0Sekilas Perbedaan Pemakaian “Bahasa Pria” dan “Bahasa Wanita”

OPINI | 17 December 2011 | 16:46

Dibaca: 325

Komentar: 0

Nihil

Dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Ada ungkapan ―mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?‖ Dengan kata lain, kita tertuju pada beberapa faktor yang menyebabkan wanita lebih suka menggunakan bahasa standar dibandingkan pria. Berkaitan dengan itu, patut dicermati bahasa sebagai bagian sosial, perbuatan yang berisi nilai, yang mencerminkan keruwetan jaringan sosial, politik, budaya, dan hubungan usia dalam masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa wanita, di dalam masyarakat, sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar daripada laki-laki. Pendapat ini mengatakan bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan cara pria memperlakukan wanita karena kesenjangan yang dimiliki. Kesenjangan antara pria dan wanita terlihat dari segi fisik, suara, maupun faktor sosiokultural dalam bertutur (misalnya kesopanan). Dalam bidang pekerjaan, misalnya, wanita memiliki peran yang berbeda daripada pria. Wanita lebih sering menduduki posisi kedua, jarang menjadi orang pertama, misalnya sebagai sekretaris, anggota parleman, karyawan biasa, dan lain-lain. Terdapat beberapa perbedaan berbahasa antara pria dan wanita, di antaranya dalam fonologi, morfologi, dan diksi. Dalam segi fonologi, antara pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, seperti halnya di Amerika wanita menggunakan palatal velar tidak beraspirasi, seperti kata kjatsa (diucapkan oleh wanita) dan djatsa (diucapkan oleh pria). Di Skotlandia, sebagian besar wanita menggunakan konsonan /t/ pada kata got, not, water, dan sebagainya. Sementara itu, pria lebih sering mengubah konsonan /t/ dengan konsonan glotal tak beraspirasi. Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic. Di samping itu bahasa inggris membuat perbedaan kata tertentu berdasarkan jenis kelamin seperti actor-actress, waiterwaitress, mr.-mrs. Pasangan kata lain yang menunjukkan perbedaan yang serupa adalah boy-girl, man-woman, bachelor-spinter dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran masyarakat bahwa perbedaan pilihan kosa kata ini dibuat, menggambarkan peran masing-masing yang dipegang oleh pria dan wanita Dalam hal panggilan wanita juga berbeda dengan pria. Biasanya dalam menggunakan panggilan untuk mereka (wanita) sering digunakan kata-kata seperti dear, miss, lady atau bahkan babe (baby). Dalam bersosialisasi, biasanya laki-laki lebih sering berbicara seputar olah raga, bisnis, politik, materi formal, atau pajak. Sementara itu, topik yang dibicarakan oleh wanita lebih menjurus kepada masalah kehidupan sosial, buku, makanan, minuman, dan gaya hidup. Menurut Janet Holmes, “Women are designated the role of modelling correct behaviour in the community.” Dalam sudut pandang ini, wanita diharapkan lebih sopan saat bertutur. Tidak dapat

dibayangkan seorang wanita menggunakan kata mengumpat ―keras‖, misalnya meneriakkan damn atau shit; wanita hanya akan bilang oh dear atau fudge. Dalam makian bahasa Jawa, misalnya, wanita takkan mengatakan asu, namun menyopankannya dengan bentuk asem (pada perkembangan selanjutnya, asem dijadikan makian oleh sebagian besar orang Jawa, termasuk pria, yang ingin menyopankan makiannya). Dengan menggunakan bahasa yang sopan atau standar, wanita mencoba melindungi keinginan atau kebutuhan mereka. Dalam kata lain, wanita menuntut status sosial yang lebih. Sumber: dari mana saja :D

ewasa ini pandangan modern yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman adalah bahwa kaum wanita adalah mitra sejajar dari kaum pria. Diskriminasi jender sudah harus dibuang jauh-jauh bukan hanya dari benak dan hati, tetapi terutama di dalam perbuatan sehari-hari. Pandangan modern tanpa diskriminasi jender memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan waktu yang mamadai untuk menanam, memupuk dan mengembangkannya melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Napitupulu, 2001:16). Hubungan antara bahasa dan jender merupakan hubungan antara bahasa dan gagasan kita tentang pria dan wanita (Goddard & Patterson, 2000:21). Oleh karena itu, istilah jender merupakan karateristik yang diharapkan oleh masyarakat dari seseorang atas dasar jenis kelaminnya. Dengan kata lain, jender ditentukan oleh persepsi dan pandangan masyarakat perihal bagaimana jenis seks tertentu berperilaku dan memainkan perannya dalam masyarakat (Eckert & Ginet, 2003:7). Beberapa ahli bahasa telah melakukan penelitian tentang perbedaan bahasa antara pria dan wanita yang antara lain dilakukan oleh Wardhaugh (1988) dan Lakoff (1975). Fromklin dan Rodman (1988:15) menyebutkan bahwa di Jepang, tuturan kata-kata antara pria dan wanita terdiri atas dua dialek yang berbeda, misalnya penggunaan partikel ne yang dilakukan oleh para wanita untuk mengakhiri suatu kalimat. Juga penggunaan bentuk watasi atau atasi, sementara oleh para pria menggunakan bentuk wasi atau ore. Dalam bahasa Muskogean, Koasati, kata-kata yang berakhiran dengan s, misalnya dalam kata lakawos diucapkan oleh laki-laki. Jika diucapkan oleh perempuan, kata tersebut akan berakhiran dengan l dan berubah menjadi lakawol Wanita dengan gaya bahasa yang terkesan pemalu, tertutup, genit, dan kurang percaya diri sudah mulai ditinggalkan. Sebaliknya, wanita masa kini sudah bergaya tutur cerdas, terbuka, dan mandiri yang tercermin saat mereka mengungkapkan pikiran dan gagasannya baik secara lisan maupun tertulis. Dengan semakin gencarnya gerakan “arus kemitrasejajaran” (gender mainstream) antara pria dan wanita dan makin terbukanya akses informasi, maka sekarang wanita lebih memiliki rasa percaya diri dalam berbahasa.v

Gender dan Bahasa Posted: Februar 24, 2012 in Studi 0

1 Votes ―Gender dan Bahasa‖ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19). Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema ―Gender dan Bahasa‖ ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19). Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan: „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“. Istilah ―gender‖ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ‗seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu, istilah ‗gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung. Amerika. biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht― (mungkin). dan Jerman. tidak memperlihatkan emosi. „eigentlich― (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen― (kalau boleh saya menyarankan). Development. „bahasa laki-laki― atau ―bahasa perempuan‖ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki― dan „bahasa perempuan― (Grimm 2008:10). Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. lebih bersifat pertanyaan. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. sederhana. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. Inggris. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Misalnya. biasanya dalam kalimat pendek. pada tahun 1922. Dalam salah satu bab buku itu. Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache―. Jepang. Grimm (2008: 8) berpendapat. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan. Jespersen juga . dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. seperti Prancis. Sebaliknya.Istilah „bahasa perempuan― dan „bahasa laki-laki― banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini. bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara. Di beberapa negara maju. tidak komprehensif. Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif. mereka lebih terkesan linear. bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. and Origin. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas. serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur. Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi― linguistik.

dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. cool. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. Oleh karena itu. pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). peristiwa. proses. Dalam khazanah sosiolinguistik. keadaan. Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. seperti great. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. 2004:3—4). matang. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. perempuan sering menggunakan adorable. charming. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. lingkungan sosial. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. Namun. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Dalam bahasa Indonesia. politik. Oleh karena itu. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. menurut Lakoff. tempat. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. Kuntjara. misalnya. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. atau neat. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri. . Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. etnik. terrific. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. Di samping itu. ekonomi. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). Namun. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. predikat (P). Misalnya. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. dan mitra tutur. yaitu waktu. dan objek (O). agama. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. kelas. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. sangat berkuasa. 2005:36).menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. Lakoff menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. sweet. 2004. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat.

Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. seperti buku Tannen dan Gray. misalnya. Women Are from Venus. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. perasaan. 4. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. buku Deborah Tannen. tetapi palsu. 5. Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. Men Are from Mars. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut. 3. Namun. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. 1. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia.Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. dan hubungan antarmanusia. tetapi juga psikologi. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation dan buku John Gray. Di dalam buku psikologi populer. Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. Sebagai contoh. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan . 2. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki.

Otto.000 sampai dengan 25. Greene. 2011: 54—56). 2005. dalam mitos Mars dan Venus. Development and Origin. 1992. misalnya. 1922. melainkan referensi dari buku pengembangan diri. Pada tahun 2006. Florian. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. Robert Lane. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. The Study of Speakers’ Choices. Namun. New York: The MacMillan Company. . Oxford: Blackwell. termasuk status mitos tentang fakta itu. Dalam perekonomian saat ini. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Alessandro. fakta bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Namun. tungau di seberang lautan tampak‖. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Delacorte Press. Publisher. Language Laws. and the Politics of Identity. Holmes. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. New york: Cambridge University Press. Language: Its Nature. You Are What You Speak: Grammar Grouches. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. Salah satunya adalah Mark Liberman. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing.000 kata. Sociolinguistics. Janet.000 kata sehari. London: Longman. 1999). Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. 2001. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Jespersen. The Key Term in Language and Culture. 2011. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan.berkomunikasi. Daftar Pustaka Coulmas. The Female Brain. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20.000. Duranti. Setelah menelusuri kepustakaan populer. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4.

seperti Prancis. New York: Ballantine Books. Misalnya. terrific. and Origin. cool. Penelitian yang memusatkan kajian pada hubungan antara bahasa dan gender dipelopori oleh Robin Tolmach Lakoff. Dalam salah satu bab buku itu. Otto Jespersen menulis sebuah buku dengan judul Language: Its Nature. 1991. Deborah. Suka · Komentari · Bagikan Perempuan dan Bahasanya: Cermin Pengaruh Jenis Kelamin dalam Faktor Pilihan Berbahasa dan Mitos di Sekitarnya oleh Yayasan Pendidikan STIE/STKIP YAPTI Jeneponto pada 19 November 2011 pukul 0:08 · Artikel Ganjar Harimansyah Pembahasan tentang perempuan dan bahasanya atau masalah bahasa dan perempuan biasanya mengarah pada pemaparan perbedaan (cara) berbahasa antara perempuan dan laki-laki. Gender. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Robin Tolmach. Tannen. Jespersen khusus membahas bahasa perempuan. Misalnya. ia mengemukakan teori tentang keberadaan bahasa perempuan. New York: Oxford University Press. 2003. Lakoff. Jepang. charming. atau lovely dibandingkan dengan kata yang netral. Linda and Shân Wareing. dan Jerman. Development. Bahasa dan Kekuasaan. 2004. perempuan sering menggunakan adorable. and Power. Society. sweet. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Ia memberikan pendapatnya bahwa perempuan agak malu-malu jika menyebut bagian anggota tubuh mereka dengan cara terang-terangan. atau neat. tidak seperti laki-laki (muda) yang lebih suka menyebutnya tanpa aling-aling. seperti great. Language. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Amerika. pembahasan masalah itu sudah lama menjadi perhatian beberapa linguis dan telah dilakukan sejak tahun 1920-an. Thomas. Di dalam bukunya Language and Women’s Place (1975). Lakoff menyatakan bahwa terdapat .Kuntjara. Inggris. pada tahun 1922. 2004. Jespersen juga menyinggung bahwa bahasa yang digunakan oleh perempuan lebih kerap menggunakan kata sifat apabila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan laki-laki. dieditori oleh Mary Bucholtz). Di beberapa negara maju. New York: Routledge. Esther.

yaitu waktu. Selama budaya di Indonesia masih berideologi patriarki. kalimat ‖Rina mengawini Herman‖ atau ‖Herman dicerai Rina‖ tidaklah salah. 2004. ‖Saya‖ dalam kalimat itu pasti laki-laki dan ‖dia‖ perempuan. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Maksud pembicara itu dapat disimak dari kosakata yang dipilihnya. 2005:36). dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu. kalimat ‖Herman mengawini Rina‖ atau ‖Rina diceraikan Herman‖ dianggap memenuhi kaidah struktur kalimat dan konteks budaya. Percakapan di antara keduanya sering menimbulkan kesalahpahaman. Materi yang dipersoalkan tidak lagi hanya menyangkut masalah linguistik. perempuan mustahil untuk dapat ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ laki-laki meskipun perempuan lebih kaya. ia akan mempersoalkan kepada dirinya dan tidak mempunyai keyakinan terhadap diri mereka sendiri.banyak hal yang mendasari munculnya perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam berbahasa. menurut Lakoff. Jika kita melihat konteks struktur bahasa. sangat berkuasa. dan mitra tutur. Namun. Bahwa laki-laki dan perempuan berbicara secara berbeda adalah sangat alamiah (Coulmas. matang. buku Deborah Tannen. banyak masalah yang timbul berakhir dengan tanda tanya (Lakoff. misalnya. bahasa bukan hanya masalah intrinsik struktur bahasa. Dalam khazanah sosiolinguistik. bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas. tempat. predikat (P). pada umumnya pembahasan tentang perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki ditumpukan pada konteks jaringan sosial dan maksud pembicara (speakers meaning). melainkan juga masalah ektrinsik-konteks budaya. agama. Di samping itu. telah terjadi lonjakan baru yang menarik di dalam pembahasan cara berbahasa perempuan dan laki-laki. kelas. tidak secara terang-terangan (menggunakan kata-kata kiasan). Para ahli linguistik pun sependapat bahwa perbedaan karakteristik bahasa yang digunakan antara laki-laki dan perempuan dapat diamati dan dibedakan. Oleh karena itu. Dalam bahasa Indonesia. misalnya. serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat (metapesan). Digambarkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas. peristiwa. dan objek (O). Oleh karena itu. 2004:3—4). Maksud pembicara sangat ditentukan oleh konteks. proses. ekonomi. politik. keadaan. kalimat yang berbunyi ―Saya mau mengawini dia‖ atau ―Saya akan menceraikan dia‖ dapat langsung ditentukan siapa yang diacu ―saya‖ dan ―dia‖. Contoh buku yang sukses membicarakan hal itu. seorang perempuan jika merasa kurang yakin terhadap suatu masalah. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat. You Just Don't Understand: Women and Men in . Penentuan referen ‖saya‖ seorang laki-laki dan ‖dia‖ itu perempuan karena dalam jaringan sosial masyarakat kita. dan laki-laki suka berbicara terang-terangan dengan kosakata yang tepat. tetapi juga psikologi. sedangkan perempuan hanya dapat ‖dikawini‖ dan ‖diceraikan‖. Tidak terhitung buku psikologi populer telah ditulis menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk asing. yang dapat dilekatkan dengan kata ‖mengawini‖ dan ‖menceraikan‖ adalah lelaki. Hal yang diyakini itu tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan masyarakat. Seiring dengan banyaknya kajian hubungan antara bahasa dan jenis kelamin atau gender sejak awal 1990-an. Namun. lingkungan sosial. Asumsi umum sudah menyiratkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda dalam menggunakan bahasa karena dari segi seks mereka berbeda. atau berkedudukan dan berstatus lebih tinggi daripada lelaki. Kuntjara. etnik.

Dua buku tersebut menduduki daftar buku pelarap (bestseller) di dunia. Cara penggunaan bahasa perempuan adalah kooperatif. pendapat bahwa laki-laki dan perempuan "berbicara dengan pilihan bahasa yang berbeda" telah menjadi sebuah dogma. Masalah bahasa dan komunikasi lebih penting bagi perempuan daripada laki-laki karena perempuan lebih sering berbicara daripada laki-laki. Perempuan lebih terampil secara verbal dibandingkan dengan laki-laki. kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Tujuan laki-laki dalam menggunakan bahasa cenderung tentang mendapatkan sesuatu. 1. Dalam perekonomian saat ini. Di dalam buku psikologi populer. Ide bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah sebuah mitos dalam kehidupan sehari-hari: kepercayaan yang tersebar luas. sedangkan perempuan hanya diasumsikan memiliki keterampilan berkomunikasi. sedangkan perempuan lebih banyak berbicara tentang orang. kesempatan bekerja di layanan berbasis ‖call center‖ mungkin bukan kabar baik bagi laki-laki. Hal itu seharusnya mengingatkan kita bahwa hubungan antara jenis kelamin tidak hanya tentang perbedaan kemampuan berbicara. Namun. fakta . Pelamar kerja laki-laki harus membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan berkomunikasi. dalam mitos Mars dan Venus. Harapan lama bahwa perempuan akan melayani dan merawat orang lain tidak berhubungan dengan posisi mereka sebagai "makhluk kedua". Kebenarannya harus diperlakukan seperti hipotesis untuk diselidiki atau sebagai klaim yang harus disepakati. mencerminkan preferensi mereka untuk kesetaraan dan keharmonisan. 2. tetapi juga tentang kekuasaan (Thomas dan Wareing. Mereka seolah-olah membangun proposisi "mitos Mars dan Venus". Cara laki-laki menggunakan bahasa bersifat kompetitif serta mencerminkan kepentingan umum mereka dalam memperoleh dan mempertahankan status. yakni laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. perasaan. Pekerja di tempat itu melibatkan kontak langsung dengan pelanggan dan menuntut pekerja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. 3. pada umumnya pendapat yang dikemukakan hampir sama dengan yang dinyatakan Jespersen dan Lakoff. dan hubungan antarmanusia. Berdasarkan premis dasar dan klaim tersebut. 4. tetapi di sisi lain menguntungkan perempuan. tempat kerja call-center adalah sebuah domain yang mengandung mitos tentang bahasa dan jenis kelamin dapat memiliki efek merugikan. Salah satu hasil pemikiran semacam itu adalah bentuk diskriminasi. tetapi palsu. mereka terkadang salah mengartikan niat masing-masing. Perbedaan sering menyebabkan "miskomunikasi" antara perempuan dan laki-laki. sedangkan perempuan cenderung tentang membuat hubungan dengan orang lain. 1999). Banyak perusahaan berkeyakinan bahwa perempuan cocok ditempatkan di call-center karena secara alami cara berbahasanya lebih berkualitas daripada laki-laki. Sebagai contoh. Namun. Women Are from Venus. Semua versi dari mitos itu membuat beberapa premis dasar atau semua klaim seperti berikut.Conversation dan buku John Gray. Men Are from Mars. seperti buku Tannen dan Gray. Hal itu menyebabkan masalah berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Lakilaki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta. 5.

New york: Cambridge University Press. Pandangan skeptisnya telah mendorong Liberman menyelidiki catatan kaki dari buku itu untuk mencari tahu dari mana penulis telah mendapat angka itu. menyatakan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan 20. tungau di seberang lautan tampak‖. Janet. misalnya. . New York: The MacMillan Company. Lakoff. Ia mengemukakan bahwa penulis yang berbeda (dan kadang-kadang bahkan penulis yang sama dalam buku yang berbeda) memberikan rata-rata kata yang diucapkan perempuan per hari sekitar 4. sedangkan laki-laki rata-rata hanya mengucapkan 7. Setelah Liberman menunjukkan hal itu dalam sebuah artikel koran.000 sampai dengan 25. 1992. Robin Tolmach. 2004. Apa yang ia temukan bukan rujukan akademis. London: Longman. Development and Origin. An Introduction to Sociolinguistics. Liberman menemukan beberapa klaim statistik yang bertentangan. Jespersen. Dia menyimpulkan bahwa tidak seorang pun pernah melakukan studi menghitung kata yang dihasilkan oleh sampel perempuan dan laki-laki dalam satu hari. penulis The Female Brain mengakui bahwa klaimnya tidak didukung oleh bukti dan mengatakan akan dihapus dari edisi mendatang. Sociolinguistics.bahwa kita (masih) hidup dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti pepatah ‖gajah di pelupuk mata tidak tampak. seorang profesor fonetik yang telah bekerja secara ekstensif dengan merekam pembicaraan. and the Politics of Identity. Florian. Setelah menelusuri kepustakaan populer. New York: Oxford University Press. Salah satunya adalah Mark Liberman. Robert Lane. 2004. pendapat negatif sudah terbangun bahwa perempuan bicara tiga kali lebih banyak daripada laki-laki. You Are What You Speak: Grammar Grouches. New York: Delacorte Press. Language: Its Nature. Oxford: Blackwell. Publisher. Greene. Esther. Namun. Banyak penelitian mutakhir yang pada akhirnya skeptis dengan mitos itu. Alessandro. Klaim variabel tersebut merupakan dugaan murni mereka (Greene. Gender. Language Laws. Kuntjara. termasuk status mitos tentang fakta itu. 2005.000 kata. 1922. The Female Brain. Bahasa dan Kekuasaan.000. melainkan referensi dari buku pengembangan diri.000 kata sehari. 2001. dieditori oleh Mary Bucholtz). Otto. sebuah buku ilmu pengetahuan populer karya Louann Brizendine. The Key Term in Language and Culture. Jakarta: BPK Gunung Mulia. The Study of Speakers’ Choices. Daftar Pustaka Coulmas. Language and Woman's Place: Text and Commentaries (edisi revisi dan diperluas. Berbagai upaya untuk menghilangkan kesan itu sangat sulit. Holmes. Duranti. Pada tahun 2006. 2011: 54—56). 2011.

dan tataran gramatikalnya. 1991. Padahal. Hal ini memang perkara sederhana. soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para ―aktivis gender‖ sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata. Suka · Komentari · Bagikan menulis dan terus belajar serta belajar terus. 28 Okotober. dan sejenisnya. hanya mendapat istilah ―hidung belang‖ dan ―mata keranjang‖. Deborah. istilah. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan pada warkah ini adalah pengungkapan. You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation. Selanjutnya. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. pada perempuan melekat istilah PSK. New York: Ballantine Books. Language. tetapi ini pulalah yang ―jauh‖ dari kajian para pakar. dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur. lonte. Society. baik lelaki maupun perempuan. ugkapan. ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. 2003. perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila. Linda and Shân Wareing. . Sejauh ini. Artinya. 0inShare Share Gender dalam Bahasa OPINI | 18 November 2009 | 22:52 menilai Bermanfaat Dibaca: 2178 Komentar: 6 2 dari 2 Kompasianer HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah ―gender‖ dalam berbahasa. Maka itu. para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. gaya. and Power. pelacur. murahan. Thomas. New York: Routledge. kita lihat sekilas bahasa dalam kaitannya terhadap relasi gender. tante girang. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‗pekerjaan‘ yang sama. cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. sebagai sebuah refleksi bulan bahasa yang memang bertepatan pada bulan ini. jika benar-benar ditilik.Tannen.

meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya. seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. Sangking pantangnya bagi mereka. brét ma keuh. Afrika. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta. siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun. bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. Misalnya. Sebaliknya. Hindia Barat. aneuk tét mie. Ironis. Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara. Akibatnya. ketika si perempuan sudah menikah. dalam ungkapan emosional semisal makian atau kejengkelan pun. jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama ―bapak/ayah‖. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki. ‗ok mai. ada kosa kata tertentu yang ―haram‖ disebutkan oleh kaum perempuannya. Kita mengenal istilah pukimaknya itu yang merupakan ―bagian dalam‖ kaum perempuan. di Zulu. Artinya. begitu lahir. kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada ―barang/alat‖ dalam milik perempuan. kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran ―memanja‖. bayi tersebut akan disebut anak si Ibrahim atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak. seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. Sebagai contoh kasus. Para . Konsep ini berkenaan dengan ―tabu‖ dalam ilmu bahasa. ia menyandang pula nama suaminya. dan lain-lain. kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa. Nani Yudhoyono. seperti Marlinda Abdullah Puteh. bisa-bisa dibunuh. misalnya bahasa Aceh. larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. Sedangkan pada lelaki.Masih pada tataran yang sama. bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Ibrahim. Kasus ini seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‗warga kelas dua‘ di dunia. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari ―punya‖ kaum lelaki. pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu. tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Bahkan. ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi ―milik‖ perempuan. kita kenal ungkapan (maaf) pukoima. Ungkapan emosional seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. Sebuah hasil penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil. papleumo. Kemudian. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang ―tabu‖ atau pantang. Beberapa Kasus Hasil penelitian terdahulu oleh para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki.

WHO memberi batasan gender sebagai "seperangkat peran. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa . Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Selamat memperingati Bulan Bahasa. mengenal kata benda "maskulin" dan "feminin" (beberapa juga mengenal kata benda "netral"). Semoga bahasa kita tetap jaya. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. dalam suatu masyarakat. Hal semacam ini tentu saja berpengaruh pada relasi gender. kegiatan. yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti di atas sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. yang dikonstruksi secara sosial. dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan. walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Ilmu bahasa (linguistik) juga menggunakan istilah gender (alternatif lain adalah genus) bagi pengelompokan kata benda (nomina) dalam sejumlah bahasa. sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Banyak bahasa. sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. perilaku. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender". gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Dengan kata lain. yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat. seperti dalam kasus waria. ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Namun demikian. Gender (cara pengucapan: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Dalam isu LGBT."[1] Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis. dibolehkan membunyikan ―Z‖.perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf ―Z‖ sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. Dalam konsep gender. Sebagai ilustrasi. Namun. penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. bagi para lelaki. yang terkenal dari rumpun bahasa Indo-Eropa (contohnya bahasa Spanyol) dan Afroasiatik (seperti bahasa Arab).

senang atau tidak. Singkat kata. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. Dalam hal ini. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian. tindakan. Dengan perspektif gender. sistem ekonomi dan mata pencaharian.1) Itulah sebabnya. dan benda karya budaya. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing.adapun wanita lemah lembut manja . seakanakan yang salah memang budayanya. "bahasa menunjukkan bangsa"." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah . Sebagai wahana budaya. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. Dalam pengertian yang luas. BI bias maskulin. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa.. 1964: 79). inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. sistem kemasyarakatan. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. kesenian. Ingat. Bahasa adalah cermin budaya. bahasa juga merupakan wahana budaya. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. Greenberg (Samsuri. menarik diungkap di sini keyakinan J. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. sistem religi. Di sini. sebagai matra sentral Feminisme. Kebudayaan.H. Untuk diskusi ini. Mengapa BI memihak lelaki.. BI akan dibedah dari perspektif gender. Aktivitas noninstingtif--yang hanya bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). seperti yang banyak dipahami orang selama ini. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. dan bahasa (Koentjaraningrat. Di samping sebagai bagian. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau. Maka. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya. merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan.

hukum. etnis. yakni tuturan alamiah keseharian. 1986). penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach).4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. Dengan ancangan ini. Padahal. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. pada beberapa suku. yang akan membentuk realitas simbolis. berupa tuturan bahasa. keniscayaan struktur. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). data yang diambil tergolong data lunak (soft data). yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang.Dengan pendekatan verbal. interaksi manusia. dan inisiatif pengucapan. Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. Atau. dan . antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). Untuk telaah ketimpangan gender pun. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. tindakan. Dari segi kebahasaan. Dilihat dari kemurniannya. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). penyebutan keberadaan atau tindakan. ini tidak keliru. survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. dan kelompok sosial lain. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. Dengan ini. jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis). masyarakat. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya. kekerasan. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan. yang membentuk realitas sosiobehavioral. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". Topik bincang dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. telaah ini bersifat interdisipliner. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya.3) Akan tetapi.Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. dst. Sebagai human instrument. dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. terutama dalam menyusun kategorisasi data. Soalsoal sosial-politik. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya.

bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. dan memang tidak harus jantan. raja copet. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten. dan bukan *bapak kota. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. dan ratu. nenek. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. jago nggambar. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. Riyanto yang sudah almarhum itu. Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. Layak dipertanyakan kebenaran ini. bapak koperasi. *ibu pembangunan. memang. dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. dan ratu adil. *babon matematika. *jago semang. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. untuk sesuatu yang bersifat garang. Siapa pun tahu. kesabaran. dewa perang. agresif. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. termasuk dalam hal menerima sebutan. *kakek moyang. Maka. kepasifan. dewi. Masalahnya. misalnya. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. raja judi. predikat. Dalam kosakata BI kontemporer. bapak pembangunan. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. nenek moyang. *dewa malam. dan damai. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. garang. *bapak pertiwi. induk semang.ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. seorang artis yang bernama Lisa A. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). misalnya. Semua setuju. ketenangan. perintis koperasi itu Mbak Tutut. ibu pertiwi. *ibu pendidikan nasional. dan *raja adil". dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. induk. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. jago matematika. Agaknya sudah menjadi "kodrat". diam. siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. raja siang ('matahari'). macan'). dan agresif itu. pemberani. Bung Hatta "Bapak Koperasi". putri. bapak pendidikan nasional. atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. *ibu koperasi. Riyanto. dewi malam ('bulan'). dan jelas bukan *ratu judi. Alih-alih dengan itu. nuansa kesan yang memancar adalah kedamaian. Setelah berumah tangga. putri malu (sejenis bunga). hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. *ratu copet. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai . *babon nggambar. Dengan memakai ibu. dewa maut. *putra malu. "ibu kota.

ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. WTS pun mesti dihapus. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. orang bisa menepuk dada. saya belum siap diprotes. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. mengajar. saya mau ke belakang". misalnya. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. adalah fakta bahwa "pria penghibur". Kata pelacur. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan. "*Ibu Koperasi". sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Lalu. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. "gigolo". dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". Dengan demikian. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. karena dipandang vulgar. Perasaan menjadi lega. harus "dihaluskan". seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. tenang. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini."*Ibu Pembangunan". Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat . ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. "teko". atau alumni madrasah tsanawiyah. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. memang ada. Jadi. Akan tetapi. Masalahnya lagi. Sehubungan dengan kajian ini. Untuk ini. dan tiba-tiba perutnya mules. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. Maka. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). ganti lagi dengan yang lain. "bandot".A. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. Jika boleh. konotasi yang muncul berbeda.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. barangkali kembali ke pelacur lagi. Atau. Tentu saja. semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. "bawon". R. anggun. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. menjijikkan. diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. Masalahnya. sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. jika PTS dipilih. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. Seseorang yang sedang makan siang bersama. itu soal lain. norak. Dan. indah.

remeh. Bu. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Saya: Gaji segitu besar lho. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. makna kata menjadi enteng. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. mengalah. patuh. Jadi. sebab ramai. Pernyataan "cuma istri. saya kan cuma istri. Hebat. Ini kan di atas gaji suami. Mereka malu mengakui. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil. Karena beban kondisi ini. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Cepet kaya. misalnya. sebagai survival strategy. melawan. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. hanya sekadar membantu suami saja. jadi tidak sekadar melengkapi. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". nanti. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. WK : Ah. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Aneh. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. Itu kan menurut situ. Padahal. akan sering muncul di sekitar kita. Dengan standar ganda ini. Bu. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. manakala saya tanyakan berapa gajinya. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang . Toh mereka merasa hanyalah figuran pendamping belaka. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. WK) berpenghasilan tinggi. WK : Ah. gaji tinggi melebihi suami kok malu. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. nggak juga. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Mengherankan. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain.Dengan degradasi.

yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. 1981). Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. "Perempuan saja kok macem-macem. Cuma perempuan. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Maka. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu. Biar dia yang ngurus. Perempuan saja kok macem -macem. Nduk. Sementara diam dan nerimo saja.. Inilah produk paling diskriminatif dari . Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya.. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Tentu saja. perempuan bisa menang. sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. kok di sini dipotong orang seenaknya. Aku kan bininya. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Malahan. Ee . Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. Nduk. Ibu ini tak salah. Lurah kok mau dilawan. Dipikir . Lagipula. Kita ini orang kecil. Ini urusan lelaki. sempurna sudah kekalahan mereka. Siang keras. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. kita itu kan perempuan to. Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. Nduk! AP : Mbok. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. ingat kamu itu perempuan lho. Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Jadi ya termasuk duitku juga. tapi ini kan duit laki saya.. Nggak ada ceritanya. Ini urusan lelaki. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho..bergender lelaki." katanya. bahkan tak tahu diri. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. Maka. dengan imbangan penghargaan yang tak sama..

dalam wacana di atas.. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. salah satunya dalam dunia pendidikan. atau malah pagi buta. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana. kita 'kan lelaki. (438) 3. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. seperti lingkungan kita ini. Siti masih sering pulang malam. . Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Ayah sudah berangkat ke kantor. percakapan. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Akan tetapi. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. (473) . (460) 4. Ingat kita ini kan lelaki. *Bejo: Iya ya. Ibu menjahit baju. misalnya. ini urusan lelaki. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. kalau boleh menduga.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. perhatikan dialog rekayasa berikut. Ibu memasak di dapur. Aku bermain layang-layang. Adikku yang manis menimang boneka. (463) 5.pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). Lelaki saja kok macammacam. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. khususnya dalam buku-buku bacaan. Malahan. atau peristiwa tutur lainnya. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. 427) 2. Ibu sedang memasak. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. 1. Oleh karena itu. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. Masak mau menuntut pak lurah. 1979: 205). (hal. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. entah sadar entah tidak. Sebagai bandingan. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah.. Apa sih jeleknya orang ngalah. sedangkan ayah sedang membaca koran. Kan nggak pantas.

sedikit. "tinggi". itu mungkin saja. penting. ini bukan barang aneh. sepele. agak besar. dari perempuan. kesan remeh. (6). hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. Padahal. yang memang membahas kalimat dan wacana. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut perempuan". tebal) dan bukan yang minor (ringan. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. tinggi. menohok perempuan. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. Dalam kontinum tersebut. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup.15cm itu memang tergolong . (3). lelakilah yang mendominasi pembicaraan. misalnya. misalnya mencakup dari sangat besar. Jumat malam meninggal secara mendadak. besar. sampai sangat kecil." (biarpun 0. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. Kontinum standar "besar".7) Sebutan Negatif. jika bab-bab lain ditelaah. Akan tetapi. Dokter H. Sementara. Begitulah. Kalau dicermati. mitos soal-soal besar. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1). Akan tetapi. Kamaruzzaman (52 tahun). semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Spender (1980). Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). (477) 7. Padahal. hasilnya sama saja. Oleh karena itu. Jadi.15cm". Coba diandaikan. misalnya. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. rendah. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. hanya seorang yang perempuan. hanya layak untuk lelaki. melontarkan interupsi. dan "banyak". kecil. bahkan mungkin lebih negatif. Pada kalimat (1). kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0.15cm. Direktur RSU Dr. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. (5). Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). sedangkan pada kalimat (2). yang menentukan segalanya. misalnya. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. Jika ungkapan mulut perempuan. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. Bahkan. tipis). yang hanya mengganggu saja. kecil. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. banyak. dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". Zainal Abidin. agak kecil. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. dasar betina.6. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. menempati kesan buruk. demikian juga "berat". meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. dll. dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. menurut pengamatan D. Banda Aceh. pantas dikenakan pada perempuan.

Itu 'kan khas perempuan. Akan tetapi. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. Mengapa demikian? Ya. cengeng. Lelaki pakai rok? "Ah. jantan >< betina. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. malu-malu. entah lelaki entah perempuan. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. grogi" bukan standar. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. Barangkali. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? 8. 10. ini harus ditegaskan lagi. feminin >< maskulin. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. memang tidak ada "*sangat lelaki". untuk memandang gender perempuan/feminin pun. yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. hakikatnya. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". seorang perempuan yang "tomboy". 9. pasif. "*lebih betina". Oleh karena itu. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. lain fakta. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. hakikatnya. standar. sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. jika yang . artinya sudah standar. "*agak perempuan". Umumnya orang. Sebagai standar. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. yang berbau perempuan itu nonstandar. lamban. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Dina memakai celana. Bukankah standarnya selalu "celana. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). orang pun latah. bandingan. lain konsep. tetapi jika yang disebut mahasiswi. sentimentil. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. tegar. yakin. Maka. malu-malu. sudah "kodrat". dan rasional. "sastrawan". apakah orang sudah paham pasti. keluar keringat dinginnya. itu sudah semestinya. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. Jangan lupa. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. Sebaliknya. Barisan lelaki dianggap superior. "polisi" saja. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". rujukan. sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. Dalam realitas empiris. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". 11.8) Maka. misalnya. grogi. orang akan mempersembahkan konotasi positif.relatif tipis). Cowok atletis itu malu-malu. sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. Doni mengenakan rok mini. "rok mini. Maka. yang tidak negatif. Oleh karena itu. Maka. PD". Sebab. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan.

ketika D. Dalam kebudayaan Barat. kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut.dimaksud adalah oknum perempuan. aku masih bisa menerima. Dalam kultur masyarakat kita. Dalam keadaan terpaksa. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. apa salahnya. ini tercermin dalam bahasanya juga. Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik.. Maka. 1988. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. sabar atau tidak. "aku". dan bukan woman. "minta cerai dari". tetap saja. Denggan kondisi ini. "kamu".9) Lelaki memang menjadi standar. layak saja. tak ada pilihan lain. Biarpun begitu.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. dan "diceraikan oleh". 1993). untuk konsep manusia. sastra. 2. 1. "bercerai dari". dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. sehingga menjadi wanita wartawan . Alwi dkk. melainkan juga realitas kultur. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". "belum manusia utuh". untuk menyebut manusia pada umumnya. dan bukan *Woman Made Language. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. Spender mesti meminjam dulu kata man. meskipun sebenarnya aku masih cinta. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. misalnya. berkedudukan. sastrawan wanita. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. Maka. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. lelaki itu standar. predikat (P). Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. Dalam bahasa Inggris. kalau disebut man. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". berkuasa. soal bahasa bukan hanya struktur. lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. bahkan lebih gila lagi. aku akan menceraikannya. akan bertindak aktif dan menuntut. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. Sebab. masalahnya dia itu selingkuh. orang meminjam kata man. sekali lagi. sedangkan perempuan. Maka. akan tetapi jika disebut woman. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan . dan bukan woman. seorang perempuan dapat "kawin dengan". sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). Tetapi. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. dan polisi wanita (polwan). Tapi. sedang perempuan substandar. Maka. bukan kodratnya perempuan. Artinya. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. Maka.

orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. Aku sangat mencintainya. Tetapi. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. perempuan bereaksi. lain tidak. bukan karena struktur. Mengapa? Ya itu tadi. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. isyarat dan perhatian. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. dan pilihan konteks situasi yang tepat. meliputi: . Maka. makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. goblog. misalnya. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. "tidak langsung buka kulit. bebal. Akan kucium keningnya. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. akan kusayangi dia. perpacaranan.struktur. ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. Biasanya. atau resmi nikah. atau mungkin sebenarnya mengerti. jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. dalam dunia komunikasi (pergaulan. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. keluarga/perkawinan. Tetapi. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. perkencanan). budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. tampak isi". Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. aku ragu. Oleh karena itu. Jika nanti sudah menjadi milikku. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. tetapi tidak transparan. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. apa dia mau. tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. memprakarsai.

. Apalagi inisiatif ekspresi. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini.(a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. (b) sebutan pelecehan martabat. Dengan begini. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. khususnya terhadap eksistensi gender. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. bahasa ini mungkin bergender lelaki. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. terutama dalam menyikapi gender. Dalam posisi yang serba timpang ini. wanita dijajah pria . baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. dan (f) sebutan penstandaran gender. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Sebutan pelecehan martabat gender.. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. . sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. dan inisiatif ekspresi. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. pandangan hidupnya. sedang perempuan tersubordinasi.. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan berkembang. semacam WTS. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. lelaki mendominasi. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status.. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. Dengan demikian.

terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. TBBBI edisi II (1993).C. bodoh. juga Kweldju (1991). 2. Oktober 1996. Marginalisation and Rural Industry". bermain layanglayang). 6. Warta Studi Perempuan. dan hegemoni pria. 3. Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. 1. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. 4. subordinasi perempuan. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. . Buletin Yaperna. 1994. Siusana Kweldju. dan alat budaya. 4.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. ketimpangan gender. "Gender. Lihat Arief Budiman. ". sekadar contoh: Mies Grijns dkk.M. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami".H. 1994). Konsep ini dekat dengan seksisme. Ph. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks". abang. wadah. Muh. Periksa: Samsuri. 5. Warta Studi Perempuan. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. masyarakat. 32. bermain boneka). Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". Prisma XXV/5. 306--312). No. Cet. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. hal. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak.. 1975: 14--23. 1981). Lalamentik.). maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana.. supremasi kekuasaan lelaki. 1.Catatan 1. No. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. Vol. kuat. Vol. Vol. tak berdaya. No. pintar. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. Dengan begini. lih. 28 Oktober 1986. Edisi V. 1--14. 7--18. dari 11 penyusun. 24 Agustus 1996. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. Dengan pendekatan verbal. 7) TBBBI edisi I (1988). 5. An Introduction to Language. dan bahasa Indonesia. Rinehart and Winston. khususnya bab "Language in Society". hal. Mei 1996. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". hanya 1 orang saja yang perempuan (W. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. lemah. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Dalam hal ini saya (dkk. Kebudayaan. .D. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. 1993). selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. V (Fort Worth: Holt. LPK2I. Asfar. Inc. hanya 2 orang yang perempuan. dominasi lelaki. subbab 'Language and Sexim' (hal.

Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. He exercises authority diligenttly. 1981. you include women too. Budiman. sebab lelaki juga (harus) bisa... dan bukan kodrat (nature) perempuan. New York: State University of New York Press. she's mouthy . He is a man of the world.L. What is Patriarchy. Harding. hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita". Bahkan. He stands firm. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. yaitu menstruasi. II/16. dan F. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture).. When you say Man. D.7.. Lih. Coates.. . Opcid. Everyone knows that. Dalam pandangan kelompok ini. S. memasak. 1986. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. a man of great learning"... Pembagian Kerja secara Seksual. she slept her way to the top... New York: Cornell University Press. Tempo Interaktif. New Delhi: Kali for Women. . London: Longman. she's power mad . 1986). The Science Question in Feminism (Ithaca.. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. dan M." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134). 1997.. 1990.. Women. 1995. Frank. lebih tegas lagi. 1983. He's closemouthed.. you answerd... Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. He isn't afraid to say what is on his mind. Miller. 8. D.. two at noon.. . Sebagai contoh.. she's secretive.. J. K. A businessman is good on details. n. melahirkan. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. she's hard . LP3K Multimatra.. merawat rumah bukan monopoli perempuan. 9. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. 23 Juni. He follows through. F.. A. Daftar Pustaka Bhasin. Ashen. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. she's picky ... she doesn't know when to quit . 1980). Jupriono. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Fromkin dan Rodman. 1986. Spender. Lih. hal 307. berikut ini dikutipkan beberapa saja. mengasuh anak. Jakarta: PT Gramedia. she's been around . a businesswoman is pushy .. and three in the evening'. 'Man'. Language and the Sexes. Beverly Hills: Sage Publication. Kirk. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. You didn't say anything about women. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. He climbed the ladder of success. Reliability and Validity in Qualitative Research. J. 6) menulis: "A businessman is agressive.

Singkat kata. Samsuri. pemakaiannya. S. Dengan perspektif gender. Pengertian bahwa kebudayaan adalah kesenian.. Aktivitas noninstingtif--yang hanya . FSU in the Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia D. Di sini. 1959?) Pendahuluan: Masyarakat. dan Bahasanya Benarkah bahasa Indonesia (BI) berjenis kelamin lelaki? Beragam jawaban bisa disodorkan. Dalam pengertian yang luas. Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. 1993. sebagai matra sentral Feminisme. inilah soalnya! Dengan sedikit penyederhanaan. Mengapa BI memihak lelaki. nanti akan dibuktikan bahwa BI lebih memihak penutur lelaki ketimbang perempuan biarpun jelas sekali bahwa BI juga dituturkan oleh separuh masyarakat wanita. seakanakan yang salah memang budayanya. mengapa pula keduanya tidak diletakkan dalam garis egaliter? Karena. Kebudayaan. seperti yang banyak dipahami orang selama ini. boleh dikatakan bahwa pembiasan gender itu terjadi karena masyarakat Indonesia juga meletakkan lelaki pada tataran lebih tinggi di atas perempuan. BI akan dibedah dari perspektif gender. BI bias maskulin. wanita dijajah pria sejak dulu (Ismail Marzuki. apa yang disebut kebudayaan mencakup seluruh aktivitas noninstingtif masyarakat tertentu. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. 1996. dan implikasi kemasyarakatannya.Kweldju. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Bahasa Indonesia. senang atau tidak. Jupriono dijadikan alam pria dan wanita dua makhluk dalam asuhan dewata ditakdirkan bahwa pria berkuasa adapun wanita lemah lembut manja . merupakan pengertian yang sempit dan disempitkan. Mengapa masyarakat "menjunjung" lelaki dan "menjinjing" perempuan? Mengapa tidak sebaliknya? Atau.. kebudayaan yang dihasilkan dan diikuti masyarakat pun memihak lelaki! Kebudayaan? Di sinilah kita mendudukkan kebudayaan sebagai terdakwa.

1986). dst. 1986) bahwa: "Language may no longer be conceived rather be viewed as part of the whole and functionally related to it. interaksi manusia. Padahal. menarik diungkap di sini keyakinan J. sistem kemasyarakatan.Dengan pendekatan verbal. Instrumen yang dipakai adalah kemampuan penelaah itu sendiri. Sumber data dalam telaah ini diambil dari latar alami (natural setting). Maka. Dalam hal ini. 1964: 79). kekuasaan (termasuk kekuasaan lelaki atas perempuan). Soalsoal sosial-politik. Dengan ini. hukum.1) Itulah sebabnya. Di samping sebagai bagian. dan benda karya budaya. tindakan. terutama dalam menyusun kategorisasi data. Teknik ini akan dilengkapi dengan domain analysis. ini tidak keliru. kesenian.3) Akan tetapi. manusia dapat menghasilkan data berketerpercayaan cukup tinggi sebab hanya manusia sendirilah yang sanggup memahami keseluruhan konteks dan perilaku kehidupannya. Bahasa adalah cermin budaya. orang harus mempelajari bahasa masyarakat yang bersangkutan sebagai konteksnya. Greenberg (Samsuri. yang membentuk realitas sosiobehavioral. bahasa akan merekam semua aktivitas masyarakatnya.4) Pendekatan verbal bisa membuktikan bahwa "lelaki menang. Dengan ancangan ini. antara Linguistik dan Studi Perempuan (Women Study). Dari segi kebahasaan. masyarakat. sistem ekonomi dan mata pencaharian. yang akan membentuk realitas simbolis. Untuk diskusi ini. jika ingin mengetahui unsur-unsur budaya suatu masyarakat secara keseluruhan. kenyataan bahasa sebagai salah satu unsur bagian dari budaya perlu digarisbawahi. Ingat. Topik bincang . keterpurukan nasib perempuan dalam bayangan cengkeraman kekuasaan lelaki--sebagai cermin paling mencolok dari apa yang biasa disebut sebagai ketimpangan gender. dan bahasa (Koentjaraningrat. sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). "bahasa menunjukkan bangsa". bahasa juga merupakan wahana budaya. yang sebenarnya sudah sering diterapkan orang. penyorotan akan dilakukan dengan pendekatan verbal (verbal approach). dan bukan angka-angka (Kirk dan Miller. Untuk telaah ketimpangan gender pun. data verbal yang masuk akan dikaji dengan analisis isi (content analysis).H. jelas sekali bahwa dengan begitu ketimpangan ini lebih banyak disoroti dari sisi perilaku masyarakatnya saja.2) Bagaimana cara mencandra semua masalah di atas--inilah soal metodologisnya." Telaah Interdisipliner: Metode dan Rumusan Masalah Telaah ini menerapkan ancangan (approach) kualitatif etnografis. akan dipersoalkan perihal tersubordinasinya perempuan oleh dominasi lelaki. lazimnya disoroti dengan pendekatan perilaku (behavioral approach). perempuan kalah" dapat dilihat dari bahasanya. Sebagai wahana budaya. Dengan pendekatan ini yang dicandra adalah perbuatan. data yang diambil tergolong data lunak (soft data). survei membuktikan bahwa ketimpangan gender juga dapat disorot dari segi kebahasaannya. Sebagai human instrument. kekerasan. Yang termasuk di dalamnya adalah peralatan dan perlengkapan hidup. yakni tuturan alamiah keseharian. bahasa pun tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur budaya lain di masyarakat itu.bisa diperoleh dengan belajar--berwujud gagasan. telaah ini bersifat interdisipliner. berupa tuturan bahasa. sebagai kaki tangan ideologi patriarki. sistem religi. Dilihat dari kemurniannya. tindakan.

termasuk dalam hal menerima sebutan. Wujud Ketimpangan Gender Masyarakat dalam Bahasa Indonesia Ketimpangan gender dalam bahasa Indonesia terungkap dalam wujud: nama penanda status keluarga/perkawinan.dalam tulisan ini adalah "Bagaimana saja wujud ketimpangan gender yang terungkap dalam bahasa Indonesia?". atau julukan untuk suatu tindakan atau keberadaan. induk semang. Alih-alih dengan itu. Maka. dan *raja adil". Jika Bambang dan Linda sudah dewasa. "ibu kota. putri malu (sejenis bunga). Rasanya betapa ganjilnya jika dipilih *Bambang Juminten dan *Linda Juminten. *jago semang. nuansa kesan yang memancar adalah . jika pada komunitasnya tidak mengenal adat itu. ibu pertiwi. Riyanto yang sudah almarhum itu. Sebutan yang Maskulin dan Feminin Beberapa kosakata sebutan klasik juga membelah manusia menjadi sebutan yang bersifat feminin dan sebutan yang berbau maskulin. dan bukan *bapak kota. induk. saat dewasa yang dipilih sebagai nama tambahan adalah nama ayah dan bukan ibu. berayahkan Notosusanto dan beribukan Juminten. dewi malam ('bulan'). penyebutan keberadaan atau tindakan. dewi. dan ada keinginan untuk melanggengkan nama orang-tua. Setelah berumah tangga. misalnya. Masing-masing akan dibahas dalam bagian berikut. dan bukan sebaliknya: suami menambahi namanya dengan nama istrinya--sungguh mustahil! Maka. nenek moyang. Pemakaian Nama Penanda Status Keluarga/Perkawinan Sejak lahir dari guwagarba sang ibu. seorang artis yang bernama Lisa A. terbentuklah nama Bambang Notosusanto dan Linda Notosusanto. Atau. etnis. Misalnya seorang anak lelaki bernama Bambang dan anak perempuan bernama Linda. pada beberapa suku. Ketimpangan tersebut dapat dipilah-pilah lagi ke dalam ketimpangan sebutan berikut. misalnya. nasib lelaki dan perempuan masih tetap tidak sama. putri. Seorang istrilah yang lazim menambahi namanya dengan nama suaminya. terdapat adat mencantumkan nama ayah--dan bukan nama ibu!--di belakang nama anak. *putra malu. nenek. Dengan memakai ibu. manusia sudah dikotak-kotakkan ke dalam gender: "lelaki" dan "perempuan". *dewa malam. keniscayaan struktur. dan kelompok sosial lain. *bapak pertiwi. Untuk melanggengkan eksistensi keluarga. Untuk sebutan yang feminin kita kenal. dan inisiatif pengucapan. dan ratu adil. dan ratu. predikat. *kakek moyang. Riyanto. hampir bisa dipastikan ia anak dari komponis A. Penyebutan terhadap Keberadaan dan Tindakan Nasib perempuan dan lelaki tidak sama. yang ada Tien Soeharto dan bukan *Soeharto Tien. Setiap anak harus tunduk pada orang-tuanya. yang dipilih untuk ditambahkan adalah Notosusanto dan bukan Juminten.

kepasifan. untuk sesuatu yang bersifat garang. bapak pembangunan. Sebutan Pelecehan Martabat Gejala penghalusan pengucapan sesuatu--biasa disebut eufemisme--kadang memang menerbitkan kesan sopan. norak. jika kata WTS digencarkan dan pelacur dihapus. apakah kita sportif menyebut ketiga beliau itu sebagai "*Ibu Pembangunan". R. Layak dipertanyakan kebenaran ini. bapak koperasi. seakan di Indonesia tak ada pelacur lagi. harimau atau singa yang disebut raja hutan tadi belum tentu berjenis kelamin jantan. raja judi. Dalam konteks seperti ini eufemisme menemukan tempatnya untuk diterapkan. yang ada hanyalah wanita-wanita tuna susila saja. Dalam kosakata BI kontemporer. Agaknya sudah menjadi "kodrat". itu soal lain. tenang. ketenangan. Tentu saja. memang. dan jelas bukan *ratu judi. saya mau ke belakang". macan'). dan Ki Hajar Dewantara "Bapak Pendidikan Nasional". anggun. Kartini pun belum pernah disebut "Ibu Pendidikan" atau sebutan lain yang tidak menuansakan bias gender lelaki.kedamaian. Sebutan yang bercorak maskulin berkesan menguasai. Jadi. diam. "bawon". semua yang makan siang itu benar-benar menyadari bahwa acuan berak dan ke belakang adalah kurang lebih sama saja. agresif. harus "dihaluskan". bapak pendidikan nasional. *babon matematika. Semua setuju. Bung Hatta "Bapak Koperasi". *babon nggambar. kita pakai raja jalanan ('suka mengebut'). misalnya. andai saja--memang hanya andai-pelopor pembangunan itu Mbak Mega. apakah ini berarti bahwa yang nakal perempuan saja. Pak Harto disebut-sebut sebagai "Bapak Pembangunan". jago nggambar. Bahwa kebanggaan ini baru berada dalam tataran slogan. saya mau berak" jika ia belum siap dituduh tidak sopan. dewa maut. Dalam khasanah kosakata BI klasik kita temukan misalnya raja hutan ('singa. dan memang tidak harus jantan.p> Bagaimana eufemisme dalam pemartabatan lelaki-perempuan dalam dunia "kerja"? Masih tepatkah digunakan? Tidak semuanya. *ibu pembangunan. bahwa kata-kata ini diciptakan khusus buat yang serba pasif. adalah fakta bahwa "pria penghibur". diganti dengan wanita tunasusila atau WTS--dan justru singkatannya inilah yang lebih populer. dan agresif itu. dewa perang. Ia mesti menghaluskan pengucapannya: "Maaf. Siapa pun tahu. dan tiba-tiba perutnya mules. Sehubungan dengan kajian ini. kesabaran. dan tokoh pendidikan itu Bu Toeti Heraty. raja siang ('matahari'). "gigolo". sedangkan lelaki tak ada yang tunasusila? Padahal. orang bisa menepuk dada. Inilah cermin paling buruk dari pelecehan gender yang . garang. menjijikkan. raja copet. "*Ibu Koperasi". Masalahnya. Kata pelacur. perintis koperasi itu Mbak Tutut. Perasaan menjadi lega. dan dalam realitasnya tetap saja "emangnye gue pikirin". pemberani. dan damai. ia toh tak mungkin mengatakan "Maaf. indah. karena dipandang vulgar. Seseorang yang sedang makan siang bersama. Akan tetapi. jago matematika. *ibu koperasi. "bandot". siapa pun sulit menolak realitas bahwa seorang siswa yang dipredikati jago matematika belum tentu berkelamin lelaki. *ratu copet. konotasi yang muncul berbeda.A. dan "*Ibu Pendidikan Nasional"? Saya tidak berani berspekulasi. memang ada. "teko". *ibu pendidikan nasional.

Dan. saya kan cuma istri. Ini kan di atas gaji suami. saya akan mengusulkan istilah "pria tunasusila" atau PTS untuk yang satu ini. Itu kan menurut situ. WTS pun mesti dihapus. Lain lagi jika dipandang tidak usah ada tambahan istilah semacam LTS itu. nggak juga. Saya: Gaji segitu besar lho. remeh. dan diganti dengan kata baru lagi yang netral. layak sekali jika perempuan Indonesia tersinggung. Dengan ini pembagian kerja secara seksual benar-benar ada dan adil. Karena beban kondisi ini. yang memang merupakan masyarakat patriarkis. Pernyataan ini melemahkan realitas yang sesungguhnya: bahwa mereka benar-benar menolong suami dari banting tulang mencukupi kebutuhan. atau alumni madrasah tsanawiyah. Masalahnya. hanya sekadar membantu suami" merupakan pantulan dari rasa kikuk mereka. bagaimana? Jika istilah WTS tetap dipertahankan.5) Ini diskriminasi perlakuan seksual. Maka. ganti lagi dengan yang lain.menempatkan perempuan pelacur pada posisi yang lebih terlecehkan. mengajar. Mereka malu mengakui. bahkan sebagian dari mereka melebihi gaji suaminya. jika PTS dipilih. Mengherankan. Lalu. tetapi benar-benar menyelamatkan ketahanan ekonomi keluarga. Bu. sebagai survival strategy. hanya sekadar membantu suami saja. harus ada kata khusus untuk menunjuk pada lelaki pelacur. nanti. WK) berpenghasilan tinggi. yang mampu mewadahi baik WTS maupun LTS. Jika boleh. makna kata menjadi enteng. WK : Ah. barangkali kembali ke pelacur lagi. manakala saya tanyakan berapa gajinya. Begini saja: orang tunasusila (OTS)? Degradasi Konsep Martabat Dengan degradasi. Pernyataan "cuma istri. Masalahnya lagi. Atau. Bu. bahkan ujung-ujungnya bisa melenceng dari konsep dasarnya. akan sering muncul di sekitar kita. semisal "lelaki tunasusila" atau LTS. Untuk ini. ini jelas memerahkan telinga saudara kita yang belajar. Dengan demikian. jadi tidak sekadar melengkapi. bagaimana kalau saudara-saudara kita yang masih menderita itu kita sebut saja "manusia tunasusila" (MTS). WK : Ah. Degradasi terhadap perjuangan kerja perempuan. sekalipun lakon yang dijalani sama persis dengan lelaki pelacur. Apa salahnya? Perhatikan kutipan wawancara berikut! Saya: Wah gajinya besar dong. Hebat. misalnya. mahasiswa perguruan tinggi "luar negeri" se-Indonesia akan memprotes keras. saya sering melihat kekikukan ibu pekerja ("wanita karier". saya belum siap diprotes. gaji tinggi melebihi suami kok malu. Jadi. Cepet kaya. Toh mereka merasa .

Cuma perempuan. khawatir menyaingi dan menyinggung suami. sama hak dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. semantara suami tercinta adalah aktor utama kepala keluarga. Siang keras. Adalah bukti juga bahwa biarpun bergaji lebih kecil.. Ee .hanyalah figuran pendamping belaka. Kita ini orang kecil. Nduk. Kebanyakan dari mereka mengidap semacam "sindrom takut sukses" (fear of success syndrom). Aku kan bininya. Dipikir . mengalah. tapi ini kan duit laki saya.. Padahal. perhatikan! Ibu: Kamu nggak bisa begitu. Lagipula. patuh. Apa dikira di sana dia malam dia kerja keras kayak kuda. jadi memang hanya sekadar membantu--dalam arti yang sesungguhnya--seorang suami memilih berkelahi ketimbang harus mengakui: "*Ah. Lurah kok mau dilawan. Dengan standar ganda ini. perempuan bisa menang. Nduk. sebab ramai. Berikut ini cuplikan obrolan ibu dengan anak perempuannya (AP) yang hendak menuntut Pak Lurahnya yang telah memotong kiriman duit dari suami di perantauan (Malaysia) perempuan itu.. Nggak ada ceritanya. kok di sini dipotong orang seenaknya. ingat kamu itu perempuan lho. semestinya tak ada lagi pemasungan gender satu dan pemerdekaan gender lain. saya ini 'kan cuma sekadar membantu penghasilan istri?" Sebutan Pembatasan Berkebebasan Jika orang percaya bahwa lelaki dan perempuan diciptakan sama-sama dari tanah. melawan. perempuan dipaksa oleh kulturnya untuk selalu diam. dan sifat agresif lainnya hanya boleh dilakukan oleh sesamanya yang bergender lelaki. Aneh. Jadi ya termasuk duitku juga. tapi bukti berbicara bahwa tidak sedikit suami merasa terusik cengkeraman hegemoninya menerima kenyataan ini. Nduk! AP : Mbok.. Perempuan saja kok macem . Di Malaysia dia kan kerja cuma kluyuran tok. mereka banar-benar bekerja! Itu memang hak dan buah kegigihan mereka. Emangnya duit kakeknya! Ibu: Kamu itu dinasihati kok sukanya ngeyel. Bagaimanapun dia itu wong dhuwur lho. kita itu kan perempuan to..

sedang lelaki sebagai penguasa sektor publik (Budiman. Aku bermain layang-layang. Pembagian kerja secara seksual juga menempatkan citra (image) apa yang selayaknya pantas muncul dan apa yang haram nongol dalam wacana.-macem. Kan nggak pantas. bahkan tak tahu diri. Maka. mungkinkah dialog antarlelaki berikut dapat kita temui? *Gede: Sudahlah kita mengalah saja. Apa sih jeleknya orang ngalah. Dia memang hidup dalam penjara budaya masyarakat yang patriarkis. tetapi juga karena gender mereka yang bukan lelaki. Di sini masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Lelaki saja kok macammacam. dengan imbangan penghargaan yang tak sama. Maka. Soal gugat-menggugat--menggugat pak lurah lagi-bukan kawasan garapan perempuan. perhatikan dialog rekayasa berikut. Biar dia yang ngurus. merupakan fakta yang tak terbantahkan dalam pembagian yang tak adil ini. Inilah dampak nyata hegemoni ideologi patriarki. salah satunya dalam dunia pendidikan. ibunya sebagai sesama perempuan pun tidak berpihak kepadanya. Ibu menjahit baju. Ibu ini tak salah. Adikku yang manis menimang boneka. Ingat kita ini kan lelaki." katanya.. "Perempuan saja kok macem-macem. ini urusan lelaki. Inilah produk paling diskriminatif dari pembagian kerja secara seksual (sexual division of labour) (Beneria. 1981). atau peristiwa tutur lainnya. lelaki di sekitarnya akan memandang AP sebagai perempuan aneh. Sebagai bandingan. Ibu memasak di dapur. *Bejo: Iya ya. 1979: 205). . khususnya dalam buku-buku bacaan. . Masyarakat luas menerima pandangan ini sebagai kebenaran. Oleh karena itu.6)      Ayah memperbaiki mesin mobil. percakapan. Dalam kasus ini AP dan Ibu tidak hanya menderita karena mereka wong cilik (rakyat jelata). Masak mau menuntut pak lurah. sempurna sudah kekalahan mereka. Realitas citra ini begitu kuatnya sehingga melembaga ke dalam berbagai matra kehidupan. Pada masyarakat yang kebudayaannya berada dalam cengkeraman hegemoni lelaki. Sementara diam dan nerimo saja. Mbok tunggu saja nanti kalau lakimu sudang pulang. yang secara tegas menempatkan perempuan sebagai perawat sektor domestik. Dalam fragmen wacana di muka dipertentangkan soal apa yang pantas dan apa yang tabu dilakukan oleh perempuan. Ini urusan lelaki. Ini urusan lelaki. Tentu saja. yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat berikut. Ungkapan bahwa soal menggugat pak lurah. seperti lingkungan kita ini. kita 'kan lelaki.. dalam wacana di atas. Malahan.

tindakan dalam wilayah semantis kultural misalnya bahasa yang mendukung perobohan tembok ketimpangan gender itu belum muncul juga. Akan tetapi. sedangkan ayah sedang membaca koran. Aku suka kepada wanita itu sebagai sekretaris. tetapi jelas akan menyusahkan sekali sebagai kawan hidup. Begitulah. dan (7) mengukuhkan lelaki melenggang di sektor publik (public sphere). (5). Direktur RSU Dr. (473) 6. Padahal. (463) 5. Kalimat-kalimat yang dicontohkan. Semua pihak menyadari bahwa pembagian kerja secara seksual itu tidak adil dan hanya membuang sia-sia energi perempuan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pembangunan. Kalau dicermati. Ayah sudah berangkat ke kantor. 1. boleh jadi justru merupakan upaya melanggengkan kemapanan status quo hegemoni patriarki di masyarakat kita. mitos soal-soal besar. Pada kalimat (1). hanya seorang yang perempuan. karena yang distereotipekan cerewet adalah perempuan. tampak benar bahwa kalimat-kalimat ini memang bias gender: memihak lelaki.7) Sebutan Negatif. Sementara. hidup bergumul dengan masyarakat yang mendominankan nilai lelaki dan mensubordinasikan nilai perempuan. jika bab-bab lain ditelaah. ini bukan barang aneh. menohok perempuan. Kamaruzzaman (52 tahun). (460) 4. kesan remeh. dalam kenyataan lelaki pun sama saja. (477) 7. Malahan. Jadi. tampak benar tidak bebas muatan politik gender maskulin. jika mereka terperangkap dalam budaya patriarki seperti itu. yang menentukan segalanya. kalau boleh menduga. semua penulis TBBBI adalah masyarakat Indonesia. Suami Lastri baru pulang dari Amsterdam. Coba diandaikan. hanya layak untuk lelaki. Ibu sedang memasak. muncullah ungkapan "dasar mulut nenek-nenek" atau "dasar mulut . Akan tetapi. yang hanya mengganggu saja. Apalagi--harap tahu saja--92% dari tim penyusunnya lelaki tulen. kecil. pantas dikenakan pada perempuan. Siti masih sering pulang malam. itu mungkin saja. sedangkan pada kalimat (2). dan dia sangat menyenangkan sebagai kawan. Perhatikan kutipan dari TBBBI berikut. (6). bahkan mungkin lebih negatif. (hal. dan (4) perempuan dipaksa berkutat di kesumpekan kawasan domestik (domestic sphere). (3). Zainal Abidin. dari perempuan. entah sadar entah tidak. Akan tetapi. apakah yang bekerja di kantor hanya dimonopoli ayah? Kalimat (2) pembaca pasti menarik kesan negatif pada Siti yang pasti perempuan itu. Ibunya terus menjahit sampai tengah malam sungguhpun dia telah merasakan adanya kelainan dalam dadanya. misalnya. 427) 2. Sebutan Positif Berdasarkan kategori ini. Jumat malam meninggal secara mendadak. pembakuan bahasa Indonesia lewat penerbitan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pada 1988 (edisi II 1993). sepele. Dokter H. hasilnya sama saja. atau malah pagi buta. Banda Aceh.Gelegar sadar kemitrasejajaran membahana membubung tinggi saat ini. Bahwa contoh-contoh kalimat itu ditulis hanya secara kebetulan. yang memang membahas kalimat dan wacana. penting. (438) 3. (478) Contoh-contoh ini diambil secara acak dari dua bab terakhir. jika Siti diganti Suto (ini pasti lelaki) apakah yang muncul tetap kesan minor? Mengapa hanya lelaki yang pantas begitu? Kalimat (1).

misalnya. segala perilaku lelaki yang distereotipekan masyarakat harus diikuti. Maka. Kenyataan yang menguntungkan diterima oleh kaum lelaki. tegar. hakikatnya. kewanita-wanitaan akan dipandang negatif: "Lelaki kok begitu". Mengapa demikian? Ya. meskipun dasar laki-laki sebenarnya juga minor. dalam percakapan tentang berat badan dan tebal papan. menempati kesan buruk. seorang perempuan yang "tomboy". sementara perempuan dicatat lebih banyak bertanya menanggapi lelaki. Spender (1980)." (biarpun 0. sentimentil. kelompok gender lelaki/maskulin selalu dijadikan ukuran. Dalam kontinum tersebut. tidak demikian halnya dengan bersikap jantan. dan pasti bukan "*Berapa ringan badanmu?" dan "Tipis papan kayu ini 0. "*lebih betina". Barisan lelaki dianggap superior. tebal) dan bukan yang minor (ringan. Jika ungkapan mulut perempuan. posisinya terkesan lebih "mahal" di atas dasar betina. misalnya. bandingan. tinggi.15cm. banyak. tipis). sedangkan perempuan selalu ditempatkan pada stereotipe emosional. itu sudah semestinya. bukan yang minor! Bagaimana dalam ranah pergenderan? Ini baru masalah! Seperti diketahui. malu-malu. Padahal. lamban. yang tidak negatif. Sebagai standar. menurut pengamatan D. Seorang lelaki harus bersikap laki-laki. kalimat yang mungkin muncul adalah "Berapa berat badanmu?" dan "Tebal papan kayu ini 0.8) Maka. sudah "kodrat". Dalam realitas empiris. besar. Barangkali. feminin >< maskulin. kesan apa yang muncul mendengar/membaca kalimat-kalimat berikut? .perempuan". Oleh karena itu. sedikit. lelakilah yang mendominasi pembicaraan. untuk memandang gender perempuan/feminin pun. memang tidak ada "*sangat lelaki". dan rasional. Sebaliknya. Bahkan. memang begitu: bahwa yang ditetapkan sebagai standar pasti yang mayor. demikian juga "berat".15cm". misalnya. standar bakunya juga kebakuan lelaki/maskulin. dan "banyak". dan bukan "*dasar mulut kakek-kakek" atau "*dasar mulut lelaki". Maka. asal masih mau dandan dan berparfum-menerima nasib yang berbeda. dll. Sebutan Penstandaran Gender Adalah realitas kehidupan bahwa di dunia ini selalu ada sesuatu yang berada dalam garis kontinum. misalnya. inilah sebabnya mengapa yang ada adalah "putri malu" dan bukan "*putra malu". yang pantas menduduki posisi kepala keluarga adalah ayah dan bukan ibu. Lelaki yang terkesan klemar-klemer. dasar betina. sampai sangat kecil. "tinggi". lazimnya yang dipakai sebagai ukuran (standar) adalah posisi yang mayor (berat. rujukan. kecil. agak kecil. agak besar. jika seorang perempuan terlihat malu-malu. Oleh karena itu. standar. Akan tetapi. Oleh karena itu. pasif. tidak bisa konsep dasar dikotomi gender ini ditempatkan pada garis kontinum. melontarkan interupsi. jantan >< betina. misalnya mencakup dari sangat besar. jika ingin disebut jantan atau lelaki sejati. "*agak perempuan". yang kelaki-lakian--asal tidak terlampau jauh saja. cengeng. hanya ada dua kontras gender: lelaki >< perempuan. Kontinum standar "besar".15cm itu memang tergolong relatif tipis). hakikatnya. lain fakta. lain konsep. rendah.

11.9) Lelaki memang menjadi standar. sedangkan perempuan. grogi. grogi" bukan standar. orang akan mempersembahkan konotasi positif. kalau disebut man. Undang-undang perkawinan (katanya sih) begitu. Sebab. yang bener aja!" Bisa-bisa yang bersangkutan dianggap miring. akan bertindak aktif dan menuntut. "belum manusia utuh". sebab ciri-ciri yang disosokkan kedua perempuan itu sudah maskulin. artinya sudah standar. jika yang dimaksud adalah oknum perempuan. sastra. dan polisi wanita (polwan). Realitas simbolis ini memantulkan anggapan diamdiam bahwa jurnalistik. yang dimaksud adalah baik mahasiswa lelaki maupun mahasiswa perempuan. untuk menyebut manusia pada umumnya. Jangan lupa. dan bukan woman. ini tercermin dalam bahasanya juga.10) Keniscayaan Struktur akibat Konvensi Kebudayaan Masyarakat Dalam kebudayaan kita. sastrawan wanita. apakah orang sudah paham pasti. ada kesepakatan legal membudaya bahwa yang bisa "mengawini" dan "menceraikan" adalah lelaki. Cewek seksi itu tampil yakin dan penuh percaya diri. Dalam bahasa Inggris. langsung bisa ditebak siapa yang diacu "saya". sebagai akibat dari penetapan gender lelaki sebagai standar? Sebaliknya. yakin. dan bukan woman. "polisi" saja. layak saja. entah lelaki entah perempuan. Spender bermaksud menggambarkan bahwa manusialah pencipta bahasa. sehingga menjadi wanita wartawan . bahkan lebih gila lagi. Spender mesti meminjam dulu kata man. Cowok atletis itu malu-malu. tetapi jika yang disebut mahasiswi. dia hanya bisa "minta dikawin" dan "minta diceraikan". keluar keringat dinginnya. Itu 'kan khas perempuan. Umumnya orang. PD". ketika D. ini harus ditegaskan lagi. sedang perempuan substandar. dan khawatir: jika hanya disebut "wartawan". dan bukan *Woman Made Language. malu-malu. "rok mini. sabar atau tidak. "sastrawan". sekali lagi. yang berbau perempuan itu nonstandar. Maka. Maka. misalnya. hanya bisa "dikawin" dan "diceraikan" saja. Doni mengenakan rok mini. "kamu". Inilah biang kerok persoalan realitas simbolis bahasa: bahwa jika disebut mahasiswa. Dalam keadaan terpaksa. pihak perempuan yang merasa sudah tidak percaya lagi pada lelaki. akan tetapi jika disebut woman. akan berkonotasi negatif terhadap kalimat (8) dan (10). . Sebab. "aku". Bukankah standarnya selalu "celana. ia menjuduli bukunya Man Made Language (1980). 10. tetap saja. Dalam kebudayaan Barat. yang diacu pastilah 'hanya perempuan'. Maka. lelaki itu standar. Dina memakai celana. orang meminjam kata man. bukan kodratnya perempuan. terhadap Dina dan cewek seksi itu pada kalimat (9) dan (11). untuk konsep manusia. Lelaki pakai rok? "Ah. 9. yang dimaksud pastilah hanya mahasiswa perempuan.8. dan kepolisian itu seakan-akan sektor garapan lelaki. Denggan kondisi ini. Maka. Biarpun begitu. yang dimaksud adalah 'baik lelaki maupun perempuan'. sebenarnyalah tersirat juga anggapan bahwa yang lebih banyak menentukan adalah lelaki. dan "dia" dalam kalimat-kalimat berikut. Artinya. orang pun latah.

"tidak langsung buka kulit. Dalam kultur masyarakat kita. dalam dunia komunikasi (pergaulan. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ekspresi atau prakarsa pengucapan berada di tangan lelaki. dan pilihan konteks situasi yang tepat. misalnya. kalimat semacam "Joko mengawini Leli" atau "Leli diceraikan Joko" berada dalam keniscayaan struktur. Maka. dengan pola urutan ketat P-O dengan letak S dan K manasuka. predikat (P). perempuan bereaksi. entah karena memang lelaki ini tergolong tidak mengerti. isyarat dan perhatian. Saya mau mengawinimu asal kamu tidak menuntut macam-macam. dan berinisiatif adalah pihak lelaki. Inisiatif Ekspresi dalam Komunikasi Entah sampai kapan. Tetapi. bebal. berkedudukan. melainkan juga realitas kultur. Perempuan yang "kebelet" nekat terus terang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ("Aku cinta kamu") harus siap disoroti dengan nada minor: Perempuan kok begitu! Tetapi. tetapi tidak dapat "mengawini" atau "menceraikan" lelaki (Moeliono & Dardjowidjojo. 1988. "bercerai dari". 1993). ia akan menyelubungi gejolak perasaan yang diekspresikan dengan kata-kata samar. Tetapi. Kepastian struktur ini mengukuhkan dirinya karena kultur. berkuasa. perpacaranan.. tetapi tidak transparan. dibantu dengan sikap sedikit malu-malu. Repotnya kalau sang lelaki tidak segera menangkap isyarat itu. tampak isi". Seandainya sekadar boros dan cerewet saja. yang sering terjadi adalah lelaki yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Maka. dan "diceraikan oleh". jelas bahwa yang oleh masyarakat dianggap wajar dan pantas memulai. Dia menyiumpan sebuah rekayasa simbolis: tetap lebih dahulu menyatakan perasaannya. perempuan mendahului "menyergap" itu soal lain. Sungguh utopis! Dalam tuntutan struktur bahasa. obsesi perempuan untuk dapat mengawini dan menceraikan lelaki benar-benar bagai menunggu tenggelamnya perahu gabus atau terapungnya batu. aku akan menceraikannya. atau mungkin sebenarnya mengerti. Mustahilkah perempuan menyatakan perasaan cintanya terlebih dahulu? Tidak juga. "minta cerai dari". tetapi pura-pura tidak tahu: sungguh celaka! . lebih tinggi statusnya daripada lelaki? Selama jarum sejarah budaya masyarakat masih berputar pada lingkaran ideologi patriarki. memprakarsai. Tapi. meskipun sebenarnya aku masih cinta. seorang perempuan dapat "kawin dengan".1. Alwi dkk. kebiasaan yang dianggap wajar dan baik adalah lelakilah pengambil inisiatif pertama. masalahnya dia itu selingkuh. aku masih bisa menerima. Oleh karena itu. perkencanan). soal bahasa bukan hanya struktur. Bahwa setelah mereka resmi pacaran. Tugas masing-masing terbelah tegas: lelaki beraksi. bukan karena struktur. Bagaimana seandainya pihak perempuan yang lebih kaya. kalimat "*Leli mengawini Joko" atau "*Joko dicerai Leli". makhluk Tuhan yang satu ini tak kehabisan taktik. lelakilah yang mengirimi surat cinta lebih dulu. Memang terjadi dan tidak hanya satu dua. Biasanya. sepanjang ada fungsi gramatikal subjek (S). kemudian juga objek (O) dan keterangan (K). 2. sedang perempuan hanya pantas menunggu dan merespon inisiatif sang lelaki pujaan. tak ada pilihan lain. atau resmi nikah. apa salahnya. goblog.

Maka. lain tidak. aku ragu. Mengapa? Ya itu tadi. tampaknya yang mungkin bisa berubah adalah penambahan nama penanda status. pembaca atau pendengar mana pun segera dapat menarik implikasi konvensionalnya (Samsuri. sebagian penyebutan keberadaan dan tindakan. Kubelai rambutnya dan kuremas jarinya yang lentik itu. bisa jadi akan tergeser sejalan dengan kesadaran perempuan bahwa yang bisa bertuna susila bukan hanya monopoli perempuan. (d) sebutan pembatasan berkebebasan. apa dia mau. budaya masyarakat telah memagari simbol dan mempedomani interpretasi terhadap simbol-simbol bahasa itu. pandangan hidupnya. dan (4) inisiatif ekspresi dalam komunikasi. dan (f) sebutan penstandaran gender. Meskipun tidak disebut eksplisit siapa "aku" dan "dia" dalam kutipan ini. Jika nanti sudah menjadi milikku. 1996): siapa yang dirujuk oleh kata aku (ku) dan dia (ia) dalam kutipan berikut. Quo vadis ketimpangan gender ini? Dari keempat deskripsi ketimpangan gender dalam BI ini. Akan kucium keningnya. meliputi: (a) sebutan kemaskulinan dan kefemininan. Ada gejala sebagian perempuan karier tidak lagi menambahi namanya dengan nama ayah atau suaminya. Simpulan: Mau ke mana Bahasa Indonesia? Ketimpangan gender masyarakat Indonesia tercermin ke dalam BI berwujud: (1) penambahan nama sebagai penanda status (2) penyebutan keberadaan dan tindakan. (b) sebutan pelecehan martabat. dan inisiatif ekspresi. sekarang rasanya bukan aneh jika perempuan lebih dulu menyatakan cintanya. Perubahan ini akan terjadi sejalan dengan perubahan masyarakat berikut nilai. Tetapi. bisa diprediksikan pada masa-masa mendatang fakta ini akan . Sebutan pelecehan martabat gender. (e) sebutan kenegatifan dan kepositifan. semacam WTS. (3) keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan. Aku sangat mencintainya. khususnya terhadap eksistensi gender. (c) sebutan degradasi konsep dasar martabat. Apalagi inisiatif ekspresi. orang tidak akan salah menangkap siapa "aku" dan "dia" tersebut: "aku" pasti lelaki dan "dia" niscaya perempuan. akan kusayangi dia. Sekalipun yang terakhir ini lebih merupakan kasus parsial sporadis belaka.Inisiatif ekspresi semacam ini merupakan sebuah konvensi budaya. keluarga/perkawinan.

4. dan hanya bisa bergantung pada lelaki. 1993). tempat BI digunakan dan peluang BI mewahanai kehidupan itu.. subbab 'Language and Sexim' (hal. tinjauan sekilas terhadap ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Karena bahasa mewadahi realitas masyarakat yang timpang seperti itu. Prisma XXV/5. Dengan begini. V (Fort Worth: Holt. wanita dijajah pria . terutama dalam menyikapi gender. sejak dulu" terus kita nikmati? Kita tak mungkin menjawabnya "Belum tahu dia!" sebab persoalan ini menyangkut semua segi kehidupan masyarakat. Dalam posisi yang serba timpang ini. 1994.berkembang. 1981). Konsep ini dekat dengan seksisme.. sedangkan pada sisi lain ia menjadi wahana. sekadar contoh: Mies Grijns dkk. 1975: 14--23.. Kertas Kerja Seminar Bulan Bahasa di FPBS IKIP Malang. Konvensi budaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendudukkan lelaki di atas segala-galanya. Catatan 1. sedang perempuan tersubordinasi. konvensi masyarakat memposisikan lelaki sebagai standar mutu. Buletin Yaperna. "Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian . Edisi V. subordinasi perempuan. . dan hegemoni pria. 2. Warta Studi Perempuan. Ideologi patriarki memandang bahwa wanita itu inferior. kuat. Kebudayaan. bodoh. "Gender. No. Dengan demikian. dan bahasa Indonesia. Dengan pendekatan verbal.. 28 Oktober 1986. bahasa Indonesia berada dalam genggaman lelaki. Rinehart and Winston. Pembagian Kerja Secara Seksual (Jakarta: PT Gramedia. Asfar. Mei 1996. Banyak sekali kajian yang menerapkan pendekatan perilaku. lih. Berita Ilmuilmu Sosial dan Kebudayaan. Siusana Kweldju. ke dalam peran-peran yang dikontrol oleh cengekeraman hegemoni lelaki. supremasi kekuasaan lelaki. ketimpangan gender. Inc. ". Periksa: Samsuri.. ketimpangan gender dalam bahasa Inggris dikaji oleh Victoria Fromkin dan Robert Rodman. 306--312). Lihat Arief Budiman. wadah. Vol. juga dalam "Kebudayaan dan Bahasa Indonesia". Sampai kapankah bahasa kita berkelamin lelaki? Sampai kapankah dendang lagu ". Cet. dan alat budaya. Muh. lelaki mendominasi. maka demi kelangsungannya mereka harus "dibimbing" (baca: dikuasai!) terus-menerus oleh lelaki yang dianggap lebih superior. pada sisi satu bahasa merupakan bagian budaya. Konvensi ini juga telah menarik garis tegas stereotipe lelaki dan stereotipe perempuan dengan hasil yang sudah jelas sama-sama kita sadari: ketimpangan gender. khususnya bab "Language in Society".. pintar. masyarakat. "Wanita dan Politik: antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami". Dengan begini. bahasa ini mungkin bergender lelaki. Keunikan ini membuktikan bahwa bahasa itu "bermuka dua". sejalan dengan semakin samar dan relatifnya nilai moral masyarakat. 3. Marginalisation and Rural Industry". An Introduction to Language. dalam arus globalisasi budaya yang kian "nyahnyoh" (permisive) ini. dominasi lelaki. baik dalam memandang lelaki maupun perempuan. tak berdaya. lemah.

. bermain boneka). When you say Man.) pernah mengadakan penelitian tentang ini berjudul "Ideologi Gender-Patriarki dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar" (Divisi Pemberdayaan Perempuan. terbitan dari 17 penerbit penerbit di Jawa Timur dan jawa Tengah. she's secretive... Spender. sebaliknya selalu memposisikan perempuan terpuruk dan berkutut dalam sektor dan tindakan yang stereotpe feminin (memasak. you answerd. dan bukan kodrat (nature) perempuan. lebih tegas lagi. Bahkan. dimuat dalam jurnal FSU in the Limelight. Opcid. 8. Inilah salah satu tajuk bincang Samsuri dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam rangka dies natalisnya yang ke-38. 'Man'. Vol. Lih. Oktober 1996. Temuan penelitian itu adalah bahwa 74% dari semua buku teks pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD. she slept her way to the top. she's power mad . abang. mengasuh anak. He is a man of the world. Vol.). hal 307. S. 24 Agustus 1996. 9. Fromkin dan Rodman. Ph. dari 11 penyusun. she's picky . berikut ini dikutipkan beberapa saja.. you include women too. Everyone knows that. Stereotipi Seks".. 7. Man Made Language (London: Routledge & Kegan Paul. LPK2I. Dalam pandangan kelompok ini. A businessman is good on details... 6) menulis: "A businessman is agressive. 1. merawat rumah bukan monopoli perempuan. 1994). Bagi pejuang Feminisme Liberal dan Feminisme Radikal. Warta Studi Perempuan.D. two at noon.. ... Dalam hal ini saya (dkk. hal. hanya 2 orang yang perempuan.M. 1--14. 5. n. D.. bermain layanglayang)..H. Harding. melahirkan.C. 7--18. mengutip: "When I asked 'What walks on four legs in the morning. she doesn't know when to quit . she's hard .5. she's been around ... sebab lelaki juga (harus) bisa. Lih. selalu menempatkan pelaku lelaki (bapak. 32. merupakan peran-peran yang bisa berubah sesuai dengan budaya masyarakat (nurture). memasak. He stands firm. aku) pada sektor atau tindakan yang secara stereotipis layak dilakukan oleh maskulin (memperbaiki mesin. dan menyusui--sesuatu yang memang hanya bisa "dilakukan" oleh perempuan. He climbed the ladder of success. a man of great learning".. 7) TBBBI edisi I (1988). Sebagai contoh. He's closemouthed.. 4. Daftar Pustaka . 6.." Lihat juga konsep gender dalam Crystal (1985: 133-134).. He isn't afraid to say what is on his mind. No. 1. No.. juga Kweldju (1991). You didn't say anything about women. 1986). The Science Question in Feminism (Ithaca.. He exercises authority diligenttly. TBBBI edisi II (1993). a businesswoman is pushy . New York: Cornell University Press. Graduate School of Management UCLA (The Balloon XXII. 1980). . Inilah sumber kecurigaan bahwa gender lelaki mendominasi perempuan dan itu membayangi contoh-contoh kalimat pada buku itu. Lalamentik. and three in the evening'. hanya 1 orang saja yang perempuan (W.. she's mouthy . yaitu menstruasi. The American College Dictionary (1947) mendefenisikan bahwa "doctor. He follows through. dari 14 pakar bahasa yang memberikan saran penyempurnaan. hal.... hanya ada tiga hal yang bisa dikategorikan ke dalam "kodrat wanita".

Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. Women. Samsuri. 1986. sedang lelaki aktif. Kirk. 1990. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. perempuan penerima identitas. K. Jakarta: PT Gramedia. sedang lelaki penguasa kehidupan. Beverly Hills: Sage Publication. Ashen. F. dan M. Pembagian Kerja secara Seksual. Jupriono 20 Agustus 2009 Ambar Andayani 1 D. Jupriono 2 Beberapa kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia mencerminkan bahwa: wanita pemelihara kehidupan yang sabar. dan implikasi kemasyarakatannya. 1996. J. Penelitian seksisme bahasa dalam kerangka penelitian stereotipi seks. 1997. New Delhi: Kali for Women. 23 Juni. sedang lelaki tidak dipersoalkan.L. What is Patriarchy. Kamus Kecil Istilah Studi Perempuan. Bahasa Indonesia. Budiman. Coates. 1986. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan”. J. Dalam kebijakan institusional tergambar . Warta Studi Perempuan 4/1: 7--18. sedangkan lelaki pemberi identitas. London: Longman. Tempo Interaktif.Bhasin. FSU in the Ketimpangan Gender Pada Kosakata & Ungkapan Bahasa Indonesia by D. Kweldju. Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya. Reliability and Validity in Qualitative Research. Malang: Divisi Pemberdayaan Perempuan. Jupriono. Miller. jabatan. organisasi. Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. D. prestasi. New York: State University of New York Press. pemakaiannya. 1981. 1995. 1993. LP3K Multimatra. II/16. Frank. dan F. Masalah dominasi gender dalam Developmentalisme. Men and Language: A Sociolinguistic Account of Sex Differences in Language. A. S. 1983. Language and the Sexes. perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan.

pembahasan dalam tulisan ini dibatasi hanya pada perbedaan ragam bahasa lelaki dan perempuan yang mengarah pada ketimpangan gender. bahasa adalah cermin kebudayaan. akan tampak dalam ragam bahasa yang digunakan masyarakat yang mencerminkan hubungan tidak sejajar antarkelompok dalam masyarakat (Spolsky. Bailey. yaitu ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan (Kweldju.. sistem sosial. Nilai-nilai stratifikasi sosial yang mendominasi suatu masyarakat. dengan kata lain. ternyata bahasa juga mewadahi segala kekayaan kebudayaan. ungkapan.). Kata-kata kunci: ketimpangan gender. tetapi tidak diakui. dll. artinya. 1986). Apa yang terjadi pada ragam bahasa masyarakat bukanlah hal yang tidak terkontrol atau variasi bebas. Jika aspek penutur tersebut dipandang dari segi gendernya. realitas ragam bahasa ternyata tidak hanya itu. sistem ekonomi. Bagaimana watak kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam bahasa yang digunakan dalam masyarakatnya (Hudson. fokus ini akan dijabarkan ke dalam bagian-bagian berikut: (1) kajian teoretis ketimpangan gender dalam bahasa dan (2) bentuk-bentuk ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. misalnya. . struktur gramatikal Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Meskipun demikian. dan Trudgill bahwa “what earlier linguists had considered irregularity or ‘free variation’ in linguistic behavior. misalnya. sistem religi. Fokus tulisan ini adalah ketimpangan gender yang terdapat dalam bahasa Indonesia. akan didapat secara garis besar dua ragam bahasa. can be found to show regular and predictable statistical patterns” (Saville-Troike. Ragam bahasa tersebut merupakan variasi yang terjadi pada masyarakat yang merupakan aspek-aspek yang dihasilkan oleh penuturnya untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Demi kerincian. kosakata. sebab dari sudut pandang gender. menunjukkan adanya ragam bahasa kelompok homoseksual (gay dan lesbian) (Sari et al. bahasa hanyalah bagian dari sekumpulan unsur dalam kebudayaan (kesenian. 1993). Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami. Dikatakan “secara garis besar”. Dalam Sosiolinguistik kita mengenal bermacam ragam bahasa dalam masyarakat. 2001). Beberapa penelitian terakhir. 1982). Dikatakan oleh Labov.jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan. akan tetapi selalu berhubungan dengan konteks sosial. 2003). identitas. Sebagai unsur.

dan fonologi. dan lebih inferior. gramatika. fonologis. manja. terlalu boros kata-kata.Kajian Teoretis Ketimpangan Gender dalam Bahasa Penelitian Coates (1991) menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris. emosional. Perbedaan tersebut ada dalam semua aspek kebahasaan. Kelompok perempuan diharapkan lebih lembut (lady like) dibandingkan dengan kelompok lelaki (Lakoff. Hal ini juga menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam bahasa. irasional. sedangkan pada lelaki tidak ada “keharusan” seperti ini. Karena kedudukannya inilah perempuan lebih merasa perlu berhati-hati dalam berbahasa. sedang kelompok lelaki diangkat dalam posisi superior dan dominan. 1991). kedua kelompok dipersepsi menampilkan cara berbahasa yang berbeda. lebih subordinat. lebih banyak menggunakan adjektiva (sebagai cermin lebih emosional ketimbang rasional). Dalam ragam bahasanya. Dalam fonologi. kurang meyakinkan. 1982). Dalam gramatika. 1981. menurut (Coates. kosakata lebih sedikit. berbicara lebih sopan. sedang nada pada ragam bahasa lelaki lebih rendah yang menyatakan ketegasan (Kramarae. juga dipandang wajar bahwa kelompok perempuan di Inggris. Dalam hal kosakata dan ungkapan. USA. 1991). pasif. bahasa yang digunakan oleh kelompok lelaki (selanjutnya disebut ragam bahasa lelaki) berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok perempuan (selanjutnya disebut ragam bahasa perempuan). Di samping itu. dan remeh (Kramarae. sebenarnya merefleksikan bahwa di bawah sadarnya perempuan menduduki posisi yang kurang mapan. dan berusaha mencapai norma standar dan standar ini dibuat kelompok lelaki (Kramarae. 1981). lebih banyak berbicara (cerewet) dan bergunjing. 1984). Akibatnya. 2001). Dalam berbahasa. ragam bahasa perempuan lebih banyak menggunakan katakata adjektiva. dan gramatika. Perbedaan yang menjurus pada ketimpangan antara ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan ini tampak pada perbedaan kosakata dan ungkapan. dibandingkan dengan kelompok lelaki. bodoh. dan Belanda. Realitasa ini. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill. sehingga terkesan kurang tegas. Perbedaan tersebut cenderung memojokkan kelompok perempuan dalam posisi inferior dan subordinat. 1991). Coates. 1979). Bahkan. ragam bahasa perempuan sering distereotipekan sebagai naif. dan tidak mengumpat. yaitu kosakata. nada akhir kalimat dalam ragam bahasa perempuan lebih berlagu dan lebih tinggi. perempuan dalam berbahasa lebih banyak melakukan hiperkoreksi. kelompok perempuan distereotipekan lebih inferior (Spolsky. kelompok perempuan lebih banyak menggunakan kalimat . dan penguasaan kosakatanya tidak sebanyak lelaki (Coates. sampai-sampai soal penggunaan dan pemilihan partikel dalam kalimat.

sedang lelaki sebagai penguasa kehidupan (cf. misalnya memasak. bagaimanapun. mengasuh dan mengajari anak. Ketimpangan Gender dalam Kosakata dan Ungkapan Bahasa Indonesia Kosakata suatu bahasa mewadahi seluruh ketimpangan gender. sehingga acuan istilah kepala rumah tangga dan tuan rumah selalu kepada suami. Kedua. sedang lelaki dikodratkan aktif. Kepasifan perempuan (istri) ini juga ditempuh sebagai upaya untuk selalu menyenangkan. aduh Mak—dan bukan *alah Pak. sebagai cermin ketidakmampuan menempatkan mana yang inti (induk) dan mana yang kurang inti (anak kalimat) (Lakoff. menjaga dan merawat rumah—yang serba membutuhkan kelembutan dan kesabaran. sehingga muncul istilah bahasa ibu (mother language). dan subordinat adalah perempuan. beberapa ungkapan mencerminkan keberadaan wanita sebagai pemelihara kehidupan yang sabar. *aduh Pak—juga menunjukkan bahwa anak dipersepsi secara sosial sebagai urusan perempuan. 1993). Tetapi. Pertama. Kweldju. Oleh karena itu. Lakoff (1979) juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak menggunakan tag questions sebagai cermin ketidaktegasannya bersikap. Sebagai ibu rumah tangga. kelompok perempuan tidak banyak menggunakan logika dalam gramatika. superior. Perempuan-istri selalu menjadi ibu rumah tangga. termasuk ungkapan alah Mak. ragam bahasa perempuan lebih sering membuat kesalahan dibandingkan dengan ragam bahasa lelaki. dan dominan. sebodoh apa pun lelaki itu—maaf. Menurut Jespersen (dalam Kweldju. 1979). 1993). menjaga perasaan. sedang lelaki-suami otomatis menduduki posisi sebagai kepala rumah tangga. dan . Istilah anak mama dan kasih sayang ibu. Semua jenis pekerjaan tak berupah tersebut memunculkan ungkapan pekerjaan perempuan. Sebagai korban yang selalu dipersepsi lebih negatif.majemuk setara. tetapi lebih banyak menggunakan intonasi dan intonasi ini merupakan cermin kekuatan emosinya. Dalam kosakata dan ungkapan bahasa Indonesia pun terjadi ketimpangan gender pada ragam bahasa lelaki dan ragam bahasa perempuan. Tanggung jawab istri sebagai perawat rumah memunculkan istilah nyonya rumah. perempuan bertanggung jawab atas segala pekerjaan di dalam rumah. andai saja suami itu bodoh. termasuk mengajari anak berbahasa. sedangkan lelaki dipersepsi secara kultural lebih positif. mencuci. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih menampakkan stratifikasi ketimbang diferensiasi yang berujung pada ketimpangan gender. penguasa tertinggi tetap lelakisuami. Contoh-contoh berikut diharapkan dapat memperjelas perbedaan kedua ragam tersebut. inferior. Pendidikan anak lebih dibebankan kepada perempuan-istri ketimbang suami. beberapa ungkapan dan struktur gramatikal menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan itu ditakdirkan pasif.

tetapi sebutan yang ada hanya wanita tuna susila (WTS) dan tidak pernah ada *pria tuna susila (PTS) (Jupriono. misalnya. 2003). melahirkan) atau pun neng omah. Boleh saja. memasak. yang justru lebih kaya. sungguh tidak perlu diragukan. sedangkan lelaki pemberi identitas (cf. Sebuah ungkapan populer juga mencerminkan ketimpangan gender bias lelaki: dapur. Dalam dunia prostitusi. beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. tetapi bahwa hal tersebut jelas fakta empiris konkret. tetapi lelaki yang menjadikannya begitu tidak mendapat sebutan apa pun. Misalnya perempuan itu hanya awan dadi theklek. Perempuan yang menjual diri sering disebut wanita panggilan. istri gelap. Seorang perempuan boleh saja jatuh cinta. ungkapan ini dikatakan sebagai sekadar beraroma traditional gender-based ideology. sedang lelaki tidak dipersoalkan kesalahannya. dan jika istri menjabat. tidur terbuka menelentang) (Sobary. Ketiga. dalam bahasa Jawa pun. ada ungkapan yang berkenaan dengan betapa rendahnya peranan perempuan. Seorang perempuan yang menjadi “istri tak sah” dilabeli sebutan piaraan. Ini sungguh-sungguh tidak ada kesejajaran. Linda atau Bu Astuti. Seorang istri langsung mendapat nama baru begitu suaminya menjabat. Sebagai bandingan. atau pun *penyimpan. misalnya *pemiara. Maka. Yang sering dipersoalkan dan diucapkan adalah keperawanan atau kegadisan seorang perempuan dan tidak pernah dipermasalahkan keperjakaan seorang lelaki. macak. suami bebas atau tidak usah nama baru. Keempat. . Sementara. *suami gelap. Seorang perempuan-istri bernama Linda Astuti. beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan sebagai penerima identitas. mbegagah ngablah-ablah (di rumah. 2003). lulur. atau pun simpanan. masak. sumur. 1985). Ia mesti pasif menunggu. Kuntjara. tetapi ia harus menjaga dan bertahan jangan sampai ia mendahului mengungkapkan cinta terlebih dahulu. kasur.menghormati lelaki (suami) (Spender. di lingkungan sekitarnya mendadak sontak dipanggil Ny. suaminya tetap pada identitasnya semula sebagai Pak Subandi—dan tidak mungkin dipanggil *Pak Linda atau *Tuan Astuti. merias diri. Subandi atau Bu Subandi oleh tetangganya dan ia hilang identitasnya sehingga jarang disapa sebagai Ny. 2000). Seorang istri tidak dapat *menceraikan suami—sejahat apa pun suami itu—sebab kultur Indonesia hanya memberi kesempatan kepada istri untuk meminta cerai atau minta diceraikan. sesungguhnya baik lelaki sebagai “pembeli” maupun perempuan sebagai “penjual” sama-sama berbuat tidak susila (asusila). mlumah. setelah diperistri seorang lelaki bernama Subandi. tetapi entah mengapa lelaki yang membutuhkan tidak pernah disebut *pria pemanggil. malam jadi alas untuk ditindih). yang muncul dalam ungkapan gramatikal adalah Dina dipacari/ dilamar/ dipinang/ dinikahi/ diperistri Indra dan tentu bukan Dina *memacari/ *melamar/ *meminang/ *menikahi/ *mempersuami Indra. bengi dadi lemek (siang jadi bakiak. manak (memasak. olah-olah. Ungkapan ini jelas-jelas memerahkan telinga kelompok feminis aliran apa pun.

Seorang lelaki tidak usah disebut *lelaki karier ketika sukses berkarier. organisasi. Keenam. Tetapi. suami yang istrinya menjadi kades. Jika kosakata itu berbau perempuan. … *Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbahagia.: Ibu/Bpk/Sdr. kalau memang kedua memenuhi kualifikasi cerdas mengerjakan soal-soal matematika. wartawan cenderung menggiring orang untuk menafsirkan bahwa semua itu untuk lelaki. misalnya. prestasi. Bejo yang perangainya kewanita-wanitaan disikapi sebagai negatif. Sebutan profesor. Misalnya. ceramah.Begitu suaminya terpilih sebagai kepala desa (kades). Dengan kata lain. jika diisi oleh perempuan dianggap suatu “kelainan” atau kekecualian. kesebelasan wanita. disamakan dengan banci. Kelima. Bapak-bapak yang saya hormati. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia. bapak pendidikan. “masa kini”. Julukan jago matematika. dalam kebijakan institusional baik sektoral maupun nasional pun tergambar jelas betapa perempuan terus dan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan seperti lelaki.: Bpk/Ibu/Sdr. misalnya. akan diterima lebih positif—misalkan dianggap malah “modern”. *ibu pendidikan. tetapi seorang perempuan yang bekerja di sektor publik langsung harus disebut wanita karier. perangai Eny yang tomboy. *ibu koperasi. Jika dilekatkan kepada perempuan. Yang lazim diungkapkan dalam pertemuan resmi. sehingga selalu disebut “setelah lelaki”. beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. kesebelasan. peranannya . rapat. Ketujuh. Karena gerak nasib perempuan dirasakan ketinggalan. khotbah. biasanya menjadi profesor wanita. berlaku baik untuk Rangga yang lelaki maupun Susi yang perempuan. dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. Ibu-ibu yang saya hormati…. … dan tentu bukan *Kepada Yth. pesilat wanita. dan wajib mengikuti pembekalan bagi istri kepala desa di tingkat kabupaten. adalah Bapak-bapak. Belum pernah ada—atau mungkin tidak lazim—entah mengapa: *ibu pembangunan. ungkapan pemanggilan juga menempatkan perempuan sebagai golongan kelas dua. kata jago ini digunakan sebagai standar baik untuk lelaki maupun perempuan. kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar baik untuk menyebut lelaki maupun perempuan. bapak koperasi. pesilat. … Kedelapan. asal masih mau sedikit berdandan saja. tidak usah dipanggil *Pak Kades dan tidak ada program negara *pembekalan bagi suami kepala desa. Contoh lain: bapak pembangunan. konotasi semantisnya cenderung negatif. atau pekerjaan biasanya diisi oleh seorang lelaki. Sebaliknya. istri akan dipanggil Bu Kades. … dan pastilah bukan *Ibu-ibu. wartawan wanita—seakan-akan hal itu suatu keganjilan. … Dalam surat undangan pun yang lazim tercetak adalah Kepada Yth. tidak pernah ada *betina matematika sekalipun pemenang juaranya adalah Susi. “gaul”—oleh sekitarnya.

sedangkan lelaki pemberi identitas. atau bahkan yah …ketimbang menganggurlah. Dalam dunia psikologi ada istilah syndrome of success fear.perlu terus ditingkatkan melalui ungkapan menteri peranan perempuan. hanya kerja sambilan. sedang lelaki tidak dipersoalkan. bahkan kedudukan perempuan disejajarkan dengan anak-anak. atau peluru dan wanita. perempuan disamakan kedudukannya dengan benda mati. Dia akan mendapat cap buruk. tahta. seorang istri juga mengalami “kematian subjek”: menjadi diri sendiri pun tidak berani. organisasi. prestasi. sehingga tidak membutuhkan *menteri urusan lelaki. Bahkan. penilaian negatif. atau pekerjaan biasanya diisi lelaki. misalnya dalam ungkapan harta. Hal ini menggambarkan fakta bahwa nasib perempuan tersubordinasi. Misalnya seorang istri yang berdagang. dan *Hari Bapak. (4) Beberapa kebiasaan nama dan panggilan menunjukkan bahwa perempuan penerima identitas. Dalam hal demikian. dengan malu-malu. *Hari Kartini. sehingga perlu dibangun Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Hari Kartini. untuk tambah-tambah saja. beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/ berkedudukan melebihi suami. bahkan sampai tingkat bahasa sekalipun. (7) Ungkapan pemanggilan juga menempatkan . (2) Beberapa struktur gramatikal bahasa Indonesia menunjukkan perempuan itu pasif. sedang lelaki aktif. Sebagai bagian dari masalah. (1) Beberapa ungkapan mencerminkan wanita pemelihara kehidupan yang sabar. (3) Beberapa kosakata dan ungkapan menunjukkan perempuan selalu menjadi korban dan disalahkan. wanita.—suatu fenomena seorang istri takut kelihatan lebih sukses ketimbang suaminya. yang penghasilannya benar-benar jauh di atas suami— sehingga sesungguhnya merupakan tumpuan kebutuhan material keluarga—dengan rendah hati akan mengatakan: hanya membantu suami. lelaki tidak menjadi masalah. sedang lelaki penguasa kehidupan. Kesimpulan Beberapa kesimpulan dapat ditarik di sini sehubungan dengan ketimpangan gender pada kosakata dan ungkapan dalam bahasa Indonesia. (5) Kosakata yang berkonotasi lelaki menjadi standar untuk menyebut lelaki maupun perempuan. sedangkan kaum bapak tidak memerlukan karena dianggap sudah mandiri dan sudah dapat menolong diri sendiri. terdapat ketakutan “menyaingi” atau “mengalahkan” suami pada seorang istri. penghasilan suami cuma berapa. takut suaminya tampak lebih bodoh (Sudarwati. 2003). Secara psikologis kultural. dan Hari Ibu. atau kalau diakui. tetapi tidak diakui. jika diisi perempuan dianggap suatu “kelainan” dan untuk itu harus diembel-embeli kata wanita. (6) Beberapa kosakata mencerminkan bahwa suatu jabatan. dari sekeliling jika saja mengatakan *Saya yang menanggung kebutuhan keluarga. Sebaliknya. Kesembilan. sebagai berikut.

Pertama. Tulisan ini terlalu umum untuk diarahkan ke situ walaupun gagasan tentang relasi kekuasaan tersebut sudah dicakup. D. and Language: A Sociolinguistics Account of Sex Differences in Language. S. menyodorkan saran. Hudson. (ed. 1997. kognitif. Dalam B. Bahasa. 1992. misalnya pendekatan psikodinamis. Kramarae. data yang disajikan amat terbatas. Parafrase 3(1). 2003. sebagai kajian sosiolinguistik. “Talking Like a Lady”. London: Longman. Co. Inc. FSU in the Limelight 5(2) Juli. Sekadar. Dalam B.A. Februari. kajian ketimpangan gender sesungguhnya dapat diperdalam ke arah relasi gender dan kekuasaan di antara penutur lelaki dan penutur perempuan. Men. (8) Dalam kebijakan institusional tergambar jelas betapa perempuan masih menjadi beban masalah dan tidak pernah mencapai kesetaraan (9) Beberapa ungkapan mencerminkan bahwa istri boleh berpenghasilan/berkedudukan melebihi suami..C. Rahayu. A. dan Kekuasaan. Universitas Kristen Petra. 1986. Tulisan ini menyimpan beberapa kekurangan. Warta Studi Perempuan 4(1). The Ethnography of Communication: An Introduction. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Kedua. Pemakaian bahasa dalam iklan—yang diduga kuat mengandung ketimpangan gender—belum tercakup dis ini. R. K. Jupriono. sesungguhnya kajian ini hanya menerapkan salah satu pendekatan (sosiokultural). “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia”. jika kajian ini dilanjutkan. “Gender. Parafrase 4(1) Februari. C. 1993).). tetapi tidak diakui. London: Newbury House Pub. 1993. D. Santoso et al. Inc. Daftar Pustaka Acuan Budiman. Bahasa Lelaki?”. Coates.). Gender. dapat dimanfaatkan dalam hal ini. Jupriono. “Bahasa Indonesia. Wishart & L. Kweldju. “Ideologi Patriarki pada Singkatan WTS: Konstruksi Simbolis Ketidakadilan Gender”. Reichman (ed. 1979. padahal ada beberapa pendekatan yang dapat diterapkan. dan Kekuasaan”. Lakoff. M. Women and Men Speaking: Frameworks for Analysis. 2003. Sociolinguistics. selayaknya diadakan pengayaan data.C. Cambridge: Cambridge University Press. dan sosiokultural (Kweldju. Ketiga. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Studi Realino. J. Kuntarti. 1982. “Diksi dalam Ragam Bahasa Prokem di Kalangan Gay di Surabaya Pusat”. Saville-Troike. 2003. Kuntjara. E.. bahasa. A. 1981. Surabaya: Fakultas Sastra. Women. Modern Sociolinguistics Issues.perempuan sebagai golongan kelas dua. Oxford: Basil .I. New York: MacMillan Pub. N. “Penelitian Seksisme Bahasa dalam Kerangka Penelitian Stereotipi Seks”. 1991. Maka. Sari.J. R. buku Esther Koentjara (2003).

London: Routledge & Kegan Paul.Blackwell. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. D. Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. B. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal. 2001. Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Sobary. Man Made Language. Program Studi Magister Psikologi. bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. Bahasa dan Gender Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. P. 149—151) dalam Kang Sejo Melihat Tuhan. “Wanodya” (Hal. Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Untag Surabaya Trudgill. Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA. Dukungan Sosial Suami. 2000. tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam. 1985. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. Sudarwati M. 1984. BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar. Di sisi lain. M. Pada pengajaran BIPA. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. Spender. (Tesis tidak dipublikasikan). baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa. Spolsky. istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). Sociolinguistics. Sociolinguistics. 2009 | Edisi: #4 | Kategori: Liukan Lidah Oleh Lucia Tyagita Rani* Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). 2003. “Pola Kepemimpinan Partisipatif. Oxford: Oxford University Press. Harmonsworth: Penguin Books. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang . Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Program Pascasarjana. Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA 14 September. dan Fear Succes dengan Motivasi Kerja pada Wanita Karier di Surabaya”.

(4) adanya ―empty‖ adjektif: cute. (6) penggunaan katakata penguatan: just. semantik. so (I like him so much. Disadari atau tidak. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. khususnya bahasa Inggris.. Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial. (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi. ya kan?. (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih ―baik‖ daripada gender maskulin. gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‗lebih‘ oleh masyarakat.. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know. Secara umum. Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa. gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin. sort of. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?. turqoise. dsb. Interupsi ini dilakukan . Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin. Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. dan gaya bertutur. Di lain pihak. (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik. Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989). menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga. dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. Akan tetapi. dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati. (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. lucu. dsb. Oleh karena itu. (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis. Pada bahasa Inggris.sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). biru laut.).. tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama. charming. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. juga Ponynton (1989). gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar. dsb. stewardess). perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya.

Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat. Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga. Menurut Holmes (2001). bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. baik masyarakat barat maupun timur. Di lain pihak.untuk ―membungkam‖ lawan bicara. sesuai dengan situasinya. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‗macho‗. bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender. formal dan informal. Oleh karena itu. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. bentuk . mereka menggunakan bahasa standar. Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. Secara tidak langsung. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. untuk menimbulkan rasa aman. Selain bahasa vernakular. sudah terkodifikasi dan cukup stabil. Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari. masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi. Masih menurut Holmes (2001). gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). dan berperan sebagai bahasa T. bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar.

Silakan mas Ali. Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir? Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Orang pertama nyebur. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender. Sebentar. Apa sih mensusah? Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda? Aduh. Maskulin Mas Hasan sukanya olah raga apa? Biar lebih adil kita acak. Ya. Anda akan bicara sesudah mas Taceddin. Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya? Saya kasih waktu 5 menit! Mau bicara duluan? Udah dapet semua? Feminin Mereka tidak bilang seperti itu. deh. si Clement ini disuruh mundur. dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. . Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. itu bagus sekali mas Erdam. terus? Jadi. Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular.bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli. gitu.

Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Intercultural Communication in Contexts. pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Malaysia: Longman. Judith N and Thomas K Nakayama. 1996. Sociolinguistics and Language Teaching.ii. Hornberger. USA: Cambridge University Press. Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA Pada pengajaran BIPA. McKay. Hubungan Bahasa dengan jenis kelamin (Sex). pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya. Daftar Pustaka Holmes. “Wanita memperlihatkan tahap kepekaan yang lebih tinggi terhadap ciri-ciri bahasa yang diberi penilaian yang tinggi. Harus disadari bahwa bentukbentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. 2001. Sandra Lee and Nancy H. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA. — Presentation Transcript  1. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular.Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. “Wanita memperlihatkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap norma yang tinggi pada penggunaan bahasa . Chambers 1995:102)i. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin (sex). 2000. Gender(Gender) Perbedaan cara berbahasa antara kedua jenis kelaminmemang ada. California: Mayfield Publishing Company. daripada lelaki” (Wolfram 1969:76). pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. Oleh karena itu. An Introduction to Sociolinguistics. Janet. Beberapa penelitian telah membenarkan perbedaan itu. Ketika mengajarkan bahasa vernakular.Diantaranya yang berhubungan dengan penggunaan bentuk-bentukbahasa yang bersifat baku dan tinggi (cf. materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular. Martin. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya.

Wanita tidak mudah botak apabila usia mereka meningkat5. 6. 6. Wanita diperkirakan lebih cepat dewasa. terutama nama untuk dibedaka dengan yang :a. Gender sebagai istilah linguistik juga dikaitkan dengan salah satu kategori tatabahasa yang digunakan untuk menganalisis golongan kata. iii. 4. yang lebih dekay sifatnya dengan bentuk. Maskulin („lelaki/jantan‟) seperti “dewa”. sertac. Gender ini dikenal sebagai “natural gender” dan merujukkepada jenis kelamin dan objek yang benar –benar nyata didunia. dan “sun” („matahari‟). Wanita tidak mudah dijangkiti berbagai macam penyakit (Tailor &Ounsted 1972)6. b.2. dibanding dengan lelaki (Trudgill 1983:161)iv “Dalam keadaan strtifikasi sosiolinguistik yang baik. yaitu perbedaan tinggi nada suara. Bahasa wanita lebih “halus/sopan” darp pada lelaki yang penuhdengan kata kasar seperti mencarut.Bentuk Bahasa Bentuk Bahasa MaknaWanita LelakiO: til O: tis saya sedang menyala apiLakawwil. ini disebabkan kurangnya otot pada badan wanita. Wanita lebih baik dalam membaca. “sabun”. “seniman”. “steward”.bentuk bahasa baku.2 Jenis Kelamin dan Gender Jenis kelamin dan gender merupakan dua hal yang berbeda: Jenis kelamin merupakan suatu konsep biologi. Istilah konsep gender diatas dikaitkan dengan kategori sosial.3. . perbedaan biologi yang tidak bersifat linguistik juga banyak. den pendidikan sosial.D. 6. wanita juga menunjukan prestasi yang lebbih baik dari lelaki pada bidang menguji kemampuan berbahasa.5 Pola Bahasa Wanita dan Bahasa LelakiMasyarakat koasati. („pelayan lelaki dalam kapal terbang‟). Feminim („wanita/betina‟) seperti”dewi”.pendidikan.      mereka yang sebenarnya serta sikap mereka terhadap bahasa” (Wolfram & Fasold 1974:161) 2. „Wanita. “ball” („bola‟). sebuah golongan AS. begitu juga sebaliknya. Lakawwis saya sedang bicaraWanita dibenarkan mengunakan bentuk bahasa lelaki ketika berbicara denganlelaki. “malam”. dan “tiger‟ („harimau jantan‟) 4.Gender yang tidak mempunyai kaitan persoalan dengan jeniskelamin dikenal sebagai “gramatical gender” („gender tatabahasa„). dibandingkan dengan wanita 3. 6. serta dapat hiduplebih lama6. Neuter („bukan lelaki/jantan atau wanita/betina‟) seperti “batu”. atau menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih tinggi. menggunakan dua bentuk bahasa:satu di tuturkan wanita dan satu lagi dituturkan oleh lelaki (Hass: 1944).3 Perbedaan Bahasa Akibat Jenis Kelamin Tidak banyak wanita yang mengahadapi masalah dalam bahasa. Wanita agak kurang rabun warna dibandingkan lelaki. Lelaki lebih banyak di temui kiri daripada wanita yang menilis kiri. Selain itu. Ada perbedaan antara dua jenis kelamin ini. “seniwati” “stewardess” („harimau betina‟). menghasilkan kebanyakan bentuk-bentuk bahasa. 5. dengan mengambil dengan beberapa variable seperti umur. Penggunaan kata adverba (keterangan) yang berlebihan dan sangatdisukai wanita. terutamayang berkenaan dengan dialek suatu daerah 7. Kaum wanita dikatakan suka “banyak bicara”c. Wanita tidak sebesar atau seberat lelaki. Wanita dianggap lebih asli sifatnya daripada bahasa lelaki.b. diantaranya:1.4 Perbedaan Bahasa Akibat Gendera. lelaki lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk tak baku . Sedangkan gender adalah satu manifestasi sosiologi. yaitu di tentukan akibat proses sosiologi.

Bahasa dalam klaim otoritas lelaki cenderung menjadi parameter atau kodrat sosial. Bahasa dengan sistem dan struktur tertentu susah bersih dari intervensi. dominasi. Perempuan dalam penjelasan teori dominasi kerap berada dalam posisi minoritas dan lemah dalam otoritas pemaknaan bahasa. Kondisi rentan dalam bahasa menjadi acuan perdebatan hakikat dan implikasi bahasa dengan tendensi gender. Bahasa adalah medan pertarungan ideologi legitimasi dalam wacana gender. dan manipulasi pemaknaan. Pemahaman atas bahasa dan gender mungkin untuk didedahkan dengan kajian teori dominasi dan teori perbedaan. kelamin. Definisi bahasa sebagai sistem simbol arbitrer untuk komunikasi rentan dengan bias dan diskriminasi. Shan Wareing (1999) menilai bahwa bahasa dalam perspektif gender kerap mengacu pada praktik perbedaan karena stereotipe historis dan empiris. Perempuan. Resistensi Oleh: Bandung Mawardi Bahasa mengandung sekian tanda tanya dan tanda seru dalam wacana gender.Bahasa. Bahasa memberi pembebasan dan pengekangan makna untuk politik perbedaan. Teori perbedaan hadir dengan dalil bahwa perbedaan bahasa antara lelaki dan perempuan mengacu pada pemisahan antara lelaki dan perempuan pada tahap-tahap penting kehidupan mereka. hegemoni. Bahasa dalam wacana gender memang melahirkan polemik panjang terkait dengan basis pengetahuan dan praktik komunikasi sosial. Bahasa dalam otoritas perempuan pun harus menempati posisi sebagai instrumen atau periferal karena vonis tak utuh atau tak sempurna. Perempuan dalam teori perbedaan cenderung berada dalam posisi inferior atas nama etika. atau ideologi. Perbedaan itu membuat dominasi lelaki dalam praktik komunikasi menemukan klaim pembenaran atau kelumrahan. Bahasa itu rentan dan tidak netral dari bias gender. Perbedaan kerap muncul karena lelaki identik dengan intensitas sosialisasi dan agresivitas. Praktik komunikasi antara lelaki dan perempuan dalam pandangan kritis memang selalu mengandung ambiguitas resepsi dan pemaknaan. Teori dominasi memiliki dalil bahwa perbedaan wacana antara lelaki dan perempuan mengacu pada perbedaan kekuasaan. Kondisi itu memungkinkan perempuan untuk merebut otoritas sejajar atau melakukan resistensi dalam ranah ideologi sampai pada mekanisme produksi dan resepsi bahasa. Kehadiran bahasa merupakan manifestasi ideologi legitimasi dalam pamrih sosial dan politis. *** .

Otoritas dan kapasitas dalam bahasa menjadi alasan perbedaan subjek dan identitas. Tulisan sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi. *** David Garddol dan Joan Swann dalam Gender Voice (1989) menengarai ada tiga macam hubungan stereotipe dalam wacana bahasa dan gender: (1) bahasa mencerminkan pembagian sosial dan ketidaksetaraan. Tulisan merepresentasikan suara perempuan untuk menamai dan memaknai realitas. Bahasa adalah kuasa untuk penentuan eksistensi. Permainan kuasa mesti menjadi pertemuan perbedaan untuk penciptaan dan perebutan makna dalam bahasa. Praktik resistensi untuk emansipasi cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. subjek. Tulisan adalah resistensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. Tulisan menjadi bukti politis resistensi perempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. dan identitas perempuan. dan identitas. Luce Irigaray mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. dan identitas. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan . dan (3) bahasa dan gender berada dalam ranah perseteruan untuk saling memberi pengaruh. subjek. subjek. Tiga macam hubungan itu mengandung konklusi bahwa perempuan mengalami inferiorisasi dan penindasan dalam bahasa. Bahasa sebagai otoritas tentu membutuhkan mekanisme dan sistem untuk membuat klasifikasi atas realitas-realitas. Lacan percaya subjek manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa tapi subjek tidak bisa direduksi menjadi bahasa. atau kaum tunduk. agama. (2) perbedaan atau ketidaksetaraan tercipta karena perilaku linguistik yang seksis. Tulisan dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik.Jacques Lacan dalam studi kritis tentang bahasa menemukan bahwa hakikat dan fungsi bahasa menetukan eksistensi. Lacan dengan jeli menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi karena struktur sosial. Kaum feminis dengan tulisan memiliki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsirkan dunia dalam perspektif perempuan. dan bahasa. Tulisan dalam ideologi legitimasi kaum feminis menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. kaum kalah. politik. Gugatan atau resistensi kaum perempuan atas struktur dan stereotipe bahasa mutlak dilakukan untuk tidak menjadi kaum diam. Helene Cixous percaya tulisan adalah manifestasi otoritas perempuan. Teori Lacan itu mendapatkan tanggapan kritis dari kaum feminis untuk melakukan resistensi atas dominasi lelaki dalam bahasa. Bahasa adalah otoritas untuk kaum perempuan dalam pamrih tunduk atau bebas dalam politik perbedaan dan gugatan atas patriarki dan falosentrisme. ekonomi. Kaum feminis memahami penjelasan Lacan itu sebagai argumentasi kritis untuk resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan.

Dimuat di Suara Merdeka (8 Oktober 2oo8) 25 Jun 2010 5 Comments by Gumono in Sosiolinguistik Bahasa dalam Perspektif Jender Pendahuluan Penelitian bahasa yang dikaitkan dengan jender dalam sosiolinguistik telah mengalami perkembangan yang sangat menarik. Kondisi itu menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk kaum perempuan ketika ingin melakukan resistensi dalam pamrih emansipasi dan kesetaraan gender dengan bahasa. Praktik bahasa itu merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap dominasi lelaki dalam klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemaknaan realitas. Bahasa dalam kultur patriaki kerap menemukan legitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan.peran. atau media massa. kesusastraan. politik. Bahasa dan gender memang perkara pelik dalam keramaian wacana gender sebagai realisasi pemikiran-pemikiran kritis. Begitu. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis sebagai perempuan. Perempuan membutuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Irigaray menjelaskan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan dengan transformasi kultural secara substantif dan radikal. Pemahaman atas bahasa dan gender membutuhkan intensitas dan ekstensitas dalam membaca dan menilai acuan-acuan patriarki. Hal itu terbukti dengan bergesernya paradigma penelitian .

bentuk dan panjang bidang vokal. Kita tidak dapat memaksanya bersuara seperti sebuah piano walaupun terdapat berbagai cara untuk memainkannya. Perbedaan yang demikian terjadi disebabkan oleh tradisi kultur masingmasing masyarakat. Rata-rata suara laki-laki di antara 80 dan 200 siklus per detik sedangkan perempuan antara 120 dan 400 hertz. Daiam kebudayaan yang berbeda. Penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukannya. Kebanyakan orang mengetahui bahwa apa yang terjadi dan seharusnya terjadi pada kedua jenis kelamin tersebut. Ke(tidak)samaan. (7) idiologi linguistik. (6) jender dalam lintasan budaya. (5) jaringan sosial. Mengapa? Jawaban yang jelas ialah karena mereka berbeda. Seorang penyanyi yang piawai dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan suaranya dengan rentangan frekuensi yang luar biasa. Berdasarkan landasan pemikiran seperti itu. dan netral (Matthews 1997: 142). Namun. Kumpulan orang-orang yang berkabung di Yunani membunyikan suara ratapan yang melengking. dominasi. Jender dalam linguistk deskriptif dipahami sebagai pembagian kategori gramatikal nomina ke dalam kelas yang dapat diberi ciri secara mendasar berdasarkan sex. adaiah benar-benar alamiah. perlu pula dibedakan antara pengertian jender dalam sosiolinguistik dan jender dalam linguistik deskriptif. (4) jender dan variasi fonetik. Ha! apa yang lebih masuk akal daripada memaharni bahwa kedua jenis kelamin itu berbeda? Hal yang diyakini tidak dapat diganggu gugat dalam kehidupan manusia. Pembagian itu meliputi maskulin. Bagaimanapun bidang vokal seperti sebuah terompet. sedangkan jender mengacu kepada perbedaan sosial dan budaya antara pria dan wanita. Bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. terdapat temuan bahwa selama . Berkaitan dengan istilah jender. tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu adanya perbedaan pengertian sex dan gender. melainkan telah menuju kepada paradigma penelitian jender sebagai konsep sosial dan budaya. Di Jepang. Bidang vokal laki-laki lebih panjang. 1. Kegiatan berbicara juga merupakan bagian dari tradisi kultural dan oleh sebab itu berbeda di antara budaya yang berbeda. Adakah perbedaan dalam hal titi nada berimbas kepada kenyataan bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda? Tentu saja demikian. musik recital akan berbeda-beda cirinya. Suara utama pada Opera Peking misalnya terdengar berbeda bagi telinga yang tidak biasa mendengarnya. Frekuensi suara ditentukan oleh kondisi fisik. dan Dominasi Perempuan dan laki-laki berbeda dalam berbahasa. Perbedaan. Interseksualitas merupakan sebuah anomali dalam setiap masyarakat. laring mereka lebih besar.ke arah penelitian yang tidak semata-mata hanya meneliti variasi bahasa berkaitan dengan sex dalam pengertian biologis. Hal ini dapat dilihat dari perangkat tuturan yang dimiliki kedua jenis kelamin tersebut. pada bahasan bahasa dan jender dikemukakan (1) (ketidak)samaan. Misalnya. Hal ini tentu saja membuat manusia berbicara sesuai dengan ruang lingkup pilihan yang mungkin ada. feminin. suara mereka lebih dalam sebab vibrasi cord vokal laki-laki lebih rendah frekuensinya daripada perempuan. di Korea terdapat register tuturan perempuan yang ditandai oleh titi nada yang tinggi. Menurut Wodak dan Benke dalam Coulmas (1998: 128). perbedaan. istilah sex digunakan untuk mengacu kepada perbedaan biologis atau anatomis antara pria dan wanita. dan (8) reformasi bahasa. (2) perbedaan (3) dominasi.

Akan tetapi akan terdapat penjelasan yang mungkin dan menjadi hipotesis yang menarik untuk dibuktikan dalam kaitannya dengan perubahan sosial. cara mereka menyapa satu sama lain. Selama periode itu juga terjadi percampuran tempat kerja antara laki-laki dan perempuan Jepang yang terus meningkat. Setiap masyarakat dan budaya rnemiliki skrip yang berbeda-beda. Sementara itu. dan gejala etiket linguistik lainnya. Banyak sarjana dan aktivis mempertanyakan gagasan kelaziman dalam masyarakat barat dan mulai mempertanyakan bagaimana konsep feminin dan maskulin yang mereka inginkan. Ketiga hal tersebut lebih berkaitan dengan kondisi sosial yang mengharapkan adanya variasi. Hal ini jugs umumnya terjadi di panggung Shakespeare di Inggris. Topik tentang perbedaan ini telah menarik perhatian pergerakan feminis di masyarakat barat dan menjadi agenda perhatian mereka sejak pertengahan tahun 1970-an. Kedua pendekatan tersebut berupaya mendapatkan penjelasan lebih . 1992). 2. Jika titi nada suara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya. Ohara (1997) merekam percakapan natural dan bacaan kalimatkalimat dalam bahasa Jepang dan Inggris oleh orang yang sama. Titi nada adalah hal yang menarik dalam kaitan ini karena hal ini tampaknya lebih dekat dengan urusan alamiah dan fisik daripada misalnya katakata yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Dapat disimpulkan bahwa norma sosial mempengaruhi titi nada. Peran berdasarkan jenis kelamin dilakonkan dalam kehidupan seharihari. Ohara menemukan bahwa wanita berbicara dengan titi nada yang Iebih tinggi dalam bahasa Jepang daripada Bahasa lnggris. titi nada laki-laki sama pada kedua bahasa. Dari observasi diketahui bahwa titi nada pembicara yang sama bervariasi tergantung kepada bahasa yang digunakannya. terjadi polernik dan perdebatan tentang perilaku ‗tuturan berkaitan jenis kelamin (sex)‘ harus dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau dominan (Camerson. Perbedaan Pada awal mula studi tentang sosiolinguistik. namun selagi bahasa merupakan ―permainanan‖ bersama kebanyakan pembicara setia pada norma tersebut. Ada sarana lain untuk meningkatkan peranan jenis kelamin. Dalam opera Cina seperti halnya di teater Kabuki Jepang karakter perempuan dimainkan oleh laki-laki. Pembicara dapat melanggar norma yang berlaku. ciri-ciri perilaku tuturan lainnya seharusnya bervariasi berdasarkan kedua jenis kelamin tersebut. Kebanyakan hubungan antara kedua jenis kelamin yang dulunya dianggap alamiah atau pemberian Tuhan telah dianggap sebagai konstruksi budaya. Tampaknya yang terjadi dewasa ini laki-laki berubah berbicara seperti perempuan Bukti eksperimen menyatakan bahwa terdapat alasan-alasan sosiolinguistik terhadap perbedaan dalam titi nada antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bentuk-bentuk linguistik yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan berbeda dalam semua masyarakat tuturan. Hal ini menjelaskan bahwa mengapa perempuan dalam penelitian Ohara berbicara dengan titinada yang lebih tinggi dalam bahasa Jepang dari pada bahasa Inggris.tiga dekade antara tahun 1950-an dan 1980-an rata-rata titi nada suara faki-laki Jepang naik secara signifikan. Tidak ada bukti yang tidak dapat dibantah bahwa perubahan sosial menyebabkan perubahan suara laki-laki.

3. 1990. 1997). Perbedaan pola pergE. (Gibbon. Perbedaan perilaku berbahasa antara laki dan perempuan juga terjadi karena beberapa alasan. sementara bagi anak perempuan lebih cocok untuk melibatkan diri secara langsung dan memahami. akan tetapi sebagai wujud dominasi kaum lakilaki. 1992). Sementara itu.. Kecenderungan serupa terjadi pula pada beberapa masyarakat bahasa. Gordon. Contoh. Hal ini dilakukan semata-mata dimaksudkan dalam rangka meningkatkan meraih peluang ke depan dan statusnya (Labov. bahwa penggunaan bahasa non-standard lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki. (Spender. Hasil dari bentuk percakapan tersebut digambarkan sebagai persaingan (competitive) dan kerjasama (cooperative) (Eckert. 1984) dan Amsterdam (Berouwer dan van Hoult.. Perbedaan lain disebabkan adanya perbedaan norma dalam percakapan sebagai akibat dari interaksi yang hanya berlangsung/terjadi pada teman kelompok berjenis kelamin tunggal. Tannen. akan tetapi penjelasannya berbeda. Variasi khusus jenis kelamin dalam perilaku bahasa seperti dikemukakan dan penguatan perbedaan kekuasaan. Pendapat yang berbeda mengasumsikan karena peranan perempuan dalam mengasuh anak menjadikan mereka sadar akan statusnya. bagaimana kita dapat memutuskan terjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain benar atau tidak? Bahasa bukan sebuah rumah pesakitan yang takterelakkan dari pikiran. walking dan jogging dibaca dengan (in) atau ing (in). seperti kekuasaan (power) dan dominasi (domination). Contoh dalam buku Spender yang berjudul Man Made Language didasarkan atas konsep bahwa bahasa yang menentukan batas dunia kita. Misalnya dalam bahasa !nggris penggunaan akhiran ‗ing‘. termasuk segala hal yang berkenaan dengan penolakan jenis kelaminisme atau sebaliknya dengan bahasa yang menyakitkan (offensive). 1985: 139). Jender dan Variasi Fonetik Penggunaan variasi linguistik disebabkan beberapa faktor. 1989. seperi Norwich (Trudgill. pada kata running. Dominasi Pendekatan dominasi berfokus pada kekuasaan ‗dan ketidaksetaraan. pendekatan dominasi menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat yang digunakan dalam berbagai cara untuk menggalang dominasi kaum laki-laki. 1991). diantaranya banyak survey yang mengungkapkan dengan jelas bahwa strata sosial berhubungan dengan hal tersebut. kesepakatan dalam penambahan nama suami di depan nama istri setelah menikah dan menggunakan nama yang hampir sama dengan nama ayah untuk keturunan selanjutnya (anak cucu) dianggap bukan sebagai hal yang netral. ditemukan. Pada kelompok sosial tertentu akan ditemukan variasi-variasi seperti .ulan menyebabkan anak laki-laki menjadi konsen dengan status dan penonjolan dirinya. Dengan melihat sifat dan bentuk perilaku bahasa laki-laki (men) dapat dikenal sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. 4. Hal ini juga sebagai pujian terhadap bahasa itu sendiri dengan kekuatan memengaruhi atau menentukan pikiran. 1999: 61). Bahasa adalah sebuah sistem terbuka yang memperkenankan siapa saja untuk membuat pilihan-pilihan. Penjelasan seperti di atas.lanjut mengapa suatu masyarakat menonjolkan atau tidak menonjolkan perbedaan dari kedua jenis kelamin tersebut dan bagaimana bahasa digunakan sebagai penanda perbedaan yang dimaksud. contohnya seperti yang terjadi pada kaum perempuan di kota New York. Pikiran ditentukan oleh sebuah bahasa yang khas.

Hubungan antara jender. Dalam kapasitas seseorang di mana is berada. tingkat sosial. Labov (1990) dikutip Coulmas. Hubungan yang kompleks antara jenis pekerjaan. Seperti terlihat dalam hasil survei-survei pada dialek perkotaan.ini. 2005: 40) telah melakukan pengamatan berkali-kali dan menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memilih variasi standar daripada laki-laki. Adanya perbedaan antara perempuan yang memiliki anak dan perempuan yang tidak memiliki anak. 2002: 111). Semakin tinggi status kelompok sosial semakin tinggi penggunaan variasi ‗in‘. Penggunaan variasi oleh perempuan dengan frekuaensi yang lebih tinggi daripada laki-laki disebabkan adanya keinginan perempuan dalam memperbaiki posisi sosialnya atau supaya tidak dianggap inferior daripada lakilaki. Jaringan Sosial James dan Milroy mengemukakan bahwa peranan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial terefleksikan dalam bentuk tuturan mereka.1 hal 41. 5. Lebih jauh lagi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam jaringan sosial misalnya . dan sebagainya. Di samping perbedaan yang bersifat fonetik dan fonemik juga terdapat perbedaan dalam asepk tatabahasa (gramatikal). dan ‗rather‘ memiliki variasi lokal vokal depan rendah sedangkan variasi standarnya ialah [e]. bekerja atau tidak dianggap mempengaruhi perilaku berbicara. seperti contoh adalah sedikitnya perempuan yang menggunakan kalimat nonbaku. akan tampak bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan variasi ‗in daripada perempuan. seperti kalimat ―I don‘t want none‖ yang baku ialah ―I want nothing‖ atau ―I don‘t want anything‖ (Sumarsono dan Partana. punya anak atau tidak. Seperti tampak pada gambar 3. Contohnya. Pemilihan variasi fonetik tersebut lebih disebabkan berbagai motif dan kondisi. dan umur para perempuan secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan oleh laki-laki. dan bentuk-bentuk tuturan yang dipilih merupakan hal yang kompleks. jaringan sosial. seperti kelas sosial. perempuandan laki-laki tidak hanya berbicara sebagai dirinya sendiri. teman dan orang asing. kata dalam bahasa Inggris yang memiliki vokal depan rendah [da] seperti dalam kata that memiliki variasi lokal dengan vokal belakang Begitu juga pada kata-kata ‗trap‘. Variasi standar lebih banyak digunakan oleh perempuan. Analisis jaringan membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam kemunculan variasi-variasi fonetik. Jika dilihat dari jenis kelamin. Berkaitan dengan hal tersebut dipertegas oleh Fasold. jaringan perkenalan. Tampak pada survei tersebut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain. Jenis kelamin pembicara merupakan variabel primer ditambah dengan variabel-variabel tambahan. etnik. namun mereka dapat berbicara seperti seorang guru dan murid. Perempuan cenderung melakukan interaksi dalam jaringan yang intens dan lebih kompleks dan mereka tampaknya menguhubungkan variasi pilihan bahasanya dengan struktur jaringan personal dari pada laki-laki. Contoh peningkatan pemakain bentuk ‗in‘ dalam bahasa lnggris dari kelompok sosial tinggi sampai kelompok sosial yang rendah.

7. Pertanyaan yang diajukan terhadap bahasa Jepang ialah bagaimana dan mengapa terdapat hubungan antara ―kewanitaan‖ dan tuturan menjadi topik utama dalam kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan jender. Ideologi Linguistik Secara umum hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku berbicara melibatkan sebuah bahasa yang telah terbentuk sejak lama dari generasi terdahulu. 6. baik disengaja maupun tidak disengaja. Perempuan dan laki-laki dapat berbicara berbeda sesuai dengan situasi. bahwa kajian sosiolinguistik tidak berfokus pada tuturan tetapi pada ideologi linguistik penutur. 1. ditemukan tidak terdapat hubungan jender yang signifikan di antara setiap variabel yang diteliti. Reformasi Bahasa . Hubungan yang kompleks antara jenis kelamin dan perilaku tuturan melibartkan bahasa yang dibentuk oleh beberapa generasi penutur bahasa itu. M. M. Inoue (1994: 322) berpendapat: kita harus memahami. Perbedaan jender dalam bahasa Jepang mungkin kurang dari apa yang biasa diterima sebagai suatu kenyataan. Begitu juga halnya dengan pembentukan ideologi dari tradisi etnolinguistik masyarakat itu. Pada kedua tingkatan tersebut pembicara dapat memilih apakah is harus berusaha mereproduksi ulang atau merubah aturan yang sudah ada. Pada kedua tingkatan penutur tersebut membuat pilihan sehingga mereproduksi dan merubah kesepakatan yang ada tanpa disadari atau dalam beberapa hal dilakukan secara sengaja. Inoue lebih jauh menyatakan bahwa hal seperti itu bukan peninggalan feodai Jepang akan tetapi merupakan produk modernisasi di Jepang pada abad ke 19 yang direproduksi dalam konsep yang kontemporer menyangkut femaleness dan Japanesness. Jender Lintas Budaya Dalam hal budaya atau tradisi ternyata ditemukan perbedaan perilaku berbicara di setiap daerah di dunia. sebagai formasi ideologi dari tradisi etnolinguistik komunitas tersebut. 8. Pendapat Hibiya (1988) dalam beberapa kajian yang dilakukan secara komprehensif yaitu menyangkut variasi sosiofonetik dalam tuturan/bahasa Jepang. Dalam masyarakat tradisional atau primitif kebiasaan kawin di luar keluarga (exogamy) dapat merubah marga dan suku. 1. Brouwer dan van Hout mengemukakan bahwa perempuan yang memiliki anak dan pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa standar.perempaun lebih banyak berurusan dengan keluarga dan laki-laki lebih banyak berurusan dengan lingkungan. Variabel bebas yang berkaitan dengan aspek sosial seperti jender dan variabel terikat seperti variasi fonetik. Setiap orang berbicara untuk menunjukkan identitas mereka dalam kelompok budaya tertentu bahkan terdapat peredaan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan tingkat kesopanan yang dikemas menjadi sistem gramatikal daripada hanya sekedar makna secara Ieksikal dalam pilihan fonetik itu sendiri.

kelas sosial. Di antaranya. berkata kasar dan sebagainya. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki. ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Poin utama adalah perubahan yang dibawa oieh bahasa feminim menunjukkan bahwa bahasa dipengaruhi secara nyata oieh pilihan dari si pembicara dengan sengaja. Kalau sedang emosi. maupun cara menyelesaikannya. Dari bentuk maupun fungsinya. Perbedaan itu. bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. Seperti seekor reptil. Padahal. Misalnya saja penulisan ―Essay on Man‖ cenderung merujuk pada jenis kelamin laki-laki. termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. . Karena itu. Begitu pula dengan komunikasi orang Belanda (Dutch) yang melakukan hal yang sama. Tidak hanya dilihat dari hal tersebut pada kenyataannya sebuah pergerakan sosial yang muncul pada abad ke 20 menunjukkan bahwa di negara barat yang merupakan industri kelas tinggi penggunaan bahasa cenderung menunjukkan jenis kelamin dalam beberapa hal. atau faktor sosial lain. meskipun . Seperti memukul.tentu saja . Sedangkan pada wanita. Hal ini merupakan usaha reformasi bahasa yang sudah terlanjur menjadi alat diskriminatif. membanting. Dalam menghadapi masalah. Like Laki-laki & Wanita sosok yang berbeda Author: Budi Utami Fahnun 4 May Dari seorang teman ( “firliana putri” ) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda. Para ahli otak. Penutup Mengapa pola interaksi pria berbeda dengan wanita? Apakah ini disebabkan oleh status subordinat wanita pada sebagian besar masyarakat sehingga wanita harus menjadi makhluk yang kooperatif? Atau ada alasan lain? Memang cukup jelas bahwa faktor subordinasi lebih memadai untuk menjelaskan hal tersebut dibandingkan status pekerjaan. Dalam banyak hal. maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanita. mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis.Ekspresi-ekspresi jenis kelamin yang ada di dalam kalimat sintaksis leksikal dan tingkat morfologi dalam bahasa Inggris dan lainnya sudah banyak mengalami perubahan. cenderung untuk mengandalkan fisik. dirubah menjadi ―Essay on Humanity‖. kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya.mereka sama-sama manusia. bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi. Dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari. Usaha untuk mengurangi jenis kelamin dalam bahasa Inggris menunjukkan keberhasilan. yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan.

tidak perlu kondisi seperti itu. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Selain itu. . Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Saraf-saraf seksual di tulang punggung lelaki memiliki jumlah dan ketebalan lebih banyak dibandingkan perempuan. fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. sayangnya. Kebanyakan pria jika kena stroke. seorang wanita tetap bisa melakukan hubungan intim. sedangkan yang lelaki peka terhadap hormon androgen. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. Sehingga. Wanita lebih suka bergaya lordosis alias pasrah telentang.Pada perempuan. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Otot-otot dan saraf yang bekerja pada sekitar daerah vital mereka pun berbeda. Yang disebut sebagai Nukleus Onuf‘s. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Cuma. Meskipun pada prakteknya bisa sangat bervariasi. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. Secara struktural. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. Hampir di seluruh tubuhnya. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional. Meskipun otot dan sarafnya sedang pasif. keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Yang satu peka terhadap rangsangan hormon estrogen. berfungsi mengatur aktif tidaknya alat genital. dibandingkan lelaki. sedangkan lelaki lebih suka agresif dan bergaya kiposis atau menungging. kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Dalam hal seksualitas. ia baru bisa melakukan hubungan seksual jika otot dan sarafnya menegang aktif. otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Pada lelaki. atau bahasa tubuh mereka. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. pada wanita yang mengalami stroke. seperti sedih dan gembira. Itu dikarenakan perbedaan fungsi preoptic medial-nya. wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Sedangkan pada wanita.

kamu akanmendapatkan orang lain yang lebih baik”. Dan seterusnya. serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. maupun ukuran kebahagiaannya “jangan konyol. seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Dan sebagainya. Mengabaikanetika umum seperti : (ketuk pintu sebelum masuk. “banyak yang telah menderita daripadakamu. Tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Dan berulangkali terjadi. sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda. seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula.a. Rasa sakit dan stres semakin meningkat. Sejak usia baligh. Meskipun. Belum lagi. masa menyusui. Karena. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. • . 2. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. dilarang mengintip laci oranglain) juga bentuk dari nobody upstair. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. “lupakan tentang si jelek itu. Power Play (Kekuasaan Berperan / Terdapat Unsur Paksaan) Adalah tipe downward talk yang merendahkan dan cenderung m e m a k s a orang lain.Diantaranya : • Nobody UpstairBiasanya dilakukan dengan menolak atau mengabaikan pembicaraan orang lain. ketika mereka melahirkan.Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. jangan mengasihani dirimu sendiri”Cara lain downward talk adalah dengan menyela atau interupsi pembicaraanorang lain. masa membesarkan dan mendidik anak.Pura-pura tidak mendengarkan meskipun telah berkali-kali diucapkan. tingkah laku. pada bagian ini saya hanya ingin mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Dengan menginterupsi orang lain menegaskan bahwa komunikasinyalebih penting daripada orang lain. dalam fisik. Belum lagi. Pada dasarnya. Kadangdilakukan dengan menolak kata tidak untuk sebuah permintaan. kamu akan lulus ujian”. Nyeri karena datang bulan itu.

S a m p a i k a n d e n g a n bahasa yangmenjelaskan (bukan mengevaluasi) secara spesifik perilaku yang tidakdisukai. menjelek-jelekan pacar.Contoh : “Bagaimana kamu bisa menyukainya. Equality (Kesetaraan)Sering kali bentuk intimidasi dan manipulasi menggunakan downward talkdilakukan melalui kesenjangan. 2.2 . Biasanya terdapat pada dokumen pemerintahan. Contoh : saya minta agar kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk. 2.c. kesal. Terdiridari 3 management strategy.Sampaikan respon yang diijinkan agar bisa sama-sama nyaman. Katakan bila kamu marah.3 3. legal dan medicalkontrak dan penulisan ilmiah. Kesetaraan yang dimaksud dalam k o m u n i k a s i diantaranya tidak diinterupsi dan dianggap tidak penting.You Owe MeS u a t u k o m u n i k a s i y a n g m e n u n t u t o r a n g l a i n a g a r m e m e n u h i n y a a t a s d a s a r menurutinya atas dasar balas jasa terhadap kebaikan yang telah diterima. diantaranya :1. dia kan kayak babi”Berikut saran Claude Steiner untuk mengantisipasi semacam “power play”.Sampaikan perasaanmu. Gobbledygook Adalah penggunaan bahasa yang rumit dan membingungkan padahal tidakdiperlukan. tersinggung atauterganggu dengan ucapannya. Lying (Berbohong) .Contoh : “bagaimana kamu bisa meninggalkan perusahaan ini. setelah apa yangkami lakukan padamu?” • MethaporMemberikan opini negatif atau kesan dengan hiasan / metafora. J e l a s k a n p e r i l a k u y a n g k a m u t i d a k s u k a i . mengungki t-ungkit m a s a l a h hutang budi. Misal : membaca email tanpa ijin. Meskipun management strategy dalam menghadapipower play. namun solusi terampuh untuk menghadapi hampir semua power playa d a l a h kesetaraan (equality).b.

orang y a n g d i w a k i l i d a n j u g a l a w a n . Namundapat disederhanakan jadi 2 alasan utama : (1) untuk memperoleh penghargaan. Carl Camden. Jadi.Definisi menurut Random House Dictionary. suatu yang salah dan biasanyadigunakan untuk memperoleh kesan yang lebih baik. tapi juga dilakukan dengan elemenn o n . AfiliasiBohong untuk meningkatkan hubungan atau mengurangi konflik dengan lawanbicara. m a k a d a p a t d i s e b u t j u g a b e r b o h o n g a t a u m e m b e r i k a n pernyataan palsu. Harga diri (self esteem) / kebanggaan / pamerBohong untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri individu. Diantaranya adalah denganmenggunakan ekspresi muka t i d a k b e r s a l a h . Contoh : bohong untuk mencegah perpecahan.Berbohong sebagian besar secara verbal.v e r b a l a g a r l e b i h d i p e r c a y a o r a n g l a i n . Berbohong dapat dilakukandengan menambahkan atau mengurangi fakta. a n g g u k a n d a n s e b a g a i n y a . berbohong adalah pernyataanyang tidak benar yang bertujuan untuk menipu. Michael Mtley dan A n n Wilson (1984) dalam studinya tentang kebohongan baik / kecil (white lie) dalamkomunikasi individu. Alasan untuk Berbohong Banyak alasan untuk berbohong dan situasi yang menyebabkannya. diketahui 4 macam penghargaan yang mendasari kebohongan(motif) : Kebutuhan dasar4 Bohong untuk memenuhi kebutuhan dasar. jika beberapa informasi ataufakta penting dihilangkan sehingga bisa memberikan pemahaman yang berbeda( c e n d e r u n g s a l a h ) .( 2 ) u n t u k menghindari hukuman / sanksi. Kebohongan mulai dari yang bertujuan baik (diperbolehkan / white lie) sampaidengan berbohong besar semuanya menggunakan satu kesamaan formula yangmenyampaikan informasi salah yang dirancang sedemikian rupa sehingga semuaorang dapat mempercayai kebenarannya. misal : untuk uang ataupun materiil.

komusikasi dikirimkan dan diterima secarasatu kesatuan verbal dan non verbal.8 persen untuk kepentingan pembohong. Hasil analisis Camden. Apakah Berbohong Efektif ? Kebohongan memiliki dimensi etika dan efektifitas. orang bisa mencapai puncak kesuksesandalamprofesinya dan menghasilkan banyak kekayaan melalui kebohongan dan penipuan. 21.5 persen untukkepentingan orang lain.Biasanya berbohong agar dapat penghargaan bagi diri atau menghindarihukuman bagi diri sendiri.b i c a r a . Contoh : bohong untuk humor ataubohong agar disukai orang lain. hal ini dianggap bukan bertujuan untuk mendapatkan informasi tetapi untuk memperoleh pujian. Misalnya bila terdapat pertanyaan tentang dekorasi rumah dan dijawab dengan pujian (tidak berkata jujur). misalnya dengan menyembunyikan s e b a g i a n informasi sehingga orang tersebut membuat keputusan berdasarkan asumsi yangtidak benar atau salah. C o n t o h : b o h o n g u n t u k m e n i n g k a t k a n kompetensi seseorang. Montley dan Wilson terhadap 322kebohongan di ketahui bahwa : 75. 2.D i m e n s i e f e k t i f i t a s p e r l u d i p e r t i m b a n g k a n a p a k a h k e b o h o n g a n t e r s e b u t sukses atau gagal dalam memperoleh penghargaan / keinginan atau menghimbausangsi. T i d a k d i r a g u k a n l a g i b a h w a b e r b o h o n g d a p a t b e r m a n f a a t d i berbagai aspek. Kebohongan dan Tidak Konsisten Seperti yang telah disebutkan. Denganb e r b o h o n g kepada orang lain. Banyak kebohongan efektif. Kepuasan diri sendiri (self gratification)Bohong untuk memperoleh kepuasan pribadi. dan keduanya p e r l u dipertimbangkan. mengenai cita rasa atau masakan. begitu juga kebohongan. Dimensi etika berkaitan tentang mana yang baik dan mana yangburuk.K a d a n g t e r d a p a t k e s e p a k a t a n t a k t e r t u l i s d a l a m m a s y a r a k a t u n t u k menghindari berkata jujur.5 Namun berbohong juga membawa konsekuensi dan masalah yang serius sehinggakita harus mempertimbangkan kembali keinginan untuk berbohong.7persen untuk kepentingan orang yang menyuruh berbohong. Berbohong pada dasarnya bertentangan secara etik karena setiap individub e r h a k u n t u k memilih berdasarkan informasi terbaik yang tersedia. Sangat sulit .

m a k a s e c a r a psikologi dapat mengakibatkan konflik intrapersonal.untukberbohong non verbal secara meyakinkan. A p a b i l a a n d a menganggap berbohong adalah salah d a n a n d a m e l a k u k a n n y a . Kejujuran secara efektif dilakukan hanya pada hubungan yang lebih dekat. mulaidari sekedar diacuhkan hingga pengusiran dari gruo atau komunitas. seringkali kebohongan digagalkan olehk o m u n i k a s i n o n v e r b a l . curhat dan komunikasi yang lebih mendalam. Apabila ada perbedaan antaralisan dan non verbal. Juju r bukan berarti melukai perasaans e s e o r a n g a t a u p u n m e n g h a n c u r k a n g a m b a r a n / i m e j y a n g m e r e k a b a n g u n . namun mereka tidak m e n y u k a i b a h k a n mengutuk pembohong. Konsekuensi bila kebohongan tertangkap bervariasi. Pendapat / perkataan pembohongtersebut akhirnya diacuhkan meskipun dia kemudian berkata jujur. Honesty (Kejujuran) Lawan dari kebohongan adalah kejujuran. Self-Talk dan Other Talk (hanya membicarakan diri d a n h a n y a membicarakan orang lain) 6 . Kebohongan dan Penolakan Interpersonal Masalah besar yang timbul dari berbohong adalah penolakan grup /komunitas / masyarakat ketika berbohong terungkap. bertukarpikiran atau pengalaman. H a l i n i d i k a r e n a k a n m a s y a r a k a t t i d a k d a p a t l a g i m e n i l a i informasi yang disampaikan jujur atau bohong.B e r b o h o n g j u g a b e r p e n g a r u h t e r h a d a p d i r i s e n d i r i . Denganmengetahui penggunaannya. kecil kemungkinan bahwa dengan berkata jujur malahm e n y e b a b k a n o r a n g l a i n m e n g e t a h u i s e s u a t u y a n g t i d a k s i a p a t a u t i d a k m a u mereka ketahui. justru lawan bicara lebih mempercayai informasi non verbal. Meskipun pada saatbersamaan mereka juga berbohong. S a n g a t m u d a h b e r b o h o n g s e c a r a l i s a n d i b a n d i n g k a n berbohong melalui ekspresi muka dan bahasa tubuh.Selain itu komunikasi pembohong yang terungkap secara drastis menurun m e n j a d i t i d a k e f e k t i f .Akibatnya pembohong tidak akan mendapatkan yang diinginkan melainkan reputasiyang cacat akibat berbohong.

Banyak orang yang egosentris. Gosip merupakan bagian takterelakan dari interaksi keseharian. J i k a dalam keadaan terdesak (misalnya berkaitan den gan nyawa eseorang).terutama mengenai kehidupan pribadi orang lain. gosip adalah omong kosong atau rumor.i n f o r m a s i h a r u s d i s a m p a i k a n h a n y a p a d a o r a n g y a n g p e r l u t a h u . karir. Terdapat pula orang sangat berkebalikan dan malah jarang membicarakan d i r i m e r e k a . Sehingga interaksi yang terjadi menimbulkan kesan kurang mempercayai karena tidak menceritakan apapun tentang diri sendiri. M e r e k a i n i l a h o r a n g . kadang-kadang self-talk. b u k a n kesembarang orang.7 . Keseimbangan Semua interaksi harus seimbang. maka dari itu keinginan kita untuk bergosip sebaiknya dikendalikan. kisah cinta. Jarang sekali mereka menanyakan keadaan orang lain. M e l a n g g a r e t i k a b i l a m e m b u k a i n f o r m a s i y a n g k a m u j a n j i k a n t i d a k disebarluaskan. Etika yang Berlaku Gosip cenderung melanggar etika. prestasi dan j u g a kegagalan). Beberapa Masalah Akibat Gosip Gosip menimbulkan masalah serius bila tidak dikelola secara baik d a n berimbang.o r a n g y a n g i n g i n m e n g e t a h u i s e g a l a s e s u a t u tentang orang lain tapi tidak mau menceritakan diri mereka sendiri. Tidak bergosip bisa jadi menghilangkan salahsatu bentuk komunikasi yang paling menyebangkan. Sissela Bok dalam “secrets” ada 3 macamgosip yang melanggar etika :a . S e h i n g g a i n t e r a k s i k o m u n i k a s i l e b i h menyenangkan. keluarga. mereka teris menerus membicarakan diris e n d i r i (pekerjaan. masalah. ladang-ladango t h e r talk dan tidak hanya cenderung ke self talk ataupun othe r talk s a j a . Komunikasi adalah proses dua arah masing-masing orang harus berperan sebagais u m b e r d a n p e n e r i m a i n f o r m a s i . Mereka tidakm a u m e n c e r i t a k a n a p a p u n t e n t a n g d i r i m e r e k a y a n g d a p a t m e m b u a t m e r e k a rapuh. Gossip Menurut Random house dictionary.

anda tidak sependapat denganlawan bicara. Pastikankerahasiaannya (yang menyampaikan) semua percakapan mengenai orang lain. termasuk juga komunikasi orang tersebut.kita tidak hanya mengakui kehadiran orang lain tetapi juga menerima dengan baikpendapat atau pemikiran orang tersebut. Diskonfirmasi (Pengabaian) Diskobfirmasi adalah pola komunikasi dengan mengabaikan kehadiranseseorang. Konfirmasi Konfirmasi merupakan pola komunikasi yang berlawanan.com/scribd English Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.Bila diketahui gosip tersebut salah dan tidak perlu diteruskanc. Anda menunjukan ketidaksukaan terhadap pendapat atau perlakuanorang lain. Perlu jugadiingat prinsip irreversibel : “kamu tidak dapat menarik kemba li informasi yangkamu ucapkan”. D i s k o n f i r m a s i b e r b e d a dengan penolakan (rejection0. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Interaksi Bahasa Indonesia : Jenis-jenis Majas dan Penggunaannya MAJAS PERBANDINGAN .b.”Seha rusnya secara otomatis berpotensi merusak prinsip kerahasiaan. Pada penolakan.” Atau “dia menganggap kamu ….Bila menyerang privasi orang lain dan dapat melukai perasaan orang lain. Dalam berbagai bidang ilmu. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi. interaksi memiliki makna yang berbeda.Gosip yang dimulai dengan : “kata dia ……. 8 twitter. Dalam konfirmasi. sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Kerahasiaan (Confidentialy) Prinsip kerahasiaan merupakan metode yang baik ketika bergosip.

9. . Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. 4. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita. 10. 2. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. 20. 21. 11. Alegori: Menyatakan dengan cara lain. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. 2. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. seperti layaknya. 17. ciri khas. melalui kiasan atau penggambaran. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek. 8. 15. 5. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. 14. 12. dll. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung. atau atribut. 18. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. MAJAS SINDIRAN 1. 3. 7. dll. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. 22. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. 6. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. 24. 23. 13. namun dinyatakan sama. bagaikan. 3. 19. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda.1. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. 16. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. bagaikan.

frase. sehingga menjadi kalimat yang rancu. 12. . 20. kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. 25. 10. 19. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan. 9. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan. kebiasaan. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat. namun sebenarnya keduanya benar. dihubungkan dengan kata penghubung. 24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata. 2. ironi. dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya. 21. atau klausa yang sejajar. 3. 6. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat. 13. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan. tetapi dengan makna yang berlainan. 17. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. 4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme. yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. untuk mengecam atau menertawakan gagasan. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan. 23. MAJAS PENEGASAN 1. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. frase. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua. dll. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana. 18. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan. 22. 8. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.4. 5. 7. 15. MAJAS PERTENTANGAN 1. 5. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. 14. Repetisi: Perulangan kata. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat. 16. 11. atau parodi.

bercerita dalam pelajaran berbahasa. seorang guru hendaknya memberikan tauladan yang baik dalam berbahasa dengan siswa. Pengajaran bahasa menjadi hal yang penting bagi keterampilan berbahasa anak untuk mengungkapkan pikiran maupun sebagai bentuk moral kepribadian anak. . Anak usia Sekolah Dasar dapat memahami apa yang diajarkan guru apabila guru meneladankan langsung atau memberi contoh kepada anak. Metode pengajaran bahasa yang dilakukan seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar memberikan teori-teori bahasa kepada anak. namun bagaimana hasil yang diperoleh anak untuk dapat berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. 5. Menyikapi perkembangan anak usia Sekolah Dasar. You might also like: teraksi Guru dalam Berbahasa dengan Siswa Faktor lingkungan yang turut berperan besar pula terhadap perkembangan bahasa anak yaitu pengaruh interaksi antara guru dengan siswa. Dalam proses pembelajaran di sekolah. yang peka terhadap peniruan segala apa yang diperhatikan. hati-hati sekali guru dalam setiap pembicaraan kepada siswanya yang dijadikan sebagai tauladan. Sebagai anak usia Sekolah Dasar yang sedang dalam mengalami perkembangan bahasa dan dalam tahap eksplorasi. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase. sebaiknya menggunakan pemakaian kata yang tepat dan mudah dimengerti anak. 4. terjadi interaksi berkomunikasi antara guru dan siswa. pengaruh bahasa yang baik dapat sebagai pondasi anak untuk mengembangkan keterampilan berbahasa selanjutnya. Pemerolehan bahasa anak dapat terjadi ketika anak memperhatikan orang yang lebih dewasa dan menirunya. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap perkembangan bahasa anak usia Sekolah Dasar yaitu. mulai dari hal-hal yang sederhana. berikan sesering mungkin kesempatan pada anak untuk berlatih berkomunikasi langsung. 3.2. Masa usia anak saat ini lebih terpaku besar pada masa-masa sekolah. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya. sehingga tercipta komunikasi yang interaktif. Jadi. dimana anak sering bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. Hal tersebut dapat merangsang atau memacu anak untuk mengolah kata membentuk suatu kalimat yang dimengerti orang lain. Berikan pelajaran bahasa kepada siswa. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. Selanjutnya yaitu guru dalam berinteraksi dengan murid. dan dapat diberikan contoh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara menurut H. artinya.wordpress. Sapir (1921) dalam A.id/kbbi/index. menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Pintar-pintarlah seorang guru untuk memberikan pelajaran bahasa kepada seorang anak SD sebagai bekal pondasi awal bagi perkembangan pendidikan selanjutnya …. barangkali juga untuk sistem generatif. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan ―Pengajaran Pragmatik‖ menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis.php) . Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku ―Pragmatik: Perkenalan Awal‖ yaitu sebuah sistem. by means of a system of voluntarily produced symbols. bahasa guru yang menekan anak. dan mengidentifikasikan diri. A. ataupun kurangnya rangsangan dari guru.go. dan Pandangan Sosiolinguistik terhadap Bahasa Pertanyaan: 1) Apakah yang Anda ketahui menganai hakikat bahasa? 2) Sebutkan beberapa pengertian sosiolinguistik! 3) Bagaimanakah pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa? Jawaban: 1) Hakikat Bahasa Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer. yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama. seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner‘s Dictionary. Pengertian Sosiolinguistik. and desires. emotions. cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. sosiolinguistik adalah ilmu tentang bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial. S.com/2008/10/12/hakikat-bahasa/) 2) Beberapa pengertian linguistik: • Menurut KBBI Daring. hal tersebut berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa anak selanjutnya. (http://pusatbahasa.Bagaimana seorang guru memahami perkembangan bahasa anak usia SD. Hakikat Bahasa. berinteraksi. bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah ―A purely human and non-instinctive method of communicating ideas.‖ Di samping itu. Perkembangan bahasa anak dapat terhambat ketika seorang guru memberikan komunikasi bahasa yang sulit dimengerti oleh anak pada umumnya. (http://imadesudiana.kemdiknas.

9. 5. dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Wikipedia. Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat. Greus Meijer. Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur. 2. bahasa bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai bahasa. change. mengenai lembaga-lembaga.biz/t84-pengertian-sosiolinguistik menyebutkan beberapa pengetriansosiolinguistik yaitu: 1. sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. 4. Selin itu. 2. Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan kebudayaan. bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang kepada orang lain. (Rene appel.com/2008/10/pengertiansosiolinguistik-selengkapnya. and the characteristics of their speakers as these three constantly interact. terdapat juga beberapa pengertian linguistik lainnya menurut beberapa ahli linguistik: 1. Booiji (Rafiek. akan tetapi sebagai masyarakat sosial. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.• Ferdinaen Saragih (2008) dalam http://sigodang. Dengan demikian. Pendapat tersebut pada intinya berpegang pada satu kenyalaan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu. 1976:10).blogspot. and change one another within a speech community. 6. Kedua. the characteristics of their functions. 3.2forum. Pertama. dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Ia memberikan definisi sosiolinguistik sebagai the study of the characteristics of language varities. 8. Fasold (1993: ix) mengemukakan bahwa inti sosiolinguistik tergantung dari dua kenyataan. Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde . Sumarsono (2007:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan orang-orang yang memakai bahasa itu. 7. • Zakii (2008) dalam http://sastrainggris. Wijana (2006:7) berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Fishman. die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. mengatakan bahwa sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan. sosiolinguistik adalah kajian interdisipliner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. 2005:2) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan yang berperan dalam pergaulan. Rafiek (2005:1) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam pelaksanaannya itu bermaksud/bertujuan untuk mempelajari bagaimana konvensi-konvensi tentang relasi penggunaan bahasa untuk aspek-aspek lain tentang perilaku sosial. Nababan. Gerad Hubert. Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan .html) menyebutkan pengertian sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya.

) (Nancy Parrot Hickerson. 3. sedangkan Halliday (1973) menyebutnya interactional. memperlihatkan perasaan bersahabat. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Maksudnya. 1975:156). Booij. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi bahasa. viewing variation or it social context. 1975:139). Dalam hal ini. (Sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran. memelihara. topik. bahasa berfungsi personal atau pribadi atau emotif. Fungsi bahasa lainnya dapat kita lihat dari segi amanat (pesan . Finnocchiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya representational. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it‘s focus. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Kersten. Fungsi bahasa dilihat dari segi topik ujaran ini berfungsi referensial. Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya fungsi instrumental.J Verkuyl.P. geleng-geleng kepala. kepada siapa. 4. dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konveksi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. Maksud dari fungsi ini adalah menjalin hubungan.Piet Corder.Widdowson dalam J. 3) Pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa: Sosiolinguistik memandang bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyampaikan pikiran. sedangkan Jakobson (1960) menyebutnya fungsi kognitif. Sosiolinguistcs is the study of language operation. Contohnya ―UPI adalah IKIP tertua di Indonesia. bahasa yang berfungsi fatik ini mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah berpola dan biasanya disertai dengan gerak paralinguistik seperti senyuman. Karena.G.bahasa dan pergaulan sosial. Jakobson (1960) dan Finnochiaro (1974) menyebutnya interpersonal. atau solidaritas sosial. serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial. dan kedipan mata. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimau si pembicara. menggunakan bahasa apa. Fungsi referensial inilah yang melahirkan paham tradisional bahwa bahasa itu alat untuk menyatakan pikiran. Dalam hal ini. dan H. it‘s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. pendengar. kapan. J. kode. ada juga yang menyebutnya fungsi denotatif atau fungsi informatif. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. Pandangan sosiolingistik terhadap bahasa dapat dilihat dari fungsi-fungsi bahasa melalui sudut pandang penutur. Tujuannya tidak hanya memberikan informasi. (G.) (C. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya.‖ Dilihat dari segi kontak antara penutur dengan pendengar. anggukan kepala. bahasa berfungsi direktif.Criper dan H. dan apa tujuannya. yang menjadi sorotan dalam soiolingistik adalah siapa yang berbicara.B Allen dan S. Dilihat dari segi pendengar. bahasa tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. Dilihat dari sudut penutur. bahasa berfungsi fatik.‖ Fungsi bahasa apabila dilihat dari kode yang digunakan adalah berfungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson (1960) dan Finnocchiaro (1974)). tetapi membangun kontak sosial dengan para partisipan dalam pertuturan itu. artinya bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. dan amanat pembicaraan.E.G. Contohnya ―Dilarang merokok di ruangan ber-AC. 1980:81). sementara Jakobson (1960) menyebutnya fungsi retorikal. untuk menyatakan bagaimana pendapat si penutur mengenai dunia di sekelilingnya.

berestetik atau tidak. peranan sosiolingistik terhadap bahasa ini pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. tetapi lebih jauh dan lebih kompleks dari itu. kita menjadi menghargai keunikan tiap bahasa. dongeng. dalam hal ini adalah sisi sosialnya. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. Halliday (1973) dan Finnocchiaro (1974) menyebutnya fungsi poetic speech. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. Hudson 1996: 2). di mana bahasa berfungsi imajinatif. dan sebagainya. Holmes 1993: 1. Wujud dari poetic speech ini berupa karya seni seperti puisi.yang akan disampaikan). cerita. Dengan adanya sosiolinguistik. tidak terpaku pada satu ukuran. tidak mempunyai nilai keindahan. Kebanyakan orang awam itu menyatakan bahwa Bahasa Tegal adalah bahasa yang paling kasar. Akan tetapi. kita dapat memahami bahasa tidak dengan sudut pandang yang kaku. Melalui sosiolingguistik. tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasa itu. Sosiolingistik membuat kita tahu bahwa bahasa itu dinamis. Latar Belakang Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. Padahal hal itu salah satu penyebabnya adalah karena letak Tegal yang merupakan daerah pantai. Contohnya adalah pandangan orang awam terhadap Bahasa Jawa Tegal. Kita juga tidak bisa menilai atau menetapkan suatu bahasa itu kasar atau tidak. setelah saya tinjau dari sudut pandang sosiolinguistik. dan sebagainya. Kekasaran Bahasa Jawa Tegal yang dinyatakan oleh orang kebanyakan itu mungkin dilihat dari logat dan bicaranya yang keras. di mana letak geografis Tegal yang dekat dengan pantai. kita tidak bisa menghakimi bahasa dengan sesuka hati. lelucon. dan sebagainya. Orang pantai kalau berbicara cenderung agak teriak apabila dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah pegunungan. MAKALAH PEMILIHAN BAHASA DALAM KAJIAN SOSIOLINGUISTIK BAB I PENDAHULUAN A. Dengan sosiolinguistik. Kalau kita simpulkan. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver Currie .

Rumusan Masalah 1. Mengetahui pengertian pemilihan bahasa 2. Oleh karena itu. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Mengidentifikasi faktor penanda pemilihan bahasa . Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru.(dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. faktor penanda pemilihan bahasa. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Apakah pengertian pemilihan bahasa? 2. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. B. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). dan pendekatan pemilihan bahasa. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Apasaja faktor penanda pemilihan bahasa? 3. untuk memahami bagaimana pemilihan bahasa dalam kajian Sosiolinguistik. Tujuan 1. di sini akan dipaparkan mengenai pengertian pemilihan bahasa. Bagaimana pendekatan kajian pemilihan bahasa? C.

3. Peristiwa perlaihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. Ketiga. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Pengertian Pemilihan Bahasa Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Misalnya. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Mengetahui pendekatan kajian pemihan bahasa BAB II PEMBAHASAN A. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. . seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. Kedua. dengan melakukan alih kode. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Pertama. dengan melakukan campur kode. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Alih kode yang pertama terjadi kerana perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofora yang melambangkan identiti penutur. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan.

B. (3) topik percakapan. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. atau mengucapkan terima kasih). keberhasilan anak. status sosial ekonomi.Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). yaitu (1) partisipan. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. pekerjaan. meminta maaf. Senada dengan Evin-Tripp. rapat di keluarahan. . ungkapan. jenis kelamin. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktorfaktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. (3) isi wacana. Faktor Penanda Pemilihan Bahasa Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. atau frase. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi. permohonan. (2) partisipan dalam interkasi. yaitu pemakaian satu kata. dan (4) fungsi interaksi. peristiwa-peristiwa aktual. Di Indonesia. (2) situasi. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. dan (4) fungsi interaksi. dan topik harga barang di pasar. kebiasaan rutin (salam. Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. dan tawar menawar barang di pasar. selamat kelahiran di sebuah keluarga. kuliah. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini.

Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. situasi.Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya? Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. (2) penciptaan jarak sosial. 3. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa seseorang. 5. Di Obserwart. (2) kehadiran pembicara monolingual. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. . partisipan dalam interkasi. dan (2) tipe kosakata. dan (4) tingkat keakraban. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. 2. dan (4) memerintah atau meminta. latar (waktu dan tempat). fungsi interaksi. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Berbeda dengan Gal. (3) tingkat formalitas. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. (2) sekolah. topik percakapan (isi wacana). dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. Dari paran berbagai faktor di atas. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. Dari beberapa pendapat para ahli di atas mengenai faktor penanda pemilihan bahasa dapat disimpulkan bahwa faktor penanda pemilihan bahasa meliputi: 1. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. 4. (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan.

Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. dan pendekatan antropologi. akomodasi ke atas . dan pekerjaan. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). topik. agama. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). dan partisipan. serta Bourhish dan Taylor (1977). (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. pendekatan psikologi sosial. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga.C. misalnya keluarga. hubungan peran antar-komunikator. (1973). Pertama. Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Sebagai contoh. Giles et al. ketetanggaan. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. yaitu pendekatan sosiologi. Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur.

Kedua. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). dan antropologi.yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. Sebagai contoh. yakni observasi terlibat (participant observation). pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. . penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Dengan demikian. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. akomodasi ke bawah. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. psikologi sosial. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. Sementara itu. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial.

dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). (5) fungsi interaksi Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Faktor penanda pemilihan bahasa meliputi (1) latar (waktu dan tempat). Jakarta : PT Rineka Cipta Fathurrokhman.BAB III PENUTUP A. Pemilihan Bahasa. Simpulan Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) yaitu memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. (3) partisipan dalam interkasi. « Negosiasi Pilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran » . Ketiga. (4) topik percakapan (isi wacana). Sosiolingustik Perkenalan Awal.com. 2009. dengan melakukan campur kode (code mixing). Diunduh pada tanggal 12 Maret 2011. http://fathur-linguistik. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. yaitu pendekatan sosiologi. dengan melakukan alih kode (code switching). 2004. Kedua. Pertama. Abdul dan Leonie Agustina. pendekatan psikologi sosial. (2) situasi.blogspot. Sosiolinguistik. dan Masyarakat Multilingual. DAFTAR PUSTAKA Chaer. dan pendekatan antropologi.

dan pendekatan antropologi. bagi semua situasi dalam bentuk yang sama. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. Kata kunci: pemilihan bahasa. Satu aspek yang juga mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. pendekatan sosiologi. 2009 oleh fathurrokhmancenter Abstrak Interaksi sosial dalam masyarakat multibahasa. masyarakat multibahasa. psikologis. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan. seperti perkawinan. dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984). maupun pragmatis. Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik. PENDAHULUAN Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan. Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan . sosiolinguistik. apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah.Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik Juni 4. pendekatan psikologi sosial. Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial. yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain. Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Namun. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik. dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. baik faktor sosial. Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia. sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. pewarisan harta peninggalan. kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). budaya.

Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur. . Hudson. 1. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa . Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974). serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California. berbagai macam bahasa dan variasinya. telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik.pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIS TENTANG PEMILIHAN BAHASA Sesuai dengan namanya. melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. Permasalahan yang menarik untuk diungkap di sini antara lain sebagai berikut. sebagai berikut. atau psikolgis? Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Secara teoretis pendekatan apa yang selama ini digunakan oleh para ahli dalam mendekati fenomena itu? Tulisan ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut. (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentukbentuk ujaran. 1993. Sejalan dengan rumusan itu. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an. dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). 1971. sosialbudaya. Fishman. dan (4) pendekatan pemilihan bahasa. (2) kategori pemilihan bahasa. dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). (3) faktor penentu pemilihan bahasa. baik faktor kebahasaan maupun lainnya. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an. (2) identitas peserta tutur. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar. Los Angeles. penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik. tahun 1964. yang mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. 1984: 4. Holmes. Dipandang sebagai fenomena apakah pemilihan bahasa itu dalam paradigma sosilinguistik: fenomena linguistis. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru. Dittmar. dan sejumlah buku teks pengantar (Pride. apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasivariasi tersebut.. 1976). Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis. 1996: 2). (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur. (6) tingkatan variasi linguistik. sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh. 1972. (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial.

Wijana (1997: 5). termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur). seperti faktor sosialbudaya. budaya. Pada umumnya. Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode). baik secara korelasional maupun implikasional. Sebagai aspek tutur. yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication). sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. tugas sosiolinguis adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial. 1973. Hymes (1972. bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. (2) participants (peserta tutur). Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menyatakan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell. (5) keys (nada tutur). fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu. Dalam kajian pemilihan bahasa. serta sistem pragmatik. Dengan demikian. Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidaktidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia. (4) act sequence (topik/urutan tutur). (7) norms (norma- . kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial. dan situasional (Kartomihardjo.Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas. bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dalam kenyataannya. 1975). dan bahasa asing. yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik. yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia). kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam masyarakat Indonesia sekurangkurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa. (3) ends (tujuan tutur). 1981. Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor. Hudson. Fasold. 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING. sistem tingkah laku budaya. dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa. budaya. 1996. 1984. (6) instrumentalities (sarana tutur).

yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish. sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur). Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia. Pertama. dengan melakukan campur kode (code-mixing). maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Ketiga. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages). terdapat tiga jenis pilihan. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan.norma tutur). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Kedua. Misalnya. pesta kuliah. misalnya. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode. KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. dan (4) fungsi interaksi. seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa YahudiInggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. . untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. dalam hal memilih. artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. yaitu pemakaian satu kata. harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Faktor pertama dapat berupa halhal. dan (8) genre (jenis tutur). ungkapan atau frase pendek. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. yaitu memilih ―sebuah bahasa secara keseluruhan‖ (whole language) dalam suatu komunikasi. dengan alih kode (code-swicthing). Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. seperti: makan pagi di lingkungan keluarga. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical switching). Kenyataannya. (2) partisipan dalam interaksi. atau berkencan. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PEMILIHAN BAHASA Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa. (3) topik percakapan. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. Di Indonesia. dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain.

Faktor situasi mencakupu: (a) lokasi atau latar. (3) isi wacana. dan (3) tempat umum. yaitu (1) partisipan. pekerjaan. Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. (b) jarak sosial. peristiwa aktual. jenis kelamin. penjual pembeli. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan. suami-istri. harga sembako. PENDEKATAN PEMILIHAN BAHASA Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Dari jabaran di atas. Gal (dalam Grosjean. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. (j) keintiman. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. (contoh: direktur-karyawan. Yang menjadi pertanyaan adalah ―apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. Di Obewart. Menurut Grosjean terdapat empat faktor.Faktor kedua mencakup hal-hal. (2) situasi. Berbeda dengan Gal. yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. pembicara akan memilih bahasa Guarani. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. status sosial ekonomi. (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik. (c) tingkat formalitas. (b0 kehadiran pembicara monolingual. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran informasi. (g) pekerjaan. (k) sikap kepada bahasa-bahasa. Faktor ketiga dapat berupa: topiktopik tentang pekerjaan. dan (d) memerintah atau meminta. 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. dan (l) kekuatan luar yang menekan. olah raga. guru-siswa). (2) sekolah. latar belakang kesukuan. seperti: usia. Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. Di desa. pendekatan psikologi sosial. (f) pendidikan. dan sebagainya. dan (d) tingkat keintiman. Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas. yaitu (1) desa. dan mengucapkan terima kasih. dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status. (d) usia. Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa. (e) jenis kelamim. (c) melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan. (4) fungsi interaksi. asal. (h) latar belakang etnis. dan pendekatan antropologi. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. (3) status sosial ekonomi. (i) relasi kekeluargaan. yaitu pendekatan sosiologi. Pendekatan Sosiologi . Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi. permohonan. dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43).

agama. Greenfield menyebarkan kuesioner. Analisis domain terkait dengan diglosia. Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab. Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen. Skala ini mirip dengan skla perbedaansemantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0. tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed). Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi.Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). . 1972). Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik. dan topik. dan pekerjaan. Setelah memilih komponen ketiga yang tepat. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan). dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol.01. hubungan peran antar komunikator. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya. 5 berarti semua bahasa Inggris. dan partisipan. Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga. gereja. Di bagian lain. misalnya keluarga. Fishman (dalam Amon. 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris. Sebagai contoh. sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal. 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. seperti pendidikan dan pemerintahan. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah. tempat. dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. sekolah. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek. topik. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. yaitu: orang. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. ketetanggaan. 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol. pantai. 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. dan tempat kerja.

Howard Giles (1977. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu. Secara normal. Giles. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut. Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain. dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. daripada berorientasi pada masyarakat. dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face). Bourhish dan Taylor 1977). Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation). situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Pertama. Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973. Herman membicarakan tiga jenis situasi. yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. Dengan kata lain. kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping).Pendekatan Psikologi Sosial Berbeda dengan pendekatan sosiologi. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya. akomodasi mengambil bentuk konvergensi. Dalam kondisi tertentu. satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi. 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory). yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya). Seperti juga psikologi sosial. Dengan pendekatan yang sama. seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja melakukan divergensi. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur (personal needs).Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. seperti motivasi individu. Kedua. Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968). Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. Pendekatan Antroplogi Dari pandangan antropologi. pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilainilai sosial budaya. antropologi tertarik dengan bagaimana seorang .

Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi.T. dan situasional.penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold. Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar situasi kebahasaan dan sosialbudaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi. psikologis. Approaches. 1976 Sociolinguistics. R. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial. dan psikologi sosial. yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia. melainkan juga dengan masalah sosial. DAFTAR PUSTAKA Bell. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart. Dengan menggunakan metode observasi partisipan. dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron. budaya. antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang ―dimasukinya‖ selama mengadakan penelitian. Selain itu. PENUTUP Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata. kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. London: Bastford. pendekatan sosiologi. metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu. yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). Sebagai contoh. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia. and Problems. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. 1970: 49). 1976 Sociolinguistics: Goals. Dittmar. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen. London: Edwar Arnold . pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192). sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Norbert. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. Australia Timur. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. 1984: 192).

). Rowley: Newbury House. Fasold. 17-35). New York: Academic Press. 1990 The Sociolinguistics of Language. ―Situational Measures of Normative Language Views in Relation to Person. 1972. Giles. Ethnicity. Cambridge: Harvard University Press. Why don‘t women attempt to negotiate as often as men? If they did so. New York: Holt. Evin-Tripp. Lawrence. 1972 ―Sociolinguistic Rules of Address‖. Oxford: Basil Blackwell. 1972 Direction in Sociolinguistics. Gal. Joshua A. Volume 2. ed. Oxford: Basil Blackwell Publisher.). ________. Fishman.Edwards. Groesjean. is there any reason to think they would not do as well? When men and women negotiate with members of the opposite gender – and even the same gender – stereotypical beliefs affect their interactions. Craver Examines how the female can be equally competitive with the male in their interactions in negotiations when bargaining as opponents. Clair. 1972 The Sociology of Language. Life with Two Languages. Fracois. London: Academik Press. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. Dell (eds. In their new book. Susan. John. Sociolinguistics. Gumperz. Robert. Place. Harmondsworth: Penguin. Dalam John B Pride and Janet Holmes (eds. Howard dan St. only 7 percent of women do so – resulting in male starting salaries 7. 1979 Language and Social Psychology. 1972. Many men and women assume that males . 225-240). England: Penguin Books Ltd. Greenfield. (hlm. Advences of Sociology of Language. and Winston. Oxford: Basil Blackwell.‖ Dalam Fishman. John dan Hymes. Linda Babcock and Sara Laschever remark that while 57 percent of male Carnegie Mellon graduate business students negotiate their starting salaries. 1977 Language.6 percent higher than those attained by women. (hlm. Rinehart. Susan M. The Impact of Gender on Bargaining Interactions by Charles B. Howard. Giles. 1984 The Sociolinguistics of Society. 1982. and TOpik among Puerto Rican Bilinguals. Women Don’t Ask (2003). 1994 Multilingualism. and Intergroup Relations. Ralph. The Hague: Mouton.

women are supposed to be passive and submissive. manipulative. while women often reveal tentative and deferential speech patterns. women focus more on the maintenance of relationships. ―you know‖) than their male cohorts. As a consequence. we might expect male lawyers and business persons to obtain better negotiating results than female attorneys and business persons. Even quite a few women erroneously assume that other females won‘t apply the Machiavellian tactics stereotypically associated with members of the competitive male culture. frequently find it difficult to adopt retaliatory approaches against women. REAL AND PERCEIVED GENDER-BASED DIFFERENCES Men are believed to be rational and logical. If these stereotypical assumptions are right. These men give further leverage to their female opponents. Male negotiators. Some male negotiators try to gain a psychological advantage against aggressive females by casting aspersions on the femininity of those individuals. Talking From 9 to 5 53-77 (1994)). women are thought to be emotional and intuitive. When men and women interact. Men are expected to emphasize objective fact. and they are more effective using this approach. During personal interactions. They hope to embarrass those bargainers and make them feel self-conscious with respect to the tactics they are using. Female negotiators should never permit adversaries to employ this tactic.are highly competitive. Male attorneys and business people occasionally make the mistake of assuming that their female opponents will not use as many negotiating ―games‖ as their male adversaries. Gender-based stereotypes cause many people difficulty when they interact with attorneys and business people of the opposite gender. win-win negotiators who seek to preserve existing relationships by expanding the joint returns achieved by negotiating parties. they are more likely to be attuned to the subtle messages conveyed by opponents during bargaining encounters. who would immediately counter such tactics by other men with quid pro quo responses. This is especially true when females use foul language and loud voices. which causes women to be perceived as less forceful. Females tend to employ language containing more disclaimers (―I think‖. men are more likely than women to use ―highly intensive language‖ to persuade others. Overt aggressiveness that would be considered vigorous advocacy if employed by men may be characterized as offensive and threatening when employed by women. Men are expected to be dominant and authoritative. males tend to talk for longer periods of time and to interrupt more often than women. They have the right to use any . (Deborah Tannen. This gender-based factor is counterbalanced by the fact that women continue to be more sensitive to nonverbal signals than their male cohorts. win-lose negotiators who want to attain good deals from their opponents. When men allow such an irrelevant factor to influence and restrict their responsive behaviour. Men utilize more direct language. Females are thought to be more accommodating. they allow their female opponents with a bargaining advantage. Men and women who expect their female adversaries to behave less competitively and more cooperatively often ignore the realities of their negotiation encounters and provide a significant bargaining advantage to women who are willing to employ manipulative tactics. Some men also find it difficult to act as competitively toward female opponents as they would toward male opponents. Men often expect women to act like ―ladies‖ during their bargaining interactions.

On the other hand. Males in my Legal Negotiation course tend to be more accepting of excessive results obtained by other men than by such results achieved by women. . Win Like a Woman 80 (2000)). Play Like a Man. Males tend to convey more confidence than women in performance-oriented settings. Most boys are exposed to competitive situations at an early age. preferring the risk of non-settlements than the humiliation of being defeated by women. Many women are anxious regarding the negative consequences they relate with competitive achievement. I have frequently observed this difference among my Legal Negotiation students. when women are successful. soccer. “Traditional girls" games like jump rope and hopscotch are turntaking games. Women do not feel as comfortable in overtly competitive situations as their male colleagues. When men are successful. These activities introduce boys to the “thrill of victory and the agony of defeat” during their formative years. This factor may explain why a higher percentage of women (39%) take my Legal Negotiation course. Successful males think they can obtain beneficial results in future settings. Male and female self-confidence is influenced by the stereotypical ways in which others evaluate their performances. Even when minimally prepared. Even female students tend to be more critical of women who attain exceptional results than they are of men who do so. A number of males have privately admitted to me that they are also fearful of ―losing‖ to female opponents. men believe they can ―wing it‖ and get through successfully. Parents are likely to be more protective of their daughters than their sons. This factor causes male success to be overvalued. they should reply that they do not wish to be seen as ―ladies. They have been encouraged to engage in little league baseball. basketball.techniques they think appropriate. while successful females continue to express doubts about their own capabilities. and other competitive athletic endeavours. most continue to be less overtly competitive than corresponding male athletic endeavours. on a credit/no-credit basis than men (27%). To male opponents who raise baseless objections to their otherwise proper conduct. fearing that competitive success will alienate them from others. I find this frustrating. they tend to feel unprepared. their performance tends to be ascribed to intrinsic factors such as diligent work and intelligence. football. (Gail Evans. and female success to be undervalued.‖ While it is true that little league and interscholastic sports for women have become more competitive in recent years.‖ but merely as participants in bargaining interactions in which their gender should be irrelevant. in which final grades are influenced by performance on bargaining exercises. Gender-based competitive differences may be attributable to the different acculturation process for boys and girls. because the accomplished women are as proficient as their accomplished male cohorts. where competition is indirect since one person‘s success does not necessarily signify another‘s failure. no matter how thoroughly prepared women are. regardless of the stereotypes those tactics might contradict. their performance is often to be attributed to extrinsic factors such as luck or the aid of others.

Female negotiators must also reject gender-based stereotypical beliefs regarding both male and female opponents. Male attorneys who believe that female opponents will not be as competitive or manipulative as their male colleagues provide women adversaries with an inherent advantage. Law firm and business managers should be careful to minimize the impart of gender stereotyping when they assess male and female performance. ―Gender. Over the past thirty years. Charles Craver is a Professor of Law. the male results would be more widely distributed. (Charles B. The fact that I have found no statistically significant differences with respect to the male and female standard deviations contradicts this theory. business persons. Many individuals believe that men are highly competitive. Over the past thirty years. Women who conclude that adversaries are treating them less seriously because of their gender should not hesitate to take advantage of the situation. I have found absolutely no statistically significant differences between the results attained by men and by women. the standard deviations for the more dispersed males would be greater than those for the centrally concentrated females. manipulative negotiators who always strive to obtain maximum results for themselves.STATISTICAL RESULTS Since 1973. If this hypothesis were true. Risk Taking and Negotiation Performance. Legal practitioners and business firm officials should acknowledge the impact that gender-based stereotypes may have upon negotiation interactions. I have discovered that practicing attorneys. while more competitive. They let their guards down and behave less competitively against female opponents than they would with male opponents. while female negotiators are more accommodating and less competitive interactants who try to maximize the joint returns achieved by the parties. Reader Comments . the results of which affect their course grades. They should not over-value the success of men and under-value the success of women by assigning male accomplishment to intrinsic factors but female achievement to extrinsic factors. win-lose males would either obtain highly beneficial results or well below average results. This theory was based upon the premise that women are more accommodating and less competitive. The favourable bargaining outcomes accomplished by these women should teach chauvinistic opponents a crucial lesson. Several people suggested to me that while the average results might be equal. My students participate in a series of bargaining exercises. I have taught Legal Negotiation courses in which we study the negotiation process and the factors that influence bargaining interactions.‖ 5 Michigan Journal of Gender & Law 299 (1999)). George Washington University. They should also try not to be critical of women whose negotiation styles would be seen favourably if employed by males but negatively when implemented by women. Craver & David W. Barnes. generating more results in the mid-range. The average results are almost similar. I have performed a number of statistical analyses of student negotiation performance based upon gender. and law students of both genders allow gender-based stereotypes to influence their negotiating interactions with persons of the opposite gender – and even people of the same gender.

we ask only that you include a clean html link back to this site.Average Rating: Total Comments: 1 View or Write a comment Back to Negotiation Articles This page's contents may be re-published in full or part . negotiation book revie Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. business cartoons. Bookmark the permalink. terkecuali dalam telaah pragmatik. negotiation Q&A's. . Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan. Please find below a suggested description to accompany your link. namun juga dari aspek etika. S.S. preferably to this page. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. 2011. teori kesopanan berbahasa.com. Kesantunan dalam berbahasa. The Negotiation Training Experts offers negotiation resources on www. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. pragmatik.negotiations. teori kesantunan berbahasa. M. bukan hanya dari aspek tata bahasa.. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. meskipun disebut sebagai horison baru. bukan pula dari aspek psikososial. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan. You can find in-depth negotiation articles.

ini bukan dalam arti rupa fisik. baik oleh pakar atau linguis. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat.‖ baik milik penutur. maupun milik mitra tutur. Brown. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka. serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. agar santun. dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi. bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius. Teori yang diulas singkat ini. Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). yang membawa ideologi liberal. Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa. 1995). Teori Wajah oleh Goffman. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting. mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Selain itu. namun ―wajah‖ . sementara itu. dan Levinson. tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. ―Wajah. sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas. melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987). maupun para pembelajar bahasa.‖ dalam hal. makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian.Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. Brown. yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967). Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis. Selain itu. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. secara tradisional. yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif.

dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). baik wajah positif maupun negatif. apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo. ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus. maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga. dalam konsep kesantunan berbahasa. 2008). Meskipun demikian. Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan. tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh. dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun. bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan. Oleh karena itu. terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja. termasuk dalam berbahasa. dan sebagainya). dan kesekoncoan. yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini. dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz. artinya. sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri. Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas. Wajah. yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz. pengakuan. berikut akan saya suguhkan contoh-contoh. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial.. pacar. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Pada wajah. sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa. dalam tradisi Cina. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun. bebas dari gangguan pihak luar. tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) . maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku. Dalam teori ini. Sementara itu. sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. merupakan ―pinjaman masyarakat. atau dimiliki secara individu.‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus. atau anak dan ayah). atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. melekat atribut sosial yang merupakan harga diri. sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih. 2008:2). Untuk lebih memahami konsep wajah ini. wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face). ketakformalan. pemabuk. konco.dalam artian public image.

tidak sopan. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. melalui konsep wajah positif. dan mungkin berpendidikan rendah. nanti bilang turun di Sasa. dan wajah mereka terancam. kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba. nanti baru nae oto dari bawa saja. ini sekarang sudah sampai di Kastela. Mangkali lebe bae mas turun disini saja. konco. (Astaga. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun. numpang tanya. dan sebagainya. Dari aspek kesopanan. tanya sadiki. yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif. sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula. jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa. Sejenak jika dilihat. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa. percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar. cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. cara mereka berkomunikasi memang ganjil. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian.Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. ini skarang so sampe di Kastela. . Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e. ketakformalan. (Bukannya masih jauh mas. rasa kekoncoan (camaraderie). apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas. maaf nih. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat. Sasa tu masih jao ka? (maaf yah. tapi so lewat jao. dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial. Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. kesekoncoan. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas. maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. tetapi dari aspek kesantunan. Tuturan sopir B. tapi mereka tidak mau). maaf. dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat.

kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati. Perhatikan contoh berikut ini. kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang. Maaf lagi… (Saya. Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban. om. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. Artinya. strata sosial. Dalam konteks interaksi seperti di atas. om. bukan masyarakat asli. terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. jelaslah bahwa dalam berbahasa. penumpang B berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖. nanti bilang turun di Sasa). melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. gender. hal ini bukan hanya mengancam . dan strata akademik. dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. tarima kasih e? (waduh. Penumpang A: Wah. Mungkin lebih baik mas turun disini saja. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas. termasuk usia. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. 2006:104). nanti naik angkot lagi dari selatan. Bahkan. Kami minta maaf). atau keformalan.tapi sudah kelewat jauh. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli.106). Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh.

Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. maka ancamannya pada wajah positif. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. Brown. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. E. tekanan. Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. maka pengancaman wajah bersifat positif. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh.N. Sementara itu. Menuju Universalisme yang Hakiki. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Goody (ed). maka pengancaman wajah bersifat negatif. E. atau gangguan dari pihak lain. Daftar Pustaka Aziz. A. A. bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. (2000). Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Levinson. In E. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. (2008). bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Santun berarti tidak mengancam wajah. (1987). tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. Menggugat yang Semu. Disertasi. P & S. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita. Artinya. Di lain sisi. maka ancamannya pada wajah negatif. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. 56-289. Intinya. .C. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak.wajah mitra tutur muda. Pidato Pengukuhan Guru Besar. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. Australia: Monash University. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). termasuk mitra tutur. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. Aziz. Cambridge: Cambridge University Press. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini adalah kehilangan wajah (loosing face).

Kesantunan berbahasa. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. khususnya bahasa dalam penggunaan (language in use). Interaction Ritual. konsep etika berbahasa ini sudah bisa dibilang lama bersemayam dalam komunikasi verbal masyarakat manapun. namun sudah mendapatkan perhatian oleh banyak linguis dan pragmatisis. yang membawa ideologi liberal. Thomas. 2011. Bookmark the permalink. S. sudah lama hidup dalam komunikasi verbal. J. (1995). agar santun. baik oleh pakar atau linguis. kesantunan (politeness) dalam berbahasa seyogiyanya mendapatkan perhatian. terkecuali dalam telaah pragmatik. bukan pula dari aspek psikososial. Konsep kesantunan dalam berbahasa tradisional itu sudah saatnya ―dibaca‖ kembali secara teoretis.Pd Latar Belakang Kesantunan dalam berbahasa mungkin merupakan horison baru dalam berbahasa. pragmatik. namun juga dari aspek etika. London: Longman. dan sampai saat ini belum dikaji dalam konstelasi linguistik. Yule. Tata krama berbahasa antara yang muda dan yang tua. yang menurutnya mengandung nilai-nilai kesantunan tersendiri. E. Teori Kesantunan Berbahasa This entry was posted on February 27. Sebagai bidang baru dalam kajian kebahasaan. Garden City. meskipun disebut sebagai horison baru. Selain itu. (1967). teori kesantunan berbahasa. teori kesopanan berbahasa. Kesantunan dalam berbahasa. Tulisan ini akan memberikan pandangan teoretis mengenai ihwal kesantunan . agar terjadi penyegaran ideologi mengenai bagaimana seharusnya bahasa itu digunakan. in About Zainurrahman and tagged konsep wajah dalam pragmatik. diatur oleh norma-norma dan moralitas masyarakat. Misalnya Aziz (2000) yang meneliti bagaimana cara masyarakat Indonesia melakukan penolakan dengan melalui ucapan.. bukan hanya dari aspek tata bahasa. yang justru mulai sirna mengikuti arus negatif westernisasi.Goffman. yang diinternalisasikan dalam konteks budaya dan kearifan lokal. Indonesia: Pustaka Pelajar.S. NY: Doubleday. penting juga bagi setiap orang untuk memahami kesantunan berbahasa ini. secara tradisional. Meskipun dalam ilmu pragmatik kesantunan berbahasa baru mulai mendapatkan perhatian. maupun para pembelajar bahasa. G. karena manusia yang kodratnya adalah ―makhluk berbahasa‖ senantiasa melakukan komunikasi verbal yang sudah sepatutnya beretika. (2008). M. Pragmatik. 2 Comments KESANTUNAN DALAM BERBAHASA (Telaah Pragmatik atas Konsep Wajah dalam Kesantunan Berbahasa) Zainurrahman. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat bidang baru dalam kajian kebahasaan.

berbahasa, yang mana dapat dijadikan acuan untuk kembali melakukan refleksi atas penggunaan bahasa sehari-hari. Refleksi untuk melihat nilai kesantunan dalam penggunaan bahasa sehari-hari terbilang penting, dimana bahasa bukan hanya sebagai instrumen komunikasi, melainkan juga ajang realisasi diri yang santun dan beretika. Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995). Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa. Teori Kesantunan Bebahasa Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tulisan ini mengandung pandangan teoretis mengenai kesantunan berbahasa Konfusius, maka berikut ini akan diulas secara singkat mengenai teori tersebut. Teori Wajah oleh Goffman, Brown, dan Levinson Menurut Brown dan Levinson (1987), yang mana terinspirasi oleh Goffman (1967), bahwasanya bersikap santun itu adalah bersikap peduli pada ―wajah‖ atau ―muka,‖ baik milik penutur, maupun milik mitra tutur. ―Wajah,‖ dalam hal, ini bukan dalam arti rupa fisik, namun ―wajah‖ dalam artian public image, atau mungkin padanan kata yang tepat adalah ―harga diri‖ dalam pandangan masyarakat. Konsep wajah ini berakar dari konsep tradisional di Cina, yang dikembangkan oleh Konfusius terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan (Aziz, 2008). Pada wajah, dalam tradisi Cina, melekat atribut sosial yang merupakan harga diri, sebuah penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, atau dimiliki secara individu. Wajah, merupakan ―pinjaman masyarakat,‖ sebagaimana sebuah gelar akademik yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi, yang kapan saja bisa ditarik oleh yang memberi. Oleh karena itu, si pemilik wajah itu haruslah berhati-hati dalam berprilaku, termasuk dalam berbahasa. Jika Goffman (1967) menyebutkan bahwa wajah adalah atribut sosial, maka Brown dan Levinson (1987) menyebutkan bahwa wajah merupakan atribut pribadi yang dimiliki oleh setiap insan dan bersifat universal. Dalam teori ini, wajah kemudian dipilah menjadi dua jenis: wajah dengan keinginan positif (positive face), dan wajah dengan keinginan negatif (negative face). Wajah positif terkait dengan nilai solidaritas, ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan. Sementara itu, wajah negatif bermuara pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari

gangguan pihak luar, dan adanya penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu (Aziz, 2008:2). Melihat bahwa wajah memiliki nilai seperti yang telah disebutkan, maka nilai-nilai itu patut untuk dijaga, dan salah satu caranya adalah melalui pola berbahasa yang santun, yang tidak merusak nilai-nilai wajah itu. Kesantunan itu sendiri memiliki makna yang berbeda dengan kesopanan. Kata sopan memiliki arti menunjukkan rasa hormat pada mitra tutur, sedangkan kata santun memiliki arti berbahasa (atau berprilaku) dengan berdasarkan pada jarak sosial antara penutur dan mitra tutur. Konsep wajah di atas benar-benar berkaitan dengan persoalan kesantunan dan bukan kesopanan. Rasa hormat yang ditunjukkan melalui berbahasa mungkin berakibat santun, artinya, sopan berbahasa akan memelihara wajah jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh (misalnya antara dosen dan mahasiswa, atau anak dan ayah). Meskipun demikian, bersikap santun dalam berbahasa seringkali tidak berakibat sopan, terlebih lagi jika penutur dan mitra tutur tidak memiliki jarak sosial yang jauh (teman sekerja, konco, pacar, dan sebagainya). Untuk lebih memahami konsep wajah ini, berikut akan saya suguhkan contoh-contoh, baik wajah positif maupun negatif, dalam konsep kesantunan berbahasa. Wajah Positif (Positive Face) Sebagaimana telah disebutkan bahwa wajah positif berkaitan dengan nilai-nilai keakraban antara penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh percakapan dua orang sopir angkot berikut ini (mohon maaf jika contoh ini mengandung kata-kata kasar): Sopir A: Mus, ngana so dapa kabar mengenai ngana pe STNK yang polisi tahan tuh? (Mus, apakah kamu sudah mendapatkan kabar mengenai STNK kamu yang ditahan polisi itu?) Sopir B: E… pamabo, sejak kapan ngana faduli kita pe hal? Bolong ini, tara tau dong so bakar ka apa itu… (eh.. pemabuk, sejak kapan kamu peduli persoalanku? Belum nih, tidak tahu mungkin mereka sudah bakar…) Sopir A: Ce me itu lucur kasana doi barang 150 la dorang urus sudah… (Ah… kasih saja uang 150 biar mereka urus secepatnya…) Sopir B: Ya astaga… ngana kira polisi itu ngana pe papa mantu? Kita so coba tapi dorang tara mau. (Astaga, kamu pikir polisi itu mertua kamu? Sudah aku coba, tapi mereka tidak mau). Sejenak jika dilihat, percakapan singkat antara dua sopir angkot ini terkesan kasar, tidak sopan. Mungkin sebagian berpendapat bahwa wajar mereka berkomunikasi seperti ini, dengan alasan bahwa mereka adalah teman dekat, dan mungkin berpendidikan rendah. Tidak ada yang salah dengan pendapat-pendapat ini. Dari aspek kesopanan, cara mereka berkomunikasi memang ganjil; tetapi dari aspek kesantunan, melalui konsep wajah positif, cara berkomunikasi ini adalah untuk memelihara wajah masing-masing. Tuturan sopir B memiliki muatan positif agar jarak keakraban antara mereka (sopir A dan sopir B) terjaga. Tuturan sopir B, dengan mengatakan ―pemabuk‖ adalah untuk menunjukan kedekatan jarak sosial, rasa kekoncoan (camaraderie), sehingga secara psikologis tidak ada jarak pula.

Kedekatan jarak sosial yang direfleksi oleh penggunaan bahasa semacam di atas memiliki nilai wajah positif. Seandainya sopir B merespon pertanyaan sopir A dengan irama sopan semacam ―belum ada kabar pak…‖ maka tentu saja jarak sosial antara mereka menjadi renggang, dan wajah mereka terancam. Maksud dari mengancam wajah (face threatening) adalah mengancam jatidiri sebagai sahabat dekat, konco, dan sebagainya. Isu sentral dari mengancam wajah adalah kerenggangan jarak sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa yang relatif tidak santun, atau tidak memenuhi kaidah-kaidah konsep wajah positif. Mengenai pengancaman wajah (face threatening act) ini akan diulas kemudian. Wajah Negatif (Negative Face) Berbeda dengan wajah positif, yang mana penutur dan mitra tutur mengharapkan terjaganya nilai-nilai keakraban, ketakformalan, kesekoncoan, maka wajah negatif ini dimana penutur dan mitra tutur mengharapkan adanya jarak sosial. Perhatikan contoh percakapan antara dua orang penumpang angkot yang tidak saling kenal antara satu sama lain di bawah ini: Penumpang A: Maaf e, tanya sadiki, Sasa tu masih jao ka? (maaf yah, numpang tanya, apakah Sasa masih jauh dari sini?) Penumpang B: Wadoh mas, ini skarang so sampe di Kastela. Memangnya mas mo turun dimana kong? (Wah mas, ini sekarang sudah sampai di Kastela. Memangnya mas mau turun dimana?) Penumpang A: Saya tadi bilang di sopir turun di Sasa, maaf nih, jadi Sasa masih jao ka? (Saya tadi bilang ke sopir kalau saya mau turun di Sasa, maaf, jadi apakah Sasa masih jauh?) Penumpang B: Bukannya masih jao mas, tapi so lewat jao. Mangkali lebe bae mas turun disini saja, nanti baru nae oto dari bawa saja, nanti bilang turun di Sasa. (Bukannya masih jauh mas, tapi sudah kelewat jauh. Mungkin lebih baik mas turun disini saja, nanti naik angkot lagi dari selatan, nanti bilang turun di Sasa). Penumpang A: Wah, tarima kasih e? (waduh, terima kasih yah?) Penumpang B: Sama-sama mas (terima kasih kembali mas). Sangat terlihat jelas bahwa kedua partisipan (penutur dan mitra tutur) dalam percakapan ini menunjukkan ketidakakraban, atau keformalan. Ini bisa dilihat dari penggunaan kata ―maaf‖ yang diulang sebanyak dua kali oleh penumpang A. Penggunaan dan pengulangan penggunaan kata ―maaf‖ oleh penumpang A ini untuk menjaga wajah negatif penumpang B. Artinya, penumpang A tidak ingin terkesan akrab dan sesuka hati, dan tidak ingin mengganggu wilayah individu penumpang B. Demikian pula dengan penggunaan kata ―mas‖ yang berulang-ulang oleh penumpang B, yang merupakan sapaan sopan untuk penumpang A yang dicurigai sebagai pendatang, bukan masyarakat asli. Dengan menggunakan dan mengulang kata ―mas‖, penumpang B berusaha

kita harus senantiasa mempertimbangkan jarak sosial antara kita dan mitra tutur. om. Sementara itu. Kami minta maaf). maka ancamannya pada wajah negatif. gender. penutur tua melakukan pengancaman wajah dengan mengatakan ―tidak ada rumah ya?‖ ini disebut pengancaman wajah karena jarak sosial (usia dan mungkin juga jarak keakraban) antara mereka jauh. maka ancamannya pada wajah positif. wajah negatif adalah keinginan untuk bebas dari interfensi. jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial yang jauh. dan strata akademik. tarada rumah ka? (Heh… ini kan sudah malam. yaitu dengan cara melakukan kesantunan negatif dengan mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kesadaran atas jarak sosial dan wajah negatif penutur tua. Perhatikan contoh berikut ini. melainkan terletak pada tingkat keakraban atau jarak sosial. Pengancaman wajah melalui tindak tutur (speech act) akan terjadi jikalau penutur dan mitra tutur sama-sama tidak berbahasa sesuai dengan jarak sosial. Hal ini disebabkan oleh jatuhnya ―harga diri‖ sosial dengan menggunakan pernyataan yang kasar. om. Intinya. strata sosial. Konsekuensi logis dari ancaman wajah ini . kesantunan (dan kesopanan) berbahasa dapat diartikan sebagai sebuah penunjukan mengenai kesadaran terhadap wajah orang lain (Yule. Dalam konteks interaksi seperti di atas. Artinya. Jika penutur dan mitra tutur memiliki jarak sosial dekat. Maaf lagi… (Saya. Pengancaman Wajah (Face Threatening Act) Sebagaimana telah dijelaskan dengan berbagai contoh. kok ribut banget? Tidak ada rumah ya?) Muda: Saya. jelaslah bahwa dalam berbahasa.untuk menunjukkan bahwa dia menghargai jatidiri penumpang A sebagai individu yang dihargai atribut individualnya. Wajah seseorang akan mengalami ancaman ketika seorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung ancaman terhadap harapan-harapan individu yang berkenaan dengan nama baiknya sendiri (hal. bahkan wajah penutur tua itu sendiri. Jika keinginan wajah positif tidak tercapai dalam bertutur. hal ini bukan hanya mengancam wajah mitra tutur muda. termasuk mitra tutur. atau gangguan dari pihak lain. maka pengancaman wajah bersifat positif. wajah positif adalah keinginan partisipan untuk diterima oleh mitra tutur sebagaimana kedekatan sosial antara mereka. Pengancaman terhadap wajah ini juga bersifat positif dan juga negatif. Kesantunan berbahasa bukan terletak pada diksi. 2006:104). tekanan. dimana terjadi interaksi antara tetangga yang berusia sudah tua dan yang masih muda: Tua: He… so malam deng apa kong baribut sampe. maka pengancaman wajah bersifat negatif. termasuk usia. Respon dari mitra tutur muda merupakan tindak penyelamatan wajah (face saving act). Bahkan. mitra tutur muda menyadari keinginan wajah penutur tua untuk merdeka dan memiliki hak untuk tidak terganggu. termasuk sebagai pendatang dan bukan masyarakat asli.106). Dan jika keinginan wajah negatif tidak tercapai. Melalui dua contoh yang menjelaskan dua konsep wajah di atas.

Pragmatik. Levinson. Kesantunan berbahasa bersentral pada jarak sosial. dapat kita simpulkan bahwa berbahasa santun itu sendiri merupakan kesadaran timbal-balik. Australia: Monash University. atau tidak mencoreng wajah seseorang atau wajah diri sendiri. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. London: Longman. Interaction Ritual. Aziz. A. Refusing in Indonesian: Strategies and Politeness Implications. Daftar Pustaka Aziz. tidak menyatakan hal-hal yang bermuatan ancaman terhadap harga diri seseorang. (1995). G. NY: Doubleday. (1967). Questions and Politeness: Strategies in social interaction. Santun berarti tidak mengancam wajah. (1987). yang mana sekaligus mengatur tata krama berbahasa kita.C. Universals in Language Usage: Politeness Phenomena. teori kesantunan berbahasa juga menekankan agar kita senantiasa berekspresi sebagaimana kita ingin mitra tutur kita berekspresi terhadap diri kita. In E. atau dengan istilah sederhana adalah malu atau hilang harga diri. Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak. Furthermore. 56-289. (2000). A. Cambridge: Cambridge University Press. Di lain sisi. Indonesia: Pustaka Pelajar. I question the way that previous research on politeness has assumed a stereotypical correlation between masculinity and impoliteness and femininity and politeness. Garden City. Goffman. E. Yule. Pidato Pengukuhan Guru Besar.N. (2008). E. Goody (ed). Menggugat yang Semu. Kesimpulan Melalui pembahasan dalam tulisan di atas. Menuju Universalisme yang Hakiki. Brown. Thomas.adalah kehilangan wajah (loosing face). Disertasi. Impoliteness and Gender Identity Sara Mills Abstract This chapter aims to interrogate the relationship between impoliteness and gender identity. Indonesia: Universitas Pendidikan Indonesia. ethinking Politeness. E. I aim to move . bahwa kita senantiasa ingin mitra tutur kita berekspresi sebagaimana cara kita sebagai penutur berekspresi. P & S. (2008). J.

we need to be able to analyse the various strategies which gendered. constitutes a discourse analysis of politeness. A more pragmatic focus on impoliteness enables us to view politeness less as an addition to a conversation. arbitrate over whether speech acts are considered polite or impolite. Keywords: politeness. over stretches of talk and across communities of speakers and hearers. therefore. I will be focusing instead on the effect of impoliteness on groups and the way that gender plays a role in assumptions about who can be impolite to whom. and thus much of the paper is given over to a critique of theorising on this subject. towards a more complex model of the way that politeness and impoliteness operate. (2) In terms of the analysis of politeness. My argument is that we need a more flexible and complex model of gender and politeness. Thus. gender. 1986) In viewing a range of different interactions we can analyse the different strategies adopted by various women rather than attempting to make generalisations about the way that all women respond to rudeness or are themselves impolite. individuals within these communities may use such stereotypes strategically to their own advantage. and in particular I focus on the way that impoliteness is dealt with in interactional terms. as Brown and Levinson (1978) have done. Stereotypes of gender may play a role in the decisions that such communities make about politeness. and finally. To illustrate these ideas. nevertheless. pragmatics. rather than a linguistic analysis of politeness. (1) I aim to clear some theoretical space for thinking about both the terms gender and politeness. something which is grafted on to individual speech acts in order to facilitate interaction between speaker and hearer. This. we need to see politeness as occurring over longer-stretches of talk. I would argue that we need several analytical changes: firstly. (Sperber and Wilson. rather than as simply as the product of individual speakers. I argue that politeness needs to be analysed at a discourse level rather than at the sentence or phrase level. using Relevance theory to examine the way that male and female interactants make sense of an event in speech. rather than individuals. but. in an analysis of an incident at a departmental party. (which is at least implicit in Brown and Levinson's 1978 model) but rather as something which emerges at a discourse level. and who needs to repair the damage. in the final part of this essay. it should be seen within the context of a community of practice. (3) In this way. I argue that communities of practice. we can map out parameters for . modes of talk and domains. Theorists in gender and language research cannot continue to discuss gender simply in terms of the differential linguistic behaviour of males and females as groups. raced and classed women and men adopt in particular circumstances and with particular goals and interests. relevance Introduction In this chapter I aim to bring together new theoretical work on gender from feminist linguistics with new theorising of linguistic politeness.politeness research away from the Brown and Levinson (1978) model whereby individual speech acts are considered to be inherently polite or impolite. I try to formulate the ways in which I think the theorising of gender and politeness might proceed. rather than identifying the Face Threatening Acts performed by individuals and the politeness repair work deemed necessary to contain their force. we need to be aware that there may be conflicts over the meanings of politeness. I will suggest that. secondly. By focusing on the analysis of an incident in which I was involved. I also argue that gender needs to be analysed in a way which moves it away from a focus on the sex of individuals to a form of analysis which focuses on such issues as the gendering of strategies. we may be able to see gendered protocols at work.

(4) Of particular interest is the notion of communities of practice. ` A community of practice is an aggregate of people who come together around mutual engagement in some common endeavour. Bergvall. each community will develop a range of linguistic behaviours which function in slightly different ways to other communities of practice. 1998. power relations – in short. rather than . Fuss. (both dominant and peripheral). What is deemed appropriate linguistic behaviour for a working class white heterosexual English woman in conversation with a group of her peers will not be the same as what is deemed appropriate for a middle class Chinese heterosexual woman conversing with her peers. since what we refer to as gender or sex difference varies within and between cultural contexts. ways of talking. a joint negotiated enterprise. values. 1996) Rather than seeing gender as a possession or set of behaviours which is imposed upon the individual by society. 1998:490) The crucial dimensions of a community of practice are that it will have `mutual engagement. as many essentialist theorists have done so far. Thus. and gender may play a significant role here in determining what each participant views as appropriate. 1999:175) Thus. 1995). If we are concerned with analysing cross-cultural differences in language use. Within this view. developed by Wenger. Feminist Linguists and Communities of Practice Gender has begun to be theorised in more productive ways. 1990. practices – emerge in the course of their joint activity around that endeavour. to more nuanced and mitigated statements about certain groups of women or men in particular circumstances. who negotiate within certain parameters of permissible or socially sanctioned behaviour. This notion of a community of practice is particularly important for thinking about the way that individuals develop a sense of their own gendered identity. which in the case of politeness must therefore involve a sense of politeness having different functions and meanings for different groups of people. and thus as a potential site of struggle over perceived restrictions in roles (Crawford. Ways of doing. (1998). 1998:76 cited in Holmes and Meyerhoff. we need to modify this notion of community of practice slightly. (Eckert and McConnell-Ginet.' (Wenger. 1989 for an overview) many feminists have now moved to a position where they view gender as something which is enacted or performed. However. Johnson & Meinhof 1997. moving away from a reliance on binary oppositions and global statements about the behaviour of all men and all women.1988. without making assumptions about the necessary pairing of language items with a specific gender. (see Butler. beliefs. and they will have different positions within these groups.strategic intervention to repair interaction and suggest ways in which they may be contextually gendered.‘ (Eckert & McConnell-Ginet. (Coates & Cameron. since although there may be broad agreement as to the norms operating within that group. feminist linguistics should be concerned less with analysing individual linguistic acts between individual (gendered) speakers than with the analysis of a community based perspective on gender and linguistic performance. 1999). the issue of gender is even more fraught. there will also be different `takes‘ on those norms. Bing & Freed. because it is clear that individuals belong to a wide range of different communities with different norms. and a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time. and developed in relation to language and gender research by Eckert and McConnell-Ginet to particular effect.

the males in her study seemed to be behaving like stereotypical females. so that stereotypically it bears a signature of middle class. . It is clear that we need to acknowledge the extent to which our notion of `women‘ is classed and raced. classed and raced. (Freed. in most of the standard analyses of gender and language from Lakoff (1978) through to Holmes (1996). As I will argue later in this paper. 1996) This does not seem entirely satisfactory since it is clear that some males would perhaps see this as an occasion to mark their speech in hyper-masculine ways. gender and other components of social identity: it ignores the ways difference (or beliefs therein) function in constructing dominance relations. ethnicity or age (and also less obviously social qualities like ambition. 1998:488/9) Thus. because of the context and the perception that intimate conversation is feminine. As Eckert and McConnell-Ginet state: `An emphasis on talk as constitutive of gender draws attention away from a more serious investigation of the relations among language. When this new more complex theorisation of gender is extended to the analysis of linguistic politeness.describing a single gendered identity which correlates with one's biological sex. it is possible within this model to analyse a range of gendered identities which will be activated and used strategically within particular communities of practice. This stereotyped connection between gender and politeness leads to certain expectations by members of communities of practice about what linguistic behaviour they expect of women and men. It may also be the case that certain activities within those communities of practice might be coded or recognised as stereotypically masculine or feminine and thus certain types of linguistic activity may be considered by males and females as appropriate or inappropriate within interaction and sanctioned by the group as a whole. politeness is already gendered. in the way that they react to politeness and impoliteness. however. Alice Freed suggests in her analysis of the types of speech which are produced by close friends that certain styles of interaction are coded by the participants as feminine or masculine. race and class difference will be more or less salient dependent upon the community of practice. However. the stereotypes of gender. it does allow for variations within the categories `men‘ and `women‘ and allows for the possibility of contestation and change. 1999).‘(Eckert & McConnell-Ginet. it results in a move away from stereotypical assumptions that have dominated discussions of women‘s use of politeness. rather than simply at the level of the individuals involved in the interaction. rather. (5) Furthermore. whilst also acknowledging the force of stereotyping and linguistic community norms. white femininity and this trace lingers on in the way that individuals react politely or impolitely. particularly when we are considering linguistic politeness. we do not need to lose sight of the way that stereotyping operates within communities. and also whether they recognise an utterance as polite or impolite. not all linguistic communities would code this type of relaxed conversation as feminine. athleticism and musicality. and each community of practice may develop different positions in relation to these stereotypes (see Bucholtz. Gender can be thought of as a sex-based way of experiencing other social attributes like class. the notion of gendered domains is important here in being able to describe the way that gender impacts at the level of the setting and context. thus. (see footnote 3) This more productive model of gender makes it more difficult to make global and hence abstract statements about women‘s or men‘s language.

Tannen.'(Brown & Levinson. 1998. 1978:66) A threat to a person's face is termed a Face Threatening Act. They analyse politeness in two broad groups: positive politeness which `anoints the face of the addressee by indicating that in some respects. however temporarily. their confidence. 1978) If we consider Foucault‘s notion of the dispersion of power. and they argue that such threats generally require a mitigating statement or some verbal repair (politeness). 1996) Thus.g. (Lakoff. a great deal of interactional power by their verbal dexterity. a person whose wants and personality traits are . we are also at the same time mapping out for ourselves a position in relation to the power relations within the group and within the society as a whole. their linguistic directness. (those more stereotypically masculine/competitive/report talk attributes). via Goffman. (Mills. a secretary in a university department may be able to use a fairly direct form of address to those in positions of power over her. S[peaker] wants H[earer]'s wants (e. lecturers who need this information and who are reliant on her. as well as through the use of the seemingly more feminine linguistic display of care. rather loosely from the Chinese. there remains little work which details how to analyse seemingly endemic structural inequalities and at the same time individual transgressions and contestations of those inequalities. (Foucault. rather than societal roles being clearly mapped out for participants before an interaction takes place. 1980) Whilst Foucault‘s formulation of power relations has been influential in this area and many feminists have urged that we need to think through power relations in a more complex manner to avoid such a simple binary opposition. and must be constantly attended to in interaction. by our class position. concern and sympathy. described as co-operative strategies or rapport talk. In engaging in interaction. to differentiate it from those roles which may or may not be delineated for us by our relation to institutions. and so on. and that can be lost. Spender.(7) Contesting Brown and Levinson’s Model of Politeness Brown and Levinson's (1978) model of politeness has influenced almost all of the theoretical and analytical work in this field. or breakdown of communication will ensue. conversely. rather than the holding and withholding of power by individuals. It is possible for someone who has been allocated a fairly powerless position institutionally to accrue to themselves. will need to employ politeness forms which would normally signal deference.Theorising of Power Essential to feminist thinking about gender difference has been a particular model of power relations. because of her access to information upon which they depend. (Coates. by treating him/her as a member of an in-group. positions of power mapped out by one‘s role in an institution may not relate directly to the interactional power that one may gain through one‘s access to information. that is. Much early feminist thought presupposed that there was a more or less simple correlation between males and power and females and powerlessness. Brown and Levinson state `face is something that is emotionally invested. This is what I would like to call interactional power. a friend. the spread of power throughout a society. one‘s verbal skill or one's display of care and concern for other group members. They argue for a pragmatic analysis of politeness which involves a concentration on the amount of verbal `work' which individual speakers have to perform in their utterances to counteract the force of potential threats to the `face' of the hearer. maintained or enhanced. 1991). 1975. (6) For example. Face is a term drawn. to describe the self-image which the speaker or hearer would like to see maintained in the interaction. we will be able to move towards an analysis which will see language as an arena whereby power may be appropriated.

The Cross Cultural Linguistic Politeness Research group was set up to discuss some of these problems and to develop new ways of analysing linguistic politeness (see footnote 8). politeness cannot be said to reside within linguistic forms.‘(Holmes. this might in fact be interpreted as impolite. Brown and Levinson‘s model can further be criticised for the fact that it assumes that it is possible to know what a polite or impolite act means. politeness should be seen as a set of strategies or verbal habits which someone sets as a norm for themselves or which others judge as the norm for them. i.e. Thus. forthcoming) (8) Brown and Levinson‘s model also seems unable to analyse politeness beyond the level of the sentence. 1995:5) However. compliments) whereas negative politeness is concerned with distance and formality (for example. Thus. A further observation is that politeness is not only a set of linguistic strategies used by individuals in particular interactions. Thus. if it were said by a boss to his/her secretary if they usually have an informal style of communicating. I would argue that it is only individuals interacting within communities of practice who will be able to assess whether a particular act is polite or impolite.(10) Holmes seems to affirm this in that she talks about `polite people‘ as those who `avoid obvious face-threatening acts . which conflates the intentions. Culpeper has criticised their model for being unable to analyse inference. as well as being a socially constructed norm within particular communities of practice. however.75) Positive politeness is thus concerned with demonstrating closeness and affiliation (for example. mainly for its overgeneralising of Eurocentric norms. Thus. hedges and deference). (Mao. this view of `polite people‘ does not relate those polite acts to a community which judges the acts and the people as . it is also a judgement made about an individual‘s linguistic habits. or the perceived intentions of the speaker with that of the meaning of the interaction as a whole (9). this might have greater force than a less offensive statement by someone whom we would categorise as habitually impolite. 1994.. if a person whom we would normally categorise as very polite is impolite in a particular instance. 1996) As Holmes notes. (Culpeper. One of the contributions of the group so far has been to observe that politeness is not very observable except when there are violations of perceived politeness norms. and they use polite utterances such as greetings and compliments where possible. and even then.' and negative politeness which `is essentially avoidance-based and consist(s)…in assurances that the speaker…will not interfere with the addressee's freedom of action. which he suggests is the level at which a great deal of linguistic politeness and impoliteness occurs.' (ibid.. It is thus a model of interaction which is focused on production. thus it is a general way of behaving as well as an assessment about an individual in a particular interaction. the very features which Brown and Levinson would argue seem to indicate politeness may in fact be used to express impoliteness. several theorists have criticised both the overextension and the limitation of use of the term `face‘ in Brown and Levinson‘s use. Many theorists have criticised Brown and Levinson‘s model of politeness. they generally attempt to reduce the threat of unavoidable face threatening acts such as requests or warnings by softening them. Boz. such interpretations may be subject to disagreement. since mitigating features are included in this direct request which might constitute an FTA. or expressing them indirectly. and this is not the first time that the request has been made. a statement such as `Do you think it would be possible for you to contact Jean Thomas today?‘ would be interpreted by Brown and Levinson as polite if used by a boss to her/his secretary. The essence of politeness is that appears to be invisible.known and liked).

so that politeness refers to `behaviour which actively expresses positive concern for others. as they are more concerned with the affective rather than the referential aspect of utterances and `Politeness is an expression of concern for the feelings of others. in order to bolster the sense that one's assessment of the impoliteness is justified or not. involving retelling anecdotes and inviting judgements of the excessiveness of the impoliteness. the community of practice or the perceived norms of the society as a whole. 1995:2) Her empirical studies seem to back up this global view of women‘s language. They use language to establish. thus she is asserting that `women‘s utterances show evidence of concern for the feelings of the people they are talking to more often and more explicitly than men‘s do. nurture and develop personal relationships. 1995:5) Holmes suggests that women are more likely to use positive politeness than men. Janet Holmes argues that in general women are more polite than men: `Most women enjoy talk and regard talking as an important means of keeping in touch.polite. For example. therefore. . women are more polite than men.‘ (Holmes. a woman university lecturer may use mild swear words and a range of informal expressions to set a seminar group at ease and create an atmosphere of informality and openness. if they have particular views of the language which is appropriate to staff members or to what they consider a relatively formal setting such as the seminar.‘ (Holmes. Impoliteness Much of the thinking about linguistic politeness has focused on politeness in isolated speech acts. Drawing on brown and Levinson's work. focusing on impoliteness may be slightly easier. and thus is again an example of the disembodied. and thus Holmes asserts that. as well as non-imposing distancing behaviour. 1995:4) Holmes states that she will be using a broad definition of politeness following Brown and Levinson. (that is paying positive politeness to the face needs of the group) but this may be interpreted by some of the group members as impolite. without considering those acts in relation to what would constitute impoliteness. either in relation to the perceived norms of the situation. since normally at least some of the participants are aware when a breach of perceived norms has taken place.‘ (Holmes. a great deal of interactional work goes into the assessment of impolite acts. (11) There is obviously a great deal of flexibility in these norms and the potential for misunderstandings and misapprehension of politeness is large. Men tend to see language more as a tool for obtaining and conveying information. influenced by Jennifer Coates (1996) and Deborah Tannen‘s (1991) work on co-operative and competitive strategies. 1995:6) I aim to contest Holmes‘ notion that women globally are more polite than men through analysing one particular instance of linguistic impoliteness and the complexity of interrelation between perceptions of community norms and gender stereotyping. An important element in the assessment of an act as polite is judging whether an utterance is appropriate or not. Third parties may be approached to discuss someone‘s impoliteness and it generally involves some sort of repair to the interaction and to the relationship if the impoliteness is considered exceptional. ingratiating or patronising. especially with friends and intimates.‘ (Holmes. abstract analysis which is often determined by the use of a Brown and Levinson framework. As politeness is an entity which is very difficult to define or describe. Indeed.

one of my female postgraduates and a new male member of staff. but I think it illustrates some of the difficulties in assigning clear values to elements within a conversation in relation to politeness. and/or when it leads to a breakdown in relations. Liladhar. 2000 forthcoming. The postgraduate and I tried to be positively polite and friendly by saying `Hi there' and asking the person how he was. Thus. when uttered at a staff party may be considered differently.a documentary programme on army training and literary drama . this person. he lists the instances of impoliteness by the trainers to the recruits. it is a complex and sometimes rather tense environment where the interpersonal and institutional relations between staff in a department are played out and negotiated. and this type of public verbal play in general. I would argue that within that particular community of practice. The way that gender works in each interaction may differ markedly from this. Since the party was well underway. I would suggest that impoliteness only exists when it is classified as such by certain. this anecdote is used partly because of the difficulty of finding naturally occurring examples of impoliteness in data. this is not classified as impolite. (12) Thus. A departmental party is usually an arena where a certain amount of banter between social equals occurs. seems to be a genre which is coded by many women as a masculine way of interacting. 1996). In the army training documentary which he examines.where he isolates certain examples of impolite linguistic behaviour. Linguistic behaviour which might be considered impolite within the office or teaching situation. and even then it is something which may be contested by some community members. community members.Culpeper has attempted to come to a definition of impoliteness as the opposite or reverse of politeness (Culpeper. but they run the risk of being judged as transgressive or abnormal for engaging in them (Walsh. has managed to achieve a situation where this seeming excessive impoliteness is considered to be the norm. He analyses several contexts of linguistic use . a new male member of staff who had not been introduced to either myself or my postgraduate before approached us. banter. (Labov. but older than the postgraduate. is white and middle class and probably roughly the same age as myself. This analysis is not intended to make generalisations about impoliteness – this case study serves to demonstrate that gender plays an important role in certain types of interaction. Focusing on an interaction where different views of what actually happens is complicated. the officers. A departmental party is a community of practice with different norms to the work environment. However. I had to think up some form of appropriate phatic . although it would be within almost any other community. 1998). we will be unable to grasp the way that politeness is only that which is defined by the community of practice as such. usually dominant. The dominant group in the interaction. However. if we simply analyse impoliteness in the decontextualised way that Culpeper does. women often use styles of speech in their interventions in the public sphere which are coded as masculine. 1972) (14) However. as the critiques of Deborah Tannen and Robin Lakoff‘s work have demonstrated (but see Cameron. as Clare Walsh has shown. but which female members of staff may also engage in equally. like us. Case Study of Impoliteness I would like to focus on an incident which occurred at a university departmental party and which involved myself. 2000 forthcoming) In the incident in question. (13) Using anecdotal evidence in this way is problematic.

where we had been attempting to be friendly and polite towards him. These assessments and interpretations of the interaction are inflected with gender stereotyping and assumptions. (16) A further interpretation which I have only come to recently is that this conflict developed precisely because of gender stereotyping: here a famous male poet found himself in conversation with a female professor in his department and she started the conversation with a gambit which showed that she had never heard of him. If there is a divergence of interpretation between the parties … a satisfactory explanation must be sought not in gender-preferential responses to a particular linguistic strategy. Relevance theory helps us to understand the way that we understand or gloss potentially opaque statements. then I would have to comply and provide a list of poets. I would thus have to assume that there was a longer-term relevance to his request for the names of six poets which would become apparent as the conversation unfolded. because he considered them to be excessive. Since this person is a poet I asked: `What sort of poetry do you write?‘ to which he replied.' (Cameron. the conflict seems to involve the assessments each of us made as to the level and sincerity of politeness on the one hand. were in fact patronising and therefore insincere. 1998) I would argue that gender played a part in our attempts at making sense of each other's seemingly inexplicable interventions. His aggression and impoliteness stemmed from this difficulty in accepting a relatively powerless position where gender was enmeshed with power difference. (see Cameron. eye contact. sometimes overstepping the limit of acceptability for the purposes of humour and camaraderie. by making overtly sexual comments and being verbally aggressive. all led me to interpret the relevance of his statement to my question as impolite. 1986) If I wished to continue to classify what we were engaging in as polite small talk. I did not wish to be forced to answer this question. 1998:448) In this case. (Sperber and Wilson. he was in fact implying that I could not name six poets.communion. the male staff member then made comments which we both considered impolite. Under this interpretation. Rather than simple banter which plays around with what is acceptable. However. such as body stance. What has since become clear is that the male staff member was extremely anxious about the departmental party. (15) Banter was not an option since I did not know the person. which I felt was offensive and which I glossed as his attempt to state that he would not talk about his writing as I knew nothing about poetry. As Cameron states: `gender is potentially relevant (to understanding conflict-talk) to the extent that it affects the contextspecific assumptions that the man and the woman bring to bear on the work of interpreting one another's utterances. but instead had to be classified as offensive and impolite. Proxemic cues. `Name me six poets‘. (17) What is also . I was then joined by my female postgraduate who was standing next to me and saw that I was in difficulties. but at the level of assumptions and inferences which are specific to the situations these conversationalists find themselves in. and had inferred that my politeness and friendliness towards him. and to the overall relevance of the utterance to the conversation as a whole on the other. and we both attempted to try to change the subject and to resolve the difficulty. facial expression and his tone of voice. and impolite. This response on his part confused me . this incident did not feel as if it could be classified as banter and therefore positively polite. However.

were drawing on gendered stereotypes of what was appropriate behaviour for men and women. for the best of motives. drawing attention to our femaleness and sexuality. we would not necessarily have considered the incident impolite. Thus. and that he was drunk and therefore should not be held responsible and committed to what he said. in the interests of departmental harmony. The question of a person‘s commitment to a particular speech act is important here. (19) Further gendered stereotypes were brought in. all of participants in this interaction were inferring politeness or impoliteness in relation to norms which they thought existed within that particular community of practice. that is. . forthcoming) My postgraduate and I as participants in a particular community of practice inferred a certain degree of commitment to this person‘s speech acts. What is interesting is that those who tried to help resolve the problem suggested that we should not attribute commitment to him to his speech acts on lines which seemed strikingly gendered. this impolite behaviour was judged to be not serious or problematic. An initial coding of an utterance as impolite or polite leads to a range of different behaviours for each participant. but would have excused it on the grounds of drunkenness and personal style more readily. but continued to use positive politeness strategies. neither my postgraduate nor I responded with what we considered impoliteness.(18) One could argue that this person gained some interactional power through this type of behaviour. a stereotypically feminine response. and these norms I would argue have something to do with gendered domains and stereotypes of gendered behaviour. my status was something which was brought up later in the interaction) and also had insulted someone to whom he should have had some responsibility since she was a postgraduate student within the department. we would need to be careful about the elision of interactional power with masculinist stereotypical behaviour. because those who were trying to resolve or minimise the difficulty. This felt like aggression and not banter primarily because we did not know him. it led to a range of `repair‘ behaviours. partly because both of us were fearful of physical attack. Having worked with extremely impolite. as if perhaps these were implicit from the beginning.important is that the male member of staff was behaving in a stereotypically masculine fashion. verbal aggression and impoliteness. Because of these strategies we were locked into the interaction. he is a poet (and presumably male poets have a certain type of behaviour which is seen to be acceptable). `masculinist‘ females as well. whereas for the male staff member. (Walsh. since we were told that we should simply accept this behaviour because `that‘s just the way he is‘. which in many contexts such as this one. suggesting that we talk on other subjects. it is worth considering the very different ways in which females are judged for directness. As it was. we could not simply walk away. If this behaviour had come from one of our male colleagues with whom we felt at ease. However. that is. do not necessarily bring any form of power to oneself. We tried to assuage him and calm him down. or explicitly drawing attention to the fact that we seemed to be misunderstanding one another. Clare Walsh has argued that we need to be able to discuss the notion of inferred sympathy or politeness which we assume is behind a particular speech act. Thus. since he had insulted a person who was senior to himself in institutional terms (and in fact. perhaps stereotypically `feminine' responses to threatening behaviour. it led to an increase in insulting terms. perhaps. For myself and the postgraduate.

What is perhaps more important is the outcome of this behaviour. I decided to try to resolve the matter by talking to him explicitly about the event and suggesting that we begin to speak to each other again.The incident itself is not particularly important. The impoliteness towards me and my student was beginning to reflect more on us than it did on him. it may still be classified by others as a weak form of behaviour. the power of feminine and masculine strategies of speech must also be considered in relation to what is achieved in the long term within the interaction. however. Thus. even though this is a strategic use of femininity. when analysing politeness and impoliteness in relation to gender. what must be focused on is the gendered domains of speech acts like politeness and the perceived norms of the community of practice. and even those stereotypes can be used for our own ends. we should not assume that interactional power is necessarily achieved by the use of masculinist speech such as banter and impoliteness. whilst I felt that I was resolving the situation by drawing on these feminine norms strategically. where all of the people who attended and the rest of the department were drawn into various behaviours which either tried to resolve or worsen the perceived breach. it is not enough to simply analyse males‘ and females‘ use of seemingly self-evidently politeness strategies within particular interactions. cannot be simply coded as powerless. However. I did not wish to be cast in the role of victim and he showed no awareness of the distress his verbal attack had caused. Stereotypically masculine speech styles may be condoned more when they are employed by men than women. what I . Several male and female members of the department refused pointedly to speak to the member of staff. Thus. that is not to say that other members of the department or indeed the staff member himself interpreted them in this way. I would characterise both myself and my postgraduate as strong speakers who are confident in the public sphere. and the way that this judgement is not a once and for all act.(20) After several weeks of not communicating with the person. However. and strategic use of stereotypical gendered behaviour cannot be considered in the same way as other less foregrounded gendered behaviour. particularly to the postgraduate. that is. because these accord with notions of the habitual styles of men and their use of politeness. except for the fact that my postgraduate and I felt that the person had been grossly impolite. one which attempts to resolve the situation. resolving breaches seems to me a fairly powerful move to make. (21) However. what the analysis of this incident shows is that gender in an interaction is not simply about the gender of the speaker or hearer. or even perhaps an admission of some fault on our part. since this fits in with the stereotypes of masculine interaction. Thus. what was interpreted as impoliteness on a male‘s part is condoned more. A seemingly feminine response to the situation. We must also analyse the way that individuals come to a judgement of an utterance or series of utterances as polite or impolite. several meetings were held between senior staff and the postgraduate. and the party was disrupted by the event. This type of strategic use of stereotypical behaviour requires us to analyse more carefully the notion of the meaning of such behaviour. where the postgraduate tried to make a formal complaint. Generally. since in fact this is what brings the incident to a close. However. this may seem to be a fairly stereotypical feminine response to the situation. Conclusions Thus. but that it is something which takes up a great deal of interactional work with others. Furthermore. This strategic use of feminine co-operative strategies should be seen as a way in which female behaviour cannot be equated with stereotypes of behaviour. this particular community of practice is coded by many of the participants as masculine because banter is considered to be the normal mode of interaction.

context-sensitive empirical studies would be able to yield useful data. 4. (see. Utrecht. May. Eckert and McConnell. I am also grateful to those who commented on versions of this paper which I have given at the Loughborough University Social Sciences Women's Group.(Butler. but even here. complex that relation is ). as several feminist theorists have interpreted Judith Butler as stating in her work on the performativity of gender. but that they may decide call on their shared sex for particular strategic reasons. however. in 1993. (See Liladhar. and it can also enable us to see that within different communities of practice. It may be argued that since power and masculinity are correlated (however. Perhaps. 1994) 5. 2. Janine Liladhar. Reina Lewis. Manana Tevzadze. individuals may perform their gendered identities in different ways. Thus. one’s position within a speech community may be advanced by using a range of different strategies. I would like to thank the following people who have commented on draft versions of this paper: Tony Brown. California. 1999) 3. and Gender and Language Conference. I am not arguing that no generalisations can be made about gender. politeness and impoliteness which perhaps can only be achieved through turning from the sentence level to the level of discourse. that interactional power can only be achieved by using masculinist strategies in speech. November 1999. Bell et al. February. also. International Gender and Language Association. As I show later. but we would have to be wary about using this data to comment on women or men as a whole. The male students in question saw intimate speech situations as stereotypically feminine and therefore spent a great deal of the time drawing attention to the fact of being recorded and addressing sexist comments to the person who was recording the interaction.am arguing for in this essay is a greater complexity in the analysis of gender. this was clearly the case. That is not to suggest that anyone can say/do/be anything. Peter Jones and the members of the Cross Cultural Linguistic Politeness group who commented on a draft version of this paper which I gave at Nottingham Trent University. Lia Litoselliti. 6. 2000. Notes 1. Holmes and Meyerhoff. The notion of community of practice can provide a framework for analysing the complexity of judging an utterance as polite or impolite. stereotypical behaviour cannot be said to have one function or one interpretation. 2000. May. we need to question whether there is one stereotype for feminine and masculine behaviour. In certain recording sessions which some of my undergraduate students undertook at the University of Loughborough. Clare Walsh. (1997) has shown that single sex heterosexual male groups may use this seemingly feminine speech setting of informal gossiping to co-construct their heterosexuality masculinity against a supposed homosexual male other. Ehrlich's (1999) article on the differential behaviour of a female tribunal judge and a female complainant in a sexual harassment/date rape trial is an excellent analysis of the way that women may be part of different communities of practice and therefore will behave linguistically in very different ways. Jane Sunderland. yet sees also that it is possible to challenge and contest those stereotypes. including the seemingly more co-operative/rapport ones. depending on . or change their meaning or function. Keith Green. there are generalisations which can be made about the employment of stereotypical behaviour at certain moments in interactions. 1999. 2000. Also. Cameron. Corinne Boz. 1990) My position is a modified form of Butler’s theories on gender identification which acknowledges the force of stereotyping and perceptions of sex-appropriate roles. 2000 forthcoming.

A participant at a conference on Language and Gender in Utrecht.bargiela@ntu. I am simply interested in the aftermath of the event within that community of practice and what it tells us about politeness and impoliteness.uk/~politeness or by contacting Francesca Bargiela : francesca. Competitive talk is not always valued by communities of practice which may code it as too direct. 13. it might be the case that one of the recruits considered the level of impoliteness as over-aggressive and therefore might lodge an official complaint about it. There are clear difficulties in working on this material since I am making this incident public and presenting a particular view of the event. He prevented me from publishing an earlier version of this essay in the departmental web-journal : English Studies : Working Papers on the Web . he found the level of impoliteness personally threatening and offensiveness. and we are currently working on communities of practice and politeness.uk\schools\cs\linguistics or by contacting Sara Mills at s. this article is part of that process of understanding the event. Although this is a possible role for secretaries to adopt within certain particular institutional contexts. 12. Turkey. 11. or at our web-board: http://hum-webboard. 9. The male member of the staff involved in the incident has received a copy of each version of this essay. It is generally drawn on as a way of avoiding analysis of the structural inequalities in conversation which lead to certain notions of appropriateness being formulated which favour the dominant group’s norms. 10. 2000. The Cross-cultural Linguistic Politeness Research Group. nevertheless he recognised that it was `appropriate' to the context and did not in fact complain.ac. the community of practice. it is interesting that not all secretaries do adopt it. bullying and overbearing. My point would be that despite classifying this style of speech as impolite. I also requested comments on his interpretation of the incident. Even over two years. composed of linguists from Britain. of course. We meet regularly to discuss the research of the participants and also to discuss new research in this area. However. Indeed.ac. I should make clear that this analysis is not an attempt to `get back’ at the person involved. One of the main discussions so far has been on the contestation of the notion of face. Details of the group can be found on the website http:\\www. classed and raced identity which determines what style of politeness will be adopted. cannot be arrived at except through the particular community of practice and the wider social norms held within that society which that community will take a position in relation to It is one’s judgement about what a certain level of politeness means in relation to one’s gendered. 8.uk. It should be noted also that individuals may have misguided notions of what is appropriate within a particular group (see Bucholtz. Italy. The notion of appropriateness is a very difficult one to engage with. in the army training example.uk This distinction between an analyst imposing a meaning on an utterance and an analyst attempting to discover the meanings which interactants give to an utterance is one which Bucholtz (1999) defines as the distinction between sociolinguistics and ethnography These individual norms. Georgia. stated that when he did his year's army training. China. . 1999 on peripheral group members) For example.mills@shu. the incident still has effects on the department and is still discussed.ntu.ac. Finland and the Netherlands.l.7. has been collaborating on rethinking the models which are currently in use for the analysis of linguistic politeness.shu.. and I asked his permission to publish it. I should make very clear that the views expressed here about the meaning of the incident are mine alone.ac. it remains a useful term to use with caution when discussing the way that individuals come to an assessment of their own and other’s utterances in relation to a set of perceived group norms. as Walsh (forthcoming) has noted.

No formal complaint was made. References Bell. However. because it is quite clear to me that there are several points in the interaction where the meaning of certain acts began to change their meaning for me and therefore required a different response. It is not something that they necessarily want to do. . in Gender. 1998. G. 17. D. 19. When the staff member was informed that the postgraduate was considering making a complaint. J. and may be misinterpreted when used between relative strangers. that they have different speech styles which lead to breakdowns in conversation.31-48. However. 18. in fact. By this I mean that the way that the conversation developed into an excessive display of insult and sexual antagonism perhaps means that these elements of conflict were already embedded within the initial interaction where there might appear to be a certain ambiguity about whether the male member of staff intended to be polite or not. such as comments about the house where the party was being held. I would agree that alcohol affects what we say to people. & Valentine. another member of the department who has attempted to be `objective' about this interaction made comments to me which lead me to assume that this is roughly how he interpreted our actions. the conflict between men and women is one of social inequality and differential access to resources and goods within the public sphere. 1/1. This is also why I feel that it is important to see politeness and impoliteness over long stretches of interaction. it may also be used strategically by those strangers who wish to be impolite because of this ambiguity about whether it is a signal of intimacy and therefore positive politeness or impoliteness. Cameron (1998) argues that whereas Deborah Tannen considers that men and women simply misunderstand each others' intentions. J. 15. (1994) `All hyped up and no place to go‘. Cream. pp. 21. Place and Culture. Binnie. Furthermore. and when we judge that someone is drunk we also adopt different strategies towards them and judge their utterances in different ways. or even the weather. They see it almost as a precondition of being accepted as a `proper' university lecturer that they can adopt this masculinist way of speaking. he left a note in her pigeonhole which said `Sorry’. that cannot lead us to assume that the speech acts of those who are drunk should not be counted as having any effect or force. Many of the female university lecturers to whom I have spoken about banter have stressed the fact that they see `doing' banter and verbal duelling with male colleagues as a necessary but rather tedious element in their maintaining a position within the departmental hierarchy. for a discussion) 20. Banter also is only an appropriate speech style to those who know each other well.14. but the timing of the interaction precluded the use of these. 16. this is what leads to conflict. If the incident had taken place earlier it would have been possible for me to draw on a whole range of other items of small talk. Here. (See Clark. It is difficult to work out what the other participant considered happened during this interaction. This may however be a post hoc rationalisation on that member of staff's part or indeed on the part of the new member of staff (just as my analysis may well be). but it is a style of speaking that many of them felt that they could use effectively. he has not responded. conversational breakdown is seen as an instantiation of a wider conflict over power. despite several attempts to discuss this issue with him. the way that drunkenness is judged as appropriate or inappropriate for men and women was striking here.

formal stylistic markers).203-225. in eds. to talk rough. S (1978) `Universals in language usage: politeness phenomena‘. From Nancy Bonvillain's "Language. it has been (historically) expected from a women to "act like a lady" and "respect those around you. pp. Bing. M. "are permitted. in ed. eds. power and pragmatics'. London. and Communication" she notes that. London.86-107. D. pp. society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. Culture. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. "women typically use more polite speech than do men. in Discourse and Society. D. J. Blackwell. (1997) `Performing gender identity: young men's talk and the construction of heterosexual masculinity'.56311. Routledge. cultivate a deep "masculine" voice . Cameron.' Pp. P and Levinson. they note that boys. In Frank and Anshen's "Language and the Sexes". (1998) `Is there any ketchup. Goody. even encouraged. (1999) `Why be normal? Language and identity practices in a community of nerd girls. Cambridge. & Freed. However. From historical recurrence. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. PhD thesis. Bucholtz. Oxford. A. C.Bergvall. it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. 9/4 Cameron. characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to. Vera?': gender. E. U. (1990) Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. 28/2 Butler. Boz. Johnson. V. (in progress) `Politeness and linguistic universals'. pp. in Language in Society. S. Cambridge University Press. Therefore. J." Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. and softening devices such as hedges and questions. Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men? Politeness is defined by the concern for the feelings of others. (1996) Rethinking Language and Gender Research: Theory and Practice. and Meinhoff. Sheffield Hallam University Brown." It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. 435-455. Language and Masculinity. Longman.

and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well "boys will be boys," although, peculiarly, it is much less common that "girls will be girls" Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: to:

linguistic markers that signal respect to the person you are speaking

"Hey ma, fix my jacket" Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?" In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain's "Language, Culture, and Communication." 1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed

"Yamada enjoyed dinner with his son."

2. With Honorific.
yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON

"Yamada enjoyed dinner with his son."

Hedges: "loosely speaking", having a sense of "fuzziness" they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as " I was sort-of-wondering," "maybe if....," "I think that...."

"HANK is SO MEAN!" vs.

" I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person."

Politeness is best expressed as the practical application of good manners or etiquette. It is a culturally-defined phenomenon, and therefore what is considered polite in one culture can sometimes be quite rude or simply eccentric in another cultural context. While the goal of politeness is to make all of the parties relaxed and comfortable with one another, these culturally-defined standards at times may be manipulated to inflict shame on a designated party. Anthropologists Penelope Brown and Stephen Levinson identified two kinds of politeness, deriving from Erving Goffman's concept of face:

Negative politeness: Making a request less infringing, such as "If you don't mind..." or "If it isn't too much trouble..."; respects a person's right to act freely. In other words, deference. There is a greater use of indirect speech acts. Positive politeness: Seeks to establish a positive relationship between parties; respects a person's need to be liked and understood. Direct speech acts, swearing and flouting Grice's maxims can be considered aspects of positive politeness because: o they show an awareness that the relationship is strong enough to cope with what would normally be considered impolite (in the popular understanding of the term); o they articulate an awareness of the other person's values, which fulfills the person's desire to be accepted.

Some cultures seem to prefer one of these kinds of politeness over the other. In this way politeness is culturally-bound.

gender courses as well as addressing issues which may arise in the classroom setting.

Table of contents
      

1. Language and gender – a brief history 2. Teaching language and gender: introduction 3. Commonality and diversity in language and gender curricula 4. Teaching and learning stances 5. Designing modules in language and gender 6. Language and gender as part of other language modules Bibliography

1. Language and gender – a brief history
The relationship between language and gender has long been of interest within sociolinguistics and related disciplines. Early 20th century studies in linguistic anthropology looked at differences between women‘s and men‘s speech across a range of languages, in many cases identifying distinct female and male language forms (although at this point language and gender did not exist as a distinct research area). Gender has also been a social variable in quantitative studies of language variation carried out since the 1960s, a frequent finding being that, amongst speakers from similar social class backgrounds, women tend to use more standard or ‗prestige‘ language features and men more vernacular language features – see Sociolinguistic Variation. Aspects of interpretation and of the methodology adopted in variationist studies have however been criticised by some language and gender researchers (see discussion in Cameron, 1992; Coates, 1986/2004; Graddol and Swann, 1989). As a field, prompted by the blossoming ‗western‘ Women‘s Movement, language and gender really took off in the 1970s with a broad interest, particularly from feminist researchers, in the potential for male dominance of mixed-gender talk (e.g. men interrupting women more often than vice versa); in the identification of distinct female and male speaking styles (a common finding being that women tended to use more supportive or cooperative speaking styles and men more competitive styles); and in sexism, or sexist bias, in language. The field was also characterised by different positions, retrospectively termed ‗deficit‘, ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘. Research associated with the deficit position saw women‘s language use as deficient (relative to men‘s) in various ways; the male dominance position placed greater emphasis on differences in power between female and male speakers; and the cultural difference position saw women‘s and men‘s language use as ‗culturally‘ different but not unequal. Women‘s and men‘s language use has also been interpreted in relation to politeness theory, with women seen as more linguistically polite than men. (For critical accounts of this work, see the text books under Teaching Bibliography. Specifically on politeness, see Holmes (1995) and Mills (2003).) More recently, and particularly in studies carried out since the early 1990s, gender has been reconceptualised to a significant extent, influenced by contemporary theories associated with post-structuralism such as performativity theory (Butler, 1990/1999; 1993; 1997). Gender is seen as a less ‗fixed‘ and unitary phenomenon than hitherto, with studies emphasising, or at least acknowledging, considerable diversity amongst female and amongst male speakers; the shifting relationship between gender and other aspects of identity; and the importance of context in determining how people use language. From this perspective, importantly, gender is seen less as a prior attribute that affects language use and more as an interactional achievement - something that may be performed (or negotiated and perhaps contested) in specific ways in different contexts. Particularly interesting insights into such phenomena have come from recent studies of language and sexuality. Studies have also explored different discourses associated with femininity and masculinity. And there has been valuable discussion of methodological issues – e.g. what different approaches can bring to the study of language and gender (including variationist and interactional sociolinguistics, linguistic ethnography, conversation analysis, critical discourse analysis, discursive psychology, feminist post-structuralist discourse analysis

2005) suggests that language and gender researchers need to engage more seriously. (For sources. Language and gender is not only taught as part of (socio)linguistics and English (language) studies. or as sessions in modules such as ‗Language in Society‘. but also within the disciplines of (linguistic) anthropology and (social) psychology – and there may be more. As an illustration of the different inflections that may be given to modules. what can be and is included in language and gender curricula is enormously diverse. There has been limited discussion of cognitive issues (such as differences in verbal ability). Teaching language and gender: introduction The teaching of language and gender is now widespread. stances and critique a focus on empirical work (including by students themselves) These however will be tempered and mediated by disciplinary and departmental differences (as well as by individual lecturer differences. whether in the form of coherent modules on the topic. In what follows. 3. however. represents a strong biological (evolutionary) perspective. the emphasis has been on ‗language‘ and ‗gender‘ as social phenomena. we would suggest that the teaching of most language and gender modules shares some common themes:      a balancing of past and contemporary theory (e. at least across the ‗western‘ world.g. see the textbooks and edited collections under Teaching Bibliography. and of potential biological explanations for human aptitudes and behaviour. at issues relating to teaching and learning stances. for a broader overview of sex differences in cognition. a contemporary review of the field (Cameron.and corpus linguistics). However. ‗Language and the Media‘. the level at which the subject is taught and actual and perceived student abilities and preferences). we look at commonality and diversity in language and gender curricula. Language and gender doesn‘t. (Baron-Cohen (2003). see Halpern (2000). including selection and sequencing of curricular content. with the challenges posed by a recent resurgence in ‗biological‘ explanations.) 2. deficit/dominance/difference and performativity theory) interdisciplinarity a broadly political. Commonality and diversity in language and gender curricula Despite the potential for diversity. and on the social construction of gender and other aspects of identity in linguistic and other practices.) Within language and gender as a field. and at the potential for integrating language and gender into modules on other aspects of linguistics and English language studies. such as Women‘s Studies. Testament to this is the fact that edited collections in the area outweigh monographs. have a settled curriculum. or Women‘s Studies. The field itself is still young and additionally is extremely fast-moving: consequently. at the design of language and gender modules. including linguistic behaviour. and critically. or within non-language programmes. and often ‘feminist’ subject matter (however this is defined) and teaching stance the welcoming of students’ personal experience. we can contrast syllabi . for instance.

academic experience and perceptions of ‗language and gender‘. The first is an early collection published by The Council of the Status of Women in Linguistics (COSWL). There may also be something of a split between curricula in continental Europe and those in the USA. given the nature of the subject. at the time at UCLA. but the subject is to some extent differently constituted in each case. both modules explore relevant aspects of language and gender. and any attempts to ‗straitjacket‘ curricula would seem not only futile but intellectually counter-productive. Besnier. and subsequently updated by Scott Kiesling (1999). Eckert deals with language and gender within the context of linguistics: the module outline includes a rich and detailed exploration of the (socio)linguistic study of pitch and voice quality. whereas Eckert‘s focus is primarily on spoken language. undergraduate students can be alienated by what they see as feminist topics characteristic of their parents‘ generation. Many young female undergraduates do not see sexism as a current issue – rather. Teaching and learning stances Teachers of language and gender report rather different experiences of working with students – perhaps unsurprisingly. sometimes problematical. A wider range of language and gender syllabi representing different disciplinary contexts can be found on two web sites. reflecting disciplinary perspectives. more recent exercise in syllabi collection has been undertaken by Amy Sheldon and Barbara LeMaster (www. Both have a strong empirical focus.csulb. given the disciplinary and other differences referred to above. but there are particular issues. He also covers gender and literacy. including early work based on ideas of difference and dominance as well as more recent work consistent with performativity theory. The classic case here is probably sexist (English) . Besnier seems to give greater emphasis to the broader sociocultural and historical context and to the intersection of ethnic. and how they relate to one another in teaching contexts – is an issue for the teaching of any subject. for instance.designed by Penelope Eckert (2006/7) at Stanford University and Niko Besnier (2005). Students‘ background. and include student project work. has a strong and explicit anthropological focus. they see oppression as a thing of the past. noting that ‗gender has become one of the most important lenses through which anthropologists have sought to understand society and culture‘ (Besnier. 4. These are mainly US sources and not all recent links are available. racial and national identities with gender. are likely to affect teaching approaches and relations between teacher and students. A similar. This site includes reading lists and assignment topics. Eckert‘s and Besnier‘s syllabi demonstrate consistent approaches to theoretical developments in language and gender. Differences reflect the vibrancy of language and gender as an academic area. what issues are relevant to young undergraduates? This is not to privilege immediate perceived relevance to students but it is to say that. grammatical gender. On the basis of these syllabi at least. that relate to the teaching of language and gender. along with teachers‘ and students‘ (gender) politics. What we have termed ‗stance‘ – the positions taken up by teachers and learners. The diversity evident in the syllabi and other curricular documents usefully documented on these sites is probably inevitable.edu/~lemaster/lgarchive). on the other hand. a problem solved. dialect variability and stylistic variability as well as language in interaction. 2005: ‗Aims of the course‘). First.

While the teacher indicating a feminist or other commitment is accepted. Amongst male students. Thirdly. there is the issue of ‗teaching as a feminist‘ (or not). and the associated question of empirical research. if they are not simply indifferent to these debates and issues. and to associate Ms with. encouraged. but also to many third world women. but a history whose implications are currently felt more widely . variously. And while feminism has been responsible for the upsurge in language and gender study since the 1970s. lesbianism and a hatred of men. and indeed continue to use Ms. but also to consider the topic of linguistic sexism as passé. be made to feel unwelcome. and for whom linguistic description and analysis (for example. Perhaps male students feel that language and gender is not for them. Secondly.for example. to teach the non-sexist language debate as something with an important history (rather than. on language and gender modules. On a different level. focusing on current arguments for Ms). While this is often encouraged by teachers anxious to position their students as active. they usually have to deal with being a member of a minority group in the class. used. we have come across apparent motives of sympathy and ‗wanting to understand‘. who are largely unused to this form of scholarship. and to develop strategies for dealing with female students who ask precisely this. this may still come as a shock to students. of course. eighteen. the word ‗feminism‘ is not only problematic to young ‗western‘ women (who locate it historically in the same past timeframe as Ms).language (together with language change. This may be difficult for students from the Humanities taking language and gender modules. While fiftysomethings may have argued for. having signed up. and machismo (‗what‘s all this about? can I take it?‘).) It makes more sense. It has also been reported to us by African students that ‗feminism‘ in different African countries is associated with sexual promiscuity. despite teachers‘ insistence that ‗language and gender‘ does not mean ‗language and women‘.and nineteenyear-olds are not only far more likely to use Miss. knowledge-making members of the language and gender research community (perhaps . and guidelines for inclusive language). say. in Women‘s Studies. indeed. Perhaps more significant is the question of students‘ own empirical research. 1995) on women‘s rights and gender relations in some African nations). and in areas of linguistics such as critical discourse analysis (CDA). classroom demographics in mixed-sex educational institutions are almost inevitably skewed towards a female population. The converse of this is the value for men being able to analyse (say) GQ in a mixed-sex group. even that they will feel uncomfortable – or. worse. on which so much language and gender scholarship is based. and indeed what the teacher feels she can do: using men‘s ‗lifestyle‘ magazines as texts for analysis may (rightly or wrongly) be a more palatable proposition when all your students are female. in the casual use of the phrase ‗political correctness gone mad‘ to refer to utterances intended as ‗inclusive language‘. of feminism in general. teachers will usually need to resist the temptation to ask ‗what the man in the group thinks about Issue X‘. and indeed of making one‘s own politics explicit. (This is. then. In this context. and this needs to be pointed out and demonstrated. The fourth issue rather differently concerns the overarching Social Science field of language and gender. Certainly. man-hating. divorce. male students may in effect restrict what female students feel they can say (in case they are seen as unfairly generalising). being anti-family and single-parenthood (which is not to deny the progressive influence of the Fourth World Conference on Women (Beijing. of naturally-occurring talk) may be unfamiliar and off-putting.

talk more than women. Designing modules in language and gender In Section 5. Theoretical/methodological approaches D. that ‗gender differences‘ itself is a problematic concept in many ways). appropriate. It is much harder to explain that current language and gender scholarship goes way beyond gender differences in language use (indeed. Topical C. Queer theory. in which men were variously found to interrupt women more than vice versa. Lastly (for this paper) is the question of accessibility vis à vis the sophistication and complexity of intellectual concepts populating the pages of current monographs and articles in language and gender. identity. and in fact approached critically. Historical B. especially in the light of the range of relevant methodologies referred to above). discourse(s). better. indeed. subject positioning. 5. Eclectic . orientation to gender. and some simplification may be pedagogically necessary and. or. these methodologies entail curricular demands which on (say) a 20-hour module need to be balanced with important language and gender curricular content. Students new to the field are in our experience more than happy to discuss such findings and to look at them in the context of their own lives and relationships. This is difficult particularly for those teachers working with academically inexperienced students or those who are ‗dipping into‘ language and gender with no opportunity for advanced study in the area. It is relatively easy to teach about ‗gender differences‘ and ‗male dominance‘. and produce fewer conversationally helpful questions and backchannels. but in an accessible way. we consider four possible ways in which a language and gender module might be designed. appropriately integrated. that language can be seen as ‗constructing‘ gender rather than reflecting it. according to different organisational criteria:     A.something particularly characteristic of language and gender. These complex notions need to be addressed. and that the field is now concerned with notions such as communities of practice. performativity/performance and warrants for our claims (to name a few). often having no problem identifying with the findings.

Jespersen 2. Holmes 6. Traditional sociolinguistic approaches: language variation and sex 2. As in other fields. Introduction – Folklinguistic beliefs about language and gender. gender as constructed in and by language 2.g. Sexist language 2. Discourse analysis (1): Critical discourse analysis (CDA) 7. Empirical work and the feminist contribution 3. Workplace talk 6. The importance of context 6. private/public 3. gender and the language classroom 8. Theoretical/Methodological 1. Labov. both topical and methodological. Gender and cyber-communication D. Zimmerman and West 5.B. Language. CA/Discursive psychology in language and gender study C. gender and fiction 8. Performativity 9. Conversation analysis 7. Trudgill 3. gender and children’s books 10. Gender and the media – magazines. Sociolinguistic work: e. gender and powerful institutions (religion. Discourse analysis (2): Feminist poststructuralist discourse analysis (FPDA) 9. The shift to discourse 7. One key question for many teachers is ‗How much history?‘ – which poses something of a dilemma. Classroom talk 5. Discursive psychology 8. Historical: Example 1. Coates. Queer theory As illustrated in the four different syllabi above. Sexuality/Queer theory 1. have grown out of (responded to/reacted against) . ‘(Male) dominance’ approaches: Fishman. Corpus linguistics 9. ‘Gender differences’ in language use: approaches and critiques 4. Discourse analysis 4. Language. newspapers. current emphases in language and gender. Language. Ethnographic/Anthropological approaches 3. Empirical and non-empirical early work: Haas. Spender 4. gender and sexuality 9. Feminist post-structuralist discourse analysis 6. Women and men’s talk: single/mixed sex. Gender and discourse 5. Identity 8. As above. politics) 10. continued. ads. what to include in a language and gender module is by no means self-evident. Written texts: language. perhaps including the topic of gender and politeness 4. Topical: Example A. 7. Eclectic! 1. Language. Critical discourse analysis 5. Early feminist work: Lakoff. ‘(Cultural) difference’ approaches: Tannen.

but that it had also been suggested that researchers should engage critically with relevant literature. and now usually are – but the message does not always get through. we would argue that language and gender study can address biological issues and debates without going down the routes of essentialism and biological determinism. which has made its own important contribution to language and gender. A second key question of what to include in a language and gender module revolves round sexuality and. If such history is to be included (Example A). through which some sort of ‗thread‘ still needs to run. previous emphases included the ‗gender differences‘ approaches of ‗deficit. Such an approach is however more likely to be appropriate to post-graduate students and/or those who already have some experience of the field. and while keeping a critical eye on the discourses articulated in different types of explanation (i. The language and gender field is young. considering a balance not only of content and methodology (already referred to). the workplace. Of course. We noted above that these have traditionally been downplayed. relatedly. In terms of teaching. gender as evident in language variation) and concluding with Queer theory. the question of sequencing needs to be addressed – must a language and gender module necessarily start with history. mediating the latter as appropriate to make current issues approachable and accessible. Queer theory. intellectually complex. But while the field has moved on considerably.g. few teachers of language and gender would argue that sexuality is not worthy of inclusion. classroom talk. how these are constructed in the literature. previous emphases can be included critically. Teachers need to address how to do justice to this in (say) ten two-hour sessions. As mentioned in Section 1. the media) – although it is hard to see how this could be achieved without some sort of theoretical/methodological thread running through it too. and partly because of the demanding intellectual challenge of Queer theory. and fast-growing.previous ones. A third question is the role of biological factors/explanations. this topic may still be absent partly because it presents something of an ontological challenge for ‗straight-identifying‘ teachers. Given the overwhelming stress on (hetero)sexuality these days. ‗(male) dominance‘ and ‗(cultural) difference‘.e. other organising principles than the chronological development of the field. they are (as we have suggested) both appealing to many students and intellectually graspable. but also of what is likely to be of interest to students and what is of contemporary interest in the field. A fourth possibility is an ‗eclectic‘ syllabus (Example D). . however. Most basic is the question of time.g. of course. given that this may then set the tone for the remainder of the module? There are. One possibility here (Example B) is to sequence a module topically (e.) A debate between the psychologists Stephen Pinker and Elizabeth Spelke on ‗The science of gender and science‘ is a potential general resource. A third possibility (Example C) is to sequence a module chronologically but according to different theoretical/methodological approaches – perhaps starting with traditional sociolinguistic approaches (e. to the point of having thoroughly problematised and largely rejected such emphases. but wide. though not focussed on language issues (Pinker and Spelke 2005).

6. Language and gender as part of other language modules
So far we‘ve focussed on language and gender as a distinct module, but language and gender may also feature as a session in other modules, particularly in sociolinguistics or other sociallyoriented approaches to language study. One option here is to provide a broad outline of the field (examples of how this has been attempted can be found in language and gender chapters in sociolinguistics text books – see, for instance, Holmes, 2001; Meyerhoff, 2006; Mesthrie et al, 2000). Another is to choose just one, illustrative topic (for example, language and gender in relation to children‘s books, education, or the workplace). There are problems of selection here, but such a session should balance interest and accessibility with at least a flavour of contemporary approaches to the field. Language, gender and sexuality may also be more closely integrated into the broader discussion of language and identity, and related topics. The shift from seeing identity as something that one has (a prior category that is reflected in language use) to seeing it as an interactional achievement (something that one does in very specific ways in particular interactions), which has led to a reconceptualisation of gender, and to its theorisation in terms of performativity (and its variations), as discussed in Section 1, is broadly consistent with much contemporary work on codeswitching and on style, style-shifting and stylisation, also concerned with the local, contextualised production of identities (e.g. Coupland, 1986; 2001; Rampton, 1995/2005). Codeswitching/style and gender/sexuality are not always discussed together, but some studies do bridge the gap (e.g. Barrett, 1999; Besnier, 2003; Eckert, 2007). Such approaches are less consistent with work within the quantitative, variationist tradition that necessarily takes a less contextualised approach to social categories. However, the tussle between the local, qualitative exploration of identity and broader approaches associated with quantitative methods, along with debates about the potential value of combining superficially incompatible approaches, is very much a live issue in language and gender (e.g. Holmes, 1996; Hultgren, 2007; Swann, 2002). Gender therefore makes a useful case study in teaching about questions of identity and categorization. Gender can also be drawn on in teaching about methodological/analytical issues: for instance, debates between exponents of conversation analysis (CA) and more critical approaches to discourse analysis on the interpretation of texts. At issue here is whether analysts may legitimately go beyond the text itself, and invoke various extra-textual or contextual factors to make an interpretation of the text. This textual vs contextualised debate has often been played out in relation to gender. CA advocates who take a strong position on this issue would insist that one may only interpret an interaction in terms of gender if gender is explicitly ‗oriented to‘ by participants. This would rule out correlational evidence, ethnographic evidence, or any other approach that took contextual factors into account. For fuller discussion, see the debate between Schegloff, 1997; Wetherell, 1999 and others in the journal Discourse and Society; the powerfully-argued case for CA in Speer, 2005; and Swann, 2002. This and other methodological issues are also addressed in relation to language and gender in Harrington et al. (2007, in press). In cases where it isn‘t possible to teach a whole module on language and gender, then, language and gender can still inform the teaching of related topics, such as language and identity.

Language and gender research may also be drawn on in the discussion of broader theoretical and methodological issues in language studies. In both cases it may serve to enrich and stimulate discussion and debate.

Bibliography
Baron-Cohen, S. (2003) The Essential Difference: men, women and the extreme male brain. London: Allen Lane. Barrett, R. (1999) ‗Indexing polyphonous identity in the speech of African American drag queens‘, in Bucholtz, M., Laing, A.C. & Sutton, L.A. (eds) Reinventing Identities: the gendered self in discourse. New York: Oxford University Press. Besnier, N. (2003) ‗Crossing genders, mixing languages: the linguistic construction of transgenderism in Tonga‘, in Holmes, J. & Meyerhoff, M. (eds.) The Handbook of Language and Gender. Oxford: Blackwell Publishing. Besnier, N. (2005) ‗Gender and language in society‘, Anthropology 149B. Available at: www.sscnet.ucla.edu/05W/anthro149b-1/anthro149BsyllabusW05.pdf (Accessed 31 August 2007). Butler, J. ([1990] 1999, 2nd edn) Gender Trouble: feminism and the subversion of identity. New York and London: Routledge.

INTRODUCTION AND SUMMARY This book is comprised of an introduction, five chapters, conclusions, the bibliography, and an index. The sequential organization of the chapters and the contents of each chapter are clearly presented. The bibliography contains 308 references and is mostly related to the literature in discourse analysis, interactional sociolinguistics, politeness, impoliteness, and gender, among other related topics. The book is very well-written and is easy to follow. Due to its level of theoretical detail in the discussion of various politeness models, this book would be appropriate as a complementary textbook in a seminar on linguistic politeness or a seminar on pragmatics or discourse analysis. Some sections of this

book may also be used to complement the politeness component in a graduate pragmatics course, in particular, the critique of the different models of linguistic politeness is quite useful. The examples used to illustrate various theoretical points on politeness come from natural conversational extracts and are often accompanied by a discussion of the participants' perception of politeness. The introduction presents the objective and scope of the book and emphasizes the theoretical and methodological contributions of the book by drawing on previous models of linguistic politeness and their relationship to gender. The main aim of the book is 'to develop a more community-based, discourse-level model of both gender and linguistic politeness and the relation between them' (p. 1). Information regarding the methodology and the data collection procedures for the study is also presented. In Chapter 1, Rethinking linguistic interpretation, the author discusses four problematic aspects of linguistic interpretation: the model speaker, the individual and the group, the model of communication and language, and methodological aspects of data collection. Regarding the concept of a model speaker in linguistic research, the author suggests that utterances need to be analyzed at the discourse level, taking into account both the speaker's and the hearer's contributions to discourse. In particular, the notion of intentionality is essential in conversation analysis. The author claims that a focus on the speaker alone is not justified in linguistic research because the connection of conversation and meaning is always constructed by all the participants in a conversation, where utterances are the result of longer processes of thinking, habit, and past experience. The individual's relation

and methodological difficulties (e. reliance on speech act theory.. power. their model of communication (e. distance. data collection instruments. gender. data collection. The last part of the chapter suggests some implications for an alternative .. With respect to the model of communication proposed in the book. appropriateness. this chapter discusses general methodological issues related to data analysis of quantitative and qualitative data. individual strategies. interpretation. a defined group of people who are mutually engaged on a particular task and who have 'a shared repertoire of negotiable resources accumulated over time' (Wenger. positive and negative politeness. analysis of social variables such as power. and to construct responses which might be relevant to previous utterances. the author considers a model of conversation in a dynamic way where interlocutors continually try to make hypotheses about what others mean (judgments/assessments of politeness). inability to describe politeness at the level of inference). In chapter 2. racial identity. the author critically reviews some of the theoretical work that has been undertaken on linguistic politeness. and imposition). notion of politeness.g. Finally. and the importance of context in conversation analysis are discussed and related to the study. strategic politeness. and linguistic interpretation of pragmatic data. Theorising politeness. speaker model. 1998: 76). notion of habitus) the constituents of politeness (e. 1987) work is reviewed and discussed with respect to various problems observed in their model of politeness (e. Brown and Levinson's (1978. In particular.g. namely.g.g. The variables of class... face and face threatening acts).to the group is important in Mills' analysis because it draws on the notion of community of practice.

and race are examined in relation to (im)politeness. 2) politeness is a matter of judgment and assessment. namely. 1) politeness can only be analyzed within particular communities of practice and should be seen as negotiations with assumed norms. but rather as separate notions with specific characteristics. after a discussion of stereotypical aspects of politeness and impoliteness. . politeness and impoliteness. factors of gender. This chapter is organized into four sections: the first section. swearing and directness. In chapter 3. and. class. to show that instances of these 'stereotypical' notions may not always yield impolite perceptions in specified contexts. two features of impoliteness are analyzed. Then. The next section analyzes judgments of impoliteness and shows that this notion can be understood and analyzed pragmatically when considered in relation to the understanding of utterances at the discourse level. examines the role of rudeness in conversation and shows that the politeness-impoliteness relationship should be seen as a continuum of assessment. The chapter ends with an analysis of various incidents which were judged to be impolite. 3) different forms of data need to be considered. age. Politeness and impoliteness. sexual orientation. In particular.analysis of politeness. Examples from real conversations and perceptions of politeness in various contexts are discussed taking into account the variables of gender. It is argued that politeness and impoliteness should not be seen as polar opposites. the author examines various ways in which politeness and impoliteness have been described in the literature. race. and class. Further. it investigates the notion of impoliteness and how it differs from politeness in context-specific ways.

Furthermore. theoretical and methodological issues in feminist linguistic analysis in relation to 'women's language' are discussed. and discusses the literature on gay and lesbian speech styles in relation to gender identity and politeness. and polite. Finally. mitigation. it examines the language of strong women speakers to challenge the generalization that women's language is powerless. and sexual orientation. among other factors. Theorising gender. the author contests the stereotypical view that women are more polite than men. Finally. the author provides an approach to analyze politeness in relation to gender by means of conversational extracts which examine the speaker's and hearer's (im)polite behavior at both the production and perception level . loudness. indirect. is normally associated with prototypical descriptions of white. and emphasizes the notion that speech styles in relation to gender and politeness are better understood within particular communities of practice. interruption. generally influenced by stereotypical norms of courtesy and etiquette. After an examination and a critique of well-known work on feminist linguistics regarding gender and politeness. The author then examines various theoretical and methodological aspects regarding compliments and apologies which are mostly associated with women's speech and generally analyzed at the production level. Gender and politeness.In chapter 4. class. The author critically reviews the thinking of some feminist linguists who examine the correlation between gender and politeness in light of social factors such as gender. it evaluates stereotypes on men's and women's language regarding degree of (in)directness. middle-class women's behavior. swearing. In chapter 5. power. the author examines stereotypes of gender and (im)politeness and discusses the view that polite behavior. race.

While the analysis presented in the book is theory. 3) the role of stereotypes in relation to (im)politeness and gender is analyzed.in order to resolve conflicts which go on in a group and in specific communities of practice. and data analysis could have been described in one particular section. race. the book has at least the following strengths which are well articulated and theoretically motivated along with appropriate examples which illustrate the theoretical points in question: 1) politeness and impoliteness are discussed at the discourse level and examples from natural conversation are included. taking into account elements of the social context including the speaker's and hearer's assessments of (im)politeness in particular communities of practice. specific information regarding subjects. among other factors. sexual orientation. it is advocated that linguistic analysis turn to an analysis of longer stretches of speech. General information . In particular. the author suggests some avenues for future research regarding the role of stereotypes and social factors (e. and contextual elements.driven. in Conclusions. power) in relation to politeness and gender research.g. Finally.. 2) it provides a critical evaluation of politeness and impoliteness research in relation to gender. EVALUATION Overall. gender. 4) it includes an analysis of politeness which incorporates the variables of social class. 5) politeness is analyzed with respect to the participants' assessments/perceptions of politeness during the negotiation process in a conversation. for the sake of methodological clarity. data collection procedures.

tasks. 14-15) within the introduction. in addition to the work by Eelen (2001) mentioned in Mills' bibliography regarding a critique of politeness theories. is mentioned in footnotes (pp. 2001 is mentioned and this year does not coincide with the references included for Lakoff. there are some inconsistencies with several references mentioned in the main text which do not coincide with the information contained in the bibliography. on p. 2001b) on p. etc. including a description of the subjects. Furthermore. data collection procedures and analysis.concerning the methodology and the data used for the study is mostly presented in the introduction and with additional information found in subsequent chapters. Most importantly. and a description of the specific task(s) used to examine insights on (im)politeness would have been helpful. For example. number of hours of recorded data. and Wierzbicka (2003). Overall. information concerning data collection procedures. this book makes various valuable contributions to the field of politeness and discourse analysis and may be quite useful in graduate courses on pragmatics and discourse analysis which investigate theoretical issues of . Watts (2003). more extensive information on the methodological procedures used in the study. 77 which do not coincide with the bibliography. at least three other recent books not mentioned in Mills' book which examine theoretical and empirical issues in politeness research in other societies that may complement Mills' study are: Bravo (2003). Other examples chosen at random include Bargiela (2000) and Harris (2001a. number of subjects. Finally. 61 Lakoff. Since the methods used to collect and analyze the data may have influenced the interpretation of the results.

Brown. Watts. In Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. P. Cambridge.) (2003).310. A critique of politeness theories. P. Manchester. E. UK: Cambridge University Press. R. S.). edition.(im)politeness and gender. (Ed. (1978). Goody (ed. Cambridge. REFERENCES Bravo. the review of the literature on (im)politeness within particular communities of practice. class. the discussion on the relationship between politeness and gender in light of social variables (e. Sweden: Universidad de Estocolmo. (2003). Brown. UK: Cambridge University Press. New York. Cambridge. 2nd. Wenger. and Levinson. A. Eelen. Wierzbicka.. G. ''Universals in language usage: politeness phenomena''. Cross-cultural pragmatics: The semantics of human interaction. Cambridge. S. (1998). D. UK: Cambridge University Press.. ABOUT THE REVIEWER . UK: St. 56. Stockholm. E. (2003). (2001). NY: Mouton de Gruyter. Communities of practice.. gender. and sexual orientation). Jeromes Press.g. Politeness. and Levinson. In particular. (1987). Politeness: Some universals in language use. and the subjects' assessments/judgments of politeness are welcome contributions to the field. Actas del Primer Coloquio del Programa EDICE. La perspectiva no etnocentrista de la cortesía:y"dentidad sociocultural de las comunidades hispanohablantes. race. UK: Cambridge University Press.

writing in the second language classroom. Bloomington. and first and second language acquisition.César Félix-Brasdefer is an Assistant Professor of Spanish Linguistics at Indiana University. speech act theory. research methods in pragmatics research. His research interests include cross-cultural pragmatics. politeness theory. interlanguage pragmatics. .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.