P. 1
Stoikiometri Reaksi dan Neraca Massa

Stoikiometri Reaksi dan Neraca Massa

|Views: 2,319|Likes:
Published by Arya Wulandari
Arya WUlandari 2311081030
Teknik Kimia UNJANI
Arya WUlandari 2311081030
Teknik Kimia UNJANI

More info:

Published by: Arya Wulandari on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Stoikiometri merupakan ilmu perbandingan kuantitatif atau perbandingan

pengukuran antara unsur kimia yang satu dengan unsur kimia yang lainnya. Stoikiometri erat kaitannya dengan perhitungan kimia, sehingga dalam percobaan stoikiometri reaksi dan neraca massa kali ini, akan dibahas mengenai zat-zat yang terlibat dalam reaksi kimia baik yang berbentuk larutan maupun yang berbentuk endapan, yang berpatok pada penerapan asas-asas stoikiometri yaitu persamaan kimia. Pada percobaan ke-1 dilakukan titrasi larutan CaO dengan dan Na2CO3 yang berfungsi untuk menetukan perubahan warna yang terjadi pada larutan, sedangkan pada larutan kedua dilakukan percobaan pembentukan NaOH yang bertujuan untuk menghitung kadar dan konsentrasi CaO dan Na2Co3 pada larutan, dan menentukan densitas rafinat dan konsentrasi produk. Percobaan ini bertujuan untuk memahami stoikiometri pada reaksi dan penerapan neraca massa sederhana. 1.2 Prinsip Percobaan dilakukan berdasarkan persamaan reaksi, stoikiometri reaksi dan penerapan neraca massa sederhana.

1.3

Tujuan 1. Mempelajari dan memahami pengertian stoikiometri reaksi dan istilahistilah yang terkait. 2. Melatih melakukan perhitungan neraca massa sederhana. 3. Menghitung kadar dan konsentrasi CaO dan Na2CO3.

1

4. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada saat titrasi. 5.Menentukan densitas rafinat, konsentrasi NaOH produk atas dan volume produk atas. 6. Menentukan berat kering produk bawah ( ekstrak ) . 7. Menentukan kadar rafinat dan ekstrak

2

BAB II TEORI PENUNJANG

2.1

Persamaan Reaksi Persamaan reaksi adalah persamaan yang menunjukan perubahan zat yang

terjadi selama reaksi kimia berlangsung. Untuk menuliskan persamaan reaksi kimia secara benar dan tepat, digunakan hukum Lavoisier, yakni hukum ketetapan massa yang berbunyi jumlah massa zat sebelum reaksi harus sama dengan jumlah massa sesudah reaksi. Cara menuliskan reaksi kimia : 1. Tulis zat sebelum bereaksi ( pereaksi atau reaktan ). 2. Tulis tanda panah 3. Tulis zat yang terbentuk sesudah reaksi , yang disebut reatan atau hasil produk. Contoh : Gas amoniak direaksikan dengan gas oksigen akan menghasilkan gas nitrogen dan uap air.

Zat-zat di sebelah kiri anak panah ( NH3 dan O2 ) disebut zat reaktan dan zat-zat di sebelah kanan arah panah ( N2 dan H2O ) disebut hasil reaksi. Penulisan persamaan reaksi dilengkapi dengan penulisan wujud zat-zat reaktan dan produk. Singkatan wujud zat dari zat-zat dalam persamaan reaksi adalah : padat (s), cair (l), gas (g), dan larutan (aq). Sehingga penulisan reaksi diatas menjadi :

Di samping menuliskan wujud zat pada zat reaktan dan produk, jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi harus sama (sesuai hukum Lavoisier). Untuk

3

menyamakan jumlah atom sebelah kiri anak panah dengan di sebelah kanan anak panah, persamaan reaksi harus sama dengan koefisien reaksi. Cara mencari koefisien reaksi Mencari koefisien reaksi dari :

Langkah-langkah mencari koefisiennya adalah sebagai berikut : 1. Banyaknya atom tiap unsur sebelum dan sesudah reaksi harus sama. 2. Memperhatikan terlebih dahulu banyaknya atom yang tidak sama untuk masing-masing unsur. 3. Perhatikan unsur N : - Sebelum reaksi ada 1 atom N - Sesudah reaksi ada 2 atom N Supaya jumlah atom N disebelah kiri dan kanan sama, maka pada ruas kiri dikalikan 4, dan disebelah kanan dikalikan 2, maka reaksi diatas dapat ditulis :

-

Perhatikan unsur H : -Sebelum reaksi ada 12 atom H. -Sesudah reaksi ada 2 atom H.

Supaya jumlah atom H disebelah kiri dan kanan sama, maka disebelah kanan dikalikan 6, sehingga reaksi dapat ditulis :

-

Perhatikan unsur O : -Sebelum reaksi ada 2 atom O. -Sesudah reaksi ada 6 atom O

4

Supaya jumlah atom O di sebelah kiri dan kanan sama, maka disebelah kiri dikalikan 3, sehingga reaksi dapat ditulis :

2.2 Stoikiometri Reaksi Kata stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoicheon yang artinya unsur dan metron yang berarti mengukur. Seorang ahli Kimia Perancis, Jeremias Benjamin Richter (1762-1807) adalah orang yang pertama kali meletakkan prinsip-prinsip dasar stoikiometri. Menurutnya stoikiometri adalah ilmu tentang pengukuran perbandingan kuantitatif atau pengukuran perbandingan antar unsur kimia yang satu dengan yang lain. Stoikiometri erat kaitannya dengan perhitungan kimia. Untuk menyelesaikan soal-soal perhitungan kimia digunakan asas-asas stoikiometri yaitu antara lain persamaan kimia dan konsep mol.

2.2.1

Konsep Mol

Bilangan Avogadro
2atomH  1atomO  1molekulH 2O 

1 mol = 6, 022 x1023 partikel
2molH  1molO  1molH 2O 
(2 x6, 022 x1023 ) H  (6, 022 x10 23 )O  (6, 022 x10 23 ) H 2O 

2.2.2 Pengukuran Mol Atom-Atom Dalam suatu reaksi kimia, atom-atom atau molekul akan bergabung dalam perbandingan angka yang bulat. Telah dijelaskan bahwa satu mol terdiri dari

5

6,022 x 1023 partikel. Angka ini tidaklah dipilih secara sembarangan, melainkan merupakan jumlah atom dalam suatu sampel dari tiap elemen yang mempunyai massa dalam gram yang jumlah angkanya sama dengan massa atom elemen tersebut ,misalnya massa atom dari karbon adalah 12,011, maka 1 mol atom karbon mempunyai massa 12,011 g . Demikian juga massa atom dari oksigen adalah 15,9994, jadi 1 mol atom oksigen mempunyai massa 15,9994 g

1 mol C = 12,011 g C
1 mol O = 15,9994 g O Maka keseimbanganlah yang menjadi alat kita untuk mengukur mol. Untuk mendapat satu mol dari tiap elemen, yang kita perlukan adalah melihat massa atom dari elemen tersebut. Angka yang didapat adalah jumlah dari gram elemen tersebut yang harus kita ambil untuk mendapatkan 1 mol elemen tersebut.

2.3 Neraca Massa Neraca massa adalah cabang dari ilmu hitungan yang mempelajari kesetimbangan dari suatu massa dalam sebuah sistem. Neraca massa mengarah pada Hukum Kekekalan Massa yang berbunyi di alam ini jumlah total massa adalah kekal, tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan. Tujuan dari perhitungan neraca massa adalah penentuan laju alir dan komposisi pada aliran proses. Neraca massa dibagi menjadi 2 jenis yakni : 1. Integral Pada neraca massa jenis integral, digunakan kota hitam yang fokus pada karakter sistem. Untuk membuat suatu neraca massa integral, pada awalnya harus diidentifikasi batasan sistem. Pada beberapa sistem, batasan sistem dengan mudah dapat diidentifikasi.

6

2. Diferensial Neraca massa diferensial berfokus pada detail yang terjadi dalam sistem (yang juga mempengaruhi karakteristik menyeluruh). Untuk membuat suatu neraca massa diferensial, pada awalnya perlu diidentifikasi detail yang ada dalam sistem. Reaksi yang terjadi dalam sistem dan senyawa kimia apa saja yang terlibat di dalamnya perlu dengan jelas diketahui. Persamaan dasar neraca massa dibagi menjadi 3 bagian yaitu : 1. Neraca massa sistem tanpa reaksi keadaan tunak ( steady state ). a. Hukum kekekalan massa untuk seluruh massa aliran ( neraca total ) [massa semua aliran masuk] = [massa semua aliran keluar] b. Hukum kekekalan massa untuk setiap komponen penyusun aliran ( neraca komponen) : [massa setiap komponen masuk] = [massa keluar komponen tersebut] 2. Neraca massa sistem tanpa reaksi keadaan tak tunak (transient) melibatkan penimbunan massa (akumulasi), ataupun pengosongan (depletion) sistem yang ditinjau. Neraca berikut ini berlaku untuk total maupun komponen. [massa masuk] = [massa keluar] + [penimbunan pengosongan massa dalam sistem] 3. Neraca massa sistem dengan reaksi keadaan tunak. a.total : [massa masuk] = [massa keluar] b.jumlah massa suatu komponen masuk belum tentu sama dengan massa yang keluar c.komponen reaktan : [massa masuk] = [massa keluar] + [massa habis bereaksi] d.komponen produk :

7

[massa masuk] + [massa terbentuk dari reaksi] = [massa keluar] e.untuk keadaan tak tunak, kita perlu memperhatikan penimbunan atau pengosongan massa.

3.1.1 Persamaan Hubungan Pendukung Penyelesaian masalah neraca massa seringkali memerlukan persamaan tambahan yang bukan neraca massa. Persamaan tersebut dicari dari pustaka atau ditetapkan untuk memenuhi rancangan. a. Persamaan keadaan, yaitu hubungan antara tekanan, temperatur, volum dan jumlah suatu gas. Contoh : persamaan gas ideal dan persamaan gas Red IchKwong. b. Kesetimbangan fasa, yaitu hubungan antara komposisi fasa uap dan komposisi fasa cair suatu campuran banyak komponen yang tergantung pada temperatur dan tekanan K-Value dalam kesetimbangan fasa hidrokarbon. c. Kesetimbangan reaksi, yaitu hubungan antara derajat kelangsungan suatu reaksi kesetimbangan dengan temperatur reaksi dan konsentrasi senyawa-senyawa pada awal reaksi. Hubungan ini sering dinyatakan dalam konstanta kesetimbangan reaksi. d. Informasi yang ditetapkan untuk memenuhi keinginan rancangan, misalnya : 1) Persentasi distilat dibandingkan umpan. 2) Spesifikasi keluaran sistem

8

BAB III HASIL PERCOBAAN

3.1 Hasil percobaan penentuan kadar CaO dan Na2Co3 Percobaan 1 : Penentuan Kadar CaO dan Na2CO3 No CaO+ EDTA+ 1 murexide Perubahan Warna Awal Pink Keruh Na2CO3+ 2 HCl+ metil jingga Akhir Ungu 19,021% 0,02716 M Kadar CaO Konsentrasi

Perubahan Warna Orange Pink

Kadar Na2CO3 123,49 %

Konsentrasi

0,2796 M

Tabel 3.1 Perubahan Warna dan kadar pada CaO dan Na2CO3 3.2 Hasil percobaan 2 pembentukan NaOH No Produk Keterangan Densitas 1 Rafinat Kadar NaOH Jumlah 1,005 gr/mL 2,17%

Kandungan 2 Ekstrak Berat kering

Tabel 3.2 Penentuan rafinat dan ekstrak

9

BAB IV PEMBAHASAN

Dari percobaan 1 diperoleh hasil yaitu CaO yang dititrasi dengan EDTA dan indikator murexide yang semula berwarna pink keruh berubah menjadi warna ungu begitu pula pada titrasi Na2CO3 dengan HCl semula sebelum dititrasi dengan HCl warna awal larutan ini adalah orange karena diberi indikator metil jingga, kemudian setelah dititrasi warnanya berubah menjadi warna pink. Perubahan warna ini dapat terjadi karena larutan sudah mencapai titik ekivalen, sehingga warnanya berubah ketika titik itu sudah tercapai. Pada titrasi CaO dengan EDTA, perubahan warna yang dihasilkan adalah pink keruh menjadi ungu, hal ini dikarenakan hampir semua ion Ca2+ berkompleks dengan EDTA, Ca bereaksi dengan EDTA sehingga warna yang ditimbulkan dari reaksi ini larutan akan berwarna kuat yaitu ungu , hal ini dikarenakan kesetimbangan Dan kadar CaO yang didapat yaitu 19,021%, berarti kandungan CaO yang terdapat dalam larutan, jumlahnya sangat sedikit. Hal ini dikarenakan sampel CaO yang digunakan memiliki berat yang kecil yaitu 2 gram sehingga CaO yang larutnya pun sedikit. Untuk melakukan pengukuran zat terlarut dalam volume larutan, maka dilakukan titrasi, karena titrasi ini dilakukan untuk mengetahui massa yang terlarut dalam larutan namun dalam skala yang kecil. Pada percobaan titrasi antara Na2CO3, Na2CO3 yang dititrasi dengan HCl dan indikator metil jingga. Larutan yang semula berwarna awal orange berubah warna menjadi pink, hal ini menunjukan bahwa titik ekivalen sudah tercapai dan sehingga menunjukan warna yang muda. Pada CaO, molaritas yang didapat adalah 0,02716 M, sedangkan pada Na2CO3 adalah 0,2796 M. Molaritas Na2CO3 memiliki nilai yang lebih besar daripada CaO, hal ini menandakan bahwa jumlah zat terlarut dalam Na2CO3 lebih banyak terkandung dalam larutan. Dari percobaan 2 dapat diketahui bahwa volume awal rafinat yang semula 360 mL kemudian menurun hingga 340 mL, hal ini dapat disebabkan karena

10

adanya rafinat yang masih terkandung pada ekstrak dan adanya zat-zat pengotor yang terdapat pada rafinat, sehingga volume rafinatnya berkurang. Ekstrak yang diperoleh setelah proses pengeringan adalah 44,64 gram. Hal ini menunjukan bahwa NaOH banyak terdapat dalam ekstrak yang menyebabkan NaOH terkandung dalam larutan.

11

BAB V KESIMPULAN

1. Perubahan warna pada proses titrasi menunjukan titik ekivalen yang telah adanya titik ekivalen2. Ion logam (Ca2+) akan berkompleks dengan EDTA sehingga menghasilkan warna yang kuat. 3. Na2Co3 dan CaO menghasilkan endapan NaOH 4. Densitas NaOH pada rafinat 1,005 gr/mL 5. Ekstrak yang diperoleh setelah proses pengeringan adalah 44,64 gram. Liat dari pembahasannya,.,,,

DAFTAR PUSTAKA
12

1. FRITZ and SCHENK. 1979. Quantitative Analytical Chemistry. 4th ed. Allyn and Bacon .Inc. Boston

2. Sutresna, Nana. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Edisi Pertama. Bandung: Gravindo Media Pratama 3. Winarti, Wiwik. 1995. Kimia I. Surakarta: Pabelan

LAMPIRAN A

13

DATA PERCOBAAN

No

1

2

Keterangan Berat CaO yang digunakan Berat Na2CO3 yang digunakan Berat EDTA yang digunakan Molaritas HCl yang digunakan Pelarut (aquades) Penentuan kadar Titrasi ke- 1 CaO + EDTA + CaO dan murexide Na2CO3 Titrasi ke- 2 CaO + EDTA + murexide Titrasi ke -1 Na2CO3 + HCl+ metil jingga Titrasi ke-2 Na2CO3 + HCl +metil jingga Berat CaO yang digunakan Berat Na2CO3 yang digunakan Pelarut (aquades) Waktu pengadukan Berat Picnometer Berat Picnometer + air Pembentukan Berat Picnometer + rafinat NaOH Berat Kertas saring Berat rafinat basah+kertas Berat rafinat kering + loyang Berat rafinat kering+ loyang (pengeringan ke-1) Berat rafinat kering+ loyang (pengeringan ke-2) Tabel A.1 Data percobaan

Percobaan

Jumlah 2 gram 3 gram 0,02 M 0,2 M 250 mL 37,5 mL 32,4 mL 33,2 mL 34,7 mL 15 gram 10 gram 360 mL 12 menit 27,7 gram 54,3 gram 54,5 gram 0,8 gram 71,3 gr 143,6 gram 140 gram 121,18 gram

LAMPIRAN B

14

CONTOH PERHITUNGAN

Percobaan 1 ( Menghitung kadar CaO dan Na2Co3 ) B.1.1 Menghitung jumlah padatan EDTA dengan konsentrasi 0,02 M yang dilarutkan pada 250 mL pelarut. Diketahui : M EDTA Pelarut Mr = 0,02 M = 250 mL = 372,24

Ditanyakan : berat padatan EDTA yang diambil Jawab

= 1,8612 gram B.1.2 Menghitung volume HCl yang harus diambil pada 250 mL Diketahui : Pelarut Mr % HCl = 250 mL = 0,2 M = 37 %

Densitas HCl = 1,19 gr/mol Volume pelarut = 1000 mL Ditanyakan :a) Molaritas HCl pekat

15

b) Volume HCl yang diambil Jawab

Maka HCl yang harus dipipet V1 V1 * M1 = = V2 250 * M2 * 0,2

* 12,06

V1

= 4,14 mL

B.1.3 Menghitung konsentrasi Na2CO3 yang dititrasi dengan HCl Diketahui : Volume EDTA yang dihabiskan pada titrasi 1 Volume EDTA yang dihabiskan pada titrasi 2 Volume sampel Molaritas HCl Ditanyakan Jawab : Konsentrasi Na2CO3 setelah dititrasi : = 37,5 mL = 32,4 mL = 25 mL = 0,2 M

= 34,95 mL

16

B.1.4 Menghitung konsentrasi CaO dengan EDTA Diketahui : Volume CaO yang dihabiskan pada titrasi 1 Volume CaO yang dihabiskan pada titrasi 2 Volume sampel Molaritas EDTA Ditanyakan Jawab : Konsentrasi CaO setelah dititrasi : = 33,2 mL = 34,7 mL = 25 mL = 0,02 M

= 33,95 mL

B.1.5 Menghitung kadar CaO

17

Diketahui

: M EDTA

= 0,02 M

Vol rata-rata EDTA = 34,95 mL BM CaO Vol larutan Berat CaO Vol sampel Ditanyakan Jawab : % CaO = 56 g/mol = 250 mL = 2 gr = 25 mL

B.1.6 Menghitung kadar Na2CO3 Diketahui : N HCl Vol rata-rata HCl BM Na2CO3 Vol larutan Berat Na2CO3 Vol sampel = 0,2 N = 34,95 mL = 106 g/mol = 250 mL = 3 gr = 25 mL

18

Ditanyakan Jawab

: % Na2CO3

Percobaan 2 Pembentukan NaOH B.2.1 Kalibrasi Picnometer Diketahui : Berat piknometer kosong + air Berat piknometer kosong Densitas air Berat Picnometer+rafinat Ditanyakan : a) volume piknometer b) berat rafinat c) densitas rafinat Jawab a) Berat air = (Berat piknometer kosong+air) – Berat piknometer kosong = 54,3 gr – 27,7 gr = 26,6 gr = 54,3 gr = 27,7 gr = 0,998 gr /ml = 54,5 gr

19

b) Berat rafinat = (berat piknometer + rafinat) – (berat kosong piknometer) = 54,5 gr – 27,7 gr = 26,8 gr

B.2.2 Menghitung kandungan dan berat NaOH dalam rafinat dan ekstrak Reaksi antara CaO dengan Na2CO3

Dari reaksi :

1 mol CaO

= 1 mol Ca(OH)2
20

0,2678 mol CaO

= 0,2678 mol Ca(OH)2

Reaksi antara Ca(OH)2 dan Na2CO3 adalah :

Awal : Bereaksi: Seimbang:

0,2678 0,0943 0,1735

0,0943 0,0943 -

0,1886

0,0943

0,1886 0,0943 = sisa mol Ca(OH)2 * BM = 0,1735 mol * 56 gr / mol = 9,8112 gr

Berat CaO akhir setelah bereaksi

berat NaOH

= sisa mol NaOH *BM = 0,1886 mol * 40 gr/mol = 7,544 gram

Massa NaOH di Rafinat Yield / massa rafinat yang diperoleh = 26,8gram

Berat NaOH di Ekstrak kering Yield/ massa NaOH ekstrak kering = 44,64 gram

21

LAMPIRAN C PROSEDUR PERCOBAAN C.1 Alat 1. Gelas kimia 500 mL 2 . Buret 3. Erlenmeyer 250 mL 4. Pipet tetes 5. Gelas ukur 6. Statif 7. Batang pengaduk 8. Spatula 9. Corong 10. Neraca teknis 11. Picnometer 12. Pengaduk bermotor 13. Pipet volume C.2 Bahan 1. CaO 2. Na2CO3 3. Aquades 4. EDTA

22

5. Indikator murexide 6. HCl 7. Indikator metil jingga

C.3

Cara Kerja

Percobaan 1 ( Penentuan kadar CaO dan Na2CO3 ) 1. Sejumlah 2 gram CaO dan 3 gram soda abu (Na2CO3) dilarutkan dengan air dalam labu takar yang berlainan sehingga diperoleh larutan yang masingmasing memiliki volume 250 mL. 2 gr CaO 3 gr Na2CO3 dilarutkan oleh air sampai tanda batas.

2. Mempipet 25 mL larutan yang mengandung CaO sebanyak 25 mL, kemudian dititrasi menggunakan EDTA 0,02 M dengan indikator murexide. Lakukan titrasi duplo, amati volume EDTA yang dihabiskan untuk mentitrasi CaO. Mencatat perubahan warna yang terjadi CaO dipipet 25 mL lalu beri indikator murexide larutan dititrasi amati warnanya

23

3. Mempipet 25 mL larutan yang mengandung Na2CO3 sebanyak 25 mL, kemudian dititrasi menggunakan HCl 0,2 M dengan indikator metil jingga. Lakukan titrasi duplo, amati volume HCl yang dihabiskan untuk mentitrasi Na2CO3. Mencatat perubahan warna yang terjadi Na2CO3 dipipet 25 mL lalu beri indikator metil jingga amati warnanya larutan dititrasi

Percobaan 2 ( reaksi pembentukan NaOH ) 1. Menyiapkan padatan 15 gram CaO dalam gelas kimia 400 mL dengan jumlah tertentu (M1). 2. Menuangkan air kedalam gelas kimia tersebut dan diendapkan selama waktu tertentu (V1) . Aaquades dituangkan pada gelas kimia larutan diendapkan

24

3. Mengaduk campuran dalam gelas kimia menggunakan pengaduk bermotor dan mengendapkan larutan CaO selama 12 menit.

Larutan diaduk 12 menit

larutan diendapkan 12 menit

4. Memasukkan padatan 10 gram Na2CO3 dalam jumlah tertentu (M2) kedalam gelas kimia tersebut. Memasukan 10 gr Na2CO3

5. Melakukan pengadukan selama waktu tertentu (T1) dilanjutkan dengan pengendapan selama waktu (T2) untuk memisahkan produk atas dan bawah. Larutan diaduk selama 12 menit diendapkan

6. Menentukan densitas produk atas, konsentrasi NaOH produk atas dan volume produk atas.

25

LAMPIRAN D KUIS

1. Sebutkan prinsip , tujuan, prosedur kerja ! Prinsip : Percobaan dilakukan berdasarkan persamaan reaksi, stoikiometri reaksi dan penerapan neraca massa sederhana. Tujuan : 1. Mempelajari dan memahami pengertian stoikiometri reaksi dan istilahistilah yang terkait. 2. Melatih melakukan perhitungan neraca massa sederhana. 3. Menghitung kadar dan konsentrasi CaO dan Na2O3. 4. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada reaksi. 5. Menentukan densitas rafinat, konsentrasi NaOH produk atas dan volume produk atas. 6. Menentukan berat kering produk bawah ( ekstrak ) . 7. Menentukan kadar rafinat dan ekstrak. Prosedur kerja : Alat 1. Gelas kimia 500 mL 2 . Buret 3. Erlenmeyer 250 mL 4. Pipet tetes

26

5. Gelas ukur 6. Statif 7. Batang pengaduk 8. Spatula 9. Corong 10. Neraca teknis 11. Picnometer 12. Pengaduk bermotor 13. Pipet volume Bahan 1. CaO 2. Na2CO3 3. Aquades 4. EDTA 5. Indikator murexide 6. HCl 7. Indikator metil jingga

27

Cara kerja Percobaan 1 ( Penentuan kadar CaO dan Na2CO3 ) 1. Sejumlah 2 gram CaO dan 3 gram soda abu (Na2CO3) dilarutkan dengan air dalam labu takar yang berlainan sehingga diperoleh larutan yang masingmasing memiliki volume 250 mL. 2 gr CaO 3 gr Na2CO3 dilarutkan oleh air sampai tanda batas.

2. Mempipet 25 mL larutan yang mengandung CaO sebanyak 25 mL, kemudian dititrasi menggunakan EDTA 0,02 M dengan indikator murexide. Lakukan titrasi duplo, amati volume EDTA yang dihabiskan untuk mentitrasi CaO. Mencatat perubahan warna yang terjadi CaO dipipet 25 mL lalu beri indikator murexide larutan dititrasi amati warnanya

3. Mempipet 25 mL larutan yang mengandung Na2CO3 sebanyak 25 mL, kemudian dititrasi menggunakan HCl 0,2 M dengan indikator metil jingga. Lakukan titrasi duplo, amati volume HCl yang dihabiskan untuk mentitrasi Na2CO3. Mencatat perubahan warna yang terjadi

28

Na2CO3 dipipet 25 mL lalu beri indikator metil jingga amati warnanya

larutan dititrasi

Percobaan 2 ( reaksi pembentukan NaOH ) 1. Menyiapkan padatan 15 gram CaO dalam gelas kimia 400 mL dengan jumlah tertentu (M1). 2. Menuangkan air kedalam gelas kimia tersebut dan diendapkan selama waktu tertentu (V1) . Aaquades dituangkan pada gelas kimia larutan diendapkan

3. Mengaduk campuran dalam gelas kimia menggunakan pengaduk bermotor dan mengendapkan larutan CaO selama 12 menit.

29

Larutan diaduk 12 menit

larutan diendapkan 12 menit

4. Memasukkan padatan 10 gram Na2CO3 dalam jumlah tertentu (M2) kedalam gelas kimia tersebut. Memasukan 10 gr Na2CO3

5. Melakukan pengadukan selama waktu tertentu (T1) dilanjutkan dengan pengendapan selama waktu (T2) untuk memisahkan produk atas dan bawah. Larutan diaduk selama 12 menit diendapkan

6. Menentukan densitas produk atas, konsentrasi NaOH produk atas dan volume produk atas.

2. Apa yang dimaksud dengan reaktan pembatas, konversi, reaktan berlebih, dan perolehan ? a. Reaktan pembatas adalah reaktan yang jumlah stoikiometrinya paling kecil. b. Reaktan berlebih adalah reaktan yang melebihi reaktan pembatas.
30

c. Konversi adalah bagian dari reaktan atau zat tertentu pada umpan yang berubah menjadi hasil (produk) d. Perolehan menyatakan berat atau mol total hasil dibagi dengan berat atau mol reaktan semula.

3 Reaksi :

Diketahui :

Dari reaksi :

Mol Ca(OH)2 = Mol CaO = 0.357 mol

Mula-mula Reaksi Setimbang

: : :

0.714 0.283 0.283 0.283 0.431 0 0.566 0.283 0.566 0.283

31

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->