P. 1
Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar

Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar

|Views: 2,358|Likes:
Published by Lystia Andewi

More info:

Published by: Lystia Andewi on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PERBEDAAN INDIVIDUAL DAN JENIS KEBUTUHAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR Dosen Pembimbing: Drs. I Ketut Ardana, M.Pd

Oleh: Kelompok IV/Kelas D/Semester I 1. Pt. Cahyani Koriagung 2. I Dewa Ayu Yustiawati 3. Putu Listya Andewi 4. Ida Ayu Riska Wikantary Andika (01) (02) (03) (04)

PROGRAM STUDI S1 PGSD JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2011

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini berhasil kami selesaikan. Adapun judul yang kami pilih untuk makalah ini adalah “Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar”. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan dari mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah informasi mengenai perbedaan apa saja yang ada pada setiap individu dan jenis-jenis kebutuhan anak usia Sekolah Dasar. Serta diharapkan pembaca dapat mengerti bahwa setiap individu pasti memiliki perbedaan-perbedaan sehingga kita harus mengerti akan perbedaan tersebut. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan makalah kami ini. Kami juga mohon maaf, karena makalah yang kami susun ini pasti mempunyai banyak kekurangan. Akhir kata kami ucapkan terima kasih, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. Om Santih, Santih, Santih, Om

Denpasar, September 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………...………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….………………………………………………………… 1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………… 1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………………. 1.4 Manfaat Penulisan…………………………………………………………... BAB II PEMBAHASAN 2.1 Perbedaan-perbedaan Individual Anak Usia SD …………………………… 2.2 Jenis-jenis Kebutuhan Anak Usia SD………………………………………. 2.3 Cara Mengaplikasikan Kebutuhan Siswa di Sekolah ………………………

i ii

1 2 2 2

3 7 13

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan…………………………………………………………………….. 3.2 Saran-saran………………………………………………………………….. DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 17 18 19

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perkembangan anak manusia merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak faktor yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap arah dan laju perkembangan anak tersebut. Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut makin kelihatan sejalan dengan perkembangan individu. Ciri lain yang juga terlihat oleh guru adalah dari tingkah laku masing-masing siswa. Sebagai seorang pendidik khususnya guru SD diharapkan untuk mempunyai pemahaman konseptual tentang perkembangan dan cara belajar peserta didik atau anak di SD. Pemahaman konseptual tersebut meliputi gambaran tentang siapa anak SD, bagaimana mereka berkembang dan bagaimana cara belajar mereka. Dengan bekal pemahaman konseptual tersebut, guru diharapkan dapat mengimplementasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan peserta didik. Banyak terdapat perbedaan-perbedaan individu peserta didik yang dapat kita jumpai nantinya sebagai seorang tenaga pendidik di Sekolah Dasar, dimana nantinya dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didik yang bersangkutan, maka sangat penting bagi seorang tenaga pendidik khususnya guru di SD untuk memahami perbedaanperbedaan individual pada perkembangannya. Selain-selain perbedaan individu tersebut, yang perlu diperhatikan juga adalah kebutuhan peserta didik. Pemahaman terhadap perbedaan individu atau peserta didik dan tugastugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri. Secara ideal, dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa, sekolah, dan guru seyogyanya dapat menyediakan dan memenuhi berbagai kebutuhan anak usia Sekolah Dasar dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa.

1.2 Rumusan Masalah Dalam penyusunan makalah ini terdapat masalah-masalah yang terkait dengan pembahasan yang ada setelah ini antara lain: 1. Apa saja perbedaan-perbedaan yang muncul pada beberapa aspek perkembangan anak? 2. Apa sajakah jenis-jenis kebutuhan anak usia SD? 3. Bagaimana cara mengaplikasikan kebutuhan siswa di sekolah?

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang ingin kita capai dalam menyusun makalah ini adalah antar lain: 1. Agar kita mampu menjelaskan perbedaan-perbedaan apa saja yang muncul pada beberapa aspek perkembangan anak. 2. Agar kita mampu menyebutkan jenis-jenis kebutuhan anak usia SD. 3. Agar kita mengetahui cara mengaplikasikan kebutuhan siswa di sekolah.

1.4 Manfaat Penulisan Pembaca dapat menambah wawasan dan mengenal lebih jauh mengenai perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak usia Sekolah Dasar.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan-perbedaan Individual Anak Usia SD Pada makalah ini akan dipaparkan perbedaan-perbedaan yang muncul pada beberapa aspek perkembangan anak, antara lain : a. Perbedaan pada Perkembangan Fisik Perbedaan individual seorang anak pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk, berat, dan tinggi badan. Perkembangan fisik dipengaruhi oleh faktor keturunan misalnya, pada perbedaan ras suku bangsa (orang Amerika, Eropa, dan Australia cenderung lebih tinggi dari pada orang Asia). Jenis kelamin juga mempengaruhi perkembangan fisik anak usia SD, dimana anak lakilaki cenderung lebih tinggi dan lebih berat ketimbang dengan anak perempuan, kecuali pada usia 12-15 tahun. Selain itu gizi dan kesehatan, status sosial dan ekonomi juga mempengaruhi perkembangan pada diri anak itu sendiri. Biasanya anak yang memperoleh gizi cukup cenderung memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih berat serta relative akan lebih cepat memasuki masa puber dibandingkan dengan anak yang bergizi kurang. Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai tubuh sehat dan lebih berat dibandingkan dengan anak yang sering sakit. Fisik anak dari kelompok masyarakat yang berekonomi rendah cenderung lebih kecil dibandingkan dengan keluarga yang berekonomi cukup atau tinggi. Keadaan status ekonomi memperngaruhi peran keluarga dalam memberi asupan gizi, dan memelihara kesehatan, serta kegiatan pekerjaan yang dilakukan anak. b. Perbedaan pada Perkembangan Intelektual Menunjukan bahwa anak usia SD mempunyai karakteristik sendiri, dimana dalam proses berpikirnya mereka belum dapat dipisahkan dari dunia konkret (hal-hal yang faktual atau nyata). Perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan tahapan usia, kemampuan anak pun meningkat. c. Perbedaan pada Perkembangan Moral Pada usia 6 sampai 12 tahun konsep anak tentang moral ataupun keadilan mulai berubah, contohnya saja pengertian yang kaku tentang benar dan salah yang pernah dipelajari dari orang tua mulai berubah karena anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus

yang masih berada pada batas toleransi dalam pelanggaran moral. Pada usia ini moral mulai berkembang, misalnya : anak usia balita yang dulu beranggapan bahwa berbohong itu salah, tetapi pada masa ini anak sudah mulai berfikir bahwa dalam berberapa situasi, bohong itu dapat dibenarkan dan tidak selalu buruk. Disiplin sangat berperan dalam perkembangan moral anak, baik disiplin dalam keluarga juga disiplin dalam kelompok bermainnya. Pada masa ini juga mulai nampak perkembangan suara hati. Pada makalah ini akan memapaparkan 2 pandangan dari para ahli tentang perbedaan pada perkembangan moral, antara lain: 1. Piaget dan Tahapan Moral Mempunyai pandangan bahwa moralitas berkembang pada 2 tahap utama, yaitu tahap hambatan moralitas dan tahapan moralitas kerja sama. 2. Kohlberg dan Alasan Moral Melukiskan 3 tingkatan moral yaitu : Pra-conventional morality, Conventional morality, Post-conventional morality. d. Perbedaan Kemampuan Perbedaan kemampuan yang dimaksudkan di sini adalah perbedaan kemampuan dalam berkomunikasi, bersosialisasi, serta kognitif. 1. Tes IQ IQ Tes merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk mengukur sejauh mana kecerdasan atau kecakapan seseorang dalam hal ini anak-anak Sekolah Dasar. IQ tes suatu perihal yang sangat penting terutama untuk seorang pengajar (guru), dikarenakan disanalah seorang guru dapat mengetahui kemajuan dan kemampuan anak didiknya. Dengan mengetahui kemampuan dari masing-masing anak didiknya, diharapkan seorang guru dapat berusaha mengajar dengan lebih efektif. Terdapat berbagai ragam jenis tes IQ di dunia, antara lain:  Tes Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC-R), tes ini untuk mengukur kemampuan verbal dan performansi (penampilan).  Otis-Lennon School Ability-Test, tes ini mencakup tes untuk taman kanak-kanak sampai anak kelas 12.

Paper-and Pencil-test, tes ini biasanya diberikan kepada anak-anak dalam kelompok kecil.

Fungsi dari tes intelegensi bukan hanya untuk mengukur intelegensi saja, akan tetapi juga untuk mencari cara bagaimana meningkatkan dan memperbaiki intelegensi itu. Apabila hal tersebut dapat dilakukan terhadap seluruh sekolah, dengan sendirinya sekolah tersebut yang perlu mendapat perbaikan, jadi bukannya individu. 2. Pendidikan Khusus untuk Anak Cacat Anak cacat merupakan istilah yang memiliki pengertian yang sangat luas. Cacat merupakan istilah yang digunakan untuk anak-anak yang memiliki gangguan baik fisik, intelektual, ataupun perkembangan. Dikarenakan perbedaan tersebut, seorang pengajar (guru), harus dididik untuk mampu menangani perbedaan muridnya tersebut. 3. Sukap Orang Tua dalam Membentuk Perbedaan Individu Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam kesuksesan seorang anak. Karena disadari ataupun tidak orang tua sangat mempengaruhi karakter seorang anak nantinya. Dikarenakan sejak seorang anak baru dilahirkan, keluargalah yang menjadi tempat bernaungnya sebelum sekolah. Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan orang tua agar anaknya berhasil dalam mengikuti pendidikan di sekolah, antara lain: 1. Dengan melakukan segala hal yang positif bersama-sama. 2. Orang tua perlu menyediakan tempat belajar yang layak, serta dapat menyimpan buku-buku sang anak dengan rapi agar mudah dalam pengambilannya. 3. Orang tua dapat menyediakan makanan tepat waktu, serta tempat tidur, dan tempat mengerjakan PR dengan berkeyakinan bahwa anaknya dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. 4. Selalu mengawasi waktu nonton TV anak serta acara apa yang ditonton. 5. Serta bisa menjadi pendengar yang baik untuk anaknya, apabila sang anak sedang menceritakan kejadian yang terjadi di sekolah.

4. Profil Guru dalam Menyikapi Perbedaan Memiliki pengaruh besar terhadap siswanya agar terinspirasi untuk mencintai ilmu

pengetahuan, rajin belajar, dan belajar, itu merupakan salah satu cotoh keberhasilan seorang guru. Guru memiliki pengaruh besar akan keberhasilan anak didiknya suatu saat

nanti. Setiap guru memiliki karakter seta kemampuan yang bervariasi. Guru A akan menghasilkan siswa yang A, sedangkan guru C akan menghasilkan siswa yang C pula. Oleh karena itu, seorang guru harus mengerti akan perbedaan yang ada pada setiap muridnya.

2.2

Jenis-jenis Kebutuhan Anak Usia SD Pada dasarnya, kebutuhan individu dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu

kebutuhan fisiologis dan psikologis (Cole dan Bruce, 1959). Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan primer seperti makan, minum, seksual, atau perlindungan diri. Sedangkan kebutuhan psikologis yang disebut juga kebutuhan sekunder dapat mencakup kebutuhan untuk mengembangkan kepribadian pada seseorang. Contohnya adalah kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan mengaktualisasikan diri, atau kebutuhan untuk memiliki sesuatu. Selain kebutuhan yang mendasar seperti diuraikan diatas, terdapat suatu teori kebutuhan yang dikembangkan oleh Maslow, yang juga dapat menjadi acuan terhadap teori-teori lain tentang kebutuhan dan masih relevan hingga kini. Maslow (1954) membagi beberapa aspek kebutuhan secara berjenjang menjadi 7 aspek kebutuhan yaitu : 1. Kebutuhan aktualisasi diri : mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya 2. Kebutuhan estetik : keserasian, keteraturan, dan keindahan 3. Kebutuhan akan penghargaan : berprestasi, berkompetisi, dan mendapat dukungan dan pengakuan 4. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki : diakui oleh orang lain, diterima, dan memiliki 5. Kebutuhan akan rasa aman : merasa aman dan terlindungi, jauh dari bahaya 6. Kebutuhan fisiologis : rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya

Sejalan dengan teori kebutuhan Maslow, pada pembahasan ini akan diambil suatu teori kebutuhan yang sifatnya mendasar yang dikembangkan oleh Lindgren (1980). Arti mendasar disini adalah pada umumnya setiap individu memiliki kebutuhan ini. Teori ini bisa dianggap mewakili untuk menjelaskan perbedaan kebutuhan pada tahapan usia anak SD, sehingga pada pembahasan berikut akan dikaitkan dengan perbedaan individu anak usia SD. Lindgren

mengklasifikasikan kebutuhan dasar ini menjadi empat aspek yang sebenarnya ada juga di dalam teori kebutuhan oleh Maslow. Klasifikasi empat aspek tersebut adalah sebagai berikut :

Jenjang 4

Deskripsi Aktualisasi Diri Kebutuhan

Karakteristik yang terkait dengan

pengembangan diri yang lebih rumit dan bersifat sosial 3 Kebutuhan untuk memiliki Kebutuhan yang terkait dengan mencari teman, atau pegangan pada orang lain 2 Perhatian dan kasih sayang Kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memiliki. Bisa berupa kebutuhan untuk diperhatikan, diterima, dan diakui oleh teman 1 Kebutuhan termasuk jasmaniah Berkaitan keamanan dengan pemeliharaan dan

dan pertahanan diri yang sifatnya individual

pertahanan diri

Pembagian keempat aspek kebutuhan di atas juga bersifat hirarkis dari kebutuhan yang mendasar yaitu jasmani hingga aktualisasi diri. Selanjutnya di bawah ini, akan dipaparkan keempat aspek kebutuhan di atas jika dikaitkan dengan kebutuhan anak usia SD. a. Kebutuhan Jasmaniah pada Anak Usia SD Sesuai dengan perkembangan fisik anak usia SD yang bersifat individual, pada masa tumbuh kembang tersebut, kebutuhan anak akan bervariasi. Karena perkembangan tubuh dan kognitifnya, anak usia SD membutuhkan makanan yang bergizi, sehingga perkembangan fisik dan intelektualnya tidak terhambat. Berkaitan dengan kebutuhan pemeliharaan dan pertahanan diri, anak SD memasuki tahapan perkembangan moral dan sosial yang memperhatikan pemuasan keinginan dan kebutuhannya sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang. Karena itu, guru perlu memberikan kesadaran kepada semua siswanya untuk menghindari hukuman dengan memohon maaf dengan baik agar tidak terkena sanksi. Pada usia SD, anak juga sudah mulai merasakan adanya kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya baik secara fisik maupun psikis dari orang lain. Contohnya : anak sudah mulai dapat berkelit dengan mengemukakan berbagai alasan apabila guru menanyakan sesuatu hal yang dikerjakan secara salah oleh siswa karena takut dimarahi. Perilaku ini timbul sejalan dengan perkembangan bahasa anak yang sudah mulai

memiliki banyak perbendaharaan kata dan ungkapan-ungkapan. Kebutuhan rasa aman pada siswa terpenuhi apabila guru dapat menghadirkan suasana kelas yang tenang dan damai. Keberpihakan guru kepada siswa-siswa tertentu, dapat mengakibatkan timbulnya rasa tidak aman pada siswa. Sehingga guru hendaknya dapat bersikap adil dan netral. Namun, guru perlu memberikan stimulus-stimulus yang dapat menyadarkan siswa bahwa disiplin dan aturan belajar yang disepakati dan dikompromikan adalah perlu. Sehingga siswa tidak salah mengartikan dengan perilaku yang suka-suka sendiri dalam pemenuhan rasa aman tersebut. Sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan melalui disiplin, Hurlock (1978)

mengemukakan bahwa disiplin berguna bagi anak untuk : - Memberikan rasa aman kepada anak, dengan memberitahukan kepada mereka secara tegas apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. - Dapat membantu anak untuk menghindari rasa bersalah atau malu karena telah berbuat salah. Hal ini dapat terjadi karena disiplin memungkinkan anak untuk hidup sesuai standar yang telah disepakati dan mendapat persetujuan oleh kelompok sosialnya. - Berusaha belajar bersikap sesuai dengan cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan sebagai tanda sayang dan penerimaan. Hal ini penting bagi anak agar tumbuh dan berkembang secara positif. - Mendorong anak mencapai apa yang diharapkan dari dirinya, jika disiplin tersebut sesuai dengan perkembangan dirinya. - Membantu anak mengembangkan hati nuraninya, dan mengasah intuisi dalam dirinya, sehingga ia dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan juga dapat mengendalikan tingkah laku. b. Kebutuhan akan Kasih Sayang Pada tahap perkembangan sosial anak usia SD terutama yang duduk di kelas tinggi SD, sudah ingin memiliki teman-teman tetap. Tidak hanya rasa kasih terhadap teman saja. Tetapi juga sudah ada kebutuhan untuk memberikan rasa cinta terhadap suatu benda. Misalnya untuk anak usia SD sudah sadar akan mengoleksi sesuatu yang merupakan kesenangannya bisa berupa perangko, komik, kartu, dan sebagainya. Pastinya koleksi tersebut akan dirawat dengan hati-hati dengan rasa sayang. Pada anak-anak yang duduk di kelas tinggi (4,5 atau 6) di SD yang memasuki masa bersosialisasi dan meninggalkan kekakuannya, dapat menerima suatu otoritas orang tua dan guru

sebagai sesuatu yang wajar. Sehingga anak-anak tersebut juga membutuhkan perlakuan yang objektif dari orang tua atau guru sebagai pemegang otoritas.

c. Kebutuhan untuk Memiliki Pada masa usia di kelas-kelas rendah di SD, anak-anak sudah mulai meninggalkan dirinya sebagai pusat perhatian. Namun demikian, anak-anak di kelas rendah di SD masih suka memuji diri sendiri, dan membanding-bandingkan dirinya dengan teman. Sehingga kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki masih dominan. Seperti pada kebutuhan yang lain, kebutuhan untuk memiliki pada setiap anak akan berbeda tergantung dari perkembangannya. Sedangkan kebutuhan untuk dimiliki adalah berhubungan dengan mulainya masa membentuk gang atau kelompok bermain. Kebutuhan untuk memiliki ini tidak terbatas pada pemilihan teman saja, tetapi juga pada benda-benda miliknya dan milik teman sekelompoknya. Namun demikian, pada masa ini, anak masih menggantungkan dirinya kepada orang yang dirasa mempunyai keunggulan atau kekuatan apabila itu kelompok bermainnya, atau tergantung pada pemegang otoritas yang disenangi seperti guru di kelas. Oleh karena itu banyak kasus para siswa di kelas rendah di SD lebih menuruti kata teman dekatnya atau gurunya ketimbang orang tuanya sendiri. Dalam pemenuhan kebutuhan untuk memiliki, guru perlu memberikan dorongan ke arah yang positif tentang bagaimana membentuk kelompok yang dapat bermanfaat misalnya dalam kegiatan pramuka. Guru juga harus memberikan orientasi kepada anak-anak di usia ini, agar tidak begitu saja melakukan berbagai hal yang kadang-kadang berbahaya dan negatif, hanya kerena disuruh oleh teman kelompoknya.

d. Kebutuhan Aktualisasi Diri Kebutuhan ini relatif lebih abstrak dan kompleks, dan merupakan kebutuhan tingkat tinggi dimana merupakan perkembangan dari kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. Kebutuhan ini, mulai dominan pada anak-anak usia kelas tinggi di SD. Karena pada usia ini anak-anak mulai ingin merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya sehingga ia berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan sikap persaingan atau berusaha mewujudkan keinginan yang biasanya sangat tinggi dan muluk seperti ingin menjadi juara tinju, pembalap formula, astronot dan sebagainya.

Salah satu kebutuhan yang terkait dengan kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan berprestasi atau need for achievement. Karena anak-anak SD kelas tinggi sudah berkeinginan untuk menjadi hebat, maka mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai prestasi. Semua hal tersebut juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan untuk diakui. Disinilah guru berfungsi untuk memotivasi sikap kompetisi pada anak-anak menjadi kompetisi yang sehat dan terarah. Dari keempat aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa semua kebutuhan diatas, bisa saling mengisi satu sama lainnya terhadap setiap masing-masing anak dan sejalan dengan perbedaan perkembangan mereka. Peran guru dalam memenuhi kebutuhan anak adalah memberikan dan meningkatkan motivasi kepada siswanya agar mereka berkembang positif dalam memenuhi kebutuhan seperti di atas. DeCecco dan Grawford (1974) mengajukan empat peranan guru untuk memberikan dan meningkatkan motivasi siswa, yaitu : 1. Membangkitkan semangat siswa Guru harus selalu peka terhadap perubahan kebutuhan setiap siswa. Oleh karena itu, guru bisa menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar siswa tidak bosan. Penting diperhatikan bahwa mengajak dan menjaga agar siswa tetap belajar adalah tugas dalam rangka menjaga semangat belajar. Siswa diajak bersama-sama memikirkan dan melakukan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan guru. Karena itu penting pula bagi guru untuk mengetahui keadaan awal para siswa. 2. Memberikan harapan yang realistis Guru tidak hanya menjelaskan harapan yang realistis yang dapat dicapai siswa dengan keadaan perbedaan siswa, tetapi juga harus dapat memodifikasi atau merubah harapanharapan yang tidak realistis yang dapat membebankan siswa. Oleh karena itu sebaiknya guru mempunyai data tentang kemajuan akademis siswanya sejak awal sekolah. Sehingga guru dapat mengukur harapan yang realistis bagi siswanya. Jika siswa sudah banyak mengalami kegagalan di masa lampaunya sedapat mungkin guru harus bisa memberikan keberhasilan dalam siswa tersebut. 3. Memberikan Insentif Bila siswa banyak membuat keberhasilan-keberhasilan guru perlu memberikan insentif berupa penghargaan, pujian, hadiah, atau kata-kata yang manis. Hal itu memotivasi siswa untuk berusaha mengulangi perbuatan positif tersebut. Sehubungan pemberian

insentif pemberian umpan balik oleh guru terhadap keberhasilan siswa akan sangat berguna untuk meningkatkan upaya siswa bekerja lebih baik lagi. 4. Memberikan Pengarahan Guru juga semestinya harus mengatakan secara tegas kepada siswa apabila siswa berbuat kekeliruan misalnya menunjukkan kekeliruan tersebut dan menunjukkan bagaimana seharusnya siswa bertindak. Guru perlu meminta kepada siswanya untuk melakukan tindakan yang diharapkan dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah paparan materi tentang beberapa jenis kebutuhan anak usia SD. Seperti yang telah disebutkan diatas, kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa muncul pada berbagai tahapan usia dengan dominasi yang berbeda-beda pada setiap anak. Perbedaan kebutuhan dan kadar kebutuhan tersebut sejalan dengan perbedaan perkembangan yang saat itu dialami oleh masingmasing anak.

2.3

Cara Mengaplikasikan Kebutuhan Siswa di Sekolah 1. Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis a) Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis, b) Menyediakan ruangan kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperatur yang tepat, c) Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang, d) Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representatif. 2. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman: a) Sikap guru menyenangkan, mampu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya, dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi. b) Adanya ekspektasi yang konsisten. c) Mengendalikan perilaku siswa di kelas/sekolah dengan menerapkan sistem pendisiplinan siswa secara adil. d) Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinforcement) melalui pujian/ ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman atas perilaku negatif siswa.

3. Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan: a. Hubungan Guru dengan Siswa: 1) Guru dapat menampilkan ciri-ciri kepribadian : empatik, peduli dan intereres terhadap siswa, sabar, adil, terbuka, serta dapat menjadi pendengar yang baik. 2) Guru dapat menerapkan pembelajaran individu dan dapat memahami siswanya (kebutuhan, potensi, minat, karakteristik kepribadian, dan latar belakangnya) 3) Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada yang negatif. 4) Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat, dan keputusan setiap siswanya. 5) Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan kepercayaan terhadap siswanya.

b. Hubungan Siswa dengan Siswa: 1) Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama mutualistik dan saling percaya di antara siswa. 2) Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum, seperti olah raga atau kesenian. 3) Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran. 4) Sekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstrakurikuler yang beragam.

4. Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri: a. Mengembangkan Harga Diri Siswa 1) Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang dimiliki siswanya (scaffolding). 2) Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 3) Memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki setiap siswa. 4) Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi. 5) Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan.

6) Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab. 7) Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mungkin dilakukan secara pribadi, tidak di depan umum.

b. Penghargaan dari Pihak Lain 1) Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dapat saling menghormati dan mempercayai, tidak saling

mencemoohkan. 2) Mengembangkan program “star of the week”. 3) Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha, dan prestasi yang diperoleh siswa. 4) Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap siswa untuk memiliki sikap empatik dan menjadi pendengar yang baik. 5) Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan para siswa itu sendiri.

c. Pengetahuan dan Pemahaman 1) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidangbidang yang ingin diketahuinya. 2) Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui pendekatan discovery-inquiry. 3) Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam.

d. Estetik 1) Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik. 2) Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di dalamnya memampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik. 3) Ruangan dicat dengan warna-warna yang menyenangkan. 4) Memelihara sarana dan pra sarana yang ada di sekeliling sekolah. 5) Ruangan yang bersih dan wangi.

6) Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah.

5. Pemenuhan Kebutuhan Aktualisasi Diri 1) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan hal yang terbaiknya. 2) Memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya. 3) Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata. 4) Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa.

BAB III PENUTUP

3.1. Simpulan Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan : 1. Perbedaan individual anak usia SD terdiri dari perbedaan pada perkembangan fisik, perbedaan pada perkembangan intelektual, perbedaan pada perkembangan moral terdapat dua pandangan dari para ahli tentang perbedaan pada perkembangan moral yang terdiri dari   Piaget dan tahapan moral Kohlberg dan alasan moral

Perbedaan kemampuan     Tes IQ Pendidikan khusus untuk anak cacat Sikap orang tua dalam membentuk perbedaan individu Profil guru dalam menyikapi perbedaan

2. Kebutuhan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kebutuhan fisiologis (kebutuhan primer) dan kebutuhan psikologis (kebutuhan sekunder). Kebutuhan pada anak usia SD terdiri dari : Kebutuhan jasmaniah pada anak usia SD Kebutuhan akan kasih sayang Kebutuhan untuk memiliki Kebutuhan aktualisasi diri

3. Cara mengaplikasikan kebutuhan siswa di sekolah antara lain : Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri Pemenuhan Kebutuhan Akatualisasi Diri

3.2. Saran Adapun saran yang dapat kami sampaikan yaitu : 1. Seorang guru harus mengetahui perbedaan individual pada anak usia SD. 2. Seorang guru harus mengetahui setiap kebutuhan anak usia SD mulai dari kebutuhan anak kelas rendah sampai anak kelas tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Poerwanti, Endang; Widodo, Nur. 2000. Perkembangan Peserta Didik. Malang: Universitas Muhammadiyah.

Sumantri, Mulyani; Syaodih, Nana. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://hadirukiyah2.blogspot.com/2009/09/karakteristik-dan-kebutuhan-anak.html

http://askarinote.tk/?p=532

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/pentingnya-guru-memahami-perkembangan-dancara-belajar-anak/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->