P. 1
ACARA I Pola Kemitraan Peternakan Ayam DAN Acara 2

ACARA I Pola Kemitraan Peternakan Ayam DAN Acara 2

|Views: 611|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhamad Fahmi Faizal on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2013

pdf

text

original

KEMITRAAN USAHA AGRIBISNIS AYAM SAYUR DI DESA PEKUNCEN KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. Ibnu Mukholib Mohammad Rovi Setyawan Muhamad Fahmi Faizal Andar Wahyu Abadi (A0A010021) (A0A010023) (A0A010043) (A0A010047)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA AGROBISNIS PURWOKERTO 2012

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemerintah Indonesia telah bertekad menjadikan sektor agribisnis, sebagai sektor unggulan yang akan menunjang pemulihan ekonomi negara ini. Untuk jangka panjangnya, sektor ini diharapkan dapat menjadi lokomotif bagi pembangunan nasional. Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia,

memungkinkan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Kekayaan sumber daya agribisnis yang dimiliki sangat besar, selain itu agribisnis berperan sebagai mata pencaharian sebagian besar penduduk. Tetapi di sisi lain harus diakui, potensi sektor agribisnis selama ini belum tergarap secara optimal. Pertumbuhan kapasitas produksi dan perkembangan agribisnis dirasakan masih lambat. Akibatnya, keinginan untuk mengandalkan sektor agribisnis sebagai salah satu faktor pendukung stimulasi pemulihan ekonomi dirasakan masih menghadapi kendala. Untuk mengetahui penyebab kurang optimalnya kegiatan agribisnis di Indonesia dapat dilihat melalui pendekatan anatomi agribisnis. Agribisnis dapat dikelompokkan dalam tiga sub sistem agribisnis: Pertama sub sistem agribisnis hulu, yang meliputi kegiatan di luar pertanian (off-farm) seperti bioteknologi, industri agrokimia (pupuk, pestisida), alat-alat pertanian dan pakan ternak. Sedangkan kegiatan dalam pertanian (on-farm) seperti pembibitan / pembenihan, budidaya perikanan, peternakan, perkebunan dan pertanian. Kedua sub sistem agribisnis hilir, yang meliputi kegiatan pengolahan hasil produksi sektor agribisnis berupa industri terkait makanan dan industri bukan makanan. Ketiga sub sistem jasa penunjang, yang meliputi kegiatan-kegiatan yang menunjang sektor agribisnis seperti industri pengolahan / pengawetan, agrowisata, perdagangan/jasa, transportasi dan jasa pembiayaan / keuangan. Pelaku usaha agribisnis di tingkat masyarakat seperti pertanian, peternakan dan perikanan banyak berada di sub sistem agribisnis hulu (on-farm). Kegiatan usaha mereka cenderung marginal, dalam arti karena keterbatasan dukungan pendanaan serta relatif masih sederhananya teknik produksi yang dipergunakan menyebabkan pelaku usaha ini kurang dapat berkembang. Di lain pihak pelaku

2

usaha di sub sistem yang lain rata-rata merupakan pengusaha non marginal, dalam arti kapasitas usaha mereka relatif cukup besar serta dukungan permodalan mereka cukup baik. Ketimpangan kedua kelompok pelaku usaha ini semakin diperparah dengan adanya penyebaran demografis yang kurang mendukung perkembangan sektor agribisnis pada umumnya. Akibatnya pelaku usaha on-farm sering

terdiskriminasikan dalam hal penentuan harga jual produknya karena faktor jarak distribusi, tingginya cost strukture, serta kesulitan dalam memperoleh dukungan pendanaan. Untuk dapat meningkatkan kinerja para pelaku sektor agribisnis, khususnya petani dan peternak (on-farm), harus dipahami bahwa kegiatan sub sistem agribisnis yang ada sebenarnya saling berkaitan dan saling mendukung. Apabila dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, maka akan terlihat terkotak-kotak dalam melakukan aktifitas usahanya, yang akibatnya akan terjadi diskriminasi usaha, sehingga hasil produksi dari sub sektor agribisnis ini menjadi tidak optimal. Salah satu solusi yang dapat diambil untuk mengatasi kendala terkotaknya masing-masing sub sistem agribisnis, khususnya dalam rangka meningkatkan peran pelaku usaha petani dan peternak (on-farm) adalah melalui pola kemitraan. Pola kemitraan yang menghubungkan antara perusahaan inti dengan plasma mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup tinggi, karena disamping pola kemitraan ini dapat mengatasi kendala pendanaan maupun kualitas produk di tingkat petani / peternak, kemitraan juga dapat menjamin pemasaran maupun tingkat harga hasil produksi petani / peternak Perusahaan inti juga memperoleh manfaat yang besar, antara lain mereka dapat memasarkan produknya kepada plasma mitra mereka, selain itu mereka juga akan mendapat jaminan pasokan bahan baku dari mitranya.

B. Dasar Teori Ian Linton (1997) mengartikan bahwa kemitraan sebagai: sebuah cara melakukan bisnis dimana pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapai tujuan bisnis bersama. Berdasarkan motivasi ekonomi tersebut maka prinsip kemitraan dapat didasarkan atas saling memperkuat. Dalam situasi dan

3

kondisi yang ideal, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih jelas adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan menengah, 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan, 3. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil, 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional, 5. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. (Mohammad Jafar Hafsa, 1999) Dalam pedoman pola hubungan kemitraan, mitra dapat bertindak sebagai perusahaan inti atau perusahaan pembina atau perusahaan pengelola atau perusahaan penghela, sedangkan plasma disini adalah petani / peternak. Konsep kemitraan tersebut secara lebih rinci diuraikan dalam Pasal 27 Peraturan pemerintah RI Nomor 44 tahun 1997 tentang kemitraan, disebutkan bahwa kemitraan dapat dilaksanakan antara lain dengan pola: 1. Inti-plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai inti membina dan mengembangkan usaha kecil yang menjadi plasma dalam penyediaan lahan, penyediaan sarana

produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha, produksi, perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi

peningkatan efisiensi dan produktifitas usaha. Program inti-plasma ini, diperlukan keseriusan dan kesiapan, baik pihak usaha kecil sebagai pihak yang mendapat bantuan untuk dapat mengembangkan usahanya, maupun pihak uasaha besar yang mempunyai tanggung jawab sosial mengembangkan usaha kecil sebagai mitra usaha dalam jangka panjang. 2. Sub konktraktor adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara usaha besar dengan usaha kecil / menengah, di mana uasaha besar sebagai perusahaan induk (parent firm) meminta kepada usaha kecil / menengah (selaku subkontraktor) untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk. 3. Dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang berlangsung dalam bentuk kerjasama
4

untuk

pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh usaha besar dan atau usaha menengah yang bersangkutan. 4. Waralaba (franchise) adalah suatu system yang menggambarkan hubungan antara Usaha Besar (franchisor) dengan Usaha Kecil (franchisee), di mana frnchisee diberikan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan ciri khas usaha, dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak franchisor dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan atau jasa. 5. Keagenan merupakan hubungan kemitraaan, di mana pihak principal memproduksi / memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai pihak yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga. 6. Bentuk-bentuk lain di luar pola sebagaimana yang tertulis di atas, yang sat ini sudah berkembang tetapi belum dibakukan atau pola-pola baru yang timbul dimasa yang akan datang. Dalam hubungan pola kemitraan, pola yang paling sederhana adalah pengembangan bisnis biasa ditingkatkan menjadi hubungan bisnis dengan adanya ikatan tanggung jawab masing-masing pihak yang bermitra dalam mewujudkan kemitraan usaha yang membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat. Pola hubungan yang dilaksanakan antara perusahaan inti dan peternak adalah dengan pola inti plasma. Pola inti plasma ini di dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1995 tentang usaha kecil disebutkan sebagai berikut: “Inti plasma merupakan hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma, perusahaan inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis, samapai dengan pemasaran hasil produksi.

5

C. Tujuan Praktikum Tujuan dilaksanakan praktikum kemitraan agribisnis adalah: 1. Mengetahui berbagai model atau pola kemitraan yang dilakukan oleh para pelaku agribisnis, 2. Mengetahui berbagai kendala yang dihadapi oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), 3. Mengerti tentang pentingnya dilakukan kemitraan usaha oleh para pelaku agribisnis.

6

BAB II METODE PRAKTIKUM

A. Lokasi Praktikum Pada praktikum Kemitraan Agribisnis, kelompok kami mengambil lokasi praktikum di usaha peternakan ayam sayur milik Bapak Suwarto di desa Pekuncen RT 05 RW 06, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Dengan perusahaan intinya yaitu PT. SEIA (Sentra Indah Abadi), kantor pusatnya di Yogyakarta.

7

BAB III HASIL PRAKTIKUM

A. Sejarah Usaha Usaha peternakan ayam sayur (boiler) didirikan pada tahun 1991 oleh Bapak Suwarto. Pertama kali Bapak Suwarto mendirikan usaha peternakan ayam sayur di Jakarta, tetapi usahanya tersebut kurang sukses. Kemudian Bapak Suwarto kembali mendirikan usahanya pada tahun 2001 di desa tempat tinggalnya sendiri yang beralamat di desa Pekuncen RT 05 RW 06, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas dengan mitra pertamanya yang berpusat di Bumiayu. Selanjutnya, pindah kantor pusat yaitu PT. SEIA yang bermitra sampai saat ini. Hubungan kemitraan ini juga disebut pola inti-plasma dimana PT. SEIA (perusahaan ternak) bertindak sebagai inti yang memberikan bantuan permodalan sistem kredit berupa bibit ayam (DOC), pakan ayam serta obat-obatan. Sedangkan, Bapak Suwarto bertindak sebagai plasma yang menyediakan kandang, tenaga kerja dan memelihara serta menjaga ternak sampai masa panen dan kemudian hasil dari panen tersebut dipasarkan oleh perusahaan ternak. Jadi, perusahaan inti diuntungkan karena bisa memasarkan hasil produksinya berupa sarana produksi peternakan dan peternak diuntungkan dari segi permodalan. Pada saat Bapak Suwarto bermitra dengan Perusahaan ternak PT. SEIA dulu mempunyai tenaga kerja sebanyak 2 orang dan sampai sekarang pun masih sama. Modal awal pendirian usaha peternakan ayam sayur sebesar Rp. 68.000.000,untuk biaya pendirian 2 kandang ayam serta peralatan untuk pemeliharaan ayam. Adapun tujuan dari pendirian usaha peternakan ayam sayur yaitu; untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga, untuk penyerapan tenaga kerja, dan untuk meningkatkan kerjasama sehingga dapat saling menguntungkan antara petani dan pelaku kemitraan. Usaha ini termasuk subsistem agribisnis hulu yang meliputi kegiatan dalam pertanian (on farm) yaitu peternakan.

8

B. Aspek Tenaga Kerja Usaha peternakan ayam sayur Bapak Suwarto memiliki tenaga kerja 3 macam, yaitu tenaga kerja pemeliharaan, tenaga kerja panen dan tenaga kerja cuci kandang. Tenaga kerja pemeliharaan sebanyak 2 orang yang semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tenaga kerja ini ditugaskan untuk memberi pakan dan minum ayam serta menjaga kandang ayam selama 24 jam. Sistem kerjanya bergiliran, jika tenaga kerja yang 1 sudah bekerja selama 24 jam penuh kemudian hari berikutnya giliran tenaga kerja yang ke 2. Jadi, dalam 1 hari tenaga kerja yang berkerja hanya 1. Gaji tenaga kerja tersebut sebesar Rp. 1.200.000,-/orang/1 periode (1 periode = 40 hari). Tenaga kerja panen ada 4 orang, semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tugas tenaga kerja ini pada waktu pemanenan hasil saja. Gaji tenaga ini Rp. 75.000,-/orang. Tenaga kerja cuci kandang ada 2 orang dan semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tenaga kerja ini berkerja setelah pemanenan hasil, lalu kandang ayam dicuci agar kandang bersih dan bebas dari penyakit. Sistem pembayaran tenaga kerja ini yaitu Rp. 60/ekor ayam.

C. Aspek Pemasaran Pemasaran hasil dipasarkan setelah ayam dipelihara sampai dengan umur 40 hari. Semua hasil dipasarkan atau dijual hanya kepada perusahaan ternak mitranya. Peternak tidak boleh menjual hasil ayamnya kepada orang lain diluar perusahaan dan jika melanggar persetujuan tersebut peternak akan dikenakan sanksi. Ketika ayam siap dipanen, sebelumnya Bapak Suwarto menghubungi kantor pusat PT. dahulu bahwa ayam sudah siap panen. Hari selanjutnya para distributor/tengkulak datang dan mengangkut hasilnya untuk langsung dipasarkan. Para distributor/tengkulak sebelumnya telah melakukan negosiasi terlebih dahulu mengenai pembayaran hasil ayam dan kemudian baru boleh mengambil hasil panen ayam tersebut. Jadi, tengkulak membeli dan membayar jumlah ayam yang dibeli ke perusahaan, lalu perusahaan membayar total biaya pemeliharaan kepada plasmanya dan lalu biaya tersebut dipotong kredit sapronaknya.

9

Hasil panen ayam dihargai perusahaan ternak Rp. 12.970,-/kg kepada tengkulak dan kemudian tengkulak memasarkan hasilnya ke daerah lokal saja yaitu di daerah Purwokerto, Banyumas, Ajibarang dan Wangon.

D. Aspek Produksi Dari awal Bapak Suwarto mendirikan usahanya sampai saat ini menggunakan modal sendiri. Modal awal untuk pendirian usahanya Rp. 68.000.000,-. Bibit ayam dari perusahaan ternak sebanyak 2.400 ekor ayam dengan tingkat kematian 3 % sampai umur 40 hari. Berarti hasil panen/produksi ayam sayur per periode adalah 2.328 ekor ayam (1 ekor ayam beratnya ± 2,1 kg). Jadi, total berat ayam dalam sekali panen yaitu sebesar 4.888,8 kg.

E. Aspek Komersial Semua hasil panen ayam sayur usaha milik Bapak Suwarto laku semua dan dibeli oleh tengkulak yang sebelumnya tengkulak tersebut juga sudah membayar total hasil panen ke perusahaan. Para distributor/tengkulak tersebut memasarkan hasilnya di daerah Purwokerto, Banyumas, Ajibarang dan Wangon.

F. Aspek Finansial Selama ini usaha ayam sayur milik Bapak Suwarto dengan perusahaan inti mitranya menguntungkan. Dulu juga pernah terjadi keruagian. Apabila terjadi kerugian perusahaan inti akan memberikan dana kompensasi operasional kepada plasmanya. Namun, jika dalam 3 periode berturut-turut mengalami kerugian, maka plasma atau peternak akan mendapat PHK/DO dari perusahaan inti.

G. Aspek Teknis Pola kemitraan yang diterapkan antara PT. SEIA (perusahaan ternak) dan Bapak Suwarto (peternak) adalah pola inti-plasma. PT. Pokpan yang bertindak sebagai inti memberikan bantuan sarana produksi ternak dengan sistem kredit berupa bibit ayam, obat-obatan (vaksin, vitamin, amilat), dan pakan ayam (pelet ayam). Sedangkan Bapak Suwarto selaku peternak tugasnnya menyediakan kandang, tenaga kerja serta memeliara ayam sampai umur 40 hari.

10

Perusahaan ternak mengirim bibit ayam (DOC) umur 0 hari atau ketika anak ayam baru menetas dari telurnya kemudian langsung diantar ke tempat mitranya. Jumlah bibit ayam yang diberikan kepada Bapak Suwarto sebanyak 2.400 ekor ayam sedangkan untuk obat-obatan ayam dikirim 2 hari sebelum bibit dikirim. Peternak memelihara ayam sampai umur 40 hari atau 1 periode. Pada umur 0 sampai 5 hari, anak ayam membutuhkan suhu yang hangat sehingga dibuatkan pemanas dengan menggunakan kompor gas di sebelahnya dengan suhu 350 C. Anak ayam kebanyakan tidak tahan terhadap suhu dingin yang bisa mengakibatkan anak ayam mati karena suhu lingkungan yang kurang sesuai. Kandang ayam terbuat dari bambu-bambu yang disusun seperti rumah dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 25 m x 7 m x 3 m. Karna lantai atau dasar kandang terbuat dari bambu sehingga lantai tersebut tidak rapat. Untuk menutupi celah-celah pada lantai tersebut digunakan sekam padi. Dalam 1 periode pemeliharaan ayam dibutuhkan semprot vaksin dan semprot wabah sebanyak 4 kali penyemprotan dalam 1 periode. Biaya untuk penyemprotan vaksin dan wabah Rp. 30,-/ekor ayam dari PT. SEIA. Sedangkan dari luar atau dari orang lain Rp. 20,-/ekor ayam. Selama 1 periode pemeliharaan ayam juga ada pengawasan dan bimbingan dari PPL PT. SEIA dan dari Dinas Peternakan sebanyak 2 kali dalam 1 periode. Setelah ayam umur 40 hari ayam dijual hanya kepada PT. SEIA saja dan PT. tersebut menjual kepada para tengkulak. Setelah ayam habis terjual, dilakukan kegiatan pembersihan kandang ayam atau cuci kandang agar kandang tetap bersih dan bebas dari virus penyakit yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia dan hewan lain. Biaya untuk cuci kandang Rp. 60,-/ekor ayam.

11

BAB IV PEMBAHASAN

A. Pola Kemitraan Model kemtraan antara perusahaan ternak PT. SEIA dengan peternak Bapak Suwarto adalah pola Inti-Plasma. Pola Inti-Plasma adalah pola pengembangan usaha pertanian dengan melibatkan perusahaan pertanian atau perusahaan yang tidak bergerak di bidang pertanian, sebagai Perusahaan Inti Rakyat yang berkerja sama dengan petani, baik perorangan atau kelompok/koperasi sebagai Plasma dalam suatu sistem kemitraan usaha yang saling menguntungkan dan berkesinambungan.

B. Pelaku Kemitraan PT. SEIA bertindak sebagai inti yang memberikan bantuan sarana produksi ternak dengan sistem kredit berupa bibit ayam, obat-obatan (vaksin, vitamin, amilat), dan pakan ayam (pelet ayam). Sedangkan Bapak Suwarto selaku peternak bertindak sebagai plasma, tugasnnya menyediakan kandang, tenaga kerja serta memeliara ayam sampai umur 40 hari.

C. Mekanisme Hubungan Kerjasama 1. Hak dan Kewajiban Perusahaan ternak: a) Perusahaan memberi bantuan bibit ayam (DOC), pakan (pelet ayam) dan obat-obatan (vaksin, amilat, vitamin), b) Perusahaan memberikan bimbingan teknis/pelatihan kepada plasmanya, c) Perusahaan mengawasi jalannya pemeliharaan ayam potong, d) Perusahaan membeli ayam potong dari peternak setelah 40 hari dipelihara dengan harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak berdasarkan mekanisme pasar yang telah berkembang, e) Perusahaan menanggung biaya transportasi, f) Perusahaan memasarkan hasil, distributor / tengkulak mengambil sendiri.

12

2. Hak dan Kewajiban Peternak: a) Peternak menyiapkan tempat (kandang ayam) dan tenaga kerja, b) Peternak memelihara ayam potong dari bibit ayam sampai siap dijual (selama 40 hari), c) Peternak selalu membersihkan kandang ayam setelah ayam potong tersebut dijual, d) Peternak hanya boleh menjual hasil ayam potong ke perusahaan mitranya, e) Membayar pokok dan bunga pinjaman yang diterima sesuai jadwal yang disepakati.

D. Skema Hubungan Kerjasama Dinas Terkait Peternak lain

Bantuan Menjual

Peternak (Bapak Suwarto)

Bantuan Menjual Menjual Bantuan

Perusahaan Ayam Potong PT. Pokpan Cilacap

Membeli hasil

Peternak lain Distributor/ Tengkulak

Mengambil hasil panen ayam

Pasar di daerah Purwokerto, Banyumas, Ajibarang, dan Wangon

13

BAB V KESIMPULAN

Dari hasil praktikum kemitraan agribisnis dapat disimpulkan: 1. Model kemitraan yang diterapkan antara perusahaan ternak PT. SEIA dangan peternak Bapak Suwarto adalah pola Inti-Plasma. PT. SEIA (perusahaan ternak) bertindak sebagai inti yang memberikan permodalan dengan sistem kredit berupa bibit ayam (DOC), pakan ayam serta obat-obatan. Sedangkan, Bapak Suwarto bertindak sebagai plasma yang menyediakan kandang, tenaga kerja dan memelihara serta menjaga ternak sampai masa panen. 2. Kendala yang dihadapi peternak antara lain: sulit untuk mencari dan mendapatkan sekam padi karena sering berebut dengan kuli industri batu bata. 3. Pentingnya dilakukan kemitraan agribisnis tersebut antara lain:  Saling memperkuat dan saling menguntungkan antara usaha kecil dan usaha menengah / besar melalui ikatan kerjasama; meningkatkan efisiensi, produktivitas dan nilai tambah,   Meningkatkan alih teknologi, pengetahuan, keterampilan dan manajemen dari pengusaha menengah / besar ke pengusaha kecil, Mengatasi kesenjangan social antara kelompok pengusaha

menengah/besar dengan kelompok pengusaha kecil.

14

DAFTAR PUSTAKA

Dewanto, A., A. 2005. Perjanjian Kemitraan dengan Pola Inti Plasma. Undip. Semarang. Sukamsiputro, S. 2011. Kemitraan Usaha Agribisnis. Unsoed. Purwokerto

15

LAMPIRAN

Gambar 1. Wawancara kelompok dengan Bapak Suwarto

Gambar 2. Wawancara kelompok dengan Bapak Suwarto

16

ANALISIS PEMBIAYAAN DALAM USAHA TANI AYAM SAYUR DI DESA PEKUNCEN KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. Ibnu Mukholib Mohammad Rovi Setyawan Muhamad Fahmi Faizal Andar Wahyu Abadi (A0A010021) (A0A010023) (A0A010043) (A0A010047)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA AGROBISNIS PURWOKERTO 2012

17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam kegiataan usaha tani, petani bertindak sebagai pengelola, sebagai pekerja sekaligus sebagai pemilik modal. Pendapatan dari kegitaan usaha taninya diperoleh dari selisih penerimaan dan pengeluaran yang dihitung dalam jangka waktu tertentu misalnya musim tanam, satu tahapan pemeliharaan atau dalam waktu satu tahun. Pendapatan atau disebut juga balas jasa dan jerih payah petani tersebut digunakan untuk berbagai keperluan antara lain ;       Memenuhi keperluan hidup sehari hari. Memenuhi keperluan sosial. Melanjutkan usahanya dan lain lain.

Analisis pendapatan bagi petani mempunyai kegunaan sebagai berikut ; Memberikan gambaran keadaan usaha pada waktu sekarang, Memeberikan gambaran kegunaan yang akan datang, Perencanaan atau tindakan yang perlu dilakukan untuk usahanya. Suatu usaha tani dapat dikatakan berhasil bila memenuhi beberapa persyaratan antara lain;    Cukup untuk membayar semua sarana produksi yang diperlukan, Cukup untuk membayar upah tenaga kerja, Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, sewa lahan, dan penyusutan peralatan produksi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis sustu usaha tani yaitu analisis input (pengeluaran usaha tani), analisis output (penerimaan usaha tani) dan analisis pendapatan usaha tani. Analisis ini sering disebut juga dengan analisis rendabilitas. Pendapatan usaha tani dibedakan menjadi pendapatan pengelola, pendapatan kerja petani dan pendapatan keluarga petani.  Pendapatan pengelola dihitung dari penerimaan usaha tani dikurangi dengan pengeluaran (biaya) usaha tani.

18

 Pendapatan kerja petani dihitung dari pendapatan pengelola ditambah dengan upah kerja petani bila petani tersebut juga sebagai pekerja.  Apabila modal dan lahan bagi petani yang disebut dengan pendapatan keluarga petani.Pendapatan keluarga tani dihitung dari pendapatan kerja petani ditambah dengan bunga modal dan sewa lahan. Analisis pendapatan seperti tersebut diatas biasanya untuk menghitung kegiatan usaha tani keluaraga.Tapi apabila usaha tani tersebut sudah cukup berkembang dan menjadi besar maka perlu diperhitungkan analisis ekonomi dan keuangan.Analisis ekonomi keuangan juga harus didasarkan dengan suku bunga komersial yang berlaku pada waktu itu. Hal hal yang perlu diperhitungkan dalam menganalisis ekonomi dan keuangan suatu usaha tani adalah sebagai berikut: 1. Investasi dapat dihitung dari pembelian tanah, bangunan dan peralatan. 2. Biaya tetap, dapat dihitung dari biaya yang harus dikeluarkan tetapi tidak mempengaruhi produksi misalnya iuran, biaya penyusutan, dll. 3. Biaya penyusutan (depresiasi) dihitung dari investasi dibagi nilai ekonomis. 4. Biaya operasional/biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang / usaha taninya. 5. Pendapatan kotor atau penerimaan dihitung dari hasil produksi dikali harga jual. 6. Pendapatan bersih, dihitung pendapatan kotor (penerimaan) dikurangi biaya untuk memproduksi barang (termasuk biaya penyusutan). 7. Untuk menyimpulkan apakah usaha tani tadi layak untuk

diteruskan/dikembangkan dapat dianalisis dengan BEP, R/C dan ROI.

B. Dasar Teori 1. Usaha Tani Rifai dalam Kadarsan (1995), mendefinisikan usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti: alam, tenaga kerja, modal dan keterampilan, yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Lebih lanjut Hernanto (1991) menjelaskan

19

bahwa dalam usahatani terdapat empat unsur pokok yang sangat penting, disebut faktor-faktor produksi, yaitu: (1) Tanah, (2) Tenaga kerja, (3) Modal dan (4) Pengelolaan atau manajemen. Tanpa salah satu faktor tersebut produksi tidak akan diperoleh secara memuaskan. Tanah dalam usaha tani dapat berupa tanah pekarangan, tegalan, sawah dan sebagainya. Tanah tersebut dapat diperoleh dengan cara membuka lahan sendiri, membeli, menyewa, bagi hasil, menyakap, pemberian Negara, warisan ataupun wakaf. Penggunaan tanah dapat diusahakan secara monokultur maupun polikultur atau tumpang sari. Tenaga kerja terdiri atas beberapa jenis, antara lain: tenaga kerja manusia, ternak dan mekanik. Tenaga kerja manusia dapat dibedakan menjadi tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak yang dipengaruhi oleh pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat kesehatan dan faktor alam seperti iklim dan kondisi lahan. Tenaga kerja dapat berasal dari dalam dan luar keluarga (umumnya dengan cara upahan). Modal dalam suatu usahatani digunakan untuk membeli sarana produksi serta pengeluaran selama kegiatan usahatani berlangsung. Sumber modal diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit, warisan, usaha lain atau dari kontrak sewa. Pengelolaan atau manajemen dalam usahatani adalah kemampuan petani untuk menetukan, mengorganisir dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasainya dengan sebaik-baiknya sehingga memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Untuk dapat menjadi pengelola yang berhasil, maka pemahaman terhadap prinsip teknik dan prinsip ekonomis menjadi syarat bagi seorang pengelola. Menurut Soeharjo dan Patong (1973), bahwa tujuan dari setiap petani dalam menjalankan usahataninya berbeda-beda. Apabila motif usahatani ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga baik melalui atau tanpa melalui peredaran uang, maka usahatani yang demikian disebut usahatani pencukup kebutuhan keluarga (subsistence farm). Bila motif usahatani didorong oleh keinginan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, maka usahatani yang demikian disebut usahatani komersial (commercial farm).

20

2. Analisis Pembiayaan Menurut Ibrahim (2003), studi kelayakan usaha terkait dengan tiga aspek, yaitu: a. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi usaha itu sendiri (sering disebut sebagai manfaat finansial). Hal ini berarti apakah usaha tersebut dipandang cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko usaha tersebut, b. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi negara tempat usaha itu

dilaksanakan (sering disebut sebagai manfaat ekonomi nasional) yang menunjukkan manfaat usaha tersebut bagi ekonomi makro suatu Negara, c. Manfaat sosial usaha tersebut bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.

Sofyan (2003), diacu dalam Chaerunnisa (2007) berpendapat tujuan yang ingin dicapai dari studi kelayakan ini sekurang-kurangnya mencakup empat pihak yang berkepentingan, yaitu: 1) Bagi pihak investor : studi kelayakan usaha ditujukan untuk melakukan penilaian dari kelayakan usaha untuk menjadi masukan yang berguna karena sudah mengkaji berbagai aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologis, aspek manajemen operasioanl dan aspek finansial secara komprehensif dan detail sehingga dapat dijadikan dasar bagi investor untuk membuat keputusan investasi lebih objektif. 2) Bagi peneliti : studi kelayakan adalah suatu alat yang berguna dan dapat dipakai sebagai penunjang kelancaran tugas-tugasnya dalam melakukan penilaian suatu rencana usaha, usaha baru, pengembangan usaha, atau menilai kembali usaha yang sudah ada. 3) Bagi masyarakat : hasil studi kelayakan usaha merupakan suatu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat baik yang terlibat langsung maupun yang muncul karena adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha tersebut. 4) Bagi pemerintah : dari sudut pandang mikro, hasil dari studi kelayakan ini digunakan untuk pengembangan sumber daya baik dalam pemanfaatan sumbersumber alam maupun pemanfaatan sumber daya manusia berupa penyerapan tenaga kerja. Selain itu, adanya usaha baru atau berkembangnya usaha lama

21

sebagai hasil studi kelayakan usaha yang dilaksanakan oleh individu atau badan usaha tentunya akan menambah pemasukkan pemerintah baik dari pajak pertambahan nilai maupun dari pajak penghasilan dan retribusi berupa biaya perizinan, biaya pendaftaran, administrasi dan lain-lainnya yang layak diterima sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Secara makro pemerintah dapat berharap dari keberhasilan studi kelayakan usaha ini adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah ataupun nasional sehingga tercapai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan kenaikan pendapatan per kapita. C. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa tahu kegunaan analisis finansial suata tani baik on farm maupun off farm. 2. Mahasiswa mengetahui berapa investasi awal yang dikeluarkan, biaya tetap per MT atau 1 kali produksi,total biaya,penerimaan (pendapataan kotor) dan pendapatan (hasil bersih). 3. Mahasiswa dapat membuat kesimpulan tentang bisnis usaha tani dilihat dari BEP dalam penerimaan (Rp), R/C Ratio dan efisiensi pengunaan modal (ROI).

22

BAB II METODE PRAKTIKUM

A. Lokasi Praktikum Pada praktikum Analisis Pembiayaan Usaha Tani kelompok kami mengambil lokasi praktikum di usaha tani ayam sayur milik Bapak Suwarto di desa Pekuncen RT 05 RW 06, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

23

BAB III HASIL PRAKTIKUM

A. Sejarah Usaha Usaha peternakan ayam sayur (boiler) didirikan pada tahun 1991 oleh Bapak Suwarto. Pertama kali Bapak Suwarto mendirikan usaha peternakan ayam sayur di Jakarta, tetapi usahanya tersebut kurang sukses. Kemudian Bapak Suwarto kembali mendirikan usahanya pada tahun 2001 di desa tempat tinggalnya sendiri yang beralamat di desa Pekuncen RT 05 RW 06, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas dengan mitra pertamanya yang berpusat di Bumiayu. Selanjutnya, pindah kantor pusat yaitu PT. SEIA yang bermitra sampai saat ini. Hubungan kemitraan ini juga disebut pola inti-plasma dimana PT. SEIA (perusahaan ternak) bertindak sebagai inti yang memberikan bantuan permodalan sistem kredit berupa bibit ayam (DOC), pakan ayam serta obat-obatan. Sedangkan, Bapak Suwarto bertindak sebagai plasma yang menyediakan kandang, tenaga kerja dan memelihara serta menjaga ternak sampai masa panen dan kemudian hasil dari panen tersebut dipasarkan oleh perusahaan ternak. Jadi, perusahaan inti diuntungkan karena bisa memasarkan hasil produksinya berupa sarana produksi peternakan dan peternak diuntungkan dari segi permodalan. Pada saat Bapak Suwarto bermitra dengan Perusahaan ternak PT. SEIA dulu mempunyai tenaga kerja sebanyak 2 orang dan sampai sekarang pun masih sama. Modal awal pendirian usaha peternakan ayam sayur sebesar Rp. 68.000.000,untuk biaya pendirian 2 kandang ayam serta peralatan untuk pemeliharaan ayam. Adapun tujuan dari pendirian usaha peternakan ayam sayur yaitu; untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga, untuk penyerapan tenaga kerja, dan untuk meningkatkan kerjasama sehingga dapat saling menguntungkan antara petani dan pelaku kemitraan. Usaha ini termasuk subsistem agribisnis hulu yang meliputi kegiatan dalam pertanian (on farm) yaitu peternakan.

24

B. Aspek Tenaga Kerja Usaha peternakan ayam sayur Bapak Suwarto memiliki tenaga kerja 3 macam, yaitu tenaga kerja pemeliharaan, tenaga kerja panen dan tenaga kerja cuci kandang. Tenaga kerja pemeliharaan sebanyak 2 orang yang semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tenaga kerja ini ditugaskan untuk memberi pakan dan minum ayam serta menjaga kandang ayam selama 24 jam. Sistem kerjanya bergiliran, jika tenaga kerja yang 1 sudah bekerja selama 24 jam penuh kemudian hari berikutnya giliran tenaga kerja yang ke 2. Jadi, dalam 1 hari tenaga kerja yang berkerja hanya 1. Gaji tenaga kerja tersebut sebesar Rp. 1.200.000,-/orang/1 periode (1 periode = 40 hari). Tenaga kerja panen ada 4 orang, semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tugas tenaga kerja ini pada waktu pemanenan hasil saja. Gaji tenaga ini Rp. 75.000,-/orang. Tenaga kerja cuci kandang ada 2 orang dan semuanya adalah tenaga kerja laki-laki. Tenaga kerja ini berkerja setelah pemanenan hasil, lalu kandang ayam dicuci agar kandang bersih dan bebas dari penyakit. Sistem pembayaran tenaga kerja ini yaitu Rp. 60/ekor ayam.

C. Aspek Pemasaran Pemasaran hasil dipasarkan setelah ayam dipelihara sampai dengan umur 40 hari. Semua hasil dipasarkan atau dijual hanya kepada perusahaan ternak mitranya. Peternak tidak boleh menjual hasil ayamnya kepada orang lain diluar perusahaan dan jika melanggar persetujuan tersebut peternak akan dikenakan sanksi. Ketika ayam siap dipanen, sebelumnya Bapak Suwarto menghubungi kantor pusat PT. dahulu bahwa ayam sudah siap panen. Hari selanjutnya para distributor/tengkulak datang dan mengangkut hasilnya untuk langsung dipasarkan. Para distributor/tengkulak sebelumnya telah melakukan negosiasi terlebih dahulu mengenai pembayaran hasil ayam dan kemudian baru boleh mengambil hasil panen ayam tersebut. Jadi, tengkulak membeli dan membayar jumlah ayam yang dibeli ke perusahaan, lalu perusahaan membayar total biaya pemeliharaan kepada plasmanya dan lalu biaya tersebut dipotong kredit sapronaknya.

25

Hasil panen ayam dihargai perusahaan ternak Rp. 12.970,-/kg kepada tengkulak dan kemudian tengkulak memasarkan hasilnya ke daerah lokal saja yaitu di daerah Purwokerto, Banyumas, Ajibarang dan Wangon.

D. Aspek Produksi Dari awal Bapak Suwarto mendirikan usahanya sampai saat ini menggunakan modal sendiri. Modal awal untuk pendirian usahanya Rp. 68.000.000,-. Bibit ayam dari perusahaan ternak sebanyak 2.400 ekor ayam dengan tingkat kematian 3 % sampai umur 40 hari. Berarti hasil panen/produksi ayam sayur per periode adalah 2.328 ekor ayam (1 ekor ayam beratnya ± 2,1 kg). Jadi, total berat ayam dalam sekali panen yaitu sebesar 4.888,8 kg.

E. Aspek Komersial Semua hasil panen ayam sayur usaha milik Bapak Suwarto laku semua dan dibeli oleh tengkulak yang sebelumnya tengkulak tersebut juga sudah membayar total hasil panen ke perusahaan. Para distributor/tengkulak tersebut memasarkan hasilnya di daerah Purwokerto, Banyumas, Ajibarang dan Wangon.

F. Aspek Finansial Selama ini usaha ayam sayur milik Bapak Suwarto dengan perusahaan inti mitranya menguntungkan. Dulu juga pernah terjadi keruagian. Apabila terjadi kerugian perusahaan inti akan memberikan dana kompensasi operasional kepada plasmanya. Namun, jika dalam 3 periode berturut-turut mengalami kerugian, maka plasma atau peternak akan mendapat PHK/DO dari perusahaan inti.

G. Aspek Teknis Pola kemitraan yang diterapkan antara PT. SEIA (perusahaan ternak) dan Bapak Suwarto (peternak) adalah pola inti-plasma. PT. Pokpan yang bertindak sebagai inti memberikan bantuan sarana produksi ternak dengan sistem kredit berupa bibit ayam, obat-obatan (vaksin, vitamin, amilat), dan pakan ayam (pelet ayam). Sedangkan Bapak Suwarto selaku peternak tugasnnya menyediakan kandang, tenaga kerja serta memeliara ayam sampai umur 40 hari.

26

Perusahaan ternak mengirim bibit ayam (DOC) umur 0 hari atau ketika anak ayam baru menetas dari telurnya kemudian langsung diantar ke tempat mitranya. Jumlah bibit ayam yang diberikan kepada Bapak Suwarto sebanyak 2.400 ekor ayam sedangkan untuk obat-obatan ayam dikirim 2 hari sebelum bibit dikirim. Peternak memelihara ayam sampai umur 40 hari atau 1 periode. Pada umur 0 sampai 5 hari, anak ayam membutuhkan suhu yang hangat sehingga dibuatkan pemanas dengan menggunakan kompor gas di sebelahnya dengan suhu 350 C. Anak ayam kebanyakan tidak tahan terhadap suhu dingin yang bisa mengakibatkan anak ayam mati karena suhu lingkungan yang kurang sesuai. Kandang ayam terbuat dari bambu-bambu yang disusun seperti rumah dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 25 m x 7 m x 3 m. Karna lantai atau dasar kandang terbuat dari bambu sehingga lantai tersebut tidak rapat. Untuk menutupi celah-celah pada lantai tersebut digunakan sekam padi. Dalam 1 periode pemeliharaan ayam dibutuhkan semprot vaksin dan semprot wabah sebanyak 4 kali penyemprotan dalam 1 periode. Biaya untuk penyemprotan vaksin dan wabah Rp. 30,-/ekor ayam dari PT. SEIA. Sedangkan dari luar atau dari orang lain Rp. 20,-/ekor ayam. Selama 1 periode pemeliharaan ayam juga ada pengawasan dan bimbingan dari PPL PT. SEIA dan dari Dinas Peternakan sebanyak 2 kali dalam 1 periode. Setelah ayam umur 40 hari ayam dijual hanya kepada PT. SEIA saja dan PT. tersebut menjual kepada para tengkulak. Setelah ayam habis terjual, dilakukan kegiatan pembersihan kandang ayam atau cuci kandang agar kandang tetap bersih dan bebas dari virus penyakit yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia dan hewan lain. Biaya untuk cuci kandang Rp. 60,-/ekor ayam.

27

BAB IV PEMBAHASAN

Tabel Rincian Biaya Usaha Ternak Ayam Bapak Suwarto Selama 1 periode (40 hari) No. 1. Bahan-bahan Investasi awal Biaya Tetap 1. 2. 3. Kompor Gas (n.e. 8 thn) Tempat pakan (n.e. 10 thn) Tempat minum (n.e. 10 thn) 8 kompor 120 100 Rp. 1.000.000,Rp. 20.000,Rp. 5.600,Satuan Harga Satuan (Rp) Rp. 68.000.000,-

Biaya Variabel 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Bibit ayam Pakan ayam Obat-obatan Sekam padi Tenaga kerja pemeliharaan Tenaga kerja pemanenan Tenaga kerja cuci kandang Listrik Semprot vaksin dan wabah Air Tabung gas 2.400 ekor 7.800 kg 9 unit 125 karung 2 org 4 orang 2.400 ekor 1 periode 4 kali, 2.400 ayam 1 periode 10 tabung Rp. 3.500,Rp. 5.700,Rp. 122.061,67,Rp. 6.000,Rp. 1.200.000,Rp. 75.000,Rp. 60,-/ekor Rp. 37.500,Rp. 20,-/ekor Rp. 2.500,Rp. 77.000,-

Asumsi:   Ayam dipanen setelah umur 40 hari, Sekali panen ada 2.400 ayam dengan tingkat kematian 3 % berarti 2.328 ayam, 1 ekor ayam beratnya 2,1 kg. Jadi, total berat ayam dalam sekali panen 4.888,8 kg,  Harga jual Rp. 12.970,-/kg

28

1 periode = 40 hari 1 tahun = 9 periode

1. Biaya Tetap (FC)     Penyusutan kandang ayam (n.e. 10 tahun) = Rp. 68.000.000,- : 90 Kompor Gas (n.e. 8 thn) = 8 kompor × Rp.1.000.000,- = Rp.8.000.000,- : 72 = Rp. 111.111,11 Tempat pakan (n.e. 10 thn) = 120 × Rp. 20.000,- = Rp. 2.400.000,- : 90 Tempat minum (n.e. 10 tahun) = 100 × Rp. 5.600,- = Rp. 560.000,- : 90 Jumlah Biaya Tetap = Rp. 6.222,23 + = Rp. 26.666,67 = Rp. 755.555,55

= Rp. 899.555,56,-

2. Biaya Variabel (VC)           Bibit ayam = 2.400 × Rp. 3.500,Pakan ayam = 7.800 kg × Rp. 5.700,Obat ayam = 9 unit × Rp. 122.061,67 Sekam padi = 125 karung × Rp. 6.000,Tenaga kerja pemeliharaan = 2 × Rp. 1.200.000,Tenaga kerja panen = 4 × Rp. 75.000,Tenaga kerja cuci kandang = 2.400 × Rp. 60,Listrik Semprot vaksin dan wabah = 2.400 × Rp. 20,- × 4 Tabung gas = 10 × Rp. 77.000,Jumlah Biaya Variabel \ = Rp. 8.400.000,= Rp. 44.460.000,= Rp. 1.098.555,= Rp. 750.000,-

= Rp. 2.400.000,= Rp. = Rp. = Rp. = Rp. = Rp. 300.000,144.000,37.500,192.000,770.000,- +

= Rp. 58.554.555,-

29

3. Total Biaya (TC) Total biaya didapat dari penjumlahan antara total biaya tetap (TFC) dan total biaya variable (TVC). Berikut adalah perhitungan total biayanya: TC = FC + VC = Rp. 899.555,56,- + Rp. 58.554.555,- = Rp. 59.454.110,56

4. Penerimaan (R) Penerimaan (laba kotor) dapat dicari dengan perkalian antara harga jual produk per unit dan kuantitas atau jumlah barang dalam sekali produksi. Dalam usaha tani ini penerimaannya yaitu: R=P×Q = Rp. 12.970,- × 4.888,8 kg = Rp. 63.407.736,-

5. Pendapatan Pendapatan disebut juga keuntungan (laba bersih) dapat dicari dengan selisih antara jumlah penjualan yang diterima dan total biayanya. =R TC Rp. 59.454.110,56 = Rp. 3.953.625,44

= Rp. 63.407.736,-

Usaha ini dalam 40 hari memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 3.953.625,44

6. R/C Rasio Perhitungan ini lebih ditekankan pada kriteria-kriteria investasi yang pengukurannya diarahkan pada usaha untuk memperbandingkan, mengukur, serta menghitung tingkat keuntungan usaha. R/C rasio adalah perbandingan (nisbah) antara penerimaan dan biaya.

30

R/C = 1,06 berarti > 1 artinya usaha ini dikatakan untung dan layak untuk diusahakan. Kita juga perlu mengerti jika R/C < 1 artinya usaha ini dikatakan rugi dan jika didapat R/C = 1 artinya usaha ini tidak untung juga tidak rugi (Impas).

7. Efisiensi Penggunaan Modal (ROI) Return of Invesment (ROI) merupakan nilai keuntungan yang diperoleh dari setiap jumlah uang yang diinvestasikan dalam periode waku tertentu. Dengan analisis ROI, pemilik usaha dapat mengukur sampai seberapa besar

kemampuannya dalam mengembalikan modal yang telah ditanamkannya.

Dari perhitungan kami dari hasil praktikum didapat ROI = 6,64 % yang menunjukkan bahwa usaha ini memberikan prospek yang baik, dimana dengan pengorbanan atau modal Rp. 1000,- akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 66,4,-.

8. Titik Inpas (BEP) Break Even Point merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan produksi sama dengan biaya produksi sehingga pengeluaran sama dengan pendapatan. Perhitungan BEP ini digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan agar suatu usaha tani tidak rugi. Selain itu, BEP dapat dipakai untuk merencanakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan sebagai pedoman dalam mengendalikan operasi yang sedang berjalan. a) BEP Volume Produksi (kg):

31

b) BEP Penerimaan (RP):

Grafik BEP P
Rp. 63.407.736 Rp. 59.454.110,56 Rp. 58.554.555 TR VC Laba TC

BEP

Rp. 11.682.539,74

Rugi Rp. 899.555,56

FC

Q
906,15 kg

32

BAB V KESIMPULAN Dari hasil praktikum Analisis Pembiayaan Usaha Tani dapat disimpulkan: 1. Kegunaan Analisis Finansial dalam suatu usaha yaitu: a. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi usaha itu sendiri (sering disebut sebagai manfaat finansial). Hal ini berarti apakah usaha tersebut dipandang cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko usaha tersebut, b. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi negara tempat usaha itu dilaksanakan (sering disebut sebagai manfaat ekonomi nasional) yang menunjukkan manfaat usaha tersebut bagi ekonomi makro suatu Negara, c. Manfaat sosial usaha tersebut bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.
2. Dalam usaha peternakan ayam sayur milik Bapak Suwarto investasi awalnya

Rp. 68.000.000,- untuk biaya pendirian kandang. Total biaya tetapnya dalam 40 hari sebesar Rp. dan total biaya variabelnya sebesar Rp.

58.554.555,-. Total penerimaan yang didapat sebesar Rp. 63.407.736,- dan pendapatan Bapak Suwarto sebesar Rp. 3.953.625,44 dalam 40 hari.
3. Dari perhitungan Rasio didapat R/C = 1,06 berarti > 1 artinya usaha ini

dikatakan untung dan layak untuk diteruskan. Dari perhitungan ROI dari hasil praktikum didapat ROI = 6,64 % yang menunjukkan bahwa usaha ini memberikan prospek yang baik, dimana dengan pengorbanan atau modal Rp. 1000,- akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 66,4,-.

33

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, A. M. 2011. Analisis Finansial Usaha Tani. IPB. Bogor. Sukamsiputro, S. 2011. Analisis Pembiayaan dalam Usaha Tani. Unsoed. Purwokerto. Sukamsiputro, S. 2011. Modul Praktikum Kapita Selekta. Unsoed. Purwokerto.

34

LAMPIRAN

Gambar 1. Ayam yang dipelihara di kandang ayam

Gambar 2. Kandang ayam tamapak dari samping

35

Gambar 3. Kandang ayam tampak dari depan

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->