P. 1
MAKALAH MAWARIS

MAKALAH MAWARIS

|Views: 2,406|Likes:
Published by Oma Rahma Yanti

More info:

Published by: Oma Rahma Yanti on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2013

pdf

text

original

AUL DAN RADD

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri Matakuliah …..:

Disusun Oleh : ( 1410220111 ) ALIYAH ( KELAS ) VIVA : EPI_4 (Semester 2)

FAKULTAS SYARIAH JURUSAN EKONOMI PERBANKAN ISLAM IAIN SYEKH NURJATI CIREBON 2011

BAB I PENDAHULUAN 1. antara lain sebagaimana yang Penulis baca dalam face book dengan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya lebih kurang sebagai berikut : 1. Siapa Orang yang menerapkan aul ? 3. Apakah adil bila dalam pembagian harta warisan anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan? 1. Dengan membawa kitab suci yang didalamnya mengandung hukum waris yang tidak jelas. Apakah pengertian dari radd ? 5. SAW itu Rasulullah? 3. Apakah pantas Al-Quran dijadikan kitab suci yang perhitungan matematika warisan Allah SWT didalamnya kadang kurang kadang lebih sehingga harus dilengkapi hukum buatan manusia yaitu ‘aul dan radd ? 2. Sistem ini sangat terkenal karena dengan sistem ini salah satu persoalan hukum waris yang sebelumnya sulit untuk diselesaikan dapat dengan mudah diselesaikan. dijadikan alat untuk melemahkan keyakinan ummat Islam terhadap kesucian Al-Quran dan Kerasulan Muhammad SAW. Selanjutnya kelemahan-kelemahan tersebut dijadikan titik serangan oleh mereka yang tidak senang dengan Islam.2 Identifikasi Masalah 1. Akan tetapi belakangan ini diketahui bahwa sistem ini banyak mengandung kelemahan terutama bila diselaraskan dengan rumusrumus matematika.1 Latar Belakang Aul dan radd adalah sistem pembagian harta warisan yang lahir pada zaman khalifah Umar bin Khattab dan berkembang serta tetap dipertahankan sampai saat ini. Bagaimanakah cara penyelesaian masalah aul ? 4. apakah benar Muhammad. Apakah pengertian dari aul ? 2. Apa sajakah rukun-rukun radd ? 2 .

6.3 Rumusan Masalah 1. Siapa ahli waris dalam dalam Al-Quran khususnya yang terkait masalah aul dan radd ini yang harus diberikan terlebih dahulu bagiannya dan siapa pula yang terakhir? 2. Bagaimanakah cara penyelesaian masalah radd ? 1. Apakah asal masalah atau Kelipatan Persekutuan Terkecil perlu ditetapka dan bagaimana cara menetapkannya agar dalam penghitungannya sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan rumusrumus matematika? BAB II 3 . Apakah porsi masing-masing ahli waris yang telah ditetapkan dengan jelas dalam Al-Quran tersebut seluruhnya harus diambil dari harta Pewaris secara keseluruhan atau ada yang harus diambil dari sisa harta yang telah diberikan kepada ahli waris sebelumnya? 3.

a. Pengertian Aul Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran. yang kalau beliau mengetahuinya. dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. katanya: “ Aulkanlah faridhah-faridhah mereka “ Kemudian atas usul abbas tersebut Umar bin khatab r. ibu dan saudari tunggal ayah.a.a. Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah. yaitu ketika r. 3. dan Abbas r. mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan putusan umar bin khatab r. dan bapaknya dalam masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami. dengan mengatakan: “ jika kumulai dengan memberikan kepada suami atau dua orang saudari.a. agar masalah tersebut diaulkan. Dalam permusyawaratan ini. niscaya tidak ada hak yang sempurna bagi yang lain”. Orang yang pertama menetapkan Aul Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r. yaitu: “ Demi Allah.a.1 AUL 1. Dan diakhirkan orang yang diakhirkan oleh Allah swt. niscaya beliau akan mengakhirkannya. niscaya tidak terjadi aul sama sekali”. Abbas bin abdul muthalib memberikan pendapat. di datangi salah seorang sahabat yang menanyakan menanyakan penyelesaian suatu masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami (yang fardhnya 1/2) dan 2 orang saudari kandung (yang fardhnya 2/3). memutuskan aul atas masalah yang semula diragukannya. dan sekiranya beliau mengetahuinya tentu beliau akan mendahulukannya dan siaplah yang harus diakhirkan oleh Allah. 2.a. Masalah tersebut lalu dimusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r. Ibnu abbas r.PEMBAHASAN 2.a. setelah beliau memusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r. Perselisihan tentang aul 4 . andaikata didahulukan orang yang didahulukan oleh Allah swt.a. Beliau semula bimbang tidak mengetahui siapakah yang berhak didahulukan menurut ketentuan Allah.a. dan Abbas bin abdul muthalib r.

yaitu bahwa tidak aul karena mustahil sekali kalau allah menentukan furudhul muqaddarah bagi ahli waris. b. maka harus diutamakan lebih dahulu untuk memenuhi hak-hak yang lebih penting. Oleh karena itu mendahulukan salah seorang dari ashabul furudh dan mengakhirkan dengan mengurangi hak-hak anak-anak perempuan atau saudari-saudari berarti membuat hukum baru dengan jalan mentarjih sesuatu ketentuan nash tanpa alat tarjih yang kuat. selagi keadaan memungkinkan. Alasannya adalah sebagai berikut: 1) macam furudh secara sempurna. para imam-imam besar dari golongan tabi’in dan sebagian para imam-imam mazhab. 2) Jika keadaan harta peninggal itu tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalan. Ulama-ulama syi’ah imamiyah dan ja’fariyah. 2) Perintah Rasulullah saw: “ Berikanlah harta pusaka kepada orang-orang yang berhak sesudah itu sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama” Tidak mengisyaratkan kepada sebagian ahli waris Lahirnya ayat-ayat mawaris itu telah menjelaskan macam- 5 . karena itu setiap pemilik hak harus dipenuhinya. ahli zhahir mengikuti pendapat ibn Abbas. Misalnya pemenuhan biaya perawatan bagi si mayit harus didahulukan daripada pembayaran hutang. Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan. seperti anak perempuan dan saudari-saudari hendaknya tidak dipenuhi haknya. alasannya adalah sebagai berikut: 1) Nash-nash yang menjelaskan hak-hak ahli waris dalam pusaka mwmpusakai tidak mengutamakan sebagai ashabul-furudh dengan ashabul-furudh yang lain dan tidak membedakan antara harta peninggalan yang mepet dengan harta peninggalan yang longgar. maka hak-hak sebagian ahli waris. kebanyakan para sahabat. pembayaran hutang harus didahulukan daripada wasiat dan seterusnya. tetapi ternyata harta peninggalan yang dibagikannya tidak cukup.a. berpendapat bahwa aul itu ada. sebab mereka itu dalam keadaan dapat berubah menjadi ahli waris ashabah.

Jumlah ini di pakai Asal masalah yang semula tidak di pakai lagi. 3) 4) Masalah aul ini telah disepakati oleh seluruh fuqaha Furudhul muqaddarah itu merupakan bagian yang sudah tertentu besar dan kecinya dan telah disepakati oleh seluruh umat islam tentang kewajiban melaksanakannya. Kedua: Jumlah sisa kurang dari peninggalan yang terbagi ditanggung oleh asshhabul-furudh dengan jalan mengurangkan penerimaan masing-masing menurut perbandingan furudh atau saham mereka masing-masing. namun aul tetap dibutuhkan. Ketiga: Jalan menurut ilmu hitung. sedang sebagian ahli waris yang lain dikurangi. tetapi yang dijadikan asal masalah baru ialah jumlah saham-saham yang para ahli waris sahabat sebelum ibn abbas menentangnya. Dapat dikatakan adil apabila sebagian ahli waris dipenuhi hak-haknya.ialah dengan mengadakan perbandingan furudh/saham mereka satu sama lain. Setelah diketahui fardh dari masing-masing ashhabul-furudh hendaknya dicari asal masalahnya Dicari saham-saham dari masing-masing ashhabul-furudh c. Kebutuhan adanya masalah aul Walaupun ada pendapat yang kontra terhadap masalah aul ini. Hal itu demi untuk melaksanakan keadilan. 4. b. Oleh karena itu. apabila masalahnya menghendaki demikian. sehingga setiap ahli waris mendapat penggunaan yang sebanding dengan fardh mereka masing-masing.untuk dipenuhi hak-haknya dengan menganaktirikan ahli waris yang lain untuk dikurangi hak-haknya. Kemudian saham mereka di jumlah. 5. hendaknya ditempu dengan jalan sedemikian rupa. Cara-cara mengerjakan aul Pertama: a. demi untuk memenuhi fardh-fardh para ahli waris terhadap harta peninggalan yang sangat mepet. 6 . Membeda-bedakan mereka melawan nash adalah tindakan yang tidak adil.

000.000.Penerimaan 2 sdri knd tinggal Rp 28. dari a.Potongan untuk 2 sdri knd 4/7 × Rp 7. Harta peninggalan sejumlah Rp 42..6 4 × Rp 42.6 Sisa kurang = Rp 7.= Rp 4.Sahamnya: 1.000.000.Rp 42.7 4 × Rp 42.= Rp 24..= Rp 28.000 .000.m 6.m.Penerimaan suami tinggal Rp 21.7 : (dijadikan asal masalah dalam aul)  7 .Ini harus dipotong dari penerimaan masing-masing dengan jalan memperbandingkan fardh-fardhnya      Perbandingan fardh masing-masing = 1/2 : 2/3 = 3:4 Jumlah perbandingan = 3 + 4 = 7 = Rp 7.000.. Contoh dan penyelesaiannya: 1.Rp 3.000. suami 2. maka menurut: Cara ke 1 Ahli waris . dari peninggalan sejumlah Rp 42.000 = Rp 18.000. Dari a.000.= Rp 21.000.000.000. fardh.Ahli warisnya terdiri dari..000. Fardh .000. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 × 6 = 3 : 2/3 : 2/3 × 6 = 4 Jumlah = 7 Cara ke 2 Ahli waris. Suami 2.000.000.000.000 – Rp 4. Setelah harga tiap-tiap bagian diketahui. Suami dan dua orang saudara kandung.= Rp 3.Potongan untuk suami 3/7 × Rp 7. 6.000.000.: : Penerimaannya 3 × Rp 42.000. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 × 6 = 3 : 2/3 : 2/3 × 6 = 4 : : Penerimaannya 3 × Rp 42.000 = Rp 24. tentu diketahui bagian masing-masing.untuk membagi harta pusaka agar di ketahui berapa harga tiap-tiap bagian.= Rp 18. dari peninggalan sejumlah Rp 42..Sahamnya 1..

bahwa Rasul telah menguatkan firman Allah yang menetapkan fardh fardh para pemiliknya. yaitu pendapat zaid bin tsabit dan sebagian kecil para sahabat mengingkari adanya radd dalam pembagian harta warisan. pendapat zumhur sahabat. Al rad merupakan kebalikan dari al aul.2 RADD Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling. Jika ada kelebihan setelah dibagikan keashabul furud dan tidak ashobah maka diberikan kepada baitul ma. pendapat yang mengingkari yang mengingkari adanya al radd.000. Adapun radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah bagian ashabul furud.2. para imam mujtahid. Pendapat yang menyetujui adanya radd. karena tidak ada jalan untuk memilikinya. 8 . • Alasan pendapat pertama yaitu bahwa Allah telah menentukan fardh para ashabul furud yang besar kecilnya pun secara pasti. sisa lebih dari harta pniggalan setelah dibagi bagi kan pada ahli waris ashabul furud merupakan harta benda yang tidak dapat dimiliki oleh seorang ahli waris.000. Ahmad bin Hambal. • Alsan kedua. Malik. At Tirmidhi ” • Alasan ketiga.000. al Zuhri. Pendapat para ulama tentang radd : Pertama. Kedua.Penerimaan suami 3/7 × Rp 42.Perbandingan furudh suami di banding dengan 2 saudari kandung 1/2 : 2/3 = 3/4 Jumlah perbandingannya = 3+4 = 7 = Rp 42.R. seperti imam abu Hanifah. tidak perlu ditambah apalagi dikurangi. thabi’in. Para fuqoha seperti Urwah. Syafi’I dan ibnu haajm (Zhahiri) pada dasarnya sependapat dengan zaid bin tsabit.Cara ke 3 Jumlah harta yang di bagi = Rp 42. Oleh karenanya harus diserahkan ke baitul mal. H.000 = Rp 24. setelah selesai diturunkan ayat-ayat waris dengan sabdanya “ susungguhnya Allah telah memberikan hak kepada pemegang ha itu.mnambah fard mereka berarti membuat ketentuan yang melampaui batas ketentuan syariat islam.

Adanya pemilik bagian yang sama dan dengan adanaya suami atau istri d. misalnya semuanya berhak mendapatkan bagian setengah atau seperempat atau seterusnya dalam keadaan ini tidak terdapat suami atau istri maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan 9 . Saudara kandung perempuan d. Saudara laki-laki seibu Sedangkan ahli waris yang dari ashabul furud yang tidak bisa mendapatkan radd hanyalah suami dan istri. 1. Anak perempuan b. Rukun-rukun Radd : a. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan tanpa suami atau isteri c. syafi’iyah. karena itu adanya tali ikatan pernikahan. Nenek shahih (ibu dari bapak) g. Saudara perempuan seayah e.ulama mutaakhirin dari madzhab malikiyah. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan adanya suami atau istri 1. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. Ibu kandung f. Macam-macam Radd: a. Cucu keturunan anak laki-laki c. b. Adapun ashabul furud yang dapat menerima radd ada 8 orang : a. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama yakni dari satu jenis saja. adanya ashabul furud tidak adanya ashobah ada sisa harta waris bila dalam pembagian waris tidak ada tiga syarat tersebut maka. c. b. dan fuqoha syi’ah zaidiyah dan syiah imamiyah yang menyetujui adanya radd. Saudara perempuan seibu h. Adanya ahli waris pemilik bagian yang sama dan tanpa adanya suami atau isteri.

2. sebab bagian mereka sesuai dengan fardh adalah dua per tiga 2/3 dan sisanya mereka secara radd. Contoh-contoh dan Penyelesaiannya : a. sawah. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam dan tidak ada salah satu dari suami istri maka cara pembagiannya dihitung dan nilai baginya bukan dari jumlah ahli waris (perkeala). yakni sesuai jumlah kepala. seorang wafat dan hanya meniggalkan tiga anak perempuan. ahli waris terdiri dari nenek shahihah dan saudari sekandung tunggal ibu.m 6 saham 6 : 1. disertai salah satu dari suami / istri. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok maslahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lainnya sesuai dengan jumlah per kepala. seorang wafat dan meniggalkan suami dan dua ana perempuan maka suami mendapatkan 1/4 dan sisanya 3/4 dibagikan kepada anaknya secara merata.a 6 : 1/2 : 1 x 12 h.a bagian masing-masing = 6 h. 3. Sebagai misal. Tidak ada ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit 12 h.nenek . seorang wafat dan meninggalkan ahli waris seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu.m dalam radd 10 . untuk kedua saudara laki-laki seibu 1/3. Sebagai misal. Hukum Keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh yang sama.a / 2 =6 h.Sdr seibu Fard 1/6 X 1/6 X a.a.disini tampak jumlah bagiannya tiga dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah yakni tiga. Sebagai misal. maka pokok masalahnya dari tiga sesuai jumlah ahli waris.a Catatan : jumlah saham 2 dijadikan a. Maka pembagiaannya bagi ibu 1/6. 1x 12 h. maka : penyelesaian menurut cara pertama : AW .jumlah agli waris. Karena itu pembagian hak mereka sesuai dengan jumlah mereka disebabkan karena mereka merupkan ahli waris dari bagian yang sama. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah.

000 = 2.a) Sisa harta waris ini ditambahkan kepada mereka dengan jalan : Perbandingan furudh mereka masing –masing = 1/6 : 1/6 = 1 :1 Jumlah perbandingan = 1 + 1 = 2 = 8 h.a + 4 h.a + 4 h. ahli warisnya terdiri .a (12 h.000.000. Ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit sejumlah 24.000.a : 6 h.a Jadi penerimaan nenek shahihah seharusnya = 2 h.a / 4 h.000 Jmlah = 18. nenek shahihah dan dua orang saudari tunggal ibu.a / 6 = 2 h.Penyelesaian cara kedua .a Catatan : sisa harta waris adalah 6 h.000.000.a = 4 h.000 / 12 2 x 24.000.000 / 12 4 x 24.000 =8.a/6 = 2 h.a Tambahkan untuk nenek shaihah = ½ x 8 h.000.000 fard a.000. istri.000.a = 6 h.000 12 =6.000 = 4.000.a = 4 h.000 (24 jt – 18 jt= 6 jta) Sisa lebih ini ditambah radd kepada nenek dan kedua saudari seibu dengan jln perbandingan Perbandingan fardh nenek dengan 2 saudari seibu = 1/6 : 1/3 = 1 : 2 Jml perbandingan = 1+ 2 =3 = 6.000.000.a b. maka : penyelesaian mnurut pertama : AW masing2 Istri Nenek sh 2 sdri seibu ¼ x 1/6 x 12 = 3 12 = 2 12 = 4 3 x 24. AW -nenek S -sdri seibu fard 1/6 1/6 x x a.a Jadi penerimaan saudari seibu seharusnya = 2 h.a = 6 h.a : 1 x 12 h.m 12 saham bagian 1/3 x 11 .m 6 6 6 saham bagian masing” : 1 : 1 x 12 h.a Tambahan utk saudari seibu = ½ x 8 h.000 Catatan sisa harta waris 6.000.000 Tambah utk nenek = 1/3 x 6.a -4 h.

b. 2.000. anak kandung perempuan. terhalangnya hak waris saudara karena adanya saudara kandung. Demikian juga seperti penghalang bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. sang istri yang tadinya seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak dan seterusnya. dan seterusnya. Misalnya terhalangnya hak waris kakek karena adanya ayah.syakhshi yaitu gugurnya waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. 3. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad.000. Macam-macam Al-Hijab a. Definisi Al-Hijab Al –Hijab dalam bahsa Arab bermakna penghalang atau penggugur. 12 . Ahli waris yang tidak terkena hijab Hirman Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap medapatkan hak waris. 2. Misalnya penghalang terhadap hak waris ibu yang seharusya mendapat sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Al.000 = 4. Hijab ini terbagi menjadi dua macam: 1.Tambah utk 2 sdri seibu 1/2 x 6. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu.Hijab al. Hak waris mereka jadi gugur atau terhalang. Penghalang Hak Waris (al-Hijab) 1. Hijab hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Hijab nuqshan (pengurangan hak ) yaitu pengalang terhada dak waris seseorang untuk mendapatkan yang terbanyak. terhalang hak waris cucu karena adanya anak.000 Jadi penerimaan nenek seluruhnya 4 jt + 2 jt = 6 jt Jadi penerimaan 2 sdri seibu seluruhnya 8 jt + 4 jt = 12 jt C. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Al-Hijab bi al-wasfhi berarti orang terkena hijab tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan.

kakek.ayah. kakek danseterusnya. Cucu laki-laki keturunana anak laki-laki terhalngi oleh adany anak laki-laki f. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hijab Hirman Terdiri dari laki-laki ada sebelas : a. 4. BAB III PENUTUP 13 . Nenek terhalangi dengan adanya ibu b. Saudara kandung perempuan terhalangi dengan adanya ayah. Saudara sekandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah dan keturunan laki-laki c. Sadara laki-laki seayah terhalang dengan adanya saudara kandunga laki-laki d. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu terhalang oleh pokok (ayah. Sepupu kandung laki-laki terhalangi dengan adanya paman seayah k. ibu. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi ashabul mal e. suami dan istri. Cucu perempuan terhalangi dengan adanya anak laki-laki c. Saudara perempuan seibu akan terhalangioleh adanya sosok laki-laki (ayah. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. Keponakan laki-laki terhalang dari yang menghalangi keponakan h. Keponakan laki-laki terhalangi dengan adanya ayah dan kakek g. danseterusnya) e. cicit dan seterusnya d. cucu. Paman kandung terhalangi dengan adanya anak laki-laki dan saudara lakilaki i. anak. maka semuanya harus mendapatkan warisan. Paman seayah dan terhalangi oleh paman kandung j. Kakek terhalang adanya ayah b. Sepupu laki-laki terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) Sedangkan lima waris dari kelompok wanita : a.

Penulis sangat tidak sependapat dengan cara pembagian harta warisan dengan sistem aul dan radd ini namun tetap menaruh hormat kepada penemunya karena bagaimanapun sistem ini telah menyelamatkan ummat Islam dari pertikaian akibat permasalahan warisan. Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling. Sistem tersebut bukan bawaan kitab Al-Quran dan bukan pula petunjuk yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW melainkan salah satu solusi yang diambil oleh Umar bin Khattab ketika timbul permasalahan waris pada masa pemerintahannya. Adapun bagian ashabul furud. saran. 5. Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah. Segala kritikan. Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r. Demikian artikel singkat ini dan semoga ada manfaatnya.1 Kesimpulan Setelah mengadakan pembahasan secara singkat ini Penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut : 1. Sistem pembagian harta warisan aul dan radd dalam hukum Islam banyak kerancuan sehingga menimbulkan berbagai kekeliruan dalam penghitungan pembagian warisan. maka secepat mungkin akan Penulis koreksi kembali. DAFTAR PUSTAKA radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah 14 . 2. keliru kurang tepat ataupun istilah lain yang semakna dengan itu. pendapat dari para pembaca sangat penulis harapkan karena seandainya pendapat penulis ini salah. 4.3.a. 3. dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran.

(Semarang: Mujahidin. Hukum Waris Islam. Pokok-pokok ilmu Waris. ( Jakarta : Sinar grafika. Amir.. 2001) Rofiq. Ahmad. Suhrawardi K. cet I. cet III. lengkap dan praktis. Otje. Teungku. 2001) Salman. Muslich. Hukum Kewarisan Islam. 1981) Muhammad Hasbi Ash Shiddiqie. (Bandung: Refika Aditama. Hukum Waris Islam. (Semarang : Pustaka Rizki Putra. cet IV (Jakarta : Raja Grafindo persada. Fiqh Mawaris. Mustafa Haffas. 2005 ) SARAN 15 .Lubis. Fiqh Mawaris. 2008) Maruzi.2006) Syarifuddin. (Jakarta: Kencana. Komis Simanjuntak.

16 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->