) fungsi interaksi. terdapat tiga jenis pilihan. 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. (2) partisipan dalam interaksi. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Faktor pertama dapat berupa halhal. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. . Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. Di Indonesia. Kenyataannya. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. yaitu pemakaian satu kata. ungkapan atau frase pendek. dengan melakukan campur kode (code-mixing). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. pesta kuliah. untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan.

Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. dan mengucapkan terima kasih. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. jenis kelamin. (c) tingkat formalitas. pembicara akan memilih bahasa Guarani. dan (3) tempat umum. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. dan (l) kekuatan luar yang menekan. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. asal. pekerjaan. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. (i) relasi kekeluargaan. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. (d) usia. dan (d) tingkat keintiman.Faktor kedua mencakup hal-hal. (k) sikap kepada bahasa-bahasa. Di Obewart. yaitu pendekatan sosiologi. dan pendekatan antropologi. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. pendekatan psikologi sosial. Pendekatan Sosiologi . (f) pendidikan. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. (g) pekerjaan. Berbeda dengan Gal. latar belakang kesukuan. (4) fungsi interaksi. Di desa. Dari jabaran di atas. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. penjual pembeli. permohonan. Gal (dalam Grosjean. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. (b0 kehadiran pembicara monolingual. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. (h) latar belakang etnis. (2) sekolah. (contoh: direktur-karyawan. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. olah raga. Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. seperti: usia. yaitu (1) partisipan. Menurut Grosjean terdapat empat faktor. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. dan (d) memerintah atau meminta. status sosial ekonomi. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. peristiwa aktual. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. yaitu (1) desa. dan sebagainya. (2) situasi. (3) status sosial ekonomi. (j) keintiman. suami-istri. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. (b) jarak sosial. (3) isi wacana. harga sembako. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. (e) jenis kelamim. guru-siswa). dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43). Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata.

Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. tempat. dan pekerjaan. hubungan peran antar komunikator. dan partisipan. gereja. dan tempat kerja. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. ketetanggaan. Fishman (dalam Amon. Greenfield menyebarkan kuesioner. yaitu: orang. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Analisis domain terkait dengan diglosia. 5 berarti semua bahasa Inggris. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. agama. pantai. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. dan topik. Sebagai contoh. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. seperti pendidikan dan pemerintahan. 1972). . Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. misalnya keluarga. bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga.01. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Di bagian lain. topik. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. sekolah. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat.

yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). Bourhish dan Taylor 1977). akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. Herman membicarakan tiga jenis situasi. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Giles. Dalam kondisi tertentu. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. Howard Giles (1977. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). Dengan kata lain. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. akomodasi mengambil bentuk konvergensi. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping). Kedua. Pertama. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang . Secara normal. seperti motivasi individu. Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara.Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Dengan pendekatan yang sama. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs). daripada berorientasi pada masyarakat. Seperti juga psikologi sosial.Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa.

R. melainkan juga dengan masalah sosial. London: Bastford. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. dan psikologi sosial. pendekatan sosiologi. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. and Problems. 1976 Sociolinguistics: Goals. budaya.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Sebagai contoh. Dittmar. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. psikologis. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. Approaches. 1984: 192). Australia Timur. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. Selain itu. Norbert.T. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. London: Edwar Arnold . Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. dan situasional. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). 1976 Sociolinguistics. sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. 1970: 49). Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA Bell.

1994 Multilingualism. Dell (eds. Place. 1977 Language. Howard dan St. Oxford: Basil Blackwell. New York: Academic Press. Groesjean. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. Greenfield. Clair. Giles. In their new book. 1972 Direction in Sociolinguistics. Life with Two Languages.Edwards. The Hague: Mouton. ________. Rinehart. Susan. Ethnicity. New York: Holt. 225-240). 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria.). and Intergroup Relations. Advences of Sociology of Language. Gal.6 percent higher than those attained by women. Many men and women assume that males . and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. (hlm. Susan M.). London: Academik Press. 17-35). Oxford: Basil Blackwell Publisher.‖ Dalam Fishman. John dan Hymes. Lawrence. 1979 Language and Social Psychology. Cambridge: Harvard University Press. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. 1984 The Sociolinguistics of Society. Volume 2. 1990 The Sociolinguistics of Language. Harmondsworth: Penguin. Sociolinguistics. Robert. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. 1972. Rowley: Newbury House. Howard. 1972. England: Penguin Books Ltd. Giles. Fishman. ed. Fasold. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. Gumperz. and Winston. Evin-Tripp. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. Ralph. 1972 The Sociology of Language. Oxford: Basil Blackwell. 1982. Joshua A. John. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. Women Don’t Ask (2003). Fracois. (hlm.

they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions. When men and women interact. During personal interactions. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. women are supposed to be passive and submissive.are highly competitive. These men give further leverage to their female opponents. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. women focus more on the maintenance of relationships. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. Men are expected to be dominant and authoritative. Male negotiators. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic. They have the right to use any . which causes women to be perceived as less forceful. If these stereotypical assumptions are right. and they are more effective using this approach. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. As a consequence. they allow their female opponents with a bargaining advantage. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. This is especially true when females use foul language and loud voices. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. Men are expected to emphasize objective fact. women are thought to be emotional and intuitive. Men utilize more direct language. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. Females are thought to be more accommodating. (Deborah Tannen. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. ―you know‖) than their male cohorts. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). manipulative.

when women are successful. This factor causes male success to be overvalued.techniques they think appropriate. (Gail Evans. When men are successful. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. no matter how thoroughly prepared women are. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. and other competitive athletic endeavours. fearing that competitive success will alienate them from others. they tend to feel unprepared. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. They have been encouraged to engage in little league baseball. on a credit/no-credit basis than men (27%).‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years. soccer. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. Even when minimally prepared. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. I find this frustrating. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. Win Like a Woman 80 (2000)). where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. On the other hand. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. and female success to be undervalued. Play Like a Man. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. regardless of the stereotypes those tactics might contradict. Most boys are exposed to competitive situations at an early age. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. . basketball. football. Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances.

Barnes. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. ―Gender. (Charles B. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. Charles Craver is a Professor of Law. Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. while more competitive. Over the past thirty years. Craver & David W. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender. generating more results in the mid-range. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. the results of which affect their course grades. Reader Comments . They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. the male results would be more widely distributed. George Washington University. My students participate in a series of bargaining exercises. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. business persons. Several people suggested to me that while the average results might be equal. The average results are almost similar. If this hypothesis were true. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). Over the past thirty years. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions.STATISTICAL RESULTS Since 1973. I have discovered that practicing attorneys. Many individuals believe that men are highly competitive. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. Risk Taking and Negotiation Performance.

teori kesopanan berbahasa. terkecuali dalam telaah pragmatik. namun juga dari aspek etika. preferably to this page. bukan hanya dari aspek tata bahasa. negotiation Q&A's. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan.S. S. You can find in-depth negotiation articles. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Please find below a suggested description to accompany your link. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. teori kesantunan berbahasa.negotiations. 2011. bukan pula dari aspek psikososial. business cartoons. Kesantunan dalam berbahasa.we ask only that you include a clean html link back to this site. pragmatik. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. meskipun disebut sebagai horison baru. M. Bookmark the permalink. . The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www.. negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part .com.

Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. maupun para pembelajar bahasa. ini bukan dalam arti rupa fisik. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. Kesantunan berbahasa. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. agar santun.‖ dalam hal. Teori Wajah oleh Goffman. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. yang membawa ideologi liberal. ―Wajah.‖ baik milik penutur. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. secara tradisional. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Brown. Selain itu. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. maupun milik mitra tutur. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. Selain itu. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. Teori yang diulas singkat ini. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Brown. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. namun ―wajah‖ . agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. sementara itu. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. dan Levinson. 1995). Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. baik oleh pakar atau linguis.

sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Meskipun demikian. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. baik wajah positif maupun negatif.dalam artian public image. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. atau anak dan ayah). tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. ketakformalan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur.. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. Pada wajah.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. konco. Oleh karena itu. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. 2008). dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. Sementara itu. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. pemabuk. termasuk dalam berbahasa. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. dan sebagainya). pengakuan. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. 2008:2). wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. pacar. atau dimiliki secara individu. dan kesekoncoan. bebas dari gangguan pihak luar. Wajah. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial. dalam tradisi Cina. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. Dalam teori ini. merupakan ―pinjaman masyarakat. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Untuk lebih memahami konsep wajah ini. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. artinya. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini.

tidak sopan. rasa kekoncoan (camaraderie). maaf nih. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. tetapi dari aspek kesantunan. . maaf. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat. kesekoncoan. ini skarang so sampe di Kastela. tanya sadiki. (Bukannya masih jauh mas. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. Dari aspek kesopanan. Tuturan sopir B. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. dan mungkin berpendidikan rendah. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. dan sebagainya. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. numpang tanya. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. Sejenak jika dilihat. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. ketakformalan. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. (Astaga. tapi so lewat jao. melalui konsep wajah positif. ini sekarang sudah sampai di Kastela. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. dan wajah mereka terancam.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. nanti baru nae oto dari bawa saja. konco. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. tapi mereka tidak mau). nanti bilang turun di Sasa.

Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. nanti naik angkot lagi dari selatan. gender. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. om. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. hal ini bukan hanya mengancam . strata sosial. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). termasuk usia. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. Kami minta maaf). termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. om. penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. nanti bilang turun di Sasa). Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. bukan masyarakat asli. Dalam konteks interaksi seperti di atas. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban.106). Artinya.tapi sudah kelewat jauh. Bahkan. dan strata akademik. 2006:104). Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. atau keformalan. tarima kasih e? (waduh. jelaslah bahwa dalam berbahasa. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. Perhatikan contoh berikut ini. Penumpang A: Wah. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Maaf lagi… (Saya.

Intinya. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu.C. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. Menuju Universalisme yang Hakiki. tekanan. atau gangguan dari pihak lain. termasuk mitra tutur. Di lain sisi.wajah mitra tutur muda. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. Santun berarti tidak mengancam wajah. Levinson. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Sementara itu. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. A. Artinya. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Brown. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. Daftar Pustaka Aziz. 56-289. maka pengancaman wajah bersifat positif. Goody (ed). (2008). (1987). teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. maka ancamannya pada wajah positif. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face). Menggugat yang Semu. Aziz. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Disertasi. A. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). Australia: Monash University. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. (2000). P & S. . Pidato Pengukuhan Guru Besar. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Cambridge: Cambridge University Press.N. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. In E. E. E. maka ancamannya pada wajah negatif. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. maka pengancaman wajah bersifat negatif. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri.

yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Yule. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. bukan hanya dari aspek tata bahasa. Garden City. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. Pragmatik. (1967). Kesantunan berbahasa. maupun para pembelajar bahasa. Indonesia: Pustaka Pelajar. S. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. (2008).S. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. J. 2011. Selain itu. Interaction Ritual. Thomas. terkecuali dalam telaah pragmatik.. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. Bookmark the permalink. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. pragmatik. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. namun juga dari aspek etika. M. Kesantunan dalam berbahasa. yang membawa ideologi liberal. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. baik oleh pakar atau linguis. G. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. E. agar santun. meskipun disebut sebagai horison baru. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun.Goffman. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. bukan pula dari aspek psikososial. teori kesantunan berbahasa. teori kesopanan berbahasa. (1995). London: Longman. NY: Doubleday. secara tradisional.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. termasuk usia. Intinya. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. jelaslah bahwa dalam berbahasa. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. maka pengancaman wajah bersifat positif. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. Artinya.106). dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. om. 2006:104). Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Kami minta maaf). termasuk mitra tutur. maka ancamannya pada wajah positif. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. strata sosial. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. gender. Sementara itu. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. Perhatikan contoh berikut ini. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli. maka ancamannya pada wajah negatif. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . tekanan. dan strata akademik. Maaf lagi… (Saya. Dalam konteks interaksi seperti di atas. maka pengancaman wajah bersifat negatif.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). atau gangguan dari pihak lain. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. Bahkan. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. om. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka.

Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. J. Thomas. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. E. Interaction Ritual. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. G. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita.C. Menggugat yang Semu. Australia: Monash University. Santun berarti tidak mengancam wajah. Brown. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang.adalah kehilangan wajah (loosing face). A. In E. Daftar Pustaka Aziz. (1987). E. Goody (ed). E.N. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. (2008). dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Disertasi. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Yule. Di lain sisi. A. NY: Doubleday. (1967). Pragmatik. Aziz. Pidato Pengukuhan Guru Besar. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. (2008). 56-289. London: Longman. Indonesia: Pustaka Pelajar. Menuju Universalisme yang Hakiki. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Goffman. Furthermore. Garden City. Levinson. P & S. Cambridge: Cambridge University Press. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. ethinking Politeness. (1995). I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. I aim to move . Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. (2000).

we can map out parameters for . in the final part of this essay. gender. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. constitutes a discourse analysis of politeness. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. and who needs to repair the damage. (2) In terms of the analysis of politeness. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. I argue that communities of practice. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. Thus. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. pragmatics. This. modes of talk and domains. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness. To illustrate these ideas. I would argue that we need several analytical changes: firstly. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. (Sperber and Wilson. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. and finally. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. we may be able to see gendered protocols at work. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. it should be seen within the context of a community of practice. secondly. therefore. as Brown and Levinson (1978) have done. (3) In this way. Keywords: politeness. rather than individuals. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. rather than as simply as the product of individual speakers. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. nevertheless. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness. I will suggest that. in an analysis of an incident at a departmental party. but. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. we need to be able to analyse the various strategies which gendered. rather than a linguistic analysis of politeness.

` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff. Fuss. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. (see Butler. beliefs.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. Within this view. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. (Coates & Cameron. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. Ways of doing. ways of talking. This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. the issue of gender is even more fraught. Johnson & Meinhof 1997. If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. as many essentialist theorists have done so far. and they will have different positions within these groups. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. 1999:175) Thus. However. Bergvall.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered. values. there will also be different `takes‘ on those norms. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. (Eckert and McConnell-Ginet. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. (both dominant and peripheral). Bing & Freed. power relations – in short. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed. What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. developed by Wenger.(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect.' (Wenger. rather than . 1998. 1995). because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women. we need to modify this notion of community of practice slightly.1988. (1998). 1990. 1999). and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. Thus. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. a joint negotiated enterprise.

It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. . (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language. so that stereotypically it bears a signature of middle class. As I will argue later in this paper. classed and raced. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. athleticism and musicality. However. in the way that they react to politeness and impoliteness. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. however. politeness is already gendered. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz.‘(Eckert & McConnell-Ginet. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. particularly when we are considering linguistic politeness. rather. It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. 1998:488/9) Thus. (Freed. the stereotypes of gender. (5) Furthermore. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. thus. 1999). rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction.

there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. (Foucault. This is what I would like to call interactional power. or breakdown of communication will ensue. a person whose wants and personality traits are . concern and sympathy. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. 1991). however temporarily. described as co-operative strategies or rapport talk. 1975. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated. Tannen. a friend. and that can be lost. the spread of power throughout a society.'(Brown & Levinson. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. that is. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. and so on. will need to employ politeness forms which would normally signal deference. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. Spender. In engaging in interaction. maintained or enhanced.g. their confidence.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. rather loosely from the Chinese. 1996) Thus.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. (Mills. by treating him/her as a member of an in-group. (Coates. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. by our class position. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). Face is a term drawn. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. because of her access to information upon which they depend. (6) For example. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). a great deal of interactional power by their verbal dexterity. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. lecturers who need this information and who are reliant on her. rather than the holding and withholding of power by individuals. their linguistic directness. 1998. via Goffman. They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. and must be constantly attended to in interaction. conversely. (Lakoff.

the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance.e. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA.. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference. It is thus a model of interaction which is focused on production. Boz. 1996) As Holmes notes. The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. The essence of politeness is that appears to be invisible. thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. (Mao. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary.known and liked).75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . however. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). Thus. (Culpeper. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. Thus. Thus. this might in fact be interpreted as impolite. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. politeness cannot be said to reside within linguistic forms. such interpretations may be subject to disagreement.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite. i. it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. 1994. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. and even then. 1995:5) However. which conflates the intentions.‘(Holmes.' (ibid. hedges and deference).. and this is not the first time that the request has been made. Thus. or expressing them indirectly. forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice.

the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. nurture and develop personal relationships. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. and thus is again an example of the disembodied. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others. They use language to establish. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. especially with friends and intimates. 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch. Drawing on brown and Levinson's work. focusing on impoliteness may be slightly easier. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. either in relation to the perceived norms of the situation. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place. ingratiating or patronising. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. as well as non-imposing distancing behaviour. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language.‘ (Holmes. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. Indeed.‘ (Holmes. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson.‘ (Holmes.‘ (Holmes.polite. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. and thus Holmes asserts that. For example. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. . a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. women are more polite than men. therefore. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar. so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness.

women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. community members. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. like us. In the army training documentary which he examines. I would argue that within that particular community of practice. but which female members of staff may also engage in equally. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. 1972) (14) However. when uttered at a staff party may be considered differently. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. and even then it is something which may be contested by some community members. 2000 forthcoming. but older than the postgraduate.a documentary programme on army training and literary drama . However. 2000 forthcoming) In the incident in question. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic. one of my female postgraduates and a new male member of staff. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. this is not classified as impolite. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. and/or when it leads to a breakdown in relations. banter. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. and this type of public verbal play in general. Thus. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. as Clare Walsh has shown. I had to think up some form of appropriate phatic . However. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. the officers. Since the party was well underway. 1998). Liladhar. although it would be within almost any other community. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. 1996). The dominant group in the interaction.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. (Labov. (12) Thus. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. He analyses several contexts of linguistic use . this person. usually dominant. a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us.

(15) Banter was not an option since I did not know the person. facial expression and his tone of voice. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. However. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. 1998:448) In this case. `Name me six poets‘. However. were in fact patronising and therefore insincere. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. This response on his part confused me . Proxemic cues. then I would have to comply and provide a list of poets. eye contact. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. (17) What is also . he was in fact implying that I could not name six poets. where we had been attempting to be friendly and polite towards him. I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. I did not wish to be forced to answer this question. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. and impolite. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. (Sperber and Wilson. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. such as body stance. the male staff member then made comments which we both considered impolite. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. but instead had to be classified as offensive and impolite.communion. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. Under this interpretation. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. (see Cameron. because he considered them to be excessive.' (Cameron.

Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). Thus. perhaps. Because of these strategies we were locked into the interaction. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. drawing attention to our femaleness and sexuality. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. as if perhaps these were implicit from the beginning. (Walsh. forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour. (19) Further gendered stereotypes were brought in. . for the best of motives. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. suggesting that we talk on other subjects. verbal aggression and impoliteness. Having worked with extremely impolite. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. but continued to use positive politeness strategies. which in many contexts such as this one. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. We tried to assuage him and calm him down.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. do not necessarily bring any form of power to oneself. However. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. in the interests of departmental harmony. were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women. whereas for the male staff member. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness. that is. we could not simply walk away. `masculinist‘ females as well. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. it led to a range of `repair‘ behaviours. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. Thus. we would not necessarily have considered the incident impolite. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. a stereotypically feminine response. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. it led to an increase in insulting terms. For myself and the postgraduate. As it was. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. that is. partly because both of us were fearful of physical attack.

(20) After several weeks of not communicating with the person. what I . where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. and even those stereotypes can be used for our own ends. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. However. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. cannot be simply coded as powerless. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. particularly to the postgraduate. However. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. and the way that this judgement is not a once and for all act. Thus. Furthermore. Thus. Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction. however. However. since in fact this is what brings the incident to a close. A seemingly feminine response to the situation. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. where the postgraduate tried to make a formal complaint. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. one which attempts to resolve the situation. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. that is. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. even though this is a strategic use of femininity. (21) However. I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again. Conclusions Thus. and the party was disrupted by the event. Thus. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. or even perhaps an admission of some fault on our part. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. Generally. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him.The incident itself is not particularly important. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused.

I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. (see. and Gender and Language Conference. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. 2000.(Butler. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. 1999) 3. or change their meaning or function. Thus. 2000. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. (See Liladhar. this was clearly the case. Corinne Boz. complex that relation is ). Clare Walsh. Jane Sunderland. as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. California. individuals may perform their gendered identities in different ways. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. As I show later. 2000 forthcoming. Manana Tevzadze. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. Lia Litoselliti. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. 2000. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. and it can also enable us to see that within different communities of practice. November 1999. May. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction. Holmes and Meyerhoff. Eckert and McConnell. February. Utrecht. including the seemingly more co-operative/rapport ones. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. 4. Bell et al. Perhaps. 1994) 5. Also. Notes 1. 1999. Cameron. 2. in 1993. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. Reina Lewis. International Gender and Language Association. but even here. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. Keith Green. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. depending on . however. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. 6. also. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. May. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. Janine Liladhar. context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data.

ac. and I asked his permission to publish it. A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms. I also requested comments on his interpretation of the incident.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca.shu.mills@shu.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. . It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. Even over two years. 1999 on peripheral group members) For example.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. Georgia. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. or at our web-board: http://hum-webboard. in the army training example. 9. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain. China. composed of linguists from Britain.ac. Indeed. he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness.ac. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness.uk. bullying and overbearing. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. However.bargiela@ntu. of course. 11. 8.ntu. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. it is interesting that not all secretaries do adopt it. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. Turkey. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted. 10. as Walsh (forthcoming) has noted. 2000. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with. and we are currently working on communities of practice and politeness. 12. Details of the group can be found on the website http:\\www. 13. stated that when he did his year's army training. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness.7.ac. this article is part of that process of understanding the event. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event. the incident still has effects on the department and is still discussed. Finland and the Netherlands.l. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. Italy. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face. the community of practice.. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web .

for a discussion) 20. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. D. conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. in fact. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here. or even the weather. . Furthermore. Place and Culture. 19. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. However. this is what leads to conflict. 15. 1998. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. Binnie. and may be misinterpreted when used between relative strangers. but the timing of the interaction precluded the use of these. I would agree that alcohol affects what we say to people. & Valentine. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. J. 18. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. pp. However. (1994) `All hyped up and no place to go‘. It is not something that they necessarily want to do.14. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. in Gender. despite several attempts to discuss this issue with him. G. such as comments about the house where the party was being held. 17. but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation. References Bell. Cream. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well. (See Clark. J.31-48. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. he has not responded. No formal complaint was made. 21. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. 16. 1/1. Here.

Blackwell. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. pp. P and Levinson. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. in ed. U. Routledge.Bergvall. 9/4 Cameron. Cameron. in Language in Society.56311. Vera?': gender. J.' Pp. formal stylistic markers). Language and Masculinity. From Nancy Bonvillain's "Language. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. in Discourse and Society. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. Bucholtz. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. Goody. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. M. & Freed. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. in eds. they note that boys. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. Culture. power and pragmatics'.86-107. Johnson." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. E.203-225. 435-455. Boz. even encouraged. V. C. and Meinhoff." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'. A. PhD thesis. D. Oxford. Therefore. S. to talk rough. D. Bing. eds. pp. "are permitted. (1998) `Is there any ketchup. Sheffield Hallam University Brown. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. J. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. Longman. London. pp. cultivate a deep "masculine" voice . London. Cambridge University Press. and Communication" she notes that. and softening devices such as hedges and questions. 28/2 Butler. However. "women typically use more polite speech than do men. From historical recurrence. Cambridge.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. see Halpern (2000). at the design of language and gender modules.g. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. 2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. or within non-language programmes. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. for instance. the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). however. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. have a settled curriculum. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. we can contrast syllabi . and critically. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. or Women‘s Studies. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices. including selection and sequencing of curricular content. Language and gender doesn‘t.) Within language and gender as a field. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. 3. at least across the ‗western‘ world. at issues relating to teaching and learning stances. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. such as Women‘s Studies. (For sources. whether in the form of coherent modules on the topic. However. including linguistic behaviour. (Baron-Cohen (2003). a contemporary review of the field (Cameron. ‗Language and the Media‘. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. for a broader overview of sex differences in cognition. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies.) 2. we look at commonality and diversity in language and gender curricula.and corpus linguistics). and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. represents a strong biological (evolutionary) perspective. In what follows.

but there are particular issues. Besnier. Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. First. 2005: ‗Aims of the course‘). undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. He also covers gender and literacy. This site includes reading lists and assignment topics. given the disciplinary and other differences referred to above. A similar. reflecting disciplinary perspectives. whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable. racial and national identities with gender. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). grammatical gender. These are mainly US sources and not all recent links are available. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. on the other hand. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive.csulb. On the basis of these syllabi at least. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. given the nature of the subject. at the time at UCLA. and include student project work. Students‘ background. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). they see oppression as a thing of the past. both modules explore relevant aspects of language and gender. a problem solved. but the subject is to some extent differently constituted in each case. sometimes problematical. 4. Both have a strong empirical focus. that relate to the teaching of language and gender. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. for instance. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. has a strong and explicit anthropological focus. The classic case here is probably sexist (English) .edu/~lemaster/lgarchive). Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. academic experience and perceptions of ‗language and gender‘.

there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘. then. and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. of course. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. but a history whose implications are currently felt more widely . being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms). eighteen. this may still come as a shock to students. and indeed continue to use Ms. Certainly. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. man-hating. having signed up.for example. Amongst male students. but also to many third world women. and the associated question of empirical research. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. even that they will feel uncomfortable – or. Thirdly. and to associate Ms with. on which so much language and gender scholarship is based. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps .and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. worse.) It makes more sense. who are largely unused to this form of scholarship.language (together with language change. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. In this context. of feminism in general. variously. say. indeed. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting. used. classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. and for whom linguistic description and analysis (for example. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. and guidelines for inclusive language). in Women‘s Studies. if they are not simply indifferent to these debates and issues. encouraged. and this needs to be pointed out and demonstrated. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. On a different level. Secondly. be made to feel unwelcome. (This is. divorce. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. While fiftysomethings may have argued for. While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘). Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. focusing on current arguments for Ms). and indeed of making one‘s own politics explicit. on language and gender modules. The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). lesbianism and a hatred of men. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity.

appropriately integrated. that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. Topical C. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. according to different organisational criteria:     A. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. indeed.something particularly characteristic of language and gender. better. Queer theory. talk more than women. Theoretical/methodological approaches D. these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. and in fact approached critically. Historical B. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. discourse(s). subject positioning. identity. These complex notions need to be addressed. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). appropriate. and some simplification may be pedagogically necessary and. often having no problem identifying with the findings. or. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. Eclectic . Designing modules in language and gender In Section 5. orientation to gender. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). but in an accessible way. 5. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area.

Historical: Example 1. As in other fields. Identity 8. The importance of context 6. politics) 10. Sociolinguistic work: e. Gender and discourse 5. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. Topical: Example A. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. Workplace talk 6. private/public 3. As above. Language. have grown out of (responded to/reacted against) . Early feminist work: Lakoff. Women and men’s talk: single/mixed sex. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. current emphases in language and gender. Coates. gender and fiction 8. ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. CA/Discursive psychology in language and gender study C. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. gender and children’s books 10. newspapers. Discursive psychology 8. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Trudgill 3. continued. Theoretical/Methodological 1. Gender and the media – magazines. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Language. Holmes 6. ads. Performativity 9. gender and the language classroom 8. Discourse analysis 4. Classroom talk 5. Gender and cyber-communication D. Sexist language 2. Eclectic! 1. both topical and methodological. Conversation analysis 7. Spender 4. Empirical and non-empirical early work: Haas. Corpus linguistics 9. Labov. Zimmerman and West 5. Language. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Language. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. gender as constructed in and by language 2. perhaps including the topic of gender and politeness 4. gender and powerful institutions (religion. 7. gender and sexuality 9. Jespersen 2. Sexuality/Queer theory 1. Empirical work and the feminist contribution 3.g. Written texts: language. Critical discourse analysis 5. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen. The shift to discourse 7.B. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2.

the workplace. But while the field has moved on considerably. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005). but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. intellectually complex. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history.g. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. A third question is the role of biological factors/explanations. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). If such history is to be included (Example A).previous ones. but wide. and fast-growing. through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. how these are constructed in the literature. relatedly. which has made its own important contribution to language and gender. In terms of teaching. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). Most basic is the question of time. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. classroom talk. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. Queer theory.e. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. previous emphases can be included critically. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. Of course. The language and gender field is young. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e. other organising principles than the chronological development of the field. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers.g. We noted above that these have traditionally been downplayed. and now usually are – but the message does not always get through. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. . As mentioned in Section 1. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible. of course. however.

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

their model of communication (e. The variables of class. Theorising politeness.g. face and face threatening acts).g. gender. appropriateness. analysis of social variables such as power. data collection. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative . 1998: 76). notion of habitus) the constituents of politeness (e. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. inability to describe politeness at the level of inference).g. a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. racial identity. Brown and Levinson's (1978. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. positive and negative politeness. In chapter 2. notion of politeness. and linguistic interpretation of pragmatic data.g. speaker model. and methodological difficulties (e. reliance on speech act theory.. strategic politeness. power. interpretation. distance. With respect to the model of communication proposed in the book.. Finally. data collection instruments. In particular. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e. namely. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness).to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice... and imposition). the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. individual strategies.

2) politeness is a matter of judgment and assessment. factors of gender. In particular. Further. politeness and impoliteness. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways. Then. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. Politeness and impoliteness. namely. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. . race. swearing and directness. and race are examined in relation to (im)politeness. and class. age. two features of impoliteness are analyzed. This chapter is organized into four sections: the first section. class. but rather as separate notions with specific characteristics. sexual orientation. 3) different forms of data need to be considered. and. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender.analysis of politeness. In chapter 3. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness.

the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . class.In chapter 4. is normally associated with prototypical descriptions of white. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. Finally. power. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. Furthermore. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. and polite. middle-class women's behavior. and sexual orientation. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. interruption. Gender and politeness. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. race. mitigation. In chapter 5. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. loudness. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. indirect. among other factors. Finally. Theorising gender. swearing.

. race. In particular. in Conclusions. EVALUATION Overall. and data analysis could have been described in one particular section. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. among other factors. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. General information . specific information regarding subjects. data collection procedures. power) in relation to politeness and gender research. the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. gender. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed. sexual orientation. Finally. and contextual elements. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class.driven. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice.g. for the sake of methodological clarity. While the analysis presented in the book is theory.

information concerning data collection procedures. etc. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. For example. at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. Overall. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. on p. Finally.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. data collection procedures and analysis. 61 Lakoff. number of subjects. including a description of the subjects. tasks. number of hours of recorded data. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results. Most importantly. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . Watts (2003). more extensive information on the methodological procedures used in the study. and Wierzbicka (2003). is mentioned in footnotes (pp. 77 which do not coincide with the bibliography. 2001b) on p. 14-15) within the introduction. Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. Furthermore.

P. Stockholm.(im)politeness and gender. Manchester. Cambridge. Cambridge. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. (2003). R. REFERENCES Bravo. Eelen.. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. Brown.. race. gender. S. Communities of practice. (1987). D. and Levinson. E. and sexual orientation). 56. UK: Cambridge University Press. In particular. 2nd. Jeromes Press. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. UK: Cambridge University Press. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Wierzbicka. G. (2001). class.310. Politeness: Some universals in language use. UK: Cambridge University Press. and Levinson. UK: Cambridge University Press. UK: St. Goody (ed. A critique of politeness theories. S. (2003). Watts. NY: Mouton de Gruyter. edition. P. (1998). Cambridge. Wenger. A. Sweden: Universidad de Estocolmo.). Cambridge.. (Ed. Brown. E.g. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. New York. ABOUT THE REVIEWER . Politeness. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. (1978). and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE.) (2003).

politeness theory. research methods in pragmatics research. speech act theory. and first and second language acquisition. writing in the second language classroom. His research interests include cross-cultural pragmatics. .César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. interlanguage pragmatics. Bloomington.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->